Karakteristik Intuisi Siswa SMA Dalam Memecahkan Masalah Fisika Ditinjau Dari Kemampuan Fisika

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Karakteristik Intuisi Siswa SMA Dalam Memecahkan Masalah Fisika Ditinjau Dari Kemampuan Fisika"

Transkripsi

1 Karakteristik Intuisi Siswa SMA Dalam Memecahkan Masalah Fisika Ditinjau Dari Kemampuan Fisika Fahrul, I Wayan Darmadi dan I Komang Werdhiana Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Tadulako Jl. Soekarno Hatta Km. 9 Kampus Bumi Tadulako Tondo Palu Sulawesi Tengah Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik intuisi siswa SMA dalam memecahkan masalah fisika berdasarkan langkah-langkah pemecahan masalah yang dikemukakan oleh Polya (Heuristik Wickelgren) ditinjau dari kemampuan fisika. Responden dalam penelitian ini adalah siswa kelas Xa SMA Negeri 1 Sindue Tombusabora. Responden penelitian ini terdiri dari 3 orang siswa dimana 1 orang siswa berkemampuan fisika tinggi, 1 orang siswa berkemampuan fisika sedang dan 1 orang siswa berkemampuan fisika rendah. Soal yang disajikan dalam penelitian ini yakni pada materi suhu dan kalor. Butir soal yang disajikan yakni berupa soal pemecahan masalah bertipe verbal. Hasil penelitian ini adalah: (1) dalam memahami masalah; semua responden menggunakan intuisi, (2) dalam membuat rencana penyelesaian masalah; semua responden tidak menggunakan intuisi, (3) dalam melaksanakan penyelesaian masalah; semua responden menggunakan intuisi, dan (4) dalam memeriksa kembali jawaban; semua responden tidak menggunakan intuisi. Kata Kunci : Karakteristik intuisi, masalah fisika, kemampuan fisika I. PENDAHULUAN Salah satu tujuan pembelajaran fisika adalah untuk membantu siswa dalam menyelesaikan masalah, baik masalah-masalah yang berkenaan dengan pemahaman konsep fisika itu sendiri maupun aplikasinya. Ahli Psikolog kognitif seperti Solso (1995) mengugkapkan bahwa pemecahan masalah merupakan aktifitas berpikir yang diarahkan pada penyelesaian masalah tertentu yang melibatkan baik pembentukkan respon-respon maupun pemilihan respon-respon yang mungkin. Polya (1975) mendefinisikan pemecahan masalah sebagai usaha mencari jalan keluar dari suatu kesulitan. Artinya bahwa pemecahan masalah dalam fisika adalah suatu aktivitas untuk mencari solusi dari suatu masalah fisika yang dihadapi dengan menggunakan bekal pengetahuan dan pengalaman fisika yang sudah dimiliki. Berdasarkan beberapa pengertian di atas, berbarti bahwa pemecahan masalah dalam fisika adalah suatu aktivitas untuk mencari solusi dari suatu masalah fisika yang dihadapi dengan melibatkan semua bekal pengetahuan dan bekal pengalaman yang tidak menuntut adanya pola khusus mengenai cara atau strategi penelesaiannya. Dengan demikian dapat dirinci minimal dua bagian, yaitu pertama adakalanya seseorang menempuh melalui langkah demi langkah yang formal/analitis (seperti menggunakan rumus), kedua mungkin juga adakalanya apabila masalahnya dirasa asing atau bahkan sama sekali tidak ada hubunganya dengan pengetahuan informal seseorang maka dapat diselesaikan secara langsung, spontan, cepat dan kurang teratur langkah-langkahnya dalam menyelesaikan masalah tersebut, yang berarti bagian kedua ini tergolong berpikir dengan menggunakan kognisi intuisi. Fishbein (1999) menawarkan sifat-sifat dari intuisi yang dipandang sebagai kognisi segera (Immediate Cognition). Adapun sifat-sifat atau karakteristik tersebut diantaranya; (1) Self evident; (2) Intrinsic certainly); (3) Coerciveness; (4) Extrapolativeness; dan (5) Globality. Sifat intuisi yang pertama adalah Self evident, yang berarti bahwa jawaban yang diambil secara intuitif dianggap benar dengan sendirinya. Ini menunjukkan bahwa kebenaran yang diperoleh secara intuitif diterima berdasarkan feeling dan cenderung tidak memerlukan jastifikasi ataupun verifikasi lebih lanjut. Sebagai contoh, apabila seseorang menyimpulkan secara intuitif bahwa dua titik selalu menentukan sebuah garis atau jika dititik A, B dan C titik-titik segaris maka tepat ada satu titik diantara dua titik lainnya. Sifat intuisi yang kedua adalah Intrinsic certainly, yang berarti kepastian dari dalam dan sudah mutlak. Seperti seseorang merasa bahwa 25

2 pernyataan, representasi atau interpretasinya merupakan sebuah ketentuan, untuk memastikan kebenarannya tidak perlu ada dukungan eksernal (baik secara formal maupun empiris) Sifat intuisi yang ketiga adalah Coerciveness, yang berarti bersifat memaksa. Hal ini berarti bahwa seseorang cenderung menolak representasi atau interpretasi alternatif yang berbeda dengan keyakinannya. Sebagai contoh, jika seseorang mengatakan bahwa persegi panjang bukanlah jajaran genjang. Kondisi seperti ini sulit untuk dirubah dan menjadikan mereka menerima bahwa persegi panjang merupakan jajaran genjang. Sifat intuisi yang keempat adalah Extrapolativennes, yang berarti sifat meramal, menduga, memperkirakan. Artinya bahwa melalui intuisi, seseorang menangkap secara universal suatu prinsip, suatu relasi, suatu aturan melalui realitas khusus. Dengan kata lain bahwa intuisi yang bersifat Extrapolativeness juga dapat dipahami bahwa kognisi intutif juga mempunyai kemampuan untuk meramalkan, menerka, menebak makna dibalik fakta pendukung empiris. Sebagai contoh jika seseorang menyebut angka 2 dan 4 maka ia dapat menebak secara benar bahwa angka berikutnya adalah 6, meskipun aturan tersebut tidak diberikan. Padahal bisa jadi angka berikutnya adalah 8 jika aturan yang diberikan dengan cara mengalikan suku ke-1 dan suku ke-2. Sifat intuisi yang kelima adalah Glabality, yang berarti bahwa kognisi intuisi bersifat global, utuh, bersifat holistik yang terkadang berlawanan dengan kognisi yang diperoleh secara logika, tidak selalu berurutan dan berpikir analitis. Sifat Globality ini juga dapat diartikan bahwa orang yang berpikir intuitif lebih memandang keseluruhan objek daripada bagian-bagian yang terkesan kurang detail. Kegiatan belajar mengajar di sekolah sering kita jumpai banyak siswa yang pandai dalam memecahkan masalah fisika sering menggunakan cara-cara yang cerdas di luar dugaan dan kebiasaan sehingga memberikan jawaban yang singkat dan akurat. Selain itu, juga banyak siswa yang ketika memecahkan masalah cenderung memberikan jawaban yang panjang lebar dan terkadang kurang akurat, bahkan banyak siswa yang mengalami kesulitan untuk menemukan cara untuk memecahkan masalah fisika. Pemahaman secara intuitif sangat diperlukan sebagai jembatan berpikir manakala seseorang berupaya untuk menyelesaikan masalah dan memandu menyelaraskan kondisi awal dan kondisi tujuan. Dengan kata lain, untuk beberapa siswa pada saat menyelesaikan masalah fisika telah mengetahui atau menemukan solusi/jawaban dari masalah tersebut sebelum siswa menuliskan langkah penyelesaiannya. Kendati demikian, pada saat mereka menemukan ide awal dalam menyelesaikan masalah atau langkah seperti apa yang paling cocok untuk menyelesaikan masalah tersebut. Munculnya ide yang demikian tentunya datang secara segera dan bersifat otomatis (immediate) atau muncul tiba-tiba (suddently) yang merupakan karakter berpikir yang melibatkan intuisi. Dengan demikian, berdasarkan penjelasan di atas, dalam hal ini kita dapat merinci minimal menjadi dua bagian pembahasan, yaitu pertama adakalanya seseorang menempuh melalui langkah demi langkah yang formal/analitis (seperti menggunakan rumus, aturan logika), kedua mungkin juga adakalanya apabila masalahnya dirasa asing atau bahkan sama sekali tidak ada hubungannya dengan pengetahuan informal seseorang dapat menyelesaiakn secara langsung, spontan, cepat dan kurang teratur langkah-langkahnya dalam menyelesaikan masalah tersebut, yang berarti bagian kedua ini tergolong berpikir intuitif. Penjelasan di atas menunjukkan adanya kaitan antara kemampuan fisika yang dimiliki siswa dengan intuisi yang digunakan siswa dalam memecahkan masalah fisika. Berkaitan dengan penggunaan intuisi dalam memecahkan masalah, maka keberadaan intuisi dalam proses pemecahan masalah menurut Polya (heuristik Wickelgren) dapat dilacak dari tahap-tahap pemecahan masalah yaitu tahap memahami masalah (See), merencanakan penyelesaian masalah (Plan), melaksanakan penyelesaian masalah (Do) dan Memeriksa kembali jawaban (Check). Keterlibatan dan pentingnya intuisi dalam proses penyelesaian masalah faktanya diakui oleh banyak matematikawan telah membantu mereka memahami, mengembangkan dan menemukan teori-teori baru dalam matematika. Banyak yang mempertanyakan mengapa kemampuan berpikir intuitif justru tidak dikembangkan dalam pembelajaran. II. METODOLOGI PENELITIAN 26

3 Penelitian ini mendeskripsikan karakteristik intuisi siswa SMA dalam memecahkan masalah fisika ditinjau dari kemampuan fisika. Karakteristik ini ditelusuri melalui suatu wawancara berbasis pada tugas. Oleh sebab itu jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif bersifat deskriptif. Responden penelitian ini adalah beberapa orang siswa kelas XA SMA Negeri 1 Sindue Tombusabora. Proses pemilihan responden diawali dengan memberikan tes pilihan ganda (Multipple Choice) pada siswa kelas Xa. Dari hasil pemberian tes pilihan ganda (Multipple Choice) tersebut, siswa dikelompokkan menjadi kelompok siswa berkemampuan fisika tinggi, sedang dan rendah. Dari berbagai pertimbangan maka ditentukan 3 orang responden yang terdiri dari 1 orang responden berkemampuan fisika tinggi, 1 orang responden berkemampuan fisika sedang dan 1 orang responden berkemampuan fisika rendah. Instrumen penelitian ini adalah peneliti itu sendiri. Selama proses penelitian, peneliti mengikuti secara aktif kegatan responden yang berhubungan dengan pengumpulan data melalui wawancara. Selain peneliti sebagai instrumen utama, peneliti juga menggunakan instrumen bantu yaitu: (1) tes pilihan ganda (Multipple Choice), (2) tes pemecahan masalah, (3) pedoman wawancara. Kredibilitas data diperoleh dengan wawancara secara tekun, yaitu peneliti melakukan pengamatan dan wawancara dengan teliti dan rinci secara berkesinambungan dan mengadakan pengulangan pertanyaan pada waktu yang berbeda terhadap informasi yang tidak jelas atau berbeda. Peneliti juga mengadakan triangulasi untuk menvalidasi data, yaitu dengan triangulasi waktu. Langkahlangkah pengumpulan data pada penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) melakukan wawancara berbasis tugas yang pertama pada responden dengan menggunakan lembar tugas pemecahan masalah 1, (2) melakukan paparan data hasil wawancara 1, (3) melakukan wawancara berbasis tugas yang kedua dengan menggunakan lembar tugas pemecahan masalah 2, melakukan paparan data hasil wawancara 2, (4) melakukan perbandingan hasil paparan data hasil wawancara pertama dan kedua. (5) apabila perbandingan paparan data hasil wawancara pertama dan kedua sama, maka dikatakan data tersebut valid, sedangkan kalau tidak sama maka dilakukan wawancara ketiga dengan menggunakan tugas pemecahan masalah yang setara, dan langkah ini dilakukan sampai diperoleh dua data hasil wawancara yang sama. Analisis data dimulai segera setelah wawancara berbasis tugas telah dilaksanakan. Analsis data hasil wawancara dilakukan dengan langkah: (1) reduksi data yaitu kegiatan yang mengacu pada proses pemilihan, pemusatan perhatian, penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data mentah dilapangan, (2) pemaparan data meliputi pengklasifikasian dan identifikasi data, yaitu menuliskan kumpulan data yang terorganisir dan terkategori sehingga memungkinkan untuk menarik kesimpulan dari data tersebut, (3) menarik kesimpulan dari data yang dikumpulkan dan memverifikasi kesimpulan tersebut. III. HASIL DAN PEMBAHASAN Tahap awal dalam penelitian ini adalah pemberian tes pilihan ganda (Multiple Choice). Pemberian tes bertujuan untuk mengklasifikasikan siswa ke dalam tiga kategori yaitu siswa berkemampuan fisika tinggi, sedang dan rendah. Berikut penjelasan hasil analisis data pada penelitian ini. Responden berkemampuan fisika tinggi (R1) Responden dalam memahami masalah pada soal yakni dengan cara membaca soal dengan cara berulang-ulang. Hal tersebut dilakukan responden dengan tujuan agar mudah untuk mengetahui maksud soal. Berkaitan dengan hal ini, Fishbein (1999) mengatakan bahwa munculnya intuisi setelah seseorang berusaha mengerjakan soal dengan mencermati informasi teks soal, maka dikatakan bahwa seseorang telah menggunakan intuisi antisipatori. Hasil wawancara juga menunjukkan bahwa respon yang dipilih oleh responden dalam memahami soal merupakan respon yang diambil secara feeling semata (Self Evident) dan berdasarkan pengalaman seharihari (Globality). Jadi, pada tahap memahami masalah responden menggunkan intuisi. Tahapan selanjutnya yang dilakukan oleh responden adalah merencanakan penyelesaian masalah. Hasil wawancara menunjukkan bahwa dalam merencanakan masalah responden cenderung tidak merubah respon yang sudah dibangun pada tahap sebelumnya. Dalam artian bahwa responden cenderung mempertahankan 27

4 respon yang sudah dibangun pada tahap sebelumnya (Coerciveness). Pada tahap ini responden hanya menyusun jawaban yang sesuai dengan maksud soal. Sehingga pada tahap ini responden tidak menggunakan intuisi. Berikutnya responden melakukan tahapan melaksanakan penyelesaian masalah. Pada tahapan ini tidak terlihat potensi hadirnya intuisi dalam rangka menyelesaikan permasalahan pada soal. Hal tersebut ditunjukkan oleh hasil pekerjaan responden pada gambar 1 di bawah ini: Gambar 1. soal nomor 1 Gambar 3.1 di atas menunjukkan bahwa responden tidak mengganti jawaban. Dengan kata lain bahwa responden tidak memberikan peluang alternatif respon-respon yang memungkinkan untuk menjastifikasi responnya (Coerciveness). Sehingga pada tahap ini responden tidak menggunakan intuisi. Hal sebaliknya terjadi pada saat responden mengerjakan soal nomor dua. Dimana pada saat melaksanakan penyelesaian masalah, responden membuka peluang hadirnya intuisi dalam membantu memberikan alternatif respon dalam rangka untuk menyelesaikan soal. Hal tersebut ditunjukkan oleh gambar 2 di bawah ini: Gambar 2 soal nomor dua Gambar 2 di atas menunjukkan ketidakyakinan responden terhadap jawaban yang sebelumnya ditulis. Sehingga responden merasa perlu untuk mengganti jawabannya dengan jawaban baru yang dianggap lebih sesuai dengan maksud soal. Hal yang sama dilakukan oleh responden pada soal nomor satu dan dua pada tahap dua. Dalam hal ini, responden dikatakan telah menggunakan intuisi. memeriksa kembali jawaban. Berdasarkan hasil wawancara, responden tidak melakukan pemeriksaan kembali terhadap jawabannya. responden telah merasa yakin dengan jawaban yang sudah dipilihnya sehingga tidak perlu lagi memeriksa jawaban. Ini berarti bahwa responden menutup kemungkinan hadirnya intuisi. sehingga dapat dikatakan bahwa dalam memeriksa kembali jawaban responden menggunakan intuisi. Responden berkemampuan fisika sedang (R2) Responen R2 dalam memahami masalah pada soal yakni dengan cara membaca soal secara berulang-ulang. Hal tersebut dilakukan oleh responden dengan tujuan agar mudah untuk memahami masalah dalam soal. Fishbein (1999) mengatakan bahwa munculnya intuisi setelah seseorang berusaha mengerjakan soal dengan mencermati informasi teks soal, maka dikatakan bahwa seseorang telah menggunakan intuisi antisipatori. Hasil wawancara menunjukkan bahwa respon yang dipilih untuk dijadikan klaim jawaban merupakan hasil dari feeling saja (Self Evident). Responden mengakui bahwa jawaban hasil analisis soal hadir begitu saja dan responden merasa begitu yakin dengan respon tersebut meskipun responden tidak memiliki bukti secara analitik (Extrapolativeness). Sehingga dalam memahami masalah, responden menggunakan intuisi. perencanaan penyelesaian masalah. Pada tahap ini, responden melakukan perencanaan terhadap penyelesaian masalah pada soal. Hasil wawancara menunjukkan bahwa responden tidak melakukan perencanaan penyelesaian masalah secara bertahap (step by step). Dalam hal ini responden berusaha untuk membuat rencana penyelesaian dengan menggunakan cara sendiri. Hal tersebut terjadi karena responden tidak begitu mengingat materi yang berhubungan dengan soal yang sedang dihadapi. Sehingga untuk menyusun rencana penyelesaian masalah, responden cenderung menggunakan caranya sendiri diluar kemampuan analitik yang dimilikinya (Extrapolativeness). Selain itu, responden mengakui bahwa jawaban yang direncanakannya murni hasil analisis pada 28

