KATA PENGANTAR. Jakarta, 00Juni 2015 Direktur Pembinaan SMA, Harris Iskandar, Ph.D NIP Panduan Pengembangan KTSP

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "KATA PENGANTAR. Jakarta, 00Juni 2015 Direktur Pembinaan SMA, Harris Iskandar, Ph.D NIP Panduan Pengembangan KTSP"

Transkripsi

1

2 KATA PENGANTAR Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mulai tahun pelajaran 2013/2014 telah menetapkan kebijakan implementasi Kurikulum 2013 secara terbatas di SMA sasaran dan sejumlah SMA yang melaksanakan secara mandiri. Selanjutnya pada tahun pelajaran 2014/2015, Kurikulum 2013 dilaksanakan di seluruh SMA untuk kelas X dan XI. Mempertimbangkan pentingnya Kurikulum 2013 dan masih ditemukannya beberapa kendala teknis, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan telah menetapkan kebijakan penataan kembali implementasi Kurikulum 2013 pada semua satuan pendidikan mulai semester dua tahun pelajaran 2014/2015 melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 160 Tahun 2014 tentang Pemberlakuan Kurikulum Tahun 2006 dan Kurikulum Implementasi Kurikulum 2013 di SMA akan dilakukan secara bertahap mulai semester genap tahun pelajaran 2014/2015 di 10% SMA sampai dengan tahun pelajaran 2020/2021 di seluruh SMA. Sepanjang implementasi secara bertahap tersebut akan dilakukan evaluasi, perbaikan konsep dan strategi implementasi Kurikulum 2013 agar siap untuk dilaksanakan secara menyeluruh di semua SMA. Sejalan dengan kebijakan diatas, Direktorat Pembinaan SMA sesuai dengan tugas dan fungsinya terus melakukan fasilitasi pembinaan implementasi Kurikulum 2013, antara lain melalui pengembangan naskah pendukung kurikulum. Pada tahun 2015 Direktorat Pembinaan SMA melakukan reviu naskah yang dikembangkan tahun sebelumnya dan menyusun naskah baru mengikuti perkembangan kebijakan Kurikulum Naskah-naskah yang direviu dan disusun sebagai berikut : Panduan Pengembangan KTSP, Panduan Pengembangan Silabus, Panduan Pengembangan RPP, Model-Model Pembelajaran, Panduan Pengembangan Penilaian, Model Pembelajaran dan Penilaian Projek, Model Pelaksanaan Remedial dan Pengayaan, Model Penyelenggaraan SKS, Model Penyelenggaraan Aktualisasi Mata Pelajaran Dalam Kegiatan Kepramukaan, Model Penyelengaraan Peminatan, Model Penyelenggaraan Pendalaman Minat, Panduan Pengembangan Muatan Lokal, Model Penyelenggaraan Kewirausahaan, Panduan Transisi Kurikulum 2013 ke Kurikulum 2006, dan Panduan Pengisian Aplikasi Rapor. Naskahnaskah pendukung kurikulum dikembangkan oleh tim pengembang yang terdiri dari unsur staf Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, pengawas, kepala sekolah, dan guru dengan prinsip dari kita, oleh kita, dan untuk kita. Naskah-naskah tersebut disusun sebagai acuan bagi sekolah dalam mengelola pelaksanaan kurikulum dan acuan bagi guru untuk melaksanakan pembelajaran di kelas sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Naskah-naskah pendukung kurikulum akan terus dikembangkan, sehingga menjadi lebih operasional. Oleh karena itu, sekolah diharapkan memberi masukan untuk penyempurnaan lebih lanjut. Kepada semua pihak yang terlibat dalam penyusunan dan pembahasan naskah-naskah ini diucapkan terima kasih. Jakarta, 00Juni 2015 Direktur Pembinaan SMA, Harris Iskandar, Ph.D NIP. Dit. Pembinaan SMA ii

3 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... II DAFTAR ISI... III BAB I PENDAHULUAN... 1 A. LATAR BELAKANG... 1 B. TUJUAN... 2 C. RUANG LINGKUP... 2 D. LANDASAN HUKUM... 2 BAB II PENGERTIAN DAN ACUAN PENGEMBANGAN KTSP... 4 A. PENGERTIAN KTSP... 4 B. KOMPONEN KTSP... 4 C. KONSEP PENGEMBANGAN KTSP... 4 D. ACUAN PENGEMBANGAN KTSP MELIPUTI;... 5 BAB III SISTEMATIKA KTSP... 9 A. LANGKAH KERJA PENGEMBANGAN KTSP... 9 B. SISTEMATIKA KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) BUKU 1 JENJANG SMA BAB IV PELAKSANAAN DAN SUPERVISI A. PENGORGANISASIAN B. PELAKSANAAN C. KOORDINASI DAN SUPERVISI BAB V PENUTUP DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN 1:INSTRUMEN VERIFIKASI/VALIDASI DOKUMEN KTSP LAMPIRAN 2: CONTOH KTSP LAMPIRAN 3 CONTOH KTSP LENGKAP LAMPIRAN 4: CONTOH KALENDER AKADEMIK... Dit. Pembinaan SMA iii

4 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kurikulum 2013 digulirkan sebagai langkah pengembangan kurikulum berbasis kompetensi yang telah diberlakukan pada tahun 2004 dan KTSP 2006 yang mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu. Berdasarkan, Surat Edaran Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor /MPK.A/KR/2013, tanggal 8 November 2013, perihal Implementasi Kurikulum 2013 dan Surat Edaran bersama Menteri Dagri No 420/176/SJ dan Mendikbud No 0258/MPK.A/KR/2014 tgl 9 Januari 2014 perihal Implementasi kurikulum 2013, maka diperlukan suatu acuan yang dapat menjadi panduan sekolah pelaksanan kurikulum 2013 dalam menyusun KTSP yang sesuai dengan ketentuan kurikulum Elemen perubahan kurikulum 2013 difokuskan pada empat standar yaitu Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi, Standar Proses, dan Standar Penilaian. Dengan demikian perubahan akan terjadi pada penyesuaian beban belajar, penguatan proses, pendalaman dan perluasan materi, penataan pola pikir dan tata kelola, serta program peminatan maupun lintas minat. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) dan peraturan pemerintah Republik Indonesia Nomor 13 tahun 2015 Tentang Perubahan kedua atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, mengamanatkan setiap satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah untuk menyusun kurikulum tingkat satuan pendidikan. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan, yang berfungsi sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai kompetensi yang mencakup tiga domain, yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang harus terintegrasi, serta dapat menggambarkan kesesuaian dan kekhasan kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik. Pemberlakuan Kurikulum 2013 bagi sekolah - sekolah memerlukan panduan dalam menyusun kurikulum tingkat satuan pendidikan, dengan menyesuaikan dengan regulasi yang terkait. Untuk keperluan tersebut, Direktorat Pembinaan SMA menyusun naskah Panduan Pengembangan KTSP Dit. Pembinaan SMA 1

5 B. Tujuan Tujuan penyusunan panduan ini adalah sebagai acuan bagi SMA dalam menyusun dan mengembangkan KTSP yang sesuai dengan tuntutan Kurikulum C. Ruang Lingkup Ruang lingkup Panduan Pengembangan KTSP SMA terdiri atas: 1. Pendahuluan yang terdiri atas Latar Belakang, Tujuan, Ruang Lingkup, dan Landasan Hukum. 2. Pengertian dan Acuan Pengembangan KTSP 3. Langkah Kerja Pengembangan dan Sistematika KTSP 4. Pelaksanaan dan Supervisi KTSP D. Landasan Hukum 1. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Wewenang antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. 3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. 4. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah. 5. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. 6. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan oleh Pemerintah Daerah. 7. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2008 tentang Pembinaan Kesiswaan. 8. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 54 Tahun 2013 tentang Standar Kompetensi Lulusan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah 9. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah. 10. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 66 Tahun 2013 tentang Standar Penilaian Dit. Pembinaan SMA 2

6 11. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 tahun 2014 tentang Perubahan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan 12. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 59 Tahun 2014 tentang Kurikulum SMA/MA 13. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 61 Tahun 2014 tentang KTSP SMA/MA 14. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 62 Tahun 2014 tentang Ekstra kurikuler 15. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 63 Tahun 2014 tentang Kepramukaan 16. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 79 Tahun 2014 tentang Muatan Lokal 17. Peraturan Mmenteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 158 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Sistem Kredit Semester Pada Pendidikan Dasar Dan Pendidikan Menengah 18. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 103 Tahun 2014 Tentang Pembelajaran pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah. 19. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 104 Tahun 2014 Tentang Penilaian Hasil Belajar oleh pendidik pada Pendidikan Dasar dan pendidikan Menengah. 20. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 5 Tahun 2015 Tentang Kriteria Kelulusan Peserta Dididk, Penyelenggaraan ujian nasional, dan penyelenggaraan Ujian Sekolah/ Madrasah/ pendidikan Kesertaraan pada SMP/MTs atau yang sederajad dan SMA/MA/SMK atau yang sederajad. 21. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 13 tahun 2015 tentang perubahan kedua atas Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. 22. Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan dasar dan Menengah dari BSNP Tahun Surat Edaran Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor /MPK.A/KR/2013, tanggal 8 November 2013, perihal Implementasi Kurikulum Surat Edaran bersama Menteri Dagri No 420/176/SJ dan Mendikbud No 0258/MPK.A/KR/2014 tgl 9 Januari 2014 perihal Implementasi kurikulum Dit. Pembinaan SMA 3

7 BAB II PENGERTIAN DAN ACUAN PENGEMBANGAN KTSP A. Pengertian KTSP Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu Tujuan tertentu ini meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan, dan peserta didik. Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan yang dikembangkan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan, Kerangka Dasar Dan Struktur kurikulum, dan pedoman-pedoman implementasi kurikulum. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan bahan acuan dalam pelaksanaan proses pendidikan untuk menjamin pencapaian tujuan pendidikan nasional yang sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013 yaitu pencapaian kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. B. Komponen KTSP KTSP meliputi 3 dokumen, yaitu: 1. Dokumen 1 yang disebut dengan Buku I KTSP berisi sekurang-kurangnya visi, misi, tujuan, muatan kurikulum, pengaturan beban belajar, dan kalender pendidikan. Buku 1 dikembangkan oleh sekolah dibawah tanggung jawab kepala sekolah SMA yang bersangkutan 2. Dokumen 2 yang disebut dengan Buku II KTSP berisi silabus yang telah dikembangkan. 3. Dokumen 3 disebut dengan Buku III KTSP berisi rencana pelaksanaan pembelajaran yang disusun sesuai potensi, minat, bakat, dan kemampuan peserta didik oleh masing-masing guru mata pelajaran dengan berpedoman pada Permendikbud Nomor 103 Tahun 2014 Tentang Pembelajaran pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah C. Konsep Pengembangan KTSP Pengembangan KTSP SMA mengacu pada Standar Nasional Pendidikan dan peraturan pendukung implementasi Kurikulum 2013, dikembangkan, Dit. Pembinaan SMA 4

8 dan dilaksanakan oleh satuan pendidikan, sesuai potensi, kebutuhan, dan karakteristik masing masing satuan pendidikan. Pengembangan KTSP dilaksanakan di bawah koordinasi dan supervisi Dinas Pendidikan kabupaten/kota, sehingga mengacu kepada visi dan misi daerah. D. Acuan pengembangan KTSP meliputi; 1. Acuan Operasional a. Peningkatan Iman, Takwa, dan Akhlak Mulia Iman, takwa, dan akhlak mulia menjadi dasar pengembangan kepribadian peserta didik secara utuh, sehingga perlu dituangkan dalam KTSP, agar semua kegiatan yang terkait pembelajaran dapat meningkatkan iman, takwa, dan akhlak mulia. b. Toleransi dan Kerukunan Umat Beragama Kurikulum dikembangkan untuk memelihara dan meningkatkan toleransi dan kerukunan inter-umat dan antar-umat beragama, serta antar umat beragama dengan pemerintah. c. Persatuan Nasional dan Nilai-Nilai Kebangsaan Kurikulum diarahkan untuk membangun karakter dan wawasan kebangsaan peserta didik yang menjadi landasan penting bagi upaya memelihara persatuan dan kesatuan bangsa dalam kerangka NKRI. Oleh karena itu, kurikulum harus menumbuh kembangkan wawasan dan sikap kebangsaan serta persatuan nasional untuk memperkuat keutuhan bangsa dalam wilayah NKRI, melalui kegiatan terkait yang diatur dan dituangkan dalam KTSP d. Peningkatan Potensi, Kecerdasan, Bakat, dan Minat sesuai dengan Tingkat Perkembangan dan Kemampuan Peserta Didik Pendidikan merupakan proses holistik/sistemik dan sistematik untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia yang memungkinkan potensi diri (sikap, pengetahuan, dan keterampilan) berkembang secara optimal. Sejalan dengan itu, kurikulum disusun dengan memperhatikan potensi, bakat, minat, serta tingkat perkembangan kecerdasan; intelektual, emosional, sosial, spritual, dan kinestetik peserta didik, melalui berbagai kegiatan yang diatur dan dituangkan dalam KTSP. e. Kesetaraan Warga Negara Memperoleh Pendidikan Bermutu Kurikulum diarahkan kepada pengembangan sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang holistik dan berkeadilan dengan memperhatikan kesetaraan warga negara memperoleh pendidikan bermutu, yang Dit. Pembinaan SMA 5

9 dituangkan dalam proses dan mekanisme rekruitmen dan mutasi peserta didik. f. Kebutuhan Kompetensi Masa Depan Kompetensi peserta didik yang diperlukan antara lain berpikir kritis dan membuat keputusan, memecahkan masalah yang kompleks secara lintas bidang keilmuan, berpikir kreatif dan kewirausahaan, berkomunikasi dan berkolaborasi, menggunakan pengetahuan kesempatan secara inovatif, mengelola keuangan, kesehatan, dan tanggung jawab warga negara. Hal tersebut dapat tertuang dalam komponen kurikulum nasional, daerah, sekolah, maupun pengembangan diri. g. Tuntutan Dunia Kerja Kegiatan pembelajaran harus dapat mendukung tumbuh kembangnya pribadi peserta didik yang berjiwa kewirausahaan dan mempunyai kecakapan hidup. Oleh sebab itu, kurikulum perlu mengembangkan jiwa kewirausahaan dan kecakapan hidup untuk membekali peserta didik dalam melanjutkan studi dan/atau memasuki dunia kerja. bagi peserta didik yang tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Hal tersebut antara lain dapat dikembangkan melalui pengembangan muatan lokal maupun pengembangan diri. h. Perkembangan IPTEK Pendidikan perlu mengantisipasi dampak global yang membawa masyarakat berbasis pengetahuan di mana IPTEK sangat berperan sebagai penggerak utama perubahan. Pendidikan harus terus menerus melakukan penyesuaian terhadap perkembangan IPTEK sehingga tetap relevan dan kontekstual dengan perubahan. Oleh karena itu, kurikulum harus dikembangkan secara berkala dan berkesinambungan sejalan dengan perkembangan IPTEK, melalui pengaturan dalam kurikulum satuan pendidikan. i. Keragaman Potensi dan Karakteristik Daerah serta Lingkungan Daerah memiliki keragaman potensi, kebutuhan, tantangan, dan karakteristik lingkungan. Masing-masing daerah memerlukan pendidikan yang sesuai dengan karakteristik daerah dan pengalaman hidup sehari-hari. Oleh karena itu, kurikulum perlu memuat hal tersebut untuk menghasilkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan pengembangan daerah dan lingkunganya, yang dituangkan dalam pengembangan KTSP. j. Tuntutan Pembangunan Daerah dan Dit. Pembinaan SMA 6

10 Dalam era otonomi dan desentralisasi, kurikulum adalah salah satu media pengikat dan pengembang keutuhan bangsa yang dapat mendorong partisipasi masyarakat dengan tetap mengedepankan wawasan nasional. Untuk itu, kurikulum perlu memperhatikan keseimbangan antara kepentingan daerah dan nasional. k. Dinamika Perkembangan Global Kurikulum dikembangkan untuk meningkatkan kemandirian, baik pada secara individu, masyarakat maupun bangsa dan Negara. Kemandirian sangat penting di era globalisasi. Hubungan antar bangsa yang tidak lagi mengenal batas wilayah, persaingan dalam pelaksanaan pasar bebas, menuntut kemandirian dan ketangguhan daya saing, oleh karena itu perlu dipersiapkan generasi yang siap menghadapi persaingan dan mampu hidup berdampingan dengan bangsa lain, yang mendasari pengembangan KTSP. l. Kondisi Sosial Budaya Masyarakat Setempat Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik sosial budaya masyarakat setempat dan menunjang kelestarian keragaman budaya. Penghayatan dan apresiasi pada budaya setempat ditumbuhkembangkan terlebih dahulu sebelum mempelajari budaya dari daerah dan bangsa lain. m. Karakteristik Satuan Pendidikan Kurikulum dikembangkan sesuai dengan kondisi dan ciri khas satuan pendidikan, sehingga KTSP memiliki ke khasan satuan pendidikan. 2. Prinsip pengembangan KTSP a. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya pada masa kini dan yang akan datang. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan pada masa kini dan yang akan datang. Memiliki posisi sentral berarti bahwa kegiatan pembelajaran harus berpusat pada peserta Dit. Pembinaan SMA 7

11 b. Belajar sepanjang hayat Kurikulum diarahkan pada proses pengembangan, pembudayaan, dan pemberdayaan kemampuan peserta didik untuk belajar sepanjang hayat. Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan formal, nonformal, dan informal dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya. c. Menyeluruh dan berkesinambungan Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi (sikap, pengetahuan, dan keterampilan) bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antar jenjang pendidikan. 3. Prosedur operasional pengembangan KTSP Prosedur operasional pengembangan KTSP sekurang-kurangnya meliputi langkah-langkah: a. Analisis yang mencakup: 1) analisis ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai Kurikulum; 2) analisis kebutuhan peserta didik, satuan pendidikan, dan lingkungan; dan 3) analisis ketersediaan sumber daya pendidikan. b. Penyusunan yang mencakup: 1) perumusan visi, misi, dan tujuan satuan pendidikan; 2) pengorganisasian muatan kurikuler satuan pendidikan; 3) pengaturan beban belajar peserta didik dan beban kerja pendidik tingkat kelas; 4) penyusunan kalender pendidikan satuan pendidikan; 5) penyusunan silabus muatan lokal atau mata pelajaran muatan lokal; dan 6) penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran setiap muatan pembelajaran. c. Penetapan yang dilakukan kepala sekolah/madrasah berdasarkan hasil rapat dewan pendidik satuan pendidikan dengan melibatkan komite sekolah/madrasah. d. Pengesahan yang dilakukan oleh pemerintah daerah sesuai dengan Dit. Pembinaan SMA 8

12 BAB III LANGKAH KERJA PENGEMBANGAN DAN SISTEMATIKA KTSP A. Langkah Kerja Pengembangan KTSP Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dilaksanakan oleh Tim Pengembang Kurikulum (TPK) sekolah, dikoordinasikan oleh kepala sekolah dengan melibatkan komite sekolah, dan guru, serta pengawas pembina dengan pendampingan atau bimbingan dan kerjasama dinas pendidikan kabupaten/kota, atau dinas/instansi lain yang terkait. Kerjasama dengan dinas/instansi terkait dapat dilakukan untuk menambah atau memperkaya muatan kurikulum sekolah sesuai dengan karakteristik sekolah, keunggulan lokal, dan sosial budaya lingkungan setempat. Kurikulum Sekolah yang telah disusun harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab oleh setiap pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah yang bersangkutan, dengan terlebih dahulu disosialisasikan kepada seluruh warga sekolah setelah disahkan oleh Dinas Pendidikan Provinsi. Memperhatikan prosedur operasional dan langkah kerja seperti diatas, pengembangan KTSP jenjang SMA dapat digambarkan seperti pada bagan 1 berikut: Disesuaikan gambarnya Bagan 1: Langkah Kerja Pengembangan KTSP Jenjang Dit. Pembinaan SMA 9

13 Pada bagan 1 di atas terdapat 5 (lima) besaran kegiatan yaitu; 1) Kegiatan Koordinasi dan Persiapan, 2) Pelaksanaan Pengembangan, 3) Supervisi, 4) Sosialisasi dan Implementasi, dan 5) Evaluasi. Masing-masing kegiatan tersebut akan dijelaskan berikut ini. 1. Kegiatan Persiapan dan Koordinasi Kegiatan persiapan yang dapat dilakukan antara lain; a. Kepala SMA berkoordinasi dengan /pengawas membentuk atau melakukan revitalisasi fungsi Tim Pengembang Kurikulum (TPK) Sekolah dan memberi pengarahan teknis untuk melakukan proses pengembangan KTSP, antara lain tentang; 1) Evaluasi Kurikulum tahun sebelumnya, yang meliputi analisis keberhasilan, kendala, dan kekurangan, baik pada dokumennya maupun dalam implementasinya. 2) Telaah regulasi yang relevan pengembangan Kurikulum Sekolah, antara lain implementasi Kurikulum 2013,. 3) Analisis konteks, yaitu analisis pemenuhan Standar Nasional Pendidikan di sekolah, antara lain Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi, Standar Proses, Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, serta Standar Sarana dan Prasarana. 4) Tujuan yang ingin dicapai dan manfaat pengembangan kurikulum sekolah, difokuskan pada pencapaian kompetensi Kurikulum 2013 sesuai Visi dan Misi sekolah. Manfaat pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan sebagai acuan dalam implementasi kurikulum. 5) Hasil yang diharapkan dari kegiatan pengembangan Kurikulum Sekolah terkait dengan pengembangan potensi peserta didik yang mencakup tiga domain sikap, pengetahuan, dan keterampilan. 6) Unsur-unsur yang terlibat dan uraian tugasnya dalam pelaksanaan pengembangan Kurikulum Sekolah.. a) Tim Pengembang Kurikulum (TPK) Sekolah selanjutnya menyusun rencana, jadwal, materi, dan strategi pengembangan Kurikulum untuk tahun berjalan. Pada kegiatan ini dapat melibatkan pengawas atau nara sumber lain yang kompeten, sehingga diperoleh suatu pemahaman untuk diaplikasikan dalam penyusunan kurikulum sekolah. Kegiatan tersebut antara lain : Penyamaan persepsi terhadap Kurikulum 2013 berikut Dit. Pembinaan SMA 10

14 peraturan yang berlaku, antara lain PP No. 32 Tahun 2013, Permendikbud Nomor 54 Tahun 2013 tentang SKL, Permendikbud Nomor 64 Tahun 2013 tentang Standar Isi, Permendikbud Nomor 65 tentang Standar Proses, Permendikbud Nomor 66 tentang Standar Penilaian, Permendikbud Nomor 69 Tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum, Permendikbud Nomor 103/2014; Permendikbud Nomor 104/2014; Permendikbud Nomor13/2015. b) Pengumpulan data dan informasi yang berkaitan dengan keberhasilan dan kendala pelaksanaan Kurikulum yang dilakukan melalui kajian analisis terhadap dokumen kurikulum tahun sebelumnya, serta kemungkinan kendala dalam pelaksanaan Kurikulum Sekolah yang akan disusun untuk tahun berjalan. Tabel 1 berikut adalah contoh hasil analisis dokumen kurikulum. c) Tabel 1 berikut adalah contoh hasil Analisis dokumen Kurikulum. Tabel 1: Contoh Hasil Analisis dan Revisi Kurikulum SMA tahun No Komponen 1. Pengembangan Kurikulum 2. Struktur Kurikulum Kurikulum SMA. TP Pengembangan kurikulum sesuai dengan Analisis Konteks tahun 2013 (hal. 4) Alokasi waktu (hal. 16) Kurikulum SMA TP Disesuaikan Analisis kondisi riil sekolah dan Karakteristik Kurikulum 2013 (hal. 4) Penambahan alokasi waktu: 1. Kelas X: - menggunakan struktur kurikulum 2013 dengan penambahan mata pelajaran Bahasa Sunda di Mata Pelajaran Umum B. - Mata Pelajaran Prakarya diisi dengan keterampilan - Peminatan kelas X dilaksankan Dit. Pembinaan SMA 11

15 No Komponen Kurikulum SMA. TP Kurikulum SMA TP penjaringan minat dan lintas minat melalui format isian orang tua dan peserta didik yang didistribusikan ke peserta didik SMP/MTs kelas IX. - Berdasarkan hasil angket tidak ada Peminatan Bahasa dan Budaya, tetapi ada lintas Minat ke Peminatan Bahasa (Bahasa Inggris) 3. Ketuntasan Belajar Kriteria ketuntasan mengacu kepada 4. Kenaikan Kelas dan Kelulusan Syarat kenaikan kelas, kelulusan dan penjurusan., (hal. 29) Permendikbud Nomor 104 Tahun 2014 tentang penilaian hasil belajar oleh pendidik - Melengkapi syarat kenaikan kelas, kelulusan ujian sekolah, dan peminatan. - Kenaikan kelas disesuaikan dengan aturan yang dimuat dalam Permendikbud Nomor 66 Tahun 2013 tentang Standar Penilaian. - Syarat kelulusan mengacu kepada PP 13 Tahun 2015 sebagai perubahan kedua atas PP 19 Tahun 2005 tentang SNP. 5. Silabus dan RPP RPP disusun berdasarkan pembelajaran dengan pendekatan saintifik dengan materi Dit. Pembinaan SMA 12

16 No Komponen Kurikulum SMA. TP Kurikulum SMA TP faktual, konseptual, dan prosedural dengan mencakup domain sikap, pengetahuan, dan keterampilan, serta menerapkan penilaian autentik (hal. 41) 6. Kalender Pendidikan Waktu belajar (hal. 39) Disesuaikan dengan aturan sesuai Kurikulum Lampiran RPP menerapkan pendekatan pembelajaran saintifik dan penilaian autentik non autentik d) Analisis kondisi riil sekolah terutama yang berkaitan dengan tenaga pendidik, sarana dan prasarana yang akan dijadikan dasar dalam menyusun program peminatan, lintas minat, dan pendalaman minat (lihat lampiran Mekanisme dan Prosedur Peminatan, Lintas Minat, Pendalaman Minat). Hasil analisis tersebut merupakan gambaran kondisi riil sekolah, terutama tentang ketersediaan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan, serta sarana-prasarana sekolah sebagai acuan dalam menyusun program peminatan, lintas minat, dan pendalaman minat. Tabel 2 berikut adalah contoh hasil analisis terhadap sarana dan prasarana, serta pendidik dan tenaga kependidikan. Tabel 2: Contoh hasil analisis sarana dan prasarana, tenaga pendidik dan tenaga kependidikan di SMA... No Kondisi Ideal Kondisi Riil Kesenjangan Tindak Lanjut (kolom ini diisi sesuai dengan tuntutan Permendiknas atau Permendikbud (kolom ini diisi sesuai dengan kondisi riil Dit. Pembinaan SMA 13

17 No Kondisi Ideal Kondisi Riil Kesenjangan Tindak Lanjut yang berlaku) Standar Sarana dan Prasarana 1. Bangunan: a. Ruang Belajar (ruang Kelas); jumlah ruang kelas minimal sama dengan jumlah rombongan belajar b. Perpustakaan c. dst 2. Lahan a. dst 3. Dst Standar a. ruang belajar ada 30 ruang dan jumlah rombel kelas XI dan XII ada 18 rombel a. masih sisa ruang sebanyak 12 ruang, sehingga memungkin kan untuk menerima minimal 9 rombel kelas X Rencana penerimaan siswa kelas X sebanyak 10 rombel dengan peminatan dan lintas minat disesuaikan dengan hasil angket dan wawancara Pendidik dan Tenaga Kependidikan 1 Kualifikasi a. Pendidikan Semua Pendidik 52 orang guru S1, 4 orang S2 Studi lanjutan minimal S1 dan 1 orang bagi guru S3, D3 ada 3 orang yang masih Dit. Pembinaan SMA 14

18 Tindak No Kondisi Ideal Kondisi Riil Kesenjangan Lanjut b. Jumlah Guru Rasio Guru dan Siswa maksimal 1 : 20 c. Beban Kerja Minimal 24 Guru Jam Tatap Muka c. dst Rasio guru dan siswa 1 : 14 Rata-rata jumlah jam Analisis struktur kurikulum 2013 dalam penyusunan program peminatan tatap muka dan lintas setiap guru minat adalah 20 Jam pelajaran untuk kelas X (pelaksana Kurikulum 2013) 2 Dst. e) Perencanaan penambahan mata pelajaran kelompok Umum B, penambahan jam dan mata pelajaran, sesuai hasil analisis kondisi riil sekolah atau berdasarkan keputusan kepala daerah kabupaten/kota atau provinsi masing-masing, misalnya penambahan Bahasa Daerah. Penambahan ini dapat dipadukan pada mata pelajaran kelompok Umum B atau berdiri sendiri sebagai mata pelajaran Muatan Lokal (Mulok) f) Penyusunan rencana program peminatan dan lintas minat untuk kelas X berdasarkan hasil analisis tenaga pendidik, kondisi saranaprasarana, dan hasil angket peserta didik kelas X tentang minat dan lintas minat (lihat lampiran tentang mekanisme dan prosedur peminatan, lintas minat, dan pendalaman minat). 2. Pengembangan KTSP Hasil analisis pada kegiatan persiapan dan koordinasi, dijadikan bahan dan materi, serta strategi pengembangan kurikulum sekolah dengan langkah kegiatan antara Dit. Pembinaan SMA 15

19 a. Menyusun draf KTSP TPK mengembangkan draf KTSP untuk tahun berjalan berdasarkan hasil analisis tersebut di atas b. Kegiatan Review, Revisi, dan Finalisasi Setelah draf KTSP jadi, maka TPK melakukan review, revisi, dan finalisasi untuk memastikan kebenaran dan keterlaksanaannya. Kegiatan ini dapat melibatkan pengawas atau stakeholder lain, misalnya orang atau sumber yang berkaitan dengan pelaksanaan muatan lokal. Review dan revisi juga harus dilakukan terhadap RPP, sehingga RPP yang dikembangkan benar-benar sudah mencakup kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan kurikulum yang berlaku. Kegiatan pengembangan RPP dilakukan oleh guru mata pelajaran dengan mengembangkan kegiatan pembelajaran yang menggunakan pendekatan saintifik yang mencakup tiga domain sikap, pengetahuan, dan keterampilan mengacu kepada silabus dan buku yang diterbitkan oleh Kementerin Pendidikan (lihat E-Katalog untuk buku). (lihat model Pengembangan RPP, Model Pengembangan Penilaian, dan Analisis Hasil Belajar Peserta Didik). c. Pemantapan dan Penilaian Kegiatan ini merupakan kegiatan lanjutan hasil finalisasi, yang dilakukan oleh TPK sekolah dengan melibatkan Kepala Sekolah dan Pengawas atau Kepala Seksi Kurikulum Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota (dapat menggunakan instrumen verifikasi/validasi), serta persetujuan dari Komite Sekolah. d. Pengesahan KTSP Kepala SMA dan ketua Komite Sekolah menandatangani dokumen kurikulum hasil pemantapan dan penilaian dan menetapkan pemberlakuan kurikulum tersebut di sekolahnya, kemudian mengirimkannya ke Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota untuk direkomendasikan ke Dinas Pendidikan Provinsi untuk mendapatkan pengesahan Tim Pengembang Kurikulum menggandakan dokumen kurikulum dan Kurikulum SMA siap untuk disosialisasikan dan diimplementasikan. B. Sistematika Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Buku 1 Jenjang SMA Sistematika KTSP jenjang SMA dapat digambarkan seperti tampak pada tabel 3 Dit. Pembinaan SMA 16

20 Sistematika Kurikulum SMA Cover LEMBAR PENGESAHAN KATA PENGANTAR DAFTAR ISI Penjelasan Berisi judul, logo sekolah dan atau logo pemda, tahun pelajaran, dan alamat sekolah. Ditandatangani oleh kepala sekolah, ketua komite sekolah, dan kepala dinas pendidikan provinsi/ pejabat yang berwenang di dinas pendidikan provinsi. Cukup jelas Cukup jelas BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang a. Berisi dasar pemikiran pengembangan KTSP serta pemberlakuan Kurikulum b. Untuk sekolah yang melaksanakan Sistem Kredit Semester (SKS) uraikan pula tentang dasar pemikiran pengembangan/pelaksanaan SKS tersebut. B. Landasan Berisi landasan hukum terkait pengembangan KTSP, termasuk PP No. 13 tahun 2015 dan PP No. 32 Tahun 2013 sebagai pengganti atas PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan berikut Permendikbud yang mengiringinya C. Tujuan Berisi Tujuan Pengembangan KTSP termasuk pencapaian kompetensi yang mencakup tiga domain sikap, pengetahuan, dan keterampilan BAB II. TUJUAN SATUAN PENDIDIKAN A. Tujuan Pendidikan Menengah Meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut dengan memiliki keseimbangan sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang terpadu dalam kehidupan sehari-hari B. Visi Sekolah Visi adalah cita-cita bersama pada masa mendatang dari warga satuan pendidikan, yang dirumuskan berdasarkan masukan dari seluruh warga satuan pendidikan. a. dijadikan sebagai cita-cita bersama warga satuan pendidikan dan segenap pihak yang berkepentingan pada masa yang akan Dit. Pembinaan SMA 17

21 Sistematika Kurikulum SMA Penjelasan b. mampu memberikan inspirasi, motivasi, dan kekuatan pada warga satuan pendidikan dan segenap pihak yang berkepentingan; c. dirumuskan berdasar masukan dari berbagai warga satuan pendidikan dan pihak-pihak yang berkepentingan, selaras dengan visi institusi di atasnya serta visi pendidikan nasional; d. diputuskan oleh rapat dewan guru yang dipimpin oleh kepala sekolah/madrasah dengan memperhatikan masukan komite sekolah/madrasah; e. disosialisasikan kepada warga satuan pendidikan dan segenap pihak yang berkepentingan; f. ditinjau dan dirumuskan kembali secara berkala sesuai dengan perkembangan dan tantangan di masyarakat. C. Misi Sekolah Misi adalah sesuatu yang harus diemban atau harus dilaksanakan sebagai penjabaran visi yang telah ditetapkan dalam kurun waktu tertentu untuk menjadi rujukan bagi penyusunan program jangka pendek, menengah, dan jangka panjang, dengan berdasarkan masukan dari seluruh warga satuan pendidikan. a. memberikan arah dalam mewujudkan visi satuan pendidikan sesuai dengan tujuan pendidikan nasional; b. merupakan tujuan yang akan dicapai dalam kurun waktu tertentu; c. menjadi dasar program pokok satuan pendidikan; d. menekankan pada kualitas layanan peserta didik dan mutu lulusan yang diharapkan oleh satuan pendidikan; e. memuat pernyataan umum dan khusus yang berkaitan dengan program satuan pendidikan; f. memberikan keluwesan dan ruang gerak pengembangan kegiatan satuan-satuan unit satuan pendidikan yang terlibat; g. dirumuskan berdasarkan masukan dari segenap pihak yang berkepentingan termasuk komite sekolah/madrasah dan diputuskan oleh rapat dewan guru yang dipimpin oleh kepala sekolah/madrasah; h. disosialisasikan kepada warga satuan pendidikan dan segenap pihak yang berkepentingan; i. ditinjau dan dirumuskan kembali secara Dit. Pembinaan SMA 18

22 Sistematika Kurikulum SMA Penjelasan sesuai dengan perkembangan dan tantangan di masyarakat. D. Tujuan SMA... Tujuan pendidikan adalah gambaran tingkat kualitas yang akan dicapai dalam kurun waktu tertentu. Tujuan satuan pendidikan : BAB III. STRUKTUR KURIKULUM A. Kerangka Dasar Dapat disalin dari; B. Struktur Kurikulum a. Kompetensi Inti a. menggambarkan tingkat kualitas yang perlu dicapai dalam jangka menengah (empat tahunan); b. mengacu pada visi, misi, dan tujuan pendidikan nasional serta relevan dengan kebutuhan masyarakat; c. mengacu pada standar kompetensi lulusan yang sudah ditetapkan oleh satuan pendidikan dan Pemerintah; d. mengakomodasi masukan dari berbagai pihak yang berkepentingan termasuk komite sekolah/madrasah dan diputuskan oleh rapat dewan guru yang dipimpin oleh kepala sekolah/madrasah; e. disosialisasikan kepada warga satuan pendidikan dan segenap pihak yang berkepentingan. a. Lampiran 1 Permendikbud Nomor 59 tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Sekolah Menengah Atas/ Madrasah Aliyah, ditambah dengan landasan lain yang menjadi landasan kerangka dasar yang sesuai dengan karakteristik daerah atau sekolah, misalnya untuk penambahan muatan lokal pada mata pelajaran kelompok umum B. b. Peraturan Daerah tentang kebijakan pelaksanaan muatan lokal. b. Mata Pelajaran c. Pola dan susunan mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik dalam kegiatan pembelajaran, termasuk muatan lokal, penambahan mata pelajaran, peminatan, lintas minat dan pendalaman minat serta kegiatan pengembangan diri. d. Disusun berdasarkan kebutuhan dan minat Dit. Pembinaan SMA 19

23 Sistematika Kurikulum SMA Penjelasan didik dan sekolah terkait dengan upaya pencapaian SKL yang mencakup domain sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan struktur kurikulum yang meliputi mata pelajaran kelompok umum dan mata pelajaran pilihan (peminatan, lintas minat, dan pendalaman minat) e. Dikembangkan mengacu lampiran 1 Permendikbud Nomor 59 tentang Kurikulum SMA - MA f. Mengatur alokasi waktu pembelajaran tatap muka seluruh mata pelajaran minimal 42 jam pelajaran per minggu. g. Beban belajar tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri, baik Sistem Paket maupun yang melaksanakan Sistem Kredit Semester (SKS). h. Beban belajar tambahan : Satuan pendidikan dapat menambah beban belajar perminggu sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik, baik dalam jam pelajaran maupun dalam satuan kredit semester (sks). i. Mencantumkan jenis mata pelajaran muatan lokal yang dilaksanakan yang dapat dicantumkan pada mata pelajaran kelopok umum B, baik terintegrasi pada mata pelajaran yang tersedia atau berdiri sendiri. j. Bagi sekolah yang melaksanakan SKS uraikan tentang struktur dan jam pelajaran dalam sks, serta jumlah sks maksimal dan minimal yang harus ditempuh oleh peserta didik, per semester, per tahun, atau selama masa pendidikan di SMA sesuai dengan hasil analisis dan perhitungan internal sekolah serta mengacu kepada Permendikbud 158 tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Sistem Kredit Semester Pada Pendidikan Dasar dan Menengah. C. Muatan Kurikulum 1. Muatan KTSP terdiri atas muatan umum yang berupa muatan nasional dan muatan lokal; muatan peminatan akademik; muatan peminatan lintas minat/pendalaman minat. a. Muatan kurikulum pada tingkat nasional dikembangkan oleh pemerintah pusat, terdiri atas kelompok mata pelajaran kelompok Umum A, kelompok mata pelajaran kelompok umum B, dan kelompok mata pelajaran peminatan (C), termasuk bimbingan konseling dan ekstrakurikuler wajib pendidikan Dit. Pembinaan SMA 20

24 Sistematika Kurikulum SMA Penjelasan b. Muatan lokal yang dikembangkan oleh pemerintah daerah provinsi atau kabupaten/kota dan/atau satuan pendidikan dapat berbentuk sejumlah bahan kajian terhadap keunggulan dan kearifan daerah setempat. Dapat dilaksanakan sebagai bagian mata pelajaran kelompok umum B atau mata pelajaran yang berdiri sendiri jika pengintegrasian tidak dapat dilakukan. 2. Jumlah mata pelajaran: a. Jumlah mata pelajaran di kelas X minimal 15 mata pelajaran yang terdiri atas 6 mata pelajaran umum A sebagai muatan kurikulum nasional seluruhnya, minimal 3 mata pelajaran kelompok umum B dan dapat ditambah dengan muatan daerah, dan 5 mata pelajaran peminatan. b. Untuk mata pelajaran peminatan peserta didik dapat minimal memilih 3 (tiga) dari 4 (empat) mata pelajaran dalam satu kelompok (MIPA, IPS, atau Bahasa dan Budaya), dan maksimal 3 (tiga) mata pelajaran dari kelompok lain sebagai lintas minat, atau dapat memilih 4 mata pelajaran dalam satu kelompok (MIPA, IPS, atau Bahasa dan Budaya), dan maksimal 2 (dua) mata pelajaran dari kelompok lain sebagai lintas minat, kecuali untuk peminatan Ilmu Bahasa dan Budaya dapat memilih 6 mata pelajaran dalam kelompoknya. Misalnya untuk kelas X terdiri atas 16 mata pelajaran dengan 6 mata pelajaran kelompok umum A, 4 mata pelajaran Umum B, 3 mata pelajaran dalam satu kelompok peminatan, dan 3 mata pelajaran dari kelompok yang lain sebagai lintas minat. c. Jumlah mata pelajaran di kelas XI dan kelas XII untuk semua peminatan Ilmu Pengetahuan Alam, peminatan Ilmu Pengetahuan Sosial, dan peminatan Ilmu Bahasa dan Budaya minimal 14 mata pelajaran yang terdiri atas 6 mata pelajaran wajib A, minimal 3 mata pelajaran Umum B, 5 mata pelajaran peminatan yang dipilih dari kelas X. d. Khusus untuk kelas XII dapat dilaksanakan pendalaman minat yang bekerja sama dengan perguruan tinggi. 1. Kegiatan Ekstrakurikuler 1. Kegiatan Ekstrakurikuler diselenggarakan dengan tujuan untuk mengembangkan potensi, bakat, minat, kemampuan, kepribadian, kerjasama, Dit. Pembinaan SMA 21

25 Sistematika Kurikulum SMA 2. Pengaturan Beban Belajar Penjelasan kemandirian peserta didik secara optimal dalam rangka mendukung pencapaian tujuan pendidikan nasional yang terdiri atas ekstrakurikuler wajib dan ekstrakurikuler pilihan. 2. Bentuk Kegiatan Ekstrakurikuler yang dilaksanakan satuan pendidikan, dapat berupa: a. Krida, misalnya: Kepramukaan, Latihan Kepemimpinan Siswa (LKS), Palang Merah Remaja (PMR), Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra), dan lainnya; b. Karya ilmiah, misalnya: Kegiatan Ilmiah Remaja (KIR), kegiatan penguasaan keilmuan dan kemampuan akademik, penelitian, dan lainnya; c. Latihan olah-bakat latihan olah-minat, misalnya: pengembangan bakat olahraga, seni dan budaya, pecinta alam, jurnalistik, teater, teknologi informasi dan komunikasi, rekayasa, dan lainnya; d. Keagamaan, misalnya: pesantren kilat, ceramah keagamaan, baca tulis alquran, retreat; atau e. Bentuk kegiatan lainnya. 3. Kegiatan Kepramukaan dilaksanakan melalui tiga kegiatan, yaitu: 1) Kegaitan Blok dilaksanakan melalui perkemahan (wajib untuk semua peserta didik) dapat dilakukan pada saat MOPDB atau pada libur semester 36 jp per tahun. 2) Aktualisasi Mata Pelajaran (wajib untuk semua peserta didik); kegiatan-kegiatan sebagai aktualisasi mata pelajaran yang dirancang oleh guru mata pelajaran untuk dilaksanakan kepada pembina pramuka dan dilaksanakan pada kegiatan kepramukaan, wajib 120 menit perminggu. 3) Gugus Depan (untuk peserta didik yang berminat, lihat pedoman/peraturan pelaksanaan ekstrakurikuler dan Kepramukaan) a. Beban belajar dalam KTSP jenjang SMA diatur dalam bentuk Sistem Kredit Semester (SKS) atau Sistem Paket b. Ketentuan tentang Beban belajar tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri untuk SKS dan Sistem Paket disesuaikan dengan Dit. Pembinaan SMA 22

26 Sistematika Kurikulum SMA masing-masing Penjelasan c. Beban belajar tambahan disesuaikan dengan hasil analisis kondisi riil sekolah yang menjadi tanggungjawab sekolah masing-masing. d. Pengaturan pola belajar harus memperhatikan 14 prinsip pembelajaran sesuai Lampiran Permendikbud No. 65 Tahun 2013 halaman 1 2 yang mencakup domain sikap, pengetahuan, dan keterampilan. e. Proses pembelajaran mencakup pengetahuan faktual, konseptual, dan prosedural (untuk kelas X) ditambah dengan metakognitif (untuk kelas XI dan XII) dengan menggunakan pendekatan saintifik (Scientific Approach) dan penilaian autentik (authentic assessment). Permendikbud Nomor 103 tahun 2014 Tentang pembelajaran Pada pendidikan dasar dan Pendidikan menengah harus dijadikan salah satu acuan Perlu diperhatikan pula permendikbud Nomor 59 tahun 2014 dan Permendikbud Nomor 61 tahun 2014 Jumlah minggu efektif dan alokasi waktu jam tatap muka yang digunakan 3. Ketuntasan Belajar Ketuntasan minimal merupakan kriteria ketuntasan belajar minimal yang ditentukan oleh satuan pendidikan dengan mempertimbangkan karakteristik Kompetensi Dasar yang akan dicapai, daya dukung, dan karakteristik peserta didik dengan tetap mengacu kepada ketentuan penilaian yang berlaku dengan minimal perolehan nilai 2,67 untuk pengetahuan dan ketrampilan, serta nilai Baik( B) untuk sikap (lihat Permendikbud Nomor 66 Tahun 2013 tentang Standar Penilaian, Disamping itu perlu berpedoman pada Permendikbud Nomor 104 Tahun 2014 Tentang Penilaian hasil belajar oleh pendidik pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah 4. Kriteria Kelulusan dan Kenaikan Kelas Berisi tentang kriteria kenaikan kelas dan kelulusan, serta strategi penanganan peserta didik yang tidak naik atau tidak lulus yang diberlakukan oleh sekolah, dengan memperhatikan ketentuan kenaikan kelas dan kelulusan melalui uji pencapain kompetensi mengacu kepada Permendikbud No. 66 Tahun 2013 (lihat juga Panduan Pengembangan Penilaian. Lihat Permendikbud nomor 5 tahun 2015 tentang Kriteria Kelulusan Peserta Didik dan Peraturan pemerintah Nomor 13 tahun 2015 tentang Perubahan kedua atas Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang standar Dit. Pembinaan SMA 23

27 Sistematika Kurikulum SMA Pendidikan Penjelasan 5. Kriteria Peminatan, Lintas minat, dan Pendalaman minat, dan Mutasi peserta didik 6. Pendidikan Kecakapan Hidup 7. Pendidikan Kewirausahaan Berisi tentang: a. Diawali konsep dasar rekruitmen peserta didik baru b. kriteria peminatan dan lintas minat, serta tata cara pemilihan mata pelajaran lintas minat sesuai hasil analisis kondisi riil sekolah (lihat Panduan Peminatan, Lintas Minat, dan Pendalaman Minat) untuk kelas X, antara lain waktu penentuan pemilihan minat (sebelum atau sesudah diterima), dan penyediaan menu mata pelajaran pilihan. c. peserta didik dapat memilih 4 atau 3 mata pelajaran peminatan, dan 2 atau 3 mata pelajaran lintas minat. d. peraturan pindah peminatan atau pindah lintas minat, diatur oleh satuan pendidikan dengan mengacu pada Permendikbud No. 64 tahun 2014 tentang Peminatan Pada Pendidikan Menengah, e. Pengaturan mutasi peserta didik antar satuan pendidikan diatur oleh satuan pendidikan masingmasing. f. tata cara dan strategi pelaksanaan pendalaman minat yang dilakukan melalui kerjasama dengan perguruan tinggi sesuai dengan tuntutan Kurikulum (lihat Panduan Pendalaman Minat di SMA) Berisi tentang bagaimana penerapan pendidikan kecakapan hidup yang dilaksanakan di sekolah. Dapat berupa implementasi dari mata pelajaran pada domain sikap, pengetahuan, dan keterampilan, atau pembiasaan yang dilakukan di sekolah. a. Menjelaskan bagaimana bentuk pendidikan kewirausahaan dikembangkan di sekolah, (dapat dilakukan dengan penanaman nilai-nilai kewirausahaan melalui integrasi berbagai Dit. Pembinaan SMA 24

28 Sistematika Kurikulum SMA BAB IV. KALENDER PENDIDIKAN Lampiran Penjelasan sekolah, maupun kegiatan riil praktik wira usaha. b. Sekolah melakukan analisis internal sekolah dan dukungan lingkungan (eksternal sekolah) untuk memperoleh jenis kewirausahaan yang sesuai untuk dilaksanakan. c. Pelaksanaan pendidikan kewirausahaan dapat dipadukan pada mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan, dengan mengambil Kompetensi Dasar pada Kewirausahaan yang sesuai dengan hasil analisis. d. Dapat diwujudkan dalam kegiatan, misalnya Pameran seni. (lihat Panduan Pelaksanaan Kewirausahaan di SMA) a. Berisi tentang kalender pendidikan dan rencana time schedule kegiatan yang akan dilaksanakan, dan disusun berdasarkan kalender pendidikan yang ditetapkan oleh Dinas Pendidikan setempat, disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik kegiatan sekolah, serta kebutuhan peserta didik dan masyarakat, dengan memperhatikan aturan kalender pendidikan sebagaimana tercantum dalam Standar Isi. b. Rencana Kegiatan atau jadwal memuat antara lain; kegiatan awal tahun, minggu efektif (Proses Pembelajaran, Ujian, Ulangan, hari libur, PPDB, MOPDB, dll) c. Alokasi waktu untuk setiap kegiatan (Contoh kalender pendidikan terlampir). a. Hasil analisis keterkaitan kompetensi dengan materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan penilaian, b. Laporan Hasil Analisis Dit. Pembinaan SMA 25

29 BAB IV PELAKSANAAN DAN SUPERVISI A. Pengorganisasian Pengembangan Kurikulum Sekolah dilaksanakan oleh Tim Pengembang Kurikulum Sekolah, dikoordinasikan kepala sekolah, dengan melibatkan komite sekolah, dan guru, serta pengawas pembina dengan pendampingan atau bimbingan dan kerjasama dinas pendidikan kabupaten/kota, atau dinas/instansi lain yang terkait. Kerjasama dengan dinas/instansi terkait dapat dilakukan untuk menambah atau memperkaya muatan Kurikulum Sekolah sesuai dengan karakteristik sekolah, keunggulan lokal, dan sosial budaya lingkungan setempat. Kurikulum Sekolah yang telah disusun dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab oleh setiap pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah yang bersangkutan, dengan terlebih dahulu disosialisasikan kepada seluruh warga sekolah setelah disahkan oleh kepala dinas pendidikan provinsi/ pejabat yang berwenang di dinas pendidikan provinsi. B. Pelaksanaan Pelaksanaan kurikulum di satuan pendidikan dilakukan setelah ada sosialisasi kurikulum. sosialisasi ini dapat dilakukan sebelum atau setelah dokumen kurikulum disahkan oleh kepala dinas pendidikan provinsi / pejabat yang berwenang di dinas pendidikan provinsi., tetapi telah ditandatangani dan ditetapkan pemberlakuannya oleh kepala sekolah dan komite sekolah. Pelaksanaan kurikulum yang telah disusun merupakan tanggung jawab bersama seluruh unsur satuan pendidikan yakni kepala sekolah/madrasah, tenaga pendidik dan tenaga kependidikan. Dengan demikian, maka untuk optimalnya pelaksanaan memerlukan daya dukung yang mencakup kebijakan, ketersediaan dan komitmen tenaga, dan sarana dan prasarana pendidikan. C. Koordinasi dan Supervisi Pelaksanaan kegiatan supervisi disini tidak diartikan sebagai supervisi pada saat implementasinya di sekolah, tetapi merupakan kegiatan penilaian atau judgement terhadap kelayakan dokumen KTSP yang telah dikembangkan oleh sekolah. Pada kegiatan ini Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota (dapat dilakukan oleh pengawas sekolah) melakukan verifikasi, untuk selanjutnya disahkan oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi. Evaluasi KTSP dilaksanakan secara berkesinambungan dan berkala yang dilakukan oleh sekolah) dan Komite Sekolah minimal satu tahun Dit. Pembinaan SMA 26

30 BAB V PENUTUP Perubahan Kebijakan Kemendikbud tentang implementasi kurikulum 2013, tetap mewajibkan sekolah untuk mengimplementasikan semua peraturan yang berkaitan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2015 sebagai Perubahan kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasinya. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) disusun sebagai acuan dalam pelaksanaan proses pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Mengingat pentingnya KTSP dalam proses pendidikan pada suatu satuan pendidikan, maka pengembangan KTSP harus mempertimbangkan acuan, prinsip, dan prosedur pengembangan yang berlaku.. Proses pendidikan tersebut harus dapat mengembangkan potensi peserta didik secara optimal, sehingga mencapai perkembangan yang seimbang antara kebutuhan fisik, psikis, dan spritual dan mencakup domain sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Naskah ini disusun sebagai salah satu panduan Tim Pengembang Kurikulum sekolah dalam menyusun dokumen kurikulum sekolah, melaksanakan peminatan, lintas minat, serta pendalaman minat, sesuai dengan kondisi dan karakteristik sekolahnya Dit. Pembinaan SMA 27

31 DAFTAR PUSTAKA Badan Standar Nasional Pendidikan (2010). Penduan Penyusunan KTSP. Jakarta Depdiknas (2005). Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Pendidikan Nasional. Jakarta Depdiknas (2003). Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun Jakarta. Depdiknas. (2002). Pedoman Penyususunan Standar Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta. Direktorat Pembinaan SMA (2010). Petunjuk Teknis Penyusunan KTSP. Jakarta Direktorat Pembinaan SMA (2012). Model Pengembangan Peminatan dan Lintas Minat. Jakarta Direktorat Pembinaan SMA (2014). Panduan Pelaksanaan Kewirausahaan di SMA. Jakarta Direktorat Pembinaan SMA (2014). Panduan Muatan Lokal di SMA. Jakarta Direktorat Pembinaan SMA (2014). Panduan Penilaian di SMA. Jakarta Kemdikbud (2013). Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 sebagai Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta Kemdikbud (2013). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 54 Tahun 2013 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Jakarta Kemdikbud (2013). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 64 Tahun 2013 tentang Standar Isi. Jakarta Kemdikbud (2013). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses. Jakarta Kemdikbud (2013). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 66 Tahun 2013 tentang Standar Penilaian. Jakarta Kemdikbud (2013). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 81a Thun 2013 tentang Implementasi Kurikulum. Jakarta Kemdikbud (2014). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 59 Tahun 2014 tentang Kurikulum SMA/MA. Jakarta Kemdikbud (2014). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 61 Tahun 2014 tentang KTSP. Jakarta Kemdikbud (2014). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 62 Tahun 2014 tentang Ekstrakurikuler. Jakarta Kemdikbud (2014). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 63 Tahun 2014 tentang Kepramukaan. Dit. Pembinaan SMA 28

32 Kemdikbud (2014). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 64 Tahun 2014 tentang Peminatan SMA. Jakarta Kemdikbud (2014). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 65 Tahun 2014 tentang Buku. Jakarta Kemdikbud (2014). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 68 Tahun 2014 tentang Guru TIK. Jakarta Kemendikbud, 2014, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 103 Tahun 2014 Tentang Pembelajaran pada pendidikan dasar dan Pendidikan Menengah, Jakarta Kemendikbud, 2014, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 104 Tahun 2014 Tentang Penilaian Hasil Belajar oleh pendidik pada Pendidikan Dasar dan pendidikan Menengah, Jakarta Kemendikbud, 2015, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 5 Tahun 2015 Tentang Kriteria Kelulusan Peserta Dididk, Penyelenggaraan ujian nasional, dan penyelenggaraan Ujian Sekolah/ Madrasah/ pendidikan Kesertaraan pada SMP/MTs atau yang sederajad dan SMA/MA/SMK atau yang sederajad, Dit. Pembinaan SMA 29

33 LAMPIRAN 1:INSTRUMEN VERIFIKASI/VALIDASI DOKUMEN KTSP a. Cara Pengisian Instrumen: Beri tanda checklist (V) pada; 1) 0 apabila tidak ada 2) 1 apabila Ada/Kurang atau tidak lengkap 3) 2 apabila Ada/Cukup /Cukup Lengkap 4) 3 apabila Ada Baik / Lengkap 5) 4 apabila Ada/Sangat Baik/Sangat Lengkap b. Penilaian Dit. Pembinaan SMA 30

34 INSTRUMEN VERIFIKASI/VALIDASI DOKUMEN KTSP Nama Sekolah : Nama Kepala Sekolah : Alamat Sekolah : Kabupaten/Kota : DOKUMEN I NO KOMPONEN DAN INDIKATOR COVER/HALAMAN JUDUL 1 Logo sekolah dan atau daerah 2 Judul: Kurikulum SMA... 3 Tahun pelajaran 4 Alamat sekolah LEMBAR PENGESAHAN 1 Rumusan kalimat pengesahan DAFTAR ISI Tanda tangan kepala sekolah dan stempel/cap sekolah Tanda tangan ketua komite sekolah dan stempel/cap Komite Sekolah Tempat untuk tanda tangan kepala/ pejabat dinas pendidikan provinsi PENDAHULUAN A Kesesuaian halaman RASIONAL 1 LATAR BELAKANG MEMUAT: Kondisi ideal Kondisi nyata Potensi dan Karakteristik Satuan Pendidikan 2 MENCANTUMKAN DASAR HUKUM YANG RELEVAN PENILAIAN Dit. Pembinaan SMA 31

35 NO B KOMPONEN DAN INDIKATOR Undang-undang No 20 thn 2003 PP No. 32 Tahun 2013 Permendikbud No. 54 Tahun 2013 Permendikbud No. 64 Tahun 2013 Permendikbud No. 65 Tahun 2013 Permendikbud No. 66 Tahun 2013 Permendikbud No. 69 Tahun 2013 Permendikbud No. 71 Tahun 2013 Permendikbud No. 81A Tahun 2013 Surat Edaran Menteri yang sesuai Peraturan Daerah yang relevan VISI SATUAN PENDIDIKAN 1 Ringkas dan mudah dipahami C D Mengacu pada tujuan pendidikan menengah yaitu untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Mengacu tuntutan SKL dan KI yang mencakup tiga domain Sikap, Pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan Permendikbud No. 54 Tahun Berorientasi pada potensi, minat, perkembangan, kebutuhan dan kepentingan peserta didik Berorientasi pada kepentingan daerah, nasional dan global. Berorientasi pada perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, serta memperhatikan lingkungan sosial dalam rangka menumbuhkan peduli lingkungan. Memberi inspirasi dan tantangan dalam meningkatkan prestasi secara berkelanjutan untuk mencapai keunggulan Mendorong semangat dan komitmen seluruh warga satuan pendidikan untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pendidikan MISI SATUAN PENDIDIKAN Menjabarkan pencapaian visi dalam bentuk pernyataan yang terukur dan dapat dicapai sesuai dengan skala prioritas, mencakup: seluruh indikator visi TUJUAN SATUAN PENDIDIKAN Menjabarkan pencapaian misi dalam bentuk pernyataan yang terukur dan dapat dicapai PENILAIAN Dit. Pembinaan SMA 32

36 NO II KOMPONEN DAN INDIKATOR sesuai dengan skala prioritas, mencakup seluruh indikator misi STRUKTUR DAN MUATAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN Daftar mata pelajaran Wajib A, Wajib B, Peminatan dan Lintas Minat. Pengaturan alokasi waktu per mata pelajaran disesuaikan struktur kurikulum, minat dan kebutuhan peserta didik dan sekolah dengan jumlah waktu minimal 42 jam pelajaran per minggu. PROGRAM MUATAN LOKAL, mencantumkan: Jenis dan strategi pelaksanaan muatan lokal yang dilaksanakan sesuai dengan kebijakan daerah. Jenis dan strategi pelaksanaan muatan lokal yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan karakteristik sekolah. Daftar KI dan KD Muatan lokal yang dikembangkan oleh sekolah. KEGIATAN PENGEMBANGAN DIRI, mencantumkan: Uraian tentang jenis dan strategi pelaksanaan program layanan konseling dan atau layanan akademik/belajar, sosial dan pengembangan karier peserta didik. Uraian tentang jenis dan strategi pelaksanaan program pengembangan bakat, minat dan prestasi peserta didik. Kegiatan Pramuka sebagai kegiatan ekstrakurikuler wajib. PENGATURAN BEBAN BELAJAR, mencantumkan: Uraian tentang pengaturan alokasi waktu pembelajaran per jam tatap muka, jumlah jam pelajaran per minggu, jumlah minggu efektif per tahun pelajaran, jumlah jam pelajaran per tahun. Uraian tentang pemanfaatan 60% dari jumlah waktu kegiatan tatap muka pada mata pelajaran tertentu, untuk penugasan terstruktur (PT) dan kegiatan mandiri tidak terstruktur (KMTT). Uraian tentang pelaksanaan program percepatan bagi siswa yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa (bila ada). *) 4 Uraian tentang pelaksanaan lintas minat. KENAIKAN KELAS mencantumkan: 1 Uraian tentang pelaksanaan penilaian hasil belajar siswa (ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester dan ulangan kenaikan kelas), sesuai denganketentuan yang PENILAIAN Dit. Pembinaan SMA 33

37 NO KOMPONEN DAN INDIKATOR diatur dalam Standar Penilaian Pendidikan. Uraian tentang mekanisme dan prosedur pelaporan hasil belajar peserta didik. Uraian tentang pelaksanaan program remedial dan pengayaan. KELULUSAN, mencantumkan: Kriteria kelulusan berdasar pada ketentuan PP nomor 32 tahun 2013 pasal 72 ayat 2. Uraian tentang pelaksanaan ujian nasional dan ujian sekolah. 3 Target kelulusan yang akan dicapai oleh sekolah III Uraian tentang program-program sekolah dalam meningkatkan kualitas lulusan. Uraian tentang program pasca ujian nasional sebagai antisipasi bagi peserta didik yang belum lulus ujian. PEMINATAN DAN LINTAS MINAT, mencantumkan Penentuan jumlah siswa yang mengambil mata pelajaran peminatan dan lintas minat mengacu hasil analisis kondisi riil sekolah, terutama PTK dan sarana-prasarana yang tersedia, dengan mempertimbangkan potensi dan minat peserta didik. Kriteria peminatan dan lintas minat sesuai dengan potensi dan minat peserta didik yang mendaftar dengan memperhatikan juga nilai raport, SKHUN, atau rekomendasi sekolah asal. Uraian tentang program penelusuran potensi, minat dan prestasi peserta didik. Uraian tentang mekanisme dan proses pelaksanaan peminatan dan lintas minat. PENDIDIKAN KECAKAPAN HIDUP dan PENDIDIKAN BERBASIS KEUNGGULAN LOKAL dan GLOBAL, mencantumkan: Uraian tentang penerapan pendidikan kecakapan hidup. Uraian tentang penyelenggaraan pendidikan berbasis keunggulan lokal. Uraian tentang upaya sekolah menuju pendidikan berwawasan global. KALENDER PENDIDIKAN, Mencantumkan: 1 Pengaturan tentang permulaan tahun pelajaran. Jumlah minggu efektif belajar satu tahun 2 pelajaran 3 Jadwal waktu libur (jeda tengah semester, antar semester, libur akhir tahun pelajaran, libur keagamaan, hari libur nasional dan hari libur khusus). PENILAIAN Dit. Pembinaan SMA 34

38 NO KOMPONEN DAN INDIKATOR LAMPIRAN PENILAIAN Contoh RPP setiap mata pelajaran 2 Jumlah Silabus muatan lokal yang dilaksanakan Laporan hasil analisis Konteks atau analisis kondisi riil sekolah. NILAI = % CATATAN/KOMENTAR UMUM Petugas Validasi/Verifikasi Dit. Pembinaan SMA 35

39 Lampiran 2: Contoh KTSP J A Y A R A Y A KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) SMA NEGERI 78 JAKARTA Menerapkan Rintisan Sistem Kredit Semester (SKS) Tahun Pelajaran 2014/2015 PEMERINTAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA DINAS PENDIDIKAN SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) 78 JAKARTA Jalan Bhakti IV/1, Kompleks Pajak, Kemanggisan, Palmerah, Jakarta Barat Telepon (021) , , , Faksimile (021) Website: Tahun Dit. Pembinaan SMA 36

40 LEMBAR PENGESAHAN Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan SMA Negeri 78 Jakarta telah disetujui dan disahkan pada tanggal 20 Oktober 2014 Oleh: Ketua Komite SMA Negeri 78 Jakarta Kepala SMA Negeri 78 Jakarta Ph. AY. Johnson Riberu, S.Sc Drs. Sonny Juhersoni, M.Pd. NIP Mengetahui, Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta Kepala Bidang SMP/SMA Andri Kunarso, SE, M.Ed NIP Dit. Pembinaan SMA 37

41 Kata Pengantar Dengan mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan dan melimpahkan berkah, rahmat, hidayah, Tim Pengembang Kurikulum SMA Negeri 78 Jakarta dapat menyelesaikan penyempurnaan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), yang diberi nama KTSP SMAN 78 dengan Menerapkan Sistem Kredit Semester. Penyusunan KTSP SMA NEGERI 78 dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan, melalui seminar, lokakarya, workshop MGMP, dan rapat kerja. Kegiatan seminar dilakukan untuk mengembangkan wawasan dan pengetahuan tentang berbagai permasalahan kurikulum dan pembelajaran oleh tim Pengembang Kurikulum SMA Negeri 78 Jakarta. Hasil kegiatan Rapat Kerja, Workshop, dan lokakarya guru, pegawai, dan komite sekolah. Kegiatan MGMP sekolah untuk menjabarkan dan mengimplemen-tasikan hasil lokakarya dalam menyusun rencana teknis kurikulum. Hasil akhir dokumen kurikulum direvisi dan disempurnakan melalui rapat kerja awal tahun. KTSP SMA NEGERI 78 merupakan kurikulum operasional yang dijadikan pedoman pelaksanaan bagi guru dan warga sekolah (komite dan masyarakat). Penyusunan KTSP SMA NEGERI 78 mengacu pada perundang-undangan dan/atau peratutan dari pemerintah, baik pusat maupun daerah, serta mengadaptasi kurikulum internasional (dalam hal ini, Cambridge University Examination). Sebagai pedoman operasional, KTSP SMA NEGERI 78 ini masih memerlukan penyempurnaan agar keterlaksanaannya dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dan pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan. Dengan demikian diperlukan masukan dan kritikan yang konstruktif dari berbagai kalangan. Jakarta, 20 Oktober 2014 Tim Pengembang Kurikulum SMA Negeri 78 Dit. Pembinaan SMA 38

42 DAFTAR ISI Halaman Judul Lembar Pengesahan Kata Pengantar Daftar Isi i ii iii iv BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang 1 B. Landasan 3 C. Tujuan 4 BAB II TUJUAN SATUAN PENDIDIKAN 5 A. Tujuan pendidikan menengah 5 B. Visi Sekolah 5 C. Misi Sekolah 5 D. Tujuan Sekolah 6 E. Kebijakan Mutu 6 F. Sistem Kredit Semester 7 G. Konsep dasar dan mplementasi Sistem Kredit Semester (SKS) 7 BAB III STRUKTUR DAN MUATAN KURIKULUM 18 A. Kerangka Dasar 18 B. Struktur Kurikulum 22 C. Muatan Kurikulum 27 BAB IV KALENDER AKADEMIK 49 A. Hari dan Jam Belajar 49 B. Hari Libur Dit. Pembinaan SMA 39

43 C. Kalender Akademik 50 BAB VII PENUTUP Daftar Dit. Pembinaan SMA 40

44 Lampiran 3 Contoh KTSP Lengkap KURIKULUM SMA NEGERI 1 DEMAK TAHUN PELAJARAN 2014/2015 PEMERINTAH KABUPATEN DEMAK DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAH RAGA SMA NEGERI 1 DEMAK Alamat: Jalan Sultan Patah/Katonsari No. 85 (0291) Demak Website / / Dit. Pembinaan SMA 41

45 LEMBAR PENGESAHAN Setelah memperhatikan hasil workshop review KTSP bersama Dewan Pendidik, Tenaga Kependidikan, Perwakilan Siswa, dan Unsur Pengawas serta memperhatikan pertimbangan dari Komite Sekolah, dengan ini Kurikulum SMA Negeri 1 Demak ini disahkan untuk diberlakukan mulai tahun pelajaran 2014/2015. Disahkan : Di : Demak Tanggal : Menyetujui: Ketua Komite Sekolah, Kepala SMA Negeri 1 Demak, Drs. Eko Pringgolaksito, M.Si. Drs. Suyanto, M.Pd. NIP Mengetahui: a.n. Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah Kepala Bidang Pendidikan Menengah, Drs. Kartono, M.Pd. Pembina Tingkat I NIP Dit. Pembinaan SMA 42

46 KATA PENGANTAR Segala puji syukur dipanjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala nikmat yang telah diberikan kepada segenap warga sekolah sehingga berhasil menyelenggarakan workshop Review KTSP dan menghasilkan perbaikan Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan (KTSP) SMA Negeri 1 Demak pada tahun pelajaran 2014/2015. Sejalan dengan filosofi kurikulum KTSP, sekolah harus terus menerus untuk melakukan perubahan-perubahan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan kebutuhan sekolah di masa yang akan datang. Perubahan yang dinamis diantisipasi dengan melakukan revisi KTSP setiap tahunnya. Dengan paradigma ini diharapkan KTSP di SMA Negeri 1 Demak selalu mampu mengikuti tuntutan perkembangan masyarakat dan tantangan global. Penyusunan KTSP SMAN 1 Demak ini tetap mengacu pada ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, setiap sekolah/madrasah mengembangkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan Standar Isi (SI) dan berpedoman kepada panduan yang ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Panduan Penyusunan KTSP terdiri atas dua bagian, yaitu bagian pertama berupa Panduan Umum dan bagian kedua Model KTSP. Panduan Umum memuat pedoman dan rambu-rambu yang perlu diacu, dijabarkan dari berbagai ketentuan-ketentuan tentang kurikulum yang terdapat dalam UU No. 20 tahun 2003 dan PP No. 19 tahun 2005 jo PP No 32/2013 dan peraturan pelaksana lainnya. Selain penguatan visi, misi, tujuan, struktur program, muatan kurikulum, pengembangan diri, kalender pendidikan, dan masalah teknis lainnya, khususnya silabus dan Rencana Program Pengajaran (RPP) setiap mata pelajaran. Keberhasilan melakukan review ini berkat dukungan seluruh stake holders sekolah. Oleh karena itu, ucapan terima kasih disampaikan kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam berbagai hal sehingga kita dapat mewujudkan Kurikulum KTSP SMAN 1 Demak lebih komprehensif. Ucapan terima kasih yang sangat dalam kepada seluruh pihak yang bekerja keras memberi kontribusi penyelesaian revisi KTSP ini baik secara langsung maupun tidak langsung. Segala kritik dan saran sangat dibutuhkan dari semua pihak demi sempurnanya KTSP SMA Negeri 1 Demak pada waktu yang akan datang. Atas perhatian semua pihak diucapkan terima kasih. Demak, Tim Penyusun KTSP SMAN 1 Dit. Pembinaan SMA 43

47 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... LEMBAR PENGESAHAN... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... i ii iii iv BAB I : BAB II: BAB III: PENDAHULUAN A. Latar Belakang... 1 B. Landasan C. Tujuan Pengembangan KTSP... 5 TUJUAN SATUAN PENDIDIKAN A. Tujuan Pendidikan Sekolah Menengah... B. Visi Sekolah... C. Misi Sekolah... D. Tujuan Sekolah... STRUKTUR DAN MUATAN KURIKULUM A. Struktur Kurikulum... B. Muatan Kurikulum Mata Pelajaran Muatan Lokal Pengembangan Diri Beban Belajar Ketuntasan Belajar Penilaian, Kriteria Kenaikan Kelas, Kelulusan, dan Mutasi Siswa Kriteria Peminatan Pendidikan Kecakapan Hidup Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal dan Global BAB III : KALENDER PENDIDIKAN BAB IV: PENUTUP Lampiran-Lampiran Standar Kompetensi Lulusan, Standar Kompetensi, dan Kompetensi Dasar (KD) Mata Pelajaran 2. Silabus 3. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) 4. Kalender Pendidikan 5. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 6. Program Pengembangan Diri 7. Profil Sekolah 8. Surat Keputusan Kepala Sekolah tentang Tim Penyusun KTSP BAB Dit. Pembinaan SMA 44

48 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Memasuki awal abad ke-21, bangsa Indonesia dihadapkan pada persaingan antarbangsa. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, gelombang globalisasi, dan demokratisasi telah membawa perubahan di hampir aspek kehidupan bangsa Indonesia. Menghadapi perubahan tersebut diperlukan kualitas sumber daya manusia yang menuntut produktivitas, efisiensi, competitive edge, dan berbagai macam peningkatan kinerja dan kualitas agar dapat memenangkan persaingan global. Menciptakan kualitas sumber daya manusia membutuhkan kemauan, komitmen, dan kesadaran dari berbagai pihak. Kita membutuhkan prakarsa dan upaya yang nyata untuk membenahi dan meningkatkan sumber daya manusia. Salah satu prakarsa yang strategis dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang kualitas adalah membenahi sistem pendidikan nasional. Mengingat kemajemukan bangsa Indonesia, maka Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 31 ayat (3) mengamanatkan bahwa Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang. Atas dasar amanah tersebut telah diterbitkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang memberikan pedoman dalam penyelenggaraan kebijakan pendidikan. Sesuai pasal 3 UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 tersebut ditegaskan tujuan pendidikan nasional sebagai berikut : Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. (UU Sisdiknas, 2004 : 5). Implementasi Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dijabarkan ke dalam sejumlah peraturan yang menjadi pedoman dan arahan dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah, diantaranya adalah Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan sebagaimana diubah dalam Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Peraturan pemerintah tersebut memberikan arahan tentang perlunya disusun dan dilaksanakan delapan standar nasional pendidikan, yaitu: standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar Dit. Pembinaan SMA 45

49 dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan. Delapan standar nasional pendidikan terus dikembangkan dan disesuaikan dengan perkembangan zaman. Dalam konteks keindonesiaan, kita dianugerahi berupa negara kepulauan yang terdiri atas pulau besar dan kecil yang berjumlah sekitar Penduduk Indonesia berdasarkan pada Sensus Penduduk tahun 2010 berjumlah lebih dari 238 juta jiwa. Keragaman yang menjadi karakteristik dan keunikan Indonesia adalah antara lain dari segi geografis, potensi sumber daya, ketersediaan sarana dan prasarana, latar belakang dan kondisi sosial budaya, dan berbagai keragaman lainnya yang terdapat di setiap daerah. Keragaman tersebut selanjutnya melahirkan pula tingkatan kebutuhan dan tantanganpengembangan yang berbeda antar daerah dalam rangka meningkatkan mutu dan mencerdaskan kehidupan masyarakat di setiap daerah. Terkait dengan pembangunan pendidikan, masing-masing daerah memerlukan pendidikan yang sesuai dengan karakteristik daerah. Hal ini tentu berpengaruh terhadap perubahan kurikulum yang dipakai disekolah-sekolah karena kurikulum sebagai jantungnya pendidikan perlu dikembangkan dan diimplementasikan secara kontekstual untuk merespon kebutuhan daerah, satuan pendidikan, dan peserta didik. Penyesuaian atau perubahan kurikulum merupakan keniscayaan karena masyarakat terus berkembang. Kita dihadapkan pada tantangan internal, tantangan eksternal, keharusan penyempurnaan pola pikir, dan penguatan tata kelola kurikulum seperti upaya memenuhi kebutuhan masa depan dan menyongsong Generasi Emas Indonesia Tahun 2045, Penyiapan Kompetensi Abad XXI, Bonus Demografi Indonesia, dan Potensi Indonesia menjadi Kelompok 7 Negara Ekonomi Terbesar Dunia, dan sekaligus memperkuat kontribusi Indonesia terhadap pembangunan peradaban dunia sehingga kurikulum harus disempurnakan. Penyempurnaan kurikulum meliputi 4 standar nasional pendidikan, yaitu Standar Kompetnsi Lulusan, Standar Isi, Standar Proses, dan Standar Penilaian. Standar Kompetensi Lulusan yang merupakan kriteria mengenai kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Untuk mencapai kompetensi lulusan tersebut perlu ditetapkan Standar Isi yang merupakan kriteria mengenai ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi peserta didik untuk mencapai kompetensi lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi peserta didik yang harus dipenuhi atau dicapai pada suatu satuan pendidikan dalam jenjang dan jenis pendidikan tertentu dirumuskan dalam Standar Isi untuk setiap mata pelajaran. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tentang Standar Nasional Dit. Pembinaan SMA 46

50 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 tentang Standar Nasional Pendidikan ditetapkan bahwa Standar Isi adalah kriteria mengenai ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai kompetensi lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Ruang lingkup materi dirumuskan berdasarkan kriteria muatan wajib yang ditetapkan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, konsep keilmuan, dan karakteristik satuan pendidikan dan program pendidikan. Selanjutnya, tingkat kompetensi dirumuskan berdasarkan kriteria tingkat perkembangan peserta didik, kualifikasi kompetensi Indonesia, dan penguasaan kompetensi yang berjenjang. Standar Isi disesuaikan dengan substansi tujuan pendidikan nasional dalam domain sikap spiritual dan sikap sosial, pengetahuan, dan keterampilan. Oleh karena itu, Standar Isi dikembangkan untuk menentukan kriteria ruang lingkup dan tingkat kompetensi yang sesuai dengan kompetensi lulusan yang dirumuskan pada Standar Kompetensi Lulusan, yakni sikap, pengetahuan,dan keterampilan. Karakteristik, kesesuaian, kecukupan, keluasan, dan kedalaman materi ditentukan sesuai dengan karakteristik kompetensi beserta proses pemerolehan kompetensi tersebut. Ketiga kompetensi di atas memiliki proses pemerolehan yang berbeda. Sikap dibentuk melalui aktivitas-aktivitas: menerima, menjalankan, menghargai, menghayati, dan mengamalkan. Pengetahuan dimiliki melalui aktivitas-aktivitas: mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Keterampilan diperoleh melalui aktivitas-aktivitas: mengamati, menanya, mencoba, menalar,menyaji, dan mencipta. Karakteristik kompetensi beserta perbedaan proses pemerolehannya mempengaruhi Standar Isi. Standar Kompetensi Lulusan yang dijabarkan dalam Standar Isi yang secara rinci diatur dalam struktur dan muatan kurikulum dibelajarkan dengan menggunakan pedoman standar proses dan dinilai dengan mengacu pada standar penilaian. Proses Pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Untuk itu setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran serta penilaian proses pembelajaran untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas ketercapaian kompetensi lulusan. Proses pembelajaran di atas ditagih melalui sistem penilaian Dit. Pembinaan SMA 47

51 Mengantisipasi berbagai tuntutan perubahan di atas, SMA Negeri 1 Demak telah melaksanakan berbagai program pada masa 4 tahun sebelumnya. Pencapaian 8 standar nasional pendidikan SMA Negeri 1 Demak adalah sebagai berikut: a. Standar Kompetensi Lulusan Dari segi SKL dapat dijelaskan bahwa SMA Negeri 1 Demak telah mencapai pada sasaran yang baik dari berbagai aspek dan jenjang kompetisi. Pada bidang akademik, kita telah mencapai hasil UN yang sangat baik. Lima tahun terakhir peringkat UN menduduki ranking 10 besar tingkat Provinsi Jawa Tengah dengan rata-rata lebih dari 8,00. Walaupun perolehan peringkat bersifat fluktuatif tetapi perolehan rata-rata UN selalu meningkat. Selain perolehan UN, prestasi akademik dari lomba-lomba kesiswaan terus meningkat. Perolehan juara di tingkat kabupaten dalam bidang akademik terus meningkat. Lebih dari 100 piagam kejuaraan akademik diperoleh setiap tahun. Sedangkan perolehan juara di tingkat provinsi terus menunjukkan peningkatan terutama dalam bidang penelitian dan OSN. Di tingkat nasional masih akan terus diupayakan karena 3 tahun terakhir kita belum dapat meloloskan kembali sebagai peserta finalis tingkat nasional OSN. Di bidang lomba non akademis perolehan piagam penghargaan di bidang olah raga, seni, dan bidang kreativitas menunjukkan prestasi yang semakin meningkat. Di tingkat kabupaten dapat terus mempertahankan prestasi pada tahun-tahun sebelumnya. Lebih dari 100 piagam penghargaan diperoleh dalam lomba non akademik di jenjang kabupaten. Prestasi di bidang OOSN telah menunjukkan peningkatan dengan perolehan juara di tingkat provinsi dan mewakili Jawa Tengah di tingkat nasional. Dalam bidang FLS2N juga memperoleh hasil yang sangat menggembirakan dengan juara di tingkat provinsi dan mewakili Jawa Tengah dalam tingkat nasional. Upaya lomba-lomba sekolah juga dilakukan seperti adiwiyata nasional, sekolah hijau, sekolah karakter, sekolah adipura, sekolah layak anak, sekolah layanan publik, dan sekolah titik pantau adipura. Hal ini sejalan dengan komitmen warga sekolah untuk terus mempertahankan prestasi, menumbuhkan karakter siswa, kepedulian terhadap tata kelola lingkungan, serta mampu berkompetisi di era Dit. Pembinaan SMA 48

