Bab 1 Sejarah Perkembangan Hindu

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Bab 1 Sejarah Perkembangan Hindu"

Transkripsi

1 Bab 1 Sejarah Perkembangan Hindu Agar dapat memahami dan menghayati Agama Hindu dengan baik dan benar, maka sangat perlu untuk mengetahui sejarah perkembangan Agama Hindu itu sendiri. Setiap agama di dunia ini memiliki sejarah perkembangannya masing-masing, sejak wahyu tersebut diturunkan sampai ajarannya menyebar ke seluruh pelosok dunia. Sejarah perkembangannya ini besar pengaruhnya terhadap karakteristik dari masing-masing agama tersebut. Demikian pula halnya dengan Agama Hindu, yang usianya paling tua jika dibandingkan dengan agama-agama lainnya, memiliki rangkaianrangkaian sejarah yang cukup panjang sejak wahyu diturunkan sampai Ajaran Hindu menyebar ke seluruh dunia. 1

2 2 Bab 1. Sejarah Perkembangan Agama Hindu 1.1 Perkembangan Agama Hindu di India Wahyu yang menjadi sumber ajaran Agama Hindu telah diturunkan lebih dari 4000 tahun yang lalu. Wahyu ini diturunkan oleh Tuhan melalui Maharsi- Maharsi (terutama Sapta Rsi penerima wahyu) yang sedang bertapa (bersemadi) di sekitar lembah Sungai Sindhu dan lembah Sungai Gangga di India. Oleh karena itu tidak mengherankan bahwa India memegang peranan yang penting dalam sejarah perkembangan Agama Hindu. Di dalam kesusastraan Hindu negara India dikenal dengan beberapa sebutan antara lain: a. Bharata Warsa : yang berarti negerinya Wamsa Bharata. b. Arya Dwipa : yang berarti negerinya orangorang Arya. c. Jambu Dwipa : yang berarti negeri yang berbentuk seperti buah jambu.

3 1.1 Perkembangan Agama Hindu di India 3 Jika kita tinjau posisi geogra s India, maka negara ini dikelilingi oleh berbagai pegunungan antara lain: * Di sebelah barat, dari utara ke selatan, membujur Pegunungan Hindu Khus dan Pegunungan Sulaiman. * Di sebelah utara India, membentang Pegunungan Himalaya. * Di sebelah timur membujur Pegunungan Patkai, Pegunungan Naga, Pegunungan Braik dan Pegunungan Lushai, yang memisahkan India dan Birma. * Di sebelah selatan terdapat Samudra Indonesia. India Utara dan India selatan dipisahkan oleh Pegunungan Windhya dan Dataran Tinggi Dekan. Keadaan negara India yang subur serta geogra s yang terlindung dari pengaruh luar, menyebabkan kebudayaan India pada masa yang silam dapat tumbuh dengan subur dan terpelihara dengan baik. Di India Utara terdapat dua daerah yang merupakan pusat peradaban Hindu yaitu : Lembah Sungai Sindhu dan Lembah Sungai Gangga.

4 4 Bab 1. Sejarah Perkembangan Agama Hindu Menurut Radha Krisna, kurun waktu perkembangan Agama Hindu di India dapat dibagi menjadi empat periode (empat jaman), yaitu: 1. Jaman Weda 2. Jaman Wiracarita 3. Jaman Sutra 4. Jaman Scholastik Jaman Weda Jaman Weda dapat dibedakan lagi menjadi: Jaman Weda Kuno, Jamam Brahmana dan Jaman Upanisad. A. Jaman Weda Kuno Jaman ini merupakan jaman penulisan kembali Wahyu Suci Weda yang pertama yaitu Reg Weda. Kehidupan keagamaan pada jaman ini lebih banyak menekankan pada: pembacaan, penyanyian, dan perapalan ayat-ayat suci Weda. Jadi bentuk dan sistem pemujaan yang menonjol adalah melaksanakan Bhakti Marga (yaitu menekankan pada sujud bakti kehadapan Tuhan Yang Maha Esa melalui cara-cara di atas).

5 1.1 Perkembangan Agama Hindu di India 5 Konsep Ketuhanan pada jaman ini mengakui dan mempercayai ke-esaan Tuhan, yang dimanifestasikan melalui sinar-sinar kemahakuasaan- Nya yang disebut Dewa. Hal ini antara lain dinyatakan dalam ayat berikut. Reg Weda I : Ekam Sat wipra bahuda wadanti Agnir Yamam Matariswammam ahuh. Artinya: Tuhan adalah Esa, tetapi para arif bijaksana memberi nama Agni, Yama, Matariswa dan lain-lainnya. Salah satu peninggalan dari Jaman ini, yang merupakan peradaban tertua di Lembah Sungai Sindhu, adalah : Kota Mahenyodaro dan Kota Harapah. Setelah Jaman Weda Kuno, diikuti oleh jaman Weda belakangan yaitu jaman penghimpunan dan penulisan kembali Wahyu Suci lainnya yaitu : * Kitab Suci Yajur Weda * Kitab Suci Sama Weda * Kitab Suci Atharwa Weda.

6 6 Bab 1. Sejarah Perkembangan Agama Hindu B. Jaman Brahmana Jaman ini merupakan jaman disusunnya kitabkitab Brahmana (Karma Kanda) yang isinya memuat tentang : a. Himpunan dari do'a - do'a, b. Penjelasan-penjelasan tentang Upacara (Yadnya), c. Penjelasan tentang kewajiban-kewajiban keagamaan. Pada jaman ini pengamalan agama lebih menekankan pada pelaksanaan Yadnya Upacara. Hal ini menggeser perhatian terhadap aspek Tattwa dan Etika. Pada jaman ini peranan kaum Brahmana menjadi sangat menonjol, sehingga akhirnya menggeser Sistem Catur Warna (yang penggolongannya menurut Weda berdasarkan Guna Karma) menjadi Sistem Kasta (yang penggolongannya berdasarkan keturunan). Hal ini jelas merupakan penyimpangan dari pelaksanaan Weda.

7 1.1 Perkembangan Agama Hindu di India 7 C. Jaman Upanisad Jaman ini merupakan jaman dihimpunnya kitabkitab Upanisad (Jnana Kanda). Kitab ini isinya memuat tentang penjelasanpenjelasan loso s dari apa yang telah diuraikan pada Kitab Mantra pada Jaman Weda dan Jaman Brahmana. Di dalam Weda dikatakan bahwa kitab Upanisad pokok ada sebanyak 108 buah. Pelaksanaan agama yang menonjol pada jaman iniadalahpembahasanrohaniahdenganmenitik beratkan pada pendalaman lsafat yang membatin (pelaksanaan Jnana Marga). Konsepsi- konsepsi yang menjadi topik pembicaraan antara lain : a. Keyakinan terhadap Panca Sraddha Tattwa (Brahman, Atman, Hukum Kar-mapala, Samsara/Punarbawa dan Moksa). b. Dasar dan tujuan hidup manusia yaitu : Catur Purusartha (Dharma, Artha, Kama dan Moksa).

8 8 Bab 1. Sejarah Perkembangan Agama Hindu Jika kita tinjau dari arti katanya, Upanisad berarti: duduk dekat dengan guru untuk menerima wejangan-wejangan suci. Sistem pendalaman lsafat yang bersifat rahasia dan membatin dilakukan dengan sistem: Pasraman, sehingga Upanisad sering juga disebut Rahasiopadesa atau Aranyaka, yang berarti ajaran rahasia yang ditulis di hutan.

9 1.1 Perkembangan Agama Hindu di India Jaman Wiracarita Jaman Wiracarita ini ditandai oleh masa-masa atau hal-hal berikut: a. Masa perkembangan kitab-kitab Upanisad. b. Masa perkembangan sistem lsafat (dharsana). c. Jaman munculnya dua epos besar yaitu: Wiracarita Ramayana dan Maha-bharata, yang mengajarkan nilai-nilai kepahlawanan dan kebenaran (Dharma). d. Jaman timbulnya banyak pemikir-pemikir dan losof- losof yang mengembangkan ajaranajaran agama dengan berbagai aliran. Pada jaman ini, di satu pihak berkembang aliran yang pembahasasnnya bersifat: Non Theistis (tidak membahas tentang Tuhan maupun Dewa- Dewa) seperti mi-salnya Buddha dan Jaina, sedangkan di lain pihak berkembang aliran yang pembahasannya bersifat Theistis (banyak membahas tentang Tuhan) seperti Bhagawadgita dan Kitab-Kitab Upanisad lainnya.

10 10 Bab 1. Sejarah Perkembangan Agama Hindu Hasil karya yang menonjol pada jaman ini adalah kitab Ramayana dan kitab Mahabharata. a. Ramayana Kitab ini disusun oleh Rsi Walmiki dan terdiri atas tujuh kanda. Salah satu bagian yang penting dari kitab ini adalah Ajaran Astabrata yaitu: ajaran tentang delapan sifat dewa yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin (kepala negara) untuk mencapai keadilan dan kemakmuran negara. b. Mahabharata Kitab ini disusun oleh Rsi Wyasa dan terdiri atas delapan belas Parwa, sehingga dikenal juga dengan sebutan Asta Dasa Parwa. Salah satu bagian yang penting dari kitab ini adalah Bhagawadgita yang merupakan intisari dari Bhisma Parwa, yang antara lain membahas tentang: * Bhakti Yoga : yaitu ajaran menuju kepada- Nya melalui sujud bakti dan penye-rahan diri. * Karma Yoga : yaitu ajaran menuju kepada- Nya melalui kerja yang tanpa mengikatkan diri pada hasilnya.

11 1.1 Perkembangan Agama Hindu di India 11 * Jnana Yoga : yaitu ajaran menuju kepada- Nya melalui kebijaksanaan lsafat. * Raja Yoga : yaitu ajaran untuk berhubungan dengan-nya melalui suatu konsentrasi sehingga mencapai Samadhi. * Paramatma (Tuhan Yang Maha Esa), Purusa (jiwa), dan Prakerti (bukan jiwa, atas serba kebendaan).

12 12 Bab 1. Sejarah Perkembangan Agama Hindu Jaman Sutra Jaman Sutra ini ditandai oleh munculnya kitabkitab Sutra yang memuat penjelasan dan komentar terhadap Weda dan Mantra-Mantra, serta kitab-kitab yang merupakan sumber dari lsafat- lsafat Hinduisme. Kitab Sutra yang penting antara lain: a. Kalpasutra. Isi dari kitab ini membahas tentang Yadnya: yaitu cara-cara melakukan Upacara Kurban Suci. b. Dharmasutra. Isi dari kitab ini membahas tentang pengertian Dharma yang meliputi tugas dan kewajiban umat manusia sebagaimana yang diuraikan di dalam Weda. Kitab-kitab sutra yang merupakan sumber ajaran dari ajaran-ajaran lsafat yang tergolong Hinduisme antara lain: Nyaya-sutra (sumber ajaran Nyaya), Waisesika-sutra (sumber ajaran Waisesika), Yoga-sutra (sumber ajaran Yoga), Mimamsa-sutra (sumber ajaran Mimamsa), dan Wedanta-sutra (sumber ajaran Wedanta).

13 1.1 Perkembangan Agama Hindu di India Jaman Scholastik Jaman ini ditandai dengan lahirnya pemikir-pemikir besar seperti: Sankara, Ramanuja, Madhwa dan sebagainya. Pemikir-pemikir ini menulis kembali ajaran terdahulu dengan memberi interpretasi dan pengembangan-pengembangan baru. Sehingga lahirlah beberapa lsafat antara lain : a Adwaita : yaitu suatu ajaran bahwa tidak ada dualisma. Jadi tidak ada sesuatu yang nyata yang lepas dari roh yang mutlak yaitu Brahman. b Wisista Adwaita : yaitu suatu ajaran yang berpangkal pada tiga kenyataan, yaitu: Tuhan, Cit (Jiwa) dan Acit (benda, bukan jiwa). Hanya Tuhan yang bebas, sedangkan semua yang lainnya tergantung pada Tuhan. c Dwaita : yaitu suatu ajaran yang berpangkal pada dua kenyataan yang ber-beda (dualisma) yaitu: yang tidak nyata (Tuhan) dan yang nyata (benda). Semua yang ada tergantung pada Tuhan.

14 14 Bab 1. Sejarah Perkembangan Agama Hindu 1.2 Penyebaran Agama Hindu ke Berbagai Daerah di Dunia Dengan berjalannya waktu, Ajaran Hindu telah menyebar ke berbagai daerah yaitu ke hampir seluruh penjuru dunia. Penyebaran Agama Hindu ke seluruh dunia dapat kita lihat dari berbagai peninggalan berupa prasati-prasasti, benda- benda bersejarah, adatistiadat dan bukti lainnya yang menunjukkan adanya pengaruh Hindu, di samping eksistensi Agama Hindu di berbagai penjuru Dunia saat ini. Berikut ini akan kita lihat pengaruh Agama Hindu di berbagai daerah penting di Dunia.

15 1.2 Penyebaran Agama Hindu ke Berbagai Daerah di Dunia 15 A. Pengaruh Agama Hindu di Mesir Pengaruh Agama Hindu di Mesir dapat kita lihat dari beberapa butir berikut: - Di Mesir terdapat prasasti berangka 1280 sebelum masehi, yang berisi tulisan tentang nama raja-raja Mesir seperti Ramases I, Ramases II dan sebagainya. Nama-nama ini sangat mirip dengan nama Rama yang merupakan penjelmaan Dewa Wisnu. - Di Mesir juga dikenal nama Maitrawaruna yaitu nama dewa yang disebutkan di dalam Weda.

16 16 Bab 1. Sejarah Perkembangan Agama Hindu B. Pengaruh Agama Hindu di Gurun Sahara Afrika Pengaruh Agama Hindu di Gurun Sahara dapat kita lihat dari beberapa butir berikut: - Gurun Sahara adalah sebuah dasar samudera yang mengering. Kata Sahara berasal dari kata Sagara yang berarti lautan. - Penduduk di sekeliling Gurun Sahara banyak mempergunakan nama-nama bernada Sanskerta, seperti penduduk negeri Kosala yang merupakan nama yang ada di dalam kitab Mahabharata. - Di Pulau Madagaskar juga banyak dikenal nama-nama yang erat hubungannya dengan nama Rama. C. Pengaruh Agama Hindu di Australia Pengaruh Agama Hindu di Australia dapat kita lihat dari bukti berikut: - Di Australia ada suatu tarian sakral yang disebut Tarian Ciwa (Ciwa Dance). Para penari dari Tarian Ciwa ini menggambari dahi mereka dengan mata ketiga sehingga menghasilkan apa yang disebut Trinetra yang merupakan simbol dari Dewa Indra.

17 1.2 Penyebaran Agama Hindu ke Berbagai Daerah di Dunia 17 D. Pengaruh Agama Hindu di Peru Pengaruh Agama Hindu di Peru dapat kita lihat dari beberapa butir berikut: - Penduduk asli Peru yaitu Bangsa Inca, mengenal hari raya tahunan yang dirayakan pada saat matahari berada pada jarak terjauh dari katulistiwa (Kalau di Bali pada saat: Sasih Kenem (Desember) atau Sasih Sada (Juni). -Kata Inca mirip dengan kata Sanskerta Ina yang berarti matahari. Jadi mereka tergolong para pemuja Tuhan dalam wujud Dewa Surya (Adhitya) yang merupakan salah satu nama Dewa dalam Agama Hindu.

18 18 Bab 1. Sejarah Perkembangan Agama Hindu E. Pengaruh Agama Hindu di Mexico Pengaruh Agama Hindu di Mexico dapat kita lihat dari beberapa butir berikut: -DiMexicoadaHariRayaRama-Sita, yang dirayakan tepat pada perayaan Nawaratri. -DisiniterdapatsejumlahPatung Ganesa, yang merupakan simbol kebijaksanaan dalam Agama Hindu. - Nama dari penduduk asli Mexico, yaitu Bangsa Astec, berhubungan erat de-ngan nama Sanskerta Astika yang berarti: golongan (penganut) yang meyakini Ajaran Weda. F. Pengaruh Agama Hindu di California Pengaruh Agama Hindu di California dapat kita lihat dari bukti berikut: -KataCalifornia mungkin sekali berasal dari kata Sanskerta Kapila Arania, yang berarti Petala Loka yaitu negeri di balik Bumi. Hal ini juga benar dari kenyataan bahwa California terletak di Benua Amerika, yang letaknya di Bumi adalah di balik Benua Asia tempat Negara India.

19 1.3 Penyebaran Agama Hindu di Indonesia Penyebaran Agama Hindu di Indonesia Sebelum Agama Hindu menyebar ke Indonesia, di Indonesia telah ada kebudayaan yang kita sebut Kebudayaan Indonesia Asli. Penyebaran Agama Hindu ke Indonesia terutama lewat penyebaran secara tidak langsung yaitu lewat kontak dagang antara penduduk Indonesia dengan penduduk India, di samping juga adanyapararsidariindiayangmengajarkan Agama Hindu di Indonesia. Dengan berjalannya waktu, agama Hindu telah menyebar ke seluruh pelosok Indonesia. Sifat penduduk Indonesia dalam menghadapi kebudayaan luar adalah eksibel, yaitu mau menerima kebudayaan luar tetapi selektif atau menerimanya secara tidak langsung.

20 20 Bab 1. Sejarah Perkembangan Agama Hindu Sejarah penyebaran Agama Hindu di Indonesia dapat dilihat dari beberapa bukti sejarah berikut: (a) Peninggalan Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur Peninggalan tertua Agama Hindu di Indonesia terdapat di daerah Kutai, berupa "tulisan di atas batu" yang disebut Yupa. Tulisan ini menggunakan huruf Pallawa dan bahasa sanskerta. Semuanya ada tujuh buah Yupa. Pada salah satu Yupa terdapat tulisan yang berbunyi: * Srimato nrpa mukhyasya * Rajnah Sri Mulawarmanah * Danam punya tame ksetre * Yad dattam Waprakesware. Artinya: * Seorang raja yang mulia dan terkemuka, *BernamaRajaMulawarman, * Telah memberi dana punia ekor lembu, * Kepada para Brahmana yang bertempat tinggal di tanah suci Waprakesware.

21 1.3 Penyebaran Agama Hindu di Indonesia 21 Waprakesware adalah tempat suci yang berhubungan dengan Iswara. Pada Yupa lainnya terdapat keterangan bahwa Raja Mulawarman adalah putra dari Raja Aswawarman, dan Raja Aswawarman adalah putra dari Raja Kundungga.

22 22 Bab 1. Sejarah Perkembangan Agama Hindu (b) Peninggalan Prasati Batu Bertulis di daerah Jawa Barat - Peninggalan ini berupa "batu Bertulis" yang terdapat di daerah Bogor, di pinggir sungai Citarum. - Prasasti ini ditulis dengan menggunakan huruf Pallawa dan bahasa sanskerta, dan berbunyi sebagai berikut: * Wikrantasya wanipateh *SrimatahPurnawarmanah * Taruma Nagarendrasya * Wisnor eva pada dwayam. Artinya: * Tersebutlah seorang raja yang terkenal, * Yang bernama Raja Purnawarman, * Yang memerintah di Kerajaan Tarumanegara, * Telah menapakkan dua tapak kaki Wisnu.

23 1.3 Penyebaran Agama Hindu di Indonesia 23 (c) Prasasti Canggal - Prasasti ini berangka 732 masehi dan terletak di Jawa Tengah. - Pada prasasti ini disebutkan tentang pemujaan terhadap Ciwa, Brahma, dan Wisnu. Jadi telah mengenal konsep Trimurti. (d) Prasasti Dinoyo - Prasasti ini berangka 760 masehi dan ditemukandidaerahmalang. - Pada prasasti ini disebutkan: dilakukannya pemujaan secara khusus kepada Ciwa. (e) Prasasti Pereng - Prasasti ini berangka 863 masehi dan terletak di Jawa Tengah. -DisinidinyatakanpemujaanterhadapAgastya yang dipandang sebagai utusan Ciwa. (f) Peninggalan Agama Hindu di Bali - Agama Hindu menyebar ke Bali diperkirakan pada abad ke-8 dibawa oleh Rsi Markandeya. - Peninggalan Agama Hindu yang paling besar di Bali adalah Pura Besakih yang terletak di kaki Gunung Agung.

24 24 Bab 1. Sejarah Perkembangan Agama Hindu 1.4 Perkembangan Tantrayana di Indonesia Ajaran Hindu yang mula-mula menyebar ke Indonesia dapat dibedakan menjadi tiga paham atau aliran, yaitu: (a) Paham Brahmaisme (b) Paham Waisnawa (c) Paham Ciwaisme. Di antara ketiga paham ini, paham Ciwaisme yang dominan. Jadi sedikit berbeda dengan yang ada di India, di mana ketiganya memiliki kedudukan yang sama. Di samping Agama Hindu, di Indonesia juga berkembang Agama Buddha. Agama Buddha di Indonesia meliputi dua sekte yaitu: (a) Buddha Hinayana (b) Buddha Mahayana. Sekte Buddha Hinayana terlebih dahulu datang ke Indonesia, tetapi sekte ini tidak berkembang. Sekte yang berkembang adalah Buddha Mahayana.

25 1.4 Perkembangan Tantrayana di Indonesia 25 Buddha Mahayana yang menyebar ke Indonesia sebenarnya telah dipengaruhi oleh Ajaran Yogacarya dari Aliran Wajrayana. Dengan berkembangnya beberapa aliran (paham) secara bersama-sama, maka terjadilah apa yang disebut sinkritisme, yaitu: perpaduan antara dua paham atau aliran yang berbeda dan setelah luluh menjadi satu merupakan paham baru. Jika kedua paham yang bergabung memiliki kesamaan dasar, maka hal ini mempermudah terjadinya sinkritisme. Sinkritisme antara Ajaran Trimurti dengan Buddha Mahayana menghasilkan aliran baru yang disebut: Aliran Ciwa-Buddha. Aliran Ciwa-Buddha yang mengkhususkan pada pemujaan Sakti disebut: Aliran Tantrayana.

26 26 Bab 1. Sejarah Perkembangan Agama Hindu Beberapa bukti dari perkembangan Aliran Tantrayana di Indonesia adalah: (a) Prasasti Klurak (berangka 704 caka): Pada prasasti ini disebutkan tentang Dewa Manjusri yang melambangkan Tri Ratna. Tri Ratna terdiri atas: -Buddha -Dharma - Sanggha, yang pada hakekatnya identik dengan Ajaran Trimurti pada Aliran Ciwaisme. (b)prasastitaji(berangka828caka): Prasasti ini ditemukan di sebelah timur Candi Prambanan. Pada prasasti ini terdapat mantram yang berbunyi: Om namas ciwa namo Buddhaya. (Artinya: Om hormat kepada Ciwa dan Buddha. )

27 1.4 Perkembangan Tantrayana di Indonesia 27 (c) Lontar Sutasoma Di dalan Lontar Sutasoma gubahan Mpu Tantular ada sloka yang berbunyi: * Rwaneka dhatu winuwus wara Buddha wiswa * Bhineki rakwa ringapan kne parwanosen * Mangkang jinatwa kelawan Ciwa Tattwa tunggal * Bhineka Tunggal Ika tan hana Dharma mangrwa. Artinya: * Dikatakan ada dua datu (intisari yang mulia) yaitu Hyang Ciwa dan Buddha. * Konon itu berbeda, tetapi kapan dapat dipisahkan. *DemikianpadahakekatnyaCiwadanBuddha adalah tunggal. * Berbeda itu namun tunggal, tak ada Tuhan mendua.

28 28 Bab 1. Sejarah Perkembangan Agama Hindu Aliran Tantrayana ini umumnya hanya berkembang pada golongan tertentu, misalnya di lingkungan keraton dan dirahasiakan bagi masyarakat umum. Ciri-ciri aliran Tantrayana pada patung adalah: a. Membawa mangkok berisi darah, b. Membawa pisau, c. Berdiri di atas rangkaian tengkorak / mayat manusia / seekor binatang.

29 1.4 Perkembangan Tantrayana di Indonesia 29 Perkembangan lebih lanjut dari Aliran Tantrayana di Indonesia menimbulkan Paham Bhairawa, yang dapat dibedakan atas: 1. Bhairawa Kalacakra (dominan Buddhis). Aliran ini dianut oleh - Raja Kertanegara (di Jawa Timur), - Raja Adityawarman (di Sumatra Barat). 2. Bhairawa Bhima (dominan Ciwaisme). Peninggalan aliran ini terdapat di - Sekitar Candi Sukuh dan Ceta (di Jawa Timur), - Pura Kebo Edan (di Pejeng Bali) berupa Arca Bhima. 3. Bhairawa Heruka: - Ada pengaruh Tibet, - Lambangnya patung manusia berkepala kuda, - Terdapat di Padang Lawas (Aceh).

30 30 Bab 1. Sejarah Perkembangan Agama Hindu 1.5 Penutup Wahyu suci yang menjadi sumber Ajaran Hindu diterima oleh para Maha Rsi di India. Jadi ajaran ini berkembang dari daerah India. Agama Hindu yang merupakan agama tertua, dengan berjalannya waktu, ajarannya telah menyebar ke barbagai pelosok daerah di dunia. Berdasarkan fakta sejarah di mana Agama Hindu pernah berjaya di seluruh Indonesia, misalnya pada jaman kejayaan Majapahit dan Pajajaran, maka disadari atau tidak, Agama Hindu telah besar pengaruhnya untuk ikut menentukan kepribadian Bangsa Indonesia.

Jadi keenam unsur kepercayaan (keimanan) tersebut di atas merupakan kerangka isi Dharma (kerangka isi Agama Hindu). Bab 4 Dasar Kepercayaan Hindu

Jadi keenam unsur kepercayaan (keimanan) tersebut di atas merupakan kerangka isi Dharma (kerangka isi Agama Hindu). Bab 4 Dasar Kepercayaan Hindu Bab 4 Dasar Kepercayaan Hindu 4.1 Dasar Kepercayaan Hindu Bersumber Pada Atharwa Weda Dasar kepercayaan (keimanan) dalam agama Hindu disebut Sraddha, yang dinyatakan di dalam ayat suci Atharwa Weda berikut.

Lebih terperinci

MIMAMSA DARSANA. Oleh: IGN. Suardeyasa, S.Ag dkk

MIMAMSA DARSANA. Oleh: IGN. Suardeyasa, S.Ag dkk 1 MIMAMSA DARSANA Oleh: IGN. Suardeyasa, S.Ag dkk 1. Pendahuluan Agama Hindu berkembang ke seluruh dunia dengan kitab sucinya Weda, disesuaikan dengan budaya lokal (local genius). Sebagai payung dalam

Lebih terperinci

INTERAKSI KEBUDAYAAN

INTERAKSI KEBUDAYAAN Pengertian Akulturasi Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing

Lebih terperinci

17. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)

17. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 17. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama

Lebih terperinci

DESKRIPSI PEMELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU

DESKRIPSI PEMELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU DESKRIPSI PEMELAJARAN MATA DIKLAT TUJUAN DURASI PEMELA JARAN : PENDIDIKAN AGAMA HINDU : 1. Membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa serta berakhlak mulia

Lebih terperinci

16. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP)

16. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) 16. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya untuk

Lebih terperinci

16. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu untuk Sekolah Dasar (SD)

16. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu untuk Sekolah Dasar (SD) 16. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu untuk Sekolah Dasar (SD) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya untuk mewujudkan

Lebih terperinci

16. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP)

16. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) 16. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya untuk

Lebih terperinci

BAB II PEMBAHASAN. Kamajaya,Karkono,Kebudayaan jawa:perpaduannya dengan islam,ikapi,yogja,1995 2

BAB II PEMBAHASAN. Kamajaya,Karkono,Kebudayaan jawa:perpaduannya dengan islam,ikapi,yogja,1995 2 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Secara umum pendidikan adalah upaya menggali dan mengembangkan potensi yang dimiliki oleh setiap insan. Potensi itu berupa kemampuan berbahasa, berfikir, mengingat menciptakan

Lebih terperinci

BHINEKA TUNGGAL IKA MAKALAH. Disusun Guna Memenuhi Tugas. Mata Kuliah : Pendidikan Pancasila. Disusun Oleh : Aditya Mahendra ( )

BHINEKA TUNGGAL IKA MAKALAH. Disusun Guna Memenuhi Tugas. Mata Kuliah : Pendidikan Pancasila. Disusun Oleh : Aditya Mahendra ( ) BHINEKA TUNGGAL IKA MAKALAH Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah : Pendidikan Pancasila Dosen Pengampu : Yuli Nurkhasanah Disusun Oleh : Aditya Mahendra (1601026139) Ilham Fajryan Aviciena (1601026141)

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN ANALISIS DATA

BAB IV HASIL DAN ANALISIS DATA 51 BAB IV HASIL DAN ANALISIS DATA A. Ajaran Agama Hindu tentang Penghormatan kepada Lembu Dalam pandangan agama Hindu binatang lembu merupakan binatang yang dihormati dan diagungkan. Lembu merupakan binatang

Lebih terperinci

Kutai Tsabit Azinar Ahmad Jurusan Sejarah, Universitas Negeri Semarang

Kutai Tsabit Azinar Ahmad Jurusan Sejarah, Universitas Negeri Semarang Kutai Tsabit Azinar Ahmad Jurusan Sejarah, Universitas Negeri Semarang Lokasi Sumber-Sumber Yupa berhuruf Pallawa pada awal abad V dan menggunakan bahasa Sanskerta. Sampai sekarang ditemukan 7 Yupa yang

Lebih terperinci

Kerajaan Kutai. A. Berdirinya Kerajaan Kutai

Kerajaan Kutai. A. Berdirinya Kerajaan Kutai Kerajaan Kutai A. Berdirinya Kerajaan Kutai Letak Kerajaan Kutai berada di hulu sungai Mahakam, Kalimantan Timur yang merupakan Kerajaan Hindu tertua di Indonesia. Ditemukannya tujuh buah batu tulis yang

Lebih terperinci

BAB VII SEJARAH FILSAFAT INDIA

BAB VII SEJARAH FILSAFAT INDIA BAB VII SEJARAH FILSAFAT INDIA A. PENGANTAR 1. Pengaruh Alam Pemikiran filsafat umumnya sangat dipengaruhi keadaan alam tempat filsafat tersebut dilahirkan. India merupakan daerah damai yang dikelilingi

Lebih terperinci

27. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN AGAMA HINDU DAN BUDI PEKERTI SD

27. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN AGAMA HINDU DAN BUDI PEKERTI SD 27. KOMPETENSI INTI DAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU DAN BUDI PEKERTI SD KELAS: I Kompetensi Sikap Spiritual, Kompetensi Sikap Sosial, Kompetensi Pengetahuan, dan Kompetensi Keterampilan secara keseluruhan dirumuskan

Lebih terperinci

PENDIDIKAN AGAMA HINDU

PENDIDIKAN AGAMA HINDU Kurikulum 2004 PANDUAN MATERI UJIAN SEKOLAH TAHUN PELAJARAN 2004/2005 SD PENDIDIKAN AGAMA HINDU DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PUSAT PENILAIAN PENDIDIKAN Hak Cipta pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Negara menjamin setiap warga untuk memeluk agama masing-masing dan

BAB I PENDAHULUAN. Negara menjamin setiap warga untuk memeluk agama masing-masing dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Agama Hindu merupakan salah satu agama yang diakui di Indonesia. Negara menjamin setiap warga untuk memeluk agama masing-masing dan beribadah menurut agama dan kepercayaan

Lebih terperinci

3. Pengertian Hukum Karmaphala dalam Ajaran Agama Hindu adalah

3. Pengertian Hukum Karmaphala dalam Ajaran Agama Hindu adalah 1. Pengertian Atman adalah. a. Percikan terkecil dari Sang Hyang Widhi Wasa b. Tidak terlukai oleh api c. Tidak terlukai oleh senjata d. Tidak bergerak e. Subha Karma Wasa 2. Fungsi Atman dalam mahluk

Lebih terperinci

SMA/MA IPS kelas 10 - SEJARAH IPS BAB 4. INDONESIA MASA HINDU BUDHALatihan Soal 4.1

SMA/MA IPS kelas 10 - SEJARAH IPS BAB 4. INDONESIA MASA HINDU BUDHALatihan Soal 4.1 SMA/MA IPS kelas 10 - SEJARAH IPS BAB 4. INDONESIA MASA HINDU BUDHALatihan Soal 4.1 1. Agama Hindu berasal dari wilayah India kemdian tersebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Berikut ini merupakan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI... SAMPUL DEPAN... SAMPUL DALAM... LEMBAR PRASYARAT GELAR... LEMBAR PENGESAHAN... LEMBAR PENETAPAN PANITIA UJIAN... PERSYARATAN KEASLIAN...

DAFTAR ISI... SAMPUL DEPAN... SAMPUL DALAM... LEMBAR PRASYARAT GELAR... LEMBAR PENGESAHAN... LEMBAR PENETAPAN PANITIA UJIAN... PERSYARATAN KEASLIAN... 2 DAFTAR ISI SAMPUL DEPAN... SAMPUL DALAM... i ii LEMBAR PRASYARAT GELAR... LEMBAR PENGESAHAN... LEMBAR PENETAPAN PANITIA UJIAN... PERSYARATAN KEASLIAN... UCAPAN TERIMA KASIH... ABSTRAK... iii iv v vi

Lebih terperinci

SMA/MA IPS kelas 10 - SEJARAH IPS BAB 6. AKULTURASI BUDAYA INDONESIA DENGAN HINDU BUDHA DAN ISLAMLATIHAN SOAL BAB 6. Ksatria. Waisya.

SMA/MA IPS kelas 10 - SEJARAH IPS BAB 6. AKULTURASI BUDAYA INDONESIA DENGAN HINDU BUDHA DAN ISLAMLATIHAN SOAL BAB 6. Ksatria. Waisya. SMA/MA IPS kelas 10 - SEJARAH IPS BAB 6. AKULTURASI BUDAYA INDONESIA DENGAN HINDU BUDHA DAN ISLAMLATIHAN SOAL BAB 6 1. Berdasarkan letak geografis Indonesia yang berada dalam jalur perdagangan dunia, serta

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA BONTANG DINAS PENDIDIKAN KOTA BONTANG

PEMERINTAH KOTA BONTANG DINAS PENDIDIKAN KOTA BONTANG PEMERINTAH KOTA BONTANG DINAS PENDIDIKAN KOTA BONTANG TRY OUT 2 SMA/ SMK Tahun Pelajaran 2013/2014 Mata Pelajaran : Agama Hindu Hari/ Tanggal : Jumlah Soal : 50 Butir Soal Waktu : 120 Menit Petunjuk Umum

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Negara Indonesia merupakan Negara yang penuh dengan keanekaragaman Suku Bangsa, Bahasa, Agama, dan Kebudayaan. Keberagaman budaya bangsa Indonesia bukan berarti untuk

Lebih terperinci

RENCANA PROGRAM KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RPKPS)

RENCANA PROGRAM KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RPKPS) RENCANA PROGRAM KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RPKPS) 1. Nama Mata Kuliah : Filsafat India Pra Modern 2. Kode/SKS : FIF 1306/ 3 SKS 3. Prasarat : ------ 4. Status : Wajib 5. Deskripsi Mata Kuliah Materi

Lebih terperinci

TUGAS AGAMA DEWA YADNYA

TUGAS AGAMA DEWA YADNYA TUGAS AGAMA DEWA YADNYA NAMA ANGGOTA KELOMPOK 7 KETUT ALIT WIRA ADI KUSUMA (05) ( KETUA ) NI LUH LINA ANGGRENI (27) ( SEKETARIS ) NI LUH DIAH CITRA URMILA DEWI (14) I PUTU PARWATA (33) SMP N 2 RENDANG

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dijumpai di masyarakat. Karya sastra ini mengandung banyak nilai dan persoalan

BAB I PENDAHULUAN. dijumpai di masyarakat. Karya sastra ini mengandung banyak nilai dan persoalan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Karya sastra tradisional yang tersimpan dalam naskah lontar banyak dijumpai di masyarakat. Karya sastra ini mengandung banyak nilai dan persoalan yang berhubungan

Lebih terperinci

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN NO: 1 Mata Pelajaran : Program Studi IPA (Sejarah) Kelas/Semester : XI/1 Materi Pokok : Kerajaan Kutai dan Tarumanegara Pertemuan Ke- : 1 Alokasi Waktu : 1 x pertemuan

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang Permasalahan

UKDW BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang Permasalahan BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Permasalahan Sebagai salah satu pulau di Indonesia, Bali memiliki daya tarik yang luar biasa. Keindahan alam dan budayanya menjadikan pulau ini terkenal dan banyak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keragaman tradisi, karena di negeri ini dihuni oleh lebih dari 700-an suku bangsa

BAB I PENDAHULUAN. keragaman tradisi, karena di negeri ini dihuni oleh lebih dari 700-an suku bangsa 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Selain memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, Indonesia juga memiliki keragaman tradisi, karena di negeri ini dihuni oleh lebih dari 700-an suku bangsa dan sub-suku

Lebih terperinci

BAB 5 KESIMPULAN PENELITIAN

BAB 5 KESIMPULAN PENELITIAN BAB 5 KESIMPULAN PENELITIAN Para ahli yang mengemukakan pendapatnya mengenai pembagian gaya seni candi masa Majapahit maupun Jawa Timur antara lain adalah: Pitono Hardjowardojo (1981), Hariani Santiko

Lebih terperinci

Fungsi agama dalam pemerintahan pada masa kejayaan majapahit (abad ke-14 masehi) HB. Hery Santosa

Fungsi agama dalam pemerintahan pada masa kejayaan majapahit (abad ke-14 masehi) HB. Hery Santosa Perpustakaan Universitas Indonesia >> UI - Tesis (Membership) Fungsi agama dalam pemerintahan pada masa kejayaan majapahit (abad ke-14 masehi) HB. Hery Santosa Deskripsi Dokumen: http://lib.ui.ac.id/opac/ui/detail.jsp?id=74007&lokasi=lokal

Lebih terperinci

BAB III GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN

BAB III GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN 33 BAB III GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN A. Gresik 1. Letak Geografis Gresik Gresik terletak di Pantai Utara Pulau Jawa tepatnya di sebelah barat laut Kota Surabaya. Luas wilayah Kabupaten Gresik adalah

Lebih terperinci

SILABUS SEKOLAH MENENGAH PERTAMA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU DAN BUDI PEKERTI

SILABUS SEKOLAH MENENGAH PERTAMA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU DAN BUDI PEKERTI SILABUS SEKOLAH MENENGAH PERTAMA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU DAN BUDI PEKERTI Satuan Pendidikan : SMP MAHATMA GANDHI Mata Pelajaran : dan Budi Pekerti Kelas : VII Kompetensi Inti : KI 1 : menghargai

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DATA. A. Deskripsi aktivitas keagamaan menurut pemikiran Joachim Wach

BAB IV ANALISIS DATA. A. Deskripsi aktivitas keagamaan menurut pemikiran Joachim Wach BAB IV ANALISIS DATA A. Deskripsi aktivitas keagamaan menurut pemikiran Joachim Wach Dalam teori Joachim wach dapat diamati dalam tiga bentuk ekspressi keagamaan atau pengalaman beragama baik individu

Lebih terperinci

SD kelas 4 - BAHASA INDONESIA BAB 1. INDAHNYA KEBERSAMAANLatihan Soal 1.7

SD kelas 4 - BAHASA INDONESIA BAB 1. INDAHNYA KEBERSAMAANLatihan Soal 1.7 SD kelas 4 - BAHASA INDONESIA BAB 1. INDAHNYA KEBERSAMAANLatihan Soal 1.7 1. Sejarah Sunda Kata Sunda artinya Bagus/ Baik/ Putih/ Bersih/ Cemerlang, segala sesuatu yang mengandung unsur kebaikan, orang

Lebih terperinci

Kata kunci: Akulturasi, Budaya, Agama

Kata kunci: Akulturasi, Budaya, Agama Akulturasi Agama Hindu Hindu di Indonesia Oleh:Muslimin Abstrak Sebagai sebuah negara besar Indonesia merupakan negara yang penduduknya hiterogen dan bersifat multidimensional. Dengan beragam budaya, suku,

Lebih terperinci

David J. Stuart Fox, penulis buku Pura Besakih; Pura, Agama,

David J. Stuart Fox, penulis buku Pura Besakih; Pura, Agama, IDG Windhu Sancaya Pura Besakih: Di antara Legenda dan Sejarah Penguasa Bali IDG Windhu Sancaya* Judul buku : Pura Besakih; Pura, Agama, dan Masyarakat Bali Penulis : David J. Stuart Fox Penerjemah: Ida

Lebih terperinci

21. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Buddha untuk Sekolah Dasar (SD)

21. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Buddha untuk Sekolah Dasar (SD) 21. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Buddha untuk Sekolah Dasar (SD) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya untuk mewujudkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gambar 1.1 Gambar 1.2

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gambar 1.1 Gambar 1.2 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan tempat wisata, meliputi wisata alam, budaya hingga sejarah ada di Indonesia. Lokasi Indonesia yang berada di daerah

Lebih terperinci

E. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN AGAMA HINDU DAN BUDI PEKERTI SDLB TUNANETRA

E. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN AGAMA HINDU DAN BUDI PEKERTI SDLB TUNANETRA - 446 - E. KOMPETENSI INTI DAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU DAN BUDI PEKERTI SDLB TUNANETRA KELAS : I Kompetensi Sikap Spiritual, Kompetensi Sikap Sosial, Kompetensi Pengetahuan, dan Kompetensi Keterampilan

Lebih terperinci

D. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN AGAMA HINDU DAN BUDI PEKERTI SDLB TUNADAKSA

D. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN AGAMA HINDU DAN BUDI PEKERTI SDLB TUNADAKSA - 1254 - D. KOMPETENSI INTI DAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU DAN BUDI PEKERTI SDLB TUNADAKSA KELAS : I Kompetensi Sikap Spiritual, Kompetensi Sikap Sosial, Kompetensi Pengetahuan, dan Kompetensi Keterampilan

Lebih terperinci

D. Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti

D. Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti D. Pendidikan dan Budi Pekerti Satuan Pendidikan : SMA Kelas : X (sepuluh) Kompetensi Inti : KI 1 : Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya KI 2 : Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur,

Lebih terperinci

Fungsi Produk Seni Kerajinan Ukir Kayu Guwang

Fungsi Produk Seni Kerajinan Ukir Kayu Guwang Fungsi Produk Seni Kerajinan Ukir Kayu Guwang Oleh: Ni Kadek Karuni Dosen PS Kriya Seni Feldman menjelaskan bahwa fungsi-fungsi seni yang sudah berlangsung sejak zaman dahulu adalah untuk memuaskan: (1)

Lebih terperinci

KISI-KISI PENYUSUNAN SOAL UJIAN SEKOLAH PENYUSUN : 1. A. ARDY WIDYARSO, DRS. ID NO :

KISI-KISI PENYUSUNAN SOAL UJIAN SEKOLAH PENYUSUN : 1. A. ARDY WIDYARSO, DRS. ID NO : KISI-KISI PENYUSUNAN SOAL UJIAN SEKOLAH JENJANG PENDIDIKAN : PENDIDIKAN DASAR SATUAN PENDIDIKAN : SEKOLAH DASAR (/MI) MATA PELAJARAN : ILMU PENGETAHUAN SOSIAL (IPS) ALOKASI WAKTU : 120 MENIT JUMLAH SOAL

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Secara etimologis multimedia berasal dari kata multi (Bahasa Latin, nouns) yang berarti

BAB II LANDASAN TEORI. Secara etimologis multimedia berasal dari kata multi (Bahasa Latin, nouns) yang berarti BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Multimedia Secara etimologis multimedia berasal dari kata multi (Bahasa Latin, nouns) yang berarti banyak, bermacam-macam, dan medium (Bahasa Latin) yang berarti sesuatu yang

Lebih terperinci

D. Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti

D. Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti D. Pendidikan dan Budi Pekerti Satuan Pendidikan : SMP Kelas : VII (Tujuh) Kompetensi Inti : KI 1 : Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya KI 2 : Menghargai dan menghayati perilaku jujur,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sumber ajaran agama Hindu yang tertua adalah Veda. Semua ajaran agama Hindu dijiwai oleh ajaran Veda, walaupun sering dalam bentuk yang berbeda. Semangat ajaran Veda

Lebih terperinci

SYARAT KECAKAPAN UMUM PRAMUKA TINGKAT PENGGALANG RAMU

SYARAT KECAKAPAN UMUM PRAMUKA TINGKAT PENGGALANG RAMU SYARAT KECAKAPAN UMUM PRAMUKA TINGKAT PENGGALANG RAMU NO SYARAT KECAKAPAN UMUM TANGGAL PARAF 1 Selalu taat berjamaah menjalankan ibadah agamanya secara pribadi ataupun 2 Dapat mengetahui dan menjelaskan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS. mereka yang menganut agama Hindu yang berdomisili di Banjarmasin mengenai

BAB IV ANALISIS. mereka yang menganut agama Hindu yang berdomisili di Banjarmasin mengenai BAB IV ANALISIS Setelah melakukan penelitian secara langsung kepada para reponden, yaitu mereka yang menganut agama Hindu yang berdomisili di Banjarmasin mengenai konsep Catur Warna dalam agama Hindu.

Lebih terperinci

UNIVERSITAS GADJAH MADA

UNIVERSITAS GADJAH MADA UNIVERSITAS GADJAH MADA BAHAN AJAR MATA KULIAH DOSEN FAKULTAS : FILSAFAT INDIA PRA MODERN : DRS. WAGIYO, M.S. : FILSAFAT FILSAFAT INDIA PRA MODERN A. Pendahuluan 1. Pengertian Filsafat India Pengertian

Lebih terperinci

Kerajaan Mataram Kuno

Kerajaan Mataram Kuno Kerajaan Mataram Kuno KELOMPOK 4 : ADI AYU RANI DEYDRA BELLA A. GHANA N.P. PUSAKHA S.W.Q (01) (Notulen) (08) (Moderator) (11) (Anggota) (20) (Ketua) Kerajaan Mataram (Hindu-Buddha), sering disebut dengan

Lebih terperinci

BAB III BUDAYA DAN ALAM PIKIR MASA PENGARUH KEBUDAYAAN HINDU DAN BUDHA

BAB III BUDAYA DAN ALAM PIKIR MASA PENGARUH KEBUDAYAAN HINDU DAN BUDHA BAB III BUDAYA DAN ALAM PIKIR MASA PENGARUH KEBUDAYAAN HINDU DAN BUDHA A. Pengaruh kebudayaan Hindu dan Budha Koentjaraningrat (1997) menyusun uraian, bahwa tanda-tanda tertua dari adanya pengaruh kebudayaan

Lebih terperinci

Konsep Ibadah Dalam Hindu

Konsep Ibadah Dalam Hindu Konsep Ibadah Dalam Hindu Oleh: abu bakar Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Sultan Syarif Kasim Riau abstract Dalam agama Hindu mempunyai lima keyakinan pokok yang saling berkaitan antara satu dengan yang

Lebih terperinci

M, 2016 PENINGKATKAN KREATIVITAS SISWA MELALUI MODEL PROJECT BASED LEARNING MENGGUNAKAN MEDIA FLIP CHART DALAM PEMBELAJARAN IPS

M, 2016 PENINGKATKAN KREATIVITAS SISWA MELALUI MODEL PROJECT BASED LEARNING MENGGUNAKAN MEDIA FLIP CHART DALAM PEMBELAJARAN IPS LAMPIRAN Lampiran 1 Rencana Pelaksanaan Pelajaran Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Sekolah : SMP N 44 Bandung Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas/Semester : VII/2 Standar Kompetensi :

Lebih terperinci

KURIKULUM 2004 STANDAR KOMPETENSI. Mata Pelajaran

KURIKULUM 2004 STANDAR KOMPETENSI. Mata Pelajaran KURIKULUM 2004 STANDAR KOMPETENSI Mata Pelajaran PENDIDIKAN AGAMA HINDU SEKOLAH MENENGAH ATAS DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL Jakarta, Tahun 2003 Katalog dalam Terbitan Indonesia. Pusat Kurikulum, Badan

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. 1. Konsep Tuhan Dalam Perspektif Agama Islam, Kristen, Dan Hindu. berbilang tidak bergantung pada siapa-siapa melainkan ciptaan-nyalah

BAB V PENUTUP. 1. Konsep Tuhan Dalam Perspektif Agama Islam, Kristen, Dan Hindu. berbilang tidak bergantung pada siapa-siapa melainkan ciptaan-nyalah 124 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan 1. Konsep Tuhan Dalam Perspektif Agama Islam, Kristen, Dan Hindu Antara Lain: Agama Islam Tuhan adalah Allah, Esa, Ahad, Ia merupakan dirin-nya sendiri tunggal dalam sifatnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Agama Hindu merupakan agama tertua didunia dan masih ada hingga saat ini.

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Agama Hindu merupakan agama tertua didunia dan masih ada hingga saat ini. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Agama Hindu merupakan agama tertua didunia dan masih ada hingga saat ini. Agama Hindu merupakan agama yang mempercayai banyak dewa dan dewi yang tersebar menurut fungsinya

Lebih terperinci

LAMPIRAN 1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Siklus I

LAMPIRAN 1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Siklus I LAMPIRAN 67 LAMPIRAN 1 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Siklus I 68 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Satuan Pendidikan : SD Negeri Kutowinangun 04 Mata Pelajaran : IPS Kelas : 5 (lima) Semester :

Lebih terperinci

PROSES MASUK DAN BERKEMBANGNYA AGAMA SERTA KEBUDAYAAN HINDU-BUDHA DI INDONESIA

PROSES MASUK DAN BERKEMBANGNYA AGAMA SERTA KEBUDAYAAN HINDU-BUDHA DI INDONESIA PROSES MASUK DAN BERKEMBANGNYA AGAMA SERTA KEBUDAYAAN HINDU-BUDHA DI INDONESIA Setelah mempelajari modul ini Anda diharapkan dapat: 1. menjelaskan proses masuknya agama Hindu-Budha ke Indonesia; dan 2.

Lebih terperinci

DESKRIPSI KARYA SARADPULAGEMBAL THE SYMBOL OF TRI LOKA

DESKRIPSI KARYA SARADPULAGEMBAL THE SYMBOL OF TRI LOKA DESKRIPSI KARYA SARADPULAGEMBAL THE SYMBOL OF TRI LOKA I GUSTI NGURAH WIRAWAN, S.Sn., M.Sn NIP : 198204012014041001 INSTITUT SENI INDONESIA DENPASAR 2016 ABSTRAK Saradpulagembal, seperti halnya sesajen

Lebih terperinci

FILSAFAT SAMKHYA AJARAN DINAMISME DALAM HINDU

FILSAFAT SAMKHYA AJARAN DINAMISME DALAM HINDU FILSAFAT SAMKHYA AJARAN DINAMISME DALAM HINDU I K. Suparta Program Studi Pendidikan Agama Hindu STAH Dharma Sentana Sulawesi Tengah Email: padmabuana@yahoo.co.id ABSTRAK Konsep Ke-Tuhanan dalam Hindu merupakan

Lebih terperinci

BAB 5 KESIMPULAN. Universitas Indonesia. Hubungan Malayu..., Daulat Fajar Yanuar, FIB UI, 2009

BAB 5 KESIMPULAN. Universitas Indonesia. Hubungan Malayu..., Daulat Fajar Yanuar, FIB UI, 2009 91 BAB 5 KESIMPULAN Pada masa Jawa Kuno, raja merupakan pemegang kekuasaan dan otoritas tertinggi dalam pemerintahan. Seorang raja mendapatkan gelarnya berdasarkan hak waris yang sifatnya turun-temurun

Lebih terperinci

KURIKULUM 2004 STANDAR KOMPETENSI. Mata Pelajaran

KURIKULUM 2004 STANDAR KOMPETENSI. Mata Pelajaran KURIKULUM 2004 STANDAR KOMPETENSI Mata Pelajaran PENDIDIKAN AGAMA HINDU SEKOLAH MENENGAH PERTAMA DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL Jakarta, Tahun 2003 Katalog dalam Terbitan Indonesia. Pusat Kurikulum, Badan

Lebih terperinci

Mahapuja Satyabuddha

Mahapuja Satyabuddha Mahapuja Satyabuddha Seorang sadhaka Tantrayana, setiap kali bersadhana, harus memberikan persembahan. Dalam Catur Prayoga, merupakan Persembahan Mandala. Saya pernah berkata, Manusia di dunia ini, kalau

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. untuk bersemayam para dewa (Fontein, 1972: 14). Dalam kamus besar

BAB I PENDAHULUAN. untuk bersemayam para dewa (Fontein, 1972: 14). Dalam kamus besar BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Candi adalah bangunan yang menggunakan batu sebagai bahan utamanya. Bangunan ini merupakan peninggalan masa kejayaan Hindu Budha di Indonesia. Candi dibangun

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara kepulauan yang sangat luas yang masyarakatnya terdiri

I. PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara kepulauan yang sangat luas yang masyarakatnya terdiri 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia adalah negara kepulauan yang sangat luas yang masyarakatnya terdiri dari beragam suku, ras, budaya, dan agama. Salah satu di antaranya adalah suku Bali yang

Lebih terperinci

PELAKSANAAN TRI HITA KARANA DALAM KEHIDUPAN UMAT HINDU. Oleh : Drs. I Made Purana, M.Si Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Dwijendra

PELAKSANAAN TRI HITA KARANA DALAM KEHIDUPAN UMAT HINDU. Oleh : Drs. I Made Purana, M.Si Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Dwijendra PELAKSANAAN TRI HITA KARANA DALAM KEHIDUPAN UMAT HINDU Oleh : Drs. I Made Purana, M.Si Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Dwijendra Abstrak Tri Hita Karana pada hakikatnya adalah sikap hidup

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. berdasarkan fungsi yang dilaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Jika

1. PENDAHULUAN. berdasarkan fungsi yang dilaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Jika 1 1. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kasta merupakan suatu sistem pembagian atau pengelompokan masyarakat berdasarkan fungsi yang dilaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Jika seseorang tersebut bekerja

Lebih terperinci

SMA/MA IPS kelas 10 - SEJARAH IPS BAB 4. INDONESIA MASA HINDU BUDHALatihan Soal 4.4. Pasasti Yupa

SMA/MA IPS kelas 10 - SEJARAH IPS BAB 4. INDONESIA MASA HINDU BUDHALatihan Soal 4.4. Pasasti Yupa SMA/MA IPS kelas 10 - SEJARAH IPS BAB 4. INDONESIA MASA HINDU BUDHALatihan Soal 4.4 1. Kerajaan Kutai adalah kerajaan Hindu tertua di Indonesia. Bukti yang memperkuat adanya kerajaan Kutai di Indonesia

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG LAMBANG DAERAH KABUPATEN JEMBRANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEMBRANA,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG LAMBANG DAERAH KABUPATEN JEMBRANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEMBRANA, SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG LAMBANG DAERAH KABUPATEN JEMBRANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEMBRANA, Menimbang : a. bahwa Pemerintah Kabupaten Jembrana

Lebih terperinci

SILABUS PEMBELAJARAN

SILABUS PEMBELAJARAN SILABUS PEMBELAJARAN Sekolah : SMP Kelas : IX/Sembilan Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Hindu Semester : I Standar : Sradha 1. Memahami Awatara, Dewata 1.1 Menguraikan pengertian Awatara, Dewa 1.2 Menguraikan

Lebih terperinci

Forum Bina Prestasi DI UNDUH DARI YUDHISTIRA LEARNING CENTER. Anggota Ikapi

Forum Bina Prestasi DI UNDUH DARI YUDHISTIRA LEARNING CENTER. Anggota Ikapi Forum Bina Prestasi Anggota Ikapi Pendalaman Buku Teks Tematik Pahlawanku 4E Kelas IV SD Penyusun Forum Bina Prestasi Pramita Indriani Damarasih Sumiyono Untari Teguh Purwantari Sutarman Editor Indriani

Lebih terperinci

TRISATYA DASADARMA PRAMUKA

TRISATYA DASADARMA PRAMUKA PANCASILA 1. Ketuhanan Yang Maha Esa 2. Kemanusiaan yang adil dan beradab 3. Persatuan Indonesia 4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratn/perwakilan 5. Keadilan sosial

Lebih terperinci

SMA/MA IPS kelas 10 - SEJARAH IPS BAB 4. INDONESIA MASA HINDU BUDHALatihan Soal 4.2

SMA/MA IPS kelas 10 - SEJARAH IPS BAB 4. INDONESIA MASA HINDU BUDHALatihan Soal 4.2 SMA/MA IPS kelas 10 - SEJARAH IPS BAB 4. INDONESIA MASA HINDU BUDHALatihan Soal 4.2 1. Persentuhan antara India dengan wilayah Nusantara didorong oleh berbagai faktor, salah satu faktor yang paling penting

Lebih terperinci

BAB 3 KAJIAN TIPOMORFOLOGI ARSITEKTUR PERCANDIAN BATUJAYA

BAB 3 KAJIAN TIPOMORFOLOGI ARSITEKTUR PERCANDIAN BATUJAYA BAB 3 KAJIAN TIPOMORFOLOGI ARSITEKTUR PERCANDIAN BATUJAYA 3.1. Tata letak Perletakan candi Batujaya menunjukkan adanya indikasi berkelompok-cluster dan berkomposisi secara solid void. Komposisi solid ditunjukkan

Lebih terperinci

SENI ORNAMEN DALAM KONTEKS BUDAYA MELAYU RIAU

SENI ORNAMEN DALAM KONTEKS BUDAYA MELAYU RIAU SENI ORNAMEN DALAM KONTEKS BUDAYA MELAYU RIAU Purwo Prihatin Abstrak Tulisan ini untuk mengungkapkan seni ornamen dalam konteks budaya masyarakat Melayu Riau. Berkaitan dengan itu maka pelacakannya dilakukan

Lebih terperinci

Kelas V Semester 1. I. Berilah tanda silang (X) pada huruf a,b,c, atau d di depan jawaban yang paling benar!

Kelas V Semester 1. I. Berilah tanda silang (X) pada huruf a,b,c, atau d di depan jawaban yang paling benar! Kelas V Semester 1 Standar Kompetensi : : Kemampuan memahami: (1) Keragaman kenampakan alam, sosial, budaya, dan kegiatan ekonomi di Indonesia; (2) Perjalanan bangsa Indonesia pada masa Hindu- Buddha,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. di Bali, perlu dimengerti sumbernya. Terdapat prinsip Tri Hita Karana dan Tri Rna

BAB I PENDAHULUAN. di Bali, perlu dimengerti sumbernya. Terdapat prinsip Tri Hita Karana dan Tri Rna 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bali telah terkenal dengan kebudayaannya yang unik, khas, dan tumbuh dari jiwa Agama Hindu, yang tidak dapat dipisahkan dari keseniannya dalam masyarakat yang berciri

Lebih terperinci

22. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Buddha untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)

22. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Buddha untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 22. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Buddha untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG HARI JADI KABUPATEN SEMARANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SEMARANG,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG HARI JADI KABUPATEN SEMARANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SEMARANG, BUPATI SEMARANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG HARI JADI KABUPATEN SEMARANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SEMARANG, Menimbang : a. bahwa berdasarkan catatan dan

Lebih terperinci

KETUHANAN YANG MAHA ESA

KETUHANAN YANG MAHA ESA Tugas Akhir Mata Kuliah Pancasila Judul Makalah : KETUHANAN YANG MAHA ESA Disusun Oleh : Nama : Dewi Retno Ningsih NIM : 11.02.7993 Kelompok : A Program Studi : D3 Jurusan Dosen : Manajemen Informatika

Lebih terperinci

Agama - agama HINDU. Michael Keene

Agama - agama HINDU. Michael Keene Agama - agama Michael Keene 1 2 HINDU Asal usul : Berakar pada tradisi sejarah bangsa India, dilacak setting waktunya awal milenium 2 SM (1800 SM). Dijumpai pertama ada dalam budaya kelompok orang indus,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pariwisata merupakan industri global yang bersifat fenomenal. Pariwisata penting bagi negara karena menghasilkan devisa dan

BAB I PENDAHULUAN. Pariwisata merupakan industri global yang bersifat fenomenal. Pariwisata penting bagi negara karena menghasilkan devisa dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Alasan Pemilihan Judul Pariwisata merupakan industri global yang bersifat fenomenal. Perkembangan kepariwisataan dunia dari tahun ke tahun semakin meningkat baik dari jumlah wisatawan

Lebih terperinci

EKSISTENSI PURA TELEDU NGINYAH PADA ERA POSMODERN DI DESA GUMBRIH KECAMATAN PEKUTATAN KABUPATEN JEMBRANA (Perspektif Pendidikan Agama Hindu)

EKSISTENSI PURA TELEDU NGINYAH PADA ERA POSMODERN DI DESA GUMBRIH KECAMATAN PEKUTATAN KABUPATEN JEMBRANA (Perspektif Pendidikan Agama Hindu) EKSISTENSI PURA TELEDU NGINYAH PADA ERA POSMODERN DI DESA GUMBRIH KECAMATAN PEKUTATAN KABUPATEN JEMBRANA (Perspektif Pendidikan Agama Hindu) Ni Putu Sri Ratna Dewi Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Lebih terperinci

Ekonomi dan Bisnis Akuntansi

Ekonomi dan Bisnis Akuntansi Modul ke: Pancasila Kajian sejarah perjuangan bangsa Indonesia Fakultas Ekonomi dan Bisnis Yuvinus Elyus, Amd. IP., SH., MH. Program Studi Akuntansi www.mercubuana.ac.id Lahirnya Pancasila Pancasila yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Agama memiliki hubungan yang erat dengan kebudayaan. Banyak

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Agama memiliki hubungan yang erat dengan kebudayaan. Banyak BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Agama memiliki hubungan yang erat dengan kebudayaan. Banyak bangunan-bangunan megah yang sengaja dibangun oleh tangan-tangan manusia sebagai wujud berdiamnya Allah di

Lebih terperinci

Latihan Ulangan Semester 1 Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas V

Latihan Ulangan Semester 1 Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas V Latihan Ulangan Semester 1 Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas V A. Berilah tanda silang (X) pada huruf a,b, c atau d di depan jawaban yang benar! 1. Perhatikan hal-hal berikut! 1. Jataka 2. Kamadatu 3. Awadana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bangsa Indonesia. Agama ini pernah berkembang pesat dan menjadi bagian

BAB I PENDAHULUAN. bangsa Indonesia. Agama ini pernah berkembang pesat dan menjadi bagian BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Agama Buddha tidak pernah bisa dilepaskan dari perkembangan sejarah bangsa Indonesia. Agama ini pernah berkembang pesat dan menjadi bagian kehidupan masyarakat Indonesia

Lebih terperinci

Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila telah ada di Indonesia pada bangsa Indonesia sejak zaman dahulu sebelum bangsa Indonesia terbentuk

Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila telah ada di Indonesia pada bangsa Indonesia sejak zaman dahulu sebelum bangsa Indonesia terbentuk Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila telah ada di Indonesia pada bangsa Indonesia sejak zaman dahulu sebelum bangsa Indonesia terbentuk Proses perumusan materi Pancasila secara formal dilakukan

Lebih terperinci

BAB III TINJAUAN KHUSUS

BAB III TINJAUAN KHUSUS BAB III TINJAUAN KHUSUS 3.1 Tinjauan Tema Berikut ini merupakan tinjauan dari tema yang akan diterapkan dalam desain perencanaan dan perancangan hotel dan konvensi. 3.1.1 Arsitektur Heritage Perencanaan

Lebih terperinci

BAB IV RESPON MASYARAKAT MUSLIM TERHADAP TRADISI RUWATAN BULAN PURNAMA. A. Masyarakat Umum di Komplek Candi Brahu

BAB IV RESPON MASYARAKAT MUSLIM TERHADAP TRADISI RUWATAN BULAN PURNAMA. A. Masyarakat Umum di Komplek Candi Brahu 54 BAB IV RESPON MASYARAKAT MUSLIM TERHADAP TRADISI RUWATAN BULAN PURNAMA A. Masyarakat Umum di Komplek Candi Brahu Dalam suatu aktivitas budaya pasti melibatkan elemen masyarakat, dimana dalam lingkup

Lebih terperinci

34. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN AGAMA HINDU DAN BUDI PEKERTI SMP

34. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN AGAMA HINDU DAN BUDI PEKERTI SMP 34. KOMPETENSI INTI DAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU DAN BUDI PEKERTI SMP KELAS: VII Kompetensi Sikap Spiritual, Kompetensi Sikap Sosial, Kompetensi Pengetahuan, dan Kompetensi Keterampilan secara keseluruhan

Lebih terperinci

PURUSADA SANTHA (BABAK I)

PURUSADA SANTHA (BABAK I) DESKRIPSI KARYA TARI ORATORIUM PURUSADA SANTHA (BABAK I) Oleh : I Gede Oka Surya Negara, SST.,M.Sn. Produksi ISI Denpasar dipergelarkan dalam rangka Dharma Santi Nasional,Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun

Lebih terperinci

BAB 2 DATA DAN ANALISA. - Buku Rupa Wayang Dalam Seni Rupa Kontemporer Indonesia. - Buku Indonesian Heritage Performing Arts.

BAB 2 DATA DAN ANALISA. - Buku Rupa Wayang Dalam Seni Rupa Kontemporer Indonesia. - Buku Indonesian Heritage Performing Arts. 3 BAB 2 DATA DAN ANALISA 2.1 Data Dan Literatur Metode penelitian yang digunakan: Literatur : - Buku Rupa Wayang Dalam Seni Rupa Kontemporer Indonesia. - Buku Indonesian Heritage Performing Arts. - Buku

Lebih terperinci

Kapan Boleh Menikah? Koran TOKOH No. 514/Tahun X, November Usia Perkawinan Menurut Hukum Adat Bali

Kapan Boleh Menikah? Koran TOKOH No. 514/Tahun X, November Usia Perkawinan Menurut Hukum Adat Bali Kapan Boleh Menikah? Koran TOKOH No. 514/Tahun X, 16 22 November 2008. Kapan Boleh Menikah? Usia Perkawinan Menurut Hukum Adat Bali DEWASA atau belumnya seseorang niscaya sudah ditentukan batasnya. Sebelum

Lebih terperinci

KARYA ILMIAH: KARYA SENI MONUMENTAL JUDUL KARYA: MELASTI PENCIPTA: A.A Gde Bagus Udayana, S.Sn.,M.Si. Art Exhibition

KARYA ILMIAH: KARYA SENI MONUMENTAL JUDUL KARYA: MELASTI PENCIPTA: A.A Gde Bagus Udayana, S.Sn.,M.Si. Art Exhibition KARYA ILMIAH: KARYA SENI MONUMENTAL JUDUL KARYA: MELASTI PENCIPTA: A.A Gde Bagus Udayana, S.Sn.,M.Si Art Exhibition Indonesian Institute of the Arts Denpasar Okinawa Prefectural University of Art OPUA

Lebih terperinci

Kehidupan Agung dan Prajna yang Tak Terbayangkan (Unfathomable Exalted Life and Transcendental Wisdom).

Kehidupan Agung dan Prajna yang Tak Terbayangkan (Unfathomable Exalted Life and Transcendental Wisdom). Sutra Panjang Umur Tse.do Inilah sutra Mahayana yang disebut Kehidupan Agung dan Prajna yang Tak Terbayangkan (Unfathomable Exalted Life and Transcendental Wisdom). Diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh

Lebih terperinci

SIMBOL RAMA DALAM EPOS RAMAYANA BAGI RAJA DAN MASYARAKAT JAWA. Wachid Eko Purwanto. Abstract

SIMBOL RAMA DALAM EPOS RAMAYANA BAGI RAJA DAN MASYARAKAT JAWA. Wachid Eko Purwanto. Abstract SIMBOL RAMA DALAM EPOS RAMAYANA BAGI RAJA DAN MASYARAKAT JAWA Wachid Eko Purwanto Abstract Epic Ramayana is an ancient epics, written in seven kanda consists of 24,000 sloka. Epic Ramayana appeared in

Lebih terperinci

KERAJAAN TARUMANEGARA

KERAJAAN TARUMANEGARA KERAJAAN TARUMANEGARA Kerajaan Tarumanegara merupakan kerajaan tertua kedua setelah kerajaan Kutai, terletak di Jawa Barat. Seperti halnya dengan kerajaan Kutai, kerajaan Tarumanegara juga prasasti-prasastinya

Lebih terperinci

BHISAMA SABHA PANDITA PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA PUSAT Nomor: 05/Bhisama/Sabha Pandita PHDI/VIII/2005 Tentang

BHISAMA SABHA PANDITA PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA PUSAT Nomor: 05/Bhisama/Sabha Pandita PHDI/VIII/2005 Tentang BHISAMA SABHA PANDITA PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA PUSAT Nomor: 05/Bhisama/Sabha Pandita PHDI/VIII/2005 Tentang TATA PENGGUNAAN SUMBER DAYA HAYATI LANGKA DAN/ATAU YANG TERANCAM PUNAH DALAM UPACARA KEAGAMAAN

Lebih terperinci