5 tahap sebelumnya. Berkaitan dengan itu, Fishbein dan Grossman (1997) mengatakan bahwa intuisi selalu didasarkan pada struktur skemata tertentu dan intuisi sebagai dugaan spontan yang merupakan fakta dibalik layar skemata Sehingga dalam merencanakan penyelesaian masalah, responden tidak menggunakan intuisi. an pelaksanaan penyelesaian masalah. Berdasarkan hasil wawancara, responden tidak mengganti jawaban yang sudah direncanakan sebelumnya. Artinya bahwa responden tidak memberikan peluang bagi intuisi untuk turut hadir dalam rangka penyelesaian masalah (Coerciveness). Hal tersebut dapat dilihat pada salah satu jawaban responden berikut ini. Gambar 3. soal nomor dua Gambar 3 di atas menunjukkan bahwa jawaban yang diberikan oleh responden tidak mengalami perubahan. Tetapi, hal tersebut tidak terjadi pada saat responden mengerjakan soal pemecahan pada tahap kedua nomor dua. Pada saat menyelesaikan soal nomor dua tahap dua, responden mengganti jawabannya pada saat berada pada tahap ini. Berikut hasil pekerjaan responden saat menyelesaikan soal nomor dua tahap dua. Gambar 4. soal nomor dua Hasil wawancara menunjukkan bahwa responden tidak puas dengan jawaban yang telah dituliskannya. Sehingga secara tidak sadar, responden kembali membuka peluang intuisi untuk hadir dalam rangka memberikan alternatif jawaban baru yang diharapkan sesuai dengan maksud soal. Responden merasa begitu yakin dengan terakhir ini (Intrinsic Certainly). Sehubungan dengan itu Fishbein (1987) menyatakan bahwa kognisi yang secara subjektif kebenarannya terkandung didalamnya, dapat diterima dengan sendirinya dan secara lansung, holistik, menggiring dan pemerkiraan. Sehingga dapat dikatakan bahwa pada tahap ini, responden menggunakan intuisi. pemeriksaan kembali jawaban. Hasil wawancara dan analisis dokumen menununjukkan bahwa responden tidak melibatkan intuisi dalam rangka menyelesaikan masalah. Artinya bahwa responden telah kukuh (Intrinsic Certainly) dengan jawaban yang sudah dipilihnya (Self Evident). Sehingga pada tahap pemeriksaan kembali jawaban responden tidak menggunakan intuisi. Responden berkemampuan fisika rendah (R3) Responden dalam memahami masalah pada soal yakni dengan cara membaca secara berulang-ulang. Hal tersebut dilakukan responden dengan tujuan untuk menganalisa dan mencermati isi teks dan kemudian mengambil suatu respon yang akan dikembangkan selanjutnya pada tahap perencanaan. Berkaitan dengan itu, Fishbein (1999) mengatakan bahwa munculnya intuisi setelah seseorang berusaha mengerjakan soal dengan mencermati informasi teks soal, maka dikatakan bahwa seseorang telah menggunakan intuisi antisipatori. Hasil wawancara menunjukkan bahwa responden kesulitan untuk memahami masalah pada soal karena responden tidak begitu memahami materi yang berhubungan dengan soal. Sehingga respon yang dipilih berdasarkan hasil analisa terhadap butir soal merupakan respon yang didasari oleh feeling dan mendugaduga (Extrapolativeness). Respon yang telah dipilih ini dirasa benar begitu saja oleh responden (Self evident). Ini menunjukkan bahwa responden cenderung menggunakan kognisi intuisi dalam rangka memahami informasi teks dalam soal. Jadi, dalam memahami masalah responden menggunakan intuisi. an perencnaan penyelesaian masalah. Berdasarkan hasil wawancara dan analisis dokumen menunjukkan bahwa responden hanya melakukan pengembangan terhadap hasil analisis soal pada tahap sebelumnya tanpa mengubah respon yang telah dipilih. Tidak terlihat adanya peluang untuk merubah alternatif respon sebelumnya. Ini berarti bahwa responden merasa begitu yakin dengan jawaban yang telah dipilihnya (Coerciveness). Sehingga dalam merencanakan penyelesaian masalah responden tidak menggunakan intuisi. pelaksanaan penyelesaian masalah. Berdasarkan hasil analisis dokumen dan 29

6 wawancara diperoleh data bahwa responden tidak melakukan perubahan terhadap jawaban yang telah dituliskannya. Hal tersebut dapat dilihat pada salah satu jawaban responden berikut ini. Gambar 5. soal nomor satu Gambar 5 menunjukkan bahwa responden tidak mengganti jawaban yang sudah direncakan sebelumnya. Ini berarti bahwa responden tidak membuka peluang hadirnya alternatif jawaban baru yang dapat menjastifikasi jawabannya sebelumnya (Coerciveness). Sehingga dalam melaksanakan penyelesaian masalah responden tidak menggunakan intuisi. pemeriksaan terhadap jawaban. Hasil wawancara menunjukkan bahwa responden telah yakin bahwa jawaban yang dipilih dan ditulis merupakan keputusan final dan tidak dapat diganggu gugat. Responden tidak memberikan peluang terhadap alternatif jawaban baru yang dapat mengkontradiksi jawaban sebelumnya (Coerciveness). Sehingga dalam memeriksa kembali jawaban responden tidak menggunkan intuisi. Berikut adalah rangkuman karakteristik intuisi yang dilakukan oleh responden pada tahap 1 dan tahap 2: Tabel 1. Rangkuman Intuisi yang Dilakukan Responden Tahap 1 R1 Soal no. 1 intuisi Benar Soal no. 2 intuisi Salah Soal no. 3 intuisi Salah R2 Soal no. 1 intuisi Benar Soal no. 2 intuisi Salah R3 Soal no. 1 intuisi Salah Soal no. 2 intuisi Salah Tabel 2. Rangkuman Intuisi yang Dilakukan Responden Tahap 2 R1 Soal no. 1 intuisi - Intuisi - Benar Soal no. 2 intuisi - Intuisi - Salah Soal no. 3 intuisi Salah R2 Soal no. 1 intuisi Benar Soal no. 2 intuisi - Intuisi - Salah R3 Soal no. 1 intuisi Salah Soal no. 2 intuisi - intuisi - Salah Tabel 1 dan 2 di atas merupakan rangkuman hasil identifikasi hadirnya intuisi pada saat responden mengerjakan soal pemecahan masalah pada tahap satu dan dua. Data pada tabel di atas memberikan gambaran bagaimana intuisi dapat teridentifikasi pada saat responden mencoba memecahkan masalah fisika. Tabel 3.1 dan 3.2 menunjukkan bahwa peluang hadirnya intuisi saat responden berusaha mengerjakan soal pemecahan masalah terdapat pada tahap See dan Do. Selain itu, data pada tabel juga memberikan gambaran yang jelas tentang respon yang diberikan oleh responden saat mengerjakan soal, dimana respon itu direalisasikan dalam bentuk jawaban benar dan salah. Data menunjukkan bahwa alternatif jawaban yang dituliskan oleh responden dalam rangka menyelesaikan masalah mayoritas salah. Hal ini semakin mempertegas bahwa hadirnya intuisi pada saat individu berusaha mengerjakan soal tidak memberikan jaminan terhadap hasil yang diperoleh. Sejalan dengan itu, Tsamir dan Tirosh (1997) mengatakan bahwa kebenaran yang diperoleh secara intuitif tidaklah mutlak. Intuisi hanya memandu seseorang untuk beraktifitas fisika, namun hasil aktivitas fisika yang didasarkan intuisi belum tentu memperoleh suatu kebenaran. IV. KESIMPULAN Kesimpulan dalam penelitian adalah sebagai berikut: (1) dalam memahami masalah; semua responden tidak menggunakan intuisi, (2) dalam membuat rencana penyelesaian masalah; semua responden menggunakan intuisi antispatori, (3) dalam melaksanakan penyelesaian masalah; semua responden menggunakan intuisi, dan (4) dalam memeriksa kembali jawaban masalah; semua responden tidak menggunakan intuisi. 30

7 DAFTAR PUSTAKA [1] Abidin, Zainal. (2011). Intuisi Siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) dalam Pemecahan Masalah Matematika Divergen. IAIN Ar-Raniry Banda Aceh : Nanggroe Aceh Darussalam. [2] Fischbein. (1987). Intuition in Science and Mathematics. Dordrecht: D. Riedel. [3] Munir. (2012). Model Penalaran Intuitif Siswa dalam Menyelesaikan Masalah Matematika. (Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika FMIPA UNY Yogyakarta pada tanggal 10 November 2012) [4] Muniri. (2013). Karakteristik Berpikir Intuitif Siswa dalam Menyelesaikan Masalah Matmatika. Prosiding pada FMIPA UNY Yogyakarta [5] Putra, Nusa. (2013). Metode Penelitian Kualitatif Pendidikan. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada. [6] Sanjaya, Wina. (2013). Penelitian Pendidikan: Jenis, Metode dan Prosedur. Jakarta: PT. Fajar Interprtama Mandiri. [7] Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Alfabeta: Bandung. [8] Usodo, Budi. (2012). Karakteristik Intuisi Siswa SMA dalam Memecahkan Masalah Matematika Ditinjau dari Kemampuan Matematika dan Perbedaan Gender. Jurnal Pendidikan Matematika, Universitas Sebelas Maret Surakarta. 31

BAB II KAJIAN TEORI. A. Kemampuan Berpikir Intuitif dalam Matematika. dengan bantuan intuitif untuk mencapai kesimpulan.

BAB II KAJIAN TEORI. A. Kemampuan Berpikir Intuitif dalam Matematika. dengan bantuan intuitif untuk mencapai kesimpulan. BAB II KAJIAN TEORI A. Kemampuan Berpikir Intuitif dalam Matematika Menurut KBBI (2007) intuitif berasal dari kata intuisi yang berarti daya atau kemampuan mengetahui atau memahami sesuatu tanpa dipikirkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

BAB I PENDAHULUAN. digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kegiatan pembelajaran matematika tentu tidak akan terlepas dari masalah matematika. Pemecahan masalah merupakan hal yang sangat penting dalam pembelajaran matematika,

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORITIK. 1. Kemampuan Berpikir Intuitif dalam Matematika. dipikirkan atau dipelajari. Resnick (Talia dan Star, 2002) menyatakan

BAB II KAJIAN TEORITIK. 1. Kemampuan Berpikir Intuitif dalam Matematika. dipikirkan atau dipelajari. Resnick (Talia dan Star, 2002) menyatakan BAB II KAJIAN TEORITIK A. Deskripsi Konseptual 1. Kemampuan Berpikir Intuitif dalam Matematika Menurut KBBI (2007) intuitif berasal dari kata intuisi yang berarti daya atau kemampuan mengetahui atau memahami

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

BAB V PEMBAHASAN. digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id BAB V PEMBAHASAN Pada bab V ini akan membahas dan mendiskusikan hasil penelitian. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa tujuan dari penelitian ini ialah untuk mendeskripsikan mengenai profil berpikir intuitif

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. diberikan kepada semua siswa mulai dari sekolah dasar sampai perguruan

BAB I PENDAHULUAN. diberikan kepada semua siswa mulai dari sekolah dasar sampai perguruan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Mata Pelajaran matematika merupakan mata pelajaran yang perlu diberikan kepada semua siswa mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi untuk membekali siswa

Lebih terperinci

Karakteristik Intuisi Siswa SMA dalam Memecahkan Masalah Matematika Ditinjau dari Kemampuan Matematika dan Perbedaan Gender

Karakteristik Intuisi Siswa SMA dalam Memecahkan Masalah Matematika Ditinjau dari Kemampuan Matematika dan Perbedaan Gender Karakteristik Intuisi Siswa SMA dalam Memecahkan Masalah Matematika Ditinjau dari Kemampuan Matematika dan Perbedaan Gender Budi Usodo Program Studi Pendidikan Matematika, Universitas Sebelas Maret Surakarta

Lebih terperinci

ANALISIS KETERAMPILAN BERPIKIR KREATIF SISWA SMA DALAM MEMECAHKAN MASALAH FISIKA

ANALISIS KETERAMPILAN BERPIKIR KREATIF SISWA SMA DALAM MEMECAHKAN MASALAH FISIKA ANALISIS KETERAMPILAN BERPIKIR KREATIF SISWA SMA DALAM MEMECAHKAN MASALAH FISIKA Hisdamayanti Djupanda, Yusuf Kendek dan I Wayan Darmadi hisdamayanti45@gmail.com Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas

Lebih terperinci

REKONSTRUKSI TINGKAT-TINGKAT BERPIKIR PROBABILISTIK SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

REKONSTRUKSI TINGKAT-TINGKAT BERPIKIR PROBABILISTIK SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA REKONSTRUKSI TINGKAT-TINGKAT BERPIKIR PROBABILISTIK SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA Oleh: Imam Sujadi Prodi. Pendidikan Matematika FKIP UNS Email: imamsujadi@ymail.com Abstraks Pemikiran siswa dalam menjawab

Lebih terperinci

GAYA KOGNITIF FIELD DEPENDENT TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP LIMIT MAHASISWA PENDIDIKAN MATEMATIKA

GAYA KOGNITIF FIELD DEPENDENT TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP LIMIT MAHASISWA PENDIDIKAN MATEMATIKA GAYA KOGNITIF FIELD DEPENDENT TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP LIMIT MAHASISWA PENDIDIKAN MATEMATIKA Nurafni Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA avnie_cute20@yahoo.com ABSTRAK Penelitian ini merupakan penelitian

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Konsep Secara umum konsep adalah suatu abstraksi yang menggambarkan ciri-ciri umum sekelompok objek, peristiwa atau fenomena lainnya. Woodruff dalam Pia (2011),

Lebih terperinci

Intuisi Siswa SMK dalam Memecahkan Masalah Matematika Ditinjau dari Kemampuan Matematika dan Perbedaan Gender

Intuisi Siswa SMK dalam Memecahkan Masalah Matematika Ditinjau dari Kemampuan Matematika dan Perbedaan Gender Jurnal Didaktik Matematika ISSN 2355-4185(p), 2548-8546(e) Nazariah, dkk Intuisi Siswa SMK dalam Memecahkan Masalah Matematika Ditinjau dari Kemampuan Matematika dan Perbedaan Gender Nazariah 1, Marwan

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK BERPIKIR INTUITIF SISWA DALAM MENYELESAIKAN MASALAH MATEMATIKA

KARAKTERISTIK BERPIKIR INTUITIF SISWA DALAM MENYELESAIKAN MASALAH MATEMATIKA KARAKTERISTIK BERPIKIR INTUITIF SISWA DALAM MENYELESAIKAN MASALAH MATEMATIKA P - 56 M u n i r i Mahasiswa Program Doktor Pendidikan Matematika Universitas Negeri Surabaya e-mail: muniri_ta@yahoo.co.id

Lebih terperinci

Pengaruh Model Pembelajaran Predict, Observe And Explain terhadap Keterampilan Proses Sains Siswa Kelas X Sma Negeri 1 Balaesang

Pengaruh Model Pembelajaran Predict, Observe And Explain terhadap Keterampilan Proses Sains Siswa Kelas X Sma Negeri 1 Balaesang Pengaruh Model Pembelajaran Predict, Observe And Explain terhadap Keterampilan Proses Sains Siswa X Sma Negeri 1 Balaesang Zulaeha, I Wayan Darmadi dan Komang Werdhiana e-mail: Zulaeha@yahoo.co.id Program

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Rancangan Penelitian 1. Pendekatan penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif adalah jenis penelitian yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pendidikan mempunyai tugas menyiapkan sumber daya manusia untuk

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pendidikan mempunyai tugas menyiapkan sumber daya manusia untuk 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan mempunyai tugas menyiapkan sumber daya manusia untuk pembangunan. Pendidikan merupakan salah satu aspek kehidupan yang penting. Kualitas pendidikan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. penyimpanan, pemanggilan kembali dan penggunaan pengetahuan. 15 Fischbein

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. penyimpanan, pemanggilan kembali dan penggunaan pengetahuan. 15 Fischbein BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Teori-Teori Tentang Intuisi a. Kognisi dalam Kaitannya dengan Intuisi Kognisi adalah proses mental yang melibatkan pemerolehan, penyimpanan, pemanggilan kembali dan penggunaan

Lebih terperinci

ANALISIS MULTIMODAL REPRESENTASI MAHASISWA CALON GURU PADA PEMAHAMAN KONSEP LISTRIK DINAMIS

ANALISIS MULTIMODAL REPRESENTASI MAHASISWA CALON GURU PADA PEMAHAMAN KONSEP LISTRIK DINAMIS ANALISIS MULTIMODAL REPRESENTASI MAHASISWA CALON GURU PADA PEMAHAMAN KONSEP LISTRIK DINAMIS Adolfina Galla, I Komang Werdhiana dan Syamsu gallaadolfina@gmail.com Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas

Lebih terperinci

Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako (JPFT) Vol. 4 No. 3 ISSN Kata Kunci: Berpikir Kritis; Kelistrikan

Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako (JPFT) Vol. 4 No. 3 ISSN Kata Kunci: Berpikir Kritis; Kelistrikan KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MAHASISWA CALON GURU PADA MATERI KELISTRIKAN (Studi Deskriptif pada Mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika Universitas Tadulako Tahun Angkatan 2014) Amrullah Maguna, Darsikin

Lebih terperinci

Penyajian Fenomena Kontekstual Berbantuan Komputer Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Konsep Kalor Pada Siswa Kelas X B SMA Negeri 1 Marawola

Penyajian Fenomena Kontekstual Berbantuan Komputer Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Konsep Kalor Pada Siswa Kelas X B SMA Negeri 1 Marawola Penyajian Fenomena Kontekstual Berbantuan Komputer Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Konsep Kalor Pada Siswa Kelas X B SMA Negeri 1 Marawola Habibi, Unggul Wahyono dan Haeruddin e-mail: habibi_bibboys@yahoo.co.id

Lebih terperinci

DESKRIPSI KEMAMPUAN GEOMETRI SISWA SMP BERDASARKAN TEORI VAN HIELE

DESKRIPSI KEMAMPUAN GEOMETRI SISWA SMP BERDASARKAN TEORI VAN HIELE Pedagogy Volume 2 Nomor 1 ISSN 2502-3802 DESKRIPSI KEMAMPUAN GEOMETRI SISWA SMP BERDASARKAN TEORI VAN HIELE Zet Petrus 1, Karmila 2, Achmad Riady Program Studi Pendidikan Matematika 1,2,3, Fakultas Keguruan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian, jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif deskriptif

Lebih terperinci

PENERAPAN MODEL PROBLEM SOLVING LABORATORY TERHADAP PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP KALOR PADA SISWA KELAS X SMA NEGERI 4 PALU

PENERAPAN MODEL PROBLEM SOLVING LABORATORY TERHADAP PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP KALOR PADA SISWA KELAS X SMA NEGERI 4 PALU PENERAPAN MODEL PROBLEM SOLVING LABORATORY TERHADAP PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP KALOR PADA SISWA KELAS X SMA NEGERI 4 PALU Nurbaya, Nurjannah dan I Komang Werdhiana Nurbayaasisilyas@gmail.Com Program

Lebih terperinci

Profil Berpikir Logis dalam Memecahkan Masalah oleh Mahasiswa Calon Guru Tipe Camper

Profil Berpikir Logis dalam Memecahkan Masalah oleh Mahasiswa Calon Guru Tipe Camper SEMINAR NASIONAL MATEMATIKA DAN PENDIDIKAN MATEMATIKA UNY 2016 Profil Berpikir Logis dalam Memecahkan Masalah oleh Mahasiswa Calon Guru Tipe Camper Titin Masfingatin, Wasilatul Murtafiah IKIP PGRI MADIUN

Lebih terperinci

Identifikasi Model Mental Siswa Pada Materi Perpindahan Kalor di SMA Negeri 5 Palu

Identifikasi Model Mental Siswa Pada Materi Perpindahan Kalor di SMA Negeri 5 Palu Identifikasi Model Mental Siswa Pada Materi Perpindahan Kalor di SMA Negeri 5 Palu Ni Wayan Yudani, Marungkil Pasaribu dan I Wayan Darmadi niwayanyudani@gmail.com Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Pendekatan penelitian yang digunakan untuk penelitian ini adalah menggunakan pendekatan kualitatif. Karena penelitian ini bermaksud memahami, menggambarkan,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian Tempat penelitian merupakan sumber diperolehnya data yang dibutuhkan dari masalah yang akan diteliti. Tempat penelitian yang

Lebih terperinci

INTUISI SISWA KELAS VII SMP NEGERI 1 NGANJUK DALAM PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA DITINJAU DARI ADVERSITY QUOTIENT (AQ)

INTUISI SISWA KELAS VII SMP NEGERI 1 NGANJUK DALAM PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA DITINJAU DARI ADVERSITY QUOTIENT (AQ) INTUISI SISWA KELAS VII SMP NEGERI 1 NGANJUK DALAM PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA DITINJAU DARI ADVERSITY QUOTIENT (AQ) Erdyna Dwi Etika 1, Imam Sujadi 2, Sri Subanti 3 1,2,3 Prodi Magister Pendidikan Matematika,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian 1. Pendekatan Penelitian Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu 1. Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMP Islam Al-Azhar 29 Semarang. SMP Islam Al-Azhar 29 Semarang beralamat di Jl. RM. Hadisobeno Sosrowardoyo

Lebih terperinci

STRATEGI PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA KELAS VII SMP KRISTEN 2 SALATIGA DITINJAU DARI LANGKAH POLYA

STRATEGI PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA KELAS VII SMP KRISTEN 2 SALATIGA DITINJAU DARI LANGKAH POLYA STRATEGI PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA KELAS VII SMP KRISTEN 2 SALATIGA DITINJAU DARI LANGKAH POLYA Siti Imroatun, Sutriyono, Erlina Prihatnani Program Studi Pendidikan Matematika, Fakultas Keguruan

Lebih terperinci

Representasi Mahasiswa Berkemampuan Matematika Tinggi Dalam Memecahkan Masalah Program Linier

Representasi Mahasiswa Berkemampuan Matematika Tinggi Dalam Memecahkan Masalah Program Linier 80 INOVASI, Volume XVIII, Nomor 1, Januari 2016 Representasi Mahasiswa Berkemampuan Matematika Tinggi Dalam Memecahkan Masalah Program Linier Sri Irawati dan Sri Indriati Hasanah Program Studi Pendidikan

Lebih terperinci

ANALISIS KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH VEKTOR YANG DIREPRESENTASIKAN DALAM KONTEKS YANG BERBEDA PADA MAHASISWA CALON GURU FISIKA

ANALISIS KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH VEKTOR YANG DIREPRESENTASIKAN DALAM KONTEKS YANG BERBEDA PADA MAHASISWA CALON GURU FISIKA ANALISIS KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH VEKTOR YANG DIREPRESENTASIKAN DALAM KONTEKS YANG BERBEDA PADA MAHASISWA CALON GURU FISIKA Muslimah Sari, I Komang Werdhiana dan Unggul Wahyono Muslimahsari354@gmail.com

Lebih terperinci

Pengembangan Modul Praktikum Mekanika Model Inkuiri

Pengembangan Modul Praktikum Mekanika Model Inkuiri Pengembangan Modul Praktikum Mekanika Model Inkuiri Muh.Sutrisno, Amiruddin Kade dan Unggul Wahyono e-mail: Sutrisnophysics11010@gmail.com Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Tadulako Jl.

Lebih terperinci

DESKRIPSI KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL

DESKRIPSI KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL Pedagogy Volume 2 Nomor 1 ISSN 2502-3802 DESKRIPSI KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL Juliana 1, Darma Ekawati 2, Fahrul Basir 2

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 66 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Pendekatan Penelitian Penelitian ini sesuai dengan butir-butir rumusan masalah dan tujuan penelitian, menggunakan jenis penelitian field research yaitu metode

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Pendekatan Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Metode penelitian kualitatif merupakan proses penelitian yang bertujuan

Lebih terperinci

PROFIL INTUISI SISWA SMP DALAM MEMECAHKAN MASALAH GEOMETRI DITINJAU DARI KEMAMPUAN MATEMATIKA SISWA

PROFIL INTUISI SISWA SMP DALAM MEMECAHKAN MASALAH GEOMETRI DITINJAU DARI KEMAMPUAN MATEMATIKA SISWA Profil Intuisi Siswa SMP dalam Memecahkan Masalah Geometri Ditinjau dari Kemampuan Matematika Siswa PROFIL INTUISI SISWA SMP DALAM MEMECAHKAN MASALAH GEOMETRI DITINJAU DARI KEMAMPUAN MATEMATIKA SISWA Mudrika

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 29 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Berdasarkan tujuan yang ada di atas maka jenis penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah deskriptif kualitatif, yaitu peneliti yang menggunakan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. PENDEKATAN PENELITIAN Pendekatan teoritis dan empiris dalam penelitian sangat di perlukan. Oleh karena itu sesuai dengan judul skripsi ini, penulis menggunakan penelitian kualitatif

Lebih terperinci

Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah Menggunakan Asesmen Ranking Task Exercise (RTE) terhadap Pemahaman Konsep Hukum Newton

Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah Menggunakan Asesmen Ranking Task Exercise (RTE) terhadap Pemahaman Konsep Hukum Newton Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah Menggunakan Asesmen Ranking Task Exercise (RTE) terhadap Pemahaman Konsep Hukum Newton Eko Muhtar Syafaat, Nurjannah, dan I Komang Werdhiana Email: ekomuhtar@ymail.com

Lebih terperinci

PENGARUH PROBLEM SOLVING LABORATORY MENGGUNAKAN PENDEKATAN KONFLIK KOGNITIF TERHADAP PERUBAHAN KONSEP FISIKA SISWA SMA NEGERI 5 PALU

PENGARUH PROBLEM SOLVING LABORATORY MENGGUNAKAN PENDEKATAN KONFLIK KOGNITIF TERHADAP PERUBAHAN KONSEP FISIKA SISWA SMA NEGERI 5 PALU PENGARUH PRBLEM SLVING LABRATRY MENGGUNAKAN PENDEKATAN KNFLIK KGNITIF TERHADAP PERUBAHAN KNSEP FISIKA SISWA SMA NEGERI 5 PALU Sitti Hadija, Nurjannah dan Jusman Mansyur Khadijaamatullah221@yahoo.com Program

Lebih terperinci

Penerapan Problem Solving Menggunakan Strategi Heuristik Terhadap Pemahaman Konsep Tentang Kalor Pada Siswa Kelas X SMA Negeri 4 Palu

Penerapan Problem Solving Menggunakan Strategi Heuristik Terhadap Pemahaman Konsep Tentang Kalor Pada Siswa Kelas X SMA Negeri 4 Palu Penerapan Problem Solving Menggunakan Strategi Heuristik Terhadap Pemahaman Konsep Tentang Kalor Pada Siswa Kelas X SMA Negeri 4 Palu Riskayani, I Komang Werdhiana dan Amiruddin Hatibe Riskayani960@yahoo.com

Lebih terperinci

Penjenjangan Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa Prodi Pendidikan Matematika FMIPA UNNES dalam Menyelesaikan Masalah Matematika

Penjenjangan Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa Prodi Pendidikan Matematika FMIPA UNNES dalam Menyelesaikan Masalah Matematika Penjenjangan Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa Prodi Pendidikan Matematika FMIPA UNNES dalam Menyelesaikan Masalah Matematika Oleh :, M.Pd Jurusan Matematika FMIPA UNNES Abstrak Tingkat kemampuan berpikir

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan kepemimpinan

BAB III METODE PENELITIAN. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan kepemimpinan 33 BAB III METODE PENELITIAN A. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan kepemimpinan transformasional dalam pembinaan toleransi budaya mahasiswa yang tinggal di Ma had al-jami

Lebih terperinci

ANALISIS KEMAMPUAN MULTI REPRESENTASI MATEMATIS BERDASARKAN KEMAMPUAN AWAL MATEMATIS MAHASISWA

ANALISIS KEMAMPUAN MULTI REPRESENTASI MATEMATIS BERDASARKAN KEMAMPUAN AWAL MATEMATIS MAHASISWA Pedagogy Volume 2 Nomor 1 ISSN 2502-3802 ANALISIS KEMAMPUAN MULTI REPRESENTASI MATEMATIS BERDASARKAN KEMAMPUAN AWAL MATEMATIS MAHASISWA Dian Nopitasari 1 Program Studi Pendidikan Matematika 1, Fakultas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. nilai-nilai yang dibutuhkan oleh siswa dalam menempuh kehidupan. pendidikan dalam berbagai bidang, diantaranya matematika.

BAB I PENDAHULUAN. nilai-nilai yang dibutuhkan oleh siswa dalam menempuh kehidupan. pendidikan dalam berbagai bidang, diantaranya matematika. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan memberikan kemungkinan pada siswa untuk memperoleh kesempatan, harapan, dan pengetahuan agar dapat hidup secara lebih baik. Besarnya kesempatan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. ilmiah, Peneliti sebagai instrument pertama, bersifat deskriptif, lebih

BAB III METODE PENELITIAN. ilmiah, Peneliti sebagai instrument pertama, bersifat deskriptif, lebih 47 BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian 1. Pendekatan Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif karena keadaan yang diselidiki memenuhi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 69 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Pendekatan Penelitian 1. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat kualitatif yaitu suatu pendekatan penelitian yang menghasilkan data

Lebih terperinci

Analisis Kemampuan Siswa Mengubah Representasi dalam Physics Problem Solving Pada Siswa SMA Kelas X

Analisis Kemampuan Siswa Mengubah Representasi dalam Physics Problem Solving Pada Siswa SMA Kelas X Analisis Kemampuan Siswa Mengubah Representasi dalam Physics Problem Solving Pada Siswa SMA Kelas X Nurhijrah N. Atjiang dan Darsikin email : nurhijrah.atjiang@gmail.com Program Studi Pendidikan Fisika

Lebih terperinci

PROFIL KEMAMPUAN SISWA SMP DALAM MEMECAHKAN MASALAH MATEMATIKA OPEN-ENDED MATERI PECAHAN BERDASARKAN TINGKAT KEMAMPUAN MATEMATIKA

PROFIL KEMAMPUAN SISWA SMP DALAM MEMECAHKAN MASALAH MATEMATIKA OPEN-ENDED MATERI PECAHAN BERDASARKAN TINGKAT KEMAMPUAN MATEMATIKA PROFIL KEAPUAN SISWA SP DALA EECAHKAN ASALAH ATEATIKA OPEN-ENDED ATERI PECAHAN BERDASARKAN TINGKAT KEAPUAN ATEATIKA Yurizka elia Sari * Jurusan atematika, Fmipa, Unesa yurizka.melia@gmail.com ABSTRAK Pemecahan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN Pada bab tiga merupakan uraian dari metode penelitian yang akan digunakan oleh peneliti dalam melakukan penelitian mengenai intervensi terhadap anak dengan hambatan komunikasi.

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Untuk menemukan hubungan antara kemampuan berpikir matematis dengan perbedaan gender, dengan unsur-unsur pokok yang harus ditemukan sesuai dengan butir-butir rumusan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ditetapkan. Proses pembelajaran di dalam kelas harus dapat menyiapkan siswa

BAB I PENDAHULUAN. ditetapkan. Proses pembelajaran di dalam kelas harus dapat menyiapkan siswa 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Proses pendidikan pada intinya merupakan kegiatan pembelajaran di dalam kelas, karena itu peningkatan kualitas pendidikan dapat dilakukan melalui perbaikan

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN DAN DISKUSI HASIL PENELITIAN

BAB V PEMBAHASAN DAN DISKUSI HASIL PENELITIAN BAB V PEMBAHASAN DAN DISKUSI HASIL PENELITIAN A. Pembahasan Hasil Penelitian 1. Konfigurasi Kognitif Siswa Merujuk pada analisis konfigurasi kognitif siswa subjek A sampai dengan H, dapat disimpulkan bahwa

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN Dalam sebuah penelitian diperlukan langkah-langkah yang tepat agar tujuan penelitian yang telah ditetapkan dapat tercapai. Metode merupakan cara yang disiapkan peneliti untuk

Lebih terperinci

ANALISIS KESALAHAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL CERITA MATERI SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL

ANALISIS KESALAHAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL CERITA MATERI SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL ANALISIS KESALAHAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL CERITA MATERI SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL Aris Arya Wijaya 1, Masriyah 2 Jurusan Matematika, FMIPA, Unesa Email: arisarya99@gmail.com 1, masriyah_djalil@yahoo.com

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. kualitatif, di mana dalam pelaksanaan dilakukan secara alamiah, apa adanya,

BAB III METODE PENELITIAN. kualitatif, di mana dalam pelaksanaan dilakukan secara alamiah, apa adanya, BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini dalam jenis penelitian yang menggunakan metode kualitatif, di mana dalam pelaksanaan dilakukan secara alamiah, apa adanya, dalam situasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan ilmu pengetahuan memerlukan kecakapan hidup.

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan ilmu pengetahuan memerlukan kecakapan hidup. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Ilmu pengetahuan, keterampilan, dan pendidikan merupakan unsur dasar yang menentukan kecakapan berpikir tentang dirinya dan lingkungannya. Seseorang yang

Lebih terperinci

ANALISIS KECERDASAN SPASIAL DITINJAU DARI KEMAMPUAN KOGNITIF SISWA PADA MATERI LINGKARAN SISWA KELAS VIII SMP TAHUN PELAJARAN 2014/2015

ANALISIS KECERDASAN SPASIAL DITINJAU DARI KEMAMPUAN KOGNITIF SISWA PADA MATERI LINGKARAN SISWA KELAS VIII SMP TAHUN PELAJARAN 2014/2015 ANALISIS KECERDASAN SPASIAL DITINJAU DARI KEMAMPUAN KOGNITIF SISWA PADA MATERI LINGKARAN SISWA KELAS VIII SMP TAHUN PELAJARAN 2014/2015 Nova Riastuti 1, Fatriya Adamura 2, dan Restu Lusiana 3 1 Prodi Pendidikan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Berdasarkan pertanyaan penelitian yang diajukan, maka penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang berusaha

Lebih terperinci

Analisis Pemahaman Siswa Tentang Momen Inersia pada Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Biromaru

Analisis Pemahaman Siswa Tentang Momen Inersia pada Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Biromaru Analisis Pemahaman Siswa Tentang Momen Inersia pada Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Biromaru Kevin Moris Saripah, Unggul Wahyono, dan Muhammad Ali Email: kevinmoriss@yahoo.com Program Studi Pendidikan Fisika,

Lebih terperinci

Perbedaan Hasil Belajar Fisika antara Metode Pembelajaran Kumon dan Metode Pembelajaran Group to Group Exchange pada Siswa Kelas X SMA Negeri 4 Palu

Perbedaan Hasil Belajar Fisika antara Metode Pembelajaran Kumon dan Metode Pembelajaran Group to Group Exchange pada Siswa Kelas X SMA Negeri 4 Palu Perbedaan Hasil Belajar Fisika antara Metode Pembelajaran Kumon dan Metode Pembelajaran Group to Group Exchange pada Siswa Kelas X SMA Negeri 4 Palu Yuliani, Syamsu dan Muslimin Yuliani12@yahoo.com Program

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. mendapatkan informasi untuk digunakan sebagai solusi atau jawaban atas

BAB III METODE PENELITIAN. mendapatkan informasi untuk digunakan sebagai solusi atau jawaban atas 64 BAB III METODE PENELITIAN Metode penelitian merupakan cara dan prosedur yang sistematis dan terorganisasi untuk menyelidiki suatu masalah tertentu dengan maksud mendapatkan informasi untuk digunakan

Lebih terperinci

Penerapan Teknik Pembelajaran Probing -Prompting Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Fisika pada Siswa Kelas VIIIA SMP Negeri I Banawa Tengah

Penerapan Teknik Pembelajaran Probing -Prompting Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Fisika pada Siswa Kelas VIIIA SMP Negeri I Banawa Tengah Penerapan Teknik Pembelajaran Probing -Prompting Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Fisika pada Siswa Kelas VIIIA SMP Negeri I Banawa Tengah Sitti Mutmainnah, Muhammad Ali, dan Nurasyah Dewi Napitupulu *email:

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. baik fenomena yang bersifat alamiah ataupun rekayasa manusia.1pendekatan

BAB III METODE PENELITIAN. baik fenomena yang bersifat alamiah ataupun rekayasa manusia.1pendekatan BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Pendekatan Penelitian Ditinjau dari jenis data hasil penelitian, penelitian ini menggunakan Metode pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode survai dan bersifat

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 33 BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian 1. Pendekatan Penelitian Pendekatan penelitian yang digunakan pada studi ini adalah pendekatan kualitatif. Metode penelitian kualitatif adalah

Lebih terperinci

Kata Kunci: analisis, perilaku, pemecahan masalah fisika, konvergen, divergen

Kata Kunci: analisis, perilaku, pemecahan masalah fisika, konvergen, divergen ANALISIS PERILAKU PEMECAHAN MASALAH FISIKA PADA SISWA YANG BERPIKIR SECARA KONVERGEN DAN DIVERGEN (STUDI KASUS PADA SISWA PESERTA OSN FISIKA DI SMA NEGERI MODEL TERPADU MADANI PALU) Priscilla Lusikooy,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu objek dengan

BAB III METODE PENELITIAN. menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu objek dengan BAB III METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan teknik, cara, dan alat yang digunakan untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu objek dengan menggunakan metode ilmiah yaitu Penelitian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kemampuan pemodelan dan abstraksi matematis merupakan hal yang penting dalam pendidikan matematika. Kemampuan pemodelan matematis merupakan kecakapan siswa

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif yang berupa katakata

BAB III METODE PENELITIAN. adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif yang berupa katakata 26 BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan di awal, pendekatan penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif

Lebih terperinci

DESKRIPSI KONSEPSI SISWA SMA TENTANG RANGKAIAN LISTRIK ARUS SEARAH

DESKRIPSI KONSEPSI SISWA SMA TENTANG RANGKAIAN LISTRIK ARUS SEARAH ISSN 2338 3240 DESKRIPSI KONSEPSI SISWA SMA TENTANG RANGKAIAN LISTRIK ARUS SEARAH Andhika Nugraha 1, I Komang Werdhiana 2, dan I Wayan Darmadi 3 Email: andhika_entrepreneur@yahoo.com Program Studi Pendidikan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 8 Gorontalo yang berstatus

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 8 Gorontalo yang berstatus 1 BAB III METODE PENELITIAN A. Latar Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 8 Gorontalo yang berstatus sebagai sekolah standar nasional (SSN) dengan objek penelitian yang meliputi: 1) Pengelolaan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN Pada bagian ini akan dibahas mengenai prosedur yang digunakan dalam penelitian ini. Untuk lebih jelasnya maka akan dijabarkan sebagai berikut: A. Lokasi dan Subjek Penelitian

Lebih terperinci

Analisis Kesulitan Siswa dalam Menyelesaikan Soal Gerak Lurus

Analisis Kesulitan Siswa dalam Menyelesaikan Soal Gerak Lurus Analisis Kesulitan Siswa dalam Menyelesaikan Soal Gerak Lurus Ni Luh Yesi Andriani, Darsikin dan Amiruddin Hatibe Email: Yesiniluh@gmail.com Program Studi Pendidikan Fisika. FKIP, Universitas Tadulako

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Rancangan Penelitian 1. Pendekatan Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif adalah suatu proses penelitian

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses kognisi siswa kelas X dalam mengonstruksi konjektur masalah generalisasi pola secara mendalam sesuai

Lebih terperinci

Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako (JPFT) Vol. 5 No. 2 ISSN

Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako (JPFT) Vol. 5 No. 2 ISSN Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Berbantuan Alat Praktikum Sederhana Terhadap Keterampilan Berpikir Kritis Siswa Kelas VIII SMP Negeri 16 Palu Delpina Nggolaon, I Wayan Darmadi, dan Muhammad

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN Metode penelitian adalah cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan kegunaan tertentu.1 Metode penelitian digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, menguji keefektifan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode penelitian merupakan cara dan prosedur yang sistematis dan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode penelitian merupakan cara dan prosedur yang sistematis dan BAB III METODOLOGI PENELITIAN Metode penelitian merupakan cara dan prosedur yang sistematis dan terorganisasi untuk menyelidiki suatu masalah tertentu dengan maksud mendapatkan informasi untuk digunakan

Lebih terperinci

Analisis Kemampuan Menyelesaikan Soal Cerita Matematika Tentang Bangun Datar Ditinjau Dari Teori Van Hiele ABSTRAK

Analisis Kemampuan Menyelesaikan Soal Cerita Matematika Tentang Bangun Datar Ditinjau Dari Teori Van Hiele ABSTRAK Analisis Kemampuan Menyelesaikan Soal Cerita Matematika Tentang Bangun Datar Ditinjau Dari Teori Van Hiele 1 Wahyudi, 2 Sutra Asoka Dewi 1 yudhisalatiga@gmail.com 2 sutrasoka@gmail.com ABSTRAK Penelitian

Lebih terperinci

ANALISIS KEMAMPUAN MENYELESAIKAN SOAL CERITA MATEMATIKA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 03 TUNTANG TENTANG BANGUN DATAR DITINJAU DARI TEORI VAN HIELE

ANALISIS KEMAMPUAN MENYELESAIKAN SOAL CERITA MATEMATIKA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 03 TUNTANG TENTANG BANGUN DATAR DITINJAU DARI TEORI VAN HIELE ANALISIS KEMAMPUAN MENYELESAIKAN SOAL CERITA MATEMATIKA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 03 TUNTANG TENTANG BANGUN DATAR DITINJAU DARI TEORI VAN HIELE JURNAL Disusun untuk memenuhi syarat guna mencapai Gelar

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. yang diarahkan untuk mendeskripsikan gejala-gejala, fakta-fakta atau

BAB III METODE PENELITIAN. yang diarahkan untuk mendeskripsikan gejala-gejala, fakta-fakta atau 34 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini digolongkan dalam penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang diarahkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Matematika merupakan ilmu yang menggunakan penalaran deduktif aksiomatis, tidak menerima kebenaran hanya berdasarkan pada peristiwa induktif. Generalisasi yang hanya

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 40 BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilakukan di SD Negeri Kebumen yang beralamat di Jalan Kaswari nomer 2 Kelurahan Kebumen

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 25 BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan alasan penelitian yang dilakukan dalam konteks alami. Penelitian kualitatif bertujuan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN Sebuah penelitian pastilah memerlukan metode-metode penelitian. Secara umum metode penelitian diartikan sebagai cara ilmiah untuk menentukan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.1

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. kualitatif. Menurut Moleong (2007: 27) berpendapat bahwa:

BAB III METODE PENELITIAN. kualitatif. Menurut Moleong (2007: 27) berpendapat bahwa: BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Metode Penelitian 1. Pendekatan Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Menurut Moleong (2007: 27) berpendapat

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Pendekatan Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Metode penelitian kualitatif adalah mengamati orang dalam lingkungan

Lebih terperinci

PROBLEMATIKA DALAM TEKNIK INTEGRASI SUBSTITUSI DAN PARSIAL SERTA ALTERNATIF PEMECAHANNYA

PROBLEMATIKA DALAM TEKNIK INTEGRASI SUBSTITUSI DAN PARSIAL SERTA ALTERNATIF PEMECAHANNYA PROBLEMATIKA DALAM TEKNIK INTEGRASI SUBSTITUSI DAN PARSIAL SERTA ALTERNATIF PEMECAHANNYA Kusnul Chotimah Dwi Sanhadi 1, Yoga Muhamad Muklis 1, Universitas Sebelas Maret 1 choosenewl@gmail.com, yogamuklis@gmail.com

Lebih terperinci

Kemampuan Siswa dalam Menganalisis Soal Uraian Listrik Statis di SMPN 2 Kasimbar

Kemampuan Siswa dalam Menganalisis Soal Uraian Listrik Statis di SMPN 2 Kasimbar Kemampuan Siswa dalam Menganalisis Soal Uraian Listrik Statis di SMPN 2 Kasimbar Siti Magfirah Saini, Marungkil Pasaribu dan Muslimin e-mail: magfira.physic@yahoo.com Program Studi Pendidikan Fisika FKIP

Lebih terperinci

STUDI KESALAHAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL-SOAL VEKTOR DI SMA NEGERI 1 INDERALAYA

STUDI KESALAHAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL-SOAL VEKTOR DI SMA NEGERI 1 INDERALAYA JURNAL INOVASI DAN PEMBELAJARAN FISIKA ISSN: 2355 7109 Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Sriwijaya Jl. Palembang Prabumulih KM 32 Indralaya Kab. Ogan Ilir Prov. Sumatera Selatan Indonesia

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. 1. Pendekatan Kualitatif Pendekatan yang

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian Tempat yang dijadikan tempat penelitian adalah SMP Muhammadiyah 2 Surakarta tahun ajaran 2013/2014. Alasan pemilihan tempat

Lebih terperinci

Penerapan Model Pembelajaran Creative Problem Solving Untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Siswa Kelas X MIPA4 SMA Negeri 5 Palu

Penerapan Model Pembelajaran Creative Problem Solving Untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Siswa Kelas X MIPA4 SMA Negeri 5 Palu Penerapan Model Pembelajaran Creative Problem Solving Untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Siswa Kelas X MIPA4 SMA Negeri 5 Palu Nur Cahyani, H. Fihrin dan Amiruddin Kade nurlahako@yahoo.co.id Program

Lebih terperinci

Peningkatan Hasil Belajar IPA-Fisika Melalui Pendekatan Deep Dialogue dan Critical Thingking pada Siswa Kelas VII-C SMP Negeri 2 Biromaru

Peningkatan Hasil Belajar IPA-Fisika Melalui Pendekatan Deep Dialogue dan Critical Thingking pada Siswa Kelas VII-C SMP Negeri 2 Biromaru Peningkatan Hasil Belajar IPA-Fisika Melalui Pendekatan Deep Dialogue dan Critical Thingking pada Siswa VII-C SMP Negeri 2 Biromaru Hizrah, I Wayan Darmadi, I Komang Werdhiana Email: Hizrahfisika@yahoo.com

Lebih terperinci

ANALISIS KESALAHAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL CERITA SPLDV BERDASARKAN LANGKAH PENYELESAIAN POLYA

ANALISIS KESALAHAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL CERITA SPLDV BERDASARKAN LANGKAH PENYELESAIAN POLYA ANALISIS KESALAHAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL CERITA SPLDV BERDASARKAN LANGKAH PENYELESAIAN POLYA Shofia Hidayah Program Studi Magister Pendidikan Matematika Universitas Negeri Malang shofiahidayah@gmail.com

Lebih terperinci

ANALISIS KESALAHAN SISWA DALAM MELAKUKAN OPERASI ALJABAR. Arini Fardianasari ABSTRAK

ANALISIS KESALAHAN SISWA DALAM MELAKUKAN OPERASI ALJABAR. Arini Fardianasari ABSTRAK ANALISIS KESALAHAN SISWA DALAM MELAKUKAN OPERASI ALJABAR Arini Fardianasari ABSTRAK Masalah kesulitan siswa memahami materi aljabar dapat memicu terjadinya kesalahan saat menyelesaikan persoalan aljabar.

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. PENDEKATAN DAN METODE PENELITIAN 1. Pendekatan Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ialah pendekatan kualitatif. Nasution (2003: 9) menjelaskan bahwa dalam

Lebih terperinci

BAB III. digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

BAB III. digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini digolongkan dalam penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Maksud deskriptif adalah penelitian yang diarahkan untuk mendeskripsikan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. ini adalah kualitatif. Dikatakan demikian adalah karena data-data yang diperoleh

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. ini adalah kualitatif. Dikatakan demikian adalah karena data-data yang diperoleh BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Berdasarkan pertanyaan penelitian yang diangkat, maka jenis penelitian ini adalah kualitatif. Dikatakan demikian adalah karena data-data yang diperoleh

Lebih terperinci