Bakrie Laporan Dampak Sosial Gunung Berapi Lumpur Lapindo

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Bakrie Laporan Dampak Sosial Gunung Berapi Lumpur Lapindo"

Transkripsi

1 Bakrie Laporan Dampak Sosial Gunung Berapi Lumpur Lapindo

2 Kata Pengantar Laporan ini menggariskan komitmen keuangan keluarga Bakrie dalam memberikan bantuan kepada penduduk Sidoarjo yang terkena dampak aliran lumpur tahun 2006, termasuk untuk kegiatan tanggp darurat dan penanggulangan yang dirancang khusus untuk mengurangi dampak bencana ini. Komitmen keuangan ini, yang bukan merupakan kewajiban, telah direvisi berulang kali dan diresmikan melalui Keputusan Presiden yang mencakup wilayah seluas 700 hektar dan lebih dari penduduk. PT Lapindo Brantas adalah perusahaan eksplorasi gas dan minyak yang merupakan joint venture antara PT. Energi Mega Persada Tbk. (50%), PT Medco Energi Tbk. (32%) dan Santos Australia (18%), di mana keluarga Bakrie melalui investasinya memegang kendali atas PT. Energi Mega Persada Tbk. Pada tanggal 29 Mei 2006, serangkaian semburan lumpur terjadi, yang terdekat berjarak 200 meter dari situs eksplorasi yang dioperasikan oleh perusahaan tersebut. Pasca penyidikan, para peneliti menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara kegiatan pengeboran dan semburan lumpur dan bahwa kegiatan pengeboran telah dilakukan sesuai dengan peraturan pemerintah dan prosedur operasional yang telah disepakati oleh rekan perusahaan. Para ahli geologi PT Lapindo Brantas meyakini bahwa semburan lumpur tersebut memiliki kaitan dengan kegiatan seismik akibat gempa yang terjadi dua hari sebelumnya, yang juga berkaitan dengan aktifnya kembali Gunung Semeru yang terletak 300 km dari episentrum gempa bumi di Yogyakarta. Selama 5 tahun terakhir, komunitas ilmiah global telah memperdebatkan sejumlah hipotesa mengenai penyebab semburan lumpur tersebut, tetapi tidak pernah mencapai kesimpulan bulat. Terlepas dari ketidakpastian dan pandangan yang bertentangan mengenai penyebab semburan lumpur, keluarga Bakrie tetap mempertahankan komitmennya untuk menyediakan bantuan keuangan bagi para korban bencana sesuai dengan kesepakatan resmi dalam Keputusan Presiden. Pendahuluan Bencana alam, terutama yang terjadi di wilayah yang padat penduduk, hampir selalu membawa potensi bencana sosial pada berbagai tingkatan selain dari kerusakan fisik yang tidak dapat dihindari. Indonesia adalah negara yang sangat rentan terhadap bencana alam sejak terbentuknya daratan kepulauan ribuan tahun yang lalu. Karena posisi geologisnya yang terletak di dalam Cincin Api, kepulauan Indonesia telah mengalami serangkaian gempa bumi yang tiada henti, letusan gunung berapi dan tsunami yang merusak, yang menyebabkan korban jiwa maupun materi. Kejadian-kejadian tersebut juga meninggalkan jejak kerusakan sosial seiring dengan evakuasi dan relokasi penduduk yang terkena dampaknya, kerusakan sumber daya ekonomi dan mata pencaharian masyarakat. 2

3 Laporan ini memberikan hasil pengamatan kejadian yang sangat unik di sepanjang sejarah bencana alam Indonesia, yaitu semburan lumpur vulkanik di wilayah yang padat penduduk. Tidak seperti kebanyakan bencana alam lainnya, kejadian ini memiliki dampak sosial yang lebih besar yang melebihi dampak jatuhnya korban jiwa. Meskipun dampak fisik dari kejadian ini telah didokumentasikan dengan baik, dampak sosialnyalah yang menyebabkan kekacauan pada komunitas miskin yang tadinya hidup berdampingan dengan damai. Pada tanggal 29 Mei 2006, di ladang dekat kota Sidoarjo, Jawa Timur, aliran lumpur panas, air dan gas tiba-tiba meletus dari dalam tanah ke udara sehingga terlihat seperti geyser di Taman Nasional Yellowstone, AS. Aliran lumpur tersebut berlanjut selama beberapa bulan seraya menyemburkan lumpur dan tanah liat serta gas metana, terkadang mencapai meter kubik per hari. Gunung berapi lumpur juga dikenal sebagai gunung berapi sedimen dan merupakan anggota keluarga gunung berapi magma yang menyemburkan api dan lava cair dari puncaknya ketika sedang meletus. Akan tetapi, gunung berapi lumpur adalah fenomena geologis yang disebabkan oleh lapisan lumpur dengan tekanan berlebih yang terletak di bawah permukaan tanah. Jenis gunung berapi ini juga seringkali dikaitkan dengan garis patahan atau lipatan tajam serta subduksi tektonis, yaitu pergerakan lempeng tektonik. Gunung berapi lumpur cenderung menyebabkan penumpukan lumpur padat dan cadangan tanah liat dalam bentuk kerucut. Sumber sumber gunung berapi lumpur yang umum ditemukan di wilayah-wilayah yang kaya hidrokarbon berasal dari lapisan bawah permukaan yang berada di dasar lapisan lumpur atau serpihan batu yang dipadatkan. Sumber tersebut hampir selalu ada di wilayah yang rentan gempa bumi dan di sepanjang garis patahan. Semburan gunung berapi lumpur yang disebut LUSI (singkatan dari Lumpur dan Sidoarjo, yaitu nama kota di mana semburan tersebut terjadi ) dikaitkan oleh berbagai ilmuwan lokal dan internasional dengan gempa bumi berkekuatan 6,3 skala Richter yang terjadi di Yogyakarta, Jawa Tengah, yaitu 250 kilometer dari lokasi semburan lumpur, dua hari sebelumnya. Gempa tersebut menyebabkan jatuhnya korban jiwa dan menghancurkan ribuan rumah, bangunan dan prasarana lainnya. Menurut tim peneliti dari Universitas di Jerman, getarannya merupakan yang terkuat yang pernah terjadi di Pulau Jawa, pulau yang berada persis di dalam Lingkaran Api. Letusan LUSI telah memaksa puluhan ribu penduduk di wilayah tersebut untuk meninggalkan rumah mereka yang telah direndam lumpur. Bencana tersebut juga menghancurkan sebagian besar prasarana lokal, termasuk jalur utama ke Surabaya, ibukota Jawa Timur. Beberapa orang bahkan kehilangan nyawa mereka akibat pecahan dan ledakan pipa gas yang terkena LUSI. Akan tetapi, dampak yang terbesar dari letusan jangka panjang tersebut adalah bencana sosial yang kian meluas, yang nyata-nyata tidak mampu lagi dibendung oleh pihak berwenang di daerah. 3

4 Kurangnya tanggapan darurat oleh pemerintah daerah menghasilkan skenario unik dalam sejarah bencana alam; Lapindo Brantas yang mengoperasikan sumur eksplorasi gas bumi beberapa ratus meter dari letusan LUSI didorong untuk menjalankan peran tanggap darurat dan kemudian menjadi kontributor utama dalam pembangunan sosial di wilayah tersebut. Bakrie Group yang mengendalikan aspek hulu unit Migas Energi Mega Persada membentuk PT Lapindo Brantas pada tahun 1996 dengan membeli saham Huffington Corporations yang dimiliki oleh Amerika serta perusahaan pengapalan Blok Brantas di Jawa Timur, Indonesia. Kepemilikan PT Lapindo Brantas kemudian dibagi antara Santos (18%) dan Medco (32%). Blok Brantas seluas km2 diberikan oleh Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (dulunya disebut Pertamina) pada tahun Setelah dua kali penyerahan wajib, wilayah KK milik Lapindo Brantas menjadi seluas km2. Kontrak Pembagian Produksi Brantas telah mengebor (8) sumur eksplorasi dari tahun 1993 hingga 2001, yang berujung kepada ditemukannya ladang gas Wunut 30 km di selatan Surabaya. Ladang Wunut mulai diusahakan pada bulan Januari Saat ini, ada berbagai ladang prospek yang menjanjikan yang telah ditemukan, termasuk Banjarpanji - 1, sumur yang sedang dieksplorasi pada saat terjadinya Lumpur Sidoarjo. Sidoarjo dan Wilayah Gunung Berapi Sidoarjo adalah kabupaten, yaitu badan administratif pemerintah daerah yang berada di bawah tingkat propinsi Jawa Timur, Indonesia. Kota Sidoarjo berbatasan dengan kabupaten Surabaya dan Gresik di sebelah utara, kabupaten Pasuruan di sebelah selatan, kabupaten Mojokerto di sebelah barat dan Selat Madura di sebelah timur. Luas wilayahnya adalah 634,89 km2, yang menjadikannya kabupaten terkecil di Jawa Timur. Pada tahun 2008, Sidoarjo memiliki populasi sebesar jiwa, dan merupakan wilayah yang paling padat penduduk di pulau terpadat di dunia pulau Jawa. Jumlah penduduk rata-rata per kilometer perseginya adalah jiwa. Kabupaten ini juga memiliki PDB terendah di Indonesia, yaitu sebesar Rp. 44,159 milyar di tahun Sebagian besar PDB tersebut (47,5%) berasal dari sektor industri, sementar 27,14% berasal dari sektor Perdagangan, 10,02% dari sektor Transportasi dan 5,23% dari sektor Jasa. Sidoarjo juga memiliki tingkat pendidikan yang cukup rendah, di mana 60-70% dari seluruh penduduknya maksimal hanya lulusan SLTP. Hanya 25% penduduknya yang tamat SMU dan hanya beberapa persen saja yang merupakan lulusan perguruan tinggi. Menurut survey statistik terakhir oleh pemerintah kabupaten, dari semua industri yang beroperasi di kabupaten Sidoarjo 361 industri merupakan industri berskala besar (dengan jumlah karyawan 100 orang atau lebih), adalah industri berskala menengah (dengan jumlah karyawan antara 20 hingga 99 orang), industri berskala kecil (dengan jumlah karyawan antara 15 hingga 19 orang) dan sejumlah besar industri rumah tangga yang mempekerjakan 1 hingga 4 orang. Meskipun ada beberapa industri teknologi tinggi di Sidoarjo seperti industri elektronik, sebagian besar bidang industri di wilayah tersebut adalah pemrosesan makanan, misalnya pabrik tempe, pabrik kulit dan sepatu, kerupuk udang dan kerajinan tangan. 4

5 Meskipun pertanian masih merupakan sumber ekonomi utama di kabupaten Sidoarjo, sektor industri telah meningkat selama tahun-tahun terakhir, sementara sektor pertanian terus menurun. Jarak yang dekat dengan Surabaya telah mendorong sejumlah besar penduduk Sidoarjo untuk bekerja ke Surabaya dan mengundang investasi dari Surabaya untuk industri-industri di Sidoarjo. Seiring dengan meningkatnya harga tanah, sektor pertanian menjadi kurang menarik, terutama karena sebagian besar petani di Sidoarjo adalah pemilik tanah. Wilayah yang terkena dampak lumpur LUSI hanyalah sebagian kecil dari kabupaten Sidoarjo dan meskipun bencana ini tidak mempengaruhi keseluruhan ekonomi kabupaten, mereka yang tinggal di wilayah bencana mengalami dampak yang buruk dan membutuhkan program sosial besar-besaran guna memulihkan stabilitas ekonomi keluarga mereka dan menopang komunitas yang kini terdiri dari sejumlah besar pengungsi dan penduduk yang direlokasi. 5

6 Bencana dan Tanggapannya Pada tanggal 27 Mei, dua hari sebelum meletusnya lumpur LUSI, teknisi pengeboran yang bekerja di sumur eksplorasi gas Banjarpanji-1 melaporkan adanya getaran bawah tanah yang sangat besar di waktu yang sama dengan gempa bumi yang melanda Yogyakarta, 250 km dari tempat mereka. Setelah itu, teknisi-teknisi tersebut juga melaporkan kehilangan tekanan secara tiba-tiba dalam jumlah besar di dalam sumur, yang menunjukkan terjadinya bencana berskala besar di bawah tanah di wilayah tersebut. Teknisi-teknisi Lapindo kemudian mengambil tindakan operasional standar dan menghentikan pengeboran untuk mencegah kerusakan pada sumur. Meskipun belum diketahui pada saat itu, kejadian-kejadian inilah yang merupakan gejala dari meletusnya gunung berapi lumpur LUSI dua hari kemudian, 300 meter dari sumur eksplorasi. Sejak saat itu, para ilmuwan telah mengaitkan pergeseran lempeng tektonik di bawah tanah yang memicu perubahan formasi geologis secara tiba-tiba di wilayah tersebut. Menurut para ilmuwan, salah satu dampak dari perubahan geologis tersebut adalah pecahnya dua saluran yang telah ada sejak lama di kedalaman tanah, sehingga lumpur vulkanis menyusup ke permukaan dan mulai memuntahkan materi-materi dari dalam tanah ke permukaan wilayah tersebut. Teknisi pengeboran dari sumur Banjarpanji-1 tidak mampu mengidentifikasi alasan di balik bencana tersebut ketika melihat geyser lumpur panas yang tiba-tiba menyembur dari dalam tanah di ladang dekat situs pengeboran. Mereka pun segera menghubungi pejabat pemerintah daerah dan pejabat Lapindo Brantas di Surabaya serta markas perusahaan mereka di Jakarta. Meskipun tidak ada opini yang konklusif atas kejadian yang disaksikan oleh para pejabat, volume materi lumpur yang keluar dari dalam tanah terus bertambah dan dalam waktu singkat telah menutupi sebagian besar dari wilayah sekitarnya, termasuk desa-desa sekitar. Pada saat inilah penduduk setempat mulai panik dan para pemimpin kecamatan meminta bantuan dari Lapindo Brantas dan pejabat-pejabat eksekutif Bakrie dengan berkonsultasi pada badan otoritas migas Pemerintah, BPMIGAS, mulai menyelidiki sumber letusan lumpur dan mencari cara untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. Akibat bahaya yang meningkat terhadap desa-desa sekitar dan terhambatnya akses ke fasilitas umum, Lapindo Brantas dan para pejabat Eksekutif Bakrie setuju untuk meluncurkan bantuan darurat. Penting untuk dicatat bahwa pada saat ini, pemerintah pusat sedang berupaya keras menangani dampak bencana gempa bumi Yogyakarta yang memakan korban jiwa dan menyebabkan ratusan ribu penduduknya kehilangan rumah dan keluarga mereka. Bantuan keuangan untuk letusan LUSI yang sangat besar saat itu belum bisa diberikan oleh pemerintah pusat. Lapindo Brantas kemudian memobilisasikan sumber daya dalam jumlah besar untuk membangun tempat-tempat penampungan dan menyediakan layanan logistik guna mengevakuasi desa-desa dan tempat usaha yang terkena bahaya langsung lumpur Sidoarjo. Sepanjang beberapa hari berikutnya Lapindo Brantas dan pejabat eksekutif Bakrie menyalurkan masker, air bersih bagi penduduk, makanan dan fasilitas masak-memasak serta sekolah sementara bagi siswa dari dua sekolah dasar yang dievakuasi ke tempat yang aman. 6

7 Dalam waktu 2 hari sejak meletusnya lumpur Sidoarjo, 735 penduduk desa Renokenongo telah dievakuasi ke balai desa dan rumah-rumah keluarga jauh mereka. Pada saat tersebut, Lapindo Brantas dan pejabat ekskutif Bakrie menyediakan bantuan keuangan darurat sejumlah Rp untuk setiap keluarga di desa Siring dan Renokenongo. Bantuan lebih lanjut diberikan dalam bentuk paket bantuan sewa serta asuransi rumah dan asuransi jiwa. Dalam waktu 2 minggu, satuan kerja darurat resmi (SATLAK) pun dibentuk, yang terdiri dari ahli-ahli teknis Lapindo Brantas, pejabat-pejabat pemerintah daerah, polisi dan TNI. SATLAK bertanggung jawab membantu evakuasi lanjutan penduduk-penduduk desa sekitar ke tempat penampungan yang baru dibangun (Pasar Baru Borong) serta mengamankan prasarana-prasarana publik. Sebagai tambahan, kebutuhan kebutuhan dasar juga turut disediakan seperti makanan, obat-obatan dan sanitasi. Tim komunikasi publik dibentuk untuk menyalurkan informasi secara real-time kepada penduduk yang direlokasi dan desa-desa setempat yang cemas akan bencana lumpur yang semakin meluas. Selama beberapa minggu berikutnya, individu direlokasi ke fasilitas darurat Di Pasar Baru Porong, di mana sebagian besar penduduk ditempatkan di toko-toko dan kios yang baru dibangun untuk para penyewa toko di pasar baru tersebut. Penduduk-penduduk yang sedang direlokasi 7

8 Tempat Penampungan Darurat - Pasar Baru Porong Layanan Kesehatan 8

9 Pengawasan gas berbahaya (H2S dan hidrokarbon) Penanggulangan Jangka Panjang Lebih dari penduduk dievakuasi sebagai akibat dari semburan yang berkepanjangan dan kerusakan yang meluas terhadap properti dan prasarana milik masyarakat. Oleh karena itu, dengan berkonsultasi kepada pihak pemerintah, Lapindo Brantas dan pejabat eksekutif Bakrie setuju untuk memperluas komitmen mereka melalui peluncuran paket bantuan keuangan jangka panjang yang komprehensif. Komitmen ini diumumkan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia yang berkata, Bakrie harus dilihat sebagai pihak terdepan, yaitu perusahaan nasional yang menjadi contoh yang baik bagi kita semua. Pada hari-hari pertama terjadinya semburan lumpur, banyak pihak yang memperdebatkan penyebab dari bencana tersebut. Ilmuwan-ilmuwan dari seluruh dunia berbondong-bondong datang ke Sidoarjo untuk menyelidiki fenomena tersebut. Selama periode yang penuh ketidakpastian tersebut, ada beberapa pertanyaan mengenai apakah situs pengeboran yang terletak 200 meter dari lokasi bencana merupakan salah satu penyebabnya. 9

10 Meskipun penyebab semburan lumpur masih belum dapat diidentifikasi pada saat itu, Lapindo Brantas dan pejabat-pejabat eksekutif Bakrie melalui kerjasama dengan pemerintah terus menyediakan bantuan keuangan darurat dan layanan bagi para korban, dan di saat yang sama juga menggerakkan tenaga kerja dan para ahli guna mencari solusi bagi bencana yang kian meluas. Saat itu, Lapindo Brantas mengambil alih tanggung jawab untuk hal-hal berikut: - Isu-isu sosial di dalam wilayah yang terkena dampak bencana - Pembelian tanah dan bangunan dari masyarakat yang terkena dampak bencana - Penyediaan bantuan dana bagi petani yang lahannya terkena lumpur panas - Pendanaan bagi petani yang sawahnya digunakan untuk menampung lumpur panas - Pendanaan bagi pekerja yang diberhentikan oleh pabrik yang terkena dampak bencana - Pendanaan bagi usaha kecil - Bantuan relokasi bagi pabrik-pabrik agar dapat melanjutkan kegiatan mereka - Pendanaan bagi rumah-rumah yang terkena dampak bencana - Penyediaan sarana dan prasarana umum di tempat penampungan - Layanan dan fasilitas kesehatan bagi penduduk yang direlokasi - Pembayaran asuransi jiwa dan bantuan bagi masyarakat yang terkena dampak bencana - Pengawasan gas berbahaya (H2S dan hidrokarbon) - Penyediaan bantuan keamanan bagi para pekerja yang membangun barikade dan operasional sumur relief. Pejabat-pejabat perusahaan segera mengambil tindakan untuk menemukan solusi keselamatan bagi korban-korban bencana secepat mungkin serta mengurangi dampak sosial yang kian meluas seiring dengan bertambah parahnya bencana lumpur tersebut. Beberapa orang yang menerima bantuan untuk pertama kalinya adalah 42 warga desa Besuki yang secara bersama-sama setuju untuk menerima paket keuangan sebesar Rp untuk biaya sewa rumah selama 2 tahun. Sebagai tambahan, Lapindo juga membayar Rp kepada petani sebagai ganti lahan mereka yang digunakan untuk menampung lumpur panas pekerja pabrik dari 15 perusahaan diberikan gaji bulanan sebagai ganti dari pendapatan mereka yang hilang penduduk juga menerima layanan kesehatan untuk gangguan pernapasan di puskesmas yang didanai oleh Lapindo Brantas. Pada bulan Agustus 2006, seiring dengan meluasnya bencana lumpur, penduduk telah direlokasi dan 9 pabrik juga telah dipindahkan dengan total biaya sebesar Rp Setelah adanya penundaan dalam pendistribusian dana karena perbedaan pendapat di antara penduduk, Lapindo Brantas mengumumkan bantuan paket keuangan sebagai berikut: - Rp 1 juta/meter persegi untuk tanah. - Rp. 1,5 juta/meter persegi untuk bangunan. - Rp /meter persegi untuk sawah. 10

11 Perjanjian ini mencakup 4 desa yaitu Siring, Renokenongo, Kedungbendo dan Jatirejo. Paket keuangan tersebut terdiri dari DP sebesar 20% dari total nilai dan sisa 80%-nya dicicil selama 2 tahun. Rencana tersebut kemudian dikonfirmasi dalam bentuk Keputusan Presiden. Pembelian tanah dan bangunan yang terkena bencana dibagi-bagi ke dalam berbagai tahap dan didasari oleh bukti kepemilikan yang dimiliki oleh pengklaim. Bukti kepemilikan yang diperlukan: - Titel atas kepemilikan tanah. - Akta jual beli tanah. - Bukti sah kepemilikan tanah, termasuk luas tanah dan lokasi yang disetujui oleh Pemerintah. Verifikasi ini adalah tugas yang sangat besar bagi Lapindo Brantas, yang mengerahkan lebih dari 100 personel hanya untuk memverifikasi kepemilikan tanah dan bangunan. Harga yang dibayar untuk properti yang rusak ditentukan oleh perhitungan standar luas properti dalam satuan meter persegi (m2). Karena adanya nilai standar bantuan keuangan, nilai yang diajukan harus mencerminkan denominator umum tertinggi. Tim sosial Lapindo Brantas menghasilkan kemajuan yang cepat dalam membayar 20% dari nilai beli di muka, akan tetapi mengalami hambatan yang signifikan dalam proses verifikasi. Pembayaran 80% sisa nilai beli tersebut harus diselesaikan pada tahun 2008, di tengah-tengah krisis keuangan global, sementara perusahaan induk Lapindo Brantas, yaitu Bakrie Group, terkena dampak krisis keuangan tersebut; Oleh karena itu, dua skema alternatif pun diajukan bagi para penduduk. Pemukiman Kembali Skema pertama adalah penyediaan pemukiman baru di Kahuripan Nirvana Village oleh Lapindo Brantas, ditambah dengan dana untuk menggantikan properti yang hilang (lebih rendah dari nilai rumah yang baru) yang dibayar dalam cicilan sebesar Rp. 15 juta/bulan. Skema kedua adalah penyediaan dana untuk menggantikan properti yang hilang dalam bentuk cicilan sebesar Rp. 15 juta per bulan tanpa bermukim di rumah yang baru. 11

12 Kahuripan Nirvana Village (KNV) Skema keuangan perumahan yang baru disebut sebagai tunai langsung dan tunai dan pemukiman kembali. Perwakilan para korban dan Lapindo Brantas menandatangani perjanjian yang menggariskan skema-skema alternatif tersebut pada tanggal 3 Desember Sebagai tambahan, Lapindo Brantas juga menyediakan pembayaran bantuan sosial bagi keluarga dan individu yang terkena dampaknya. Bantuan ini mencakup: Gaji bulanan sebesar Rp /bulan untuk setiap tenaga kerja yang di PHK akibat bencana lumpur; Bantuan sewa rumah untuk 2 tahun sebesar Rp. 5 juta/keluarga; Bantuan biaya bulanan sebesar Rp /bulan untuk setiap individu selama 9 bulan; Biaya evakuasi sebesar Rp /keluarga; Dana bantuan bagi penduduk desa yang terkena gangguan bau tidak sedap, debu dan bunyi bising sebesar Rp /orang; Bantuan makanan (3 kali sehari) di tempat penampungan sebesar Rp /orang; Bantuan biaya transportasi untuk anak sekolah di wilayah yang terkena dampak bencana. 12

13 Kesulitan Dalam Menyediakan Bantuan Keuangan Pada bulan Maret 2007, Lapindo Brantas dan pejabat-pejabat eksekutif Bakrie membeli sawah dengan total luas meter persegi dari petani-petani setempat. Proses pembayaran tersebut menjadi sulit karena: - Skala bantuan yang dibutuhkan sangat besar, baik dalam hal jumlah properti yang terendam lumpur dan dana yang dibutuhkan, yang sulit didistribusikan akibat krisis keuangan global Sejumlah besar dokumen kepemilikan tanah yang tidak lengkap, tidak benar atau hilang. - Korupsi yang memperumit proses verifikasi klaim tanah dan bangunan sehingga keseluruhan proses menjadi lebih rumit dan memakan waktu. - Kebutuhan dan kepentingan yang berbeda di antara penduduk. Durasi dan cakupan bencana ini juga merupakan salah satu faktor rumitnya proses pembayaran. Contoh yang jelas dari faktor ini adalah bertambahnya desa-desa dan properti baru ke dalam skema pembayaran akibat meluasnya bencana lumpur atau diperlukan lahan baru untuk menampung aliran lumpur. Untuk mencapai suatu kesepakatan, berbagai diskusi dan negosiasi dilakukan pada bulan November 2006 antara pemimpin masyarakat, Lapindo Brantas dan pemerintah, yang menghasilkan kesepakatan musyawarah Tunai Langsung pada tanggal 4 Desember Perjanjian Tunai Langsung ini disebutkan di dalam Peraturan Presiden No. 14 tahun 2007 tertanggal 8 April Poin-poin utama dalam perjanjian ini: Pembayaran tunai untuk kerugian fisik atau kerusakan properti : - Skema ini mencakup DP sebesar 20% jika pihak yang mengklaim dapat menunjukkan bukti kepemilikan - Nilai properti ditentukan oleh satu rumus. Nilainya adalah sebagai berikut: bangunan: Rp /m2, tanah: Rp /m2 dan sawah: Rp /m2. - Sisa 80% dari nilai tanah tersebut akan didistribusikan satu bulan sebelum akhir dari periode 2 tahun setelah bulan Juni 2006 (dimulai pada bulan Mei 2008). - Elemen-elemen lainnya seperti pembayaran sebesar Rp selama periode 2 tahun pertama untuk menggantikan biaya sewa properti (baik rumah sewaan atau bermukim di rumah keluarga jauh), biaya pindahan sebesar Rp /keluarga dan bantuan biaya bulanan sebesar Rp /orang/bulan selama 9 bulan. 13

14 Keputusan Presiden Perjanjian pendanaan sosial antara Pemerintah Indonesia dan Lapindo Brantas Bakrie Group disebut dalam Keputusan Presiden. Keputusan Presiden yang pertama untuk masalah ini, yaitu Keppres No. 13/2006, tidak memberi penjelasan yang spesifik karena dikeluarkan hanya 4 bulan setelah terjadinya semburan lumpur untuk pertama kalinya. Keputusan Presiden yang kedua, yaitu Keppres No. 14/2007 yang diterbitkan pada tanggal 8 April 2007 membentuk basis bagi perjanjian-perjanjian selanjutnya. DP sebesar 20% didasari oleh jumlah total nilai dari properti yang hilang, sementara 80% sisanya didistribusikan satu bulan sebelum akhir dari periode 2 tahun. Pada saat ini, perusahaan harus menyediakan tunjangan tempat tinggal. Hak untuk ikut dalam skema ini ditentukan oleh besarnya properti yang hilang atau rusak dalam wilayah bencana yang terpeta tanggal 4 Desember 2006 dan 22 Maret Peraturan yang digunakan dalam perjanjian ini diajukan dalam surat Lapindo No. 1098/P/AAY/L06 tertanggal 4 Desember Perjanjian lapindo Brantas mencakup wilayah yang terdapat di sebelah dalam garis merah 14

15 Skema Tanah dan Bangunan Skema Tanah dan Bangunan terdiri dari kontrak jual beli. Perjanjian awal menyatakan bahwa pembayaran semua klaim atas tanah dan bangunan yang terkena dampak bencana dibagi menjadi 2 jenis skema: - Pembayaran pertama : DP sebesar 20% - Pembayaran kedua : Saldo pembayaran sebesar 80%. Dalam kasus-kasus tertentu, skema kedua dibayar dalam bentuk cicilan. Pembayaran dalam cicilan ini juga dilakukan untuk skema relokasi ke perumahan Nirvana Village yang baru dibangun, pembayaran kemajuan sebesar 80% dan kombinasi antara bantuan tunai dan pemukiman kembali. Saat ini, ada dokumen permintaan bantuan keuangan yang telah diserahkan dan diterima. Dokumen ini terdiri dari dokumentasi kepemilikan tanah dan dokumen kepemilikan non-tanah. Bakrie Group dengan seksama berupaya mengidentifikasi dan menyetujui pengajuan bantuan oleh penduduk yang tidak memiliki bukti tertulis. Ada pemilik titel tanah yang telah disetujui untuk menerima bantuan langsung DP sebesar 20%, sementara sisanya akan dibayar dalam cicilan. Sebagai tambahan, Bakrie menyediakan bantuan langsung melalui pembayaran tunjangan biaya bulanan dan akomodasi sementara. Dari semua dokumen yang diajukan, 150 dianggap tidak memenuhi syarat untuk skema tanah dan bangunan hingga sengketa-sengketa berikut telah terselesaikan; - 19 sengketa fungsi lahan - 10 sengketa luas tanah - 5 sengketa kepemilikan - 28 sengketa mengenai luas bangunan - 19 dokumen yang tidak lengkap - 2 skema bisnis (non-kependudukan) - 2 diblokir oleh bank - 1 pengajuan ganda - 64 kelalaian menghadiri rapat administrasi dokumen telah diberi DP sebesar 20% dan 80% sisanya sedang dalam proses pembayaran. 15

16 Pembayaran Bantuan Hukum - Bantuan pertanian untuk sawah dengan total sebesar Rp Layanan kesehatan yang disediakan dengan nilai total sebesar Rp Paket keuangan juga mencakup: - Pembayaran tunjangan sewa rumah dan bantuan biaya bulanan sebesar Rp Bantuan bisnis; Peraturan Presiden No. 14/2007 tidak menetapkan besaran bantuan keuangan untuk perusahaan yang terkena bencana, akan tetapi Bakrie setuju untuk memberikan bantuan keuangan untuk sektor industri dan usaha sebagai berikut: Relokasi pabrik Rp Bantuan evakuasi Rp Dukungan keuangan untuk usaha kecil Rp Penyelesaian klaim untuk 21 Perusahaan Rp Tunjangan gaji pekerja Rp Layanan sekolah Rp Bantuan penguburan kembali(/orang) Rp Bantuan-bantuan lainnya mencakup penyediaan dana bantuan untuk makanan dan air minum di pusat evakuasi. 16

17 Total Biaya Hingga Hari Ini (diperbarui pada April 2014) Bantuan Keuangan TOTAL (IDR) Bantuan Sosial 866,653,148,187 Penanggulangan Semburan dan Aliran Lumpur 3,329,393,900,451 Pembelian Tanah dan Bangunan 3,829,424,227,654 Bantuan untuk Usaha 49,633,198,263 Bantuan Operasional 524,866,905,678 TOTAL 8,599,971,380,233 Media Informasi: Lapindo Brantas, Inc. Bakrie Tower Lantai 20, Rasuna Epicentrum Jl. HR. Rasuna Said, Jakarta 12960, Indonesia p , f

Chintya Zein Sakti

Chintya Zein Sakti MAKALAH " Penyelesaian Lumpur Panas Lapindo Sidoarjo" Laporan ini dibuat untuk memenuhi tugas kuliah Etika Profesi Oleh : Chintya Zein Sakti 321110009 FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI PROGRAM STUDI SISTEM

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1046, 2014 KEMENPERA. Bencana Alam. Mitigasi. Perumahan. Pemukiman. Pedoman. PERATURAN MENTERI PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN KELIMA ATAS PERATURAN PRESIDEN NOMOR 14 TAHUN 2007 TENTANG BADAN PENANGGULANGAN LUMPUR SIDOARJO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 15 TAHUN 2011 TANGGAL : 9 SEPTEMBER 2011 PEDOMAN MITIGASI BENCANA GUNUNGAPI

LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 15 TAHUN 2011 TANGGAL : 9 SEPTEMBER 2011 PEDOMAN MITIGASI BENCANA GUNUNGAPI LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 15 TAHUN 2011 TANGGAL : 9 SEPTEMBER 2011 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang PEDOMAN MITIGASI BENCANA GUNUNGAPI Indonesia adalah negara

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 2011 TENTANG

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 2011 TENTANG PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHA N KETIGA ATAS PERATURAN PRESIDEN NOMOR 14 TAHUN 2007 TENTANG BADAN PENANGGULANGAN LUMPUR SIDOARJO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

Jenis Bahaya Geologi

Jenis Bahaya Geologi Jenis Bahaya Geologi Bahaya Geologi atau sering kita sebut bencana alam ada beberapa jenis diantaranya : Gempa Bumi Gempabumi adalah guncangan tiba-tiba yang terjadi akibat proses endogen pada kedalaman

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara yang terletak di ring of fire (Rokhis, 2014). Hal ini berpengaruh terhadap aspek geografis, geologis dan klimatologis. Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Bencana merupakan sebuah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2007 TENTANG BADAN PENANGGULANGAN LUMPUR SIDOARJO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2007 TENTANG BADAN PENANGGULANGAN LUMPUR SIDOARJO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2007 TENTANG BADAN PENANGGULANGAN LUMPUR SIDOARJO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dampak luapan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara kepulauan yang secara geografis, geologis,

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara kepulauan yang secara geografis, geologis, BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia adalah negara kepulauan yang secara geografis, geologis, hidrologis, dan demografis, merupakan wilayah yang tergolong rawan bencana. Badan Nasional Penanggulangan

Lebih terperinci

PENGENALAN. Irman Sonjaya, SE

PENGENALAN. Irman Sonjaya, SE PENGENALAN Irman Sonjaya, SE PENGERTIAN Gempa bumi adalah suatu gangguan dalam bumi jauh di bawah permukaan yang dapat menimbulkan korban jiwa dan harta benda di permukaan. Gempa bumi datangnya sekonyong-konyong

Lebih terperinci

LUPSI PERUBAHAN ANTAR WAKTU, BEDAH BUKU DR. BASUKI HADIMULJONO 112

LUPSI PERUBAHAN ANTAR WAKTU, BEDAH BUKU DR. BASUKI HADIMULJONO 112 LUPSI PERUBAHAN ANTAR WAKTU, BEDAH BUKU DR. BASUKI HADIMULJONO 112 BAGIAN 8 Gejolak Sosial Kemasyarakatan Umum Gambar 59. Isu Kritis Gejolak Sosial Kemasyarakatan sebagai titik awal adalah Peta Area Terdampak

Lebih terperinci

2015 KONDISI MASYARAKAT KORBAN BENCANA GERAKAN TANAH SEBELUM DAN SETELAH RELOKASI PEMUKIMAN DI KECAMATAN MALAUSMA KABUPATEN MAJALENGKA

2015 KONDISI MASYARAKAT KORBAN BENCANA GERAKAN TANAH SEBELUM DAN SETELAH RELOKASI PEMUKIMAN DI KECAMATAN MALAUSMA KABUPATEN MAJALENGKA 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia adalah negara yang rawan bencana dilihat dari aspek geografis, klimatologis dan demografis. Letak geografis Indonesia di antara dua benua dan dua samudera

Lebih terperinci

INSTRUKSI GUBERNUR JAWA TENGAH

INSTRUKSI GUBERNUR JAWA TENGAH INSTRUKSI GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR : 360 / 009205 TENTANG PENANGANAN DARURAT BENCANA DI PROVINSI JAWA TENGAH Diperbanyak Oleh : BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH JALAN IMAM BONJOL

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tiga gerakan yaitu gerakan sistem sunda di bagian barat, gerakan sistem pinggiran

BAB I PENDAHULUAN. tiga gerakan yaitu gerakan sistem sunda di bagian barat, gerakan sistem pinggiran 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Wilayah Indonesia berada pada daerah pertemuan dua lempeng tektonik dunia yaitu lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia serta dipengaruhi oleh tiga gerakan

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA - 1 - PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2007 TENTANG BADAN PENANGGULANGAN LUMPUR SIDOARJO

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA - 1 - PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2007 TENTANG BADAN PENANGGULANGAN LUMPUR SIDOARJO - 1 - PERATURAN PRESIDEN NOMOR 14 TAHUN 2007 TENTANG BADAN PENANGGULANGAN LUMPUR SIDOARJO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : a. bahwa dampak luapan lumpur di Sidoarjo sudah demikian

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2007 TENTANG BADAN PENANGGULANGAN LUMPUR SIDOARJO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA,

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2007 TENTANG BADAN PENANGGULANGAN LUMPUR SIDOARJO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2007 TENTANG BADAN PENANGGULANGAN LUMPUR SIDOARJO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, Menimbang : a. bahwa dampak luapan lumpur di Sidoarjo sudah demikian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sampai Maluku (Wimpy S. Tjetjep, 1996: iv). Berdasarkan letak. astronomis, Indonesia terletak di antara 6 LU - 11 LS dan 95 BT -

BAB I PENDAHULUAN. sampai Maluku (Wimpy S. Tjetjep, 1996: iv). Berdasarkan letak. astronomis, Indonesia terletak di antara 6 LU - 11 LS dan 95 BT - 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia dikenal sebagai suatu negara kepulauan yang mempunyai banyak sekali gunungapi yang berderet sepanjang 7000 kilometer, mulai dari Sumatera, Jawa,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan 3 (tiga) lempeng tektonik besar yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia dan Pasifik. Pada daerah pertemuan

Lebih terperinci

KERAGAMAN BENTUK MUKA BUMI: Proses Pembentukan, dan Dampaknya Terhadap Kehidupan

KERAGAMAN BENTUK MUKA BUMI: Proses Pembentukan, dan Dampaknya Terhadap Kehidupan KERAGAMAN BENTUK MUKA BUMI: Proses Pembentukan, dan Dampaknya Terhadap Kehidupan 1. Proses Alam Endogen Hamparan dataran yang luas, deretan pegunungan yang menjulang tinggi, lembah-lembah dimana sungai

Lebih terperinci

Oleh: Dr. Darsiharjo, M.S.

Oleh: Dr. Darsiharjo, M.S. Oleh: Dr. Darsiharjo, M.S. SEMINAR NASIONAL PENGEMBANGAN MODEL PENDIDIKAN DAN PENYADARAN MASYARAKAT TERHADAP BAHAYA BENCANA GEMPA DAN TSUNAMI TANGGAL 20 APRIL 2005 G e o g r a f i KAJIAN GEOGRAFI Fenomena

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Judul "Permukiman Tumbuh di atas Lahan Bencana Lumpur Lapindo Dengan Prinsip Metabolisme"

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Judul Permukiman Tumbuh di atas Lahan Bencana Lumpur Lapindo Dengan Prinsip Metabolisme BAB I PENDAHULUAN I.1 Judul "Permukiman Tumbuh di atas Lahan Bencana Lumpur Lapindo Dengan Prinsip Metabolisme" I.2 Esensi Judul I.2.1 Permukiman Pengertian dasar permukiman dalam UU No.1 tahun 2011 adalah

Lebih terperinci

LUPSI PERUBAHAN ANTAR WAKTU, BEDAH BUKU DR. BASUKI HADIMULJONO 127

LUPSI PERUBAHAN ANTAR WAKTU, BEDAH BUKU DR. BASUKI HADIMULJONO 127 LUPSI PERUBAHAN ANTAR WAKTU, BEDAH BUKU DR. BASUKI HADIMULJONO 127 BAGIAN 9 Dampak Sosial Ekonomi Umum Gambar 67. Isu kritis Dampak Sosial Ekonomi (Paparam Prasetyo 2008) Luapan Lusi di dalam PAT. Semburan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Pengertian Dan Proses Terjadi Tsunami

BAB I PENDAHULUAN Pengertian Dan Proses Terjadi Tsunami BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.1.1. Pengertian Dan Proses Terjadi Tsunami Tsunami adalah sederetan gelombang laut yang menjalar dengan panjang gelombang sampai 100 km dengan ketinggian beberapa

Lebih terperinci

Anggaran dari negara juga diperbolehkan untuk mengontrak rumah bagi korban, bantuan. Negara Ganti Rugi Korban Lumpur Lapindo RP 1.

Anggaran dari negara juga diperbolehkan untuk mengontrak rumah bagi korban, bantuan. Negara Ganti Rugi Korban Lumpur Lapindo RP 1. Mataharinews.com, Jakarta - Pemerintah mengucurkan dana sekitar Rp 1,3 triliun pada anggaran perubahan 2012 untuk menangani dampak sosial kemasyarakatan penanganan korban lumpur Lapindo. Dana itu akan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang 9 PENDAHULUAN Latar Belakang Pada akhir Desember 2004, terjadi bencana gempa bumi dan gelombang Tsunami yang melanda Provinsi Nanggroe Aceh Darusssalam (NAD) dan Sumatera Utara. Bencana ini mengakibatkan:

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK GEMPABUMI DI SUMATERA DAN JAWA PERIODE TAHUN

KARAKTERISTIK GEMPABUMI DI SUMATERA DAN JAWA PERIODE TAHUN KARAKTERISTIK GEMPABUMI DI SUMATERA DAN JAWA PERIODE TAHUN 1950-2013 Samodra, S.B. & Chandra, V. R. Diterima tanggal : 15 November 2013 Abstrak Pulau Sumatera dan Pulau Jawa merupakan tempat yang sering

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. eksplorasi gas di Porong Sidoarjo oleh PT. Lapindo Brantas Inc., mulai dari

BAB V PENUTUP. eksplorasi gas di Porong Sidoarjo oleh PT. Lapindo Brantas Inc., mulai dari BAB V PENUTUP A. KESIMPULAN Bahasan-bahasan dalam Tesis ini memberikan gambaran mengenai eksplorasi gas di Porong Sidoarjo oleh PT. Lapindo Brantas Inc., mulai dari kronologis, penyebab, dampak kerusakan

Lebih terperinci

PENANGANAN PENGUNGSI PADA SAAT TANGGAP DARURAT BENCANA DAN TRANSISI DARURAT KE PEMULIHAN. Oleh : Direktur Tanggap Darurat

PENANGANAN PENGUNGSI PADA SAAT TANGGAP DARURAT BENCANA DAN TRANSISI DARURAT KE PEMULIHAN. Oleh : Direktur Tanggap Darurat PENANGANAN PENGUNGSI PADA SAAT TANGGAP DARURAT BENCANA DAN TRANSISI DARURAT KE PEMULIHAN Oleh : Direktur Tanggap Darurat DEPUTI BIDANG PENANGANAN DARURAT BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA Jakarta,

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 53 TAHUN 2010 PERATURAN BUPATI BANDUNG NOMOR 53 TAHUN 2010 TENTANG

BERITA DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 53 TAHUN 2010 PERATURAN BUPATI BANDUNG NOMOR 53 TAHUN 2010 TENTANG BERITA DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 53 TAHUN 2010 PERATURAN BUPATI BANDUNG NOMOR 53 TAHUN 2010 TENTANG RINCIAN TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN BANDUNG DENGAN

Lebih terperinci

TEORI TEKTONIK LEMPENG

TEORI TEKTONIK LEMPENG Pengenalan Gempabumi BUMI BENTUK DAN UKURAN Bumi berbentuk bulat seperti bola, namun rata di kutub-kutubnya. jari-jari Khatulistiwa = 6.378 km, jari-jari kutub=6.356 km. Lebih dari 70 % permukaan bumi

Lebih terperinci

( studi tentang penanganan Ganti Rugi Warga Desa Renokenongo )

( studi tentang penanganan Ganti Rugi Warga Desa Renokenongo ) DAMPAK SOSIAL BENCANA LUMPUR LAPINDO DAN PENANGANANNYA DI DESA RENOKENONGO ( studi tentang penanganan Ganti Rugi Warga Desa Renokenongo ) SKRIPSI Oleh : CISILIA ANDRIANI 0641010010 PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Hidrokarbon merupakan salah satu sumber daya alam yang dapat meningkatkan kemajuan Bangsa Indonesia khususnya pada eksplorasi minyak dan gas bumi. Kegiatan ekplorasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Bendungan adalah sebuah struktur konstruksi yang dibangun untuk menahan laju air sungai sehingga terbentuk tampungan air yang disebut waduk. Bendungan pada umumnya

Lebih terperinci

POTENSI KERUSAKAN GEMPA BUMI AKIBAT PERGERAKAN PATAHAN SUMATERA DI SUMATERA BARAT DAN SEKITARNYA. Oleh : Hendro Murtianto*)

POTENSI KERUSAKAN GEMPA BUMI AKIBAT PERGERAKAN PATAHAN SUMATERA DI SUMATERA BARAT DAN SEKITARNYA. Oleh : Hendro Murtianto*) POTENSI KERUSAKAN GEMPA BUMI AKIBAT PERGERAKAN PATAHAN SUMATERA DI SUMATERA BARAT DAN SEKITARNYA Oleh : Hendro Murtianto*) Abstrak Aktivitas zona patahan Sumatera bagian tengah patut mendapatkan perhatian,

Lebih terperinci

PERATURAN BUPATI BANDUNG BARAT NOMOR 23 TAHUN 2011 TENTANG TUGAS POKOK, FUNGSI, DAN RINCIAN TUGAS BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN

PERATURAN BUPATI BANDUNG BARAT NOMOR 23 TAHUN 2011 TENTANG TUGAS POKOK, FUNGSI, DAN RINCIAN TUGAS BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN 1 PERATURAN BUPATI BANDUNG BARAT NOMOR 23 TAHUN 2011 TENTANG TUGAS POKOK, FUNGSI, DAN RINCIAN TUGAS BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANDUNG BARAT,

Lebih terperinci

GUBERNUR ACEH PERATURAN GUBERNUR ACEH NOMOR 43 TAHUN 2010 TENTANG SISTEM PERINGATAN DINI DAN PENANGANAN DARURAT BENCANA TSUNAMI ACEH

GUBERNUR ACEH PERATURAN GUBERNUR ACEH NOMOR 43 TAHUN 2010 TENTANG SISTEM PERINGATAN DINI DAN PENANGANAN DARURAT BENCANA TSUNAMI ACEH GUBERNUR ACEH PERATURAN GUBERNUR ACEH NOMOR 43 TAHUN 2010 TENTANG SISTEM PERINGATAN DINI DAN PENANGANAN DARURAT BENCANA TSUNAMI ACEH DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA GUBERNUR ACEH, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. bencana disebabkan oleh faktor alam, non alam, dan manusia. Undang- bencana alam, bencana nonalam, dan bencana sosial.

BAB 1 PENDAHULUAN. bencana disebabkan oleh faktor alam, non alam, dan manusia. Undang- bencana alam, bencana nonalam, dan bencana sosial. BAB 1 PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan menggaunggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor non-alam maupun

Lebih terperinci

BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR

BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 26 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 55 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANA TORAJA NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANA TORAJA NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANA TORAJA NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG PEMBENTUKAN ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN TANA TORAJA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR

LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR RELOKASI PEMUKIMAN PASCA BENCANA GEMPA BUMI DAN GELOMBANG TSUNAMI DI KELURAHAN KOTA ATAS SABANG Penekanan Desain Arsitektur Tradisional dan Bioklimatik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menyebabkan Indonesia menjadi negara yang rawan bencana. maupun buatan manusia bahkan terorisme pernah dialami Indonesia.

BAB I PENDAHULUAN. menyebabkan Indonesia menjadi negara yang rawan bencana. maupun buatan manusia bahkan terorisme pernah dialami Indonesia. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Kondisi geografis Indonesia yang berada di atas sabuk vulkanis yang memanjang dari Sumatra hingga Maluku disertai pengaruh global warming menyebabkan Indonesia

Lebih terperinci

RINGKASAN EKSEKUTIF. Kerusakan dan Kerugian

RINGKASAN EKSEKUTIF. Kerusakan dan Kerugian i RINGKASAN EKSEKUTIF Pada tanggal 27 Mei, gempa bumi mengguncang bagian tengah wilayah Indonesia, dekat kota sejarah, Yogyakarta. Berpusat di Samudera Hindia pada jarak sekitar 33 kilometer di selatan

Lebih terperinci

AKTIVITAS GUNUNGAPI SEMERU PADA NOVEMBER 2007

AKTIVITAS GUNUNGAPI SEMERU PADA NOVEMBER 2007 AKTIVITAS GUNUNGAPI SEMERU PADA NOVEMBER 27 UMAR ROSADI Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Sari Pada bulan Oktober akhir hingga November 27 terjadi perubahan aktivitas vulkanik G. Semeru. Jumlah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dinamika bentuk dan struktur bumi dijabarkan dalam berbagai teori oleh para ilmuwan, salah satu teori yang berkembang yaitu teori tektonik lempeng. Teori ini

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sumberdaya air bersifat dinamis dalam kualitas dan kuantitas, serta dalam

BAB I PENDAHULUAN. Sumberdaya air bersifat dinamis dalam kualitas dan kuantitas, serta dalam 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air merupakan sumber kehidupan yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia. Selain sebagai air minum, air juga dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan keperluan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1

BAB I PENDAHULUAN. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bencana alam adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan masyarakat yang disebabkan oleh gejala alam sehingga mengakibatkan timbulnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menimbulkan kerusakan. Gempa bumi adalah getaran atau guncangan bumi yang

BAB I PENDAHULUAN. menimbulkan kerusakan. Gempa bumi adalah getaran atau guncangan bumi yang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia disebut sebagai Negara kaya bencana gempa bumi, tsunami, dan letusan gunung berapi (Prasetya dkk., 2006). Di antara semua bencana alam, gempa bumi biasanya

Lebih terperinci

INDONESIA NEGERI BENCANA

INDONESIA NEGERI BENCANA BAGIAN I INDONESIA NEGERI BENCANA Peta Jumlah Korban Bencana dan Kejadian Bencana di Indonesia (1815-2015) (sumber: http://dibi.bnpb.go.id/) Indonesia Negeri Bencana 1 Bab I Hidup di Negeri Bencana Bangsa

Lebih terperinci

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RI

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RI TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RI No.5280,2012 PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG PENGADAAN TANAH BAGI PEMBANGUNAN UNTUK KEPENTINGAN UMUM I. UMUM Dalam rangka mewujudkan

Lebih terperinci

MEMAHAMI PERINGATAN DINI TSUNAMI

MEMAHAMI PERINGATAN DINI TSUNAMI MEMAHAMI PERINGATAN DINI TSUNAMI TSUNAMI ADALAH... Ÿ Serangkaian gelombang laut yang sangat besar, akibat dari gempa bumi yang sangat kuat bersumber di laut. Ÿ Gempa bumi membuat perubahan mendadak pada

Lebih terperinci

PERATURAN BUPATI LANDAK NOMOR 16 TAHUN 2012 TENTANG

PERATURAN BUPATI LANDAK NOMOR 16 TAHUN 2012 TENTANG PERATURAN BUPATI LANDAK NOMOR 16 TAHUN 2012 TENTANG TUGAS POKOK, FUNGSI, STRUKTUR ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN LANDAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 121 TAHUN 2015 TENTANG PENGUSAHAAN SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 121 TAHUN 2015 TENTANG PENGUSAHAAN SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 121 TAHUN 2015 TENTANG PENGUSAHAAN SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

Pengetahuan Dasar Mengenai Kegiatan Relawan Bencana

Pengetahuan Dasar Mengenai Kegiatan Relawan Bencana Pengetahuan Dasar Mengenai Kegiatan Relawan Bencana Gempa yang melanda Prefektur Kumamoto pada tanggal 14 April lalu telah mengakibatkan kerusakan parah. Di situasi seperti inilah, para relawan mengerahkan

