TANGGUNG JAWAB TEKNOKRAT DAN BIROKRAT DALAM UTANG LUAR NEGERI

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "TANGGUNG JAWAB TEKNOKRAT DAN BIROKRAT DALAM UTANG LUAR NEGERI"

Transkripsi

1 TANGGUNG JAWAB TEKNOKRAT DAN BIROKRAT DALAM UTANG LUAR NEGERI Didik Rachbini etiap ada pembahasan dan perbincangan kembali tentang masalah utang luar negeri, maka akan ada rasa prihatin, sikap menyesalkan dan bahkan menyakitkan. Mengapa dalam sejarah ekonomi politik Indonesia ada beban sangat berat dari utang luar negeri, yang diwariskan kepada generasi saat ini? Generasi pewaris utang seharusnya tidak bertanggung jawab terhadap beban yang sangat besar tersebut. Generasi pencipta utang pada masa Orde Baru lah yang seharusnya bertanggung jawab terhadap beban ini. Secara khusus, kelompok pengambil keputusan yang paling bertanggung jawab tidak lain adalah teknokrat ekonomi, selain tentunya lembaga kepresidenan dan parlemen. Menguraikan kembali masalah ini seperti membuka luka lama, yang tak pernah sembuh betul. Luka tersebut di masa lalu selalu ditutupi dengan jargon politik berupa kampanye sukses pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di permukaan saja. Dampak negatif pembangunan dipoles dengan terapi di permukaan saja, yang sifatnya bukan sebagai penyembuh sebenarnya. Yang lebih menyedihkan, kebijakan utang luar negeri tersebut dijustifikasi secara ilmiah oleh ekonom di dalam pemerintah sendiri dan yang berafiliasi terhadapnya. Tidak ada kritik yang cukup memadai dan adil terhadap praktek pelaksanaan kebijakan utang luar negeri ini sehingga tumpukan utang yang menggunung dianggap wajar (manageable) dan masih dapat dikendalikan melalui kebijakan fiskal (controllable). Kritik yang cukup, bahkan sangat, tajam umumnya datang dari beberapa ekonom yang tidak berafiliasi dengan kekuasaan, seperti Didik J. Rachbini Tanggung Jawab Teknokrat dan Birokrat dalam Utang Luar Negeri

2 Jurnal Universitas Paramadina, Vol. 1, No. 1, September 2001: Sritua Arief, Rizal Ramli, dan Sri Edi Swasono. Di masa lalu kelompok ilmuwan ini berada di pinggir dengan suara yang minor dan kurang sekai pengaruhnya terhadap perubahan kebijakan publik. Sementara itu, gerakan-gerakan LSM yang bersifat advokasi datang dari aktivis INGI (International Non Government Forum on Indonesia), yang kemudian "dibubarkan" karena desakan pemerintah menjadi INFID (International NGO Forum on Indonesia). Beberapa diantaranya adalah: Abdul Hakim Garuda, Dawam Rahardjo, dan saya sendiri. Kelompok ini juga tidak signifikan pengaruhnya terhadap perubahan kebijakan utang luar negeri meskipun setiap tahun menyelenggarakan konferensi tahunan di luar negeri dan menggalang advokasi terhadap pihak luar negeri, seperti Bank Dunia, negara besar dan negara donor lainnya. Ekonom-ekonom tersebut melakukan kritik melalui tulisan di jurnal dan berbagai media massa, tetapi gagasan yang tersebar hanya menjadi arus minor yang tidak banyak mengubah pikiran teknokrat perancang kebijakan fiskal pada waktu itu. Kegiatan para aktivis lainnya, seperti melakukan pertemuan, konferensi (nasional dan internasional) dan tekanan-tekanan yang bersifat advokasi, dianggap "musuh" dan rentan dengan tuduhan tidak nasionalis dan subversif. KESALAHAN INSTITUSI & DESAIN KEBIJAKAN Kegagalan negara (government failure) dalam kebijakan ini telah terjadi dan dampak negatifnya, yang telah meluluhlantakkan sistem perekonomian nasional, tidak dapat dihindari. Sejarah negara-negara berkembang seperti di Amerika Latin sebenarnya sudah memberi pelajaran ekonomi yang sangat berharga karena mendahului kasus di Indonesia. Sayangnya para pengambil keputusan tidak belajar dari kasus sejarah negara-negara lain tersebut. Kini kita hanya dapat menyesali, dan 56

3 Didik J. Rachbini Tanggung Jawab Teknokrat dan Birokrat dalam Utang Luar Negeri berbagai aspek kehidupan ekonomi pada saat ini. Pengeluaran rutin APBN membengkak tidak wajar karena kewajiban pembayaran utang luar negeri, yang begitu besar. Akibatnya, pengeluaran pembangunan tersendat dan APBN sendiri tersiksa berat akibat krisis utang luar negeri tersebut. Setelah 30 tahun hanya ada satu arus pemikiran dan alternatif di luar negara dibungkam, maka ada pula rasa salah pada diri kita yang membiarkan kebijakan tersebut berlangsung terus tanpa kontrol sosial yang memadai. Artinya, tanggung jawab untuk mengontrol kebijakan publik secara tepat juga terpulang ke pundak akademisi dan ilmuwan, termasuk kalangan pers dan masyarakat umumnya. Tetapi pemerintah terlalu kuat dan kukuh dalam sistem kekuasaanya sehingga tidak memungkinkan pertumbuhan alternatif pemikiran yang bersifat korektif untuk memperbaiki kesadaran kolektif (collective consciousness) dari kaum teknokrat di dalam pemerintahan. Rancangan ekonomi-politik kebijakan yang terbuka untuk kritik dan akomodatif terhadap alternatif pemikiran lainnya terlupakan sehingga distorsi pemikiran kolektif di kalangan teknokrat terjadi dengan mudah dalam implementasinya.. Hal tersebut sebenarnya tidak saja penting untuk diperbaiki bila ingin mencapai demokrasi, tetapi juga mutlak diperlukan untuk mendampingi kebijakan ekonomi-politik. Bukti-bukti kegagalan kebijakan publik seperti sistem berlangsung tidak transparan, kondisi tidak seimbang antara negara dengan non-negara, serta tidak ada proses "check and balance" yang memadai ini terlihat pada kasus kebijakan utang luar negeri. Sejak awal, kesalahan rancangan kebijakan pembangunan ekonomi berbasis utang luar negeri ini adalah karena tidak memiliki pilar institusi pendukung non-ekonomi dan kontrol sosial yang memadai. Akibatnya, kebijakan tersebut menghasilkan proses penyuburan sebaiknya, perburuan menarik rente pelajaran ekonomi yang berharga marak dari sekali. krisis utang Rancangan luar negeri kebijakan seperti yang ini. cacat Dampak (invalid negatif dari utang luar negeri terlihat jelas pada krisis di 57

4 Jurnal Universitas Paramadina, Vol. 1, No. 1, September 2001: akan menghasilkan produk yang cacat pula. Hal tersebut terlihat utamanya pada kegagalan kebijakan utang itu sendiri. Dalam masa yang panjang (tiga dekade) kebijakan publik itu berlangsung tanpa kritik yang berarti. Sistem ekonomi-politik tersebut terus berjalan semakin buruk dan terus dilindungi oleh kekuasaan sehingga akhirnya semakin distortif dan kehilangan kesempatan untuk memperbaiki diri dari dalam maupun dari luar. Lambat laun sistem itu keropos, membusuk dari dalam dan ambruk dalam bentuk krisis, yang dirasakan bersama pada saat ini. Faktor apa yang menjadi penyebab utama dari krisis ekonomi? Jawaban hipotetisnya tidak lain adalah rancangan (design) dari kebijakan ekonomi Orde Baru itu sendiri. There must be something wrong with policy desain. Desain kebijakan ekonomi, yang prosesnya steril dari substansi kelembagaan, proses ekonomi-politik yang baik, dan tidak ada "chek and balance" serta menutup alternatif pemikiran dalam ruang dialektika yang terbuka telah menciptakan distorsi yang semakin dalam dari waktu ke waktu. Jadi, kesalahan desain kebijakan tersebut tidak lain karena ketiadaan kelembagaan, yang menjadi kendaraan untuk membawa proses kebijakan utang tersebut berjalan efektif (M. Ikhsan, 2000). Kegagalan negara yang bersamaan dengan kegagalan swasta terjadi karena sebab-sebab kesalahan institusional, yang bersifat ekonomi politik. Institusi modern yang secara ekonomi politik berfungsi menopang pembangunan ekonomi tidak cukup memadai atau bahkan tidak ada karena norma dan aturan di seputar kebijakan ekonomi adalah aturan informal, yang bertentangan dengan prinsip-prinsip ekonomi politik modern. Sementara itu, perancang kebijakan ekonomi di masa Orde Baru sama sekali tidak tertarik (dan secara kolektif bisa dianggap tidak mengerti) arti pentingnya pembentukan institusi ekonomi-politik untuk menopang pembangunan ekonomi. ) ditinjau dari sisi ke-sistem-an dan aspek ekonomi-politik ini 58

5 Didik J. Rachbini Tanggung Jawab Teknokrat dan Birokrat dalam Utang Luar Negeri kekuasaan), yang tertarik dan terinspirasi pemikirannya dengan visi ekonomi politik yang baik, yaitu Mohammad Ikhsan dan Dorodjatun Kuntjoro-Jakti. Kebanyakan lainnya yang berada di kekuasaan memiliki visi ekonomi politik yang gersang karena proses ekonomi hanya dianggap mesin-mesin sosial yang secara otomatis menggerakkan modal, fiskal, konsumsi, ekspor dan investasi. Kebijakan ekonomi dalam visi gersang seperti ini pada gilirannya dianggap dapat mensejahterakan masyarakat diukur dari peningkatan pendapatan per kapita. Proses ekonomi akan dengan sendirinya dapat "menetes ke bawah" (Trickle down effect), suatu pernyataan yang sering didengar dari ekonom-ekonom itu, yang sekaligus menjelaskan visinya yang kering akan pengetahuan ekonomi politik kelembagaan. Ekonomi dianggap dapat hidup dimana saja tanpa keberadaan insitusi, bahkan dapat hidup di ruang yang hampa. Padalah ekonom seperti Myrdal telah begitu gamblang menyebutkan tentang makna institusi di dalam ekonomi. Peranan institusi telah dideteksi oleh pemenang Nobel di bidang ekonomi ini sebagai substansi, yang sangat penting artinya bagi sistem ekonomi dan seluruh dinamikanya (G. Myrdal, 1968). Hal ini kemudian diperkuat oleh ekonom-ekonom pemenang Nobel di bidang ekonomi lainnya, seperti Douglass North, Joseph Stiglitz, dan Ronald Coase. Kelompok ekonom ini justru berhasil memenangkan hadiah paling bergengsi tersebut karena mengaitkan ekonomi dengan institusi (Douglass North & George Stigler, 1990). Hal yang sama dikemukanan pemenang Nobel Ekonomi 1998, Amartya Sen, dalam memahami kesinambungan pertumbuhan ekonomi Asia (terutama di Jepang) yang memperhitungkan rancangan kombinasi kebijakan negara dan ekonomi pasar yang berhati-hati. Menurut Sen, dalam kuliah Asia Pasifik di Singapura, ada tiga ciri utama dari kebijakan yang menciptakan pertumbuhan Sejauh ini, ekonomi saya fantastis mempelajari tidak bahwa persis sama hanya dengan ada satu Barat. ekonom Pertama, yunior dari Universitas Indonesia dan satu ekonom senior (tetapi tidak di 59

6 Jurnal Universitas Paramadina, Vol. 1, No. 1, September 2001: negara (pemerintah) dan penggunaan mekanisme pasar, yang sangat berhati-hati. Kedua, proses awal dari tahap pembangunnnya melibatkan penyebarluasan peluang ekonomi seluas mungkin untuk masyarakat melalui reformasi pertanahan (land reform), pendidikan, pelatihan, dan penyebaran kredit. Ketiga, dasar dari gerak pembangunan itu adalah pembangunan pendidikan dasar, yang dilaksanakan sejak awal (Amartya K. Sen, 2000) Kata kunci yang dikemukakan oleh Sen adalah kombinasi kebijakan berdasarkan tindakan negara dan ekonomi pasar, yang berhatihati. Berdasarkan kerangka berpikir Sen tersebut, maka krisis ini dapat dijelaskan sebab-sebabnya antara lain karena kombinasi kebijakan liberalisasi ekonomi pasar yang tidak berhati-hati atau sembrono. Dari penjelasan sebelumnya juga dapat dijelaskan bahwa institusi yang berkembang di dalam domain negara dan interaksinya dengan pihak swasta sangat primitif sehingga merusak proses liberalisasi pasar itu sendiri. Akhirnya rancangan kebijakan ekonomi pasar yang dibangun para teknokrat tersebut ambruk karena kesalahan rancangan institusionalnya, yang rapuh dan tidak mampu mendorong kesinambungan pertumbuhan ekonomi itu sendiri. Hal yang sama saya dengar dalam seminar Wolfgang Kartte ketika memberikan gambaran krisis ekonomi Indonesia, yang terjungkal karena implementasi kebijakan liberalisasi ekonomi pasar yang berlebihan. Sambil mengejek teknokrat bergaya dan bervisi Amerika, Kartte menganjurkan untuk melakukan seleksi yang efektif terhadap visi kebijakan yang datang dari luar, sembari menyesuaikannya dengan kondisi sosial-politik di lingkungan internal setempat (saya mendengar langsung komentar ringkas ini dalam workshop persaingan usaha di Bonn, Jerman Barat, Oktober 2000). Kebijakan liberalisasi ekonomi pasar tersebut sebenarnya juga merupakan titipan teknokrat ekonom Bank Dunia dan CGI. Terutama pada dekade adalah rancangan kebijakan yang dipilih berhati-hati antara tindakan 60

7 Didik J. Rachbini Tanggung Jawab Teknokrat dan Birokrat dalam Utang Luar Negeri tahun sidang CGI mensyaratkan perlunya diterapkan kebijakan-kebijakan liberalisasi pasar berdasarkan visi dan standar luar dari pihak mereka sendiri tanpa memperhitungkan atau mempertimbang kondisi sosialbudaya dan kelembagaan ekonomi-politik di Indonesia. Jika tidak, Bank Dunia mengancam untuk menunda pemberian utang. Kebijakan ekonomi politik di Indonesia selama ini berada di bawah penjara pikiran liberal ala Bank Dunia dan teknokrat ekonom yang berafiliasi dengan ekonom aliran arus utama (mainstream economists) dan umumnya berkumpul di bawah organisasi Bank Dunia (ILO, "Structural Adjusment: by Whom, for Whom", New Delhi: ILO Asian Employment Proggramme, hal 5-16). Proses kebijakan ekonomi, terutama liberalisasi sektor moneter dan perbankan yang menjerumuskan tersebut, adalah produk kerjasama ekonom Bank Dunia dan teknokrat ekonom, yang juga dilindungi oleh penguasa serta distempel karet oleh parlemen. Inilah kesalahan mendasar dari rancangan kebijakan publik dalam bidang ekonomi tersebut. Pemikiran parsial dari kesadaran kolektif kaum teknokrat dianggap cukup atau bahkan telah sempurna untuk dilaksanakan langsung sebagai basis kebijakan publik. Hal itu terlihat dari dominasi pikiran dan tindakan kalangan teknokrat ini, yang sekaligus enggan berinteraksi dengan ekonom di luarnya maupun kelompok akademisi non-ekonomi lainnya. Rancangan kebijakan ekonomi yang telah dilaksanakan dan menghasilkan krisis yang dirasakan sekarang benar-benar murni datang dari pemikiran kolektif kelompok teknokrat tersebut. Interaksinya hanya dengan kekuasaan saja dan tidak dengan rakyat sehingga menyebabkan orientasi kebijakan itu pun semakin distortif dan semakin jauh dari kepentingan publik. Rancangan kebijakan yang diciptakan akhirnya semakin melenceng dan lebih mengabdi kepada kepentingan penguasa atau kelompok kepentingan di sekitar penguasa. Proses distorsi itu semakin an setelah krisis minyak dan harganya berfluktuasi, setiap 61

8 Jurnal Universitas Paramadina, Vol. 1, No. 1, September 2001: besar yang tidak banyak jumlahnya. Salah satu distorsi yang amat menonjol adalah kebijakan dan transaksi utang luar negeri serta implementasi proyek-proyeknya sebagai obyek KKN kolektif antara penguasa, birokrat dan pengusaha. Yang jelas-jelas dapat ditunjuk langsung sebagai kelompok paling bertanggung jawab terhadap rancangan kebijakan pembangunan ekonomi ini pada hirarkhi kebijakan (policy level) adalah teknokrat Orde Baru. Kelompok ini bertanggung jawab sebagai inisiator dan promotor hampir seluruh kebijakan ekonomi, yang bertumpu pada utang luar negeri ini. Kelompok teknokrat berperan sangat strategis dalam masa yang panjang sebagai perancang (desainer) tunggal dan "partner" negara-negara donor serta lembaga-lembaga internasional. Kolaborasinya dengan birokrasi, yang secara alamiah berwatak cost maximizer, menjadi lengkap untuk menjadikan utang luar negeri tersebut sebagai obyek yang memberikan peluang terbuka untuk praktek korupsi. Kelompok teknokrat pada 1980-an dan 1990-an, yang umumnya bekumpul di Bappenas dan kementrian ekonomi, mendapat kekuasaan yang sangat besar dan leluasa dalam merancang serta menjalankan desain kebijakan ekonomi. Tidak ada kelompok lain yang mempunyai kekuasaan sangat besar ini sehingga tanggung jawab terbesar dalam kesalahan rancangan berada di pundak kelompok teknokrat ini, karena itu, turunan dan afiliasinya yang terkait pun tidak terlalu layak untuk memimpin pemerintahan di bidang ekonomi setelah krisis terjadi karena kesalahan utama pada rancangan kebijakan. Implementasi kebijakan dalam keadaan dimana sistem politik tidak demokratis, pemerintah tidak transparan dan birokrat pada umumnya korup, telah menyebabkan berbagai distorsi yang lebih besar lagi. Kelompok ini menganggap distorsi tersebut bukan kesalaan "desainer", tetapi merupakan kesalahan penguasa sebagai kontraktor politik Orde Baru. melebar dan kebijakan tertuju pada kepentingan pelaku-pelaku usaha 62

9 Didik J. Rachbini Tanggung Jawab Teknokrat dan Birokrat dalam Utang Luar Negeri Transaksi keuangan publik seperti utang luar negeri tidak mungkin berjalan dengan sendirinya efisien bersama birokrasi, tanpa institusi kontrol yang memadai. Selain itu, syarat-syarat utama bagi transaksi keuangan publik yang sehat adalah clean government dan demokrasi politik terbuka agar memungkinkan publik secara leluasa melakukan kontrol, baik secara langsung melalui pers maupun tidak langsung melalui wakil-wakilnya yang independen di parlemen. Tetapi prasyarat tersebut dilanggar sendiri oleh penguasa dan kelompok kepentingan di sekitarnya. Kalangan teknokrat tidak peduli dengan distorsi ini dan yakin akan kemampuan sistem birokrasi untuk melakukan kontrol internal secara otomatis terhadap segala kebijakan publik dan rangkaian kegiatan untuk melaksanakan implementasinya. Krisis ekonomi, yang diikuti oleh reformasi politik, telah menghasilkan "kambing hitam", yang menjadi sasaran sumpah serapah seluruh kekesalan dan dendam sebagian rakyat yang menggumpal selama puluhan tahun. Rakyat dan bangsa Indonesia mengkambinghitamkan Soeharto pada masa reformasi sekarang ini. Perlakuan ini sama persis dengan perlakukan kepada Soekarno pada masa Orde Lama berakhir. Para pemimpin dan elit politik pada jaman gelegar politik dan ekonomi masa dua krisis tersebut lebih mengutamakan pemuasan nafsu politik dan lupa menarik hikmah dari kegagalan sistem ekonomi-politik yang lalu. Reformasi akhirnya memang kemudian jatuh menjadi ajang cacimaki, saling tuding, balas dendam dan saling menjatuhkan satu sama lain. Agenda perbaikan institusi yang buruk di masa Orde Baru masih jauh dari harapan, bahkan cenderung diabaikan. Proses reformasi berhenti pada agenda penumbangan sebuah regim, yang sebenarnya menghadapi kekeroposannya sendiri dari dalam. Konfirmasi kebenaran pikiran seperti ini bisa dilihat dari pertanyaan: "Apa saja institusi baru yang lahir pada 63

10 Jurnal Universitas Paramadina, Vol. 1, No. 1, September 2001: Komunisme yang ambruk dengan sendirinya akibat pilar-pilar pendukungnya sudah sangat keropos dan ringkih. Dalam bidang ekonomi-politik tidak ada hikmah pelajaran yang dapat diambil secara kolektif untuk perbaikan kesejahteraan masyarakat. Golongan yang disebut reformis bersilang pendapat satu sama lain dan tidak pernah berhasil membangun barisan bersama untuk membangun kembali reruntuhan sistem ekonomi-politik lama. Bukti-bukti lemahnya kelompok ini terlihat pula pada proses pemulihan ekonomi yang sangat lambat, jauh dari tuntas dan bahkan masih sangat terbengkalai. Negara-negara lain, yang menghadapi krisis moneter dan ekonomi sama persis dengan Indonesia, telah tuntas menyelesaikan proses pemulihan ekonominya. Nilai tukar, tingkat suku bunga dan indikator makro ekonomi lainnya telah kembali ke dalam posisi normal sejak tahun 1999 yang lalu dan bahkan cenderung semakin baik pada tahun 2000 ini. Sektor Perbankan dan industrinya telah berperan secara normal dengan kapasitas produksi yang optimal seperti sedia kala hanya dalam waktu dua tahun. Keadaan di Indonesia justru sebaliknya sehingga indikator-indikator makro masih jauh dari normal, serta proses restrukturisasi perbankan dan dunia usaha masih sulit dituntaskan. Sistem dan institusi lebih layak dipersoalkan ketimbang individu sebagai penyebab utama dari krisis yang terjadi. Meskipun aktor-aktor utamanya juga patut betanggung jawab terhadap sistem yang dibangunnya secara kolektif, tetapi krisis terjadi juga karena desain kebijakan yang salah. Jadi, krisis tidak semata-mata disebabkan oleh nakhoda, tetapi juga karena desainnya ringkih terhadap kelabilan sistem moneter global. Lubang besar yang ditinggalkan penguasa dan teknokrat ekonom Orde Baru adalah masalah utang luar negeri ini. Dua kelompok strategis dan fungsional ini (penguasa dan teknokrat ekonom) diketahui sebagai masa krisis ini dan potensial membawa bangsa ini keluar dari krisis?" Jawabnya masih negatif karena keadaan kita relatif sama dengan sistem 64

11 Didik J. Rachbini Tanggung Jawab Teknokrat dan Birokrat dalam Utang Luar Negeri maupun tidak langsung dari transaksi utang negara dengan lembaga keuangan internasional. Desain kebijakan pembangunan seperti ini tidak dapat dipisahkan dari perilaku kolektif segelintir kelompok teknokrat ekonom, yang menjadi "panglima" pembangunan ekonomi selama ini. Penguasa menjadi penanggung jawab, sementara itu teknokrat ekonom menjadi tukang dan pengabsah kebijakan tersebut dari sisi ilmu. Implementasinya yang buruk dan penuh lobang korupsi dilakukan oleh birokrasi yang tertutup, yang tidak mengabdi kepada rakyat melainkan kepada penguasa. Jadi, masalahnya adalah kombinasi antara proses kebijakan publik, desain strategi pembangunan ekonomi dan pelaku-pelakunya. Strategi ekonomi Orde Baru tersebut tidak lain adalah strategi pertumbuhan tinggi, yang didukung oleh utang luar negeri dan ketersediaan sumberdaya alam dalam jumlah yang cukup melimpah sebagai jaminannya. TANGGUNG JAWAB BIROKRASI Selain kesalahan rancangan, kegagalan kebijakan utang luar negeri dapat dikaitkan dengan eksistensi dan karakter lembaga birokrasi, yang menjadi transmisi pelaksanaan proyek-proyek utang luar negeri di lapangan bersama pengusaha swasta. Karena itu, analisis secara teoritis terhadap sifat dan karakter dasar institusi birokrasi ini sangat membantu menjelaskan sebab-sebab kegagalan kebijakan utang luar negeri pada hirarkhi intitusi pelaksananya. Maksud dari analisis ini tidak lain untuk menjadi pelajaran bagi generasi selanjutnya agar sejarah yang pahit sekalipun dapat diambil manfaatnya. Posisi utang luar negeri sekarang adalah hasil kumulatif dari kebijakan fiskal dan moneter, yang dirancang secara sembrono oleh para teknokrat ekonom pada masa itu. Rancangan tersebut secara inheren motor pembangunan ekonomi, yang bertumpu pada utang luar negeri. Sementara itu, kekayaan alam yang melimpah menjadi jaminan langsung 65

12 Jurnal Universitas Paramadina, Vol. 1, No. 1, September 2001: yang tidak memiliki kemampuan legal dan profesional untuk melakukan koreksi atas kebijakan yang melenceng dari kepentingan rakyat. Jadilah akhirnya kebijakan utang luar negeri sebagai agenda tetap dan rutin di dalam APBN, yang akhirnya menjadi "candu" ketergantungan memabukkan. Keadaan ini terus berlanjut karena tidak ada perubahan pada sistem ekonomi politik dimana institusi dan proses politik yang menghasilkan kebijakan tidak dapat dikoreksi dari luar. Sistem tersebut telah menerapkan apa yang disebut "redistributive combine", suatu istilah yang diajukan Hernando de Soto untuk regim yang memburu rente bagi dirinya sendiri. Kebijakan digulirkan tidak dalam rangka kepentingan rakyat, tetapi untuk kepentingan regim dan pihak-pihak terkait di dalamnya. Pada masa-masa awal bulan madu kerja sama Indonesia dalam hal utang luar negeri dengan negara kreditor menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang melaju cukup baik. Fakta ini sangat lumrah karena merupakan konsekuensi langsung dari suntikan modal dari luar. Mekanisme ini memang merupakan cara yang paling mudah untuk menumbuhkan ekonomi melalui suntikan modal sebanyak-banyaknya. Jalan pintas seperti ini merupakan cara bagi institusi negara untuk menjadi lokomotif segalanya (ekonomi dan sosial-politik), tetapi hanya bersandar pada utang luar negeri dan eksploitasi sumberdaya alam (hutan, tambang, dan sebagainya). Meskipun banyak kebocoran-kebocoran yang terjadi -- juga dalam banyak kasus di berbagai negara penerima utang -- tetapi dampaknya terhadap ekonomi masih terlihat cukup nyata. Keberhasilan sementara tersebut menutupi segala akumulasi distorsi dan potensi kegagalan yang tertunda. Tetapi pada saat yang sama, proses pembangunan tersebut memupuk beban yang berat, yang pada gilirannya nanti akan mengganggu telah mengandung jalannya kelemahan, roda perekonomian yang kemudian itu sendiri. dilaksanakan secara boros oleh Bila birokrasi. tiba saatnya Sementara membayar itu, parlemen kembali hanya -- sementara menjadi "stempel hasil-hasil karet", produktif dari investasi dana utang luar negeri tersebut tidak memadai 66

13 Didik J. Rachbini Tanggung Jawab Teknokrat dan Birokrat dalam Utang Luar Negeri maka krisis yang tertunda tersebut mulai terjadi. Akhirnya, generasi pencipta utang memang kemudian mewariskan tumpukan beban pada generasi berikutnya (sebagai penerima utang), yang sekaligus menjadi pencuci piringnya setelah pesta memabukkan selama dua dekade an dan 1980-an usai. Generasi pencipta utang pada masa Widjojo Nitisastro tidak menerima beban berat untuk membayar utang luar negeri tersebut. Generasi pembayar utang setelah pesta pora tersebut harus menanggung akibat yang begitu mendalam, berat, dan tidak mudah diselesaikan. Ketidakadilan antar generasi ini tidak ada yang menjembatani sehingga generasi intelektual muda cenderung membenci sejarah ekonominya sendiri. Itulah sebenarnya yang terjadi pada pertengahan 1980-an atau sekitar 15 tahun setelah desain kebijakan utang luar negeri mulai menampakkan masalah. Pada pertengahan 1980-an ini utang luar negeri mengalami krisis karena debt service ratio atau DSR -- perbandingan antara dana untuk pembayaran bunga dan cicilan utang terhadap devisa dari ekspor per tahun -- sudah melampaui garis merah. Kewajiban utang luar negeri pemerintah yang harus dibayarkan sudah melebihi utang luar negeri yang diterima. Utang luar negeri yang mengalami defisit tidak dicegah secara efektif oleh DPR dan tidak diingatkan publik secara luas (termasuk pers). Diskursus publik tentang substansi utang luar negeri ini sangat tidak memadai karena kebenaran suatu proses kebijakan publik sudah dimonopoli oleh empu-empu teknokrat ekonom, yang berada di Bappenas dan departemen-departemen ekonomi pada waktu itu. Selama 15 tahun itu pula utang luar negeri, yang dianggap pelengkap (supplement) di dalam kebijakan fiskal Indonesia justru semakin menjadi-jadi pertumbuhannya dari tahun ke tahun. Tidak ada tanda-tanda ke arah -- 67

14 Jurnal Universitas Paramadina, Vol. 1, No. 1, September 2001: Sementara itu, pemerintah memasang "palu godam" subversif untuk pengritik utang luar negeri. Di antara yang ditindas pada waktu itu adalah aktivis-aktivis INFID, LP3ES, LBH, YLKI, dan sejumlah LSM. Kelompok-kelompok pengritik ini dianggap sebagai minoritas yang tidak tahu diri. Bahkan dianggap tidak rasional karena rancangan pembangunan ekonomi dengan utang dianggap telah menghasilkan pertumbuhan dan kemakmuran yang memadai untuk rakyat. Akhirnya suara-suara tersebut lenyap begitu saja, sementara regim ekonomi semakin ringkih dan busuk dari dalam sehingga mengalami krisis dengan mudah. Dengan cara tersebut, teknokrat ekonom dan pembantupembantu presiden lainnya melenggang sangat leluasa melakukan transaksi utang luar negeri, tanpa memperhitungkan akibat-akibatnya. Kelompok kecil cendekiawan yang menjadi penguasa bidang ekonomi mempunyai otoritas yang sangat besar, sebagai derivat kekuasaan regim Orde Baru yang besar pula. Perilaku teknokrat tersebut tidak terbendung oleh siapa pun sehingga proyek apa pun dapat dibuat (termasuk yang sekadar untuk tambahan nafkah) karena jumlah anggaran yang disediakan melalui utang luar negeri sangat besar. Pengeluaran pemerintah memang tidak disesuaikan dengan potensi dan kemampuan internal sendiri. Tabiat birokrasi dan pembuat keputusan betul-betul tersalurkan secara leluasa tanpa kontrol sosial dari "civil society", terutama melalui perilakunya sebagai "cost maximizer". Dengan meningkatkan biaya pembangunan atau apa pun yang terkait dengan pengeluaran fiskal sesungguhnya telah merupakan pemborosan sekaligus sebagai suatu pada tahap awal penyimpangan lanjutan. Penyimpangan tersebut kemudian melembaga ke dalam birokrasi dan terus meluas dalam hubungannya dengan swasta melalui kontrak-kontrak proyek yang tidak efisien. Dalam keadaan dimana sistem politik tertutup dan seluruh elemen kontrol sosial sangat lemah (termasuk DPR), maka transaksi mandiri utang dari luar perkembangannya negeri merupakan selama jawaban periode terhadap tersebut, pemenuhan baik hobi melalui tersebut. koreksi Pemborosan pengeluaran dan maupun korupsi penurunan dalam skala utang. yang masif terjadi dalam 68

15 Didik J. Rachbini Tanggung Jawab Teknokrat dan Birokrat dalam Utang Luar Negeri mekanisme utang luar negeri ini sehingga begitu sulit untuk memberantasnya. Birokrasi tanpa kontrol sosial dan sistem politik yang terbuka adalah nonsense akan bersih dan profesional. Kondisi inilah yang dilupakan oleh teknokrat ekonom di masa yang lalu sehingga anggapan "semakin banyak utang semakin tinggi pertumbuhan ekonomi" ternyata salah sama sekali. Pertumbuhan yang terjadi justru karena injeksi utang luar negeri yang besar dan eksploitasi sumberdaya alam yang melebihi batas kesinambungannya. Justru lewat mekanisme utang luar negeri tersebut pemborosan dan korupsi semakin subur terutama karena dukungan sistem politik yang tertutup dan tanpa kontrol sosial yang memadai. Semakin besar jumlah utang luar negeri, maka semakin besar pula jumlah pemborosannya. Fakta-fakta seperti ini bisa dilihat di lapangan di mana banyak sekali proyek-proyek utang luar negeri ternyata tidak efisien, mahal, bahkan penuh mark up. Tidak hanya di dalam negeri, utang luar negeri juga telah mengalami pemborosan sejak dari negara donornya, terutama melalui penyaluran barang-barang yang harganya lebih mahal dari harga pasar. Konsultan-konsultan dikirim sebagai bagian dari technical assistance dengan gaji tidak rasional karena ekstra besar sehingga justru menjadi beban berat bagi Indonesia karena dibiayai dari utang luar negeri tersebut. Tidak sedikit dari utang luar negeri tersebut hanya sekadar proyek pembodohan belaka, yang disalurkan melalui birokrasi dengan hobi cost maximizer tadi. Transaksi utang luar negeri, yang telah dibatasi dengan garis merah tersebut tetap dilanggar oleh pemerintah dan teknokrat-teknokratnya sendiri, akibatnya, utang luar negeri menjadi bagian dari tempat bergantung yang laten di dalam APBN. Kemaruk terhadap ut 69

16 Jurnal Universitas Paramadina, Vol. 1, No. 1, September 2001: Transfer negatif keluar sesungguhnya telah terjadi sejak tahun 1986, tetapi sampai saat ini APBN tidak lepas dari ketergantungannya terhadap utang luar negeri. Sejauh ini tidak ada pula upaya-upaya kebijakan yang nyata untuk melepaskan diri dari lilitan utang luar negeri tersebut. Tidak ada tanda-tanda bahwa hal tersebut sebagai suatu awal dari krisis kecil, yang kemudian memberi kontribusi besar terhadap krisis akumulatif pada masa berikutnya. APBN dijalankan sebagaimana mestinya tanpa kritik yang memadai dengan tiang gantungan utang yang besar, tetapi mencekik pengeluaran-pengeluaran lainnya (pengeluaran rutin maupun pembangunan). Kritik-kritik dari kalangan ilmuwan telah dianggap sebagai suatu suara yang tidak bermanfaat (Lihat Prisma dan Kompas). Suara-suara di luar negara diabaikan sehingga istilah "anjing menggonggong kafilah berlalu" menjadi sangat terkenal. Lama-lama pemerintah Orde Baru menjadi tidak peka atau bahkan tuli terhadap kenyataan yang berkembang di luar, yang akhirnya bermuara pada ledakan ketidakpuasan publik menjadi gerakan reformasi, yang dimotori mahasiswa. Utang luar negeri pada dasarnya adalah penciptaan krisis yang tertunda. Tahun-tahun awal dari transaksi utang luar negeri tersebut menyemburkan harapan karena persoalan pangan dan kebutuhan investasi sektoral terpenuhi. Akan tetapi birokrasi yang mencandu utang tidak bisa melepaskan diri dari ketergantungannya tanpa ada koreksi dari luar, yang memadai. Sementara itu, elemen "civil society" masih sangat lemah.*** ang luar negeri akhirnya menjadi candu politik dan ekonomi, sehingga proses transaksi utang luar negeri seperti gali lubang tutup lubang. 70

17 Didik J. Rachbini Tanggung Jawab Teknokrat dan Birokrat dalam Utang Luar Negeri DAFTAR PUSTAKA Ikhsan, M "Reformasi Institusi dan Pembangunan Ekonomi". Jakarta. Jurnal Demokrasi dan HAM, September-November 2000, Vol 1, No. 2, Hal Myrdal, G Asian Drama: An Inquiry into Poverty Nations, New York: Vintage Books. North, Douglass Institutions, Institutional Change and Economic Performance. New York: Cambride University Press. Sen, Amartya K Beyond the Crissis: Development Strategis in Asia. Singapore: ISEAS Demokrasi Bisa Membrantas Kemiskinan. Bandung: Mizan. Stigler, George. Memoirs of An Unregulted Economist. 71

18 New York: Basic Books.

I. PENDAHULUAN. perubahan yang menakjubkan ketika pemerintah mendesak maju dengan

I. PENDAHULUAN. perubahan yang menakjubkan ketika pemerintah mendesak maju dengan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Selama tiga dekade terakhir, perekonomian Indonesia sudah mengalami perubahan yang menakjubkan ketika pemerintah mendesak maju dengan melakukan kebijakan deregulasi.

Lebih terperinci

Dari Ide ke Perkumpulan

Dari Ide ke Perkumpulan TENTANG Dari Ide ke Perkumpulan Organisasi Non Pemerintah adalah terjemahan Indonesia untuk non governmental organization sementara organisasi masyarakat sipil, terjemahan bahasa Indonesia untuk Civil

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. konsisten, perekonomian dibangun atas dasar prinsip lebih besar pasak dari pada

BAB I PENDAHULUAN. konsisten, perekonomian dibangun atas dasar prinsip lebih besar pasak dari pada BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Utang luar negeri yang selama ini menjadi beban utang yang menumpuk yang dalam waktu relatif singkat selama 2 tahun terakhir sejak terjadinya krisis adalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. untuk mengembangkan kegiatan ekonominya sehingga infrastruktur lebih banyak

BAB I PENDAHULUAN. untuk mengembangkan kegiatan ekonominya sehingga infrastruktur lebih banyak BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pembangunan merupakan serangkaian usaha dalam suatu perekonomian untuk mengembangkan kegiatan ekonominya sehingga infrastruktur lebih banyak tersedia, perusahaan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. yang merata baik material/spiritual berdasarkan Pancasila di dalam Negara

I. PENDAHULUAN. yang merata baik material/spiritual berdasarkan Pancasila di dalam Negara I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang merata baik material/spiritual berdasarkan Pancasila di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi suatu negara di satu sisi memerlukan dana yang relatif besar.

I. PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi suatu negara di satu sisi memerlukan dana yang relatif besar. I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembangunan ekonomi suatu negara di satu sisi memerlukan dana yang relatif besar. Sementara di sisi lain, usaha pengerahan dana untuk membiayai pembangunan tersebut

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Pada Bab V merupakan kesimpulan dari pembahasan bab sebelumnya

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Pada Bab V merupakan kesimpulan dari pembahasan bab sebelumnya 177 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Pada Bab V merupakan kesimpulan dari pembahasan bab sebelumnya tentang Kebijakan Pemerintah Orde Baru dalam Privatisasi BUMN Ditinjau dari Peranan IMF Antara Tahun 1967-1998.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sebelum krisis bukan tanpa hambatan. Indonesia mengalami beberapa kelemahan

BAB I PENDAHULUAN. sebelum krisis bukan tanpa hambatan. Indonesia mengalami beberapa kelemahan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Kinerja ekonomi Indonesia yang mengesankan dalam 30 tahun terakhir sebelum krisis bukan tanpa hambatan. Indonesia mengalami beberapa kelemahan dan kerentanan

Lebih terperinci

SEJARAH BANK INDONESIA : MONETER Periode

SEJARAH BANK INDONESIA : MONETER Periode SEJARAH BANK INDONESIA : MONETER Periode 1999-2005 Cakupan : Halaman 1. Sekilas Sejarah Bank Indonesia di Bidang Moneter Periode 1999-2 2005 2. Arah Kebijakan 1999-2005 3 3. Langkah-Langkah Strategis 1999-2005

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Dari hasil penelitian tersebut diatas dapat disimpulkan dengan mengacu pada hipotesa yang peneliti tentukan sebelumnya, yaitu sebagai berikut: pertama, Kausalitas

Lebih terperinci

Pengaruh utang luar negeri dan defisit anggaran terhadap kondisi makro ekonomi OLEH: Siti Hanifah NIM.F BAB I PENDAHULUAN

Pengaruh utang luar negeri dan defisit anggaran terhadap kondisi makro ekonomi OLEH: Siti Hanifah NIM.F BAB I PENDAHULUAN Pengaruh utang luar negeri dan defisit anggaran terhadap kondisi makro ekonomi OLEH: Siti Hanifah NIM.F 0102058 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Dalam menyelenggarakan pemerintahan, suatu negara memerlukan

Lebih terperinci

KRISIS EKONOMI DI INDONESIA MATA KULIAH PEREKONOMIAN INDONESIA

KRISIS EKONOMI DI INDONESIA MATA KULIAH PEREKONOMIAN INDONESIA KRISIS EKONOMI DI INDONESIA MATA KULIAH PEREKONOMIAN INDONESIA Definisi Krisis ekonomi : Suatu kondisi dimana perekonomian suatu negara mengalami penurunan akibat krisis keuangan Krisis keuangan/ moneter

Lebih terperinci

Fokus Negara IMF. Fokus Negara IMF. Ekonomi Asia yang Dinamis Terus Memimpin Pertumbuhan Global

Fokus Negara IMF. Fokus Negara IMF. Ekonomi Asia yang Dinamis Terus Memimpin Pertumbuhan Global Fokus Negara IMF Orang-orang berjalan kaki dan mengendarai sepeda selama hari bebas kendaraan bermotor, diadakan hari Minggu pagi di kawasan bisnis Jakarta di Indonesia. Populasi kaum muda negara berkembang

Lebih terperinci

Tugas Kajian Keislaman dan Keindonesiaan OPINI TERHADAP SISTEM EKONOMI PASAR Diena Qonita

Tugas Kajian Keislaman dan Keindonesiaan OPINI TERHADAP SISTEM EKONOMI PASAR Diena Qonita Tugas Kajian Keislaman dan Keindonesiaan OPINI TERHADAP SISTEM EKONOMI PASAR Diena Qonita Teori Adam Smith, yang menyatakan bahwa pasar memiliki kekuatan tidak terlihat yang akan membawa pasar kepada keseimbangan,

Lebih terperinci

KONSOLIDASI DEMOKRASI UNTUK KEMAKMURAN RAKYAT

KONSOLIDASI DEMOKRASI UNTUK KEMAKMURAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL SAMBUTAN MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/KEPALA BAPPENAS Pada Seminar DEMOKRASI UNTUK

Lebih terperinci

VII. SIMPULAN DAN SARAN

VII. SIMPULAN DAN SARAN VII. SIMPULAN DAN SARAN 7.1. Simpulan Hasil analisis menunjukkan bahwa secara umum dalam perekonomian Indonesia terdapat ketidakseimbangan internal berupa gap yang negatif (defisit) di sektor swasta dan

Lebih terperinci

Dengan Jumlah Hutang Paling Memprihatinkan

Dengan Jumlah Hutang Paling Memprihatinkan SBY Tercatat Sebagai Presiden Jan 6, 2016 Dengan Jumlah Hutang Paling Memprihatinkan http://bataranews.com/2016/01/06/sby-tercatat-sebagai-presiden-dengan-jumlah-hutang-paling-memprihatinkan/ Susilo Bambang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perekonomian di Indonesia. Fluktuasi kurs rupiah yang. faktor non ekonomi. Banyak kalangan maupun Bank Indonesia sendiri yang

BAB I PENDAHULUAN. perekonomian di Indonesia. Fluktuasi kurs rupiah yang. faktor non ekonomi. Banyak kalangan maupun Bank Indonesia sendiri yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada saat krisis keuangan global beberapa tahun belakan ini kurs, inflasi, suku bunga dan jumlah uang beredar seolah tidak lepas dari masalah perekonomian di Indonesia.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Grafik 1.1 Perkembangan NFA periode 1997 s.d 2009 (sumber : International Financial Statistics, IMF, diolah)

BAB 1 PENDAHULUAN. Grafik 1.1 Perkembangan NFA periode 1997 s.d 2009 (sumber : International Financial Statistics, IMF, diolah) BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dalam beberapa dekade terakhir, perekonomian Indonesia telah menunjukkan integrasi yang semakin kuat dengan perekonomian global. Keterkaitan integrasi ekonomi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. maupun spiritual. Masyarakat seperti ini akan tercapai dengan dihapuskannya

BAB I PENDAHULUAN. maupun spiritual. Masyarakat seperti ini akan tercapai dengan dihapuskannya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan ekonomi suatu negara memiliki arah dan strategi untuk senantiasa mewujudkan masyarakat adil dan makmur secara merata, baik materiil maupun spiritual. Masyarakat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pembangunan ekonomi sebuah negara pada dasarnya bertujuan untuk mencapai kemakmuran masyarakat melalui pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan distribusi pendapatan

Lebih terperinci

Good Governance adalah suatu peyelegaraan manajemen pembangunan yang solid dan

Good Governance adalah suatu peyelegaraan manajemen pembangunan yang solid dan PENERAPAN KONSEP GOOD GOVERNANCE DI INDONESIA Oleh ARISMAN Widyaiswara Muda BPSDM Kementerian Hukum dan HAM RI A. Latar Belakang Secara umum, Good Governance adalah pemerintahan yang baik. Dalam versi

Lebih terperinci

Ichsanuddin Noorsy, Pengamat Kebijakan Publik

Ichsanuddin Noorsy, Pengamat Kebijakan Publik Ichsanuddin Noorsy, Pengamat Kebijakan Publik Meski sudah menaikan berkali-kali, rezim SBY akan terus menaikan harga BBM sampai sesuai dengan harga pasar dunia. Selama harganya masih di bawah harga dunia,

Lebih terperinci

SEJARAH BANK INDONESIA : MONETER Periode 1997-1999

SEJARAH BANK INDONESIA : MONETER Periode 1997-1999 SEJARAH BANK INDONESIA : MONETER Periode 1997-1999 Cakupan : Halaman 1. Sekilas Sejarah Bank Indonesia di Bidang Moneter Periode 1997-2 1999 2. Arah Kebijakan 1997-1999 3 3. Langkah-Langkah Strategis 1997-1999

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS FLUKTUASI NILAI TUKAR RUPIAH DAN PENGARUHNYA TERHADAP DEPOSITO MUDHARABAH PERIODE

BAB IV ANALISIS FLUKTUASI NILAI TUKAR RUPIAH DAN PENGARUHNYA TERHADAP DEPOSITO MUDHARABAH PERIODE BAB IV ANALISIS FLUKTUASI NILAI TUKAR RUPIAH DAN PENGARUHNYA TERHADAP DEPOSITO MUDHARABAH PERIODE 2014-2015 A. Analisis Fundamental Nilai Tukar Rupiah 1. Faktor Ekonomi Faktor Ekonomi yaitu hal-hal yang

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. bebasnya telah menjadi dasar munculnya konsep good governance. Relasi

BAB 1 PENDAHULUAN. bebasnya telah menjadi dasar munculnya konsep good governance. Relasi 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Eksistensi dan penyebaran ideologi neoliberal dengan ide pasar bebasnya telah menjadi dasar munculnya konsep good governance. Relasi yang terjalin antara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang tinggi pada arus modal eksternal, prospek pertumbuhan yang tidak pasti. Krisis

BAB I PENDAHULUAN. yang tinggi pada arus modal eksternal, prospek pertumbuhan yang tidak pasti. Krisis BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Selama beberapa dekade terakhir, banyak negara di dunia ini mengalami krisis yang didorong oleh sistem keuangan mereka yang kurang dikembangkan, votalitas kebijakan

Lebih terperinci

PINJAMAN LUAR NEGERI DAN KEWENANGAN PEMERINTAH DAERAH. Oleh : Ikak G. Patriastomo 1

PINJAMAN LUAR NEGERI DAN KEWENANGAN PEMERINTAH DAERAH. Oleh : Ikak G. Patriastomo 1 PINJAMAN LUAR NEGERI DAN KEWENANGAN PEMERINTAH DAERAH Oleh : Ikak G. Patriastomo 1 PENDAHULUAN Bantuan luar negeri dapat berupa pinjaman maupun hibah luar negeri. Pinjaman luar negeri lebih mendesak dibahas

Lebih terperinci

Lampiran 1: Rumusan Kebijakan Bantuan Luar Negeri dalam Ketetapan-ketetapan MPRS/MPR. (Ditetapkan di Bandung 19 November 1960)

Lampiran 1: Rumusan Kebijakan Bantuan Luar Negeri dalam Ketetapan-ketetapan MPRS/MPR. (Ditetapkan di Bandung 19 November 1960) Lampiran 1: Rumusan Kebijakan Bantuan Luar Negeri dalam Ketetapan-ketetapan MPRS/MPR I. Periode 1960 1965 1. Ketetapan MPRS No. I/MPRS 1960 tentang Manifesto Politik Republik Indonesia sebagai Garis-Garis

Lebih terperinci

Demokratisasi Pembangunan Ekonomi Nasional dan daerah

Demokratisasi Pembangunan Ekonomi Nasional dan daerah Demokratisasi Pembangunan Ekonomi Nasional dan daerah Oleh : Marsuki Disampaikan dalam diskusi panel Simpul Demokrasi Kab. Jeneponto Sulsel. Tema: Bisnis, Politik, Demokrasi dan Peluang Investasi Daerah.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dewasa ini adalah menguatnya tuntutan akuntabilitas atas lembaga-lembaga publik,

BAB I PENDAHULUAN. dewasa ini adalah menguatnya tuntutan akuntabilitas atas lembaga-lembaga publik, BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Fenomena yang terjadi dalam perkembangan sektor publik di Indonesia dewasa ini adalah menguatnya tuntutan akuntabilitas atas lembaga-lembaga publik, baik

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN TRIWULAN PEREKONOMIAN INDONESIA Keberlanjutan ditengah gejolak. Juni 2010

PERKEMBANGAN TRIWULAN PEREKONOMIAN INDONESIA Keberlanjutan ditengah gejolak. Juni 2010 PERKEMBANGAN TRIWULAN PEREKONOMIAN INDONESIA Keberlanjutan ditengah gejolak Juni 2010 viii Ringkasan Eksekutif: Keberlanjutan di tengah gejolak Indonesia terus memantapkan kinerja ekonominya yang kuat,

Lebih terperinci

Foto: Kahar. Buruh Menggugat

Foto: Kahar. Buruh Menggugat Bagian I UMUM 1 Buruh Menggugat Foto: Kahar Kita membutuhkan pertumbuhan ekonomi. Ini adalah sesuatu yang tidak perlu diperdebatkan lagi. Karena dengan pertumbuhan ekonomi itulah, kita memiliki banyak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dicicil pada tahun Berdasarkan risalah Konferensi Meja Bundar, utang itu

BAB I PENDAHULUAN. dicicil pada tahun Berdasarkan risalah Konferensi Meja Bundar, utang itu BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Penelitian. Sejarah perekonomian Indonesia tak bisa dilepaskan dari masalah utang luar negeri. Utang ini belum pernah pernah surut, bahkan dari tahun ke tahun makin

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. sembilan persen pertahun hingga disebut sebagai salah satu the Asian miracle

I. PENDAHULUAN. sembilan persen pertahun hingga disebut sebagai salah satu the Asian miracle I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini peranan minyak bumi dalam kegiatan ekonomi sangat besar. Bahan bakar minyak digunakan baik sebagai input produksi di tingkat perusahaan juga digunakan untuk

Lebih terperinci

BAB I SEJARAH DAN SISTEM EKONOMI INDONESIA

BAB I SEJARAH DAN SISTEM EKONOMI INDONESIA BAB I SEJARAH DAN SISTEM EKONOMI INDONESIA FAKTOR INTERNAL (DOMESTIK) FAKTOR EKTERNAL (GLOBAL) kondisi fisik (termasuk iklim) Lokasi geografi Jumlah dan kualitas SDM Jumlah dan Kualitas SDA Kondisi awal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang dimulai dengan bangkrutnya lembaga-lembaga keuangan di Amerika

BAB I PENDAHULUAN. yang dimulai dengan bangkrutnya lembaga-lembaga keuangan di Amerika BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada saat ini dunia diperhadapkan pada masalah krisis ekonomi global yang dimulai dengan bangkrutnya lembaga-lembaga keuangan di Amerika sehingga akan berdampak buruk

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA, KETETAPAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR II/MPR/2002 TENTANG REKOMENDASI KEBIJAKAN UNTUK MEMPERCEPAT PEMULIHAN EKONOMI NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MAJELIS PERMUSYAWARATAN

Lebih terperinci

RANCANGAN AWAL RENCANA KERJA PEMERINTAH TAHUN 2010

RANCANGAN AWAL RENCANA KERJA PEMERINTAH TAHUN 2010 RANCANGAN AWAL RENCANA KERJA PEMERINTAH TAHUN 2010 Oleh: H. Paskah Suzetta Menteri Negara PPN/Kepala Bappenas Disampaikan pada Rapat Koordinasi Pembangunan Tingkat Pusat (Rakorbangpus) untuk RKP 2010 Jakarta,

Lebih terperinci

Bagaimana awalnya Amerika bisa menjajah Indonesia secara ekonomi dan politik?

Bagaimana awalnya Amerika bisa menjajah Indonesia secara ekonomi dan politik? Revrisond Baswir, Pengamat Ekonomi Politik UGM William Blum dalam buku terbarunya America s Deadliest Export Democracy menyebutkan ekspor Amerika yang paling mematikan adalah demokrasi. Menurut mantan

Lebih terperinci

Ekonomi 2009: Perlu langkah-langkah Baru

Ekonomi 2009: Perlu langkah-langkah Baru Ekonomi 2009: Perlu langkah-langkah Baru Yoke Muelgini** Senin, 19 Januari 2009 SELAIN bagaimana menyiapkan kado agenda pemilu dalam pesta demokrasi 2009, tantangan besar yang mengancam sepanjang 2009

Lebih terperinci

I.PENDAHULUAN. telah disaksikan tata pola penguasa negara. Jika dilihat kembali awal berdirinya Orde

I.PENDAHULUAN. telah disaksikan tata pola penguasa negara. Jika dilihat kembali awal berdirinya Orde I.PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kurang lebih 32 tahun Orde Baru berdiri, dan selama pemerintahan itu berlangsung telah disaksikan tata pola penguasa negara. Jika dilihat kembali awal berdirinya

Lebih terperinci

BAB 2 KAJIAN PUSTAKA. Secara Etimologis, istilah Kebijakan (policy) berasal bahasa Yunani,

BAB 2 KAJIAN PUSTAKA. Secara Etimologis, istilah Kebijakan (policy) berasal bahasa Yunani, BAB 2 KAJIAN PUSTAKA 2.1. Kebijakan Secara Etimologis, istilah Kebijakan (policy) berasal bahasa Yunani, Sangsekerta, dan Latin. Dimana istilah kebijakan ini memiliki arti menangani masalah-masalah publik

Lebih terperinci

MAKALAH MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ KEPALA BAPPENAS

MAKALAH MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ KEPALA BAPPENAS REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL MAKALAH MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ KEPALA BAPPENAS Pada Seminar Nasional STRATEGI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kepada orang yang mampu membayar serta tidak demokratis, telah

BAB I PENDAHULUAN. kepada orang yang mampu membayar serta tidak demokratis, telah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembanguanan nasional merupakan salah satu usaha peningkatan kwalitas sumber daya manusia, yang dilakukan secara berkelanjutan, dengan didasari oleh kemampuan dan memenfaatkan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan Negara berkembang yang menggunakan sistem perekonomian terbuka.

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan Negara berkembang yang menggunakan sistem perekonomian terbuka. 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan Negara berkembang yang menggunakan sistem perekonomian terbuka. Sistem perekonomian terbuka sangat penting dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi suatu negara sangat ditunjang oleh indikator tabungan dan investasi domestik yang digunakan untuk menentukan tingkat pertumbuhan dan pembangunan ekonomi

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA- SAUDI ARABIA BULAN : JUNI 2015

PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA- SAUDI ARABIA BULAN : JUNI 2015 PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA- SAUDI ARABIA BULAN : JUNI 2015 A. Perkembangan Perekonomian Saudi Arabia. 1. Dana Moneter Internasional (IMF) menyatakan pertumbuhan ekonomi di Saudi Arabia diatur melambat

Lebih terperinci

EKONOMI INDONESIA MENGHADAPI REFORMASI, GLOBALISASI DAN ERA PERDAGANGAN BEBAS

EKONOMI INDONESIA MENGHADAPI REFORMASI, GLOBALISASI DAN ERA PERDAGANGAN BEBAS EKONOMI INDONESIA MENGHADAPI REFORMASI, GLOBALISASI DAN ERA PERDAGANGAN BEBAS Oleh: Ginandjar Kartasasmita Menteri Negara Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri Bogor, 29 Agustus 1998 I. SITUASI

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Pada bab terakhir dalam penulisan skripsi ini akan dituangkan kesimpulan

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Pada bab terakhir dalam penulisan skripsi ini akan dituangkan kesimpulan BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Pada bab terakhir dalam penulisan skripsi ini akan dituangkan kesimpulan dan rekomendasi berdasarkan hasil penelitian mengenai permasalahan yang dikaji dalam skripsi ini,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dari keberadaan isu Corporate Governance (Swasembada, edisi: 09/XXI/28 april-

BAB I PENDAHULUAN. dari keberadaan isu Corporate Governance (Swasembada, edisi: 09/XXI/28 april- BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Corporate Governance telah menjadi sebuah isu yang menarik sejak dekade terakhir. Organisasi dunia seperti Bank Dunia dan The Organization For Economic Cooperation

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Perdagangan internasional merupakan salah satu aspek penting dalam

I. PENDAHULUAN. Perdagangan internasional merupakan salah satu aspek penting dalam I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perdagangan internasional merupakan salah satu aspek penting dalam perekonomian setiap negara di dunia. Dengan perdagangan internasional, perekonomian akan saling terjalin

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan merupakan salah satu

BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan merupakan salah satu BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan merupakan salah satu kondisi utama bagi kelangsungan ekonomi di Indonesia atau suatu negara, sehingga pertumbuhan

Lebih terperinci

Keuangan Negara dan Perpajakan. Avni Prasetia Putri Fadhil Aryo Bimo Nurul Salsabila Roma Shendry Agatha Tasya Joesiwara

Keuangan Negara dan Perpajakan. Avni Prasetia Putri Fadhil Aryo Bimo Nurul Salsabila Roma Shendry Agatha Tasya Joesiwara Keuangan Negara dan Perpajakan Avni Prasetia Putri Fadhil Aryo Bimo Nurul Salsabila Roma Shendry Agatha Tasya Joesiwara SUMBER-SUMBER PENERIMAAN NEGARA SUMBER PENERIMAAN Pajak Retribusi Keuntungan BUMN/BUMD

Lebih terperinci

Good Party Governance Solusi Tuntas Menuju Indonesia Baru

Good Party Governance Solusi Tuntas Menuju Indonesia Baru Good Party Governance Solusi Tuntas Menuju Indonesia Baru Mas Achmad Daniri Ketua Komite Nasional Kebijakan Governance Kekuasaan diperoleh dari kegiatan berpolitik dengan menggunakan kendaraan partai politik

Lebih terperinci

PENGANTAR EKONOMI PEMBANGUNAN

PENGANTAR EKONOMI PEMBANGUNAN PENGANTAR EKONOMI PEMBANGUNAN DR. MOHAMMAD ABDUL MUKHYI, SE., MM Pengertian dan Ruang Lingkup Pembangunan ekonomi adalah upaya untuk memperluas kemampuan dan kebebasan memilih (increasing the ability and

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Hingga saat ini, relasi antara Pemerintah Daerah, perusahaan dan masyarakat (state, capital, society) masih belum menunjukkan pemahaman yang sama tentang bagaimana program CSR

Lebih terperinci

POLICY PAPER. : Strategi Pemberantasan Korupsi di Indonesia Inisiator : Pusat Kajian Administrasi Internasional LAN, 2007

POLICY PAPER. : Strategi Pemberantasan Korupsi di Indonesia Inisiator : Pusat Kajian Administrasi Internasional LAN, 2007 POLICY PAPER Fokus : Strategi Pemberantasan Korupsi di Indonesia Inisiator : Pusat Kajian Administrasi Internasional LAN, 2007 Pemberantasan korupsi merupakan salah satu agenda penting dari pemerintah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. internasional tidak bisa lepas dari hal-hal yang sedang dan akan berlangsung di

BAB I PENDAHULUAN. internasional tidak bisa lepas dari hal-hal yang sedang dan akan berlangsung di BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia sebagai negara yang menganut sistem perekonomian terbuka, keadaan dan perkembangan perdagangan luar negeri serta neraca pembayaran internasional tidak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang sedang berkembang. Oleh. masyarakat Indonesia yang maju dan mandiri.

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang sedang berkembang. Oleh. masyarakat Indonesia yang maju dan mandiri. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Indonesia merupakan negara yang sedang berkembang. Oleh karena itu Indonesia harus giat melaksanakan pembangunan disegala bidang. Tujuan utama pembangunan adalah tercapainya

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Kopi merupakan salah satu komoditas ekspor unggulan subsektor perkebunan

I. PENDAHULUAN. Kopi merupakan salah satu komoditas ekspor unggulan subsektor perkebunan 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kopi merupakan salah satu komoditas ekspor unggulan subsektor perkebunan yang memegang peranan penting dalam perdagangan dan perekonomian negara. Kopi berkontribusi cukup

Lebih terperinci

Ringkasan eksekutif: Di tengah volatilitas dunia

Ringkasan eksekutif: Di tengah volatilitas dunia Ringkasan eksekutif: Di tengah volatilitas dunia Perlambatan pertumbuhan Indonesia terus berlanjut, sementara ketidakpastian lingkungan eksternal semakin membatasi ruang bagi stimulus fiskal dan moneter

Lebih terperinci

Akuntabilitas. Belum Banyak Disentuh. Erna Witoelar: Wawancara

Akuntabilitas. Belum Banyak Disentuh. Erna Witoelar: Wawancara Wawancara Erna Witoelar: Akuntabilitas Internal Governance LSM Belum Banyak Disentuh K endati sejak 1990-an tuntutan publik terhadap akuntabilitas LSM sudah mengemuka, hingga kini masih banyak LSM belum

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 mengakibatkan

I. PENDAHULUAN. Krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 mengakibatkan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Pertumbuhan ekonomi merupakan indikator yang sangat penting dalam perekonomian setiap negara, baik di negara maju maupun di negara berkembang. Krisis ekonomi yang terjadi

Lebih terperinci

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH. karakteristiknya serta proyeksi perekonomian tahun dapat

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH. karakteristiknya serta proyeksi perekonomian tahun dapat BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH Kondisi perekonomian Kabupaten Lamandau Tahun 2012 berikut karakteristiknya serta proyeksi perekonomian tahun 2013-2014 dapat digambarkan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Keberhasilan perekonomian suatu negara dapat diukur melalui berbagai indikator

I. PENDAHULUAN. Keberhasilan perekonomian suatu negara dapat diukur melalui berbagai indikator I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keberhasilan perekonomian suatu negara dapat diukur melalui berbagai indikator ekonomi antara lain dengan mengetahui pendapatan nasional, pendapatan per kapita, tingkat

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Bab ini merupakan kesimpulan dari pembahasan skripsi yang berjudul Gejolak Politik di Akhir Kekuasaan Presiden: Kasus Presiden Soeharto (1965-1967) dan Soeharto

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia sebagai negara berkembang yang sedang membangun, membutuhkan dana yang cukup besar untuk membiayai pembangunan.

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia sebagai negara berkembang yang sedang membangun, membutuhkan dana yang cukup besar untuk membiayai pembangunan. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Indonesia sebagai negara berkembang yang sedang membangun, membutuhkan dana yang cukup besar untuk membiayai pembangunan. Penanaman modal dapat dijadikan sebagai

Lebih terperinci

Perekonimian Indonesia

Perekonimian Indonesia Perekonimian Indonesia Sumber : 2. Presentasi Husnul Khatimah 3. Laporan Bank Indonesia 4. Buku Aris Budi Setyawan 5. Sumber lain yg relevan (Pertemuan 1-11) Peraturan Perkuliahan Hadir dengan berpakaian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. di Amerika Serikat merupakan topik pembicaraan yang menarik hampir di

BAB I PENDAHULUAN. di Amerika Serikat merupakan topik pembicaraan yang menarik hampir di BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Menurunnya nilai indeks bursa saham global dan krisis finansial di Amerika Serikat merupakan topik pembicaraan yang menarik hampir di seluruh media massa dan dibahas

Lebih terperinci

ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV

ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV - 2009 263 ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV - 2009 Tim Penulis

Lebih terperinci

Perekonomian Suatu Negara

Perekonomian Suatu Negara Menteri Keuangan RI Jakarta, Maret 2010 Perekonomian Suatu Negara Dinamika dilihat dari 4 Komponen= I. Neraca Output Y = C + I + G + (X-M) AS = AD II. Neraca Fiskal => APBN Total Pendapatan Negara (Tax;

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kesinambungan fiskal (fiscal sustainability) merupakan kunci dari kebijakan

BAB I PENDAHULUAN. Kesinambungan fiskal (fiscal sustainability) merupakan kunci dari kebijakan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kesinambungan fiskal (fiscal sustainability) merupakan kunci dari kebijakan fiskal pemerintah. Pada dasarnya, kebijakan fiskal mempunyai keterkaitan yang erat dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Keberhasilan atau tidaknya pembangunan ekonomi di suatu negara

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Keberhasilan atau tidaknya pembangunan ekonomi di suatu negara BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Pembangunan ekonomi merupakan hal yang harus dilakukan oleh setiap negara terutama negara berkembang seperti Indonesia agar dapat berdiri sejajar dengan negara maju

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia mengambil langkah meningkatkan BI-rate dengan tujuan menarik minat

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia mengambil langkah meningkatkan BI-rate dengan tujuan menarik minat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia pernah mengalami krisis pada tahun 1997, ketika itu nilai tukar rupiah merosot tajam, harga-harga meningkat tajam yang mengakibatkan inflasi yang tinggi,

Lebih terperinci

TEORI EKONOMI POLITIK (2)

TEORI EKONOMI POLITIK (2) Dr. Ir. Teguh Kismantoroadji, M.Si. teguhfp.wordpress.com TEORI EKONOMI POLITIK (2) TEORI PILIHAN PUBLIK: Mengkaji tindakan rasional dari aktor-aktor politik (SEBAGAI PUSAT KAJIAN) di parlemen, lembaga

Lebih terperinci

Masih Perlukah Kebijakan Subsidi Energi Dipertahankan Rabu, 22 Oktober 2014

Masih Perlukah Kebijakan Subsidi Energi Dipertahankan Rabu, 22 Oktober 2014 Masih Perlukah Kebijakan Subsidi Energi Dipertahankan Rabu, 22 Oktober 2014 Akhir-akhir ini di berbagai media ramai dibicarakan bahwa â œindonesia sedang mengalami krisis energiâ atau â œindonesia sedang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Investasi dapat dilakukan dibanyak sektor, salah satunya adalah sektor

BAB I PENDAHULUAN. Investasi dapat dilakukan dibanyak sektor, salah satunya adalah sektor BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Investasi dapat dilakukan dibanyak sektor, salah satunya adalah sektor properti. Pada umumnya banyak masyarakat yang tertarik menginvestasikan dananya di sektor properti

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN TRIWULAN III/2001 DAN PROYEKSI PERTUMBUHAN EKONOMI TAHUN 2001

PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN TRIWULAN III/2001 DAN PROYEKSI PERTUMBUHAN EKONOMI TAHUN 2001 REPUBLIK INDONESIA PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN TRIWULAN III/2001 DAN PROYEKSI PERTUMBUHAN EKONOMI TAHUN 2001 Pada awal triwulan III/2001 perekonomian membaik seperti tercermin dari beberapa

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Saat ini Yunani sedang mengalami Krisis Ekonomi akibat akumulasi hutang

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Saat ini Yunani sedang mengalami Krisis Ekonomi akibat akumulasi hutang 149 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Saat ini Yunani sedang mengalami Krisis Ekonomi akibat akumulasi hutang yang membengkak. Secara ekonomi, sebelum bergabung dengan Eurozone pemerintah Yunani

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menggemparkan dunia. Krisis keuangan ini telah berkembang menjadi masalah

BAB I PENDAHULUAN. menggemparkan dunia. Krisis keuangan ini telah berkembang menjadi masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Krisis keuangan di Amerika Serikat (AS) yang terjadi di tahun 2008 sangat menggemparkan dunia. Krisis keuangan ini telah berkembang menjadi masalah serius. Krisis keuangan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Hal ini dilakukan karena penerimaan pemerintah yang berasal dari pajak tidak

I. PENDAHULUAN. Hal ini dilakukan karena penerimaan pemerintah yang berasal dari pajak tidak 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pemerintah dalam menggunakan pinjaman baik dari dalam maupun dari luar negeri merupakan salah satu cara untuk menutupi defisit anggaran yang terjadi. Hal ini dilakukan

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2003 TENTANG PAKET KEBIJAKAN EKONOMI MENJELANG DAN SESUDAH BERAKHIRNYA PROGRAM KERJASAMA DENGAN INTERNATIONAL MONETARY FUND PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

Presented by: M Anang Firmansyah IMF. system Perserikatan Bangsa-bangsa yang didirikan berdasarkan perjanjian

Presented by: M Anang Firmansyah IMF. system Perserikatan Bangsa-bangsa yang didirikan berdasarkan perjanjian Presented by: M Anang Firmansyah IMF Dana Moneter Internasional adalah Salah satu badan khusus dalam system Perserikatan Bangsa-bangsa yang didirikan berdasarkan perjanjian internasional pada tahun 1945

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 2. untuk mencapai tingkat kestabilan harga secara mantap. 3. untuk mengatasi masalah pengangguran.

BAB I PENDAHULUAN. 2. untuk mencapai tingkat kestabilan harga secara mantap. 3. untuk mengatasi masalah pengangguran. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan jangka panjang yang dilaksanakan di Indonesia bertujuan untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur dengan mengacu pada Trilogi Pembangunan (Rochmat Soemitro,

Lebih terperinci

Executive Summary. PKAI Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik

Executive Summary. PKAI Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik Executive Summary P emberantasan korupsi di Indonesia pada dasarnya sudah dilakukan sejak empat dekade silam. Sejumlah perangkat hukum sebagai instrumen legal yang menjadi dasar proses pemberantasan korupsi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam ekonomi, pemerintah merupakan agen, dimana peran pemerintah

BAB I PENDAHULUAN. Dalam ekonomi, pemerintah merupakan agen, dimana peran pemerintah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam ekonomi, pemerintah merupakan agen, dimana peran pemerintah adalah menghasilkan barang publik. Barang publik harus dihasilkan pemerintah, terutama karena tidak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang artinya masih rentan terhadap pengaruh dari luar. Oleh karena itu perlu adanya fundasi

BAB I PENDAHULUAN. yang artinya masih rentan terhadap pengaruh dari luar. Oleh karena itu perlu adanya fundasi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara membangun yang perekonomiannya masih bersifat terbuka, yang artinya masih rentan terhadap pengaruh dari luar. Oleh karena itu perlu adanya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan pendapatan yang merata. Namun, dalam

BAB I PENDAHULUAN. pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan pendapatan yang merata. Namun, dalam BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam menjalankan pembangunan ekonomi tujuan utamanya adalah untuk mewujudkan masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera dengan cara mencapai pertumbuhan ekonomi yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sejalan dengan perkembangan gagasan yang terjadi di berbagai Negara,

BAB I PENDAHULUAN. Sejalan dengan perkembangan gagasan yang terjadi di berbagai Negara, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Sejalan dengan perkembangan gagasan yang terjadi di berbagai Negara, peranan Negara dan pemerintah bergeser dari peran sebagai pemerintah (Government) menjadi

Lebih terperinci

Diskusi Post event Feedback G20 Summit. INFID, 3 Oktober 2013

Diskusi Post event Feedback G20 Summit. INFID, 3 Oktober 2013 Diskusi Post event Feedback G20 Summit INFID, 3 Oktober 2013 Framework G20 Usulan Masyarakat Sipil: Hasil G20 Summit Inklusif sebagai pilar keempat dari Strong, Framework G20 tetap yaitu Strong, Sustainable

Lebih terperinci

BAHAN KULIAH 10 SOSIOLOGI PEMBANGUNAN

BAHAN KULIAH 10 SOSIOLOGI PEMBANGUNAN BAHAN KULIAH 10 SOSIOLOGI PEMBANGUNAN TEORI DEPENDENSI Dr. Azwar, M.Si & Drs. Alfitri, MS JURUSAN SOSIOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS ANDALAS Latar Belakang Sejarah Teori Modernisasi

Lebih terperinci

MATERI SISTEM PEREKONOMIAN DI INDONESIA

MATERI SISTEM PEREKONOMIAN DI INDONESIA MATERI SISTEM PEREKONOMIAN DI INDONESIA A. Definisi Sistem ekonomi adalah cara suatu negara mengatur kehidupan ekonominya dalam rangka mencapai kemakmuran. Pelaksanaan sistem ekonomi suatu negara tercermin

Lebih terperinci

BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN

BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN I. Ekonomi Dunia Pertumbuhan ekonomi nasional tidak terlepas dari perkembangan ekonomi dunia. Sejak tahun 2004, ekonomi dunia tumbuh tinggi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tinggi (suprime mortgage) di AS secara tiba-tiba berkembang menjadi krisis

BAB I PENDAHULUAN. tinggi (suprime mortgage) di AS secara tiba-tiba berkembang menjadi krisis BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perekonomian dunia saat ini dihadapkan pada suatu perubahan drastis yang tak terbayangkan sebelumnya. Krisis kredit macet perumahan beresiko tinggi (suprime mortgage)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dapat terus tumbuh, namundengan tetap memperhatikan prinsip kehatian-hatian

BAB I PENDAHULUAN. dapat terus tumbuh, namundengan tetap memperhatikan prinsip kehatian-hatian BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Bank merupakan suatu lembaga keuangan yang berfungsi sebagai jembatan antara pihakyang kelebihan dana dengan pihak yang memerlukan dana. Bank diharapkan dapatmemberikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. merupakan salah satu indikator untuk kemajuan pembangunan suatu bangsa.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. merupakan salah satu indikator untuk kemajuan pembangunan suatu bangsa. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tingkat pencapaian pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan salah satu indikator untuk kemajuan pembangunan suatu bangsa. Bahkan pendidikan menjadi domain

Lebih terperinci

SAMBUTAN MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/KEPALA BAPPENAS

SAMBUTAN MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/KEPALA BAPPENAS REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL SAMBUTAN MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/KEPALA BAPPENAS Pada Acara Temu Muka dan

Lebih terperinci

PERTEMUAN III ASPEK EKONOMI, POLITIK,

PERTEMUAN III ASPEK EKONOMI, POLITIK, Manajemen Proyek PERTEMUAN III ASPEK EKONOMI, POLITIK, SOSIAL DAN BUDAYA Aspek Politik UMUMNYA ASPEK POLITIK YANG BERKAIT DENGAN MANAJEMEN PROYEK ADALAH : A. STABILITAS POLITIK B. ARAH KEBIJAKAN PEMERINTAH

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pertumbuhan ekonomi dunia saat ini adalah sangat lambat. Banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut terjadi. Salah satunya adalah terjadinya krisis di Amerika.

Lebih terperinci