KARAKTERISTIK ELEKTROKARDIOGRAM (EKG) PADA PASIEN INFARK MIOKARD AKUT DI RUANG INSTALASI GAWAT DARURAT (IGD) RSUP Dr. WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "KARAKTERISTIK ELEKTROKARDIOGRAM (EKG) PADA PASIEN INFARK MIOKARD AKUT DI RUANG INSTALASI GAWAT DARURAT (IGD) RSUP Dr. WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR"

Transkripsi

1 KARAKTERISTIK ELEKTROKARDIOGRAM (EKG) PADA PASIEN INFARK MIOKARD AKUT DI RUANG INSTALASI GAWAT DARURAT (IGD) RSUP Dr. WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR Putu Martana, Abdul Rakhmat, H.Ismail Mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan STIKES Nani Hasanuddin Makassar Dosen Tetap STIKES Nani Hasanuddin Makassar Dosen Tetap STIKES Nani Hasanuddin Makassar ABSTRAK Putu Martana, Karakteristik Elektrokardiogram (EKG) pada Pasien Infark Miokard Akut di Ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar 2012 (Dibimbing oleh Abdul Rakhmat dan H. Ismail) Infark Miokard Akut (IMA) adalah nekrosis miokard akibat aliran darah ke otot jantung terganggu. EKG membantu menegakkan diagnosis sebelum peningkatan enzim jantung terdeteksi pada pasien IMA. Adapun tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui Karakteristik Elektrokardiogram (EKG) pada Pasien Infark Miokard Akut di Ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUP Dr.Wahidin Sudirohusodo Makassar. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif non analiti, populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien dengan penyakit Infark Miokard Akut yang dirawat inap di Instalasi Gawat darurat (IGD) RSUP Dr.Wahidin Sudirohusodo Makassar. Tehnik pengambilan sampel yang digunakan tehnik sampling jenuh, didapatkan 12 responden sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan lembar observasi. Data yang terkumpul kemudian diolah dan dianalisis dengan menggunakan program komputer microsoft excel dan program statistik (SPSS) versi 16,0. Analisis data mencakup analisis data umum dengan mencari distribusi frekuensi dan data khusus dimana diperoleh yang mengalami elevasi segmen ST pada beberapa lead, 4 orang diantaranya STEMI anterior, 4 orang selanjutnya STEMI anteroseptal, 3 orang lainnya STEMI inferior dan 1 orang STEMI septal. terjadi perubahan karakteristik gelombang P pada hasil perekaman EKG pasien IMA. Terjadi perubahan karakteristik segmen ST dan gelombang T pada beberapa lead dari hasil perekaman EKG pasien IMA, akan tetapi perubahan gelombang T mengikuti elevasi segmen ST. Kata kunci : Pasien IMA, gelombang P, segmen ST dan gelombang T. PENDAHULUAN Penyakit jantung merupakan salah satu penyebab kematian yang utama. Banyak pasien yang mangalami kematian akibat penyakit jantung. Penanganan yang salah dan kurang cepat serta cermat adalah salah satu penyebab kematian. Infark miokard akut merupakan penyebab kematian utama bagi laki-laki dan perempuan di USA. Diperkirakan lebih dari 1 juta orang menderita infark miokard setiap tahunnya dan lebih dari 600 orang meninggal akibat penyakit ini. Masyarakat dengan tingkat pengetahuan yang rendah membuat mereka salah untuk pengambilan keputusan penangan utama. Sehingga menyebabkan keterlambatan untuk ditangani. Hal ini yang sering menyebabkan kematian. (Nuzul Zulkarnain, 2011). Menurut WHO (2008), penyakit infark miokard akut, merupakan penyebab kematian utama di dunia. Terhitung sebanyak (12,2%) kematian terjadi akibat penyakit infark miokard akut di seluruh dunia dua tahun terakhir ini. Penyakit infark miokard akut adalah penyebab utama kematian pada orang dewasa. Infark miokard akut adalah penyebab kematian nomor dua di negara berpenghasilan rendah, dengan angka mortalitas (9,4%). Di Indonesia pada tahun 2008 penyakit infark miokard akut merupakan penyebab kematian pertama dengan angka mortalitas (14%) (Ardyan Pradana, 2011). Depkes (2009), Direktorat Jendral Yanmedik Indonesia meneliti pada tahun 2007, jumlah pasien penyakit jantung yang menjalani rawat inap dan rawat jalan di Rumah Sakit di Indonesia adalah jiwa. Kasus terbanyak adalah penyakit jantung iskemik, yaitu 110,183 kasus. Care fatelity rate (CFR) tertinggi terjadi pada infark miokard akut (13,49%) dan kemudian diikuti oleh gagal jantung (13,42%) dan penyakit jantung lainnya Volume 1 Nomor 5 Tahun 2012 ISSN :

2 (13,37%). Kematian yang disebabkan oleh infark miokardium, keadaan yang sama juga bisa dialami di Indonesia khususnya diperkotaan dimana pola penyakit infark miokardium sudah sama dengan pola penyakit negara-negara maju. Setiap dua detik satu orang meninggal karena penyakit kardiovaskuler (Ardyan Pradana, 2011). Nigam (2007), Diagnosis infark miokard didasarkan atas diperolehnya dua atau lebih dari 3 kriteria, yaitu adanya nyeri dada, perubahan gambaran elektrokardiografi (EKG) dan peningkatan pertanda biokimia. Sakit dada terjadi lebih dari 20 menit dan tidak ada hubungan dengan aktifitas atau latihan. Gambaran EKG yang khas yaitu timbulnya elevasi segmen ST dan inversi gelombang T (Ardyan Pradana, 2011). Ramrakha (2006), Elektrokardiogram (EKG) merupakan metode pemeriksaan noninvasif yang mudah didapatkan untuk menegakkan diagnosis infark miokard akut (Chung, 2007). EKG membantu menegakkan diagnosis sebelum peningkatan enzim kerusakan jantung terdeteksi. Lokasi dan luas infark dapat ditentukan dari rekaman EKG berupa elevasi segmen ST, gelombang T pada standar precordial lead. Dengan metode EKG, infark miokard akut terbagi menjadi 2 grup mayor, yaitu infark miokard dengan elevasi segmen ST (STEMI) dan tanpa elevasi segmen ST (Non STEMI). ST Elevasi Miokard Infark (STEMI) adalah sindoma koroner akut dimana pasien mengalami ketidaknyamanan pada dada dengan gambaran elevasi segmen ST pada EKG. Non STEMI adalah sindroma koroner akut dimana pasien mengalami ketidaknyamanan dada yang berhubungan dengan non elevasi segmen ST iskemik yang transien atau permanen pada EKG (Ardyan Pradana, 2011). Berdasarkan hasil yang diperoleh dari rekam medik RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar mendapati pasien Infark Miokard Akut (IMA) rawat jalan dan inap pada tahun 2009 sebanyak 109 orang, tahun 2010 sebanyak 44 orang, dan ditahun 2011 sebanyak 20 penderita. Dalam hal ini mengalami penurunan yang sangat signifikan, dikarenakan pada pertengahan tahun 2010 di RSWS sudah diberlakukan sistem rujukan. Dengan melihat fenomena diatas dan mengingat pentingnya EKG dalam menegakan diagnosis awal pada pasien infark miokard akut, maka peneliti tertarik untu kmeneliti Karakteristik Elektrokardiogram (EKG) pada Pasien Infark Miokard Akut di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar. Dengan melihat uraian diatas pada latar belakang, maka yang menjadi rumusan masalah pada penelitian ini adalah Bagaimana Karakteristik Elektrokardiogram (EKG) pada Pasien Infark Miokard Akut di Ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar.. BAHAN DAN METODE Lokasi, populasi, dan sampel penelitian Desain penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif non analitik, dimana pada rancangan penelitian ini menggambarkan masalah penelitian yang terjadi berdasarkan karakteristik dan penelitian yang didalamnya tidak ada analisis hubungan antar variabel (A.Aziz Alimul Hidayat, 2009). Penelitian ini dilaksanakan di Ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUP. Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar. Pada tanggal 26 Juli sampai 16 Agustus Dimana populasi dalam penelitian ini adalah Semua pasien dengan penyakit Infark Miokard Akut yang dirawat inap di Instalasi Gawat darurat (IGD) RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar. sebanyak 12 responden. Besar sampel adalah semua pasien yang menderita penyakit Infark Miokard Akut yang memenuhi kriteria yakni 12 responden. 1. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah sebagai berikut : a. Bersedia menjadi responden b. Pasien yang didiagnosa IMA oleh dokter c. Pasien IMA dengan perekaman EKG yang pertama kali d. Pasien IMA yang dirawat inap di ruang Instalasi Gawat darurat (IGD) RSUP Dr.Wahidin Sudirohusodo Makassar. 2. Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah: a. bersedia menjadi responden b. Pasien rawat inap di ruang Instalasi Gawat darurat (IGD) RSUP Dr.Wahidin Sudirohusodo Makassar yang bukan merupakan pasien IMA. c. Pasien IMA yang dirawat jalan di poliklinik jantung RSUP Dr.Wahidin Sudirohusodo Makassar. d. Pasien IMA yang sudah diberi obat digitalis Pengumpulan data Peneliti mengumpulkan data dengan menggunakan alat ukur dokumentasi yaitu dengan cara mengambil data yang berasal dari dokumen asli dimana dokumen asli yang dimaksud adalah daftar periksa. Untuk mendapatkan informasi yang diinginkan peneliti Volume 1 Nomor 5 Tahun 2012 ISSN :

3 menggunakan hasil rekaman EKG untuk mengetahui gambaran gelombang P, segmen ST, dan gelombang T dengan pengumpulan data yang telah diperoleh melalukai data primer. Data primer yang dimaksud data yang dikumpulkan sendiri oleh peneliti dari yang sebelumnya tidak ada, dan tujuannya disesuaikan dengan keperluan peneliti. Langkah Pengolahan Data Pengolahan dan analisa data dilakukan dengan menggunakan komputerisasi sebagai berikut : 1. Editing Yaitu dilakukan penyuntingan data yang telah terkumpul dengan cara memeriksakan kelengkapan pengisian, kejelasan pengisian dan adanya kesalahan. 2. Codding Adalah proses pemberian kode pada tiap variable dengan tujuan untuk memudahkan dalam mengolah data. 3. Tabulasi Memasukan data dalam tabel tabulasi untuk memudahkan dalam mengolah data. 4. Analisa Data Setelah dilakukan tabulasi data, kemudian data dianalisis menggunakan uji statistik dengan mencari frekuensi pada program SPSS windows versi 16,0. HASIL PENELITIAN 1. Karakteristik Responden : Tabel 5.1 : Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur pada Pasien Infark Miokar Akut di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar Umur Jumlah Persentase Responden (n) (%) 50 tahun 3 25,0 > 50 tahun 9 75,0 Total Sumber : Data Primer Juli Agustus Tabel 5.1. menunjukkan jumlah responden terbanyak berdasarkan umur dalam penelitian ini adalah responden yang berumur > 50 tahun sebanyak 9 orang (75%), sedangkan responden yang berumur 50 tahun tahun sebanyak 3 orang (25%). Tabel 5.2 :Data Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin pada Pasien Infark Miokar Akut di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar Jenis Kelamin Jumlah Persentase (n) (%) Laki-Laki 8 66,7 Perempuan 6 33,3 Total Sumber : Data Primer Juli Agustus 2012 Tabel 5.2 menunjukkan jumlah responden terbanyak berdasarkan jenis kelamin dalam penelitian ini adalah responden yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 8 orang (66,7%), dan responden yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 4 orang (33,3%). Tabel 5.3 : Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pekerjaan pasien Infark Miokard Akut di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar Pekerjaan Jumlah Persentase (n) (%) PNS 3 25,0 Wiraswasta 5 41,7 Lain-lain 4 33,3 Total Sumber : Data Primer Juli Agustus Tabel 5.3 menunjukkan jumlah responden terbanyak berdasarkan pekerjaan dalam penelitian ini adalah responden yang berwiraswasta yaitu sebanyak 5 orang (41,7%), responden yang lain-lain (ibu rumah tangga, Pensiunan guru) sebanyak 4 orang (33,3%), responden yang PNS sebanyak 3 orang (25,0%). 1. Analisis Univariat : a. Gelombang P Tabel 5.4 : Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Karakteristik Elektrokardiogram Gelombang P pasien Infark Miokard Akut di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUP Dr. Wahidin Sudirihusodo Makassar Volume 1 Nomor 5 Tahun 2012 ISSN :

4 DEFLEKSI LEAD Ketentuan (n) (%) Gelombang P I II avf V2 V3 V4 V5 V6 Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Sumber : Data Primer Juli Agustus Total (n) % Pada table 5.4 berdasarkan karakteristik Elektrokardiogram gelombang P, dari 12 responden yang diteliti dalam penelitian ini menunjukkan seluruh responden memiliki gelombang P normal pada lead lead yang diteliti yaitu pada lead I, II, avf, V2, V3, V4, V5, dan V6. Dalam hal ini keseluruhan responden tidak mengalami gangguan atau menunjukkan gelombang P yang tidak normal. b. Segmen ST Tabel 5.5 : Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Karakteristik Elektrokardiogram Segmen ST pasien Infark Miokar Akut di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar DEFLEKSI LEAD Ketentuan (n) (%) Segmen ST I II III avf avl V1 V2 V3 V4 V5 V6 Normal,0 Normal 9 75,0 normal 3 25,0 Normal 9 75,0 normal 3 25,0 Normal 9 75,0 normal 3 25,0 Normal,0 Normal 7 58,3 normal 5 41,7 Normal 7 58,3 normal 5 41,7 Normal 4 33,3 normal 8 66,7 Normal 4 33,3 normal 8 66,7 Normal,0 Normal,0 Sumber : Data Primer Juli Agustus Total (n) % Pada tabel 5.5 menunjukkan distribusi responden berdasarkan karakteristik Elektrokardiogram segmen ST, dari 12 responden yang diteliti dalam penelitian ini pada lead I dengan segmen ST normal sebanyak 12 (100,0%) dari 12 responden, pada lead II dengan segmen ST normal sebanyak 9 (75,0%) dari 12 responden dan yang tidak normal 3 responden (25,0%), pada lead III dengan segmen ST normal sebanyak 9 (75,0%) dari 12 responden dan yang tidak normal 3 responden (25,0%), pada lead avf dengan segmen ST normal sebanyak 9 (75,0%) dari 12 responden dan yang tidak normal 3 responden (25,0%), pada lead avl dengan segmen ST normal sebanyak 12 (100,0%) dari 12 responden, pada lead V1 dengan segmen ST normal sebanyak 7 (58,3%) dari 12 responden dan yang tidak normal 5 responden (41,7%), pada lead V2 dengan dengan segmen ST normal sebanyak 7 (58,3%) dari 12 responden dan yang tidak normal 5 responden (41,7%), pada lead V3 dengan segmen ST normal sebanyak 4 (33,3%) dari 12 responden dan yang tidak normal 8 responden (66,7%), lead V4 dengan Volume 1 Nomor 5 Tahun 2012 ISSN :

5 segmen ST normal sebanyak 4 (33,3%) dari 12 responden dan yang tidak normal 8 responden (66,7%), pada lead V5 dengan segmen ST normal sebanyak 12 (100%) dari 12 responden dan pada lead V6 dengan segmen ST normal sebanyak 12 (100%) dari 12 responden. Sedangkan dari 12 responden tersebut dengan segmen ST normal secara keseluruhan tidak ada. c. Gelombang T Tabel 5.6 : Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Karakteristik Elektrokardiogram Gelombang T Pasien Infark Miokar Akut di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar DEFLEKSI LEAD Ketentuan (n) (%) Gelombang T I II avf V2 V3 V4 V5 V6 Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Sumber : Data Primer Juli Agustus Total (n) % Pada table 5.6 berdasarkan karakteristik Elektrokardiogram gelombang T, dari 12 responden yang diteliti dalam penelitian ini pada lead I dengan gelombang T sebanyak 12 responden (100%) memiliki gambaran EKG dengan gelombang T normal dan tidak ditemukan adanya gelombang T yang tidak normal. Demikian pula pada lead II, avf, V2, V3, V4, V5, dan V6) dimana dari 12 responden menunjukan gelombang T dalam keadaan normal. PEMBAHASAN 1. Karakteristik Elektrokardiogram Gelombang P pada Pasien Infark Miokard Akut (IMA) Berdasarkan tabel 5.4 karakteristik Elektrokardiogram gelombang P, dari 12 responden yang diteliti dalam penelitian ini bahwa pada lead I, lead II, avf, V2, V3, V4, V5 dan V6 menunjukkan seluruh responden dengan gelombang P normal pada lead lead yang diteliti. Jadi jelas bahwa 12 responden yang diperoleh dari hasil penelitian gambaran EKG gelombang P pada lead tersebut diatas, semua lead terlihat melengkung keatas (berdefleksi positif) kecuali avr dan tiap kompleks QRS selalu diawali gelombang P. Kriteria interpretasi EKG gelombang P rata-rata pasien < 0,12 detik (< 3 kotak kecil) dan tinggi rata-rata: < 0,3 mv (< 3 kotak kecil). Ini sesui dengan pendapat Mahmuddin Asry (2009) dalam buku EKG praktis sehari-hari, yang mana kriteria interpretasi EKG dan nilai normal gelombang P : gelombang P yaitu depolarisasi atrium. Nilai normal (lebar : < 0,12 detik (< 3 kotak kecil), tinggi : < 0,3 mv (< 3 kotak kecil), bentuk : (+) di lead I, II, avf, V2-V6, bentuk (-) di lead avr, bentuk ± di lead III, avl, V1. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori Sylvia Anderson Price & Lorraine McCarty Wilson (2006), menyatakan sesuai dengan depolarisasi atrium. Rangsangan normal untuk depolarisasi atrium berasal dari nodus sinus. Namun, besarnya arus listrik yang berhubungan dengan eksitasi nodus sinus terlalu kecil untuk dapat terlihat pada EKG. Gelombang P dalam keadaan normal berbentuk melengkung dan arahnya keatas pada kebanyakan hantaran. Pembesaran atrium dapat meningkatkan amplitude atau lebar gelombang P, serta mengubah bentuk gelombang P. Disritmia jantung juga dapat mengubah konfigurasi gelombang P. Misalnya, irama yang berasal dari dekat perbatasan AV dapat menimbulkan inverse gelombang P, karena arah depolarisasi atrium terbalik. Menurut John R. Hampton (2006), Pada irama sinus gelombang P dalam keadaan normal tegak ke atas pada semua sadapan (lead) kecuali pada VR. Bila kompleks QRS dominan ke bawah, pada avl, gelombang P mungkin pula menunjukan inverse (inverted). Sedangkan 12 responden dari hasil penelitian dengan gelombang P tidak normal (berdefleksi negatif) secara keseluruhan tidak ada. Dalam artian tidak menunjukan tanda-tanda pembesaran atrium atau menandakan adanya peningkatan aktivitas atrium pada pasien IMA. Yang mana dapat menggambarkan gelombang P dari 12 responden hasil penelitian menandakan normal (berdefleksi positif). Volume 1 Nomor 5 Tahun 2012 ISSN :

6 Hal ini sesuai dengan teori Abu Nazmah (2011), Gelombang P adalah gelombang EKG yang menggambarkan adanya aktifitas listrik yang terjadi di atrium, dimana otot atrium (kanan dan kiri) mengadakan depolarisasi sehingga kedua otot atrium melakukan kontraksi. Oleh sebab itu, gelombang P merupakan depolarisasi kedua otot atrium atau kontraksi dari kedua otot atrium. Asumsi peneliti yang diperoleh dari hasil penelitian yang dilakukan pada pasien infark miokard akut di instalasi gawat darurat (IGD) RSUP Dr. Wahiddin Sudirohusodo Makassar, bahwa hasil rekaman EKG gelombang P yang didapatkan dari 12 responden tidak terjadi perubahan. Dalam hal ini gelombang P nampak normal (tidak terjadi pelebaran, peninggian dan inversi). Hal ini menunjukan bahwa gelombang P tidak berpengaruh besar dalam menentukan diagnosa pada pasien infark miokard akut. Akan tetapi, gelombang P mememiliki peranan dalam menentukan komplikasi lain dari jantung pada pasien IMA. Misalnya dengan melihat gambaran gelombang P dapat menunjukan adanya tanda-tanda pembesaran atrium. Dengan demikian, tiap saat perlu dilakukan pemantauan gambaran EKG untuk tetap menjaga perubahan yang mungkin terjadi pada rekaman EKG gelombang P. Sehingga apabila terjadi perubahan dapat ditangani secara cepat. 2. Karakteristik Elektrokardiogram Segmen ST pada Pasien Infark Miokard Akut (IMA) Berdasarkan tabel 5.5 karakteristik Elektrokardiogram segmen ST pada pasien IMA, menunjukkan bahwa dari 12 responden yang diteliti dalam penelitian ini pada lead I dengan segmen ST menunjukkan bahwa dari 12 responden yang diteliti dalam kategori normal, pada lead II dengan segmen ST norma terdapat sebanyak 9 responden dan yang tidak normal sebanyak 3 responden, untuk lead III dengan segmen ST normal terdapat sebanyak 9 responden dan 3 responden lainnya tidak normal. Pada lead avf dengan segmen ST normal sebanyak 9 responden sedangkan yang tidak normal sebanyak 3 responden, untuk lead avl dengan segmen ST menunjukkan bahwa dari 12 responden yang diteliti dalam kategori normal. Selanjutnya pada lead V1 sebanyak 7 responden dengan segmen ST normal dan 5 responden dengan segmen ST tidak normal, pada lead V2 sebanyak 7 responden menunjukkan segmen ST normal dan 5 responden lainnya tidak normal, kemudia pada lead V3 menunjukkan sebanyak 4 responden dengan segmen ST normal dan 8 responden lainnya tidak normal, berikut pada lead V4 dengan segmen ST normal terdapat sebanyak 4 responden dan yang tidak normal sebanyak 8 responden, untuk lead V5 dan V6 dengan segmen ST dari 12 responden seluruhnya dalam keadaan normal pada lead ini. Berdasarkan hasil penelitian diatas, dapat dipahami bahwa dari 12 responden yang diteliti diperoleh hasil gambaran EKG segmen ST tiap lead (I,II, III, avf, avl, V1, V2, V3, V4, V5 dan V6) terlihat isoelektris (normal) dan beberapa diantaranya mengalami elevasi (melengkung keatas yang tidak semestinya dan dikatakan tidak normal). Meskipun terjadi elevasi segmen ST di beberapa lead saja pada pasien ini sudah cukup membantu menunjukan adanya infark. Hal ini dikarenakan pada infark miokard akut (IMA) hanya terjadi elevasi segmen ST pada beberapa lead saja tergantung dimana lokasi infark itu terjadi, tidak pada semua lead. Jika terjadi pada semua lead disebut perikarditis bukan infark. Hal Ini sesuai dengan teori Buku Acuan Pemeriksaan EKG dalam blog Rica Federica (2011) yang menyatakan bahwa adanya elevasi segmen ST merupakan petunjuk adanya infark miokard akut atau perikarditis, akan tetapi pada infark miokard akut hanya terjadi elevasi pada beberapa lead saja. Misalnya terjadi infark pada dinding inferior dapat diketahui dengan adanya elevasi segmen ST pada sendapan atau lead II, III dan avf. Sedangkan pada perikarditis biasanya tidak dapat dipastikan tempatnya dan akan tampak elevasi dihampir semua sandapan atau lead. Dengan demikian, jelaslah bahwa infak miokar akut hanya terjadi elevasi segmen ST pada beberapa lead saja bukan keseluruhan lead. Dari lead-lead yang diteliti terdapat empat lead yang tidak mengalami elevasi segmen ST pada 12 responden secara keseluruhan yakni pada lead I, avl, V5, dan V6 seluruh responden (12 reponden (100%)) menunjukkan segmen ST norma dan tidak ada responden yang segmen ST tidak normal untuk keempat lead ini. Hal ini disebabkan karena pada penelitian tidak ditemukan infark lateral atau disebut juga infark miokard anterolateral ekstensif. Volume 1 Nomor 5 Tahun 2012 ISSN :

7 Hal Ini sesuai teori Wajan Juni Udjianti (2011) yang menyatakan bahwa pada pasien infark apa bila terjadi elevasi segmen ST pada lead I, avl, V5 dan V6 ini menunjukan terjadinya infark miokard anterolateral ekstensif dan menurut M.Sjaifoellah Noer dkk (2006), jika infark lateral : menandakan oklusi pada arteri sirkumfleksi kiri dapat merupakan bagian dari berbagi sisi infark ini terjadi elevasi ST pada lead I, avl, V5 dan V6. Demikian menurut Malcolm S. Thaler (2009), Infark lateral melibatkan dinding lateral kiri jantung. Infark ini sering disebabkan oleh penyumbatan ramus sirkumfleksus arteri koronaria sinistra. Peruabahan akan terjadi pada sadapan lateral (I, avl, V5 dan V6). Kriteria interpretasi EKG segmen ST rata-rata yang terlihat isoelektris pada 12 responden (- 0,5 mm sampai + 2,5 mm). Ini sesui dengan paendapat Mahmuddin Asry (2009) dalam buku EKG praktis sehari-hari, yang mana kriteria interpretasi EKG dan nilai normal segmen S-T (ST segmen) : sejajar garis sebelum dan sesudah QRS (isoelektrik) atau diukur dari akhir gelombang QRS (J Point) sampai awal gelombang T. Nilai normal isoelektris (- 0,5 mm sampai + 2,5 mm). Demikian pula pendapat Abu Nazmah (2011), segmen ST merupakan garis horizontal yang diukur setelah akhir gelombang S sampai awal gelombang T. Dimana pada segmen ST ada yang dinamakan titik J point = junctional point dengan nilai normal isoelektris (- 0,5 mm sampai + 2,5 mm). Sedangkan selain keempat lead diatas (lead I, avl, V5 dan V6) yang tidak mengalami elevasi segmen ST, ada tujuh lead lainnya (lead II, III, avf, V1, V2, V3, dan V4) yang mengalami elevasi segmen ST terlihat amat jelas dari 12 responden yang diteliti, hal ini lah yang membuktikan bahwa 12 responden hasil penelitian mengalami gangguan pada otot jantungnya yang disebut dengan infark miokard akut. Sesuai teori John R. Hampton (2006), yang menyatakan segmen ST (bagian dari EKG diantara gelombang S dan gelombang T) horizontal dan isoelektrik, yang berarti ia harus berada pada tinggi yang sama pada kertas sebagai garis dasar rekaman diantara ujung gelombang T dan gelombang P berikutnya. Pada semua leed segmen ST isoelektrik. Akan tetapi jika terjadi elevasi segmen ST merupakan tanda dari infark miokard akut. Dengan terjadinya elevasi beberapa lead dari hasil rekaman EKG dapat pula menggambarkan dimana lokasi infark itu terjadi. Demikian pada hasil diatas menunjukan bahwa 12 responden yang diteliti mengalami infark dengan lokasi yang berbeda, dimana 4 orang diantaranya mengalami STEMI anterior (elevasi segman ST pada lead V3 dan V4), 4 orang selanjutnya mengalami STEMI anteroseptal (elevasi segman ST pada lead V1, V2, V3 dan V4), 3 orang lainnya mengalami STEMI inferior (elevasi segman ST pada lead II, III dan avf) dan 1 orang mengalami STEMI septal (elevasi segman ST pada lead V1 dan V2). Sesuai pada table 5.5 diamati terjadinya elevasi segmen ST pada beberapa lead diatas. Hal ini sesuai dengan teori M.Sjaifoellah Noer dkk (2006), yang menunjukkan bahwa lokasi infark miokard dan sadapan EKG yang biasanya terjadi infark anterior : elevasi ST pada v3-v4 menandakan oklusi pada arteri desenden anterior kiri, sedangkan infark inferior : elevasi ST pada II,III,aVF, menandakan oklusi pada arteri koronaria kanan, infark ventrikel kanan : elevasi ST pada II, III, avf, V4R, menandakan oklusi pada arteri koronaria kanan, jika infark lateral : elevasi ST pada I,aVL,V5,V6, menandakan oklusi pada arteri sirkumfleksi kiri dapat merupakan bagian dari berbagi sisi infark, apabila Infark anteroseptal : bila kelainan ditemukan yakni elevasi ST pada lead V1- V4, jika Infark anterolateral : bila kelainan yakni elevasi ST ditemukan pada hantaran I, avl, V5, V6, dan jika Infark septal : bila kelainan klasik yakni elevasi ST ditemukan pada hantaran V1-V2. Asumsi peneliti yang diperoleh dari hasil penelitian yang dilakukan pada pasien infark miokard akut di instalasi gawat darurat (IGD) RSUP Dr. Wahiddin Sudirohusodo Makassar, dapat disimpulkan bahwa hasil rekaman EKG segmen ST yang didapatkan dari 12 responden terjadi perubahan. Dengan demikian segmen ST dikatakan tidak normal (tinggi segmen ST diatas 3 mm bahkan hingga 1 mv atau 2 kotak besar). Terjadinya elevasi segmen ST disebabkan oleh nekrosis miokard akibat aliran darah ke otot jantung terganggu. Untuk itu, intervensi awal yang perlu dilakukan adalah mengembalikan pasokan darah jantung secara adekuat agar aliran darah ke otototot jantung berjalan dengan normal dan dapat menghindari nekrosis yang dapat Volume 1 Nomor 5 Tahun 2012 ISSN :

8 menyebabkan infark. Dengan demikian apabila kebutuhan darah terpenuhi maka otot otot jantung bisa kembali dengan normal. Hal ini bisa diketahui dari rekaman EKG melalui sandapan yang terpasang pada dada pasien yang dapat menunjukan tidak adanya elevasi segmen ST tersebut, tetapi apabila kebutuhan darah tidak adekuat maka rekaman EKG akan menunjukkan adanya elevasi segmen ST yang artinya terjadi infark. 3. Karakteristik Elektrokardiogram Gelombang T pada Pasien Infark Miokard Akut (IMA) Berdasarkan tabel 5.6 karakteristik Elektrokardiogram gelombang T, dari 12 responden yang diteliti dalam penelitian ini menunjukkan bahwa pada lead I, II, avf, V2, V3, V4, V5 dan V6 dengan gelombang T seluruh responden atau 12 responden (100%) dikatakan normal. Akan tetapi gelombang T nampak meninggi pada beberapa lead yang terjadi elevasi segmen ST, namun tidak melewati 1 mv atau dua kotak besar. Jadi jelas bahwa 12 responden yang diperoleh dari hasil penelitian, gambaran EKG gelombang T pada lead yang diteliti, semua lead terlihat melengkung keatas (berdefleksi positif) kecuali avr dan tiap kompleks QRS selalu diakhiri dengan gelombang T. Kriteria interpretasi EKG gelombang T rata-rata responden : antara 0,1 mv (1 kotak kecil) hingga 0,5 mv (1 kotak besar), pada beberapa prekardial lead (V1-V6) tinggi gelombang T hingga 1 mv. Hasil penelitian ini sesui dengan pendapat Mahmuddin Asry (2009) dalam buku EKG praktis sehari-hari, menyatakan bahwa kriteria interpretasi EKG dan nilai normal gelombang T (minimal : 0,1 mv, maksimal : 0,5 mv pada extremitas lead (IaVF) 1 mv pada prekardial lead (V1-V6), bentuk : (+) di lead I, II, avf,v2-v6, bentuk (-) di lead avr, bentuk (±) / bi fasik di lead III, avl, VI : dominant positif (+). Menurut teori John R. Hampton (2006), pada EKG normal gelombang T selalu mengalami inverse pada VR, tetapi biasanya ke arah atas (tegak) pada semua leed yang lain. Pada EKG normal gelombang T sering mengalami inverse pada leed III, tetapi menjadi lebih tegak pada inspirasi (lihat atas). gelombang T sering pula mengalami inverse pada V1. Hasil diatas sesuai dengan teori Abu Nazmah (2011), yang menyatakan bahwa gelombang T adalah gambaran gelombang EKG yang terjadi pada saat otot ventrikel mengalami repolarisasi. Gelombang T adalah gelombang positif setelah gelombang S dan akhir dari kompleks QRS. Sedangkan dari 12 responden hasil penelitian dengan gelombang T tidak normal (berdefleksi negatif) secara keseluruhan tidak ada. Dalam artian tidak menandakan adanya iskemia atau menandakan adanya kelainan elektrolit, namun gelomban T menjadi tinggi pada lead perikardial mengikuti segmen ST di beberapa lead, hal ini dapat menunjukan terjadinya Infark, ini terlihat pada pasien IMA. Akan tetapi ini dapat menggambarkan gelombang T dari 12 responden hasil penelitian menandakan berdefleksi positif dan masih dalam kategori normal. Hasil Ini sesuai dengan teori Sylvia Anderson Price & Lorraine McCarty Wilson (2006), menyatakan repolarisasi ventrikel akan menghasilkan gelombang T. dalam keadaan normal gelombang T ini agak asimetris, melengkung dan ke atas pada kebanyakan sandapan, akan tetapi jika peninggian gelombang T mengikuti tinggi terjadinya elevasi segmen ST tanpa batas yang jelas ini menunjuka terjadinya infark. Inverse gelombang T berkaitan dengan iskemia miokardium. Hiperkalemia (atau peningkatan kadar kalium serum) akan mempertinggi atau mempertajam puncak gelombang T. Asumsi peneliti yang diperoleh dari hasil penelitian yang dilakukan pada pasien infark miokard akut di instalasi gawat darurat (IGD) RSUP Dr. Wahiddin Sudirohusodo Makassar, maka dapat disimpulkan bahwa hasil rekaman EKG gelombang T yang didapatkan dari 12 responden terjadi perubahan. Akan tetapi perubahan tersebut hanya sebatas peninggian gelombang T mengikuti elevasi segmen ST. Dalam hal ini gelombang T masih dikatakan normal (tinggi gelombang T hingga 1 mv atau 2 kotak besar, tidak terjadi pelebaran). Terjadinya peninggian gelombang T yang mengikuti elevasi segmen ST dapat menandakan adanya infark. Untuk menghindari terjadinya peninggian gelombang T dibutuhkan ketepatan waktu dalam mengintervensi gambaran EKG yang muncul tiap saat demi menjaga kemungkinan terjadinya infark miokard. Dalam hal ini suplai darah, oksigen serta nutrisi perlu mendapat perhatian khusus untuk menghindari perubahan perubahan yang terjadi pada gambaran EKG terutama gelombang T. Dengan demikian gelombang T juga Volume 1 Nomor 5 Tahun 2012 ISSN :

9 memiliki pengaruh dalam menentukan diagnosa pada pasien infark miokard akut. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai Karakteristik Elektrokardiogram (EKG) Pada Pasien Infark Miokard Akut Di Ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar, maka dapat disimpulkan bahwa : 1. terjadi perubahan karakteristik gelombang P pada hasil perekaman EKG pasien infark miokard akut. dari 12 responden yang diperoleh dari hasil penelitian, gambaran EKG gelombang P tiap lead terlihat melengkung keatas kecuali avr, dan tiap kompleks QRS selalu diawali gelombang P. Kriteria interpretasi EKG gelombang P rata-rata pasien < 0,12 detik (< 3 kotak kecil) dan tinggi rata-rata : < 0,3 mv (< 3 kotak kecil). Gelombang P berdefleksi positif. 2. Terjadi perubahan karakteristik segmen ST pada beberapa lead dari hasil perekaman EKG pasien infark miokard akut. Perubahan ini terlihat amat jelas terjadi elevasi segmen ST, hal ini lah yang membuktikan bahwa dari 12 responden hasil penelitian mengalami kelainan pada otot jantungnya yang disebut dengan infark miokard akut. 3. Terjadi perubahan karakteristik gelombang T pada beberapa lead mengikuti elevasi segmen ST dari hasil perekaman EKG pasien infark miokard akut. Dari 12 responden yang diperoleh hasil penelitian, gamabaran EKG gelombang T tiap lead terlihat melengkung keatas kecuali avr, dan tiap kompleks QRS selalu diakhiri dengan gelombang T. Kriteria interpretasi EKG gelombang T rata-rata pasien : antara 0,1 mv (1 kotak kecil) hingga 0,5 mv (1 kotak besar), pada beberapa prekardial lead (V1-V6) gelombang T nampak terlihat lebih tinggi hingga 1 mv, hal ini dapat menunjukan terjadinya Infark seiring terjadinya elevasi pada segmen ST. Akan tetapi gelombang T masih dikatakn normal karna semua lead berdefleksi positif dan 1 mv pada prekardial lead (V1-V6) masih merupaka nilai normal maksimal. Saran Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, terdapat beberapa hal yang perlu direkomendasikan untuk penelitian. Yang terkait dengan topic penelitian yaitu : 1. Untuk gelombang P, diharapkan agar perawat selalu memantau gambaran EKG agar dapat mengetahui aktivitas atrium dan dapat melakukan intervensi terhadap perubahan gelombang P apabila terjadi perubahan, hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menghindari terjadinya pembesaran atrium. 2. Untuk segmen ST, Diharapkan dengan adanya segmen ST elevasi perawat dapat dengan segera mengambil langkah penanganan agar suplai darah dan oksigen ke jantung bisa berjalan dengan normal agar dapat mengantisispasi penurunan curah jantung yang diakibatkan oleh perubahan faktor faktor listrik/penurunan karakteristik miokard serta dapat menghindari kerusakan otot otot jantung akibat gangguan perfusi jaringan. Peranan perawat dalam membantu meminimalkan infark miokard akut sangat diperlukan dan apapun intervensi yang dilakukan, kunci keberhasilan dalam penanganan infark miokard akut adalah ketepatan waktu. Oleh karena itu, pengenalan terhadap perubahan infark miokard akut pada EKG merupakan salah satu diantara beberapa kemampuan diagnostik yang dapat segera menyelamatkan hidup pasien. 3. Untuk gelombang T, diharapkan perawat sesegera mungkin melakukan intervensi terhadap perubahan yang terjadi terutama pada otot otot jantung agar tidak terjadi gangguan perfusi jaringan yang dapat mengakibatkan disfungsi pada otot jantung. Perawat diharapkan selalu melakukan evaluasi terhadap gambaran EKG pada pasien agar kondisi pasien dapat lebih baik dan dapat menghindari dampak yang lebih buruk yaitu kematian sel miokardium. Untuk itu langkah yang harus ditempuh perawat adalah melakukan tindakan agar suplai aliran darah dapat adekuat menuju miokardium atau kebutuhan oksigen jantung dipenuhi agar gelombang T kembali normal. 4. Sebagai peneliti baru dan merupakan pengalaman pertama tetap mengharapkan masukan dan motivasi dari para pembimbing dan penguji demi kesempurnaan penulisan skripsi ini. Volume 1 Nomor 5 Tahun 2012 ISSN :

10 DAFTAR PUSTAKA Aaronsom, Philip I At a Glance Sistem Kardiovaskuler. Edisi 3. Erlangga : Jakarta. Alwi, Idrus Infark Miokard Akut Dengan Elevasi ST. dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jakarta : FKUI,(online), ( di akses tgl 21 Maret 2012). Asry. Mahmuddin EKG Praktis Sehari-hari. UNHAS : Makassar. Federica, Rica Buku Acuan Pemeriksaan EKG Skill Lab. Sistem Kardiovaskuler,Makassar:FKUH,(online),(http://ml.scribd.com/doc/ /cara-membaca-EKG/ diakses tgl 03 Juli 2011). Greenberg, Michael I Teks Atlas Kedokteran Kedaruratan. Jilid 1. Erlangga : Jakarta. Hampton, John R Dasar- dasar EKG. EGC : Jakarta. Hampton, John R EKG dalam praktek sehari-hari. Binarupa Aksara : Jakarta. Hidayat, A.Aziz Alimul Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data. Salemba Medika : Jakarta. Hidayat, A.Aziz Alimul Metode Penelitian Kesehatan Paradigma Kuantitatif. Health Books Publishing : Jakarta. Krisanty, Paula Asuhan Keperawatan Gawat Darurat. CV. Trans Info Media : Jakarta Timur. Murwani, Arita Perawatan Pasien Penyakit Dalam. Mitra Cendekia : Jogjakarta. Nazmah, Abu. 2011, Cara Praktis dan Sistematis Belajar Membaca EKG (Elektro kardiografi). PT Elex Media Komputindo : Jakarta. Noer, M. Sjaifoellah dkk Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid 1, Edisi 3, FKUI : Jakarta. Pradana, Ardyan Asuhan Keperawatan pada Tn.S dengan Gangguan Kardiovaskuler Infark Miokard Akut di Bangsal Cempaka RSUD Sukoharjo, (online), (http://ardyanpradanaoo7.blogspot.com/2011/04/infark-miokardakut.html, diakses 07 april 2011). Price, Sylvia Anderson dan Wilson, Lorraine McCarty Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Edisi 6. EGC : Jakarta. Ranitya, Ryan.dkk Pendekatan Holistik Penyakit Kardiovaskular X.Interna Publishing : Jakarta. Sherwoood, lauralee., Fisiologi Manusia Dari Sel ke Sistem. Edisi 6. EGC : Jakarta. Sugiyono Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R & D. ALFABETA CV : Bandung. Thaler, Malchom S Satu satunya Buku EKG yang anda perlukan. Edisi 5. EGC : Jakarta. Tim Penyusun Pedoman Penulisan Skripsi. Edisi 10.Sekolah Tingi Ilmu Kesehatan Nani Hasanuddin. Makassar. Udjianti, Wajan Juni keperawatan Kardiovaskuler. Salemba Medika : Jakarta. Zulkarnain, Nuzul asuhan Keperawatan (Askep) Ima Stemi (online), (http://nuzululfkp09.web.unair.ac.id/artikel_detail html, Diakses 11 oktober 2011). Volume 1 Nomor 5 Tahun 2012 ISSN :

B A B I PENDAHULUAN. Diabetes mellitus (DM) dengan penyakit kardiovaskular sangat erat

B A B I PENDAHULUAN. Diabetes mellitus (DM) dengan penyakit kardiovaskular sangat erat B A B I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Diabetes mellitus (DM) dengan penyakit kardiovaskular sangat erat kaitannya. Pasien dengan diabetes mellitus risiko menderita penyakit kardiovaskular meningkat menjadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menimpa populasi usia di bawah 60 tahun, usia produktif. Kondisi ini berdampak

BAB I PENDAHULUAN. menimpa populasi usia di bawah 60 tahun, usia produktif. Kondisi ini berdampak BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit jantung dan stroke yang tergolong dalam penyakit kardiovaskular adalah pembunuh nomor satu di seluruh dunia. Lebih dari 80% kematian akibat penyakit kardiovaskular

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (dipengaruhi oleh susunan saraf otonom) (Syaifuddin, 2006). Pembuluh

BAB I PENDAHULUAN. (dipengaruhi oleh susunan saraf otonom) (Syaifuddin, 2006). Pembuluh 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Kardiovaskuler merupakan sebuah organ yang terdiri dari otot dan bekerja menyerupai otot polos, yaitu bekerja di luar kemauan kita (dipengaruhi oleh susunan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sindrom Koroner Akut (SKA) adalah salah satu manifestasi klinis

BAB I PENDAHULUAN. Sindrom Koroner Akut (SKA) adalah salah satu manifestasi klinis BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Sindrom Koroner Akut (SKA) adalah salah satu manifestasi klinis Penyakit Jantung Koroner (PJK) yang utama dan paling sering mengakibatkan kematian. Kasus ini menyebabkan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Ruang lingkup penelitian 1. Ruang Lingkup Keilmuan Ruang lingkup keilmuan pada penelitian ini adalah ilmu penyakit dalam. 2. Waktu Pengambilan Sampel Waktu pengambilan sampel

Lebih terperinci

Normal EKG untuk Paramedis. dr. Ahmad Handayani dr. Hasbi Murdhani

Normal EKG untuk Paramedis. dr. Ahmad Handayani dr. Hasbi Murdhani Normal EKG untuk Paramedis dr. Ahmad Handayani dr. Hasbi Murdhani Anatomi Jantung & THE HEART Konsep dasar elektrokardiografi Sistem Konduksi Jantung Nodus Sino-Atrial (SA) - pada pertemuan SVC dg atrium

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Infark miokard akut (IMA) adalah nekrosis miokard akibat

BAB 1 PENDAHULUAN. Infark miokard akut (IMA) adalah nekrosis miokard akibat BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Infark miokard akut (IMA) adalah nekrosis miokard akibat ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen otot jantung (Siregar, 2011). Penyebab IMA yang

Lebih terperinci

Identifikasi Karakter Temporal dan Potensial Listrik Statis Pada Elektrokardiografi (EKG) akibat Penyakit Otot Jantung Myocardial Infarction (MI)

Identifikasi Karakter Temporal dan Potensial Listrik Statis Pada Elektrokardiografi (EKG) akibat Penyakit Otot Jantung Myocardial Infarction (MI) Identifikasi Karakter Temporal dan Potensial Listrik Statis Pada Elektrokardiografi (EKG) akibat Penyakit Otot Jantung Myocardial Infarction (MI) Andi Naslisa Bakpas1, Wira Bahari Nurdin, dan Sri Suryani

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. SL, Cotran RS, Kumar V, 2007 dalam Pratiwi, 2012). Infark miokard

BAB 1 PENDAHULUAN. SL, Cotran RS, Kumar V, 2007 dalam Pratiwi, 2012). Infark miokard BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Infark miokard akut (IMA) atau yang lebih dikenal dengan serangan jantung adalah suatu keadaan dimana suplai darah pada suatu bagian jantung terhenti sehingga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kardiovaskuler secara cepat di negara maju dan negara berkembang.

BAB I PENDAHULUAN. kardiovaskuler secara cepat di negara maju dan negara berkembang. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini perubahan pola hidup yang terjadi meningkatkan prevalensi penyakit jantung dan berperan besar pada mortalitas serta morbiditas. Penyakit jantung diperkirakan

Lebih terperinci

JANTUNG 4 RUANG POMPA ATRIUM KA/KI, VENTRIKEL KA/KI SISTEM HANTAR KHUSUS YANG MENGHANTARKAN IMPULS LISTRIK DARI ATRIUM KE VENTRIKEL : 1.

JANTUNG 4 RUANG POMPA ATRIUM KA/KI, VENTRIKEL KA/KI SISTEM HANTAR KHUSUS YANG MENGHANTARKAN IMPULS LISTRIK DARI ATRIUM KE VENTRIKEL : 1. ELEKTROKARDIOGRAFI ILMU YANG MEMPELAJARI AKTIFITAS LISTRIK JANTUNG ELEKTROKARDIOGRAM (EKG) SUATU GRAFIK YANG MENGGAMBARKAN REKAMAN LISTRIK JANTUNG NILAI DIAGNOSTIK EKG PADA KEADAAN KLINIS : ARITMIA JANTUNG

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP PASIEN TERHADAP PERILAKU MOBILISASI DINI PADA PASIEN AMI DI RUANG ICU RSUD UNGARAN

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP PASIEN TERHADAP PERILAKU MOBILISASI DINI PADA PASIEN AMI DI RUANG ICU RSUD UNGARAN HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP PASIEN TERHADAP PERILAKU MOBILISASI DINI PADA PASIEN AMI DI RUANG ICU RSUD UNGARAN Cahyaning Wijayanti* Yunani** Abstrak Latar Belakang: Tingkat kekambuhan

Lebih terperinci

Hubungan antara Kadar Troponin T dengan Fungsi Diastolik Ventrikel Kiri pada Pasien Sindrom Koroner Akut di RS Al Islam Bandung Tahun 2014

Hubungan antara Kadar Troponin T dengan Fungsi Diastolik Ventrikel Kiri pada Pasien Sindrom Koroner Akut di RS Al Islam Bandung Tahun 2014 Prosiding Pendidikan Dokter ISSN: 2460-657X Hubungan antara Kadar Troponin T dengan Fungsi Diastolik Ventrikel Kiri pada Pasien Sindrom Koroner Akut di RS Al Islam Bandung Tahun 2014 1 M.Fajar Sidiq, 2

Lebih terperinci

A. Pengukuran tekanan darah secara tidak langsung

A. Pengukuran tekanan darah secara tidak langsung Materi 3 Kardiovaskular III A. Pengukuran tekanan darah secara tidak langsung Tujuan a. Mengukur tekanan darah arteri dengan cara palpasi b. Mengukur tekanan darah arteri dengan cara auskultasi Dasar Teori

Lebih terperinci

Ns. Furaida Khasanah, M.Kep Medical surgical department

Ns. Furaida Khasanah, M.Kep Medical surgical department Ns. Furaida Khasanah, M.Kep Medical surgical department Survey WHO, 2009 : angka kematian akibat penyakit kardiovaskular terus meningkat, thn 2015 diperkirakan 20 juta kematian DKI Jakarta berdasarkan

Lebih terperinci

UNIVERSITAS GADJAH MADA

UNIVERSITAS GADJAH MADA UNIVERSITAS GADJAH MADA FAKULTAS KEDOKTERAN PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN Jl. Farmako Sekip Utara Yogyakarta Buku 2: RKPM Rencana Kegiatan Pembelajaran Mingguan Modul Pembelajaran Pertemuan ke-12 Modul

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian ini mencakup bidang fisiologi dan ergonomi. Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan menggunakan

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian ini mencakup bidang fisiologi dan ergonomi. Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan menggunakan BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang lingkup penelitian Penelitian ini mencakup bidang fisiologi dan ergonomi. 4.2 Tempat dan waktu penelitian Penelitian ini telah dilakukan di kelompok pengrajin batik tulis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Penyakit jantung koroner (PJK) atau di kenal dengan Coronary Artery

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Penyakit jantung koroner (PJK) atau di kenal dengan Coronary Artery BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit jantung koroner (PJK) atau di kenal dengan Coronary Artery Disease (CAD) merupakan suatu penyakit yang terjadi ketika arteri yang mensuplai darah untuk dinding

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang. Gagal jantung adalah keadaan patofisiologi dimana jantung sebagai pompa

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang. Gagal jantung adalah keadaan patofisiologi dimana jantung sebagai pompa BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Gagal jantung adalah keadaan patofisiologi dimana jantung sebagai pompa tidak mampu memenuhi kebutuhan darah untuk metabolisme jaringan (Ruhyanudin, 2007). Gagal jantung

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penyempitan pembuluh darah, penyumbatan atau kelainan pembuluh

BAB I PENDAHULUAN. penyempitan pembuluh darah, penyumbatan atau kelainan pembuluh BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit Jantung Koroner (PJK) adalah suatu akibat terjadinya penyempitan pembuluh darah, penyumbatan atau kelainan pembuluh koroner. Penyumbatan atau penyempitan pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. utama pada sebagian besar negara-negara maju maupun berkembang di seluruh

BAB I PENDAHULUAN. utama pada sebagian besar negara-negara maju maupun berkembang di seluruh BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit kardiovaskular dewasa ini telah menjadi masalah kesehatan utama pada sebagian besar negara-negara maju maupun berkembang di seluruh dunia. Hal ini sebagian

Lebih terperinci

Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin

Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin Identifikasi Karakter Temporal dan Potensial Listrik Statis dari Kompleks QRS dan Segmen ST Elektrokardiogram (EKG) Pada Penderita dengan Kelainan Jantung Hipertrofi Ventrikel Kiri Hariati 1, Wira Bahari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menggambarkan pasien yang datang dengan Unstable Angina Pectoris. (UAP) atau dengan Acute Myocard Infark (AMI) baik dengan elevasi

BAB I PENDAHULUAN. menggambarkan pasien yang datang dengan Unstable Angina Pectoris. (UAP) atau dengan Acute Myocard Infark (AMI) baik dengan elevasi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Istilah Acute Coronary Syndrome (ACS) digunakan untuk menggambarkan pasien yang datang dengan Unstable Angina Pectoris (UAP) atau dengan Acute Myocard Infark

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Response time merupakan waktu tanggap yang dilakukan kepada pasien saat pasien tiba sampai mendapat tanggapan atau respon dari petugas Instalasi Gawat Darurat dengan

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian adalah Ilmu Penyakit Saraf. Penelitian dilakukan di Bangsal Rawat Inap Penyakit Saraf RS Dr.

BAB 3 METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian adalah Ilmu Penyakit Saraf. Penelitian dilakukan di Bangsal Rawat Inap Penyakit Saraf RS Dr. 36 BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Ruang lingkup penelitian Ruang lingkup penelitian adalah Ilmu Penyakit Saraf 3.2 Tempat dan waktu penelitian Penelitian dilakukan di Bangsal Rawat Inap Penyakit Saraf RS

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian ini adalah penelitian di bidang Ilmu Penyakit Dalam. Waktu: Waktu penelitian dilaksanakan pada Maret-Juli 2013.

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian ini adalah penelitian di bidang Ilmu Penyakit Dalam. Waktu: Waktu penelitian dilaksanakan pada Maret-Juli 2013. BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini adalah penelitian di bidang Ilmu Penyakit Dalam. 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian Tempat: Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat

Lebih terperinci

UNIVERSITAS GADJAH MADA

UNIVERSITAS GADJAH MADA UNIVERSITAS GADJAH MADA FAKULTAS KEDOKTERAN PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN Jl. Farmako Sekip Utara Yogyakarta Buku 2: RKPM Rencana Kegiatan Pembelajaran Mingguan Modul Pembelajaran Pertemuan ke-9 Modul

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit jantung koroner (PJK) atau iskemia miokard, adalah penyakit yang ditandai dengan iskemia (suplai darah berkurang) dari otot jantung, biasanya karena penyakit

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Penyebab terjadinya IMANEST dapat disebabkan oleh rupturnya plak. (Liwang dan Wijaya, 2014; PERKI, 2015).

BAB I PENDAHULUAN. Penyebab terjadinya IMANEST dapat disebabkan oleh rupturnya plak. (Liwang dan Wijaya, 2014; PERKI, 2015). BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sindroma koroner akut merupakan terminologi yang digunakan untuk menggambarkan terjadinya infark/iskemik miokard yang terjadi secara akut. Keadaan ini biasanya disebabkan

Lebih terperinci

BAB II TEORI DASAR. Gambar 2.1 Anatomi Jantung

BAB II TEORI DASAR. Gambar 2.1 Anatomi Jantung 4 BAB II TEORI DASAR 2.1. Jantung Jantung merupakan otot tubuh yang bersifat unik karena mempunyai sifat membentuk impuls secara automatis dan berkontraksi ritmis [4], yang berupa dua pompa yang dihubungkan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 32 HASIL DAN PEMBAHASAN Pemeriksaan Fisik Keseluruhan anjing yang dipergunakan pada penelitian diperiksa secara klinis dan dinyatakan sehat sesuai dengan klasifikasi status klas I yang telah ditetapkan

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 5 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penyakit Jantung Koroner 2.1.1 Definisi Penyakit jantung koroner adalah penyakit pada pembuluh darah arteri koroner yang terdapat di jantung, yaitu terjadinya penyempitan dan

Lebih terperinci

STRUKTUR DAN FUNGSI SISTEM KARDIOVASKULER

STRUKTUR DAN FUNGSI SISTEM KARDIOVASKULER STRUKTUR DAN FUNGSI SISTEM KARDIOVASKULER Tujuan Pembelajaran Menjelaskan anatomi dan fungsi struktur jantung : Lapisan jantung, atrium, ventrikel, katup semilunar, dan katup atrioventrikular Menjelaskan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Elektrokardiografi (EKG) pada infark miokardial akut (IMA) 2.1.1 Peran EKG pada IMA Penyakit jantung koroner (PJK) saat ini merupakan salah satu penyebab utama kematian di negara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit kardiovaskuler memiliki banyak macam, salah satunya adalah

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit kardiovaskuler memiliki banyak macam, salah satunya adalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit kardiovaskuler memiliki banyak macam, salah satunya adalah sindrom koroner akut (Lilly, 2011). Sindom koroner akut (SKA) adalah istilah yang dipakai untuk menyatakan

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN LAMA WAKTU TANGGAP PERAWAT PADA PENANGANAN ASMA DI INSTALASI GAWAT DARURAT RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN LAMA WAKTU TANGGAP PERAWAT PADA PENANGANAN ASMA DI INSTALASI GAWAT DARURAT RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN LAMA WAKTU TANGGAP PERAWAT PADA PENANGANAN ASMA DI INSTALASI GAWAT DARURAT RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL Nazwar Hamdani Rahil INTISARI Latar Belakang : Kecenderungan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan penyakit yang menyerang

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan penyakit yang menyerang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan penyakit yang menyerang jantung. Organ tersebut memiliki fungsi memompa darah ke seluruh tubuh. Kelainan pada organ tersebut

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. Ruang Lingkup Keilmuan: Anastesiologi dan Ilmu Penyakit Dalam. Penelitian dimulai pada bulan juni 2013 sampai juli 2013.

BAB IV METODE PENELITIAN. Ruang Lingkup Keilmuan: Anastesiologi dan Ilmu Penyakit Dalam. Penelitian dimulai pada bulan juni 2013 sampai juli 2013. BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Ruang Lingkup Keilmuan: Anastesiologi dan Ilmu Penyakit Dalam. 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian 1) Tempat penelitian: Ruang ICU (Intensive Care Unit)

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan April 2016 di Instalasi Rawat Jalan Poliklinik Penyakit Dalam RSUD Dr. Moewardi Surakarta. B. Jenis Penelitian

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. A. Metode Penelitian. Penelitian ini menggunakan metode penelitian non eksperimental dan

BAB III METODE PENELITIAN. A. Metode Penelitian. Penelitian ini menggunakan metode penelitian non eksperimental dan BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian non eksperimental dan pengambilan data dilakukan dengan pendekatan retrospektif melalui penelusuran terhadap

Lebih terperinci

PANDUAN PELAYANAN RESUSITASI RUMAH SAKIT PUSAT PERTAMINA BAB I

PANDUAN PELAYANAN RESUSITASI RUMAH SAKIT PUSAT PERTAMINA BAB I Lampiran Surat Keputusan Direktur RSPP No. Kpts /B00000/2013-S0 Tanggal 01 Juli 2013 PANDUAN PELAYANAN RESUSITASI RUMAH SAKIT PUSAT PERTAMINA 2 0 1 3 BAB I 0 DEFINISI Beberapa definisi Resusitasi Jantung

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. fungsi aorta dan cabang arteri yang berada di perifer terutama yang memperdarahi

BAB 1 PENDAHULUAN. fungsi aorta dan cabang arteri yang berada di perifer terutama yang memperdarahi BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit Arteri Perifer (PAP) adalah gangguan vaskular yang disebabkan oleh proses aterosklerosis atau tromboemboli yang mengganggu struktur maupun fungsi aorta dan

Lebih terperinci

PENGENALAN CITRA REKAMAN ECG ATRIAL FIBRILATION DAN NORMAL MENGGUNAKAN DEKOMPOSISI WAVELET DAN K-MEAN CLUSTERING

PENGENALAN CITRA REKAMAN ECG ATRIAL FIBRILATION DAN NORMAL MENGGUNAKAN DEKOMPOSISI WAVELET DAN K-MEAN CLUSTERING PENGENALAN CITRA REKAMAN ECG ATRIAL FIBRILATION DAN NORMAL MENGGUNAKAN DEKOMPOSISI WAVELET DAN K-MEAN CLUSTERING Mohamad Sofie 1*, Eka Nuryanto Budi Susila 1, Suryani Alifah 1, Achmad Rizal 2 1 Magister

Lebih terperinci

BAB I. 1.1 Latar Belakang. Atrial fibrilasi (AF) didefinisikan sebagai irama jantung yang

BAB I. 1.1 Latar Belakang. Atrial fibrilasi (AF) didefinisikan sebagai irama jantung yang BAB I 1.1 Latar Belakang Atrial fibrilasi (AF) didefinisikan sebagai irama jantung yang abnormal dengan aktivitas listrik jantung yang cepat dan tidak beraturan. Hal ini mengakibatkan atrium bekerja terus

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KESEMBUHAN PASIEN PENDERITA DEMAM TYPHOID DI RUANG PERAWATAN INTERNA RSUD KOTA MAKASSAR

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KESEMBUHAN PASIEN PENDERITA DEMAM TYPHOID DI RUANG PERAWATAN INTERNA RSUD KOTA MAKASSAR FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KESEMBUHAN PASIEN PENDERITA DEMAM TYPHOID DI RUANG PERAWATAN INTERNA RSUD KOTA MAKASSAR Siti Nasrah 1, Andi Intang 2, Burhanuddin Bahar 3 1 STIKES Nani Hasanuddin

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit jantung, stroke, dan penyakit periferal arterial merupakan penyakit yang mematikan. Di seluruh dunia, jumlah penderita penyakit ini terus bertambah. Pada

Lebih terperinci

Persutujuan Pembimbing. Jurnal

Persutujuan Pembimbing. Jurnal Persutujuan Pembimbing Jurnal HUBUNGAN PERILAKU MEROKOK DENGAN KEJADIAN PENYAKIT JANTUNG KORONER DI POLI KLINIK JANTUNG DI RSUD PROF. DR. H. ALOEI SABOE KOTA GORONTALO Oleh STELLI MAKALEW (NIM. 841410058,

Lebih terperinci

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian di bidang ilmu Kardiovaskuler.

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian di bidang ilmu Kardiovaskuler. BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian di bidang ilmu Kardiovaskuler. 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian 4.2.1 Tempat Penelitian Penelitian ini akan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Sindroma Koroner Akut (SKA) merupakan manifestasi klinis akut penyakit

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Sindroma Koroner Akut (SKA) merupakan manifestasi klinis akut penyakit BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sindroma Koroner Akut (SKA) merupakan manifestasi klinis akut penyakit jantung koroner (PJK) yangmemiliki risiko komplikasi serius bahkan kematian penderita. Penyakit

Lebih terperinci

Evangeline Hutabarat dan Wiwin Wintarsih. Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan penyebab kematian nomor 1 dinegaranegara

Evangeline Hutabarat dan Wiwin Wintarsih. Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan penyebab kematian nomor 1 dinegaranegara GAMBARAN STRES PSIKOLOGIS SEBAGAI PENCETUS SERANGAN ULANG NYERI DADA PADA KLIEN PENYAKIT JANTUNG KORONER BERDASARKAN KARAKTERISTIK DI RUANG PERAWATAN VIII RS. DUSTIRA CIMAHI Evangeline Hutabarat dan Wiwin

Lebih terperinci

Hubungan Antara Index Masa Tubuh (Imt) Dan Kadar Hemoglobin Dengan Proses Penyembuhan Luka Post Operasi Laparatomi

Hubungan Antara Index Masa Tubuh (Imt) Dan Kadar Hemoglobin Dengan Proses Penyembuhan Luka Post Operasi Laparatomi Hubungan Antara Index Masa Tubuh (Imt) Dan Kadar Hemoglobin Dengan Proses Penyembuhan Luka Post Operasi Laparatomi (Body Mass Index And Hemoglobin Level Related To Wound Healing Of Patients Undergoing

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. darah tinggi, stroke, sakit di dada (angina) dan penyakit jantung rematik.

BAB I PENDAHULUAN. darah tinggi, stroke, sakit di dada (angina) dan penyakit jantung rematik. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan Penyakit jantung adalah penyakit yang mengganggu sistem pembuluh darah atau lebih tepatnya menyerang jantung dan urat-urat darah, beberapa contoh penyakit

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. B. Tempat Penelitian dilakukan di ICVCU Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Surakarta

BAB III METODE PENELITIAN. B. Tempat Penelitian dilakukan di ICVCU Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Surakarta BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimental dengan metode studi pre dan post, single blind dan randomized control trial (RCT). Pengambilan

Lebih terperinci

PENGARUH PENERAPAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN HALUSINASI TERHADAP KEMAMPUAN KLIEN MENGONTROL HALUSINASI DI RSKD DADI MAKASSAR

PENGARUH PENERAPAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN HALUSINASI TERHADAP KEMAMPUAN KLIEN MENGONTROL HALUSINASI DI RSKD DADI MAKASSAR PENGARUH PENERAPAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN HALUSINASI TERHADAP KEMAMPUAN KLIEN MENGONTROL HALUSINASI DI RSKD DADI MAKASSAR Purniaty Kamahi 1, Sudirman 2, H. Muhammad Nur 3 1 STIKES Nani Hasanuddin

Lebih terperinci

Penatalaksanaan Astigmatism No. Dokumen : No. Revisi : Tgl. Terbit : Halaman :

Penatalaksanaan Astigmatism No. Dokumen : No. Revisi : Tgl. Terbit : Halaman : 1. Pengertian Angina pektoris ialah suatu sindrom klinis berupa serangan nyeri dada yang khas, yaitu seperti rasa ditekan atau terasa berat di dada yang sering menjalar ke lengan kiri. Nyeri dada tersebut

Lebih terperinci

TINGKAT KECEMASAN KELUARGA DALAM MENGHADAPI ANGGOTA KELUARGA YANG MENGALAMI SERANGAN STROKE DI RUANG STROKE RUMAH SAKIT FAISAL MAKASSAR

TINGKAT KECEMASAN KELUARGA DALAM MENGHADAPI ANGGOTA KELUARGA YANG MENGALAMI SERANGAN STROKE DI RUANG STROKE RUMAH SAKIT FAISAL MAKASSAR 892 TINGKAT KECEMASAN KELUARGA DALAM MENGHADAPI ANGGOTA KELUARGA YANG MENGALAMI SERANGAN STROKE DI RUANG STROKE RUMAH SAKIT FAISAL MAKASSAR * Yourisna Pasambo * Dosen Tetap Akademi Keperawatan Sandi Karsa

Lebih terperinci

SOP ECHOCARDIOGRAPHY TINDAKAN

SOP ECHOCARDIOGRAPHY TINDAKAN SOP ECHOCARDIOGRAPHY N O A B C FASE PRA INTERAKSI TINDAKAN 1. Membaca dokumentasi keperawatan. 2. Menyiapkan alat-alat : alat echocardiography, gel, tissu. 3. Mencuci tangan. FASE ORIENTASI 1. Memberikan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. American Heart Association, 2014; Stroke forum, 2015). Secara global, 15 juta

BAB 1 PENDAHULUAN. American Heart Association, 2014; Stroke forum, 2015). Secara global, 15 juta BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Stroke merupakan penyebab kematian ketiga di dunia setelah penyakit jantung koroner dan kanker baik di negara maju maupun negara berkembang. Satu dari 10 kematian disebabkan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini termasuk penelitian observasional.dan menggunakan

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini termasuk penelitian observasional.dan menggunakan BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini termasuk penelitian observasional.dan menggunakan metode pendekatan cross sectional yaitu mengukur variabel bebas aktivitas olahraga dan variabel

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Rumah sakit adalah industri yang bergerak di bidang pelayanan jasa

BAB I PENDAHULUAN. Rumah sakit adalah industri yang bergerak di bidang pelayanan jasa BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rumah sakit adalah industri yang bergerak di bidang pelayanan jasa kesehatan yang tujuan utamanya memberikan pelayanan jasa terhadap masyarakat sebagai usaha meningkatkan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Jantung Elektrofisiologi jantung Aktivitas listrik jantung merupakan perubahan permeabilitas membran sel,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Jantung Elektrofisiologi jantung Aktivitas listrik jantung merupakan perubahan permeabilitas membran sel, 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Jantung 2.1.1. Elektrofisiologi jantung Aktivitas listrik jantung merupakan perubahan permeabilitas membran sel, yang menyebabkan terjadinya pergerakan ion yang keluar-masuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan oksigen miokard. Biasanya disebabkan ruptur plak dengan formasi. trombus pada pembuluh koroner (Zafari, 2011).

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan oksigen miokard. Biasanya disebabkan ruptur plak dengan formasi. trombus pada pembuluh koroner (Zafari, 2011). BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Infark miokard merupakan perkembangan yang cepat dari nekrosis miokard yang berkepanjangan dikarenakan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen miokard.

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di RSUD Dr. Moewardi Surakarta terutama di Instalasi Rekam Medik dan dilaksanakan pada Agustus 2015 Januari 2016. B. Jenis

Lebih terperinci

HUBUNGAN BEBAN KERJA DENGAN JUMLAH PERAWAT DI PUSKESMAS WAEPANA KECAMATAN SOA KABUPATEN NGADA PROPINSI NTT TAHUN 2013

HUBUNGAN BEBAN KERJA DENGAN JUMLAH PERAWAT DI PUSKESMAS WAEPANA KECAMATAN SOA KABUPATEN NGADA PROPINSI NTT TAHUN 2013 HUBUNGAN BEBAN KERJA DENGAN JUMLAH PERAWAT DI PUSKESMAS WAEPANA KECAMATAN SOA KABUPATEN NGADA PROPINSI NTT TAHUN 203 Paulinus Masa Sato, Adriani Kadir 3 STIKES Nani Hasanuddin Makassar 2 STIKES Nani Hasanuddin

Lebih terperinci

tahun 2004 diperkirakan jumlah tindakan pembedahan sekitar 234 juta per tahun (Weiser, et al,

tahun 2004 diperkirakan jumlah tindakan pembedahan sekitar 234 juta per tahun (Weiser, et al, BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jumlah tindakan pembedahan di dunia sangat besar, hasil penelitian di 56 negara pada tahun 2004 diperkirakan jumlah tindakan pembedahan sekitar 234 juta per tahun (Weiser,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. darah. Kejadian hipertensi secara terus-menerus dapat menyebabkan. dapat menyebabkan gagal ginjal (Triyanto, 2014).

BAB 1 PENDAHULUAN. darah. Kejadian hipertensi secara terus-menerus dapat menyebabkan. dapat menyebabkan gagal ginjal (Triyanto, 2014). BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit hipertensi merupakan the silent disease karena orang tidak mengetahui dirinya terkena hipertensi sebelum memeriksakan tekanan darah. Kejadian hipertensi secara

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. dunia. Prevalensi stroke meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Selain itu,

BAB 1 PENDAHULUAN. dunia. Prevalensi stroke meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Selain itu, BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Stroke dan penyakit jantung adalah penyebab utama kematian dan kecacatan di dunia. Prevalensi stroke meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Selain itu, stroke

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERUBAHAN KONSEP DIRI PADA PASIEN HARGA DIRI RENDAH DI RUMAH SAKIT KHUSUS DAERAH PROV.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERUBAHAN KONSEP DIRI PADA PASIEN HARGA DIRI RENDAH DI RUMAH SAKIT KHUSUS DAERAH PROV. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERUBAHAN KONSEP DIRI PADA PASIEN HARGA DIRI RENDAH DI RUMAH SAKIT KHUSUS DAERAH PROV. SULAWESI SELATAN Beatris F. Lintin 1. Dahrianis 2. H. Muh. Nur 3 1 Stikes Nani Hasanuddin

Lebih terperinci

Universitas Indonusa Esa Unggul FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT Jurusan Perekam Medis dan Informasi Kesehatan ANATOMI FISIOLOGI

Universitas Indonusa Esa Unggul FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT Jurusan Perekam Medis dan Informasi Kesehatan ANATOMI FISIOLOGI Universitas Indonusa Esa Unggul FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT Jurusan Perekam Medis dan Informasi Kesehatan ANATOMI FISIOLOGI Conducted by: Jusuf R. Sofjan,dr,MARS 2/17/2016 1 Jantung merupakan organ otot

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. seluruh dunia. Fenomena yang terjadi sejak abad ke-20, penyakit jantung dan UKDW

BAB I PENDAHULUAN. seluruh dunia. Fenomena yang terjadi sejak abad ke-20, penyakit jantung dan UKDW BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Penyakit jantung saat ini telah menjadi masalah serius di Indonesia bahkan di seluruh dunia. Fenomena yang terjadi sejak abad ke-20, penyakit jantung dan pembuluh darah

Lebih terperinci

STIKES Nani Hasanuddin Makassar 2. STIKES Nani Hasanuddin Makassar 3. STIKES Nani Hasanuddin Makassar ABSTRAK

STIKES Nani Hasanuddin Makassar 2. STIKES Nani Hasanuddin Makassar 3. STIKES Nani Hasanuddin Makassar ABSTRAK FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EFEKTIFITAS PELAKSANAAN PENDOKUMENTASIAN ASUHAN KEPERAWATAN DI INSTALASI RAWAT INAP BEDAH RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ANDI MAKKASAU PAREPARE Sandra Aswar 1, St. Hamsinah 2, Adriani

Lebih terperinci

HUBUNGAN RIWAYAT BBLR DENGAN RETARDASI MENTAL DI SLB YPPLB NGAWI Erwin Kurniasih Akademi Keperawatan Pemkab Ngawi

HUBUNGAN RIWAYAT BBLR DENGAN RETARDASI MENTAL DI SLB YPPLB NGAWI Erwin Kurniasih Akademi Keperawatan Pemkab Ngawi HUBUNGAN RIWAYAT BBLR DENGAN RETARDASI MENTAL DI SLB YPPLB NGAWI Erwin Kurniasih Akademi Keperawatan Pemkab Ngawi Email: nerserwin.08@gmail.com ABSTRAK Retardasi mental merupakan salah satu gangguan yang

Lebih terperinci

Oleh. Lila Fauzi, Anita Istiningtyas 1, Ika Subekti Wulandari 2. Abstrak

Oleh. Lila Fauzi, Anita Istiningtyas 1, Ika Subekti Wulandari 2. Abstrak PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN STIKES KUSUMA HUSADA SURAKARTA 2015 FAKTOR FAKTOR INTRINSIK YANG MEMPENGARUHI MOTIVASI PERAWAT DALAM PENANGANAN PASIEN CEDERA KEPALA DI INSTALASI GAWAT DARURAT RSUD KARANGANYAR

Lebih terperinci

dari inti yang banyak mengandung lemak dan adanya infiltrasi sel makrofag. Biasanya ruptur terjadi pada tepi plak yang berdekatan dengan intima yang

dari inti yang banyak mengandung lemak dan adanya infiltrasi sel makrofag. Biasanya ruptur terjadi pada tepi plak yang berdekatan dengan intima yang Definisi Sindroma koroner akut adalah spektrum manifestasi akut dan berat yang merupakan keadaan kegawatdaruratan dari koroner akibat ketidakseimbangan antara kebutuhan oksigen miokardium dan aliran darah

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. bedah pada anak yang paling sering ditemukan. Kurang lebih

BAB 1 PENDAHULUAN. bedah pada anak yang paling sering ditemukan. Kurang lebih BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Sekitar 5%-10% dari seluruh kunjungan di Instalasi Rawat Darurat bagian pediatri merupakan kasus nyeri akut abdomen, sepertiga kasus yang dicurigai apendisitis didiagnosis

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi, Klasifikasi dan Komplikasi Sindroma Koroner Akut SKA adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan simptom yang disebabkan oleh iskemik miokard akut. SKA yang

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. otak yang terganggu ( World Health Organization, 2005). Penyakit stroke

BAB 1 PENDAHULUAN. otak yang terganggu ( World Health Organization, 2005). Penyakit stroke BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Stroke merupakan suatu gangguan disfungsi neurologist akut yang disebabkan oleh gangguan peredaran darah, dan terjadi secara mendadak (dalam beberapa detik) atau setidak-tidaknya

Lebih terperinci

Jurnal Einstein 2 (3) (2014): Jurnal Einstein. Available online

Jurnal Einstein 2 (3) (2014): Jurnal Einstein. Available online Jurnal Einstein Available online http://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/einstein RANCANG BANGUN INSTRUMENTASI ELEKTROKARDIOGRAFI BERBANTUAN PC MENGGUNAKAN SOUNDSCOPE Evi Ulandari dan Ridwan Abdullah

Lebih terperinci

BAB I. Pendahuluan. I.1 Latar Belakang. Angina adalah tipe nyeri dada yang disebabkan oleh. berkurangnya aliran darah ke otot jantung.

BAB I. Pendahuluan. I.1 Latar Belakang. Angina adalah tipe nyeri dada yang disebabkan oleh. berkurangnya aliran darah ke otot jantung. BAB I Pendahuluan I.1 Latar Belakang Angina adalah tipe nyeri dada yang disebabkan oleh berkurangnya aliran darah ke otot jantung. Angina seringkali digambarkan sebagai remasan, tekanan, rasa berat, rasa

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. dan mortalitas yang tinggi di dunia. Menurut data World Health Organization

BAB 1 PENDAHULUAN. dan mortalitas yang tinggi di dunia. Menurut data World Health Organization BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit kardiovaskuler merupakan masalah kesehatan dengan morbiditas dan mortalitas yang tinggi di dunia. Menurut data World Health Organization (WHO), penyakit kardiovaskuler

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Stroke Menurut World Health Organization (WHO) (2001) seperti yang

BAB I PENDAHULUAN. Stroke Menurut World Health Organization (WHO) (2001) seperti yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Stroke Menurut World Health Organization (WHO) (2001) seperti yang dikutip Junaidi (2011) adalah suatu sindrom klinis dengan gejala berupa gangguan, fungsi otak secara

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. darah termasuk penyakit jantung koroner, gagal jantung kongestif, infark

BAB 1 PENDAHULUAN. darah termasuk penyakit jantung koroner, gagal jantung kongestif, infark BAB 1 PENDAHULUAN 1. Latar belakang Penyakit kardiovaskular merupakan gangguan pada jantung dan pembuluh darah termasuk penyakit jantung koroner, gagal jantung kongestif, infark miokardium, penyakit vaskular

Lebih terperinci

STIKES Nani Hasanuddin Makassar 2. STIKES Nani Hasanuddin Makassar. (Alamat Respondensi: ABSTRAK

STIKES Nani Hasanuddin Makassar 2. STIKES Nani Hasanuddin Makassar. (Alamat Respondensi: ABSTRAK HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN MOTIVASI TENTANG PEMERIKSAAN PAYUDARA SENDIRI DALAM MENCEGAH PENYAKIT CA MAMAE PADA MAHASISWI KEBIDANAN STIKES NANI HASANUDDIN MAKASSAR Lyssa Sumiarsih 1, H. Syamsul Rijal 2 1

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Paru-paru merupakan organ utama yang sangat penting bagi kelangsungan

BAB I PENDAHULUAN. Paru-paru merupakan organ utama yang sangat penting bagi kelangsungan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Paru-paru merupakan organ utama yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia. Fungsi utama dari paru-paru adalah untuk proses respirasi. Respirasi merupakan proses

Lebih terperinci

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan studi cross-sectional untuk melihat gambaran secara deskriptif analisis mengenai faktor-faktor risiko penyakit kardiovaskular

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Gagal jantung adalah sindroma klinis yang kompleks yang timbul akibat kelainan struktur dan atau fungsi jantung yang mengganggu kemampuan ventrikel kiri dalam mengisi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. data statistik yang menyebutkan bahwa di Amerika serangan jantung. oleh penyakit jantung koroner. (WHO, 2011).

BAB I PENDAHULUAN. data statistik yang menyebutkan bahwa di Amerika serangan jantung. oleh penyakit jantung koroner. (WHO, 2011). BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Serangan jantung merupakan penyakit mematikan nomor satu di dunia. Banyak data statistik yang menyebutkan bahwa di Amerika serangan jantung menempati posisi pertama

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Gagal ginjal kronik atau penyakit ginjal tahap akhir adalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Gagal ginjal kronik atau penyakit ginjal tahap akhir adalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gagal ginjal kronik atau penyakit ginjal tahap akhir adalah penyimpangan progresif, fungsi ginjal yang tidak dapat pulih dimana kemampuan tubuh untuk mempertahankan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Stroke merupakan gangguan neurologis fokal maupun global yang terjadi

BAB I PENDAHULUAN. Stroke merupakan gangguan neurologis fokal maupun global yang terjadi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Stroke merupakan gangguan neurologis fokal maupun global yang terjadi mendadak akibat proses patofisiologi pembuluh darah. 1 Terdapat dua klasifikasi umum stroke yaitu

Lebih terperinci

ABSTRAK HUBUNGAN DUKUNGAN ORANG TUA DENGAN TINDAKAN INVASIF PEMASANGAN INFUS PADA ANAK USIA BALITA (1-5 TAHUN) DI RUMAH SAKIT IBNU SINA MAKASSAR

ABSTRAK HUBUNGAN DUKUNGAN ORANG TUA DENGAN TINDAKAN INVASIF PEMASANGAN INFUS PADA ANAK USIA BALITA (1-5 TAHUN) DI RUMAH SAKIT IBNU SINA MAKASSAR ABSTRAK HUBUNGAN DUKUNGAN ORANG TUA DENGAN TINDAKAN INVASIF PEMASANGAN INFUS PADA ANAK USIA BALITA (1-5 TAHUN) DI RUMAH SAKIT IBNU SINA MAKASSAR ASTATI Sakit dan dirawat di rumah sakit merupakan krisis

Lebih terperinci

KINERJA PERAWAT DALAM PEMBERIAN ASUHAN KEPERAWATAN DI RUMAH SAKIT TK II PUTRI HIJAU MEDAN

KINERJA PERAWAT DALAM PEMBERIAN ASUHAN KEPERAWATAN DI RUMAH SAKIT TK II PUTRI HIJAU MEDAN KINERJA PERAWAT DALAM PEMBERIAN ASUHAN KEPERAWATAN DI RUMAH SAKIT TK II PUTRI HIJAU MEDAN Desri Natalia Siahaan*, Mula Tarigan** *Mahasiswa Fakultas Keperawatan USU ** Dosen Departemen Keperawatan Dasar

Lebih terperinci

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN AV BLOK TOTAL DAN DM TIPE 2 NON OBESITAS DI RUANG ICCU RS DR SARDJITO YOGYAKARTA

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN AV BLOK TOTAL DAN DM TIPE 2 NON OBESITAS DI RUANG ICCU RS DR SARDJITO YOGYAKARTA LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN AV BLOK TOTAL DAN DM TIPE 2 NON OBESITAS DI RUANG ICCU RS DR SARDJITO YOGYAKARTA Laporan Tugas Asuhan Keperawatan Kasus Kelolaan Praktek Profesi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Ruang Lingkup A.1. Ruang lingkup keilmuan Ruang lingkup keilmuan pada penelitian ini adalah ilmu kesehatan masyarakat dan ilmu penyakit dalam A.2. Ruang lingkup responden Responden

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas tulang atau tulang rawan umumnya di karenakan rudapaksa (Mansjoer, 2008). Dikehidupan sehari hari yang semakin

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. khususnya nefrologi dan endokrinologi.

BAB IV METODE PENELITIAN. khususnya nefrologi dan endokrinologi. BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah Ilmu Penyakit Dalam khususnya nefrologi dan endokrinologi. 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini telah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. jantung koroner yang utama dan paling sering mengakibatkan kematian (Departemen

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. jantung koroner yang utama dan paling sering mengakibatkan kematian (Departemen BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Acute coronary syndrome (ACS) adalah salah satu manifestasi klinis penyakit jantung koroner yang utama dan paling sering mengakibatkan kematian (Departemen Kesehatan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. kemajuan kesehatan suatu negara. Menurunkan angka kematian bayi dari 34

BAB 1 PENDAHULUAN. kemajuan kesehatan suatu negara. Menurunkan angka kematian bayi dari 34 1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BBLR adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2.500 gram dan merupakan penyumbang tertinggi angka kematian perinatal dan neonatal. Kematian neonatus

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang .

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang . BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kontraksi sel otot jantung untuk menyemprotkan darah dipicu oleh potensial aksi yang menyapu ke seluruh membrane sel otot. Jantung berkontraksi, atau berdenyut secara

Lebih terperinci

ECG ElectroCardioGraphy. Peralatan Diagnostik Dasar, MRM 12

ECG ElectroCardioGraphy. Peralatan Diagnostik Dasar, MRM 12 ECG ElectroCardioGraphy Elektrokardiografi - merekam grafik aktivitas listrik (potensi) yang dihasilkan oleh sistem konduksi dan miokardium jantung selama depolarisasi / re-polarisasi siklus. Akhir 1800-an

Lebih terperinci