KARAKTERISTIK ELEKTROKARDIOGRAM (EKG) PADA PASIEN INFARK MIOKARD AKUT DI RUANG INSTALASI GAWAT DARURAT (IGD) RSUP Dr. WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "KARAKTERISTIK ELEKTROKARDIOGRAM (EKG) PADA PASIEN INFARK MIOKARD AKUT DI RUANG INSTALASI GAWAT DARURAT (IGD) RSUP Dr. WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR"

Transkripsi

1 KARAKTERISTIK ELEKTROKARDIOGRAM (EKG) PADA PASIEN INFARK MIOKARD AKUT DI RUANG INSTALASI GAWAT DARURAT (IGD) RSUP Dr. WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR Putu Martana, Abdul Rakhmat, H.Ismail Mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan STIKES Nani Hasanuddin Makassar Dosen Tetap STIKES Nani Hasanuddin Makassar Dosen Tetap STIKES Nani Hasanuddin Makassar ABSTRAK Putu Martana, Karakteristik Elektrokardiogram (EKG) pada Pasien Infark Miokard Akut di Ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar 2012 (Dibimbing oleh Abdul Rakhmat dan H. Ismail) Infark Miokard Akut (IMA) adalah nekrosis miokard akibat aliran darah ke otot jantung terganggu. EKG membantu menegakkan diagnosis sebelum peningkatan enzim jantung terdeteksi pada pasien IMA. Adapun tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui Karakteristik Elektrokardiogram (EKG) pada Pasien Infark Miokard Akut di Ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUP Dr.Wahidin Sudirohusodo Makassar. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif non analiti, populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien dengan penyakit Infark Miokard Akut yang dirawat inap di Instalasi Gawat darurat (IGD) RSUP Dr.Wahidin Sudirohusodo Makassar. Tehnik pengambilan sampel yang digunakan tehnik sampling jenuh, didapatkan 12 responden sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan lembar observasi. Data yang terkumpul kemudian diolah dan dianalisis dengan menggunakan program komputer microsoft excel dan program statistik (SPSS) versi 16,0. Analisis data mencakup analisis data umum dengan mencari distribusi frekuensi dan data khusus dimana diperoleh yang mengalami elevasi segmen ST pada beberapa lead, 4 orang diantaranya STEMI anterior, 4 orang selanjutnya STEMI anteroseptal, 3 orang lainnya STEMI inferior dan 1 orang STEMI septal. terjadi perubahan karakteristik gelombang P pada hasil perekaman EKG pasien IMA. Terjadi perubahan karakteristik segmen ST dan gelombang T pada beberapa lead dari hasil perekaman EKG pasien IMA, akan tetapi perubahan gelombang T mengikuti elevasi segmen ST. Kata kunci : Pasien IMA, gelombang P, segmen ST dan gelombang T. PENDAHULUAN Penyakit jantung merupakan salah satu penyebab kematian yang utama. Banyak pasien yang mangalami kematian akibat penyakit jantung. Penanganan yang salah dan kurang cepat serta cermat adalah salah satu penyebab kematian. Infark miokard akut merupakan penyebab kematian utama bagi laki-laki dan perempuan di USA. Diperkirakan lebih dari 1 juta orang menderita infark miokard setiap tahunnya dan lebih dari 600 orang meninggal akibat penyakit ini. Masyarakat dengan tingkat pengetahuan yang rendah membuat mereka salah untuk pengambilan keputusan penangan utama. Sehingga menyebabkan keterlambatan untuk ditangani. Hal ini yang sering menyebabkan kematian. (Nuzul Zulkarnain, 2011). Menurut WHO (2008), penyakit infark miokard akut, merupakan penyebab kematian utama di dunia. Terhitung sebanyak (12,2%) kematian terjadi akibat penyakit infark miokard akut di seluruh dunia dua tahun terakhir ini. Penyakit infark miokard akut adalah penyebab utama kematian pada orang dewasa. Infark miokard akut adalah penyebab kematian nomor dua di negara berpenghasilan rendah, dengan angka mortalitas (9,4%). Di Indonesia pada tahun 2008 penyakit infark miokard akut merupakan penyebab kematian pertama dengan angka mortalitas (14%) (Ardyan Pradana, 2011). Depkes (2009), Direktorat Jendral Yanmedik Indonesia meneliti pada tahun 2007, jumlah pasien penyakit jantung yang menjalani rawat inap dan rawat jalan di Rumah Sakit di Indonesia adalah jiwa. Kasus terbanyak adalah penyakit jantung iskemik, yaitu 110,183 kasus. Care fatelity rate (CFR) tertinggi terjadi pada infark miokard akut (13,49%) dan kemudian diikuti oleh gagal jantung (13,42%) dan penyakit jantung lainnya Volume 1 Nomor 5 Tahun 2012 ISSN :

2 (13,37%). Kematian yang disebabkan oleh infark miokardium, keadaan yang sama juga bisa dialami di Indonesia khususnya diperkotaan dimana pola penyakit infark miokardium sudah sama dengan pola penyakit negara-negara maju. Setiap dua detik satu orang meninggal karena penyakit kardiovaskuler (Ardyan Pradana, 2011). Nigam (2007), Diagnosis infark miokard didasarkan atas diperolehnya dua atau lebih dari 3 kriteria, yaitu adanya nyeri dada, perubahan gambaran elektrokardiografi (EKG) dan peningkatan pertanda biokimia. Sakit dada terjadi lebih dari 20 menit dan tidak ada hubungan dengan aktifitas atau latihan. Gambaran EKG yang khas yaitu timbulnya elevasi segmen ST dan inversi gelombang T (Ardyan Pradana, 2011). Ramrakha (2006), Elektrokardiogram (EKG) merupakan metode pemeriksaan noninvasif yang mudah didapatkan untuk menegakkan diagnosis infark miokard akut (Chung, 2007). EKG membantu menegakkan diagnosis sebelum peningkatan enzim kerusakan jantung terdeteksi. Lokasi dan luas infark dapat ditentukan dari rekaman EKG berupa elevasi segmen ST, gelombang T pada standar precordial lead. Dengan metode EKG, infark miokard akut terbagi menjadi 2 grup mayor, yaitu infark miokard dengan elevasi segmen ST (STEMI) dan tanpa elevasi segmen ST (Non STEMI). ST Elevasi Miokard Infark (STEMI) adalah sindoma koroner akut dimana pasien mengalami ketidaknyamanan pada dada dengan gambaran elevasi segmen ST pada EKG. Non STEMI adalah sindroma koroner akut dimana pasien mengalami ketidaknyamanan dada yang berhubungan dengan non elevasi segmen ST iskemik yang transien atau permanen pada EKG (Ardyan Pradana, 2011). Berdasarkan hasil yang diperoleh dari rekam medik RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar mendapati pasien Infark Miokard Akut (IMA) rawat jalan dan inap pada tahun 2009 sebanyak 109 orang, tahun 2010 sebanyak 44 orang, dan ditahun 2011 sebanyak 20 penderita. Dalam hal ini mengalami penurunan yang sangat signifikan, dikarenakan pada pertengahan tahun 2010 di RSWS sudah diberlakukan sistem rujukan. Dengan melihat fenomena diatas dan mengingat pentingnya EKG dalam menegakan diagnosis awal pada pasien infark miokard akut, maka peneliti tertarik untu kmeneliti Karakteristik Elektrokardiogram (EKG) pada Pasien Infark Miokard Akut di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar. Dengan melihat uraian diatas pada latar belakang, maka yang menjadi rumusan masalah pada penelitian ini adalah Bagaimana Karakteristik Elektrokardiogram (EKG) pada Pasien Infark Miokard Akut di Ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar.. BAHAN DAN METODE Lokasi, populasi, dan sampel penelitian Desain penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif non analitik, dimana pada rancangan penelitian ini menggambarkan masalah penelitian yang terjadi berdasarkan karakteristik dan penelitian yang didalamnya tidak ada analisis hubungan antar variabel (A.Aziz Alimul Hidayat, 2009). Penelitian ini dilaksanakan di Ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUP. Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar. Pada tanggal 26 Juli sampai 16 Agustus Dimana populasi dalam penelitian ini adalah Semua pasien dengan penyakit Infark Miokard Akut yang dirawat inap di Instalasi Gawat darurat (IGD) RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar. sebanyak 12 responden. Besar sampel adalah semua pasien yang menderita penyakit Infark Miokard Akut yang memenuhi kriteria yakni 12 responden. 1. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah sebagai berikut : a. Bersedia menjadi responden b. Pasien yang didiagnosa IMA oleh dokter c. Pasien IMA dengan perekaman EKG yang pertama kali d. Pasien IMA yang dirawat inap di ruang Instalasi Gawat darurat (IGD) RSUP Dr.Wahidin Sudirohusodo Makassar. 2. Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah: a. bersedia menjadi responden b. Pasien rawat inap di ruang Instalasi Gawat darurat (IGD) RSUP Dr.Wahidin Sudirohusodo Makassar yang bukan merupakan pasien IMA. c. Pasien IMA yang dirawat jalan di poliklinik jantung RSUP Dr.Wahidin Sudirohusodo Makassar. d. Pasien IMA yang sudah diberi obat digitalis Pengumpulan data Peneliti mengumpulkan data dengan menggunakan alat ukur dokumentasi yaitu dengan cara mengambil data yang berasal dari dokumen asli dimana dokumen asli yang dimaksud adalah daftar periksa. Untuk mendapatkan informasi yang diinginkan peneliti Volume 1 Nomor 5 Tahun 2012 ISSN :

3 menggunakan hasil rekaman EKG untuk mengetahui gambaran gelombang P, segmen ST, dan gelombang T dengan pengumpulan data yang telah diperoleh melalukai data primer. Data primer yang dimaksud data yang dikumpulkan sendiri oleh peneliti dari yang sebelumnya tidak ada, dan tujuannya disesuaikan dengan keperluan peneliti. Langkah Pengolahan Data Pengolahan dan analisa data dilakukan dengan menggunakan komputerisasi sebagai berikut : 1. Editing Yaitu dilakukan penyuntingan data yang telah terkumpul dengan cara memeriksakan kelengkapan pengisian, kejelasan pengisian dan adanya kesalahan. 2. Codding Adalah proses pemberian kode pada tiap variable dengan tujuan untuk memudahkan dalam mengolah data. 3. Tabulasi Memasukan data dalam tabel tabulasi untuk memudahkan dalam mengolah data. 4. Analisa Data Setelah dilakukan tabulasi data, kemudian data dianalisis menggunakan uji statistik dengan mencari frekuensi pada program SPSS windows versi 16,0. HASIL PENELITIAN 1. Karakteristik Responden : Tabel 5.1 : Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur pada Pasien Infark Miokar Akut di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar Umur Jumlah Persentase Responden (n) (%) 50 tahun 3 25,0 > 50 tahun 9 75,0 Total Sumber : Data Primer Juli Agustus Tabel 5.1. menunjukkan jumlah responden terbanyak berdasarkan umur dalam penelitian ini adalah responden yang berumur > 50 tahun sebanyak 9 orang (75%), sedangkan responden yang berumur 50 tahun tahun sebanyak 3 orang (25%). Tabel 5.2 :Data Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin pada Pasien Infark Miokar Akut di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar Jenis Kelamin Jumlah Persentase (n) (%) Laki-Laki 8 66,7 Perempuan 6 33,3 Total Sumber : Data Primer Juli Agustus 2012 Tabel 5.2 menunjukkan jumlah responden terbanyak berdasarkan jenis kelamin dalam penelitian ini adalah responden yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 8 orang (66,7%), dan responden yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 4 orang (33,3%). Tabel 5.3 : Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pekerjaan pasien Infark Miokard Akut di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar Pekerjaan Jumlah Persentase (n) (%) PNS 3 25,0 Wiraswasta 5 41,7 Lain-lain 4 33,3 Total Sumber : Data Primer Juli Agustus Tabel 5.3 menunjukkan jumlah responden terbanyak berdasarkan pekerjaan dalam penelitian ini adalah responden yang berwiraswasta yaitu sebanyak 5 orang (41,7%), responden yang lain-lain (ibu rumah tangga, Pensiunan guru) sebanyak 4 orang (33,3%), responden yang PNS sebanyak 3 orang (25,0%). 1. Analisis Univariat : a. Gelombang P Tabel 5.4 : Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Karakteristik Elektrokardiogram Gelombang P pasien Infark Miokard Akut di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUP Dr. Wahidin Sudirihusodo Makassar Volume 1 Nomor 5 Tahun 2012 ISSN :

4 DEFLEKSI LEAD Ketentuan (n) (%) Gelombang P I II avf V2 V3 V4 V5 V6 Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Sumber : Data Primer Juli Agustus Total (n) % Pada table 5.4 berdasarkan karakteristik Elektrokardiogram gelombang P, dari 12 responden yang diteliti dalam penelitian ini menunjukkan seluruh responden memiliki gelombang P normal pada lead lead yang diteliti yaitu pada lead I, II, avf, V2, V3, V4, V5, dan V6. Dalam hal ini keseluruhan responden tidak mengalami gangguan atau menunjukkan gelombang P yang tidak normal. b. Segmen ST Tabel 5.5 : Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Karakteristik Elektrokardiogram Segmen ST pasien Infark Miokar Akut di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar DEFLEKSI LEAD Ketentuan (n) (%) Segmen ST I II III avf avl V1 V2 V3 V4 V5 V6 Normal,0 Normal 9 75,0 normal 3 25,0 Normal 9 75,0 normal 3 25,0 Normal 9 75,0 normal 3 25,0 Normal,0 Normal 7 58,3 normal 5 41,7 Normal 7 58,3 normal 5 41,7 Normal 4 33,3 normal 8 66,7 Normal 4 33,3 normal 8 66,7 Normal,0 Normal,0 Sumber : Data Primer Juli Agustus Total (n) % Pada tabel 5.5 menunjukkan distribusi responden berdasarkan karakteristik Elektrokardiogram segmen ST, dari 12 responden yang diteliti dalam penelitian ini pada lead I dengan segmen ST normal sebanyak 12 (100,0%) dari 12 responden, pada lead II dengan segmen ST normal sebanyak 9 (75,0%) dari 12 responden dan yang tidak normal 3 responden (25,0%), pada lead III dengan segmen ST normal sebanyak 9 (75,0%) dari 12 responden dan yang tidak normal 3 responden (25,0%), pada lead avf dengan segmen ST normal sebanyak 9 (75,0%) dari 12 responden dan yang tidak normal 3 responden (25,0%), pada lead avl dengan segmen ST normal sebanyak 12 (100,0%) dari 12 responden, pada lead V1 dengan segmen ST normal sebanyak 7 (58,3%) dari 12 responden dan yang tidak normal 5 responden (41,7%), pada lead V2 dengan dengan segmen ST normal sebanyak 7 (58,3%) dari 12 responden dan yang tidak normal 5 responden (41,7%), pada lead V3 dengan segmen ST normal sebanyak 4 (33,3%) dari 12 responden dan yang tidak normal 8 responden (66,7%), lead V4 dengan Volume 1 Nomor 5 Tahun 2012 ISSN :

5 segmen ST normal sebanyak 4 (33,3%) dari 12 responden dan yang tidak normal 8 responden (66,7%), pada lead V5 dengan segmen ST normal sebanyak 12 (100%) dari 12 responden dan pada lead V6 dengan segmen ST normal sebanyak 12 (100%) dari 12 responden. Sedangkan dari 12 responden tersebut dengan segmen ST normal secara keseluruhan tidak ada. c. Gelombang T Tabel 5.6 : Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Karakteristik Elektrokardiogram Gelombang T Pasien Infark Miokar Akut di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar DEFLEKSI LEAD Ketentuan (n) (%) Gelombang T I II avf V2 V3 V4 V5 V6 Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Sumber : Data Primer Juli Agustus Total (n) % Pada table 5.6 berdasarkan karakteristik Elektrokardiogram gelombang T, dari 12 responden yang diteliti dalam penelitian ini pada lead I dengan gelombang T sebanyak 12 responden (100%) memiliki gambaran EKG dengan gelombang T normal dan tidak ditemukan adanya gelombang T yang tidak normal. Demikian pula pada lead II, avf, V2, V3, V4, V5, dan V6) dimana dari 12 responden menunjukan gelombang T dalam keadaan normal. PEMBAHASAN 1. Karakteristik Elektrokardiogram Gelombang P pada Pasien Infark Miokard Akut (IMA) Berdasarkan tabel 5.4 karakteristik Elektrokardiogram gelombang P, dari 12 responden yang diteliti dalam penelitian ini bahwa pada lead I, lead II, avf, V2, V3, V4, V5 dan V6 menunjukkan seluruh responden dengan gelombang P normal pada lead lead yang diteliti. Jadi jelas bahwa 12 responden yang diperoleh dari hasil penelitian gambaran EKG gelombang P pada lead tersebut diatas, semua lead terlihat melengkung keatas (berdefleksi positif) kecuali avr dan tiap kompleks QRS selalu diawali gelombang P. Kriteria interpretasi EKG gelombang P rata-rata pasien < 0,12 detik (< 3 kotak kecil) dan tinggi rata-rata: < 0,3 mv (< 3 kotak kecil). Ini sesui dengan pendapat Mahmuddin Asry (2009) dalam buku EKG praktis sehari-hari, yang mana kriteria interpretasi EKG dan nilai normal gelombang P : gelombang P yaitu depolarisasi atrium. Nilai normal (lebar : < 0,12 detik (< 3 kotak kecil), tinggi : < 0,3 mv (< 3 kotak kecil), bentuk : (+) di lead I, II, avf, V2-V6, bentuk (-) di lead avr, bentuk ± di lead III, avl, V1. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori Sylvia Anderson Price & Lorraine McCarty Wilson (2006), menyatakan sesuai dengan depolarisasi atrium. Rangsangan normal untuk depolarisasi atrium berasal dari nodus sinus. Namun, besarnya arus listrik yang berhubungan dengan eksitasi nodus sinus terlalu kecil untuk dapat terlihat pada EKG. Gelombang P dalam keadaan normal berbentuk melengkung dan arahnya keatas pada kebanyakan hantaran. Pembesaran atrium dapat meningkatkan amplitude atau lebar gelombang P, serta mengubah bentuk gelombang P. Disritmia jantung juga dapat mengubah konfigurasi gelombang P. Misalnya, irama yang berasal dari dekat perbatasan AV dapat menimbulkan inverse gelombang P, karena arah depolarisasi atrium terbalik. Menurut John R. Hampton (2006), Pada irama sinus gelombang P dalam keadaan normal tegak ke atas pada semua sadapan (lead) kecuali pada VR. Bila kompleks QRS dominan ke bawah, pada avl, gelombang P mungkin pula menunjukan inverse (inverted). Sedangkan 12 responden dari hasil penelitian dengan gelombang P tidak normal (berdefleksi negatif) secara keseluruhan tidak ada. Dalam artian tidak menunjukan tanda-tanda pembesaran atrium atau menandakan adanya peningkatan aktivitas atrium pada pasien IMA. Yang mana dapat menggambarkan gelombang P dari 12 responden hasil penelitian menandakan normal (berdefleksi positif). Volume 1 Nomor 5 Tahun 2012 ISSN :

6 Hal ini sesuai dengan teori Abu Nazmah (2011), Gelombang P adalah gelombang EKG yang menggambarkan adanya aktifitas listrik yang terjadi di atrium, dimana otot atrium (kanan dan kiri) mengadakan depolarisasi sehingga kedua otot atrium melakukan kontraksi. Oleh sebab itu, gelombang P merupakan depolarisasi kedua otot atrium atau kontraksi dari kedua otot atrium. Asumsi peneliti yang diperoleh dari hasil penelitian yang dilakukan pada pasien infark miokard akut di instalasi gawat darurat (IGD) RSUP Dr. Wahiddin Sudirohusodo Makassar, bahwa hasil rekaman EKG gelombang P yang didapatkan dari 12 responden tidak terjadi perubahan. Dalam hal ini gelombang P nampak normal (tidak terjadi pelebaran, peninggian dan inversi). Hal ini menunjukan bahwa gelombang P tidak berpengaruh besar dalam menentukan diagnosa pada pasien infark miokard akut. Akan tetapi, gelombang P mememiliki peranan dalam menentukan komplikasi lain dari jantung pada pasien IMA. Misalnya dengan melihat gambaran gelombang P dapat menunjukan adanya tanda-tanda pembesaran atrium. Dengan demikian, tiap saat perlu dilakukan pemantauan gambaran EKG untuk tetap menjaga perubahan yang mungkin terjadi pada rekaman EKG gelombang P. Sehingga apabila terjadi perubahan dapat ditangani secara cepat. 2. Karakteristik Elektrokardiogram Segmen ST pada Pasien Infark Miokard Akut (IMA) Berdasarkan tabel 5.5 karakteristik Elektrokardiogram segmen ST pada pasien IMA, menunjukkan bahwa dari 12 responden yang diteliti dalam penelitian ini pada lead I dengan segmen ST menunjukkan bahwa dari 12 responden yang diteliti dalam kategori normal, pada lead II dengan segmen ST norma terdapat sebanyak 9 responden dan yang tidak normal sebanyak 3 responden, untuk lead III dengan segmen ST normal terdapat sebanyak 9 responden dan 3 responden lainnya tidak normal. Pada lead avf dengan segmen ST normal sebanyak 9 responden sedangkan yang tidak normal sebanyak 3 responden, untuk lead avl dengan segmen ST menunjukkan bahwa dari 12 responden yang diteliti dalam kategori normal. Selanjutnya pada lead V1 sebanyak 7 responden dengan segmen ST normal dan 5 responden dengan segmen ST tidak normal, pada lead V2 sebanyak 7 responden menunjukkan segmen ST normal dan 5 responden lainnya tidak normal, kemudia pada lead V3 menunjukkan sebanyak 4 responden dengan segmen ST normal dan 8 responden lainnya tidak normal, berikut pada lead V4 dengan segmen ST normal terdapat sebanyak 4 responden dan yang tidak normal sebanyak 8 responden, untuk lead V5 dan V6 dengan segmen ST dari 12 responden seluruhnya dalam keadaan normal pada lead ini. Berdasarkan hasil penelitian diatas, dapat dipahami bahwa dari 12 responden yang diteliti diperoleh hasil gambaran EKG segmen ST tiap lead (I,II, III, avf, avl, V1, V2, V3, V4, V5 dan V6) terlihat isoelektris (normal) dan beberapa diantaranya mengalami elevasi (melengkung keatas yang tidak semestinya dan dikatakan tidak normal). Meskipun terjadi elevasi segmen ST di beberapa lead saja pada pasien ini sudah cukup membantu menunjukan adanya infark. Hal ini dikarenakan pada infark miokard akut (IMA) hanya terjadi elevasi segmen ST pada beberapa lead saja tergantung dimana lokasi infark itu terjadi, tidak pada semua lead. Jika terjadi pada semua lead disebut perikarditis bukan infark. Hal Ini sesuai dengan teori Buku Acuan Pemeriksaan EKG dalam blog Rica Federica (2011) yang menyatakan bahwa adanya elevasi segmen ST merupakan petunjuk adanya infark miokard akut atau perikarditis, akan tetapi pada infark miokard akut hanya terjadi elevasi pada beberapa lead saja. Misalnya terjadi infark pada dinding inferior dapat diketahui dengan adanya elevasi segmen ST pada sendapan atau lead II, III dan avf. Sedangkan pada perikarditis biasanya tidak dapat dipastikan tempatnya dan akan tampak elevasi dihampir semua sandapan atau lead. Dengan demikian, jelaslah bahwa infak miokar akut hanya terjadi elevasi segmen ST pada beberapa lead saja bukan keseluruhan lead. Dari lead-lead yang diteliti terdapat empat lead yang tidak mengalami elevasi segmen ST pada 12 responden secara keseluruhan yakni pada lead I, avl, V5, dan V6 seluruh responden (12 reponden (100%)) menunjukkan segmen ST norma dan tidak ada responden yang segmen ST tidak normal untuk keempat lead ini. Hal ini disebabkan karena pada penelitian tidak ditemukan infark lateral atau disebut juga infark miokard anterolateral ekstensif. Volume 1 Nomor 5 Tahun 2012 ISSN :

7 Hal Ini sesuai teori Wajan Juni Udjianti (2011) yang menyatakan bahwa pada pasien infark apa bila terjadi elevasi segmen ST pada lead I, avl, V5 dan V6 ini menunjukan terjadinya infark miokard anterolateral ekstensif dan menurut M.Sjaifoellah Noer dkk (2006), jika infark lateral : menandakan oklusi pada arteri sirkumfleksi kiri dapat merupakan bagian dari berbagi sisi infark ini terjadi elevasi ST pada lead I, avl, V5 dan V6. Demikian menurut Malcolm S. Thaler (2009), Infark lateral melibatkan dinding lateral kiri jantung. Infark ini sering disebabkan oleh penyumbatan ramus sirkumfleksus arteri koronaria sinistra. Peruabahan akan terjadi pada sadapan lateral (I, avl, V5 dan V6). Kriteria interpretasi EKG segmen ST rata-rata yang terlihat isoelektris pada 12 responden (- 0,5 mm sampai + 2,5 mm). Ini sesui dengan paendapat Mahmuddin Asry (2009) dalam buku EKG praktis sehari-hari, yang mana kriteria interpretasi EKG dan nilai normal segmen S-T (ST segmen) : sejajar garis sebelum dan sesudah QRS (isoelektrik) atau diukur dari akhir gelombang QRS (J Point) sampai awal gelombang T. Nilai normal isoelektris (- 0,5 mm sampai + 2,5 mm). Demikian pula pendapat Abu Nazmah (2011), segmen ST merupakan garis horizontal yang diukur setelah akhir gelombang S sampai awal gelombang T. Dimana pada segmen ST ada yang dinamakan titik J point = junctional point dengan nilai normal isoelektris (- 0,5 mm sampai + 2,5 mm). Sedangkan selain keempat lead diatas (lead I, avl, V5 dan V6) yang tidak mengalami elevasi segmen ST, ada tujuh lead lainnya (lead II, III, avf, V1, V2, V3, dan V4) yang mengalami elevasi segmen ST terlihat amat jelas dari 12 responden yang diteliti, hal ini lah yang membuktikan bahwa 12 responden hasil penelitian mengalami gangguan pada otot jantungnya yang disebut dengan infark miokard akut. Sesuai teori John R. Hampton (2006), yang menyatakan segmen ST (bagian dari EKG diantara gelombang S dan gelombang T) horizontal dan isoelektrik, yang berarti ia harus berada pada tinggi yang sama pada kertas sebagai garis dasar rekaman diantara ujung gelombang T dan gelombang P berikutnya. Pada semua leed segmen ST isoelektrik. Akan tetapi jika terjadi elevasi segmen ST merupakan tanda dari infark miokard akut. Dengan terjadinya elevasi beberapa lead dari hasil rekaman EKG dapat pula menggambarkan dimana lokasi infark itu terjadi. Demikian pada hasil diatas menunjukan bahwa 12 responden yang diteliti mengalami infark dengan lokasi yang berbeda, dimana 4 orang diantaranya mengalami STEMI anterior (elevasi segman ST pada lead V3 dan V4), 4 orang selanjutnya mengalami STEMI anteroseptal (elevasi segman ST pada lead V1, V2, V3 dan V4), 3 orang lainnya mengalami STEMI inferior (elevasi segman ST pada lead II, III dan avf) dan 1 orang mengalami STEMI septal (elevasi segman ST pada lead V1 dan V2). Sesuai pada table 5.5 diamati terjadinya elevasi segmen ST pada beberapa lead diatas. Hal ini sesuai dengan teori M.Sjaifoellah Noer dkk (2006), yang menunjukkan bahwa lokasi infark miokard dan sadapan EKG yang biasanya terjadi infark anterior : elevasi ST pada v3-v4 menandakan oklusi pada arteri desenden anterior kiri, sedangkan infark inferior : elevasi ST pada II,III,aVF, menandakan oklusi pada arteri koronaria kanan, infark ventrikel kanan : elevasi ST pada II, III, avf, V4R, menandakan oklusi pada arteri koronaria kanan, jika infark lateral : elevasi ST pada I,aVL,V5,V6, menandakan oklusi pada arteri sirkumfleksi kiri dapat merupakan bagian dari berbagi sisi infark, apabila Infark anteroseptal : bila kelainan ditemukan yakni elevasi ST pada lead V1- V4, jika Infark anterolateral : bila kelainan yakni elevasi ST ditemukan pada hantaran I, avl, V5, V6, dan jika Infark septal : bila kelainan klasik yakni elevasi ST ditemukan pada hantaran V1-V2. Asumsi peneliti yang diperoleh dari hasil penelitian yang dilakukan pada pasien infark miokard akut di instalasi gawat darurat (IGD) RSUP Dr. Wahiddin Sudirohusodo Makassar, dapat disimpulkan bahwa hasil rekaman EKG segmen ST yang didapatkan dari 12 responden terjadi perubahan. Dengan demikian segmen ST dikatakan tidak normal (tinggi segmen ST diatas 3 mm bahkan hingga 1 mv atau 2 kotak besar). Terjadinya elevasi segmen ST disebabkan oleh nekrosis miokard akibat aliran darah ke otot jantung terganggu. Untuk itu, intervensi awal yang perlu dilakukan adalah mengembalikan pasokan darah jantung secara adekuat agar aliran darah ke otototot jantung berjalan dengan normal dan dapat menghindari nekrosis yang dapat Volume 1 Nomor 5 Tahun 2012 ISSN :

8 menyebabkan infark. Dengan demikian apabila kebutuhan darah terpenuhi maka otot otot jantung bisa kembali dengan normal. Hal ini bisa diketahui dari rekaman EKG melalui sandapan yang terpasang pada dada pasien yang dapat menunjukan tidak adanya elevasi segmen ST tersebut, tetapi apabila kebutuhan darah tidak adekuat maka rekaman EKG akan menunjukkan adanya elevasi segmen ST yang artinya terjadi infark. 3. Karakteristik Elektrokardiogram Gelombang T pada Pasien Infark Miokard Akut (IMA) Berdasarkan tabel 5.6 karakteristik Elektrokardiogram gelombang T, dari 12 responden yang diteliti dalam penelitian ini menunjukkan bahwa pada lead I, II, avf, V2, V3, V4, V5 dan V6 dengan gelombang T seluruh responden atau 12 responden (100%) dikatakan normal. Akan tetapi gelombang T nampak meninggi pada beberapa lead yang terjadi elevasi segmen ST, namun tidak melewati 1 mv atau dua kotak besar. Jadi jelas bahwa 12 responden yang diperoleh dari hasil penelitian, gambaran EKG gelombang T pada lead yang diteliti, semua lead terlihat melengkung keatas (berdefleksi positif) kecuali avr dan tiap kompleks QRS selalu diakhiri dengan gelombang T. Kriteria interpretasi EKG gelombang T rata-rata responden : antara 0,1 mv (1 kotak kecil) hingga 0,5 mv (1 kotak besar), pada beberapa prekardial lead (V1-V6) tinggi gelombang T hingga 1 mv. Hasil penelitian ini sesui dengan pendapat Mahmuddin Asry (2009) dalam buku EKG praktis sehari-hari, menyatakan bahwa kriteria interpretasi EKG dan nilai normal gelombang T (minimal : 0,1 mv, maksimal : 0,5 mv pada extremitas lead (IaVF) 1 mv pada prekardial lead (V1-V6), bentuk : (+) di lead I, II, avf,v2-v6, bentuk (-) di lead avr, bentuk (±) / bi fasik di lead III, avl, VI : dominant positif (+). Menurut teori John R. Hampton (2006), pada EKG normal gelombang T selalu mengalami inverse pada VR, tetapi biasanya ke arah atas (tegak) pada semua leed yang lain. Pada EKG normal gelombang T sering mengalami inverse pada leed III, tetapi menjadi lebih tegak pada inspirasi (lihat atas). gelombang T sering pula mengalami inverse pada V1. Hasil diatas sesuai dengan teori Abu Nazmah (2011), yang menyatakan bahwa gelombang T adalah gambaran gelombang EKG yang terjadi pada saat otot ventrikel mengalami repolarisasi. Gelombang T adalah gelombang positif setelah gelombang S dan akhir dari kompleks QRS. Sedangkan dari 12 responden hasil penelitian dengan gelombang T tidak normal (berdefleksi negatif) secara keseluruhan tidak ada. Dalam artian tidak menandakan adanya iskemia atau menandakan adanya kelainan elektrolit, namun gelomban T menjadi tinggi pada lead perikardial mengikuti segmen ST di beberapa lead, hal ini dapat menunjukan terjadinya Infark, ini terlihat pada pasien IMA. Akan tetapi ini dapat menggambarkan gelombang T dari 12 responden hasil penelitian menandakan berdefleksi positif dan masih dalam kategori normal. Hasil Ini sesuai dengan teori Sylvia Anderson Price & Lorraine McCarty Wilson (2006), menyatakan repolarisasi ventrikel akan menghasilkan gelombang T. dalam keadaan normal gelombang T ini agak asimetris, melengkung dan ke atas pada kebanyakan sandapan, akan tetapi jika peninggian gelombang T mengikuti tinggi terjadinya elevasi segmen ST tanpa batas yang jelas ini menunjuka terjadinya infark. Inverse gelombang T berkaitan dengan iskemia miokardium. Hiperkalemia (atau peningkatan kadar kalium serum) akan mempertinggi atau mempertajam puncak gelombang T. Asumsi peneliti yang diperoleh dari hasil penelitian yang dilakukan pada pasien infark miokard akut di instalasi gawat darurat (IGD) RSUP Dr. Wahiddin Sudirohusodo Makassar, maka dapat disimpulkan bahwa hasil rekaman EKG gelombang T yang didapatkan dari 12 responden terjadi perubahan. Akan tetapi perubahan tersebut hanya sebatas peninggian gelombang T mengikuti elevasi segmen ST. Dalam hal ini gelombang T masih dikatakan normal (tinggi gelombang T hingga 1 mv atau 2 kotak besar, tidak terjadi pelebaran). Terjadinya peninggian gelombang T yang mengikuti elevasi segmen ST dapat menandakan adanya infark. Untuk menghindari terjadinya peninggian gelombang T dibutuhkan ketepatan waktu dalam mengintervensi gambaran EKG yang muncul tiap saat demi menjaga kemungkinan terjadinya infark miokard. Dalam hal ini suplai darah, oksigen serta nutrisi perlu mendapat perhatian khusus untuk menghindari perubahan perubahan yang terjadi pada gambaran EKG terutama gelombang T. Dengan demikian gelombang T juga Volume 1 Nomor 5 Tahun 2012 ISSN :

9 memiliki pengaruh dalam menentukan diagnosa pada pasien infark miokard akut. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai Karakteristik Elektrokardiogram (EKG) Pada Pasien Infark Miokard Akut Di Ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar, maka dapat disimpulkan bahwa : 1. terjadi perubahan karakteristik gelombang P pada hasil perekaman EKG pasien infark miokard akut. dari 12 responden yang diperoleh dari hasil penelitian, gambaran EKG gelombang P tiap lead terlihat melengkung keatas kecuali avr, dan tiap kompleks QRS selalu diawali gelombang P. Kriteria interpretasi EKG gelombang P rata-rata pasien < 0,12 detik (< 3 kotak kecil) dan tinggi rata-rata : < 0,3 mv (< 3 kotak kecil). Gelombang P berdefleksi positif. 2. Terjadi perubahan karakteristik segmen ST pada beberapa lead dari hasil perekaman EKG pasien infark miokard akut. Perubahan ini terlihat amat jelas terjadi elevasi segmen ST, hal ini lah yang membuktikan bahwa dari 12 responden hasil penelitian mengalami kelainan pada otot jantungnya yang disebut dengan infark miokard akut. 3. Terjadi perubahan karakteristik gelombang T pada beberapa lead mengikuti elevasi segmen ST dari hasil perekaman EKG pasien infark miokard akut. Dari 12 responden yang diperoleh hasil penelitian, gamabaran EKG gelombang T tiap lead terlihat melengkung keatas kecuali avr, dan tiap kompleks QRS selalu diakhiri dengan gelombang T. Kriteria interpretasi EKG gelombang T rata-rata pasien : antara 0,1 mv (1 kotak kecil) hingga 0,5 mv (1 kotak besar), pada beberapa prekardial lead (V1-V6) gelombang T nampak terlihat lebih tinggi hingga 1 mv, hal ini dapat menunjukan terjadinya Infark seiring terjadinya elevasi pada segmen ST. Akan tetapi gelombang T masih dikatakn normal karna semua lead berdefleksi positif dan 1 mv pada prekardial lead (V1-V6) masih merupaka nilai normal maksimal. Saran Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, terdapat beberapa hal yang perlu direkomendasikan untuk penelitian. Yang terkait dengan topic penelitian yaitu : 1. Untuk gelombang P, diharapkan agar perawat selalu memantau gambaran EKG agar dapat mengetahui aktivitas atrium dan dapat melakukan intervensi terhadap perubahan gelombang P apabila terjadi perubahan, hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menghindari terjadinya pembesaran atrium. 2. Untuk segmen ST, Diharapkan dengan adanya segmen ST elevasi perawat dapat dengan segera mengambil langkah penanganan agar suplai darah dan oksigen ke jantung bisa berjalan dengan normal agar dapat mengantisispasi penurunan curah jantung yang diakibatkan oleh perubahan faktor faktor listrik/penurunan karakteristik miokard serta dapat menghindari kerusakan otot otot jantung akibat gangguan perfusi jaringan. Peranan perawat dalam membantu meminimalkan infark miokard akut sangat diperlukan dan apapun intervensi yang dilakukan, kunci keberhasilan dalam penanganan infark miokard akut adalah ketepatan waktu. Oleh karena itu, pengenalan terhadap perubahan infark miokard akut pada EKG merupakan salah satu diantara beberapa kemampuan diagnostik yang dapat segera menyelamatkan hidup pasien. 3. Untuk gelombang T, diharapkan perawat sesegera mungkin melakukan intervensi terhadap perubahan yang terjadi terutama pada otot otot jantung agar tidak terjadi gangguan perfusi jaringan yang dapat mengakibatkan disfungsi pada otot jantung. Perawat diharapkan selalu melakukan evaluasi terhadap gambaran EKG pada pasien agar kondisi pasien dapat lebih baik dan dapat menghindari dampak yang lebih buruk yaitu kematian sel miokardium. Untuk itu langkah yang harus ditempuh perawat adalah melakukan tindakan agar suplai aliran darah dapat adekuat menuju miokardium atau kebutuhan oksigen jantung dipenuhi agar gelombang T kembali normal. 4. Sebagai peneliti baru dan merupakan pengalaman pertama tetap mengharapkan masukan dan motivasi dari para pembimbing dan penguji demi kesempurnaan penulisan skripsi ini. Volume 1 Nomor 5 Tahun 2012 ISSN :

10 DAFTAR PUSTAKA Aaronsom, Philip I At a Glance Sistem Kardiovaskuler. Edisi 3. Erlangga : Jakarta. Alwi, Idrus Infark Miokard Akut Dengan Elevasi ST. dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jakarta : FKUI,(online), ( di akses tgl 21 Maret 2012). Asry. Mahmuddin EKG Praktis Sehari-hari. UNHAS : Makassar. Federica, Rica Buku Acuan Pemeriksaan EKG Skill Lab. Sistem Kardiovaskuler,Makassar:FKUH,(online),(http://ml.scribd.com/doc/ /cara-membaca-EKG/ diakses tgl 03 Juli 2011). Greenberg, Michael I Teks Atlas Kedokteran Kedaruratan. Jilid 1. Erlangga : Jakarta. Hampton, John R Dasar- dasar EKG. EGC : Jakarta. Hampton, John R EKG dalam praktek sehari-hari. Binarupa Aksara : Jakarta. Hidayat, A.Aziz Alimul Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data. Salemba Medika : Jakarta. Hidayat, A.Aziz Alimul Metode Penelitian Kesehatan Paradigma Kuantitatif. Health Books Publishing : Jakarta. Krisanty, Paula Asuhan Keperawatan Gawat Darurat. CV. Trans Info Media : Jakarta Timur. Murwani, Arita Perawatan Pasien Penyakit Dalam. Mitra Cendekia : Jogjakarta. Nazmah, Abu. 2011, Cara Praktis dan Sistematis Belajar Membaca EKG (Elektro kardiografi). PT Elex Media Komputindo : Jakarta. Noer, M. Sjaifoellah dkk Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid 1, Edisi 3, FKUI : Jakarta. Pradana, Ardyan Asuhan Keperawatan pada Tn.S dengan Gangguan Kardiovaskuler Infark Miokard Akut di Bangsal Cempaka RSUD Sukoharjo, (online), (http://ardyanpradanaoo7.blogspot.com/2011/04/infark-miokardakut.html, diakses 07 april 2011). Price, Sylvia Anderson dan Wilson, Lorraine McCarty Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Edisi 6. EGC : Jakarta. Ranitya, Ryan.dkk Pendekatan Holistik Penyakit Kardiovaskular X.Interna Publishing : Jakarta. Sherwoood, lauralee., Fisiologi Manusia Dari Sel ke Sistem. Edisi 6. EGC : Jakarta. Sugiyono Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R & D. ALFABETA CV : Bandung. Thaler, Malchom S Satu satunya Buku EKG yang anda perlukan. Edisi 5. EGC : Jakarta. Tim Penyusun Pedoman Penulisan Skripsi. Edisi 10.Sekolah Tingi Ilmu Kesehatan Nani Hasanuddin. Makassar. Udjianti, Wajan Juni keperawatan Kardiovaskuler. Salemba Medika : Jakarta. Zulkarnain, Nuzul asuhan Keperawatan (Askep) Ima Stemi (online), (http://nuzululfkp09.web.unair.ac.id/artikel_detail html, Diakses 11 oktober 2011). Volume 1 Nomor 5 Tahun 2012 ISSN :

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Ruang lingkup penelitian 1. Ruang Lingkup Keilmuan Ruang lingkup keilmuan pada penelitian ini adalah ilmu penyakit dalam. 2. Waktu Pengambilan Sampel Waktu pengambilan sampel

Lebih terperinci

Identifikasi Karakter Temporal dan Potensial Listrik Statis Pada Elektrokardiografi (EKG) akibat Penyakit Otot Jantung Myocardial Infarction (MI)

Identifikasi Karakter Temporal dan Potensial Listrik Statis Pada Elektrokardiografi (EKG) akibat Penyakit Otot Jantung Myocardial Infarction (MI) Identifikasi Karakter Temporal dan Potensial Listrik Statis Pada Elektrokardiografi (EKG) akibat Penyakit Otot Jantung Myocardial Infarction (MI) Andi Naslisa Bakpas1, Wira Bahari Nurdin, dan Sri Suryani

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Infark miokard akut (IMA) adalah nekrosis miokard akibat

BAB 1 PENDAHULUAN. Infark miokard akut (IMA) adalah nekrosis miokard akibat BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Infark miokard akut (IMA) adalah nekrosis miokard akibat ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen otot jantung (Siregar, 2011). Penyebab IMA yang

Lebih terperinci

JANTUNG 4 RUANG POMPA ATRIUM KA/KI, VENTRIKEL KA/KI SISTEM HANTAR KHUSUS YANG MENGHANTARKAN IMPULS LISTRIK DARI ATRIUM KE VENTRIKEL : 1.

