MEMINIMALISASIKAN RESIKO DALAM TRANSAKSI MELALUI LEGAL DUE DILIGENCE

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "MEMINIMALISASIKAN RESIKO DALAM TRANSAKSI MELALUI LEGAL DUE DILIGENCE"

Transkripsi

1 MEMINIMALISASIKAN RESIKO DALAM TRANSAKSI MELALUI LEGAL DUE DILIGENCE YoseaIskandar (Praktisi Hukum) ABSTRACT In 1999, Equalnet Communication and e. Volve planned a merger worth between $70 and $ 80 million. The merger seemed to be a natural fit. e. Volve was a facilities-based company, while Equalnet provided long distances communication service; e. Volve focused on wholesale international business.while Equalnet focused on retail domestic business. However, two month after its due diligence review ofe. Volve, it called off the merger. What deal-breaker had due diligence uncovered? Equalnet learned that e. Volve only had two large customers, and its only current international business between the United States and Mexico. Although Equalnet already know that e. Volve was only in the planning stages for providing telecommunications services in more countries, Equalnet had been given the impression that these plans were more advanced than they were. Also, Equalnet learned that e. Vollve's relationships with its present customer weren 't as solid as had been represented. Both corporation went their separate ways and on to different projects and partnership. Due diligence showed that this match could have been a costly mistake. Due diligence (Black's Law dictionary) is such a measure of prudence activity or assiduity, as is properly to be expected from and ordinarily exercised by a reasonable and prudent man under the particular circumstances ; not measured by any absolute standard but depending on the relative facts of the special case. Counsel who conduit due diligence reviews as part of the prospective merger or acquisition know that no one analytical method can be used for every acquisition. There are some tools, however that can be modified and used often. One such tool is a list of subjects in which representatives of the selling company can be questioned to test the health and the risk of their business. Another tool is the representations and warranties that the seller can be asked to make in the documents that tire exchanged at settlement. A third is a method of review that tries to merge a financial analysis of the seller's business with an analysis of the business. Latar Belakang aset-asetnya kepada pemerintah.. sebagai pengganti dari dikucurkannya Krisis perbankan yang terjadi dana Bantuan Likuidltas Bank [ndo. di Indonesia telah menyebabkan nesia umur menyelamatkan bank sejumlah pemegang saham dan bank- menjka Aget ^ dimaksudkan untuk bank yang melanggar batas dijua, kembali oleh pemerintah kepada maksimum pembenan kred.t (legal ^ ke[iga pada harga dan saat yang lending limit) kepada perusahaan ( untur memperoleh dana afiliasinya dan yang mengalami pengganti dari dana yang telah kepanikan penarikan dana oleh dikucurkan tersebut. Dalam nasabahnya (rush) hams menyerahkan perjalanannya sebagaimana dapat kita 34

2 simak di berbagai media massa ternyata di antara aset yang diserahkan tersebut banyak yang "bermasalah" yang mengakibatkan nilainya tidak sesuai lagi dengan nilai awal yang yang telah disepakati oleh para pihak. Dalam suatu kasus misalnya, suatu perusahaan yang telah diserahkan kepada pemerintah ternyata sukar untuk dijual kembali karena adanya tuntutan dari masyarakat setempat yang merasa diperlakukan tidak adil karena pembebasan tanahnya oleh perusahaan tersebut dilakukan dengan kekerasan. Dalam kasus lain penjualan suatu gedung terhambat karena ternyata bangunan tersebut dijadikan agunan secara palsu bagi proyek lain dari mantan pemegang saham yang ternyata tidak ada hubungannya sama sekali dengan pengelolaan gedung tersebut. Ada juga suatu kasus dimana pinjaman perusahaan kepada pihak afiliasinya tidak didokumentasikan sihingga tidak diperhitungkan sebagai kewajiban yang harus dibayarkan oleh perusahaan kepada pihak ketiga yang seharusnya mengurangi nilai perusahan tersebut. Dalam ketiga contoh ini maka perdebatan yang terjadi adalah apakah permasalaha yang memiliki dampak negatif terhadap terhadap nilai perusahaan tersebut (material adverse effect) telah diketahui sebelumnya oleh para pihak dan sudah turut diperhitungkan dalam penilaian aset (asset valuation) atau tidak. Tulisan singkat bermaksud untuk memperkenalkan secara ringkas dan sederhana beberapa masalah yang ditemukan dalam praktek akibat ketidaktahuan calon investor maupun ketidak-hatian dalam pelaksaan suatu proses akuisisi dan bagaimana suatu pemerikasaan dari segi hukum (legal due diligence) dapat meminimalisasi resiko yang mungkin dihadapi. Kebutuhan akan legal due diligence yang baik dalam praktek akuisisi serta persiapan yang harus dilakukan dari pelaksanaan legal due diligence tersebut agar dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Tulisan ini diharapkan mampu menjembatani pengetahuan akademis mahasiswa mengenai peraturan perundangan yang berlaku atas suatu perusahaan pada umumnya dengan pemanfaatannya dalam praktek. Permasalahan yang perlu diperhatikan Selain dari beberapa contoh di atas berbagai persoalan yang dihadapi dalam praktek akibat ketidaktahuan calon investor atau ketidakhati-hatian dalam persiapan awal akuisisi antara lain adalah sebagai berikut: 1. Persoalan yang menyangkut status perusahaan target sebagai suatu badan hukum. 35

3 Selain dari perlu diketauhinya keabsahan pendirian perusahaan sebagai suatu badan hukum sesuai dengan ketentuan dalam Undanng- Undang mengenai Perseroan Terbatas (UU PT) maka (i) riwayat permodalan perusahaan (ii) riwayat pengalihan saham dalam perusahaan dan (iii) tiap perubahan anggaran dasarnya hams mendapat persetujuan dari atau melakukan pelaporan kepada Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (Menteri Kehakiman). Kelalaian memperhatikan hal ini akan menyebabkan kendala seperti : - Pada saat pemegang saham baru hendak mengembangkan usahanya dengan meningkatkan permodalan tiba-tiba persetujuan atas peningkatan modal tersebut ditolak oleh Menteri Kehakiman karena terdapat ketidaksesuaian antara fakta yang ada pada perusahaan dengan catatan yang ada pada Menteri Kehakiman. Ketidak sesuaian ini terjadi akibat tidak dilaporkannya perubahanperubahan pemegang saham terdahulu oleh pihak manajemen yang lama. Dalam hal ini siapa yang harus bertanggung jawab untuk memberikan klarifikasi mengingat susunan manajemen perusahaan yang telah berganti seluruhnya? - Mantan pemegang saham yang sahamnya diambil alih mendapat gugatan dari para pemegang saham sebelumnya karena atas pengalihan saham kepada mantan pemegang saham tersebut walaupun sudah mendapatkan persetujuan dari Rapat Umum Pemegang Saham belum dilakukan serah terima sahamnya (deed of transfer of share), yang mungkin oleh belum lunasnya pembayaran harga pengalihannya. Sekalipun sebagai pembeli yang beritikad baik pemegang saham baru secara hukum mendapat perlindungan namun siapa yang akan menanggung kerugian apabila saham tersebut disita jaminan oleh pengadilan karena berada dalam keadaan sengketa. 2. Persoalan yang menyangkut proses pengalihan saham perusahaan target Selain anggaran dasar perusahaan terdapat berbagai ketentua lain yang harus diperhatikan dalam proses pengalihan saham suatu perusahaan kepada pemilik baru. Kelalaian memperhatikan hal ini akan menyebabkan kendala seperti : - Pihak dalam perjanjian kerjasama (joint venture agreement - JVA) yang ditandatangani pada saat awal pembentukan perusahaan meminta 36

4 agar pemegang saham baru menggantikan posisi pemegang saham lama dalam JVA tersebut karena adanya ketentuan dalam JVA yang menyatakan bahwa pemegang saham lama bertanggung jawab atas ditandatanganinya JVA oleh pemegang saham baru. Sekalipun JVA ini tidak mengikat bagi pihak ketiga, dalam hal ini pemegang saham baru, namun apabila partner dalam JVA tersebut menggugat status pengalihan saham tadi kepada pemegang saham lama maka dapat mengakibatkan disitanya saham yang dipersengaketakan. - Apabila calon investor berkeinginan untuk menjual kembali perusahaannya setelah dilakukan usaha-usaha untuk meningkatkan nilai perusahhan tersebut apakah ia akan dapat dengan mudah memperoleh persetujuan dari pemegang saham minoritas juga dapat menjadi masalah tersendiri. Berapa forum rapat umum pemegang saham yang diperlukan untuk menyetujui pengalihan saham dan adanya hak pemegang saham untuk didahulukan (preemptive right) adalah hal yang penting untuk diperhatikan terutama oleh calon investor keuangan (financial investor). Pemegang saham minoritas kemungkinan tidak akan begitu saja pre-emptive rightnya apabila kondisi perusahaan telah membaik dan menguntungkan, lain halnya dengan pada waktu perusahaan tersebut merugi sebelum masuknya financial investor tadi. 3. Persoalan yang menvangkut pemenuhan kewajiban oleh perusahaan target Kelalaian memperhatikan pemenuhan kewajiban perusahaan kepada pihak ketiga akan menyebabkan kendala seperti : - Perusahaan mendapatkan sanksi dari pihak berwenang berupa pembekuan ijin usahanya karena pengalihan kepemilikan saham di dalamnya tidak dilakukan dengan sepengetahuan atau persetujuan pihak yang berwenang tersebut selaku instalasi teknis yang bertanggung jawab atas bidang yang dijalani perusahaan. - Perusahaan dinyatakan lalai (default) oleh bank pemberi pinjaman dengan sanksi seluruh hutangnya harus dibayarkan seluruhnya dengan seketika (due and payable) karena pengalihan kepemilikan saham kepada pemilik baru dilakukan tanpa persetujuan terlebih dahulu dari bank tersebut. - Perusahaan digugat oleh pihak manajemen lama karena tidak 37

5 membayarkan kompensasi akuisisi kepada mereka sesuai dengan perjanjian manajemen yang pernah disepakati perusahaan. - Pihak asuransi tidak bersedia mengganti kerugian akibat kebakaran yang terjadi atas gudang utama perusahaan karena sekalipun ada polis asuransi yang dimiliki perusahaan namun pihak manajemen lama perusahaan telah lalai melaksanakan pembayaran preminya. 4. Persoalan yang menyangkut kepemilikan harta kekayaan perusahaan target Kelalaian memperhatikan status kepemilikan harta kekayaan perusahaan akan menyebabkan kendala seperti: Gudang milik perusahaan diperintahkan untuk dibongkar oleh pemerintah daerah karena pembangunan dan penggunaannya ternyata tidak sesuai lagi dengan ijin peruntukkannya. - Gedung milik perusahaan ternyata didirikan di atas tanah pihak ketiga yang terafiliasi dengan pemegang saham lama. Setelah terjadinya pengalihan perusahaan kepada pemegang saham baru pihak ketiga ini tidak lagi bersedia untuk memperpanjang masa sewanya sehingga tanah tersebut harus segera dikosongkan. - Pemilik merek terdaftar dari nasi! produksi perusahaan ternyata bukan perusahaan sendiri tetapi pihak ketiga yang masih tersafiliasi dengan pemegang saham lama. Setelah terjadinya pengalihan saham kepada pemeganag baru pihak ketiga ini tidak bersedia lagi untuk memberikan ijin penggunaan mereknya sehingga perusahaan harus menciptakan suatu merek yang sama sekali baru untuk hasil produksinya yang belum tentu memiliki nilai jual di pasar. 5. Persoalan sengketa hukum Sengketa (dispute) yang timbul akibat persoalan-persoalan tadi dapat menjadi berkepanjangan karena tentunya ada perbedaan pandangan dari masing-masing pihak mengenai hal yang diperjanjikan dan biasanya pihak yang menerima pengalihan itulah yang akan dirugikan akibat sengketa ini antara lain dalam hal sebagai berikut: 1. Penurunan nilai perusahaan dari nilai kesepakatan awal karena pada saat penilaian hal yang dimiliki material adverse effect tersebut tidak diperhitungkan oleh pihak pengakuisisi (value shortfall). 2. Kemungkinan penurunan nilai perusahaan yang terjadi karena terganggunya pengelolaan 38

6 perusahaan akibat adanya sengketa antara manajemen lama dengan yang baru ataupun karena munculnya gangguan dari masyarakat sekitar lokasi perusahaan atau bahkan ancaman pemogokan dari karyawannya sendiri (value decrease) 3.Pemilik baru kehilangan kesempatan untuk melakukan penjualan kembali perusahaan pada saat yang tepat (opportunity loss) yang bila memperhitungkan tingkat bunga pasar yang berlaku tentu akan berpengaruh pada nilai sekarang (net present value) dari penjualan perusahaan yang bersangkutan. 4.Terjadinya sengketa akan mengurangi minat calon investor yang akan membeli perusahaan tersebut dan selanjutnya sesuai dengan hukum permintaan dan penawaran dalam ilmu ekonomi hal ini akan menurunkan harga jual dari perusahaan yang bersangkutan (unfavorable publication). 5. Biaya extra yang harus dikeluarkan untuk menyewa konsultan hukum dan biaya pengacara bila kasus ini sampai dibawa ke lembaga arbiterase atau pengadilan (legal expense). Hal seperti ini seharusnya tidak perlu terjadi apabila sebelum pelaksanaan pengalihan telah dilakukan penelitian secara menyeluruh dan mendalam (due diligence) dari berbagai sudut pandang atas perusahaan target untuk melengkapi pernyataan dan jaminan (representations and warranties) yang seharusnya juga diberikan dengan etikat baik oleh pemegang saham dan atau manajemen perusahaan target yang bersangkutan. Legal Due Diligence Dalam kasus merger dan akuisisi, dimana suatu pihak mengambil alih aset pihak lain due diligence merupakan bagian yang amat penting dalam menentukan strategi merger dan akuisisi itu sendiri dan dalam menentukan harga yang akan disepakati oleh para pihak. Sebagai badan hukum maka dalam menjalankan kegiatan usahanya suatu perusahaan berbentuk perseroan terbatas tidak dapat mengelak dari adanya hubungan hukum dengan pihak lain yang memilliki kepentingan (stakeholders) yaitu antara lain para pemegang saham (shareholders), pemberi pinjaman (creditors), penerima pinjaman (debtors), pemasok barang (suppliers), pelanggan (customers) bahkan pemerintah. Hubungan hukum yang timbul dengan pihak ketiga ini, baik yang berasal dari undang-undang maupun dari perjanjian, akan menimbulkan tanggung jawab hukum bagi perusahaan. Pengambilalihan kepemilikan saham dan manajemen 39

7 suatu perusahaan tidak membuat perusahaan tersebut terlepas dari hubungan hukum yang telah dibuatnya pada saat masih diwakili oleh pihak manajemen yang lama. Tanggung jawab hukum ini tetap ada dan akan beralih kepada manajemen yang baru. Dengan adanya pengalihan tanggung jawab ini beserta segala konsekuensinya maka calon investor perlu mendapatkan bantuan dari konsultan hukum untuk melaksanakan legal due diligence yang harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Bagaimana suatu legal due diligence dapat mempengaruhi strategi akuisisi atas suatu perusahaan dapat dilihat pada contoh sederhana sebagai berikut: 1. PT. ABC adalah pemegang 100% saham di PT. XYZ yang merupakan suatu perusahaan yang dibentuknya untuk melakukan investasi saja dan tidak melakukan kegiatan operasi (non operating or paper company). Bersama dengan MNO Ltd., suatu perusahaan asing, PT. XYZ menandatangani suatu perjanjian kerjasama (Joint Venture Agreement - JVA) untuk membentuk PT. PQR yang bergerak di bidang industri makanan. PT. ABC berniat menjual saham PT. PQR yang dimilikinya dan calon investor berniat membeli lini usaha makanan PT. PBC ini, yaitu berupa saham dalam PT. PQR, karena memang menguntungkan dan prospektif. Pada saat dilakukan legal due diligence ditemukan bahwa dalam JVA pembentukan PT. PQR serta dalam anggaran dasarnya ada ketentuan yang mengatur bahwa saham yang akan dijual dalam PT. PQR harus ditawarkan terlebih dahulu kepada pihak pemegang saham lain, yaitu MNO Ltd. dengan nilai buku. Mengingat nilai pasar PT. PQR sudah diatas nilai bukunya maka bila dilakukan penawaran seperti itu, MNO Ltd. diperkirakan akan langsung memanfatkan dengan sebaik-baiknya sehingga tidak sesuai denga rencana akuisisi dari calon investor dan merugikan PT. ABC. Untuk menghindari ketentuan pre-emptive right yang membuat proses akuisisi menjadi lebih sulit ini (shark repellent) maka calon investor dapat mengajukan penawaran akuisisi melalui pembelian saham PT. XYZ yang dimiliki oleh PT. ABC, kepemilikannya di PT. XYZ mencapai 100% maka nilai akuisisi yang ditawarkan pun sama dengan nilai pasar saham PT. PQR yang diinginkan. 2. PT. ABC juga memiliki 100% saham di PT. DEF yang bergerak dalam bidang penyewaan ruang 40

8 kantor gedung perkantoran yang dimilikinya. Calon investor berkeinginan untuk mengambil alih lini usaha penyewaan ruang kantor ini. Pada saat dilakukan legal due diligence ternyata ditemukan adanya kontrak manajemen antara PT. DEF dengan pihak manajemennya dan kesepakatan antara PT. DEF dengan serikat pekerjanya yang tidak menguntungkan bagi calon investor {poison pills) dan dapat menghalangi proses akuisisi apabila calon investor selaku pemegang saham baru nantinya tidak bersedia melakukan negosiasi dengan pihak manajemen dan serikat pekerja. Dalam hal ini maka calon investor dapat mengajukan penawaran akuisisi kepada PT. ABC berupa pengambilalihan gedung tersebut secara langsung dari PT. DEF. Dengan cara ini calon investor tidak perlu menjadi pemegang saham dalam PT. DEF sehingga tidak perlu berurusan dengan perjanjian-perjanjian kerja dengan manajemen ataupun serikat pekerja PT. DEF. Namun demikian akuisisi gedung ini tentunya juga harus memperhitungkan besarnya pajak yang harus ditanggung akibat pengalihan tanah dan bangunan, dibandingkan dengan biaya yang dapat dihemat dari tidak adanya pembayaran imbalan tertentu kepada manajemen (golden parachute) dan biaya pesangon kepada karyawan (severance pay) apabila akuisisi dilakukan atas saham PT. DEF. 3. PT. ABC memiliki 100% saham dalam PT. GHI yang bergerak dalam peleburan logam yang terbagi atas dua unit pabrik/ usaha. Unit usaha II merupakan pengembangan dari unit usaha I yang hasil produksinya telah sukses memimpin dipasaran (crown jewels). Pada saat dilakukan legal due diligence ternyata ditemukan bahwa seluruh asset berupa tanah dan bangunan pabrik unit usaha II termasuk juga pembayaran asuransi (insurance proceeds) dan penjualan hasil produksinya (account receivables) telah dijadikan jaminan hutang kepada bank asing yang membiayai pembangunan pabrik tersebut. Agar hutang yang dilakukan untuk pengembangan unit usaha II tidak membebani PT. GHI secara keseluruhan maka calon investor dapat mengajukan penawaran akuisisi kepada PT. ABC sebagai berikut: (i) Unit usaha II dipisahkan dari PT. GHI sehingga langsung berada dibawah PT. ABC dan kemudian calon investor membeli seluruh saham PT. GHI yang asetnya telah bersih dari pembebanan; atau (ii) Unit usaha I dipisahkan dari PT. 41

9 GHI sebagai PT tersendiri (spin off) di bawah PT. ABC dan kemudian calon investor membeli seluruh saham perusahan ini dari PT. ABC. Tnjuan Legal Due Diligence Sesuai dengan latar belakang sebagaiman dijelaskan diatas maka secara umum tujuan dari legal due diligence atas perusahaan target bagi calon investor adalah sebagai berikut: 1. Mengetahui ketentuan yang berlaku atas perusahaan target Pemahaman akan segala ketentuan yang berlaku atas perusahaan target akan membuat calon investor dapat menghindari dari kesalahan dalam melaksanakan akuisisi atau dalam menjalankan perusahaan tersebut yang dapat mengakibatkan dikenakannya sanksi oleh pemerintah atau tuntutan dari pihak ketiga. Adapun sumber dari ketentuan ini antara lain adalah sebagai berikut: a. Peraturan perundang-undangan yang berlaku (prevailing laws and regulations). Terdapat berbagai peraturan perundang-undangan yang berlaku pada bidang-bidang usaha tertentu dan tidak berlaku pada bidang usaha lainnya. Seperti misalnya ketentuan pemberian Kontrak Kerja di bidang pertambangan beserta prosedur pengalihan sahamnya kepada pihak ketiga sama sekali berbeda dengan pemberian Ijin Usaha Perkebunan di bidang perkebunan. Selain bidang usaha maka jenis perusahaan serta fasilitas yang diterimanya juga menjadi faktor pembeda bagi pemberlakuan peraturan perundangan tertentu. Segala sesuatu yang terkait dengan suatu perusahaan terbuka misalnya hams tunduk pada peraturan di bidang pasar modal di bawah pengawasan Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM) sementara perusahaan tertutup tidak. Demikian pula halnya perusahaan yang memperoleh fasilitas penanaman modal harus memperhatikan peraturan khusus yang berlaku di bidang penanaman modal sesuai dengan ijin yang diberikan oleh Badan Penanaman Modal (BPM) yang tidak berlaku atas perusahaan non penanaman modal. Selain jenis usaha, bentuk perusahaan dan jenis fasilitas yang diterima tersebut, pengetahuan akan industri yang dijalani oleh perusahaan target merupakan hal yang penting bagi calon investor sebelum ia memulai rencana pengambilalihan dan merupakan nilai tambah bagi konsultan hukum yang melaksanakan legal due diligence. 42

10 b. Perjanjian dengan Pihak Ketiga (agreements with third parties) Mengingat suatu perjanjian berlaku sebagai undang-undang bagi pembuatnya maka calon investor juga hams mengetahui hak dan kewajiban perusahaan target dalam perjanjian-perjanjian yang dibuatnya serta pelaksanaan dari hak dan kewajiban tersebut yang selama ini telah dilaksanakan oleh perusahaan target. S e r i n g k a 1 i terdapat perjanjian yang sifatnya amat vital bagi kehidupan perusahaan seperti Kontrak Kerja di bidang pertambangan umum (contract of work in genera Imining) bagi suatu perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan umum. Tanpa kontrak ini maka perusahaan pertambangan umum tersebut tidak akan dapat menjalankan usahanya.yang dimaksud dengan perjanjian dengan pihak ketiga disini termasuk juga perjanjian antara perusahaan dengan pihak manajemen dan karyawannya serta pihak terafiliasi seperti pemegang saham, anak perusahaan maupun perusahaan satu group lainnya. c. Anggaran Dasar (articles of association). Suatu perusahaan juga harus tunduk pada ketentuan dalam anggaran dasarnya yang disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia. Dalam anggaran dasar dapat dilihat ketentuan mengenai tata cara pengambilalihan perusahaan yang harus diperhatikan. Pengetahuan akan tata cara ini merupakan bagian yang amat penting untuk suksesnya suatu akuisisi. Dalam prakteknya hubungan hukum antara pemegang saham dalam suatu perusahaan patungan biasanya diawali dengan ditandatanganinya suatu perjanjian kerjasama (joint venture agreement - JAV) yang berisi kesepakatan para pendiri perusahaan mengenai tujuan dari pembentukan perusahaan tersebut beserta hak dan kewajiban masing-masing pendiri. Mengingat adanya standarisasi atas anggaran dasar yang berlaku maka tidak semua ketentuan dalam JAV dapat dituangkan dalam anggaran dasar. Hal ini tidak berarti bahwa dengan disahkannya anggaran dasar oleh Menteri Kehakiman maka ketentuan dalam JAV ini lebih ketat (rigid) dibanding dengan yang ada dalam anggaran dasar dan biasanya JAV mengharuskan pihak yang mengakuisisi saham perusahaan untuk turut menandatangani JAV yang bersangkutan dan menggantikan kedudukan pemegang saham pendiri yang sahamnya diakuisisi. Calon investor harus memperhatikan hal ini karena sekalipun JAV ini tidak mengikat pihak ketiga dengan etikat 43

11 baik namun bila ia tidak setuju untuk tunduk pada JAV ini maka persetujuan pengambilalihan dari pemegang saham lain akan sulit diperoleh. 2. Mengetahui kepatuhan perusahaan target pada ketentuan yang berlaku Kepatuhan perusahaan target amat penting mengingat pelanggaran atas ketentuan yang berlaku ini dapat mengakibatkan dikenakannya sanksi dari pemerintah atau tuntutan dari pihak ketiga yang pada akhirnya menyebabkan terganggunya operasi perusahaan tersebut bahkan pembubaran perusahaan apabila perusahaan dinyatakan pailit yang diikuti oleh likuidasi karena tidak dapat melaksanakan pembayaran hutangnya. 3,Memperhitungkan dan meminimalisasi resiko yang akan dihadapi Secara keseluruhan inilah tujuan utama dari pelaksanaan due diligence. Dengan mengetahui jenis industri perusahaan, ketentuan yang ada serta kepatuhan perusahaan akan ketentuan yang berlaku atasnya tersebut maka diharapkan calon investor akan dapat memperkirakan resiko yang akan dihadapinya dan melakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk meminimalisasinya. Dalam prakteknya semakin besar kegiatan usaha suatu perusahaan akan semakin besar pula kemungkinan terjadinya penyimpangan atas ketentuan tersebut. Apabila terdapat penyimpangan yang dilakukan perusahaan yang dapat mengakibatkan resiko materiil atas perusahaan dikemudian hari setelah dilaksanakannya akuisisi atau apabila terdapat ketentuan atau situasi yang mungkin dapat menghalangi proses akuisisi atau tidak menghalangi proses namun merugikan investor apabila akuisisi tetap dilakukan maka terdapat tiga pilihan yang dapat dilakukan calon investor, yaitu: a. Meminta pemegang saham clan atau manajemen perusahaan menyelesaikan dulu permasalahan atau kewajiban perusahaan tersebut sebelum transaksi akuisisi dilanjutkan; b. Meminta pemegang saham dan atau manajemen perusahaan memberikan pernyataan dan jaminan (representations and warranties) bahwa hal tersebut tudak akan mempengaruhi operasi perusahaan dan bertanggung jawab sepenuhnya apabila terjadi misrepresentations; atau c. Menjadikan hal tersebut sebagai alat untuk menawar harga menjadi lebih rendah dengan harapan selisih harga tersebut sebanding dengan upaya yang hams dilakukan oleh calon investor dikemudian hari untuk memperbaiki keadaan II

12 tersebut (remedy). Apabila resiko yang dihadapi terlalu besar dan ketiga pilihan tersebut tidak memadai untuk meminimalisasi resiko yang ada maka calon investor dapat merubah strategi akuisisi seperti pada contoh diatas atau membatalkan rencana akuisisi tersebut sama sekali. Persiapan Legal Due Diligence Agar legal due diligence yang dilakukan dapat mencapai tujuan maka perlu diadakan persiapan yang baik dengan mengambil langkahlangkah yang secara garis besarnya adalah sebagai berikut: 1. Penentuan Kerangka Kerja (Scope of Work) Terdapat beberapa hal yang mempengarui scope of work dari suatu legal due diligence: a. Ukuran dari transaksi yang akan dilakukan (transaction size) Apabila yang diakuisisi adalah sebagian besar saham perusahaan berarti kontrol dan manajemennya juga akan beralih. Sebagai pemilik saham baru calon investor akan bertanggung jawab dalam menempatkan wakilnya untuk mengelola perusahaan yang akan menentukan jalannya perusahaan tersebut. la harus mengetahui segala sesuatu yang berkaitan dengan pengelolaan sehari-hari perusahaan tersebut. Berbeda halnya dengan akuisisi sebagian kecil saham dimana calon investor tidak perlu dipusingkan dengan detail dari pengelolaan perusahaan tersebut. b. Kompleksitas transaksi (transaction complexity) Akuisisi perusahaan yang menyebabkan restrukturisasi hutang perusahaan (debt restructuring) perlu mendapat perhatian ekstra karena melibatkan kepentingan pihak ketiga, dalam hal ini pihak pemberi pinjaman, yang juga harus diperhatikan. c. Jangka waktu yang tersedia (time schedule) Dalam prakteknya betapapun kompleknya suatu transaksi, terbatasnya jangka waktu yang dimiliki juga harus diperhatikan oleh konsultan hukum yang ditugaskan. Apabila jangka waktu yang tersedia relative terbatas maka pemeriksaan atas dokumen yang jenisnya sama, seperti misalnya perjanjian sewa ruangan yang dimiliki suatu perusahaan pengelola gedung, sebaiknya dilakukan secara random dengan menentukan jumlah material tertentu. Apabila jangka waktu yang tersedia dirasakan amat tidak memadai maka calon investor dapat meminta diberikannya pernyataan dan 45

13 jaminan oleh pihak penjual atau meminta disesuaikan harganya harga akuisisi. 2. Mempersiapkan Daftar Pertanyaan (list of questions) Setelah menentukan kerangka kerja yang akan dilakukan maka konsultan hukum harus mempersiapkan daftar hal-hal yang perlu diketahuinya agar due diligence yang dilakukan dapat terarah dan waktu yang dimiliki dapat dipergunakan sebaik-baiknya. Dalam prakteknya daftar pertanyaan ini selalu berkembang sesuai dengan penemuan yang ada di lapangan. Hal ini diijinkan asal sesuai dengan target yang hendak dicapai. Pengetahuan yang mendalam mengenai peraturan perundangan yang berlaku atas kegiatan dan jenis usaha perusahaan target akan membuat pertanyaan yang diajukan menjadi terarah dan efisien. 3. Menjalin Hubungan dengan Pihak Manajemen (relationship with management) Kunci keberhasilan setiap due diligent sesungguhnya terletak pada tersedianya informasi yang dibutuhkan. Pihak yang paling mengetahui segala informasi mengenai perusahaan ini tentunya adalah pihak manajemen perusahaan yang bersangkutan. Bila perusahaan target merupakan perusahaan yang sudah berkalan dengan baik dan seluruh kegiatannya terdokumentasi dengan baik maka biasanya pihak manajemen menyediakan ruang khusus untuk melakukan pemeriksaan data yang dibutuhkan (data room). Namun demikian komunikasi yang baik dengan manajemen akan meningkatkan saling pengertian antara pihak yang melakukan due diligence dengan manajemen mengenai informasi yang dibutuhkan karena diperolehnya penjelasan-penjelasan tambahan atas data tertulis yang tersedia. Akan tetapi harus tetap dijaga agar hubungan ini tidak menimbulkan bias dalam melakukan pemeriksaan. Dengan persiapan yang matang, pengetahuan yang memadai akan industri yang dijalani perusahaan serta pelaksanaan pemeriksaan yang menyeluruh maka diharapkan calon investor dapat lebih mampu memberikan penilaian harga yang sepatutnya pada asset yang akan diambil alihnya sehingga kemungkinan sengketa di kemudian hari dapat diperkecil. 46

LAPORAN UJI TUNTAS & PENDAPAT HUKUM

LAPORAN UJI TUNTAS & PENDAPAT HUKUM LAPORAN UJI TUNTAS & PENDAPAT HUKUM Oleh KarimSyah Law Firm Sudirman Square Office Tower B, lantai 11 Jl. Jend. Sudirman Kav. 45-46, Jakarta 12930, INDONESIA Phone: +62 21 577-1177 (Hunting), Fax: +62

Lebih terperinci

PENGGUNAAN METODE BY PURCHASE DAN POOLING OF INTEREST DALAM RANGKA PENGGABUNGAN USAHA (BUSINESS COMBINATION) DAN EFEKNYA TERHADAP PAJAK PENGHASILAN

PENGGUNAAN METODE BY PURCHASE DAN POOLING OF INTEREST DALAM RANGKA PENGGABUNGAN USAHA (BUSINESS COMBINATION) DAN EFEKNYA TERHADAP PAJAK PENGHASILAN Jurnal Akuntansi & Keuangan Vol. 1, No. 2, Nopember 1999: 132-143 132 PENGGUNAAN METODE BY PURCHASE DAN POOLING OF INTEREST DALAM RANGKA PENGGABUNGAN USAHA (BUSINESS COMBINATION) DAN EFEKNYA TERHADAP PAJAK

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1995 TENTANG PASAR MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1995 TENTANG PASAR MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UU R.I No.8/1995 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1995 TENTANG PASAR MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa tujuan pembangunan nasional

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 12 / PRT / M / 2010 TENTANG PEDOMAN KERJASAMA PENGUSAHAAN PENGEMBANGAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 12 / PRT / M / 2010 TENTANG PEDOMAN KERJASAMA PENGUSAHAAN PENGEMBANGAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM MENTERI PEKERJAAN UMUM PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 12 / PRT / M / 2010 TENTANG PEDOMAN KERJASAMA PENGUSAHAAN PENGEMBANGAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

402. PERSYARATAN KEANGGOTAAN BURSA BERDASARKAN KATEGORI

402. PERSYARATAN KEANGGOTAAN BURSA BERDASARKAN KATEGORI BAB IV KEANGGOTAAN BURSA 400. UMUM 1. Setiap Pihak dapat mengajukan permohonan keanggotaan Bursa dengan mengisi formulir pendaftaran, dan memenuhi persyaratan keanggotaan, persyaratan keuangan, serta persyaratan

Lebih terperinci

Undang-Undang Nomor 11 tahun 1992 Tentang Dana Pensiun

Undang-Undang Nomor 11 tahun 1992 Tentang Dana Pensiun Undang-Undang Nomor 11 tahun 1992 Tentang Dana Pensiun BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan : 1. Dana Pensiun adalah badan hukum yang mengelola dan menjalankan program

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN UMUM Industri perbankan merupakan salah satu komponen sangat penting dalam perekonomian nasional demi

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 72 TAHUN 2012 TENTANG PERUSAHAAN UMUM (PERUM) PERCETAKAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 72 TAHUN 2012 TENTANG PERUSAHAAN UMUM (PERUM) PERCETAKAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 72 TAHUN 2012 TENTANG PERUSAHAAN UMUM (PERUM) PERCETAKAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

PERJANJIAN BAKU PEMESANAN RUMAH SUSUN DIHUBUNGKAN DENGAN ASAS KESEIMBANGAN BAGI KONSUMEN. Merry Marshella Sipahutar

PERJANJIAN BAKU PEMESANAN RUMAH SUSUN DIHUBUNGKAN DENGAN ASAS KESEIMBANGAN BAGI KONSUMEN. Merry Marshella Sipahutar PERJANJIAN BAKU PEMESANAN RUMAH SUSUN DIHUBUNGKAN DENGAN ASAS KESEIMBANGAN BAGI KONSUMEN Merry Marshella Sipahutar 1087013 Perumahan merupakan kebutuhan utama bagi manusia di dalam kehidupan untuk berlindung

Lebih terperinci

PT MATAHARI DEPARTMENT STORE Tbk (Dahulu/Formerly PT PACIFIC UTAMA Tbk) 31 DESEMBER 2010, 2009 DAN 2008 AS AT 31 DECEMBER 2010, 2009 AND 2008

PT MATAHARI DEPARTMENT STORE Tbk (Dahulu/Formerly PT PACIFIC UTAMA Tbk) 31 DESEMBER 2010, 2009 DAN 2008 AS AT 31 DECEMBER 2010, 2009 AND 2008 Halaman 1/ 1 Schedule ASET ASSETS ASET LANCAR CURRENT ASSETS Kas dan setara kas 3 956,105 360,159 822 Cash and cash equivalents Investasi jangka pendek - - 33 Short-term investment Piutang usaha Trade

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa perekonomian nasional yang diselenggarakan

Lebih terperinci

BAB 4 KETENTUAN KEANGGOTAAN LEMBAGA KLIRING

BAB 4 KETENTUAN KEANGGOTAAN LEMBAGA KLIRING BAB 4 KETENTUAN KEANGGOTAAN LEMBAGA KLIRING 400. KETENTUAN UMUM 1. Anggota Bursa Berjangka yang bermaksud menjadi Anggota Kliring dapat mengajukan permohonan sesuai dengan kategori keanggotaan Lembaga

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2001 TENTANG YAYASAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2001 TENTANG YAYASAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, 1 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2001 TENTANG YAYASAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pendirian Yayasan di Indonesia selama ini dilakukan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2000 TENTANG PENYELENGGARAAN JASA KONSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2000 TENTANG PENYELENGGARAAN JASA KONSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2000 TENTANG PENYELENGGARAAN JASA KONSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa jasa konstruksi mempunyai peran strategis dalam pembangunan

Lebih terperinci

NAMA DAN TEMPAT KEDUDUKAN STATUS DAN JANGKA WAKTU MAKSUD DAN TUJUAN KEGIATAN

NAMA DAN TEMPAT KEDUDUKAN STATUS DAN JANGKA WAKTU MAKSUD DAN TUJUAN KEGIATAN NAMA DAN TEMPAT KEDUDUKAN Pasal 1 1. Yayasan ini bernama [ ] disingkat [ ], dalam bahasa Inggris disebut [ ] disingkat [ ], untuk selanjutnya dalam Anggaran Dasar ini disebut "Yayasan" berkedudukan di

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 6/ 9 /PBI/2004 TENTANG TINDAK LANJUT PENGAWASAN DAN PENETAPAN STATUS BANK GUBERNUR BANK INDONESIA,

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 6/ 9 /PBI/2004 TENTANG TINDAK LANJUT PENGAWASAN DAN PENETAPAN STATUS BANK GUBERNUR BANK INDONESIA, . PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 6/ 9 /PBI/2004 TENTANG TINDAK LANJUT PENGAWASAN DAN PENETAPAN STATUS BANK GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa dalam rangka menciptakan sistem perbankan yang sehat,

Lebih terperinci

LAMPIRAN F7 PERJANJIAN KONSORSIUM. Untuk

LAMPIRAN F7 PERJANJIAN KONSORSIUM. Untuk LAMPIRAN F7 PERJANJIAN KONSORSIUM Untuk IKUT SERTA DALAM LELANG DAN PELAKSANAAN PEKERJAAN. Perjanjian Konsorsium untuk Pelaksanaan Pekerjaan 18 ( PERJANJIAN KONSORSIUM ) ini dibuat dan ditandatangani pada

Lebih terperinci

PERJANJIAN PEMBUKAAN REKENING EFEK

PERJANJIAN PEMBUKAAN REKENING EFEK Pada hari ini, hari... tanggal... di Jakarta, telah dibuat Perjanjian Pembukaan Rekening Efek, oleh dan antara : 1. PT Primasia Securities, dalam hal ini diwakili oleh Heliodorus Sungguhria, dalam jabatannya

Lebih terperinci

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 100 /PMK.010/2009 TENTANG PERUSAHAAN PEMBIAYAAN INFRASTRUKTUR MENTERI KEUANGAN,

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 100 /PMK.010/2009 TENTANG PERUSAHAAN PEMBIAYAAN INFRASTRUKTUR MENTERI KEUANGAN, PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 100 /PMK.010/2009 TENTANG PERUSAHAAN PEMBIAYAAN INFRASTRUKTUR MENTERI KEUANGAN, Menimbang Mengingat : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 8 Peraturan Presiden Nomor

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 11/ 3 /PBI/2009 TENTANG BANK UMUM SYARIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, GUBERNUR BANK INDONESIA,

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 11/ 3 /PBI/2009 TENTANG BANK UMUM SYARIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 11/ 3 /PBI/2009 TENTANG BANK UMUM SYARIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa dalam menghadapi perkembangan perekonomian nasional

Lebih terperinci

STANDARD OPERATING PROCEDURES (SOP)

STANDARD OPERATING PROCEDURES (SOP) DAFTAR ISI: STANDARD OPERATING PROCEDURES (SOP) Hal 1. Penanganan Bisnis Baru (New Business).( 2 5 ) I. Prospect / Calon Nasabah II. Presentasi Mengenai Fungsi dan Peranan Pialang Asuransi III. Risk Survey/Collecting

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pembangunan perekonomian nasional bertujuan

Lebih terperinci

Strategi Memasuki Pasar Internasional

Strategi Memasuki Pasar Internasional Strategi Memasuki Pasar Internasional Standart Kompetensi Mampu untuk memahami Strategi dalam memasuki Pasar International Mampu untuk merencanakan Strategi yg terbaik untuk memasuki Pasar Global. Perusahaan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PERTAMBAHAN NILAI BARANG DAN JASA DAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH SEBAGAIMANA

Lebih terperinci

TUGAS 2 ENGINEERING ECONOMY

TUGAS 2 ENGINEERING ECONOMY TUGAS 2 ENGINEERING ECONOMY TUGAS 3 A manufacturer of off-road vehicles is considering the purchase of dual-axis inclinometers for installation in a new line of tractors. The distributor of the inclinometers

Lebih terperinci

KEBIJAAKAN ANTI-KORUPSI

KEBIJAAKAN ANTI-KORUPSI Kebijakan Kepatuhan Global Desember 2012 Freeport-McMoRan Copper & Gold PENDAHULUAN Tujuan Tujuan dari Kebijakan Anti-Korupsi ( Kebijakan ) ini adalah untuk membantu memastikan kepatuhan oleh Freeport-McMoRan

Lebih terperinci

No.11/ 9 /DPbS Jakarta, 7 April 2009 SURAT EDARAN. Kepada SEMUA BANK UMUM SYARIAH DI INDONESIA

No.11/ 9 /DPbS Jakarta, 7 April 2009 SURAT EDARAN. Kepada SEMUA BANK UMUM SYARIAH DI INDONESIA No.11/ 9 /DPbS Jakarta, 7 April 2009 SURAT EDARAN Kepada SEMUA BANK UMUM SYARIAH DI INDONESIA Perihal: Bank Umum Syariah Dengan telah diterbitkannya Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/3/PBI/2009 tanggal

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk menunjang terwujudnya perekonomian

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk menunjang terwujudnya perekonomian

Lebih terperinci

Rp.100.000.000,- (seratus juta rupiah

Rp.100.000.000,- (seratus juta rupiah AKTA PENDIRIAN YAYASAN "..." Nomor :... Pada hari ini,..., tanggal... 2012 (duaribu duabelas) pukul... Waktu Indonesia Barat. Berhadapan dengan saya, RUFINA INDRAWATI TENGGONO, Sarjana Hukum, Notaris di

Lebih terperinci

Daftar Isi Peraturan Jasa Kustodian Sentral

Daftar Isi Peraturan Jasa Kustodian Sentral Daftar Isi Peraturan Jasa Kustodian Sentral Bab 1 : Ketentuan Umum... 1 1.1 Definisi... 1 1.2 Layanan Jasa... 4 1.3 Peraturan dan Prosedur Operasional Layanan Jasa... 5 1.4 Tempat dan Waktu Layanan Jasa...

Lebih terperinci

b. bahwa Badan Usaha Milik Negara mempunyai peranan penting

b. bahwa Badan Usaha Milik Negara mempunyai peranan penting UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2003 TENTANG BADAN USAHA MILIK NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Badan Usaha Milik Negara merupakan

Lebih terperinci

Penjelasan atas UU Nomor 11 Tahun 1992 P E N J E L A S A N A T A S UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 1992 TENTANG DANA PENSIUN

Penjelasan atas UU Nomor 11 Tahun 1992 P E N J E L A S A N A T A S UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 1992 TENTANG DANA PENSIUN P E N J E L A S A N A T A S UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 1992 TENTANG DANA PENSIUN U M U M Dalam rangka pelaksanaan pembangunan nasional yang pada hakekatnya merupakan pembangunan manusia

Lebih terperinci

Petunjuk GetRate. 1. Masuk ke situs HSBC di 2. Login ke Business Internet Banking.

Petunjuk GetRate. 1. Masuk ke situs HSBC di  2. Login ke Business Internet Banking. Petunjuk GetRate 1. Masuk ke situs HSBC di www.hsbc.co.id. 2. Login ke Business Internet Banking. 3. Masukkan data data yang diminta pada halaman Security Logon. 4. Anda akan masuk ke halaman Internet

Lebih terperinci

HAK MEMESAN EFEK TERLEBIH DAHULU (RIGHTS ISSUE)

HAK MEMESAN EFEK TERLEBIH DAHULU (RIGHTS ISSUE) HAK MEMESAN EFEK TERLEBIH DAHULU (RIGHTS ISSUE) Oleh: KarimSyah Law Firm Sudirman Square Office Tower B, lantai 11 Jalan Jenderal Sudirman Kav.45-46 Jakarta 12930 E-mail: info@karimsyah.com HAK MEMESAN

Lebih terperinci

PERJANJIAN TENTANG REKENING EFEK Nomor: SP- /RE/KSEI/mmyy

PERJANJIAN TENTANG REKENING EFEK Nomor: SP- /RE/KSEI/mmyy PERJANJIAN TENTANG REKENING EFEK Nomor: SP- /RE/KSEI/mmyy Perjanjian ini dibuat pada hari ini, , tanggal , bulan tahun (dd-mm-yyyy), antara: PT Kustodian Sentral Efek Indonesia,

Lebih terperinci

KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN

KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN SUSUNAN DALAM SATU NASKAH DARI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1983 TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH TERAKHIR DENGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

BAB V TEKNIK MENGELOLA ASSET VALUTA ASING

BAB V TEKNIK MENGELOLA ASSET VALUTA ASING BAB V TEKNIK MENGELOLA ASSET VALUTA ASING Dalam kegiatan operasional usaha khususnya perusahaan internasional termasuk juga Multinational Enterprise (MNE) akan menghadapi risiko baik risiko premium maupun

Lebih terperinci

PENDIRIAN DAN PEMBUBARAN ORGANISASI INTERNASIONAL OAI 2013 ILMU ADMINISTRASI NEGARA UTAMI DEWI

PENDIRIAN DAN PEMBUBARAN ORGANISASI INTERNASIONAL OAI 2013 ILMU ADMINISTRASI NEGARA UTAMI DEWI PENDIRIAN DAN PEMBUBARAN ORGANISASI INTERNASIONAL OAI 2013 ILMU ADMINISTRASI NEGARA UTAMI DEWI PENDIRIAN Prasayarat berdirinya organisasi internasional adalah adanya keinginan yang sama yang jelas-jelas

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI BADAN USAHA MILIK NEGARA NOMOR : PER-13/MBU/09/2014 TENTANG PEDOMAN PENDAYAGUNAAN ASET TETAP BADAN USAHA MILIK NEGARA

SALINAN PERATURAN MENTERI BADAN USAHA MILIK NEGARA NOMOR : PER-13/MBU/09/2014 TENTANG PEDOMAN PENDAYAGUNAAN ASET TETAP BADAN USAHA MILIK NEGARA MENTER I BADAN USAHA MILIK NEGARA. REPUE3LIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI BADAN USAHA MILIK NEGARA NOMOR : PER-13/MBU/09/2014 TENTANG PEDOMAN PENDAYAGUNAAN ASET TETAP BADAN USAHA MILIK NEGARA DENGAN

Lebih terperinci

KERANGKA ACUAN KERJA (KAK) N O T A R I S

KERANGKA ACUAN KERJA (KAK) N O T A R I S DOKUMEN RAHASIA KERANGKA ACUAN KERJA (KAK) N O T A R I S DALAM RANGKA PELAKSANAAN HAK MEMESAN EFEK TERLEBIH DAHULU (HMETD) / RIGHTS ISSUE PT WASKITA KARYA (PERSERO) TBK PT WASKITA KARYA (PERSERO) TBK JAKARTA,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 1997 TENTANG PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 1997 TENTANG PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 1997 TENTANG PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

BAB 1 AKUNTANSI DAN OPERASI BISNIS. A. Pengertian dan Tujuan Akuntansi

BAB 1 AKUNTANSI DAN OPERASI BISNIS. A. Pengertian dan Tujuan Akuntansi BAB 1 AKUNTANSI DAN OPERASI BISNIS Peranan akuntansi sebagai alat bantu dalam pengambilan keputusan ekonomi dan keuangan semakin disadari oleh semua pihak yang berkepentingan. Bahkan organisasi pemerintah

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2015 TENTANG KERJASAMA PEMERINTAH DENGAN BADAN USAHA DALAM PENYEDIAAN INFRASTRUKTUR

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2015 TENTANG KERJASAMA PEMERINTAH DENGAN BADAN USAHA DALAM PENYEDIAAN INFRASTRUKTUR PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2015 TENTANG KERJASAMA PEMERINTAH DENGAN BADAN USAHA DALAM PENYEDIAAN INFRASTRUKTUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

PEDOMAN DAN TATA TERTIB KERJA RAPAT UMUM PEMEGANG SAHAM (RUPS) DEWAN KOMISARIS, DIREKSI DAN KOMITE-KOMITE PENUNJANG DEWAN KOMISARIS

PEDOMAN DAN TATA TERTIB KERJA RAPAT UMUM PEMEGANG SAHAM (RUPS) DEWAN KOMISARIS, DIREKSI DAN KOMITE-KOMITE PENUNJANG DEWAN KOMISARIS PEDOMAN DAN TATA TERTIB KERJA RAPAT UMUM PEMEGANG SAHAM (RUPS) DEWAN KOMISARIS, DIREKSI DAN KOMITE-KOMITE PENUNJANG DEWAN KOMISARIS Pedoman dan Tata Tertib Kerja Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Dewan

Lebih terperinci

KONSEP PURCHASING POWER PARITY DALAM PENENTUAN KURS MATA UANG

KONSEP PURCHASING POWER PARITY DALAM PENENTUAN KURS MATA UANG KONSEP PURCHASING POWER PARITY DALAM PENENTUAN KURS MATA UANG Yovita Vivianty Indriadewi Atmadjaja Dosen Fakultas Ekonomi Prodi Manajemen Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi ABSTRAKSI Salah satu konsep

Lebih terperinci

SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN

SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK DIREKTORAT PENYULUHAN PELAYANAN DAN HUBUNGAN MASYARAKAT KATA PENGANTAR DAFTAR ISI Assalamualaikum

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perumahan mengakibatkan persaingan, sehingga membangun rumah. memerlukan banyak dana. Padahal tidak semua orang mempunyai dana yang

BAB I PENDAHULUAN. perumahan mengakibatkan persaingan, sehingga membangun rumah. memerlukan banyak dana. Padahal tidak semua orang mempunyai dana yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rumah merupakan salah satu kebutuhan paling pokok dalam kehidupan manusia. Rumah sebagai tempat berlindung dari segala cuaca sekaligus sebagai tempat tumbuh kembang

Lebih terperinci

Setiap istilah di bawah ini, kecuali dengan tegas ditentukan lain dalam Syarat dan Ketentuan ini mempunyai arti dan pengertian sebagai berikut:

Setiap istilah di bawah ini, kecuali dengan tegas ditentukan lain dalam Syarat dan Ketentuan ini mempunyai arti dan pengertian sebagai berikut: SYARAT & KETENTUAN Safe Deposit Box A. DEFINISI Setiap istilah di bawah ini, kecuali dengan tegas ditentukan lain dalam Syarat dan Ketentuan ini mempunyai arti dan pengertian sebagai berikut: 1. Anak Kunci

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN SALINAN KEPUTUSAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN NOMOR: KEP-521/BL/2010 TENTANG TRANSAKSI

Lebih terperinci

SYARAT DAN KETENTUAN DARI ORDER PEMBELIAN ( KETENTUAN ) Dalam Ketentuan ini, kecuali terdapat maksud lainnya:

SYARAT DAN KETENTUAN DARI ORDER PEMBELIAN ( KETENTUAN ) Dalam Ketentuan ini, kecuali terdapat maksud lainnya: SYARAT DAN KETENTUAN DARI ORDER PEMBELIAN ( KETENTUAN ) 0. Definisi Dalam Ketentuan ini, kecuali terdapat maksud lainnya: Afiliasi berarti, suatu entitas yang (a) mengendalikan suatu Pihak; (b) dikendalikan

Lebih terperinci

Leasing. Bahan Ajar : Manajemen Keuangan Bisnis II Digunakan untuk melengkapi buku wajib Disusun oleh: Nila Firdausi Nuzula

Leasing. Bahan Ajar : Manajemen Keuangan Bisnis II Digunakan untuk melengkapi buku wajib Disusun oleh: Nila Firdausi Nuzula Bahan Ajar : Manajemen Keuangan Bisnis II Digunakan untuk melengkapi buku wajib Disusun oleh: Nila Firdausi Nuzula Leasing Pendahuluan Salah satu cara untuk mengelola kepemilikan aktiva tetap dalam suatu

Lebih terperinci

Dalam Bahasa dan Mata Uang Apa Laporan Keuangan Disajikan?

Dalam Bahasa dan Mata Uang Apa Laporan Keuangan Disajikan? Dalam Bahasa dan Mata Uang Apa Laporan Keuangan Disajikan? Oleh: Tarkosunaryo Paper ini bermaksud untuk menyajikan analisis penggunaan mata uang yang seharusnya digunakan oleh perusahaan dalam menyusun

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 2/POJK.05/2014 TENTANG TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK BAGI PERUSAHAAN PERASURANSIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1999 TENTANG PENCABUTAN IZIN USAHA, PEMBUBARAN DAN LIKUIDASI BANK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1999 TENTANG PENCABUTAN IZIN USAHA, PEMBUBARAN DAN LIKUIDASI BANK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1999 TENTANG PENCABUTAN IZIN USAHA, PEMBUBARAN DAN LIKUIDASI BANK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa dengan berlakunya Undang-undang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 1995 TENTANG PENYELENGGARAAN KEGIATAN DI BIDANG PASAR MODAL

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 1995 TENTANG PENYELENGGARAAN KEGIATAN DI BIDANG PASAR MODAL PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 1995 TENTANG PENYELENGGARAAN KEGIATAN DI BIDANG PASAR MODAL PP. No. : 45 Tahun 1995 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 1995 TENTANG

Lebih terperinci

PERATURAN NOMOR IX.J.1 : POKOK-POKOK ANGGARAN DASAR PERSEROAN YANG MELAKUKAN PENAWARAN UMUM EFEK BERSIFAT EKUITAS DAN PERUSAHAAN PUBLIK

PERATURAN NOMOR IX.J.1 : POKOK-POKOK ANGGARAN DASAR PERSEROAN YANG MELAKUKAN PENAWARAN UMUM EFEK BERSIFAT EKUITAS DAN PERUSAHAAN PUBLIK PERATURAN NOMOR IX.J.1 : POKOK-POKOK ANGGARAN DASAR PERSEROAN YANG MELAKUKAN PENAWARAN UMUM EFEK BERSIFAT EKUITAS DAN PERUSAHAAN PUBLIK I. KETENTUAN UMUM II. 1. Dalam peraturan ini yang dimaksud dengan:

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN SALINAN KEPUTUSAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN NOMOR: KEP-614/BL/2011 TENTANG TRANSAKSI

Lebih terperinci

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 15 AKUNTANSI UNTUK INVESTASI DALAM PERUSAHAAN ASOSIASI

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 15 AKUNTANSI UNTUK INVESTASI DALAM PERUSAHAAN ASOSIASI Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 15 AKUNTANSI UNTUK INVESTASI DALAM PERUSAHAAN ASOSIASI Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 15 tentang Akuntansi Untuk Investasi Dalam Perusahaan

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 13/14/PBI/2011 TENTANG PENILAIAN KUALITAS AKTIVA BAGI BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 13/14/PBI/2011 TENTANG PENILAIAN KUALITAS AKTIVA BAGI BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 13/14/PBI/2011 TENTANG PENILAIAN KUALITAS AKTIVA BAGI BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa kelangsungan

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PRESIDEN NOMOR 67 TAHUN 2005 TENTANG KERJASAMA PEMERINTAH DENGAN BADAN USAHA DALAM PENYEDIAAN INFRASTRUKTUR DENGAN

Lebih terperinci

Potensi Kenaikan Biaya Pajak Bila SPT Terpisah

Potensi Kenaikan Biaya Pajak Bila SPT Terpisah IES Bulletin Maret 2012 KPMG Hadibroto Potensi Kenaikan Biaya Pajak Bila SPT Terpisah Hal- hal untuk diketahui pasangan dengan NPWP Terpisah Q & A berikut bertujuan untuk menyediakan informasi perpajakan

Lebih terperinci

SYARAT DAN ATURAN AKREDITASI LABORATORIUM

SYARAT DAN ATURAN AKREDITASI LABORATORIUM DP.01.07 SYARAT DAN ATURAN AKREDITASI LABORATORIUM Komite Akreditasi Nasional National Accreditation Body of Indonesia Gedung Manggala Wanabakti, Blok IV, Lt. 4 Jl. Jend. Gatot Subroto, Senayan, Jakarta

Lebih terperinci

PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NO. 55 AKUNTANSI INSTRUMEN DERIVATIF DAN AKTIVITAS LINDUNG NILAI

PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NO. 55 AKUNTANSI INSTRUMEN DERIVATIF DAN AKTIVITAS LINDUNG NILAI 0 0 PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NO. AKUNTANSI INSTRUMEN DERIVATIF DAN AKTIVITAS LINDUNG NILAI Paragraf-paragraf yang dicetak dengan huruf tebal dan miring adalah paragraf standar yang harus dibaca

Lebih terperinci

BEBERAPA KOMPONEN YANG MENDUKUNG DALAM PELAKSANAAN SISTEM ADMINISTRASI DANDOKUMENTASI HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL*

BEBERAPA KOMPONEN YANG MENDUKUNG DALAM PELAKSANAAN SISTEM ADMINISTRASI DANDOKUMENTASI HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL* BEBERAPA KOMPONEN YANG MENDUKUNG DALAM PELAKSANAAN SISTEM ADMINISTRASI DANDOKUMENTASI HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL* Oleh: Abdul Bari Azed 1. Kami menyambut baik pelaksanaan seminar ten tang Penegakan Hukum

Lebih terperinci

PEDOMAN PENYUSUNAN STANDARD OPERATING PROCEDURE ADMINISTRASI KREDIT PEMILIKAN RUMAH DALAM RANGKA SEKURITISASI

PEDOMAN PENYUSUNAN STANDARD OPERATING PROCEDURE ADMINISTRASI KREDIT PEMILIKAN RUMAH DALAM RANGKA SEKURITISASI Lampiran Surat Edaran Bank Indonesia No. 12/ 38 /DPNP tanggal 31 Desember 2010 PEDOMAN PENYUSUNAN STANDARD OPERATING PROCEDURE ADMINISTRASI KREDIT PEMILIKAN RUMAH DALAM RANGKA SEKURITISASI Lampiran Surat

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA. Nomor : 3/10/PBI/2001 TENTANG GUBERNUR BANK INDONESIA,

PERATURAN BANK INDONESIA. Nomor : 3/10/PBI/2001 TENTANG GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA Nomor : 3/10/PBI/2001 TENTANG PENERAPAN PRINSIP MENGENAL NASABAH (KNOW YOUR CUSTOMER PRINCIPLES) GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam menjalankan kegiatan usaha,

Lebih terperinci

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN SALINAN KEPUTUSAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN NOMOR: KEP-181/BL/2009 TENTANG PENERBITAN

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 13/9/PBI/2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 10/18/PBI/2008 TENTANG RESTRUKTURISASI PEMBIAYAAN BAGI BANK SYARIAH DAN UNIT USAHA SYARIAH DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

ACE LIFE DAN BANK CTBC LUNCURKAN EMPAT PRODUK BANCASSURANCE

ACE LIFE DAN BANK CTBC LUNCURKAN EMPAT PRODUK BANCASSURANCE 1 Press Statement UNTUK DISIARKAN SEGERA Kontak Media: Priska Rosalina +62 21 2356 8888 priska.rosalina@acegroup.com ACE LIFE DAN BANK CTBC LUNCURKAN EMPAT PRODUK BANCASSURANCE Jakarta, 19 Juni 2014 PT

Lebih terperinci

MATRIKS PERUBAHAN ANGGARAN DASAR PT TELKOM INDONESIA (PERSERO) Tbk

MATRIKS PERUBAHAN ANGGARAN DASAR PT TELKOM INDONESIA (PERSERO) Tbk MATRIKS PERUBAHAN ANGGARAN DASAR PT TELKOM INDONESIA (PERSERO) Tbk MATRIKS PERUBAHAN ANGGARAN DASAR PT TELKOM INDONESIA (PERSERO) Tbk DAFTAR ISI Halaman Pasal 1 Nama dan Tempat Kedudukan... 1 Pasal 2 Jangka

Lebih terperinci

IKATAN AKUNTAN INDONESIA

IKATAN AKUNTAN INDONESIA 0 PENDAHULUAN Latar Belakang 0 Jalan tol memiliki peran strategis baik untuk mewujudkan pemerataan pembangunan maupun untuk pengembangan wilayah. Pada wilayah yang tingkat perekonomiannya telah maju, mobilitas

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2011 TENTANG OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2011 TENTANG OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2011 TENTANG OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa untuk mewujudkan perekonomian

Lebih terperinci

PEDOMAN PENILAIAN PELAKSANAAN PRINSIP-PRINSIP TATA KELOLA YANG BAIK LEMBAGA PEMBIAYAAN EKSPOR INDONESIA

PEDOMAN PENILAIAN PELAKSANAAN PRINSIP-PRINSIP TATA KELOLA YANG BAIK LEMBAGA PEMBIAYAAN EKSPOR INDONESIA PEDOMAN PENILAIAN PELAKSANAAN PRINSIP-PRINSIP TATA KELOLA YANG BAIK LEMBAGA PEMBIAYAAN EKSPOR INDONESIA 1. Penilaian terhadap pelaksanaan prinsip-prinsip tata kelola yang baik Lembaga Pembiayaan Ekspor

Lebih terperinci

PSAK 63 Pelaporan Keuangan Dalam Kondisi Hiperimplasi. Presented:

PSAK 63 Pelaporan Keuangan Dalam Kondisi Hiperimplasi. Presented: PSAK 63 Pelaporan Keuangan Dalam Kondisi Hiperimplasi IAS 29 Financial i Reporting in Hyperinflationary Economies Presented: Dwi Martani 1 Latar Belakang Laporan keuangan biaya historis dalam kondisi i

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 1983 TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

LAMPIRAN KHUSUS SPT TAHUNAN PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK BADAN

LAMPIRAN KHUSUS SPT TAHUNAN PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK BADAN DAFTAR PENYUSUTAN DAN AMORTISASI FISKAL 1A BULAN / HARGA NILAI SISA BUKU FISKAL METODE PENYUSUTAN / AMORTISASI KELOMPOK / JENIS HARTA TAHUN PEROLEHAN AWAL TAHUN PENYUSUTAN / AMORTISASI FISKAL TAHUN INI

Lebih terperinci

KEPUTUSAN DIREKSI PT BURSA EFEK JAKARTA NOMOR : Kep-305/BEJ/07-2004 TENTANG

KEPUTUSAN DIREKSI PT BURSA EFEK JAKARTA NOMOR : Kep-305/BEJ/07-2004 TENTANG KEPUTUSAN DIREKSI PT BURSA EFEK JAKARTA NOMOR : Kep-305/BEJ/07-2004 TENTANG PERATURAN NOMOR I-A TENTANG PENCATATAN SAHAM DAN EFEK BERSIFAT EKUITAS SELAIN SAHAM YANG DITERBITKAN OLEH PERUSAHAAN TERCATAT

Lebih terperinci

Undang-Undang KUP dan Peraturan Pelaksanaannya

Undang-Undang KUP dan Peraturan Pelaksanaannya Untuk keterangan lebih lanjut, hubungi : Account Representative Undang-Undang KUP dan Peraturan Pelaksanaannya Undang-Undang KUP dan Peraturan Pelaksanaannya KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT

Lebih terperinci

MANAJEMEN KEUANGAN INTERNASIONAL

MANAJEMEN KEUANGAN INTERNASIONAL INSTITUTE OF BUSINESS (IOB) MANAJEMEN KEUANGAN INTERNASIONAL Email PEDRO XIMENES ST,MM : larimata@lycos.com : radio_kliburfm@yahoo.com Pendahuluan Kriteria Penilaian : Kehadiran di kelas minimal 80% dari

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 3/22/PBI/2001 TENTANG TRANSPARANSI KONDISI KEUANGAN BANK GUBERNUR BANK INDONESIA,

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 3/22/PBI/2001 TENTANG TRANSPARANSI KONDISI KEUANGAN BANK GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 3/22/PBI/2001 TENTANG TRANSPARANSI KONDISI KEUANGAN BANK GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa dalam rangka menciptakan disiplin pasar (market discipline) perlu diupayakan

Lebih terperinci

BAB 1 KETENTUAN UMUM

BAB 1 KETENTUAN UMUM BAB 1 KETENTUAN UMUM 1.1. Definisi Kecuali diberikan pengertian secara khusus, maka semua kata dan atau istilah dalam peraturan ini mempunyai pengertian yang sama sebagaimana dimaksud dalam Undang- Undang

Lebih terperinci

Lampiran Keputusan Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan Nomor: 2/4/KEP.PPATK/2003

Lampiran Keputusan Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan Nomor: 2/4/KEP.PPATK/2003 Lampiran Keputusan Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan Nomor: 2/4/KEP.PPATK/2003 P e d o m a n EDISI PERTAMA PUSAT PELAPORAN DAN ANALISIS TRANSAKSI KEUANGAN (PPATK) Pedoman Identifikasi

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 13/23/PBI/2011 TENTANG PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO BAGI BANK UMUM SYARIAH DAN UNIT USAHA SYARIAH

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 13/23/PBI/2011 TENTANG PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO BAGI BANK UMUM SYARIAH DAN UNIT USAHA SYARIAH PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 13/23/PBI/2011 TENTANG PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO BAGI BANK UMUM SYARIAH DAN UNIT USAHA SYARIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEUANGAN /PMK.010/201... TENTANG PERUSAHAAN PEMBIAYAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN,

PERATURAN MENTERI KEUANGAN /PMK.010/201... TENTANG PERUSAHAAN PEMBIAYAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN, PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR /PMK.010/201... TENTANG PERUSAHAAN PEMBIAYAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN, Menimbang : bahwa dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 8 dan Pasal

Lebih terperinci

Syarat Syarat & Ketentuan Khusus Pembukaan Rekening PermataTabungan ib Sub Account

Syarat Syarat & Ketentuan Khusus Pembukaan Rekening PermataTabungan ib Sub Account Syarat Syarat & Ketentuan Khusus Pembukaan Rekening PermataTabungan ib Sub Account Syarat-Syarat & Ketentuan Khusus Pembukaan Rekening PermataTabungan ib Sub Account ini (berikut semua lampiran, dan atau

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG LEMBAGA KEUANGAN MIKRO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG LEMBAGA KEUANGAN MIKRO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG LEMBAGA KEUANGAN MIKRO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk menumbuhkembangkan perekonomian

Lebih terperinci

KEBIJAKAN ANTI PENCUCIAN UANG FXPRIMUS

KEBIJAKAN ANTI PENCUCIAN UANG FXPRIMUS KEBIJAKAN ANTI PENCUCIAN UANG FXPRIMUS PERNYATAAN DAN PRINSIP KEBIJAKAN Sesuai dengan Undang-undang Intelijen Keuangan dan Anti Pencucian Uang 2002 (FIAMLA 2002), Undang-undang Pencegahan Korupsi 2002

Lebih terperinci

IMPLEMENTASI PENYERAHAN DATA DOKUMEN NASABAH TERHADAP PEDAGANG VALUTA ASING BUKAN BANK (STUDI KASUS: P.T. RASYA JAYA SEJAHTERA)

IMPLEMENTASI PENYERAHAN DATA DOKUMEN NASABAH TERHADAP PEDAGANG VALUTA ASING BUKAN BANK (STUDI KASUS: P.T. RASYA JAYA SEJAHTERA) IMPLEMENTASI PENYERAHAN DATA DOKUMEN NASABAH TERHADAP PEDAGANG VALUTA ASING BUKAN BANK (STUDI KASUS: P.T. RASYA JAYA SEJAHTERA) Oleh Ivana Bunga Wahyuni I Wayan Wiryawan Anak Agung Sri Indrawati Hukum

Lebih terperinci

2. Pasar Perdana. A. Proses Perdagangan pada Pasar Perdana

2. Pasar Perdana. A. Proses Perdagangan pada Pasar Perdana B. Pasar Sekunder adalah pasar di mana efek-efek yang telah dicatatkan di Bursa diperjual-belikan. Pasar Sekunder memberikan kesempatan kepada para investor untuk membeli atau menjual efek-efek yang tercatat

Lebih terperinci

SCHOTT Igar Glass Syarat dan Ketentuan Pembelian Barang (versi Bahasa Indonesia)

SCHOTT Igar Glass Syarat dan Ketentuan Pembelian Barang (versi Bahasa Indonesia) SCHOTT Igar Glass Syarat dan Ketentuan Pembelian Barang (versi Bahasa Indonesia) Syarat dan ketentuan pembelian barang ini akan mencakup semua barang dan jasa yang disediakan oleh PT. SCHOTT IGAR GLASS

Lebih terperinci

Lihat Catatan atas Laporan Keuangan Konsolidasi yang merupakan Bagian yang tidak terpisahkan dari Laporan ini

Lihat Catatan atas Laporan Keuangan Konsolidasi yang merupakan Bagian yang tidak terpisahkan dari Laporan ini LAPORAN POSISI KEUANGAN KONSOLIDASI Per (Tidak Diaudit) ASET 31 Desember 2010 ASET LANCAR Kas dan Setara Kas Piutang Usaha Pihak Ketiga Piutang Lainlain Pihak Ketiga Persediaan Bersih Biaya Dibayar di

Lebih terperinci

Pendahuluan. Definisi Pajak Kini dan Pajak Tangguhan

Pendahuluan. Definisi Pajak Kini dan Pajak Tangguhan Pendahuluan Pada dasarnya, antara akuntansi pajak dan akuntansi keuangan memiliki kesamaan tujuan, yaitu untuk menetapkan hasil operasi bisnis dengan pengukuran dan pengakuan penghasilan serta biaya. Namun

Lebih terperinci

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN SALINAN KEPUTUSAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN NOMOR: KEP- 423 /BL/2007 TENTANG PERNYATAAN

Lebih terperinci