Percepatan Pembangunan Ekonomi Regional melalui Penciptaan Iklim Investasi dan Daya Saing Daerah

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Percepatan Pembangunan Ekonomi Regional melalui Penciptaan Iklim Investasi dan Daya Saing Daerah"

Transkripsi

1 Percepatan Pembangunan Ekonomi Regional melalui Penciptaan Iklim Investasi dan Daya Saing Daerah Materi Rapat Koordinasi BI Pemerintah Daerah Pemerintah Pusat Manado, 11 Agustus 2014

2 Alur Pikir Meningkatkan kemampuan ekonomi nasional dalam memanfaatkan momentum pemulihan ekonomi global dgn tetap menjaga kestabilan harga dan nilai tukar Rupiah Peluang Internal Tantangan Daya saing dan kapasitas industri terbatas krn kelemahan di SDM dan infrastruktur Persaingan enablers antar negara yg semakin besar dan sebagian negara bergerak lebih cepat dan lebih awal Kekayaan SDA dan jumlah tenaga kerja yg besar sbg modal dasar pengembangan industri berbasis SDA (hilirisasi) PROSPEK PEREKONOMIAN Koordinasi Kebijakan Peningkatan daya saing ekspor manufaktur Percepatan pembangunan infrastruktur Pengembangan permbangunan berwawasan maritim 2 Peluang Eksternal Pulihnya ekonomi negara maju, strategi ekonomi China beralih ke consumptionled growth dan permasalahan politik di negara pesaing (a.l. Thailand)

3 3 Outline Pembahasan 1. Peluang yang tersedia 2. Tantangan yang Dihadapi 3. Respon Kebijakan Jangka Menengah- Panjang Peningkatan Daya Saing Manufaktur Pengembangan Infrastruktur Pembangunan Berwawasan Maritim 4. Langkah-langkah Koordinasi Kebijakan yang Perlu Dilakukan

4 PELUANG YANG TERSEDIA 4

5 Peluang yang Tersedia Faktor Ekonomi Global pada Peluang Ekspor Manufaktur Peluang ekspor manufaktur Indonesia semakin besar... Pemulihan ekonomi dunia tetap berjalan dan ditopang oleh membaiknya ekonomi negara-negara maju khususnya Amerika Serikat yg tumbuh sebesar 4% (yoy) pada Tw II Perubahan strategi ekonomi China dari export-investment-led menjadi consumption-led growth memberikan peluang ekspor manufaktur Indonesia ke depan. Permasalahan politik yang dialami oleh beberapa negara pesaing seperti Thailand juga memberikan peluang bagi Indonesia untuk melakukan ekspansi ekspor manufaktur. Indikator Manufaktur Tiongkok 5

6 Peluang yang tersedia Peran Strategis Industri Manufaktur Manufaktur & jenis produk yg diekspor sangat menentukan kemampuan & kecepatan sebuah perekonomian sedang berkembang (emerging economy) dalam mengejar ketertinggalan dari negara maju Tiongkok tumbuh lebih kuat & mengentaskan kemiskinan lebih cepat dari India, walaupun titik awalnya sama, salah satunya disebabkan oleh jenis produk manufaktur yg diekspor ke pasar global. 6

7 Peluang yang tersedia Peran Strategis Industri Manufaktur Ekspor manufaktur bernilai tambah tinggi berkorelasi dgn postur transaksi berjalan & pertumbuhan ekonomi yg lebih kuat. Eksportir manufaktur teknologi tinggi memiliki postur transaksi berjalan yang lebih kuat. Eksportir berbasis sektor-sektor yg mengandalkan pekerja murah & SDA memiliki postur CA yg lebih lemah. 7

8 8 Peluang yang Tersedia Peran Strategis Industri Manufaktur Melalui pemilihan strategi industri manufaktur yang tepat, Indonesia diharapkan dapat mengikuti jejak keberhasilan negara-negara lain INDIA TIONGKOK Struktur Sisi Penawaran India is a Global Office China is a Global Factory Sektor Riil: Ekspor Jasa-Jasa (Business Outsourcing & IT Services) sangat kuat mulai dari call-center sampai dengan software development. India belum berhasil bertransformasi dari masyarakat pertanian-rural ke manufaktur modern urban. Sehingga perkembangan di sektor jasajasa merupakan lompatan. Sektor Keuangan: Pembangunan sektor keuangan sangat maju pesat. Sistem dan pasar keuangan sangat terbuka Peran swasta sangat dominan Substitusi Impor Sectoral targeting: Sektor manufaktur bertumpu pada perusahaanperusahaan PMDN (incumbent conglomerates) & diproteksi. Terdapat restriksi kepemilikan swasta asing pada beberapa sektor. Sektor jasa-jasa diliberasilisasi dan terbuka bagi PMA, terutama IT services. Mobilisasi sumber daya ekonomi dalam negeri. Pasar barang, input, dan tenaga kerja dikendalikan oleh Pemerintah (Negara). Strategi Global Sektor Riil: Ekspor hasil industri sangat kuat, dengan transisi bertahap dari sektor low-tech ke medium-high tech human capital intensive. Transformasi perekonomian Tiongkok bergerak dari pertanian ke manufaktur (58% dari PDB) Seiring dengan itu perkembangan sektor jasa-jasa juga meningkat bahkan melebihi India. Sektor keuangan: Pembangun sektor keuangan kurang maju. Sistem & pasar keuangan cenderung lebih terproteksi Peran BUMN sangat kuat. Orientasi Ekspor Targeting enablers: membangun secara cepat lingkungan pendukung yang menarik bagi PMA. Memanfaatkan PMA multinational yang melakukan offshoring manufaktur untuk membangun basis produksi dalam rangka memasok pasar ekspor regional Asia maupun global Spatial targeting: eksperimentasi perekonomian modern berbasis pasar dan akumulasi kapital di pantai timur.

9 Peluang yang Tersedia Prospek Industri Manufaktur Berbasis High-tech Industri berbasis high-tech di Indonesia masih memiliki peluang ekspor, namun perlu upaya mengurangi ketergantungan impor utk meningkatkan daya saing INDUSTRI BERBASIS TEKNOLOGI SENTRA PRODUK BARANG ANTARA PRODUK AKHIR BAHAN BAKU IMPOR PROSPEK EKSPOR Otomotif Jabodetabek Komponen kendaraan bermotor (mesin, perlengkapan mekanik dan elektronik) Kendaraan bermotor roda 4 dan 2 Komponen mesin dan elektronik Diversifikasi ke pasar di luar Asia, kualitas bersaing Logam Dasar (Besi Baja, Aluminium) Mesin dan Komponen Jawa Barat, Jawa Timur Jawa Barat, Jawa Timur Besi baja dalam berbagai bentuk (roll, slab, rod ) Komponen mekanik dan elektronik (peralatan listrik) Mesin dan perlengkapan, alat transportasi, bahan konstruksi, rig migas lepas pantai Mesin pemrosesan industri pengolahan Baja scrap Komponen elektronik Permintaan negara EM masih relatif tinggi Permintaan cukup tinggi utk medtech industri Pembangkit Listrik Jawa Barat, Jawa Timur Komponen generator Generator Komponen Elektronik Persaingan tinggi, teknologi terbatas Telekomunikasi Jabodetabek Komponen alat telekomunikasi Alat telekomunikasi (mobile phone, tablet) Komponen elektronik Persaingan tinggi, teknologi terbatas Elektronik (non- Telekomunikasi) Jabodetabek, Kepulauan Riau Komponen listrik dan elektronik Peralatan listrik dan elektronik (TV, media player, kulkas, AC) Komponen Permintaan tinggi, kualitas bersaing 9 Impor Tinggi Impor Terbatas Sangat Prospektif Prospektif Kurang Prospektif

10 Peluang yang Tersedia Hilirisasi Ekonomi Berbasis Sumber Daya Alam (SDA) Kekayaan sumber daya alam dapat menjadi basis bagi pengembangan industri manufaktur berbasis SDA (hilirisasi) Hilirisasi membuka peluang peningkatan ekspor melalui jaringan rantai suplai global. Prioritas dan strategi pembangunan industri berbasis SDA perlu diarahkan untuk mendukung pengembangan industri produk antara berorientasi ekspor (keunggulan komparatif secara global) serta mendukung manufaktur domestik. 10 INDUSTRI SENTRA PENGEMBANGAN Timah Riau, Kepulauan Riau Timah solder, Timah dalam berbagai jenis (pelat, pipa, dsb) Kepulauan Riau, Bauksit (Bijih Aluminium dalam berbagai jenis Kalimantan Timur, Aluminium) (pelat, kabel serat, dsb) Kalimantan Barat Kaolin Riau, Kepulauan Riau Isolator, pelapis logam tahan api Pasir Zirkon Bijih Besi Pasir Kuarsa/Silika Nikel Mangan Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat Kalimantan Selatan, Kalimantan tengah, Sulawesi Selatan Kalimantan Selatan Sulawesi tenggara, Sulawesi Selatan, Sulawesi tengah, Maluku Utara NTT PRODUK BARANG ANTARA PRODUK AKHIR PROSPEK EKSPOR Pelapis logam anti karat, sel bahan bakar oksida Besi Baja dalam berbagai jenis (pelat, pipa, dsb) Serat optik, semi konduktor, insulator elektronik, solar cell Besi baja (stainless steel) Pelapis logam anti karat, kapasitor pada sel baterai kering Tembaga NTB, Papua, Maluku Kabel, konduktor elektronik Barang elektronik, peralatan listrik, kendaraan bermotor, mesin dan komponennya, bahan konstruksi Barang elektronik, peralatan listrik, kendaraan bermotor, mesin dan komponennya, bahan konstruksi Barang elektronik, panel listrik tenaga surya Kendaraan bermotor, mesin dan komponennya, bahan konstruksi Barang elektronik, mesin dan komponennya» Permintaan global masih cukup tinggi baik dari negara industri maju maupun EM. Hal ini terkait dgn perkembangan teknologi dan kelas menengah.» Permintaan domestik didorong oleh kebutuhan akan produk barang antara yang akan mendukung transformasi industri manufaktur di Jawa.» Peluang ekspor yg besar perlu didukung dgn kapasitas dan kapabilitas dlm menghasilkan produk barang antara dan integrasi ke jaringan rantai suplai global.

11 Pengembangan Konsep Blue Growth Peluang pengembangan blue growth sebagai opsi percepatan pembangunan ekonomi dan pengentasan kemiskinan * ECORYS Final report of Blue Growth in Europe to European Commission 11 Peluang yang Dihadapi Blue growth adalah pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja yang berkelanjutan dan inklusif yg bersumber dari potensi lautan, pantai dan pesisir.* Rencana pembangunan berbasis maritim telah tertuang dalam RPJPN yg dijabarkan dlm RPJMN dan Arah Kebijakan Pembangunan Kewilayahan. Perencanaan lebih konkrit untuk perekonomian berbasis maritim (fokus ke perikanan dan energi) juga tercermin pada MP3EI terutama di Kawasan Sulawesi, Maluku dan Papua. Visi dan Misi Pembangunan Nasional "mewujudkan Indonesia menjadi negara kepulauan yang mandiri, maju, kuat, dan berbasis kepentingan nasional" (Misi 5 dari 8) Arah, Tahapan dan Prioritas Pembangunan Jangka Panjang "pola pembangunan berkelanjutan berdasarkan pengelolaan sumber daya laut berbasiskan ekosistem, yang meliputi aspek-aspek sumber daya manusia dan kelembagaan, politik, ekonomi, lingkungan hidup, sosial budaya, pertahanan keamanan, dan teknologi" Kerangka Pembangunan Berwawasan Maritim Arahan RPJPN "Pola pembangunan berkelanjutan berdasarkan pengelolaan sumber daya laut berbasiskan ekosistem, yang meliputi aspek-aspek sumber daya manusia dan kelembagaan, politik, ekonomi, lingkungan hidup, sosial budaya, pertahanan keamanan, dan teknologi' Strategi RPJMN "Pengembangan wilayah laut dilaksanakan melalui pendekatan kewilayahan terpadu dengan memperhatikan aspek-aspek geologi, oseanografi, biologi, atau keragaman hayati, habitat, potensi mineral dan energi, potensi perikanan, potensi wisata bahari, potensi industri maritim, potensi transportasi, dan teknologi" Arah dan Kebijakan Pembangunan Kewilayahan Wilayah Pengembangan Kelautan Sumatera Wilayah Pengembangan Kelautan Malaka Wilayah Pengembangan Kelautan Jawa Wilayah Pengembangan Kelautan Makassar-Buton Wilayah Pengembangan Kelautan Banda-Maluku

12 TANTANGAN YANG DIHADAPI 1 2

13 Tantangan yang Dihadapi Penurunan Pangsa Ekspor Sektor Industri Daya saing ekspor manufaktur Indonesia cenderung terus menurun... Kondisi ini berkorelasi dgn penurunan pangsa sektor industri dalam pembentukan PDRB di seluruh kawasan Indonesia Pangsa PDRB Sektor Industri Sumatera Pangsa Ekspor Manufaktur Jawa Pangsa Ekspor Manufaktur KTI Pangsa Ekspor Manufaktur Note : Pangsa ekspor manufaktur thd total ekspor Rasio Daya Saing Indonesia Sumatera Jawa dan Jakarta KTI Daya saing ekspor industri pengolahan : perbandingan rasio ekspor industri pengolahan terhadap PDB antara kawasan dan dunia Gambaran Sektor Industri Pengolahan Kawasan Terjadi penurunan sebesar 9,5% dlm 3 th terakhir Pangsa PDRB Sektor Industri Kawasan Jawa Keseluruhan Jawa Jakarta Jawa Bagian Barat Jawa Bagian Tengah Jawa Bagian Timur Penurunan pangsa PDRB sektor industri yg terbesar terjadi di Provinsi Jakarta dan Jawa Barat terkait dgn alih fungsi lahan ke perumahan, relokasi industri, kenaikan biaya tenaga kerja dan tingginya biaya logistik melalui pintu Tg. Priok. Penurunan secara konsisten persentase ekspor produk high-tech.. Ekspor produk high-tech Indonesia saat ini lebih rendah dari Vietnam. % High-tech Ekspor China Korea Singapura Malaysia Vietnam Thailand Indonesia Sumber : World Development Indicator

14 Tantangan yang Dihadapi Ekonomi Biaya Tinggi Kualitas faktor-faktor pendukung (enablers) bagi aktivitas manufaktur berskala global di Indonesia lebih buruk daripada di negara-negara lain di Asia, antara lain pada komponen biaya logistik dan biaya operasional non-upah (US$) Cost to Export via Port / Airport (Hari) Time to Export via Port / Airport IDN MAS IND THA CHN VIE SIN 0 IDN MAS IND THA CHN VIE SIN (Hari) 6 5 Customs Clearance with Physical Inspection (Hari 6 5 Time to Import via Port / Airport Sumber: WB-LPI IDN MAS IND THA CHN VIE SIN 0 IDN MAS IND THA CHN VIE SIN

15 Lingkungan bisnis yang diperlukan bagi pengembangan industri manufaktur di Indonesia secara umum juga lebih buruk daripada di negara-negara lain di Asia Waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan izin operasi pembukaan perusahaan baru (Hari) CHN IDN SIN VIE IND MAS THA Tantangan yang Dihadapi Lingkungan Bisnis yang lebih Buruk Biaya penyelesaian sengketa kontrak bisnis (% Nilai Klaim) IDN IND VIE MAS SIN THA CHN Efisiensi Metoda Pengenaan Dan Pemungutan Pajak (Frekuensi Pembayaran / Tahun) Waktu yang dibutuhkan untuk mengurus izin kepemilikan properti (Hari) Peers melakukan reformasi yang lebih besar Sumber: WB-EODB 0 15 CHN IND IDN MAS SIN THA VIE 0 CHN IND IDN MAS SIN THA VIE

16 Tantangan yang Dihadapi Tantangan dari Negara Pesaing Negara-negara pesaing di Asia sudah lebih dahulu dan lebih agresif dalam mengembangkan daya saing di sector manufaktur, terutama dalam menarik PMA... 75% Output Manufaktur 8 Negara Industri ASEAN Hanya Berasal Dari 17 Kawasan Industri Utama., terutama di MAS, SIN, THA, & VIE. 16

17 Tantangan yang Dihadapi Rigiditas Pasar Tenaga Kerja Rigiditas hukum ketenagakerjaan berpengaruh pada investasi di sektor industri... Terbatasnya fleksibilitas untuk menambah maupun mengurangi tenaga kerja menjadi pertimbangan dalam melakukan investasi. Indicator Difficulty in hiring index (0-100) Difficulty of redundancy index (0-100) Rigidity of employment index Redundancy costs (weeks of salary) Doing Business : Employing Workers 2010 Rank: 149/ Rank: 150/183 Indonesia East Asia & Pacific OECD Average * Rigiditas ditunjukkan dgn semakin tinggi nilai Sumber : World Bank Doing Business Report 2010, HSBC 17

18 Tantangan yang Dihadapi Faktor Enabler Produktivitas Modal Dasar Manusia Terbatasnya pool talent SDM yg berkualitas dan investasi barang modal berbasis teknologi juga menjadi kendala dalam menarik investasi Turunnya ekspor produk high-tech manufaktur sbg pengaruh dr keterbatasan SDM berkualitas dan investasi baik R&D maupun barang modal berbasis teknologi. Namun, terlihat adanya perbaikan di sisi inovasi SDM Indonesia. Global Innovation Index 2013 Sumber : INSEAD Business School (2013) Inovasi sbg faktor pendukung knowledge spillover yg menjadi kunci peningkatan produktivitas di sektor industri manufaktur IT Competitiveness Index 2011 Sumber : Economic Intelligence Unit (Indonesia berada di peringkat 57 dr 66 negara yg disurvei) 18

19 Persentase Capaian GB Proyek MP3EI tahun Jumlah Proyek hingga Q Tertundanya pembangunan infrastruktur berpengaruh pd upaya penurunan biaya logistik Realisasi ground breaking proyek MP3EI pada 2014 yg dibawah target terkait dgn adanya efisiensi APBN, perubahan rencana investasi dan/atau menunggu jaminan dukungan infrastruktur, masalah lahan dan perijinan. Tercatat 40 proyek yg mundur dari jadwal ground breaking di 2014.* 36% Rekap Progres Ground Breaking Proyek MP3EI % 6% 6% 1% Operasional Operasional Terkendala Konstruksi 100% (Potensi Peresmian) Dalam Tahap Konstruksi Tahap Konstruksi dan Terkendala Proyek Belum Terpantau Realisasi ground breaking tertinggi dibandingkan dengan targetnya terjadi di Kalimantan, Papua dan Maluku (di atas 80%). Sementara itu, implementasi proyek MP3EI di Bali dan Nusa Tenggara belum cukup optimal dibandingkan dengan wilayah lainnya. *Hingga Q2 2014, telah direalisasikan ground breaking 382 proyek MP3EI senilai Rp. 854 triliun Sumber : KP3EI Tantangan yang Dihadapi Peningkatan Logistik dan Infrastruktur Target Rencana Awal Realisasi - Perkiraan GB 2014 Target awal GB 2014 Realisasi Q1 - Q2 Perkiraan GB Q3 - Q Maret Sumatera Sulawesi 61% Jawa 71% Kalimantan Bali - NT Papua - Maluku Juni Sudah GB 59% 52% Total 69% 86% 81% Gap terjadi karena adanya proyek yang harus diundur serta proyek yang menunggu kepastian beberapa keputusan-keputusan strategis Q3 Belum GB 48% 39% 41% 29% 31% 14% 19% Q4

20 Tantangan yang Dihadapi Besarnya Investasi dan Keterbatasan Energi Hilirisasi industri berbasis SDA membutuhkan dana investasi yang kebutuhan listrik yg besar Investasi yg dibutuhkan untuk pembangunan smelter cukup besar dan sebagian besar sumber pendanaan berasal dr LN (Asosiasi Pertambangan Indonesia (API). Nilai investasi yg besar juga terkait dgn keterbatasan energi listrik. Hal ini menyebabkan sebagian besar proyek smelter hrs dilengkapi dgn pembangkit listrik. Walaupun telah terdapat MoU dlm penyediaan tenaga listrik utk proyek smelter (PLN), masih terdapat ketidakpastian, yg salah satunya dipengaruhi oleh pasokan sumber energi utk pembangkit. Rencana Sebaran Lokasi Investasi Smelter 20

21 2 1 RESPONS KEBIJAKAN JANGKA MENENGAH-PANJANG

22 Respons Kebijakan Jangka Menengah-Panjang Peran PMA dan Kolaborasi Global Strategi investasi memerlukan kolaborasi PMDN dan PMA, khususnya PMA produsen barang ekspor bernilai tambah tinggi yg memasok pasar regional dan global Preferensi perusahaan manufaktur multinasional ke Tiongkok & Malaysia karena adanya lingkungan pendukung (enablers) yang kuat dan kompetitif. PMA menurunkan VAX ratio (meningkatkan kemampuan ekspor setelah mengimpor) 22

23 Respons Kebijakan Jangka Menengah-Panjang Peran PMA dan Faktor Enablers Agar PMA produsen global merelokasi aktivitas manufakturnya, perlu reformasi yg kuat utk membangun lingkungan dan faktor pendukung (ENABLERS)... Produsen global mencari lokasi dengan biaya logistik perdagangan dan biaya operasional non-upah yg mampu meningkatkan daya saing, local suppliers yg handal, dan modal manusia yg produktif. 23

24 Respons Kebijakan Jangka Menengah-Panjang Faktor Logistik dan Infrastruktur Mempercepat penyelesaian target-target MP3EI Pada periode Juli Desember 2014, direncanakan terdapat 132 proyek yang akan dilakukan ground breaking dengan total nilai Rp. 443,5 triliun. Secara spasial, sebagian besar proyek yg akan dimulai pd semester II 2014 berlokasi di koridor Sumatera dan Jawa, seperti proyek HVDC senilai Rp. 25 T dan Transmisi Lintas Sumatera 500 kv senilai Rp. 80 T. Kontribusi BUMN dan Swasta mencapai 81% dari keseluruhan rencana GB TARGET OPERASIONAL UNTUK PROYEK TAHAP KONSTRUKSI 24 Sektor Riil Infrastruktur Target Operasional 55% 47% % 26% % 10% % 2017 Sumber : KP3EI Seluruh proyek sektor riil yang berada dalam tahap konstrusi ditargetkan mulai berproduksi sebelum tahun Sementara proyek infrastruktur yg telah berada dlm tahap konstruksi ditargetkan beroperasi sebelum

25 Respons Kebijakan Jangka Menengah-Panjang Sistem Logistik Nasional (Sislognas) Mempercepat implementasi Sislognas SASARAN Menurunkan rasio biaya logistik nasional terhadap PDB menjadi sebesar 23,6% Menurunkan dwelling time menjadi 6 hari Menjaga keofisien variasi harga barang kebutuhan pokok antar wilayah dan antar waktu pada kisaran 5-9% ARAH KEBIJAKAN 1. Peningkatan efisiensi jalur distribusi bahan pokok dan strategis, terutama untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan stok 2. Peningkatan sistem informasi pendukung efisiensi logistik melalui integrasi layanan secara elektronik 3. Peningkatan peranan dan kualitas jasa logistik dan jasa distribusi 4. Peningkatan kapasitas SDM dan pelaku logistik 5. Penurunan waktu dan biaya logistik pelabuhan 6. Pencegahan perilaku anti persaingan dan penegakan hukum persaingan usaha 7. Peningkatan efektivitas tata kelola impor Cetak Biru Sistem Logistik Nasional Visi Sislognas 2025 Locally Integrated, Globally Connected for National Competitiveness and Social Welfare PENDEKATAN UTAMA ENAM PENGGERAK UTAMA SISLOGNAS Komoditas Utama (Key Commodity) Infrastruktur Logistik Pelaku dan Penyedia Jasa Sumber Daya Manusia (SDM) Logistik Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Harmonisasi Regulasi Berbasis Manajemen Rantai Pasok (Supply Chain Management) Paradigma : ship follows the trade & ship promotes the trade Daya saing Nasional Kesejahteran Masyarakat 25

26 Faktor Risiko dan Tantangan yang Dihadapi Daerah Langkah Percepatan Pembangunan Ekonomi Kawasan Timur Indonesia Pengembangan pembangunan berwawasan maritim Kolaborasi antara Pemerintah Pusat, Daerah, serta stakeholders terkait dlm melakukan identifikasi potensi berikut prioritas dan strategi pengembangan aktivitas Blue Growth, termasuk melalui pemberian porsi yang lebih besar dalam APBD. Faktor Enabler Blue Growth Sumber Struktur Belanja Wilayah Sulawesi Maluku Papua 2013 : DJPK, Kemenkeu (diolah) Research technology and development Access to capital Skilled labor Public acceptance Clusters Infrastructure Maritime spatial planning Stable regulatory framework 26 Enabling Factors dari Konsep Blue Growth ( : Perlu Dukungan Pemerintah)

27 Faktor Risiko dan Tantangan yang Dihadapi Daerah Langkah Percepatan Pembangunan Ekonomi Kawasan Timur Indonesia Kebijakan tata ruang dan penyediaan fasilitas infrastruktur maritim menjadi kunci Kebijakan tata ruang berbasis maritim berikut perangkat kebijakan teknis pendukung memiliki peran krusial utk memberikan kepastian dlm pengembangan aktivitas blue growth. Pembangunan prasarana dan sarana maritim juga krusial utk mendukung konektivitas dlm pengembangan aktivitas blue growth, khususnya peningkatan daya saing logistik. Pelabuhan perikanan terpadu dgn kluster industri pengolahan produk perikanan (studi kasus sentra industri tuna General Santos di Filipina) Sumber : Kementerian Kelautan & Perikanan 27

28 Faktor Risiko dan Tantangan yang Dihadapi Daerah Langkah Percepatan Pembangunan Ekonomi Kawasan Timur Indonesia Peningkatan kapasitas SDM dan R&D di sektor maritim juga dpt mendukung akselerasi aktivitas blue growth Peningkatan SDM di sektor maritim perlu dibarengi dgn peningkatan kualitas dan inovasi. Inovasi budi daya produk perikanan dan pemanfaatan energi kelautan membutuhkan kolaborasi dgn pelaku usaha. Pengembangan R&D dan inkubator usaha berbasis blue growth juga perlu didukung dunia akademik dan pemerintah Sumber : Kementerian Kelautan & Perikanan 28

29 2 9 LANGKAH-LANGKAH KOORDINASI KEBIJAKAN YANG PERLU DILAKUKAN

30 30 Langkah-langkah Koordinasi Yang Perlu Dilakukan

31 TERIMA KASIH 3 1

BAB I PENDAHULUAN. kesejahteraan yang dapat dinikmati secara merata oleh seluruh masyarakat. (Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, 2011).

BAB I PENDAHULUAN. kesejahteraan yang dapat dinikmati secara merata oleh seluruh masyarakat. (Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, 2011). BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tantangan ke depan pembangunan ekonomi Indonesia tidaklah mudah untuk diselesaikan. Dinamika ekonomi domestik dan global mengharuskan Indonesia senantiasa siap terhadap

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN. Latar Belakang

1 PENDAHULUAN. Latar Belakang 1 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Peraturan Presiden No 32 Tahun 2011 tentang MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) merupakan sebuah langkah besar permerintah dalam mencapai

Lebih terperinci

PEMBANGUNAN KORIDOR EKONOMI DALAM PENGEMBANGAN WILAYAH

PEMBANGUNAN KORIDOR EKONOMI DALAM PENGEMBANGAN WILAYAH PEMBANGUNAN KORIDOR EKONOMI DALAM PENGEMBANGAN WILAYAH Pembangunan Koridor Ekonomi (PKE) merupakan salah satu pilar utama, disamping pendekatan konektivitas dan pendekatan pengembangan sumber daya manusia

Lebih terperinci

KAJIAN EKONOMI REGIONAL Triwulan IV 2012

KAJIAN EKONOMI REGIONAL Triwulan IV 2012 KAJIAN EKONOMI REGIONAL Triwulan IV 2012 Januari 2013 Kinerja Ekonomi Daerah Cukup Kuat, Inflasi Daerah Terkendali Ditengah perlambatan perekonomian global, pertumbuhan ekonomi berbagai daerah di Indonesia

Lebih terperinci

CUPLIKAN LAMPIRAN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011, TANGGAL 20 MEI 2011 TENTANG

CUPLIKAN LAMPIRAN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011, TANGGAL 20 MEI 2011 TENTANG CUPLIKAN LAMPIRAN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011, TANGGAL 20 MEI 2011 TENTANG MASTERPLAN PERCEPATAN DAN PERLUASAN PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA 2011-2025 A. Latar Belakang Sepanjang

Lebih terperinci

Analisis Perkembangan Industri

Analisis Perkembangan Industri JUNI 2017 Analisis Perkembangan Industri Pusat Data dan Informasi Juni 2017 Pendahuluan Membaiknya perekonomian dunia secara keseluruhan merupakan penyebab utama membaiknya kinerja ekspor Indonesia pada

Lebih terperinci

BAHAN MENTERI DALAM NEGERI PADA ACARA MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN (MUSRENBANG) REGIONAL KALIMANTAN TAHUN 2015

BAHAN MENTERI DALAM NEGERI PADA ACARA MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN (MUSRENBANG) REGIONAL KALIMANTAN TAHUN 2015 BAHAN MENTERI DALAM NEGERI PADA ACARA MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN (MUSRENBANG) REGIONAL KALIMANTAN TAHUN 2015 BALAI SIDANG JAKARTA, 24 FEBRUARI 2015 1 I. PENDAHULUAN Perekonomian Wilayah Pulau Kalimantan

Lebih terperinci

STRATEGI PEMBANGUNAN NASIONAL BIDANG INVESTASI

STRATEGI PEMBANGUNAN NASIONAL BIDANG INVESTASI KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL STRATEGI PEMBANGUNAN NASIONAL BIDANG INVESTASI Amalia Adininggar Widyasanti Direktur Perdagangan, Investasi, dan Kerjasama

Lebih terperinci

AKSELERASI INDUSTRIALISASI TAHUN Disampaikan oleh : Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian

AKSELERASI INDUSTRIALISASI TAHUN Disampaikan oleh : Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian AKSELERASI INDUSTRIALISASI TAHUN 2012-2014 Disampaikan oleh : Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Jakarta, 1 Februari 2012 Daftar Isi I. LATAR BELAKANG II. ISU STRATEGIS DI SEKTOR INDUSTRI III.

Lebih terperinci

CAPAIAN KINERJA PERDAGANGAN 2015 & PROYEKSI 2016

CAPAIAN KINERJA PERDAGANGAN 2015 & PROYEKSI 2016 Policy Dialogue Series (PDS) OUTLOOK PERDAGANGAN INDONESIA 2016 CAPAIAN KINERJA PERDAGANGAN 2015 & PROYEKSI 2016 BP2KP Kementerian Perdagangan, Kamis INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE

Lebih terperinci

Pembenahan Pasokan Daging Sapi Melalui Sistem Logistik Nasional Senin, 10 Juni 2013

Pembenahan Pasokan Daging Sapi Melalui Sistem Logistik Nasional Senin, 10 Juni 2013 Pembenahan Pasokan Daging Sapi Melalui Sistem Logistik Nasional Senin, 10 Juni 2013 Indonesia memiliki potensi sapi potong yang cukup besar. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) hasil Sensus Pertanian

Lebih terperinci

Tabel 1. Pertumbuhan Ekonomi dan Kebutuhan Investasi

Tabel 1. Pertumbuhan Ekonomi dan Kebutuhan Investasi Boks 2 REALISASI INVESTASI DALAM MENDORONG PERTUMBUHAN EKONOMI RIAU I. GAMBARAN UMUM Investasi merupakan salah satu pilar pokok dalam mencapai pertumbuhan ekonomi, karena mampu memberikan multiplier effect

Lebih terperinci

RENCANA KERJA PEMERINTAH TAHUN 2016 TEMA : MEMPERCEPAT PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR UNTUK MEMPERKUAT FONDASI PEMBANGUNAN YANG BERKUALITAS

RENCANA KERJA PEMERINTAH TAHUN 2016 TEMA : MEMPERCEPAT PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR UNTUK MEMPERKUAT FONDASI PEMBANGUNAN YANG BERKUALITAS REPUBLIK INDONESIA RENCANA KERJA PEMERINTAH TAHUN 2016 TEMA : MEMPERCEPAT PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR UNTUK MEMPERKUAT FONDASI PEMBANGUNAN YANG BERKUALITAS KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN

Lebih terperinci

BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL

BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL 1 BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL BAGIAN I PERKEMBANGAN REALISASI INVESTASI 2 PERINGKAT GLOBAL MEMBAIK Realisasi Investasi (Rp Triliun) 313 399 463 +12,4%2 016 (y/y) 545 613 2012 2013 2014 2015 2016 2017

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Di era globalisasi saat ini, tingkat daya saing menjadi tolak ukur yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Di era globalisasi saat ini, tingkat daya saing menjadi tolak ukur yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Di era globalisasi saat ini, tingkat daya saing menjadi tolak ukur yang wajib dimiliki dalam mewujudkan persaingan pasar bebas baik dalam kegiatan maupun

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. perkembangan industrialisasi modern saat ini. Salah satu yang harus terus tetap

I. PENDAHULUAN. perkembangan industrialisasi modern saat ini. Salah satu yang harus terus tetap I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebutuhan akan energi dunia akan semakin besar seiring dengan pesatnya perkembangan industrialisasi modern saat ini. Salah satu yang harus terus tetap terpenuhi agar roda

Lebih terperinci

Daya Saing Global Indonesia versi World Economic Forum (WEF) 1. Tulus Tambunan Kadin Indonesia

Daya Saing Global Indonesia versi World Economic Forum (WEF) 1. Tulus Tambunan Kadin Indonesia Daya Saing Global Indonesia 2008-2009 versi World Economic Forum (WEF) 1 Tulus Tambunan Kadin Indonesia Tanggal 8 Oktober 2008 World Economic Forum (WEF), berkantor pusat di Geneva (Swis), mempublikasikan

Lebih terperinci

PEMASARAN PRODUK INDUSTRI KONSTRUKSI PRACETAK PRATEGANG

PEMASARAN PRODUK INDUSTRI KONSTRUKSI PRACETAK PRATEGANG PEMASARAN PRODUK INDUSTRI KONSTRUKSI PRACETAK PRATEGANG Dibawakan oleh Bp. Ir. Wilfred I. A. singkali *) PENGERTIAN PASAR : Pasar Produk Industri Pracetak dan Prategang : Adalah pasar konstruksi yang menggunakan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Pertumbuhan Ekonomi Negara di Dunia Periode (%)

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Pertumbuhan Ekonomi Negara di Dunia Periode (%) I. PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia pada periode 24 28 mulai menunjukkan perkembangan yang pesat. Kondisi ini sangat memengaruhi perekonomian dunia. Tabel 1 menunjukkan

Lebih terperinci

BAB III ASUMSI-ASUMSI DASAR DALAM PENYUSUNAN RANCANGAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH (RAPBD)

BAB III ASUMSI-ASUMSI DASAR DALAM PENYUSUNAN RANCANGAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH (RAPBD) BAB III ASUMSI-ASUMSI DASAR DALAM PENYUSUNAN RANCANGAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH (RAPBD) 3.1. Asumsi Dasar yang Digunakan Dalam APBN Kebijakan-kebijakan yang mendasari APBN 2017 ditujukan

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

1 PENDAHULUAN Latar Belakang 1 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan yang dua per tiga wilayahnya adalah perairan dan terletak pada lokasi yang strategis karena berada di persinggahan rute perdagangan dunia.

Lebih terperinci

ADHI PUTRA ALFIAN DIREKTUR PEMBERDAYAAN KOPERASI DAN UKM BATAM, 18 JUNI 2014

ADHI PUTRA ALFIAN DIREKTUR PEMBERDAYAAN KOPERASI DAN UKM BATAM, 18 JUNI 2014 ADHI PUTRA ALFIAN DIREKTUR PEMBERDAYAAN KOPERASI DAN UKM BATAM, 18 JUNI 2014 OUTLINE 1. LINGKUNGAN STRATEGIS 2. ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI 2 1. LINGKUNGAN STRATEGIS 3 PELUANG BONUS DEMOGRAFI Bonus Demografi

Lebih terperinci

ANALISIS STRUKTUR, PERILAKU, KINERJA DAN DAYA SAING INDUSTRI ELEKTRONIKA DI INDONESIA JOHANNA SARI LUMBAN TOBING H

ANALISIS STRUKTUR, PERILAKU, KINERJA DAN DAYA SAING INDUSTRI ELEKTRONIKA DI INDONESIA JOHANNA SARI LUMBAN TOBING H ANALISIS STRUKTUR, PERILAKU, KINERJA DAN DAYA SAING INDUSTRI ELEKTRONIKA DI INDONESIA JOHANNA SARI LUMBAN TOBING H14104016 DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. nasional. Badan Pusat Statistik Indonesia mencatat rata-rata penyerapan tenaga

I. PENDAHULUAN. nasional. Badan Pusat Statistik Indonesia mencatat rata-rata penyerapan tenaga I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris yang sebagian besar penduduknya berusaha di bidang pertanian. Dengan tersedianya lahan dan jumlah tenaga kerja yang besar, diharapkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sistem Logistik Nasional memiliki peran strategis dalam menyelaraskan kemajuan antar sektor ekonomi dan antar wilayah demi terwujudnya sistem pertumbuhan ekonomi yang

Lebih terperinci

ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV

ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV - 2009 263 ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV - 2009 Tim Penulis

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. daerah, masalah pertumbuhan ekonomi masih menjadi perhatian yang penting. Hal ini

I. PENDAHULUAN. daerah, masalah pertumbuhan ekonomi masih menjadi perhatian yang penting. Hal ini I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam menilai keberhasilan pembangunan dan upaya memperkuat daya saing ekonomi daerah, masalah pertumbuhan ekonomi masih menjadi perhatian yang penting. Hal ini dikarenakan

Lebih terperinci

Perkembangan Terkini, Prospek, dan Tantangan Ke Depan

Perkembangan Terkini, Prospek, dan Tantangan Ke Depan Ringkasan Laporan Nusantara Februari 2014 *) Perkembangan Terkini, Prospek, dan Tantangan Ke Depan PERKEMBANGAN TERKINI EKONOMI DAERAH Setelah mengalami perlambatan pada beberapa triwulan sebelumnya, realisasi

Lebih terperinci

BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL

BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL SIARAN PERS Realisasi Investasi Januari September Tahun 2017 Rp 513,2 triliun, Telah Mencapai 75,6% dari Target Jakarta, 30 Oktober 2017 Pada periode Triwulan III (Juli

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pesat sesuai dengan kemajuan teknologi. Dalam era globalisasi peran transportasi

BAB I PENDAHULUAN. pesat sesuai dengan kemajuan teknologi. Dalam era globalisasi peran transportasi 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Globalisasi dari sisi ekonomi adalah suatu perubahan dunia yang bersifat mendasar atau struktural dan akan berlangsung terus dalam Iaju yang semakin pesat

Lebih terperinci

DUKUNGAN KEBIJAKAN PERPAJAKAN PADA KONSEP PENGEMBANGAN WILAYAH TERTENTU DI INDONESIA

DUKUNGAN KEBIJAKAN PERPAJAKAN PADA KONSEP PENGEMBANGAN WILAYAH TERTENTU DI INDONESIA DUKUNGAN KEBIJAKAN PERPAJAKAN PADA KONSEP PENGEMBANGAN WILAYAH TERTENTU DI INDONESIA Oleh Pusat Kebijakan Pendapatan Negara Indonesia memiliki cakupan wilayah yang sangat luas, terdiri dari pulau-pulau

Lebih terperinci

CAPAIAN Februari 2016 KOMITMEN INVESTASI

CAPAIAN Februari 2016 KOMITMEN INVESTASI invest in Jakarta 15 Maret 2016 CAPAIAN Februari 2016 KOMITMEN INVESTASI BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL Franky Sibarani Kepala 2013 by Indonesia Investment Coordinating Board. All rights reserved Rp

Lebih terperinci

Menteri Perindustrian Republik Indonesia. Menghidupkan Kembali Sektor Industri Sebagai Penggerak Ekonomi Nasional

Menteri Perindustrian Republik Indonesia. Menghidupkan Kembali Sektor Industri Sebagai Penggerak Ekonomi Nasional Menteri Perindustrian Republik Indonesia Menghidupkan Kembali Sektor Industri Sebagai Penggerak Ekonomi Nasional Surabaya, 8 Oktober 2015 DAFTAR ISI Hal I Kinerja Makro Sektor Industri 3 II Visi, Misi,

Lebih terperinci

BAB I PENGANTAR. Gejolak krisis ekonomi yang dialami Amerika Serikat dan beberapa negara

BAB I PENGANTAR. Gejolak krisis ekonomi yang dialami Amerika Serikat dan beberapa negara 1 BAB I PENGANTAR 1.1. Latar Belakang Gejolak krisis ekonomi yang dialami Amerika Serikat dan beberapa negara maju di kawasan Eropa masih belum sepenuhnya mereda. Permasalahan mendasar seperti tingginya

Lebih terperinci

MODA TRANSPORTASI IDEAL DALAM PERCEPATAN MP3EI 1. Dr. Harry Azhar Azis, MA. 2

MODA TRANSPORTASI IDEAL DALAM PERCEPATAN MP3EI 1. Dr. Harry Azhar Azis, MA. 2 MODA TRANSPORTASI IDEAL DALAM PERCEPATAN MP3EI 1 Dr. Harry Azhar Azis, MA. 2 PENDAHULUAN Seiring dengan dikeluarkannya Perpres No. 32 Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH Strategi dan arah kebijakan merupakan rumusan perencanaan komperhensif tentang bagaimana Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN PEMBANGUNAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU 2014

PERKEMBANGAN PEMBANGUNAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU 2014 OUTLINE ANALISIS PROVINSI 1. Perkembangan Indikator Utama 1.1 Pertumbuhan Ekonomi 1.2 Pengurangan Pengangguran 1.3 Pengurangan Kemiskinan 2. Kinerja Pembangunan Kota/ Kabupaten 2.1 Pertumbuhan Ekonomi

Lebih terperinci

6 Semua negara di Oceania, kecuali Australia dan Selandia Baru (New Zealand).

6 Semua negara di Oceania, kecuali Australia dan Selandia Baru (New Zealand). GEOGRAFI KELAS XII IPS - KURIKULUM 2013 24 Sesi NEGARA MAJU DAN NEGARA BERKEMBANG : 2 A. PENGERTIAN NEGARA BERKEMBANG Negara berkembang adalah negara yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi rendah, standar

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI PAPUA Keadaan Geografis dan Kependudukan Provinsi Papua

BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI PAPUA Keadaan Geografis dan Kependudukan Provinsi Papua BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI PAPUA 4.1. Keadaan Geografis dan Kependudukan Provinsi Papua Provinsi Papua terletak antara 2 25-9 Lintang Selatan dan 130-141 Bujur Timur. Provinsi Papua yang memiliki luas

Lebih terperinci

Suharman Tabrani Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan

Suharman Tabrani Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Perkembangan Terkini, Tantangan, dan Prospek Ekonomi Suharman Tabrani Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Disampaikan pada MUSRENBANG RKPD 2017 KOTA BALIKPAPAN OUTLINE 2 Perekonomian Nasional Perekonomian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia mulai menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada awal. ekonomi kawasan ASEAN yang tercermin dalam 4 (empat) hal:

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia mulai menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada awal. ekonomi kawasan ASEAN yang tercermin dalam 4 (empat) hal: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Indonesia mulai menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada awal tahun 2016, yang merupakan sebuah integrasi ekonomi yang didasarkan pada kepentingan bersama

Lebih terperinci

Gambar 3.A.1 Peta Koridor Ekonomi Indonesia

Gambar 3.A.1 Peta Koridor Ekonomi Indonesia - 54 - BAB 3: KORIDOR EKONOMI INDONESIA A. Postur Koridor Ekonomi Indonesia Pembangunan koridor ekonomi di Indonesia dilakukan berdasarkan potensi dan keunggulan masing-masing wilayah yang tersebar di

Lebih terperinci

Beberapa permasalahan menghambat pertumbuhan produk[vitas Indonesia

Beberapa permasalahan menghambat pertumbuhan produk[vitas Indonesia Beberapa permasalahan menghambat pertumbuhan produk[vitas Indonesia Rigiditas Pasar Tenaga Kerja Employment Protection Legislation Stringency Index Protection of permanent workers against (individual)

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. dunia menghadapi fenomena sebaran penduduk yang tidak merata. Hal ini

I. PENDAHULUAN. dunia menghadapi fenomena sebaran penduduk yang tidak merata. Hal ini 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.1.1. Fenomena Kesenjangan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia menghadapi fenomena sebaran penduduk yang tidak merata. Hal

Lebih terperinci

Fokus Negara IMF. Fokus Negara IMF. Ekonomi Asia yang Dinamis Terus Memimpin Pertumbuhan Global

Fokus Negara IMF. Fokus Negara IMF. Ekonomi Asia yang Dinamis Terus Memimpin Pertumbuhan Global Fokus Negara IMF Orang-orang berjalan kaki dan mengendarai sepeda selama hari bebas kendaraan bermotor, diadakan hari Minggu pagi di kawasan bisnis Jakarta di Indonesia. Populasi kaum muda negara berkembang

Lebih terperinci

DUKUNGAN PROYEK SREGIP DALAM PENCAPAIAN SASARAN PEMBANGUNAN NASIONAL

DUKUNGAN PROYEK SREGIP DALAM PENCAPAIAN SASARAN PEMBANGUNAN NASIONAL DUKUNGAN PROYEK SREGIP DALAM PENCAPAIAN SASARAN PEMBANGUNAN NASIONAL Disampaikan Oleh: Depu0 Bidang Pengembangan Regional Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Dalam Acara Seminar Penutupan

Lebih terperinci

MASTERPLAN PERCEPATAN DAN PERLUASAN PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA BAB 1: PENDAHULUAN

MASTERPLAN PERCEPATAN DAN PERLUASAN PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA BAB 1: PENDAHULUAN LAMPIRAN PERATURAN PRESIDEN NOMOR 32 TAHUN 2011 TANGGAL 20 MEI 2011 MASTERPLAN PERCEPATAN DAN PERLUASAN PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA 2011-2025 BAB 1: PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sepanjang sejarah kemerdekaan

Lebih terperinci

Perekonomian Suatu Negara

Perekonomian Suatu Negara Menteri Keuangan RI Jakarta, Maret 2010 Perekonomian Suatu Negara Dinamika dilihat dari 4 Komponen= I. Neraca Output Y = C + I + G + (X-M) AS = AD II. Neraca Fiskal => APBN Total Pendapatan Negara (Tax;

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. wilayah. Karena pada dasarnya, investasi merupakan satu pengeluaran

BAB I PENDAHULUAN. wilayah. Karena pada dasarnya, investasi merupakan satu pengeluaran BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Investasi atau penanaman modal merupakan instrumen penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang ada di suatu negara atau wilayah. Karena pada dasarnya, investasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. termaktub dalam alenia ke-4 pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yaitu: (1)

BAB I PENDAHULUAN. termaktub dalam alenia ke-4 pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yaitu: (1) BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tujuan nasional Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagaimana termaktub dalam alenia ke-4 pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yaitu: (1) melindungi segenap bangsa

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia

BAB 1 PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bagi sebuah negara, keberhasilan pembangunan ekonominya dapat diukur dan digambarkan secara umum oleh tingkat laju pertumbuhan ekonominya. Mankiw (2007) menyatakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sosial. Selain itu pembangunan adalah rangkaian dari upaya dan proses yang

BAB I PENDAHULUAN. sosial. Selain itu pembangunan adalah rangkaian dari upaya dan proses yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pembangunan adalah kemajuan yang diharapkan oleh setiap negara. Pembangunan adalah perubahan yang terjadi pada semua struktur ekonomi dan sosial. Selain itu

Lebih terperinci

Jakarta, 10 Maret 2011

Jakarta, 10 Maret 2011 SAMBUTAN MENTERI PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ KEPALA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL DALAM ACARA TEMU KONSULTASI TRIWULANAN KE-1 TAHUN 2011 BAPPENAS-BAPPEDA PROVINSI SELURUH INDONESIA Jakarta,

Lebih terperinci

REPOSISI KAPET 2014 BAHAN INFORMASI MENTERI PEKERJAAN UMUM

REPOSISI KAPET 2014 BAHAN INFORMASI MENTERI PEKERJAAN UMUM REPOSISI KAPET 2014 KELEMBAGAAN DIPERKUAT, PROGRAM IMPLEMENTATIF, KONSISTEN DALAM PENATAAN RUANG MEMPERKUAT MP3EI KORIDOR IV SULAWESI LEGALITAS, KETERSEDIAAN INFRASTRUKTUR PU DALAM MEMPERCEPAT PENGEMBANGAN

Lebih terperinci

BAHAN MASUKAN PAPARAN DIRJEN PDN PADA LOKAKARYA KAKAO 2013 SESI MATERI: RANTAI TATA NIAGA KAKAO. Jakarta, 18 September 2013

BAHAN MASUKAN PAPARAN DIRJEN PDN PADA LOKAKARYA KAKAO 2013 SESI MATERI: RANTAI TATA NIAGA KAKAO. Jakarta, 18 September 2013 BAHAN MASUKAN PAPARAN DIRJEN PDN PADA LOKAKARYA KAKAO 2013 SESI MATERI: RANTAI TATA NIAGA KAKAO Jakarta, 18 September 2013 Kebijakan Tata Niaga Komoditi MEKANISME PASAR Harga dan ketersediaan barang tergantungpadasupply-demand

Lebih terperinci

Membedah Kinerja Setahun Pemerintahan Jokowi

Membedah Kinerja Setahun Pemerintahan Jokowi SEMINAR EKONOMI INDONESIA MENUJU KRISIS? Membedah Kinerja Setahun Pemerintahan Jokowi ENNY SRI HARTATI Auditorium Kampus Kwik Kian Gie School of Business 21 Oktober 2015 INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN PEMBANGUNAN PROVINSI DKI JAKARTA 2014

PERKEMBANGAN PEMBANGUNAN PROVINSI DKI JAKARTA 2014 OUTLINE ANALISIS PROVINSI 1. Perkembangan Indikator Utama 1.1 Pertumbuhan Ekonomi 1.2 Pengurangan Pengangguran 1.3 Pengurangan Kemiskinan 2. Kinerja Pembangunan Kota/ Kabupaten 2.1 Pertumbuhan Ekonomi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dari negara-negara maju, baik di kawasan regional maupun kawasan global.

BAB I PENDAHULUAN. dari negara-negara maju, baik di kawasan regional maupun kawasan global. BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG MASALAH Dalam perjalanan menuju negara maju, Indonesia memerlukan dana yang tidak sedikit untuk melaksanakan pembangunan nasional. Kebutuhan dana yang besar disebabkan

Lebih terperinci

PERCEPATAN PEMBANGUNAN KTI MELALUI EKONOMI KELAUTAN & PERIKANAN

PERCEPATAN PEMBANGUNAN KTI MELALUI EKONOMI KELAUTAN & PERIKANAN PERCEPATAN PEMBANGUNAN KTI MELALUI EKONOMI KELAUTAN & PERIKANAN Fadel Muhammad Menteri Kelautan dan Perikanan KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN MAKASSAR, 2010 Ketertinggalan Ekonomi KTI Persebaran Penduduk

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. utama ekonomi, pengembangan konektivitas nasional, dan peningkatan. dalam menunjang kegiatan ekonomi di setiap koridor ekonomi.

I. PENDAHULUAN. utama ekonomi, pengembangan konektivitas nasional, dan peningkatan. dalam menunjang kegiatan ekonomi di setiap koridor ekonomi. I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perencanaan pembangunan ekonomi Indonesia telah dituangkan pada program jangka panjang yang disusun oleh pemerintah yaitu program Masterplan Percepatan Perluasan dan

Lebih terperinci

MP3EI Pertanian : Realisasi dan Tantangan

MP3EI Pertanian : Realisasi dan Tantangan Rubrik Utama MP3EI Pertanian : Realisasi dan Tantangan Oleh: Dr. Lukytawati Anggraeni, SP, M.Si Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor olume 18 No. 2, Desember

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. ekonomi nasional. Hasil analisis lingkungan industri menunjukkan bahwa industri

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. ekonomi nasional. Hasil analisis lingkungan industri menunjukkan bahwa industri BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Pertumbuhan industri baja saat ini sedang tumbuh dengan cepat (fast growing), seiring meningkatnya konsumsi baja nasional dan pertumbuhan ekonomi nasional. Hasil

Lebih terperinci

PENINGKATAN PRODUKTIVITAS DAN DAYA SAING KOMODITAS PERTANIAN

PENINGKATAN PRODUKTIVITAS DAN DAYA SAING KOMODITAS PERTANIAN PENINGKATAN PRODUKTIVITAS DAN DAYA SAING KOMODITAS PERTANIAN Kementerian Pertanian Seminar Nasional Agribisnis, Universitas Galuh Ciamis, 1 April 2017 Pendahuluan Isi Paparan Kinerja dan permasalahan Posisi

Lebih terperinci

BAPPEDA Planning for a better Babel

BAPPEDA Planning for a better Babel DISAMPAIKAN PADA RAPAT PENYUSUNAN RANCANGAN AWAL RKPD PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG TAHUN 2018 PANGKALPINANG, 19 JANUARI 2017 BAPPEDA RKPD 2008 RKPD 2009 RKPD 2010 RKPD 2011 RKPD 2012 RKPD 2013 RKPD

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA FEBRUARI 2011

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA FEBRUARI 2011 BADAN PUSAT STATISTIK No.21/04/Th.XIV, 1 April PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA FEBRUARI A. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR FEBRUARI MENCAPAI US$14,40 MILIAR Nilai ekspor Indonesia mencapai US$14,40

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Terima kasih. Tim Penyusun. Penyusunan Outlook Pembangunan dan Indeks Daya Saing Infrastruktur

KATA PENGANTAR. Terima kasih. Tim Penyusun. Penyusunan Outlook Pembangunan dan Indeks Daya Saing Infrastruktur KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa kami panjatkan, karena hanya dengan rahmat dan karunia- Nya, dapat menyelesaikan Executive Summary Penyusunan Outlook Pembangunan dan Indeks Daya Saing

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA - THAILAND PERIODE : JANUARI AGUSTUS 2014

PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA - THAILAND PERIODE : JANUARI AGUSTUS 2014 PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA - THAILAND PERIODE : JANUARI AGUSTUS 2014 A. Perkembangan perekonomian dan perdagangan Thailand 1. Selama periode Januari-Agustus 2014, neraca perdagangan Thailand dengan

Lebih terperinci

LAPORAN LIAISON. Triwulan I Konsumsi rumah tangga pada triwulan I-2015 diperkirakan masih tumbuh

LAPORAN LIAISON. Triwulan I Konsumsi rumah tangga pada triwulan I-2015 diperkirakan masih tumbuh Triwulan I - 2015 LAPORAN LIAISON Konsumsi rumah tangga pada triwulan I-2015 diperkirakan masih tumbuh terbatas, tercermin dari penjualan domestik pada triwulan I-2015 yang menurun dibandingkan periode

Lebih terperinci

MUHIDIN M. SAID KOMISI V DPR RI

MUHIDIN M. SAID KOMISI V DPR RI RAPAT KONSULTASI REGIONAL (KONREG) BIDANG PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT TAHUN 2015 DUKUNGAN DPR RI TERHADAP PROGRAM PEMBANGUNAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT JAKARTA, 21 APRIL 2015 MENINGKATKAN

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara kepulauan. terbesar di dunia yang mempunyai lebih kurang pulau.

I. PENDAHULUAN. Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara kepulauan. terbesar di dunia yang mempunyai lebih kurang pulau. I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang mempunyai lebih kurang 18.110 pulau. Sebaran sumberdaya manusia yang tidak merata

Lebih terperinci

Strategi Pembangunan Ekonomi Indonesia Kantor Staf Presiden Republik Indonesia

Strategi Pembangunan Ekonomi Indonesia Kantor Staf Presiden Republik Indonesia Strategi Pembangunan Ekonomi Indonesia 2015-2019 Kantor Staf Presiden Republik Indonesia 1 Daftar Isi 1. Tantangan Yang Dihadapi Indonesia 1. Strategi dan Peluang Untuk Menuju Pertumbuhan dan Pemerataan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Iklim investasi yang baik akan mendorong terjadinya pertumbuhan

I. PENDAHULUAN. Iklim investasi yang baik akan mendorong terjadinya pertumbuhan 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Iklim investasi yang baik akan mendorong terjadinya pertumbuhan ekonomi melalui produktivitas yang tinggi, dan mendatangkan lebih banyak input ke dalam proses produksi.

Lebih terperinci

BAB I PERTUMBUHAN EKONOMI TRIWULAN II (SEMESTER I) TAHUN 2014

BAB I PERTUMBUHAN EKONOMI TRIWULAN II (SEMESTER I) TAHUN 2014 BAB I PERTUMBUHAN EKONOMI TRIWULAN II (SEMESTER I) TAHUN 2014 1.1 LATAR BELAKANG Pertumbuhan ekonomi pada triwulan II-2014 sebesar 5,12 persen melambat dibandingkan dengan triwulan yang sama pada tahun

Lebih terperinci

MENINGKATKAN DAYA SAING DAN PRODUKTIVITAS MELALUI PEKERJAAN YANG LAYAK. Oleh : 9 Juli 2015 DPN APINDO

MENINGKATKAN DAYA SAING DAN PRODUKTIVITAS MELALUI PEKERJAAN YANG LAYAK. Oleh : 9 Juli 2015 DPN APINDO MENINGKATKAN DAYA SAING DAN PRODUKTIVITAS MELALUI PEKERJAAN YANG LAYAK 9 Juli 2015 Oleh : DPN APINDO Intervensi khusus diperlukan untuk mengatasi masalah tingginya insiden pekerjaan berupah rendah, termasuk

Lebih terperinci

LAMPIRAN I : PERATURAN BADAN NASIONAL PENGELOLA PERBATASAN TENTANG RENCANA AKSI PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR

LAMPIRAN I : PERATURAN BADAN NASIONAL PENGELOLA PERBATASAN TENTANG RENCANA AKSI PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR 7 2012, No.54 LAMPIRAN I : PERATURAN BADAN NASIONAL PENGELOLA PERBATASAN TENTANG RENCANA AKSI PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR KAWASAN PERBATASAN TAHUN 2012 NOMOR : 2 TAHUN 2012 TANGGAL : 6 JANUARI 2012 RENCANA

Lebih terperinci

ARAH KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KONSEP MINAPOLITAN DI INDONESIA. Oleh: Dr. Sunoto, MES

ARAH KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KONSEP MINAPOLITAN DI INDONESIA. Oleh: Dr. Sunoto, MES ARAH KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KONSEP MINAPOLITAN Potensi dan Tantangan DI INDONESIA Oleh: Dr. Sunoto, MES Potensi kelautan dan perikanan Indonesia begitu besar, apalagi saat ini potensi tersebut telah ditopang

Lebih terperinci

1. BAB I PENDAHULUAN

1. BAB I PENDAHULUAN 1. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sebagai emerging country, perekonomian Indonesia diperkirakan akan terus tumbuh tinggi. Dalam laporannya, McKinsey memperkirakan Indonesia menjadi kekuatan ekonomi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. integral dan menyeluruh. Pendekatan dan kebijaksanaan sistem ini telah

BAB I PENDAHULUAN. integral dan menyeluruh. Pendekatan dan kebijaksanaan sistem ini telah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator penting untuk menganalisis pembangunan ekonomi yang terjadi disuatu Negara yang diukur dari perbedaan PDB tahun

Lebih terperinci

Jakarta, 29 Juli 2016 Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas

Jakarta, 29 Juli 2016 Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL Berita Pers Realisasi Investasi Triwulan II 2016 Naik 12,3 % Jakarta, 29 Juli 2016 Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Trikasih Lembong hari ini di Jakarta

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas perkebunan yang memiliki peran penting bagi perekonomian nasional. Selain sebagai sumber utama minyak nabati, kelapa sawit

Lebih terperinci

Prospek PT Inalum Pasca Pengambilalihan oleh Pemerintah. Oleh: Hilman Qomarsono 1

Prospek PT Inalum Pasca Pengambilalihan oleh Pemerintah. Oleh: Hilman Qomarsono 1 Prospek PT Inalum Pasca Pengambilalihan oleh Pemerintah Oleh: Hilman Qomarsono 1 Latar Belakang & Urgensi Akuisisi PT Inalum PT Inalum merupakan perusahaan penghasil aluminium hasil kerjasama Pemerintah

Lebih terperinci

SIARAN PERS. Realisasi Investasi Triwulan II Tahun 2017 Mencapai Rp 170,9 Triliun

SIARAN PERS. Realisasi Investasi Triwulan II Tahun 2017 Mencapai Rp 170,9 Triliun SIARAN PERS Realisasi Investasi Triwulan II Tahun 2017 Mencapai Rp 170,9 Triliun Jakarta, 26 Juli 2017 Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mempublikasikan data realisasi investasi Penanaman Modal Dalam

Lebih terperinci

Oleh : Iman Sugema. Membangun Ekonomi Mandiri & Merata

Oleh : Iman Sugema. Membangun Ekonomi Mandiri & Merata Oleh : Iman Sugema Membangun Ekonomi Mandiri & Merata Pertumbuhan melambat, ketimpangan melebar, & kalah dagang GDP Growth 7.00 6.81 6.50 6.00 5.99 6.29 5.81 6.44 6.58 6.49 6.44 6.33 6.34 6.21 6.18 6.03

Lebih terperinci

Laporan Akuntabilitas Kinerja Badan Koordinasi Penanaman Modal Tahun 2011 KATA PENGANTAR

Laporan Akuntabilitas Kinerja Badan Koordinasi Penanaman Modal Tahun 2011 KATA PENGANTAR KATA PENGANTAR BKPM menyusun laporan pertanggung jawaban kinerja dalam bentuk Laporan Akuntabilitas Kinerja Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Tahun 2011 mengacu pada Instruksi Presiden RI Nomor 7

Lebih terperinci

Bab II. Rumusan dan Advokasi Arah Kebijakan Pertanian

Bab II. Rumusan dan Advokasi Arah Kebijakan Pertanian 12 Rapat Dengan Wakil Presiden (Membahas Special Economic Zone) Dalam konteks ekonomi regional, pembangunan suatu kawasan dapat dipandang sebagai upaya memanfaatkan biaya komparatif yang rendah untuk meningkatkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam pembangunan jangka panjang, sektor industri merupakan tulang

BAB I PENDAHULUAN. Dalam pembangunan jangka panjang, sektor industri merupakan tulang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Dalam pembangunan jangka panjang, sektor industri merupakan tulang punggung perekonomian. Tumpuan harapan yang diletakkan pada sektor industri dimaksudkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tetap terbuka pada persaingan domestik. Daya saing daerah mencakup aspek yang

BAB I PENDAHULUAN. tetap terbuka pada persaingan domestik. Daya saing daerah mencakup aspek yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Daya saing ekonomi menunjukkan kemampuan suatu wilayah menciptakan nilai tambah untuk mencapai kesejahteraan yang tinggi dan berkelanjutan dengan tetap terbuka pada

Lebih terperinci

ANALISIS Perkembangan Indikator Ekonomi Ma kro Semester I 2007 Dan Prognosisi Semester II 2007

ANALISIS Perkembangan Indikator Ekonomi Ma kro Semester I 2007 Dan Prognosisi Semester II 2007 ANALISIS Perkembangan Indikator Ekonomi Makro Semester I 2007 Dan Prognosisi Semester II 2007 Nomor. 02/ A/B.AN/VII/2007 Perkembangan Ekonomi Tahun 2007 Pada APBN 2007 Pemerintah telah menyampaikan indikator-indikator

Lebih terperinci

PROGRAM KEGIATAN DITJEN PPI TAHUN 2011 DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS

PROGRAM KEGIATAN DITJEN PPI TAHUN 2011 DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS PROGRAM KEGIATAN DITJEN PPI TAHUN 2011 DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS DIREKTORAT JENDERAL PENGEMBANGAN PERWILAYAHAN INDUSTRI 28 Februari 2011 Indonesia memiliki keunggulan komparatif

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam era perdagangan bebas saat ini, telah terjadi perubahan secara

BAB I PENDAHULUAN. Dalam era perdagangan bebas saat ini, telah terjadi perubahan secara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam era perdagangan bebas saat ini, telah terjadi perubahan secara fundamental, bahwa gerak perdagangan semakin terbuka, dinamis, dan cepat yang menyebabkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. ekonomi terbesar di dunia pada tahun Tujuan pemerintah tersebut

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. ekonomi terbesar di dunia pada tahun Tujuan pemerintah tersebut BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu tujuan Pemerintah Indonesia yang tertuang dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025, adalah menjadikan Indonesia

Lebih terperinci

Ketua Komisi VI DPR RI. Anggota Komisi VI DPR RI

Ketua Komisi VI DPR RI. Anggota Komisi VI DPR RI PEMBERDAYAAAN KOPERASI & UMKM DALAM RANGKA PENINGKATAN PEREKONOMIAN MASYARAKAT 1) Ir. H. Airlangga Hartarto, MMT., MBA Ketua Komisi VI DPR RI 2) A. Muhajir, SH., MH Anggota Komisi VI DPR RI Disampaikan

Lebih terperinci

Materi Paparan Menteri ESDM Strategi dan Implementasi Program MW: Progres dan Tantangannya

Materi Paparan Menteri ESDM Strategi dan Implementasi Program MW: Progres dan Tantangannya Materi Paparan Menteri ESDM Strategi dan Implementasi Program 35.000 MW: Progres dan Tantangannya Bandung, 3 Agustus 2015 Kementerian ESDM Republik Indonesia 1 Gambaran Umum Kondisi Ketenagalistrikan Nasional

Lebih terperinci

Laporan Perekonomian Indonesia

Laporan Perekonomian Indonesia 1 Key Messages Ketahanan ekonomi Indonesia cukup kuat Ketahanan ekonomi Indonesia cukup kuat dalam menghadapi spillover dan gejolak pasar keuangan global. Stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan relatif

Lebih terperinci

SUPPLY DEMAND MATERIAL DAN PERALATAN KONSTRUKSI DALAM RANGKA MENDUKUNG INVESTASI INFRASTRUKTUR NASIONAL

SUPPLY DEMAND MATERIAL DAN PERALATAN KONSTRUKSI DALAM RANGKA MENDUKUNG INVESTASI INFRASTRUKTUR NASIONAL SUPPLY DEMAND MATERIAL DAN PERALATAN KONSTRUKSI DALAM RANGKA MENDUKUNG INVESTASI INFRASTRUKTUR NASIONAL Disampaikan dalam rangka CONBUILD MINING and RENEWABLE INDONESIA 2012 PUBLICWORKS DAY : SEMINAR NASIONAL

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 merupakan. dampak lemahnya fundamental perekonomian Indonesia.

I. PENDAHULUAN. Krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 merupakan. dampak lemahnya fundamental perekonomian Indonesia. I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 merupakan dampak lemahnya fundamental perekonomian Indonesia. Pada satu sisi Indonesia terlalu cepat melakukan

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM PERDAGANGAN INDONESIA KE ASEAN PLUS THREE

BAB IV GAMBARAN UMUM PERDAGANGAN INDONESIA KE ASEAN PLUS THREE BAB IV GAMBARAN UMUM PERDAGANGAN INDONESIA KE ASEAN PLUS THREE 4.1. Kerjasama Ekonomi ASEAN Plus Three Kerjasama ASEAN dengan negara-negara besar di Asia Timur atau lebih dikenal dengan istilah Plus Three

Lebih terperinci

TANTANGAN EKSTERNAL : Persiapan Negara Lain LAOS. Garment Factory. Automotive Parts

TANTANGAN EKSTERNAL : Persiapan Negara Lain LAOS. Garment Factory. Automotive Parts TANTANGAN EKSTERNAL : Persiapan Negara Lain LAOS Garment Factory Automotive Parts 1 Tantangan eksternal : persiapan Negara Lain VIETNAM 2 Pengelolaaan ekspor dan impor Peningkatan pengawasan produk ekspor

Lebih terperinci

BAB 4 INDIKATOR EKONOMI ENERGI

BAB 4 INDIKATOR EKONOMI ENERGI BAB 4 INDIKATOR EKONOMI ENERGI Indikator yang lazim digunakan untuk mendapatkan gambaran kondisi pemakaian energi suatu negara adalah intensitas energi terhadap penduduk (intensitas energi per kapita)

Lebih terperinci

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang. lumpuhnya sektor-sektor perekonomian dunia, sehingga dunia dihadapkan bukan

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang. lumpuhnya sektor-sektor perekonomian dunia, sehingga dunia dihadapkan bukan BAB I PENGANTAR 1.1 Latar Belakang Krisis ekonomi global lebih dari 12 tahun yang lalu telah mengakibatkan lumpuhnya sektor-sektor perekonomian dunia, sehingga dunia dihadapkan bukan hanya dengan upaya

Lebih terperinci