MODUL 1: LARAS ILMIAH DAN RAGAM BAHASA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "MODUL 1: LARAS ILMIAH DAN RAGAM BAHASA"

Transkripsi

1 MODUL 1: LARAS ILMIAH DAN RAGAM BAHASA 1. PENDAHULUAN Pada saat digunakan sebagai alat komunikasi, bahasa masuk dalam berbagai laras sesuai dengan fungsi pemakaiannya. Jadi, laras bahasa adalah kesesuaian antara bahasa dan fungsi pemakaiannya. Dalam hal itu, kita mengenal berbagai laras, seperti laras iklan, laras lagu, laras ilmiah, laras ilmiah populer, laras feature, laras komik, laras sastra. Setiap laras masih dapat dibagi lagi atas sublaras, misalnya laras sastra dapat dibagi lagi atas laras cerpen, laras puisi, laras novel, dan sebagainya. LARAS BAHASA adalah kesesuaian antara bahasa dan fungsi pemakaiannya. Setiap laras memiliki format dan gaya tersendiri. Setiap laras dapat disampaikan secara lisan atau tulis dan dalam bentuk formal, semiformal, atau nonformal. Oleh karena itu, dalam menulis, kita harus menguasai berbagai laras yang berbeda itu agar dapat memilih laras yang tepat untuk khalayak sasaran. Laras bahasa yang menjadi perhatian kita dalam kelas ini adalah laras ilmiah. 2. LARAS ILMIAH Karya tulis ilmiah bukan sepenuhnya karya ekspresi diri. Sebuah karya tulis fiksi, atau sering disebut karya sastra, merupakan ekspresi diri penulisnya yang dihasilkan dari imajinasi penulis. Hasil karya penulis merupakan hasil rekaannya sendiri berdasarkan realitas di sekelilingnya. Oleh karena itu, hasil karyanya disebut karangan dan penciptanya disebut pengarang (Soeseno, 1993: 1). Sebaliknya, sebuah karya tulis ilmiah merupakan hasil rangkaian fakta yang berupa hasil pemikiran, gagasan, peristiwa, gejala, dan pendapat. Jadi, seorang penulis karya ilmiah menyusun kembali pelbagai bahan informasi menjadi sebuah karangan yang utuh. Oleh sebab itu, penulis karya ilmiah tidak disebut pengarang melainkan disebut penulis (Soeseno, 1993: 1). KARYA TULIS ILMIAH bukan karya ekspresi diri. KARYA TULIS ILMIAH merupakan hasil rangkaian fakta yang berupa hasil pemikiran, gagasan, peristiwa, gejala, dan pendapat. PROGRAM DASAR PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS INDONESIA 1

2 Laras ilmiah memiliki tujuan dan khalayak sasaran yang jelas. Meskipun demikian, dalam laras ilmiah, aspek komunikasi tetap memegang peranan utama. Oleh karenanya, berbagai kemungkinan untuk penyampaian yang komunikatif tetap harus diperhatikan. Penulisan laras ilmiah tidak hanya untuk mengekspresikan pikiran, tetapi untuk menyampaikan hasil penelitian. Kita harus dapat meyakinkan pembaca akan kebenaran hasil yang kita temukan di lapangan. Dapat pula, kita menumbangkan sebuah teori berdasarkan hasil penelitian kita. Jadi, sebuah karya tulis ilmiah tetap harus dapat secara jelas menyampaikan pesan kepada pembacanya. Persyaratan lain bagi sebuah tulisan untuk dikategorikan sebagai karya ilmiah adalah sebagai berikut (Brotowidjojo, 2002). a. Karya ilmiah menyajikan fakta objektif secara sistematis atau menyajikan aplikasi hukum alam pada situasi spesifik. b. Karya ilmiah ditulis secara cermat, tepat, benar, jujur, dan tidak bersifat terkaan. Dalam pengertian jujur terkandung sikap etik penulisan ilmiah, yakni pencantuman rujukan dan kutipan yang jelas. c. Karya ilmiah harus disusun secara sistematis, setiap langkah direncanakan secara terkendali, konseptual, dan prosedural. d. Karya ilmiah menyajikan rangkaian sebab-akibat dengan pemahaman dan alasan yang indusif yang mendorong pembaca untuk menarik kesimpulan. PERSYARATAN KARYA TULIS ILMIAH A. Menyajikan fakta objektif secara sistematis atau menyajikan aplikasi hukum alam pada situasi spesifik. B. Ditulis secara cermat, tepat, benar, jujur, dan tidak bersifat terkaan.. C. Harus disusun secara sistematis. D. Menyajikan rangkaian sebab-akibat yang mendorong pembaca untuk menarik kesimpulan. E. Mengandung pandangan yang disertai dukungan dan pembuktian berdasarkan suatu hipotesis. F. Ditulis secara tulus. G. Pada dasarnya bersifat ekspositoris. e. Karya ilmiah mengandung pandangan yang disertai dukungan dan pembuktian berdasarkan suatu hipotesis. f. Karya ilmiah ditulis secara tulus. Hal itu berarti bahwa karya ilmiah hanya mengandung kebenaran faktual sehingga tidak akan memancing pertanyaan yang bernada keraguan. Penulis karya ilmiah tidak boleh 2 PROGRAM DASAR PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS INDONESIA

3 memanipulasi fakta, serta tidak bersifat ambisius dan berprasangka. Penyajiannya tidak boleh bersifat emotif. g. Karya ilmiah pada dasarnya bersifat ekspositoris. Jika pada akhirnya timbul kesan argumentatif dan persuasif, hal itu ditimbulkan oleh penyusunan kerangka karangan yang cermat. Dengan demikian, fakta dan hukum alam yang diterapkan pada situasi spesifik itu dibiarkan berbicara sendiri. Pembaca dibiarkan mengambil kesimpulan sendiri berupa pembenaran dan keyakinan akan kebenaran karya ilmiah tersebut. Berdasarkan uraian di atas, dari segi bahasa, dapat dikatakan bahwa karya tulis ilmiah memiliki tiga ciri, yaitu (1) harus tepat dan tunggal makna, tidak remang nalar atau mendua makna; (2) harus secara tepat mendefinisikan setiap istilah, sifat, dan pengertian yang digunakan, agar tidak menimbulkan kerancuan atau keraguan; dan CIRI BAHASA KARYA TULIS ILMIAH 1. Harus tepat dan tunggal makna, tidak remang nalar atau mendua makna. 2. Harus secara tepat mendefinisikan setiap istilah, sifat, dan pengertian yang digunakan, agar tidak menimbulkan kerancuan atau keraguan. 3. Harus singkat, berlandaskan ekonomi bahasa. (3) harus singkat, berlandaskan ekonomi bahasa. 3. RAGAM BAHASA DALAM LARAS ILMIAH Ragam bahasa adalah variasi bahasa yang terjadi karena pemakaian bahasa. Ragam bahasa terbagi atas dua kelompok, yaitu ragam bahasa berdasarkan media pengantarnya dan ragam bahasa berdasarkan situasi pemakaiannya. A. Ragam Bahasa berdasarkan Media Pengantarnya Penggunaan bahasa berdasarkan media pengantarnya atau sarananya terbagi atas ragam lisan dan ragam tulis. Ragam lisan adalah bahasa yang diujarkan oleh pemakai bahasa. Kita dapat menemukan ragam lisan yang formal dan ragam lisan yang nonformal. RAGAM BAHASA adalah variasi bahasa yang terjadi karena pemakaian bahasa. RAGAM BAHASA dilihat dari (A) media pengantarnya: tulis, lisan; (B) situasi pemakaiannya: formal, semiformal, dan nonformal. PROGRAM DASAR PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS INDONESIA 3

4 Ragam tulis adalah bahasa yang ditulis atau yang tercetak. Ragam tulis pun dapat berupa ragam tulis yang formal maupun nonformal. Ada pula ragam tulis dan lisan yang semiformal. Artinya, tidak terlalu formal, namun tidak pula terlalu nonformal. Laras ilmiah dapat ditemukan dalam ragam tulis maupun ragam lisan. B. Ragam Bahasa berdasarkan Situasi Pemakaiannya Dalam uraian di atas, disebutkan ragam lain, yakni ragam formal, ragam nonformal, dan ragam semiformal. Ragam tersebut merupakan pengelompokan bahasa dari sudut situasi pemakaian. Bahasa ragam formal memiliki sifat kemantapan berupa kaidah dan aturan tetap. Akan tetapi, kemantapan itu tidak bersifat kaku. Ragam formal tetap luwes sehingga memungkinkan perubahan di bidang kosakata, peristilahan, serta mengizinkan perkembangan berbagai jenis laras yang diperlukan dalam kehidupan modern (Alwi dkk., 1998: 14). Pembedaan antara ragam formal, nonformal, dan semiformal dilakukan berdasarkan hal berikut ini. a. Topik yang sedang dibahas b. Hubungan antarpembicara c. Medium yang digunakan d. Lingkungan e. Situasi saat pembicaraan terjadi Ada lima ciri yang dapat dengan mudah digunakan untuk membedakan ragam formal dari ragam nonformal. Setiap ciri adalah sebagai berikut. a. Penggunaan kata sapaan dan kata ganti b. Penggunaan kata tertentu c. Penggunaan imbuhan d. Penggunaan kata sambung (konjungsi) dan kata depan (preposisi) e. Penggunaan fungsi yang lengkap KRITERIA PEMBEDA RAGAM BAHASA a. Topik yang sedang dibahas; b. Hubungan antarpembicara; c. Medium yang digunakan; d. Lingkungan; atau e. Situasi saat pembicaraan terjadi CIRI PEMBEDA RAGAM BAHASA A. Penggunaan kata sapaan dan kata ganti B. Penggunaan kata tertentu C. Penggunaan imbuhan D. Penggunaan kata sambung (konjungsi) dan kata depan (preposisi) E. Penggunaan fungsi yang lengkap. 4 PROGRAM DASAR PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS INDONESIA

5 Penggunaan kata sapaan dan kata ganti merupakan ciri pembeda ragam formal dari ragam nonformal yang sangat menonjol. Kepada orang yang kita hormati, kita akan cenderung menyapa dengan menggunakan kata Bapak, Ibu, Saudara, Anda, atau kita akan menyertakan penyebutan jabatan, gelar, atau pangkat. Sementara, untuk menyapa teman atau rekan sejawat, kita cukup menyebut namanya atau kita menggunakan bahasa daerah. Jika kita menyebut diri kita, dalam ragam formal kita akan menggunakan kata saya, sedangkan aku digunakan dalam ragam semiformal. Dalam ragam nonformal, kita akan menggunakan kata gue, ogut. Penggunaan kata tertentu merupakan ciri lain yang sangat menandai perbedaan ragam formal dari ragam nonformal. Dalam ragam nonformal akan sering muncul kata nggak, bakal, gede, udahan, kegedean, cewek, bokap, ortu. Di samping itu, dalam ragam nonformal sering muncul bentuk penekan, seperti sih, kok, deh, lho. Dalam ragam formal, bentuk-bentuk itu tidak akan digunakan. Penggunaan imbuhan adalah ciri lain. Dalam ragam formal kita harus menggunakan imbuhan secara jelas dan teliti. Hanya pada kalimat perintah kita dapat menghilangkan imbuhan dalam kata kerjanya (verba). Dalam ragam nonformal, imbuhan sering kali ditanggalkan. Misalnya, pake untuk memakai, nurunin untuk menurunkan. Penggunaan kata sambung (konjungsi) dan kata depan (preposisi) merupakan ciri pembeda lain. Dalam ragam nonformal, sering kali kata sambung dan kata depan dihilangkan. Kadang kala, kenyataan itu mengganggu kejelasan kalimat. Dalam laras jurnalistik kedua kelompok kata tersebut sering dihilangkan. Hal itu menunjukkan bahwa laras jurnalistik termasuk ragam semiformal. Kelengkapan fungsi berkaitan dengan adanya bagian dalam kalimat yang dihilangkan karena situasi sudah dianggap cukup mendukung pengertian. Dalam kalimat-kalimat yang nonformal, predikat kalimat sering dihilangkan. Sering kali pelesapan fungsi terjadi ketika kita menjawab pertanyaan orang. PENGGUNAAN KATA SAPAAN DAN KATA GANTI PENGGUNAAN KATA TERTENTU PENGGUNAAN IMBUHAN KATA SAMBUNG (KONJUNGSI) DAN KATA DEPAN (PREPOSISI) PENGGUNAAN FUNGSI YANG LENGKAP PROGRAM DASAR PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS INDONESIA 5

6 Sebenarnya, pembedaan lain yang juga muncul, tetapi tidak disebutkan di atas adalah intonasi. Masalahnya, pembeda intonasi hanya ditemukan dalam ragam lisan dan tidak terwujud dalam ragam tulis. Setiap laras dapat disampaikan dalam ragam formal, semiformal, atau nonformal. Akan tetapi, tidak demikian halnya dengan laras ilmiah. Laras ilmiah harus selalu menggunakan ragam formal sekalipun disampaikan secara lisan. Persyaratan itulah yang membedakan laras ilmiah dari laras lainnya. Oleh karena itu, kita harus mempelajari unsurunsur yang membedakan laras ilmiah dari laras-laras lain. LARAS ILMIAH Harus selalu menggunakan RAGAM BAHASA FORMAL sekalipun disampaikan secara lisan. 4. DAFTAR PUSTAKA Akhadiah, Sabarti, Arsjad, Maidar G., dan Ridwan, Sakura H Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Penerbit Erlangga. Alwi, Hasan, dkk Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Balai Pustaka. Azahari, Azril Bentuk dan Gaya Penulisan Karya Tulis Ilmiah. Jakarta: Penerbit Univertas Trisakti. Brotowidjojo, Mukayat D Penulisan Karangan Ilmiah. (Ed. ke-2). Jakarta: Akademika Pressindo. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Prosiding Teknik Penulisan Buku Ilmiah. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Keraf, Gorys Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa. Ende Flores: Penerbit Nusa Indah. Soeseno, Slamet Teknik Penulisan Ilmiah-Populer: Kiat Menulis Nonfiksi untuk Majalah. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. 6 PROGRAM DASAR PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS INDONESIA

7 MODUL 2: BORANG DISKUSI-1 DAN TUGAS MANDIRI 1. PENDAHULUAN Salah satu tugas yang harus dipenuhi, baik dalam sistem pemelajaran berdasarkan masalah (Problem-based Learning/ PBL) maupun sistem pemelajaran berkolaborasi (Collaborative Learning/CL), adalah penyusunan tugas mandiri. Tugas mandiri disusun oleh setiap anggota kelompok mahasiswa CL dan PBL dalam rangka menyumbangkan pemikiran bagi kelompoknya pada saat mengerjakan pemicu. Ada tiga bentuk tugas mandiri: (1) ringkasan (2) ikhtisar atau abstrak (3) laporan bacaan jika mahasiswa diminta untuk melaporkan isi sebuah buku. TUGAS MANDIRI 1. Ringkasan 2. Ikhtisar atau Abstrak 3. Laporan bacaan Penyusunan tugas mandiri merupakan kesempatan mahasiswa untuk secara individual menunjukkan kemampuannya, baik dalam hal kemahiran bahasa maupun dalam hal pemahaman materi. Kesempatan itu mengemuka karena laporan tugas mandiri merupakan tugas yang dikerjakan dan dihasilkan oleh individu dan bukan hasil kelompok. Penyusunan tugas mandiri dibahas pada saat diskusi kelompok atau diskusi home-group. Cara membuat dan menyusun ringkasan, ikhtisar atau abstrak, akan dibahas dalam Modul 11 (Ringkasan dan Ikhtisar). Dalam modul ini akan dibahas Borang (form) Diskusi-1 dan format laporan bacaan. PROGRAM DASAR PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS INDONESIA 7

8 2. BORANG (FORM) DISKUSI-1 Form Diskusi-1 (Latihan 4) mempunyai empat ruang yang harus diisi. Ruang pertama adalah Definisi Masalah. Ruang kedua adalah Hal Baru yang Harus Diketahui. Ruang ketiga adalah Hal yang Sudah Diketahui. Ruang keempat adalah Pembagian Tugas Bahasan yang Harus Dipelajari. Ruang Definisi Masalah adalah tempat untuk mencatat permasalahan yang timbul dari pemicu yang diberikan oleh fasilitator. Definisi Masalah menyerupai kalimat tesis. Cara merumuskan Definisi Masalah ada dalam Modul 5 (Topik dan Tesis). Definisi Masalah akan menjadi arahan bagi kelompok dalam mengumpulkan bahan. DEFINISI MASALAH sama dengan kalimat tesis Ruang-ruang lain ( Hal Baru yang harus Diketahui dan Hal yang Sudah Diketahui ) diisi dengan cara mencatat gagasangagasan (ide-ide) yang muncul. Gagasan itu dapat berupa sebuah kata, sebuah frase (kumpulan kata), atau sebuah kalimat. Selain itu, mahasiswa harus mencatat dari mana gagasan itu dapat diambil. Misalnya, untuk topik PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI, ada ide untuk membahas kasus foto para selebriti yang dimuat dalam majalah pria. Mahasiswa harus mencatat dari mana kasus itu dapat diambil: dari tabloid, internet, atau televisi. Mahasiswa dapat melihat Modul 4 untuk mengetahui tata cara menulis rujukan. 3. FORMAT LAPORAN BACAAN Laporan tugas mandiri bertujuan untuk mendorong mahasiswa membaca buku-buku atau teks yang diwajibkan serta meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam memahami isi buku atau teks. Selain itu, mahasiswa dilatih untuk membaca secara kritis dan mampu memilih bagian yang dibutuhkan untuk menjawab keingintahuan mereka. Terakhir, mahasiswa dilatih untuk mampu menyampaikan hasil bacaannya kepada teman-teman sekelompok, secara tulis maupun lisan. 8 ROGRAM DASAR PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS INDONESIA

9 Laporan Bacaan cukup diuraikan dalam satu sampai dua halaman saja yang terdiri atas tiga paragraf dan berspasi 1,5. Format laporan bacaan adalah sebagai berikut. JUDUL (bukan judul teks atau buku yang dilaporkan) NAMA PENULIS/MAHASISWA pembuat laporan dan nomor mahasiswa DATA PUBLIKASI - judul teks/buku - nama pengarang - kota dan nama penerbit - tebal buku PENDAHULUAN - hal yang menjadi masalah - kaitan teks atau buku dengan permasalahan ISI - ikhtisar atau kutipan yang akan disumbangkan pada makalah kelompok PENUTUP - pendapat penulis mengenai bacaan yang disampaikannya. Langkah-langkah pembuatan laporan bacaan sama dengan langkah-langkah pembuatan ringkasan dan ikhtisar. (1) Membaca teks yang dibutuhkan. Teks dapat diambil dari buku, artikel, atau internet. (2) Menandai atau mencatat bagian-bagian yang dianggap penting. LANGKAH-LANGKAH MEMBUAT LAPORAN BACAAN 1. Membaca teks yang dibutuhkan 2. Menandai atau mencatat bagianbagian yang dianggap penting 3. Menyusun laporan (3) Menyusun laporan tugas mandiri. Usahakan untuk menggunakan kata-kata sendiri. Beri tekanan pada kepentingan kutipan atau ikhtisar itu dengan permasalahan yang dihadapi. PROGRAM DASAR PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS INDONESIA 9

10 Laporan tugas mandiri akan lebih lengkap jika tidak hanya merupakan kutipan atau ringkasan dari sebuah teks atau buku. Sebaiknya, laporan itu merupakan sebuah sintesis dari beberapa teks atau buku yang telah dibaca. Pada laporan tugas mandiri seperti itu, ketentuan cara pengutipan berlaku pula. Contoh laporan tugas mandiri yang dibuat berdasarkan teks Abortus Dua Sisi oleh Tb. Ronny Nitibaskara (Lampiran M2-1). Dua Muka Abortus JUDUL NAMA MAHASISWA Judul: Abortus Dua Sisi oleh Miranti, 0702xxx Pengarang: Tb. Ronny Nitibaskara, kriminolog, FISIPUI DATA PUBLIKASI Data Publikasi: Majalah Forum, VI: 18, 15 Desember 1997, 99 Apakah jika terpaksa, kita boleh melakukan aborsi atau tidak? Pertanyaan itu selalu muncul dan muncul lagi. Akan tetapi, tidak pernah ada jawaban. Pertanyaan itu pula yang muncul sebagai pemicu kali ini. Ronny Nitibaskara, seorang pengamat sosial, menulis mengenai aborsi dari kedua sisinya. Menurut Nitibaskara, ada beberapa faktor yang dianggap menjadi penyebab timbulnya praktik aborsi. (1) meningkatnya perilaku permisif dan seks bebas di kalangan remaja; (2) mudahnya melakukan aborsi sendiri dengan berbagai cara; (3) lemahnya kontrol dan sanksi sosial. Akibatnya, meskipun praktik aborsi dilarang di Indonesia dan dikenai hukuman pidana, tetap saja tingkat aborsi di Indonesia cukup tinggi. Aborsi itu dilakukan karena kehamilan yang tidak dikehendaki dan bukan karena alasan medis. Di kalangan remaja, sering kali kehamilan terjadi karena kurangnya pengetahuan dan pemahaman remaja mengenai akibat hubungan seksual dan juga cara mencegah kehamilan. Oleh karenanya, jika hamil di luar pernikahan, remaja putri cenderung memilih melakukan aborsi. PENDAHULUAN ISI 10 ROGRAM DASAR PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS INDONESIA

11 Melihat pembahasan di atas, terlihat bahwa masalah aborsi masih merupakan dilema di Indonesia. Di satu pihak, aborsi dilarang; di pihak lain, masih banyak orang melakukannya. Uraian Nitibaskara itu dapat dikutip untuk menunjukkan bahwa masalah aborsi saat ini di Indonesia masih merupakan masalah yang bermuka dua. PENUTUP 4. DAFTAR PUSTAKA Akhadiah, Sabarti, Arsjad, Maidar G., dan Ridwan, Sakura H Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Penerbit Erlangga. Azahari, Azril Bentuk dan Gaya Penulisan Karya Tulis Ilmiah. Jakarta: Penerbit Univertas Trisakti. Brotowidjojo, Mukayat D Penulisan Karangan Ilmiah. (Ed. ke-2). Jakarta: Akademika Pressindo. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Prosiding Teknik Penulisan Buku Ilmiah. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Keraf, Gorys Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa. Ende Flores: Penerbit Nusa Indah. Ramlan, M Paragraf: Alur Pikiran dan Kepaduannya dalam Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Andi Offset Yogyakarta. Wishon, George E. dan Burks, Julia M Let s Write English. New York: American Book Company. PROGRAM DASAR PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS INDONESIA 11

12 5. LAMPIRAN M2-1: TEKS ASLI Abortus Dua Sisi Tb. Ronny Nitibaskara, kriminolog, FISIP UI bulan. Ada kemungkinan bahwa hal itu berkaitan dengan kasus aborsi. Baru-baru ini, ditemukan dua belas bayi bercampur sampah di bawah jalan tol sekitar Tanjung Priok, Jakarta. Laporan dari bagian forensik RS Ciptomangunkusumo menye-butkan bahwa sebagian besar bayi tersebut belum cukup Aborsi dalam pengertian medis berarti kelahiran janin yang belum dapat mempertahankan hidup. Aborsi dapat terjadi pada setiap wanita hamil karena berbagai sebab. Ada dua cara aborsi: tidak sengaja alias keguguran (abortus apontaneous) dan sengaja (abortus provocatus). Aborsi dengan sengaja masih terbagi dua: abortus provocatus medicinalis dan abortus provocatus criminalis. Abortus provocatus medicinalis dilakukan dokter untuk keselamatan si ibu. Tindakan itu dilindungi oleh pasal 48 KUHP sebagai alasan pemaaf. Sementara itu, aborsi yang dianggap sebagai kejahatan adalah aborsi dengan cara yang kedua, yakni aborsi yang sengaja dilakukan dengan alasan nonmedis terhadap janin yang sedang dikandung. Keberadaan aborsi senantiasa menimbulkan pendapat pro dan kontra dalam masyarakat. Di beberapa negara, aborsi dilarang keras. Pelakunya diancam hukuman yang relatif berat. Sebaliknya, di sejumlah negara lain abortus diperbolehkan. Di Amerika Serikat, Jerman, dan RRC yang sudah memiliki undang-undang yang mengizinkan aborsi, ternyata pengguguran kandungan masih terus diperdebatkan. Di Amerika Serikat, sekitar aktivis wanita antiaborsi, akhir-akhir ini, melakukan unjuk rasa agar Mahkamah Agung di negara superkuat itu mengkaji kembali UU Aborsi. Di Indonesia, pengguguran kandungan secara tegas dilarang dan diancam hukuman pidana. Hal itu tercermin dalam pasal 299, 346, 348, dan 349 KUHP. Pasal-pasal itu tidak hanya berlaku bagi wanita yang melakukan tindakan aborsi, tetapi, juga bagi orang yang menyuruh melakukan maupun pelaku aborsi, seperti dokter, bidan, atau dukun. Pasal-pasal tersebut menetapkan sanksi yang relatif berat bagi pelanggar. Meskipun demikian, beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat aborsi di Indonesia cukup tinggi. Menurut data resmi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Denpasar, dalam periode Oktober 1988 sampai Maret 1989, tercatat 25 kasus pengguguran kandungan oleh dokter swasta dan 80 kasus di RS pemerintah di Bali. Khusus di Jakarta, disinyalir bahwa ada banyak klinik yang sanggup melakukan aborsi dengan tarif tertentu. Dokter Asrul Aswar (Jakarta-Jakarta No. 154) selaku ketua IDI Pusat mengakui bahwa, di Jakarta, ada klinik-klinik yang melakukan aborsi, bahkan, sampai 50 kasus perhari. 12 ROGRAM DASAR PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS INDONESIA

13 Djayadilaga (1992) menyatakan bahwa kegagalan KB berkisar 8 sampai 10 persen dari seluruh penggunaan alat dan obat pencegah kehamilan. Jika dibandingkan keluarga yang ingin mempunyai dua anak saja dengan tingkat kegagalan itu dan usia menikah rata-rata 18 tahun di Indonesia, diperkirakan ada sekitar 2 sampai 3 persen kehamilan yang tidak diinginkan. Sementara, dalam hasil penelitian Prof. Dr. Tjitrarasa (1994) dari perkumpulan KB di Bali, ditemukan bahwa satu juta wanita Indonesia melakukan aborsi setiap tahun. Dari jumlah tersebut, kira-kira 50 persen dilakukan oleh wanita yang belum menikah dan 10 sampai 25 persen di antaranya dilakukan oleh remaja. Harian Republika (1994) dalam laporannya menyebutkan bahwa 328 pelajar dan mahasiswa di Yogyakarta melakukan aborsi dalam kurun Januari Oktober Jumlah itu menunjukkan peningkatan 300 persen dari jumlah aborsi tahun sebelumnya. Semuanya karena kehamilan yang tidak dikendaki, bukan karena alasan medis. Mencari faktor penyebab terjadinya praktik aborsi di Indonesia tidaklah mudah. Ada beberapa faktor yang diduga sebagai penyebab meluasnya praktik aborsi. Pertama, meningkatnya perilaku permisif dan seks bebas di kalangan remaja, baik di perkotaan maupun di pedesaan. Hal itu dibarengi dengan kurangnya pengetahuan dan pemahaman remaja mengenai akibat hubungan seksual dan cara pencegahan kehamilan. Akibatnya, jika terjadi kehamilan di luar pernikahan, mereka cenderung memilih abortus sebagai alternatif utama. Kedua, mudahnya melakukan aborsi sendiri, seperti dengan melakukan gerakan tertentu (loncat, berlari kencang) atau minum ramuan tertentu yang mudah diperoleh di pasar bebas. Apabila cara itu gagal, barulah wanita meminta pertolongan orang lain untuk menggugurkan kandungannya, baik secara tradisional (tenaga nonmedis) maupun secara modern (tenaga medis). Praktik aborsi yang dilakukan dukun beranak, bidan, atau perawat banyak terjadi di kota maupun di desa. Sementara itu, praktik aborsi terselubung yang dilakukan di klinik-klinik bersalin dan rumah sakit, baik negeri maupun swasta, juga ada di kota-kota besar. Gejala itu diperparah oleh faktor ketiga, yaitu lemahnya kontrol dan sanksi sosial. Hal itu tercermin dari sikap acuh tak acuh dan tertutupnya mata anggota masyarakat terhadap praktik aborsi di sekitar mereka. Padahal, sebenarnya, mereka memahami bahwa praktik aborsi bertentangan dengan norma agama, sosial, dan hukum. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bahwa, di satu sisi, aborsi yang sebenarnya dibenci; di sisi lain, seolah dibutuhkan oleh masyarakat. Dalam kaitan itu, perlu disimak ucapan Emile Durkheim, sosiolog kenamaan dari Prancis: kejahatan adalah normal dan kehadirannya fungsional di dalam masyarakat. Dikutip dengan suntingan dari Forum Keadilan, VI: 18, 15 Desember 1997, hlm.99. PROGRAM DASAR PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS INDONESIA 13

14 14 ROGRAM DASAR PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS INDONESIA

15 MODUL 3: PERSIAPAN PENYAJIAN LISAN 1. PENDAHULUAN Sebaiknya, selain memiliki kemampuan untuk mengungkapkan pikiran secara tertulis, seseorang memiliki pula kemampuan untuk mengungkapkan pikiran secara lisan. Tidak semua orang merasa mampu untuk mengungkapkan pikiran secara lisan. Padahal, masalahnya lebih pada kemampuan seseorang untuk menata pikirannya dengan baik. Setiap orang, sebenarnya, mampu mengungkapkan pikirannya secara lisan. 2. PERSIAPAN PENYAJIAN LISAN Persiapan sebuah penyajian lisan, sebenarnya, sama dengan persiapan menulis karya tulis ilmiah. Hal yang membedakan keduanya adalah bahwa pada penyajian lisan, pembicara berhadapan langsung dengan khalayak sasarannya. Oleh karenanya, dibutuhkan persiapan yang matang. Jangan sampai, bahan yang dibawakan tidak menarik atau cara pembicara menyajikan bahannya tidak menarik. Selain itu, jangan sampai pembicara tidak dapat secara tepat menjawab pertanyaan pendengar. Ada tiga langkah yang dapat dilakukan untuk mempersiapkan sebuah penyajian lisan. (1) Meneliti masalah: a. menentukan maksud b. menganalisis pendengar dan situasi c. memilih dan menyempitkan topik d. memastikan tujuan pembicaraan (2) Menyusun uraian: a. mengumpulkan bahan b. membuat kerangka uraian c. menyiapkan alat peraga d. menguraikan secara mendetail MENELITI MASALAH MENYUSUN URAIAN PROGRAM DASAR PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS INDONESIA 15

16 (3) Mengadakan latihan: a. melatih dengan suara nyaring b. menghitung waktu penyajian Menjadi seorang pembicara yang baik tidak mudah. Seorang pembicara yang baik membutuhkan latihan dan pengalaman. Ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi pembicara yang baik. (1) Memiliki gagasan yang menarik. (2) Menata pikiran dengan baik. (3) Memilih kata yang tepat dan sesuai untuk mengungkapkan gagasan. (4) Menyampaikan pikiran, pesan atau informasi dengan baik. (5) Mengumpulkan fakta dan melakukan penelitian secara profesional. (6) Mempertahankan tata cara dan kesopanan dalam berbicara. MENGADAKAN LATIHAN SYARAT PEMBICARA YANG BAIK 3. PERSIAPAN ALAT PERAGA Pada saat berbicara, pembicara sebaiknya menggunakan alat peraga agar pendengar tidak bosan dan dapat secara lebih cermat mengikuti pokok pembicaraan. Untuk itu, ada beberapa langkah yang harus dilaksanakan. (1) Membaca ulang naskah utuh dan menandai kerangka tulisannya. (2) Menempelkan atau menuliskan bagian utama tersebut pada sebuah kartu atau beningan. (3) Menyiapkan gambar dan benda-benda peraga yang akan memudahkan pemahaman pendengar. PERSIAPAN ALAT PERAGA 16 PROGRAM DASAR PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS INDONESIA

17 Alat peraga yang lazim digunakan sekarang ini adalah beningan dan komputer yang menggunakan program PowerPoint. Alat peraga dibutuhkan karena (1) alat peraga memudahkan pemahaman, (2) alat peraga mempermudah pendengar mengingat materi yang disampaikan, (3) alat peraga memperlihatkan garis besar pembicaraan, (4) alat peraga memerikan alur peristiwa atau prosedur yang disampaikan pembicara, dan (5) alat peraga akan mempertahankan minat dan perhatian pendengar. Hal yang harus diperhatikan dalam mempersiapkan dan membawakan alat peraga adalah (1) apakah alat peraga mudah dilihat atau dibaca? MANFAAT ALAT PERAGA TAMPILAN ALAT PERAGA (2) apakah alat peraga yang digunakan sudah tepat untuk materi yang disajikan? (3) apakah alat peraga dipersiapkan dengan baik? 4. DAFTAR PUSTAKA Beebe, Steven A dan Beebe, Susan J Public Speaking: An Audience-Centered Approach. Englewood-Cliffs: Prentice Hall. Keraf, Gorys Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa. Ende Flores: Penerbit Nusa Indah. Wiyanto, Asul Diskusi. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Widisarana Indonesia (Grasindo). Wiyanto, Asul Terampil Pidato. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Widisarana Indonesia (Grasindo). PROGRAM DASAR PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS INDONESIA 17

18 18 PROGRAM DASAR PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS INDONESIA

19 MODUL 4: DAFTAR PUSTAKA 1. PENDAHULUAN Jika sudah mengetahui buku-buku dan teks apa saja yang akan digunakan sebagai sumber data atau rujukan, penulis sudah dapat menyusun sebuah daftar pustaka. Daftar pustaka diletakkan pada bagian akhir sebuah tulisan ilmiah. Daftar pustaka merupakan rujukan penulis selama ia melakukan dan menyusun penelitian atau laporannya. Semua bahan rujukan yang digunakan penulis, baik sebagai bahan penunjang maupun sebagai data, disusun dalam daftar pustaka tersebut. DAFTAR PUSTAKA merupakan rujukan penulis selama ia melakukan dan menyusun penelitian atau laporannya 2. FUNGSI DAFTAR PUSTAKA Fungsi daftar pustaka adalah (1) membantu pembaca mengenal ruang lingkup studi penulis, (2) memberi informasi kepada pembaca untuk memperoleh pengetahuan yang lebih lengkap dan mendalam daripada kutipan yang digunakan oleh penulis, dan (3) membantu pembaca memilih referensi dan materi dasar untuk studinya. FUNGSI DAFTAR PUSTAKA Daftar pustaka dapat disusun dengan berbagai format. Ada dua format yang akan diuraikan dalam modul ini, yakni format MLA (The Modern Language Association) dan format APA (American Psychological Association). Kedua format itu adalah format yang umum ditemukan dalam bidang ilmu humaniora. Akan tetapi, sebenarnya, ada berbagai format daftar pustaka yang berlaku di selingkung bidang ilmu. Misalnya, format daftar pustaka untuk bidang ilmu biologi, kedokteran, hukum, dan lain-lain. 3. TEKNIK PENULISAN DAFTAR PUSTAKA PROGRAM DASAR PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS INDONESIA 19

20 Teknik penulisan daftar pustaka adalah sebagai berikut. (1) Baris pertama dimulai pada pias (margin) sebelah kiri, baris kedua dan selanjutnya dimulai dengan 3 ketukan ke dalam. TEKNIK PENULISAN DAFTAR PUSTAKA (2) Jarak antarbaris adalah 1,5 spasi. (3) Daftar pustaka diurut berdasarkan abjad huruf pertama nama keluarga penulis. (Akan tetapi, cara mengurut daftar pustaka amat bergantung pada bidang ilmu. Setiap bidang ilmu memiliki gaya selingkung.) (4) Jika penulis yang sama menulis beberapa karya ilmiah yang dikutip, nama penulis itu harus dicantumkan ulang. Unsur yang harus dicantumkan dalam daftar pustaka adalah (1) nama penulis yang diawali dengan penulisan nama keluarga, UNSUR-UNSUR DAFTAR PUSTAKA (2) tahun terbitan karya ilmiah yang bersangkutan, (3) judul karya ilmiah dengan menggunakan huruf besar untuk huruf pertama tiap kata kecuali untuk kata sambung dan kata depan, dan (4) data publikasi berisi nama tempat (kota) dan nama penerbit karya yang dikutip. Meskipun setiap bidang ilmu mempunyai format daftar pustakanya masing-masing, keempat unsur daftar pustaka wajib dicantumkan dalam daftar pustaka. Tata letaknya saja yang akan mengikuti format selingkung. Oleh karena itu, pelajarilah format dari bidang ilmu yang sedang ditekuni. Format Daftar Pustaka dalam buku ini mengikuti sistem yang lazim digunakan di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. 20 PROGRAM DASAR PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS INDONESIA

21 Berikut adalah cara penulisan daftar pustaka dengan format MLA dan APA. JENIS RUJUKAN FORMAT MLA FORMAT APA SATU PENULIS Sukadji, Soetarlinah. Menyusun dan Mengevaluasi Laporan Penelitian. Jakarta: UI Press, Sukadji, S. (2000). Menyusun dan Mengevaluasi Laporan Penelitian. Jakarta: UI Press. DUA PENULIS Widyamartaya, Al., dan Veronica Sudiati. Dasardasar Menulis Karya Ilmiah. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Widiasarana Indonesia, Widyamartaya, Al., dan Sudiati, V. (1997). Dasar-dasar Menulis Karya Ilmiah. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Widiasarana Indonesia. TIGA PENULIS Akhadiah, Sabarti, Maidar G. Arsjad, dan Sakura H. Ridwan. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Penerbit Erlangga, Akhadiah, S., Arsyad, M.G., dan Ridwan, S. H. (1989). Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Penerbit Erlangga. LEBIH DARI TIGA PENULIS LEBIH DARI SATU EDISI PENULIS DENGAN BEBERAPA BUKU MLA: pencantuman buku didasarkan urutan tahun terbit. APA: pencantuman buku didasarkan abjad judul buku. Alwi, Hasan, et al. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, ATAU Alwi, Hasan, dkk. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Gibaldi, Joseph. MLA Handbook for Writers of Research Papers. Ed. ke-5. New York: The Modern Language Association of America, Sugono, Dendy. Berbahasa Indonesia dengan Benar. Ed. Rev. Jakarta: Puspa Swara, Keraf, Gorys. Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa. Ende, Flores: Penerbit Nusa Indah, Argumentasi dan Narasi. Jakarta: Penerbit Gramedia Pustaka Utama, ATAU Keraf, Gorys. Argumentasi dan Narasi. Jakarta: Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa. Ende, Flores: Penerbit Nusa Indah, Alwi, H., et al. (1993). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. ATAU Alwi, H., dkk. (1993). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Gibaldi, J. (1999). MLA Handbook for Writers of Research Papers. (Ed. ke-5). New York: The Modern Language Association of America. Sugono, D. (2002). Berbahasa Indonesia dengan Benar. (Ed. Rev.) Jakarta: Puspa Swara. Keraf, G. (1982). Argumentasi dan Narasi. Jakarta: Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Keraf, G. (1997). Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa. Ende, Flores: Penerbit Nusa Indah. JENIS RUJUKAN FORMAT MLA FORMAT APA PROGRAM DASAR PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS INDONESIA 21

22 PENULIS TIDAK DIKETAHUI/ LEMBAGA BUKU TERJEMAHAN BUKU DENGAN PENYUNTING/ EDITOR SERIAL/ BERJILID JURNAL MAJALAH SURAT KABAR Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia. Panduan Teknis Penyusunan Skripsi Sarjana Sains. Jakarta: UI Press, Creswell, John W. Research Design: Qualitative and Quantitative Approaches. Terj. Angkatan III dan IV KIK-UI bekerja sama dengan Nur Khabibah. Eds. Chryshnanda DL dan Bambang Hastobroto. Jakarta: KIK Press, ATAU DL, Chryshnanda dan Bambang Hastobroto. Eds. Desain Penelitian: Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif terj. dr. John Creswell. Jakarta: KIK Press, Ihromi, T.O., peny. Pokok-pokok Antropologi Budaya. Jakarta: PT Gramedia, ATAU Ihromi, T.O., ed. Pokok-pokok Antropologi Budaya. Jakarta: PT Gramedia, Sadie, Stanley, ed. The New Grove Dictionary of Music and Musicians.Vol. 15. London: Macmillan, ATAU Sadie, Stanley, ed. The New Grove Dictionary of Music and Musicians. Vol. 15. London: Macmillan, Molnar, Andrea. Kemajemukan Budaya Flores: Suatu Pendahuluan. Antropologi Indonesia 56 (1998): Asa, Syu bah. PKS: Sayap Ulama dan Sayap Idealis. Tempo, 5 11 Juli 2004, Syifaa, Ika Nurul. Klub Profesi, Perlukah Dimasuki? Femina, No. 30, Juli 2004, Suwantono, Antonius. Keanekaan Hayati Mikroorganisme: Menghargai Mikroba Bangsa. Kompas, 24 Des. 1995, 11. Potret Industri Nasional: Tak Berdaya Dihantam Impor Komponen dan Disortasi Pasar. Kompas, 23 Des. 1995, 13. Menyambut Terbentuknya Badan Pengurus Kemitraan Deklarasi Bali. Tajuk Rencana (editorial). Kompas, 22 Des. 1995, 4. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia. (2002). Panduan Teknis Penyusunan Skripsi Sarjana Sains. Jakarta: UI Press. Creswell, J. W. (2002). Research Design: Qualitative and Quantitative Approaches. (Terj. Angkatan III dan IV KIK-UI bekerja sama dengan Nur Khabibah). Eds. Chryshnanda DL dan Bambang Hastobroto. Jakarta: KIK Press. ATAU Creswell, J. W. (2002). Research Design: Qualitative and Quantitative Approaches. (Terj. Angkatan III dan IV KIK-UI bekerja sama dengan Nur Khabibah). Jakarta: KIK Press. Ihromi, T.O. (peny.). (1981). Pokok-pokok Antropologi Budaya. Jakarta: PT Gramedia. ATAU Ihromi, T.O. (ed.). (1981). Pokok-pokok Antropologi Budaya. Jakarta: PT Gramedia. Sadie, S. (ed.). (1980) The New Grove Dictionary of Music and Musicians. Vol. 15. London: Macmillan. ATAU Sadie, S. (ed.). (1980) The New Grove Dictionary of Music and Musicians (Vol. 15, hlm. 3 66). London: Macmillan. Molnar, A. (1998). Kemajemukan Budaya Flores: Suatu Pendahuluan. Antropologi Indonesia 56, Asa, S. (2004, 5 11 Juli). PKS: Sayap Ulama dan Sayap Idealis. Tempo, Syifaa, I. N. (2004, Juli). Klub Profesi, Perlukah Dimasuki? Femina, No. 30, Suwantono, A. Keanekaan Hayati Mikroorganisme: Menghargai Mikroba Bangsa. (1995, 24 Desember). Kompas, 11. Potret Industri Nasional: Tak Berdaya Dihantam Impor Komponen dan Disortasi Pasar. (1995, Desember 23). Kompas, 13. Menyambut Terbentuknya Badan Pengurus Kemitraan Deklarasi Bali. Tajuk Rencana (editorial). (1995, 22 Desember). Kompas, 4. JENIS RUJUKAN FORMAT MLA FORMAT APA 22 PROGRAM DASAR PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS INDONESIA

23 DOKUMEN PEMERINTAH NASKAH YANG BELUM DITERBITKAN Biro Pusat Statistik. Struktur Ongkos Usaha Tani Padi dan Palawija Jakarta: BPS, Ibrahim, M.D., P. Tjitropranoto, dan Y. Slameka. National Network of Information Services in Indonesia: A Design Study. Makalah tidak diterbitkan, Budiman, Meilani. The Relevance of Multiculturalism to Indonesia. Makalah pada Seminar Sehari tentang Multikulturalisme di Inggris, Amerika, dan Australia, Universitas Indonesia, Depok, Maret Biro Pusat Statistik. (1993). Struktur Ongkos Usaha Tani Padi dan Palawija Jakarta: BPS. Ibrahim, M.D., Tjitropranoto, P., dan Slameka, Y. (1993). National Network of Information Services in Indonesia: A Design Study. Makalah tidak diterbitkan. Budiman, M. (1996, Maret). The Relevance of Multiculturalism to Indonesia. Makalah pada Seminar Sehari tentang Multikulturalisme di Inggris, Amerika, dan Australia, Universitas Indonesia, Depok. Selain mengutip sumber-sumber tercetak, sekarang ini, penulis juga dapat mengumpulkan data dan referensi dari Internet atau WWW (World Wide Web, Jaringan Jagad Jembar). Aturan penulisan referensi sama saja dengan rujukan buku, hanya tempat, nama, dan tanggal terbitan ditulis berbeda. Artinya, unsur-unsur itu mengikuti tata cara penulisan di Internet. Unsur-unsur yang dicantumkan dalam referensi Internet adalah (1) nama penulis yang diawali dengan penulisan nama keluarga, (2) judul tulisan diletakkan di antara tanda kutip, (3) judul karya tulis keseluruhan (jika ada) dengan huruf miring (italics), dan (4) data publikasi berisi protokol dan alamat, path, tanggal pesan, atau waktu akses dilakukan. UNSUR-UNSUR REFERENSI INTERNET Contoh pengutipan rujukan dari internet. 1. Dari WWW Walker, Janice R. MLA-Style Citations of Electronic Sources. Style Sheet. (10 Feb. 1996) 2. Dari File Transfer Protocol (kutipan yang dipunggah [download] melalui FTP) Johnson-Eilola, Jordan, Little Machines: Rearticulating Hypertext Users. ftp daedalus.com/pub/cccc95/johnson-eilola (10 Feb.1996) PROGRAM DASAR PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS INDONESIA 23

24 3. Dari ratron (surat elektron, ) Bruckman, Amy S. MOOSE Crossing Proposal. (20 Des. 1994) 4. Dari komunikasi lisan sinkronis (chatting), nama teman chatting menggantikan nama penulis, jenis komunikasi (misalnya, wawancara pribadi, alamat ratron (jika ada), tanggal komunikasi dalam tanda kurung. Marsha s_guest. Personal interview. Telnet daedalus.com 7777 (10 Feb 1996) 4. FORMAT LAIN DAFTAR PUSTAKA Format penyusunan daftar pustaka bukan hanya format MLA dan APA, masih ada format lain, misalnya format Turabian, format Chicago (The Chicago Manual Style), format Dugdale. Setiap format harus dipelajari. Sebaiknya, dipilih salah satu format dan digunakan secara konsisten dalam daftar pustaka. Berikut akan diperkenalkan format yang dianut oleh UI Press (Swasono, 1990). Perhatikan perbedaan penggunaan tanda baca dengan teliti. JENIS RUJUKAN SATU PENULIS DUA PENULIS TIGA PENULIS LEBIH DARI TIGA PENULIS PENULIS TIDAK DIKETAHUI/ LEMBAGA JENIS RUJUKAN BUKU TERJEMAHAN FORMAT UI PRESS Sukadji, Soetarlinah, Menyusun dan Mengevaluasi Laporan Penelitian (Jakarta: UI Press, 2000). Widyamartaya, Al., dan V. Sudiati, Dasar-dasar Menulis Karya Ilmiah (Jakarta: Penerbit PT Gramedia Widiasarana Indonesia, 1997). Akhadiah, Sabarti, M. G. Arsjad, dan S. H. Ridwan, Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia (Jakarta: Penerbit Erlangga, 1989). Alwi, Hasan, et al., Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1993). ATAU Alwi, Hasan, dkk., Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1993). Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, Panduan Teknis Penyusunan Skripsi Sarjana Sains (Jakarta: UI Press, 2002). FORMAT UI PRESS Creswell, John W., Research Design: Qualitative and Quantitative Approches, diterj. 24 PROGRAM DASAR PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS INDONESIA

25 Oleh Angkatan III dan IV KIK-UI bekerja sama dengan Nur Khabibah. Eds. Chryshnanda DL dan Bambang Hastobroto (Jakarta: KIK Press, 2002). BUKU DENGAN PENYUNTING/ EDITOR SERIAL/ BERJILID JURNAL Ihromi, T.O. (peny.), Pokok-pokok Antropologi Budaya (Jakarta: PT Gramedia, 1981). ATAU Ihromi, T.O. (ed.), Pokok-pokok Antropologi Budaya (Jakarta: PT Gramedia, 1981). Sadie, Stanley (ed.), The New Grove Dictionary of Music and Musicians, Vol. 15, hlm (London: Macmillan, 1980). Molnar, Andrea, Kemajemukan Budaya Flores: Suatu Pendahuluan, Antropologi Indonesia, No. 56, hlm , MAJALAH Asa, Syu bah, PKS: Sayap Ulama dan Sayap Idealis, Tempo, hlm , 5 11 Juli Syifaa, Ika Nurul, Klub Profesi, Perlukah Dimasuki? Femina, No. 30, hlm , Juli DOKUMEN PEMERINTAH SURAT KABAR NASKAH YANG BELUM DITERBITKAN Biro Pusat Statistik, Struktur Ongkos Usaha Tani Padi dan Palawija 1990 (Jakarta: BPS, 1993). Suwantono, Antonius, Keanekaan Hayati Mikro-organisme: Menghargai Mikroba Bangsa, Kompas, hlm. 11, 24 Des Potret Industri Nasional : Tak Berdaya Dihantam Impor Komponen dan Disortasi Pasar, Kompas (23 Des. 1995) hlm. 13. Menyambut Terbentuknya Badan Pengurus Kemitraan Deklarasi Bali, Tajuk Rencana (editorial), Kompas (22 Des. 1995) hlm. 4. Ibrahim, M.D., P. Tjitropranoto, dan Y.Slameka, National Network of Information Services in Indonesia: A Design Study, mimeo, makalah tidak diterbitkan (Jakarta: 1993). Budiman, Meilani, The Relevance of Multiculturalism to Indonesia, mimeo, makalah pada Seminar Sehari tentang Multikulturalisme di Inggris, Amerika, dan Australia, Universitas Indonesia (Depok: Maret 1996). Swasono, Meutia Farida Hatta, Generasi Minangkabau di Jakarta: Masalah Identitas Sukubangsa, skripsi sarjana (Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia, 1974). Dalam Lampiran M4-1, disajikan format daftar pustaka yang berlaku di selingkung FMIPA-UI. Selain itu, dalam Lampiran M4-2, disajikan permintaan kriteria yang diminta oleh berbagai jurnal ilmiah di lingkungan Universitas Indonesia. 5. DAFTAR PUSTAKA Aaron, Jane E The Little Brown Compact Handbook. New York: Harper Collins PROGRAM DASAR PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS INDONESIA 25

26 College Publishers. Akhadiah, Sabarti, Arsjad, Maidar G., dan Ridwan, Sakura H Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Penerbit Erlangga. American Psychological Association Publication Manual of The American Psychological Association. Ed. ke-5. Washington, D.C. Azahari, Azril Bentuk dan Gaya Penulisan Karya Tulis Ilmiah. Jakarta: Penerbit Univertas Trisakti. Brotowidjojo, Mukayat D Penulisan Karangan Ilmiah. Ed. ke-2. Jakarta: Akademika Pressindo. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Prosiding Teknik Penulisan Buku Ilmiah. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia Panduan Teknis Penyusunan Skripsi Sarjana Sains. Jakarta: UI Press. Gibaldi, Joseph MLA Handbook for Writers of Research Papers. Ed. ke-5. New York: The Modern Language Association of America. Keraf, Gorys Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa. Ende Flores: Penerbit Nusa Indah. Kranthwohl, David R How to Prepare a Research Proposal. Ed. ke-3. New York: Syracuse University Press. Swasono, Sri-Edi Pedoman Menulis Daftar Pustaka, Catatan Kaki untuk Karya Ilmiah dan Terbitan Ilmiah. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia. Turabian, Kate L A Manual for Writers of Term Papers, Theses, and Dissertation. Ed. ke-6. Chicago: The University of Chicago Press. Winarto, Yunita T., Suhardiyanto, Totok, dan Choesin, Ezra M Karya Tulis Ilmiah Sosial: Menyiapkan, Menulis, dan Mencermatinya. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Winkler, Anthony C. dan McCuen, Jo Ray Writing the Research Paper: A Handbook. Ed. ke-3. New York: Harcourt Brace Jovanovich Publishers. 26 PROGRAM DASAR PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS INDONESIA

27 LAMPIRAN M4-1 Perhatikan format daftar pustaka yang berlaku di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UI untuk Skripsi S1 Sistem H (= Harvard) Kaufman-Bühler W., Peters A. & Peters K. (1981) Mathematicians love books. Dalam: Steen, L.A. ed. (1981) Mathematics tomorrow, hlm Springer-Verlag, New York. Nybakken J.W. (1988) Biologi laut: Suatu pendekatan ekologis. Terj. dari Marine biology: An ecological approach, oleh Eidman M., Koesoebiono, Bengen D.G., Hutomo M. & Sukardjo S., xv hlm. PT Gramedia, Jakarta. Soemardi T.P., Budiarso, Sumarsono D.A., Fauzan M., Djatmiko H. & Huwae R. (1997) Light and low cost crossflow microhydro water turbine using composite materials. Makara *2B, [Keterangan: (*) 2 = nomor seri; B = seri majalah.] Varga, R.S. Accurate numerical methods for nonlinear boundary value problems. Dalam: OrtegaJ.M.& Rheinholdt W.C., eds. (1970) Studies in numerical analysis 2: Numerical solutions of nonlinearproblems. Symposium in Numerical Solution of Nonlinear Problems, Philadelphia, October 21 23, 1968, hlm SIAM, Philadelphia. Sistem Hm (= Harvard, modified) Kaufman-Bühler, W., A. Peters & K. Peters Mathematicians love books. Dalam: Steen, L.A. (ed.) Mathematics tomorrow. Springer-Verlag, New York: Nybakken, J.W Biologi laut: Suatu pendekatan ekologis. Terj. dari Marine biology: An ecological approach, oleh Eidman, M., Koesoebiono, D.G. Bengen, M. Hutomo & S.Sukardjo. PT Gramedia, Jakarta: xv hlm. Soemardi, T.P., Budiarso, D.A. Sumarsono, M. Fauzan, H. Djatmiko & R. Huwae Light and low cost crossflow microhydro water turbine using composite materials. Makara *2B: [Keterangan: (*) 2 = nomor seri; B = seri majalah.] Varga, R.S Accurate numerical methods for nonlinear boundary value problems. Dalam: Ortega, J.M. & W.C. Rheinholdt (eds.) Studies in numerical analysis 2: Numerical solutions of nonlinear problems. Symposium in Numerical Solution of Nonlinear Problems, Philadelphia, October 21 23, SIAM, Philadelphia: Sistem V (= Vancouver) Kaufman-Bühler W, Peters A & Peters K. Mathematicians love books. Dalam: Steen LA, ed. Mathematics tomorrow. New York: Springer-Verlag, 1981: Nybakken JW. Biologi laut: Suatu pendekatan ekologis. Terj. dari Marine biology: an ecological approach, oleh Eidman, Koesoebiono M, Bengen DG, Hutomo M & Sukardjo S. Jakarta: PT Gramedia, 1988: xv hlm. Soemardi, TP, Budiarso, Sumarsono DA, Fauzan M, Djatmiko H & Huwae R. Light and low cost crossflow microhydro water turbine using composite materials. Makara *2B, 1997: [Keterangan: (*) 2 = nomor seri; B = seri majalah.] PROGRAM DASAR PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS INDONESIA 27

28 Varga RS. Accurate numerical methods for nonlinear boundary value problems. Dalam: Ortega JM & Rheinholdt WC, eds. Studies in numerical analysis 2: numerical solutions of nonlinear problems. Symposium in Numerical Solution of Nonlinear Problems, Philadelphia, October 21 23, Philadelphia: SIAM, 1970: Sistem A (= Abjad, bernomor urut) Nomor urut mengawali tiap aran yang disusun berdasarkan abjad Sistem H, Hm, atau V. Contoh yang diberikan adalah Sistem A dengan penulisan aran Sistem Hm. 1. Kaufman-Bühler, W., A. Peters & K. Peters Mathematicians love books. Dalam: Steen, L.A. (ed.) Mathematics tomorrow. Springer-Verlag, New York: Nybakken, J.W Biologi laut: Suatu pendekatan ekologis. Terj. dari Marine biology: An ecological approach, oleh Eidman, M., Koesoebiono, D.G. Bengen, M. Hutomo & S.Sukardjo. PT Gramedia, Jakarta: xv hlm. 3. Soemardi, T.P., Budiarso, D.A. Sumarsono, M. Fauzan, H. Djatmiko & R. Huwae Light and low cost crossflow microhydro water turbine using composite materials. Makara *2B: [Keterangan: (*) 2 = nomor seri; B = seri majalah.] 4. Varga, R.S Accurate numerical methods for nonlinear boundary value problems. Dalam: Ortega, J.M. & W.C. Rheinholdt (eds.) Studies in numerical analysis 2: Numerical solutions of nonlinear problems. Symposium in Numerical Solution of Nonlinear Problems, Philadelphia, October 21 23, SIAM, Philadelphia: Sistem N (= Nomor urut) Aran disusun berdasarkan nomor urut pengacuan buku dalam skripsi, bukan abjad nama penulis. Contoh yang diberikan adalah Sistem N dengan penulisan aran Sistem Hm. 1. Soemardi T.P., Budiarso, Sumarsono D.A., Fauzan M., Djatmiko H. & Huwae R Light and low cost crossflow microhydro water turbine using composite materials. Makara *2B: [Keterangan: (*) 2 = nomor seri; B = seri majalah.] 2. Kaufman-Bühler W., Peters A. & Peters K Mathematicians love books. Dalam: Steen, L.A. (ed.) Mathematics tomorrow. Springer-Verlag, New York: Varga, R.S Accurate numerical methods for nonlinear boundary value problems. Dalam: Ortega, J.M. & W.C. Rheinholdt (eds.) Studies in numerical analysis 2: Numerical solutions of nonlinear problems. Symposium in Numerical Solution of Nonlinear Problems, Philadelphia, October 21 23, SIAM, Philadelphia: Nybakken J.W Biologi laut: Suatu pendekatan ekologis. Terj. dari Marine biology: An ecological approach, oleh Eidman, M., Koesoebiono, D.G. Bengen, M. Hutomo & S. Sukardjo. PT Gramedia, Jakarta: xv hlm. 28 PROGRAM DASAR PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS INDONESIA

Terms of Reference Call for Paper Jurnal Teropong Evaluasi Kebijakan Hukum Narkotika di Indonesia

Terms of Reference Call for Paper Jurnal Teropong Evaluasi Kebijakan Hukum Narkotika di Indonesia Terms of Reference Call for Paper Jurnal Teropong Evaluasi Kebijakan Hukum Narkotika di Indonesia A. Pengantar Jumlah pengguna dan pelaku tindak pidana narkotika di Indonesia terus meningkat dari tahun

Lebih terperinci

Term of Reference Call for Paper Jurnal Teropong Peran Partisipasi Publik Dalam Upaya Pembenahan Peradilan di Indonesia

Term of Reference Call for Paper Jurnal Teropong Peran Partisipasi Publik Dalam Upaya Pembenahan Peradilan di Indonesia Term of Reference Call for Paper Jurnal Teropong Peran Partisipasi Publik Dalam Upaya Pembenahan Peradilan di Indonesia A. Pengantar Upaya pembenahan peradilan di Indonesia hingga saat ini tidak terlepas

Lebih terperinci

LARAS dan RAGAM BAHASA

LARAS dan RAGAM BAHASA LARAS dan RAGAM BAHASA STMIK CIC CIREBON - 2016 Kedudukan Bahasa Indonesia FUNGSI BAHASA LARAS & RAGAM BAHASA Implikasi BI dalam hidup sehari-hari LARAS BAHASA Adalah kesesuaian antara bahasa dan fungsi

Lebih terperinci

Terms of Reference Call for Paper Jurnal Teropong Pendekatan Interdisipliner Dalam Penyusunan Kebijakan Pidana

Terms of Reference Call for Paper Jurnal Teropong Pendekatan Interdisipliner Dalam Penyusunan Kebijakan Pidana Terms of Reference Call for Paper Jurnal Teropong Pendekatan Interdisipliner Dalam Penyusunan Kebijakan Pidana A. Latar Belakang Dewasa ini hampir tidak ada bidang-bidang kehidupan masyarakat yang tidak

Lebih terperinci

TUGAS TERSTRUKTUR MATA KULIAH BAHASA INDONESIA MEMBACA KRITIS UNTUK MENULIS ILMIAH

TUGAS TERSTRUKTUR MATA KULIAH BAHASA INDONESIA MEMBACA KRITIS UNTUK MENULIS ILMIAH TUGAS TERSTRUKTUR MATA KULIAH BAHASA INDONESIA MEMBACA KRITIS UNTUK MENULIS ILMIAH DOSEN PENGAMPU : Heny Dwi Arista, M.Pd DISUSUN OLEH : Rini Nuraini 115130100111026 Oktalavia Dwi Noer R. 115130100111036

Lebih terperinci

BAB II RAGAM DAN LARAS BAHASA

BAB II RAGAM DAN LARAS BAHASA BAB II RAGAM DAN LARAS BAHASA 1. Ragam Dan Laras Bahasa Ragam Bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara,

Lebih terperinci

Kutipan dilakukan apabila penulis sudah memperoleh sebuah kerangka berpikir yang mantap.

Kutipan dilakukan apabila penulis sudah memperoleh sebuah kerangka berpikir yang mantap. DAFTAR PUSTAKA Bagian dari pernyataan, pendapat, buah pikiran, definisi, rumusan, atau hasil penelitian dari penulis lain atau penulis sendiri yang telah terdokumentasi. Kutipan dilakukan apabila penulis

Lebih terperinci

KUTIPAN, ABSTRAK DAN DAFTAR PUSTAKA KARINA JAYANTI

KUTIPAN, ABSTRAK DAN DAFTAR PUSTAKA KARINA JAYANTI KUTIPAN, ABSTRAK DAN DAFTAR PUSTAKA KARINA JAYANTI KUTIPAN Kutipan adalah gagasan, ide, pendapat yang diambil dari berbagai sumber. Proses pengambilan gagasan itu disebut mengutip. Gagasan itu bisa diambil

Lebih terperinci

KUTIPAN DAN SISTEM RUJUKAN

KUTIPAN DAN SISTEM RUJUKAN KUTIPAN DAN SISTEM RUJUKAN 1. KUTIPAN Kutipan adalah bagian dari pernyataan, pendapat, buah pikiran, definisi, rumusan, atau hasil penelitian dari penulis lain atau penulis sendiri yang telah terdokumentasi.

Lebih terperinci

Salah satu ragam sosial yang bertalian dengan pokok bahasan modul ini adalah

Salah satu ragam sosial yang bertalian dengan pokok bahasan modul ini adalah PENDAHULUAN Ragam, Tata Tulis Daftar Pustaka dan Kutipan RAGAM BAHASA INDONESIA, TATA TULIS DAFTAR PUSTAKA DAN KUTIPAN smodul s s2s s s Salah satu ragam sosial yang bertalian dengan pokok bahasan modul

Lebih terperinci

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI (STIE) LABUHAN BATU

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI (STIE) LABUHAN BATU SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI (STIE) LABUHAN BATU GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN (GBPP) Mata Kuliah : Bahasa Indonesia / MKPK 202 2SKS Deskripsi Singkat : Bahasa Indonesia menjadi salah satu instrumen pengembangan

Lebih terperinci

S I L A B U S TUJUAN MATA KULIAH:

S I L A B U S TUJUAN MATA KULIAH: S I L A B U S I. KODE MATA KULIAH/sk : DM 11-100 II. NAMA MATA KULIAH : Bahasa Indonesia III. PROGRAM STUDI : D III IV. DESKRIPSI DAN TUJUAN MATA KULIAH: Mata kuliah ini memperdalam pemahaman mahasiswa

Lebih terperinci

SILABUS. Kompetensi Dasar Materi Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran Indikator Penilaian Alokasi Waktu

SILABUS. Kompetensi Dasar Materi Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran Indikator Penilaian Alokasi Waktu KELAS XII SEMESTER 1 SILABUS Semester : 1 Standar Kompetensi : Mendengarkan 1. Memahami informasi dari berbagai laporan 1.1 Membedakan Laporan Mencatat pokok-pokok antara fakta Laporan kegiatan isi laporan

Lebih terperinci

GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN PROGRAM STUDI: DIII MANAJEMEN INFORMATIKA Semester : 4

GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN PROGRAM STUDI: DIII MANAJEMEN INFORMATIKA Semester : 4 GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN PROGRAM STUDI: DIII MANAJEMEN INFORMATIKA Semester : 4 MATA KULIAH : Bahasa Indonesia dan Teknik Penulisan Ilmiah KODE MATA KULIAH / SKS : 390101020 / 2 SKS MATA KULIAH

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK PENULISAN ARTIKEL ILMIAH Luluk Sri Agus Prasetyoningsih

KARAKTERISTIK PENULISAN ARTIKEL ILMIAH Luluk Sri Agus Prasetyoningsih KARAKTERISTIK PENULISAN ARTIKEL ILMIAH Luluk Sri Agus Prasetyoningsih Abstrak: Sebagai karya tulis ilmiah, artikel ilmiah dikomunikasikan dengan menggunakan ragam bahasa ilmiah (scientific language). Terdapat

Lebih terperinci

SILABUS. Nama Sekolah : SMA Negeri 3 Medan Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia Kelas/Semester : XII / 1 Alokasi Waktu : 4 x 45 Menit

SILABUS. Nama Sekolah : SMA Negeri 3 Medan Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia Kelas/Semester : XII / 1 Alokasi Waktu : 4 x 45 Menit Alokasi Waktu : 4 x 45 Menit Mendengarkan : 1. Memahami informasi dari berbagai laporan PEMAN KEGIATAN PEMAN INDIKATOR PENILAIAN WAKTU 1.1 Membedakan antara fakta dan opini dari berbagai laporan/ informasi

Lebih terperinci

MATA KULIAH BAHASA INDONESIA

MATA KULIAH BAHASA INDONESIA Modul ke: 08 Fakultas EKONOMI DAN BISNIS Program Studi Akuntansi www.mercubuana.ac.id MATA KULIAH BAHASA INDONESIA PENULISAN KARYA ILMIAH SUPRIYADI, S.Pd., M.Pd. HP. 0815 1300 7353/0812 9479 4583 E-Mail:

Lebih terperinci

PERSYARATAN KARYA TULIS ILMIAH

PERSYARATAN KARYA TULIS ILMIAH MENULIS MAKALAH Makalah: Makalah merupakan karya tulis ilmiah mengenai suatu topik tertentu yang tercakup dalam ruang lingkup pengetahuan. Dalam arti lain makalah juga bermakna sebagai tulisan resmi tentang

Lebih terperinci

GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN PROGRAM STUDI : S1 SISTEM KOMPUTER Semester : 5

GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN PROGRAM STUDI : S1 SISTEM KOMPUTER Semester : 5 GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN PROGRAM STUDI : S1 SISTEM KOMPUTER Semester : 5 Berlaku mulai : Gasal/2011 MATA KULIAH : TEKNIK PENULISAN ILMIAH KODE MATA KULIAH / SKS : 410201026 / 2 SKS MATA KULIAH

Lebih terperinci

RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) PROGRAM STUDI... FAKULTAS... UNIVERSITAS SEBELAS MARET

RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) PROGRAM STUDI... FAKULTAS... UNIVERSITAS SEBELAS MARET RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) PROGRAM STUDI... FAKULTAS... UNIVERSITAS SEBELAS MARET Identitas Mata Kuliah Identitas Pengampu Mata Kuliah Kode Mata Kuliah : Nama Dosen : Tim Nama Mata Kuliah : Bahasa

Lebih terperinci

SILABUS. Kegiatan Pembelajaran

SILABUS. Kegiatan Pembelajaran KELAS XII SEMESTER 1 SILABUS Semester : 1 Standar : Mendengarkan 1. Memahami informasi dari berbagai laporan 1.1 Membedakan antara fakta dan opini dari berbagai laporan lisan Laporan laporan kegiatan OSIS

Lebih terperinci

PENYUSUNAN PARAGRAF DALAM KARYA TULIS ILMIAH 1) Oleh Wahya 2)

PENYUSUNAN PARAGRAF DALAM KARYA TULIS ILMIAH 1) Oleh Wahya 2) PENYUSUNAN PARAGRAF DALAM KARYA TULIS ILMIAH 1) Oleh Wahya 2) 1. Karya Tulis Ilmiah Karya tulis adalah sesuatu yang dihasilkan oleh aktivitas menulis. Karya tulis sering dikatakan karangan. Karangan adalah

Lebih terperinci

SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA & KOMPUTER JAKARTA STI&K SATUAN ACARA PERKULIAHAN

SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA & KOMPUTER JAKARTA STI&K SATUAN ACARA PERKULIAHAN SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMAA & KOMPUTER JAKARTA STI&K SATUAN ACARA PERKULIAHAN Mata : Bahasa Indonesia Kode Mata : DU 23111 Jurusan / Jenjang : D3 TEKNIK KOMPUTER Tujuan Instruksional Umum : Mahasiswa

Lebih terperinci

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA SIL. PENULISAN KARYA ILMIAH SIL/PMT308/08 Revisi: Maret 2011 Hal.

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA SIL. PENULISAN KARYA ILMIAH SIL/PMT308/08 Revisi: Maret 2011 Hal. SIL/PMT308/08 Revisi: 02 08 Maret 2011 Hal. 1 dari 4 SILABUS MATA KULIAH Nama Matakuliah : PENULISAN KARYA ILMIAH Kode Matakuliah : PMT308 Jumlah SKS : 3 SKS Teori 1 Praktek 2 Dosen : Suyantiningsih, M.Ed.

Lebih terperinci

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA SIL. PENULISAN KARYA ILMIAH

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA SIL. PENULISAN KARYA ILMIAH SIL/PMT308/08 Revisi: 02 08 Maret 2011 Hal. 1 dari 4 SILABUS MATA KULIAH Nama Matakuliah : PENULISAN KARYA ILMIAH Kode Matakuliah : PMT308 Jumlah SKS : 3 SKS, Teori 1, Praktik 2 Dosen :. Sisca Rahmadonna,

Lebih terperinci

ANALISIS KARYA TULIS (SKRIPSI) TUGAS AKHIR MAHASISWA PROGRAM STUDI ADMINISTRASI PENDIDIKAN PERIODE 2008/2009 dan 2009/2010

ANALISIS KARYA TULIS (SKRIPSI) TUGAS AKHIR MAHASISWA PROGRAM STUDI ADMINISTRASI PENDIDIKAN PERIODE 2008/2009 dan 2009/2010 ANALISIS KARYA TULIS (SKRIPSI) TUGAS AKHIR MAHASISWA PROGRAM STUDI ADMINISTRASI PENDIDIKAN PERIODE 2008/2009 dan 2009/2010 Dosen Prodi PG PAUD FKIP UNRI ABSTRAK Penelitian laboratorium ini berjudul Analisis

Lebih terperinci

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PARAGRAF NARATIF DENGAN TEKNIK PENIRUAN MODEL PADA SISWA KELAS X TKJ 1 SMK NEGERI 1 BANYUDONO KABUPATEN BOYOLALI

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PARAGRAF NARATIF DENGAN TEKNIK PENIRUAN MODEL PADA SISWA KELAS X TKJ 1 SMK NEGERI 1 BANYUDONO KABUPATEN BOYOLALI PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PARAGRAF NARATIF DENGAN TEKNIK PENIRUAN MODEL PADA SISWA KELAS X TKJ 1 SMK NEGERI 1 BANYUDONO KABUPATEN BOYOLALI SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai

Lebih terperinci

ARTIKEL ILMIAH. Kemampuan Menulis Laporan Pengamatan Siswa Kelas VIII A SMP Negeri 16 Kota Jambi Tahun Pelajaran 2013/2014. Oleh: Pebrina Pakpahan

ARTIKEL ILMIAH. Kemampuan Menulis Laporan Pengamatan Siswa Kelas VIII A SMP Negeri 16 Kota Jambi Tahun Pelajaran 2013/2014. Oleh: Pebrina Pakpahan ARTIKEL ILMIAH Kemampuan Menulis Laporan Pengamatan Siswa Kelas VIII A SMP Negeri 16 Kota Jambi Tahun Pelajaran 2013/2014 Oleh: Pebrina Pakpahan A1B110064 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS

Lebih terperinci

MAKALAH RAGAM BAHASA INDONESIA

MAKALAH RAGAM BAHASA INDONESIA MAKALAH RAGAM BAHASA INDONESIA Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Bahasa Indonesia Dosen : Nia Nurhayatin, S.Pd. Disusun Oleh: Nama : Beny Susanto ( 2011081031 ) Yosa Fiki Alfiyudin ( 2011081131

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN PEDOMAN PENULISAN KARYA ILMIAH ( SKRIPSI, TESIS, DISERTASI, ARTIKEL, MAKALAH, DAN LAPORAN PENELITIAN )

BAB I PENDAHULUAN PEDOMAN PENULISAN KARYA ILMIAH ( SKRIPSI, TESIS, DISERTASI, ARTIKEL, MAKALAH, DAN LAPORAN PENELITIAN ) BAB I PENDAHULUAN SKRIPSI, TESIS, DAN DISERTASI Skripsi, tesis, dan disertasi hasil penelitian lapangan adalah jenis penelitian yang berorientasi pada pengumpulan data empiris di lapangan. Ditinjau dari

Lebih terperinci

Bahasa Indonesia UMB TATA TULIS DALAM RAGAM ILMIAH. Kundari, S.Pd, M.Pd. Komunikasi. Komunikasi. Modul ke: Fakultas Ilmu. Program Studi Sistem

Bahasa Indonesia UMB TATA TULIS DALAM RAGAM ILMIAH. Kundari, S.Pd, M.Pd. Komunikasi. Komunikasi. Modul ke: Fakultas Ilmu. Program Studi Sistem Bahasa Indonesia UMB Modul ke: TATA TULIS DALAM RAGAM ILMIAH Fakultas Ilmu Komunikasi Kundari, S.Pd, M.Pd. Program Studi Sistem Komunikasi www.mercubuana.ac.id STANDAR KOMPETENSI Mahasiswa dapat memahami

Lebih terperinci

PETUNJUK PENULISAN NASKAH BERKALA ILMIAH SIGNIFIKAN

PETUNJUK PENULISAN NASKAH BERKALA ILMIAH SIGNIFIKAN PETUNJUK PENULISAN NASKAH BERKALA ILMIAH SIGNIFIKAN 1. Tulisan merupakan karya orisinal penulis (bukan plagiasi) dan belum pernah dipublikasikan atau sedang dalam proses publikasi pada media lain yang

Lebih terperinci

MATA KULIAH BAHASA INDONESIA

MATA KULIAH BAHASA INDONESIA Modul ke: 06 MATA KULIAH BAHASA INDONESIA Fakultas EKONOMI DAN BISNIS Program Studi Akuntansi www.mercubuana.ac.id MENULIS AKADEMIK SUPRIYADI, S.Pd., M.Pd. HP. 0815 1300 7353/ 0812 9479 4583 E-Mail: supriyadibahasa@gmail.com

Lebih terperinci

METODOLOGI PENULISAN ILMIAH

METODOLOGI PENULISAN ILMIAH METODOLOGI PENULISAN ILMIAH Pertemuan Ke-2 Karya Ilmiah :: Noor Ifada :: noor.ifada@if.trunojoyo.ac.id S1 Teknik Informatika-Unijoyo 1 POKOK BAHASAN Pengertian Karya Ilmiah Jenis Karya Ilmiah Sikap Ilmiah

Lebih terperinci

Seminar Pendidikan Matematika

Seminar Pendidikan Matematika Seminar Pendidikan Matematika TEKNIK MENULIS KARYA ILMIAH Oleh: Khairul Umam dkk Menulis Karya Ilmiah adalah suatu keterampilan seseorang yang didapat melalui berbagai Latihan menulis. Hasil pemikiran,

Lebih terperinci

SILABUS. Semester : 1 Standar Kompetensi : Mendengarkan 1. Memahami siaran atau cerita yang disampaikan secara langsung /tidak langsung

SILABUS. Semester : 1 Standar Kompetensi : Mendengarkan 1. Memahami siaran atau cerita yang disampaikan secara langsung /tidak langsung KELAS X SEMESTER 1 SILABUS Nama Sekolah : SMA / MA... Semester : 1 Standar Kompetensi : Mendengarkan 1. Memahami siaran atau cerita yang disampaikan secara langsung /tidak langsung 1.1 Menanggapi siaran

Lebih terperinci

SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah.

SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah. PEMANFAATAN MEDIA GAMBAR BERSERI UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS KARANGAN NARASI PADA SISWA KELAS V SD NEGERI PILANGSARI 1 SRAGEN TAHUN AJARAN 2009/2010 (Penelitian Tindakan Kelas) SKRIPSI Untuk

Lebih terperinci

Modul ke: BAHASA INDONESIA. Ragam Bahasa. Sudrajat, S.Pd. M.Pd. Fakultas FEB. Program Studi Manajemen.

Modul ke: BAHASA INDONESIA. Ragam Bahasa. Sudrajat, S.Pd. M.Pd. Fakultas FEB. Program Studi Manajemen. Modul ke: BAHASA INDONESIA Ragam Bahasa Fakultas FEB Sudrajat, S.Pd. M.Pd. Program Studi Manajemen www.mercubuana.ac.id Ragam Bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian yang berbeda-beda menurut topik

Lebih terperinci

SILABUS. Jenis Tagihan: pokok-pokok isi. Mendengarkan sambutan atau khotbah. tugas individu sambutan/ isi sambutan. khotbah yang didengarkan

SILABUS. Jenis Tagihan: pokok-pokok isi. Mendengarkan sambutan atau khotbah. tugas individu sambutan/ isi sambutan. khotbah yang didengarkan KELAS XI SEMESTER 1 SILABUS Semester : 1 Standar Kompetensi : Mendengarkan 1. Memahami berbagai informasi dari sambutan/khotbah dan wawancara 1.1 Menemukan pokok-pokok isi sambutan/ khotbah yang didengar

Lebih terperinci

RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER

RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER Program Studi : Pendidikan Bahasa Indonesia Kode Mata Kuliah : Mata Kuliah : Keterampilan Menulis Jumlah SKS : 3 sks Semester : I (satu) Dosen : Dr. Hj. Teti Sobari, M.Pd.

Lebih terperinci

Penggunaan Ejaan yang Disempurnakan (EYD) pada Makalah Mahasiswa Non-PBSI 1 Nuryani 2

Penggunaan Ejaan yang Disempurnakan (EYD) pada Makalah Mahasiswa Non-PBSI 1 Nuryani 2 Penggunaan Ejaan yang Disempurnakan (EYD) pada Makalah Mahasiswa Non-PBSI 1 Nuryani 2 Abstrak Bahasa Indonesia menjadi mata kuliah wajib di seluruh universitas, termasuk UIN Syarif Hidyatullah Jakarta.

Lebih terperinci

PENGACUAN, CATATAN KAKI, CATATAN AKHIR, DAN BIBLIOGRAFI. Ali Saukah

PENGACUAN, CATATAN KAKI, CATATAN AKHIR, DAN BIBLIOGRAFI. Ali Saukah PENGACUAN, CATATAN KAKI, CATATAN AKHIR, DAN BIBLIOGRAFI Ali Saukah alisaukah@yahoo.com DEFINISI (1) Pengacuan adalah pengutipan secara langsung (persis seperti aslinya), parafrase (mengambil idenya dengan

Lebih terperinci

Catatan Akhir adalah sistem pengacuan dengan cara menempatkan informasi tentang identitas lengkap suatu sumber rujukan di bagian akhir sebuah artikel

Catatan Akhir adalah sistem pengacuan dengan cara menempatkan informasi tentang identitas lengkap suatu sumber rujukan di bagian akhir sebuah artikel PENGACUAN, CATATAN KAKI, CATATAN AKHIR, DAN BIBLIOGRAFI Ali Saukah alisaukah@yahoo.com DEFINISI (1) Pengacuan adalah pengutipan secara langsung (persis seperti aslinya), parafrase (mengambil idenya dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Abortus provocatus di Indonesia lebih populer disebut sebagai aborsi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Abortus provocatus di Indonesia lebih populer disebut sebagai aborsi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Abortus provocatus di Indonesia lebih populer disebut sebagai aborsi (pengguguran kandungan). Maraknya aborsi dapat diketahui dari berita di surat kabar atau

Lebih terperinci

PETUNJUK PENYUSUNAN PROPOSAL PROYEK SISTEM INFORMASI. Oleh : PROGRAM STUDI DIII MANAJEMEN INFORMATIKA. Comment [L1]: Logo disesuaikan dengan yang baru

PETUNJUK PENYUSUNAN PROPOSAL PROYEK SISTEM INFORMASI. Oleh : PROGRAM STUDI DIII MANAJEMEN INFORMATIKA. Comment [L1]: Logo disesuaikan dengan yang baru PETUNJUK PENYUSUNAN PROPOSAL PROYEK SISTEM INFORMASI Comment [L1]: Logo disesuaikan dengan yang baru Oleh : PROGRAM STUDI DIII MANAJEMEN INFORMATIKA SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA & TEKNIK KOMPUTER

Lebih terperinci

SILABUS PEMBELAJARAN

SILABUS PEMBELAJARAN Nama Sekolah : Kelas/Program : XII/IPS Standar : Mendengarkan 1. Memahami informasi dari berbagai laporan SILABUS PEMBELAJARAN 1.1 Membedakan antara fakta dan opini dari berbagai laporan lisan Laporan

Lebih terperinci

MODEL PEMBELAJARAN MENULIS PARAGRAF DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN KOMUNIKATIF DI KELAS X SMAN 14 GARUT TAHUN AJARAN 2011/2012 MAKALAH

MODEL PEMBELAJARAN MENULIS PARAGRAF DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN KOMUNIKATIF DI KELAS X SMAN 14 GARUT TAHUN AJARAN 2011/2012 MAKALAH MODEL PEMBELAJARAN MENULIS PARAGRAF DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN KOMUNIKATIF DI KELAS X SMAN 14 GARUT TAHUN AJARAN 2011/2012 MAKALAH Oleh : SRI RUMIATI 10.21.1027 JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA

Lebih terperinci

SILABUS PEMBELAJARAN. Kewirausahaan/ Ekonomi Kreatif. Pengalaman Belajar

SILABUS PEMBELAJARAN. Kewirausahaan/ Ekonomi Kreatif. Pengalaman Belajar Nama Sekolah : SMA Negeri 4 Purworejo Kelas/Program : XII/ IPA IPS Standar : Mendengarkan 1. Memahami informasi dari berbagai laporan SILABUS PEMBELAJARAN 1.1 Membedakan antara fakta dan opini dari berbagai

Lebih terperinci

BUKU PEDOMAN PENULISAN SKRIPSI

BUKU PEDOMAN PENULISAN SKRIPSI BUKU PEDOMAN PENULISAN SKRIPSI PROGRAM STUDI FISIOTERAPI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2016 BAB I PENDAHULUAN Skripsi adalah tugas akhir yang harus ditulis oleh mahasiswa dalam Program

Lebih terperinci

DRAF S I L A B U S MENULIS KARYA ILMIAH

DRAF S I L A B U S MENULIS KARYA ILMIAH MATA KULIAH : MENULIS KARYA ILMIAH KODE MATA KULIAH : PIN 410 SKS : 4 sks (Teori : 2 Praktik : 2) SEMESTER : 4 PRODI/JURUSAN : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia DRAF S I L A B U S MENULIS KARYA ILMIAH

Lebih terperinci

Modul ke: BAHASA INDONESIA MENULIS. Sudrajat, S.Pd. M.Pd. Fakultas FEB. Program Studi Manajemen

Modul ke: BAHASA INDONESIA MENULIS. Sudrajat, S.Pd. M.Pd. Fakultas FEB. Program Studi Manajemen Modul ke: BAHASA INDONESIA MENULIS Fakultas FEB Sudrajat, S.Pd. M.Pd. Program Studi Manajemen www.mercubuana.ac.id Standar Kompetensi Memiliki pengetahuan dan pemahaman yang benar mengenai konsep menulis

Lebih terperinci

Kriteria Kontributor. Materi Naskah dan Proses Seleksi

Kriteria Kontributor. Materi Naskah dan Proses Seleksi Kriteria Kontributor 1. Kontributor adalah individu atau kelompok dengan jumlah anggota 2 sampai 3 orang. 2. Mahasiswa Universitas Indonesia program S1 dan vokasi. 3. Masih berstatus mahasiswa aktif pada

Lebih terperinci

Bahasa Indonesia SMA/MA/SMK/MAK. Kelas XI Semester 1. Meita Sandra Santhi Apriyanto Dwi Santoso Ika Yuliana Putri

Bahasa Indonesia SMA/MA/SMK/MAK. Kelas XI Semester 1. Meita Sandra Santhi Apriyanto Dwi Santoso Ika Yuliana Putri Bahasa Indonesia SMA/MA/SMK/MAK Kelas XI Semester 1 Penulis: Editor: Ika Setiyaningsih Meita Sandra Santhi Apriyanto Dwi Santoso Ika Yuliana Putri DISKLAIMER Powerpoint pembelajaran ini dibuat sebagai

Lebih terperinci

SILABUS. Nama Sekolah : SMA Negeri 78 Jakarta Mata Pelajaan : Bahasa Indonesia 3 Beban belajar : 4 SKS. Materi Pembelajaran

SILABUS. Nama Sekolah : SMA Negeri 78 Jakarta Mata Pelajaan : Bahasa Indonesia 3 Beban belajar : 4 SKS. Materi Pembelajaran SILABUS Nama Sekolah : SMA Negeri 78 Jakarta Mata Pelajaan : Bahasa Indonesia 3 Beban belajar : 4 SKS Aspek : Mendengarkan Standar : 1. Memahami pendapat dan informasi dari berbagai sumber dalam diskusi

Lebih terperinci

PEDOMAN PENULISAN PROPOSAL SKRIPSI

PEDOMAN PENULISAN PROPOSAL SKRIPSI PEDOMAN PENULISAN PROPOSAL SKRIPSI SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER (STMIK) YADIKA BANGIL PASURUAN 2015 STMIK Yadika Bangil PENDAHULUAN Proposal SKRIPSI (selanjutnya disebut sebagai proposal)

Lebih terperinci

SILABUS MATAKULIAH : BAHASA INDONESIA KODE MATAKULIAH : 2 (SKS TEORI ) PROGRAM STUDI : PTBB DOSEN PENGAMPU : Endang Mulyatiningsih

SILABUS MATAKULIAH : BAHASA INDONESIA KODE MATAKULIAH : 2 (SKS TEORI ) PROGRAM STUDI : PTBB DOSEN PENGAMPU : Endang Mulyatiningsih No. Revisi : 00 Tgl. 18 Februari 2012 Hal 1 dari 8 SILABUS MATAKULIAH : BAHASA INDONESIA KODE MATAKULIAH : 2 (SKS TEORI ) SEMESTER : GASAL/GENAP PROGRAM STUDI : PTBB DOSEN PENGAMPU : Endang Mulyatiningsih

Lebih terperinci

RINGKASAN. Meringkas karya ilmiah yang sudah ada dengan menggunakan bahasa pengarang asli.

RINGKASAN. Meringkas karya ilmiah yang sudah ada dengan menggunakan bahasa pengarang asli. Ada sejumlah istilah yang berkaitan dengan reproduksi karya ilmiah: 1. Ringkasan (KI, buku) 2. Ikhtisar (KI, buku) 3. Sinopsis (novel) 4. Artikel ilmiah (KI) 5. Resensi (KI, buku, novel) 6. Abstrak (KI).

Lebih terperinci

SATUAN ACARA PERKULIAHAN

SATUAN ACARA PERKULIAHAN SATUAN ACARA PERKULIAHAN MATA KULIAH KODE : Dasar-Dasar Menulis : IN203 Dra. Novi Resmini, M.Pd. JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA 2013 Tujuan Pembelajaran Khusus Pokok Bahasan/Sub Pokok Bahasan

Lebih terperinci

SILABUS PEMBELAJARAN

SILABUS PEMBELAJARAN Nama Sekolah : Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia Kelas : X Semester : 2 Standar : Mendengarkan 9. Memahami informasi melalui tuturan. SILABUS PEMBELAJARAN 9.1 Menyimpulkan isi informasi yang disampaikan

Lebih terperinci

PEMBELAJARAN MENULIS SEBAGAI SUATU KETERAMPILAN BERBAHASA

PEMBELAJARAN MENULIS SEBAGAI SUATU KETERAMPILAN BERBAHASA PEMBELAJARAN MENULIS SEBAGAI SUATU KETERAMPILAN BERBAHASA Oleh Novita Tabelessy Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pattimura Abstrak:

Lebih terperinci

Pengertian Tulisan Ilmiah

Pengertian Tulisan Ilmiah Karya tulis ilmiah A. KOMPETENSI YANG DIHARAPKAN 1. Peserta memiliki pengetahuan yang memadai tentang pengertian dan jenis-jenis tulisan ilmiah 2. Peserta mampu merencanakan, menyusun, dan mengembangkan

Lebih terperinci

SILABUS BAHASA INDONESIA KELAS VI SEMESTER 2 TAHUN PELAJARAN

SILABUS BAHASA INDONESIA KELAS VI SEMESTER 2 TAHUN PELAJARAN SILABUS BAHASA INDONESIA KELAS VI SEMESTER 2 TAHUN PELAJARAN 2009-2010 Kompetensi Dasar MENDENGARKAN 1.1 Menyimpulkan isi berita yang didengar dari televisi atau radio. Indikator Pencapaian (peserta didik

Lebih terperinci

Menulis Karya Ilmiah Remaja 1 Oleh: Sudrajat, M. Pd. 2

Menulis Karya Ilmiah Remaja 1 Oleh: Sudrajat, M. Pd. 2 Menulis Karya Ilmiah Remaja 1 Oleh: Sudrajat, M. Pd. 2 A. Pendahuluan Menulis belum menjadi tradisi bagi bangsa Indonesia, meskipun sudah sejak abad IV bangsa ini masuk ke zaman sejarah. Aktivitas berbicara

Lebih terperinci

Bunga Lestari Dr. Wisman Hadi, M.Hum. ABSTRAK

Bunga Lestari Dr. Wisman Hadi, M.Hum. ABSTRAK 0 KEMAMPUAN MENEMUKAN IDE POKOK PARAGRAF BERBAGAI JENIS WACANA DALAM NASKAH SOAL UJIAN NASIONAL OLEH SISWA KELAS IX SMP SWASTA BANDUNG SUMATERA UTARA TAHUN PEMBELAJARAN2017/2018 Bunga Lestari (bungalestariyy@gmail.com)

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. kebahasaan dan keterampilan berbahasa. Pengetahuan kebahasaan meliputi

BAB 1 PENDAHULUAN. kebahasaan dan keterampilan berbahasa. Pengetahuan kebahasaan meliputi 1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembelajaran bahasa Indonesia secara formal mencakup pengetahuan kebahasaan dan keterampilan berbahasa. Pengetahuan kebahasaan meliputi pembelajaran mengenai asal-usul

Lebih terperinci

32. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/ Madrasah Aliyah (MA)

32. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/ Madrasah Aliyah (MA) 32. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/ Madrasah Aliyah (MA) A. Latar Belakang Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta

Lebih terperinci

Perbandingan Publikasi Internasional Indonesia di Scopus Periode 2010-April 2016

Perbandingan Publikasi Internasional Indonesia di Scopus Periode 2010-April 2016 Perbandingan Publikasi Internasional Indonesia di Scopus Periode 2010-April 2016 Perbandingan Publikasi Internasional Indonesia di Web of Science (Thomson) Saat ini Publikasi internasional peneliti

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Hidup bermasyarakat merupakan salah satu sifat manusia. Manusia tidak

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Hidup bermasyarakat merupakan salah satu sifat manusia. Manusia tidak 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Hidup bermasyarakat merupakan salah satu sifat manusia. Manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Dalam menjalin interaksi dengan orang lain, manusia

Lebih terperinci

Menulis Karya Ilmiah Remaja 1

Menulis Karya Ilmiah Remaja 1 Menulis Karya Ilmiah Remaja 1 Oleh: Sudrajat, M. Pd. 2 A. Pendahuluan Menulis belum menjadi tradisi bagi bangsa Indonesia, meskipun sudah sejak abad IV bangsa ini masuk ke zaman sejarah. Aktivitas berbicara

Lebih terperinci

MODUL BAHASA INDONESIA KELAS X. catatan kaki

MODUL BAHASA INDONESIA KELAS X. catatan kaki MODUL BAHASA INDONESIA KELAS X catatan kaki 1 .. Disusun oleh: Elysabeth Citra Raharja.. CATATAN KAKI A. Pengertian catatan kaki Catatan kaki (foot note) merupakan catatan pendek yang berisi keterangan

Lebih terperinci

BAB 1 INFORMASI UMUM

BAB 1 INFORMASI UMUM DAFTAR ISI PENGANTAR BAB 1 INFORMASI UMUM BAB 2 KOMPETENSI DAN SUBKOMPETENSI 1. Kompetensi (Capaian Pembelajaran) 2. Subkompetensi (Kemampuan pada Akhir Tahap Pembelajaran) 3. Bagan Alir Capaian Pembelajaran

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Hari-hari di Rainnesthood..., Adhe Mila Herdiyanti, FIB UI, Universitas Indonesia

BAB 1 PENDAHULUAN. Hari-hari di Rainnesthood..., Adhe Mila Herdiyanti, FIB UI, Universitas Indonesia 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sastra adalah bentuk tiruan kehidupan yang menggambarkan dan membahas kehidupan dan segala macam pikiran manusia. Lingkup sastra adalah masalah manusia, kehidupan

Lebih terperinci

PANDUAN PENULISAN MANUSKRIP FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG TAHUN 2012

PANDUAN PENULISAN MANUSKRIP FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG TAHUN 2012 PANDUAN PENULISAN MANUSKRIP FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG TAHUN 2012 TIM PENGEMBANG UNNES LAW JOURNAL 1 A. ALUR PEMBUATAN MANUSKRIP 2 B. RINCIAN PROSEDUR 1. Mahasiswa a. Mengajukan topik skripsi/tesis

Lebih terperinci

ANALISIS TEKS PIDATO KARANGAN SISWA KELAS X SMA LABORATORIUM UNIVERSITAS NEGERI MALANG TAHUN PELAJARAN 2011/2012

ANALISIS TEKS PIDATO KARANGAN SISWA KELAS X SMA LABORATORIUM UNIVERSITAS NEGERI MALANG TAHUN PELAJARAN 2011/2012 ANALISIS TEKS PIDATO KARANGAN SISWA KELAS X SMA LABORATORIUM UNIVERSITAS NEGERI MALANG TAHUN PELAJARAN 2011/2012 Dian Nita Zullina *) Email: zullina_diannita@yahoo.com Universitas Negeri Malang, Jalan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang dinamakan komunikasi. Dalam berkomunikasi setiap orang menggunakan

BAB I PENDAHULUAN. yang dinamakan komunikasi. Dalam berkomunikasi setiap orang menggunakan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia, yang dinamakan komunikasi. Dalam berkomunikasi setiap orang menggunakan bahasa karena proses

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang 1 A. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN Bahasa adalah alat komunikasi yang digunakan manusia dengan sesama anggota masyarakat lain pemakai bahasa itu. Bahasa berisi gagasan, ide, pikiran, keinginan atau

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Kemampuan berbahasa erat hubungannya dengan kemampuan berpikir. Bahasa

BAB 1 PENDAHULUAN. Kemampuan berbahasa erat hubungannya dengan kemampuan berpikir. Bahasa 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kemampuan berbahasa erat hubungannya dengan kemampuan berpikir. Bahasa seseorang mencerminkan pikirannya. Semakin terampil seseorang berbahasa, semakin jelas

Lebih terperinci

31. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs)

31. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs) 31. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs) A. Latar Belakang Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional

Lebih terperinci

Panduan Penulisan Artikel CR Journal creative research for west java development

Panduan Penulisan Artikel CR Journal creative research for west java development Panduan Penulisan Artikel CR Journal creative research for west java development Panduan penulisan artikel CR Journal berisi hal-hal yang harus dipenuhi oleh penulis agar artikel dapat diterbitkan dalam

Lebih terperinci

PENULISAN NASKAH PUBLIKASI

PENULISAN NASKAH PUBLIKASI Pembinaan Penyusunan Laporan Ilmiah dan Penulisan Naskah Publikasi Risbinkes 2014 Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan RI PENULISAN NASKAH PUBLIKASI Rizal Syarief CARE Lembaga Penelitian dan Pengabdian

Lebih terperinci

KALIMAT DALAM BAHASA INDONESIA. Wagiati Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran

KALIMAT DALAM BAHASA INDONESIA. Wagiati Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran KALIMAT DALAM BAHASA INDONESIA Wagiati Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran 1. Pengantar Makalah ini merupakan salah satu upaya untuk membantu pemahaman mengenai kalimat dalam bahasa Indonesia, khususnya

Lebih terperinci

BAHASA INDONESIA KELAS X Oleh: Dra. M.M. Lies Supriyantini

BAHASA INDONESIA KELAS X Oleh: Dra. M.M. Lies Supriyantini YAYASAN WIDYA BHAKTI SMA SANTA ANGELA Jl. Merdeka 24, Bandung 4214714 BAHASA INDONESIA KELAS X Oleh: Dra. M.M. Lies Supriyantini MODUL 4 BENTUK KARANGAN, LAPORAN OBSERVASI, CATATAN KAKI DAN DAFTAR PUSTAKA

Lebih terperinci

07. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. A. Latar Belakang

07. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. A. Latar Belakang 07. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia A. Latar Belakang Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasian dalam mempelajari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN MAKALAH BAHASA INDONESIA RAGAM ILMIAH Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN MAKALAH BAHASA INDONESIA RAGAM ILMIAH Latar Belakang Masalah MAKALAH BAHASA INDONESIA RAGAM ILMIAH BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dewasa ini, khususnya di Indonesia perkembangan bahasa Indonesia baik di kalangan dewasa, remaja, dan anak-anak telah

Lebih terperinci

SEKOLAH MENULIS DAN KAJIAN MEDIA

SEKOLAH MENULIS DAN KAJIAN MEDIA MATERI: 13 Modul SEKOLAH MENULIS DAN KAJIAN MEDIA (SMKM-Atjeh) MENULIS KARYA ILMIAH 1 Kamaruddin Hasan 2 arya ilmiah atau tulisan ilmiah adalah karya seorang ilmuwan (ya ng berupa hasil pengembangan) yang

Lebih terperinci

ASPEK KEBAHASAAAN DALAM PENULISAN ARTIKEL ILMIAH 1) oleh Wahya 2)

ASPEK KEBAHASAAAN DALAM PENULISAN ARTIKEL ILMIAH 1) oleh Wahya 2) ASPEK KEBAHASAAAN DALAM PENULISAN ARTIKEL ILMIAH 1) oleh Wahya 2) 1. Pendahuluan Dunia pendidikan tinggi identik dengan dunia keilmuan. Berbagai penelitian ilmiah dalam berbagai disiplin, baik untuk kepentingan

Lebih terperinci

IHWAL TEKNIK PENULISAN KARYA ILMIAH Oleh Agus Nero Sofyan

IHWAL TEKNIK PENULISAN KARYA ILMIAH Oleh Agus Nero Sofyan IHWAL TEKNIK PENULISAN KARYA ILMIAH Oleh Agus Nero Sofyan 1. Pembuka Dalam paparan ini akan dibicarakan hal-hal yang berkaitan dengan teknik penulisan karya ilmiah, yaitu konvensi, sistematika, pengutipan,

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA NOMOR 9 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN KARYA TULIS ILMIAH BAGI WIDYAISWARA

PERATURAN KEPALA LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA NOMOR 9 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN KARYA TULIS ILMIAH BAGI WIDYAISWARA PERATURAN KEPALA LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA NOMOR 9 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN KARYA TULIS ILMIAH BAGI WIDYAISWARA LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA JAKARTA 2008 PERATURAN KEPALA LEMBAGA ADMINISTRASI

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. yang biasa disebut dengaan istilah mengugurkan kandungan. Aborsi

BAB 1 PENDAHULUAN. yang biasa disebut dengaan istilah mengugurkan kandungan. Aborsi BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Aborsi adalah pembunuhan janin yang di ketahui oleh masyarakat yang biasa disebut dengaan istilah mengugurkan kandungan. Aborsi dibedakan antara aborsi yang terjadi

Lebih terperinci

LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR : 8TAHUN 2010 TANGGAL : 6 SEPTEMBER 2010 TENTANG : TATA CARA PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH

LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR : 8TAHUN 2010 TANGGAL : 6 SEPTEMBER 2010 TENTANG : TATA CARA PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR : 8TAHUN 2010 TANGGAL : 6 SEPTEMBER 2010 TENTANG : TATA CARA PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH SISTEMATIKA TEKNIK PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH DAN KERANGKA

Lebih terperinci

TATA TULIS DALAM RAGAM ILMIAH

TATA TULIS DALAM RAGAM ILMIAH Modul ke: TATA TULIS DALAM RAGAM ILMIAH Bahan dan Jumlah Halaman, Penulisan Judul, Bab, dan Subbab, Teknik Penulisan Kutipan, Teknik Penulisan Catatan Kaki, dan Teknik Penulisan Daftar Pustaka Fakultas..

Lebih terperinci

Menulis Artikel Ilmiah

Menulis Artikel Ilmiah Menulis Artikel Ilmiah Disampaikan dalam rangka kegiatan PPM Pelatihan penulisan Artikel Ilmiah bagi Guru-guru Bahasa Prancis Se-Karisidenan Banyumas di SMAN 1 Cilacap pada Tanggal 28-29 Mei 2011 Oleh

Lebih terperinci

NASKAH PUBLIKASI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah

NASKAH PUBLIKASI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah GAMBAR FOTO SEBAGAI MEDIA PENYUSUNAN KARANGAN DESKRIPSI MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA SISWA KELAS XI SEKOLAH KEJURUHAN WARGA SURAKARTA TAHUN AJARAN 2012/2013 NASKAH PUBLIKASI Diajukan Untuk Memenuhi

Lebih terperinci

Masmimar Mangiang, Dasar-dasar Penulisan materi kuliah Departemen Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Indonesia

Masmimar Mangiang, Dasar-dasar Penulisan materi kuliah Departemen Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Indonesia Menulis adalah merekonstruksi fakta, dan alat untuk merekonstruksi itu adalah bahasa. Kata atau pilihan kata menjadi sangat menentukan dalam hal mengungkapkan makna atau pengertian yang hendak kita nyatakan

Lebih terperinci

Metode penulisan artikel jurnal ilmiah. Suminar Setiati Achmadi Institut Pertanian Bogor

Metode penulisan artikel jurnal ilmiah. Suminar Setiati Achmadi Institut Pertanian Bogor Metode penulisan artikel jurnal ilmiah Suminar Setiati Achmadi Institut Pertanian Bogor ssachmadi@cbn.net.id Yang perlu diantisipasi oleh penulis Dalam menyiapkan naskah, penulis harus mengantisipasi bahwa

Lebih terperinci

PETUNJUK PENULISAN JURNAL IDEA SOCIETA

PETUNJUK PENULISAN JURNAL IDEA SOCIETA PETUNJUK PENULISAN JURNAL IDEA SOCIETA Panduan Umum 1. Naskah tulisan yang diajukan untuk dimuat dalam jurnal Idea Societa harus orisinil, karya sendiri, dan bebas dari plagiasi. 2. Tulisan belum pernah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. khususnya bahasa Indonesia sebagai salah satu mata pelajaran yang penting dan

BAB I PENDAHULUAN. khususnya bahasa Indonesia sebagai salah satu mata pelajaran yang penting dan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembelajaran bahasa merupakan salah satu aspek yang penting dalam kehidupan manusia. Kemampuan berbahasa seseorang dapat menunjukkan kepribadian serta pemikirannya.

Lebih terperinci

II. LANDASAN TEORI. untuk memperoleh kesan-kesan yang dikehendaki, yang disampaikan penulis

II. LANDASAN TEORI. untuk memperoleh kesan-kesan yang dikehendaki, yang disampaikan penulis II. LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Membaca Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh seseorang untuk memperoleh kesan-kesan yang dikehendaki, yang disampaikan penulis melalui media

Lebih terperinci

NASKAH PUBLIKASI PEMAKAIAN PREPOSISI PADA KOLOM POS PEMBACA DI HARIAN SOLOPOS SKRIPSI

NASKAH PUBLIKASI PEMAKAIAN PREPOSISI PADA KOLOM POS PEMBACA DI HARIAN SOLOPOS SKRIPSI NASKAH PUBLIKASI PEMAKAIAN PREPOSISI PADA KOLOM POS PEMBACA DI HARIAN SOLOPOS SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra

Lebih terperinci

STRUKTUR KALIMAT BAHASA INDONESIA DALAM KARANGAN DESKRIPSI MAHASISWA PROGRAM BAHASA DAN SASTRA INDONESIA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA.

STRUKTUR KALIMAT BAHASA INDONESIA DALAM KARANGAN DESKRIPSI MAHASISWA PROGRAM BAHASA DAN SASTRA INDONESIA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA. STRUKTUR KALIMAT BAHASA INDONESIA DALAM KARANGAN DESKRIPSI MAHASISWA PROGRAM BAHASA DAN SASTRA INDONESIA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA oleh Dra. Nunung Sitaresmi, M.Pd. FPBS UPI 1. Pendahuluan Bahasa

Lebih terperinci