Kakao dari Rakyat. editorial ENGINEER MONTHLY

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Kakao dari Rakyat. editorial ENGINEER MONTHLY"

Transkripsi

1

2 editorial Kakao dari Rakyat Dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), kakao (biji cokelat) adalah salah satu komoditas dan industri yang menjadi fokus pengembangan 22 kegiatan ekonomi utama. ENGINEER MONTHLY Pemimpin Umum Ir. Rudianto Handojo Pemimpin Redaksi Ir. Aries R. Prima Editor Ir. Aries R. Prima Ir. Aditya Warman Ir. Mahmudi Kontributor Biro Media PII Koordinator Promosi Ir. Erpandi Dalimunthe, MT Desain Grafis & Layout Elmoudy Freez Sekretariat PII Jl. Halimun 39 Jakarta Telp Fax Website : Melihat fakta bahwa Indonesia adalah penghasil biji kakao terbesar ketiga di dunia, setelah Pantai Gading dan Ghana, tidaklah berlebihan bila kita semua memberi perhatian khusus pada komoditas ini. Bahkan, menurut data dari Kementerian Pertanian di pertengahan tahun 2011, produktivitas Indonesia lebih tinggi dari Pantai Gading dan Ghana, yaitu sebesar 800 kilogram per hektar. Uniknya, lebih dari 90 persen perkebunan kokoa di Indonesia adalah perkebunan rakyat, yang mengelola lahan seluas antara 2 sampai 3 hektar. Artinya setiap kebijakan atau perubahan harga akan berdampak langsung kepada petani kakao. Sejalan dengan peningkatan produksi, ekspor biji kakao ini pun terus meningkat dari tahun ke tahun, walaupun terdapat banyak permasalahan dalam proses produksi, tata niaga, dan industrinya. Center for Engineering and Industrial Policy Studies (CEIPS), sebuah lembaga pengkajian stratejik dari Persatuan Insinyur Indonesia (PII) pada pertengahan Desember lalu mengadakan sebuah diskusi mengenai kakao yang menghadirkan beberapa pembicara dari para pemangku kepentingan di bidang perkakaoan di Indonesia, seperti dari AIKI, ASKINDO, lembaga penelitian kakao, BPPT, dan Kementerian Perindustrian. Banyak hal menarik yang muncul dari diskusi ini yang sebagian besar kami sajikan dalam bagian utama Engineer Monthly kali ini. Tentu saja kami tidak lupa untuk melaporkan sebuah kejadian aktual yang masih banyak diperbincangkan, terutama, oleh kalangan insinyur, yaitu rubuhnya jembatan di Tenggarong, Kutai Kartanegara yang dilengkapi dengan sebuah infografis. Laporan ini masih sebatas pengamatan awal, belum merupakan laporan final, karena masih menunggu data lengkap dari tim investigasi melalui Badan Kejuruan Sipil PII. Selain itu kami juga menyajikan berbagai laporan lain, seperti perkembangan proses RUU Keinsinyuran dan berita kegiatan PII lainnya. Mengingat pentingnya UU keinsinyuran, kami mengajak setiap anggota dan pengurus PII untuk terus mendukung dan mengawal seluruh tahapan prosesnya hingga RUU bisa disahkan menjadi UU. Dalam kesempatan ini, kami mengucapkan selamat Hari Natal kepada semua pembaca, anggota, dan pengurus PII yang merayakannya. Dan tidak lupa kami menyampaikan selamat tahun baru, semoga di tahun mendatang PII dan para insinyur Indonesia akan dapat lebih banyak berkiprah dan berkarya bagi Indonesia yang lebih cerdas dan sejahtera. 2 ENGINEER MONTHLY No. 53 Desember 2011

3 update Bagaimanakah biji kakao diolah menjadi coklat? infografis : Biro Media PII, Desember 2011 No. 53 ENGINEER MONTHLY 3

4 mainframe Kakao : Pahit Manisnya Hidangan Dewa Salah-satu cemilan paling lezat di seluruh muka bumi adalah coklat. Keras-padat l a l u l u m e r d i l i d a h, menghadirk an sensasi manis-pahit, dilatari aroma yang tiada duanya. Sejak 1000 SM, suku-suku bangsa yang mendiami Meso-Amerika-Amerika Tengah sampai bagian utara Amerika Selatan sudah mengonsumsi cokelat, mereka mengolahnya menjadi minuman seperti yang biasa kita temui saat ini. Hanya saja mereka menambahkan rempah-rempah seperti kayu manis, vanila, annatto, bubuk cabai, dan lain sebagainya. Cokelat (Kakao) mempunyai nama ilmiah theobroma, yang berarti "makanan para dewa". Pada tahun 1400-an, suku Aztek yang mengambil-alih sebagian besar Mesoamerika memasukkan kakao ke d a l a m b u d a y a m e r e k a. M e r e k a menggunakan minuman coklat sebagai persembahan kepada dewa. Cokelat berkaitan dengan Xochiquetzal, Dewi Kehamilan. Cokelat berasal dari buah kakao. Bentuknya oval, panjang cm dan lebar 8-10 cm. Jika masak, warna kuning buah tersebut menjadi oranye dan bobotnya sekitar 500 g. Pohon kakao waktu kecil sangat ringkih. Bayi pohon kakao harus dinaungi tajuk pohon induknya agar tidak mati kepanasan. Uniknya, pohon kakao dewasa justru suka sinar matahari yang panas. Kakao hanya tumbuh di khatulistiwa, yang panas dan lembab. Setelah empat tahun, pohon kakao akan menghasilkan kantong warna-warni di batangnya. Itulah buah kakao yang sangat berharga. Permintaan akan cokelat yang semakin tasty terus berkembang, terutama sejak ditemukan mesin pengolah cokelat di masa revolusi industri. Kemudian p e r u b a h a n s i g n i f i k a n d a l a m meningkatkan mutu cokelat terjadi pada tahun 1828 di Belanda. Coenraad van Houten menemukan cara memisahkan bubuk dan minyak kakao dari adonan biji kakao giling. Hal ini m e m b u k a p e n e m u a n - p e n e m u a n berikutnya yang mampu mencampur cokelat berupa cairan kental dan pekat dengan minyak kakao dan gula. Pada abad 19, cokelat yang rasanya lembut di lidah mulai diciptakan di Swiss. Adonan biji kakao giling dimasukkan ke cakram porselen dan dihaluskan selama beberapa jam sehingga menghasilkan cokelat lembut yang lumer di lidah. Proses Grinding and Pressing adalah proses penggerusan biji kakao menjadi serbuk coklat. Yang diinginkan adalah ukuran partikel dibawah 70 mikron. Apa yang terjadi disini? Biji kakao dibersihkan dan dipanggang, kemudian cangkangnya dibuang dan dagingnya diambil. Daging biji kakao kemudian digiling untuk membuat cairan cokelat, yang merupakan padatan kakao dalam mentega cokelat. Kemudian dipisahkan antara mentega cokelat dan padatan. Padatan diproses menjadi bubuk Kakao. Kakao bubuk ada dua jenis, yaitu kakao dengan proses natural dan kakao dengan proses Dutch. Kakao natural sedikit asam, sedangkan kakao dari hasil proses Dutch diperlakukan dengan larutan alkalin untuk menaikkan kadar ph. Proses Dutching menghasilkan cokelatnya lebih lembut dan warna lebih gelap. Karena mentega coklat harganya jauh lebih mahal dari serbuk coklat, maka banyak perusahaan di Indonesia mengganti mentega coklat dengan lemak nabati lainnya. Akibatnya, coklat di Indonesia kehilangan mouth feel -nya. E infografis : Biro Media PII, 2011 Diambil dari berbagai sumber 4 ENGINEER MONTHLY No. 53 Desember 2011

5

6 mainframe Dr. Ing. Ilham A. Habibie, MBA (Ketua CEIPS PII) Tantangan Industri Kakao Nasional Lebih dari 90% perkebunan kakao di Indonesia dimiliki oleh petani perorangan dan sisanya dikelola oleh PTPN/swasta. Perkebunan kakao di Indonesia saat ini setidaknya menghidupi sekitar 1,5 juta petani dan keluarganya. Center For Engineering And (BBIA), antaralain mengatakan bahwa produktivitas Kakao Nasional di tingkat on farm relatif rendah, 1000 kg/ha. Sedangkan Pantai Gading dan Ghana menghasilkan kg/ha. Hal itu terjadi karena bibit yang kurang bermutu, pohon tua, plus adanya 40% tanaman kakao yang terserang hama penggerek. Namun, data lain yang dikeluarkan oleh Kementerian Pertanian (2011) yang digabungkan dengan data dari Centre for the Study of African Economies menyatakan bahwa produktivitas kakao Indonesia adalah yang tertinggi, yaitu sebesar 800 kg/hektar, dibandingkan dengan produktivitas dari Pantai Gading sebesar 764,7 kg/hektar dan Ghana sebesar 400 kg/hektar. Lebih dari 90% perkebunan kakao di Industrial Policy Studies (CEIPS) Indonesia dimiliki oleh petani perorangan PII menyelenggarakan diskusi dan sisanya dikelola oleh PTPN/swasta. 80% Biji kakao nasional diekspor dalam panel tentang peluang dan Perkebunan kakao di Indonesia saat ini bentuk produk primer sehingga proses nilai tantangan Industri Kakao Nasional, di setidaknya menghidupi sekitar 1,5 juta tambah tidak terjadi di dalam negeri. Jakarta, 12-12/2011. Diskusi substansial dan petani dan keluarganya. Padahal menurut UU No. 18 Th 2004 tentang menarik ini dibuka (dan ditutup) Ketua CEIPS Perkebunan (item d) : Mengutamakan hasil Dr. Ing. Ilham Akbar Habibie, yang juga Kakao adalah tanaman pekarangan yang perkebunan dalam negeri untuk memenuhi mengikuti seluruh rangkaian paparan -yang cocok untuk ditanam disela-sela pohon kebutuhan konsumsi dan bahan baku dipandu dengan rapi oleh Dr. Utama kelapa. Kakao menghasilkan devisa terbesar industri. Padmadinata. ketiga setelah kelapa sawit dan karet. Devisa dari kakao pada tahun 2010 mencapai USD Kenyataannya, produksi biji kakao Indonesia Menurut berbagai data yang ditampilkan 1,6 milyar ton/th 2010, sedangkan Singapura dalam diskusi ini, Indonesia adalah produsen tidak memproduksi biji kakao, tetapi negeri biji kakao terbesar ketiga dunia setelah Pada 2011, karena merosotnya nilai tetangga ini mampu memproduksi kakao Pantai Gading dan Ghana. Luas total keekonomisan dan program yang kurang olahan ton/th. perkebunan kakao mencapai 1,6 juta hektar tepat sasaran, produksi kakao Indonesia yang tersebar di seluruh provinsi dari Sabang diperkirakan mengalami penurunan hingga Malaysia yang hanya memproduksi biji sampai Merauke. Demikian juga menurut tinggal sebesar metrik ton (MT). kakao sebesar ton/th, memproduksi Firman Bakri dari Asosiasi Kakao Indonesia kakao olahan ton/th. Produksi kakao (Askindo) dalam paparannya bertajuk Kemudian paparan bertajuk Tantangan Dan olahan Indonesia baru mencapai Permasalahan Pengembangan Kakao S t r a t e g i P e n g e m b a n g a n I n d u s t r i ton/th. E Indonesia. Pengolahan Kakao, yang disampaikan oleh Agus Sudibyo dari Balai Besar Industri Agro 6 ENGINEER MONTHLY No. 53 Desember 2011

