Bakrie Laporan Dampak Sosial Gunung Berapi Lumpur Lapindo

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Bakrie Laporan Dampak Sosial Gunung Berapi Lumpur Lapindo"

Transkripsi

1 Bakrie Laporan Dampak Sosial Gunung Berapi Lumpur Lapindo

2 Kata Pengantar Laporan ini menggariskan komitmen keuangan keluarga Bakrie dalam memberikan bantuan kepada penduduk Sidoarjo yang terkena dampak aliran lumpur tahun 2006, termasuk untuk kegiatan tanggp darurat dan penanggulangan yang dirancang khusus untuk mengurangi dampak bencana ini. Komitmen keuangan ini, yang bukan merupakan kewajiban, telah direvisi berulang kali dan diresmikan melalui Keputusan Presiden yang mencakup wilayah seluas 700 hektar dan lebih dari penduduk. PT Lapindo Brantas adalah perusahaan eksplorasi gas dan minyak yang merupakan joint venture antara PT. Energi Mega Persada Tbk. (50%), PT Medco Energi Tbk. (32%) dan Santos Australia (18%), di mana keluarga Bakrie melalui investasinya memegang kendali atas PT. Energi Mega Persada Tbk. Pada tanggal 29 Mei 2006, serangkaian semburan lumpur terjadi, yang terdekat berjarak 200 meter dari situs eksplorasi yang dioperasikan oleh perusahaan tersebut. Pasca penyidikan, para peneliti menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara kegiatan pengeboran dan semburan lumpur dan bahwa kegiatan pengeboran telah dilakukan sesuai dengan peraturan pemerintah dan prosedur operasional yang telah disepakati oleh rekan perusahaan. Para ahli geologi PT Lapindo Brantas meyakini bahwa semburan lumpur tersebut memiliki kaitan dengan kegiatan seismik akibat gempa yang terjadi dua hari sebelumnya, yang juga berkaitan dengan aktifnya kembali Gunung Semeru yang terletak 300 km dari episentrum gempa bumi di Yogyakarta. Selama 5 tahun terakhir, komunitas ilmiah global telah memperdebatkan sejumlah hipotesa mengenai penyebab semburan lumpur tersebut, tetapi tidak pernah mencapai kesimpulan bulat. Terlepas dari ketidakpastian dan pandangan yang bertentangan mengenai penyebab semburan lumpur, keluarga Bakrie tetap mempertahankan komitmennya untuk menyediakan bantuan keuangan bagi para korban bencana sesuai dengan kesepakatan resmi dalam Keputusan Presiden. Pendahuluan Bencana alam, terutama yang terjadi di wilayah yang padat penduduk, hampir selalu membawa potensi bencana sosial pada berbagai tingkatan selain dari kerusakan fisik yang tidak dapat dihindari. Indonesia adalah negara yang sangat rentan terhadap bencana alam sejak terbentuknya daratan kepulauan ribuan tahun yang lalu. Karena posisi geologisnya yang terletak di dalam Cincin Api, kepulauan Indonesia telah mengalami serangkaian gempa bumi yang tiada henti, letusan gunung berapi dan tsunami yang merusak, yang menyebabkan korban jiwa maupun materi. Kejadian-kejadian tersebut juga meninggalkan jejak kerusakan sosial seiring dengan evakuasi dan relokasi penduduk yang terkena dampaknya, kerusakan sumber daya ekonomi dan mata pencaharian masyarakat. 2

3 Laporan ini memberikan hasil pengamatan kejadian yang sangat unik di sepanjang sejarah bencana alam Indonesia, yaitu semburan lumpur vulkanik di wilayah yang padat penduduk. Tidak seperti kebanyakan bencana alam lainnya, kejadian ini memiliki dampak sosial yang lebih besar yang melebihi dampak jatuhnya korban jiwa. Meskipun dampak fisik dari kejadian ini telah didokumentasikan dengan baik, dampak sosialnyalah yang menyebabkan kekacauan pada komunitas miskin yang tadinya hidup berdampingan dengan damai. Pada tanggal 29 Mei 2006, di ladang dekat kota Sidoarjo, Jawa Timur, aliran lumpur panas, air dan gas tiba-tiba meletus dari dalam tanah ke udara sehingga terlihat seperti geyser di Taman Nasional Yellowstone, AS. Aliran lumpur tersebut berlanjut selama beberapa bulan seraya menyemburkan lumpur dan tanah liat serta gas metana, terkadang mencapai meter kubik per hari. Gunung berapi lumpur juga dikenal sebagai gunung berapi sedimen dan merupakan anggota keluarga gunung berapi magma yang menyemburkan api dan lava cair dari puncaknya ketika sedang meletus. Akan tetapi, gunung berapi lumpur adalah fenomena geologis yang disebabkan oleh lapisan lumpur dengan tekanan berlebih yang terletak di bawah permukaan tanah. Jenis gunung berapi ini juga seringkali dikaitkan dengan garis patahan atau lipatan tajam serta subduksi tektonis, yaitu pergerakan lempeng tektonik. Gunung berapi lumpur cenderung menyebabkan penumpukan lumpur padat dan cadangan tanah liat dalam bentuk kerucut. Sumber sumber gunung berapi lumpur yang umum ditemukan di wilayah-wilayah yang kaya hidrokarbon berasal dari lapisan bawah permukaan yang berada di dasar lapisan lumpur atau serpihan batu yang dipadatkan. Sumber tersebut hampir selalu ada di wilayah yang rentan gempa bumi dan di sepanjang garis patahan. Semburan gunung berapi lumpur yang disebut LUSI (singkatan dari Lumpur dan Sidoarjo, yaitu nama kota di mana semburan tersebut terjadi ) dikaitkan oleh berbagai ilmuwan lokal dan internasional dengan gempa bumi berkekuatan 6,3 skala Richter yang terjadi di Yogyakarta, Jawa Tengah, yaitu 250 kilometer dari lokasi semburan lumpur, dua hari sebelumnya. Gempa tersebut menyebabkan jatuhnya korban jiwa dan menghancurkan ribuan rumah, bangunan dan prasarana lainnya. Menurut tim peneliti dari Universitas di Jerman, getarannya merupakan yang terkuat yang pernah terjadi di Pulau Jawa, pulau yang berada persis di dalam Lingkaran Api. Letusan LUSI telah memaksa puluhan ribu penduduk di wilayah tersebut untuk meninggalkan rumah mereka yang telah direndam lumpur. Bencana tersebut juga menghancurkan sebagian besar prasarana lokal, termasuk jalur utama ke Surabaya, ibukota Jawa Timur. Beberapa orang bahkan kehilangan nyawa mereka akibat pecahan dan ledakan pipa gas yang terkena LUSI. Akan tetapi, dampak yang terbesar dari letusan jangka panjang tersebut adalah bencana sosial yang kian meluas, yang nyata-nyata tidak mampu lagi dibendung oleh pihak berwenang di daerah. 3

4 Kurangnya tanggapan darurat oleh pemerintah daerah menghasilkan skenario unik dalam sejarah bencana alam; Lapindo Brantas yang mengoperasikan sumur eksplorasi gas bumi beberapa ratus meter dari letusan LUSI didorong untuk menjalankan peran tanggap darurat dan kemudian menjadi kontributor utama dalam pembangunan sosial di wilayah tersebut. Bakrie Group yang mengendalikan aspek hulu unit Migas Energi Mega Persada membentuk PT Lapindo Brantas pada tahun 1996 dengan membeli saham Huffington Corporations yang dimiliki oleh Amerika serta perusahaan pengapalan Blok Brantas di Jawa Timur, Indonesia. Kepemilikan PT Lapindo Brantas kemudian dibagi antara Santos (18%) dan Medco (32%). Blok Brantas seluas km2 diberikan oleh Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (dulunya disebut Pertamina) pada tahun Setelah dua kali penyerahan wajib, wilayah KK milik Lapindo Brantas menjadi seluas km2. Kontrak Pembagian Produksi Brantas telah mengebor (8) sumur eksplorasi dari tahun 1993 hingga 2001, yang berujung kepada ditemukannya ladang gas Wunut 30 km di selatan Surabaya. Ladang Wunut mulai diusahakan pada bulan Januari Saat ini, ada berbagai ladang prospek yang menjanjikan yang telah ditemukan, termasuk Banjarpanji - 1, sumur yang sedang dieksplorasi pada saat terjadinya Lumpur Sidoarjo. Sidoarjo dan Wilayah Gunung Berapi Sidoarjo adalah kabupaten, yaitu badan administratif pemerintah daerah yang berada di bawah tingkat propinsi Jawa Timur, Indonesia. Kota Sidoarjo berbatasan dengan kabupaten Surabaya dan Gresik di sebelah utara, kabupaten Pasuruan di sebelah selatan, kabupaten Mojokerto di sebelah barat dan Selat Madura di sebelah timur. Luas wilayahnya adalah 634,89 km2, yang menjadikannya kabupaten terkecil di Jawa Timur. Pada tahun 2008, Sidoarjo memiliki populasi sebesar jiwa, dan merupakan wilayah yang paling padat penduduk di pulau terpadat di dunia pulau Jawa. Jumlah penduduk rata-rata per kilometer perseginya adalah jiwa. Kabupaten ini juga memiliki PDB terendah di Indonesia, yaitu sebesar Rp. 44,159 milyar di tahun Sebagian besar PDB tersebut (47,5%) berasal dari sektor industri, sementar 27,14% berasal dari sektor Perdagangan, 10,02% dari sektor Transportasi dan 5,23% dari sektor Jasa. Sidoarjo juga memiliki tingkat pendidikan yang cukup rendah, di mana 60-70% dari seluruh penduduknya maksimal hanya lulusan SLTP. Hanya 25% penduduknya yang tamat SMU dan hanya beberapa persen saja yang merupakan lulusan perguruan tinggi. Menurut survey statistik terakhir oleh pemerintah kabupaten, dari semua industri yang beroperasi di kabupaten Sidoarjo 361 industri merupakan industri berskala besar (dengan jumlah karyawan 100 orang atau lebih), adalah industri berskala menengah (dengan jumlah karyawan antara 20 hingga 99 orang), industri berskala kecil (dengan jumlah karyawan antara 15 hingga 19 orang) dan sejumlah besar industri rumah tangga yang mempekerjakan 1 hingga 4 orang. Meskipun ada beberapa industri teknologi tinggi di Sidoarjo seperti industri elektronik, sebagian besar bidang industri di wilayah tersebut adalah pemrosesan makanan, misalnya pabrik tempe, pabrik kulit dan sepatu, kerupuk udang dan kerajinan tangan. 4

5 Meskipun pertanian masih merupakan sumber ekonomi utama di kabupaten Sidoarjo, sektor industri telah meningkat selama tahun-tahun terakhir, sementara sektor pertanian terus menurun. Jarak yang dekat dengan Surabaya telah mendorong sejumlah besar penduduk Sidoarjo untuk bekerja ke Surabaya dan mengundang investasi dari Surabaya untuk industri-industri di Sidoarjo. Seiring dengan meningkatnya harga tanah, sektor pertanian menjadi kurang menarik, terutama karena sebagian besar petani di Sidoarjo adalah pemilik tanah. Wilayah yang terkena dampak lumpur LUSI hanyalah sebagian kecil dari kabupaten Sidoarjo dan meskipun bencana ini tidak mempengaruhi keseluruhan ekonomi kabupaten, mereka yang tinggal di wilayah bencana mengalami dampak yang buruk dan membutuhkan program sosial besar-besaran guna memulihkan stabilitas ekonomi keluarga mereka dan menopang komunitas yang kini terdiri dari sejumlah besar pengungsi dan penduduk yang direlokasi. 5

6 Bencana dan Tanggapannya Pada tanggal 27 Mei, dua hari sebelum meletusnya lumpur LUSI, teknisi pengeboran yang bekerja di sumur eksplorasi gas Banjarpanji-1 melaporkan adanya getaran bawah tanah yang sangat besar di waktu yang sama dengan gempa bumi yang melanda Yogyakarta, 250 km dari tempat mereka. Setelah itu, teknisi-teknisi tersebut juga melaporkan kehilangan tekanan secara tiba-tiba dalam jumlah besar di dalam sumur, yang menunjukkan terjadinya bencana berskala besar di bawah tanah di wilayah tersebut. Teknisi-teknisi Lapindo kemudian mengambil tindakan operasional standar dan menghentikan pengeboran untuk mencegah kerusakan pada sumur. Meskipun belum diketahui pada saat itu, kejadian-kejadian inilah yang merupakan gejala dari meletusnya gunung berapi lumpur LUSI dua hari kemudian, 300 meter dari sumur eksplorasi. Sejak saat itu, para ilmuwan telah mengaitkan pergeseran lempeng tektonik di bawah tanah yang memicu perubahan formasi geologis secara tiba-tiba di wilayah tersebut. Menurut para ilmuwan, salah satu dampak dari perubahan geologis tersebut adalah pecahnya dua saluran yang telah ada sejak lama di kedalaman tanah, sehingga lumpur vulkanis menyusup ke permukaan dan mulai memuntahkan materi-materi dari dalam tanah ke permukaan wilayah tersebut. Teknisi pengeboran dari sumur Banjarpanji-1 tidak mampu mengidentifikasi alasan di balik bencana tersebut ketika melihat geyser lumpur panas yang tiba-tiba menyembur dari dalam tanah di ladang dekat situs pengeboran. Mereka pun segera menghubungi pejabat pemerintah daerah dan pejabat Lapindo Brantas di Surabaya serta markas perusahaan mereka di Jakarta. Meskipun tidak ada opini yang konklusif atas kejadian yang disaksikan oleh para pejabat, volume materi lumpur yang keluar dari dalam tanah terus bertambah dan dalam waktu singkat telah menutupi sebagian besar dari wilayah sekitarnya, termasuk desa-desa sekitar. Pada saat inilah penduduk setempat mulai panik dan para pemimpin kecamatan meminta bantuan dari Lapindo Brantas dan pejabat-pejabat eksekutif Bakrie dengan berkonsultasi pada badan otoritas migas Pemerintah, BPMIGAS, mulai menyelidiki sumber letusan lumpur dan mencari cara untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. Akibat bahaya yang meningkat terhadap desa-desa sekitar dan terhambatnya akses ke fasilitas umum, Lapindo Brantas dan para pejabat Eksekutif Bakrie setuju untuk meluncurkan bantuan darurat. Penting untuk dicatat bahwa pada saat ini, pemerintah pusat sedang berupaya keras menangani dampak bencana gempa bumi Yogyakarta yang memakan korban jiwa dan menyebabkan ratusan ribu penduduknya kehilangan rumah dan keluarga mereka. Bantuan keuangan untuk letusan LUSI yang sangat besar saat itu belum bisa diberikan oleh pemerintah pusat. Lapindo Brantas kemudian memobilisasikan sumber daya dalam jumlah besar untuk membangun tempat-tempat penampungan dan menyediakan layanan logistik guna mengevakuasi desa-desa dan tempat usaha yang terkena bahaya langsung lumpur Sidoarjo. Sepanjang beberapa hari berikutnya Lapindo Brantas dan pejabat eksekutif Bakrie menyalurkan masker, air bersih bagi penduduk, makanan dan fasilitas masak-memasak serta sekolah sementara bagi siswa dari dua sekolah dasar yang dievakuasi ke tempat yang aman. 6

7 Dalam waktu 2 hari sejak meletusnya lumpur Sidoarjo, 735 penduduk desa Renokenongo telah dievakuasi ke balai desa dan rumah-rumah keluarga jauh mereka. Pada saat tersebut, Lapindo Brantas dan pejabat ekskutif Bakrie menyediakan bantuan keuangan darurat sejumlah Rp untuk setiap keluarga di desa Siring dan Renokenongo. Bantuan lebih lanjut diberikan dalam bentuk paket bantuan sewa serta asuransi rumah dan asuransi jiwa. Dalam waktu 2 minggu, satuan kerja darurat resmi (SATLAK) pun dibentuk, yang terdiri dari ahli-ahli teknis Lapindo Brantas, pejabat-pejabat pemerintah daerah, polisi dan TNI. SATLAK bertanggung jawab membantu evakuasi lanjutan penduduk-penduduk desa sekitar ke tempat penampungan yang baru dibangun (Pasar Baru Borong) serta mengamankan prasarana-prasarana publik. Sebagai tambahan, kebutuhan kebutuhan dasar juga turut disediakan seperti makanan, obat-obatan dan sanitasi. Tim komunikasi publik dibentuk untuk menyalurkan informasi secara real-time kepada penduduk yang direlokasi dan desa-desa setempat yang cemas akan bencana lumpur yang semakin meluas. Selama beberapa minggu berikutnya, individu direlokasi ke fasilitas darurat Di Pasar Baru Porong, di mana sebagian besar penduduk ditempatkan di toko-toko dan kios yang baru dibangun untuk para penyewa toko di pasar baru tersebut. Penduduk-penduduk yang sedang direlokasi 7

8 Tempat Penampungan Darurat - Pasar Baru Porong Layanan Kesehatan 8

9 Pengawasan gas berbahaya (H2S dan hidrokarbon) Penanggulangan Jangka Panjang Lebih dari penduduk dievakuasi sebagai akibat dari semburan yang berkepanjangan dan kerusakan yang meluas terhadap properti dan prasarana milik masyarakat. Oleh karena itu, dengan berkonsultasi kepada pihak pemerintah, Lapindo Brantas dan pejabat eksekutif Bakrie setuju untuk memperluas komitmen mereka melalui peluncuran paket bantuan keuangan jangka panjang yang komprehensif. Komitmen ini diumumkan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia yang berkata, Bakrie harus dilihat sebagai pihak terdepan, yaitu perusahaan nasional yang menjadi contoh yang baik bagi kita semua. Pada hari-hari pertama terjadinya semburan lumpur, banyak pihak yang memperdebatkan penyebab dari bencana tersebut. Ilmuwan-ilmuwan dari seluruh dunia berbondong-bondong datang ke Sidoarjo untuk menyelidiki fenomena tersebut. Selama periode yang penuh ketidakpastian tersebut, ada beberapa pertanyaan mengenai apakah situs pengeboran yang terletak 200 meter dari lokasi bencana merupakan salah satu penyebabnya. 9

10 Meskipun penyebab semburan lumpur masih belum dapat diidentifikasi pada saat itu, Lapindo Brantas dan pejabat-pejabat eksekutif Bakrie melalui kerjasama dengan pemerintah terus menyediakan bantuan keuangan darurat dan layanan bagi para korban, dan di saat yang sama juga menggerakkan tenaga kerja dan para ahli guna mencari solusi bagi bencana yang kian meluas. Saat itu, Lapindo Brantas mengambil alih tanggung jawab untuk hal-hal berikut: - Isu-isu sosial di dalam wilayah yang terkena dampak bencana - Pembelian tanah dan bangunan dari masyarakat yang terkena dampak bencana - Penyediaan bantuan dana bagi petani yang lahannya terkena lumpur panas - Pendanaan bagi petani yang sawahnya digunakan untuk menampung lumpur panas - Pendanaan bagi pekerja yang diberhentikan oleh pabrik yang terkena dampak bencana - Pendanaan bagi usaha kecil - Bantuan relokasi bagi pabrik-pabrik agar dapat melanjutkan kegiatan mereka - Pendanaan bagi rumah-rumah yang terkena dampak bencana - Penyediaan sarana dan prasarana umum di tempat penampungan - Layanan dan fasilitas kesehatan bagi penduduk yang direlokasi - Pembayaran asuransi jiwa dan bantuan bagi masyarakat yang terkena dampak bencana - Pengawasan gas berbahaya (H2S dan hidrokarbon) - Penyediaan bantuan keamanan bagi para pekerja yang membangun barikade dan operasional sumur relief. Pejabat-pejabat perusahaan segera mengambil tindakan untuk menemukan solusi keselamatan bagi korban-korban bencana secepat mungkin serta mengurangi dampak sosial yang kian meluas seiring dengan bertambah parahnya bencana lumpur tersebut. Beberapa orang yang menerima bantuan untuk pertama kalinya adalah 42 warga desa Besuki yang secara bersama-sama setuju untuk menerima paket keuangan sebesar Rp untuk biaya sewa rumah selama 2 tahun. Sebagai tambahan, Lapindo juga membayar Rp kepada petani sebagai ganti lahan mereka yang digunakan untuk menampung lumpur panas pekerja pabrik dari 15 perusahaan diberikan gaji bulanan sebagai ganti dari pendapatan mereka yang hilang penduduk juga menerima layanan kesehatan untuk gangguan pernapasan di puskesmas yang didanai oleh Lapindo Brantas. Pada bulan Agustus 2006, seiring dengan meluasnya bencana lumpur, penduduk telah direlokasi dan 9 pabrik juga telah dipindahkan dengan total biaya sebesar Rp Setelah adanya penundaan dalam pendistribusian dana karena perbedaan pendapat di antara penduduk, Lapindo Brantas mengumumkan bantuan paket keuangan sebagai berikut: - Rp 1 juta/meter persegi untuk tanah. - Rp. 1,5 juta/meter persegi untuk bangunan. - Rp /meter persegi untuk sawah. 10

11 Perjanjian ini mencakup 4 desa yaitu Siring, Renokenongo, Kedungbendo dan Jatirejo. Paket keuangan tersebut terdiri dari DP sebesar 20% dari total nilai dan sisa 80%-nya dicicil selama 2 tahun. Rencana tersebut kemudian dikonfirmasi dalam bentuk Keputusan Presiden. Pembelian tanah dan bangunan yang terkena bencana dibagi-bagi ke dalam berbagai tahap dan didasari oleh bukti kepemilikan yang dimiliki oleh pengklaim. Bukti kepemilikan yang diperlukan: - Titel atas kepemilikan tanah. - Akta jual beli tanah. - Bukti sah kepemilikan tanah, termasuk luas tanah dan lokasi yang disetujui oleh Pemerintah. Verifikasi ini adalah tugas yang sangat besar bagi Lapindo Brantas, yang mengerahkan lebih dari 100 personel hanya untuk memverifikasi kepemilikan tanah dan bangunan. Harga yang dibayar untuk properti yang rusak ditentukan oleh perhitungan standar luas properti dalam satuan meter persegi (m2). Karena adanya nilai standar bantuan keuangan, nilai yang diajukan harus mencerminkan denominator umum tertinggi. Tim sosial Lapindo Brantas menghasilkan kemajuan yang cepat dalam membayar 20% dari nilai beli di muka, akan tetapi mengalami hambatan yang signifikan dalam proses verifikasi. Pembayaran 80% sisa nilai beli tersebut harus diselesaikan pada tahun 2008, di tengah-tengah krisis keuangan global, sementara perusahaan induk Lapindo Brantas, yaitu Bakrie Group, terkena dampak krisis keuangan tersebut; Oleh karena itu, dua skema alternatif pun diajukan bagi para penduduk. Pemukiman Kembali Skema pertama adalah penyediaan pemukiman baru di Kahuripan Nirvana Village oleh Lapindo Brantas, ditambah dengan dana untuk menggantikan properti yang hilang (lebih rendah dari nilai rumah yang baru) yang dibayar dalam cicilan sebesar Rp. 15 juta/bulan. Skema kedua adalah penyediaan dana untuk menggantikan properti yang hilang dalam bentuk cicilan sebesar Rp. 15 juta per bulan tanpa bermukim di rumah yang baru. 11

12 Kahuripan Nirvana Village (KNV) Skema keuangan perumahan yang baru disebut sebagai tunai langsung dan tunai dan pemukiman kembali. Perwakilan para korban dan Lapindo Brantas menandatangani perjanjian yang menggariskan skema-skema alternatif tersebut pada tanggal 3 Desember Sebagai tambahan, Lapindo Brantas juga menyediakan pembayaran bantuan sosial bagi keluarga dan individu yang terkena dampaknya. Bantuan ini mencakup: Gaji bulanan sebesar Rp /bulan untuk setiap tenaga kerja yang di PHK akibat bencana lumpur; Bantuan sewa rumah untuk 2 tahun sebesar Rp. 5 juta/keluarga; Bantuan biaya bulanan sebesar Rp /bulan untuk setiap individu selama 9 bulan; Biaya evakuasi sebesar Rp /keluarga; Dana bantuan bagi penduduk desa yang terkena gangguan bau tidak sedap, debu dan bunyi bising sebesar Rp /orang; Bantuan makanan (3 kali sehari) di tempat penampungan sebesar Rp /orang; Bantuan biaya transportasi untuk anak sekolah di wilayah yang terkena dampak bencana. 12

13 Kesulitan Dalam Menyediakan Bantuan Keuangan Pada bulan Maret 2007, Lapindo Brantas dan pejabat-pejabat eksekutif Bakrie membeli sawah dengan total luas meter persegi dari petani-petani setempat. Proses pembayaran tersebut menjadi sulit karena: - Skala bantuan yang dibutuhkan sangat besar, baik dalam hal jumlah properti yang terendam lumpur dan dana yang dibutuhkan, yang sulit didistribusikan akibat krisis keuangan global Sejumlah besar dokumen kepemilikan tanah yang tidak lengkap, tidak benar atau hilang. - Korupsi yang memperumit proses verifikasi klaim tanah dan bangunan sehingga keseluruhan proses menjadi lebih rumit dan memakan waktu. - Kebutuhan dan kepentingan yang berbeda di antara penduduk. Durasi dan cakupan bencana ini juga merupakan salah satu faktor rumitnya proses pembayaran. Contoh yang jelas dari faktor ini adalah bertambahnya desa-desa dan properti baru ke dalam skema pembayaran akibat meluasnya bencana lumpur atau diperlukan lahan baru untuk menampung aliran lumpur. Untuk mencapai suatu kesepakatan, berbagai diskusi dan negosiasi dilakukan pada bulan November 2006 antara pemimpin masyarakat, Lapindo Brantas dan pemerintah, yang menghasilkan kesepakatan musyawarah Tunai Langsung pada tanggal 4 Desember Perjanjian Tunai Langsung ini disebutkan di dalam Peraturan Presiden No. 14 tahun 2007 tertanggal 8 April Poin-poin utama dalam perjanjian ini: Pembayaran tunai untuk kerugian fisik atau kerusakan properti : - Skema ini mencakup DP sebesar 20% jika pihak yang mengklaim dapat menunjukkan bukti kepemilikan - Nilai properti ditentukan oleh satu rumus. Nilainya adalah sebagai berikut: bangunan: Rp /m2, tanah: Rp /m2 dan sawah: Rp /m2. - Sisa 80% dari nilai tanah tersebut akan didistribusikan satu bulan sebelum akhir dari periode 2 tahun setelah bulan Juni 2006 (dimulai pada bulan Mei 2008). - Elemen-elemen lainnya seperti pembayaran sebesar Rp selama periode 2 tahun pertama untuk menggantikan biaya sewa properti (baik rumah sewaan atau bermukim di rumah keluarga jauh), biaya pindahan sebesar Rp /keluarga dan bantuan biaya bulanan sebesar Rp /orang/bulan selama 9 bulan. 13

14 Keputusan Presiden Perjanjian pendanaan sosial antara Pemerintah Indonesia dan Lapindo Brantas Bakrie Group disebut dalam Keputusan Presiden. Keputusan Presiden yang pertama untuk masalah ini, yaitu Keppres No. 13/2006, tidak memberi penjelasan yang spesifik karena dikeluarkan hanya 4 bulan setelah terjadinya semburan lumpur untuk pertama kalinya. Keputusan Presiden yang kedua, yaitu Keppres No. 14/2007 yang diterbitkan pada tanggal 8 April 2007 membentuk basis bagi perjanjian-perjanjian selanjutnya. DP sebesar 20% didasari oleh jumlah total nilai dari properti yang hilang, sementara 80% sisanya didistribusikan satu bulan sebelum akhir dari periode 2 tahun. Pada saat ini, perusahaan harus menyediakan tunjangan tempat tinggal. Hak untuk ikut dalam skema ini ditentukan oleh besarnya properti yang hilang atau rusak dalam wilayah bencana yang terpeta tanggal 4 Desember 2006 dan 22 Maret Peraturan yang digunakan dalam perjanjian ini diajukan dalam surat Lapindo No. 1098/P/AAY/L06 tertanggal 4 Desember Perjanjian lapindo Brantas mencakup wilayah yang terdapat di sebelah dalam garis merah 14

15 Skema Tanah dan Bangunan Skema Tanah dan Bangunan terdiri dari kontrak jual beli. Perjanjian awal menyatakan bahwa pembayaran semua klaim atas tanah dan bangunan yang terkena dampak bencana dibagi menjadi 2 jenis skema: - Pembayaran pertama : DP sebesar 20% - Pembayaran kedua : Saldo pembayaran sebesar 80%. Dalam kasus-kasus tertentu, skema kedua dibayar dalam bentuk cicilan. Pembayaran dalam cicilan ini juga dilakukan untuk skema relokasi ke perumahan Nirvana Village yang baru dibangun, pembayaran kemajuan sebesar 80% dan kombinasi antara bantuan tunai dan pemukiman kembali. Saat ini, ada dokumen permintaan bantuan keuangan yang telah diserahkan dan diterima. Dokumen ini terdiri dari dokumentasi kepemilikan tanah dan dokumen kepemilikan non-tanah. Bakrie Group dengan seksama berupaya mengidentifikasi dan menyetujui pengajuan bantuan oleh penduduk yang tidak memiliki bukti tertulis. Ada pemilik titel tanah yang telah disetujui untuk menerima bantuan langsung DP sebesar 20%, sementara sisanya akan dibayar dalam cicilan. Sebagai tambahan, Bakrie menyediakan bantuan langsung melalui pembayaran tunjangan biaya bulanan dan akomodasi sementara. Dari semua dokumen yang diajukan, 150 dianggap tidak memenuhi syarat untuk skema tanah dan bangunan hingga sengketa-sengketa berikut telah terselesaikan; - 19 sengketa fungsi lahan - 10 sengketa luas tanah - 5 sengketa kepemilikan - 28 sengketa mengenai luas bangunan - 19 dokumen yang tidak lengkap - 2 skema bisnis (non-kependudukan) - 2 diblokir oleh bank - 1 pengajuan ganda - 64 kelalaian menghadiri rapat administrasi dokumen telah diberi DP sebesar 20% dan 80% sisanya sedang dalam proses pembayaran. 15

16 Pembayaran Bantuan Hukum - Bantuan pertanian untuk sawah dengan total sebesar Rp Layanan kesehatan yang disediakan dengan nilai total sebesar Rp Paket keuangan juga mencakup: - Pembayaran tunjangan sewa rumah dan bantuan biaya bulanan sebesar Rp Bantuan bisnis; Peraturan Presiden No. 14/2007 tidak menetapkan besaran bantuan keuangan untuk perusahaan yang terkena bencana, akan tetapi Bakrie setuju untuk memberikan bantuan keuangan untuk sektor industri dan usaha sebagai berikut: Relokasi pabrik Rp Bantuan evakuasi Rp Dukungan keuangan untuk usaha kecil Rp Penyelesaian klaim untuk 21 Perusahaan Rp Tunjangan gaji pekerja Rp Layanan sekolah Rp Bantuan penguburan kembali(/orang) Rp Bantuan-bantuan lainnya mencakup penyediaan dana bantuan untuk makanan dan air minum di pusat evakuasi. 16

17 Total Biaya Hingga Hari Ini (diperbarui pada April 2014) Bantuan Keuangan TOTAL (IDR) Bantuan Sosial 866,653,148,187 Penanggulangan Semburan dan Aliran Lumpur 3,329,393,900,451 Pembelian Tanah dan Bangunan 3,829,424,227,654 Bantuan untuk Usaha 49,633,198,263 Bantuan Operasional 524,866,905,678 TOTAL 8,599,971,380,233 Media Informasi: Lapindo Brantas, Inc. Bakrie Tower Lantai 20, Rasuna Epicentrum Jl. HR. Rasuna Said, Jakarta 12960, Indonesia p , f

Jenis Bahaya Geologi

Jenis Bahaya Geologi Jenis Bahaya Geologi Bahaya Geologi atau sering kita sebut bencana alam ada beberapa jenis diantaranya : Gempa Bumi Gempabumi adalah guncangan tiba-tiba yang terjadi akibat proses endogen pada kedalaman

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA - 1 - PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2007 TENTANG BADAN PENANGGULANGAN LUMPUR SIDOARJO

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA - 1 - PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2007 TENTANG BADAN PENANGGULANGAN LUMPUR SIDOARJO - 1 - PERATURAN PRESIDEN NOMOR 14 TAHUN 2007 TENTANG BADAN PENANGGULANGAN LUMPUR SIDOARJO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : a. bahwa dampak luapan lumpur di Sidoarjo sudah demikian

Lebih terperinci

Anggaran dari negara juga diperbolehkan untuk mengontrak rumah bagi korban, bantuan. Negara Ganti Rugi Korban Lumpur Lapindo RP 1.