52 Selain pencapaian di atas, masih terus diperjuangkan lebih keras dalam lomba-lomba di jenjang nasional dan internasional karena pada level ini diakui masih jauh dari harapan. b. Standar Isi Upaya untuk mencapai SKL sesuai dengan tuntutan di atas diwujudkan melalui pembenahan kurikulum pada standar isi. Perluasan dan pendalaman kurikulum dilakukan untuk memenuhi kebutuhan di masa yang akan datang. Integrasi kurikulum juga dilakukan untuk mperkuat kurikulum yang digunakan di tingkat sekolah. Pada tahun pelajaran 2013/2014 sekolah menerapkan Kurikulum 2013 pada kelas X dan Kurikulum 2006 diberlakukan untuk kelas XI dan XII Selama 3 tahun ke depan diharapkan seluruh perangkat, pedoman, dan petunjuk pelaksanaan/teknis dapat diselesaikan dengan baik. Seluruh warga sekolah berkomitmen untuk melaksanakan kurikulum baru dengan baik. Tantangan terbesar dari rencana strategis ke depan adalah bagaimana mengimplementasikan kurikulum 2013 dengan baik di kalangan guru dan warga sekolah sehingga mampu mengubah mindset warga sekolah menuju penciptaan generasi emas tahun c. Standar proses Sesuai dengan tuntutan standar proses diharapkan guru memiliki kompetensi untuk membelajarkan kompetensi dengan inovatif dengan menggunakan berbagai media dan teknologi terkini. Terhadap tuntutan ini, upaya peningkatan profesional guru terus ditingkatkan. Seluruh perangkat pembelajaran sebagai dokumen kurikulum telah diselesaikan dan terus akan disempurnakan. Penggunakan E-Learning juga terus dikembangkan sebagai media belajar mandiri siswa. Tantangan terbesar adalah bagaimana guru mampu memahami perubahan paradigma dan mampu mengimplementasikan dalam proses pembelajaran pada kurikulum 2013 dengan baik. d. Standar Penilaian Sesuai dengan tuntutan standar penilaian diharapkan guru memiliki kompetensi untuk menagih atau menilai pembelajaran sesuai dengan kaidah penilaian yang benar. Terhadap tuntutan ini, upaya peningkatan profesional guru terus ditingkatkan. Staf kurikulum terus melakukan inovasi untuk dapat dijadikan pedoman guru dalam melakukan proses Dit. Pembinaan SMA 49

53 Seluruh perangkat pembelajaran khususnya dokumen penilaian sebagai dokumen kurikulum telah diselesaikan. Sistem PAS dalam penilaian juga telah diintegrasikan walaupun belum sempurna seperti yang diharapkan. Tantangan terbesar adalah bagaimana guru mampu memahami perubahan paradigma dan mampu mengimplementasikan dalam proses penilaian menurut kurikulum 2013 dengan baik. e. Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan Dari segi diktendik diperoleh hasil sampai dengan tahun 2013 telah memenuhi kualifikasi akademik sangat memadai dengan lebih dari 40% guru telah memiliki kualifikasi S2. Secara kompetensi juga semakin menunjukkan kualitasnya dengan diperolehnya piagam penghargaan bagi guru baik dalam lomba tingkat kabupaten, provinsi, maupun nasional. Tantangan terbesar adalah bagaimana mempertahankan disiplin, semangat, dan kompetitif guru dalam mengembangkan sekolah pasca RSBI. f. Standar Sarana Prasarana Secara kuantitas sarana prasarana sekolah telah sesuai dengan standar nasional hanya secara kualitas masih terus diupayakan agar sesuai dengan tuntutan zaman. Oleh karena itu, upaya perawatan, pengembangan, penyempurnaan, atau pengadaan sarpras baru akan menjadi tantangan tersendiri pada masa yang akan datang mengingat hampir seluruh sarana prasarana sekolah telah berusia lebih dari 10 tahun. g. Standar Pengelolaan Sesuai dengan permendiknas 19/ 2007, sekolah telah memenuhi seluruh standar pengelolaan khudusnya dokumen tertulisnya. Setiap tahun dikaji dan disempurnakan. Pencapaian nilai akreditasi 96 diharapkan akan meningkat pada tahun 2017 yang akan datang. Penerapan sistem ISO 9001: 2008 telah dilaksanakan untuk seluruh tupoksi sekolah. Hal ini sangat membantu dalam pengelolaan sekolah yang lebih baik pada masa yang akan datang. Selain pencapaian di atas, upaya meningkat sister school dengan sekolah dalam negeri khususnya di Jawa Tengah akan terus dilakukan agar memperoleh hasil yang lebih baik dalam implementasi manajemen dan prestasi sekolah. Tantangan terbesar yang dihadapi adalah perubahan paradigm kurikulum 2013 yang menuntut pengelolaan sekolah lebih inovatif selain tindak lanjut sister school di luar negeri yang telah dirintis selama ini. h. Standar Dit. Pembinaan SMA 50

54 Upaya untuk memenuhi pembiayaan sekolah terus dilakukan. Sampai dengan tahun 2013 telah diperoleh tingkat pembiayaan sekolah yang cukup memadai walaupun belum sempurna. Penerimaan dana sekolah terus meningkat sejak tahun 2007 dan terus menunjukkan perkembangan pada era RSBI. Pendanaan yang cukup memadai berdampak positif pada pengelolaan sekolah yang secara langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi proses pencapaian SKL. Tantangan terbesar dari sistem pendanaan ini adalah pendanaan sekolah masih berpusat pada sumbangan orang tua dan hanya sedikit yang dari pemerintah kecuali biaya gaji. Ini tentu sangat memberatkan orang tua apalagi dukungan swasta terutama perusahaan swasta masih jauh dari harapan. Pembubaran RSBI juga berdampak besar pada pendanaan sekolah karena sekolah disamakan dengan sekolah lain yang sarana dan tingkat program sekolah sangat berbeda. Memperhatikan ketentuan-ketentuan perundang-undangan dan kondisi nyata sekolah di atas, sekolah harus menyusun kurikulum untuk memenuhi standar nasional tetapi tetap memperhatikan kondisi nyata sekolah. Ketentuan-ketentuan tersebut harus dituangkan dalam kurikulum operasional tingkat sekolah yang disebut dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pada tahun pelajaran 2014/2015 SMA Negeri 1 Demak SMA Negeri 1 Demak melaksanakan kurikulum 2013 untuk kelas X dan XI. Sesuai dengan ketentuan ditegaskan bahwa sekolah menyusun sendiri kurikulumnya dengan memperhatikan rambu-rambu yang telah ditetapkan. Sekolah diberi wewenang penuh untuk menyusun KTSP sesuai dengan rambu-rambu tersebut sehingga memungkinkan antara sekolah yang satu dengan sekolah lain memiliki ciri khusus yang berbeda dengan sekolah lainnya. B. Landasan 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Ketentuan dalam UU 20/2003 yang mengatur KTSP, adalah Pasal 1 ayat (19); Pasal 18 ayat (1), (2), (3), (4); Pasal 32 ayat (1), (2), (3); Pasal 35 ayat (2); Pasal 36 ayat (1), (2), (3), (4); Pasal 37 ayat (1), (2), (3); Pasal 38 ayat (1), (2). 2. Undang-Undang Nomor 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2009 Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5038) 3. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 41, Tambahan Dit. Pembinaan SMA 51

55 Negara Republik Indonesia Nomor 4496) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 71, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5410) 4. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. 5. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. 6. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2007 tentang Standar sarana dan Prasarana untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. 7. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 2013 Tentang Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar dan Menengah. 8. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 64 Tahun 2013 tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. 9. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2013 Tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah. 10. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 66 Tahun 2013 Tentang Standar Penilaian Pendidikan. 11. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik IndonesiaNomor 69 Tahun 2013 Tentang Kerangka Dasar Dan Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah. 12. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2013 Tentang Buku Teks Pelajaran Dan Buku Panduan Guru Untuk Pendidikan Dasar Dan Menengah. 13. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 81A Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum. 14. Keputusan Gubernur Jawa Tengah No.423.5/27/2011 tentang Kurikulum Mata Pelajaran Muatan Lokal Bahasa Jawa untuk jenjang Pendidikan Sekolah Menengah Atas / SMA Luar Biasa/SMK/MA Negeri dan Swasta di Provinsi Jawa Tengah. 15. Peraturan Bupati Demak Nomor...tentang Pelaksanaan Muatan Lokal Baca Tulis Al-Qur an di Kabupaten Demak. 16. Surat Keputusan Dirjen Dikmen Kemdikbud Nomor 717/D/Kep/2013 tentang Bentuk dan Tata Cara Penyusunan LCK Peserta Didik SMA/MA. 17. Hasil kegiatan pra IHT tanggal 28 Juni 2013 dan In House Training SMA Negeri 1 Demak tanggal Juli 2013 tentang penyusunan KTSP Dit. Pembinaan SMA 52

56 18. Surat Keputusan Kepala SMA Negeri 1 Demak Nomor 423.5/279/2013 tentang Penunjukan Tim Pengembang dan Penelaah KTSP SMA Negeri 1 Demak Tahun 2013/2014. C. Tujuan Pengembangan KTSP SMA Negeri 1 Demak a. Pengertian Agar setiap stake holder sekolah memenuhi seluruh isi kurikulum SMA 1 Negeri Demak, maka pengertian istilah yang di dalam pengembangan KTSP disajikan sebagai berikut : a. Standar Nasional Pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. b. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. c. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. d. Standar Kompetensi Lulusan adalah kriteria mengenai kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. e. Standar Isi adalah kriteria mengenai ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai kompetensi lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. f. Kerangka Dasar Kurikulum adalah tatanan konseptual kurikulum yang dikembangkan dari Standar Nasional Pendidikan. Kerangka Dasar Kurikulum pada Kurikulum 2013 adalah landasan filosofis, sosiologis, pedagogis, dan yuridis yang berfungsi sebagai acuan pengembangan struktur kurikulum pada tingkat nasional dan pengembangan muatan lokal tingkat daerah serta pedoman pengembangan kurikulum pada tingkat sekolah. g. Struktur Kurikulum menurut Kurikulum 2013 adalah pengorganisasian kompetensi inti, mata pelajaran, beban belajar, dan kompetensi dasar pada tingkat sekolah. Susunan mata pelajaran tersebut terbagi dalam kelompok mata pelajaran wajib kelompok A dan kelompok B, dan kelompok mata pelajaran C yaitu pilihan kelompok Peminatan. h. Kelompok Mata Pelajaran Wajib merupakan bagian dari pendidikan umum yaitu pendidikan bagi semua warga negara bertujuan memberikan Dit. Pembinaan SMA 53

57 tentang bangsa, sikap sebagai bangsa, dan kemampuan penting untuk mengembangkan kehidupanpribadi peserta didik, masyarakat, dan bangsa. i. Kelompok Mata Pelajaran Peminatan bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik mengembangkan minatnya dalam sekelompok matapelajaran sesuai dengan minat keilmuannya di perguruan tinggi, dan untuk mengembangkan minatnya terhadap sesuatu disiplin ilmu atau ketrampilan. j. Kelompok Peminatan yang dipilih peserta didik terdiri atas kelompok Matematika dan Ilmu Alam, Ilmu-ilmu Sosial, dan Ilmu Budaya dan Bahasa. Sejak kelas X peserta didik sudah harus memilih kelompok peminatan yang akan dimasuki. Pilihan Matapelajaran Lintas Minat dan atau pendalaman minat yang dipilih sejak kelas X dan sebaiknya tetap sampai dengan kelas XII. k. Kompetensi adalah seperangkat sikap, pengetahuan, dan ketrampilan yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh Peserta Didik setelah mempelajari suatu muatan pembelajaran, menamatkan suatu program, atau menyelesaikan satuan pendidikan tertentu. l. Kompetensi Dasar merupakan sejumlah kemampuan yang harus dimiliki peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan untuk menyusun indikator kompetensi. m. Beban belajar memuat jumlah jam yang dialokasikan untuk pembelajaran suatu tema, gabungan tema, mata pelajaran, atau keseluruhan kegiatanyang harus diikuti Peserta Didik dalam satu minggu, semester, dan satu tahun yang meliputi kegiatan tatap muka, kegiatan terstruktur, dan kegiatan mandiri. n. Kegiatan tatap muka adalah kegiatan pembelajaran yang berupa proses interaksi antara peserta didik, materi pembelajaran, pendidik dan lingkungan. o. Kegiatan terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang didesain oleh pendidik untuk menunjang pencapaian tingkat kompetensi dan atau kemampuan lainnya pada kegiatan tatap muka. Waktu penyelesaian penugasan terstruktur ditentukan oleh pendidik. Penugasan terstruktur termasuk kegiatan perbaikan, pengayaan, dan percepatan p. Kegiatan mandiri adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang didesain oleh pendidik untuk menunjang pencapaian tingkat kompetensi mata pelajaran atau lintas Dit. Pembinaan SMA 54

58 pelajaran atau kemampuan lainnya yang waktu penyelesaiannya diatur sendiri oleh peserta didik. q. Sistem Paket adalah sistem penyelenggaraan program pendidikan yang peserta didiknya diwajibkan mengikuti seluruh program pembelajaran dan beban belajar yang sudah ditetapkan untuk setiap kelas sesuai dengan struktur kurikulum yang berlaku pada satuan pendidikan yang dimaksud. r. Kalender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran peserta didik selama satu tahun ajaran. Kalender pendidikan mencakup permulaan tahun ajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif dan hari libur. s. Permulaan tahun ajaran adalah waktu dimulainya kegiatan pembelajaran pada awal tahun ajaran pada setiap satuan pendidikan. t. Minggu efektif belajar adalah jumlah minggu kegiatan pembelajaran untuk setiap tahun ajaran pada setiap satuan pendidikan. u. Waktu pembelajaran efektif adalah jumlah jam pembelajaran setiap minggu, meliputi jumlah jam pembelajaran untuk seluruh matapelajaran termasuk muatan lokal, ditambah jumlah jam untuk kegiatan pengembangan diri. v. Waktu libur adalah waktu yang ditetapkan untuk tidak diadakan kegiatan pembelajaran terjadwal pada satuan pendidikan yang dimaksud. Waktu libur dapat berbentuk jeda tengah semester, jeda antar semester, libur akhir tahun pelajaran, hari libur keagamaan, hari libur umum (termasuk hari-hari besar nasional), dan hari libur khusus. 2. Tujuan Pengembangan KTSP Sesuai dengan UU Sisdiknas Nomor 20 tahun 2003 pasal 36 ayat 2 dan pasal 38 ayat 2 ditegaskan bahwa Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan disusun dengan prinsip diversifikasi yang bertujuan untuk memberikan pedoman pengelolaan kurikulum tingkat sekolah sesuai dengan relevasi atau karakteristik satuan pendidikan, kekhasan daerah, dan potensi peserta didik. Pengembangan KTSP diarahkan untuk mencapai mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan sesuai dengan Kurikulum 2013 selain untuk mencapai tujuan di atas, juga dimaksudkan untuk Dit. Pembinaan SMA 55

59 menitikberatkan pada pada pencapaian pendidikan karakter dan mempersiapkan generasi emas Indonesia yang mampu bersaing dalam proses globalisasi, yakni untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif, serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia. 3. Prinsip-Prinsip Pengembangan KTSP Sesuai kurikulum 2013, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan disusun dengan mengacu pada ketentuan-ketentuan di atas yang disesuaikan dengan perubahan-perubahan sebagaimana tertuang dalam peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan terutama yang menyangkut tentang 4 elemen perubahan, yaitu SKL, Standar Isi, Standar Proses, dan Standar Penilaian, serta Pedoman Implementasi Kurikulum Sementara itu dalam Kurikulum 2013 ditegaskan dalam pengembangan kurikulum harus memperhatikan prinsip-prinsip pengembangan sebagai berikut: 1. Peningkatan Iman, Takwa, dan Akhlak Mulia Iman, takwa, dan akhlak mulia menjadi dasar pembentukan kepribadian peserta didik secara utuh. KTSP disusun agar semua mata pelajaran dapat menunjang peningkatan iman, takwa, dan akhlak mulia. 2. Kebutuhan Kompetensi Masa Depan Kemampuan peserta didik yang diperlukan yaitu antara lain kemampuan berkomunikasi, berpikir kritis dan kreatif dengan mempertimbangkan nilai dan moral Pancasila agar menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab, toleran dalam keberagaman, mampu hidup dalam masyarakat global, memiliki minat luas dalam kehidupan dan kesiapan untuk bekerja, kecerdasan sesuai dengan bakat/minatnya, dan peduli terhadap lingkungan. Kurikulum harus mampu menjawab tantangan ini sehingga perlu mengembangkan kemampuan-kemampuan ini dalam proses pembelajaran. 3. Peningkatan Potensi, Kecerdasan, dan Minat sesuai dengan Tingkat Perkembangan dan Kemampuan Peserta Didik Pendidikan merupakan proses sistematik untuk meningkatkan martabat manusia secara Dit. Pembinaan SMA 56

60 yang memungkinkan potensi diri (afektif, kognitif, psikomotor) berkembang secara optimal. Sejalan dengan itu, kurikulum disusun dengan memperhatikan potensi, tingkat perkembangan, minat, kecerdasan intelektual, emosional, sosial, spritual, dan kinestetik peserta didik. 4. Keragaman Potensi dan Karakteristik Daerah dan Lingkungan Daerah memiliki keragaman potensi, kebutuhan, tantangan, dan karakteristik lingkungan. Masing-masing daerah memerlukan pendidikan yang sesuai dengan karakteristik daerah dan pengalaman hidup sehari-hari. Oleh karena itu, kurikulum perlu memuat keragaman tersebut untuk menghasilkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan pengembangan daerah. 5. Tuntutan Pembangunan Daerah dan Nasional Dalam era otonomi dan desentralisasi, kurikulum adalah salah satu media pengikat dan pengembang keutuhan bangsa yang dapat mendorong partisipasi masyarakat dengan tetap mengedepankan wawasan nasional. Untuk itu, kurikulum perlu memperhatikan keseimbangan antara kepentingan daerah dan nasional. 6. Tuntutan Dunia Kerja Kegiatan pembelajaran harus dapat mendukung tumbuh kembangnya pribadi peserta didik yang berjiwa kewirausahaan dan mempunyai kecakapan hidup. Oleh sebab itu, kurikulum perlu memuat kecakapan hidup untuk membekali peserta didik memasuki dunia kerja. Hal ini sangat penting terutama bagi satuan pendidikan kejuruan dan peserta didik yang tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. 7. Perkembangan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni Pendidikan perlu mengantisipasi dampak global yang membawa masyarakat berbasis pengetahuan di mana IPTEKS sangat berperan sebagai penggerak utama perubahan. Pendidikan harus terus menerus melakukan adaptasi dan penyesuaian perkembangan IPTEKS sehingga tetap relevan dan kontekstual dengan perubahan. Oleh karena itu, kurikulum harus dikembangkan secara berkala dan berkesinambungan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan Dit. Pembinaan SMA 57

61 8. Agama Kurikulum dikembangkan untuk mendukung peningkatan iman, taqwa, serta akhlak mulia dan tetap memelihara toleransi dan kerukunan umat beragama. Oleh karena itu, muatan kurikulum semua matapelajaran ikut mendukung peningkatan iman, takwa, dan akhlak mulia. 9. Dinamika Perkembangan Global Kurikulum menciptakan kemandirian, baik pada individu maupun bangsa, yang sangat penting ketika dunia digerakkan oleh pasar bebas. Pergaulan antarbangsa yang semakin dekat memerlukan individu yang mandiri dan mampu bersaing serta mempunyai kemampuan untuk hidup berdampingan dengan suku dan bangsa lain. 10. Persatuan Nasional dan Nilai-Nilai Kebangsaan Kurikulum diarahkan untuk membangun karakter dan wawasan kebangsaan peserta didik yang menjadi landasan penting bagi upaya memelihara persatuan dan kesatuan bangsa dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Oleh karena itu, kurikulum harus menumbuhkembangkan wawasan dan sikap kebangsaan serta persatuan nasional untuk memperkuat keutuhan bangsa dalam wilayah NKRI. 11. Kondisi Sosial Budaya Masyarakat Setempat Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik sosial budaya masyarakat setempat dan menunjang kelestarian keragaman budaya. Penghayatan dan apresiasi pada budaya setempat ditumbuhkan terlebih dahulu sebelum mempelajari budaya dari daerah dan bangsa lain. 12. Kesetaraan Jender Kurikulum diarahkan kepada pengembangan sikap dan perilaku yang berkeadilan dengan memperhatikan kesetaraan jender. 13. Karakteristik Satuan Pendidikan Kurikulum dikembangkan sesuai dengan kondisi dan ciri khas satuan Dit. Pembinaan SMA 58

62 4. Acuan Operasional atau Prinsip Pengelolaan KTSP kurikulum 2013 menegaskan bahwa pengelolaan KTSP harus memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut: 1. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan. Memiliki posisi sentral berarti bahwa kegiatan pembelajaran harus berpusat pada peserta didik. 2. Beragam dan terpadu Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kebutuhan nasional sesuai tujuan pendidikan, keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah, jenjang dan jenis pendidikan, serta menghargai dan tidak diskriminatif terhadap perbedaan agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan jender. Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib dan muatan lokal. 3. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni berkembang secara dinamis. Oleh karena itu, semangat dan isi kurikulum memberikan pengalaman belajar peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. 4. Relevan dengan kebutuhan kehidupan Pengembangan kurikulum satuan pendidikan dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan kemasyarakatan, dunia usaha dan dunia kerja. Oleh Dit. Pembinaan SMA 59

63 itu, pengembangan kurikulum perlu memperhatikan keseimbangan antara hard skills dan soft skills pada setiap kelas antarmata pelajaran, dan memperhatikan kesinambungan hard skills dan soft skills antarkelas. 5. Menyeluruh dan berkesinambungan Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi (sikap, pengetahuan, dan keterampilan), bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antar jenjang pendidikan. 6. Belajar sepanjang hayat Kurikulum diarahkan pada proses pengembangan, pembudayaan, dan pemberdayaan kemampuan peserta didik untuk belajar sepanjang hayat. Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan formal, nonformal, dan informal dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya. 7. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kepentingan nasional dan daerah saling mengisi dan memberdayakan sejalan dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika dalam kerangka Dit. Pembinaan SMA 60

64 BAB II TUJUAN SATUAN PENDIDIKAN A. Tujuan Pendidikan Sekolah Menengah Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan, Pasal 77 Pendidikan menengah bertujuan membentuk peserta didik menjadi insan yang : 1. Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, dan berkepribadian luhur; 2. Berilmu, cakap, kritis, kreatif, dan inovatif; 3. Sehat, mandiri, dan percaya diri; dan 4. Toleran, peka sosial, demokratis, dan bertanggung jawab. B. Visi Sekolah Visi sekolah sebagai wawasan yang menjadi sumber arahan bagi sekolah harus memiliki pandangan jauh ke depan. Gambaran masa depan sekolah harus tercermin pada visi sekolah. Dengan menganalisis segala kekuatan dan kelemahan dan memperhatikan berbagai aspek dan tuntutan, visi SMA Negeri 1 Demak ditetapkan sebagai berikut : Berprestasi Unggul, Berbudaya Santun, dan Agamis, Peduli Lingkungan, Bersih dan Hijau serta Mampu Berkompetisi di Era Global Visi sekolah yang bersifat filsofis itu akan dijabarkan ke dalam indikator keberhasilan. Indikator visi yang berjumlah 9 itu selanjutnya dinamakan NAWA INDIKATOR. Sembilan indikator tersebut adalah : SEMBILAN INDIKATOR VISI 1. Unggul dalam Prestasi Akademik 2. Unggul dalam Lomba Akademik dan Non-Akademik 3. Unggul dalam Penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi 4. Unggul dalam Persaingan Masuk Perguruan Tinggi Terakreditasi 5. Terwujudnya Perilaku Santun Berlandaskan Agama dan Budaya Bangsa 6. Terwujudnya Penguasaan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di Era Dit. Pembinaan SMA 61

65 7. Terwujudnya Penguasaan Bahasa Inggris Aktif 8. Budaya Tata Krama dalam Pergaulan Internasional 9. Terwujudnya Budaya dan Peduli Lingkungan untuk Menciptakan Tata Kelola Lingkungan yang Baik C. Misi Sekolah Visi yang idealis harus dijabarkan dalam langkah-langkah nyata agar visi dapat diwujudkan. Untuk mewujudkan visi tersebut, sekolah telah menetapkan misi yang merupakan upaya memenuhi kepentingan-kepentingan sebagaimana dituangkan dalam visi sekolah. Misi yang ditetapkan berjumlah 6 yang selanjutnya disebut Sad Misi SMA Negeri 1 Demak. Keenam misi itu adalah : SAD MISI SMA NEGERI 1 DEMAK 1. Mengembangkan Sumber Daya Manusia yang memiliki semangat Keunggulan dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi berbasis ICT dan Bahasa Inggris. 2. Melaksanakan proses Pembelajaran dan bimbingan konseling bilingual berbasis ICT sehingga setiap peserta didik dapat berkembang secara optimal dan memiliki bekal dalam persaingan global. 3. Melaksanakan program ekstrakurikuler dan pembiasaan yang mampu menumbuhkan perilaku santun berlandaskan budaya bangsa, memiliki rasa nasionalisme, memiliki semangat beragama, dan memiliki komitmen dalam pergaulan global. 4. Melaksanakan program pembinaan dan pengembangan potensi peserta didik dalam memenangkan lomba akademik dan non-akademik pada tingkat nasional dan internasional. 5. Melaksanakan manajemen partisipasif, terbuka, dan akuntabel untuk memfasilitasi pengembangan sekolah, khususnya infrastruktur sekolah yang mampu mendukung pencapaian sekolah bermutu. 6. Menumbuhkembangkan sikap peduli lingkungan melalui pembelajaran yang berkelanjutan D. Tujuan Sekolah Tujuan Sekolah Jangka Menengah ( ) Untuk mencapai visi dan misi sekolah, tujuan sekolah harus ditetapkan sebagai arahan dalam mewujudkan visi dan misi tersebut. Tujuan jangka menengah (2013/ /2017) SMA Negeri 1 Demak ditetapkan sebagai berikut Dit. Pembinaan SMA 62

