Kakao dari Rakyat. editorial ENGINEER MONTHLY

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Kakao dari Rakyat. editorial ENGINEER MONTHLY"

Transkripsi

1

2 editorial Kakao dari Rakyat Dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), kakao (biji cokelat) adalah salah satu komoditas dan industri yang menjadi fokus pengembangan 22 kegiatan ekonomi utama. ENGINEER MONTHLY Pemimpin Umum Ir. Rudianto Handojo Pemimpin Redaksi Ir. Aries R. Prima Editor Ir. Aries R. Prima Ir. Aditya Warman Ir. Mahmudi Kontributor Biro Media PII Koordinator Promosi Ir. Erpandi Dalimunthe, MT Desain Grafis & Layout Elmoudy Freez Sekretariat PII Jl. Halimun 39 Jakarta Telp Fax Website : Melihat fakta bahwa Indonesia adalah penghasil biji kakao terbesar ketiga di dunia, setelah Pantai Gading dan Ghana, tidaklah berlebihan bila kita semua memberi perhatian khusus pada komoditas ini. Bahkan, menurut data dari Kementerian Pertanian di pertengahan tahun 2011, produktivitas Indonesia lebih tinggi dari Pantai Gading dan Ghana, yaitu sebesar 800 kilogram per hektar. Uniknya, lebih dari 90 persen perkebunan kokoa di Indonesia adalah perkebunan rakyat, yang mengelola lahan seluas antara 2 sampai 3 hektar. Artinya setiap kebijakan atau perubahan harga akan berdampak langsung kepada petani kakao. Sejalan dengan peningkatan produksi, ekspor biji kakao ini pun terus meningkat dari tahun ke tahun, walaupun terdapat banyak permasalahan dalam proses produksi, tata niaga, dan industrinya. Center for Engineering and Industrial Policy Studies (CEIPS), sebuah lembaga pengkajian stratejik dari Persatuan Insinyur Indonesia (PII) pada pertengahan Desember lalu mengadakan sebuah diskusi mengenai kakao yang menghadirkan beberapa pembicara dari para pemangku kepentingan di bidang perkakaoan di Indonesia, seperti dari AIKI, ASKINDO, lembaga penelitian kakao, BPPT, dan Kementerian Perindustrian. Banyak hal menarik yang muncul dari diskusi ini yang sebagian besar kami sajikan dalam bagian utama Engineer Monthly kali ini. Tentu saja kami tidak lupa untuk melaporkan sebuah kejadian aktual yang masih banyak diperbincangkan, terutama, oleh kalangan insinyur, yaitu rubuhnya jembatan di Tenggarong, Kutai Kartanegara yang dilengkapi dengan sebuah infografis. Laporan ini masih sebatas pengamatan awal, belum merupakan laporan final, karena masih menunggu data lengkap dari tim investigasi melalui Badan Kejuruan Sipil PII. Selain itu kami juga menyajikan berbagai laporan lain, seperti perkembangan proses RUU Keinsinyuran dan berita kegiatan PII lainnya. Mengingat pentingnya UU keinsinyuran, kami mengajak setiap anggota dan pengurus PII untuk terus mendukung dan mengawal seluruh tahapan prosesnya hingga RUU bisa disahkan menjadi UU. Dalam kesempatan ini, kami mengucapkan selamat Hari Natal kepada semua pembaca, anggota, dan pengurus PII yang merayakannya. Dan tidak lupa kami menyampaikan selamat tahun baru, semoga di tahun mendatang PII dan para insinyur Indonesia akan dapat lebih banyak berkiprah dan berkarya bagi Indonesia yang lebih cerdas dan sejahtera. 2 ENGINEER MONTHLY No. 53 Desember 2011

3 update Bagaimanakah biji kakao diolah menjadi coklat? infografis : Biro Media PII, Desember 2011 No. 53 ENGINEER MONTHLY 3

