InfO KrIsIs Kesehatan

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "InfO KrIsIs Kesehatan"

Transkripsi

1 Edisi I FEBRUARI 2012 Buletin Manajemen Bencana dalam Kurikulum Mata Kuliah Poltekkes Dahsyatnya Bencana di Indonesia Karakteristik Krisis Kesehatan Akibat Bencana Tahun

2 dari Redaksi... Puji syukur ke hadirat Allah SWT bahwa atas seizin-nya Buletin INFO KRISIS KESEHATAN dapat diwujudkan. Di awal penerbitan buletin ini kami selaku Kepala Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan mengharapkan saran dan kritik yang bermanfaat guna penyempurnaan tulisan dan tampilannya, sehingga dapat memenuhi kebutuhan informasi. Sebagaimana dimaklumi bencana masih menjadi bagian yang belum dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia, berdasarkan data yang berhasil dihimpun Pusat Penanggulangan Krisis menegaskan bahwa pada tahun 2010 telah terjadi 315 kejadian bencana dengan korban meninggal orang, luka berat orang, luka ringan orang, korban hilang 247 orang dan pengungsi sebanyak orang, sementara sepanjang tahun 2011 bencana yang terjadi sebanyak 211, dengan korban meninggal 565 orang, luka berat orang, luka ringan orang, korban hilang 232 orang dan pengungsi sebanyak orang. Pada setiap kejadian bencana banyak ditemui berbagai permasalahan kesehatan sebagai dampak kerusakan yang ditimbulkannya. Kerusakan tempat tinggal, ketersediaan air bersih yang minim, hilangnya mata pencaharian dan lainlainnya sehingga menimbulkan ketidakmampuan korban untuk memenuhi kebutuhan dasarnya, terutama kebutuhan pangan dan air bersih. Masalah kesehatan akan semakin banyak pada saat dihadapkan pada ketersediaan fasilitas pengungsian dengan daya tampung terbatas dan sanitasi yang buruk. Ini akan mempermudah menyebarnya penyakit menular sehingga menimbulkan masalah sekunder pasca bencana yang apabila tidak ditangani akan menyebabkan meningkatnya angka kesakitan dan bahkan kematian. Di awal tahun ini, gunung Ijen yang berada di perbatasan antara dua Kabupaten Bondowoso dan Banyuwangi Provinsi Jawa Timur dan gunung Lokon di Kota Tomohon Provinsi Sulawesi Utara menggeliat, dengan menyemburkan material abu dan lahar panas, akibat letusan itu ribuan masyarakat diungsikan untuk menghindari kemungkinan jatuhnya korban. Kejadian tersebut tidak luput dari pemantauan jajaran kesehatan setempat maupun regional Jawa Timur, Regional Sulawesi Utara dan PPKK Kemkes. Sesuai prediksi Badan Metereologi dan Geofisika, di awal tahun 2012 sebagian besar wilayah di Indonesia mengalami musim hujan, Kementerian Kesehatan telah melakukan kesiapsiagaan penanggulangan bencana banjir melalui pertemuan Koordinasi Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana banjir di wilayah Jabodetabek dan wilayah Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo. Kegiatan ini merupakan suatu langkah antisipatif jajaran kesehatan untuk menyiapkan sumber daya yang dimiliki untuk menghadapi terjadinya bencana banjir. Di Indonesia, bencana masih merupakan ancaman bagi kita semua, namun tidak berarti kita pasrah untuk menerima keadaan ini tanpa berbuat pada upaya pengurangan risiko. Upaya penanggulangan bencana merupakan tanggung jawab bersama, dan salah satu peran yang dilakukan oleh kementerian kesehatan pada tahun 2012 dalam membangun kemandirian masyarakat dalam penanggulangan krisis kesehatan, adalah dengan membangun kemandirian masyarakat melalui lembaga pendidikan Politeknik Kesehatan seluruh Indonesia yang berada di bawah pembinaan Badan PPSDM, dengan memasukkan Manajemen Bencana sebagai salah satu mata kuliah. Untuk mendukung terlaksananya kegiatan tersebut pada tahun 2012 dilaksanakan penyusunan Pedoman Teknis Kader Pemberdayaan Masyarakat dalam Penanggulangan Krisis Kesehatan. Dari kegiatan itu diharapkan kecepatan dalam merespon kejadian bencana dapat ditingkatkan, dan tentu dengan ditambah berbagai pengalaman yang sudah diperoleh selama penanganan bencana di berbagai daerah, dapat menjadi informasi yang sangat berguna bagi pengelola program penanggulangan krisis kesehatan, karena pengalaman merupakan guru yang paling baik. Dari berbagai pengalaman tersebut Pusat Penanggulangan Krisis Kesehaan mencoba untuk menuangkannya dalam media buletin yang diberi nama INFO KRISIS KESEHATAN, yang materinya diperoleh dari Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan, Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan Regional dan Sub Regional terkait penanggulangan krisis kesehatan, dan sumber lainnya. Dengan terbitnya buletin INFO KRISIS KESEHATAN ini, diharapkan dapat dijadikan bahan pembelajaran untuk memperbaiki upaya penanggulangan krisis kesehatan di masa yang akan datang. Redaksi... Daftar Isi Manajemen Bencana Dalam Kurikulum Mata Kuliah Poltekes 04 Laporan Kesiapsiagaan Darurat Gunung Api Lokon Kesiapsiagaan Gunung Ijen Latihan Teknis Penanggulangan Bencana Bersama TNI 21 Dahsyatnya Bencana Di Indonesia Karakteristik Krisis Kesehatan Akibat Bencana Tahun Perencanaan Rumah Sakit Dalam Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Manajemen Logistik Dalam Penanggulangan Bencana Tips Menghadapi Gempa Bumi Tips Menghadapi PNS PNS Lupa Waktu Buletin ; kilas balik kegiatan PPKK Sub Regional Sumbar Tahun 2011 Susunan Redaksi Penanggung Jawab : Mudjiharto, SKM, M.M. Redaktur : Maryani SKM, M.M. Penyunting : Dodi Irianto Desain Grafis : Antonius Sunar Wahyudi Fotografer : dr. Adi Sopiandi M.Kes Sekretariat : Dra. Titik Nurhaeraty Penulis Artikel : Palupi Widyastuti, SKM. 02

3 Manajemen Bencana dalam Kurikulum Mata Kuliah Poltekkes Kesiapsiagaan Buletin Oleh : Aditya R. Manggala, S.Psi Tak ada yang bisa menolak bencana, kita sebagai manusia hanya bisa mengurai resikonya saja -Jusuf Kalla- Berangkat dari banyaknya bencana diindonesia, mulai dari tsunami di Aceh pada tahun 2004 sampai meletusnya gunung merapi pada tahun 2010, menjadikan indonesia matang dalam menghadapi bencana, hal ini terbukti dengan terpilihnya Bapak Presiden Susilo Bambang Yudoyono sebagai Global For Disaster Risk Ruduction dari Perserikatan Bangsa-bangsa (UN) pada tahun 2011 hal ini mengilhamkan bahwa manajemen bencana untuk pengurangan resiko sangat penting, Maka dari itu bangsa-bangsa lain banyak yang datang ke Indonesia untuk belajar manajemen penaggulangan bencana dengan cara seminar, pelatihan singkat, dll. Bidang Kesehatan Kesehatan sebagai vocal point jika terjadi bencana pun fokus terhadap issue ini, Pusat Penaggulangan Krisis Kesehatan telah membuat pelatihan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dalam manajemen Penanggulangan bencana dibidang kesehatan dan sudah melatih sebanyak 117 kabupaten/kota di seluruh Indonesia, tidak hanya itu pada tanggal 8-10 Desember 2011 bertempat di Hotel Holiday Inn Baruna Kuta Bali, Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan, melaksanakan Pertemuan Koordinasi Peningkatan Kapasitas Mahasiswa Politeknik Kesehatan (poltekes) Kemenkes dalam penanggulangan bencana yang dibuka secara langsung oleh Kepala Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan, Mudjiharto, SKM, MM dan Kepala Pusat Perencananan dan Pendayagunaan SDM Kesehatan, hasil dari pertemuan ini adalah untuk memasukan materi manajemen bencana bidang kesehatan agar bisa diapikasikan oleh mahasiswa. Kenapa Manajemen Bencana Untuk Politekkes? Kita ketahui bersama jika bencana terjadi tenaga kesehatan yang ada bisa menjadi korban bencana tersebut, sehingga kita sering sekali kekurangan tenaga kesehatan, dan pada saat itu kita sangat memerlukan tenaga kesehatan dalam jumlah yang besar. Poltekkes sebagai institusi pendidikan dibidang kesehatan dibawah kementerian kesehatan diharapkan bisa menjadi lini terdepan yang dapat memberikan bantuan dukungan kesehatan penanggulangan bencana, maka dari itu mahasiswa politekkes harus memiliki pengetahuan manajemen bencana di samping pengetahuan teknis dibidangnya sehingga dapat berperan aktif jika bencana terjadi. Disamping itu kegiatan ini dilaksanakan untuk agar tersosialisasikannya upaya pengintegrasian pengetahuan dan keterampilan penanggulangan bencana pada proses pendidikan formal (perkuliahan) bagi para mahasiswa Politeknik Kesehatan (Poltekkes) kepada seluruh Direktur Poltekkes Kementerian Kesehatan Terus Kapan Eksekusinya? Hasil dari Pertemuan Koordinasi Peningkatan Kapasitas Mahasiswa Politeknik Kesehatan (poltekes) Kemenkes dan Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan antara lain adalah masuknya materi Manajemen Kesehatan Pada Penanggulangan Bencana di poltekes, mata kuliah ini akan diberikan pada semester 4 atau 5 dengan bobot 2 SKS. Mata Kuliah ini akan segera dimulai pada semester genap tahun 2012/2013. Untuk persiapannya Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan akan mengadakan pelatihan bagi tenaga pengajar mata kuliah Manajemen Kesehatan Pada Penanggulangan Bencana. Masingmasing Poltekkes mengirimkan 2 orang Guru/Dosen Poltekkes, yang Pembukaan disambut oleh tarian bali 03 direncanakan pada tanggal 1-5 Maret 2012 dijakarta. Poltekes yang akan dilatih dikegiatan inipun adalah poltekkes-poltekkes di lokasi daerah rawan bencana dan dekat dengan sub regional Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan, pertimbangan ini antara lain jika terjadi bencana akan lebih mudah dalam berkoordinasinya Kenapa Hanya Kesling, Gizi, dan Keperawatan? Pada Perdana mata kuliah ini (tahun ajaran 2012/2013) sementara masih dilaksanakan di jurusan kesehatan lingkungan, Gizi dan keperawatan, dan karena itulah banyak pertanyaan yang muncul kenapa hanya jurusan itu saja? Apakah yang lainya tidak penting? Mudjiharto selaku Kepala Pusat penanggulangan Krisis Kesehatan menjawab bukannya tidak penting, semua sangat penting disaat bencana, cuma kita harus melihat skala prioritasnya, karena ju tetapi di tahun depan kita akan segera mengkaji materi yang bisa dimasukan kejurusan lainnya yang ada di poltekes. Diskusi sedang berlangsung

