BAB I PENDAHULUAN. berupa amplop, rekening, undian berhadiah, dan sebagainya. Tak

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB I PENDAHULUAN. berupa amplop, rekening, undian berhadiah, dan sebagainya. Tak"

Transkripsi

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Praktik suap menjadi salah satu fenomena dalam dunia pers Indonesia. 1 Praktik suap atau yang sering dikenal sebagai fenomena wartawan amplop merujuk pada realita di lapangan ketika jurnalis menerima pemberian bisa berupa uang, barang, fasilitas akomodasi, tiket perjalanan, traktiran makanan, dan lainnya dari pihak nara sumbernya. 2 Cara pemberiannya pun berbeda beragam ada yang berupa amplop, rekening, undian berhadiah, dan sebagainya. Tak sekedar fenomena musiman, amplop ini telah menjadi budaya dalam dunia pers Indonesia. Dalam dunia pers Indonesia dikenal dua jenis wartawan amplop menurut modus operandinya. 3 Ada wartawan yang aktif berburu amplop dan ada wartawan pasif yang menerima amplop. Ketika di lapangan, wartawan aktif yang menerima 1 Suap adalah segala pemberian dalam bentuk uang, benda atau fasilitas dari pihak lain yang mempengaruhi independensi, merupakan penjabaran dari Kode Etik Jurnalistik Pasal 6 yang berbunyi Wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap. Dalam pers Barat, pemberian dari pihak lain disebut dengan freebies. Freebies berupa tiket nonton gratis, tiket perjalan gratis, atau tiket pertunjukan yang diberikan gratis. 2 Fenomena wartawan amplop sebagai salah satu potret jurnalis Indonesia tercantum dalam Survey AJI Indonesia tahun 2005 di 17 Kota yang tercantum dalam buku Potret Jurnalis Indonesia, Survey AJI Tahun 2005 tentang Media dan Jurnalis Indonesia di 17 Kota,hal Menurut Masduki dalam buku Kebebasan Pers dan Kode Etik Jurnalistik( 2004 :84), wartawan amplop menurut modus operandinya yakni pertama adalah wartawan yang aktif berburu amplop dengan mendatangi panitia secara individu hingga membuat perkumpulan khusus wartawan amplop untuk memeras nara sumber. Kedua adalah wartawan pasif yang menerima amplop jika diberi tetapi tidak mencari acara yang ber-amplop jika tidak diundang. 1

2 amplop biasanya berada di sebuah institusi tertentu dan menunggu nara sumber mereka memberi uang. Mereka pun tak segan datang ke acara-acara yang memiliki lahan basah hanya untuk mendapatkan amplop. Padahal, peristiwa yang mereka liput belum tentu dimuat dalam media mereka. Sementara itu, wartawan pasif lebih pada wartawan yang menerima amplop di suatu acara namun mereka tidak mencari-cari seperti wartawan aktif. Persamaan keduanya adalah bahwa mereka belum tentu memuat berita yang mereka liput dalam media mereka. Kategori wartawan aktif dan pasif amplop melekat pada wartawan yang memiliki perusahaan media yang jelas serta wartawan yang tidak memiliki perusahaan media yang jelas. Biasanya wartawan yang tidak memiliki perusahaan media jelas akrab disebut dengan wartawan bodrek atau WTS atau wartawan Tanpa Suratkabar. Disebut wartawan bodrek karena wartawan ini hanya sekedar melakukan proses wawancara kesana kemari tetapi tidak pernah ada beritanya. Dengan kata lain, wartawan tersebut tidak memiliki surat kabar dan hanya bermodalkan kartu pers palsu. Praktik suap kian membuat jurnalis ketagihan. Tak segan-segan pula jurnalis menggunakan senjata profesinya untuk mendapatkan amplop dari nara sumber. Dengan ancaman akan memberitakan berita yang buruk, jurnalis dengan mudah meminta amplop dari nara sumbernya. Beruntungnya mereka, nara sumber yang notabenya kurang paham tentang profesi jurnalistik, dengan mudahnya memberi mereka uang. 2

3 Berdasarkan observasi mula peneliti yang juga menjadi bagian dalam dunia kewartawanan, praktik suap di kalangan jurnalis seolah-olah dilegalkan oleh pelaku media bahkan institusi media tersendiri. Alasan menjaga hubungan dekat dengan nara sumber atau masalah kesejahteraan jurnalis yang pas pasan seringkali didengung-dengungkan untuk melegalkan budaya satu ini. Budaya ini makin kuat manakala nara sumber juga memberi ruang khusus. Mereka kadang tak malu untuk mengaku bahwa ada anggaran khusus untuk jurnalis yang memang sudah disiapkan per bulannya. Alasan nara sumber pun cukup rasional rasa kasian terhadap jurnalis, melaksanakan kewajiban atasan, ucapan terima kasih, takut berita miring, pencitraan, dan sebagainya. Fenomena praktik suap atau amplop berdasar Riset AJI Indonesia tahun 2005 menunjukkan bahwa budaya ini terjadi karena seringkali ada pemahaman yang kabur mengenai amplop itu sendiri. Jurnalis yang diriset pun mengaku bahwa mereka tidak enak bila amplop tidak diterima karena akan menjadi bahan pergunjingan. Akhirnya mereka mau menerima asalkan amplop tersebut tidak memeras dan tidak mempengaruhi independensi. Hasil riset juga menunjukkan bahwa budaya amplop besar karena kebiasaan pejabat yang memberi amplop. Menurut penelitian, kalau amplop tidak diterima, dana itu akan menjadi ajang korupsi para pejabat. Temuan lain yang menarik adalah aturan media soal amplop yang kurang jelas. Artinya tidak ada aturan detail tentang definisi amplop, jumlah yang bisa diterima atau tidak, serta sanksi menerima amplop. 3

4 Sementara itu, berdasarkan obrolan informal yang dilakukan peneliti pada mantan Ketua AJI Yogyakarta, Bambang Muryanto, September 2012 lalu, budaya amplop terjadi pada awal abad 21 dimana perkembangan media di Indonesia sangat pesat. Berdasarkan catatan AJI Indonesia 4, fenomena yang dilihat dari perkembangan media awal abad 21 yaitu berkembangnya media waralaba (franchise) yang mengambil brand terbitan luar negeri diadaptasi dan diberi muatan lokal kemudian dijual di Indonesia seperti Kosmopolitan, Female Indonesia, Harper Bazaar, dan F-1. Fenomena lainnya yakni masuknya perusahaan non media dalam industri media seperti Grup LIPPO, perkembangan industri multimedia, fenomena industri media yang masuk ke dalam pasar bursa seperti Tempo, serta munculnya penerbitan yang spesifik dengan ulasan dan target pembaca yang lebih terbatas. Perkembangan perusahaan pers tak lepas dari kepentingan mereka untuk mencari keuntungan. Orientasi keuntungan inilah yang membawa dampak buruk perusahaan media yakni persaingan yang tidak sehat hingga berakibat pada lemahnya profesionalisme dan independensi jurnalis. Bambang Muryanto menegaskan bahwa budaya amplop sulit dihapuskan seiring perkembangan media massa saat ini.seiring dengan tuntutan bisnis, maka berbagai cara dilakukan perusahaan media untuk memenuhi kepentingan pasar. Kepentingan pasar ini adalah dalam rangka meraup iklan demi pemasukan kepada perusahaan. Untuk itulah, amplop menjadi sarana tersendiri untuk menjadikan berita sesuai kepentingan pasar dan kepentingan institusi tertentu. 4 Masduki Kebebasan Pers dan Kode Etik Jurnalistik. hal.6 4

5 Budaya ini juga terjadi karena perusahaan media sendiri yang kurang memenuhi hak-hak dan jaminan kesejahteraan bagi jurnalis. Banyak jurnalis di daerah seperti reporter tetap (diangkat resmi oleh medianya untuk bekerja tiap hari dengan target kualitas dan kuantitas berita tertentu), kontributor / reporter wilayah (diangkat pengelola media untuk membantu peliputan di wilayah yang belum dapat diakses reporter tetap, dikontrak untuk jangka waktu tertentu), serta freelancer / reporter bebas ( melakukan aktivitas peliputan dan tidak terikat media tertentu, hasil liputanya berdasarkan kesepakatan yang bersifat insidental) memiliki standar gaji yang tidak seimbang dengan kerjanya. Lebih lagi kondisi liputan daerah yang memiliki kesulitan tersendiri seperti faktor geografis seringkali tidak diperhatikan oleh media itu sendiri. Kaitannya dengan upah layak jurnalis, ternyata memang betul adanya bahwa upah jurnalis di Indonesia masih sangat tidak layak. Hal ini dibuktikkan dalam lima survei dalam sepuluh tahun terakhir ini yakni survei AJI Surabaya tahun 2000, survey dari Thomas Hanitzsch dari Ilmenau University of Techonology German tahun 2001, AJI Indonesia tahun 2005, Dewan Pers tahun 2008, dan riset terakhir AJI Indonesia 2010/2011. Survei-survei tersebut memiliki kemiripan hasil upah jurnalis hingga tahun 2011 ini masih ada yang berada di bawah Rp ,- per bulannya. Survei AJI, Thomas Hanitzsch, serta Dewan Pers juga menunjukkan bahwa akibat rendahnya upah ini banyak jurnalis mencari pekerjaan sampingan seperti makelar Surat Ijin Mengemudi (SIM), pengusaha wartel, pegawai negeri, wartawan spesial (konsultan tidak resmi), dan sebagainya. Survei juga 5

6 menyatakan bahwa rendahnya gaji ini juga menjadi pembenar mengapa budaya amplop ini masih menjadi tradisi. Survei AJI 2010/2011 menyatakan bahwa kesejahteraan jurnalis sangat berkaitan dengan profesionalitas dan kebebasan pers. Kedua hal ini penting karena untuk mencapai iklim pers yang sehat dan demokratis. Kendati bukan jaminan utama, kesejahteraan yang memadai memiliki peluang besar untuk menjadikan jurnalis profesional seperti yang tertuang dalam UU Pers No.40 Tahun Sementara itu, praktik suap merupakan salah satu masalah penerapan kode etik jurnalistik. Hal ini secara tegas diungkapkan dalam, (1) Kode Etik Jurnalistik Pasal 6 yang menyebutkan bahwa wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap, (2) Kode Etik Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Pasal 13 yang menyebutkan bahwa jurnalis dilarang menerima sogokan, (3) Kode Etik Aliansi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pasal 4 yakni wartawan Indonesia menolak imbalan yang dapat mempengaruhi objektivitas pemberitaan, (4) Kode Etik Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) berbunyi Jurnalis televisi Indonesia tidak menerima imbalan apapun berkaitan dengan profesinya. Riset mula yang dilakukan peneliti kepada Ketua Dewan Pers, Bagir Manan pada 11 Agustus 2012, praktik suap di kalangan jurnalis memang masih terjadi di Indonesia. Bagir Manan menyebut budaya ini sebagai budaya korupsi yang dilakukan oleh jurnalis. Ia mengatakan bahwa praktik suap adalah salah satu pelanggaran kode etik dalam profesi jurnalis. Kode etik sendirinya ditegaskannya 6

7 berbeda dengan hukum, karena berhubungan dengan hati nurani dan berisi kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan profesionalis jurnalis. Masih adanya pelanggaran kode etik di Indonesia dipengaruhi berbagai faktor. Pertama berkaitan dengan sifat kode etik sendiri yakni berkaitan dengan moral dalam diri yang bersangkutan (jurnalis). Kedua adalah latarbelakang jurnalis yang berbeda-beda, artinya banyak dari jurnalis yang tidak disiapkan secara profesional (jurnalis bisa berasal dari setiap kalangan), ketiga tidak adanya sanksi sosial dari masyarakat. Keempat adalah makna kebebasan pers yang tidak bisa dipahami pelaku media sehingga tidak ada mekanisme kontrol, kelima berkaitan dengan belum adanya tradisi profesional untuk menghormati kode etik. Keenam adalah pekerjaan jurnalis masih dianggap mata pencaharian pada umumnya, dan ketujuh adalah perusahaan pers yang tidak memihak (masalah kesejahteraan yang kurang layak). Masalah kode etik ini sangat penting bagi sebuah profesi khususnya jurnalis karena mereka tidak hanya dituntut untuk mengembangkan idealisme profesinya tetapi juga efek media yang besar bagi publik. Kode etik sendiri penting dilakukan karena merupakan bagian dari profesionalitas jurnalis. Di sisi lain, sikap profesional wartawan terdiri dari dua unsur yakni hati nurani dan ketrampilan. Hati nurani merujuk pada kode etik jurnalis perlu menjaga dan memelihara kewajiban moral. Sedangkan ketrampilan berkaitan dengan kemampuan teknis jurnalis sesuai dengan bidang profesinya. Bersikap profesional berarti bersikap independen. Independen artinya menjalankan tugas jurnalistik tanpa intervensi pengaruh kekuatan represif negara 7

8 dan pemodal yang munculnya baik disengaja maupun tidak disengaja oleh jurnalis. Secara tidak langsung, praktik suap sangat berpengaruh pada profesionalitas wartawan. Pemberian dari nara sumber dalam bentuk apapun tetap secara moral akan mempengaruhi jurnalis dalam kinerjanya.hal ini sesuai dengan The Elements of Journalism karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dimana salah satu standarisasi agar wartawan bisa profesional adalah melaksanan kewajiban pencarian kebenaran dan jurnalis harus menjaga indepedensi dari objek liputannya. Menuju profesional tentu saja bukan hal yang mudah bagi pelaku industri media saat ini. Sejumlah persoalan seperti upah kesejahteraan, praktik suap, keterlibatan pemilik media dalam partai politik, dan lain sebagainya masih belum bisa terselesaikan. Bahkan terkait profesionalitas ini, Thomas Hanitzsch dalam penelitiannya yang berjudul Rethinking Journalism Education in Indonesia : Nine These menyatakan bahwa profesionalitas jurnalis di Indonesia sangat dipengaruhi oleh pendidikan jurnalisme. Salah satu kesimpulan yang diperoleh adalah pendidikan jurnalisme kurang mengajarkan dimensi etis sehingga mempengaruhi profesionalitas jurnalis saat ini. 5 5 Dalam Penelitian Thomas Hanitzsch Rethinking Journalism Education in Indonesia : Nine These, pendidikan jurnalisme di Indonesia yang dikelompokkan Hanitzsch dalam empat kompetensi yakni (1) Kompetensi profesional, misalnya, melakukan editing, seleksi informasi, memahami komunikasi dasar dan sebagainya; (2) Kompetensi transfer, misalnya, penguasaan bahasa, presentasi informasi, berbagai genre dalam jurnalisme dan sebagainya; (3) Kompetensi teknis, misalnya, komputer, internet, disain grafis dan sebagainya; (4) Kompetensi tingkat lanjut, misalnya, pengetahuan terhadap isu liputan tertentu, ilmu-ilmu sosial, bahasa asing dan sebagainya. Hanitzsch menjelaskan keempat kompetensi itu dalam sebuah tabel. Berdasarkan tabel itu ia membandingkannya dengan kurikulum, kualifikasi tenaga pengajar, nisbah mahasiswa dan dosen, serta faktor-faktor lain, yang ada pada lima sekolah jurnalisme atau sekolah jurnalisme dalam program komunikasi: (1) Universitas Gadjah Mada; (2) Lembaga Pers Dokter Soetomo; (3) 8

9 Profesionalisme dan etika merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Oleh peneliti etika dinilai menjadi hal yang perlu mendapatkan perhatian lebih karena etika menjadi salah satu kontrol internal dalam media massa. Kontrol internal ini sangat berpengaruh pada bagaimana wartawan bisa memperlakukan fakta secara profesional. 6 Fakta secara profesional ini akan berpengaruh pada informasi yang benar pada publik. Asumsinya, bila jurnalis memberikan fakta tidak benar, maka publik akan terbohongi. Meski etika telah dirumuskan dalam kode etik (code of ethics) dan dioperasionalisasikan dalam kode perilaku (code of conduct), namun etika ini tetap bersumber pada diri pribadi masing-masing. Artinya kesadaran pribadi masing-masinglah yang menentukan pelaksanaan etika itu sendiri. Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk mengkaji secara mendalam soal suap di kalangan jurnalis. Kajian secara mendalam atau merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia disebut sebagai anatomi, peneliti melihat bahwa suap sangat berbahaya bagi profesionalisme jurnalis. Jurnalis merupakan pihak yang harus memberitakan informasi dengan benar. Ia juga menjadi pilar keempat demokrasi yang menjadi jembatan antara pemerintah dan masyarakat Institut Ilmu Sosial dan Politik; (4) Multi Media Training Center (MMTC); (5) Universitas Indonesia. Beberapa kesimpulan yang diperoleh oleh Hanitzsch, (1) pendidikan jurnalisme kita masih dihambat oleh apa yang disebut sebagai "kurikulum nasional." (2)Tidak ada interaksi antara pendidikan jurnalisme dan industri media. (3) Semua sekolah ini tak dilengkapi dengan teknologi yang memadai. (4) Di Indonesia, ada 69 sekolah jurnalisme (dari D-1 hingga S-3) tapi 80 persen ada di Pulau Jawa dan Medan. Sekolah jurnalisme itupun masih kekurangan tenaga pengajar, bahkan kurikulum yang diajarkan sangat minim kepada kemampuan praktis jurnalistik. (5) Perguruan tinggi jurnalisme cenderung mengajarkan teori, sedikit sekali muatan praktis dan etis. 6 Menurut Leonard dan Ron Taylor, etika jurnalistik yang perlu diperhatikan oleh wartawan adalah (1)objektif, (2) jujur,(3)tidak menerima suap, (4) tidak menyiarkan berita sensasional, (5) tidak melanggar privacy, dan (6) tidak melakukan propaganda. Diakses dari buku Etika Dalam Jurnalisme Indonesia. Ana Nadya Abrar hal 9 9

10 dalam menciptakan iklim demokrasi yang sehat. Jurnalis juga melakukan kontrol sosial atas peristiwa-peristiwa yang menganggu demokrasi. Menurut peneliti, suap menjadikan jurnalis memiliki konflik kepentingan tertentu. Ketika dibiarkan dan menjadi budaya yang terus mengakar di tubuh pers, maka profesi jurnalis bukan lagi menjadi profesi yang memiliki sebuah idealisme kuat. Ia dengan mudah dapat dikendalikan oleh pihak tertentu dan informasi pun dapat dikontrol dengan mudahnya. Tentu saja hal ini berbanding terbalik dengan tujuan jurnalisme yakni membawa kebenaran di mata publiknya. Berdasarkan pengalaman peneliti yang juga menjadi bagian dalam kewartawanan, mayoritas jurnalis yang tidak berafiliasi dengan organisasi profesi dengan mudah melakukan praktik ini. Praktiknya, mereka dengan mudah disuap oleh pihak penyuap tanpa berpikir dampak ke depannya. Mereka seolah menganggap hal itu merupakan kewajaran sebagai hal untuk mempererat hubungan dengan nara sumbernya. Berdasarkan hipotesa peneliti, kewajaran suap ini tidak lagi hanya didasarkan atas faktor minimnya upah jurnalis, melainkan ada faktor-faktor lain yang berpengaruh. Oleh karenanya peneliti ingin melihat secara mendalam dan komprehensif soal suap ini dan faktor-faktor apa saja yang menyebabkannya. Anatomi suap sendiri akan dilihat peneliti dari jenis suap dan pelakunya. Untuk pelakunya, peneliti akan membagi dalam empat kategori yakni jurnalis berdasarkan lama bekerja ( wartawan tua dan muda), gaji jurnalis ( tinggi dan rendah), status kerja (tetap dan kontributor), serta wilayah kerja ( pemerintahan dan non pemerintahan). 10

11 Dalam penelitian ini, peneliti memilih Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai lokasi penelitian karena provinsi ini memiliki dinamika media yang pesat. Hal ini ditunjukkan dengan merebaknya media cetak, elektronik, maupun online. Menurut Data Serikat Penerbitan Pers (SPS) dan Dewan Pers 2010, terdapat 5 surat kabar, 3 surat kabar mingguan, 8 surat kabar bulanan, 20 stasiun radio, serta 4 statiun televisi. Yogyakarta juga belum pernah disurvei organisasi profesi seperti AJI atau PWI terkait penerapan praktik suap Survei terakhir yang dilakukan oleh AJI Indonesia tahun 2010/2011 hanya terkait soal upah layak jurnalis. Berdasarkan observasi mula yang dilakukan peneliti, praktik suap masih terjadi di Yogyakarta. Praktik diberikan oleh institusi tertentu dengan terlebih dahulu menganggarkannya dalam anggaran khusus. Tak hanya insitusi, berbagai event seringkali memberikan uang saku pada wartawannya. Sedangkan jurnalis yang diberi adalah jurnalis yang sudah tercacat dalam daftar peliput berita institusi atau event mereka. Dalam praktik suap, institusi memiliki cara tersendiri. Ada yang langsung memberi uang dengan amplop, ada pula lewat bingkisan seperti tunjangan hari raya atau souvernir, kegiatan press tour, undangan makan bersama, tiket gratis, pemberian pulsa, dan sebagainya. Di sisi lain, wartawan yang menerima pun memiliki cara-cara unik. Ada yang menunggu atau nongkrong berjam-jam di kantor nara sumber, mengikuti press tour, meliput meski beritanya bukan merupakan tanggungjawabnya, dan lain sebagainya. 11

12 Penelitian ini adalah penelitian komunikasi. Dalam penelitian ini, peneliti akan menunjukkan efek bias pada berita yang ditulis oleh jurnalis karena ia melakukan praktik suap. Efek bias ini menjadi hal yang tidak bisa dihindari oleh jurnalis karena mereka terlibat kepentingan dengan penyuap. Efek bias ini akan diilihat dari dimensi evaluatif pemberitaan yang terdiri dari keseimbangan berita dan netralitas berita. Dengan adanya efek bias berita ini, penelitian ini akan utuh untuk menjelaskan seperti apakah suap di kalangan jurnalis dan memang benar bisa berpengaruh pada produk berita. 1.2 RUMUSAN MASALAH Bagaimana anatomi suap dan faktor faktor yang menyebabkannya di kalangan jurnalis di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta? 1.3 TUJUAN PENELITIAN Penelitian ini bertujuan sebagai berikut : 1. Mendeskripsikan anatomi suap dan memberikan pemahaman sistematis tentang jenis dan suap dan faktor faktor penyebabnya. 2. Memberikan wawasan tentang cara penanggulangannya. 12

13 1.4 KERANGKA TEORI Gratifikasi dan Suap Sebagai Bentuk Korupsi Korupsi berasal dari kata Latin Corruptio atau Corruptus, yang kemudian muncul dalam bahasa Inggris dan Prancis Corruption, dalam bahasa Belanda Korruptie, dan selanjutnya dalam bahasa Indonesia Korupsi. Pope (2002:30) mendefinisikan korupsi sebagai penyalahgunaan kekuasaan kepercayaan untuk kepentingan pribadi atau perilaku tidak mematuhi prinsip mempertahankan jarak. Mempertahankan jarak disini artinya dalam pengambilan keputusan di bidang ekonomi, apakah ini dilakukan oleh perorangan di sektor swasta oleh pejabat publik, hubungan pribadi atau keluarga tidak memainkan peranan. Semma (2008:39) mengungkapkan bahwa korupsi yang mewabah di berbagai negara didasarkan karena tidak cukupnya gaji pegawai negeri. Minimnya gaji yang didukung oleh faktor kondisi struktural dan lingkungan mengakibatkan korupsi tumbuh subur. Untuk itulah, menurut Semma, korupsi dapat dipetakan melalui dua sudut pandang yakni korupsi sebagai berasal dari individu itu sendiri serta korupsi sebagai praktik sosial dalam sebuah sistem. Gould dalam Semma menggambarkan korupsi menurut standar kaum moralis dan sosialis. Kaum moralis memandang korupsi sebagai penyimpangan individual, kegagalan moral individu yang berwatak lemah dan tidak terlatih dengan baik. Individu melakukan korupsi karena ia sendiri tidak siap berhadapan dengan realitas di luar dirinya. Berbeda dengan kaum moralis, kaum sosialis justru memandang korupsi sebagai pengecualian atas peraturan dan gangguan sistem. Sistem sosial dalam masyarakat diciptakan dalam keadaan yang isinya 13

14 menjadikan korupsi bersifat determinis. Setiap orang dalam sebuah sistem telah melakukannya dengan senang hati. Pope (2007 : 41) menjelaskan bahwa korupsi tumbuh subur dalam sistem yang kaku dan penuh dengan hambatan dan sumber-sumber kekuatan monopoli dalam pemerintahan. Perekonomian berencana yang berpusat dengan harga harga banyak berada di bawah tingkat harga yang membersihkan pasar akhirnya mendorong orang untuk memberi suap sebagai cara untuk mengalokasikan barang dan jasa yang terbatas. Hal ini dijelaskan Pope bahwa korupsi tumbuh ketika terjadi peralihan demokrasi ke ekonomi pasar. Dengan kata lain semangat kapitalis memungkinkan terjadinya korupsi. Tercapainya tingkat keuntungan yang sebesar-besarnya merupakan kekuatan yang memperkokoh korupsi. Pasalnya perusahaan akan memberikan pikatan pikatan menarik pada pihak lawan usaha. Dalam masyarakat sosialis pun, sistem produksi yang tidak mendorong suatu psikologi konsumerisme, juga mendorong terjadinya korupsi. Asumsinya, seorang yang memiliki kekuasaan di masyarakat sosialis cenderung memegang kekuasaan besar untuk memperbesar kekayaan pribadi. Dalam masyarakat sosialis tidak ada sektor swasta dan semua keputusan ekonomi dibuat oleh negara atau badan badan dan perwakilannya. Bentuk-bentuk korupsi menurut Benviste 7 dipetakan dalam empat definisi besar yakni discretionery corruption, illegal corruption, mercenery corruption, 7 Dikuti dari buku Negara dan Korupsi, Pemikiran Mochtar Lubis Atas Negara, Manusia Indonesia, dan Perilaku Politik, 2008, hal Benviste mengungkapkan bahwa korupsi tidak selamanya membawa dampak negatif. Korupsi juga melancarkan jalannya pelayanan aturan baku struktur birokrasi. Korupsi dapat menjalin hubungan dan iktana informal antara para pejabat 14

15 dan ideological corruption. Discretionery corruption merupakan korupsi yang dilakukan karena adanya kebebasan dalam menentukan kebijakan, sekalipun tampaknya bersifat sah bukanlah praktik-praktik yang dapat diterima oleh para anggota organisasi. Illegal corruption adalah suatu jenis tindakan yang membongkar atau mengacaukan bahasa ataupun maksud-maksud hukum, peraturan, dan regulasi tertentu. Mercenery corruption adalah jenis korupsi untuk memperoleh keuntungan individual/pribadi. Sementara ideological corruption adalah korupsi yang dilakukan karena kepentingan kelompol karena komitmen ideologis seseorang yang mulai tertanam di atasa nama kelompok tertentu. Dapat ditarik kesimpulan bahwa Benveniste menghubungkan korupsi sebagai tindakan individu dengan sistem sosial masyarakat. Bentuk korupsi yang dikenal masyarakat adalah gratifikasi dan suap. Kedua istilah sama-sama merujuk pada pemberian seseorang terhadap pihak lain, namun suap memiliki derajat yang lebih berat ketimbang gratifikasi. Gratifikasi dinilai sebagai suap ketika pemberian seseorang berhubungan dengan jabatan serta berlawanan dengan tugas atau kewajibannya. Ini juga yang disebut sebagai gratifikasi ilegal. Gratifikasi seperti yang dikemukakan dalam Buku Saku Memahami Gratifikasi (2010:3) 8 adalah pemberian dalam arti luas yakni meliputi pemberian birokrasi dengan sejumlah klien, membebaskan biokrasi dari peraturan dan pengaturan ketat, serta memperkecil konflik yang terjadi dalam aktivitas organisasional. 8 Menurut Buku Saku Memahami Gratifikasi yang diterbitkan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), gratifikasi merupakan salah satu jenis korupsi yang tercantum dalam UU No.31 Tahun 1999 juncto UU No.20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Gratifikasi diatur dalam pasal 12B. 15

16 uang, barang, rabat (discount), komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lainnya. Gratifikasi tersebut diterima baik di dalam negeri maupun luar negeri dan dilakukan dengan menggunakan sarana elektronik maupun tanpa sarana elektronik. Gratifikasi masih dinilai sebagai bentuk kewajaran lantaran kondisi sosial masyarakat Indonesia yang menganggap bahwa pemberian hadiah ini adalah untuk merekatkan hubungan antar pihak satu dan lainnya. Gratifikasi ini memiliki dampak negatif bilamana pemberian hadiah tersebut berkaitan dengan tanggungjawab seseorang. Gratifikasi yang terus menerus akan menimbulkan konflik kepentingan pada salah satu pihak. Beberapa konflik kepentingan diantaranya penerimaan gratifikasi dapat membawa kewajiban timbal balik sehingga menganggu independensi, gratifikasi dapat berpengaruh pada objektivitas dan penilaian profesional pada penyelenggaraan negara, dan penerimaan gratifikasi dapat digunakan untuk mengaburkan korupsi. (Muhardiansyah, 2010:7) Gratifikasi yang mengarah pada penyalahgunaan yang berkaitan dengan tugas dan tanggungjawabnya seseorang dinamakan dengan suap. Kata suap (bribe) bermula dari asal kata briberie (istilah Perancis), yang artinya adalah begging (mengemis) atau vagrancy (penggelandangan). Dalam bahasa Latin disebut briba, yang artinya a piece of bread given to beggar atau sepotong roti yang diberikan kepada pengemis. Namun, perkembangan kemudian, bribe bermakna sedekah (alms), blackmail, atau extortion (pemerasan) dalam kaitannya 16

17 dengan gifts received or given in order to influence corruptly (pemberian atau hadiah yang diterima atau diberikan dengan maksud untuk mempengaruhi secara jahat atau korup). 9 Pope (2007:37) membagi suap dalam empat kategori, yakni : 1. Kategori (1) yakni suap yang diberikan untuk mendapatkan keuntungan yang langka atau menghindari biaya. Suap kategori ini mencakup keputusan birokrasi yang mengakibatkan pemberi suap mendapatkan keuntungan, sedangkan orang lain menderita rugi. Misalnya :memperoleh izin import atau ekspor, valuta asing, kontrak atau hak istimewa dari pemerintah untuk menjalankan usaha tertentu; pembelian perusahaan negara yang dijual pada pihak swasta; memperoleh layanan publik seperti perumahan murah, dan sebagainya. 2. Kategori (2) yakni suap yang diberikan untuk mendapatkan keuntungan atau menghindari biaya yang tidak langka, tetapi memerlukan kebijakan yang harus diputuskan oleh pejabat publik. Contoh suap dalam kategori ini meliputi pengurangan pajak atau meminta bayaran lebih besar dalam hal jumlah pemasukan tidak ditentukan secara pasti, menghindari kontrol harga, memperoleh pelayanan publik apa saja (tunjangan), memberikan lisensi atau surat izin hanya pada mereka yang dianggap memenuhi syarat, dan lainnya. 3. Kategori (3), suap yang diberikan tidak untuk mendapatkan keuntungan tertentu dari publik tetapi untuk mendapat layanan yang berkaitan dengan 9 Agustinus Edy Kristianto, =2612%3Asuap-korupsi-tanpaakhir&Itemid=91 diakses tanggal 21/1/

18 perolehan keuntungan atau menghindari resiko seperti layanan yang cepat atau informasi dari orang dalam. Misalnya seperti yang terjadi di Singapura ketika sebuah gabungan perusahaan dari negara pengeskpor memeri suap untuk mendapatkan informasi dari orang dalam mengenai kontrak kontrak pemerintah, hingga akhirnya mereka masuk daftar hitan pemerintah Singapura. Saat itu mereka mendapatkan layanan cepat dalam surat menyurat, laporan audit yang menguntungkan sehingga pajak yang dibayar tidak besar, dan layanan lainnya. 4. Kategori (4) yakni suap yang diberikan untuk mencegah pihak lain mendapatkan bagian dari keuntungan atau untuk membebankan biaya pada pihak lain. Contohnya adalah pada kasus kasus pelaku bisnis ilegal yang membayar penegak hukum untuk menyerbu pesaingnya. Pemilik usaha legal mencoba agar pada para pesaingnya diperlakukan peraturan yang ketat atau mencoba membujuk pejabat agar tidak memberikan lisensi pada pesaingnya. Berdasarkan penjelasan dalam ranah hukum, suap adalah bentuk gratifikasi ilegal. Di bawah ini merupakan perbedaan antara gratifikasi legal dan ilegal mengutip dari Buku Saku Memahami Gratifikasi yang diterbitkan oleh Komisi Pemberatasan Korupsi (KPK). 18

19 Tabel 1.1 Perbedaan Gratifikasi/ Hadiah Legal dan Gratifikasi Ilegal/Suap Karakteristik Gratifikasi Legal Gratifikasi Ilegal/Suap Tujuan/Motif Pemberian Dilakukan untuk menjalankan hubungan baik, menghormati martabat seseorang, memenuhi tuntutan agama, dan mengembangkan berbagai bentuk perilaku simbolis (diberikan karena alasan yang dibenarkan secara sosial) Ditujukan untuk mempengaruhi keputusan dan diberikan karena apa yang dikendalikan/dikuasai oleh penerima ( wewenang yang melekat pada jabatan, sumber daya lainnya). Hubungan pemberi penerima antara dan Setara Timpang Hubungan yang bersifat strategis Umumnya tidak ada Pasti ada Timbulnya kepentingan konflik Umumnya tidak ada Pasti ada Situasi Pemberian Acara-acara yang sifatnya sosial yang berakar pada adat istiadat dan peristiwa kolektif Bukan merupakan peristiwa kolektif meski bisa saja pemberian diberikan dalam acara sosial Resiprositas Timbal Balik) (Sifat Bersifat ambigu dalam perspektif bisa resiprokal dan kadang kadang tidak resiprokal Resiprokal secara alami Kesenjangan waktu Memungkinkan kesenjangan waktu yang panjang pada saat pemberian kembali Tidak memungkinkan ada kesenjangan waktu yang panjang 19

20 (membalas pemberian) Sifat Hubungan Aliansi sosial untuk mencari pengakuan sosial Ikatan yang terbentuk Sifatnya jangka panjang dan emosional Patronase dan seringkali nepotisme dan ikatan serupa ini penting untuk mencapai tujuan Sifatnya jangka pendek dan transaksional Kecenderungan adanya sirkulasi barang/produk Terjadi barang/produk sirkulasi Tidak terjadi sirkulasi barang / produk. Nilai/hargapemberian Menitikberatkan nilai intrisik sosial pada Menekankan pada nilai moneter Metode Pemberian Mekanisme penentuan nilai/harga Umumnya langsung dan bersifat terbuka Berdasarkan kewajaran/kepantasan secara sosial (masyarakat) Umumnya tidak langsung (melalui agen/perantara) dan bersifat tertutup / rahasia. Ditentukan oleh pihak-phak yang terlibat. Akuntabilitas Sosial Akuntabel dalam arti sosial Tidak Akuntabel secara sosial Sumber : KPK Suap di Media Korupsi atau suap juga terdapat dalam profesi jurnalisme. Pope (2007:223) menjelaskan bahwa media merupakan instrumen yang memiliki peranan khusus dan titik titik lemah dalam perang melawan korupsi. Politisi dan pegawai negeri mungkin lebih mudah tergoda untuk menyalahgunakan 20

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: a. bahwa kemerdekaan pers merupakan salah satu wujud kedaulatan

Lebih terperinci

KEBIJAAKAN ANTI-KORUPSI

KEBIJAAKAN ANTI-KORUPSI Kebijakan Kepatuhan Global Desember 2012 Freeport-McMoRan Copper & Gold PENDAHULUAN Tujuan Tujuan dari Kebijakan Anti-Korupsi ( Kebijakan ) ini adalah untuk membantu memastikan kepatuhan oleh Freeport-McMoRan

Lebih terperinci

PERATURAN DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 01/17/PDK/XII/2012 TENTANG KODE ETIK OTORITAS JASA KEUANGAN

PERATURAN DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 01/17/PDK/XII/2012 TENTANG KODE ETIK OTORITAS JASA KEUANGAN PERATURAN DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 01/17/PDK/XII/2012 TENTANG KODE ETIK OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN, Menimbang:

Lebih terperinci

Kode Etik. .1 "Yang Harus Dilakukan"

Kode Etik. .1 Yang Harus Dilakukan Kode Etik Kode Etik Dokumen ini berisi "Kode Etik" yang harus dipatuhi oleh para Direktur, Auditor, Manajer, karyawan Pirelli Group, serta secara umum siapa saja yang bekerja di Italia dan di luar negeri

Lebih terperinci

TINJAUAN TINDAK PIDANA KORUPSI MEMPERKAYA DIRI DAN ORANG LAIN. Oleh. Perbuatan korupsi sangat identik dengan tujuan memperkaya diri atau

TINJAUAN TINDAK PIDANA KORUPSI MEMPERKAYA DIRI DAN ORANG LAIN. Oleh. Perbuatan korupsi sangat identik dengan tujuan memperkaya diri atau TINJAUAN TINDAK PIDANA KORUPSI MEMPERKAYA DIRI DAN ORANG LAIN Oleh Ir. H. Hirwan Jack, MBA, MM Widyaiswara Madya BKPP Aceh A. Pendahuluan Perbuatan korupsi sangat identik dengan tujuan memperkaya diri

Lebih terperinci

KOMISI XI PILIH AGUS JOKO PRAMONO SEBAGAI ANGGOTA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

KOMISI XI PILIH AGUS JOKO PRAMONO SEBAGAI ANGGOTA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN KOMISI XI PILIH AGUS JOKO PRAMONO SEBAGAI ANGGOTA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN metrotvnews.com Komisi XI DPR i akhirnya memilih Agus Joko Pramono sebagai Anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) ii Pengganti

Lebih terperinci

PRINSIP PRIVASI UNILEVER

PRINSIP PRIVASI UNILEVER PRINSIP PRIVASI UNILEVER Unilever menerapkan kebijakan tentang privasi secara khusus. Lima prinsip berikut melandasi pendekatan kami dalam menghormati privasi Anda. 1. Kami menghargai kepercayaan yang

Lebih terperinci

Pendidikan dan Budaya Anti Korupsi

Pendidikan dan Budaya Anti Korupsi Prototipe Media Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Pendidikan dan Budaya Anti Korupsi Prakata SALAM SEHAT TANPA KORUPSI, Korupsi merupakan perbuatan mengambil sesuatu yang sebenarnya bukan haknya,

Lebih terperinci

b. bahwa Badan Usaha Milik Negara mempunyai peranan penting

b. bahwa Badan Usaha Milik Negara mempunyai peranan penting UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2003 TENTANG BADAN USAHA MILIK NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Badan Usaha Milik Negara merupakan

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI BADAN USAHA MILIK NEGARA NOMOR : PER -05/MBU/2014 TENTANG

SALINAN PERATURAN MENTERI BADAN USAHA MILIK NEGARA NOMOR : PER -05/MBU/2014 TENTANG MENTERI BADAN USAHA MILIK NEGARA REPIJBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI BADAN USAHA MILIK NEGARA NOMOR : PER -05/MBU/2014 TENTANG PROGRAM PENGENDALIAN GRATIFIKASI DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN BADAN

Lebih terperinci

Kebijakan Integritas Bisnis

Kebijakan Integritas Bisnis Kebijakan Integritas Bisnis Pendahuluan Integritas dan akuntabilitas merupakan nilainilai inti bagi Anglo American. Memperoleh dan terus mengutamakan kepercayaan adalah hal mendasar bagi kesuksesan bisnis

Lebih terperinci

Konsep Pers Profesonal menurut Kode Etik Jurnalistik dan UU Pers

Konsep Pers Profesonal menurut Kode Etik Jurnalistik dan UU Pers Konsep Pers Profesonal menurut Kode Etik Jurnalistik dan UU Pers Bambang Harymurti (Wakil Ketua Dewan Pers) 1 Tugas Wartawan: Mencari, mengolah dan menyebarluaskan informasi yang diyakini merupakan kepentingan

Lebih terperinci

K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA

K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA 1 K 29 - Kerja Paksa atau Wajib Kerja 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan bagi laki-laki

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2005 TENTANG PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2005 TENTANG PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2005 TENTANG PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk

Lebih terperinci

Mengenal Jurnalisme Media Arus Utama

Mengenal Jurnalisme Media Arus Utama Mengenal Jurnalisme Media Arus Utama Para peserta pelatihan jurnalisme rakyat, saya ingin mengajak Anda memasuki dunia jurnalisme media arus utama 1 lebih dalam lagi. Saya akan mulai dengan pertanyaan-

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1995 TENTANG PASAR MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1995 TENTANG PASAR MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UU R.I No.8/1995 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1995 TENTANG PASAR MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa tujuan pembangunan nasional

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 1997 TENTANG PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 1997 TENTANG PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 1997 TENTANG PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

Prinsip Tempat Kerja yang Saling Menghormati

Prinsip Tempat Kerja yang Saling Menghormati Prinsip Tempat Kerja yang Saling Menghormati Pernyataan Prinsip: Setiap orang berhak mendapatkan perlakuan hormat di tempat kerja 3M. Dihormati berarti diperlakukan secara jujur dan profesional dengan

Lebih terperinci

LAMPIRAN 6. PERJANJIAN KERJASAMA UNTUK MELAKSANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA (Versi Ringkas)

LAMPIRAN 6. PERJANJIAN KERJASAMA UNTUK MELAKSANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA (Versi Ringkas) LAMPIRAN 6 PERJANJIAN KERJASAMA UNTUK MELAKSANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA (Versi Ringkas) Pihak Pertama Nama: Perwakilan yang Berwenang: Rincian Kontak: Pihak Kedua Nama:

Lebih terperinci

MEMAHAMI UNTUK MEMBASMI BUKU PANDUAN UNTUK MEMAHAMI TINDAK PIDANA KORUPSI. Komisi Pemberantasan Korupsi

MEMAHAMI UNTUK MEMBASMI BUKU PANDUAN UNTUK MEMAHAMI TINDAK PIDANA KORUPSI. Komisi Pemberantasan Korupsi MEMAHAMI UNTUK MEMBASMI BUKU PANDUAN UNTUK MEMAHAMI TINDAK PIDANA KORUPSI KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI REPUBLIK INDONESIA MEMAHAMI UNTUK MEMBASMI Penyusun Desain Sampul & Tata Letak Isi MPRCons Indonesia

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa perekonomian nasional yang diselenggarakan

Lebih terperinci

PEDOMAN SISTEM PELAPORAN PELANGGARAN WHISTLE BLOWING SYSTEM. Revisi Ke : PELANGGARAN PENDAHULUAN

PEDOMAN SISTEM PELAPORAN PELANGGARAN WHISTLE BLOWING SYSTEM. Revisi Ke : PELANGGARAN PENDAHULUAN PT. INHUTANI I (PERSERO) PEDOMAN SISTEM PELAPORAN PELANGGARAN ARAN WHISTLE BLOWING SYSTEM FUNGSI : SEKRETARIS PERUSAHAAN NOMOR : JUDUL : SISTEM PELAPORAN Revisi Ke : PELANGGARAN Berlaku TMT : PENDAHULUAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2003 TENTANG PERATURAN DISIPLIN ANGGOTA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2003 TENTANG PERATURAN DISIPLIN ANGGOTA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2003 TENTANG PERATURAN DISIPLIN ANGGOTA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

Buku Saku. Memahami Gratifikasi

Buku Saku. Memahami Gratifikasi Buku Saku Memahami Gratifikasi KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN DIREKTORAT GRATIFIKASI KEDEPUTIAN BIDANG PENCEGAHAN BUKU SAKU MEMAHAMI GRATIFIKASI

Lebih terperinci

PIAGAM UNTUK PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN BAGI PARA SUPPLIER DAN KONTRAKTOR ALSTOM

PIAGAM UNTUK PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN BAGI PARA SUPPLIER DAN KONTRAKTOR ALSTOM 01/01/2014 PIAGAM UNTUK PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN BAGI PARA SUPPLIER DAN KONTRAKTOR ALSTOM PENDAHULUAN Pembangunan berkelanjutan adalah bagian penggerak bagi strategi Alstom. Ini berarti bahwa Alstom sungguhsungguh

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG KEDUDUKAN PROTOKOLER DAN KEUANGAN PIMPINAN DAN ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN

SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK DIREKTORAT PENYULUHAN PELAYANAN DAN HUBUNGAN MASYARAKAT KATA PENGANTAR DAFTAR ISI Assalamualaikum

Lebih terperinci

PEDOMAN ETIKA DALAM BERHUBUNGAN DENGAN PARA SUPPLIER

PEDOMAN ETIKA DALAM BERHUBUNGAN DENGAN PARA SUPPLIER PEDOMAN ETIKA DALAM BERHUBUNGAN DENGAN PARA SUPPLIER 2 PALYJA GDF SUEZ - Pedoman Etika Dalam Berhubungan Dengan Supplier GDF SUEZ berjuang setiap saat dan di semua tempat untuk bertindak baik sesuai dengan

Lebih terperinci

1. Penyelenggara. Lomba ini diselenggarakan oleh Koozaa.com bersama PT. Nusantara Utama Technology

1. Penyelenggara. Lomba ini diselenggarakan oleh Koozaa.com bersama PT. Nusantara Utama Technology SYARAT & KETENTUAN PENTING: BACALAH SYARAT DAN KETENTUAN SEBELUM MEMASUKI KONTES. INI SECARA HUKUM MENGIKAT PERSETUJUAN ANTARA ANDA DAN PERUSAHAAN PT. NUSANTARA UTAMA TECHNOLOGY MENYANGKUT SYARAT DAN KETENTUAN

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Chairman Mario Moretti Polegato

PENDAHULUAN. Chairman Mario Moretti Polegato RESPIRA Codice Etico Code of Ethics Code Éthique Código Ético 道 德 准 则 Kode Etik Bộ Quy Tắc Đạo Đức Кодекс профессиональной этики Etički kodeks İş Ahlakı Kuralları የስነ-ምግባር ደንብ PENDAHULUAN Dengan bangga

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 1983 TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 2/POJK.05/2014 TENTANG TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK BAGI PERUSAHAAN PERASURANSIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIKKA NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG LEMBAGA PENYIARAN PUBLIK LOKAL RADIO SUARA SIKKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIKKA NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG LEMBAGA PENYIARAN PUBLIK LOKAL RADIO SUARA SIKKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIKKA NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG LEMBAGA PENYIARAN PUBLIK LOKAL RADIO SUARA SIKKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SIKKA, Menimbang : a. bahwa lembaga penyiaran merupakan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG KEINSINYURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG KEINSINYURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG KEINSINYURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa keinsinyuran merupakan kegiatan penggunaan

Lebih terperinci

MENTERI BADAN USAHA MILIK NEGARA REPUBLIK INDONESIA

MENTERI BADAN USAHA MILIK NEGARA REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI BADAN USAHA MILIK NEGARA NOMOR : PER - 01/1VIBU/01/2015 TENTANG PEDOMAN PENANGANAN BENTURAN KEPENTINGAN DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN BADAN USAHA MILIK NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TOJO UNA-UNA PERATURAN DAERAH KABUPATEN TOJO UNA-UNA NOMOR : 12 TAHUN 2006 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TOJO UNA-UNA PERATURAN DAERAH KABUPATEN TOJO UNA-UNA NOMOR : 12 TAHUN 2006 TENTANG LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TOJO UNA-UNA PERATURAN DAERAH KABUPATEN TOJO UNA-UNA NOMOR : 12 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN TOJO UNA-UNA NOMOR 44 TAHUN 2005 TENTANG KEDUDUKAN

Lebih terperinci

LeIP. Peraturan Lembaga Manajemen Kepegawaian. Peraturan LeIP Tentang Manajemen Kepegawaian. 1. Kategorisasi Pegawai

LeIP. Peraturan Lembaga Manajemen Kepegawaian. Peraturan LeIP Tentang Manajemen Kepegawaian. 1. Kategorisasi Pegawai Peraturan Tentang 1. Kategorisasi Pegawai 1.1. Pegawai dibagi dalam kategori sebagai berikut : a. Pegawai Tetap b. Pegawai Tidak Tetap 1.2. Pegawai Tetap adalah pegawai yang diangkat Lembaga untuk bekerja

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78/PMK.06/2014 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN PEMANFAATAN BARANG MILIK NEGARA

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78/PMK.06/2014 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN PEMANFAATAN BARANG MILIK NEGARA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78/PMK.06/2014 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN PEMANFAATAN BARANG MILIK NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

PERATURAN PERHIMPUNAN ADVOKAT INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG PELAKSANAAN MAGANG UNTUK CALON ADVOKAT

PERATURAN PERHIMPUNAN ADVOKAT INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG PELAKSANAAN MAGANG UNTUK CALON ADVOKAT PERATURAN PERHIMPUNAN ADVOKAT INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG PELAKSANAAN MAGANG UNTUK CALON ADVOKAT Menimbang: Mengingat: a. Bahwa satu di antara persyaratan yang harus dilalui untuk menjadi advokat

Lebih terperinci

KEBIJAKAN ANTI PENCUCIAN UANG FXPRIMUS

KEBIJAKAN ANTI PENCUCIAN UANG FXPRIMUS KEBIJAKAN ANTI PENCUCIAN UANG FXPRIMUS PERNYATAAN DAN PRINSIP KEBIJAKAN Sesuai dengan Undang-undang Intelijen Keuangan dan Anti Pencucian Uang 2002 (FIAMLA 2002), Undang-undang Pencegahan Korupsi 2002

Lebih terperinci

RENCANA STRATEGIS BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

RENCANA STRATEGIS BADAN PEMERIKSA KEUANGAN RENCANA STRATEGIS BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 2006-2010 Sambutan Ketua BPK Pengelolaan keuangan negara merupakan suatu kegiatan yang akan mempengaruhi peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat dan bangsa

Lebih terperinci

Undang-Undang KUP dan Peraturan Pelaksanaannya

Undang-Undang KUP dan Peraturan Pelaksanaannya Untuk keterangan lebih lanjut, hubungi : Account Representative Undang-Undang KUP dan Peraturan Pelaksanaannya Undang-Undang KUP dan Peraturan Pelaksanaannya KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT

Lebih terperinci

SYARAT-SYARAT KEBERHASILAN TATANAN SOSIAL GLOBAL DAN EKONOMI BERORIENTASI PASAR. www.kas.de

SYARAT-SYARAT KEBERHASILAN TATANAN SOSIAL GLOBAL DAN EKONOMI BERORIENTASI PASAR. www.kas.de SYARAT-SYARAT KEBERHASILAN TATANAN SOSIAL GLOBAL DAN EKONOMI BERORIENTASI PASAR www.kas.de DAFTAR ISI 3 MUKADIMAH 3 KAIDAH- KAIDAH POKOK 1. Kerangka hukum...3 2. Kepemilikan properti dan lapangan kerja...3

Lebih terperinci

Report2DewanPers (Tombol Lapor ke Dewan Pers di Media Siber Indonesia)

Report2DewanPers (Tombol Lapor ke Dewan Pers di Media Siber Indonesia) Report2DewanPers (Tombol Lapor ke Dewan Pers di Media Siber Indonesia) I. Deskripsi organisasi pemohon hibah Nama organisasi: Dewan Pers Status resmi: Lembaga Independen yang dibentuk berdasar UU No.40/1999

Lebih terperinci

GUBERNUR SULAWESI TENGAH

GUBERNUR SULAWESI TENGAH GUBERNUR SULAWESI TENGAH SAMBUTAN GUBERNUR SULAWESI TENGAH PADA ACARA PEMBUKAAN PELATIHAN PELIPUTAN PEMILUKADA DAMAI TAHUN 2011 ALIANSI JURNALIS INDEPENDEN (AJI) SABTU, 26 FEBRUARI 2011 ASSALAMU ALAIKUM

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa salah satu alat

Lebih terperinci

RechtsVinding Online. Sistem Merit Sebagai Konsep Manajemen ASN

RechtsVinding Online. Sistem Merit Sebagai Konsep Manajemen ASN PENERAPAN SISTEM MERIT DALAM MANAJEMEN ASN DAN NETRALITAS ASN DARI UNSUR POLITIK DALAM UNDANG-UNDANG APARATUR SIPIL NEGARA Oleh: Akhmad Aulawi, SH., MH. * Akhir tahun 2013, menjadi momentum yang penting

Lebih terperinci

KOVENAN INTERNASIONAL HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA. Ditetapkan oleh Resolusi Majelis Umum 2200 A (XXI)

KOVENAN INTERNASIONAL HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA. Ditetapkan oleh Resolusi Majelis Umum 2200 A (XXI) KOVENAN INTERNASIONAL HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA Ditetapkan oleh Resolusi Majelis Umum 2200 A (XXI) tertanggal 16 Desember 1966, dan terbuka untuk penandatangan, ratifikasi, dan aksesi MUKADIMAH

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN PEMIKIRAN

BAB II LANDASAN PEMIKIRAN BAB II LANDASAN PEMIKIRAN 1. Landasan Filosofis Filosofi ilmu kedokteran Ilmu kedokteran secara bertahap berkembang di berbagai tempat terpisah. Pada umumnya masyarakat mempunyai keyakinan bahwa seorang

Lebih terperinci

2. Pelaksanaan Unit Kompetensi ini berpedoman pada Kode Etik Humas/Public Relations Indonesia yang berlaku.

2. Pelaksanaan Unit Kompetensi ini berpedoman pada Kode Etik Humas/Public Relations Indonesia yang berlaku. KODE UNIT : KOM.PR01.005.01 JUDUL UNIT : Menyampaikan Presentasi Lisan Dalam Bahasa Inggris DESKRIPSI UNIT : Unit ini berhubungan dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dibutuhkan profesi humas

Lebih terperinci

Program "Integritas Premium" Program Kepatuhan Antikorupsi

Program Integritas Premium Program Kepatuhan Antikorupsi Program "Integritas Premium" Program Kepatuhan Antikorupsi Tanggal publikasi: Oktober 2013 Daftar Isi Indeks 1 Pendekatan Pirelli untuk memerangi korupsi...4 2 Konteks regulasi...6 3 Program "Integritas

Lebih terperinci

CETAK BIRU EDUKASI MASYARAKAT DI BIDANG PERBANKAN

CETAK BIRU EDUKASI MASYARAKAT DI BIDANG PERBANKAN CETAK BIRU EDUKASI MASYARAKAT DI BIDANG PERBANKAN Kelompok Kerja Edukasi Masyarakat Di Bidang Perbankan 2007 1. Pendahuluan Bank sebagai lembaga intermediasi dan pelaksana sistem pembayaran memiliki peranan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2002 TENTANG PENYIARAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2002 TENTANG PENYIARAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2002 TENTANG PENYIARAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a ) bahwa kemerdekaan menyampaikan pendapat dan memperoleh

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG PENGELOLAAN PEGAWAI NON PEGAWAI NEGERI SIPIL PADA SATUAN KERJA KEMENTERIAN KESEHATAN YANG MENERAPKAN POLA PENGELOLAAN KEUANGAN

Lebih terperinci

Dikutip dan disarikan dari Buku Panduan Mencegah Korupsi dalam Pengadaan Barang dan Jasa Publik, TII, 2006

Dikutip dan disarikan dari Buku Panduan Mencegah Korupsi dalam Pengadaan Barang dan Jasa Publik, TII, 2006 Peluang Korupsi dalam Proses Pengadaan Barang dan Jasa Dikutip dan disarikan dari Buku Panduan Mencegah Korupsi dalam Pengadaan Barang dan Jasa Publik, TII, 2006 Jumlah pengadaan barang dan jasa di lembaga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pedoman SAI

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pedoman SAI BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pedoman SAI Universitas Galuh merupakan suatu organisasi profesional yang bergerak di dunia pendidikan. Di Indonesia status perguruan tinggi dikelompokan pada Perguruan

Lebih terperinci

-2- 6. Keputusan Komisi Pemilihan Umum Nomor 05/Kpts/KPU/TAHUN 2013 tentang Penetapan Partai Politik Peserta Pemilihan Umum Tahun 2014;

-2- 6. Keputusan Komisi Pemilihan Umum Nomor 05/Kpts/KPU/TAHUN 2013 tentang Penetapan Partai Politik Peserta Pemilihan Umum Tahun 2014; -2- Mengingat: 1. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik sebagaimana telah diubah dengan dengan Undang- Undang Nomor 2 Tahun 2011 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 8,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2005 TENTANG GURU DAN DOSEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2005 TENTANG GURU DAN DOSEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2005 TENTANG GURU DAN DOSEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan nasional dalam bidang pendidikan

Lebih terperinci

Pedoman Etika Usaha dan Tata Perilaku

Pedoman Etika Usaha dan Tata Perilaku Pedoman Etika Usaha dan Tata Perilaku April 1, 2013 Pedoman Etika Usaha dan Tata Perilaku Sulzer 1/12 Sulzer berkomitmen dan mewajibkan para karyawannya untuk menjalankan kegiatan bisnisnya berdasarkan

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN UMUM Industri perbankan merupakan salah satu komponen sangat penting dalam perekonomian nasional demi

Lebih terperinci

K100 UPAH YANG SETARA BAGI PEKERJA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN UNTUK PEKERJAAN YANG SAMA NILAINYA

K100 UPAH YANG SETARA BAGI PEKERJA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN UNTUK PEKERJAAN YANG SAMA NILAINYA K100 UPAH YANG SETARA BAGI PEKERJA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN UNTUK PEKERJAAN YANG SAMA NILAINYA 1 K 100 - Upah yang Setara bagi Pekerja Laki-laki dan Perempuan untuk Pekerjaan yang Sama Nilainya 2 Pengantar

Lebih terperinci

K88 LEMBAGA PELAYANAN PENEMPATAN KERJA

K88 LEMBAGA PELAYANAN PENEMPATAN KERJA K88 LEMBAGA PELAYANAN PENEMPATAN KERJA 1 K-88 Lembaga Pelayanan Penempatan Kerja 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan bagi

Lebih terperinci

UNTAET REGULASI NO. 2002/2 TENTANG PELANGGARAN KETENTUAN BERHUBUNGAN DENGAN PEMILIHAN PRESIDEN PERTAMA

UNTAET REGULASI NO. 2002/2 TENTANG PELANGGARAN KETENTUAN BERHUBUNGAN DENGAN PEMILIHAN PRESIDEN PERTAMA UNITED NATIONS United Nations Transitional Administration in East Timor NATIONS UNIES Administrasion Transitoire des Nations Unies in au Timor Oriental UNTAET UNTAET/REG/2002/2 5 March 2002 REGULASI NO.

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Koperasi, baik sebagai gerakan ekonomi rakyat

Lebih terperinci

KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN

KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN SUSUNAN DALAM SATU NASKAH DARI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1983 TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH TERAKHIR DENGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

Kebijakan Anti Korupsi di Seluruh Dunia

Kebijakan Anti Korupsi di Seluruh Dunia Kebijakan Anti Korupsi di Seluruh Dunia I. TUJUAN Undang-undang sebagian besar negara di dunia menetapkan bahwa membayar atau menawarkan pembayaran atau bahkan menerima suap, kickback atau pun bentuk pembayaran

Lebih terperinci

JUDUL UNIT : Menerapkan Prinsip - Prinsip Rancangan Instruksional

JUDUL UNIT : Menerapkan Prinsip - Prinsip Rancangan Instruksional KODE UNIT : TIK.MM01.009.01 JUDUL UNIT : Menerapkan Prinsip - Prinsip Rancangan Instruksional DESKRIPSI UNIT : Unit ini menjelaskan keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk menggunakan prinsip

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM www.bpkp.go.id UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN NEGARA YANG BERSIH DAN BEBAS DARI KORUPSI, KOLUSI, DAN NEPOTISME

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN NEGARA YANG BERSIH DAN BEBAS DARI KORUPSI, KOLUSI, DAN NEPOTISME UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN NEGARA YANG BERSIH DAN BEBAS DARI KORUPSI, KOLUSI, DAN NEPOTISME DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Presiden Republik Indonesia

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG PUNGUTAN OLEH OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG PUNGUTAN OLEH OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG PUNGUTAN OLEH OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

K E P U T U S A N. KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA NOMOR : 06/KPPU/Kep/XI/2000 T E N T A N G

K E P U T U S A N. KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA NOMOR : 06/KPPU/Kep/XI/2000 T E N T A N G Menimbang : REPUBLIK INDONESIA Jl. Gatot Subroto Kav. 52-53 Lt. 12, Jakarta 12950 Telp. 52961791-3 dan 5255509 pes. 2183, Fax. 52961792 K E P U T U S A N NOMOR : 06/KPPU/Kep/XI/2000 T E N T A N G KODE

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG

PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG Draft Final 10-12-2009 PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG PENGAWASAN EKSTERNAL PENERIMAAN CALON ANGGOTA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

LAPORAN UJI TUNTAS & PENDAPAT HUKUM

LAPORAN UJI TUNTAS & PENDAPAT HUKUM LAPORAN UJI TUNTAS & PENDAPAT HUKUM Oleh KarimSyah Law Firm Sudirman Square Office Tower B, lantai 11 Jl. Jend. Sudirman Kav. 45-46, Jakarta 12930, INDONESIA Phone: +62 21 577-1177 (Hunting), Fax: +62

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2014 TENTANG APARATUR SIPIL NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2014 TENTANG APARATUR SIPIL NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2014 TENTANG APARATUR SIPIL NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelaksanaan cita-cita

Lebih terperinci

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN :

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN : UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2002 TENTANG SISTEM NASIONAL PENELITIAN, PENGEMBANGAN, DAN PENERAPAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Koperasi, baik sebagai gerakan ekonomi rakyat maupun sebagai badan

Lebih terperinci

Definisi tersebut dapat di perluas di tingkat nasional dan atau regional.

Definisi tersebut dapat di perluas di tingkat nasional dan atau regional. Definisi Global Profesi Pekerjaan Sosial Pekerjaan sosial adalah sebuah profesi yang berdasar pada praktik dan disiplin akademik yang memfasilitasi perubahan dan pembangunan sosial, kohesi sosial dan pemberdayaan

Lebih terperinci

BAB III ARAH STRATEGI DAN KEBIJAKAN

BAB III ARAH STRATEGI DAN KEBIJAKAN BAB III ARAH STRATEGI DAN KEBIJAKAN 3.1 Arah Strategi dan kebijakan Nasional Arah strategi dan kebijakan umum pembangunan nasional 2010-2014 adalah sebagai berikut: 1. Melanjutkan pembangunan mencapai

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2014 TENTANG HAK CIPTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2014 TENTANG HAK CIPTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2014 TENTANG HAK CIPTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa hak cipta merupakan kekayaan intelektual di bidang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN PERATURAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH TENTANG TATA TERTIB DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA PERATURAN REKTOR UNIVERSITAS BRAWIJAYA NOMOR 536 TAHUN 2013 TENTANG

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA PERATURAN REKTOR UNIVERSITAS BRAWIJAYA NOMOR 536 TAHUN 2013 TENTANG KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA PERATURAN REKTOR UNIVERSITAS BRAWIJAYA NOMOR TAHUN 0 TENTANG TENAGA KEPENDIDIKAN TETAP NON PNS UNIVERSITAS BRAWIJAYA REKTOR UNIVERSITAS BRAWIJAYA

Lebih terperinci

KETENTUAN DAN PERSYARATAN BLACKBERRY ID

KETENTUAN DAN PERSYARATAN BLACKBERRY ID KETENTUAN DAN PERSYARATAN BLACKBERRY ID UNTUK MENDAPATKAN AKUN BLACKBERRY ID, SERTA DAPAT MENGAKSES LAYANAN YANG MENSYARATKAN ANDA UNTUK MEMILIKI AKUN BLACKBERRY ID, ANDA HARUS (1) MENYELESAIKAN PROSES

Lebih terperinci

ADENDUM TERHADAP KETENTUAN PEMBELIAN DALAM BBSLA UNTUK SELURUH TOKO RIME

ADENDUM TERHADAP KETENTUAN PEMBELIAN DALAM BBSLA UNTUK SELURUH TOKO RIME ADENDUM TERHADAP KETENTUAN PEMBELIAN DALAM BBSLA UNTUK SELURUH TOKO RIME 1. RUANG LINGKUP & APLIKASI 1.1. Perjanjian Lisensi BlackBerry Solution ("BBSLA") berlaku untuk seluruh distribusi (gratis dan berbayar)

Lebih terperinci

UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan

Lebih terperinci

PRINSIP ESSILOR. Prinsip-prinsip kita berasal dari beberapa karakteristik Essilor yang khas:

PRINSIP ESSILOR. Prinsip-prinsip kita berasal dari beberapa karakteristik Essilor yang khas: PRINSIP ESSILOR Setiap karyawan Essilor dalam kehidupan professionalnya ikut serta bertanggung jawab untuk menjaga reputasi Essilor. Sehingga kita harus mengetahui dan menghormati seluruh prinsip yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pemilihan umum secara langsung

Lebih terperinci

PEMBERIAN BANTUAN HIBAH OLEH PEMERINTAH DAERAH BERDASARKAN KETENTUAN PERUNDANG-UNDANGAN

PEMBERIAN BANTUAN HIBAH OLEH PEMERINTAH DAERAH BERDASARKAN KETENTUAN PERUNDANG-UNDANGAN PEMBERIAN BANTUAN HIBAH OLEH PEMERINTAH DAERAH BERDASARKAN KETENTUAN PERUNDANG-UNDANGAN http://keuda.kemendagri.go,id I. Pendahuluan Belanja bantuan hibah merupakan salah satu rekening belanja dalam Anggaran

Lebih terperinci

Jika Anda diperlakukan secara tidak adil atau hak Anda dilanggar, hubungi nomor bebas pulsa berikut:

Jika Anda diperlakukan secara tidak adil atau hak Anda dilanggar, hubungi nomor bebas pulsa berikut: Apakah Anda Datang Ke Amerika untuk Bekerja Sementara atau Belajar? Kami percaya bahwa Anda akan mendapatkan pengalaman yang berharga. Tetapi, apabila Anda mendapatkan masalah, Anda memiliki hak dan Anda

Lebih terperinci

Online PPI Belanda JONG JONG. No.6/Mei 2012 - Tahun III. Hari Bumi, Hari Kita. tahun. PPI Belanda RETNO MARSUDI: Keluarga Adalah Surga Saya

Online PPI Belanda JONG JONG. No.6/Mei 2012 - Tahun III. Hari Bumi, Hari Kita. tahun. PPI Belanda RETNO MARSUDI: Keluarga Adalah Surga Saya No.6/Mei 2012 - Tahun III Majalah JONG Online PPI Belanda JONG I N D O N E S I A Hari Bumi, Hari Kita 90 tahun PPI Belanda RETNO MARSUDI: Keluarga Adalah Surga Saya 30 Dalam suatu kesempatan perkuliahan

Lebih terperinci

Pesan Direktur Utama. Rekan-rekan BTPN,

Pesan Direktur Utama. Rekan-rekan BTPN, Pesan Direktur Utama Rekan-rekan BTPN, Bisnis perbankan hidup dan tumbuh dengan basis kepercayaan dari seluruh pemangku kepentingan. Oleh karena itu, manajemen yang profesional dan tata kelola perusahaan

Lebih terperinci

KAJIAN HUKUM ATAS HAK-HAK KEUANGAN BAGI PIMPINAN DAN ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH YANG PURNA BAKTI. http://www.antarajateng.

KAJIAN HUKUM ATAS HAK-HAK KEUANGAN BAGI PIMPINAN DAN ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH YANG PURNA BAKTI. http://www.antarajateng. KAJIAN HUKUM ATAS HAK-HAK KEUANGAN BAGI PIMPINAN DAN ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH YANG PURNA BAKTI http://www.antarajateng.com I. PENDAHULUAN Dewan Perwakilan Rakyat Daerah selanjutnya disingkat

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2011 TENTANG MATA UANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2011 TENTANG MATA UANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2011 TENTANG MATA UANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai suatu

Lebih terperinci

Akses Buruh Migran Terhadap Keadilan di Negara Asal: Studi Kasus Indonesia

Akses Buruh Migran Terhadap Keadilan di Negara Asal: Studi Kasus Indonesia MIGRANT WORKERS ACCESS TO JUSTICE SERIES Akses Buruh Migran Terhadap Keadilan di Negara Asal: Studi Kasus Indonesia RINGKASAN EKSEKUTIF Bassina Farbenblum l Eleanor Taylor-Nicholson l Sarah Paoletti Akses

Lebih terperinci

ORGANISASI NIRLABA. Oleh: Tri Purwanto

ORGANISASI NIRLABA. Oleh: Tri Purwanto KONSEP DASAR ORGANISASI NIRLABA Oleh: Tri Purwanto Pelatihan Penyusunan Laporan Keuangan sesuai PSAK 45 berdasar SAK ETAP Pelatihan Penyusunan Laporan Keuangan sesuai PSAK 45 berdasar SAK ETAP Sekretariat

Lebih terperinci

MASTEL MASYARAKAT TELEMATIKA INDONESIA The Indonesian Infocom Society

MASTEL MASYARAKAT TELEMATIKA INDONESIA The Indonesian Infocom Society MASTEL MASYARAKAT TELEMATIKA INDONESIA The Indonesian Infocom Society ANGGARAN DASAR ANGGARAN RUMAH TANGGA 2003-2006 ANGGARAN DASAR MASTEL MUKADIMAH Bahwa dengan berkembangnya teknologi, telah terjadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Koran saat sarapan, kita bisa melihat foto-foto laki-laki dan perempuan yang

BAB I PENDAHULUAN. Koran saat sarapan, kita bisa melihat foto-foto laki-laki dan perempuan yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada abad ini merupakan abad visual. Masyarakat dibombardir dengan berbagai gambar sejak pagi hingga malam. Misalnya saja dengan hanya membuka Koran saat sarapan,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 72 TAHUN 2012 TENTANG PERUSAHAAN UMUM (PERUM) PERCETAKAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 72 TAHUN 2012 TENTANG PERUSAHAAN UMUM (PERUM) PERCETAKAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 72 TAHUN 2012 TENTANG PERUSAHAAN UMUM (PERUM) PERCETAKAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

Opini H ukum: Gugatan Ganti Kerugian dalam mekanisme Pengadilan Tipikor. Disiapkan oleh:

Opini H ukum: Gugatan Ganti Kerugian dalam mekanisme Pengadilan Tipikor. Disiapkan oleh: Opini H ukum: Gugatan Ganti Kerugian dalam mekanisme Pengadilan Tipikor Disiapkan oleh: Konsorsium Reformasi Hukum Nasional (KRHN) 1. Apa itu Gugatan Ganti Kerugian? Tuntutan ganti kerugian sebagaimana

Lebih terperinci

Reformasi Sistem Tata Kelola Sektor Migas: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK

Reformasi Sistem Tata Kelola Sektor Migas: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK Briefing October 2014 Reformasi Sistem Tata Kelola Sektor Migas: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK Patrick Heller dan Poppy Ismalina Universitas Gadjah Mada Memaksimalkan keuntungan dari sektor

Lebih terperinci