BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN. dan luas lahan pertanian. Sistem pertanian pada SIMANTRI 116 merupakan

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN. dan luas lahan pertanian. Sistem pertanian pada SIMANTRI 116 merupakan"

Transkripsi

1 53 BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1 Karakteristik Responden Karakteristik petani dalam penelitian ini meliputi umur, tingkat pendidikan, jumlah anggota keluarga, jumlah tenaga kerja petani yang tersedia dalam keluarga, dan luas lahan pertanian. Sistem pertanian pada SIMANTRI 116 merupakan usahatani terintegrasi dengan pola tanam: tanaman jeruk, tanaman kubis, tanaman pisang dan ternak sapi Bali. SIMANTRI 116 dikelola oleh Gapoktan Budi Luhur yang merupakan gabungan dari enam kelompok tani yang ada di Desa Katung, beranggotakan 139 orang. Paket program SIMANTRI 116 diberikan bantuan oleh Pemda Bali pada Bulan Juli Hasil penelitian menunjukkan bahwa diantara 20 ekor induk sapi dengan ratarata berat badan 350 kg atau setara dengan nilai Rp ,00 per ekor, sampai dengan penelitian ini dilaksanakan seluruh induk sapi telah beranak satu kali pada tahun 2012, saat ini induk sapi tersebut sedang bunting untuk anakan berikutnya. Hasil penelitian yang diperoleh dari 23 responden diketahui karakteristik petani sampel, khususnya yang meliputi umur responden, tingkat pendidikan responden, jumlah anggota keluarga, dan luas lahan garapan. 53

2 Umur responden Umur petani menunjukkan kondisi produktif atau tidaknya tenaga kerja yang terdapat di suatu dareah. Tenaga kerja produktif berada pada umur 25 hingga 40 tahun, sedangkan jika kurang atau lebih dari umur tersebut akan tergolong sebagai tenaga kerja kurang produktif tetapi masih termasuk dalam usia kerja. Penelitian yang dilakukan pada SIMANTRI 116, Gapoktan Budi Luhur dapat diketahui bahwa jumlah responden terdiri atas 23 orang. Umur petani bervariasi dan sangat berpengaruh terhadap produktivitas tenaga kerja. Dalam batas-batas tertentu, semakin bertambah umur seseorang maka tenaga kerja semakin produktif, dan akan menurun pada umur tertentu. Umur responden yang bergabung dengan SIMANTRI 116 dapat dilihat pada Tabel 6.1 Tabel 6.1 Distribusi Umur Petani SIMANTRI 116 No Kelompok umur Jumlah (tahun) (orang ) (%) , ,43 3 > ,39 Total Sumber: diolah dari data primer Berdasarkan hasil penelitian yang ditampilkan pada Tabel 6.1 dapat diketahui bahwa petani yang bergabung dalam SIMANTRI 116 berjumlah 23 orang seluruhnya berada pada usia kerja. Petani yang terlibat dalam usahatani terintegrasi SIMANTRI 116, mempunyai usia yang berbeda-beda terdapat 12 orang berada pada usia 30 sampai dengan 40 tahun atau sebesar 52,17% terdapat tujuh orang berada

3 55 pada usia antara 41sampai dengan 50 tahun atau sebesar 30,43% dan terdapat empat orang berusia lebih dari 51 tahun atau sebesar 17,39%. Hal ini menunjukan bahwa petani berada pada usia produktif lebih mendominasi dibandingkan petani yang non produktif. Hal ini mengindikasikan bahwa petani yang berada pada umur produktif lebih progresif terhadap inovasi baru sehingga cenderung lebih berani mengambil keputusan berusahatani. Di samping itu, masih besar potensi tenaga kerja yang dimiliki oleh petani tersebut dalam mengelola usahataninya, selanjutnya harapan untuk memperoleh pendapatan usahatani juga semakin besar Pendidikan responden Pendidikan formal menunjukan lamanya petani mengenyam pendidikan di bangku sekolah. Pendidikan sangat penting bagi setiap orang, baik dalam kehidupan petani sehari-harinya maupun dalam hubungannya dengan kemampuan petani menerima teknologi baru dan informasi pertanian. Dalam penerapannya petani menjadi lebih terbuka terhadap adanya kemajuan teknologi yang bisa membantu kemudahan di bidang pelaksanaan teknis usahataninya. Tingkat pendidikan petani dapat dilihat pada Tabel 6.2. Tingkat pendidikan berpengaruh pada pengelolaan usahatani hasil penelitian menunjukan bahwa responden mayoritas pernah mengenyam pendidikan menengah atas atau pendidikan responden tergolong tinggi. Tingkat pendidikan formal petani berkisar antara 12 sampai dengan 15 tahun, Dengan demikian, dapat diketahui bahwa wawasan pengetahuan petani, cara berpikir dan bertindak dalam rangka pengelolaan usahataninya tergolong tinggi.

4 56 Berdasarkan tingkat pendidikan, petani responden lebih banyak terkonsentrasi pada kelompok tamat SD yaitu sebanyak delapan orang (34,78 %), responden yang yamat SMP sebanyak tiga orang (13,04%), responden yang tamat SMA sembilan orang (39,13%) dan sisanya tamat perguruan tinggi ada diploma maupoun sarjana masing-masing satu orang (4,335%). Tabel 6.2 Tingkat Pendidikan Petani SIMANTRI 116 No Pendidikan Jumlah (orang) % 1 SD 8 34,78 2 SMP 3 13,04 3 SMA 9 39,13 4 D1 1 4,35 5 D3 1 4,35 6 S1 1 4,35 JUMLAH ,00 Sumber: diolah dari data primer Hasil penelitian menunjukan bahwa responden mayoritas SMA, dilihat dari pendidikan sudut pandang pendidikan formal petani di Desa Katung termasuk dalam katagori berpendidikan tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan petani responden tergolong tinggi, sehingga dengan bekal pengetahuan yang tinggi petani dapat menciptakan manajemen yang baik terhadap usahatani yang dikelolanya. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa pendidikan mencerminkan wawasan pengetahuan petani, sehingga cara berpikir dan bertindak dalam rangka pengelolaan usahataninya tergolong tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi pendidikan responden, maka semakin tinggi kemampuannya dalam mengelola

5 57 usahatani dan semakin tinggi kemungkinan keberhasilan petani dalam menjalankan usahatani terintegrasi Jumlah anggota keluarga Jumlah anggota keluarga akan mempengaruhi tingkat produktivitas kerja dikaitkan dengan jumlah penggunaan (sumbangan) tenaga kerja terhadap kegiatan produksi usahatani. Semakin banyak jumlah anggota keluarga maka semakin banyak pula tenaga kerja yang dapat digunakan dalam kegiatan produksi usahatani sehingga produktivitas akan lebih tinggi, dan demikian juga sebaliknya. Jumlah anggota keluarga juga akan berpengaruh terhadap jumlah tanggungan keluarga atau tingkat konsumsi rumah tangga. Jumlah anggota keluarga yaitu jumlah orang yang terdapat pada setiap keluarga petani, yang berusia produktif maupun pada usia non produktif. Banyaknya anggota keluarga non produktif juga merupakan suatu faktor yang dapat mempengaruhi beban keluarga. Jumlah anggota keluarga dapat dilihat pada Tabel 6.3 di bawah ini. Tabel 6.3 Jumlah Anggota Keluarga Petani No Jumlah Anggota Keluarga Jumlah (orang) % 1 < 3 1 4, ,61 3 > ,04 JUMLAH ,00 Sumber: diolah dari data primer

6 58 Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa responden mempunyai anggota rata-rata empat orang dalam satu kepala keluarga. Jumlah anggota keluarga akan berpengaruh terhadap jumlah tanggungan keluarga atau tingkat konsumsi rumah tangga. Sebagian besar responden atau sebanyak 19 rumah tangga ( 82,61%) tergolong ke dalam kelompok dengan anggota keluarga antara tiga hingga lima orang, dan sebanyak tiga rumah tangga (13,04% ) yang beranggotakan lebih dari lima orang. Dari keseluruhan, responden memiliki anggota keluarga tiga sampai lima orang, satu rumah tangga dengan anggota kurang dari tiga anggota keluarga. Rata-rata rumah tangga responden jumlah anggota keluarganya empat orang Jumlah tenaga kerja keluarga (TK) yang dapat dihasilkan dari jumlah anggota keluarga petani merupakan stok tenaga kerja tersebut per bulan dengan asumsi terdapat 22 hari kerja dengan tingkat upah pertanian sebesar Rp /hari tenaga kerja pria dan Rp /hari tenaga kerja perempuan. Rata-rata luas lahan garapan adalah 0,368 ha dan semuanya merupakan lahan kering untuk usahatani campuran antara tanaman jeruk, tanaman kubis, rumput gajah, pisang dan ternak sapi Bali. Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak jumlah anggota keluarga produktif, maka semakin banyak stok tenaga kerja dalam keluarga yang dapat dicurahkan pada produktifitas usahatani terintegrasi tersebut Luas lahan garapan usaha tani Simantri 116 Lahan merupakan salah satu input yang sangat penting dalam kegiatan usahatani. Lahan adalah tempat kegiatan usahatani yang dilakukan oleh petani.

7 59 Umumnya petani yang mempunyai luas lahan di bawah 0,50 ha sering disebut petani gurem (Soekartawi, 2010). Semua petani responden merupakan petani pemilik karena petani responden menggarap lahan tanpa mengeluarkan biaya sewa lahan. Sementara luas lahan garapan berpengaruh positif terhadap produktivitas usahatani dimana usahatani dengan luas lahan yang lebih besar akan memiliki produktivitas yangrelatif lebih tinggi daripada usahatani dengan luas lahan yang lebih kecil. Berdasarkan hasil penelitian luas lahan garapan petani responden bervariasi mulai dari petani yang memiliki luas lahan garapan 30 are hingga hingga petani yang mempunyai luas garapan satu hektar. Luas lahan garapan petani diperoleh rata-rata sebesar 1,06 hektar untuk kegiatan usahatani yaitu usahatani jeruk siem, usahatani kubis, pisang serta tanaman lainnya. Lahan seluas 10 are digunakan sebagai kandang koloni ternak sapi status milik sendiri. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa sebanya 30,43% atau sebanyak tujuh orang responden mempunyai lahan yang luasnya lebih dari 1,5 ha. Terdapat 52,17% atau sebanyak 12 orang responden yang mempunyai lahan sedang dengan luas antara 0,6 sampai 1,1 ha. Terdapat 17,39% atau empat orang responden yang mempunyai lahan sempit dengan luas lahan dibawah 0,5 ha. Hal ini menunjukkan bahwa lahan kepemilikan petani cukup luas yang mempengaruhi hasil produksi pertanian. Semakin luas lahan yang dimiliki maka, semakin besar potensi hasil yang diperoleh, serta biaya usahatani yang dikeluarkan semakin besar. Luas kepemilikan lahan reponden dapat dilihat pada Tabel 6.3.

8 60 Tabel 6.3 Luas Kepemilikan Lahan Anggota SIMANTRI 116 No Katagori (Ha) Jumlah Orang % 1 Luas ( 1,5 > ) 7 30,43 2 Sedang ( 0,6-1,1 ) 12 52,17 3 Sempit (< 0,5 ) 4 17,39 Jumlah Sumber: diolah dari data primer 6.2 Pola Integrasi Sapi Tanaman Hortikultura dan Ternak Sapi Sistem pertanian terintegrasi menjadi salah satu cara mengelola pertanian yang efektif di Desa Katung, Kecamatan Kintamani Kabupaten Bangli. Petani memanfaatkan seluruh komponen usaha tani agar saling mendukung antara pemanfaatan hasil limbah dengan produksi yang diinginkan. Pola integrasi diharapkan mendukung upaya peningkatan kandungan bahan organik lahan pertanian melalui penyediaan pupuk organik yang memadai, mendukung upaya peningkatan produktivitas tanaman, mendukung upaya peningkatan produksi daging dan populasi ternak sapi, meningkatkan pendapatan petani atau pelaku pertanian. produktivitas tanaman maupun ternak menjadi lebih baik, meningkatkan pendapatan petanipeternak. Berdasarkan hasil penelitian menujukkan bahwa sistem integrasi pertanian di Desa Katung, Kecamatan Kintanani Kabupaten Bangli telah berjalan dengan baik. Hal ini dapat diketahui bahwa adanya pengurangan penggunaan pupuk anorganik pada tanaman jeruk siem. Pola integrasi tanaman jeruk, Pisang, kubis dengan ternak

9 61 sapi telah memberikan manfaat bagi petani terutama dalam beberapa hal sebagai berikut 1. Mengatasi masalah ketersediaan pakan pada musim tertentu, misalnya ternak sapi bisa diberikan pakan dari limbah batang pisang pada musim kemarau sebagai bahan pakan yang mengandung banyak air. Limbah jeruk dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak dalam hal ini limbah buah jeruk yang jatuh akibat tiupan angin, maupun gulma yang dibersihkan dari sekitaran tanaman jeruk tersebut. 2. Dapat menghemat tenaga kerja untuk menyediakan pakan (rumput), sehingga memberi peluang bagi petani untuk meningkatkan jumlah ternak yang dipelihara. 3.Usaha ternak dengan memanfaatkan limbah mampu menghemat biaya produksi jeruk terutama biaya pemupukan yang dapat diperoleh dari kotoran yang telah di olah. 4. Produksi jeruk siem telah meningkat dari sebelumnya sehingga pendapatan jeruk juga mengalami peningkatan. Sumber daya peternakan, khususnya ternak sapi merupakan salah satu sumber daya alam yang dapat diperbaharui (renewable) dan berpotensi untuk dikembangkan guna meningkatkan dinamika ekonomi. Beberapa pertimbangan perlunya mengembangkan usaha ternak sapi di Desa Katung Kecamatan Kintamani Kabupaten Bangli antara lain. 1.Budi daya sapi tidak bergantung pada ketersediaan lahan dan tenaga kerja yang berkualitas tinggi, 2. Usaha ternak sapi memiliki kelenturan bisnis dan teknologi yang luas dan luwes, 3.Produk sapi memiliki nilai tinggi terhadap perubahan pendapatan petani,

10 62 4.Dapat membuka lapangan pekerjaan bagi setiap petani tanpa memerlukan pendidikan Memanfaatkan sisa sayuran dapat dijadikan makanan ternak dengan cara ini peternak tidak perlu mencari rumput untuk yang menghabiskan waktu di jalan agar waktu yang ada dapat dimanfaatkan untuk kegiatan yang lain serta memanfaatkan kotoran sebagai pupuk bagi tanaman holtikultura. Pengembangan ternak sapi yang dipelihara dengan tanaman hortikultura tidak membutuhkan sumberdaya lahan baru dan sumberdaya alam yang ada, limbah tanaman hortikultura dapat dijadikan pakan ternak yang setiap dipanen sehingga kebutuhan pakan ternak setiap hari dapat tersedia. Petani dapat memanfaatkan lahan kosong lebih optimal guna meningkatkan manfaat ekonomi. Sumberdaya input usaha ternak melimpah seperti hijauan antar tanaman (dari hasil pengamatan yaitu berupa rumput dan leguminosa) dapat dimanfaatkan secara langsung sebagai pakan ternak tanpa mengganggu produktivitas sedangkan potensi limbah tanaman hortikultura dengan teknologi sederhana dapat dimanfaatkan sebagai bahan campuran hijauan pakan ternak sapi. Lahan sela tanaman hortikultura yang kosong masih bisa dimanfaatkan untuk budidaya rumput gajah atau yang lainnya. Limbah ternak berupa feses dijadikan pupuk kompos,urin juga ada yang menjadikan pupuk cair yang dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman. Produktivitas tanaman hortikultura yang mendukung pengembangan ternak sapi meningkatkan produktivitas dan mutu hasil komoditas hortikultura. Limbah ternak sudah dijadikan pupuk organik,kotoran sapi serta urin telah dijadikan pupuk

11 63 untuk tanaman. Peningkatan produktivitas tanaman hortikultura dapat dilakukan dengan memanfaatkan lahan maupun tenaga kerja, serta menekan biaya pemupukan. Kompos dapat diperoleh dengan cara mudah dan murah dari kotoran sapi. Ternak sapi berperan sebagai mesin pengolah limbah atau pabrik penghasil bahan organik, dimana ternak sapi berpotensi menghasilkan kompos yang sangat dibutuhkan untuk pemeliharaan kesuburan tanah. Selanjutnya ketergantungan usaha tani terhadap pupuk anorganik (komersial) yang semakin mahal dan langka dapat dikurangi karena pupuk organik (kompos) dapat digunakan sebagai pupuk tambahan dan potensial meningkatkan penerimaan tanaman holtikultura. Adanya kotoran sapi dapat mengurangi biaya pengadaan pupuk yang sekaligus dapat mengurangi biaya produksi di samping menjaga kelestarian bahan organik tanah. Setiap ekor sapi dewasa atau satu satuan ternak menghasilkan kotoran 8 10 kg/hari (basah) yang dapat diolah sebagai pupuk organik sekitar 2 3 kg/hari, sehingga dalam satu tahun diperkirakan mampu menghasilkan hampir 0,5 ton pupuk organik per ekor sapi. Selain diperoleh produksi utama berupa daging, juga diperoleh limbah berupa kotoran padat dan cair untuk pupuk organik dan biogas. Pupuk kandang selanjutnya digunakan untuk budidaya pertanian organik dan penanaman rumput-rumputan sebagai pakan ternak, sehingga terjadi siklus hara secara berkelanjutan. Simantri 116 Desa Katung, Kecamatan Kintamani Kabupaten Bangli sudah menjadikan kotoran sapi untuk biogas sehingga untuk memasak rumahtangga sudah terpanuhi. Sehingga dapat mengurangi pengeluaran rumahtangga. Pola pertanian terintegrasi antara pemeliharaan 23 ekor ternak sapi dan hortikultura ha telah mampu

12 64 meningkatkan pendapatan petani serta dapat memanfaatkan lahan kosong menjadi produktif. 6.3 Pendapatan Usahatani Penghitungan pendapatan usahatani dapat dilakukan dengan menghitung penerimaan dikurangi dengan biaya usahatani. Tidak ada jaminan bahwa diantara cara yang dianjurkan itu akan dihasilkan perencanaan yang optimum, yaitu memberikan pendapatan kotor tertinggi. Semuanya tergantung dari pendapat dan kebijaksanaan perencana dalam menggunanakan cara mana yang akan dipakai dengan syarat bahwa cara yang dipilih adalah cara yang baik dan benar (Soekartawi, 1986). Berdasarkan hasil penelitian pada Simantri 116 menunjukkan kegiatan usahatani, besarnya keuntungan kotor tiap kegiatan, kebutuhan terhadap sumberdaya oleh setiap kegiatan usahatani jeruk siam, kubis, pisang dan ternak sapi Pendapatan usahatani jeruk Siam Pendapatan usahatani jeruk diperoleh dari selisih penerimaan dikurangi biaya yang dikeluaran untuk produksi jeruk. Pendapatan responden diperoleh dari panen tanaman jeruk selama satu tahun. Berdasarkan hasil penelitian pada Simantri 116 dapat diketahui bahwa penggunaan lahan dengan rata-rata luas lahan 1.06 ha. Tabel 6.5 menunjukkan bahwa penggunaan lahan untuk tanaman jeruk pada tahun 2012 untuk dua siklus produksi rata-rata 1,06 ha. Dari 23 petani sampel, diperoleh rata-rata pendapatan sebesar Rp per tahun musim panen jeruk, rata-rata penerimaan sebesar Rp

13 ,00 yang diperoleh dari penjualan jeruk selama satu tahun hasil panen. Rata-rata biaya produksi variabel sebesar Rp ,00. Biaya produksi usahatani jeruk terdiri atas biaya penyiangan, penyemprotan, pemupukan dengan penggunaan tenaga kerja manusia. Biaya panen dilakukan bermacam macam ada petani yang panen sendiri, ada sistem panen yang diserahkan pada pembeli dimana penjualan hasil jeruk dilakukan di pohon dengan harga yang lebih rendah bila dibandingkan dengan panen sendiri. Penjualan jeruk di pohon dilakukan karena lahan yang dimiliki cukup luas sehingga memerlukan waktu panen yang lama maupun tenaga yang banyak dan menghindari buah busuk apabila waktu panen yang terlambat. Menurut Soekartawi (1993), rendahnya tingkat pendapat an petani akan menyebabkan rendahnya investasi dan pemupukan modal. Dari dua puluh tiga petani responden diketahui bahwa pendapatan tertinggi sebesar Rp ,00 dan pendapatan terendah diperoleh sebesar Rp ,00. Pendapatan petani yang relatif berbeda disebabkan oleh perbedaan kepemilikan luas lahan garapan, besar kecilnya biaya yang dapat dialokasikan untuk kegiatan usahatani, harga pasar yang diterima pada saat panen, sehingga berdampak kepada pendapatan petani dan tingkat kesejahtraan rumah tangga petani. Pendapatan petani Simantri 116 pada komoditas jeruk tergolong sangat besar mencapai rata-rata pendapatan per kapita tiap bulan sebesar Rp ,00. Dengan perolehan pendapatan yang besar maka petani akan termotivasi dan berusaha mengembangkan teknologi pemeliharaan yang tepat dalam upaya budidaya tanaman jeruk. Hal menunjukkan bahwa petani pada Simantri 116 sangat konsisten dan

14 66 menerapkan setiap program Simantri dalam hal menciptakan pupuk organik yang bagus agar dapat dimanfaatkan dalam meningkatkan kesuburan tanaman. Selain itu petani juga terus mengembangan cara- cara efektif dalam menanggulangi hama dan penyakit melalui pemanfaatan biourine serta mengurangi penggunakan zat kimia hingga mencapai pada tahap berproduksi tanpa penggunaan zat-zat kimia. Tabel 6.5 Pendapatan SIMANTRI 116 Usahatani Jeruk Keprok Siem Katagori Jumlah No (Rp/Ha) Orang % 1 Tinggi > Rp ,78 2 Sedang Rp Rp ,43 3 Rendah < Rp ,78 Jumlah Sumber : diolah dari data primer Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa terdapat delapan orang responden memperoleh pendapatan di atas Rp per tahun atau sebesar 34,78%. Responden yang memperoleh pendapatan sedang yaitu berkisar Rp Rp sebanyak tujuh orang atau sebesar 30,43%. Responden dengan pendapatan rendah dibawah Rp terdapat delapan orang atau sebesar 34,78%. Tinggi rendahnya pendapatan petani berpengaruh terhadap kesejahteraan anggota keluarga responden. Semakin tinggi pendapatan menujukkan semakin tinggi tingkat kemakmuran anggota keluarganya maka semakin sejahtera kehidupannya sehingga kualitas hidupnya pun semakin tinggi. Semakin rendah pendapatan responden cenderung semakin rendah kualitas hidup karena pendapatan lebih diutamakan untuk memenuhi kebutuhan pokok anggota keluarganya.

15 Pendapatan usahatani pisang Iklim di Indonesia dikatagorikan cocok untuk pertumbuhan tanaman pisang, tetapi tidak semua jenis pisang dapat tumbuh subur di seluruh wilayah karena Indonesia terdiri dari dataran rendah, rawa-rawa dan banyak terdapat dataran tinggi Hal ini turut menentukan sentra tanaman pisang, terutama pisang raja (Soekartawi, 1986). Pisang dapat tumbuh dengan baik pada tempat yang berbeda. Tetapi secara umum tanaman pisang raja dapat tumbuh dan berbuah dengan baik pada dataran tinggi hingga 1000m dpl. Dengan curah hujan yang cukup tinggi (Soekartawi, 1986). Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa komoditas pisang yang banyak ditanam di daerah penelitian adalah jenis pisang raja. Pisang merupakan salah satu komoditi yang dihasilkan oleh petani di Desa Katung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pisang merupakan komoditas dengan permintaan yang tinggi karena pisang merupakan salah satu sarana upacara bagi umat Hindu, sehingga setiap orang pasti menanam pisang. Pisang dapat digunakan mulai dari batang, daun, buah hingga bunga. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dari responden Desa Katung bahwa budidaya pisang di Desa Katung bukan budidaya utama, melainkan tanaman yang dibudidayakan sebagai tanaman sela. Tanaman pisang bisa panen lebih awal dibandingkan tanaman jeruk. Budidaya pisang dilakukan masih dengan cara tradisional dengan perbanyakan vegetatif yaitu dengan memisahkan anakan dari induknya. Bibit yang dipisahkan bila anakan sudah berupa bibit rebung atau anakan bibit yang telah

16 68 mempunyai satu atau dua helai daun yang telah mekar. Pisang biasanya dipisahkan dari rumpun pohon induk yang produktif, berkualitas dan sehat. Pemeliharaan komoditas pisang diharapkan dapat menambah penjualan tunai dan bisa dikonsumsi sendiri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan tertinggi dari tanaman pisang sebesar Rp ,00. Penerimaan diperoleh dari penjualan buah pisang dengan harga yang diterima sesuai harga pasar yang berlaku saat transaksi. Pendapatan terendah yang diperoleh petani hanya sebesar Rp ,00. Tinggi rendahnya pendapatan petani dari hasil komoditas pisang tergantung dari jumlah pisang yang dijual. Selama ini pisang yang dijual hanya pisang yang dianggap berlebih, karena petani lebih banyak menggunakan hasil pisang sebagai sarana upacara dan konsumsi rumah tangga. Biaya pemeliharaan pisang tidak begitu besar, dan tidak membutuhkan pemeliharaan yang detail sehingga biaya yang dikeluarkan cukup rendah. Biasanya petani hanya membutuhkan tenaga waktu nenanam selanjutnya hanya menunggu pisang tersebut berbuah. Pisang tidak memerlukan penyemprotan, pemupukan yang berkala seperti tanaman jeruk atau kubis. Panen pisang hanya satu kali sehingga tidak memerlukan tenaga dan biaya yang besar. Di Desa Katung sering terjadi bahwa pembeli datang sendiri ke lahan petani untuk mengambil pisang yang akan dibeli, hal ini dapat menurunkan biaya operasional usahatani pisang Pada Tabel 6.6 dapat dilihat penerimaan tanaman pisang. Petani pada Simantri 116 mempunyai pisang rata-rata 26 rumpun tiap responden dengan rata-rata pendapatan sebesar Rp , 00 yang diperoleh dari penerimaan rata-rata sebesar Rp , 00 dan biaya yang dikeluarkan sebesar Rp

17 ,00. Kepemilikan jumlah rumpun pisang berbeda-beda tiap responden, ada yang mempunyai cuma 10 rumpun tetapi ada juga pentani yang mempunyai pisang yang cukup banyak sekitar 50an rumpun. Kepemilikan jumlah rumpun pisang yang di sebabkan karena luas lahan yang dimiliki petani berbeda, dan berbeda pula perencanaan lahan tiap petani sehingga banyaknya komoditas yang dimiliki petani juga berbeda. Pendapatan usahatani pisang dapat dilihat pada Tabel 6.6. Tabel 6.6 Pendapatan Usaha Tani Pisang Jumlah Orang % No Katagori (Rp/Ha) 1 Tinggi > Rp 300, ,48 2 Sedang Rp 200,000- Rp 300, ,74 3 Rendah < Rp 200, ,78 Jumlah Sumber: diolah dari data primer Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa 10 orang responden atau sebesar 43, 48% memperoleh pendapatan di atas Rp Responden yang memperoleh pendapatan sedang berkisar Rp terdiri dari lima orang atau 21,74 %. Sisanya terdapat delapan orang atau sekitar 34,78% memperoleh pendapatan rendah yaitu kurang dari Rp Besar kecilnya pendapatan pisang tergantung dari jumlah rumpun pisang yang dimiliki oleh petani. Semakin banyak rumpun pisang dimiliki maka potensi penghasilan juga semakin tinggi namun banyaknya pohon pisang dapat menurunkan produksi jeruk siam. Menanam pisang bukanlah suatu yang sulit, tetapi jika terlalu banyak pisang juga mempengaruhi jumlah sinar matahari yang diperoleh oleh tanaman pokok yaitu jeruk siam. Persaingan mendapatkan sinar akan mempengaruhi proses asimilasi

18 70 tanaman jeruk Hal itu juga yang menjadi pertimbangan petani dalam menentukan jumlah tanaman pisang yang ditanam. Sehingga pisang hanya ditanam pada lahan sela di sekitar tanaman jeruk agar tidak menggangu pertumbuhan tanaman jeruk Pendapatan usahatani kubis Kol atau kubis merupakan tanaman sayur famili Cruciferae berupa tumbuhan berbatang lunak. Batas kubis kadang-kadang bercabang dan panjang mencapai satu meter, berwarna daun hijau biru, yang sering membentuk roset. Daun besar, panjang mencapai 50cm tebal dan berdaging (Pracaya, 1981). Kubis dimaksud disini adalah kubis yang dapat berbentuk telur / bulat. Kubis dapat tumbuh hampir di semua jenis tanah. Tanah ideal yaitu tanah liat berpasir yang cukup bahan organis. Memerlukan cukup air tetapi tidak berlebihan. Tumbuh baik pada tanah dengan ph 5,5-6,5 (Pracaya, 1981). Temparatur pertumbuhan kubis paling banyak di daerah dengan hawa dingin, sehingga kubis banyak ditanam di daerah dataran tinggi. Kubis dapat digunakan sebagai bahan pangan untuk keperluan masakan seperti sup, sayur lodeh, pecel, lotek dan lain-lain atau dimakan langsung (lalapan) bersama menu lain. Manfaat lain dapat dibuat produk makanan instan seperti mie, makanan ringan dan makanan cepat saji lainnya. Tanaman kubis dapat hidup pada suhu udara C dengan suhu optimum 17 0 C. Untuk waktu singkat, kebanyakan varietas kubis tahan dingin (minus 6-10 o C), tetapi untuk waktu lama, kubis akan rusak kecuali kubis berdaun kecil. Kebutuhan benih per hektar tergantung varietas dan jarak tanam, umumnya dibutuhkan 300 gram/ha (Pracaya, 1981).

19 71 Berdasarkan hasil penelitian pada Simantri 116 dapat diketahui bahwa pemeliharaan tanaman kubis diawali dengan pesemaian, biji kubis disemai kemudian setelah cukup besar dapat dipindah ke lapangan. Petani pada simantri 116 melakukan penanaman setelah mempersiapkan lahan yang tepat seperti pencangkulan tanah, penentuan jarak tanam, pemberian pupuk kompos, baru ditanami kubis. Kubis ditanam pada jarak yang bervariasi ada yang cm, ada juga yang 40-60cm tergantung kesukaan petani. Perawatan tanaman kubis sangat mudah, petani biasanya menyiram tanaman kubis cukup di sore hari jika musim kemarau, jika kubis telah berumur 10 sampai 14 hari maka dilakukan pemupukan. Pemupukan kedua dilakukan pada umur empat minggu dengan menebar pupuk di sekitar pohon kubis. Jika ada gulma maka tanaman disiangi serta tanah di sekitar kubis digemburkan. Penjarangan dilakukan saat pemindahan bibit ke lahan, yaitu saat bibit berumur enam minggu atau telah berdaun 5-6 helai (semaian biji) atau berumur 28 hari (semaian stek). Bila bibit disemai pada bumbung maka penjarangan tidak dilakukan. Sedangkan penyulaman hampir tidak dilakukan karena umur tanaman yang pendek (2-3 bulan). Untuk pencegahan penyakit, penyemprotan dilakukan sebelum hama menyerang tanaman atau secara rutin 1-2 minggu sekali dengan dosis ringan saat ini dilakukan dengan biourine yang dihasilkan ternak sapi yang telah diolah. Untuk penanggulangan, penyemprotan dilakukan sedini mungkin dengan dosis tepat, agar hama dapat segera ditanggulangi.

20 72 Panen kubis dilakukan dengan pemetikan. Pemetikan yang kurang baik akan menimbulkan kerusakan mekanis yang menyebabkan krop kubis terinfeksi patogen sehingga mudah pembusukan. Pemeliharaan kubis dilakukan dengan tujuan mendapatkan tambahan penjualan tunai sampai jeruk panen di bulan berikutnya. Panen kubis akan membawa angin segar pada petani yang membudidayakan kubis karena dapat menambah penghasilan di waktu tertentu. Hasil penelitian pada Simantri 116 dapat diketahui bahwa tidak semua petani menanam kubis. Hal ini disebabkan karen beberapa petani berpedapat bahwa kubis memerlukan perawatan yang ekstra. Kubis rentan dengan penyakit dan memerlukan tenaga kerja yang teratur dalam penyiraman apalagi di musim kemarau. Karena itulah tidak semua petani pada Simantri 116 mau menanam kubis meskipun ada jaminan mendapatkan pendapatan tambahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budidaya tanaman kubis memberikan pendapatan yang cukup besar. Penerimaan kubis diperoleh dari hasil penjualan kubis dengan harga rata-rata Rp /kg. Petani juga ada yang menjual hasil panen kubis dalam keranjang dengan harga per kg sesuai harga kesepakatan antara petani dengan pembeli. Rata-rata penerimaan kubis sebesar Rp ,00, biaya rata-rata usaha tani kubis sebesar Rp ,00. Biaya pemeliharaan kubis dari pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan hingga waktu panen. Biaya yang dikeluarkan petani dihitung berdasarkan biaya variabel, karena penanaman kubis lebih banyak dilakukan oleh anggota keluarga petani. Rata- rata pendapatan kubis diperoleh sebesar Rp ,00 yang

21 73 diperoleh dari penggunaan lahan sebesar 68 are dari total luas lahan 24 Ha. Hal ini menunjukan bahwa perbedaan luas lahan dapat memberikan hasil yang berbeda, tetapi jika dikerjakan dengan cara yang tepat akan memberikan keuntungan yang layak bagi petani. Petani di Simantri 116 menanam kubis untuk pemanfaatan lahan sela dan memanfaatkan waktu yang senggang setelah panen jeruk pada bulan Januari hingga Februari. Tinggi rendahnya pendapatan petani dari komoditas kubis dapat dilihat pada Tabel 6.7. Tabel 6.7 Pendapatan Petani dalam Usahatani kubis No Katagori (Rp/Ha) Jumlah Orang % 1 Tinggi > Rp 3000, ,04 2 Sedang Rp Rp ,04 3 Rendah < Rp ,91 Jumlah Sumber : Diolah dari data primer. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa hanya tiga responden yang mempunyai pendapatan tinggi lebih dari Rp atau sebesar 13,04%. Responden memperoleh pendapatan sedang sebanyak tiga orang atau sebesar 13,04 %. Sisanya sebesar 73,91% atau 17 presponden memperoleh pendapatan di bawah Rp Tinggi rendahnya pendapatan responden dari komoditas kubis karena responden hanya membududayakan kubis tidak sepanjang tahun. Kubis hanya sebagai tanaman sela yang ditanam maksimal dua kali dalam setahun sambil menunggu panen jeruk siam. Budidaya kubis yang memerlukan cara perawatan dan pemeliharan yang sangat teratur dapat mengurani tumbuhnya gulma disekitar tanaman jeruk.

22 Pendapatan usahatani ternak sapi Bali Selain usahatani jeruk, pisang dan kubis petani juga memelihara ternak sapi secara berkelompok. Melalui program Simantri ini petani mengetahui proses pembuatan pupuk kompos dari kotoran sapi serta mengolah sesuai petunjuk teknis dari program Simantri tersebut. Pembuatan pupuk kompos merupakan salah satu upaya dalam memanfaatkan kotoran ternak sapi. Selanjutnya telah mampu mengurangi penggunaan pupuk kimia. Saat ini Simantri 116 menjadi salah satu Gapoktan mandiri yang berhasil memperoleh hasil dari sistem pertanian terintegrasi antara tanaman dan ternak. Petani pada Simantri 116 telah mampu membuat pupuk sendiri dalam kelompok, dan memanfaatkan siklus tanaman dan ternak dalam pertanian sebagai bentuk sinergi dalam usahatani. Petani telah mendapat pendapatan yang lebih tinggi dari sebelumnya terutama pada produksi jeruk, peningkatan hasil jeruk. Sebelum menggunakan pupuk kompos dari kotoran sapi petani menggnakan kotoran ayam yang diperoleh dari peternakan ayam di sekitar maupun di kabupaten lain seperti Kabupaten Tabanan, Kabupaten Bangli dan Kabupaten Karangasem. Pada SIMANTRI 116 petani juga telah memperoleh pendapatan melalui penjualan ternak sapi. Melalui pemeliharaan sapi ini petani melakukan secara berkelompok, segala kegiatan yang berhubungan dengan ternak sapi dilakukan bersama- sama. Dalam usaha ternak sapi terdapat satu unit kandang koloni dengan kapasitas 23 ekor beserta bibit sapi Bali sebanyak 23 ekor, unit gudang pakan, unit gudang kompos, unit biogas dan unit biourine. Usaha ternak sapi ini dilakukan petani, pada saat sebelum maupun setelah melaksanakan kegiatan di tegalan.

23 75 Ternak sapi yang dimiliki kelompok dari program Simantri berjumlah 20 ekor, sedangkan tiga ekor lagi adalah sapi milik petani yang bergabung dalam kelompok tersebut tetapi tidak mendapat bagian sapi, sehingga tiga orang petani tersebut memelihara ternaknya sendiri dengan harapan dapat memperoleh manfaat dalam kegiatan kelompok diluar kepemilikan ternak sapi. Berdasarkan hasil penelitian pada penggunaan lahan untuk kandang koloni dengan luas lahan 0,1 ha. Ternak sapi yang dimiliki berjumlah 23 ekor, diperoleh rata-rata pendapatan ternak sapi Bali adalah sebesar Rp ,00 per tahun dengan rata-rata penerimaan sebesar Rp ,00. Dalam data tersebut pengunaan rata-rata biaya variabel dalam ternak sapi adalah sebesar Rp ,00. Biaya produksi usaha ternak sapi meliputi biaya pakan, IB (Inseminasi Buatan), vaksin, dan bakalan dengan penggunaan tenaga kerja manusia. Penjualan ternak SIMANTRI dilakukan ketika ternak tersebut dalam keadaan mandul dan digantikan dengan ternak yang baru, sehingga mampu berproduksi dan menghasilkan limbah ternak. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa besarnya pendapatan yang diperoleh petani berbeda-beda, hal ini disebabkan oleh penjualan pedet diperoleh dengan harga berbeda tiap orang tergantung harga pasar dan kesepakatan antara pembeli dan penjual. Pendapatan petani dari usahatani ternak sapi merupakan hasil kombinasi dari penerimaan penjualan pedet, penjualan pupuk kompos, penjualan urine dikurang biaya produksi.

24 76 Berdasarkan hasil yang diperoleh tiap tahun khususnya dari usaha ternak sapi belum menunjukkan angka yang tinggi. Tetapi hasil yang diperoleh petani menjadi meningkat dengan pola sistem pertanian terintegrasi antara jeruk, pisang dan kubis. Tabel 6.8 Pendapatan Usahatani Ternak Sapi Bali Jumlah Orang % No Katagori (Rp/Ha) 1 Tinggi > Rp ,00 2 Sedang Rp ,00 3 Rendah < Rp ,00 Jumlah Sumber : Diolah dari data primer Hasil penelitian menunjukkan bahwa usahatani ternak sapi menunjukkan usaha yang dapat dilakukan sepanjang tahun. Pendapatan responden menunjukkan 100% sedang berkisar Rp hingga Rp Pendapatan ternak sapi jenis pembibitan hanya satu kali dalam setahun tiap ekor sapi. Tetapi pendapatan lain seperti pengolahan pupuk dan biourine diperoleh setiap hari. Usaha tani ternak sapi memberikan keuntungan jika dikelola secara koloni Penggunaan lahan dan perolehan pendapatan Pada kegiatan usahatani campuran terdapat pendapatan per unit sumberdaya terhadap penggunaan lahan berdasarkan pola tanam dan rotasi tanam (Soekartawi 1986). Berdasarkan hasil penelitian dapat diperoleh bahwa luas lahan pada Simantri 116 seluruhnya sebanyak 24,3 Ha. Luas lahan tersebut ditanami jeruk seluas 20,3 Ha,

25 77 lahan ditanami pisang seluas tiga hektar, luas lahan untuk tanaman kubis sebanyak 68 are dan lahan yang digunakan sebagai ternak sapi sebanyak 10 are. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 84 % lahan ditanami jeruk karena di daerah ini petani mayoritas menanam jeruk sebagai tanaman unggulan, selanjutnya lahan pisang hanya 12,35 % hal ini menunjukkan bahwa petani menanam pisang sebagai tanaman sela yang dapat dipanen sewaktu-waktu, lahan sebanyak 2,8% merupakan lahan kubis karena petani yang menanam kubis hanya sebagian kecil saja dan memanfaatkan lahan sela sebagai pendapatan tambahan. Sisanya 0,41% digunakan sebagai kandang koloni ternak sapi. Tabel 6.9 Pendapatan Kotor per Unit Produksi dalam Pemanfaatan Sumberdaya Lahan Pada Simantri 116. Komoditas Pendapatan/Ha (Rp) Prosentase (%) Jeruk Siam ,49 % Pisang ,35 % Kubis ,80 % Ternak Sapi ,41 % JUMLAH % Sumber : Diolah dari data primer Pada tabel 6.9 dapat ditunjukan bahwa lahan seluas 24,3 Ha yang digunakan untuk tanaman campuran. Komoditas yang ditanam jeruk siam, pisang., kubis, ternak sapi. Tanaman jeruk lebih diperioritaskan dan lebih cenderung dipilih dari pada tanaman pisang, dan kubis karena menghasilkan pendapatan yang lebih tinggi per hektarnya dan memerlukan sumberdaya sama atau lebih sedikit. Dengan demikian tanaman jeruk siam mendominasi dibandingkan tanaman pisang dan kubis.

26 Analisis Anggaran Usahatani yang Beresiko Analisis keputusan beresiko dilakukan karena terbatasnya penguasaan terhadap iklim, pasar, harga dan lingkungan institusi tempat mereka berusahatani, petani senantiasa dihadapkan pada masalah ketidakpastian terhadap besarnya pendapatan usahatani yang diperoleh. Pada petani yang mempunyai luas lahan garapan kecil, faktor ketidakpastian merupakan suatu hal yang sangat berpengaruh karenanya berperan besar dalam proses pengambilan keputusan (Soekartawi, 1986) Analisis ini merupakan bentuk analisis anggaran parametrik dengan memperhatikan faktor yang tidak dapat diramal secara pasti sebelumnya misalnya produksi, harga produk pertanian untuk petani berkelompok ( Soekartawi, 1986). Analisis anggaran usahatani yang berisiko ini dapat di rumuskan : G = y (p) U V Keterangan : G = Keuntungan kotor per tahun (Rp/th) y = produksi /ha (ton/ha) p = harga produk ( Rp/ton) U = biaya sarana produksi (Rp/ton) V = biaya lain-lain yang digunakan dalam proses produksi (max 10% dari biaya total) Berdasarkan hasil analisis anggran beresiko dapat diperoleh besarnya resiko tiap usahatani sebagai berikut. 1. Hasil analisis anggran berisiko produksi jeruk siem (ton/ha) G = (Rp 4000)-Rp Rp = Rp Rp = Rp / ton.

27 79 2. Hasil analisis anggran berisiko produksi pisang G = (Rp 500)- Rp Rp 4335 = Rp Rp = Rp Hasil analisis anggran berisiko produksi kubis G = 1000 (Rp 3500) Rp ,96 Rp = Rp Rp ,96 = Rp , Hasil analisis anggaran beresiko produksi sapi = (23(Rp )) - Rp Rp = - Rp Besarnya keuntungan kotor berdasarkan analisis anggran berisiko pada seluruh komoditi yang dikelola pada Simantri 116 dapat dilihat pada Tabel 6.10 Komoditas Tabel 6.11 Hasil analisis anggran usahatani yang berisiko Produksi x harga (Y.P) (Rp) Biaya Sarana Produksi dan Lain-lain (u+v) (Rp) Pendapatan Beresiko (Rp) Rata- Rata Pendapatan Beresiko (Rp) G (jeruk) ,61 G (pisang) ,696 G ( kubis) ,87 G ( Sapi) ,17 Jumlah

28 80 Sering terjadi bahwa variabel produksi ( y) maupun harga ( p) merupakan variabel yang tidak dapat dipastikan atau diramalkan sebelumnya, dan distribusi peluang subyektif dan dua variabel tersebut harus di evaluasi terlebih dahulu. Analisis anggaran yang memasukkan faktor resiko, sangat berhubungan dengan distribusi tersebut. Untuk itu diperlukan pendugaan terhadap biaya sarana produksi (u) dan biaya lain-lain (v) untuk memperoleh kemungkinan dari keuntungan kotor per tahun, (Soekartawi 1986). Dalam penelitian ini dapat dihitung langsung informasi yang diperoleh dari distribusi produkasi (y) dan harga (p), melalui analisis anggaran resiko petani dapat mengevaluasi pengaruh faktor ketidakpastian atau resiko terhadap keuntungan kotor usahatani per hektar untuk tanaman jeruk, pisang dan kubis. Pengeluaran usahatani per hektar bervariasi tergantung harga produk dan besar kecil produksi yang diinginkan. Dengan demikian harga produk dan besar kecilnya produksi merupakan variabel yang tidak dapat diduga sebelumnya. Besarnya pendapatan beresiko berbeda-beda tiap komoditas. Komoditas jeruk, pisang dan kubis menunjukan bahwa resiko yang dialami petani menunjukkan hasil positif hal ini berarti bahwa pendapatan riil petani masih lebih besar dari pada resiko yang timbul. Meskipun terjadi resiko terhadap usahatani jeruk, pisang maupun kubis tidak menimbulkan kerugian besar bagi petani, atau dengan kata lain petani masih bisa hidup layak. Usahatani ternak sapi menunjukkan nilai negatif hal ini berarti bahwa resiko yang dialami petani sangat besar. Jika ssatu ekor ternak sapi mengalami kemtian akibat faktor ketidak pastian maka seluruh penghasilan salah satu responden dari usaha ternak sapi akan hilang.

29 81 Hasil penelitian disajikan dalam Tabel 6.12 diketahui bahwa antara produksi dan harga tidak ada korelasi yang nyata, atau dengan kata lain antara distribusi produksi dan harga menyebar secara bebas. Tabel 6.12 Pendapatan usahatani Simantri 116 Komoditas Luas lahan (Ha) Pendapatan (Rp) Produksi per tahun (Ton/20,53ha) (Biji) (Ekor) Jeruk Siam 20, Pisang 3, Kubis 0, Ternak Sapi 0, JUMLAH 24, Sumber : diolah dari data primer Berdasarkan hasil penelitian diperoleh perbandingan pendapatan responden yaitu antara pendapatan riil dengan pendapatan anggaran berisiko sebesar 11 % untuk prosuksi jeruk siem, 15% selisih pendapatan produksi pisang, 88 % selisih pendapatan kubis, dan pendapatan sapi mempunyai selisih yang sangat besar mencapai 119% antar pendapatan riil dengan pendapatan beresiko. Hal ini menunjukkan bahwa setiap komoditas usahatani yang dikembangkan petani mempunyai resiko yang berbeda. Resiko timbul karena keterbatasan petani mengatasi ketidakpastian kondisi alam seperti curah hujan, pertumbuhan vegetatif tanaman, waktu terjadi serangan hama atau penyakit, dan harga pada waktu panen. Kombinasi antara peristiwa tersebut merupakan unsur ketidakpastian dalam sebuah pengambilan keputusan. Selisih pendapatan dapat dilihat pada Tabel 6.13.

30 82 Komoditas Tabel 6.13 Selisih pendapatan riil dengan anggaran resiko Rata Rata Pendapatan Riil / tahun ( Rp) Rata- Rata Pendapatan Beresiko (Rp) Selisih pendapatan riil dengan pendapatan beresiko Resiko pendapatan (%) Jeruk Siam , Pisang , Kubis , Ternak Sapi , Berdasarkan hasil analisis faktor beresiko dapat diketahui bahwa pendapatan riil berbeda dengan pendapatan beresiko yang diperoleh petani, hal ini mengindikasikan bahwa seorang petani yang menghindari resiko akan memilih tanaman yang akan menghasilkan keuntungan kotor yang kecil tetapi berisiko rendah, sebaliknya tanaman yang akan menghasilkan keuntungan kotor yang besar tetapi berisiko tinggi. Menurut Siregar dalam Soekartawi (1993), risiko dalam pertanian mencakup kemungkinan kerugian dan keuntungan dimana tingkat risiko tersebut ditentukan sebelum suatu tindakan diambil berdasarkan ekspektasi atau perkiraan petani sebagai pengambil keputusan. Hasil penelitian menujukkan sikap petani terhadap risiko. Pengambilan keputusan dapat digunakan untuk menduga apakah sikap petani mengambil risiko tersebut lebih kecil atau kurang besar. Membandingkan pengambilan keputusan terhadap penentuan besarnya uang yang diduga hilang sebagai akibat dari kerugian yang diderita, maka dapat diterangkan apakah-petani itu menghindar risiko, atau

31 83 mengambil risiko. Petani mempunyai nilai resiko atau kerugian yang berbeda tiap komoditas. Sikap petani terhadap resiko menanam jeruk yaitu adalah petani yang lebih menghindar dari faktor risiko dari pada mengalami kerugian yang ditunjukkan oleh nilai resiko sebesar 11 %, artinya bahwa petani terhindar dari risiko karena mempunyai nilai kerugian hanya sebesar Rp dari pendapatan yang diterimanya. Petani menanam pisang kedua termasuk petani yang memang sengaja mengambil risiko karena petani sangat membutuhkan pisang ditunjukkan oleh nilai resiko sebesar 15% sehingga kerugian yang hanya sebesar Komoditas kubis yang ditanam petani memberikan nilai resiko sebesar 88% hal ini menunjukkan bahwa petani bisa mengalami resiko yang sebesar dari nilai uang yang diduga hilang karena tindakan yang berisiko yang diambil. Petani yang mengusahakan ternak sapi mengalami resiko yang sangat besar, dengan kata lain petani tidak mendapatkan uang karena ia mengambil keputusan yang berisiko. Sebaliknya sikap petani memutuskan memelihara sapi karena petani merasa beruntung mendapat manfaat yang sangat besar dari komoditas jeruk siem yang telah dikelola dengan menggunakan limbah sapi sehingga mendapat pendapatan yang diharapkan, maka la cenderung memilih keputusan yang tidak berisiko yang diduga dapat menghasilkan lebih besar dari komoditas yang ditanam.

32 84

33 85 DAFTAR PUSTAKA Arief, Arifin Hortikultura. Andy Offset. Yogyakarta. Bali dalam angka Badan pusat statistik provinsi Bali. Budiasa, I Wayan Pertanian Berkelanjutan: Teori dan Pemodelan. Udayana University Press, Denpasar. Cahyono, Bambang Cara Meningkatkan Budidaya Kubis. D), Pustaka Nusatama. Yogyakarta. Gunawan dan M. Soejono Analisi Ekonomi Suplementasi Konsentrat. Penebar Swadaya. Jakarta. Guntoro Membudi dayakan Sapi Bali. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. Hermanto, F Ilmu Usahatani. Penebar Swadaya. Jakarta. Jaya, U Sapi Potong Menjanjikan Keuntungan. Cetakan ketiga. Penebar Swadaya. Jakarta. Kuncoro, M Metode Riset untuk bisnis dan ekonomi. Bagaimana Meneliti dan Menulis Tesis. PT. Gelora Aksara Pratama. Penerbit Erlangga. Milles dan Huberman. (1992) Analisis Data Kualitatif (tentang metode-metode baru), Jakarta: UI-Press. Moleong, J Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT. Rosdakarya. Nasution. (2003). Metode Research. Penelitian Ilmiah. Thesis. Bandung, Jemmars. Rangkuti Pengaruh Pengebirian dan Pemberian Konsentrat pada Pertumbuhan Sapi. Buletin LPP No. 15. Bogor.

34 86 Riduwan, Metode &Teknik Menyusun Tesis.Alfabeta. Bandung. Riduwan. (2006). Dasar-dasar Statistika. Bandung: Penerbit Alfabeta. Sariubang, M Sistem Penggemukan Sapi. Balai Penelitian Ternak. Grati. Siregar, S.S Penggemukan Sapi. Penebar Swadaya. Jakarta. Siregar,S. B. Dan Tambing Analisis Penggemukan Sapi Potong di Desa Gebang. Kabupaten Wonogiri. Jawa Tengah. Pusat Pengembangan Penelitian. Bogor. Soekartawi, Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian. Teori dan Aplikasinya. CV Rajawali Jakarta. Soekartawi, A Ilmu Usahatani dan Penelitian untuk Pengembangan Petani Kecil. Jakarta: Universitas Indonesia. Sugeng, B Sapi Potong. Penebar Swadaya. Jakarta. Sugiyono Metode Penelitian pendidikan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Alfabeta. Bandung. Sutarminingsih, L Peluang Usaha Penggemukan Sapi. Kanisius. Yogyakarta. Tjakrawiralaksana, A Ilmu Usahatani. Institut Pertanian Bogor, Bogor. Tawaf R Strategi Pengembangan Industri Peternakan Sapi Potong Berskala Kecil dan Menengah. Makalah Seminar. Jakarta: CIDES. Wiyono, DB Petunjuk Teknis Sistem Perbibitan Sapi Potong. Bogor. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan.

VI ANALISIS KERAGAAN USAHATANI KEDELAI EDAMAME PETANI MITRA PT SAUNG MIRWAN

VI ANALISIS KERAGAAN USAHATANI KEDELAI EDAMAME PETANI MITRA PT SAUNG MIRWAN VI ANALISIS KERAGAAN USAHATANI KEDELAI EDAMAME PETANI MITRA PT SAUNG MIRWAN 6.1. Analisis Budidaya Kedelai Edamame Budidaya kedelai edamame dilakukan oleh para petani mitra PT Saung Mirwan di lahan persawahan.

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. menggunakan pengalaman, wawasan, dan keterampilan yang dikuasainya.

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. menggunakan pengalaman, wawasan, dan keterampilan yang dikuasainya. V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Profil Petani Petani adalah pelaku usahatani yang mengatur segala faktor produksi untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa kualitas

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. yang keduanya tidak bisa dilepaskan, bahkan yang saling melengkapi.

I. PENDAHULUAN. yang keduanya tidak bisa dilepaskan, bahkan yang saling melengkapi. I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian dan peternakan merupakan satu kesatuan terintegrasi yang keduanya tidak bisa dilepaskan, bahkan yang saling melengkapi. Pembangunan kedua sektor ini bertujuan

Lebih terperinci

VI. ANALISIS USAHATANI DAN EFEKTIVITAS KELEMBAGAAN KELOMPOK TANI

VI. ANALISIS USAHATANI DAN EFEKTIVITAS KELEMBAGAAN KELOMPOK TANI VI. ANALISIS USAHATANI DAN EFEKTIVITAS KELEMBAGAAN KELOMPOK TANI 6.1. Proses Budidaya Ganyong Ganyong ini merupakan tanaman berimpang yang biasa ditanam oleh petani dalam skala terbatas. Umbinya merupakan

Lebih terperinci

BAB VI HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. tingkat pendidikan, jumlah anggota keluarga, dan pengalaman dalam usahatani.

BAB VI HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. tingkat pendidikan, jumlah anggota keluarga, dan pengalaman dalam usahatani. BAB VI HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 6.1 Karakteristik Petani Sampel Berdasarkan data primer yang diperoleh dari 84 orang petani sampel, maka dapat dikemukakan karakteristik petani sampel, khususnya

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN 18 TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN Tinjauan Pustaka Tanaman herbal atau tanaman obat sekarang ini sudah diterima masyarakat sebagai obat alternatif dan pemelihara kesehatan yang

Lebih terperinci

PEMANFAATAN LIMBAH PETERNAKAN DALAM PENGEMBANGAN SISTEM USAHATANI SAYUR-SAYURAN ORGANIK DI TIMOR TENGAH UTARA

PEMANFAATAN LIMBAH PETERNAKAN DALAM PENGEMBANGAN SISTEM USAHATANI SAYUR-SAYURAN ORGANIK DI TIMOR TENGAH UTARA PEMANFAATAN LIMBAH PETERNAKAN DALAM PENGEMBANGAN SISTEM USAHATANI SAYUR-SAYURAN ORGANIK DI TIMOR TENGAH UTARA Amirudin Pohan dan Yohanes Leki Seran Balai Pengkajian Teknologi Pertanian NTT ABSTRAK Pengembangan

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Umur, Tingkat Pendidikan, dan Pengalaman berusahatani

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Umur, Tingkat Pendidikan, dan Pengalaman berusahatani V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Petani Responden 1. Umur, Tingkat Pendidikan, dan Pengalaman berusahatani Berdasarkan dari penelitian yang dilakukan, diperoleh hasil komposisi umur kepala keluarga

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Populasi Kambing Kambing sangat digemari oleh masyarakat untuk diternakkan karena ukuran tubuhnya yang tidak terlalu besar, perawatannya mudah, cepat berkembang biak, jumlah anak

Lebih terperinci

VI ANALISIS RISIKO PRODUKSI CAISIN

VI ANALISIS RISIKO PRODUKSI CAISIN VI ANALISIS RISIKO PRODUKSI CAISIN Penilaian risiko produksi pada caisin dianalisis melalui penggunaan input atau faktor-faktor produksi terhadap produktivitas caisin. Analisis risiko produksi menggunakan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. melalui perluasan areal menghadapi tantangan besar pada masa akan datang.

