PROSES BERFIKIR UNTUK KARYA TULIS ILMIAH (YUYUS SURYANA SUDARMA)

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PROSES BERFIKIR UNTUK KARYA TULIS ILMIAH (YUYUS SURYANA SUDARMA)"

Transkripsi

1 PROSES BERFIKIR UNTUK KARYA TULIS ILMIAH (YUYUS SURYANA SUDARMA) 1. PENDAHULUAN Sebagian besar mahasiswa beranggapan bahwa dalam menyusun Skripsi, Tesis, dan Desertasi merupakan kendala dalam penyelesaian studinya, sehingga menjadi resah dan banyak yang mengeluh karena mengalami kesulitan dalam menulis suatu karya ilmiah. Munculnya keluhan dan kesulitan tersebut, antara lain disebabkan minimnya pengetahuan mahasiswa tentang makna dari suatu penelitian yang merupakan tulisan karya ilmiah, sehingga menimbulkan berbagai pendapat yang mengarah kepada pemikiran negatif. Anggapan serta perasaan tersebut terlalu berlebihan, karena meneliti dan menuangkan dalam bentuk tulisan karya ilmiah sebetulnya melatih diri untuk mampu mebandingkan antara fakta dengan teori yang diperoleh selama perkuliahan, untuk mencari kebenaran. Dewasa ini sudah merupakan suatu tuntutan bagi masyarakat, bahwa ide atau gagasan dan konsep tidak hanya dituangkan dalam bentuk ucapan secara lisan, tetapi menghendaki adanya kejelasan serta bukti yang dapat dirasakan dan dilihat secara langsung tentang kebenarannya. Salah satu cara untuk membuktikan penuangan gagasan atau temuan-temuan serta konsep tertentu, yaitu dengan menuangkan dalam bentuk tulisan yang dapat dijadikan bukti bahwa gagasan, konsep, atau temuan-temuan tersebut merupakan salah satu karya dari seseorang dan selanjutnya dapat dijadikan acuan bagi pihak-pihak yang berkepentingan untuk dilakukan tindakan atau diterapkan pada suatu lingkungan tertentu. Untuk mengetahui dan mempelajari fakta-fakta baru serta mencari kebenaran, maka diperlukan suatu penelitian sebagai salah satu penyaluran hasrat manusia yang biasanya ingin mengetahui. Dengan mencoba untuk melakukan penelitian, berarti sudah mempertanyakan sesuatu dengan harapan akan memperoleh jawabannya. Oleh karena itu, suatu penelitian yang bertujuan untuk menemukan suatu pengetahuan baru atau suatu kebenaran ilmiah diperlukan pedoman yang dapat digunakan, berarti diperlukannya suatu ilmu dan metoda yang mampu menuntun dalam melaksanakan suatu penelitian yaitu metodologi penelitian. 2. PENGERTIAN ILMU Akumulasi pengetahuan yang menjelaskan hubungan (korelasi atau kausalitas) yang tersusun secara sistematik rasional, lojik, metodik dan ditemukan secara empirik melalui penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan Ilmu lahir karena manusia mempunyai sifat ingin tahu 1

2 HAKEKAT ILMU Suatu alat untuk menjelaskan Mengendalikan atau meramalkan Suatu kejadian SIFAT ILMU Reproduktif Impersonal Hubungan Ilmu dengan Penelitian PENELITIAN Proses ILMU Produk / hasil PENELITIAN Proses ILMU Proses KEBENARAN Produk / hasil PROSES BERFIKIR SUATU REFLEKSI YANG TERATUR DAN HATI-HATI PROSES BERFIKIR LAHIR KARENA MANUSIA MEMPUNYAI RASA SANGSI (ingin tahu) AKAN SESUATU YANG TIMBUL MENJADI MASALAH KHUSUS YYS Teori. Istilah teori sering diartikan sama dengan ilmi dan dipakai oleh orang awam untuk menyatakan lawan dari fakta. Pada hakekatnya teori muncul berdasarkan suatu proses dari pembentukan ilmu yang merupakan hasil pengujian atas peristiwa atau fakta dilakukan dalam suatu penelitian. Sebenarnya, fakta dan teori masing-masing saling memerlukan agar berguna. Kemampuan untuk dapat mengambil keputusan-keputusan yang rasional, dan mengembangkan pengetahuan ilmiah, diukur oleh tingkat sejauhmana dapat mengkombinasikan fakta dan teori. Teori berguna dalam berbagai hal. Pertama, sebagai suatu orientasi, teori membatasi jumlah fakta yang perlu dipelajari. Setiap masalah dapat dikaji dalam berbagai cara yang berbeda, dan teori memberikan pedoman cara-cara mana yang dapat memberi hasil terbaik.teori juga memberikan sistem mana yang dapat dipakai untuk mengartikan data agar dapat dikelompokkan dalam cara yang paling berarti. Teori juga meringkas apa yang diketahui mengenai objek yang dikaji dan menyatakan keseragaman yang tidak dapat diamati dalam pengamatan langsung; dalam hal ini, teori juga dapat dipakai untuk memprediksi fakta-fakta lebih lanjut yang harus dicari. 3. HUBUNGAN PENELITIAN DENGAN ILMU 2

3 Suatu ilmu lahir karena manusia mempunyai sifat ingin tahu, sedangkan hakekat ilmu sendiri merupakan suatu alat untuk menjelaskan mengendalikan atau meramalkan suatu kejadian. Secara konseptual ilmu merupakan akumulasi pengetahuan yang menjelaskan hubungan (korelasi atau kausalitas) yang tersusun secara sistematik rasional, lojik, metodik dan ditemukan secara empirik melalui penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan. Berarti suatu ilmu terbentuk dari hasil suatu penelitian yang didasarkan pada proses berfikir ilmiah, untuk jelasnya mengenai hubungan ilmu dengan penelitian dapat diungkapkan dalam gambar sebagai berikut: H U B U N G A N P E N E L IT IA N D E N G A N IL M U U R U T A N B E R F I K I R I L M I A H Ingin tahu untuk mencari kebenaran Untuk memperoleh pengetahuan/ ilmu Bertanya (sudah berfilsafat) KEBENARAN O N T O L O G I O b je k a p a y a n g a k a n d ik a ji ( a k a r ilm u ) E P I S T I M O L O G I B a g a im a n a c a r a m e n g k a ji o b je k A K S I O L O G I B a g a im a n a m e n g g u n a k a n h a s il k a jia n ) P o n d a s i k e ilm u a n d a la m m e n c a r i k e b e n a r a n o b je k d a r i s u a tu d is ip lin ilm u (b a g a im a n a c a r a m e m p e r o le h ilm u ) M E T O D O L O G I P E N E L IT IA N Pada dasarnya manusia berusaha untuk mencari kesempurnaan dan kebenaran dalam kehidupannya, karena didorong oleh adanya hasrat ingin tahu yang selalu ada dan tidak pernah surut selama keadaan dirinya normal. Salah satu cara yang dilakukan oleh manusia untuk memenuhi keinginan untuk mengetahui dan mengungkap kebenaran, adalah dengan melakukan suatu penelitian sebab ilmu pengetahuan merupakan kumpulan pengalaman dan pengetahuan sejumlah orang yang dipadukan secara harmonis serta tersusun dengan teratur dan kebenarannya sudah teruji, sehingga bagi mereka yang 3

4 melakukan penelitian ilmu pengetahuannya semakin bertambah luas. Seseorang yang mempelajari metode penelitian dengan pemahaman yang mendalam, berarti telah menambah suatu pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk mengatasi masalah serta mampu mengadapi tantangan lingkungan, sehingga dapat mengambil keputusan secara cepat, tepat dan akurat. Pada dasarnya manusia berusaha untuk mencari kesempurnaan dan kebenaran dalam kehidupannya, karena didorong oleh adanya hasrat ingin tahu yang selalu ada dan tidak pernah surut selama keadaan dirinya normal. Salah satu cara yang dilakukan oleh manusia untuk memenuhi keinginan untuk mengetahui dan mengungkap kebenaran, adalah dengan melakukan suatu penelitian sebab ilmu pengetahuan merupakan kumpulan pengalaman dan pengetahuan sejumlah orang yang dipadukan secara harmonis serta tersusun dengan teratur dan kebenarannya sudah teruji, sehingga bagi mereka yang melakukan penelitian ilmu pengetahuannya semakin bertambah luas. Seseorang yang mempelajari metode penelitian dengan pemahaman yang mendalam, berarti telah menambah suatu pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk mengatasi masalah serta mampu mengadapi tantangan lingkungan, sehingga dapat mengambil keputusan secara cepat, tepat dan akurat. 4. PROSES BERFIKIR Proses berfikir merupakan salah satu bagian yang mendasar dalam mempelajari metode penelitian, karena inti dari penelitian adalah pertanyaan mengenai prefektif. Dari ratusan pertanyaan mengenai organisasi atau keuangan atau pemasaran dan lainnya yang dapat diajukan, masing-masing akan mempunyai sautu prespektif normatif dan diantaranya ada yang mendapat jawaban lebih baik. Pada umumnya, manusia dalam kehidupannya sehari-hari jarang memikirkan bagaimana caranya memperoleh suatu pengetahuan atau dari mana sumber pengetahuan itu berasal, padahal ini sangat penting bagi peneliti. Karena peneliti, mulai berfikir dan menunjukkan kemampuannya untuk membedakan sumber-sumber pengetahuan mana yang dapat memberikan hasil terbaik untuk situasi tertentu. 4.1 GAYA BERPIKIR Membahas tentang cara seseorang memandang terhadap permasalahan sangat bervariasi dan tergantung kepada gaya berpikir dari masing individu, sedangkan gaya berfikir dari setiap individi merupakan perspektif atau saringan untuk menentukan bagaimana dapat memandang dan mengerti dunia nyata. Salah satu cara yang lebih baik dari gaya-gaya berfikir lainnya, adalah melalui metode pengkajian ilmiah. Meskipun metode ilmiah ini merupakan cara yang unggul bagaimana memperoleh informasi, tetapi metode ilmiah bukan satu-satunya sumber kebenaran. Namun, masalah-masalah tertentu tidak menutup kemungkinan ada juga gaya berpikir yang lain mempunyai pengaruh nyata dan sering berguna, diantaranya terhadap permasalahan yang berkaitan dengan bisnis dalam hal ini lebih berperan instusi dari individu yang bersangkutan. Pada umumnya, gaya berpikir yang dikaitkan dengan metode ilmiah dianggap sebagai alat yang ampuh untuk mendapatkan kebenaran, walaupun kebenaran mungkin tidak kekal. Akan tetapi, metode ilmiah bukanlah satu-satunya sebagai sumber pengetahuan, karena sumber-sumber pengetahuan cukup bervariasi mulai dari pendapat 4

5 yang tidak diuji sampai dengan gaya berfikir yang sangat sistematis dan/atau dari sudut pandang yang sangat interpretatif dikenal sebagai pandangan idealisme sampai dengan sudut pandang empiris yang dapat diamati dengan dukungan data konkrit. Empiris berarti mencatat pengamatan dan proposisi berdasar pengalaman dan/atau diturunkan dari pengalaman melalui penalaran induktif, termasuk matematika dan statistika. Penganut paham empiris berusaha untuk menggambarkan, menjelaskan, dan membuat prediksi melalui pengamatan. Pengetahuan ilmiah diperoleh melalui pendekatan-pendekatan induktif dan rasional. Pengetahuan ini juga dijamin kebenarannya melalui cara-cara teoritis yang didasarkan kepada penalaran deduktif. Rasionalisme dimaksudkan bahwa penalaran merupakan sumber pengetahuan yang utama. Rasionalisme berbeda dengan empirisme dalam hal bahwa semua pengetahuan dapat dideduksi dari aturan-aturan atau hukum-hukum dasar mengenai alam. Hal ini dianggap mungkin karena aturan-aturan dasar membentuk dunia secara logika. Penganut pandangan ini mempertahankan pendapat bahwa berbagai masalah paling bisa dimengerti dan diselesaikan melalui logika formal atau matematika. Upaya-upaya demikian, tentunya, berjalan secara independen dari pengamatan dan pengumpulan data. Pendapat yang tidak diuji merupakan bentuk pengetahuan yang tetap dijalani orang, meskipun ada bukti-bukti yang tidak mendukung pengetahuan ini. Tidak banyak yang dapat dilakukan para peneliti bisnis untuk dapat meningkatkan pengertian mengenai kenyataan dari sudut pandang ini, biasanya sangat bersifat spekulasi dan siap untuk mengadapi berbagai risiko pada kenyataan pada waktunya. Suatu cara lain untuk memperoleh pengetahuan adalah metode kebenaran yang terbukti dengan sendirinya, hal ini merupakan kesimpulan dari hukum-hukum alam yang ada Gaya berpikir harafiah mempunyai sudut pandang yang diarahkan ke pusat. Gaya berpikir ini dipakai dalam banyak studi kasus dalam ilmu-ilmu sosial. Studi kasus memainkan peran yang penting dalam perkembangan pengetahuan bisnis. Metode ilmiah berdekatan dengan ujung empiris. Prinsip-prinsip pokok dari metode ilmiah adalah: (1) pengamatan langsung terhadap fenomena, (2) variabelvariabel, metode-metode, dan prosedur-prosedur yang dirumuskan secara jelas, (3) hipotesis-hipotesis yang dapat diuji secara empiris, (4) kemampuan untuk menolak hipotesis-hipotesis tandingan, (5) pembenaran kesimpulan secara statistis dan bukan pembenaran secara linguistik, dan (6) proses koreksi. Berbagai gaya berpikir ini saling mempengaruhi arah penelitian dalam bisnis, sama seperti dalam ilmu-ilmu sosial dan perilaku. Gaya postulasi, merupakan gaya berfikir dengan tujuan dari perspektifnya adalah untuk meringkas objek studi menjadi istilah-istilah matematis yang formal, biasanya dipakai untuk merumuskan teoremateorama yang merupakan bukti-bukti logis. Penelitian-penelitian yang berkaitan dengan penelitian operasi, manajemen produksi, permodelan matematis, dan simulasi, termasuk dalam gaya postulasi. Berbagai gaya berpikir yang ada, memungkinkan untuk dijadikan kerangka dalam menghadapi berbagai masalah bisnis. Beberapa perspektif, seperti gaya postulat, bergantung kepada proses deduktif logis. Sebaliknya, metode ilmiah memakai induksi; kesimpulan-kesimpulan yang ditarik mengenai ciri-ciri populasi didasarkan pada ciri-ciri sampel yang diamati. 4.2 PROSES BERPIKIR : PENALARAN 5

6 Penyelidikan ilmiah didasarkan pada proses. Proses ini dipakai untuk mengembangkan dan menguji berbagai proposisi, terutama melalui gerak ganda berpikir reflektif. Berpikir reflektif terdiri dari urutan induksi dan deduksi agar dapat menjelaskan secara induktif (melalui hipotesis) suatu keadaan yang membingungkan. Hipotesis dipakai dalam deduksi fakta-fakta lebih lanjut yang dapat dicari untuk menegaskan atau menolak kebenaran hipotesis. Dalam melakukan penalaran dengan berbagai tingkat keberhasilan, dan mengkomunikasikan pesan yang akan disampaikan, yang disebut arti, dalam bahasa sehari-hari, atau dalam kasus-kasus khusus, dalam bentuk logis dan simbolis. Pengertian disampaikan melalui dua cara : eksposisi atau argumentasi. Eksposisi terdiri dari pernyataan-pernyataan deskriptif yang sekedarnya dan tidak memungkinkan alasanalasannya. Di pihak lain, argumentasi memungkinkan untuk memberikan penjelasan, mengartikan, membela, menantang dan menjajaki pengertian. Dua jenis argumentasi yang sangat penting dalam penelitian adalah deduksi dan induksi. Deduksi merupakan bentuk inferensi yang bertujuan menarik kesimpulan. Kesimpulan ini haruslah sebagai akibat dari alasan alasan yang diajukan. Alasan-alasan ini dikatakan mencerminkan suatu kesimpulan dan memberikan suatu bukti. Ini adalah hubungan antara alasan dan kesimpulan yang lebih kuat daripada dalam induksi. Deduksi dikatakan tepat, jika benar dan sahih. Ini berarti bahwa premis (alasan) yang diberikan untuk kesimpulan harus sesuai dengan kenyataan (benar). Selain itu, premis-premis diatur dalam suatu bentuk sehingga kesimpulannya dapat ditarik dengan sederhana dari premis-premis tersebut. Suatu deduksi adalah sahih bilamana kesimpulan tidak mungkin salah jika premis adalah benar. Para pakar logika telah menetapkan aturan-aturan dimana orang dapat menilai kapan suatu deduksi adalah sahih. Kesimpulan tidak dibenarkan secara logis jika (1) satu atau lebih premis tidak benar, atau (2) bentuk argumentasi tidak sahih. Namun demikian, kesimpulannya mungkin saja merupakan pernyataan yang benar, tetapi karena adanya alasan-alasan lain di luar premis-premis tadi. Induksi. Penalaran induktif sangat berlainan. Tidak ada hubungan yang kuat antara alasan dan kesimpulan. Melakukan induksi adalah menarik kesimpulan dari satu atau lebih fakta atau bukti-bukti. Kesimpulan menjelaskan fakta,dan faktanya mendukung kesimpulannya. Sifat induksi adalah bahwa kesimpulannya hanya merupakan suatu hipotesis. Induksi merupakan suatu penjelasan, tetapi ada penjelasan penjelasan lain yang juga cocok dengan fakta-fakta. Inti pokok dari penalaran induktif adalah bahwa kesimpulan induktif merupakan loncatan inferensi di luar bukti-bukti yang ada. Gabungan Induksi dan Deduksi. Proses induksi dan deduksi dipakai dalam penalaran penelitian secara berurutan. Induksi timbul bilamana adanya pengamatan suatu fakta dan timbulnya suatu pertanyaan, sebagai jawaban atas pertanyaan ini, diajukan suatu penjelasan sementara (hipotesis). Hipotesis ini mungkin jika hipotesis tersebut menjelaskan peristiwa atau kondisi (fakta) yang menyebabkan pertanyaan. Deduksi merupakan proses pengujian apakah hipotesis dapat menjelaskan fakta. Untuk menguji suatu hipotesis, harus dapat membuat deduksi fakta-fakta lain dari hipotesis, yang kemudian diselidiki kebenarannya. Inilah penelitian klasik. Dengan membuat deduksi mengenai fakta-fakta atau peristiwa-peristiwa khusus lainnya berdasarkan hipotesis dan kemudian mengumpulkan informasi untuk melihat apakah deduksi deduksi yang dibuat adalah benar. 6

7 Berpikir Reflektif dan Metode Ilmiah. Induksi dan deduksi, pengamatan, dan uji hipotesis dapat dikombinasikan secara sistematis untuk menggambarkan metode ilmiah. Adanya pemikiran-pemikiran yang muncul, untuk keperluan analisis penyelesaian masalah, menggambarkan suatu pendekatan untuk menilai kesahihan kesimpulankesimpulan dari peristiwa-peristiwa yang dapat diamati; pemikiran-pemikiran ini terutama sesuai bagi para peneliti yang mendasarkan kesimpulan pada data empiris. Sikap Ilmiah. Jika peralatan berpikir merupakan otaknya ilmu, maka sikap ilmiah merupakan jiwanya. Sikap ilmiah melepaskan dorongan kreatif yang memungkinkan penemuan-penemuan. Semua peneliti melatih imajinasi dalam proses penemuan, dalam menangkap aspek paling penting dari permasalahan, atau dalam memilih suatu teknik yang mengungkapkan fenomena dalam keadaannya yang paling alamiah. Para peneliti menganggap melakukan penelitian di bidang ilmu tertentu sebagai suatu proses yang teratur yang mengkombinasikan induski, deduksi, pengamatan, dan pengujian hipotesis menjadi suatu rangkaian kegiatan berpikir reflektif. Meskipun metode ilmiah tidak berarti dari tahapan berurutan atau independen, proses penyelesaian masalah yang diungkapkan memberikan pengertian bagaimana cara penelitian dilakukan. 5. BERPIKIR ILMIAH : KONSEP, KONSTRUK, DEFINISI dan VARIABEL Metode ilmiah dan berpikir ilmiah didasarkan pada konsep-konsep, yaitu simbolsimbol yang diungkapkan dengan sejumlah pengertian. Sehingga menciptakan konsep bagaimana berpikir dan mengkomunikasikan abstraksi-abstraksi. Penggunaan konsepkonsep yang lebih tinggi konstruk untuk tujuan penjelesan ilmiah khusus yang tidak secara langsung dapat diamati. Konsep, konstruk, dan variabel dapat dirumuskan secara deskriptif atau operasional. Definisi operasional, hal yang penting sekali dalam penelitian, harus merinci secara cukup informasi empiris yang diperlukan dan bagaimana informasi tersebut dikumpulkan. Selain itu, definisi operasional harus mempunyai ruang lingkup yang sesuai bagi masalah penelitian yang dihadapi. Konsep dan konstruk dipakai pada tingkat teoritis, variabel dipakai pada tingkat empiris. Variabel diberi angka atau nilai untuk tujuan pengujian dan pengukuran. Variabel-variabel tersebut dapat digolongkan sebagai penjelas (independen, dependen, atau moderator), luar biasa dan antara. Untuk dapat mengerti dan menyampaikan informasi mengenai objek-objek dan peristiwa-peristiwa, maka diperlukan dasar yang umum dalam merealisasikan hal tersebut. Konsep-konsep dipakai untuk mencapai tujuan tersebut. Konsep merupakan sejumlah pengertian atau ciri yang berkaitan dengan berbagai peristiwa, objek, kondisi, situasi, dan hal lain yang sejenis. Konsep-konsep diciptakan dengan menggolongkan dan mengelompokkan objek-objek atau peristiwa peristiwa yang mempunyai ciri yang sama. Sumber-sumber konsep. Konsep-konsep yang sering dan umum dipakai telah berkembang dari waktu ke waktu. Konsep-konsep umum merupakan bagian terbesar dari komunikasi bahkan dalam penelitian. Terkadang kesulitan timbul apabila menghadapi suatu konsep yang tidak lazim atau suatu pemikiran yang baru. Suatu cara untuk mengatasi masalah ini adalah dengan meminjam dari bahasa-bahasa lain atau meminjam dari bidang-bidang lain, dan atau dari disiplim ilmu lain bila diperlukan. 7

8 Meminjam teori atau konsep dari bidang atau ilmu lain tidak selalu sesederhana itu dan tidak praktis langsung digunakan,akan tetapi diperlukan adanya kajian-kajian yang logic diantaranya: (1) mengadopsi pengertian-pengertian baru untuk kata-kata (membuat suatu kata mencakup suatu konsep yang berbeda atau (2) mengembangkan label-label (kata-kata) baru untuk konsep-konsep. Mengadopsi pengertian-pengertian baru atau mengembangkan label-label baru, berarti mengembangkan suatu terminologi yang khusus. Terminologi khusus jelas meningkatkan efisiensi berkomunikasi di antara para ahli, tetapi tidak mengabaikan atau mengecualikan pihak lainnya. Pentingnya Konsep dalam Penelitian. Konsep merupakan dasar bagi pemikiran dan komunikasi, akan tetapi tidak sedikit yang kurang memberi perhatian kepada pengertian konsep dan masalah-masalah yang dihadapi dalam pemakaiannya. Dalam penelitian, persoalan-persoalan khusus berkembang karena kebutuhan akan ketepatan konsep dan menemukan hal-hal yang baru. Mendesain hipotesis digunakan suatu konsep. Dalam menguji hipotesis dirancang konsep-konsep pengukuran untuk menguji pernyataan-pernyataan hipotesis tersebut. Mengumpulkan data dengan memakai konsepkonsep pengukuran ini, bahkan mungkin menciptakan konsep-konsep baru untuk menyatakan sebuah pemikiran. Keberhasilan penelitian tergantung kepada (1) sejauh mana perumusan suatu konsep dibuat secara jelas, dan (2) sejauhmana pihak lain mengerti konsep-konsep yang diajukan. Masalah-masalah dalam Pemakaian Konsep. Pemakaian konsep menimbulkan kesulitan-kesulitan yang dipertegas dalam situasi penelitian. Setiap orang memiliki pemahaman yang berbeda terhadap kata-kata atau label-label tertentu yang membentuk konsep tersebut. Konsep-konsep tersebut menggambarkan tingkat abstraksi yang progresif, yaitu tingkat sejauh mana konsep mempunyai atau tidak mempunyai rujukan objektif. Konstruk. Sebagaimana dipakai dalam penelitian ilmu-ilmu sosial, sebuah konstruk merupakan suatu bayangan atau pemikiran yang secara khusus diciptakan bagi suatu penelitian dan / atau untuk tujuan membangun teori. Membangun konstruk dengan mengkombinasikan konsep-konsep yang sederhana, khususnya bilamana pemikiran atau bayangan yang ingin dikomunikasikan tidak secara langsung dapat diamati. Definisi. Kebingungan mengenai pengertian konsep-konsep dapat merusak nilai suatu penelitian. Jika kata-kata mempunyai pengertian yang berbeda-beda bagi pihakpihak yang terkait, maka tidak adanya komunikasi pada gelombang pemikiran yang sama. Salah satu cara untuk menghindari hal ini adalah dengan memakai definisi-definisi. Definisi-Definisi Operasional. Suatu definisi operasional adalah definisi yang dinyatakan dalam kriteria atau operasi yang dapat diuji secara khusus. Artinya suatu definisi yang siap untuk dioperasikan atau istilah lain adalah defines kerja. Istilah-istilah ini harus mempunyai rujukan-rujukan empiris. Apakah objek yang akan didefinisikan adalah objek fisik, definisinya harus merinci ciri-ciri yang akan dipelajari dan bagaimana mengamatinya. Rincian-rincian dan prosedur-prosedunya harus sedemikian jelas sehingga setiap orang yang berkompeten yang akan memakainya dapat mengklasifikasikan objeknya dengan cara yang sama. Apapun bentuk definisinya, tujuannya dalam penelitian pada dasarnya sama memberikan pengertian dan pengukuran konsep-konsep. Oleh karena itu dalam mengoperasikan variable agar dapat 8

9 diaplikasikan untuk melaksanakan suatu penelitian, sangatlah diperlukan suatu konsep yang merupakan definisi kerja dan harus terukur yang kemudian diikuti dengan indicatorindikator yang sesuai dengan tujuan yang akan dicapai bagi suatu penelitian. Variabel. Dalam praktek istilah variabel dipakai oleh para ilmuwan dan peneliti sebagai sinonim untuk konstruk atau hal yang sedang diteliti. Dalam konteks ini, suatu variabel merupakan simbol yang diberi angka atau nilai. Variabel independen dan dependen merupakan salah satu bentuk sinonim dari konstruk atau hal yang sedang diteliti. Para peneliti paling berkepentingan dengan hubungan-hubungan antar variabel. Dalam suatu hubungan, setidak-tidaknya ada satu variabel independen (VI) dan satu variabel dependen (VD). Hipotesisnya biasanya menyatakan bahwa dengan satu atau lain cara VI menyebabkan terjadinya VD. Dalam hubungan yang sederhana, semua variabel lainnya dianggap tidak relevan dan diabaikan. Variabel Moderator. Dalam situasi penelitian sebenarnya, hubungan sederhana satu lawan satu perlu dikondisikan dan direvisi agar variabel-variabel lain turut dipertimbangkan. Sering dalam penelitian dipakai jenis variabel penjelas penting yang lain yaitu variabel moderator. Merupakan variabel independen kedua yang dicakup dalam hipotesis, karena diduga mempunyai dampak yang berarti terhadap hubungan VI VD. Variabel Luar Biasa. Ada variabel-variabel luar biasa yang jumlahnya hampir tidak terbatas yang mungkin saja berpengaruh pada suatu hubungan tertentu. Beberapa di antaranya dapat diperlakukan sebagai variabel-variabel independen atau moderator, tetapi kebanyakan harus diasumsikan saja atau dikecualikan dari penelitian. Akan tetapi mungkin ada variabel-variabel luar biasa lain yang barangkali harus dipertimbangkan sebagai variabel yang berpengaruh kepada hubungan VI-VD. Variabel Antara. Variabel-variabel yang dikemukakan sehubungan dengan hubungan-hubungan kausal merupakan variabel-variabel yang konkrit, jelas dapat diukur, dan dapat dilihat, dihitung, atau diamati. Variabel antara dapat dirumuskan sebagai faktor yang secara teori berpengaruh pada fenomena yang diamati tetapi tidak dapat dilihat, diukur, atau dimanipulasi, dampak-dampaknya harus disimpulkan berdasarkan dampak variabel-variabel independen dan moderator terhadap fenomena yang diamati. 6. PROPOSISI dan HIPOTESIS Proposisi sangat penting dalam penelitian karena dapat dipakai untuk menilai kebenaran atau kepalsuan suatu hubungan antara fenomena yang diamati. Suatu hipotesis menggambarkan hubungan antara atau antar variabel. Hipotesis yang baik adalah yang dapat menjelaskan apa yang ingin dijelaskan, dapat diuji, dan lebih luas, lebih mungkin dan lebih sederhana dari saingan-saingannya. Rangkaian konsep yang saling berkaitan, definisi-definisi dan proposisi-proposisi yang diajukan untuk menjelaskan dan memprediksi fenomena merupakan teori-teori. Model berbeda dari teori dalam hal bahwa model merupakan analogi atau mewakili suatu aspek dari suatu sistem atau sistem sebagai keseluruhan. Model dipakai untuk menjelaskan, menegaskan dan simulasi. 9

10 Definisi Proposisi adalah suatu pernyataan mengenai konsep-konsep yang dapat dinilai benar atau salah jika merujuk kepada fenomena yang dapat diamati. Bilamana suatu proposisi dirumuskan untuk diuji secara empiris, maka disebut hipotesis. Sebagai suatu pernyataan, hipotesis bersifat sementara atau dugaan yang masih perlu diuji. Hipotesis kadang-kadang digambarkan sebagai pernyataan-pernyataan dimana ditetapkannya variabel-variabel kepada kasus-kasus. Suatu kasus dalam pengertian ini dirumuskan sebagai suatu kesatuan atau hal yang dinyatakan oleh hipotesis. Variabel merupakan ciri, atau atribut yang dalam hipotesis dicantumkan pada kasus.hipotesis Deskriptif. Hipotesis deskriptif merupakan proposisi yang menyatakan keberadaan, besar, bentuk, atau distribusi suatu variabel, biasanya diuji hanya satu variable membandingkan dengan standar yang logic dan dapat diterima secara umum untuk itu dapat ditentukan berdasarkan criteria tertentu yang logis serta dapat menumbuhkan keyakinan melalui sutau proses secara transparan dan memiliki argumantasi yang kuat dalam menentukan standar sebagai tolok ukura untuk menentukan bahwa hasil suatu penelitian tersebut dapat diterima atau ditolak hipotesisnya. Sedangkan Hipotesis Mengenai Hubungan. Hipotesis ini merupakan pernyataan-pernyataan yang menggambarkan suatu hubungan antara dua variabel, berkaitan dengan suatu kasus tertentu. Peranan Hipotesis. Dalam penelitian, suatu hipotesis mempunyai berbagai fungsi penting. Fungsinya yang paling penting adalah sebagai pedoman untuk mengarahkan penelitian. Kebaikan suatu hipotesis adalah bahwa jika ditanggapi secara serius, dapat memberikan batasan kepada apa yang akan diteliti dan apa yang tidak diteliti. Dengan demikian hipotesis mengarahkan bentuk desain penelitian mana yang paling sesuai. Akhirnya suatu hipotesis memberikan kerangka untuk menyusun kesimpulan yang akan dihasilkan. Bagaimana suatu hipotesis yang baik?. Suatu hipotesis yang baik harus memenuhi tiga syarat. Syarat yang paling mendasar adalah bahwa hipotesis ini sesuai dengan tujuannya. Kondisi pokok yang kedua adalah hipotesis harus dapat diuji. Syarat ketiga adalah hipotesis harus lebih baik dari hipotesis-hipotesis saingannya, dengan pengertian bahwa suatu hipotesis yang dalam hal ini adalah H harus lebih baik daripada Ho. Secara umum, hipotesis yang baik adalah lebih luas, menjelaskan lebih banyak fakta dan lebih beragam dibandingkan dengan hipotesis-hipotesis lainnya. Suatu hipotesis tidak harus membenarkan suatu fakta atau suatu peristiwa yang belum terbukti kebenarannya, tapi harus didasarkan kepada pemikiran yang logic dengan pola berfikir positif dan bukanlah suatu hasil harus dicapai dalam suatu penelitian, sehingga merupakan suatu pernyataan yang maknanya sangat sempit dan cenderung lebih besifat subjective. Hal seperti itulah yang harus dihindari, sehingga diperlukan suatu pemikiran yang lebih luas dan bermakna bagi pengembangan suatu ilmu, karenya diperlukan proses berfikir yang bersifat objectives dan berargumentasi agar dapat dijadikan rujukan bagi pihak-pihak yang berkepntingan secara akdemik. Model. Istilah model dipakai berbagai bidang bisnis dengan definisi yang beragam. Suatu model dirumuskan sebagai cerminan suatu sistem yang dibuat untuk mempelajari salah satu aspek dari sistem ataud ari sistem sebagai keseluruhan. Model 10

11 berbeda dari teori dalam hal bahwa tugas teori adalah menjelaskan, sementara tugas model adalah mewakili. Mendeskripsikan, menegaskan, dan melakukan simulasi merupakan fungsi utama dari permodelan. Masing-masing fungsi cocok untuk penelitian terapan atau pengembangan teori. Model deskriptif berusaha untuk menggambarkan perilaku unsurunsur dalams suatu sistem dimana teori tidak cukup atau tidak ada. Model penegasan dipakai untuk memperluas penerapan dari teori-teori yang sudah dikembangkan atau untuk meningkatkan pengertian mengenai konsep-konsep pokok teori. Model simulasi lebih luas jangkauannya daripada sekedar menjelaskan hubungan struktural konsepkonsep dan berusa untuk mengungkapkan hubungan-hubungan proses diantara konsepkonsep tersebut. VII. LAPORAN PENELITIAN 7.1. Outline Laporan Penelitian UNSUR Pernyataan masalah yang akan dipecahkan Prosedur Penelitian Penemuan Hasil Penelitian Implikasi dari Hasil Penelitian. URAIAN - Alasan mengapa masalah itu penting. - Relevansi pemecahan masalah dengan teori atau praktis dalam masyarakat - Rancangan penelitian - Teknik sampling - Teknik pengumpulan data - Metode pengolahan dan analisis - Bukti / fakta lengkap dari penelitian - Fakta harus relevan dengan tujuan, hipotesis dan masalah penelitian - Interpretasi terhadap fakta - Keterangan terhadap fakta - Kombinasi keterangan dan Interpretasi 7.2 Kerangka Usulan Penelitian JUDUL (Ditulis di cover Usulan Penelitian) KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN BAB I : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian 1.2 Identifikasi dan Rumusan Masalah 11

12 1.3 Tujuan Penelitian 1.4 Kegunaan Penelitian BAB II : KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS 2.1 Kajian Pustaka 2.2 Kerangka Pemikiran 2.3 Hipotesis BAB III : METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian yang Digunakan 3.2 Operasionalisasi Variabel 3.3 Sumber dan Cara Penentuan Data 3.4 Tehnik Pengumpulan Data 3.5 Rancangan Analisis dan Rancangan Uji Hipotesis ( termasuk Pengujian Validitas/ relaibilitas data ) 3.6 Rancangan Pemecahan Masalah DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN 7.3. Kerangka Laporan Penelitian JUDUL (Ditulis di cover Usulan Penelitian) ABSTRACT ABSTRAK KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN BAB I : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian 1.2 Identifikasi dan Rumusan Masalah 1.3 Tujuan Penelitian 1.4 Kegunaan Penelitian BAB II : KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS 2.1 Kajian Pustaka 2.2 Kerangka Pemikiran 2.3 Hipotesis BAB III : METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian yang Digunakan 3.2 Operasionalisasi Variabel 3.3 Sumber dan Cara Penentuan Data 3.4 Tehnik Pengumpulan Data 12

13 3.5 Rancangan Analisis dan Rancangan Uji Hipotesis ( termasuk Pengujian Validitas/ relaibilitas data ) 3.6 Rancangan Pemecahan Masalah IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN dst. V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan 5.2 Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN 8. KESIM[PULAN Karya tulis ilmiah merubpakan salah satu bagian dalam proses pembejaran pada sutau perguruan tinggi yang menghasilkan pemikiran intelektual, dengan kajian dan proses berfikir berdasarkan kepada fakta dan teori yang dapat dibuktikan kebenarannya. Oleh karena itu autput dari suatu propgram pendidikan yang bersifat akademik, dituntut untuk memberikan kontrbisi pemikirannya melalui suatu penelitian yang merupakan salah satu bentuk dari karya ilmiah dalam rangka mewujudkan kebenaran dan memberikan arahan untuk menghadapi perubahan pada masa yang akan dating. Karya ilmiah tersebut dapat dipertanggung jawabkan demi pengembangan dalam kehidupan maupun dalam berbisinis untuk lebih mampu memertahankan kelanjutan hidupnya dan unggul dalam bersaing di era globalisas. Semoga apa yang disajikan dalam tulisan ini, dapat memberikan manfaat demi kelancaran untuk mencapai apa yang dicita-citakan oleh kita semua, dan ucama terima kasih atas perhatian serta kerjasamanya yang baik demi tewujudnya proses pembelajaran secara kondusif Amin. Wasallam. Daftar Pustaka 1. Aacker, David A,V.Kumar and Geoge S. Day, 2004., Marketing Research., Eight Edition, John Wiley & Sons Inc Canada 2. Burns, Alvin C.and Ronald F.Bush,1998., Marketing Research., International Edition,by Prentice-Hall, Inc., A Simon & Schuster Company, Upper Saddle,New Jersey. 3. Burns, Alvin C.and Ronald F.Bush,2003., Marketing Research, Online Reseach Application, Fourth Edition,by Prentice-Hall,Inc. 4. Cooper Donald R.and Emory C.William.,1995., Business Research Methods, Fifth Editions., Richard D.Irwin,Inc.,New York. 5. Cooper Donald R.and Schindler Pamela S.,2003., Business Research Methods, Internatinal Editions., McGraw-Hill Companies,Inc.,New York. 6. Dillon, William R.Thomas J, Mdden, and Niel H. Firtle, 1994, Marketing Research in a Marketing Environment. Thirt Edition, Richard D, Irwin Inc. USA. 7. Hoover, Kenneth R., 1991, The Elements of Social Scientific Thinking, St.Martin s Perss, Fifth Edition, New York. 8. Jarboe Glen R.,1996., The Marketing Research Project Manual., Weat Publishing Co., New York. 9. Kumar V,2000., International Marketing Research, Prentice Hall. 10. Malhotra, Naresh K., 2002, Basic Marketing Research, Applications to Contemporary Issues, International Edition, by, Pearson Ed,ucation, Inc, Upper Saddle River, New Jersey 13

14 11. Malhotra, Naresh K., 2004, Marketing Research, an Applied Orientation, Fourth Edition, by, Pearson Ed,ucation, Inc, Upper Saddle River, New Jersey 12. McDaniel Carl,Jr.and Roger Gates, 1996., Contemporary Marketing Research., Weat Publishing Co., New York. 13. McDaniel, Carl and Roger Gates,2002, Marketing Reseach, the Compact of the Internet, Fifth Editions, South Western USA. 14. Zikmund William G.,2003., Business Research Methods., 7 th Edition Tomson South-Western 14

Prof. DR.H.YUYUS SURYANA SUDARMA, S.E.,M.S.

Prof. DR.H.YUYUS SURYANA SUDARMA, S.E.,M.S. Prof. DR.H.YUYUS SURYANA SUDARMA, S.E.,M.S. URUTAN BERFIKIR ILMIAH Ingin tahu untuk mencari kebenaran Untuk memperoleh pengetahuan/i lmu Bertanya (sudah berfilsafat) KEBENARAN ONTOLOGI Objek apa yang akan

Lebih terperinci

PENELITIAN DAN METODE ILMIAH. BY: EKO BUDI SULISTIO

PENELITIAN DAN METODE ILMIAH. BY: EKO BUDI SULISTIO PENELITIAN DAN METODE ILMIAH BY: EKO BUDI SULISTIO Email: eko.budi@fisip.unila.ac.id PENELITIAN Bhs Inggris : Research re kembali ; search mencari. Secara bahasa berarti mencari kembali Penelitian dapat

Lebih terperinci

Hubungan Ilmu Pengetahuan dengan Penelitian Disusun oleh: Ida Yustina, Prof. Dr.

Hubungan Ilmu Pengetahuan dengan Penelitian Disusun oleh: Ida Yustina, Prof. Dr. Hubungan Ilmu Pengetahuan dengan Penelitian Disusun oleh: Ida Yustina, Prof. Dr. Seorang peneliti jauh lebih baik berbuat kesalahan, ketimbang berkata yang tidak benar. Ilmu Pengetahuan (Science) Awal

Lebih terperinci

ILMU DAN PENELITIAN Sub Pembahasan : 1) Ilmu dan Penalaran 2) Penelitian ilmiah 3) Proposisi dan Teori Dalam Penelitian 4) Metode Penelitian

ILMU DAN PENELITIAN Sub Pembahasan : 1) Ilmu dan Penalaran 2) Penelitian ilmiah 3) Proposisi dan Teori Dalam Penelitian 4) Metode Penelitian ILMU DAN PENELITIAN Sub Pembahasan : 1) Ilmu dan Penalaran 2) Penelitian ilmiah 3) Proposisi dan Teori Dalam Penelitian 4) Metode Penelitian tedi - last 08/16 Ilmu. Ilmu adalah pengetahuan tentang fakta,

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN METODOLOGI PENELITIAN DR. SITI KOMARIAH HILDAYANTI, S.TP. M.M. s.k.hildayanti@gmail.com Referensi: Business Research Method, 2003 by Zikmund Business Risearch Methods, 2005, Donal R. Cooper & Pamela S.

Lebih terperinci

KE ARAH PEMIKIRAN FILSAFAT

KE ARAH PEMIKIRAN FILSAFAT KE ARAH PEMIKIRAN FILSAFAT Prof. Dr. Almasdi Syahza,, SE., MP Peneliti Senior Universitas Riau Email : asyahza@yahoo.co.id syahza.almasdi@gmail.com Website : http://almasdi.staff.unri.ac.id Pengertian

Lebih terperinci

ILMU, METODE ILMIAH DAN PENELITIAN ILMIAH KULIAH MATERI

ILMU, METODE ILMIAH DAN PENELITIAN ILMIAH KULIAH MATERI PERTEMUAN 1 DOSEN VED,SE.,MSI.,AK.,CA MATERI ILMU, METODE ILMIAH DAN PENELITIAN ILMIAH KULIAH MATERI ILMU, METODE ILMIAH DAN PENELITIAN ILMIAH 1.1 Pengertian dan Komponen Ilmu 1.2 Metode Ilmiah 1.3 Penelitian

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. A. Kemampuan Penalaran Matematis. Menurut Majid (2014) penalaran adalah proses berpikir yang

BAB II KAJIAN TEORI. A. Kemampuan Penalaran Matematis. Menurut Majid (2014) penalaran adalah proses berpikir yang BAB II KAJIAN TEORI A. Kemampuan Penalaran Matematis Menurut Majid (2014) penalaran adalah proses berpikir yang logis dan sistematis atas fakta-fakta yang empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh

Lebih terperinci

6/10/ MHS DAPAT MENJELASKAN APA YG DIMAKSUD PENELITIAN ILMIAH. 2. MHS DAPAT MENJELASKAN HUB PENELITIAN DGN PENGEMBANGAN IPTEK

6/10/ MHS DAPAT MENJELASKAN APA YG DIMAKSUD PENELITIAN ILMIAH. 2. MHS DAPAT MENJELASKAN HUB PENELITIAN DGN PENGEMBANGAN IPTEK 1. MHS DAPAT MENJELASKAN APA YG DIMAKSUD PENELITIAN ILMIAH. 2. MHS DAPAT MENJELASKAN HUB PENELITIAN DGN PENGEMBANGAN IPTEK 1 MANUSIA SBG MAHLUK BERAKAL PENGALAMAN PENCARIAN KEBENARAN RESEARCH / RISET =

Lebih terperinci

ILMU SEBAGAI AKTIVITAS PENELITIAN DAN METODE ILMIAH

ILMU SEBAGAI AKTIVITAS PENELITIAN DAN METODE ILMIAH ILMU SEBAGAI AKTIVITAS PENELITIAN DAN METODE ILMIAH Ilmu adalah sebagai aktivitas penelitian. Sudah kita ketahui bersama bahwa ilmu mempunyai andil yang cukup besar dalam perkembangan kehidupan manusia

Lebih terperinci

RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RPKPS)

RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RPKPS) RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RPKPS) Mata Kuliah KODE/SKS Deskripsi : METODE PENELITIAN : / 3 SKS : Mata kuliah ini akan memperkenalkan mahasiswa tentang pengertian dan hubungan ilmu

Lebih terperinci

LANDASAN ILMU PENGETAHUAN DAN PENELITIAN. Oleh Agus Hasbi Noor

LANDASAN ILMU PENGETAHUAN DAN PENELITIAN. Oleh Agus Hasbi Noor LANDASAN ILMU PENGETAHUAN DAN PENELITIAN Oleh Agus Hasbi Noor Ilmu dan Proses Berpikir Ilmu atau sains adalah pengetahuan tentang fakta-fakta, baik natura atau sosial yang berlaku umum dan sistematik.

Lebih terperinci

MEMFORMULASIKAN KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS

MEMFORMULASIKAN KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS MEMFORMULASIKAN KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS Diresume dari presentasi Rahmanita Syahdan, Misnasanti, dan Rospala Hanisah Yukti Sari pada mata kuliah Metode Penelitian Penelitian pada Rabu 26 Oktober

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Setiap karya ilmiah yang dibuat disesuaikan dengan metodologi penelitian. Dan

BAB III METODE PENELITIAN. Setiap karya ilmiah yang dibuat disesuaikan dengan metodologi penelitian. Dan BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian Setiap karya ilmiah yang dibuat disesuaikan dengan metodologi penelitian. Dan seorang peneliti harus memahami metodologi penelitian yang merupakan

Lebih terperinci

Metode, Sikap, Proses, dan Implikasi Ilmiah. Sulistyani, M.Si.

Metode, Sikap, Proses, dan Implikasi Ilmiah. Sulistyani, M.Si. Metode, Sikap, Proses, dan Implikasi Ilmiah Sulistyani, M.Si. Email: sulistyani@uny.ac.id Berlatar belakang Penalaran deduktif (rasionalisme) dan induktif (empirisme) memiliki kelemahan dalam mengungkap

Lebih terperinci

JURUSAN TERAPI WICARA POLTEKKES KEMENKES SURAKARTA

JURUSAN TERAPI WICARA POLTEKKES KEMENKES SURAKARTA JURUSAN TERAPI WICARA POLTEKKES KEMENKES SURAKARTA HIPOTESIS Semester V 2013 Ig. Dodiet Aditya Setyawan, SKM. Definisi HIPOTESIS PENELITIAN H ipotesis merupakan gabungan dari kata "hipo" yang artinya dibawah,

Lebih terperinci

PENELITIAN KUANTITATIF Langkah demi langkah

PENELITIAN KUANTITATIF Langkah demi langkah 1 PENELITIAN KUANTITATIF Langkah demi langkah Oleh : Dr. Husein Umar Pelatihan Metodologi Penelitian Kopertis III, Bogor, 29-31 Mei 2012 Tujuan Pelatihan Memahami langkah-langkah teknikal proses penelitian

Lebih terperinci

PEMBUKTIAN, PENALARAN, DAN KOMUNIKASI MATEMATIK. OLEH: DADANG JUANDI JurDikMat FPMIPA UPI 2008

PEMBUKTIAN, PENALARAN, DAN KOMUNIKASI MATEMATIK. OLEH: DADANG JUANDI JurDikMat FPMIPA UPI 2008 PEMBUKTIAN, PENALARAN, DAN KOMUNIKASI MATEMATIK OLEH: DADANG JUANDI JurDikMat FPMIPA UPI 2008 PEMBUKTIAN DALAM MATEMATIKA Bukti menurut Educational Development Center (2003) adalah suatu argumentasi logis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indrie Noor Aini, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indrie Noor Aini, 2013 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika merupakan salah satu disiplin ilmu yang diajarkan pada setiap jenjang pendidikan, matematika diharapkan dapat memberikan sumbangan dalam rangka mengembangkan

Lebih terperinci

Ilmu pengetahuan. himpunan pengetahuan yang diperoleh secara terorganisisr melalui prosedur dan metode tertentu yang kemudian disistema-tisasi

Ilmu pengetahuan. himpunan pengetahuan yang diperoleh secara terorganisisr melalui prosedur dan metode tertentu yang kemudian disistema-tisasi Ilmu pengetahuan himpunan pengetahuan yang diperoleh secara terorganisisr melalui prosedur dan metode tertentu yang kemudian disistema-tisasi Struktur Ilmu Pengetahuan dimulai dengan konsep awal berupa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ditakuti dan tidak disukai siswa. Kecenderungan ini biasanya berawal dari

BAB I PENDAHULUAN. ditakuti dan tidak disukai siswa. Kecenderungan ini biasanya berawal dari BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Mata pelajaran fisika pada umumnya dikenal sebagai mata pelajaran yang ditakuti dan tidak disukai siswa. Kecenderungan ini biasanya berawal dari pengalaman belajar

Lebih terperinci

Outline 0 PENDAHULUAN 0 TAHAPAN PENGEMBANGAN MODEL 0 SISTEM ASUMSI 0 PENDEKATAN SISTEM

Outline 0 PENDAHULUAN 0 TAHAPAN PENGEMBANGAN MODEL 0 SISTEM ASUMSI 0 PENDEKATAN SISTEM Outline 0 PENDAHULUAN 0 TAHAPAN PENGEMBANGAN MODEL 0 SISTEM ASUMSI 0 PENDEKATAN SISTEM Pendahuluan 0 Salah satu dasar utama untuk mengembangkan model adalah guna menemukan peubah-peubah apa yang penting

Lebih terperinci

Drs. Rudi Susilana, M.Si. -

Drs. Rudi Susilana, M.Si. - Keterkaitan antara Masalah, Teori dan Hipotesis Kegiatan penelitian dimulai dari adanya masalah, dan penelitian itu sendiri merupakan salah satu upaya menemukan jawaban atau pemecahan masalah dengan menggunakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Memasuki zaman modern seperti sekarang ini, manusia dihadapkan pada berbagai tantangan yang ditandai oleh pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Lebih terperinci

KONSEP DASAR DAN HAKIKAT PENELITIAN

KONSEP DASAR DAN HAKIKAT PENELITIAN KONSEP DASAR DAN HAKIKAT PENELITIAN Konsep merupakan suatu gagasan atau ide yang relatif sempurna dan bermakna, suatu pengertian tentang suatu objek, produk subjektif yang berasal dari cara seseorang membuat

Lebih terperinci

Bab 1 PENELITIAN: DEFINISI, METODE, TUJUAN, DAN PARADIGMA

Bab 1 PENELITIAN: DEFINISI, METODE, TUJUAN, DAN PARADIGMA METODOLOGI PENELITIAN BISNIS Bab 1 PENELITIAN: DEFINISI, METODE, TUJUAN, DAN PARADIGMA 1.1 PENDAHULUAN Bab ini membahas tentang penelitian secara umum, yang diawali dengan suatu tinjauan mengapa perlu

Lebih terperinci

PERTEMUAN 6 LANDASAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR

PERTEMUAN 6 LANDASAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR PERTEMUAN 6 LANDASAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR A. TUJUAN PEMBELAJARAN Pada pertemuan ini akan dijelaskan mengenai landasan teori dan kerangka berpikir. Melalui ekspositori, Anda harus mampu: 6.1. Menjelaskan

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Penelitian dan Ilmu Pengetahuan. MR Alfarabi Istiqlal, SP MSi

METODE PENELITIAN. Penelitian dan Ilmu Pengetahuan. MR Alfarabi Istiqlal, SP MSi METODE PENELITIAN Penelitian dan Ilmu Pengetahuan MR Alfarabi Istiqlal, SP MSi 2 Metode Metode adalah setiap prosedur yang digunakan untuk mencapai tujuan akhir. Cara yang teratur dan terpikir baik untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu aspek kehidupan yang sangat mendasar bagi pembangunan suatu bangsa dan negara. Dengan adanya pendidikan maka akan tercipta suatu

Lebih terperinci

Modul Perkuliahan II. Metode Penelitian Kualitatif. Metode Penelitian Ilmiah. Budi Sulistyo., S.Sos., M.Comm. Modul ke: Fakultas ILMU KOMUNIKASI

Modul Perkuliahan II. Metode Penelitian Kualitatif. Metode Penelitian Ilmiah. Budi Sulistyo., S.Sos., M.Comm. Modul ke: Fakultas ILMU KOMUNIKASI Modul ke: 02 Ponco Fakultas ILMU KOMUNIKASI Modul Perkuliahan II Metode Penelitian Kualitatif Metode Penelitian Ilmiah Budi Sulistyo., S.Sos., M.Comm Program Studi Public Relations Judul Sub Bahasan Metode

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan, antara lain pembaharuan kurikulum, peningkatan kualitas tenaga. pendidik dan peningkatan sarana dan pra sarana.

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan, antara lain pembaharuan kurikulum, peningkatan kualitas tenaga. pendidik dan peningkatan sarana dan pra sarana. 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pendidikan merupakan salah satu aspek yang berperan penting dalam pembangunan suatu bangsa. Terbukti bahwa hampir di setiap negara, pendidikan menjadi prioritas utama

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang konsep, kaidah,

BAB I PENDAHULUAN. Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang konsep, kaidah, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang konsep, kaidah, prinsip serta teorinya banyak digunakan dan dimanfaatkan untuk menyelesaikan hampir semua

Lebih terperinci

Abstrak Kata Kunci 1. Pendahuluan

Abstrak Kata Kunci 1. Pendahuluan Abstrak Ada nilai tambah yang didapat seseorang dalam melakukan kegiatan membaca. Satu diantaranya, orang menjadi luas cakrawala kehidupannya, terbebas dari penjara dunia yang sempit dan terbatas, baik

Lebih terperinci

RENCANA PROGRAM & KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RPKPS)

RENCANA PROGRAM & KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RPKPS) RENCANA PROGRAM & KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RPKPS) PRODI : Administrasi Bisnis FIA UB 2009 Nama Mata Kuliah Kode Mata Kuliah : IAB411 Beban sks : 3 sks : Metode Penelitian (1) Minggu ke (2) Materi

Lebih terperinci

MAGISTER DEGREE IN BUSINESS MANAGEMENT PADJADJARAN UNIVERSITY Prof. Dr. Sucherly, SE., MS

MAGISTER DEGREE IN BUSINESS MANAGEMENT PADJADJARAN UNIVERSITY Prof. Dr. Sucherly, SE., MS PHILOSOPHY OF SCIENCE MAGISTER DEGREE IN BUSINESS MANAGEMENT PADJADJARAN UNIVERSITY 2011 Philosoply, Science and Philosophy of Science Filsafat Filosofia (Yunani)= Falsafi (Arab) : Filo (cinta) dan Sofia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembelajaran fisika saat ini adalah kurangnya keterlibatan mereka secara aktif

BAB I PENDAHULUAN. pembelajaran fisika saat ini adalah kurangnya keterlibatan mereka secara aktif BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu permasalahan besar yang dialami siswa dalam proses pembelajaran fisika saat ini adalah kurangnya keterlibatan mereka secara aktif dalam proses belajar

Lebih terperinci

Pertemuan 4. Landasan Teori dan Penyusunan Hipotesis

Pertemuan 4. Landasan Teori dan Penyusunan Hipotesis Pertemuan 4 Landasan Teori dan Penyusunan Hipotesis Learning Outcomes Pada akhir pertemuan ini, diharapkan mahasiswa akan mampu : Menjelaskan bentuk-bentuk hipotesis. Menguraikan tentang Kerangka Berfikir

Lebih terperinci

DCH2G3 TEKNIK PRESENTASI DAN PELAPORAN

DCH2G3 TEKNIK PRESENTASI DAN PELAPORAN DCH2G3 TEKNIK PRESENTASI DAN PELAPORAN Tujuan Khusus Pembelajaran Setelah interaksi pembelajaran, diharapkan mahasiswa dapat: 1. Mengenal metoda ilmiah penelitian 2. Mengetahui mencari ide penelitian 3.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam latar belakang ini, ada beberapa hal yang akan disampaikan penulis. hal tersebut terkait masalah yang diangkat. masalah atau isu yang diangkat tentunya

Lebih terperinci

Modul Perkuliahan V. Metode Penelitian Kualitatif. Tinjauan Pustaka (Literature Review) Budi Sulistyo., S.Sos., M.Comm. Modul ke:

Modul Perkuliahan V. Metode Penelitian Kualitatif. Tinjauan Pustaka (Literature Review) Budi Sulistyo., S.Sos., M.Comm. Modul ke: Modul ke: 07 Ponco Fakultas ILMU KOMUNIKASI Modul Perkuliahan V Metode Penelitian Kualitatif Tinjauan Pustaka (Literature Review) Budi Sulistyo., S.Sos., M.Comm Program Studi Public Relations Judul Sub

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN KUANTITATIF. Imam Gunawan

METODE PENELITIAN KUANTITATIF. Imam Gunawan METODE PENELITIAN KUANTITATIF Imam Gunawan METODE PENELITIAN KUANTITATIF Memusatkan perhatiannya pada gejala-gejala yang mempunyai karakteristik tertentu dalam kehidupan manusia, yang dinamakan variabel.

Lebih terperinci

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS PADJADJARAN PROGRAM PASCASARJANA PROGRAM DOKTOR ILMU EKONOMI KEKHUSUSAN MANAJEMEN BISNIS

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS PADJADJARAN PROGRAM PASCASARJANA PROGRAM DOKTOR ILMU EKONOMI KEKHUSUSAN MANAJEMEN BISNIS DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS PADJADJARAN PROGRAM PASCASARJANA PROGRAM DOKTOR ILMU EKONOMI KEKHUSUSAN MANAJEMEN BISNIS SILABI PERKULIAHAN 1. Mata Kuliah (SKS) : Metode Penelitian Bisnis (MPB)

Lebih terperinci

PROPOSAL PENELITIAN KUANTITATIF (SKRIPSI)

PROPOSAL PENELITIAN KUANTITATIF (SKRIPSI) PROPOSAL PENELITIAN KUANTITATIF (SKRIPSI) Suatu penelitian yang pada dasarnya menggunakan pendekatan deduktif-induktif. Pendekatan ini berangkat dari suatu kerangka teori, gagasan para ahli, ataupun pemahaman

Lebih terperinci

LANDASAN TEORI, KERANGKA PIKIR, DAN HIPOTESIS

LANDASAN TEORI, KERANGKA PIKIR, DAN HIPOTESIS LANDASAN TEORI, KERANGKA PIKIR, DAN HIPOTESIS Salah satu unsur terpenting dalam penelitian yang memiliki peran sangat besar dalam penelitian adalah teori. Suatu landasan teori dari suatu penelitian tertentu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ditetapkan. Proses pembelajaran di dalam kelas harus dapat menyiapkan siswa

BAB I PENDAHULUAN. ditetapkan. Proses pembelajaran di dalam kelas harus dapat menyiapkan siswa 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Proses pendidikan pada intinya merupakan kegiatan pembelajaran di dalam kelas, karena itu peningkatan kualitas pendidikan dapat dilakukan melalui perbaikan

Lebih terperinci

A. LATAR BELAKANG MASALAH

A. LATAR BELAKANG MASALAH BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Salah satu tujuan pembelajaran matematika pada sekolah menengah atas adalah siswa memiliki kemampuan memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar

Lebih terperinci

P E N G ETA H U A N & I L M U P E N G ETA H U A N L I A A U L I A F A C H R I A L, M. S I

P E N G ETA H U A N & I L M U P E N G ETA H U A N L I A A U L I A F A C H R I A L, M. S I P E N G ETA H U A N & I L M U P E N G ETA H U A N L I A A U L I A F A C H R I A L, M. S I CARA MEMPEROLEH PENGETAHUAN (HELMSTADTER DALAM CHRISTENSEN, 2001) Kekukuhan Pendapat (Tenacity) Metode ini berdasarkan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Lembar Kerja Siswa (LKS) adalah lembaran- lembaran yang berisi tugas

II. TINJAUAN PUSTAKA. Lembar Kerja Siswa (LKS) adalah lembaran- lembaran yang berisi tugas II. TINJAUAN PUSTAKA A. Lembar Kerja Siswa 1. Pengertian Lembar Kerja Siswa Lembar Kerja Siswa (LKS) adalah lembaran- lembaran yang berisi tugas yang harus dikerjakan peserta didik. LKS biasanya berupa

Lebih terperinci

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI (STIE) LABUHAN BATU

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI (STIE) LABUHAN BATU SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI (STIE) LABUHAN BATU GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN (GBPP) METODE PENELITIAN / MKKK 601 3 SKS Deskripsi Singkat: Mata Kuliah Keilmuan dan Ketrampilan (MKKK) Metode Riset merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Etika Khaerunnisa, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Etika Khaerunnisa, 2013 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam pembelajaran matematika, idealnya siswa dibiasakan memperoleh pemahaman melalui pengalaman dan pengetahuan yang dikembangkan oleh siswa sesuai perkembangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mendatangkan berbagai efek negatif bagi manusia. Penyikapan atas

BAB I PENDAHULUAN. mendatangkan berbagai efek negatif bagi manusia. Penyikapan atas BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat sangat membantu mempermudah kegiatan dan keperluan kehidupan manusia. Namun manusia tidak bisa menipu diri

Lebih terperinci

PROSES BERPIKIR ILMIAH

PROSES BERPIKIR ILMIAH PROSES BERPIKIR ILMIAH Penalaran (Reasoning)) - Kemampuan berpikir menurut suatu alur kerangka berpikir tertentu. Cirinya : Logis dan analitis Proses berpikir Ilmiah adalah : gabungan cara berpikir deduktif

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Model pembelajaran problem solving merupakan salah satu model pembelajaran

II. TINJAUAN PUSTAKA. Model pembelajaran problem solving merupakan salah satu model pembelajaran 8 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Model Pemecahan Masalah (Problem Solving) Model pembelajaran problem solving merupakan salah satu model pembelajaran yang berlandaskan teori konstruktivisme. Konstruktivisme merupakan

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITAN

METODOLOGI PENELITAN METODOLOGI PENELITAN 1. Nama mata kuliah : Metodologi Penelitian 2. SKS : 3 3. Referensi : Metodologi Penelitian Bisnis Untuk Akuntansi dan Bisnis. oleh Dr. Nur Indriantoro M.Sc.,Ak dan Drs. Bambang Supomo

Lebih terperinci

JENIS-JENIS PENELITIAN

JENIS-JENIS PENELITIAN Andriani Kusumawati JENIS-JENIS PENELITIAN Berdasarkan: 1. Tujuan 2. Kedalaman analisisnya 3. Pendekatan analisis atau Proses 4. Logika Penelitian 5. Kategori fungsionalnya 6. Hasil yang diharapkan dari

Lebih terperinci

Tinjauan Ilmu Penyuluhan dalam Perspektif Filsafat Ilmu

Tinjauan Ilmu Penyuluhan dalam Perspektif Filsafat Ilmu Tinjauan Ilmu Penyuluhan dalam Perspektif Filsafat Ilmu Oleh : Agustina Abdullah *) Arti dan Pentingnya Filsafat Ilmu Manusia mempunyai seperangkat pengetahuan yang bisa membedakan antara benar dan salah,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan salah satu langkah untuk merubah sikap, tingkah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan salah satu langkah untuk merubah sikap, tingkah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan salah satu langkah untuk merubah sikap, tingkah laku bahkan pola pikir seseorang untuk lebih maju dari sebelum mendapatkan pendidikan

Lebih terperinci

VII. LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN

VII. LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN VII. LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN Langkah penelitian adalah serangkaian proses penelitian dimana seorang peneliti dari awal yaitu merasa menghadapi masalah, berupaya untuk memecahkan masalah, memecahkan

Lebih terperinci

IMPLEMENTASI STRATEGI PERLAWANAN UNTUK PEMBUKTIAN VALIDITAS ARGUMEN DENGAN METODE REDUCTIO AD ABSURDUM

IMPLEMENTASI STRATEGI PERLAWANAN UNTUK PEMBUKTIAN VALIDITAS ARGUMEN DENGAN METODE REDUCTIO AD ABSURDUM IMPLEMENTASI STRATEGI PERLAWANAN UNTUK PEMBUKTIAN VALIDITAS ARGUMEN DENGAN METODE REDUCTIO AD ABSURDUM Abstrak Pembuktian validitas argumen dengan menggunakan tabel kebenaran memerlukan baris dan kolom

Lebih terperinci

UNSUR-UNSUR PENELITIAN

UNSUR-UNSUR PENELITIAN UNSUR-UNSUR PENELITIAN Oleh : dr. Edison, MPH 1. KONSEP Sejumlah pengertian atau ciri yang berkaitan dengan peristiwa, objek, kondisi, situasi, dan hal lain yang sejenis. Diciptakan dengan menggolongkan

Lebih terperinci

Langkah-langkah yang harus diperhatikan dalam mengaplikasikan metode ceramah adalah sebagai berikut:

Langkah-langkah yang harus diperhatikan dalam mengaplikasikan metode ceramah adalah sebagai berikut: Nama : Hana Meidawati NIM : 702011109 1. Metode Ceramah Penerapan metode ceramah merupakan cara mengajar yang paling tradisional dan tidak asing lagi dan telah lama dijalankan dalam sejarah pendidikan.

Lebih terperinci

TEORI TEORI AKUNTANSI AKUNTANSI

TEORI TEORI AKUNTANSI AKUNTANSI TINJAUAN MENYELURUH TEORI AKUNTANSI DIANA RAHMAWATI TEORI TEORI AKUNTANSI AKUNTANSI TEORI Istilah teori sering digunakan secara berbeda. Teori sering dinamakan dengan hipotesis atau proposisi. Proposisi

Lebih terperinci

Struktur Ilmu Pengetahuan Modern & Cara Memperoleh Pengetahuan Ilmiah: Penalaran (Scientific Reasoning) Kamis, 21 Mei 2015

Struktur Ilmu Pengetahuan Modern & Cara Memperoleh Pengetahuan Ilmiah: Penalaran (Scientific Reasoning) Kamis, 21 Mei 2015 Struktur Ilmu Pengetahuan Modern & Cara Memperoleh Pengetahuan Ilmiah: Penalaran (Scientific Reasoning) Kamis, 21 Mei 2015 Yang harus diingat... Apa itu ilmu pengetahuan? Sejarah Ilmu Pengetahuan Konstruksi

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN. Tumpal Manik, M.Si Website :

METODOLOGI PENELITIAN. Tumpal Manik, M.Si    Website : METODOLOGI PENELITIAN Tumpal Manik, M.Si Email : tmanyk@yahoo.com tmanik@umrah.ac.id Website : http:/tumpalmanik BAB II PENGANTAR METODOLOGI PENELITIAN Materi Pengantar Metolit : 1.1 Pengertian Metode

Lebih terperinci

SIKAP ILMIAH 3/27/2014 Metil/dn 1

SIKAP ILMIAH 3/27/2014 Metil/dn 1 SIKAP ILMIAH 3/27/2014 Metil/dn 1 Setiap orang pada saat dan tempat tertentu akan berada dalam suatu situasi. Jika orang tersebut merasa sebagai bagian dari situasi itu, maka orang itu disebut mengalaminya.

Lebih terperinci

PERTEMUAN 7 HIPOTESIS PENELITIAN

PERTEMUAN 7 HIPOTESIS PENELITIAN PERTEMUAN 7 HIPOTESIS PENELITIAN A. TUJUAN PEMBELAJARAN Pada pertemuan ini akan dijelaskan hipotesis penelitian. Melalui ekspositori, Anda harus mampu: 7.1. Menjelaskan pengertian hipotesis 7.2. Menjelaskan

Lebih terperinci

RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS)

RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) MSH1B3 LOGIKA MATEMATIKA PROGRAM STUDI S1 ILMU KOMPUTASI FAKULTAS INFORMATIKA TELKOM UNIVERSITY LEMBAR PENGESAHAN Rencana Semester (RPS) ini telah disahkan untuk mata

Lebih terperinci

BAHAN AJAR : Metode Penelitian Sosial Ekonomi

BAHAN AJAR : Metode Penelitian Sosial Ekonomi Mata Kuliah Semester PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN, UNIVERSITAS ANDALAS BAHAN AJAR : Metode Penelitian Sosial Ekonomi : VI Pertemuan Ke : 1 Pokok Bahasan Dosen : Konsep-konsep Dasar Penelitian

Lebih terperinci

Konsep Dasar Metodologi adalah pengetahuan tentang cara-cara (science of methods). Dalam kontek penelitian, metodologi adalah totalitas cara untuk men

Konsep Dasar Metodologi adalah pengetahuan tentang cara-cara (science of methods). Dalam kontek penelitian, metodologi adalah totalitas cara untuk men Metodologi Penelitian Psikologi Rahayu Ginintasasi Konsep Dasar Metodologi adalah pengetahuan tentang cara-cara (science of methods). Dalam kontek penelitian, metodologi adalah totalitas cara untuk meneliti

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA 7 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teoritis 1. Konsep Belajar dan Mengajar Belajar merupakan proses interaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu. Belajar dapat dipandang sebagai proses

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan matematika sangat berperan penting dalam upaya menciptakan

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan matematika sangat berperan penting dalam upaya menciptakan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan matematika sangat berperan penting dalam upaya menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Matematika bukan pelajaran yang hanya memberikan

Lebih terperinci

PERTEMUAN 1. Semoga Tuhan memberi berkah pada kelas ini.

PERTEMUAN 1. Semoga Tuhan memberi berkah pada kelas ini. PERTEMUAN 1 Semoga Tuhan memberi berkah pada kelas ini. Kontrak Perkuliahan 1 Kode Mata Kuliah : 943 Nama Mata Kuliah : Metode Penelitian Beban Kredit : 3 SKS Semester : 4 (empat) Fakultas/Jurusan : Teknik

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. bahwa untuk menemukan pengetahuan memerlukan suatu keterampilan. mengamati, melakukan eksperimen, menafsirkan data

II. TINJAUAN PUSTAKA. bahwa untuk menemukan pengetahuan memerlukan suatu keterampilan. mengamati, melakukan eksperimen, menafsirkan data 11 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Keterampilan Proses Sains Keterampilan proses sains (KPS) adalah pendekatan yang mengarahkan bahwa untuk menemukan pengetahuan memerlukan suatu keterampilan mengamati, melakukan

Lebih terperinci

KONSEP DASAR DAN HAKEKAT PENELITIAN

KONSEP DASAR DAN HAKEKAT PENELITIAN KONSEP DASAR DAN HAKEKAT PENELITIAN Penelitian pada dasarnya adalah suatu kegiatan atau proses sistematis untuk memecahkan masalah yang dilakukan dengan menerapkan metode ilmiah. Oleh karena itu, sebelum

Lebih terperinci

A. HALAMAN JUDUL.

A. HALAMAN JUDUL. Usulan penelitian yang sering disebut Project Statement atau Research Proposal merupakan rencana penelitian mahasiswa yang hasilnya disusun dalam bentuk skripsi sebagai tugas akhir mahasiswa sebelum memperoleh

Lebih terperinci

BAB I HAKEKAT IPA. Ilmu yang mempelajari alam dengan segala isinya, termasuk gejala-gejala alam ang ada. fisika biologi

BAB I HAKEKAT IPA. Ilmu yang mempelajari alam dengan segala isinya, termasuk gejala-gejala alam ang ada. fisika biologi BAB I HAKEKAT IPA Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) : Ilmu yang mempelajari alam dengan segala isinya, termasuk gejala-gejala alam ang ada Gejala-gejala alam fisika biologi kimia Rasa ingin tahu manusia merupakan

Lebih terperinci

SARANA BERFIKIR ILMIAH

SARANA BERFIKIR ILMIAH SARANA BERFIKIR ILMIAH Manusia merupakan makhluk yang berakal inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya seperti hewan dan tumbuhan, jin bahkan malaikat sekalipun. Dengan akal yang dimilikinya,

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Model peraihan konsep disebut juga model perolehan konsep atau model

II. TINJAUAN PUSTAKA. Model peraihan konsep disebut juga model perolehan konsep atau model 9 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Model Peraihan Konsep Model peraihan konsep disebut juga model perolehan konsep atau model pencapaian konsep. Model peraihan konsep mula-mula didesain oleh Joice

Lebih terperinci

SISTEMATIKA DAN INTI SKRIPSI

SISTEMATIKA DAN INTI SKRIPSI SISTEMATIKA DAN INTI SKRIPSI 4.1 Bagian Awal. Bagian awal dari skripsi terdiri atas : Halaman Judul. Halaman Persetujuan Pembimbing. Halaman Abstrak (dalam bahasa Indonesia) Halaman Abstract (dalambahasainggris)

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Model Pembelajaran Broblem Based Instruction (PBI) Problem Based Instruction (PBI) (Trianto, 2009:91). Pengajaran Berdasarkan

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Model Pembelajaran Broblem Based Instruction (PBI) Problem Based Instruction (PBI) (Trianto, 2009:91). Pengajaran Berdasarkan II. TINJAUAN PUSTAKA A. Model Pembelajaran Broblem Based Instruction (PBI) Istilah Pengajaran Berdasarkan Masalah (PBM) diadopsi dari istilah Inggris Problem Based Instruction (PBI) (Trianto, 2009:91).

Lebih terperinci

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN. Penelitian ini berjudul pengaruh penagihan tunggakan pajak dengan surat

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN. Penelitian ini berjudul pengaruh penagihan tunggakan pajak dengan surat BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN 3.1. Objek Penelitian Penelitian ini berjudul pengaruh penagihan tunggakan pajak dengan surat paksa terhadap pelunasan tunggakan pajak pada Kantor Pelayanan Pajak (KPP)

Lebih terperinci

PENALARAN INDUKTIF DAN DEDUKTIF

PENALARAN INDUKTIF DAN DEDUKTIF Unit 6 PENALARAN INDUKTIF DAN DEDUKTIF Wahyudi Pendahuluan U nit ini membahas tentang penalaran induktif dan deduktif yang berisi penarikan kesimpulan dan penalaran indukti deduktif. Dalam penalaran induktif

Lebih terperinci

METODE ILMIAH UNIVERSITAS GUNADARMA : SRI SETIAWATY NPM : DEFINISI METODE ILMIAH

METODE ILMIAH UNIVERSITAS GUNADARMA : SRI SETIAWATY NPM : DEFINISI METODE ILMIAH UNIVERSITAS GUNADARMA NAMA : SRI SETIAWATY NPM : 18211261 KELAS : 3EA27 METODE ILMIAH DEFINISI METODE ILMIAH Metode ilmiah atau proses ilmiah (bahasa Inggris: scientific method) merupakan proses keilmuan

Lebih terperinci

ESSENTIALS OF RESEARCH DESIGN AND METHODOLOGY Rintania, 09/292890/PTK/06245 Ain Sahara, 10/308643/PTK/07002 Jurusan Teknik Elektro FT UGM, Yogyakarta

ESSENTIALS OF RESEARCH DESIGN AND METHODOLOGY Rintania, 09/292890/PTK/06245 Ain Sahara, 10/308643/PTK/07002 Jurusan Teknik Elektro FT UGM, Yogyakarta ESSENTIALS OF RESEARCH DESIGN AND METHODOLOGY Rintania, 09/292890/PTK/06245 Ain Sahara, 10/308643/PTK/07002 Jurusan Teknik Elektro FT UGM, Yogyakarta BAB 1 1.1 Pendahuluan Didefinisikan secara luas, tujuan

Lebih terperinci

METODOLOGI PENULISAN ILMIAH

METODOLOGI PENULISAN ILMIAH METODOLOGI PENULISAN ILMIAH Pertemuan Ke-3 Penelitian :: Noor Ifada :: noor.ifada@if.trunojoyo.ac.id S1 Teknik Informatika-Unijoyo 1 POKOK BAHASAN Unsur Pencetus Penelitian Tugas Ilmu dan Penelitian Pengetahuan

Lebih terperinci

CARA PRAKTIS PENULISAN KARYA ILMIAH 1 Oleh : Dr. Farida Hanum, M.Si 2

CARA PRAKTIS PENULISAN KARYA ILMIAH 1 Oleh : Dr. Farida Hanum, M.Si 2 CARA PRAKTIS PENULISAN KARYA ILMIAH 1 Oleh : Dr. Farida Hanum, M.Si 2 PENDAHULUAN Menulis karya ilmiah bagi yang sudah biasa adalah hal yang sangat menyenangkan dan mudah, tetapi bagi yang belum pernah

Lebih terperinci

Penjenjangan Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa Prodi Pendidikan Matematika FMIPA UNNES dalam Menyelesaikan Masalah Matematika

Penjenjangan Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa Prodi Pendidikan Matematika FMIPA UNNES dalam Menyelesaikan Masalah Matematika Penjenjangan Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa Prodi Pendidikan Matematika FMIPA UNNES dalam Menyelesaikan Masalah Matematika Oleh :, M.Pd Jurusan Matematika FMIPA UNNES Abstrak Tingkat kemampuan berpikir

Lebih terperinci

Pendahuluan Syarat agar dapat melakukan penelitian ilmiah dengan baik : 1. Paham konsep dasar ilmu pengetahuan (IP) 2. Menguasai metodologi penelitian

Pendahuluan Syarat agar dapat melakukan penelitian ilmiah dengan baik : 1. Paham konsep dasar ilmu pengetahuan (IP) 2. Menguasai metodologi penelitian Pengantar Metodologi Penelitian Pendahuluan Syarat agar dapat melakukan penelitian ilmiah dengan baik : 1. Paham konsep dasar ilmu pengetahuan (IP) 2. Menguasai metodologi penelitian Dua aspek tersebut

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN Pertemuan 3 JENIS DAN METODE PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN Pertemuan 3 JENIS DAN METODE PENELITIAN METODOLOGI PENELITIAN Pertemuan 3 JENIS DAN METODE PENELITIAN RASIONAL Dilakukan dg dg cara yg yg masuk akal shg Terjangkau terjangkau penalaran manusia CARA ILMIAH KEGIATAN PENELITIAN DIDASARKAN CIRI-CIRI

Lebih terperinci

MATA KULIAH METODE RISET [KODE/SKS : IT /2 SKS]

MATA KULIAH METODE RISET [KODE/SKS : IT /2 SKS] MATA KULIAH METODE RISET [KODE/SKS : IT-021235/2 SKS] Peranan dan ruang lingkup riset PERBEDAAN METODE ILMIAH DENGAN LOGIKA Logika berhubungan dengan cara atau proses penalaran (reasoning), jika suatu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penting dalam berbagai bidang kehidupan. Sebagai salah satu disiplin ilmu yang

BAB I PENDAHULUAN. penting dalam berbagai bidang kehidupan. Sebagai salah satu disiplin ilmu yang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Matematika merupakan ilmu pengetahuan yang memegang peranan penting dalam berbagai bidang kehidupan. Sebagai salah satu disiplin ilmu yang diajarkan pada setiap jenjang

Lebih terperinci

FILSAFAT ILMU. Irnin Agustina D.A.,M.Pd

FILSAFAT ILMU. Irnin Agustina D.A.,M.Pd FILSAFAT ILMU Irnin Agustina D.A.,M.Pd am_nien@yahoo.co.id Definisi Filsafat Ilmu Lewis White Beck Philosophy of science questions and evaluates the methods of scientific thinking and tries to determine

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Helen Martanilova, 2014

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Helen Martanilova, 2014 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika merupakan ilmu pengetahuan universal yang mendasari perkembangan teknologi modern dan memiliki peranan penting yang dapat diterapkan dalam berbagai

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. meningkatkan hasil belajar siswa apabila secara statistik hasil belajar siswa menunjukan

II. TINJAUAN PUSTAKA. meningkatkan hasil belajar siswa apabila secara statistik hasil belajar siswa menunjukan II. TINJAUAN PUSTAKA A. Efektivitas Pembelajaran Efektivitas pembelajaran merupakan suatu ukuran yang berhubungan dengan tingkat keberhasilan dari suatu proses pembelajaran. Pembelajaran dikatakan efektif

Lebih terperinci

Metode Penelitian. Soni Mulyawan Setiana, M.Pd. 12/15/2007 Nihongo Gakka 1

Metode Penelitian. Soni Mulyawan Setiana, M.Pd. 12/15/2007 Nihongo Gakka 1 Metode Penelitian Soni Mulyawan Setiana, M.Pd 12/15/2007 Nihongo Gakka 1 Pengantar Manusia diciptakan dengan disertai anugerah keinginan untuk mengetahui sesuatu atau memperoleh pengetahuan. 12/15/2007

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORETIK. lambang pengganti suatu aktifitas yang tampak secara fisik. Berpikir

BAB II KAJIAN TEORETIK. lambang pengganti suatu aktifitas yang tampak secara fisik. Berpikir BAB II KAJIAN TEORETIK A. Deskripsi Konseptual 1. Proses Berpikir Analogi Matematis Menurut Gilmer (Kuswana, 2011), berpikir merupakan suatu pemecahan masalah dan proses penggunaan gagasan atau lambang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa, praktisi pendidikan IPS

BAB I PENDAHULUAN. Dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa, praktisi pendidikan IPS 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa, praktisi pendidikan IPS telah banyak memperkenalkan dan menerapkan berbagai metode serta pendekatan mengajar

Lebih terperinci

TEORI HUBUNGAN INTERNASIONAL TEORI : TINJAUAN UMUM. DOSEN : Dr. AGUS SUBAGYO, S.IP., M.SI

TEORI HUBUNGAN INTERNASIONAL TEORI : TINJAUAN UMUM. DOSEN : Dr. AGUS SUBAGYO, S.IP., M.SI TEORI HUBUNGAN INTERNASIONAL TEORI : TINJAUAN UMUM DOSEN : Dr. AGUS SUBAGYO, S.IP., M.SI FISIP HI UNJANI CIMAHI 2011 Pengertian dan ManfaatTeori Struktur dan Logika Teori Teori dan Ilmu Pengetahuan Ilmu

Lebih terperinci

BAB II LEVELS OF INQUIRY MODEL DAN KEMAMPUAN INKUIRI. guru dengan siswa dalam berinteraksi. Misalnya dalam model pembelajaran yang

BAB II LEVELS OF INQUIRY MODEL DAN KEMAMPUAN INKUIRI. guru dengan siswa dalam berinteraksi. Misalnya dalam model pembelajaran yang 7 BAB II LEVELS OF INQUIRY MODEL DAN KEMAMPUAN INKUIRI A. Pembelajaran Inkuiri Menurut Wenning (2011) model pembelajaran berfungsi agar pembelajaran menjadi sistematis. Selain itu, model pembelajaran menyediakan

Lebih terperinci

II._TINJAUAN PUSTAKA. Keterampilan proses sains merupakan salah satu bentuk keterampilan proses

II._TINJAUAN PUSTAKA. Keterampilan proses sains merupakan salah satu bentuk keterampilan proses 6 II._TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teoretis 1. Keterampilan Proses Sains Keterampilan proses sains merupakan salah satu bentuk keterampilan proses yang diaplikasikan pada proses pembelajaran. Pembentukan

Lebih terperinci