BAB V PROSES PENGOLAHAN

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB V PROSES PENGOLAHAN"

Transkripsi

1 BAB V PROSES PENGOLAHAN 5.1. Pengertian Proses pengolahan dapat didefinisikan sebagai proses pembuatan suatu produk dari bahan mentah dan bahan asal, serta kegiatan-kegiatan penanganan dan pengawetan produk tersebut (Winarno, 1994). Menurut Cornel (1985), sistem produksi dalam proses pengolahan secara umum dapat dibedakan menjadi dua yaitu: a. Continue Process Continue process adalah proses produksi yang terus menerus. Mesin dan peralatan disiapkan dalam jangka yang panjang tanpa mengalami perubahan untuk menghasilkan suatu produk. Proses berlangsung terusmenerus selama jenis produk yang sama dikerjakan. Dalam proses ini terdapat jangka waktu yang panjang tanpa adanya perubahan-perubahan dari pengaturan dan penggunaan mesin serta peralatan. b. Batch Process Batch Process adalah proses produksi yang terputus-putus. Mesin dan peralatan yang dipersiapkan untuk menghasilkan barang atau jasa dalam jangka pendek, kemudian dapat diubah atau dipersiapkan kembali untuk menghasilkan produk yang lain, dalam hal ini proses yang dilakukan adalah terputus-putus. Dalam proses ini dibutuhkan jangka waktu yang pendek untuk mengatur mesin atau peralatan untuk perubahan yang cepat guna menghasilkan variasi produk. Produk bakery (produk olahan panggang berbahan dasar serealia) dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok berdasarkan karakteristik fisik dan proses pembuatannya yaitu: 38

2 39 a. Roti Roti adalah produk yang diperoleh dari adonan tepung terigu yang diragikan dengan ragi roti dan dipanggang, dengan atau tanpa penambahan bahan makanan lain dan bahan tambahan makanan yang diizinkan (SNI ). Menurut Mudjajanto dan Yulianti (2007), berdasarkan rasanya roti dapat dibedakan menjadi dua yaitu roti tawar dan roti manis. Roti tawar merupakan roti yang dibuat dengan sedikit gula atau bahkan tidak sama sekali. Biasanya penggunaan gula pada roti tawar hanya digunakan dalam percepatan proses fermentasi. Sedangkan roti manis merupakan roti yang memiliki cita rasa manis yang menonjol, bertekstur empuk, diberi bermacam-macam isi, dan biasanya memiliki bentuk yang bervariasi. b. Biskuit Biskuit merupakan produk makanan yang dibuat dari bahan dasar terigu yang dipanggang hingga kadar air kurang dari 5% sehingga memiliki tekstur yang keras. Biasanya resep produk ini diperkaya dengan lemak dan gula serta ditambah bahan pengembang. Di Indonesia, biskuit dibagi menjadi empat kelompok yaitu: biskuit keras, kraker, cookies, dan wafer. c. Pastry Pastry merupakan produk bakery yang memiliki struktur berlapis-lapis dan bertekstur renyah. Struktur yang berlapis-lapis tersebut terbentuk karena adanya proses pelipatan adonan pastry dengan pemberian korsvet di dalam lipatan tersebut. Korsvet merupakan bahan pembantu yang dibuat dari lemak hewani atau nabati untuk mencegah melekatnya lipatanlipatan adonan menjadi satu sehingga pada saat pemanggangan, masing-

3 40 masing lipatan akan mengembang dan membentuk struktur yang berlapislapis. d. Cake Cake adalah produk makanan dibuat dari bahan dasar berupa tepung terigu,gula,garam, lemak dan telur. Cake memiliki tekstur yang empuk dan struktur yang berongga. Struktur cake yang berongga diperoleh dari foam atau busa yang terbentuk dari aerifikasi putih telur dengan pengocokan keras dan bantuan baking powder. Menurut Hanneman (1980), dalam pembuatan roti, dikenal dua metode yang berbeda yaitu: a. Metode adonan langsung (straight dough) Metode straight dough merupakan metode pembuatan roti yang paling sederhana karena dilakukan dalam satu alur proses yaitu dengan langsung mencampur semua bahan sehingga menjadi suatu adonan yang kemudian diuleni sampai kalis dan setelah itu difermentasi beberapa lama untuk menghasilkan volume adonan yang mengembang. b. Metode biang (sponge dough) Untuk melakukan pembuatan roti dengan metode sponge dough, diperlukan pembagian bahan dalam dua bagian, yaitu bahan untuk membuat sponge atau biang atau yang disebut juga babon dan bahan untuk membuat dough. Bahan utama sponge adalah ±70% terigu dari keseluruhan terigu dalam resep, ragi, dan air, sedangkan sisanya adalah bahan yang digunakan untuk membuat dough (dapat dilihat pada Tabel 5.1). Pada tahap pertama dilakukan dengan membuat sponge terlebih dahulu yaitu dengan mencampur semua bahan sponge, diuleni, kemudian difermentasi beberapa saat. Sponge ini merupakan agen pemfermentasi

4 41 pada campuran adonan akhir karena adanya yeast yang berkembang biak di dalamnya. Pada tahap selanjutnya sponge dicampur dengan bahan pembuat dough sehingga menjadi adonan akhir yang kemudian diuleni sampai khalis dan difermentasi kembali untuk mengembangkan volume adonan dan menciptakan flavor yang khas. Tabel 5.1 Pembagian Bahan untuk Sponge dan Dough Bahan Persentase Bahan Sponge Dough Tepung terigu 60% 40% Air dingin 35% 15% Ragi 2% - Gula 12% 8% Garam - 1,2% Susu bubuk - 10% Lemak - 20% Kuning telur - 5 butir Bread improver 0,5% - Sumber: Sutikno (2009) Perusahaan Roti Matahari Pasuruan memproduksi varian roti manis berupa roti blencong (kering), warmball (basah putih, basah cokelat, basah darmo, dan basah kismis), kasur (basah), rounde (basah putih dan kering putih), sisir biasa (basah putih dan kering putih), dan sisir roombutter (basah cokelat, basah putih, kering cokelat, dan kering putih) menggunakan batch process yaitu proses yang terputus-putus. Metode pengolahan yang dilakukan oleh Perusahaan Roti Matahari Pasuruan adalah metode sponge dough dengan bahan pembuat sponge adalah tepung terigu, gula, dan air kelapa. Sponge atau yang dikenal dengan istilah babon dibuat terlebih dahulu baru kemudian dicampur ke dalam adonan. Diagram alir proses pembuatan babon dan roti di Perusahaan Roti Matahari secara umum masing-masing dapat dilihat pada Gambar 5.1 dan Gambar 5.2.

5 42 Tepung terigu, gula, air kelapa Penimbangan Pencampuran (manual, 10 menit ) Inkubasi (30 o C, 24 jam, RH 75%) 5.2. Tahapan Proses Proses pengolahan roti di Perusahaan Roti Matahari Pasuruan meliputi: pembuatan babon awal, sortasi, penimbangan, pencampuran I, fermentasi awal, pencampuran II, fermentasi II, pencetakan, proofing, pemanggangan, pendinginan, sortasi akhir, pengeringan (khusus roti kering), perlakuan akhir, Babon Gambar 5.1. Diagram Alir Pembuatan Babon di Perusahaan Roti Matahari pengemasan. Untuk masing-masing jenis roti yang diproduksi yaitu blencong (kering), warmball (basah putih, basah cokelat, basah darmo, dan basah kismis), kasur (basah), rounde (basah putih dan kering putih), sisir biasa (basah putih dan kering putih), dan sisir roombutter (basah cokelat, basah putih, kering cokelat, dan kering putih) tidak ada perbedaan prinsip yang mendasar dalam hal metode pengolahan maupun tahapan proses dari tahap sortasi sampai tahap pengemasan karena jenis-jenis roti tersebut menggunakan satu adonan yang sama hanya saja berbeda dalam hal pemberian zat flavor, bahan toping maupun bahan olesan dan isian, misalnya roti sisir cokelat, warmball cokelat, dan warmball kismis maka pada proses pencampuran II ditambahkan cokelat bubuk pada adonan, namun khusus untuk warmball kismis ditambahkan bahan toping

6 43 Bahan baku dan bahan pembantu Sortasi bahan baku dan bahan pembantu Penimbangan bahan baku dan bahan pembantu Babon Tepung terigu + air (tiap 3 jam sekali) Gula + margarin Cokelat bubuk/ keningar/ kismis (untuk roti tertentu) Air dingin Pencampuran I (manual, 30 menit ) Fermentasi I (30 o C, 6 jam, RH 75%) Pencampuran II (mixer, 15 menit) Fermentasi II (30 o C, 4 jam, RH 75%) Babon (7%) Penimbangan dan pembentukan adonan 20 g dan 30 g) Proofing (32 o C, 2 jam, RH 75%) Pemanggangan (200 o C, 20 menit) Roti (basah) Roti blencong (basah) Roombutter Margarin Gula halus Cokelat beras Plastik PP/HDPE Pendinginan (37 o C, 2 jam) Sortasi Perlakuan akhir Pengemasan Roti sisir dan rounde (tidak lolos sortasi) Pengeringan (oven) (140 o C, 90 menit) Roti kering (roti sisir, roti rounde, dan roti blencong) Gambar 5.2. Diagram Alir Proses Produksi Roti Basah dan Roti Kering di Perusahaan Roti Matahari Pasuruan

7 44 berupa kismis pada adonan. Sedangkan untuk roti sisir roombutter diberi olesan roombutter dan roti warmball darmo diberi isian cokelat beras pada tahap perlakuan akhir. Khusus untuk roti kering, perbedaan proses dengan roti jenis basah adalah adanya proses pengeringan pada tahap akhir proses Pembuatan Babon (sponge) Pembuatan babon awal diawali dengan proses penimbangan bahan pembuat babon yaitu tepung terigu, gula, dan air kelapa. Penimbangan bahan harus dilakukan berdasarkan formulasi yang telah ditetapkan oleh pihak perusahaan agar mikroorganisme yang akan ditumbuhkan di dalam babon mendapat asupan nutrisi yang cukup untuk berkembang biak. Setelah ditimbang, bahan-bahan tersebut dicampur menjadi satu adonan selama 10 menit sampai menjadi adonan yang homogen. Campuran tersebut kemudian didiamkan selama 24 jam pada suhu 30 o C dan RH ± 75% untuk menumbuhkan ragi dan bakteri asam laktat secara spontan dengan memanfaatkan substrat dari bahan pembuat babon secara fermentatif. Setelah proses fermentasi dirasa cukup yaitu tampak dari rasa dan bau yang asam (karena proses fermentasi menghasilkan senyawa asam organik) maka dapat dipastikan bahwa ragi dan bakteri asam laktat sudah berkembang biak secara optimal sehingga babon siap digunakan sebagai agen pemfermentasi adonan roti yang akan dibuat (dough). Babon yang telah siap digunakan dapat diremajakan untuk memelihara mikroorganisme di dalamnya agar tetap hidup selama penyimpanan. Peremajaan dilakukan dengan penambahan substrat seperti tepung terigu dan air setiap 3 jam sekali Sortasi Bahan Baku dan Bahan Pembantu Semua bahan baku dan bahan pembantu yang digunakan dalam pembuatan roti harus dipilih dan diamati sebelum digunakan dalam proses pembuatan roti untuk menghasilkan roti yang berkualitas baik dan aman

8 45 untuk dikonsumsi. Sortasi dilakukan dengan cara mengamati kenampakan dan tanggal kadaluarsa yang terdapat pada label untuk memastikan bahwa bahan baku memiliki kualitas yang baik dan aman untuk dikonsumsi. Untuk telur, sesudah dikocok harus disaring terlebih dahulu sebelum dicampur ke dalam adonan untuk memisahkan dari kotoran yang mungkin terikut pada saat pengocokan dan komponen telur yang menjendal. Bahan yang telah disortasi dapat digunakan untuk proses selanjutnya Penimbangan Bahan Baku dan Bahan Pembantu Setelah disortasi, dilakukan penimbangan bahan baku dan bahan pembantu sesuai dengan resep yang telah ditentukan oleh perusahaan. Penimbangan yang dilakukan harus tepat, tidak boleh lebih atau kurang karena akan mempengaruhi produk akhir yang dihasilkan Pencampuran I Pada proses ini dibuat adonan awal yang merupakan campuran tepung terigu, telur (dikocok terlebih dahulu), gula pasir, air dingin (12 o C) sebanyak ± 65%, dan babon (sponge) yang telah siap dari babon pertama yang diremajakan. Campuran ini diuleni (kneading) secara manual selama ±30 menit ditangani oleh seorang pekerja per 15 kg adonan. Proses pencampuran I ini dilakukan oleh 6 orang karyawan di meja adonan. Proses pencampuran ini bertujuan untuk meratakan campuran bahan-bahan yang digunakan Fermentasi I Proses ini berlangsung khususnya pada roti yang dibuat dengan menggunakan metode sponge and dough seperti yang dilakukan di Perusahaan Roti Matahari. Fermentasi awal yang dilakukan pada adonan dari pencampuran I akan mengembangkan yeast dan bakteri asam laktat dalam adonan yang sebagian akan disisihkan sebagai babon baru.

9 46 Fermentasi I ini dilakukan pada kondisi suhu dan RH ruangan tertentu agar fermentasi dapat berlangsung secara optimal. Suhu dan RH untuk ruangan fermentasi diatur pada 30 o C dengan RH ± 75% (Stamper et al, 1979). Fermentasi I ini berlangsung secara spontan selama 6 jam dengan memanfaatkan nutrisi dari bahan-bahan yang telah dicampur pada pencampuran I. Setiap 3 jam sekali, adonan hasil pencampuran I diberi tambahan air dan gula. Tujuan penambahan bahan-bahan itu adalah untuk menambah nutrisi bagi ragi maupun bakteri asam laktat yang secara alami terdapat dalam babon agar dapat bekerja secara optimal. Berat bahan-bahan yang ditambahkan pada pembuatan babon itu harus ditimbang sesuai dengan ketentuan dari pihak perusahaan agar mikroorganisme yang terdapat dalam babon awal tersebut memperoleh nutrisi yang sesuai dengan kebutuhannya. Selama fermentasi I berlangsung, adonan didiamkan untuk memberi kesempatan bagi mikroorganisme terdistribusi secara merata dan memanfaatkan substrat, dengan demikian jumlah mikroorganisme di dalam adonan akan bertambah besar dan akan bekerja secara optimal. Adonan yang telah terfermentasi dapat diambil sebagian (7% dari berat adonan awal) sebagai babon baru untuk memfermentasi adonan baru Pencampuran II Proses ini dilakukan setelah adonan dari proses pencampuran I diperam atau difermentasi selama 6 jam dalam suhu ruang. Pencampuran II dilakukan dengan mixer selama 15 menit. Selama pencampuran ditambahkan tepung terigu, gula pasir dan margarin untuk menghasilkan adonan roti yang masih plain. Sedangkan untuk menghasilkan adonan roti tertentu, seperti roti sisir cokelat, warmball cokelat dan warmball kismis, selama proses pencampuran ditambahkan cokelat bubuk, bubuk keningar,

10 47 dan kismis (khusus warmball kismis). Sebelum dicampur dalam adonan, cokelat bubuk dimasak bersama dengan mentega dan gula terlebih dahulu, kemudian setelah dingin, baru dicampurkan ke dalam adonan roti sisir cokelat, warmball cokelat, dan warmball kismis. Selama pencampuran II ini berlangsung, ditambahkan sedikit air dingin (12 C) ± 35% dengan tujuan untuk memperoleh adonan yang kenyal dan elastis. Air yang ditambahkan ini diserap oleh granula pati dan nantinya dapat membantu terjadinya proses gelatinisasi pati selama pemanggangan berlangsung. Proses pencampuran II diakhiri pada saat diperoleh adonan roti yang mengembang, khalis, dan tidak melekat pada mixer (clean up stage). Proses ini dilakukan selama ± 15 menit dan tidak boleh dilakukan terlalu lama karena menyebabkan adonan yang telah mencapai clean up stage berada pada let down stage. Bila adonan telah berada pada tahap tersebut, adonan menjadi tidak kokoh karena terjadinya keruntuhan jaringan gluten sehingga produk roti kurang mengembang Fermentasi II Adonan yang diperoleh pada tahap pencampuran II difermentasikan selama 4 jam pada suhu kamar (± 30 o C) dan RH ± 75% hingga diperoleh pengembangan volume adonan sebesar dua kali volume mula-mula Penimbangan dan Pembentukan Adonan Sebelum dibentuk, adonan yang sudah difermentasi ditimbang terlebih dahulu untuk memastikan keseragaman berat, bentuk, dan ukuran roti yang dihasilkan. Penimbangan ini dilakukan dengan timbangan kecil (timbangan skala rumah tangga). Berat adonan ditetapkan berdasarkan jenis roti yang akan diproduksi, berikut penimbangannya per satuan adonan

11 48 sebelum dibentuk lebih lanjut: roti sisir 20 g; kasur 20 g; warmball 30 g; rounde 20 g; blencong 30 g. Pembentukan adonan dilakukan untuk membentuk permukaan yang halus pada adonan roti yang akan dipanggang, selain untuk tujuan estetika, hal ini juga dapat mengurangi resiko kegagalan pengembangan volume adonan (collapse). Pembentukan adonan roti yang dilakukan di Perusahaan Roti Matahari masih tergolong konvensional karena masih dilakukan dengan tangan. Pembentukan adonan roti bervariasi menurut jenis roti yang akan diproduksi, untuk roti rounde, warmball, dan kasur adalah bulat, sedangkan untuk roti sisir dan blencong adalah memanjang. Adonan roti yang sudah dibentuk tersebut kemudian diletakkan di dalam loyang yang telah diolesi dengan minyak goreng. Untuk adonan roti kasur dan roti sisir, satuan adonan disusun secara merapat pada loyang agar diperoleh bentuk akhir yang berdempet. Khusus untuk roti sisir, seluruh permukaan tiap adonan diolesi dengan campuran mentega dan minyak goreng agar setelah di panggang, roti sisir tersebut mudah disobek menjadi berbentuk lembaran Proofing Proofing dapat dikatakan sebagai proses fermentasi lanjutan, yang bertujuan untuk meningkatkan volume adonan yang dibentuk. Di perusahaan Roti Matahari, proses proofing berlangsung selama 2 jam di dalam kamar penghangat pada suhu 32 o C dan RH ± 75%. Proses proofing yang terlalu lama akan mengakibatkan roti menjadi bantat karena rusaknya jaringan gluten yang diakibatkan oleh aktivitas mikroorganisme yang berlebihan (over fermentasi).

12 Pemanggangan Pemanggangan merupakan proses akhir dari proses pembuatan roti. Pemanggangan roti diatur pada suhu 200 o C selama 20 menit Pada tahap ini adonan roti akan mengalami banyak perubahan fisik, kimia, dan biologis antara lain sebagai berikut: a. Pada awal pemangganan (± 5-6 menit) terjadi peningkatan volume adonan. b. Terjadi penguapan air dari adonan roti. c. Terjadi denaturasi protein dan gelatinisasi pati. d. Terjadi inaktivasi yeast, sehingga pada saat ini adonan tidak boleh disentuh karena akan mengakibatkan collapse. e. Terjadi reaksi pencokelatan karena proses karamelisasi gula dan reaksi maillard. Khusus untuk roti blencong yang merupakan produk roti kering, maka setelah tahap pemanggangan dilanjutkan dengan proses pengeringan Pendinginan Setelah dipanggang, roti tidak boleh langsung dikemas karena masih terjadi penguapan air yang akan mengakibatkan pengembunan di dalam kemasan. Pengembunan akan mengakibatkan atmosfer di dalam pengemas menjadi lembab sehingga dalam jangka waktu pendek roti sudah ditumbuhi kapang dan tidak layak dikonsumsi. Roti yang sudah didinginkan akan mudah untuk dipotong dan tidak meremah sewaktu dipotong karena sisa uap air di dalamnya sudah dikeluarkan. Maka dari itu roti didinginkan selama 2 jam pada suhu ruang Sortasi Sortasi dilakukan untuk memisahkan produk roti yang baik dengan produk roti yang kurang mengembang, overbaking, cacat bentuk, dan

13 50 pinggiran roti. Roti sisir dengan ukuran yang lebar dan seragam dipilih sebagai produk roti sisir roombutter sedangkan roti sisir dengan ukuran yang kecil dan tidak seragam akibat kegagalan proses dipilih sebagai produk roti sisir biasa. Khusus untuk pinggiran roti sisir, roti sisir yang mengalami overbaking dan roti rounde yang mengalami overbaking, cacat bentuk, dan kurang mengembang akan dipakai sebagai produk roti sisir dan roti rounde kering. Sedangkan untuk roti jenis lainnya, produk yang tidak lolos sortasi tidak dikeringkan melainkan akan dipakai sebagai konsumsi karyawan Pengeringan Tahap pengeringan dilakukan pada roti sisir dan roti rounde yang tidak lolos sortasi (pinggiran (roti sisir), overbaking, cacat bentuk, dan kurang mengembang), namun secara khusus dilakukan pada roti blencong karena roti blencong memang didesain untuk produk roti kering. Roti blencong yang masih basah hasil pemanggangan awal kemudian dikeringkan bersamaan dengan roti rounde dan roti sisir yang tidak lolos sortasi. Roti sisir yang tidak lolos sortasi akan dikeringkan menjadi produk roti sisir kering sedangkan pada roti rounde yang tidak lolos sortasi akan dikeringkan menjadi produk roti rounde kering. Pengeringan dilakukan pada oven dengan suhu 140 o C dengan lama pemanggangan 90 menit (1,5 jam). Pada tahap ini akan terjadi penguapan air dari dalam roti basah secara perlahan karena suhu yang digunakan tidak terlalu tinggi sehingga produk roti yang diperoleh kering dan bertekstur renyah namun tidak terlalu hangus sehingga warna, aroma dan rasa produk masih dapat diterima oleh konsumen Perlakuan Akhir Perlakuan akhir sebelum dilakukan pengemasan meliputi:

14 51 a. Pelapisan margarin dan gula halus pada roti sisir biasa (basah/kering) dan pelapisan roombutter dan gula halus pada roti sisir roombutter (basah/kering). b. Pengisian margarin dan gula halus pada roti rounde (basah/kering). c. Pengisian margarin dan gula halus pada roti warmball biasa dan pengisian margarin dan meises pada roti warmball darmo. Untuk roti jenis lainnya tidak dilakukan perlakuan akhir secara khusus Pengemasan Pengemasan dilakukan untuk menjaga agar produk terhindar dari kontaminan fisik, kimia, dan biologis selama proses penyimpanan berlangsung sehingga produk tersebut aman untuk dikonsumsi dan memiliki umur simpan yang panjang sehingga tetap segar sampai di tangan konsumen. Bahan pengemas yang digunakan oleh Perusahaan Roti Matahari untuk mengemas roti adalah plastik jenis PP dan HDPE. Proses pengemasan dilakukan secara manual, kemudian kemasan di-segel menggunakan alat sealing secara manual juga. Proses sealing hanya dilakukan oleh 2 orang pekerja saja. Perusahaan roti matahari tidak mencantumkan berat netto pada kemasannya karena penentuan isi kemasan tidak dilakukan berdasarkan berat roti yang akan dikemas, melainkan berdasarkan jumlah roti yang akan dikemas. Jumlah roti yang dikemas dalam satu kemasan berbeda-beda menurut jenis rotinya, untuk roti sisir roombutter (basah/kering) dalam satu kemasan berisi 10 sisir roti, sedangkan untuk roti sisir biasa (basah/kering) berisi 6 sisir roti, untuk roti rounde (basah/kering) berisi 5 buah roti dan roti blencong berisi 6 buah roti, sementara untuk jenis roti lainnya dikemas secara individu atau satu buah roti dalam satu kemasan.

BAB X PENGAWASAN MUTU

BAB X PENGAWASAN MUTU BAB X PENGAWASAN MUTU Pengawasan mutu merupakan aktivitas (manajemen perusahaan) untuk menjaga dan mengarahkan agar kualitas produk dan jasa perusahaan dapat mempertahanan sebagaimana yang telah direncanakan

Lebih terperinci

PROSES PRODUKSI ROTI MANIS DI VIRGIN CAKE & BAKERY SEMARANG

PROSES PRODUKSI ROTI MANIS DI VIRGIN CAKE & BAKERY SEMARANG PROSES PRODUKSI ROTI MANIS DI VIRGIN CAKE & BAKERY SEMARANG Disusun oleh: Ribka Merlyn Santoso 14.I1.0098 PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA

Lebih terperinci

CARA PEMBUATAN ROTI MANIS

CARA PEMBUATAN ROTI MANIS CARA PEMBUATAN ROTI MANIS Tahap persiapan - Semua peralatan dan bahan yang dibutuhkan di sediakan dalam jumlah dan takaran masing- masing (sehingga tidak memperlama proses pembuatan nanti), timbang terigu

Lebih terperinci

PROSES PENGOLAHAN ROTI DI PERUSAHAAN ROTI MATAHARI PASURUAN

PROSES PENGOLAHAN ROTI DI PERUSAHAAN ROTI MATAHARI PASURUAN 120 PROSES PENGOLAHAN ROTI DI PERUSAHAAN ROTI MATAHARI PASURUAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI PENGOLAHAN PANGAN OLEH : VITO KRISTIAN (6103007017) DONNY VINCENTIUS L. M. (6103007132) HENDIK KRISTIONO (6103007134)

Lebih terperinci

LOGO BAKING TITIS SARI

LOGO BAKING TITIS SARI LOGO BAKING TITIS SARI PENGERTIAN UMUM Proses pemanasan kering terhadap bahan pangan yang dilakukan untuk mengubah karakteristik sensorik sehingga lebih diterima konsumen KHUSUS Pemanasan adonan dalam

Lebih terperinci

1. Menimbang Bahan Menimbang harus dilakukan dengan teliti dan tepat memilih alat Ssesuai dengan berat bahan yang akan ditimbang.

1. Menimbang Bahan Menimbang harus dilakukan dengan teliti dan tepat memilih alat Ssesuai dengan berat bahan yang akan ditimbang. 1. Menimbang Bahan Menimbang harus dilakukan dengan teliti dan tepat memilih alat Ssesuai dengan berat bahan yang akan ditimbang. Perhatikan ketelitian (graduation ) timbangan yang hendak dipakai. Jangan

Lebih terperinci

BAB IV BAHAN BAKU DAN BAHAN PEMBANTU

BAB IV BAHAN BAKU DAN BAHAN PEMBANTU BAB IV BAHAN BAKU DAN BAHAN PEMBANTU Roti merupakan salah satu produk pengolahan pangan yang banyak beredar di pasaran, mempunyai karakteristik yang sangat beragam baik dari segi bentuk, aroma, rasa dan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penyangraian bahan bakunya (tepung beras) terlebih dahulu, dituangkan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penyangraian bahan bakunya (tepung beras) terlebih dahulu, dituangkan BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Proses Pengolahan Cookies Tepung Beras 4.1.1 Penyangraian Penyangraian bahan bakunya (tepung beras) terlebih dahulu, dituangkan pada wajan dan disangrai menggunakan kompor,

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Bekatul Bekatul merupakan hasil samping penggilingan gabah yang berasal dari berbagai varietas padi. Bekatul adalah bagian terluar dari bagian bulir, termasuk sebagian kecil endosperm

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. menggunakan ragi (Saccharomyces cerevisiae) dan bahan pengembang lainnya

II. TINJAUAN PUSTAKA. menggunakan ragi (Saccharomyces cerevisiae) dan bahan pengembang lainnya II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Roti Roti adalah produk makanan yang terbentuk dari fermentasi terigu dengan menggunakan ragi (Saccharomyces cerevisiae) dan bahan pengembang lainnya yang kemudian dipanggang

Lebih terperinci

PERUSAHAAN ROTI MATAHARI DI PASURUAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI PENGOLAHAN PANGAN

PERUSAHAAN ROTI MATAHARI DI PASURUAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI PENGOLAHAN PANGAN PERUSAHAAN ROTI MATAHARI DI PASURUAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI PENGOLAHAN PANGAN OLEH : APRILIA KURNIASARI (6103009038) NOVITA TRIJANTI W. N. (6103009065) PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI

Lebih terperinci

Proses Pembuatan Roti

Proses Pembuatan Roti Tekno Pangan 8 Agmindusfri, Volume f Nornor6 Roti adalah makanan yang dibuat dari tepung terigu yang diragikan dengan ragi roti dan dipanggang. Ke dalam adonan boleh ditambahkan garam, gula, susu, lemak

Lebih terperinci

PROSES PEMBUATAN ROTI MATAHARI DI PERUSAHAAN ROTI MATAHARI PASURUAN

PROSES PEMBUATAN ROTI MATAHARI DI PERUSAHAAN ROTI MATAHARI PASURUAN PROSES PEMBUATAN ROTI MATAHARI DI PERUSAHAAN ROTI MATAHARI PASURUAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI PENGOLAHAN PANGAN OLEH: SUHENDRA KUSUMA 6103013019 PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

Lebih terperinci

Pastry. Pandu Prabowo Susilo

Pastry. Pandu Prabowo Susilo Pastry Pandu Prabowo Susilo Pengertian Pastry merupakan jenis olahan tepung terigu, lemak dan telur yang melewati proses pemanggangan Pada umumnya pastry bertekstur krispy, adonan tidak kalis. Beberapa

Lebih terperinci

: 1. Mengetahui cara pembuatan roti standart dan roti wortel serta untuk. 2. Mengetahui volume adonan roti standart dan adonan roti wortel

: 1. Mengetahui cara pembuatan roti standart dan roti wortel serta untuk. 2. Mengetahui volume adonan roti standart dan adonan roti wortel Acara Sub acara : Praktikum Food Processing & Technology : Praktikum teknologi baking Hari / tanggal : Selasa / 25 Maret 2014 Tempat Prinsip Tujuan : Lab Gizi STIKes Widya Cipta Husada Malang : Prinsip

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Pemikiran, 1.6 Hipotesis Penelitian, dan 1.7 Tempat dan Waktu Penelitian.

I PENDAHULUAN. Pemikiran, 1.6 Hipotesis Penelitian, dan 1.7 Tempat dan Waktu Penelitian. I PENDAHULUAN Bab ini membahas mengenai : 1.1 Latar Belakang, 1.2 Identifikasi Masalah, 1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian, 1.4 Manfaat Penelitian, 1.5 Kerangka Pemikiran, 1.6 Hipotesis Penelitian, dan 1.7

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN Latar Belakang

1. PENDAHULUAN Latar Belakang 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Labu kuning (Cucurbita moschata) mengandung senyawa β-karoten yang merupakan salah satu pigmen karotenoid mempunyai aktivitas vitamin A sekitar 19,9 mg/100 g (Ranonto

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Umumnya dalam sebuah penelitian diawali dengan identifikasi masalah. hipotesis dan sekaligus untuk menjawab permasalahan penelitian.

I PENDAHULUAN. Umumnya dalam sebuah penelitian diawali dengan identifikasi masalah. hipotesis dan sekaligus untuk menjawab permasalahan penelitian. I PENDAHULUAN Umumnya dalam sebuah penelitian diawali dengan identifikasi masalah berdasarkan latar belakang tertentu. Dengan maksud dan tujuan yang sudah jelas selanjutnya dikembangkan kerangka pemikiran

Lebih terperinci

23. HASlL OLAHAN TEPUNG UBI JALAR

23. HASlL OLAHAN TEPUNG UBI JALAR Kararnel Susu, Yoghurt Olahan Tepung Ubi Jalac Ebi (udang kering). Keju 23. HASlL OLAHAN TEPUNG UBI JALAR Tepung ubi jalar dapat digunakan sebagai bahan campuran pembuatan kue dan roti gandum. Adapun proses

Lebih terperinci

PENGOLAHAN ROTI DI UD MATAHARI PASURUAN LAPORAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI PENGOLAHAN PANGAN

PENGOLAHAN ROTI DI UD MATAHARI PASURUAN LAPORAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI PENGOLAHAN PANGAN PENGOLAHAN ROTI DI UD MATAHARI PASURUAN LAPORAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI PENGOLAHAN PANGAN OLEH: JEFRI SUGIARTO HALIM 6103012044 MAK ALAN DARMA SAPUTRA 6103012055 PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Menurut Syarbini ( 2013 : 15 ), tepung terigu adalah hasil dari

BAB II LANDASAN TEORI. Menurut Syarbini ( 2013 : 15 ), tepung terigu adalah hasil dari BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Tepung Terigu 2.1.1 Pengertian Tepung Terigu Menurut Syarbini ( 2013 : 15 ), tepung terigu adalah hasil dari penggilingan biji gandum. Gandum merupakan salah satu tanaman biji-bijian

Lebih terperinci

1. MOCCA ANGEL CAKE A. RESEP

1. MOCCA ANGEL CAKE A. RESEP 1. MOCCA ANGEL CAKE A. RESEP Teknik pengolahan Memanggang Bahan: 90 gram Terigu 1 cangkir putih telur (12 butir) 150 gram gula halus yang sudah di ayak 1½ sdt cream of tar tar ½ sdt garam ½ sdt vanili

Lebih terperinci

Written by Administrator Thursday, 10 September :01 - Last Updated Thursday, 10 September :08

Written by Administrator Thursday, 10 September :01 - Last Updated Thursday, 10 September :08 Kreasi Pound Cake Tampil Baru Anda kenal dengan marble cake atau lapis legit? Umumnya cake-cake ini termask kategori dari jenis pound cake. Anda yang kreatif pasti akan mudah memvariasikan poun cake menjadi

Lebih terperinci

OLAHAN PANGAN DARI UBI JALAR UNGU

OLAHAN PANGAN DARI UBI JALAR UNGU OLAHAN PANGAN DARI UBI JALAR UNGU 1. Kupas,cuci, lalu kukus ubi ungu. Setelah matang, haluskan. 2. Siapkan bahan kering, terigu, gula 3sdm, susu bubuk,ragi, lalu tuang SKM yg sudah dicairkan dgn 100 ml

Lebih terperinci

TEKNOLOGI PEMBUATAN MOCAF DAN PRODUK TURUNANNYA. Oleh : A. Dalapati BPTP Sulawesi Tengah

TEKNOLOGI PEMBUATAN MOCAF DAN PRODUK TURUNANNYA. Oleh : A. Dalapati BPTP Sulawesi Tengah TEKNOLOGI PEMBUATAN MOCAF DAN PRODUK TURUNANNYA Oleh : A. Dalapati BPTP Sulawesi Tengah Pendahuluan Ubi kayu merupakan pangan lokal yang ada di seluruh wilayah Sulawesi Tengah, dimana di tahun 2014 luas

Lebih terperinci

BAB VII MESIN DAN PERALATAN

BAB VII MESIN DAN PERALATAN BAB VII MESIN DAN PERALATAN 7.1. Jenis dan Spesifikasi Mesin Dalam proses produksi diperlukan peralatan yang dapat mempermudah proses produksi yang dilakukan. Mesin merupakan peralatan yang digerakkan

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN PANGAN I. ACARA II Pemanggangan (Baking)

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN PANGAN I. ACARA II Pemanggangan (Baking) LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN PANGAN I ACARA II Pemanggangan (Baking) KELOMPOK 3 Penanggung jawab: Nadhila Benita Prabawati A1M013040 KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS

Lebih terperinci

Resep Kue. Resep kue nastar

Resep Kue. Resep kue nastar Resep kue nastar Resep kue nastar memang paling banyak dicari dan dipraktekan pada hari raya idul fitri. Pada lebaran tahun 2012 ini admin masakanmama.com pun tidak ketinggalan untuk membuat kue nastar

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Bab ini akan menguraikan mengenai : (1.1) Latar Belakang, (1.2) Identifikasi Masalah, (1.3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (1.

I PENDAHULUAN. Bab ini akan menguraikan mengenai : (1.1) Latar Belakang, (1.2) Identifikasi Masalah, (1.3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (1. I PENDAHULUAN Bab ini akan menguraikan mengenai : (1.1) Latar Belakang, (1.2) Identifikasi Masalah, (1.3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (1.4) Manfaat Penelitian, (1.5) Kerangka Pemikiran, (1.6) Hipotesis

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Roti tawar merupakan salah satu produk turunan dari terigu yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia khususnya masyarakat perkotaan, namun tepung terigu yang

Lebih terperinci

Teknik tarik lipat pada proses Mixing Dough

Teknik tarik lipat pada proses Mixing Dough Jurnal Kompetensi Teknik Vol. 4, No. 2, Mei 2013 125 Teknik tarik lipat pada proses Mixing Dough Dyah Nurani S 1 1. Jurusan TJP, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang http://tjp-unnes@ac.id Abstrak

Lebih terperinci

sampai matang 10. Tuang kembali adonan hijau sampai separuh adonan

sampai matang 10. Tuang kembali adonan hijau sampai separuh adonan Aneka Olahan Kue Tepung Kasava Tepung singkong dapat digunakan dalam pembuatan tepung campuran (composite flour), yakni tepung campuran antara tepung singkong dan tepung terigu. Tepung campuran tersebut

Lebih terperinci

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA JOB SHEET PENGOLAHAN BAKERY

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA JOB SHEET PENGOLAHAN BAKERY 1. Kompetensi: Menjelaskan dan mempraktekkan pengembangan danish pastry 2. Sub Kompetensi: a. Menganalisis resep dasar danish pastry b. Mengembangkan resep dasar danish pastry c. Mempraktekkan pengembangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pemanfaatan tepung-tepungan lokal atau non terigu saat ini telah menjadi

BAB I PENDAHULUAN. Pemanfaatan tepung-tepungan lokal atau non terigu saat ini telah menjadi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pemanfaatan tepung-tepungan lokal atau non terigu saat ini telah menjadi trend inovasi terbaru terutama bagi industri bakery, hal tersebut dikarenakan harga tepung terigu

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tepung terigu yang ditambahkan dengan bahan bahan tambahan lain, seperti

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tepung terigu yang ditambahkan dengan bahan bahan tambahan lain, seperti 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Biskuit Menurut SNI 2973-2011, biskuit merupakan salah satu produk makanan kering yang dibuat dengan cara memanggang adonan yang terbuat dari bahan dasar tepung terigu atau

Lebih terperinci

BAB VIII Membuat Produk Pastry Dengan Adonan Bread Pertemuan Ke

BAB VIII Membuat Produk Pastry Dengan Adonan Bread Pertemuan Ke BAB VIII Membuat Produk Pastry Dengan Adonan Bread Pertemuan Ke Tujuan : Melalui topik pembahasan ini anda dapat mempelajari ; 1. Menjelaskan pengertian adonan Bread 2. Jenis Adonan Bread 3. Membuat Produk

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian adalah penelitian eksperimen di bidang Teknologi Pangan. B. Tempat dan Waktu Penelitian Tempat pembuatan cake rumput laut dan mutu organoleptik

Lebih terperinci

Lampiran 1. Struktur organisasi perusahaan

Lampiran 1. Struktur organisasi perusahaan LAMPIRAN Lampiran 1. Struktur organisasi perusahaan Legal GM Sales Branch Sales Jabotabek GM Finance & Accounting IT Purchasing Internal Audit Wakil Direktur Operasional PDQA Branch Sales Jawa Barat Product

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM JAPANESE ROLL CAKE

BAB II GAMBARAN UMUM JAPANESE ROLL CAKE 3 BAB II GAMBARAN UMUM JAPANESE ROLL CAKE 2.1. Sejarah Japanese Roll Cake Japanese Roll Cake adalah kreasi bolu gulung yang berasal dari negara sakura dengan memodifikasi bagian kulit luar dan dalam roll

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN Latar Belakang

1. PENDAHULUAN Latar Belakang 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Jumlah konsumsi tepung terigu di Indonesia dari tahun 2012 hingga tahun 2016 mengalami peningkatan yaitu berkisar antara 20,6 22,3 kg/kapita/tahun. Jumlah tersebut akan

Lebih terperinci

a) Creaming method b) Two Stage Method c) Sponge or Foam Type Method cake sebaiknya mencantumkan metode pengocokan.

a) Creaming method b) Two Stage Method c) Sponge or Foam Type Method cake sebaiknya mencantumkan metode pengocokan. a) Creaming method 1) Timbang semua bahan dengan hati-hati, simpan pada temperature ruang 2) Gula, shortening atau mentega, garam, penambah, aroma dan rempah-rempah disimpan lalu dikocok, tambahkan telur

Lebih terperinci

Kue atau yang disebut juga cake merupakan produk bakery yang banyak diminati masyarakat. Dalam membuat kue, ada tiga faktor yang sangat menentukan

Kue atau yang disebut juga cake merupakan produk bakery yang banyak diminati masyarakat. Dalam membuat kue, ada tiga faktor yang sangat menentukan Kue atau yang disebut juga cake merupakan produk bakery yang banyak diminati masyarakat. Dalam membuat kue, ada tiga faktor yang sangat menentukan baik tidaknya kualitas kue yang dihasilkan. Ketiga faktor

Lebih terperinci

Ruko Jambusari No. 7A Yogyakarta Telp. : ; Fax. :

Ruko Jambusari No. 7A Yogyakarta Telp. : ; Fax. : BAHAN PRODUK BAKERY Oleh: Ir. Hj. Henny Krissetiana Hendrasty, M.P. Edisi Pertama Cetakan Pertama, 2013 Hak Cipta 2013 pada penulis, Hak Cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak atau memindahkan

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Penelitian merupakan sebuah proses dimana dalam pengerjaannya

I PENDAHULUAN. Penelitian merupakan sebuah proses dimana dalam pengerjaannya I PENDAHULUAN Penelitian merupakan sebuah proses dimana dalam pengerjaannya dibutuhkan penulisan laporan mengenai penelitian tersebut. Sebuah laporan tugas akhir biasanya berisi beberapa hal yang meliputi

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Indonesia kaya akan sumber daya tanaman umbi-umbian, termasuk aneka

I PENDAHULUAN. Indonesia kaya akan sumber daya tanaman umbi-umbian, termasuk aneka I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai : (1) Latar Belakang Masalah, (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat penelitian, (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian,

Lebih terperinci

PROSES PENGOLAHAN ROTI DI PERUSAHAAN ROTI MATAHARI PASURUAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI PENGOLAHAN PANGAN

PROSES PENGOLAHAN ROTI DI PERUSAHAAN ROTI MATAHARI PASURUAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI PENGOLAHAN PANGAN PROSES PENGOLAHAN ROTI DI PERUSAHAAN ROTI MATAHARI PASURUAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI PENGOLAHAN PANGAN OLEH: VICTOR CHRISTIAN K. (6103013033) KEVIN CHRISTANTO (6103013047) EDWARD (6103013059) PROGRAM STUDI

Lebih terperinci

PENGGORENGAN, EKSTRUSI, & PEMANGANGGAN. Teti Estiasih - THP - FTP - UB

PENGGORENGAN, EKSTRUSI, & PEMANGANGGAN. Teti Estiasih - THP - FTP - UB PENGGORENGAN, EKSTRUSI, & PEMANGANGGAN 1 PENGGORENGAN 2 TUJUAN Tujuan utama: mendapatkan cita rasa produk Tujuan sekunder: Inaktivasi enzim dan mikroba Menurunkan aktivitas air pada permukaan atau seluruh

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Proses Pengolahan Kerupuk Jagung 4.1.1 Pencampuran Adonan Proses pencampuran adonan ada dua kali yaitu dengan cara manual (tangan) dan kedua dengan menggunakan mixer. Langkah

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN PANGAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN SEREALIA DAN KACANG-KACANGAN. ( Food Bar )

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN PANGAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN SEREALIA DAN KACANG-KACANGAN. ( Food Bar ) LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN PANGAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN SEREALIA DAN KACANG-KACANGAN ( Food Bar ) Oleh : Nama NRP Kelompok Meja Tanggal Praktikum Asisten : Lutfi Hanif : 143020097 :D : 02 (

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Bakpia adalah produk kue yang terbuat dari bahan tepung terigu, garam, air

II. TINJAUAN PUSTAKA. Bakpia adalah produk kue yang terbuat dari bahan tepung terigu, garam, air II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengolahan Bakpia adalah produk kue yang terbuat dari bahan tepung terigu, garam, air dan minyak sebagai bahan dasar pembuatan kulit yang dilakukan pencampuran sampai terbentuk

Lebih terperinci

Written by Administrator Sunday, 06 September :45 - Last Updated Sunday, 06 September :56

Written by Administrator Sunday, 06 September :45 - Last Updated Sunday, 06 September :56 Variasi Kue Kering Yang Tak Ada Habisnya (1) Kue kering sudah akrab di lidah penikmatnya karena kue mungil yang satu ini sudah sangat mudah dan bahkan sering kita jumpai baik di toko-toko kue atau bakery

Lebih terperinci

BAB III MATERI DAN METODE. substitusi gula fruktosa dilaksanakan pada bulan Oktober 2015 hingga Januari

BAB III MATERI DAN METODE. substitusi gula fruktosa dilaksanakan pada bulan Oktober 2015 hingga Januari 19 BAB III MATERI DAN METODE 3.1. Materi Penelitian Penelitian analisis nilai kalori dan uji sensori roti gula sukrosa dengan substitusi gula fruktosa dilaksanakan pada bulan Oktober 2015 hingga Januari

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Penelitian pendahuluan dilaksanakan pada bulan Februari 2017 dan

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Penelitian pendahuluan dilaksanakan pada bulan Februari 2017 dan IV. BAHAN DAN METODE PENELITIAN 4.1 Waktu dan Tempat Percobaan Penelitian pendahuluan dilaksanakan pada bulan Februari 2017 dan penelitian utama dilaksanakan bulan Maret Juni 2017 di Laboratorium Teknologi

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei - Juni 2015 di Laboratorium

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei - Juni 2015 di Laboratorium 30 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei - Juni 2015 di Laboratorium Pengolahan Hasil Pertanian, Laboratorium Analisis Kimia Hasil Pertanian Jurusan

Lebih terperinci

BAB VI PENGEMASAN DAN PENYIMPANAN

BAB VI PENGEMASAN DAN PENYIMPANAN BAB VI PENGEMASAN DAN PENYIMPANAN 6.1. Bahan Pengemas Dan Metode Pengemasan Menurut Suyitno (1990), pengemasan adalah penempatan produk didalam suatu kemasan untuk memberikan proteksi atau perlindungan

Lebih terperinci

BAB II BAHAN DAN PROSES PENGOLAHAN

BAB II BAHAN DAN PROSES PENGOLAHAN BAB II BAHAN DAN PROSES PENGOLAHAN Produk bakery merupakan salah satu jenis makanan yang paling banyak dikonsumsi di dunia. Cake adalah salah satu produk bakery yang dikenali oleh konsumen sebagai produk

Lebih terperinci

SISTEM PEMBUATAN ROTI

SISTEM PEMBUATAN ROTI SISTEM PEMBUATAN ROTI Saat ini dikenal ada empat macam teknik atau sistem pembuatan roti yaitu 1. Si st emst rai gh Dough ( Langsung) 2. Si st emsponge Dough ( Bi ang) 3. Si st emno Ti me Dough 4. Si st

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Pembuatan Adonan Kerupuk

HASIL DAN PEMBAHASAN Pembuatan Adonan Kerupuk HASIL DAN PEMBAHASAN Peubah yang diamati dalam penelitian ini, seperti kadar air, uji proksimat serka kadar kalsium dan fosfor diukur pada kerupuk mentah kering, kecuali rendemen. Rendemen diukur pada

Lebih terperinci

Hasil dan Perhitungan Uji Penerimaan Produk dari 30 panelis. Kategori penilaian 1 Perpaduan warna bagus, nice. Warna

Hasil dan Perhitungan Uji Penerimaan Produk dari 30 panelis. Kategori penilaian 1 Perpaduan warna bagus, nice. Warna 101 Panelis ke- Hasil dan Perhitungan Uji Penerimaan Produk dari panelis Penilaian Brownies Roll Cake Kacang Hijau Kategori penilaian 1 Perpaduan warna bagus, nice Warna 2 Kurang soft, terlalu Warna mencolok

Lebih terperinci

Resep kue lapis lengkap

Resep kue lapis lengkap Resep kue lapis lengkap Resep kue lapis kali ini komplit banget dari kue basah sampai kue kering. Kue lapis bisa dibilang jajanan pasar tradisional sampai jajanan mall. Kue lapis yang sering dijumpai sebagai

Lebih terperinci

PENGOLAHAN ROTI DI UD MATAHARI PASURUAN

PENGOLAHAN ROTI DI UD MATAHARI PASURUAN PENGOLAHAN ROTI DI UD MATAHARI PASURUAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI PENGOLAHAN PANGAN OLEH: SUN SHINE MONINGGIANTI SIANI 6103012047 INGRID TERTIANA IVANA 6103012098 LITARASMI PRASTIANTI 6103012112 PROGRAM STUDI

Lebih terperinci

SUB TOPIK PENGERTIAN TEORI PERALATAN PENGARUH PADA MAKANAN BAHAN DAN PROSES NILAI GIZI BREAD STALLING 3/21/2016 3

SUB TOPIK PENGERTIAN TEORI PERALATAN PENGARUH PADA MAKANAN BAHAN DAN PROSES NILAI GIZI BREAD STALLING 3/21/2016 3 BAKING TITIS SARI 3/21/2016 2 SUB TOPIK PENGERTIAN TEORI PERALATAN PENGARUH PADA MAKANAN NILAI GIZI BAHAN DAN PROSES BREAD STALLING 3/21/2016 3 PENGERTIAN UMUM Proses pemanasan kering terhadap bahan pangan

Lebih terperinci

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA JOB SHEET PENGOLAHAN BAKERY

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA JOB SHEET PENGOLAHAN BAKERY 1. Kompetensi: Menguasai pengolahan produk pengembangan yeast dough dari sisi resep, bentuk, isi maupun kemasan. 2. Sub Kompetensi: a. Menjelaskan pengembangan yeast dough b. Mempraktekkan pengembangan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. aroma spesifik dan mempunyai nilai gizi cukup tinggi. Bagian kepala beratnya

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. aroma spesifik dan mempunyai nilai gizi cukup tinggi. Bagian kepala beratnya 2.1 Komposisi Kimia Udang BAB II TINJAUAN PUSTAKA Udang merupakan salah satu produk perikanan yang istimewa, memiliki aroma spesifik dan mempunyai nilai gizi cukup tinggi. Bagian kepala beratnya lebih

Lebih terperinci

Sutomo, B

Sutomo, B Baking Soda dan Baking Powder, kedua bahan ini memiliki bentuk fisik berupa tepung berwarna putih dan memiliki fungsi yang sama yaitu sebagai bahan pengembang. Cara kerjanya adalah ketika bahan ini bertemu

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Pada proses penggolahan stick singkong, singkong yang digunakan yaitu

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Pada proses penggolahan stick singkong, singkong yang digunakan yaitu BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN terdiri dari : Tahapan-tahapan proses pengolahan stick singkong di UKM Flamboyan 4.1 Persiapan Bahan Baku Pada proses penggolahan stick singkong, singkong yang digunakan yaitu

Lebih terperinci

Berdasarkan hasil analisis statistik pada Lampiran 3, nilai rata-rata dan hasil

Berdasarkan hasil analisis statistik pada Lampiran 3, nilai rata-rata dan hasil V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Kadar Air Biskuit Sinbiotik Berdasarkan hasil analisis statistik pada Lampiran 3, nilai rata-rata dan hasil uji kadar air biskuit sinbiotik dengan perlakuan penambahan tepung

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. gemuk untuk diambil dagingnya. Sepasang ceker yang kurus dan tampak rapuh,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. gemuk untuk diambil dagingnya. Sepasang ceker yang kurus dan tampak rapuh, BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ceker ayam Ceker adalah bagian dari tubuh ayam yang berhubungan langsung dengan benda-benda kotor. Meski demikian, tanpa ceker ayam tidak mungkin menjadi gemuk untuk diambil

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Karakteristik tepung yang digunakan akan menentukan karakteristik cookies yang

I PENDAHULUAN. Karakteristik tepung yang digunakan akan menentukan karakteristik cookies yang I PENDAHULUAN Cookies merupakan salah satu produk yang banyak menggunakan tepung. Karakteristik tepung yang digunakan akan menentukan karakteristik cookies yang dihasilkan. Tepung kacang koro dan tepung

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kue bolu merupakan kue berbahan dasar tepung terigu dengan penambahan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kue bolu merupakan kue berbahan dasar tepung terigu dengan penambahan 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Bolu Kukus Kue bolu merupakan kue berbahan dasar tepung terigu dengan penambahan telur dan gula. Terdapat banyak macam kue bolu, misalnya kue tart yang biasa dihidangkan

Lebih terperinci

Resep kue basah : kue lumpur, tips dan variasinya

Resep kue basah : kue lumpur, tips dan variasinya Resep kue basah : kue lumpur, tips dan variasinya Kue lumpur merupakan salah satu jajanan pasar yang sangat populer. Jika anda berkunjung ke berbagai wilayah di Indonesia anda akan menemukan dengan mudah

Lebih terperinci

MODUL 5 PIZZA IKAN. Indikator Keberhasilan: Mutu pizza ikan yang dihasilkan memiliki tekstur yang lembut, rasa dan aroma khas ikan.

MODUL 5 PIZZA IKAN. Indikator Keberhasilan: Mutu pizza ikan yang dihasilkan memiliki tekstur yang lembut, rasa dan aroma khas ikan. MODUL 5 PIZZA IKAN Standar Unit Kompetensi: Setelah mempelajari materi ini, mahasiswa mampu membuat pizza ikan yang enak, bertekstur lembut dan rasa yang lezat. Indikator Keberhasilan: Mutu pizza ikan

Lebih terperinci

PENGGORENGAN, EKSTRUSI, PEMANGANGAN

PENGGORENGAN, EKSTRUSI, PEMANGANGAN PENGOLAHAN TERMAL II PENGGORENGAN, EKSTRUSI, PEMANGANGAN TIM DOSEN TPPHP UNIVERSITAS BRAWIJAYA 2013 2 TUJUAN TUJUAN UTAMA: mendapatkan cita rasa produk TUJUAN SEKUNDER: Inaktivasi enzim dan mikroba Menurunkan

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian dan (7) Tempat dan Waktu Penelitian.

I PENDAHULUAN. Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian dan (7) Tempat dan Waktu Penelitian. I PENDAHULUAN Bab ini akan menguraikan tentang : (1) Latar Belakang (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian

Lebih terperinci

Kue Kering Tradisional yang Selalu Hadir saat Lebaran

Kue Kering Tradisional yang Selalu Hadir saat Lebaran Tuesday, 22 September 2009 21:05 Last Updated Tuesday, 22 September 2009 21:14 Kue Kering Tradisional yang Selalu Hadir saat Lebaran Berbagai macam hidangan disajikan di Hari Raya Lebaran, tidak ketinggalan

Lebih terperinci

PENGARUH LAMANYA WAKTU MIXING DALAM PROSES PEMBUATAN BROWNIES TERHADAP KUALITAS BROWNIES DITINJAU DARI ASPEK INDERAWI

PENGARUH LAMANYA WAKTU MIXING DALAM PROSES PEMBUATAN BROWNIES TERHADAP KUALITAS BROWNIES DITINJAU DARI ASPEK INDERAWI PENGARUH LAMANYA WAKTU MIXING DALAM PROSES PEMBUATAN BROWNIES TERHADAP KUALITAS BROWNIES DITINJAU DARI ASPEK INDERAWI Romiyatun Mijiling Astuti Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Fakultas Teknik Universitas

Lebih terperinci

Resep Kastengel Bawang Merah

Resep Kastengel Bawang Merah MEMBUAT RANCANGAN DAN KARYA TEKNOLOGI DIVERSIVIKASI TEKNOLOGI PENGOLAHAN PANGAN BERBASIS BAWANG MERAH YANG TIDAK DIPATENKAN; TINGKAT INTERNASIONAL Resep Kastengel Bawang Merah Bahan Adonan: 1 kg Tepung

Lebih terperinci

DAFTAR PUSTAKA. Buckle, K.A., R.A. Edwards, G. II, Fleet, dan M. Wooton Ilmu Pangan (H. Purnomo dan Adiono, penerjemah). Jakarta: UI Press.

DAFTAR PUSTAKA. Buckle, K.A., R.A. Edwards, G. II, Fleet, dan M. Wooton Ilmu Pangan (H. Purnomo dan Adiono, penerjemah). Jakarta: UI Press. BAB IV KESIMPULAN 1. mutu adalah usaha untuk mempertahankan mutu suatu produk yang dilakukan selama proses produksi, yaitu mulai dari bahan mentah sampai menghasilkan produk akhir yang terjamin, aman untuk

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Manajemen Produksi dan Operasi. berkembang semakin maju guna mendapatkan output secara optimal sehingga

TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Manajemen Produksi dan Operasi. berkembang semakin maju guna mendapatkan output secara optimal sehingga II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Manajemen Produksi dan Operasi Dewasa ini persaingan dalam dunia bisnis dirasakan semakin ketat, teknologi berkembang semakin maju guna mendapatkan output secara optimal

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Hipotesis Penelitian, Tempat dan Waktu Penelitian. dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan bernilai gizi tinggi seperti kacang

I PENDAHULUAN. Hipotesis Penelitian, Tempat dan Waktu Penelitian. dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan bernilai gizi tinggi seperti kacang I PENDAHULUAN Bab ini akan membahas mengenai : Latar Belakang, Identifikasi Masalah, Maksud dan Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Kerangka Pemikiran, Hipotesis Penelitian, Tempat dan Waktu Penelitian.

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. waktu penelitian ini dimulai pada bulan April 2016 sampai Desember 2016.

III. METODE PENELITIAN. waktu penelitian ini dimulai pada bulan April 2016 sampai Desember 2016. 23 III. METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pangan dan Laboratorium Nutrisi dan Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang dan

Lebih terperinci

TEHNIK PEMBUATAN MIE SEHAT. Dr. Sri Handayani

TEHNIK PEMBUATAN MIE SEHAT. Dr. Sri Handayani TEHNIK PEMBUATAN MIE SEHAT Dr. Sri Handayani Tim PPM Jurusan Pendidikan Kimia FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2013 1 TEHNIK PEMBUATAN MIE SEHAT Dr. Sri Handayani

Lebih terperinci

KARYA ILMIAH PELUANG BISNIS

KARYA ILMIAH PELUANG BISNIS KARYA ILMIAH PELUANG BISNIS BISNIS ROTI GORENG DI SUSUN UNTUK MEMENUHI PERSYARATAN TUGAS KULIAH LINGKUNGAN BISNIS OLEH : BAYU WIJANARKO 11.01.2941 D3TI-02 PROGRAM STUDI TEKNIK INFORMATIKA (TI) STMIK AMIKOM

Lebih terperinci

BAHAN MAKANAN SETENGAH JADI

BAHAN MAKANAN SETENGAH JADI BAHAN MAKANAN SETENGAH JADI Definisi : * Bahan makanan olahan yang harus diolah kembali sebelum dikonsumsi manusia * Mengalami satu atau lebih proses pengolahan Keuntungan: * Masa simpan lebih panjang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1. Menambah wawasan serta pengetahuan yang lebih luas tentang bidang produksi yang dijalankan dari Pihak Instansi terkait.

BAB I PENDAHULUAN. 1. Menambah wawasan serta pengetahuan yang lebih luas tentang bidang produksi yang dijalankan dari Pihak Instansi terkait. BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Dalam rangka mendekatkan kerjasama antara pihak sekolah SMK begitupun dengan para peserta didiknya dengan pihak instansi atau pihak perusahaan (pabrik) maka dari itu

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN

BAB II TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN BAB II TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN 2.1. Riwayat Singkat dan Perkembangan Perusahaan Perusahaan Roti Matahari Pasuruan berdiri pada tanggal 3 Maret 1955 dan berlokasi di jalan Raya (sekarang jalan Soekarno-Hatta)

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTEK TEKNOLOGI MAKANAN PEMBUATAN NUGGET AYAM

LAPORAN PRAKTEK TEKNOLOGI MAKANAN PEMBUATAN NUGGET AYAM LAPORAN PRAKTEK TEKNOLOGI MAKANAN PEMBUATAN NUGGET AYAM Penyusun: Haikal Atharika Zumar 5404416017 Dosen Pembimbing : Ir. Bambang Triatma, M.Si Meddiati Fajri Putri S.Pd, M.Sc JURUSAN PENDIDIKAN KESEJAHTERAAN

Lebih terperinci

IV. KONDISI SISTEM ANTRIAN DI PT NIPPON INDOSARI CORPINDO

IV. KONDISI SISTEM ANTRIAN DI PT NIPPON INDOSARI CORPINDO IV. KONDISI SISTEM ANTRIAN DI PT NIPPON INDOSARI CORPINDO A. Sistem Produksi Produk Roti Manis (sweet bread) PT Nippon Indosari Corpindo merupakan perusahaan yang bergerak di bidang industri makanan, yaitu

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Kue Bolu. Kue bolu merupakan produk bakery yang terbuat dari terigu, gula,

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Kue Bolu. Kue bolu merupakan produk bakery yang terbuat dari terigu, gula, II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kue Bolu Kue bolu merupakan produk bakery yang terbuat dari terigu, gula, lemak, dan telur. Menurut Donald (2013), kue bolu merupakan produk yang di hasilkan dari tepung terigu

Lebih terperinci

BAB III MATERI DAN METODE. substitusi tepung biji alpukat dilaksanakan pada bulan November 2016 di

BAB III MATERI DAN METODE. substitusi tepung biji alpukat dilaksanakan pada bulan November 2016 di 15 BAB III MATERI DAN METODE Penelitian analisis sifat fisik cookies berbahan baku tepung terigu dengan substitusi tepung biji alpukat dilaksanakan pada bulan November 2016 di Laboratorium Kimia dan Gizi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 18 HASIL DAN PEMBAHASAN Perubahan Mutu Organoleptik Biskuit Selama Penyimpanan Uji kesukaan dan mutu hedonik merupakan salah satu cara untuk uji sensori suatu produk. Uji kesukaan dan mutu hedonik dilakukan

Lebih terperinci

TEPUNG MOCAF SEBAGAI ALTERNATIF PENGGANTI TEPUNG TERIGU Oleh: Puji Lestari, S.TP Widyaiswara Pertama

TEPUNG MOCAF SEBAGAI ALTERNATIF PENGGANTI TEPUNG TERIGU Oleh: Puji Lestari, S.TP Widyaiswara Pertama TEPUNG MOCAF SEBAGAI ALTERNATIF PENGGANTI TEPUNG TERIGU Oleh: Puji Lestari, S.TP Widyaiswara Pertama I. PENDAHULUAN Untuk mengurangi ketergantungan terhadap terigu dan pengembangan pangan yang berbasis

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dan asosiatif. 1. Metode Penelitian Deskriptif Menurut sugiyono (2013:53) metode

Lebih terperinci

BAB XI TUGAS KHUSUS Peremajaan Agensia Pengembang Adonan (Oleh: Vito Kristian NRP )

BAB XI TUGAS KHUSUS Peremajaan Agensia Pengembang Adonan (Oleh: Vito Kristian NRP ) BAB XI TUGAS KHUSUS 11.1. Peremajaan Agensia Pengembang Adonan (Oleh: Vito Kristian NRP 6103007017) Perusahaan roti matahari menggunakan babon (master sponge) yang berfungsi sebagai agen pengembang. Babon

Lebih terperinci

tips: Menyimpan Tahu Segar

tips: Menyimpan Tahu Segar Tip's Memasak Tip's Memasak tips: Kaldu Udang Mendapatkan kaldu udang yang gurih, sangrai atau panggang kulit, dan kepala udang hingga kering dan harum. Angkat lalu rebus dengan air secukupnya di atas

Lebih terperinci

tips: Menyimpan Tahu Segar

tips: Menyimpan Tahu Segar Tip's Memasak Tip's Memasak tips: Kaldu Udang Mendapatkan kaldu udang yang gurih, sangrai atau panggang kulit, dan kepala udang hingga kering dan harum. Angkat lalu rebus dengan air secukupnya di atas

Lebih terperinci

DAFTAR PUSTAKA. Anonim Didownload tanggal 17 Juli 2010.

DAFTAR PUSTAKA. Anonim Didownload tanggal 17 Juli 2010. DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2007. http://www.iptek.net,/pengemasan-produk. Didownload tanggal 17 Juli 2010. Anief, Moh. 2000. Prinsip Dan Dasar Manajemen: Pemasaran Umum dan Farmasi. Yogyakarta. Gadjah Mada

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Mie adalah produk makanan yang pada umumnya dibuat dari tepung terigu

I. PENDAHULUAN. Mie adalah produk makanan yang pada umumnya dibuat dari tepung terigu I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Mie adalah produk makanan yang pada umumnya dibuat dari tepung terigu dengan atau tanpa penambahan bahan makanan lain dan bahan tambahan makanan (food additives). Penggantian

Lebih terperinci

4. PEMBAHASAN Penelitian Pendahuluan

4. PEMBAHASAN Penelitian Pendahuluan 4. PEMBAHASAN 4.1. Penelitian Pendahuluan Kue lumpur salah satu jenis kue semi basah yang ada di Indonesia. Bahan dasar yang digunakan dalam pembuatan kue lumpur sebaiknya memiliki kualitas yang baik supaya

Lebih terperinci