I. PENDAHULUAN. melalui perluasan areal menghadapi tantangan besar pada masa akan datang. I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Upaya peningkatan produksi tanaman pangan khususnya pada lahan sawah melalui perluasan areal menghadapi tantangan besar pada masa akan datang. Pertambahan jumlah penduduk

Lebih terperinci

sosial yang menentukan keberhasilan pengelolaan usahatani.

sosial yang menentukan keberhasilan pengelolaan usahatani. 85 VI. KERAGAAN USAHATANI PETANI PADI DI DAERAH PENELITIAN 6.. Karakteristik Petani Contoh Petani respoden di desa Sui Itik yang adalah peserta program Prima Tani umumnya adalah petani yang mengikuti transmigrasi

Lebih terperinci

BAB V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN BAB V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Keadaan Umum, Geografis, dan Iklim Lokasi Penelitian Desa Ciaruten Ilir merupakan desa yang masih berada dalam bagian wilayah Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten

Lebih terperinci

VI. ANALISIS BIAYA USAHA TANI PADI SAWAH METODE SRI DAN PADI KONVENSIONAL

VI. ANALISIS BIAYA USAHA TANI PADI SAWAH METODE SRI DAN PADI KONVENSIONAL VI. ANALISIS BIAYA USAHA TANI PADI SAWAH METODE SRI DAN PADI KONVENSIONAL Sistem Pertanian dengan menggunakan metode SRI di desa Jambenenggang dimulai sekitar tahun 2007. Kegiatan ini diawali dengan adanya

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. Petani cabai merah lahan pasir pantai di Desa Karangsewu berusia antara

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. Petani cabai merah lahan pasir pantai di Desa Karangsewu berusia antara V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Identitas Petani 1. Umur Petani Petani cabai merah lahan pasir pantai di Desa Karangsewu berusia antara 30 sampai lebih dari 60 tahun. Umur petani berpengaruh langsung terhadap

Lebih terperinci

VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI JAGUNG MANIS

VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI JAGUNG MANIS VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI JAGUNG MANIS Keberhasilan usahatani yang dilakukan petani biasanya diukur dengan menggunakan ukuran pendapatan usahatani yang diperoleh. Semakin besar pendapatan usahatani

Lebih terperinci

Menanam Laba Dari Usaha Budidaya Kedelai

Menanam Laba Dari Usaha Budidaya Kedelai Menanam Laba Dari Usaha Budidaya Kedelai Sebagai salah satu tanaman penghasil protein nabati, kebutuhan kedelai di tingkat lokal maupun nasional masih cenderung sangat tinggi. Bahkan sekarang ini kedelai

Lebih terperinci

ADAPTASI BEBERAPA GALUR TOMAT (Lycopersicon esculentum Mill.) DI LAHAN MEDIUM BERIKLIM BASAH DI BALI DENGAN BUDIDAYA ORGANIK

ADAPTASI BEBERAPA GALUR TOMAT (Lycopersicon esculentum Mill.) DI LAHAN MEDIUM BERIKLIM BASAH DI BALI DENGAN BUDIDAYA ORGANIK ADAPTASI BEBERAPA GALUR TOMAT (Lycopersicon esculentum Mill.) DI LAHAN MEDIUM BERIKLIM BASAH DI BALI DENGAN BUDIDAYA ORGANIK Ida Bagus Aribawa dan I Ketut Kariada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP)

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Subhan dkk. (2005) menyatakan bahwa pertumbuhan vegetatif dan generatif pada

II. TINJAUAN PUSTAKA. Subhan dkk. (2005) menyatakan bahwa pertumbuhan vegetatif dan generatif pada II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pemupukan pada Tanaman Tomat 2.1.1 Pengaruh Aplikasi Pupuk Kimia Subhan dkk. (2005) menyatakan bahwa pertumbuhan vegetatif dan generatif pada tanaman tomat tertinggi terlihat pada

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. terpadu dan melanggar kaidah pelestarian lahan dan lingkungan. Eksploitasi lahan

I. PENDAHULUAN. terpadu dan melanggar kaidah pelestarian lahan dan lingkungan. Eksploitasi lahan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Laju peningkatan produktivitas tanaman padi di Indonesia akhir-akhir ini cenderung melandai, ditandai salah satunya dengan menurunnya produksi padi sekitar 0.06 persen

Lebih terperinci

Cara Menanam Tomat Dalam Polybag

Cara Menanam Tomat Dalam Polybag Cara Menanam Tomat Dalam Polybag Pendahuluan Tomat dikategorikan sebagai sayuran, meskipun mempunyai struktur buah. Tanaman ini bisa tumbuh baik didataran rendah maupun tinggi mulai dari 0-1500 meter dpl,

Lebih terperinci

V KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN

V KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN V KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN 5.1. Gambaran Umum Kecamatan Kebon Pedes, Kabupaten Sukabumi Gambaran umum Kecamatan Kebon Pedes, Kabupaten Sukabumi dalam penelitian ini dihat

Lebih terperinci

Tahun Bawang

Tahun Bawang I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Komoditas hortikultura merupakan komoditas yang sangat prospektif untuk dikembangkan melalui usaha agribisnis, mengingat potensi serapan pasar di dalam negeri dan pasar

Lebih terperinci

VI ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI BELIMBING DEWA

VI ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI BELIMBING DEWA VI ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI BELIMBING DEWA Analisis pendapatan usahatani dilakukan untuk mengetahui gambaran umum mengenai struktur biaya, penerimaan dan pendapatan dari kegiatan usahatani yang dijalankan

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Teknik Budidaya Ikan Nila, Bawal, dan Udang Galah

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Teknik Budidaya Ikan Nila, Bawal, dan Udang Galah V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Teknik Budidaya Ikan Nila, Bawal, dan Udang Galah 1. Persiapan kolam Di Desa Sendangtirto, seluruh petani pembudidaya ikan menggunakan kolam tanah biasa. Jenis kolam ini memiliki

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. A. Definisi Operasional, Pengukuran, dan Klasifikasi. yang digunakan dalam penelitian ini untuk mendapatkan data yang

III. METODE PENELITIAN. A. Definisi Operasional, Pengukuran, dan Klasifikasi. yang digunakan dalam penelitian ini untuk mendapatkan data yang III. METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional, Pengukuran, dan Klasifikasi Definisi operasional merupakan pengertian dan petunjuk mengenai variabelvariabel yang digunakan dalam penelitian ini untuk mendapatkan

Lebih terperinci

BAB V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN BAB V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5. Gambaran Umum Desa Ciaruten Ilir Desa Ciaruten Ilir merupakan bagian wilayah Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat. Desa ini merupakan daerah

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pisang merupakan komoditas buah-buahan yang populer di masyarakat karena

I. PENDAHULUAN. Pisang merupakan komoditas buah-buahan yang populer di masyarakat karena 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Pisang merupakan komoditas buah-buahan yang populer di masyarakat karena harganya terjangkau dan sangat bermanfaat bagi kesehatan. Pisang adalah buah yang

Lebih terperinci

BAWANG MERAH. Tanaman bawang merah menyukai daerah yang agak panas dengan suhu antara

BAWANG MERAH. Tanaman bawang merah menyukai daerah yang agak panas dengan suhu antara BAWANG MERAH Bawang merah (Allium ascalonicum) merupakan tanaman hortikultura musiman yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Bawang merah tumbuh optimal di daerah dataran rendah dengan ketinggian antara 0-400

Lebih terperinci

5. PEMBAHASAN 5.1. Penerimaan Kotor Varietas Ciherang, IR-64, Barito Dan Hibrida

5. PEMBAHASAN 5.1. Penerimaan Kotor Varietas Ciherang, IR-64, Barito Dan Hibrida 5. PEMBAHASAN 5.1. Penerimaan Kotor Varietas Ciherang, IR-64, Barito Dan Hibrida Berdasarkan hasil perhitungan terhadap rata-rata penerimaan kotor antar varietas padi terdapat perbedaan, kecuali antara

Lebih terperinci

BAB III TATALAKSANA TUGAS AKHIR

BAB III TATALAKSANA TUGAS AKHIR 13 BAB III TATALAKSANA TUGAS AKHIR A. Tempat Pelaksanaan Pelaksanaan Tugas Akhir dilaksanakan di Dusun Kwojo Wetan, Desa Jembungan, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. B. Waktu Pelaksanaan

Lebih terperinci

VI ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI KEMBANG KOL

VI ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI KEMBANG KOL VI ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI KEMBANG KOL 6.1 Sarana Usahatani Kembang Kol Sarana produksi merupakan faktor pengantar produksi usahatani. Saran produksi pada usahatani kembang kol terdiri dari bibit,

Lebih terperinci

Teknik Budidaya Kubis Dataran Rendah. Untuk membudidayakan tanaman kubis diperlukan suatu tinjauan syarat

Teknik Budidaya Kubis Dataran Rendah. Untuk membudidayakan tanaman kubis diperlukan suatu tinjauan syarat Teknik Budidaya Kubis Dataran Rendah Oleh : Juwariyah BP3K garum 1. Syarat Tumbuh Untuk membudidayakan tanaman kubis diperlukan suatu tinjauan syarat tumbuh yang sesuai tanaman ini. Syarat tumbuh tanaman

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN * Keterangan : *Angka ramalan PDB berdasarkan harga berlaku Sumber : Direktorat Jenderal Hortikultura (2010) 1

I PENDAHULUAN * Keterangan : *Angka ramalan PDB berdasarkan harga berlaku Sumber : Direktorat Jenderal Hortikultura (2010) 1 1.1 Latar Belakang I PENDAHULUAN Sektor pertanian terdiri dari beberapa sub sektor, yaitu tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan, dimana keempat sub sektor tersebut mempunyai peranan

Lebih terperinci

PEMANFAATAN KOMPOS AKTIF DALAM BUDIDAYA PEPAYA ORGANIK DI DESA KASANG PUDAK

PEMANFAATAN KOMPOS AKTIF DALAM BUDIDAYA PEPAYA ORGANIK DI DESA KASANG PUDAK PEMANFAATAN KOMPOS AKTIF DALAM BUDIDAYA PEPAYA ORGANIK DI DESA KASANG PUDAK Margarettha, Hasriati Nasution, dan Muhammad. Syarif Staf Pengajar Fakultas Pertanian Universitas Jambi Abstrak Masyarakat kota

Lebih terperinci

V GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

V GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN V GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 5.1. Karakteristik Wilayah dan Keadaan Alam Penelitian ini dilaksanakan di Desa Paya Besar Kecamatan Payaraman Kabupaten Ogan Ilir Provinsi Sumatera Selatan. Daerah ini

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. 1 Kementerian Pertanian Kontribusi Pertanian Terhadap Sektor PDB.

I. PENDAHULUAN. 1 Kementerian Pertanian Kontribusi Pertanian Terhadap Sektor PDB. I. PENDAHULUAN 1.1. Latarbelakang Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang mempunyai peranan penting dalam meningkatkan perkembangan ekonomi Indonesia. Hal ini dikarenakan sektor pertanian adalah

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Taksonomi Kedelai Berdasarkan klasifikasi tanaman kedelai kedudukan tanaman kedelai dalam sistematika tumbuhan (taksonomi) diklasifikasikan sebagai berikut (Cahyono, 2007):

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Percobaan lapangan ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak

BAB III METODE PENELITIAN. Percobaan lapangan ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak 23 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Percobaan Percobaan lapangan ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Pola Faktorial 3 x 2 dimana 3 perlakuan jenis tanaman (Faktor A) dan

Lebih terperinci

Peluang Usaha Budidaya Cabai?

Peluang Usaha Budidaya Cabai? Sambal Aseli Pedasnya Peluang Usaha Budidaya Cabai? Tanaman cabai dapat tumbuh di wilayah Indonesia dari dataran rendah sampai dataran tinggi. Peluang pasar besar dan luas dengan rata-rata konsumsi cabai

Lebih terperinci

PENGARUH PUPUK ORGANIK CAIR (POC) LIMBAH TERNAK DAN LIMBAH RUMAH TANGGA PADA TANAMAN KANGKUNG (Ipomoea reptans Poir) Oleh : Sayani dan Hasmari Noer *)

PENGARUH PUPUK ORGANIK CAIR (POC) LIMBAH TERNAK DAN LIMBAH RUMAH TANGGA PADA TANAMAN KANGKUNG (Ipomoea reptans Poir) Oleh : Sayani dan Hasmari Noer *) Jurnal KIAT Universitas Alkhairaat 8 (1) Juni 2016 e-issn : 2527-7367 PENGARUH PUPUK ORGANIK CAIR (POC) LIMBAH TERNAK DAN LIMBAH RUMAH TANGGA PADA TANAMAN KANGKUNG (Ipomoea reptans Poir) Oleh : Sayani

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. laut, dengan topografi datar. Penelitian dilakukan mulai bulan Mei 2015 sampai

III. BAHAN DAN METODE. laut, dengan topografi datar. Penelitian dilakukan mulai bulan Mei 2015 sampai 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian III. BAHAN DAN METODE Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Medan Area yang berlokasi di jalan Kolam No. 1 Medan Estate, Kecamatan Percut

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

II. TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN II. TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN Tinjauan Pustaka Kacang tanah (Arachis hypogaea L.) termasuk dalam keluarga Leguminoceae dan genus Arachis. Batangnya berbentuk

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. A. Definisi Operasional, Pengukuran, dan Klasifikasi

III. METODE PENELITIAN. A. Definisi Operasional, Pengukuran, dan Klasifikasi 45 III. METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional, Pengukuran, dan Klasifikasi Berdasarkan hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini, secara operasional dapat diuraikan tentang definisi operasional,

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. yang tidak mengalami kelangkaan pupuk dilihat berdasarkan produktivitas dan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. yang tidak mengalami kelangkaan pupuk dilihat berdasarkan produktivitas dan V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Profil Petani Padi Petani padi dalam menghadapi kelangkaan pupuk dibedakan berdasarkan pengaruh kelangkaan pupuk terhadap produktivitas dan pendapatan dalam usahatani padi. Pengaruh

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Bawang merah (Allium ascalonicum L.) adalah tanaman semusim yang tumbuh

I. PENDAHULUAN. Bawang merah (Allium ascalonicum L.) adalah tanaman semusim yang tumbuh 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Bawang merah (Allium ascalonicum L.) adalah tanaman semusim yang tumbuh membentuk rumpun dengan tinggi tanaman mencapai 15 40 cm. Perakarannya berupa akar

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Pertanian Menurut Mubyarto (1995), pertanian dalam arti luas mencakup pertanian rakyat atau pertanian dalam arti sempit disebut perkebunan (termasuk didalamnya perkebunan

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. petani responden menyebar antara tahun. No Umur (thn) Jumlah sampel (%) , ,

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. petani responden menyebar antara tahun. No Umur (thn) Jumlah sampel (%) , , V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Karakteristik Responden 5.1.1 Umur petani responden Umur Petani merupakan salah satu faktor yang berpengaruh pada aktivitas di sektor pertanian. Berdasarkan hasil penelitian

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Konsep Usahatani Usahatani adalah proses pengorganisasian faktor-faktor produksi yaitu alam, tenaga kerja, modal dan pengelolaan yang diusahakan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. sapi yang meningkat ini tidak diimbangi oleh peningkatan produksi daging sapi

I. PENDAHULUAN. sapi yang meningkat ini tidak diimbangi oleh peningkatan produksi daging sapi I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kebutuhan konsumsi daging sapi penduduk Indonesia cenderung terus meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk Indonesia dan kesadaran masyarakat akan

Lebih terperinci

PENGARUH SISTIM TANAM MENUJU IP PADI 400 TERHADAP PERKEMBANGAN HAMA PENYAKIT

PENGARUH SISTIM TANAM MENUJU IP PADI 400 TERHADAP PERKEMBANGAN HAMA PENYAKIT PENGARUH SISTIM TANAM MENUJU IP PADI 400 TERHADAP PERKEMBANGAN HAMA PENYAKIT Handoko Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur ABSTRAK Lahan sawah intensif produktif terus mengalami alih fungsi,

Lebih terperinci

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gambaran Komoditas Caisin ( Brassica rapa cv. caisin)

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gambaran Komoditas Caisin ( Brassica rapa cv. caisin) II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gambaran Komoditas Caisin (Brassica rapa cv. caisin) Caisin (Brassica rapa cv. caisin) merupakan tanaman yang termasuk ke dalam suku kubis-kubisan atau sawi-sawian (Brassicaceae/Cruciferae).

Lebih terperinci

Lingkup Kegiatan Adapun ruang lingkup dari kegiatan ini yaitu :

Lingkup Kegiatan Adapun ruang lingkup dari kegiatan ini yaitu : PROJECT DIGEST NAMA CLUSTER : Ternak Sapi JUDUL KEGIATAN : DISEMINASI INOVASI TEKNOLOGI pembibitan menghasilkan sapi bakalan super (bobot lahir > 12 kg DI LOKASI PRIMA TANI KABUPATEN TTU PENANGGUNG JAWAB

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian

BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian 14 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Lampung Gedung Meneng, Kecamatan raja basa, Bandar Lampung

Lebih terperinci

Pola Pemupukan dan Pemulsaan pada Budidaya Sawi Etnik Toraja di Pulau Tarakan

Pola Pemupukan dan Pemulsaan pada Budidaya Sawi Etnik Toraja di Pulau Tarakan Prosiding Seminar Nasional Budidaya Pertanian Urgensi dan Strategi Pengendalian Alih Fungsi Lahan Pertanian Bengkulu 7 Juli 2011 ISBN 978-602-19247-0-9 24 Pola Pemupukan dan Pemulsaan pada Budidaya Sawi

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis hasil penelitian mengenai Analisis Kelayakan Usahatani Kedelai Menggunakan Inokulan di Desa Gedangan, Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah meliputi

Lebih terperinci

Ketersediaan pakan khususnya pakan hijauan masih merupakan kendala. yang dihadapi oleh para peternak khususnya pada musim kemarau.

Ketersediaan pakan khususnya pakan hijauan masih merupakan kendala. yang dihadapi oleh para peternak khususnya pada musim kemarau. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ketersediaan pakan khususnya pakan hijauan masih merupakan kendala yang dihadapi oleh para peternak khususnya pada musim kemarau. Pemanfaatan lahan-lahan yang kurang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara agraris yang sangat luas dan sebagian besar

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara agraris yang sangat luas dan sebagian besar I. PENDAHULUAN I.I Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris yang sangat luas dan sebagian besar masyarakatnya bergerak dalam bidang pertanian. Sektor pertanian tidak saja sebagai penyedia kebutuhan

Lebih terperinci

Pola Interaksi Ternak dan Tanaman Pada Simantri 116 Desa Katung, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli

Pola Interaksi Ternak dan Tanaman Pada Simantri 116 Desa Katung, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli Pola Interaksi Ternak dan Tanaman Pada Simantri 116 Desa Katung, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli I W. Sunada, Dwi Putra Darmawan 1), I G. Setiawan Adi Putra 2) Program Studi Magister Agribisnis,

Lebih terperinci

Agroteknologi Tanaman Rempah dan Obat

Agroteknologi Tanaman Rempah dan Obat Agroteknologi Tanaman Rempah dan Obat Syarat Tumbuh Tanaman Jahe 1. Iklim Curah hujan relatif tinggi, 2.500-4.000 mm/tahun. Memerlukan sinar matahari 2,5-7 bulan. (Penanaman di tempat yang terbuka shg

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Lokasi dan Keadaan Geografis Kelompok Tani Pondok Menteng merupakan salah satu dari tujuh anggota Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Rukun Tani yang sebagian besar

Lebih terperinci

Volume 11 Nomor 2 September 2014

Volume 11 Nomor 2 September 2014 Volume 11 Nomor 2 September 2014 ISSN 0216-8537 9 77 0 21 6 8 5 3 7 21 11 2 Hal. 103-200 Tabanan September 2014 Kampus : Jl. Wagimin No.8 Kediri - Tabanan - Bali 82171 Telp./Fax. : (0361) 9311605 HASIL

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN. wilayah kilometerpersegi. Wilayah ini berbatasan langsung dengan

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN. wilayah kilometerpersegi. Wilayah ini berbatasan langsung dengan V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN 5.1. Lokasi dan Topografi Kabupaten Donggala memiliki 21 kecamatan dan 278 desa, dengan luas wilayah 10 471.71 kilometerpersegi. Wilayah ini

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian memegang peranan penting dalam struktur ekonomi nasional. Hal ini didasarkan pada kontribusi sektor pertanian yang tidak hanya berperan dalam pembentukan

Lebih terperinci

BUDIDAYA PEPAYA BERBASIS RAMAH LINGKUNGAN DENGAN TEKNOLOGI KOMPOS AKTIF. (Staf Pengajar Fakultas Pertanian Universitas Jambi) 2

BUDIDAYA PEPAYA BERBASIS RAMAH LINGKUNGAN DENGAN TEKNOLOGI KOMPOS AKTIF. (Staf Pengajar Fakultas Pertanian Universitas Jambi) 2 BUDIDAYA PEPAYA BERBASIS RAMAH LINGKUNGAN DENGAN TEKNOLOGI KOMPOS AKTIF 1 M. Syarif, 2 Wiwaha Anas Sumadja dan 1 H. Nasution 1 (Staf Pengajar Fakultas Pertanian Universitas Jambi) 2 (Staf Pengajar Fakultas

Lebih terperinci

V. DESKRIPSI RUMAHTANGGA PETANI SISTEM INTEGRASI TANAMAN-TERNAK. umum perilaku ekonomi rumahtangga petani di wilayah penelitian.

V. DESKRIPSI RUMAHTANGGA PETANI SISTEM INTEGRASI TANAMAN-TERNAK. umum perilaku ekonomi rumahtangga petani di wilayah penelitian. V. DESKRIPSI RUMAHTANGGA PETANI SISTEM INTEGRASI TANAMAN-TERNAK Deskripsi statistik rumahtangga petani dilakukan pada peubah-peubah yang digunakan dalam model ekonometrika, sehingga dapat memberikan gambaran

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. A. Limbah Cair Industri Tempe. pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan karna tidak

TINJAUAN PUSTAKA. A. Limbah Cair Industri Tempe. pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan karna tidak II. TINJAUAN PUSTAKA A. Limbah Cair Industri Tempe Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses industri maupun domestik (rumah tangga), yang lebih di kenal sebagai sampah, yang kehadiranya

Lebih terperinci

ABSTRAK. Kata kunci : Simantri, Subak Renon, Dampak.

ABSTRAK. Kata kunci : Simantri, Subak Renon, Dampak. ABSTRAK Ahmad Surya Jaya. NIM 1205315020. Dampak Program Simantri 245 Banteng Rene Terhadap Subak Renon di Kecamatan Denpasar Selatan, Denpasar. Dibimbing oleh: Prof. Dr. Ir. I Wayan Windia, SU dan Ir.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1. Tinjauan Pustaka 2.1.1. Pupuk Kompos Pupuk digolongkan menjadi dua, yakni pupuk organik dan pupuk anorganik. Pupuk

Lebih terperinci

VI. ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI

VI. ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI VI. ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI 6.1. Keragaan Usahatani Padi Keragaan usahatani padi menjelaskan tentang kegiatan usahatani padi di Gapoktan Jaya Tani Desa Mangunjaya, Kecamatan Indramayu, Kabupaten

Lebih terperinci

Cara Menanam Cabe di Polybag

Cara Menanam Cabe di Polybag Cabe merupakan buah dan tumbuhan berasal dari anggota genus Capsicum. Buahnya dapat digolongkan sebagai sayuran maupun bumbu, tergantung bagaimana digunakan. Sebagai bumbu, buah cabai yang pedas sangat

Lebih terperinci

VII. ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI PADI VARIETAS CIHERANG

VII. ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI PADI VARIETAS CIHERANG VII. ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI PADI VARIETAS CIHERANG 7.1 Keragaan Usahatani Padi Varietas Ciherang Usahatani padi varietas ciherang yang dilakukan oleh petani di gapoktan Tani Bersama menurut hasil

Lebih terperinci

STRATEGI USAHA PENGEMBANGAN PETERNAKAN YANG BERKESINAMBUNGAN

STRATEGI USAHA PENGEMBANGAN PETERNAKAN YANG BERKESINAMBUNGAN STRATEGI USAHA PENGEMBANGAN PETERNAKAN YANG BERKESINAMBUNGAN H. MASNGUT IMAM S. Praktisi Bidang Peternakan dan Pertanian, Blitar, Jawa Timur PENDAHULUAN Pembangunan pertanian berbasis sektor peternakan

Lebih terperinci

KAJIAN PERBAIKAN USAHA TANI LAHAN LEBAK DANGKAL DI SP1 DESA BUNTUT BALI KECAMATAN PULAU MALAN KABUPATEN KATINGAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH ABSTRAK

KAJIAN PERBAIKAN USAHA TANI LAHAN LEBAK DANGKAL DI SP1 DESA BUNTUT BALI KECAMATAN PULAU MALAN KABUPATEN KATINGAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH ABSTRAK KAJIAN PERBAIKAN USAHA TANI LAHAN LEBAK DANGKAL DI SP1 DESA BUNTUT BALI KECAMATAN PULAU MALAN KABUPATEN KATINGAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH M. A. Firmansyah 1, Suparman 1, W.A. Nugroho 1, Harmini 1 dan

Lebih terperinci

PENGARUH PEMBERIAN BIO URIN SAPI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KEDELAI (Glycine max (L.) Merrill).

