RENCANA PENGEMBANGAN NASIONAL

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "RENCANA PENGEMBANGAN NASIONAL"

Transkripsi

1 RENCANA PENGEMBANGAN NASIONAL

2 RENCANA PENGEMBANGAN FOTOGRAFI NASIONAL : i

3 ii Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional

4 iii

5 RENCANA PENGEMBANGAN FOTOGRAFI NASIONAL Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI Penasihat Mari Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI Sapta Nirwandar, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI Pengarah Ukus Kuswara, Sekretaris Jenderal Kemenparekraf Ahman Sya, Direktur Jenderal Ekonomi Kreatif berbasis Seni dan Budaya Cokorda Istri Dewi, Staf Khusus Bidang Program dan Perencanaan Penanggung Jawab Watie Moerany S, Direktur Pengembangan Seni Rupa Eddy Susilo, Kasubdit Pengembangan Fotografi Bambang Wijanarko, Komunitas Fotografi Kemenparekraf Tim Studi Wijayanto Budi Santoso Achmad Ghazali Gede Budiwijaya Tim Desain Buku RURU Corps (www.rurucorps.com) Sari Kusmaranti Subagiyo Yosifinah Rachman iv Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional

6 Terima Kasih kepada Narasumber dan Peserta Focus Group Discussion (FGD): Andrew Linggar Imam Hartoyo Arbain Rambey Irene Swa Suryani Arya Marta Irma Chantily Dudi Sugandi M Ilham Fauzi Edial Rusli Perhimpunan Amatir Foto Bandung Ferdian Candra Ray Bachtiar Dradjat Ferry Ardianto Risman Marah Firman Ichsan Utari Intan Nugrahani Galih Sedayu Yase Defirsa Cory Harto Solichin Margo Yudhi Soerjoatmodjo Hendrikus Ardianto Yulianus Ladung v

7 Kata Pengantar Ekonomi kreatif memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu sektor penggerak yang penting untuk mewujudkan Indonesia yang mandiri, maju, adil dan makmur. Ekonomi kreatif adalah ekonomi yang digerakkan oleh sumber daya terbarukan dan tersedia secara berlimpah di Indonesia, dimana kita memiliki sumber daya manusia kreatif dalam jumlah besar, sumber daya alam terbarukan yang berlimpah dan sumber warisan budaya yang unik dan beragam. Ketiganya menjadi kekuatan pendorong pertumbuhan ekonomi kreatif yang berkelanjutan. Kita, secara bersama-sama telah meletakkan dasar pengembangan ekonomi kreatif yang akan membawa bangsa menuju pembangunan ekonomi yang berkualitas. Kesinambungan upaya pengembangan ekonomi kreatif diperlukan untuk memperkuat ekonomi kreatif sebagai sumber daya saing baru bagi Indonesia dan masyarakat yang berkualitas hidup. Bagi Indonesia, ekonomi kreatif tidak hanya memberikan kontribusi ekonomi, tetapi juga memajukan aspek-aspek non-ekonomi berbangsa dan bernegara. Melalui ekonomi kreatif, kita dapat memajukan citra dan identitas bangsa, mengembangkan sumber daya yang terbarukan dan mempercepat pertumbuhan inovasi dan kreativitas di dalam negeri. Di samping itu ekonomi kreatif juga telah memberikan dampak sosial yang positif, termasuk peningkatan kualitas hidup, pemerataan kesejahteraan dan peningkatan toleransi sosial. Fotografi sebagai salah satu bidang yang menjadi perhatian di dalam industri kreatif Indonesia, merupakan bagian subsektor Film, Video, dan Fotografi, satu di antara 15 subsektor yang ditangani oleh Kemenparekraf saat ini. Fotografi sebagai bagian dari industri kreatif Indonesia merupakan sebuah industri yang mendorong penggunaan kreativitas individu dalam memproduksi citra dari suatu objek foto dengan menggunakan perangkat fotografi, termasuk di dalamnya media perekam cahaya, media penyimpan berkas, serta media yang menampilkan informasi untuk menciptakan kesejahteraan dan juga kesempatan kerja. Meskipun selama ini fotografi di Indonesia telah tumbuh dengan sendirinya, namun dirasakan masih banyak permasalahan yang sering dijumpai baik oleh industri fotografi, komunitas fotografi, dan juga para pelaku fotografi Indonesia. Hal ini tentunya dapat menghambat pertumbuhan industri fotografi Indonesia. Maka dari itu, dalam upaya melakukan pengembangan industri fotografi di Indonesia, diperlukan pemetaan terhadap ekosistem fotografi yang terdiri dari rantai nilai kreatif, pasar, nurturance environment, dan pengarsipan, untuk dapat mengetahui kondisi industri fotografi terkini secara menyeluruh. Aktor yang harus terlibat dalam ekosistem ini tidak terbatas pada model triple helix yaitu intelektual, pemerintah dan bisnis, tetapi harus lebih luas dan melibatkan komunitas kreatif dan masyarakat konsumen karya kreatif. Kita memerlukan quad helix model kolaborasi dan jaringan yang mengaitkan intelektual, pemerintah, bisnis dan komunitas. Keberhasilan ekonomi kreatif di lokasi lain ternyata sangat tergantung kepada pendekatan pengembangan yang menyeluruh dan berkolaborasi dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan. vi Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional

8 Buku ini merupakan penyempurnaan dari Cetak Biru Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2025 yang diterbitkan pada tahun Dalam melakukan penyempurnaan dan pembaruan data, informasi, telah dilakukan sejumlah Focus Discussion Group (FGD) dengan semua pemangku kepentingan baik pemerintah, pemerintah daerah, intelektual, media, bisnis, orang kreatif, maupun komunitas fotografi secara intensif. Hasilnya adalah buku ini, yang menjabarkan secara rinci pemahaman mengenai industri fotografi dan strategi-strategi yang perlu diambil dalam percepatan pengembangan industri fotografi lima tahun mendatang. Dengan demikian, masalah-masalah yang masih menghambat pengembangan industri fotografi selama ini dapat diatasi, sehingga dalam kurun waktu lima tahun mendatang industri fotografi dapat menjadi industri yang memiliki ketahanan dan berdaya saing secara berkelanjutan sebagai landasan yang kuat untuk pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia. Salam Kreatif Mari Elka Pangestu Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif vii

9 Daftar Isi Kata Pengantar...vi Daftar Isi... x Daftar Gambar...xi Daftar Tabel...xii Ringkasan Eksekutif...xiii BAB 1 PERKEMBANGAN FOTOGRAFI DI INDONESIA Definisi dan Ruang Lingkup Fotografi Definisi Fotografi Ruang Lingkup Pengembangan Fotografi Sejarah dan Perkembangan Fotografi Sejarah dan Perkembangan Fotografi Dunia Sejarah dan Perkembangan Fotografi Indonesia...19 BAB 2 EKOSISTEM DAN RUANG LINGKUP INDUSTRI FOTOGRAFI INDONESIA Ekosistem Fotografi Definisi Ekosistem Fotografi Peta Ekosistem Fotografi Peta dan Ruang Lingkup Subsektor Fotografi Peta Industri Subsektor Fotografi Ruang Lingkup Industri Fotografi Model Bisnis di Industri Fotografi...57 BAB 3 KONDISI UMUM FOTOGRAFI DI INDONESIA Kontribusi Ekonomi Fotografi Berbasis Produk Domestik Bruto (PDB) Berbasis Ketenagakerjaan Berbasis Aktivitas Perusahaan Berbasis Konsumsi Rumah Tangga Berbasis Nilai Ekspor...70 viii Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional

10 3.2 Kebijakan Pengembangan Fotografi Kebijakan Hak Cipta Kebijakan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Kebijakan Ruang Publik Kebijakan Pers Kebijakan Konten Struktur Pasar Fotografi Daya Saing Fotografi Potensi dan Permasalahan Pengembangan Fotografi...83 BAB 4 RENCANA PENGEMBANGAN FOTOGRAFI INDONESIA Arahan Strategis Pengembangan Ekonomi Kreatif Visi, Misi, dan Tujuan Pengembangan Fotografi Visi Pengembangan Fotografi Misi Pengembangan Fotografi Tujuan Pengembangan Fotografi Sasaran dan Indikasi Strategis Pengembangan Fotografi Arah Kebijakan Pengembangan Fotografi Arah Kebijakan Penciptaan Sumber Daya Manusia Kreatif di Bidang Fotografi Arah Kebijakan Perlindungan, Pengembangan, dan Pemanfaatan Sumber Daya Alam dan Budaya bagi Industri Fotografi Arah Kebijakan Penciptaan Industri Fotografi Indonesia Arah Kebijakan Penciptaan Pembiayaan yang Sesuai, Mudah Diakses, dan Kompetitif Arah Kebijakan Perluasan Pasar di Dalam dan Luar Negeri Arah Kebijakan Penyediaan Infrastruktur dan Teknologi Tepat Guna, Mudah Diakses, dan Kompetitif Arah Kebijakan Penciptaan Kelembagaan yang Kondusif dan Mengarusutamakan Kreativitas Strategi dan Rencana Aksi Pengembangan Fotografi Peningkatan Kualitas Pendidikan Yang Mendukung Penciptaan Orang Kreatif di Bidang Fotografi Peningkatan Kualitas Tenaga Kerja Kreatif di Bidang Fotografi Penciptaan Pusat Pengetahuan Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Budaya Peningkatan Wirausaha Kreatif Lokal di Bidang Fotografi...98 ix