66 Bidang Standar Kompetensi Lulusan Menghasilkan lulusan yang bermutu, santun dan kompetitif dengan indikator: 1. Mencapai rata-rata Ujian Nasional sebesar : a. Jurusan IPA : 8,50 b. Jurusan IPS : 8,00 2. Meloloskan peserta didik dalam persaingan seleksi masuk perguruan tinggi terakreditasi sebesar 100 % dari jumlah pendaftar. 3. Terwujudnya karakter siswa melalui pembiasaan belajar khususnya kepedulian siswa dalam tata kelola lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan melalui kelompok-kelompok belajar peserta didik, terutama dalam kelompok kajian ilmu sains dan kegiatan kreatif lainnya. 4. Menjuarai dalam ajang lomba akademik di tingkat kabupaten, provinsi, dan nasional seperti bidang Olimpiade Sains, Lomba Mata Pelajaran, KIR, Debat Berbahasa Inggris, Debat Berbahasa Indonesia. 5. Menjuarai dalam ajang lomba bidang non akademikseperti: olah raga dan seni, bidang kegiatan kreatif peserta didik (PMR, Pramuka, Pecinta Alam, dan PBB), dan lombalomba sekolah tingkat kabupaten, provinsi, dan nacional. 6. Terwujudnya keterlibatan siswa dan guru dan kegiatan-kegiatan pembelajaran nacional dan internasional secara online. Bidang Standar Isi (Bidang Kurikulum) Memiliki pedoman kurikulum yang terus berkembang sebagai acuan dalam pengelolaan sekolah dengan indikator: 1. Terwujudnya kurikulum KTSP khususnya Kurikulum 2013 dengan berpedoman pada pedoman-pedoman yang relevan untuk memperkaya kurikulum sekolah yang mampu menjawab tantangan global, khususnya isu-isu lingkungan melalui integrasi kurikulum berbasis lingkungan. 2. Memiliki sistem administrasi akademik berbasis TIK yang terintegrasi dengan sistem Paket Aplikasi sekolah (PAS). 3. Memiliki dan melaksanakan Sistem Kredit Semester (SKS). Bidang Standar Proses (Bidang Proses Pembelajaran) Menghasilkan dokumen dan kemampuan guru melaksanakan pembelajaran sesuai dengan tuntutan kurikulum 2013 dengan didukung sumber daya yang memadai dengan indicator: 1. Memiliki dokumen pembelajaran sesuai dengan standar proses dengan mengintegrasikan lingkungan Dit. Pembinaan SMA 63

67 2. Terwujudnya proses pembelajaran sesuai dengan standar proses yang dapat menjadi teladan dalam pembentukan perilaku peserta didik secara unggul khususnya dalam tata kelola lingkungan. Bidang Standar Penilaian (Bidang Penilaian) Menghasilkan dokumen dan kemampuan guru melaksanakan penilaian pembelajaran sesuai dengan tuntutan kurikulum 2013 dengan didukung sumber daya yang memadai dengan indicator: 1. Memiliki sistem penilaian sesuai dengan standar penilaian khususnya Standar Penilaian Kurikulumm 2013 dan integrasi tata kelola lingkungan Bidang Standar Pengelolaan (Bidang Pengelolaan Sekolah) Memiliki sistem pengelolaan sekolah yang efektif dan efisien dengan indicator: 1. Bidang Manajemen sekolah a. Memiliki pedoman sekolah yang sesuai dengan Standar Pengelolaan. b. Terciptanya suasana dan kultur sekolah sekolah yang konduktif dengan ditandai kedisiplinan, etos kerja yang tinggi seluruh warga sekolah, peka terhadap lingkungan, dan dijiwai dengan semangat keberagamaan sehingga terwujud budaya sekolah yang efektif. c. Terwujudnya manajemen berbasis sekolah yang ditandai dengan prinsip transparansi, akuntabilitas, dan partisipatif melalui kegiatan koordinasi dan pencitraan sekolah yang efektif d. Menerapkan secara konsisten pelaksanaan manajemen mutu sesuai sertifikat ISO 9001:2008 tentang manajemen mutu. e. Memiliki hubungan sister school dengan sekolah dalam negeri. f. Memiliki sistem informasi manajemen berbasis internet yang mampu mendukung proses pembelajaran. g. Terwujudnya sekolah yang mengadopsi nilai-nilai, seperti sifat multi-kultural, bebas rokok, bebas narkoba, bersih dan hijau (clean and green), bebas kekerasan (bullying), prinsip kesetaraan gender, dan menerapkan nilai demokratis dalam memperlakukan peserta didik secara adil dalam belajar. 2. Bidang Akreditasi Sekolah Mempertahankan akreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Sekolah-Madrasah (BAP SM) peringkat A dengan nilai lebih dari 96. Bidang Pendidik dan Tenaga Kependidikan Memiliki tenaga pendidik dan kependidikan yang memenuhi standar kualifikasi dan Dit. Pembinaan SMA 64

68 1. Memiliki tenaga pendidik dan kependidikan sesuai standar pendidik dan tenaga kependidikan yang peduli dengan lingkungan. 2. Memiliki tenaga pendidik dan kependidikan yang profesional melalui penilaian kinerja Bidang Keuangan dan Pembiayaan Memiliki sistem pengelolaan keuangan yang akuntabel: a. Memiliki sistem pembiayaan yang mampu menunjang proses pendidikan dan pembelajaran secara bermutu sesuai dengan standar pembiayaan. b. Memiliki sistem pembayaran online dengan bekerja sama dengan pihak bank yang mampu diakses oleh stakeholders sekolah secara mudah, transparan, dan akuntabel. c. Memiliki sistem pelaporan yang transparan dan akuntabel. Bidang Sarana dan Prasarana Fisik Memiliki sarana dan prasarana sesuai dengan standar sarpras dan berfungsi dengan baik: 1. Berfungsinya sarana prasarana sekolah melalui kegiatan perawatan sarpras. 2. Memiliki sarana prasarana dan lingkungan sekolah sesuai dengan tuntutan standar sarana prasarana dalam rangka mewujudkan sekolah yang memiliki tata kelola lingkungan dan ramah anak Tujuan Sekolah Jangka Pendek (2013/2014) Tantangan nyata sekolah yang dihadapi sekarang dapat dikelompokkan menjadi beberapa indikator : Indikator Kualitas 1) Hasil akademik yang dicapai masih bisa ditingkatkan dari kualitas yang seharusnya dapat dicapai sesuai dengan input siswa yang diperoleh sekolah. 2) Kualitas siswa yang mengikuti UM, UMPTN/SPMB, dan PMDK untuk PTN/PTS berkualitas masih dapat ditingkatkan dari yang diharapkan. Sebagian besar siswa masih terpaku pada PTN dan PTS menengah. 3) Kualitas siswa yang diterima baik melalui PMDK, UM, maupun SPMB masih dapat ditingkatkan dari yang seharusnya mampu dicapai oleh lulusan SMA Negeri 1 Demak, khususnya untuk jurusan-jurusan tertentu yang belum dapat diraih oleh alumni. 4) Kualitas siswa belum sepenuhnya mampu bersaing di tingkat regional walaupun input siswa sangat baik. 5) Guru-guru masih harus ditingkatkan kualitasnya sesuai dengan tuntutan zaman tanpa memandang masa Dit. Pembinaan SMA 65

69 Indikator Produktivitas 1) Jumlah siswa yang memperoleh NEM tinggi semakin meningkat dan rata-rata NEM terus meningkat. 2) Jumlah kelulusan semakin meningkat baik dari kuantitasnya maupun persentasenya. 3) Jumlah siswa yang dapat masuk perguruan tinggi negeri semakin meningkat dapat dicapai oleh lulusan SMA Negeri 1 Demak. 4) Jumlah siswa yang memelopori kedisiplinan siswa semakin meningkat dan tingkat pelanggaran semakin berkurang. 5) Jumlah siswa yang aktif mengikuti kegiatan ekstrakurikuler semakin meningkat dengan bentuk-bentuk kegiatan yang semakin beragam. 6) Jumlah siswa yang diterima di sekolah kedinasan (militer) semakin meningkat. 7) Jumlah fasilitas fisik sekolah semakin meningkat untuk memenuhi standar pelayanan minimal sekolah. 8) Kemampuan guru semakin meningkat dan profesional. Indikator Efektivitas 1) Perolehan NEM masih belum sesuai harapan di mana mampu berada di rangking 10 besar provinsi untuk setiap program studi. 2) Jumlah siswa yang mendaftar ke PTN/PTS terakreditasi semakin meningkat. 3) Jumlah siswa yang diterima di perguruan tinggi baik negeri maupun swasta semakin besar dari siswa yang mendaftar. 4) Proses Kegiatan Belajar Mengajar semakin efektif dengan semakin berkurangnya jam kosong. 5) Pola pembinaan ekstrakurikuler semakin meningkat dengan jam kosong semakin berkurang. 6) Kedisiplinan siswa semakin meningkat kualitasnya dengan ditandai berkurangnya jumlah siswa yang terlambat dan melanggar tata tertib. 7) Tingkat kedisiplinan guru semakin meningkat dengan semakin berkurangnya jam kosong dan izin tidak mengajar. Indikator Efisien 1) Kegiatan akademik cukup efisien walaupun masih dapat ditingkatkan. 2) Penggunaan dana cukup efisien walaupun masih perlu diberdayagunakan lebih baik lagi. 3) Dukungan dana dari orang tua masih dapat ditingkatkan. 4) Alokasi sumber daya untuk pembinaan ekstrakurikuler cukup efisien walaupun masih perlu ditingkatkan lagi. 5) Prestasi belajar cukup efisien walaupun masih perlu ditingkatkan Dit. Pembinaan SMA 66

70 6) Lama belajar siswa rata-rata 3 tahun dan cukup efisien. 7) Angka putus sekolah dan angka mengulang semakin kecil, bahkan 3 tahun terakhir mendekati angka nol. 8) Secara keseluruhan tingkat efisiensi cukup baik walaupun masih perlu ditingkatkan lagi. Tantangan nyata sekolah yang dihadapi di atas merupakan tantangan yang harus dipecahkan dengan segera sehingga tujuan sekolah ke depan dapat dicapai dengan baik. Berdasarkan Visi dan Misi Sekolah, serta Tujuan yang hendak dicapai sekolah, maka sasaran yang hendak dicapai sekolah ditetapkan. Sasaran atau tujuan jangka pendek yang ingin dicapai sekolah pada tahun pelajaran 2013/2014 adalah sebagai berikut : Bidang Standar Kompetensi Lulusan 1. Mencapai rata-rata Ujian Nasional sebesar : Jurusan IPA : 8,25 Jurusan IPS : 7,75 2. Meloloskan peserta didik dalam persaingan seleksi masuk perguruan tinggi terakreditasi sebesar 90 % dari jumlah pendaftar. 3. Membentuk karakter siswa melalui pembiasaan belajar khususnya kepedulian siswa dalam tata kelola lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan melalui kelompok-kelompok belajar peserta didik, terutama dalam kelompok kajian ilmu sains dan kegiatan kreatif lainnya. 4. Menjuarai dalam ajang lomba akademik di tingkat kabupaten, provinsi, dan nasional seperti bidang Olimpiade Sains, Lomba Mata Pelajaran, KIR, Debat Berbahasa Inggris, Debat Berbahasa Indonesia. 5. Menjuarai dalam ajang lomba bidang non akademikseperti: olah raga dan seni, bidang kegiatan kreatif peserta didik (PMR, Pramuka, Pecinta Alam, dan PBB), dan lomba-lomba sekolah tingkat kabupaten dan provinsi. 6. Merintis keterlibatan siswa dan guru dan kegiatan-kegiatan pembelajaran nasional dan internasional secara online. Bidang Standar Isi (Bidang Kurikulum) 1. Mengembangkan kurikulum KTSP khususnya Kurikulum 2013 dengan berpedoman pada pedoman-pedoman yang relevan untuk memperkaya kurikulum sekolah yang mampu menjawab tantangan global, khususnya isu-isu lingkungan melalui integrasi kurikulum berbasis Dit. Pembinaan SMA 67

71 2. Mengembangkan sistem administrasi akademik berbasis TIK yang terintegrasi dengan sistem Paket Aplikasi sekolah (PAS). 3. Mengkaji penerapan sistem Satuan Kredit Semester (SKS). Bidang Standar Proses (Bidang Proses Pembelajaran) 1. Mengembangkan dokumen pembelajaran sesuai dengan standar proses dengan mengintegrasikan lingkungan hidup. 2. Melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan standar proses yang dapat menjadi teladan dalam pembentukan perilaku peserta didik secara unggul khususnya dalam tata kelola lingkungan. Bidang Standar Penilaian (Bidang Penilaian) Melaksanakan penilaian sesuai dengan standar penilaian khususnya Standar Penilaian Kurikulumm 2013 dan integrasi tata kelola lingkungan Bidang Standar Pengelolaan (Bidang Pengelolaan Sekolah) 3. Bidang Manajemen sekolah a. Mengembangkan pedoman sekolah yang sesuai dengan Standar Pengelolaan. b. Menciptakan suasana dan kultur sekolah sekolah yang konduktif dengan ditandai kedisiplinan, etos kerja yang tinggi seluruh warga sekolah, peka terhadap lingkungan, dan dijiwai dengan semangat keberagamaan sehingga terwujud budaya sekolah yang efektif. c. Mewujudkan manajemen berbasis sekolah yang ditandai dengan prinsip transparansi, akuntabilitas, dan partisipatif melalui kegiatan koordinasi dan pencitraan sekolah yang efektif d. Mengembangkan secara konsisten pelaksanaan manajemen mutu sesuai sertifikat ISO 9001:2008 tentang manajemen mutu. e. Mengembangkan hubungan sister school dengan sekolah dalam negeri. f. Mengembangkan sistem informasi manajemen berbasis internet yang mampu mendukung proses pembelajaran. g. Mewujudkan sekolah yang mengadopsi nilai-nilai, seperti sifat multi-kultural, bebas rokok, bebas narkoba, bersih dan hijau (clean and green), bebas kekerasan (bullying), prinsip kesetaraan gender, dan menerapkan nilai demokratis dalam memperlakukan peserta didik secara adil dalam belajar. 4. Bidang Akreditasi Sekolah Menyiapkan dokumen untuk mempertahankan nilai akreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Sekolah-Madrasah (BAP SM) peringkat A dengan nilai lebih dari Dit. Pembinaan SMA 68

72 Bidang Pendidik dan Tenaga Kependidikan 1. Mewujudkan tenaga pendidik dan kependidikan sesuai standar pendidik dan tenaga kependidikan yang peduli dengan lingkungan. 2. Mewujudkan tenaga pendidik dan kependidikan yang profesional melalui penilaian kinerja Bidang Keuangan dan Pembiayaan 1. Mengembangkan sistem pembiayaan yang mampu menunjang proses pendidikan dan pembelajaran secara bermutu sesuai dengan standar pembiayaan. 2. Mengembangkan sistem pembayaran online dengan bekerja sama dengan pihak bank yang mampu diakses oleh stakeholders sekolah secara mudah, transparan, dan akuntabel. 3. Mengembangan sistem pelaporan yang transparan dan akuntabel. Bidang Sarana dan Prasarana Fisik 1. Meningkatkan fungsi sarana prasarana sekolah melalui kegiatan perawatan sarpras. 2. Mengembangan sarana prasarana dan lingkungan sekolah sesuai dengan tuntutan standar sarana prasarana dalam rangka mewujudkan sekolah yang memiliki tata kelola lingkungan dan ramah Dit. Pembinaan SMA 69

73 BAB III STRUKTUR DAN MUATAN KURIKULUM Sesuai dengan PP Nomor 19 Tahun 2005 jo PP Nomor 32 Tahun 2013 telah ditegaskan bahwa kerangka dasar kurikulum yang digunakan sebagai dasar penyusunan kurikulum 2013 meliputi landasan filosofis, landasan sosiologis, landasan yuridis, dan landasan pedagogis. Landasan filosofis dasar penyusunan kurikulum 2013 sebagai berikut : 1. Pendidikan berakar pada budaya bangsa untuk membangun kehidupan bangsa masa kini dan masa mendatang. Pandangan ini menjadikan Kurikulum 2013 dikembangkan berdasarkan budaya bangsa Indonesia yang beragam, diarahkan untuk membangun kehidupan masa kini, dan untuk membangun dasar bagi kehidupan bangsa yang lebih baik di masa depan. Mempersiapkan peserta didik untuk kehidupan masa depan selalu menjadi kepedulian kurikulum, hal ini mengandung makna bahwa kurikulum adalah rancangan pendidikan untuk mempersiapkan kehidupan generasi muda bangsa. Dengan demikian, tugas mempersiapkan generasi muda bangsa menjadi tugas utama suatu kurikulum. Untuk mempersiapkan kehidupan masa kini dan masa depan peserta didik, Kurikulum 2013 mengembangkan pengalaman belajar yang memberikan kesempatan luas bagi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang diperlukan bagi kehidupan di masa kini dan masa depan, dan pada waktu bersamaan tetap mengembangkan kemampuan mereka sebagai pewaris budaya bangsa dan orang yang peduli terhadap permasalahan masyarakat dan bangsa masa kini. 2. Peserta didik adalah pewaris budaya bangsa yang kreatif. Menurut pandangan filosofi ini, prestasi bangsa di berbagai bidang kehidupan di masa lampau adalah sesuatu yang harus termuat dalam isi kurikulum untuk dipelajari peserta didik. Proses pendidikan adalah suatu proses yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi dirinya menjadi kemampuan berpikir rasional dan kecemerlangan akademik dengan memberikan makna terhadap apa yang dilihat, didengar, dibaca, dipelajari dari warisan budaya berdasarkan makna yang ditentukan oleh lensa budayanya dan sesuai dengan tingkat kematangan psikologis serta kematangan fisik peserta didik. Selain mengembangkan kemampuan berpikir rasional dan cemerlang dalam akademik, Kurikulum 2013 memposisikan keunggulan budaya tersebut dipelajari untuk menimbulkan rasa bangga, diaplikasikan dan dimanifestasikan dalam kehidupan pribadi, dalam interaksi sosial di masyarakat sekitarnya, dan dalam kehidupan berbangsa masa kini. 3. Pendidikan ditujukan untuk mengembangkan kecerdasan intelektual dan kecemerlangan akademik melalui pendidikan disiplin ilmu. Filosofi ini menentukan bahwa isi kurikulum adalah disiplin ilmu dan pembelajaran adalah pembelajaran disiplin ilmu (essentialism). Filosofi ini mewajibkan kurikulum memiliki nama matapelajaran yang sama dengan nama disiplin ilmu, Dit. Pembinaan SMA 70

74 bertujuan untuk mengembangkan kemampuan intelektual dan kecemerlangan akademik. 4. Pendidikan untuk membangun kehidupan masa kini dan masa depan yang lebih baik dari masa lalu dengan berbagai kemampuan intelektual, kemampuan berkomunikasi, sikap sosial, kepedulian, dan berpartisipasi untuk membangun kehidupan masyarakat dan bangsa yang lebih baik (experimentalism and social reconstructivism). Dengan filosofi ini, Kurikulum 2013 bermaksud untuk mengembangkan potensi peserta didik menjadi kemampuan dalam berpikir reflektif bagi penyelesaian masalah sosial di masyarakat, dan untuk membangun kehidupan masyarakat demokratis yang lebih baik. Landasan yuridis Kurikulum 2013 sebagai berikut: 1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional; 3. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional, beserta segala ketentuan yang dituangkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional; dan 4. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Landasan pedagogis Kurikulum 2013, kurikulum adalah rancangan pendidikan yang memberi kesempatan untuk peserta didik mengembangkan potensi dirinya dalam suatu suasana belajar yang menyenangkan dan sesuai dengan kemampuan dirinya untuk memiliki kualitas yang diinginkan masyarakat dan bangsanya. Landasan Sosiologis Kurikulum 2013, kurikulum dikembangan dengan bertumpu pada kondisi masyarakat dimana kurikulum itu dikembangkan Permendikbud No 69 tahun 2013 menjelaskan landasan-landasan di atas berfungsi sebagai acuan pengembangan struktur kurikulum pada tingkat nasional dan pengembangan muatan lokal pada tingkat daerah serta pedoman pengembangan kurikulum pada Sekolah Menengah Atas. Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Atas merupakan pengorganisasian kompetensi inti, mata pelajaran, beban belajar, dan kompetensi dasar pada setiap Sekolah Menengah Atas. Berdasarkan konsep di atas, maka struktur dan muatan kurikulum pada Kurikulum SMA Negeri 1 Demak dikembangkan. Secara rinci struktur dan muatan kurikulum dikembangkan sebagai berikut Dit. Pembinaan SMA 71

75 A. Struktur Kurikulum Dalam kurikulum 2013 sebagaimana tercantum dalam PP Nomor 32 tahun 2013 dan Permendikbud Nomor 69 tahun 2013 yang dimaksud dengan struktur kurikulum adalah pengorganisasian kompetensi inti, kompetensi dasar, muatan pembelajaran, mata pelajaran, beban belajar, pada setiap satuan pendidikan dan program pendidikan. Secara tegas dinyatakan bahwa struktur kurikulum adalah pengorganisasian mata pelajaran untuk setiap mata pelajaran dan atau program pendidikan. Mengingat pada tahun pelajaran 2013/2014, SMA Negeri 1 Demak ditetapkan sebagai sekolah sasaran (piloting) untuk mengimplementasikan kurikulum 2013, maka struktur kurikulum sekolah SMA Negeri 1 Demak sebagai berikut: 1. Struktur Kurikulum SMA Negeri 1 Demak X Struktur kurikulum SMA Negeri 1 Demak kelas X dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Struktur Kurikulum SMA Negeri 1 Demak Kelas X memiliki 44 jam pelajaran yang terdiri atas 42 jam pelajaran dari pusat dan 2 jam muatan lokal dari provinsi dan kabupaten. b. Program peminatan yang dipilih disediakan sekolah terdiri atas peminatan matematika dan ilmu alam dan peminatan ilmu-ilmu social. c. Struktur Kurikulum kelas X terdiri atas mata pelajaran kelompok wajib A, kelompok mata pelajaran wajib B, kelompok mata pelajaran peminatan C yang terdiri atas kelompok mata pelajaran peminatan akademik dan kelompok mata pelajaran pilihan lintas kelompok peminatan, dan mata pelajaran muatan local yang dimasukkan dalam kelompok mata pelajaran wajib B. d. Jam pembelajaran untuk setiap mata pelajaran dialokasikan sebagaimana tertera dalam struktur kurikulum. e. Alokasi waktu satu jam pembelajaran adalah 45 menit. f. Minggu efektif dalam satu tahun pelajaran adalah minggu. Struktur kurikulum SMA Negeri 1 Demak Kelas X disajikan pada Tabel 2 sebagai Dit. Pembinaan SMA 72

76 Tabel 2. Struktur Kurikulum SMA Negeri 1 Demak Kelas X Komponen Alokasi Waktu Semester 1 Semester 2 A. Mata Pelajaran kelompok A (Wajib) 1. Pendidika Agama dan Budi Pekerti Pendidikan Pancasila dan 2 2 Kewarganegaraan 3. Bahasa Indonesia Matematika Sejarah Indonesia Bahasa Inggris 2 2 B. Mata Pelajaran Kelompok B (Wajib) 7. Seni Budaya 8. Pendidikan Jasmani, Olaha Raga dan Kesehatan Prakarya dan kewirausahaan 10.Bahasa Jawa 11.BTQ C. Mata Pelajaran Kelompok C (Peminatan) 12. Mata Pelajaran peminatan akademik a. Matematika dan Ilmu Alam 1) Matematika 2) Fisika 3) Kimia 4) Biologi b. Ilmu-Ilmu Dit. Pembinaan SMA 73

77 1) Ekonomi 2) Sejarah 3) Sosiologi 4) Geografi Mata Pelajaran pilihan lintas kelompok peminatan a. Matematika dan Ilmu Alam 1. Ekonomi 2. Bahasa Perancis. 3. Sejarah 4. Bahasa dan Sastra Inggris. b. Sosial 1) Matematika 2) Bahasa dan Sastra Inggris 3) Bahasa Perancis 6*) *) *) 6*) Jumlah *) memilih 6 jam pelajaran atau 2 mata pelajaran *) sekolah menyediakan pilihan mata pelajaran sesuai dengan sumber daya yang tersedia 2. Struktur Kurikulum SMA Negeri 1 Demak XI dan XII Struktur kurikulum SMA Negeri 1 Demak kelas XI dan XII dapat dijelaskan sebagai Dit. Pembinaan SMA 74

78 g. Struktur Kurikulum SMA Negeri 1 Demak Kelas XI dan XII memiliki 46 jam pelajaran yang terdiri atas 44 jam pelajaran dari pusat dan 2 jam muatan lokal dari provinsi dan kabupaten. h. Program peminatan yang dipilih disediakan sekolah terdiri atas peminatan matematika dan ilmu alam dan peminatan ilmu-ilmu sosial. i. Struktur Kurikulum kelas XI dan XII terdiri atas mata pelajaran kelompok wajib A, kelompok mata pelajaran wajib B, kelompok mata pelajaran peminatan C yang terdiri atas kelompok mata pelajaran peminatan akademik dan kelompok mata pelajaran pilihan lintas kelompok peminatan, dan mata pelajaran muatan lokal yang dimasukkan dalam kelompok mata pelajaran wajib B. j. Jam pembelajaran untuk setiap mata pelajaran dialokasikan sebagaimana tertera dalam struktur kurikulum. k. Alokasi waktu satu jam pembelajaran adalah 45 menit. l. Minggu efektif dalam satu tahun pelajaran adalah minggu. Struktur kurikulum SMA Negeri 1 Demak Kelas XI dan XII disajikan pada Tabel 2 sebagai berikut: Tabel 2. Struktur Kurikulum SMA Negeri 1 Demak Kelas XI Komponen Alokasi Waktu Semester 1 Semester 2 A. Mata Pelajaran kelompok A (Wajib) 1. Pendidika Agama dan Budi Pekerti Pendidikan Pancasila dan 2 2 Kewarganegaraan 3. Bahasa Indonesia Matematika Sejarah Indonesia Bahasa Inggris 2 2 B. Mata Pelajaran Kelompok B (Wajib) 7. Seni Budaya 2 Dit. Pembinaan SMA 75

79 8. Pendidikan Jasmani, Olaha Raga dan Kesehatan Prakarya dan kewirausahaan Bahasa Jawa BTQ 1 1 C. Mata Pelajaran Kelompok C (Peminatan) 12. Mata Pelajaran peminatan akademik a. Matematika dan Ilmu Alam 1) Matematika 2) Fisika 3) Kimia 4) Biologi b. Ilmu-Ilmu Sosial 1) Ekonomi 2) Sejarah 3) Sosiologi 4) Geografi 12. Mata Pelajaran pilihan lintas kelompok peminatan a. Matematika dan Ilmu Alam 1. Ekonomi 2. Bahasa Perancis. 3. Sejarah 4. Bahasa dan Sastra Inggris. b. Sosial 4*) 4 4*) 4 1. Matematika 2. Bahasa dan Sastra Inggris 3. Bahasa Perancis Dit. Pembinaan SMA 76

