Pengguna jasa tidak perlu lagi repot

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Pengguna jasa tidak perlu lagi repot"

Transkripsi

1

2 EDITORIAL Gaya Hidup Masa Kini: Minim Uang Tunai Lambat laun, kita mulai meninggalkan transaksi tunai. Setelah terbiasa membeli barang elektronik, melunasi tiket pesawat, dan membayar di restoran de ngan kartu kredit atau kartu debet, kini untuk transaksi yang nominalnya kecil, kita terutama warga Jabodetabek bisa memanfaatkan kartu uang elektronik. Seorang rekan yang menjadi professional di perusahaan media digital begitu senang memiliki kartu elektronik tersebut untuk membayar tiket kereta api commuterline. Tak perlu lagi antre membeli tiket. Cukup menempelkan kartu tiket elektronik ke area Tempelkan Kartu di pintu masuk stasiun. Uang yang tersimpan dalam kartu otomatis terdebet ketika kartu digunakan untuk membuka pintu keluar di stasiun tujuan. Yang paling memuaskan dia adalah kartu yang dikeluarkan salah satu bank tersebut juga bisa digunakan untuk membayar parkir mobil di stasiun, membayar tiket bus Transjakarta dan jalan tol. Untuk Top Up alias mengisi ulang uang, cukup datang ke mesin ATM. Top up juga bisa dilakukan secara manual di mini market. Bagi rekan tersebut, adanya kartu tiket elektronik membuat perjalanan dari rumah ke kantor menjadi sederhana, karena di stasiun tidak perlu lagi antre tiket, tidak perlu menunggu uang kembalian, dan tidak ada pemeriksaan tiket. Berkat kartu tiket elektronik, pengelolaan fasilitas transportasi publik juga menjadi lebih akuntabel, penumpang tak bertiket, dan percekcokan karena selisih uang kembalian saat membeli tiket menjadi nihil. Respon operator transportasi publik dan bank penerbit kartu uang elektronik dalam mengadopsi sistem pembayaran non tunai akan membantu program Bank Indonesia dalam mewujudkan Less Cash Society alias warga yang minim menggunakan uang tunai untuk membayar kebutuhan sehari-hari. Transaksi non tunai sebenarnya bisa digunakan hingga ke pelosok untuk pembayaran dengan nominal kecil seka lipun, misalnya membeli makanan di warung, selama tersedia infrastruktur telekomunikasi. Saat ini, Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan negara-negara di Asean dalam hal pembayaran dengan kartu uang elektronik. Di negara kita, pembayaran tunai transaksi ritel masih mencakup 99,4%, alias yang dibayar secara non tunai baru 0,6%. Kondisi yang pa ling dekat dengan kita adalah Thailand di mana transaksi ritel tunainya masih 97,2%. Tapi di Singapura pembayaran tunai tinggal 55,5% dari total transaksi ritel. Bila komposisi pembayaran non tunai di dalam negeri meningkat, tentu bukan hanya kesetaraan layanan perbankan dengan negara sekawasan yang dicapai, tapi juga akan mewujudkan akuntabilitas dan efisiensi dalam transaksi. Ke depan, mungkin kita akan terbiasa dengan idiom ini: Apapun transaksinya, gesek saja dengan kartu elektronik. 2 Yth. redaksi gerai Info, Saya masih punya beberapa lembar uang Rp berbahan plastik. Kemana saya dapat menukarkan uang tersebut? Apakah ada biaya yang harus dibayarkan? Terima kasih. Mita, Surabaya Yth. Mita Uang Rupiah nominal berbahan polimer (plastik) telah dicabut dan ditarik dari peredaran pada 31 Desember REDAKSI Penanggung Jawab tirta segara Pemimpin Redaksi Peter jacobs Redaksi Pelaksana Dwi Mukti Wibowo ernawati jatiningrum Wahyu Indra sukma surya Nanggala Any ramadhaningsih Dahlia Dessianayanthi Alamat Redaksi: Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Jl. M.H. Thamrin No.2 - Jakarta, Telp. Contact Center BICARA: (Kode Area) , website: flip.it/7a9uk bankindonesia BankIndonesiaChannel Sesuai dengan Undang-Undang RI No.23/ 1999 Tentang Bank Indonesia sebagaimana diubah dengan UU RI No.3/2004 pada pasal 23 ayat 4 disebutkan hak untuk menuntut penukaran uang yang sudah dicabut, tidak berlaku lagi setelah 10 tahun sejak tanggal pencabutan. Pada 5 tahun pertama dari tanggal pencabutan, masyarakat dapat menukarkan uang di Bank Umum dan Bank Indonesia. Sedangkan 5 tahun kedua hanya dapat dilakukan di Bank Indonesia. Penukaran di Bank Indonesia dapat dilakukan di Kantor Pusat Bank Indonesia, Kantor Perwakilan Bank Indonesia dan Kas Keliling yang disediakan oleh Bank Indonesia pada jadwal tertentu. Tidak ada biaya yang untuk layanan penukaran uang dan Bank Indonesia akan memberikan penggantian sebesar nilai nominal uang yang ditukarkan oleh masyarakat. Untuk lebih jelasnya, silahkan menghubungi contact center BICARA di atau Redaksi menerima kiriman naskah dan mengedit naskah sebelum dipublikasikan. Naskah dikirim ke

3 ARAH Memaksimalkan transaksi Non tunai Penggunaan tiket elektronik untuk angkutan Kereta rel Listrik Commuter Line yang melayani area jabodetabek dan bus penumpang trans jakarta menjadi contoh nyata betapa efisiennya pembayaran secara non tunai. Pengguna jasa tidak perlu lagi repot karena dengan kartu tiket elektronis, mereka tinggal me nempelkan kartu saat masuk dan keluar stasiun kereta atau area terminal penumpang bus. Kartu elektronis tersebut bisa juga dipakai untuk membayar parkir di stasiun kereta api dan jalan tol. Malah kartu yang dikeluarkan oleh beberapa bank bisa untuk berbelanja dan membayar makanan di restoran. Sementara bagi merchant atau penyedia jasa, penggunaan kartu elektronik membuat proses bisnis menjadi lebih ringkas, karena uang dari konsumen bisa langsung masuk ke rekening perusahaan. Dengan demikian, tingginya pembayaran non tunai dalam transaksi ritel bisa menekan permasalahan struktural terkait inefisiensi perekonomian. Untuk mendukung perbaikan efisiensi dan iklim usaha, Bank Indonesia mencanangkan Gerakan Nasional Non Tunai pada 14 Agustus GNNT ditujukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penggunaan instrumen non tunai, sehingga berangsur-angsur terbentuk suatu komunitas atau masyarakat yang menggunakan instrumen non tunai (Less Cash Society) khususnya dalam melakukan transaksi atas kegiatan ekonominya. Munculnya Less Cash Society tidak lepas dari perkembangan teknologi informasi yang mendorong teknologi pembayaran semakin inovatif, efisien, aman serta mudah digunakan. Saat ini kita mengenal beragam instrumen pembayaran non tunai seperti cek atau bilyet giro, kartu ATM, kartu debet, kartu kredit dan uang elektronik, yang digunakan untuk berbelanja, mengirim uang, membayar berbagai tagihan, sampai dengan transaksi dengan nilai relatif kecil seperti membayar biaya parkir dan transportasi seperti bus transjakarta dan kereta api. Meskipun penggunaan instrumen non tunai semakin meningkat, namun secara umum penggunaan uang tunai masih mendominasi transaksi pembayaran di Indonesia. Hal ini antara lain disebabkan masih banyaknya masyarakat yang belum memahami fungsi dan cara menggunakan instrumen non tunai serta masih banyaknya masyarakat di daerah yang belum terjangkau oleh layanan sistem pembayaran non tunai. Padahal sebagaimana kita pahami bersama, instrumen pembayaran tunai seperti uang rupiah, pada kondisi tertentu dapat menimbulkan risiko pencurian, pemalsuan dan biaya handling. Oleh sebab itu, perlu upaya secara berkelanjutan untuk mendorong agar masyarakat terbiasa menggunakan ragam alat pembayaran non tunai. BI bersama-sama dengan industri terkait, seperti penyedia layanan publik dan penyedia layanan pembayaran non-tunai telah melakukan berbagai kegiatan dan inisiatif untuk mendorong penggunaan alat pembayaran non tunai. Diantaranya penggunaan e-ticketing untuk TransJogja- Solo, TransJakarta dan Kereta Commuter Jabodetabek. Di Sumatera Utara diterapkan e-ticketing kereta Bandara Kuala Namu sejak BI juga meluncurkan Agus D.W. MArtoWArDojo Gubernur Bank Indonesia pilot pro ject GNNT di kawasan kampus dan komunitas di 9 wilayah/daerah di mana terdapat Kantor Perwakilan BI untuk memfasilitasi aktivitas transaksi non tunai di kampus, se perti kantin, minimarket, koperasi, fotocopy dan sebagainya. Bekerjasama dengan perbankan penerbit uang elektronik, BI meningkatkan penggunaan uang elektronik sebagai media pembayaran bantuan pemerintah (Government to Person/G2P) untuk Program Keluarga Harapan (PKH), yaitu salah satu bantuan langsung bersyarat kepada Rumah Tangga Sangat Miskin. BI mengawali program G2P pada tahun 2014 dengan melakukan pilot project penyaluran bantuan PKH di beberapa wilayah. Ke depan, uang elektronik diharapkan dapat digunakan secara massal untuk berbagai penyaluran bantuan pemerintah lainnya. Perwujudan Less Cash Society pada dasarnya lebih mengarah pada perubah an budaya atau perilaku, dibanding perubahan sistem. Untuk itu, perubahan perilaku bertransaksi dari tunai ke non tunai harus dimulai dari diri kita masing-masing kemudian kepada masyarakat umum. 3

4 SOROT Mengurangi Ketergantungan pada Uang Tunai 4 Alah bisa karena biasa. segala hal yang tampaknya sulit pasti akan dapat dilakukan jika telah terbiasa. tak terkecuali, pepatah lama tersebut berlaku pula dalam hal pembiasaan menggunakan transaksi nontunai dalam kehidupan sehari-hari. Bank Indonesia sejak beberapa tahun lalu telah memulai inisia tif untuk mengkampanyekan penggunaan transaksi nontunai dalam masyarakat alias less cash society. Pada 14 Agustus 2014, BI meluncurkan program Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT). Gerakan ini bertujuan mengajak masyarakat Indonesia mengalihkan kebiasaan bertransaksi menggunakan uang tunai menjadi nontunai. Caranya bermacammacam, mulai dengan transaksi melalui internet banking, elektronik banking, automated teller machine (ATM), kartu kredit, kartu debet, maupun uang elektronik. Mengapa harus membiasakan diri bertransaksi secara nontunai? Pertama, alasan efisiensi. Transaksi nontunai me ngurangi kebutuhan terhadap uang tunai yang membutuhkan biaya dan energi besar untuk mengelolanya. Bertransaksi secara nontunai akan menghindarkan segala kerepotan dalam mengelola uang tunai seperti menghitung, menyortir, menyimpan, dan mendistribusikan uang. Bagi penyedia produk dan jasa yang melayani transaksi ritel dengan frekuen si tinggi, kerepotan yang dirasakan akan semakin besar. Ambil contoh PT Kereta Api Indonesia (KAI). Khusus di jaringan kereta api commuterline yang melayani rute Jakarta-Bogor- Depok-Tangerang-Bekasi saja, setidaknya ada penumpang yang setiap hari harus membeli tiket. Bayangkan berapa banyak uang receh yang harus diterima oleh KAI, berapa banyak tenaga yang bertugas mengelola uang-uang itu. Belum lagi, antrean pembelian tiket umumnya sangat panjang karena proses transaksi tunai akan memakan waktu lebih lama, terutama jika pembeli tidak menyediakan uang pas. Ketika KAI beralih menggunakan sistem electronic ticketing menggunakan uang elektronik, segala kerepotan itu selesai sudah. Uang hasil penjualan tiket langsung masuk ke dalam rekening, tanpa perlu repot dengan uang-uang kartal yang umumnya berbentuk pecahan kecil. Setelah sukses menyelenggarakan sistem pembelian tiket menggunakan uang elek tronik, saat ini KAI melebarkan sistem serupa dalam pembayaran parkir. Semua transaksi di ling-