11 4.5.5 Peningkatan Usaha Kreatif Lokal di Bidang Fotografi Peningkatan Keragaman dan Kualitas Karya Kreatif Lokal di Bidang Fotografi Peningkatan Ketersediaan Pembiayaan Bagi Industri Fotografi Lokal Peningkatan Diversifikasi dan Penetrasi Pasar Karya Fotografi di Dalam dan Luar Negeri Peningkatan Ketersediaan Infrastruktur yang Memadai dan Kompetitif Peningkatan Ketersediaan Teknologi Tepat Guna yang Mudah Diakses dan Kompetitif Penciptaan Regulasi yang Mendukung Penciptaan Iklim yang Kondusif Bagi Pengembangan Industri Fotografi Peningkatan Partisipasi Aktif Pemangku Kepentingan Dalam Pengembangan Industri Fotografi Peningkatan Apresiasi Kepada Orang/Karya/Wirausaha/Usaha Kreatif Lokal di Bidang Fotografi Peningkatan Apresiasi Masyarakat Terhadap Sumber Daya Alam dan Budaya Lokal yang Mendukung Industri Fotografi BAB 5 PENUTUP Kesimpulan Saran LAMPIRAN x Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional

12 Daftar Gambar Gambar 1-1 Ruang Lingkup Pengembangan Fotografi Gambar 1-2 Pergerakan Sinar Pada Kamera Lubang Jarum Gambar 1-3 Ilustrasi Camera Obscura Gambar 1-4 Perkembangan Fotografi di Indonesia...24 Gambar 2-1 Model Peta Ekosistem Industri Kreatif...29 Gambar 2-2 Peta Ekosistem Fotografi...30 Gambar 2-3 Peta Industri Subsektor Fotografi Gambar 2-4 Industri Fotografi Global...57 Gambar 2-5 Ragam Model Bisnis Fotografi...58 Gambar 3-1 Kontribusi subsektor Film, Video, dan Fotografi terhadap PDB Industri Kreatif Indonesia tahun Gambar 3-2 Kontribusi subsektor Film, Video, dan Fotografi terhadap Ketenagakerjaan Industri Kreatif Indonesia tahun Gambar 3-3 Kontribusi subsektor Film, Video, dan Fotografi terhadap Aktivitas Perusahaan Industri Kreatif Indonesia tahun Gambar 3-4 Kontribusi subsektor Film, Video, dan Fotografi terhadap Konsumsi Rumah Tangga Industri Kreatif Indonesia tahun Gambar 3-5 Nilai Ekspor Fotografi Indonesia berdasarkan data Comtrade...70 Gambar 3-6 Nilai Ekspor Fotografi Indonesia berdasarkan data dari UNCTAD.. 70 Gambar 3-7 Daya Saing Subsektor Fotografi...81 Gambar 4-1 Visi, Misi, dan Tujuan Pengembangan Fotografi...92 xi

13 Daftar Tabel Tabel 2-1 Perkiraan Persebaran Jumlah Komunitas Fotografi di Indonesia...46 Tabel 3-1 Kontribusi Ekonomi Film, Video, dan Fotografi ( )...64 xii Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional

14 Ringkasan Eksekutif Fotografi berkembang tidak hanya sebagai teknologi penangkap citra atau gambar. Fotografi juga berkembang seiring dengan bertambahnya manfaat fotografi di dalam kehidupan manusia. Kedua proses tersebut sama pentingnya dalam melihat perkembangan fotografi, karena pada dasarnya keduanya saling berkaitan dan saling memengaruhi. Sehingga, pemahaman akan definisi dan ruang lingkup fotografi ini kemudian menjadi sangat diperlukan dalam upaya untuk menentukan fokus pengembangan fotografi dalam kontekstual pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia selama lima tahun ke depan ( ). Untuk memberikan pemahaman secara menyeluruh dan mendalam mengenai industri kreatif, khususnya subsektor fotografi (yang termasuk ke dalam subsektor film, video, dan fotografi), perlu dilakukan pemetaan terhadap kondisi ideal, yaitu suatu kondisi yang diharapkan terjadi dan merupakan best practices dari negara-negara yang sudah maju industri fotografinya. Selain itu juga perlu dipahami kondisi aktual dari fotografi di Indonesia untuk memahami dinamika yang terjadi. Salah satu cara yang digunakan dalam melakukan pemetaan ini adalah dengan menggunakan model ekosistem industri yang dalam hal ini adalah ekosistem industri kreatif. Ekosistem adalah sebuah sistem yang menggambarkan hubungan saling ketergantungan (interdependent relationship) antara setiap peran di dalam proses penciptaan nilai kreatif dan antara peran-peran tersebut dengan lingkungan sekitar yang mendukung terciptanya nilai kreatif. Pemahaman antara kondisi ideal dengan kondisi aktual tersebut nantinya dapat memberikan gambaran mengenai kebutuhan dari industri fotografi nasional sehingga dapat berkembang dengan baik, dengan mempertimbangkan potensi (kekuatan dan peluang) dan permasalahan (tantangan, kelemahan, ancaman, dan hambatan) yang dihadapi. Peranan ekonomi kreatif bagi Indonesia sudah semestinya mampu diukur secara kuantitatif sebagai indikator yang bersifat nyata. Hal ini dilakukan untuk memberikan gambaran riil mengenai keberadaan ekonomi kreatif yang mampu memberikan manfaat dan mempunyai potensi untuk ikut serta dalam memajukan Indonesia. Bentuk nyata dari kontribusi ini dapat diukur dari nilai ekonomi yang dihasilkan oleh seluruh subsektor pada ekonomi kreatif termasuk fotografi yang merupakan bagian dari subsektor film, video, dan fotografi. Perhitungan kontribusi ini ditinjau dari empat basis, yaitu Produk Domestik Bruto (PDB), ketenagakerjaan, aktivitas perusahaan, dan konsumsi rumah tangga yang dihimpun berdasarkan perhitungan yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Untuk perhitungan kontribusi ekonomi di subsektor film, video, dan fotografi, nilai yang ada pada data BPS tersebut dihitung berdasarkan data Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) Kreatif KBLI ini tentunya perlu diperbarui mengingat teknologi dan juga dinamika industri fotografi yang sangat cepat berubah, sehingga nilai PDB yang didapatkan nantinya menjadi lebih akurat apabila sudah memasukkan beberapa poin tambahan yang sesuai dengan ruang lingkup usulan, baik di subsektor fotografi dan juga ketiga subsektor lainnya yaitu, film, video, dan animasi. Visi, misi, tujuan dan sasaran strategis merupakan kerangka strategis pengembangan fotografi pada periode yang menjadi landasan dan acuan bagi seluruh pemangku kepentingan dalam melaksanakan program kerja di masing-masing organisasi/lembaga terkait secara terarah dan terukur yang dijabarkan pada Bab 4 Rencana Pengembangan Fotografi Indonesia. xiii

15 KEKUATAN BARU INDONESIA MENUJU 2025 RENCANA AKSI JANGKA MENENGAH RENCANA AKSI JANGKA MENENGAH If you fail to plan, you are planning to fail. Benjamin Franklin ARSITEKTUR PERFILMAN xiv Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional

16 xv

17 2 Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional

18 BAB 1 Perkembangan Fotografi di Indonesia BAB 1: Perkembangan Fotografi di Indonesia 3

19 1.1 Definisi dan Ruang Lingkup Fotografi Sebelum membahas lebih jauh mengenai pengembangan fotografi dalam konteks ekonomi kreatif Indonesia, ada baiknya kita memahami perkembangan fotografi. Fotografi berkembang tak hanya sebagai teknologi penangkap citra atau gambar, tapi juga berkembang seiring dengan bertambahnya manfaat fotografi dalam kehidupan manusia. Dalam melihat perkembangan fotografi, kedua proses tersebut sama pentingnya. Keduanya saling berkaitan dan saling memengaruhi. Definisi fotografi selalu terkait dengan sisi teknis perkembangan teknologi fotografi itu sendiri. Hal ini dapat terlihat dari perkembangan teknologi fotografi dari analog ke digital. Perkembangan tersebut mengubah elemen-elemen fotografi sehingga mendorong penyesuaian definisi fotografi. Pada era fotografi analog, misalnya, sebuah kertas film memiliki peran ganda: sebagai media perekam cahaya dan penyimpan informasi. Pada era digital kedua peran tersebut dapat digantikan perangkat lain. Oleh karena itulah kemajuan teknologi fotografi bisa mengubah definisi fotografi itu sendiri. Kemajuan teknologi juga dapat memengaruhi ruang lingkup fotografi yang saat ini sudah semakin meluas dan memengaruhi perkembangan fotografi dari sisi ekonomi, sosial, dan budaya. Kita perlu memahami definisi dan ruang lingkup fotografi untuk bisa menentukan fokus pengembangan fotografi dalam konteks ekonomi kreatif Indonesia. Dengan memahami kedua hal itu kita dapat menghasilkan dampak optimal dalam pengembangan fotografi selama lima tahun ke depan ( ) Definisi Fotografi Istilah photography diperkenalkan secara luas oleh Sir John Herschel pada Ia menggunakannya untuk menyebut beberapa proses eksperimen yang ia lakukan dalam memindahkan citra suatu objek ke dalam medium dua dimensi. Namun ternyata, kata photographie sudah ada dari lima tahun sebelumnya; tepatnya pada 1834, kata photographie digunakan oleh penemu asal Brazil bernama Antoine Hércule Romuald Florence dalam catatannya. Catatan itu baru berhasil diperiksa Boris Kossoy pada Diploma da Maçonaria, foto resmi pertama Sumber: Mariana Rezende, Original Creators: Hércules Florence, The Forgotten Father of Photography, thecreatorsproject.vice.com 4 Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional

20 Tokoh Pencetus Istilah Fotografi Hércule Romuald Florence adalah penemu yang lahir di Nice, Prancis, pada Sejak umur 20 tahun, Hércule menetap di kota Campinas, Sao Paulo, Brazil. Semula bekerja menjadi pegawai toko, ia kemudian pindah dari satu toko ke toko lainnya hingga akhirnya menyadari bakatnya sebagai pendesain. Bergelut di dunia seni sejak kecil, ia lalu bergabung dengan ekspedisi ke Brazil, termasuk ke Amazon. Hércule bertanggung jawab untuk merekam gambar-gambar selama perjalanan. Ekspedisi yang diketuai Georg Heinrich von Langsdorff ini sangat penting artinya bagi penemuan-penemuan fotografi Hercule; ekspedisi tersebut memaksa penemu muda ini untuk menghabiskan waktu selama kurun untuk terus merekam tanpa kenal lelah lanskap Brazil beserta semua makhluk hidupnya. Sumber: Mariana Rezende, Original Creators: Hércules Florence, The Forgotten Father of Photography, thecreatorsproject.vice.com, 19 September Tautan: Ditilik dari asal katanya, fotografi berasal dari dua kata bahasa Yunani: phōtos yang berarti cahaya, dan graphé yang bermakna menggambar. Secara harafiah fotografi diartikan sebagai kegiatan melukis dengan cahaya. The Hutchinson Dictionary of the Arts (1994) mendefinisikan fotografi sebagai berikut: Process of reproducing images on sensitized materials by various forms of radiant energy, i.e. visible light, ultraviolet, infra-red, x-rays, atomic radiations, and electronic beams. Proses reproduksi citra pada material peka cahaya oleh berbagai bentuk dari energi radiasi, seperti cahaya kasat mata, ultraviolet, infra merah, sinar-x, radiasi atomik, dan tembakan elektron. Definisi Hutchinson tersebut lebih dapat menjawab perkembangan substansi fotografi dari sisi teknologi. Peran film dan permukaan peka cahaya di era analog telah tergantikan sensor cahaya yang tidak hanya mampu menangkap cahaya tampak, namun juga gelombang energi dalam bentuk lain. Karena itu, kita dapat menjadikan definisi tersebut sebagai definisi fotografi kiwari. Ketika fotografi dikaitkan dengan industri kreatif di Indonesia, definisi fotografi pun perlu penyesuaian menjadi: Industri yang mendorong penggunaan kreativitas, keterampilan, dan bakat individu dalam memproduksi citra dari satu objek foto dengan menggunakan perangkat fotografi, termasuk di dalamnya media perekam cahaya, media penyimpan berkas, serta media yang menampilkan informasi untuk meningkatkan kesejahteraan dan menciptakan kesempatan kerja. Sumber: Focus Group Discussion sub-subsektor fotografi, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Mei Juni 2014). BAB 1: Perkembangan Fotografi di Indonesia 5

21 Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa ada lima elemen yang selalu melekat dalam fotografi: 1. Kreativitas. Kemampuan mengolah ide untuk menghasilkan karya kreatif, termasuk di dalamnya keterampilan dan bakat. Kreativitas dalam fotografi ini di antaranya kemampuan menangkap ekspresi atau pesan dari objek yang dipotret. Kreativitas ini tentu saja, hanya dimiliki orang kreatif. Orang kreatif dalam fotografi bisa berasal dari: a. Fotografer atau juru foto, subjek atau seseorang yang melakukan kegiatan fotografi. Dalam era digital, ketika kamera dapat dioperasikan dari jarak jauh dengan bantuan remote, fotografer adalah orang yang mengatur kamera untuk memotret. b. Creative director, seseorang yang bertanggung jawab terhadap konsep suatu karya kreatif. c. Digital imaging artist (DIA ) atau editor foto, seseorang yang memiliki keahlian dalam membuat dan memanipulasi gambar digital. 2. Objek foto. Benda atau situasi yang ingin direproduksi dalam bentuk gambar atau citra dengan bantuan alat atau media perekam cahaya, atau kamera. 3. Media perekam cahaya. Media sensitif terhadap cahaya sehingga dapat menggandakan gambar atau citra dari objek foto yang memancarkan cahaya. Pada zaman fotografi analog, media perekam cahaya dapat berupa kertas sensitif cahaya, pelat yang diberikan bahan kimia agar menjadi sensitif terhadap cahaya, dan juga film. Pada era digital, sensor cahaya dalam kamera digital berfungsi sebagai media perekam cahaya. 4. Media penyimpan berkas (informasi). Media atau alat yang menyimpan berkas (dalam hal ini adalah informasi gambar). Pada zaman fotografi analog, fungsi media penyimpan berkas menjadi satu dengan media perekam cahaya. Informasi gambar berada di media perekam cahaya seperti kertas sensitif cahaya, pelat sensitif cahaya, dan film. Sedangkan pada era fotografi digital, media penyimpan berkas (informasi) berupa data digital yang tersimpan dalam memory dan dapat dipindahkan ke media penyimpan berkas digital lainnya seperti CD/DVD, flash disk, memory card dan hard disk. 5. Media yang menampilkan gambar atau citra. Media yang memperlihatkan hasil akhir fotografi dari objek foto. Pada zaman fotografi analog, media yang berfungsi menampilkan gambar adalah foto yang sudah dicetak. Pada era fotografi digital, layar monitor komputer atau ponsel pintar bisa menjadi media penampil gambar Ruang Lingkup Pengembangan Fotografi Menurut hasil kajian dari beberapa literatur, fotografi dapat dikelompokkan berdasarkan genre atau aliran dan tujuan pelaku fotografi. Genre dalam fotografi dapat dibagi dengan beberapa pendekatan, seperti: (1) perkembangan teknologi kamera dan media perekamnya; (2) objek foto; (3) teknik memotret; (4) lokasi atau tempat memotret; (5) acara atau peristiwa. Sedangkan fotografi berdasarkan tujuan pelaku fotografi dapat dibagi menjadi: (1) fotografi pendidikan; (2) fotografi amatir; dan (3) fotografi profesional. Dari sisi perkembangan teknologi kamera dan media rekam, fotografi dapat dikelompokkan menjadi fotografi analog dan digital. Fotografi digital berkembang pesat sejak 1990-an, namun hal ini tidak serta-merta menghilangkan keberadaan fotografi analog. Dengan mempertahankan keunikan, ciri khas, serta nilai sejarahnya, fotografi analog masih mendapatkan tempat di hati penggemar fotografi. Kedua genre tetap bertahan, meskipun fotografi digital yang dengan segala kelebihan dan kekurangannya, menjadi standar industri subsektor fotografi saat ini. 6 Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional

22 Beberapa jenis fotografi analog, di antaranya: 1. Lomography. Gaya fotografi analog menggunakan film yang memiliki tingkat kontras tinggi serta saturasi dan profil warna khas pada hasil fotonya karena dicetak secara cross processing. 2. Fotografi lubang jarum (pinhole). Fotografi yang dalam pembuatannya menggunakan kamera lubang jarum. Kamera lubang jarum adalah benda yang memiliki ruang kedap cahaya dan kemudian diberi lubang sangat kecil di salah satu sisinya dan jarum dapat terbuat dari bahan apa saja. 3. Polaroid. Fotografi yang menggunakan sejenis film khusus yang hasil filmnya dapat langsung dicetak. Berdasarkan objek foto, genre fotografi dapat dikelompokkan menjadi beberapa: 1. Astro-photography. Khusus memotret benda-benda langit seperti bulan, bintang, dan planet-planet. 2. Fotografi potret (portraiture). Khusus memotret manusia. 3. Fotografi alam. Khusus memotret keindahan alam seperti pemandangan, tumbuhtumbuhan, dan fauna. 4. Fotografi makanan (food-photography). Khusus memotret makanan dan minuman. 5. Selfie. Genre terbaru dalam fotografi, khusus memotret diri sendiri atau bersama sekelompok teman. Genre ini berkembang seiring meningkatnya penggunaan ponsel pintar. Foto selfie Ellen DeGeneres bersama aktor dan aktris Hollywood di acara Academy Awards 2014 Sumber: twitter.com Foto: Bradley Cooper Berdasarkan teknik pemotretan, fotografi dapat dibagi menjadi beberapa kelompok: 1. Strobist photography. Teknik fotografi dengan menggunakan lampu kilat (flash) atau lampu artifisial yang terpisah dari kamera. 2. Long-exposure/slow shutter photography. Teknik fotografi dengan memperlambat shutter speed. Tujuan fotografi ini, biasanya, untuk membuat efek gambar yang halus pada air terjun, awan-awan di langit, atau menghilangkan kerumunan orang yang berlalu-lalang di suatu tempat. BAB 1: Perkembangan Fotografi di Indonesia 7

23 3. Light-painting photography. Teknik ini sama dengan teknik long-exposure, namun efek yang diharapkan adalah adanya jejak cahaya yang dapat berupa gambar atau tulisan yang berasal dari sumber cahaya yang digerakkan manusia atau benda. 4. Levitation photography. Teknik memotret seseorang yang sedang meloncat dengan shutter speed sangat cepat, sehingga menghasilkan efek objek yang sedang terbang atau berhenti di udara. 5. Macro-photography. Teknik fotografi yang menghasilkan foto pembesaran dari objekobjek foto yang kecil. 6. HDR (High Dynamic Range). Teknik dengan menggabungkan beberapa foto yang memiliki tingkat pencahayaan (exposure) berbeda-beda. Tujuan fotografi HDR adalah untuk menerangkan bagian foto yang gelap, dan menggelapkan bagian foto yang terang, agar semua rentang cahaya dalam foto tersebut menjadi normal sehingga tidak ada bagian yang terlalu terang (over-exposed) atau terlalu gelap (under-exposed). Foto levitation photography yang dipopulerkan Natsumi Hayashi dalam blog-nya Sumber: yowayowacamera.com Foto: Natsumi Hayashi 8 Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional

24 Berikut ini beberapa contoh genre berdasarkan lokasi atau tempat pemotretannya: 1. Aerial-photography. Fotografi yang diperoleh dengan cara memotret di udara. Biasanya pemotretan dibantu remote control, atau pemotretan dilakukan dengan bantuan helikopter. 2. Underwater-photography. Fotografi yang dilakukan di dalam air. Pemotretan biasanya dilakukan dalam kolam renang, danau, sungai, atau laut. Foto underwater photography yang memenangkan Our World Underwater 2013 untuk kategori Wide Angle Traditional Sumber: underwatercompetition.com Foto: Octavio Aburto Berikut ini beberapa contoh genre berdasarkan acara atau peristiwa: 1. Fotografi pernikahan (wedding photography). Fotografi yang mengabadikan pesta pernikahan. 2. Fotografi kehamilan (maternity photography). Fotografi yang merekam seorang wanita pada masa-masa kehamilan. Biasanya pemotretan dilakukan ketika perut si calon ibu sudah terlihat membesar. 3. Fotografi kelahiran (newborn photography). Fotografi yang memotret bayi pada saatsaat awal kelahirannya. BAB 1: Perkembangan Fotografi di Indonesia 9

25 Foto bayi yang sedang menguap, ini genre newborn photography Sumber: pinterest.com Foto: William Tuttle Selain pengelompokan berdasarkan genre, umumnya fotografi juga dibagi berdasarkan tujuan kegiatan pelaku fotografi. Berikut ini pembagiannya: 1. Fotografi pendidikan. Fotografi sebagai ilmu yang diajarkan dalam pendidikan formal dan nonformal. Pelakunya adalah tenaga pendidik seperti guru atau dosen dan juga para profesional fotografi yang membuka kursus-kursus fotografi dan sejenisnya. 2. Fotografi amatir. Fotografi yang digeluti fotografer yang mengejar prestasi dan aktualisasi diri di bidang fotografi, dan para pehobi fotografi yang melakukan fotografi untuk konsumsi pribadi. 3. Fotografi profesional. Fotografi yang fotografernya menjual keahliannya di bidang fotografi dan menjadikan fotografi sebagai mata pencahariannya. Fotografi profesional sendiri dapat dibagi menjadi 4 kategori: a. Fotografi jurnalistik. Fotografi yang berkaitan erat dengan wilayah produksi dan konsumsi media cetak dan elektronik. Tujuan utama pewarta foto adalah memotret kejadian dan peristiwa yang sedang terjadi untuk diberitakan kembali melalui media massa. Foto-foto yang didapatkan diharapkan dapat memperkuat isi artikel yang disajikan di media massa tersebut. Para pelaku di bidang fotografi jurnalistik, di antaranya, jurnalis foto, editor foto, redaktur foto, dan pengelola biro foto. 10 Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional

26 Robert Capa, fotografer jurnalistik yang meliput perang di berbagai negara Sumber: en.wikipedia.org Foto: Gerda Taro b. Fotografi komersial. Fotografi yang erat kaitannya dengan para praktisi fotografi profesional. Fotografi ini biasanya berhubungan dengan agen periklanan dan perusahaanperusahaan. Foto yang dibuat dapat berdasarkan keinginan klien (yang dibuat dari konsep awal), atau klien dapat membeli foto-foto yang telah dibuat si fotografer untuk kepentingan klien. Bentuk lain fotografi komersial adalah fotografi retail, yaitu jasa fotografi yang menyediakan mulai dari konsep pemotretan hingga cetak foto. Semua proses dalam fotografi retail telah dibakukan dalam prosedur operasi baku perusahaan. Klien sangat dimudahkan dalam menggunakan jasa fotografi ini. Pada umumnya fotografi ini memotret orang, baik sendiri maupun bersama-sama, di dalam studio. Fotografi pernikahan dan fotografi peliputan acara juga termasuk ke fotografi retail. Pelaku di bidang fotografi komersial adalah fotografer profesional, pemilik studio fotografi, pengusaha fotografi, pemilik sekolah dan tempat kursus fotografi, pengelola biro fotografi, dan sebagainya. BAB 1: Perkembangan Fotografi di Indonesia 11

PERTEMUAN I. Edisi The Daily Graphic 1877

PERTEMUAN I. Edisi The Daily Graphic 1877 PERTEMUAN I A. SEJARAH FOTO JURNALISTIK Foto jurnalistik berakar dari fotografi dokumenter setelah teknik perekaman gambar secara realis ditemukan. Embrio foto jurnalistik muncul pertama kali pada Senin

Lebih terperinci

Fotografi Dasar. Bayu Widiantoro & Simon Dodit. Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Hukum & Komunikasi Unika Soegijapranata

Fotografi Dasar. Bayu Widiantoro & Simon Dodit. Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Hukum & Komunikasi Unika Soegijapranata Fotografi Dasar Bayu Widiantoro & Simon Dodit Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Hukum & Komunikasi Unika Soegijapranata Mengapa perlu FOTOgrafi Sisi Positif sebuah GAMBAR Lebih dapat cepat menyampaikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memang sudah umum dilakukan oleh semua orang. Hal ini dilakukan agar

BAB I PENDAHULUAN. memang sudah umum dilakukan oleh semua orang. Hal ini dilakukan agar BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Mengabadikan sebuah fenomena yang terjadi di sekitar kita memang sudah umum dilakukan oleh semua orang. Hal ini dilakukan agar memiliki kenangan untuk mengingat kembali

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Fotografi merupakan bahasa Yunani yang dikenalkan oleh Sir John Herschel pada tahun

BAB I PENDAHULUAN. Fotografi merupakan bahasa Yunani yang dikenalkan oleh Sir John Herschel pada tahun 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Fotografi, dalam bahasa Inggris dikatakan sebagai Photography. Fotografi merupakan bahasa Yunani yang dikenalkan oleh Sir John Herschel pada tahun 1839,berdasarkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Nur Muladica Gedung Fotografi di kota Semarang

BAB I PENDAHULUAN. Nur Muladica Gedung Fotografi di kota Semarang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sejak zaman dahulu manusia berusaha mendokumentasikan sebuah peristiwa. Terlihat dengan adanya gambar-gambar pada dinding gua, kulit kayu, kulit binatang, relief, dan

Lebih terperinci

Bab III TEORI PENUNJANG

Bab III TEORI PENUNJANG Bab III TEORI PENUNJANG 3.1. Pengertian Fotografi Fotografi (dari bahasa Inggris: photography, yang berasal dari kata Yunani yaitu "photos" : Cahaya dan "Grafo" : Melukis/menulis.) adalah proses melukis/menulis

Lebih terperinci

BAB III PROSEDUR PELAKSANAAN

BAB III PROSEDUR PELAKSANAAN 3.1 Proses pelaksanaan umum BAB III PROSEDUR PELAKSANAAN Dalam operasional studio setiap bagian pekerjaan haruslah saling mendukung. Dalam studio ini pembagian divisi dilakukan secara mutlak atau harus

Lebih terperinci

2015 KREATIVITAS BERKARYA FOTOGRAFI KOMUNITAS LUBANG JARUM INDONESIA DI KABUPATEN SUBANG

2015 KREATIVITAS BERKARYA FOTOGRAFI KOMUNITAS LUBANG JARUM INDONESIA DI KABUPATEN SUBANG 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT yang paling sempurna diantara makhluk ciptaan Allah SWT lainnya karena manusia pada umumnya diberi kelebihan berupa

Lebih terperinci

KURSUS DAN PELATIHAN FOTOGRAFI JENJANG V KURIKULUM KURSUS VIDEO EDITING

KURSUS DAN PELATIHAN FOTOGRAFI JENJANG V KURIKULUM KURSUS VIDEO EDITING KURIKULUM KURIKULUM KURSUS DAN PELATIHAN KURSUS DAN PELATIHAN STANDAR PASTRY KOMPETENSI BAKERY JENJANG LULUSAN III (SKL) dan FOTOGRAFI JENJANG V KURIKULUM KURSUS VIDEO EDITING BERBASIS berbasis Direktorat

Lebih terperinci

GALLERY PHOTOGRAPHY IN YOGYAKARTA

GALLERY PHOTOGRAPHY IN YOGYAKARTA TUGAS AKHIR PERIODE 111 LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR GALLERY PHOTOGRAPHY IN YOGYAKARTA Penekanan Desain Arsitektur Modern Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan memperoleh

Lebih terperinci

PERTEMUAN I Sejarah Perkembangan Kamera Sebagai Media Dalam Fotografi

PERTEMUAN I Sejarah Perkembangan Kamera Sebagai Media Dalam Fotografi PERTEMUAN I-2 1.2 Sejarah Perkembangan Kamera Sebagai Media Dalam Fotografi Diawali dari seorang penulis Cina, Moli (5 SM) melakukan percobaan dan mencatat bahwa : sinar bergerak melalui garis lurus dan

Lebih terperinci

Ni Luh Putu Kurniawati, S.Kom. SMK PGRI 2 Badung Jurusan Multimedia 2011

Ni Luh Putu Kurniawati, S.Kom. SMK PGRI 2 Badung Jurusan Multimedia 2011 Ni Luh Putu Kurniawati, S.Kom SMK PGRI 2 Badung Jurusan Multimedia 2011 Merawat Peralatan Multimedia 1. Menjelaskan Langkah-langkah perawatan peralatan Multimedia 2. Membuat kartu perawatan Peralatan Multimedia

Lebih terperinci

Tujuan Instruksional Umum : Tujuan Instruksional Khusus :

Tujuan Instruksional Umum : Tujuan Instruksional Khusus : Tujuan Instruksional Umum : 1. Memberikan pemahaman mengenai definisi kamera. 2. Memberikan pemahaman jenis jenis kamera berdasarkan pengelompokannya. 3. Memberikan pemahaman mengenai bentuk fisik, fungsi

Lebih terperinci

Tujuan Instruksional Umum : Tujuan Instruksional Khusus :

Tujuan Instruksional Umum : Tujuan Instruksional Khusus : Tujuan Instruksional Umum : 1. Memberikan pemahaman mengenai sejarah teknologi fotografi. 2. Memberikan pemahaman mengenai pengelompokan dekade teknologi fotografi. 3. Memberikan pemahaman mengenai peralatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Eksistensi Proyek

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Eksistensi Proyek BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Eksistensi Proyek Animasi adalah suatu rangkaian gambar dengan jumlah yang banyak, bila kita proyeksikan akan terlihat seolah olah hidup ( bergerak ), seperti yang

Lebih terperinci

Commercial / Advertising Photography

Commercial / Advertising Photography Commercial / Advertising Photography F O T O G R A F I Fotografi berkembang sebagai dunia teknologi tersendiri dan teknologi fotografi telah mengubah wajah dunia menjadi dunia gambar. Melalui berbagai

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2009 TENTANG PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Dalam rangka keterpaduan pelaksanaan pengembangan Ekonomi Kreatif, dengan ini

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang 1 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Ekonomi kreatif yang digerakkan oleh industri kreatif, didefinisikan sebagai industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, keterampilan serta bakat individu untuk menciptakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (2007) ekonomi gelombang ke-4 adalah

BAB I PENDAHULUAN. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (2007) ekonomi gelombang ke-4 adalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ekonomi kreatif merupakan pengembangan konsep berdasarkan modal kreatifitas yang dapat berpotensi meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Menurut Presiden Susilo Bambang

Lebih terperinci

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2009 TENTANG PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2009 TENTANG PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2009 TENTANG PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Dalam rangka keterpaduan pelaksanaan Pengembangan Ekonomi Kreatif, dengan ini

Lebih terperinci

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2009 TENTANG PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2009 TENTANG PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2009 TENTANG PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Dalam rangka keterpaduan pelaksanaan Pengembangan Ekonomi Kreatif,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sebagai industri gelombang ke-4 setelah pertanian, industri dan teknologi

BAB I PENDAHULUAN. sebagai industri gelombang ke-4 setelah pertanian, industri dan teknologi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Industri kreatif sering dikemukakan oleh berbagai pakar ekonomi sebagai industri gelombang ke-4 setelah pertanian, industri dan teknologi informasi. Walaupun masih

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi dapat merubah pola hidup manusia maupun nilainilai

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi dapat merubah pola hidup manusia maupun nilainilai 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan teknologi dapat merubah pola hidup manusia maupun nilainilai suatu budaya. Seseorang dapat dengan mudah memperoleh sesuatu yang ada dipikirannya

Lebih terperinci

T E M A. widiantoro. Fakultas Arsitektur dan Desain. Progdi Desain Komunikasi Visual

T E M A. widiantoro. Fakultas Arsitektur dan Desain. Progdi Desain Komunikasi Visual T E M A dalam FOTOGRAFI b@yu widiantoro Progdi Desain Komunikasi Visual Fakultas Arsitektur dan Desain TEMA Adalah panduan utama di dalam menentukan obyek dan cara selanjutnya di dalam bidang apapun TEMA

Lebih terperinci

FOTOGRAFI, oleh Burhanuddin, S.E., M.Si. Hak Cipta 2014 pada penulis

FOTOGRAFI, oleh Burhanuddin, S.E., M.Si. Hak Cipta 2014 pada penulis FOTOGRAFI, oleh Burhanuddin, S.E., M.Si. Hak Cipta 2014 pada penulis GRAHA ILMU Ruko Jambusari 7A Yogyakarta 55283 Telp: 0274-889398; Fax: 0274-889057; E-mail: info@grahailmu.co.id Hak Cipta dilindungi

Lebih terperinci

Cahaya sebagai media Fotografi. Syarat-syarat fotografi. Cahaya

Cahaya sebagai media Fotografi. Syarat-syarat fotografi. Cahaya Cahaya sebagai media Fotografi Pencahayaan merupakan unsur dasar dari fotografi. Tanpa pencahayaan yang optimal, suatu foto tidak dapat menjadi sebuah karya yang baik. Pengetahuan tentang cahaya mutlak

Lebih terperinci

Modul. SEKOLAH MENULIS DAN KAJIAN MEDIA (SMKM-Atjeh) JURNALISTIK MEDIA ELEKTRONIK (FOTOGRAFI) 1 Kamaruddin Hasan 2

Modul. SEKOLAH MENULIS DAN KAJIAN MEDIA (SMKM-Atjeh) JURNALISTIK MEDIA ELEKTRONIK (FOTOGRAFI) 1 Kamaruddin Hasan 2 MATERI: 14 Modul SEKOLAH MENULIS DAN KAJIAN MEDIA (SMKM-Atjeh) JURNALISTIK MEDIA ELEKTRONIK (FOTOGRAFI) 1 Kamaruddin Hasan 2 Deskripsi Materi Materi ini memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang teori-teori

Lebih terperinci

PEMOTRETAN CAGAR BUDAYA

PEMOTRETAN CAGAR BUDAYA PEMOTRETAN CAGAR BUDAYA Oleh : Suparno Pembinaan Tenaga Pendaftaran Cagar Budaya Makasar, Juli 2013 PENGERTIAN PEMOTRETAN Pemotetan adalah seni dan pengetahuan yang dalam praktek kegiatannya menghasilkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Dalam suatu bisnis terdapat 2 fungsi mendasar yang menjadi inti dari

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Dalam suatu bisnis terdapat 2 fungsi mendasar yang menjadi inti dari BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam suatu bisnis terdapat 2 fungsi mendasar yang menjadi inti dari bisnis itu sendiri. Menurut Peter Drucker (1954) 2 fungsi dalam bisnis itu adalah marketing dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Kusrianto, Adi Pengantar Desain Komunikasi Visual. Yogyakarta: Andi Offset halaman

BAB I PENDAHULUAN Kusrianto, Adi Pengantar Desain Komunikasi Visual. Yogyakarta: Andi Offset halaman BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.1.1. Sejarah Perkembangan Desain Komunikasi Visual di Dunia Pada awalnya, media desain grafis hanya terbatas pada media cetak dwi matra. Namun, seiring dengan perkembangan

Lebih terperinci

11/15/2013 JENIS KAMERA FOTOGRAFI KAMERA TWIN LENS REFLEX ( TLR )

11/15/2013 JENIS KAMERA FOTOGRAFI KAMERA TWIN LENS REFLEX ( TLR ) JENIS KAMERA Kamera sederhana FOTOGRAFI JENIS KAMERA Rangefinder (RF) Camera RANGEFINDER (RF) CAMERA Menggunakan dua buah alat untuk menyatukan gambar yang kita lihat. Gambar dilihat melalui viewfinder

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. desain mendapatkan ilmu-ilmu yang dibutuhkannya untuk terjun di bidang ini.

BAB I PENDAHULUAN. desain mendapatkan ilmu-ilmu yang dibutuhkannya untuk terjun di bidang ini. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Untuk dapat menjadi seorang desainer grafis yang profesional dan mampu bekerja dengan baik di bidangnya, seorang mahasiswa desain haruslah memiliki ilmu yang cukup

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2015 TENTANG

PERATURAN KEPALA ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2015 TENTANG ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA Jalan Ampera Raya No. 7, Jakarta Selatan 12560, Indonesia Telp. 62 21 7805851, Fax. 62 21 7810280 http://www.anri.go.id, e-mail: info@anri.go.id PERATURAN KEPALA ARSIP

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Foto pada umumnya identik dengan kegiatan yang berkaitan dengan pengabadian suatu momen penting. Melalui media foto, kegiatan atau aktivitas akan menjadi lebih bermakna,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Di era digital ini, teknologi semakin berkembang. Banyak teknologi baru

BAB 1 PENDAHULUAN. Di era digital ini, teknologi semakin berkembang. Banyak teknologi baru BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Di era digital ini, teknologi semakin berkembang. Banyak teknologi baru diciptakan untuk mempermudah pekerjaan seseorang, salah satunya perkembangan dalam bidang fotografi.

Lebih terperinci

Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, SE., MA. Pertemuan 12: Industri kreatif

Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, SE., MA. Pertemuan 12: Industri kreatif Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, SE., MA. Industri Kreatif dapat diartikan sebagai kumpulan aktivitas ekonomi yang terkait dengan penciptaan atau penggunaan pengetahuan dan informasi. Industri kreatif juga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pada dasarnya masyarakat adalah penggarap informasi. kebutuhan semata tetapi sudah menjadi keharusan bagi masyarakat luas.

BAB I PENDAHULUAN. pada dasarnya masyarakat adalah penggarap informasi. kebutuhan semata tetapi sudah menjadi keharusan bagi masyarakat luas. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Media massa adalah jembatan informasi bagi masyarakat, dengan media massa masyarakat dapat mengetahui apa yang terjadi diluar lingkungannya. Media massa baik cetak

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 81 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Manusia selalu berjuang untuk memeuhi kebutuhan hidupnya dengan terus menggali potensi sumber daya alam yang ada. Dengan memanfaatkan sumber daya alam serta

Lebih terperinci

2015 PENGARUH PERILAKU KEWIRAUSAHAAN DAN DIFERENSIASI PRODUK TERHADAP PENDAPATAN

2015 PENGARUH PERILAKU KEWIRAUSAHAAN DAN DIFERENSIASI PRODUK TERHADAP PENDAPATAN BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pemerintah Indonesia senantiasa melakukan pembangunan di segala bidang, termasuk pembangunan di bidang ekonomi adalah sektor perindustrian. Dalam era globalisasi,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Prio Rionggo, 2014 Proses Penciptaan Desain Poster Dengan Tema Bandung Heritage

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Prio Rionggo, 2014 Proses Penciptaan Desain Poster Dengan Tema Bandung Heritage BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Desain Komunikasi Visual (DKV) yang sebelumnya popular dengan sebutan Desain Grafis selalu melibatkan unsur-unsur seni rupa (visual) dan disiplin komunikasi, Semenjak

Lebih terperinci

Esensial Tip Memotret Foto dengan Tablet

Esensial Tip Memotret Foto dengan Tablet 1 Esensial Tip Memotret Foto dengan Tablet Salah satu keunggulan yang membuat tablet menjadi sebuah perangkat yang sempurna untuk fotografi adalah kamera yang tersedia pada tablet Anda. Dengan semakin

Lebih terperinci

GALERI FOTOGRAFI DI SEMARANG PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR HIGH TECH

GALERI FOTOGRAFI DI SEMARANG PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR HIGH TECH LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR GALERI FOTOGRAFI DI SEMARANG PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR HIGH TECH Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Teknik

Lebih terperinci

CERDAS, TERAMPIL, KREATIF, dan KOMPETITIF untuk MERAIH PRESTASI TERBAIK

CERDAS, TERAMPIL, KREATIF, dan KOMPETITIF untuk MERAIH PRESTASI TERBAIK A. LATAR BELAKANG Peningkatan efisiensi dan efektivitas proses pembelajaran melalui pemerataan mutu sekolah, penilaian proses serta hasil belajar secara bertahap dan berkelanjutan merupakan upaya peningkatan

Lebih terperinci

UNIVERSITAS DIPONEGORO GEDUNG FOTOGRAFI DI KOTA SEMARANG TUGAS AKHIR NUR MULADICA FAKULTAS TEKNIK JURUSAN/PROGRAM STUDI ARSITEKTUR

UNIVERSITAS DIPONEGORO GEDUNG FOTOGRAFI DI KOTA SEMARANG TUGAS AKHIR NUR MULADICA FAKULTAS TEKNIK JURUSAN/PROGRAM STUDI ARSITEKTUR UNIVERSITAS DIPONEGORO GEDUNG FOTOGRAFI DI KOTA SEMARANG TUGAS AKHIR Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik NUR MULADICA 21020112120020 FAKULTAS TEKNIK JURUSAN/PROGRAM

Lebih terperinci

Tujuan Instruksional Umum : Tujuan Instruksional Khusus :

Tujuan Instruksional Umum : Tujuan Instruksional Khusus : Tujuan Instruksional Umum : 1. Memberikan pemahaman mengenai sejarah film. 2. Memberikan pemahaman mengenai pengelompokan film. 3. Memberikan pemahaman mengenai bagian bagian bahan dasar film. 4. Memberikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia baik individu maupun kelompok. Setiap saat manusia berpikir, bertindak

BAB I PENDAHULUAN. manusia baik individu maupun kelompok. Setiap saat manusia berpikir, bertindak BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Komunikasi selalu digunakan dan mempunyai peran yang penting dalam segala aspek kehidupan manusia. Komunikasi adalah hubungan kontak antar dan antara manusia baik individu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Seiring dengan pesatnya perkembangan informasi di era globalisasi ini, komunikasi menjadi sebuah kegiatan penting. Informasi sangat dibutuhkan dalam mendukung

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Setidaknya sejak beberapa dekade terakhir, perekonomian dunia bergerak

BAB I PENDAHULUAN. Setidaknya sejak beberapa dekade terakhir, perekonomian dunia bergerak BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Setidaknya sejak beberapa dekade terakhir, perekonomian dunia bergerak ke arah yang baru, yaitu model perekonomian yang tidak lagi dilakukan secara konvensional.

Lebih terperinci

Mengenal Karakter Cahaya Untuk Portraiture Outdoor oleh Erwin Rizaldi, Professional Photographer Indonesia

Mengenal Karakter Cahaya Untuk Portraiture Outdoor oleh Erwin Rizaldi, Professional Photographer Indonesia Lighting Outdoor Photography: Mengenal Karakter Cahaya Untuk Portraiture Outdoor oleh Erwin Rizaldi, Professional Photographer Indonesia Kita semua paham, bahwa cahaya (light) adalah sahabat yang harus

Lebih terperinci

KARYA ILMIAH : KARYA SENI MONUMENTAL

KARYA ILMIAH : KARYA SENI MONUMENTAL KARYA ILMIAH : KARYA SENI MONUMENTAL JUDUL KARYA : Pelebon PENCIPTA : I Kadek Puriartha, S.Sn., M.Sn PAMERAN : Pameran Seni Rupa Truly Bagus II Harmony in Diversity Cullity Gallery, Faculty of Architecture,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang PT. Pos Indonesia yang selanjutnya disebut Kantor Pos merupakan badan usaha milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang layanan sarana komunikasi seperti mengirimkan

Lebih terperinci

Pengembangan Ekonomi Kreatif dan Pemberdayaan Pemuda Indonesia Ahmad Buchori Kepala Departemen Perbankan Syariah Otoritas Jasa Keuangan

Pengembangan Ekonomi Kreatif dan Pemberdayaan Pemuda Indonesia Ahmad Buchori Kepala Departemen Perbankan Syariah Otoritas Jasa Keuangan Pengembangan Ekonomi Kreatif dan Pemberdayaan Pemuda Indonesia Ahmad Buchori Kepala Departemen Perbankan Syariah Otoritas Jasa Keuangan Bogor, 29 Desember 2015 1 Agenda 1. Potensi dan Tantangan Kondisi

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 25/PER/M.KOMINFO/5/2007 TENTANG

PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 25/PER/M.KOMINFO/5/2007 TENTANG Menimbang : PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 25/PER/M.KOMINFO/5/2007 TENTANG PENGGUNAAN SUMBER DAYA DALAM NEGERI UNTUK PRODUK IKLAN YANG DISIARKAN MELALUI LEMBAGA

Lebih terperinci

BAB 2 DATA DAN ANALISA

BAB 2 DATA DAN ANALISA BAB 2 DATA DAN ANALISA 2.1 Sumber Data Literatur Data dan informasi yang digunakan untuk mendukung proyek tugas akhir ini berasal dari berbagai sumber, yaitu : 2.1.1 Hardcopy Buku The Working Camera Buku

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN.

