Rencana Pendidikan yang Realistik

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Rencana Pendidikan yang Realistik"

Transkripsi

1 Dasar-dasar Perencanaan Pendidikan 19 Rencana Pendidikan yang Realistik K.R. McKinnon ( Lembaga Internasional untul«perencanaan Pendidikan

2 Dasar-Dasar Perencanaan Pendidikan 19

3 Jadni dan nornor cruţ dalaiu seri ini adalah: 1. ApaJcah Perencanaan Penăidikan itu f Philip Н. Coombs 2. ЖиЪипдап aviara Mencana Penđidilcan. dengan Eencana Ekonomi đan Sosial R. Poignant 3. Perencanaan Penđidilcan đan Sumber РетЬапдипап РегкетЪапдап Hanusia Ғ. Harbison 4. Perencanaan đan Administratur Penđidilcan CE. Beeby 5. Konteies Sosial Perencanaan Penđidilcan CA. Anderson 6. Ľiaya Ľencana Penđidilcan J. Vaizey, J'.D. Cliesswas 7. Masalah Penđidilcan di Daerah Peđesaan V.L. Griffiths 8. Perencanaan Penđidilcan: Peranan Penasihat Adam Curio 9. Áspele Demografi Perencanaan Penđidilcan Ta Ngoc Chau 10. Analisis Ľiaya đan Pengeluaran unuilc Penđidilcan J. Hallak 11. Identitás Profesional Perencana Penđidilcan Adam Curie 12. Kandisi unitile Keberhasilan Perencanaan Penđidilcan U.C. Iìuscoo 13. Analisis Ľiaya Keuntungan đalam Perencanaan Penđidilcan Maureen Wooűhall 14. Iicncana Penđidilcan đan Pemuđa tanpa Pelccrjaan Archibald Callaway 15. Politile Perencanaan Penđidilcan di Negara Ľerlcembang CD. Eowley 16. Perencanaan Penđidilcan untule Masyaralcät Majemuk '.Chai Ilon-Chan 17. Perencanaan Kurikulum Selcolah Dasar đi Negara Ľerlcembang H.W.R. Ilawcs 18. Ľelajar đi Luar Negeri dan РегкетЪапдап Pendiđikan William D. Carter 19. Eencana Penđidilcan yang Eealistik К.К. MeĶinnon 20. Perencanaan Penđidilcan đalam ПиЪипдап đengan РетЬапдипап Peđesaan ' Ö.M. Coverdale к

4 RENCANA PENDIDIKAN YANG REALISTIK K.R. McKinnon diter'jemahkan о1г Istiwidayanti HEP Documentation Centre PENERBIT BHRATARA KARYA AKSARA JAKARTA dan UNESCO: Lembaga Internasjonal untuk Perencanaan Pendidikan ül

5 Juđul asli: Ľeälistic 'educationalplanning Hak edisi bahasa Indonesia 1982 pada PT Blıratara Karya AJisara IV

6 ' DÂFTAR ısı γ τ ;, " ; : '*ļ.., _ ', *. Ï ' DASAR-DASAR PERENCANAAN PENDIDIKAN.'.;.. - PENGANTAR ".ľ--"_"-* -7."." --"." '. J". - -'. ľľiп -Ί Γ ľ.v.. ', ľ ~ " Bagian I DASAR PEMIKIRAN TENTANG PERENCANAAN... Pengantar 1 - Rencana Pendidikan 3 Bagian II STUDI KASUS PERENCANAAN YANG BERHASIL... Bagian III PERENCANAAN DI DALAM PRAKTEK Pertimbangan Politik 18 Peraturan Keuangan 20 Perencanaan Anggaran 22. Rondisi Pelayanan 23 Organisasi dan Penempatan 25 Sikap Masyarakat terhadap Sistem Pendidikan 26 Penggabungan Beberapa Kebutuhan 28 Kurangnya Pengetahuan Masalah Pendidikan 32 Eencana Pendidikan. yang Realistik (2)

7 Bagian IV PERIMBANGAN SELANJUTNYA 34 Persiapan Perencana 34 Pendekatan Perencanaan 36 Pengkajian Pertama Pendengarnya Pendidikan atas sistem yang berlaku sekarang ini Prinsip-prinsip Tingkat kejelasan Tingkat perincian kelengkapan 38 Fungsi Perencana dari Pemerintah 38 vi

8 DASAR-DASAR PERENCANAAN PENDIDIKAN Rangkaian buku ini terutama ditujukan kepada dua kelompok: mereka yaag berkecimpung dalam dunia pendidikan atau mempersiapkan rencana pendidikan dan penyelenggara pendidikan, khususnya di negara-negara yang sedang berkembang; dan mereka yang lebih àwam, seperti pejabat teras pemerintab dan pimpinän masyarakat, yang mencari pengertian rencana pendidikan pada umumnya serta kegunaarmya dalam perkembangan nasional. Buku buku ini direncanakan sebagai suatu bahan studi atau program latiban formal, ľ Gagasan modem mengenai rencana pendidikan telah menarik perhatian para ahu dari pelbagai disiplin. Masing-masing mempunyai sudut pandang yang berbeda-beda. Tuijuan beberapa buku ini adalah untuk membantu para alili saling menjelaskan sudut pandangnya dan mendidik mereka yang lebih muda yang nantinya akan menggantikan mereka. Namun di balik keanekaragaman sudut pandang itu tumbuh suatu kesatuan pendapat. Para ahli dan pejabat di negara yang sedang berkembang menerìma prinsip dasar dan praktek tertentu dari berbagai disiplin sebagai suatu sumbangan unik bagi pengetahuan yang diberikan oleh para printis yang telah berjuang mengatasi masalah pendidikan yang lebih mendesak dan lebih sulit dari masalah apa pun. Demikian pula buku-buku lain dalam rangkaian ini menyajikan pengalaman bersama tersebut dan beberapa gagasan serta pengalaman yang terbaik sebubungan dengan aspek-aspek tertentu dari rencana pendidikan dalam bentuk pedoman singkat. -Berhubung latar belakang pembaca sangat berlainan, dari semula para penulis mengalami kesulitan untuk menyajikan ma- Vii

9 salah mereka, menjeiaskan istilan teknıs yang. шипдкш oıasa untuk beberapa orang tetapi aneh bagi yang lain, namun mereka tetap mengikuti standar ilmiah dan tidak pernah menulis untuk pembaca yangmemiliki keahlian tertentu dan menerima túlisan ini tanpa kritik. Keuntungań dari pendekatan ini adaiah bahwa bukubuku ini dapat dengan cepat dimengerti oleh pembaca pada u m u m- nya. Tadinya editor seri ini adalah Dr. CE. Beeby dari Panitia Riset Pendidikan New Zealand di Wellington. Editor umum yang sekarang adalah Profesor., Lionel'. Elvin, bekas Direktor Lembaga Pendidikan dari University of London.,.f Mesķipun.rangķaian buku ini direņcanakan mengikuti. pola tértehtu, namun tidak'diingķari adanya perbedaan atau kontradiksį, di antara. para. penųlis.' ГЛепигиі pendapat lembagá, 'belum saat-., nýá.menętapkań 'secara rapih,. terątur, dad resmi ajaran baru' yäiig. berkembanģ,"dęngan. cepat di',, bidáñg pengetahuan serta,, praktėk.. Jadi, meskipun śudut.pandang yang bérbeda itu adálah' tanggung jąwab"peńgąrang dan tidak selalu dišepákáti olęh Unesco, aţaupun'/lembaga ini námun pandangan-pąndangan tersebut perlu, diperhatíkán daîam arena.gagasan ińternasional. Singkatnya,.ini merupakan saat yang tepat uňtuk membuat rangkuman yang nyata dàn'p'ënd'apat para ' pejabať"yàng gábungán "'perig'alam'án' mereka. menčaķup bahyak'"disiplini' dairi beŕbägaí negara 'di dunia'ini 1. ' ' viii

10 PENGANTAR Ketika perencahaan-pendidikan itu menjadi suatu kegiatan yang disadari mempunyai konsep daa prosedurnya sendiri, maka kita cenderung.untuk berpikir bahwa seorang "perencana" itu adalah orang yang membuat rencana dengan menggunakan sebanyak mungkin analisa kuantitatif, tetapi tidak melibatkan diri, dengan hal-hal yang lebih luas (misalnya masalah politik dan sosial) tempāt rencana itu diharapkan dapat diterapkan. Ia 'juga tidak terlalu melibatkan diri dengan proses yang terjadi sebagai akibat 4 ' dari rencananya itu. Satu pemecahan atas gagasan tentang peranan "perencana" yang terbatas dan berbahaya ini adalah bahwa yang merencanakan itu sesungguhnya administrator. Adapun gagasan tentang "perencana" yang, datang dari luar dan segera pergi setelah menyampaikan naskahnya kepada Menteri adalah tidak berarti sama sekali. Dr. McKinnon, berdasarkan pengalamannya di Papua dan Nugini (tempāt ia pernah menjadi Direktor Pendidikan selama bertahun-tahun) mengambil jalan tengah. Ia melihat bahwa fungsi dari administrator yang terpaksa harus berhubungan - dengaņ hal-hal "khusus" bersama segala tetek-bengeknya dan. dalam keadaan darurat, berlainan dengan fungsi perencana, baik perencana ito, orang luar atau orang dalam. Ia menekankari bahwa perencana ito harus река terhadap masalah pendidikan yang luas sifatnya dan masalah pendidikan yang lebih khusus; tempāt rencana mereka akan diterapkan. Ia berpendapat bahwa begitu banyák rencana yang keliru karena mengabaikan hai ini. Ia membuktikan bahwa rencana yang dibuat berdasarkan syarat di atas berhasil dengan baik. Contohnya adalah Komite Perencana yang terdiri dari tiga orang yang datang ke Papua dan Nugini untuk membuat rencana pendidikan. ix

11 Dr. McKinnon memberi judul karangan ilmia'hnya Rencana Pćndidikan yang Realtetik dan istilah realistik adalah Kal yang sangat penting. Tetapi apa yang harus diperhituiigkan oleh para perencana pendidikan agar rencana itu dapat disebut "realistik", dalam arti bahwa isinya sesuai dan diperhitungkan pula kesulitankesulitan yang mungkin timbul di kemudian hari? Di dalam tulisan ini Dx. McKinnon memberikan jawaban yang tampaknya sangat meyakinkan dan berharga bagi saya. LIONEL ELVIN Editor Umum ;x

12 Baglån I DASAR PEMIKIRAN TENTANG PERENCANAAN Pengantat Jumlah rencana yang berhasil (berhasil dalam arti bahwa rencana tersebut dapat diterima dan dilaksanakan).dibanding dengan usaba untuk membuat rencana itu adaiah kecil. Namun banyák bukti menyatakan bahwa jarak antara kebutuhan pendidikan dan sum beť-sumbernya di шапа pun semakin ijauh. Hal ini sangat шеш? bahayakan dalam kaitannya dengan sistem pendidikan yang mer nuntut pertimbangan yang rasional dan ekonomis. ( 1 ) Di mana letak kesalahannya? Apakah kesalahan itu terletak pada rencana itu sendiri atau pada mereka yang akan menggunakannya? Tidak diragukan bahwa kesalahan antara lain terletak pada mereka yang akan menggunakan rencana itu. -Penerapan yang efektif dari rencana yang terbaik sekalipun akan dihalangi oleh orang-orang yang berpandangan sempit, konservatif, atau tidak kompeten. Juga ada beberapa pihak yang tidak percaya terhadap seluruh maksud perencanaan dan mereka dengan gigih menolak usaha perencanaan atau bekerja dengan rencana sendiri. Untunglah bahwa jumlah mereka tidak banyák, hánya sebagian kecil dari jumlah administrator yang ada, selebihnya dapat menerima semua cara yang mungkin dapat membantu menyelesaikan hei ' bagai masalah mereka. (1) Philip H. Coombs, The world educational crisis: a systems analysis, New York, Oxfoid University Press, 1968., : í

13 Seringnya rencana itu ditolak membuktikan bahwá seringkali para perencana itu tidak mengarahkannya ke masalah yang "tepat"; apa yang mereka anggap penting dan- apa yang dianggap penting oleh para pengambil keputusan sangat berbeda. Benar, bahwa śeringkali ada perbedaan yang kadang-kadang dapat diterima; benar bahwa telah diusahakan untuk memenuhi hal-hal yang dibutuhkan agar perencanaan itu realistik dan berguna, tefcapi masih kurang memadai. Tujuan dari makalah ini adalah untuk menunjukkan cara menujú ke arah peningkatan tingkat penerimaan dan penerapan rencana pendidikan, ditunjukkan melalui contoh-contoh bahwa para administrator sebelum dapat menerima suatu rencana, hendaknya memahami hal-hal tersebut di atas. Rendahnya -tingkat penerimaan suatu perencanaan aņtara lain justru disebabkan oleh akibat dári perkembángàn ýang 'dikehēndaki di dalām sistem pendidikan itu sendiri, yakni timbulnya spesialisasi baru di dalām perencanaan pendidikan. Dahulu', ' sebelum ada para perencana pendidikan, para administrator seniorlah yang 'menjadi satu-satiįnya' 'perencana. Melalui 'perigälan/aň dalàm' mençób'a menerapkan perencanaan. merekà s'endiri/ mereka memperoleh.pelajaran yang berat tentanğ kėmampuan mereka yang nyata-nyata ręndah. dań teritáng ädanýa masaláh strukturál máupun proseduraľ yang sépéle namuń 'dapaţ meriņtanģi atau bahk'an 'sepenühnyá meņcegah r pelaksánaan renćana pendidikan yang 'sangat menařik. Ketika mereka merupakàn 'satu-satunýa.perencana, pāra administrátor memperoleh" pengalamán teňtang apá yang mungkin daň merasa puas dápat meinbúát rericána yáng baik di dalá'm" sistem yang'-'siąp'untuk béŕub'ah. Karenā,lebih sulit bagi para' spesialis yang baru' untuk 'memperoleh wawašan yáng -diperoleh dari pengalaman praktis sepėrti'itu, måka besar kemungkinab? nya xencánanya tidak diterima/ '... t : r Alasen, lain, yang; juģa..dapat meņerā.ņgkan.ketèrbatasán. ruaņģ jingkup perencanaan pendidikan adajałi. erátnyá ' hubungąn, antara perencanaan.pendidikan denğan perkembangan ekonomi. Perkembángàn..ekonomi merupakah tujuan.jerih payah.uşaha.-pemerintah selama, seper empat, abad terakhir ini, tampaknyä sąngat tergąnturig pada perencanaan yang tepat tentang teńaga-kęrįa ţerlatih'yang dihasilkan. Sebaliknya, ketepataņ perencanaan tenagą., kerja, taīnpaknyą tergantųng. pa.da^perencąnaąn. pendidikan.,yang pasti dan mengakibatkan munculnya kategori spesialis baru, yaitu 'para, pe- 2

14 rencana pendidikan. Makin tepat daa makin tinggi hárapan dari, suatu rencana, makin besar perubahan yang dituntuť dan semakin kompleks masalah yang dihadapi untuk mencapai perubahan tersebut. Perencanaan pendidikan yang begitu tinggi itu sendiri akan meningkatkan'risiko tidak terlaksananya rencana itu. Karena dorongan ke arah perencanaan, pendidikan yang jauh lebih modem telah dikembangkan, di dałam kąitanhya dengan perencanaan ekonomi, maka perencana pendidikan' dipaksakan membiasakan ' diri dengan teknik ekonomi dan metode statistik. Namun dengan keahlian yang sama, di antara para pendidik memperoleh status dan kekuasaan karena berpandangan sempit dan mengabaikan : masalah penting, mungkin karena tidak menguasai ketelitian matematis, mengakibatkan hai ketėlitiaii matematis itu sebagai hal yang sepele. Hanya apabila ada pengertiaa tehtang majemuknya masalah yang -dihadapi dan perhatian penuh ditujukan terhadap usaha penyelesaîannya, maka penerimaan atas perencanaan dapat ditingkatkan. Tidak adanya pengalaman, praktis dan ťerlalu memperhitung- kan teknik yang dipakai sebagai alasan buruknya perencanaan adalah bukti dari kegagalan dalam mengambil 1 varibel perencanaan yang penting. Variabel yang penting hanya dąpat diketahui apa- bila dalam membuat perencanaan yang baik'itu digunakah kriteria yang tepat dan másaik акаї. ' Rencana itu dapat memenuhi banyák tujtian dan mempunyai ciri yang berbeda sesuai dengan tujuannya. Tetàpi ciri lain apa pun yang ikut dipertimbangkan dalam menilai kepentingannya yang utama. adalah bahwa, rencana hendaknya dapat dilaksanakan dengan mudah. Dalam masalah ini pembaruan akan diarahkan untuk merumuskan syarat-syarat yang diperlukan agar rencana pendidikan dapat dikerjakan dengan mudah dan realistis., ; Rencana pendidikan Pada dasarnya, tugas,seoráng perencana pendidikan adalah selalu merencanakan yang berguna atas sumber pendidikan bangsa itu berdasarkan pertimbangan yang rasional dan ekonomis.,.. Dasar pókok seperti jumlah murid.berdasarkan tingkat kelas dan jenis kelamin, tingkat kemajuan. dan kepandaian, biaya,-tiap unit dan biaya keseluruhaņ, perkiraan tenaga kerja dán gedung ( 3

15 N serta peralatan yang dibutuhkan akan senantiasa penting seperti halnya data tentang struktur dan adat kebiasaan masyarakat. Namun demikian, sepenting apa pun hal tersebut di atas, belum cukup memadai. Rencana yang lengkap harus memperhitungkan pula sekelompok masalah lain sebagai fakta kehidupan dari administrator, yakni adanya pola golongan yang berpengaruh, struktur orgamsasi, skala gaji, peraturan perubahan atau sekelompok ciri majemuk yang lain yang dapat memaksa keengganan menolak suatu rencana. Hal ini tidak akan terjadi apabila rencana itu dapat mengubah ciri-ciri tersebut. Pembatasan perencanaan yang menekankan pada faktor-faktor teknis itu mudah terlihat. Penekanan pada tuljuan kuantitatif dan model-model perencanaan.dengan cara matematis yang makin rumit akan mengakibatkan perencanaan itu mengubah realitás dengan mengabaikan banyák variabel yang penting. Model matematis akan menghasilkan xencana yang statis, merumuskan tujuan akhir dengan beberapa jalan tengahnya, namun tidak menjelaskan apakah mungkin dapat dilaksanakan. Teknik perencanaan yang formal sangat berguna, tetapi hanya sepanjang teknik-teknik tersebut tidak didasarkan pada anggapan yang keliru bahwa masyarakat siap menerima disiplin apa pun atau mengalami reorganisasi bila sistem yang dhasilkan secara ekonomis lebih efisien. Rencana yang secara teknis sangat baik, tetapi tidak memperhatikan ciri sistem kemanusiaan, tidak akan berguna. Faktor sosial dari perencanaan pendidikan perlu diperhatikan. (2) Para perencana semakin berusaha untuk memperhitungkan keinginan nasional dah struktur masyarakat pada umumnya. Para politisi yang paling menentukan nasib rencana pendidikan, sangat sadar akan reaksi masyarakat dan sangat pandai menilai tekanantekanan serta keseimbangan-keseimbangan sosial jangka pendek. Perencanaan-perencanaan pendidikan sadar akan perlunya pengetahuan psikologi sosial dan sosiologi dalam proses perencanaan, meskipun tidak jęlas bagaimana konsep seperti kebebasan dan keadilan sosial.dapat direalisasikan melalui perencanaan. (2) С Arnold Anderson, Konteks Sosial Perencanaan Pendidikan, Paris, Unesco: Lembaga Internasional untuk Perencanaan Pendidikan, 1967 (Dasar-Dasar Perencanaan Pendidikan, 5). 4

16 v Namun demikian, keahlian dałam bidang aspek teknis dari perencanaan dan penghargaan terhadap faktor sosial itu penting tetapi tidak cukup. Rencana tefcap tidak dapat dilaksanakan, kecuali apabila faktor ketiga juga diperhatikan. Kelompok faktor tersebut disebut sebagai "masalah-masalah praktis", atau "einein organisasional" dan ada.pula yang menyebutoya sebagai "proses-proses". Istilahnya sendiri tidak penting, selama perbedaan antara faktor ketiga ini dengan aspek lain dari perencanaan itu jēlas (untuk tujuan diskusi). Kalau ingin mencapai struktur pendidikan yang ideal atau ingin mencapai tujuan kuantitatif seperti yang diharapkan, maka hal tersebut harus direncanakan dan dikoordinasikan. \ Para perencana harus memperhatikan segi hukum dan ciri peraturan dari sistem pendidikan, kerangka organisasinya dan hubungannya dengan pola pemerintahan yang lebih umum, pola keuangan dan administraşi, komunikasi dan jarįng-jaring perlengkapan yang integral dengan keberhasilan operaşi. Bila fàktor ini dan hubungannya tidak dimasukkan sebagai bagian dari keseluruhan proses perencanaan, maka rencana yang tidak akah dapat diterapkan. Adakah mudah untuk menunjukkan pengaruh faktor ini. Tidak ada perencanaan yang setelah mengerti hai di atas akan yakin bahwa rekomendasi. atas suatu perencanaan untuk memberikan kedudukan yang penuh tanggung jawab kepada pendidik yang sangat berbakat itu akan berhasil, kecuali apabila ia juga menunjukkan bagaimana cara mengatasi peraturan tentarig senioritas atau cara mengatasi masalah sikap mental pendidik yang tidak jaramg dán hanya kecil кещипдкіпагшуа untuk dapat maju. Dalam suatu negara yang sedang berkembang, perencana harus bersikap hati-hati kalau menyangkut pembaruan seperti penyiaran pendidikan melalui radio, sampai ia yakın benar bahwa ia dapat merencanakan cara yang, praktis agar para pendengar dapat mengambil manfaatnya. Ia harus selalu memperhitungkan alatnya, dalam hai ini alat sistem pendidikan karena sifat dan kemungkinannya untuk berubah akan menentukan tujuan yang hendak dicapai. Lebih-lebih lagi, rencana yang lengkap itu mencakup tujuan dan keseluruhan tata pengelolaan, perbekalan, kepegawaian dan perubahan-perubahan lain yang penting sehubungan dengan sasaran keseluruhannya. Rencana tidak hanya harus mengtıraikaıı. 5

17 akibat-akibat langsung, tetapi ljuga akibat-akibat tidak langsung dan bagaimana cara m'engatasinya. Sekecil- apa pun akibat ļtidak langsung itu harus tetap diperhitungkan.., Perencanaan proses dan struktur harus dapat dibedakáh dari administraşi proses ' dalam tahap penerapannya. Di dalam pengertian administraşi mungkin masih ada masalah, penyesuaian, dan pertimbangan kembali atas pengaruh dàn kekéliruan kecil yang menuntut seluruh keterampilan administrator. Merenćanakán sesuatu itu bukan sekedar merencanakan apa yang harus terjadi, tetapi mencakup juga hal-hal yang terjadi sehari-hari yang tidak dapat diramalkan terlebih dahulu, betapą ριιη terpeřincinya rencana itu.. ' - ' ' " Sulit mehgungkapkan hal yang luas dan majem.uk yang harus diperhitungkan dalam perencanaan yang realistis. Pada prakteknya, masalah yang tidak diduga senantiasa timbul dalám proses perencanaan. Perencana yang baik akanı selalu wasp'ada menghadapi masalah' seperti itu. Mereka ' meneliti segi-seginýa dan mencari cara penyelesaiani sebagaimana adanya. Sayangnya jarang ditemukan contoh yanig' berhasil séperti stuhi kasus di Papua dan Nugini yang akan dibahas dalam báb berikutnya. Tidak banyák, kepustakaan yang mengakui pentingnya perencana^ an masalah-masalah tersebut atau memberi contoh untuk carą perencanaan yang baru.. - Bab-bab berikutnya berusaha memperlihatkan betapą pentingnya dan majemuknya masalah' ini dalam perencanaan yang berhasil. Rencana a'khir itu pentirug, tetapi proses perencanaan juga penting. Rencana yang bermanfaat itu tidak sekedar 'memerinci tujuan; tetapi merupakan serangkaian tindakan yang sistematis dan berurutan, masing-masing saling berkaitan secara ma jmuk (termasuk demensi waktu dan tempāt). Ketidakmampuan menghubungkan aspek-aspek hukum, keuangan,-fisik, aspek manusia, dan aspek-aspek perencanaan,yang -lain adalah salah satu šebab.umum dari tėrjadinya perencanaan yang tidak realistik. Di bawah ini akan ditunjukkan pentingnýa péngawa'san terhada'p variabel yang banyák itu, pertama dengan contoh pelaksanaan perencanaan yang lengkap di Papua dan Nugini, kemudian- dalam bab-bab berikutnya dengan contoh-contoh lain yang ļebih khusus..

18 Bag ian Н STUDI KASUS PERENCANAAN YANG BERHASIL Sistem pendidikan di Papua dan Nugini adalah còntoh yang baik, mengenai perencanaan pendidikan yang benaivbenar sangat penting. Rasionalisasi, 'koordinasi, dan bahkan xelevansi serta tujuan, telah. dihambat selama bertahun-tahun oleh sulitnya ínedan dan masalah komunikasi serta adanya pihak-pihak lain selain pemerintah di bidang pendidikan yang saling curiga dan bersaing. Di dałam pemerintahan, ekspansi yang begitu cepat terjadi sehabis perang telah memaksakan sistem lama melampaui tingkat efisiensi yang wajar. Hai di atas dan rintangan yang scrupa terhadap ţ.usa-' ha pencapaian tuıjuan pembangunan nasional telah merangsang peninjauan kembali dari situasi ini. Untuk memungkin^ kan agar diperoleh kemajuan yang lebih besar dan menyeluruh, penting adanya peningkatan perencanaan pendidikan yang efektif. Masalahnya bukan banyaknya perbedäan paham tentang apa yang harus dikerjakan dalam bidang kuantitatif. Kurangnya tenaga manusia yaiig berpendidikan dan sempitñya kemampuan dasar me- reka, ditámbah dengan didirikannya lembaga pendidikan tinggi, memudahkan persesuaian béberapa sasaran. Juga tidak banyák dipertentangkan mengenai keseimbangan yang diharapkan atas persairigán di berbagai sektor pendidikan. Beberapa ahli pendidikan beranggapan'bahwa sebagian besar dari keseluruhaň sumber dana harus disediakaņ untuk pendidikan daripada untuk sektor-sektor ekonomi lain, namun ini'merupakan masalah lain yang harus segera diatasi yaitu masalah struktur dan organisasi sistem pendidikan. Sistem pendidikan Papua dan Nugini berkembang. sendiri- Ч. 7

19 sendìri karena perbedaani bahasa (terdapat lebih dari 300 macam bahasa), daerah yang terpencar-pencar, kesukaran komunikasi, perubahan-perubahan, pemerintahan selama perang antara , dan kurangnya tisaha Pemerintah (sebelum perang) di bidang pendidikan karena kesulitan ekonomi masa itu. Pemerintah kurang memperhatikan masalah pendidikan pada masa sebelum perang dan terutama mengandalkan usaha-usaha missi agama. Keadaan berubah sesudah perang. Pemerintah tidak puas atas usaha yang dilakukan oleh missi dan secara langsung menangani masalah pendidikan. Sementara itu muncul 'berbagai missi dan membuka "sekolah-sekolah" yang kadang-kadang merupakan lembaga pendidikan yang efektif, namun seringkali hánya merupakan pusat penyebar agama Kristen. Pemerintah dalām usahanya membuat perencanaan yang terperinci pada akhir 1960 berhadapan dengan lebih dari lima puluh kelompok missi yang saling curiga yang beroperasi di daerak-daerah tertutup, di negara yang berpenduduk lebih dari dua juta orang. - Dalam menangani bidang pendidikan, Pemerintah secara batinati mulai dengan menentukan upah penduduk 'berdasarkan mutu pendidikan dan penguasaan bahasa Inggris. Mula-mula, sekolah negeri didirikan hanya di tempat-tempat yang tidak mungkin diadakan sekolah gerėja. Karena sebagian besar gerėja beranggapan bahwa sèkolah sangat penting untuk tugas missi mereka, maka mereka merasa senang bahwa tanggung jawab masih dibebankan kepada missi. Sebaliknya, ada gerėja yang tidak menyukai campur tangán Pemerintah di dalam bidang pendidikan. Seperti sudah diduga, sekolah-sekolah gerėja semakin mengalami tekanan keuangan. Untuk membantu mengatasi tekanan ini, Pemerintah memberi subsidi. Pada mulanya subsidi diberikan berdasar.banyaknya anak didik yang lulus, kemudian untuk mengatasi.pengaruh buruk yang ditimbulkan oleh kebijaksanaan itu, Pemerintah memperbesar subsidi berdasar mutu dari pendidik. Masalahmasalah keuangan terus bertambah dan dengan berat hati Peme-" rintah memperbesar subsidi beberapa kah, tetapi ternyata semakin lama semakin sukar bagi sekolah-sekolah gerėja untuk mempertahankan kelangsungannya.. -. Kebutuhan akan' sekolah _negeri semakin bertambah. Sekolah negeri dapat menampung semua anak, apa pun latar belakang agamanya. Dengan pendidik yang lebih terdidik, sekolah 8

20 negeri lebih mudah mengintegraisikan perkembangan pendidikan dengan keseluruhan rencana nasional. Pada saat itu Pemerintah terpaksa harus menangguhkan gagasan-gagasan optimistik terdahulu tentang pendidikan universal tingkat dasar. Sebagai sasaran pertama, tujuan Pemerintah lebih sedeŕhana, yaitu 50% menamatkan sekolah dasar. Sasaran sekolah menengah dan sekolah-sekolah teknik berkaitan dengan perkembangan ekonomi. Meskipun hasil akhir sekolah menengah sangat sedikit, namun rencana perluasan harus disesuaikan dengan kebutuhan ekonomi jangka panjang. Bilamana sistem pendidikan tidak ditata kembali, tidak ada sasaran kuantitatif yang dapat dilaksanakan. Gerėja menginginkan gaji pendidik mereka sama besarnya dengan gaiji Pemerintah, mengharapkan bantuan Pemerintah untuk membangun gedung-gedung sekolah dan untuk mengadakan peralatannya. Secara sederhana dan secara ekstrim keinginan gerėja adalah sebagai berikut: mereka ingin tetap memperoleh kebebasan dan keleluasaan dalam menerima atau menolak anak didik, mendirikan sekolah di mana pun mereka inginkan, tetap mempertahankan staf yang tidak terdidik, шеш punyai beberapa sekolah 'kecil yang tidak ekonomis yang saling bersaing dalam satu desa; singkatnya mereka menginginkan kebebasan sepenuhnya dan tidak menghendaki campur tangán Pemerintah sedikit pun. Selain itu, 'beberapa di antara mereka beranggapan bahwa kritik yang dilontarkan terhadap kekurangan administratif atau keuangan dalam siruasi seperti ini merupakan usaha untuk membatasi kegiatan agama. v:. Meskipun perlu mempertahankan sumber-sumber yang langea, namun tidak ada rencana pendidikan yang dapat berhasil dilaksanakan apabila tidak memperhatikan kepentingan kelompok lain dan pertentangan-pertentangan di dalam masyarakat yang menyertai tiap tindakan tangán besi, sehingga mengurangi arti nilai sdjarah. Rencana tersebut akan menjadi tidak berarti sama sekali. Pemerintah memutuskan untuk menguasai intinya dan membuat rencana yang realistis. Tugas perencanaan dipercayakan kepada komite yang terdiri dari tiga orang (3), resminya dikenal sebagai Komite Penasihat Penìa) Terdiri đari W.J. Weeden, CE. Beeby, dau G. Gris. Weeden; Beeby termasyhur di arena iaternasional dan Oris adalab seorang dokter gigi Nugiiü. 9

21 didikań.. Tugas.'Komite adalah memberi. nasihat kepada Perne-, rintah melalui koordinasi kegiatan pendidikan dari berbagai pihaķ yańg berkecimpung dalam dunia pendidikan; ijumlah,, pembayaran_ dan syarat-syarat bantuan yang berašai dari dana.masyarakąt untuk gaji para pendidik; dan organisasi peląyanąn, pengajaran. Juga memberi nasihat tentang cara meningkatķan partisipasi masyarakąt setempat untuk merencanakan pendidikan ting-, kat dasar dan teatang pengaturan administratif yang penting untuk, melaksanakan usulan ini. Komite diminta untuk membuat usulaņ-; usulan yang memungkinkan dicapainya sasaran pendidikan dengan tenaga manysianya dalam program perkembangan ekonomi lima tahun.., Begitu Komite mulai bekerja, menjadi jelaslah perbedaan an-, tara konsepsi rencana pendidikan yang sempit dan korisepsi yang, luas termasuk pemahaman dan pemecahan tentang dinamika dari sistem itu. Setelah mengadakan peninjauan, kegiatan Komite yang pertama adalah mengunjungi lembaga pendidikan di distrikdistrik dan daerah-daeràh serta membahas sistem pendidikan dengan mereka yang terlibat di bidang tersębut. Hasil yang diperoleh dari tahap ini adalah hąl-hal pokok, yaitu tempāt dan besar kecilnya sekolah dari berbagai lembaga yang ada hubungannya: satu sama lain. Khusùsnya sikap dari macam-macam kelompok se-; makin jēlas. Tidak mengherankan kalau pandangan. dari pendidik, gerėja pribumi seringkali berbeda denģan pimpinan-pinpinan gerėja asing, hal mana mungkin tidak diduga oleh pimpinan missi. Sama halnya dengan pendidik sekolah negeri yang menaruh minat terhadap hal yang dirasakan selalu tidak sama dengan pandangan Departemen Pendidikan. dan mempunyai hak-hak yang ingin tetap dipertaharikan di dalam'setiap proses rasionalisasi. Para perencana kemudian щиіаі berhadapan dengan proses yang sulit dan panjańg, yaitu merum-uskan sèjumlah tujuan yang merupakan tambaban sasaran yang sudah banyák jumlahnya, naщип yang dianggap merupakan dasar bagi perkembangan sistem pendidikan oleh semua, kelompok. Dibuatsuatu dasar singkat yang diharapkan mengarah pada:,, / a) standar pendidikan lebih tinggi; -..,. b) pendidik,yang, benar-benar profesional; c) penggunaan sumber terbatas secara lebih efektif;,10

22 d)., suatu sistem yang segera dapat diterapkan dan mandiri; ; ; e) suatu sistem yang dapat menunjang rasa kesatuan nasional; í) kebebasan para orang tua untuk memilih jenis pendidikan bagi anak-anak mereka; dan g) perlindungan untuk mempertahankan identitás lembaga sekolah. Jelas bahwa perencanaan selanjutnya tidak dapat berjalan sebehim tujuan ini ditempa dan dibahas kembali secara terperinci dengan tiap-tiap kelompok selama beberapa bulan. Kurva belajar untuk tiap kelompok berbeda, tetapi yang selalu menjadi harapan utama adalah semua tuijxian tertentu mereka dapat dicapai dan terseran pada kelompok lain untuk menyetujuinya'serta menyesuaikan * diri. Lambat laun setiap kelompok mulai melihat kebutuhan dan kekhawatiran dari kelompok lain. Sebaliknya kalau ini dimengerti, maka akan menģakibatkan difikasi dari-tuntutan dan persesuaian. tujuan. Bertolak dari sekelompok tujuan ini memúngkinkan unluk maju lagi ke arab perencanaan bentuk sistem. Setiap kali akan dijumpai pertimbangan ekonomis. Setiap pembaruan ýang mungkin terjadi atau perubahan dicobakan terhadap kriteria tentang besarnya biaya dan pengaruhnyą serta berapa jauh pengaruhnya terhadap śasaran-sasaran secara kualitatif dan kuantitatif seperti yang dikehendaki oleh Pemerintah. Namun hal ini bukan satu-satunya pertimbangan. Setiap kali pola baru dibahas, senantiasa ada masaláh yang berkaitan yang harus dipecahkan. Beberapa orang melibatkan filsafat politik yang mendasar. Apakah Pemerintah benar-benar dapat ikut serta mengawasi sistem pendidikan bersama anggota masyarakat swasta yang tidak terpilih? Apakah desentralisasi benar-benar dapat dilaksanalkan bersama dengan kekuatan sentralisasi yang lain? Bentuk lembaga apa yang sanggup menengahi kutub-kutub yang direncanakan secara cermat dengan memakai sumber-sumber yang sangat langka melalui pilihan seţempat 'yang demokratis? Bagaimana pilihan yang demokratis ini dan apakah golongan agama dapat disesuaikan? Bagaimana pandangan golongan kecil dapat dipertahankan.kálau,sekolah-sekolah golongán agama dipaksakan? Bagaimana sekolah-sekolah desa itu dapat diatur petugasnya kalau pengângkatan pendidik berdasarkan. atas lamaran dan pilihan? Dapatkah pendidik yang melayani masyarakat itu dipindahkan ke bidang pelayanan yang baru untuk meng- Bencana Pendidikan yang Realistik.(3) 1.1

K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA

K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA 1 K 29 - Kerja Paksa atau Wajib Kerja 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan bagi laki-laki

Lebih terperinci

Penilaian Unjuk kerja Oleh Kusrini & Tatag Y.E. Siswono

Penilaian Unjuk kerja Oleh Kusrini & Tatag Y.E. Siswono washington College of education, UNESA, UM Malang dan LAPI-ITB. 1 Pebruari 8 Maret dan 8-30 April 2002 di Penilaian Unjuk kerja Oleh Kusrini & Tatag Y.E. Siswono Dalam pembelajaran matematika, sistem evaluasinya

Lebih terperinci

K88 LEMBAGA PELAYANAN PENEMPATAN KERJA

K88 LEMBAGA PELAYANAN PENEMPATAN KERJA K88 LEMBAGA PELAYANAN PENEMPATAN KERJA 1 K-88 Lembaga Pelayanan Penempatan Kerja 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan bagi

Lebih terperinci

RISIKO AUDIT DAN MATERIALITAS DALAM PELAKSANAAN AUDIT

RISIKO AUDIT DAN MATERIALITAS DALAM PELAKSANAAN AUDIT SA Seksi 312 RISIKO AUDIT DAN MATERIALITAS DALAM PELAKSANAAN AUDIT Sumber: PSA No. 25 PENDAHULUAN 01 Seksi ini memberikan panduan bagi auditor dalam mempertimbangkan risiko dan materialitas pada saat perencanaan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 56 TAHUN 1960 TENTANG PENETAPAN LUAS TANAH PERTANIAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 56 TAHUN 1960 TENTANG PENETAPAN LUAS TANAH PERTANIAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 56 TAHUN 1960 TENTANG PENETAPAN LUAS TANAH PERTANIAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa perlu ditetapkan luas maksimum dan minimum tanah

Lebih terperinci

MANAJEMEN KERJASAMA ANTAR PERPUSTAKAAN oleh : Arlinah I.R.

MANAJEMEN KERJASAMA ANTAR PERPUSTAKAAN oleh : Arlinah I.R. MANAJEMEN KERJASAMA ANTAR PERPUSTAKAAN oleh : Arlinah I.R. I. LATAR BELAKANG DAN LANDASAN PERLUNYA KERJASAMA Kerjasama bukan suatu hal yang baru di masyarakat, baik kerjasama di bidang ekonomi, pendidikan,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG DARURAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 1951 TENTANG PENIMBUNAN BARANG-BARANG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG DARURAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 1951 TENTANG PENIMBUNAN BARANG-BARANG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG DARURAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 1951 TENTANG PENIMBUNAN BARANG-BARANG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Pemerintah berhubung dengan keadaan dalam dan luar negeri

Lebih terperinci

KONVENSI MENGENAI KERJA PAKSA ATAU KERJA WAJIB

KONVENSI MENGENAI KERJA PAKSA ATAU KERJA WAJIB 1 KONVENSI MENGENAI KERJA PAKSA ATAU KERJA WAJIB Ditetapkan oleh Konferensi Umum Organisasi Buruh Internasional, di Jenewa, pada tanggal 28 Juni 1930 [1] Konferensi Umum Organisasi Buruh Internasional,

Lebih terperinci

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat Naskah Soal Ujian Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Petunjuk: Naskah soal terdiri atas 7 halaman. Anda tidak diperkenankan membuka buku / catatan dan membawa kalkulator (karena soal yang diberikan tidak

Lebih terperinci

PSIKOLOGI PELATIHAN FISIK

PSIKOLOGI PELATIHAN FISIK 1 PSIKOLOGI PELATIHAN FISIK Danu Hoedaya FPOK UPI Materi Penyajian Pelatihan Pelatih Fisik Sepak Bola Se-Jawa Barat FPOK-UPI, 14-17 Februari 2007 2 PENGANTAR Materi Psikologi Kepelatihan pada Pelatihan

Lebih terperinci

IKLIM ORGANISASI. Rangkaian Kolom Kluster I, 2012

IKLIM ORGANISASI. Rangkaian Kolom Kluster I, 2012 IKLIM ORGANISASI Sebuah mesin memiliki batas kapasitas yang tidak dapat dilampaui berapapun besaran jumlah energi yang diberikan pada alat itu. Mesin hanya dapat menghasilkan produk dalam batas yang telah

Lebih terperinci

RISIKO AUDIT DAN MATERIALITAS DALAM PELAKSANAAN AUDIT

RISIKO AUDIT DAN MATERIALITAS DALAM PELAKSANAAN AUDIT Risiko Audit dan Materialitas dalam Pelaksanaan Audit Standar Prof SA Seksi 3 1 2 RISIKO AUDIT DAN MATERIALITAS DALAM PELAKSANAAN AUDIT Sumber: PSA No. 25 PENDAHULUAN 01 Seksi ini memberikan panduan bagi

Lebih terperinci

KOPERASI DALAM OTONOM DAERAH

KOPERASI DALAM OTONOM DAERAH 5 KOPERASI DALAM OTONOM DAERAH 5.1. Substansi Otonom Daerah Secara subtantif otonomi daerah mengandung hal-hal desentralisasi dalam hal bidang politik, ekonomi dalam rangka kemandirian ekonomi daerah dan

Lebih terperinci

UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan

Lebih terperinci

UPAYA MENINGKATKAN MINAT BACA DI SEKOLAH

UPAYA MENINGKATKAN MINAT BACA DI SEKOLAH UPAYA MENINGKATKAN MINAT BACA DI SEKOLAH A. Ridwan Siregar Universitas Sumatera Utara I. PENDAHULUAN Minat baca adalah keinginan atau kecenderungan hati yang tinggi (gairah) untuk membaca. Minat baca dengan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. berarti mempunyai efek, pengaruh atau akibat, selain itu kata efektif juga dapat

II. TINJAUAN PUSTAKA. berarti mempunyai efek, pengaruh atau akibat, selain itu kata efektif juga dapat 9 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Efektivitas Pembelajaran Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia efektivitas berasal dari kata efektif yang berarti mempunyai efek, pengaruh atau akibat, selain itu

Lebih terperinci

K150 Konvensi mengenai Administrasi Ketenagakerjaan: Peranan, Fungsi dan Organisasi

K150 Konvensi mengenai Administrasi Ketenagakerjaan: Peranan, Fungsi dan Organisasi K150 Konvensi mengenai Administrasi Ketenagakerjaan: Peranan, Fungsi dan Organisasi 1 K 150 - Konvensi mengenai Administrasi Ketenagakerjaan: Peranan, Fungsi dan Organisasi 2 Pengantar Organisasi Perburuhan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa salah satu alat

Lebih terperinci

Disusun Oleh : LIA YULIANA, M.Pd LIA YULIANA FIP UNY 1

Disusun Oleh : LIA YULIANA, M.Pd LIA YULIANA FIP UNY 1 Manajemen Sarana Pendidikan Disusun Oleh : LIA YULIANA, M.Pd LIA YULIANA FIP UNY 1 PENGERTIAN MANAJEMEN SARANA PENDIDIKAN Manajemen Sarana (manajemen materiil) : segenap proses penataan yang bersangkutan

Lebih terperinci

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN DESKRIPSI DENGAN METODE KARYA WISATA

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN DESKRIPSI DENGAN METODE KARYA WISATA PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN DESKRIPSI DENGAN METODE KARYA WISATA Agustian SDN 02 Curup Timur Kabupaten Rejang Lebong Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan siswa dalam

Lebih terperinci

K144 KONSULTASI TRIPARTIT UNTUK MENINGKATKAN PELAKSANAAN STANDAR-STANDAR KETENAGAKERJAAN INTERNASIONAL

K144 KONSULTASI TRIPARTIT UNTUK MENINGKATKAN PELAKSANAAN STANDAR-STANDAR KETENAGAKERJAAN INTERNASIONAL K144 KONSULTASI TRIPARTIT UNTUK MENINGKATKAN PELAKSANAAN STANDAR-STANDAR KETENAGAKERJAAN INTERNASIONAL 1 K-144 Konsultasi Tripartit untuk Meningkatkan Pelaksanaan Standar-Standar Ketenagakerjaan Internasional

Lebih terperinci

pula motivasi kerja menunjukkan tingkat yang cukup tinggi. Ternyata kedemokratisannya mampu mempengaruhi motivasi kerja yang cukup

pula motivasi kerja menunjukkan tingkat yang cukup tinggi. Ternyata kedemokratisannya mampu mempengaruhi motivasi kerja yang cukup BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan 1. Pengaruh Gaya Kepemimpinan Demokratis terhadap Motivasi Kerja Gaya kepemimpinan yang meliputi dimensi Pengambilan Keputusan, Penegakan Disiplin,

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pola Asuh Orang Tua 2.1.1 Pengertian Pola Asuh Orang Tua Menurut Hurlock (1999) orang tua adalah orang dewasa yang membawa anak ke dewasa, terutama dalam masa perkembangan. Tugas

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN PERATURAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH TENTANG TATA TERTIB DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: a. bahwa kemerdekaan pers merupakan salah satu wujud kedaulatan

Lebih terperinci

BAB 1 Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang Bahasa adalah aspek penting interaksi manusia. Dengan bahasa, (baik itu

BAB 1 Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang Bahasa adalah aspek penting interaksi manusia. Dengan bahasa, (baik itu BAB 1 Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Bahasa adalah aspek penting interaksi manusia. Dengan bahasa, (baik itu bahasa lisan, tulisan maupun isyarat) orang akan melakukan suatu komunikasi dan kontrak sosial.

Lebih terperinci

NOMOR 8 TAHUN 1953 TENTANG PENGUASAAN TANAH-TANAH NEGARA

NOMOR 8 TAHUN 1953 TENTANG PENGUASAAN TANAH-TANAH NEGARA PERATURAN PEMERINTAH NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1953 TENTANG PENGUASAAN TANAH-TANAH NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Berkehendak mengatur kembali penguasaan

Lebih terperinci

KOVENAN INTERNASIONAL HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA. Ditetapkan oleh Resolusi Majelis Umum 2200 A (XXI)

KOVENAN INTERNASIONAL HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA. Ditetapkan oleh Resolusi Majelis Umum 2200 A (XXI) KOVENAN INTERNASIONAL HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA Ditetapkan oleh Resolusi Majelis Umum 2200 A (XXI) tertanggal 16 Desember 1966, dan terbuka untuk penandatangan, ratifikasi, dan aksesi MUKADIMAH

Lebih terperinci

KONSEP DASAR. Manusia padasarnya adalah unik memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional

KONSEP DASAR. Manusia padasarnya adalah unik memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional KONSEP DASAR Manusia padasarnya adalah unik memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional Ketika berpikir dan bertingkahlaku rasional manusia akan efektif, bahagia, dan kompeten. Ketika

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1990 TENTANG PENDIDIKAN DASAR PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1990 TENTANG PENDIDIKAN DASAR PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1990 TENTANG PENDIDIKAN DASAR PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa sebagai pelaksanaan ketentuan Pasal 13 Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2000 TENTANG PENYELENGGARAAN JASA KONSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2000 TENTANG PENYELENGGARAAN JASA KONSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2000 TENTANG PENYELENGGARAAN JASA KONSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa jasa konstruksi mempunyai peran strategis dalam pembangunan

Lebih terperinci

LeIP. Peraturan Lembaga Manajemen Kepegawaian. Peraturan LeIP Tentang Manajemen Kepegawaian. 1. Kategorisasi Pegawai

LeIP. Peraturan Lembaga Manajemen Kepegawaian. Peraturan LeIP Tentang Manajemen Kepegawaian. 1. Kategorisasi Pegawai Peraturan Tentang 1. Kategorisasi Pegawai 1.1. Pegawai dibagi dalam kategori sebagai berikut : a. Pegawai Tetap b. Pegawai Tidak Tetap 1.2. Pegawai Tetap adalah pegawai yang diangkat Lembaga untuk bekerja

Lebih terperinci

Menjadi Anggota Masyarakat Gereja

Menjadi Anggota Masyarakat Gereja Menjadi Anggota Masyarakat Gereja Chee Kim adalah seorang anak yatim piatu. Meskipun ia baru berusia enam tahun, ia hidup sebagai gelandangan di kota Hong Kong. Ia tidak mempunyai keluarga. Pada suatu

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG LEMBAGA KEPRESIDENAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG LEMBAGA KEPRESIDENAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG LEMBAGA KEPRESIDENAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a bahwa Presiden sebagai Penyelenggara Pemerintahan

Lebih terperinci

Oleh : Cahyono Susetyo

Oleh : Cahyono Susetyo PENGEMBANGAN MASYARAKAT BERBASIS KELOMPOK Oleh : Cahyono Susetyo 1. PENDAHULUAN Perencanaan partisipatif yang saat ini ramai didengungkan merupakan suatu konsep yang dianggap mampu menyelesaikan permasalahan-permasalahan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. bereaksi dan terjadi pada dua orang induvidu atau lebih. Sedangkan sosial adalah

BAB II KAJIAN PUSTAKA. bereaksi dan terjadi pada dua orang induvidu atau lebih. Sedangkan sosial adalah 8 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Interaksi Sosial Kata interaksi secara umum dapat diartikan saling berhubungan atau saling bereaksi dan terjadi pada dua orang induvidu atau lebih. Sedangkan sosial

Lebih terperinci

Kode Etik. .1 "Yang Harus Dilakukan"

Kode Etik. .1 Yang Harus Dilakukan Kode Etik Kode Etik Dokumen ini berisi "Kode Etik" yang harus dipatuhi oleh para Direktur, Auditor, Manajer, karyawan Pirelli Group, serta secara umum siapa saja yang bekerja di Italia dan di luar negeri

Lebih terperinci

Pengembangan Berpikir Kreatif melalui CTS (Catatan: Tulis dan Susun) Oleh: Salam, S.Pd, M.Pd.

Pengembangan Berpikir Kreatif melalui CTS (Catatan: Tulis dan Susun) Oleh: Salam, S.Pd, M.Pd. Pengembangan Berpikir Kreatif melalui CTS (Catatan: Tulis dan Susun) Oleh: Salam, S.Pd, M.Pd. A. Pengantar Sebenarnya apa yang saya kemukakan pada bagian ini, mungkin tidak akan berarti apa-apa kepada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Nuansa Aulia. 2010), hlm. 63. 1 Dadi Permadi, Daeng Arifin, The Smiling Teacher, (Bandung:

BAB I PENDAHULUAN. Nuansa Aulia. 2010), hlm. 63. 1 Dadi Permadi, Daeng Arifin, The Smiling Teacher, (Bandung: BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan unsure yang penting dan utama dalam konteks pembangunan bangsa dan negara. Dalam pendidikan, khususnya pendidikan formal di sekolah, pendidik merupakan

Lebih terperinci

KOMISI INFORMASI PUSAT REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR LAYANAN INFORMASI PUBLIK

KOMISI INFORMASI PUSAT REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR LAYANAN INFORMASI PUBLIK KOMISI INFORMASI PUSAT REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR LAYANAN INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KOMISI INFORMASI Menimbang : bahwa untuk

Lebih terperinci

Penjelasan atas UU Nomor 11 Tahun 1992 P E N J E L A S A N A T A S UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 1992 TENTANG DANA PENSIUN

Penjelasan atas UU Nomor 11 Tahun 1992 P E N J E L A S A N A T A S UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 1992 TENTANG DANA PENSIUN P E N J E L A S A N A T A S UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 1992 TENTANG DANA PENSIUN U M U M Dalam rangka pelaksanaan pembangunan nasional yang pada hakekatnya merupakan pembangunan manusia

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Model peraihan konsep disebut juga model perolehan konsep atau model

II. TINJAUAN PUSTAKA. Model peraihan konsep disebut juga model perolehan konsep atau model 9 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Model Peraihan Konsep Model peraihan konsep disebut juga model perolehan konsep atau model pencapaian konsep. Model peraihan konsep mula-mula didesain oleh Joice

Lebih terperinci

ANAK BATITA: USIA ± 15 BULAN 3 TAHUN

ANAK BATITA: USIA ± 15 BULAN 3 TAHUN ANAK BATITA: USIA ± 15 BULAN 3 TAHUN 1. Pesat tapi tidak merata. - Otot besar mendahului otot kecil. - Atur ruangan. - Koordinasi mata dengan tangan belum sempurna. - Belum dapat mengerjakan pekerjaan

Lebih terperinci

Undang-undang Nomor I Tahun 1970

Undang-undang Nomor I Tahun 1970 KESELAMATAN KERJA Undang-undang Nomor I Tahun 1970 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa setiap tenaga kerja berhak mendapat perlindungan atas keselamatannya dalam melakukan pekerjaan untuk

Lebih terperinci

ISLAM DI ANTARA DUA MODEL DEMOKRASI

ISLAM DI ANTARA DUA MODEL DEMOKRASI l ISLAM DI ANTARA DUA MODEL DEMOKRASI P r o j e c t i t a i g D k a a n Arskal Salim Kolom Edisi 002, Agustus 2011 1 Islam di Antara Dua Model Demokrasi Perubahan setting politik pasca Orde Baru tanpa

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1997 TENTANG KETENAGAKERJAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1997 TENTANG KETENAGAKERJAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1997 TENTANG KETENAGAKERJAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pembangunan nasional dilaksanakan dalam rangka

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. data yang ada dalam ini adalah upaya guru PAI dalam pengembangan. data untuk memberi gambaran penyajian laporan.

BAB III METODE PENELITIAN. data yang ada dalam ini adalah upaya guru PAI dalam pengembangan. data untuk memberi gambaran penyajian laporan. 52 BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian Sesuai dengan judul yang peneliti angkat, maka penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, fenomenologis dan berbentuk diskriptif.

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pembangunan perekonomian nasional bertujuan

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1999 TENTANG LARANGAN PRAKTEK MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1999 TENTANG LARANGAN PRAKTEK MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1999 TENTANG LARANGAN PRAKTEK MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

Pasal KEPEMIMPINAN YANG MELAYANI. Bahan Pembinaan Kader Pemimpin. Workbook: Bagaimana Pemimpin Mengambil Keputusan

Pasal KEPEMIMPINAN YANG MELAYANI. Bahan Pembinaan Kader Pemimpin. Workbook: Bagaimana Pemimpin Mengambil Keputusan Pasal 9 KEPEMIMPINAN YANG MELAYANI Bahan Pembinaan Kader Pemimpin Workbook: Bagaimana Pemimpin Mengambil Keputusan CHRISTIAN LEADERSHIP NETWORK 2 Pasal 9 Penting dan Mendesak Dasar Dalam hidup pelayanan

Lebih terperinci

Perlu Tekad Baja Untuk Jaminan Sosial

Perlu Tekad Baja Untuk Jaminan Sosial Perlu Tekad Baja Untuk Jaminan Sosial Hasbullah Thabrany 1 Belum lama ini terjadi kerusuhan akibat terlalu Amendemen keempat besarnya minat menjadi pegawai negeri di Departemen UUD 45 telah Keuangan. Dari

Lebih terperinci

tempat. Teori Atribusi

tempat. Teori Atribusi 4 C. PERSEPSI DAN KEPRIBADIAN Persepsi adalah suatu proses di mana individu mengorganisasikan dan menginterpretasikan kesan sensori mereka untuk memberi arti pada lingkungan mereka. Riset tentang persepsi

Lebih terperinci

K122 Konvensi mengenai Kebijakan di Bidang Penyediaan Lapangan Kerja

K122 Konvensi mengenai Kebijakan di Bidang Penyediaan Lapangan Kerja K122 Konvensi mengenai Kebijakan di Bidang Penyediaan Lapangan Kerja 1 K 122 - Konvensi mengenai Kebijakan di Bidang Penyediaan Lapangan Kerja 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1999 TENTANG LARANGAN PRAKTEK MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1999 TENTANG LARANGAN PRAKTEK MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1999 TENTANG LARANGAN PRAKTEK MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2005 TENTANG DEWAN RISET NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2005 TENTANG DEWAN RISET NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2005 TENTANG DEWAN RISET NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pembangunan ilmu pengetahuan dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berbagai masalah, misalnya tentang hal hal yang berkaitan dengan tugas perkembangan remaja

BAB I PENDAHULUAN. berbagai masalah, misalnya tentang hal hal yang berkaitan dengan tugas perkembangan remaja BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setiap orang pasti punya masalah. Masalah merupakan satu hal yang selalu mengiringi kehidupan setiap manusia, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Kehidupan

Lebih terperinci

Merancang Strategi Komunikasi Memenangkan Pemilih Dan Kelompok - edit

Merancang Strategi Komunikasi Memenangkan Pemilih Dan Kelompok - edit esaunggul.ac.id http://www.esaunggul.ac.id/article/merancang-strategi-komunikasi-memenangkan-pemilih-dan-kelompok/ Merancang Strategi Komunikasi Memenangkan Pemilih Dan Kelompok - edit Dr. Erman Anom,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk mewujudkan

Lebih terperinci

MANAJEMEN DALAM OPERASI

MANAJEMEN DALAM OPERASI MANAJEMEN DALAM OPERASI JENIS-JENIS PEKERJAAN YANG DIPERLUKAN Dalam hal ini perlu mengidentifikasikan jenis-jenis pekejaan yang diperlukan pada usaha tersebut. Tentu saja ada bermacam-macam jenis pekerjaan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Koperasi, baik sebagai gerakan ekonomi rakyat

Lebih terperinci

KE ARAH PEMIKIRAN FILSAFAT

KE ARAH PEMIKIRAN FILSAFAT KE ARAH PEMIKIRAN FILSAFAT Prof. Dr. Almasdi Syahza,, SE., MP Peneliti Senior Universitas Riau Email : asyahza@yahoo.co.id syahza.almasdi@gmail.com Website : http://almasdi.staff.unri.ac.id Pengertian

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Koperasi, baik sebagai gerakan ekonomi rakyat maupun sebagai badan

Lebih terperinci

Uji Penilaian Profesional Macquarie. Leaflet Latihan. Verbal, Numerikal, Pemahaman Abstrak, Kepribadian.

Uji Penilaian Profesional Macquarie. Leaflet Latihan. Verbal, Numerikal, Pemahaman Abstrak, Kepribadian. Uji Penilaian Profesional Macquarie Leaflet Latihan Verbal, Numerikal, Pemahaman Abstrak, Kepribadian. Mengapa Uji Penilaian psikometrik digunakan Dewasa ini semakin banyak perusahaan yang menyertakan

Lebih terperinci

Sistem manajemen mutu Persyaratan

Sistem manajemen mutu Persyaratan SNI ISO 9001-2008 Standar Nasional Indonesia Sistem manajemen mutu Persyaratan ICS 03.120.10 Badan Standardisasi Nasional SNI ISO 9001-2008 Daftar isi Daftar isi... i Prakata... iv Pendahuluan... vi 0.1

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG KEDUDUKAN PROTOKOLER DAN KEUANGAN PIMPINAN DAN ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

2.4. Hubungan Kejelasan Peran dan Efektifitas Pelaksanaan Tugas. Seseorang hanya mungkin dapat melaksanakan pekerjaannya secara efektif, jika

2.4. Hubungan Kejelasan Peran dan Efektifitas Pelaksanaan Tugas. Seseorang hanya mungkin dapat melaksanakan pekerjaannya secara efektif, jika 62 2.4. Hubungan Kejelasan Peran dan Efektifitas Pelaksanaan Tugas. Seseorang hanya mungkin dapat melaksanakan pekerjaannya secara efektif, jika mereka telah mengetahui secara pasti tentang perannya di

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk mewujudkan

Lebih terperinci

BAGIAN II DESKRIPSI KOMPONEN PROPOSAL SKRIPSI ATAU TUGAS AKHIR

BAGIAN II DESKRIPSI KOMPONEN PROPOSAL SKRIPSI ATAU TUGAS AKHIR BAGIAN II DESKRIPSI KOMPONEN PROPOSAL SKRIPSI ATAU TUGAS AKHIR Proposal penelitian untuk menyusun skripsi atau tugas akhir terdiri atas komponen yang sama. Perbedaan di antara keduanya terletak pada kadar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupan manusia sehari-hari. Beberapa diantaranya sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupan manusia sehari-hari. Beberapa diantaranya sebagai berikut: 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Matematika adalah bagian yang sangat dekat dengan kehidupan seharihari. Berbagai bentuk simbol digunakan manusia sebagai alat bantu dalam perhitungan, penilaian,

Lebih terperinci

Penelitian di Bidang Manajemen

Penelitian di Bidang Manajemen Penelitian di Bidang Manajemen Frans Mardi Hartanto Fmhartanto@gmail.com Bandung Manajemen - Ilmu Hibrida yang Multidisipliner 1 Ilmu manajemen adalah hasil perpaduan dari berbagai ilmu yang berbeda namun

Lebih terperinci

KERANGKA KEBIJAKAN SEKTOR AIR MINUM PERKOTAAN RINGKASAN EKSEKUTIF

KERANGKA KEBIJAKAN SEKTOR AIR MINUM PERKOTAAN RINGKASAN EKSEKUTIF KERANGKA KEBIJAKAN SEKTOR AIR MINUM PERKOTAAN a. Pada akhir Repelita V tahun 1994, 36% dari penduduk perkotaan Indonesia yang berjumlah 67 juta, jiwa atau 24 juta jiwa, telah mendapatkan sambungan air

Lebih terperinci

Bab 2. Landasan Teori. kondisi langsung belajar dalam menjelaskan tingkah laku. Menurut teori ini, semua

Bab 2. Landasan Teori. kondisi langsung belajar dalam menjelaskan tingkah laku. Menurut teori ini, semua Bab 2 Landasan Teori 2.1 Teori Behavioristik Teori ini menekankan proses belajar serta peranan lingkungan yang merupakan kondisi langsung belajar dalam menjelaskan tingkah laku. Menurut teori ini, semua

Lebih terperinci

dimengerti oleh penerima, dan secara nyata dapat dilaksanakan, sehingga tercipta interaksi dua arah.

dimengerti oleh penerima, dan secara nyata dapat dilaksanakan, sehingga tercipta interaksi dua arah. Sekalipun Anda memiliki produk unggulan, konsep layanan prima dan gagasan-gagasan kreatif, tetapi tidak Anda komunikasikan kepada orang lain, tidak ada gunanya. Sehebat apa pun ilmu dan jurus-jurus bisnis

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG NOMOR 3 TAHUN 1997 TENTANG PENGADILAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG NOMOR 3 TAHUN 1997 TENTANG PENGADILAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA www.legalitas.org UNDANG-UNDANG NOMOR 3 TAHUN 1997 TENTANG PENGADILAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa anak adalah bagian dari generasi muda sebagai

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Setiap karya ilmiah yang dibuat disesuaikan dengan metodologi penelitian. Dan

BAB III METODE PENELITIAN. Setiap karya ilmiah yang dibuat disesuaikan dengan metodologi penelitian. Dan BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian Setiap karya ilmiah yang dibuat disesuaikan dengan metodologi penelitian. Dan seorang peneliti harus memahami metodologi penelitian yang merupakan

Lebih terperinci

Please purchase PDFcamp Printer on http://www.verypdf.com/ to remove this watermark.

Please purchase PDFcamp Printer on http://www.verypdf.com/ to remove this watermark. Proses Berpikir Siswa dalam Pengajuan Soal Tatag Yuli Eko Siswono Universitas Negeri Surabaya Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses berpikir siswa dalam mengajukan soal-soal pokok

Lebih terperinci

Sistem Rekrutmen Anggota Legislatif dan Pemilihan di Indonesia 1

Sistem Rekrutmen Anggota Legislatif dan Pemilihan di Indonesia 1 S T U D I K A S U S Sistem Rekrutmen Anggota Legislatif dan Pemilihan di Indonesia 1 F R A N C I S I A S S E S E D A TIDAK ADA RINTANGAN HUKUM FORMAL YANG MENGHALANGI PEREMPUAN untuk ambil bagian dalam

Lebih terperinci

Keterampilan Penting bagi Konselor

Keterampilan Penting bagi Konselor e-konsel edisi 370 (10-3-2015) Keterampilan Penting bagi Konselor e-konsel Milis Publikasi Elektronik Pelayanan Konseling Kristen e-konsel -- Keterampilan Penting bagi Konselor Edisi 370/Maret 2015 Salam

Lebih terperinci

Tinjauan Konstitusional Penataan Lembaga Non-Struktural di Indonesia 1

Tinjauan Konstitusional Penataan Lembaga Non-Struktural di Indonesia 1 Tinjauan Konstitusional Penataan Lembaga Non-Struktural di Indonesia 1 Hamdan Zoelva 2 Pendahuluan Negara adalah organisasi, yaitu suatu perikatan fungsifungsi, yang secara singkat oleh Logeman, disebutkan

Lebih terperinci

K100 UPAH YANG SETARA BAGI PEKERJA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN UNTUK PEKERJAAN YANG SAMA NILAINYA

K100 UPAH YANG SETARA BAGI PEKERJA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN UNTUK PEKERJAAN YANG SAMA NILAINYA K100 UPAH YANG SETARA BAGI PEKERJA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN UNTUK PEKERJAAN YANG SAMA NILAINYA 1 K 100 - Upah yang Setara bagi Pekerja Laki-laki dan Perempuan untuk Pekerjaan yang Sama Nilainya 2 Pengantar

Lebih terperinci

Peran khusus para animator

Peran khusus para animator Peran khusus para animator Peran seorang animator jarang diberi nama resmi dalam kelompok. Tetapi dalam kelompok yang paling sukses biasanya paling tidak ada satu orang animator. Mereka ini adalah orang

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR KUALIFIKASI AKADEMIK DAN KOMPETENSI KONSELOR

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR KUALIFIKASI AKADEMIK DAN KOMPETENSI KONSELOR SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR KUALIFIKASI AKADEMIK DAN KOMPETENSI KONSELOR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL,

Lebih terperinci

2. Pelaksanaan Unit Kompetensi ini berpedoman pada Kode Etik Humas/Public Relations Indonesia yang berlaku.

2. Pelaksanaan Unit Kompetensi ini berpedoman pada Kode Etik Humas/Public Relations Indonesia yang berlaku. KODE UNIT : KOM.PR01.005.01 JUDUL UNIT : Menyampaikan Presentasi Lisan Dalam Bahasa Inggris DESKRIPSI UNIT : Unit ini berhubungan dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dibutuhkan profesi humas

Lebih terperinci

Membanguan Keterpaduan Program Legislasi Nasional dan Daerah. Oleh : Ketua Asosiasi DPRD Provinsi Seluruh Indonesia

Membanguan Keterpaduan Program Legislasi Nasional dan Daerah. Oleh : Ketua Asosiasi DPRD Provinsi Seluruh Indonesia Membanguan Keterpaduan Program Legislasi Nasional dan Daerah Oleh : Ketua Asosiasi DPRD Provinsi Seluruh Indonesia Pendahuluan Program Legislasi Nasional sebagai landasan operasional pembangunan hukum

Lebih terperinci

Topik 4 Menyusun Laporan Penelitian Tindakan Kelas dalam bentuk Makalah dan Artikel Jurnal

Topik 4 Menyusun Laporan Penelitian Tindakan Kelas dalam bentuk Makalah dan Artikel Jurnal Topik 4 Menyusun Laporan Penelitian Tindakan Kelas dalam bentuk Makalah dan Artikel Jurnal DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DIREKTORAT JENDERAL PENINGKATAN MUTU PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN DIREKTORAT

Lebih terperinci

3. Perilaku dirancang untuk memperoleh dan mempertahankan kekuasaan, kemungkinan melalui cara-cara yang bersifat memecah belah dan PENGERTIAN POLITIK

3. Perilaku dirancang untuk memperoleh dan mempertahankan kekuasaan, kemungkinan melalui cara-cara yang bersifat memecah belah dan PENGERTIAN POLITIK 9 PENGERTIAN POLITIK Studi yang mempunyai hubungan dekat dengan kekuasaan dalam 3. Perilaku dirancang untuk memperoleh dan mempertahankan kekuasaan, kemungkinan melalui cara-cara yang bersifat memecah

Lebih terperinci

Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia

Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia Mukadimah Menimbang bahwa pengakuan atas martabat alamiah dan hak-hak yang sama dan mutlak dari semua anggota keluarga manusia adalah dasar kemerdekaan, keadilan

Lebih terperinci

Latihan: UJI KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH 2012

Latihan: UJI KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH 2012 Latihan: UJI KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH 2012 I. Pilihlah jawaban yang benar dengan memberi tanda silang (X) huruf A, B, C, atau D pada lembar jawaban! 1. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1977 TENTANG PERWAKAFAN TANAH MILIK (LNRI. No. 38, 1977; TLNRI No. 3107)

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1977 TENTANG PERWAKAFAN TANAH MILIK (LNRI. No. 38, 1977; TLNRI No. 3107) PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1977 TENTANG PERWAKAFAN TANAH MILIK (LNRI. No. 38, 1977; TLNRI No. 3107) PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa wakaf adalah suatu lembaga

Lebih terperinci

Masa Kanak-Kanak Akhir. Siti Rohmah Nurhayati

Masa Kanak-Kanak Akhir. Siti Rohmah Nurhayati Masa Kanak-Kanak Akhir Siti Rohmah Nurhayati MASA KANAK-KANAK AKHIR Masa kanak-kanak akhir sering disebut sebagai masa usia sekolah atau masa sekolah dasar. Masa ini dialami anak pada usia 6 tahun sampai

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG STANDAR LAYANAN INFORMASI PERTAHANAN DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PERTAHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTAHANAN

Lebih terperinci

Oleh: HARRY SULASTIANTO

Oleh: HARRY SULASTIANTO Oleh: HARRY SULASTIANTO PENGERTIAN KARYA TULIS ILMIAH Karya seorang ilmuwan (yang berupa hasil pengembangan) yang ingin mengembangkan ipteks yang diperolehnya melalui studi kepustakaan, pengalaman, penelitian,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memasuki abad ke 21, semakin jelas bahwa banyak pekerjaan-pekerjaan yang berbobot

BAB I PENDAHULUAN. memasuki abad ke 21, semakin jelas bahwa banyak pekerjaan-pekerjaan yang berbobot BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Matematika ada di mana-mana dalam masyarakat dan matematika itu sangat penting. Sejak memasuki abad ke 21, semakin jelas bahwa banyak pekerjaan-pekerjaan yang

Lebih terperinci

PARADIGMA BARU PENDIDIKAN NASIONAL DALAM UNDANG UNDANG SISDIKNAS NOMOR 20 TAHUN 2003

PARADIGMA BARU PENDIDIKAN NASIONAL DALAM UNDANG UNDANG SISDIKNAS NOMOR 20 TAHUN 2003 PARADIGMA BARU PENDIDIKAN NASIONAL DALAM UNDANG UNDANG SISDIKNAS NOMOR 20 TAHUN 2003 Dalam upaya meningkatkan mutu sumber daya manusia, mengejar ketertinggalan di segala aspek kehidupan dan menyesuaikan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. dibahas arti dari proses yaitu : Proses adalah suatu cara, metode maupun

BAB II LANDASAN TEORI. dibahas arti dari proses yaitu : Proses adalah suatu cara, metode maupun BAB II LANDASAN TEORI A. Pengertian Proses Produksi Dewasa ini banyak dijumpai perusahaan yang memproduksi barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan masyarakat. Untuk memproduksi barang dan

Lebih terperinci

LAMPIRAN 6. PERJANJIAN KERJASAMA UNTUK MELAKSANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA (Versi Ringkas)

LAMPIRAN 6. PERJANJIAN KERJASAMA UNTUK MELAKSANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA (Versi Ringkas) LAMPIRAN 6 PERJANJIAN KERJASAMA UNTUK MELAKSANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA (Versi Ringkas) Pihak Pertama Nama: Perwakilan yang Berwenang: Rincian Kontak: Pihak Kedua Nama:

Lebih terperinci

Prosedur dan Kebijakan Hukum Persaingan Usaha

Prosedur dan Kebijakan Hukum Persaingan Usaha Prosedur dan Kebijakan Hukum Persaingan Usaha Tujuan dan Aplikasi Pedoman Perilaku Bisnis menyatakan, CEVA berkomitmen untuk usaha bebas dan persaingan yang sehat. Sebagai perusahaan rantai pasokan global,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1999

UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1999 UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1999 TENTANG LARANGAN PRAKTEK MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1999

Lebih terperinci

Total Quality Purchasing

Total Quality Purchasing Total Quality Purchasing Diadaptasi dari Total quality management, a How-to Program For The High- Performance Business, Alexander Hamilton Institute Dalam Manajemen Mutu Total, pembelian memainkan peran

Lebih terperinci