5 SOROT kungan commuterline pada gilirannya akan diarahkan agar tak lagi melibatkan uang tunai. Efisiensi yang telah dilakukan oleh KAI kini telah direplikasi oleh pengelola ja ringan bus Transjakarta, yang kini mulai mengembangkan transaksi nontunai dalam pembelian tiket. Dalam skala yang lebih besar, efisiensi dari pemanfaatan transaksi nontunai telah mulai diujicobakan dalam pe nyaluran bantuan so sial oleh pemerintah. Percobaan pertama telah dipraktikkan dalam penyaluran dana bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) yang dikoordinasikan oleh Kementerian Sosial. Pada 8 Oktober 2014, Kemensos telah menyalurkan dana PKH kepada masyarakat di kawasan Koja, Jakarta Utara. Penyaluran bantuan dilakukan melalui uang elektronik dengan menggandeng dua bank BUMN terbesar di Indonesia yakni PT Bank Mandiri Tbk dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. Penyaluran dana PKH tersebut merupakan tahap uji coba pertama penyaluran dana menggunakan uang elektronik. Jika uji coba ini berhasil, maka seluruh anggaran dana bantuan sosial PKH tahun ini senilai Rp3,84 triliun akan disalurkan melalui uang elektronik. Pada tahap selanjutnya, penyaluran dana bantuan sosial diharapkan dapat seluruhnya tersalur melalui transaksi nontunai. Selain lebih efisien, cara ini diyakini dapat menutup rapat peluang penyaluran dana bansos kepada pihak yang tidak semestinya. Sebab, penyaluran dana dilakukan melalui uang elektronik berjenis registered yang tidak dapat dipindahtangankan. Nilai uang yang disa lurkan oleh pemerintah tersimpan dalam chip ataupun server uang elek tronik yang disesuaikan de ngan identitas penerima bantuan. Transaksi nontunai juga lebih transparan karena semua tercatat. Data transaksi pada akhirnya dapat digunakan untuk berbagai keperluan, misalnya saja menjadi pertimbangan perbankan untuk menentukan apakah se seorang layak mendapatkan kredit bank (bankable) atau tidak. Manfaat dari transaksi nontunai yang juga penting adalah semakin kecilnya risiko yang melekat pada penggunaan uang tunai seperti risiko uang hilang, ke rampokan, dan uang palsu. Selain itu, dengan bertransaksi menggunakan transaksi nontunai, masyarakat akan terhindar dari potongan uang kembalian yang seringkali terjadi akibat ketiadaan uang dalam pecahan kecil. Nilai transaksi dapat dibayar dengan tepat, bahkan hingga ke nominal terkecil. Beragam cara telah dilakukan oleh BI untuk meningkatkan transaksi nontunai yang saat ini baru mencapai sekitar 0,6% dari total transaksi ritel yang dilakukan oleh masyarakat. BI tak hanya berkampanye secara persuasif melalui beragam program sosialisasi dan iklan. Keamanan bertransaksi menjadi perhatian utama Bank Indonesia se bagai regulator di bidang sistem pembayaran. Bekerja sama dengan perbankan dan provider telepon seluler, BI mengembangkan tran saksi nontunai hingga pelosok wilayah. Teknologi yang digunakan adalah uang elektro nik berbasis nomor telepon. Sepanjang se seorang memiliki telepon seluler dan ada sinyal, uang elektronik yang tertanam di server telepon dapat digunakan. INKLusIF Bicara mengenai transaksi nontunai bukan hanya menyangkut uang elektro nik yang jumlah transaksinya relatif kecil. Kampanye GNNT juga menyasar kelompok masyarakat kelas menengah dan atas yang terbiasa bertransaksi dalam jumlah besar. Khusus menangani segmen ini, strategi yang dilakukan adalah dengan memastikan keamanan dan kenyamanan dalam bertransaksi. Soal keamanan bertransaksi menjadi perkara penting bagi nasabah, terutama dalam transaksi yang dilakukan dalam nominal yang cukup besar. Oleh karena itu, keamanan menjadi perhatian utama BI sebagai regulator di bidang sistem pembayaran. BI mewajibkan industri perbankan menetapkan sistem PIN enam digit untuk transaksi kartu kredit mulai 1 Januari BI juga mengharuskan bank mengganti sistem keamanan kartu debet dari magnetic stripe ke teknologi berbasis chip yang dinilai lebih aman, paling lambat pada Desember Dari sisi kenyamanan, BI juga berupaya memudahkan transaksi dengan mengintegrasikan pelayanan electronic data capture (EDC) perbankan. Dengan demikian, satu mesin EDC dapat digunakan oleh berbagai macam kartu. Transaksi semakin mudah dilakukan. BI juga mempermudah lalu lintas uang secara nontunai dalam jumlah besar melalui Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) yang kini dapat dilakukan secara lebih cepat. Skema kliring ini menjadi salah satu pilihan transfer dana selain melalui ATM ataupun RTGS. Segala upaya tersebut dilakukan untuk meningkatkan volume transaksi nontunai. Indonesia mungkin belum bisa mengejar Singapura yang saat ini kontribusi transaksi nontunai telah mencapai 45% dari total transaksi ritel. Paling tidak, dalam beberapa tahun mendatang, persentase transaksi nontunai dapat mencapai 2,5% menyusul Thailand, atau bahkan 7,5%, menyusul posisi Malaysia. 5

6 SOROT treffi Anthony Departemen Kebijakan dan Pengawasan Sistem Pembayaran gerakan Nasional Non tunai Menuju Less Cash Society Pembayaran non tunai kini semakin mewarnai aktivitas sehari-hari. Yang paling mutakhir adalah bantuan pemerintah bagi masyarakat kurang mampu yang semula berupa bantuan uang tunai menjadi non tunai. Dengan skema bantuan yang baru ini, diharapkan tidak lagi terjadi antrean masyarakat penerima bantuan di kantor pos pada saat mengambil uang tunai. Mereka bisa mencairkan bantuan melalui mesin AtM atau melalui agen bank penyalur. 6 Bantuan non tunai yang disalurkan pemerintah ditanamkan dalam Kartu Keluarga Sejahtera (KKS), Kartu Indonesia Sehat (KIS), dan Kartu Indonesia Pintar (KIP). Keunggulan bantuan ini, ada pada sistem layanan perbankan yang digunakan, yakni Layanan Keuangan Digital (LKD). LKD merupakan dompet uang elektronik dan transaksi non tunai yang menggunakan nomor ponsel sebagai rekening tempat menyimpan dana. Dengan demikian, ini diharapkan bisa mengubah kebiasaan masyarakat dalam bertransaksi. Setidaknya, mereka yang selama ini tidak pernah menggunakan jasa perbankan, mulai mengerti rekening bank serta memahami layanan simpanan dan penarikan uang. Dalam hal transaksi non tunai, sebelum pemerintahan Presiden Joko Widodo membuat program bantuan non tunai di atas, masyarakat Ibu Kota sudah menikmati fasilitas pembayaran non tunai untuk naik kereta rel listrik dan membayar parkir mobil di stasiun, pembayaran bus dalam kota Trans Jakarta, dan jalan tol. Malah masyarakat perkortaan tidak asing lagi menggunakan kartu kredit dan kartu ATM/debet untuk membayar keperluan sehari-harinya. Meskipun perkembangan transaksi sistem pembayaran non tunai di Indonesia terus meningkat, namun peningkatannya belum signifikan mengurangi dominasi pembayaran secara tunai. Kondisi itu ditengarai karena pemahaman masyarakat terhadap instrumen non tunai relatif rendah dan masih terbatasnya ketersediaan pe rangkat pendukung transaksi non tunai. Upaya mendorong penggunaan non tunai menjadi penting untuk dilakukan mengingat banyak manfaat yang diperoleh se perti dari sisi kepraktisan, efisiensi, kemudahan akses serta mendukung percepatan gerak perekonomian, serta membantu usaha pencegah an dan identifikasi kejahatan kriminal. Sementara, penggunaan uang tunai yang dominan untuk bertransaksi memiliki permasalahan tersendiri. Dari sisi pelaku bisnis transaksi tunai menimbulkan kerepotan dalam penyediaan uang kembalian, penghitungan, pengiriman dana hasil transaksi penjualan ke rekening bank, belum lagi potensi berhadapan dengan pelaku tindak kriminal. Dari sisi otoritas, penyediaan uang tunai dalam jumlah besar cenderung meningkatkan biaya pengelolaan uang, mulai dari pencetakan, penyimpanan, distribusi dan pemusnahannya. Oleh karena itu, Bank Indonesia (BI) mendorong terwujudnya Less Cash Society sejak beberapa tahun lalu dari sisi perluasan la yanan maupun peningkatan efisiensi. Salah satunya dengan menyasar

7 SOROT penggunaan non tunai untuk berbagai jenis transaksi yaitu Person to Person Payment (P to P Payment), Person to Business Payment (P to B Payment), Business to Business Payment (B to B Payment), Government to Person (G to P Payment), dan Person to Government Payment (P to G Payment). Kemudian, pembentukan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) pada tahun 2010 merupakan salah satu upaya memperkuat industri sistem pembayaran dapat bersinergi dengan BI dalam pengembangan sistem pembayaran Indonesia. Berbagai kegiatan sinergi BI bersama ASPI telah dilakukan untuk mendorong perluasan penggunaan non tunai. Dimulai dengan fasilitasi penggunaan uang elektronik pada sektor transportasi publik seperti TransJogja dan TransSolo (Desember 2012), TransJakarta (Januari 2013). Selain itu, fasilitasi juga dilakukan dalam rangka perluasan ke tersediaan sarana, jaringan dan instrumen pembayaran di masyarakat meliputi pengembangan P to P transfer antara operator selular, e-ticketing bandara Kuala Namu, pengembangan kawasan non tunai di beberapa universitas, e-ticketing KCJ dan Layanan Keuangan Digital dalam rangka mendukung keuangan inklusif. Manfaat Non tunai bagi Masyarakat AKses LAYANAN Namun demikian, penggunaan transaksi pembayaran elektronik di Indonesia dipandang masih relatif rendah apabila diban dingkan dengan beberapa negara ASEAN. Dengan kondisi geografi dan jumlah populasi yang cukup besar, terbuka lebar potensi untuk memperluas akses layanan sistem pembayaran di Indonesia. Untuk itu, Bank Indonesia membuat Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) untuk mendorong masyarakat menggunakan sistem pembayaran dan instrumen non tunai dalam melakukan transaksi pembayaran. Program GNNT direncanakan sebagai gerakan bersama seluruh otoritas, industri, dan lapisan masyarakat secara nasional untuk mewujudkan Less Cash Society melalui peningkatan penggunaan instrumen dan channel non tunai. Salah satu bentuk dukungan dan komitmen pelaku industri terhadap GNNT tercermin dari kehadiran perangkat Electronic Data Capture (EDC) yang dapat memproses transaksi 3 bank pemerintah. Selanjutnya, Bank Indonesia terus mendorong pelaku industri meningkatkan efisiensi dan memperluas penggunaan instrumen non tunai. Dukungan pemerintah, baik pusat maupun daerah, untuk mendorong implementasi pembayaran non tunai di areanya masing-masing diharapkan akan turut mempercepat masyarakat untuk beralih dari penggunaan instrumen tunai ke instrumen non tunai dalam aktivitas ekonominya. Terwujudnya Less Cash Society akan memiliki banyak manfaat bagi Indonesia yaitu efisiensi ekonomi nasional, governance/ transparansi pengelolaan keuangan pemerintah, layanan publik yang berkualitas dan lingkungan usaha yang ramah, dukungan keuangan inklusif, berupa penyediaan layanan pembayaran untuk masyarakat pada lapisan bawah. Untuk mencapai semuanya itu, Bank Indonesia berusaha menyasar penggunaan instrumen dan channel non tunai yaitu masyarakat dan pemerintah melalui penggunaan kartu ATM, Kartu debit, Kartu Kredit, Uang Elektronik (Unik), Mobile Banking, Internet Banking, dan transfer dana. Strategi yang digunakan yaitu melalui peningkatan pemahaman dan penerimaan masyarakat melalui edukasi bertransaksi non tunai, pelayanan e-government, perluasan fasilitas pembayaran, pengembangan infrastruktur, dan insentif penggunaan non tunai. Berbagai program yang dijalankan Bank Indonesia bersama otoritas lain, perbankan dan pelaku usaha di Tanah Air, diyakini akan mampu mensejajarkan Indonesia dengan negara lain dalam pemanfaatan transaksi non tunai. Ayo kita songsong era di mana kita tidak perlu lagi membawa dompet tebal saat bepergian, cukup membawa kartu pembayaran. Kalau bisa, satu kartu untuk beragam pembayaran. 7

8 SOROT Kreatif Menginisiasi transaksi Non tunai 8 Komitmen yang tinggi dan penyusunan strategi yang tepat menjadi kunci meningkatkan transaksi nontunai alias less cash society. Sejumlah negara di berbagai belahan dunia telah memulai inisiatif ini. Negara-negara yang berhasil terbukti memiliki komitmen tinggi dan kreatif menciptakan peluang pengembang an transaksi nontunai guna mengalihkan kebiasaan masyarakat yang terlanjur nyaman bertran saksi secara tunai. Sejauh ini, Belanda menjadi salah satu negara yang paling berhasil menerapkan less cash society. Penggunaan transaksi nontunai telah mencapai sekitar 85% dari total tran saksi ritel. Strategi pemerintah Belanda untuk mendorong masyarakat meninggalkan transaksi tunai adalah dengan cara menciptakan lingkungan yang nyaman untuk bertransaksi secara nontunai. Ada potong an harga khusus, fasilitas istimewa, dan hadiah-hadiah menarik yang diberikan kepada masyarakat yang berbelanja menggunakan kartu debet dan kartu kredit. Di sisi lain, pemerintah juga secara tegas melarang penggunaan uang tunai dalam transaksi di toko tertentu yang dinilai rawan tindakan kriminal. Guna menarik simpati dari industri, pemerintah memberikan penghargaan dan menyelenggarakan kompetisi untuk pedagang yang mempromosikan pembayaran nontunai. Upaya melibatkan industri dalam inisiatif ini membuat kampanye less cash society mendapatkan dukungan luas. Korea Selatan juga menunjukkan keberhasilan dalam kampanye less cash society yang telah dimulai sejak Saat ini, sekitar 70% transaksi telah dilakukan secara nontu nai. Salah satu pendorong terbesar kesuksesan gerakan nontu nai di Korea Selatan adalah infrastruktur dan teknologi canggih yang menopang transaksi nontunai. Selain itu, dukungan pemerintah berupa pemberian insentif juga cukup efektif untuk mengajak masyarakat beralih dari uang tunai. Singapura mendorong less cash society melalui serangkaian program yang terangkum dalam The National Campaign to Minimize Cash Transaction. Program yang dimulai pada 1984 tersebut terbukti mampu meningkatkan transaksi nontunai hingga mencapai sekitar 69% dari total nilai pembayaran.

9 SOROT Sejumlah inisiatif yang telah dilakukan di antaranya meliputi pembentukan komite khusus untuk menggerakkan transaksi nontunai, beragam kampanye melalui pameran dan iklan di berbagai media massa, termasuk di ruang-ruang publik. Kementerian Keuangan Singapura juga menyediakan hotline khusus yang menjawab pertanyaan publik terkait transaksi nontunai. Di sisi lain, perbaikan infrastruktur sistem pembayaran juga terus dilakukan guna memudahkan proses transaksi nontunai yang dilakukan oleh masyarakat. Contoh lain pelaksanaan kampanye less cash society yang layak diperhatikan adalah di Meksiko. Sebagai negara berkembang, Meksiko telah berhasil meningkatkan porsi transaksi nontunai menjadi 53% dari total transaksi. Kunci keberhasilan penggalakan transaksi nontunai di Meksiko adalah komitmen pemerintah yang memberikan berbagai insentif untuk mendorong percepatan peng alihan transaksi dari tunai ke nontunai. Di antara hal yang telah dilakukan pemerintah adalah penetapan insentif pajak untuk bank-bank yang mendukung program less cash society. Hal penting lainnya adalah Keputusan Presiden Meksiko pada 2012 yang mewajibkan penyerapan anggaran oleh lembaga pemerintah harus dilakukan melalui transaksi elektronik. Nigeria juga layak dijadikan acuan dalam pengembangan inisiatif untuk mengikis transaksi tunai. Saat ini, penggunaan tran saksi tunai di negara di Afrika Barat tersebut telah mencapai sekitar 10% dari total transaksi, masih jauh Kunci keberhasilan penggalakan transaksi nontunai di Meksiko adalah komitmen pemerintah yang memberikan berbagai insentif untuk mendorong percepatan pengalihan transaksi dari tunai ke non tunai. lebih tinggi dibandingkan de ngan Indonesia yang baru pada level 0,6%. Kunci pengembangan transaksi nontunai di Nigeria adalah dukungan pemerintah yang menciptakan lingkungan agar transaksi nontunai dapat berkembang. Salah satu inisiatif penting adalah pemberlakuan biaya tarik tunai dan pelarang an pengeluaran cek oleh pihak ketiga dalam jumlah besar, diganti dengan metode transfer. Dalam memperkenalkan hal baru, skema insentif dan disinsentif memang masih cukup efektif, namun bukan berarti hanya berhenti di situ. Saat ini, yang perlu dilakukan adalah membawa program ini bukan hanya menjadi tanggung jawab Bank Indonesia, tetapi juga bagian dari tugas kita bersama. Monetaria Apa Itu Less Cash Society? Lesh cash society, secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai masyarakat yang semakin sedikit memanfaatkan uang tunai dalam transaksi sehari-hari. Bank Indonesia sebagai bank sentral sejak bertahun-tahun lalu berupaya mengarahkan agar masyarakat semakin terbiasa bertransaksi tanpa uang tunai. Bertransaksi tanpa uang tunai dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, seperti memanfaatkan uang elektronik, kartu kredit, kartu debit, maupun transfer. Teknologi yang semakin berkembang memungkinkan proses transfer dana dapat dilakukan melalui berbagai medium; internet banking, phone banking, sms-banking, maupun ATM. Semua dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kenyamanan penggunanya. Semakin banyaknya pilihan dan semakin mudahnya bertransaksi secara nontunai diharapkan mampu mendorong masyarakat untuk mencoba bertransaksi tanpa melibatkan uang tunai. Pada tahap selanjutnya, jika sudah berkali-kali mencoba, maka akan terbiasa. Mengapa harus beralih dari transaksi tunai ke nontunai? Sebagaimana telah dijelaskan pada artikel sebelumnya, manfaat transaksi nontunai adalah lebih efisien, aman, dan transparan karena semua tercatat. Di negara-negara maju, transaksi nontunai telah menjadi bagian dari gaya hidup warganya. Baik transaksi dalam nominal besar ataupun kecil, mereka telah terbiasa menggunakan teknologi sistem pembayaran tanpa uang tunai. Membeli kopi hingga mobil, semuanya dilakukan tanpa menggunakan uang tunai. Sebaliknya, di negara-negara berkembang, pemanfaatan transaksi nontunai masih belum terlalu familiar. Masyarakat masih merasa lebih nyaman bertransaksi menggunakan uang tunai karena terlihat secara fisik. Namun demikian, seiring dengan perkembangan teknologi serta edukasi yang terus dilakukan oleh Bank Indonesia yang bekerja sama dengan berbagai pihak, diharapkan masyarakat akan semakin mengenal transaksi nontunai dan mulai memanfaatkannya. Ketika semua telah terbiasa menggunakan transaksi nontunai, akankah uang tunai akan lenyap? Tentu saja tidak. Dalam berbagai kesempatan, keberadaan uang tunai masih akan tetap diperlukan. Hanya saja, porsinya akan semakin mengecil. 9

10 PERSPEKTIF Prospek Pembayaran NoN tunai 10 susiati Dewi Departemen Kebijakan dan Pengawasan Sistem Pembayaran Dibandingkan dengan ne gara tetangga, Indonesia masih tertinggal dalam hal pembayaran ritel de ngan menggunakan kartu. Penggunaan uang tunai di ne geri tercinta ini masih mencapai 99,4% dari total transaksi ritel. Bandingkan dengan Malaysia yang sebesaar 92,3%. Malah di singapura, pembayaran tunai tinggal 55,5%. Bila mengacu pada Tiga Tahapan Menuju Electronic Payment, saat ini Indonesia berada dalam Stage 1 Bulk Payer Transition, yang ditandai adanya beragam instrumen dan channel pembayaran, namun penggunanya masih terbatas. Berdasarkan data Mastercard dan Global Payment Summit pada 2013, Indonesia berada pada kelompok negara yang transaksi non tunainya kurang dari 30% dan terbelakang diban ding 3 negara besar Asean (Singapura, Malaysia, dan Thailand). Dengan kondisi demikian, perlu strategi untuk meningkatkan penggunaan pembayaran electronik yang merupakan Stage 2 atau bahkan meng akselerasi perubahan menuju Stage 3 atau sedikit bertransaksi menggunakan uang tunai. Menuju sasaran tersebut, dalam kurun waktu , Bank Indonesia menyu sun Road Map Electronification sebagai bagian dari Blue Print Sistem Pembayaran. Terdapat empat aspek fokus pengembangan dan perbaikan meliputi pengembang an infrastruktur, perluasan jangkauan pembayaran, harmonisasi regu lasi dan koordinasi antar otoritas, serta perubahan perilaku masyarakat. Pengembangan infrastruktur yang lebih merata dan pengembangan yang mengarah ke integrasi secara nasional merupakan sasaran utama. Untuk itu BI memfokuskan pada tiga kegiatan yakni: Pertama, perluasan penerimaan infrastruktur pembayaran dengan penyebar an perangkat alat baca instrumen (EDC) ke seluruh pelosok negeri. Kedua, pengembangan gerbang pembayaran nasional untuk menyiapkan interkoneksi switching. Ketiga, pengembangan electronic bill presentment and payment, yang mampu mengintegrasikan seluruh layanan penagihan pembayaran. Untuk memperluas penerimaan infrastruktur EDC, perlu didukung jaringan telekomunikasi yang handal dan kesediaan pelaku industri untuk mengarahkan investasi infrastruktur hingga ke wilayah yang lebih kecil. Sementara itu, untuk pengembangan gerbang pembayaran nasional akan diawali dengan pembentukan switching dan brand kartu kredit nasional. Sedangkan pengembangan electronic bill presentment and payment akan dikembangkan secara terintegrasi setelmennya dengan gerbang pembayaran nasional. DoroNg INDustrI Perluasan jangkauan pembayaran dilakukan dengan mendorong industri pembayaran nasional berkolaborasi menyediakan layanan pada sektor-sektor katalis, seperti layanan transaksi antar individu, layanan pembayaran tagihan masyarakat, layanan pembayaran pemerintah seperti penyaluran bantuan masyarakat, penyaluran APBN, pembayaran retribusi dan penerimaan nega ra seperti pembayaran pajak, penerimaan negara bukan pajak, serta jangkauan pembayaran di sektor transportasi, melanjutkan insiatif yang dimulai sejak Aspek harmonisasi regulasi dan koordinasi antar otoritas dilakukan dengan inisiasi pembentukan National Payment Council untuk meningkatkan efektivitas koordinasi antar kementrian/otoritas dan pelaku industri terkait isu-isu stra tegis dan penyusunan regulasi di bidang sistem. Selain itu, akan diwacanakan me ngenai regulasi pemberian insentif dari pemerintah agar masyarakat terdorong untuk bertransaksi non tunai, re gulasi untuk mendorong industri dalam perluasan akseptasi pembayaran (mi salnya pembatasan POS di satu merchant) serta harmonisasi regulasi untuk mendukung ke tersediaan infrastruktur telekomunikasi dan kelistrikan di seluruh pelosok negeri. Untuk mengubah perilaku masyarakat dilakukan melalui kampanye dan sosialisasi di berbagai media sosialisasi. Selain itu perubahan cara pandang terhadap non tunai akan diupayakan ke seluruh lapisan masyarakat melalui jalur-jalur sekolah formal mulai sekolah dasar sampai perguruan tinggi.

11 PERSPEKTIF Lebih Cepat, Mudah, dan Murah dengan Kliring Mokh. Farhan Krisnadi Departemen Pengelolaan Sistem Pembayaran Masyarakat punya banyak pilihan untuk melakukan transfer dana. jika ingin mentransfer dana dalam jumlah besar dengan biaya murah, kliring dapat menjadi salah satu pilihan. Bank Indonesia terus menyempurnakan fasilitas sistem pembayaran, di antaranya, pengembangan layanan transfer dana melalui kliring. Pengembangan utama layanan transfer dana melalui kliring terletak pada percepatan penyelesaian (settlement) di Bank Indonesia, sehingga masyarakat dapat menerima dana lebih cepat. Pengembangan tersebut dilatarbelakangi oleh banyaknya masyarakat yang masih beranggapan bahwa kliring merupakan fasilitas transfer yang lamban dan merepotkan. Setelah pengembangan pa ling mutakhir, kini layanan kliring yang baru sudah dapat memproses transfer dana dengan lebih cepat. Saat ini, durasi waktu penyelesaian pengiriman dilakukan setiap dua jam sekali, yaitu pada pukul WIB, WIB, WIB, dan WIB. Dengan demikian, diharapkan masyarakat dapat menerima dana paling lambat dalam waktu dua jam pada hari yang sama. Layanan kliring juga semakin mudah dijangkau. Selain dapat diakses sudah melalui teller di kantor cabang bank, kliring juga dapat dilakukan melalui internet banking dan electronic banking. Jumlah nominal dana yang dapat ditransfer melalui layanan kliring pun cukup besar, yakni maksimal Rp500 juta, meningkat dibandingkan dengan batasan yang ditetapkan sebelumnya sebesar Rp100 juta. Peningkatan tersebut berlaku sejak 31 Mei 2013, setelah diterbitkannya Surat Edaran Bank Indonesia (SEBI) Mo.15/18/DASP. Peningkatan batas maksimum dana yang dapat ditransfer diharapkan mampu mendorong masyarakat untuk dapat lebih leluasa memanfaatkan layanan kliring. Kelonggaran lain yang diberikan adalah terkait biaya. Bank Indonesia tidak membebankan biaya terlalu tinggi kepada bank untuk melakukan transaksi kliring, sehingga bank juga tidak akan membebankan tarif mahal kepada para nasabahnya. Dengan adanya kebijakan tersebut, diharapkan terjadi efisiensi biaya yang ditanggung oleh nasabah, seka ligus efisiensi sistem pembayaran secara menyeluruh. Pada akhirnya, akan terjadi efisiensi penggunaan likuiditas untuk perbankan. Transfer dana melalui kliring yang bernama resmi Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) merupakan sistem penyelesaian kliring yang dilakukan oleh seluruh bank di Indonesia sejak tahun Sistem tersebut dikembangkan oleh Bank Indonesia untuk mengakomodasi peningkatan aktivitas ekonomi yang di iringi dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat akan layanan transfer dana. Cepat, mudah, dan murah, itulah SKNBI. Mari kita manfaatkan bersama kemajuan layanan di SKNBI untuk melakukan transfer dana melalui kliring. 11

12 LIPUTAN Dahlia Dessianayanthi Departemen Komunikasi Indonesia Shari a Economic Festival (ISEF) 2014 Membuka Kerjasama Industri syariah Indonesia dengan oki Indonesia dipilih sebagai tuan rumah pertemuan tahun an negara-negara anggota organisasi Konferensi Islam (oki). Momentum besar ini dimanfaatkan Bank Indonesia (BI) untuk merangkaikan pertemuan ini dengan upaya mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah nasio nal dalam Festival ekonomi dan Keuangan syariah 2014 (Fes 2014) atau Indonesia shari a economic Festival (IseF 2014). 12 Kegiatan yang berlangsung di Surabaya, 3-9 November 2014 ini dimaksudkan untuk mengenalkan kepada anggota OKI mengenai ekonomi dan keuangan syariah Indonesia yang diharapkan dapat membuka peluang kerjasama antara negara-negara anggota OKI dalam pengembangan kegiatan ekonomi dan keuangan berbasis syariah. Acara dihadiri oleh Gubernur dan Deputi Gubernur BI, Gubernur Bank Sentral dan Otoritas Moneter serta delegasi dari 57 negara anggota OKI. Mengawali pertemuan tahunan iru, BI menandatangani MoU dengan Islamic Development Bank tentang Working Group Zakat dan Capacity Building, 3 November MoU ditandatangani oleh Gubernur BI, Agus D.W. Martowardojo dan Presiden IDB, Dr. Ahmad Mohamed Ali Al Madani. MoU ini menjadi payung dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah secara lebih luas, dari yang sebelumnya bersifat parsial. MoU tentang pelaksanaan seminar internasional me ngenai Inclusive Islamic Financial Sector yang telah ditandantangani BI dengan IRTI-IDB ini contohnya. Rekomendasi berupa research paper dan academic paper terkait kerangka pengaturan zakat diharapkan dapat lahir melalui kerja sama ini. Kerjasama ini juga diharapkan bermanfaat dalam penyusunan core principles bagi manajemen zakat dan pengorganisasian expert exchange programs. Di hari yang sama, OJK juga menyelenggarakan Indonesia International Conference on Islamic Finance. Gubernur BI juga menyampaikan keynote speech di acara ini. Agus menyampaikan ekonomi syariah menjanjikan suatu keseimbangan baru yang mampu mendukung keberlangsungan pertumbuhan ekonomi dan stabilitas keuangan. Rangkaian kegiatan Festival Ekonomi Syariah 2014 ini resmi dibuka pada Rabu, 5 November 2014, di Lapangan Kodam Brawijaya, Surabaya. Acara malam itu dihadiri oleh Wapres Jusuf Kalla, Gubernur BI Agus D.W. Martowardojo, Gubernur Jatim Soekarwo, Gubernur Bank Sentral dan Otoritas Moneter negara anggota OKI, para pimpinan de legasi, duta besar dari negara anggota OKI, anggota DPR K.H. Hasyim Muzadi, dan pimpinan pondok pesantren di seluruh tanah air.

13 LIPUTAN Dalam pidatonya, Agus mengatakan bahwa OKI merupakan organisasi lintas negara yang terbesar kedua setelah PBB. Organisasi ini memiliki peran strategis dalam mewakili aspirasi dan kepentingan umat Islam di dunia internasional. Pada pertemuan kali ini, dibahas tentang upaya menjaga stabilitas sistem keuangan, makroprudensial, serta kebijakan keuangan inklusif, dan kebijakan pasar uang, termasuk di dalamnya pengelolaan zakat. Momentum pertemuan Gubernur Bank Sentral dan Otoritas Moneter negara anggota OKI dimanfaatkan sekaligus untuk mengenalkan dan mendekatkan masyarakat kepada bentuk-bentuk kegiatan ekonomi dan produk-produk keuangan syariah, meningkatkan peran sektor pendidikan, khususnya di pesantren Indonesia. Jusuf Kalla dalam pidato pembukaan ISEF menyampaikan bahwa masyarakat yang menjalankan ajaran agama Islam sangat terbantu de ngan kegiatan perbankan ekonomi syariah. Partisipasi masyarakat juga merupakan upaya untuk memajukan bangsa. Peresmian acara ditandai dengan pemukulan beduk oleh Jusuf Kalla didampingi Agus D.W. Martowardojo. Iring-iringan shalawat yang di pimpin oleh Habib Syech din Al Qodir Assegaf turut memeriahkan acara ini. Sebelumnya, Rabu pagi 5 November 2014, Pertemuan Tahunan Bank Sentral dan Otoritas Moneter Negara Anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) dimulai dengan kegiatan Expert Group Workshop yang mengambil tema Dealing with Financial Stability Risk: Macroprudential Policy and Financial Deepening in Islamic Finance yang dilangsungkan sehari sebelum pertemuan Gubernur Bank Sentral dan Otoritas Moneter. Keesokan harinya, Gubernur BI Agus D.W. Martowardojo memimpin pertemuan tingkat Gubernur Bank Sentral dan Otoritas Moneter, yang mendiskusikan kebijakan makroprudensial dan pendalaman pasar keuangan. Semua yang hadir menyepakati peningkatkan kerja sama dan capacity building untuk mengantisipasi dua isu penting tersebut. Kami sepakat bekerja sama membangun kapasitas untuk mengidentifikasi dan mendeteksi risiko sistemik sedini mungkin, jelas Agus. Sementara, terkait dengan isu pendalaman pasar keuangan mengemuka upaya peningkatan keuangan inklusif yang dilakukan melalui pengelolaan zakat dan waqaf sesuai best practices. Potensi zakat sangat tinggi dan dapat mengembangkan ekonomi syariah, kata Perry Warjiyo, Deputi Gubernur BI, yang mendampingi Gubernur BI. BI Dukung Kemandirian ekonomi Pesantren Bukan tanpa sebab para pengasuh pondok pesantren dan santrinya hadir di BI. Mereka mengikuti acara Bincang Nasional Pemberdayaan Pesantren dalam Rangka Peningkatan Kemandirian Ekonomi serta Mendorong Pengembangan Ekonomi dan Keuangan Syariah. Diskusi ini menghadirkan narasumber antara lain Lukman Hakim Saifudin-Menteri Agama, Muliaman D. Hadad-Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Soekarwo-Gubernur Jawa Timur, Hasyim Muzadi-Ketua Nahdatul Ulama, pengasuh pondok pesantren, pejabat Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah. Satu lagi yang tak biasa. Gubernur BI yang biasanya bertindak sebagai narasumber, kali ini mengambil peran sebagai mo derator. Menag mengemukakan pondok pesantren di Jawa Timur mencapai 6 ribu dengan santri lebih dari 3 juta orang. Tak salah apabila Surabaya dipilih untuk hajatan ini. Semua narasumber sepakat pesantren yang identik dengan dunia pendidik an dan syiar Islam, bila dibekali dengan kemampuan entrepreneurship akan menciptakan kemandirian ekonomi. Beberapa pondok pesantren telah membuktikannya. Ada yang sukses memba ngun BMT, memiliki BPR, bahkan salah satu pesantren di Jatim berhasil mengelola aset hingga triliunan. Apabila hal ini ditularkan ke pesantren yang lain, kese jahteraan masyarakat sekitar akan meningkat, kata Agus Marto, demikian Gubernur BI ini disapa. Inilah mengapa BI Bersama dengan Kementerian Agama, seusai Bincang Nasional, meneken Kerjasama Pengembangan Kemandirian Ekonomi Pesantren dan Peningkatan Penggunaan Non Tunai di Lingkungan Kementerian Agama. Kerjasama diwujudkan dalam bentuk bantuan teknis seperti pelatihan dan pendam pingan kelembagaan, pencatatan dan pengelolaan keuangan, serta kemampuan kewirausahaan santri, dan meningkatkan akses keuangan pada pondok pesantren melalui kegiatan edukasi. Kerjasama ini juga ditujukan untuk meningkatkan penggunaan layanan non tunai untuk transaksi keuangan di lingkungan Kementerian Agama melalui edukasi dan peran sebagai fasilitator dalam pengembangan proses bisnis. Kesepakatan ini kemudian di ikuti dengan pencanangan Deklarasi Surabaya yang ditandatangani oleh Soekarwo, Agus Marto, Muliaman, serta perwakilan 17 pesantren di Jatim. Deklarasi ini jadi komitmen bersama untuk mewujudkan Jatim sebagai regional ekonomi syariah terbesar di Indonesia yang mengintegrasikan sektor keuangan dengan sektor riil berbasiskan ekonomi rak yat yang bermitra dengan industri menengah dan besar. Rabu, 5 November 2014, Gubernur BI Agus D.W. Marto wardojo dan Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin menandatangani MoU mengenai Pengembangan Kemandirian Ekonomi Lembaga Pondok Pesantren dan Peningkatan Layanan Non Tunai untuk Transaksi Keuangan di Lingkungan Kementerian Agama, di Surabaya. Penandatanganan kerjasama ini merupakan salah satu rangkaian acara Indonesia Sharia Economic Festival. 13

14 POTRET gedung Heritage Bank Indonesia solo Mengenang Perekonomian tempo Dulu 14 Bangunan bercat krem itu terlihat unik dibandingkan bangunan lain di sekitarnya. Kesan kuno terlihat dari bentuk bangunan berlantai tiga di jl. jenderal sudirman, Kota solo. Hampir setiap dinding yang mengitari gedung terdapat jendela kaca lengkung dan persegi panjang. Arsitektur neo klasik gedung itu terlihat mencolok jika dilihat dari sisi luar. Gedung itu adalah Kantor Bank Indonesia Solo yang dikenal dengan sebutan De Javasche Bank Agentschap Soerakarta. Usia nya le bih dari satu abad atau tepatnya didirikan pada 25 November De Javasche Bank adalah bank sirkulasi milik pemerintah Hindia Belanda yang bertugas mencetak dan mengedarkan uang. Pendirian kantor cabang ini merupakan sebuah perubahan pola kedua yang dilakukan oleh De Javasche Bank dengan memilih Solo yang berada di pedalaman Pulau Jawa. Tidak berada di dekat pelabuhan seperti pembangunan sebelumnya. Hingga sekarang ini, eks gedung De Javasche Bank Agentschap Soerakarta setelah mengalami perjalanan waktu yang cukup panjang tidak saja bernilai secara fungsional sebagai penunjang aktivitas ekonomi. Struktur material bank ini juga telah memiliki nilai benda cagar budaya yang tinggi sebagai simbol Kota Lama Surakarta.

15 POTRET Konservasi gedung BI menjadi heritage yang kami lalukan ini sebagai salah satu wujud kepedulian kami dalam rangka budaya Indonesia. Dengan melestarikan budaya, kita bisa melihat jati diri, untuk melangkah lebih baik ke depan. Pada awal pembukaannya sampai dengan akhir tahun 1867 (selama lebih kurang satu bulan), De Javasche Bank Agentschap Soerakarta menggunakan sebuah losmen sebagai kantornya. Sejak 1 Januari 1868, bangunan itu sejatinya menempati rumah milik Ny. De Kock van Leeuwen. Gedung itu disewa oleh De Javasche Bank Agentschap Soerakarta selama dua tahun, dengan perjanjian bahwa setelah jangka waktu dua tahun akan timbul hak pada penyewa untuk membeli tanah tersebut. Dalam melakukan pemilihan rumah itu se bagai kantor, sudah pasti De Javasche Bank memperhitungkan faktor keamanan, ekonomi, dan politik. Pertimbangan lainnya adalah karena lokasi gedung sangat strategis. Gedung ini berdiri hanya beberapa baris dari Kantor Pos Besar Solo yang juga dibangun pada masa colonial. Beberapa ratus meter sebelah selatan dari gedung De Javasche Bank, terdapat Keraton Kasunanan Surakarta dan Pura Mangkunegaraan. Di sebelah timur gedung ini juga terdapat kawasan Pecinan Solo dan Pasar Gedhe. Menurut Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, saat ini BI memiliki 12 gedung heritage yang tersebar di seluruh Indonesia. Ke-12 gedung tersebut tersebar di Jakarta, Bandung, Cirebon, Malang, Kediri, Yogyakarta, Surabaya, Solo Semarang dan sebagainya. Dia mengakui sebagian gedung heritage masih digunakan sebagai kantor BI, tapi kebanyakan dijadikan sebagai museum yang memperlihatkan transformasi dan perkembangan serta fungsi BI sebagai bank sentral. Konservasi gedung BI menjadi heritage yang kami lalukan ini sebagai salah satu wujud kepedulian kami dalam rangka budaya Indonesia. Dengan melestarikan budaya, kita bisa melihat jati diri, untuk melangkah lebih baik ke depan, ujar Perry Warjiyo seusai peluncuran buku Sejarah dan Heritage Kantor Perwakilan Bank Indonesia Solo di Solo, Senin (20/10). Ferry menjelaskan sejumlah gedung BI yang menjadi heritage memiliki aspek penting. Selain menunjukkan bahwa BI sebagai bank sentral, bangunan di Solo yang semula De Javasche Bank Agentschao Soerakarta dan menjadi Kantor BI Solo merupakan bukti sejarah bahwa bank sentral memiliki peran dalam perekonomian. Pada awalnya, kata Perry, bank sentral bertugas untuk mencetak dan mengedarkan uang serta melayani kliring bank. serta menyalurkan kredit kepada masyarakat. Setelah berubah nama menjadi BI pada 1953, fungsi BI akhirnya menjadi bank sentral. Tugas BI bertambah dengan melaksanakan fungsi moneter dan pengawasan bank, jelasnya. Dia menceritakan BI Solo sangat mendukung kegiatan ekonomi melalui kegiatan perdagangan, perkebunan dan industri. Bahkan, saat ibukota negara dipindah ke Yogyakarta, kantor BI pernah dijadikan markas bagi Perdana Menteri Sutan Syahrir. Oleh karena itu, BI tidak hanya mendukung kegiatan ekonomi tapi juga perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Lebih lanjut, dia mengatakan gedung heritage BI tersebut ke depan akan dijadikan sebagai museum yang akan diresmikan pada Juli Saat ini, baru pengerjaan eksterior yang selesai, sedangkan interior selesai pada triwulan pertama dan pengisian museum dijadwalkan selesai pada triwulan kedua tahun depan. Lantai satu biasanya akan dijadikan museum, lantai II untuk kegiatan BI dan lantai III untuk perpustakaan BI. Semua itu bisa diakses oleh masyarakat dan free, ungkapnya. Kepala Kantor Perwakilan BI Solo Ismet Inono menguraikan pihaknya menyiapkan anggaran khusus untuk perawatan gedung heritage, tapi besarannya tidak disebutkan. Hal ini karena meski merupakan gedung heritage, bangunan tersebut tetap merupakan asset BI. Dia menuturkan museum itu akan diisi dengan koleksi uang lama yang pernah dikeluarkan BI dan juga peraga perjalanan BI dari dulu hingga saat ini. Ismet berencana menggandeng pihak akamedisi, sejarawan dan budayawan untuk memberikan masukan terkait keberlangsungan gedung heritage yang penuh dengan sejarah perjuangan bangsa ini. Nanti ada ruang untuk seminar. Jika ada stakeholder menyelenggarakan kegiatan yang berkaitan dengan perekonomian, kami siap memfasilitasi tempat, paparnya. Gedung De Javasche Bank Agentschap Soerakarta, tidak hanya menjadi kebanggaan BI, melainkan juga menjadi kebanggaan warga Solo, karena tidak hanya masih dirawat dengan baik, tapi masih menyimpan sejarah kebangsaan negeri ini. 15

16 KORIDOR Dwi Mukti Wibowo Departemen Komunikasi Tak Sekedar "bicara" 16 Kriiiiing, hallo dengan BICArA. Ada yang bisa saya bantu?. Itulah respon pertama yang kita dengar setiap stakeholder menekan nomor BICARA atau Bank Indonesia Call and Interaction adalah salah satu layanan informasi publik (LIP) dan salah satu alternatif media komunikasi Bank Indonesia (BI). Layanan BICARA yang telah beroperasi sejak 28 Oktober 2013 ini telah berjalan sesuai standar internasional maupun Undang Undang Keterbukaan Informasi Publik No. 14 tahun 2008 (KIP) Hal lainnya yang menjadi selling point dari BICARA adalah dukungan sertifikat ISO 9001:2008 dalam bidang pelayanan serta Agen yang bersertifikat. Sertifikasi ini telah memberikan garansi dan ekspektasi kepuasan stakeholder terhadap pelayanan BICARA yang semakin prima (service excellent) dan sesuai harapan publik (public interest). Sampai saat ini, BICARA telah berope rasi melalui berbagai jalur media komunikasi (telepon, , fax, surat, kunjungan langsung, social media). Pertimbangan melalui jalur social media karena karakteristik media sosial yang interaktif dan informal memberikan kesempatan bagi BI untuk membangun partisipasi dan kedekatan dengan audience-nya (social media engagement), antara lain masayarakat umum, media massa, jurnalis, perbankan, dan akademisi. Komunikasi yang interaktif akan membantu BI dalam membentuk opini dan persepsi positif. Komunikasi interaktif mengan dung makna bahwa BICARA harus berperan aktif. Bu kan lagi pasif - hanya menunggu telpon dari stakeholders, tapi mulai aktif menjemput bola mendekati masyarakat. BICARA harus mampu menyerap aspirasi masyarakat, apakah itu terkait dengan data, informasi, kinerja maupun kebijakan BI. Itulah sebabnya kenapa BICARA harus proaktif terjun ke masyarakat/ publik secara mobile, dengan memberikan informasi dan edukasi secara langsung dalam beberapa kegiatan yang mengikutsertakan BI. Salah satu kegiatan BICARA dalam rangka mendekati publik adalah keikutsertaan dalam Shari a Economic Festival ( I S E F ) di Surabaya, 3-9 November. Kegiatan yang dihadiri perwakilan otoritas moneter nega ra anggota OKI juga melibatkan lembaga internasional, pemerintah, lembaga negara, Pemda, Perbankan, pakar/akademisi, asosiasi/lembaga syariah, praktisi, lembaga pendidikan khususnya pondok pesantren. Keberadaan booth BICARA-mobile di acara expo bukan sekedar sarana sosialisasi dan edukasi, tetapi juga kiat strategi komunikasi untuk mendiseminasikan kebijakan-kebijakan BI agar dapat diterima masyarakat. Selain itu, konfirmasi komunikasi masyarakat terhadap BI mau- Gubernur Bank Indonesia, Agus D.W Martowardojo sedang menggunting pita meresmikan pembukaan acara Sharia Expo di Surabaya

Program Elektronifikasi dan Keuangan Inklusif Pusat Program Transformasi Bank Indonesia 2015

Program Elektronifikasi dan Keuangan Inklusif Pusat Program Transformasi Bank Indonesia 2015 Program Elektronifikasi dan Keuangan Inklusif Pusat Program Transformasi Bank Indonesia 2015 AGENDA 2 1 Latar Belakang 2 3 Alat Pembayaran Transaksi Non Tunai Latar Belakang LATAR BELAKANG 4 Nota Kesepahaman

Lebih terperinci

Peresmian Forum Sistem Pembayaran Indonesia

Peresmian Forum Sistem Pembayaran Indonesia Sambutan Gubernur Bank Indonesia Peresmian Forum Sistem Pembayaran Indonesia Jakarta, 27 Agustus 2015 Yang kami hormati, Menteri Keuangan RI, Bapak Bambang Brodjonegoro Menteri Perdagangan RI, Bapak Thomas

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 18/9/PBI/2016 TENTANG PENGATURAN DAN PENGAWASAN SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG RUPIAH

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 18/9/PBI/2016 TENTANG PENGATURAN DAN PENGAWASAN SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG RUPIAH PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 18/9/PBI/2016 TENTANG PENGATURAN DAN PENGAWASAN SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG RUPIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

ekonomi Kelas X SISTEM PEMBAYARAN DAN ALAT PEMBAYARAN K-13 A. Pengertian Sistem Pembayaran Tujuan Pembelajaran

ekonomi Kelas X SISTEM PEMBAYARAN DAN ALAT PEMBAYARAN K-13 A. Pengertian Sistem Pembayaran Tujuan Pembelajaran K-13 Kelas X ekonomi SISTEM PEMBAYARAN DAN ALAT PEMBAYARAN Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan mempunyai kemampuan sebagai berikut. 1. Mendeskripsikan sistem pembayaran

Lebih terperinci

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA R.I

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA R.I TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA R.I PERBANKAN. BI. Uang Rupiah. Pembayaran dan Pengelolaan. Sistem (Penjelasan atas Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 106). PENJELASAN ATAS PERATURAN BANK INDONESIA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. belum secanggih saat ini. Awalnya masyarakat memunuhi kebutuhannya. logam dan sampai lah ke tahap penetapan uang kertas.

BAB I PENDAHULUAN. belum secanggih saat ini. Awalnya masyarakat memunuhi kebutuhannya. logam dan sampai lah ke tahap penetapan uang kertas. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Transaksi ekonomi telah berevolusi berabad-abad lamanya dan dapat dikatakan sangat pesat baik dalam kegiatan transaksinya maupun faktorfaktor pendukungnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupan dan perekonomian. Uang dapat digunakan sebagai alat

BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupan dan perekonomian. Uang dapat digunakan sebagai alat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di Era modern saat ini uang merupakan suatu bagian terpenting dalam kehidupan dan perekonomian. Uang dapat digunakan sebagai alat tukar atau alat transaksi yang dapat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Bank Indonesia adalah Bank Sentral Republik Indonesia, sedangkan definisi sederhana

BAB I PENDAHULUAN. Bank Indonesia adalah Bank Sentral Republik Indonesia, sedangkan definisi sederhana BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bank Indonesia adalah Bank Sentral Republik Indonesia, sedangkan definisi sederhana tentang bank sentral adalah organisasi yang terstruktur yang berdasarkan

Lebih terperinci

Pencegahan dan Penanganan Kejahatan. Pada Layanan Perbankan Elektronik. Ronald Waas 1

Pencegahan dan Penanganan Kejahatan. Pada Layanan Perbankan Elektronik. Ronald Waas 1 Pencegahan dan Penanganan Kejahatan Pada Layanan Perbankan Elektronik Ronald Waas 1 Yang saya banggakan, Ketua Umum dan Jajaran Pengurus Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia, Para Pembicara dari Bank Indonesia,

Lebih terperinci

Program Elektronifikasi dan Keuangan Inklusif Pusat Program Transformasi Bank Indonesia 2015

Program Elektronifikasi dan Keuangan Inklusif Pusat Program Transformasi Bank Indonesia 2015 Program Elektronifikasi dan Keuangan Inklusif Pusat Program Transformasi Bank Indonesia 2015 AGENDA 2 1 Latar Belakang 2 3 Alat Pembayaran Transaksi Non Tunai Latar Belakang LATAR BELAKANG 4 Nota Kesepahaman

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Penggunaan Transaksi Non-Tunai di Indonesia dalam beberapa tahun

BAB I PENDAHULUAN. Penggunaan Transaksi Non-Tunai di Indonesia dalam beberapa tahun BAB I PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Penggunaan Transaksi Non-Tunai di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan perkembangan yang cukup pesat. Disatu sisi perkembangan dan pertumbuhan ekonomi

Lebih terperinci

No Bank Indonesia sebagai otoritas yang diberi mandat oleh Undang- Undang untuk mengatur, menyelenggarakan perizinan, dan melakukan pengawasan

No Bank Indonesia sebagai otoritas yang diberi mandat oleh Undang- Undang untuk mengatur, menyelenggarakan perizinan, dan melakukan pengawasan TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA R.I No.6081 PERBANKAN. BI. Gerbang Pembayaran Nasional. (Penjelasan atas Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 134) PENJELASAN ATAS PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR

Lebih terperinci

- 2 - OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

- 2 - OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA - 2 - OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 12 /POJK.03/2016 TENTANG KEGIATAN USAHA DAN WILAYAH JARINGAN KANTOR BANK PERKREDITAN RAKYAT BERDASARKAN MODAL

Lebih terperinci

-Sambutan Gubernur Bank Indonesia-

-Sambutan Gubernur Bank Indonesia- -Sambutan Gubernur Bank Indonesia- Penandatanganan Kesepakatan Bersama Antara Bank Indonesia dengan Kementerian Perhubungan RI & Kesepakatan Bersama Antara BPTJ, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dan Seluruh

Lebih terperinci

Sambutan Peluncuran Program Desmigratif Jakarta, 11 September 2017

Sambutan Peluncuran Program Desmigratif Jakarta, 11 September 2017 Sambutan Peluncuran Program Desmigratif 2017 Jakarta, 11 September 2017 Yth Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Bapak Muhammad Hanif Dhakiri Yth Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan

Lebih terperinci

2017, No payment gateway) merupakan pemenuhan atas kebutuhan masyarakat dalam bertransaksi secara nontunai dengan menggunakan instrumen pembaya

2017, No payment gateway) merupakan pemenuhan atas kebutuhan masyarakat dalam bertransaksi secara nontunai dengan menggunakan instrumen pembaya LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.134, 2017 PERBANKAN. BI. Gerbang Pembayaran Nasional. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6081) PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 19/8/PBI/2017

Lebih terperinci

TUGAS REVIEW KULIAH UMUM

TUGAS REVIEW KULIAH UMUM PENDIDIKAN DAN KEWARGANEGARAAN TUGAS REVIEW KULIAH UMUM OLEH : CLARENITA F.P. 1130106 / KP B FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SURABAYA 2014 Sekilas Sistem Pembayaran Pembayaran adalah perpindahan nilai antara

Lebih terperinci

Bismillahi rahmani rahiim,

Bismillahi rahmani rahiim, Pidato Utama Seminar IDB: Mencetak Sumber Daya Manusia yang Kompetitif bagi Pemberdayaan Ekonomi Dr. Hendar (Deputi Gubernur, Bank Indonesia) Jakarta, 13 Mei 2016 Bismillahi rahmani rahiim, Yang saya hormati:

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.34, 2016 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEUANGAN OJK. Modal. BPR. Jaringan Kantor. Kegiatan Usaha. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5849) PERATURAN OTORITAS JASA

Lebih terperinci

Sambutan Utama. Gubernur Agus D.W. Martowardojo. Pada Seminar Internasional IFSB. Meningkatkan Keuangan Inklusif melalui Keuangan Islam

Sambutan Utama. Gubernur Agus D.W. Martowardojo. Pada Seminar Internasional IFSB. Meningkatkan Keuangan Inklusif melalui Keuangan Islam Sambutan Utama Gubernur Agus D.W. Martowardojo Pada Seminar Internasional IFSB Meningkatkan Keuangan Inklusif melalui Keuangan Islam Jakarta, 31 Maret 2015 Bismillahirrahmanirrahiim, Yang Terhormat: Tn.

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 19/8/PBI/2017 TENTANG GERBANG PEMBAYARAN NASIONAL (NATIONAL PAYMENT GATEWAY) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 19/8/PBI/2017 TENTANG GERBANG PEMBAYARAN NASIONAL (NATIONAL PAYMENT GATEWAY) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 19/8/PBI/2017 TENTANG GERBANG PEMBAYARAN NASIONAL (NATIONAL PAYMENT GATEWAY) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk mewujudkan

Lebih terperinci

BAB I LATAR BELAKANG

BAB I LATAR BELAKANG 1 BAB I LATAR BELAKANG I.1 Latar Belakang Masalah Melihat perkembangan di industri perbankan, kini setiap bank berlomba untuk meningkatkan jasa dalam bentuk servis kepada masyarakat. Sebagaimana kita ketahui

Lebih terperinci

BAB I PENGANTAR. sependapat dalam buku Bunga Rampai Hukum Ekonomi Dan Hukum

BAB I PENGANTAR. sependapat dalam buku Bunga Rampai Hukum Ekonomi Dan Hukum 1 BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Bank adalah salah satu lembaga keuangan yang mempunyai peran sangat besar dalam perekonomian, dimana peranan Bank adalah sebagai penyimpan dana dan penyalur dana. Peran

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 17/3/PBI/2015 TENTANG KEWAJIBAN PENGGUNAAN RUPIAH DI WILAYAH NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 17/3/PBI/2015 TENTANG KEWAJIBAN PENGGUNAAN RUPIAH DI WILAYAH NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 17/3/PBI/2015 TENTANG KEWAJIBAN PENGGUNAAN RUPIAH DI WILAYAH NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang : a.

Lebih terperinci

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RI

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RI TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RI No. 5498 PERBANKAN. BI. Perlindungan Konsumen. Sistem Pebayaran. Jasa. (Penjelasan Atas Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 10) PENJELASAN ATAS PERATURAN BANK

Lebih terperinci

ekonomi melalui pengentasan kemiskinan dan pemerataan pendapatan sambil tetap menjaga stabilitas sistem keuangan.

ekonomi melalui pengentasan kemiskinan dan pemerataan pendapatan sambil tetap menjaga stabilitas sistem keuangan. Sambutan Pembukaan Dr. Halim Alamsyah, Deputi Gubernur Bank Indonesia Seminar Nasional Keuangan Inklusif: Pentingnya Keuangan Inklusif dalam Meningkatkan Akses Masyarakat dan UMKM terhadap Fasilitas Jasa

Lebih terperinci

BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS DATA. wawancara langsung dan dokumenter, penulis mendapatkan data-data yang

BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS DATA. wawancara langsung dan dokumenter, penulis mendapatkan data-data yang BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS DATA A. Penyajian Data Berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh penulis dengan cara wawancara langsung dan dokumenter, penulis mendapatkan data-data yang berhubungan

Lebih terperinci

MEMBANGUN KELUARGA PRODUKTIF

MEMBANGUN KELUARGA PRODUKTIF TIM NASIONAL PERCEPATAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN 6 November 2014 Program Simpanan Keluarga Sejahtera, Program Indonesia Pintar & Program Indonesia Sehat Untuk Membangun Keluarga Produktif TIM NASIONAL

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 16/ 1 /PBI/2014 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN JASA SISTEM PEMBAYARAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 16/ 1 /PBI/2014 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN JASA SISTEM PEMBAYARAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 16/ 1 /PBI/2014 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN JASA SISTEM PEMBAYARAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa dalam rangka melaksanakan

Lebih terperinci

Program Simpanan Keluarga Sejahtera, Program Indonesia Pintar & Program Indonesia Sehat Untuk Membangun Keluarga Produktif

Program Simpanan Keluarga Sejahtera, Program Indonesia Pintar & Program Indonesia Sehat Untuk Membangun Keluarga Produktif Program Simpanan Keluarga Sejahtera, Program Indonesia Pintar & Program Indonesia Sehat Untuk Membangun Keluarga Produktif TIM NASIONAL PERCEPATAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN (TNP2K) 6 NOVEMBER 2014 1 Pesan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. jasa lalu lintas pembayaran dan sebagai sarana dalam kebijakan moneter.

BAB I PENDAHULUAN. jasa lalu lintas pembayaran dan sebagai sarana dalam kebijakan moneter. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perusahaan jasa yang menyediakan jasa keuangan bagi seluruh lapisan masyarakat adalah bank. Bank mempunyai peranan penting dalam kehidupan perekonomian. Fungsi

Lebih terperinci

Perkembangan Uang Elektronik di Indonesia Tahun : Kajian Regulasi, Pertumbuhan Volume dan Nilai Transaksi

Perkembangan Uang Elektronik di Indonesia Tahun : Kajian Regulasi, Pertumbuhan Volume dan Nilai Transaksi Perkembangan Uang Elektronik di Indonesia Tahun 2009-2011: Kajian Regulasi, Pertumbuhan Volume dan Nilai Transaksi Noversyah Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma nover@staff.gunadarma.ac.id Abstrak Uang

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.236, 2016 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PERBANKAN. BI. Pembayaran. Transaksi. Pemrosesan. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5945). PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR

Lebih terperinci

- 3 - PASAL DEMI PASAL. Pasal 1 Cukup jelas.

- 3 - PASAL DEMI PASAL. Pasal 1 Cukup jelas. PENJELASAN ATAS PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 76 /POJK.07/2016 TENTANG PENINGKATAN LITERASI DAN INKLUSI KEUANGAN DI SEKTOR JASA KEUANGAN BAGI KONSUMEN DAN/ATAU MASYARAKAT I. UMUM Saat ini pengetahuan

Lebih terperinci

- 3 - II. PASAL DEMI PASAL. Pasal I Angka 1 Pasal 1 Cukup jelas.

- 3 - II. PASAL DEMI PASAL. Pasal I Angka 1 Pasal 1 Cukup jelas. PENJELASAN ATAS PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 16/ 8 /PBI/2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 11/12/PBI/2009 TENTANG UANG ELEKTRONIK (ELECTRONIC MONEY) I. UMUM Seiring perkembangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. informasi dan komunikasi. Saat ini layanan sistem pembayaran yang melibatkan

BAB I PENDAHULUAN. informasi dan komunikasi. Saat ini layanan sistem pembayaran yang melibatkan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi menghasilkan inovasi-inovasi baru hampir diseluruh sektor perekonomian. Perkembangan sistem pembayaran merupakan

Lebih terperinci

S U R A T E D A R A N

S U R A T E D A R A N No. 7/60/DASP Jakarta, 30 Desember 2005 S U R A T E D A R A N Perihal : Prinsip Perlindungan Nasabah dan Kehati-hatian, serta Peningkatan Keamanan Dalam Penyelenggaraan Kegiatan Alat Pembayaran Dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Uang memiliki fungsi yang sangat besar dalam kehidupan sehari-hari.

BAB I PENDAHULUAN. Uang memiliki fungsi yang sangat besar dalam kehidupan sehari-hari. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Uang memiliki fungsi yang sangat besar dalam kehidupan sehari-hari. Layaknya fungsi uang sebagai alat pembayaran dalam transaksi ekonomi, uang tidak terlepas dari

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 18/15/PBI/2016 TENTANG PENYELENGGARA JASA PENGOLAHAN UANG RUPIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 18/15/PBI/2016 TENTANG PENYELENGGARA JASA PENGOLAHAN UANG RUPIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 18/15/PBI/2016 TENTANG PENYELENGGARA JASA PENGOLAHAN UANG RUPIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka mendorong terpeliharanya

Lebih terperinci

PPN/Bappenas: KNKS Untuk Percepatan Pengembangan Ekonomi dan Keuangan Syariah di Indonesia Kamis, 27 Juli 2017

PPN/Bappenas: KNKS Untuk Percepatan Pengembangan Ekonomi dan Keuangan Syariah di Indonesia Kamis, 27 Juli 2017 PPN/Bappenas: KNKS Untuk Percepatan Pengembangan Ekonomi dan Keuangan Syariah di Indonesia Kamis, 27 Juli 2017 Pada 2016, penduduk Indonesia diperkirakan mencapai 258,7 juta jiwa dan sekitar 85 persen

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian TCASH (Telkomsel)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian TCASH (Telkomsel) BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian 1.1.1 TCASH (Telkomsel) TCASH adalah uang elektronik yang diselenggarakan oleh Telkomsel yang terdaftar dan diawasi oleh Bank Indonesia, Memiliki fungsi

Lebih terperinci

2 1. Perluasan akses kepesertaan yang tidak terbatas pada Bank Umum Saat ini kepesertaan SKNBI terbatas pada Bank Umum sehingga transfer dana melalui

2 1. Perluasan akses kepesertaan yang tidak terbatas pada Bank Umum Saat ini kepesertaan SKNBI terbatas pada Bank Umum sehingga transfer dana melalui TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RI PERBANKAN. BI. Transfer Dana. Kliring. Berjadwal. Penyelenggaraan. Pencabutan. (Penjelasan Atas Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 122). PENJELASAN ATAS PERATURAN

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. kinerja bisnis pada industri jasa kurir yang telah diuraikan pada bab-bab

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. kinerja bisnis pada industri jasa kurir yang telah diuraikan pada bab-bab BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan analisis kajian strategi dalam upaya membangkitkan kinerja bisnis pada industri jasa kurir yang telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya, maka dapat

Lebih terperinci

BAB II PROFIL KANTOR BANK INDONESIA MEDAN. A. Sejarah Ringkas Berdirinya Kantor Bank Indonesia Medan

BAB II PROFIL KANTOR BANK INDONESIA MEDAN. A. Sejarah Ringkas Berdirinya Kantor Bank Indonesia Medan BAB II PROFIL KANTOR BANK INDONESIA MEDAN A. Sejarah Ringkas Berdirinya Kantor Bank Indonesia Medan Kantor Bank Indonesia (KBI) Medan merupakan kantor Cabang De Javasche Bank yang ke 11 dan mulai dibuka

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian. Pertumbuhan ekonomi suatu negara dapat ditandai dengan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian. Pertumbuhan ekonomi suatu negara dapat ditandai dengan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Pertumbuhan ekonomi suatu negara dapat ditandai dengan pertumbuhan industri perbankan yang ada dalam negara tersebut. Semakin berkembang industri perbankan

Lebih terperinci

Sosialisasi PBI Perlindungan Konsumen Sistem Pembayaran Bank Indonesia

Sosialisasi PBI Perlindungan Konsumen Sistem Pembayaran Bank Indonesia Sosialisasi PBI Perlindungan Konsumen Sistem Pembayaran Bank Indonesia Jakarta, 21 Februari 2014 Bank Indonesia Agenda I Pendahuluan II Perlindungan Konsumen SP III Statistika IV Mekanisme dan Cakupan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. pembayaran yang digunakan oleh masyarakat. Seiring dengan semakin tingginya

BAB 1 PENDAHULUAN. pembayaran yang digunakan oleh masyarakat. Seiring dengan semakin tingginya BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan teknologi saat ini ikut mempengaruhi perkembangan alat pembayaran yang digunakan oleh masyarakat. Seiring dengan semakin tingginya tingkat ketergantungan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian. Pola hidup konsumtif kini menjadi hal yang biasa bagi masyarakat. Ini

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian. Pola hidup konsumtif kini menjadi hal yang biasa bagi masyarakat. Ini BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Pola hidup konsumtif kini menjadi hal yang biasa bagi masyarakat. Ini dapat ditandainya dengan fenomena yang terjadi salah satunya adalah kartu kredit sudah

Lebih terperinci

Luncurkan Kartu JARING, BNI Perluas Pembiayaan Sektor Kelautan & Perikanan

Luncurkan Kartu JARING, BNI Perluas Pembiayaan Sektor Kelautan & Perikanan Luncurkan Kartu JARING, BNI Perluas Pembiayaan Sektor Kelautan & Perikanan Malang, 13 November 2015. Sukses dengan penyaluran pendanaan kepada para nelayan di Takalar, Sulawesi Selatan pada saat meluncurkan

Lebih terperinci

Manfaat Teknologi Nirkabel bagi Masyarakat. Oleh : Harjoni Desky, S.Sos.I., M.Si Senin, 25 Oktober :26

Manfaat Teknologi Nirkabel bagi Masyarakat. Oleh : Harjoni Desky, S.Sos.I., M.Si Senin, 25 Oktober :26 KOPI, Kenyataan bahwa era globalisasi membuat jarak antara suatu daerah dengan daerah lainnya seolah kabur bahkan tak berjarak lagi serta berimplikasi pada semakin meningkatnya arus informasi yang beredar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Studi ini dilakukan untuk mendeskripsikan strategi yang dipakai oleh LSM

BAB I PENDAHULUAN. Studi ini dilakukan untuk mendeskripsikan strategi yang dipakai oleh LSM BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Studi ini dilakukan untuk mendeskripsikan strategi yang dipakai oleh LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat). Studi ini memfokuskan pada salah satu LSM yaitu ASPEKA (Asosiasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sejak enam puluh tahun yang lalu sudah muncul pemikiran tentang Cashless society. Para pakar sudah memprediksikan adanya cashless society ketika kartu pembayaran umum

Lebih terperinci

Menjaga Stabilitas Keuangan di Tengah Berlanjutnya Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi

Menjaga Stabilitas Keuangan di Tengah Berlanjutnya Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi Sambutan Gubernur Bank Indonesia Menjaga Stabilitas Keuangan di Tengah Berlanjutnya Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi Diskusi dan Peluncuran buku Kajian Stabilitas Keuangan Yang kami hormati, Jakarta, 10

Lebih terperinci

Pidato Sambutan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan pada Seminar IFSB bertema Meningkatkan Keuangan Inklusif melalui Keuangan Islami

Pidato Sambutan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan pada Seminar IFSB bertema Meningkatkan Keuangan Inklusif melalui Keuangan Islami Pidato Sambutan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan pada Seminar IFSB bertema Meningkatkan Keuangan Inklusif melalui Keuangan Islami Jakarta, 31 Maret 2015 Bismillahirrahmanirrahiim, Yang terhormat

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 17/24/PBI/2015 TENTANG REKENING GIRO DI BANK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA,

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 17/24/PBI/2015 TENTANG REKENING GIRO DI BANK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 17/24/PBI/2015 TENTANG REKENING GIRO DI BANK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka mendukung pelaksanaan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. dengan perkembangan teknologi yang canggih. Kemajuan teknologi dalam sistem

I. PENDAHULUAN. dengan perkembangan teknologi yang canggih. Kemajuan teknologi dalam sistem 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sistem pembayaran dalam transaksi ekonomi mengalami kemajuan yang pesat seiring dengan perkembangan teknologi yang canggih. Kemajuan teknologi dalam sistem pembayaran

Lebih terperinci

ARAH KEBIJAKAN TRANSAKSI NON-TUNAI DALAM PENGUATAN TATA-KELOLA KEUANGAN PENDIDIKAN

ARAH KEBIJAKAN TRANSAKSI NON-TUNAI DALAM PENGUATAN TATA-KELOLA KEUANGAN PENDIDIKAN ARAH KEBIJAKAN TRANSAKSI NON-TUNAI DALAM PENGUATAN TATA-KELOLA KEUANGAN PENDIDIKAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DOKUMEN RAHASIA 1 LATAR BELAKANG: KEBIJAKAN TRANSAKSI NON-TUNAI SEBAGAI PENGUATAN

Lebih terperinci

BAB III DESKRIPSI INSTANSI

BAB III DESKRIPSI INSTANSI BAB III DESKRIPSI INSTANSI A. Profil Kantor Perwakilan Bank Indonesia Solo Sesuai dengan Undang-Undang No.23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia, sebagaimana diubah terakhir melalui Undang-Undang No. 06

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat dalam bentuk kredit dan produk produk lainnya dalam rangka

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat dalam bentuk kredit dan produk produk lainnya dalam rangka BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di dalam memajukan perekonomian negara, perbankan mempunyai peranan yang sangat penting. Hal ini karena bank mempunyai fungsi utama untuk menghimpun dana dari masyarakat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Logo Telkomsel Sumber: (PT. Telkomsel, 2017)

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Logo Telkomsel Sumber: (PT. Telkomsel, 2017) BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian PT.Telkomsel merupakan salah satu operator telekomunikasi seluler GSM di Indonesia, dengan layanan paskabayar yang diluncurkan pertama kali pada tanggal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam Instruksi Presiden RI Nomor 3 Tahun 2003 [1] tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan e-government, dijelaskan bahwa pengembangan e-government merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sehingga perputaran uang dalam pembayarannya diperlukan keamanan dan

BAB I PENDAHULUAN. Sehingga perputaran uang dalam pembayarannya diperlukan keamanan dan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Seperti yang kita ketahui, di jaman sekarang ini kegiatan perdagangan ataupun bisnis semakin ramai dan beragam dalam skala besar, menengah ataupun kecil. Sehingga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Melambatnya pertumbuhan ekonomi global sebagai dampak peningkatan harga

BAB I PENDAHULUAN. Melambatnya pertumbuhan ekonomi global sebagai dampak peningkatan harga BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Permasalahaan yang dihadapi ekonomi dunia dewasa ini semakin pelik. Melambatnya pertumbuhan ekonomi global sebagai dampak peningkatan harga komoditas dunia

Lebih terperinci

OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA RANCANGAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR /POJK.07/2016

OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA RANCANGAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR /POJK.07/2016 OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA RANCANGAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR /POJK.07/2016 TENTANG PENINGKATAN LITERASI DAN INKLUSI KEUANGAN DI SEKTOR JASA KEUANGAN UNTUK KONSUMEN DAN/ATAU

Lebih terperinci

Usulan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Pasal Ayat Batang Tubuh Penjelasan

Usulan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Pasal Ayat Batang Tubuh Penjelasan BAB I KETENTUAN UMUM 1 Dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan ini yang dimaksud dengan: 1 Bank Perkreditan Rakyat yang selanjutnya disingkat BPR adalah Bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pertimbangan dalam memilih bank dan produk produk yang diberikan. bersaing, serta pelayanan yang memuaskan. Produk produk jasa

BAB I PENDAHULUAN. pertimbangan dalam memilih bank dan produk produk yang diberikan. bersaing, serta pelayanan yang memuaskan. Produk produk jasa BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Perkembangan bisnis perbankan di Indonesia begitu pesat, hal ini ditandai dengan adanya jumlah bank yang semakin banyak dan produk yang semakin variatif. Disamping itu

Lebih terperinci

LAPORAN KETUA DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN INDONESIA FINTECH FESTIVAL & CONFERENCE

LAPORAN KETUA DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN INDONESIA FINTECH FESTIVAL & CONFERENCE LAPORAN KETUA DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN INDONESIA FINTECH FESTIVAL & CONFERENCE FINTECH TO IMPROVE FINANCIAL INCLUSION & EFFICIENCY Indonesia Convention Exhibition (ICE) Serpong, 30 Agustus

Lebih terperinci

The very existence of government at all, infers inequality.

The very existence of government at all, infers inequality. Bali, 27 Februari 2015 Selamat Pagi dan Salam Sejahtera bagi kita semua, Om Swastiastu, 1. Mengawali sambutan pagi ini, perkenankan Saya mengajak kita semua memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 15/14/PBI/2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 11/10/PBI/2009 TENTANG UNIT USAHA SYARIAH

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 15/14/PBI/2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 11/10/PBI/2009 TENTANG UNIT USAHA SYARIAH PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 15/14/PBI/2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 11/10/PBI/2009 TENTANG UNIT USAHA SYARIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA,

Lebih terperinci

Solusi Cerdas Bisnis Anda

Solusi Cerdas Bisnis Anda PermataSME Cash Management Solusi Cerdas Bisnis Anda GRATIS biaya transaksi LLG, RTGS, Transfer online melalui Permatae-Business sampai dengan 31 Desember 2015 Jutaan Keluarga. Satu Bank. SME Cash Management

Lebih terperinci

NOTA KESEPAHAMAN ANTARA BANK INDONESIA DAN KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN

NOTA KESEPAHAMAN ANTARA BANK INDONESIA DAN KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN NOTA KESEPAHAMAN ANTARA BANK INDONESIA DAN KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN TENTANG KOORDINASI DALAM RANGKA MENINGKATKAN TRANSAKSI NON TUNAI UNTUK LAYANAN KEUANGAN PEMERINTAH Nomor : BI.16/3/GBI/DKSP

Lebih terperinci

2 Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 31, Tambahan Lembaran Negara

2 Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 31, Tambahan Lembaran Negara No.351, 2014 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEUANGAN. OJK. Bank Perkreditan Rakyat. Modal. Kepemilikan. Pengurus. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5629) PERATURAN

Lebih terperinci

Bank Indonesia : Apa, Siapa dan Bagaimana

Bank Indonesia : Apa, Siapa dan Bagaimana Bank Indonesia : Apa, Siapa dan Bagaimana 1. Banyak yang mengira tugas Bank Indonesia sama dengan tugas bank komersial. Apa benar begitu, dan apa perbedaan Bank Indonesia dengan bank lain? 2. Banyak juga

Lebih terperinci

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA R.I

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA R.I TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA R.I KEUANGAN OJK. Bank. Modal. Jaringan Kantor. Kegiatan Usaha. (Penjelasan Atas Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 18) PENJELASAN ATAS PERATURAN OTORITAS JASA

Lebih terperinci

Press Conference. Laporan Keuangan unadited Juni PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk

Press Conference. Laporan Keuangan unadited Juni PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk Press Conference Laporan Keuangan unadited Juni 2012 PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk 1 Daftar Isi 1 Ikhtisar Kinerja 4-7 Neraca 5 Laporan Laba Rugi 6 Rasio Keuangan 7 2 Jaringan Kantor 8-9 3

Lebih terperinci

sebagai berikut : Service system Service people Service strategy Sumber : Output SPSS (diolah penulis)

sebagai berikut : Service system Service people Service strategy Sumber : Output SPSS (diolah penulis) Dari hasil out put SPSS diketahui bahwa korelasi parsial dari masing-masing variabel independen adalah sebagai berikut : Tabel 4.16 Koefisien determinasi parsial (r²) No. 1. 2. 3. Variabel Service system

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perdagangan dapat dilakukan oleh pelaku dengan wilayah yang berdekatan

BAB I PENDAHULUAN. perdagangan dapat dilakukan oleh pelaku dengan wilayah yang berdekatan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam perkembangan kondisi perekonomian saat ini dimana terjadi persaingan yang cukup keras, memaksa pelakunya untuk efisien dalam segala hal, termasuk dalam melakukan

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN A. Profil Bank Rakyat Indonesia 1. Sejarah Singkat Perusahaan PT.Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk merupakan salah satu bank milik pemerintah yang terbesar di Indonesia.

Lebih terperinci

BOKS 3 Survei Optimalisasi Penggunaan Alat Pembayaran Non Tunai Di Sulawesi Tenggara

BOKS 3 Survei Optimalisasi Penggunaan Alat Pembayaran Non Tunai Di Sulawesi Tenggara BOKS 3 Survei Optimalisasi Penggunaan Alat Pembayaran Non Tunai Di Sulawesi Tenggara Salah satu tugas Bank Indonesia sesuai dengan UU No.23/1999 sebagaimana telah diubah dengan UU No.3/2004 adalah mengatur

Lebih terperinci

Sambutan Ketua Umum IBI Seminar e-money sebagai Sarana untuk Mengembangkan Literasi Keuangan 8 Mei 2014, Hotel Four Seasons, Jakarta

Sambutan Ketua Umum IBI Seminar e-money sebagai Sarana untuk Mengembangkan Literasi Keuangan 8 Mei 2014, Hotel Four Seasons, Jakarta Sambutan Ketua Umum IBI Seminar e-money sebagai Sarana untuk Mengembangkan Literasi Keuangan 8 Mei 2014, Hotel Four Seasons, Jakarta Yang kami hormati, Bapak Agus Sugiharto Direktur Literasi dan Edukasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan beserta hasil-hasilnya, dan pertumbuhan stabilitas ekonomi nasional

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan beserta hasil-hasilnya, dan pertumbuhan stabilitas ekonomi nasional BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bank merupakan lembaga keuangan yang sangat penting dalam perekonomian. Secara umum bank didefinisikan sebagai lembaga keuangan yang berfungsi menghimpun dana

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. menjalankan aktifitas, khususnya dalam kegiatan sehari-hari. Dalam

BAB 1 PENDAHULUAN. menjalankan aktifitas, khususnya dalam kegiatan sehari-hari. Dalam BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada saat ini, perkembangan di bidang teknologi berjalan dengan sangat pesat. Banyak kemajuan di bidang teknologi yang sangat mempermudah pekerjaan manusia. Mengikuti

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 16/ 8 /PBI/2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 11/12/PBI/2009 TENTANG UANG ELEKTRONIK (ELECTRONIC MONEY) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.64, 2009 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PERBANKAN. BI. Alat Pembayaran. Kartu. Penyelenggaraan. Perizinan. Pengawasan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5000) PERATURAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu jenis jasa bank (service) yang ada di Indonesia adalah jasa kliring

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu jenis jasa bank (service) yang ada di Indonesia adalah jasa kliring BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Salah satu jenis jasa bank (service) yang ada di Indonesia adalah jasa kliring (clearing). Kliring adalah penagihan warkat bank yang berasal dari dalam kota

Lebih terperinci

Banking Weekly Hotlist (24 Juli 28 Juli 2017)

Banking Weekly Hotlist (24 Juli 28 Juli 2017) Banking Weekly Hotlist (24 Juli 28 Juli 2017) FINTECH DAN INOVASI DIGITAL Hadapi Fintech, Bank Kedepankan Inovasi Digital Di tengah pesatnya pertumbuhan industri financial technology (fintech) dianggap

Lebih terperinci

ATAS RANCANGAN PERATURAN OTORITAS JASA

ATAS RANCANGAN PERATURAN OTORITAS JASA RANCANGAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR /POJK.03/2017 TENTANG PENERAPAN KEUANGAN BERKELANJUTAN BAGI LEMBAGA JASA KEUANGAN, EMITEN, DAN PERUSAHAAN PUBLIK BATANG TUBUH RANCANGAN PERATURAN OTORITAS

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 20/POJK.03/2014 TENTANG BANK PERKREDITAN RAKYAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 20/POJK.03/2014 TENTANG BANK PERKREDITAN RAKYAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 20/POJK.03/2014 TENTANG BANK PERKREDITAN RAKYAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN, Menimbang : a. bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

SEJARAH BANK INDONESIA : SISTEM PEMBAYARAN Periode

SEJARAH BANK INDONESIA : SISTEM PEMBAYARAN Periode SEJARAH BANK INDONESIA : SISTEM PEMBAYARAN Periode 1997-1999 Cakupan : Halaman 1. Sekilas Sejarah Bank Indonesia di Bidang Sistem Pembayaran 2 Periode 1997-1999 2. Arah Kebijakan 1997-1999 3 3. Langkah-Langkah

Lebih terperinci

BAB XI TEKNOLOGI PERBANKAN

BAB XI TEKNOLOGI PERBANKAN BAB XI TEKNOLOGI PERBANKAN A. Indikator Teknologi Sistem Informasi Perbankan Indikator teknologi sistem informasi perbankan yaitu: 1. Platform perangkat computer (main frame, minicomputer, PC LAN) 2. Media

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PEMBATASAN TRANSAKSI UANG KARTAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PEMBATASAN TRANSAKSI UANG KARTAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PEMBATASAN TRANSAKSI UANG KARTAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk mewujudkan

Lebih terperinci

PERATURAN ANGGOTA DEWAN GUBERNUR NOMOR 19/10/PADG/2017 TENTANG GERBANG PEMBAYARAN NASIONAL (NATIONAL PAYMENT GATEWAY)

PERATURAN ANGGOTA DEWAN GUBERNUR NOMOR 19/10/PADG/2017 TENTANG GERBANG PEMBAYARAN NASIONAL (NATIONAL PAYMENT GATEWAY) PERATURAN ANGGOTA DEWAN GUBERNUR NOMOR 19/10/PADG/2017 TENTANG GERBANG PEMBAYARAN NASIONAL (NATIONAL PAYMENT GATEWAY) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA ANGGOTA DEWAN GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

No. 16/12/DPAU Jakarta, 22 Juli 2014 SURAT EDARAN. Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA

No. 16/12/DPAU Jakarta, 22 Juli 2014 SURAT EDARAN. Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA No. 16/12/DPAU Jakarta, 22 Juli 2014 SURAT EDARAN Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA Perihal: Penyelenggaraan Layanan Keuangan Digital Dalam Rangka Keuangan Inklusif Melalui Agen Layanan Keuangan Digital

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 6 /POJK.03/2016 TENTANG KEGIATAN USAHA DAN JARINGAN KANTOR BERDASARKAN MODAL INTI BANK

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 6 /POJK.03/2016 TENTANG KEGIATAN USAHA DAN JARINGAN KANTOR BERDASARKAN MODAL INTI BANK OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 6 /POJK.03/2016 TENTANG KEGIATAN USAHA DAN JARINGAN KANTOR BERDASARKAN MODAL INTI BANK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

ANALISA Bank dan Lembaga Keuangan II

ANALISA Bank dan Lembaga Keuangan II ANALISA Bank dan Lembaga Keuangan II SISTEM KLIRING NASIONAL BANK INDONESIA (SKNBI) dan Real Time Gross Settlement (RTGS) Disusun oleh : Candy Gloria (2121 0516) Kelas: SMAK 04-05 Jurusan Akuntansi Fakultas

Lebih terperinci

BAB III PROFIL PERUSAHAAN

BAB III PROFIL PERUSAHAAN BAB III PROFIL PERUSAHAAN A. Sejarah Berdirinya Bank Syari'ah Mandiri PT Bank Syari'ah Mandiri (Bank) didirikan pertama kali dengan nama PT Bank Industri National disingkat PT BINA atau disebut juga PT

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.106, 2016 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PERBANKAN. BI. Uang Rupiah. Pembayaran dan Pengelolaan. Sistem. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5885). PERATURAN BANK

Lebih terperinci

FREQUENTLY ASK QUESTIONS

FREQUENTLY ASK QUESTIONS FREQUENTLY ASK QUESTIONS SURAT EDARAN BANK INDONESIA NO.16/12/DPAU 12/DPAU TANGGAL 22 JULI 2014 PERIHAL PENYELENGGARAAN LAYANAN KEUANGAN DIGITAL DALAM RANGKA KEUANGAN INKLUSIF MELALUI AGEN LAYANAN KEUANGAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Laju perkembangan teknologi informasi berjalan cepat seiring berkembangnya penggunaan internet. Dampak dari perkembangan teknologi dapat dirasakan hampir di berbagai

Lebih terperinci

No.18/27/DSta Jakarta, 22 November 2016 S U R A T E D A R A N

No.18/27/DSta Jakarta, 22 November 2016 S U R A T E D A R A N No.18/27/DSta Jakarta, 22 November 2016 S U R A T E D A R A N Kepada SELURUH BANK PERKREDITAN RAKYAT DAN LEMBAGA SELAIN BANK PENYELENGGARA KEGIATAN ALAT PEMBAYARAN DENGAN MENGGUNAKAN KARTU DAN UANG ELEKTRONIK

Lebih terperinci