Anggaran dari negara juga diperbolehkan untuk mengontrak rumah bagi korban, bantuan. Negara Ganti Rugi Korban Lumpur Lapindo RP 1. Mataharinews.com, Jakarta - Pemerintah mengucurkan dana sekitar Rp 1,3 triliun pada anggaran perubahan 2012 untuk menangani dampak sosial kemasyarakatan penanganan korban lumpur Lapindo. Dana itu akan

Lebih terperinci

RINGKASAN EKSEKUTIF. Kerusakan dan Kerugian

RINGKASAN EKSEKUTIF. Kerusakan dan Kerugian i RINGKASAN EKSEKUTIF Pada tanggal 27 Mei, gempa bumi mengguncang bagian tengah wilayah Indonesia, dekat kota sejarah, Yogyakarta. Berpusat di Samudera Hindia pada jarak sekitar 33 kilometer di selatan

Lebih terperinci

LAPORAN TERHADAP DAMPAK SOSIAL DI MASA LALU, MASA SAAT INI DAN MASA DEPAN DARI LUMPUR SIDOARJO

LAPORAN TERHADAP DAMPAK SOSIAL DI MASA LALU, MASA SAAT INI DAN MASA DEPAN DARI LUMPUR SIDOARJO LAPORAN TERHADAP DAMPAK SOSIAL DI MASA LALU, MASA SAAT INI DAN MASA DEPAN DARI LUMPUR SIDOARJO (Humanitus Sidoarjo Fund) J R Richards A A Carnegie MARET 2011 Translation by Winny Soendaro (Certified Legal

Lebih terperinci

Apa itu Tsunami? Tsu = pelabuhan Nami = gelombang (bahasa Jepang)

Apa itu Tsunami? Tsu = pelabuhan Nami = gelombang (bahasa Jepang) Bahaya Tsunami Apa itu Tsunami? Tsu = pelabuhan Nami = gelombang (bahasa Jepang) Tsunami adalah serangkaian gelombang yang umumnya diakibatkan oleh perubahan vertikal dasar laut karena gempa di bawah atau

Lebih terperinci

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN BERBASIS MITIGASI BENCANA

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN BERBASIS MITIGASI BENCANA TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN PERTEMUAN 13 PERENCANAAN TATA RUANG BERBASIS MITIGASI BENCANA GEOLOGI 1. Pendahuluan Perencanaan tataguna lahan berbasis mitigasi bencana geologi dimaksudkan untuk mengantisipasi

Lebih terperinci

Tahan diguncang gempa

Tahan diguncang gempa Tahan diguncang gempa Gempa bumi merupakan bencana alam yang paling menakutkan bagi manusia. Ini karena kita selalu mengandalkan tanah tempat kita berpijak di bumi ini sebagai landasan yang paling stabil

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK The New Climate Economy Report RINGKASAN EKSEKUTIF Komisi Global untuk Ekonomi dan Iklim didirikan untuk menguji kemungkinan tercapainya pertumbuhan ekonomi yang

Lebih terperinci

DAFTAR INFORMASI PUBLIK SESUAI KEPUTUSAN BUPATI. TANAH DATAR NOMOR 065/377/Dishubkominfo-2014

DAFTAR INFORMASI PUBLIK SESUAI KEPUTUSAN BUPATI. TANAH DATAR NOMOR 065/377/Dishubkominfo-2014 DAFTAR INFORMASI PUBLIK SESUAI KEPUTUSAN BUPATI TANAH DATAR NOMOR 065/377/Dishubkominfo-2014 I. Informasi yang wajib disediakan dan diumumkan secara berkala 1. Informasi tentang Profil SKPD a. Nama SKPD

Lebih terperinci

PROFIL KABUPATEN / KOTA

PROFIL KABUPATEN / KOTA PROFIL KABUPATEN / KOTA KOTA AMBON MALUKU KOTA AMBON ADMINISTRASI Profil Wilayah Kota Ambon merupakan ibukota propinsi kepulauan Maluku. Dengan sejarah sebagai wilayah perdagangan rempah terkenal, membentuk

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PENANGANAN BENCANA

PENJELASAN ATAS RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PENANGANAN BENCANA PENJELASAN ATAS RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PENANGANAN BENCANA I. Umum Indonesia, merupakan negara kepulauan terbesar didunia, yang terletak di antara dua benua, yakni benua Asia dan benua Australia,

Lebih terperinci

selama 12 jam. Pendapatan mereka rataratanya 1.5 juta rupiah sebulan. Saat ini, mata Nelayan 1.000.000 kerja masyarakat adalah nelayan selama 4 jam.

selama 12 jam. Pendapatan mereka rataratanya 1.5 juta rupiah sebulan. Saat ini, mata Nelayan 1.000.000 kerja masyarakat adalah nelayan selama 4 jam. Datar Luas Gambaran Umum Desa Datar Luas terletak di Kecamatan Krueng Sabee dengan luas 1600 Ha terdiri dari tiga dusun yaitu Dusun Makmur Jaya, Dusun Damai dan Dusun Subur. Desa yang dipimpin oleh Andalan

Lebih terperinci

PENGABAIAN DARI MULA. Laporan Pemetaan Pelanggaran Hak Asasi Perempuan dalam BENCANA Luapan Lumpur di Kec. Porong, Kab. Sidoarjo Jawa Timur:

PENGABAIAN DARI MULA. Laporan Pemetaan Pelanggaran Hak Asasi Perempuan dalam BENCANA Luapan Lumpur di Kec. Porong, Kab. Sidoarjo Jawa Timur: PENGABAIAN DARI MULA Laporan Pemetaan Pelanggaran Hak Asasi Perempuan dalam BENCANA Luapan Lumpur di Kec. Porong, Kab. Sidoarjo Jawa Timur: Cover dalem depan PENGABAIAN DARI MULA Laporan Pemetaan Pelanggaran

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG PENGADAAN TANAH BAGI PEMBANGUNAN UNTUK KEPENTINGAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG PENGADAAN TANAH BAGI PEMBANGUNAN UNTUK KEPENTINGAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG PENGADAAN TANAH BAGI PEMBANGUNAN UNTUK KEPENTINGAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam

Lebih terperinci

SURAT PERJANJIAN JUAL BELI TANAH

SURAT PERJANJIAN JUAL BELI TANAH SURAT PERJANJIAN JUAL BELI TANAH SURAT PERJANJIAN JUAL BELI TANAH Saya yang bertanda tangan di bawah ini: 1. Nama :.. Tempat, Tgl Lahir :.. Pekerjaan :.. Alamat :.... Nomor KTP :.. Dalam hal ini bertindak

Lebih terperinci

Informasi Produk Asuransi Allianz

Informasi Produk Asuransi Allianz Informasi Produk Asuransi Allianz Nama Produk Permata Proteksi Ku Permata Proteksi Plus Permata KTA Proteksi Jenis Produk Asuransi jiwa berjangka untuk perlindungan tagihan kartu kredit Asuransi jiwa berjangka

Lebih terperinci

Banjir berdampak paling besar di Februari. Angin puting beliung hampir mencapai kisaran sepertiga dari bencana alam

Banjir berdampak paling besar di Februari. Angin puting beliung hampir mencapai kisaran sepertiga dari bencana alam Buletin Kemanusiaan Indonesia Issue 02 01 29 Februari 2012 SOROTAN 19 kejadian banjir menyebabkan 558 orang mengungsi sementara di bulan Februari. 21 dari 33 provinsi berisiko banjir sampai Maret 2012.

Lebih terperinci

SKEMA PENGADAAN TANAH BAGI PEMBANGUNAN UNTUK KEPENTINGAN UMUM

SKEMA PENGADAAN TANAH BAGI PEMBANGUNAN UNTUK KEPENTINGAN UMUM SKEMA PENGADAAN TANAH BAGI PEMBANGUNAN UNTUK KEPENTINGAN UMUM PENGADAAN TANAH UNTUK KEPENTINGAN UMUM DISELENGGARAKAN MELALUI 4 TAHAPAN, YAITU: I. TAHAP PERENCANAAN PENGADAAN Instansi yang memerlukan tanah

Lebih terperinci

Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Sekitar. dimensi produksi dan dimensi konsumsi. Dimensi produksi memandang keadaan sehat sebagai

Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Sekitar. dimensi produksi dan dimensi konsumsi. Dimensi produksi memandang keadaan sehat sebagai Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Sekitar Sehat merupakan kondisi optimal fisik, mental dan sosial seseorang sehingga dapat memiliki produktivitas, bukan hanya terbebas dari bibit penyakit. Kondisi sehat

Lebih terperinci

BANJIR JAKARTA 9-10 FEBRUARI 2015

BANJIR JAKARTA 9-10 FEBRUARI 2015 BANJIR JAKARTA 9-10 FEBRUARI 2015 WILAYAH YANG TERDAMPAK BANJIR PROVINSI DKI JAKARTA 9-11 FEB 2015 WILAYAH KEC KEL RW KK JIWA TERDAMPAK PENGUNGSI JAKARTA BARAT JAKARTA PUSAT JAKARTA SELATAN JAKARTA TIMUR

Lebih terperinci

Buletin Kemanusiaan Indonesia

Buletin Kemanusiaan Indonesia Buletin Kemanusiaan Indonesia Januari Maret 2014 SOROTAN Dampak bencana alam meningkat Ribuan telah diungsikan berbulanbulan karena letusan vulkanik Gunung Sinabung Harmonisasi klaster berlanjut Penutupan

Lebih terperinci

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Laporan Pemeriksaan Atas Penanganan Semburan Lumpur Panas Sidoarjo. Ringkasan Eksekutif

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Laporan Pemeriksaan Atas Penanganan Semburan Lumpur Panas Sidoarjo. Ringkasan Eksekutif BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Laporan Pemeriksaan Atas Penanganan Semburan Lumpur Panas Sidoarjo A. Gambaran Umum 1. Sejarah Singkat Ringkasan Eksekutif Pada tanggal 29 Mei 2006 telah terjadi

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DAN SAMPAH SEJENIS SAMPAH RUMAH TANGGA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DAN SAMPAH SEJENIS SAMPAH RUMAH TANGGA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DAN SAMPAH SEJENIS SAMPAH RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17/PERMEN-KP/2013

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17/PERMEN-KP/2013 PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17/PERMEN-KP/2013 TENTANG PERIZINAN REKLAMASI DI WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL Menimbang DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMEDANG,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMEDANG, PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMEDANG, Menimbang : a. bahwa pengaturan pengelolaan air tanah dimaksudkan

Lebih terperinci

MENGUBAH BENCANA MENJADI BERKAH (Studi Kasus Pengendalian dan Pemanfaatan Banjir di Ambon)

MENGUBAH BENCANA MENJADI BERKAH (Studi Kasus Pengendalian dan Pemanfaatan Banjir di Ambon) MENGUBAH BENCANA MENJADI BERKAH (Studi Kasus Pengendalian dan Pemanfaatan Banjir di Ambon) Happy Mulya Balai Wilayah Sungai Maluku dan Maluku Utara Dinas PU Propinsi Maluku Maggi_iwm@yahoo.com Tiny Mananoma

Lebih terperinci

KORBAN SEMBURAN LUMPUR PANAS DI SIDOARJO: KEPADA SIAPA MEREKA MENUNTUT GANTI RUGI. Oleh: Sudiyono, SH., M.Hum *

KORBAN SEMBURAN LUMPUR PANAS DI SIDOARJO: KEPADA SIAPA MEREKA MENUNTUT GANTI RUGI. Oleh: Sudiyono, SH., M.Hum * KORBAN SEMBURAN LUMPUR PANAS DI SIDOARJO: KEPADA SIAPA MEREKA MENUNTUT GANTI RUGI Oleh: Sudiyono, SH., M.Hum * Abstrak Tulisan ini merupakan bedah disertasi yang ditulis oleh Abdul Rokhim dengan judul

Lebih terperinci

LAMPIRAN F7 PERJANJIAN KONSORSIUM. Untuk

LAMPIRAN F7 PERJANJIAN KONSORSIUM. Untuk LAMPIRAN F7 PERJANJIAN KONSORSIUM Untuk IKUT SERTA DALAM LELANG DAN PELAKSANAAN PEKERJAAN. Perjanjian Konsorsium untuk Pelaksanaan Pekerjaan 18 ( PERJANJIAN KONSORSIUM ) ini dibuat dan ditandatangani pada

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.207, 2014 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LINGKUNGAN HIDUP. Hak Guna Air. Hak Guna Pakai. Hak Guna Usaha. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5578) PERATURAN PEMERINTAH

Lebih terperinci

BAB II KONDISI UMUM DAERAH

BAB II KONDISI UMUM DAERAH BAB II KONDISI UMUM DAERAH 2.1. Kondisi Geografi dan Demografi Kota Bukittinggi Posisi Kota Bukittinggi terletak antara 100 0 20-100 0 25 BT dan 00 0 16 00 0 20 LS dengan ketinggian sekitar 780 950 meter

Lebih terperinci

Dampak Banjir Terhadap Inflasi

Dampak Banjir Terhadap Inflasi Dampak Banjir Terhadap Inflasi Praptono Djunedi, Peneliti Badan Kebijakan Fiskal Siapa yang merusak harga pasar hingga harga itu melonjak tajam, maka Allah akan menempatkannya di dalam neraka pada hari

Lebih terperinci

PEDOMAN MANAJEMEN LOGISTIK DAN PERALATAN PENANGGULANGAN BENCANA

PEDOMAN MANAJEMEN LOGISTIK DAN PERALATAN PENANGGULANGAN BENCANA PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA NOMOR 13 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN MANAJEMEN LOGISTIK DAN PERALATAN PENANGGULANGAN BENCANA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA (BNPB) - i - DAFTAR

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Krisis ekonomi yang muncul sebagai dampak dari krisis moneter dan

BAB 1 PENDAHULUAN. Krisis ekonomi yang muncul sebagai dampak dari krisis moneter dan 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Krisis ekonomi yang muncul sebagai dampak dari krisis moneter dan pada gilirannya telah menimbulkan multi krisis yang berskala luas telah menjadi persoalan

Lebih terperinci

TINJAUAN HIDROLOGI DAN SEDIMENTASI DAS KALI BRANTAS HULU 1

TINJAUAN HIDROLOGI DAN SEDIMENTASI DAS KALI BRANTAS HULU 1 TINJAUAN HIDROLOGI DAN SEDIMENTASI DAS KALI BRANTAS HULU 1 Perusahaan Umum (Perum) Jasa Tirta I Jl. Surabaya 2 A, Malang Indonesia 65115 Telp. 62-341-551976, Fax. 62-341-551976 http://www.jasatirta1.go.id

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG MANAJEMEN DAN REKAYASA, ANALISIS DAMPAK, SERTA MANAJEMEN KEBUTUHAN LALU LINTAS

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG MANAJEMEN DAN REKAYASA, ANALISIS DAMPAK, SERTA MANAJEMEN KEBUTUHAN LALU LINTAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG MANAJEMEN DAN REKAYASA, ANALISIS DAMPAK, SERTA MANAJEMEN KEBUTUHAN LALU LINTAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

SURAT PERJANJIAN JUAL BELI RUMAH

SURAT PERJANJIAN JUAL BELI RUMAH SURAT PERJANJIAN JUAL BELI RUMAH SURAT PERJANJIAN JUAL BELI RUMAH Kami yang bertanda tangan di bawah ini: 1. Nama :.. Tempat, Tgl Lahir :.. Pekerjaan :.. Alamat :.... Nomor KTP :.. Dalam hal ini bertindak

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

SCHOTT Igar Glass Syarat dan Ketentuan Pembelian Barang (versi Bahasa Indonesia)

SCHOTT Igar Glass Syarat dan Ketentuan Pembelian Barang (versi Bahasa Indonesia) SCHOTT Igar Glass Syarat dan Ketentuan Pembelian Barang (versi Bahasa Indonesia) Syarat dan ketentuan pembelian barang ini akan mencakup semua barang dan jasa yang disediakan oleh PT. SCHOTT IGAR GLASS

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk menunjang terwujudnya perekonomian

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk menunjang terwujudnya perekonomian

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa sesuai dengan Pasal 18 ayat (7) Undang-Undang

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN UMUM Industri perbankan merupakan salah satu komponen sangat penting dalam perekonomian nasional demi

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA SURABAYA

PEMERINTAH KOTA SURABAYA SALINAN PEMERINTAH KOTA SURABAYA PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR 2 TAHUN 2010 TENTANG PEMAKAIAN RUMAH SUSUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SURABAYA, Menimbang : a. bahwa dalam usaha untuk

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa salah satu alat

Lebih terperinci

Warta Kebijakan. Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang. Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan tata ruang. Perencanaan Tata Ruang

Warta Kebijakan. Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang. Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan tata ruang. Perencanaan Tata Ruang No. 5, Agustus 2002 Warta Kebijakan C I F O R - C e n t e r f o r I n t e r n a t i o n a l F o r e s t r y R e s e a r c h Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2015 TENTANG

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2015 TENTANG RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Proses berkembangnya suatu kota baik dalam aspek keruangan, manusia dan aktifitasnya, tidak terlepas dari fenomena urbanisasi dan industrialisasi. Fenomena seperti

Lebih terperinci

REPUBLIK INDONESIA 47 TAHUN 1997 (47/1997) 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA)

REPUBLIK INDONESIA 47 TAHUN 1997 (47/1997) 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA) Menimbang : PP 47/1997, RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL Bentuk: PERATURAN PEMERINTAH (PP) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor: 47 TAHUN 1997 (47/1997) Tanggal: 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA) Sumber:

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 10, Pasal

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 74 TAHUN 2014 TENTANG ANGKUTAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 74 TAHUN 2014 TENTANG ANGKUTAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 74 TAHUN 2014 TENTANG ANGKUTAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 137

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PRESIDEN NOMOR 67 TAHUN 2005 TENTANG KERJASAMA PEMERINTAH DENGAN BADAN USAHA DALAM PENYEDIAAN INFRASTRUKTUR DENGAN

Lebih terperinci

LAPORAN PEMANTAUAN KASUS PENGGUSURAN PEDAGANG BUKU BEKAS & BUKU MURAH DI LAPANGAN MERDEKA MEDAN

LAPORAN PEMANTAUAN KASUS PENGGUSURAN PEDAGANG BUKU BEKAS & BUKU MURAH DI LAPANGAN MERDEKA MEDAN LAPORAN PEMANTAUAN KASUS PENGGUSURAN PEDAGANG BUKU BEKAS & BUKU MURAH DI LAPANGAN MERDEKA MEDAN Tim Pemantauan Komnas HAM pada 18 22 Maret 2013 Pemantauan atas penggusuran pedagang buku bekas / buku murah

Lebih terperinci

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG WAKTU KERJA DAN WAKTU ISTIRAHAT PADA KEGIATAN USAHA

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA NOMOR 1 TAHUN 2008 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA

PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA NOMOR 1 TAHUN 2008 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA NOMOR 1 TAHUN 2008 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA KEPALA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa sesuai dengan Pasal 18 ayat (7) Undang-Undang

Lebih terperinci

V E R S I P U B L I K

V E R S I P U B L I K PENDAPAT KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA NOMOR A12412 TENTANG PENGAMBILALIHAN SAHAM PERUSAHAAN PT GARUDA ADHIMATRA INDONESIA OLEH PT ALAM SUTERA REALTY TBK LATAR BELAKANG 1. Berdasarkan Peraturan Pemerintah

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2010 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2010 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2010 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk menyimpan air yang berlebih pada

Lebih terperinci

TANGGAPAN KAJIAN/EVALUASI KONDISI AIR WILAYAH SULAWESI (Regional Water Assessment) Disampaikan oleh : Ir. SALIMAN SIMANJUNTAK, Dipl.

TANGGAPAN KAJIAN/EVALUASI KONDISI AIR WILAYAH SULAWESI (Regional Water Assessment) Disampaikan oleh : Ir. SALIMAN SIMANJUNTAK, Dipl. TANGGAPAN KAJIAN/EVALUASI KONDISI AIR WILAYAH SULAWESI (Regional Water Assessment) Disampaikan oleh : Ir. SALIMAN SIMANJUNTAK, Dipl. HE 1 A. KONDISI KETAHANAN AIR DI SULAWESI Pulau Sulawesi memiliki luas

Lebih terperinci

memerintahkan untuk merancang Banjarbaru sebagai alternatif ibukota Provinsi Kalimantan Selatan.

memerintahkan untuk merancang Banjarbaru sebagai alternatif ibukota Provinsi Kalimantan Selatan. Bab 2 Kantor Balai Kota Banjarbaru Cikal bakal lahirnya Kota Banjarbaru bermula pada tahun 1951 saat gubernur Dr. Murdjani memimpin apel di halaman kantor gubernur di Banjarmasin, saat itu hujan turun

Lebih terperinci

Tsunami Evaluation Coalition: Links between Relief, Rehabilitation and Development in the Tsunami Response RINGKASAN ESEKUTIF

Tsunami Evaluation Coalition: Links between Relief, Rehabilitation and Development in the Tsunami Response RINGKASAN ESEKUTIF Tsunami Evaluation Coalition: Links between Relief, Rehabilitation and Development in the Tsunami Response RINGKASAN ESEKUTIF Sasaran evaluasi secara keseluruhan ini adalah untuk mencari tahu tentang bagaimana

Lebih terperinci

Usulan Perubahan Anggaran Dasar PT Elnusa Tbk ( Elnusa ) untuk Disesuaikan dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No.32, 33, 34

Usulan Perubahan Anggaran Dasar PT Elnusa Tbk ( Elnusa ) untuk Disesuaikan dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No.32, 33, 34 Usulan Perubahan Anggaran Dasar PT Elnusa Tbk ( Elnusa ) untuk Disesuaikan dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No.32, 33, 34 Pasal 1 ayat 1: Anggaran Dasar Saat Ini Usulan Perubahan Alasan Perubahan

Lebih terperinci

MENGELOLA DESA SECARA PARTISIPATIF REFLEKSI STUDI BANDING DESA MUARA WAHAU KE WILAYAH DIY. Oleh: Sri Purwani Konsultan

MENGELOLA DESA SECARA PARTISIPATIF REFLEKSI STUDI BANDING DESA MUARA WAHAU KE WILAYAH DIY. Oleh: Sri Purwani Konsultan MENGELOLA DESA SECARA PARTISIPATIF REFLEKSI STUDI BANDING DESA MUARA WAHAU KE WILAYAH DIY (Desa Banjaroya Kecamatan Kalibawang Kabupaten Kulon Progo, Desa Panggungharjo Kecamatan Sewon dan Desa Sumbermulya

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2005 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 40 TAHUN 1994 TENTANG RUMAH NEGARA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2005 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 40 TAHUN 1994 TENTANG RUMAH NEGARA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2005 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 40 TAHUN 1994 TENTANG RUMAH NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA NOMOR 18 TAHUN 2010 TENTANG

PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA NOMOR 18 TAHUN 2010 TENTANG PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA NOMOR 18 TAHUN 2010 TENTANG PEDOMAN DISTRIBUSI BANTUAN LOGISTIK DAN PERALATAN PENANGGULANGAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN

Lebih terperinci

PEDOMAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PENANGANAN TANGGAP DARURAT BENCANA MUHAMMADIYAH DISASTER MANAGEMENT CENTER

PEDOMAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PENANGANAN TANGGAP DARURAT BENCANA MUHAMMADIYAH DISASTER MANAGEMENT CENTER PEDOMAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PENANGANAN TANGGAP DARURAT BENCANA MUHAMMADIYAH DISASTER MANAGEMENT CENTER BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam situasi keadaan Darurat bencana sering terjadi

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN TULUNGAGUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TULUNGAGUNG NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG PERRLINDUNGAN MATA AIR

PEMERINTAH KABUPATEN TULUNGAGUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TULUNGAGUNG NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG PERRLINDUNGAN MATA AIR PEMERINTAH KABUPATEN TULUNGAGUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TULUNGAGUNG NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG PERRLINDUNGAN MATA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TULUNGAGUNG, Menimbang Mengingat : a.

Lebih terperinci

VI.7-1. Bab 6 Penataan Ruang dan Pembangunan Perkotaan Pembangunan Kota Baru. Oleh Suyono

VI.7-1. Bab 6 Penataan Ruang dan Pembangunan Perkotaan Pembangunan Kota Baru. Oleh Suyono 6.7 PEMBANGUNAN KOTA BARU Oleh Suyono BEBERAPA PENGERTIAN Di dalam Undang-undang nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Undang-undang Otonomi Daerah) 1999 digunakan istilah daerah kota untuk

Lebih terperinci

Nota Kesepahaman. antara. Pemerintah Republik Indonesia. dan. Gerakan Aceh Merdeka

Nota Kesepahaman. antara. Pemerintah Republik Indonesia. dan. Gerakan Aceh Merdeka Nota Kesepahaman antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menegaskan komitmen mereka untuk penyelesaian konflik Aceh secara

Lebih terperinci

Bab I Pendahuluan. I.1 Maksud dan Tujuan

Bab I Pendahuluan. I.1 Maksud dan Tujuan Bab I Pendahuluan I.1 Maksud dan Tujuan Pemboran pertama kali di lapangan RantauBais di lakukan pada tahun 1940, akan tetapi tidak ditemukan potensi hidrokarbon pada sumur RantauBais#1 ini. Pada perkembangan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2008 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2008 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 26 TAHUN 2008 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 20 ayat (6) Undang-Undang

Lebih terperinci

Mendorong masyarakat miskin di perdesaan untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia

Mendorong masyarakat miskin di perdesaan untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia IFAD/R. Grossman Mendorong masyarakat miskin di perdesaan untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia Kemiskinan perdesaan di Indonesia Indonesia telah melakukan pemulihan krisis keuangan pada tahun 1997 yang

Lebih terperinci

BUPATI BADUNG PERATURAN BUPATI BADUNG NOMOR 70 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PENGGUNAAN DANA SIAP PAKAI PADA PENANGANAN KEDARURATAN DI KABUPATEN BADUNG

BUPATI BADUNG PERATURAN BUPATI BADUNG NOMOR 70 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PENGGUNAAN DANA SIAP PAKAI PADA PENANGANAN KEDARURATAN DI KABUPATEN BADUNG BUPATI BADUNG PERATURAN BUPATI BADUNG NOMOR 70 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PENGGUNAAN DANA SIAP PAKAI PADA PENANGANAN KEDARURATAN DI KABUPATEN BADUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BADUNG, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2003 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2003 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2003 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 16 ayat (2) Undang-undang Nomor

Lebih terperinci

- 44 - BAGIAN KETIGA PERTIMBANGAN TEKNIS PERTANAHAN DALAM PENERBITAN IZIN PERUBAHAN PENGGUNAAN TANAH

- 44 - BAGIAN KETIGA PERTIMBANGAN TEKNIS PERTANAHAN DALAM PENERBITAN IZIN PERUBAHAN PENGGUNAAN TANAH - 44 - BAGIAN KETIGA PERTIMBANGAN TEKNIS PERTANAHAN DALAM PENERBITAN IZIN PERUBAHAN PENGGUNAAN TANAH A. Tahapan Penyusunan dan Penerbitan I. Penerimaan dan Pemeriksaan Dokumen Permohonan 1. Permohonan

