BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG"

Transkripsi

1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pemerintah berkewajiban untuk mengambil segala langkah dalam usaha memajukan kebudayaan bangsa. Benda cagar budaya mempunyai arti penting bagi kebudayaan bangsa, khususnya untuk memupuk rasa kebanggaan nasional serta memperkokoh kesadaran jatidiri bangsa. Oleh karena itu, Pemerintah berkewajiban, berdasarkan peraturan perundangundangan berlaku, untuk melindungi benda warisan budaya bangsa Indonesia. Tidak semua benda peninggalan sejarah mempunyai makna sebagai benda cagar budaya. Sejauh peninggalan sejarah merupakan benda cagar budaya maka demi pelestarian budaya bangsa, benda cagar budaya tersebut harus dilindungi dan dilestarikan. Sebagian besar benda cagar budaya suatu bangsa adalah hasil ciptaan bangsa itu pada masa lalu dapat menjadi sumber kebanggaan bangsa bersangkutan di masa kini. Oleh karena itu, pelestarian benda cagar budaya Indonesia merupakan ikhtiar untuk memupuk kebanggaan nasional dan memperkokoh kesadaran jati diri bangsa. Upaya melestarikan benda cagar budaya dilaksanakan, selain untuk memupuk rasa kebanggaan nasional dan memperkokoh kesadaran jati diri juga untuk kepentingan pengembangan bidang sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Selain itu, pemanfaatan benda 1

2 cagar budaya, dalam rangka kepentingan nasional dan daerah, diupayakan jauh dari penyalahgunaan pemanfaatan ruang dapat membahayakan kelestarian benda cagar budaya itu sendiri. Berkaitan dengan hal tersebut, Salatiga sebagai kota pernah menjadi sentra peristirahatan sejak jaman Pemerintah Belanda dan mempunyai peran tidak kecil dalam proses berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia, sudah barang tentu memiliki berbagai peninggalan bersejarah/ benda cagar budaya, baik bergerak maupun tidak bergerak. Keberadaan bersejarah tersebut sudah barang tentu merupakan aset bagi Pemerintah Daerah, namun demikian pada kenyataannya jumlah bersejarah beralih fungsi semakin hari semakin bertambah. Apabila ditilik lebih jauh, sebenarnya terdapat 2 (dua) akar permasalahan menjadi penyebab semakin berkurangnya jumlah bersejarah di Kota Salatiga, yaitu: 1. Masih kurangnya kesadaran akan arti penting keberadaan bersejarah di Kota Salatiga, baik di kalangan masyarakat umum, swasta maupun aparatur pemerintah. Pem berorientasi pada kepentingan ekonomi dan investasi tidak diimbangi dengan upaya menjaga kelestarian dan keberadaan bersejarah; 2. Belum adanya regulasi mengatur tentang pelestarian bersejarah di Kota Salatiga, termasuk di dalamnya mengenai kriteria bersejarah harus dilindungi maupun mengatur tentang tanggungjawab bersama antara Pemerintah Daerah maupun publik dalam melestarikan keberadaan bersejarah. Berdasarkan hasil pendataan Bappeda Kota Salatiga dan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) pada tahun 1999 terdapat 192 bersejarah dan Laporan Inventarisasi BCB Tak Bergerak Kota Salatiga oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah pada tahun 2006 telah menjaring data sebanyak 80 BCB tak bergerak, namun data tersebut tidak dilengkapi dengan kriteria atau kategorisasi bersejarah dapat dijadikan acuan dalam menentukan 2

3 status bersejarah tersebut. Selain itu, seiring dengan perjalanan waktu, tentunya telah terjadi perubahan jumlah bersejarah di Salatiga, disebabkan karena berbagai hal baik faktor kondisi tersebut, ataupun faktorfaktor eksternal berkaitan dengan aspek pem daerah dan perubahan penggunaan lahan di Kota Salatiga. Untuk itu dirasakan perlu dilakukan pengkajian dan identifikasi ulang terhadap keberadan Bersejarah di Kota Salatiga. Di samping itu, seiring dengan telah ditetapkannya/dimasukkannya Kota Salatiga sebagai salah satu Kota Pusaka merupakan tindaklanjut dari Konferensi Kota Pusaka Se-Dunia (World Heritage City Conference) di Surakarta pada Oktober tahun 2008, maka sudah barang tentu membawa konsekuensi tidak ringan. Hal ini berkaitan dengan komitmen dan perhatian lebih terhadap keberadaan bersejarah di Kota Salatiga. Memperhatikan hal-hal tersebut, maka Pemerintah Kota Salatiga melalui Bappeda Kota Salatiga memandang perlu untuk melaksanakan kajian dan identifikasi bersejarah untuk dinyatakan sebagai benda cagar budaya berada di Kota Salatiga, dengan melibatkan BP3 Jawa Tengah sebagai institusi Pemerintah Pusat mempunyai tugas pokok dan fungsi melakukan kajian terhadap keberadaan, pelestarian dan perlindungan bersejarah maupun benda purbakala. Hal ini direalisasikan dalam bentuk Perjanjian Kerja Sama antara Bappeda Kota Salatiga Nomor 050/958/2009 dengan BP3 Jawa Tengah Nomor 1585a/101.SP/BP3/P-XI/2009 tanggal 9 Nopember 2009 tentang Kajian dan Identifikasi Bersejarah di Kota Salatiga Tahun Bagi Bappeda Kota Salatiga, hasil Kajian dan Identifikasi Bersejarah ini akan memberikan umpan balik (feedback) baik kepada pimpinan daerah, maupun bagi Satuan Kerja gkat Daerah terkait, program pem daerah di Kota Salatiga dapat dilaksanakan secara efektif dan keputusan dapat diambil secara tepat serta dapat digunakan sebagai 3

4 dasar untuk menyusun regulasi mengatur tentang pelestarian dan perlindungan bersejarah di Kota Salatiga maupun upaya pelestariannya. B. MAKSUD DAN TUJUAN Kegiatan kajian dan identifikasi bersejarah ini bermaksud untuk menyusun identifikasi dan kategorisasi bersejarah sesuai nilai penting (cultural significance) dimilikinya dan sesuai keadaan dan kondisi saat ini. Adapun tujuan kegiatan tersebut adalah: 1. Mengetahui kondisi bersejarah di kota Salatiga masih bertahan hingga saat ini; 2. Mengetahui kategorisasi bersejarah ada di Kota Salatiga berdasarkan nilai pentingnya; 3. Mengetahui tindakan pelestarian dapat dilakukan terhadap - bersejarah tersebut; 4. Mencegah dan mengendalikan kemungkinan terjadinya penyimpangan pemanfaatan bersejarah terhadap perencanaan pem daerah dan tata ruang sudah ada. C. HASIL YANG DIHARAPKAN Tersedianya Kajian dan Hasil Identifikasi Bersejarah di Kota Salatiga memuat tentang kondisi bersejarah dan klasifikasi bersejarah dapat dijadikan acuan dalam perencanaan pem daerah sehingga dapat mencegah dan mengendalikan kemungkinan terjadinya penyimpangan pemanfaatan bersejarah terhadap perencanaan pem dan tata ruang daerah. 4

5 D. RUANG LINGKUP KEGIATAN 1. Kajian bersejarah di Kota Salatiga; 2. Identifikasi bersejarah di Kota Salatiga; 3. Klasifikasi/kategorisasi bersejarah di Kota Salatiga; 4. Menyusun rekomendasi pelestarian bersejarah di Kota Salatiga. E. TIM PELAKSANA 1. Penanggung Jawab : Drs. Tri Hatmadji 2. Koordinator : Drs. Gutomo 3. Ketua Tim : Asmara Dewi, S.S. 4. Sekretaris : Suana 5. Arkeolog : a. Wahyu Kristanto, S.S. b. Wardiyah, S. Hum. 6. Teknisi : a. Sudarno, S.T. b. Wahyu Widayat, S.T. 7. Pengolah Data : a. Eri Budiarto, S.S. b. Nur Khusniati Kartikaningtyas, S.T. 8. Narasumber : a. Drs. H. Cholil As ad (Kepala Bappeda Kota Salatiga) b. Sugiyono (Ka Sub Bid Pemerintahan Bappeda Kota Salatiga) c. Ir. Kriswandhono, M.Hum. (Ahli Arsitektur) d. Drs. Tjahjono Prasodjo, M.A. (Ahli Arkeologi) e. Dra. Zaimul Azzah, M.Hum. (Ahli Arkeologi) f. Slamet Rahardjo (Tokoh Masyarakat) 5

6 BAB II SEJARAH KOTA SALATIGA Secara astronomi Kota Salatiga terletak antara dan Lintang Selatan dan antara ,81 dan ,64 Bujur Timur. Kota Salatiga terletak di propinsi Jawa Tengah, berbatasan dengan wilayah Kabupaten Semarang. Secara morfologis berada di daerah cekungan kaki Gunung Merbabu dan di antara gunung-gunung kecil antara lain Gajah Mungkur, Telomoyo, Payung, dan Rong. Sebagai dataran tinggi Kota Salatiga terletak di ketinggian antara m dpl. Secara administratif Kota Salatiga terbagi menjadi 4 kecamatan dan 22 kelurahan. Kecamatan itu meliputi Kecamatan Sidorejo, Kecamatan Tingkir, Kecamatan Sidomukti, serta Kecamatan Argomulyo. Sedangkan wilayah kelurahannya meliputi Kelurahan Noborejo, Cebongan, Randuacir, Ledok, Tegalrejo, Kumpulrejo, Tingkir Tengah, Tingkir Lor, Kalibening, Sidorejo Kidul, Kutowinangun, Gendongan, Kecandran, Dukuh, Mangunsari, Kalicacing, Pulutan Blotongan, Sidorejo Lor, Salatiga, Bugel, dan Kauman Kidul (http://www.pemkot-salatiga.go.id/profile.html). Sejarah Kota Salatiga diawali dengan penetapan tanah perdikan terhadap sebuah desa bernama Hampra pada tanggal 24 Juli 750 Masehi. Pemberitaan tersebut tertulis dalam sebuah prasasti ditemukan di Dukuh Plumpungan, Kelurahan Kauman Kidul, kecamatan Sidorejo, dikenal dengan Prasasti Plumpungan atau Prasasti Hampran. Prasasti tersebut berukuran panjang 170 cm, lebar 160 cm dengan garis lingkar 5 meter, terbuat dari batu andesit. Prasasti tersebut berbahasa Sansekreta dan berhuruf Jawa Kuno terdiri atas 6 baris tulisan, yaitu: 6

7 1. //Srīr = astu swasti prajābyah śakakālātīta 672/4/31/..(..) 2. maddhyāham //O// 3. //dharmmārthaṃ kṣetradānaṃ yad = udayajananaṃ yo dadātiśabhaktya 4. hampragramaṃ trigrāmyamahitaṃ = anumatam sīddhadewyāśca tasyāh 5. kośāmrāgrāwalekhāksarawidhiwidhita prāntasimāwidhānam 6. tasyaitad = bhānunāmno bhuwi bhawatu yaśo jiwitamcaiwa nityam Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: Semoga bahagia! Selamatlah rakyat sekalian! Tahun Saka telah berjalan 672/4/31 (24 Juli 760 Masehi) pada hari Jumat tengah hari Dari beliau, demi agama untuk kebaktian kepada Maha Tinggi, telah menganugerahkan sebidang tanah atau taman, agar memberikan kebahagiaan kepada mereka, yaitu desa Hampra terletak di wilayah Trigramyama dengan persetujuan dari Siddhadewi (Sang Dewi Sempurna atau Mendiang) berupa daerah bebas pajak atau perdikan ditetapkan dengan tulisan aksara atau prasasti ditulis menggunakan ujung mempelam dari beliau bernama Bhanu. (Dan mereka) dengan suci atau candi ini, selalu menemukan hidup abadi. (Pemda Kotamadya Dati II Salatiga, 1995). Poerbatjaraka menafsirkan trigrāmyamahitaṃ sinonim dengan Salatiga. Berdasarkan prasasti ini, Hari Jadi Kota Salatiga ditetapkan, yakni tanggal 24 Juli tahun 750 Masehi ditetapkan dengan Peraturan Daerah Tingkat II Salatiga Nomor 15 Tahun 1995 Tentang Hari Jadi Kota Salatiga (Pemda Kotamadya Dati II Salatiga, 1995). 7

8 Prasasti Plumpungan No. Inventaris : 11-73/Sla/TB/01 Asal usul nama Salatiga sering juga dikaitkan dengan tradisi lisan tentang perjalanan Ki Ageng Pandanaran dari Semarang menuju Bayat (Klaten) pada akhir abad XVI. Diceritakan bahwa dalam perjalanan tersebut mereka dirampok oleh tiga orang perampok. Dari peristiwa perampokan tersebut muncullah perkataan salah tiga (tiga orang berbuat salah), kemudian dijadikan nama tempat terjadinya peristiwa tersebut, yaitu Salatiga. Berita tentang Salatiga kemudian baru muncul pada tahun 1705, ketika diberitakan bahwa Kabupaten Semarang telah diserahkan oleh Susuhunan Pakubuwana I kepada VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie). Penyerahan Kabupaten Semarang kepada VOC tersebut berakibat bahwa wilayah Salatiga kemudian berada di bawah kekuasaan VOC karena desa-desa di sepanjang jalan antara Semarang sampai Kartasura telah diserahkan oleh Susuhunan Pakubuwana I kepada Bupati Semarang (Adipati Suradimenggala). Kewajiban desa-desa di sepanjang jalan tersebut adalah memberi pelayanan kepada para pejabat Belanda singgah dalam perjalanan Semarang-Surakarta atau sebaliknya. Pihak Belanda, khususnya VOC sangat diuntungkan dengan kondisi ini karena selain mendapat pelayanan ketika mereka singgah di Salatiga, pihak VOC tidak berkewajiban lagi untuk membayar pajak jalan kepada Kerajaan Mataram (Puji Widiasih, 2005). Pada tahun 1723 status yuridiksi Salatiga menjadi netral ketika Susuhunan Amangkurat IV mengadakan kesepakatan dengan pihak VOC (diwakili oleh Commisaris Dubbeldekop) dengan menetapkan Salatiga sebagai titik perbatasan antara 8

9 yuridiksi VOC dengan yuridiksi Kerajaan Mataram. Status netral dan keberadaan Salatiga sebagai titik perbatasan ini menjadikan Salatiga sebagai wilayah sangat dinamis setelah tahun 1723 tersebut. Sumber-sumber Belanda berasal dari pertengahan abad XVIII sedikit menyinggung wilayah Salatiga, hanya diberitakan bahwa pada waktu Kapten Tack menyerang Surapati di Kartasura, ia melewati wilayah dua desa di kabupaten Salatiga. Pada tanggal 5 Februari 1724 Kapten Tack singgah di Banyuputih dan keesokkan harinya ia melanjutkan perjalanannya menuju Kartasura dan melewati desa Tingkir. Disebutkan bahwa kedua desa tersebut pada waktu itu merupakan wilayah Kabupaten Salatiga (de Graaf 1989). Pemberitaan tentang wilayah Salatiga didapatkan pula dalam laporan perjalanan Hogendorf pada bulan Maret Dalam laporannya tersebut, Hogendorf menuliskan bahwa wilayah Salatiga terdiri dari dua desa, yaitu desa Krajan dan desa Kalicacing (A. Rasidi, seperti dikutip dalam: Emy Wuryani, 2006). Pada pertengahan abad XVIII cerita-cerita babad, seperti Babad Keraton, menceritakan peranan Kota Salatiga pada masa perjuangan melawan Belanda. Perlawanan terhadap Belanda di Salatiga terjadi pada masa pemerintahan Paku Buwono II. Sebuah pasukan gabungan, antara lain para bupati, R.M. Said, R.M. Garendi, dan laskar Cina dari Batavia dan Jawa Tengah. Dalam website Sejarah Salatiga ( ), pada perlawanan tersebut diceritakan: Benteng Salatiga pada awalnya diduduki oleh Pasukan Kartasura, di bawah pimpinan Patih Pringgalaya. Namun kemudian Patih Pringgalaya dikirim ke Kartasura untuk melindungi istana. Tidak beberapa lama pasukan dimaksud ditarik ke Kartasura untuk membendung bala tentara Kompeni mengancam Keraton Kartasura. Sebagai gantinya Salatiga dipertahankan oleh satu detasemen Laskar Cina didatangkan dari Semarang. Kompeni merasa tidak senang atas berpihaknya PB.II kepada pemberontak dan mengeluarkan berbagai ancaman. Disebabkan Pringgalaya takut atas 9

10 ancaman Kompeni demikian itu dan untuk membuktikan bahwa dia tidak bersekongkol dengan Laskar Cina, maka pada tahun 1741 ia memenggal kepala seorang juru tulis Tionghoa, bernama Gow Ham Ko di Salatiga. Kepala Gow Ham Ko oleh Patih Pringgoloyo diserahkan kepada Kompeni. Hal ini membuat marah Patih Notokusumo, seseorang lebih senior dari Pringgalaya. Secara diam-diam dia memerintahkan semua pengikutnya untuk bergabung dengan pasukan Tionghoa dan pemberontak lainnya untuk menyerang kompeni di Semarang. Sa, serangan terhadap kompeni di Semarang mengalami kegagalan. Pasukan pemberontak mundur dan Patih Notokusumo ditangkap Belanda. Sebagian besar pasukan mundur bertahan didaerah Salatiga dengan pertahanan Kali Tuntang. Berbagai kekuatan pemberontak, seperti pasukan Pringgalaya berada di Kalicacing, Pasukan Kyai Mas Yudonegoro, seorang ulama dari Semarang berada di bagian timur dan pasukan Cina di sekitar Kali Tuntang. Kekalahan pasukan pemberontak di Semarang membuat PB.II ragu dan akhirnya memutuskan berbalik berpihak pada kompeni. Ia memerintahkan pasukannya di bawah Pringgalaya menggempur para pemberontak. Menanggapi situasi demikian itu, para bupati pemberontak dan pimpinan laskar Tionghoa berkumpul untuk mengangkat RM.Garendi sebagai raja Mataram pada tanggal 6 April Mereka berikrar akan melawan kompeni sampai ajal tiba. Sasaran mereka merebut benteng kompeni di Kartasura. Pertempuran pertama harus mereka hadapi ialah di Salatiga, dimana mereka harus berhadapan dengan Pringgalaya di Kalicacing sekarang berpihak pada VOC. Setelah Salatiga jatuh ketangan RM.Garendi, dengan mudah mereka merebut benteng kompeni di Kartasura dibawah Van Hohendorf. RM.Garendi di Kartasura bertemu dengan RM.Said selanjutnya keduanya bergabung melawan kompeni pada pertengahan Sementara itu Salatiga telah dikuasai oleh pasukan pemberontak terdiri dari laskar Cina, pasukan dibawah Kyai Mas Yudonegoro dan pasukan para bupati setia pada Patih Notokusumo.Belanda merencanakan mengirim pasukan gerak cepat terdiri dari 300 prajurit Eropa dan 500 prajurit pribumi ke Salatiga, tapi mengalami kegagalan karena pasukan akan 10

11 menjemput mereka sebelum memasuki Salatiga telah dipukul mundur ke Ampel. Pada tanggal 19 Juni 1742 serangan besar-besaran akan dilancarkan ke kota Salatiga. Namun sebelum sampai tujuan, mereka ketakutan dan kembali ke Semarang, karena Kompeni melihat konsentrasi kekuatan pasukan Kyai Mas Yudonegoro. Pasukan gabungan dari RM.Garendi atau Sunan Kuning terus melakukan perlawanan pada kompeni di seluruh wilayah Jawa Tengah. Kali ini menjadi sasaran adalah Tanjung, Jepara. RM.Said bersama laskar Cina berkekuatan 800 orang bertempur melawan pasukan kompeni dibawah Kapten Mom di Welahan pada tanggal 24 Agustus 1742, namun pasukan ini karena kekuatan persenjataan tak seimbang terpaksa mundur. Sebagian diantaranya membuat pertahanan di Salatiga dan memasang barikade di Kali Tuntang. Pasukan kompeni dibawah Hohendorf gagal menembus barikade ini. Ditempat ini komandan dan laskar Cina, yaitu Kapitan Sepanjang telah mengeksekusi anak buahnya bernama Swa Ting Giap karena mau menyeberang ke pihak Kompeni. Sunan Kuning atau RM.Garendi beserta Laskar Cina, Kyai Mas Yudonegoro, Bupati Mangunnoneng, serta Bupati Martapura, melakukan serangan ke Salatiga dan memaksa Patih Pringgalaya sudah berbalik membantu Kompeni, mundur ke Tengaran, kemudian Ampel. Pasukan RM.Garendi terus mengejar pasukan Kartasura dibawah Pringgalaya dan akhirnya menyerbu benteng Kompeni di Kartasura. Di tempat ini, RM.Garendi beserta Laskar Cina bersatu dengan RM.Said melakukan perlawanan terhadap Kompeni. Pada tanggal 11 Nopember 1743 Sunan Pakubuwono II menandatangani Perjanjian Ponorogo dengan pihak VOC menyatakan bahwa Mataram harus menyerahkan seluruh wilayah Madura dan pantai utara Jawa (antara lain: Salatiga, Semarang, Jepara, Rembang, Surabaya, dan ujung timur Jawa) ke Pemerintah Kolonial Belanda. Sejak saat itu Salatiga secara resmi berada di bawah penguasaan Belanda. Konsekuensi selanjutnya dari penguasaan Belanda di Salatiga adalah pendirian benteng Belanda di Salatiga pada tahun 1746 diberi nama Der Hersteller. Tujuan pendirian benteng ini adalah sebagai 11

12 tempat mengawasi Sunan dan para pengikutnya, menjaga keamanan jalur Semarang-Surakarta, dan sebagai tempat persinggahan para pegawai VOC (Emy Wuryani, 2006). Ketika terjadi perselisihan antara R.M. Said dengan Sunan Pakubuwana beralangsung dari tahun 1746 sampai 1957 Pihak Belanda berusaha meredam pertempuran tersebut. Belanda mengajak R.M. Said dan Sunan Pakubuwana III berunding pada tahun 1755 dan Perundingan tahun 1955 menghasilkan Perjanjian Giyanti, sedang perundingan tahun 1757 menghasilkan Perjanjian Salatiga melahirkan Kadipaten Mangkunegara. Penandatangan perjanjian ini dilakukan di Gedung Pakuwon, saat ini terletak di Jl. Brigjen Sudiarto. Salatiga setelah itu nampaknya dijadikan lokasi cukup strategis oleh pihak Belanda, terutama dari segi pertahanan militer. Pada saat perang Diponegoro meletus ( ) Salatiga menjadi benteng pertahanan pihak Belanda cukup kuat, bahkan perjanjian antara pihak Belanda dengan para residen terlibat dalam perang Diponegoro diadakan di Salatiga pada tahun Sesudah perang Diponegoro berakhir, pihak pememrintah Hindia Belanda semakin memperkuat militer di Salatiga dengan membangun tangsi-tangsi militer untuk para pasukan kavaleri. Salah satu tangsi dibangun pada tahun 1835, seperti masih terlihat pada angka tahun 1835 tertera pada bagian gedungnya. Tangsi-tangsi ini dibangun lengkap dengan jaringan sanitasi dengan sumber air dari Senjoyo. Selain itu, dibangun pula rumah sakit tentara serta perumahan bagi para tenaga medis rumah sakit. Bahkan, area pemakaman pun disediakan, baik untuk orang Eropa (kerkhof), orang Cina, dan penduduk lokal (Emy Wuryani, 2006). Kota Salatiga kemudian berkembang sangat pesat setelah tahun 1870-an. Pada masa itu di Salatiga tumbuh banyak perusahaan-perusahaan swasta bergerak dalam bidang perkebunan. Hal ini disebabkan oleh terjadinya perubahan kebijakan pemerintah kolonial terhadap negara jajahannya. Penghapusan sistem tanam paksa (cultuur-stelsel) melahirkan beberapa peraturan 12

13 pemerintah Hindia Belanda, antara lain Undang-undang Gula (Suikerwet) dan Undang-undang Agraria (Agrarischewet) pada tahun 1870, memberi kesempatan seluas-luasnya kepada pihak swasta dalam bidang perdagangan. Perkembangan kota Salatiga berjalan seiring dengan laju pertambahan penduduknya. Akibat meningkatnya kegiatan perekonomian wilayah itu, wilayah Salatiga menjadi tempat tujuan baru bagi para pedagang di wilayah Jawa Tengah. Di samping itu, perkembangan fasilitas perkotaan semakin baik dan semakin mudahnya transportasi memicu meningkatnya ketertarikan banyak orang untuk datang dan bermukim di Salatiga. Data tabel di bawah ini menggambarkan peningkatan laju pertumbuhan penduduk kota Salatiga pada tahun Tabel 1. Pertumbuhan Populasi Salatiga (sumber: Karyono, 2002: 71) Populasi No Tahun Pribumi Eropa Cina Arab Jumlah Dari tabel di atas terlihat pertumbuhan penduduk sebanyak 100% dalam jangka waktu 25 tahun. Kecenderungan meningkatnya populasi di beberapa kota di Jawa nampaknya sudah diprediksikan oleh pemerintah Hindia Balanda pada awal 1900-an. Di lain pihak, kebijakan pemerintah Hindia Belanda telah banyak berubah dengan dikenalkannya Politik Etis lebih memihak pada masyarakat lokal dibandingkan dengan kebijakan sebelumnya. Kedua hal ini menyebabkan 13

14 pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan Decentralisatiewet (Wet 23 Juli 1903; Ind. Stb Nomor 329) atau Undang-undang Desentraliasasi. Dengan dikeluarkannya undang-undang ini kemudian beberapa wilyah perkotaan di Jawa berubah menjadi daerah otonom atau sering disebut gemeente, antara lain Batavia, Buitenzorg, Bandung, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, Magelang, Sukabumi, Surabaya, Blitar, dan Salatiga. Salatiga mendapat status gemeente pada tahun Salatiga berdasarkan Staatblad 1917 Nomor 266 mulai tanggal 25 Juni 1917 berubah sebagai Staads Gemeente Solotigo daerahnya terdiri dari 8 desa. Penetapan Salatiga sebagai gemeente mempengaruhi perkembangan tata kota selanjutnya. Sebagai sebuah gemeente Salatiga kemudian tumbuh sebagai kota terencana. Dewan kota dan walikota berhasil mengembangkan perencanaan tata kota Salatiga dengan baik, sehingga pada tahun 1919 dinobatkan sebagai Solotigo dea Schoonnste Stad van Midden Java (Salatiga Kota terindah se-jawa Tengah). Di samping itu, kedatangan pemukim baru di Salatiga membawa pengaruh dalam bidang perencanaan kota. Kaum pendatang asing, baik orang Eropa maupun Cina, memperkenalkan gaya lebih beragam. Kwik Djoen Eng, seorang pengusaha Cina di Salatiga, membangun sebuah mirip dengan pagoda di Cina. Orang-orang Eropa selalu membangun dan merencanakan kota sesuai dengan citra kota asal mereka di Eropa, seperti misalnya orang-orang Belanda akan membangun kota dengan gaya kota-kota di Belanda. Salatiga pun terpengaruh oleh gaya kebudayaan Indis atau disebut juga Indische Stijl, sangat terlihat pada - Gereja Katholik, Gereja Protestan, gedung sekolah, kantor Balai Kota, kantor Pajak, rumah sakit, dan kantor Walikota. Karyono (2002) mengklasifikasikan penyebaran pemukiman di Salatiga pada masa Kolonial sebagai berikut: 1. Daerah pemukiman orang Eropa, terletak di sepanjang jalan Tuntangscheweg. Rumah-rumah orang Eropa di sepanjang jalan ini ditata dengan pagar-pagar rapi dan orang non-eropa dilarang bertempat tinggal di jalan ini; 14

15 2. Daerah Pecinan, terletak di sebelah timur Alun-alun kota, yakni di daerah Karanganyar, Kalicacing, dan di sekitar pasar; 3. Penduduk lokal menempati wilayah perkampungan di Kalioso, Kalicacing, Pancuran, Krajan, Mrican, dan Togaten; 4. Daerah Militer menempati wilayah di sebelah tenggara Alun-alun, yaitu di Cavalerieweg (sekarang jalan Veteran), Kampementsweg (sekarang jalan Ahmad Yani), dan Soloschweg. Lebih jauh lagi dikemukakan bahwa Alun-alun sebagai pusat kota dicitrakan sebagai pusat kekuasaan kolonial. Kantor kotapraja berada di sebelah timur Alun-alun menghadap ke utara tetapi justru tidak menghadap langsung ke arah Alun-alun. Di sekitar jalan Taman Sari atau dulu dikenal dengan sebutan Oei Tiong Ham Tuin terdapat gereja protestan dan gedung Societeit Harmonie didirikan pada tanggal 15 Juli lain menonjol di Salatiga adalah kompleks milik pengusaha Semarang bernama Kwik Djoen Eng di Toentangscheweg (sekarang jalan Diponegoro 90). Kompleks milik Kwik Djoen Eng dibangun pada tahun di atas lahan seluas 12 ha., terdiri atas gedung, kebun hias, kebun binatang, lapangan tennis, dan kebon kopi. utama berupa sebuah gedung beratap kubah dengan empat menara, mirip pagoda. Keempat menara tersebut melambangkan keempat putranya, sedang kubah utama melambangkan keberadaan Kwik Djoen Eng sendiri. Setelah pemnya selesai pada tahun 1925, gedung Kwik Djoen Eng merupakan salah satu gedung paling mewah di Salatiga dengan biaya pem sebesar 3 juta gulden. Namun, ketika resesi dan depresi ekonomi melanda dunia pada tahun 1930-an, Kwik Djoen Eng bangkrut dan terpaksa harus merelakan gedung miliknya disita oleh Javasche Bank. Pada bulan April 1940 Keuskupan Semarang membeli gedung tersebut dari Javasche Bank dengan harga murah. Saat ini kompleks gedung Kwik Djoen Eng dikenal dengan nama Institut Roncalli (Karyono, 2002). 15

16 Perubahan status, fungsi, dan kepemilikan - masa kolonial di Salatiga terjadi semakin cepat setelah Belanda meninggalkan Indonesia pada tahun Drs. Slamet Rahardjo, budayawan Salatiga, mencatat beberapa peristiwa sejarah menyebabkan banyaknya perubahan-perubahan menimpa - dari masa kolonial tersebut. 1. Ketika Jepang masuk ke Salatiga pada bulan Maret 1942 melalui pendaratan pasukannya di Kragan Rembang, mereka berhasil menguasai wilayah Salatiga dan memanfaatkan gedung-gedung ada sebagai markas atau tempat tinggal tentara Jepang. 2. Pada masa Revolusi 1945 banyak gedung-gedung kuno ditinggalkan oleh pemiliknya, dan kemudian dikuasi dan dimanfaatkan oleh pemerintah maupun perseorangan. 3. Ketika terjadi peristiwa Clash I dan II dari tahun 1947 sampai 1949 banyak gedung-gedung peninggalan masa kolonial rusak akibat perang. 4. Pada tahun 1950 ketika pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan PP Nomor 10 Tahun 1950 banyak orang-orang Cina melakukan eksodus ke negeri Cina dan meninggalkan tempat tinggalnya. 5. Penghancuran Tugu Yuliana terletak di depan Ramayana pada tahun 1962 oleh penduduk lokal dipicu dengan semangat anti Belanda karena gugurnya Yos Sudarso. 6. Setelah peristiwa G 30 S banyak dan gedung-gedung milik orang Cina ditinggalkan dan ditempati oleh orangorang lain. 7. Ketika pemerintah membangun SD-SD Inpres di Salatiga, banyak dan tanah-tanah kosong di sekitar kolonial digusur dan diganti dengan gedung SD Inpres. Penggusuran antara lain terjadi pada makam Belanda atau 16

17 populer disebut dengan Kerkhof bercirikan dengan hiasan-hiasan khas Eropa dan patung-patung marmer. Di lokasi ini sekarang berdiri SD Inpres Kutowinangun I s.d. IV. Setelah Masa Kemerdekaan, pada tahun 1950 status gemeente kota Salatiga dicabut dan dikeluarkanlah Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1950 Tentang Pembentukan Daerah-Daerah Kecil Dalam Lingkungan Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Pada tahun 1999 penyebutan Kotamadya Daerah Tingkat II Salatiga berubah menjadi Kota Salatiga berdasarkan amanat Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah. 17

18 BAB III METODE PENILAIAN DAN PEMBOBOTAN BANGUNAN BERSEJARAH DI KOTA SALATIGA Pearson dan Sullivan (1995: 7-9) memberikan secara garis besar sebuah prosedur tahapan pengelolaan sumberdaya arkeologis sebagai berikut : IDENTIFIKASI SUMBERDAYA ARKEOLOGIS Identifikasi lokasi dan kenampakan fisik situs beserta lingkungan PENAKSIRAN NILAI PENTING DAN KEBERMAKNAAN SITUS Penelitian arkeologis, antropologis, arsitektur, dan sejarah untuk mencari peringkat nilai penting dan kebermaknaan situs PERENCANAAN DAN PEMBUATAN KEBIJAKAN Pemerintah, Akademisi, dan Masyarakat lokal duduk bersama untuk membuat rencana pengelolaan sumberdaya arkeologis. Hasil diskusi tersebut dipergunakan bagi pemerintah untuk menyusun dan membuat kebijakan. IMPLEMENTASI KEBIJAKAN BAGI PENGELOLAAN SUMBERDAYA ARKEOLOGIS Pengelolaan sumberdaya arkeologis harus berpatokan pada community-based management. Masyarakat lokal dilibatkan dalam jaringan sistem pengelolaan situs, baik dari segi pemanfaatan, perlindungan, pelestarian, maupun dari pendanaan. MONITORING DAN EVALUASI Pemerintah, akademisi, dan masyarakat secara bersama-sama memantau dan mengawasi serta mengadakan evaluasi terhadap pelaksanaan pengelolaan sumberdaya arkeologis. Hasil monitor ini akan dipergunakan untuk mengevaluasi kegiatan pengelolaan tersebut. 18

19 Bagan di atas menggambarkan prosedur pengelolaan sumberdaya arkeologi atau BCB lengkap, mulai dari proses awal yaitu identifikasi BCB sampai dengan tahap monitoring terhadap pelaksanaan pengelolaan BCB. Model pengelolaan BCB lain dipergunakan di Australia, seperti digambarkan dalam skema di bawah ini: Sumber: Australian Heritage Commission (2000) 19

20 Dalam kegiatan kajian bersejarah kota Salatiga, tidak semua tahap pengelolaan sumberdaya budaya tersebut akan dilaksanakan. Sesuai dengan tujuan kajian ini, maka tahap dilakukan adalah tahap pertama dan kedua, yaitu identifikasi dan penentuan nilai penting (cultural significance). Claire Smith dan Heather Burke (2007) mengemukakan proses penentuan nilai penting BCB adalah sebagai berikut: In essence the process for any cultural heritage management assessment is as follows: Decide on what categories of cultural significance are relevant, why and how. Grade the significance of components or aspects within each of these categories (i.e. assess relative degrees of significance). Assess competing or shared claims to significance and/or differences of opinion about the meaning of the place. Draft a statement of significance that describes the outcomes of this process. Draft appropriate conservation policy based on the statement of significance (a conservation plan). Draft practical management strategies based on this policy (a management plan). This may include evaluating how to accommodate competition over values in management and interpretation. Berdasarkan proses dikemukakan oleh Smith dan Burke tersebut di atas, aplikasi pentahapan penentuan nilai penting BCB di kota Salatiga dapat dilihat pada skema berikut ini. 20

21 INVENTARISASI BCB Mengidentifikasikan seluruh BCB dan diduga BCB PENYUSUNAN KRITERIA NILAI PENTING PENENTUAN NILAI PENTING TERHADAP BCB YANG ADA PERNYATAAN NILAI PENTING (SIGNIFICANCE STATEMENT) REKOMENDASI TINDAK LANJUT ATAS HASIL PENILAIAN BCB 21

22 Deskripsi kegiatan setiap tahap kajian adalah sebagai berikut: a. Inventarisasi BCB Kota Salatiga Inventarisasi dilakukan dengan survei BCB di seluruh kota Salatiga. Rekaman dilakukan adalah rekaman visual dan verbal. Pendeskripsian atas objek BCB terbagi dalam beberapa variabel, yaitu: nama, alamat, sejarah, kondisi, serta rekaman visual (foto). b. Penyusunan Nilai Penting (Cultural significance) UU RI Nomor 5 Tahun 1992 tentang BCB pasal 1 ayat 1 menyebutkan Benda Cagar Budaya sebagai berikut: (a) benda buatan manusia, bergerak atau tidak bergerak berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya atau sisa-sisanya, berumur sekurang-kurangnya 50 tahun, atau mewakili masa gaya khas dan mewakili masa gaya sekurang-kurangnya 50 tahun, serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan, (b) benda alam dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan Berdasarkan UU RI Nomor 5 Tahun 1992 tentang BCB pasal 1 ayat 1 tersebut di atas, terdapat 3 (tiga) kriteria penting harus dipergunakan dalam menilai nilai penting BCB, yaitu: 1. Nilai Penting Sejarah 2. Nilai penting Ilmu Pengetahuan 3. Nilai Penting Kebudayaan 22

23 Menurut Daud Aris Tanudirjo (2004) secara ideal ketiga aspek tersebut haruslah diperhitungkan dalam menentukan nilai penting BCB, seperti diuraikan dalam tabel di bawah ini. Tabel 2. Nilai Penting BCB (Sumber: Daud Aris Tanudirjo, 2004) 1. Nilai penting Sejarah : apabila sumberdaya budaya tersebut dapat menjadi bukti berbobot dari peristiwa terjadi pada masa prasejarah dan sejarah, berkaitan erat dengan tokoh-tokoh sejarah, atau menjadi bukti perkembangan penting dalam bidang tertentu A B C Berkaitan erat dengan peristiwa (event) penting terjadi pada masa prasejarah maupun sejarah Berkaitan erat dengan tokoh-tokoh sejarah atau merupakan tinggalan/karya tokoh terkemuka (master) dalam bidang tertentu Berkaitan erat dengan tahap perkembangan menentukan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, atau mewakili salah satu tahapan penting tersebut, a.l. penemuan baru, munculnya ragam (style) baru, penerapan teknologi baru, 23

24 D Berkaitan erat dengan tahap perkembangan suatu kehidupan tertentu atau tinggalan mewakili salah satu tahapan tersebut (misalnya, pasang-surut kehidupan ekonomi, sosial, politik) 2. Nilai penting Ilmu Pengetahuan : apabila sumberdaya budaya itu mempunyai potensi untuk diteliti lebih lanjut dalam rangka menjawab masalah-masalah dalam bidang keilmuan tertentu A B C Arkeologi mendeskripsikan, menjelaskan dan menjawab masalahmasalah berkaitan dengan peristiwa atau proses-proses budaya di masa lampau, termasuk di dalamnya pengujian teori, metode, dan teknik tertentu di bidang ini Antropologi, untuk mengkaji prinsip-prinsip umum dalam bidang ini, khususnya proses-proses perubahan budaya dalam jangka waktu panjang dan proses adaptasi ekologi, termasuk di dalamnya evolusi ragawi (biological evolution dan palaeoantropologi) Ilmu-ilmu Sosial, untuk mengkaji prinsip-prinsip umum dalam bidang ilmu sosial humaniora, terutama berkaitan dengan interaksi sosial, struktur sosial, kekuasaan dan politik, dan prosesproses sosial lainnya. 24

25 D E F Arsitektur dan Teknik Sipil, untuk mengkaji prinsip-prinsip umum dalam bidang seni bangun, rancang bangun, dan susunan (kontruksi), termasuk kajian penggunaan bahan dan ketrampilan merancang, atau merupakan hasil penerapan teknologi dan materi baru pada masa dibangun. Ilmu-ilmu Kebumian, untuk mengkaji prinsip-prinsip umum dalam ilmu kebumian (geologi, geomorfologi, geografi, geodesi), atau menjadi bukti peristiwa-peristiwa alam dikaji dalam bidang ilmu ini Ilmu-ilmu lain, mengandung informasi sangat khusus bagi kajian ilmu-ilmu tertentu belum disebutkan di atas. (Kriteria ini dimasukkan untuk mengakomodasi kemungkinan sumberdaya budaya mengandung informasi untuk ilmu biasanya tidak bersinggungan sama sekali dengan masa lampau, sehingga bersifat prediktif) 3. Nilai penting Kebudayaan : apabila sumberdaya budaya tersebut dapat mewakili hasil pencapaian budaya tertentu, mendorong proses penciptaan budaya, atau menjadi jati diri (cultural identity) bangsa atau komunitas tertentu 25

26 A B Etnik, dapat memberikan pemahaman latarbelakang kehidupan sosial, sistem kepercayaan, dan mitologi semuanya merupakan jatidiri suatu bangsa atau komunitas tertentu, merupakan bagian dari jati diri suatu bangsa atau komunitas tertentu Estetik, mempunyai kandungan unsur-unsur keindahan baik terkait dengan seni rupa, seni hias, seni bangun, seni suara maupun bentuk-bentuk kesenian lain, termasuk juga keserasian antara bentang alam dan karya budaya (saujana budaya); menjadi sumber ilham penting untuk menghasilkan karyakarya budaya di masa kini dan mendatang C Publik, berpotensi untuk dikembangkan sebagai sarana pendidikan masyarakat tentang masa lampau dan cara penelitiannya, menyadarkan tentang keberadaan manusia sekarang; berpotensi atau telah menjadi fasilitas rekreasi; dan berpotensi atau telah menjadi sumberdaya dapat menambah penghasilan masyarakat, a.l lewat kepariwisataan 26

27 Berdasarkan kriteria ideal di atas, modifikasi dibuat untuk memilih kriteria sesuai dengan tujuan dan ruang lingkup kajian ini. Dasar modifikasi adalah arsitektur pernah berkembang di kota Salatiga meliputi arsitektur campuran tradisional dan kolonial, campuran Cina dan kolonial, dan kolonial. Kriteria nilai penting akan dipergunakan tersebut adalah: a. Wujud (Perwujudan) Bahwa wujud fisik layak dikenakan konservasi termasuk dalam benda cagar budaya, yaitu benda buatan manusia bergerak atau tidak bergerak yag berupa kesatuan atau kelompok, bagian-bagiannya atau sisa-sisanya. Kawasan juga dapat merupakan wujud terkonservasi yaitu disebut situs merupakan lokasi mengandung atau diduga mengandung benda cagar budaya; b. Umur/Tahun kota ditentukan berdasarkan tahun pendirian atau ditentukan berdasarkan pertanggalan relatif dapat dilihat dari style pada masanya ataupun konteksnya. Dan bentuk fisik layak untuk dikenai konservasi adalah telah berumur sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun; c. Estetika atau kota dilestarikan karena mewakili prestasi khusus dalam suatu gaya sejarah tertentu. Tolok ukur estetika ini dikaitkan dengan nilai estetis dan arsitektonis tinggi dalam hal bentuk, struktur, tata ruang dan ornamen. Dalam hal ini di kota Salatiga aspek estetis itu dilihat dari ada tidaknya hubungan dengan gaya arsitektur pernah berkembang. - Ada hubungan jelas secara visual bobotnya 2 27

28 - Ada hubungan tetapi tidak jelas bobotnya 1 - Tidak ada hubungan bobotnya 0 d. Kejamakan atau dilestarikan karena mewakili satu kelas atau jenis khusus cukup berperan. Jadi tolak ukur kejamakan ditekankan pada beberapa jauh karya arsitektur tersebut mewakili suatu ragam atau jenis khusus spesifik. Dalam hal ini di kota Salatiga berkaitan dengan aspek mewakili atau tidak suatu langgam arsitektur pernah berkembang. - Mewakili dengan jelas bobotnya 2 - Mewakili tetapi kurang jelas bobotnya 1 - Tidak mewakili bobotnya 0 e. Kelangkaan hanya satu atau tinggal satu dari jenisnya merupakan contoh terakhir dari jenisnya. Jadi termasuk karya sangat langka atau satu-satunya.dalam hal ini berkaitan dengan jumlah di kota. - hanya satu-satunya dalam kota bobotnya 2 - jumlahnya lebih dari satu walaupun tidak sama persis dalam kota bobotnya 1 - jumlahnya cukup banyak dalam kota bobotnya 0 28

29 f. an terhadap Kawasan atau kota keberadaannya mempengaruhi didekatnya, atau kehadirannya sangat bermakna untuk meningkatkan kualitas dan citra lingkungan terdekatnya. g. Keistimewaan atau memiliki keistimewaan, misalnya terpanjang, tertinggi, tertua dan sebagainya. h. Sejarah atau perkotaan telah merupakan lokasi-lokasi bagi peristiwa bersejarah penting untuk dilestarikan sebagai ikatan simbilis antara peristiwa dahulu dan sekarang. c. Proses Penentuan Nilai Penting dan Pembobotan BCB Setiap BCB akan ditentukan nilainya berdasarkan kriteria tersebut di atas. Penilaian dilakukan oleh tim peneliti berdasarkan hasil inventarisasi telah dilakukan sebelumnya, survey lapangan, dan studi pustaka. Hasil penentuan nilai penting tersebut kemudian akan diberi bobot sesuai dengan tingkat kualitas BCB. Pembobotan dilakukan secara kuantitatif, sehingga pada akhirnya akan dihasilkan angka tertentu untuk setiap. Angka ini akan menunjukkan bobot kualitas masing-masing bersejarah di kota Salatiga. d. Penyusunan Pernyataan Nilai Penting Berdasarkan hasil penilaian dan pembobotan, sebuah rekapitulasi dan penegasan nilai penting bersejarh kemudian disusun. Tujuan penyusunan pernyataan nilai penting ini adalah untuk menentukan dan menyatakan secara 29

30 kualitatif hasil penilaian berupa angka menjadi sebuah pernyataan mudah dipahami. Menurut Protecting Heritage Places Workbook (2001:39-40) penyataan nilai penting (significance statement) harus memperhatikan hal-hal berikut: A statement of significance should be concise, easy to read, and address all of the heritage values of a place. It should present the overall significance of a place in a summary statement and then support this summary with subsidiary statements for specific features or aspects. It should indicate clearly the gaps in the available information, so that the basis for the assessment can be clearly understood. It should refer to, or cite, evidence supporting the assessment to ensure that the statement is credible. For Indigenous places the voices of the appropriate Indigenous people should be clearly expressed in their own words. e. Rekomendasi Tindak Lanjut Tahap terakhir dalam kegiatan kajian bersejarah Kota Salatiga adalah penyusunan rekomendasi. Rekomendasi dihasilkan adalah sebuah usulan langkah-langkah atau kebijakan pelestarian apa saja akan diterapkan terhadap masing-masing bersejarah (Daud Aris Tanudirjo, 2004). Dasar pertimbangan kebijakan pelestarian diambil dari pernyataan nilai penting setiap bersejarah ditentukan pada tahap sebelumnya. Rekomendasi tindak lanjut tersebut akan dinyatakan dalam bentuk pernyataan kegiatan konservasi merupakan payung dari semua kegiatan pelestarian harus segera diambil, antara lain adalah preservasi, rehabilitasi, rekonstruksi, dan revitalisasi. Batasan pengertian tentang istilah-istilah tersebut disepakati dalam Piagam Burra yaitu: 30

31 a. Preservasi adalah pelestarian suatu tempat persis seperti keadaan aslinya tanpa ada perubahan, termasuk upaya mencegah penghancuran. b. Restorasi/Rehabilitasi adalah mengembalikan suatu tempat ke keadaan semula dengan menghilangkan tambahantambahan dan memasang komponen semula tanpa menggunakan bahan baru. c. Rekonstruksi adalah mengembalikan suatu tempat semirip mungkin dengan keadaan semula, dengan menggunakan bahan lama maupun bahan baru. d. Adaptasi/revitalisasi adalah merubah tempat agar dapat digunakan untuk fungsi lebih sesuai. Yang dimaksud dengan fungsi lebih sesuai adalah kegunaan tidak menuntut perubahan drastis, atau hanya memerlukan sedikit dampak minimal. e. Demolisi adalah penghancuran atau perombakan suatu sudah rusak atau membahayakan. 31

32 BAB IV PEMBOBOTAN DAN ALTERNATIF BENTUK KONSERVASI BANGUNAN BERSEJARAH DI KOTA SALATIGA Sebagai kota berkembang mulai pada masa pemerintahan tradisional sampai dengan masuknya Belanda, maka Salatiga memiliki beberapa faktor berkaitan dengan komponen kota dan pengaturannya, yaitu: a. Faktor religi diwakili antara lain oleh fasilitas keagamaan seperti gereja dan masjid. b. Faktor ekonomi diwujudkan dalam bentuk pasar dan profesi lainnya. c. Faktor organisasi politik dan sosial tercermin oleh adanya fasilitas perkantoran dan kelompok birokrat. d. Faktor intelektual ditampilkan dalam bentuk fasilitas sekolah e. Faktor pertahanan-keamanan dapat berbentuk benteng. f. Faktor pemenuhan kebutuhan hidup penduduk diwujudkan antara lain oleh tempat bermukim, pengadaan dan pembuangan air serta jaringan jalan. 32

33 Pengaturan tata ruang tersebut banyak berhubungan dengan geografis-ekologis memperhatikan masalah jalur atau pola jaringan jalan, sumber air (di dalam dan sekitar kota), dan pengaturan - di dalam kota dikaitkan dengan keruangan kota atau urban space sangat dipengaruhi oleh sistem pemerintahannya. Pola kota tersebut terdiri atas : a. Pola Kota Tradisional berada di sekitar Kepatihan, Pecinan (Jalan Semeru, Jalan Sukowati, Jalan Pemotongan, dan sebagian Jalan Sudirman) dan pemukiman militer Belanda (Jalan Veteran, Jalan Muwardi dan Jalan Nanggulan). b. Konsep kota modern di sepanjang akses jalan utama (Jalan Sudirman dan Jalan Diponegoro). Upaya konservasi bersejarah Kota Salatiga tidak dapat dilepaskan dari konteksnya sebagai perkotaan. Berdasarkan sejarah dan beberapa tinggalan diinventarisasi dapat menggambarkan layout Kota Salatiga pada masa itu saat ini gambarannya sudah samar-samar karena perkembangan kota pesat sehingga tumbuh baru kemudian akan menghilangkan nilai dan karakteristik kota. Kegiatan hasil pembobotan dan alternatif bentuk konservasi bersejarah di Kota Salatiga dilakukan dalam bentuk tabel didalamnya memuat uraian berdasarkan kriteria konservasi. Penggunaan tabel tersebut bertujuan untuk lebih memudahkan pemahaman tentang proses tinjauan terhadap suatu sebelum diputuskan untuk dikenakan tindakan konservasi. Dari tabel tersebut pada akhirnya dapat diketahui dengan lebih jelas latar belakang objek kaitannya dengan penentuan kepentingan dan perkiraan bentuk konservasi. Peringkat konservasi ditentukan oleh perolehan total angka untuk seluruh kriteria dan sangat mungkin ditambah dengan pertimbangan dari pihak-pihak berkepentingan, dalam hal ini adalah pemerintah, cendekiawan dan budayawan. Sedangkan bentuk konservasi ditentukan setelah menyimpulkan tinjauan tiap kriteria. 33

34 Administratif : Jl. Diponegoro 1 3 Salatiga Astronomis : ,2 LS dan ,7 BT 1. Kompleks Rumah Dinas Walikota No. Inventaris : 11-73/Sla/04 Kondisi : - Cukup terawat - Bentuk masih asli - Plesteran mulai mengelupas - List plank papan kuncungan, pintu dan jendela kayu mulai keropos Reg. foto : 11_73_STG_KJN_09 D

35 Nama BCB/ Situs No. Inventaris Lokasi : Kompleks Rumah Dinas Walikota : 11-73/Sla/04 : Jl. Diponegoro 1 Salatiga Wujud dan Perwujudan Umur/ Tahun Aspek Arsitektural Estetika Kejamakan Kelangkaan terhadap Keistimewaan sejarah Alternatif bentuk konservasi Kompleks yandimana induk berbentuk simetris, terdapat kuncungan di bagian depan menjadi salah satu ciri penting. Saat ini ini difungsikan sebagai rumah dinas Walikota Salatiga Akhir abad XIX Merupakan berciri arsitektur campuran (kolonial dan tradisional). Ciri tradisional terlihat pada beranda dengan konstruksi kayu di bagian depan dan ciri kolonial terlihat pada konstruksi tembok dan kolom-kolom besar Mewakili gaya berkembang di Kota Salatiga Salah satu dari tiga rumah tinggal berciri arsitektur campuran memiliki beranda dan kuncungan Memperkuat citra koridor Diponegoro ini merupakan salah satu bukti fisik dari kota terencana dengan konsep kota modern. Pada awalnya ini digunakan sebagai rumah dinas Asisten Residen Salatiga masa pemerintahan Kolonial Belanda Preservasi

36 Administratif : Jl. Diponegoro 5 Salatiga Astronomis : LS dan ,9 BT 2. Rumah Tinggal No. Inventaris : 11-73/Sla/05 Kondisi : - Terawat - Bentuk masih asli - Atap sirap rusak, disisipi dengan seng supaya tidak bocor Reg. foto : 11_73_STG_KJN_09 D

37 Nama BCB/ Situs No. Inventaris Lokasi : Rumah Tinggal : 11-73/Sla/05 : Jl. Diponegoro 5 Salatiga Wujud dan Perwujudan Umur/ Tahun Aspek Arsitektural Estetika Kejamakan Kelangkaan terhadap Keistimewaan sejarah Alternatif bentuk konservasi membentuk L shape. Façade depan menggunakan kolom-kolom diperindah dengan ukiran-ukiran pada bagian atas dan bawahnya Awal abad XX Merupakan secara jelas memperlihatkan ciri arsitektur kolonial Mewakili gaya berkembang di Kota Salatiga Membentuk citra koridor Diponegoro ini merupakan salah satu bukti fisik dari kota terencana dengan konsep kota modern Rehabilitasi

38 Administratif : Jl. Diponegoro 6 Salatiga Astronomis : ,9 LS dan ,5 BT Kondisi : - Terawat - Bentuk masih asli 3. Rumah Tinggal No. Inventaris : 11-73/Sla/81 Reg. foto : 11_73_STG_KJN_09 D

39 Nama BCB/ Situs No. Inventaris Lokasi : Rumah Tinggal : 11-73/Sla/81 : Jl. Diponegoro 6 Salatiga Wujud dan Perwujudan Umur/ Tahun Aspek Arsitektural Estetika Kejamakan Kelangkaan terhadap Keistimewaan sejarah Alternatif bentuk konservasi rumah tinggal dengan penyelesaian batu belah pada bagian bawah Awal abad XX Merupakan secara jelas memperlihatkan gaya art deco Mewakili gaya berkembang di Kota Salatiga Membentuk citra Koridor Diponegoro ini merupakan salah satu bukti fisik dari kota terencana dengan konsep kota modern Preservasi

40 Administratif : Jl. Diponegoro 8 Salatiga Astronomis : ,5 LS dan ,0 BT Kondisi : - Terawat - Mengalami perubahan façade 4. Kantor Asuransi Bumi Putera No. Inventaris : 11-73/Sla/82 Reg. foto : 11_73_STG_KJN_09 D

41 Nama BCB/ Situs No. Inventaris Lokasi : Kantor Asuransi Bumi Putera : 11-73/Sla/82 : Diponegoro 8 Salatiga Wujud dan Perwujudan Umur/ Tahun Aspek Arsitektural Estetika Kejamakan Kelangkaan terhadap Keistimewaan sejarah Alternatif bentuk konservasi rumah tinggal dan telah terjadi perubahan pada façade dinding depan sehingga merubah karakter. Saat ini difungsikan sebagai Kantor Asuransi Bumi Putera Awal abad XX Merupakan sudah tidak jelas karakter nya Mewakili gaya berkembang di Kota Salatiga Membentuk citra koridor Diponegoro ini merupakan salah satu bukti fisik dari kota terencana dengan konsep kota modern Rekonstruksi

42 Administratif : Jl. Diponegoro 10 Salatiga Astronomis : ,0 LS dan ,4 BT Kondisi : - Terawat - Mengalami perubahan façade 5. Bank Salatiga No. Inventaris : 11-73/Sla/06 Reg. foto : 11_73_STG_KJN_09 D 005 (kondisi 2009) 42

43 Reg. foto : 11_73_SLT_INV_06 D 121 (kondisi 2006) 43

44 Nama BCB/ Situs No. Inventaris Lokasi : Bank Salatiga : 11-73/Sla/06 : Jl. Diponegoro 10 Salatiga Wujud dan Perwujudan Umur/ Tahun Aspek Arsitektural Estetika Kejamakan Kelangkaan terhadap Keistimewaan sejarah Alternatif bentuk konservasi menggunaka n atap pelana dan saat ini telah terjadi perubahan pada façade dinding depan. kini difungsikan sebagai Bank Salatiga Pertengahan abad XIX Merupakan secara jelas memperlihatk an ciri arsitektur kolonial Mewakili gaya berkembang di Kota Salatiga Salah satu memiliki tipe jarang Membentuk citra koridor Diponegoro ini merupakan salah satu bukti fisik dari kota terencana dengan konsep kota modern Rekonstruk si

45 Administratif : Jl. Diponegoro 11 Salatiga Astronomis : ,2 LS dan ,3 BT Kondisi : - Terawat - sudah direnovasi 6. Gereja Yesus Sejati No. Inventaris : 11-73/Sla/07 Reg. foto : 11_73_STG_KJN_09 D

46 Nama BCB/ Situs No. Inventaris Lokasi : Gereja Yesus Sejati : 11-73/Sla/07 : Jl. Diponegoro 11 Salatiga Wujud dan Perwujudan Umur/ Tahun Aspek Arsitektural Estetika Kejamakan Kelangkaan terhadap Keistimewaan sejarah Alternatif bentuk konservasi saat ini difungsikan sebagai gereja, memiliki gabungan tiga atap pelana dan pada bagian tengah terdapat penambahan ruang depan Awal abad XX Merupakan secara jelas memperlihatk an ciri arsitektur colonial Mewakili gaya berkembang di Kota Salatiga Membentuk citra koridor Diponegoro ini merupakan salah satu bukti fisik dari kota terencana dengan konsep kota modern Rekonstruksi

47 Administratif : Jl. Diponegoro 12 Salatiga Astronomis : ,2 LS dan ,4 BT Kondisi : - Terawat 7. SD 02/09 Salatiga No. Inventaris : 11-73/Sla/08 Reg. foto : 11_73_STG_KJN_09 D

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 1992 TENTANG PERUBAHAN BATAS WILAYAH KOTAMADYA DAERAH TINGKAT II SALATIGA DAN KABUPATEN DAERAH TINGKAT II SEMARANG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Salatiga merupakan kota kecil yang berada di lereng gunung Merbabu.

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Salatiga merupakan kota kecil yang berada di lereng gunung Merbabu. BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Salatiga merupakan kota kecil yang berada di lereng gunung Merbabu. Letaknya yang di kelilingi oleh pegunungan selalu memberikan suasana yang sejuk. Secara astronomis

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA SURABAYA PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR 5 TAHUN 2005 TENTANG PELESTARIAN BANGUNAN DAN/ATAU LINGKUNGAN CAGAR BUDAYA

PEMERINTAH KOTA SURABAYA PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR 5 TAHUN 2005 TENTANG PELESTARIAN BANGUNAN DAN/ATAU LINGKUNGAN CAGAR BUDAYA PEMERINTAH KOTA SURABAYA PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR 5 TAHUN 2005 TENTANG PELESTARIAN BANGUNAN DAN/ATAU LINGKUNGAN CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SURABAYA, Menimbang :

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA SURABAYA

PEMERINTAH KOTA SURABAYA SALINAN PEMERINTAH KOTA SURABAYA PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR 5 TAHUN 2005 TENTANG PELESTARIAN BANGUNAN DAN/ATAU LINGKUNGAN CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SURABAYA, Menimbang

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI DAN PENELITIAN YANG RELEVAN

BAB II LANDASAN TEORI DAN PENELITIAN YANG RELEVAN BAB II LANDASAN TEORI DAN PENELITIAN YANG RELEVAN A. Etnis Cina di Salatiga Bangsa Cina pada awal kedatangannya di Indonesia adalah untuk melakukan perdagangan. Seperti halnya para pedagang dari Arab,

Lebih terperinci

WALIKOTA SURABAYA PERATURAN WALIKOTA SURABAYA NOMOR 59 TAHUN 2007 TENTANG

WALIKOTA SURABAYA PERATURAN WALIKOTA SURABAYA NOMOR 59 TAHUN 2007 TENTANG SALINAN WALIKOTA SURABAYA PERATURAN WALIKOTA SURABAYA NOMOR 59 TAHUN 2007 TENTANG PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR 5 TAHUN 2005 TENTANG PELESTARIAN BANGUNAN DAN/ATAU LINGKUNGAN CAGAR BUDAYA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bangunan yang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya, namun banyak juga yang

BAB I PENDAHULUAN. bangunan yang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya, namun banyak juga yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Yogyakarta memiliki banyak bangunan monumental seperti Tamansari, Panggung Krapyak, Gedung Agung, Benteng Vredeburg, dan Stasiun Kereta api Tugu (Brata: 1997). Beberapa

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 7 TAHUN 2015 PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 7 TAHUN 2015 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 7 TAHUN 2015 PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 7 TAHUN 2015 TENTANG LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 7 TAHUN 2015 PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 7 TAHUN 2015 TENTANG PELESTARIAN BANGUNAN, STRUKTUR, DAN KAWASAN CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kota Bandung memiliki sejarah yang sangat panjang. Kota Bandung berdiri

BAB I PENDAHULUAN. Kota Bandung memiliki sejarah yang sangat panjang. Kota Bandung berdiri BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kota Bandung memiliki sejarah yang sangat panjang. Kota Bandung berdiri pada akhir dekade pertama abad ke-19, diresmikan tanggal 25 September 1810. Bangunan

Lebih terperinci

Bab III TAHAPAN PRA PRODUKSI

Bab III TAHAPAN PRA PRODUKSI Bab III TAHAPAN PRA PRODUKSI 3.1 Lokasi Produksi Salatiga. Lokasi yang akan menjadi bahan untuk produksi tugas akhir ini adalah kota 3.2 Sumber Informasi Sumber informasi yang peneliti pilih dalam pembuatan

Lebih terperinci

STUDI PENENTUAN KLASIFIKASI POTENSI KAWASAN KONSERVASI DI KOTA AMBARAWA TUGAS AKHIR

STUDI PENENTUAN KLASIFIKASI POTENSI KAWASAN KONSERVASI DI KOTA AMBARAWA TUGAS AKHIR STUDI PENENTUAN KLASIFIKASI POTENSI KAWASAN KONSERVASI DI KOTA AMBARAWA TUGAS AKHIR Oleh: KHAIRINRAHMAT L2D 605 197 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

Lebih terperinci

KAJIAN PELESTARIAN KAWASAN BENTENG KUTO BESAK PALEMBANG SEBAGAI ASET WISATA TUGAS AKHIR. Oleh : SABRINA SABILA L2D

KAJIAN PELESTARIAN KAWASAN BENTENG KUTO BESAK PALEMBANG SEBAGAI ASET WISATA TUGAS AKHIR. Oleh : SABRINA SABILA L2D KAJIAN PELESTARIAN KAWASAN BENTENG KUTO BESAK PALEMBANG SEBAGAI ASET WISATA TUGAS AKHIR Oleh : SABRINA SABILA L2D 005 400 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

Lebih terperinci

KOMISI PEMILIHAN UMUM KOTA SALATIGA. KEPUTUSAN KOMISI PEMILIHAN UMUM KOTA SALATIGA NOMOR 96 /Kpts/KPU-Kota /2016

KOMISI PEMILIHAN UMUM KOTA SALATIGA. KEPUTUSAN KOMISI PEMILIHAN UMUM KOTA SALATIGA NOMOR 96 /Kpts/KPU-Kota /2016 SALINAN KOMISI PEMILIHAN UMUM KOTA SALATIGA KEPUTUSAN KOMISI PEMILIHAN UMUM KOTA SALATIGA MOR 96 /Kpts/KPU-Kota-012-329537/2016 TENTANG DAFTAR PEMILIH TETAP PADA PEMILIHAN WALIKOTA DAN WAKIL WALIKOTA SALATIGA

Lebih terperinci

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 1 TAHUN 2017

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 1 TAHUN 2017 SALINAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 1 TAHUN 2017 TENTANG ARSITEKTUR BANGUNAN BERCIRI KHAS DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam perjalanan sejarah, pada titik-titik tertentu terdapat peninggalanpeninggalan

BAB I PENDAHULUAN. Dalam perjalanan sejarah, pada titik-titik tertentu terdapat peninggalanpeninggalan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam perjalanan sejarah, pada titik-titik tertentu terdapat peninggalanpeninggalan yang masih dapat terlihat sampai sekarang yang kemudian menjadi warisan budaya.

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG HARI JADI KABUPATEN SEMARANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SEMARANG,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG HARI JADI KABUPATEN SEMARANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SEMARANG, BUPATI SEMARANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG HARI JADI KABUPATEN SEMARANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SEMARANG, Menimbang : a. bahwa berdasarkan catatan dan

Lebih terperinci

KAWASAN CAGAR BUDAYA KOTABARU YOGYAKARTA. Theresiana Ani Larasati

KAWASAN CAGAR BUDAYA KOTABARU YOGYAKARTA. Theresiana Ani Larasati KAWASAN CAGAR BUDAYA KOTABARU YOGYAKARTA Theresiana Ani Larasati Yogyakarta memiliki peninggalan-peninggalan karya arsitektur yang bernilai tinggi dari segi kesejarahan maupun arsitekturalnya, terutama

Lebih terperinci

BUPATI KOTABARU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTABARU NOMOR 25 TAHUN 2014 TENTANG

BUPATI KOTABARU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTABARU NOMOR 25 TAHUN 2014 TENTANG BUPATI KOTABARU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTABARU NOMOR 25 TAHUN 2014 TENTANG PENETAPAN, PENGELOLAAN DAN PERIZINAN MEMBAWA CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN LITERATUR

BAB II KAJIAN LITERATUR BAB II KAJIAN LITERATUR 2.1 Pengertian Pelestarian Filosofi pelestarian didasarkan pada kecenderungan manusia untuk melestarikan nilai-nilai budaya pada masa yang telah lewat namun memiliki arti penting

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KOTA SALATIGA NOMOR 29 TAHUN 2011 PERATURAN WALIKOTA SALATIGA NOMOR 29 TAHUN 2011 TENTANG PENOMORAN NASKAH DINAS

BERITA DAERAH KOTA SALATIGA NOMOR 29 TAHUN 2011 PERATURAN WALIKOTA SALATIGA NOMOR 29 TAHUN 2011 TENTANG PENOMORAN NASKAH DINAS BERITA DAERAH KOTA SALATIGA NOMOR 29 TAHUN 2011 PERATURAN WALIKOTA SALATIGA NOMOR 29 TAHUN 2011 TENTANG PENOMORAN NASKAH DINAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SALATIGA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2012 TENTANG

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2012 TENTANG SALINAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2012 TENTANG BATAS DAERAH KOTA SALATIGA DENGAN KABUPATEN SEMARANG PROVINSI JAWA TENGAH DENGAN

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 66 TAHUN 2015 TENTANG PELESTARIAN CAGAR BUDAYA PROVINSI JAWA TIMUR

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 66 TAHUN 2015 TENTANG PELESTARIAN CAGAR BUDAYA PROVINSI JAWA TIMUR GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 66 TAHUN 2015 TENTANG PELESTARIAN CAGAR BUDAYA PROVINSI JAWA TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TIMUR, Menimbang Mengingat : a.

Lebih terperinci

163 Universitas Indonesia

163 Universitas Indonesia BAB 5 PENUTUP Pada bab ini dijelaskan mengenai kesimpulan semua pembahasan yang telah dilakukan pada bab-bab sebelumnya dan saran. Kesimpulan ini juga menjawab pertanyaan permasalahan yang dibuat pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Batik adalah salah satu warisan adiluhung kebanggaan bangsa Indonesia, wujud dari cipta dan karya seni yang diekspresikan pada desain motif kain, kayu dan

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KABUPATEN KULON PROGO

BERITA DAERAH KABUPATEN KULON PROGO BERITA DAERAH KABUPATEN KULON PROGO NOMOR : 38 TAHUN : 2009 SERI : E PERATURAN BUPATI KULON PROGO NOMOR 49 TAHUN 2009 TENTANG PEMBERIAN PENGHARGAAN PELESTARI KAWASAN CAGAR BUDAYA DAN BENDA CAGAR BUDAYA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kisaran terbagi menjadi dua kecamatan yaitu Kecamatan Kisaran Timur dan

BAB I PENDAHULUAN. Kisaran terbagi menjadi dua kecamatan yaitu Kecamatan Kisaran Timur dan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Masalah Kisaran adalah ibu kota dari Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara yang bejarak 160 km dari Kota Medan ( ibu kota Provinsi Sumatera Utara). Kota Kisaran

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. A. Tinjauan Pustaka. 1. Pendudukan Jepang di Indonesia. Dalam usahanya membangun suatu imperium di Asia, Jepang telah

BAB II KAJIAN TEORI. A. Tinjauan Pustaka. 1. Pendudukan Jepang di Indonesia. Dalam usahanya membangun suatu imperium di Asia, Jepang telah BAB II KAJIAN TEORI A. Tinjauan Pustaka 1. Pendudukan Jepang di Indonesia Dalam usahanya membangun suatu imperium di Asia, Jepang telah meletuskan suatu perang di Pasifik. Pada tanggal 8 Desember 1941

Lebih terperinci

ARAHAN KONSEP PERANCANGAN KAWASAN KONSERVASI BENTENG MARLBOROUGH KOTA BENGKULU TUGAS AKHIR

ARAHAN KONSEP PERANCANGAN KAWASAN KONSERVASI BENTENG MARLBOROUGH KOTA BENGKULU TUGAS AKHIR ARAHAN KONSEP PERANCANGAN KAWASAN KONSERVASI BENTENG MARLBOROUGH KOTA BENGKULU TUGAS AKHIR Oleh : FAISAL ERIZA L2D 307 012 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Kraton Yogyakarta merupakan kompleks bangunan terdiri dari gugusan

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Kraton Yogyakarta merupakan kompleks bangunan terdiri dari gugusan BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Kraton Yogyakarta merupakan kompleks bangunan terdiri dari gugusan sejumlah bangunan antara lain; Alun alun Utara, Pagelaran, Sitihinggil Utara, Cepuri, Keputren, Keputran,

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA SALATIGA NOMOR 2 TAHUN 2015 PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KOTA SALATIGA NOMOR 2 TAHUN 2015

LEMBARAN DAERAH KOTA SALATIGA NOMOR 2 TAHUN 2015 PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KOTA SALATIGA NOMOR 2 TAHUN 2015 SALINAN LEMBARAN DAERAH KOTA SALATIGA NOMOR 2 TAHUN 2015 PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KOTA SALATIGA NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG PENGELOLAAN DAN PELESTARIAN CAGAR BUDAYA DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KABUPATEN KULON PROGO

BERITA DAERAH KABUPATEN KULON PROGO BERITA DAERAH KABUPATEN KULON PROGO NOMOR : 37 TAHUN : 2009 SERI : E PERATURAN BUPATI KULON PROGO NOMOR 48 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PENETAPAN DAN KLASIFIKASI KAWASAN CAGAR BUDAYA DAN BENDA CAGAR BUDAYA

Lebih terperinci

BUPATI SIAK PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIAK NOMOR 07 TAHUN 2005 TENTANG

BUPATI SIAK PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIAK NOMOR 07 TAHUN 2005 TENTANG BUPATI SIAK PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIAK NOMOR 07 TAHUN 2005 TENTANG TATA CARA PEMUGARAN KAWASAN DAN BANGUNAN CAGAR BUDAYA DI DAERAH KABUPATEN SIAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SIAK, Menimbang

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 013/M/2014 TENTANG

KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 013/M/2014 TENTANG KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 013/M/2014 TENTANG BANGUNAN UTAMA HOTEL TOEGOE SEBAGAI BANGUNAN CAGAR BUDAYA PERINGKAT NASIONAL MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK

Lebih terperinci

Lebih Dekat dengan Masjid Agung Kauman, Semarang

Lebih Dekat dengan Masjid Agung Kauman, Semarang SEMINAR HERITAGE IPLBI 2017 KASUS STUDI Lebih Dekat dengan Masjid Agung Kauman, Semarang Safira safiraulangi@gmail.com Program Studi A rsitektur, Sekolah A rsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan,

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN Dalam bab ini akan dibahas sepintas tentang beberapa item dari kondisi fisik wilayah Kota Salatiga sebagai pengetahuan umum tentang tempat dimana komunitas punk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kebudayaan nasional merupakan sesuatu hal yang penting bagi Indonesia dan

BAB I PENDAHULUAN. Kebudayaan nasional merupakan sesuatu hal yang penting bagi Indonesia dan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kebudayaan nasional merupakan sesuatu hal yang penting bagi Indonesia dan merupakan salah satu unsur dalam menjaga rasa nasionalisme dalam diri kita sebagai

Lebih terperinci

STUDI POLA MORFOLOGI KOTA DALAM PENENTUAN KAWASAN KONSERVASI KOTA DI KABUPATEN KENDAL TUGAS AKHIR

STUDI POLA MORFOLOGI KOTA DALAM PENENTUAN KAWASAN KONSERVASI KOTA DI KABUPATEN KENDAL TUGAS AKHIR STUDI POLA MORFOLOGI KOTA DALAM PENENTUAN KAWASAN KONSERVASI KOTA DI KABUPATEN KENDAL TUGAS AKHIR Oleh: LAELABILKIS L2D 001 439 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ragam bentuk seni kerajinan yang sudah sangat terkenal di seluruh dunia. Sejak

BAB I PENDAHULUAN. ragam bentuk seni kerajinan yang sudah sangat terkenal di seluruh dunia. Sejak BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia adalah salah satu negara kepulauan yang memiliki beraneka ragam bentuk seni kerajinan yang sudah sangat terkenal di seluruh dunia. Sejak jaman kerajaan-kerajaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Perumusan Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Perumusan Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Perumusan Masalah 1. Latar belakang dan pertanyaan penelitian Berkembangnya arsitektur jaman kolonial Belanda seiring dengan dibangunnya pemukiman bagi orang-orang eropa yang tinggal

Lebih terperinci

Masjid Cipari Garut, Masjid Berasitektur Mirip Gereja

Masjid Cipari Garut, Masjid Berasitektur Mirip Gereja SEMINAR HERITAGE IPLBI 207 KASUS STUDI Masjid Cipari Garut, Masjid Berasitektur Mirip Gereja Franciska Tjandra tjandra.fransiska@gmail.com A rsitektur Islam, Jurusan A rsitektur, F akultas Sekolah A rsitektur

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dikategorikan ke dalam dua kelompok, yaitu fasilitas yang bersifat umum dan. mempertahankan daerah yang dikuasai Belanda.

BAB I PENDAHULUAN. dikategorikan ke dalam dua kelompok, yaitu fasilitas yang bersifat umum dan. mempertahankan daerah yang dikuasai Belanda. BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Banyak fasilitas yang dibangun oleh Belanda untuk menunjang segala aktivitas Belanda selama di Nusantara. Fasilitas yang dibangun Belanda dapat dikategorikan ke dalam

Lebih terperinci

WALIKOTA KENDARI PERATURAN DAERAH KOTA KENDARI NOMOR 21 TAHUN 2013 TENTANG CAGAR BUDAYA KOTA KENDARI

WALIKOTA KENDARI PERATURAN DAERAH KOTA KENDARI NOMOR 21 TAHUN 2013 TENTANG CAGAR BUDAYA KOTA KENDARI WALIKOTA KENDARI PERATURAN DAERAH KOTA KENDARI NOMOR 21 TAHUN 2013 TENTANG CAGAR BUDAYA KOTA KENDARI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA KENDARI, Menimbang : a. bahwa keberadaan Cagar Budaya di

Lebih terperinci

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 74 TAHUN 2008

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 74 TAHUN 2008 GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 74 TAHUN 2008 TENTANG TATA CARA PENETAPAN KLASIFIKASI KAWASAN CAGAR BUDAYA DAN BENDA CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

WALIKOTA BATU PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN WALIKOTA BATU NOMOR 73 TAHUN 2016 TENTANG

WALIKOTA BATU PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN WALIKOTA BATU NOMOR 73 TAHUN 2016 TENTANG SALINAN WALIKOTA BATU PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN WALIKOTA BATU NOMOR 73 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, URAIAN TUGAS DAN FUNGSI, SERTA TATA KERJA DINAS PARIWISATA KOTA BATU DENGAN

Lebih terperinci

BAB 5 PENUTUP. Penelitian ini merupakan penelusuran sejarah permukiman di kota Depok,

BAB 5 PENUTUP. Penelitian ini merupakan penelusuran sejarah permukiman di kota Depok, BAB 5 PENUTUP 5.1 Hasil Penelitian Penelitian ini merupakan penelusuran sejarah permukiman di kota Depok, yaitu untuk menjawab pertanyaan mengenai sejak kapan permukiman di Depok telah ada, juga bagaimana

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Museum Sejarah Jakarta merupakan museum sejarah yang diresmikan

BAB 1 PENDAHULUAN. Museum Sejarah Jakarta merupakan museum sejarah yang diresmikan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Museum Sejarah Jakarta merupakan museum sejarah yang diresmikan pada tanggal 4 April 1974. Nama lain dari museum ini adalah Museum Fatahillah. Sesuai dengan nama resminya,

Lebih terperinci

KAWASAN CAGAR BUDAYA DI KABUPATEN PURWOREJO

KAWASAN CAGAR BUDAYA DI KABUPATEN PURWOREJO LAMPIRAN IV Peraturan Daerah Kabupaten Nomor... Tahun 2010 KAWASAN CAGAR BUDAYA DI KABUPATEN PURWOREJO No Nama Lokasi Klasifikasi Konservasi** 1 Situs Prasasti Kayu Desa Borowetan, Kec. Utama Golongan

Lebih terperinci

PENENTUAN KAWASAN KONSERVASI KOTA-KOTA AWAL DI KABUPATEN REMBANG TUGAS AKHIR. Oleh: OCTA FITAYANI L2D

PENENTUAN KAWASAN KONSERVASI KOTA-KOTA AWAL DI KABUPATEN REMBANG TUGAS AKHIR. Oleh: OCTA FITAYANI L2D PENENTUAN KAWASAN KONSERVASI KOTA-KOTA AWAL DI KABUPATEN REMBANG TUGAS AKHIR Oleh: OCTA FITAYANI L2D 001 448 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2005 ABSTRAK

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kota Bandung merupakan sebuah kota yang terletak di Propinsi Jawa Barat yang merupakan salah satu bagian wilayah di Negara Indonesia. Kota ini dalam sejarahnya

Lebih terperinci

RUMAH LIMAS PALEMBANG WARISAN BUDAYA YANG HAMPIR PUNAH

RUMAH LIMAS PALEMBANG WARISAN BUDAYA YANG HAMPIR PUNAH RUMAH LIMAS PALEMBANG WARISAN BUDAYA YANG HAMPIR PUNAH Reny Kartika Sary Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Palembang Email : renykartikasary@yahoo.com Abstrak Rumah Limas

Lebih terperinci

biasa dari khalayak eropa. Sukses ini mendorong pemerintah kolonial Belanda untuk menggiatkan lagi komisi yang dulu. J.L.A. Brandes ditunjuk untuk

biasa dari khalayak eropa. Sukses ini mendorong pemerintah kolonial Belanda untuk menggiatkan lagi komisi yang dulu. J.L.A. Brandes ditunjuk untuk 11 Salah satu warisan lembaga ini adalah Museum Sono Budoyo di dekat Kraton Yogyakarta. 8 Tahun 1900, benda-benda warisan budaya Indonesia dipamerkan dalam Pameran Kolonial Internasional di Paris dan mendapat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Berkembangnya Islam di Nusantara tidak lepas dari faktor kemunduran

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Berkembangnya Islam di Nusantara tidak lepas dari faktor kemunduran BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Berkembangnya Islam di Nusantara tidak lepas dari faktor kemunduran kerajaan-kerajaan Hindu di Indonesia, sehingga kemudian jalur perdagangan berpindah tangan ke para

Lebih terperinci

Jakarta dulu dan Kini Senin, 22 Juni :55

Jakarta dulu dan Kini Senin, 22 Juni :55 Jakarta bermula dari sebuah bandar kecil di muara Sungai Ciliwung sekitar 500 tahun silam. Selama berabad-abad kemudian kota bandar ini berkembang menjadi pusat perdagangan internasional yang ramai. Pengetahuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kawasan Kota Lama merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam perjalanan berkembangnya suatu kota karena di dalamnya terdapat hal-hal yang selalu menarik untuk diamati

Lebih terperinci

PERANSERTA STAKEHOLDER DALAM REVITALISASI KAWASAN KERATON KASUNANAN SURAKARTA TUGAS AKHIR. Oleh: YANTHI LYDIA INDRAWATI L2D

PERANSERTA STAKEHOLDER DALAM REVITALISASI KAWASAN KERATON KASUNANAN SURAKARTA TUGAS AKHIR. Oleh: YANTHI LYDIA INDRAWATI L2D PERANSERTA STAKEHOLDER DALAM REVITALISASI KAWASAN KERATON KASUNANAN SURAKARTA TUGAS AKHIR Oleh: YANTHI LYDIA INDRAWATI L2D 003 381 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO

Lebih terperinci

Komunitas Pegiat Sejarah (KPS) Semarang Sekretariat: Jl Graha Mukti Raya 1150 Semarang, Telp:

Komunitas Pegiat Sejarah (KPS) Semarang Sekretariat: Jl Graha Mukti Raya 1150 Semarang, Telp: Kepada Yth -Kepala Dinas Tata Kota dan Permukiman (DTKP) Semarang -Pimpinan dan anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Semarang di tempat Perihal: Pendaftaran cagar budaya, permohonan kajian cagar budaya,

Lebih terperinci

Pengalaman di Surabaya

Pengalaman di Surabaya PENYUSUNAN PEDOMAN REVITALISASI CAGAR BUDAYA Pengalaman di Surabaya Aminuddin Kasdi Tim Pertimbangan Cagar Budaya Kota Surabaya 1 LANGKAH-LANGKAH PENENTUAN BCB PENGALAMAN DI SURABAYA Seminar Mencari Pola

Lebih terperinci

PELESTARIAN BANGUNAN MASJID JAMIK SUMENEP

PELESTARIAN BANGUNAN MASJID JAMIK SUMENEP PELESTARIAN BANGUNAN MASJID JAMIK SUMENEP Faridatus Saadah, Antariksa, dan Chairil Budiarto Amiuza Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Jalan Mayjen Haryono 167 Malang 65145 Telp. (0341)

Lebih terperinci

MEMUTUSKAN: : PERATURAN BUPATI TENTANG PENGELOLAAN CAGAR BUDAYA.

MEMUTUSKAN: : PERATURAN BUPATI TENTANG PENGELOLAAN CAGAR BUDAYA. Menimbang Mengingat BUPATI BANYUWANGI SALINAN PERATURAN BUPATI BANYUWANGI NOMOR 61 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANYUWANGI : a. bahwa cagar budaya

Lebih terperinci

BUPATI SUKAMARA PERATURAN BUPATI SUKAMARA NOMOR 20 TAHUN 2008 T E N T A N G RINCIAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS PEKERJAAN UMUM KABUPATEN SUKAMARA

BUPATI SUKAMARA PERATURAN BUPATI SUKAMARA NOMOR 20 TAHUN 2008 T E N T A N G RINCIAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS PEKERJAAN UMUM KABUPATEN SUKAMARA BUPATI SUKAMARA Menimbang Mengingat : PERATURAN BUPATI SUKAMARA NOMOR 20 TAHUN 2008 T E N T A N G RINCIAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS PEKERJAAN UMUM KABUPATEN SUKAMARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1 ( balai pustaka Kamus Bahasa Indonesia 1988 ) 2 Ibid 3 Ibid

BAB I PENDAHULUAN. 1 ( balai pustaka Kamus Bahasa Indonesia 1988 ) 2 Ibid 3 Ibid BAB I PENDAHULUAN 1.1. PENGERTIAN JUDUL Pengertian judul : MUSEUM MUSIK TRADISONAL JAWA TENGAH DI BENTENG VASTENBURG SURAKARTA adalah sebagai berikut : Museum : Gedung yang digunakan sebagai tempat untuk

Lebih terperinci

Integrasi Budaya dan Alam dalam Preservasi Candi Gambarwetan

Integrasi Budaya dan Alam dalam Preservasi Candi Gambarwetan JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 5, No.2, (2016) 2337-3520 (2301-928X Print) G-169 Integrasi Budaya dan Alam dalam Preservasi Candi Gambarwetan Shinta Octaviana P dan Rabbani Kharismawan Jurusan Arsitektur,

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA SURAKARTA TAHUN 2011 NOMOR 14 WALIKOTA SURAKARTA PERATURAN DAERAH KOTA SURAKARTA NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KOTA SURAKARTA TAHUN 2011 NOMOR 14 WALIKOTA SURAKARTA PERATURAN DAERAH KOTA SURAKARTA NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG LEMBARAN DAERAH KOTA SURAKARTA TAHUN 2011 NOMOR 14 WALIKOTA SURAKARTA PERATURAN DAERAH KOTA SURAKARTA NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA SURAKARTA NOMOR 6 TAHUN 2008 TENTANG

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Kawasan Kota Tua merupakan salah satu kawasan potensial di Kota Padang. Kawasan ini memiliki posisi yang strategis, nilai sejarah yang vital, budaya yang beragam, corak

Lebih terperinci

DATA PENCAIRAN DANA BANTUAN OPERASIONAL SEKOLAH (BOS) KOTA SALATIGA PENCAIRAN TRIWULAN 1 PERIODE JANUARI-MARET TAHUN 2017

DATA PENCAIRAN DANA BANTUAN OPERASIONAL SEKOLAH (BOS) KOTA SALATIGA PENCAIRAN TRIWULAN 1 PERIODE JANUARI-MARET TAHUN 2017 SD NO NAMA SEKOLAH KECAMATAN NAMA REKENING (BUKAN NAMA PRIBADI) NOMOR REKENING NAMA BANK 1 SD NEGERI TEGALREJO 04 Kec. Argomulyo SD NEGERI TEGALREJO 04 2033062195 Bank Jateng 185 29.600.000 2 SD NEGERI

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN. dinobatkan sebagai sultan kemudian menjadi Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun

BAB V KESIMPULAN. dinobatkan sebagai sultan kemudian menjadi Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun BAB V KESIMPULAN Sri Sultan Hamengkubuwono IX naik tahta menggantikan ayahnya pada tanggal 18 Maret 1940. Sebelum diangkat menjadi penguasa di Kasultanan Yogyakarta, beliau bernama Gusti Raden Mas (GRM)

Lebih terperinci

PEMBERDAYAAN GURU-GURU IPS / SEJARAH DI BANTUL DALAM UPAYA PENINGKATAN KESADARAN MASYARAKAT TERHADAP PELESTARIAN BENDA-BENDA PENINGGALAN SEJARAH *

PEMBERDAYAAN GURU-GURU IPS / SEJARAH DI BANTUL DALAM UPAYA PENINGKATAN KESADARAN MASYARAKAT TERHADAP PELESTARIAN BENDA-BENDA PENINGGALAN SEJARAH * PEMBERDAYAAN GURU-GURU IPS / SEJARAH DI BANTUL DALAM UPAYA PENINGKATAN KESADARAN MASYARAKAT TERHADAP PELESTARIAN BENDA-BENDA PENINGGALAN SEJARAH * OLEH : DANAR WIDIYANTA A. Latar Belakang Perjalanan sejarah

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH

IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH 4.1. Posisi Makro terhadap DKI Jakarta. Jakarta, Ibukota Indonesia, berada di daerah dataran rendah, bahkan di bawah permukaan laut yang terletak antara 6 12 LS and 106 48 BT.

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 1993 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1992 TENTANG BENDA CAGAR BUDAYA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 1993 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1992 TENTANG BENDA CAGAR BUDAYA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 1993 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1992 TENTANG BENDA CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Lanskap Sejarah 2.2 Kriteria Lanskap Sejarah

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Lanskap Sejarah 2.2 Kriteria Lanskap Sejarah 5 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Lanskap Sejarah Lanskap adalah suatu bentang alam yang memiliki karakteristik tertentu yang dapat dinikmati keberadaannya melalui seluruh indera yang dimiliki manusia (Simonds

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN HOTEL INNA DIBYA PURI SEBAGAI CITY HOTEL DI SEMARANG

BAB I PENDAHULUAN HOTEL INNA DIBYA PURI SEBAGAI CITY HOTEL DI SEMARANG BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Kota Semarang direncanakan menjadi pusat perdagangan dan industri yang berskala regional, nasional dan internasional. Kawasan Johar merupakan salah satu pusat perniagaan

Lebih terperinci

Mengenal Beberapa Museum di Yogyakarta Ernawati Purwaningsih Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta

Mengenal Beberapa Museum di Yogyakarta Ernawati Purwaningsih Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta Mengenal Beberapa Museum di Yogyakarta Ernawati Purwaningsih Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta Diantara banyak peninggalan bangunan bersejarah di Kota Yogyakarta adalah museum. Sebenarnya di Yogyakarta

Lebih terperinci

Gambar 1.1 Pejalan Kaki, Parkir dan Lalulintas Sumber : Dokumentasi Pribadi (2014) commit to user. revitalisasi kawasan Braga BAB I - 1

Gambar 1.1 Pejalan Kaki, Parkir dan Lalulintas Sumber : Dokumentasi Pribadi (2014) commit to user. revitalisasi kawasan Braga BAB I - 1 Gambar 1.1 Pejalan Kaki, Parkir dan Lalulintas Sumber : Dokumentasi Pribadi (2014) BAB I - 1 Gambar 1.2Pub Scorpio, Buka Pada Malam Hari dan Kurang Terawat Secara Fisik Bangunan Sumber : Dokumentasi Pribadi

Lebih terperinci

BUPATI BLORA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI BLORA NOMOR 55 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI BLORA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI BLORA NOMOR 55 TAHUN 2016 TENTANG BUPATI BLORA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI BLORA NOMOR 55 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS KEPEMUDAAN, OLAHRAGA, KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA

Lebih terperinci

Perkuatan Struktur pada Revitalisasi Bangunan Cagar Budaya Kasus Studi: Toko Dynasti, Jalan AM Sangaji Yogyakarta

Perkuatan Struktur pada Revitalisasi Bangunan Cagar Budaya Kasus Studi: Toko Dynasti, Jalan AM Sangaji Yogyakarta SEMINAR HERITAGE IPLBI 2017 KASUS STUDI Perkuatan Struktur pada Revitalisasi Bangunan Cagar Budaya Kasus Studi: Toko Dynasti, Jalan AM Sangaji Yogyakarta Augustinus Madyana Putra (1), Andi Prasetiyo Wibowo

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA NOMOR 7 TAHUN 2005 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN DAN PERUSAKAN LINGKUNGAN HIDUP

SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA NOMOR 7 TAHUN 2005 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN DAN PERUSAKAN LINGKUNGAN HIDUP SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA NOMOR 7 TAHUN 2005 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN DAN PERUSAKAN LINGKUNGAN HIDUP DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANGKA, Menimbang : a. bahwa beberapa

Lebih terperinci

WALIKOTA YOGYAKARTA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

WALIKOTA YOGYAKARTA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA WALIKOTA YOGYAKARTA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 61 TAHUN 2016 TENTANG SUSUNAN ORGANISASI, KEDUDUKAN, TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA DINAS KEBUDAYAAN KOTA YOGYAKARTA DENGAN

Lebih terperinci

UPAYA PELESTARIAN PENINGGALAN PURBAKALA DI WILAYAH PROPINSI MALUKU. Drs. M. Nendisa 1

UPAYA PELESTARIAN PENINGGALAN PURBAKALA DI WILAYAH PROPINSI MALUKU. Drs. M. Nendisa 1 UPAYA PELESTARIAN PENINGGALAN PURBAKALA DI WILAYAH PROPINSI MALUKU Drs. M. Nendisa 1 1. P e n d a h u l u a n Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang memiliki warisan masa lampau dalam jumlah

Lebih terperinci

PERUBAHAN FASADE DAN FUNGSI BANGUNAN BERSEJARAH (DI RUAS JALAN UTAMA KAWASAN MALIOBORO) TUGAS AKHIR. Oleh: NDARU RISDANTI L2D

PERUBAHAN FASADE DAN FUNGSI BANGUNAN BERSEJARAH (DI RUAS JALAN UTAMA KAWASAN MALIOBORO) TUGAS AKHIR. Oleh: NDARU RISDANTI L2D PERUBAHAN FASADE DAN FUNGSI BANGUNAN BERSEJARAH (DI RUAS JALAN UTAMA KAWASAN MALIOBORO) TUGAS AKHIR Oleh: NDARU RISDANTI L2D 005 384 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO

Lebih terperinci

Rekapitulasi Hasil dan Identifikasi Bangunan Bersejarah di Kota Salatiga

Rekapitulasi Hasil dan Identifikasi Bangunan Bersejarah di Kota Salatiga LAMPIRAN 1 Berikut adalah tabel rekapitulasi yang menyajikan hasil dan identifikasi bangunan bersejarah di Kota Salatiga: 1 Rekapitulasi Hasil dan Identifikasi Bangunan Bersejarah di Kota Salatiga No Nama

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Deskripsi

BAB I PENDAHULUAN Deskripsi BAB I PENDAHULUAN 1.1. Deskripsi Untuk mendapatkan gambaran tentang pengertian judul DP3A Revitalisasi Kompleks Kavallerie Sebagai Hotel Heritage di Pura Mangkunegaran Surakarta yang mempunyai arti sebagai

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KOTA SALATIGA NOMOR 48 TAHUN 2008 PERATURAN WALIKOTA SALATIGA NOMOR 48 TAHUN 2008

BERITA DAERAH KOTA SALATIGA NOMOR 48 TAHUN 2008 PERATURAN WALIKOTA SALATIGA NOMOR 48 TAHUN 2008 BERITA DAERAH KOTA SALATIGA NOMOR 48 TAHUN 2008 PERATURAN WALIKOTA SALATIGA NOMOR 48 TAHUN 2008 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIT PELAKSANA TEKNIS DINAS KOTA SALATIGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. dengan paradigma rasionalistik. Metodologi kualitatif merupakan prosedur

BAB III METODE PENELITIAN. dengan paradigma rasionalistik. Metodologi kualitatif merupakan prosedur BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Pendekatan Penelitian Pendekatan yang digunakan menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma rasionalistik. Metodologi kualitatif merupakan prosedur penelitian yang

Lebih terperinci

BUPATI SIAK PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIAK NOMOR 06 TAHUN 2005 TENTANG PENGELOLAAN PENINGGALAN SEJARAH DAN PURBAKALA KABUPATEN SIAK

BUPATI SIAK PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIAK NOMOR 06 TAHUN 2005 TENTANG PENGELOLAAN PENINGGALAN SEJARAH DAN PURBAKALA KABUPATEN SIAK BUPATI SIAK PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIAK NOMOR 06 TAHUN 2005 TENTANG PENGELOLAAN PENINGGALAN SEJARAH DAN PURBAKALA KABUPATEN SIAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SIAK, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Gambar 1-3 Gambar 1. Geger Pecinan Tahun 1742 Gambar 2. Boemi Hangoes Tahun 1948 Gambar 3.

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Gambar 1-3 Gambar 1. Geger Pecinan Tahun 1742 Gambar 2. Boemi Hangoes Tahun 1948 Gambar 3. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kota Solo telah banyak mengalami bencana ruang kota dalam sejarah perkembangannya. Setidaknya ada tiga peristiwa tragedi besar yang tercatat dalam sejarah kotanya

Lebih terperinci

Analisis dan Perancangan Tata Ruang Kota Bagian Fasilitas Kesehatan Kota Salatiga dengan Memanfaatkan Sistem Informasi Geografi Berbasis Web

Analisis dan Perancangan Tata Ruang Kota Bagian Fasilitas Kesehatan Kota Salatiga dengan Memanfaatkan Sistem Informasi Geografi Berbasis Web Analisis dan Perancangan Tata Ruang Kota Bagian Fasilitas Kesehatan Kota Salatiga dengan Memanfaatkan Sistem Informasi Geografi Berbasis Web Artikel Ilmiah Peneliti: Indra Septy (682009072) Charitas Fibriani,

Lebih terperinci

BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Kota Yogyakarta 4.1.1 Sejarah dan Perkembangan Kota Yogyakarta Kota Yogyakarta terletak di Pulau Jawa, 500 km ke arah selatan dari DKI Jakarta, Ibukota Negara

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Kabupaten Ngawi mempunyai sumber daya budaya berupa objek/situs cagar budaya yang cukup banyak dan beragam jenisnya. Dari semua objek/situs cagar budaya yang berada

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Kebun Agung didirikan pengusaha Cina, sedangkan Pabrik Gula Krebet

BAB 1 PENDAHULUAN. Kebun Agung didirikan pengusaha Cina, sedangkan Pabrik Gula Krebet BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.1.1 Latar Belakang Objek Kabupaten Malang memiliki dua Pabrik gula yang cukup besar yaitu PG Kebon Agung dan PG. Krebet. PG Kebon Agung berdiri pada 1905, PG Krebet

Lebih terperinci

Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Direktorat Jenderal Kebudayaan 2014

Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Direktorat Jenderal Kebudayaan 2014 Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Direktorat Jenderal Kebudayaan 2014 Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur

Lebih terperinci

BUPATI GARUT PROVINSI JAWA BARAT

BUPATI GARUT PROVINSI JAWA BARAT BUPATI GARUT PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN GARUT NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG GARIS SEMPADAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI GARUT, Menimbang : a. bahwa dengan semakin meningkatnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1.1 Latar Belakang Penataan Kawasan Kampung Jenggot Pekalongan sebagai BAB I PENDAHULUAN Kota Pekalongan secara geografis memiliki posisi yang strategis. Secara geografis dan ekonomis Kota Pekalongan menjadi

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KOTA YOGYAKARTA NOMOR 10 TAHUN 2008 T E N T A N G

PEMERINTAH KOTA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KOTA YOGYAKARTA NOMOR 10 TAHUN 2008 T E N T A N G PEMERINTAH KOTA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KOTA YOGYAKARTA NOMOR 10 TAHUN 2008 T E N T A N G PEMBENTUKAN, SUSUNAN, KEDUDUKAN DAN TUGAS POKOK DINAS DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA YOGYAKARTA,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kota Semarang merupakan ibukota Jawa Tengah yang memiliki daya tarik

BAB I PENDAHULUAN. Kota Semarang merupakan ibukota Jawa Tengah yang memiliki daya tarik BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kota Semarang merupakan ibukota Jawa Tengah yang memiliki daya tarik tersendiri karena penduduknya yang beragam budaya dan agama. Untuk memasuki kota Semarang dapat

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. dan kawasan yang memiliki m nilai arti kesejarahan ataupun aupun nilai seni

BAB 1 PENDAHULUAN. dan kawasan yang memiliki m nilai arti kesejarahan ataupun aupun nilai seni BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bangunan dan kawasan yang memiliki m nilai arti kesejarahan ataupun aupun nilai seni arsitektur, pada dasarnya harus dilihat sebagai obyek cagar budaya. Obyek cagar

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2014 NOMOR 2 SERI E

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2014 NOMOR 2 SERI E LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2014 NOMOR 2 SERI E PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG PENGELOLAAN TEMPAT PEMAKAMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

BUPATI SLEMAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 15 TAHUN 2015 TENTANG PENGELOLAAN WARISAN BUDAYA DAN CAGAR BUDAYA

BUPATI SLEMAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 15 TAHUN 2015 TENTANG PENGELOLAAN WARISAN BUDAYA DAN CAGAR BUDAYA BUPATI SLEMAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 15 TAHUN 2015 TENTANG PENGELOLAAN WARISAN BUDAYA DAN CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, BUPATI SLEMAN, Menimbang

Lebih terperinci

PENGELOLAAN CAGAR BUDAYA DAERAH

PENGELOLAAN CAGAR BUDAYA DAERAH PEMERINTAH KABUPATEN TULUNGAGUNG Disempurnakan) PERATURAN DAERAH KABUPATEN TULUNGAGUNG NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN CAGAR BUDAYA DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TULUNGAGUNG,

Lebih terperinci

STUDI PENENTUAN KAWASAN KONSERVASI KOTA TEGAL MELALUI PENDEKATAN MORFOLOGI KOTA TUGAS AKHIR. Oleh : PRIMA AMALIA L2D

STUDI PENENTUAN KAWASAN KONSERVASI KOTA TEGAL MELALUI PENDEKATAN MORFOLOGI KOTA TUGAS AKHIR. Oleh : PRIMA AMALIA L2D STUDI PENENTUAN KAWASAN KONSERVASI KOTA TEGAL MELALUI PENDEKATAN MORFOLOGI KOTA TUGAS AKHIR Oleh : PRIMA AMALIA L2D 001 450 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan kawasan bersejarah kerap diiringi dengan perubahan fungsi dan

BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan kawasan bersejarah kerap diiringi dengan perubahan fungsi dan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertumbuhan kawasan bersejarah kerap diiringi dengan perubahan fungsi dan terkadang diikuti perubahan fisik bangunan sebagai upaya pemenuhan kebutuhan pemilik bangunan.

Lebih terperinci