4 mainframe Kakao : Pahit Manisnya Hidangan Dewa Salah-satu cemilan paling lezat di seluruh muka bumi adalah coklat. Keras-padat l a l u l u m e r d i l i d a h, menghadirk an sensasi manis-pahit, dilatari aroma yang tiada duanya. Sejak 1000 SM, suku-suku bangsa yang mendiami Meso-Amerika-Amerika Tengah sampai bagian utara Amerika Selatan sudah mengonsumsi cokelat, mereka mengolahnya menjadi minuman seperti yang biasa kita temui saat ini. Hanya saja mereka menambahkan rempah-rempah seperti kayu manis, vanila, annatto, bubuk cabai, dan lain sebagainya. Cokelat (Kakao) mempunyai nama ilmiah theobroma, yang berarti "makanan para dewa". Pada tahun 1400-an, suku Aztek yang mengambil-alih sebagian besar Mesoamerika memasukkan kakao ke d a l a m b u d a y a m e r e k a. M e r e k a menggunakan minuman coklat sebagai persembahan kepada dewa. Cokelat berkaitan dengan Xochiquetzal, Dewi Kehamilan. Cokelat berasal dari buah kakao. Bentuknya oval, panjang cm dan lebar 8-10 cm. Jika masak, warna kuning buah tersebut menjadi oranye dan bobotnya sekitar 500 g. Pohon kakao waktu kecil sangat ringkih. Bayi pohon kakao harus dinaungi tajuk pohon induknya agar tidak mati kepanasan. Uniknya, pohon kakao dewasa justru suka sinar matahari yang panas. Kakao hanya tumbuh di khatulistiwa, yang panas dan lembab. Setelah empat tahun, pohon kakao akan menghasilkan kantong warna-warni di batangnya. Itulah buah kakao yang sangat berharga. Permintaan akan cokelat yang semakin tasty terus berkembang, terutama sejak ditemukan mesin pengolah cokelat di masa revolusi industri. Kemudian p e r u b a h a n s i g n i f i k a n d a l a m meningkatkan mutu cokelat terjadi pada tahun 1828 di Belanda. Coenraad van Houten menemukan cara memisahkan bubuk dan minyak kakao dari adonan biji kakao giling. Hal ini m e m b u k a p e n e m u a n - p e n e m u a n berikutnya yang mampu mencampur cokelat berupa cairan kental dan pekat dengan minyak kakao dan gula. Pada abad 19, cokelat yang rasanya lembut di lidah mulai diciptakan di Swiss. Adonan biji kakao giling dimasukkan ke cakram porselen dan dihaluskan selama beberapa jam sehingga menghasilkan cokelat lembut yang lumer di lidah. Proses Grinding and Pressing adalah proses penggerusan biji kakao menjadi serbuk coklat. Yang diinginkan adalah ukuran partikel dibawah 70 mikron. Apa yang terjadi disini? Biji kakao dibersihkan dan dipanggang, kemudian cangkangnya dibuang dan dagingnya diambil. Daging biji kakao kemudian digiling untuk membuat cairan cokelat, yang merupakan padatan kakao dalam mentega cokelat. Kemudian dipisahkan antara mentega cokelat dan padatan. Padatan diproses menjadi bubuk Kakao. Kakao bubuk ada dua jenis, yaitu kakao dengan proses natural dan kakao dengan proses Dutch. Kakao natural sedikit asam, sedangkan kakao dari hasil proses Dutch diperlakukan dengan larutan alkalin untuk menaikkan kadar ph. Proses Dutching menghasilkan cokelatnya lebih lembut dan warna lebih gelap. Karena mentega coklat harganya jauh lebih mahal dari serbuk coklat, maka banyak perusahaan di Indonesia mengganti mentega coklat dengan lemak nabati lainnya. Akibatnya, coklat di Indonesia kehilangan mouth feel -nya. E infografis : Biro Media PII, 2011 Diambil dari berbagai sumber 4 ENGINEER MONTHLY No. 53 Desember 2011