Lebih terperinci

KOMISI INFORMASI PUSAT REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR LAYANAN INFORMASI PUBLIK

KOMISI INFORMASI PUSAT REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR LAYANAN INFORMASI PUBLIK KOMISI INFORMASI PUSAT REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR LAYANAN INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KOMISI INFORMASI Menimbang : bahwa untuk

Lebih terperinci

PEDOMAN KOMANDO TANGGAP DARURAT BENCANA

PEDOMAN KOMANDO TANGGAP DARURAT BENCANA PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA NOMOR 10 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN KOMANDO TANGGAP DARURAT BENCANA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA (BNPB) - i - DAFTAR ISI 1. PERATURAN KEPALA

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 75 TAHUN 2014 TENTANG PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 75 TAHUN 2014 TENTANG PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 75 TAHUN 2014 TENTANG PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa

Lebih terperinci

Harga Sebuah Kebijakan Bahan Bakar Fosil: Subsidi Pemerintah Indonesia di Sektor Hulu Minyak & Gas Bumi

Harga Sebuah Kebijakan Bahan Bakar Fosil: Subsidi Pemerintah Indonesia di Sektor Hulu Minyak & Gas Bumi Harga Sebuah Kebijakan Bahan Bakar Fosil: Subsidi Pemerintah Indonesia di Sektor Hulu Minyak & Gas Bumi OKTOBER 2010 OLEH: PT. Q ENERGY SOUTH EAST ASIA David Braithwaite PT. CAKRAMUSTIKA SWADAYA Soepraptono

Lebih terperinci

enyatukan dan Memadukan Sumber Daya

enyatukan dan Memadukan Sumber Daya M enyatukan dan Memadukan Sumber Daya Keunggulan kompetitif BCA lebih dari keterpaduan kekuatan basis nasabah yang besar, jaringan layanan yang luas maupun keragaman jasa dan produk perbankannya. Disamping

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 111 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PRESIDEN NOMOR 12 TAHUN 2013 TENTANG JAMINAN KESEHATAN

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 111 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PRESIDEN NOMOR 12 TAHUN 2013 TENTANG JAMINAN KESEHATAN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 111 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PRESIDEN NOMOR 12 TAHUN 2013 TENTANG JAMINAN KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

Uji Penilaian Profesional Macquarie. Leaflet Latihan. Verbal, Numerikal, Pemahaman Abstrak, Kepribadian.

Uji Penilaian Profesional Macquarie. Leaflet Latihan. Verbal, Numerikal, Pemahaman Abstrak, Kepribadian. Uji Penilaian Profesional Macquarie Leaflet Latihan Verbal, Numerikal, Pemahaman Abstrak, Kepribadian. Mengapa Uji Penilaian psikometrik digunakan Dewasa ini semakin banyak perusahaan yang menyertakan

Lebih terperinci

BAB III PRAKTEK USAHA PERSEWAAN MOBIL DI DUSUN BUARAN KEBOGUYANG KECAMATAN JABON KABUPATEN SIDOARJO

BAB III PRAKTEK USAHA PERSEWAAN MOBIL DI DUSUN BUARAN KEBOGUYANG KECAMATAN JABON KABUPATEN SIDOARJO BAB III PRAKTEK USAHA PERSEWAAN MOBIL DI DUSUN BUARAN KEBOGUYANG KECAMATAN JABON KABUPATEN SIDOARJO A. Sekilas Desa Keboguyang 1. Keadaan Geografis Desa Keboguyang adalah salah satu Desa yang berada di

Lebih terperinci

Laporan Situasi. Lebih dari 600 keluarga mengungsi, puluhan rumah rusak berat, ribuan hektar sawah terendam

Laporan Situasi. Lebih dari 600 keluarga mengungsi, puluhan rumah rusak berat, ribuan hektar sawah terendam RESPON BENCANA BANJIR DAN LONGSOR PURWOREJO, JAWA TENGAH DMC DOMPET DHUAFA 21-23 Desember 2013 Laporan Situasi Informasi Kunci Banjir besar dan longsor terjadi di 53 desa di 11 kecamatan di Purworejo,

Lebih terperinci

Setiap istilah di bawah ini, kecuali dengan tegas ditentukan lain dalam Syarat dan Ketentuan ini mempunyai arti dan pengertian sebagai berikut:

Setiap istilah di bawah ini, kecuali dengan tegas ditentukan lain dalam Syarat dan Ketentuan ini mempunyai arti dan pengertian sebagai berikut: SYARAT & KETENTUAN Safe Deposit Box A. DEFINISI Setiap istilah di bawah ini, kecuali dengan tegas ditentukan lain dalam Syarat dan Ketentuan ini mempunyai arti dan pengertian sebagai berikut: 1. Anak Kunci

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 63/PRT/1993 TENTANG GARIS SEMPADAN SUNGAI, DAERAH MANFAAT SUNGAI, DAERAH PENGUASAAN SUNGAI DAN BEKAS SUNGAI

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 63/PRT/1993 TENTANG GARIS SEMPADAN SUNGAI, DAERAH MANFAAT SUNGAI, DAERAH PENGUASAAN SUNGAI DAN BEKAS SUNGAI PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 63/PRT/1993 TENTANG GARIS SEMPADAN SUNGAI, DAERAH MANFAAT SUNGAI, DAERAH PENGUASAAN SUNGAI DAN BEKAS SUNGAI MENTERI PEKERJAAN UMUM Menimbang : a. Bahwa sebagai

Lebih terperinci

DAMPAK PERTUMBUHAN INDUSTRI TERHADAP TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA DI KABUPATEN SIDOARJO

DAMPAK PERTUMBUHAN INDUSTRI TERHADAP TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA DI KABUPATEN SIDOARJO Judul : Dampak Pertumbuhan Industri Terhadap Tingkat Pengangguran Terbuka di Kabupaten Sidoarjo SKPD : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Sidoarjo Kerjasama Dengan : - Latar Belakang Pembangunan

Lebih terperinci

Mari Bersiapsiap. www.getreadysydney.com.au. Bagaimana bersiap-siap untuk situasi darurat di. Kota Sydney. Informasi penting bagi penduduk,

Mari Bersiapsiap. www.getreadysydney.com.au. Bagaimana bersiap-siap untuk situasi darurat di. Kota Sydney. Informasi penting bagi penduduk, Mari Bersiapsiap Sydney Bagaimana bersiap-siap untuk situasi darurat di Kota Sydney. Informasi penting bagi penduduk, karyawan dan pengunjung. Panduan ini memberikan garis besar beberapa langkah mudah

Lebih terperinci

SURAT PERJANJIAN KERJA ANTARA CV. WADITRA REKA CIPTA DENGAN HERO YUDO MARTONO TENTANG PEMBUATAN APLIKASI INTEROPERABILITAS INTER-DEPARTEMEN

SURAT PERJANJIAN KERJA ANTARA CV. WADITRA REKA CIPTA DENGAN HERO YUDO MARTONO TENTANG PEMBUATAN APLIKASI INTEROPERABILITAS INTER-DEPARTEMEN SURAT PERJANJIAN KERJA ANTARA CV. WADITRA REKA CIPTA DENGAN HERO YUDO MARTONO TENTANG PEMBUATAN APLIKASI INTEROPERABILITAS INTER-DEPARTEMEN Nomor: Pada hari Kamis, tanggal Satu bulan April tahun Dua Ribu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. diyakini telah membawa pengaruh terhadap munculnya masalah-masalah

BAB I PENDAHULUAN. diyakini telah membawa pengaruh terhadap munculnya masalah-masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Krisis moneter yang melanda hampir seluruh negara berkembang, khususnya negara-negara ASEAN, pada tahun 1997 secara tidak langsung diyakini telah membawa pengaruh

Lebih terperinci

K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA

K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA 1 K 29 - Kerja Paksa atau Wajib Kerja 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan bagi laki-laki

Lebih terperinci

Buletin Kemanusiaan Bulanan Indonesia. Musim hujan akhirnya hampir selesai. Isi

Buletin Kemanusiaan Bulanan Indonesia. Musim hujan akhirnya hampir selesai. Isi Buletin Kemanusiaan Bulanan Indonesia Edisi 4 Juli Agustus 2013 S O RO TA N Banjir dan gempa bumi memiliki dampak kemanusiaan tertinggi di Juli-Agustus Titik api kebakaran di hutan lahan gambut di Sumatera

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci