BAB V HASIL PENELITIAN

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB V HASIL PENELITIAN"

Transkripsi

1 79 BAB V HASIL PENELITIAN A. Rangkuman Analisis Subjek Berdasarkan hasil penelitian melalui observasi, wawancara, tes proyeksi dan analisis yang telah dilakukan terhadap ketiga subjek, maka dapat dibuat intensitas fenomena kemandirian pada anak tunggal, sebagai berikut: 1. Bebas Pada dasarnya ketiga subjek mampu menghadapi masalah dengan sendiri tanpa adanya bantuan dari orang lain. Untuk subjek 1 dalam menghadapi masalah sendiri tanpa adanya bantuan dari orang lain tetap mendapatkan dukungan dan kepercayaan dari orang tua. Pada subjek 2, lebih merasakan bangga apabila subjek bisa menyelesaikan sendiri masalah yang seharusnya dikerjakan secara kelompok. Sejak kecil subjek 3 sudah terbiasa dengan proses belajar terlebih dahulu sebelum mandapatkan apa yang dinginkannya, sehingga membuat subjek lebih nyaman dan lebih fokus apabila dapat mengerjakan sesuatu sendiri. Jadi intensistas kemandirian subjek 1 dan subjek 3 dalam aspek ini tergolong kuat, sedangkan untuk subjek 2 intensitasnya sedang.

2 80 2. Inisiatif Dalam menghadapi masalah dan mencari penyelesaian masalah yang ada, subjek 1 terlebih dahulu mencari sumber dari permasalahan yang ada, subjek cenderung berusaha sendiri terlebih dahulu karena subjek tidak ingin orang tua menjadi terlalu kawatir. Subjek 2 lebih sering meminta pendapat dari orang lain atas masalah yang sedang subjek hadapi. Lain halnya pada subjek 3, subjek memikirkan sendiri cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah yang ada, meminta pendapat dari orang lain hanyalah sebagai bahan pertimbangan saja. Intensitas kemandirian subjek 1 dan subjek 3 dalam aspek ini kuat, untuk subjek 3 cenderung lemah. 3. Gigih Pada subjek 1 dan subjek 3 mempunyai semangat yang tinggi dalam menghadapi masalah yang ada. Dengan mengatur strategi dan rela berkorban merupakan suatu sikap yang ditunjukkan subjek 1 saat menghadapi masalah. Subjek 3 menyadari bahwa dirinya harus memikul tanggung jawab untuk bisa membuat orang tua bangga dan bisa meraih cita-citanya, walaupun demikian subjek tidak merasakan hal tersebut sebagai beban yang berat. Subjek 2 mempunyai semangat untuk membantu meringankan beban ekonomi keluarga, maka subjek berusaha dengan cara berjualan pulsa. Saat ini subjek sudah tidak berjualan pulsa karena uang yang dihasilkan sudah habis dipakai untuk memenuhi kebutuhan sekolah subjek, hal ini menunjukkan subjek kurang berjuang keras dalam menghadapi

3 81 hambatan yang ada. Intensitas kemandirian subjek 1 dan subjek 3 pada aspek ini kuat dan intensitas subjek 2 cenderung lemah. 4. Percaya diri Usaha mencapai kepuasaan diri pada subjek 1 dan subjek 3 terlihat penuh dengan kepercayaan diri. Subjek 1 cenderung optimis dalam menghadapi tantangan dan resiko yang ada, subjek pun mampu bertanggung jawab atas keputusan yang telah diambil. Begitu pula pada subjek 3, dengan selalu merasa yakin pada diri sendiri dan mempunyai keberanian untuk mencoba hal yang baru, maka subjek mempunyai semangat yang tinggi pada diri sendiri. Subjek 2 lebih memandang masalah yang ada sebagai beban yang berat bagi hidupnya, sehingga menyebabkan dirinya menjadi lebih pesimis dalam menghadapi masalah, selain itu subjek juga lebih memikirkan dampak yang dapat mrugikan orang lain atas keputusan yang telah diambilnya. Seperti pada aspek sebelumnya, pada aspek percaya diri intensitas subjek 1 dan subjek 3 cukup kuat, sedangkan untuk subjek 2 intensitasnya lemah. 5. Pengendalian diri Ketiga subjek cenderung berkepribadian tertutup dan sulit untuk mengendalikan emosi diri. Subjek 1 termasuk anak yang tertutup baik dengan orang tua maupun teman, karena subjek mempunyai usaha sendiri untuk menghadapi suatu masalah secara benar agar tidak terlalu dikawatirkan oleh orang tuanya, jika

4 82 masalahnya sudah selesai dan sudah mendapatkan hasil barulah subjek bercerita pada orang tuanya. Subjek 2 lebih memendam perasaan dalam dirinya sendiri dan menjadikan hubungan interpersonal subjek menjadi kurang baik. Subjek 3 cenderung kurang bisa mengendalikan emosinya, walaupun demikian subjek dapat menjalin hubungan interpersonalnya dengan baik. Intensitas kemandirian pada aspek ini terlihat berbeda pada ketiga subjek, untuk subjek1 dan subjek 2 intensitasnya lemah, intensitas sedang ada pada subjek 3.

5 83 Untuk lebih jelasnya penguraian tentang intensitas kemandirian pada subyek penelitian, dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 4 Intensitas Fenomena Kemandirian Pada Anak Tunggal Aspek S I S II S III Keterangan Bebas ++ Inisiatif Ketiga subjek diberikan kepercayaan dan bimbingan oleh orang tua, maka ketiga subjek menunjukkan bahwa dirinya dapat menyelesaikan masalah sendiri tanpa meminta bantuan pada orang lain dan tidak tergantung pada orang lain. Orang tua subjek 1 yang terlalu mengkontrol dan mengatur subjek untuk melakukan sesuatu, membuat subjek termotivasi untuk lebih fokus dalam menghadapi masalah tanpa bantuan orang lain. Subjek 2 merasa bangga ketika bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Subjek 3 merasa lebih nyaman dan lebih fokus apabila mengerjakan sesuatu sendiri. Munculnya ide untuk menghadapi dan memecahkan masalah dimiliki subjek 1 dan subjek 3. Subjek 1 terlebih dahulu

6 84 Gigih Percaya diri berusaha memecahkan masalah sendiri tanpa meminta bantuan pada orang tua karena tidak ingin membuat orang tua menjadi kawatir. Subjek 3 sejak kecil terbiasa melalui proses pembelajaran sebelum sesuatu yang diinginkan tercapai, sehingga subjek 3 menjadi terbiasa memikirkan sendiri cara menyelesaikan masalahnya. Subjek 2 cenderung lebih sering meminta pendapat pada orang lain dalam menyelesaikan masalahnya. Hanya subjek 1 dan 3 yang memiliki kegigihan cukup kuat. Semangat pada subjek 1 dan 3 cenderung tinggi. Subjek 1 sering mengatur strategi dan rela berkorban dalam menghadapi hambatan yang ada. Subjek 3 mempunyai rasa tanggungjawab yang hanya ditanggung subjek untuk membuat orang tua bangga. Sedangkan subjek 2 cenderung kurang bekerja keras dalam menghadapi masalah dan sering menunda pekerjaan. Percaya diri dan penuh optimis dimiliki oleh subjek 1 dan 3. Subjek 1 lebih berani menghadapi

7 85 Pengendalian diri Keterangan +: + ++ resiko yang ada. Subjek 3 mempunyai keyakinan dan berani mencoba melakukan hal yang baru. Subjek 2 lebih melihat masalah sebagai beban berat yang harus dihadapi. Ketiga subjek cenderung berkepribadian tertutup dan lebih memendam perasaan ke dalam dirinya sendiri. Ketiganya cenderung meluapkan emosi dengan cara menangis. Hanya subjek 3 yang mempunyai hubungan interpersonal yang terjalin dengan baik. Subjek 1 cenderung kurang mampu mengendalikan kecemasan dengan baik : Intensitas kuat sekali 7-8 : Intensitas kuat 5-6 : Intensitas sedang 3-4 : Intensitas lemah 1-2 : Intensitas lemah sekali

8 86 Matriks Antar Tema 4 Fenomena Kemandirian Pada Anak Tunggal A B C D E A X B X ++ + C X D X E X Keterangan : : Mempengaruhi A B C D E : Saling berhubungan : Bebas : Inisiatif : Gigih : Percaya diri : Pengendalian diri Keterangan +: 9-10 : Intensitas kuat sekali 7-8 : Intensitas kuat 5-6 : Intensitas sedang 3-4 : Intensitas lemah 1-2 : Intensitas lemah sekali

9 87 Berdasarkan hasil analisa, intensitas dan hubungan antar tema pada masing-masing subjek, maka dapat dibuat hubungan antar tema pada fenomena kemandirian pada anak tunggal sebagai berikut: Kebebasan saling berpengaruh dengan Inisiatif. Dengan menunjukkan tindakan sesuai dengan keinginan sendiri tanpa ada paksaan dari orang lain, tidak tergantung pada orang lain dan tanpa pengaruh dari orang lain maka muncul ide untuk menghadapi dan memecahkan masalah yang menjadi problemnya. Kebebasan mempengaruhi aspek Kegigihan, dengan menunjukkan tindakan yang sesuai dengan keinginan sendiri maka melakukan tidakan tersebut tanpa putus asa dan dengan tekun mengejar prestasi serta merealisasikan harapan-harapan yang ada. Kebebasan saling berpengaruh dengan Percaya diri. Menunjukkan tindakan sesuai dengan keinginan diri sendiri maka didukung dengan adanya kemantapan dan penuh kepercayaan terhadap kemampuan sendiri dalam usaha mencapai kepuasan diri. Inisiatif mempengaruhi Kegigihan, adanya gagasan untuk menghadapi dan memecahkan masalah yang ada, maka tanpa putus asa berusaha melakukan gagasan yang ada tanpa putus asa dan penuh dengan ketekunan dalam menyelesaikan masalah. Inisiatif mempengaruhi Percaya Diri, memunculkan ide untuk memecahkan masalah yang ada maka dengan kemantapan dan penuh kepercayaan terhadap kemampuan sendiri meujudkan usaha

10 88 memecahkan masalah hingga mencapai prestasi yang diinginkan dan mewujudkan kepuasan diri. B. Pembahasan Menurut hasil penelitian dari ketiga subjek, maka fenomena kemandirian pada anak tunggal terlihat jelas pada subjek 1 dan 3. Hal ini dikarenakan kedua subjek merupakan anak tunggal yang direncanakan dengan alasan faktor ekonomi yang mendesak. Anak tunggal yang kondisinya direncanakan cenderung lebih mandiri, hal ini dikarenakan kedua orang tua memang dapat menerima keadaan sehingga orang tua berusaha mendidik dengan baik. Dengan situasi demikian orang tua dapat bertindak realistis, tidak memberikan perhatian dan rasa kasih sayang secara berlebihan, sehingga orang tua dapat mengendalikan sikap-sikap yang tidak tepat bagi anak tersebut. Hal ini juga dapat terlihat pada anak tunggal yang kedua orang tuanya bekerja, karena terbiasa ditinggal oleh kedua orang tua untuk bekerja maka anak tunggal dapat menghadapi dan menyelesaikan masalahnya sendiri ( Gunarsa, 1996, h. 183). Sedangkan pada subjek 2 cenderung kurang mandiri dikarenakan dari latar belakang anak tunggal yang tidak direncanakan, maka subjek cenderung pesimis dalam menghadapi masalah yang ada dan menganggap masalah menjadi suatu beban yang berat bagi diri subjek. Selain itu subjek juga kurang mempunyai semangat dalam menyelesaikan masalah yang ada. Hal ini sesuai dengan pendapat

11 89 Gunarsa (1996, h ), bagi orangtua yang sejak semula menghendaki banyak anak tetapi karena kondisi yang tidak mendukung, dapat membuat orangtua bertindak kurang bijaksana. Dalam mendidik anak, orangtua tersebut bukan memperhatikan kebutuhan-kebutuhan anak, tetapi lebih banyak bereaksi terhadap kelemahan-kelemahan yang dimiliki orangtua. Hubungan antara orangtua dengan anak sangat erat sehingga tidak memiliki kebebasan untuk bertindak sesuai dengan keinginan masing-masing. Dari hasil tes wartegg yang di dapat, pada subjek 2 terlihat tidak mempunyai kemampuan untuk bertindak konstruktif dan tidak mempunyai usaha yang aktif untuk menyelesaikan konflik yang dihadapi secara baik. Hal ini sesuai dengan diri subjek yang kurang berjuang keras dalam menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi. Subjek pun sering menunda-nunda dalam negerjakan suatu tugas. Berbeda dengan subjek 1 dan 3 yang mempunyai kemampuan untuk bertindak kontruktif dan mempunyai usaha aktif untuk menyelesaikan konflik yang sedang dihadapi secara baik. Hal ini diwujudkan subjek dalam menghadapi permasalahan yang ada. Mulai dari mencari sumber dari permasalahan, kemudian memikirkan penyelesaian masalah secara benar, menghadapi resiko yang ada, mampu bertanggung jawab atas keputusan dalam menyelesaikan masalah, sampai berani mencoba hal yang baru untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah yang ada.

12 90 Selain itu pada subjek 2 terlihat mempunyai kemampuan inteligensi yang tergolong cukup dan motivasi yang ada pada diri subjek tergolong tidak tinggi. Hal ini sesuai dengan keseharian subjek yang sering pesimis dalam manghadapi masalah yang ada, karena subjek menganggap masalah yang dihadapi menjadi suatu beban yang berat bagi dirinya. Sehingga subjek lebih memikirkan dampak yang dapat mengenai orang lain atas keputusan yang diambil. Pada subjek 1 dan 3 mampu dan mudah mengerti akan suatu pengetahuan dan mempunyai pemahaman yang baik terhadap pengalaman hidup terutama pada hal-hal yang bersifat umum. Sehingga pada kedua subjek terbiasa mampu menghadapi masalah yang ada tanpa bantuan dari orang lain dan tergantung pada orang lain. Subjek 1 dan 3 pun mampu menghadapi masalah dengan penuh optimis dan kepercayaan pada diri sendiri untuk melakukan hal yang baru dalam menghadapi permasalahan yang ada. Menilik hasil penelitian pada ketiga subyek, fenomena kemandirian pada anak tunggal ada pengaruh yang tidak sama pada setiap aspeknya. Kegigihan merupakan aspek yang tertinggi, terlihat dari hasil penelitian dari ketiga subjek mempunyai semangat yang cukup tinggi, tidak pantang menyerah ketika menghadapi resiko yang ada, serta berani rela berkorban dalam menghadapi masalah yang ada. Hal ini sesuai dengan pendapat Masrun dkk ( dalam Nashori, 1999, h.32), yang menyatakan kegigihan Artinya tanpa putus asa berusaha dengan tekun untuk mengejar prestasi dan merealisasikan harapanharapannya.

13 91 Aspek kedua yang mempengaruhi yaitu kebebasan. Dari ketiga subjek, terbiasa untuk menyelesaikan masalahnya sendiri dengan bimbingan dari orang tua. Selain itu ketiga subjek anak tunggal ingin memperlihatkan bahwa dirinya bisa menyelesaikan masalahnya sendiri dan akan merasa bangga apabila masalah yang ada bisa diselesaikan sendiri. Terlebih apabila ada tugas yang seharusnya diselesaikan secara kelompok tetapi bisa diselesaikan sendiri. Subjek juga merasa lebih nyaman dan fokus ketika menyelesaikan masalah sendiri. Sesuai dengan pendapat Djiwandono (2003, h ), dengan mengajarkan kemandirian maka akan membantu remaja untuk memenuhi kebutuhannya. Bimbingan serta kebebasan yang diberikan dapat membantu remaja mengembangkan tanggung jawab dan mampu berdiri sendiri. Dengan menghadapkan remaja untuk perlahan-lahan mengambil tanggung jawab dan menerima konsekuensi dari pilihan mereka, sekolah dapat membantu mempersiapkan remaja untuk menjadi orang yang dewasa. Dalam menunjukkan ide untuk menghadapi dan memecahkan masalah yang menjadi problemnya, pada subjek 1 dan 3 terlihat cukup tinggi. Dengan mencari sumber permasalahan dan cara menyelesaikan masalah yang ada, merupakan cara subjek dalam menghadapi masalah yang ada. Pada subjek 1, dari dalam diri subjek terlihat adanya keinginan untuk menunjukkan pada orang tua bahwa dirinya mampu menyelesaikan masalah sendiri tanpa diatur oleh ayah subjek. Untuk subjek 2 terlihat gigih ketika subjek mempunyai keinginan membantu orang tua dari segi ekonomi dengan meringakan

14 92 beban ekonomi keluarga, yaitu dengan usaha berjualan pulsa. Uang yang dihasilkan dari berjualan pulsa, subjek gunakan untuk, membayar kebutuhan tambahan sekolah. Dari segi percaya diri, subjek 3 terlihat cenderung kuat dengan keyakinan yang kuat dan keberanian dalam mencoba sesuatu yang baru serta berani bertanggung jawab dalam menghadapi masalah yang ada maka subjek 3 dengan mantap dan kepercayaan pada kemampuan diri sendiri berusaha mencapai kepuasaan diri. Begitu pula pada subjek 1 yang penuh dengan optimis dalam menghadapi tantangan yang ada dan berani bertanggung jawab serta mampu menghadapi resiko yang ada. Hal ini sesuai dengan Mu tadin (2002) yang mengatakan kemandirian adalah suatu keadaan dimana seseorang yang memilki hasrat untuk bersaing maju demi kebaikan dirinya, mampu mengambil keputusan dan inisiatif untuk mengatasai masalah yang dihadapi, memiliki kepercayaan diri dalam mengerjakan tugastugasnya dan bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya. Sedangkan pada subjek 2, cenderung tidak percaya diri karena selalu memandang suatu masalah menjadi beban yang berat dan pada akhirnya subjek 2 merasa pesimis dalam menghadapi masalah yang ada. Sehingga subjek 2 ini selalu memikirkan dampak yang dapat merugikan orang lain atas keputusan yang telah diambilnya. Aspek yang terakhir yaitu pengendalian diri, dari ketiga subjek terlihat cenderung lemah. Hal ini disebabkan karena ketiga subjek tidak dapat mengendalikan emosi yang ada pada dirinya. Hubungan

15 93 interpersonal subjek pun tergolong kurang baik pada subjek 1 dan 2. Ketiga subjek tergolong anak yang tertutup dan cenderung lebih menyimpan perasaan dalam dirinya sendiri. Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan, aspek kemandirian pada anak tunggal yang paling kuat adalah aspek kegigihan dan aspek kebebasan. Aspek kebebasan sangat mempengaruhi kegigihan pada anak tunggal. Dengan menunjukkan tindakan yang sesuai keinginan sendiri tanpa bantuan, tanpa paksaan dan tidak tergantung tergantung pada orang lain. Maka tanpa putus asa berusaha untuk mengejar prestasi serta merealisasikan harapan yang ada secara sendiri. Dari hasil penelitian ini faktor anak tunggal yang direncanakan sangat mempengaruhi kemandiriannya. Hal ini terlihat pada subjek 1 dan 3 yang jarang meminta bantuan pada orang lain, mencari strategi untuk menghadapi masalah yang ada, mempunyai semangat yang tinggi, berjuang keras dalam menghadapi masalah yang ada, penuh keyakinan pada diri sendiri serta berjuang keras menghadapi hambatan yang ada. Menilik hasil penelitian, aspek kebebasan nampak menonjol intensitasnya pada ketiga subjek. Ketiga subjek dapat menyelesaikan masalah dengan sendiri walaupun ada kontrol, dukungan serta bimbingan dari orang tua. Dengan adanya kontrol dari orang tua, subjek merasa lebih termotivasi untuk menunjukkan bahwa dirinya dapat menyelesaikan masalah secara sendiri. Ketiga subjek merasa bangga apabila dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan

16 94 sendiri. Serta merasa lebih fokus ketika menghadapi masalah dan resiko dalan mewujudkan harapan-harapan yang ada. Dapat dikatakan aspek kebebasan merupakan ciri khusus pada anak tunggal yang mandiri. Dengan diberikan kebebasan maka anak tunggal akan semakin tanpa putus asa berusaha dengan tekun untuk mengerjar prestasi dan merealisasikan harapan yang ada. Dengan kata lain dengan diberikan kebebasan dan bimbingan maka anak tunggal akan semakin mandiri. Walaupun peneliti telah melaksanakan penelitian secara maksimal dan telah mendapatkan hasil penelitian, namun peneliti menyadari masih banyak kesulitan atau hambatan yang dialami oleh peneliti, antara lain keterbatasan waktu dan jarak terkhusus bagi subyek-subyek yang berada di luar kota Semarang, sulitnya menyesuaikan waktu untuk mengadakan pertemuan antara peneliti dengan para subyek. Pada saat pengumpulan data khususnya wawancara, penulis menyadari adanya kekurangan dalam menggali data secara mendalam. Pertanyaan yang dibuat penulis pada pedoman wawancara terlalu sugestif sehingga subjek cenderung terstimulus dengan pertanyaan yang diberikan. Serta dalam observasi penulis kurang operasional dalam melakukan observasi. Sampai sejauh ini peneliti telah berusaha untuk mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut, namun kembali peneliti menyadari bahwa hasil penelitian yang telah diperoleh peneliti belumlah dapat dikatakan sempurna dan ideal sesuai dengan harapan peneliti.

17 95 C. Dinamika Kemandirian Pada Anak Tunggal Berdasarkan analisa dan hubungan antar tema serta matriks fenomena kemandirian pada anak tunggal diatas, dapat diuraikan dinamika fenomena kemandirian pada anak tunggal sebagai berikut: Dari kelima aspek kemandirian, terlihat jelas muncul pada fenomena kemandirian pada anak tunggal akan tetapi intensitasnya berbeda. Aspek yang nampak jelas menonjol adalah aspek Kegigihan dan aspek Kebebasan. Tanpa putus asa berusaha dengan tekun untuk mengejar prestasi dan merealisasikan harapan-harapannya terlihat jelas pada kemandirian anak tunggal. Hal ini diwujudkan dengan adanya rasa tanggung jawab yang tinggi dan rela berkorban demi keberhasilan akan sesuatu yang diharapkan. Didukung dengan menunjukkan tindakan yang disesuaikan keinginan sendiri tanpa pengaruh, paksaan orang lain dan juga tanpa bantuan dari orang lain, sehingga tidak lagi tergantung kepada orang lain. Latar belakang anak tunggal juga mempengaruhi kemandirian pada anak tunggal. Anak tunggal yang direncanakan cenderung mandiri dikarenakan pada situasi demikian orang tua dapat bertindak realistis, tidak memberikan perhatian dan rasa kasih sayang secara berlebihan, sehingga orang tua dapat mengendalikan sikap-sikap yang tidak tepat bagi anak tersebut. Sedangkan pada anak tunggal yang tidak direncanakan cenderung kurang mandiri, hal ini terlihat pada kelima aspek cenderung lemah, walaupun kedua orang tua yang mempunyai anak tunggal tidak direncanakan memberikan pola asuh demokratis sekalipun tetap membuat anak tunggal tidak direncakan

18 96 menjadi kurang mandiri. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan Gunarsa ( 1996, h ) dalam mendidik anak, orangtua tersebut bukan memperhatikan kebutuhan-kebutuhan anak, tetapi lebih banyak bereaksi terhadap kelemahan-kelemahan yang dimiliki orangtua. Hubungan antara orangtua dengan anak sangat erat sehingga tidak memiliki kebebasan untuk bertindak sesuai dengan keinginan masingmasing. Dari dinamika psikologis ini dapat dilihat bahwa kemandirian pada anak tunggal terbentuk oleh aspek kemandirian yaitu aspek kegigihan dan kebebasan. Serta latar belakang anak tunggal, yaitu direncanakan atau tidak direncanakan.

19 97 Bagan 5 Fenomena Kemandirian Pada Anak Tunggal PERENCANAAN ANAK TUNGGAL DI RENCANAKAN TIDAK DIRENCANAKAN MANDIRI Bebas ++ Inisiatif ++ Gigih ++ Percaya Diri ++ Pengendalian Diri ++ KURANG MANDIRI Bebas ++ Inisiatif Gigih ++ Percaya Diri ++ Pengendalian Diri ++ FAKTOR-FAKTOR Keterangan : : Mempengaruhi : Saling berhubungan 1. Pola asuh dalam keluarga 2. Interaksi sosial : Intensitas kuat sekali : Intensitas kuat : Intensitas sedang : Intensitas lemah : Intensitas lemah sekali

BAB I PENDAHULUAN. artinya ia akan tergantung pada orang tua dan orang-orang yang berada di

BAB I PENDAHULUAN. artinya ia akan tergantung pada orang tua dan orang-orang yang berada di BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Manusia terlahir dalam keadaan yang lemah, untuk memenuhi kebutuhannya tentu saja manusia membutuhkan orang lain untuk membantunya, artinya ia akan tergantung

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. pada anak-anak sedini mungkin agar tidak menghambat tugas-tugas perkembangan anak

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. pada anak-anak sedini mungkin agar tidak menghambat tugas-tugas perkembangan anak BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kemandirian merupakan salah satu aspek kepribadian manusia yang tidak dapat berdiri sendiri, artinya terkait dengan aspek kepribadian yang lain dan harus dilatihkan

Lebih terperinci

LAMPIRAN C ALAT UKUR YANG DIGUNAKAN

LAMPIRAN C ALAT UKUR YANG DIGUNAKAN LAMPIRAN C ALAT UKUR YANG DIGUNAKAN SKALA KEMANDIRIAN BELAJAR DAN SKALA DUKUNGAN SOSIAL ORANGTUA FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA Dengan hormat, Dalam rangka memenuhi persyaratan untuk menyelesaikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa pencarian jati diri. Proses pencarian jati

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa pencarian jati diri. Proses pencarian jati 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masa remaja merupakan masa pencarian jati diri. Proses pencarian jati diri ini diperlukan kemandirian, yang merupakan tugas perkembangan yang harus dicapai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Manusia pada dasarnya dilahirkan dalam keadaan lemah dan tidak

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Manusia pada dasarnya dilahirkan dalam keadaan lemah dan tidak BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia pada dasarnya dilahirkan dalam keadaan lemah dan tidak berdaya, ia membutuhkan bantuan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Pada masa bayi ketika

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam menunjukkan bahwa permasalahan prestasi tersebut disebabkan

BAB I PENDAHULUAN. dalam menunjukkan bahwa permasalahan prestasi tersebut disebabkan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Permasalahan terbesar yang dihadapi siswa adalah masalah yang berkaitan dengan prestasi, baik akademis maupun non akademis. Hasil diskusi kelompok terarah yang

Lebih terperinci

PANDUAN WAWANCARA PEMILIK

PANDUAN WAWANCARA PEMILIK 52 PANDUAN WAWANCARA PEMILIK 1. Mengapa Anda memilih bergerak di bidang ini? Apa alasannya? Berpikir teliti, inovatif dan kreatif: 2. Dalam setiap transaksi, apakah Anda selalu melakukan pengecekan ulang,

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian dapat ditarik

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian dapat ditarik BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. S dan I telah melewati beberapa unit dalam fase forgiveness.

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. mau dan mampu mewujudkan kehendak/ keinginan dirinya yang terlihat

BAB II LANDASAN TEORI. mau dan mampu mewujudkan kehendak/ keinginan dirinya yang terlihat BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Tentang Kemandirian 2.1.1 Pengertian Kemandirian Pengertian mandiri berarti mampu bertindak sesuai keadaan tanpa meminta atau tergantung pada orang lain. Mandiri adalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. terbatas pada siswa baru saja. Penyesuaian diri diperlukan remaja dalam menjalani

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. terbatas pada siswa baru saja. Penyesuaian diri diperlukan remaja dalam menjalani BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu masalah yang dihadapi siswa dalam memasuki lingkungan sekolah yang baru adalah penyesuaian diri, walaupun penyesuaian diri tidak terbatas pada siswa

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN MASALAH

BAB V PEMBAHASAN MASALAH BAB V PEMBAHASAN MASALAH A. PEMBAHASAN Setiap manusia memiliki impian untuk membangun rumah tangga yang harmonis. Tetapi ketika sudah menikah banyak dari pasangan suami istri yang memilih tinggal bersama

Lebih terperinci

KONFLIK INTERPERSONAL ANTAR ANGGOTA KELUARGA BESAR

KONFLIK INTERPERSONAL ANTAR ANGGOTA KELUARGA BESAR KONFLIK INTERPERSONAL ANTAR ANGGOTA KELUARGA BESAR Skripsi Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Dalam Mencapai Derajat Sarjana S-1 Psikologi Diajukan oleh: SITI SOLIKAH F100040107 Kepada FAKULTAS PSIKOLOGI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. individu dengan individu yang lain merupakan usaha manusia dalam

BAB I PENDAHULUAN. individu dengan individu yang lain merupakan usaha manusia dalam BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa manusia lain dan senantiasa berusaha untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Hubungan antara individu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tuntutan keahlian atau kompetensi tertentu yang harus dimiliki individu agar dapat

BAB I PENDAHULUAN. tuntutan keahlian atau kompetensi tertentu yang harus dimiliki individu agar dapat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan yang terjadi pada era globalisasi saat ini menuntut adanya persaingan yang semakin ketat dalam dunia kerja. Hal ini mengakibatkan adanya tuntutan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kemandirian 2.1.1. Pengertian Kemandirian Menurut Masrun, dkk (1986), kemandirian adalah suatu sikap yang memungkinkan seseorang untuk berbuat bebas, melakukan sesuatu atas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah individu yang selalu belajar. Individu belajar berjalan, berlari,

BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah individu yang selalu belajar. Individu belajar berjalan, berlari, BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG MASALAH Manusia adalah individu yang selalu belajar. Individu belajar berjalan, berlari, dan lain-lain. Setiap tugas dipelajari secara optimal pada waktu-waktu tertentu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan yang khas yang menghadapkan manusia pada suatu krisis

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan yang khas yang menghadapkan manusia pada suatu krisis BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Setiap manusia dalam kehidupannya bisa menghadapi masalah berupa tantangan, tuntutan dan tekanan dari lingkungan sekitar. Setiap tahap perkembangan dalam rentang kehidupan

Lebih terperinci

SM, 2015 PROFIL PENERIMAAN DIRI PADA REMAJA YANG TINGGAL DENGAN ORANG TUA TUNGGAL BESERTA FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHINYA

SM, 2015 PROFIL PENERIMAAN DIRI PADA REMAJA YANG TINGGAL DENGAN ORANG TUA TUNGGAL BESERTA FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHINYA 1 BAB I PENDAHULUAN 1.2 Latar Belakang Masalah Pada tahun 1980-an di Amerika setidaknya 50 persen individu yang lahir menghabiskan sebagian masa remajanya pada keluarga dengan orangtua tunggal dengan pengaruh

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Locus of control merupakan salah satu variabel kepribadian (personility),

BAB II LANDASAN TEORI. Locus of control merupakan salah satu variabel kepribadian (personility), BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Locus Of Control 2.1.1. Pengertian Locus Of Control Konsep tentang Locus of control (pusat kendali) pertama kali dikemukakan oleh Rotter (1966), seorang ahli teori pembelajaran

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Harga Diri. Harris, 2009; dalam Gaspard, 2010; dalam Getachew, 2011; dalam Hsu,2013) harga diri

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Harga Diri. Harris, 2009; dalam Gaspard, 2010; dalam Getachew, 2011; dalam Hsu,2013) harga diri BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Harga Diri 1. Pengertian Harga Diri Menurut Coopersmith (1967 ; dalam Sert, 2003; dalam Challenger, 2005; dalam Harris, 2009; dalam Gaspard, 2010; dalam Getachew, 2011; dalam

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. perkembangan pembangunan di sektor ekonomi, sosial budaya, ilmu dan teknologi.

BAB 1 PENDAHULUAN. perkembangan pembangunan di sektor ekonomi, sosial budaya, ilmu dan teknologi. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada era kompetitif ini, Indonesia adalah salah satu negara yang sedang mengalami perkembangan pembangunan di sektor ekonomi, sosial budaya, ilmu dan teknologi.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan di sekolah, potensi individu/siswa yang belum berkembang

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan di sekolah, potensi individu/siswa yang belum berkembang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan Nasional mengharapkan upaya pendidikan formal di sekolah mampu membentuk pribadi peserta didik menjadi manusia yang sehat dan produktif. Pribadi

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH DEMOKRATIS ORANG TUA DAN KEMANDIRIAN DENGAN KEMAMPUAN MENYELESAIKAN MASALAH PADA REMAJA SKRIPSI

HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH DEMOKRATIS ORANG TUA DAN KEMANDIRIAN DENGAN KEMAMPUAN MENYELESAIKAN MASALAH PADA REMAJA SKRIPSI HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH DEMOKRATIS ORANG TUA DAN KEMANDIRIAN DENGAN KEMAMPUAN MENYELESAIKAN MASALAH PADA REMAJA SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan Dalam mencapai derajat Sarjana S-1 Oleh: LINA

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Istilah prokrastinasi berasal dari bahasa Latin procrastination dengan awalan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Istilah prokrastinasi berasal dari bahasa Latin procrastination dengan awalan BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Prokrastinasi Akademik 2.1.1 Pengertian Istilah prokrastinasi berasal dari bahasa Latin procrastination dengan awalan pro yang berarti mendorong maju atau bergerak maju dan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Tujuan penghabisan dari setiap orang sukses adalah mencapai

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Tujuan penghabisan dari setiap orang sukses adalah mencapai BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keberhasilan hanya diperoleh jika manusia melakukan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya. Sukses hanya bisa dicapai melalui usaha yang sungguhsungguh. Tujuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembeda. Berguna untuk mengatur, mengurus dan memakmurkan bumi. sebagai pribadi yang lebih dewasa dan lebih baik lagi.

BAB I PENDAHULUAN. pembeda. Berguna untuk mengatur, mengurus dan memakmurkan bumi. sebagai pribadi yang lebih dewasa dan lebih baik lagi. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT. Diciptakan dengan istimewa serta sempurna. Dengan memiliki akal pikiran dan hati yang dapat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Valentina, 2013). Menurut Papalia dan Olds (dalam Liem, 2013) yang dimaksud

BAB I PENDAHULUAN. Valentina, 2013). Menurut Papalia dan Olds (dalam Liem, 2013) yang dimaksud BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masa remaja merupakan periode transisi perkembangan yang terjadi antara masa kanak-kanak dan masa dewasa, yang melibatkan perubahan-perubahan baik itu secara biologis

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti mengenai Dinamika Personal Growth periode anak anak dewasa muda pada individu yang mengalami masa perkembangan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. kesuksesan, karena dengan kepercayaan diri yang baik seseorang akan mampu

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. kesuksesan, karena dengan kepercayaan diri yang baik seseorang akan mampu BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kepercayaan diri memegang peranan yang sangat penting dalam meraih kesuksesan, karena dengan kepercayaan diri yang baik seseorang akan mampu mengaktualisasikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dengan adanya perkembangan dunia yang semakin maju dan persaingan

BAB I PENDAHULUAN. Dengan adanya perkembangan dunia yang semakin maju dan persaingan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dengan adanya perkembangan dunia yang semakin maju dan persaingan yang terjadi semakin ketat, individu dituntut untuk memiliki tingkat pendidikan yang memadai

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kemandirian anak usia prasekolah 1. Pengertian Subrata (1997), berpendapat bahwa yang dimaksud dengan kemandirian anak pasekolah yaitu kemampuan anak untuk melakukan aktivitas

Lebih terperinci

PEDOMAN WAWANCARA. Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi penyesuaian dengan

PEDOMAN WAWANCARA. Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi penyesuaian dengan PEDOMAN WAWANCARA I. Judul Faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian dengan pihak keluarga pasangan pada pria WNA yang menikahi wanita WNI. II. Tujuan Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. kegiatan belajar mengajar di dalam kelas adalah sebuah proses dimana

1. PENDAHULUAN. kegiatan belajar mengajar di dalam kelas adalah sebuah proses dimana 1. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah 1. Latar Belakang Pendidikan adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian anak, baik di luar dan di dalam sekolah yang berlangsung seumur hidup. Proses

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Bagi masyarakat modern saat ini memperoleh pendidikan merupakan

BAB I PENDAHULUAN. Bagi masyarakat modern saat ini memperoleh pendidikan merupakan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bagi masyarakat modern saat ini memperoleh pendidikan merupakan suatu tuntutan yang mendasar, baik untuk mendapatkan pengetahuan ataupun dalam rangka mengembangkan

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN BAB V KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana gambaran identitas diri pada remaja yang menikah dini. Bab ini adalah penutup dari seluruh naskah penelitian,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. E. Latar Belakang Masalah. Remaja biasanya mengalami perubahan dan pertumbuhan yang pesat

BAB I PENDAHULUAN. E. Latar Belakang Masalah. Remaja biasanya mengalami perubahan dan pertumbuhan yang pesat BAB I PENDAHULUAN E. Latar Belakang Masalah Remaja biasanya mengalami perubahan dan pertumbuhan yang pesat dalam kehidupannya. Hal tersebut disebabkan pertumbuhan yang begitu pesat dan perkembangan mental

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Potensi yang dimiliki individu dapat tumbuh dan berkembang secara

BAB I PENDAHULUAN. Potensi yang dimiliki individu dapat tumbuh dan berkembang secara BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Potensi yang dimiliki individu dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Optimalisasi potensi ini dapat dicapai melalui

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Konsepsi manusia seutuhnya merupakan konsepsi ideal kemanusiaan yang terletak pada

I. PENDAHULUAN. Konsepsi manusia seutuhnya merupakan konsepsi ideal kemanusiaan yang terletak pada I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG DAN MASALAH 1. Latar Belakang Konsepsi manusia seutuhnya merupakan konsepsi ideal kemanusiaan yang terletak pada pengertian kemandirian yaitu bahwa manusia dengan keutuhan

Lebih terperinci

SISWA KELAS VIII SMP NEGERI I WONOSARI

SISWA KELAS VIII SMP NEGERI I WONOSARI PENGARUH PERSIAPAN SISWA DALAM BELAJAR DAN KEMANDIRIAN DALAM MENGERJAKAN TUGAS TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI I WONOSARI KABUPATEN

Lebih terperinci

PSIKOGRAM. Nama : A Level Tes : Supervisor Tanggal Tes : 29 Juli 2010 Pengirim : PT. X Tujuan Tes : Seleksi Calon Supervisor Gudang Bahan.

PSIKOGRAM. Nama : A Level Tes : Supervisor Tanggal Tes : 29 Juli 2010 Pengirim : PT. X Tujuan Tes : Seleksi Calon Supervisor Gudang Bahan. PSIKOGRAM Nama : A Level Tes : Supervisor Tanggal Tes : 29 Juli 2010 Pengirim : Tujuan Tes : Seleksi Calon Supervisor Gudang Bahan Sidoarjo Aspek SR R S T ST Inteligensi Umum (Taraf Kecerdasan) Taraf kemampuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan keluarga utuh serta mendapatkan kasih sayang serta bimbingan dari orang tua.

BAB I PENDAHULUAN. dengan keluarga utuh serta mendapatkan kasih sayang serta bimbingan dari orang tua. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam kehidupan, setiap manusia memiliki dambaan untuk hidup bersama dengan keluarga utuh serta mendapatkan kasih sayang serta bimbingan dari orang tua. Perhatian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. tujuan yang ingin dicapai oleh anak dapat terwujud. Motivasi anak dalam meraih

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. tujuan yang ingin dicapai oleh anak dapat terwujud. Motivasi anak dalam meraih BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Motivasi anak dalam meraih prestasi di sekolah sangat penting, sehingga tujuan yang ingin dicapai oleh anak dapat terwujud. Motivasi anak dalam meraih prestasinya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. bangsa yang mampu bertahan dan mampu memenangkan persaingan yang semakin

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. bangsa yang mampu bertahan dan mampu memenangkan persaingan yang semakin BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Mahasiswa merupakan generasi penerus bangsa yang sangat diharapkan untuk dapat berpartisipasi dalam pembangunan bangsa Indonesia yang harus menjadi bangsa

Lebih terperinci

Bandung, Agustus Peneliti. Universitas Kristen Maranatha

Bandung, Agustus Peneliti. Universitas Kristen Maranatha Dalam rangka memenuhi persyaratan untuk tugas akhir mencapai gelar sarjana Psikologi di Fakultas Psikologi, peneliti akan mengadakan penelitian sebagai salah satu syarat yang harus dipenuhi. Sehubungan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. tahun pertama kuliah di Perguruan Tinggi. Usia mahasiswa berkisar tahun.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. tahun pertama kuliah di Perguruan Tinggi. Usia mahasiswa berkisar tahun. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Mahasiswa baru merupakan status yang disandang oleh seseorang pada tahun pertama kuliah di Perguruan Tinggi. Usia mahasiswa berkisar 18-25 tahun. Mereka digolongkan

Lebih terperinci

Hubungan antara Persepsi Anak Terhadap Perhatian Orang Tua dan Intensitas Komunikasi Interpersonal dengan Kepercayaan Diri pada Remaja Difabel

Hubungan antara Persepsi Anak Terhadap Perhatian Orang Tua dan Intensitas Komunikasi Interpersonal dengan Kepercayaan Diri pada Remaja Difabel Hubungan antara Persepsi Anak Terhadap Perhatian Orang Tua dan Intensitas Komunikasi Interpersonal dengan Kepercayaan Diri pada Remaja Difabel Thesis Diajukan kepada Program Studi Magister Sains Psikologi

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS 8 BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS 2.1. Kajian Pustaka 2.1.1. Penyesuaian Diri Penyesuaian berarti adaptasi yang dapat mempertahankan eksistensinya atau bisa bertahan serta memperoleh

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA SELF BODY IMAGE DENGAN PEMBENTUKAN IDENTITAS DIRI REMAJA. Skripsi

HUBUNGAN ANTARA SELF BODY IMAGE DENGAN PEMBENTUKAN IDENTITAS DIRI REMAJA. Skripsi HUBUNGAN ANTARA SELF BODY IMAGE DENGAN PEMBENTUKAN IDENTITAS DIRI REMAJA Skripsi Untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam mencapai derajat Sarjana S-1 RUSTAM ROSIDI F100 040 101 Diajukan oleh: FAKULTAS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa yang penting dalam kehidupan seseorang,

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa yang penting dalam kehidupan seseorang, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Masa remaja merupakan masa yang penting dalam kehidupan seseorang, karena pada masa ini remaja mengalami perkembangan fisik yang cepat dan perkembangan psikis

Lebih terperinci

LAMPIRAN: STRUKTUR ORGANISASI SUMBER BAHAGIA PRINTING. Pemilik

LAMPIRAN: STRUKTUR ORGANISASI SUMBER BAHAGIA PRINTING. Pemilik 45 LAMPIRAN: STRUKTUR ORGANISASI SUMBER BAHAGIA PRINTING Pemilik Bagian admin Bagian desain Bagian produksi Keterangan: Pemilik membawahi karyawan bagian administrasi, desain dan bagian produksi. Dan pemilik

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Mendengar terjadinya sebuah kekerasan dalam kehidupan sehari-hari

BAB 1 PENDAHULUAN. Mendengar terjadinya sebuah kekerasan dalam kehidupan sehari-hari BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Mendengar terjadinya sebuah kekerasan dalam kehidupan sehari-hari bukanlah hal yang asing lagi. Akhir-akhir ini media banyak dihebohkan dengan maraknya pemberitaan

Lebih terperinci

PETUNJUK PENGISIAN. #### Selamat Mengerjakan ####

PETUNJUK PENGISIAN. #### Selamat Mengerjakan #### Lingkarilah pilihan identitas yang sesuai dengan keadaan Anda: Apakah Anda mahasiswa Unika Soegijapranata Semarang? Apakah Anda tidak memiliki usaha secara mandiri? Apakah Orangtua Anda tidak memiliki

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Tantangan globalisasi serta perubahan-perubahan lain yang terjadi di

BAB I PENDAHULUAN. Tantangan globalisasi serta perubahan-perubahan lain yang terjadi di BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tantangan globalisasi serta perubahan-perubahan lain yang terjadi di sekolah menjadi beberapa sumber masalah bagi siswa SMAN 2 Bangkinang Barat, jika siswa tidak dapat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. kekayaan sumber daya alam di masa depan. Karakter positif seperti mandiri,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. kekayaan sumber daya alam di masa depan. Karakter positif seperti mandiri, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bangsa Indonesia membutuhkan manusia berkompeten untuk mengolah kekayaan sumber daya alam di masa depan. Karakter positif seperti mandiri, disiplin, jujur, berani,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dapat menampung pencari kerja, akibatnya banyak rakyat Indonesia baik yang

BAB I PENDAHULUAN. dapat menampung pencari kerja, akibatnya banyak rakyat Indonesia baik yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu permasalahan yang sedang dihadapi bangsa Indonesia adalah masalah pengangguran. Jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia tidak dapat menampung pencari

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Setiap manusia dilahirkan dalam kondisi yang tidak berdaya. Untuk memenuhi kebutuhan

I. PENDAHULUAN. Setiap manusia dilahirkan dalam kondisi yang tidak berdaya. Untuk memenuhi kebutuhan I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG DAN MASALAH 1. Latar Belakang Setiap manusia dilahirkan dalam kondisi yang tidak berdaya. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sangat tergantung pada bantuan orang-orang

Lebih terperinci

B A B PENDAHULUAN. Setiap manusia yang lahir ke dunia menginginkan sebuah kehidupan yang

B A B PENDAHULUAN. Setiap manusia yang lahir ke dunia menginginkan sebuah kehidupan yang B A B I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Setiap manusia yang lahir ke dunia menginginkan sebuah kehidupan yang nyaman dan bahagia, yaitu hidup dengan perlindungan dan kasih sayang dari kedua orang