7 Kondisi Kakao Nasional : antara produktivitas dan konsumsi mainframe infografis : Biro Media PII, 2011 Senyatanya, teknologi pengolahan Indonesia. bisa menjadi kenyataan karena pada kakao cukup lengkap di Indonesia. Dari Padahal hingga tahun 2001 jumlahnya tahun tersebut total areal perkebunan teknologi pembibitan, budidaya, dan sudah lebih dari 40 perusahaan. k a k a o I n d o n e s i a d i p e r k i r a k a n pasca panen kakao di sektor hulu. Pengenaan PPN bagi industri kakao mencapai 1,35 juta ha dan mampu Kemudian teknologi pembuatan saat itu telah mendorong relokasi menghasilkan 1,3 juta ton/tahun biji pasta, lemak, dan bubuk kakao yang pabrik ke Malaysia dan Singapura. kakao. merupakan industri semi hilir. Dan di sektor hilir sudah ada teknologi Pengembagangan industri kakao bagi Infografis pembuatan cokelat batangan, cokelat Indonesia sesungguhnya memiliki arti Pada gambar di atas terlihat di tahun putih, meises, berbagai jenis permen strategis. Kebutuhan kakao dunia 2010, Indonesia mampu memproduksi dan minuman, hingga selai. pertahun mencapai 3,5 juta ton, plus kakao sebanyak ton dan pertumbuhan permintaan hingga 5% mengekspor biji kakao hingga Tapi dipasar lokal, menemukan kedai atau ton pertahun. ton (72% dari total produksi). coklat lebih sulit dari mencari jarum di Sedangkan jumlah industri nasional tumpuk an jerami. Begitu ada, Melalui berbagai upaya perbaikan dan kakao dan cokelat sebanyak16 unit, harganya lebih mahal dari secangkir perluasan maka areal perkebunan dengan kapasitas ton/tahun, kopi. kakao Indonesia pada tahun 2010 produksi ton, utilitas 66%. Hal ditargetkan mencapai 1,1 juta ha dan yang tak kalah menarik adalah Hingga 2011, produksi biji kakao diharapkan mampu menghasilkan perbandingan produktivitas kakao, Indonesia lebih banyak diekspor produksi 730 ribu ton/tahun biji kakao. Indonesia mampu menghasilkan 800 sebagai bahan mentah - layaknya Pada tahun 2025, sasaran untuk kg/hektar, sedangkan Pantai Gading ekonomi zaman VOC. Saat ini hanya menjadi produsen utama kakao dunia 764,7 kg/hektar, dan Ghana 400 ada lima industri pengolahan kakao di kg/hektar. E Desember 2011 No. 53 ENGINEER MONTHLY 7

8 mainframe infografis : Biro Media PII, 2011 Kebijakan Kakao: Industri Prioritas yang Kontroversial Pemerintah melalui berbagai disalurkan dan bibit siap tanam yang Tahun ini, industri kakao dalam negeri instansi telah melakukan dibuat oleh penangkar disertifikasi oleh diprediksi menyerap ton biji kakao. pelatihan dan pendampingan lembaga yang berwenang yaitu Balai Besar pada para petani kakao - dari Perbenihan dan Proteksi Tanaman Pengembangan Industri Kakao mengacu Aceh hingga Papua. Namun Perkebunan (BBP2TP). p a d a P e r M e n P e r i n N o / M - mutu kakao tetap rendah dibanding IND/Per/10/2009 tentang Peta Panduan produk tetangga, apalagi Pantai Gading Selain Gernas, Pemerintah mewajibkan (Roadmap) Pengembangan Klaster Industri dan Ghana. penerapan SNI Kakao Bubuk, melalui Kakao. P e r a t u r a n M e n p e r i n N o. 4 5 / M - Pemerintah menargetkan produksi kakao IND/PER/5/2009. Dan yang sempat Namun menurut Asosiasi Kakao Indonesia Indonesia mencapai 2 juta ton pertahun kontroversial adalah penerapan Bea Keluar (Askindo), pengenaan bea keluar justru pada Dalam PerPres No. 28/2008 (BK) atas ekspor biji kakao, berdasarkan merugikan petani, meski melindungi dinyatakan bahwa industri pengolahan PMK No. 64 Tahun pabrik dalam negeri. Karena pabrik kakao merupakan salah satu industri menjual hasil olahan kakao ke luar negeri p r i o r i t a s y a n g d i d o r o n g Pemerintah menerapkan bea keluar (BK) tanpa dikenakan pajak. pengembangannya di dalam negeri, yang supaya penyerapan di dalam negeri lebih saat ini digenjot dengan program Gerakan baik, per 1 April Menurut AIKI, BK Lalu ada usulan penuruan tarif bea masuk Peningkatan Produksi dan Mutu Kakao d i t e r a p k a n u n t u k m e r a n g s a n g mesin pembuatan coklat. Mesin yang Nasional alias Gernas. Program ini pertumbuhan industri pengolahan kakao dioperasikan secara elektrik tersebut d i a n t a r a n y a a d a l a h p e r e m a j a a n di dalam negeri. belum bisa diproduksi dalam negeri. pertanaman kakao yang rusak, rehabilitasi Pertanyaannya adalah mengapa insinyur pertanaman yang kurang baik, dan Setelah penerapan kebijakan fiskal dan industri kita belum belum mampu intensifikasi pertanaman yang kurang tersebut, konsumsi biji kakao oleh industri membuatnya? E produktif. dalam negeri meningkat menjadi Untuk menjaga mutu, semua plantlet yang ton pada 2010 dari ton pada ENGINEER MONTHLY No. 53 Desember 2011

9

10 aktual Bambang (Ketua Tim Fasilitator Lembaga Ekonomi Masyarakat (LEM) Sejahtera Sultra) Memberdayakan Kakao dari Bawah Sebagai ilustrasi, salah satu LEM yang telah berjalan selama dua tahun adalah LEM Desa Andomesinggo, Kecamatan Besulutu, Kabupaten Konawe, yang sudah memiliki 93 anggota dengan basis utama pertanian kakao. Masyarakat desa Sulawesi Ekonomi Masyarakat (LEM) Sejahtera, Sejak berdirinya LEM Sejahtera, semua Tenggara dalam posisi menghimpun potensi sumberdaya desa anggotanya sudah bisa memenuhi l e m a h d i b i d a n g d a l a m s a t u k e k u a t a n. Tu j u a n n y a, kebutuhan pupuk dan modal. Sebelum ada permodalan dan proses m e n u m b u h k a n k e m a n d i r i a n, LEM, petani kesulitan mencari pupuk. produksi kakao, karena perekonomian, dan kesejahteraan warga. Kalaupun ada, harganya mahal. masih berjalan sendiri-sendiri. Padahal jumlah produksi kakaonya lebih dari Menurutnya, saat ini, telah terbentuk 14 LEM " S e k a r a n g, k a m i b i s a l a n g s u n g ton, dengan produksi biji kakao fermentasi Sejahtera di lima kabupaten. Lembaga ini berhubungan dengan distributor karena yang dihasilkan petani pada tahun 2011 baru memadukan prinsip koperasi, bank, membeli dalam partai besar. Harga lebih mencapai 100 ton. sekaligus perusahaan, yang kepengurusan murah. Anggota juga membayar pupuk dan anggotanya dijalankan oleh anggota dengan sistem kredit, dilunasi setelah Masalahnya, harga kakao fermentasi masih masyarakat sendiri. Dalam lembaga ini, mereka panen," imbuhnya. terlalu rendah, jauh dari harapan petani. petani bisa meminjam modal untuk Selisih harga kakao fermentasi dan kakao kebutuhan produksi dengan syarat dan Hama penggerek ditengarai sebagai non fermentasi hanya berkisar Rp2000 per ketentuan ringan. ancaman yang serius bagi kelangsungan kilogram, kata Ketua Tim Fasilitator Lembaga usaha perkebunan kakao karena belum Ekonomi Masyarakat (LEM) Sejahtera Sultra, LEM Sejahtera juga menyatukan sarana ditemukan pengendalian hama yang efektif. Bambang, dalam Diskusi CEIPS di Jakarta, produksi atau pengolahan lanjutan hasil N a m u n m e n u r u t B a m b a n g, u p a y a Senin 12/12/11. produksi untuk meningkatkan nilai jual penanggulangan hama, secara teori, produk pertanian. Petani juga bisa sebetulnya sangat mudah. Yakni dengan Harga kakao non fermentasi sekitar Rp 21 mengakses sarana produksi dengan harga melakukan gerakan pengendalian hama. ribu perkilogram. Sedangkan harga kakao lebih murah karena pembelian dalam partai fermentasi di tempat kami hanya Rp23 ribu. besar. Kesulitannya terletak pada bagaimana Selisih harga yang hanya Rp2000 itu menjadikannya sebagai gerakan terpadu membuat petani tak berminat melakukan "Selain itu, petani juga bisa menjual secara luas dan menyeluruh. LEM sudah fermentasi. Karena fermentasi kakao butuh langsung ke pembeli besar, seperti berhasil mengatasi persoalan ini, paling perlakuan khusus selama empat hari. perusahaan, k arena hasil produksi tidak dalam lingkup jejaring mereka. terkumpul dalam kuantitas besar dan Setelah dilakukan fermentasi empat hari, standar mutu yang sama," ujarnya. Lebih jauh Bambang merencanakan akan bobot kakao berkurang, tetapi harganya menampung hasil kakao desa lain dan beda tipis dengan non fermentasi, katanya. Dari 14 LEM yang ada saat ini telah terkumpul menjual langsung ke perusahaan di Jakarta. Bahkan dalam kenyataannya, acapkali kakao total aset senilai sekitar Rp 3 miliar. LEM akan "Dengan cara ini, kami bisa memotong rantai fermentasi dihargai sama dengan yang terus memutar dan mengembangkan aset. pemasaran dan mendongkrak harga jual," belum difermentasi, dan para tengkulak Karena seluruh aset itu terkumpul dari iuran pungkasnya. E mencampurnya begitu saja. Petani dalam setiap anggota. posisi yang lemah tak bisa berbuat apa-apa menghadapi hal ini, ujar Bambang. Sebagai ilustrasi, salah satu LEM yang telah berjalan selama dua tahun adalah LEM Desa Mungkin jika petani berhimpun dalam satu Andomesinggo, Kecamatan Besulutu, lembaga berbasis desa, kami akan memiliki Kabupaten Konawe, yang sudah memiliki 93 posisi lebih kuat, ujarnya. Maka sejak 2009, anggota dengan basis utama pertanian Bambang memelopori berdirinya Lembaga kakao. 10 ENGINEER MONTHLY No. 53 Desember 2011