4 Kesiapsiagaan Laporan Kesiapsiagaan Darurat Gunung Api Lokon Oleh : dr. Eko Medistianto Gunung Api Lokon adalah gunung api bertipe stratovolcano yang terletak di Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara padaposisi LU dan BT. Gunung ini memiliki ketinggian m dari permukaan laut. Puncak Gunung Lokon berjarak sekitar meter di sebelah barat laut dari kota Tomohon dan sekitar meter di sebelah barat daya dari kota kecamatan Pineleng. Dari ibukota provinsi Manado hanya berjarak sekitar 20 km di barat daya kota Manado. Gunung ini pernah beberapa kali meletus antara lain pada tahun 1951, 1991 dan Pada letusan tahun 2011 Gunung Lokon mulai menunjukkan aktivitas sejak 18 Juni Pada hari Minggu, 10 Juli 2011 status gunung ini telah ditingkatkan dari Siaga menjadi Awas oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi. Pada Kamis, 14 Juli 2011 pukul 22:45 WITA gunung Lokon di kawah Tompaluan meletus dengan lontaran material pijar, pasir, dan hujan abu setinggi sekitar meter. Selanjutnya, letusan kembali terjadi pada Jumat dini hari sekitar pukul Wita dengan lontaran material vulkanik setinggi 600 meter. Letusan ini mengakibatkan lebih dari warga di beberapa desa, di antaranya Kinilow, Tinoor, dan Kakaskasen mengungsi ke Tomohon atau Manado. Sedikitnya dalam sehari setelah letusan telah mengakibatkan dua warga meninggal sebagai akibat tidak langsung dari letusan. Sejak tanggal 24 Juli 2011 Gunung Lokon ditetapkan berstatus Siaga (Level III) oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. Pada tanggal 10 Februari 2012 pukul WITA Gunung Lokon kembali meletus, mengeluarkan erupsi diikuti suara gemuruh, abu letusan berwarna kelabu tebal, tinggi kolom asap letusan 2000 m dari Kawah Tompaluan, tertiup angin kearah Tenggara. Direkomendasikan tidak ada aktivitas masyarakkat dalam radius 2.5 km dari Kawah Tompaluan. Dampak letusan ini mengenai 14 desa di Kota Tomohon. Masyarakat dihimbau untuk terus waspada dan mempersiapkan segala hal jika ada peningkatan aktivitas gunung Lokon. Pada tanggal 11 Februari 2011 aktivitas Gunung lokon kembali menurun, masyarakat tetap beraktivitas normal dan tidak ada pengungsian. Populasi Beresiko/Terancam Berdadaskan informasi dari Dinas Kesehatan dan Sosial Kota Tomohon daerah yang terkena debu letusan Gunung Lokon adalah : Desa Matani I : : 1948 jiwa, Desa Matani II : 2858 jiwa Desa Matani III : 2280 jiwa, Desa Kolongan I dan II : 3502 jiwa, Desa Kakaskasaen III : 2683 jiwa, Desa Paslaten II : 2885 jiwa, Desa Walian I : 1928 jiwa, DesaWalian II : 1459 jiwa, DesaTinoorI : 1500 jiwa, Desa Tinoor II : 1464 jiwa, DesaKamasi : 2396 jiwa, DesaTumatangtang: 3150 jiwa, DesaUluindano : 1534 jiwa dan Desa 04 Lansot : 2116 Jiwa. Permasalahan kesehatan Berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan oleh Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan dan laporan dari PPK Regional Sulawesi Utara dan Dinas Kesehatan dan Sosial Kota Tomohon tidak ada korban meninggal, luka berat dan luka ringan serta tidakterjadi pengungsian. Kesiapsiagaan Daerah 1. Kesiapan Sarana dan Prasarana Kesehatan Fasilitas pelayanan kesehatanyang disiagakan di Kota Tomohon antara lain 7 puskesmas, 5 dari 7 puskesmas tersebut merupakan puskesmas rawat inap, 2 rumah sakit juga disi agakanya itu RS Gunung Maria dan RS Bethesda. Untuk rumah sakit rujukan disiapkan RSUP Dr. Kandow Manado.

5 Sarana dan logistik kesehatan yang telah disiapkan oleh Dinas Kesehatan dan Sosial Kota Tomohon adalah 8 unit ambulans/mobil puskesmas kelliling lengkap dengan stretcher, 23 unit tempat tidur pasien, 10 unit veltbed, alat kesehatan, obat dan bahan habis pakai, 5 unit alat fogging, vaksin dan 4000 masker. 2. Kesiapan Tenaga Kesehatan Tenaga kesehatan yang telah disiapkan oleh Dinas Kesehatan dan Sosial Kota Tomohon sebanyak 345 orang yang berasal dari Dinkessos, 7 puskesmas dan 2 Rumah Sakit. Selain itu sebanyak 14 tenaga kesehatan jiwa yang berasal dari 7 puskesmas dan RS Jiwa Ratumbuisang Mando juga disiapkan untuk mengantisipasi adanya masalah kesehatan jiwa apabila ada warga yang mengungsi di pengungsian. Sistem Informasi Penyampaian Data/Informasidan pelaporan menggunakan Sistem Informasi Penanggulangan Krisis sesuai dengan Kepmenkes No. 064/MENKES/ SK/II/2006. Upaya Yang Telah Dilakukan Dinas Kesehatan Kota Tomohon mendistribusikan masker sebanyak 6000 buah kepada warga yang terkena debu letusan Gunung Lokonserta menyiagakan 7 puskesmas di Kota Tomohon untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada warga yang terkena penyakit akibat debu letusan Gunung Lokon. Kementerian Kesehatan melalui Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan memberi bantuan masker sebanyak 4000 buah untuk kesiapsiagaan darurat letusan Gunung Lokon. Badan Nasional Penanggulangan Bencana segera meresponletusan Gunung Lokon dengan membentuk dan mengirimkan Tim Kesiapsiagaan Darurat Peningkatan aktivitas Vulkanik Gunung ApiLokon yang beranggotakan 7 orang berasal dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Pekerjaan Umum dan Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan. Tim kesiapsiagaan darurat tersebut terdiri dari : NO NAMA JABATAN INSTANSI 1 Yus Rizal, DCN, M.Epid Kasubdit. Penyelamatan dan Evakuasi BNPB 2 Suwignyo, SH Kasubdit. Pengerahan dan Distribusi BNPB 3 Budi Sunarso, S.Si,M.Si Kasubdit. PeringatanDini BNPB 4 HadiPurnomo Staf Kementerian PU 5 dr. Eko Medistianto Staf Bidang Tanggap Darurat dan Pemulihan 6 Setiawan Cahya Purnama Staf Deputi II BNPB 7 TeguhPratama Staf Deputi II BNPB Kegiatan yang dilakukan antara lain : Melakukan koordinasi dengan Jajaran Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Sulawesi Utara dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Tomohon dan Dinas Kesehatan dan Sosial Kota Tomohon. Melakukan pemantauan aktivitas Gunung Api Lokon dan mengumpulkan data aktifitas Gunung dari Pusat Pengamatan Gunung Api Lokon dan Mahawu di Kota Tomohon. Tim bersama-sama dengan BPBD Kota Tomohon dan Dinkessos Kota Tomohon mereview ulang Rencana Kontinjensi Kota Tomohon dengan skenario Letusan Gunung Api Tomohon dan menentukan kegiatan penanggulangan bencana yang dilakukan dan inventarisasi kebutuhan sumberdaya dan logistik dari berbagai sektor termasuk sektor kesehatan. Penyerahan Dana Siaga Darurat Bencana Letusan 3 GunungApi (Gunung Lokon, Gunung Karangetang dan Gunung Soputan) di Provinsi PPKK, Kementerian Kesehatan Sulawesi Utara dari BNPB kepada BPBD Provinsi Sulawesi Utara.] Rencana Tindak Lanjut Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan bersama-sama dengan Dinas Kesehatan dan Sosial Kota Tomohondan PPK Regional Sulawesi Utara tetap melakukan pemantauan terhadap aktifitas Gunung Lokon. Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan akan mengirim bantuan 6000 masker untuk memperkuat Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara dalam kesiapsiagaan menghadapi ancaman letusan Gunung Lokon. 05

6 Kesiapsiagaan Kesiapsiagaan Gunung Ijen Oleh : dr. Jaya Supriyanto Sejak bulan Oktober hingga Desember 2011 telah terjadi peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Ijen ditandai oleh peningkatan aktivitas vulkanik baik secara visual, jumlah per bulan Gempa Vulkanik Dalam (VA), Vulkanik Dangkal (VB) dan Gempa Tremor menerus). Didasarkan pada peningkatan aktivitas kegempaannya, sejak tanggal 15 Desember 2011, Gunung Ijen mengalami peningkatan status dari Normal (Level I) menjadi WASPADA (Level II). Dalam periode tanggal Desember 2011 telah terjadi peningkatan aktivitas yang signifikan yang ditandai oleh lonjakan tajam jumlah. Gempa Vulkanik Dalam dan Gempa Vulkanik Dangkal serta diikuti juga oleh menguatnya gas SO 2 di sekitar danau kawah G. Ijen. Berdasarkan hasil pengamatan visual dan kegempaan serta analisis data tersebut maka terhitung tanggal 18 Desember 2011 pukul 04:00 WIB status kegiatan G. Ijen dinaikkan dari Waspada (Level II) menjadi Siaga (Level III). Potensi bahayanya di kawasan rawan bencana 1, 2 dan 3 antara lain aliran awan panas, lahar letusan, lahar hujan, hujan abu lebat, kemungkinan longsoran puing vulkanik dan lontaran batu pijar. Sejak 8 Februari 2012 pukul WIB, status Gunung Ijen telah diturunkan menjadi status waspada. Gunung Ijen merupakan gunungapi aktif yang memiliki danau kawah di puncak, dengan panjang dan lebar danau masing-masing sebesar 800 m dan 700 m serta kedalaman danau mencapai 180 m. Secara geografis G. Ijen berada pada posisi 8º LS dan 114º BT dengan tinggi puncaknya 2386 meter dari permukaan laut. Secara administratif Gunung Ijen terletak di dua Kabupaten, yaitu Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur. Populasi Beresiko/Terancam Berdasarkan keterangan Pusat Vulkanologi, Mitigasi Bencana Geologi (PMVBG) daerah rawan bencana Gunung Ijen meliputi di 3 kabupaten yaitu Kabupaten Bondowoso (Kecamatan Sempol), Kabupaten Banyuwangi (Kecamatan Licin, Kecamatan Kalipuro, Kecamatan Wongsorejo) serta Kabupaten Situbondo (Kecamatan Asembagus) dengan jumlah penduduk yang mencapai orang. Permasalahan kesehatan Berdasarkah hasil pemantauan yang dilakukan oleh Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan dan laporan dari PPK Regional Jawa Timur, Dinkes Kabupaten Bondowoso, Dinkes Kabupaten Situbondo dan Dinkes Kabupaten Banyuwangi serta BBTKL PPM Surabaya, yaitu terjadi peningkatan risiko kesehatan dari beberapa parameter media lingkungan seperti udara, air serta badan air sejalan dengan penetapan status Gunung Ijen dari waspada menjadi siaga. Hingga status siaga diturunkan menjadi status waspada tidak ada tidak ada korban jiwa dan korban luka-luka serta tidak terjadi pengungsian. Kesiapsiagaan Daerah 1. Kesiapan Sarana dan Prasarana Kesehatan Fasilitas pelayanan kesehatan yang disiagakan untuk Kabupaten Bondowoso 7 Puskesmas (Sempol, Sumber Wringin, Sukosari, Tapen, Klabang, Prajekan, Botolinggo), 3 Ponkesdes, RSUD serta RS Elisabeth. Kabupaten Situbondo telah menyiapkan fasilitas kesehatan yaitu 2 Puskesmas rawat inap (Asembagus, Banyu putih ) dan 15 Ponkesdes, RSUD, RS Elisabeth. Fasilitas kesehatan yang telah disiapkan oleh Kabupaten Banyuwangi yaitu 7 Puskesmas (Licin, Songgon, Mojopanggung, Paspan, Wongsorejo, Bajulmati, Klatak), RSUD, RS Fatimah, RS Yasmin. Sarana dan logistik kesehatan yang telah disiapkan untuk Kabupaten Bondowoso adalah 5 ambulans (1 unit 4 WD dan 4 unit 2 WD), 10 kendaraan roda dua, 1 HT dan obat-obatan. Kabupaten Situbondo telah menyiagakan 21 ambulans, 34 Roda dua, 1 UnitTenda Posko, obat-obatan dan MP ASI serta alat komunikasi. Kabupaten Banyuwangi telah menyiagakan 68 unit kendaraan roda dua, 19 unit kendaraan roda empat, 12 unit ambulans, 15 unit truk (POLRI, TNI, Pemkab), 8 unit perahu karet, 3 unit kapal patroli, 2 unit helikopter dan 5 unit peralatan selam. 06

7 2. Kesiapan Tenaga Kesehatan Tenaga kesehatan yang telah disiapkan untuk Kabupaten Bondowoso sebanyak orang yang terdiri dokter 78 orang, perawat/bidang 846 orang, tenaga lainlain 343 orang. Kabupaten Situbondo telah menyiagakan tenaga sebanyak orang dengan rincian dokter 118 orang, perawat/bidan 783 orang, tenaga lain-lain 136 orang. Kabupaten Banyuwangi telah menyiagakan tenaga sebanyak dengan rincian dokter 50 orang, perawat/ bidan 100 orang, tenaga lain-lain sebanyak orang. Sistem Informasi Penyampaian Data/Informasi dan pelaporan menggunakan Sistem Informasi Penanggulangan Krisis sesuai dengan Kepmenkes No. 064/MENKES/SK/II/2006. Upaya Yang Telah Dilakukan 1. Pemantauan Kualitas Lingkungan BBTKL Surabaya melakukan Surveilens Faktor Risiko dan Antipasi Kesiapsiagaan Menghadapi Erupsi Gunung Ijen. Fokus pemantauan dilakukan pada beberapa lokasi yang dekat dengan kawah Gunung Ijen yaitu Dusun Giri Mulyo Desa Sumberrejo, Dusun Sempol Desa Sempol dan Pos Pengamatan I di Paltuding. Pada lokasi ini dilakukan pengujian kualitas udara, dan kualitas air bersih yang menunjukkan gambaran sebagai berikut : Dari hasil pemantauan kualitas udara menunjukkan kadar debu PM10 pada 3 lokasi pemantauan terdeteksi, namun untuk Dusun Giri Mulyo dan Pos Paltuding melebihi ambang batas sebagai mana ditetapkan pada Baku Mutu Peraturan Gubernur Jawa Timur No. 10 tahun Kondisi ini dapat menimbulkan gangguan kesehatan seperti penyakit saluran pernafasan terutama pada kelompok penduduk rentan. Hasil pemantauan menunjukkan beberapa parameter seperti Florida, Nitrat dan ph melebihi ambang batas berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 416 tahun tahun 1990 tentang Persyaratan Kesehatan Air Bersih. 2. Mobilisasi SDM Kesehatan Pusat Penanggulangan Krisis Kementerian Kesehatan mengirimkan 2 tim yaitu Tim I berangkat pada 28 Desember 2011 yang terdiri dari 3 petugas PPKK untuk melakukan pertemuan siaga darurat di Kabupaten Situbondo yang dihadiri oleh pejabat dari: PPKK, PPK Reg Jawa Timur, Dinkes Kab Bondowoso, Dinkes Kab Situbondo, Dinkes Kab Banyuwangi, RS Soetomo, RS Saiful Anwar dan Lintas Sektor di 3 Kabupaten terdampak. Sedangkan Tim 2 berangkat pada tanggal 3 Januari 2011 yang terdiridari 5 orang dari PPKK, 2 orang PPK Regional dan 2 orang BBTKL Surabaya. Kegiatan tim meliputi : Tim PPKK dan PPK Reg melakukan pemantauan di lokasi bencana, melalukan koordinasi dengan 3 Dinas Kesehatan Kabupaten terdampak, menginventarisasi kebutuhan, melakukan pendampingan dalam pengelolaan data dan informasi ke 3 Dinas Kesehatan Kabupaten sampai ke puskesmas, Tim BBTKL melakukan pemeriksaan perkembangan kualitas udara dan air. 3. Mobilisasi Logistik Kesehatan : PPKK melalui PPK Reg Jatim telah mengirimkan bantuan ke 3 Kabupaten terdampak yaitu MP ASI 300 koli, Back Pack 5 buah (pinjam pakai), Tenda Weimann 4 buah (2 bondowoso, 2 Situbondo) pinjam pakai, Masker pieces, Sepatu boot 30 pasang, Obat 8 Koli (4 Bondowoso, 4 Situbondo), Feld Bed 20 buah (pinjam pakai), Tiang infuse 20 buah (pinjam pakai), Infus set anak 200, Abocath anak 200, Radio Komunikasi (pinjam pakai), Mobil double gardan untuk puskesmas sempol (pinjam pakai). BBTKL PP Surabaya memberikan bantuan Logistik yaitu Hygiene Personal Kit 50 paket, Penjernih Air Cepat 1000 shase, Masker (kain) 1500 buah, Aquatabs 500 tablet. 4. Upaya yang telah dilakukan Dinas Kesehatan Dinas Kesehatan Bondowoso telah melakukan upaya mengaktifkan Pos kesehatan di Puskesmas Sempol, mendirikan Tenda untuk pos kesehatan di Lapangan Hasanudin dan Pos Kesehatan Pasanggrahan, membentuk Tim Reaksi Cepat, membuat Rencana kontigensi bidang kesehatan, melakukan koordinasi lints sektor (BPBD akan membantu menyediakan masker untuk gas beracun sebanyak 200 buah), membuat jadwal untuk melakukan pemantauan perkembangan situasi dan kondisi gunung Ijen. Dinas Kesehatan Banyuwangi telah melakukan membuat Posko Bidang Kesehatan di Kantor Dinas Kesehatan Kab. Banyuwangi, mengaktifkan Pos Kesehatan di Balai Diklat Tamansari dengan jadwal piket jaga on call, melakukan RHA, melakukan Rapat Koordinasi lintas program dan lintas sektor, membentuk Tim Reaksi Cepat, membuat Rencana kontigensi bidang kesehatan, membagikan masker kepada masyarakat. Dinas Kesehatan Kabupaten Situbondo telah melakukan pengaktifan pos kesehatan 24 Jam di Puskesmas Asembagus dan Puskesmas Banyuputih, menyusun rencana kontigensi bidang kesehatan Kabupaten Situbondo bersama lintas sektor, menyiagakan 7 pos kesehatan untuk 7 lokasi pengungsian yang disiapkan, menyiagakan Rumah Sakit Rujukan. 07

8 Kesiapsiagaan Latihan Teknis Penanggulangan Bencana Bersama TNI Oleh : Aditya R. Manggala, S.Psi Untuk meningkatkan kemampuan personil Pasukan Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana TNI, pada tanggal Januari 2012 bertempat di desa Ciwidew, Ranca Upas Kabupaten Bandung, Pusat Kesehatan TNI menyelenggarakan latihan gabungan yang diikuti 61 orang peserta terdiri dari unsur Dinas Kesehatan TNI AD, Dinas Kesehatan TNI AL dan Dinas Kesehatan TNI AU. Pada kesempatan itu 10 orang staf Penanggulangan Krisis Kesehatan dan 5 orang dari Komunitas Peduli Indonesia ikut serta dalam latihan gabungan tersebut. Kegiatan ini dibuka oleh Kolonel CKM Heri D, dalam sambutannya disampaikan bahwa kegiatan yang diselenggarakan Pusat Kesehatan TNI merupakan kegiatan rutin yang dilakukan untuk meningkatkan kapasitas teknis satuan TNI dalam penanggulangan bencana dan menginventarisir kemampuan sumber daya manusia dan peralatan pendukung yang dimiliki masing-masing satuan, sedangkan keikutsertaan unsur Kementerian Kesehatan dan organisasi masyarakat adalah untuk lebih meningkatkan kerjasama yang selama ini sudah terjalin, agar dapat dilakukan lebih baik lagi dimasa mendatang. Materi yang diberikan pada latihan tersebut lebih menekankan pada penanganan evakuasi korban di dalam jurang yang diakibatkan bencana hujan dan tanah longsor, 08 dengan menggunakan alat bantu tali. Narasumber untuk pelatihan ini adalah Kapten Simbolon dari Paskas TNI Angkatan Udara, Divisi Search & Resque.

9 RAGAM INFO Buletin Dahsyatnya Bencana di Indonesia yang Mendunia. Oleh : Drs. Dodi Iriyanto Gunung Tambora ( Foto Franzbonbon.blogSpot.com ) Mungkin ada diantara kita yang belum mengetahui bencana di Indonesia telah menyebabkan malapetaka di dunia, yang mengakibatkan korban jiwa dan kerusakan dalam jumlah besar. Kesadaran masyarakat Indonesia tentang pengetahuan bencana, dewasa ini dirasakan semakin meningkat, hal ini mungkin tidak lepas dari kejadian bencana gempa bumi dan tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 yang telah meluluh lantakkan sebagian Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Provinsi Sumatera Utara. Kekuatan gempa memiliki kekuatan 8,9 skala richter di Samudera India atau tepatnya di ujung pulau Sumatera di hari Minggu pagi waktu Indonesia bagian barat telah menyebabkan dunia terhenyak. Gempa yang terjadi sekitar pukul berpusat di lokasi 2,9ºLU dan 95,6ºBT, telah menyebabkan jumlah korban tewas di Indonesia cukup besar dan diperkirakan sedikitnya orang tewas dan ribuan lainnya mengalami luka-luka. Gempa yang terjadi tersebut menurut Julie Martinez dari US Geological Survey AS merupakan gempa terdahsyat sejak Apa yang terjadi dengan gempa di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam tersebut yang kemudian disusul dengan tsunami setinggi 10 meter, juga menerjang sebagian negara Asia meliputi Srilangka dengan jumlah korban tewas diperkirakan jiwa, India, Thailand, Malaysia, Myanmar dan Maladewa. Di Afrika bagian selatan juga tak luput terkena dampak bencana seperti Somalia dan Tanzania. Indonesia dikenal sebagai salah satu negara paling rawan terhadap bencana, hal ini tidak lepas dari kondisi geografis, geologis, hidrologis dan demografis Indonesia yang memungkinkan terjadinya bencana. Tercatat dalam sejarah bahwa bencana yang pernah terjadi di Indonesia telah menyebabkan duka bagi dunia. Stephen J. Spignesi seorang penulis buku 100 Bencana Terbesar Sepanjang Sejarah dari Amerika Serikat, mencatat selain bencana gempa dan tsunami yang terjadi di Provinsi NAD dan Sumut ada dua bencana besar di Indonesia yaitu Letusan Gunung Tambora tanggal 5 April 1815 dan Gunung Krakatau Agustus 1883 Letusan Gn. Tambora. Pada tanggal 5 April 1815, geliat gunung Tambora di Pulau Sumbawa, setinggi tiga belas ribu kaki (±3.960 m ), memuntahkan material batubatuan dan abu keangkasa raya. Suara gemuruhnya terdengar hingga ribuan kilometer, abu tebal menghalangi cahaya matahari sehingga para penduduk di pulau itu boleh dikatakan tidak mampu melihat tangan di hadapan wajah mereka sendiri. Tanggal 10 April, letusan memuncak dengan gumpalan api yang sangat besar membelit satu sama lain. Kejadian ini kemudian diikuti oleh angin topan, yang mungkin serupa dengan fenomena metereologis badai api. Dampak yang ditimbulkan tentu sudah dapat kita bayangkan, hawa panas yang mencapai ± 700º 800º Fahrenheit ( 371º-426º C ) membuat mahluk hidup terpotong-potong dan terbakar ; bendabenda hancur tercabik-cabik menjadi potongan-potongan yang tidak terhitung banyaknya. Kekuatan letusan gunung Tambora melebihi kemampuan gunung dan pulau dimana gunung itu berdiri. Material yang dimuntahkan berton-ton jumlahnya, lava, dan abu, gunung itu mulai menyusut, dari semula tiga belas ribu kaki (3.960 m) menjadi sembilan ribu kaki ( m). Abu telah mematikan semua sayuran dan wabah kelaparan yang segera menyusul, penyakit epidemik kolera muncul menyebabkan orang tewas, dengan orang diantaranya mati seketika selama letusan. Awan letusan gunung Tambora yang sangat besar ini telah menyebabkan turunnya temperatur bumi, dan kehancuran tanaman pangan musim panas di belahan Eropa dan Amerika. Temperatur pada bulan Juni jauh di bawah normal, menyebabkan 09

PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN AKIBAT BENCANA DI INDONESIA MEI 2014

PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN AKIBAT BENCANA DI INDONESIA MEI 2014 PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN AKIBAT BENCANA DI INDONESIA MEI 2014 ACEH Tanah Longsor SUMUT Angin Puting Beliung SUMBAR Kebakaran Angin Puting Beliung KEPRI Angin Puting Beliung JAMBI Tanah Longsor KALTIM