Lebih terperinci

LAMPIRAN 1 KUESIONER KEMANDIRIAN

LAMPIRAN 1 KUESIONER KEMANDIRIAN LAMPIRAN KUESIONER KEMANDIRIAN Di bawah ini terdapat beberapa pernyataan dengan berbagai kemungkinan jawaban. Saudara diminta untuk memilih salah satu dari pilihan jawaban yang tersedia sesuai dengan keadaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. potensi yang dimiliki peserta didik melalui proses pembelajaran (Undang-Undang

BAB I PENDAHULUAN. potensi yang dimiliki peserta didik melalui proses pembelajaran (Undang-Undang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan salah satu sektor penting dalam pembangunan di setiap negara. Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. peristiwa yang menyenangkan maupun peristiwa yang tidak menyenangkan.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. peristiwa yang menyenangkan maupun peristiwa yang tidak menyenangkan. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Individu pasti melewati segala peristiwa dalam kehidupan mereka. Peristiwa-peristiwa yang dialami oleh setiap individu dapat beragam, dapat berupa peristiwa yang menyenangkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. karena pengaruh hormonal. Perubahan fisik yang terjadi ini tentu saja

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. karena pengaruh hormonal. Perubahan fisik yang terjadi ini tentu saja BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perubahan fisik terjadi saat seorang individu mencapai usia remaja, dimana seorang remaja akan mengalami masa perubahan atau masa transisi dari anak-anak menjadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kesadaran dunia pendidikan di Indonesia untuk memberikan layanan

BAB I PENDAHULUAN. Kesadaran dunia pendidikan di Indonesia untuk memberikan layanan BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Kesadaran dunia pendidikan di Indonesia untuk memberikan layanan belajar terhadap siswa-siswa berinteligensi tinggi semakin meningkat, hal ini ditandai dengan munculnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dukungan, serta kebutuhan akan rasa aman untuk masa depan. Orang tua berperan

BAB I PENDAHULUAN. dukungan, serta kebutuhan akan rasa aman untuk masa depan. Orang tua berperan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Anak merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa yang harus dilindungi dan diperhatikan sebaik mungkin oleh seluruh lapisan masyarakat. Keluarga sebagai unit terkecil dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja berhubungan dengan perubahan intelektual. Dimana cara

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja berhubungan dengan perubahan intelektual. Dimana cara BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Masa remaja berhubungan dengan perubahan intelektual. Dimana cara berpikir remaja mengarah pada tercapainya integrasi dalam hubungan sosial (Piaget dalam Hurlock, 1980).

Lebih terperinci

KEBAHAGIAAN DAN KETIDAKBAHAGIAAN PADA WANITA MENIKAH MUDA

KEBAHAGIAAN DAN KETIDAKBAHAGIAAN PADA WANITA MENIKAH MUDA KEBAHAGIAAN DAN KETIDAKBAHAGIAAN PADA WANITA MENIKAH MUDA NASKAH PUBLIKASI Diajukan Kepada Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta Untuk Memenuhi Sebagaian Persyaratan Dalam Mencapai Derajat

Lebih terperinci

KEMANDIRIAN PADA ANAK TENGAH DARI LATAR BELAKANG BUDAYA YANG BERBEDA NASKAH PUBLIKASI HALAMAN SAMPUL DEPAN

KEMANDIRIAN PADA ANAK TENGAH DARI LATAR BELAKANG BUDAYA YANG BERBEDA NASKAH PUBLIKASI HALAMAN SAMPUL DEPAN KEMANDIRIAN PADA ANAK TENGAH DARI LATAR BELAKANG BUDAYA YANG BERBEDA NASKAH PUBLIKASI HALAMAN SAMPUL DEPAN Diajukan kepada Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta Untuk Memenuhi Persyaratan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Penyandang tuna rungu adalah bagian dari kesatuan masyarakat Karena

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Penyandang tuna rungu adalah bagian dari kesatuan masyarakat Karena BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penyandang tuna rungu adalah bagian dari kesatuan masyarakat Karena adanya keterbatasan atau kekurangan pada fisiknya, membuat individu umumnya kurang mampu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia, melalui upaya pengajaran dan pelatihan, serta

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. berpengaruh terhadap kemajuan perusahaan adalah karyawan yang berkualitas.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. berpengaruh terhadap kemajuan perusahaan adalah karyawan yang berkualitas. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Era globalisasi seperti sekarang ini satu hal yang dijadikan tolak ukur keberhasilan perusahaan adalah kualitas manusia dalam bekerja, hal ini didukung oleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. menimbulkan konflik, frustasi dan tekanan-tekanan, sehingga kemungkinan besar

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. menimbulkan konflik, frustasi dan tekanan-tekanan, sehingga kemungkinan besar 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Remaja merupakan kelompok yang sangat berpotensi untuk bertindak agresif. Remaja yang sedang berada dalam masa transisi yang banyak menimbulkan konflik, frustasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang diperkirakan akan semakin kompleks. 1

BAB I PENDAHULUAN. yang diperkirakan akan semakin kompleks. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Situasi kehidupan dewasa ini sudah semakin kompleks. Kompleksitas kehidupan seolah-olah telah menjadi bagian yang mapan dari kehidupan masyarakat, sebagian demi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. tergantung pada orangtua dan orang-orang disekitarnya hingga waktu tertentu.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. tergantung pada orangtua dan orang-orang disekitarnya hingga waktu tertentu. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setiap manusia dilahirkan dalam kondisi yang tidak berdaya, ia akan tergantung pada orangtua dan orang-orang disekitarnya hingga waktu tertentu. Seiring dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. adolescence yang berasal dari kata dalam bahasa latin adolescere (kata

BAB I PENDAHULUAN. adolescence yang berasal dari kata dalam bahasa latin adolescere (kata BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Secara psikologis perubahan merupakan situasi yang paling sulit untuk diatasi oleh seseorang, dan ini merupakan ciri khas yang menandai awal masa remaja. Dalam perubahannya,

Lebih terperinci

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB ANAK TURUN MENJADI ANAK JALANAN Terdapat tiga faktor internal yang disebutkan dalam penelitian ini, yaitu impian bebas, ingin

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hubungan Antara Persepsi Terhadap Pola Kelekatan Orangtua Tunggal Dengan Konsep Diri Remaja Di Kota Bandung

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hubungan Antara Persepsi Terhadap Pola Kelekatan Orangtua Tunggal Dengan Konsep Diri Remaja Di Kota Bandung BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Idealnya, di dalam sebuah keluarga yang lengkap haruslah ada ayah, ibu dan juga anak. Namun, pada kenyataannya, saat ini banyak sekali orang tua yang menjadi orangtua

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Motivasi Berprestasi. Motivasi berprestasi (achievement motivation) berarti dorongan yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Motivasi Berprestasi. Motivasi berprestasi (achievement motivation) berarti dorongan yang 13 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Motivasi Berprestasi 1. Pengertian Motivasi Berprestasi Motivasi berprestasi (achievement motivation) berarti dorongan yang menyebabkan terjadinya aktivitas aktivitas seseorang

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. A. Kemandirian Anak Usia Prasekolah. Tertunda atau terhambatnya pengembangan potensi-potensi itu akan

BAB II LANDASAN TEORI. A. Kemandirian Anak Usia Prasekolah. Tertunda atau terhambatnya pengembangan potensi-potensi itu akan BAB II LANDASAN TEORI A. Kemandirian Anak Usia Prasekolah 1. Pengertian Anak Usia Prasekolah Anak prasekolah adalah mereka yang berusia antara tiga sampai enam tahun (Patmonodewo, 1995). Anak prasekolah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terjadi pada waktu dan tempat yang kadang sulit untuk diprediksikan. situasi

BAB I PENDAHULUAN. terjadi pada waktu dan tempat yang kadang sulit untuk diprediksikan. situasi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada dasarnya setiap individu pasti mengalami kesulitan karena individu tidak akan terlepas dari berbagai kesulitan dalam kehidupannya. Kesulitan dapat terjadi pada

Lebih terperinci

TEORI KEPRIBADIAN MATANG

TEORI KEPRIBADIAN MATANG 8 TEORI KEPRIBADIAN MATANG Teori Kepribadian Matang - Model Allport Menurut Allport, individu-individu yang sehat dikatakan mempunyai fungsi yang baik pada tingkat rasional dan sadar. Menyadari sepenuhnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 104).Secara historis keluarga terbentuk paling tidak dari satuan yang merupakan

BAB I PENDAHULUAN. 104).Secara historis keluarga terbentuk paling tidak dari satuan yang merupakan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keluarga merupakan suatu kelompok primer yang sangat erat. Yang dibentuk karena kebutuhan akan kasih sayang antara suami dan istri. (Khairuddin, 1985: 104).Secara historis

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dorongan dalam melakukan pekerjaanya, intensitas dan frekuensi dari waktu ke

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dorongan dalam melakukan pekerjaanya, intensitas dan frekuensi dari waktu ke BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada dasarnya manusia mempunyai unsur pokok dalam berperilaku yang berupa aktifitas, baik itu aktifitas fisik maupun aktivitas mental, untuk itu perlu diperhatikan

Lebih terperinci

Interaksi Keluarga Dan Peran Orang Tua Terhadap Keputusan Pemilihan Jurusan Pada Siswa SMA Di Palembang

Interaksi Keluarga Dan Peran Orang Tua Terhadap Keputusan Pemilihan Jurusan Pada Siswa SMA Di Palembang Interaksi Keluarga Dan Peran Orang Tua Terhadap Keputusan Pemilihan Jurusan Pada Siswa SMA Di Palembang Itryah Arfianto Fakultas Psikologi, Universitas Bina Darma itryah@yahoo.com Tujuan dari penelitian

Lebih terperinci

perkawinan yang buruk dimana apabila antara suami istri tidak mampu lagi mencari jalan penyelesaian masalah yang dapat memuaskan kedua belah pihak (Hu

perkawinan yang buruk dimana apabila antara suami istri tidak mampu lagi mencari jalan penyelesaian masalah yang dapat memuaskan kedua belah pihak (Hu KEMANDIRIAN REMAJA YANG MEMILIKI ORANGTUA YANG BERCERAI STARLINA AULIA UNIVERSITAS GUNADARMA ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat kemandirian remaja yang memiliki orangtua yang bercerai,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sebagai contoh kasus tawuran (metro.sindonews.com, 25/11/2016) yang terjadi. dengan pedang panjang dan juga melempar batu.

BAB I PENDAHULUAN. sebagai contoh kasus tawuran (metro.sindonews.com, 25/11/2016) yang terjadi. dengan pedang panjang dan juga melempar batu. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Tawuran terjadi dikalangan pelajar sudah menjadi suatu hal yang biasa, sebagai contoh kasus tawuran (metro.sindonews.com, 25/11/2016) yang terjadi di tangerang,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pada prinsipnya sebagai makhluk sosial, antara individu yang satu dengan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pada prinsipnya sebagai makhluk sosial, antara individu yang satu dengan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada prinsipnya sebagai makhluk sosial, antara individu yang satu dengan yang lainnya pasti membutuhkan kerjasama. Ketergantungan manusia satu dengan yang lain merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. afeksional pada seseorang yang ditujukan pada figur lekat dan ikatan ini

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. afeksional pada seseorang yang ditujukan pada figur lekat dan ikatan ini 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ainsworth (dalam Helmi, 2004) mengartikan kelekatan sebagai ikatan afeksional pada seseorang yang ditujukan pada figur lekat dan ikatan ini berlangsung lama

Lebih terperinci

PENERIMAAN DIRI ORANG TUA TERHADAP ANAK YANG HAMIL DI LUAR NIKAH

PENERIMAAN DIRI ORANG TUA TERHADAP ANAK YANG HAMIL DI LUAR NIKAH PENERIMAAN DIRI ORANG TUA TERHADAP ANAK YANG HAMIL DI LUAR NIKAH Disusun Oleh Nama : Auliya Karimah NPM : 10507030 Pembimbing : Wahyu Rahardjo, S.Psi., M.si Diajukan Guna Melengkapi Sebagian Syarat Dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu indikator keberhasilan siswa dalam belajar adalah memperoleh

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu indikator keberhasilan siswa dalam belajar adalah memperoleh BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu indikator keberhasilan siswa dalam belajar adalah memperoleh prestasi akademik sesuai dengan target yang telah ditentukan. Berdasarkan konsep pembelajaran

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Remaja

TINJAUAN PUSTAKA Remaja TINJAUAN PUSTAKA Remaja Remaja berasal dari bahasa latin yaitu adolescent yang mempunyai arti tumbuh menjadi dewasa. Masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa

Lebih terperinci

A. Pedoman Wawancara

A. Pedoman Wawancara LAMPIRAN A. Pedoman Wawancara PEDOMAN WAWANCARA A. Menggali Emosi Outgoing Emosi Seklusif 1. Berapa banyak teman dan sahabat yang anda miliki? 2. Bagaimana hubungan anda dengan teman-teman anda? 3. Saat

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Body Image 1. Pengertian Body image adalah sikap seseorang terhadap tubuhnya secara sadar dan tidak sadar. Sikap ini mencakup persepsi dan perasaan tentang ukuran, bentuk, fungsi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. EFIKASI DIRI PARENTING 1. Pengertian Efikasi Diri Bandura merupakan tokoh yang memperkenalkan istilah efikasi diri (selfefficacy). Bandura (2001) mendefinisikan bahwa efikasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sejak tahun 2004, bencana demi bencana menimpa bangsa Indonesia. Mulai

BAB I PENDAHULUAN. Sejak tahun 2004, bencana demi bencana menimpa bangsa Indonesia. Mulai 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Sejak tahun 2004, bencana demi bencana menimpa bangsa Indonesia. Mulai dari gempa bumi berkekuatan 8.9 SR diikuti tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 silam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka

BAB I PENDAHULUAN. membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang masalah Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kemandirian Anak TK 2.1.1 Pengertian Menurut Padiyana (2007) kemandirian adalah suatu sikap yang memungkinkan seseorang untuk berbuat bebas, melakukan sesuatu atas dorongan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Wellbeing merupakan kondisi saat individu bisa mengetahui dan mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya, menjalin hubungan yang baik dengan orang lain, dan secara

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Kebahagiaan. emosional yang positif karena telah terpenuhinya kondisi-kondisi yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Kebahagiaan. emosional yang positif karena telah terpenuhinya kondisi-kondisi yang BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kebahagiaan 1. Pengertian Spot (2004) menjelaskan kebahagiaan adalah penghayatan dari perasaan emosional yang positif karena telah terpenuhinya kondisi-kondisi yang diinginkan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. atau interaksi dengan orang lain, tentunya dibutuhkan kemampuan individu untuk

BAB I PENDAHULUAN. atau interaksi dengan orang lain, tentunya dibutuhkan kemampuan individu untuk BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia adalah mahluk sosial yang memiliki kebutuhan untuk berinteraksi timbal-balik dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Memulai suatu hubungan atau

Lebih terperinci

Psikologi Konseling Agustini, M.Psi., Psikolog MODUL PERKULIAHAN. Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh

Psikologi Konseling Agustini, M.Psi., Psikolog MODUL PERKULIAHAN. Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh MODUL PERKULIAHAN Psikologi Konseling Psikologi Konseling Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh Psikologi Psikologi 12 61033 Agustini, M.Psi., Psikolog Abstract Dalam perkuliahan ini akan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Masa remaja merupakan peralihan antara masa kanak-kanak menuju

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Masa remaja merupakan peralihan antara masa kanak-kanak menuju BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masa remaja merupakan peralihan antara masa kanak-kanak menuju masa dewasa yang meliputi berbagai perubahan besar, diantaranya perubahan fisik, kognitif, dan psikososial.

Lebih terperinci