BAB 3 KERANGKA KONSEP PENELITIAN DAN DEFINISI OPERASIONAL

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB 3 KERANGKA KONSEP PENELITIAN DAN DEFINISI OPERASIONAL"

Transkripsi

1 BAB 3 KERANGKA KONSEP PENELITIAN DAN DEFINISI OPERASIONAL 3.1. Kerangka Konsep Penelitian Berdasarkan tujuan penelitian diatas maka kerangka konsep dalam penelitian ini adalah : Perilaku : - Pengetahuan - Sikap - Tindakan Asupan Asam Folat Gambar 3.1. Kerangka konsep perilaku kesehatan ibu hamil di RSU Dr. Pirngadi Medan 3.2. Defenisi Operasional a. Usia adalah umur responden pada saat dilakukan penelitian. Usia dikategorikan menjadi : 1) < 21 tahun 2) tahun 3) tahun 4) tahun 5) >35 tahun b. Pendidikan adalah jenis pendidikan formal yang terakhir yang diselesaikan oleh responden. Pendidikan dikategorikan menjadi :

2 1) Pendidikan Dasar : Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama(SMP) 2) Pendidikan Menengah : Sekolah Menengah Atas (SMA) 3) Pendidikan Tinggi : Diploma, Sarjana, Magister, Doktor c. Pekerjaan adalah suatu kegiatan atau aktivitas responden sehari hari. Pekerjaan dikategorikan menjadi: 1) Ibu Rumah Tangga 2) PNS 3) Wiraswasta 4) Honorer 5) Pegawai Swasta 6) Mahasiswa d. Gravida adalah kehamilan anak yang ke berapa kali. Gravida dikategorikan menjadi: 1) 1 2) 2 3) 3 4) >3 e. Pengetahuan adalah kemampuan ibu hamil untuk menjawab pertanyaan mengenai asam folat. Pengetahuan diukur melalui jawaban kuesioner, pertanyaan yang diajukan adalah 10. Setiap jawaban benar diberi skor 1 dan jawaban salah diberi skor 0. skor maksimal adalah 10 dan total

3 skor minimal adalah 0. Tingkat pengetahuan dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu: 1) Baik, jika jawaban benar responden > 75%, apabila total skor responden > 7. 2) Sedang, jika jawaban benar responden 40-75%, apabila total skor responden ) Buruk, jika jawaban benar responden < 40%, apabila total skor responden < 4. f. Sikap adalah pandangan ibu hamil terhadap pentingnya mengkonsumsi asam folat pada masa kehamilan. Sikap diukur melalui jawaban kuesioner, pertanyaan yang diajukan sebanyak 5 pertanyaan dengan 3 pilihan jawaban. Setiap pertanyaan memiliki skor 0 sampai 2; dengan kriteria: jawaban setuju = 2, kurang setuju = 1, dan tidak setuju = 0. skor maksimal adalah 10 dan total skor minimal adalah 0. Penilaian sikap dikategorikan menjadi 3 kelompok, yaitu: 1) Baik, jika jawaban benar responden > 75%, apabila total skor responden > 7. 2) Sedang, jika jawaban benar responden 40-75%, apabila total skor responden ) Buruk, jika jawaban benar responden < 40%, apabila total skor responden < 4. g. Tindakan merupakan reaksi atau respons ibu hamil yang terbuka terhadap suatu stimulus atau objek. Tindakan diukur melalui jawaban kuesioner, pertanyaan yang diajukan sebanyak 5 pertanyaan dengan 3 pilihan jawaban. Setiap pertanyaan memiliki skor 0 sampai 1; dengan kriteria: jawaban sering = 2, jarang = 1, dan tidak pernah = 0. skor

4 maksimal adalah 10 dan total skor minimal adalah 0. Penilaian tindakan dikategorikan menjadi 3 kelompok, yaitu: 1) Baik, jika jawaban benar responden > 75%, apabila total skor responden > 7. 2) Sedang, jika jawaban benar responden 40-75%, apabila total skor responden ) Buruk, jika jawaban benar responden < 40%, apabila total skor responden < 4. h. Perilaku adalah penjumlahan hasil skor dari tingkat pengetahuan, sikap, dan tindakan. Penilaian perilaku dikategorikan menjadi 3 kelompok, yaitu: 1) Baik, jika jawaban benar responden > 75%, apabila total skor responden ) Sedang, jika jawaban benar responden 40-75%, apabila total skor responden ) Buruk, jika jawaban benar responden < 40%, apabila total skor responden 0-11.

5 BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat survei deskriptif dengan desain cross sectional untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan, sikap, dan tindakan ibu hamil terhadap pentingnya asupan asam folat pada masa kehamilan di RSU Dr. Pirngadi Medan 4.2. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian telah dilakukan pada bulan Juli September Penelitian ini dilakukan secara simultan dengan satu peneliti lain yang menggunakan lokasi yang sama. Penelitian ini dilakukan di Poliklinik Ibu Hamil RSU Dr.Pirngadi Medan. Alasan pemilihan lokasi penelitian adalah dikarenakan RSU Dr.Pirngadi merupakan rumah sakit umum yang menjadi tempat rujukan di kota Medan. Peneliti berharap dengan diadakannya penelitian di rumah sakit ini maka hasil dari penelitiaan ini dapat menunjukkan gambaran perilaku ibu hamil terhadap pentingnya asupan asam folat di masa kehamilan di Kota Medan Populasi dan sampel Populasi Populasi dari penelitian ini adalah seluruh ibu hamil yang datang berkonsultasi ke Poliklinik Ibu Hamil Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan.

6 Sampel Sampel adalah sebagian dari populasi. Sampel yang dipilih berdasarkan counsecutive sampling. Rumus yang digunakan adalah: (Sastroasmoro, 2008) n = z 2 α PQ d 2 Keterangan: n : Besar sampel z α : Tingkat kepercayaan yang dikehendaki (95 % = 1,96) P : Proporsi atau keadaan yang akan dicari Q : 1 P d : Tingkat ketepatan yang diinginkan n = (1.96) 2 X (0.5) X (1-0.5) = 96 (0.1) 2 Berdasarkan rumus diatas, dengan tingkat ketepatan 10 %, proporsi sebelumnya tidak diketahui (dipergunakan P = 0.50) didapatkan jumlah sampel sebanyak 96. Untuk itu peneliti akan mengambil sampel sebanyak 100 orang Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari responden melalui pengisian kuesioner.

7 Instrumen Penelitian Instrumen berupa kuesioner sebagai alat bantu dalam pengumpulan data yang terdiri dari pertanyaan - pertanyaan tertutup untuk mengumpulkan data karakteristik, pengetahuan, sikap, dan tindakan responden penelitian Teknik Skor dan Skala Kuesioner berisi 20 pertanyaan yang terbagi atas tiga kelompok yaitu pengetahuan, sikap dan tindakan. Tiap kelompok dinilai dengan cara/sesuai tabel di bawah ini: Tabel 4.1. Penentuan Nilai dari Kuesioner Pengetahuan (Nilai 0-10) Pertanyaan No. 1 s.d. 10: Jawaban benar bernilai 1 Jawaban salah bernilai 0 Tabel 4.2. Penentuan Nilai dari Kuesioner Sikap (Nilai 0-10) Pertanyaan No. 11 s.d. 15: Jawaban setuju bernilai 2 Jawaban kurang setuju bernilai 1 Jawaban tidak setuju bernilai 0

8 Tabel 4.3. Penentuan Nilai dari Kuesioner Tindakan (Nilai 0-10) Pertanyaan No. 15 s.d. 20: Jawaban sering bernilai 2 Jawaban jarang bernilai 1 Jawaban tidak pernah bernilai 0 Setelah seluruh kuesioner dinilai sesuai dengan tabel di atas, maka pengetahuan, sikap dan tindakan dikelompokkan berdasarkan kategori di bawah ini: (Pratomo, 1966) Baik, apabila nilai yang diperoleh >75% dari nilai tertinggi Sedang, apabila nilai yang diperoleh 40-75% dari nilai tertinggi Buruk, apabila nilai yang diperoleh <40% dari nilai tertinggi. Berdasarkan skala pengukuran di atas, maka kategori pengetahuan, sikap dan tindakan dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 4.4. Kategori dari Kuesioner Pengetahuan, Sikap, Tindakan, dan Perilaku Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan Baik, bila nilai yang diperoleh 8-10 Sedang, bila nilai yang diperoleh 4-7 Buruk, bila nilai yang diperoleh 0-3 Perilaku ( Skor dari Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan) Baik, bila nilai yang diperoleh Sedang, bila nilai yang diperoleh Buruk, bila nilai yang diperoleh 0-11

9 Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen penelitian yang dipergunakan dalam penelitian ini telah diuji validitas dan reliabilitasnya dengan menggunakan uji korelasi pearson dan uji reliabilitas (alpha Cronbach) dengan menggunakan program Statistic Package for Social Science (SPSS) Uji validitas dan reliabilitas ini dilakukan dengan melibatkan 20 sampel dan memiliki karakteristik yang hampir sama dengan sampel penelitian. Hasil uji validitas dan reliabilitas dapat dilihat pada tabel 4.5. Variabel Tabel 4.5. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner Nomor Pertanyaan Pearson Correlation Status Alpha Status Pengetahuan 1 0,715 Valid 0,835 Reliabel 2 0,563 Valid Reliabel 3 0,776 Valid Reliabel 4 0,633 Valid Reliabel 5 0,558 Valid Reliabel 6 0,776 Valid Reliabel 7 0,633 Valid Reliabel 8 0,558 Valid Reliabel 9 0,715 Valid Reliabel 10 0,563 Valid Reliabel Sikap ,725 0,746 0,485 0,628 0,819 Valid Valid Valid Valid Valid 0,707 Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel

10 4.5. Pengolahan dan Analisis Data Pengolahan data yang terkumpul dianalisa secara deskriptif dengan menggunakan Program SPSS (Statistical Package for the Social Science) 17.0 for windows. Data yang telah dianalisis akan disajikan dalam bentuk tabel.

