TINJAUAN PUSTAKA. Karakterstik Wilayah Penelitian

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "TINJAUAN PUSTAKA. Karakterstik Wilayah Penelitian"

Transkripsi

1 6 TINJAUAN PUSTAKA Karakterstik Wilayah Penelitian Geografi dan Wilayah Administratif Provinsi Maluku Utara merupakan hasil pemekaran dari wilayah provinsi Maluku. Ibukota Provinsi Maluku Utara yang definitif adalah di Sofifi. Mempertimbangkan berbagai aspek daya dukung prasarana dan sarana pemerintahan yang ada di Sofifi belum memadai untuk menjalankan pemerintahan, maka dalam rangka menjalankan roda pemerintahan provinsi, untuk sementara ditempatkan di kota Ternate dan berjalan sampai dengan saat ini. Secara geografis wilayah Provinsi Maluku Utara berada pada posisi koordinat 3 0 Lintang Utara sampai 3 0 Lintang Selatan dan sampai Bujur Timur, dengan batas batas wilayah sebagai berikut : Sebelah Timur berbatasan dengan Laut Halmahera Sebelah Barat berbatasan dengan Laut Maluku Sebelah Utara berbatasan dengan Samudera Pasifik Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Seram (Maluku). Luas total wilayah provinsi Maluku Utara mencapai km 2, dengan luas wilayah perairan km 2 (76.27%), dan daratan seluas km 2 (23.73 %). Terdiri dari 395 buah pulau besar dan kecil. Dari jumlah itu, sebanyak 64 pulau telah di huni, sedangkan 331 pulau lainnya tidak dihuni. Jumlah penduduk tahun 2004 sebanyak jiwa, rata-rata laju pertumbuhan sebesar 2.16% per tahun. Sebagai wilayah kepulauan, provinsi Maluku Utara terdiri dari pulau besar dan pulau kecil. Pulau yang tergolong relatif besar ialah Pulau Halmahera ( km 2 ), Pulau-pulau yang relatif sedang besar ialah Pulau Obi (3 900 km 2 ), Pulau Taliabu (3 295 km 2 ), Pulau Bacan (2 878 km 2 ) dan Pulau Morotai (2 325 km 2 ) dan pulau pulau yang relatif kecil antara lain pulau Ternate, Tidore, Moti, Makian, Kayoa, Gebe dan sebagainya.

2 7 Secara administratif pemerintahan, provinsi Maluku Utara terdiri dari 6 Kabupaten dan 2 Kota, yaitu Kabupaten Halmahera Tengah, Kota Ternate, Kabupaten Halmahera Barat, Kabupaten Halmahera Utara, Kabupaten Halmahera Selatan, Kabupaten Kepulauan Sula, Kabupaten Halmahera Timur, dan Kota Tidore Kepulauan (Tabel 1). Tabel 1 Luas wilayah kabupaten/kota di provinsi Maluku Utara No. Kabupaten/Kota Jumlah Jumlah desa/kelurahan Luas wilayah kecamatan Desa Kelurahan (km 2 ) Halmahera Tengah Kota Ternate Halmahera Barat Halmahera Utara Halmahera Selatan Kepulauan Sula Halmahera Timur Tidore Kepulauan Total Sumber : Bappeda Provinsi Maluku Utara (2006) Geologi dan Fisiografi Berdasarkan struktur dan tektonik serta litologinya, geologi sebagian besar Provinsi Maluku Utara bagian Tengah dan Utara merupakan daerah pegunungan dengan bahan induk bervariasi. Bagian Utara dan Timur Laut semenanjung Halmahera didominasi oleh pegunungan, semenanjung Utara disusun oleh formasi gunung api (Andesit dan bahan batuan beku Andesit). Pada semanjung Timur Laut ditemukan batuan beku asam, basa, dan ultra basa serta bahan sedimen. Di semenanjung utara Halmahera terdapat barisan gunung api aktif dengan bentuk dan struktur yang sangat khas. Pada bagian ini, dataran alluvial tidak ditemukan, tetapi memasuki daerah Kao ditemukan dataran alluviasi yang luas pada daerah pedalaman, dataran vulkanik yang berombak dan dataran berawa secara lokal. Pulau Morotai memiliki banyak kesamaan dengan Pulau Halmahera bagian Utara dan Timur yang dicirikan oleh gunung-gunung yang berkembang dari batuan sediment dan batuan beku basa. Pada semenanjung bagian Selatan Halmahera lebih didominasi oleh daerah gunung yang terutama berkembang dari

3 8 bahan-bahan sedimentasi dan batu gamping, dimana bagian ini terbentang dataran sempit alluvial arah Timur-Barat. Kawasan sepanjang pantai Barat Halmahera terbentang sejumlah pulaupulau besar dan kecil yang dimulai dari pulau Ternate bagian Utara sampai Obi di bagian Selatan. Pulau-pulau kecil di bagian Utara umumnya merupakan daerah vulkanik yang tersusun dari bahan andesit, dan batuan beku basaltik dengan lereng curam (30 45 %) sampai sangat curam (> 45%). Kelompok pulau-pulau Bacan mempunyai bentangan lahan pegunungan yang sama dengan Halmahera Utara yaitu batuan beku basa dan batuan metamorfik. Batuan metamorfik walaupun menyebar secara lokal tetapi merupakan batuan induk dominan pada daerah ini. Sepanjang pesisir terdapat dataran pantai yang sempit, dan bagian tengah dari pusat pulau Bacan dibentuk oleh daratan alluvial. Bentang lahan pulau Obi mengikuti pola yang sama, dimana bagian tengah didominasi oleh daerah pegunungan dengan bahan penyusunnya batuan beku basa dan diapit oleh deretan perbukitan dari batuan sediment. Kelompok kepulauan Sulabesi mempunyai struktur yang sama tetapi memiliki susunan bahan induk yang berbeda sebagian besar pulau. Taliabu dan Pulau Sanana merupakan daerah pegunungan dengan puncak tajam dan lereng yang curam, berkembang terutama dari batuan metamorfik. Bagian Barat pulau Sanana juga ditemukan bahan induk granit. Topografi Provinsi Maluku Utara dibentangkan oleh relief-relief besar dimana palung Oceanis dan punggung pengunungannya saling bergantungan dengan kemiringan lahannya. Sebagian besar bergunung gunung dan berbukit bukit yang terdiri dari pulau pulau Vulkanis dan pulau karang, sedangkan sebagian lainnya merupakan hamparan dataran. Pulau Halmahera mempunyai banyak pegunungan yang rapat mulai dari teluk Kao, teluk Buli, teluk Weda, teluk Payahe dan Dodinga. Di setiap daerah terdapat punggung gunung yang merapat ke pesisir, sedangkan pada daerah sekitar teluk Buli, pesisir barat mulai dari

4 9 teluk Jailolo ke Utara dan teluk Weda ke Selatan ditemui daerah hamparan dataran yang luas. Pada bagian lainnya terdapat deretan pegunungan yang melandai dengan arah pesisir. Pulau pulau yang relatif sedang (Obi, Morotai, Taliabu dan Bacan) umumnya memiliki dataran luas yang diselingi pegunungan yang bervariasi. Jenis Tanah Tanah yang terdapat di wilayah provinsi Maluku Utara menunjukkan sifat sifat yang berbeda, mulai dari pulau Morotai di bagian Utara sampai pulau Sulabesi di bagian selatan perbedaan ini disebabkan oleh faktor klimatologi (curah hujan, suhu dan angin ) yang tinggi. Selain itu, yang membedakan sifat-sifat tanah adalah tipe batuan/bahan induk dan kemiringan lereng yang berkorelasi dengan kedalaman efektif perakaran serta vegetasi dimana tanah itu berkembang. Selain iklim dan vegetasi, kompleks geologi provinsi Maluku Utara sangat erat hubungannya dengan penyebaran sifat-sifat tanah. Keadaan geologi dibarengi pula dengan proses pelapukan dan pencucian di bawah kondisi suhu dan curah hujan yang bervariasi. Oleh karena itu, tanah di daerah Maluku Utara berada dalam suatu perkembangan dan kedalaman yang bervariasi dengan drainasi baik, tekstur tanah halus, kesuburan yang relatif rendah pada daerah-daerah perbukitan dan pegunungan yang berlereng curam sampai sangat curam dengan penutupan vegetasi yang jarang. Ini secara relatif juga mempengaruhi erosi permukaan, sehingga sering ditemukan tanah-tanah dengan kedalaman solum dangkal sampai sedang dengan tingkat perkembangan lemah sampai sedang. Adapun jenis tanah yang tersebar di daerah Maluku Utara antara lain, adalah: 1. Jenis tanah mediteran terdapat di pulau Morotai bagian Barat, Timur dan Selatan, pulau Doi, dan kecamatan Loloda. 2. Jenis tanah podsolik merah kuning terdapat di pulau Halmahera dari Utara ke Selatan, Tobelo, Ibu, Obi, bagian Timur, Sanana, pulau Taliabu, Oba, Weda, Patani dan Maba.

5 10 3. Jenis tanah kompleks terdapat di pulau Morotai bagian Barat dan Timur,Obi bagian tengah, pulau Halmahera bagian Tengah sampai Timur. 4. Jenis tanah latosol terdapat di Loloda, Jailolo bagian Selatan, Gane Timur, Gane Barat, Bacan, Oba, Wasile, Weda dan Maba 5. Jenis tanah regosol terdapat Loloda, Galela, Sahu, Kao, pulau Ternate, pulau Makian, Pulau Obi di pesisir Utara. 6. Jenis tanah alluvial terdapat di pulau Obi bagian Barat, pulau Taliabu, bagian Utara dan Tenggara, Oba, Wasile, Weda, Patani dan Maba. Klimatologi Secara Umum iklim di kepulauan Maluku Utara hampir sama. Temperatur rata-rata tahunan yang diukur dari stasiun Duma Galela, Ternate dan Tobelo antara C C dengan curah hujan rata-rata tahunan antara mm mm. Wilayah Maluku Utara dipengaruhi oleh iklim laut tropis dan iklim musim. Oleh karena itu iklimnya sangat dipengaruhi oleh lautan dan bervariasi antara tiap bagian wilayah, yaitu Halmahera Utara, Halmahera Tengah/Barat, Bacan dan Kepulauan Sula. a. Daerah iklim Halmahera Utara terdiri atas dua musim yaitu : Musim hujan pada bulan Desember sampai Februari Musim kemarau pada bulan Agustus sampai dengan bulan Desember, yang diselingi pancaroba pada bulan November Desember. b. Daerah iklim Halmahera Tengah/Barat yang dipengaruhi oleh dua musim yaitu : Musim Utara pada bulan Oktober Maret dan musim pancaroba pada bulan April. Musim Selatan pada bulan April September yang diselingi angin Timur dan pancaroba pada bulan September. c. Daerah iklim Bacan yang dipengaruhi oleh dua musim yaitu : Musim Utara pada bulan Oktober Maret yang diselingi angin Barat dan pancaroba pada bulan April.

6 11 Musim Selatan pada bulan September diselingi angin Timur dan pancaroba pada bulan September. d. Daerah iklim kepulauan Sula yang terdiri dari dua musim yaitu : Musim Utara pada bulan Oktober Maret diselingi angin barat dan pancaroba pada bulan April. Sebagaimana umumnya daerah Maluku Utara yang didominasi wilayah laut. Kota Ternate sangat dipengaruhi oleh iklim laut karena mempunyai tipe iklim tropis yang terdiri dari dua musim (Utara-Barat dan Timur-Selatan), yang seringkali diselingi dengan dua kali masa pancaroba disetiap tahunnya. Temperatur rata bulanan C (maksimum C minimum C), dengan rata-rata kelembaban % dan penyinaran matahari % dengan kecepatan angin 4.25 km/jam. Berdasarkan klasifikasi iklim Schimdt dan Ferguson, daerah Maluku Utara umumnya bertipe iklim B, dengan rata-rata curah hujan per tahun mm. Bulan basah adalah bulan dengan curah hujan lebih tinggi atau sama dengan 1000 mm dan bulan kering adalah bulan dengan curah hujan lebih rendah atau sama dengan 600 mm. Bulan November dan bulan Agustus adalah bulan dengan curah hujan yang tertinggi selain itu bulan April juga bulan dengan curah hujan yang tinggi yaitu mm (Tabel 2). Periode curah hujan rendah berlangsung pada bulan September dan Oktober dengan curah hujan terendah 50.8 mm pada bulan September lihat Tabel 3. Adapun curah hujan di propinsi Maluku Utara adalah sebagai berikut : Curah hujan antara mm, meliputi Pulau Tobelo, Pulau Mangole, Pulau Sulabesi, Pulau Obi dan sekitarnya, Pulau Bacan dan sekitarnya dan Pulau Halmahera bagian Selatan. Curah hujan antara mm, meliputi Pulau Halmahera bagian Utara, sebagian Kecamatan Ibu, Galela dan Loloda. Sedangkan lainnya adalah curah hujan antara mm per tahun.

7 12 Tabel 2 Curah hujan, bulan basah dan bulan kering di provinsi Maluku Utara Kabupaten Curah Hujan per Tahun Pola Tipe Iklim Bulan Hujan Kota Ternate Berfluktuasi Basah CH 100 = 0 mm/bln CH = 0 mm/bln CH = 2 mm/bln CH > 200 = 9 12 mm/bln Kota Tidore Kepulauan Ganda (double wafe) Basah CH 100 = 4 mm/bln CH = 4 mm/bln CH = 5 mm/bln CH > 200 = 6 8 mm/bln Kabupaten Halmahera Barat Berfluktuasi Basah CH 100 = 0 mm/bln CH 100 = 0 mm/bln CH = 2 mm/bln CH > 200 = 9 12 mm/bln Kabupaten Halmahera Utara Berfluktuasi (multiple wafe) Kabupaten Halmahera Timur Berfluktuasi (multiple wafe) Kabupaten Halmahera Tengah Ganda (double wafe) Kabupaten Halmahera Selatan Ganda (double wafe) Kabupaten Kepulauan Sula Berfluktuasi (multiple wafe) Sumber : Badan Pusat Statistik Maluku Utara (2006) Kering Kering Basah Basah Kering CH 100 = 0 mm/bln CH 100 = 0 mm/bln CH = 2 mm/bln CH > 200 = 9 12 mm/bln CH 100 = 0 mm/bln CH 100 = 0 mm/bln CH = 2 mm/bln CH > 200 = 9 12 mm/bln CH 100 = 0 mm/bln CH 100 = 0 mm/bln CH = 2 mm/bln CH > 200 = 9 12 mm/bln CH 100 = 0 mm/bln CH 100 = 0 mm/bln CH = 2 mm/bln CH > 200 = 9 12 mm/bln CH 100 = 0 mm/bln CH 100 = 0 mm/bln CH = 2 mm/bln CH > 200 = 9 12 mm/bln

8 13 Tabel 3 Suhu udara, kelembaban dan rataan penyinaran matahari pada stasiun meteorologi Babullah Ternate 2005 No. Bulan Suhu Udara ( O C) Maks Min Rataan Kelembaban (%) Penyinaran Matahari Rata-rata (Jam) 1. Januari Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Sumber : Badan Pusat Statistik Maluku Utara (2006) Keadaan Umum Peternakan Provinsi Maluku Utara Pembangunan pertanian termasuk didalamnya sub sektor peternakan sebagai bagian integral dari Pembangunan Daerah mempunyai peranan yang strategis dalam pemulihan ekonomi daerah. Peranan strategis tersebut khususnya adalah dalam peningkatan pendapatan daerah, penyediaan pangan, penyediaan bahan baku industri, peningkatan ekspor, penyediaan kesempatan kerja dan kesempatan berusaha, peningkatan pendapatan petani dan kesejahteraan masyarakat. Namun di era pasca konflik yang bernuansa sara diikuti dengan krisis moneter yang dialami bangsa Indonesia, kondisi subsektor peternakan di wilayah Maluku Utara terkena imbasnya yang mengakibatkan rusaknya sarana prasarana peternakan baik milik pemerintah maupun aset-aset peternakan yang dimiliki masyarakat di daerah ini. Puluhan ribu ternak hilang, baik ternak ruminansia ( sapi dan kambing), maupun ternak unggas (ayam ras, buras dan itik). Hal ini dapat dilihat dari jumlah populasi ternak dari tahun di Maluku Utara pada Tabel 4.

9 14 Tabel 4 Populasi ternak tercatat (ekor) pada di provinsi Maluku Utara No Jenis Ternak Populasi (ekor) Sapi Potong Sapi Perah Kerbau Kambing Domba Babi Kuda Ayam Buras Ayam Ras Itik Sumber : data sekunder rangkuman berbagai sumber (-) data belum diketahui

10 15 Dari data populasi pada Tabel 4 terjadi pertambahan populasi yang signifikan pada ternak sapi tahun 2004, hal ini disebabkan beberapa program pemerintah untuk pengadaan ternak sapi di tahun 2003 melalui program peningkatan ketahanan pangan melalui sub kegiatan Inpres No. 6 tahun 2003 dan Program Peningkatan kesejahteraan petani di provinsi Maluku Utara. Hal yang sama juga dilakukan terhadap ternak kambing pada tahun 2001 sampai dengan tahun 2003, ternak unggas (ayam ras, buras dan itik) terjadi pertambahan populasi yang sangat signifikan pada tahun Jumlah populasi ternak sapi dan kambing terendah terjadi pada tahun 1999, hal ini disebabkan karena konflik yang terjadi di masyarakat, dimana pada tahun 1998 untuk ternak sapi di Maluku Utara sebanyak ekor, sedangkan ternak kambing sebayak ekor, penurunan populasi yang sangat drastis terjadi di tahun 1999 untuk kedua jenis ternak ini disebabkan karena peternak membiarkan ternak sebagian masuk ke hutan dan sebaian besar dibawa ke provinsi Sulawesi Utara. Tingkat pertumbuhan populasi pertahun dari masing-masing ternak di provinsi Maluku Utara dapat disajikan pada Tabel 5. Tabel 5 Tingkat pertumbuhan populasi ternak ( ) No. Jenis Ternak Tingkat Pertumbuhan pertahun (%) 1. Sapi potong Kambing Babi Ayam Buras Ayam Ras 63.6 Sumber : Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Daerah Prov. Maluku Utara (2006) Tingkat pemotongan untuk beberapa komoditas ternak yang tercatat pada tahun disajikan pada Tabel 6. Tabel 6 Pemotongan ternak tercatat (ekor) tahun No. Jenis Ternak Pemotongan tercatat Sapi Potong Kambing Babi Sumber : Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Daerah Prov. Maluku Utara (2006)

11 16 Sedangkan untuk tingkat produksi/hasil peternakan pada tahun 2005 dapat di lihat pada Tabel 7. Tabel 7 Produksi hasil ternak di Maluku Utara (2005) No. Jenis Produksi Jumlah (kg) Daging Sapi Daging kambing Daging Ayam Buras Daging Ayan Ras Telur Ayam Ras Telur Ayam Buras Telur Itik Sumber : Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Daerah (2006) Pola peternakan di wilayah Maluku Utara untuk semua komoditas ternak sebagian besar (80-90 persen) masih bertahan dalam bentuk usaha rakyat. Pola peternakan rakyat ini mempunyai ciri-ciri antara lain (Yusdja 2004), tingkat pendidikan rendah, pendapatan rendah, penerapan manajemen dan teknologi konvensional, lokasi ternak menyebar luas, ukuran skala usaha relatif sangat kecil, penggunaan tenaga kerja keluarga, penguasaan lahan hijauan makanan ternak (HMT) yang terbatas. Kambing Liar dan Kambing Domestikasi Kambing tergolong genus Capra. Ellerman dan Morrison-Scott (1951) yang dikutip oleh Devandra dan Burns (1970) membagi genus ini atas lima spesies yaitu Capra hircus (termasuk bezoar), Capra ibex, Capra caucasica, Capra pyrenaica (Ibex Spanyol) dan Capra falconeri. Menurut Herre dan Rohrs (1973) yang dikutip oleh Devendra dan Nozawa (1976) kambing liar (Capra aegagrus) yang hidup dan menyesuaikan diri terutama di lingkungan pegunungan dan lingkungan yang agak kering (semi-arid) dapat dibagi atas tiga spesies yaitu: - Bezoar atau Psaang (C.a.aegagrus) yang hidup liar di Asia Barat,- Ibex (C.a..ibex) hidup di Asia Barat, Afrika Timur dan Eropah, - Markhol (C.a.falconeri) hidup liar di Afganistan dan Kashmir Karakorum. Tiap spesies terdiri dari beberapa

12 17 sub spesies karena terpisah secara geografik, namun persilangan antar sub spesies adalah subur. Menurut Murtidjo (1993), umumnya kambing merupakan hewan yang hidup di lereng-lereng pegunungan, bukit-bukit yang curam ataupun tempattempat yang curam, selain tempat yang tandus dan sedikit ditumbuhi rumput atau tanaman. Kambing yang kita kenal sekarang merupakan hasil domestikasi manusia yang diturunkan dari tiga jenis kambing liar, yaitu: Capra hircus, merupakan jenis kambing liar yang berasal dari daerah sekitar perbatasn Pakistan- Turki; Capra falconeri, merupakan jenis kambing liar yang berasal dari daerah sepanjang Kashmir, India; Capra prisca, merupakan jenis kambing liar yang berasal dari daerah sepanjang Balkan. Dari ketiga jenis kambing liar tersebut, kini dikenal beberapa bangsa kambing yang tersebar di seluruh dunia, seperti: kambing Kacang, kambing Etawah, kambing Saanen, kambing Kashmir, kambing Angora, kambing Toggenburg, Nubian dan lain-lain. Penyebaran Kambing ke Asia Tenggara Devendra dan Nozawa (1976) mengemukakan bahwa kambing piara dari Asia Barat menyebar ke Timur melalui dua jalan utama. Pertama, dari Persia dan Afganistan melalui Turkestan ke Mongolia atau Cina Utara, yang dinamakan lintasan sutera, yang terjadi pada sekitar 2000 tahun sebelum Masehi. Kedua, kearah anak benua India melalui Khyber Pass. Jalan ini sangat tua, yaitu sejak orang Indo-Aryan mengetahuinya pada sekitar 2000 tahun sebelum Masehi. Dengan demikian, Mongolia, Cina dan India menerima kambing piara dari Barat dengan perantaraan para pengembara. Gambar 2 menunjukkan jalan migrasi kambing asli Asia dari wilayah penjinakan. Jalan ini diduga atas konfirmasi dari peninggalan-peninggalan lama dari hasil penelitian. Dari anak benua India, kambing piara ini menyebar ke pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Philipina dan terus ke Jepang. Thailand menerima kambing piara dari Utara. Perkembangan selanjutnya, kambing pendatang ini menjadi kambing asli di wilayah penyebarannya dan di Indonesia

13 18 kita kenal dengan kambing kacang tersebar di pulau-pulau Indonesia terutama Jawa dan Sumatera. Kambing-kambing asli yang sekarang terdapat di Negara di kawasan Asia Tenggara berasal dari turunan bangsa kambing yang sama dapat dilihat terutama dari kesamaan morfologinya, terutama warna bulu. Warna bulu coklat dengan garis punggung berwarna hitam (ciri dari Bezoar) dan warna bulu hitam merupakan jumlah terbanyak dari kambing asli di Malaysia Barat dan Timur (Shotake et al. 1976). Hal yang serupa juga terdapat di Philipine, di Tahiland dan Taiwan. Penelitian yang dilakukan oleh Abdulgani et al. (1981) di Sumatera Barat, Jawa Barat dan Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa kambing yang berwarna bulu coklat dan hitam merupakan jumlah terbanyak. Murtidjo (1993) menyatakan bahwa kambing kacang merupakan bangsa kambing lokal asli Indonesia. Tubuh kambing kacang relatif kecil, kepala ringan dan kecil, telinga pendek dan tegak lurus mengarah ke atas depan. Kehidupannya sangat sederhana, memiliki daya adapasi yang tinggi terhadap kondisi alam setempat dan reproduksinya dapat digolongkan sangat tinggi. Jenis kambing ini juga terdapat di Filipina, Myanmar, Thailand, Malaysia dan sekitarnya. Kambing tipe kecil yang disebut kambing kacang merupakan kambing pendatang pertama di Malaysia dari India dan akhirnya menjadi kambing asli Malaysia (Devendra 1966). Selanjutnya dikatakan bahwa kambing yang tipenya serupa telah menyebar di bagian lain dari Asia Tenggara sampai Taiwan dan kepulauan Jepang bagian Selatan. Imigrasi orang-orang Pakistan ke Thailand menyertakan kambing tipe dwiguna sehingga menyebabkan variabilitas genetik yang tinggi pada kambing-kambing asli Thailand, namun tidak dapat dikesampingkan kemungkinan telah terjadi persilangan dengan bangsa-bangsa kambing Eropah seperti Seaanen atau lainnya.

14 19 Gambar 2 Postulat penyebaran kambing piara ( ) ke Asia Timur dan Tenggara Sumber Devendra dan Nozawa (1976) Klasifikasi Bangsa Kambing De Haas dan Horst (1979) mengelompokkan kambing atas tiga tipe berdasarkan tinggi pundak dan bobot badan hidup (Tabel 8). Tabel 8 Klasifikasi bangsa kambing (dewasa) menurut tinggi Pundak dan Bobot badan Hidup Tipe kambing Tinggi pundak (cm) Bobot badan hidup (kg) Besar Sedang Kecil (dan Kerdil) Sumber : De Haas dan Horst (1979) Fungsi utama kambing tipe kecil adalah penghasil daging, tipe sedang untuk penghasil daging dan susu, sedangkan tipe besar ditujukan untuk penghasil

15 20 susu. Tipe kerdil (dwarf) sama sekali tidak ideal sebagai penghasil daging karena pertumbuhannya yang sangat lambat. Chai (1961) dikutip Gunawan (1982) menyatakan bahwa peningkatan bobot badan dapat dilakukan melalui kawin silang dengan bangsa lainnya yang superior karena gen-gen yang mengendalikan ukuran-ukuran badan yang lebih besar dominant terhadap gen-gen yang mengendalikan ukuran-ukuran badan yang lebih kecil. Berdasarkan tinggi pundak dan bobot badan Devendra dan Burns (1970) menyimpulkan bahwa kambing yang tergolong tipe besar diantaranya adalah Jamnapari, Beetal, Barbari, Malabar, Damascus, Syrian Mounain, Sardinian, Benadir, Angora, Sahel, Maradi, Mudugh, Sudanese Nubian, Sudanese Shukria, Soviet Mohair dan Moxoto; yang tergolong tipe kecil diantaranya adalah Ma T ou, kambing kacang, Kigezi, Arab angora, Melteze dan Moxoto; yang tergolong tipe kerdil (dwarf) di antaranya adalah, South China, Bengal, East African, South Sudan, Congo dwarf, West African Dwarf dan Kosi. Selanjutnya dinyatakan bahwa faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap ukuran-ukuran serta bobot badan kambing. Dengan demikian suatu bangsa kambing yang tergolong tipe besar pada suatu lokasi akan tergeser ke tipe kecil pada lokasi lainnya, atau suatu bangsa kambing yang tergolong tipe kecil pada suatu lokasi akan tergeser ke tipe kerdil (dwarf) pada lokasi lainnya. Beberapa Ciri Kambing Kacang Menurut Murtidjo (1993), kambing kacang merupakan kambing lokal asli Indonesia. Tubuh kambing kacang relatif kecil, kepala ringan dan kecil, telinga pendek dan tegak lurus mengarah ke atas depan, dengan kehidupan yang sederhana, memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap kondisi alam setempat dan reproduksinya dapat digolongkan sangat tinggi. Jenis kambing ini juga terdapat di Filipina, Myanmar, Thailand, Malaysia dan sekitarnya. Lebih lanjut dikatakan bahwa kambing kacang memiliki warna tunggal, yakni: putih, hitam dan coklat, serta adakalanya warna campur dari ketiga warna tersebut. Kambing Kacang kelamin jantan maupun betina mempunyai tanduk 8

16 21 10 cm. Berat tubuh kambing kacang dewasa rata-rata sekitar kg. Betina umumnya memiliki bulu pendek pada seluruh tubuh, kecuali pada bagian ekor dan dagu. Gambaran beberapa ciri kambing kacang dapat disajikan pada Gambar 3. Gambar 3 Jenis kambing kacang (Sumber dok: Hoda 2006) Damshik (2001) mengemukakan bahwa kambing kacang berbadan relatif kecil dengan tinggi pundak dewasa rata-rata 50 cm dan bobot badan 30 kg. Bila dibandingkan dengan bagian-bagian lainnya maka kepala mempunyai proporsi yang sangat baik dan seimbang; ukuran telinga sedang, selalu bergerak, tidak tergantung tetapi tegak. Tanduk terdapat baik pada yang jantan maupun pada betina dan ukurannya relatif pendek. Janggut tumbuh dengan baik pada kambing jantan, namun juga terdapat pada yang betina dewasa walaupun tidak begitu lebat. Leher pendek dan memberi kesan tebal dan tegap. Punggung lurus dan pada beberapa kasus terlihat agak melengkung dan memeberi kesan makin kebelakang makin tinggi sampai pinggul. Devendra dan Burns (1970) menyatakan bahwa profil kambing kacang berbentk lurus. Ekor kelihatan kecil dan tegang. Ambing kecil dengan konformasi baik dengan puting yang besar. Bulu pendek serta kasar pada yang betina, tetapi pada yang jantan lebih panjang. Kambing kacang tahan hidup pada keadaan kondisi lingkungan yang sangat beragam dan sanggup beradaptasi pada metode manajemen yang berubah-ubah dan sangat beragam. Umur ketika mencapai pubertas sekitar enam bulan pada yang jantan. Umur beranak pertama dicapai ketika umur bulan.

17 22 Siklus Reproduksi Ternak Kambing Pada umumnya, ternak kambing mulai dewasa kelamin pada umur 5 10 bulan. Dewasa kelamin sangat tergantung dari rasa tau tipe, jenis kelamin dan lokasi pemeliharaan. Kambing tipe kecil lebih cepat mengalami dewasa kelamin dibandingkan kambing tipe besar. Perkawinan induk kambing betina sebaiknya dilakukan pada umur 9 12 bulan, karena pada umur ini secara fisik kambing sudah tumbuh dewasa sehingga mampu memproduksi susu dan menjalani masa kebuntingan. Menurut Devendra dan Burns (1970) menyatakan bahwa kebanyakan bangsa kambing daerah tropis biasa melahirkan pada umur satu tahun dan dapat digunakan sebagai produsen anak sampai kambing berumur 5 6 tahun. Umur dini pada beranak pertama mengurangi biaya pemeliharaan calon induk dan meningkatkan pendapatan ekonomi, serta menunjang perbaikan genetik yang cepat, dan oleh karenanya hal itu sangat diinginkan. Siklus birahi seekor kambing betina antara hari. Masa birahinya berlangsung selama 1 2 hari. Kambing betina tidak akan bunting bila dikawinkan dalam keadaan tidak sedang birahi. Kambing yang sedang bunting tidak mengalami masa birahi lagi. Mishra dan Biswas (1966) yang mempelajari penyebaran birahi pada kambing lokal di India, yang melibatkan ekor kambing betina, menunjukkan bahwa rata-rata lama birahi sekitar 38 jam. Pretorius (1977) mempelajari usap vagina dari induk kambing Angora yang sedang mengalami siklus birahi dan yang tidak (anestrus) mencirikan perubahan yang terjadi. Selama birahi, terjadi aliran lendir jernih dan encer yang membentuk pola kristalisasi seperti pakis. Setelah ovulasi dan pada fase birahi akhir, lendir tersebut menjadi masa putih yang kental, mengandung banyak elemen sel bertanduk, sedangkan pada fase luteal dan anestrus ditandai dengan sekresi lender yang sedikit dan tidak membentuk pola kristalisasi. Kambing pejantan bisa dikawinkan pada umur 10 bulan tetapi tidak dibiarkan melayani lebih dari 20 ekor induk betina sebelum umurnya genap satu tahun. Pada tenggang waktu dua bulan itu, kambing jantan hanya kawin kali atau maksimal dua kali kawin dalam seminggu. Pejantan dapat digunakan sebagai pemacek sampai umur 7 8 tahun. Penjelasan mengenai perkembangan

18 23 reproduksi ternak kambing jantan telah banyak dilakukan. Skinner (1975) menyembelih pejantan kambing boer pada berbagai interval dari saat lahir sampai berumur 196 hari. Selama waktu itu, berat testis meningkat secara lambat 1.3 g pada saat lahir menjadi 9.9 g pada umur 84 hari, dan selanjutnya secara cepat menjadi 25 g pada umur 140 hari, ketika spermatozoa untuk pertama kali tersedia melalui saluran eferens. Spermatogenensis mulai pada umur 84 hari dan pada umur 120 hari, spermatozoa ada dalam epididimis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama bunting pada kambing ditemukan agak konstan sekitar 146 hari, meskipun kisaran yang dilaporkan antara hari. Otchere dan Nimo (1975) mengatakan bahwa lama bunting pada kambing kerdil Afrika Barat dilaporkan rata-rata 141,3 ± 4.7 hari. Shelton (1978) menduga bahwa lama bunting yang singkat merupakan ciri bangsa kambing kecil. Penyebab keragaman dalam periode bunting tidak diketahui secara rinci, tetapi seperti pada spesies hewan lainnya, hal itu dipengaruhi oleh jenis kelamin janin, kondisi habis beranak, dan keragaman lingkungan lainnya, khususnya makanan, dan oleh faktor keturunan. Mishra et al menemukan bahwa lama bunting rata-rata 146,42 ± 0.24 hari, dan berkorelasi secara kuat dengan berat lahir anak (0.33) dan berat induk saat dikawinkan (0.41). Periode perkawinan merupakan faktor penentu interval beranak yang paling penting karena beda dalam lama bunting kecil dan manfaat praktisnya sedikit. Lama periode perkawinan ini tergantung pada seberapa cepat induk tersebut bunting lagi setelah beranak, yang pada gilirannya tergantung pada timbulnya siklus birahi. Kondisi ini dipengaruhi oleh bangsa kambing dan oleh beberapa faktor lingkungan. Kondisi hewan yang buruk, makanan yang tidak memadai, atau sebab lain yang dapat menunda timbulnya birahi setelah melahirkan. Devendra(1962) melaporkan bahwa periode perkawinan pada kambing Anglo-Nubia murni di Malaysia rata-rata 327 hari, sedang pada kambing lokal (kacang) rata-rata 92 hari. Mengawinkan kambing sesuai dengan waktunya, baik waktu kelahiran, penyapihan, serta mengawinkan kembali, perlu dilakukan pengaturan siklus reproduksi ternak seperti pada Gambar 4 berikut ini.

19 24 beranak kawin beranak 3 bulan 5 bln 8 bulan lahir Sapih 2-3 bln Dewasa kelamin 6-8 bln Birahi Kawin 8-12 bln Bunting 5 bulan beranak Gambar 4 Siklus reproduksi kambing betina agar dapat beranak 3 kali dalam 2 tahun atau beranak setiap 8 bulan (Mulyono 2004). Produktivitas Ternak Kambing Produktivitas semua bangsa hewan ternak dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan hidup ternak bersangkutan (Johansson et al yang disetir Abdulgani 1981). Bersama-sama dengan kedua faktor di atas, peranan peternak dalam mengelola ternaknya menentukan pula tinggi rendahnya produksi yang akan dicapai. Beberapa literatur umumnya dinyatakan bahwa pelaksanaan manajemen untuk meningkatkan keefisienan produksi ternak antara lain : (1) berusaha agar kondisi badan serta kesehatannya baik, (2) bebas dari gangguan penyakit, (3) pelaksanaan flushing (pemberian makanan yang cukup dan bermutu menjelang dan selama masa birahi), (4) berusaha agar dikawinkan pada umur muda dan tepat waktunya, (5) lekas dikawinkan kembali setelah beranak, dan (6) cukup tersedia pejantan unggul yang selalu dijaga kondisi makanannya (Ray dan Smith 1966; Guha et al. 1967; Turner dan Young 1969 dikutip Abdullgani (1981). Selanjutnya dinyatakan bahwa dalam bidang pemuliaan ternak, usaha untuk meningkatkan keefisienan produksinya dilakukan dengan cara menyeleksi ternak-ternak yang tingkat kesuburannya tinggi, menyisihkan ternak-ternak yang memiliki sifat produksi buruk, dan cara-cara perkawinan yang tepat. Menurut Devendra dan Nozawa (1976), usaha peningkatan produktivitas ternak kambing di suatu wilayah perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut: (1) penggunaan bibit ternak yang baik mutunya; (2) peningkatan banyaknya cempe

20 25 yang dilahirkan serta memperpanjang kehidupan induk yang produktif; (3) usaha pengendalian terhadap banyaknya ternak yang dipelihara; (4) meningkatkan penggunaan bibit ternak yang telah terbukti keunggulannya; (5) manajemen yang lebih efisien, terutama dalam hal pemberian bahan makanannya; (6) usaha pengendalian penyakit; (7) penelitian terhadap ternak bersangkutan serta penerapannya dalam praktek melalui pendidikan. Untuk mendapatkan gambaran tentang tingkat produktivitas ternak kambing adalah dengan menghitung banyaknya cempe yang lahir dalam kelompok kambing tersebut selama waktu tertentu, selang beranak atau interval kelahiran, umur mulai dikawinkan, masa bunting, umur beranak pertama, bobot lahir cempe, bobot kambing pada umur tertentu, bobot badan kambing dewasa, tingkat kematian dan heritabilitasnya. Jumlah Anak Kambing yang Lahir per Kelahiran (Litter Size) Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah anak lahir perkelahiran (litter size) pada ternak kambing diantaranya umur induk, tingkat nutrisi maupun pengaruh lingkungan lainnya. Astuti (1984) melaporkan bahwa rataan jumlah anak lahir per kelahiran kambing Peranakan Etawah di Yogyakarta sebesar 1.7 relatif tinggi bila dibanding pengamatan Setiadi et al di Bogor yakni sebesar 1.3 ekor. Wilson (1983) yang mengamati kambing lokal di Sudan dan Mali mendapatkan jumlah anak lahir per kelahiran sebesar 1.52 di Sudan dan 1.21 di Mali. Astuti (1984) melaporkan bahwa pada Kambing Kacang di Imogiri Jogyakarta, rata-rata banyaknnya cempe per kelahiran adalah 1.73 ekor. Data kelahiran kambing di fakultas peternakan IPB selama periode rata-rata menunjukkan banyaknya cempe per kelahiran adalah 1.49 ± 0.07 ekor. Jumlah anak lahir per kelahiran pada ternak kambing bervariasi baik dalam satu bangsa maupun antar bangsa kambing. Dari ekor anak kambing Beetal di India, 24 persen lahir tunggal, 63 persen kembar dua, 11.5 persen kembar tiga dan 1.5 persen kembar empat dan dilain pihak pada kambing Beetal

21 26 di Zambia, lahir kembar dua jarang terjadi dan hanya kelahiran tunggal yang sering terjadi (Mc Dowell dan Bove 1977). Umur Beranak Pertama Umur beranak pertama sangat erat hubungannya dengan umur mulai dikawinkan yang bergantung pada kondisi badan atau makanan ternak bersangkutan. Kambing dara yang masak dini akan lebih cepat beranak pertama daripada yang masak lambat. Ini berarti bahwa bangsa kambing yang tergolong masak dini akan lebih cepat mampu menyumbangkan hasil produksinya bagi masyarakat. Budihardi (1972) melaporkan bahwa umur beranak pertama pada kambing kacang di Imogiri Jogyakarta, adalah 1.5 tahun. Di fakultas Peternakan IPB ratarata umur beranak pertama adalah ± hari (29 bulan). Pengaruh keadaan lingkungan tempat kambing hidup dan berkembang diperlihatkan oleh adanya perbedaan dalam mencapai umur beranak pertama. Galeon (1951) yang dikutip Abdulgani (1981) melaporkan bahwa kambing di Pilipina rata-rata umur beranak pertamanya adalah hari. Kambing Saanen yang diternakan di Israel beranak pertama pada umur 2 tahun (masak lambat). Bobot Lahir Cempe Bobot lahir adalah salah satu faktor penting di dalam dunia peternakan, karena merupakan titik awal pengukuran perkembangan selanjutnya. Epstein dan Herz (1964) dan Scott (1970) disetir Setiadi (1987) menyatakan bahwa bobot lahir dapat digunakan sebagai petunjuk terhadap perkembangan setelah lahir. Banyaknya anak per kelahiran dan jenis kelamin berpengaruh terhadap bobot lahir. Setiadi (1987) melaporkan bahwa bobot lahir kambing Peranakan Etawah (PE) di pedesaan sebesar 2.5±0.6 kg. Bobot lahir anak jantan lebih berat dari betina, yaitu 2.6 kg vs 2.2 kg. Selanjutnya Singh et al.(2002) melaporkan bahwa bobot lahir kambing Jamnapari jantan sebesar 2.92±1.06 kg dan betina sebesar 2.68±1.06 kg. Jenis kelamin berpengaruh terhadap bobot lahir, dimana

22 27 bobot lahir anak jantan lebih tinggi daripada bobot lahir anak betina seperti disajikan dalam Tabel 9. Tabel 9 Pengaruh jenis kelamin terhadap bobot lahir beberapa bangsa kambing Bangsa Bobot lahir (kg) Peneliti Jantan Betina Parbatsar Jamnapari Black Bengal Malabari Pashmina Kambing Kacang 2.40 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± Mittal dan Ghosh (1985) Singh et al. (1984) Malik et al. (1986) Mukundun et al. (1981) Mazumder dan Mazumder (1983) Devendra (1966) Sumber : Abdulgani (1981) Mittal (1979) menyatakan bahwa faktor musim berpengaruh terhadap bobot lahir anak kambing (Tabel 10). Penelitiannya meliputi dua bangsa kambing dengan dua faktor musim yaitu musim panas (summer) dan musim dingin dan hujan (monsoon). Anak-anak kambing yang tetuanya kawin pada musim dingin dan hujan mempunyai bobot lahir lebih tinggi dari anak-anak kambing yang tetuanya kawin pada musim panas. Hal ini berlaku pada kedua bangsa, baik yang terlahir tunggal maupun yang terlahir kembar. Tabel 10. Pengaruh musim kawin terhadap bobot lahir anak kambing Bangsa Musim Panas (Summer) Musim Dingin (Winter) Jantan Betina Jantan Betina Barbari Tunggal Kembar Dua Jamnapari Tunggal Kembar dua 1.98 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.12 Sumber : Mittal (1979) Mittal (1979) juga menyatakan bahwa umur induk berpengaruh terhadap bobot lahir anak kambing. Ada kecendrungan bahwa makin tua umur induk maka makin besar pula bobot lahir anaknya, baik pada tipe kelahiran tunggal maupun pada tipe kelahiran kembar dua Tabel 11.

23 28 Tabel 11 Pengaruh umur induk terhadap bobot lahir kambing Bangsa Tipe Kelahiran Jenis Umur Induk (tahun) Kelamin Barbari Jamnapari Tunggal Kembar dua Tunggal Kembar dua Jantan Betina Jantan betina Jantan Betina Jantan Betina 2.22 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.15 Sumber : Mittal (1979) Potensi Ekonomi Ternak Kambing di Indonesia Peternakan kambing di Indonesia yang masih berskala kecil perlu diusahakan secara komersial. Hal ini perlu dikembangkan karena adanya pertumbuhan penduduk sekitar 2% dan kenaikan tingkat daya beli masyarakat. Kebutuhan daging saat ini belum mencukupi permintaan. Dengan jumlah penduduk tahun 2005 mencapai sekitar 220 juta jiwa dengan rata-rata konsumsi daging sekitar 1.75 kg/kapita/tahun, maka total kebutuhan daging domestik mencapai sekitar ribu ton. Sementara itu total produksi daging dalam negeri hanya mencapai ribu ton sehingga masih ada kekurangan sekitar ribu ton atau 29.36% dari total kebutuhan dalam negeri (Ditjend Peternakan 2005) Selain pertimbangan di atas, ternak kambing juga mempunyai potensi ekonomi yang baik. Potensi ekonomi ternak kambing ini antara lain menurut Mulyono (2004): 1) Ternak Kambing mempunyai badan yang relatif kecil dan pertumbuhan yang cepat sehingga tingkat reproduksi dan produksi lebih tinggi, 2) ternak kambing tidak memerlukan lahan yang luas, apalagi dapat dilakukan kemitraan dengan pihak pengadaan pakan hijauan, 3) suka bergerombol sehingga dalam hal tenaga kerja, sistem pengembalaan lebih efisien, 4) skala usaha pembibitan ternak kambing yang dianjurkan adalah 8-12 ekor induk dengan harapan setiap kali melahirkan akan diperoleh anak sapih sekitar ekor.

24 29 5) memiliki sifat toleransi yang tinggi terhadap bermacam-macam hijauan pakan ternak, 6) memiliki daya adaptasi yang baik terhadap berbagai keadaan lingkungan sehingga dapat diternakkan dimana saja dan dapat berkembangbiak sepanjang tahun. Jumlah ternak kambing di Indonesia dibandingkan dengan ternak ruminansia lainnya pada tahun 2005 relatif lebih banyak Tabel 12 dan untuk populasi ternak kambing per provinsi dapat dilihat pada Tabel 13. Tabel 12 Populasi Ternak Tahun (000 ekor) No Tahun Jenis Ternak (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Sapi potong Sapi perah Kerbau Kambing Domba Sumber : Dirjen Peternakan (2005)

25 30 Tabel 13 Populasi kambing tahun per provinsi di Indonesia Provinsi Tahun NAD Sumut Sumbar Riau Jambi Sumsel Bengkulu Lampung DKI Jakarta Jabar Jateng DIY Jatim Bali NTB NTT Kalbar Kalteng Kalsel Kaltim Sulut Sulteng sulsel Sultra Maluku Papua Babel Banten Gorontalo Malut Kepri Irjabar Sulbar Total Sumber: Dirjen Peternakan (2008)

26 31 Dinamika Populasi Dinamika populasi menjelaskan suatu keragaman di dalam ukuran populasi serta komposisi umur-kelamin, laju reproduksi dan mortalitas di dalam suatu populasi satwa. Dinamika populasi mempelajari bagaimana keragaman tersebut muncul akibat adanya interaksi antara individu maupun individu dengan lingkungannya (Bailey 1984). Berbagai populasi satwa liar sebagai contoh dapat berubah ukurannya dalam jangka waktu tertentu (satu musim, satu tahun, ataupun beberapa tahun). Perubahan-perubahan anggota populasi ini sangat penting diketahui agar dapat mengatur populasi untuk memperoleh suatu jumlah yang optimum sesuai dengan daya dukung habitatnya. Perubahan ukuran populasi yang tidak beraturan menurut skala waktunya (irregular) disebut fluktuasi, sedangkan perubahan yang beraturan dan tetap skala waktunya (regular) disebut siklis. Fluktuasi dapat disebabkan karena adanya perubahan cuaca, perubahan ketersediaan makanan, ataupun karena adanya pengaruh perburuan untuk konsumsi manusia. Menurut Sihombing (1977) bahwa semua makhluk hidup dalam populasi akan berubah karena pengaruh perubahan lingkungannya. Menurut Krebs (1978), populasi dapat dikelompokkan ke dalam demedeme atau populasi lokal, yang dapat melakukan perkawinan antara organisme. Setiap populasi memiliki karakteristik kelompok yang beragam. Secara umum, karakteristik populasi yang paling mendasar adalah ukuran atau kepadatan. Empat parameter yang mempengaruhi kepadatan adalah natalitas, mortalitas, emigrasi dan imigrasi. Karakteristik sekunder dari populasi adalah sebaran umur, komposisi genetik, dan pola sebaran (penyebaran secara individu di dalam suatu ruang). Karakteristik yang terakhir adalah karakteristik yang dimiliki secara individual. Parameter populasi yang utama adalah struktur populasi, yang terdiri dari seks rasio, distribusi kelas umur, tingkat kepadatan dan kondisi fisik (Van Lavieren 1982). Kepadatan populasi adalah besaran populasi dalam suatu unit luas atau volume. Nilai kepadatan diperlukan untuk menunjukkan kondisi daya dukung habitatnya.

27 32 Natalitas merupakan jumlah individu baru (anak) yang lahir dalam suatu populasi, yang dapat dinyatakan dalam beberapa cara yaitu produksi individu baru dalam suatu populasi (Odum 1971). Natalitas juga dapat dinyatakan dalam laju kelahiran kasar (crude birth rate), yaitu perbandingan antara jumlah individu yang dilahirkan dengan jumlah seluruh anggota populasi pada suatu periode waktu. Keanekaragaman Genetik Keanekaragaman genetik seringkali dihubungkan dengan tingkah laku reproduktif dari individu dalam suatu populasi. Populasi adalah satu kelompok individu yang kawin satu sama lain dengan menghasilkan keturunan; satu spesies mungkin mencakup satu atau lebih populasi yang terpisah. Populasi mungkin terdiri dari satu individu atau jutaan individu (Primack et al. 1998). Individu di dalam suatu populasi biasanya berbeda secara genetik satu sama lain. Variasi genetik muncul karena individu memiliki gen yang berbeda, unit kromosom yang memberi kode untuk protein tertentu. Perbedaan bentuk dari suatu gen disebut alel, dan perbedaan ini muncul karena mutasi yang terjadi di dalam deoxyribonucleic acid (DNA) yang membentuk komponen-komponen individu kromosom. Beragam alel dari satu gen mungkin akan mempengaruhi perkembangan dan fisiologis suatu organisme secara berbeda. Pengembangbiakan tanaman dan hewan mengambil keuntungan dari variasi genetik ini untuk menghasilkan strain yang lebih tahan penyakit terutama untuk spesies yang sudah dipelihara seperti gandum, jagung dan ternak. Variasi genetik meningkat sewaktu keturunan menerima kombinasi unik gen dan kromosom dari induknya melalui rekombinasi gen yang muncul selama reproduksi seksual. Gen dipertukarkan antara kromosom selama miosis, dan kombinasi baru diciptakan sewaktu kromosom dari kedua induk dikombinasikan untuk membentuk keturunan yang unik secara genetik.walaupun mutasi memberi materi dasar bagi variasi genetik, namun kemampuan untuk menghasilkan spesies secara seksual menjadi alel yang disusun secara acak di dalam kombinasi yang berbeda-beda meningkatkan potensi untuk variasi genetik (Primack et al. 1998). Lebih jauh dikatakannya, bahwa jumlah variabilitas genetik di dalam suatu

28 33 populasi ditentukan oleh jumlah gen pool (larikan total gen dan alel di dalam suatu populasi) yang memiliki lebih dari satu alel (disebut juga gen polymorphik) dan oleh jumlah alel dari setiap gen yang bersifat polimorfik. Keberadaan gen polimorfik memungkinkan individu di dalam populasi menjadi heterozygous bagi gen tersebut untuk menerima alel gen yang berbeda dari setiap induknya. Pelestarian Sumberdaya Genetik Ternak FAO memprediksi bahwa paling sedikit satu bangsa ternak tradisional punah setiap minggu dan lebih dari 30% ternak Eropa sekarang ini diperkirakan dalam keadaan terancam kepunahan (FAO 1995). Banyak bangsa ternak tradisional sudah menghilang karena para petani lebih fokus pada bangsa/breed baru. Sekitar 16% dari bangsa sapi tradisional telah punah dan kurang dari 15% bersifat jarang (FAO 2000) Semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi pemuliaan ternak, bioteknologi, permintaan pasar, mekanisme pertanian dan produksi ternak, akan mendorong eksploitasi ternak melalui persilangan, penggantian breed baru (Subandriyo dan Setiadi 2003; Sodhi et al. 2006), maupun pengurasan stock secara berlebihan, dan pada gilirannya akan mengancam keragaman genetik ternak. Di lain pihak pelestarian keragaman genetik ternak akan selalu diperlukan dalam pemuliaan di masa datang, karena tanpa adanya keragaman genetik, pemuliaan ternak tidak mungkin dilaksanakan untuk mengantisipasi keperluan di masa mendatang (Subandriyo dan Setiadi 2003) Pelestarian terhadap sumberdaya genetik ternak lokal sebagai bagian dari komponen keanekaragaman hayati adalah penting untuk memenuhi kebutuhan pangan, pertanian dan perkembangan sosial masyarakat di masa yang akan datang. Ada beberapa alasan untuk ini, antara lain (1) lebih dari 60 persen dari bangsa-bangsa ternak di dunia berada di negara-negara sedang berkembang; (2) konservasi bangsa ternak lokal tidak menarik bagi petani; (3) secara umum tidak ada program monitoring yang sistematis dan tidak tersedianya informasi deskriptif dasar sebagian besar sumber daya genetik hewan ternak; serta (4) sedikit sekali bangsa-bangsa ternak asli yang telah digunakan dan dikembangkan secara aktif (FAO 2001).

29 34 Ada tiga metode utama program pelestarian plasma nutfah ternak yang telah dilaksanakan masyarakat atau pemulia: (1) mempertahankan populasi ternak hidup, (2) penyimpanan beku materi genetik berupa haploid (n) seperti gamet yakni semen dan oocyte atau berupa diploid (2n) seperti embrio, dan (3) penyimpanan DNA (deoxyrybonucleic acid). Metode bioteknologi dapat digunakan untuk mengkarakterisasi gen-gen ternak dan plasma nutfah suatu populasi. Metode ini akan membantu dalam pembuatan keputusan tentang pelestarian plasma nutfah yang unik. Studi mengenai struktur dan fungsi gen-gen pada tingkat molekuler suatu populasi ternak dapat membantu menentukan kesamaan material genetik yang dibawa oleh dua atau lebih populasi dan keragaman genetik dalam populasi ternak yang diamati. Identifikasi gen-gen dari individu ternak akan membantu program pemuliaan (genetik) ternak, yang membedakan dari penampilan (fenotipe) yang tampak, yang dapat menentukan proses pemilihan tetua untuk generasi yang akan datang (seleksi buatan). Jika gengen untuk sifat produksi dapat diidentifikasi, ternak-ternak tersebut dapat diseleksi walaupun tidak diekspresikan oleh individu ternak yang bersangkutan. Sebagai alternatif, jika mereka dapat diikatkan dengan gen-gen yang diketahui lokasinya dalam kromosom (marker lokus-lokus), seleksi dapat dilaksanakan berdasarkan acuan tersebut (Subandriyo dan Setiadi 2003). Filogeografi Intraspesies Sebagai prinsip atau proses yang mengarahkan distribusi geografi spesies tertentu, filogeografi menekankan pada kajian variasi geografi yang mencakup berbagai tipe karakter seperti morfologi, fisiologi, etologi dan genetik (Lougheed and Handford 1993). Kajian tersebut memegang peranan penting dalam memahami proses-proses evolusi, karena variasi-variasi yang bersifat menurun adalah materi dasar yang terlibat dalam proses seleksi alam dan adaptasi. Penyebaran populasi suatu spesies dimulai dari variasi-variasi geografi yang semakin lama semakin berkembang. Filogeografi pada tingkat intraspesies dapat mengungkap keragaman di dalam spesies, mulai dari tingkat populasi, subpopulasi, subspesies sampai spesies.

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Sumberdaya genetik ternak pada saat ini menghadapi tantangan ganda. Pada satu sisi, permintaan produk peternakan meningkat di negara berkembang, seperti diestimasikan oleh Food

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kambing Kacang merupakan kambing asli Indonesia dengan populasi yang

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kambing Kacang merupakan kambing asli Indonesia dengan populasi yang II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kambing Kacang Kambing Kacang merupakan kambing asli Indonesia dengan populasi yang cukup banyak dan tersebar luas di wilayah pedesaan. Menurut Murtidjo (1993), kambing Kacang memiliki

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kambing merupakan salah satu jenis ternak ruminansia kecil yang telah

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kambing merupakan salah satu jenis ternak ruminansia kecil yang telah II. TINJAUAN PUSTAKA A. Deskripsi Kambing Kambing merupakan salah satu jenis ternak ruminansia kecil yang telah dikenal secara luas di Indonesia. Ternak kambing memiliki potensi produktivitas yang cukup

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kambing Ettawa (asal india) dengan Kambing Kacang yang telah terjadi beberapa

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kambing Ettawa (asal india) dengan Kambing Kacang yang telah terjadi beberapa 16 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kambing Peranakan Etawah (PE) Kambing Peranakan Ettawa (PE) merupakan hasil persilangan antara Kambing Ettawa (asal india) dengan Kambing Kacang yang telah terjadi beberapa

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM PROVINSI RIAU

IV. KONDISI UMUM PROVINSI RIAU IV. KONDISI UMUM PROVINSI RIAU 4.1 Kondisi Geografis Secara geografis Provinsi Riau membentang dari lereng Bukit Barisan sampai ke Laut China Selatan, berada antara 1 0 15 LS dan 4 0 45 LU atau antara

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tinjauan Umum Kambing 2.1.1. Kambing Kacang Menurut Mileski dan Myers (2004), kambing diklasifikasikan ke dalam : Kerajaan Filum Kelas Ordo Famili Upafamili Genus Spesies Upaspesies

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Persebaran Kambing Peranakan Ettawah (PE) galur lainnya dan merupakan sumber daya genetik lokal Jawa Tengah yang perlu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Persebaran Kambing Peranakan Ettawah (PE) galur lainnya dan merupakan sumber daya genetik lokal Jawa Tengah yang perlu 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Persebaran Kambing Peranakan Ettawah (PE) Kambing PE pada awalnya dibudidayakan di wilayah pegunungan Menoreh seperti Girimulyo, Samigaluh, Kokap dan sebagian Pengasih (Rasminati,

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kambing merupakan mamalia yang termasuk Ordo Artiodactyla, Subordo

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kambing merupakan mamalia yang termasuk Ordo Artiodactyla, Subordo II. TINJAUAN PUSTAKA A. Deskripsi Kambing Peranakan Etawah Kambing merupakan mamalia yang termasuk Ordo Artiodactyla, Subordo Ruminansia, Famili Bovidae, dan Genus Capra atau Hemitragus (Devendra dan Burns,

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kambing merupakan mamalia yang termasuk dalam ordo artiodactyla, sub ordo

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kambing merupakan mamalia yang termasuk dalam ordo artiodactyla, sub ordo 7 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kambing Kambing merupakan mamalia yang termasuk dalam ordo artiodactyla, sub ordo ruminansia, famili Bovidae, dan genus Capra atau Hemitragus (Devendra dan Burn, 1994). Kambing

Lebih terperinci

Bab 4 P E T E R N A K A N

Bab 4 P E T E R N A K A N Bab 4 P E T E R N A K A N Ternak dan hasil produksinya merupakan sumber bahan pangan protein yang sangat penting untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Perkembangan populasi ternak utama

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kota Kendari dengan Ibukotanya Kendari yang sekaligus Ibukota Propinsi

V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kota Kendari dengan Ibukotanya Kendari yang sekaligus Ibukota Propinsi 70 V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 5.1 Letak Geografis Kota Kendari dengan Ibukotanya Kendari yang sekaligus Ibukota Propinsi Sulawesi Tenggara, secara geografis terletak dibagian selatan garis katulistiwa

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kambing Kacang dengan kambing Ettawa. Kambing Jawarandu merupakan hasil

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kambing Kacang dengan kambing Ettawa. Kambing Jawarandu merupakan hasil 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kambing Jawarandu Kambing Jawarandu merupakan bangsa kambing hasil persilangan kambing Kacang dengan kambing Ettawa. Kambing Jawarandu merupakan hasil persilangan pejantan

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN Wilayah Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kota Tidore Kepulauan Provinsi Maluku Utara pada pertengahan bulan Mei s/d Juni 2011, dengan tujuan untuk; (1) menganalisis

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. berkuku genap dan memiliki sepasang tanduk yang melengkung. Kambing

II. TINJAUAN PUSTAKA. berkuku genap dan memiliki sepasang tanduk yang melengkung. Kambing II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kambing Peranakan Etawa (PE) Kambing merupakan hewan domestikasi tertua yang telah bersosialisasi dengan manusia lebih dari 1000 tahun. Kambing tergolong pemamah biak, berkuku

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN. wilayah kilometerpersegi. Wilayah ini berbatasan langsung dengan

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN. wilayah kilometerpersegi. Wilayah ini berbatasan langsung dengan V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN 5.1. Lokasi dan Topografi Kabupaten Donggala memiliki 21 kecamatan dan 278 desa, dengan luas wilayah 10 471.71 kilometerpersegi. Wilayah ini

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kambing Boer berasal dari Afrika Selatan dan telah menjadi ternak yang terregistrasi

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kambing Boer berasal dari Afrika Selatan dan telah menjadi ternak yang terregistrasi 7 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kambing 1. Kambing Boer Kambing Boer berasal dari Afrika Selatan dan telah menjadi ternak yang terregistrasi selama lebih dari 65 tahun. Kata "Boer" artinya petani. Kambing Boer

Lebih terperinci

Gambar 3. Peta Sulawesi Utara

Gambar 3. Peta Sulawesi Utara HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Lokasi Penelitian Propinsi Sulawesi Utara mencakup luas 15.272,44 km 2, berbentuk jazirah yang memanjang dari arah Barat ke Timur pada 121-127 BT dan 0 3-4 0 LU. Kedudukan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Klasifkasi Kambing

TINJAUAN PUSTAKA Klasifkasi Kambing TINJAUAN PUSTAKA Klasifkasi Kambing Kambing diklasifikasikan ke dalam kerajaan Animalia; filum Chordata; subfilum Vertebrata; kelas Mammalia; ordo Artiodactyla; sub-ordo Ruminantia; familia Bovidae; sub-familia

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Performans Bobot Lahir dan Bobot Sapih

HASIL DAN PEMBAHASAN. Performans Bobot Lahir dan Bobot Sapih Bobot Lahir HASIL DAN PEMBAHASAN Performans Bobot Lahir dan Bobot Sapih Rataan dan standar deviasi bobot lahir kambing PE berdasarkan tipe kelahiran dan jenis kelamin disajikan pada Tabel 4. Tabel 4. Rataan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Copyright (C) 2000 BPHN UU 1/2003, PEMBENTUKAN KABUPATEN HALMAHERA UTARA, KABUPATEN HALMAHERA SELATAN, KABUPATEN KEPULAUAN SULA, KABUPATEN HALMAHERA TIMUR, DAN KOTA TIDORE KEPULAUAN DI PROVINSI MALUKU

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Administrasi

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Administrasi GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 26 Administrasi Kabupaten Sukabumi berada di wilayah Propinsi Jawa Barat. Secara geografis terletak diantara 6 o 57`-7 o 25` Lintang Selatan dan 106 o 49` - 107 o 00` Bujur

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, NOMOR 1 TAHUN 2003 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN HALMAHERA UTARA, KABUPATEN HALMAHERA SELATAN, KABUPATEN KEPULAUAN SULA, KABUPATEN HALMAHERA TIMUR, DAN KOTA TIDORE KEPULAUAN DI PROVINSI MALUKU UTARA DENGAN

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Kambing kacang adalah ras unggulan kambing. dikembangkan di Indonesia. Kambing kacang merupakan kambing lokal

TINJAUAN PUSTAKA. Kambing kacang adalah ras unggulan kambing. dikembangkan di Indonesia. Kambing kacang merupakan kambing lokal II. TINJAUAN PUSTAKA 1.1. Kambing Kacang Kambing kacang adalah ras unggulan kambing yang pertama kali dikembangkan di Indonesia. Kambing kacang merupakan kambing lokal Indonesia, memiliki daya adaptasi

Lebih terperinci

Sejarah Kambing. Klasifikasi Kambing. Filum : Chordota (Hewan Tulang Belakang) Kelas : Mamalia (Hewan Menyusui)

Sejarah Kambing. Klasifikasi Kambing. Filum : Chordota (Hewan Tulang Belakang) Kelas : Mamalia (Hewan Menyusui) Sejarah Kambing Kambing lokal (Capra aegagrus hircus) adalah sub spesies dari kambing liar yang tersebar di Asia Barat Daya dan Eropa. Kambing merupakan suatu jenis binatang memamah biak yang berukuran

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA Kondisi Umum Kabupaten Kuantan Singingi. Pembentukan Kabupaten Kuantan Singingi didasari dengan Undang-undang

II. TINJAUAN PUSTAKA Kondisi Umum Kabupaten Kuantan Singingi. Pembentukan Kabupaten Kuantan Singingi didasari dengan Undang-undang II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kondisi Umum Kabupaten Kuantan Singingi Kabupaten Kuantan Singingi adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Riau, hasil pemekaran dari Kabupaten induknya yaitu Kabupaten Indragiri

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kambing Boer berasal dari Afrika Selatan, yang merupakan hasil persilangan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kambing Boer berasal dari Afrika Selatan, yang merupakan hasil persilangan 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kambing Boer Jawa (Borja) Kambing Boer berasal dari Afrika Selatan, yang merupakan hasil persilangan antara kambing Afrika lokal tipe kaki panjang dengan kambing yang berasal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Potensi kekayaan alam yang dimiliki Indonesia sangatlah berlimpah, mulai

BAB I PENDAHULUAN. Potensi kekayaan alam yang dimiliki Indonesia sangatlah berlimpah, mulai BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Potensi kekayaan alam yang dimiliki Indonesia sangatlah berlimpah, mulai dari sumber daya alam yang diperbaharui dan yang tidak dapat diperbaharui. Dengan potensi tanah

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Kambing merupakan hewan-hewan pertama yang didomestikasi. oleh manusia. Diperkirakan pada mulanya pemburu-pemburu membawa

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Kambing merupakan hewan-hewan pertama yang didomestikasi. oleh manusia. Diperkirakan pada mulanya pemburu-pemburu membawa PENDAHULUAN Latar Belakang Kambing merupakan hewan-hewan pertama yang didomestikasi oleh manusia. Diperkirakan pada mulanya pemburu-pemburu membawa pulang anak kambing dari hasil buruannya. Anak-anak kambing

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Potensi usaha peternakan di Indonesia sangat besar. Kondisi geografis

BAB I PENDAHULUAN. Potensi usaha peternakan di Indonesia sangat besar. Kondisi geografis BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Potensi usaha peternakan di Indonesia sangat besar. Kondisi geografis menjadi salah satu faktor pendukung peternakan di Indonesia. Usaha peternakan yang berkembang

Lebih terperinci

KAJIAN KEPUSTAKAAN. kebutuhan konsumsi bagi manusia. Sapi Friesien Holstein (FH) berasal dari

KAJIAN KEPUSTAKAAN. kebutuhan konsumsi bagi manusia. Sapi Friesien Holstein (FH) berasal dari II KAJIAN KEPUSTAKAAN 2.1 Karakteristik Sapi perah Sapi perah (Bos sp.) merupakan ternak penghasil susu yang sangat dominan dibanding ternak perah lainnya dan sangat besar kontribusinya dalam memenuhi

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YA NG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YA NG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2003 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN HALMAHERA UTARA, KABUPATEN HALMAHERA SELATAN, KABUPATEN KEPULAUAN SULA, KABUPATEN HALMAHERA TIMUR, DAN KOTA TIDORE KEPULAUAN

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN DESEMBER 2015

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN DESEMBER 2015 No. 03/01/63/Th.XX, 4 Januari 2016 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN DESEMBER A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI NILAI TUKAR PETANI (NTP) BULAN DESEMBER TURUN 0,41 PERSEN Pada

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI. A. Letak Geografis. 08º00'27" Lintang Selatan dan 110º12'34" - 110º31'08" Bujur Timur. Di

KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI. A. Letak Geografis. 08º00'27 Lintang Selatan dan 110º12'34 - 110º31'08 Bujur Timur. Di IV. KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI A. Letak Geografis Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mempunyai lima Kabupaten dan satu Kotamadya, salah satu kabupaten tersebut adalah Kabupaten Bantul. Secara geografis,

Lebih terperinci

VIII. PROSPEK PERMINTAAN PRODUK IKAN

VIII. PROSPEK PERMINTAAN PRODUK IKAN 185 VIII. PROSPEK PERMINTAAN PRODUK IKAN Ketersediaan produk perikanan secara berkelanjutan sangat diperlukan dalam usaha mendukung ketahanan pangan. Ketersediaan yang dimaksud adalah kondisi tersedianya

Lebih terperinci

PROGRAM AKSI PERBIBITAN TERNAK KERBAU DI KABUPATEN BATANG HARI

PROGRAM AKSI PERBIBITAN TERNAK KERBAU DI KABUPATEN BATANG HARI PROGRAM AKSI PERBIBITAN TERNAK KERBAU DI KABUPATEN BATANG HARI H. AKHYAR Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Batang Hari PENDAHULUAN Kabupaten Batang Hari dengan penduduk 226.383 jiwa (2008) dengan

Lebih terperinci

Ekonomi Pertanian di Indonesia

Ekonomi Pertanian di Indonesia Ekonomi Pertanian di Indonesia 1. Ciri-Ciri Pertanian di Indonesia 2.Klasifikasi Pertanian Tujuan Instruksional Khusus : Mahasiswa dapat menjelaskan ciri-ciri pertanian di Indonesia serta klasifikasi atau

Lebih terperinci

PERFORMANS DAN KARAKTERISTIK AYAM NUNUKAN

PERFORMANS DAN KARAKTERISTIK AYAM NUNUKAN PERFORMANS DAN KARAKTERISTIK AYAM NUNUKAN WAFIATININGSIH 1, IMAM SULISTYONO 1, dan RATNA AYU SAPTATI 2 1 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Timur 2 Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan

Lebih terperinci

STATISTIK KETAHANAN PANGAN TAHUN 2013

STATISTIK KETAHANAN PANGAN TAHUN 2013 STATISTIK KETAHANAN PANGAN TAHUN 2013 BADAN KETAHANAN PANGAN KEMENTERIAN PERTANIAN 2014 1 I. Aspek Ketersediaan dan Kerawanan Pangan Perkembangan Produksi Komoditas Pangan Penting Tahun 2009 2013 Komoditas

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Kabupaten Kaur, Bengkulu. Gambar 1. Peta Kabupaten Kaur

TINJAUAN PUSTAKA Kabupaten Kaur, Bengkulu. Gambar 1. Peta Kabupaten Kaur TINJAUAN PUSTAKA Kabupaten Kaur, Bengkulu (Sumber : Suharyanto, 2007) Gambar 1. Peta Kabupaten Kaur Kabupaten Kaur adalah salah satu Daerah Tingkat II di Provinsi Bengkulu. Luas wilayah administrasinya

Lebih terperinci

BANGSA-BANGSA KAMBING PERAH

BANGSA-BANGSA KAMBING PERAH BANGSA-BANGSA KAMBING PERAH TIK : Setelah mengikuti kuliah ke-6 ini mahasiswa dapat menjelaskan tipebangsa kambing perah Sub Pokok Bahasan : 1. Asal-usul bangsa kambing eropa 2. Sifat masing-masing bangsa

Lebih terperinci

POTENSI KERAGAMAN SUMBERDAYA GENETIK KAMBING LOKAL INDONESIA

POTENSI KERAGAMAN SUMBERDAYA GENETIK KAMBING LOKAL INDONESIA POTENSI KERAGAMAN SUMBERDAYA GENETIK KAMBING LOKAL INDONESIA ARON BATUBARA 1, M. DOLOKSARIBU 1 dan BESS TIESNAMURTI 2 1 Loka Penelitian Kambing Potong, Sei Putih, PO Box 1, Galang 20585 2 Balai Penelitian

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Usaha diversifikasi pangan dengan memanfaatkan daging kambing

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Usaha diversifikasi pangan dengan memanfaatkan daging kambing PENDAHULUAN Latar Belakang Usaha diversifikasi pangan dengan memanfaatkan daging kambing dapat menjadi salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi protein hewani di Indonesia. Kambing merupakan

Lebih terperinci

OLEH : GUBERNUR MALUKU UTARA

OLEH : GUBERNUR MALUKU UTARA OLEH : GUBERNUR MALUKU UTARA GAMBARAN UMUM PERKEBUNAN MALUKU UTARA Mencermati kondisi geografis Maluku Utara yang merupakan daerah kepulauan dengan berbagai keragaman potensi perkebunan pada setiap daerah,

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN NOPEMBER 2012

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN NOPEMBER 2012 No. 67 /12/63/Th.XV, 3 Desember 2012 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN NOPEMBER 2012 A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI NILAI TUKAR PETANI ( NTP) BULAN NOPEMBER 2012 NAIK 0,19

Lebih terperinci

MACAM-MACAM LETAK GEOGRAFI.

MACAM-MACAM LETAK GEOGRAFI. MACAM-MACAM LETAK GEOGRAFI. Macam-macam Letak Geografi Untuk mengetahui dengan baik keadaan geografis suatu tempat atau daerah, terlebih dahulu perlu kita ketahui letak tempat atau daerah tersebut di permukaan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 1. Letak Geografis dan Astronomis Indonesia Serta Pengaruhnya

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 1. Letak Geografis dan Astronomis Indonesia Serta Pengaruhnya BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum 1. Letak Geografis dan Astronomis Indonesia Serta Pengaruhnya Letak geografi Indonesia dan letak astronomis Indonesia adalah posisi negara Indonesia

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN JANUARI 2015

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN JANUARI 2015 No. 9/02/63/Th.XIX, 2 Februari 2015 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN JANUARI 2015 A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI NILAI TUKAR PETANI (NTP) BULAN JANUARI 2015 NAIK 1,32

Lebih terperinci

BIDANG ANALISIS VARIABILITAS IKLIM

BIDANG ANALISIS VARIABILITAS IKLIM 1 BMKG ANALISIS DINAMIKA ATMOSFER LAUT. ANALISIS & PREDIKSI CURAH HUJAN UPDATED DASARIAN I DESEMBER 2017 BIDANG ANALISIS VARIABILITAS IKLIM OUTLINE Analisis dan Prediksi Angin, Monsun, Analisis OLR Analisis

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2003 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN HALMAHERA UTARA, KABUPATEN HALMAHERA SELATAN, KABUPATEN KEPULAUAN SULA, KABUPATEN HALMAHERA TIMUR, DAN KOTA TIDORE KEPULAUAN

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Peternakan Sapi Potong di Indonesia

TINJAUAN PUSTAKA Peternakan Sapi Potong di Indonesia TINJAUAN PUSTAKA Peternakan Sapi Potong di Indonesia Sapi lokal memiliki potensi sebagai penghasil daging dalam negeri. Sapi lokal memiliki kelebihan, yaitu daya adaptasi terhadap lingkungan tinggi, mampu

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Sapi asli Indonesia secara genetik dan fenotipik umumnya merupakan: (1) turunan dari Banteng (Bos javanicus) yang telah didomestikasi dan dapat pula (2) berasal dari hasil

Lebih terperinci

IV. KEADAAN UMUM KABUPATEN SLEMAN. Berdasarkan kondisi geografisnya wilayah Kabupaten Sleman terbentang

IV. KEADAAN UMUM KABUPATEN SLEMAN. Berdasarkan kondisi geografisnya wilayah Kabupaten Sleman terbentang IV. KEADAAN UMUM KABUPATEN SLEMAN A. Letak Geografis Kabupaten Sleman Berdasarkan kondisi geografisnya wilayah Kabupaten Sleman terbentang mulai 110⁰ 13' 00" sampai dengan 110⁰ 33' 00" Bujur Timur, dan

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN MEI 2015

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN MEI 2015 No. 35/06/63/Th.XIX, 1 Juni PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN MEI A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI NILAI TUKAR PETANI (NTP) BULAN MEI TURUN 0,36 PERSEN Pada Mei NTP Kalimantan

Lebih terperinci

BIDANG ANALISIS VARIABILITAS IKLIM

BIDANG ANALISIS VARIABILITAS IKLIM 1 ANALISIS DINAMIKA ATMOSFER LAUT. ANALISIS & PREDIKSI CURAH HUJAN UPDATED DASARIAN III NOVEMBER 2017 BIDANG ANALISIS VARIABILITAS IKLIM OUTLINE Analisis dan Prediksi Angin, Monsun, Analisis OLR Analisis

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. species dari Anas plitirinchos yang telah mengalami penjinakan atau domestikasi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. species dari Anas plitirinchos yang telah mengalami penjinakan atau domestikasi 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Itik Magelang Bangsa itik jinak yang ada sekarang berasal dari itik liar yang merupakan species dari Anas plitirinchos yang telah mengalami penjinakan atau domestikasi (Susilorini

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM. Wilayah Sulawesi Tenggara

GAMBARAN UMUM. Wilayah Sulawesi Tenggara GAMBARAN UMUM Wilayah Sulawesi Tenggara Letak dan Administrasi Wilayah Sulawesi Tenggara terdiri atas Jazirah dan kepulauan terletak antara 3 o - 6 o Lintang selatan dan 12 45' bujur timur, dengan total

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN AGUSTUS 2014

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN AGUSTUS 2014 No. 53/09/63/Th.XVIII, 1 September PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN AGUSTUS A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI NILAI TUKAR PETANI (NTP) BULAN AGUSTUS TURUN 0,29 PERSEN Pada

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN AGUSTUS 2012

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN AGUSTUS 2012 No. 50 /09/63/Th.XV, 3 September 2012 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN AGUSTUS 2012 A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI NILAI TUKAR PETANI ( NTP) BULAN AGUSTUS 2012 TURUN 0,35

Lebih terperinci

VI. ARAH PENGEMBANGAN PERTANIAN BEDASARKAN KESESUAIAN LAHAN

VI. ARAH PENGEMBANGAN PERTANIAN BEDASARKAN KESESUAIAN LAHAN VI. ARAH PENGEMBANGAN PERTANIAN BEDASARKAN KESESUAIAN LAHAN Pada bab V telah dibahas potensi dan kesesuaian lahan untuk seluruh komoditas pertanian berdasarkan pewilayahan komoditas secara nasional (Puslitbangtanak,

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN FEBRUARI 2013

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN FEBRUARI 2013 No. 15/02/63/Th.XVII, 1 Maret 2013 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN FEBRUARI 2013 A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI NILAI TUKAR PETANI ( NTP) BULAN FEBRUARI 2013 NAIK 0,35

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN AGUSTUS 2011

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN AGUSTUS 2011 No. 46 /09/63/Th.XV, 5 September 2011 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN AGUSTUS 2011 A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI NILAI TUKAR PETANI ( NTP) AGUSTUS 2011 SEBESAR 108,22

Lebih terperinci

4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BLITAR

4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BLITAR 4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BLITAR 4.1 Kondisi Fisik Wilayah Beberapa gambaran umum dari kondisi fisik Kabupaten Blitar yang merupakan wilayah studi adalah kondisi geografis, kondisi topografi, dan iklim.

Lebih terperinci

PENGANTAR. Latar Belakang. khususnya masyarakat pedesaan. Kambing mampu berkembang dan bertahan

PENGANTAR. Latar Belakang. khususnya masyarakat pedesaan. Kambing mampu berkembang dan bertahan PENGANTAR Latar Belakang Kambing mempunyai peran yang sangat strategis bagi masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat pedesaan. Kambing mampu berkembang dan bertahan hidup dan merupakan bagian penting

Lebih terperinci

VIII. PRODUKTIVITAS TERNAK BABI DI INDONESIA

VIII. PRODUKTIVITAS TERNAK BABI DI INDONESIA Tatap muka ke : 10 POKOK BAHASAN VIII VIII. PRODUKTIVITAS TERNAK BABI DI INDONESIA Tujuan Instruksional Umum : Mengetahui peranan ternak babi dalam usaha penyediaan daging. Mengetahui sifat-sifat karakteristik

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN MEI 2012

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN MEI 2012 No. 32 /06/63/Th.XV, 1 Juni 2012 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN MEI 2012 A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI NILAI TUKAR PETANI ( NTP) BULAN MEI 2012 SEBESAR 108,29 ATAU

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN JANUARI 2016

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN JANUARI 2016 No. 08/02/63/Th.XX, 1 Februari 2016 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN JANUARI 2016 A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI NILAI TUKAR PETANI (NTP) BULAN JANUARI 2016 NAIK 0,01

Lebih terperinci

penampungan [ilustrasi :1], penilaian, pengenceran, penyimpanan atau pengawetan (pendinginan dan pembekuan) dan pengangkutan semen, inseminasi, pencat

penampungan [ilustrasi :1], penilaian, pengenceran, penyimpanan atau pengawetan (pendinginan dan pembekuan) dan pengangkutan semen, inseminasi, pencat Problem utama pada sub sektor peternakan saat ini adalah ketidakmampuan secara optimal menyediakan produk-produk peternakan, seperti daging, telur, dan susu untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat akan

Lebih terperinci

ANALISIS PENAWARAN DAN PERMINTAAN JAGUNG UNTUK PAKAN DI INDONESIA

ANALISIS PENAWARAN DAN PERMINTAAN JAGUNG UNTUK PAKAN DI INDONESIA ANALISIS PENAWARAN DAN PERMINTAAN JAGUNG UNTUK PAKAN DI INDONESIA I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jagung merupakan salah satu komoditas utama tanaman pangan sebagai sumber karbohidrat kedua setelah beras

Lebih terperinci

POTENSI DAN PELUANG PENGEMBANGAN TERNAK SAPI DI LAHAN PERKEBUNAN SUMATERA SELATAN

POTENSI DAN PELUANG PENGEMBANGAN TERNAK SAPI DI LAHAN PERKEBUNAN SUMATERA SELATAN Lokakarya Pengembangan Sistem Integrasi Kelapa SawitSapi POTENSI DAN PELUANG PENGEMBANGAN TERNAK SAPI DI LAHAN PERKEBUNAN SUMATERA SELATAN ABDULLAH BAMUALIM dan SUBOWO G. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN JUNI 2014

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN JUNI 2014 No. 37/07/63/Th.XVIII, 1 Juli PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN JUNI A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI NILAI TUKAR PETANI (NTP) BULAN JUNI TURUN 0,23 PERSEN Pada Juni NTP

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN APRIL 2015

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN APRIL 2015 No. 27/05/63/Th.XIX, 4 Mei PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN APRIL A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI NILAI TUKAR PETANI (NTP) BULAN APRIL TURUN 1,01 PERSEN Pada April NTP

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM PENELITIAN. batas-batas wilayah sebagai berikut : - Sebelah Utara dengan Sumatera Barat. - Sebelah Barat dengan Samudera Hindia

BAB IV GAMBARAN UMUM PENELITIAN. batas-batas wilayah sebagai berikut : - Sebelah Utara dengan Sumatera Barat. - Sebelah Barat dengan Samudera Hindia BAB IV GAMBARAN UMUM PENELITIAN A. Gambaran Umum Objek Penelitian 1. Kondisi Geografis Daerah Kota Bengkulu merupakan ibukota dari Provinsi Bengkulu dengan batas-batas wilayah sebagai berikut : - Sebelah

Lebih terperinci

Faktor-faktor Pembentuk Iklim Indonesia. Perairan laut Indonesia Topografi Letak astronomis Letak geografis

Faktor-faktor Pembentuk Iklim Indonesia. Perairan laut Indonesia Topografi Letak astronomis Letak geografis IKLIM INDONESIA Pengertian Iklim Iklim adalah keadaan cuaca rata-rata dalam waktu satu tahun dan meliputi wilayah yang luas. Secara garis besar Iklim dapat terbentuk karena adanya: a. Rotasi dan revolusi

Lebih terperinci

ANALISIS DINAMIKA ATMOSFER LAUT. ANALISIS & PREDIKSI CURAH HUJAN UPDATED DASARIAN I APRIL 2017

ANALISIS DINAMIKA ATMOSFER LAUT. ANALISIS & PREDIKSI CURAH HUJAN UPDATED DASARIAN I APRIL 2017 BMKG ANALISIS DINAMIKA ATMOSFER LAUT. ANALISIS & PREDIKSI CURAH HUJAN UPDATED DASARIAN I APRIL 2017 BIDANG ANALISIS VARIABILITAS IKLIM 1 BMKG OUTLINE Analisis dan Prediksi Angin, Monsun, Analisis OLR Analisis

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. pedesaan salah satunya usaha ternak sapi potong. Sebagian besar sapi potong

I PENDAHULUAN. pedesaan salah satunya usaha ternak sapi potong. Sebagian besar sapi potong I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masyarakat pedesaan pada umumnya bermatapencaharian sebagai petani, selain usaha pertaniannya, usaha peternakan pun banyak dikelola oleh masyarakat pedesaan salah satunya

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Plasma nutfah ternak mempunyai peranan penting dalam memenuhi kebutuhan pangan dan kesejahteraan bagi masyarakat dan lingkungannya. Sebagai negara tropis Indonesia memiliki

Lebih terperinci

DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN

DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN Jakarta, 26 Januari 2017 Penyediaan pasokan air melalui irigasi dan waduk, pembangunan embung atau kantong air. Target 2017, sebesar 30 ribu embung Fokus

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. merupakan kambing tipe dwiguna yaitu sebagai penghasil daging dan susu (tipe

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. merupakan kambing tipe dwiguna yaitu sebagai penghasil daging dan susu (tipe 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kambing Peranakan Etawah (PE) Kambing Peranakan Etawah (PE) merupakan hasil persilangan antara kambing Etawah (asal India) dengan lokal, yang penampilannya mirip Etawah tetapi

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH No. 05/01/51/Th. IX, 2 Januari 2015 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH A. DESEMBER 2014, NTP BALI TURUN SEBESAR 2,04 PERSEN Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Bali pada bulan Desember

Lebih terperinci

II KAJIAN KEPUSTAKAAN. karena karakteristiknya, seperti tingkat pertumbuhan cepat dan kualitas daging cukup

II KAJIAN KEPUSTAKAAN. karena karakteristiknya, seperti tingkat pertumbuhan cepat dan kualitas daging cukup II KAJIAN KEPUSTAKAAN 2.1 Sapi Potong Sapi potong adalah jenis sapi yang khusus dipelihara untuk digemukkan karena karakteristiknya, seperti tingkat pertumbuhan cepat dan kualitas daging cukup baik. Sapi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN UMUM

BAB II TINJAUAN UMUM BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Lokasi dan Kesampaian Daerah Lokasi CV. Jayabaya Batu Persada secara administratif terletak pada koordinat 106 O 0 51,73 BT dan -6 O 45 57,74 LS di Desa Sukatani Malingping Utara

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM. Kabupaten Lampung Tengah adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Lampung.

IV. GAMBARAN UMUM. Kabupaten Lampung Tengah adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Lampung. IV. GAMBARAN UMUM A. Kondisi Umum Kabupaten Lampung Tengah Kabupaten Lampung Tengah adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Lampung. Luas wilayah Kabupaten Lampung Tengah sebesar 13,57 % dari Total Luas

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN AGUSTUS 2015

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN AGUSTUS 2015 No. 53/09/63/Th.XIX, 1 September PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH BULAN AGUSTUS A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI NILAI TUKAR PETANI (NTP) BULAN AGUSTUS TURUN 0,03 PERSEN Pada

Lebih terperinci

BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Kondisi Fisik Lokasi Penelitian 4.1.1 Letak dan Luas Secara geografis Kabupaten Cianjur terletak antara 6 0 21-7 0 25 Lintang Selatan dan 106 0 42-107 0 33 Bujur

Lebih terperinci

DEPARTEMEN PETERNAKAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

DEPARTEMEN PETERNAKAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN DEPARTEMEN PETERNAKAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2006 VI. BANGSA-BANGSA KAMBING PERAH Di beberapa negara termasuk negara-negara tropis walaupun banyak jenis kambing, tetapi masih

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Asal Usul dan Klasifikasi Domba Bangsa Domba di Indonesia

TINJAUAN PUSTAKA Asal Usul dan Klasifikasi Domba Bangsa Domba di Indonesia TINJAUAN PUSTAKA Asal Usul dan Klasifikasi Domba Domestikasi domba diperkirakan terjadi di daerah pegunungan Asia Barat sekitar 9.000 11.000 tahun lalu. Sebanyak tujuh jenis domba liar yang dikenal terbagi

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. menurut Pane (1991) meliputi bobot badan kg, panjang badan

TINJAUAN PUSTAKA. menurut Pane (1991) meliputi bobot badan kg, panjang badan II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sapi Bali Sapi bali adalah sapi lokal Indonesia keturunan banteng yang telah didomestikasi. Sapi bali banyak berkembang di Indonesia khususnya di pulau bali dan kemudian menyebar

Lebih terperinci

III. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

III. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN III. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 3.1. Letak Geografis dan Administrasi Pemerintahan Propinsi Kalimantan Selatan memiliki luas 37.530,52 km 2 atau hampir 7 % dari luas seluruh pulau Kalimantan. Wilayah

Lebih terperinci

PEMBAHASAN UMUM. Keadaan Umum Lokasi Penelitian

PEMBAHASAN UMUM. Keadaan Umum Lokasi Penelitian 79 PEMBAHASAN UMUM Keadaan Umum Lokasi Penelitian Kuda di Sulawesi Utara telah dikenal sejak lama dimana pemanfatan ternak ini hampir dapat dijumpai di seluruh daerah sebagai ternak tunggangan, menarik

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara berkembang yang memiliki sumber daya alam

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara berkembang yang memiliki sumber daya alam I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara berkembang yang memiliki sumber daya alam yang berlimpah. Sumber daya alam tersebut merupakan faktor utama untuk tumbuh kembangnya sektor pertanian

Lebih terperinci

AGROVETERINER Vol.5, No.2 Juni 2017

AGROVETERINER Vol.5, No.2 Juni 2017 109 DINAMIKA POPULASI TERNAK KERBAU DI LEMBAH NAPU POSO BERDASARKAN PENAMPILAN REPRODUKSI, OUTPUT DANNATURAL INCREASE Marsudi 1), Sulmiyati 1), Taufik Dunialam Khaliq 1), Deka Uli Fahrodi 1), Nur Saidah

Lebih terperinci

STABILISASI HARGA PANGAN

STABILISASI HARGA PANGAN STABILISASI HARGA PANGAN Oleh : Dr.Ir. Nuhfil Hanani AR DEWAN KETAHANAN PANGAN TAHUN 2008 PERANAN KOMODITAS PANGAN PRODUSEN KESEMPATAN KERJA DAN PENDAPATAN KONSUMEN RUMAH TANGGA AKSES UNTUK GIZI KONSUMEN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dimanfaatkan untuk membajak sawah oleh petani ataupun digunakan sebagai

BAB I PENDAHULUAN. dimanfaatkan untuk membajak sawah oleh petani ataupun digunakan sebagai BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang. Sapi adalah salah satu hewan yang sejak jaman dulu produknya sudah dimanfaatkan oleh manusia seperti daging dan susu untuk dikonsumsi, dimanfaatkan untuk membajak

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Tapir asia dapat ditemukan dalam habitat alaminya di bagian selatan Burma, Peninsula Melayu, Asia Tenggara dan Sumatra. Berdasarkan Tapir International Studbook, saat ini keberadaan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Kabupaten Bone Bolango merupakan salah satu kabupaten diantara 5

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Kabupaten Bone Bolango merupakan salah satu kabupaten diantara 5 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Keadaan Umum Lokasi Penelitian Kabupaten Bone Bolango merupakan salah satu kabupaten diantara 5 Kabupaten yang terdapat di provinsi Gorontalo dan secara geografis memiliki

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Sapi Lokal Kalimantan Tengah

TINJAUAN PUSTAKA Sapi Lokal Kalimantan Tengah TINJAUAN PUSTAKA Sapi Lokal Kalimantan Tengah Berdasarkan aspek pewilayahan Kalimantan Tengah mempunyai potensi besar untuk pengembangan peternakan dilihat dari luas lahan 153.564 km 2 yang terdiri atas

Lebih terperinci

Info Singkat Kemiskinan dan Penanggulangan Kemiskinan

Info Singkat Kemiskinan dan Penanggulangan Kemiskinan Info Singkat Kemiskinan dan Penanggulangan Kemiskinan http://simpadu-pk.bappenas.go.id 137448.622 1419265.7 148849.838 1548271.878 1614198.418 1784.239 1789143.87 18967.83 199946.591 294358.9 2222986.856

Lebih terperinci

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TENGAH (Indikator Makro)

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TENGAH (Indikator Makro) POTRET PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TENGAH (Indikator Makro) Pusat Data dan Statistik Pendidikan - Kebudayaan Setjen, Kemendikbud Jakarta, 2015 DAFTAR ISI A. Dua Konsep Pembahasan B. Potret IPM 2013 1. Nasional

Lebih terperinci

Gambar 9. Peta Batas Administrasi

Gambar 9. Peta Batas Administrasi IV. KONDISI UMUM WILAYAH 4.1 Letak Geografis Wilayah Kabupaten Garut terletak di Provinsi Jawa Barat bagian Selatan pada koordinat 6 56'49'' - 7 45'00'' Lintang Selatan dan 107 25'8'' - 108 7'30'' Bujur

Lebih terperinci

ROAD MAP PENCAPAIAN SWASEMBADA DAGING SAPI KERBAU Kegiatan Pokok

ROAD MAP PENCAPAIAN SWASEMBADA DAGING SAPI KERBAU Kegiatan Pokok 33 Propinsi ROAD MAP PENCAPAIAN SWASEMBADA DAGING SAPI KERBAU 2014 5 Kegiatan Pokok Target Pencapaian Swasembada Daging Sapi Kerbau Tahun 2014 20 Propinsi Prioritas Kelompok I Daerah prioritas IB yaitu

Lebih terperinci