11 Ketika Jembatan Mulai Merapuh Ir. Said Didu mengimbau untuk menyelidiki kemampuan SDM yang terlibat dalam pengerjaan proyek jembatan Kukar. Kesalahan yang melanggar etika profesi insinyur, maka siapa pun yang keluarkan sertifikat harus bertanggung jawab, ujarnya. aktual Jembatan Marunda merupakan penghubung Jalan Bulak Cabe dengan Kampung Sawah di kawasan Jalan Cakung Drain Cilincing, Jakarta Utara. Jalan itu sangat ramai dan menjadi rute penting di sana. Menurut rencana kerja, enam balok sepanjang 30,8 meter itu akan dipasang berjejer. Petugas di lokasi proyek menduga balok yang digunakan untuk membangun jembatan tersebut belum kering. Kerugian diperkirakan mencapai Rp750 juta. Proyek jembatan dengan anggaran sebesar Rp 17,7 milyar tersebut direncanakan akan selesai Mei Beberapa jembatan besar di Tanah Air belak angan ini ambruk. Yang paling menggegerkan adalah keruntuhan jembatan berkonstruksi gantung, Jembatan Kutai Kartanegara, di Kalimantan Timur. Jembatan sepanjang 700 meter itu dalam keadaan ramai kendaraan saat tiba-tiba runtuh serentak. 3 Menurut sejumlah analisis, rangka besi jembatan Kukar ternyata bukan untuk jembatan gantung, namun dimodifikasi untuk jembatan gantung. Jembatan Kukar, Kutai - Kalimantan Timur Entah ini gejala apa, berturut-turut jembatan beruntuhan di Indonesia. Termutakhir adalah jembatan gantung Krueng Keureutoe Lhoksukon, Aceh, yang rubuh pukul Wib, 18/12/11. Jembatan Krueng, yang menghubungkan Kecamatan Lhoksukon dan Kecamatan Pirak Timu, tercebur ke dalam sungai akibat besi pengikat kabelnya putus. Jembatan gantung yang ambruk tersebut, menurut mereka, dibangun tahun 1982 dan ini merupakan kerusakan kedua kalinya. Bedanya, yang kedua ini ternyata fatal dan ambruk. Belum lama berselang, jembatan penghubung akses Marunda menuju Cilincing, juga roboh. Enam tiang beton balokan jembatan di Jalan Arteri, Cilincing, Jakarta Utara itu ambruk saat dipasang, sekitar pukul WIB, 10/12/11. Ada banyak pelajaran yang dapat ditarik dari peristiwa mengenaskan ini. Tak lama setelah Jembatan Kukar diresmikan pada 2001, ada laporan bahwa ditemukan pergeseran pada struktur jembatan. Blok angkur bergeser delapan sentimeter. Lima tahun kemudian gelagar jembatan turun 50 cm dan tiang jembatan bergeser 18 cm. Tak ada tindakan segera untuk mengatasi keadaan darurat ini. Perawatan yang sempat dilakukan pada 2007 tidak merespon turunnya gelagar dan pergeseran tiang jembatan. Sense of urgency tidak muncul hingga saat kegagalan ekstrem terjadi. Ketua Umum PII, Dr. Ir. Said Didu menyoroti, tender-tender pemeliharaan berisiko tinggi biasanya memakai sistem cost and fee. Maka ditetapkan dulu cost-nya baru kemudian ditenderkan feenya. Ir. Said Didu mengimbau untuk menyelidiki kemampuan SDM yang terlibat dalam pengerjaan proyek jembatan itu. Kesalahan yang melanggar etika profesi insinyur, maka siapa pun yang keluarkan sertifikat harus bertanggung jawab, ujarnya. E Desember 2011 No. 53 ENGINEER MONTHLY 11

12 aktual Malam silaturahmi RUU Keinsinyuran antara Pengurus PII dengan Anggota Legislatif dan Menteri RUU Keinsinyuran : Penting dan Segera Pengurus PII dan sejumlah Dalam kesempatan yang sama, mantan insinyur Indonesia berkompetisi agar setara anggota DPR dan pemerintah Ketua Umum PII, Ir. Arifin Panigoro dengan insinyur di negara lain,"ujar Dr. M bertemu di Bimasena Club, menyatakan secara singkat beberapa hal Said Didu. Jakarta Selatan, 30 November yang berkaitan dengan runtuhnya Jembatan Didahului acara makan KuKar. Menurutnya, kita perlu segera Ketua Dewan Insinyur yang juga inisiator malam, Ketua Umum PII Dr. Ir. M. Said Didu membentuk badan yang mengaudit sarana RUU Keinsinyuran di DPR Ir. Airlangga membuka acara finalisasi perkembangan infrastruktur, terutama jembatan dan Hartarto, MMT, MBA menambahkan bahwa RUU Keinsinyuran malam itu. gedung pencakar langit. p r a k t i k k e i n s i n y u r a n y a n g d a p a t menimbulkan dampak destruktif semestinya Tak berlebihan jika seluruh hadirin adalah Sebelumnya, Ketua Umum PII Dr. Ir. M. Said menjadi pelajaran berharga bagi kita semua para insinyur, baik dari unsur eksekutif Didu juga sempat menyinggung soal insiden selaku insinyur yang ada di DPR, untuk maupun legislatif. Dari unsur pemerintah runtuhnya Jembatan KuKar. Maka UU segera menuntaskan pembahasan RUU ini di diantaranya Menteri Pertahanan Dr. Ir. Keinsinyuran setidaknya diperlukan untuk Balegnas. Perlindungan masyarakat adalah Purnomo Yusgiantoro, Menteri Negara Ristek menjawab dua tantangan. Pertama, prioritas utama, dan UU Keinsinyuran Prof. Dr. Ir. Gusti Muhammad Hatta, dan memproteksi dan mengatur arus globalisasi menjadi alat untuk menjaga kredibilitas dan Kepala BPPT Dr. Ir. Marzan Aziz Iskandar. tenaga kerja profesional khususnya bidang rasa tanggung jawab bagi profesi Insinyur, k e i n s i n y u r a n. K e d u a, m e m b e r i k a n katanya. Sedangkan dari Legislatif nampak hadir perlindungan pada masyarakat atas praktik Ketua Fraksi Demokrat Ja far Hafsah dan keinsinyuran. Anggota DPR lainnya seperti Ketua Fraksi anggota Fraksinya, Sutan Batugana, serta Demokrat Ja far Hamzah, dan beberapa Anggota Komisi XI DPR RI, Arif Budimanta Profesi insinyur seharusnya mendapat angota dewan lainnya menyatakan hal yang juga anggota dari Fraksi PDI sanksi jika melakukan kesalahan dalam senada. Lebih lanjut Dr. Ir. Jafar Hafsah Perjuangan. Dari DPD hadir Bambang membangun infrastruktur, sebagaimana menyatakan bahwa RUU Keinsinyuran ini Soeroso selaku Ketua DPD. profesi dokter yang dikenai sanksi bila salah harus tetap melalui prosedur yang berlaku, mendiagnosa, imbuhnya. dan harus masuk dulu dalam program Acara ramah-tamah malam dimaksudkan legislasi nasional dan dibahas di Badan untuk memaparkan dan mendiskusikan Tak kalah penting adalah, bahwa UU Legislasi Nasional untuk kemudian tentang pentingnya Undang-undang Keinsinyuran juga akan memperkuat ditetapkan dan disahkan sebagai Undang- Keinsinyuran. Anggota Komisi XI DPR RI, Arif profesinalisme dengan standar kompetensi undang. E Budimanta yang juga anggota dari Fraksi PDI yang jelas dan berjenjang, dengan adanya Perjuangan yang kerap mengambil posisi akreditasi dan sertifikasi, serta remunerasi selaku partai oposisi mengatakan, bahwa ia profesi keinsinyuran. siap mendukung UU Keinsinyuran, jika itu akan membawa manfaat bagi masyarakat. "Akreditasi profesi insinyur akan mendorong 12 ENGINEER MONTHLY No. 53 Desember 2011