BAB I PENDAHULUAN. BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG 1.1.1 LATAR BELAKANG PENGADAAN PROYEK Kota Yogyakarta merupakan pusat dari perekonomian di DIY, dimana perputaran uang dan kegiatan periklanan lebih banyak dilakukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bidang videography dan cinematography. Videography dan Cinematography ini

BAB I PENDAHULUAN. bidang videography dan cinematography. Videography dan Cinematography ini BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan teknologi pada akhir abad ke-20 turut mendorong pertumbuhan bidang videography dan cinematography. Videography dan Cinematography ini merupakan istilah

Lebih terperinci

mari membuat video cara praktis membuat video dan foto

mari membuat video cara praktis membuat video dan foto mari membuat video cara praktis membuat video dan foto Edisi Pertama, versi Bahasa Indonesia 2010 Gede Sugiarta dan Yayasan IDEP Yayasan IDEP PO BOX 160 Ubud M e d i a U n i t @ i d e p f o u n d a t i

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Setelah fotografi dikenal luas oleh publik, mungkin tidak ada lagi

BAB I PENDAHULUAN. Setelah fotografi dikenal luas oleh publik, mungkin tidak ada lagi 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Setelah fotografi dikenal luas oleh publik, mungkin tidak ada lagi momentum yang tidak terabadikan oleh bidikan kamera. Pesona alam, objek benda mati, proses

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kemunculan usaha rumah produksi atau biasa disebut dengan production house

BAB I PENDAHULUAN. Kemunculan usaha rumah produksi atau biasa disebut dengan production house BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kemunculan usaha rumah produksi atau biasa disebut dengan production house perlahan banyak yang berdiri seiring dengan kemunculan stasiun-stasiun televisi swasta sehingga

Lebih terperinci

PEMERINTAH DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 15 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN KOORDINASI PENYULUHAN

PEMERINTAH DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 15 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN KOORDINASI PENYULUHAN - 1 - PEMERINTAH DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 15 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN KOORDINASI PENYULUHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TIMUR,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Sebagaimana kita ketahui, bahwa saat ini sebagian besar aspek kehidupan manusia tidak terlepas dari proses komunikasi dan komunikasi tidak dapat dipisahkan

Lebih terperinci

KARYA ILMIAH: KARYA SENI MONUMENTAL JUDUL KARYA: VILLA LALU PENCIPTA: A.A Gde Bagus Udayana, S.Sn.,M.Si PAMERAN. International exhibition ISACFA

KARYA ILMIAH: KARYA SENI MONUMENTAL JUDUL KARYA: VILLA LALU PENCIPTA: A.A Gde Bagus Udayana, S.Sn.,M.Si PAMERAN. International exhibition ISACFA KARYA ILMIAH: KARYA SENI MONUMENTAL JUDUL KARYA: VILLA LALU PENCIPTA: A.A Gde Bagus Udayana, S.Sn.,M.Si PAMERAN International exhibition ISACFA International Studio For Arts and Culture FSRD ALVA ISI Denpasar,

Lebih terperinci

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN TUGAS KEHUMASAN DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN DALAM NEGERI DAN PEMERINTAH DAERAH DENGAN

Lebih terperinci

1.4 Metodologi Penelitian

1.4 Metodologi Penelitian 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perancangan Interior Seni dan desain (art and design) dipandang sebagai dua elemen menyatu yang tidak terpisahkan. Tiap perkembangan seni selalu diikuti oleh visualisasi

Lebih terperinci

- 1 - PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57 TAHUN 2014 TENTANG PENGEMBANGAN, PEMBINAAN, DAN PELINDUNGAN BAHASA

- 1 - PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57 TAHUN 2014 TENTANG PENGEMBANGAN, PEMBINAAN, DAN PELINDUNGAN BAHASA SALINAN - 1 - PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57 TAHUN 2014 TENTANG PENGEMBANGAN, PEMBINAAN, DAN PELINDUNGAN BAHASA DAN SASTRA, SERTA PENINGKATAN FUNGSI BAHASA INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG EKONOMI KREATIF

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG EKONOMI KREATIF DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA ----------- RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG EKONOMI KREATIF Jakarta, 2015 DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA -----------

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. dari suatu obyek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai obyek

BAB 1 PENDAHULUAN. dari suatu obyek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai obyek BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LatarBelakang fotografi berarti proses atau metode untuk menghasilkan gambar atau foto dari suatu obyek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai obyek tersebut pada media yang

Lebih terperinci

PERBANDINGAN METODE DEPTH OF FIELD PADA LENSA KAMERA FOTOGRAFI DENGAN EFEK LENSA PADA SOFTWARE ANIMASI

PERBANDINGAN METODE DEPTH OF FIELD PADA LENSA KAMERA FOTOGRAFI DENGAN EFEK LENSA PADA SOFTWARE ANIMASI PERBANDINGAN METODE DEPTH OF FIELD PADA LENSA KAMERA FOTOGRAFI DENGAN EFEK LENSA PADA SOFTWARE ANIMASI Ahmad Faisal Choiril Anam Fathoni 1 ; Dermawan Syamsuddin 2 Jurusan Desain Komunikasi Visual, School

Lebih terperinci

SILABUS OLIMPIADE SAINS NASIONAL SEKOLAH MENENGAH PERTAMA TAHUN Milik Negara Tidak Diperdagangkan KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

SILABUS OLIMPIADE SAINS NASIONAL SEKOLAH MENENGAH PERTAMA TAHUN Milik Negara Tidak Diperdagangkan KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN M E R O K O K D A P A T M E M B U N U H M U MILIK NEGARA TIDAK DIPERDAGANGKAN SILABUS OLIMPIADE SAINS NASIONAL SEKOLAH MENENGAH PERTAMA TAHUN 2015 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM.63/UM.001/MPEK/2013 TENTANG

SALINAN PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM.63/UM.001/MPEK/2013 TENTANG SALINAN PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM.63/UM.001/MPEK/2013 TENTANG PENGELOLAAN INFORMASI DAN DOKUMENTASI DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF

Lebih terperinci

Dasar-Dasar Fotografi. Multimedia SMKN 1 Bojongsari

Dasar-Dasar Fotografi. Multimedia SMKN 1 Bojongsari Dasar-Dasar Fotografi Multimedia SMKN 1 Bojongsari Pengenalan Fotografi Fotografi artinya melukis dengan cahaya. Tanpa cahaya, tidak akan ada fotografi. Seni fotografi pada dasarnya adalah melihat dan

Lebih terperinci

ASAS FOTOGRAFI. -Jenis-Jenis Kamera -Bahagian Kamera Serta Fungsinya -Jenis-Jenis Filem Dan Aplikasinya -Aksesori Kamera -Pengambilan Gambar Foto

ASAS FOTOGRAFI. -Jenis-Jenis Kamera -Bahagian Kamera Serta Fungsinya -Jenis-Jenis Filem Dan Aplikasinya -Aksesori Kamera -Pengambilan Gambar Foto ASAS FOTOGRAFI -Jenis-Jenis Kamera -Bahagian Kamera Serta Fungsinya -Jenis-Jenis Filem Dan Aplikasinya -Aksesori Kamera -Pengambilan Gambar Foto Jenis-Jenis Kamera -Kamera FFC (Auto Fixed Focus) -Kamera

Lebih terperinci

Fotografi 1 Dkv215. Bayu Widiantoro Progdi Desain Komunikasi Visual Fakultas Arsitektur dan Desain Universitas Katolik SOEGIJAPRANATA

Fotografi 1 Dkv215. Bayu Widiantoro Progdi Desain Komunikasi Visual Fakultas Arsitektur dan Desain Universitas Katolik SOEGIJAPRANATA Fotografi 1 Dkv215 Bayu Widiantoro Progdi Desain Komunikasi Visual Fakultas Arsitektur dan Desain Universitas Katolik SOEGIJAPRANATA kamera Analog Film kamera Digital Sensor Sangat berpengaruh pada kamera

Lebih terperinci

LEMBAGA PENDIDIKAN DESAIN KOMUNIKASI VISUAL DI SEMARANG

LEMBAGA PENDIDIKAN DESAIN KOMUNIKASI VISUAL DI SEMARANG LANDASAN PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR LEMBAGA PENDIDIKAN DESAIN KOMUNIKASI VISUAL DI SEMARANG Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Teknik Disusun oleh :

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57 TAHUN 2014 TENTANG PENGEMBANGAN, PEMBINAAN, DAN PELINDUNGAN BAHASA DAN SASTRA, SERTA PENINGKATAN FUNGSI BAHASA INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

Prinsip. Oleh: S. Thya Safitri, MT

Prinsip. Oleh: S. Thya Safitri, MT Sejarah dan Prinsip Desain Grafis Oleh: S. Thya Safitri, MT Poin Kunci Desain Grafis Perubahan ide dan Orang yang melakukan desain Mempelajari Sejarah Desain Grafis relatif baru dilakukan, Namun dapat

Lebih terperinci

- 1 - PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57 TAHUN 2014 TENTANG PENGEMBANGAN, PEMBINAAN, DAN PELINDUNGAN BAHASA

- 1 - PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57 TAHUN 2014 TENTANG PENGEMBANGAN, PEMBINAAN, DAN PELINDUNGAN BAHASA - 1 - PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57 TAHUN 2014 TENTANG PENGEMBANGAN, PEMBINAAN, DAN PELINDUNGAN BAHASA DAN SASTRA, SERTA PENINGKATAN FUNGSI BAHASA INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

Sambutan Presiden RI pada Pembukaan Pekan Raya Jakarta ke-43, 10 Juni 2010 Kamis, 10 Juni 2010

Sambutan Presiden RI pada Pembukaan Pekan Raya Jakarta ke-43, 10 Juni 2010 Kamis, 10 Juni 2010 Sambutan Presiden RI pada Pembukaan Pekan Raya Jakarta ke-43, 10 Juni 2010 Kamis, 10 Juni 2010 SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PADA PEMBUKAAN PEKAN RAYA JAKARTA KE-43 DI ARENA PRJ-KEMAYORAN, JAKARTA

Lebih terperinci

PENERAPAN LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN SAINTIFIK DALAM KURIKULUM 2013

PENERAPAN LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN SAINTIFIK DALAM KURIKULUM 2013 1 PENERAPAN LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN SAINTIFIK DALAM KURIKULUM 2013 Pendahuluan Oleh: Bambang Prihadi*) Implementasi Kurikulum 2013 dicirikan dengan perubahan yang sangat mendasar

Lebih terperinci

Ringkasan. Kebijakan Pembangunan Industri Nasional

Ringkasan. Kebijakan Pembangunan Industri Nasional Ringkasan Kebijakan Pembangunan Industri Nasional Era globalisasi ekonomi yang disertai dengan pesatnya perkembangan teknologi, berdampak sangat ketatnya persaingan, dan cepatnya terjadi perubahan lingkungan

Lebih terperinci

Edisi Pertama Cetakan Pertama, 2009 GRAHA ILMU

Edisi Pertama Cetakan Pertama, 2009 GRAHA ILMU Dunia dalam Bingkai Oleh : Ferry Darmawan Edisi Pertama Cetakan Pertama, 2009 Hak Cipta 2009 pada penulis, Hak Cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagian atau seluruh

Lebih terperinci

BERINGIN GROUP. Learn, Share and Profit HUMAN INTEREST. A. Pendahuluan

BERINGIN GROUP. Learn, Share and Profit HUMAN INTEREST. A. Pendahuluan HUMAN INTEREST A. Pendahuluan Foto-foto human interest sepertinya selalu menarik untuk dilihat. Nilainilai keseharian manusia dapat terekam melalui fotografi ini. Namun untuk menciptakan karya foto human

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.348, 2012 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN LUAR NEGERI. Pengelolaan. Portal. Situs Kementerian Luar Negeri. PERATURAN MENTERI LUAR NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 03 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN

Lebih terperinci

BANDUNG SPIRIT 55 BANDUNG 55 LOMBA MEMBUAT FILM PENDEK BANDUNG SPIRIT AWARD THE FIRST ASIA-AFRICA INTERNATIONAL FILM FESTIVAL OKTOBER 2010

BANDUNG SPIRIT 55 BANDUNG 55 LOMBA MEMBUAT FILM PENDEK BANDUNG SPIRIT AWARD THE FIRST ASIA-AFRICA INTERNATIONAL FILM FESTIVAL OKTOBER 2010 BANDUNG SPIRIT 55 BANDUNG 55 LOMBA MEMBUAT FILM PENDEK BANDUNG SPIRIT AWARD THE FIRST ASIA-AFRICA INTERNATIONAL FILM FESTIVAL 25-30 OKTOBER 2010 Batas akhir pengiriman karya: 16 Oktober 2010 Website: www.bandungspirit.org

Lebih terperinci

DASAR DASAR FOTOGRAFI & TATA CAHAYA

DASAR DASAR FOTOGRAFI & TATA CAHAYA DASAR DASAR FOTOGRAFI & TATA CAHAYA Anita Iskhayati, S.Kom Apa Itu Three-Point Lighting? Three-point lighting (pencahayaan tiga titik) adalah metode standar pencahayaan yang digunakan dalam fotografi,

Lebih terperinci

KONSEP ESTETIK DALAM STILL LIFE FOTOGRAFI

KONSEP ESTETIK DALAM STILL LIFE FOTOGRAFI KONSEP ESTETIK DALAM STILL LIFE FOTOGRAFI Aran Handoko Pendahuluan Pada awalnya fotografi tercipta didasari dari melukis atau menggambar dengan bantuan cahaya dari kata Yunani, Phos yang berarti cahaya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pusat Produksi & Distribusi Majalah Bog-bog

BAB I PENDAHULUAN. Pusat Produksi & Distribusi Majalah Bog-bog BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bog-bog Bali Cartoon adalah sebuah media dalam bentuk majalah yang mengangkat tema keragaman dan keunikan budaya Bali pada jaman modernisasi dalam media kartun. Bog-bog

Lebih terperinci

Cerita di Balik Foto Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang Terkenal Ini

Cerita di Balik Foto Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang Terkenal Ini Cerita di Balik Foto Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang Terkenal Ini Minggu, 17 Agustus 2014 13:30 WIB - Foto karya Frans Mendur yang mengabadikan Presiden Soekarno membacakan naskah proklamasi di Jalan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Gambaran Umum Objek Penelitian Gambaran Umum Komunitas

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Gambaran Umum Objek Penelitian Gambaran Umum Komunitas BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Gambaran Umum Objek Penelitian 1.1.1. Gambaran Umum Komunitas Komunitas Hobi Foto Bandung yang disingkat dengan HFB adalah salah satu komunitas yang bergerak pada bidang fotografi

Lebih terperinci

TERMS OF REFERENCE (TOR) EAGLE AWARDS DOCUMENTARY COMPETITION 2014

TERMS OF REFERENCE (TOR) EAGLE AWARDS DOCUMENTARY COMPETITION 2014 TERMS OF REFERENCE (TOR) EAGLE AWARDS DOCUMENTARY COMPETITION 2014 ============================================================== Tahun 2014 ini adalah 1 dekade Eagle Award Documentary Competition menginspirasi

Lebih terperinci

PENTINGNYA PEMETAAN DAN HARMONISASI REGULASI EKONOMI KREATIF

PENTINGNYA PEMETAAN DAN HARMONISASI REGULASI EKONOMI KREATIF PENTINGNYA PEMETAAN DAN HARMONISASI REGULASI EKONOMI KREATIF Dr. Sabartua Tampubolon (sabartua.tampubolon@bekraf.go.id, sabartuatb@gmail.com) Direktur Harmonisasi Regulasi dan Standardisasi Badan Ekonomi

Lebih terperinci

THE ART OF PHOTOGRAPHY. M.S. GUMELAR https://www.facebook.com/ultima.

THE ART OF PHOTOGRAPHY. M.S. GUMELAR https://www.facebook.com/ultima. THE ART OF PHOTOGRAPHY M.S. GUMELAR 2012 ms.gumelar@gmail.com http://michaelgumelar.blogspot.com/ https://www.facebook.com/ultima.michael Know your camera Shutter Speed Focal Length Aperture ISO Shutter

Lebih terperinci

Film Film merupakan media visualisasi. Melalui film, sebuah peristiwa digambarkan dan direkam dlm sebuah lapisan emulsi yg peka cahaya, shg bisa dilih

Film Film merupakan media visualisasi. Melalui film, sebuah peristiwa digambarkan dan direkam dlm sebuah lapisan emulsi yg peka cahaya, shg bisa dilih Fotografi I FILM Film Film merupakan media visualisasi. Melalui film, sebuah peristiwa digambarkan dan direkam dlm sebuah lapisan emulsi yg peka cahaya, shg bisa dilihat dan dinikmati. Sbg alat rekam,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Di Jakarta perkembangan hotel sangat padat dan berkembang, ini dikarenakan sebagai ibu kota negara Republik Indonesia yang merupakan pusat pemerintahan dan

Lebih terperinci

Tujuan Instruksional Umum : Tujuan Instruksional Khusus :

Tujuan Instruksional Umum : Tujuan Instruksional Khusus : Tujuan Instruksional Umum : 1. Memberikan pemahaman mengenai sejarah film. 2. Memberikan pemahaman mengenai pengelompokan film. 3. Memberikan pemahaman mengenai bagian bagian bahan dasar film. Tujuan Instruksional

Lebih terperinci

Sejarah Perkembangan Kamera

Sejarah Perkembangan Kamera Sejarah Perkembangan Kamera Kamera yang dimiliki oleh jutaan orang di dunia bahkan setiap orang pasti memiliki apa itu kamera, entah kamera ponsel, kamera poket, maupun DSLR. Perkembangan kamera semakin

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1141, 2013 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN KEHUTANAN. Karya Cetak. Karya Rekam. Pengelolaan. PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR P.49/MENHUT-II/2013 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Bandung adalah salah satu kota besar di Indonesia dan merupakan Ibukota Provinsi Jawa Barat yang banyak menyimpan berbagai sejarah serta memiliki kekayaan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan Wahyuningtyas (2011) jenis tanah di Kebun Percobaan Cikabayan merupakan Latosol. Tanah ini memiliki ciri ciri batas horizon yang samar, warna 7.5YR,4/4 (brown), remah

Lebih terperinci