Lebih terperinci

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 76 TAHUN 2000 TENTANG PENGUSAHAAN SUMBER DAYA PANAS BUMI UNTUK PEMBANGKITAN TENAGA LISTRIK

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 76 TAHUN 2000 TENTANG PENGUSAHAAN SUMBER DAYA PANAS BUMI UNTUK PEMBANGKITAN TENAGA LISTRIK KEPUTUSAN PRESIDEN NOMOR 76 TAHUN 2000 TENTANG PENGUSAHAAN SUMBER DAYA PANAS BUMI UNTUK PEMBANGKITAN TENAGA LISTRIK PRESIDEN, Menimbang : a. bahwa sesuai dengan kebijaksanaan diversifikasi dan konservasi

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. sebagai padanan istilah bahasa Inggris Acute Respiratory Infection (ARI). Infeksi

BAB 1 PENDAHULUAN. sebagai padanan istilah bahasa Inggris Acute Respiratory Infection (ARI). Infeksi BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam Buku Ajar Respirologi Anak edisi pertama dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) 2010, telah menggunakan IRA sebagai istilah dalam pembahasannya tentang penyakit

Lebih terperinci

file://\\ \web\prokum\uu\2003\uu panas bumi.htm

file://\\ \web\prokum\uu\2003\uu panas bumi.htm Page 1 of 16 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2003 TENTANG PANAS BUMI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa panas bumi adalah sumber daya alam

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 121 TAHUN 2015 TENTANG PENGUSAHAAN SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 121 TAHUN 2015 TENTANG PENGUSAHAAN SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 121 TAHUN 2015 TENTANG PENGUSAHAAN SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Menurut Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Nomor 4 Tahun 2008, Indonesia adalah negara yang memiliki potensi bencana sangat tinggi dan bervariasi

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA BANJAR NOMOR 4 TAHUN 2005 TENTANG PERTAMBANGAN UMUM DI KOTA BANJAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KOTA BANJAR NOMOR 4 TAHUN 2005 TENTANG PERTAMBANGAN UMUM DI KOTA BANJAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KOTA BANJAR NOMOR 4 TAHUN 2005 TENTANG PERTAMBANGAN UMUM DI KOTA BANJAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BANJAR, Menimbang : a. bahwa dengan ditetapkannya Undang-Undang Nomor

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL ( Berita Resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul ) Nomor : 72 Tahun : 2015

BERITA DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL ( Berita Resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul ) Nomor : 72 Tahun : 2015 BERITA DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL ( Berita Resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul ) Nomor : 72 Tahun : 2015 PERATURAN BUPATI GUNUNGKIDUL NOMOR 71 TAHUN 2015 TENTANG PEDOMAN PENENTUAN STATUS KEADAAN DARURAT

Lebih terperinci

LAPORAN TERHADAP DAMPAK SOSIAL DI MASA LALU, MASA SAAT INI DAN MASA DEPAN DARI LUMPUR SIDOARJO

LAPORAN TERHADAP DAMPAK SOSIAL DI MASA LALU, MASA SAAT INI DAN MASA DEPAN DARI LUMPUR SIDOARJO LAPORAN TERHADAP DAMPAK SOSIAL DI MASA LALU, MASA SAAT INI DAN MASA DEPAN DARI LUMPUR SIDOARJO (Humanitus Sidoarjo Fund) J R Richards A A Carnegie MARET 2011 Translation by Winny Soendaro (Certified Legal

Lebih terperinci

BAPPEDA Kabupaten Probolinggo 1.1 LATAR BELAKANG

BAPPEDA Kabupaten Probolinggo 1.1 LATAR BELAKANG 1.1 LATAR BELAKANG merupakan wilayah dengan karateristik geologi dan geografis yang cukup beragam mulai dari kawasan pantai hingga pegunungan/dataran tinggi. Adanya perbedaan karateristik ini menyebabkan

Lebih terperinci

Ringkasan Eksekutif: Mengatasi tantangan saat ini dan ke depan

Ringkasan Eksekutif: Mengatasi tantangan saat ini dan ke depan Ringkasan Eksekutif: Mengatasi tantangan saat ini dan ke depan Prospek pertumbuhan global masih tetap lemah dan pasar keuangan tetap bergejolak Akan tetapi, kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga

Lebih terperinci

BAB I BENTUK MUKA BUMI

BAB I BENTUK MUKA BUMI BAB I BENTUK MUKA BUMI Tujuan Pembelajaran: Peserta didik mampu mendeskripsikan proses alam endogen yang menyebabkan terjadinya bentuk muka bumi. 2. Peserta didik mempu mendeskripsikan gejala diastropisme

Lebih terperinci

Apa itu Tsunami? Tsu = pelabuhan Nami = gelombang (bahasa Jepang)

Apa itu Tsunami? Tsu = pelabuhan Nami = gelombang (bahasa Jepang) Bahaya Tsunami Apa itu Tsunami? Tsu = pelabuhan Nami = gelombang (bahasa Jepang) Tsunami adalah serangkaian gelombang yang umumnya diakibatkan oleh perubahan vertikal dasar laut karena gempa di bawah atau

Lebih terperinci

5.2 Pengendalian Penggunaan Lahan dan Pengelolaan Lingkungan Langkah-langkah Pengendalian Penggunaan Lahan untuk Perlindungan Lingkungan

5.2 Pengendalian Penggunaan Lahan dan Pengelolaan Lingkungan Langkah-langkah Pengendalian Penggunaan Lahan untuk Perlindungan Lingkungan Bab 5 5.2 Pengendalian Penggunaan Lahan dan Pengelolaan Lingkungan 5.2.1 Langkah-langkah Pengendalian Penggunaan Lahan untuk Perlindungan Lingkungan Perhatian harus diberikan kepada kendala pengembangan,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2003 TENTANG PANAS BUMI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2003 TENTANG PANAS BUMI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2003 TENTANG PANAS BUMI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa panas bumi adalah sumber daya alam yang dapat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Secara geografis Indonesia terletak di daerah khatulistiwa dengan morfologi yang beragam, dari daratan sampai pegunungan serta lautan. Keragaman ini dipengaruhi

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BLITR TAHUN 2013 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BLITAR NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG BANTUAN BENCANA

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BLITR TAHUN 2013 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BLITAR NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG BANTUAN BENCANA 9 Oktober 2013 LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BLITR TAHUN 2013 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BLITAR NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG BANTUAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BLITAR, Nomor 7 Seri A Menimbang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengakibatkan terjadinya kerusakan dan kehancuran lingkungan yang pada akhirnya

BAB I PENDAHULUAN. mengakibatkan terjadinya kerusakan dan kehancuran lingkungan yang pada akhirnya BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan wilayah yang rawan terhadap berbagai jenis bencana, termasuk bencana alam. Bencana alam merupakan fenomena alam yang dapat mengakibatkan terjadinya

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Copyright (C) 2000 BPHN UU 27/2003, PANAS BUMI *14336 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA (UU) NOMOR 27 TAHUN 2003 (27/2003) TENTANG PANAS BUMI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan oleh faktor alam, maupun faktor

Lebih terperinci

BUPATI SIAK PROVINSI RIAU PERATURAN BUPATI SIAK NOM OR TAHUN 2015 TENTANG BANTUAN SOSIAL BAGI KORBAN BENCANA

BUPATI SIAK PROVINSI RIAU PERATURAN BUPATI SIAK NOM OR TAHUN 2015 TENTANG BANTUAN SOSIAL BAGI KORBAN BENCANA BUPATI SIAK PROVINSI RIAU PERATURAN BUPATI SIAK NOM OR TAHUN 2015 TENTANG BANTUAN SOSIAL BAGI KORBAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SIAK, Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

BAB VII PENATAAN RUANG KAWASAN RAWAN LETUSAN GUNUNG BERAPI DAN KAWASAN RAWAN GEMPA BUMI [14]

BAB VII PENATAAN RUANG KAWASAN RAWAN LETUSAN GUNUNG BERAPI DAN KAWASAN RAWAN GEMPA BUMI [14] Kuliah ke 9 PERENCANAAN KOTA BERBASIS MITIGASI BENCANA TPL 410-2 SKS DR. Ir. Ken Martina K, MT. BAB VII PENATAAN RUANG KAWASAN RAWAN LETUSAN GUNUNG BERAPI DAN KAWASAN RAWAN GEMPA BUMI [14] Cakupan Penataan

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DUKUNGAN ANGGARAN DALAM RANGKA PENANGGULANGAN RISIKO BENCANA

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DUKUNGAN ANGGARAN DALAM RANGKA PENANGGULANGAN RISIKO BENCANA KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DUKUNGAN ANGGARAN DALAM RANGKA PENANGGULANGAN RISIKO BENCANA Indonesia Rentan terhadap Bencana Alam q Dikelilingi oleh +ga lempeng bumi yaitu Lempeng Eurasia, Lempeng

Lebih terperinci

PELATIHAN TEKNIK PENYELAMATAN DIRI DARI DAMPAK BENCANA ALAM GEMPABUMI BAGI KOMUNITAS SLB B KARNNA MANOHARA YOGYAKARTA

PELATIHAN TEKNIK PENYELAMATAN DIRI DARI DAMPAK BENCANA ALAM GEMPABUMI BAGI KOMUNITAS SLB B KARNNA MANOHARA YOGYAKARTA PELATIHAN TEKNIK PENYELAMATAN DIRI DARI DAMPAK BENCANA ALAM GEMPABUMI BAGI KOMUNITAS SLB B KARNNA MANOHARA YOGYAKARTA Oleh Rahayu Dwisiwi SR, M.Pd. dkk. PENDAHULUAN A. Analisis Situasi Beberapa tahun terakhir

Lebih terperinci

DAFTAR ISI 1. PENDAHULUAN.5 2. MENGENAL LEBIH DEKAT MENGENAI BENCANA.8 5W 1H BENCANA.10 MENGENAL POTENSI BENCANA INDONESIA.39 KLASIFIKASI BENCANA.

DAFTAR ISI 1. PENDAHULUAN.5 2. MENGENAL LEBIH DEKAT MENGENAI BENCANA.8 5W 1H BENCANA.10 MENGENAL POTENSI BENCANA INDONESIA.39 KLASIFIKASI BENCANA. DAFTAR ISI 1. PENDAHULUAN...5 2. MENGENAL LEBIH DEKAT MENGENAI BENCANA...8 5W 1H BENCANA...10 MENGENAL POTENSI BENCANA INDONESIA...11 SEJARAH BENCANA INDONESIA...14 LAYAKNYA AVATAR (BENCANA POTENSIAL INDONESIA)...18

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2003 TENTANG PANAS BUMI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2003 TENTANG PANAS BUMI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2003 TENTANG PANAS BUMI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa panas bumi adalah sumber daya alam yang dapat

Lebih terperinci

Rumah Tahan Gempabumi Tradisional Kenali

Rumah Tahan Gempabumi Tradisional Kenali Rumah Tahan Gempabumi Tradisional Kenali Kearifan lokal masyarakat Lampung Barat terhadap bencana khususnya gempabumi yang sering melanda wilayah ini sudah banyak ditinggalkan. Kearifan lokal tersebut

Lebih terperinci

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN BANJAR dan BUPATI BANJAR

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN BANJAR dan BUPATI BANJAR PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANJAR NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN, ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN BANJAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANJAR,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Dengan semakin bertambahnya populasi penduduk dunia, menyebabkan kebutuhan akan

I. PENDAHULUAN. Dengan semakin bertambahnya populasi penduduk dunia, menyebabkan kebutuhan akan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dengan semakin bertambahnya populasi penduduk dunia, menyebabkan kebutuhan akan sumber daya alam, terutama minyak bumi semakin meningkat. Hal ini berdampak langsung terhadap

Lebih terperinci

Bencana Baru di Kali Porong

Bencana Baru di Kali Porong Bencana Baru di Kali Porong Pembuangan air dan Lumpur ke Kali Porong menebarkan bencana baru, air dengan salinitas 38/mil - 40/mil akan mengancam kualitas perikanan di Pesisir Porong. Lapindo Brantas Inc

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR : 9 TAHUN 2009 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH PROVINSI JAWA BARAT

PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR : 9 TAHUN 2009 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NO. 9 2009 SERI. E PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR : 9 TAHUN 2009 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH PROVINSI JAWA BARAT

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2005 TENTANG ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2005 TENTANG ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2005 TENTANG ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa untuk memberikan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. RTRW Kabupaten Bondowoso

KATA PENGANTAR. RTRW Kabupaten Bondowoso KATA PENGANTAR Sebagai upaya mewujudkan perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang yang efektif, efisien dan sistematis guna menunjang pembangunan daerah dan mendorong perkembangan wilayah

Lebih terperinci

RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN NGAWI

RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN NGAWI Rencana Pola ruang adalah rencana distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budi daya. Bentukan kawasan yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembangkit tenaga listrik. Secara kuantitas, jumlah air yang ada di bumi relatif

BAB I PENDAHULUAN. pembangkit tenaga listrik. Secara kuantitas, jumlah air yang ada di bumi relatif 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Air merupakan sumberdaya yang sangat vital untuk kehidupan makhluk hidup khususnya manusia menggunakan air untuk berbagai macam kebutuhan diantaranya kebutuhan

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1969 TENTANG TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1967 TENTANG KETENTUAN- KETENTUAN POKOK PERTAMBANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16/PERMEN/M/2006 TENTANG

PERATURAN MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16/PERMEN/M/2006 TENTANG PERATURAN MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16/PERMEN/M/2006 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PENYELENGGARAAN PENGEMBANGAN PERUMAHAN KAWASAN INDUSTRI MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT,

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) ditunjuk BPMIGAS untuk. melakukan proses pengeboran minyak dan gas bumi.

BAB II KAJIAN TEORI. Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) ditunjuk BPMIGAS untuk. melakukan proses pengeboran minyak dan gas bumi. 25 BAB II KAJIAN TEORI A. Kajian Pustaka 1. Pengertian Lapindo Lapindo Brantas Inc. adalah salah satu perusahaan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) ditunjuk BPMIGAS untuk melakukan proses pengeboran

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA BALIKPAPAN NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BALIKPAPAN,

PERATURAN DAERAH KOTA BALIKPAPAN NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BALIKPAPAN, PERATURAN DAERAH KOTA BALIKPAPAN NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BALIKPAPAN, Menimbang : a. bahwa Pemerintah Kota Balikpapan berkewajiban

Lebih terperinci

2.2 Lokasi Kerja Jalan Gayung Kebonsari No.50 Surabaya Telp Fax

2.2 Lokasi Kerja Jalan Gayung Kebonsari No.50 Surabaya Telp Fax BAB II GAMBARAN UMUM ORGANISASI 2.1 Profil Organisasi Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) dibentuk oleh Peraturan Presiden No. 14 tahun 2007. Sedangkan personil pimpinan BPLS (Badan Penanggulangan

Lebih terperinci

BUPATI PURBALINGGA PERATURAN BUPATI PURBALINGGA NOMOR 26 TAHUN 2011 TENTANG PENJABARAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH

BUPATI PURBALINGGA PERATURAN BUPATI PURBALINGGA NOMOR 26 TAHUN 2011 TENTANG PENJABARAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH BUPATI PURBALINGGA PERATURAN BUPATI PURBALINGGA NOMOR 26 TAHUN 2011 TENTANG PENJABARAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PURBALINGGA Menimbang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan wilayah seyogyanya dilakukan dengan mengacu pada potensi sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang ada di suatu lokasi tertentu. Di samping itu, pembangunan

Lebih terperinci

Buletin Bulanan Kemanusiaan Indonesia

Buletin Bulanan Kemanusiaan Indonesia Buletin Bulanan Kemanusiaan Indonesia Edisi 08 01 31 Agustus 2012 Ikhtisar kejadian bencana P.1 Kesiapsiagaan & respon bencana P.3 Jumlah orang yang terkena dampak bencana alam yang terjadi pada bulan

Lebih terperinci

Catatan Untuk Pengetahuan MDF - JRF Pelajaran dari Rekonstruksi Pasca Bencana di Indonesia

Catatan Untuk Pengetahuan MDF - JRF Pelajaran dari Rekonstruksi Pasca Bencana di Indonesia Catatan Pengetahuan 1 Catatan Untuk Pengetahuan MDF - JRF Pelajaran dari Rekonstruksi Pasca Bencana di Indonesia Mengadopsi Pendekatan Berbasis Masyarakat untuk Pemulihan Pasca Bencana: Pelajaran dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tinggi. Secara historis, Indonesia merupakan Negara dengan tingkat

BAB I PENDAHULUAN. tinggi. Secara historis, Indonesia merupakan Negara dengan tingkat 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Indonesia adalah Negara dengan kekayaan alam yang melimpah. Kekayaan dari flora dan faunanya, serta kekayaan dari hasil tambangnya. Hamparan bumi Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bencana alam. Gambar 1.1 menggambarkan kondisi geologi Indonesia.

BAB I PENDAHULUAN. bencana alam. Gambar 1.1 menggambarkan kondisi geologi Indonesia. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bencana dapat terjadi di belahan bumi manapun, termasuk di Indonesia sendiri yang notabennya kondisi geologi Indonesia yang merupakan pertemuan tiga lempeng dunia

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Terdapat beberapa penelitian dan kajian mengenai banjir pasang. Beberapa

TINJAUAN PUSTAKA. Terdapat beberapa penelitian dan kajian mengenai banjir pasang. Beberapa II. TINJAUAN PUSTAKA Terdapat beberapa penelitian dan kajian mengenai banjir pasang. Beberapa penelitian dan kajian berkaitan dengan banjir pasang antara lain dilakukan oleh Arbriyakto dan Kardyanto (2002),

Lebih terperinci