5

6 mainframe Dr. Ing. Ilham A. Habibie, MBA (Ketua CEIPS PII) Tantangan Industri Kakao Nasional Lebih dari 90% perkebunan kakao di Indonesia dimiliki oleh petani perorangan dan sisanya dikelola oleh PTPN/swasta. Perkebunan kakao di Indonesia saat ini setidaknya menghidupi sekitar 1,5 juta petani dan keluarganya. Center For Engineering And (BBIA), antaralain mengatakan bahwa produktivitas Kakao Nasional di tingkat on farm relatif rendah, 1000 kg/ha. Sedangkan Pantai Gading dan Ghana menghasilkan kg/ha. Hal itu terjadi karena bibit yang kurang bermutu, pohon tua, plus adanya 40% tanaman kakao yang terserang hama penggerek. Namun, data lain yang dikeluarkan oleh Kementerian Pertanian (2011) yang digabungkan dengan data dari Centre for the Study of African Economies menyatakan bahwa produktivitas kakao Indonesia adalah yang tertinggi, yaitu sebesar 800 kg/hektar, dibandingkan dengan produktivitas dari Pantai Gading sebesar 764,7 kg/hektar dan Ghana sebesar 400 kg/hektar. Lebih dari 90% perkebunan kakao di Industrial Policy Studies (CEIPS) Indonesia dimiliki oleh petani perorangan PII menyelenggarakan diskusi dan sisanya dikelola oleh PTPN/swasta. 80% Biji kakao nasional diekspor dalam panel tentang peluang dan Perkebunan kakao di Indonesia saat ini bentuk produk primer sehingga proses nilai tantangan Industri Kakao Nasional, di setidaknya menghidupi sekitar 1,5 juta tambah tidak terjadi di dalam negeri. Jakarta, 12-12/2011. Diskusi substansial dan petani dan keluarganya. Padahal menurut UU No. 18 Th 2004 tentang menarik ini dibuka (dan ditutup) Ketua CEIPS Perkebunan (item d) : Mengutamakan hasil Dr. Ing. Ilham Akbar Habibie, yang juga Kakao adalah tanaman pekarangan yang perkebunan dalam negeri untuk memenuhi mengikuti seluruh rangkaian paparan -yang cocok untuk ditanam disela-sela pohon kebutuhan konsumsi dan bahan baku dipandu dengan rapi oleh Dr. Utama kelapa. Kakao menghasilkan devisa terbesar industri. Padmadinata. ketiga setelah kelapa sawit dan karet. Devisa dari kakao pada tahun 2010 mencapai USD Kenyataannya, produksi biji kakao Indonesia Menurut berbagai data yang ditampilkan 1,6 milyar ton/th 2010, sedangkan Singapura dalam diskusi ini, Indonesia adalah produsen tidak memproduksi biji kakao, tetapi negeri biji kakao terbesar ketiga dunia setelah Pada 2011, karena merosotnya nilai tetangga ini mampu memproduksi kakao Pantai Gading dan Ghana. Luas total keekonomisan dan program yang kurang olahan ton/th. perkebunan kakao mencapai 1,6 juta hektar tepat sasaran, produksi kakao Indonesia yang tersebar di seluruh provinsi dari Sabang diperkirakan mengalami penurunan hingga Malaysia yang hanya memproduksi biji sampai Merauke. Demikian juga menurut tinggal sebesar metrik ton (MT). kakao sebesar ton/th, memproduksi Firman Bakri dari Asosiasi Kakao Indonesia kakao olahan ton/th. Produksi kakao (Askindo) dalam paparannya bertajuk Kemudian paparan bertajuk Tantangan Dan olahan Indonesia baru mencapai Permasalahan Pengembangan Kakao S t r a t e g i P e n g e m b a n g a n I n d u s t r i ton/th. E Indonesia. Pengolahan Kakao, yang disampaikan oleh Agus Sudibyo dari Balai Besar Industri Agro 6 ENGINEER MONTHLY No. 53 Desember 2011