80 4 4 4*) *) Jumlah *) memilih 4 jam pelajaran atau 1 mata pelajaran *) sekolah menyediakan pilihan mata pelajaran sesuai dengan sumber daya yang tersedia B. Muatan Kurikulum Muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan meliputi sejumlah mata pelajaran yang keluasan dan kedalamannya merupakan beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan. Di samping itu materi muatan lokal dan kegiatan pengembangan diri atau kegiatan ekstrakurikuler termasuk ke dalam isi kurikulum. Secara rinci muatan kurikulum dijelaskan sebagai berikut: 1. Mata Pelajaran Mata pelajaran beserta alokasi waktu untuk masing-masing tingkat satuan pendidikan berpedoman pada struktur kurikulum yang tercantum dalam Standar Isi. Sesuai dengan 2 kurikulum yang digunakan pada tahun pelajaran 2014/2015 ini, maka mata pelajaran yang harus ditempuh peserta didik adalah sebagai berikut: a. Mata Pelajaran Kelas X Secara umum yang membedakan muatan kurikulum pada kurikulum 2013 dengan kurikulum sebelumnya adalah adanya pengelompokan mata pelajaran wajib dan mata pelajaran pilihan. Kelompok mata pelajaran wajib terdiri atas kelompok mata pelajaran wajib A dan kelompok mata pelajaran wajib B. Kelompok mata pelajaran pilihan adalah kelompok mata pelajaran C yang merupakan kelompok mata pelajaran pilihan yang terdiri atas mata pelajaran pilihan kelompok peminatan akademik dan mata pelajaran pilihan lintas kelompok peminatan. Kelompok mata pelajaran Wajib merupakan bagian dari pendidikan umum yaitu pendidikan bagi semua warga negara bertujuan memberikan Dit. Pembinaan SMA 77

81 tentang bangsa, sikap sebagai bangsa, dan kemampuan penting untuk mengembangkan kehidupan pribadi peserta didik, masyarakat dan bangsa. Mata pelajaran Kelompok A dan C adalah kelompok mata pelajaran yang substansinya dikembangkan oleh pusat. Mata pelajaran Kelompok B adalah kelompok mata pelajaran yang substansinya dikembangkan oleh pusat dan dapat dilengkapi dengan muatan lokal yang dikembangkan oleh pemerintah daerah. Sesuai dengan struktur kurikulum yang dikembangkan dalam kurikulum 2013, maka kelompok mata pelajaran wajib A terdiri atas 6 mata pelajaran, kelompok mata pelajaran wajib B terdiri atas 3 mata pelajaran, dan kelompok mata pelajaran pilihan C pada pilihan peminatan akademik terdiri atas 4 mata pelajaran sesuai dengan kelompok peminatan yang dipilihnya dan pilihan mata pelajaran lintas kelompok peminatan akademik terdiri atas 2 mata pelajaran sesuai dengan pilihannya. Mata pelajaran di kelompok peminatan wajib diikuti semua peserta didik sesuai dengan kelompok peminatan yang dipilihnya termasuk pilihan mata pelajaran lintas kelompok peminatan yang dipilihnya tersebut. b. Mata Pelajaran Kelas XI dan Kelas XII Sesuai dengan struktur kurikulum yang dikembangkan dalam kurikulum 2013, maka kelompok mata pelajaran wajib A terdiri atas 6 mata pelajaran, kelompok mata pelajaran wajib B terdiri atas 3 mata pelajaran, dan kelompok mata pelajaran pilihan C pada pilihan peminatan akademik terdiri atas 4 mata pelajaran sesuai dengan kelompok peminatan yang dipilihnya dan pilihan mata pelajaran lintas kelompok peminatan akademik terdiri atas 1 mata pelajaran sesuai dengan pilihannya. Mata pelajaran di kelompok peminatan wajib diikuti semua peserta didik sesuai dengan kelompok peminatan yang dipilihnya termasuk pilihan mata pelajaran lintas kelompok peminatan yang dipilihnya tersebut. 2. Muatan Lokal Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan daerah, yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan. Muatan lokal baik untuk kelas X, XI, dan XII terdiri atas 2 mata pelajaran yaitu mata pelajaran Bahasa Jawa dan mata pelajaran Baca Tulis Al-Qur an (BTQ). Dua mata pelajaran muatan lokal ini dimasukkan dalam struktur kelompok mata pelajaran wajib B sehingga pada kelompok wajib B terdapat 5 mata pelajaran. Sesuai dengan kerangka dasar pengembangan kurikulum 2013, maka mata pelajaran muatan lokal yang diajarkan mengikuti ketentuan sepenuhnya baik Dit. Pembinaan SMA 78

82 kompetensi inti, kompetensi dasar, proses pembelajaran, maupun proses penilaiannya. 3. Pengembangan diri Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan pengembangan karir peserta didik. Ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan oleh peserta didik di luar jam belajar kurikulum standar sebagai perluasan dari kegiatan kurikulum dan dilakukan di bawah bimbingan sekolah dengan tujuan untuk mengembangkan kepribadian, bakat, minat, dan kemampuan peserta didik yang lebih luas atau di luar minat yang dikembangkan oleh kurikulum. Berdasarkan definisi tersebut, maka kegiatan di sekolah atau pun di luar sekolah yang terkait dengan tugas belajar suatu mata pelajaran bukanlah kegiatan ekstrakurikuler. Dalam kurikulum 2013 ditegaskan bahwa ekstrakurikuler wajib merupakan program ekstrakurikuler yang harus diikuti oleh seluruh peserta didik, terkecuali bagi peserta didik dengan kondisi tertentu yang tidak memungkinkannya untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler tersebut. Ekstrakurikuler pilihan merupakan program ekstrakurikuler yang dapat diikuti oleh peserta didik sesuai dengan bakat dan minatnya masing-masing. Kegiatan ekstrakurikuler pada satuan pendidikan dikembangkan dengan prinsip sebagai berikut: 1). Bersifat individual, yakni bahwa kegiatan ekstrakurikuler dikembangkan sesuai dengan potensi, bakat, dan minat peserta didik masingmasing. 2). Bersifat pilihan, yakni bahwa kegiatan ekstrakurikuler dikembangkan sesuai dengan minat dan diikuti oleh peserta didik secara sukarela. 3). Keterlibatan aktif, yakni bahwa kegiatan ekstrakurikuler menuntut keikutsertaan peserta didik secara penuh sesuai dengan minat dan pilihan masing-masing. 4). Menyenangkan, yakni bahwa kegiatan ekstrakurikuler dilaksanakan dalam suasana yang menggembirakan bagi peserta didik. 5). Membangun etos kerja, yakni bahwa kegiatan ekstrakurikuler dikembangkan dan dilaksanakan dengan prinsip membangun semangat peserta didik untuk berusaha dan bekerja dengan baik Dit. Pembinaan SMA 79

83 giat. Dan 6). Kemanfaatan sosial, yakni bahwa kegiatan ekstrakurikuler dikembangkan dan dilaksanakan dengan tidak melupakan kepentingan masyarakat. Dokumen tentang ekstrakurikuler diatur tersendiri yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan dokumen kurikulum SMA Negeri 1 Demak. 4. Pengaturan Beban Belajar a. SMA Negeri 1 Demak menggunakan sistem paket. Beban belajar yang diatur pada ketentuan ini adalah beban belajar dengan menggunakan sistem paket. Sistem Paket adalah sistem penyelenggaraan program pendidikan yang peserta didiknya diwajibkan mengikuti seluruh program pembelajaran dan beban belajar yang sudah ditetapkan untuk setiap kelas sesuai dengan struktur kurikulum yang berlaku pada satuan pendidikan. Beban belajar setiap mata pelajaran pada Sistem Paket dinyatakan dalam satuan jam pembelajaran. b. Beban belajar dirumuskan dalam bentuk satuan waktu yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk mengikuti program pembelajaran melalui sistem tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. Semua itu dimaksudkan untuk mencapai standar kompetensi lulusan dengan memperhatikan tingkat perkembangan peserta didik. c. Kegiatan tatap muka adalah kegiatan pembelajaran yang berupa proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik. Beban belajar kegiatan tatap muka per jam pembelajaran pada SMA Negeri 1 Demak selama 45 menit. Beban belajar kegiatan tatap muka per minggu di SMA Negeri 1 Demak adalah 44 jam pelajaran pembelajaran di kelas X dan 46 jam pelajaram di kelas Xi dan Dit. Pembinaan SMA 80

84 Tabel 5. Beban Belajar Kegiatan Tatap Muka di SMA Negeri 1 Demak Satuan Pendidikan Kelas Satu jam pemb. tatap muka (menit) Jumlah jam pemb. Per minggu Minggu Efektif per tahun ajaran Waktu pembelajaran per tahun Jumlah jam per tahun menit) SMAN 1 Demak X s.d. XII 45 44/ jam pembelajaran ( menit) jam d. Penugasan terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang dirancang oleh pendidik untuk mencapai standar kompetensi. Waktu penyelesaian penugasan terstruktur ditentukan oleh pendidik 0 60%. e. Kegiatan mandiri tidak terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang dirancang oleh pendidik untuk mencapai standar kompetensi. Waktu penyelesaiannya diatur sendiri oleh peserta didik dan guru tetapi maksimum 60% dari jam tatap muka dalam satu semester. f. Jam pembelajaran untuk setiap mata pelajaran pada sistem paket dialokasikan sebagaimana tertera dalam struktur kurikulum. Walaupun pengaturan alokasi waktu untuk setiap mata pelajaran yang terdapat pada semester ganjil dan genap dalam satu tahun ajaran dapat dilakukan secara fleksibel, menetapkan alokasi waktu yang sama setiap semesternya yakni 44 dan 46 jam pelajaran per minggu. Penambahan jam pembelajaran tambahan dari alokasi minimal didasarkan pada pertimbangan kebutuhan peserta didik dalam mencapai kompetensi, tingkat kesulitan, dan atas dasar pencapaian prestasi akademik siswa. g. Alokasi waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur dalam sistem paket di SMA Negeri 1 Demak 0% - 60% dari waktu kegiatan tatap muka mata pelajaran yang bersangkutan. Pemanfaatan alokasi waktu tersebut mempertimbangkan potensi dan kebutuhan peserta didik dalam mencapai Dit. Pembinaan SMA 81

85 h. Penyelesaian program pendidikan dengan menggunakan sistem paket adalah tiga tahun maksimum 6 tahun. SMA Negeri 1 Demak tidak melaksanakan program percepatan peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. i. Alokasi waktu untuk praktik, dua jam kegiatan praktik di sekolah setara dengan satu jam tatap muka. Empat jam praktik di luar sekolah setara dengan satu jam tatap muka. 5. Ketuntasan Belajar Ketuntasan Belajar berkaitan langsung dengan penilaian. PP No. 19 tahun 2005 jo PP 32 tahun 2013 tentang Standar Nasional Pendidikan dan Permendikbud No. 66 tahun 2013 tentang Standar Penilaian Pendidikan Dasar dan Menengah mengatur tentang penilaian yang terdiri atas penilaian hasil belajar oleh pendidik, satuan pendidikan, dan pemerintah. Penilaian hasil belajar oleh pendidik Penilaian hasil belajar oleh pendidik dilakukan secara berkesinambungan, bertujuan untuk memantau proses dan kemajuan belajar peserta didik serta untuk meningkatkan efektivitas kegiatan pembelajaran. Penilaian ini dilaksanakan dalam bentuk penugasan, ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas. Berbagai macam ulangan dilaksanakan dengan menggunakan teknik dan instrumen yang sesuai dengan kebutuhan. Penilaian hasil belajar oleh pendidik digunakan untuk (a) menilai pencapaian kompetensi peserta didik, (b) bahan Pengembangan laporan hasil belajar, dan (c) memperbaiki proses pembelajaran. Penilaian dilakukan dengan menggunakan berbagai instrumen baik tes maupun nontes atau penugasan yang dikembangkan sesuai dengan karateristik kelompok mata pelajaran. Penilaian yang dilakukan oleh pendidik harus terencana, terpadu, menyeluruh, dan berskesinambungan. Dengan penilaian ini diharapkan pendidik dapat (a) mengetahui kompetensi yang telah dicapai peserta didik, (b) meningkatkan motivasi belajar peserta didik, (c) mengantarkan peserta didik mencapai kompetensi yang telah ditentukan, (d) memperbaiki strategi pembelajaran, dan (e) meningkatkan akuntabilitas Dit. Pembinaan SMA 82

86 Secara teknis kegiatan pada tahap perencanaan penilaian oleh pendidik sebagai berikut: Menjelang awal tahun pelajaran, guru mata pelajaran sejenis pada satuan pendidikan (MGMP sekolah) melakukan pengembangan indikator pencapaian KD, Pengembangan rancangan penilaian (teknik dan bentuk penilaian) yang sesuai, pembuatan rancangan program remedial dan pengayaan setiap KD, penetapan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) masing-masing mata pelajaran melalui analisis indikator dengan memperhatikan karakteristik peserta didik (kemampuan rata-rata peserta didik/intake), karakteristik setiap indikator (kesulitan/kerumitan atau kompleksitas), dan kondisi satuan pendidikan (daya dukung, misalnya kompetensi guru, fasilitas sarana dan prasarana). Pada awal semester pendidik menginformasikan KKM dan silabus mata pelajaran yang di dalamnya memuat rancangan dan kriteria penilaian kepada peserta didik. Pendidik mengembangkan indikator penilaian, kisi-kisi, instrumen penilaian (berupa tes, pengamatan, penugasan, dan sebagainya) dan pedoman penskoran. Hal-hal lain yang belum diatur dikembangkan dalam peraturan akademik. Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan dilakukan untuk menilai pencapaian kompetensi peserta didik pada semua mata pelajaran. Penilaian ini meliputi: Penilaian akhir untuk semua mata pelajaran pada kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan. Penilaian akhir digunakan sebagai salah satu persyaratan untuk menentukan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan dan harus mempertimbangkan hasil penilaian peserta didik oleh pendidik; Ujian Sekolah juga merupakan salah satu persyaratan untuk menentukan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan. Perencanaan penilaian oleh satuan pendidikan meliputi kegiatan sebagai berikut: Melalui rapat dewan pendidik, satuan pendidikan melakukan pendataan KKM setiap mata pelajaran, penentuan kriteria kenaikan kelas (bagi satuan pendidikan yang menggunakan sistem paket) atau penetapan kriteria program pembelajaran (untuk satuan pendidikan yang melaksanakan Sistem Kredit Semester), penentuan kriteria nilai akhir kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan, dengan mempertimbangkan hasil penilaian oleh pendidik, penentuan kriteria Dit. Pembinaan SMA 83

87 ujian sekolah, koordinasi ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas. Sekolah membentuk tim untuk menyusun instrumen penilaian (untuk ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ujian sekolah) yang meliputi pengembangan kisi-kisi penulisan soal (di dalamnya terdapat indikator soal), Pengembangan butir soal sesuai dengan indikator dan bentuk soal, serta mengikuti kaidah penulisan butir soal, penelaahan butir soal secara kualitatif, dilakukan oleh pendidik lain (bukan penyusun butir soal) pengampu mata pelajaran yang sama dengan butir soal yang ditelaahnya, perakitan butir-butir soal menjadi perangkat tes. Penilaian hasil belajar oleh pemerintah Penilaian hasil belajar oleh pemerintah bertujuan untuk menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi yang dilakukan dalam bentuk Ujian Nasional (UN). Pemerintah menugaskan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) untuk menyelenggarakan UN, dan dalam penyelenggaraannya BSNP bekerja sama dengan instansi terkait di lingkungan Pemerintah, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, dan satuan pendidikan. Hasil UN digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk (a) pemetaan mutu satuan pendidikan, (b) dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya, (c) penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan, dan (d) pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan. a. Ketuntasan Belajar Penetapan nilai kriteria ketuntasan minimal dilakukan melalui analisis ketuntasan belajar minimal pada setiap indikator dengan memperhatikan kompleksitas, daya dukung, dan intake peserta didik untuk mencapai ketuntasan kompetensi dasar dan standar kompetensi. Kriteria ketuntasan minimal setiap Kompetensi Dasar (KD) merupakan rata-rata dari indikator yang terdapat dalam Kompetensi Dasar tersebut. Peserta didik dinyatakan telah mencapai ketuntasan belajar untuk KD tertentu apabila yang bersangkutan telah mencapai ketuntasan belajar minimal yang telah ditetapkan untuk seluruh indikator pada KD tersebut. Secara kuantitatif sekolah telah menetapkan KKM sebagaimana terlampir sebagai bagian tidak terpisahkan dengan dokumen kurikulum Dit. Pembinaan SMA 84

88 Selanjutnya sesuai dengan karakteristik kurikulum 2013, maka ketuntasan belajar peserta didik kelas X dan XI meliputi keseluruhan aspek penilaian sebagaimana diatur dalam Permendikbud No. 66 tahun 2013 dan Permendikbud No. 81A tahun Cakupan penilaiannya meliputi seluruh Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar pada aspek sikap spiritual (KI-1), aspek sikap sosial (KI-2), aspek pengetahuan (KI- 3), redikat Nilai Kompetensi dan ngetahuan eterampilan Sikap A 4 4 SB A B B B 3 3 B C C C 2 2 C D K D 1 1 aspek keterampilan (KI-4). Penilaian dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip, prosedur, acuan, dan mekanisme penilaian sebagaimana diatur dalam standar penilaian yang bersifat autentik dengan mencakup aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Capaian kompetensi peserta didik aspek pengetahuan dan ketrampilan menurut Kurikulum 2013 dengan angka 1-4 dengan rentang nilai 0,33 dan dinyatakan dengan predikat A,B,C,D. Capaian kompetensi untuk sikap dinyatakan dengan sangat baik (SB), baik (B), cukup(c), dan kurang (K) yang nilai kuantitatifnya setara dengan aspek KI-3 dan KI-4. Daftar capaian kompetensi dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 6. Capaian Kompetensi Peserta Didik Untuk KD pada KI-3 dan KI-4, seorang peserta didik dinyatakan belum tuntas belajar untuk menguasai KD yang dipelajarinya apabila menunjukkan indikator nilai < 2.66 dari hasil tes formatif. Untuk KD pada KI-3 dan KI-4, seorang peserta Dit. Pembinaan SMA 85

89 dinyatakan sudah tuntas belajar untuk menguasai KD yang dipelajarinya apabila menunjukkan indikator nilai 2.66 dari hasil tes formatif. c) Untuk KD pada KI-1 dan KI-2, ketuntasan seorang peserta didik dilakukan dengan memperhatikan aspek sikap pada KI-1 dan KI-2 untuk seluruh matapelajaran,yakni jika profil sikap peserta didik secara umum berada pada kategori baik (B) menurut standar yang ditetapkan satuan pendidikan yang bersangkutan. Implikasi dari ketuntasan belajar tersebut adalah sebagai berikut. Untuk KD pada KI-3 dan KI-4: diberikan remedial individual sesuai dengan kebutuhan kepada peserta didik yang memperoleh nilai kurang dari 2.66; Untuk KD pada KI-3 dan KI-4: diberikan kesempatan untuk melanjutkan pelajarannya ke KD berikutnya kepada peserta didik yang memperoleh nilai 2.66 atau lebih dari 2.66; dan Untuk KD pada KI-3 dan KI-4: diadakan remedial klasikal sesuai dengan kebutuhan apabila lebih dari 75% peserta didik memperoleh nilai kurang dari Untuk KD pada KI-1 dan KI-2, pembinaan terhadap peserta didik yang secara umum profil sikapnya belum berkategori baik dilakukan secara holistik (paling tidak oleh guru matapelajaran, guru BK, dan orang tua). Secara rinci aturan pelaksanaan penilaian mengacu pada Petunjuk Teknis Model Penilaian yang dikeluarkan oleh Direktorat Pembinaan SMA sebagai bagian yang tidak terpisahkan dengan dokumen kurikulum ini. Prinsip penilaian pada kurikulum berbasis kompetensi adalah menggunakan acuan kriteria, yakni menggunakan kriteria tertentu dalam menentukan kelulusan peserta didik. Kriteria paling rendah untuk menyatakan peserta didik mencapai ketuntasan dinamakan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). KKM harus ditetapkan sebelum awal tahun ajaran dimulai yang meliputi 2 semester. Seberapapun besarnya jumlah peserta didik yang melampaui batas ketuntasan minimal, tidak mengubah keputusan pendidik dalam menyatakan lulus dan tidak lulus pembelajaran. Acuan kriteria tidak diubah secara serta merta karena hasil empirik penilaian. Acuan kriteria mengharuskan pendidik untuk melakukan tindakan yang tepat terhadap hasil penilaian, yaitu memberikan layanan remedial bagi yang belum tuntas dan atau layanan pengayaan bagi yang sudah melampaui kriteria ketuntasan minimal. Kriteria ketuntasan minimal ditetapkan oleh satuan pendidikan berdasarkan hasil musyawarah guru mata pelajaran sekolah. Kriteria ketuntasan minimal menjadi acuan bersama pendidik, peserta didik, dan orang tua peserta didik. Oleh karena itu pihak-pihak yang berkepentingan terhadap penilaian di SMAN 1 Demak berhak untuk mengetahuinya. Sekolah Dit. Pembinaan SMA 86

90 sosialisasi agar informasi dapat diakses dengan mudah oleh peserta didik dan atau orang tuanya. Penetapan KKM SMA Negeri 1 Demak merupakan kegiatan pengambilan keputusan yang dilakukan melalui metode kuantitatif dengan mempertimbangkan kemampuan akademik dan pengalaman pendidik mengajar mata pelajaran. Penetapan nilai kriteria ketuntasan minimal dilakukan melalui analisis ketuntasan belajar minimal pada setiap indikator dengan memperhatikan kompleksitas, daya dukung, dan intake peserta didik untuk mencapai ketuntasan kompetensi dasar dan standar kompetensi. Kriteria ketuntasan minimal setiap Kompetensi Dasar (KD) merupakan rata-rata dari indikator yang terdapat dalam Kompetensi Dasar tersebut. Peserta didik dinyatakan telah mencapai ketuntasan belajar untuk KD tertentu apabila yang bersangkutan telah mencapai ketuntasan belajar minimal yang telah ditetapkan untuk seluruh indikator pada KD tersebut. Tingkat kompleksitas, kesulitan/kerumitan setiap indikator, kompetensi dasar, dan standar kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik. Suatu indikator dikatakan memiliki tingkat kompleksitas tinggi, apabila dalam pencapaiannya didukung oleh sekurang-kurangnya satu dari sejumlah kondisi sebagai berikut: a. guru yang memahami dengan benar kompetensi yang harus dibelajarkan pada peserta didik; b. guru yang kreatif dan inovatif dengan metode pembelajaran yang bervariasi; c. guru yang menguasai pengetahuan dan kemampuan sesuai bidang yang diajarkan; d. peserta didik dengan kemampuan penalaran tinggi; e. peserta didik yang cakap/terampil menerapkan konsep; f. peserta didik yang cermat, kreatif dan inovatif dalam penyelesaian tugas/pekerjaan; g. waktu yang cukup lama untuk memahami materi tersebut karena memiliki tingkat kesulitan dan kerumitan yang tinggi, sehingga dalam proses pembelajarannya memerlukan pengulangan/latihan; h. tingkat kemampuan penalaran dan kecermatan yang tinggi agar peserta didik dapat mencapai ketuntasan Dit. Pembinaan SMA 87

91 Kemampuan sumber daya pendukung dalam penyelenggaraan pembelajaran pada masing-masing sekolah. a. Sarana dan prasarana pendidikan yang sesuai dengan tuntutan kompetensi yang harus dicapai peserta didik seperti perpustakaan, laboratorium, dan alat/bahan untuk proses pembelajaran; b. Ketersediaan tenaga, manajemen sekolah, dan kepedulian stakeholders sekolah. Tingkat kemampuan (intake) rata-rata peserta didik didasarkan pada hasil seleksi pada saat penerimaan peserta didik baru, khususnya nilai ujian nasionalnya. sedangkan penetapan intake di kelas XI dan XII berdasarkan kemampuan peserta didik di kelas sebelumnya. Secara rinci KKM seluruh mata pelajaran di SMA Negeri 1 Demak dapat dilihat pada lampiran tersendiri yang merupakan bagian tidak terpisahkan dengan dokumen kurikulum ini. 6. Kriteria Kenaikan Kelas, Kelulusan, dan Mutasi Siswa a. Kriteria Kenaikan Kelas Kenaikan kelas dilaksanakan pada setiap akhir tahun ajaran. Kenaikan kelas didasarkan pada penilaian hasil belajar pada semerter genap, dengan pertimbangan seluruh SK/KD yang belum tuntas pada semester ganjil, harus dituntaskan sampai mencapai KKM yang ditetapkan, sebelum akhir semester genap. Hal ini sesuai dengan prinsip belajar tuntas (mastery learning), dimana peserta yang belum mencapai ketuntasan belajar sesuai dengan KKM yang ditetapkan, maka yang bersangkutan harus mengikuti pembelajaran remidi sampai yang bersangkutan mampu mencapai KKM dimaksud. Artinya, nilai kenaikan kelas harus tetap memperhitungkan hasil belajar peserta didik selama satu tahun pelajaran yang sedang berlangsung. 1) Kenaikan Kelas Kenaikan kelas ditetapkan sebagai berikut: a) Peserta didik tidak mencapai ketuntasan belajar minimal (capaian kompetensi lebih dari 3 (tiga) mata pelajaran. b) Capaian kompetensi dari tiga aspek tidak diakumulasikan dalam satu mata pelajaran. c) Peserta didik dinyatakan tidak naik jika budi pekerti, akhlak mulia, dan kepribadian secara keseluruhan kurang dari baik. d) Peserta didik dinyatakan naik jika perolehan nilai ektrakurikuler wajib minimal Dit. Pembinaan SMA 88

92 e) Aturan lain yang tidak diatur dalam kurikulum ini diatur tersendiri melalui rapat dewan pendidik. b. Kelulusan Siswa Sesuai dengan ketentuan PP 19/2005 jo PP 32/2013 Pasal 72 Ayat (1), peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah setelah: 1) menyelesaikan seluruh program pembelajaran; 2) memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan; 3) lulus ujian sekolah/madrasah untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi; dan 4) lulus Ujian Nasional. c. Mutasi Siswa Sekolah memfasilitasi adanya peserta didik yang pindah sekolah karena alasan tertentu. Untuk pelaksanaan pindah sekolah (masuk atau keluar) lintas Provinsi dan Kabupaten/Kota disesuaikan dengan peraturan yang berlaku pada masing-masing Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota. Untuk proses mutasi dari sekolah lain digunakan pertimbangan nilai laporan capaian kompetensi atau laporan nilai hasil belajar (LCK/LHB) peserta didik sekolah asal, nilai KKM sekolah asal, serta pertimbangan lain yang dirasakan perlu untuk menjamin akuntabilitas proses mutasi. Sekolah dapat melakukan tes masuk bagi peserta didik yang ingin mutasi ke SMA Negeri 1 Demak untuk mengetahui mengetahui kemampuan peserta didik. 7. Kriteria Peminatan Sesuai dengan kurikulum 2013, peserta didik kelas X harus mulai memilih kelompok peminatan. Pemilihan kelompok peminatan memberikan kesempatan kepada peserta didik melakukan pilihan dalam bentuk pilihan kelompok peminatan dan pilihan mata pelajaran antarkelompok peminatan. Kelompok peminatan yang dipilih peserta didik terdiri atas kelompok Matematika dan Ilmu Alam dan Ilmu-ilmu Sosial. Pemilihan kelompok peminatan dilakukan pada saat setelah pendaftaran peserta didik baru disesuaikan regulasi yang berlaku di tingkat kabupaten atau sesuai dengan kebijakan pemerintah daerah dengan memperhatikan rambu-rambu yang dikeluarkan oleh peraturan perundang-undangan yang lebih Dit. Pembinaan SMA 89

93 Pemilihan kelompok peminatan berdasarkan nilai rapor SMP/MTs, nilai ujian Nasional SMP/MTs, rekomendasi guru bimbingan dan konseling di SMP, hasil tes penempatan (placement test) ketika mendaftar di SMA, dan tes bakat minat oleh psikolog. Selain itu, pemilihan kelompok peminatan juga memperhatikan masukan dari orang tua dan minat peserta didik. Peserta didik yang memenuhi persyaratan untuk masuk ke semua kelompok peminatan diberi kesempatan untuk memilih sesuai keinginannya. Secara teknis pemilihan kelompok peminatan diatur tersendiri yang merupakan bagian tak terpisahkan dengan dokumen kurikulum ini. Peserta didik yang tidak sesuai dengan bakat dan minatnya diberikan kesempatan selama 2 minggu untuk pindah kelompok peminatan. Selanjutnya pada semester kedua di kelas X, seorang peserta didik masih mungkin mengubah kelompok peminatan, berdasarkan hasil pembelajaran di semester pertama dan rekomendasi guru bimbingan konseling. Perpindahan kelompok peminatan tidak didasarkan pada alasan perolehan nilai kurang memuaskan yang disebabkan oleh kemalasan atau alasan yang bersifat pribadi. Pemilihan kelompok peminatan harus sama sampai peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan. 8. Pendidikan Kecakapan Hidup Kurikulum untuk SMA Negeri 1 Demak memasukkan pendidikan kecakapan hidup, yang mencakup kecakapan pribadi, kecakapan sosial, kecakapan akademik dan/atau kecakapan vokasional. Pendidikan kecakapan hidup dapat merupakan bagian integral dari pendidikan semua mata pelajaran. Kecakapan hidup dintegrasikan dalam mata pelajaran sebagaimana dituangkan dalam silabus mata pelajaran. 9. Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal dan Global Pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global adalah pendidikan yang memanfaatkan keunggulan lokal dan kebutuhan daya saing global dalam aspek ekonomi, budaya, bahasa, teknologi informasi dan komunikasi, ekologi, dan lain-lain, yang semuanya bermanfaat bagi pengembangan kompetensi peserta didik. Kurikulum SMA Negeri 1 Demak memasukkan pendidikan berbasis keunggulan lokal lebih dititikberatkan pada pendidikan lingkungan hidup yang terintegrasi dengan mata pelajaran tertentu. Pilihan pendidikan keunggulan lokal ini didasarkan pada keinginan warga sekolah untuk menjadikan sekolah sebagai sekolah adiwiyata. Pendidikan keunggulan global yang merupakan bagian integral dari semua mata pelajaran yang menitikberatkan pada penguasaan kompetensi lebih unggul dibandingkan dengan kompetitor sekolah lain. Pendidikan keunggulan global Dit. Pembinaan SMA 90

94 diwujudkan pada penetapan target prestasi berdasarkan keunggulan mutu dan prestasi baik akademik maupun non Dit. Pembinaan SMA 91

95 BAB IV KALENDER PENDIDIKAN SMA NEGERI 1 DEMAK TAHUN PELAJARAN 2014/2015 Kurikulum satuan pendidikan pada setiap jenis dan jenjang diselenggarakan dengan mengikuti kalender pendidikan pada setiap tahun ajaran. Kalender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran peserta didik selama satu tahun ajaran yang mencakup permulaan tahun pelajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif dan hari libur. Permulaan tahun pelajaran adalah waktu dimulainya kegiatan pembelajaran pada awal tahun pelajaran pada setiap satuan pendidikan. Minggu efektif belajar adalah jumlah minggu kegiatan pembelajaran untuk setiap tahun pelajaran pada setiap satuan pendidikan. Waktu pembelajaran efektif adalah jumlah jam pembelajaran setiap minggu, meliputi jumlah jam pembelajaran untuk seluruh matapelajaran termasuk muatan lokal, ditambah jumlah jam untuk kegiatan pengembangan diri. Waktu libur adalah waktu yang ditetapkan untuk tidak diadakan kegiatan pembelajaran terjadwal pada satuan pendidikan yang dimaksud. Waktu libur dapat berbentuk jeda tengah semester, jeda antar semester, libur akhir tahun pelajaran, hari libur keagamaan, hari libur umum termasuk hari-hari besar nasional, dan hari libur khusus. Sesuai dengan Standar Isi, maka dalam Pengembangan Kalender Pendidikan SMA Negeri 1 Demak mengacu pada rambu-rambu sebagai berikut: 1. Permulaan tahun pelajaran adalah bulan Juli setiap tahun dan berakhir pada bulan Juni tahun berikutnya. 2. Hari libur sekolah ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional, dan/atau Menteri Agama dalam hal yang terkait dengan hari raya keagamaan, Kepala Daerah tingkat Kabupaten/Kota, dan/atau organisasi penyelenggara pendidikan dapat menetapkan hari libur khusus. 3. Kalender pendidikan untuk setiap satuan pendidikan dikembangkan oleh masingmasing satuan pendidikan berdasarkan alokasi waktu sebagaimana tersebut pada dokumen Standar Isi ini dengan memperhatikan ketentuan dari pemerintah/pemerintah daerah. 4. Alokasi Waktu pada Kelender Pendidikan adalah sebagai Dit. Pembinaan SMA 92

96 Tabel 11. Alokasi waktu minggu efektif belajar, waktu libur dan kegiatan lainnya No Kegiatan Alokasi Waktu Keterangan 1. Minggu efektif belajar 2. Jeda tengah semester Minimum 36 minggu dan maksimum 40 minggu Maksimum 2 minggu Digunakan untuk kegiatan pembelajaran efektif pada setiap satuan pendidikan Satu minggu setiap semester 3. Jeda antarsemester Maksimum 2 minggu Antara semester I dan II 4. Libur akhir tahun pelajaran Maksimum 3 minggu Digunakan untuk penyiapan kegiatan dan administrasi akhir dan awal tahun pelajaran 5. Hari libur keagamaan 2 4 minggu Daerah khusus yang memerlukan libur keagamaan lebih panjang dapat mengaturnya sendiri tanpa mengurangi jumlah minggu efektif belajar dan waktu pembelajaran efektif 6. Hari libur umum/nasional Maksimum 2 minggu Disesuaikan dengan Peraturan Pemerintah 7. Hari libur khusus Maksimum 1 minggu Untuk kegiatan tertentu 8. Kegiatan khusus sekolah/madrasah Maksimum 3 minggu Digunakan untuk kegiatan yang diprogramkan secara khusus oleh sekolah/madrasah tanpa mengurangi jumlah minggu efektif belajar dan waktu pembelajaran efektif Berdasarkan rambu-rambu di atas, SMA Negeri 1 Demak menyusun Kalender Pendidikan sebagaimana tercantum pada lampiran Dit. Pembinaan SMA 93

97 BAB IV PENUTUP Kurikulum SMA Negeri 1 Demak yang telah tersusun ini akan menjadi pedoman bagi sekolah dan menjadi acuan seluruh stake holders sekolah selama 1 tahun pelajaran 2014/2015. Sesuai dengan tuntutan penjaminan sekolah SMA, maka penyesuaian-penyesuaian akan terus dilakukan agar terwujud sekolah yang bermutu. Sejalan dengan harapan di atas, maka dukungan dari berbagai pihak akan terus dibutuhkan. Tanpa dukungan yang nyata tentu akan berat bagi sekolah untuk memenuhi harapan semua pihak. Oleh karena itu, kita semua berharap ada sinergi seluruh potensi stake holders sekolah dalam mencapai tujuan yang dimaksud. Akhirnya, kita berharap masukan dari berbagai pihak demi penyempurnaan kurikulum SMA Negeri 1 Demak pada tahun ini dan pada tahun-tahun yang akan Dit. Pembinaan SMA 94

98 Lampiran 4: Contoh Kalender Akademik PERHITUNGAN JUMLAH JAM BELAJAR EFEKTIF SMA NEGERI 1 DEMAK Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional TAHUN PELAJARAN 2013/2014. JUMLAH JUMLAH HARI LIBUR NO. SEMESTER BULAN HARI EFEKTIF SEKOLAH HARI- HARI PERTAMA MASUK KEGIATAN TENGAH SMT/UN/US/ ULANGAN MENGIKUTI UPACARA LHB AKHIR SMT MINGGU UMUM HR RAYA JML HARI 1 I Juli Agustus September Oktober November Desember Januari Jumlah II Januari Februari Maret Dit. Pembinaan SMA 95

99 April Mei Juni Juli Jumlah Jumlah Dalam 1 Tahun Pelajaran Demak,. Juli 2013 Kepala Sekolah, Drs. Suyanto, M.Pd. Dit. Pembinaan SMA 96

100 URAIAN KALENDER PENDIDIKAN TAHUN PELAJARAN 2013/2014 NO. TANGGAL KEGIATAN 1 29 Juni 2013 Evaluasi diri smt 2 Tahun Pelajara 2012/ s.d 8 Juli 2013 Revisi KTSP 2012/ s.d 10 Juli 2013 IHT 4 15 Juli 2013 Pembagian Kelas dan Daftar Ulang Tapel 2013/ Tanggal Juli 2013 Hari-hari Pertama Masuk Satuan Pendidikan (MOS Kelas X) 6 Tanggal 1 Agustus 2013 HUT SMA Negeri 1 Demak 7 Tanggal 1 s.d 7 Agustus 2013 Libur Sebelum Idul Fitri 1434 H (1 Syawal 1434 Hijriyah) 8 Tanggal 8,9 Agustus 2013 Libur Hari Raya Idul Fitri 1434 H (1 Syawal 1434 Hijriyah) 9 Tanggal Agustus 2013 Libur Sesudah Idul Fitri 1434 H (1 Syawal 1434 Hijriyah) 10 Tanggal 17 Agustus 2013 Mengikuti Upacara Peringatan HUT Kemerdekaan RI 11 Tanggal 4-5 september 2013 Gelar Perguruan Tinggi dalam ragka HUT SMA N 1 Demak 12 Tanggal 8 September 2013 Mengikuti Upacara Peringatan Hari Aksara Internasional 13 Tanggal September 2013 Pembuatan Soal Mid Semester (MGMP Sekolah) 14 Tanggal 30 September 2014 Pengumpulan Soal Ulangan Tengah Semester Satu 15 Tanggal 1 Oktober 2012 Mengikuti Upacara Hari Kesaktian Pancasila 16 Tanggal 2-8 Oktober 2013 Penggandaan Naskah Ulangan Tengah Semester Satu 17 Tanggal Oktober 2013 Kegiatan Jeda Semester Gasal 18 Tanggal 15 Oktober 2013 Libur Umum (Hari Raya Idul Adha/10 Dzulhijah 1434 H) 19 Tanggal 28 Oktober 2013 Mengikuti Upacara Peringatan Hari Sumpah Pemuda 20 Tanggal 5 November 2013 Libur Umum (Tahun Baru Hijriyah/1 Muharam 1435 H) 21 Tanggal 10 November 2013 Mengikuti Upacara Peringatan Hari Pahlawan 22 Tanggal November 2013 Pembuatan Soal Ulangan Akhir Semester 1 (MGMP Sekolah/Kabupaten) 23 Tanggal 18 November 2013 Pengumpulan Soal Ulangan Akhir Semester Satu 24 Tanggal 19-5 November 2013 Penggandaan Naskah Ulangan Akhir Semester Satu 25 Tanggal 9-14 Desember 2013 Ulangan Akhir Semester Dit. Pembinaan SMA 97

101 26 Tanggal Desember 2013 Persiapan Penyerahan Buku Laporan hasil Belajar Semester Gasal 27 Tanggal 21 desember 2013 Penyerahan Buku Laporan Hasul Belajar (BLHP) Semester Gasal 28 Tanggal 25 Desember 2013 Libur Umum (Hari Raya Natal) 29 Tanggal 23 Desember Januari 2014 Libur Akhir Semester Gasal 30 Tanggal 1 Januari 2014 Perkiraan Libur Umum (Tahun Baru Masehi 2014) 31 Tanggal 14 Januari 2014 Perkiraan Libur Umum (Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1435 Hijriyah) 32 Tanggal 31 Januari 2014 Perkiraan Libur Umum (Tahun Baru Imlek 2565) 33 tanggal 3-6 Februari 2014 TO 1 34 tanggal Februari 2015 TO 2 35 Tanggal 3-11 Maret 2014 Ujian Sekolah/Madrasah Tertulis SMA/MA/SMALB dan SMK 36 Tanggal 13 Maret 2013 Perkiraan Libur Umum (Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1936) 37 Tanggal 1-7 Maret 2014 Pembuatan Soal Mid Semester (MGMP Sekolah) 38 Tanggal 8 Maret 2014 Pengumpulan Soal Ulangan Tengah Semester 2 39 Tanggal Maret 2014 Penggandaan Naskah Ulangan Tengah Semester 2 40 Tanggal Maret 2014 Kegiatan Jeda Semester Genap/TO3 41 Tanggal April 2014 Perkiraan Ujian Nasional SMA/MA/SMALB dan SMK (Utama) 42 Tanggal 18 April 2014 Perkiraan Libur Umum (Wafat Isa Al Masih) 43 Tanggal April 2014 Perkiraan Ujian Nasional SMA/MA/SMALB dan SMK (Susulan) 44 Tanggal 2 Mei 2014 Mengikuti Upacara Peringatan Hari Pendidikan Nasional 45 Tanggal 14 Mei 2014 Perkiraan libur Umum (Kenaikan Isa Almasih) 46 Tanggal 20 Mei 2014 Mengikuti Upacara Peringatan Hari Kebangkitan Nasional 47 Perkiraan Libur Umum (Peringatan Isro' Mi'roj Nabi Muhammad SAW 1435 Tanggal 27 Mei 2014 Hijriyah) 48 Tanggal 29 Mei 2014 Perkiraan Libur Umum (hari Raya Waisak Tahun 2558) 49 Tanggal 9-14 Juni 2014 Ulangan Akhir Semester Genap/Kenaikan Kelas 50 Tanggal Juni 2014 Remedial/Persiapan Penyerahan Buku Laporan Hasil Belajar Semester Genap 51 Tanggal 21 Juni 2014 Penyerahan Buku Laporan Hasil Belajar Semester Genap 52 Tanggal 23 Juni-12 Juli 2014 Libur Akhir Semester Genap/Libur Akhit tahun Pelajaran 2013/ Tanggal 14 Juli 2014 Permulaan Tahun Pelajaran 2014/2015 Demak, Juli 2013 Kepala Dit. Pembinaan SMA 98

102 KALENDER PENDIDIKAN DAN HARI BELAJAR EFEKTIF SMA NEGERI 1 DEMAK TAHUN PELAJARAN 2013/2014 HARI / BULAN JULI 2013 AGUSTUS 2013 SEPTEMBER 2013 OKTOBER 2013 NOVEMBER 2013 DESEMBER hari 12 hari 25 hari 20 hari 25 hari 6 hari MINGGU SENIN SELASA RABU KAMIS JUMAT SABTU HARI / BULAN JANUARI 2014 FEBRUARI 2014 MARET 2014 APRIL 2014 MEI 2014 JUNI hari 16 hari 12 hari hari 6 hari MINGGU SENIN SELASA RABU KAMIS JUMAT SABTU KETERANGAN : : Tahun Pelajaran 2012/2013 : Libur sebelum & Sesudah HRIF : Ujian Nasional Demak,.. Juli 2013 : Hari pertama masuk sekolah/mos : Libur Hari Raya Idul Fitri : Ujian Sekolah Kepala Sekolah, : Hari belajar efektif : Midsemester : Try Out UN : HUT Sekolah : Ulangan Semester Gasal/Genap/Remidial : Evaluasi dan sambung rasa : Libur umum : Pembagian rapor : Outclass learning Bali Drs. Suyanto, M.Pd. : Mengikuti upacara hari besar nasional : Libur semester : Pengembangan Diri Sabtu jam 7 & 8 NIP Dit. Pembinaan SMA 99

103 @2015, Dit. Pembinaan SMA 100

PEDOMAN PENGEMBANGAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN

PEDOMAN PENGEMBANGAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN SALINAN LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2014 TENTANG KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN PEDOMAN PENGEMBANGAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN

Lebih terperinci

Panduan Pengembangan KTSP KATA PENGANTAR. 2014,Direktorat Pembinaan SMA-Ditjen Pendidikan Menengah ii

Panduan Pengembangan KTSP KATA PENGANTAR. 2014,Direktorat Pembinaan SMA-Ditjen Pendidikan Menengah ii KATA PENGANTAR ii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... ii DAFTAR ISI... iii BAB I PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang... 1 B. Tujuan... 2 C. Ruang Lingkup... 2 D. Landasan Hukum... 2 BAB II PENGERTIAN DAN ACUAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2014 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2014 TENTANG SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2014 TENTANG KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN PADA PENDIDIKAN DASAR DAN PENDIDIKAN MENENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

DIKLAT/BIMTEK KTSP 2009 DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL HALAMAN 1

DIKLAT/BIMTEK KTSP 2009 DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL HALAMAN 1 PANDUAN PENYUSUNAN KTSP DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL HALAMAN 1 LANDASAN UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Permendiknas No.

Lebih terperinci

PENYUSUNAN KTSP. Sosialisasi KTSP 1

PENYUSUNAN KTSP. Sosialisasi KTSP 1 PENYUSUNAN KTSP Sosialisasi KTSP 1 LANDASAN UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Permendiknas No. 22/2006 tentang Standar Isi

Lebih terperinci

PEDOMAN PENYUSUNAN DAN PENGELOLAAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN

PEDOMAN PENYUSUNAN DAN PENGELOLAAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81A TAHUN 2013 TENTANG IMPLEMENTASI KURIKULUM PEDOMAN PENYUSUNAN DAN PENGELOLAAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN I. PENDAHULUAN

Lebih terperinci

PEDOMAN KEGIATAN EKSTRAKURIKULER

PEDOMAN KEGIATAN EKSTRAKURIKULER SALINAN LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 62 TAHUN 2014 TENTANG KEGIATAN EKSTRAKURIKULER PADA PENDIDIKAN DASAR DAN PENDIDIKAN MENENGAH PEDOMAN KEGIATAN EKSTRAKURIKULER

Lebih terperinci

PENYUSUNAN PENYUSUN KTSP

PENYUSUNAN PENYUSUN KTSP PENYUSUNAN KTSP Sosialisasi KTSP 1 LANDASAN UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional a Pendidikan d Permendiknas No. 22/2006 tentang Standar

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 62 TAHUN 2014 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 62 TAHUN 2014 TENTANG SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 62 TAHUN 2014 TENTANG KEGIATAN EKSTRAKURIKULER PADA PENDIDIKAN DASAR DAN PENDIDIKAN MENENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

BAB I LANDASAN KURIKULUM AL-ISLAM, KEMUHAMMADIYAHAN DAN BAHASA ARAB DENGAN PARADIGMA INTEGRATIF-HOLISTIK

BAB I LANDASAN KURIKULUM AL-ISLAM, KEMUHAMMADIYAHAN DAN BAHASA ARAB DENGAN PARADIGMA INTEGRATIF-HOLISTIK BAB I LANDASAN KURIKULUM AL-ISLAM, KEMUHAMMADIYAHAN DAN BAHASA ARAB DENGAN PARADIGMA INTEGRATIF-HOLISTIK A. Latar Belakang Pemikiran Indonesia merupakan negara kepulauan dengan keragamannya yang terdapat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kurikulum 2013 digulirkan sebagai langkah pengembangan kurikulum berbasis kompetensi yang telah diberlakukan pada tahun 2004 dan KTSP 2006 yang mencakup kompetensi sikap,

Lebih terperinci

PENGELOLAAN DAN PENYUSUNAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN

PENGELOLAAN DAN PENYUSUNAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN HO-3D-01 PENGELOLAAN DAN PENYUSUNAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN A. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Kurikulum, menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

Lebih terperinci

KTSP KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN

KTSP KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN KTSP KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN Pengertian kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan,

Lebih terperinci

PEDOMAN PENGEMBANGAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

PEDOMAN PENGEMBANGAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI SALINAN LAMPIRAN III PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 146 TAHUN 2014 TENTANG KURIKULUM 2013 PENDIDIKAN ANAK USIA DINI PEDOMAN PENGEMBANGAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN

Lebih terperinci

INSTRUMEN VERIFIKASI/VALIDASI DOKUMEN KTSP

INSTRUMEN VERIFIKASI/VALIDASI DOKUMEN KTSP INSTRUMEN VERIFIKASI/VALIDASI DOKUMEN KTSP a. Cara Pengisian Instrumen: Beri tanda checklist (V) pada; ) 0 apabila tidak ada ) apabila Ada/Kurang atau tidak lengkap ) apabila Ada/Cukup /Cukup Lengkap )

Lebih terperinci

KTSP DAN IMPLEMENTASINYA

KTSP DAN IMPLEMENTASINYA KTSP DAN IMPLEMENTASINYA Disampaikan pada WORKSHOP KURIKULUM KTSP SMA MUHAMMADIYAH PAKEM, SLEMAN, YOGYAKARTA Tanggal 4-5 Agustus 2006 Oleh : Drs. Marsigit MA FMIPA UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA KTSP DAN

Lebih terperinci

PENGERTIAN KTSP DAN PENGEMBANGAN SILABUS DALAM KTSP. Oleh Dr. Jumadi

PENGERTIAN KTSP DAN PENGEMBANGAN SILABUS DALAM KTSP. Oleh Dr. Jumadi PENGERTIAN KTSP DAN PENGEMBANGAN SILABUS DALAM KTSP Makalah disampaikan pada Pelatihan dan Pendampingan Implementasi KTSP di SD Wedomartani Oleh Dr. Jumadi A. Pendahuluan Menurut ketentuan dalam Peraturan

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN KTSP. A. Rasional

PENGEMBANGAN KTSP. A. Rasional PENDAHULUAN Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggara kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan

Lebih terperinci

KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN BERDASARKAN STANDAR ISI DAN STANDAR KOMPETENSI LULUSAN

KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN BERDASARKAN STANDAR ISI DAN STANDAR KOMPETENSI LULUSAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN BERDASARKAN STANDAR ISI DAN STANDAR KOMPETENSI LULUSAN Susiwi S Pengantar Kurikulum nasional perlu terus disempurnakan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan

Lebih terperinci

MATERI PELATIHAN KTSP 2009 DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

MATERI PELATIHAN KTSP 2009 DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL KURIKULUM Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 50 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 50 D. UNSUR YANG TERLIBAT 51 E. REFERENSI 51 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 51

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 50 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 50 D. UNSUR YANG TERLIBAT 51 E. REFERENSI 51 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 51 JUKNIS ANALISIS STANDAR PENGELOLAAN SMA DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 50 B. TUJUAN 50 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 50 D. UNSUR YANG TERLIBAT 51 E. REFERENSI 51 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 51 G. URAIAN PROSEDUR

Lebih terperinci

PENYUSU S NA N N KTSP

PENYUSU S NA N N KTSP PENYUSUNAN KTSP 2006 1 LANDASAN UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Permendiknas No. 22/20062006 tentang Standar Isi Permendiknas

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Jakarta, 00Juni 2015 Direktur Pembinaan SMA, Harris Iskandar, Ph.D NIP. Dit.