13 aktual Diskusi BK Mesin : Mengukur Indikator Percepatan Proyek MP3EI Menyusul rapat internal BK m a s i h d i b a w a h 7 % m e n a n d a k a n Maka, BUMN strategis dan manufaktur telah Mesin PII di Lantai 9 Gedung realisasinya biasa-biasa saja, alias pertanda menandatangani Key Performance Indicator Kementerian BUMN, Jakarta 8 bahwa MP3EI tidak jalan. (KPI) dan komitmen pengembangan bisnis Desember 2011, peserta rapat dengan Dr. Irnanda selaku Deputi Bidang mengikuti kegiatan diskusi dengan tema Dengan berkelakar Ir. Irnanda mengatakan Usaha Industri Strategis dan Manufaktur Indikator Percepatan Projek Not As Usual. b a hwa K o r e a i t u t i d a k k o n s i s t e n, Kementerian BUMN. Indonesialah yang konsisten. Sejak 32 tahun Diskusi yang dibuka Ketua Umum BK Mesin, lalu produksi baja Korea meningkat 20 x lipat, Menurut Dr. Irnanda, perusahaan BUMN Dr. Budhi Suyitno itu berlangsung meriah. sedangkan produksi baja Krakatau Steel harus mengembangkan teknologi agar bisa Seluruh bangku di ruangan yang sebenarnya "konsisten", alias tak ada peningkatan bersaing. Seperti yang dilakukan PT Telkom cukup besar itu penuh. Dari judul diskusinya berarti. yang terus melakukan terobosan. Misalnya, saja orang sudah bisa menerka bahwa objek pengembangan broadband dan fiber optic. tinjauan adalah MP3EI. Benarkah MP3EI Banyak pekerjaan rumah yang harus Semuanya harus di-drive dengan teknologi. adalah Percepatan Projek Not As Usual? dilakukan oleh pemerintah maupun kalangan industri untuk membenahi Daya tarik persaingan ke depan adalah Presenter Dr. Ir. Irnanda Laksanawan Msc. Eng masalah tersebut. Daya saing industri, Teknologi Informasi dan Litbang. Kita harus tidak secara verbal menjawab pertanyaan itu. penguatan ekspor, dan proteksi non-tarif membuat produk-produk yang lebih efisien Tidak dengan binary mengomentari MP3EI menjadi hal penting. Permasalahan yang dan murah agar bisa bersaing di pasar, ini betul atau salah, tepat atau gagal. cukup besar salah satunya adalah ujarnya. Masterplan ini tentu didasari dengan itikad infrastruktur kita yang belum siap bersaing baik para pemangku kebijakan untuk dengan China. Satu ilustrasi menarik, tutur Ir. Irnanda, memajukan Indonesia, salah satunya pada adalah bahwa China yang selama ini kita sektor industri nasional. Produksi baja China mencapai 54,3 juta asumsikan melakukan dumping, sebenarnya metrik ton atau naik 9,7% dibanding Februari tidak. Yang mereka lakukan adalah efisiensi. Deputi Menneg BUMN Bidang Usaha Kenaikan produksi juga dialami Penerapan teknologi dengan produksi Strategis dan Manufaktur itu menjanjikan Jepang, yaitu naik 5,7% menjadi 8,9 juta besar-besaran sehingga komponen biaya komitmennya untuk melakukan terobosan- metric ton, sedangkan produksi baja Korea jauh lebih hemat. Dan dalam hal ini kita kalah terobosan terhadap berbagai bottle-neck Selatan naik 25,7% menjadi 5 juta metric ton. jauh. yang ada selama ini, agar proyek-proyek yang telah direncanakan bisa terlaksana. PT Krakatau Steel memperkirakan produksi Walau hanya 26% produk lokal yang head to perseroan hanya 2 juta ton hingga akhir head dengan China, di bidang industri kita Seperti diketahui, prinsip organisasi berjalan tahun kalah total. China menduduki posisi dalam konsep POAC (Plan-Organize-Action- pertama dalam kinerja industri di Asia Timur Control). Dua tahap awal, plan dan organize Tanpa ada inovasi hasil produksi, maka dan Tenggara, sedangkan Indonesia pada adalah tahapan yang relatif mudah. Tetapi dalam tempo 4-5 tahun lagi, bakal banyak urutan ke-38. E action dan control-lah yang menjadi indikator BUMN yang kolaps. Padahal perusahaan keberhasilan suatu rencana organisasi. pelat merah juga harus bisa bersaing dengan Jika MP3EI berjalan efektif, akan tercermin produk-produk impor. dalam PDB 2012 di atas 7%. Jika ternyata PDB Desember 2011 No. 53 ENGINEER MONTHLY 13

14 aktual Konferensi Insinyur se-asean (CAFEO) Sustainable Urbanization Engineering Challenges and Opportunities Dipimpin Sekjen PII, Ir. Heru nasional yang disebut Masterplan pentingnya penyediaan lapangan kerja agar Dewanto dan Direktur Percepatan dan Perluasan Pembangunan perekonomian dapat memanfaatkan secara Eksekutif PII, Rudianto Ekonomi Indonesia (MP3EI). maksimal besarnya porsi penduduk usia Handojo, belasan delegasi produktif. Inilah yang disebut sebagi Visi PII hadir dalam Konferensi Intinya, MP3EI mengedepankan pendekatan 2025 dalam MP3EI. AFEO ke -29 di The Rizqun International business as not usual, melibatkan seluruh Hotel, Bandar Seri Begawan, Brunei pemangku kepentingan, serta fokus pada Visi 2025 tersebut diwujudkan melalui tiga Darussalam, November prioritas yang kongkrit dan terukur. misi yang menjadi strategiutamanya: Pertama, mengembangkan 22 kegiatan Dari konferensi regional bertemakan Melalui langkah MP3EI, percepatan dan ekonomi utama dalam enam koridor Sustainable Urbanization: Engineering perluasan pembangunan ekonomi akan ekonomi ; Kedua, Memperkuat konektivitas Challenges and Opportunities itu, lima menjadikan Indonesia memiliki pendapatan lokal dan nasional ; dan ketiga, Memperkuat angota PII menerima AFEO Honorary Fellow. p e r k a p i t a y a n g b e r k i s a r a n t a r a SDM dan IPTEK Nasional. Mereka adalah Ir. Habimono Koesoebjono, Ir USD pada tahun Eddy J. Danu, Ir. Arifin Tasrif, Ir. Rinaldi PII sebagai asosiasi profesi insinyur Firmansyah, dan Ir. Alwin Syah Loebis. U n t u k m e w u j u d k a n nya d i p e r l u k a n memegang peran penting dalam MP3EI, pertumbuhan ekonomi ril sebesar 6,4 7,5 terutama dalam aspek penguatan SDM dan Prof. Dr. Ir. Wiratman Wangsadinata persen pada periode , dan sekitar IPTEK. memperoleh Asean Engineering Award 8,0 9,0 persen pada periode untuk kategori perorangan. Sedangkan Pertumbuhan ekonomi tersebut akan Dengan anggota, 20 staf profesional, Asean Egineering Award untuk kategori dibarengi oleh penurunan inflasi dari 6 komite, 14 Badan Kejuruan, 1 pusat studi, perusahaan diraih PT PP, yang diwakili oleh Ir. sebesar 6,5 persen pada periode dan 86 cabang, PII adalah asosiasi insinyur Hajar Setiadi. menjadi 3,0 persen pada E terbesar di Indonesia, papar Sekjen. Country Report Indonesia disampaikan oleh Indonesia tengah berada dalam periode Sekjen PII, Ir. Heru Dewanto. Dikatakan, transisi struktur penduduk usia produktif. dengan berbagai potensi keunggulan dan Pada kurun waktu , penurunan keberadaan lebih dari insinyur di indeks rasio ketergantungan Indonesia akan segenap penjuru negeri, pada bulan Mei lalu mencapai angka terendah. Implikasi Pemerintah RI mencanangkan program penting dari kondisi ini adalah semakin 14 ENGINEER MONTHLY No. 53 Desember 2011

DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN KEMENTERIAN PERTANIAN 2013

DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN KEMENTERIAN PERTANIAN 2013 DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN KEMENTERIAN PERTANIAN 2013 KAKAO Penyebaran Kakao Nasional Jawa, 104.241 ha Maluku, Papua, 118.449 ha Luas Areal (HA) NTT,NTB,Bali, 79.302 ha Kalimantan, 44.951 ha Maluku,

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM. 5.1 Luas Areal Perkebunan Kopi Robusta Indonesia. hektar dengan luas lahan tanaman menghasilkan (TM) seluas 878.

V. GAMBARAN UMUM. 5.1 Luas Areal Perkebunan Kopi Robusta Indonesia. hektar dengan luas lahan tanaman menghasilkan (TM) seluas 878. V. GAMBARAN UMUM 5.1 Luas Areal Perkebunan Kopi Robusta Indonesia Luas lahan robusta sampai tahun 2006 (data sementara) sekitar 1.161.739 hektar dengan luas lahan tanaman menghasilkan (TM) seluas 878.874

Lebih terperinci

Posisi Pertanian yang Tetap Strategis Masa Kini dan Masa Depan Jumat, 22 Agustus 2014

Posisi Pertanian yang Tetap Strategis Masa Kini dan Masa Depan Jumat, 22 Agustus 2014 Posisi Pertanian yang Tetap Strategis Masa Kini dan Masa Depan Jumat, 22 Agustus 2014 Sektor pertanian sampai sekarang masih tetap memegang peran penting dan strategis dalam perekonomian nasional. Peran

Lebih terperinci

SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN PADA ACARA Peringatan Hari Kakao Indonesia (Cocoa Day) ke 3 Tanggal September 2015 di Ambarukmo Plaza, Yogyakarta

SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN PADA ACARA Peringatan Hari Kakao Indonesia (Cocoa Day) ke 3 Tanggal September 2015 di Ambarukmo Plaza, Yogyakarta SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN PADA ACARA Peringatan Hari Kakao Indonesia (Cocoa Day) ke 3 Tanggal 17-20 September 2015 di Ambarukmo Plaza, Yogyakarta Yang Terhormat, 1. Menteri Perekonomian RI; 2. Menteri

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Cokelat merupakan hasil olahan dari biji tanaman kakao (Theobroma cacao)

BAB I PENDAHULUAN. Cokelat merupakan hasil olahan dari biji tanaman kakao (Theobroma cacao) BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Cokelat merupakan hasil olahan dari biji tanaman kakao (Theobroma cacao) yang dapat dijadikan makanan ataupun minuman. Cokelat telah melewati sejarah yang panjang sejak

Lebih terperinci

SAMBUTAN GUBERNUR BANK INDONESIA SOSIALISASI PROGRAM PENGENDALIAN INFLASI BI Jakarta, 25 April 2016

SAMBUTAN GUBERNUR BANK INDONESIA SOSIALISASI PROGRAM PENGENDALIAN INFLASI BI Jakarta, 25 April 2016 SAMBUTAN GUBERNUR BANK INDONESIA SOSIALISASI PROGRAM PENGENDALIAN INFLASI BI Jakarta, 25 April 2016 Yang kami hormati, Gubernur Jawa Tengah, Bapak H. Ganjar Pranowo, Anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia,

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN. Latar Belakang

1 PENDAHULUAN. Latar Belakang 1 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Peraturan Presiden No 32 Tahun 2011 tentang MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) merupakan sebuah langkah besar permerintah dalam mencapai

Lebih terperinci

RUMUSAN HASIL RAPAT KERJA KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN DENGAN PEMERINTAH DAERAH TAH

RUMUSAN HASIL RAPAT KERJA KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN DENGAN PEMERINTAH DAERAH TAH Jakarta, 2 Maret 2012 Rapat Kerja dengan tema Akselerasi Industrialisasi Dalam Rangka Mendukung Percepatan Pembangunan Ekonomi yang dihadiri oleh seluruh Pejabat Eselon I, seluruh Pejabat Eselon II, Pejabat

Lebih terperinci

KEBIJAKAN INDUSTRI NASIONAL TAHUN Disampaikan pada acara: Rapat Kerja Kementerian Perindustrian Di Hotel Bidakara

KEBIJAKAN INDUSTRI NASIONAL TAHUN Disampaikan pada acara: Rapat Kerja Kementerian Perindustrian Di Hotel Bidakara KEBIJAKAN INDUSTRI NASIONAL TAHUN 2015-2019 Disampaikan pada acara: Rapat Kerja Kementerian Perindustrian Di Hotel Bidakara Jakarta, 16 Februari 2016 I. TUJUAN KEBIJAKAN INDUSTRI NASIONAL 2 I. TUJUAN KEBIJAKAN

Lebih terperinci

DUKUNGAN SUB SEKTOR PERKEBUNAN TERHADAP PELAKSANAAN KEBIJAKAN

DUKUNGAN SUB SEKTOR PERKEBUNAN TERHADAP PELAKSANAAN KEBIJAKAN DUKUNGAN SUB SEKTOR PERKEBUNAN TERHADAP PELAKSANAAN KEBIJAKAN INDUSTRI NASIONAL Direktur Jenderal Perkebunan disampaikan pada Rapat Kerja Revitalisasi Industri yang Didukung oleh Reformasi Birokrasi 18

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DAN PENGGUNAAN DANA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DAN PENGGUNAAN DANA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DAN PENGGUNAAN DANA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a.

Lebih terperinci

Menteri Perindustrian Republik Indonesia PAPARAN MENTERI PERINDUSTRIAN PADA ACARA RAKER KEMENTERIAN PERDAGANGAN JAKARTA, 27 JANUARI 2016

Menteri Perindustrian Republik Indonesia PAPARAN MENTERI PERINDUSTRIAN PADA ACARA RAKER KEMENTERIAN PERDAGANGAN JAKARTA, 27 JANUARI 2016 Menteri Perindustrian Republik Indonesia PAPARAN MENTERI PERINDUSTRIAN PADA ACARA RAKER KEMENTERIAN PERDAGANGAN JAKARTA, 27 JANUARI 2016 Yth. : 1. Menteri Perdagangan; 2. Menteri Pertanian; 3. Kepala BKPM;

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DAN PENGGUNAAN DANA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DAN PENGGUNAAN DANA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DAN PENGGUNAAN DANA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa

Lebih terperinci

KEBIJAKAN PENGEMBANGAN INDUSTRI AGRO DAN KIMIA

KEBIJAKAN PENGEMBANGAN INDUSTRI AGRO DAN KIMIA KELOMPOK I KEBIJAKAN PENGEMBANGAN INDUSTRI AGRO DAN KIMIA TOPIK : PENINGKATAN DAYA SAING INDUSTRI AGRO DAN KIMIA MELALUI PENDEKATAN KLASTER KELOMPOK INDUSTRI HASIL HUTAN DAN PERKEBUNAN, KIMIA HULU DAN

Lebih terperinci

KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KOMODITAS PERKEBUNAN STRATEGIS

KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KOMODITAS PERKEBUNAN STRATEGIS KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KOMODITAS PERKEBUNAN STRATEGIS Disampaikan pada Rapat Kerja Akselerasi Industrialisasi dalam Rangka Mendukung Percepatan dan Pembangunan Ekonomi, Hotel Grand Sahid, 1 Pebruari 2012

Lebih terperinci

USAID LESTARI DAMPAK PELARANGAN EKSPOR ROTAN SEMI-JADI TERHADAP RISIKO ALIH FUNGSI LAHAN, LINGKUNGAN DAN KESEJAHTERAAN PETANI

USAID LESTARI DAMPAK PELARANGAN EKSPOR ROTAN SEMI-JADI TERHADAP RISIKO ALIH FUNGSI LAHAN, LINGKUNGAN DAN KESEJAHTERAAN PETANI LESTARI BRIEF LESTARI Brief No. 02 I 27 Mei 2016 USAID LESTARI DAMPAK PELARANGAN EKSPOR ROTAN SEMI-JADI TERHADAP RISIKO ALIH FUNGSI LAHAN, LINGKUNGAN DAN KESEJAHTERAAN PETANI Penulis: Suhardi Suryadi Editor:

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DAN PENGGUNAAN DANA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DAN PENGGUNAAN DANA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT PERATURAN PRESIDEN NOMOR 61 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DAN PENGGUNAAN DANA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAFIA ESA PRESIDEN, Menimbang : a. bahwa untuk menjamin pengembangan perkebunan

Lebih terperinci

ACFTA sebagai Tantangan Menuju Perekonomian yang Kompetitif Rabu, 07 April 2010

ACFTA sebagai Tantangan Menuju Perekonomian yang Kompetitif Rabu, 07 April 2010 ACFTA sebagai Tantangan Menuju Perekonomian yang Kompetitif Rabu, 07 April 2010 Awal tahun 2010 dimulai dengan hentakan pemberlakuan ACFTA atau ASEAN-China Free Trade Area. Pro-kontra mengenai pemberlakuan

Lebih terperinci

Presiden Jokowi: 2016 sebagai Tahun Percepatan Pembangunan Nasional Selasa, 16 Agustus 2016

Presiden Jokowi: 2016 sebagai Tahun Percepatan Pembangunan Nasional Selasa, 16 Agustus 2016 Presiden Jokowi: 2016 sebagai Tahun Percepatan Pembangunan Nasional Selasa, 16 Agustus 2016 Pemerintah akan terus berjuang untuk mengatasi tiga permasalahan utama yang dihadapi bangsa Indonesia Memasuki

Lebih terperinci

Ketua Komisi VI DPR RI. Anggota Komisi VI DPR RI

Ketua Komisi VI DPR RI. Anggota Komisi VI DPR RI PEMBERDAYAAAN KOPERASI & UMKM DALAM RANGKA PENINGKATAN PEREKONOMIAN MASYARAKAT 1) Ir. H. Airlangga Hartarto, MMT., MBA Ketua Komisi VI DPR RI 2) A. Muhajir, SH., MH Anggota Komisi VI DPR RI Disampaikan

Lebih terperinci

SAMBUTAN PENJABAT GUBERNUR SULAWESI TENGAH PADA ACARA PEMBUKAAN TEMU BISNIS PENGEMBANGAN INDUSTRI KAKAO SULAWESI TENGAH SENIN, 18 APRIL 2011

SAMBUTAN PENJABAT GUBERNUR SULAWESI TENGAH PADA ACARA PEMBUKAAN TEMU BISNIS PENGEMBANGAN INDUSTRI KAKAO SULAWESI TENGAH SENIN, 18 APRIL 2011 GUBERNUR SULAWESI TENGAH SAMBUTAN PENJABAT GUBERNUR SULAWESI TENGAH PADA ACARA PEMBUKAAN TEMU BISNIS PENGEMBANGAN INDUSTRI KAKAO SULAWESI TENGAH SENIN, 18 APRIL 2011 ASSALAMU ALAIKUM WAR, WAB, SALAM SEJAHTERA

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS ISU - ISU STRATEGIS

BAB IV ANALISIS ISU - ISU STRATEGIS BAB IV ANALISIS ISU - ISU STRATEGIS Perencanaan pembangunan antara lain dimaksudkan agar Pemerintah Daerah senantiasa mampu menyelaraskan diri dengan lingkungan. Oleh karena itu, perhatian kepada mandat

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DANA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DANA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA 1.tE,"P...F.3...1!..7. INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DANA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

OUTLOOK KOMODITI KAKAO

OUTLOOK KOMODITI KAKAO ISSN 1907-1507 OUTLOOK KOMODITI KAKAO 2014 OUTLOOK KOMODITI KAKAO Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal - Kementerian Pertanian 2014 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian i

Lebih terperinci

Menteri Perindustrian Republik Indonesia

Menteri Perindustrian Republik Indonesia Menteri Perindustrian Republik Indonesia KEYNOTE SPEECH MENTERI PERINDUSTRIAN RI PADA MUSYAWARAH PROPINSI VI TAHUN 2015 KADIN DENGAN TEMA MEMBANGUN PROFESIONALISME DAN KEMANDIRIAN DALAM MENGHADAPI ERA

Lebih terperinci

PEMBUATAN BAHAN TANAM UNGGUL KAKAO HIBRIDA F1

PEMBUATAN BAHAN TANAM UNGGUL KAKAO HIBRIDA F1 PEMBUATAN BAHAN TANAM UNGGUL KAKAO HIBRIDA F1 Wahyu Asrining Cahyowati, A.Md (PBT Terampil Pelaksana) Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Surabaya I. Pendahuluan Tanaman kakao merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam dunia modern sekarang suatu negara sulit untuk dapat memenuhi seluruh kebutuhannya sendiri tanpa kerjasama dengan negara lain. Dengan kemajuan teknologi yang sangat

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pengembangan kelapa sawit telah memberikan dampak yang sangat positif bagi

I. PENDAHULUAN. Pengembangan kelapa sawit telah memberikan dampak yang sangat positif bagi I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kelapa sawit merupakan komoditi pertanian yang sangat penting bagi Indonesia. Pengembangan kelapa sawit telah memberikan dampak yang sangat positif bagi kemajuan pembangunan

Lebih terperinci

Policy Brief Outlook Penurunan BI Rate & Ekspektasi Dunia Usaha No. 01/01/2016

Policy Brief Outlook Penurunan BI Rate & Ekspektasi Dunia Usaha No. 01/01/2016 Policy Brief Outlook Penurunan BI Rate & Ekspektasi Dunia Usaha No. 01/01/2016 Overview Beberapa waktu lalu Bank Indonesia (BI) dalam RDG 13-14 Januari 2016 telah memutuskan untuk memangkas suku bunga

Lebih terperinci

Menteri Perindustrian Republik Indonesia

Menteri Perindustrian Republik Indonesia Menteri Perindustrian Republik Indonesia SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI PADA RAPAT KERJA DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN DENGAN DINAS PERINDUSTRIAN KABUPATEN/KOTA KAWASAN BARAT INDONESIA TAHUN 2008 Surabaya,

Lebih terperinci

BAB 18 REVITALISASI PERTANIAN

BAB 18 REVITALISASI PERTANIAN BAB 18 REVITALISASI PERTANIAN BAB 18 REVITALISASI PERTANIAN A. KONDISI UMUM Sektor pertanian telah berperan dalam perekonomian nasional melalui sumbangannya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), penerimaan

Lebih terperinci

PROGRES PELAKSANAAN REVITALISASI PERTANIAN

PROGRES PELAKSANAAN REVITALISASI PERTANIAN PROGRES PELAKSANAAN REVITALISASI PERTANIAN Pendahuluan 1. Dalam rangka pelaksanaan Revitalisasi Pertanian (RP) Departemen Pertanian telah dan sedang melaksanakan berbagai kebijakan yang meliputi : (a)

Lebih terperinci

PROGRAM PENGEMBANGAN KELAPA BERKELANJUTAN DI PROVINSI JAMBI

PROGRAM PENGEMBANGAN KELAPA BERKELANJUTAN DI PROVINSI JAMBI PROGRAM PENGEMBANGAN KELAPA BERKELANJUTAN DI PROVINSI JAMBI Hasan Basri Agus Gubernur Provinsi Jambi PENDAHULUAN Provinsi Jambi dibagi dalam tiga zona kawasan yaitu: 1) Zona Timur, yang merupakan Kawasan

Lebih terperinci

Pengen SUKSES?? Budidaya Buah naga!!

Pengen SUKSES?? Budidaya Buah naga!! KARYA ILMIAH PELUANG BISNIS Pengen SUKSES?? Budidaya Buah naga!! NAMA : ELI RUSTIKA DEWI NIM : 11.01.2930 KELAS JURUSAN : 11-D3TI-02 : TEKNIK INFORMATIKA STMIK AMIKOM YOGYAKARTA 2012 a. Abstrak I. PENDAHULUAN

Lebih terperinci

Pemahaman tentang MEA Minim

Pemahaman tentang MEA Minim Pemahaman tentang MEA Minim Senin, 14 Desember 2015 JAKARTA, KOMPAS Dalam hitungan hari, Masyarakat Ekonomi ASEAN segera dibuka. Namun, pemahaman masyarakat mengenai pembukaan pasar masih rendah. Masalah

Lebih terperinci

Mengembangkan pasar produk gula kelapa organik bersertifikat

Mengembangkan pasar produk gula kelapa organik bersertifikat Mengembangkan pasar produk gula kelapa organik bersertifikat Manisnya potensi gula kelapa SNV yakin program ini bisa meningkatkan kehidupan ribuan petani gula kelapa di Indonesia. Gula kelapa memiliki

Lebih terperinci

PEMBENTUKAN DAN PENGELOLAAN BADAN PENGEMBANGAN WILAYAH SURAMADU. maduranews.blogspot.com

PEMBENTUKAN DAN PENGELOLAAN BADAN PENGEMBANGAN WILAYAH SURAMADU. maduranews.blogspot.com PEMBENTUKAN DAN PENGELOLAAN BADAN PENGEMBANGAN WILAYAH SURAMADU I. Pendahuluan maduranews.blogspot.com Semenjak 10 Juni 2010, Pulau Madura tersambung dengan Pulau Jawa. Tepatnya disambungkan oleh jembatan

Lebih terperinci

SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI PADA RAPAT KERJA DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN DENGAN DINAS PERINDUSTRIAN KABUPATEN/KOTA KAWASAN TIMUR INDONESIA TAHUN

SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI PADA RAPAT KERJA DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN DENGAN DINAS PERINDUSTRIAN KABUPATEN/KOTA KAWASAN TIMUR INDONESIA TAHUN SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI PADA RAPAT KERJA DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN DENGAN DINAS PERINDUSTRIAN KABUPATEN/KOTA KAWASAN TIMUR INDONESIA TAHUN 2008 Makassar, 25-28 Maret 2008 Penjabat Gubernur Sulawesi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pertanian (agro-based industry) yang banyak berkembang di negara-negara tropis

BAB I PENDAHULUAN. pertanian (agro-based industry) yang banyak berkembang di negara-negara tropis BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Industri kelapa sawit merupakan salah satu industri strategis sektor pertanian (agro-based industry) yang banyak berkembang di negara-negara tropis seperti

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN RETENSI ARSIP SEKTOR PEREKONOMIAN URUSAN PERINDUSTRIAN

PERATURAN KEPALA ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN RETENSI ARSIP SEKTOR PEREKONOMIAN URUSAN PERINDUSTRIAN Jalan Ampera Raya No. 7, Jakarta Selatan 12560, Indonesia Telp. 62 21 7805851, Fax. 62 21 7810280 http://www.anri.go.id, e-mail: info@anri.go.id PERATURAN KEPALA ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. agraris seharusnya mampu memanfaatkan sumberdaya yang melimpah dengan

I. PENDAHULUAN. agraris seharusnya mampu memanfaatkan sumberdaya yang melimpah dengan I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi yang merupakan salah satu indikator keberhasilan suatu negara dapat dicapai melalui suatu sistem yang bersinergi untuk mengembangkan potensi yang dimiliki

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Analisis Situasi

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Analisis Situasi BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Analisis Situasi Pertumbuhan dan perkembangan sektor usaha perkebunan di Indonesia dimotori oleh usaha perkebunan rakyat, perkebunan besar milik pemerintah dan milik swasta. Di Kabupaten

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. (BPS 2012), dari pertanian yang terdiri dari subsektor tanaman. bahan makanan, perkebunan, perternakan, kehutanan dan perikanan.

I. PENDAHULUAN. (BPS 2012), dari pertanian yang terdiri dari subsektor tanaman. bahan makanan, perkebunan, perternakan, kehutanan dan perikanan. I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sektor pertanian mempunyai peranan yang cukup penting dalam kegiatan perekonomian di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari kontribusinya terhadap Produk Domestik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kewirausahaan berperan penting dalam perekonomian bangsa dan

BAB I PENDAHULUAN. Kewirausahaan berperan penting dalam perekonomian bangsa dan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kewirausahaan berperan penting dalam perekonomian bangsa dan merupakan persoalan penting di dalam perekonomian suatu bangsa yang sedang berkembang. Menurut Ciputra

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 111/PMK.03/2014 TENTANG KONSULTAN PAJAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 111/PMK.03/2014 TENTANG KONSULTAN PAJAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 111/PMK.03/2014 TENTANG KONSULTAN PAJAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa ketentuan mengenai

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 111/PMK.03/2014 TENTANG KONSULTAN PAJAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 111/PMK.03/2014 TENTANG KONSULTAN PAJAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 111/PMK.03/2014 TENTANG KONSULTAN PAJAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 111/PMK.03/2014 TENTANG KONSULTAN PAJAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 111/PMK.03/2014 TENTANG KONSULTAN PAJAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 111/PMK.03/2014 TENTANG KONSULTAN PAJAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

[ nama lembaga ] 2012

[ nama lembaga ] 2012 logo lembaga 1.04.02 KAJIAN INOVASI TEKNOLOGI SPESIFIK LOKASI MENDUKUNG SISTEM DAN MODEL PENGEMBANGAN GOOD AGRICULTURAL PRACTICES DI WILAYAH GERNAS KAKAO Prof. Dr. Ir. Azmi Dhalimi, SU Balai Besar Pengkajian

Lebih terperinci

Peduli peneliti negeri sendiri

Peduli peneliti negeri sendiri Peduli peneliti negeri sendiri Kamis, 10 November 2011 04:19 WIB 762 Views Masduki Attamami lustrasi Riset (nebraska.edu) Tingkat gaji yang sekarang, menunjukkan bahwa kita telah mematikan masa depan bangsa,

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PERKELAPASAWITAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PERKELAPASAWITAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PERKELAPASAWITAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang

Lebih terperinci

AGRIBISNIS KAMBING - DOMBA

AGRIBISNIS KAMBING - DOMBA PROSPEK DAN ARAH PENGEMBANGAN AGRIBISNIS KAMBING - DOMBA Edisi Kedua Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian 2007 MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN MENTERI PERTANIAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sawit, serta banyak digunakan untuk konsumsi makanan maupun non-makanan.

BAB I PENDAHULUAN. sawit, serta banyak digunakan untuk konsumsi makanan maupun non-makanan. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Minyak kelapa sawit merupakan minyak nabati yang berasal dari buah kelapa sawit, serta banyak digunakan untuk konsumsi makanan maupun non-makanan. Minyak

Lebih terperinci

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pertanian memiliki peranan strategis dalam struktur pembangunan perekonomian nasional. Selain berperan penting dalam pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat, sektor

Lebih terperinci

No Komoditi Luas Areal (ha) Produksi (ton) 1 Sawit Perkebunan Rakyat Barsela Menuju Sentral Perkebunan Aceh

No Komoditi Luas Areal (ha) Produksi (ton) 1 Sawit Perkebunan Rakyat Barsela Menuju Sentral Perkebunan Aceh Provinsi Aceh dengan luas wilayah 5.677.081 hektar memiliki potensi sumberdaya alam yang berlimpah mulai dari sumberdaya hutan, perkebunan, pertanian, peternakan, perikanan, pertambangan dan sebagainya.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada dasarnya manusia tidak dapat hidup sendiri, demikian halnya dengan

BAB I PENDAHULUAN. Pada dasarnya manusia tidak dapat hidup sendiri, demikian halnya dengan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada dasarnya manusia tidak dapat hidup sendiri, demikian halnya dengan negara karena setiap negara membutuhkan negara lain untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya

Lebih terperinci

Renstra BKP5K Tahun

Renstra BKP5K Tahun 1 BAB I PENDAHULUAN Revitalisasi Bidang Ketahanan Pangan, Pertanian, Perikanan dan Kehutanan merupakan bagian dari pembangunan ekonomi yang diarahkan untuk meningkatkan pendapatan, kesejahteraan, taraf

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.761, 2014 KEMENKEU. Konsultan. Pencabutan. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR TENTANG KONSULTAN PAJAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. sangat penting untuk mencapai beberapa tujuan yaitu : menarik dan mendorong

I. PENDAHULUAN. sangat penting untuk mencapai beberapa tujuan yaitu : menarik dan mendorong I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Strategi pembangunan pertanian yang berwawasan agribisnis dan agroindustri pada dasarnya menunjukkan arah bahwa pengembangan agribisnis merupakan suatu upaya

Lebih terperinci

tersebut hanya ¼ dari luas lahan yang dimiliki Thailand yang mencapai 31,84 juta ha dengan populasi 61 juta orang.

tersebut hanya ¼ dari luas lahan yang dimiliki Thailand yang mencapai 31,84 juta ha dengan populasi 61 juta orang. ELABORASI Letak geografis yang strategis menunjukkan betapa kaya Indonesia akan sumber daya alam dengan segala flora, fauna dan potensi hidrografis dan deposit sumber alamnya yang melimpah. Sumber daya

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN INDUSTRI PADAT IPTEK DI INDONESIA

PENGEMBANGAN INDUSTRI PADAT IPTEK DI INDONESIA PENGEMBANGAN INDUSTRI PADAT IPTEK DI INDONESIA Oleh : Prof. DR. Ir. Semaun Samadikun DALAM SEMINAR NASIONAL TEKNOLOGI INDUSTRI III ITS 1987 26 S/D 28 FEBRUARI 1987 TEMA STRATEGI PENGEMBANGAN IPTEK DALAM

Lebih terperinci

Disusun oleh A. Rahman, A. Purwanti, A. W. Ritonga, B. D. Puspita, R. K. Dewi, R. Ernawan i., Y. Sari BAB 1 PENDAHULUAN

Disusun oleh A. Rahman, A. Purwanti, A. W. Ritonga, B. D. Puspita, R. K. Dewi, R. Ernawan i., Y. Sari BAB 1 PENDAHULUAN BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Kehidupan manusia modern saat ini tidak terlepas dari berbagai jenis makanan yang salah satunya adalah cokelat yang berasal dari buah kakao.kakao merupakan salah satu komoditas

Lebih terperinci

Ringkasan. Kebijakan Pembangunan Industri Nasional

Ringkasan. Kebijakan Pembangunan Industri Nasional Ringkasan Kebijakan Pembangunan Industri Nasional Era globalisasi ekonomi yang disertai dengan pesatnya perkembangan teknologi, berdampak sangat ketatnya persaingan, dan cepatnya terjadi perubahan lingkungan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

PENDAHULUAN 1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Perdagangan internasional merupakan salah satu pendorong peningkatan perekonomian suatu negara. Perdagangan internasional, melalui kegiatan ekspor impor memberikan keuntungan

Lebih terperinci

PENDAPAT AKHIR PEMERINTAH PADA RAPAT PARIPURNA DPR-RI DALAM RANGKA PEMBICARAAN TINGKAT II/PENGAMBILAN KEPUTUSAN TERHADAP RANCANGAN UNDANG-UNDANG

PENDAPAT AKHIR PEMERINTAH PADA RAPAT PARIPURNA DPR-RI DALAM RANGKA PEMBICARAAN TINGKAT II/PENGAMBILAN KEPUTUSAN TERHADAP RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENDAPAT AKHIR PEMERINTAH PADA RAPAT PARIPURNA DPR-RI DALAM RANGKA PEMBICARAAN TINGKAT II/PENGAMBILAN KEPUTUSAN TERHADAP RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 27 TAHUN 2014

Lebih terperinci

Bismillahirrohmannirrohiim Assalamu alaikum Wr.Wb. Selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua,

Bismillahirrohmannirrohiim Assalamu alaikum Wr.Wb. Selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua, Sambutan Pembukaan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Pada Sustainable Development Goals (SDGs) Conference Indonesia s Agenda for SDGs toward Decent Work for All Hotel Borobudur Jakarta, 17 Februari

Lebih terperinci

Laporan Pengendalian Inflasi Daerah

Laporan Pengendalian Inflasi Daerah Gubernur Bank Indonesia Laporan Pengendalian Inflasi Daerah Rakornas VI TPID 2015, Jakarta 27 Mei 2015 Yth. Bapak Presiden Republik Indonesia Yth. Para Menteri Kabinet Kerja Yth. Para Gubernur Provinsi

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG PERINDUSTRIAN DAN LANGKAH-LANGKAH PENYUSUNAN PERATURAN PELAKSANAANNYA

UNDANG-UNDANG NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG PERINDUSTRIAN DAN LANGKAH-LANGKAH PENYUSUNAN PERATURAN PELAKSANAANNYA UNDANG-UNDANG NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG PERINDUSTRIAN DAN LANGKAH-LANGKAH PENYUSUNAN PERATURAN PELAKSANAANNYA Disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Dalam acara Rapat Kerja Kementerian Perindustrian tahun

Lebih terperinci

PERAN KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN DALAM MENDORONG INOVASI PRODUK DI INDUSTRI PULP DAN KERTAS

PERAN KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN DALAM MENDORONG INOVASI PRODUK DI INDUSTRI PULP DAN KERTAS PERAN KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN DALAM MENDORONG INOVASI PRODUK DI INDUSTRI PULP DAN KERTAS Jakarta, 27 Mei 2015 Pendahuluan Tujuan Kebijakan Industri Nasional : 1 2 Meningkatkan produksi nasional. Meningkatkan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan ekonomi daerah seyogyanya bertumpuh pada sumberdaya lokal yang dimiliki dan aktivitas ekonomi yang mampu melibatkan dan menghidupi sebagian besar penduduk. Pemanfaatan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2015 TENTANG PEMBANGUNAN SUMBER DAYA INDUSTRI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2015 TENTANG PEMBANGUNAN SUMBER DAYA INDUSTRI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2015 TENTANG PEMBANGUNAN SUMBER DAYA INDUSTRI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

SERANGAN BUSUK BUAH (Phytophthora palmivora) DI JAWA TIMUR Oleh: Tri Rejeki, SP. dan Yudi Yuliyanto, SP.

SERANGAN BUSUK BUAH (Phytophthora palmivora) DI JAWA TIMUR Oleh: Tri Rejeki, SP. dan Yudi Yuliyanto, SP. SERANGAN BUSUK BUAH (Phytophthora palmivora) DI JAWA TIMUR Oleh: Tri Rejeki, SP. dan Yudi Yuliyanto, SP. Coklat, makanan lezat yang disukai banyak orang. Dihidangkan dalam berbagai bentuk penyajian, baik

Lebih terperinci

SAMBUTAN MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN PADA ACARA GROUNDBREAKING PROYEK MP3EI DI KORIDOR EKONOMI SULAWESI

SAMBUTAN MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN PADA ACARA GROUNDBREAKING PROYEK MP3EI DI KORIDOR EKONOMI SULAWESI MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN PADA ACARA GROUNDBREAKING PROYEK MP3EI DI KORIDOR EKONOMI SULAWESI GROUNDBREAKING PROYEK JALAN

Lebih terperinci

MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA KELAS JABATAN DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN

MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA KELAS JABATAN DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN LAMPIRAN PERATURAN MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN NOMOR : 7 TAHUN 2015 TANGGAL : 18 SEPTEMBER 2015 KELAS JABATAN DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN Sekretariat Kementerian

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38/PERMEN-KP/2013 TENTANG KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENYULUHAN PERIKANAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38/PERMEN-KP/2013 TENTANG KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENYULUHAN PERIKANAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38/PERMEN-KP/2013 TENTANG KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENYULUHAN PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN

Lebih terperinci

Menteri Perindustrian Republik Indonesia SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI PADA ACARA RAPAT KERJA KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN TAHUN 2016

Menteri Perindustrian Republik Indonesia SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI PADA ACARA RAPAT KERJA KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN TAHUN 2016 Menteri Perindustrian Republik Indonesia SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI PADA ACARA RAPAT KERJA KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN TAHUN 2016 JAKARTA, 16 FEBRUARI 2016 Kepada Yang Terhormat: 1. Pimpinan Komisi

Lebih terperinci

Prospek dan Arah Pengembangan AGRIBISNIS CENGKEH. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian 2005

Prospek dan Arah Pengembangan AGRIBISNIS CENGKEH. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian 2005 Prospek dan Arah Pengembangan AGRIBISNIS CENGKEH Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian 2005 MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN MENTERI PERTANIAN Atas perkenan dan

Lebih terperinci

JIIA, VOLUME 2, No. 1, JANUARI 2014

JIIA, VOLUME 2, No. 1, JANUARI 2014 ANALISIS POSISI DAN TINGKAT KETERGANTUNGAN IMPOR GULA KRISTAL PUTIH DAN GULA KRISTAL RAFINASI INDONESIA DI PASAR INTERNASIONAL (Analysis of the Position and Level of Dependency on Imported White Sugar

Lebih terperinci

Peluang & Tantangan Pengembangan Ketenagalistrikan di Kalbar

Peluang & Tantangan Pengembangan Ketenagalistrikan di Kalbar Peluang & Tantangan Pengembangan Ketenagalistrikan di Kalbar Oleh : Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kalimantan Barat Pada Acara Seminar dan Workshop MKI Wilayah Kalimantan Barat 2013 Pontianak. 13 Maret

Lebih terperinci

2015/06/08 07:12 WIB - Kategori : Artikel Penyuluhan PENTINGNYA SERTIFIKASI PROFESI PENYULUH PERIKANAN DI ERA MEA 2015

2015/06/08 07:12 WIB - Kategori : Artikel Penyuluhan PENTINGNYA SERTIFIKASI PROFESI PENYULUH PERIKANAN DI ERA MEA 2015 2015/06/08 07:12 WIB - Kategori : Artikel Penyuluhan PENTINGNYA SERTIFIKASI PROFESI PENYULUH PERIKANAN DI ERA MEA 2015 TEMANGGUNG (8/6/2015) www.pusluh.kkp.go.id Profesionalisme SDM Perikanan khususnya

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia menurut lapangan usaha pada tahun 2010 menunjukkan bahwa sektor

I. PENDAHULUAN. Indonesia menurut lapangan usaha pada tahun 2010 menunjukkan bahwa sektor 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pertanian merupakan sektor strategis dalam pembangunan perekonomian nasional seperti dalam hal penyerapan tenaga kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat

Lebih terperinci

BAGIAN KEEMPAT MEMBANGUN AGRIBISNIS MEMBANGUN EKONOMI RAKYAT

BAGIAN KEEMPAT MEMBANGUN AGRIBISNIS MEMBANGUN EKONOMI RAKYAT BAGIAN KEEMPAT MEMBANGUN AGRIBISNIS MEMBANGUN EKONOMI RAKYAT Sebagai Sektor Utama Ekonomi Rakyat: Prospek dan 16Agribisnis Pemberdayaannya Pendahuluan Satu PELITA lagi, Indonesia akan memasuki era perdagangan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG KEINSINYURAN: Harapan Baru Tingkatkan Profesionalisme Insinyur Oleh: Wiwin Sri Rahyani*

UNDANG-UNDANG KEINSINYURAN: Harapan Baru Tingkatkan Profesionalisme Insinyur Oleh: Wiwin Sri Rahyani* UNDANG-UNDANG KEINSINYURAN: Harapan Baru Tingkatkan Profesionalisme Insinyur Oleh: Wiwin Sri Rahyani* Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah menyelesaikan pembahasan Rancangan Undang-Undang tentang Keinsinyuran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tebu, tembakau, karet, kelapa sawit, perkebunan buah-buahan dan sebagainya. merupakan sumber bahan baku untuk pembuatan gula.

BAB I PENDAHULUAN. tebu, tembakau, karet, kelapa sawit, perkebunan buah-buahan dan sebagainya. merupakan sumber bahan baku untuk pembuatan gula. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Pertumbuhan perekonomian Indonesia dibangun dari berbagai sektor, salah satu sektor tersebut adalah sektor perkebunan. Berbagai jenis perkebunan yang dapat

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Daya saing Indonesia menurut World Economic Forum tahun 2008/2009 berada

I. PENDAHULUAN. Daya saing Indonesia menurut World Economic Forum tahun 2008/2009 berada I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Daya saing Indonesia menurut World Economic Forum tahun 2008/2009 berada di peringkat 55 dari 134 negara, menurun satu peringkat dari tahun sebelumnya. Dalam hal ini,

Lebih terperinci

Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua,

Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua, SAMBUTAN GUBERNUR BANK INDONESIA DR. DARMIN NASUTION PEMBUKAAN RAPAT KOORDINASI NASIONAL TIM PENGENDALIAN INFLASI DAERAH 2011 JAKARTA, 16 MARET 2011 Yang terhormat Wakil Presiden Republik Indonesia, Prof.

Lebih terperinci

VI. ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS BELIMBING DEWA DI KOTA DEPOK

VI. ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS BELIMBING DEWA DI KOTA DEPOK VI. ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS BELIMBING DEWA DI KOTA DEPOK 6.1 Analisis Keuntungan Sistem Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok Analisis keunggulan komparatif

Lebih terperinci

MASTERPLAN PERCEPATAN DAN PERLUASAN PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA BAB 1: PENDAHULUAN

MASTERPLAN PERCEPATAN DAN PERLUASAN PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA BAB 1: PENDAHULUAN LAMPIRAN PERATURAN PRESIDEN NOMOR 32 TAHUN 2011 TANGGAL 20 MEI 2011 MASTERPLAN PERCEPATAN DAN PERLUASAN PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA 2011-2025 BAB 1: PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sepanjang sejarah kemerdekaan

Lebih terperinci

STUDI KASUS PERMASALAHAN KOMODITAS KEDELAI DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA

STUDI KASUS PERMASALAHAN KOMODITAS KEDELAI DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA STUDI KASUS PERMASALAHAN KOMODITAS KEDELAI DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA BAB I PENDAHULUAN Indonesia dikenal sebagai negara agraris karena berkah kekayaan alam yang berlimpah, terutama di bidang sumber

Lebih terperinci

INDUSTRI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT INDONESIA In House Training Profil Bisnis Industri Kelapa Sawit Indonesia Medan, 30-31 Mei 2011

INDUSTRI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT INDONESIA In House Training Profil Bisnis Industri Kelapa Sawit Indonesia Medan, 30-31 Mei 2011 INDUSTRI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT INDONESIA In House Training Profil Bisnis Industri Kelapa Sawit Indonesia Medan, 30-31 Mei 2011 Ignatius Ery Kurniawan PT. MITRA MEDIA NUSANTARA 2011 KEMENTERIAN KEUANGAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. peranan yang sangat penting dalam ketahanan nasional, mewujudkan ketahanan

BAB I PENDAHULUAN. peranan yang sangat penting dalam ketahanan nasional, mewujudkan ketahanan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sub sektor tanaman pangan sebagai bagian dari sektor pertanian memiliki peranan yang sangat penting dalam ketahanan nasional, mewujudkan ketahanan pangan, pembangunan

Lebih terperinci

Produksi minyak sawit berkelanjutanmelestarikan. masa depan hutan

Produksi minyak sawit berkelanjutanmelestarikan. masa depan hutan Produksi minyak sawit berkelanjutanmelestarikan masa depan hutan Menabur benih untuk masa depan yang lebih baik SNV menyadari besarnya dampak ekonomi dan lingkungan dari pembangunan sektor kelapa sawit

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA. KETERANGAN PERS Pokok-Pokok UU APBN-P 2016 dan Pengampunan Pajak

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA. KETERANGAN PERS Pokok-Pokok UU APBN-P 2016 dan Pengampunan Pajak KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA GEDUNG DJUANDA I, JALAN DR. WAHIDIN NOMOR I, JAKARTA 10710, KOTAK POS 21 TELEPON (021) 3449230 (20 saluran) FAKSIMILE (021) 3500847; SITUS www.kemenkeu.go.id KETERANGAN

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK The New Climate Economy Report RINGKASAN EKSEKUTIF Komisi Global untuk Ekonomi dan Iklim didirikan untuk menguji kemungkinan tercapainya pertumbuhan ekonomi yang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2015 TENTANG PEMBANGUNAN SUMBER DAYA INDUSTRI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2015 TENTANG PEMBANGUNAN SUMBER DAYA INDUSTRI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2015 TENTANG PEMBANGUNAN SUMBER DAYA INDUSTRI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

LAPORAN AKHIR ANALISIS KEBIJAKSANAAN PEMBANGUNAN PERTANIAN: ANTISIPATIF DAN RESPON TERHADAP ISU AKTUAL. Oleh :

LAPORAN AKHIR ANALISIS KEBIJAKSANAAN PEMBANGUNAN PERTANIAN: ANTISIPATIF DAN RESPON TERHADAP ISU AKTUAL. Oleh : LAPORAN AKHIR ANALISIS KEBIJAKSANAAN PEMBANGUNAN PERTANIAN: ANTISIPATIF DAN RESPON TERHADAP ISU AKTUAL Oleh : Pantjar Simatupang Agus Pakpahan Erwidodo Ketut Kariyasa M. Maulana Sudi Mardianto PUSAT PENELITIAN

Lebih terperinci

Prospek dan Arah Pengembangan AGRIBISNIS JAGUNG. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian 2005

Prospek dan Arah Pengembangan AGRIBISNIS JAGUNG. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian 2005 Prospek dan Arah Pengembangan AGRIBISNIS JAGUNG Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian 2005 MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN MENTERI PERTANIAN Atas perkenan dan ridho

Lebih terperinci

PENUNJUK UNDANG-UNDANG PERINDUSTRIAN

PENUNJUK UNDANG-UNDANG PERINDUSTRIAN PENUNJUK UNDANG-UNDANG PERINDUSTRIAN 1 (satu) bulan ~ paling lama Penetapan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Penetapan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia di bidang Industri sebagaimana

Lebih terperinci

Menteri Perindustrian Republik Indonesia NARASI PADA ACARA KONGRES GERAKAN ANGKATAN MUDA KRISTEN INDONESIA (GAMKI) TAHUN 2015

Menteri Perindustrian Republik Indonesia NARASI PADA ACARA KONGRES GERAKAN ANGKATAN MUDA KRISTEN INDONESIA (GAMKI) TAHUN 2015 Menteri Perindustrian Republik Indonesia NARASI PADA ACARA KONGRES GERAKAN ANGKATAN MUDA KRISTEN INDONESIA (GAMKI) TAHUN 2015 Memajukan Industri Kawasan Timur Indonesia Manado, 30 April 2015 Yth.: 1. Gubernur

Lebih terperinci

SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN Pada Acara SEMINAR DAMPAK PENURUNAN HARGA MINYAK BUMI TERHADAP INDUSTRI PETROKIMIA 2015 Jakarta, 5 Maret 2014

SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN Pada Acara SEMINAR DAMPAK PENURUNAN HARGA MINYAK BUMI TERHADAP INDUSTRI PETROKIMIA 2015 Jakarta, 5 Maret 2014 SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN Pada Acara SEMINAR DAMPAK PENURUNAN HARGA MINYAK BUMI TERHADAP INDUSTRI PETROKIMIA 2015 Jakarta, 5 Maret 2014 Bismillahirrohmanirrahim Yth. Ketua Umum INAplas Yth. Para pembicara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat secara ekonomi dengan ditunjang oleh faktor-faktor non ekonomi

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat secara ekonomi dengan ditunjang oleh faktor-faktor non ekonomi 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu proses perubahan yang dilakukan melalui upaya-upaya terencana untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara ekonomi dengan

Lebih terperinci