CITRA LEMBAGA KEPOLISIAN SEBAGAI PENEGAK HUKUM DI MATA MASYARAKAT

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "CITRA LEMBAGA KEPOLISIAN SEBAGAI PENEGAK HUKUM DI MATA MASYARAKAT"

Transkripsi

1 CITRA LEMBAGA KEPOLISIAN SEBAGAI PENEGAK HUKUM DI MATA MASYARAKAT Skripsi Diajukan Kepada Fakultas Syariah dan Hukum Untuk Memenuhi Persyru:atan Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Islam (SHI) Ill Ill Ill llll'lll!!a.. Ull I Oleh: KONSENTRASI PERBANDINGAN HUKUM PROGRAM STUDI PERBANDINGAN MAZHAB JDAN HUKUM FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM UNIVERSITAS ISLAM NEGEIU SY ARIF I-IIDA YATULLAH JAKARTA 2009M/1430 H

2 PE R~ ~_;;~~\~~;;;;~, ;.~~~- 1 I I '., ; ":. ' 1 )''. ~:. /\ CITRA LEMBAGA KEPOLISIAN SEBAGAI PENEGAK HUKUM DI MATA MASYARAKAT Skripsi Diajukan Kepada Fakultas Syariah dan Hukurn Untuk Mernenuhi Persyaratan Mernperoleh Gelar Sarjana Hukum Islam (SHI) Oleh: AHMADRAMZY NIM: mbingan Drs. amin Aini MA. NIP: KONSENTRASI PERBANDINGAN HU KUM PROGRAM STUIH PERBANDINGAN MAZHAB DAN HUKUM J?AKULTAS SYARIAH DAN HUKUM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2009 M / 1430 H

3 PENGESAHAN P ANITIA UJIAN Skripsi berjudul "CITRA LEMBAGA KEPOLISIAN SEBAGAI PENEGAK HUKUM DI MATA MASYARAKAT" telah diujikan dalam Sidang Munaqasyah Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIJ\I) Syarif Hidayatullah Jakarta pada 7 Desember Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Hukum Islam (SHI) pada Program Studi Perbandingan Mazhab dan Hukum (Perbandingan Hukum). ' Jakarta, 7 Desember 2009 <an, t{tas Syariah clan Hukum \ PAN/TIAN UJIAN I. Ketua : Dr.I-I. A. Mukri Adji, MA. NIP Sek!'etaris : Dr.I-I. Muhammad Taufiki, M.Ag. NIP Pembimbing : Drs. Noryamin Aini, MA. NIP Penguji I : Asep Saifudin Jahar, MA.,Ph.D NIP Penguji II : Drs. Abu Thamrin, SIL M.Hum. NIP

4 LEMBARPERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan bahwa: I. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cant:1mkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayntullah Jakarta. 3. Jika dikemuclian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri SyarifHidayatu!lah Jakarta. Ciputat, 07 Desember 2009 AHMADRAMZY iv

5 ~JI.:r-)1.&1 r KATA PENGANTAR Assalamu 'a/aikum Wr. Wb. Puji syukur penulis haturkan kehadirat Allah SWT yang telah n1emberikan nikmat clan karunia-nya sehingga dengan izin clan ridho-nya penulis clapat menyelesaikan penulisan skripsi ini sesuai yang cliharapkan. Shalawat serta salam sclalu tercurahkan kepacla Nabi Muhammad SAW. clengan kehaclirannya telah memberikan pencerahan, ketenangan clan kenyamanan hiclup manusia. Dan ticlak lupa pula kepacla para sahabatnya clan orang-orang yang telah mengikuti clan mentaati ajaran-nya hingga akhir zaman. Penulis menyadari bahwa skripsi ini sangat jauh dari sempurna atau boleh dikatakan masih banyak kekurangan yang terdapat di dalamnya. Namun demildan dengan segala keterbatasan dau kemampua11 yang dimiliki penulis, maka penulis berusaha semaksimal mungkin agar skripsi ini clapat bermanfaat bagi semua pihak. Dan juga penulis menyaclari bahwa tidak.akan pernah sanggup claim mengatasi berbagai macam hambatan yang mengganggu lancarnya penulisai1 ini tanpa aclanya bantuan clan clukungan yang bersifat materil maupun spirituil baik secai a lai1gsung maupun tidak langsung. v

6 Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhorsmat: 1. Prof. Dr. H. Muhammad Amin Suma, SH.,MA.,MM., Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakmia dan Pembantu Dekan I, II, dan III yang telah membimbing dan memberikan ilmu kepada penulis. 2. Dr. H. Alunad Mukri Adji, MA. selaku Ketua Program Studi Perbandingan Mazhab dan Hukum, Bapak Dr. H. Muha1nmad Taufiki, M.Ag. selaku Selcretaris Program studi Perbandingan Mazhab dan Hukum yang telah membimbing, meluangkan waktu dan mengarahkan segenap aktifitas yang berkenaan dengan Program Studi. 3. Drs. Noryamin Aini, MA., selaku pembimbing yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan, petunjuk, pengarahan dan nasehat kepacla pe11ulis sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. 4. Pihak-pihak dari Kantor Kepolisian Resort Metro Jakarta Selatan yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan data dan informasi yang berkenaan dengan skripsi penulis. 5. Karyawan Perpustakaan Utama dan.perpustakaan Fakultas Syariah dan Hukum yang telah memberikan fasilitas dan membantu meminjamkan buku-bukunya sehingga memperoleh informasi yang dibntuhkan. 6. Para Dasen Fakultas Syariah dan Hukum yang telah memberikan ilmu pengetahuan kepada penulis selmna masa pencliclikan berlangsung. '"

7 7. Ayahanda dan Ibunda tercinta yang dengan segala pengorbanannya baik materil maupun formil dan do'a serta motifasi yang tiada henti-hentinya sehingga penulis dapat menyelesaikan studi tepat pada waktunya. 8. Teman-teman Faki.lltas Syariah dan Hukum ldmsusnya Kemsentrasi Perbandingan Hukum angkatan 2005, dan kepada semua pihak, terima kasih telah memberikan inspirasi dan bantuan serta dukungannya. Jakarta: 07 Desember 2009 M 21 Dzul Hujjah 1430 H Penulis, AHMADRAMZY

8 DAFTARISI Lembar Persetujuan ii Lem bar Pengesahan iii Lembar Pernyataan....'...:... iv Kata Pengantar...; v Daftar Isi viii BABI PENDAHULUAN A. La tar Belakang Masalah... B. Pembatasan Masalah... 8 C. Perumusan Masalah... 9 D. Tujuan dan Manfaat Penelitian... 9 E. Tinjauan Kajian Terdahulu... I 0 F. Metode Penelitian G. Sistematika Penulisan BAB II LANDASAN TEORI CITRA POLIS! SEBAGAI PENEGAK HUKUM A. Fungsi dan Tujuan Kepolisian B. Tugas dan Wewenang Polisi... 2~ C. Profesionalisme Polisi D. Persepsi Masyarakat Terhadap polisi E. Polisi Menurut Islam BAH III BIOGRAFI POLRES METRO.JAKARTA SELATAN

9 A. Visi dan Misi B. Satuan dan Bagian Kesatuan C. Struktur Kepolisian Resort Metro Jakarta Selatan D. Wilayah Tugas POLRES Jakarta Selatan BAB IV CITRA POLRES METRO JAKARTA SELATAN DI MATA MASYARAKAT A. Identitas Responden Penelitian B. Interaksi Masyarakat Jakaiia Selatan dengan Lembaga Kepolisian C. Citra Polisi di Mata Masyarakat Jakarta Selatan I. Polisi sebagai Pelayan Masyarakat Polisi sebagai Pelindung Masyarakat Polisi sebagai Pengayom Masyai akat BABV PENUTUl' A. Kesimpulan...: B. Saran Daftar Pustaka Lampiran

10 BABI PENDAHULUAN A. Latar Bclakang Ma~alah Pola penegakkan hukum dipengaruhi oleh tingkat perkembangan masyarakat, tempat hukum tersebut berlaku atau diberlakukan. Dalam masyarakat sederhana, pola penegakkan hukumnya dilaksanakan melalui prosedur dan mekanism.e yang sederhana pula. Nanmn, dalam masyarakat modern yang bersifat rasional dan memiliki tingkat spesialisasi dan. diferensiasi yang begitu tinggi, pengorganisasian penegakan hukumnya menjadi begitu kompleks dan sangat birokratis. 1 Semakin modern suatu masyarakat, maka akan semakin kompleks dan scmakin birokratis proses penegskkan hukumnya. Sebagai. akibatnya, yang memegang peranan penting dalam proses penegakan hukum bukan hanya manusia yang menjadi aparat penegak hukum, namun juga organisasi yang mengatur dan mengelola operasionalisasi proses penegakan hukum. Kondisi penegakkan hukum dalam masyarakat bukan hanya ditentukan oleh faktor tunggal melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang memherikan kontribusi secara bersama-sama terhadap kondisi tersehut. Namun, faktor mana 1 Bambang Sutiyoso, Aktua/ita Hukum Dalam Era Reformasi, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2004), h

11 2 yang paling domiimn mempunyai pengaruh tergantung pac\a konteks sosial dan tantangan~tantangan yang dihadapi masyarakat bersangkutan. Secara umum, faktor-faktor yang mempengaruhi penegakan hukum dapat dibedakan dalam dua ha!, yaitu faktor-faktor yang tetdapat dalam sistem hukum clan faktor-faktor di luar sistem. hukum. Adapun faktor-faktor dalam sisten' hukum meliputi faktor hukumnya (unc\ang-unc\ang), faktor penegak hukum, dan fakto, sarana dan prasarana. Sedangkan faktor-faktor di l.uar sistem hukum yang memberikan pengaruh adalah faktor kesadaran hukum masyarakat, perkembangan masyarakat, kebudayaan, clan faktor politik dan penguasa Negma. 2 Realitas penegakkan hukum dalam masyarakat yang sedang mengalami proses modernisasi juga c\ipengaruhi faktor-faktor majemuk tersebut. Dengan demikian, kondisi penegakkan hukum yang masih buruk dalam masyarakat dipengaruhi oleh berbagai faktor. 3 Kesadaran hukum masyarakat yang masih rendah,. baik dikalangan terclidik maupun di seputar masyarakat yang kurang berpenc\idikan, bahkan juga di kalangan aparat penegak hukum senditl Indikator rendahnyil kesaclaran hukum masyarakat dapat c\ilihat dari banyaknya tinc\akan main hakim sendiri yang te1jadi dalam masyarakat, baik yang dilakukan masyarakat pada umumnya maupun 1983), h Soerjono Sukanto, Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, (Jakarta: Rajawali, 3 Bambang Sutiyoso, Akmalita Hukum Dalam Era Re/ormasi, h. 61.

12 3 c!ilakukan aparat penegak hukum. Para pelaku kejahatan yang tertangkap basah saat melakukan kejahatai1, terutania pelaku kejahatan kesu.silaan, pencurian, clan persantetan c!ihakimi senc!iri oleh masyarakat. O!eh karena itu, sinkronisasi clan integritas para penegak hukum, hakim, jaksa, polisi clan pengacara perlu c!itingkatkan. Masih ac!anya aparat penegak hul<um yang memanfaatkan jabatannya baik secara langsung maupun tidal< langsung untuk memperkaya c!iri senc!iri atau orang lain demi kepentingan pribac!inya senc!iri, sehingga mengabaikan komitmennya untuk menegakkan kebenaran dan keac!ilan yang berc!asarkan hukum. Hal ini berkaitan c!engan renc!ahnya gaji maupun fasilitas yang mereka terima, yang amat tic!ak seimbang c!engan jabatan, tugas clan tanggung jawab serta martabat profesi (professional pride) yang harus mereka pertahankan di mata masyarakat. Hal ini merupakan keac!ilan tersenc!iri yang suc!ah berlangsung lama di Negara Indonesia. 4 Kai au diamati dengai1 cermat, pad a dekade terald1ir ini telah te1j adi pergeseran keseimbangan kerja clan pelalcsanaan tugas polisi, yang secara singkat diistilahkan sebagai rasionaliasi po/isi yang mengandung aspek; spesialisasi, sentralisasi, komunikasi, komputerisasi, efisiensi teldmologi. Betbagai penelitian menggambarkan bahwa betapapun model rasionalisasi itu dikembangkan tetap 4 Adnan Buyung Nasution, Arus Pemikiran Konstitusiona/isme; Hukum dan Peradi/an,!Jakarta: Kata Hasta Pustaka, 2007), h. 86.

13 4 saja suksesnya tugas polisi itu tetap bertumpu pada informasi serta dukungan atau partisipasi masyarakat. 5 Pada talmn 1961 Palisi Republik Indonesia (Polri), dinyatakan sebagai bagian dari ABRI dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden selaku Panglima tertinggi ABRI sesuai sistem yang dianut UUD 1945 pada waktu itu. Pada tanggal 1 Juli 1969 sebutan Panglima Angkatan Kepolisian RI dikembalikan menjadi Kepala Kepolisian Negara RI (Kapolri). Kedudukai1 Polri sebagai bagian dari ABRI pada waktu itu masih tidak berubah dengan alasan integritas, sehingga segala ha! ikhwal yang berlaku di lingkungan TNI/ ABRI juga diberlakukan di lingkungan Polri. Misalnya, masalah pendidikan, sistem anggaran clan keuangan, materiil dan persoalanlainnya serta hampir semua tugas-lugas Polri berdasarkan petunjuk dan perintah Panglima ABRI. Kedudukan Polri dalam sistem pemerintahan Orde Baru hanya sebagai alat kekuasaan dan merupakan subordinal dari TN!/ ABRI, sehingga meninggalkan ciri dan jati diri polisi sebagai pengayom, pelindung dan pelayan masyarakat dan sebagai aparat penegak hukum. 6 ' Robert Baldwin, Ricard Kinsey, Police Powers and Politics; Kewenangan Polisi dan Politik, (Jakarta: Cipta Manunggal, 2002), h. xv-xvi. 6 Pudi Rahadi, Hukum Kepolisian (Profesionalisme dan Reformasi Polislj, (Surabaya: Laksbang Mediatama, 2007), h. 2-3.

14 5 Akibat kebijakan pemerintah yang diskriminatif clalam memperlakukan institusi Polri,7 maka menjadikan Polri tidak dapat berkembang di dalam menanggulangi kejahatan dengan. modus baru, sehingga lambat laun Polri ditinggalkan masyarakat dan diremehkru1 oleh pel).egak. hukum lainnya Qaksa, hakim dan advokat) karena dianggap kurang profesional. Tuntutru1 rakyat di era reformasi agar Polri bersikap mandiri tanpa adanya intervensi dari pihak manapun dan profesional dalam menjalankan tugas, serta pelaksanaan fungsi dan peran sebagai aparat penegak hukum, pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat terjawab saat Presiden RI pada upacara HUT Bhayangkara ke 54 tanggal 1 Juli 2000 meremaskru1 reorganisasi Polri keluar clari Departemen Pertahanan dru1 TNI/ ABRI, untuk selanjutnya menjadi institusi inclependen dan mandiri yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden selaku Kepala negara. Di samping kebijakan Presiden pada saat pidato tersebut, dasar hukum yang juga dijadikan sebagai legitimasi bagi Polri adalah Pembukaan UUD 1945 (alenia 4), Pasal 30 UUD 1945, Interuksi Presiden No. 2 tahun 1999 tentang Pemisahan Polri dari TNI/ ABRI, UU No. 2 tahun 2002 tentang Polri dan K-::bijakan strategis Kapolri Kelemahan Polri disebabkan oleh kebijakan pemerintah orde baru yang sengaja tnembesarkan institusi Orde Baru dan cenderung mengabaikan Polti, seperti adanya pembedaan petnberian fasilitas oleh pemerintah. Misalnya, anggaran pembangunan Polri kecil, adanya intruksi pembubaran Korps BrLnob, anggaran kapal patroli dan pesawat udara yang minim, dan lain-lain. Lihat : Pudi Rahadi, Hukum Kepo/isian (Profesionalisme dan Reformasi Polisi), h Ibid, h. 6-7.

15 6 Aktualisasi fungsi dan vitalitasisasi serta upaya penataan reformasi Polri hendaknya diarahkan pada pemuliaan profesi fungsi pemerintahan lainnya, 9 sehingga pembenahan fungsi kepolisian selaina 11roses reforrnasi tidak diintervensi oleh politik atau fungsi pernerintahan lainnya. Pelaksanaan tugas Polri yang mencakup tugas perlindungan, pengayoman dan pelayanan masyarakat di samping tugasnya sebagai alat negara penegak hukum membuka wawasan yang lebih luas ke arah pemberdayaan masyarakat, namun tetap menitikberatkan kepada orientasi profesi dengan pertimbangan obyektif clan rasional. Pergc:seran dari lingkup tugas kepolisian clan penegakan lrnkum yang sempit ke arah lingkup yang lebih luas mencakup pemeliharaan ketertiban clan pelayanan sosial dalam rangka politik kriminal. Hal ini menuntut kesecliaan pemolisian ke arah metode "community policing" (Kegiatan Polisi Bermasyarakat). 10 Menurut penelitian Transparency International Indonesia (TI!) pada tahun 2008 menjelaskan bahwa indeks suap institusi publik paling tertinggi di mata msyarakat adalah lembaga kepolisian yaitu 48 %, selanjutnya DLLAJR clan Imigrasi. Hal ini perlu adanya kesadaran intitusi kepolisian clan pengguna jasa kepolisian untuk mengurangi dan meminimalisir praktik suap yang te1:jacli. Selain Tl! juga melakukan survei, institusi pemerintahan mana yang harus diprioritaskan 9 Ibid, h Satjipto Raharjo, Palisi Indonesia Baru, (Jakarta: Gramedia, 2000), h. 34.

16 7 untuk dibersihkan dari korupsi. Data menunjukkan lembaga kepolisian clalam base pelaku bisnis menempati posisi ke clua setelah institusi hukurn, yaitu 22 %, pada base tokoh masyarkat kepolisian menernpati posisi kc lirna, yaitu 15%, sedangkan pada base pejabat publik kepolisian menern.pati.. posisi ke dua sama dengan kejaksaan, yaitu I 9%. 11 Kerjasama polisi clan masyarakat selalu mengenal pasang-surut yang hal ini clitcntukan olch baik buruknya prilaku petugas di lapangan. Petugas yang semakin santun, berpendidikan lebih tinggi, memahami visi clan misi kepolisian yang hakiki, akan langsung mengangkat ke1jasama masyarakat. Intinya besarkecilnya partisipasi masyarakat sebenarnya terletak pada prilaku polisi sendiri. Hal ini menandai perubahan kualitatif arah kegiatan polisi menuju terpuruknya citra kepolisian. Polisi yang mementingkan kepentingan pribadi akan bersikap tidak peduli dengan keterpurukan itu. Hal ini merupakan awal menurunnya integritas, kredibilitas dan akuntabilitas polisi. Paradigma barn Polri menuju era kemandirian clan profesional merupakan tantangan ~ang tidak ringan mengingat keterbatasan sumber claya manusia, minimnya anggaran dan peralatan yang difniliki Polri selama ini. Polisi sebagai pengawal negara hingga kini dinilai belum menunjukkan kine1janya sebagai pelindung, pengayom clan pelayan masyarakat. 11 Frcnky Simanjuntak, Mengukur Tingkat Korupsi di Indonesia: Jndeks Persepsi Korupsi Jndoensia 2008 dan Jndeks Suap, (Jakarta: Transparency International Indonesia, 2008), h. l 7-2 l.

17 8 Dari permasalahan yang telah diuraikan di atas, penulis berniat unluk mengadakan penelitian tentang bagaimana citra polisi sebagai penegak hukum di mata masyarakat. Karena polisi memiliki peran yang penting dalam proses penegakan hukum sebelum dan pada saat perkara digelar di muka persidangan. ' ' Oleh sebab itu, penulis memberi judul skripsi ini dengan judul skripsi "CITRA LEMBAGA KEPOLISIAN SEBAGAI PENJrGAK liukum DI MATA MASY ARAKA T". B. Pcmbatasan Masalah Permasalahan penegakkan hukum yang bertumpu pada integritas para aparal pencgak hukum, yang rneliputi hakim, jaksa, polisi clan pengacara. Agar permasalahan tidak melebar maka penulis akan membatiisi penelitian hanya pada persepsi atau panclangan masyarakat Jakarta Selatan terhadap polisi clan kepolisian resort metro Jakarta Selatan, yakni tentang: 1. Persepsi masyarakat Jakarta Selatan terhadap kine1ja lembaga kepolisian pacla tahun 2009 dan sebelunmya. 2. lnteraksi masyarakat Jakarta Selatan dengan lembaga kepolisian resort metro Jakarta Selatan. 3. Citra lembaga kepolisian sebagai penegak lrnkum, pelindung, pengayom clan pelayan di mata masyarakat Jakarta Selatan.

18 9 C. Perumusan Masalah Sesuai dengan pembatasan masalah di atas, maka penulis merumuskan beberapa masalah yang akan dibahas dalam skripsi ini, antara lain sebagai berikut: I. Bagaimana interaksi masyarakat Jakarta Selatan d1;11gan lembaga kepolisian selama ini? 2. Bagaimana persepsi masyarakat Jakarta Selatan terhaclap citra lembaga kepolisian? D. Tujuan Dan Manfaat Penulisan Aclapun tujuan yang ingin clicapai clari penelitian ini skripsi ini antara lain sebagai bcrikut : I. Untuk mengetahui bagaimana hubungan clan interkasi masyarakat Jakarta Selatan cle1iganlembaga kepolisian sebagai penegak hukum. 2. Untuk mengetahui persepsi masyarakat Jakatia Selatan terhaclap citra lembaga kepolisian sebagai penegak hukum. Manfaat dari penulisan skripsi ini adalah membeti!gu1 pengetalrnan clai1 informasi tentang bagaima'na masyarakat memahami tenta:i1g lmkum. terutama tentang polisi clat1 kepolisian serta sebagai penambah bahan literatur atau bahan bacaan di perpustakaan Faku!tas Syari'ah clan I-Iukum UJN Syarifl-Iidayatullah.

19 10 E. Tinjauan Ka,jian Tcrdahuln Dalam kajian terdahii!u ini penulis akan mengeksplorasi skripsi yang telah ada, yaitu skripsi yang berjudul : I. Judul skripsi "Meningkatkan Citra Palisi Melalui 3 (tiga) Penampilan POLRI,, di Polda Merta Jaya ", Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK). Skripsi ini ditulis oleh Nursyah Putra. Skripsi ini membahas tentang bagaimana caracara atau upaya-ilpaya Polda metro jaya meningkatkan citra polisi di mata masyarakat meliputi penampilan personil, penampilat\ kesatuan dan penampilan operasionil. 3 (tiga) penampilai1 inilah yang dijadikan oleh penulis sebagai tolak ukur citra polisi di mata masyarakat. Dalam kesimpulan skripsinya penulis mengungkap bahwtl belum optimalnya 3 (tiga) penampilan di atas mempengaruhi buruknya citra polisi di mata masyarakat. 2. Judul Skripsi "Optima!isasi Peranan Fungsi Pengamanan Kepolisian dalam Upaya Peningkatan Citra Palisi di Polres )vfetro Jakarta Selatan ", Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (I'TIK), Skripsi ini ditu!is oleh Chaidir. Hasil penelitian skripsi ini mengungkapkan bahwa fungsi pengamanan yang dilakukan oleh Polres Metro Jakarta Selata11 cukup baik, meski masih terdapat kendala, yaitu kecilnya anggaran clan kurang optimalnya kemampuan intelejen. Skripsi yang ditulis oleh Chaidir hanya terfokus pada bagaimana fungsi pengamanan polisi dapat membangun clan!lleningkatkan

20 I I citra polisi di mata masyarakat Jakarta Selatan. Dengan jumlah responclens 30 orang, Chaidir mencoba mengeneralisasikan bahwa masyarakat Jakarta Se!atan menilai bal1wa pengamanan yang telal1 dilakuhm oleh Polres Jakarta Selatan Cukup Baik dan masih cliperlukan optimalisasi fungsi-fungsi '. kepolisian lainnya guna membangun citra positif polisi di mata masyarakat. Dari kedua skripsi yang telah cliuraikan di atas, penul:is berpendapat bal1wa skripsi yang akan ditulis ini" berbeda clengan skripsi di alas. Penulis akan meneliti seberapa baik citra polisi Polres metro Jalcarta Selatan di mata masyaralcat Jakarta Selatan. Tolak ukur yang dipalcai penulis adalah tugas dan wewenang polisi, bukan 3 (tiga) penampilan POLRI clan fungsi keamanan sebagaimana skripsi di atas. Selain itu penulis juga akan meneliti pengetahuan masyarakat.ja!:arta Selatan terhadap tugas clan wewenang yang dimiliki oleh polisi. Oleh karena itu penulis memberi judul skripsi ini clengan juclul "CITRA LEMBAGA KEPOLISIAN SEBAGAI PENEGAK HUKUM SI MATA MASYARAKAT". F. Metode Penelitian Di clalam mengungkapkan segala permasalahan clan pembahasan yang berkaitan clengan materi penulisan, malca data-data atau info1111asi yang akurat sangat di butuhkan. Untuk itu perlu cligunakan sarana penelitian beberapa kegiatan ilmial1 yang mendasar kepacla metocle penelitian. Agar clapat mempelajari setiap gejala atau fakta yang menjadi permasalahan, clalam penulisan ini, penulis menggunakan metode penelitian sebagai berikut :

21 12 I. Jen is Data Adapun jenis data yang dikumpulkan dalam penulisan skripsi ini adalah data kualitatif dan kuantitatif yakni, menggali secarn mendalam permasalahan yang dianalisis. Adapun pendekatan yang dipakai melalui pendekatan empiris '. yakni dengan melihat dari sudut pandang masyarakat. 2. Jenis Penelitian a) Penelitian lapangan b) Penelitian pustaka 3. Sumber data Sumber data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah : a) Sumber data primer, yaitu bahan-bahan utama yang bersifat mengikat bernpa data yang diperoleh dari angket yang disebarkan. kepada masyarakat Jakarta Selatan. b) Sumber data sekunder, yakni bahan-bahan yang dapat memberi penjelasan dalam menganalisis data primer, yaitu data-data yang diperbleh dari ihnu hukum, Undang-Undang d:an data-data lain yang masih relevan dan dapat menunjang penelitian ini. 3. Metode Pengumpulan Data Adapun metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan : a) Survei, yalmi telmik pengwnpulan data dengan menyerahkan atau mengirimk:m daftar pertanyaan ( angket) untuk diisi sendiri oleh

22 13 Pengguna jasa kepolisian metro Jakarta Selatan. Penulis menggunakan angket dengan skala ordinal, yaitu pengukuran yang telah menyediakan alternatif jawaban dengan beberapa skala sesuai kebutuhan. Angket diberikan kepada 100 responden sebagai sampel dengan menggunakan. ' ' metode non random, yaitu angket diberikan tertuju langsung kepada rcsponden secara aksidentil di sekitar!cantor Polres Jakarta Selatan. b) Studi dokumentasi naskah. cara mengambil data tersebut yakni dengan pen el usuran naskah. 4. Metode pengolahan Data Sebelum data yang telah terkumpul diolah, maka penulis melakukan pemisahan data antara data kuantitif dan data kualitatif. Data kuant;tatif diolah dengan program SPSS 16;0 dan Microsoft Excel. Data yang ada akan clihitung mean, presentase, clan stanclar deviasinya. Sedangkan data kualitatif diolah dengan cara penelusuran naskah dan mengabil data yang akan clibutuhkan. 5. Metocle Analisis Data Data kuantitatif yang telah terkumpul cla11 cliolah kemudian akan dianalisis dengan menggunakan analisis statistik cleskritif yang merupakan hasil tabulasi, sehingga menjadi kalimat agar memuclahkan pemahaman terhadap data yang telah diolah. 6. Teknikpenulisan Teknik penulisan dalam skripsi ini disesuaikan clenagn ketentuan yang berlaku di Fakultas Syari'ah dan Hukum UIN Syarif Hiclayatullah Jakarta.

23 14 Adapun buku pedoman penulisan yang digunakan adalah buku peclom2n penulisan skripsi Fakultas Syari'ah clan Hukum yang cliterbitkan oleh UIN Jakarta Press. F. Sistcmatika Penulisan Untuk sistematika penulisan, seluruh skripsi 1111 terdiri dari lima bab, Adapun sistematikanya sebagai berikut: BABI Berisikan latar belakang masalah, Pembatasan masalah, Perumusan Masai ah, Tujuan dan Manfaat Penelitian, Tinj auan Kaj ian Terdahulu, Metode Penelitian dan Sistematika Pembahasan. BAB II Mencleskripsikan Tentang Fungsi clan Tujuan Kepolisian, Tugas clan Wewenang Polisi, Profesionalisme Polisi, Persepsi Masyarakat Terhaclap Polisi, Polisi Me1iurut Islam. BAB III Mencleskripsikan Tentang Biografi Kepolisian Reso1t Metro Jakarta Selatan, yang berisi tentang Visi dan Misi, Bagian clan Saluan, serta Struktur Kepolisian Resort Metro Jakatta Selatai1. BAB IV Menjelaskan tentai1g Identitas Respondens Penelitian, Interaksi masyarakat Jakarta Selatai1 clengan Lembaga Kepolisian, Citra Polisi sebagai Pelayan, Pelinclung clan Pengayom Masyarakat di Mata Masyarakat Jakarta Selatan. BAB V Penutup; Kesimpulan clan Sai ai1

24 BAB II LANDASAN TEORI CITRA ETIK POLISI SEBAGAI PENEGAK HUKUM Citra eti k Polisi sebagai penegak hukum yang dimaksud di sini adalah citra yang lebih baik, tentunya. Sesaat memangku jabatan kepolisian Republik Indonesia Jendral Awaloedin ( ) bertekad memperbaiki citra polisi di mata rakyat. Menurut Beliau, sangat banyak tugas penegak hukum yang harus dijalankan oleh polisi membawa resiko, bahwa ketertiban masyarakat sangat bergantung padanya. Ketergantungan yang demikian itu berarti, bahwa mutu. penegakan hukum yang dijalankan oleh polisi akai1 sangat mempengaruhi mutu ketertiban yang terdapat dalam masyarakat pu!a. 1 Polisi pada era reformasi harus profesional dalam bidang penegakan hukum, seiring dengan munculnya paradigma baru budaya polisi yang berwatak sipil dalam melaksanakan tugas pokoknya. Tugas pokok polisi adaj.ah sebagai pelindung masyarakat, mengayomi masyarakat, serta melayani rnasyarakat. Sebagai pelindung masyarakat, polisi hams melindungi masyarakat dari berbagai gangguan, termasuk memberikan perlindungan kepada tersa.ngka/pelaku kejahatan yang diduga melakukan perbuatan tindak pidana dari pengeroyokan masyarakat. Mengayomi masyarakat artinya membimbing dan mengarahkan masyarakat agar berprilaku tertlb Anton Tabah, Palisi Pelaku dan Pemikir (Jakarta: PT Gramcdia Pustaka Utama, 1993), h.

25 16 dan teratur. Sedangkan Polisi sebagai pelayan masyarakat tentunya diartikan dalam ha! yang positif, misalnya melayani sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan masyarakat sesuai dengan norma hukum dan agama yang berlaku. Pe!ayanan yang diberikan tanpa pamrih, tanpa mengaharapkan pemberian dari. masyarakat. 2 Citra menurut kamus besar Bahasa Indonesia adalah gambaran, gambaran yang dimiliki orang banyak mengenai pribadi, perusahaan, organisasi atau produk. 3 Menurut Purwoto S.Ganda Subrata, etis atau etika merupakan falsafah moral untuk mendapat petunjuk tentang perilaku yang baik, berupa nilai nilai luhur dan aturan-aturan pergaulan yang baik,dalan1 hiclup bermasyarakat clan kehiclupan 'b cl' 4 pn a i. sebagai : Dalam Kam us Besar Bahasa Indonesia, pengertian etik ( etika) clirumuskan a. llmu tentang apa saja yang baik clan buruk, dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak) b. Kumpulan azas atau nilai yang berkenaan clengan akhlak. c. Nilai-nilai mengenai benar dan salah yang clianut oleh suatu golongan atau masyarakat umum 2 Pudi Rahadi, Hukum Kepolisian (/'rofesiona/isme dan.rejbrmasi Palisi); (Surabaya: Laksba 1g Mediatama, 2007), h W.J.S. Purwodarminto, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), h. " lskandar Kami!, Pe1oman Peri/aku Hakim dan Maka/ah Berkaitan, (Jakarta: Mahkamah Agung RI, 2007), h. 22

26 17 Secara sistematis, etika dibedakan menjadi etika umum dan etika klrnsus. Etika khusus selanjutnya dibedakan lagi menjadi etika individual dan sosial. Etika umum membahas tentang prinsip-prinsip dasar dari moral, seperti pengertian etika, fungsi etika dan sebagainya. Di lain pihak, etika khusus menerapkan prinsip-prinsip ' " dari moral itu pada masing-masing kehidupan manusia. Etika khusus yang individul memuat kewajiban manusia terhadap diri sendiri, dan etika sosial membicarakan tentang kewajiban manusia sebagai anggota umat manusia. Dua je11is etika khusus tersebut tidak dapat dipisahkan satu dengan Iainnya. Etika sosial ini bm1yak sekali pembidangannya, seperti etika keluarga, etika politik, etika lingkungan hidup dan etika profesi. 5 Dalam kamus besar Bahasa Indonesfa dijelaskan bahwa profesi adalah bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (ketrampilan, kejujuran dan sebagainya) tertentu. Profesi dapat dibedalcan menjacli 2 ( dua), yaitu profesi pacla umumnya seperti diuraikan dalam pengertian profesi di atas clan profesi Iulrnr. Pengertian profesi yang Iuhur, yaitu profesi yang pada haldkatnya merupakan suatu pelayanan pacla manusia atau masyarakat. Motivasi utama dalam rnenjalankan profesi yang luhur aclalah kesediaan yang bersangkutan untuk melayani sesamanya. Conteh profesi ini adalah rohaniawan, dokter, wartawan, hakim, advokat, notaris, jaksa, clan I.. ]JO ISL 6 ' C.S.T. Konsil, Christine S.T. Kansil, Pokok-pokok Etika Prqfes1 Hukum, (Jakarta: Fradnya Paramita, 2006), h. 4. 6!bid, h. 6-7.

27 18 Dalam mejalankan profesi agar tetap berada dalam kerangka nilai-nilai moral maka diperlukan aturan (code of conduct) berupa etika. 7 1-Iakekat setiap profesi tercennin dari!code etiknya yang berupa suatu ikatan, suatu aturan (tata) atau norma (kaidah) yang harus diindahkan yang berisi petunjuk-petunjuk kepada para anggota organisasi profesi tentang larangan-larangan, yaitu apa yang tidak boleh diperbuat, tidak saja dalam menjalankan profesinya, tetapi juga mengatur prilaku mereka dalam masyarakat. 8 Dengan demikian definisi Citra Etik adalah gambaran dalam melaksanahtn nilai-nilai moral (baik dan buruk) dalam kehidupan. Citra etik terdapat dalam setiap pekerja;in atau profesi, begitu juga profesi Palisi. Citra etik clalam pekerjaan atau profesi juga disebut dengan kocle etik profesi. Kacie etik profesi aclalah suatu tuntutan, bimbingan atau pedoman moral atau kesusilaan untuk suatu profesi tertentua atau merupakan dafta kewajiban clalam menjalankan profesi yang clisusun oleh para anggota profesi itu sendiri clan mengikat mereka clalam praktik. Dengan clemikian kode etik berisi nilai-nilai etis yang ditetapkan sebagai sarana pembimbing clan pengendali bagaimana seharusnya pemegang profesi berprilaku dalam n1enjalankan profesinya. Jadi nilai-nilai yang terkandung dalam kode etik profesi adalah nilai-nilai etis. 9 7 Sadjijono, Etika Profesi Kepo!isian, Suatu Te/aah Filosofis, Konsep dan lmplementasinya da/am Pe/aksanaan Tugas, (Surabaya: Alfina, 2006), h. 10. 'Liliana Tedjosaputro, Etika Profesi dan Profesi Hukum, (Semarang: Aneka Ilmu, 2003), h Pudi Rahadi, Hukum Kepolisian (Profesionalisme dan Reformasi Po!isi), h

28 19 Kode etik bagi profesi kepolisian tidak hanya didasarkan pada kebutuhan profesional, tetapi juga telah diatur secara normatif dalam UU RI No. 2 tahun 2002 tentang Polri yang ditindaklanjuti dengan Peraturan Kapolri No. 7 tahun 2006 tentang Kode Etik Profesi Polri, sehingga Kode Etik Profesi Polri berlaku mengikat bagi setiap anggota Polri. 10 Dalam Pasal 34 dan 35 UU RI No. 2 tahun 2002 tentang Po!ri disebutkan bahwa : (1) sikap dan prilaku pejabat Polri terikat pada kode etik profesi Polri; (2) Kode etik profesi Polri dapat menjadi pedoman bagi pengemban fungsi kepolisian lainnya dalam melaksanakan tugas.sesuai dengan peraturan perundaiig-undangan yang berlaku dilingkungannya; dan (3) ketentuan mengenai kode etik profesi Polri diatur dengan Keputusan Kapolri. Selajutnya dalam pasal 35 disebutkan: (1) Pelanggaran te haclap kode etik profesi Polri O!eh pejabat Polri diselesaikan oleh komisi kode etik Polri; clan (2) Ketentuan mengenai susunan organisasi clan tata ke1ja komisi kode etik Polri diatur dengan Keputusan Kapolri. Kode etik tidak hanya mengatur etika kepribadian, kelembagaan clan kenegaraan bagi setiap anggota Polri, tetapi juga mengatur etika clalam lmbungan clengan masyarakat. Dalam pasal I angka 9 Peraturan Kapolri No. 7 Tahun 2006 tentang Kode Etik Profesi Polri disebutkan bahwa : "Etika dalam hubungan dengan masyarakat adalah sikap moral anggota Polri yang senantiasa memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat". Selai\jutnya clalam pasal IO Kocle Etik ' Ibid, h

29 20 Profesi Polri dikatakan bahwa : "Dalam etika hubungan dengan masyarakat maka anggota Polri wajib: a. Menghormati harkat dan martabat manusia melalui penghargaan serta perlindungan terhadap hak asasi manusia. b. Menjunjung tinggi prinsip kebebasan dan kesamaan bagi semua warga negara. c. Menghindarkan diri dari perbuatan tercela dan menjunjung tinggi nilai kejujuran, keadilan dan kebenaran demi pelayanan pada masyarakat. d Menegakkan hukum demi menciptakan tartib sosial serta rasa aman publik. e. Meningkatkan mutu pelayanan pada masyarakat. f Afelakukan tindakan pel'fama kepolisian sebagaimana diwajibkan dalam tugas kepolisian, ba.ik sedang bertugas maupun di luar dinas. " Nilai~nilai moral tersebut di atas memberikan arahan dan pedoman kepada setiap anggota Polri dalam pelaksanaan tugas penegakan hukum dan pemeliharaan Kamtibmas. Nilai-nilai yang terkandung sangat tinggi, sehingga jika dijalankan dengan baik akan dapat memberikan rasa senang dan tenang kepada masyarakat yang membutuhkan bantuan Polisi berkaitan dengan penegakan hukum. Hal ini tentunya sesuai dengan slogan Polri yang berbunyi "Tekadku Pengabdian Terbaik" clan slogan "Mengayomi dan Melayani Masyarakat". Mengapa persoalan citra Polri se.lalu muncul? Karena begitu dekatnya polisi dengan masyarakat,!tiaka masyarakat pun menaruh banyak harapan kepada polisi

30 21 schingga dcngan dcmikian kinc1:ia (pe1:fim11a11ce) polisi pun mcndapal banyak pcrhatian. Hasil interaksi antara harapan masyarakat dan kine1:ja (tugas clan wcwcnang) Polri itulah yang membuahkan citra polisi. 11 A. Fungsi dan Tujuan Kcpolisian Dalam kctcntuan umurn UU Republik Indonesia No.2 Tahun 2002 Tentang Kcpolisian Negara RI (Polri) terdapat rumusan mengenai definisi clari berbagai ha! yang berkaitan clcngan polisi, termasuk penge1iian kepolisian. Hanya saja clefinisi tcntang kcpolisian ticlak dirurnuskan secara lengkap karena menyangkut soal fungsi dan lcmbaga polisi sesuai yang diatur dalam pcra!uran perundang-undangan. Sclcngkapnya Pasal I ayat l-3 Undang-Undang RI No.2 Tahun 2002 Tentang Kcpolisian Negara RI (Polri) bcrbunyi: Dalam undang ut'dang ini yang dimaksucl dengan: I. Kcpolisian adalah segala hal ihwal yang berkaitan dcngan peraturan pcrundang undangan. 2. Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah pegawai ilegeri pacla Kcpolisian Republik Indonesia 3. Pcjal;at Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah ai1ggota Kepolisian republik Indonesia ynng berdasarkan undang- undang memiliki wewenang umum Kcpolisian. Menurut Sacljijono, istilah "polisi" clan "kepolisian" mengandung pengertian yang berbeda. lstilah "polisi" aclalah sebagai organ atau Jr~mbaga pemerintah yang ada dala111 negara, sedang istilah "kepolisian" adalah sebagai organ clan sebagai!'ungsi. Scbagai organ, yakni suatu lembaga pemerintah yang terorganisasi clan 11 Anton Tabalt, f'o!j:,; f'e!aku dan f'emikir (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1993), h. 213.

31 22 tcrstruktur clalam organisasi negara. Scclangkan sebagai fungsi, kepolisian berarti tugas clan wewenang serta tanggung jawab lembaga atas kuasa unclang-unclang untuk mcnyclcnggarakan fungsinya antara lain pcmeliharaan kearnanan clan ketertiban masyarakat, pcncgakan hukum, peli!1clung, pengayom clan pejayan masyarakat. 12 Di cl a lam Black's Law Diclionary clisebutkan, bahwa "Police is a branch of the goverrnent which is charged with the preservation of public order and tranquility, the promotion of the public health, safety and morals and the prevention, detection, and punishment of crimes". 13 Arti kepolisian clisini clitekankan kepada tugas-tugas yang harus clijalankan sebagai bagian clari pemerintalrnn, yakni memelilmra keamanan, ketertiban, ketentraman masyarakat, mencegah clan menindak pelaku kejahatan. Sesuai clengan kamus umum bahasa Indonesia, bahwa polisi diartikan, pcrlama scbagai baclan pemerintvh yang bertugas mernclihara keamanan clan ketcrtiban urnum (seperti menangkap orang yang melanggar unclang-undang dsb.), kcdua, sebagai anggota clari baclan pemerintahan tersebut di alas (pegawai negara yang bertugas mcnjaga keamanan clsb.). 14 Istilah Kcpolisian clalam Pasal 1 angka 1 tersebut cli atas mcngandung dua pcngertian, yakni fungsi polisi clan lembaga Polisi. Pengertian tcntang fungsi polisi 12 Sadjijono, Hukum Kepolisian (Perspektif Kedudukan dan Hubungannya dalam Hukum Ad111i11istrasi), (Yogyakarta: Laksbang Pressindo, 2006) h Henry Ca1nbe\I Black, Black's Lall' Dictionruy lvith l)ronounciations, (\Vest Publishing "'?.:. Co. USA, l 979), Fifth Edition, h. I W.J.S. Ptir\\lodanninto, Krunus Unuun Bahasa Indonesia, h. 763.

32 23 tcrclapat dalarn pasal 2 Undang Undang RI No.2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara RI (Polri) yang berbunyi: "Fungsi Kepolisian adalah salah satu fungsi pemerintahan negara di bidang pcrnel iharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum, pcrlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat". Pcngertian kcpolisian sebagai fungsi tersebut diatas sebagai salah satu fungsi pcmerintahan Negara, di bidang pemcliharaan keamananan clan ketertiban nrnsyarakat, pcncgakan hukum, pelinclung, pengayom clan pclayanan kepacla 111asyarakat. Scdang pengertian kepolisian sebagai lembaga aclalah organ pemerintah yang ditctapkan scbagai suatu lembaga yang diberikan kewenangan menjalankan l'ungsinya bcrdasarkan peraluran perundang undangan. Jacli, apabila kita rnembicarakan persoalan kepolisian berarti berarti berbicara tentang fungsi dan lcrnbaga kcpolisian. Fungsi Kcpolisian ditemukan melalui penguraian climensi fungsi Kepolisian yang tenliri dari dirncnsi yuridis clan sosiologis. Dalam dimensi yuridis fi.mgsi Kcpolisian terdiri atas fungsi Kepolisian Umum clan fungsi Kepolisian Klrnsus. 15 F1111gsi Kepo/isian Umum berkaitan dengan kewenangan Kepolisian bcrdasarkan undang-undang clan atau peraturan perundang-undangan yang meliputi scrnua lingkunt'an kuasa hukum yaitu: (l) Lingkungan kuasa soal-soal yang termasuk kompctcnsi Hukum Publik; (2) Lingkungan kuasa orang; (3) Lingkungan kuasa 15 Pudi Rahadi, l/11ktt1j1 Kepo/isian (Profesiona/isn1e dan Refor11u1si l?o/ri, h. 56

33 24 lcmrat; dan (4) Lingkungan kuasa waktu. 16 Scdang pcngcmban fungsi Kcpolisian Umum, scsuai unclang-undang ini adalah Kepolisian Negma Republik Indonesia, schingga tugas dan wcwcnangnya dengan sendirinya akan mencakup keempat lingkungan kuasa terse but. Selain dilihat dari tataran fungsi.kepolisian, kcwenangan Kepolisian Negara Republik Indonesia juga mencakup tataran represif, preventif, dan pre-empt if Fungsi Kepo/isian Khusus, berkait dengan kewenangan Kcpolisian yang oleh ntau atas kuasa undang-undang secara khusus ditentukan untuk satu lingkungan kuasa. Baclan-baclan pemerintahan yang oleh atau atas kuasa unclang-undang diberi wcwcnang untuk melaksanakan fungsi Kepolisian Khusus di biclangnya masingmasing clinamakan alat-alat Kepolisian Khusus. Kepolisian Khusus, sesuai clengan unclang-unclang yang menjacli clasar hukumnya, beracla clalam lingkungan instansi tcrlcntu scpcrti antara lain: Bea Cukai, Imigrasi, Kehutanan, Pengawasan Obat clan ivlakanan, Patent dan Hak Cipta. Di antara pejabat pengemban fungsi Kepolisian I<.lmsus, ada yang cliberi kewenangan represif yustisial selaku penyiclik clan c1isebut sebagai penyiclik pegawai negeri sipil. 17 Dalarn dimensi sosiologis, fungsi Kepolisian tercliri atas peke1:jaan-pekerjaan tcrtcntu yang dalarn praktek kehidupan masyarakat clirasakan perlu clan acla manfoatnya, guna mewujudkan keamanan clan kelertiban di lingkungannya, sehingga 16 Mo1110 l(e!ana, A,fe111Gha111i Undang-11nda11g Kepo!isian Republik Indonesia, Jakarta: Sin<ir Gradifndo, 2004), h Pudi Rahadi,!iulaon Kcpolisian (Profesionalis1ne dan Reforn1asi J>ofri, h. 58.

34 25 dilri waklu kc waklu dilaksanakan atas dasar kcsadaran dan kcnrnuan masyarnkat sendiri sccara swakarsa serta kemudian melembaga dalam tata kchidupan masyarakat. Fungsi Kcpolisian sosiologis dalam masyarakat hukum adat clapat disebutkan antara lain: penguasa adat dan kepala desa. Sedangkan yang tumbuh dan berkcmbang sesuai kcbutuhan masyarakat antara lain berbagai bentuk satuan pengamanan lingkungan baik lingkungan pcmukiman, pendidikan maupun lingkungan kerja. Sctiap pcngemban fungsi Kepolisian dalam rnelaksanakan tugasnya scsuai dasar hukumnya masing-masing bersifat otonom. Dengan demikian hubungan antar pengemban fungsi Kcpolisian bcrsifat fungsional dan saling melengkapi c!engan mengembangkan azas l._,. IR su ')S!u1ar1tns. Fungsi Kcpolisian seperti cliatur c!alam Pasal 2 UU Nomor 2 Tahun 2002 <1dalah mcnjalankan salah salu fungsi pcmerintahan negara dalam tugas pcnegakan hukum selain perlindungan, pengayoman clan pelayanan masyarakat. Hal tersebut dipcrtegaskan dalam Pasal 14 Ayat (!) huruf g UU Kepolisian bahwa polisi bcrwenang rnelakukan penyidikan terhaclap semua tinclak pidana. Hal demikian mcnyatakan bahwa polisi aclalah penyidik clan berwenang melakukan penyiclikan tindak pidana yang scbelumnya didahului oleh tindakan penyelidikan oleh pen ye I 1c. l'k '"!hid. h C.S.T. Konsil, Christine S.T. Kansil, Pokok-pokok Etika Pro/esi Hukum, h. 137.

35 26 Dalam mcnjalankan fungsi sebagai aparat penegakan hukum, polisi wajib mcmahami azas-azas hukum yang digunakan sebagai bahan pcrtimbangan dalam pclaksanaan tugas, yaitu scbagai berikut: 20 a. Asas legalitas, dalam melaksanakan tugasnya sebagai penegak hukum wajib tunduk pada hukum. b. Asas kcwajiban, merupakan kewajiban polisi dalam menangani pcnnasalahan dalam masyarakat yang bersifat diskresi, karena belum diatur dalarn hukum. c. Asas partisipasi, dalam rangka mengamankan lingkungan masyarakat polisi rncngkoordinasikan pengamanan swakarsa untuk mewl\judkan ketaatan hukum di kalangan masyarakat. d. Asas prcventif, selalu mengedepankan tindakan pencegahan dari pada penindakan (represif) kepada masyarakat. c. Asas subsidiaritas, melakukan tugas instansi lain agar tidak menimbulkan permasalahan yang lebih besar sebelum ditangani oleh instmsi yang mcrn bidangi. Scianjutnya mengenai tujuan Polri disebutkan dalam Pasal 4 Undang-Undang RI No. 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara RI (Polri) yang menyatakan bahwa: "Kepolisian Negara Republik Indonesia berlujuan untuk mewujudkan kcamanan dalam ncgeri yang meliputi terpeliharanya keamanan clan ketertiban rnasyarakat, tertib clan tegaknya hukum, terselenggaranya perlindungan, pengayoman clan 20 Bisri Jlham, Sistem Hukwn Indonesia, (Jakarta: Grafindo Pcrsada, 2004), h. 32.

36 27 pclayanan masyarakat, serta terbinanya ketenteraman masyarakat clengan menjunjung tinggi hak asasi manusia". 21 Pcrnyataan tcntang tujuan Kepolisian sangat penting artinya bagi pembcntukan jati diri Kepolisian, karena tujuan akan mcmberi batasan clan arch tentang apa yang harus dicapai mela!ui penyelenggaraan l\jngsi Kepolisian clalam kescluruhan pe1juangan bangsa untuk mencapai tujuan nasional. Kejclasan tujmu1 Kcpolisian akan rnemberikan pula kejelasan visi clan misi yang cliemban Polri schingga pada gilirannya akan merupakan pctunjuk clan peclornan bagi pencntuan mctocle pelaksanaan tugasnya secara tepat. Tujuan negara scbagai perwujudan clari falsafah/icleologi suatu ncgara sclalu mcnjacli acuan bagi tujuan Kepolisian. Dengan demikian, tiap negara mempunyai tujuan Kcpolisian sencliri yang khas clan terikat clengan falsafah/ideologi negara clan tujuan ncgara yang dapat diketahui dari konstitusi atau Undang-Unclang Dasar Negara yang bcrsangkutan. Dalam mencapai tujuan Kepolisian, falsafah/icleologi negara scnantiasa mcnjiwaidan mewamai sikap atau perilaku Kepolisian, baik sikap dan pcri!aku pcrorangan maupun organisasi Kepolisian, sehingga membentukjati cliri Kcpolisian yang diwujuclkan clalam ajaran atau konsepsi Kepolisian, azas Kepolisian dan Kode Etik Kepolisian. Pcrubahan paradigma ketatanegaraan di Indonesia yaitu Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Perubahan Kedua, Ketctapan MPR Nomor VI/MPRJ2000 dan Kctetapan MPR Nomor VIl/2000 dalam C.S.T. Konsil, Christine S.T. Kansil, Pokok-pokok Etika Proj?si Hukum, (Jakarta: Pradnya Paramita, 2006), h. I 30.

37 29 Konsekucnsi dari pelaksanaan salah satu fungsi pemerintahan tersebut, maka kcdudukan kcpolisian berada di bawah Prcsiden yang secara ketatanegaraan tugas pcmcrintahan mcrupakan tugas lembaga eksekutif yang dikcpalai oleh Prcsidcn. Dan jika dilihat dari sistem ketatanegaraan berdasarkan UUD 1.945, lembaga kepolisian merupakan lembaga pemerintahan (regeringsorganen). Dengan dipisahkannya Polri dari TN! maka sccara kelembagaan dapat clikatakan kcpolisian sebagai lembaga administrasi (administrative organen), karena tugas di bidang kearnanan dan kctertiban umum merupakan tugas clan wewenang administrasi. Konsekuensi logis scbagai lcmbaga pemerintahan inilah, institusi kepolisian kedudukannya kemudian ditempatkan di bawah Presiden selaku kcpala pemerintahan. 24 Dala111 Pasal 13 Undang-Undang RI No. 2 Tahun 2002 Tcnlang Kcpolisian Ncgarn Rl (Polri) clisebutkan, bahwa Tugas Pokok Kcpolisian Ncgarn Rcpublik Indonesia adalah: 25 a. Memclihara keamanan dan ketertiban masyarakat. b. Menegakkan hukum; clan c. Memberikan perlindungan, pcngayoman, dan pelayanan kepada masyarakat. Subslansi tugas pokok memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat bersumber dari kewajiban umum kepolisian lll1tuk menjamin keamanan umum. Sedangkan substansi tugas pokok menegakkan hukum bersumber dari ketentuan " Pucli Rahardi, l/11k11111 Kepolisian, (Pro/esionalisme clan Re/otmasi Po/ri), h C.S.T. Konsil, Christine S.T. Kansil, Pokok-pokok Etika Pro/es/ H11k11111, (Jakarta: Pradnya l'aramita, 2006), h. 136, lihat juga Pudi Rahardi, H11k11111 Kepo/isian, (Profesionalisme clan Refotmasi Po/ri), h. 67.

38 30 peraturan perundang-undangan yang memuat tugas pokok Polri dalam kaitannya dengan peradilan pidana, contoh KUHP, KUHAP dan berbagai Undang-undang terlenln lainnya. Seianjutnya substansi tugas pokok Polri untuk memberikan perlindungan, pengayoman clan pelayanan kepada. masyarakat. bersumber dari kedudnkan dan fungsi kepolisian sebagai bagian dari fungsi pemerintahan negara yang pada hakekatnya bersifat pelayanan publik (public service) yang termasuk dalam kewajiban umum kepolisian. 26 Adapun rincian tugas Polisi dari pasal 13 di atas terdapat lebih spesifik dalam pasal 14. Ketentuan dalam pasal 14 ayat 1 huruf a s/d f merupakan kelompok tugas J'OLRI yang bersumber dari tugas pokok "memelihara keamanan dan ketertiban mmyarakat" dan merupakan fungsi-fungsi teknis dalam rangka pelaksanaan kewajiban umum Kepolisian. Setiap anggota/pejabat Polri harus memahami tugastugasnya sehingga dapat diaplil:asikan di lapangan tanpa menemui banyak kendala dan halangan. Tugas Pcnyelidikan dan penyidikan yang harns dilaksanaka11 oleh penyelidik clan penyidik (Pcjabat Polri atau menurut istilah KUHAP "Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia) meliputi kegiatan: 27 I. Mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana; 2. Menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan; 26 Pudi Rahardi, Hukum Kepolisian, (Profesionalisme dan Refotmasi Po/rt), h Pudi Rahardi, Hukwn Kepolisian, (Profesionalisme dan Refotmasi Polri), h

39 31 3. Mencari serta mengumpulkan bukti; 4. Membuat terang tentang tindak pidana yang te1jadi; 5. Menentukan tersangka pelaku tindak pidana. Undang-undang RI No. 8 tahun 1981 tentang I-fokum.Acara Piclana (KUHAP) memberikan peran utama kepacla Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk rnelaksanakan tugas penyeliclikan clan penyiclikan tindak piclana (secara umurn) tanpa batasan lingkungan kuasa, sepanjang masih termasuk dalam lingkup hukum publik, sehingga pacla clasarnya Kepolisian Negara Republik Indonesia oleh KUHAP diberi kewenangan untuk melakukan penyeliclikan clan penyiclikan terhadap semua tindak piclana. Namun demikian KUHAP masih memberikan kewenangan kepada Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu untuk melakukan penyiclikan sesuai clengan wewenang khusus yang diberikan oleh Unclang-undang yang menjacli da8ar hukumnya masingmasing (Penjelasan Pasal 7 ayat (2) Undang-undang No. 8 Tahun 1981). Mengenai kewenangan um um yang dipunyai Polri berdasarkan Pasal 15 (1) Undang-Undang RI No. 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara RI (Polri) tersebut di alas dapat dijelaskan lebih lanjut dalam.uraian berikut. Bahwa rumusan Pasal 15 ayat (1) huruf a merupakan legitimasi bagi kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai "Pejabat yang berwenang" menerima laporan dan pengaduan dalam rangka pelaksanaan tugas Kepolisian. Di samping itu, Pasal 15 ayat (1) huruf a ini merupakan pula penegasan dari kewenangan penyelidik dan penyidik sebagaimana dimaksud Pasal 5 ayat (I) dan Pasal 7 ayat (1) KUHAP (UU No. 8 tahun 1981) yaitu "Menerima laporan dan pengaduan dan seseorang tentang adanya tindak pidana".

40 32 Dengan demikian dapat disimak bahwa kewenangan Polri dalarn menerima laporan dan pengaduan, rnempunyai dua sumber yaitu: (I) sebagai kewajiban umum Kepolisian menurut UU No. 2 Tahun 2002; dan (2) sebagai kewajiban dalam rangka proses pidana rnenurut KUHAP. 28 Kewenangan umum untuk memberikan bantuan pengamanan juga dapat dimanfaatkan dalam kegiatan instansi lain serta kegiatan masyarakat pada u numnya. Namun demikian pengguman kewenangan ini hanya atas permintaan instansi yang berkepentingan atau atas permintaan masyarakat. Bantuan pengamanan oleh Polri tersebut diberikan untuk memperkuat pengamanan yang dilakukan secara internal oleh instansi atau masyarakat yang bersangkutan. Kegiatan masyarakat yang sifatnya masal dan berpotensi menimbulkan gangguan biasanya dimintakan bantuan pengamanan kepada Polri selaku institusi pemelihara dan penjaga Kamtibmas. Pengamanan oleh Polri tersebut di samping sebagai pelaksanaan tugas Poiri selaku pemelihara Kamtibmas, juga sebagai wujud pemberian pelayanan umum yang baik dari institusi kepolisian kepada masyarakat. 29 C. Profcsionalismc Polisi Profesi Polri adalah profesi mulia (nobile ofjicium) sebagaimana profesiprofesi terhormat lainnya yang memberikan perlindungan dan pengayoman kepada 28 Pudi Rahardi, Hukum Kepolisian: (Profesionalisme dan Refotmasi Polri), h Anton Tabah, Palisi Pe/aku don Pemikir, h. 95.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Sekarang ini masyarakat sangat membutuhkan peran Polisi sebagai pelindung

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Sekarang ini masyarakat sangat membutuhkan peran Polisi sebagai pelindung BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sekarang ini masyarakat sangat membutuhkan peran Polisi sebagai pelindung dan pengayom masyarakat. Hal ini terbukti dari banyaknya jenis tindak pidana dan modus

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berdasarkan atas kekuasaan belaka, maka segala kekuasaan negara harus

BAB I PENDAHULUAN. berdasarkan atas kekuasaan belaka, maka segala kekuasaan negara harus 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Negara Indonesia adalah negara yang berdasarkan hukum tidak berdasarkan atas kekuasaan belaka, maka segala kekuasaan negara harus diatur oleh hukum. Secara tegas dinyatakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. peran penting dalam negara hukum. Karena dalam perspektif fungsi maupun

BAB I PENDAHULUAN. peran penting dalam negara hukum. Karena dalam perspektif fungsi maupun 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kepolisian merupakan salah satu lembaga pemerintahan yang mempunyai peran penting dalam negara hukum. Karena dalam perspektif fungsi maupun lembaga polisi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pemasyarakatan yang berperan penting dalam proses penegakan hukum. Untung S. Radjab (2000 : 22) menyatakan:

BAB I PENDAHULUAN. Pemasyarakatan yang berperan penting dalam proses penegakan hukum. Untung S. Radjab (2000 : 22) menyatakan: BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam tatanan kehidupan bernegara yang berlandaskan dengan ketentuan hukum, penguasa dalam hal ini pemerintah telah membentuk beberapa lembaga penegak hukum

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Hukum adalah sesuatu yang sangat sulit untuk didefinisikan. Terdapat

BAB I PENDAHULUAN. Hukum adalah sesuatu yang sangat sulit untuk didefinisikan. Terdapat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Hukum adalah sesuatu yang sangat sulit untuk didefinisikan. Terdapat bermacam-macam definisi Hukum, menurut P.Moedikdo arti Hukum dapat ditunjukkan pada cara-cara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam hal dan menurut tata cara yang diatur dalam undang-undang untuk

BAB I PENDAHULUAN. dalam hal dan menurut tata cara yang diatur dalam undang-undang untuk BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyidikan tindak pidana merupakan serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut tata cara yang diatur dalam undang-undang untuk mencari serta mengumpulkan bukti

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tertib, keamanan dan ketentraman dalam masyarakat, baik itu merupakan

BAB I PENDAHULUAN. tertib, keamanan dan ketentraman dalam masyarakat, baik itu merupakan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penegakan hukum merupakan salah satu usaha untuk menciptakan tata tertib, keamanan dan ketentraman dalam masyarakat, baik itu merupakan usaha pencegahan maupun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sosial, sebagai makhluk individual manusia memiliki kepentingan masing-masing

BAB I PENDAHULUAN. sosial, sebagai makhluk individual manusia memiliki kepentingan masing-masing BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia dilahirkan sebagai makhluk yang bersifat individual dan juga bersifat sosial, sebagai makhluk individual manusia memiliki kepentingan masing-masing yang tentu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Setiap manusia selalu erat kaitannya dengan etika, baik ketika manusia

BAB I PENDAHULUAN. Setiap manusia selalu erat kaitannya dengan etika, baik ketika manusia 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kata etika sudah melekat dalam setiap interaksi yang dilakukan manusia dengan sesamanya. Sebagai suatu subyek, etika berkaitan dengan konsep yang dimiliki

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Presiden, kepolisian negara Republik Indonesia diharapkan memegang teguh nilai-nilai

BAB I PENDAHULUAN. Presiden, kepolisian negara Republik Indonesia diharapkan memegang teguh nilai-nilai BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang masalah Sebagai sebuah institusi negara yang berada secara langsung di bawah Presiden, kepolisian negara Republik Indonesia diharapkan memegang teguh nilai-nilai profesionalisme

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pengertian tindak pidana dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP)

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pengertian tindak pidana dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) 18 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Tindak Pidana Pengertian tindak pidana dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) dikenal dengan istilah stratbaar feit dan dalam kepustakaan tentang hukum pidana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. positif Indonesia lazim diartikan sebagai orang yang belum dewasa/

BAB I PENDAHULUAN. positif Indonesia lazim diartikan sebagai orang yang belum dewasa/ BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ditinjau dari aspek yuridis maka pengertian anak dalam hukum positif Indonesia lazim diartikan sebagai orang yang belum dewasa/ minderjaring, 1 orang yang di

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. boleh ditinggalkan oleh warga negara, penyelenggara negara, lembaga

BAB 1 PENDAHULUAN. boleh ditinggalkan oleh warga negara, penyelenggara negara, lembaga BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pasal 1 ayat (3) Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyatakan bahwa Negara Indonesia adalah Negara hukum. 1 Hal ini berarti bahwa Republik

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Hukum dan pelanggaran hukum dapat dikatakan merupakan satu

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Hukum dan pelanggaran hukum dapat dikatakan merupakan satu BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Hukum dan pelanggaran hukum dapat dikatakan merupakan satu kesatuan ibarat orang berjalan diikuti oleh bayangannya, begitu pula dengan hukum di negara kita yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tersebut juga termasuk mengatur hal-hal yang diantaranya hubungan antar

BAB I PENDAHULUAN. tersebut juga termasuk mengatur hal-hal yang diantaranya hubungan antar BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Negara Indonesia adalah merupakan negara hukum, dimana hukum mempunyai kedudukan paling tinggi dalam segala hal. Keberadaan hukum tersebut juga termasuk mengatur hal-hal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHAULUAN. Negara Indonesia merupakan negara hukum (rechtsstaat) yang

BAB I PENDAHAULUAN. Negara Indonesia merupakan negara hukum (rechtsstaat) yang BAB I PENDAHAULUAN A. Latar belakang Masalah Negara Indonesia merupakan negara hukum (rechtsstaat) yang berlandaskan pada Pancasila, oleh karena itu setiap tindakan yang dilakukan oleh warga negaranya

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2002 TENTANG KEPOLISIAN REPUBLIK INDONESIA

RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2002 TENTANG KEPOLISIAN REPUBLIK INDONESIA RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2002 TENTANG KEPOLISIAN REPUBLIK INDONESIA KOMISI III DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA JAKARTA 2015 [1] RANCANGAN UNDANG-UNDANG

Lebih terperinci

BAB III PEMBANGUNAN HUKUM

BAB III PEMBANGUNAN HUKUM BAB III PEMBANGUNAN HUKUM A. UMUM Berbagai kebijakan dan program yang diuraikan dalam bab ini adalah dalam rangka mendukung pelaksanaan prioritas pembangunan nasional yang kedua, yaitu mewujudkan supremasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. suatu kegiatan untuk menjaga dan mengawal hukum agar tetap tegak sebagai

BAB I PENDAHULUAN. suatu kegiatan untuk menjaga dan mengawal hukum agar tetap tegak sebagai BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penegak hukum dalam konsep Negara hukum dijalankan untuk menjaga, mengawal dan searah dengan tujuan hukum dan tidak dilanggar oleh siapapun. Kegiatan penegak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ini, yakni: pertama, memberikan layanan civil (Civil Service); kedua,

BAB I PENDAHULUAN. ini, yakni: pertama, memberikan layanan civil (Civil Service); kedua, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kepolisian Negara Republik Indonesia memiliki keterbatasan, baik dalam hal ketersediaan personil, peralatan dan anggaran operasional. Oleh karena itu diperlukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 amandemen ke-iii. Dalam Negara

BAB I PENDAHULUAN. 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 amandemen ke-iii. Dalam Negara BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara hukum, hal ini diatur tegas dalam Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 amandemen ke-iii. Dalam Negara hukum asas taat dan hormat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pancasila dan Undang-Undang Dasar Hal ini dapat dibuktikan dalam Pasal

BAB I PENDAHULUAN. Pancasila dan Undang-Undang Dasar Hal ini dapat dibuktikan dalam Pasal BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia adalah Negara Hukum (Rechtstaats) yang berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Hal ini dapat dibuktikan dalam Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang

Lebih terperinci

PERANAN POLISI DALAM PENCEGAHAN TINDAK PIDANA PENGGELAPAN MOBIL RENTAL DI KOTA SEMARANG (Studi Kasus Di POLWITABES Semarang)

PERANAN POLISI DALAM PENCEGAHAN TINDAK PIDANA PENGGELAPAN MOBIL RENTAL DI KOTA SEMARANG (Studi Kasus Di POLWITABES Semarang) PERANAN POLISI DALAM PENCEGAHAN TINDAK PIDANA PENGGELAPAN MOBIL RENTAL DI KOTA SEMARANG (Studi Kasus Di POLWITABES Semarang) SKRIPSI Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dalam memenuhi Syarat-syarat guna

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG SISTEM OPERASIONAL KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG SISTEM OPERASIONAL KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA HSL RPT TGL 5 MART 09 PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG SISTEM OPERASIONAL KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA KEPOLISIAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL Menimbang: DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang bertujuan mengatur tata tertib dalam kehidupan masyarakat.

BAB I PENDAHULUAN. yang bertujuan mengatur tata tertib dalam kehidupan masyarakat. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Negara kesatuan Republik Indonesia adalah negara hukum yang berlandaskan pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945). Negara juga menjunjung tinggi

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NO. POL. : 7 TAHUN 2006 TENTANG KODE ETIK PROFESI KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NO. POL. : 7 TAHUN 2006 TENTANG KODE ETIK PROFESI KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA Hsl Rpt (12) Tgl 19-05-06 PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NO. POL. : 7 TAHUN 2006 TENTANG KODE ETIK PROFESI KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Di Indonesia secara normatif-konstitusional adalah negara

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Di Indonesia secara normatif-konstitusional adalah negara 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Di Indonesia secara normatif-konstitusional adalah negara berdasarkan hukum, atau yang sering disebut sebagai negara hukum. Ditengah-tengah itu, polisi merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Profesi sebagai polisi mempunyai nilai penting dalam menentukan tegaknya

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Profesi sebagai polisi mempunyai nilai penting dalam menentukan tegaknya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Profesi sebagai polisi mempunyai nilai penting dalam menentukan tegaknya hukum dalam masyarakat oleh aparat penegak hukum. Sebagai anggota polisi harus mengetahui

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mendukung pelaksanaan dan penerapan ketentuan hukum pidana materiil,

BAB I PENDAHULUAN. mendukung pelaksanaan dan penerapan ketentuan hukum pidana materiil, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam kedudukannya sebagai instrumen hukum publik yang mendukung pelaksanaan dan penerapan ketentuan hukum pidana materiil, maka Undang-Undang Nomor 8 Tahun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. wilayahnya dan berbatasan langsung dengan beberapa negara lain. Sudah

BAB I PENDAHULUAN. wilayahnya dan berbatasan langsung dengan beberapa negara lain. Sudah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia adalah sebuah negara yang secara geografis sangat luas wilayahnya dan berbatasan langsung dengan beberapa negara lain. Sudah sepatutnya Indonesia

Lebih terperinci

PELAKSANAAN PERLINDUNGAN KHUSUS TERHADAP ANAK SEBAGAI KORBAN PENCABULAN MENURUT UU NO. 23 TAHUN 2002

PELAKSANAAN PERLINDUNGAN KHUSUS TERHADAP ANAK SEBAGAI KORBAN PENCABULAN MENURUT UU NO. 23 TAHUN 2002 SKRIPSI PELAKSANAAN PERLINDUNGAN KHUSUS TERHADAP ANAK SEBAGAI KORBAN PENCABULAN MENURUT UU NO. 23 TAHUN 2002 Oleh ALDINO PUTRA 04 140 021 Program Kekhususan: SISTEM PERADILAN PIDANA FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lazim disebut norma. Norma adalah istilah yang sering digunakan untuk

BAB I PENDAHULUAN. lazim disebut norma. Norma adalah istilah yang sering digunakan untuk BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Kehidupan manusia merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Esa yang harus dijalani oleh setiap manusia berdasarkan aturan kehidupan yang lazim disebut norma. Norma

Lebih terperinci

Volume 15 Nomor 1 Juni 2015 Volume 15 Nomor 1 Juni 2015

Volume 15 Nomor 1 Juni 2015 Volume 15 Nomor 1 Juni 2015 MALPRAKTIK DI KALANGAN PROFESIONAL HUKUM SEBAGAI BENTUK PELANGGARAN DARI KODE ETIK PROFESI HUKUM Uswatun Hasanah,SH.MHum Abstract Legal professionals consisting of a judge, the prosecutor, Advocate, Notary

Lebih terperinci

SKRIPSI PERANAN PENYIDIK POLRI DALAM MENCARI BARANG BUKTI HASIL TINDAK PIDANA PENCURIAN KENDARAAN BERMOTOR RODA DUA DI WILAYAH HUKUM POLRESTA PADANG

SKRIPSI PERANAN PENYIDIK POLRI DALAM MENCARI BARANG BUKTI HASIL TINDAK PIDANA PENCURIAN KENDARAAN BERMOTOR RODA DUA DI WILAYAH HUKUM POLRESTA PADANG SKRIPSI PERANAN PENYIDIK POLRI DALAM MENCARI BARANG BUKTI HASIL TINDAK PIDANA PENCURIAN KENDARAAN BERMOTOR RODA DUA DI WILAYAH HUKUM POLRESTA PADANG Diajukan Guna Memenuhi Sebahagian Persyaratan Untuk

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. profesi maupun peraturan disiplin yang harus dipatuhi oleh setiap anggota Polri.

I. PENDAHULUAN. profesi maupun peraturan disiplin yang harus dipatuhi oleh setiap anggota Polri. I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) merupakan lembaga yang menjalankan tugas kepolisian sebagai profesi, maka membawa konsekuensi adanya kode etik profesi maupun

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2004 TENTANG KEKUASAAN KEHAKIMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2004 TENTANG KEKUASAAN KEHAKIMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2004 TENTANG KEKUASAAN KEHAKIMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa kekuasaan kehakiman menurut Undang-Undang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2004 TENTANG KEKUASAAN KEHAKIMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2004 TENTANG KEKUASAAN KEHAKIMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2004 TENTANG KEKUASAAN KEHAKIMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa kekuasaan kehakiman menurut Undang-Undang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dalam perjalanannya Kode Etik profesi Advokat dirasa masih berfungsi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dalam perjalanannya Kode Etik profesi Advokat dirasa masih berfungsi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam perjalanannya Kode Etik profesi Advokat dirasa masih berfungsi kurang optimal dalam menjaga dan menegakkan martabat profesi Advokat di Indonesia, oleh

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA Teks tidak dalam format asli. Kembali: tekan backspace mencabut: UU 5-1991 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 67, 2004 POLITIK. KEAMANAN. HUKUM. Kekuasaaan Negara. Kejaksaan. Pengadilan. Kepegawaian.

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN ), antara lain menggariskan beberapa ciri khas dari negara hukum, yakni :

I. PENDAHULUAN ), antara lain menggariskan beberapa ciri khas dari negara hukum, yakni : I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Undang-Undang Dasar negara Republik Indonesia tahun 1945 (selanjutnya disingkat UUD 1945) menentukan secara tegas, bahwa Negara Indonesia adalah Negara Hukum (Pasal 1 ayat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas hukum, maka

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas hukum, maka 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas hukum, maka kehidupan masyarakat tidak lepas dari aturan hukum. Hal tersebut sesuai dengan Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 25/PER/M.KOMINFO/12/2011 TENTANG

PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 25/PER/M.KOMINFO/12/2011 TENTANG PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 25/PER/M.KOMINFO/12/2011 TENTANG KODE ETIK PEGAWAI KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

BAB IV. A. Bantuan Hukum Terhadap Tersangka Penyalahgunaan Narkotika. Dalam Proses Penyidikan Dihubungkan Dengan Undang-Undang

BAB IV. A. Bantuan Hukum Terhadap Tersangka Penyalahgunaan Narkotika. Dalam Proses Penyidikan Dihubungkan Dengan Undang-Undang BAB IV ANALISIS HUKUM TENTANG PERLINDUNGAN HUKUM UNTUK TERSANGKA PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA DALAM PROSES PENYIDIKAN DIHUBUNGKAN DENGAN UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1981 TENTANG HUKUM ACARA PIDANA JUNCTO UNDANG-UNDANG

Lebih terperinci

KEWENANGAN PENYIDIK DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI

KEWENANGAN PENYIDIK DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI RESUME KEWENANGAN PENYIDIK DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI BAB I. Latar Belakang Tindak pidana korupsi maksudnya adalah memberi atau menjanjikan sesuatu kepada pegawai negri atau pejabat Negara dengan maksud

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2004 TENTANG KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2004 TENTANG KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2004 TENTANG KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : Mengingat : a. bahwa Negara Kesatuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. membahayakan stabilitas politik suatu negara. 1 Korupsi juga dapat diindikasikan

BAB I PENDAHULUAN. membahayakan stabilitas politik suatu negara. 1 Korupsi juga dapat diindikasikan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Meningkatnya tindak pidana korupsi yang tidak terkendali akan membawa bencana, tidak saja terhadap kehidupan perekonomian nasional tetapi juga pada kehidupan

Lebih terperinci

*14671 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA (UU) NOMOR 4 TAHUN 2004 (4/2004) TENTANG KEKUASAAN KEHAKIMAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

*14671 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA (UU) NOMOR 4 TAHUN 2004 (4/2004) TENTANG KEKUASAAN KEHAKIMAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Copyright (C) 2000 BPHN UU 4/2004, KEKUASAAN KEHAKIMAN *14671 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA (UU) NOMOR 4 TAHUN 2004 (4/2004) TENTANG KEKUASAAN KEHAKIMAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dalam kehidupan bermasyarakat, setiap anggota masyarakat selalu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dalam kehidupan bermasyarakat, setiap anggota masyarakat selalu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam kehidupan bermasyarakat, setiap anggota masyarakat selalu merasakan adanya gejolak dan keresahan di dalam kehidupan sehari-harinya, hal ini diakibatkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan pemeriksaan oleh Ankum yang menangani pelanggaran disiplin.

BAB I PENDAHULUAN. dengan pemeriksaan oleh Ankum yang menangani pelanggaran disiplin. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penyidikan adalah merupakan kegiatan/proses yang dilakukan oleh penyidik kepada tersangka yang melakukan perbuatan pidana. Seseorang dapat dikatakan tersangka

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Salah satu persoalan yang selalu dihadapi di kota-kota besar adalah lalu lintas.

I. PENDAHULUAN. Salah satu persoalan yang selalu dihadapi di kota-kota besar adalah lalu lintas. 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu persoalan yang selalu dihadapi di kota-kota besar adalah lalu lintas. Persoalan lalu lintas yang dihadapi oleh kota-kota besar antara lain, yaitu kemacetan,

Lebih terperinci

ESENSI HUKUMAN DISIPLIN BAGI PENEGAKAN DISIPLIN PEGAWAI NEGERI SIPIL DI KABUPATEN WONOGIRI T E S I S

ESENSI HUKUMAN DISIPLIN BAGI PENEGAKAN DISIPLIN PEGAWAI NEGERI SIPIL DI KABUPATEN WONOGIRI T E S I S ESENSI HUKUMAN DISIPLIN BAGI PENEGAKAN DISIPLIN PEGAWAI NEGERI SIPIL DI KABUPATEN WONOGIRI T E S I S oleh : RETNO PUSPITO RINI NIM : R. 100030055 Program Studi : Magister Ilmu Hukum Konsentrasi : Hukum

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pemberantasan atau penindakan terjadinya pelanggaran hukum. pada hakekatnya telah diletakkan dalam Undang-Undang Nomor 48 tahun

BAB I PENDAHULUAN. pemberantasan atau penindakan terjadinya pelanggaran hukum. pada hakekatnya telah diletakkan dalam Undang-Undang Nomor 48 tahun 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara hukum dimana penyelenggaraan kekuasaan pemerintahannya didasarkan atas hukum. Negara hukum dalam kekuasaan pemerintahan berdasarkan kedaulatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya. 1. perundang-undangan lain yang mengatur ketentuan pidana di luar KUHP

BAB I PENDAHULUAN. hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya. 1. perundang-undangan lain yang mengatur ketentuan pidana di luar KUHP 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam UUD 1945 ditegaskan bahwa negara Indonesia berdasarkan atas hukum (Recchstaat), tidak berdasarkan atas kekuasaan belaka (Machstaat). Ini berarti bahwa Republik

Lebih terperinci

PELAKSANAAN HUKUM DISIPLIN PRAJURIT TENTARA NASIONAL INDONESIA PADA KOMANDO DISTRIK MILITER 0304/AGAM DI KOTA BUKITTINGGI. Oleh : NOVIALDI ZED

PELAKSANAAN HUKUM DISIPLIN PRAJURIT TENTARA NASIONAL INDONESIA PADA KOMANDO DISTRIK MILITER 0304/AGAM DI KOTA BUKITTINGGI. Oleh : NOVIALDI ZED PELAKSANAAN HUKUM DISIPLIN PRAJURIT TENTARA NASIONAL INDONESIA PADA KOMANDO DISTRIK MILITER 0304/AGAM DI KOTA BUKITTINGGI Oleh : NOVIALDI ZED 0810112064 Program Kekhususan : Hukum Administrasi Negara (PK

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Negara Indonesia merupakan negara hukum, hal ini tertuang pada

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Negara Indonesia merupakan negara hukum, hal ini tertuang pada BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Negara Indonesia merupakan negara hukum, hal ini tertuang pada Pasal 1 ayat 3 UUD 1945, yang menyebutkan bahwa Negara Indonesia adalah negara hukum. 1 Masuknya ketentuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pidana, oleh karena itu, hukum acara pidana merupakan suatu rangkaian

BAB I PENDAHULUAN. pidana, oleh karena itu, hukum acara pidana merupakan suatu rangkaian BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hukum acara pidana berhubungan erat dengan diadakannya hukum pidana, oleh karena itu, hukum acara pidana merupakan suatu rangkaian peraturan yang memuat cara bagaimana

Lebih terperinci

dengan aparatnya demi tegaknya hukum, keadilan dan perlindungan harkat dan martabat manusia. Sejak berlakunya Undang-undang nomor 8 tahun 1981

dengan aparatnya demi tegaknya hukum, keadilan dan perlindungan harkat dan martabat manusia. Sejak berlakunya Undang-undang nomor 8 tahun 1981 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Negara Indonesia adalah merupakan negara hukum yang demokratis berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 bukan berdasarkan atas kekuasaan semata. Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. maupun bahaya baik berasal dari dalam mupun luar negeri. Negara Indonesia dalam bertingkah laku sehari-hari agar tidak merugikan

BAB I PENDAHULUAN. maupun bahaya baik berasal dari dalam mupun luar negeri. Negara Indonesia dalam bertingkah laku sehari-hari agar tidak merugikan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Negara Indonesia adalah merupakan negaara hukum sebagaimana dicantumkan dalam Pasal 1 ayat (3) UUD 1945 yang berbunyi Negara Indonesia adalah Negara Hukum. 1

Lebih terperinci

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 PEMBERITAAN TINDAK KRIMINAL DIKAITKAN DENGAN HAK ASASI MANUSIA PELAKU TINDAK PIDANA S K R I P S I Diajukan untuk Memenuhi dan Melengkapi Syarat-syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Oleh: PANGERAN

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KOTA BOGOR. Nomor 8 Tahun 2015 Seri E Nomor 4 PERATURAN WALIKOTA BOGOR NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG

BERITA DAERAH KOTA BOGOR. Nomor 8 Tahun 2015 Seri E Nomor 4 PERATURAN WALIKOTA BOGOR NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG BERITA DAERAH KOTA BOGOR Nomor 8 Tahun 2015 Seri E Nomor 4 PERATURAN WALIKOTA BOGOR NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG KODE ETIK DAN KODE PERILAKU PEGAWAI DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KOTA BOGOR Diundangkan dalam

Lebih terperinci

BUPATI BARITO UTARA PROVINSI KALIMANTAN TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN BARITO UTARA NOMOR 4 TAHUN 2016 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DAERAH

BUPATI BARITO UTARA PROVINSI KALIMANTAN TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN BARITO UTARA NOMOR 4 TAHUN 2016 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DAERAH BUPATI BARITO UTARA PROVINSI KALIMANTAN TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN BARITO UTARA NOMOR 4 TAHUN 2016 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BARITO UTARA,

Lebih terperinci

NILAI KEADILAN DALAM PENGHENTIAN PENYIDIKAN Oleh Wayan Rideng 1

NILAI KEADILAN DALAM PENGHENTIAN PENYIDIKAN Oleh Wayan Rideng 1 NILAI KEADILAN DALAM PENGHENTIAN PENYIDIKAN Oleh Wayan Rideng 1 Abstrak: Nilai yang diperjuangkan oleh hukum, tidaklah semata-mata nilai kepastian hukum dan nilai kemanfaatan bagi masyarakat, tetapi juga

Lebih terperinci

PENEGAKAN HUKUM TERHADAP ANGGOTA MILITER YANG MELAKUKAN TINDAK PIDANA NARKOTIKA DI WILAYAH HUKUM PENGADILAN MILITER II 11 YOGYAKARTA

PENEGAKAN HUKUM TERHADAP ANGGOTA MILITER YANG MELAKUKAN TINDAK PIDANA NARKOTIKA DI WILAYAH HUKUM PENGADILAN MILITER II 11 YOGYAKARTA 1 PENEGAKAN HUKUM TERHADAP ANGGOTA MILITER YANG MELAKUKAN TINDAK PIDANA NARKOTIKA DI WILAYAH HUKUM PENGADILAN MILITER II 11 YOGYAKARTA A. Latar Belakang Masalah Bahwa negara Indonesia adalah negara yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Berkembangnya arus modernisasi serta cepatnya perkembangan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Berkembangnya arus modernisasi serta cepatnya perkembangan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Berkembangnya arus modernisasi serta cepatnya perkembangan teknologi, membawa perubahan yang signifikan dalam pergaulan dan moral manusia, sehingga banyak

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2004 TENTANG KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2004 TENTANG KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2004 TENTANG KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pembangunan Nasional bertujuan mewujudkan manusia Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pembangunan Nasional bertujuan mewujudkan manusia Indonesia 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembangunan Nasional bertujuan mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya dan masyarakat Indonesia seluruhnya yang adil, makmur, sejahtera dan tertib berdasarkan

Lebih terperinci

KODE ETIK PEGAWAI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

KODE ETIK PEGAWAI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM KODE ETIK PEGAWAI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM MUKADDIMAH Universitas Muhammadiyah Mataram disingkat UM Mataram adalah Perguruan Tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau pendidikan

Lebih terperinci

BAB III PENUTUP. II tersebut diatas, maka penulis menarik kesimpulan yaitu:

BAB III PENUTUP. II tersebut diatas, maka penulis menarik kesimpulan yaitu: 95 penghambat yang menyebabkan lemahnya penegakan hukum disiplin dan kode etik profesi polri tersebut diatas. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan aturan dan fakta yang dianalisis dalam pembahasan

Lebih terperinci

KODE ETIK PENYELENGGARA NEGARA SEBAGAI UPAYA PENEGAKAN ETIKA BAGI PENYELENGGARA NEGARA

KODE ETIK PENYELENGGARA NEGARA SEBAGAI UPAYA PENEGAKAN ETIKA BAGI PENYELENGGARA NEGARA KODE ETIK PENYELENGGARA NEGARA SEBAGAI UPAYA PENEGAKAN ETIKA BAGI PENYELENGGARA NEGARA Oleh: Yeni Handayani * Naskah diterima: 01 November 2014; disetujui: 01 Desember 2014 Terselenggaranya tata pemerintahan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. penegakan hukum berdasarkan ketentuan hukum, maka hilanglah sifat melanggar

II. TINJAUAN PUSTAKA. penegakan hukum berdasarkan ketentuan hukum, maka hilanglah sifat melanggar 15 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pertanggungjawaban Polri Melaksanakan tugas penegak hukum dapat terjadi Polisi melaksanakan pelanggaran HAM yang sebenarnya harus ditegakkan. Selama pelaksanaan tugas penegakan

Lebih terperinci

PROBLEM KEWENANGAN MAHKAMAH KONSTITUSI MEMUTUS PERSELISIHAN HASIL PILKADA. (Studi Pemikiran Prof. Dr. Moh. Mahfud MD)

PROBLEM KEWENANGAN MAHKAMAH KONSTITUSI MEMUTUS PERSELISIHAN HASIL PILKADA. (Studi Pemikiran Prof. Dr. Moh. Mahfud MD) PROBLEM KEWENANGAN MAHKAMAH KONSTITUSI MEMUTUS PERSELISIHAN HASIL PILKADA (Studi Pemikiran Prof. Dr. Moh. Mahfud MD) SKRIPSI Disusun untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2004 TENTANG KEKUASAAN KEHAKIMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2004 TENTANG KEKUASAAN KEHAKIMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2004 TENTANG KEKUASAAN KEHAKIMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa kekuasaan kehakiman menurut Undang-Undang

Lebih terperinci

KAITAN EFEK JERA PENINDAKAN BERAT TERHADAP KEJAHATAN KORUPSI DENGAN MINIMNYA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR DAN PENYERAPAN ANGGARAN DAERAH

KAITAN EFEK JERA PENINDAKAN BERAT TERHADAP KEJAHATAN KORUPSI DENGAN MINIMNYA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR DAN PENYERAPAN ANGGARAN DAERAH KAITAN EFEK JERA PENINDAKAN BERAT TERHADAP KEJAHATAN KORUPSI DENGAN MINIMNYA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR DAN PENYERAPAN ANGGARAN DAERAH I. Pendahuluan. Misi yang diemban dalam rangka reformasi hukum adalah

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2004 TENTANG KEKUASAAN KEHAKIMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2004 TENTANG KEKUASAAN KEHAKIMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2004 TENTANG KEKUASAAN KEHAKIMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa kekuasaan kehakiman menurut Undang-Undang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. pokok memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, melakukan penegakan

I. PENDAHULUAN. pokok memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, melakukan penegakan 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah alat negara yang mempunyai tugas pokok memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, melakukan penegakan hukum dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Tindak pidana korupsi di Indonesia sudah sangat meluas dan telah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Tindak pidana korupsi di Indonesia sudah sangat meluas dan telah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tindak pidana korupsi di Indonesia sudah sangat meluas dan telah masuk sampai ke seluruh lapisan kehidupan masyarakat. Perkembangan terus meningkat dari tahun

Lebih terperinci

KEPALA KEPOLISISAN NEGARA RI AMANAT KAPOLRI PADA ACARA PERINGATAN HUT SATPAM KE 34 TAHUN 2014

KEPALA KEPOLISISAN NEGARA RI AMANAT KAPOLRI PADA ACARA PERINGATAN HUT SATPAM KE 34 TAHUN 2014 1 KEPALA KEPOLISISAN NEGARA RI AMANAT KAPOLRI PADA ACARA PERINGATAN HUT SATPAM KE 34 TAHUN 2014 TANGGAL 30 DESEMBER 2014 HUMAS DAN PROTOKOL SETDA KABUPATEN SEMARANG 2 Assalamu alaikum Wr. Wb. Salam sejahtera

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1997 TENTANG KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1997 TENTANG KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1997 TENTANG KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan nasional

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Amandemen Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang telah

BAB I PENDAHULUAN. Amandemen Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang telah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Amandemen Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang telah dilaksanakan sebanyak empat tahapan dalam kurun waktu empat tahun (1999, 2000, 2001, dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat tidak pernah lepas dengan. berbagai macam permasalahan. Kehidupan bermasyarakat akhirnya

BAB I PENDAHULUAN. Dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat tidak pernah lepas dengan. berbagai macam permasalahan. Kehidupan bermasyarakat akhirnya 11 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat tidak pernah lepas dengan berbagai macam permasalahan. Kehidupan bermasyarakat akhirnya mengharuskan manusia untuk

Lebih terperinci

STANDARD OPERASIONAL PROSEDUR TENTANG TIPIRING

STANDARD OPERASIONAL PROSEDUR TENTANG TIPIRING 1 KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DAERAH KEPULAUAN BANGKA BELITUNG RESOR PANGKALPINANG STANDARD OPERASIONAL PROSEDUR TENTANG TIPIRING I. PENDAHULUAN 1. UMUM a. Polri sebagai aparat negara yang bertugas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Hukum berkembang mengikuti perubahan zaman dan kebutuhan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Hukum berkembang mengikuti perubahan zaman dan kebutuhan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hukum berkembang mengikuti perubahan zaman dan kebutuhan manusia. Salah satu unsur yang menyebabkan adanya perubahan dan perkembangan hukum adalah adanya ilmu pengetahuan,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 2009 TENTANG KEKUASAAN KEHAKIMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 2009 TENTANG KEKUASAAN KEHAKIMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 2009 TENTANG KEKUASAAN KEHAKIMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, : a. bahwa kekuasaan kehakiman menurut Undang-Undang

Lebih terperinci

KONSEP DISKRESI KEPOLISIAN DALAM PROSES PIDANA

KONSEP DISKRESI KEPOLISIAN DALAM PROSES PIDANA KONSEP DISKRESI KEPOLISIAN DALAM PROSES PIDANA Oleh : ABSTRACT Diskresi represent the kewenangan free from the Police [of] Republic Of Indonesia to determine the stages;steps in course of crime. Diskresi

Lebih terperinci

Undang Undang No. 28 Tahun 1997 Tentang : Kepolisian Negara Republik Indonesia

Undang Undang No. 28 Tahun 1997 Tentang : Kepolisian Negara Republik Indonesia Undang Undang No. 28 Tahun 1997 Tentang : Kepolisian Negara Republik Indonesia Oleh : PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor : 28 TAHUN 1997 (28/1997) Tanggal : 7 OKTOBER 1997 (JAKARTA) Sumber : LN 1997/81;

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kualitas pelayanan publik di Indonesia saat ini belum baik. Hal ini dapat dilihat dari tingkat kekecewaan masyarakat terhadap pelayanan publik yang kian meningkat.

Lebih terperinci

dikualifikasikan sebagai tindak pidana formil.

dikualifikasikan sebagai tindak pidana formil. 12 A. Latar Belakang Masalah Tindak pidana adalah suatu perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana oleh undang-undang 1. Hukum pidana sebagai peraturan-peraturan yang bersifat abstrak merupakan

Lebih terperinci

SANKSI PIDANA PELANGGARAN KEWAJIBAN OLEH APARATUR HUKUM DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK DI INDONESIA 1 Oleh: Wailan N. Ransun 2

SANKSI PIDANA PELANGGARAN KEWAJIBAN OLEH APARATUR HUKUM DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK DI INDONESIA 1 Oleh: Wailan N. Ransun 2 SANKSI PIDANA PELANGGARAN KEWAJIBAN OLEH APARATUR HUKUM DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK DI INDONESIA 1 Oleh: Wailan N. Ransun 2 ABSTRAK Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Pengawasan majelis..., Yanti Jacline Jennifer Tobing, FH UI, Universitas Indonesia

BAB 1 PENDAHULUAN. Pengawasan majelis..., Yanti Jacline Jennifer Tobing, FH UI, Universitas Indonesia 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Notaris bertindak sebagai pelayan masyarakat sebagai pejabat yang diangkat oleh pemerintah yang memperoleh kewenangan secara atributif dari Negara untuk melayani

Lebih terperinci

KODE ETIK PESERTA DIDIK SMP NEGERI 12 KOTA SERANG

KODE ETIK PESERTA DIDIK SMP NEGERI 12 KOTA SERANG KODE ETIK PESERTA DIDIK SMP NEGERI 12 KOTA SERANG BAB I PENDAHULUAN A. PENGERTIAN UMUM Kode Etik [Standar Prilaku] Peserta didik SMP Negeri 12 Kota Serang adalah pedoman tertulis yang merupakan standar

Lebih terperinci

ETIKA PROFESI SATPAM

ETIKA PROFESI SATPAM SECURITY SERVICES ETIKA PROFESI SATPAM ABU SAKKIR NRG. 19 07 003651 PENGERTIAN KODE ETIK PROFESI Yang disebut kode etik adalah kumpulan dari etika, sedangkan etika adalah pernyataan tentang apa apa yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. negara hukum. Negara hukum merupakan dasar Negara dan pandangan. semua tertib hukum yang berlaku di Negara Indonesia.

BAB I PENDAHULUAN. negara hukum. Negara hukum merupakan dasar Negara dan pandangan. semua tertib hukum yang berlaku di Negara Indonesia. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Negara Indonesia dikenal sebagai Negara Hukum. Hal ini ditegaskan pula dalam UUD 1945 Pasal 1 ayat (3) yaitu Negara Indonesia adalah negara hukum. Negara hukum

Lebih terperinci

PEDOMAN KODE ETIK PEGAWAI SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI CURUP TAHUN 2014

PEDOMAN KODE ETIK PEGAWAI SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI CURUP TAHUN 2014 PEDOMAN KODE ETIK PEGAWAI SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI CURUP TAHUN 2014 Dokumen Internal Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Curup Jl. Dr. AK.Gani No. 1 Dusun Curup Kabupaten Rejang Lebong Propinsi

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2004 TENTANG KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2004 TENTANG KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2004 TENTANG KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa Presiden Republik Indonesia, Menimbang: a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia

Lebih terperinci

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 01 /PM.4/2008 TENTANG

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 01 /PM.4/2008 TENTANG DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 01 /PM.4/2008 TENTANG KODE ETIK PEGAWAI DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI MENTERI KEUANGAN, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

Tinjauan Yuridis terhadap Pelaksanaan Prapenuntutan Dihubungkan dengan Asas Kepastian Hukum dan Asas Peradilan Cepat, Sederhana, dan Biaya Ringan

Tinjauan Yuridis terhadap Pelaksanaan Prapenuntutan Dihubungkan dengan Asas Kepastian Hukum dan Asas Peradilan Cepat, Sederhana, dan Biaya Ringan Prosiding Ilmu Hukum ISSN: 2460-643X Tinjauan Yuridis terhadap Pelaksanaan Prapenuntutan Dihubungkan dengan Asas Kepastian Hukum dan Asas Peradilan Cepat, Sederhana, dan Biaya Ringan 1 Ahmad Bustomi, 2

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 2009 TENTANG KEKUASAAN KEHAKIMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 2009 TENTANG KEKUASAAN KEHAKIMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 2009 TENTANG KEKUASAAN KEHAKIMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa kekuasaan kehakiman menurut Undang-Undang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1997 TENTANG KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1997 TENTANG KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG NOMOR 28 TAHUN 1997 TENTANG KEPOLISIAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN Menimbang : a. bahwa pembangunan nasional di bidang hukum adalah terbentuk dan berfungsinya sistem

Lebih terperinci