KATA PENGANTAR. Jakarta, 00Juni 2015 Direktur Pembinaan SMA, Harris Iskandar, Ph.D NIP. Dit. KATA PENGANTAR Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mulai tahun pelajaran 2013/2014 telah menetapkan kebijakan implementasi Kurikulum 2013 secara terbatas di 1.270 SMA sasaran dan sejumlah SMA yang melaksanakan

Lebih terperinci

KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN MADRASAH ALIYAH DAN MONEV PELAKSANAANNYA. Makalah

KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN MADRASAH ALIYAH DAN MONEV PELAKSANAANNYA. Makalah KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN MADRASAH ALIYAH DAN MONEV PELAKSANAANNYA Makalah Disajikan pada kegiatan Workshop Monev Pelaksanaan KTSP MI, MTs, dan MA Angkatan I Tingkat Propinsi Jawa Barat pada

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Kata Pengantar 1. Daftar Isi 2

DAFTAR ISI. Kata Pengantar 1. Daftar Isi 2 DAFTAR ISI Kata Pengantar 1 Daftar Isi 2 I. PENDAHULUAN 3 A. Landasan 4 B. Tujuan Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan C. Pengertian 5 D. Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum Tingkat

Lebih terperinci

PENYUSUNAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN

PENYUSUNAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN PENYUSUNAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN Oleh: Kuncoro Asih Nugroho, M.Pd. I. PENDAHULUAN A. Pengertian Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum

Lebih terperinci

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 1 B. TUJUAN 2 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 2 D. UNSUR YANG TERLIBAT 2 E. REFERENSI 2 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 3

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 1 B. TUJUAN 2 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 2 D. UNSUR YANG TERLIBAT 2 E. REFERENSI 2 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 3 DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 1 B. TUJUAN 2 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 2 D. UNSUR YANG TERLIBAT 2 E. REFERENSI 2 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 3 G. URAIAN PROSEDUR KERJA 5 LAMPIRAN 1 : ALUR PROSEDUR KERJA ANALISIS

Lebih terperinci

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 40 B. TUJUAN 40 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 40 D. UNSUR YANG TERLIBAT 41 E. REFERENSI 41 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 41

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 40 B. TUJUAN 40 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 40 D. UNSUR YANG TERLIBAT 41 E. REFERENSI 41 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 41 DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 40 B. TUJUAN 40 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 40 D. UNSUR YANG TERLIBAT 41 E. REFERENSI 41 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 41 G. URAIAN PROSEDUR KERJA 44 LAMPIRAN 1 : ALUR PROSEDUR KERJA

Lebih terperinci

BSNP PANDUAN PENYUSUNAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN JENJANG PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH

BSNP PANDUAN PENYUSUNAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN JENJANG PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH PANDUAN PENYUSUNAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN JENJANG PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH I. PENDAHULUAN Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran

Lebih terperinci

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 50 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 51 D. UNSUR YANG TERLIBAT 51 E. REFERENSI 51 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 51

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 50 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 51 D. UNSUR YANG TERLIBAT 51 E. REFERENSI 51 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 51 JUKNIS ANALISIS STANDAR PENGELOLAAN SMA DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 50 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 51 D. UNSUR YANG TERLIBAT 51 E. REFERENSI 51 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 51 G. URAIAN PROSEDUR 53 LAMPIRAN

Lebih terperinci

Model Penyelenggaraan Peminatan di SMA

Model Penyelenggaraan Peminatan di SMA Model Penyelenggaraan Peminatan di SMA 2015,Direktorat Pembinaan SMA i Model Penyelenggaraan Peminatan di SMA KATA PENGANTAR Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mulai tahun pelajaran 2013/2014 telah

Lebih terperinci

PengembanganKurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

PengembanganKurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) PengembanganKurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) *Kaji kebutuhan dan kemampuan siswa *Kaji kemampuan guru (potensi SDM sekolah, visi, dan misi sekolah) *Kaji daya dukung sekolah (sarana, prasarana)

Lebih terperinci

Penyusunan KTSP Berbasis Kurikulum 2013 Dokumen 1 BIMBINGAN TEKNIS PENDAMPINGAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 BAGI KEPALA SMP

Penyusunan KTSP Berbasis Kurikulum 2013 Dokumen 1 BIMBINGAN TEKNIS PENDAMPINGAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 BAGI KEPALA SMP Penyusunan KTSP Berbasis Kurikulum 2013 Dokumen 1 BIMBINGAN TEKNIS PENDAMPINGAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 BAGI KEPALA SMP TUJUAN : Setelah mengikuti kegiatan bimtek diharapkan peserta mampu Menjelaskan

Lebih terperinci

A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 dikemukakan kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi

Lebih terperinci

KURIKULUM Pedoman Implementasi Kurikulum

KURIKULUM Pedoman Implementasi Kurikulum KURIKULUM 2013 Pedoman Implementasi Kurikulum BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN 2013 KATA PENGANTAR Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT atas selesainya

Lebih terperinci

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 1 B. TUJUAN 2 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 2 D. UNSUR YANG TERLIBAT 2 E. REFERENSI 2 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 3

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 1 B. TUJUAN 2 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 2 D. UNSUR YANG TERLIBAT 2 E. REFERENSI 2 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 3 DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 1 B. TUJUAN 2 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 2 D. UNSUR YANG TERLIBAT 2 E. REFERENSI 2 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 3 G. URAIAN PROSEDUR KERJA 5 LAMPIRAN 1 : ALUR PROSEDUR KERJA ANALISIS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sesuai Undang-Undang (UU) Republik Indonesia (RI) Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar

Lebih terperinci

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 40 B. TUJUAN 40 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 40 D. UNSUR YANG TERLIBAT 41 E. REFERENSI 41 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 41

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 40 B. TUJUAN 40 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 40 D. UNSUR YANG TERLIBAT 41 E. REFERENSI 41 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 41 DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 40 B. TUJUAN 40 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 40 D. UNSUR YANG TERLIBAT 41 E. REFERENSI 41 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 41 G. URAIAN PROSEDUR KERJA 44 LAMPIRAN 1 : ALUR PROSEDUR KERJA

Lebih terperinci

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 1 B. TUJUAN 1 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 1 D. UNSUR YANG TERLIBAT 2 E. REFERENSI 2 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 3

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 1 B. TUJUAN 1 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 1 D. UNSUR YANG TERLIBAT 2 E. REFERENSI 2 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 3 DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 1 B. TUJUAN 1 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 1 D. UNSUR YANG TERLIBAT 2 E. REFERENSI 2 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 3 G. URAIAN PROSEDUR KERJA 5 LAMPIRAN 1 : ALUR PROSEDUR KERJA PENYUSUNAN

Lebih terperinci

Instrumen Review. Instrumen Penelaahan Kurikulum Sekolah (KTSP) Dokumen 1. Terdapat logo sekolah/daerah

Instrumen Review. Instrumen Penelaahan Kurikulum Sekolah (KTSP) Dokumen 1. Terdapat logo sekolah/daerah Instrumen Review KTSP Berikut ini Instrumen Penelaahan Kurikulum Sekolah (KTSP) Dokumen 1 1 Cover/halaman judul Terdapat logo sekolah/daerah Terdapat judul yang tepat (Kurikulum Sekolah...) Menulis alamat

Lebih terperinci

Bab IV Analisis Hasil Penelitian

Bab IV Analisis Hasil Penelitian Bab I Analisis Hasil Penelitian A. Profil Sekolah 1. Nama Sekolah : SD Negeri Candisari 2. Nomor Statistik Sekolah : 101030820016 3. Alamat Sekolah : Margoagung Desa : Candisari Kecamatan : Secang Kabupaten

Lebih terperinci

INSTRUMEN VALIDASI/VERIFIKASI DOKUMEN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) 2006 SEKOLAH MENENGAH ATAS PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN PELAJARAN

INSTRUMEN VALIDASI/VERIFIKASI DOKUMEN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) 2006 SEKOLAH MENENGAH ATAS PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN PELAJARAN INSTRUMEN VALIDASI/VERIFIKASI DOKUMEN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) 2006 SEKOLAH MENENGAH ATAS PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN PELAJARAN 2016/2017 KABUPATEN/KOTA :... PETUNJUK PENGISIAN 1. C e

Lebih terperinci

DAFTAR HADIR A. LATAR BELAKANG 1 B. TUJUAN 1 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 1 D. UNSUR YANG TERLIBAT 2 E. REFERENSI 2 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 2

DAFTAR HADIR A. LATAR BELAKANG 1 B. TUJUAN 1 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 1 D. UNSUR YANG TERLIBAT 2 E. REFERENSI 2 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 2 DAFTAR HADIR A. LATAR BELAKANG 1 B. TUJUAN 1 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 1 D. UNSUR YANG TERLIBAT 2 E. REFERENSI 2 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 2 G. URAIAN PROSEDUR KERJA 5 LAMPIRAN 1 : ALUR PROSEDUR KERJA PENYUSUNAN

Lebih terperinci

PEDOMAN PENDAMPINGAN PELAKSANAAN KURIKULUM 2013 PADA PENDIDIKAN DASAR DAN PENDIDIKAN MENENGAH

PEDOMAN PENDAMPINGAN PELAKSANAAN KURIKULUM 2013 PADA PENDIDIKAN DASAR DAN PENDIDIKAN MENENGAH SALINAN LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 105 TAHUN 2014 TENTANG PENDAMPINGAN PELAKSANAAN KURIKULUM 2013 PADA PENDIDIKAN DASAR DAN PENDIDIKAN MENENGAH PEDOMAN

Lebih terperinci

Landasan Yuridis SI, SKL dan KTSP menurut UU No 20/2003 tentang Sisdiknas

Landasan Yuridis SI, SKL dan KTSP menurut UU No 20/2003 tentang Sisdiknas PAPARAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL 1 PERTAMA: KONSEP DASAR 2 Landasan Yuridis SI, SKL dan KTSP menurut UU No 20/2003 tentang

Lebih terperinci

2013, No.71 2 Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 T

2013, No.71 2 Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 T LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.71, 2013 PENDIDIKAN. Standar Nasional Pendidikan. Warga Negara. Masyarakat. Pemerintah. Perubahan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor

Lebih terperinci

Lampiran 1. Instrumen ini digunakan sebagai penggalian data pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan menurut pedoman penyusunan KTSP dari

Lampiran 1. Instrumen ini digunakan sebagai penggalian data pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan menurut pedoman penyusunan KTSP dari Lampiran 1. Instrumen ini digunakan sebagai penggalian data pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan menurut pedoman penyusunan KTSP dari BSNP, dalam menyusun tesis. Data selanjutnya digunakan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 11 B. TUJUAN 11 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 11 D. UNSUR YANG TERLIBAT 12 E. REFERENSI 12 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 12

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 11 B. TUJUAN 11 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 11 D. UNSUR YANG TERLIBAT 12 E. REFERENSI 12 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 12 JUKNIS PENYUSUNAN RENCANA KERJA SMA DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 11 B. TUJUAN 11 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 11 D. UNSUR YANG TERLIBAT 12 E. REFERENSI 12 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 12 G. URAIAN PROSEDUR KERJA

Lebih terperinci

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 1 B. TUJUAN 1 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 1 D. UNSUR YANG TERLIBAT 2 E. REFERENSI 2 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 2

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 1 B. TUJUAN 1 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 1 D. UNSUR YANG TERLIBAT 2 E. REFERENSI 2 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 2 DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 1 B. TUJUAN 1 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 1 D. UNSUR YANG TERLIBAT 2 E. REFERENSI 2 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 2 G. PROSEDUR KERJA 4 LAMPIRAN 1 : ALUR PROSEDUR KERJA PENYUSUNAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Efektivitas proses..., Hani Khotijah Susilowati, FISIP UI, Universitas Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. Efektivitas proses..., Hani Khotijah Susilowati, FISIP UI, Universitas Indonesia 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pada awal abad XXI, dunia pendidikan di Indonesia menghadapi tiga tantangan besar. Tantangan pertama, sebagai akibat dari krisis ekonomi, dunia pendidikan dituntut

Lebih terperinci

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 101 B. TUJUAN 101 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 101 D. UNSUR YANG TERLIBAT 102 E. REFERENSI 102 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 102

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 101 B. TUJUAN 101 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 101 D. UNSUR YANG TERLIBAT 102 E. REFERENSI 102 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 102 JUKNIS PENYUSUNAN LAPORAN ANALISIS KONTEKS SMA DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 101 B. TUJUAN 101 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 101 D. UNSUR YANG TERLIBAT 102 E. REFERENSI 102 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 102 G. URAIAN

Lebih terperinci

Kurikulum SD Negeri Lecari TP 2015/ BAB I PENDAHULUAN

Kurikulum SD Negeri Lecari TP 2015/ BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81A TAHUN 2013 TENTANG IMPLEMENTASI KURIKULUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81A TAHUN 2013 TENTANG IMPLEMENTASI KURIKULUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81A TAHUN 2013 TENTANG IMPLEMENTASI KURIKULUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81A TAHUN 2013 TENTANG IMPLEMENTASI KURIKULUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP)

PENGEMBANGAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) PENGEMBANGAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) 1 1. Pengertian KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masingmasing satuan pendidikan 2 2. Landasan Pengembangan KTSP

Lebih terperinci

PANDUAN PENYUSUNAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN JENJANG PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN

PANDUAN PENYUSUNAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN JENJANG PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN PANDUAN PENYUSUNAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN JENJANG PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN 2006 KATA PENGANTAR Buku Panduan ini dimaksudkan sebagai pedoman sekolah/madrasah

Lebih terperinci

Model Penyelenggaraan Peminatan Kurikulum 2013 di SMA KATA PENGANTAR. 2014,Direktorat Pembinaan SMA-Ditjen Pendidikan Menengah ii

Model Penyelenggaraan Peminatan Kurikulum 2013 di SMA KATA PENGANTAR. 2014,Direktorat Pembinaan SMA-Ditjen Pendidikan Menengah ii KATA PENGANTAR ii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... ii DAFTAR ISI... iii BAB I PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang... 1 B. Tujuan... 3 C. Ruang Lingkup... 3 BAB II JUDUL BAB II... 4 A. Pengertian Peminatan,

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Jakarta, 00Juni 2015 Direktur Pembinaan SMA, Harris Iskandar, Ph.D NIP Panduan Muatan Lokal SMA

KATA PENGANTAR. Jakarta, 00Juni 2015 Direktur Pembinaan SMA, Harris Iskandar, Ph.D NIP Panduan Muatan Lokal SMA KATA PENGANTAR Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mulai tahun pelajaran 2013/2014 telah menetapkan kebijakan implementasi Kurikulum 2013 secara terbatas di 1.270 SMA sasaran dan sejumlah SMA yang melaksanakan

Lebih terperinci

DASAR & FUNGSI. Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

DASAR & FUNGSI. Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 UNDANG UNDANG NO. 20 TH.2003 Tentang SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL DASAR & FUNGSI Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pendidikan Nasional

Lebih terperinci

Melaksanakan kurikulum berdasarkan 9 (sembilan) muatan KTSP. Melaksanakan kurikulum berdasarkan 8 (delapan) muatan KTSP.

Melaksanakan kurikulum berdasarkan 9 (sembilan) muatan KTSP. Melaksanakan kurikulum berdasarkan 8 (delapan) muatan KTSP. I. STANDAR ISI 1. Sekolah/Madrasah melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melaksanakan kurikulum berdasarkan 9 (sembilan) muatan KTSP. Melaksanakan kurikulum berdasarkan 8 (delapan) muatan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 11 B. TUJUAN 11 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 11 D. UNSUR YANG TERLIBAT 12 E. REFERENSI 12 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 12

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 11 B. TUJUAN 11 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 11 D. UNSUR YANG TERLIBAT 12 E. REFERENSI 12 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 12 JUKNIS PENYUSUNAN RENCANA KERJA SMA DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 11 B. TUJUAN 11 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 11 D. UNSUR YANG TERLIBAT 12 E. REFERENSI 12 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 12 G. URAIAN PROSEDUR KERJA

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 19 TAHUN 2005 Tentang STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN

PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 19 TAHUN 2005 Tentang STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN Departemen Pendidikan Nasional Materi 2 PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 19 TAHUN 2005 Tentang STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN Sosialisasi KTSP LINGKUP SNP 1. Standar Nasional Pendidikan (SNP) adalah kriteria minimal

Lebih terperinci

MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 52 TAHUN 2008 TENTANG

MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 52 TAHUN 2008 TENTANG SALINAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 52 TAHUN 2008 TENTANG KRITERIA DAN PERANGKAT AKREDITASI SEKOLAH MENENGAH ATAS/MADRASAH ALIYAH DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

1. Sekolah/Madrasah melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melaksanakan kurikulum berdasarkan 9 (sembilan) komponen muatan KTSP.

1. Sekolah/Madrasah melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melaksanakan kurikulum berdasarkan 9 (sembilan) komponen muatan KTSP. I. STANDAR ISI 1. Sekolah/Madrasah melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melaksanakan kurikulum berdasarkan 9 (sembilan) komponen muatan KTSP. Melaksanakan kurikulum berdasarkan 8 (delapan)

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN KTSP dengan Model Sistematik. Oleh Wachyu Sundayana

PENGEMBANGAN KTSP dengan Model Sistematik. Oleh Wachyu Sundayana PENGEMBANGAN KTSP dengan Model Sistematik Oleh Wachyu Sundayana KTSP(KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN) 0. Pengertian KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing

Lebih terperinci

IMPLIKASI PENGEMBANGAN KTSP TERHADAP TUGAS GURU MATEMATIKA SMP/MTs

IMPLIKASI PENGEMBANGAN KTSP TERHADAP TUGAS GURU MATEMATIKA SMP/MTs DIKLAT GURU PEMANDU/GURU INTI/PENGEMBANG MATEMATIKA SMP JENJANG DASAR TAHUN 2010 IMPLIKASI PENGEMBANGAN KTSP TERHADAP TUGAS GURU MATEMATIKA SMP/MTs Disusun oleh: Sri Wardhani DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

Lebih terperinci

PANDUAN PENYUSUNAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN JENJANG PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN

PANDUAN PENYUSUNAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN JENJANG PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN PANDUAN PENYUSUNAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN JENJANG PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN 2006 KATA PENGANTAR Buku Panduan ini dimaksudkan sebagai pedoman sekolah/madrasah

Lebih terperinci

1. Sekolah/Madrasah melaksanakan kurikulum berdasarkan muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

1. Sekolah/Madrasah melaksanakan kurikulum berdasarkan muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). I. STANDAR ISI 1. Sekolah/Madrasah melaksanakan kurikulum berdasarkan muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melaksanakan kurikulum berdasarkan 9 muatan KTSP Melaksanakan kurikulum berdasarkan

Lebih terperinci

D S A A S R A R & & FU F N U G N S G I S PE P N E D N I D DI D KA K N A N NA N S A I S ON O A N L A

D S A A S R A R & & FU F N U G N S G I S PE P N E D N I D DI D KA K N A N NA N S A I S ON O A N L A UNDANG UNDANG NO. 20 TH.2003 Tentang SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL Sosialisasi KTSP DASAR & FUNGSI PENDIDIKAN NASIONAL Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia

Lebih terperinci

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 29 B. TUJUAN 29 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 29 D. UNSUR YANG TERLIBAT 30 E. REFERENSI 30 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 30

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 29 B. TUJUAN 29 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 29 D. UNSUR YANG TERLIBAT 30 E. REFERENSI 30 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 30 DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 29 B. TUJUAN 29 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 29 D. UNSUR YANG TERLIBAT 30 E. REFERENSI 30 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 30 G. URAIAN PROSEDUR KERJA 34 LAMPIRAN 1 : ALUR PROSEDUR KERJA

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 19 TAHUN 2005 TENTANG STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. menengah.

KATA PENGANTAR. menengah. KATA PENGANTAR Sesuai dengan amanat Undang Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan, Kementerian Pendidikan

Lebih terperinci

UNDANG UNDANG NO. 20 TH.2003 Tentang SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL

UNDANG UNDANG NO. 20 TH.2003 Tentang SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL UNDANG UNDANG NO. 20 TH.2003 Tentang SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL DASAR & FUNGSI Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pendidikan Nasional

Lebih terperinci

BAB II DESKRIPSI SMA NEGERI RAYON 08 JAKARTA BARAT

BAB II DESKRIPSI SMA NEGERI RAYON 08 JAKARTA BARAT 9 BAB II DESKRIPSI SMA NEGERI RAYON 08 JAKARTA BARAT 2.1 Standar Pengelolaan Pendidikan Berdasarkan Permendiknas Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan oleh Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah,

Lebih terperinci

SALINAN LAMPIRAN II PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81A TAHUN 2013 TENTANG IMPLEMENTASI KURIKULUM

SALINAN LAMPIRAN II PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81A TAHUN 2013 TENTANG IMPLEMENTASI KURIKULUM SALINAN LAMPIRAN II PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81A TAHUN 2013 TENTANG IMPLEMENTASI KURIKULUM PEDOMAN PENGEMBANGAN MUATAN LOKAL I. PENDAHULUAN Muatan lokal, sebagaimana

Lebih terperinci

PRINSIP-PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP)

PRINSIP-PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) PRINSIP-PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) Hand out Seminar Pengembangan KTSP bagi Pengawas, Kepala Sekolah, Guru Kabupaten Donggala, Sulawesi Selatan 1 Desember 2007 Oleh

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 19 TAHUN 2005 TENTANG STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

PEDOMAN KEGIATAN EKSTRAKURIKULER

PEDOMAN KEGIATAN EKSTRAKURIKULER LAMPIRAN III PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81A TAHUN 2013 TENTANG IMPLEMENTASI KURIKULUM PEDOMAN KEGIATAN EKSTRAKURIKULER I. PENDAHULUAN Pasal 3 Undang-Undang Nomor

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 87 TAHUN 2017 TENTANG PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 87 TAHUN 2017 TENTANG PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 87 TAHUN 2017 TENTANG PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Indonesia sebagai bangsa

Lebih terperinci

PANDUAN PENELAAHAN KTSP

PANDUAN PENELAAHAN KTSP PANDUAN PENELAAHAN KTSP BANTUAN TEKNIS PROFESIONAL PENGEMBANGAN KURIKULUM TIM PENGEMBANG KURIKULUM DI PROV/KAB/KOTA PUSAT KURIKULUM BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL 2009

Lebih terperinci

KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP)

KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) 1. APA YANG DIMAKSUD DENGAN KTSP? 2. MENGAPA MUNCUL KTSP? Dra. Masitoh, M.Pd. 3. BAGAIMANA MENGEMBANGKAN KTSP? PENGERTIAN KTSP KTSP adalah kurikulum operasional

Lebih terperinci

1. Sekolah/Madrasah melaksanakan kurikulum berdasarkan muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

1. Sekolah/Madrasah melaksanakan kurikulum berdasarkan muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). I. STANDAR ISI 1. Sekolah/Madrasah melaksanakan kurikulum berdasarkan muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melaksanakan kurikulum berdasarkan 8 muatan KTSP Melaksanakan kurikulum berdasarkan

Lebih terperinci

Program Kerja BK/SMA.07/Seveners/Mr.Bands BAB I PENDAHULUAN

Program Kerja BK/SMA.07/Seveners/Mr.Bands BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu permasalahan pada pendidikan menengah umum seperti yang tercantum dalam Rencana Strategi Depdiknas 2002-2004, diantaranya adalah kualitas dan relevansi pendidikan

Lebih terperinci

PANDUAN PENYELENGGARAAN SISTEM KREDIT SEMESTER UNTUK SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/MADRASAH TSANAWIYAH DAN SEKOLAH MENENGAH ATAS/MADRASAH ALIYAH

PANDUAN PENYELENGGARAAN SISTEM KREDIT SEMESTER UNTUK SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/MADRASAH TSANAWIYAH DAN SEKOLAH MENENGAH ATAS/MADRASAH ALIYAH PANDUAN PENYELENGGARAAN SISTEM KREDIT SEMESTER UNTUK SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/MADRASAH TSANAWIYAH DAN SEKOLAH MENENGAH ATAS/MADRASAH ALIYAH Badan Standar Nasional Pendidikan 2010 KATA PENGANTAR Segala

Lebih terperinci

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang STANDAR ISI (SI) Sosialisasi KTSP

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang STANDAR ISI (SI) Sosialisasi KTSP Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang STANDAR ISI (SI) Materi Minimal dan Tingkat Kompetensi Minimal, untuk Mencapai Kompetensi Lulusan Minimal Memuat : 1. Kerangka Dasar Kurikulum

Lebih terperinci

Unit-6 Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) PENDAHULUAN Tentu Anda sering bertanya mengapa Indonesia menggunakan KTSP?

Unit-6 Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) PENDAHULUAN Tentu Anda sering bertanya mengapa Indonesia menggunakan KTSP? Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Unit-6 PENDAHULUAN Tentu Anda sering bertanya mengapa Indonesia menggunakan KTSP? Hal tersebut di sebabkan adanya perkembangnya pemikiran akan pentingnya kemandirian

Lebih terperinci

RAMBU RAMBU PENYUSUNAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN/ MADRASAH ALIYAH KEJURUAN

RAMBU RAMBU PENYUSUNAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN/ MADRASAH ALIYAH KEJURUAN RAMBU RAMBU PENYUSUNAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN/ MADRASAH ALIYAH KEJURUAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DIREKTORAT JENDERAL MANAJEMEN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH

Lebih terperinci

PEMBELAJARAN IPS DALAM KTSP

PEMBELAJARAN IPS DALAM KTSP PEMBELAJARAN IPS DALAM KTSP Nana Supriatna Bahan matrikulasi pendidikan dasar-ips. 21-8-2007 PENYUSUNAN KTSP LANDASAN Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA 6 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) a. Pengertian KTSP Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 menyebutkan bahwa kurikulum adalah seperangkat

Lebih terperinci

Lamp 1. PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PROSES UNTUK SATUAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH

Lamp 1. PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PROSES UNTUK SATUAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH 95 Lamp 1. PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PROSES UNTUK SATUAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN

Lebih terperinci

SERI MATERI PEMBEKALAN PENGAJARAN MIKRO 2013 PUSAT LAYANAN PPL & PKL KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN

SERI MATERI PEMBEKALAN PENGAJARAN MIKRO 2013 PUSAT LAYANAN PPL & PKL KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN SERI MATERI PEMBEKALAN PENGAJARAN MIKRO 2013 PUSAT LAYANAN PPL & PKL KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN Panduan Penyusunan KTSP jenjang Dikdasmen BSNP Landasan & Acuan Penyusunan & Pengembangan KTSP UU

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 19 TAHUN 2005 TENTANG STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 1172, 2014 KEMENDIKBUD. Kurikulum. Muatan Lokal. 2013. Pencabutan. PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 79 TAHUN 2014 TENTANG MUATAN

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN KURIKULUM SATUAN PENDIDIKAN SMK

PENGEMBANGAN KURIKULUM SATUAN PENDIDIKAN SMK PENGEMBANGAN KURIKULUM SATUAN PENDIDIKAN SMK UU SISDIKNAS NO 20 TH 2003 BAB IX STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN Pasal 35 (1) dan (2): (1) Standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi

Lebih terperinci

I. STANDAR ISI. hal. 1/61. Instrumen Akreditasi SMP/MTs

I. STANDAR ISI. hal. 1/61. Instrumen Akreditasi SMP/MTs I. STANDAR ISI 1. Sekolah/Madrasah melaksanakan kurikulum berdasarkan muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melaksanakan kurikulum berdasarkan 8 muatan KTSP Melaksanakan kurikulum berdasarkan

Lebih terperinci

1. Sekolah/Madrasah melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melaksanakan kurikulum berdasarkan 8 muatan KTSP

1. Sekolah/Madrasah melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melaksanakan kurikulum berdasarkan 8 muatan KTSP I. STANDAR ISI 1. Sekolah/Madrasah melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melaksanakan kurikulum berdasarkan 8 muatan KTSP Melaksanakan kurikulum berdasarkan 7 muatan KTSP Melaksanakan

Lebih terperinci

Model Peminatan dan Lintas Minat

Model Peminatan dan Lintas Minat SAMBUTAN Sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan KebuKurikulum 2013 dikembangkan untuk mempersiapkan peserta didik agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 79 TAHUN 2014 TENTANG MUATAN LOKAL KURIKULUM 2013

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 79 TAHUN 2014 TENTANG MUATAN LOKAL KURIKULUM 2013 SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 79 TAHUN 2014 TENTANG MUATAN LOKAL KURIKULUM 2013 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK

Lebih terperinci

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 29 B. TUJUAN 29 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 29 D. UNSUR YANG TERLIBAT 30 E. REFERENSI 30 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 30

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 29 B. TUJUAN 29 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 29 D. UNSUR YANG TERLIBAT 30 E. REFERENSI 30 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 30 DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 29 B. TUJUAN 29 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 29 D. UNSUR YANG TERLIBAT 30 E. REFERENSI 30 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 30 G. URAIAN PROSEDUR KERJA 34 LAMPIRAN 1 : ALUR PROSEDUR KERJA

Lebih terperinci

MATERI KULIAH PENGEMBANGAN KURIKULUM MULOK. By: Estuhono, S.Pd, M.Pd

MATERI KULIAH PENGEMBANGAN KURIKULUM MULOK. By: Estuhono, S.Pd, M.Pd MATERI KULIAH PENGEMBANGAN KURIKULUM MULOK By: Estuhono, S.Pd, M.Pd PENGEMBANGAN MODEL KURIKULUM Estuhono, S.Pd, M.Pd I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Otonomi daerah, sentralisasi ke desentralisasi, multikultural,

Lebih terperinci