7 Kondisi Kakao Nasional : antara produktivitas dan konsumsi mainframe infografis : Biro Media PII, 2011 Senyatanya, teknologi pengolahan Indonesia. bisa menjadi kenyataan karena pada kakao cukup lengkap di Indonesia. Dari Padahal hingga tahun 2001 jumlahnya tahun tersebut total areal perkebunan teknologi pembibitan, budidaya, dan sudah lebih dari 40 perusahaan. k a k a o I n d o n e s i a d i p e r k i r a k a n pasca panen kakao di sektor hulu. Pengenaan PPN bagi industri kakao mencapai 1,35 juta ha dan mampu Kemudian teknologi pembuatan saat itu telah mendorong relokasi menghasilkan 1,3 juta ton/tahun biji pasta, lemak, dan bubuk kakao yang pabrik ke Malaysia dan Singapura. kakao. merupakan industri semi hilir. Dan di sektor hilir sudah ada teknologi Pengembagangan industri kakao bagi Infografis pembuatan cokelat batangan, cokelat Indonesia sesungguhnya memiliki arti Pada gambar di atas terlihat di tahun putih, meises, berbagai jenis permen strategis. Kebutuhan kakao dunia 2010, Indonesia mampu memproduksi dan minuman, hingga selai. pertahun mencapai 3,5 juta ton, plus kakao sebanyak ton dan pertumbuhan permintaan hingga 5% mengekspor biji kakao hingga Tapi dipasar lokal, menemukan kedai atau ton pertahun. ton (72% dari total produksi). coklat lebih sulit dari mencari jarum di Sedangkan jumlah industri nasional tumpuk an jerami. Begitu ada, Melalui berbagai upaya perbaikan dan kakao dan cokelat sebanyak16 unit, harganya lebih mahal dari secangkir perluasan maka areal perkebunan dengan kapasitas ton/tahun, kopi. kakao Indonesia pada tahun 2010 produksi ton, utilitas 66%. Hal ditargetkan mencapai 1,1 juta ha dan yang tak kalah menarik adalah Hingga 2011, produksi biji kakao diharapkan mampu menghasilkan perbandingan produktivitas kakao, Indonesia lebih banyak diekspor produksi 730 ribu ton/tahun biji kakao. Indonesia mampu menghasilkan 800 sebagai bahan mentah - layaknya Pada tahun 2025, sasaran untuk kg/hektar, sedangkan Pantai Gading ekonomi zaman VOC. Saat ini hanya menjadi produsen utama kakao dunia 764,7 kg/hektar, dan Ghana 400 ada lima industri pengolahan kakao di kg/hektar. E Desember 2011 No. 53 ENGINEER MONTHLY 7

8 mainframe infografis : Biro Media PII, 2011 Kebijakan Kakao: Industri Prioritas yang Kontroversial Pemerintah melalui berbagai disalurkan dan bibit siap tanam yang Tahun ini, industri kakao dalam negeri instansi telah melakukan dibuat oleh penangkar disertifikasi oleh diprediksi menyerap ton biji kakao. pelatihan dan pendampingan lembaga yang berwenang yaitu Balai Besar pada para petani kakao - dari Perbenihan dan Proteksi Tanaman Pengembangan Industri Kakao mengacu Aceh hingga Papua. Namun Perkebunan (BBP2TP). p a d a P e r M e n P e r i n N o / M - mutu kakao tetap rendah dibanding IND/Per/10/2009 tentang Peta Panduan produk tetangga, apalagi Pantai Gading Selain Gernas, Pemerintah mewajibkan (Roadmap) Pengembangan Klaster Industri dan Ghana. penerapan SNI Kakao Bubuk, melalui Kakao. P e r a t u r a n M e n p e r i n N o. 4 5 / M - Pemerintah menargetkan produksi kakao IND/PER/5/2009. Dan yang sempat Namun menurut Asosiasi Kakao Indonesia Indonesia mencapai 2 juta ton pertahun kontroversial adalah penerapan Bea Keluar (Askindo), pengenaan bea keluar justru pada Dalam PerPres No. 28/2008 (BK) atas ekspor biji kakao, berdasarkan merugikan petani, meski melindungi dinyatakan bahwa industri pengolahan PMK No. 64 Tahun pabrik dalam negeri. Karena pabrik kakao merupakan salah satu industri menjual hasil olahan kakao ke luar negeri p r i o r i t a s y a n g d i d o r o n g Pemerintah menerapkan bea keluar (BK) tanpa dikenakan pajak. pengembangannya di dalam negeri, yang supaya penyerapan di dalam negeri lebih saat ini digenjot dengan program Gerakan baik, per 1 April Menurut AIKI, BK Lalu ada usulan penuruan tarif bea masuk Peningkatan Produksi dan Mutu Kakao d i t e r a p k a n u n t u k m e r a n g s a n g mesin pembuatan coklat. Mesin yang Nasional alias Gernas. Program ini pertumbuhan industri pengolahan kakao dioperasikan secara elektrik tersebut d i a n t a r a n y a a d a l a h p e r e m a j a a n di dalam negeri. belum bisa diproduksi dalam negeri. pertanaman kakao yang rusak, rehabilitasi Pertanyaannya adalah mengapa insinyur pertanaman yang kurang baik, dan Setelah penerapan kebijakan fiskal dan industri kita belum belum mampu intensifikasi pertanaman yang kurang tersebut, konsumsi biji kakao oleh industri membuatnya? E produktif. dalam negeri meningkat menjadi Untuk menjaga mutu, semua plantlet yang ton pada 2010 dari ton pada ENGINEER MONTHLY No. 53 Desember 2011

9

10 aktual Bambang (Ketua Tim Fasilitator Lembaga Ekonomi Masyarakat (LEM) Sejahtera Sultra) Memberdayakan Kakao dari Bawah Sebagai ilustrasi, salah satu LEM yang telah berjalan selama dua tahun adalah LEM Desa Andomesinggo, Kecamatan Besulutu, Kabupaten Konawe, yang sudah memiliki 93 anggota dengan basis utama pertanian kakao. Masyarakat desa Sulawesi Ekonomi Masyarakat (LEM) Sejahtera, Sejak berdirinya LEM Sejahtera, semua Tenggara dalam posisi menghimpun potensi sumberdaya desa anggotanya sudah bisa memenuhi l e m a h d i b i d a n g d a l a m s a t u k e k u a t a n. Tu j u a n n y a, kebutuhan pupuk dan modal. Sebelum ada permodalan dan proses m e n u m b u h k a n k e m a n d i r i a n, LEM, petani kesulitan mencari pupuk. produksi kakao, karena perekonomian, dan kesejahteraan warga. Kalaupun ada, harganya mahal. masih berjalan sendiri-sendiri. Padahal jumlah produksi kakaonya lebih dari Menurutnya, saat ini, telah terbentuk 14 LEM " S e k a r a n g, k a m i b i s a l a n g s u n g ton, dengan produksi biji kakao fermentasi Sejahtera di lima kabupaten. Lembaga ini berhubungan dengan distributor karena yang dihasilkan petani pada tahun 2011 baru memadukan prinsip koperasi, bank, membeli dalam partai besar. Harga lebih mencapai 100 ton. sekaligus perusahaan, yang kepengurusan murah. Anggota juga membayar pupuk dan anggotanya dijalankan oleh anggota dengan sistem kredit, dilunasi setelah Masalahnya, harga kakao fermentasi masih masyarakat sendiri. Dalam lembaga ini, mereka panen," imbuhnya. terlalu rendah, jauh dari harapan petani. petani bisa meminjam modal untuk Selisih harga kakao fermentasi dan kakao kebutuhan produksi dengan syarat dan Hama penggerek ditengarai sebagai non fermentasi hanya berkisar Rp2000 per ketentuan ringan. ancaman yang serius bagi kelangsungan kilogram, kata Ketua Tim Fasilitator Lembaga usaha perkebunan kakao karena belum Ekonomi Masyarakat (LEM) Sejahtera Sultra, LEM Sejahtera juga menyatukan sarana ditemukan pengendalian hama yang efektif. Bambang, dalam Diskusi CEIPS di Jakarta, produksi atau pengolahan lanjutan hasil N a m u n m e n u r u t B a m b a n g, u p a y a Senin 12/12/11. produksi untuk meningkatkan nilai jual penanggulangan hama, secara teori, produk pertanian. Petani juga bisa sebetulnya sangat mudah. Yakni dengan Harga kakao non fermentasi sekitar Rp 21 mengakses sarana produksi dengan harga melakukan gerakan pengendalian hama. ribu perkilogram. Sedangkan harga kakao lebih murah karena pembelian dalam partai fermentasi di tempat kami hanya Rp23 ribu. besar. Kesulitannya terletak pada bagaimana Selisih harga yang hanya Rp2000 itu menjadikannya sebagai gerakan terpadu membuat petani tak berminat melakukan "Selain itu, petani juga bisa menjual secara luas dan menyeluruh. LEM sudah fermentasi. Karena fermentasi kakao butuh langsung ke pembeli besar, seperti berhasil mengatasi persoalan ini, paling perlakuan khusus selama empat hari. perusahaan, k arena hasil produksi tidak dalam lingkup jejaring mereka. terkumpul dalam kuantitas besar dan Setelah dilakukan fermentasi empat hari, standar mutu yang sama," ujarnya. Lebih jauh Bambang merencanakan akan bobot kakao berkurang, tetapi harganya menampung hasil kakao desa lain dan beda tipis dengan non fermentasi, katanya. Dari 14 LEM yang ada saat ini telah terkumpul menjual langsung ke perusahaan di Jakarta. Bahkan dalam kenyataannya, acapkali kakao total aset senilai sekitar Rp 3 miliar. LEM akan "Dengan cara ini, kami bisa memotong rantai fermentasi dihargai sama dengan yang terus memutar dan mengembangkan aset. pemasaran dan mendongkrak harga jual," belum difermentasi, dan para tengkulak Karena seluruh aset itu terkumpul dari iuran pungkasnya. E mencampurnya begitu saja. Petani dalam setiap anggota. posisi yang lemah tak bisa berbuat apa-apa menghadapi hal ini, ujar Bambang. Sebagai ilustrasi, salah satu LEM yang telah berjalan selama dua tahun adalah LEM Desa Mungkin jika petani berhimpun dalam satu Andomesinggo, Kecamatan Besulutu, lembaga berbasis desa, kami akan memiliki Kabupaten Konawe, yang sudah memiliki 93 posisi lebih kuat, ujarnya. Maka sejak 2009, anggota dengan basis utama pertanian Bambang memelopori berdirinya Lembaga kakao. 10 ENGINEER MONTHLY No. 53 Desember 2011