JANTUNG 4 RUANG POMPA ATRIUM KA/KI, VENTRIKEL KA/KI SISTEM HANTAR KHUSUS YANG MENGHANTARKAN IMPULS LISTRIK DARI ATRIUM KE VENTRIKEL : 1. ELEKTROKARDIOGRAFI ILMU YANG MEMPELAJARI AKTIFITAS LISTRIK JANTUNG ELEKTROKARDIOGRAM (EKG) SUATU GRAFIK YANG MENGGAMBARKAN REKAMAN LISTRIK JANTUNG NILAI DIAGNOSTIK EKG PADA KEADAAN KLINIS : ARITMIA JANTUNG

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian ini mencakup bidang fisiologi dan ergonomi. Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan menggunakan

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian ini mencakup bidang fisiologi dan ergonomi. Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan menggunakan BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang lingkup penelitian Penelitian ini mencakup bidang fisiologi dan ergonomi. 4.2 Tempat dan waktu penelitian Penelitian ini telah dilakukan di kelompok pengrajin batik tulis

Lebih terperinci

A. Pengukuran tekanan darah secara tidak langsung

A. Pengukuran tekanan darah secara tidak langsung Materi 3 Kardiovaskular III A. Pengukuran tekanan darah secara tidak langsung Tujuan a. Mengukur tekanan darah arteri dengan cara palpasi b. Mengukur tekanan darah arteri dengan cara auskultasi Dasar Teori

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP PASIEN TERHADAP PERILAKU MOBILISASI DINI PADA PASIEN AMI DI RUANG ICU RSUD UNGARAN

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP PASIEN TERHADAP PERILAKU MOBILISASI DINI PADA PASIEN AMI DI RUANG ICU RSUD UNGARAN HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP PASIEN TERHADAP PERILAKU MOBILISASI DINI PADA PASIEN AMI DI RUANG ICU RSUD UNGARAN Cahyaning Wijayanti* Yunani** Abstrak Latar Belakang: Tingkat kekambuhan

Lebih terperinci

Hubungan antara Kadar Troponin T dengan Fungsi Diastolik Ventrikel Kiri pada Pasien Sindrom Koroner Akut di RS Al Islam Bandung Tahun 2014

Hubungan antara Kadar Troponin T dengan Fungsi Diastolik Ventrikel Kiri pada Pasien Sindrom Koroner Akut di RS Al Islam Bandung Tahun 2014 Prosiding Pendidikan Dokter ISSN: 2460-657X Hubungan antara Kadar Troponin T dengan Fungsi Diastolik Ventrikel Kiri pada Pasien Sindrom Koroner Akut di RS Al Islam Bandung Tahun 2014 1 M.Fajar Sidiq, 2

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. SL, Cotran RS, Kumar V, 2007 dalam Pratiwi, 2012). Infark miokard

BAB 1 PENDAHULUAN. SL, Cotran RS, Kumar V, 2007 dalam Pratiwi, 2012). Infark miokard BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Infark miokard akut (IMA) atau yang lebih dikenal dengan serangan jantung adalah suatu keadaan dimana suplai darah pada suatu bagian jantung terhenti sehingga

Lebih terperinci

UNIVERSITAS GADJAH MADA

UNIVERSITAS GADJAH MADA UNIVERSITAS GADJAH MADA FAKULTAS KEDOKTERAN PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN Jl. Farmako Sekip Utara Yogyakarta Buku 2: RKPM Rencana Kegiatan Pembelajaran Mingguan Modul Pembelajaran Pertemuan ke-12 Modul

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kardiovaskuler secara cepat di negara maju dan negara berkembang.

BAB I PENDAHULUAN. kardiovaskuler secara cepat di negara maju dan negara berkembang. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini perubahan pola hidup yang terjadi meningkatkan prevalensi penyakit jantung dan berperan besar pada mortalitas serta morbiditas. Penyakit jantung diperkirakan

Lebih terperinci

Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin

Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin Identifikasi Karakter Temporal dan Potensial Listrik Statis dari Kompleks QRS dan Segmen ST Elektrokardiogram (EKG) Pada Penderita dengan Kelainan Jantung Hipertrofi Ventrikel Kiri Hariati 1, Wira Bahari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menggambarkan pasien yang datang dengan Unstable Angina Pectoris. (UAP) atau dengan Acute Myocard Infark (AMI) baik dengan elevasi

BAB I PENDAHULUAN. menggambarkan pasien yang datang dengan Unstable Angina Pectoris. (UAP) atau dengan Acute Myocard Infark (AMI) baik dengan elevasi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Istilah Acute Coronary Syndrome (ACS) digunakan untuk menggambarkan pasien yang datang dengan Unstable Angina Pectoris (UAP) atau dengan Acute Myocard Infark

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Elektrokardiografi (EKG) pada infark miokardial akut (IMA) 2.1.1 Peran EKG pada IMA Penyakit jantung koroner (PJK) saat ini merupakan salah satu penyebab utama kematian di negara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit kardiovaskuler memiliki banyak macam, salah satunya adalah

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit kardiovaskuler memiliki banyak macam, salah satunya adalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit kardiovaskuler memiliki banyak macam, salah satunya adalah sindrom koroner akut (Lilly, 2011). Sindom koroner akut (SKA) adalah istilah yang dipakai untuk menyatakan

Lebih terperinci

PENGENALAN CITRA REKAMAN ECG ATRIAL FIBRILATION DAN NORMAL MENGGUNAKAN DEKOMPOSISI WAVELET DAN K-MEAN CLUSTERING

PENGENALAN CITRA REKAMAN ECG ATRIAL FIBRILATION DAN NORMAL MENGGUNAKAN DEKOMPOSISI WAVELET DAN K-MEAN CLUSTERING PENGENALAN CITRA REKAMAN ECG ATRIAL FIBRILATION DAN NORMAL MENGGUNAKAN DEKOMPOSISI WAVELET DAN K-MEAN CLUSTERING Mohamad Sofie 1*, Eka Nuryanto Budi Susila 1, Suryani Alifah 1, Achmad Rizal 2 1 Magister

Lebih terperinci

Evangeline Hutabarat dan Wiwin Wintarsih. Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan penyebab kematian nomor 1 dinegaranegara

Evangeline Hutabarat dan Wiwin Wintarsih. Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan penyebab kematian nomor 1 dinegaranegara GAMBARAN STRES PSIKOLOGIS SEBAGAI PENCETUS SERANGAN ULANG NYERI DADA PADA KLIEN PENYAKIT JANTUNG KORONER BERDASARKAN KARAKTERISTIK DI RUANG PERAWATAN VIII RS. DUSTIRA CIMAHI Evangeline Hutabarat dan Wiwin

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. American Heart Association, 2014; Stroke forum, 2015). Secara global, 15 juta

BAB 1 PENDAHULUAN. American Heart Association, 2014; Stroke forum, 2015). Secara global, 15 juta BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Stroke merupakan penyebab kematian ketiga di dunia setelah penyakit jantung koroner dan kanker baik di negara maju maupun negara berkembang. Satu dari 10 kematian disebabkan

Lebih terperinci

Universitas Indonusa Esa Unggul FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT Jurusan Perekam Medis dan Informasi Kesehatan ANATOMI FISIOLOGI

Universitas Indonusa Esa Unggul FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT Jurusan Perekam Medis dan Informasi Kesehatan ANATOMI FISIOLOGI Universitas Indonusa Esa Unggul FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT Jurusan Perekam Medis dan Informasi Kesehatan ANATOMI FISIOLOGI Conducted by: Jusuf R. Sofjan,dr,MARS 2/17/2016 1 Jantung merupakan organ otot

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di RSUD Dr. Moewardi Surakarta terutama di Instalasi Rekam Medik dan dilaksanakan pada Agustus 2015 Januari 2016. B. Jenis

Lebih terperinci

dari inti yang banyak mengandung lemak dan adanya infiltrasi sel makrofag. Biasanya ruptur terjadi pada tepi plak yang berdekatan dengan intima yang

dari inti yang banyak mengandung lemak dan adanya infiltrasi sel makrofag. Biasanya ruptur terjadi pada tepi plak yang berdekatan dengan intima yang Definisi Sindroma koroner akut adalah spektrum manifestasi akut dan berat yang merupakan keadaan kegawatdaruratan dari koroner akibat ketidakseimbangan antara kebutuhan oksigen miokardium dan aliran darah

Lebih terperinci

KINERJA PERAWAT DALAM PEMBERIAN ASUHAN KEPERAWATAN DI RUMAH SAKIT TK II PUTRI HIJAU MEDAN

KINERJA PERAWAT DALAM PEMBERIAN ASUHAN KEPERAWATAN DI RUMAH SAKIT TK II PUTRI HIJAU MEDAN KINERJA PERAWAT DALAM PEMBERIAN ASUHAN KEPERAWATAN DI RUMAH SAKIT TK II PUTRI HIJAU MEDAN Desri Natalia Siahaan*, Mula Tarigan** *Mahasiswa Fakultas Keperawatan USU ** Dosen Departemen Keperawatan Dasar

Lebih terperinci

BAB 4 METODE PENELITIAN. Manajemen ICU, dan ICU RSUP dr. Kariadi Semarang. Penelitian dimulai bulan

BAB 4 METODE PENELITIAN. Manajemen ICU, dan ICU RSUP dr. Kariadi Semarang. Penelitian dimulai bulan BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1 Ruang lingkup Penelitian ini mencakup ilmu anestesia dan ilmu bedah RSUP Dr. Kariadi Semarang. 4.2 Tempat dan waktu penelitian Penelitian ini dilakukan di Instalasi Rekam Medik,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian kuantitatif deskriptif yaitu penelitian yang tidak. memberikan intervensi kepada objek dan hanya mewawancarai.

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian kuantitatif deskriptif yaitu penelitian yang tidak. memberikan intervensi kepada objek dan hanya mewawancarai. 37 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tipe penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam peneltian ini adalah penelitian kuantitatif deskriptif yaitu penelitian yang tidak memberikan intervensi kepada objek

Lebih terperinci

Pengantar Elektrofisiologi Jantung

Pengantar Elektrofisiologi Jantung Pengantar Elektrofisiologi Jantung Erwin, S.Kep., Ners Session I Disampaikan pada Seminar Nasional Kardiovaskular : Peran perawat dalam asuhan keperawatan pasien dengan Sindrome Koronaria Akut, Jum at,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Stroke Menurut World Health Organization (WHO) (2001) seperti yang

BAB I PENDAHULUAN. Stroke Menurut World Health Organization (WHO) (2001) seperti yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Stroke Menurut World Health Organization (WHO) (2001) seperti yang dikutip Junaidi (2011) adalah suatu sindrom klinis dengan gejala berupa gangguan, fungsi otak secara

Lebih terperinci

ECG ElectroCardioGraphy. Peralatan Diagnostik Dasar, MRM 12

ECG ElectroCardioGraphy. Peralatan Diagnostik Dasar, MRM 12 ECG ElectroCardioGraphy Elektrokardiografi - merekam grafik aktivitas listrik (potensi) yang dihasilkan oleh sistem konduksi dan miokardium jantung selama depolarisasi / re-polarisasi siklus. Akhir 1800-an

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERUBAHAN KONSEP DIRI PADA PASIEN HARGA DIRI RENDAH DI RUMAH SAKIT KHUSUS DAERAH PROV.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERUBAHAN KONSEP DIRI PADA PASIEN HARGA DIRI RENDAH DI RUMAH SAKIT KHUSUS DAERAH PROV. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERUBAHAN KONSEP DIRI PADA PASIEN HARGA DIRI RENDAH DI RUMAH SAKIT KHUSUS DAERAH PROV. SULAWESI SELATAN Beatris F. Lintin 1. Dahrianis 2. H. Muh. Nur 3 1 Stikes Nani Hasanuddin

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan oksigen miokard. Biasanya disebabkan ruptur plak dengan formasi. trombus pada pembuluh koroner (Zafari, 2011).

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan oksigen miokard. Biasanya disebabkan ruptur plak dengan formasi. trombus pada pembuluh koroner (Zafari, 2011). BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Infark miokard merupakan perkembangan yang cepat dari nekrosis miokard yang berkepanjangan dikarenakan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen miokard.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang disebabkan oleh adanya penyempitan arteri koroner, penurunan aliran darah

BAB I PENDAHULUAN. yang disebabkan oleh adanya penyempitan arteri koroner, penurunan aliran darah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penyakit Jantung Koroner (PJK) adalah penyakit jantung yang terjadi akibat ketidakseimbangan antara suplai dengan kebutuhan oksigen miokardium yang disebabkan

Lebih terperinci

PREVALENSI PASIEN INFARK MIOKARD AKUT YANG MENJADI CARDIAC ARREST DI ICU/HCU RSUP DR. KARIADI SEMARANG

PREVALENSI PASIEN INFARK MIOKARD AKUT YANG MENJADI CARDIAC ARREST DI ICU/HCU RSUP DR. KARIADI SEMARANG PREVALENSI PASIEN INFARK MIOKARD AKUT YANG MENJADI CARDIAC ARREST DI ICU/HCU RSUP DR. KARIADI SEMARANG JURNAL MEDIA MEDIKA MUDA Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai derajat sarjana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Paru-paru merupakan organ utama yang sangat penting bagi kelangsungan

BAB I PENDAHULUAN. Paru-paru merupakan organ utama yang sangat penting bagi kelangsungan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Paru-paru merupakan organ utama yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia. Fungsi utama dari paru-paru adalah untuk proses respirasi. Respirasi merupakan proses

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. nutrisi dari makanan diet khusus selama dirawat di rumah sakit (Altmatsier,

BAB I PENDAHULUAN. nutrisi dari makanan diet khusus selama dirawat di rumah sakit (Altmatsier, 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Berbagai macam jenis penyakit yang diderita oleh pasien yang dirawat di rumah sakit membutuhkan makanan dengan diet khusus. Diet khusus adalah pengaturan makanan

Lebih terperinci

ASUHAN KEPERAWATAN PADA USILA DENGAN GANGGUAN SISTEM CARDIOVASKULER (ANGINA PECTORIS)

ASUHAN KEPERAWATAN PADA USILA DENGAN GANGGUAN SISTEM CARDIOVASKULER (ANGINA PECTORIS) ASUHAN KEPERAWATAN PADA USILA DENGAN GANGGUAN SISTEM CARDIOVASKULER (ANGINA PECTORIS) ANGINA PECTORIS I. PENGERTIAN Angina pectoris adalah suatu sindrom klinis di mana pasien mendapat serangan sakit dada

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. kemajuan kesehatan suatu negara. Menurunkan angka kematian bayi dari 34

BAB 1 PENDAHULUAN. kemajuan kesehatan suatu negara. Menurunkan angka kematian bayi dari 34 1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BBLR adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2.500 gram dan merupakan penyumbang tertinggi angka kematian perinatal dan neonatal. Kematian neonatus

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kesehatan adalah modal utama bagi manusia, kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kesehatan adalah modal utama bagi manusia, kesehatan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan adalah modal utama bagi manusia, kesehatan merupakan bagian yang terpenting dalam menjaga kelangsungan hidup seseorang. Jika seseorang sedang tidak dalam kondisi

Lebih terperinci

Kontrol Dari Kecepatan Denyut Jantung

Kontrol Dari Kecepatan Denyut Jantung Kontrol Dari Kecepatan Denyut Jantung Pacemaker akan menyebabkan jantung berdenyut ± 100X permenit, dalam kenyataannya jantung akan berdenyut antara 60-140 kali permenit tergantung kebutuhan. Hal ini disebabkan

Lebih terperinci

Dinamika Kebidanan vol. 2 no.1. Januari 2012

Dinamika Kebidanan vol. 2 no.1. Januari 2012 HUBUNGAN PERSONAL HIGIENE ORGAN GENITAL DENGAN KEJADIAN KANKER SERVIKS DI RSUP Dr. KARIADI KOTA SEMARANG. Tatik Indrawati*) Heni Pitriyani *)Akademi Kebidanan Abdi Husada Semarang Korespondensi: tatikindrawati@ymail.com

Lebih terperinci

Penyakit Jantung Koroner

Penyakit Jantung Koroner Penyakit Jantung Koroner Penyakit jantung telah menjadi penyakit pembunuh kedua di Hong Kong setelah kanker. Penyakit jantung koroner merupakan penyakit jantung utama. Menurut statistik dari Departemen

Lebih terperinci

HUBUNGAN KEPUASAN PASIEN DENGAN MINAT PASIEN DALAM PEMANFAATAN ULANG PELAYANAN KESEHATAN PADA PRAKTEK DOKTER KELUARGA

HUBUNGAN KEPUASAN PASIEN DENGAN MINAT PASIEN DALAM PEMANFAATAN ULANG PELAYANAN KESEHATAN PADA PRAKTEK DOKTER KELUARGA HUBUNGAN KEPUASAN PASIEN DENGAN MINAT PASIEN DALAM PEMANFAATAN ULANG PELAYANAN KESEHATAN PADA PRAKTEK DOKTER KELUARGA Merry Tiyas Anggraini, Afiana Rohmani Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN UKDW. penyakit yang sering dijumpai dalam praktek kedokteran. Data epidemiologis

BAB I PENDAHULUAN UKDW. penyakit yang sering dijumpai dalam praktek kedokteran. Data epidemiologis 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Penyakit serebrovaskuler atau yang lebih dikenal dengan stroke merupakan penyakit yang sering dijumpai dalam praktek kedokteran. Data epidemiologis menunjukkan bahwa

Lebih terperinci

DEFINISI OPERASIONAL Formulir Data Indonesia STEMI

DEFINISI OPERASIONAL Formulir Data Indonesia STEMI DEFINISI OPERASIONAL Formulir Data Indonesia STEMI No. Variabel Definisi Operasional dan Kode Cara Ukur 1 Rumah Sakit Nama fasilitas kesehatan yang mengisi formulir data sindrom koroner akut istemi 2 RM

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. data statistik yang menyebutkan bahwa di Amerika serangan jantung. oleh penyakit jantung koroner. (WHO, 2011).

BAB I PENDAHULUAN. data statistik yang menyebutkan bahwa di Amerika serangan jantung. oleh penyakit jantung koroner. (WHO, 2011). BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Serangan jantung merupakan penyakit mematikan nomor satu di dunia. Banyak data statistik yang menyebutkan bahwa di Amerika serangan jantung menempati posisi pertama

Lebih terperinci

SAMSUL BAHRI. :Tingkat Pengetahuan, Diabetes Millitus, Kepatuhan Diet rendah glukosa

SAMSUL BAHRI. :Tingkat Pengetahuan, Diabetes Millitus, Kepatuhan Diet rendah glukosa GAMBARAN PENGETAHUAN PASIEN DIABETES MILITUS DENGAN TINGKAT KEPATUHAN DALAM MENJALANI DIET RENDAH GLUKOSA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TAMALANREA MAKASSAR SAMSUL BAHRI ABSTRAK : Masalah kesehatan dipengaruhi

Lebih terperinci

Disampaikan Oleh: R. Siti Maryam, MKep, Ns.Sp.Kep.Kom 17 Feb 2014

Disampaikan Oleh: R. Siti Maryam, MKep, Ns.Sp.Kep.Kom 17 Feb 2014 Disampaikan Oleh: R. Siti Maryam, MKep, Ns.Sp.Kep.Kom 17 Feb 2014 1 Pelayanan keperawatan kesehatan di rumah merupakan sintesa dari keperawatan kesehatan komunitas dan keterampilan teknikal tertentu yang

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. yang saat ini makin bertambah jumlahnya di Indonesia (FKUI, 2004).

BAB 1 PENDAHULUAN. yang saat ini makin bertambah jumlahnya di Indonesia (FKUI, 2004). BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Diabetes Mellitus (DM) merupakan salah satu penyakit degeneratif yang saat ini makin bertambah jumlahnya di Indonesia (FKUI, 2004). Diabetes Mellitus merupakan

Lebih terperinci

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN AV BLOK TOTAL DAN DM TIPE 2 NON OBESITAS DI RUANG ICCU RS DR SARDJITO YOGYAKARTA

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN AV BLOK TOTAL DAN DM TIPE 2 NON OBESITAS DI RUANG ICCU RS DR SARDJITO YOGYAKARTA LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN AV BLOK TOTAL DAN DM TIPE 2 NON OBESITAS DI RUANG ICCU RS DR SARDJITO YOGYAKARTA Laporan Tugas Asuhan Keperawatan Kasus Kelolaan Praktek Profesi

Lebih terperinci

Nidya A. Rinto; Sunarto; Ika Fidianingsih. Abstrak. Pendahuluan

Nidya A. Rinto; Sunarto; Ika Fidianingsih. Abstrak. Pendahuluan Naskah Publikasi, November 008 Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia Hubungan Antara Sikap, Perilaku dan Partisipasi Keluarga Terhadap Kadar Gula Darah Penderita Diabetes Melitus Tipe di RS PKU

Lebih terperinci

ejournal Keperawatan (e-kp) Volume 3 Nomor 2,Mei 2015

ejournal Keperawatan (e-kp) Volume 3 Nomor 2,Mei 2015 HUBUNGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DENGAN KEPUASAN PASIEN DI INSTALASI GAWAT DARURAT RSUD DR. H. CHASAN BOESOIRIE TERNATE Sutrisno Aswad Mulyadi Jiil J. S. Lolong Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan jenis korelasi dan pendekatan cross sectional. Penelitian deskriptif adalah

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. berdampak terhadap perubahan pola penyakit. Selama beberapa tahun. terakhir ini, masyarakat Indonesia mengalami peningkatan angka

BAB 1 PENDAHULUAN. berdampak terhadap perubahan pola penyakit. Selama beberapa tahun. terakhir ini, masyarakat Indonesia mengalami peningkatan angka BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan globalisasi dan perubahan gaya hidup manusia berdampak terhadap perubahan pola penyakit. Selama beberapa tahun terakhir ini, masyarakat Indonesia

Lebih terperinci

FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PELAKSANAAN TERAPI BERMAIN

FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PELAKSANAAN TERAPI BERMAIN FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PELAKSANAAN TERAPI BERMAIN Ika Agustina*Nur Asnah Sitohang** *Mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara Fakultas Keperawatan, Universitas Sumatera Utara

Lebih terperinci

GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG TUMBUH KEMBANG BAYI DI PUSKSMAS ANTANG KOTA MAKASSAR

GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG TUMBUH KEMBANG BAYI DI PUSKSMAS ANTANG KOTA MAKASSAR GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG TUMBUH KEMBANG BAYI DI PUSKSMAS ANTANG KOTA MAKASSAR Novendra Charlie Budiman, Muh. Askar, Simunati Mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan STIKES Nani Hasanuddin Makassar Dosen

Lebih terperinci

EVALUASI KERJA ELECTROCARDIOGRAPH (ECG) RSUD ZAINOEL ABIDIN LAPORAN KULIAH KERJA PRAKTIK

EVALUASI KERJA ELECTROCARDIOGRAPH (ECG) RSUD ZAINOEL ABIDIN LAPORAN KULIAH KERJA PRAKTIK EVALUASI KERJA ELECTROCARDIOGRAPH (ECG) RSUD ZAINOEL ABIDIN LAPORAN KULIAH KERJA PRAKTIK DILAKSANAKAN PADA : RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ZAINOEL ABIDIN (RSUDZA) Jl. Daud Beureuh No.108 Banda Aceh Oleh: LEDYANA

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN penduduk Amerika menderita penyakit gagal jantung kongestif (Brashesrs,

I. PENDAHULUAN penduduk Amerika menderita penyakit gagal jantung kongestif (Brashesrs, I. PENDAHULUAN Masalah kesehatan dengan gangguan sistem kardiovaskular masih menduduki peringkat yang tinggi. Menurut data WHO dilaporkan bahwa sekitar 3000 penduduk Amerika menderita penyakit gagal jantung

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Infark Miokard 2.1.1. Definisi Infark adalah area nekrosis koagulasi pada jaringan akibat iskemia lokal, disebabkan oleh obstruksi sirkulasi ke daerah itu, paling sering karena

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sistem kardiovaskular terdiri dari jantung, jaringan arteri, vena, dan kapiler yang mengangkut darah ke seluruh tubuh. Darah membawa oksigen dan nutrisi penting untuk

Lebih terperinci

Cetakan I, Agustus 2014 Diterbitkan oleh: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Pattimura

Cetakan I, Agustus 2014 Diterbitkan oleh: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Pattimura Hak cipta dilindungi Undang-Undang Cetakan I, Agustus 2014 Diterbitkan oleh: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Pattimura ISBN: 978-602-97552-1-2 Deskripsi halaman sampul : Gambar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini dibahas mengenai latar belakang dan tujuan pembuatan proyek akhir. Materi yang dibahas adalah latar belakang, tujuan, perumusan masalah, batasan masalah, serta metodologi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. jantung koroner yang utama dan paling sering mengakibatkan kematian (Departemen

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. jantung koroner yang utama dan paling sering mengakibatkan kematian (Departemen BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Acute coronary syndrome (ACS) adalah salah satu manifestasi klinis penyakit jantung koroner yang utama dan paling sering mengakibatkan kematian (Departemen Kesehatan

Lebih terperinci

TERAPI CAIRAN MAINTENANCE. RSUD ABDUL AZIS 21 April Partner in Health and Hope

TERAPI CAIRAN MAINTENANCE. RSUD ABDUL AZIS 21 April Partner in Health and Hope TERAPI CAIRAN MAINTENANCE RSUD ABDUL AZIS 21 April 2015 TERAPI CAIRAN TERAPI CAIRAN RESUSITASI RUMATAN Kristaloid Koloid Elektrolit Nutrisi Mengganti Kehilangan Akut Koreksi 1. Kebutuhan normal 2. Dukungan

Lebih terperinci

JANTUNG dan PEREDARAN DARAH. Dr. Hamidie Ronald, M.Pd, AIFO

JANTUNG dan PEREDARAN DARAH. Dr. Hamidie Ronald, M.Pd, AIFO JANTUNG dan PEREDARAN DARAH Dr. Hamidie Ronald, M.Pd, AIFO Jantung merupakan organ utama dalam system kardiovaskuler. Jantung dibentuk oleh organ-organ muscular, apex dan basis cordis, atrium kanan dan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. arrhythmias, hypertension, stroke, hyperlipidemia, acute myocardial infarction.

BAB 1 PENDAHULUAN. arrhythmias, hypertension, stroke, hyperlipidemia, acute myocardial infarction. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab utama kematian pada negara maju antara lain heart failure, ischemic heart disease, acute coronary syndromes, arrhythmias,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. tersendiri bagi kesehatan jantung (Suharjo, 2009). Salah satunya adalah IMA

BAB 1 PENDAHULUAN. tersendiri bagi kesehatan jantung (Suharjo, 2009). Salah satunya adalah IMA 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada Era Globalisasi saat ini gaya hidup seperti kebiasaan merokok yang meningkat, banyaknya konsumsi makan-makanan berlemak serta cepat saji. Masyarakat

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 4 ruang yaitu atrium kiri dan kanan, ventrikel kiri dan kanan, serta memiliki

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 4 ruang yaitu atrium kiri dan kanan, ventrikel kiri dan kanan, serta memiliki BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Anatomi dan Fisiologi Jantung Berdasarkan struktur anatomi, jantung hewan mamalia terbagi menjadi 4 ruang yaitu atrium kiri dan kanan, ventrikel kiri dan kanan, serta memiliki

Lebih terperinci

sakarang (Winarno Surakhmad, 1984: 39).

sakarang (Winarno Surakhmad, 1984: 39). 52 III. METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Tipe yang digunakan dalam penelitian ini adalah tipe penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kuantitatif sederhana. Tipe deskriptif adalah suatu

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif yang

BAB III METODE PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif yang BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui variasi genetik (polimorfisme) gen Apo E pada pasien IMA

Lebih terperinci

*Dosen Program Studi Keperawatan STIKES Muhamamdiyah Klaten

*Dosen Program Studi Keperawatan STIKES Muhamamdiyah Klaten HUBUNGAN ANTARA LAMA MENDERITA DAN KADAR GULA DARAH DENGAN TERJADINYA ULKUS PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS DI RSUP DR. SOERADJI TIRTONEGORO KLATEN Saifudin Zukhri* ABSTRAK Latar Belakang : Faktor-faktor

Lebih terperinci

KESESUAIAN DIAGNOSIS PADA BERKAS REKAM MEDIS DAN EHR PASIEN INSTALASI GAWAT DARURAT

KESESUAIAN DIAGNOSIS PADA BERKAS REKAM MEDIS DAN EHR PASIEN INSTALASI GAWAT DARURAT KESESUAIAN DIAGNOSIS PADA BERKAS REKAM MEDIS DAN EHR PASIEN INSTALASI GAWAT DARURAT Danik Lestari 1, Nuryati 2 1,2 Rekam Medis Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada email: daniqq_27@yahoo.co.id, nur3yati@yahoo.com

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan di era globalisasi mengakibatkan terjadinya peningkatan kebutuhan informasi di semua sektor kehidupan termasuk di bidang pelayanan kesehatan. Seiring dengan

Lebih terperinci

PENGETAHUAN DIABETES MELITUS DENGAN KADAR GULA DARAH PADA PASIEN DM TIPE 2

PENGETAHUAN DIABETES MELITUS DENGAN KADAR GULA DARAH PADA PASIEN DM TIPE 2 1 PENGETAHUAN DIABETES MELITUS DENGAN KADAR GULA DARAH PADA PASIEN DM TIPE 2 Misdarina * Yesi Ariani ** *Mahasiswa Fakultas Keperawatan **Dosen Departemen Keperawatan Dasar dan Medikal Bedah Fakultas Keperawatan

Lebih terperinci

YUANITA ARDI SKRIPSI SARJANA FARMASI. Oleh

YUANITA ARDI SKRIPSI SARJANA FARMASI. Oleh MONITORING EFEKTIVITAS TERAPI DAN EFEK-EFEK TIDAK DIINGINKAN DARI PENGGUNAAN DIURETIK DAN KOMBINASINYA PADA PASIEN HIPERTENSI POLIKLINIK KHUSUS RSUP DR. M. DJAMIL PADANG SKRIPSI SARJANA FARMASI Oleh YUANITA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Tindakan operasi merupakan pengalaman yang sulit bagi sebagian pasien

BAB I PENDAHULUAN. Tindakan operasi merupakan pengalaman yang sulit bagi sebagian pasien BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tindakan operasi merupakan pengalaman yang sulit bagi sebagian pasien karena kemungkinan hal buruk yang membahayakan pasien bisa saja terjadi, sehingga dibutuhkan peran

Lebih terperinci

PENGARUH WAKTU TUNGGU PETUGAS PELAYANAN REKAM MEDIS TERHADAP KEPUASAN PASIEN DI PENDAFTARAN RAWAT JALAN DI RSUD. DR. R. M. DJOELHAM BINJAI TAHUN 2015

PENGARUH WAKTU TUNGGU PETUGAS PELAYANAN REKAM MEDIS TERHADAP KEPUASAN PASIEN DI PENDAFTARAN RAWAT JALAN DI RSUD. DR. R. M. DJOELHAM BINJAI TAHUN 2015 PENGARUH WAKTU TUNGGU PETUGAS PELAYANAN REKAM MEDIS TERHADAP KEPUASAN PASIEN DI PENDAFTARAN RAWAT JALAN DI RSUD. DR. R. M. DJOELHAM BINJAI TAHUN 05 ESRAIDA SIMANJUNTAK ABSTRAK Pengaruh waktu tunggu pelayanan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memberikan gambaran yang jelas tentang gagal jantung. Pada studinya disebutkan

BAB I PENDAHULUAN. memberikan gambaran yang jelas tentang gagal jantung. Pada studinya disebutkan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gagal jantung merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama dan menjadi penyakit yang terus meningkat kejadiannya. Studi Framingham memberikan gambaran yang jelas

Lebih terperinci

Jurnal Farmasi Andalas Vol 1 (1) April 2013 ISSN :

Jurnal Farmasi Andalas Vol 1 (1) April 2013 ISSN : Jurnal Farmasi Andalas Vol 1 (1) April 2013 ISSN : 2302-8254 Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan Pasien HIV/AIDS di Poliklinik Khusus Rawat Jalan Bagian Penyakit Dalam RSUP dr. M. Djamil Padang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Infark miokard adalah nekrosis miokardial yang berkepanjangan yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Infark miokard adalah nekrosis miokardial yang berkepanjangan yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Infark miokard adalah nekrosis miokardial yang berkepanjangan yang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara suplai dengan kebutuhan oksigen miokard. Hal ini

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif dan analitik dengan menggunakan

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif dan analitik dengan menggunakan BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian dan Rancangan Penelitian Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif dan analitik dengan menggunakan pendekatan design penelitian case control. Rancangan

Lebih terperinci

Rekayasa Biomedik Terpadu untuk Mendeteksi Kelainan Jantung

Rekayasa Biomedik Terpadu untuk Mendeteksi Kelainan Jantung JURNAL FISIKA DAN APLIKASINYA VOLUME 4, NOMOR 2 JUNI 2008 Rekayasa Biomedik Terpadu untuk Mendeteksi Kelainan Jantung Yoyok Cahyono, Endang Susilo R, dan Yossy Novitaningtyas Jurusan Fisika-FMIPA, Institut

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tipe Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang dilakukan dengan metode onal dan dengan desain penelitian Cohort Prospektif. Menurut Hidayat (2010),

Lebih terperinci

GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG IKTERUS FISIOLOGIS PADA BAYI BARU LAHIR DI RSUD DR. H. MOCH. ANSARI SALEH BANJARMASIN ABSTRAK

GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG IKTERUS FISIOLOGIS PADA BAYI BARU LAHIR DI RSUD DR. H. MOCH. ANSARI SALEH BANJARMASIN ABSTRAK Dinamika Kesehatan, Vol. 6 No. 2 Desember 2015 Khadijah et al., Gambaran Tingkat Ikterus Fisiologis... GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG IKTERUS FISIOLOGIS PADA BAYI BARU LAHIR DI RSUD DR.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menggambarkan proses ruptur plak aterosklerosis dan trombosis pada arteri koroner

BAB I PENDAHULUAN. menggambarkan proses ruptur plak aterosklerosis dan trombosis pada arteri koroner BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sindrom koroner akut (SKA) merupakan spektrum klinis yang menggambarkan proses ruptur plak aterosklerosis dan trombosis pada arteri koroner hingga terjadi iskemia dan

Lebih terperinci

HUBUNGAN KEGAWATDARURATAN PASIEN DENGAN WAKTU TANGGAP PERAWAT DI IGD RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA NASKAH PUBLIKASI

HUBUNGAN KEGAWATDARURATAN PASIEN DENGAN WAKTU TANGGAP PERAWAT DI IGD RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA NASKAH PUBLIKASI HUBUNGAN KEGAWATDARURATAN PASIEN DENGAN WAKTU TANGGAP PERAWAT DI IGD RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA NASKAH PUBLIKASI Disusun Oleh: MAHYAWATI 201110201030 PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU

Lebih terperinci

DIAGNOSIS 1. Anamnesis 2. Pemeriksaan Fisik

DIAGNOSIS 1. Anamnesis 2. Pemeriksaan Fisik DIAGNOSIS Diagnosis STEMI perlu dibuat sesegera mungkin melalui perekaman dan interpretasi EKG 12 sadapan, selambat-lambatnya 10 menit dari saat pasien tiba untuk mendukung penatalaksanaan yang berhasil

Lebih terperinci

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN PERAWAT DENGAN PELAKSANAAN METODE PENUGASAN DALAM MODEL PRAKTEK KEPERAWATAN PROFESIONAL (MPKP) DI RSUD WATES

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN PERAWAT DENGAN PELAKSANAAN METODE PENUGASAN DALAM MODEL PRAKTEK KEPERAWATAN PROFESIONAL (MPKP) DI RSUD WATES HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN PERAWAT DENGAN PELAKSANAAN METODE PENUGASAN DALAM MODEL PRAKTEK KEPERAWATAN PROFESIONAL (MPKP) DI RSUD WATES Annisa Nur Erawan INTISARI Latar Belakang : Perawat merupakan sumber

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sel trombosit berbentuk discus dan beredar dalam sirkulasi darah tepi dalam

BAB I PENDAHULUAN. Sel trombosit berbentuk discus dan beredar dalam sirkulasi darah tepi dalam 1.1. LATAR BELAKANG PENELITIAN BAB I PENDAHULUAN Sel trombosit berbentuk discus dan beredar dalam sirkulasi darah tepi dalam keadaan tidak mudah melekat (adhesi) terhadap endotel pembuluh darah atau menempel

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Stroke merupakan suatu gangguan disfungsi neurologist akut yang disebabkan oleh gangguan peredaran darah, dan terjadi secara mendadak (dalam beberapa detik) atau setidak-tidaknya

Lebih terperinci

Insidens Riwayat Hipertensi dan Diabetes Melitus pada Pasien Penyakit Jantung Koroner di RS. Dr. M. Djamil Padang

Insidens Riwayat Hipertensi dan Diabetes Melitus pada Pasien Penyakit Jantung Koroner di RS. Dr. M. Djamil Padang 535 Artikel Penelitian Insidens Riwayat Hipertensi dan Diabetes Melitus pada Pasien Penyakit Jantung Koroner di RS. Dr. M. Djamil Padang Putri Yuriandini Yulsam 1, Fadil Oenzil 2, Efrida 3 Abstrak Penyakit

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. darah tersebut melintas kelipatan paha (Oswari, 2000). penurunan fungsi organ (Oswari, 2000).

BAB I PENDAHULUAN. darah tersebut melintas kelipatan paha (Oswari, 2000). penurunan fungsi organ (Oswari, 2000). BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hernia femoralis adalah suatu penonjolan hernia yang melalui kanalis femoralis di sepanjang pembuluh darah femoralis ketika pembuluh darah tersebut melintas kelipatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. reversible di mana trakea dan bronkus berespon secara hiperaktif terhadap stimuli

BAB I PENDAHULUAN. reversible di mana trakea dan bronkus berespon secara hiperaktif terhadap stimuli BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Asma merupakan penyakit jalan napas obstruktif intermiten yang bersifat reversible di mana trakea dan bronkus berespon secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu yang

Lebih terperinci

DESKRIPTIF TENTANG KARAKTERISTIK LINGKUNGAN YANG BERISIKO TERJADINYA JATUH PADA LANSIA DI DESA SUSUKAN KECAMATAN SUSUKAN KABUPATEN SEMARANG

DESKRIPTIF TENTANG KARAKTERISTIK LINGKUNGAN YANG BERISIKO TERJADINYA JATUH PADA LANSIA DI DESA SUSUKAN KECAMATAN SUSUKAN KABUPATEN SEMARANG DESKRIPTIF TENTANG KARAKTERISTIK LINGKUNGAN YANG BERISIKO TERJADINYA JATUH PADA LANSIA DI DESA SUSUKAN KECAMATAN SUSUKAN KABUPATEN SEMARANG 1 Lisa Agustina ABSTRAK Jatuh merupakan masalah fisik yang sering

Lebih terperinci

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Desain Penelitian Penelitian Faktor-faktor Risiko Hipertensi Pada Jamaah Pengajian Majelis Dzikir SBY Nurussalam Tahun 2008 dilakukan dengan menggunakan desain penelitian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. di rumah sakit. Anak biasanya merasakan pengalaman yang tidak menyenangkan

BAB I PENDAHULUAN. di rumah sakit. Anak biasanya merasakan pengalaman yang tidak menyenangkan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keadaan sakit pada anak usia prasekolah dan anak usia sekolah banyak ditemui di rumah sakit. Anak biasanya merasakan pengalaman yang tidak menyenangkan selama dirawat

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 27 BAB III METODE PENELITIAN A. JENIS DAN RANCANGAN PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik yang bertujuan untuk mencari hubungan antar variabel. Rancangan penelitian ini

Lebih terperinci

HUBUNGAN PELAKSANAAN ASUHAN SAYANG IBU DENGAN KECEMASAN PROSES PERSALINAN DI BPM HESTI UTAMI DESA GRANTUNG KECAMATAN BAYAN KABUPATEN PURWOREJO

HUBUNGAN PELAKSANAAN ASUHAN SAYANG IBU DENGAN KECEMASAN PROSES PERSALINAN DI BPM HESTI UTAMI DESA GRANTUNG KECAMATAN BAYAN KABUPATEN PURWOREJO HUBUNGAN PELAKSANAAN ASUHAN SAYANG IBU DENGAN KECEMASAN PROSES PERSALINAN DI BPM HESTI UTAMI DESA GRANTUNG KECAMATAN BAYAN KABUPATEN PURWOREJO Tri Puspa Kusumaningsih, Astuti Yuliningsih ABSTRAK Data Dinas

Lebih terperinci

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Bab 4 Batuk dan Kesulitan Bernapas Kasus II. Catatan Fasilitator. Rangkuman Kasus:

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Bab 4 Batuk dan Kesulitan Bernapas Kasus II. Catatan Fasilitator. Rangkuman Kasus: Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit Bab 4 Batuk dan Kesulitan Bernapas Kasus II Catatan Fasilitator Rangkuman Kasus: Agus, bayi laki-laki berusia 16 bulan dibawa ke Rumah Sakit Kabupaten dari sebuah

Lebih terperinci

Nopia, Mahyudin, Yasir Haskas Mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan STIKES Nani Hasanuddin Makassar

Nopia, Mahyudin, Yasir Haskas Mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan STIKES Nani Hasanuddin Makassar FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPATUHAN PERAWAT DALAM MENJALANKAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PEMASANGAN KATETER URETRA DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT ISLAM FAISAL MAKASSAR Nopia, Mahyudin, Yasir Haskas

Lebih terperinci

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Kesehatan reproduksi merupakan keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Kesehatan reproduksi merupakan keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kesehatan reproduksi merupakan keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial secara utuh yang tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan dalam semua hal yang

Lebih terperinci

KEPUASAN IBU HAMIL TERHADAP PELAYANAN ANTENATAL CARE (ANC) OLEH BIDAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS NGORESAN

KEPUASAN IBU HAMIL TERHADAP PELAYANAN ANTENATAL CARE (ANC) OLEH BIDAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS NGORESAN KEPUASAN IBU HAMIL TERHADAP PELAYANAN ANTENATAL CARE (ANC) OLEH BIDAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS NGORESAN Winarni Dosen STIKES Aisyiyah Surakarta Prodi D III Kebidanan Latar belakang ABSTRAK Tujuan penelitian

Lebih terperinci