Kakao dari Rakyat. editorial ENGINEER MONTHLY

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Kakao dari Rakyat. editorial ENGINEER MONTHLY"

Transkripsi

1

2 editorial Kakao dari Rakyat Dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), kakao (biji cokelat) adalah salah satu komoditas dan industri yang menjadi fokus pengembangan 22 kegiatan ekonomi utama. ENGINEER MONTHLY Pemimpin Umum Ir. Rudianto Handojo Pemimpin Redaksi Ir. Aries R. Prima Editor Ir. Aries R. Prima Ir. Aditya Warman Ir. Mahmudi Kontributor Biro Media PII Koordinator Promosi Ir. Erpandi Dalimunthe, MT Desain Grafis & Layout Elmoudy Freez Sekretariat PII Jl. Halimun 39 Jakarta Telp Fax Website : Melihat fakta bahwa Indonesia adalah penghasil biji kakao terbesar ketiga di dunia, setelah Pantai Gading dan Ghana, tidaklah berlebihan bila kita semua memberi perhatian khusus pada komoditas ini. Bahkan, menurut data dari Kementerian Pertanian di pertengahan tahun 2011, produktivitas Indonesia lebih tinggi dari Pantai Gading dan Ghana, yaitu sebesar 800 kilogram per hektar. Uniknya, lebih dari 90 persen perkebunan kokoa di Indonesia adalah perkebunan rakyat, yang mengelola lahan seluas antara 2 sampai 3 hektar. Artinya setiap kebijakan atau perubahan harga akan berdampak langsung kepada petani kakao. Sejalan dengan peningkatan produksi, ekspor biji kakao ini pun terus meningkat dari tahun ke tahun, walaupun terdapat banyak permasalahan dalam proses produksi, tata niaga, dan industrinya. Center for Engineering and Industrial Policy Studies (CEIPS), sebuah lembaga pengkajian stratejik dari Persatuan Insinyur Indonesia (PII) pada pertengahan Desember lalu mengadakan sebuah diskusi mengenai kakao yang menghadirkan beberapa pembicara dari para pemangku kepentingan di bidang perkakaoan di Indonesia, seperti dari AIKI, ASKINDO, lembaga penelitian kakao, BPPT, dan Kementerian Perindustrian. Banyak hal menarik yang muncul dari diskusi ini yang sebagian besar kami sajikan dalam bagian utama Engineer Monthly kali ini. Tentu saja kami tidak lupa untuk melaporkan sebuah kejadian aktual yang masih banyak diperbincangkan, terutama, oleh kalangan insinyur, yaitu rubuhnya jembatan di Tenggarong, Kutai Kartanegara yang dilengkapi dengan sebuah infografis. Laporan ini masih sebatas pengamatan awal, belum merupakan laporan final, karena masih menunggu data lengkap dari tim investigasi melalui Badan Kejuruan Sipil PII. Selain itu kami juga menyajikan berbagai laporan lain, seperti perkembangan proses RUU Keinsinyuran dan berita kegiatan PII lainnya. Mengingat pentingnya UU keinsinyuran, kami mengajak setiap anggota dan pengurus PII untuk terus mendukung dan mengawal seluruh tahapan prosesnya hingga RUU bisa disahkan menjadi UU. Dalam kesempatan ini, kami mengucapkan selamat Hari Natal kepada semua pembaca, anggota, dan pengurus PII yang merayakannya. Dan tidak lupa kami menyampaikan selamat tahun baru, semoga di tahun mendatang PII dan para insinyur Indonesia akan dapat lebih banyak berkiprah dan berkarya bagi Indonesia yang lebih cerdas dan sejahtera. 2 ENGINEER MONTHLY No. 53 Desember 2011

3 update Bagaimanakah biji kakao diolah menjadi coklat? infografis : Biro Media PII, Desember 2011 No. 53 ENGINEER MONTHLY 3

4 mainframe Kakao : Pahit Manisnya Hidangan Dewa Salah-satu cemilan paling lezat di seluruh muka bumi adalah coklat. Keras-padat l a l u l u m e r d i l i d a h, menghadirk an sensasi manis-pahit, dilatari aroma yang tiada duanya. Sejak 1000 SM, suku-suku bangsa yang mendiami Meso-Amerika-Amerika Tengah sampai bagian utara Amerika Selatan sudah mengonsumsi cokelat, mereka mengolahnya menjadi minuman seperti yang biasa kita temui saat ini. Hanya saja mereka menambahkan rempah-rempah seperti kayu manis, vanila, annatto, bubuk cabai, dan lain sebagainya. Cokelat (Kakao) mempunyai nama ilmiah theobroma, yang berarti "makanan para dewa". Pada tahun 1400-an, suku Aztek yang mengambil-alih sebagian besar Mesoamerika memasukkan kakao ke d a l a m b u d a y a m e r e k a. M e r e k a menggunakan minuman coklat sebagai persembahan kepada dewa. Cokelat berkaitan dengan Xochiquetzal, Dewi Kehamilan. Cokelat berasal dari buah kakao. Bentuknya oval, panjang cm dan lebar 8-10 cm. Jika masak, warna kuning buah tersebut menjadi oranye dan bobotnya sekitar 500 g. Pohon kakao waktu kecil sangat ringkih. Bayi pohon kakao harus dinaungi tajuk pohon induknya agar tidak mati kepanasan. Uniknya, pohon kakao dewasa justru suka sinar matahari yang panas. Kakao hanya tumbuh di khatulistiwa, yang panas dan lembab. Setelah empat tahun, pohon kakao akan menghasilkan kantong warna-warni di batangnya. Itulah buah kakao yang sangat berharga. Permintaan akan cokelat yang semakin tasty terus berkembang, terutama sejak ditemukan mesin pengolah cokelat di masa revolusi industri. Kemudian p e r u b a h a n s i g n i f i k a n d a l a m meningkatkan mutu cokelat terjadi pada tahun 1828 di Belanda. Coenraad van Houten menemukan cara memisahkan bubuk dan minyak kakao dari adonan biji kakao giling. Hal ini m e m b u k a p e n e m u a n - p e n e m u a n berikutnya yang mampu mencampur cokelat berupa cairan kental dan pekat dengan minyak kakao dan gula. Pada abad 19, cokelat yang rasanya lembut di lidah mulai diciptakan di Swiss. Adonan biji kakao giling dimasukkan ke cakram porselen dan dihaluskan selama beberapa jam sehingga menghasilkan cokelat lembut yang lumer di lidah. Proses Grinding and Pressing adalah proses penggerusan biji kakao menjadi serbuk coklat. Yang diinginkan adalah ukuran partikel dibawah 70 mikron. Apa yang terjadi disini? Biji kakao dibersihkan dan dipanggang, kemudian cangkangnya dibuang dan dagingnya diambil. Daging biji kakao kemudian digiling untuk membuat cairan cokelat, yang merupakan padatan kakao dalam mentega cokelat. Kemudian dipisahkan antara mentega cokelat dan padatan. Padatan diproses menjadi bubuk Kakao. Kakao bubuk ada dua jenis, yaitu kakao dengan proses natural dan kakao dengan proses Dutch. Kakao natural sedikit asam, sedangkan kakao dari hasil proses Dutch diperlakukan dengan larutan alkalin untuk menaikkan kadar ph. Proses Dutching menghasilkan cokelatnya lebih lembut dan warna lebih gelap. Karena mentega coklat harganya jauh lebih mahal dari serbuk coklat, maka banyak perusahaan di Indonesia mengganti mentega coklat dengan lemak nabati lainnya. Akibatnya, coklat di Indonesia kehilangan mouth feel -nya. E infografis : Biro Media PII, 2011 Diambil dari berbagai sumber 4 ENGINEER MONTHLY No. 53 Desember 2011

5

6 mainframe Dr. Ing. Ilham A. Habibie, MBA (Ketua CEIPS PII) Tantangan Industri Kakao Nasional Lebih dari 90% perkebunan kakao di Indonesia dimiliki oleh petani perorangan dan sisanya dikelola oleh PTPN/swasta. Perkebunan kakao di Indonesia saat ini setidaknya menghidupi sekitar 1,5 juta petani dan keluarganya. Center For Engineering And (BBIA), antaralain mengatakan bahwa produktivitas Kakao Nasional di tingkat on farm relatif rendah, 1000 kg/ha. Sedangkan Pantai Gading dan Ghana menghasilkan kg/ha. Hal itu terjadi karena bibit yang kurang bermutu, pohon tua, plus adanya 40% tanaman kakao yang terserang hama penggerek. Namun, data lain yang dikeluarkan oleh Kementerian Pertanian (2011) yang digabungkan dengan data dari Centre for the Study of African Economies menyatakan bahwa produktivitas kakao Indonesia adalah yang tertinggi, yaitu sebesar 800 kg/hektar, dibandingkan dengan produktivitas dari Pantai Gading sebesar 764,7 kg/hektar dan Ghana sebesar 400 kg/hektar. Lebih dari 90% perkebunan kakao di Industrial Policy Studies (CEIPS) Indonesia dimiliki oleh petani perorangan PII menyelenggarakan diskusi dan sisanya dikelola oleh PTPN/swasta. 80% Biji kakao nasional diekspor dalam panel tentang peluang dan Perkebunan kakao di Indonesia saat ini bentuk produk primer sehingga proses nilai tantangan Industri Kakao Nasional, di setidaknya menghidupi sekitar 1,5 juta tambah tidak terjadi di dalam negeri. Jakarta, 12-12/2011. Diskusi substansial dan petani dan keluarganya. Padahal menurut UU No. 18 Th 2004 tentang menarik ini dibuka (dan ditutup) Ketua CEIPS Perkebunan (item d) : Mengutamakan hasil Dr. Ing. Ilham Akbar Habibie, yang juga Kakao adalah tanaman pekarangan yang perkebunan dalam negeri untuk memenuhi mengikuti seluruh rangkaian paparan -yang cocok untuk ditanam disela-sela pohon kebutuhan konsumsi dan bahan baku dipandu dengan rapi oleh Dr. Utama kelapa. Kakao menghasilkan devisa terbesar industri. Padmadinata. ketiga setelah kelapa sawit dan karet. Devisa dari kakao pada tahun 2010 mencapai USD Kenyataannya, produksi biji kakao Indonesia Menurut berbagai data yang ditampilkan 1,6 milyar ton/th 2010, sedangkan Singapura dalam diskusi ini, Indonesia adalah produsen tidak memproduksi biji kakao, tetapi negeri biji kakao terbesar ketiga dunia setelah Pada 2011, karena merosotnya nilai tetangga ini mampu memproduksi kakao Pantai Gading dan Ghana. Luas total keekonomisan dan program yang kurang olahan ton/th. perkebunan kakao mencapai 1,6 juta hektar tepat sasaran, produksi kakao Indonesia yang tersebar di seluruh provinsi dari Sabang diperkirakan mengalami penurunan hingga Malaysia yang hanya memproduksi biji sampai Merauke. Demikian juga menurut tinggal sebesar metrik ton (MT). kakao sebesar ton/th, memproduksi Firman Bakri dari Asosiasi Kakao Indonesia kakao olahan ton/th. Produksi kakao (Askindo) dalam paparannya bertajuk Kemudian paparan bertajuk Tantangan Dan olahan Indonesia baru mencapai Permasalahan Pengembangan Kakao S t r a t e g i P e n g e m b a n g a n I n d u s t r i ton/th. E Indonesia. Pengolahan Kakao, yang disampaikan oleh Agus Sudibyo dari Balai Besar Industri Agro 6 ENGINEER MONTHLY No. 53 Desember 2011

7 Kondisi Kakao Nasional : antara produktivitas dan konsumsi mainframe infografis : Biro Media PII, 2011 Senyatanya, teknologi pengolahan Indonesia. bisa menjadi kenyataan karena pada kakao cukup lengkap di Indonesia. Dari Padahal hingga tahun 2001 jumlahnya tahun tersebut total areal perkebunan teknologi pembibitan, budidaya, dan sudah lebih dari 40 perusahaan. k a k a o I n d o n e s i a d i p e r k i r a k a n pasca panen kakao di sektor hulu. Pengenaan PPN bagi industri kakao mencapai 1,35 juta ha dan mampu Kemudian teknologi pembuatan saat itu telah mendorong relokasi menghasilkan 1,3 juta ton/tahun biji pasta, lemak, dan bubuk kakao yang pabrik ke Malaysia dan Singapura. kakao. merupakan industri semi hilir. Dan di sektor hilir sudah ada teknologi Pengembagangan industri kakao bagi Infografis pembuatan cokelat batangan, cokelat Indonesia sesungguhnya memiliki arti Pada gambar di atas terlihat di tahun putih, meises, berbagai jenis permen strategis. Kebutuhan kakao dunia 2010, Indonesia mampu memproduksi dan minuman, hingga selai. pertahun mencapai 3,5 juta ton, plus kakao sebanyak ton dan pertumbuhan permintaan hingga 5% mengekspor biji kakao hingga Tapi dipasar lokal, menemukan kedai atau ton pertahun. ton (72% dari total produksi). coklat lebih sulit dari mencari jarum di Sedangkan jumlah industri nasional tumpuk an jerami. Begitu ada, Melalui berbagai upaya perbaikan dan kakao dan cokelat sebanyak16 unit, harganya lebih mahal dari secangkir perluasan maka areal perkebunan dengan kapasitas ton/tahun, kopi. kakao Indonesia pada tahun 2010 produksi ton, utilitas 66%. Hal ditargetkan mencapai 1,1 juta ha dan yang tak kalah menarik adalah Hingga 2011, produksi biji kakao diharapkan mampu menghasilkan perbandingan produktivitas kakao, Indonesia lebih banyak diekspor produksi 730 ribu ton/tahun biji kakao. Indonesia mampu menghasilkan 800 sebagai bahan mentah - layaknya Pada tahun 2025, sasaran untuk kg/hektar, sedangkan Pantai Gading ekonomi zaman VOC. Saat ini hanya menjadi produsen utama kakao dunia 764,7 kg/hektar, dan Ghana 400 ada lima industri pengolahan kakao di kg/hektar. E Desember 2011 No. 53 ENGINEER MONTHLY 7

8 mainframe infografis : Biro Media PII, 2011 Kebijakan Kakao: Industri Prioritas yang Kontroversial Pemerintah melalui berbagai disalurkan dan bibit siap tanam yang Tahun ini, industri kakao dalam negeri instansi telah melakukan dibuat oleh penangkar disertifikasi oleh diprediksi menyerap ton biji kakao. pelatihan dan pendampingan lembaga yang berwenang yaitu Balai Besar pada para petani kakao - dari Perbenihan dan Proteksi Tanaman Pengembangan Industri Kakao mengacu Aceh hingga Papua. Namun Perkebunan (BBP2TP). p a d a P e r M e n P e r i n N o / M - mutu kakao tetap rendah dibanding IND/Per/10/2009 tentang Peta Panduan produk tetangga, apalagi Pantai Gading Selain Gernas, Pemerintah mewajibkan (Roadmap) Pengembangan Klaster Industri dan Ghana. penerapan SNI Kakao Bubuk, melalui Kakao. P e r a t u r a n M e n p e r i n N o. 4 5 / M - Pemerintah menargetkan produksi kakao IND/PER/5/2009. Dan yang sempat Namun menurut Asosiasi Kakao Indonesia Indonesia mencapai 2 juta ton pertahun kontroversial adalah penerapan Bea Keluar (Askindo), pengenaan bea keluar justru pada Dalam PerPres No. 28/2008 (BK) atas ekspor biji kakao, berdasarkan merugikan petani, meski melindungi dinyatakan bahwa industri pengolahan PMK No. 64 Tahun pabrik dalam negeri. Karena pabrik kakao merupakan salah satu industri menjual hasil olahan kakao ke luar negeri p r i o r i t a s y a n g d i d o r o n g Pemerintah menerapkan bea keluar (BK) tanpa dikenakan pajak. pengembangannya di dalam negeri, yang supaya penyerapan di dalam negeri lebih saat ini digenjot dengan program Gerakan baik, per 1 April Menurut AIKI, BK Lalu ada usulan penuruan tarif bea masuk Peningkatan Produksi dan Mutu Kakao d i t e r a p k a n u n t u k m e r a n g s a n g mesin pembuatan coklat. Mesin yang Nasional alias Gernas. Program ini pertumbuhan industri pengolahan kakao dioperasikan secara elektrik tersebut d i a n t a r a n y a a d a l a h p e r e m a j a a n di dalam negeri. belum bisa diproduksi dalam negeri. pertanaman kakao yang rusak, rehabilitasi Pertanyaannya adalah mengapa insinyur pertanaman yang kurang baik, dan Setelah penerapan kebijakan fiskal dan industri kita belum belum mampu intensifikasi pertanaman yang kurang tersebut, konsumsi biji kakao oleh industri membuatnya? E produktif. dalam negeri meningkat menjadi Untuk menjaga mutu, semua plantlet yang ton pada 2010 dari ton pada ENGINEER MONTHLY No. 53 Desember 2011

9

10 aktual Bambang (Ketua Tim Fasilitator Lembaga Ekonomi Masyarakat (LEM) Sejahtera Sultra) Memberdayakan Kakao dari Bawah Sebagai ilustrasi, salah satu LEM yang telah berjalan selama dua tahun adalah LEM Desa Andomesinggo, Kecamatan Besulutu, Kabupaten Konawe, yang sudah memiliki 93 anggota dengan basis utama pertanian kakao. Masyarakat desa Sulawesi Ekonomi Masyarakat (LEM) Sejahtera, Sejak berdirinya LEM Sejahtera, semua Tenggara dalam posisi menghimpun potensi sumberdaya desa anggotanya sudah bisa memenuhi l e m a h d i b i d a n g d a l a m s a t u k e k u a t a n. Tu j u a n n y a, kebutuhan pupuk dan modal. Sebelum ada permodalan dan proses m e n u m b u h k a n k e m a n d i r i a n, LEM, petani kesulitan mencari pupuk. produksi kakao, karena perekonomian, dan kesejahteraan warga. Kalaupun ada, harganya mahal. masih berjalan sendiri-sendiri. Padahal jumlah produksi kakaonya lebih dari Menurutnya, saat ini, telah terbentuk 14 LEM " S e k a r a n g, k a m i b i s a l a n g s u n g ton, dengan produksi biji kakao fermentasi Sejahtera di lima kabupaten. Lembaga ini berhubungan dengan distributor karena yang dihasilkan petani pada tahun 2011 baru memadukan prinsip koperasi, bank, membeli dalam partai besar. Harga lebih mencapai 100 ton. sekaligus perusahaan, yang kepengurusan murah. Anggota juga membayar pupuk dan anggotanya dijalankan oleh anggota dengan sistem kredit, dilunasi setelah Masalahnya, harga kakao fermentasi masih masyarakat sendiri. Dalam lembaga ini, mereka panen," imbuhnya. terlalu rendah, jauh dari harapan petani. petani bisa meminjam modal untuk Selisih harga kakao fermentasi dan kakao kebutuhan produksi dengan syarat dan Hama penggerek ditengarai sebagai non fermentasi hanya berkisar Rp2000 per ketentuan ringan. ancaman yang serius bagi kelangsungan kilogram, kata Ketua Tim Fasilitator Lembaga usaha perkebunan kakao karena belum Ekonomi Masyarakat (LEM) Sejahtera Sultra, LEM Sejahtera juga menyatukan sarana ditemukan pengendalian hama yang efektif. Bambang, dalam Diskusi CEIPS di Jakarta, produksi atau pengolahan lanjutan hasil N a m u n m e n u r u t B a m b a n g, u p a y a Senin 12/12/11. produksi untuk meningkatkan nilai jual penanggulangan hama, secara teori, produk pertanian. Petani juga bisa sebetulnya sangat mudah. Yakni dengan Harga kakao non fermentasi sekitar Rp 21 mengakses sarana produksi dengan harga melakukan gerakan pengendalian hama. ribu perkilogram. Sedangkan harga kakao lebih murah karena pembelian dalam partai fermentasi di tempat kami hanya Rp23 ribu. besar. Kesulitannya terletak pada bagaimana Selisih harga yang hanya Rp2000 itu menjadikannya sebagai gerakan terpadu membuat petani tak berminat melakukan "Selain itu, petani juga bisa menjual secara luas dan menyeluruh. LEM sudah fermentasi. Karena fermentasi kakao butuh langsung ke pembeli besar, seperti berhasil mengatasi persoalan ini, paling perlakuan khusus selama empat hari. perusahaan, k arena hasil produksi tidak dalam lingkup jejaring mereka. terkumpul dalam kuantitas besar dan Setelah dilakukan fermentasi empat hari, standar mutu yang sama," ujarnya. Lebih jauh Bambang merencanakan akan bobot kakao berkurang, tetapi harganya menampung hasil kakao desa lain dan beda tipis dengan non fermentasi, katanya. Dari 14 LEM yang ada saat ini telah terkumpul menjual langsung ke perusahaan di Jakarta. Bahkan dalam kenyataannya, acapkali kakao total aset senilai sekitar Rp 3 miliar. LEM akan "Dengan cara ini, kami bisa memotong rantai fermentasi dihargai sama dengan yang terus memutar dan mengembangkan aset. pemasaran dan mendongkrak harga jual," belum difermentasi, dan para tengkulak Karena seluruh aset itu terkumpul dari iuran pungkasnya. E mencampurnya begitu saja. Petani dalam setiap anggota. posisi yang lemah tak bisa berbuat apa-apa menghadapi hal ini, ujar Bambang. Sebagai ilustrasi, salah satu LEM yang telah berjalan selama dua tahun adalah LEM Desa Mungkin jika petani berhimpun dalam satu Andomesinggo, Kecamatan Besulutu, lembaga berbasis desa, kami akan memiliki Kabupaten Konawe, yang sudah memiliki 93 posisi lebih kuat, ujarnya. Maka sejak 2009, anggota dengan basis utama pertanian Bambang memelopori berdirinya Lembaga kakao. 10 ENGINEER MONTHLY No. 53 Desember 2011

11 Ketika Jembatan Mulai Merapuh Ir. Said Didu mengimbau untuk menyelidiki kemampuan SDM yang terlibat dalam pengerjaan proyek jembatan Kukar. Kesalahan yang melanggar etika profesi insinyur, maka siapa pun yang keluarkan sertifikat harus bertanggung jawab, ujarnya. aktual Jembatan Marunda merupakan penghubung Jalan Bulak Cabe dengan Kampung Sawah di kawasan Jalan Cakung Drain Cilincing, Jakarta Utara. Jalan itu sangat ramai dan menjadi rute penting di sana. Menurut rencana kerja, enam balok sepanjang 30,8 meter itu akan dipasang berjejer. Petugas di lokasi proyek menduga balok yang digunakan untuk membangun jembatan tersebut belum kering. Kerugian diperkirakan mencapai Rp750 juta. Proyek jembatan dengan anggaran sebesar Rp 17,7 milyar tersebut direncanakan akan selesai Mei Beberapa jembatan besar di Tanah Air belak angan ini ambruk. Yang paling menggegerkan adalah keruntuhan jembatan berkonstruksi gantung, Jembatan Kutai Kartanegara, di Kalimantan Timur. Jembatan sepanjang 700 meter itu dalam keadaan ramai kendaraan saat tiba-tiba runtuh serentak. 3 Menurut sejumlah analisis, rangka besi jembatan Kukar ternyata bukan untuk jembatan gantung, namun dimodifikasi untuk jembatan gantung. Jembatan Kukar, Kutai - Kalimantan Timur Entah ini gejala apa, berturut-turut jembatan beruntuhan di Indonesia. Termutakhir adalah jembatan gantung Krueng Keureutoe Lhoksukon, Aceh, yang rubuh pukul Wib, 18/12/11. Jembatan Krueng, yang menghubungkan Kecamatan Lhoksukon dan Kecamatan Pirak Timu, tercebur ke dalam sungai akibat besi pengikat kabelnya putus. Jembatan gantung yang ambruk tersebut, menurut mereka, dibangun tahun 1982 dan ini merupakan kerusakan kedua kalinya. Bedanya, yang kedua ini ternyata fatal dan ambruk. Belum lama berselang, jembatan penghubung akses Marunda menuju Cilincing, juga roboh. Enam tiang beton balokan jembatan di Jalan Arteri, Cilincing, Jakarta Utara itu ambruk saat dipasang, sekitar pukul WIB, 10/12/11. Ada banyak pelajaran yang dapat ditarik dari peristiwa mengenaskan ini. Tak lama setelah Jembatan Kukar diresmikan pada 2001, ada laporan bahwa ditemukan pergeseran pada struktur jembatan. Blok angkur bergeser delapan sentimeter. Lima tahun kemudian gelagar jembatan turun 50 cm dan tiang jembatan bergeser 18 cm. Tak ada tindakan segera untuk mengatasi keadaan darurat ini. Perawatan yang sempat dilakukan pada 2007 tidak merespon turunnya gelagar dan pergeseran tiang jembatan. Sense of urgency tidak muncul hingga saat kegagalan ekstrem terjadi. Ketua Umum PII, Dr. Ir. Said Didu menyoroti, tender-tender pemeliharaan berisiko tinggi biasanya memakai sistem cost and fee. Maka ditetapkan dulu cost-nya baru kemudian ditenderkan feenya. Ir. Said Didu mengimbau untuk menyelidiki kemampuan SDM yang terlibat dalam pengerjaan proyek jembatan itu. Kesalahan yang melanggar etika profesi insinyur, maka siapa pun yang keluarkan sertifikat harus bertanggung jawab, ujarnya. E Desember 2011 No. 53 ENGINEER MONTHLY 11

12 aktual Malam silaturahmi RUU Keinsinyuran antara Pengurus PII dengan Anggota Legislatif dan Menteri RUU Keinsinyuran : Penting dan Segera Pengurus PII dan sejumlah Dalam kesempatan yang sama, mantan insinyur Indonesia berkompetisi agar setara anggota DPR dan pemerintah Ketua Umum PII, Ir. Arifin Panigoro dengan insinyur di negara lain,"ujar Dr. M bertemu di Bimasena Club, menyatakan secara singkat beberapa hal Said Didu. Jakarta Selatan, 30 November yang berkaitan dengan runtuhnya Jembatan Didahului acara makan KuKar. Menurutnya, kita perlu segera Ketua Dewan Insinyur yang juga inisiator malam, Ketua Umum PII Dr. Ir. M. Said Didu membentuk badan yang mengaudit sarana RUU Keinsinyuran di DPR Ir. Airlangga membuka acara finalisasi perkembangan infrastruktur, terutama jembatan dan Hartarto, MMT, MBA menambahkan bahwa RUU Keinsinyuran malam itu. gedung pencakar langit. p r a k t i k k e i n s i n y u r a n y a n g d a p a t menimbulkan dampak destruktif semestinya Tak berlebihan jika seluruh hadirin adalah Sebelumnya, Ketua Umum PII Dr. Ir. M. Said menjadi pelajaran berharga bagi kita semua para insinyur, baik dari unsur eksekutif Didu juga sempat menyinggung soal insiden selaku insinyur yang ada di DPR, untuk maupun legislatif. Dari unsur pemerintah runtuhnya Jembatan KuKar. Maka UU segera menuntaskan pembahasan RUU ini di diantaranya Menteri Pertahanan Dr. Ir. Keinsinyuran setidaknya diperlukan untuk Balegnas. Perlindungan masyarakat adalah Purnomo Yusgiantoro, Menteri Negara Ristek menjawab dua tantangan. Pertama, prioritas utama, dan UU Keinsinyuran Prof. Dr. Ir. Gusti Muhammad Hatta, dan memproteksi dan mengatur arus globalisasi menjadi alat untuk menjaga kredibilitas dan Kepala BPPT Dr. Ir. Marzan Aziz Iskandar. tenaga kerja profesional khususnya bidang rasa tanggung jawab bagi profesi Insinyur, k e i n s i n y u r a n. K e d u a, m e m b e r i k a n katanya. Sedangkan dari Legislatif nampak hadir perlindungan pada masyarakat atas praktik Ketua Fraksi Demokrat Ja far Hafsah dan keinsinyuran. Anggota DPR lainnya seperti Ketua Fraksi anggota Fraksinya, Sutan Batugana, serta Demokrat Ja far Hamzah, dan beberapa Anggota Komisi XI DPR RI, Arif Budimanta Profesi insinyur seharusnya mendapat angota dewan lainnya menyatakan hal yang juga anggota dari Fraksi PDI sanksi jika melakukan kesalahan dalam senada. Lebih lanjut Dr. Ir. Jafar Hafsah Perjuangan. Dari DPD hadir Bambang membangun infrastruktur, sebagaimana menyatakan bahwa RUU Keinsinyuran ini Soeroso selaku Ketua DPD. profesi dokter yang dikenai sanksi bila salah harus tetap melalui prosedur yang berlaku, mendiagnosa, imbuhnya. dan harus masuk dulu dalam program Acara ramah-tamah malam dimaksudkan legislasi nasional dan dibahas di Badan untuk memaparkan dan mendiskusikan Tak kalah penting adalah, bahwa UU Legislasi Nasional untuk kemudian tentang pentingnya Undang-undang Keinsinyuran juga akan memperkuat ditetapkan dan disahkan sebagai Undang- Keinsinyuran. Anggota Komisi XI DPR RI, Arif profesinalisme dengan standar kompetensi undang. E Budimanta yang juga anggota dari Fraksi PDI yang jelas dan berjenjang, dengan adanya Perjuangan yang kerap mengambil posisi akreditasi dan sertifikasi, serta remunerasi selaku partai oposisi mengatakan, bahwa ia profesi keinsinyuran. siap mendukung UU Keinsinyuran, jika itu akan membawa manfaat bagi masyarakat. "Akreditasi profesi insinyur akan mendorong 12 ENGINEER MONTHLY No. 53 Desember 2011

13 aktual Diskusi BK Mesin : Mengukur Indikator Percepatan Proyek MP3EI Menyusul rapat internal BK m a s i h d i b a w a h 7 % m e n a n d a k a n Maka, BUMN strategis dan manufaktur telah Mesin PII di Lantai 9 Gedung realisasinya biasa-biasa saja, alias pertanda menandatangani Key Performance Indicator Kementerian BUMN, Jakarta 8 bahwa MP3EI tidak jalan. (KPI) dan komitmen pengembangan bisnis Desember 2011, peserta rapat dengan Dr. Irnanda selaku Deputi Bidang mengikuti kegiatan diskusi dengan tema Dengan berkelakar Ir. Irnanda mengatakan Usaha Industri Strategis dan Manufaktur Indikator Percepatan Projek Not As Usual. b a hwa K o r e a i t u t i d a k k o n s i s t e n, Kementerian BUMN. Indonesialah yang konsisten. Sejak 32 tahun Diskusi yang dibuka Ketua Umum BK Mesin, lalu produksi baja Korea meningkat 20 x lipat, Menurut Dr. Irnanda, perusahaan BUMN Dr. Budhi Suyitno itu berlangsung meriah. sedangkan produksi baja Krakatau Steel harus mengembangkan teknologi agar bisa Seluruh bangku di ruangan yang sebenarnya "konsisten", alias tak ada peningkatan bersaing. Seperti yang dilakukan PT Telkom cukup besar itu penuh. Dari judul diskusinya berarti. yang terus melakukan terobosan. Misalnya, saja orang sudah bisa menerka bahwa objek pengembangan broadband dan fiber optic. tinjauan adalah MP3EI. Benarkah MP3EI Banyak pekerjaan rumah yang harus Semuanya harus di-drive dengan teknologi. adalah Percepatan Projek Not As Usual? dilakukan oleh pemerintah maupun kalangan industri untuk membenahi Daya tarik persaingan ke depan adalah Presenter Dr. Ir. Irnanda Laksanawan Msc. Eng masalah tersebut. Daya saing industri, Teknologi Informasi dan Litbang. Kita harus tidak secara verbal menjawab pertanyaan itu. penguatan ekspor, dan proteksi non-tarif membuat produk-produk yang lebih efisien Tidak dengan binary mengomentari MP3EI menjadi hal penting. Permasalahan yang dan murah agar bisa bersaing di pasar, ini betul atau salah, tepat atau gagal. cukup besar salah satunya adalah ujarnya. Masterplan ini tentu didasari dengan itikad infrastruktur kita yang belum siap bersaing baik para pemangku kebijakan untuk dengan China. Satu ilustrasi menarik, tutur Ir. Irnanda, memajukan Indonesia, salah satunya pada adalah bahwa China yang selama ini kita sektor industri nasional. Produksi baja China mencapai 54,3 juta asumsikan melakukan dumping, sebenarnya metrik ton atau naik 9,7% dibanding Februari tidak. Yang mereka lakukan adalah efisiensi. Deputi Menneg BUMN Bidang Usaha Kenaikan produksi juga dialami Penerapan teknologi dengan produksi Strategis dan Manufaktur itu menjanjikan Jepang, yaitu naik 5,7% menjadi 8,9 juta besar-besaran sehingga komponen biaya komitmennya untuk melakukan terobosan- metric ton, sedangkan produksi baja Korea jauh lebih hemat. Dan dalam hal ini kita kalah terobosan terhadap berbagai bottle-neck Selatan naik 25,7% menjadi 5 juta metric ton. jauh. yang ada selama ini, agar proyek-proyek yang telah direncanakan bisa terlaksana. PT Krakatau Steel memperkirakan produksi Walau hanya 26% produk lokal yang head to perseroan hanya 2 juta ton hingga akhir head dengan China, di bidang industri kita Seperti diketahui, prinsip organisasi berjalan tahun kalah total. China menduduki posisi dalam konsep POAC (Plan-Organize-Action- pertama dalam kinerja industri di Asia Timur Control). Dua tahap awal, plan dan organize Tanpa ada inovasi hasil produksi, maka dan Tenggara, sedangkan Indonesia pada adalah tahapan yang relatif mudah. Tetapi dalam tempo 4-5 tahun lagi, bakal banyak urutan ke-38. E action dan control-lah yang menjadi indikator BUMN yang kolaps. Padahal perusahaan keberhasilan suatu rencana organisasi. pelat merah juga harus bisa bersaing dengan Jika MP3EI berjalan efektif, akan tercermin produk-produk impor. dalam PDB 2012 di atas 7%. Jika ternyata PDB Desember 2011 No. 53 ENGINEER MONTHLY 13

14 aktual Konferensi Insinyur se-asean (CAFEO) Sustainable Urbanization Engineering Challenges and Opportunities Dipimpin Sekjen PII, Ir. Heru nasional yang disebut Masterplan pentingnya penyediaan lapangan kerja agar Dewanto dan Direktur Percepatan dan Perluasan Pembangunan perekonomian dapat memanfaatkan secara Eksekutif PII, Rudianto Ekonomi Indonesia (MP3EI). maksimal besarnya porsi penduduk usia Handojo, belasan delegasi produktif. Inilah yang disebut sebagi Visi PII hadir dalam Konferensi Intinya, MP3EI mengedepankan pendekatan 2025 dalam MP3EI. AFEO ke -29 di The Rizqun International business as not usual, melibatkan seluruh Hotel, Bandar Seri Begawan, Brunei pemangku kepentingan, serta fokus pada Visi 2025 tersebut diwujudkan melalui tiga Darussalam, November prioritas yang kongkrit dan terukur. misi yang menjadi strategiutamanya: Pertama, mengembangkan 22 kegiatan Dari konferensi regional bertemakan Melalui langkah MP3EI, percepatan dan ekonomi utama dalam enam koridor Sustainable Urbanization: Engineering perluasan pembangunan ekonomi akan ekonomi ; Kedua, Memperkuat konektivitas Challenges and Opportunities itu, lima menjadikan Indonesia memiliki pendapatan lokal dan nasional ; dan ketiga, Memperkuat angota PII menerima AFEO Honorary Fellow. p e r k a p i t a y a n g b e r k i s a r a n t a r a SDM dan IPTEK Nasional. Mereka adalah Ir. Habimono Koesoebjono, Ir USD pada tahun Eddy J. Danu, Ir. Arifin Tasrif, Ir. Rinaldi PII sebagai asosiasi profesi insinyur Firmansyah, dan Ir. Alwin Syah Loebis. U n t u k m e w u j u d k a n nya d i p e r l u k a n memegang peran penting dalam MP3EI, pertumbuhan ekonomi ril sebesar 6,4 7,5 terutama dalam aspek penguatan SDM dan Prof. Dr. Ir. Wiratman Wangsadinata persen pada periode , dan sekitar IPTEK. memperoleh Asean Engineering Award 8,0 9,0 persen pada periode untuk kategori perorangan. Sedangkan Pertumbuhan ekonomi tersebut akan Dengan anggota, 20 staf profesional, Asean Egineering Award untuk kategori dibarengi oleh penurunan inflasi dari 6 komite, 14 Badan Kejuruan, 1 pusat studi, perusahaan diraih PT PP, yang diwakili oleh Ir. sebesar 6,5 persen pada periode dan 86 cabang, PII adalah asosiasi insinyur Hajar Setiadi. menjadi 3,0 persen pada E terbesar di Indonesia, papar Sekjen. Country Report Indonesia disampaikan oleh Indonesia tengah berada dalam periode Sekjen PII, Ir. Heru Dewanto. Dikatakan, transisi struktur penduduk usia produktif. dengan berbagai potensi keunggulan dan Pada kurun waktu , penurunan keberadaan lebih dari insinyur di indeks rasio ketergantungan Indonesia akan segenap penjuru negeri, pada bulan Mei lalu mencapai angka terendah. Implikasi Pemerintah RI mencanangkan program penting dari kondisi ini adalah semakin 14 ENGINEER MONTHLY No. 53 Desember 2011

SAMBUTAN PENJABAT GUBERNUR SULAWESI TENGAH PADA ACARA PEMBUKAAN TEMU BISNIS PENGEMBANGAN INDUSTRI KAKAO SULAWESI TENGAH SENIN, 18 APRIL 2011

SAMBUTAN PENJABAT GUBERNUR SULAWESI TENGAH PADA ACARA PEMBUKAAN TEMU BISNIS PENGEMBANGAN INDUSTRI KAKAO SULAWESI TENGAH SENIN, 18 APRIL 2011 GUBERNUR SULAWESI TENGAH SAMBUTAN PENJABAT GUBERNUR SULAWESI TENGAH PADA ACARA PEMBUKAAN TEMU BISNIS PENGEMBANGAN INDUSTRI KAKAO SULAWESI TENGAH SENIN, 18 APRIL 2011 ASSALAMU ALAIKUM WAR, WAB, SALAM SEJAHTERA

Lebih terperinci

Ketua Komisi VI DPR RI. Anggota Komisi VI DPR RI

Ketua Komisi VI DPR RI. Anggota Komisi VI DPR RI PEMBERDAYAAAN KOPERASI & UMKM DALAM RANGKA PENINGKATAN PEREKONOMIAN MASYARAKAT 1) Ir. H. Airlangga Hartarto, MMT., MBA Ketua Komisi VI DPR RI 2) A. Muhajir, SH., MH Anggota Komisi VI DPR RI Disampaikan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DANA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DANA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA 1.tE,"P...F.3...1!..7. INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DANA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

PERAN KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN DALAM MENDORONG INOVASI PRODUK DI INDUSTRI PULP DAN KERTAS

PERAN KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN DALAM MENDORONG INOVASI PRODUK DI INDUSTRI PULP DAN KERTAS PERAN KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN DALAM MENDORONG INOVASI PRODUK DI INDUSTRI PULP DAN KERTAS Jakarta, 27 Mei 2015 Pendahuluan Tujuan Kebijakan Industri Nasional : 1 2 Meningkatkan produksi nasional. Meningkatkan

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK The New Climate Economy Report RINGKASAN EKSEKUTIF Komisi Global untuk Ekonomi dan Iklim didirikan untuk menguji kemungkinan tercapainya pertumbuhan ekonomi yang

Lebih terperinci

SAMBUTAN MENTERI KEHUTANAN PADA ACARA FINALISASI DAN REALISASI MASTERPLAN PUSAT KONSERVASI KEANEKARAGAMAN HAYATI (PPKH) Pongkor, Selasa, 23 April 2013

SAMBUTAN MENTERI KEHUTANAN PADA ACARA FINALISASI DAN REALISASI MASTERPLAN PUSAT KONSERVASI KEANEKARAGAMAN HAYATI (PPKH) Pongkor, Selasa, 23 April 2013 SAMBUTAN MENTERI KEHUTANAN PADA ACARA FINALISASI DAN REALISASI MASTERPLAN PUSAT KONSERVASI KEANEKARAGAMAN HAYATI (PPKH) Pongkor, Selasa, 23 April 2013 Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yang

Lebih terperinci

ABSTRAK II. TINJAUAN PUSTAKA I. PENDAHULUAN

ABSTRAK II. TINJAUAN PUSTAKA I. PENDAHULUAN HUBUNGAN ANTARA TINGKAT KEKERASAN DAN WAKTU PEMECAHAN DAGING BUAH KAKAO (THEOBROMA CACAO L) 1) MUH. IKHSAN (G 411 9 272) 2) JUNAEDI MUHIDONG dan OLLY SANNY HUTABARAT 3) ABSTRAK Permasalahan kakao Indonesia

Lebih terperinci

INDUSTRI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT INDONESIA In House Training Profil Bisnis Industri Kelapa Sawit Indonesia Medan, 30-31 Mei 2011

INDUSTRI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT INDONESIA In House Training Profil Bisnis Industri Kelapa Sawit Indonesia Medan, 30-31 Mei 2011 INDUSTRI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT INDONESIA In House Training Profil Bisnis Industri Kelapa Sawit Indonesia Medan, 30-31 Mei 2011 Ignatius Ery Kurniawan PT. MITRA MEDIA NUSANTARA 2011 KEMENTERIAN KEUANGAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2010 TENTANG USAHA BUDIDAYA TANAMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2010 TENTANG USAHA BUDIDAYA TANAMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2010 TENTANG USAHA BUDIDAYA TANAMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

ARAH PEMBANGUNAN HUKUM DALAM MENGHADAPI ASEAN ECONOMIC COMMUNITY 2015 Oleh: Akhmad Aulawi, S.H., M.H. *

ARAH PEMBANGUNAN HUKUM DALAM MENGHADAPI ASEAN ECONOMIC COMMUNITY 2015 Oleh: Akhmad Aulawi, S.H., M.H. * ARAH PEMBANGUNAN HUKUM DALAM MENGHADAPI ASEAN ECONOMIC COMMUNITY 2015 Oleh: Akhmad Aulawi, S.H., M.H. * Era perdagangan bebas di negaranegara ASEAN tinggal menghitung waktu. Tidak kurang dari 2 tahun pelaksanaan

Lebih terperinci

RANCANGAN TEKNOKRATIK RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH NASIONAL (RPJMN) 2015-2019

RANCANGAN TEKNOKRATIK RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH NASIONAL (RPJMN) 2015-2019 KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL RANCANGAN TEKNOKRATIK RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH NASIONAL (RPJMN) 2015-2019 Oleh: Menteri PPN/Kepala Bappenas

Lebih terperinci

Account Representative

Account Representative Untuk keterangan lebih lanjut, hubungi : Account Representative FASILITAS PEMBEBASAN ATAU PENGURANGAN PAJAK PENGHASILAN BADAN DAN FASILITAS PAJAK PENGHASILAN UNTUK PENANAMAN MODAL DI BIDANG-BIDANG USAHA

Lebih terperinci

BAB 22 PENINGKATAN KEMAMPUAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI

BAB 22 PENINGKATAN KEMAMPUAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI BAB 22 PENINGKATAN KEMAMPUAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI Pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) pada hakekatnya ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam rangka membangun

Lebih terperinci

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN :

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN : UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2002 TENTANG SISTEM NASIONAL PENELITIAN, PENGEMBANGAN, DAN PENERAPAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

4.3.10. Pokok Bahasan 10: Pengamatan Panen. Tujuan Intruksional Khusus:

4.3.10. Pokok Bahasan 10: Pengamatan Panen. Tujuan Intruksional Khusus: 108 4.3.10. Pokok Bahasan 10: Pengamatan Panen Tujuan Intruksional Khusus: Setelah mengikuti course content ini mahasiswa dapat menjelaskan kriteria, komponen dan cara panen tanaman semusim dan tahunan

Lebih terperinci

Kenapa Perlu Menggunakan Sistem Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ) Teknik Silvikultur Intensif (Silin) pada IUPHHK HA /HPH. Oleh : PT.

Kenapa Perlu Menggunakan Sistem Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ) Teknik Silvikultur Intensif (Silin) pada IUPHHK HA /HPH. Oleh : PT. Kenapa Perlu Menggunakan Sistem Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ) Teknik Silvikultur Intensif (Silin) pada IUPHHK HA /HPH Oleh : PT. Sari Bumi Kusuma PERKEMBANGAN HPH NASIONAL *) HPH aktif : 69 % 62% 55%

Lebih terperinci

PENTINGNYA PEMEMENUHAN BATAS MAKSIMUM RESIDU (BMR) PESTISIDA PADA HASIL PERKEBUNAN INDONESIA

PENTINGNYA PEMEMENUHAN BATAS MAKSIMUM RESIDU (BMR) PESTISIDA PADA HASIL PERKEBUNAN INDONESIA PENTINGNYA PEMEMENUHAN BATAS MAKSIMUM RESIDU (BMR) PESTISIDA PADA HASIL PERKEBUNAN INDONESIA Oleh: Bayu Refindra Fitriadi, S.Si Calon PMHP Ahli Pertama Menghadapi pasar bebas China-ASEAN dan perdagangan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG KEINSINYURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG KEINSINYURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG KEINSINYURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa keinsinyuran merupakan kegiatan penggunaan

Lebih terperinci

PROGRAM STRATEGIS KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM 2015

PROGRAM STRATEGIS KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM 2015 1 PROGRAM STRATEGIS KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM 2015 DEPUTI BIDANG KELEMBAGAAN KOPERASI DAN UKM 1. Revitalisasi dan Modernisasi Koperasi; 2. Penyuluhan Dalam Rangka Gerakan Masyarakat Sadar Koperasi;

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 17/M-DAG/PER/6/2011 TENTANG PENGADAAN DAN PENYALURAN PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 17/M-DAG/PER/6/2011 TENTANG PENGADAAN DAN PENYALURAN PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 17/M-DAG/PER/6/2011 TENTANG PENGADAAN DAN PENYALURAN PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERDAGANGAN

Lebih terperinci

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia =============================================================================== Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia !" #$ %$#&%!!!# &%!! Tujuan nasional yang dinyatakan

Lebih terperinci

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 130/Permentan/SR.130/11/2014 TENTANG

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 130/Permentan/SR.130/11/2014 TENTANG MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 130/Permentan/SR.130/11/2014 TENTANG KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PERTAMBAHAN NILAI BARANG DAN JASA DAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH SEBAGAIMANA

Lebih terperinci

MENGELOLA DESA SECARA PARTISIPATIF REFLEKSI STUDI BANDING DESA MUARA WAHAU KE WILAYAH DIY. Oleh: Sri Purwani Konsultan

MENGELOLA DESA SECARA PARTISIPATIF REFLEKSI STUDI BANDING DESA MUARA WAHAU KE WILAYAH DIY. Oleh: Sri Purwani Konsultan MENGELOLA DESA SECARA PARTISIPATIF REFLEKSI STUDI BANDING DESA MUARA WAHAU KE WILAYAH DIY (Desa Banjaroya Kecamatan Kalibawang Kabupaten Kulon Progo, Desa Panggungharjo Kecamatan Sewon dan Desa Sumbermulya

Lebih terperinci

Mendorong masyarakat miskin di perdesaan untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia

Mendorong masyarakat miskin di perdesaan untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia IFAD/R. Grossman Mendorong masyarakat miskin di perdesaan untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia Kemiskinan perdesaan di Indonesia Indonesia telah melakukan pemulihan krisis keuangan pada tahun 1997 yang

Lebih terperinci

STABILISASI HARGA PANGAN

STABILISASI HARGA PANGAN STABILISASI HARGA PANGAN Oleh : Dr.Ir. Nuhfil Hanani AR DEWAN KETAHANAN PANGAN TAHUN 2008 PERANAN KOMODITAS PANGAN PRODUSEN KESEMPATAN KERJA DAN PENDAPATAN KONSUMEN RUMAH TANGGA AKSES UNTUK GIZI KONSUMEN

Lebih terperinci

TENTANG JASA PENILAI PUBLIK MENTERI KEUANGAN,

TENTANG JASA PENILAI PUBLIK MENTERI KEUANGAN, SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 125/PMK.01/2008 TENTANG JASA PENILAI PUBLIK MENTERI KEUANGAN, Menimbang : a. bahwa sejalan dengan tujuan Pemerintah dalam rangka mendukung perekonomian yang sehat

Lebih terperinci

Menteri Negara Koperasi dan UKM memberikan kuliah umum di Kampus UNSUR Cianjur, Selasa (6/11) [Foto: admin]

Menteri Negara Koperasi dan UKM memberikan kuliah umum di Kampus UNSUR Cianjur, Selasa (6/11) [Foto: admin] Menteri Negara Koperasi dan UKM memberikan kuliah umum di Kampus UNSUR Cianjur, Selasa (6/11) [Foto: admin] Dalam rangka menanamkan jiwa enterpreneurship di kalangan generasi muda, pada hari Selasa (6/11),

Lebih terperinci

ARAH PEMBANGUNAN PERTANIAN JANGKA PANJANG

ARAH PEMBANGUNAN PERTANIAN JANGKA PANJANG ARAH PEMBANGUNAN PERTANIAN JANGKA PANJANG K E M E N T E R I A N P E R E N C A N A A N P E M B A N G U N A N N A S I O N A L / B A D A N P E R E N C A N A A N P E M B A N G U N A N N A S I O N A L ( B A

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dengan telah

Lebih terperinci

RANCANGAN AWAL RKP 2016 DAN PAGU INDIKATIF 2016. DEPUTI BIDANG PENDANAAN PEMBANGUNAN Jakarta, 15 April 2015

RANCANGAN AWAL RKP 2016 DAN PAGU INDIKATIF 2016. DEPUTI BIDANG PENDANAAN PEMBANGUNAN Jakarta, 15 April 2015 RANCANGAN AWAL RKP 2016 DAN PAGU INDIKATIF 2016 DEPUTI BIDANG PENDANAAN PEMBANGUNAN Jakarta, 15 April 2015 OUTLINE 1 Rancangan Awal RKP 2016 2 3 Pagu Indikatif Tahun 2016 Pertemuan Tiga Pihak 4 Tindak

Lebih terperinci

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG DEWAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG DEWAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG DEWAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa teknologi

Lebih terperinci

SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO

SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO Sejumlah faktor iklim dan tanah menjadi kendala bagi pertumbuhan dan produksi tanaman kakao. Lingkungan alami tanaman cokelat adalah hutan tropis. Dengan demikian curah hujan,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG PERLAKUAN KEPABEANAN, PERPAJAKAN, DAN CUKAI SERTA TATA LAKSANA PEMASUKAN DAN PENGELUARAN BARANG KE DAN DARI SERTA BERADA DI KAWASAN YANG

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN PERATURAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH TENTANG TATA TERTIB DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

Penemuan Klon Kakao Tahan Hama Penggerek Buah Kakao (PBK) di Indonesia. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, Jl. PB. Sudirman 90 Jember 68118

Penemuan Klon Kakao Tahan Hama Penggerek Buah Kakao (PBK) di Indonesia. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, Jl. PB. Sudirman 90 Jember 68118 Penemuan Klon Kakao Tahan Hama Penggerek Buah Kakao (PBK) di Indonesia Agung Wahyu Susilo 1) 1) Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, Jl. PB. Sudirman 90 Jember 68118 Keberadaan hama penggerek buah

Lebih terperinci

PANDUAN 20 KARYA UNGGULAN ILMU PENGETAHUAN TEKNOLOGI ANAK BANGSA. Dalam Rangka Peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional Ke-20 Tahun 2015

PANDUAN 20 KARYA UNGGULAN ILMU PENGETAHUAN TEKNOLOGI ANAK BANGSA. Dalam Rangka Peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional Ke-20 Tahun 2015 PANDUAN 20 KARYA UNGGULAN ILMU PENGETAHUAN TEKNOLOGI ANAK BANGSA Dalam Rangka Peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional Ke-20 Tahun 2015 KEMENTERIAN RISET,TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI 2015 KATA

Lebih terperinci

enyatukan dan Memadukan Sumber Daya

enyatukan dan Memadukan Sumber Daya M enyatukan dan Memadukan Sumber Daya Keunggulan kompetitif BCA lebih dari keterpaduan kekuatan basis nasabah yang besar, jaringan layanan yang luas maupun keragaman jasa dan produk perbankannya. Disamping

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG MASTERPLAN PERCEPATAN DAN PERLUASAN PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA 201 1-2025

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG MASTERPLAN PERCEPATAN DAN PERLUASAN PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA 201 1-2025 PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG MASTERPLAN PERCEPATAN DAN PERLUASAN PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA 201 1-2025 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN MENJADI KELAPA SAWIT DI BENGKULU : KASUS PETANI DI DESA KUNGKAI BARU

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN MENJADI KELAPA SAWIT DI BENGKULU : KASUS PETANI DI DESA KUNGKAI BARU 189 Prosiding Seminar Nasional Budidaya Pertanian Urgensi dan Strategi Pengendalian Alih Fungsi Lahan Pertanian Bengkulu 7 Juli 2011 ISBN 978-602-19247-0-9 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 72 TAHUN 2012 TENTANG PERUSAHAAN UMUM (PERUM) PERCETAKAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 72 TAHUN 2012 TENTANG PERUSAHAAN UMUM (PERUM) PERCETAKAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 72 TAHUN 2012 TENTANG PERUSAHAAN UMUM (PERUM) PERCETAKAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

ARAH KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KONSEP MINAPOLITAN DI INDONESIA. Oleh: Dr. Sunoto, MES

ARAH KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KONSEP MINAPOLITAN DI INDONESIA. Oleh: Dr. Sunoto, MES ARAH KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KONSEP MINAPOLITAN Potensi dan Tantangan DI INDONESIA Oleh: Dr. Sunoto, MES Potensi kelautan dan perikanan Indonesia begitu besar, apalagi saat ini potensi tersebut telah ditopang

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN PEMIKIRAN

BAB II LANDASAN PEMIKIRAN BAB II LANDASAN PEMIKIRAN 1. Landasan Filosofis Filosofi ilmu kedokteran Ilmu kedokteran secara bertahap berkembang di berbagai tempat terpisah. Pada umumnya masyarakat mempunyai keyakinan bahwa seorang

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18/PRT/M/2012 TENTANG

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18/PRT/M/2012 TENTANG MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18/PRT/M/2012 TENTANG PEDOMAN PEMBINAAN PENYELENGGARAAN PENGEMBANGAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM DENGAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 98/Permentan/OT.140/9/2013 TENTANG PEDOMAN PERIZINAN USAHA PERKEBUNAN

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 98/Permentan/OT.140/9/2013 TENTANG PEDOMAN PERIZINAN USAHA PERKEBUNAN PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 98/Permentan/OT.140/9/2013 TENTANG PEDOMAN PERIZINAN USAHA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

Hercules si Perusak Tanaman Pala dan Cengkeh

Hercules si Perusak Tanaman Pala dan Cengkeh Hercules si Perusak Tanaman Pala dan Cengkeh I. Latar Belakang Tanaman pala merupakan tanaman keras yang dapat berumur panjang hingga lebih dari 100 tahun. Tanaman pala tumbuh dengan baik di daerah tropis.

Lebih terperinci

BOKS Perbatasan Kalimantan Barat Masih Perlu Perhatian Pemerintah Pusat Dan daerah

BOKS Perbatasan Kalimantan Barat Masih Perlu Perhatian Pemerintah Pusat Dan daerah BOKS Perbatasan Kalimantan Barat Masih Perlu Perhatian Pemerintah Pusat Dan daerah Kalimantan Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang berbatasan langsung dengan Sarawak (Malaysia) dengan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR: 17/PMK.01/2008 TENTANG JASA AKUNTAN PUBLIK MENTERI KEUANGAN,

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR: 17/PMK.01/2008 TENTANG JASA AKUNTAN PUBLIK MENTERI KEUANGAN, PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR: 17/PMK.01/2008 TENTANG JASA AKUNTAN PUBLIK MENTERI KEUANGAN, Menimbang : a. bahwa sejalan dengan tujuan Pemerintah dalam rangka mendukung perekonomian yang sehat dan efisien,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2009 TENTANG KAWASAN EKONOMI KHUSUS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2009 TENTANG KAWASAN EKONOMI KHUSUS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2009 TENTANG KAWASAN EKONOMI KHUSUS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa masyarakat adil dan makmur berdasarkan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2014 TENTANG PEMBERIAN FASILITAS DAN INSENTIF USAHA HORTIKULTURA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2014 TENTANG PEMBERIAN FASILITAS DAN INSENTIF USAHA HORTIKULTURA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2014 TENTANG PEMBERIAN FASILITAS DAN INSENTIF USAHA HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Pemilihan lokasi usaha oleh suatu organisasi (perusahaan) akan mempengaruhi risiko (risk) dan keuntungan (profit) perusahaan tersebut secara keseluruhan. Kondisi ini

Lebih terperinci

KOMISI XI PILIH AGUS JOKO PRAMONO SEBAGAI ANGGOTA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

KOMISI XI PILIH AGUS JOKO PRAMONO SEBAGAI ANGGOTA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN KOMISI XI PILIH AGUS JOKO PRAMONO SEBAGAI ANGGOTA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN metrotvnews.com Komisi XI DPR i akhirnya memilih Agus Joko Pramono sebagai Anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) ii Pengganti

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.62/Menhut-II/2011 TENTANG

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.62/Menhut-II/2011 TENTANG PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.62/Menhut-II/2011 TENTANG PEDOMAN PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN BERBAGAI JENIS PADA IZIN USAHA PEMANFAATAN HASIL HUTAN KAYU PADA HUTAN TANAMAN INDUSTRI

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA : P.

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA : P. PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P. 18/Menhut-II/2012 TENTANG TATA CARA PENILAIAN GANTI RUGI TANAMAN HASIL REHABILITASI HUTAN AKIBAT PENGGUNAAN KAWASAN HUTAN DAN PERUBAHAN PERUNTUKAN

Lebih terperinci

INOVASI PEMBUATAN SUSU KEDELE TANPA RASA LANGU

INOVASI PEMBUATAN SUSU KEDELE TANPA RASA LANGU INOVASI PEMBUATAN SUSU KEDELE TANPA RASA LANGU Oleh: Gusti Setiavani, S.TP, M.P Staff Pengajar di STPP Medan Kacang-kacangan dan biji-bijian seperti kacang kedelai, kacang tanah, biji kecipir, koro, kelapa

Lebih terperinci

Menembus Batas Kebuntuan Produksi (Cara SRI dalam budidaya padi)

Menembus Batas Kebuntuan Produksi (Cara SRI dalam budidaya padi) Menembus Batas Kebuntuan Produksi (Cara SRI dalam budidaya padi) Pengolahan Tanah Sebagai persiapan, lahan diolah seperti kebiasaan kita dalam mengolah tanah sebelum tanam, dengan urutan sebagai berikut.

Lebih terperinci

Tahap Konsultasi untuk Mekanisme Akuntabilitas

Tahap Konsultasi untuk Mekanisme Akuntabilitas Tahap Konsultasi untuk Mekanisme Akuntabilitas Mendengarkan Masyarakat yang Terkena Dampak Proyek-Proyek Bantuan ADB Apa yang dimaksud dengan Mekanisme Akuntabilitas ADB? Pada bulan Mei 2003, Asian Development

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

PRODUKSI CABAI BESAR, CABAI RAWIT, DAN BAWANG MERAH TAHUN 2014

PRODUKSI CABAI BESAR, CABAI RAWIT, DAN BAWANG MERAH TAHUN 2014 No. 39/08/THXVIII.3 Agustus 2015 PRODUKSI CABAI BESAR, CABAI RAWIT, DAN BAWANG MERAH TAHUN 2014 PRODUKSI CABAI BESAR SEBESAR 501.893 KUINTAL, CABAI RAWIT SEBESAR 528.704 KUINTAL, DAN BAWANG MERAH SEBESAR

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 1983 TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

Tanggung Jawab lintas dimensi. Laporan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Indonesia 2013/14

Tanggung Jawab lintas dimensi. Laporan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Indonesia 2013/14 Tanggung Jawab lintas dimensi Laporan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Indonesia 2013/14 Cargill berkomitmen untuk beroperasi secara bertanggung jawab dengan satu tujuan yakni untuk menjadi pemimpin global

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pembangunan perekonomian nasional bertujuan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. A. Maksud dan Tujuan

I. PENDAHULUAN. A. Maksud dan Tujuan I. PENDAHULUAN A. Maksud dan Tujuan Rencana Kerja (Renja) Dinas Peternakan Kabupaten Bima disusun dengan maksud dan tujuan sebagai berikut : 1) Untuk merencanakan berbagai kebijaksanaan dan strategi percepatan

Lebih terperinci

(BIDANG HUKUM, HAM DAN KEAMANAN)

(BIDANG HUKUM, HAM DAN KEAMANAN) RANCANGAN LAPORAN SINGKAT RAPAT DENGAR PENDAPAT KOMISI III DPR RI DENGAN SEKRETARIS JENDERAL DEWAN PERWAKILAN DAERAH, SEKRETARIS JENDERAL MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT DAN SEKRETARIS JENDERAL MAHKAMAH

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 07/M DAG/PER/3/2008 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 141/MPP/Kep/3/2002 TENTANG NOMOR PENGENAL IMPORTIR

Lebih terperinci

KLIPING PEMBERITAAN. 03 Jan 2015

KLIPING PEMBERITAAN. 03 Jan 2015 KLIPING PEMBERITAAN CONTENTS Resume Daily Maps Influencers Media Share Media Clipping RESUME No Media Judul Ringkasan Tones 1 Kaltimpos Bantuan Pusat-Pemprov Tak Kunjung Tiba Ratusan nelayan asing (manusia

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P. 33/Menhut-II/2010 TENTANG TATA CARA PELEPASAN KAWASAN HUTAN PRODUKSI YANG DAPAT DIKONVERSI

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P. 33/Menhut-II/2010 TENTANG TATA CARA PELEPASAN KAWASAN HUTAN PRODUKSI YANG DAPAT DIKONVERSI PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P. 33/Menhut-II/2010 TENTANG TATA CARA PELEPASAN KAWASAN HUTAN PRODUKSI YANG DAPAT DIKONVERSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEHUTANAN

Lebih terperinci

PROSES PENGOLAHAN KOPI INSTAN, KOPI BLENDING, DAN KOPI TUBRUK DI PUSAT PENELITIAN KOPI DAN KAKAO INDONESIA JENGGAWAH-JEMBER

PROSES PENGOLAHAN KOPI INSTAN, KOPI BLENDING, DAN KOPI TUBRUK DI PUSAT PENELITIAN KOPI DAN KAKAO INDONESIA JENGGAWAH-JEMBER PROSES PENGOLAHAN KOPI INSTAN, KOPI BLENDING, DAN KOPI TUBRUK DI PUSAT PENELITIAN KOPI DAN KAKAO INDONESIA JENGGAWAH-JEMBER LAPORAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI PENGOLAHAN PANGAN OLEH: KENT MIRA CANDRA 6103008083

Lebih terperinci

LAPORAN PENELITIAN HUTAN BER-STOK KARBON TINGGI

LAPORAN PENELITIAN HUTAN BER-STOK KARBON TINGGI Laporan ini berisi Kata Pengantar dan Ringkasan Eksekutif. Terjemahan lengkap laporan dalam Bahasa Indonesia akan diterbitkan pada waktunya. LAPORAN PENELITIAN HUTAN BER-STOK KARBON TINGGI Pendefinisian

Lebih terperinci

Hidup dan Sumber Daya Alam

Hidup dan Sumber Daya Alam KERTAS POSISI Lima Tahun Pemberlakuan UU Keterbukaan Informasi Publik Buka Informasi, Selamatkan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam April 2015 Pengantar Masyarakat sipil Indonesia mengapresiasi langkah

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.59/Menhut-II/2011 TENTANG HUTAN TANAMAN HASIL REHABILITASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.59/Menhut-II/2011 TENTANG HUTAN TANAMAN HASIL REHABILITASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.59/Menhut-II/2011 TENTANG HUTAN TANAMAN HASIL REHABILITASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a.

Lebih terperinci

Sumber : Manual Pembibitan Tanaman Hutan, BPTH Bali dan Nusa Tenggara.

Sumber : Manual Pembibitan Tanaman Hutan, BPTH Bali dan Nusa Tenggara. Penyulaman Penyulaman dilakukan apabila bibit ada yang mati dan perlu dilakukan dengan segera agar bibit sulaman tidak tertinggal jauh dengan bibit lainnya. Penyiangan Penyiangan terhadap gulma dilakukan

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG PERATURAN PRESIDEN NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PRESIDEN NOMOR 67 TAHUN 2005 TENTANG KERJASAMA PEMERINTAH DENGAN BADAN USAHA DALAM PENYEDIAAN INFRASTRUKTUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

PERATURAN ORGANISASI IKATAN PERSAUDARAAN HAJI INDONESIA NOMOR : V TAHUN 2010 TENTANG TATA KERJA ORGANISASI

PERATURAN ORGANISASI IKATAN PERSAUDARAAN HAJI INDONESIA NOMOR : V TAHUN 2010 TENTANG TATA KERJA ORGANISASI PERATURAN ORGANISASI IKATAN PERSAUDARAAN HAJI INDONESIA NOMOR : V TAHUN 2010 TENTANG TATA KERJA ORGANISASI IKATAN PERSAUDARAAN HAJI INDONESIA ------------------------------------------------------------------

Lebih terperinci

KERANGKA ACUAN KERJA (KAK) N O T A R I S

KERANGKA ACUAN KERJA (KAK) N O T A R I S DOKUMEN RAHASIA KERANGKA ACUAN KERJA (KAK) N O T A R I S DALAM RANGKA PELAKSANAAN HAK MEMESAN EFEK TERLEBIH DAHULU (HMETD) / RIGHTS ISSUE PT WASKITA KARYA (PERSERO) TBK PT WASKITA KARYA (PERSERO) TBK JAKARTA,

Lebih terperinci

Analisis Asumsi Makro Ekonomi RAPBN 2011

Analisis Asumsi Makro Ekonomi RAPBN 2011 Analisis Asumsi Makro Ekonomi RAPBN 2011 Nomor. 30/AN/B.AN/2010 0 Bagian Analisa Pendapatan Negara dan Belanja Negara Biro Analisa Anggaran dan Pelaksanaan APBN SETJEN DPR-RI Analisis Asumsi Makro Ekonomi

Lebih terperinci

Perubahan bentang alam sebagai dampak pertambangan

Perubahan bentang alam sebagai dampak pertambangan Tropenbos International Indonesia Programme TBI INDONESIA Perubahan bentang alam sebagai dampak pertambangan Reklamasi dengan pendekatan bentang alam Petrus Gunarso, PhD Bukit Bangkirai, Samboja 4 Desember

Lebih terperinci

BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH A. Pendahuluan Kebijakan anggaran mendasarkan pada pendekatan kinerja dan berkomitmen untuk menerapkan prinsip transparansi dan akuntabilitas. Anggaran kinerja adalah

Lebih terperinci

Tidak mau kalah, seorang warga lain pun menimpali, "Setahu saya, Pak Dahlan Iskan itu justru lebih sering pakai fasilitas pribadi".

Tidak mau kalah, seorang warga lain pun menimpali, Setahu saya, Pak Dahlan Iskan itu justru lebih sering pakai fasilitas pribadi. http://antarajatim.com/lihat/berita/158500/kasus-korupsi-dahlan-iskan-di-mata-rakyat Kasus Korupsi Dahlan Iskan di Mata Rakyat Senin, 8 Juni 2015 16:30 WIB Oleh Edy M Yakub Kasus Korupsi Dahlan Iskan di

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 16/ 20 /PBI/2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 16/ 20 /PBI/2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 16/ 20 /PBI/2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a.

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a.

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2004 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2004 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2004 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa jalan sebagai salah satu prasarana transportasi merupakan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN NASIONAL TAHUN 2010-2025

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN NASIONAL TAHUN 2010-2025 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN NASIONAL TAHUN 2010-2025 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

RENCANA KINERJA BALAI BESAR PULP DAN KERTAS TAHUN ANGGARAN 2015

RENCANA KINERJA BALAI BESAR PULP DAN KERTAS TAHUN ANGGARAN 2015 RENCANA KINERJA BALAI BESAR PULP DAN KERTAS TAHUN ANGGARAN 2015 KATA PENGANTAR R encana Kinerja merupakan dokumen yang berisi target kinerja yang diharapkan oleh suatu unit kerja pada satu tahun tertentu

Lebih terperinci

Pengumuman Hasil Sertifikasi Legalitas Kayu pada IUIPHHK PT. Suka Jaya Makmur, Provinsi Kalimantan Barat oleh SUCOFINDO ICS

Pengumuman Hasil Sertifikasi Legalitas Kayu pada IUIPHHK PT. Suka Jaya Makmur, Provinsi Kalimantan Barat oleh SUCOFINDO ICS Materi Website Pengumuman Hasil Sertifikasi Legalitas Kayu pada IUIPHHK PT. Suka Jaya Makmur, Provinsi Kalimantan Barat oleh SUCOFINDO ICS Jaminan legalitas produk kayu harus dibuktikan dengan adanya sistem

Lebih terperinci

Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut

Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut Proyek Penelitian Pengembangan Pertanian Rawa Terpadu-ISDP Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut Penyusun I Wayan Suastika

Lebih terperinci

Panggilan untuk Usulan Badan Pelaksana Nasional Mekanisme Hibah Khusus untuk Masyarakat Adat dan Masyarakat Lokal Indonesia November 2014

Panggilan untuk Usulan Badan Pelaksana Nasional Mekanisme Hibah Khusus untuk Masyarakat Adat dan Masyarakat Lokal Indonesia November 2014 Panggilan untuk Usulan Badan Pelaksana Nasional Mekanisme Hibah Khusus untuk Masyarakat Adat dan Masyarakat Lokal Indonesia November 2014 A) Latar Belakang Mekanisme Hibah Khusus untuk Masyarakat Adat

Lebih terperinci

Disampaikan pada Annual Forum EEP Indonesia 2012 di Provinsi Riau Pekanbaru, 30-31 Oktober 2012

Disampaikan pada Annual Forum EEP Indonesia 2012 di Provinsi Riau Pekanbaru, 30-31 Oktober 2012 Disampaikan pada Annual Forum EEP Indonesia 2012 di Provinsi Riau Pekanbaru, 30-31 Oktober 2012 Oleh : Drs. Z U L H E R, MS Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau TERWUJUDNYA KEBUN UNTUK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

Lebih terperinci

Dengan ini mengajukan permohonan Izin Praktik untuk dapat melakukan pekerjaan sebagai Konsultan Pajak.

Dengan ini mengajukan permohonan Izin Praktik untuk dapat melakukan pekerjaan sebagai Konsultan Pajak. LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 111/PMK.03/2014 TENTANG : KONSULTAN PAJAK FORMAT SURAT PERMOHONAN IZIN PRAKTIK KONSULTAN PAJAK : Nomor :... (1)... Perihal : Permohonan

Lebih terperinci

Perhutanan Sosial Dapat Menjadi Sarana Efektif Bagi Pengentasan Kemiskinan

Perhutanan Sosial Dapat Menjadi Sarana Efektif Bagi Pengentasan Kemiskinan Dapat disiarkan segera Perhutanan Sosial Dapat Menjadi Sarana Efektif Bagi Pengentasan Kemiskinan Pemerintahan baru wajib memperhatikan kesejahteraan masyarakat di 33.000 desa di dalam dan sekitar hutan

Lebih terperinci

No. 17/ 11 /DKSP Jakarta, 1 Juni 2015 SURAT EDARAN. Perihal : Kewajiban Penggunaan Rupiah di Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia

No. 17/ 11 /DKSP Jakarta, 1 Juni 2015 SURAT EDARAN. Perihal : Kewajiban Penggunaan Rupiah di Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia No. 17/ 11 /DKSP Jakarta, 1 Juni 2015 SURAT EDARAN Perihal : Kewajiban Penggunaan Rupiah di Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia Sehubungan dengan berlakunya Peraturan Bank Indonesia Nomor 17/3/PBI/2015

Lebih terperinci

Disajikan dalam Acara Pertemuan Tahunan EEP- Indonesia Tahun 2013, di Hotel Le Meridien Jakarta, 27 November 2013

Disajikan dalam Acara Pertemuan Tahunan EEP- Indonesia Tahun 2013, di Hotel Le Meridien Jakarta, 27 November 2013 EEP Indonesia Annual Forum 2013 MANFAAT IMPLEMENTASI DAN PELAKSANAAN PROYEK-PROYEK EEP INDONESIA DI PROPINSI RIAU (Kebijakan Potensi - Investasi Teknologi) Disajikan dalam Acara Pertemuan Tahunan EEP-

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2009 TENTANG MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN

SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK DIREKTORAT PENYULUHAN PELAYANAN DAN HUBUNGAN MASYARAKAT KATA PENGANTAR DAFTAR ISI Assalamualaikum

Lebih terperinci

SIMPUL KRITIS KEGIATAN BALAI BESAR MEKANISASI PERTANIAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN TAHUN 2014

SIMPUL KRITIS KEGIATAN BALAI BESAR MEKANISASI PERTANIAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN TAHUN 2014 SIMPUL KRITIS KEGIATAN BALAI BESAR MEKANISASI PERTANIAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN TAHUN 2014 INSPEKTORAT JENDERAL KEMENTERIAN PERTANIAN Menjadi lembaga penelitian dan pengembangan mekanisasi

Lebih terperinci

KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN

KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN SUSUNAN DALAM SATU NASKAH DARI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1983 TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH TERAKHIR DENGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci