PUSAT PELAYANAN TERPADU PEREMPUAN & ANAK

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PUSAT PELAYANAN TERPADU PEREMPUAN & ANAK"

Transkripsi

1 PUSAT PELAYANAN TERPADU PEREMPUAN & ANAK ARSITEKTUR PERILAKU LAPORAN PERANCANGAN TGA-490 STUDIO TUGAS AKHIR SEMESTER A TAHUN 2008/2009 Sebagai Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Arsitektur Oleh ADAM MIRAZA DEPARTEMEN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2009

2 PUSAT PELAYANAN TERPADU PEREMPUAN & ANAK ARSITEKTUR PERILAKU Oleh ADAM MIRAZA Medan, Maret 2009 Disetujui Oleh : Pembimbing I Pembimbing II Ir.Nurlisa Ginting,MSC R.Lisa Suryani, ST Ketua Departemen Arsitektur Universitas Sumatera Utara Ir. DWI LINDARTO H, MT (NIP: )

3 SURAT HASIL PENILAIAN PROYEK AKHIR (SHP2A) Nama : Adam Miraza NIM : Judul Proyek Akhir : Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak Tema Proyek Akhir : Arsitektur Perilaku Rekapitulasi Nilai Nilai (Huruf) A B+ B C+ C D E Dengan ini mahasiswa bersangkutan dinyatakan : No Status Waktu Pengumpulan Laporan Paraf Pembimbing I 1. LULUS LANGSUNG 2. LULUS MELENGKAPI 3. PERBAIKAN TANPA SIDANG 4. PERBAIKAN DENGAN SIDANG 5. TIDAK LULUS Paraf Pembimbing II Koordinator TGA Medan, Maret 2009 Ketua Departemen Arsitektur, Koordinator TGA Ir. DWI LINDARTO H, MT Ir. DWI LINDARTO H, MT (NIP: ) (NIP: )

4 KATA PENGANTAR Alhamdulillah, puji syukur saya haturkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan ridho- Nya dan cinta-nya yang berlimpah sehingga saya dapat menyelesaikan seluruh proses penyusunan Laporan Tugas Akhir ini, sebagai syarat yang diwajibkan setiap mahasiswa untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik. Salawat dan salam kepada Nabi Besar Muhammad SAW. Bisa menyelesaikan Tugas Akhir ini merupakan sebuah mimpi yang saya sendiri belum percaya kalau ini memang terjadi. Proses panjang dan penuh suka dan duka dalam mengerjakan tugas akhir ini tidak bisa dilalui tanpa dukungan do a dan semangat dari orang tua dan keluarga saya. Tugas akhir ini saya perjuangkan untuk Ibu saya dan Bapak saya, karena kalian saya ada. Serta untuk Almarhum Abang saya. Saya juga mengucapkan terima kasih yang terdalam kepada : Ibu Ir.Nurlisa Ginting,MSc. sebagai Dosen Pembimbing I yang telah memberikan saran dan masukan yang sangat berarti pada Tugas Akhir saya dan membuka pikiran saya. Terima kasih juga atas kesediaannya membimbing saya dengan sabar, memberi dorongan serta nasehat yang selalu memacu saya, dan juga untuk kerendah hatian ibu sehingga saya bisa melalui semua ini. Ibu R.Lisa Suryani, ST sebagai Dosen Pembimbing II yang juga telah memberikan saran dan masukan yang sangat berguna terhadap Tugas Akhir saya. Dan tentunya terima kasih atas kebesaran hati yang ibu berikan didalam membimbing saya sehingga saya bisa menyelesaikan semua ini. Hanya Allah SWT yang bisa membalas kebaikan hati ibu. Kedua orang tua saya, atas kasih sayang dan cinta yang tulus. Dan juga karena telah teramat sabar menghadapi tingkah laku saya sebagai seorang anak, tetapi mereka tidak pernah putus harapan kepada saya. Alhamdulillah. Bapak Ir. Dwi Lindarto H, MT selaku koordinator Tugas Akhir sekaligus sebagai Ketua Departeman Arsitektur USU, yang dengan sabar mengkoordinir para peserta Tugas Akhir semester ini. Untuk para dosen penguji saya : Bapak Yulesta Putra, Ibu Sri Gunana, dan Ibu Dwira Aulia atas nasehat dan masukannya. Untuk Ostovia 04, rekan se-tim saya, terima kasih banyak sudah menjadi rekan yang luar biasa. Terima kasih atas spirit dan motivasi yang selalu diberikan kepada saya agar saya terus berjalan. Untuk Susel 05, Jaka 05, Robi 04, atas 3D dan animasinya. Berkat kerja keras mereka, rancangan saya menjadi lebih terkomunikasi. Terima kasih banyak. Terima kasih juga buat Surya 05 atas kesediaannya membuat maket bangunan saya. Teristimewa buat sahabat-sahabat saya yang sudah mendukung dan membantu saya dalam proses ini : Billy, Husna, Salman Alfarisi, Denny Li, Ika Handayani, Ahmad

5 Hanafi, dan Vicka Widia Yulianti. Hanya Tuhan yang bisa membalas kebaikan kalian semua. Terima kasih saya dengan mendalam. Untuk semua sahabat-sahabat saya yang tidak mungkin saya sebutkan satu per satu, terima kasih atas segala do a dan dukungannya. Kalian semua sangat berharga bagi saya. Semoga persahabatan kita semua bisa langgeng hingga hari tua. Amin. Semua Penghuni TA Angkatan 26. Saya menyadari bahwa laporan ini belumlah sempurna; karena kesempurnaan hanyalah milik Allah; oleh karena itu saya menerima dengan tangan terbuka saran dan kritik yang bersifat membangun untuk kebaikan di kemudian hari. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semuanya. Medan, Maret 2009 Adam Miraza

6 DAFTAR ISI LEMBARAN PENGESAHAN LEMBAR PENGESAHAN... i SURAT HASIL PENILAIAN PROYEK AKHIR ( SHP2A )... ii UCAPAN TERIMA KASIH... iii DAFTAR ISI... v DAFTAR GAMBAR... viii DAFTAR TABEL... ix Bab I. Pendahuluan I.1. Latar Belakang... 1 I.2. Maksud dan Tujuan Proyek... 4 I.3. Masalah Perancangan... 5 I.4. Pendekatan... 6 I.5. Lingkup /Batasan... 6 I.6. Kerangka Berpikir... 7 I.7. Sistematika Laporan... 8 Bab II. Deskripsi Proyek II.1. Data Umum... 9 II.2. Lokasi Umum... 9 II.2.1.Kriteria Pemilihan Lokasi9... II.2.2. Alternatif Lokasi Tapak II.2.3. Pemilihan Lokasi Tapak II Peratura n II.3.1. Garis Sempadan Bangunan II.3.2. Koefisien Dasar Bangunan II.3.3. Koefisien Lantai Bangunan II Tinjauan Umum II.4.1. Arti Kata... 16

7 II.4.2. Tinjauan Fungsi II.4.3. Sistem Administrasi II.4.4. Mitra Kerja II.4.5. Mekanisme Penanganan II Studi Banding Sejenis II Tinjauan Kegiatan II.6.1. Deskripsi Pelaku dan Kegiatan Bab III. Elaborasi Tema III.1. Pengertian Arsitektur Perilaku III.2. Kajian Tema Arsitektur Perilaku III.2.1. Perilaku Sebagai Sebuah Pendekatan III.2.2. Psikologi Sosial Manusia III.2.3. Konsep Dalam Kajian Arsitektur Perilaku III.2.4. Psikologi Lingkungan III.3. Arsitektur Untuk Manusia III.4. Kaitan Tema Dengan Proyek III.5. Studi Banding III.5.1. Toyama Children Center III.5.2. Fawood Children Center Bab IV. Analisa IV.1. Analisa Fisik IV.1.1. Batas Site IV.1.2. Potensi Lingkungan Sekitar IV.1.3. Tata Guna Lahan IV.1.4. Analisa Topografi IV.1.5. Analisa Matahari IV.1.6. Analisa Sirkulasi Kendaraan IV.1.7. Analisa Sirkulasi Manusia IV.1.8. Analisa Potensi Entrance IV.1.9. Analisa View ke Tapak IV.1.10.Analisa View dari Tapak IV.2. Analisa Non Fisik IV.2.1. Pemakai dan Aktivitas IV.2.2. Kebutuhan Ruang IV.2.3. Program Ruang... 62

8 IV.2.4. Analisa Bentuk Bab V. Konsep Perancangan V.1. Konsep Perancangan Tapak V.1.1 Zoning V.3.2 Sirkulasi Bangunan V.3.3 Gubahan Massa V.3.4 Konsep Bangunan Bab VI. Hasil Perancangan VI.1. Site Plan VI.2. Ground Plan VI.3. Denah VI.4. Tampak Bangunan VI.5. Potongan Bangunan VI.6. Rencana Pondasi VI.7. Rencana Pembalokan lt VI.8. Rencana Mekanikal Elektrikal VI.9. Rencana Plumbing DAFTAR PUSTAKA... x

9 DAFTAR GAMBAR HALAMAN Gambar 1 Peta Wilayah Pengembangan Kota Medan Gambar 2 Lokasi Alternatif Gambar 3 Lokasi Alternatif Gambar 4 Lokasi Alternatif Gambar 5 Lokasi Toyama Center Gambar 6 Gambar Pedestrian Toyama Center Gambar 7 Fawood Children Center Gambar8 Ground dan Sitel Plan Toyama Center Gambar 9 First Floor dan Potongan Toyama Center Gambar 10 Batas Site Gambar11 Fasilitas di sekitar Site Gambar 12 Tata Guna Lahan Gambar 13 Kondisi Topografi Gambar 14 Analisa Matahari Gambar 15 Analisa Sirkulasi Gambar 16 Sirkulasi Manusia Gambar 17 Analisa Potensi Entrance Gambar 18 View ke Tapak Gambar 19 View dari Tapak Gambar 21 Zoning dan Tata Ruang Luar Gambar 20 Pencapaian dan Sirkulasi... 71

10 DAFTAR TABEL HALAMAN Tabel 1 Potensi Pengembangan Kota Medan... 9 Tabel 2 Penilaian Pemilihan Lokasi Tapak Tabel 3 Kebutuhan Ruang Tabel 4 Program Ruang Tabel 5 Pola Massa Bangunan Tabel 6 Bentuk Dasar Bangunan Tabel 7 Struktur Bangunan Tabel 8 Bentuk Atap Tabel 9 Material Bangunan Tabel 10 Sistem Air Bersih Down Feed Tabel 11 Sistem Air Bersih Up Feed Tabel 12 Sistem Distrbusi Tabel 13 Sistem Instalasi Listrik Tabel 14 Sistem Pencahayaan... 69

11 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1.LATAR BELAKANG Perdagangan manusia, kebanyakan adalah perempuan dan anak, adalah sebuah masalah serius yang harus diperhatikan oleh pemerintah Indonesia. Walaupun belum ada data yang lengkap dan resmi tentang seberapa besar masalah ini, diprediksi sekitar sampai anak-anak dan perempuan yang diperdagangkan di Indonesia, dimana kebanyakan korban dijual sebagai pekerja seks komersial ( PSK ), pembantu rumah tangga, pencuri, penyalur obat-obat terlarang, dan ekspoloitasi pekerjaan lainnya seperti perkebunan dan restoran. Masalah perdagangan ke luar negeri juga menjadi perhatian serius sejak terdapat 1400 kasus tentang perdagangan wanita yang bisa terlacak dan terjadi di tahun 2000, berdasarkan catatan polisi (Kompas, September 2001) Kenaikan jumlah keluarga yang miskin dan anak-anak yang putus sekolah pada semua tingkat pendidikan, berkurangnya kesempatan kerja dan konflik sosial yang disebabkan oleh krisis ekonomi, yang akhirnya menyebabkan terjadinya perdagangan perempuan dan anak. Hal ini semakin diperparah oleh fakta bahwa institusi keluarga dan solidaritas sosial yang melemah dalam menyalurkan bantuan ekonomi, sosial, dan psikologis dan juga kendali pada anggota keluarganya. Perdagangan perempuan dan anak adalah salah satu bentuk perlakuan terburuk dan merupakan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak. Dari sudut pandang Hak Asasi hal ini termasuk kekerasan dan tindak kriminal terhadap manusia. Perdagangan perempuan juga berpengaruh kepada perkembangan sumber daya manusia akibat pengalaman sosial dan psikologis yang dialami korban yang membuat mereka tidak bisa berfungsi secara sosial., dan tidak bisa memberikan kontribusi untuk proses perkembangan dan melanjutkan proses regenerasi secara berkualitas. Perdagangan manusia telah terjadi sejak abad ke 4 di Timur Tengah dan terus berkembang pada abad ke 18 di Amerika Serikat yang disebabkan oleh ras dan warna kulit. Sekarang perdagangan sudah beralih ke golongan yang terlemah, yaitu perempuan dan anak-anak. Ini adalah salah satu bentuk perlakuan terburuk dan kekerasan yang dialami oleh perempuan dan anak dan merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia. Kasus seperti ini terjadi di banyak negara, kebanyakan negara berkembang, dan telah menjadi perhatian organisasi-organisasi internasional seperti PBB. Indonesia sebagai negara yang independen di dunia internasional selalu mengikuti perkembangan masalah dunia yang terjadi melalui proses globalisasi pada bidang politik, ekonomi, sosial, hokum, kebudayaan dan bidang lainnya dengan

12 memprioritaskan tujuan nasional itu sendiri. Pancasila sebagai filosofi negara dan berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara (UUD 45), sebagai sebuag amandemen pada tahun 1999, telah menjelaskan bahwa setiap warga negara mempunyai hak-hak mereka, dan diberikan perlindungan hukum. Ketetapan negara mengenai hal ini dicantumkan di dalam TAP MPR IV, 1999, pada GBHN yang merupakan pedoman pembangunan nasional. Lebih jauh lagi, ketetapan ini kembali diperjelas di dalam TAP MPR X, 2001, yang memberikan rekomendasi untuk Presiden untuk mengatasi masalah perdagangan perempuan dan anak melalui hokum nasional, dan ratifikasi pada pertemuan internasional, dan tugas-tugas pembangunan, yang kemudian rekomendasi ini lebih diperjelas pada TAP MPR VI, Berdasarkan laporan polisi, sejak 1999 hingga 2001 terdapat kasus tentang perdagangan perempuan dan anan-anak dan dari mereka telah diadili di persidangan. Kasus ini banyak terjadi di 16 kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung, Padang, Pontianak, Bali, Makassar dan Manado Laporan dari Malaysia lebih dari pekerja seks berasal dari Indonesia sebagai hasil dari perdagangan perempuan dan anak-anak. Lebih dari 5 juta Tenaga Kerja dari Indonesia dan 20% dari mereka berasal dari perdaganga ( penelitian UNIBRAW pada tahun 2002 ). Pada wilayah perbatasan Malaysia dan Singapura menunjukkan bahwa orang telah diperdagangkan ke Malaysia sebagai pekerja seks, dan dari mereka merupakan orang Indonesia (Kompas May, 10, 2001). UNICEF melaporkan pada tahun 1998 sekitar 30% dari pekerja seks merupakan anak-anak dibawah umur 18 tahun (± anak-anak). Sedangkan menurut Biro Statistik, terdapat 1.6 juta anak-anak yang menjadi buruh pada tahun 1998, dengan resiko menjadi korban perdagangan manusia. Beberapa NGO telah melaporkan perdagangan manusia dilakukan oleh beberapa sindikat untuk dijadikan pekerja seksual termasuk paedofilia yang terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya dan Medan, belum lagi termasuk sex melalui telepon dan internet. Persoalan kekerasan dan trafiking terkait dengan berbagai unsur kehidupan secara kompleks yang merupakan permasalahan penting dan serius, bahkan belakangan semakin banyak masyarakat yang berani melaporkan kasusnya kepada aparat penegak hukum. Oleh karena itu permasalahan ini harus ditangani secara komprehensif, terintegrasi dengan melibatkan seluruh komponen bangsa. Kondisi dan posisi perempuan di Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan laki-laki dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam bidang pendidikan, semakin tinggi tingkat pendidikan semakin berkurang peserta didik perempuan. Rasio kelulusan perempuan terhadap laki- laki di sekolah lanjutan tingkat atas 92,8% pada tahun Rata-rata lama sekolah untuk perempuan 6,5 tahun, sedangkan laki-laki 7,6 tahun. Rasio buta huruf pada tahun 1999 adalah 5,3% pada perempuan, 2,7% pada

13 laki-laki. Perempuan juga merupakan jumlah terbesar dari penduduk usia 24 tahun ke atas yang belum pernah sekolah dibandingkan dengan laki-laki yaitu 17,395 berbanding 7,68%. Peringkat GDI (Gender Development Index) pada tahun 2004 adalah 91 dari 144 negara sedangkan GEM (Gender Empowerment Measure) adalah 33 dari 71 negara. Di bidang kesehatan gizi perempuan masih menjadi masalah utama, angka kematian ibu (AKI) pada tahun 1997, 373 per seratus ribu kelahiran hidup. Pada tahun 2000 menurun menjadi 307 per kelahiran hidup. Angka ini masih jauh dari target dunia yaitu 125 per 100 ribu kelahiran. Tingkat partisipasi angkatan kerja laki-laki jauh lebih tinggi daripada perempuan. Menurut sensus tahun 2000 angka pengangguran perempuan 12% sedangkan laki- laki 7,6%. Upah perempuan hanya 70% dari laki-laki. Melihat hal yang memprihatinkan ini, Pemerintah pusat telah meratifikasi beberapa konvensi PBB dan menetapkan beberapa kebijakan untuk menunjukkan komitmennya dalam melindungi hak perempuan. Diantaranya : 1. UU No. 7 Tahun 1984 tentang Ratifikasi Kovensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW) 2. UU No. 36 Tahun 1990 tentang Ratifikasi Konvensi Hak Anak 3. UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia 4. UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia 5. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 88 Tahun 2002 tentang Rencana Aksi Nasional Penghapusan Perdagangan (Trafiking) Perempuan dan Anak 6. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2002 tentang Rencana Aksi Nasional Penghapusan Eksploitasi Seksual Komersial Anak 7. Surat Keputusan Bersama (SKB) antara Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Menteri Kesehatan, Menteri Sosial dan Kepala Kepolisian Negara RI, mengenai Pelayanan Terpadu Korban Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak 8. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 132 tahun 2003 tentang Pedoman Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan di Daerah 9. UU No. 23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Hak Anak 10. UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga Beberapa kesepakatan internasional dapat menjadi acuan bagi pemerintah untuk lebih menghormati hak- hak perempuan, diantaranya :

14 Konvensi Hak-Hak Politik Perempuan (Teheran) : menegaskan bahwa hak-hak politik perempuan merupakan hak asasi manusia Kebijakan kependudukan (Bukares) : menetapkan peran sentral perempuan dalam kebijakan kependudukan Rencana aksi dunia bagi pemajuan perempuan dengan tema Kesetaraan, Pembangunan, dan Perdamaian (Konferensi Dunia I tentang Perempuan, Mexico). Tahun ini ditetapkan sebagai Tahun Perempuan Internasional Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women) atau CEDAW Konvensi Hak-hak Anak (Convention on the Rights of the Child) Program aksi dunia bagian kedua ( ) dasawarsa perempuan PBB ( ) dengan seruan untuk memberi penekanan khusus pada subtema Ketenagakerjaan, Kesehatan, dan Pendidikan bagi Perempuan (Konferensi Perempuan Sedunia II, Kopenhagen) Strategi Berpandangan ke Depan bagi Pemajuan Perempuan Menuju Tahun 2000 (Konferensi Perempuan Sedunia III, Nairobi) : terdiri dari 372 pasal yang memberi perhatian pada peran serta perempuan dalam masyarakat dan mendesak pemerintah yang belum meratifikasi CEDAW untuk segera meratifikasinya Deklarasi Wina (Konferensi Dunia tentang HAM, Wina) : menyetujui program aksi untuk mendesak pemerintah dan PBB agar menjamin persamaan hak perempuan, serta menekankan pentingnya upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan Deklarasi Beijing (Konferensi Perempuan Sedunia IV, Beijing) : menetapkan rencana aksi di 12 bidang kritis. Penanganan terhadap perempuan dan anak yang menjadi korban berbagai tindak kekerasan dan trafiking di Sumatera Utara telah dilakukan semaksimal mungkin, namun belum mampu memberikan pelayanan optimal karena berbagai keterbatasan yang ada, meskipun telah melakukannya secara berjaringan. Dengan berbagai keterbatasan yang ada berbagai pihak di Sumatera Utara terus berusaha mencegah dan menanggulangi trafiking serta melakukan penanganan korban hingga pemulangan ke keluarga masing-masing. Disamping dukungan dana operasional, dirasakan perlu ( mendesak ) untuk didirikan Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan & Anak ini bagi korban kekerasan dan trafiking.

15 Perlunya bangunan ini ditujukan kepada korban yang memerlukan tempat berlindung yang aman,serta tempat penanganan secara hukum, artinya kasusnya diproses secara hukum dan pelakunya ( trafficker ) dijatuhi hukuman penjara. Juga sebagai tempat dilakukannya penanganan kesehatan mental dan fisik, psikologis serta penataan masa depannya pasca trauma atas peristiwa tersebut. Hal ini berdasarkan atas pendekatan kepentingan terbaik bagi korban ( the best inters of the victim ) merupakan hal yang terpenting. 1.2.MAKSUD DAN TUJUAN Adapun Maksud dan tujuan dari perencanaan bangunan Pusat Pelayanan Terpadu Wanita & Anak ini adalah sebagai berikut : Mewadahi semua aktivitas yang diperlukan selama penanganan korban hingga pemulangan korban ke keluarga, yang meliputi : Memberikan rasa aman bagi korban. Memberikan pelyanan medis bagi korban. Memberikan pelayanan konseling psikologis dan hukum bagi korban. Memberikan ketrampilan kepada korban sebagai tindak lanjut. Memberikan penyuluhan kepada semua warga tentang bahaya kekerasan dan trafiking. Terbentuknya wahana yang merupakan pusat berbagai data dan informasi tentang situasi kondisi Pemberdayaan Perempuan, kesejahteraan dan perlindungan anak. Penyediaan pelayanan terpadu pemberdayaan perempuan dan anak dalam rangka peningkatan kualitas hidup perempuan, dan kesejahteraan serta perlindungan anak. Terjalinnya hubungan kerjasama kemitraan antara sektor pembangunan, lembaga / organisasi kemasyarakatan dengan masyarakat. Meningkatnya kemandirian pusat pelayanan terpadu pemberdayaan perempuan dan anak. Memberikan umpan balik dan masukan kepada pemerintah dan berbagai organisasi atau lembaga masyarakat tentang kebijakan pembangunan 1.3. MASALAH PERANCANGAN Adapun masalah yang akan dihadapi dalam perancangan ini : Fungsi :

16 menghubungkan fungsi yang satu dan lainnya sehingga tercipta keleluasaan dan kenyamanan dan menciptakan bangunan yang dapat berfungsi dengan efisien. Kawasan : Bagaimana memanfaatkan potensi alam dan lingkungan sebagai pencipta suasana aman bagi si korban. Programming : Bagaimana cara membuat program ruang yang sesuai untuk menampung semua kegiatan yang terjadi di dalam bangunan. Sirkulasi : Bagaimana merencanakan sirkulasi manusia yang berada di dalam bangunan sehingga terjadi keseimbangan satu dan lainnya. Bentuk : Bagaimana mendesain bentuk bangunan yang bisa mempresentasikan fungsinya PENDEKATAN PERANCANGAN Pendekatan-pendekatan yang dilakukan pada perancangan untuk mendapatkan pemahaman terhadap karakteristik permasalahan adalah dengan : Studi banding terhadap bangunan yang memiliki fungsi sejenis. Studi banding terhadap bangunan dengan tema sejenis. Studi mengenai hal-hal mengenai pengurusan korban hingga pemulangan korban LINGKUP / BATASAN Lingkup kajian perencanaan bangunan Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak ini yaitu merancang bangunan yang mampu menampung fungsi dimulai dari penanganan korban hingga pemulangan korban kembali kepada keluarganya. Fungsi bangunan ini mencakup fasilitas drop in, shelter dan crisis center.

17 1.6. KERANGKA BERPIKIR LATAR BELAKANG MAKSUD DAN TUJUAN IDENTIFIKASI MASALAH RUMUSAN MASALAH PENGUMPULAN DATA STUDI LITERATUR ANALISA MASALAH POTENSI PROSPEK KONSEP PRA-RANCANGAN DESAIN AKHIR

18 1.7. SISTEMATIKA LAPORAN BAB I PENDAHULUAN Kajian latar belakang, maksud dan tujuan, permasalahan, pendekatan, lingkup, batasan, asumsi-asumsi, dan sistematika laporan. BAB II DESKRIPSI PROYEK Pengertian Islamic Center, lokasi, tinjauan fungsi, dan studi banding terhadapa kasus proyek sejenis. BAB III ELABORASI TEMA Kajian mengenai pengertian, interpretasi, dan keterkaitan tema dengan judul serta studi banding terhadap bangunan-bangunan yang menerapkan tema yang sejenis. BAB IV ANALISA PERANCANGAN Kajian analisis terhadap lokasi tapak perancangan, masalah, potensi, prospek dan kondisi lingkungan, pemakai dan aktivitasnya. Juga berisi tentang dasar-dasar pemrograman fasilitas yang direncanakan, meliputi kebutuhan ruang, besaran dan persyaratan ruang, dan hubungan antar ruang. BAB V KONSEP PERANCANGAN Hasil dari analisa dan sintesa data berupa konsep-konsep perancangan yang sesuai dengan tema yang dipilih. BAB VI PERANCANGAN ARSITEKTUR Hasil akhir rancangan dan tahap pendekatan konsep yang dilakukan sebelumnya. DAFTAR PUSTAKA Daftar pustaka yang digunakan sebagai literatur selama proses perencanaan dan perancangan kasus proyek

19 BAB II DESKRIPSI PROYEK 2.1. DATA UMUM 1. Kasus Proyek : Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan & Anak. 2. Tema : Arsitektur Perilaku 3. Status Proyek : Fiktif 4. Pemilik Proyek : Pemerintah bekerja sama dengan Swasta (asumsi) 5. Sumber Dana : Pemerintah dan Swasta (asumsi) 2.2 LOKASI PROYEK Kriteria Pemilihan Lokasi Kondisi Lingkungan Letak geografis kota Medan berada pada 2 o 27-2 o 47 lintang utara dan 98 o o 44 bujur timur. Berada meter diatas permukaan laut. Topografi site datar (tidak berkontur), iklim tropis dengan suhu minimum antara 23.3 o C-24.4 o C dan suhu maksimum antara 30.7 o C-33.2 o C. Peruntukan Lahan Wilayah Pengembangan Pembangunan Kota Medan terdiri dari 5 WPP, beserta wilayah per WPP, seperti terlihat pada tabel berikut: Tabel 1 : Potensi Pengembangan Wilayah Kota Medan WPP Cakupan Kecamatan Pusat Pengembangan Sasaran Peruntukkan 1. Kec. Medan Belawan Pelabuhan, industri, pemukiman, A 2. Kec. Medan Marelan rekreasi, maritim, usaha kegiatan Belawan 3. Kec. Medan Labuhan pembangunan jalan baru, jaringan air minum, septic tank, sarana pendidikan Kawasan perkantoran, perdagangan, rekreasi indoor, pemukiman, B Kec. Medan Deli Tanjung Mulia pembangunan jalan baru, jaringan air minum, pembuangan sampah, dan sarana pendidikan 1. Kec. Medan Timur Pemukiman, perdagangan, dan 2. Kec. Medan perjuangan rekreasi, pembangunan sambungan air C 3. Kec. Medan Tembung minum, septic tank, jalan baru, rumah Aksara 4. Kec. Medan Area permanen, sarana pendidikan dan 5. Kec. Medan Denai kesehatan 6. Kec. Medan Amplas D 1. Kec. Medan Johor Kawasan perdagangan, perkantoran, Inti Kota 2. Kec. Medan Kota rekreasi indoor dan pemukiman,

20 3. Kec. Medan Baru dengan program kegiatan 4. Kec. Medan Maimoon pembangunan perumahan permanen, 5. Kec. Medan Polonia penanganan sampah dan sarana pendidikan 1. Kec. Medan Barat Kawasan pemukiman, perdagangan, 2. Kec. Medan Petisah dan rekreasi dengan program kegiatan E 3. Kec. Medan Sunggal Sei Sikambing sambungan air minum, septic tank, 4. Kec. Medan Selayang jalan baru, rumah permanen, sarana 5. Kec. Medan Tuntungan pendidikan dan kesehatan Keberadaan kawasan perencanaan dapat dilihat pada peta di bawah ini : WPP D CBD, Pusat Pemerintahan, Hutan Kota, Pusat Pendidikan, Perkantoran, Rekreasi Indoor, Permukiman WPP E Permukiman, Perkantoran, Perdagangan, Konservasi, Rekreasi, Lapangan Golf, WPP A Pelabuhan, Industri, Permukiman, Rekreasi, Maritim WPP B Perkantoran, Perdagangan, Rekreasi Indoor, Permukiman WPP C Permukiman, Perdagangan, Gambar 1 Peta Wilayah Pengembangan Pembangunan Kota

21 Oleh karena Pusat Pelayanan Terpadu Wanita dan Anak merupakan suatu sarana pendidikan informal, maka kriteria pemilihan lokasi yang dipakai adalah kriteria untuk suatu community center. Adapun kriteria lokasi untuk suatu community center 1 adalah sebagai berikut : - Dapat dicapai dengan mudah baik oleh kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. - Berada di tengah kota tapi tidak di daerah CBD - Berada dekat dengan pemukiman penduduk. - Memiliki sarana utilitas yang baik. - Luas tapak mendukung kebutuhan proyek. - Penghijauan di sekitar lokasi baik. - Lokasi berada pada area dengan tingkat kebisingan yang rendah. - Lokasi bukan daerah pemukiman penduduk Alternatif lokasi tapak Alternatif A Jl. Setia Budi Batas-batas : Utara : Jalan Sei Batang Hari Timur Barat : Gang Kecil Taruna I : Jalan Sunggal Selatan : Jalan Setia Budi Berada pada kecamatan Medan Sunggal Berdasarkan WPP E dengan fungsi Permukiman, Perkantoran, Perdagangan, Konservasi, Rekreasi, Lapangan Golf, Hutan Kota. Termasuk dalam wilayah pusat kota. Kelebihan : Berada pada jalan arteri sekunder, yaitu Jalan Setia Budi dan Jalan Sunggal. 1 Joseph De Chiara dan Lee E. Koppelman, Standar Perencanaan Tapak, hal. 98

22 Pencapaian mudah karena banyak angkutan umum yang melewati site. Kawasan telah dikenal sangat baik oleh penduduk kota Medan. Kekurangan : Site kurang strategis karena terletak jauh dari pusat kota Medan. Gambar 2 Peta Lokasi Alternatif A Alternatif B Jl. Pangkalan Mansyur Jl. Karya Budi (Samping Asrama Haji Medan) Batas-batas : Utara Timur Barat : Jalan Pangkalan Mansyur : Asrama Haji Medan : Jalan Karya Budi Selatan : Perumahan Penduduk Berada pada kecamatan Medan Johor Berdasarkan WPP D dengan fungsi CBD, Pusat Pemerintahan, Hutan Kota, Pusat Pendidikan, Perkantoran, Rekreasi Indoor, Permukiman. Kelebihan : Berada pada jalan arteri primer, yaitu Jalan Pangkalan Mansyur Pencapaian site mudah karena banyak angkutan umum yang melewati site Kawasan dekat dengan Pusat Pendidikan, Perkantoran, Permukiman.

23 Kawasan telah dikenal sangat baik oleh penduduk kota Medan. Kekurangan : Site kurang strategis karena terletak jauh dari pusat kota Medan. Gambar 3 Peta Lokasi Alternatif B Alternatif C Jl. Jend. A. H. Nasution. Batas-batas : Utara : Jalan Jend. A.H. Nasution Timur Barat : Gudang Indocafe : Swalayan Maju Bersama Selatan : Permukiman penduduk Kelebihan : Kekurangan : Berada pada kecamatan Medan Amplas Berdasarkan WPP C dengan fungsi Permukiman, Perdagangan, Rekreasi. Berada pada persimpangan jalan arteri primer (Jl. Jend. A. H. Nasution dan Jl. Sisingamangaraja). Pencapaian site mudah karena banyak angkutan umum yang melewati site. Kawasan telah dikenal sangat baik oleh penduduk kota Medan. Site cukup strategis karena terletak di persimpangan jalan. Kondisi jalan lebar, dengan pedestrian yang cukup lebar.

24 Berada jauh dari pusat kota Medan. Gambar 4 Peta Lokasi Alternatif C Pemilihan Lokasi Tapak Tabel 2 Penilaian pemilihan lokasi tapak Kriteria Tingkatan Jalan Pencapaian ke Lokasi Jangkauan terhadap Struktur kota Lokasi Alternatif A Alternatif B Alternatif C (4) (5) (5) Jalan Arteri Jalan Arteri Primer Jalan Arteri Primer Sekunder (5) (5) (5) Mudah karena Mudah karena Mudah karena dapat dapat diakses dari dapat diakses dari diakses dari segala segala penjuru segala penjuru penjuru Medan baik Medan baik Medan baik dengan dengan kendaraan dengan kendaraan kendaraan pribadi pribadi maupun pribadi maupun maupun angkutan kendaraan umum angkutan umum umum (4) (4) (4) Berada jauh dengan pusat kota dengan kepadatan penduduk sedang dan merupakan daerah pengembangan perdagangan, Berada dekat dengan pusat kota dengan tingkat kepadatan Berada jauh dengan pusat kota dengan kepadatan penduduk sedang dan penduduk sedang merupakan daerah dan merupakan pengembangan daerah perdagangan, pengembangan komersil dan

25 komersil dan perdagangan dan rekreasi rekreasi rekreasi Fungsi Pendukung sekitar (5) Permukiman, Perkantoran, (5) Permukiman,Perkan toran, sekolah, (4) Perumahan, sekolah, terminal dan hotel. lokasi hotel, penginapan (losmen), dan sekolah dan universitas. akademik, dan universitas. RUTRK (Pengemba (5) Sesuai (5) Sesuai (5) Sesuai ngan Perdaganga n dan Rekreasi) Fungsi eksisting (4) Perumahan (5) Lahan kosong (5) Lahan kosong penduduk Kontur Relatif datar Relatif datar Relatif datar Pengenalan Entrance (4) Mudah Dekat dengan dua persimpangan jalan (5) Mudah Dekat dengan persimpangan jalan Berada di dekat Asrama Haji Medan. (4) - Mudah - Dekat dengan persimpangan dua jalan Total Nilai Perinngkat Keterangan : 5 : Baik sekali 3 : Cukup 1 : Kurang sekali 4 : Baik 2 : Kurang 2.3 Peraturan Garis Sempadan Bangunan Lokasi yang dipilih berada di jalan Pangkalan Mahsyur, tepatnya berada di sisi Barat Kompleks Asrama Haji Medan dan disebelah Selatan kantor Pekerjaan Umum.

26 Garis sempadan bangunan yang digunakan dihitung berdasarkan kondisi GSB bangunan-bangunan baru yang terdapat di lingkungan sekitar lokasi. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi ketimpangan. Penghitungan GSB dilakukan dengan rumus ½ (n) + 1. dimana n adalah lebar jalan Koefisien Dasar Bangunan KDB untuk bangunan pendidikan di kecamatan Medan Johor 60%. Hal ini merupakan pertimbangan untuk penyerapan air hujan untuk menghindari bahaya banjir, dan dikawasan ini juga terdapat sejumlah hutan kota, berupa lapangan bermain yang diperuntukkan sebagai hiasan kota dan paru-paru kota. Tetapi lemahnya sistem peraturan pada dinas tata kota dan tata bangunan dikota Medan menyebabkan citra yang sudah terbentuk selama berabad-abad tersebut seolah tergantikan dengan bangunan-bangunan ruko (rumah toko) dan town-house (maisonette) yang dibangun dengan koefisien dasar bangunan yang cukup besar yaitu antara % dan tidak ditemukannya batas antar bangunan. Untuk pengembangan site sebagai salah satu pusat pendidikan, tentunya kondisi KDB kawasan perlu dipertahankan tetapi kawasan ruang terbuka tersebut dipergunakan sebagai fasilitas-fasilitas ruang terbuka bagi pengguna fasilitas. Adapun luas dari site adalah : m 2 KDB pada site (65 75%) = 60% x Luas site = 60% x = m Koefisien Lantai Bangunan Bandara Udara Polonia menjadi kendala utama bagi ketinggian bangunan pada daerah yang menjadi tempat perputaran pesawat sehingga bangunan yang tinggi nantinya akan dapat menghalangi pandangan pilot. Maka bangunan disekitar kawasan (skyline) hanya berkirsar 3 4 lantai. Dengan ketinggian bangunan antara m dari permukaan tanah. 2.4 Tinjauan Umum Arti Kata a) Pusat : Pokok pangkal atau yang menjadi pumpunan (berbagai urusan, hal, dsb) Suatu tempat atau wadah yang memiliki fasilitas khusus yang lengkap. b) Pelayanan : kb. perihal atau cara melayani: usaha melayani kebutuhan orang lain dng memperoleh imbalan (uang); jasa: c) Terpadu : secara bersama-sama, terarah dan saling melengkapi d) Trafiking adalah: Tindakan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan hutang atau memberi bayaran atau manfaat, sehingga memperoleh persetujuan dari

27 orang yang memegang kendali atas orang lain tersebut, baik yang dilakukan di dalam negara maupun antar negara, untuk tujuan eksploitasi atau mengakibatkan orang tereksploitasi (UU RI No 21 Tahun 2007). e) Korban adalah: Seseorang yang mengalami penderitaan psikis, mental, fisik, seksual, ekonomi dan/atau sosial, yang diakibatkan tindak pidana perdagangan orang. f) Anak adalah: Seseorang yang belum berusia 18 tahun (delapan belas tahun) termasuk anak yang masih dalam kandungan. g) Perempuan adalah: Orang yang mempunyai alat kelamin perempuan, dapat mengalami menstruasi, hamil, melahirkan anak, menyusui, dan termasuk orang yang telah mendapat status hukum sebagai perempuan. h) Drop in Center (DIC) adalah: Unit pelayanan perlindungan pertama yang bersifat responsif dan segera bagi perempuan dan anak yang mengalami tindak kekerasan dan trafiking, atau yang membutuhkan perlindungan khusus. i) Shelter adalah: Unit pelayanan perlindungan lanjutan dari Drop in Center yang berfungsi memberikan perlindungan, pemulihan, rehabilitasi, advokasi dan reunifikasi bagi anak dan perempuan yang membutuhkan perlindungan khusus, agar perempuan dan anak dapat tumbuh kembang secara wajar Tinjauan Fungsi Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.9 Tahun 2008, yang dimaksud dengan Pelayanan Terpadu adalah serangkaian kegiatan untuk melakukan perlindungan bagi saksi dan/atau korban tindak pidana perdagangan orang yang dilaksanakan secara bersama-sama oleh instansi atau lembaga terkait sebagai satu kesatuan penyelenggaraan rehabilitasi kesehatan, rehabilitasi sosial, pemulangan, reintegrasi sosial, dan bantuan hukum bagi saksi dan/atau korban tindak pidana perdagangan orang. Berdasarkan SOP yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah Sumatera Utara tahun 2008, adapun fungsi pelayanan Pusat Terpadu Perempuan dan Anak ini adalah : a. Pemberian upaya penyelamatan segera bagi korban perdagangan orang dalam bentuk investigasi, penjemputan, pelaporan dan konseling. b. Pemulihan kondisi mental korban akibat tekanan dan trauma (recovery). c. Pembelaan terhadap proses penyelesaian kasus yang dihadapi korban baik secara kekeluargaan (ADR) maupun hukum. d. Pengembalian korban kepada keluarga, panti, keluarga pengganti dan lingkungan sosial sesuai dengan situasi dan kondisi korban.

28 Prinsip-prinsip pelayanan Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak ini antara lain pelayanan yang diberikan bagi korban perdagangan (Trafiking) perempuan dan anak berdasarkan pada prinsip-prinsip konvensi tentang penghapusan diskriminasi terhadap perempuan (CEDAW) dan Konvensi Hak-hak Anak (KHA) diantaranya: 1. Prinsip Non Diskriminasi a. Setiap korban berhak memperoleh pelayanan secara manusiawi dan adil tanpa membeda-bedakan agama, suku, kebangsaan dan status sosial budaya lainnya. b. Menghargai korban sebagai manusia seutuhnya yang memiliki hak dan kewajiban yang sama. c. Menerima keberadaan korban apa adanya sebagai individu yang mempunyai harga diri, potensi, kelebihan dan kemampuan serta mempunyai sikap empati. d. Menghadapi korban sebagai individu yang bebeda dengan yang lainnya/unik dari segi potensi, bakat, minat, ciri-ciri, latar belakang, kondisinya saat ini, cita-cita dan harapan masa depannya. 2. Prinsip Kepentingan Terbaik Bagi Korban a. Mengupayakan semua kebijakan, kegiatan dan dukungan dari berbagai pihak untuk membantu korban. b. Mengupayakan perlindungan terbaik bagi korban untuk dapat mengembangkan potensi, harga diri dan penguatan kepada korban agar korban dapat berintegrasi dan mandiri. 3. Prinsip Menghormati Pandangan Korban a. Pandangan korban perlu didengar, diperhatikan dalam setiap proses pelayanan. b. Memotifasi dan melibatkan korban untuk berpartisipasi dalam setiap kegiatan, dan melibatkan korban untuk dapat memecahkan masalah yang korban hadapi secara mandiri. c. Menghormati hak korban untuk menentukan keputusannya bagi dirinya sendiri. d. Menumbuhkan dan memelihara, komunikasi yang efektif dengan korban. 4. Prinsip Kerahasiaan Korban

29 Menjaga kerahasiaan korban dengan cara menyimpan dokumentasi korban dengan baik dan tidak boleh menginformasikan tentang korban kecuali untuk kepentingan korban. Prinsip-prinsip yang terkandung dalam kaidah koordinasi penanganan korban perdagangan (Trafiking) adalah: a. Prinsip partisipasi aktif atau kemitraan. b. Kolaborasi. c. Mengikat semua unsur/lembaga terkait atau stakeholder dalam implementasinya. Prinsip partisipasi aktif masyarakat dan kolaborasi, ini merupakan prinsip yang dikenal dalam tata pemerintahan yang baik (Good Governance), dimana setiap komponen masyarakat/organisasi masyarakat sipil dan aparat pemerintah sendiri, terlibat dalam proses penyusunan kebijakan publik. Dengan adanya partisipasi aktif masyarakat ini maka diharapkan akan muncul pengawasan langsung oleh masyarakat terhadap setiap bentuk upaya penanggulangan perdagangan orang (Trafiking) perempuan dan anak. Prinsip partisipasi masyarakat ini sebenarnya sudah tercantum dalam berbagai kebijakan publik di tingkat nasional, seperti UU RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, UU RI No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undang-Undang RI Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Undang- Undang RI Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga serta Keputusan Presiden No. 88 tahun 2002 tentang RAN P3A. Dalam Keputusan Presiden 88 tahun 2002 ini telah dicantumkan dengan eksplisit perlunya partisipasi aktif masyarakat ini. Sedangkan Prinsip mengikat semua unsur/lembaga terkait atau stakeholder, ini merupakan sebuah harapan bagi munculnya kesadaran, kemauan dan konsistensi baik secara hukum, sosial dan politis untuk memaksimalkan tugas, fungsi dan peran (tupoksi) setiap stakeholder yang ada. Sehingga penanganan korban perdagangan (Trafiking) perempuan dan anak akan terus berlangsung secara simultan. Sistem Pelayanan Korban Perdagangan Orang (Trafiking) Perempuan Dan Anak terbagi dalam dua bagian yang saling berhubungan. Pelayanan pertama adalah Drop in Center (DIC) dan jika diperlukan diteruskan kepada Rumah Perlindungan (SHELTER ) sebagai Pelayanan Kedua.

30 1. Tahap Kasus Informasi tentang telah terjadinya suatu kasus kekerasan Trafiking dapat diperoleh dari korban sendiri, keluarga korban, masyarakat, media baik cetak maupun elektronik, Rumah Sakit, Puskesmas, Kepolisian, LSM dan lain-lain. Dalam hal ditemukannya suatu kasus tindak kekerasan perdagangan perempuan dan anak, maka kasus tersebut dapat dibagi dalam 3 kategori yaitu: a. Kasus yang ditangani Artinya korban dan keluarga korban bersedia melaporkan pelaku kekerasan Trafiking kepada pihak Kepolisian untuk diteruskan proses penuntutan secara hukum. Dalam hal lain, kemungkinan yang sering terjadi adalah petugas kesehatan/medis merupakan pihak yang pertama sekali ditemui oleh korban kekerasan untuk mendapat pertolongan medis, sehingga perlu peran aktif dari para medis dan psikologis dalam membantu korban kekerasan, terutama agar korban lebih terbuka dalam mengungkapkan persoalan yang diderita korban atau memberikan catatan medis tahap awal mengenai kasus yang ditemuinya. b. Kasus yang tidak tertangani. Dalam hal ini ada beberapa faktor yang menyebabkan suatu kasus tidak dapat ditangani atau dihentikannya proses penyidikan, diantaranya : 1) Pelaku (traficker) telah melarikan diri atau tidak diketahui lagi alamatnya dengan jelas. 2) Melewati batas negara, misalnya korban yang dijual ke Malaysia, maka aparat penegak hukum di Indonesia akan sulit untuk menjangkau pelaku kekerasan Trafiking lain (dalam hal ini mucikari atau agency yang ada di luar negeri). 3) Kurangnya alat bukti dan saksi yang dapat mendukung laporan/pengaduan korban kekerasan Trafiking. c. Kasus yang tidak mau ditangani. Adakalanya suatu kasus tindak kekerasan Trafiking perempuan dan anak, si korban ataupun keluarga korban tidak mau melaporkan kasusnya ke pihak kepolisian ataupun meminta pihak kepolisian untuk tidak meneruskan proses hukum. Hal ini dapat disebabkan beberapa hal diantaranya ketergantungan korban atau keluarga korban secara ekonomi terhadap pelaku. Ada rasa ketakutan dari korban/keluarga bila pelaku dituntut secara hukum, maka sumber mata pencaharian

31 mereka juga lenyap. Hal ini banyak terjadi dalam hal pelaku kekerasan trafiker adalah ayah korban. 1) Rasa malu dari korban/keluarga untuk mengungkapkan kasus kekerasan Trafiking yang dialami. 2) Telah terjadinya perdamaian antara korban/keluarga korban dengan pelaku/keluarga pelaku. Satu kemungkinan yang mungkin terjadi dan perlu diperhatikan adalah kemungkinan telah dimanfaatkannya korban oleh keluarga korban untuk mendapatkan imbalan ekonomi dari pelaku. Dalam hal ini perempuan atau anak menjadi korban yang kesekian kalinya. 3) Adanya ancaman dari pihak pelaku/keluarga pelaku terhadap korban kekerasan Trafiking, agar tidak meneruskan kembali pengaduan atau penuntutan terhadap pelaku. 2 Tahap Upaya Penyelamatan Setelah diketahuinya suatu kasus tindak kekerasan Trafiking, maka upaya yang harus dilakukan adalah : a. Investigasi, berupa serangkaian tindakan yang dilakukan untuk mengumpulkan fakta-fakta dalam mencari kebenaran informasi dan keberadaan si korban ataupun si pelaku. b. Penjemputan atau penyelamatan korban merupakan tindakan yang perlu segera dilakukan (dalam hal korban belum kembali dan telah diketahui alamatnya), apabila pelaku atau korban telah kembali maka upaya ini dianggap tidak perlu dilakukan. c. Pemeriksaan kondisi kesehatan korban dan melakukan langkahlangkah medis yang dipandang perlu untuk menyelamatkan korban, dan membuat rekaman medik (medical record) korban kekerasan trafiking. d. Konseling atau pemberian bimbingan psikologis kepada korban, termasuk mempertanyakan keinginan korban terhadap kasus yang sedang dialaminya, apakah korban setuju kasusnya diproses secara hukum atau tidak. Bimbingan psikologis ini perlu dilakukan secara mendalam yang tujuannya adalah meyakinkan korban pada pilihannya untuk tidak kembali ke tempat semula dan yakin dalam menjalani kehidupan selanjutnya. Satu prinsip yang harus dijunjung tinggi dalam hal ini adalah kejujuran dalam menyampaikan segala kemungkinan yang akan dihadapi korban apapun pilihan yang akan

32 diputuskan oleh korban, serta kebebasan korban dalam menentukan pilihannya. e. Pelaporan/Pengaduan kepada pihak berwajib (dalam hal in adalah Kepolisian sebagai aparat yang berkompeten untuk itu) tentang tindak Trafiking yang dialami korban. Pendampingan hukum dan bantuan litigasi terhadap korban perlu dilakukan tidak hanya pada saat pelaporan/pengaduan dan pengambilan Berita Acara Penyidikan (BAP) di kepolisian tetapi sampai pada proses penuntutan di Kejaksaan dan pemeriksaan di pengadilan. f. Proses Perlindungan berupa serangkaian tindakan yang harus diberikan kepada korban yang tujuannya semata-mata untuk melindungi dan memberi rasa aman bagi korban, dari intimidasi ataupun ancaman yang datang dari pelaku/keluarga pelaku, keluarga korban atau pihak ketiga yang sengaja ingin mengambil keuntungan atau mengeksploitasi korban. 3 Tahap Pasca Penyelamatan Setelah korban mendapat bantuan baik medis, psikologis maupun pendampingan hukum, maka korban perlu mendapatkan upaya-upaya pasca penyelamatan, seperti bantuan pendidikan, ketrampilan dan lain sebagainya yang dapat bermanfaat bagi korban dalam menata kembali masa depannya. Dalam tahap ini, korban dapat tetap tinggal sementara di DIC dan SHELTER, atau korban telah kembali ke keluarganya Sistem Administrasi Sistem Administrasi dalam hal ini dibagi dalam 2 (dua) hal yaitu Administrasi Kantor dan Administrasi Pelayanan. A.1. Administrasi kantor adalah kegiatan yang menyangkut tata usaha dan kegiatan teknis untuk mendukung terlaksananya administrasi pelayanan kepada korban trafiking antara lain: a. Penyusunan rencana program. b. Pengurusan keuangan. c. Pencatatan dan pemeliharaan barang inventaris. d. Pemeliharaan alat-alat dan sarana untuk kegiatan. e. Pembuatan laporan, dokumentasi, dan penyampaian kepada instansi yang terkait. f. Pengaturan kerja para pelaksana seperti absensi dan jadwal kegiatan, jadwal kegiatan pelaksanaan sehari-hari.

33 g. Menjalin kerjasama dengan berbagai pihak untuk program perlindungan terhadap korban Trafiking. A.2. Administrasi pelayanan adalah kegiatan yang menyangkut prasyarat, prosedur, teknis dan materi-materi yang terkait dengan pelayanan kepada korban Trafiking: a. Penyediaan form tentang data identitas korban. b. Pengisian dan pendokumentasian data korban dan hasil monitoring yang dilakukan. c. Menyusun program kerja yang terkait dengan pelayanan terhadap korban d. Menyusun jadwal kegiatan yang terkait dengan konseling, psikologis, medis, pendampingan hukum, pendidikan ketrampilan, pendidikan alternatif dan reintegrasi. f. Membuat berita acara serah terima korban. g. Merujuk korban selama di Drop In Center lembaga rujukan. e. Dan lain-lain yang terkait dengan bidang pelayanan adminsitasi kepada korban. Berikut ini merupakan sumber manusia yang bekerja pada Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak : a. Bidang tenaga adminstrasi dan keuangan adalah personil yang memiliki pendidikan SMA dan mahir komputer ( Word dan Excel). b. Bidang psikologi adalah psikolog yang telah memiliki izin praktek yang dikeluarkan oleh Himpunan Profesi Psikologi (HIMPSI) atau sarjana psikologi yang telah mengikuti pelatihan khusus konseling untuk Trafiking dan disupervisi oleh Psikolog yang telah memiliki izin praktek. c. Bidang tenaga medis adalah seorang dokter, bidan dan perawat. d. Bidang pendamping hukum adalah sarjana hukum yang memiliki kartu pengacara dan memiliki pengalaman dalam melakukan pendampingan hukum. e. Bidang pendidikan dilakukan kerjasama dengan dinas atau instansi yang terkait. f. Bidang reintegrasi adalah orang yang memiliki pengalaman dalam proses reintegrasi terhadap korban dan memiliki kemampuan komunikasi terhadap semua pihak yang terkait dalam memberikan perlindungan terhadap korban Trafiking. TUGAS-TUGAS DARI TIM PELAKSANA 1. Koordinator/ Pimpinan / PLT SHELTER a. Menetapkan kebijakan, program, dan kegiatan di Shelter.

34 b. Menetapkan perencanaan tahunan. c. Mengkordinasikan, memantau dan mengevaluasi kegiatan di Shelter. d. Memberikan arahan pelaksanaan tugas kepada bidang-bidang. e. Mengembangkan dan menjalin kerjasama dengan berbagai instansi, lembaga, organisasi, dan kelompok profesional. f. Membuat laporan pertanggungjawaban kepada Tim Pengarah Gugus Tugas P3A. 2. Keuangan a. Membuat perencanaan anggaran tahunan. b. Membuat alokasi dana untuk semua kebutuhan bidang yang ada di Shelter. c. Membuat laporan keuangan kepada koordinator/pimpinan/plt Shelter. 3. Sekretariat a. Melakukan tugas-tugas administrasi kantor. b. Melakukan kompilasi data dan pengarsipan dokumen korban. c. Membuat laporan kepada Koordinator/Pimpinan/PLT Shelter. 4. Bidang Pelayanan a. Melakukan pendekatan awal pada korban sekaligus mendapatkan informasi identitas korban. b. Konseling korban untuk mengetahui kondisi perasaan dan emosi korban saat itu sekaligus memperoleh masukan dan keinginan korban. c. Memberikan pelayanan medis bagi korban meliputi visum et repertum dan lain-lain. d. Memberikan bimbingan rohani kepada korban. e. Memberikan pendidikan dan keterampilan sesuai kebutuhan korban yang dikoordinasikan dengan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Dinas Sosial, Dinas Pendidikan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Koperasi dan UKM serta Dinas Pertanian. f. Mendampingi proses pemulangan korban ke daerah asal. g. Memberikan bantuan modal usaha bagi korban. h. Membuat laporan kepada koordinator/pimpinan/plt Shelter. i. Melakukan konseling lanjutan terhadap korban yang dilakukan oleh Psikolog. j. Melakukan pemeriksaan kesehatan lanjutan meliputi tes kehamilan, pemeriksaan IMS termasuk HIV/AIDS. k. Melakukan monitoring setiap 3 bulan sekali dalam 1 tahun. 5. Bidang Pengasuhan a. Memberikan pendampingan dan asuhan bagi korban.

35 b. Melaksanakan kegiatan sosialisasi dan rekreasi yang bersifat edukatif. c. Memberikan pengamanan kepada korban selama di Shelter. d. Membuat laporan kepada koordinator/pimpinan/plt Shelter. e. Memberikan pengawasan kepada korban dan memenuhi kebutuhan domestik korban, yang meliputi makan, peralatan mandi, dan perlengkapan sehari-hari. f. Menyediakan sarana ibadah, rekreasi dan olah raga bagi korban. g. Menyediakan layanan perpustakaan mini. h. Korban berada di Shelter paling lama tiga bulan, sampai berkas perkaranya dilimpahkan ke Kejaksaan. 6. Bidang Hukum a. Melakukan pendampingan kepada korban mulai dari pemeriksaan di kepolisian hingga ke tingkat pengadilan. b. Membuat laporan kepada koordinator/pimpinan/plt Shelter MITRA KERJA Mitra Kerja adalah Lembaga/Badan/Organisasi yang berperan aktif menangani korban. Peranan dari Mitra Kerja adalah; membantu bidang-bidang yang ada di Shelter (bidang pelayanan, hukum, dan bidang pengasuhan) dalam memfasilitasi korban. Penanggulangan Korban Perdagangan Orang (Trafiking) khususnya perempuan dan anak akan jauh lebih konfrehensif jika didukung dengan ketersediaan dan kesiapan fasilitas dan dukungan dari pihak-pihak lain yang dapat dijadikan Mitra Kerja. Mitra kerja ini diharapkan dapat memperkuat dukungan dalam hal; a. Koordinasi dalam meningkatkan jumlah korban perdagangan orang (Trafiking) khususnya perempuan dan anak yang dapat menerima manfaat pelayanan baik layanan yang dikelola oleh Pemerintah maupun yang dikelola oleh Mitra Kerja; b. Saling tukar menukar data, informasi dan Pengetahuan dalam rangka meningkatkan pelayanan bagi korban perdagangan orang (Trafiking) khususnya perempuan dan anak; c. Bersama sama secara kemitraan memberikan pelayanan dan pedampingan bagi korban perdagangan orang (Trafiking) khsususnya perempuan dan anak; d. Pencegahan praktek perdagangan orang (Trafiking) khususnya perempuan dan anak melalui rangkaian kegiatan Sosialisasi dan Pemberdayaan Masyarakat dan Pendataan;

BUPATI SUKOHARJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKOHARJO NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG

BUPATI SUKOHARJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKOHARJO NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG BUPATI SUKOHARJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKOHARJO NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN PERLINDUNGAN TERHADAP KORBAN KEKERASAN BERBASIS GENDER DAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH

PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN PERLINDUNGAN TERHADAP KORBAN KEKERASAN BERBASIS GENDER DAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG

PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN PERLINDUNGAN TERHADAP KORBAN KEKERASAN BERBASIS GENDER DAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA SELATAN NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG PENCEGAHAN DAN PENANGANAN KORBAN PERDAGANGAN ANAK DAN PEREMPUAN

PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA SELATAN NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG PENCEGAHAN DAN PENANGANAN KORBAN PERDAGANGAN ANAK DAN PEREMPUAN PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA SELATAN NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG PENCEGAHAN DAN PENANGANAN KORBAN PERDAGANGAN ANAK DAN PEREMPUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR SUMATERA SELATAN, Menimbang

Lebih terperinci

BUPATI TANGERANG PROVINSI BANTEN PERATURAN BUPATI TANGERANG NOMOR 122 TAHUN 2015 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI TANGERANG PROVINSI BANTEN PERATURAN BUPATI TANGERANG NOMOR 122 TAHUN 2015 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TANGERANG PROVINSI BANTEN PERATURAN BUPATI TANGERANG NOMOR 122 TAHUN 2015 TENTANG PERLINDUNGAN PEREMPUAN DAN ANAK KORBAN KEKERASAN DI KABUPATEN TANGERANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH NOMOR 2 TAHUN 2013 PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUDUS NOMOR 2 TAHUN TENTANG

LEMBARAN DAERAH NOMOR 2 TAHUN 2013 PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUDUS NOMOR 2 TAHUN TENTANG LEMBARAN DAERAH NOMOR 2 TAHUN 2013 PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUDUS NOMOR 2 TAHUN TENTANG PENYELENGGARAAN PERLINDUNGAN TERHADAP KORBAN KEKERASAN BERBASIS GENDER DAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

BUPATI PATI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PATI,

BUPATI PATI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PATI, SALINAN BUPATI PATI PROPINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN PATI NOMOR 4 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PERLINDUNGAN TERHADAP KORBAN KEKERASAN BERBASIS GENDER DAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

Institute for Criminal Justice Reform

Institute for Criminal Justice Reform UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2007 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa setiap orang

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN BOJONEGORO

PEMERINTAH KABUPATEN BOJONEGORO PEMERINTAH KABUPATEN BOJONEGORO Salinan PERATURAN DAERAH KABUPATEN BOJONEGORO NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PELAYANAN TERHADAP PEREMPUAN DAN ANAK KORBAN KEKERASAN DI KABUPATEN BOJONEGORO DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 74 TAHUN 2014 TENTANG

GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 74 TAHUN 2014 TENTANG GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 74 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN PERLINDUNGAN ANAK DENGAN

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA SELATAN NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG PERLINDUNGAN TERHADAP PEREMPUAN DAN ANAK KORBAN KEKERASAN

PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA SELATAN NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG PERLINDUNGAN TERHADAP PEREMPUAN DAN ANAK KORBAN KEKERASAN PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA SELATAN NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG PERLINDUNGAN TERHADAP PEREMPUAN DAN ANAK KORBAN KEKERASAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR SUMATERA SELATAN, Menimbang :

Lebih terperinci

BUPATI POLEWALI MANDAR

BUPATI POLEWALI MANDAR BUPATI POLEWALI MANDAR PERATURAN BUPATI POLEWALI MANDAR NOMOR 17 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN PEREMPUAN DAN ANAK DARI TINDAK KEKERASAN DI KABUPATEN POLEWALI MANDAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

BUPATI BULUNGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULUNGAN NOMOR 09 TAHUN 2012 TENTANG PERLINDUNGAN PEREMPUAN DAN ANAK TERHADAP TINDAK KEKERASAN

BUPATI BULUNGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULUNGAN NOMOR 09 TAHUN 2012 TENTANG PERLINDUNGAN PEREMPUAN DAN ANAK TERHADAP TINDAK KEKERASAN SALINAN BUPATI BULUNGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULUNGAN NOMOR 09 TAHUN 2012 TENTANG PERLINDUNGAN PEREMPUAN DAN ANAK TERHADAP TINDAK KEKERASAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BULUNGAN, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU

PERATURAN DAERAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU PERATURAN DAERAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN PERLINDUNGAN TERHADAP KORBAN KEKERASAN BERBASIS GENDER DAN ANAK Bagian Hukum Sekretariat Daerah Kabupaten Ogan Komering

Lebih terperinci

BUPATI BADUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NOMOR 15 TAHUN 2013 TENTANG PERLINDUNGAN PEREMPUAN DAN ANAK KORBAN KEKERASAN

BUPATI BADUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NOMOR 15 TAHUN 2013 TENTANG PERLINDUNGAN PEREMPUAN DAN ANAK KORBAN KEKERASAN BUPATI BADUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NOMOR 15 TAHUN 2013 TENTANG PERLINDUNGAN PEREMPUAN DAN ANAK KORBAN KEKERASAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BADUNG, Menimbang : a. bahwa setiap

Lebih terperinci

WALIKOTA SURABAYA PERATURAN WALIKOTA SURABAYA NOMOR 32 TAHUN 2009 TENTANG

WALIKOTA SURABAYA PERATURAN WALIKOTA SURABAYA NOMOR 32 TAHUN 2009 TENTANG SALINAN WALIKOTA SURABAYA PERATURAN WALIKOTA SURABAYA NOMOR 32 TAHUN 2009 TENTANG GUGUS TUGAS PENCEGAHAN DAN PENANGANAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG KOTA SURABAYA WALIKOTA SURABAYA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

BUPATI BADUNG PERATURAN BUPATI BADUNG NOMOR 65 TAHUN 2012 TENTANG

BUPATI BADUNG PERATURAN BUPATI BADUNG NOMOR 65 TAHUN 2012 TENTANG BUPATI BADUNG PERATURAN BUPATI BADUNG NOMOR 65 TAHUN 2012 TENTANG PEMBENTUKAN GUGUS TUGAS PENCEGAHAN DAN PENANGANAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG DI KABUPATEN BADUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

PEMERINTAH PROVINSI KEPULAUAN RIAU

PEMERINTAH PROVINSI KEPULAUAN RIAU PEMERINTAH PROVINSI KEPULAUAN RIAU PERATURAN DAERAH PROVINSI KEPULAUAN RIAU NOMOR 12 TAHUN 2007 TENTANG PENGHAPUSAN PERDAGANGAN PEREMPUAN DAN ANAK (TRAFIKING) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 18 TAHUN 2014 TENTANG

GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 18 TAHUN 2014 TENTANG GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 18 TAHUN 2014 TENTANG TATA CARA DAN PERSYARATAN PEMBENTUKAN PELAYANAN TERPADU DAN KOMISI PERLINDUNGAN KORBAN KEKERASAN BERBASIS GENDER DAN ANAK

Lebih terperinci

PERATURAN WALIKOTA SURAKARTA

PERATURAN WALIKOTA SURAKARTA BERITA DAERAH KOTA SURAKARTA NOMOR 18 TAHUN 2006 PEMERINTAH KOTA SURAKARTA PERATURAN WALIKOTA SURAKARTA NOMOR 14 TAHUN 2006 TENTANG PENYELENGGARAAN REHABILITASI EKSPLOITASI SEKSUAL KOMERSIAL WALIKOTA SURAKARTA,

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN MADIUN

PEMERINTAH KABUPATEN MADIUN PEMERINTAH KABUPATEN MADIUN SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN MADIUN NOMOR 5 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN PERLINDUNGAN PEREMPUAN DAN ANAK KORBAN KEKERASAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

Perbedaan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual dengan Undang Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang

Perbedaan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual dengan Undang Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang 5 Perbedaan dengan Undang Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang Apa perbedaan dengan Undang Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan

Lebih terperinci

PERATURAN BUPATI LUWU TIMUR NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG PUSAT PELAYANAN TERPADU PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN ANAK KABUPATEN LUWU TIMUR DENGAN RAHMAT

PERATURAN BUPATI LUWU TIMUR NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG PUSAT PELAYANAN TERPADU PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN ANAK KABUPATEN LUWU TIMUR DENGAN RAHMAT PERATURAN BUPATI LUWU TIMUR NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG PUSAT PELAYANAN TERPADU PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN ANAK KABUPATEN LUWU TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LUWU TIMUR, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KABUPATEN KULON PROGO

BERITA DAERAH KABUPATEN KULON PROGO BERITA DAERAH KABUPATEN KULON PROGO NOMOR : 66 TAHUN : 2013 PERATURAN BUPATI KULON PROGO NOMOR 66 TAHUN 2013 TENTANG PEMBENTUKAN PUSAT PELAYANAN TERPADU PERLINDUNGAN PEREMPUAN DAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

BUPATI PURBALINGGA PROVINSI JAWA TENGAH

BUPATI PURBALINGGA PROVINSI JAWA TENGAH SALINAN BUPATI PURBALINGGA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 2 TAHUN 2017 TENTANG PENYELENGGARAAN PERLINDUNGAN KORBAN KEKERASAN BERBASIS GENDER DAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK TENGAH TAHUN 2009 NOMOR 3

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK TENGAH TAHUN 2009 NOMOR 3 LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK TENGAH TAHUN 2009 NOMOR 3 PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK TENGAH NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG PERLINDUNGAN ANAK DAN PEREMPUAN KORBAN KEKERASAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa setiap warga negara

Lebih terperinci

Walikota Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat

Walikota Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat - 1 - Walikota Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat PERATURAN DAERAH KOTA TASIKMALAYA NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PELINDUNGAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TASIKMALAYA,

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Salah satu dari keempat NSPK yang diterbitkan dalam bentuk pedoman ini adalah Pedoman Pelaksanaan Perlindungan Anak.

KATA PENGANTAR. Salah satu dari keempat NSPK yang diterbitkan dalam bentuk pedoman ini adalah Pedoman Pelaksanaan Perlindungan Anak. KEMENTERIAN NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN REPUBLIK INDONESIA KATA PENGANTAR Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi,

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN PERLINDUNGAN KORBAN KEKERASAN BERBASIS GENDER

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN PERLINDUNGAN KORBAN KEKERASAN BERBASIS GENDER SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN PERLINDUNGAN KORBAN KEKERASAN BERBASIS GENDER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KEBUMEN, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN WONOGIRI

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN WONOGIRI LEMBARAN DAERAH KABUPATEN WONOGIRI NOMOR 2 TAHUN 2013 SERI C NOMOR 1 PERATURAN DAERAH KABUPATEN WONOGIRI NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN PERLINDUNGAN TERHADAP KORBAN KEKERASAN BERBASIS GENDER

Lebih terperinci

BUPATI PENAJAM PASER UTARA PROVINSI KALIMANTAN TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA NOMOR 5 TAHUN 2014 TENTANG

BUPATI PENAJAM PASER UTARA PROVINSI KALIMANTAN TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA NOMOR 5 TAHUN 2014 TENTANG BUPATI PENAJAM PASER UTARA PROVINSI KALIMANTAN TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA NOMOR 5 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN PEREMPUAN DAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PENAJAM

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI DEMAK,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI DEMAK, SALINAN BUPATI DEMAK PERATURAN DAERAH KABUPATEN DEMAK NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PENYELENGGARAAN PERLINDUNGAN TERHADAP KORBAN KEKERASAN BERBASIS GENDER DAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

BERITA NEGARA. No.1048, 2012 KEMENTERIAN NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK. Perdagangan Orang. Pencegahan. Penanganan. Panduan.

BERITA NEGARA. No.1048, 2012 KEMENTERIAN NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK. Perdagangan Orang. Pencegahan. Penanganan. Panduan. BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1048, 2012 KEMENTERIAN NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK. Perdagangan Orang. Pencegahan. Penanganan. Panduan. PERATURAN MENTERI NEGARA PEMBERDAYAAN

Lebih terperinci

BUPATI TANGERANG PROVINSI BANTEN PERATURAN BUPATI TANGERANG NOMOR 35 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI TANGERANG PROVINSI BANTEN PERATURAN BUPATI TANGERANG NOMOR 35 TAHUN 2016 TENTANG BUPATI TANGERANG PROVINSI BANTEN PERATURAN BUPATI TANGERANG NOMOR 35 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA AKSI DAERAH PENCEGAHAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG TAHUN 2016-2018 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN LUMAJANG

PEMERINTAH KABUPATEN LUMAJANG PEMERINTAH KABUPATEN LUMAJANG PERATURAN DAERAH KABUPTEN LUMAJANG NOMOR 48 TAHUN 2007 T E N T A N G PENYELENGGARAAN PERLINDUNGAN PEREMPUAN DAN ANAK KORBAN KEKERASAN DI KABUPATEN LUMAJANG DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa setiap warga negara

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : Mengingat : a. bahwa setiap

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa setiap warga negara

Lebih terperinci

PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN KENDAL NOMOR 6 TAHUN 2017 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN BERBASIS GENDER DAN ANAK DI KABUPATEN KENDAL

PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN KENDAL NOMOR 6 TAHUN 2017 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN BERBASIS GENDER DAN ANAK DI KABUPATEN KENDAL 1 PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN KENDAL NOMOR 6 TAHUN 2017 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN BERBASIS GENDER DAN ANAK DI KABUPATEN KENDAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KENDAL, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI PAPUA

PERATURAN DAERAH PROVINSI PAPUA GUBERNUR PAPUA PERATURAN DAERAH PROVINSI PAPUA NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG PERLINDUNGAN KORBAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR PAPUA, Menimbang : a. bahwa Pemerintah

Lebih terperinci

WALIKOTA SURABAYA PROVINSI JAWA TIMUR

WALIKOTA SURABAYA PROVINSI JAWA TIMUR SALINAN WALIKOTA SURABAYA PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PENCEGAHAN DAN PENANGANAN KORBAN PERDAGANGAN ORANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SURABAYA,

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBAWA NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG PUSAT PELAYANAN TERPADU PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN ANAK

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBAWA NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG PUSAT PELAYANAN TERPADU PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN ANAK PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBAWA NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG PUSAT PELAYANAN TERPADU PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMBAWA, Menimbang : a. bahwa kekerasan terhadap

Lebih terperinci

BUPATI TAPIN PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN TAPIN NOMOR 01 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PERLINDUNGAN ANAK

BUPATI TAPIN PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN TAPIN NOMOR 01 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PERLINDUNGAN ANAK SALINAN BUPATI TAPIN PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN TAPIN NOMOR 01 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PERLINDUNGAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TAPIN, Menimbang

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1604, 2014 BNPB. Penanggulangan. Bencana. Gender. Pengarusutamaan.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1604, 2014 BNPB. Penanggulangan. Bencana. Gender. Pengarusutamaan. BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1604, 2014 BNPB. Penanggulangan. Bencana. Gender. Pengarusutamaan. PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA NOMOR 13 TAHUN 2014 TENTANG PENGARUSUTAMAAN

Lebih terperinci

GUBERNUR KEPULAUAN RIAU

GUBERNUR KEPULAUAN RIAU GUBERNUR KEPULAUAN RIAU PERATURAN GUBERNUR KEPULAUAN RIAU NOMOR 16 TAHUN 2007 TENTANG RENCANA AKSI DAERAH PENGHAPUSAN PERDAGANGAN (TRAFIKING) PEREMPUAN DAN ANAK DI PROVINSI KEPULAUAN RIAU GUBERNUR KEPULAUAN

Lebih terperinci

GUBERNUR JAMBI PERATURAN GUBERNUR JAMBI NOMOR 16 TAHUN 2011 TENTANG

GUBERNUR JAMBI PERATURAN GUBERNUR JAMBI NOMOR 16 TAHUN 2011 TENTANG GUBERNUR JAMBI PERATURAN GUBERNUR JAMBI NOMOR 16 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN GUGUS TUGAS PENCEGAHAN DAN PENANGANAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG DI PROVINSI JAMBI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA 1 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI LAMPUNG NOMOR 4 TAHUN 2008 TENTANG PELAYANAN TERHADAP HAK-HAK ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR LAMPUNG,

PERATURAN DAERAH PROVINSI LAMPUNG NOMOR 4 TAHUN 2008 TENTANG PELAYANAN TERHADAP HAK-HAK ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR LAMPUNG, PERATURAN DAERAH PROVINSI LAMPUNG NOMOR 4 TAHUN 2008 TENTANG PELAYANAN TERHADAP HAK-HAK ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR LAMPUNG, Menimbang : a. bahwa anak yang merupakan tunas dan generasi

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 8 TAHUN 2014

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 8 TAHUN 2014 LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 8 TAHUN 2014 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 8 TAHUN 2014 TENTANG PENCEGAHAN DAN PENANGANAN KORBAN PERDAGANGAN ORANG Bagian Hukum Setda Kabupaten Bandung

Lebih terperinci

GUBERNUR KEPULAUAN RIAU

GUBERNUR KEPULAUAN RIAU GUBERNUR KEPULAUAN RIAU PERATURAN GUBERNUR KEPULAUAN RIAU NOMOR 26 TAHUN 2014 TENTANG RUMAH SINGGAH PADA PUSAT PELAYANAN TERPADU PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN ANAK ENGKU PUTERI PROVINSI KEPULAUAN RIAU GUBERNUR

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2015

PERATURAN MENTERI PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2015 PERATURAN MENTERI PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK NOMOR 6 TAHUN 2015 TENTANG SISTEM PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, MENTERI PEMBERDAYAAN PEREMPUAN

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL ( Berita Resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul ) Nomor : 16 Tahun : 2012 Seri : E

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL ( Berita Resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul ) Nomor : 16 Tahun : 2012 Seri : E LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL ( Berita Resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul ) Nomor : 16 Tahun : 2012 Seri : E PERATURAN DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL NOMOR 25 TAHUN 2012 TENTANG PERLINDUNGAN

Lebih terperinci

PEMERINTAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

PEMERINTAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT PEMERINTAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT PERATURAN DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT NOMOR 2 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN PENCEGAHAN DAN PERLINDUNGAN PEREMPUAN DAN ANAK KORBAN TINDAK KEKERASAN DENGAN

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN POSO

PEMERINTAH KABUPATEN POSO PEMERINTAH KABUPATEN POSO PERATURAN DAERAH KABUPATEN POSO NOMOR 6 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN PERLINDUNGAN, PELAYANAN DAN PEMULIHAN PEREMPUAN DAN ANAK KORBAN KEKERASAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

Kekerasan fisik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat.

Kekerasan fisik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat. 1 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa setiap warga

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : a. bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan rasa aman dan

Lebih terperinci

BUPATI TANGERANG PROVINSI BANTEN PERATURAN BUPATI TANGERANG NOMOR 34 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI TANGERANG PROVINSI BANTEN PERATURAN BUPATI TANGERANG NOMOR 34 TAHUN 2016 TENTANG BUPATI TANGERANG PROVINSI BANTEN PERATURAN BUPATI TANGERANG NOMOR 34 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA AKSI DAERAH PERLINDUNGAN DAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN ANAK DALAM KONFLIK SOSIAL TAHUN 2016-2018 DENGAN

Lebih terperinci

KABUPATEN CIANJUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN CIANJUR

KABUPATEN CIANJUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN CIANJUR LEMBARAN DAERAH KABUPATEN CIANJUR NOMOR 11 TAHUN 2010 PERATURAN DAERAH KABUPATEN CIANJUR NOMOR 03 TAHUN 2010 TENTANG PENANGGULANGAN PERDAGANGAN ORANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI CIANJUR, Menimbang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa setiap warga negara

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa setiap warga negara

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: Mengingat: a. bahwa anak merupakan amanah

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROPINSI SUMATERA UTARA NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN BENTUK-BENTUK PEKERJAAN TERBURUK BAGI ANAK

PERATURAN DAERAH PROPINSI SUMATERA UTARA NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN BENTUK-BENTUK PEKERJAAN TERBURUK BAGI ANAK PERATURAN DAERAH PROPINSI SUMATERA UTARA NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN BENTUK-BENTUK PEKERJAAN TERBURUK BAGI ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR SUMATERA UTARA, Menimbang

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan Teks tidak dalam format asli. LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 95, 2004 (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4419)

Lebih terperinci

- Secara psikologis sang istri mempunyai ikatan bathin yang sudah diputuskan dengan terjadinya suatu perkawinan

- Secara psikologis sang istri mempunyai ikatan bathin yang sudah diputuskan dengan terjadinya suatu perkawinan Pendahuluan Kekerasan apapun bentuknya dan dimanapun dilakukan sangatlah ditentang oleh setiap orang, tidak dibenarkan oleh agama apapun dan dilarang oleh hukum Negara. Khusus kekerasan yang terjadi dalam

Lebih terperinci

BUPATI BANDUNG PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 8 TAHUN 2014 TENTANG PENCEGAHAN DAN PENANGANAN KORBAN PERDAGANGAN ORANG

BUPATI BANDUNG PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 8 TAHUN 2014 TENTANG PENCEGAHAN DAN PENANGANAN KORBAN PERDAGANGAN ORANG BUPATI BANDUNG PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 8 TAHUN 2014 TENTANG PENCEGAHAN DAN PENANGANAN KORBAN PERDAGANGAN ORANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANDUNG, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PERLINDUNGAN ANAK

PERATURAN MENTERI NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PERLINDUNGAN ANAK PERATURAN MENTERI NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PERLINDUNGAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN

Lebih terperinci

LHOKSEUMAWE COMMUTER & CENTRAL STATION ERWIN MUNTAZAR

LHOKSEUMAWE COMMUTER & CENTRAL STATION ERWIN MUNTAZAR LHOKSEUMAWE COMMUTER & CENTRAL STATION (METAFORA) LAPORAN PERANCANGAN TKA 490 - TUGAS AKHIR SEMESTER B TAHUN AJARAN 2010 / 2011 Sebagai Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Arsitektur Oleh

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA BARAT,

GUBERNUR JAWA BARAT, PERATURAN GUBERNUR JAWA BARAT NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PUSAT PELAYANAN TERPADU PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN ANAK PROVINSI JAWA BARAT GUBERNUR JAWA BARAT, Menimbang a. bahwa dalam rangka mewujudkan kesetaraan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa setiap warga negara

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG

GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG STANDAR PELAYANAN PADA PELAYANAN TERPADU KORBAN KEKERASAN BERBASIS GENDER DAN ANAK DI PROVINSI JAWA TENGAH GUBERNUR JAWA TENGAH,

Lebih terperinci

GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 42 TAHUN 2013 TENTANG PEMBENTUKAN GUGUS TUGAS PENCEGAHAN DAN PENANGANAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG

GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 42 TAHUN 2013 TENTANG PEMBENTUKAN GUGUS TUGAS PENCEGAHAN DAN PENANGANAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 42 TAHUN 2013 TENTANG PEMBENTUKAN GUGUS TUGAS PENCEGAHAN DAN PENANGANAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PENINGKATAN KUALITAS HIDUP PEREMPUAN

PERATURAN MENTERI NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PENINGKATAN KUALITAS HIDUP PEREMPUAN PERATURAN MENTERI NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PENINGKATAN KUALITAS HIDUP PEREMPUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI NEGARA PEMBERDAYAAN

Lebih terperinci

GUBERNUR NUSA TENGGARA BARAT NOMOR 8 TAHUN 2015

GUBERNUR NUSA TENGGARA BARAT NOMOR 8 TAHUN 2015 1 GUBERNUR NUSA TENGGARA BARAT NOMOR 8 TAHUN 2015 PERATURAN DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PERLINDUNGAN PEREMPUAN DAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

ANGGOTA GUGUS TUGAS PENCEGAHAN DAN

ANGGOTA GUGUS TUGAS PENCEGAHAN DAN B U K U S A K U B A G I ANGGOTA GUGUS TUGAS PENCEGAHAN DAN PENANGANAN PERDAGANGAN ORANG DI INDONESIA Penyusun Desainer : Tim ACILS dan ICMC : Marlyne S Sihombing Dicetak oleh : MAGENTA FINE PRINTING Dikembangkan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR NUSA TENGGARA BARAT,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR NUSA TENGGARA BARAT, RANCANGAN GUBERNUR NUSA TENGGARA BARAT PERATURAN DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT NOMOR :..TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PERLINDUNGAN PEREMPUAN DAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 53 TAHUN 2014 TENTANG PENYELENGGARAAN PUSAT PELAYANAN TERPADU DAN RUMAH AMAN

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 53 TAHUN 2014 TENTANG PENYELENGGARAAN PUSAT PELAYANAN TERPADU DAN RUMAH AMAN GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 53 TAHUN 2014 TENTANG PENYELENGGARAAN PUSAT PELAYANAN TERPADU DAN RUMAH AMAN GUBERNUR JAWA TIMUR, Menimbang : Bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

BUPATI TANGERANG PROVINSI BANTEN PERATURAN BUPATI TANGERANG NOMOR 32 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI TANGERANG PROVINSI BANTEN PERATURAN BUPATI TANGERANG NOMOR 32 TAHUN 2016 TENTANG BUPATI TANGERANG PROVINSI BANTEN PERATURAN BUPATI TANGERANG NOMOR 32 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA AKSI DAERAH PERLINDUNGAN PEREMPUAN DAN ANAK KORBAN KEKERASAN TAHUN 2016-2018 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

Wajib Lapor Tindak KDRT 1

Wajib Lapor Tindak KDRT 1 Wajib Lapor Tindak KDRT 1 Rita Serena Kolibonso. S.H., LL.M. Pengantar Dalam beberapa periode, pertanyaan tentang kewajiban lapor dugaan tindak pidana memang sering diangkat oleh kalangan profesi khususnya

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN MALANG

PEMERINTAH KABUPATEN MALANG PEMERINTAH KABUPATEN MALANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN MALANG NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG PERLINDUNGAN PEREMPUAN DAN ANAK KORBAN KEKERASAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MALANG, Menimbang : a.

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2008 TENTANG TATA CARA DAN MEKANISME PELAYANAN TERPADU BAGI SAKSI DAN/ATAU KORBAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG TAHUN 2016 NOMOR 2 PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG TAHUN 2016 NOMOR 2 PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG LEMBARAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG TAHUN 2016 NOMOR 2 PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG PERLINDUNGAN PEREMPUAN DAN ANAK TERHADAP TINDAK KEKERASAN DAN DISKRIMINASI DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR: 3 TAHUN 2008 TENTANG PENCEGAHAN DAN PENANGANAN KORBAN PERDAGANGAN ORANG DI JAWA BARAT

PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR: 3 TAHUN 2008 TENTANG PENCEGAHAN DAN PENANGANAN KORBAN PERDAGANGAN ORANG DI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR: 3 TAHUN 2008 TENTANG PENCEGAHAN DAN PENANGANAN KORBAN PERDAGANGAN ORANG DI JAWA BARAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA BARAT, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN BOGOR NOMOR 5 TAHUN 2015 TENTANG PERLINDUNGAN PEREMPUAN DAN ANAK DARI TINDAK KEKERASAN

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN BOGOR NOMOR 5 TAHUN 2015 TENTANG PERLINDUNGAN PEREMPUAN DAN ANAK DARI TINDAK KEKERASAN PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN BOGOR NOMOR 5 TAHUN 2015 TENTANG PERLINDUNGAN PEREMPUAN DAN ANAK DARI TINDAK KEKERASAN I. UMUM Letak Geografis Kabupaten Bogor yang berbatasan dengan ibukota

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULUNGAN NOMOR 7 TAHUN 2011 TENTANG PENGARUSUTAMAAN GENDER DALAM PEMBANGUNAN DAERAH

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULUNGAN NOMOR 7 TAHUN 2011 TENTANG PENGARUSUTAMAAN GENDER DALAM PEMBANGUNAN DAERAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULUNGAN NOMOR 7 TAHUN 2011 TENTANG PENGARUSUTAMAAN GENDER DALAM PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BULUNGAN, Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2008 TENTANG TATA CARA DAN MEKANISME PELAYANAN TERPADU BAGI SAKSI DAN/ATAU KORBAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN ANAK DALAM KONFLIK SOSIAL

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN ANAK DALAM KONFLIK SOSIAL PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN ANAK DALAM KONFLIK SOSIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KOTA YOGYAKARTA

BERITA DAERAH KOTA YOGYAKARTA 1 BERITA DAERAH KOTA YOGYAKARTA (Berita Resmi Kota Yogyakarta) Nomor : 67 Tahun 2007 Seri : D PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 62 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN TERPADU BAGI KORBAN KEKERASAN

Lebih terperinci

BUPATI BANGKA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA BARAT NOMOR 13 TAHUN 2013 PENYELENGGARAAN PERLINDUNGAN PEREMPUAN DAN ANAK KORBAN KEKERASAN

BUPATI BANGKA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA BARAT NOMOR 13 TAHUN 2013 PENYELENGGARAAN PERLINDUNGAN PEREMPUAN DAN ANAK KORBAN KEKERASAN BUPATI BANGKA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA BARAT NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN PERLINDUNGAN PEREMPUAN DAN ANAK KORBAN KEKERASAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANGKA

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 65 TAHUN 2015 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN DIVERSI DAN PENANGANAN ANAK YANG BELUM BERUMUR 12 (DUA BELAS) TAHUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

TERMINAL FERI DOMESTIK SEKUPANG - BATAM (ARSITEKTUR SIMBOLIS) DITA ANDIANI

TERMINAL FERI DOMESTIK SEKUPANG - BATAM (ARSITEKTUR SIMBOLIS) DITA ANDIANI TERMINAL FERI DOMESTIK SEKUPANG - BATAM (ARSITEKTUR SIMBOLIS) LAPORAN PERANCANGAN TKA 490 TUGAS AKHIR SEMESTER B TAHUN AJARAN 2010 / 2011 Sebagai Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Arsitektur

Lebih terperinci

WALIKOTA DENPASAR PERATURAN DAERAH KOTA DENPASAR NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN PEREMPUAN DAN ANAK KORBAN KEKERASAN

WALIKOTA DENPASAR PERATURAN DAERAH KOTA DENPASAR NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN PEREMPUAN DAN ANAK KORBAN KEKERASAN WALIKOTA DENPASAR PERATURAN DAERAH KOTA DENPASAR NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN PEREMPUAN DAN ANAK KORBAN KEKERASAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA DENPASAR, Menimbang : a. bahwa Kota

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN JEMBER PERLINDUNGAN PEREMPUAN DAN ANAK KORBAN KEKERASAN KABUPATEN JEMBER

PEMERINTAH KABUPATEN JEMBER PERLINDUNGAN PEREMPUAN DAN ANAK KORBAN KEKERASAN KABUPATEN JEMBER PEMERINTAH KABUPATEN JEMBER PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBER NOMOR 4 TAHUN 2008 TENTANG PERLINDUNGAN PEREMPUAN DAN ANAK KORBAN KEKERASAN KABUPATEN JEMBER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEMBER,

Lebih terperinci

Perbedaan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual dengan UU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Perbedaan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual dengan UU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga 4 Perbedaan dengan UU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga Bagaimana Ketentuan Mengenai dalam Undang Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga? Undang Undang Nomor

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 65 TAHUN 2015 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 65 TAHUN 2015 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 65 TAHUN 2015 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN DIVERSI DAN PENANGANAN ANAK YANG BELUM BERUMUR 12 (DUA BELAS) TAHUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

WALIKOTA PARIAMAN PERATURAN DAERAH KOTA PARIAMAN NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG PERLINDUNGAN PEREMPUAN DAN ANAK DARI TINDAK KEKERASAN

WALIKOTA PARIAMAN PERATURAN DAERAH KOTA PARIAMAN NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG PERLINDUNGAN PEREMPUAN DAN ANAK DARI TINDAK KEKERASAN WALIKOTA PARIAMAN PERATURAN DAERAH KOTA PARIAMAN NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG PERLINDUNGAN PEREMPUAN DAN ANAK DARI TINDAK KEKERASAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA KOTA PARIAMAN, Menimbang :

Lebih terperinci

PUSAT REHABILITASI HIV/AIDS DI MEDAN ( ARSITEKTUR PERILAKU )

PUSAT REHABILITASI HIV/AIDS DI MEDAN ( ARSITEKTUR PERILAKU ) PUSAT REHABILITASI HIV/AIDS DI MEDAN ( ARSITEKTUR PERILAKU ) LAPORAN PERANCANGAN TKA 490 - STUDIO TUGAS AKHIR SEMESTER B TAHUN AJARAN 2010/2011 Sebagai Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANTUL NOMOR 01 TAHUN 2010 T E N T A N G PENYELENGGARAAN KESEJAHTERAAN SOSIAL BAGI PENYANDANG MASALAH KESEJAHTERAAN SOSIAL

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANTUL NOMOR 01 TAHUN 2010 T E N T A N G PENYELENGGARAAN KESEJAHTERAAN SOSIAL BAGI PENYANDANG MASALAH KESEJAHTERAAN SOSIAL PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANTUL NOMOR 01 TAHUN 2010 T E N T A N G PENYELENGGARAAN KESEJAHTERAAN SOSIAL BAGI PENYANDANG MASALAH KESEJAHTERAAN SOSIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANTUL, Menimbang

Lebih terperinci

BUPATI BANGKA TENGAH PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA TENGAH NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG

BUPATI BANGKA TENGAH PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA TENGAH NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG BUPATI BANGKA TENGAH PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA TENGAH NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG PEMBERDAYAAN DAN PERLINDUNGAN PEREMPUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci