V. HASIL SOSIALISASI PUSAT PEMBELIAN BERSAMA MELALUI KOPERASI

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "V. HASIL SOSIALISASI PUSAT PEMBELIAN BERSAMA MELALUI KOPERASI"

Transkripsi

1 V. HASIL SOSIALISASI PUSAT PEMBELIAN BERSAMA MELALUI KOPERASI 1. Provinsi Jawa Tengah Dalam melakukan sosialisasi terhadap konsep tentang pusat pembelian bersama melalui koperasi, maka pendekatan yang dilakukan tim adalah dengan dua tahap. Tahap pertama yaitu menyampaikan gagasangagasan tentang perlunya pembentukan pusat pembelian bersama secara langsung ke koperasikoperasi yang dinilai memenuhi syarat dan mampu untuk melakukan pembelian bersama, sedangkan tahap yang kedua yaitu melakukan presentasi tentang perlunya didirikannya pusat pembelian bersama. Sosialisasi terhadap konsep tentang pusat pembelian bersama melalui koperasi ini dilaksanakan di Jawa Tengah pada bulan Agustus Pada tahap pertama tim melakukan observasi terhadap tiaptiap toko koperasi sampel dan kemudian melakukan evaluasi terhadap performan toko koperasi sampel tersebut. Hasil observasi dan evaluasi tim kemudian didiskusikan dengan pengurus ataupun manajernya. Hal selanjutnya yang dilakukan tim adalah memberikan blanko isian feed back/ masukan untuk diisi dan mengundang para pengurus/ pengelola koperasi untuk berdiskusi secara aktif pada acara presentasi mengenai pembelian bersama dengan tim peneliti. Dalam memaparkan konsepkonsep mengenai pembelian bersama, maka materi yang dipresentasikan meliputi halhal sebagai berikut. Pertama dalam memaparkan latar belakang tim membahas mengenai tujuan pertemuan dengan gerakan koperasi yaitu untuk berbagai informasi mengenai temuan tim Balitbangkop dan PKM dalam hal pembelian bersama, tujuan kedua yaitu untuk menampung masukanmasukan dari pengurus gerakan koperasi terutama mengenai pembelian bersama, sedangkan tujuan ketiga yaitu untuk menyamakan persepsi mengenai langkahlangkah yang diperlukan untuk menindak lanjuti usulan dari tim Balitbangkop dan PKM. Dalam latar belakang juga dipaparkan tentang situasi koperasi konsumsi di provinsi sampel serta

2 alasanalasan kurang berkembangnya koperasi konsumen. Kemudian bahasan selanjutnya yaitu pemaparan halhal sebagai berikut : Hasil evaluasi mengenai strategi pengadaan barang yang dilakukan oleh toko koperasi pada saat ini; Hasil identifikasi best practice yang dilakukan oleh koperasi maupun pemain lainnya; Pengembangan alternatifalternatif perbaikan strategi pengadaan barang; Memaparkan penentuan strategi secara komprehensif, dan Memaparkan hasil pengembangan rencana implementasi termasuk rencana teknisinya. Acara sosialisasinya/diskusi mengenai pengembangan pusat pembelian bersama di Kabupaten Kudus ini dihadiri oleh tujuh belas pengurus/manajer koperasi, ditambah dengan para pejabat dari Kantor Wilayah Departemen Koperasi, PK dan M Provinsi Jawa Tengah dan Kantor Departemen Koperasi, PK dan M Kabupaten Kudus. Koperasi yang berpatisipasi tersebut terdiri dari empat KPRI, satu Koppas, delapan KUD, tiga Kopkar, dan satu Primkopti. Pada diskusi ini dibahas juga mengenai kekhawatiran pengurus bila pusat pembelian bersama ini dapat merusak pasar apabila harga yang ditawarkan berbeda (jauh lebih murah) dengan harga jual anggota. Namun kekhawatiran bahwa pusat pembelian bersama tersebut akan merusak pasar tidak perlu dirisaukan. Justru tujuan dari pembelian bersama ini adalah untuk memberdayakan para anggotanya, dan konsumen dari pusat pembelian bersama ini adalah koperasi, bukan konsumen dari pusat pembelian bersama ini adalah koperasi, bukan konsumen akhir. Kekhawatiran kedua yang dilontarkan oleh para peserta adalah sulitnya menerapkan pembelian bersama tersebut karena hal ini perlu adanya kekompakan dan komitmen bersama. Memang dalam mendirikan pusat pembelian bersama ini diperlukan adanya komitmen tersebut dapat digalang apabila diantara pendiri/ anggota tersebut mempunyai kepentingan yang sama dan merasakan perlu adanya aliansi strategis diantara mereka.

3 Pada akhir diskusi dengan gerakan koperasi tersebut kemudian disepakati untuk membentuk promotor yang bertugas untuk mengolah pendirian pusat pembelian bersama di Kabupaten Kudus. Ada 5 orang promotor yang bersedia, kelima promotor tersebut yaitu : 1. Ir. Suryo Dwidoto dari Kopkar Pusaka Raya (Pura) Group 2. Faried dari Kopkar PT Djarum 3. Abdullah Fanani dari Koppas Kliwon 4. Roemain F.Y. dari KUD Undaan 5. Bambang Suprapto dari PKPRI Kab. Kudus. Dalam waktu satu bulan setelah dibentuknya tim kecil sebagai promotor pembentukan pusat pembelian bersama tersebut, maka tim kecil tersebut telah dua kali mengadakan rapat. Rapat tersebut membahas mengenai perjanjian kerjasama dan struktur organisasi dari pusat pembelian bersama, dalam hal ini tim peneliti dari Balitbangkop, PK dan M sebagai fasilitator telah memberikan acuan berupa konsep pola/model pusat pembelian bersama dan konsep perjanjian kerjasama pusat tersebut. Maksud dari acuan tersebut yaitu untuk memudahkan tim kecil dalam membuat perjanjianperjanjian yang mereka perlukan. Kemudian pada rapat kedua telah disepakati tentang pembentukan struktur organisasi. Keputusan rapat kedua tersebut adalah lima promotor yang tergabung dalam tim kecil tersebut duduk dalam struktur yang ada namun demikian dalam hal pendanaan maka biayabiaya yang diperlukan dalam pembentukan dan operasi pusat pembelian bersama dipikul oleh Koperasi Karyawan PT Pura Group. Tentunya hal ini tidak akan dapat terlaksana dengan baik. Pusat pembelian bersama akan berjalan dengan baik apabila masingmasing koperasi anggota pusat tersebut bersamasama memikul beban biaya yang ditimbulkan dengan adanya pusat tersebut dan masingmasing anggota bersedia membeli barangbarang yang sudah disepakati untuk dibeli secara bersamasama. Oleh karena itu tim peneliti dari Balitbangkop, PK dan M menyarankan kepada tim kecil halhal sebagai berikut : 1. Apabila koperasikoperasi konsumen lain selain Kopkar Pura Group berkeberatan untuk menyisihkan biaya guna keperluan permodalan pusat

4 pembelian bersama dikarenakan adanya kesulitan uang, maka sebaiknya koperasikoperasi tersebut tidak mendirikan pusat pembelian bersama. 2. Karena Kopkar Pura Group mempunyai omzet yang jauh lebih besar dari koperasikoperasi konsumen lain di Kabupaten Kudus, maka Kopkar Pura Group tersebut disarankan untuk menjadi pusat perkulakan yang melayani koperasikoperasi lainnya di Kab Kudus. 3. Untuk KUD Undaan, karena toko barangbarang konsumsinya cukup laris yaitu dengan menjual barang konsumsi sebanyak 700 item dan omzet pembelian pertahun sebanyak 120 juta rupiah maka disarankan bagi KUD tersebut untuk menjadi outletnya ABSA (Pusat Perkulakan Abdulrahman Saleh milik PUSKUD Jawa Tengah) Saran tim peneliti diterima oleh Kopkar Pura Group dan mendapatkan dukungan dari pihak Kanwil Depkop, PK dan M provinsi Jawa Tengah. Pada waktu itu (bulan Oktober 1999), koperasi yang bersedia untuk bekerjasama/ membeli barangbarang di Pura Group adalah PKPRI Kabupaten Kudus yang mempunyai anggota sekitar 20 KPRI. Disamping itu Kopkar Pura telah mempunyai tiga outlet dan telah bekerjasama dengan anggotanya di Pasar Dawe yaitu dengan melayani 7 warung anggota. Sedangkan saran KUD Undaan masih perlu ditindak lanjuti. Prospek pusat/ sentral perkulakan Pura Group cukup baik karena pada saat ini Kopkar Pura tersebut telah menjadi distributor susu bendera, yaitu stock untuk daerah Kudus. Adapun target jangka pendek pusat perkulakan ini adalah mempunyai outlet sebanyak 60 (enam puluh), sedangkan target jangka panjang yang ingin dicapai olah Kopkar Pura Group adalah menjadi pusat perkulakannya koperasikoperasi yang ada di Kabupaten Kudus. Pada tanggal 19 Oktober 1999 Pusat Perkulakan Kopkar Pura Group ini telah diresmikan secara simbolik di Kabupaten Pemalang oleh Menteri Koperasi, Pengusaha Kecil dan Menengah.

5 A. ANALISA INTERNAL KOPERASI SAMPEL Diatas telah disebutkan bahwa Kopkar PT Pura Group disarankan untuk menjadi pusat perkulakan dari koperasikoperasi konsumen yang ada di Kabupaten Kudus. Saran tim peneliti tersebut didasari atas pertimbangan antara lain bahwa omset pembelian barangbarang konsumsi di toko tersebut jauh lebih besar dari pada omset pembelian tokotoko koperasi sampel lainnya. Pada Tabel 4 telihat bahwa omset pembelian per tahun Kopkar Pura Group sebesar Rp , sedangkan koperasikoperasi sampel lainnya omsetnya relative kecil yaitu berkisar antara Rp , sampai dengan Rp ,. Sedangkan nilai tengah omzet per tahun koperasi sampel tersebut adalah Rp ,. Dengan kondiasi volume usaha yang sangat bervariasi seperti ini yang artinya bahwa kondisi keuangan yang dimiliki oleh koperasikoperasi tersebut sangat bervariasi, maka akan sulit terlaksana apabila mereka mendirikan pusat pembelian bersama, karena salah satu factor sukses dari pendirian pusat tersebut adalah bahwa masingmasing anggota harus mempunyai komitmen untuk membayar iuran dan besarnya iuran tersebut sebaiknya sama. Oleh karena itu menjadikan Kopkar Pura Group sebagai pusat perkulakan bagi koperasikoperasi kecil lainnya akan lebih cocok dari pada membentuk pusat pembelian bersama. Pusat perkulakan yang ada diharapkan dapat bersaing ataupun memberikan penawaran harga yang lebih murah dari pada dengan para distributor disekitar lokasi. Untuk koperasikoperasi yang telah melakukan perdagangan langsung dengan distributor (lihat Tabel 4), tentunya diperlukan adanya komitmen agar koperasi tersebut mau membeli barangbarangnya ke Kopkar Pura Group sebagai sentral perkulakannya. Dipihak lain, Kopkar Pura Group juga harus memberikan fasilitas dan pelayanan lebih dibandingkan dengan distributor yang ada. Hal ini sangat penting untuk dilaksanakan karena hampir semua koperasi sampel telah berhubungan langsung dengan distributor utama, artinya koperasikoperasi tersebut akan membandingkannya. Namun demikian, perlu juga diingat bahwa pusat perkulakan akan berjalan dengan baik

6 dan mempunyai omzet besar apabila didukungoleh koperasikoperasi kecil disekitarnya. Kita semua tahu bahwa untuk menjadi distributor utama dan agar dapat berhubungan langsung dengan pabrikan maka biasanya ada batas pembelian minimal. Agar terjadi jaringan kerjasama dan terbentuk aliansi strategis diantara koperasikoperasi di Kabupaten Kudus, maka pelu dibuat perjanjian kerjasama antara koperasi dengan pusat perkulakan. Perjanjian tersebut dapat berupa perjanjian seperti halnya antara frachisor dengan franchiseenya (system waralaba). Tabel 4. Omzet Pembelian Toko Koperasi Sampel Per Tahun dan Prosentase Pembelian Barang Yang Dilakukan Melalui Distributor di Kabupaten Kudus, No Nama Koperasi Nama Pembelian Toko (Rp) Pembelian Melalui Distributor (%) 1. Kopkar PT Noyorono , 2. KUD Muria , KPRI Karya Sejahtera , Koppas Kliwon , 45,8 5. KPRI Kudus , KPRI Bintara, Gebog , PKPRI Kab. Kudus , 0 8. KUD makmur Jaya , na 9. KUD Undaan , KUD Budi Karya , na 11. KUD Rukun Agawe Santoso , na 12. KUD Sendang Jaya , KUD Bae , Kopkar Pura Group , 50

7 Tabel 5. Prosentase Penjualan Sepuluh Produk Terlaris Terhadap Seluruh Produk Yang Dijual Toko Koperasi Sampel di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, 1999 No Nama Koperasi Nama Pembelian Toko (Rp) 1. Kopkar PT Noyorono 477,000, KUD Muria 13,798, KPRI Karya Sejahtera 110,000, Koppas Kliwon 389,250, KPRI Kudus 1 15,600, KPRI Bintara, Gebog 148,500, PKPRI Kab. Kudus 38,500, KUD makmur Jaya 25,200, KUD Undaan 128,400, KUD Budi Karya 103,070, KUD Rukun Agawe Santoso 5,885, KUD Sendang Jaya 41,993, KUD Bae 124,700, Kopkar Pura Group 1,707,660,000 Total Volume Usaha/Th 3,327,556,715 Pembelian Melalui Distributor (%) na na na na RataRata Prosentase Penjualan 10 Produk Terlaris 56,41

8 Dari data pada tabel 5 terlihat bahwa jumlah omzet penjualan per tahun pada 14 koperasi sampel adalah mencapai 3,3 milyar. Hal ini merupakan peluang usaha bagi koperasikoperasi tersebut apabila mereka berkeinginan untuk beraliansi. Apabila koperasikoperasi primer tersebut bersedia membeli barangbarang dagangannya dari Pusat Perkulakan Kopkar Pura Group, diharapkan hal ini akan terjadi sinergi yang baik. Mengingat pada Tabel 6 terlihat bahwa pada umumnya koperasikoperasi sampel tersebut mempunyai banyak kesamaan terhadap produk yang dijual. Sebagai contoh, dari sejumlah koperasi sampel tersebut, pada waktu ditanyakan mengenai sepuluh produ terlarisnya maka ada 64,3 % koperasi yang menjual keperluan dapur dan merupakan salah satu dari sepuluh produk terlarisnya. Dan 64,3 % koperasi sampel juga menjual produk kecantikan yang sama dan juga merupakan produk terlarisnya. Disamping itu ada 50 % koperasi sampel yang menjual alatalat tulis kantor. Perlu disimak bahwa prosentase penjualan sepuluh produk terlaris terhadap seluruh produk yang dijual toko sangat besar (lihat Tabel 5). Ratarata omset penjualan sebesar 56,41 % merupakan omset dari sepuluh produk terlaris yang dijual koperasikoperasi tersebut.

9 2. Provinsi Lampung Dengan kesadaran bahwa sampai saat ini koperasi masih dalam keadaan lemah, perlu dilakukan konsolidasi koperasi agar sejajar dengan kekuatan pelaku ekonomi lainnya yang terlebih dahulu menikmatkan kesempatan pembangunan. Menyatukan kekuatan koperasi harus dilakukan secara bertahap dan sistematis berkesinambungan agar dapat berlangsung mulus tanpa menimbulkan konflik baru dan kepentingan masingmasing jajaran koperasi yang telah berkembang sesuai dengan arah kehendak anggotanya. Untuk itulah sosialisasi mengenai pembelian bersama yang dilakukan oleh tim Balitbangkop & PKM dilakukan dengan dua kali mengadakan pertemuan atau diskusi. Dan mengadakan observasi ke koperasi sampel di Kodya Bandar Lampung. Tujuan dari pertemuan dan diskusi tersebut adalah untuk menyampaikan ideide dan informasiinformasi yang berhubungan dengan kegiatan pembelian bersama dan sekaligus menganalisa kemampuan dari koperasikoperasi yang nantinya akan melakukan kegiatan pembelian bersama. Pada awalnya tim menentukan kegiatan pembelian bersama melalui koperasi ini dilakukan di Kabupaten Lampung Selatan. Dari hasil diskusi dengan Kakanwil dan Kabag Perkotaan Kanwil Lampung tim memperoleh gambaran bahwa keadaan koperasi serta kondisi koperasi yang bergerak dalam bidang kosumsi dan yang memiliki toko yang besar tidak memenuhi persyaratan untuk kegiatan pembelian bersama. Selain itu juga jarak antar koperasi cukup berjauhan. Berdasarkan keadaan tersebut tim berinisiatif bahwa sosialisasi pembelian bersama oleh koperasi tahap pertama yang dilakukan pada bulan September 1999, tim mengadakan pertemuan dan diskusi dengan 22 koperasi terdiri dari KDU dan KPN dari 3 kabupaten (Lampung Selatan, Lampung Utara, Kodya Bandar Lampung) yang mempunyai unit pertokoan. Pertemuan tersebut dihadiri oleh pengurus dan manajer koperasi diadakan diruang rapat Kanwil Depkop dan PKM Lampung. Pemillihan 22 koperasi tersebut dipilih berdasarkan hasil diskusi dengan Bagian Koperasi Perkotaan Kanwil Lampung.

10 Bahan presentasi yang di sampaikan sebagai berikut. Pertama menyampaikan berbagai informasi mengenai temuan dari Balitbangkop dan PKM dalam pembelian bersama. Tujuan kedua adalah menerima masukanmasukan dari pengurus dan manajer koperasi terutama mengenai pembelian bersama serta permasalahan yang dihadapi oleh koperasi mengenai pembelian barang pertokoan dari supplier. Tujuan ketiga adalah untuk mengetahui peta dan kemampuan koperasi dari 3 kabupaten tersebut sekaligus menentukan kabupaten/kodya untuk kegiatan pembelian bersama oleh koperasi. Dari hasil temuan dan diskusi pada tahap pertama tersebut disepakati bahwa kegiatan pembelian bersama melalui koperasi di provinsi Lampung dipilih Kodya Bandar Lampung. Juga disepakati untuk mengadakan pertemuan dan diskusi pada bulan Oktober 1999 untuk koperasi konsumen di Kodya Bandar Lampung sebagai kordinator awal adalah KSU sempurna. Pada kegiatan sosialisasi yang kedua mengenai pusat pembelian bersama melalui koperasi di kodya Bandar Lampung tim melakukan observasi terhadap koperasi 8 koperasi sampel calon promotor yaitu : KPRI Saptawa Penwilda Tk 1, Kopti Kodya Bandar Lampung, KPRI Handayani, KUD Sukarame, KPN Ragon Gawi, KPRI Tiga Sehat Kanwil Depkop. Selanjutnya tim memberikan formulir isian umpan balik (feed back) untuk diisi oleh pengurus atau menajer koperasi sampel. Sekaligus mengundang pengurus/manajer untuk hadir pada pertemuan dan berdiskusi pada acara persentasi mengenai pembelian bersama dengan tim Balitbang yang diadakan di ruang rapat kanwil Lampung. Materi presentasi yang disampaikan dalam pertemuan mengenai pembelian bersama menyampaikan informasi hasil temuan tim Balitbangkop dan PKM dalam hal pembelian bersama. Selain menyampaikan tentang gambaran koperasi konsumsi di Provinsi Lampung serta alasan kurang berkembangnya koperasi konsumen. Selain itu juga dibahas salah satunya adalah hasil identifikasi best practice yang dilakukan maupun pemain lainnya (bahan presentasi dilampirkan pada laporan ini).

11 Tujuan dari pertemuan dan diskusi tersebut adalah untuk menampung masukanmasukan dari pengurus dan manajer koperasi mengenai pembelian bersama, dan untuk menyamakan persepsi mengenai langkahlangkah yang diperlukan untuk menindak lanjuti usulan tim Balitbangkop dan PKM. Pada pertemuan dan diskusi yang dilaksanakan oleh tim Balitbangkop dan PKM dihadiri oleh 23 pengurus/manajer/stap dan para pejabat Kanwil Depkop & PKM Provinsi Lampung serta pejabat Kandepkop & PKM Kodya Bandar Lampung. Koperasi yang berpartisipasi pada pertemuan tersebut terdiri dari 4 KPRI, 1KUD, 2 KSU, 3 KPN dan 1Kopti. Pada pertemuan ada beberapa koperasi yang menginformasikan barang konsumsi yang dapat dikerjasamakan. Seperti KPN Tiga Sehat menginformasikan mempunyai order untuk mendapatkan gula dari PT Gunung Madu sebanyak 40 ton perbulan dengan harga pabrik tetapi tidak dapat ditebus karena, kurangnya modal. Begitu juga dengan KPN Saptawa Penwilda TK 1 yang telah mempunyai hubungan baik dengan supplier unilever tetapi sampai saat ini belum bisa menjadi distributor karena belum memenuhi target pembelian. Hasil dari pertemuan sosialisasi mengenai pusat pembelian bersama disepakati : Koperasi yang hadir dalam pertemuan merencanakan membentuk pusat pembelian bersama yang dimiliki oleh koperasi (dipilih dari tiga alternatif yang ditawarkan oleh tim) Koperasi peserta diskusi sepakat untuk mengadakan pertemuan bulanan untuk menyamakan persepsi dan mengadakan komitmen bagi anggota pusat pembelian bersama agar dapat memenuhi kepentingan dan kebutuhan yang sama dari anggota. Agar terealisasinya Pusat pembelian bersama tersebut koperasi peserta membentuk tim yang anggotanya berasal dari KSU Sampurna, Kopti Kodya Bandar Lampung, KUD Sukarame, dan KPN Bina Dharma dan KPRI Saptawa Penwilda TK 1. Tugas dari tim ini adalah sebagai penghubung dan menyampaikan informasi serta mengadakan pertemuan untuk membahas pembentukan pusat pembelian bersama.

12 Ada 2 Koperasi yaitu KPRI Saptawa Penwilda TK 1 dan KUD Sukarame yang siap menjadi koordinator untuk kegiatan pusat pembelian bersama. Tim pembentukan pusat pembelian bersama berencana mengadakan pertemuan yang pertama bulan November Pada pertemuan tersebut akan dibahas juga kordinator dan tempat pusat pembelian bersama, serta membahas dan menentukan pendanaan. Dalam hal ini tim peneliti dari balitbangkop & PKM sebagai fasilitator telah mengirimkan melalui facsimile, acuan berupa konsep/pola/ model pusat dan perjanjian kerjasama untuk pusat pembelian bersama kepada tim di provinsi Lampung. Berdasarkan pantauan tim peneliti Balitbangkop & PKM yang dilakukan melalui telepon diperoleh informasi dari tim pembentukan pusat pembelian bersama. Rapat yang diadakan pada bulan November 1999 tersebut hanya membicarakan mengenai pendanaan dari pusat pembelian bersama yan gakan didirikan itupun belum tuntas dan akan dilanjutkan pada pertemuan berikutnya.

13 A. ANALISA INTERNAL KOPERASI SAMPEL Pada tabel dibawah terlihat omset pembelian dari tiap toko koperasi sampel sangat bervariasi. Omset pembelian tertinggi adalah Kopti Kodya Bandar lampung sebesar Rp , sedangkan koperasikoperasi sampel lainnya omsetnya hanya berkisar antara Rp , sampai dengan Rp ,. Dari Tabel dibawah dapat terlihat bahwa omset dari koperasi sampel tersebut sangat bervariasi. Keadaan seperti ini yang artinya bahwa kondisi keuangan yang dimiliki koperasikoperasi tersebut sangat bervariasi, maka akan sulit terlaksana apabila mereka mendirikan pusat pembelian bersama, karena salah satu factor yang sangat menentukan dari pendirian pusat tersebut adalah masingmasing anggotanya harus mempunyai komitmen untuk membayar iuran dan besarnya iuran tersebut sebaiknya sama. Dengan kondisi seperti diatas sebaikanya pusat pembelian bersama yan gakan didirikan ada dua. Pertama adalah pusat pembelian bersama kerjasama dari tiga koperasi yang omsetnya besar, seperti kerjasama Kopti Kodya Bandar Lampung, KUD Sukarame, dan KPRI Saptawa Penwilda TK 1 yang omzetnya diatas 500 juta. Sedangkan pusat pembelian bersama yang kedua adalah kerjasama dari koperasikoperasi lainnya yang berada di Kodya Bandar Lampung omsetnya dibawah 100 juta. Dari bervariasinya omset koperasi sampel di Kodya Bandar Lampung dapat juga membentuk pusat pembelian bersama dengan jalan, bagi koperasi yang omset penjualan barang konsumsinya sangat besar seperti KPRI Saptawa Penwilda TK1 dibandingkan waserda koperasikoperasi lain disekitarnya, maka KPRI Saptawa Penwilda TK 1 dapat bertindak sebagai pusat pembelian (pusat perkulakan) bagi tokotoko koperasi yang omsetnya kecil.

14 Tabel 6. Omzet per Bulan Sepuluh Produk Terlaris Toko Koperasi Sampel di Kabupaten Kudus, 1999 No Koperasi 1 Kopkar PT Noyorono KUD Muria na KPRI Karya Sejahtera Koppas Kliwon ,641.6 na 5 KPRI Kudus I na na na na na 6 KPRI Binatara, Gbog na na na na 7 PKPRI Kab. Kudus KUD Makmur Jaya KUD Undaan KUD Budi Karya KUD Rukun Agawe S 12 KUD Sendang Jaya KUD Bae Kopkar Pura Group Total Juml. Kop. Yg. Menjual (%) Omzet per Tahun Sepuluh Produk Terlaris Toko (Rupiah juta,) Beras Obatan Gula Rokok M. Goreng Pembersih Susu S.Drink & Snack ATK Kepl. Dapur Kecantikan Alat Listrik Total

15 Tabel 7. Omset Pembelian Toko Koperasi Sampel dan Prosentase Pembelian Yang Dilakukan Melalui Distributor di Kodya Bandar Lampung 1999 No Nama Koperasi Omset Pembelian Toko (Rp. ) Pembelian Melalui Distributor (%) 1. KPRI Saptawa Penwilda TK I KOPTI Kodya Bandar Lampung KSU Sampurna KPRI Handayani KUD Sukarame KPRI Tiga Sehat Kanwil Depkop & PKM KSU Mawar Indah KPRI Betik Gawi KPN Ragom Gawi KPN Bina Dharma Koptanala Bandar Lampung

16 Tabel 8. Prosentase Penjualan Sepuluh Produk Terlaris Terhadap Seluruh Produk yang Dijual Toko Koperasi Sampel di Kodya Bandar Lampung, No Nama Koperasi Omset Penjualan Pertahun Prosentase Penjualan 10 Produk Terlaris Terhadap Seluruh Produk yang Dijual Toko 1. KPRI Saptawa Penwilda TK I 815,266,581 1, KOPTI Kodya Bandar Lampung 1,767,641,358 7, KSU Sampurna 91,235, KPRI Handayani 33,000, KUD Sukarame 581,301,930 2, KPRI Tiga Sehat Kanwil Depkop & PKM 35,875, KSU Mawar Indah 78,879, KPRI Betik Gawi 70,829, KPN Ragom Gawi 49,254, KPN Bina Dharma 31,500, Koptanala Bandar Lampung 15,900,000 Total Omzet/Th 3,537,683,801 RataRata 10 produk terlaris 2,249.17

17 Tabel 9. Omzet per Bulan Sepuluh Produk Terlaris Toko Koperasi Sampel di Kodya Bandar Lampung, 1999 No Koperasi Beras Obatan Obatan Omzet per Tahun Sepuluh Produk Terlaris Toko (Rupiah) S. Drink & Gula Rokok M. Goreng Pembersih Susu Snack Kepl Dapur KPRI Saptawa Penwilda TK 1 26,726,250 2,350,000 1,598,000 3,100,000 2,514,400 5,200, ,000 2,203,650 44,612,300 2 Kopti Kodya Bandar Lampung 15,400,000 6,500,000 3,000,000 24,900,000 3 KSU Sampurna 15,500, ,000 7,250,000 1,521, ,000 1,500,000 26,615,000 4 KPRI Handayani 0 5 KUD Sukarame 6,750,000 3,456,900 1,834,500 8,765,000 20,806,400 6 KPRI Tiga Sehat Kanwil Depkop & PKM 630, , ,000 1,750,000 3,646,100 7 KSU Mawar Indah 0 8 KPRI Betik Gawi 0 9 KPN Ragon Gawi 5,500, ,000 1,230, ,100 2,240, , ,000 10,994, KPN Bina Dharma 0 11 Koptanala Bandar Lampung 0 Total 54,476,250 21,206,900 4,398,500 26,845,000 4,032,500 8,961,000 2,036,100 7,867,650 1,750, ,573,900 Jml Kop yg, Menjual (%) Alat Listrik Total

18 3. Provinsi Jawa Barat Koperasi Konsumsi Sampel Objek kajian pengembangan Pusat Pembelian Bersama Melalui Koperasi dilaksanakan di Kabupaten Sumedang, Propinsi Jawa Barat. Dari sekian banyaknya koperasi yang ada di Kabupaten Sumedang sebanyaknya 21 Koperasi/KUD sebagai sampel, ikut rencana kegiatan pengembangan Pusat Pembelian Bersama Melalui Koperasi. 21 Koperasi/KUD tersebut terdiri dari 10 Koperasi Unit Desa (KUD), 9 Koperasi Pegawai Republik Indonesia (KPRI), dan 2 Koperasi Serba Usaha (KSU). Namanama 21 Koperasi/KUD sampel dapat disampaikan sebagai berikut : 1. KUD Jatinangor, 2. KUD Sugih Mukti, 3. KUD Ganeas, 4. KUD Hidup Rukun, 5. KUD Cibereum, 6. KUD Paseh, 7. KUD Situraja, 8. KUD Bina Raharja, 9. KUD Bbakti Tani, 10. KUD Citali, 11. KPRI Kandaga Guru Sumedang (KGS), 12. KPRI Medal Raharja Pemda, 13. KPRI Pegawai Kesehatan Sumedang (KPKS), 14. KPRI Kopedas Pegawai Departemen Agama, 15. KPRI Dinas Pertanian, 16. KPRI Sinar Deppen, 17. KPRI Warga Kencana BKKBN, 18. KPRI Bina Sejahtera, 19. KPRI Guru Cicarimah (GUCI), 20. KSU Swadaya Madya, dan 21. KSU Mitra Sejahtera., Terpilihnya 21 Koperasi/KUD sampel tersebut disesuaikan dengan jenis usah yang diinginkan yaitu unit usaha koperasi yang bergerak di bidang konsumsi. Hasil rapat di Kantor Departemen Koperasi, PK dan M Kabupaten Sumedang Jawa Barat pada tanggal 1 September 1999 yang diikuti 21 Koperasi/KUD sampel, telah pula memutuskan halhal sebagai berikut : a. Menunjuk 7 (tujuh) Koperasi/KUD sebagai penggerak dan mengurus kerjasama tersebut pada PIHAK KETIGA dalam mencari mitra kerja (mencari pabrikanpabrikan, grosirgrosir dan lainlain). b. Atas permintaan peserta rapat, Bapak Frans telah menyampaikan keberhasilankeberhasilan KUD Citali, serta hambatanhambatan yang dialami KUD Citali. Karena perlu diinformasikan bahwa KUD Citali sebagai KUD terbaik di Kabupaten Sumedang.

19 c. KUD Citali dan KUD Situraja sebagai motor penggerak informasi harga, oleh karena itu akan dipasang internet. KUD Citali dan KUD Situraja yang telah lama melakukan kerjasama dengan PUSKUD Jawa Barat diminta untuk berjalan seperti biasa, hanya systemnya dapat dirubah sebagai Pusat Pembelian Bersama Melalui Koperasi. d. Telah disepakati oleh Koperasi/KUD yang hadir supaya informasi terus berjalan dengan baik maka diadakan pertemuan periodic bulan satu kali. e. Kita tancapkan Pena Emas pada Pusat Pembelian Bersama Melalui Koperasi di Sumedang, kemudian untuk dijadikan pilot proyek. Didalam diskusi, disampaikan permasalahan yang dihadapi dalam melaksanakan Pusat Pembelian Bersama Melalui Koperasi adalah dibidang permodalan. Oleh karena itu masih dicarikan jalan keluar untuk mengatasi permodalan tersebut. Sampai saat sekarang ini 21 Koperasi/KUD tersebut di atas dalam melaksanakan kegiatan usaha koperasi, pengurus telah melakukan kerjasama dengan distributor dan agen. Jumlah Koperasi/KUD yang melakukan kerjasama dengan distributor sebanyak 67 %, dan dengan agen sebanyak 76 %, adapun jumlah distributor 65 distributor, dan 80 agen. Guna memenuhi kebutuhan anggota dan masyarakat, jenisjenis barang yang dijual Koperasi/KUD antara lain, beras, terigu, obatobatan, gula, pembersih, susu, soft drink, snack, keperluan dapur, alatalat kecantikan, minyak goring, rokok, alat tulis kantor dan alat listrik. Koperasi di dalam menjual barang telah memberikan fasilitas pada anggota pembeli, yaitu sebanyak 14 % dari 21 Koperasi/KUD sampel memberikan potongan harga atas dasar diskon, 5 % dari 21 Koperasi/KUD sampel memberikan potongan harga atas pembelian minimal, 43 % dari 21 Koperasi/KUD sampel barang diantar pada pembeli, dan 38 % dari 21 Koperasi/KUD sampel dilakukan dengan cara lain. Koperasi/KUD sampel selalu memberikan keringanan pembayaran pada anggota pembeli, tentunya disesuaikan dengan jenis dan jumlah barang yang dibeli. Sehingga terjadi satu koperasi terdapat dua syarat pembayaran, kontan dan kredit. Pembayaran

20 secara kontan dilakukan 86 % dari 21 Koperasi/KUD sampel, dan 62 % pembayaran secara kredit. Kegiatan usaha koperasi sampel sampai saat sekarang ini berkembang dengan baik, pelayanan pada anggota terus ditingkatkan. Hal tersebut dapat dibuktikan bahwa kredit program yang datangnya dari Bank Pemerintah telah dikembalikan melalui angsuran, semua koperasi telah melunasi kreditnya.

21 Tabel 10. Fasilitas Diberikan Pada Konsumen Toko dan Syarat Pembayaran Pelanggan. Fasilitas Diberikan Pada Konsumen Toko Potongan Harga Dan Syarat No Nama Koperasi Pengantaran Dasar Minimum lainlain Pelanggan Pembayaran Barang diskon Pembelian 1. KUD Jatinangor x x 2. KUD Sugih Mukti x x 3. KUD Ganeas x x x 4. KUD Hidup Rukun x x 5. KUD Cibeureum x x x 6. KUD Paseh x x x 7. KUD Situraja x x x 8. KUD Bina Raharja x 9. KUD Sri Bakti Tani x x 10. KUD Citali x x 11. KPRI KGS x x x 12. KPRI Medal Raharja x x 13. KPRI KPKS x x x 14. KPRI Kopeg Depag x x x 15. KPRI Dinas Pertan x x x 16. KPRI Sinar Deppen x x x 17. KPRI WK BKKBN x x x 18. KPRI Bina Sejahtera x x x 19. KPRI GUCI x 20. KSU Swa. Madya x x 21. KSU Mitra Sejahtera x x x Pelaksanaan Kegiatan (%) Keterangan : Tanda x (Koperasi malaksanakan kegiatan) Tanda (Koperasi yang tidak malaksanakan kegiatan).

IV. HASIL KAJIAN DAN ANALISIS

IV. HASIL KAJIAN DAN ANALISIS IV. HASIL KAJIAN DAN ANALISIS Hasil kajian dan analisis sesuai dengan tujuan dijelaskan sebagai berikut: 1. Profil Koperasi Wanita Secara Nasional Sebagaimana dijelaskan pada metodologi kajian ini maka

Lebih terperinci

DEPUTI BIDANG PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA KEMENTERIAN KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA TAHUN

DEPUTI BIDANG PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA KEMENTERIAN KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA TAHUN Jenis Koperasi DEPUTI BIDANG PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA KEMENTERIAN KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2010 KATA PENGANTAR Persoalan menyangkut tata kehidupan koperasi

Lebih terperinci

BAB VII SISTEM AKUNTANSI PERSEDIAAN

BAB VII SISTEM AKUNTANSI PERSEDIAAN BAB VII SISTEM AKUNTANSI PERSEDIAAN A. UMUM 1. Definisi PSAP Nomor 05 Peraturan Pemerintah Nomor 71 tahun 2010 menyatakan bahwa persediaan adalah aset lancar dalam bentuk barang atau perlengkapan yang

Lebih terperinci

TENTANG PENATAAN TOKO SWALAYAN DI KOTA SURABAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SURABAYA,

TENTANG PENATAAN TOKO SWALAYAN DI KOTA SURABAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SURABAYA, SALINAN PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR 8 TAHUN 2014 TENTANG PENATAAN TOKO SWALAYAN DI KOTA SURABAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SURABAYA, Menimbang : a. bahwa seiring dengan pertumbuhan

Lebih terperinci

Mengenal Lebih Dekat Pajak Pertambahan Nilai

Mengenal Lebih Dekat Pajak Pertambahan Nilai Mengenal Lebih Dekat Pajak Pertambahan Nilai Berbagi informasi terkini bersama teman-teman Anda Jakarta Istilah Pajak Pertambahan Nilai (PPN) bukan suatu hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Namun

Lebih terperinci

Company Profile. Visi

Company Profile. Visi Company Profile Nama Perusahaan : CV.KEMITRAAN A SWALAYAN SIUP : 503.6/303/PK/2014 Bidang Usaha : Kemitraan Minimarket A SWALAYAN Kantor Pusat : Puri Hutama Danguran A.1 Klaten (0272) 3353129 Website :

Lebih terperinci

PELATIHAN PENILAIAN KESEHATAN KOPERASI SIMPAN PINJAM DAN UNIT SIMPAN PINJAM KOPERASI DI KABUPATEN BULELENG

PELATIHAN PENILAIAN KESEHATAN KOPERASI SIMPAN PINJAM DAN UNIT SIMPAN PINJAM KOPERASI DI KABUPATEN BULELENG LAPORAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT PELATIHAN PENILAIAN KESEHATAN KOPERASI SIMPAN PINJAM DAN UNIT SIMPAN PINJAM KOPERASI DI KABUPATEN BULELENG Ketua : Fridayana Yudiaatmaja, M.Sc / 0012047414 Anggota

Lebih terperinci

Pegadaian dan Sewa Guna Usaha

Pegadaian dan Sewa Guna Usaha Pegadaian dan Sewa Guna Usaha A. Pegertian Usaha Gadai Secara umum pegertian usaha gadai adalah kegiatan menjaminkan barang-barang berharga kepada pihak tertentu, guna memperoleh sejumlah uang dan barang

Lebih terperinci

LEMBAGA KEUANGAN MIKRO DALAM KERANGKA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN MISKIN 1 Nani Zulminarni 2

LEMBAGA KEUANGAN MIKRO DALAM KERANGKA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN MISKIN 1 Nani Zulminarni 2 LEMBAGA KEUANGAN MIKRO DALAM KERANGKA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN MISKIN 1 Nani Zulminarni 2 Sebagian besar penduduk miskin di Indonesia adalah perempuan, dan tidak kurang dari 6 juta mereka adalah kepala rumah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. investasi jangka panjang bagi perusahaan. Mengingat bahwa tujuan dari pengadaan

BAB I PENDAHULUAN. investasi jangka panjang bagi perusahaan. Mengingat bahwa tujuan dari pengadaan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Aktiva tetap merupakan sesuatu yang penting bagi perusahaan, selain digunakan sebagai modal kerja, aktiva tetap biasanya juga digunakan sebagai alat investasi

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PERTAMBAHAN NILAI BARANG DAN JASA DAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH SEBAGAIMANA

Lebih terperinci

BAB 1 AKUNTANSI DAN OPERASI BISNIS. A. Pengertian dan Tujuan Akuntansi

BAB 1 AKUNTANSI DAN OPERASI BISNIS. A. Pengertian dan Tujuan Akuntansi BAB 1 AKUNTANSI DAN OPERASI BISNIS Peranan akuntansi sebagai alat bantu dalam pengambilan keputusan ekonomi dan keuangan semakin disadari oleh semua pihak yang berkepentingan. Bahkan organisasi pemerintah

Lebih terperinci

merencanakan UNTUNG MODUL PELATIHAN KEUANGAN untuk Pebisnis Kecil Mei 2007 dibuat oleh Yayasan Penabulu Bekerja sama dengan CCDE

merencanakan UNTUNG MODUL PELATIHAN KEUANGAN untuk Pebisnis Kecil Mei 2007 dibuat oleh Yayasan Penabulu Bekerja sama dengan CCDE merencanakan UNTUNG MODUL PELATIHAN KEUANGAN untuk Pebisnis Kecil Mei 2007 dibuat oleh Yayasan Penabulu Bekerja sama dengan CCDE Untung. Inilah semacam roh atau ramuan yang merangsang setiap orang mau

Lebih terperinci

Penjelasan atas UU Nomor 11 Tahun 1992 P E N J E L A S A N A T A S UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 1992 TENTANG DANA PENSIUN

Penjelasan atas UU Nomor 11 Tahun 1992 P E N J E L A S A N A T A S UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 1992 TENTANG DANA PENSIUN P E N J E L A S A N A T A S UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 1992 TENTANG DANA PENSIUN U M U M Dalam rangka pelaksanaan pembangunan nasional yang pada hakekatnya merupakan pembangunan manusia

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI, DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA. NOMOR : 19/Per/M.KUKM/XI/2008 TENTANG

PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI, DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA. NOMOR : 19/Per/M.KUKM/XI/2008 TENTANG Draft Htl Maharani 9 September 2008 PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI, DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 19/Per/M.KUKM/XI/2008 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN KEGIATAN USAHA SIMPAN PINJAM

Lebih terperinci

STRUKTUR PASAR. 1. Menurut segi fisiknya, pasar dapat dibedakan menjadi beberapa macam, di

STRUKTUR PASAR. 1. Menurut segi fisiknya, pasar dapat dibedakan menjadi beberapa macam, di STRUKTUR PASAR 1.1 Pengertian Pasar Pasar adalah suatu tempat atau proses interaksi antara permintaan (pembeli) dan penawaran (penjual) dari suatu barang/jasa tertentu, sehingga akhirnya dapat menetapkan

Lebih terperinci

Perbandingan dan Aritmatika Sosial

Perbandingan dan Aritmatika Sosial Buku Kerja Siswa Perbandingan dan Aritmatika Sosial Tingkat SD/SMP Doddy Feryanto Agustinus Gunung Hedi Harsono DAFTAR ISI Kata Pengantar Ucapan Terima Kasih Daftar Isi i ii iii Perbandingan 1 Apa itu

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM DISTRIBUSI PUPUK DAN PENGADAAN BERAS

GAMBARAN UMUM DISTRIBUSI PUPUK DAN PENGADAAN BERAS IV. GAMBARAN UMUM DISTRIBUSI PUPUK DAN PENGADAAN BERAS 4.1. Arti Penting Pupuk dan Beras Bagi Petani, Pemerintah dan Ketahanan Pangan Pupuk dan beras adalah dua komoditi pokok dalam sistem ketahanan pangan

Lebih terperinci

BAB III ANALISA SISTEM

BAB III ANALISA SISTEM BAB III ANALISA SISTEM 1. Tinjauan Organisasi Informasi tentang sistem yang sedang berjalan sangat penting sekali dalam proses perancangan sistem informasi. Karena dari informasi tersebut, dapat diketahui

Lebih terperinci

Menteri Perdagangan Republik Indonesia

Menteri Perdagangan Republik Indonesia Menteri Perdagangan Republik Indonesia PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 32/M-DAG/PER/8/2008 TENTANG PENYELENGGARAAN KEGIATAN USAHA PERDAGANGAN DENGAN SISTEM PENJUALAN LANGSUNG DENGAN

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perusahaan dikatakan memiliki tujuan yang bermacam-macam. Ada yang mengatakan bahwa perusahaan berfokus pada pencapaian keuntungan atau laba maksimal atau laba yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH Menimbang : DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, a. bahwa masyarakat adil dan makmur

Lebih terperinci

BABI PENDAHULUAN. dibandingkan waktu sebelumnya. Para manajer puncak dihadapkan pada arus

BABI PENDAHULUAN. dibandingkan waktu sebelumnya. Para manajer puncak dihadapkan pada arus BABI PENDAHULUAN BABI PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Permasalahan Pengelolaan industri dewasa ini memberikan tantangan yang lebih besar dibandingkan waktu sebelumnya. Para manajer puncak dihadapkan pada

Lebih terperinci

BAB III PELAKSANAAN TRANSAKSI MENGGUNAKAN GIRO LEBIH DI PUSAT GROSIR SURABAYA

BAB III PELAKSANAAN TRANSAKSI MENGGUNAKAN GIRO LEBIH DI PUSAT GROSIR SURABAYA BAB III PELAKSANAAN TRANSAKSI MENGGUNAKAN GIRO LEBIH DI PUSAT GROSIR SURABAYA A. Gambaran Tentang Pusat Grosir Surabaya (PGS) 1. Sejarah Berdirinya Tak dapat dipungkiri bahwa dunia perdagangan sekarang

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI II.1 Sistem Akuntansi Informasi merupakan suatu kebutuhan bagi suatu perusahaan, terutama informasi keuangan, sangat dibutuhkan oleh bermacam pihak yang berkepentingan. Informasi

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG PERIZINAN PUSAT PERBELANJAAN DAN TOKO MODERN

PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG PERIZINAN PUSAT PERBELANJAAN DAN TOKO MODERN Hasil PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG PERIZINAN PUSAT PERBELANJAAN DAN TOKO MODERN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, BUPATI SLEMAN, Menimbang

Lebih terperinci

PEMBANGUNAN MASYARAKAT MELALUI GERAKAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT. Oleh : Dr. Ir. Hj. Aida Vitayala S. Hubeis

PEMBANGUNAN MASYARAKAT MELALUI GERAKAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT. Oleh : Dr. Ir. Hj. Aida Vitayala S. Hubeis PEMBANGUNAN MASYARAKAT MELALUI GERAKAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT Oleh : Dr. Ir. Hj. Aida Vitayala S. Hubeis Batasan Istilah Pemberdayaan masyarakat (community emporwerment) adalah perujudan dari pengembangan

Lebih terperinci

TENTANG. memperluas. pembiayaan; Undang-Undang. 2. Tahun 2003

TENTANG. memperluas. pembiayaan; Undang-Undang. 2. Tahun 2003 KEMENTERIAN NEGARAA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH R.I. LEMBAGA PENGELOLA DANA BERGULIR KOPERASI DAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH ( LPDB-KUMKM ) PERATURAN DIREKSI LEMBAGA PENGELOLA DANA BERGULIR

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI BANYUWANGI MARET 2015 INFLASI 0,09 PERSEN

PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI BANYUWANGI MARET 2015 INFLASI 0,09 PERSEN BPS KABUPATEN BANYUWANGI No. 03/April/3510/Th.II, 03 April PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI BANYUWANGI MARET INFLASI 0,09 PERSEN Pada bulan Banyuwangi mengalami inflasi sebesar 0,09 persen, lebih

Lebih terperinci

Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor : 53/M-DAG/PER/12/2008

Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor : 53/M-DAG/PER/12/2008 PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG PEDOMAN PENATAAN DAN PEMBINAAN PASAR TRADISIONAL, PUSAT PERBELANJAAN DAN TOKO MODERN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK

Lebih terperinci

Program Bonus: Sebuah Modifikasi dari Konsep Kredit-Mikro

Program Bonus: Sebuah Modifikasi dari Konsep Kredit-Mikro Deskripsi Singkat Program Bonus: Sebuah Modifikasi dari Konsep Kredit-Mikro Tujuan dokumen ini adalah untuk memberikan gambaran singkat tentang Program Bonus. Program Bonus memobilisasi dana hibah untuk

Lebih terperinci

DATA MENCERDASKAN BANGSA

DATA MENCERDASKAN BANGSA PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI JANUARI 2014 TERJADI INFLASI SEBESAR 1,23 PERSEN Januari 2014 IHK Karawang mengalami kenaikan indeks. IHK dari 141,08 di Bulan Desember 2013 menjadi 142,82 di

Lebih terperinci

enyatukan dan Memadukan Sumber Daya

enyatukan dan Memadukan Sumber Daya M enyatukan dan Memadukan Sumber Daya Keunggulan kompetitif BCA lebih dari keterpaduan kekuatan basis nasabah yang besar, jaringan layanan yang luas maupun keragaman jasa dan produk perbankannya. Disamping

Lebih terperinci

BOKS Perbatasan Kalimantan Barat Masih Perlu Perhatian Pemerintah Pusat Dan daerah

BOKS Perbatasan Kalimantan Barat Masih Perlu Perhatian Pemerintah Pusat Dan daerah BOKS Perbatasan Kalimantan Barat Masih Perlu Perhatian Pemerintah Pusat Dan daerah Kalimantan Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang berbatasan langsung dengan Sarawak (Malaysia) dengan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pembangunan perekonomian nasional bertujuan

Lebih terperinci

SINTESIS FUNGSI-FUNGSI BISNIS

SINTESIS FUNGSI-FUNGSI BISNIS 1 SINTESIS FUNGSI-FUNGSI BISNIS PENILAIAN SUATU BISNIS Mengingat nilai suatu proyek ditentukan dengan mengestimasi present value perkiraan arus kasnya di masa mendatang. Sebuah perusahaan yang menilai

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a.

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a.

Lebih terperinci

4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1982 Nomor 7,

4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1982 Nomor 7, PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 11/M-DAG/PER/3/2006 T E N T A N G KETENTUAN DAN TATA CARA PENERBITAN SURAT TANDA PENDAFTARAN AGEN ATAU DISTRIBUTOR BARANG DAN/ATAU JASA DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

TATA CARA PENGADAAN LANGSUNG DALAM PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH

TATA CARA PENGADAAN LANGSUNG DALAM PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH Pengadaan Langsung adalah salah satu mentode dalam memilih penyedia barang/jasa pemerintah. Dibanding dengan metode lainnya metode Pengadaan Langsung merupakan cara yang paling sederhana dan dapat dilaksanakan

Lebih terperinci

PERSYARATAN UMUM PENGADAAN BARANG & JASA eprocurement PT. Bukit Asam (Persero) Tbk

PERSYARATAN UMUM PENGADAAN BARANG & JASA eprocurement PT. Bukit Asam (Persero) Tbk PERSYARATAN UMUM PENGADAAN BARANG & JASA eprocurement PT. Bukit Asam (Persero) Tbk I. Pengertian 1. Aanwijzing adalah pemberian penjelasan kepada Peserta Pengadaan Barang dan Jasa mengenai Rencana Kerja

Lebih terperinci

PEDOMAN MANAJEMEN LOGISTIK DAN PERALATAN PENANGGULANGAN BENCANA

PEDOMAN MANAJEMEN LOGISTIK DAN PERALATAN PENANGGULANGAN BENCANA PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA NOMOR 13 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN MANAJEMEN LOGISTIK DAN PERALATAN PENANGGULANGAN BENCANA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA (BNPB) - i - DAFTAR

Lebih terperinci

PEMBAGIAN SHU SEBAGAI UPAYA UNTUK MENYEJAHTERAKAN ANGGOTA KOPERASI BINTANG SAMUDRA

PEMBAGIAN SHU SEBAGAI UPAYA UNTUK MENYEJAHTERAKAN ANGGOTA KOPERASI BINTANG SAMUDRA PEMBAGIAN SHU SEBAGAI UPAYA UNTUK MENYEJAHTERAKAN ANGGOTA KOPERASI BINTANG SAMUDRA Oleh: RIANTO RITONGA Salah satu hal penting dalam upaya menyejahterakan anggota Koperasi Bintang Samudra, selain memberikan

Lebih terperinci

2. Pasar Perdana. A. Proses Perdagangan pada Pasar Perdana

2. Pasar Perdana. A. Proses Perdagangan pada Pasar Perdana B. Pasar Sekunder adalah pasar di mana efek-efek yang telah dicatatkan di Bursa diperjual-belikan. Pasar Sekunder memberikan kesempatan kepada para investor untuk membeli atau menjual efek-efek yang tercatat

Lebih terperinci

SURVEI LEMBAGA KEUANGAN KOPERASI SIMPAN PINJAM 2010-2011

SURVEI LEMBAGA KEUANGAN KOPERASI SIMPAN PINJAM 2010-2011 RAHASIA REPUBLIK INDONESIA SURVEI LEMBAGA KEUANGAN KOPERASI SIMPAN PINJAM 2010-2011 PERHATIAN 1. Daftar isian ini digunakan untuk mencatat Keterangan dan Laporan Keuangan Usaha Koperasi Simpan Pinjam Tahun

Lebih terperinci

PRINSIP PRIVASI UNILEVER

PRINSIP PRIVASI UNILEVER PRINSIP PRIVASI UNILEVER Unilever menerapkan kebijakan tentang privasi secara khusus. Lima prinsip berikut melandasi pendekatan kami dalam menghormati privasi Anda. 1. Kami menghargai kepercayaan yang

Lebih terperinci

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 100 /PMK.010/2009 TENTANG PERUSAHAAN PEMBIAYAAN INFRASTRUKTUR MENTERI KEUANGAN,

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 100 /PMK.010/2009 TENTANG PERUSAHAAN PEMBIAYAAN INFRASTRUKTUR MENTERI KEUANGAN, PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 100 /PMK.010/2009 TENTANG PERUSAHAAN PEMBIAYAAN INFRASTRUKTUR MENTERI KEUANGAN, Menimbang Mengingat : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 8 Peraturan Presiden Nomor

Lebih terperinci

TENTANG TATA CARA PENERBITAN IZIN USAHA TOKO SWALAYAN KOTA SURABAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SURABAYA,

TENTANG TATA CARA PENERBITAN IZIN USAHA TOKO SWALAYAN KOTA SURABAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SURABAYA, SALINAN PERATURAN WALIKOTA SURABAYA NOMOR 18 TAHUN 2015 TENTANG TATA CARA PENERBITAN IZIN USAHA TOKO SWALAYAN KOTA SURABAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SURABAYA, Menimbang : Mengingat :

Lebih terperinci

Pembayaran Premi Rp.350.000/Bulan dan Mulai Masuk Usia Tertanggung : 1 Tahun

Pembayaran Premi Rp.350.000/Bulan dan Mulai Masuk Usia Tertanggung : 1 Tahun Pembayaran Rp.350.000/Bulan dan Mulai Masuk Usia Tertanggung : 1 Tahun Biaya Asuransi Tahun Ke-1 Rp.29.610 Top 1 1 4,200 - - 1,431 1,539 1,620 22,431 22,539 22,620 2 2 4,200 - - 4,506 4,970 5,329 25,506

Lebih terperinci

Bisnis Eceran 2. Usaha Eceran Berdasarkan Kepemilikan

Bisnis Eceran 2. Usaha Eceran Berdasarkan Kepemilikan Bisnis Eceran 2 Demikian banyak variasi bisnis eceran. Dari pedagang kaki lima, warung, toko kelontong, toserba hingga hyper market. Klasifikasi jenis usaha eceran dapat diuraikan menjadi: - Berdasarkan

Lebih terperinci

Menteri Perdagangan Republik Indonesia

Menteri Perdagangan Republik Indonesia Menteri Perdagangan Republik Indonesia PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 33/M-DAG/PER/8/2008 TENTANG PERUSAHAAN PERANTARA PERDAGANGAN PROPERTI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2013 TENTANG PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI USAHA YANG DITERIMA ATAU DIPEROLEH WAJIB PAJAK YANG MEMILIKI PEREDARAN BRUTO TERTENTU DENGAN

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT ALLAH SWT KOPERASI CU AMARTA MENETAPKAN

DENGAN RAHMAT ALLAH SWT KOPERASI CU AMARTA MENETAPKAN DENGAN RAHMAT ALLAH SWT KOPERASI CU AMARTA MENETAPKAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) KETENTUAN DAN PENGELOLAAN SIMPANAN NO.02.03/SOP/AMARTA/VIII/2013 Menimbang: Mengingat: a. Bahwa Undang-undang dan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2000 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PERTAMBAHAN NILAI BARANG DAN JASA DAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH

Lebih terperinci

SISTEM AKUNTANSI PENJUALAN SECARA KREDIT BARANG DAGANGAN PADA KOPKAR PURA GROUP KUDUS

SISTEM AKUNTANSI PENJUALAN SECARA KREDIT BARANG DAGANGAN PADA KOPKAR PURA GROUP KUDUS SISTEM AKUNTANSI PENJUALAN SECARA KREDIT BARANG DAGANGAN PADA KOPKAR PURA GROUP KUDUS Tugas Akhir ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan jenjang pendidikan Program D III Akuntansi Fakultas

Lebih terperinci

1. Setelah mempelajari dan memahami isi buku ini, siswa diharapkan mampu untuk menggunakan

1. Setelah mempelajari dan memahami isi buku ini, siswa diharapkan mampu untuk menggunakan ARITMATIKA SOSIAL TUJUAN PEMBELAJARAN: 1. Setelah mempelajari dan memahami isi buku ini, siswa diharapkan mampu untuk menggunakan perhitungan harga pembelian, harga penjualan, untung, rugi, persentase

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dewasa ini perkembangan teknologi informasi memberikan berbagai kemudahan pada berbagai badan usaha. Dari segi yuridis, badan hukum dapat terbagi menjadi tujuh

Lebih terperinci

Pangan untuk Indonesia

Pangan untuk Indonesia Pangan untuk Indonesia Tantangan Indonesia memiliki sumber daya yang cukup untuk menjamin ketahanan pangan bagi penduduknya. Indikator ketahanan pangan juga menggambarkan kondisi yang cukup baik. Akan

Lebih terperinci

KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA KMA NOMOR 23 TAHUN 2014

KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA KMA NOMOR 23 TAHUN 2014 KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT pada tahun anggaran 2014 kami dapat menyusun buku Keputusan Menteri Agama RI Nomor Tahun 2014 tentang Tata Cara Pelaksanaan Penggunaan,

Lebih terperinci

PP IAI 2014 PEDOMAN PELAKSANAAN GERAKAN KELUARGA SADAR OBAT PENGURUS PUSAT IKATAN APOTEKER INDONESIA

PP IAI 2014 PEDOMAN PELAKSANAAN GERAKAN KELUARGA SADAR OBAT PENGURUS PUSAT IKATAN APOTEKER INDONESIA PP IAI 2014 PEDOMAN PELAKSANAAN GERAKAN KELUARGA SADAR OBAT PENGURUS PUSAT IKATAN APOTEKER INDONESIA PEDOMAN PELAKSANAAN GERAKAN KELUARGA SADAR OBAT PP IAI 2014 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Obat

Lebih terperinci

PENGARUH LAYANAN INFORMASI BIDANG SOSIAL TERHADAP PERILAKU BERMORAL SISWA KELAS VII F SMP 4 BAE KUDUS TAHUN PELAJARAN 2011/2012

PENGARUH LAYANAN INFORMASI BIDANG SOSIAL TERHADAP PERILAKU BERMORAL SISWA KELAS VII F SMP 4 BAE KUDUS TAHUN PELAJARAN 2011/2012 PENGARUH LAYANAN INFORMASI BIDANG SOSIAL TERHADAP PERILAKU BERMORAL SISWA KELAS VII F SMP 4 BAE KUDUS TAHUN PELAJARAN 2011/2012 Oleh LAILA NI MAH NIM 200731059 PROGRAM STUDI BIMBINGAN KONSELING FAKULTAS

Lebih terperinci

Bagian 1: Darimana Anda memulai?

Bagian 1: Darimana Anda memulai? Bagian 1: Darimana Anda memulai? Bagian 1: Darimana Anda memulai? Apakah Anda manajer perusahaan atau staf produksi yang menginginkan perbaikan efisiensi energi? Atau apakah Anda suatu organisasi diluar

Lebih terperinci

JENIS IZIN DASAR HUKUM PERSYARATAN BIAYA WAKTU MASA BERLAKU

JENIS IZIN DASAR HUKUM PERSYARATAN BIAYA WAKTU MASA BERLAKU STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PELAYANAN BIDANG PENANAMAN MODAL, PERIZINAN DAN NON PERIZINAN PADA KANTOR PENANAMAN MODAL DAN PELAYANAN PERIZINAN TERPADU KABUPATEN PESISIR SELATAN NO JENIS IZIN DASAR HUKUM

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 1983 TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2008

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2008 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

Pelatihan Literasi Keuangan Masyarakat

Pelatihan Literasi Keuangan Masyarakat Pelatihan Literasi Keuangan Masyarakat Diselenggarakan oleh PT Home Credit Indonesia, Bekerjasama dengan PPKM dan UNJ Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh bagian dari modul ini. Untuk

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG KEDUDUKAN PROTOKOLER DAN KEUANGAN PIMPINAN DAN ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

HARGA TRANSFER KONSEP HT :

HARGA TRANSFER KONSEP HT : HARGA TRANSFER Istilah HT ini dijumpai pada perusahaan yang organisasinya disusun menurut pusat laba dan antar pusat laba tersebut terjadi transfer barang/jasa. Adanya transfer barang dan jasa dihubungkan

Lebih terperinci

UPAYA MENINGKATKAN MINAT BACA DI SEKOLAH

UPAYA MENINGKATKAN MINAT BACA DI SEKOLAH UPAYA MENINGKATKAN MINAT BACA DI SEKOLAH A. Ridwan Siregar Universitas Sumatera Utara I. PENDAHULUAN Minat baca adalah keinginan atau kecenderungan hati yang tinggi (gairah) untuk membaca. Minat baca dengan

Lebih terperinci

G. RENCANA TINDAK LANJUT

G. RENCANA TINDAK LANJUT G. RENCANA TINDAK LANJUT Rencana Tindak Lanjut Kampanye adalah strategi yang diartikulasikan dengan jelas dari langkah-langkah yang perlu diterapkan oleh lembaga mitra dalam periode 1-3 tahun untuk membangun,

Lebih terperinci

BAB II PENENTUAN HARGA JUAL DENGAN PENDEKATAN VARIABEL COSTING

BAB II PENENTUAN HARGA JUAL DENGAN PENDEKATAN VARIABEL COSTING BAB II PENENTUAN HARGA JUAL DENGAN PENDEKATAN VARIABEL COSTING II.1. Harga Jual Penentuan harga jual suatu produk atau jasa merupakan salah satu keputusan penting manajemen karena harga yang ditetapkan

Lebih terperinci

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI, EFISIENSI DAN KEUNTUNGAN PADA INDUSTRI TEMPE DAN KRIPEK TEMPE KEDELE

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI, EFISIENSI DAN KEUNTUNGAN PADA INDUSTRI TEMPE DAN KRIPEK TEMPE KEDELE ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI, EFISIENSI DAN KEUNTUNGAN PADA INDUSTRI TEMPE DAN KRIPEK TEMPE KEDELE Di Daerah Sanan, Kelurahan Purwantoro Kecamatan Blimbing, Kodya Malang Jawa Timur

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 98/Permentan/OT.140/9/2013 TENTANG PEDOMAN PERIZINAN USAHA PERKEBUNAN

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 98/Permentan/OT.140/9/2013 TENTANG PEDOMAN PERIZINAN USAHA PERKEBUNAN PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 98/Permentan/OT.140/9/2013 TENTANG PEDOMAN PERIZINAN USAHA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

KERJASAMA PERPUSTAKAAN 1 Oleh: Ir. Abdul Rahman Saleh, M.Sc. 2

KERJASAMA PERPUSTAKAAN 1 Oleh: Ir. Abdul Rahman Saleh, M.Sc. 2 KERJASAMA PERPUSTAKAAN 1 Oleh: Ir. Abdul Rahman Saleh, M.Sc. 2 1. Pendahuluan Menurut peraturan pemerinath nomor 30 tahun 1990, pendidikan tinggi diselenggarakan dengan dua tujuan yaitu: 1. Menyiapkan

Lebih terperinci

No. 16/12/DPAU Jakarta, 22 Juli 2014 SURAT EDARAN. Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA

No. 16/12/DPAU Jakarta, 22 Juli 2014 SURAT EDARAN. Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA No. 16/12/DPAU Jakarta, 22 Juli 2014 SURAT EDARAN Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA Perihal: Penyelenggaraan Layanan Keuangan Digital Dalam Rangka Keuangan Inklusif Melalui Agen Layanan Keuangan Digital

Lebih terperinci

ANALISIS NILAI TAMBAH PADA AGROINDUSTRI JAGUNG DI KOTA GORONTALO (Studi Kasus pada UKM Qalifa)

ANALISIS NILAI TAMBAH PADA AGROINDUSTRI JAGUNG DI KOTA GORONTALO (Studi Kasus pada UKM Qalifa) ANALISIS NILAI TAMBAH PADA AGROINDUSTRI JAGUNG DI KOTA GORONTALO (Studi Kasus pada UKM Qalifa) Ria Indriani Universitas Negeri Gorontalo Jl.Jend.Sudirman No.6 Kota Gorontalo Email :ria.s_imran@yahoomail.com

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI, HARGA PRODUSEN GABAH DAN HARGA BERAS DI PENGGILINGAN

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI, HARGA PRODUSEN GABAH DAN HARGA BERAS DI PENGGILINGAN BPS PROVINSI JAWA BARAT No. 26/5/32/Th XVII, 4 Mei 2015 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI, HARGA PRODUSEN GABAH DAN HARGA BERAS DI PENGGILINGAN NILAI TUKAR PETANI APRIL 2015 SEBESAR 102,78 (2012=100) Nilai

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 17/M-DAG/PER/6/2011 TENTANG PENGADAAN DAN PENYALURAN PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 17/M-DAG/PER/6/2011 TENTANG PENGADAAN DAN PENYALURAN PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 17/M-DAG/PER/6/2011 TENTANG PENGADAAN DAN PENYALURAN PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERDAGANGAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung

Lebih terperinci

Virtual Office Semester Ganjil 2014 Fak. Teknik Jurusan Teknik Informatika. caca.e.supriana@unpas.ac.id

Virtual Office Semester Ganjil 2014 Fak. Teknik Jurusan Teknik Informatika. caca.e.supriana@unpas.ac.id Virtual Office Semester Ganjil 2014 Fak. Teknik Jurusan Teknik Informatika Universitas i Pasundan Caca E Supriana S Si MT Caca E. Supriana, S.Si., MT. caca.e.supriana@unpas.ac.id Kantor virtual 2 Kantor

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA

PERATURAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2013 TENTANG JABATAN

Lebih terperinci

PENINGKATAN NILAI TAMBAH JAGUNG SEBAGAI PANGAN LOKAL Oleh : Endah Puspitojati

PENINGKATAN NILAI TAMBAH JAGUNG SEBAGAI PANGAN LOKAL Oleh : Endah Puspitojati PENINGKATAN NILAI TAMBAH JAGUNG SEBAGAI PANGAN LOKAL Oleh : Endah Puspitojati Kebutuhan pangan selalu mengikuti trend jumlah penduduk dan dipengaruhi oleh peningkatan pendapatan per kapita serta perubahan

Lebih terperinci

KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN

KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN SUSUNAN DALAM SATU NASKAH DARI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1983 TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH TERAKHIR DENGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

BAB 1 KETENTUAN UMUM

BAB 1 KETENTUAN UMUM BAB 1 KETENTUAN UMUM 1.1. Definisi Kecuali diberikan pengertian secara khusus, maka semua kata dan atau istilah dalam peraturan ini mempunyai pengertian yang sama sebagaimana dimaksud dalam Undang- Undang

Lebih terperinci

PERAN KOPERASI UNIT DESA DALAM MEMBERIKAN KREDIT DI KALANGAN MASYARAKAT KLATEN (Studi Di KUD JUJUR Karangnongko)

PERAN KOPERASI UNIT DESA DALAM MEMBERIKAN KREDIT DI KALANGAN MASYARAKAT KLATEN (Studi Di KUD JUJUR Karangnongko) PERAN KOPERASI UNIT DESA DALAM MEMBERIKAN KREDIT DI KALANGAN MASYARAKAT KLATEN (Studi Di KUD JUJUR Karangnongko) SKRIPSI Disusun dan Diajukan Untuk Melengkapi Syarat-syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH PROPINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR 7 TAHUN 2003 SERI B NOMOR 1

LEMBARAN DAERAH PROPINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR 7 TAHUN 2003 SERI B NOMOR 1 No. 7, 2003 LEMBARAN DAERAH PROPINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR 7 TAHUN 2003 SERI B NOMOR 1 PERATURAN DAERAH PROPINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR 2 TAHUN 2003 TENTANG RETRIBUSI TERA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

BAB IV SISTEM BAGI KEUNTUNGAN ANTARA PIHAK DISTRIBUTION OUTLET (DISTRO) DAN SUPPLIER DARI KERJASAMA KONSINYASI

BAB IV SISTEM BAGI KEUNTUNGAN ANTARA PIHAK DISTRIBUTION OUTLET (DISTRO) DAN SUPPLIER DARI KERJASAMA KONSINYASI 58 BAB IV SISTEM BAGI KEUNTUNGAN ANTARA PIHAK DISTRIBUTION OUTLET (DISTRO) DAN SUPPLIER DARI KERJASAMA KONSINYASI a. Sistem Pembagian Keuntungan Antara Pihak Distribution Outlet (Distro) Dengan Supplier.

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 6/1/PBI/2004 TENTANG PEDAGANG VALUTA ASING GUBERNUR BANK INDONESIA,

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 6/1/PBI/2004 TENTANG PEDAGANG VALUTA ASING GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 6/1/PBI/2004 TENTANG PEDAGANG VALUTA ASING GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam upaya turut memelihara dan mendukung pencapaian stabilisasi nilai rupiah,

Lebih terperinci

KETENTUAN BERLANGGANAN

KETENTUAN BERLANGGANAN KETENTUAN BERLANGGANAN Pasal 1 Definisi 1. Ketentuan Berlangganan adalah ketentuan yang wajib dipatuhi baik oleh Mitra maupun D&K sehubungan dengan pelayanan PEMBUKAAN AKSES ONLINE PAYMENT POINT berdasarkan

Lebih terperinci

Putusan Pengadilan Pajak Nomor : Put-60815/PP/M.XVII A/19/2015. Tahun Pajak : 2013

Putusan Pengadilan Pajak Nomor : Put-60815/PP/M.XVII A/19/2015. Tahun Pajak : 2013 Putusan Pengadilan Pajak Nomor : Put-60815/PP/M.XVII A/19/2015 Jenis Pajak : Bea Masuk Tahun Pajak : 2013 Pokok Sengketa : bahwa yang menjadi pokok sengketa adalah pengajuan banding terhadap Keputusan

Lebih terperinci

(Prespektif Fatwa DSN-MUI No: 75/DSN-MUI/VII/2009 Tentang Penjualan. Langsung Berjenjang Syariah)

(Prespektif Fatwa DSN-MUI No: 75/DSN-MUI/VII/2009 Tentang Penjualan. Langsung Berjenjang Syariah) 70 BAB IV PELAKSANAAN PENJUALAN LANGSUNG BERJENJANG SYARIAH UMRAH/HAJI PLUS PT. ARMINAREKA PERDANA CABANG SURABAYA (Prespektif Fatwa DSN-MUI No: 75/DSN-MUI/VII/2009 Tentang Penjualan Langsung Berjenjang

Lebih terperinci

No. 17/ 11 /DKSP Jakarta, 1 Juni 2015 SURAT EDARAN. Perihal : Kewajiban Penggunaan Rupiah di Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia

No. 17/ 11 /DKSP Jakarta, 1 Juni 2015 SURAT EDARAN. Perihal : Kewajiban Penggunaan Rupiah di Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia No. 17/ 11 /DKSP Jakarta, 1 Juni 2015 SURAT EDARAN Perihal : Kewajiban Penggunaan Rupiah di Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia Sehubungan dengan berlakunya Peraturan Bank Indonesia Nomor 17/3/PBI/2015

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. dibahas arti dari proses yaitu : Proses adalah suatu cara, metode maupun

BAB II LANDASAN TEORI. dibahas arti dari proses yaitu : Proses adalah suatu cara, metode maupun BAB II LANDASAN TEORI A. Pengertian Proses Produksi Dewasa ini banyak dijumpai perusahaan yang memproduksi barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan masyarakat. Untuk memproduksi barang dan

Lebih terperinci

BAB II HARGA POKOK PRODUKSI

BAB II HARGA POKOK PRODUKSI BAB II HARGA POKOK PRODUKSI Bab ini berisi teori yang akan digunakan sebagai dasar melakukan analisis data. Mencakup pengertian dan penggolongan biaya serta teori yang berkaitan dengan penentuan harga

Lebih terperinci

Menimbang : a. bahwa untuk kelancaran pemulihan kerugian Daerah agar dapat berjalan lebih

Menimbang : a. bahwa untuk kelancaran pemulihan kerugian Daerah agar dapat berjalan lebih RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA NOMOR TAHUN 2013 TENTANG TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI KEUANGAN DAN BARANG DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PENAJAM

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 1996 TENTANG TEMPAT PENIMBUNAN BERIKAT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 1996 TENTANG TEMPAT PENIMBUNAN BERIKAT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 1996 TENTANG TEMPAT PENIMBUNAN BERIKAT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa dalam rangka meningkatkan daya saing produk ekspor di pasaran

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2005 TENTANG PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2005 TENTANG PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2005 TENTANG PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk

Lebih terperinci

MODUL AKUNTANSI PEMERINTAH DAERAH BERBASIS AKRUAL AKUNTANSI ASET TETAP KEMENTERIAN DALAM NEGERI DIREKTORAT JENDERAL KEUANGAN DAERAH

MODUL AKUNTANSI PEMERINTAH DAERAH BERBASIS AKRUAL AKUNTANSI ASET TETAP KEMENTERIAN DALAM NEGERI DIREKTORAT JENDERAL KEUANGAN DAERAH MODUL AKUNTANSI PEMERINTAH DAERAH BERBASIS AKRUAL AKUNTANSI ASET TETAP KEMENTERIAN DALAM NEGERI DIREKTORAT JENDERAL KEUANGAN DAERAH DEFINISI Aset tetap adalah aset berwujud yang mempunyai masa manfaat

Lebih terperinci

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia =============================================================================== Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia !" #$ %$#&%!!!# &%!! Tujuan nasional yang dinyatakan

Lebih terperinci

BAB X KEBIJAKAN AKUNTANSI KONSTRUKSI DALAM PENGERJAAN

BAB X KEBIJAKAN AKUNTANSI KONSTRUKSI DALAM PENGERJAAN BAB X KEBIJAKAN AKUNTANSI KONSTRUKSI DALAM PENGERJAAN A. UMUM 1. Definisi Konstruksi dalam pengerjaan adalah aset-aset tetap yang sedang dalam proses pembangunan. 2. Klasifikasi Konstruksi Dalam Pengerjaan

Lebih terperinci