PENGARUH PEMBERIAN BIO URIN SAPI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KEDELAI (Glycine max (L.) Merrill). PENGARUH PEMBERIAN BIO URIN SAPI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KEDELAI (Glycine max (L.) Merrill). SISCHA ALFENDARI KARYA ILMIAH PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS JAMBI 2017

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1. Letak dan Keadaan Geografi Daerah Penelitian Desa Perbawati merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Batas-batas

Lebih terperinci

Oleh: Rodianto Ismael Banunaek, peternakan, ABSTRAK

Oleh: Rodianto Ismael Banunaek, peternakan, ABSTRAK PENDEKATAN ANALISIS SWOT DALAM MANAJEMEN PEMELIHARAAN SAPI BALI PROGRAM BANTUAN SAPI BIBIT PADA TOPOGRAFI YANG BERBEDA DI KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN NTT Oleh: Rodianto Ismael Banunaek, peternakan,

Lebih terperinci

POLA USAHATANI PADI, UBI JALAR, DAN KATUK UNTUK MENGAKUMULASI MODAL DAN MENINGKATKAN PENDAPATAN PETANI

POLA USAHATANI PADI, UBI JALAR, DAN KATUK UNTUK MENGAKUMULASI MODAL DAN MENINGKATKAN PENDAPATAN PETANI 1 POLA USAHATANI PADI, UBI JALAR, DAN KATUK UNTUK MENGAKUMULASI MODAL DAN MENINGKATKAN PENDAPATAN PETANI (Studi Kasus H. Adul Desa Situ Daun, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat) Ach. Firman

Lebih terperinci

BAB VII ANALISIS PERBANDINGAN USAHATANI

BAB VII ANALISIS PERBANDINGAN USAHATANI BAB VII ANALISIS PERBANDINGAN USAHATANI 7.1. Produktivitas Usahatani Produktivitas merupakan salah satu cara untuk mengetahui efisiensi dari penggunaan sumberdaya yang ada (lahan) untuk menghasilkan keluaran

Lebih terperinci

II. HASIL DAN PEMBAHASAN

II. HASIL DAN PEMBAHASAN II. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Identitas Petani 1. Umur Petani Faktor umur adalah salah satu hal yang berpengaruh terhadap produktivitas kerja. Semakin produktif umur seseorang maka curahan tenaga yang dikeluarkan

Lebih terperinci

Cara Sukses Menanam dan Budidaya Cabe Dalam Polybag

Cara Sukses Menanam dan Budidaya Cabe Dalam Polybag Cara Sukses Menanam dan Budidaya Cabe Dalam Polybag Oleh : Tatok Hidayatul Rohman Cara Budidaya Cabe Cabe merupakan salah satu jenis tanaman yang saat ini banyak digunakan untuk bumbu masakan. Harga komoditas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat dunia. Kebutuhan jagung dunia mencapai 770 juta ton/tahun, 42%

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat dunia. Kebutuhan jagung dunia mencapai 770 juta ton/tahun, 42% 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Komoditas jagung (Zea mays L.) hingga kini masih sangat diminati oleh masyarakat dunia. Kebutuhan jagung dunia mencapai 770 juta ton/tahun, 42% diantaranya merupakan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. meramu bahan-bahan kimia (anorganik) berkadar hara tinggi. Misalnya, pupuk urea

TINJAUAN PUSTAKA. meramu bahan-bahan kimia (anorganik) berkadar hara tinggi. Misalnya, pupuk urea TINJAUAN PUSTAKA Pupuk Anorganik Pupuk anorganik adalah pupuk yang dibuat oleh pabrik-pabrik pupuk dengan meramu bahan-bahan kimia (anorganik) berkadar hara tinggi. Misalnya, pupuk urea berkadar N 45-46

Lebih terperinci

BAB V GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Desa Banjar termasuk salah satu wilayah di Kecamatan Banjar Kabupaten

BAB V GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Desa Banjar termasuk salah satu wilayah di Kecamatan Banjar Kabupaten BAB V GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 5.1 Letak Geografis Desa Banjar termasuk salah satu wilayah di Kecamatan Banjar Kabupaten Buleleng dengan jarak kurang lebih 18 km dari ibu kota Kabupaten Buleleng

Lebih terperinci

III. METODOLOGI TUGAS AKHIR (TA)

III. METODOLOGI TUGAS AKHIR (TA) III. METODOLOGI TUGAS AKHIR (TA) A. Tempat Pelaksanaan Kegiatan Tugas Akhir (TA) akan dilaksanakan pada lahan kosong yang bertempat di Dusun Selongisor RT 03 / RW 15, Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten

Lebih terperinci

BAB V ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL

BAB V ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL BAB V ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL Bab ini berisi tentang analisis dan interpretasi hasil penelitian. Pada tahap ini akan dilakukan analisis permasalahan prosedur budidaya kumis kucing di Klaster Biofarmaka

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. manusia sebagai sumber penghasil daging, susu, tenaga kerja dan kebutuhan manusia

TINJAUAN PUSTAKA. manusia sebagai sumber penghasil daging, susu, tenaga kerja dan kebutuhan manusia TINJAUAN PUSTAKA Tinjauan pustaka Sapi adalah hewan ternak terpenting dari jenis jenis hewan ternak yang dipelihara manusia sebagai sumber penghasil daging, susu, tenaga kerja dan kebutuhan manusia lainnya.

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN PEPAYA SEBAGAI KOMODITAS UNGGULAN DAERAH INSTITUT PERTANIAN BOGOR

PENGEMBANGAN PEPAYA SEBAGAI KOMODITAS UNGGULAN DAERAH INSTITUT PERTANIAN BOGOR PENGEMBANGAN PEPAYA SEBAGAI KOMODITAS UNGGULAN DAERAH Pusat Kajian Hortikultura Tropika INSTITUT PERTANIAN BOGOR PROLOG SOP PEPAYA PEMBIBITAN TIPE BUAH PENYIAPAN LAHAN PENANAMAN PEMELIHARAAN PENGENDALIAN

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. untuk penggemukan dan pembibitan sapi potong. Tahun 2003 Pusat Pembibitan dan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. untuk penggemukan dan pembibitan sapi potong. Tahun 2003 Pusat Pembibitan dan BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Keadaan Umum Wilayah Penelitian Pusat Pembibitan dan Penggemukan Ternak Wonggahu pada tahun 2002 dikelola oleh Dinas Pertanian, Peternakan dan Ketahanan Pangan Provinsi Gorontalo

Lebih terperinci

VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI PADI SEHAT

VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI PADI SEHAT VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI PADI SEHAT 7.1. Penerimaan Usahatani Padi Sehat Penerimaan usahatani padi sehat terdiri dari penerimaan tunai dan penerimaan diperhitungkan. Penerimaan tunai adalah penerimaan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Pembangunan Pertanian merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pembangunan nasional. Pertanian memegang peranan penting dalam perekonomian bangsa, hal ini ditunjukkan

Lebih terperinci

PROGRAM STUDI HORTIKULTURA JURUSAN BUDIDAYA TANAMAN PANGAN

PROGRAM STUDI HORTIKULTURA JURUSAN BUDIDAYA TANAMAN PANGAN PERBANDINGAN HASIL BUDIDAYA TANAMAN KANGKUNG SECARA HIDROPONIK DAN KONVENSIONAL (Kevin Marta Wijaya 10712020) PROGRAM STUDI HORTIKULTURA JURUSAN BUDIDAYA TANAMAN PANGAN POLITEKNIK NEGERI LAMPUNG BANDAR

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. adanya kandungan karotin, Vitamin A, Vitamin B dan Vitamin C. Oleh karena itu,

BAB I PENDAHULUAN. adanya kandungan karotin, Vitamin A, Vitamin B dan Vitamin C. Oleh karena itu, BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sayuran sangat erat hubungannya dengan kesehatan, sebab sayuran banyak mengandung vitamin dan mineral yang sangat dibutuhkan oleh tubuh terutama adanya kandungan karotin,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tanaman pangan adalah segala jenis tanaman yang di dalamnya terdapat

I. PENDAHULUAN. Tanaman pangan adalah segala jenis tanaman yang di dalamnya terdapat I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tanaman pangan adalah segala jenis tanaman yang di dalamnya terdapat karbohidrat dan protein sebagai sumber energi. Tanaman pangan juga dapat dikatakan sebagai tanaman

Lebih terperinci

Berdasarkan tehnik penanaman tebu tersebut dicoba diterapkan pada pola penanaman rumput raja (king grass) dengan harapan dapat ditingkatkan produksiny

Berdasarkan tehnik penanaman tebu tersebut dicoba diterapkan pada pola penanaman rumput raja (king grass) dengan harapan dapat ditingkatkan produksiny TEKNIK PENANAMAN RUMPUT RAJA (KING GRASS) BERDASARKAN PRINSIP PENANAMAN TEBU Bambang Kushartono Balai Penelitian Ternak Ciawi, P.O. Box 221, Bogor 16002 PENDAHULUAN Prospek rumput raja sebagai komoditas

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. mestinya sudah mengarah pada pertanian yang mempertahankan keseimbangan

II. TINJAUAN PUSTAKA. mestinya sudah mengarah pada pertanian yang mempertahankan keseimbangan II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Pertanian Organik Saat ini untuk pemenuhan kebutuhan pangan dari sektor pertanian mestinya sudah mengarah pada pertanian yang mempertahankan keseimbangan lingkungan.

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Kebutuhan akan bahan pangan terus meningkat sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk dan kebutuhan gizi masyarakat. Padi merupakan salah satu tanaman pangan utama bagi

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Umur responden merupakan usia responden dari awal kelahiran. sampai pada saat penelitian ini dilakukan.

III. METODE PENELITIAN. Umur responden merupakan usia responden dari awal kelahiran. sampai pada saat penelitian ini dilakukan. 26 III. METODE PENELITIAN A. dan 1. Umur Umur merupakan usia dari awal kelahiran sampai pada saat penelitian ini dilakukan. Umur diukur dalam satuan tahun. Umur diklasifikasikan menjadi tiga kelas sesuai

Lebih terperinci

OPTIMALISASI USAHA PENGGEMUKAN SAPI DI KAWASAN PERKEBUNAN KOPI

OPTIMALISASI USAHA PENGGEMUKAN SAPI DI KAWASAN PERKEBUNAN KOPI OPTIMALISASI USAHA PENGGEMUKAN SAPI DI KAWASAN PERKEBUNAN KOPI Pita Sudrajad, Muryanto, dan A.C. Kusumasari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah E-mail: pitosudrajad@gmail.com Abstrak Telah

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Keberhasilan usaha ternak sapi bergantung pada tiga unsur yaitu bibit, pakan, dan

PENDAHULUAN. Keberhasilan usaha ternak sapi bergantung pada tiga unsur yaitu bibit, pakan, dan PENDAHULUAN Latar Belakang Peternakan di Indonesia sejak zaman kemerdekaan sampai saat ini sudah semakin berkembang dan telah mencapai kemajuan yang cukup pesat. Sebenarnya, perkembangan kearah komersial

Lebih terperinci