PERBANDINGAN EFEKTIVITAS ASETOSAL DAN KOMBINASI ASETOSAL-KLOPIDOGREL TERHADAP PASIEN STROKE ISKEMIK AKUT

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PERBANDINGAN EFEKTIVITAS ASETOSAL DAN KOMBINASI ASETOSAL-KLOPIDOGREL TERHADAP PASIEN STROKE ISKEMIK AKUT"

Transkripsi

1 Purnama SD. dkk, Perbandingan Efektivitas Asetol dan PERBANDINGAN EFEKTIVITAS ASETOSAL DAN KOMBINASI ASETOSAL-KLOPIDOGREL TERHADAP PASIEN STROKE ISKEMIK AKUT Sari Dianita Purnama 1, Pagan Pambudi 2, Nelly Al Audhah 3 1 Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin 2 Bagian Saraf RSUD Ulin Banjarmasin/Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin 3 Bagian Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin ABSTRACT: Acute ischemic stroke can make patients get neurology problems that show the signs of paralyze in some part of body and suddenly decrease awareness. The prevalence of acute ischemic stroke which high enough and the bad effects cause the preventing of acute ischemic stroke with right medicine becomes important. Acetosal works as an anti-thromboxane which often known as aspiryn. Clopidogrel is kind of thienophiridyn class drugs that works as an anti-platelet for acute ischemic stroke therapy so that can avoid blood cloting happened. This research aims to know if they have different effectivity or not to acute ischemic stroke therapy by acetosal and combine of acetosal-clopidogrel together. The method uses analythic observational with cohort. The research begins by counting the stroke scale use NIHSS (National Institute of Health Stroke Scale) at the first come to hospital, before patient cured by any drugs, and then repeat the NIHSS s scoring at seventh day after therapy. Research did for four months with sample that gathered 32 people. First, did normality test to data and after the normality have been proven, use unpaired T-test with interval of confidence 95% that shows the result, there s no significant difference between acetosal and combined acetosal-clopidogrel for acute ischemic stroke. Keywords: acetosal, clopidogrel, acute ischemic stroke, NIHSS ABSTRAK: Stroke iskemik akut dapat mengakibatkan defisit neurologi yang sebagian besar akan menimbulkan gejala kelumpuhan pada bagian tertentu dan atau terjadi penurunan kesadaran secara mendadak. Angka kejadian yang cukup tinggi dan efeknya terhadap penderita membuat pencegahan stroke iskemik akut dengan obat yang tepat sangat diperlukan. Asetosal adalah terapi yang bekerja sebagai antitromboksan yang sering pula dikenal dengan nama aspirin. Klopidogrel merupakan obat oral kelas tienopiridin yang berperan sebagai antiplatelet dalam terapi stroke iskemik akut sehingga mencegah terjadinya gumpalan darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan efektivitas pada terapi stroke iskemik akut menggunakan asetosal dan kombinasi asetosal-klopidogrel. Metode yang digunakan bersifat observasional analitik dengan pendekatan cohort. Penelitian dilakukan dengan cara menghitung derajat stroke pasien menggunakan NIHSS (National Institute of Health Stroke Scale) ketika hari pertama dirawat di rumah sakit sebelum mendapat terapi dan hari ketujuh setelah dilakukan terapi. Penelitian dilakukan selama empat bulan dengan jumlah sampel sebanyak 32 orang. Data pertama-tama diuji normalitas distribusinya kemudian setelah terbukti distribusi normal maka dilakukan uji T tidak berpasangan dengan tingkat kepercayaan sebesar 95% yang menunjukan bahwa tidak terdapat 109

2 Berkala Kedokteran, Vol. 9, No. 2, Sep 2013: perbedaan bermakna pada terapi stroke iskemik akut dengan asetosal dan kombinasi asetosal klopidogrel. Kata-kata kunci: asetosal, klopidogrel, stroke iskemik akut, NIHSS 110

3 Purnama SD. dkk, Perbandingan Efektivitas Asetol dan PENDAHULUAN Sesuai dengan data National Stroke Association bahwa stroke adalah penyebab kematian nomor tiga yang telah membunuh orang setiap tahunnya, juga menyebabkan penurunan kualitas hidup dan kelumpuhan pada pasien dewasa. Penyebab dari penyakit stroke ini juga meliputi banyak penyakit lain, diantaranya hipertensi, diabetes melitus, kadar kolesterol yang tidak normal, dan fibrilasi atrial (1,2,3,4). Dua juta sel akan mati setiap menitnya ketika stroke menyerang, yang akhirnya meningkatkan kerusakan permanen, kelumpuhan, atau kematian. Buruknya efek yang terjadi pada pasien penderita stroke dan sasaran serangan yang kebanyakan pasien lanjut usia, menjadikan pencegahan dan pengobatan stroke penting untuk terus dikembangkan (3,5). Pencegahan dan pengobatan yang paling penting adalah perbaikan gaya hidup dengan mengatur aktivitas dan asupan terutama pola makan, kerja, istirahat, dan olahraga. Namun, ketika perbaikan gaya hidup sudah tidak bisa dijalankan tanpa obat-obatan, maka pengobatan farmakologis haruslah diterapkan (3,6,7). Kasus stroke sendiri meliputi dua jenis, yaitu stroke iskemik dan stroke hemoragik, 87% dari semua kasus yang terjadi adalah stroke iskemik. Pengobatan yang masih dilakukan untuk penderita stroke iskemik akut hingga kini adalah menggunakan asetosal atau sering dikenal sebagai aspirin, serta jenis obat lain yaitu klopidogrel. Secara garis besar, kedua obat ini bekerja dengan sistem yang sama yaitu sebagai antiagregasi paletelet (1,3). Agregasi platelet memainkan peran penting dalam patogenesis stroke, dan obat-obatan yang menginterfensi fungsi platelet adalah elemen penting dalam pengobatan. Antikoagulan atau antiplatelet seperti asetosal dan klopidogrel secara umum digunakan untuk pencegahan sekunder stroke pada pasien setelah serangan stroke iskemik atau TIA (Transient Ischemic Acute) (8). Kedua obat ini dapat digunakan secara monoterapi ataupun kombinasi, tetapi pada umumnya untuk pengobatan awal diberikan monoterapi antara asetosal atau klopidogrel. Berbagai faktor diantaranya meliputi harga dan ketersediaan obat membuat asetosal lebih direkomendasikan beberapa dokter dalam mengatasi serangan stroke. Namun, terdapat pula beberapa dokter yang lebih memilih untuk memberikan klopidogrel pada tahap monoterapi ini dengan berbagai pertimbangan dari efek samping yang dimunculkan kedua obat ini (9). Beberapa penelitian mengatakan bahwa klopidogrel bekerja lebih baik daripada asetosal dan adapula yang menyatakan bahwa efektivitas kedua obat ini tidak menimbulkan perbedaan yang bermakna. Selain itu, beberapa penelitian juga telah mencoba meneliti efektivitas antara monoterapi dan kombinasi terhadap pasien stroke tersebut. Namun, Indonesia sendiri belum pernah melakukan penelitian semacam ini sebelumnya, sehingga belum benarbenar diketahui tentang efektivitas kerja antara asetosal dan klopidogrel terhadap penderita stroke iskemik akut. Karena itulah, diperlukan 111

4 Berkala Kedokteran, Vol. 9, No. 2, Sep 2013: penelitian untuk menilai efektivitas obat tersebut di lapangan dan nantinya dapat diteruskan untuk menjadi pertimbangan di bidang klinis (9,10,11). METODE PENELITIAN Metode penelitian yang dilakukan adalah uji klinik dengan metode cohort. Penelitian dilaksanakan di RSUD Ulin Banjarmasin selama empat bulan mulai bulan Juni 2012 hingga September Subjek penelitian adalah seluruh pasien stroke iskemik akut yang diterapi menggunakan asetosal dan kombinasi asetosalklopidogrel di RSUD Ulin Banjarmasin yang kondisinya terukur dengan NIHSS, sepanjang periode Juni-September 2012 atau selama empat bulan, dan instrumen penelitian berupa lembar NIHSS Persiapan dilakukan dengan meminta perijinan dan kerjasama komisi etik penelitian berhubungan dengan penelitian. Penelitian dilakukan pada pasien yang didiagnosa stroke iskemik akut melalui hasil CT Scan yang telah dilakukan sebelumnya, kemudian pasien diminta kesediaannya melalui informed consent. Pasien diukur nilai NIHSS-nya untuk menentukan derajat keparahan dari stroke yang diderita saat itu. Pasien mengikuti prosedur normal dalam pengobatan selama opname dan diberikan obat sesuai indikasi. Pasien kemudian dibagi dalam dua kelompok yang masing-masing diberikan terapi farmakologis yang berbeda. Kelompok pertama dengan asetosal dosis awal 300 mg kemudian dilanjutkan dengan dosis 100 mg/hari dan kelompok kedua dengan kombinasi asetosal-klopidogrel dosis masing-masing 80 mg/hari untuk asetosal dan 75 mg/hari untuk klopidogrel. Tujuh hari kemudian, keadaan umum pasien dilihat kembali dan dihitung menggunakan skala NIHSS. Hasil perhitungan sebelum dan sesudah diterapi dibandingkan kemudian ditentukan selisih keduanya. Data yang telah didapatkan dimasukan sesuai kelompok dan dianalisis statistik. Analisis data selanjutnya adalah dengan menggunakan uji statistik dua kelompok tidak berpasangan. Sebelumnya data diuji dengan Saphiro-wilk untuk mengetahui kenormalan distribusi, jika data berdistribusi normal maka dilakukan uji T tidak berpasangan, jika data tidak berdistribusi normal maka tekhnik yang dipilih adalah uji Mann-Whitney untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan yang bermakna pada pasien stroke iskemik akut yang diterapi dengan asetosal dan kombinasi asetosal-klopidogrel. Interpretasi dari analisis ini adalah, jika hasil akhir didapatkan ρ< 0,05 maka dikatakan bahwa antara kedua kelompok tersebut terdapat perbedaan yang bermakna, sedangkan jika ρ>0,05 maka diinterpretasikan bahwa tidak ada perbedaan bermakna diantara keduanya. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini telah dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Ulin Banjarmasin selama kurang lebih empat bulan berturut-turut dari bulan Juni hingga September dengan jumlah pasien stroke iskemik akut yang diamati perkembangan NIHSS 112

5 Purnama SD. dkk, Perbandingan Efektivitas Asetol dan sebelum dan sesudah terapi sebanyak 32 orang pasien. Total sampel tersebut meliputi 16 pasien stroke iskemik akut dengan terapi asetosal, 12 pasien stroke iskemik akut dengan terapi kombinasi asetosal dan klopidogrel, dan 4 orang yang hanya mendapatkan terapi neuroproteksi tanpa asetosal dan klopidogrel. Jumlah pasien stroke iskemik akut ini didominasi oleh pasien yang dirawat di bangsal saraf Seruni sebanyak 30 orang dan hanya dua orang yang peneliti dapatkan dirawat di ruang Wijaya Kusuma. Jumlah pasien 32 orang itu sendiri adalah jumlah pasien yang sesuai untuk menjadi sampel dan bertahan hingga penghitungan NIHSS pertama dan kedua terlaksana. Pasien yang setelah dirawat beberapa hari atau kurang dari tujuh hari kemudian meninggal serta kelompok yang oleh dokter bersangkutan tidak diberikan terapi asetosal ataupun kombinasi asetosal klopidogrel tidak akan diikutsertakan dalam uji statistik karena tidak termasuk dalam sampel yang diharapkan, sehingga total sampel yang akan dipakai sebanyak 28 orang pasien. Data pasien penderita stroke iskemik akut kemudian dibagi menjadi dua kelompok yaitu pasien dengan terapi asetosal saja dan pasien dengan terapi kombinasi antara asetosal dan klopidogrel. Tabel 1 Jumlah Pasien Stroke Iskemik Akut dengan Terapi Asetosal dan Kombinasi Asetosal- Klopidogrel Sepanjang Juni-September 2012 di RSUD Ulin Banjarmasin No Terapi 1 Asetosal - Laki-laki 8 - Perempuan 8 2 Asetosal-Klopidogrel - Laki-laki 7 - Perempuan 5 Total 28 Jumlah pasien Berdasarkan tabel di atas, pemberian asetosal pada pasien stroke iskemik akut cenderung lebih sering daripada klopidogrel. Hal ini dikarenakan pemberian klopidogrel pada pasien stroke iskemik akut masih merupakan hal baru. Awalnya asetosal selalu menjadi pilihan pertama dalam terapi stroke iskemik akut, klopidogrel dipakai ketika pasien memiliki kontraindikasi misalnya alergi terhadap asetosal. Namun, efek dari klopidogrel yang juga baik pada pasien stroke iskemik akut memicu munculnya penelitianpenelitian yang berhubungan dengan efektivitas terapi klopidogrel dan kombinasi asetosal-klopidogrel secara luas. Jumlah penderita stroke iskemik akut berdasarkan jenis kelaminnya juga menunjukan bahwa laki-laki lebih banyak menderita stroke iskemik akut daripada wanita. Berdasarkan Tabel 1 menunjukan perbedaan yang tidak terlalu spesifik antara laki-laki dan perempuan, meskipun untuk asetosal-klopidogrel laki-laki lebih banyak. Hal ini kemungkinan berhubungan dengan faktor risiko 113

6 Berkala Kedokteran, Vol. 9, No. 2, Sep 2013: dari stroke itu sendiri, AHA (American Heart Association) menyatakan bahwa terdapat dua jenis faktor risiko pada stroke yaitu faktor risiko yang bisa dikontrol misalnya tekanan darah, penggunaan tembakau, diabetes melitus, kolesterol tinggi, obesitas dan kurangnya aktivitas fisik, penyakit pada karotis dan arteri, TIA, atrial fibrilasi, konsumsi alkohol berlebihan, dan penggunaan obatobatan terlarang. Faktor risiko lainnya adalah faktor yang tidak bisa dikontrol seperti penuaan, jenis kelamin, hereditas dan ras. AHA menunjukan bahwa faktor risiko berupa gender atau jenis kelamin hasilnya terjadi lebih banyak pada laki-laki daripada perempuan. Kemudian, penelitian dari Departemen Kesehatan Tennesse tentang penggunaan tembakau pada orang dewasa menemukan hasil bahwa laki-laki yang merokok atau mengkonsumsi tembakau ada sekitar 26,7% dan untuk perempuan 23,7%, bahkan pada jurnal dari Departemen Kesehatan Singapura menyimpulkan merokok adalah salah satu faktor risiko yang dilakukan oleh laki-laki dengan jumlah 5 kali lebih banyak dari perempuan. Maka, selain karena sifat genetik laki-laki lebih mudah terkena stroke dari perempuan, kebiasaan yang dilakukan oleh lebih banyak laki-laki yang merokok membuat prevalensi stroke meningkat pada laki-laki (12,13,14). Perbedaan jenis kelamin juga berkaitan dengan hormon. Hal ini berhubungan dengan salah satu faktor risiko stroke yaitu hipertensi, jurnal yang diterbitkan oleh IPB tentang hipertensi menerangkan bahwa penyakit hipertensi akan cenderung lebih rendah pada perempuan karena adanya peran estrogen yang melindungi perempuan dari penyakit kardiovaskuler. Selain sebagai hormon reproduksi, estrogen juga berperan sebagai antioksidan. Kolesterol LDL (Low-density Lipoprotein) lebih mudah menembus plak di dalam dinding nadi pembuluh darah apabila dalam kondisi teroksidasi. Peranan estrogen yang lain adalah sebagai vasodilatator jantung sehingga aliran darah jantung menjadi lancar dan jantung mendapat suplai oksigen yang cukup. Hal inilah yang menyebabkan secara genetik jenis kelamin perempuan akan lebih sedikit terkena stroke iskemik akut, hal ini pula yang menjelaskan bahwa kebanyakan perempuan yang tercatat sebagai pasien stroke iskemik akut dan penyakit kardiovaskular lainnya cenderung berusia lebih tua dan biasanya sudah menopause karena hormon estrogen yang melindungi telah menurun drastis (15). Selain perbedaan jenis kelamin, beberapa faktor risiko yang telah diterangkan diatas juga terjadi pada pasien stroke iskemik akut yang menjadi sampel penelitian. Faktor risiko paling banyak adalah riwayat penyakit sebelumnya yaitu hipertensi dan stroke itu sendiri yang saat pasien datang merupakan ulangan serangan dari stroke iskemik yang bertahun-tahun yang lalu pernah terjadi. Faktor lainnya adalah riwayat dislipidemia, diabetes melitus, usia, dan riwayat stroke iskemik pada keluarga pasien. 114

7 Purnama SD. dkk, Perbandingan Efektivitas Asetol dan Tabel 2 Faktor Risiko pada Pasien Stroke Iskemik Akut dengan Terapi Asetosal dan Kombinasi Asetosal-Klopidogrel Sepanjang Juni-September 2012 di RSUD Ulin Banjarmasin No Faktor Risiko Asetosal Jumlah Asetosal + Klopidogrel 1 Dislipidemia % 2 Diabetes Melitus % 3 Hipertensi % 4 RPK SNH (+) % 5 RPD SNH (+) % 6 Usia < % 40 < % % Total % Ket. 24 lainnya tidak mengalami dislipidemia 22 lainnya tidak mengalami DM 5 lainnya tanpa riwayat hipertensi 21 lainnya, keluarga tidak pernah SNH 18 lainnya, serangan pertama Kedua kelompok data ini sebelumnya dinilai efektivitasnya terhadap setiap obat. Hasil didapatkan dari melihat rerata perbaikan skor dari masing-masing obat yang dipakai. Terapi asetosal menunjukan rerata perbaikan skor sebesar 3,25 dan kombinasi asetosal klopidogrel menunjukan rerata yang sedikit lebih besar yaitu 4,41. Secara sekilas kombinasi asetosal klopidogrel memberikan perbaikan yang jauh lebih cepat dibandingkan pasien dengan terapi asetosal tunggal, tetapi perbedaan keduanya sendiri belum bisa dipastikan bermakna atau tidak. Setelah semua data didapatkan dan disusun sesuai tabel, maka dilakukan uji statistik yang sesuai untuk menentukan hasil dari data. Uji pertama yang dilakukan adalah uji normalitas, dikarenakan jumlah sampel yang kurang dari 50 orang maka uji yang dipilih untuk menilai normalitas distribusi data adalah Saphiro-wilk. Hasil pertama adalah untuk pasien dengan terapi asetosal didapatkan ρ=0,059 yang berarti distribusi data normal (ρ>0,05) sedangkan untuk kelompok kombinasi asetosal klopidogrel ρ=0,003 yang artinya distribusi data tidak normal (ρ<0,05). Sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan, maka langkah selanjutnya adalah melakukan transformasi data. Data yang telah ditransformasi diuji kembali normalitasnya dan didapatkan hasil ρ=0,368 untuk kelompok asetosal dan ρ=0,135 untuk kelompok kombinasi asetosal klopidogrel yang berarti kedua data telah berdistribusi normal. Selanjutnya, menggunakan data yang telah ditransformasi, dilakukan analisis data menggunakan uji T tidak berpasangan. Uji Levene pada hasil uji T tidak berpasangan menunjukan ρ=0,75, karena ρ>0,05 dapat disimpulkan bahwa varian dari data adalah sama sehingga nilai yang diambil dari tabel adalah bagian Equal variances assumed dan hasilnya ρ=0,57 (ρ>0,05) yang artinya adalah antara pemberian 115

8 Berkala Kedokteran, Vol. 9, No. 2, Sep 2013: asetosal dengan kombinasi asetosalklopidogrel tidak menunjukan perbedaan yang bermakna dalam perbaikan stroke iskemik akut. Hasil ini bersesuaian dengan penelitian oleh Bhat DL et al (2006) yang menyatakan bahwa klopidogrel bersama asetosal tidak memberikan efektivitas yang berbeda secara signifikan daripada pemberian asetosal tunggal dalam mereduksi derajat dari infark myocardium, stroke, atau kematian yang disebabkan oleh masalah kardiovaskuler (9). Klopidogrel secara aktif menghambat aktivasi agregasi platelet yang diinduksi oleh ADP secara selektif dan permanen menghalangi reseptor P2Y 12 sedangkan asetosal mereduksi aktivasi dari platelet dengan cara asetilasi COX-1 secara irreversible sehingga produksi TXA 2 terhambat. Keduanya bekerja pada faktor yang berbeda tetapi dengan cara yang sama, sebagai anti agregrasi platelet (10,16). Tujuan dari pemberian anti agregasi platelet kepada pasien stroke iskemik akut adalah untuk menghentikan pembentukan klot pada pembuluh darah sehingga peristiwa iskemik tidak terus berlanjut, pemberian ini ditujukan sampai titik normal viskositas darah dan kondisi tubuh kembali seperti keadaan normal. Pemberian terapi tunggal dengan asetosal saja atau klopidogrel saja sebenarnya sudah dapat mencapai titik normal yang dikehendaki. Pemberian kombinasi misalnya asetosal dan klopidogrel bersamaan hanya memberikan waktu kembali normal lebih cepat, ketika keadaan tubuh kembali ke fungsi normal maka efek anti agregasinya tidak lagi terlihat, bahkan pemberian yang berlebihan tersebut akan meningkatkan kemungkinan perdarahan. Pemberian kombinasi dapat diberikan jika memang ada indikasi tertentu dan harus dengan pemantauan yang lebih ekstra (6). Guideline dari AHA juga mendapatkan hasil primer tidak berbeda bermakna pada kedua terapi tersebut dan keduanya dapat menjadi pencegahan sekunder pada stroke iskemik dan TIA, meskipun sebenarnya penelitian itu sendiri tidak ditujukan untuk membandingkan asetosal dan klopidogrel sebagai pencegahan sekunder (17,18). Studi CAPRIE (Clopidogrel versus Aspirin in Patients at Risk of Ischemic Events) mengamati perbandingan penurunan angka kematian pada kelompok yang diterapi dengan asetosal dan klopidogrel. Hasilnya asetosal tingkat mortalitasnya 7,71% dengan klopidogrel 7,15% yang menunjukan bahwa sekilas klopidogrel sedikit lebih tinggi penurunan angka mortalitasnya, tetapi setelah uji statistik keduanya menunjukan tidak ada perbedaan yang bermakna. Meskipun begitu, CAPRIE bukanlah sebuah penelitian untuk membuktikan asetosal dan klopidogrel serupa untuk pasien stroke. Penelitian tersebut juga menyimpulkan bahwa pernyataan aspirin lebih inferior dari klopidogrel tidak terbukti sepenuhnya (17,18). Secara umum, keamanan dari klopidogrel dan asetosal hanya bisa dibandingkan dalam hal-hal minor. Diare dan ruam lebih sering muncul pada penggunaan asetosal tetapi selain diare, efek samping gastrointestinal lain dan perdarahan lebih sedikit (17). 116

9 Purnama SD. dkk, Perbandingan Efektivitas Asetol dan Penelitian serupa tentang efektivitas dari klopidogrel dan aspirin dibandingkan dengan klopidogrel tunggal pada studi MATCH (Management of Atherothrombosis with Clopidogrel in High-Risk Patients with Recent Transient Ischemic Attack or Ischemic Stroke) menunjukan bahwa tidak ada benefit tambahan atau khusus terhadap kombinasi dari obat yang diberikan dibandingkan dengan klopidogrel tunggal dalam menurunkan outcome primer dan sekunder. Risiko dari perdarahan mayor meningkat secara signifikan pada kombinasi kelompok (asetosal+klopidogrel) daripada klopidogrel sendirian dengan 1,3% peningkatan absolut kasus perdarahan yang dapat sembuh sendiri (17). Beberapa bukti yang telah dipublikasikan, mengindikasikan bahwa perbandingan antara terapi kombinasi asetosal klopidogrel dengan terapi tunggal hanya klopidogrel atau hanya asetosal dapat menjadi cara yang efektif dalam pencegahan sekunder stroke. Tidak ada pembelajaran kasus yang membandingkan klopidogrel dengan plasebo, dan pembanding dengan agen anti agregasi platelet lainnya yang menyatakan salah satu terapi superior atau sama satu sama lain. Pemilihan terapi ini berkaitan dengan efektivitas relatif, keamanan individu, harga, karakteristik pasien, dan latar belakang dari pasien itu sendiri (15). PENUTUP Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa rerata efektivitas asetosal pada pasien stroke iskemik akut berdasarkan selisih NIHSS adalah 3,25, dan rerata efektivitas kombinasi asetosal dan klopidogrel pada pasien stroke iskemik akut berdasarkan selisih NIHSS 4,41. Selain itu juga tedapat perbandingan efektivitas pemulihan status kesehatan melalui perhitungan NIHSS pada pasien dengan terapi asetosal dengan kombinasi asetosal klopidogrel menunjukan hasil tidak berbeda bermakna (ρ=0,57). Saran untuk penelitian ini selanjutnya dapat dilakukan penelitian di bidang yang sama dengan jumlah pasien yang lebih banyak dan waktu yang lebih panjang, juga penelitian dengan variabel lain misalnya derajat mortalitas pada pasien stroke iskemik akut, faktor risiko, pengaruh genetik, dan jenis kelamin. DAFTAR PUSTAKA 1. Aminoff MJ, Greenberg DA, et al. Clinician neurology lange 6 th ed. New York: Mc Graw-Hills, Wilkinson I and Lennox G. Essential neurology 4 th ed. USA: Blackwell Publishing, 2005: Setyopranoto, Ismail. Stroke : Gejala dan penatalaksanaan. CDK 2011; 185/Vol.38 no Lee JH, Kennedy K, White C. National institute of health stroke scale (NIHSS) should be the outcome measure of choice when utilizing the care registry. J Am Coll Cardiol 2012; 59:E2130- E Anonymous. Stroke facts: recovery after stroke: thinking 117

10 Berkala Kedokteran, Vol. 9, No. 2, Sep 2013: and cognition. National Stroke Association, Caplan, LR. Caplan s stroke : a clinical approach, 4 th ed. Philadelphia: Saunders Elsevier, 2009: Kent DM and Thaler DE. Stroke prevention-insight from incoherence. NEJM 2008; 359: Juurlink DN, Gomes T, Mandani MM, et al. The safety of proton pump inhibitors and clopidogrel in patients after stroke. Stroke 2011; 42: Bhatt DL, Fox KAA, Hacke W, et al. Clopidogrel and aspirin versus aspirin alone for the prevention of atherothrombotic events. NEJM 2006; 354: Gurbel PA, Tantry US. Clopidogrel resistence?. Thrombosis Research 2007; 120, Singer E, Imfeld S, Staub D, et al. Effect of aspirin versus clopidogrel on walking exercise performance in intermittent claudication : a double-blind randomized multicenter trial. J Am Heart Assoc 2012; 1: Anonymous. Let s talk about risk factor for stroke. American Heart Association/American Stroke Association, Office of Policy. Prevalence of Tobacco Use in Tennessee, Tennessee: Department of Health Nashville TN, Planning and Assessment (2008). 14. Anonymous. Annual Stroke Registry Report Stroke Trends in Singapore Singapore: Ministry of Health Singapore NRDO (National Registry of Diseases Office, 2012: Anonymous. Arsip IPB (Institut Pertanian Bogor) Hipertensi dan faktor risikonya. Bogor: IPB. 16. Hankey GJ, Eikelboom JW. Aspirin resistence. Lancet 2006; 367: L Karen, Furie, Scott EK, et al. Guidelines for the prevention of stroke in patients with stroke or transient ischemic attack : a guideline for healthcare professionals from the American Heart Association/American Stroke Association. Stroke.2011;42: Adams RJ, Greg Albers, Mark JA, et al. Update to the AHA/ASA recommendation for the prevention of stroke in patients with stroke and transient ischemic attack. Stroke.2008;39:

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. cenderung meningkatkan risiko terjadinya penyakit vaskular seperti stroke

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. cenderung meningkatkan risiko terjadinya penyakit vaskular seperti stroke BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Modernisasi mengakibatkan perubahan pola hidup masyarakat yang cenderung meningkatkan risiko terjadinya penyakit vaskular seperti stroke (Nufus, 2012). Stroke menjadi

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG. Stroke atau cedera serebrovaskular adalah berhentinya suplai darah ke

UKDW BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG. Stroke atau cedera serebrovaskular adalah berhentinya suplai darah ke BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Stroke atau cedera serebrovaskular adalah berhentinya suplai darah ke bagian otak sehingga mengakibatkan hilangnya fungsi otak (Smeltzer & Suzane, 2001). Hal ini dapat

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Stroke adalah sindrom yang terdiri dari tanda dan/atau gejala hilangnya fungsi sistem saraf pusat fokal (atau global) yang berkembang cepat (dalam detik atau menit).

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Stroke adalah penyakit multifaktorial dengan berbagai penyebab disertai manifestasi klinis mayor, dan penyebab utama kecacatan dan kematian di negara-negara berkembang

Lebih terperinci

Stroke merupakan penyebab kematian ketiga terbanyak di Amerika Serikat. Pada 2002, stroke membunuh sekitar orang. Jumlah tersebut setara

Stroke merupakan penyebab kematian ketiga terbanyak di Amerika Serikat. Pada 2002, stroke membunuh sekitar orang. Jumlah tersebut setara BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Sehat secara jasmani dan rohani adalah keinginan setiap manusia moderen, di era pembangunan di segala bidang yang kini sedang digalakkan pemerintah dituntut sosok manusia

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Stroke WHO mendefinisikan stroke sebagai gangguan saraf yang menetap baik fokal maupun global(menyeluruh) yang disebabkan gangguan aliran darah otak, yang mengakibatkan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Stroke merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan neurologis yang utama di Indonesia (Mansjoer, 2000). Serangan otak ini merupakan kegawatdaruratan medis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.I LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN I.I LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN I.I LATAR BELAKANG Penyakit tidak menular terus berkembang dengan semakin meningkatnya jumlah penderitanya, dan semakin mengancam kehidupan manusia, salah satu penyakit tidak menular

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

UKDW BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Stroke merupakan penyebab kematian ketiga didunia, dengan angka mortalitas tertinggi di negara dengan pendapatan rendah sampai menengah. Dari data WHO,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Menurut World Health Organization (WHO) stroke adalah suatu gangguan fungsional otak dengan tanda dan gejala fokal maupun global, yang terjadi secara mendadak, berlangsung

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Stroke merupakan suatu gangguan disfungsi neurologist akut yang disebabkan oleh gangguan peredaran darah, dan terjadi secara mendadak (dalam beberapa detik) atau setidak-tidaknya

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit jantung koroner (PJK) atau iskemia miokard, adalah penyakit yang ditandai dengan iskemia (suplai darah berkurang) dari otot jantung, biasanya karena penyakit

Lebih terperinci

BAB 5 PEMBAHASAN. Telah dilakukan penelitian terhadap 100 penderita stroke iskemik fase akut,

BAB 5 PEMBAHASAN. Telah dilakukan penelitian terhadap 100 penderita stroke iskemik fase akut, lxxiii BAB 5 PEMBAHASAN Telah dilakukan penelitian terhadap 100 penderita stroke iskemik fase akut, setelah dialokasikan secara acak 50 penderita masuk kedalam kelompok perlakuan dan 50 penderita lainnya

Lebih terperinci

Prosiding Pendidikan Dokter ISSN: X

Prosiding Pendidikan Dokter ISSN: X Prosiding Pendidikan Dokter ISSN: 2460-657X Gambaran Faktor Risiko Stroke pada Pasien Stroke Infark Aterotrombotik di RSUD Al Ihsan Periode 1 Januari 2015 31 Desember 2015 The Characteristic of Stroke

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. Pada tahun 2012, diperkirakan sebanyak 17,5 juta orang di dunia

BAB I. PENDAHULUAN. Pada tahun 2012, diperkirakan sebanyak 17,5 juta orang di dunia BAB I. PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Pada tahun 2012, diperkirakan sebanyak 17,5 juta orang di dunia meninggal akibat penyakit kardiovaskuler dan 85% di antaranya meninggal karena serangan jantung dan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. A. Tinjauan Pustaka

BAB II LANDASAN TEORI. A. Tinjauan Pustaka BAB II LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka a. Kardiovaskuler Penyakit kardiovaskular adalah penyakit gangguan pada jantung dan pembuluh darah. Karena sistem kardiovaskular sangat vital, maka penyakit kardiovaskular

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jantung merupakan sebuah organ yang memompa darah ke seluruh tubuh, hal ini menjadikan fungsi jantung sangat vital bagi kehidupan, sehingga jika terjadi sedikit saja

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. menggunakan uji Chi Square atau Fisher Exact jika jumlah sel tidak. memenuhi (Sastroasmoro dan Ismael, 2011).

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. menggunakan uji Chi Square atau Fisher Exact jika jumlah sel tidak. memenuhi (Sastroasmoro dan Ismael, 2011). BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Hasil penelitian terdiri atas analisis deskriptif dan analisis data secara statistik, yaitu karakteristik dasar dan hasil analisis antar variabel

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Stroke merupakan penyakit terbanyak ketiga setelah penyakit jantung dan kanker, serta merupakan penyakit penyebab kecacatan tertinggi di dunia. Menurut American Heart

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN UKDW. masyarakat telah didiagnosis oleh tenaga kesehatan (RisKesDas, 2007).

BAB I PENDAHULUAN UKDW. masyarakat telah didiagnosis oleh tenaga kesehatan (RisKesDas, 2007). BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit serebrovaskular merupakan kelainan pada suatu area di otak baik secara permanen maupun sementara yang diakibatkan oleh kejadian iskemik atau perdarahan. Stroke

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN UKDW. besar. Kecacatan yang ditimbulkan oleh stroke berpengaruh pada berbagai aspek

BAB I PENDAHULUAN UKDW. besar. Kecacatan yang ditimbulkan oleh stroke berpengaruh pada berbagai aspek BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Stroke merupakan masalah medis yang serius karena dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat, kecacatan dan biaya yang dikeluarkan sangat besar. Kecacatan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Diabetes mellitus (DM) adalah sekelompok gangguan metabolik. dari metabolisme karbohidrat dimana glukosa overproduksi dan kurang

BAB 1 PENDAHULUAN. Diabetes mellitus (DM) adalah sekelompok gangguan metabolik. dari metabolisme karbohidrat dimana glukosa overproduksi dan kurang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Diabetes mellitus (DM) adalah sekelompok gangguan metabolik dari metabolisme karbohidrat dimana glukosa overproduksi dan kurang dimanfaatkan sehingga menyebabkan hiperglikemia,

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Stroke merupakan penyebab kematian dan kecacatan yang utama. Hipertensi

UKDW BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Stroke merupakan penyebab kematian dan kecacatan yang utama. Hipertensi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Stroke merupakan penyebab kematian dan kecacatan yang utama. Hipertensi merupakan faktor risiko stroke yang utama 1.Masalah kesehatan yang timbul akibat stoke sangat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. degeneratif seperti jantung koroner dan stroke sekarang ini banyak terjadi

BAB I PENDAHULUAN. degeneratif seperti jantung koroner dan stroke sekarang ini banyak terjadi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pemasalahan kesehatan yang berkaitan dengan penyakit degeneratif seperti jantung koroner dan stroke sekarang ini banyak terjadi di dunia. Stroke merupakan penyakit neurologi

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. didominasi oleh penyakit infeksi dan malnutrisi, pada saat ini didominasi oleh

BAB 1 PENDAHULUAN. didominasi oleh penyakit infeksi dan malnutrisi, pada saat ini didominasi oleh BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kemajuan di bidang perekonomian sebagai dampak dari pembangunan menyebabkan perubahan gaya hidup seluruh etnis masyarakat dunia. Perubahan gaya hidup menyebabkan perubahan

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian adalah Ilmu Penyakit Saraf. Penelitian dilakukan di Bangsal Rawat Inap Penyakit Saraf RS Dr.

BAB 3 METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian adalah Ilmu Penyakit Saraf. Penelitian dilakukan di Bangsal Rawat Inap Penyakit Saraf RS Dr. 36 BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Ruang lingkup penelitian Ruang lingkup penelitian adalah Ilmu Penyakit Saraf 3.2 Tempat dan waktu penelitian Penelitian dilakukan di Bangsal Rawat Inap Penyakit Saraf RS

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Stroke yang disebut juga sebagai serangan otak atau brain attack ditandai

BAB 1 PENDAHULUAN. Stroke yang disebut juga sebagai serangan otak atau brain attack ditandai BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Stroke yang disebut juga sebagai serangan otak atau brain attack ditandai dengan hilangnya sirkulasi darah ke otak secara tiba-tiba, sehingga dapat mengakibatkan terganggunya

Lebih terperinci

A. Latar Belakang Masalah

A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Angka kematian karena stroke sampai saat ini masih tinggi. Menurut estimasi World Health Organisation (WHO), pada tahun 2008 ada 6,2 juta kematian karena stroke

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dari orang per tahun. 1 dari setiap 18 kematian disebabkan oleh stroke. Rata-rata, setiap

BAB I PENDAHULUAN. dari orang per tahun. 1 dari setiap 18 kematian disebabkan oleh stroke. Rata-rata, setiap BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Stroke adalah salah satu penyebab kematian utama di dunia. Stroke membunuh lebih dari 137.000 orang per tahun. 1 dari setiap 18 kematian disebabkan oleh stroke. Rata-rata,

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Menurut WHO MONICA project, stroke didefinisikan sebagai gangguan

UKDW BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Menurut WHO MONICA project, stroke didefinisikan sebagai gangguan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Menurut WHO MONICA project, stroke didefinisikan sebagai gangguan fungsional otak yang terjadi secara mendadak dengan tanda klinis fokal atau global yang berlangsung

Lebih terperinci

BAB 5 PEMBAHASAN. dengan menggunakan consecutive sampling. Rerata umur pada penelitian ini

BAB 5 PEMBAHASAN. dengan menggunakan consecutive sampling. Rerata umur pada penelitian ini 61 BAB 5 PEMBAHASAN Telah dilakukan penelitian pada 44 subyek pasien pasca stroke iskemik dengan menggunakan consecutive sampling. Rerata umur pada penelitian ini hampir sama dengan penelitian sebelumnya

Lebih terperinci

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan kelainan pada satu atau lebih pembuluh

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan kelainan pada satu atau lebih pembuluh BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan kelainan pada satu atau lebih pembuluh darah arteri koroner dimana terdapat penebalan dalam dinding pembuluh darah disertai

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di RSUD Dr. Moewardi Surakarta terutama di Instalasi Rekam Medik dan dilaksanakan pada Agustus 2015 Januari 2016. B. Jenis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan penyakit yang menyerang

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan penyakit yang menyerang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan penyakit yang menyerang jantung. Organ tersebut memiliki fungsi memompa darah ke seluruh tubuh. Kelainan pada organ tersebut

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. berkembang. Berdasarkan data WHO (2010), setiap tahunya terdapat 10 juta

I. PENDAHULUAN. berkembang. Berdasarkan data WHO (2010), setiap tahunya terdapat 10 juta 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Stroke adalah penyakit multifaktoral dengan berbagai penyebab disertai manifestasi mayor, dan penyebab kecacatan dan kematian di negara-negara berkembang. Berdasarkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengalirkan darah ke otot jantung. Saat ini, PJK merupakan salah satu bentuk

BAB I PENDAHULUAN. mengalirkan darah ke otot jantung. Saat ini, PJK merupakan salah satu bentuk 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyakit Jantung Koroner atau PJK adalah suatu kelainan yang disebabkan oleh adanya penyempitan dan hambatan arteri koroner yang mengalirkan darah ke otot jantung.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit Hipertensi atau yang lebih dikenal penyakit darah tinggi adalah suatu keadaan dimana tekanan darah seseorang adalah >140 mm Hg (tekanan sistolik) dan/ atau

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masalah kesehatan global, penyebab utama dari kecacatan, dan

BAB I PENDAHULUAN. masalah kesehatan global, penyebab utama dari kecacatan, dan BAB I PENDAHULUAN I.1. LATAR BELAKANG Stroke adalah salah satu sindrom neurologi yang merupakan masalah kesehatan global, penyebab utama dari kecacatan, dan penyebab utama angka mortalitas di seluruh dunia.

Lebih terperinci

Gambar 3.1 Skema Kerangka Konseptual

Gambar 3.1 Skema Kerangka Konseptual BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Kerangka Konseptual 3.1.1 Skema Kerangka Konseptual Pola Penggunaan Angiotensin Reseptor Bloker pada Pasien Stroke Iskemik Etiologi - Sumbatan pembuluh darah otak - Perdarahan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menurun sedikit pada kelompok umur 75 tahun (Riskesdas, 2013). Menurut

BAB I PENDAHULUAN. menurun sedikit pada kelompok umur 75 tahun (Riskesdas, 2013). Menurut BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Prevalensi penyakit jantung koroner (PJK) berdasarkan yang pernah didiagnosis dokter di Indonesia sebesar 0,5 persen, dan berdasarkan diagnosis dokter atau gejala

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bervariasi. Insidensi stroke hampir mencapai 17 juta kasus per tahun di seluruh dunia. 1 Di

BAB I PENDAHULUAN. bervariasi. Insidensi stroke hampir mencapai 17 juta kasus per tahun di seluruh dunia. 1 Di BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Stroke masih menjadi pusat perhatian dalam bidang kesehatan dan kedokteran oleh karena kejadian stroke yang semakin meningkat dengan berbagai penyebab yang semakin

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Premier Jatinegara, Sukono Djojoatmodjo menyatakan masalah stroke

BAB 1 PENDAHULUAN. Premier Jatinegara, Sukono Djojoatmodjo menyatakan masalah stroke BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Stroke merupakan masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian khusus dan dapat menyerang siapa saja dan kapan saja, tanpa memandang ras, jenis kelamin, atau

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Penyakit jantung koroner (PJK) adalah penyakit jantung yang terutama disebabkan karena penyempitan arteri koronaria akibat proses aterosklerosis atau spasme

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian. Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab nomor satu kematian di

UKDW BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian. Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab nomor satu kematian di BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab nomor satu kematian di dunia. Diperkirakan 17,5 juta orang meninggal dunia karena penyakit ini. Dan 7,4 juta

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Stroke adalah cedera otak yang berkaitan dengan gangguan aliran. yang menyumbat arteri. Pada stroke hemoragik, pembuluh darah otak

BAB 1 PENDAHULUAN. Stroke adalah cedera otak yang berkaitan dengan gangguan aliran. yang menyumbat arteri. Pada stroke hemoragik, pembuluh darah otak BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Stroke adalah cedera otak yang berkaitan dengan gangguan aliran darah otak. Terdapat dua macam stroke yaitu iskemik dan hemoragik. Stroke iskemik dapat terjadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Stroke merupakan masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian khusus dan dapat menyerang siapa saja dan kapan saja, tanpa memandang ras, jenis kelamin, atau

Lebih terperinci

STROKE Penuntun untuk memahami Stroke

STROKE Penuntun untuk memahami Stroke STROKE Penuntun untuk memahami Stroke Apakah stroke itu? Stroke merupakan keadaan darurat medis dan penyebab kematian ketiga di Amerika Serikat. Terjadi bila pembuluh darah di otak pecah, atau yang lebih

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. penyakit jantung dan pembuluh darah telah menduduki peringkat pertama sebagai

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. penyakit jantung dan pembuluh darah telah menduduki peringkat pertama sebagai BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit Jantung Koroner (PJK) atau penyakit kardiovaskuler saat ini merupakan salah satu penyebab utama kematian di negara maju dan berkembang. Hasil penelitian Tim

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN UKDW. penyakit yang sering dijumpai dalam praktek kedokteran. Data epidemiologis

BAB I PENDAHULUAN UKDW. penyakit yang sering dijumpai dalam praktek kedokteran. Data epidemiologis 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Penyakit serebrovaskuler atau yang lebih dikenal dengan stroke merupakan penyakit yang sering dijumpai dalam praktek kedokteran. Data epidemiologis menunjukkan bahwa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Stroke atau cerebrovascular accident (CVA) didefinisikan sebagai gangguan neurologis fokal yang terjadi mendadak akibat proses patofisiologi dalam pembuluh darah (Brashers,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN orang dari 1 juta penduduk menderita PJK. 2 Hal ini diperkuat oleh hasil

BAB I PENDAHULUAN orang dari 1 juta penduduk menderita PJK. 2 Hal ini diperkuat oleh hasil BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Dewasa ini berbagai laporan kesehatan mengindikasikan bahwa prevalensi penyakit tidak menular lebih banyak dari pada penyakit menular. Dinyatakan oleh World

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. insulin yang tidak efektif. Hal ini ditandai dengan tingginya kadar gula dalam

BAB I PENDAHULUAN. insulin yang tidak efektif. Hal ini ditandai dengan tingginya kadar gula dalam BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diabetes Melitus merupakan penyakit kronis yang disebabkan oleh ketidak mampuan tubuh untuk memproduksi hormon insulin atau karena penggunaan insulin yang tidak efektif.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. akibat penyakit kardiovaskuler pada tahun 1998 di Amerika Serikat. (data dari

BAB 1 PENDAHULUAN. akibat penyakit kardiovaskuler pada tahun 1998 di Amerika Serikat. (data dari 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan penyebab 48% kematian akibat penyakit kardiovaskuler pada tahun 1998 di Amerika Serikat. (data dari center for medicine and

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I. 1. Latar Belakang. Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan masalah kesehatan dunia yang

BAB I PENDAHULUAN. I. 1. Latar Belakang. Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan masalah kesehatan dunia yang 1 BAB I PENDAHULUAN I. 1. Latar Belakang Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan masalah kesehatan dunia yang dapat menyebabkan gangguan kualitas hidup dan memperpendek harapan hidup (Wong, 2014). Pasien

Lebih terperinci

BAB 3 METODA PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian adalah Ilmu Penyakit Syaraf. RSUP Dr. Kariadi Semarang pada periode Desember 2006 Juli 2007

BAB 3 METODA PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian adalah Ilmu Penyakit Syaraf. RSUP Dr. Kariadi Semarang pada periode Desember 2006 Juli 2007 50 BAB 3 METODA PENELITIAN 3.1. Ruang lingkup penelitian Ruang lingkup penelitian adalah Ilmu Penyakit Syaraf 3.2. Tempat dan waktu penelitian Penelitian akan dilakukan di Bangsal Rawat Inap UPF Penyakit

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. individu maupun masyarakat. Identifikasi awal faktor risiko yang. meningkatkan angka kejadian stroke, akan memberikan kontribusi

BAB I PENDAHULUAN. individu maupun masyarakat. Identifikasi awal faktor risiko yang. meningkatkan angka kejadian stroke, akan memberikan kontribusi BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Stroke merupakan satu dari masalah kesehatan yang penting bagi individu maupun masyarakat. Identifikasi awal faktor risiko yang meningkatkan angka kejadian stroke, akan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan problem kesehatan utama yang

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan problem kesehatan utama yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan problem kesehatan utama yang sangat serius, baik di Negara maju maupun di Negara berkembang. Data dari WHO tahun 2004 menyatakan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. koroner. Kelebihan tersebut bereaksi dengan zat-zat lain dan mengendap di

BAB 1 PENDAHULUAN. koroner. Kelebihan tersebut bereaksi dengan zat-zat lain dan mengendap di BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit jantung koroner adalah penyakit jantung yang terutama disebabkan karena penyempitan arteri koroner. Peningkatan kadar kolesterol dalam darah menjadi faktor

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Pada saat ini penyakit kardiovaskuler merupakan penyebab kematian

BAB 1 PENDAHULUAN. Pada saat ini penyakit kardiovaskuler merupakan penyebab kematian BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pada saat ini penyakit kardiovaskuler merupakan penyebab kematian nomor satu di dunia. Pada tahun 2005 sedikitnya 17,5 juta atau setara dengan 30 % kematian diseluruh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ke otak disebut sebagai arteri. Otak membutuhkan. suplai darah yang konstan, dimana pembuluh darah

BAB I PENDAHULUAN. ke otak disebut sebagai arteri. Otak membutuhkan. suplai darah yang konstan, dimana pembuluh darah BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Pembuluh darah yang membawa darah dari jantung ke otak disebut sebagai arteri. Otak membutuhkan suplai darah yang konstan, dimana pembuluh darah tersebut membawa oksigen

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. SL, Cotran RS, Kumar V, 2007 dalam Pratiwi, 2012). Infark miokard

BAB 1 PENDAHULUAN. SL, Cotran RS, Kumar V, 2007 dalam Pratiwi, 2012). Infark miokard BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Infark miokard akut (IMA) atau yang lebih dikenal dengan serangan jantung adalah suatu keadaan dimana suplai darah pada suatu bagian jantung terhenti sehingga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang mendadak dapat mengakibatkan kematian, kecacatan fisik dan mental

BAB I PENDAHULUAN. yang mendadak dapat mengakibatkan kematian, kecacatan fisik dan mental BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Stroke merupakan masalah kesehatan yang utama bagi masyarakat modern saat ini. Dewasa ini, stroke semakin menjadi masalah serius yang dihadapi hampir diseluruh dunia.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Penyakit jantung koroner (PJK) atau di kenal dengan Coronary Artery

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Penyakit jantung koroner (PJK) atau di kenal dengan Coronary Artery BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit jantung koroner (PJK) atau di kenal dengan Coronary Artery Disease (CAD) merupakan suatu penyakit yang terjadi ketika arteri yang mensuplai darah untuk dinding

Lebih terperinci

sebesar 0,8% diikuti Aceh, DKI Jakarta, dan Sulawesi Utara masing-masing sebesar 0,7 %. Sementara itu, hasil prevalensi jantung koroner menurut

sebesar 0,8% diikuti Aceh, DKI Jakarta, dan Sulawesi Utara masing-masing sebesar 0,7 %. Sementara itu, hasil prevalensi jantung koroner menurut BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyakit jantung koroner merupakan salah satu penyakit kardiovaskular yang menyumbang angka kematian terbesar di dunia. Disability-Adjusted Life Years (DALYs) mengatakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN UKDW. dari sistem saraf pusat (SSP) oleh penyebab vaskular, termasuk infark

BAB I PENDAHULUAN UKDW. dari sistem saraf pusat (SSP) oleh penyebab vaskular, termasuk infark BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Stroke adalah defisit neurologis yang disebabkan oleh cedera akut dari sistem saraf pusat (SSP) oleh penyebab vaskular, termasuk infark serebral, perdarahan intraserebral

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN UKDW. mengakibatkan hampir mortalitas (Goldszmidt et al, 2013). Stroke juga

BAB I PENDAHULUAN UKDW. mengakibatkan hampir mortalitas (Goldszmidt et al, 2013). Stroke juga BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Stroke merupakan masalah medis yang utama bagi masyarakat modern saat ini. Diperkirakan 1 dari 3 orang akan terserang stroke dan 1 dari 7 orang akan meninggal karena

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pecahnya atau tersumbatnya pembuluh darah otak oleh gumpalan darah. 1

BAB I PENDAHULUAN. pecahnya atau tersumbatnya pembuluh darah otak oleh gumpalan darah. 1 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Stroke bukan lagi penyakit yang asing bagi masyarakat luas belakangan ini. Sudah banyak orang yang mengalaminya, mulai dari usia produktif sampai usia tua dan mengenai

Lebih terperinci

Abstract ASSOCIATION OF ATRIAL FIBRILLATION AND ISCHEMIC STROKE ANALYSIS FROM RSUP DR. SARDJITO YOGYAKARTA

Abstract ASSOCIATION OF ATRIAL FIBRILLATION AND ISCHEMIC STROKE ANALYSIS FROM RSUP DR. SARDJITO YOGYAKARTA Abstract ASSOCIATION OF ATRIAL FIBRILLATION AND ISCHEMIC STROKE ANALYSIS FROM RSUP DR. SARDJITO YOGYAKARTA Arya Widyatama 1, Imam Rusdi 2, Abdul Gofir 2 1 Student of Medical Doctor, Faculty of Medicine,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. arrhythmias, hypertension, stroke, hyperlipidemia, acute myocardial infarction.

BAB 1 PENDAHULUAN. arrhythmias, hypertension, stroke, hyperlipidemia, acute myocardial infarction. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab utama kematian pada negara maju antara lain heart failure, ischemic heart disease, acute coronary syndromes, arrhythmias,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. dan mortalitas yang tinggi di dunia. Menurut data World Health Organization

BAB 1 PENDAHULUAN. dan mortalitas yang tinggi di dunia. Menurut data World Health Organization BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit kardiovaskuler merupakan masalah kesehatan dengan morbiditas dan mortalitas yang tinggi di dunia. Menurut data World Health Organization (WHO), penyakit kardiovaskuler

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia. Dewasa ini perilaku pengendalian PJK belum dapat dilakukan secara

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia. Dewasa ini perilaku pengendalian PJK belum dapat dilakukan secara BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penyakit jantung koroner (PJK) telah menjadi penyebab kematian utama di Indonesia. Dewasa ini perilaku pengendalian PJK belum dapat dilakukan secara optimal.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam bidang kesehatan dan perekonomian dunia. Selama empat dekade terakhir

BAB I PENDAHULUAN. dalam bidang kesehatan dan perekonomian dunia. Selama empat dekade terakhir BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perdarahan Saluran Cerna Bagian Atas (SCBA) merupakan salah satu kasus kegawatan dibidang gastroenterologi yang saat ini masih menjadi permasalahan dalam bidang kesehatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. seluruh dunia, karena dalam jangka panjang peningkatan tekanan darah yang

BAB I PENDAHULUAN. seluruh dunia, karena dalam jangka panjang peningkatan tekanan darah yang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hipertensi menjadi salah satu prioritas masalah kesehatan di Indonesia maupun di seluruh dunia, karena dalam jangka panjang peningkatan tekanan darah yang berlangsung

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. selama 24 jam atau lebih dan dapat menyebabkan kematian tanpa adanya

BAB I PENDAHULUAN. selama 24 jam atau lebih dan dapat menyebabkan kematian tanpa adanya BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Menurut WHO, stroke adalah suatu tanda klinis yang berkembang cepat akibat gangguan otak fokal (atau global) dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Stroke merupakan penyebab kematian dan kecacatan yang utama di banyak negara termasuk Indonesia. Pola penyebab kematian di rumah sakit yang utama dari Informasi Rumah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Stroke merupakan suatu sindroma neurologis yang. terjadi akibat penyakit kardiovaskular.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Stroke merupakan suatu sindroma neurologis yang. terjadi akibat penyakit kardiovaskular. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Stroke merupakan suatu sindroma neurologis yang terjadi akibat penyakit kardiovaskular. Kelainan terjadi pada pembuluh darah di otak dan bersifat fokal. Stroke merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Stroke masih menjadi perhatian dunia karena angka kematiannya yang tinggi dan kecacatan fisik yang ditimbulkannya. Berdasarkan data WHO, Stroke menjadi pembunuh nomor

Lebih terperinci

POLA PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI DAN KESESUAIANNYA PADA PASIEN GERIATRI RAWAT JALAN DI RSUD ULIN BANJARMASIN PERIODE APRIL

POLA PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI DAN KESESUAIANNYA PADA PASIEN GERIATRI RAWAT JALAN DI RSUD ULIN BANJARMASIN PERIODE APRIL POLA PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI DAN KESESUAIANNYA PADA PASIEN GERIATRI RAWAT JALAN DI RSUD ULIN BANJARMASIN PERIODE APRIL 2015 purnamirahmawati@gmail.com riza_alfian89@yahoo.com lis_tyas@yahoo.com

Lebih terperinci

GAMBARAN PENGETAHUAN PASIEN DIABETES MELITUS TENTANG PENANGANANNYA DI RUMAH SAKIT PAHLAWAN MEDICAL CENTER KANDANGAN, KAB

GAMBARAN PENGETAHUAN PASIEN DIABETES MELITUS TENTANG PENANGANANNYA DI RUMAH SAKIT PAHLAWAN MEDICAL CENTER KANDANGAN, KAB ABSTRAK GAMBARAN PENGETAHUAN PASIEN DIABETES MELITUS TENTANG PENANGANANNYA DI RUMAH SAKIT PAHLAWAN MEDICAL CENTER KANDANGAN, KAB. HULU SUNGAI SELATAN, KALIMANTAN SELATAN Raymond Sebastian Tengguno, 2016

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Stroke merupakan salah satu penyakit paling mematikan di dunia.

UKDW BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Stroke merupakan salah satu penyakit paling mematikan di dunia. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Stroke merupakan salah satu penyakit paling mematikan di dunia. Hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) menyebutkan bila stroke merupakan penyebab kematian nomer satu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Aterosklerosis koroner adalah kondisi patologis arteri koroner yang

BAB I PENDAHULUAN. Aterosklerosis koroner adalah kondisi patologis arteri koroner yang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Aterosklerosis koroner adalah kondisi patologis arteri koroner yang mengakibatkan perubahan struktur dan fungsi arteri serta penurunan volume aliran darah ke jantung.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Stroke adalah penyakit atau gangguan fungsional otak akut fokal maupun global akibat terhambatnya peredaran darah ke otak. Gangguan peredaran darah otak berupa tersumbatnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kematian yang terjadi pada tahun 2012 (WHO, 2014). Salah satu PTM

BAB I PENDAHULUAN. kematian yang terjadi pada tahun 2012 (WHO, 2014). Salah satu PTM BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit Tidak Menular (PTM) merupakan penyebab utama kematian di dunia, yang bertanggung jawab atas 68% dari 56 juta kematian yang terjadi pada tahun 2012 (WHO, 2014).

Lebih terperinci

Truly Dian Anggraini, Ervin Awanda I Akademi Farmasi Nasional Surakarta Abstrak

Truly Dian Anggraini, Ervin Awanda I Akademi Farmasi Nasional Surakarta Abstrak EVALUASI KESESUAIAN DOSIS DAN KESESUAIAN PEMILIHAN OBAT HIPOGLIKEMIK ORAL PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RSUD DR. MOEWARDI PERIODE JANUARI-DESEMBER 2014 Truly Dian Anggraini, Ervin Awanda I Akademi

Lebih terperinci

BAB 5 PEMBAHASAN. dan genotip APOE yang merupakan variabel utama penelitian.

BAB 5 PEMBAHASAN. dan genotip APOE yang merupakan variabel utama penelitian. 59 BAB 5 PEMBAHASAN Telah dilakukan penelitian pada 34 subyek penderita pasca stroke iskemik yang datang kontrol di poliklinik saraf RSUP Dr. Kariadi selama periode bulan April sampai Juni 2012 dan memenuhi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit kardiovaskuler memiliki banyak macam, salah satunya adalah

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit kardiovaskuler memiliki banyak macam, salah satunya adalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit kardiovaskuler memiliki banyak macam, salah satunya adalah sindrom koroner akut (Lilly, 2011). Sindom koroner akut (SKA) adalah istilah yang dipakai untuk menyatakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. secara global, termasuk Indonesia. Pada tahun 2001, World Health Organization

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. secara global, termasuk Indonesia. Pada tahun 2001, World Health Organization BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit jantung dan pembuluh darah merupakan penyebab utama kematian secara global, termasuk Indonesia. Pada tahun 2001, World Health Organization (WHO) melaporkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kardiovaskular yang diakibatkan karena penyempitan pembuluh darah

BAB I PENDAHULUAN. kardiovaskular yang diakibatkan karena penyempitan pembuluh darah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan salah satu penyakit kardiovaskular yang diakibatkan karena penyempitan pembuluh darah koroner, yang terutama disebabkan oleh

Lebih terperinci

GAMBARAN KADAR GULA DARAH DAN DERAJAT KEPARAHAN STROKE PADA PENDERITA STROKE ISKEMIK TROMBOTIK SKRIPSI

GAMBARAN KADAR GULA DARAH DAN DERAJAT KEPARAHAN STROKE PADA PENDERITA STROKE ISKEMIK TROMBOTIK SKRIPSI GAMBARAN KADAR GULA DARAH DAN DERAJAT KEPARAHAN STROKE PADA PENDERITA STROKE ISKEMIK TROMBOTIK SKRIPSI OLEH : Sharon Paulina Budiharjo NRP: 1523011038 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Peningkatan pelayanan di sektor kesehatan akan menyebabkan usia harapan

BAB 1 PENDAHULUAN. Peningkatan pelayanan di sektor kesehatan akan menyebabkan usia harapan 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peningkatan pelayanan di sektor kesehatan akan menyebabkan usia harapan hidup semakin meningkat dan sebagai konsekuensinya maka masalah kesehatan berupa penyakit

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. koroner, stroke), kanker, penyakit pernafasan kronis (asma dan. penyakit paru obstruksi kronis), dan diabetes.

BAB 1 PENDAHULUAN. koroner, stroke), kanker, penyakit pernafasan kronis (asma dan. penyakit paru obstruksi kronis), dan diabetes. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penyakit Tidak Menular (PTM), merupakan penyakit kronis, tidak ditularkan dari orang ke orang. Empat jenis PTM utama menurut WHO adalah penyakit kardiovaskular

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. darah, hal ini dapat terjadi akibat jantung kekurangan darah atau adanya

BAB I PENDAHULUAN. darah, hal ini dapat terjadi akibat jantung kekurangan darah atau adanya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit kardiovaskuler adalah gangguan fungsi jantung dan pembuluh darah, hal ini dapat terjadi akibat jantung kekurangan darah atau adanya penyempitan pembuluh darah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terutama anak-anak, lebih suka mengkonsumsi junk food yang penuh

BAB I PENDAHULUAN. terutama anak-anak, lebih suka mengkonsumsi junk food yang penuh BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Angka kejadian stroke di Indonesia meningkat dengan tajam. Bahkan, saat ini Indonesia merupakan negara dengan jumlah penderita stroke terbesar di Asia (Syamsuddin,2012).

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Trend penyakit beberapa puluh tahun belakangan ini mengalami perubahan. Dulu didominasi oleh penyakit infeksi sekarang cenderung kearah penyakit metabolik. Penyakit

Lebih terperinci

Blood Pressure in Acute Stroke Patient of Rumah Sakit Umum Haji Medan, 2015

Blood Pressure in Acute Stroke Patient of Rumah Sakit Umum Haji Medan, 2015 ARTIKEL PENELITIAN Gambaran Tekanan Darah pada Pasien Stroke Akut di Rumah Sakit Umum Haji Medan Tahun 2015 Muhammad Al Ghifari 1, Meizly Andina 2 1 Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter 2 Dosen Program

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit Arteri Perifer (PAP) adalah suatu kondisi medis yang disebabkan

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit Arteri Perifer (PAP) adalah suatu kondisi medis yang disebabkan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penyakit Arteri Perifer (PAP) adalah suatu kondisi medis yang disebabkan oleh adanya sumbatan pada arteri yang mendarahi lengan atau kaki. Arteri dalam kondisi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menular (PTM) yang meliputi penyakit degeneratif dan man made diseases.

BAB I PENDAHULUAN. menular (PTM) yang meliputi penyakit degeneratif dan man made diseases. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Transisi epidemiologi yang terjadi di Indonesia mengakibatkan perubahan pola penyakit yaitu dari penyakit infeksi atau penyakit menular ke penyakit tidak menular (PTM)

Lebih terperinci

RS PERTAMINA BALIKPAPAN

RS PERTAMINA BALIKPAPAN D MUHAMMAD IQBAL Dr. IQBAL, S Sp.JP JP RS PERTAMINA BALIKPAPAN RS. 2 Penyakit Kardiovascular : Penyakit Jantung Koroner (PJK ) menyebabkan 7.2 juta kematian di dunia di tahun 1996 14% dari total kematian

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Salah satu penyakit tidak menular (PTM) yang meresahkan adalah penyakit

BAB 1 PENDAHULUAN. Salah satu penyakit tidak menular (PTM) yang meresahkan adalah penyakit BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Salah satu penyakit tidak menular (PTM) yang meresahkan adalah penyakit jantung dan pembuluh darah. Berdasarkan laporan WHO tahun 2005, dari 58 juta kematian di dunia,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian adalah ilmu penyakit saraf.

BAB III METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian adalah ilmu penyakit saraf. 35 BAB III METODE PENELITIAN III.1. Ruang lingkup penelitian Ruang lingkup penelitian adalah ilmu penyakit saraf. III.2. Jenis dan rancangan penelitian Jenis penelitian ini merupakan penelitian observasional

Lebih terperinci