11 BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5.1. Hasil Penelitian Deskripsi Lokasi Penelitian Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi merupakan suatu unit pelayanan kesehatan milik Pemerintahan Kota Medan yang berlokasi di Jl. Prof. H. M. Yamin, SH No.47 Medan Sumatera Utara. Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi ini mulai didirikan pada tahun 1928 oleh Pemerintah Hindia Belanda dan selesai pada tahun 1930 dengan nama Gementee Zieken Huis atau Rumah Sakit Kota, lalu pada tahun 1979 berubah menjadi Rumah Sakit Dr. Pirngadi Medan. Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi berjarak sekitar 7 km dari Fakultas Kedokteran Deskripsi Karakteristik Individu Dari hasil penelitian yang telah dilakukan di Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan tahun 2010, diperoleh data - data yang dikumpulkan dan disajikan dalam bentuk tabel seperti yang diuraikan dibawah ini: Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Umur Tabel 5.1 Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Umur Umur Frekuensi Persentase (%) < >

12 Berdasarkan tabel 5.1 dapat dilihat bahwa responden yang paling banyak berusia tahun (33%) sedangkan yang paling sedikit berusia <21 tahun (9%) Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Tabel 5.2 Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Pendidikan Frekuensi Persentase (%) Dasar Menengah Atas Berdasarkan tabel 5.2 dapat dilihat bahwa responden yang paling banyak mempunyai pendidikan menengah (69%) sedangkan yang paling sedikit mempunyai pendidikan dasar (11%) Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan Tabel 5.3 Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan Pekerjaan Frekuensi Persentase (%) Ibu rumah tangga PNS Wiraswasta Honorer Pegawai swasta Mahasiswa Berdasarkan tabel 5.3 dapat dilihat bahwa responden yang paling banyak mempunyai pekerjaan ibu rumah tangga (71%) sedangkan yang paling sedikit mempunyai pekerjaan sebagai mahasiswa (1%).

13 Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Gravida Tabel 5.4 Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Gravida Gravida Frekuensi Persentase (%) > Berdasarkan tabel 5.4 dapat dilihat bahwa responden yang paling banyak adalah gravida 1 (37%) sedangkan yang paling sedikit adalah gravida 3 (13%) Deskripsi Perilaku Responden Distribusi Pengetahuan Responden Terhadap Asupan Asam Folat pada Masa Kehamilan Tabel 5.5 Distribusi Pengetahuan Responden Terhadap Asupan Asam Folat pada Masa Kehamilan Pengetahuan Frekuensi Persentase (%) Baik Sedang Buruk Berdasarkan tabel 5.5 dapat dilihat bahwa responden yang memiliki pengetahuan yang baik memiliki persentase yang tinggi yaitu 55%, pengetahuan sedang 36% dan pengetahuan buruk 9 %.

14 Distribusi Sikap Responden Terhadap Asupan Asam Folat pada Masa Kehamilan Tabel 5.6 Distribusi Sikap Responden Terhadap Asupan Asam Folat pada Masa Kehamilan Sikap Frekuensi Persentase (%) Baik Sedang Buruk Berdasarkan tabel 5.6 dapat dilihat bahwa responden yang memiliki sikap yang baik memiliki persentase yang tinggi yaitu 94%, pengetahuan sedang 6% dan pengetahuan buruk 0 % Distribusi Tindakan Responden Terhadap Asupan Asam Folat pada Masa Kehamilan Tabel 5.7 Distribusi Tindakan Responden Terhadap Asupan Asam Folat pada Masa Kehamilan Tindakan Frekuensi Persentase (%) Baik Sedang Buruk Berdasarkan tabel 5.7 dapat dilihat bahwa responden yang memiliki tindakan yang buruk memiliki persentase yang tinggi yaitu 43%, tindakan sedang 36% dan tindakan baik 21 %.

15 Distribusi Perilaku Responden Terhadap Asupan Asam Folat pada Masa Kehamilan Tabel 5.8 Distribusi Perilaku Responden Terhadap Asupan Asam Folat pada Masa Kehamilan Tindakan Frekuensi Persentase (%) Baik Sedang Buruk Berdasarkan tabel 5.8 dapat dilihat bahwa responden yang memiliki perilaku yang sedang memiliki persentase yang tinggi yaitu 68%, perilaku baik 28% dan perilaku buruk 4 % Deskripsi Hasil Jawaban Responden Berikut ini akan dijabarkan hasil jawaban kuesioner pengetahuan dari responden: Tabel 5.9 Hasil Jawaban Responden Terhadap Kuesioner Pengetahuan Pertanyaan Benar Salah

16 Berdasarkan Tabel 5.9 dapat dilihat bahwa responden banyak menjawab salah pada pertanyaan kuesioner nomor 3, 4, dan 8 dimana pertanyaan tersebut menanyakan tentang sumber vitamin B12, asam folat dan tentang angka kecukupun gizi sehari untuk asam folat yang dianjurkan untuk ibu hamil. Berikut ini akan dijabarkan hasil jawaban kuesioner sikap dari responden: Tabel 5.10 Hasil Jawaban Responden Terhadap Kuesioner Sikap Pertanyaan Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Berdasarkan Tabel 5.10 dapat dilihat bahwa responden banyak menjawab setuju pada hampir semua pertanyaan. Berikut ini akan dijabarkan hasil jawaban kuesioner tindakan dari responden: Tabel 5.11 Hasil Jawaban Responden Terhadap Kuesioner Tindakan Pertanyaan Sering Jarang Tidak Pernah Berdasarkan Tabel 5.11 dapat dilihat bahwa responden banyak menjawab tidak pernah pada pertanyaan nomor 17 dan 19 dimana

17 pertanyaan tersebut menanyakan tentang vitamin suplemen tambahan dan penyuluhan nutrisi pada ibu hamil khususnya yang berhubungan dengan asam folat. Hal ini mungkin timbul akibat kurangnya informasi ibu hamil yang biasanya didapat melalui penyuluhan penyuluhan Deskripsi Tabulasi Silang Tabulasi Silang antara Umur dengan Pengetahuan Tabel 5.12 Tabulasi Silang antara Umur dengan Pengetahuan Umur Interpretasi Pengetahuan (tahun) Baik Sedang Buruk < > Berdasarkan tabel 5.12 dapat dilihat bahwa responden yang memiliki pengetahuan baik paling banyak pada usia tahun (19 orang), sedangkan yang memiliki pengetahuan buruk paling banyak pada usia < 21 tahun (4 orang).

18 Tabulasi Silang antara Umur dengan Sikap Tabel 5.13 Tabulasi Silang antara Umur dengan Sikap Umur Interpretasi Sikap (tahun) Baik Sedang < > Berdasarkan tabel 5.13 dapat dilihat bahwa responden yang memiliki sikap baik paling banyak pada usia tahun (32 orang) Tabulasi Silang antara Umur dengan Tindakan Tabel 5.14 Tabulasi Silang antara Umur dengan Tindakan Umur Interpretasi Tindakan (tahun) Baik Sedang Buruk < > Berdasarkan tabel 5.14 dapat dilihat bahwa responden yang memiliki tindakan baik paling banyak pada usia tahun (8 orang), sedangkan yang memiliki tindakan buruk paling banyak pada juga pada usia tahun (14 orang).

19 Tabulasi Silang antara Umur dengan Perilaku Tabel 5.15 Tabulasi Silang antara Umur dengan Perilaku Umur Interpretasi Perilaku (tahun) Baik Sedang Buruk < > Berdasarkan tabel 5.15 dapat dilihat bahwa responden yang memiliki perilaku baik paling banyak pada usia tahun (12 orang), sedangkan yang memiliki perilaku buruk paling banyak pada usia < 21 tahun (3 orang) Tabulasi Silang antara Pekerjaan dengan Pengetahuan Tabel 5.16 Tabulasi Silang antara Pekerjaan dengan Pengetahuan Pekerjaan Interpretasi Pengetahuan Baik Sedang Buruk Ibu Rumah Tangga Wiraswasta PNS Honorer Pegawai Swasta Mahasiswa Berdasarkan tabel 5.16 dapat dilihat bahwa responden yang memiliki pengetahuan baik paling banyak pada ibu rumah tangga (37 orang),

20 sedangkan yang memiliki pengetahuan buruk paling banyak juga pada ibu rumah tangga (8 orang) Tabulasi Silang Antara Pekerjaan dengan Sikap Tabel 5.17 Tabulasi Silang antara Pekerjaan dengan Sikap Pekerjaan Interpretasi Sikap Baik Sedang Ibu Rumah Tangga Wiraswasta PNS Honorer Pegawai Swasta Mahasiswa Berdasarkan tabel 5.17 dapat dilihat bahwa responden yang memiliki sikap baik paling banyak pada ibu rumah tangga (67 orang) Tabulasi Silang antara Pekerjaan dengan Tindakan Tabel 5.18 Tabulasi Silang antara Pekerjaan dengan Tindakan Pekerjaan Interpretasi Tindakan Baik Sedang Buruk Ibu Rumah Tangga Wiraswasta PNS Honorer Pegawai Swasta Mahasiswa

21 Berdasarkan tabel 5.18 dapat dilihat bahwa responden yang memiliki tindakan baik paling banyak pada ibu rumah tangga (11 orang), sedangkan yang memiliki tindakan buruk paling banyak juga pada ibu rumah tangga (31 orang) Tabulasi Silang antara Pekerjaan dengan Perilaku Tabel 5.19 Tabulasi Silang antara Pekerjaan dengan Perilaku Pekerjaan Interpretasi Perilaku Baik Sedang Buruk Ibu Rumah Tangga Wiraswasta PNS Honorer Pegawai Swasta Mahasiswa Berdasarkan tabel 5.19 dapat dilihat bahwa responden yang memiliki perilaku baik paling banyak pada ibu rumah tangga (14 orang), sedangkan yang memiliki perilaku buruk paling banyak pada ibu rumah tangga dan wiraswasta (2 orang) Tabulasi Silang antara Pendidikan dengan Pengetahuan Tabel 5.20 Tabulasi Silang antara Pendidikan dengan Pengetahuan Pendidikan Interpretasi Pengetahuan Baik Sedang Buruk Dasar Menengah Tinggi

22 Berdasarkan tabel 5.20 dapat dilihat bahwa responden yang memiliki pengetahuan baik paling banyak pada pendidikan menengah (38 orang), sedangkan yang memiliki pengetahuan buruk paling banyak pada pendidikan dasar (5 orang) Tabulasi Silang antara Pendidikan dengan Sikap Tabel 5.21 Tabulasi Silang antara Pendidikan dengan Sikap Pendidikan Interpretasi Sikap Baik Sedang Dasar Menengah Tinggi Berdasarkan tabel 5.21 dapat dilihat bahwa responden yang memiliki sikap baik paling banyak pada pendidikan menengah (67 orang), sedangkan yang memiliki sikap buruk paling banyak pada pendidikan dasar (4 orang) Tabulasi Silang antara Pendidikan dengan Tindakan Tabel 5.22 Tabulasi Silang antara Pendidikan dengan Tindakan Pendidikan Interpretasi Tindakan Baik Sedang Buruk Dasar Menengah Tinggi Berdasarkan tabel 5.22 dapat dilihat bahwa responden yang memiliki tindakan baik paling banyak pada pendidikan menengah (13 orang),

23 sedangkan yang memiliki tindakan buruk paling banyak juga pada pendidikan menengah (32 orang) Tabulasi Silang antara Pendidikan dengan Perilaku Tabel 5.23 Tabulasi Silang antara Pendidikan dengan Perilaku Pendidikan Interpretasi Perilaku Baik Sedang Buruk Dasar Menengah Tinggi Berdasarkan tabel 5.23 dapat dilihat bahwa responden yang memiliki perilaku baik paling banyak pada pendidikan menengah (17 orang), sedangkan yang memiliki tindakan buruk paling banyak pada pendidikan dasar (3 orang) Tabulasi Silang antara Gravida dengan Pengetahuan Tabel 5.24 Tabulasi Silang antara Gravida dengan Pengetahuan Gravida Interpretasi Pengetahuan Baik Sedang Buruk >

24 Berdasarkan tabel 5.24 dapat dilihat bahwa responden yang memiliki pengetahuan baik paling banyak pada gravida 2 (20 orang), sedangkan yang memiliki pengetahuan buruk paling banyak pada gravida 1 (6 orang) Tabulasi Silang antara Gravida dengan Sikap Tabel 5.25 Tabulasi Silang antara Gravida dengan Sikap Gravida Interpretasi Sikap Baik Sedang > Berdasarkan tabel 5.25 dapat dilihat bahwa responden yang memiliki sikap baik paling banyak pada gravida 1 (33 orang) Tabulasi Silang antara Gravida dengan Tindakan Tabel 5.26 Tabulasi Silang antara Gravida dengan Tindakan Gravida Interpretasi Tindakan Baik Sedang Buruk >

25 Berdasarkan tabel 5.26 dapat dilihat bahwa responden yang memiliki tindakan baik paling banyak pada gravida 1 (8 orang), sedangkan yang memiliki tindakan buruk paling banyak juga pada gravida 1 (15 orang) Tabulasi Silang antara Gravida dengan Perilaku Tabel 5.27 Tabulasi Silang antara Gravida dengan Perilaku Gravida Interpretasi Perilaku Baik Sedang Buruk > Berdasarkan tabel 5.27 dapat dilihat bahwa responden yang memiliki perilaku baik paling banyak pada gravida 2 (10 orang), sedangkan yang memiliki perilaku buruk paling banyak pada gravida 1 (3 orang) Tabulasi Silang antara Pengetahuan dengan Sikap Tabel 5.28 Tabulasi Silang antara Pengetahuan dengan Sikap Tabulasi Silang Interpretasi Sikap Baik Sedang Baik Interpretasi Sedang Pengetahuan Buruk Berdasarkan tabel 5.28 dapat dilihat bahwa hampir semua responden dengan pengetahuan baik, sedang, dan buruk mempunyai sikap yang baik.

26 Tabulasi Silang antara Pengetahuan dengan Tindakan Tabel 5.29 Tabulasi Silang antara Pengetahuan dengan Tindakan Tabulasi Silang Interpretasi Tindakan Baik Sedang Buruk Baik Interpretasi Sedang Pengetahuan Buruk Berdasarkan tabel 5.29 dapat dilihat bahwa responden dengan pengetahuan baik dan tindakan buruk cukup besar. Hal ini mungkin diakibatkan oleh kurangnya fasilitas penyuluhan dan dukungan dari orang sekitar ibu hamil untuk melakukan suatu tindakan Tabulasi Silang antara Sikap dengan Tindakan Tabel 5.30 Tabulasi Silang antara Sikap dengan Tindakan Tabulasi Silang Interpretasi Tindakan Baik Sedang Buruk Interpretasi Baik Sikap Sedang Berdasarkan tabel 5.30 dapat dilihat bahwa responden dengan sikap baik dan tindakan buruk mendominasi. Sama halnya dengan pengetahuan, tindakan yang buruk mungkin juga diakibatkan oleh kurangnya fasilitas penyuluhan dan dukungan dari orang sekitar ibu hamil untuk melakukan suatu tindakan.

27 5.2. Pembahasan Pengetahuan Ibu Hamil Terhadap Pentingnya Asupan Asam Folat pada Masa Kehamilan Berdasarkan tabel 5.5 diketahui bahwa tingkat pengetahuan ibu hamil terhadap asupan asam folat di masa kehamilan sebagian besar termasuk dalam kategori baik dengan persentase sebesar 55%, sisanya tergolong dalam kategori sedang yaitu sebesar 36% dan kategori buruk yaitu sebesar 9%. Pengetahuan diperoleh setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yaitu indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2003). Tingkat pengetahuan yang baik pada responden mungkin dipengaruhi latar belakang responden yang banyak menerima informasi-informasi tentang asupan asam folat pada masa kehamilan, sehingga memiliki pemahaman yang baik untuk menjawab kuesioner penelitian dengan benar Sikap Ibu Hamil Terhadap Pentingnya Asupan Asam Folat pada Masa Kehamilan Berdasarkan tabel 5.6 diketahui bahwa sikap ibu hamil terhadap asupan asam folat pada masa kehamilan sebagian besar termasuk dalam kategori baik dengan persentase sebesar 94% dan sisanya tergolong dalam kategori sedang yaitu sebesar 6%. Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas, akan tetapi

28 adalah merupakan predisposisi tindakan atau perilaku (Notoatmodjo, 2003). Menurut Djamaluddin (2002) sikap membuat seseorang untuk mendekat dan menjauhi sesuatu. Sikap akan diikuti atau tidak oleh suatu tindakan berdasarkan pada sedikit atau banyaknya pengalaman seseorang. Sikap memiliki segi motivasi yang berarti segi dinamis menuju suatu tujuan, berusaha mencapai suatu tujuan. Sikap dapat bersifat positif dan dapat pula bersifat negatif. Dalam sikap positif kecenderungan untuk mendekati, menyenangi, mengharapkan objek tertentu, sedangkan sikap negatif terdapat kecenderungan menjauhi, menghindari, membenci, atau tidak menyukai objek tertentu. Sikap ibu hamil terhadap asupan asam folat pada masa kehamilan sebagian besar tergolong dalam kategori baik karena mereka memiliki pengetahuan yang baik, dengan pengetahuan yang baik maka akan terbentuk sikap yang baik pula Tindakan Ibu Hamil Terhadap Pentingnya Asupan Asam Folat pada Masa Kehamilan Berdasarkan tabel 5.7 diketahui bahwa tindakan ibu hamil terhadap asupan asam folat pada masa kehamilan sebagian besar termasuk dalam kategori buruk dengan persentase sebesar 43%, sisanya tergolong dalam kategori sedang yaitu sebesar 36% dan kategori baik yaitu sebesar 21 %. Suatu sikap yang dilaksanakan secara nyata disebut tindakan, namun suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behavior). Untuk terwujudnya sikap untuk menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, suatu sikap tidak selalu terwujud dalam suatu tindakan (Notoatmodjo, 2003). Walaupun memiliki pengetahuan dan sikap yang baik, akan tetapi para ibu hamil kurang memiliki kemauan untuk

29 bertindak dalam hal mencegah terjadinya kecacatan pada janin. Hal ini mungkin dikarenakan kurangnya faktor faktor lain seperti faktor fasilitas dan faktor pendukung (support) dari suami, orang tua, ataupun mertua Perilaku Ibu Hamil Terhadap Pentingnya Asupan Asam Folat pada Masa Kehamilan Berdasarkan tabel 5.8 sebagian besar responden memiliki perilaku yang sedang yaitu sebesar 68%, dan sisanya memiliki perilaku baik 28% dan perilaku buruk 4 %. Perilaku manusia adalah suatu aktifitas daripada manusia itu sendiri, Perilaku manusia itu sangat kompleks dan mempunyai ruang lingkup yang sangat luas. Benyamin Bloom (1908) seorang ahli psikologi pendidikan membagi perilaku itu ke dalam 3 domain (ranah/kawasan), meskipun kawasan-kawasan tersebut tidak mempunyai batasan yang jelas dan tegas. Pembagian kawasan ini dilakukan untuk kepentingan tujuan pendidikan. Bahwa dalam suatu tujuan pendidikan adalah mengembangkan atau meningkatkan ketiga domain perilaku tersebut, yang terdiri dari : a) ranah kognitif (cognitif domain), b) ranah afektif (affective domain), dan c) ranah psikomotor (psychomotor domain) (Notoatmodjo, 2003). Pada hasil penelitian ini dapat dilihat bahwa pengetahuan dan sikap memiliki hasil yang baik, akan tetapi dalam hal tindakan, memiliki hasil yang buruk. Hal ini mungkin dikarenakan adanya faktor faktor lain seperti faktor fasilitas dan faktor pendukung (support) dari suami, orangtua, ataupun mertua.

30 Tabulasi Silang antara Umur Ibu Hamil dengan Perilaku Berdasarkan tabel 5.12 dapat dilihat bahwa responden yang memiliki pengetahuan baik paling banyak pada usia tahun (19 orang), sedangkan yang memiliki pengetahuan buruk paling banyak pada usia < 21 tahun (4 orang). Berdasarkan tabel 5.13, dapat dilihat bahwa responden yang memiliki sikap baik paling banyak pada usia tahun (32 orang). Berdasarkan tabel 5.14, dapat dilihat bahwa responden yang memiliki tindakan baik paling banyak pada usia tahun (8 orang), sedangkan yang memiliki tindakan buruk paling banyak pada juga pada usia tahun (14 orang). Berdasarkan tabel 5.15, dapat dilihat bahwa responden yang memiliki perilaku baik paling banyak pada usia tahun (12 orang), sedangkan yang memiliki pengetahuan buruk paling banyak pada usia < 21 tahun (3 orang). Secara teori usia < 25 tahun secara biologis mentalnya belum optimal dengan emosi yang cenderung labil, mental yang belum matang sehingga mudah mengalami keguncangan yang mengakibatkan kurangnya perhatian terhadap pemenuhan kebutuhan zat-zat gizi. Namun ada berbagai faktor yang saling berpengaruh dan tidak menutup kemungkinan usia yang matang sekalipun untuk hamil yaitu usia tahun berperilaku baik (Fahriansyah, 2009). Peneliti menduga adanya kaitan antara umur dengan perilaku ibu hamil, pada usia yang belum matang secara fisik dan mental (<21 tahun) tentunya pengetahuan dan pengalaman ibu hamil tersebut lebih sedikit jika dibandingkan dengan ibu hamil yang telah matang secara fisik dan mental. sampel yang didapat tidak merata secara umur.

31 Tabulasi Silang antara Pekerjaan Ibu Hamil dengan Perilaku Berdasarkan tabel 5.16 dapat dilihat bahwa responden yang memiliki pengetahuan baik paling banyak pada ibu rumah tangga (37 orang), sedangkan yang memiliki pengetahuan buruk paling banyak juga pada ibu rumah tangga (8 orang). Berdasarkan tabel 5.17 dapat dilihat bahwa responden yang memiliki sikap baik paling banyak pada ibu rumah tangga (67 orang). Berdasarkan tabel 5.18 dapat dilihat bahwa responden yang memiliki tindakan baik paling banyak pada ibu rumah tangga (11 orang), sedangkan yang memiliki tindakan buruk paling banyak juga pada ibu rumah tangga (31 orang). Berdasarkan tabel 5.19 dapat dilihat bahwa responden yang memiliki perilaku baik paling banyak pada ibu rumah tangga (14 orang), sedangkan yang memiliki perilaku buruk paling banyak pada ibu rumah tangga dan wiraswasta (2 orang). Peneliti menduga adanya kaitan antara pekerjaan dengan perilaku ibu hamil, oleh karena dengan adanya suatu kesibukan akibat pekerjaan, ibu hamil tersebut melupakan perannya sebagai ibu hamil untuk mencukupi nutrisi bagi janinnya. Responden yang bekerja sebagai ibu rumah tangga mendominasi sampel penelitian, sehingga distribusi sampel tidak merata Tabulasi Silang antara Pendidikan Ibu Hamil dengan Perilaku Berdasarkan tabel 5.20 dapat dilihat bahwa responden yang memiliki pengetahuan baik paling banyak pada pendidikan menengah (38 orang), sedangkan yang memiliki pengetahuan buruk paling banyak pada pendidikan dasar (8 orang).. Berdasarkan tabel 5.21 dapat dilihat bahwa responden yang memiliki sikap baik paling banyak pada

32 pendidikan menengah (67 orang), sedangkan yang memiliki sikap buruk paling banyak pada pendidikan dasar (4 orang). Berdasarkan tabel 5.22 dapat dilihat bahwa responden yang memiliki tindakan baik paling banyak pada pendidikan menengah (13 orang), sedangkan yang memiliki tindakan buruk paling banyak juga pada pendidikan menengah (32 orang. Berdasarkan tabel 5.23 dapat dilihat bahwa responden yang memiliki perilaku baik paling banyak pada pendidikan menengah (17 orang), sedangkan yang memiliki perilaku buruk paling banyak pada pendidikan dasar (3 orang). Penelitian yang dilakukan oleh Djokomoeljanto (1989) menunjukkan bahwa makin tinggi pendidikan ibu hamil akan meningkatkan praktek dan pengetahuan perihal gizi yang berhubungan dengan kesehatan dan makanan yang bergizi. Secara teoritis pendidikan yang dijalani seseorang memiliki pengaruh pada peningkatan kemampuan berfikir, dengan kata lain seseorang yang berpendidikan lebih tinggi akan dapat mengambil keputusan yang lebih rasional, umumnya terbuka untuk menerima perubahan atau hal baru dibandingkan dengan individu yang berpendidikan lebih rendah (Depkes RI, 2002). Peneliti juga menduga adanya kaitan antara pendidikan dengan perilaku ibu hamil. Dengan tingginya tingkat pendidikan seseorang tentunya pengetahuan dan kesadaran seseorang akan tinggi juga Tabulasi Silang antara Gravida Ibu Hamil dengan Perilaku Berdasarkan tabel 5.24 dapat dilihat bahwa responden yang memiliki pengetahuan baik paling banyak pada gravida 2 (20 orang), sedangkan yang memiliki pengetahuan buruk paling banyak pada gravid

33 gravida 1 (6 orang). Berdasarkan tabel 5.25 dapat dilihat bahwa responden yang memiliki pengetahuan baik paling banyak pada gravida 1 (33 orang). Berdasarkan tabel 5.26 dapat dilihat bahwa responden yang memiliki tindakan baik paling banyak pada gravida 1 (8 orang), sedangkan yang memiliki tindakan buruk paling banyak juga pada gravida 1 (15 orang). Berdasarkan tabel 5.27 dapat dilihat bahwa responden yang memiliki perilaku baik paling banyak pada gravida 2 (10 orang), sedangkan yang memiliki perilaku buruk paling banyak pada gravida 1 (3 orang). Seorang ibu yang sering melahirkan tentunya memiliki pengalaman dan perilaku lebih baik (Fahriansyah, 2009). Peneliti menduga adanya kaitan antara gravida dengan perilaku ibu hamil. Ibu dengan gravida >1 tentunya memiliki pengetahuan dan pengalaman lebih tinggi dibanding dengan ibu dengan gravida pertama.

34 BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan Dari hasil penelitian dan uraian dari pembahasan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Pengetahuan ibu hamil terhadap asupan asam folat pada masa kehamilan sebagian besar termasuk dalam kategori baik yaitu 55%, sedangkan sisanya dalam kategori sedang 36% dan dalam kategori buruk 9 % 2. Sikap ibu hamil terhadap asupan asam folat pada masa kehamilan sebagian besar termasuk dalam kategori baik yaitu 94%, sedangkan sisanya dalam kategori sedang 6% dan tidak ada dalam kategori buruk 3. Tindakan ibu hamil terhadap asupan asam folat pada masa kehamilan sebagian besar termasuk dalam kategori buruk yaitu 43%, sedangkan sisanya dalam kategori sedang 36% dan dalam kategori baik 21 % 4. Perilaku ibu hamil terhadap asupan asam folat pada masa kehamilan sebagian besar termasuk dalam kategori sedang yaitu 68%, sedangkan sisanya dalam kategori baik 28% dan dalam kategori buruk 4 % 6.2. Saran Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terdapat beberapa saran dari peneliti diantaranya: 1. Di masa yang akan datang diharapkan peneliti lain bisa melanjutkan penelitian tentang asupan asam folat untuk mengetahui hubungan antara karakteristik demografi dengan perilaku ibu hamil

35 2. Diharapkan kepada pihak penyuluh (posyandu, puskesmas) untuk lebih meningkatkan lagi program penyuluhan gizi bagi ibu hamil khususnya mengenai asam folat. Selain itu dalam hal penyuluhan perlu adanya keterlibatan pihak keluarga (suami, orangtua, mertua) karena dalam hal menjaga nutrisi ibu hamil tidak hanya peran ibu hamil itu sendiri melainkan memerlukan peran keluarga maupun masyarakat sekitar

Sikap Sikap adalah perilaku wanita terhadap pemeriksaan mammografi a. Cara Ukur : metode angket

Sikap Sikap adalah perilaku wanita terhadap pemeriksaan mammografi a. Cara Ukur : metode angket BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL 3.1. Kerangka Konsep Tingkat Pengetahuan Tentang Mammografi Sikap Terhadap Mammografi Wanita 3.2. Definisi Operasional 3.2.1. Pengetahuan Pengetahuan adalah

Lebih terperinci

BAB IV PERSIAPAN DAN PELAKSANAAN PENELITIAN

BAB IV PERSIAPAN DAN PELAKSANAAN PENELITIAN BAB IV PERSIAPAN DAN PELAKSANAAN PENELITIAN A. Orientasi Kancah Penelitian Subyek yang diteliti pada penelitian ini adalah istri (wanita) pada pasangan suami istri yang terikat dalam perkawinan. Istri

Lebih terperinci

TINGKAT PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG BENDUNGAN SALURAN ASI DI BPM SUWARNI SIDOHARJO SRAGEN

TINGKAT PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG BENDUNGAN SALURAN ASI DI BPM SUWARNI SIDOHARJO SRAGEN TINGKAT PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG BENDUNGAN SALURAN ASI DI BPM SUWARNI SIDOHARJO SRAGEN Endang Rusdjianti, Iga Puput Akademi Kebidanan YAPPI Sragen ABSTRAK Latar Belakang: ASI merupakan makanan terbaik

Lebih terperinci

Nisa khoiriah INTISARI

Nisa khoiriah INTISARI HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG ASI EKSKLUSIF DENGAN PERILAKU IBU DALAM PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA BAYI USIA 0 2 TAHUN DI DESA TURSINO KECAMATAN KUTOARJO KABUPATEN PURWOREJO Nisa khoiriah INTISARI

Lebih terperinci

BAB 3 KERANGKA TEORI DAN KERANGKA KONSEP

BAB 3 KERANGKA TEORI DAN KERANGKA KONSEP BAB 3 KERANGKA TEORI DAN KERANGKA KONSEP 3.1 Kerangka Teori Penelitian KEHAMILAN Pengetahuan ibu hamil Anemia defisiensi Zat Besi Faktor Penyebab : i) Usia Ibu ii) Pendidikan iii) Status ekonomi iv) Kepatuhan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional. analitik dengan pendekatan cross sectional untuk mempelajari

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional. analitik dengan pendekatan cross sectional untuk mempelajari BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional untuk mempelajari hubungan antara tingkat pengetahuan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Gambaran Riset Partisipan Berdasarkan Usia

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Gambaran Riset Partisipan Berdasarkan Usia BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Riset Partisipan Penelitian 4.1.1 Gambaran Riset Partisipan Berdasarkan Usia Berdasarkan usia riset partisipan dikategorikan menjadi 5 yaitu 20-25 tahun,

Lebih terperinci

HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU BALITA DENGAN MOTIVASI MEMBERI MAKANAN BERGIZI DI DESA PANAONGAN KECAMATAN PASONGSONGAN KABUPATEN SUMENEP TAHUN 2015 ABSTRAK

HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU BALITA DENGAN MOTIVASI MEMBERI MAKANAN BERGIZI DI DESA PANAONGAN KECAMATAN PASONGSONGAN KABUPATEN SUMENEP TAHUN 2015 ABSTRAK HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU BALITA DENGAN MOTIVASI MEMBERI MAKANAN BERGIZI DI DESA PANAONGAN KECAMATAN PASONGSONGAN KABUPATEN SUMENEP TAHUN 2015 Eva Nurhidayati, Program Studi Diploma Kebidanan FIK Universitas

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN Desain, Waktu dan Tempat Penelitian Jumlah dan Cara Pengambilan Contoh

METODE PENELITIAN Desain, Waktu dan Tempat Penelitian Jumlah dan Cara Pengambilan Contoh 19 METODE PENELITIAN Desain, Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study. Cross sectional study yaitu rancangan yang digunakan pada penelitian dengan variabel sebab

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. pendekatan cross sectional. Dimana penelitian ini untuk mempelajari

BAB III METODE PENELITIAN. pendekatan cross sectional. Dimana penelitian ini untuk mempelajari BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan metode observational analitik dengan pendekatan cross sectional. Dimana penelitian ini untuk mempelajari hubungan pengetahuan dengan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. negara-negara maju seperti diabetes melitus, jantung koroner, penyakit

I. PENDAHULUAN. negara-negara maju seperti diabetes melitus, jantung koroner, penyakit 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Serat pangan sempat cukup lama diabaikan sebagai faktor penting dalam gizi makanan. Hal ini disebabkan karena serat pangan tidak menghasilkan energi. Selain itu, kekurangan

Lebih terperinci

BAB III KERANGKA KONSEP KONSEPTUAL. Dari uraian terdahulu telah dijelaskan mengenai faktor- faktor yang

BAB III KERANGKA KONSEP KONSEPTUAL. Dari uraian terdahulu telah dijelaskan mengenai faktor- faktor yang BAB III KERANGKA KONSEP KONSEPTUAL A. Kerangka Konsep Dari uraian terdahulu telah dijelaskan mengenai faktor- faktor yang mempengaruhi rendahnya minat ibu akseptor KB menggunakan kontrasepsi AKDR. Untuk

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Jenis penelitian yang akan digunakan adalah dengan menggunakan metode deskriptif study korelasi (Correlation Study ) dengan pendekatan belah lintang (cross

Lebih terperinci

B. Hasil Penelitian dan Pembahasan 1. Univariat a. Umur responden Tabel 4.1 Distribusi Responden Berdasarkan umur responden

B. Hasil Penelitian dan Pembahasan 1. Univariat a. Umur responden Tabel 4.1 Distribusi Responden Berdasarkan umur responden BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Sendangmulyo merupakan salah satu kelurahan di kecamatan Tembalang, Semarang. Secara Geografis,, wilayah kelurahan Sendangmulyo sangat luas yaitu mencapai 4.61

Lebih terperinci

HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG ASI EKSKLUSIF DENGAN PERILAKU PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI PUSKESMAS DEPOK I SLEMAN YOGYAKARTA

HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG ASI EKSKLUSIF DENGAN PERILAKU PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI PUSKESMAS DEPOK I SLEMAN YOGYAKARTA HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG ASI EKSKLUSIF DENGAN PERILAKU PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI PUSKESMAS DEPOK I SLEMAN YOGYAKARTA Sylfia Pernanda INTISARI Latar Belakang : Faktor yang dapat mendukung kesuksesan

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KINERJA KADER DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PANTEE BIDARI LHOK NIBONG KABUPATEN ACEH TIMUR

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KINERJA KADER DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PANTEE BIDARI LHOK NIBONG KABUPATEN ACEH TIMUR FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KINERJA KADER DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PANTEE BIDARI LHOK NIBONG KABUPATEN ACEH TIMUR RACHMADY Tenaga Pengajar Pada STIKes U Budiyah Banda Aceh Latar belakang : Kinerja

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional. Penelitian ini

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional. Penelitian ini BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional. Penelitian ini bertujuan untuk mencari pengaruh dukungan suami dalam melakukan skrining dini kanker

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik observasional yang bertujuan

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik observasional yang bertujuan BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik observasional yang bertujuan menganalisis untuk mencari hubungan antar variabel melalui pengamatan

Lebih terperinci

BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL 3.1 Kerangka konsep : Berdasarkan tujuan penelitian diatas, kerangka konsep gambaran tingkat pengetahuan dan sikap terhadap osteoporosis dan asupan kalsium

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional analitik dengan pendekatan Cross Sectional, yaitu rancangan penelitian dengan melakukan pendekatan

Lebih terperinci

Universitas Kristen Maranatha

Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui bagaimana gambaran orientasi masa depan bidang pendidikan pada remaja di lembaga bimbingan belajar 'X' di kota Bandung. Orientasi masa depan bidang

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. antara faktor dengan efek (Notoatmodjo, 2007). Pada penelitian ini, peneliti

BAB III METODE PENELITIAN. antara faktor dengan efek (Notoatmodjo, 2007). Pada penelitian ini, peneliti 1 BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Jenis penelitian ini adalah analitik korelasional. Penelitian analitik adalah penelitian yang mencoba menggali bagaimana dan mengapa suatu fenomena kesehatan

Lebih terperinci

Dinamika Kesehatan Vol.6 No. 1 Juli 2015 Rahayu et al.,persalinan Tindakan...

Dinamika Kesehatan Vol.6 No. 1 Juli 2015 Rahayu et al.,persalinan Tindakan... HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU HAMIL TENTANG TANDA BAHAYA KEHAMILAN TERHADAP PEMANFAATAN BUKU KIA DI UPT. PUSKESMAS MARTAPURA Yayu Puji Rahayu¹, Mahpolah², Frisca Margaret Panjaitan 1 ¹ STIKES Sari

Lebih terperinci

Keaktifan Kader Kesehatan dan Partisipasi Ibu dalam Pelaksanaan Kegiatan Posyandu

Keaktifan Kader Kesehatan dan Partisipasi Ibu dalam Pelaksanaan Kegiatan Posyandu Keaktifan Kader Kesehatan dan Partisipasi Ibu dalam Pelaksanaan Kegiatan Posyandu Rosiana Alfa Risqi Program Studi Magister Epidemiologi Sain Terapan Kesehatan Program Pascasarjana Universitas Diponegoro

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. variabel independent dan variabel (Notoatmodjo, 2003). Puskesmas Gubug pada tanggal Agustus 2010.

BAB III METODE PENELITIAN. variabel independent dan variabel (Notoatmodjo, 2003). Puskesmas Gubug pada tanggal Agustus 2010. BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Dan Rancangan Penelitian Penelitian ini termasuk penelitian observasional analitik dengan pendekatan Cross Sectional yaitu jenis penelitian yang menekankan pada waktu

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif dengan desain penelitian cross sectional yaitu penelitian yang bertujuan melakukan deskripsi mengenai gambaran pengetahuan,

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN Desain Penelitian Lokasi dan Waktu Penelitian Populasi dan Sampel

METODE PENELITIAN Desain Penelitian Lokasi dan Waktu Penelitian Populasi dan Sampel 41 METODE PENELITIAN Desain Penelitian Penelitian ini didesain dalam bentuk metode survei yang bersifat explanatory research, yaitu penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan peubah-peubah yang diamati,

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. sampel penelitian, dengan tetap memenuhi kriteria inklusi. Kuesioner ini diuji validitas dan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. sampel penelitian, dengan tetap memenuhi kriteria inklusi. Kuesioner ini diuji validitas dan BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Uji Validitas Kuesioner Sebelum digunakan dalam penelitian, kuesioner disebarkan kepada 30 orang responden non sampel penelitian, dengan tetap memenuhi kriteria

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Isaac dan Michael menjelaskan penelitian

BAB III METODE PENELITIAN. deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Isaac dan Michael menjelaskan penelitian BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Tipe Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang model adopsi internet oleh guru SMA Negeri. Karena itu, tipe penelitian ini termasuk pada penelitian

Lebih terperinci

BAB III KERANGKA PENELITIAN. membentuk suatu teori yang menjelaskan keterkaitan antara variabel, baik variabel yang

BAB III KERANGKA PENELITIAN. membentuk suatu teori yang menjelaskan keterkaitan antara variabel, baik variabel yang BAB III KERANGKA PENELITIAN A. Kerangka Konsep Konsep adalah abstraksi dari suatu realita agar dapat dikomunikasikan dan membentuk suatu teori yang menjelaskan keterkaitan antara variabel, baik variabel

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan rancangan penelitian non eksperimental observasional dengan pendekatan cross-sectional.

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. adalah penelitian yang mengkaji hubungan antara variable dengan

BAB III METODE PENELITIAN. adalah penelitian yang mengkaji hubungan antara variable dengan 28 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasi. Peneliti korelasi adalah penelitian yang mengkaji hubungan antara variable dengan melibatkan minimal dua

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelatif yang

BAB III METODE PENELITIAN. desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelatif yang BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif, desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelatif yang menghubungan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. A. Desain Penelitian. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang menggunakan

BAB III METODE PENELITIAN. A. Desain Penelitian. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang menggunakan 33 BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang menggunakan pendekatan studi korelasional yaitu penelitian yang melakukan penelitian hipotesis untuk

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. A. Jenis Penelitian dan Metode Penelitian. Demak, sedangkan pendekatan yang digunakan adalah cross sectional

BAB III METODE PENELITIAN. A. Jenis Penelitian dan Metode Penelitian. Demak, sedangkan pendekatan yang digunakan adalah cross sectional BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian dan Metode Penelitian Jenis penelitian ini merupakan kuantitatif. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasi study yang bertujuan untuk mengetahui

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN Disain, Lokasi dan Waktu Penelitian Teknik Penarikan Contoh Jenis dan Cara Pengumpulan Data

METODE PENELITIAN Disain, Lokasi dan Waktu Penelitian Teknik Penarikan Contoh Jenis dan Cara Pengumpulan Data 19 METODE PENELITIAN Disain, Lokasi dan Waktu Penelitian Disain penelitian adalah cross sectional study, yakni data dikumpulkan pada satu waktu (Singarimbun & Effendi 1995. Penelitian berlokasi di Kota

Lebih terperinci

BAB 3 KERANGKA KONSEP PENELITIAN DAN DEFINISI OPERASIONAL

BAB 3 KERANGKA KONSEP PENELITIAN DAN DEFINISI OPERASIONAL BAB 3 KERANGKA KONSEP PENELITIAN DAN DEFINISI OPERASIONAL 3.1. Kerangka Konsep Penelitian Kerangka konsep penelitian ini adalah pengetahuan dan sikap masyarakat di Kelurahan Tanjung Rejo terhadap PJK.

Lebih terperinci

PENGETAHUAN Pangan Rekayasa Genetika HARAPAN. PENERIMAAN Pangan Rekayasa Genetika

PENGETAHUAN Pangan Rekayasa Genetika HARAPAN. PENERIMAAN Pangan Rekayasa Genetika KERANGKA PEMIKIRAN Pangan rekayasa genetika merupakan produk hasil pencangkokan dari satu gen ke gen yang lain. Pangan rekayasa genetika juga merupakan suatu produk yang mempunyai kemampuan untuk memenuhi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasional yaitu penelitian yang

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasional yaitu penelitian yang BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasional yaitu penelitian yang diarahkan untuk menjelaskan hubungan antara dua variabel yaitu variabel

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Sibela Kota Surakarta yang terletak

BAB V PEMBAHASAN. Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Sibela Kota Surakarta yang terletak BAB V PEMBAHASAN A. Gambaran Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Sibela Kota Surakarta yang terletak di Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres. Puskesmas Sibela merupakan Puskesmas

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian survei analitik ini menggunakan pendekatan cross sectional

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian survei analitik ini menggunakan pendekatan cross sectional BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan rancangan penelitian Jenis penelitian survei analitik ini menggunakan pendekatan cross sectional yang artinya tiap subjek penelitian hanya di observasi sekali saja

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN Desain, Waktu, dan Lokasi Teknik Pengambilan Contoh

METODE PENELITIAN Desain, Waktu, dan Lokasi Teknik Pengambilan Contoh METODE PENELITIAN Desain, Waktu, dan Lokasi Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian yang berjudul Analisis Konsumsi Beras Merah (Oryza nivara) dengan Pendekatan Theory of Planned Behavior (TPB).

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. antara variabel bebas dan terikat dengan pendekatan cross sectional, artinya

BAB III METODE PENELITIAN. antara variabel bebas dan terikat dengan pendekatan cross sectional, artinya BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan rancangan descriptive correlational, yang bertujuan untuk mengungkapkan korelasi antara

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. n= z 2 1-α/2.p(1-p) d 2

METODE PENELITIAN. n= z 2 1-α/2.p(1-p) d 2 METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian Desain dalam penelitian ini adalah cross sectional study. Lokasi penelitian di Desa Paberasan Kabupaten Sumenep. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan pada UMKM yang bergerak dibidang usaha kuliner di Kota Semarang. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari sampai dengan

Lebih terperinci

BAB 4 METODE PENELITIAN. Rancangan penelitian ini adalah observasional karena hanya melihat

BAB 4 METODE PENELITIAN. Rancangan penelitian ini adalah observasional karena hanya melihat 35 BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1 Rancangan Penelitian Rancangan penelitian ini adalah observasional karena hanya melihat kejadian yang ada di lapangan tanpa melakukan intervensi dari peneliti. Sedangkan

Lebih terperinci

Gambar 1: Perilaku penjaja PJAS tentang gizi dan keamanan pangan di lingkungan sekolah dasar Kota dan Kabupaten Bogor

Gambar 1: Perilaku penjaja PJAS tentang gizi dan keamanan pangan di lingkungan sekolah dasar Kota dan Kabupaten Bogor KERANGKA PEMIKIRAN Pangan merupakan kebutuhan pokok manusia untuk memperoleh zat- zat yang diperlukan bagi pertumbuhan, perkembangan dan kesehatan. Tetapi makanan yang masuk ketubuh beresiko sebagai pembawa

Lebih terperinci

HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU BAYI TENTANG POSYANDU DENGAN FREKUENSI KUNJUNGAN IBU DAN BAYI DI POSYANDU

HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU BAYI TENTANG POSYANDU DENGAN FREKUENSI KUNJUNGAN IBU DAN BAYI DI POSYANDU HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU BAYI TENTANG POSYANDU DENGAN FREKUENSI KUNJUNGAN IBU DAN BAYI DI POSYANDU (Studi di Desa Kemlagilor Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan tahun 2016) Siti Aisyah *Dosen Program Studi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. mengkaji hubungan antara variabel dengan melibatkan minimal dua variabel

BAB III METODE PENELITIAN. mengkaji hubungan antara variabel dengan melibatkan minimal dua variabel BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian dan Metoda Pendekatan Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasi. Penelitian korelasi mengkaji hubungan antara variabel dengan melibatkan minimal

Lebih terperinci

Rina Harwati Wahyuningsih Akademi Kebidanan Giri Satria Husada Wonogiri ABSTRAK

Rina Harwati Wahyuningsih Akademi Kebidanan Giri Satria Husada Wonogiri ABSTRAK FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IBU MENYUSUI DALAM MEMBERIKAN MAKANAN PENDAMPING ASI TERLALU DINI PADA USIA KURANG DARI 6 BULAN DI KELURAHAN GIRITIRTO KABUPATEN WONOGIRI TAHUN 2016 Rina Harwati Wahyuningsih

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Ciri penelitian korelasional mengkaji hubungan antar variabel.

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. cross sectional yaitu penelitian yang pengukuran variabel bebas (dukungan

BAB III METODE PENELITIAN. cross sectional yaitu penelitian yang pengukuran variabel bebas (dukungan 20 BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan cross sectional yaitu penelitian yang pengukuran variabel bebas (dukungan suami)

Lebih terperinci

STUDI PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU TENTANG GIZI PADA BALITA DI DESA KOTARAYA BARAT

STUDI PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU TENTANG GIZI PADA BALITA DI DESA KOTARAYA BARAT STUDI PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU TENTANG GIZI PADA BALITA DI DESA KOTARAYA BARAT Bernadeth Rante Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Palu Abstrak : Masalah gizi semula dianggap

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Jumlah dan Cara Pemilihan Contoh

METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Jumlah dan Cara Pemilihan Contoh 19 METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian ini bersifat deskriptif dan menggunakan metode survey dengan desain cross sectional study. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 6 Bogor. Penentuan

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN 25 METODOLOGI PENELITIAN Lokasi dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan di Desa Pasirmulya Kecamatan Bogor Barat Kota Bogor, karena desa ini merupakan binaan Yayasan Damandiri yang paling aktif dalam

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian cross sectional. Pendekatan cross sectional adalah suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. pada suatu waktu, baik data pelatihan APN maupun data motivasi bidan dalam

BAB III METODE PENELITIAN. pada suatu waktu, baik data pelatihan APN maupun data motivasi bidan dalam BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan jenis penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan pada

Lebih terperinci

BAB 4 METODE PENELITIAN. Rancangan penelitian yang digunakan adalah metode observasional, yaitu

BAB 4 METODE PENELITIAN. Rancangan penelitian yang digunakan adalah metode observasional, yaitu 32 BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1. Rancangan Penelitian Rancangan penelitian yang digunakan adalah metode observasional, yaitu dengan mengadakan pengamatan langsung pada obyek yang diteliti. Sedangkan desain

Lebih terperinci

BAB V HASIL PENELITIAN

BAB V HASIL PENELITIAN BAB V HASIL PENELITIAN A. Uji Validitas dan Reliabilitas Pada penelitian ini, telah dilakukan uji validitas dan reliabilitas pada kuesioner nyeri leher aksial. Pengujian dilakukan dengan uji Cronbach s

Lebih terperinci

HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU BERSALIN DENGAN INISIASI MENYUSU DINI DI BIDAN PRAKTEK SWASTA BENIS JAYANTO NGENTAK KUJON CEPER KLATEN. Wahyuningsih ABSTRAK

HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU BERSALIN DENGAN INISIASI MENYUSU DINI DI BIDAN PRAKTEK SWASTA BENIS JAYANTO NGENTAK KUJON CEPER KLATEN. Wahyuningsih ABSTRAK HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU BERSALIN DENGAN INISIASI MENYUSU DINI DI BIDAN PRAKTEK SWASTA BENIS JAYANTO NGENTAK KUJON CEPER KLATEN Wahyuningsih ABSTRAK Upaya untuk mencegah kematian bayi baru lahir yang baru

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN Desain, Lokasi, dan Waktu Jenis dan Teknik Pengambilan Contoh

METODE PENELITIAN Desain, Lokasi, dan Waktu Jenis dan Teknik Pengambilan Contoh 20 METODE PENELITIAN Desain, Lokasi, dan Waktu Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study, karena data dikumpulkan pada satu waktu dan tidak berkelanjutan dengan sampel yang dipilih khusus

Lebih terperinci

Berikut ini akan dijelaskan batasan variabel penelitian dan indikatornya, seperti dalam Tabel. 1, berikut ini:

Berikut ini akan dijelaskan batasan variabel penelitian dan indikatornya, seperti dalam Tabel. 1, berikut ini: METODA PENELITIAN Obyek Penelitian Penelitian ini dilakukan pada auditor internal IGE Timor Leste, alasannya bahwa IGE merupakan satu-satunya internal auditor pemerintah di Timor Leste. Desain Penelitian

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif korelasi yaitu suatu

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif korelasi yaitu suatu BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tipe Penelitian Penelitian ini menggunakan tipe penelitian kuantitatif. Adapun jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif korelasi yaitu suatu metode penelitian

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL PENELITIAN

BAB 4 HASIL PENELITIAN BAB 4 HASIL PENELITIAN Untuk mengidentifikasi kelengkapan imunisasi dasar pada anak balita dan faktor-faktor yang berhubungan di Poli Anak Rumah Sakit Tarakan, maka dilaksanakan penelitian terhadap keluarga

Lebih terperinci

BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFENISI OPERASIONAL. independen (pengertian imuninisasi, tujuan imunisasi, manfaat imunisasi, jenis

BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFENISI OPERASIONAL. independen (pengertian imuninisasi, tujuan imunisasi, manfaat imunisasi, jenis BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFENISI OPERASIONAL A. Kerangka Konsep Kerangka Konsep dalam penelitian ini ada 2 variabel, yaitu variabel independen (pengertian imuninisasi, tujuan imunisasi, manfaat imunisasi,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Kerangka Konsep Variabel Bebas Variabel Terikat Jenis Kelamin Pendidikan Pekerjaan Pengetahuan Kejadian TBC Usia Produktif Kepadatan Hunian Riwayat Imunisasi BCG Sikap Pencegahan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah non-eksperimen

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah non-eksperimen BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah non-eksperimen berupa deskriptif korelasi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. menggunakan desain penelitian deskriptif korelatif yaitu untuk

BAB III METODE PENELITIAN. menggunakan desain penelitian deskriptif korelatif yaitu untuk BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain penelitian deskriptif korelatif yaitu untuk menggambarkan hubungan antara

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Limboto Barat Desa Daenaa selama ± 1 minggu. Sampel dihitung dengan menggunakan tabel penentuan besarnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Gizi merupakan salah satu penentu kualitas sumber daya manusia. Kekurangan gizi dapat menyebabkan kegagalan pertumbuhan fisik dan

BAB I PENDAHULUAN. Gizi merupakan salah satu penentu kualitas sumber daya manusia. Kekurangan gizi dapat menyebabkan kegagalan pertumbuhan fisik dan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gizi merupakan salah satu penentu kualitas sumber daya manusia. Kekurangan gizi dapat menyebabkan kegagalan pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan, menurunnya

Lebih terperinci

Organisasi di PT. Telkom Indonesia Witel Solo

Organisasi di PT. Telkom Indonesia Witel Solo 40 gejala, untuk menerangkan gejala ini maka disediakan suatu bagian statistik deskriptif. Sejalan dengan tujuan penelitian, maka metode deskriptif akan digunakan peneliti untuk mengkaji lebih dalam tentang

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN Desain, dan Waktu Jumlah dan Cara Pengambilan Sampel

METODE PENELITIAN Desain, dan Waktu Jumlah dan Cara Pengambilan Sampel 15 METODE PENELITIAN Desain, dan Waktu Penelitian ini merupakan penelitian dengan desain cross sectional study yaitu mengumpulkan informasi dengan satu kali survei. Penelitian ini mengkaji pengetahuan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian yang mengkaji hubungan antara variabel dengan melibatkan

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian yang mengkaji hubungan antara variabel dengan melibatkan BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini adalah dekriptif korelasi. Penelitian korelasi adalah penelitian yang mengkaji hubungan antara variabel dengan melibatkan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Tipe Penelitian Pada penelitian ini peneliti memilih tipe pendekatan kuantitatif. Penelitian dengan pendekatan kuantitatif menekankan analisisnya pada data-data numerikal

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasi dengan

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasi dengan BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasi dengan rancangan Cross Sectional yaitu dengan melakukan pengukuran variabel independen (bebas) yang

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 3 BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi dan Obyek Penelitian Lokasi penelitian ini adalah Butik Kharisma Indonesia yang berlokasi di Jalan Gajahmada No. 134, Semarang. Obyek penelitian ini adalah karyawan

Lebih terperinci

BAB III KERANGKA KONSEP

BAB III KERANGKA KONSEP BAB III KERANGKA KONSEP A. Kerangka Konsep Kerangka konseptual adalah kerangka hubungan antara variabel yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian yang akan dilakukan (Notoatmodjo, 2003). Penelitian

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Di dalam bab ini akan dibahas tentang latar belakang penelitian, masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. Di dalam bab ini akan dibahas tentang latar belakang penelitian, masalah BAB 1 PENDAHULUAN Di dalam bab ini akan dibahas tentang latar belakang penelitian, masalah penelitian, tujuan penelitian, identifikasi kerangka kerja konseptual, pertanyaan penelitian, variabel penelitian,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Disain dan Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelasional yaitu penelitian yang dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan

Lebih terperinci

GAMBARAN PERILAKU IBU HAMIL TERHADAP PENTINGNYA ASUPAN ASAM FOLAT PADA MASA KEHAMILAN DI RSU DR. PIRNGADI MEDAN TAHUN Oleh : WIDODO ADI PRASETYO

GAMBARAN PERILAKU IBU HAMIL TERHADAP PENTINGNYA ASUPAN ASAM FOLAT PADA MASA KEHAMILAN DI RSU DR. PIRNGADI MEDAN TAHUN Oleh : WIDODO ADI PRASETYO GAMBARAN PERILAKU IBU HAMIL TERHADAP PENTINGNYA ASUPAN ASAM FOLAT PADA MASA KEHAMILAN DI RSU DR. PIRNGADI MEDAN TAHUN 2010 Oleh : WIDODO ADI PRASETYO 070100085 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan pendekatan

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan pendekatan BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. B. Tempat dan waktu 1. Tempat : Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah dengan menggunakan metode

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah dengan menggunakan metode BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah dengan menggunakan metode deskriptif analitik, dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan sesaat, data yang

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Jumlah dan Cara Penarikan Contoh

METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Jumlah dan Cara Penarikan Contoh 17 METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Desain penelitian ini adalah cross sectional study, yaitu penelitian yang dilakukan pada satu waktu. Pemillihan tempat dilakukan dengan cara pupossive, yaitu

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. tingkat pengetahuan dan status gizi balita. Variabel independen dan variabel

BAB III METODE PENELITIAN. tingkat pengetahuan dan status gizi balita. Variabel independen dan variabel BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan jenis penelitian observasional analitik dengan desain penelitian cross sectional untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan

Lebih terperinci

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh gambaran mengenai orientasi masa depan bidang pekerjaan pada mahasiswa/i yang mengontrak mata kuliah Metodologi Penelitian Lanjutan Fakultas

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian Zaman sekarang internet merupakan kebutuhan bagi banyak orang. Di Indonesia jumlah pemakai internet mengalami peningkatan yang cukup besar setiap

Lebih terperinci

BAB III KERANGKA PENELITIAN

BAB III KERANGKA PENELITIAN BAB III KERANGKA PENELITIAN A. Kerangka Konsep Kerangka konsep ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan dan sikap ibu tentang sariawan (oral trush ) pada anak usia 0-3 tahun. Hal ini dapat dilihat dari

Lebih terperinci

Kesehatan Masyarakat Gamping I sudah terjangkau oleh BPJS bagi

Kesehatan Masyarakat Gamping I sudah terjangkau oleh BPJS bagi 42 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Karakteristik Lokasi Penelitian Pusat Kesehatan Masyarakat Gamping I beralamat didusun Delingsari,desa Ambarketawang, kecamatan Gamping

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Rancangan Penelitian Rancangan penelitian ini adalah studi diskriptif. Analisis deskriptif merupakan bentuk analisis data penelitian untuk menguji generalisasi hasil penelitian

Lebih terperinci

X = pengetahuan jenis doping dan bahayanya

X = pengetahuan jenis doping dan bahayanya BAB III METODE PENELITIAN A. Waktu Dan Tempat Penelitian Penelitian mengenai hubungan antara tingkat pengetahuan tentang jenis doping dan bahayanya dengan perilaku pemakaian doping pada atlet UKM Pencak

Lebih terperinci

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG IMUNISASI DENGAN KEPATUHAN IBU DALAM PEMBERIAN IMUNISASI DASAR PADA BAYI DIPUSKESMAS CAWAS

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG IMUNISASI DENGAN KEPATUHAN IBU DALAM PEMBERIAN IMUNISASI DASAR PADA BAYI DIPUSKESMAS CAWAS HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG IMUNISASI DENGAN KEPATUHAN IBU DALAM PEMBERIAN IMUNISASI DASAR PADA BAYI DIPUSKESMAS CAWAS Wiwin Hindriyawati 1, Rosalina 2,Wahyuni 2 INTISARI Latar Belakang: Prevalensi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. dengan rancangan cross sectional (belah lintang), yaitu menganalisis

BAB III METODE PENELITIAN. dengan rancangan cross sectional (belah lintang), yaitu menganalisis BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian korelasional dengan rancangan cross sectional (belah lintang), yaitu menganalisis hubungan antara variabel

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN KELUARGA DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA BAYI USIA 0-6 BULAN

HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN KELUARGA DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA BAYI USIA 0-6 BULAN HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN KELUARGA DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA BAYI USIA 0-6 BULAN Siti Hamidah Akademi Kebidanan Delima Persada Gresik Email :siti_hamidahtw@yahoo.co.id ABSTRAK Air Susu Ibu (ASI)

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. masalah dalam penelitian. Melalui penelitian manusia dapat menggunakan

BAB III METODE PENELITIAN. masalah dalam penelitian. Melalui penelitian manusia dapat menggunakan 22 BAB III METODE PENELITIAN Metode penelitian merupakan cara ilmiah yang berisikan langkah-langkah yang akan dilakukan dalam mengumpulkan data dengan tujuan dapat menjawab masalah dalam penelitian. Melalui

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Gorontalo. Kelurahan Tomulabutao memiliki Luas 6,41 km 2 yang berbatasan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Gorontalo. Kelurahan Tomulabutao memiliki Luas 6,41 km 2 yang berbatasan BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian 4.1.1 Kondisi Geografis Kelurahan Tomulabutao berlokasi di Kecamatan Dungingi Kota Gorontalo. Kelurahan Tomulabutao memiliki Luas

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN IBU TENTANG PEMERIKSAAN KEHAMILAN TRIMESTER I DENGAN KUNJUNGAN K1 MURNI DI BPS HANIK SURABAYA

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN IBU TENTANG PEMERIKSAAN KEHAMILAN TRIMESTER I DENGAN KUNJUNGAN K1 MURNI DI BPS HANIK SURABAYA HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN IBU TENTANG PEMERIKSAAN KEHAMILAN TRIMESTER I DENGAN KUNJUNGAN K1 MURNI DI BPS HANIK SURABAYA Retno Setyo Iswati Tenaga Pengajar Prodi DIII Kebidanan Universitas PGRI Adi Buana

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Desain. Penelitian ini merupakan studi Cross-sectional yang akan menggali informasi

METODE PENELITIAN. Desain. Penelitian ini merupakan studi Cross-sectional yang akan menggali informasi METODE PENELITIAN Desain Penelitian ini merupakan studi Cross-sectional yang akan menggali informasi mengenai faktor-faktor yang mendorong ibu dalam memelihara kesehatannya selama kehamilan. Desain penelitian

Lebih terperinci

Gambar 2 Metode Penarikan Contoh

Gambar 2 Metode Penarikan Contoh 17 METODE PENELITIAN Disain, Tempat, dan Waktu Penelitian Penelitian ini menggunakan disain Cross Sectional Study, yaitu data dikumpulkan pada satu waktu untuk memperoleh gambaran karakteristik contoh

Lebih terperinci

Keterangan: Xxx = koefisien korelasi Kendall Tau yang besarnya (-1<0<1) A = jumlah ranking atas

Keterangan: Xxx = koefisien korelasi Kendall Tau yang besarnya (-1<0<1) A = jumlah ranking atas (BPS, BKKBN, DEPKES RI, 2007: 18-21). Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilaksanakan bulan April 2010 di SD Yogyakarta terhadap siswi usia 10-12 tahun diperoleh data dari 69 siswi yang belum menstruasi,

Lebih terperinci

HUBUNGAN MOTIVASI IBU BALITA DENGAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) Ati ul Impartina Program Studi D III Kebidanan STIKES Muhammadiyah Lamongan

HUBUNGAN MOTIVASI IBU BALITA DENGAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) Ati ul Impartina Program Studi D III Kebidanan STIKES Muhammadiyah Lamongan HUBUNGAN MOTIVASI IBU BALITA DENGAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) Ati ul Impartina Program Studi D III Kebidanan STIKES Muhammadiyah Lamongan ABSTRAK Masalah penyakit akibat perilaku dan perubahan

Lebih terperinci