Lebih terperinci

Materi Inti 4: FASILITAS RUMAH SAKIT DALAM PENANGGULANGAN BENCANA

Materi Inti 4: FASILITAS RUMAH SAKIT DALAM PENANGGULANGAN BENCANA Materi Inti 4: FASILITAS RUMAH SAKIT DALAM PENANGGULANGAN BENCANA Tujuan pembelajaran umum: Peserta mampu memahami fasilitas dan sarana prasana rumah sakit yang diperlukan dalam penanganan bencana Tujuan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR : 9 TAHUN 2009 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH PROVINSI JAWA BARAT

PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR : 9 TAHUN 2009 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NO. 9 2009 SERI. E PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR : 9 TAHUN 2009 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH PROVINSI JAWA BARAT

Lebih terperinci

Bencana dan Pergeseran Paradigma Penanggulangan Bencana

Bencana dan Pergeseran Paradigma Penanggulangan Bencana Bencana dan Pergeseran Paradigma Penanggulangan Bencana Rahmawati Husein Wakil Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana PP Muhammadiyah Workshop Fiqih Kebencanaan Majelis Tarjih & Tajdid PP Muhammadiyah, UMY,

Lebih terperinci

MITIGASI BENCANA BENCANA :

MITIGASI BENCANA BENCANA : MITIGASI BENCANA BENCANA : suatu gangguan serius terhadap keberfungsian suatu masyarakat sehingga menyebabkan kerugian yang meluas pada kehidupan manusia dari segi materi, ekonomi atau lingkungan dan yang

Lebih terperinci

BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA ( B N P B )

BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA ( B N P B ) BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA ( B N P B ) JI. Ir. H. Juanda 36. Jakarta 020 Indonesia Telepon : (02) 345 8400 Fax : (02) 345 8500 LAPORAN HARIAN PUSDALOPS BNPB Minggu, 25 Januari 2009 Pada hari

Lebih terperinci

INOY TRISNAINI, SKM., M.KL FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SRIWIJAYA BENCANA PERAN KADER KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENANGGULANGAN BENCANA

INOY TRISNAINI, SKM., M.KL FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SRIWIJAYA BENCANA PERAN KADER KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENANGGULANGAN BENCANA BENCANA PERAN KADER KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENANGGULANGAN BENCANA Bencana ialah peristiwa atau rangkaian peristiwa yg mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yg disebabkan, baik

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan 3 (tiga) lempeng tektonik besar yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia dan Pasifik. Pada daerah pertemuan

Lebih terperinci

PENYEBAB TERJADINYA TSUNAMI

PENYEBAB TERJADINYA TSUNAMI Pengenalan Tsunami APAKAH TSUNAMI ITU? Tsunami adalah rangkaian gelombang laut yang mampu menjalar dengan kecepatan hingga lebih 900 km per jam, terutama diakibatkan oleh gempabumi yang terjadi di dasar

Lebih terperinci

Buletin Bulanan Kemanusiaan Indonesia

Buletin Bulanan Kemanusiaan Indonesia Buletin Bulanan Kemanusiaan Indonesia Edisi 08 01 31 Agustus 2012 Ikhtisar kejadian bencana P.1 Kesiapsiagaan & respon bencana P.3 Jumlah orang yang terkena dampak bencana alam yang terjadi pada bulan

Lebih terperinci

Kejadian dan dampak bencana berkurang seiring hampir berakhirnya musim hujan yang parah

Kejadian dan dampak bencana berkurang seiring hampir berakhirnya musim hujan yang parah Buletin Bulanan Kemanusiaan Indonesia Edisi 02 Februari dan Maret 2013 HIGHLIGHTS Banjir dan tanah longsor menewaskan 20 orang di Sulawesi Utara pada bulan Februari. Sekitar 4.220 rumah rusak, 3.832 orang

Lebih terperinci

PETUNJUK OPERASIONAL KEGIATAN T.A 2013

PETUNJUK OPERASIONAL KEGIATAN T.A 2013 Halaman : 1 024.01.01 Program Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Kementerian Kesehatan 68.024.902.000 2044 Penanggulangan Krisis Kesehatan 68.024.902.000 2044.001 Petugas Terlatih

Lebih terperinci

Dampak Bencana Alam Meningkat

Dampak Bencana Alam Meningkat Buletin Kemanusiaan Bulanan Indonesia Edisi 5 2013 SOROTAN Bencana hidrometeorologi tetap menjadi bencana alam yang paling umum. TNI Isi Ikhtisar kejadian bencana H.1 Respon Bencana dan Kesiapsiagaan H.4

Lebih terperinci

- 1 - GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG

- 1 - GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG - 1 - GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG PENANGGULANGAN BENCANA DI PROVINSI

Lebih terperinci

Laporan Situasi. Gambaran Situasi. Tanah Longsor. Banjarnegara-Jawa Tengah. Informasi Kunci. Situation Report Desember 2014

Laporan Situasi. Gambaran Situasi. Tanah Longsor. Banjarnegara-Jawa Tengah. Informasi Kunci. Situation Report Desember 2014 Situation Report Tanah Longsor Banjarnegara-Jawa Tengah DISASTER MANAGEMENT CENTER DOMPET DHUAFA Laporan Situasi Informasi Kunci 12-16 Desember 2014 Longsor kembali landa wilayah Kabupaten Banjarnegara,

Lebih terperinci

Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang

Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang PENGANTAR MITIGASI BENCANA Definisi Bencana (1) Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam

Lebih terperinci

BUPATI BLITAR PERATURAN BUPATI BLITAR NOMOR 6 TAHUN 2011

BUPATI BLITAR PERATURAN BUPATI BLITAR NOMOR 6 TAHUN 2011 BUPATI BLITAR PERATURAN BUPATI BLITAR NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG PENJABARAN TUGAS DAN FUNSI PELAKSANA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN BLITAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BLITAR

Lebih terperinci

LAPORAN HARIAN PUSDALOPS BNPB Senin, 31 Agustus 2009

LAPORAN HARIAN PUSDALOPS BNPB Senin, 31 Agustus 2009 . BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA ( B N P B ) JI. Ir. H. Juanda 36, Jakarta 10120 Indonesia Telepon : (021) 345 8400 Fax : (021) 345 8500 Email : posko@bnpb.go.id Website : http://www.bnpb.go.id

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TIMUR NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

SALINAN PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TIMUR NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TIMUR NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KALIMANTAN TIMUR, Menimbang : a. bahwa kondisi geografis

Lebih terperinci

Review upaya PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN AKIBAT BENCANA KEKERINGAN DIPROVINSI NTB 2014

Review upaya PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN AKIBAT BENCANA KEKERINGAN DIPROVINSI NTB 2014 Review upaya PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN AKIBAT BENCANA KEKERINGAN DIPROVINSI NTB 2014 DINAS KESEHATAN PROVINSI NTB PENINGKATAN UPAYA PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN, KUTA-BALI 25-28 NOVEMBER 2014

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Rencana Aksi Daerah (RAD) 1.1 Latar Belakang Indonesia adalah negara yang rawan bencana. Dari aspek geografis, Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, terletak di antara

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR: 297 / KPTS / M / 2013 TENTANG SATUAN TUGAS PENANGGULANGAN BENCANA DI KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM

KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR: 297 / KPTS / M / 2013 TENTANG SATUAN TUGAS PENANGGULANGAN BENCANA DI KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM MENTERI PEKERJAAN UMUM KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR: 297 / KPTS / M / 2013 TENTANG SATUAN TUGAS PENANGGULANGAN BENCANA DI KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM MENTERI PEKERJAAN

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Secara geografis, geologis, hidrologis, dan sosio-demografis, Indonesia

BAB 1 PENDAHULUAN. Secara geografis, geologis, hidrologis, dan sosio-demografis, Indonesia BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Secara geografis, geologis, hidrologis, dan sosio-demografis, Indonesia merupakan wilayah rawan bencana. Sejak tahun 1988 sampai pertengahan 2003 terjadi 647 bencana

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2013 TENTANG KESEHATAN MATRA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2013 TENTANG KESEHATAN MATRA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2013 TENTANG KESEHATAN MATRA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN PENANGGULANGAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN PENANGGULANGAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN PENANGGULANGAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN PENANGGULANGAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN PENANGGULANGAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN PENANGGULANGAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berada di kawasan yang disebut cincin api, kondisi tersebut akan

BAB I PENDAHULUAN. berada di kawasan yang disebut cincin api, kondisi tersebut akan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan terbesar di dunia berada di kawasan yang disebut cincin api, kondisi tersebut akan menyebakan bencana alam

Lebih terperinci

KEBIJAKAN PENGELOLAAN MASALAH PENANGGULANGAN BENCANA BIDANG KESEHATAN

KEBIJAKAN PENGELOLAAN MASALAH PENANGGULANGAN BENCANA BIDANG KESEHATAN KEBIJAKAN PENGELOLAAN MASALAH PENANGGULANGAN BIDANG KESEHATAN Achmad Yurianto PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Valerie Amos Under-Secretary-General for Humanitarian

Lebih terperinci

INFORMASI KEHIDUPAN BERBAGAI BAHASA

INFORMASI KEHIDUPAN BERBAGAI BAHASA 2 Waktu Terjadinya Bencana Alam 2-6 Akses Informasi yang Dapat Diterima Mengenai Bencana Untuk mencegah keadaan mengenai bencana alam, yang pertama adalah mendapatkan info dari badan perkiraan cuaca tentang

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA NOMOR 18 TAHUN 2010 TENTANG

PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA NOMOR 18 TAHUN 2010 TENTANG PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA NOMOR 18 TAHUN 2010 TENTANG PEDOMAN DISTRIBUSI BANTUAN LOGISTIK DAN PERALATAN PENANGGULANGAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN

Lebih terperinci

BUKU SISWA ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

BUKU SISWA ILMU PENGETAHUAN SOSIAL BUKU SISWA ILMU PENGETAHUAN SOSIAL KELAS VI SEMESTER 2 CARA- CARA PENANGGULANGAN BENCANA ALAM A. CARA- CARA MENGHADAPI BENCANA ALAM 1. Menghadapi Peristiwa Gempa Bumi Berikut adalah upaya yang dapat dilakukan

Lebih terperinci

BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA ( B N P B )

BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA ( B N P B ) BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA ( B N P B ) JI. Ir. H. Juanda 36. Jakarta 020 Indonesia Telepon : (02) 345 8400 Fax : (02) 345 8500 LAPORAN HARIAN PUSDALOPS BNPB Jum at, 30 Januari 2009 Pada hari

Lebih terperinci

POKOK DOA BENCANA ALAM TSUNAMI, GUNUNG MELETUS DAN BANJIR DI INDONESIA

POKOK DOA BENCANA ALAM TSUNAMI, GUNUNG MELETUS DAN BANJIR DI INDONESIA POKOK DOA BENCANA ALAM TSUNAMI, GUNUNG MELETUS DAN BANJIR DI INDONESIA Bapak/Ibu/Sdr/i terkasih dalam Tuhan, Indonesia sedang mengalami bencana alam yg bertubi-tubi melanda negeri tercinta ini. Sebagai

Lebih terperinci

Divisi Manajemen Bencana PMPK-UGM

Divisi Manajemen Bencana PMPK-UGM Divisi Manajemen Bencana PMPK-UGM Komponen HDP: Kebijakan Organisasi Protap - SOP Sistim komando Sistim komunikasi dan informasi Fasilitas Form dan cheklist Monitoring - evaluasi KEBIJAKAN Surat Keputusan

Lebih terperinci

PEDOMAN MANAJEMEN LOGISTIK DAN PERALATAN PENANGGULANGAN BENCANA

PEDOMAN MANAJEMEN LOGISTIK DAN PERALATAN PENANGGULANGAN BENCANA PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA NOMOR 13 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN MANAJEMEN LOGISTIK DAN PERALATAN PENANGGULANGAN BENCANA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA (BNPB) - i - DAFTAR

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1224, 2013 KEMENTERIAN PERTAHANAN. Penanggulangan. Bencana. Bantuan. Kesehatan. Pencabutan. PERATURAN MENTERI PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2013 TENTANG

Lebih terperinci

Buletin Kemanusiaan Indonesia

Buletin Kemanusiaan Indonesia Buletin Kemanusiaan Indonesia Januari Maret 2014 SOROTAN Dampak bencana alam meningkat Ribuan telah diungsikan berbulanbulan karena letusan vulkanik Gunung Sinabung Harmonisasi klaster berlanjut Penutupan

Lebih terperinci

PANDUAN MENGHADAPI BENCANA

PANDUAN MENGHADAPI BENCANA PANDUAN MENGHADAPI BENCANA Tujuan manajemen bencana pada dasarnya adalah berupaya untuk menghindarkan masyarakat dari bencana baik dengan cara mengurangi kemungkinan munculnya hazard maupun mengatasi kerentanan.

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN ACEH TAMIANG

PEMERINTAH KABUPATEN ACEH TAMIANG - 1 - PEMERINTAH KABUPATEN ACEH TAMIANG QANUN KABUPATEN ACEH TAMIANG NOMOR 7 TAHUN 2010 TENTANG PEMBENTUKAN BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN ACEH TAMIANG BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

Jenis Bahaya Geologi

Jenis Bahaya Geologi Jenis Bahaya Geologi Bahaya Geologi atau sering kita sebut bencana alam ada beberapa jenis diantaranya : Gempa Bumi Gempabumi adalah guncangan tiba-tiba yang terjadi akibat proses endogen pada kedalaman

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 01 TAHUN 2013 TENTANG BANTUAN SOSIAL BAGI KORBAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 01 TAHUN 2013 TENTANG BANTUAN SOSIAL BAGI KORBAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 01 TAHUN 2013 TENTANG BANTUAN SOSIAL BAGI KORBAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang : MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA, a. bahwa

Lebih terperinci

3/17/2015 STANDAR PELAYANAN DI PUSKESMAS DESAIN KAMAR OPERASI

3/17/2015 STANDAR PELAYANAN DI PUSKESMAS DESAIN KAMAR OPERASI STANDAR PELAYANAN DI PUSKESMAS DESAIN KAMAR OPERASI 1 MASALAH KUALITAS/ MUTU PELAYANAN KESEHATAN SAAT INI 2 PENILAIAN KUALITAS/ MUTU PELAYANAN KESEHATAN 3 MUTU Tingkat kesempurnaan SUATU BARANG yang sesuai

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR SULAWESI BARAT, Menimbang

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR SULAWESI BARAT, Menimbang PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI BARAT NOMOR 2 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA LEMBAGA LAIN SEBAGAI BAGIAN DARI PERANGKAT DAERAH PROVINSI SULAWESI BARAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

GUBERNUR ACEH PERATURAN GUBERNUR ACEH NOMOR 43 TAHUN 2010 TENTANG SISTEM PERINGATAN DINI DAN PENANGANAN DARURAT BENCANA TSUNAMI ACEH

GUBERNUR ACEH PERATURAN GUBERNUR ACEH NOMOR 43 TAHUN 2010 TENTANG SISTEM PERINGATAN DINI DAN PENANGANAN DARURAT BENCANA TSUNAMI ACEH GUBERNUR ACEH PERATURAN GUBERNUR ACEH NOMOR 43 TAHUN 2010 TENTANG SISTEM PERINGATAN DINI DAN PENANGANAN DARURAT BENCANA TSUNAMI ACEH DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA GUBERNUR ACEH, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI BANTEN NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH PROVINSI BANTEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH PROVINSI BANTEN NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH PROVINSI BANTEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH PROVINSI BANTEN NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH PROVINSI BANTEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANTEN, Menimbang : a. bahwa Provinsi Banten memiliki

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN pulau, terletak diantara dua benua (Asia dan Australia) dan di antara dua

BAB I PENDAHULUAN pulau, terletak diantara dua benua (Asia dan Australia) dan di antara dua BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia, memiliki lebih dari 17.480 pulau, terletak diantara dua benua (Asia dan Australia) dan di antara dua

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN PENANGGULANGAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN PENANGGULANGAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN PENANGGULANGAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN AKIBAT BENCANA DI INDONESIA

PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN AKIBAT BENCANA DI INDONESIA PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN AKIBAT BENCANA DI INDONESIA (Februari 2010) SUMUT Bandang, DKI JAKARTA KALIMANTAN TIMUR SUMSEL SUMBAR LAMPUNG Bandang BANTEN Angin Siklon Tropis JABAR, Bandang,, Angin Siklon

Lebih terperinci

BUPATI SUKOHARJO PERATURAN BUPATI SUKOHARJO NOMOR 20 TAHUN 2010 TENTANG

BUPATI SUKOHARJO PERATURAN BUPATI SUKOHARJO NOMOR 20 TAHUN 2010 TENTANG . BUPATI SUKOHARJO PERATURAN BUPATI SUKOHARJO NOMOR 20 TAHUN 2010 TENTANG PEMBENTUKAN SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN SUKOHARJO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

Bulletin Kemanusiaan Indonesia

Bulletin Kemanusiaan Indonesia Bulletin Kemanusiaan Indonesia April - Juni 2014 Dalam edisi ini SOROTAN Penurunan keseluruhan kejadian bencana pada tahun 2014 Dua gunung berapi meletus Gunung Sangeangapi dan Gunung Sinabung Pelatihan

Lebih terperinci

RENCANA AKSI KEGIATAN PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN

RENCANA AKSI KEGIATAN PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN RENCANA AKSI KEGIATAN PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN Tahun 2015-2019 Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan KATA PENGANTAR Tugas Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan adalah melaksanakan penyusunan kebijakan

Lebih terperinci

Definisi Bencana (2) (ISDR, 2004)

Definisi Bencana (2) (ISDR, 2004) Definisi Bencana Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau non-alam maupun faktor

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1389, 2013 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN KESEHATAN. Penanggulangan. Krisis Kesehatan. Pencabutan. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 64 TAHUN 2013 TENTANG PENANGGULANGAN

Lebih terperinci

25/02/2015. Manajemen bencana Perencanaan,kedaruratan dan pemulihan. Jenis Bencana (UU 24/2007) Terjadinya Bencana. Potensi Tsunami di Indonesia

25/02/2015. Manajemen bencana Perencanaan,kedaruratan dan pemulihan. Jenis Bencana (UU 24/2007) Terjadinya Bencana. Potensi Tsunami di Indonesia Keperawatan Medikal Bedah Fikes UMMagelang Universitas Muhammadiyah Magelang Manajemen bencana Perencanaan,kedaruratan dan pemulihan Disaster Nursing I Program studi Ilmu sarjana keperawatan Rabu, 25 Februari

Lebih terperinci

QANUN ACEH NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG PENANGGULANGAN BENCANA BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHAKUASA GUBERNUR ACEH,

QANUN ACEH NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG PENANGGULANGAN BENCANA BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHAKUASA GUBERNUR ACEH, QANUN ACEH NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG PENANGGULANGAN BENCANA BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHAKUASA GUBERNUR ACEH, Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelaksanaan Memorandum of Understanding

Lebih terperinci

PEDOMAN BANTUAN LOGISTIK

PEDOMAN BANTUAN LOGISTIK PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA NOMOR 04 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN BANTUAN LOGISTIK BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA (BNPB) DAFTAR ISI 1. PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN

Lebih terperinci

PEDOMAN BANTUAN PERALATAN

PEDOMAN BANTUAN PERALATAN PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA NOMOR 05 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN BANTUAN PERALATAN BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA (BNPB) DAFTAR ISI 1. PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN

Lebih terperinci

DAFTAR USULAN KEGIATAN PEMBANGUNAN MUSRENBANG KABUPATEN PEMERINTAH KABUPATEN BANYUWANGI TAHUN ANGGARAN 2014

DAFTAR USULAN KEGIATAN PEMBANGUNAN MUSRENBANG KABUPATEN PEMERINTAH KABUPATEN BANYUWANGI TAHUN ANGGARAN 2014 DAFTAR USULAN KEGIATAN PEMBANGUNAN MUSRENBANG KABATEN PEMERINTAH KABATEN BANYUWANGI TAHUN ANGGARAN 2014 BIDANG : GABUNGAN Hal 1 / 8 00001 Program Pelayanan BLUD APBD Prop Dana 1 119010101 Penyediaan jasa

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.2083, 2014 BNPB. Bantuan Logistik. Penanggulangan Bencana. Pemanfaatan

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.2083, 2014 BNPB. Bantuan Logistik. Penanggulangan Bencana. Pemanfaatan BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.2083, 2014 BNPB. Bantuan Logistik. Penanggulangan Bencana. Pemanfaatan PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA NOMOR 26 TAHUN 2014 TENTANG PEMANFAATAN

Lebih terperinci

W A L I K O T A Y O G Y A K A R T A

W A L I K O T A Y O G Y A K A R T A W A L I K O T A Y O G Y A K A R T A PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 46 TAHUN 2013 TENTANG PENJABARAN FUNGSI DAN RINCIAN TUGAS BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KOTA YOGYAKARTA DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

BUPATI PURBALINGGA PERATURAN BUPATI PURBALINGGA NOMOR 26 TAHUN 2011 TENTANG PENJABARAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH

BUPATI PURBALINGGA PERATURAN BUPATI PURBALINGGA NOMOR 26 TAHUN 2011 TENTANG PENJABARAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH BUPATI PURBALINGGA PERATURAN BUPATI PURBALINGGA NOMOR 26 TAHUN 2011 TENTANG PENJABARAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PURBALINGGA Menimbang

Lebih terperinci

QANUN KABUPATEN ACEH BARAT DAYA NOMOR 4 TAHUN 2012 TENTANG

QANUN KABUPATEN ACEH BARAT DAYA NOMOR 4 TAHUN 2012 TENTANG QANUN KABUPATEN ACEH BARAT DAYA NOMOR 4 TAHUN 2012 TENTANG SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN ACEH BARAT DAYA BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DENGAN RAHMAT ALLAH YANG

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Jenis Bencana Jumlah Kejadian Jumlah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Jenis Bencana Jumlah Kejadian Jumlah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Bencana banjir berdasarkan data perbandingan jumlah kejadian bencana di Indonesia sejak tahun 1815 2013 yang dipublikasikan oleh Badan Nasional Penanggulangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tinggi. Secara historis, Indonesia merupakan Negara dengan tingkat

BAB I PENDAHULUAN. tinggi. Secara historis, Indonesia merupakan Negara dengan tingkat 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Indonesia adalah Negara dengan kekayaan alam yang melimpah. Kekayaan dari flora dan faunanya, serta kekayaan dari hasil tambangnya. Hamparan bumi Indonesia

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 75 TAHUN 2014 TENTANG PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 75 TAHUN 2014 TENTANG PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 75 TAHUN 2014 TENTANG PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa

Lebih terperinci

Buletin Kemanusiaan Bulanan Indonesia. Banjir, tanah longsor dan angin puting beliung meningkat selama April dan Mei. Isi HIGHLIGHTS ANGKA-ANGKA

Buletin Kemanusiaan Bulanan Indonesia. Banjir, tanah longsor dan angin puting beliung meningkat selama April dan Mei. Isi HIGHLIGHTS ANGKA-ANGKA Buletin Kemanusiaan Bulanan Indonesia Edisi 03 April Mei 2013 HIGHLIGHTS 220.000 orang terdampak/ mengungsi akibat 198 bencana alam selama April dan Mei terjadi kenaikan dari periode sebelumnya. Banjir

Lebih terperinci

KESIAPAN PELAYANAN KESEHATAN ARUS MUDIK IDUL FITRI 1436 H / 2015

KESIAPAN PELAYANAN KESEHATAN ARUS MUDIK IDUL FITRI 1436 H / 2015 KESIAPAN PELAYANAN KESEHATAN ARUS MUDIK IDUL FITRI 1436 H / 2015 DINAS KESEHATAN KABUPATEN LEBAK JL. MULTATULI NO. 5 RANGKASBITUNG TLP. 0252-201312 FAX. 0252-201024 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

Lebih terperinci

6.6. G. TANGKOKO, Sulawesi Utara

6.6. G. TANGKOKO, Sulawesi Utara 6.6. G. TANGKOKO, Sulawesi Utara KETERANGAN UMUM Nama Lain : Tonkoko Nama Kawah : - Lokasi Ketinggian Kota Terdekat Tipe Gunungapi Pos Pengamatan Gunungapi : Administratif: termasuk Desa Makewide, Kecamatan

Lebih terperinci

- 2 - MEMUTUSKAN : PERATURAN GUBERNUR TENTANG PERBAIKAN DARURAT PADA SAAT TRANSISI DARURAT BENCANA DI ACEH. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1

- 2 - MEMUTUSKAN : PERATURAN GUBERNUR TENTANG PERBAIKAN DARURAT PADA SAAT TRANSISI DARURAT BENCANA DI ACEH. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 PERATURAN GUBERNUR ACEH NOMOR 39 TAHUN 2016 TENTANG PERBAIKAN DARURAT PADA SAAT TRANSISI DARURAT BENCANA DI ACEH DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA GUBERNUR ACEH, Menimbang : a. bahwa untuk meminimalisasi

Lebih terperinci

BUPATI SIAK PROVINSI RIAU PERATURAN BUPATI SIAK NOM OR TAHUN 2015 TENTANG BANTUAN SOSIAL BAGI KORBAN BENCANA

BUPATI SIAK PROVINSI RIAU PERATURAN BUPATI SIAK NOM OR TAHUN 2015 TENTANG BANTUAN SOSIAL BAGI KORBAN BENCANA BUPATI SIAK PROVINSI RIAU PERATURAN BUPATI SIAK NOM OR TAHUN 2015 TENTANG BANTUAN SOSIAL BAGI KORBAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SIAK, Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

PEDOMAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PENANGANAN TANGGAP DARURAT BENCANA MUHAMMADIYAH DISASTER MANAGEMENT CENTER

PEDOMAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PENANGANAN TANGGAP DARURAT BENCANA MUHAMMADIYAH DISASTER MANAGEMENT CENTER PEDOMAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PENANGANAN TANGGAP DARURAT BENCANA MUHAMMADIYAH DISASTER MANAGEMENT CENTER BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam situasi keadaan Darurat bencana sering terjadi

Lebih terperinci

PERATURAN BUPATI BANDUNG BARAT NOMOR 23 TAHUN 2011 TENTANG TUGAS POKOK, FUNGSI, DAN RINCIAN TUGAS BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN

PERATURAN BUPATI BANDUNG BARAT NOMOR 23 TAHUN 2011 TENTANG TUGAS POKOK, FUNGSI, DAN RINCIAN TUGAS BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN 1 PERATURAN BUPATI BANDUNG BARAT NOMOR 23 TAHUN 2011 TENTANG TUGAS POKOK, FUNGSI, DAN RINCIAN TUGAS BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANDUNG BARAT,

Lebih terperinci

1. Prosedur Penanggulangan Keadaan Darurat SUBSTANSI MATERI

1. Prosedur Penanggulangan Keadaan Darurat SUBSTANSI MATERI 1. Prosedur Penanggulangan Keadaan Darurat Modul Diklat Junior PKP-PK 1.1 Lokasi penting dalam penanggulangan gawat darurat 1.1.1 Rendezpous point Adalah tempat tertentu di bandar udara yang disediakan

Lebih terperinci

PENANGANAN PENGUNGSI PADA SAAT TANGGAP DARURAT BENCANA DAN TRANSISI DARURAT KE PEMULIHAN. Oleh : Direktur Tanggap Darurat

PENANGANAN PENGUNGSI PADA SAAT TANGGAP DARURAT BENCANA DAN TRANSISI DARURAT KE PEMULIHAN. Oleh : Direktur Tanggap Darurat PENANGANAN PENGUNGSI PADA SAAT TANGGAP DARURAT BENCANA DAN TRANSISI DARURAT KE PEMULIHAN Oleh : Direktur Tanggap Darurat DEPUTI BIDANG PENANGANAN DARURAT BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA Jakarta,

Lebih terperinci

MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2012 TENTANG

MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2012 TENTANG PERATURAN NOMOR 20 TAHUN 2012 TENTANG PROSEDUR DAN MEKANISME PENYALURAN CADANGAN BERAS PEMERINTAH UNTUK PENANGANAN TANGGAP DARURAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang :, a. bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN BARITO UTARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN BARITO UTARA NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG

PEMERINTAH KABUPATEN BARITO UTARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN BARITO UTARA NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG PEMERINTAH KABUPATEN BARITO UTARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN BARITO UTARA NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN BARITO UTARA DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

PENDAHULUAN ISTILAH 10/15/14

PENDAHULUAN ISTILAH 10/15/14 Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan 2014 PENDAHULUAN Bencana à jatuhnya korban jiwa serta kerusakan struktur dan infrastruktur Fasyankes memiliki peran penting untuk yankes pada korban bencana Fasyankes

Lebih terperinci

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2012 TENTANG PENANGGULANGAN BENCANA BANJIR DAN TANAH LONGSOR PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2012 TENTANG PENANGGULANGAN BENCANA BANJIR DAN TANAH LONGSOR PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2012 TENTANG PENANGGULANGAN BENCANA BANJIR DAN TANAH LONGSOR PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Dalam rangka penanggulangan bencana banjir dan tanah longsor

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA SINGKAWANG

PEMERINTAH KOTA SINGKAWANG PEMERINTAH KOTA SINGKAWANG PERATURAN DAERAH KOTA SINGKAWANG NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG PEMBENTUKAN BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KOTA SINGKAWANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SINGKAWANG,

Lebih terperinci

KAJIAN PEMBENTUKAN DAN PENYELENGGARAAN UNIT PELAKSANA TEKNIS

KAJIAN PEMBENTUKAN DAN PENYELENGGARAAN UNIT PELAKSANA TEKNIS PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG KAJIAN PEMBENTUKAN DAN PENYELENGGARAAN UNIT PELAKSANA TEKNIS BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA (BNPB) - i - DAFTAR

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BLITR TAHUN 2013 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BLITAR NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG BANTUAN BENCANA

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BLITR TAHUN 2013 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BLITAR NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG BANTUAN BENCANA 9 Oktober 2013 LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BLITR TAHUN 2013 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BLITAR NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG BANTUAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BLITAR, Nomor 7 Seri A Menimbang

Lebih terperinci

PEMERINTAH PROPINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA TIMUR NOMOR 4 TAHUN 2001 TENTANG

PEMERINTAH PROPINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA TIMUR NOMOR 4 TAHUN 2001 TENTANG PEMERINTAH PROPINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA TIMUR NOMOR 4 TAHUN 2001 TENTANG PERUBAHAN PERTAMA PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA TIMUR NOMOR 18 TAHUN 2000 TENTANG BADAN KESATUAN BANGSA PROPINSI

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang 9 PENDAHULUAN Latar Belakang Pada akhir Desember 2004, terjadi bencana gempa bumi dan gelombang Tsunami yang melanda Provinsi Nanggroe Aceh Darusssalam (NAD) dan Sumatera Utara. Bencana ini mengakibatkan:

Lebih terperinci

KEBIJAKAN PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN

KEBIJAKAN PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN KEBIJAKAN PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN PUSAT KRISIS KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA achmad yurianto a_yurianto362@yahoo.co.id 081310253107 LATAR BELAKANG TREND KEBENCANAAN MANAJEMEN

Lebih terperinci

PENILAIAN RISIKO PPMK-DEPKES

PENILAIAN RISIKO PPMK-DEPKES PENILAIAN RISIKO BENCANA PPMK-DEPKES Kenapa perlu Penilaian risiko? Menyusun prioritas risiko bencana yg mungkin terjadi Definisi Operasional Risiko (Risk) Besarnya kemungkinan bencana akan terjadi Penilaian

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG BARAT NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG BARAT NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang : a. Mengingat : 1. PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG BARAT NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANDUNG BARAT, bahwa

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG BARAT NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG BARAT NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang : a. Mengingat : 1. PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG BARAT NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANDUNG BARAT, bahwa

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Menurut Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Nomor 4 Tahun 2008, Indonesia adalah negara yang memiliki potensi bencana sangat tinggi dan bervariasi

Lebih terperinci

kemudahan dalam membantah ide tersebut, sekaligus menggambarkan besarnya ledakan histeria yang terjadi dan upaya berbagai kalangan untuk meredamnya.

kemudahan dalam membantah ide tersebut, sekaligus menggambarkan besarnya ledakan histeria yang terjadi dan upaya berbagai kalangan untuk meredamnya. Memulai tulisan ini tentu tidak lengkap jika tidak menyentuh histeria Kiamat 2012 yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Ide Kiamat 2012 itu di antaranya didasarkan pada prediksi akan terjadinya fenomena

Lebih terperinci

IJIN PENDIRIAN : IJIN PENYELENGGARAAN : NOMOR : 445/9539/V.2 TANGGAL (BERLAKU 2 TAHUN)

IJIN PENDIRIAN : IJIN PENYELENGGARAAN : NOMOR : 445/9539/V.2 TANGGAL (BERLAKU 2 TAHUN) IJIN PENDIRIAN : NOMOR : 445/9539/V.2 TANGGAL 21-12-2009 (BERLAKU 2 TAHUN) IJIN PENYELENGGARAAN : NOMOR : 445/1835/V.2 TANGGAL 22-12-2009 (BERLAKU 5 TAHUN) Menjadi Rumah Sakit yang mampu memberikan pelayanan

Lebih terperinci

- 1 - WALIKOTA MADIUN SALINAN PERATURAN DAERAH KOTA MADIUN NOMOR 12 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN PENANGGULANGAN BENCANA

- 1 - WALIKOTA MADIUN SALINAN PERATURAN DAERAH KOTA MADIUN NOMOR 12 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN PENANGGULANGAN BENCANA - 1 - WALIKOTA MADIUN SALINAN PERATURAN DAERAH KOTA MADIUN NOMOR 12 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN PENANGGULANGAN BENCANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MADIUN, Menimbang : a. bahwa tujuan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI 1. PENDAHULUAN.5 2. MENGENAL LEBIH DEKAT MENGENAI BENCANA.8 5W 1H BENCANA.10 MENGENAL POTENSI BENCANA INDONESIA.39 KLASIFIKASI BENCANA.

DAFTAR ISI 1. PENDAHULUAN.5 2. MENGENAL LEBIH DEKAT MENGENAI BENCANA.8 5W 1H BENCANA.10 MENGENAL POTENSI BENCANA INDONESIA.39 KLASIFIKASI BENCANA. DAFTAR ISI 1. PENDAHULUAN...5 2. MENGENAL LEBIH DEKAT MENGENAI BENCANA...8 5W 1H BENCANA...10 MENGENAL POTENSI BENCANA INDONESIA...11 SEJARAH BENCANA INDONESIA...14 LAYAKNYA AVATAR (BENCANA POTENSIAL INDONESIA)...18

Lebih terperinci

Pedoman Assesment Tanggap Darurat Bencana

Pedoman Assesment Tanggap Darurat Bencana Pedoman Assesment Tanggap Darurat Bencana BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pengambilan keputusan yang efektif dan efisien dalam merespon bencana mutlak ditopang oleh informasi yang didapat oleh pihak

Lebih terperinci

BUPATI BLORA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN BLORA NOMOR 8 TAHUN 2014 TENTANG

BUPATI BLORA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN BLORA NOMOR 8 TAHUN 2014 TENTANG BUPATI BLORA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN BLORA NOMOR 8 TAHUN 2014 TENTANG PEMBENTUKAN ORGANISASI BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN BLORA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

PENANGGULANGAN BENCANA (PB) Disusun : IdaYustinA

PENANGGULANGAN BENCANA (PB) Disusun : IdaYustinA PENANGGULANGAN BENCANA (PB) Disusun : IdaYustinA 1 BEncANA O Dasar Hukum : Undang-Undang RI No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana 2 Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengakibatkan terjadinya kerusakan dan kehancuran lingkungan yang pada akhirnya

BAB I PENDAHULUAN. mengakibatkan terjadinya kerusakan dan kehancuran lingkungan yang pada akhirnya BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan wilayah yang rawan terhadap berbagai jenis bencana, termasuk bencana alam. Bencana alam merupakan fenomena alam yang dapat mengakibatkan terjadinya

Lebih terperinci

PERENCANAAN PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN TAHUN REVISI 2015

PERENCANAAN PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN TAHUN REVISI 2015 PERENCANAAN PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN TAHUN 2015-2019 REVISI 2015 I. PERENCANAAN 2015-2019 A. LATAR BELAKANG Pembangunan nasional adalah rangkaian upaya pembangunan yang berkesinambungan yang meliputi

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANA TORAJA NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANA TORAJA NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANA TORAJA NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG PEMBENTUKAN ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN TANA TORAJA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci