RENCANA INDUK JARINGAN JALAN KOTA MALANG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "RENCANA INDUK JARINGAN JALAN KOTA MALANG"

Transkripsi

1 EENNYYUUS SUUNNAA NN RREENNCCAANNAA II INNDDUUKK JJAARRI J IINNGGAA NN JJAALLAANN J KKOOTTAA MMAALLAANNGG TTAAHHUUNN RENCANA INDUK JARINGAN JALAN KOTA MALANG A. PENDAHULUAN A.1. LATAR BELAKANG Transportasi adalah sesuatu kegiatan untuk memindahkan orang atau barang dari suatu tempat ke tempat lain dan fasilitas yang digunakan untuk memindahkannya. Perpindahan/pergerakan manusia merupakan hal yang penting dipikirkan khususnya di daerah perkotaan, sedangkan angkutan barang sangat penting untuk menunjang kehidupan perekonomian. Transportasi mempunyai karakteristik dan atribut yang menunjukan arti dan fungsi spesifiknya. Fungsi utama adalah untuk menghubungkan manusia dengan tata guna lahan. Terkait dengan adanya kebutuhan transportasi pada suatu kota maupun wilayah, maka perlu adanya perencanaan transportasi yang baik agar tercapai efisiensi dan optimalisasi dari kondisi yang ada. Dalam hal ini harus diperhatikan adanya hubungan timbal balik yang erat antara transportasi dan tata guna lahan. Aksesibilitas yang tinggi pada suatu kawasan akan menyebabkan nilai ekonomis lahan di kawasan tersebut menjadi meningkat dan menjadi pemacu dibangunnya fasilitas baru di kawasan tersebut. Perkembangan fisik pada kawasan tersebut akan terus berlanjut dan harus disertai dengan ketersediaan transportasi. Pada kenyataannya. terutama di kota-kota besar di Indonesia pembinaan dan pengelolaan jalan tersebut belum berjalan sebagaimana mestinya. Hal ini ditandai dengan adanya kemacetan lalu lintas akibat pertumbuhan lalu lintas yang pesat dan terbaurnya peranan arteri, kolektor dan lokal pada ruas-ruas jalan yang ada sehingga mempercepat penurunan kondisi dan pelayanan perjalanan. Hal ini menunjukan belum adanya kesesuaian persepsi dalam penentuan peranan dan fungsi serta administrasinya jalan di wilayah perkotaan, yang berakibat pada inefisiensi penggunaan dan pembinaan jalan dalam hal ini adalah jalan perkotaan. Dengan melihat adanya hubungan timbal balik yang erat antara transportasi dan tata guna lahan tersebut, maka selain perlunya perencanaan transportasi secara matang juga dibutuhkan perencanaan tata guna lahan di sekitar jalan sebagai prasarana transportasi terutama jalan-jalan yang mempunyai aksesibilitas EKSECUTIVE SUMMERY A - 1

2 EENNYYUUS SUUNNAA NN RREENNCCAANNAA II INNDDUUKK JJAARRI J IINNGGAA NN JJAALLAANN J KKOOTTAA MMAALLAANNGG TTAAHHUUNN tinggi untuk mengantisipasi pesatnya perkembangan yang tidak terkendali. Untuk itulah perlu adanya kegiatan Rencana Induk Jaringan Kota Malang Rencana Induk Jaringan adalah rencana secara terperinci tentang jaringan jalan yang dilengkapi dengan penetapan fungsi jalan, status jalan, Garis Sempadan Bangunan dan Garis Sempadan Saluran. Perencanaan Jaringan Kota Malang perlu diarahkan pada pengembangan yang berkelanjutan dengan berpedoman pada kaidah Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Malang dan Rencana rincinya. A.. Tujuan Penyusunan rencana Induk Jaringan Kota Malang 1. Menetapkan status dan fungsi jalan Kota Malang;. Menetapkan Garis Sempadan Bangunan dan Garis Sempadan Saluran untuk seluruh ruas jalan Kota Malang; 3. Menentukan rencana pembangunan jalan;dan 4. Menentukan prioritas program tahunan pembangunan jalan yang dijabarkan setiap 5 tahun selama 0 tahun. B. TINJAUAN KEBIJAKAN DAN GAMBARAN UMUM B.1. TINJAUAN KEBIJAKAN A. Undang Undang Republik Indonesia No 38 Tahun 004 Tentang Dalam Undang Undang Republik Indonesia No 38 Tahun 004 Tentang diatur tentang peran,pengelompokan dan bagian bagian jala. 1. Peran, Pengelompokan dan Bagian-bagian a. sebagai bagian prasarana transportasi mempunyai peran penting dalam bidang ekonomi, social budaya, lingkungan hidup, politik, pertahanan dan keamanan, serta di gunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat b. sebagai prasarana distribusi barang dan jasa merupakan urat nadi kehidupan masyarakat, bangsa dan Negara c. yang merupakan satu kesatuan system jaringan jalan menghubungkan dan mengikat seluruh wilayah Republik Indonesia. Pengelompokan a. sesuai dengan peruntukannya terdiri atas jalan umum dan jalan khusus b. umum dikelompokkan menurut system, fungsi, status dan kelas c. khusus bukan diperuntukkan bagi lalu lintas umum dalam rangka distribusi barang dan jasa yang dibutuhkan 3. Bagian-bagian jalan EKSECUTIVE SUMMERY A -

3 EENNYYUUS SUUNNAA NN RREENNCCAANNAA II INNDDUUKK JJAARRI J IINNGGAA NN JJAALLAANN J KKOOTTAA MMAALLAANNGG TTAAHHUUNN a. meliputi ruang manfaat jalan, ruang milik jalan, dan ruang pengawasan jalan b. Ruang manfaat jalan meliputi badan jalan, saluran tepi jalan dan ambang pengamannya c. Ruang milik jalan meliputi ruang manfaat jalan dan selajur tanah tertentu di luar manfaat jalan d. Ruang pengawasan jalan merupakan ruang tertentu dluar ruang milik jalan yang ada di pengawasan penyelenggara jalan B. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 006 Tentang Fungsi Arteri Sekunder, Kolektor Sekunder, Lokal Sekunder dan Lingkungan Sekunder 1. arteri sekunder menghubungkan kawasan primer dengan kawasan sekunder kesatu, kawasan sekunder kesatu dengan kawasan sekunder kesatu, atau kawasan sekunder kesatu dengan kawasan sekunder kedua.. kolektor sekunder menghubungkan kawasan sekunder kedua dengan kawasan sekunder kedua atau kawasan sekunder kedua dengan kawasan sekunder ketiga. 3. lokal sekunder menghubungkan kawasan sekunder kesatu dengan perumahan, kawasan sekunder kedua dengan perumahan, kawasan sekunder ketiga dan seterusnya sampai ke perumahan. 4. lingkungan sekunder menghubungkan antarpersil dalam kawasan perkotaan. C. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor Tahun 01 Tentang Pedoman Penyusunan Rencana Umum Jaringan Rencana Umum Jangka Panjang Jaringan : 1. RUJPJJ disusun setiap 0 (dua puluh) tahun sekali.. RUJPJJ disusun berdasarkan: a. Rencana Tata Ruang Wilayah; b. Sistem Transportasi Nasional; dan c. Rencana Pembangunan Jangka Panjang. 3. Penyusunan RUJPJJ dilakukan melalui tahapan sebagai berikut: a. penyiapan rancangan awal; b. konsultasi publik; c. musyawarah rencana pembangunan jangka panjang; dan d. penyusunan rancangan akhir. 4. Penyiapan rancangan awal meliputi kegiatan: EKSECUTIVE SUMMERY A - 3

4 EENNYYUUS SUUNNAA NN RREENNCCAANNAA II INNDDUUKK JJAARRI J IINNGGAA NN JJAALLAANN J KKOOTTAA MMAALLAANNGG TTAAHHUUNN a. penyusunan visi dan misi; b. pengkajian kondisi demografi; c. penelaahan kondisi sumber daya, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan; dan d. pengkajian kondisi eksisting jaringan jalan dan kebutuhan jangka panjang b. prasa rana jalan. 5. Konsultasi publik dapat dilakukan dengan mengikutsertakan pemangku kepentingan dalam bentuk: a. seminar; b. diskusi; atau c. lokakarya. 6. Pemangku kepentingan meliputi: a. Kementerian Pekerjaan Umum/ dinas teknis terkait bidang jalan; b. Kementerian Perhubungan/ dinas teknis terkait bidang lalu lintas angkutan jalan; c. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional/ Daerah; d. badan usaha di bidang transportasi; e. asosiasi profesi di bidang jalan; f. akademisi/ pakar; dan g. lembaga swadaya masyarakat. 7. Musyawarah rencana pembangunan jangka panjang dilakukan dengan mengikutsertakan pemangku kepentingan di lingkungan pemerintahan dalam rangka mendapatkan masukan dan kesepakatan mengenai rancangan awal RUJPJJ. 8. Pemangku kepentingan meliputi: a. Kementerian Pekerjaan Umum/ dinas teknis terkait bidang jalan; b. Kementerian Perhubungan/ dinas teknis terkait bidang lalu lintas b. angkutan jalan; c. Kementerian Keuangan/ Biro Keuangan/ Dinas Keuangan; dan d. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional/ Daerah. 9. Penyusunan rancangan akhir RUJPJJ dilakukan berdasarkan rancangan awal, hasil konsultasi publik, dan hasil musyawarah pembangunan jangka panjang. 10. Rancangan akhir RUJPJJ sekurangkurangnya berisi: a. pendahuluan; b. visi, misi dan tujuan Kementerian/Lembaga; c. arah kebijakan dan strategi; b. asumsi yang digunakan dalam penyusunan RUJPJJ; dan c. indikasi program utama 5 (lima) tahunan. EKSECUTIVE SUMMERY A - 4

5 EENNYYUUS SUUNNAA NN RREENNCCAANNAA II INNDDUUKK JJAARRI J IINNGGAA NN JJAALLAANN J KKOOTTAA MMAALLAANNGG TTAAHHUUNN D. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 3 Tahun 01 Tentang Penetapan Fungsi Dan Status Penetapan Fungsi 1. Sistem jaringan jalan merupakan satu kesatuan jaringan jalan yang terdiri atas sistem jaringan jalan primer dan sistem jaringan jalan sekunder yang terjalin dalam hubungan hierarki.. Pusat kegiatan dalam sistem jaringan jalan primer meliputi PKN, PKW, PKL, PK-Ling, PKSN, Kawasan Strategis Nasional, Kawasan Strategis Provinsi, dan Kawasan Strategis Kabupaten. 3. Kawasan perkotaan dalam sistem jaringan jalan sekunder Kawasan Primer, Kawasan Sekunder-I, 4. Kawasan Sekunder-II, Kawasan Sekunder-III, perumahan, dan persil. Fungsi Fungsi Primer a. Fungsi jalan dalam sistem jaringan jalan primer meliputi JAP, JKP, JLP, dan JLing-P. b. JAP ( Arteri Primer) menghubungkan secara berdaya guna: a. antarpkn; b. antara PKN dan PKW; c. antara PKN dan/atau PKW dan pelabuhan utama/pengumpul; dan d. antara PKN dan/atau PKW dan bandar udara utama/pengumpul. c. JKP meliputi: o JKP-1 adalah JKP yang menghubungkan secara berdaya guna antar ibukota provinsi; o JKP- adalah JKP yang menghubungkan secara berdaya guna antara ibukota provinsi dan ibukota kabupaten/kota; o JKP-3 adalah JKP yang menghubungkan secara berdaya guna antar ibukota kabupaten/ kota; dan o JKP-4 adalah JKP yang menghubungkan secara berdaya guna antara ibukota kabupaten/kota dan ibukota kecamatan. d. JLP menghubungkan secara berdaya guna simpul: o antara PKN dan PK-Ling; o antara PKW dan PK-Ling; o antarpkl; dan o antara PKL dan PK-Ling. EKSECUTIVE SUMMERY A - 5

6 EENNYYUUS SUUNNAA NN RREENNCCAANNAA II INNDDUUKK JJAARRI J IINNGGAA NN JJAALLAANN J KKOOTTAA MMAALLAANNGG TTAAHHUUNN e. JLing-P menghubungkan antarpusat kegiatan di dalam kawasan perdesaan dan jalan di dalam lingkungan kawasan perdesaan. Fungsi Sekunder a. Fungsi jalan dalam sistem jaringan jalan sekunder meliputi JAS, JKS, JLS, dan JLing-S. b. JAS ( Arteri Sekunder) menghubungkan secara berdaya guna: o antara Kawasan Primer dan Kawasan Sekunder-I; o antarkawasan Sekunder- I ; dan o antara Kawasan Sekunder- I dan Kawasan Sekunder- II. c. JKS ( Kolektor Sekunder) menghubungkan secara berdaya guna: o antarkawasan Sekunder-II; dan o antara Kawasan Sekunder-II dan Kawasan Sekunder-III. d. JLS ( Lokal Sekunder) menghubungkan secara berdaya guna: o antara Kawasan Sekunder-I dan perumahan; o antara Kawasan Sekunder-II dan perumahan; dan o antara Kawasan Sekunder-III dan seterusnya sampai ke perumahan. e. JLing-S ( Lingkungan) menghubungkan antarpersil dalam kawasan perkotaan. B.. GAMBARAN UMUM A. Batas Administratif Penyusunan Rencana Induk Jaringan Kota Malang Kota Malang merupakan kota terbesar kedua di Jawa Timur setelah Surabaya, secara geografis terletak pada posisi ,7 Bujur Timur dan , Lintang Selatan mencakup luasan wilayah sebesar Km. Kota Malang berada di tengah-tengah wilayah administrasi Kabupaten Malang dengan wilayah batas administrasi sebagai berikut: Sebelah Utara: berbatasan dengan Kecamatan Singosari dan Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang; Sebelah Selatan: berbatasan dengan Kecamatan Tajinan dan Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang; Sebelah Barat: berbatasan dengan Kecamatan Wagir Kabupaten Malang dan Kecamatan Dau Kabupaten Malang; Sebelah Timur: berbatasan dengan Kecamatan Pakis dan Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang. EKSECUTIVE SUMMERY A - 6

7 EENNYYUUS SUUNNAA NN RREENNCCAANNAA II INNDDUUKK JJAARRI J IINNGGAA NN JJAALLAANN J KKOOTTAA MMAALLAANNGG TTAAHHUUNN EKSECUTIVE SUMMERY A - 7

8 EENNYYUUS SUUNNAA NN RREENNCCAANNAA II INNDDUUKK JJAARR J IINNGGAA I NN JJAALLAANN J KKOOTTAA MMAALLAANNGG TTAAHHUUNN Gambar 1 Batas Administratif Kota Malang EKSECUTIVE SUMMERY A - 8

9 KKOOTTAA MMAALLAANNGG TTAAHHUUNN B. Karakteristik Jaringan Kota Malang B.1. Fungsi Ditinjau dari fungsi jalan yang terdapat di Kota Malang dapat dibagi menjadi : jalan Arteri Primer, Arteri Sekunder, Kolektor Primer, Kolektor Sekunder, Lokal Primer, Lokal Sekunder. Dari segi pola jalan yang ada, maka pola transportasi jalan kota Malang adalah pola konsentris radial dengan sistem lingkar dalam /inner ring road jaringan jalan lokal yang membentuk pola grid. Total panjang jalan berdasarkan fungsi tersebut adalah 663,34 km. Rincian panjang jaringan jalan di Kota Malang berdasarkan fungsi jalan dijabarkan pada table sebagai berikut. Tabel 1 Panjang Kota Malang Berdasarkan Fungsi No Fungsi Panjang (km) 1 Arteri Primer 11,8 Arteri Sekunder 15,94 3 Kolektor Primer 8,16 4 Kolektor Sekunder 7,09 5 Lokal Primer 9,66 6 Lokal Sekunder 590,67 Total 663,34 Sumber : Studi Greater Malang Urban Road Network Study dan RTRW Kota Malang Jaringan Arteri Primer Jaringan jalan ini merupakan penghubung Kota Malang dan Kota Surabaya. ini memiliki ciri-ciri penggunaan intensitas tinggi, untuk lalu lintas angkutan berat, jumlah simpangannya minimal. Jaringan Arteri Sekunder Jaringan jalan ini merupakan jalan penghubung antara pusat kota Malang dengan Bagian Wilayah Kota. ini memiliki ciri-ciri penggunaan intensitas tinggi digunakan untuk tumpuan utama lalu lintas dalam kota dengan jumlah simpangan yang minimum. Jaringan jalan arteri sekunder ini membujur dari Utara ke Selatan dan dari Timur ke Barat, terdiri dari Achmad Yani, Jl. Letjen Suparman, Jl. Letjen. Sutoyo, Jagung Suprapto, Basuki Rachmad, Merdeka Timur - Barat, Jl. Arief Margono, Jl. S. Supriyadi, Panjaitan, Brigjen Slamet Riadi, Jl. Kawi, Jl. Besar. Jaringan Kolektor Primer Kolektor memiliki ciri-ciri penggunaan intensitas tinggi tapi tidak setinggi jalan arteri primer, untuk lalu lintas angkutan menengah dengan jumlah simpangan terbatas. EKSECUTIVE SUMMARY 9

10 KKOOTTAA MMAALLAANNGG TTAAHHUUNN Jaringan jalan kolektor primer terdiri dari Jl. May. Jen. Haryono, Jl. Sukarno Hatta, Jl. Borobudur, dari Terminal Gadang melalui Bululawang menuju ke Lumajang dan dari Terminal Gadang melalui Jl. Satsuit Tubun menuju kota Blitar. Kolektor Sekunder Jaringan jalan ini merupakan jalan penghubung antara pusat bagian wilayah kota yang ada dengan pusat lingkungan atau pusat pelayanan yang memiliki skala pelayanan Bagian Wilayah Kota, jalan ini memiliki ciri-ciri penggunaan intensitas yang cukup tinggi, tetapi tidak setinggi arteri sekunder, digunakan untuk lalu lintas angkutan menengah, dengan jumlah simpangan yang terbatas. Membujur ke Selatan melalui Sutami, Galunggung, Raya Langsep. Dari Barat ke Timur adalah Jl. Bandulan, Jl. Ikhwan Ridwan Rais, Jl. Brigjen. Katamso, Jl. Ade Irma Suryani Nasution, Pasar Besar, Jl. Zainal Zakse dan Muharto, Jl. Laks. Adi Sucipto. Pada bagian Tengah membujur Jl. Yogyakarta Bandung Tengah Timur jalan Urip Sumoharjo, Jl. May. Jen. Wiyono, Jl. Ranu Grati - Raya Dieng, Timur Selatan Jl. Mayjen. Sungkono, Tengah Barat Jl. Kawi Jl. Raya Dieng. Jaringan Lokal Primer Jaringan jalan ini merupakan jalan penghubung antara kota Malang dengan kota-kota kecamatan yang mengelilingi kota Malang. ini memiliki ciri-ciri penggunaan intensitas sedang rendah, untuk lalu lintas angkutan menengah dengan jumlah simpangan lebih bebas. Yang termasuk dalam jaringan lokal primer ini antara lain adalah jalan yang menghubungkan kota Malang dengan Tumpang, Wagir dan Tajinan. Jaringan Lokal Sekunder Jaringan jalan ini merupakan jalan penghubung antara pusat lingkungan dengan pemukiman disekitarnya dan merupakan jalan utama diwilayahnya. ini memiliki ciri-ciri penggunaan intensitas yang sedang - rendah, digunakan untuk lalu lintas angkutan rendah, dengan jumlah simpangan lebih bebas. Yang termasuk jalan lokal sekunder adalah jaringan jalan diluar point 1 s/d 5 di atas. EKSECUTIVE SUMMARY 10

11 KKOOTTAA MMAALLAANNGG TTAAHHUUNN Gambar Karakteristik Jaringan Arteri Primer Gambar 3 Karakteristik Jaringan Arteri Sekunder EKSECUTIVE SUMMARY 11

12 KKOOTTAA MMAALLAANNGG TTAAHHUUNN Gambar 4. Karakteristik Jaringan Kolektor Primer Gambar 5 Karakteristik Jaringan Kolektor Sekunder EKSECUTIVE SUMMARY 1

13 KKOOTTAA MMAALLAANNGG TTAAHHUUNN C. RENCANA INDUK JARINGAN JALAN KOTA MALANG Rencana jaringan jalan Kota Malang meliputi Rencana fungsi jalan, status jalan, Garis Sempadan Bangunan () dan Garis sempadan Saluran () serta Rencana pembangunan jalan baru di Kota Malang. Perkembangan sistem transportasi mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan suatu wilayah. Pola jaringan jalanpun, pada daerah-daerah baru, biasanya terbentuk mengikuti bagaimana wilayah tersebut berkembang. Pada umumnya, pola jaringan jalan linier berada pada jalan utama karena di sekitar jalan utama tersebut, guna lahan yang ada biasanya berupa guna lahan komersial. C.1. RENCANA FUNGSI JALAN DALAM SISTIM JARINGAN JALAN SEKUNDER (1) Fungsi jalan dalam sistem jaringan jalan sekunder meliputi JAS, JKS, JLS, dan JLing-S. () JAS menghubungkan secaraberdaya guna: a. antara Kawasan Primer dan Kawasan Sekunder-I; b. antarkawasan Sekunder- I ; dan c. antara Kawasan Sekunder- I dan Kawasan Sekunder- II. (3) JKS menghubungkan secara berdaya guna. a. antarkawasan Sekunder-II; dan b. antara Kawasan Sekunder-II dan Kawasan Sekunder-III. (4) JLS menghubungkan secara berdaya guna. a. antara Kawasan Sekunder-I dan perumahan; b. antara Kawasan Sekunder-II dan perumahan; dan c. antara Kawasan Sekunder-III dan seterusnya sampai ke perumahan. EKSECUTIVE SUMMARY 13

14 KKOOTTAA MMAALLAANNGG TTAAHHUUNN Sumber: Hasil Rencana 01 Gambar 6 Rencana Sistim Jaringan Sekunder Berdasarkan Struktur Ruang Kota Malang Gambar 7 Konsep Fungsi Jaringan Sekunder Berdasarkan Struktur Ruang Kota Malang EKSECUTIVE SUMMARY 14

15 KKOOTTAA MMAALLAANNGG TTAAHHUUNN Gambar 8 Rencana Fungsi Kota Malang C.. RENCANA PENETAPAN FUNGSI JALAN KOTA MALANG A. Rencana ArteriSekunder (JAS) Jaringan JAS yang melewati wilayah Kota Malang terdiri dari : a. Jaringan Arteri Sekunder-I menghubungkan antara Kawasan Primer dan Kawasan Sekunder-I; b. Jaringan Arteri Sekunder-II menghubungkan antar Kawasan Sekunder-I; dan c. Jaringan Arteri Sekuder-III menghubungkan antara Kawasan Sekunder-I dan Kawasan Sekunder-II.Untuk lebih jelasnya lihat pada Peta 4.1. dan Tabel 4.1. B. Rencana Kolektor Sekunder (JKS) Jaringan JKS yang melewati wilayah Kota Malang terdiri dari : a. Jaringan Kolektor Sekunder-I menghubungkan antar Kawasan Sekunder-II; b. Jaringan Kolektor Sekunder-II menghubungkan antara Kawasan Sekunder-II dengan Kawasan Sekunder-III. EKSECUTIVE SUMMARY 15

16 KKOOTTAA MMAALLAANNGG TTAAHHUUNN C. Jaringan Lokal Sekunder (JLS) Jaringan JLS terdiri dari : a. Jaringan jalan yang menghubungkan antara Kawasan Sekunder-I dan perumahan; b. Jaringan jalan yang menghubungkan antara Kawasan Sekunder-II dan perumahan; dan c. Jaringan jalan yang menghubungkan antara Kawasan Sekunder-III dan seterusnya sampai ke perumahan. Untuk lebih jelasnya lihat pada Peta 4.3. dan Tabel 4.3. C.3. RENCANA PENETAPAN STATUS JALAN KOTA MALANG DALAM SISTIM PENETAPAN STATUS JALAN NASIONAL DAN JALAN PROVINSI Status jalan dikelompokkan atas: a. Nasional; b. Provinsi; dan c. Kota. (1) Nasional terdiri dari ruas jalan : jalan Ahmad Yani, jalan Raden Intan, jalan Raden Panji Suroso, jalan Sunandar Priyo Sudarmo, jalan Temenggung Suryo, jalan Panglima Sudirman, jalan Gatot Subroto, jalan Laksamana Martadinata, jalan Kolonel Sugiono, jalan Satsuit Tubun, jalan S. Supriyadi. () Provinsi meliputi ruas jalan : jalan Raya Tlogomas, jalan MT.Haryono, jalan Soekarno Hatta, jalan Borobudur, jalan Ahmad Yani. Gambar 9 Rencana status jalan kota malang EKSECUTIVE SUMMARY 16

17 KKOOTTAA MMAALLAANNGG TTAAHHUUNN C.4. RENCANA GARIS SEMPADAN BANGUNAN () DAN GARIS SEMPADAN SALURAN () DI KOTA MALANG ditetapkan berdasarkan peruntukan lokasi, Ruang Milik, Ruang Manfaat, dan fungsi jalan. diukur dari as jalan atau dari batas Ruang Milik terhadap dinding terluar bangunan. ditetapkan berdasarkan perhitungan ½ (setengah) dari lebar Ruang Manfaat. Untuk ruas jalan setapak, besaran nya ditetapkan sekurang-kurangnya 1, meter (satu koma dua meter). ditetapkan dari sisi atas tepi saluran ke arah dinding bangunan terluar dan atau dari sisi tepi atas saluran kearah pagar bangunan. Apabila kapasitas debit Lebih besar dari 4 m 3 /detik maka 3 meter, apabila kapasitas debit 1-4 m 3 /detik maka meter, dan apabila kapasitas debit lebih kecil dari 1 m 3 / detik maka 0,5 meter. C.5. RENCANA PENETAPAN GARIS SEMPADAN BANGUNAN () DAN GARIS SEMPADAN SALURAN () Garis sempadan bangunan gedung meliputi garis sempadan bangunan gedung terhadap as jalan, tepi sungai, jalan kereta api dan/atau jaringan saluran utama tegangan ekstra tinggi yang ditetapkan berdasarkan pada pertimbangan keselamatan dan kesehatan. Garis sempadan pondasi bangunan terluar yang sejajar dengan as jalan (rencana jalan), tepi sungai, ditentukan berdasarkan lebar jalan/rencana jalan/lebar sungai, fungsi jalan dan peruntukan kapling atau kawasan. Rencana Ketentuan Minimal Garis Sempadan Bangunan dan Garis Sempadan Saluran terhadap as jalan 1. Bangunan di tepi jalan arteri 0 (dua puluh) meter;. Bangunan di tepi jalan kolektor primer 15 (lima belas) meter dan kolektor sekunder 7 (tujuh) meter; 3. Bangunan di tepi jalan antar lingkungan (lokal) primer 10 (sepuluh) meter dan lokal sekunder 6 (enam) meter; 4. Bangunan di tepi jalan lingkungan 5 (lima) 6 (enam) meter; 5. Bangunan di tepi jalan gang 4 (empat) meter; dan 6. Bangunan di tepi jalan tanpa perkerasan 4 (empat) meter. 7. Letak garis sempadan pondasi bangunan terluar pada bagian belakang yang berbatasan dengan tetangga bilamana tidak ditentukan lain ditentukan minimal (dua) meter dari batas kapling atau atas dasar kesepakatan dengan tetangga yang saling berbatasan. EKSECUTIVE SUMMARY 17

18 KKOOTTAA MMAALLAANNGG TTAAHHUUNN Untuk lebar jalan atau sungai yang kurang dari 5 (lima) meter, letak garis sempadan bangunan ditentukan,5 (dua koma lima) meter dihitung dari tepi jalan atau pagar. Rencana Jarak antara bangunan gedung terhadap batas-batas persil 1. Bangunan di tepi jalan arteri primer 11 (sebelas) meter dan arteri sekunder 1 (dua belas) meter;. Bangunan di tepi jalan kolektor primer 7 (tujuh) meter dan kolektor sekunder 3 (tiga) meter; 3. Bangunan di tepi jalan antar lingkungan (lokal) primer 6 (enam) meter dan lokal sekunder 3 (tiga) meter; 4. Bangunan di tepi jalan lingkungan 3 (tiga) meter; 5. Bangunan di tepi jalan gang 1 (satu) (dua) meter; dan 6. Bangunan di tepi jalan tanpa perkerasan 1 (satu) (dua) meter. Rencana Jarak antar bangunan gedung 1. Bangunan gedung rendah (maksimal 4 (empat) lantai) ditetapkan sekurangkurangnya 7 (tujuh) meter;. Bangunan gedung sedang (antara 5 (lima) 8 (delapan) lantai) ditetapkan sekurang-kurangnya antara 9 (sembilan) meter -11 (sebelas) meter; dan 3. Bangunan gedung tinggi (lebih dari 8 (delapan) lantai) menggunakan rumus : (ketinggian bangunan/) 1 (satu) meter. Jarak antar bangunan dalam suatu kavling a) Dalam hal kedua-duanya memiliki bidang bukaan yang saling berhadapan, maka jarak antara dinding atau bidang tersebut minimal (dua) kali jarak bebas yang ditetapkan; b) Dalam hal salah satu dinding yang berhadapan merupakan dinding tembok tertutup dan yang lain merupakan bidang terbuka dan/atau berlubang, maka jarak antara dinding tersebut minimal 1 (satu) kali jarak bebas yang ditetapkan; c) Dalam hal kedua-duanya memiliki bidang tertutup yang saling berhadapan, maka jarak dinding terluar minimal ½ (setengah) kali jarak bebas yang ditetapkan. Jarak antara as jalan dengan pagar halaman a) bangunan di tepi jalan arteri primer 9 (sembilan) meter dan arteri sekunder 8 (delapan) meter; b) bangunan di tepi jalan kolektor primer 8 (delapan) meter dan kolektor sekunder 6 (enam) meter; EKSECUTIVE SUMMARY 18

19 KKOOTTAA MMAALLAANNGG TTAAHHUUNN c) bangunan di tepi jalan antar lingkungan (lokal) primer 6 (enam) meter dan lokal sekunder 5 (lima) meter; d) bangunan di tepi jalan lingkungan 5 (lima) meter; e) bangunan di tepi jalan gang 3 (tiga) meter; f) bangunan di tepi jalan tanpa perkerasan (dua) 3 (tiga) meter. Tabel Rencana Fungsi Arteri Sekunder, Status, dan di Kota Malang Nama Fungsi Minima l (Terhit (Terhit ung ung dari Minimal Dari Status Pagar Dindin Kiri Dari g Saluran Ke ke Pagar) Bangu Kanan nan ke ) As ) Jl. Tlogomas Arteri Sekunder I Kota ,5 Dalam Jl. MT. Haryono Arteri Sekunder I Kota ,5 Keterangan lingkup Jawa Timur Raya Tlogomas Jl, MT, Haryono fungsi jalannya sebagai jalan kolektor primer dengan status jalan provinsi Jl. Mayjen Panjaitan Arteri Sekunder I Kota ,5 - Jl. Brigjen Slamet Riyadi Arteri Sekunder I Kota 9 8 0,5 - Jl. Jend. A. Yani Arteri Sekunder I Kota ,5 Jl. Jend. S. Parman Arteri Sekunder I Kota 14,5 8 0,5 Jl. Letjen Sutoyo Arteri Sekunder I Kota ,5 Jl. JA. Suprapto Arteri Sekunder I Kota 5 8 0,5 Jl. Jend. Basuki Rahmad Arteri Sekunder I Kota 19,5 8 0,5 Jl. MGR. Sugiapranoto Arteri Sekunder I Kota ,5 Jl. Merdeka Utara Arteri Sekunder I Kota 17,5 8 0,5 Jl. Arif Rahman Hakim Arteri Sekunder I Kota ,5 Jl. Kawi Arteri Sekunder I Kota ,5 Jl. Kawi Atas Arteri Sekunder I Kota ,5 Jl. Terusan Kawi Arteri Sekunder I Kota ,5 Jl. Raya Dieng Arteri Sekunder I Kota 8 8 0,5 Jl. Danau Toba Arteri Sekunder I Kota ,5 Jl. Ranugrati Arteri Sekunder I Kota 9 8 0,5 A, Yani mempunyai fungsi utama yaitu sebagai jalan arteri primer dengan status jalan nasional EKSECUTIVE SUMMARY 19

20 KKOOTTAA MMAALLAANNGG TTAAHHUUNN Nama Fungsi Status (Terhit ung dari Pagar Kiri ke Kanan ) Minima l (Terhit ung Dari Dindin g Bangu nan ke As ) Minimal Dari Saluran Ke Pagar) Jl. Mayjen Moh. Wiyono Arteri Sekunder I Kota 10,5 8 0,5 Jl. Urip Sumoharjo Arteri Sekunder I Kota 1 8 0,5 Jl. Pattimura Arteri Sekunder I Kota ,5 Jl. Trunojoyo Arteri Sekunder I Kota 9,5 8 0,5 Jl. Kertanegara Arteri Sekunder I Kota ,5 Jl. Tugu Arteri Sekunder I Kota ,5 Jl. Mojopahit Arteri Sekunder I Kota 1 8 0,5 Jl Kolonel Sugiono Arteri Sekunder I Kota ,5 Jl. Laksamana Marthadinata Arteri Sekunder I Kota ,5 Jl. Pasar Besar Arteri Sekunder I Kota 14,5 8 0 Jl. SW. Pranoto Arteri Sekunder I Kota ,5 Jl. Ikan Piranha Arteri Sekunder II Kota Jl. Ikan Piranha Atas Arteri Sekunder II Kota Jl. Ikan Kakap Arteri Sekunder II Kota Jl. Ikan Gurame Arteri Sekunder II Kota Jl. Akordion Arteri Sekunder II Kota Jl Vinolia Arteri Sekunder II Kota Jl. MT Haryono gg 13 Arteri Sekunder II Kota Jl. Gajayana Arteri Sekunder II Kota Jl. Sumbersari Arteri Sekunder II Kota Jl. Bendungan Sutami Arteri Sekunder II Kota Jl. Galunggung Arteri Sekunder II Kota 9,5 8 0 Jl. Raya Langsep Arteri Sekunder II Kota Jl. IR Rais Arteri Sekunder II Kota 9 8 0,5 Jl. Arif Margono Arteri Sekunder II Kota ,5 Jl. Sasuit Tubun Arteri Sekunder II Kota 9,5 8 0,5 Jl. Gadang Bumiayu Arteri Sekunder II Kota ,5 Jl. Mayjen Sungkono Arteri Sekunder II Kota 9 8 0,5 Jl. Ki Ageng Gribig Arteri Sekunder II Kota ,5 Jl. Raya Sawojajar Arteri Sekunder II Kota 9 8 0,5 Jl. Terusan Sulfat Arteri Sekunder II Kota ,5 Jl. Sulfat Arteri Sekunder II Kota 9 8 0,5 Jl. Letjen Sunandar Priyo Sudarno Arteri Sekunder II Kota 10,5 8 1 Keterangan Sunandar Priyo Sudarno mempunyai fungsi utama yaitu arteri primer dengan EKSECUTIVE SUMMARY 0

21 KKOOTTAA MMAALLAANNGG TTAAHHUUNN Nama Fungsi Status (Terhit ung dari Pagar Kiri ke Kanan ) Minima l (Terhit ung Dari Dindin g Bangu nan ke As ) Minimal Dari Saluran Ke Pagar) Jl. Laksamana Adi Sucipto Arteri Sekunder II Kota 8 8 0,5 Jl. Sukarno Hatta Arteri Sekunder II Kota 3 8 0,5 Jl Sukarno Hatta Arteri Sekunder II Kota 10,5 8 0,5 Jl. Borobudur Arteri Sekunder II Kota 10,5 8 0,5 Jl. Borobudur Arteri Sekunder II Kota 1,5 8 0,5 Jl. Gatot Subroto Arteri Sekunder III Kota Keterangan status jalan nasional Jl. Panglima Sudirman Arteri Sekunder III Kota 8,5 8 0,5 Raden Intan Jl. Tumenggung Suryo Arteri Sekunder III Kota 9 8 0,5 mempunyai Jl. Raden Intan Arteri Sekunder III Kota fungsi utama Jl. Panji Suroso Arteri Sekunder III Kota 11,5 8 0,5 yaitu sebagai jalan arteri primer dengan status jalan nasional Jl. Laksamana Adi Sucipto Arteri Sekunder III Kota 9 8 0,5 Jl. Simpang LA. Sucipto Arteri Sekunder III Kota 7 8 0,5 Jl. Pisang Kipas Arteri Sekunder III Kota 7 8 0,5 Jl. Coklat Arteri Sekunder III Kota 9 8 0,5 Jl. Cengkeh Arteri Sekunder III Kota 9 8 0,5 Jl. Kalpataru Arteri Sekunder III Kota 9 8 0,5 Jl. Cengger Ayam Arteri Sekunder III Kota 9 8 0,5 Jl. Cengger Ayam I Arteri Sekunder III Kota 9 8 0,5 Jl. Kendalsari Terusan Arteri Sekunder III Kota 9 8 0,5 Jl. Sukarno Hatta Indah Arteri Sekunder III Kota ,5 Jl. Kalimosodo Arteri Sekunder III Kota 9 8 0,5 Jl. Puntodewo Arteri Sekunder III Kota 9 8 0,5 Jl. Parseh Jaya Arteri Sekunder III Kota 8 8 0,5 Jl. Candi Panggung Arteri Sekunder III Kota 7 8 0,5 Jl. Akordion Timur Arteri Sekunder III Kota 7 8 0,5 Sumber: Hasil Rencana 01 EKSECUTIVE SUMMARY 1

22 KKOOTTAA MMAALLAANNGG TTAAHHUUNN Tabel 3 Rencana Fungsi Kolektor Sekunder, Status, dan di Kota Malang Nama Fungsi Status Kiri ) Minimal Dari Dinding Bangunan ke As ) Minimal Bangunan Ke Pagar) Sudimoro Kolekto Sekunder I Kota 10,5 6 0,5 Ikan lumba-lumba Kolekto Sekunder I Kota 8,5 6 0,5 Ikan Tombro Kolekto Sekunder I Kota 8,5 6 0,5 Ikan Tombro Timur Kolekto Sekunder I Kota 7 6 0,5 Ikan Cakalang Kolekto Sekunder I Kota 7 6 0,5 Melati Kolekto Sekunder I Kota 10,5 6 0,5 Bungur Kolekto Sekunder I Kota ,5 Bungur (Tengah) Kolekto Sekunder I Kota ,5 Mawar Kolekto Sekunder I Kota ,5 Sarangan Kolekto Sekunder I Kota 9 6 0,5 Tawangmangu Kolekto Sekunder I Kota 10,5 6 0,5 Kaliurang Kolekto Sekunder I Kota 11,5 6 1 WR. Supratman Kolekto Sekunder I Kota Hamid Rusdi Kolekto Sekunder I Kota 9,5 6 1 Hamid Rusdi Timur Kota Kolekto Sekunder I 5,5 6 0,5 VII Sawojajar XIII Kolekto Sekunder I Kota 6,5 6 0,5 Madyopuro Kolekto Sekunder I Kota 7,5 6 0,5 Band. Halim Kota Kolekto Sekunder I ,5 Perdana Kusumah. Band. Palmerah Kolekto Sekunder I Kota 6 6 0,5 Mayjen Sungkono IV Kolekto Sekunder I Kota 6,5 6 0,5 Muharto Kolekto Sekunder I Kota 8 6 0,5 Zainal Jakse Kolekto Sekunder I Kota Trunojoyo Kolekto Sekunder I 1 6 0,5 sultan Agung Kolekto Sekunder I Kota ,5 Kahuripan Kolekto Sekunder I Kota 10,5 6 0,5 Semeru Kolekto Sekunder I Kota ,5 Besar ijen Kolekto Sekunder I Kota ,5 Ijen Kolekto Sekunder I Kota ,5 Bandung Kolekto Sekunder I Kota 9 6 0,5 Veteran Kolekto Sekunder I Kota 9 6 0,5 Jl. Soekarno Hatta Kolektor Sekunder I Kota 6 6 0,5 Jl. Soekarno Hatta Kolektor Sekunder I Kota ,5 Jl. Borobudur Kolektor Sekunder I Kota ,5 Jl Borobudur Kolektor Sekunder I Kota 6 0,5 Jl. Retawu Kolektor Sekunder II Kota 1,5 6 0,5 Jl. Bondowoso Kolektor Sekunder II Kota 1,5 6 0,5 Jl. Raya Tidar Kolektor Sekunder II Kota 1,5 6 0,5 Jl. Wilis Kolektor Sekunder II Kota 1,5 6 0,5 Jl. Ters. Surabaya Kolektor Sekunder II Kota 9 6 0,5 EKSECUTIVE SUMMARY

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR: 03/PRT/M/2012 TENTANG PEDOMAN PENETAPAN FUNGSI JALAN DAN STATUS JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR: 03/PRT/M/2012 TENTANG PEDOMAN PENETAPAN FUNGSI JALAN DAN STATUS JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR: 03/PRT/M/2012 TENTANG PEDOMAN PENETAPAN FUNGSI JALAN DAN STATUS JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN

Lebih terperinci

Bab I Pendahuluan. Laporan EXECUTIVE SUMMARY

Bab I Pendahuluan. Laporan EXECUTIVE SUMMARY Bab I Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Sektor informal, di sebagian besar kota menjadi hal yang dilematis bagi pemerintah daerah. Di satu sisi, sektor formal selama ini diakui sebagai pemberi kontribusi

Lebih terperinci

APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFI (SIG) UNTUK PEMODELAN JALUR BUS TRANS MALANG. Kata kunci: SIG, pemodelan, jalur bus, Trans Malang

APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFI (SIG) UNTUK PEMODELAN JALUR BUS TRANS MALANG. Kata kunci: SIG, pemodelan, jalur bus, Trans Malang APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFI (SIG) UNTUK PEMODELAN JALUR BUS TRANS MALANG Randhiki Gusti Perdana Jurusan Geografi, Program Studi Pendidikan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang

Lebih terperinci

REVIEW RENCANA RINCI TATA RUANG KOTA MALANG (BWP MALANG UTARA) TAHUN

REVIEW RENCANA RINCI TATA RUANG KOTA MALANG (BWP MALANG UTARA) TAHUN REVIEW RENCANA RINCI TATA RUANG KOTA MALANG (BWP MALANG UTARA) TAHUN 2013-2033 I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Kota Malang memiliki posisi yang cukup strategis di Propinsi Jawa Timur yaitu sebagai kota

Lebih terperinci

SATUAN ACARA PERKULIAHAN ( SAP ) Mata Kuliah : Rekayasa Lalulintas Kode : CES 5353 Semester : V Waktu : 1 x 2 x 50 menit Pertemuan : 14 (Empat belas)

SATUAN ACARA PERKULIAHAN ( SAP ) Mata Kuliah : Rekayasa Lalulintas Kode : CES 5353 Semester : V Waktu : 1 x 2 x 50 menit Pertemuan : 14 (Empat belas) SATUAN ACARA PERKULIAHAN ( SAP ) Mata Kuliah : Rekayasa Lalulintas Kode : CES 5353 Semester : V Waktu : 1 x 2 x 50 menit Pertemuan : 14 (Empat belas) A. Tujuan Instruksional 1. Umum Mahasiswa dapat memahami

Lebih terperinci

EKSEKUTIF RINGKASAN PENYUSUNAN RENCANA INDUK JALUR SEPEDA KOTA MALANG TAHUN Latar Belakang

EKSEKUTIF RINGKASAN PENYUSUNAN RENCANA INDUK JALUR SEPEDA KOTA MALANG TAHUN Latar Belakang EKSEKUTIF RINGKASAN 1.1 Latar Belakang Transportasi atau pengangkutan merupakan suatu bidang kegiatan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Hal lain yang juga tidak kalah pentingnya akan kebutuhan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2006 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2006 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2006 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 6, Pasal 7,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2006 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2006 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2006 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 6, Pasal 7,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2006 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2006 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2006 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 6, Pasal 7,

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA MALANG TAHUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA MALANG TAHUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN NOMOR 1/E, 2011 PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA MALANG TAHUN 2010-2030 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, Menimbang : a.

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUMAJANG NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LUMAJANG,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUMAJANG NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LUMAJANG, PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUMAJANG NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LUMAJANG, Menimbang : a. bahwa jalan sebagai prasarana transportasi merupakan

Lebih terperinci

BUPATI SUKOHARJO PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKOHARJO NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG GARIS SEMPADAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI SUKOHARJO PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKOHARJO NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG GARIS SEMPADAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUKOHARJO PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKOHARJO NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG GARIS SEMPADAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUKOHARJO, Menimbang : a. bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

Tingkat SMP/SMPLB/MTs

Tingkat SMP/SMPLB/MTs Tingkat SMP/SMPLB/MTs NO NPSN NAMA ALAMAT SMP ISLAM PARAMITHA LAKSDA ADI SUCIPTO N.B SMP N JL. R. TUMENGGUNG SURYO NO. SMP NEGERI JL.LAKSDA ADI SUCIPTO GANG MAKAM SMP BINA BANGSA SCHOOL JL.A YANI UTARA

Lebih terperinci

BUPATI BANYUWANGI SALINAN PERATURAN BUPATI BANYUWANGI NOMOR 31 TAHUN 2013

BUPATI BANYUWANGI SALINAN PERATURAN BUPATI BANYUWANGI NOMOR 31 TAHUN 2013 1 BUPATI BANYUWANGI SALINAN PERATURAN BUPATI BANYUWANGI NOMOR 31 TAHUN 2013 TENTANG PENGATURAN INTENSITAS PEMANFAATAN RUANG KORIDOR JALAN LETJEND S. PARMAN - JALAN BRAWIJAYA DAN KAWASAN SEKITAR TAMAN BLAMBANGAN

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR : 3 TAHUN 2009 TENTANG GARIS SEMPADAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA BARAT,

PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR : 3 TAHUN 2009 TENTANG GARIS SEMPADAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA BARAT, PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NO. 3 2009 SERI. E PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR : 3 TAHUN 2009 TENTANG GARIS SEMPADAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA BARAT, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUNINGAN NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG KETENTUAN GARIS SEMPADAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUNINGAN NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG KETENTUAN GARIS SEMPADAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUNINGAN NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG KETENTUAN GARIS SEMPADAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KUNINGAN, Menimbang : a. bahwa dengan semakin meningkatnya pembangunan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TAPIN NOMOR 19 TAHUN 2009 TENTANG GARIS SEMPADAN DI KABUPATEN TAPIN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, BUPATI TAPIN,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TAPIN NOMOR 19 TAHUN 2009 TENTANG GARIS SEMPADAN DI KABUPATEN TAPIN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, BUPATI TAPIN, PERATURAN DAERAH KABUPATEN TAPIN NOMOR 19 TAHUN 2009 TENTANG GARIS SEMPADAN DI KABUPATEN TAPIN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, BUPATI TAPIN, Menimbang : a. bahwa dalam rangka tertib pembangunan fisik

Lebih terperinci

ANALISIS KEBUTUHAN JALAN DI KAWASAN KOTA BARU TEGALLUAR KABUPATEN BANDUNG

ANALISIS KEBUTUHAN JALAN DI KAWASAN KOTA BARU TEGALLUAR KABUPATEN BANDUNG bidang TEKNIK ANALISIS KEBUTUHAN JALAN DI KAWASAN KOTA BARU TEGALLUAR KABUPATEN BANDUNG MOHAMAD DONIE AULIA, ST., MT Program Studi Teknik Sipil FTIK Universitas Komputer Indonesia Pembangunan pada suatu

Lebih terperinci

PENGUMUMAN PENYEDIA JASA KONSTRUKSI

PENGUMUMAN PENYEDIA JASA KONSTRUKSI Nomor : 621/21.11/PPBJ-PL.KONST/35.73.301/2013 621/21.9/PPBJ-PL.KONST/35.73.301/2013 Tanggal 21 Oktober 2013 Pejabat Pengadaan Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan 21. PEMBANGUNAN SALURAN JALAN GADANG GG

Lebih terperinci

BUPATI SEMARANG PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG NOMOR 3 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI SEMARANG PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG NOMOR 3 TAHUN 2016 TENTANG BUPATI SEMARANG PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG NOMOR 3 TAHUN 2016 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG NOMOR 13 TAHUN 2007 TENTANG GARIS SEMPADAN DENGAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2004 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2004 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2004 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa jalan sebagai salah satu prasarana transportasi merupakan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG TIMUR NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN JALAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG TIMUR NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN JALAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG TIMUR NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN JALAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TANJUNG JABUNG TIMUR, Menimbang : a. bahwa jalan sebagai

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN SUMBAWA BARAT

PEMERINTAH KABUPATEN SUMBAWA BARAT PEMERINTAH KABUPATEN SUMBAWA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBAWA BARAT NOMOR 22 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBAWA BARAT NOMOR 6 TAHUN 2005 TENTANG RENCANA DETAIL

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG PEMBANGUNAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PURBALINGGA,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG PEMBANGUNAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PURBALINGGA, PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG PEMBANGUNAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PURBALINGGA, Menimbang : a. bahwa jalan mempunyai peranan penting dalam mendukung

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN SUMBAWA BARAT

PEMERINTAH KABUPATEN SUMBAWA BARAT PEMERINTAH KABUPATEN SUMBAWA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBAWA BARAT NOMOR 22 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBAWA BARAT NOMOR 6 TAHUN 2005 TENTANG RENCANA DETAIL

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG

GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 11 TAHUN 2004 TENTANG GARIS SEMPADAN DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa jalan sebagai salah satu prasarana transportasi merupakan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2004 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2004 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2004 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa jalan sebagai salah satu prasarana transportasi merupakan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2009 TENTANG LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2009 TENTANG LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN DAFTAR ISI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2009 TENTANG LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN BAB I KETENTUAN UMUM... 4 BAB II ASAS DAN TUJUAN... 6 BAB III RUANG LINGKUP KEBERLAKUAN UNDANG-UNDANG...

Lebih terperinci

BUPATI GARUT PROVINSI JAWA BARAT

BUPATI GARUT PROVINSI JAWA BARAT BUPATI GARUT PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN GARUT NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG GARIS SEMPADAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI GARUT, Menimbang : a. bahwa dengan semakin meningkatnya

Lebih terperinci

PENENTUAN KLASIFIKASI FUNGSI JARINGAN JALAN PERKOTAAN STUDI KASUS KOTA BANDA ACEH. Adnal Shafir Jurusan Teknik Sipil, FTSP, Universitas Gunadarma

PENENTUAN KLASIFIKASI FUNGSI JARINGAN JALAN PERKOTAAN STUDI KASUS KOTA BANDA ACEH. Adnal Shafir Jurusan Teknik Sipil, FTSP, Universitas Gunadarma PENENTUAN KLASIFIKASI FUNGSI JARINGAN JALAN PERKOTAAN STUDI KASUS KOTA BANDA ACEH Adnal Shafir Jurusan Teknik Sipil, FTSP, Universitas Gunadarma ABSTRAK Pada kenyataannya, terutama di kota-kota besar di

Lebih terperinci

BUPATI AGAM. Kep sempadan bangunan *Sesuai dengan aslinya*

BUPATI AGAM. Kep sempadan bangunan *Sesuai dengan aslinya* z BUPATI AGAM PERATURAN BUPATI AGAM NOMOR 15 TAHUN 2005 TENTANG GARIS SEMPADAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI AGAM, Menimbang : bahwa sebagai tindak lanjut Pasal 10 ayat (3) Peraturan Daerah

Lebih terperinci

BUPATI PURBALINGGA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 12 TAHUN 2015 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI PURBALINGGA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 12 TAHUN 2015 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN BUPATI PURBALINGGA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 12 TAHUN 2015 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PURBALINGGA, Menimbang : a. bahwa jalan

Lebih terperinci

KEPUTUSAN KEPALA DINAS PENDIDIKAN KOTA MALANG

KEPUTUSAN KEPALA DINAS PENDIDIKAN KOTA MALANG KEPUTUSAN KEPALA DINAS PENDIDIKAN KOTA MALANG Nomor: 422/ /35.73.307/2009 T E N T A N G PETUNJUK TEKNIS PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU DENGAN SISTEM ONLINE PADA SMP, SMA, DAN SMK TAHUN PELAJARAN 2009/2010

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN CIREBON NOMOR 11 TAHUN 2012 SERI E.6 PERATURAN DAERAH KABUPATEN CIREBON NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG GARIS SEMPADAN

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN CIREBON NOMOR 11 TAHUN 2012 SERI E.6 PERATURAN DAERAH KABUPATEN CIREBON NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG GARIS SEMPADAN LEMBARAN DAERAH KABUPATEN CIREBON NOMOR 11 TAHUN 2012 SERI E.6 PERATURAN DAERAH KABUPATEN CIREBON NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG GARIS SEMPADAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI CIREBON, Menimbang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2004 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2004 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2004 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: a. bahwa jalan sebagai salah satu prasarana transportasi merupakan

Lebih terperinci

2013, No BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan adalah ser

2013, No BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan adalah ser LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.193, 2013 TRANSPORTASI. Perhubungan. Lalu Lintas. Angkutan Jalan. Jaringan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5468) PERATURAN PEMERINTAH

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR: 02/PRT/M/2012 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA UMUM JARINGAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR: 02/PRT/M/2012 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA UMUM JARINGAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR: 02/PRT/M/2012 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA UMUM JARINGAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN

Lebih terperinci

PENGUMUMAN PEMENANG Nomor: 027/2815/202.3/2011

PENGUMUMAN PEMENANG Nomor: 027/2815/202.3/2011 Nomor: 027/2815/202.3/2011 Pekerjaan : Strategi Penanganan Lingkungan Permukiman Kumuh Berbasis Kawasan. Penyedia : CV. Architechnique Alamat : Jl. Raya Pulorejo No. 78 Mojokerto Penanggung Jawab : ANDJAR

Lebih terperinci

REVIEW RENCANA RINCI TATA RUANG KOTA MALANG (BWP MALANG BARAT) TAHUN

REVIEW RENCANA RINCI TATA RUANG KOTA MALANG (BWP MALANG BARAT) TAHUN REVIEW RENCANA RINCI TATA RUANG KOTA MALANG (BWP MALANG BARAT) TAHUN 2013-2033 I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Kota Malang memiliki posisi yang cukup strategis di Propinsi Jawa Timur yaitu sebagai kota

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT NOMOR 5 TAHUN 2012

LEMBARAN DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT NOMOR 5 TAHUN 2012 LEMBARAN DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT NOMOR 5 TAHUN 2012 PERATURAN DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG PEMANFAATAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR NUSA

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN WAKATOBI

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN WAKATOBI LEMBARAN DAERAH KABUPATEN WAKATOBI PERATURAN DAERAH KABUPATEN WAKATOBI NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG PENAMAAN JALAN DAN PENOMORAN BANGUNAN BAGIAN HUKUM DAN PERUNDANG-UNDANGAN SETDA KABUPATEN WAKATOBI TAHUN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 79 TAHUN 2013 TENTANG JARINGAN LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 79 TAHUN 2013 TENTANG JARINGAN LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 79 TAHUN 2013 TENTANG JARINGAN LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2004 TENTANG JALAN

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2004 TENTANG JALAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2004 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa jalan sebagai

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 79 TAHUN 2013 TENTANG JARINGAN LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 79 TAHUN 2013 TENTANG JARINGAN LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 79 TAHUN 2013 TENTANG JARINGAN LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 79 TAHUN 2013 TENTANG JARINGAN LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 79 TAHUN 2013 TENTANG JARINGAN LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 79 TAHUN 2013 TENTANG JARINGAN LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANYUWANGI

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANYUWANGI BUPATI BANYUWANGI SALINAN PERATURAN BUPATI BANYUWANGI NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG PENYELENGGARAAN FASILITAS PARKIR PADA KAWASAN TERTIB LALU LINTAS WILAYAH KOTA DAN PENGGUNAAN JALUR KHUSUS SEPEDA DI KABUPATEN

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN LOKASI

BAB IV GAMBARAN LOKASI BAB IV GAMBARAN LOKASI 4.1 Tinjauan Umum Kota Banjar Baru A. Lokasi Kota Banjarbaru sesuai dengan Undang-Undang No. 9 Tahun 1999 memiliki wilayah seluas ±371,38 Km2 atau hanya 0,88% dari luas wilayah Provinsi

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2000 TENTANG TINGKAT KETELITIAN PETA UNTUK PENATAAN RUANG WILAYAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2000 TENTANG TINGKAT KETELITIAN PETA UNTUK PENATAAN RUANG WILAYAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2000 TENTANG TINGKAT KETELITIAN PETA UNTUK PENATAAN RUANG WILAYAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : Bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal

Lebih terperinci

BUPATI TANAH BUMBU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANAH BUMBU NOMOR 11 TAHUN 2015

BUPATI TANAH BUMBU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANAH BUMBU NOMOR 11 TAHUN 2015 BUPATI TANAH BUMBU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANAH BUMBU NOMOR 11 TAHUN 2015 TENTANG PEDOMAN PEMBERIAN NAMA JALAN DAN SARANA UMUM DI KABUPATEN TANAH BUMBU DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

PANDUAN PENENTUAN KLASIFIKASI FUNGSI JALAN DI WILAYAH PERKOTAAN

PANDUAN PENENTUAN KLASIFIKASI FUNGSI JALAN DI WILAYAH PERKOTAAN PANDUAN PENENTUAN KLASIFIKASI FUNGSI JALAN DI WILAYAH PERKOTAAN NO. 010/T/BNKT/1990 DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA DIREKTORAT PEMBINAAN JALAN KOTA PRAKATA Dalam rangka mewujudkan peranan penting jalan

Lebih terperinci

PENGARUH PROPORSI ANGKUTAN UMUM TERHADAP KINERJA RUAS JALAN DI KOTA MALANG

PENGARUH PROPORSI ANGKUTAN UMUM TERHADAP KINERJA RUAS JALAN DI KOTA MALANG PENGARUH PROPORSI ANGKUTAN UMUM TERHADAP KINERJA RUAS JALAN DI KOTA MALANG Sabrina Handayani H *1, Harnen Sulistio 2, Achmad Wicaksono 2 1 Mahasiswa / Program Magister / Jurusan Teknik Sipil / Fakultas

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN ASAHAN

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN ASAHAN LEMBARAN DAERAH KABUPATEN ASAHAN NOMOR 2 TAHUN 2008 Menimbang : PERATURAN DAERAH KABUPATEN ASAHAN NOMOR 2 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN DAN PENATAAN KECAMATAN DALAM DAERAH KABUPATEN ASAHAN DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2004 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2004 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG NOMOR 38 TAHUN 2004 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : a. bahwa jalan sebagai salah satu prasarana transportasi merupakan unsur penting dalam pengembangan

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANYUASIN NOMOR 28 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN BANYUASIN

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANYUASIN NOMOR 28 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN BANYUASIN PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANYUASIN NOMOR 28 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN BANYUASIN 2012-2032 1. PENJELASAN UMUM Lahirnya Undang-Undang Penataan Ruang nomor

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA BAU BAU NOMOR 02 TAHUN 2009 TENTANG GARIS SEMPADAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BAU BAU

PERATURAN DAERAH KOTA BAU BAU NOMOR 02 TAHUN 2009 TENTANG GARIS SEMPADAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BAU BAU PERATURAN DAERAH KOTA BAU BAU NOMOR 02 TAHUN 2009 TENTANG GARIS SEMPADAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BAU BAU Menimbang : a. bahwa dalam rangka perencanaan pembangunan daerah sebagai pedoman

Lebih terperinci

Ringkasan Eksekutif 2012

Ringkasan Eksekutif 2012 I. LATAR BELAKANG Seiring dengan peningkatan jumlah penduduk di suatu kota dalam beberapa dekade ini, maka pertumbuhan kebutuhan rumah untuk masyarakat juga akan mengalami peningkatan yang pesat. Hal ini

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG MANAJEMEN DAN REKAYASA, ANALISIS DAMPAK, SERTA MANAJEMEN KEBUTUHAN LALU LINTAS

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG MANAJEMEN DAN REKAYASA, ANALISIS DAMPAK, SERTA MANAJEMEN KEBUTUHAN LALU LINTAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG MANAJEMEN DAN REKAYASA, ANALISIS DAMPAK, SERTA MANAJEMEN KEBUTUHAN LALU LINTAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG MANAJEMEN DAN REKAYASA, ANALISIS DAMPAK, SERTA MANAJEMEN KEBUTUHAN LALU LINTAS

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG MANAJEMEN DAN REKAYASA, ANALISIS DAMPAK, SERTA MANAJEMEN KEBUTUHAN LALU LINTAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG MANAJEMEN DAN REKAYASA, ANALISIS DAMPAK, SERTA MANAJEMEN KEBUTUHAN LALU LINTAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERDANG BEDAGAI NOMOR 23 TAHUN 2008

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERDANG BEDAGAI NOMOR 23 TAHUN 2008 LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERDANG BEDAGAI NOMOR 23 TAHUN 2008 PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERDANG BEDAGAI NOMOR : 23 TAHUN 2008 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SERDANG BEDAGAI Menimbang

Lebih terperinci

BAB V RENCANA PROGRAM DAN PRIORITAS DAERAH

BAB V RENCANA PROGRAM DAN PRIORITAS DAERAH BAB V RENCANA PROGRAM DAN PRIORITAS DAERAH 5.1. Prioritasdan Arah Kebijakan RKPD Tahun 2013 5.1.1. Prioritas dan Arah Kebijakan Spasial Arah kebijakan spasial akan berintegrasi dengan kebijakan sektoral

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG MANAJEMEN DAN REKAYASA, ANALISIS DAMPAK, SERTA MANAJEMEN KEBUTUHAN LALU LINTAS

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG MANAJEMEN DAN REKAYASA, ANALISIS DAMPAK, SERTA MANAJEMEN KEBUTUHAN LALU LINTAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG MANAJEMEN DAN REKAYASA, ANALISIS DAMPAK, SERTA MANAJEMEN KEBUTUHAN LALU LINTAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

KAJIAN MANAJEMEN LALU LINTAS JARINGAN JALAN DI KAWASAN TERUSAN IJEN KOTA MALANG

KAJIAN MANAJEMEN LALU LINTAS JARINGAN JALAN DI KAWASAN TERUSAN IJEN KOTA MALANG KAJIAN MANAJEMEN LALU LINTAS JARINGAN JALAN DI KAWASAN TERUSAN IJEN KOTA MALANG Dimas Cuzaka Alifian, M. Aang Ibnu Thoha, Harnen Sulistio, A. Wicaksono Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas

Lebih terperinci

BUPATI SIDOARJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIDOARJO NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG PEMANFAATAN DAN PENGGUNAAN BAGIAN-BAGIAN JALAN KABUPATEN

BUPATI SIDOARJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIDOARJO NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG PEMANFAATAN DAN PENGGUNAAN BAGIAN-BAGIAN JALAN KABUPATEN BUPATI SIDOARJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIDOARJO NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG PEMANFAATAN DAN PENGGUNAAN BAGIAN-BAGIAN JALAN KABUPATEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SIDOARJO, Menimbang : a.

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA BANJAR NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG KELAS JALAN DI KOTA BANJAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BANJAR,

PERATURAN DAERAH KOTA BANJAR NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG KELAS JALAN DI KOTA BANJAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BANJAR, LEMBARAN DAERAH KOTA BANJAR NOMOR 3 TAHUN 2013 SERI E PERATURAN DAERAH KOTA BANJAR NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG KELAS JALAN DI KOTA BANJAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BANJAR, Menimbang : a.

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG MANAJEMEN DAN REKAYASA, ANALISIS DAMPAK, SERTA MANAJEMEN KEBUTUHAN LALU LINTAS

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG MANAJEMEN DAN REKAYASA, ANALISIS DAMPAK, SERTA MANAJEMEN KEBUTUHAN LALU LINTAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG MANAJEMEN DAN REKAYASA, ANALISIS DAMPAK, SERTA MANAJEMEN KEBUTUHAN LALU LINTAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA TENGAH NOMOR 11 TAHUN 2004 TENTANG GARIS SEMPADAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TENGAH

PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA TENGAH NOMOR 11 TAHUN 2004 TENTANG GARIS SEMPADAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA TENGAH NOMOR 11 TAHUN 2004 TENTANG GARIS SEMPADAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TENGAH Menimbang : a. bahwa dalam rangka perencanaan pembangunan Daerah

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : KM 61 TAHUN 1993 TENTANG RAMBU-RAMBU LALU LINTAS DI JALAN MENTERI PERHUBUNGAN,

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : KM 61 TAHUN 1993 TENTANG RAMBU-RAMBU LALU LINTAS DI JALAN MENTERI PERHUBUNGAN, KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : KM 61 TAHUN 1993 TENTANG RAMBU-RAMBU LALU LINTAS DI JALAN MENTERI PERHUBUNGAN, Menimbang : a. bahwa dalam Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1993 tentang Prasarana

Lebih terperinci

PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN KENDAL NOMOR 10 TAHUN 2015 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KENDAL,

PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN KENDAL NOMOR 10 TAHUN 2015 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KENDAL, PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN KENDAL NOMOR 10 TAHUN 2015 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KENDAL, Menimbang Mengingat : a. bahwa jalan sebagai salah satu prasarana

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA MALANG DINAS PEKERJAAN UMUM, PERUMAHAN DAN PENGAWASAN BANGUNAN BIDANG PERUMAHAN DAN TATA RUANG PEJABAT PENGADAAN BARANG / JASA

PEMERINTAH KOTA MALANG DINAS PEKERJAAN UMUM, PERUMAHAN DAN PENGAWASAN BANGUNAN BIDANG PERUMAHAN DAN TATA RUANG PEJABAT PENGADAAN BARANG / JASA Nomor : 602.1/08.01/PL-SPV/PTR/35.73.301/2015 Berdasarkan proses Pengadaan Langsung yang dilaksanakan untuk Pengadaan Pengawasan Wilayah Kec. Blimbing Pemeliharaan Insidentil Gedung Pemerintah, Fasilitas

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG KETELITIAN PETA RENCANA TATA RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG KETELITIAN PETA RENCANA TATA RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG KETELITIAN PETA RENCANA TATA RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : TENTANG

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : TENTANG PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : TENTANG TATA CARA DAN KRITERIA PENETAPAN SIMPUL DAN LOKASI TERMINAL PENUMPANG SERTA LOKASI FASILITAS PERPINDAHAN MODA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2000 TENTANG TINGKAT KETELITIAN PETA UNTUK PENATAAN RUANG WILAYAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2000 TENTANG TINGKAT KETELITIAN PETA UNTUK PENATAAN RUANG WILAYAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2000 TENTANG TINGKAT KETELITIAN PETA UNTUK PENATAAN RUANG WILAYAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 56 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN PERKERETAAPIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 56 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN PERKERETAAPIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 56 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN PERKERETAAPIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BEKASI

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BEKASI LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BEKASI SWATANTRA WIBAWA MUKTI NO : 8 2002 SERI : D PERATURAN DAERAH KABUPATEN BEKASI NOMOR : 9 TAHUN 2002 TENTANG DAERAH MILIK JALAN DAN GARIS SEMPADAN BANGUNAN PADA JALAN ARTERI,

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT LD. 15 2008 R PERATURAN DAERAH KABUPATEN GARUT NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG RETRIBUSI IZIN MENDIRIKAN BANGUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI GARUT, Menimbang :

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KOTA BEKASI

BERITA DAERAH KOTA BEKASI BERITA DAERAH KOTA BEKASI NOMOR : 24 2014 SERI : E PERATURAN WALIKOTA BEKASI NOMOR 24 TAHUN 2014 TENTANG GARIS SEMPADAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BEKASI, Menimbang : a. bahwa dengan meningkatnya

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 56 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN PERKERETAAPIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 56 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN PERKERETAAPIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 56 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN PERKERETAAPIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

Transportasi merupakan sistem yang bersifat multidisiplin bidang PWK, ekonomi, sosial, engineering, hukum, dll

Transportasi merupakan sistem yang bersifat multidisiplin bidang PWK, ekonomi, sosial, engineering, hukum, dll Transportasi bukanlah tujuan akhir, namun merupakan alat/teknik/cara untuk mencapai tujuan akhir Kebutuhan transportasi merupakan derived demand (permintaan turunan) dari kebutuhan manusia akan tujuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Umum. Transportasi memegang peranan penting dalam perkotaan dapat salah satu

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Umum. Transportasi memegang peranan penting dalam perkotaan dapat salah satu BAB I PENDAHULUAN I.1 Umum Transportasi memegang peranan penting dalam perkotaan dapat salah satu indikator kota yang baik, yang dapat ditandai dengan sistem jaringan yang ada. Sektor transportasi harus

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULUNGAN NOMOR 07 TAHUN 2012 TENTANG GARIS SEMPADAN BANGUNAN, PAGAR, SUNGAI, DAN PANTAI

SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULUNGAN NOMOR 07 TAHUN 2012 TENTANG GARIS SEMPADAN BANGUNAN, PAGAR, SUNGAI, DAN PANTAI SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULUNGAN NOMOR 07 TAHUN 2012 TENTANG GARIS SEMPADAN BANGUNAN, PAGAR, SUNGAI, DAN PANTAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BULUNGAN, Menimbang : a. bahwa dalam

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBAWA NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG JALAN KABUPATEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMBAWA,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBAWA NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG JALAN KABUPATEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMBAWA, PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBAWA NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG JALAN KABUPATEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMBAWA, Menimbang : a. bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 18 Undang-Undang Nomor 38

Lebih terperinci

Persyaratan umum sistem jaringan dan geometrik jalan perumahan

Persyaratan umum sistem jaringan dan geometrik jalan perumahan Standar Nasional Indonesia Persyaratan umum sistem jaringan dan geometrik jalan perumahan ICS 93.080 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar Isi... Prakata... ii Pendahuluan... iii 1 Ruang lingkup...

Lebih terperinci

GRAND FINAL LOMBA KARYA TULIS ILMIAH

GRAND FINAL LOMBA KARYA TULIS ILMIAH GRAND FINAL LOMBA KARYA TULIS ILMIAH PEKAN DAS BRANTAS X 2014 I. KETENTUAN UMUM 1. Finalis wajib mengikuti dan mematuhi ketentuan-ketentuan yang disampaikan oleh panitia. 2. Finalis diharuskan hadir dalam

Lebih terperinci

RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR 21 TAHUN 2012 TENTANG

RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR 21 TAHUN 2012 TENTANG 1 RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR 21 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG GARIS SEMPADAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

Outline. Klasifikasi jalan Dasar-dasar perencanaan geometrik Alinemen horisontal Alinemen vertikal Geometri simpang

Outline. Klasifikasi jalan Dasar-dasar perencanaan geometrik Alinemen horisontal Alinemen vertikal Geometri simpang Civil Engineering Diploma Program Vocational School Gadjah Mada University Nursyamsu Hidayat, Ph.D. Outline Klasifikasi jalan Dasar-dasar perencanaan geometrik Alinemen horisontal Alinemen vertikal Geometri

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan ekonomi dan perkembangan transportasi mempunyai hubungan yang sangat erat dan saling ketergantungan. Perbaikan dalam transportasi pada umumnya akan dapat

Lebih terperinci

BAB II DESKRIPSI OBYEK PENELITIAN. luas wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu 32,5 km 2. Terbagi menjadi

BAB II DESKRIPSI OBYEK PENELITIAN. luas wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu 32,5 km 2. Terbagi menjadi BAB II DESKRIPSI OBYEK PENELITIAN A. Deskripsi Wilayah Kota Yogyakarta 1. Kondisi Geografis Luas wilayah Kota Yogyakarta kurang lebih hanya 1,02 % dari seluruh luas wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta,

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS 15 BAB 2 TINJAUAN TEORITIS 2.1 Pengertian Transportasi Transportasi merupakan suatu proses pergerakan memindahkan manusia atau barang dari suatu tempat ke tempat lainnya pada suatu waktu. Pergerakan manusia

Lebih terperinci

PEMBERITAHUAN NOMOR : 011/PAN-BMSDA/2011

PEMBERITAHUAN NOMOR : 011/PAN-BMSDA/2011 PEMERINTAH KABUPATEN PELALAWAN DINAS BINA MARGA DAN SUMBER DAYA AIR Jl. PAMONG PRAJA KAWASAN BHAKTI PRAJA NO. 05 TELP. (076) 705003 FAX. 705003 PEMBERITAHUAN NOMOR : 0/PAN-BMSDA/20 Berdasarkan Perpres

Lebih terperinci

BUPATI KOTABARU PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTABARU NOMOR 21 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PEMANFAATAN DAN PENGGUNAAN BAGIAN-BAGIAN JALAN

BUPATI KOTABARU PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTABARU NOMOR 21 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PEMANFAATAN DAN PENGGUNAAN BAGIAN-BAGIAN JALAN BUPATI KOTABARU PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTABARU NOMOR 21 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PEMANFAATAN DAN PENGGUNAAN BAGIAN-BAGIAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KOTABARU, Menimbang : a.

Lebih terperinci

BAB V RENCANA DETAIL TATA RUANG KAWASAN PERKOTAAN

BAB V RENCANA DETAIL TATA RUANG KAWASAN PERKOTAAN BAB V RENCANA DETAIL TATA RUANG KAWASAN PERKOTAAN 5.1 Umum Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan, merupakan penjabaran dari Rencana Umum Tata Ruang Wilayah Kota/Kabupaten ke dalam rencana pemanfaatan

Lebih terperinci

KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JALAN DI INDONESIA TAHUN

KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JALAN DI INDONESIA TAHUN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JALAN DI INDONESIA TAHUN 2005-2010 A. Latar Belakang Pembangunan jalan merupakan kebutuhan yang sangat vital sebagai pendukung utama dinamika dan aktivitas ekonomi baik di pusat maupun

Lebih terperinci

Malang. Pertemuan Ilmiah TahunanPIT

Malang. Pertemuan Ilmiah TahunanPIT Malang 9-11 Oktober 2015 Pertemuan Ilmiah TahunanPIT HATHI XXXII Malang, 9-11 Oktober 2015 TEMA : Meningkatkan Ketahanan Air Nasional dalam Menunjang Kedaulatan Pangan, Ketahanan Energi dan Pengembangan

Lebih terperinci

PROVINSI LAMPUNG PERATURAN DAERAH KOTA METRO NOMOR 07 TAHUN 2014 TENTANG ANALISIS DAMPAK LALU LINTAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA

PROVINSI LAMPUNG PERATURAN DAERAH KOTA METRO NOMOR 07 TAHUN 2014 TENTANG ANALISIS DAMPAK LALU LINTAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PROVINSI LAMPUNG PERATURAN DAERAH KOTA METRO NOMOR 07 TAHUN 2014 TENTANG ANALISIS DAMPAK LALU LINTAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA METRO, Menimbang : a. bahwa pembangunan pusat kegiatan, pemukiman

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN LOKASI PENELITIAN. A. Keadaan Umum Kabupaten Lampung Tengah BT dan LS, dan memiliki areal daratan seluas

IV. GAMBARAN LOKASI PENELITIAN. A. Keadaan Umum Kabupaten Lampung Tengah BT dan LS, dan memiliki areal daratan seluas IV. GAMBARAN LOKASI PENELITIAN A. Keadaan Umum Kabupaten Lampung Tengah 1. Keadaan Geografis Kabupaten Lampung Tengah merupakan salah satu kabupaten yang terletak di Propinsi Lampung. Kabupaten Lampung

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Pengertian Jalan, Bagian Jalan, & Pengelompokan Jalan

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Pengertian Jalan, Bagian Jalan, & Pengelompokan Jalan II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Jalan, Bagian Jalan, & Pengelompokan Jalan 1. Pengertian Jalan Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk bangunan pelengkap

Lebih terperinci

BAB III TINJAUAN KOTA BEKASI

BAB III TINJAUAN KOTA BEKASI BAB III TINJAUAN KOTA BEKASI 3.1 TINJAUAN UMUM KOTA BEKASI Kota Bekasi merupakan salah satu kota dari 5 kota dengan populasi terbesar di Indonesia. Dengan jumlah penduduk lebih dari 2 juta jiwa, Kota Bekasi

Lebih terperinci

1. SIMBOL, NOTASI, DAN KODE UNSUR, UNSUR-UNSUR PERAIRAN PETA DASAR

1. SIMBOL, NOTASI, DAN KODE UNSUR, UNSUR-UNSUR PERAIRAN PETA DASAR K 0K LAMPIRAN II PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2010 TANGGAL 1. SIMBOL, NOTASI, DAN KODE UNSUR, UNSUR-UNSUR PERAIRAN PETA DASAR dan/ 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 15 15 16 A. Garis

Lebih terperinci

PENINGKATAN PELAYANAN KEBERSIHAN KOTA MOJOKERTO DENGAN PIHAK KETIGA PADA RUAS-RUAS JALAN WILAYAH KOTA YANG BELUM TERTANGANI PROPOSAL

PENINGKATAN PELAYANAN KEBERSIHAN KOTA MOJOKERTO DENGAN PIHAK KETIGA PADA RUAS-RUAS JALAN WILAYAH KOTA YANG BELUM TERTANGANI PROPOSAL PENINGKATAN PELAYANAN KEBERSIHAN KOTA MOJOKERTO DENGAN PIHAK KETIGA PADA RUAS-RUAS JALAN WILAYAH KOTA YANG BELUM TERTANGANI PROPOSAL DINAS KEBERSIHAN DAN PERTAMANAN KOTA MOJOKERTO 2006 PENINGKATAN PELAYANAN

Lebih terperinci