UPAYA PENGEMBANGAN KOMPETENSI GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMP NEGERI DAN SWASTA SE KECAMATAN BANDONGAN KABUPATEN MAGELANG TAHUN 2010 PROPOSAL

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "UPAYA PENGEMBANGAN KOMPETENSI GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMP NEGERI DAN SWASTA SE KECAMATAN BANDONGAN KABUPATEN MAGELANG TAHUN 2010 PROPOSAL"

Transkripsi

1 UPAYA PENGEMBANGAN KOMPETENSI GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMP NEGERI DAN SWASTA SE KECAMATAN BANDONGAN KABUPATEN MAGELANG TAHUN 2010 PROPOSAL Diajukan Guna Memenuhi Kewajiban Dan Syarat Untuk Memperoleh Gelar Serjana Pendidikan Agama Islam (S.Pd.I) Oleh : ROIFATUL AFIFAH NIM: JURUSAN TARBIYAH PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA 2010

2 UPAYA PENGEMBANGAN KOMPETENSI GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMP NEGERI DAN SWASTA SE KECAMATAN BANDONGAN KABUPATEN MAGELANG TAHUN 2010 SKRIPSI Diajukan Guna Memenuhi Kewajiban Dan Syarat Untuk Memperoleh Gelar Serjana Pendidikan Agama Islam (S.PD.I) Oleh : ROIFATUL AFIFAH NIM: JURUSAN TARBIYAH PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA 2010 i

3 ii

4 PERSETUJUAN PEMBIMBING Setelah dikoreksi dan diperbaiki, maka skripsi Saudara: Nama : ROIFATUL AFIFAH NIM : Jurusan : Tarbiyah Program Studi : Pendidikan Agama Islam Judul : UPAYA PENGEMBANGAN KOMPETENSI GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMP NEGERI DAN SWASTA SE KECAMATAN BANDONGAN KABUPATEN MAGELANG TAHUN 2010 telah kami setujui untuk dimunaqosahkan. Salatiga, 06 Agustus 2010 Pembimbing Drs. Sumarno Widjadipa, M. Pd. NIP iii

5 PERNYATAAN Bismillahirrohmanirrohim Dengan penuh kejujuran dan tanggungjawab, peneliti menyatakan bahwa skripsi ini tidak berisi materi yang pernah ditulis oleh orang lain atau pernah diterbitkan. Demikian juga skripsi ini tidak berisi satupun dari pemikiran orang lain, kecuali informasi yang terdapat dalam referensi yang dijadikan sebagai bahan rujukan. Apabila dikemudian hari ternyata terdapat materi atau pikiran-pikiran orang lain diluar referensi yang peneliti cantumkan, maka peneliti sanggup mempertanggung jawabkan kembali keaslian skripsi ini dihadapan sidang munaqosyah skripsi. Demikian pernyataan ini dibuat oleh peneliti untuk dapat dimaklumi. Salatiga, 5 Agustus 2010 Penulis Roifatul Afifah iv

6 ABSTRAK Roifatul Afifah, NIM: , Jurusan Tarbiyah, Program Studi PAI STAIN Salatiga, judul: Upaya Pengembangan Kompetensi Guru Pai Di Smp Negeri Dan Swasta Se Kecamatan Bandongan Kabupaten Magelang Tahun Pembimbing: Drs. Sumarno Widjadipa M. Pd. Kata kunci: Upaya pengembangan dan kompetensi guru PAI. Penelitian ini merupakan upaya untuk mengetahui Upaya Pengembangan Kompetensi Guru Pai Di SMP Negeri Dan Swasta Se Kecamatan Bandongan Kabupaten Magelang Tahun Pertanyaan yang ingin dijawab melalui penelitian ini adalah sesuai tujuan, yaitu: 1. Untuk mengetahui kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri dan Swasta Se Kecamatan Bandongan. 2. Untuk mengetahui upaya pengembangan kompetensi guru Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri dan Swasta Se Kecamatan Bandongan. 3. Untuk mengetahui apa faktor-faktor yang mempengaruhi upaya pengembangan kompetensi guru Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri dan Swasta Se Kecamatan Bandongan. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif, dan untuk mendapatkan data, maka digunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Data yang terkumpul kemudian disusun dan dianalisis, dimulai dengan penelitian dan pengumpulan data, penyusunan data dan pengambilan kesimpulan. Berdasrkan hasil penelitian ini, diharapkan akan menjadi bahan informasi dan masukan bagi para guru PAI dan teman-teman pembaca umumnya, khususnya bagi penulis yang dapat bermanfaat untuk pengembangan pribadi. v

7 MOTTO Artinya: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka (Q.S. AT Tahrim : 6) vi

8 PERSEMBAHAN Skripsi ini dipersembahkan kepada: 1. Orang tua yang sudah memberikan bantuan dan motivasi baik doa maupun materi demi seleseinya skripsi ini. 2. Suami tercinta yang sudah memberi motivasi dan siaga demi seleseinya skripsi ini. 3. Drs. Sumarno Widjadipa M. Pd. Selaku dosen pembimbing skripsi atas bimbingan dan arahannya demi kelancaran dan seleseinya skripsi ini. 4. Kakak-kakakku yang sudah member bantuan baik moril dan materil serta motivasi demi seleseinya skripsi ini. 5. Kepala - Kepala Sekolah dan Para Informan (Guru PAI) di SMP Se Kecamatan Bandongan atas bantuannya demi seleseinya skripsi ini. 6. Teman-teman seangkatan atas motivasi terseleseinya skripsi ini. 7. Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. Yang memberikan nikmat, rahmat dan hidayah-nya sehingga skripsi ini dapat selesei pada waktunya. vii

9 KATA PENGANTAR Segala puji bagi Allah swt. Atas rahmat serta hidayah-nya atas seleseinya skripsi ini. Sholawat dan salam kepada Nabi Muhammad saw. Yang semoga kita termasuk golongan yang mendapat syafaatnya. Amin. Alhamdulillah rasa syukur atas seleseinya skripsi dengan judul: UPAYA PENGEMBANGAN KOMPETENSI GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMP NEGERI DAN SWASTA DI SMP SE KECAMATAN BANDONGAN KABUPATEN MAGELANG TAHUN Skripsi ini guna memperoleh gelar Sarjana PAI pada STAIN Salatiga. Ucapan terimakasih kepada pihak yang telah membantu sehingga terwujudnya skripsi ini. Peneliti yakin atas pertolongan Allah SWT. Skripsi ini dapat terwujud. Adapun pihak-pihak yang telah membantu dalam penyeleseian skripsi ini adalah: 1. Ketua STAIN Salatiga 2. Ketua Jurusan Tarbiyah 3. Ketua Program Studi 4. Pembimbing skripsi 5. Segenap Dosen 6. Kepala Sekolah SMP Negeri dan Swasta Se Kecamatan Bandongan 7. Guru PAI di SMP Se Kecamatan Bandongan 8. Orang Tua dan Suami Tercinta 9. Teman-teman 10. Semua pihak yang tidak dapat saya sebut satu per satu yang telah membantu atas terseleseinya skripsi ini. viii

10 Skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, maka dari itu kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan dari siapa saja. Besar harapan kami skripsi ini dapat bermanfaat kepada pihak-pihak yang terkait secara khusus dan bagi semua pembaca secara umum. Amin. Wassalamu alaikum wr.wb. Salatiga, 5 Agustus 2010 Penulis Roifatul Afifah ix

11 DAFTAR ISI Halaman judul... Pengesahan... Persetujuan Pembimbing... Pernyataan... Abstrak... Motto... Persembahan... Kata pengantar... Daftar isi... Daftar lampiran... i ii iii iv v vi vii viii x xii BAB I: PENDAHULUAN1 A. Latar Belakang Masalah... 1 B. Pembatasan Maslah... 6 C. Rumusan Masalah... 6 D. Tujuan Penelitian... 6 E. Manfaat Penelitian... 7 F. Penegasan Istilah... 7 G. Metode Penelitian... 9 H. Sistematika Penulisan BAB II : KAJIAN TEORI14 A. Upaya Pengembangan Kompetensi Guru B. Tinjauan Pendidikan Agama Islam BAB III: LAPORAN PENELITIAN x

12 A. Gambaran Umum Penelitian Waktu dan Tempat Penelitian Profil Sekolah Populasi dan Sampel B. Gambaran Obyek dan subyek Penelitian BAB IV: PEMBAHASAN77 A. Pemahaman Guru PAI di SMP Negeri dan Swasta Se Kecamatan Bandongan Terhadap Kompetensi B. Deskripsi Tentang Upaya Guru PAI di SMP Negeri dan Swasta Se Kecamatan Bandongan Dalam Pengembangan Kompetensi C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Upaya Pengembangan Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri dan Swasta Se Kecamatan Bandongan BAB V: PENUTUP86 A. Kesimpulan B. Saran C. Penutup DAFTAR PUSTAKA LAMPIAN LAMPIRAN xi

13 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan anak - anak untuk memimpin jasmani dan rohani kearah kedewasaan. Pada hakikatnya, yang disebut dengan pendidikan adalah pengaruh bimbingan arahan dari orang dewasa kepada anak yang belum dewasa agar menjadi dewasa, mandiri dan memiliki kepribadian yang utuh dan matang (Zainal Aqib, Elham Rohmanto, 2007 : 14). Dapat dikatakan pula pendidikan adalah sebuah proses transfer nilai-nilai dari orang dewasa (guru atau orang tua) kepada anak-anak agar menjadi dewasa dalam segala hal. Selain itu pendidikan merupakan masalah yang penting bagi setiap bangsa yang sedang membangun. Dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional tercantum bahwa Pendidikan Nasional Berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (Wiji Sumarno, 2006: 31). Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, disahkan oleh DPR pada tanggal 11 Juni 2003, dan diberlakukan pada tanggal 8 Juli Dalam batang tubuh Undang-Undang tersebut memuat 22 Bab, dan 77 Pasal, adalah cukup ideal dan akomodatif dalam mengatur sistem pendidikan di Indonesia, termasuk sistem Pendidikan Islam (Usman Abu Bakar, Surohim, 2005:95). Upaya perbaikan dibidang pendidikan merupakan suatu keharusan untuk selalu dilaksanakan agar suatu bangsa dapat maju dan berkembang seiring dengan 1

14 kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Agar guru tidak ketinggalan jaman, maka guru harus selalu mengembangkan kemampuan dan ketrampilannya secara kontinyu. Jalan yang dapat ditempuh untuk meningkatkan pro fesi guru adalah diri guru itu sendiri dan dari pihak lain yang bertanggung jawab atas pengembangan guru (Hendyat Soetopo, 2005: 207). Beberapa upaya dilaksanakan antara lain penyempurnaan kurikulum, peningkatan kompetensi guru, perbaikan sarana-sarana pendidikan, dan lain-lain. Pengembangan profesionalisasi guru dilakukan berdasarkan kebutuhan institusi, kelompok guru, maupun individu guru sendiri (Udin Syaefudin Sa ud, 2009:98). Hal ini dilaksanakan untuk meningkatkan mutu pendidikan bangsa dan terciptanya masyarakat Indonesia yang lebih baik. Allah SWT dalam firman-nya Qur an surat Al Mujadilah ayat 11 yaitu : Artinya : Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu, dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat, dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. Tujuan pendidikan dan pengajaran ialah membentuk manusia susila yang cakap dan warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air (Zainal Aqib, 2002: 14). Untuk mencapai tujuan yang diinginkan tersebut, maka dalam lembaga pendidikan formal yaitu

15 sekolah, keberhasilan pendidikan ditentukan oleh keberhasilan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, yakni keterpaduan antara kegiatan guru, sarana prasarana dan dengan kegiatan siswa. Bagaimana siswa belajar banyak ditentukan oleh bagaimana guru mengajar. Salah satu usaha untuk mengoptimalkan pembelajaran adalah dengan memperbaiki pengajaran yang banyak dipengaruhi oleh guru, karena pengajaran adalah suatu sistem, maka perbaikannya pun harus mencakup keseluruhan komponen dalam sistem pengajaran tersebut. Kompetensi merupakan kemampuan menguasai suatu tugas, keterampilan, sikap dan apresiasi yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan (Wiji Suwarno, 2006: 82). Menurut Undang - Undang No.14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 10 ayat (1) kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi (http://rasto.wordpress.com/2008/01/31/kompetensi guru/). Untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh guru, maka guru harus memiliki dan menguasai perencanaan kegiatan belajar mengajar, melaksanakan kegiatan yang direncanakan dan melakukan penilaian terhadap hasil dari proses belajar mengajar. Kemampuan guru dalam merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran merupakan faktor utama dalam mencapai tujuan pengajaran. Keterampilan merencanakan dan melaksanakan proses belajar mengajar ini sesuatu yang erat kaitannya dengan tugas dan tanggung jawab guru sebagai pengajar yang mendidik. Allah berfirman dalam Qur an surat Ali Imran ayat 104 yang berbunyi :

16 Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yamg ma ruf dan mencegah dari yang mungkar. Merekalah orang orang yang beruntung. Penyair Syauki, sebagaimana dikutip Al-Abrasyi, berkata : Berdiri dan hormatilah guru dan berilah penghargaan, seorang guru itu hampir saja merupakan seorang rasul (Marno dan Idris, 2008: 17). Guru sebagai pendidik mengandung arti yang sangat luas, tidak sebatas memberikan bahan-bahan pengajaran tetapi menjangkau etika dan estetika perilaku dalam menghadapi tantangan kehidupan di masyarakat. Pada pasal 40 ayat 2 UU Nomor 20 Tahun 2003 dijelaskan : pendidikan dan tenaga kependidikan berkewajiban: menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis; mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan; dan memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya (Usman Abu Bakar, Surohim, 2005:105). Sebagai pengajar, guru hendaknya memiliki perencanaan (planing) pengajaran yang cukup matang. Perencanaan pengajaran tersebut erat kaitannya dengan berbagai unsur seperti tujuan pengajaran, bahan pengajaran, dan kegiatan pengajaran. Kemampuan yang harus dimiliki oleh guru yang kemudian menjadi suatu kegiatan rutin yaitu membuat tes, melakukan pengukuran, dan mengevaluasi

17 dari kemampuan siswa-siswanya sehingga mampu menetapkan kebijakan pembelajaran selanjutnya. Evaluasi pembelajaran merupakan suatu usaha untuk memperbaiki mutu proses belajar mengajar. Informasi-informasi yang diperoleh dari pelaksanaan evaluasi pembelajaran pada gilirannya digunakan untuk memperbaiki kualitas proses belajar mengajar. Seringkali dalam proses belajar mengajar, aspek evaluasi pembelajaran ini diabaikan. Dimana guru terlalu memperhatikan saat yang bersangkutan memberi pelajaran saja. Namun, pada saat guru membuat soal ujian atau tes (formatif), soal tes disusun seadanya atau seingatnya saja tanpa harus memenuhi penyusunan soal yang baik dan benar. Ditangan gurulah akan dihasilkan peserta didik yang berkualitas, baik secara akademis, skill (keahlian), kematangan emosional, dan moral serta spiritual (Kunandar, 2007: 40). UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem pendidikan Nasional yaitu : Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Usman Abu Bakar, Surohim, 2005: 2). Berdasarkan uraian di atas, maka penulis merasa terdorong untuk mengkaji dan meneliti lebih lanjut mengenai kompetensi guru khususnya guru Pendidikan Agama Islam dalam melaksanakan tugas-tugasnya dalam bentuk skripsi yang

18 berjudul : Upaya Pengembangan Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam Di SMP Negeri dan Swasta Se Kecamatan Bandongan Kabupaten Magelang Tahun B. Pembatasan Masalah Mengingat luasnya ruang lingkup yang diuraikan, maka untuk menghindari perluasan dalam memahami pembahasan, maka penulis akan membatasi ruang lingkup permasalahan yang akan dibahas sebagai berikut : Upaya pengembangan kompetensi yang dimaksud disini adalah kemampuan yang harus dimiliki dan diupayakan pengembangannya oleh seorang guru Pendidikan Agama Islam dalam pelaksanaan proses belajar mengajar. C. Rumusan Masalah Maka dalam penelitian ini dirumuskan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimanakah kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri dan Swasta Se Kecamatan Bandongan? 2. Bagaimana upaya pengembangan kompetensi guru Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri dan Swasta Se Kecamatan Bandongan? 3. Apa faktor-faktor yang mempengaruhi upaya pengembangan kompetensi guru Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri dan Swasta Se Kecamatan Bandongan? D. Tujuan Pelelitian

19 Agar dapat memberikan gambaran serta arahan yang jelas dalam penelitian ini, maka perlu dirumuskan tujuan pokok penelitian. Adapun tujuan penelitian ini adalah : 1. Untuk mengetahui kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri dan Swasta Se Kecamatan Bandongan. 2. Untuk mengetahui upaya pengembangan kompetensi guru Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri dan Swasta Se Kecamatan Bandongan. 3. Untuk mengetahui apa faktor-faktor yang mempengaruhi upaya pengembangan kompetensi guru Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri dan Swasta Se Kecamatan Bandongan. E. Manfaat Penelitian Adapun hasil dari penelitan ini diharapkan : 1. Berguna bagi dunia pendidikan pada umumnya, dapat menambah cakrawala Pendidikan Islam pada khususnya. 2. Sebagai masukan serta pemahaman bagi guru agama betapa pentingnya kompetensi guru dalam meningkatkan mutu pembelajaran, sehingga didapatkan hasil belajar yang optimal. 3. Sebagai motivasi bagi penulis agar dapat mengimplementasikan mengembangkan kompetensi pada diri sendiri pada khususnya serta bagi guru Pendidikan Agama Islam pada umumnya. F. Penegasan Istilah

20 Untuk menghindari penafsiran yang menyimpang dari permasalahan yang sebenarnya, maka perlu kiranya ada penegasan istilah sebagai berikut: 1. Upaya Upaya adalah usaha; akal; ikhtiar (untuk mencapai suatu maksud, memecahkan persoalan, mencari jalan keluar) (Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Pustaka: 1109), yang dimaksud adalah upaya guru PAI untuk mengembangkan kompetensi diri. 2. Pengembangan Pengembangan adalah proses, cara, perbuatan mengembangkan, pembangunan secara bertahap dan teratur yang menjurus ke sasaran yang dikehendaki (Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Pustaka: 473), yaitu prosesnya seperti apa dalam mengupayakan kompetensi pribadi guru. 3. Kompetensi Kompetensi adalah cakap (mengetahui), berwenang, berkuasa (memutuskan, menentukan) sesuatu (Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Pustaka: 516), ialah kecakapan pribadi guru PAI. 4. Guru Guru adalah orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya mengajar) (Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Pustaka: 330), ialah obyek penelitian. 5. Pendidikan Agama Islam

21 Pendidikan Agama Islam adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, agama: prinsip kepercayaan kepada Tuhan dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajibannya yang bertalian dengan kepercayaan itu, yaitu Islam (Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Pustaka: 232), ialah proses untuk mendewasakan keyakinan seseorang kepada Tuhan dengan ajaran yang diajarkan Islam. G. Metode penelitian Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Berikut ini adalah penjabaran metode penelitian yang digunakan peneliti: 1. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Pendekatan penelitian kualitatif lebih banyak menggunakan logico-hipotetiko-verifikatif. Pendekatan tersebut dimulai dengan berfikir deduktif untuk menurunkan hipotesis, kemudian melakukan pengujian di lapangan. Kesimpulan atau hipotesis tersebut ditarik berdasarkan data empiris (Nurul Zuriah, 2006: 91). Penelitian kualitatif mengkaji perspektif partisipan dengan multi starategi, strategi-strategi yang bersifat interaktif, seperti observasi langsung, observasi partisipatif, wawancara mendalam, dokumen-dokumen, teknik-teknik pelengkap seperti foto, rekaman, dan lain-lain (Nurul Zuriah, 2006: 95). Penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti merupakan penelitian yang bersifat kualitatif dan menggunakan metode deskriptif. Permasalahan utama yang

22 dibahas dalam skripsi ini untuk mengetahui Upaya Pengembangan Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri dan Swasta Se Kecamatan Bandongan Kabupaten Magelang Tahun Subjek Penelitian dan Waktu Penelitian Subjek penelitian yang dipilih dalam penelitian kualitatif ini adalah Upaya Pengembangan Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri dan Swasta Se Kecamatan Bandongan Kabupaten Magelang Tahun Dalam penelitian ini pemilihan informan penelitian dilakukan dengan cara sample bertujuan (purposive sample), yaitu cara pengambilan informan penelitian didasarkan atas adanya tujuan tertentu untuk memenuhi kebutuhan informasi sesuai dengan permasalahan penelitian. Dengan perkataan lain sampel tersebut dipilih karena memang menjadi sumber dan kaya dengan informasi tentang fenomena yang ingin diteliti. (Nana Syaodih Sukmadinata, 2008: 101). Cara tersebut dipilih karena dalam penelitian ini peneliti ingin mendapatkan data dari informan tentang upaya pengembangan kompetensi guru Pendidikan Agama Islam khususnya di SMP Se Kecamatan Bandongan. Waktunya mulai tanggal 09 Juni 2010 s/d selesei. 3. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri dan Swasta Se Kecamatan Bandongan Kabupaten Magelang Tahun Diantara SMP-SMP tersebut adalah:

23 - SMP N 1 Bandongan; - SMP N 2 Bandongan; - SMP PGRI Bandongan; dan - SMP Ma arif Bandongan. Sebenarnya ada satu SMP lagi yaitu SMP Muhammadiyah Bandongan, akan tetapi peneliti tidak mencantumkan SMP tersebut dikarenakan SMP tersebut tidak ada guru PAI, yang ada adalah Guru Bidang Studi Agama. Sehingga peneliti tidak mencantumkannya demi kesamaan serta kelancaran penelitian. Alasan peneliti memilih lokasi penelitian yang telah disebutkan diatas adalah secara geografis sangat stragegis, karena SMP Se Kecamatan ini adalah SMP Se Kecamatan yang berdiri menyebar di lingkungan kecamatan dan sekitar. Alasan lain adalah bahwa guru Pendidikan Agama Islam yang ada di SMP Se Kecamatan ini sudah menjadi PNS, serta secara usia masih tergolong muda, asumsinya bahwa guru tersebut dalam upaya mengembangkan kompetensi guru Pendidikan Agama Islam, apa yang dilakukan?. 4. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi, dokumentasi. a. Wawancara (interview) Wawancara adalah Tanya jawab dengan seseorang yang diperlukan untuk dimintai keterangan atau pendapatnya mengenai suatu hal (Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Pustaka, hal:1127). Teknik wawancara dilakukan secara formal dan intensif sehingga akan

24 mampu memperoleh informasi sebanyak mungkin secara jujur dan detail. Teknik wawancara digunakan untuk menggali data dari guru PAI tentang upaya pengembangan kompetensi yang dilakukan guru PAI. b. Observasi Observasi adalah pengamatan (Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Pustaka, 699). Metode ini digunakan untuk mengetahui dan mengamati secara langsung tentang aktivitas guru PAI yang berkaitan dengan upaya pengembangan kompetensi guru PAI, aktifitas penyusunan RPP dan pengembangan silabus, serta ketersediaan sarana dan media pembelajaran. c. Dokumentasi Metode dokumentasi adalah pengumpulan, dan penyimpanan informasi dalam bidang pegetahuan (Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Pustaka, 240). Metode dokumentasi digunakan untuk mendapatkan data dokumentasi perencanaan pembelajaran yang meliputi silabus dan RPP berupa buku acuan dan foto foto pembelajaran PAI, serta dokumen sarana dan media pembelajaran mata pelajaran PAI. H. Sistematika Penulisan Skripsi ini secara garis besar dibagi menjadi tiga bagian yaitu bagian pendahuluan, bagian isi, dan bagian akhir. 1. Bagian Pendahuluan

25 Bagian pendahuluan skripsi ini berisi halaman judul, halaman persetujuan, halaman pengesahan, halaman motto dan persembahan, kata pengantar, abstrak, daftar isi, dan daftar lampiran. 2. Bagian Isi Skripsi BAB I PENDAHULUAN Dalam bab ini akan dijelaskan tentang latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, penegasan istilah, metode penelitian dan sistematika penulisan skripsi. BAB II KAJIAN TEORI Berisi tentang Analisis Teori dan Pernyataan Penelitian. BAB III HASIL PENELITIAN Berisi hasil penelitian BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN Berisi tentang pembahasan hasil Penelitian dilokasi BAB V PENUTUP Berisi tentang kesimpulan hasil penelitian, saran-saran dalam penelitian. 3. Bagian Akhir Pada bagian akhir berisi daftar pustaka dan lampiran lampiran.

26 BAB II KAJIAN TEORI UPAYA PENGEMBANGAN KOMPETENSI GURU PENDIDIKAN ISLAM A. UPAYA PENGEMBANGAN KOMPETENSI GURU 1. Upaya Pengembangan Dalam melaksanakan tugasnya, guru tidak akan berkembang jika guru itu sendiri tidak berusaha mengembangkan sendiri kompetensinya. Selain itu, instansi dimana guru itu bekerja pun ikut andil berusaha untuk mengembangkan kompetensi guru tersebut, agar pelaksanaan tugas guru berjalan dengan lancar dan berkembang sesuai kebutuhan siswa dan perkembangan zaman. Menurut Prof. DR. Hendyat Soetopo, 2005, hal , untuk dapat mengembangkan profesi guru, ada dua jalan yang dapat ditempuh, yaitu melalui pengembangan diri guru itu sendiri dan melalui pengembangan secara melembaga. a. Pengembangan diri Ada beberapa cara dan usaha yang dapat dilakukan oleh guru dalam mengembangkan profesinya, antara lain: berusaha memahami tujuan pendidikan dan pengajaran secara jelas dan konkrit, berusaha memahami dan memilih bahan pengajaran sesuai dengan tujuan, berusaha memahami problem minat, dan kebutuhan dalam proses belajar subyek didik, mengorganisasi bahan dan pengalaman belajar dan mendaya gunakan sumber belajar yang ada, berusaha memahami menyeleksi dan menerapkan metode pembelajaran, berusaha memahami dan kesanggupan membuat 14

27 dan mandayagunakan berbagai alat pelajaran, berusaha membimbing dan mendorong kemajuan pertumbuhan dan perkembangan belajar subyek didik, mampu menilai program dan hasil pembelajaran yang telah dicapai, mengadakan penilaian diri sendiri (self evaluation) untuk melihat kekurangan dan keberhasilan pelaksanaan tugasnya, professional reading (berusaha membaca bahan-bahan yang relevan dengan tugas profesinya), professional writing (berusaha mengembangkan diri dengan menulis karya ilmiah di berbagai media), individual conference (pertemuan pribadi antar sejawat dan dengan ahli lain dalam mengembangkan wawasan keilmuan dan wawasan proses dan strategi pembelajaran), experimentation (berusaha melakukan percobaan-percobaan atas inovasi yang ditemukan atau strategi pembelajaran baru). b. Pengembangan kelembagaan Dalam hal ini pimpinan dimana guru itu bekerja harus berusaha mengembangkan guru agar dapat bekerja secara profesional, antara lain sebagai berikut: Assignment of teachers (penugasan guru-guru dalam bidang tugasnya dan dalam mengikuti pertemuan-pertemuan pertumbuhan jabatan), professional organization (kegiatan dan pertemuan dalam organisasi professional), intervisitation (saling kunjung antar guru dalam proses pembelajaran), committee participation (pelibatan dalam kepanitiaan-kepanitiaan), demonstration teaching (mengajar yang didemonstrasikan), field trip for staff personnel (kunjungan kelembaga /instansi atau tempat yang dapat dijadikan medan studi banding bagi para guru dan pimpinan), curriculum laboratory (laboratorium yang dirancang untuk pengembangan pengetahuan dan kemampuan dalam rangka aplikasi

28 kurikulum dalam proses pembelajaran), professional library (disediakan perpustakaan agar didayagunakan oleh guru untuk mengembangkan profesinya), sharing of experiences (tukar menukar pengalaman antar guru yang penyelenggaraannya dirancang oleh lembaga ataupun atas inisiatif guru-guru sendiri), workshop (lokakarya yang diselenggarakan dengan maksud meningkatkan profesi guru), panel discussion (guru-guru mengikuti diskusi panel diberbagai kesempatan), symposium (guru-guru mengikuti symposium diberbagai kesempatan), penerbitan buletin atau majalah atau surat kabar, penyelenggaraan kursus-kursus, penyelenggaraan penataran-penataran, konseling yang diberikan kepada guru baik secara individual maupun secara kelompok, pertemuan umpan balik bergelombang berdasarkan pada masalah dan tema yang telah diberikan sebelumnya, pengembangan program testing dan pola-pola baru secara bersama, penyelenggaraan penelitianpenelitian yang didikuti oleh para guru. Pengertian lain menyebutkan bahwa pengembangan sikap profesional ini dapat dilakukan, baik selagi dalam pendidikan prajabatan maupun setelah bertugas (dalam jabatan). 1) Pengembangan sikap selama pendidikan prajabatan Pembentukan sikap yang baik tidak mungkin muncul begitu saja, tetapi harus dibina sejak calon guru memulai pendidikannya di lembaga pendidikan guru. Berbagai usaha dan latihan, contoh-contoh dan aplikasi penerapan ilmu, ketrampilan dan bahkan sikap profesional dirancang dan dilaksanakan selama calon guru berada dalam pendidika prajabatan. 2) Pengembangan sikap selama dalam jabatan

29 Pengembangan sikap profesional tidak berhenti apabila calon guru selesei mendapatkan pendidikan prajabatan. Seperti yang telah disebutkan, peningkatan ini dapat dilakukan dengan cara formal melalui kegiatan mengikuti penataran, lokakarya, seminar, atau kegiatan ilmiah lainnya, ataupun secara informal melalui media masa televisi, radio, koran, dan majalah maupun publikasi lainnya. Kegiatan ini selain dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan, sekaligus dapat juga meningkatkan sikap profesional keguruan. (Soetjipto dan Raflis Kosasi, 2007: 54-55) Bahwa dalam rangka meningkatkan mutu, baik mutu profesional, maupun mutu layanan, guru harus pula meningkatkan sikap profesional secara terus menerus dan berkesinambungan. Keharusan meningkatkan dan mengembangkan mutu ini merupakan butir yang keenam dalam Kode Etik Guru Indonesia yang berbunyi: Guru secara pribadi dan bersama-sama, mengembangkan dan meningkatkan mutu dan martabat profesinya (Soetjipto dan Raflis Kosasi, 2007: 53) Oleh karena itu kerjasama yang fungsional antara Universitas LPTK (lembaga pendidikan tenaga kependidikan), LPPG (lembaga pendidikan profesi guru), dan sekolah akan menghasilkan sinergi yang konstruktif dalam upaya peningkatan mutu guru yang selanjutnya untuk peningkatan mutu pendidikan kita (Djohar, 2006: 57). 2. Kompetensi guru Bagi sebuah profesi, kompetensi merupakan sebuah tuntutan. Demikian pula halnya dengan profesi keguruan. Guru sebagai salah satu faktor yang

30 menentukan keberhasilan pendidikan harus memiliki berbagai kompetensi yang dibutuhkan untuk mendukung keberhasilan dalam menjalankan tugas kependidikannya. Kompetensi merupakan perpaduan dari pengetahuan, ketrampilan, nilai, dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak (Mulyasa, 2006: 37-38). Kompetensi tersebut selalu harus dikembangkan dan diolah sehingga semakin tinggi diharapkan guru dapat melaksanakan tugas panggilannya lebih baik dan bertanggung jawab (Moh Uzer Usman, 1997:35). Kompetensi guru di Indonesia telah pula dikembangkan oleh Proyek Pembinaan Pendidikan Guru (P3G) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. kompetensi guru menurut P3G yakni: a) menguasai bahan,b) mengelola program belajar-mengajar, c) mengelola kelas, d) menggunakan media/sumber belajar, e) menguasai landasan kependidikan, f) mengelola interaksi belajar-mengajar, g) menilai prestasi belajar, h) mengenal fungsi dan layanan bimbingan penyuluhan, i) mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah, j) memahami dan menafsirkan hasil penelitian guna keperluan pengajaran. Dapat disimpulkan bahwa sepuluh kompetensi tersebut diatas hanya mencakup dua bidang kompetensi guru, yakni kompetensi kognitif dan kompetensi perilaku (Nana Sudjana, 2005:19). Untuk mencapai keberhasilan pendidikan, sistem pendidikan harus ditata dan dirancang oleh orang-orang yang ahli dibidangnya yang ditandai dengan kompetensi sebagai persyaratannya. Guru harus memiliki pengetahuan, kecakapan, dan ketrampilan serta sikap yang lebih mantap dan memadai sehingga

31 mampu mengelola proses belajar mengajar efektif. Kompetensi adalah kemampuan, kecakapan, dan ketrampilan yang dimiliki seseorang berkenaan dengan tugas, jabatan maupun profesinya. Jadi kompetensi guru adalah kecakapan, kemampuan dan ketrampilan yg dimiliki seseorang yang bertugas mendidik siswa agar mempunyai kepribadian yang luhur dan mulia sebagaimana tujuan pendidikan, sehingga kompetensi menjadi tuntutan dasar bagi seorang guru. Kompetensi yang harus dimiliki oleh guru berdasarkan Undang undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pada Bab IV Pasal 10 ayat 91, yang menyatakan bahwa Kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi professional yang diperoleh melalui pendidikan profesi (Udin Syaefudin Sa ud, 2009:49). Dalam penjelasan lainpun disebut dalam pasal 28 (ayat 3) bahwa guru sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini meliputi: a) Kompetensi pedagogik; b) kompetensi Kepribadian; c) kompetensi Profesional; d) kompetensi Sosial (Martinis Yamin, 2006:79). Berikut penjelasan yang lebih luas tentang beberapa macam kompetensi yang harus dimiliki oleh guru adalah: 1. Kompetensi Pedagodik Kemampuan mengelolah pembelajaran yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi pembelajaran, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki.

32 2. Kompetensi Kepribadian Memiliki kepribadian yang mantap, stabil, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. 3. Kompetensi Sosial Kemampuan berkomunikasi secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar. 4. Kompetensi Profesional Kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkannya membimbing peserta didik untuk memenuhi standar kompetensi. (http://afridayunita-couthe.blogspot.com/2009/03). Beberapa aspek atau ranah yang terkandung dalam konsep kompetensi adalah: a. Pengetahuan (knowledge), yaitu kesadaran dalam bidang kognitif. Misalnya seorang pengajar mengetahui cara melakukan identifikasi kebutuhan belajar dan bagaimana melakukan pembelajaran terhadap peserta didik sesuai dengan kebutuhannya; b. Pemahaman (understanding), yaitu kedalaman kognitif dan afektif yang dimiliki individu. Misal seorang pengajar yang akan melaksanakan pembelajaran harus memiliki pemahaman yang baik tentang karakteristik dan kondisi peserta didik agar dapat melaksanakan pembelajaran secara efektif dan efisien;

33 c. Kemampuan (skill), yaitu sesuatu yang dimiliki individu untuk melakukan tugas atau pekerjaan yang dibebankan kepadanya. Misalnya kemampuan pengajar dalam memilih dan membuat alat peraga sederhana agar bisa memberi kemudahan belajar kepada peserta didik; d. Nilai (value), adalah suatu standar perilaku yang telah diyakini dan secara psikologis telah menyatu dalam diri seseorang. Misalnya standar perilaku pengajar dalam pembelajaran (kejujuran, demokrasi, keterbukaan, dan lain lain); e. Sikap (attitude), yaitu perasaan (senang-tidak senang) atau reaksi terhadap suatu rangsangan yang datang dari luar. Misalnya reaksi terhadap krisis ekonomi, perasaan terhadap upah/gaji, dan lain lain; f. Minat (interest), yaitu kecenderungan seseorang untuk melakukan suatu perbuatan. Misalnya minat untuk mempelajari atau melakukan sesuatu (Wiji Suwarno, 2006: 84). Disamping itu kompetensi juga mensyaratkan tentang berbagai kemampuan dan penampilan yang harus dimiliki oleh seorang guru : 1. Bertaqwa kepada Allah SWT. Guru harus bertaqwa kepada Allah SWT mengingat guru harus memberikan keteladanan yang memadai kepada muridnya sebagai contoh; 2. Berilmu. Bahwa guru harus mempunyai ijazah yang disertai dengan keluasan dan kedalaman ilmu pngetahuan, terutama bidang ilmu yang diteladaninya;

34 3. Berkelakuan baik. Mengingat tugas guru antara lain untuk mengembangkan akhlak yang mulia, maka harus memberikan contoh untuk berakhlak mulia terebih dahulu; 4. Sehat jasmani. Kesehatan psikis jauh lebih penting untuk dimiliki oleh guru, tetapi kesehatan jasmanipun juga, karena sangat membantu kelancaran guru dalam mengabdikan diri untuk mengajar, mendidik dan memberikan bimbingan kepada para muridnya; (Anwar Qomari, 2002: ). Kompetensi guru merupakan salah satu syarat yang harus dimilki oleh setiap guru dalam jenjang pendidikan apapun. Kompetensi-kompetensi diantaranya adalah : kompetensi kepribadian yaitu guru itu harus bermoral dan beriman, guru harus mempunyai aktualisasi diri yang tinggi dan mempunyai sikap mau terus mengembangkan pengetahuan. Kompetensi bidang studi yaitu guru harus menguasai bahan dan bidang yang menjadi tugasnya, guru perlu juga mengerti bagaimana metode ilmu yang diajarkan itu sendiri, bekerja dan sangat baik bila guru juga mengerti kontek ilmu yang mau diajarkan dalam masyarakat dan teknologi yang sekarang ada. Kompetensi dalam pembelajaran atau pendidikan yaitu sangat jelas bahwa guru perlu mengenal anak didik yang mau dibantunya, guru perlu juga menguasai beberapa teori tentang pendidikan terlebih pendidikan di jaman modern ini dan guru juga diharapkan mengerti bermacam-macam model pembelajaran (Moh Uzer Usman, 1997:35-40). Guru adalah figur manusia sumber yang menempati dan memegang peranan penting dalam pendidikan, serta teladan bagi murid-muridnya, harus

35 memiliki sikap dan kepribadian utuh yang dapat dijadikan tokoh panutan idola dalam seluruh segi kehidupannya. Guru yang profesional adalah guru yang siap untuk memberikan bimbingan nurani dan akhlak yang tinggi kepada muridnya. Karena pendidikan dan bimbingan yang diberikan bersumber dari ketulusan hati, maka guru benar-benar siap sebagai spiritual father bagi muridnya. (Qomari Anwar, 2002:118). Guru memegang peranan strategis terutama dalam upaya membentuk watak bangsa melalui pengembangan kepribadian dan nilai nilai yang diinginkan (Udin Syaefudin Sa ud, 2009:32). Dari uraian tersebut dijelaskan bahwa peranan guru sulit digantikan oleh orang lain, karena peranan guru dalam masyarakat Indonesia tetap dominan meskipun teknologi yang dapat dimanfaatkan dalam proses kegiatan belajar mengajar (pembelajaran) berkembang sangat cepat. Seiring dengan kemajuan teknologi informasi yang telah demikian pesat, guru tidak lagi hanya bertindak sebagai penyaji informasi, tetapi juga harus mampu bertindak sebagai fasilitator, motifator, dan pembimbing yang lebih banyak memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mencari dan mengolah sendiri informasi (Hamzah B. Uno, 2008: 16-17). Setiap guru sebagai petugas profesional ikut bertanggung jawab pada tercapainya tujuan pendidikan secara efektif. Sebagai pendidik profesioanal, selalu terdorong untuk tumbuh dan berkembang sebagai perwujudan perasaan dan sikap tidak puas terhadap pendidikan dan harus dapat melaksanakan tugas-tugasnya sehingga selalu relevan dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Hadari Nawawi, 1985:126).

36 Begitu juga konsep dari Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan, yaitu: Ing ngarso sung tulodo. Yang artinya jika pendidik sedang berada di depan maka hendaklah memberikan contoh teladan yang baik terhadap anak didiknya. Ing madyo mangun karso. Artinya jika pendidik sedang berada di tengah tengah anak didiknya, hendaklah ia dapat mendorong kemauan atau kehendak mereka, membangkitkan hasrat mereka untuk berinisiatif dan bertindak. Tut Wuri Handayani. Berarti si pendidik diharapkan dapat melihat, menemukan dan memahami bakat atau potensi potensi apa yang timbul dan terlihat pada anak didik, untuk selanjutnya dapat dikembangkan dengan memberikan motivasi atau dorongan kearah pertumbuhan yang sewajarnya dari potensi potensi tersebut. (Ngalim Purwanto, 2007: 62). Berikut peran, tugas pokok guru adalah: 1. Guru sebagai pengajar 2. Guru sebagai pengajar dan juga sebagai pendidik 3. Guru sebagai pengajar, pendidik, dan juga agen pembaharuan dan pembangunan masyarakat 4. Guru yang berkewenangan berganda sebagai pendidik professional dengan bidang keahlian lain selain kependidikan. (Udin Syaefudin Sa ud, 2009:40). Tanggung jawab dalam mengembangkan profesi pada dasarnya ialah tuntutan dan panggilan untuk selalu mencintai, menghargai, menjaga dan meningkatkan tugas dan tanggung jawab profesinya (Nana Sudjana, 2005:16). Hasil belajar siswa dapat dicapai dipengaruhi oleh faktor dari dalam diri siswa itu dan faktor yang datang dari

37 luar diri siswa atau faktor lingkungan (kualitas pengajaran). Adanya pengaruh kualitas pengajaran, khususnya kompetensi guru terhadap hasil belajar siswa, telah ditunjukkan oleh hasil penelitian. Salah satu diantaranya penelitian di bidang Pendidikan Kependudukan. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa 76,6% hasil belajar siswa dipengaruhi oleh kompetensi guru, dengan rincian; kemampuan guru mengajar memberikan sumbangan 32,43%, penguasaan materi pelajaran memberikan sumbangan 32,58%, dan sikap guru terhadap mata pelajaran memberikan sumbangan 8,60% (Nana Sudjana, hal: 42). Berdasarkan ada dua faktor yang mempengaruhi tingkat kompetensi guru, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri guru (internal) dan faktor yang berasal dari luar diri guru (eksternal). Faktor internal meliputi: tingkat pendidikan; keikutsertaan dalam berbagai pelatihan dan kegiatan ilmiah; masa kerja dan pengalaman kerja; tingkat kesejahteraan; serta kesadaran akan kewajiban dan panggilan hati nurani. Sedangkan faktor eksternal meliputi: besar gaji dan tunjangan yang diterima; ketersediaan sarana dan media pembelajaran; kepemimpinan kepala sekolah;

38 kegiatan pembinaan yang dilakukan, dan peran serta masyarakat. Relevansinya pemimpin (guru) dalam pandangan Islam adalah harus memiliki empat prinsip yang disebut STAF, yakni: sidiq (benar); tabligh (menyampaikan); amanah (dipercaya); dan fathonah (cerdas) (Usman Abu Bakar, Surohim, 2005:162). Dengan demikian, lembaga pendidikan Islam tersebut memiliki citra di mata masyarakat sebagai lembaga pendidikan Islam yang menjaga dan menjamin kelulusan. B. TINJAUAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM Pendidikan adalah usaha pendidik memimpin anak didik secara umum untuk mencapai perkembangannya menuju kedewasaan jasmani maupun rohani, dan bimbingan adalah usaha pendidik memimpin anak didik dalam arti khusus misalnya memberikan dorongan atau motivasi dan mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi anak didik atau siswa (Sudirman, 1996:139). Pendidikan ialah segala usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan anak anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya kearah kedewasaan (Ngalim Purwanto, 2007:11). Sesuai dengan pesan Nabi Muhammmad SAW: Uthlubul ilma minal mahdi ilal lahdi, yang artinya: belajarlah (tuntutlah ilmu) sejak dari ayunan masa bayi sampai disambut liang lahad (M. Nashir Ali, 2005: 4). Hal tersebut sudah jelas bahwa manusia diperintahkan untuk mencari ilmu demi demi membimbing pribadi manusia itu sendiri. Proses pendidikan tidak hanya bertumpu pada usaha menjaga kepentingan jasmani, tetapi untuk membentuk jiwa intelektual dan emosi seseorang supaya sesuai dengan kehendak masyarakat (Sudirman, 1996: 232).

39 Selain itu untuk beribadah kepada Allah. Sesuai dengan yang disebutkan dalam QS. Adz Dzariat: 56 Artinya: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-ku. Agar semua kegiatan yang dilaksanakan oleh guru Pendidikan Agama Islam berjalan lancar, menarik (merangsang minat siswa) dan berhasil dengan sebaikbaiknya, maka setiap guru dituntut untuk memiliki wawasan yang luas dan kemampuan profesional yang tinggi. Untuk memperoleh dua hal tersebut, setiap guru hendaknya memiliki kemauan yang sungguh-sungguh untuk belajar, baik melalui jalur-jalur pembinaan yang telah diprogramkan oleh pejabat/instansi berwenang maupun jalur pembinaan yang dikembangkan sendiri oleh guru yang bersangkutan dalam wadah KKG/MGMP yang ada (Hadirja Paraba, 1998: ). Pendidikan Islam itu yang pertama dan utama adalah memasukkan tauhid itu ke dalam individu, sosial dan generasi, dalam struktur jiwa raga, dalam pelembagaan kemasyarakatan dan dalam pola yang berkelanjutan secara generatif. QS. Al-Baqarah ayat 208 : udkhuluu fiissilmi kaaffah., Masukilah Islam itu secara utuh (tidak sepenggal-penggal) (M. Nashir Ali, 2005: 74). Pendidikan Islam mengandung prinsip mengenal yang unggul karena ia menghubungkan prinsip mengenal Tuhan, alam dan diri secara serentak tanpa terpisah satu sama lain. Paradigma pendidikan Islam yang dimaksud disini adalah pemikiran yang terus-menerus harus dikembangkan melalui pendidikan untuk merebut kembali pendidikan Iptek, sebagaimana zaman keemasan dulu (Mastuhu, 1999: 15). Untuk

40 lebih jelas dapat dilihat pada prinsip Allah SWT dengan memberikan pelajaran pada manusia berikut ini (Q.S. Al Alaq : 1-5): Artinya: 1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan 2. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. 3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, 4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam [1589], 5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. [1589] Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca. Sehubungan motivasi kearah tersebut, Allah akan meninggikan derajat orang yang berilmu sebagaimana Firman-Nya : (QS. Al Mujadillah ayat 11) Artinya : Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

41 Penduduk Indonesia yang mayoritas warganya adalah muslim, namun sangat ironis dalam hal pendidikan selalu tertinggal dengan umat yang lainnya. Hal ini dapat dilihat dari ketertinggalan Pendidikan Islam dengan pendidikan lainnya baik secara kuantitatif maupun kualitatif, sehinnga terkesan bahwa pendidikan Islam sebagai pendidikan kelas dua. Implikasi Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 terhadap Pendidikan Islam menuai pro-kontra. Terutama pada pasal yang dianggap krusial, yaitu pasal 12 ayat 1a, yang menegaskan bahwa: setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak: mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama (Usman Abu Bakar, Surohim, 2005:93). Pro-kontra ini wajar dalam masyarakat demokrasi, karena semua pihak memiliki alasan dan kepentingan masing-masing. Bilamana definisi - definisi yang telah disebutkan diatas dikaitkan dengan pengertian Pendidikan Islam, akan diketahui bahwa Pendidikan Islam lebih menekankan pada keseimbangan dan keserasian perkembangan rohaniyah dan jasmaniyah. Diantara pengertian-pengertian tentang Pendidikan Islam adalah sebagai berikut: a. Pendidikan Agama Islam dapat diartikan sebagai program yang terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani ajaran agama Islam serta diikuti tuntunan untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa (Muhammad Alim, 2006: 6).

42 b. Pendidikan Islam berarti sistem pendidikan yang dapat memberikan kemampuan seseorang untuk memimpin kehidupannya sesuai dengan cita-cita dan nilai-nilai Islam yang telah menjiwai dan mewarnai corak kepribadiannya (M. Arifin, 2006 : 7). Dari beberapa definisi yang dikemukakan para ahli tersebut dapat diketahui bahwa tujuan pendidikan memiliki ciri-ciri sebagai berikut: a. Mengarahkan manusia agar menjadi khalifah Tuhan di muka bumi dengan sebaikbaiknya, yaitu melaksanakan tugas-tugas memakmurkan dan mengolah bumi sesuai dengan kehendak Tuhan. b. Mengarahkan manusia agar seluruh pelaksanaan tugas kekhalifahannya dimuka bumi dilaksanakan dalam rangka beribadah kepada Allah, sehingga tugas tersebut terasa ringan dilaksanakan. c. Mengarahkan manusia agar berakhlak mulia, sehingga tidak menyalah gunakan fungsi kekhalifahannya. d. Membina dan mengarahkan potensi akal, jiwa, jasmaninya, sehingga ia memiliki ilmu, akhlak, dan ketrampilan yang semua ini dapat digunakan guna mendukung tugas pengabdian dan kekhlalifahannya. e. Mengarahkan manusia agar dapat mencapai kebahagiaan hidup didunia dan akhirat. Manusia yang dapat memiliki ciri-ciri tersebut diatas secara umum adalah manusia baik. Atas dasar ini dapat dikatakan bahwa para ahli Pendidikan Islam pada hakikatnya sependapat bahwa tujuan umum Pendidikan Islam ialah terbentuknya manusia yang baik, yaitu manusia yang beribadah kepada Allah dalam

43 rangka pelaksanaannya fungsi kekhalifahannya di muka bumi. Dengan demikian pengertian Pendidikan Islam diatas dapat disimpulkan secara inti bahwa Pendidikan Islam adalah suatu sistem pendidikan yang dimaksudkan sebagai usaha mengubah tingkah laku individu melalui proses bimbingan terhadap pertumbuhan dari pribadi manusia dengan cara mengarahkan, mengajarkan, melatih mengasuh dan mengawasi kepada kehidupan yang baik dan yang mengangkat derajat kemanusiaan menurut berlakunya semua ajaran Islam. Sebagaimana diterapkan dalam Bab IX pasal 35 Standar Nasional Pendidikan, menyebutkan: Standar Nasional Pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala. Strategi pengembangan system manajemen Pendidikan Islam ini dalam upaya menata manajemen berbasis sekolah atau madrasah, serta mendukung pelaksanaan otonomi daerah, efisiensi, dan akuntabilitas. Pola yang diterapkan adalah: (a) peningkatan profesionalitas pengelola yang sidiq, tabligh, amanah, dan fathonah; (b) peningkatan layanan pendidikan efektif dan efisien, terbuka, adil, dan merata; (c) pengembangan system informasi manajemen; (d) peningkatan partisipasi masyarakat melalui pembentukan Dewan atau Komite sekolah/madrasah; (e) penyediaan dan pendayagunaan alat-alat teknologi; dan (f) memberdayakan personil pendidikan yang didukung oleh tenaga pendidikan dan pendidik yang jujur, kreatif, bersih, ikhlas dan berwibawa (Usman Abu Bakar, Surohim, 2005:111).

44 Dari keterangan-keterangan diatas dapat diambil suatu sintesis bila dikaitkan dengan KEEMPAT kompetensi tersebut diatas dapat dipahami bahwa Pendidikan Islam memiliki empat kompetensi yang sama. Kompetensi yang 1) tujuan yang berkaitan dengan pemahaman karakter siswa (pedagogik); 2) tujuan yang berkaitan dengan individu; 3) tujuan yang berkaitan dengan masyarakat; 4) tujuan berkaitan dengan profesional.

BAB I PENDAHULUAN. untuk memimpin jasmani dan rohani ke arah kedewasaan. Dalam artian,

BAB I PENDAHULUAN. untuk memimpin jasmani dan rohani ke arah kedewasaan. Dalam artian, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan anak-anak untuk memimpin jasmani dan rohani ke arah kedewasaan. Dalam artian, pendidikan adalah sebuah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan

BAB I PENDAHULUAN. belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk

Lebih terperinci

UNDANG UNDANG NO. 20 TH.2003 Tentang SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL

UNDANG UNDANG NO. 20 TH.2003 Tentang SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL UNDANG UNDANG NO. 20 TH.2003 Tentang SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL DASAR & FUNGSI Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pendidikan Nasional

Lebih terperinci

REVIEW UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL

REVIEW UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL REVIEW UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL Faridah T, S.Pd., M.Pd. NIP.19651216 198903 2 012 Widyaiswara LPMP Sulawesi Selatan LEMBAGA PENJAMINAN MUTU

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. globalisasi seperti sekarang ini akan membawa dampak diberbagai bidang

BAB I PENDAHULUAN. globalisasi seperti sekarang ini akan membawa dampak diberbagai bidang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan zaman yang semakin modern terutama pada era globalisasi seperti sekarang ini akan membawa dampak diberbagai bidang kehidupan. Hal ini menuntut adanya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. produktif. Di sisi lain, pendidikan dipercayai sebagai wahana perluasan akses.

BAB I PENDAHULUAN. produktif. Di sisi lain, pendidikan dipercayai sebagai wahana perluasan akses. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan aspek penting bagi perkembangan sumber daya manusia, sebab pendidikan merupakan wahana atau salah satu instrumen yang digunakan bukan saja

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sebagaimana digariskan dalam Pasal 3 Undang-Undang Republik. RI No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas).

BAB I PENDAHULUAN. Sebagaimana digariskan dalam Pasal 3 Undang-Undang Republik. RI No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas). 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan hal pokok yang dapat menunjang kecerdasan serta keterampilan anak dalam mengembangkan kemampuannya. Pendidikan merupakan sarana yang paling tepat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. di hampir semua aspek kehidupan manusia. Di satu sisi perubahan itu bermanfaat

BAB I PENDAHULUAN. di hampir semua aspek kehidupan manusia. Di satu sisi perubahan itu bermanfaat 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa perubahan di hampir semua aspek kehidupan manusia. Di satu sisi perubahan itu bermanfaat bagi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Penyelenggaraan pendidikan di Indonesia sesuai dengan Undang-Undang Nomor

I. PENDAHULUAN. Penyelenggaraan pendidikan di Indonesia sesuai dengan Undang-Undang Nomor I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penyelenggaraan pendidikan di Indonesia sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, merupakan suatu sistem pendidikan nasional

Lebih terperinci

Sejarah pendidikan Indonesia 1. Dyah Kumalasari

Sejarah pendidikan Indonesia 1. Dyah Kumalasari Sejarah pendidikan Indonesia 1 Dyah Kumalasari PENDAHULUAN Francis Bacon Knowledge is power Pendidikan untuk Manusia.Sumber pokok kekuatan bagi manusia adalah Pengetahuaan. Mengapa...? Karena manusia dgn

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bagaimana karakteristik dari negara tersebut. Pendidikan merupakan kunci untuk

BAB I PENDAHULUAN. bagaimana karakteristik dari negara tersebut. Pendidikan merupakan kunci untuk BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan komponen yang sangat penting pada zaman sekarang ini. Tanpa adanya pendidikan suatu bangsa dan negara tentunya akan sangat tertinggal.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah dan Penegasan Judul. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang sedang berkembang, maka pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah dan Penegasan Judul. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang sedang berkembang, maka pendidikan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah dan Penegasan Judul Bangsa Indonesia adalah bangsa yang sedang berkembang, maka pendidikan mempunyai peranan yang penting untuk perkembangan tersebut. Dengan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan upaya yang sangat strategis untuk mencerdaskan

I. PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan upaya yang sangat strategis untuk mencerdaskan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan upaya yang sangat strategis untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan diperlukan guna meningkatkan mutu bangsa secara menyeluruh. Pendidikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Dunia pendidikan Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang memprihatinkan baik dilihat dari sudut pandang internal berhubungan dengan pembangunan bangsa maupun dari

Lebih terperinci

PENERAPAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) DALAM MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMK MUHAMMADIYAH NGAWEN GUNUNGKIDUL

PENERAPAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) DALAM MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMK MUHAMMADIYAH NGAWEN GUNUNGKIDUL PENERAPAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) DALAM MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMK MUHAMMADIYAH NGAWEN GUNUNGKIDUL SKRIPSI Oleh : YUYUN DWI LISTIYANI NPM : 20070720122 FAKULTAS AGAMA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mendidik murid-muridnya. Dengan kasih sayang pula ulama dan pemimpin

BAB I PENDAHULUAN. mendidik murid-muridnya. Dengan kasih sayang pula ulama dan pemimpin BAB I PENDAHULUAN A. KONTEKS PENELITIAN Pendidikan pada hakikatnya merupakan kasih sayang Allah yang diturunkan kepada segenap makhluk terutama manusia. Dengan kasih sayang suatu proses pendidikan dapat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah modal utama bagi suatu bangsa dalam upaya meningkatkan

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah modal utama bagi suatu bangsa dalam upaya meningkatkan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah modal utama bagi suatu bangsa dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dimilikinya. Sumber daya manusia yang berkualitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan bangsa dan diperlukan guna untuk meningkatkan mutu bangsa secara. diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan bangsa dan diperlukan guna untuk meningkatkan mutu bangsa secara. diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan pada hakikatnya adalah usaha membudayakan manusia atau memanusiakan manusia, pendidikan sangat strategis untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan

Lebih terperinci

SKRIPSI. Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu (S 1 ) dalam Ilmu Tarbiyah.

SKRIPSI. Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu (S 1 ) dalam Ilmu Tarbiyah. PENGARUH BACAAN FIKSI TERHADAP MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK PADA BIDANG STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SDN 02 PEGADEN TENGAH WONOPRINGGO PEKALONGAN SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perubahan tersebut menuntut setiap guru untuk terus berupaya melakukan

BAB I PENDAHULUAN. Perubahan tersebut menuntut setiap guru untuk terus berupaya melakukan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dunia pendidikan mengalami perubahan yang sangat cepat yang memberikan dampak sangat signifikan terhadap kehidupan masyarakat. Perubahan tersebut menuntut

Lebih terperinci

PELAKSANAAN PEMBELAJARAN DI MTs SHABILUL HUDA KECAMATAN GUNTUR KABUPATEN DEMAK

PELAKSANAAN PEMBELAJARAN DI MTs SHABILUL HUDA KECAMATAN GUNTUR KABUPATEN DEMAK PELAKSANAAN PEMBELAJARAN DI MTs SHABILUL HUDA KECAMATAN GUNTUR KABUPATEN DEMAK TESIS Diajukan Kepada Program Studi Magister Manajemen Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta untuk Memenuhi Salah

Lebih terperinci

KODE ETIK GURU INDONESIA PEMBUKAAN

KODE ETIK GURU INDONESIA PEMBUKAAN KODE ETIK GURU INDONESIA PEMBUKAAN Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa guru Indonesia menyadari bahwa jabatan guru adalah suatu profesi yang terhormat dan mulia. Guru mengabdikan diri dan berbakti untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini proses pembelajaran hendaknya menerapkan nilai-nilai karakter.

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini proses pembelajaran hendaknya menerapkan nilai-nilai karakter. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini proses pembelajaran hendaknya menerapkan nilai-nilai karakter. Hal tersebut sebagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan karakter di Indonesia. Pendidikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pada kehidupan sekarang ini, semua

BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pada kehidupan sekarang ini, semua BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan salah satu sasaran pokok pemerintah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pada kehidupan sekarang ini, semua orang berkepentingan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada era globalisasi dan berkembangnya ilmu pengetahuan dan

BAB I PENDAHULUAN. Pada era globalisasi dan berkembangnya ilmu pengetahuan dan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada era globalisasi dan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi ini ikut menuntut kemajuan dalam segala sektor. Hal ini terlihat dengan adanya persaingan

Lebih terperinci

KODE ETIK PENGAWAS SEKOLAH/MADRASAH

KODE ETIK PENGAWAS SEKOLAH/MADRASAH KODE ETIK PENGAWAS SEKOLAH/MADRASAH PEMBUKAAN Atas rahmat Allah SWT Pengawas Sekolah/Madrasah menyadari bahwa jabatan Pengawas Sekolah/Madrasah/Madrasah adalah suatu profesi yang terhormat dan mulia. Pengawas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan manusia tidak terlepas dari pendidikan tersebut, baik pendidikan sekolah

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan manusia tidak terlepas dari pendidikan tersebut, baik pendidikan sekolah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah aktivitas manusia yang senantiasa tumbuh dan berkembang sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan. Disadari atau tidak dalam kehidupan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kembali pemikiran kita tentang makna pendidikan itu sendiri. Pendidikan terkait dengan nilai-nilai, mendidik berarti memberikan,

BAB I PENDAHULUAN. kembali pemikiran kita tentang makna pendidikan itu sendiri. Pendidikan terkait dengan nilai-nilai, mendidik berarti memberikan, BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian Berbicara mengenai pendidikan secara umum kita harus merekonstruksi kembali pemikiran kita tentang makna pendidikan itu sendiri. Pendidikan adalah usaha sadar yang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN. diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati lansung oleh pihak luar

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN. diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati lansung oleh pihak luar BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN 2.1 Pengertian Perilaku Mengajar Perilaku adalah semua kegiatan atau aktifitas manusia, baik yang dapat diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati lansung oleh pihak

Lebih terperinci

BUPATI LUWU PROPINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUWU NOMOR : TENTANG PENDALAMAN MATERI PENDIDIKAN AGAMA

BUPATI LUWU PROPINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUWU NOMOR : TENTANG PENDALAMAN MATERI PENDIDIKAN AGAMA BUPATI LUWU PROPINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUWU NOMOR : TENTANG PENDALAMAN MATERI PENDIDIKAN AGAMA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LUWU, Menimbang : a. bahwa tujuan pendidikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terbentuknya kepribadian yang bulat dan utuh sebagai manusia individual dan

BAB I PENDAHULUAN. terbentuknya kepribadian yang bulat dan utuh sebagai manusia individual dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah dan Penegasan Judul Pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam pembentukan manusia, karena tujuan yang dicapai oleh pendidikan tersebut adalah untuk

Lebih terperinci

SKRIPSI. Oleh: TSALIS HIDAYATI NIM 11507020. Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam

SKRIPSI. Oleh: TSALIS HIDAYATI NIM 11507020. Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR SISWA DALAM MATA PELAJARAN MATEMATIKA OPERASI HITUNG PERKALIAN DENGAN METODE BERMAIN KARTU PADA SISWA KELAS III MI DADAPAYAM II KECAMATAN SURUH KABUPATEN SEMARANG TAHUN PELAJARAN

Lebih terperinci

IMPLEMENTASI FULLDAY SCHOOL DALAM MENINGKATKAN. PRESTASI BELAJAR SISWA DI MTs NEGERI SURAKARTA 1 TAHUN PELAJARAN 2012/2013

IMPLEMENTASI FULLDAY SCHOOL DALAM MENINGKATKAN. PRESTASI BELAJAR SISWA DI MTs NEGERI SURAKARTA 1 TAHUN PELAJARAN 2012/2013 IMPLEMENTASI FULLDAY SCHOOL DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA DI MTs NEGERI SURAKARTA 1 TAHUN PELAJARAN 2012/2013 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Tugas dan Syarat Guna Memperoleh Gelar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu tantangan terberat bagi bangsa Indonesia pada era globalisasi abad

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu tantangan terberat bagi bangsa Indonesia pada era globalisasi abad 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu tantangan terberat bagi bangsa Indonesia pada era globalisasi abad 21 ini adalah bagaimana menyiapkan manusia Indonesia yang cerdas, unggul dan berdaya

Lebih terperinci

ANALISIS UNDANG-UNDANG NO 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL

ANALISIS UNDANG-UNDANG NO 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL NAMA : WAWAN NIM : 12503241011 KELAS : A1 ANALISIS UNDANG-UNDANG NO 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL Pendidikan yaitu Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pengajaran yang berkaitan dengan pekerjaan seseorang yang menjadi mata

BAB I PENDAHULUAN. pengajaran yang berkaitan dengan pekerjaan seseorang yang menjadi mata BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Profesionalisme guru merupakan kondisi, arah, nilai, tujuan dan kualitas suatu keahlian dan kewenangan dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang berkaitan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. secara adil dan makmur, maka diperlukan suatu pendidikan. Hal ini. ditegaskan pada pembukaan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 yang

BAB I PENDAHULUAN. secara adil dan makmur, maka diperlukan suatu pendidikan. Hal ini. ditegaskan pada pembukaan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 yang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Guna mewujudkan cita-cita kehidupan berbangsa seluruh Indonesia secara adil dan makmur, maka diperlukan suatu pendidikan. Hal ini ditegaskan pada pembukaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kelas, tapi seorang guru juga harus mampu membimbing, mengembangkan

BAB I PENDAHULUAN. kelas, tapi seorang guru juga harus mampu membimbing, mengembangkan 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG PENELITIAN Guru memiliki peran dan tanggung jawab yang besar dalam proses pendidikan, di mana tugas seorang guru bukan hanya memberikan transfer ilmu dan seperangkat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. didasarkan pada pengertian pendidikan menurut Undang-Undang No 20 tahun

BAB I PENDAHULUAN. didasarkan pada pengertian pendidikan menurut Undang-Undang No 20 tahun BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan serangkaian aktivitas peserta didik dalam mempersiapkan dirinya agar mampu menjadi pribadi yang baik yang mampu memberikan kontribusi positif

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dihadapi oleh manusia semakin kompleks dan bervariasi. Oleh sebab itu

BAB I PENDAHULUAN. dihadapi oleh manusia semakin kompleks dan bervariasi. Oleh sebab itu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia tumbuh dan berkembang sejak dalam kandungan. Dalam pertumbuhan dan perkembangannya, manusia membutuhkan tuntunan melalui proses pendidikan. Dengan kemajuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan dalam kehidupan suatu negara memegang peranan yang. sangat penting untuk menjamin kelangsungan hidup negara dan bangsa.

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan dalam kehidupan suatu negara memegang peranan yang. sangat penting untuk menjamin kelangsungan hidup negara dan bangsa. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan dalam kehidupan suatu negara memegang peranan yang sangat penting untuk menjamin kelangsungan hidup negara dan bangsa. Pendidikan merupakan wahana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pendidikan dilakukan berdasarkan rancangan yang terencana dan terarah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pendidikan dilakukan berdasarkan rancangan yang terencana dan terarah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan dilakukan berdasarkan rancangan yang terencana dan terarah berdasarkan kurikulum yang disusun oleh lembaga pendidikan. Menurut undang-undang sistem pendidikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan atau Kurikulum Hal ini menunjukkan bahwa kurikulum

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan atau Kurikulum Hal ini menunjukkan bahwa kurikulum 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan Nasional kita telah beberapa kali mengalami pembaharuan kurikulum, mulai dari Kurikulum 1994 sampai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan atau Kurikulum

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mungkin proses belajar mengajar akan berhasil dengan lancar dan baik.

BAB I PENDAHULUAN. mungkin proses belajar mengajar akan berhasil dengan lancar dan baik. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Tujuan pendidikan nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 Bab II Pasal 3, Pendidikan Nasional

Lebih terperinci

DASAR & FUNGSI. Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

DASAR & FUNGSI. Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 UNDANG UNDANG NO. 20 TH.2003 Tentang SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL DASAR & FUNGSI Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pendidikan Nasional

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. akal tersebut, manusia mampu menetapkan nilai-nilai luhur guna memajukan

BAB I PENDAHULUAN. akal tersebut, manusia mampu menetapkan nilai-nilai luhur guna memajukan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Penegasan Judul Manusia adalah makhluk ciptaan Allah swt. yang diberikan daya akal sebagai kelebihan dibandingkan makhluk ciptaan Allah swt. lainnya. Dengan daya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Ilmu pengetahuan dan teknologi terus berkembang seiring dengan

BAB I PENDAHULUAN. Ilmu pengetahuan dan teknologi terus berkembang seiring dengan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ilmu pengetahuan dan teknologi terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang ini secara langsung maupun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. melalui berbagai upaya yang berlangsung dalam lingkungan keluarga, sekolah dan

BAB I PENDAHULUAN. melalui berbagai upaya yang berlangsung dalam lingkungan keluarga, sekolah dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan suatu proses pengembangan dan pembentukan manusia melalui tuntunan dan petunjuk yang tepat disepanjang kehidupan, melalui berbagai upaya yang berlangsung

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan potensi anak didik sehingga menjadi orang yang dewasa fisik,

BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan potensi anak didik sehingga menjadi orang yang dewasa fisik, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu interaksi manusia dewasa dengan anak didik dalam rangka menyampaikan ilmu pengetahuan serta keterampilan agar dapat mengembangkan

Lebih terperinci

2015 PEMBELAJARAN PAI PADA PROGRAM AKSELERASI DI SD AR-RAFI BALEENDAH

2015 PEMBELAJARAN PAI PADA PROGRAM AKSELERASI DI SD AR-RAFI BALEENDAH BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari hidup dan kehidupan manusia. Pendidikan menjadi kebutuhan pokok bagi manusia, karena disaat manusia

Lebih terperinci

II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Deskripsi Teoritis Tinjauan tentang Guru, Kompetensi, Kompetensi Pedagogik, dan PAUD

II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Deskripsi Teoritis Tinjauan tentang Guru, Kompetensi, Kompetensi Pedagogik, dan PAUD II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Deskripsi Teoritis 2.1.1 Tinjauan tentang Guru, Kompetensi, Kompetensi Pedagogik, dan PAUD 2.1.1.1 Pengertian Guru Guru memainkan peranan penting bagi jalannya proses pendidikan

Lebih terperinci

PENDIDIKAN KEPRAMUKAAN SEBAGAI PEMBENTUKKAN KARAKTER SISWA KELAS V SDN NGLETH 1 KOTA KEDIRI

PENDIDIKAN KEPRAMUKAAN SEBAGAI PEMBENTUKKAN KARAKTER SISWA KELAS V SDN NGLETH 1 KOTA KEDIRI PENDIDIKAN KEPRAMUKAAN SEBAGAI PEMBENTUKKAN KARAKTER SISWA KELAS V SDN NGLETH 1 KOTA KEDIRI Wahyu Nur Aida Universitas Negeri Malang E-mail: Dandira_z@yahoo.com Abstrak Tujuan penelitian ini untuk mengetahui

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bab. I, pasal 1:

BAB I PENDAHULUAN. Dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bab. I, pasal 1: BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan merupakan bagian yang penting dalam kehidupan manusia karena dalam kehidupannya manusia senantiasa berada dalam proses belajar. Menurut Winkel

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA 6 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) a. Pengertian KTSP Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 menyebutkan bahwa kurikulum adalah seperangkat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pelaksanaan pembelajaran di sekolah tidak lepas dari permasalahan, di

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pelaksanaan pembelajaran di sekolah tidak lepas dari permasalahan, di BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pelaksanaan pembelajaran di sekolah tidak lepas dari permasalahan, di antaranya adalah masalah belajar. Permasalahan belajar dapat dipengaruhi oleh dua faktor,

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2013 NOMOR 23 SERI E

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2013 NOMOR 23 SERI E LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2013 NOMOR 23 SERI E PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA NOMOR 20 TAHUN 2013 TENTANG PENDIDIKAN MUATAN LOKAL KABUPATEN BANJARNEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. yang sangat penting dalam kehidupan manusia baik individu, maupun sebagai anggota

BAB 1 PENDAHULUAN. yang sangat penting dalam kehidupan manusia baik individu, maupun sebagai anggota BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sejalan dengan kemajuan zaman yang semakin cepat, pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia baik individu, maupun sebagai anggota masyarakat,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,

BAB I PENDAHULUAN. beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan upaya unutuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, sebagaimana dirumuskan dalam UU Sisdiknas no 20 tahun 2003, bahwa pendidikan national

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif

BAB I PENDAHULUAN. suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pekerjaan yang didasari atas pengetahuan, keterampilan dan sikap sesuai dengan

BAB I PENDAHULUAN. pekerjaan yang didasari atas pengetahuan, keterampilan dan sikap sesuai dengan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kompetensi adalah kemampuan untuk melaksanakan suatu tugas atau pekerjaan yang didasari atas pengetahuan, keterampilan dan sikap sesuai dengan unjuk kerja yang dipersyaratkan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. karena dari pendidikan menggambarkan betapa tingginya peradaban suatu bangsa.

BAB I PENDAHULUAN. karena dari pendidikan menggambarkan betapa tingginya peradaban suatu bangsa. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah dan Penegasan Judul Pendidikan adalah suatu hal yang sangat mendasar bagi suatu bangsa karena dari pendidikan menggambarkan betapa tingginya peradaban suatu

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. dan membentuk watak serta peradapan bangsa, yang bermartabat dalam rangka

BAB 1 PENDAHULUAN. dan membentuk watak serta peradapan bangsa, yang bermartabat dalam rangka 1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk

Lebih terperinci

ANALISIS MATERI DAN METODE PEMBELAJARAN AGAMA ISLAM UNTUK MENANAMKAN AKHLAK ANAK DI KELOMPOK BERMAIN AISIYAH AR-ROSYID BALEHARJO WONOSARI GUNUNGKIDUL

ANALISIS MATERI DAN METODE PEMBELAJARAN AGAMA ISLAM UNTUK MENANAMKAN AKHLAK ANAK DI KELOMPOK BERMAIN AISIYAH AR-ROSYID BALEHARJO WONOSARI GUNUNGKIDUL ANALISIS MATERI DAN METODE PEMBELAJARAN AGAMA ISLAM UNTUK MENANAMKAN AKHLAK ANAK DI KELOMPOK BERMAIN AISIYAH AR-ROSYID BALEHARJO WONOSARI GUNUNGKIDUL SKRIPSI Oleh: WAHIDA ASRONI NPM: 20070720131 FAKULTAS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pengetahuan, keterampilan dan ilmu yang lebih tinggi, serta sikap dan perilaku

BAB I PENDAHULUAN. pengetahuan, keterampilan dan ilmu yang lebih tinggi, serta sikap dan perilaku 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia dimasa pembangunan saat ini, manusia dituntut untuk memiliki pengetahuan, keterampilan dan ilmu yang lebih tinggi, serta sikap dan perilaku yang

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR : 722 TAHUN : 2006 PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG KETENTUAN PENYELENGGARAAN WAJIB BELAJAR MADRASAH DINIYAH AWALIYAH DI KABUPATEN SERANG

Lebih terperinci

KODE ETIK GURU INDONESIA. Drs. H. Asep Herry Hernawan, M.Pd. Laksmi Dewi, M.Pd.

KODE ETIK GURU INDONESIA. Drs. H. Asep Herry Hernawan, M.Pd. Laksmi Dewi, M.Pd. KODE ETIK GURU INDONESIA Drs. H. Asep Herry Hernawan, M.Pd. Laksmi Dewi, M.Pd. MUKADIMAH Guru Indonesia tampil secara profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih,

Lebih terperinci

D S A A S R A R & & FU F N U G N S G I S PE P N E D N I D DI D KA K N A N NA N S A I S ON O A N L A

D S A A S R A R & & FU F N U G N S G I S PE P N E D N I D DI D KA K N A N NA N S A I S ON O A N L A UNDANG UNDANG NO. 20 TH.2003 Tentang SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL Sosialisasi KTSP DASAR & FUNGSI PENDIDIKAN NASIONAL Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manajemen. Keberhasilan sekolah dalam melaksanakan apa yang telah

BAB I PENDAHULUAN. manajemen. Keberhasilan sekolah dalam melaksanakan apa yang telah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kepemimpinan pada hakikatnya merupakan fungsi inti dalam proses manajemen. Keberhasilan sekolah dalam melaksanakan apa yang telah direncanakan atau diorganisasikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penyelenggaraan pendidikan nasional berbunyi bahwa pendidikan. diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan

BAB I PENDAHULUAN. penyelenggaraan pendidikan nasional berbunyi bahwa pendidikan. diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan nasional berfungsi mengembang kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalm rangka mencerdaskan kehidupan bangsa (Depdiknas,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Lembaga Pendidikan Islam baik MI, MTs, MA, maupun PTAI sering

BAB I PENDAHULUAN. Lembaga Pendidikan Islam baik MI, MTs, MA, maupun PTAI sering 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Lembaga Pendidikan Islam baik MI, MTs, MA, maupun PTAI sering dianggap masih terbelakang. Hal itu disebabkan lembaga pendidikan Islam masih tertinggal jauh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sekarang ini sangat berpengaruh pada kehidupan manusia. Berbagai penemuan

BAB I PENDAHULUAN. sekarang ini sangat berpengaruh pada kehidupan manusia. Berbagai penemuan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan yang cepat dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang ini sangat berpengaruh pada kehidupan manusia. Berbagai penemuan teori-teori baru

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan sangat dibutuhkan oleh manusia dalam menjalani kehidupannya, sebagai pembimbing dalam memecahkan setiap persoalan yang ada. Sehingga dengan pendidikan akan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah investasi sumber daya manusia jangka panjang yang mempunyai nilai strategis bagi kelangsungan peradaban manusia di dunia. Hampir semua negara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. negara yang demokratis serta bertanggung jawab. 2

BAB I PENDAHULUAN. negara yang demokratis serta bertanggung jawab. 2 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Guru adalah usaha sadar yang sengaja direncanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Guru bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. serta ketrampilan yang diperlukan oleh setiap orang. Dirumuskan dalam

BAB I PENDAHULUAN. serta ketrampilan yang diperlukan oleh setiap orang. Dirumuskan dalam 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan manusia seutuhnya bertujuan agar individu dapat mengekspresikan dan mengaktualisasi diri dengan mengembangkan secara optimal dimensi-dimensi kepribadian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam sejarah peradaban manusia terlihat jelas bahwa kemajuan suatu

BAB I PENDAHULUAN. Dalam sejarah peradaban manusia terlihat jelas bahwa kemajuan suatu 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Dalam sejarah peradaban manusia terlihat jelas bahwa kemajuan suatu bangsa selalu berkait dengan masalah pendidikan sebagai bagian yang terintegral dan tidak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. di antara makluk-nya yang lain. Allah memberi banyak kelebihan kepada

BAB I PENDAHULUAN. di antara makluk-nya yang lain. Allah memberi banyak kelebihan kepada BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian Allah menciptakan manusia dengan penciptaan yang paling sempurna di antara makluk-nya yang lain. Allah memberi banyak kelebihan kepada manusia, salah satunya yang

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan nasional sebagai salah satu sektor pembangunan nasional dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, mempunyai visi terwujudnya sistem pendidikan sebagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. persoalan-persoalan tersebut di atas,melalui pembaharuan dalam sistim pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. persoalan-persoalan tersebut di atas,melalui pembaharuan dalam sistim pendidikan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan sebagai suatu sistem pencerdasan anak bangsa, dewasa ini dihadapkan pada berbagai persoalan, baik ekonomi, sosial, budaya,maupun politik, teknologi

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Dalam bagian ini akan dikemukakan kesimpulan dan rekomendasi

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Dalam bagian ini akan dikemukakan kesimpulan dan rekomendasi BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Dalam bagian ini akan dikemukakan kesimpulan dan rekomendasi penelitian yang dirumuskan dari deskripsi temuan penelitian dan pembahasan hasil-hasil penelitian dalam bab

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. suatu masyarakat karena dapat menjadi suatu rambu-rambu dalam kehidupan serta

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. suatu masyarakat karena dapat menjadi suatu rambu-rambu dalam kehidupan serta BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Moral merupakan suatu peraturan yang sangat penting ditegakkan pada suatu masyarakat karena dapat menjadi suatu rambu-rambu dalam kehidupan serta pelindung bagi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan selalu

BAB I PENDAHULUAN. yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan selalu BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan pada dasarnya adalah usaha untuk membudayakan manusia atau memanusiakan manusia, pendidikan amat stategis untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. harus dihadapi dengan kearifan dan bijaksana, merupakan suatu usaha secara

BAB I PENDAHULUAN. harus dihadapi dengan kearifan dan bijaksana, merupakan suatu usaha secara BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ranah Pendidikan dewasa ini sangat berat rintangan dan tantangan yang harus dihadapi dengan kearifan dan bijaksana, merupakan suatu usaha secara sadar yang dilakukan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Tujuan pendidikan nasional yang diamanatkan dalam pembukaan undangundangdasar

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Tujuan pendidikan nasional yang diamanatkan dalam pembukaan undangundangdasar BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Tujuan pendidikan nasional yang diamanatkan dalam pembukaan undangundangdasar tahun 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk mewujudakan tujuan tersebut,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia. Bab 2 pasal 3 UU Sisdiknas berisi pernyataan sebagaimana tercantum

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia. Bab 2 pasal 3 UU Sisdiknas berisi pernyataan sebagaimana tercantum 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) merumuskan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang harus

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. salah satu pekerjaan yang bersifat profesional. Guru yang profesional dapat

BAB I PENDAHULUAN. salah satu pekerjaan yang bersifat profesional. Guru yang profesional dapat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan bagian penting dari proses pembangunan nasional yang ikut menentukan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Pendidikan juga merupakan investasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perlu dalam perkembangan zaman untuk menghadapi permasalahan-permasalah yang

BAB I PENDAHULUAN. perlu dalam perkembangan zaman untuk menghadapi permasalahan-permasalah yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pelayanan bimbingan dan konseling di sebuah sekolah sesuatu yang dirasakan perlu dalam perkembangan zaman untuk menghadapi permasalahan-permasalah yang dihadapi peserta

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Guru merupakan pendidik di sekolah yang menjalankan tugas

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Guru merupakan pendidik di sekolah yang menjalankan tugas BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Guru merupakan pendidik di sekolah yang menjalankan tugas karena suatu jabatan profesional. Profesi guru tidak dapat dipegang oleh sembarang orang yang tidak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perguruan tinggi. Azzra (Ambarita, 2010:37) mengatakan seorang guru yang

BAB I PENDAHULUAN. perguruan tinggi. Azzra (Ambarita, 2010:37) mengatakan seorang guru yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Guru adalah salah satu unsur terpenting pada komponen pendidikan. Sebab guru merupakan ujung tombak yang berhubungan langsung dengan siswa. Keberhasilan pendidikan

Lebih terperinci

PEMANFAATAN PERPUSTAKAAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR SISWA SMA MUHAMMADIYAH 1 SURAKARTA TAHUN 2011 NASKAH PUBLIKASI. Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan

PEMANFAATAN PERPUSTAKAAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR SISWA SMA MUHAMMADIYAH 1 SURAKARTA TAHUN 2011 NASKAH PUBLIKASI. Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan PEMANFAATAN PERPUSTAKAAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR SISWA SMA MUHAMMADIYAH 1 SURAKARTA TAHUN 2011 NASKAH PUBLIKASI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana S-1 Pendidikan Agama Islam

Lebih terperinci

NUR ENDAH APRILIYANI,

NUR ENDAH APRILIYANI, 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Fenomena globalisasi membuahkan sumber daya manusia yang menunjukkan banyak perubahan, maka daripada itu dalam menghadapi era globalisasi seperti sekarang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH. 1. Latar Belakang Masalah. Undang-Undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH. 1. Latar Belakang Masalah. Undang-Undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH 1. Latar Belakang Masalah Undang-Undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3 berbunyi : Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penambahan, pengurangan, penggantian dan pengembangan yang selanjutnya

BAB I PENDAHULUAN. penambahan, pengurangan, penggantian dan pengembangan yang selanjutnya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Secara alami, perubahan selalu terjadi pada setiap sistem akibat pengaruh faktor internal maupun faktor eksternal. Melalui perubahan terjadilah pergeseran, penambahan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Penelitian dan Penegasan Judul

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Penelitian dan Penegasan Judul BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian dan Penegasan Judul Program pendidikan menempati posisi yang strategis dalam pembangunan sumber daya manusia untuk mengisi dan memaknai pembangunan

Lebih terperinci

2015 PEMBINAAN KECERDASAN SOSIAL SISWA MELALUI KEGIATAN PRAMUKA (STUDI KASUS DI SDN DI KOTA SERANG)

2015 PEMBINAAN KECERDASAN SOSIAL SISWA MELALUI KEGIATAN PRAMUKA (STUDI KASUS DI SDN DI KOTA SERANG) 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 berisi rumusan tujuan pendidikan yang kaya dengan dimensi moralitas, sebagaimana disebutkan dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Peraturan Pelaksanaannya (Bandung: Citra Umbara, 2010), h. 6.

BAB I PENDAHULUAN. Peraturan Pelaksanaannya (Bandung: Citra Umbara, 2010), h. 6. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembinaan akhlak sangat penting ditanamkan sejak dini, baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat, agar menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sekarang ini, pendidikan agama semakin dibutuhkan oleh manusia, terutama

BAB I PENDAHULUAN. sekarang ini, pendidikan agama semakin dibutuhkan oleh manusia, terutama BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam era perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang ini, pendidikan agama semakin dibutuhkan oleh manusia, terutama pendidikan agama

Lebih terperinci

PERAN PENDIDIK DALAM SISTEM PENDIDIKAN

PERAN PENDIDIK DALAM SISTEM PENDIDIKAN PERAN PENDIDIK DALAM SISTEM PENDIDIKAN Fahmawati Isnita Rahma dan Ma arif Jamuin Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta, Jl. Ahmad Yani, Tromol Pos I, Pabelan Kartasura, Surakarta 57102

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bangsa dan bertujuan untuk menghasilkan perubahan-perubahan yang positif bagi

BAB I PENDAHULUAN. bangsa dan bertujuan untuk menghasilkan perubahan-perubahan yang positif bagi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan masalah yang pundamental dalam pembangunan suatu bangsa dan bertujuan untuk menghasilkan perubahan-perubahan yang positif bagi siswa yang

Lebih terperinci