11 Ketika Jembatan Mulai Merapuh Ir. Said Didu mengimbau untuk menyelidiki kemampuan SDM yang terlibat dalam pengerjaan proyek jembatan Kukar. Kesalahan yang melanggar etika profesi insinyur, maka siapa pun yang keluarkan sertifikat harus bertanggung jawab, ujarnya. aktual Jembatan Marunda merupakan penghubung Jalan Bulak Cabe dengan Kampung Sawah di kawasan Jalan Cakung Drain Cilincing, Jakarta Utara. Jalan itu sangat ramai dan menjadi rute penting di sana. Menurut rencana kerja, enam balok sepanjang 30,8 meter itu akan dipasang berjejer. Petugas di lokasi proyek menduga balok yang digunakan untuk membangun jembatan tersebut belum kering. Kerugian diperkirakan mencapai Rp750 juta. Proyek jembatan dengan anggaran sebesar Rp 17,7 milyar tersebut direncanakan akan selesai Mei Beberapa jembatan besar di Tanah Air belak angan ini ambruk. Yang paling menggegerkan adalah keruntuhan jembatan berkonstruksi gantung, Jembatan Kutai Kartanegara, di Kalimantan Timur. Jembatan sepanjang 700 meter itu dalam keadaan ramai kendaraan saat tiba-tiba runtuh serentak. 3 Menurut sejumlah analisis, rangka besi jembatan Kukar ternyata bukan untuk jembatan gantung, namun dimodifikasi untuk jembatan gantung. Jembatan Kukar, Kutai - Kalimantan Timur Entah ini gejala apa, berturut-turut jembatan beruntuhan di Indonesia. Termutakhir adalah jembatan gantung Krueng Keureutoe Lhoksukon, Aceh, yang rubuh pukul Wib, 18/12/11. Jembatan Krueng, yang menghubungkan Kecamatan Lhoksukon dan Kecamatan Pirak Timu, tercebur ke dalam sungai akibat besi pengikat kabelnya putus. Jembatan gantung yang ambruk tersebut, menurut mereka, dibangun tahun 1982 dan ini merupakan kerusakan kedua kalinya. Bedanya, yang kedua ini ternyata fatal dan ambruk. Belum lama berselang, jembatan penghubung akses Marunda menuju Cilincing, juga roboh. Enam tiang beton balokan jembatan di Jalan Arteri, Cilincing, Jakarta Utara itu ambruk saat dipasang, sekitar pukul WIB, 10/12/11. Ada banyak pelajaran yang dapat ditarik dari peristiwa mengenaskan ini. Tak lama setelah Jembatan Kukar diresmikan pada 2001, ada laporan bahwa ditemukan pergeseran pada struktur jembatan. Blok angkur bergeser delapan sentimeter. Lima tahun kemudian gelagar jembatan turun 50 cm dan tiang jembatan bergeser 18 cm. Tak ada tindakan segera untuk mengatasi keadaan darurat ini. Perawatan yang sempat dilakukan pada 2007 tidak merespon turunnya gelagar dan pergeseran tiang jembatan. Sense of urgency tidak muncul hingga saat kegagalan ekstrem terjadi. Ketua Umum PII, Dr. Ir. Said Didu menyoroti, tender-tender pemeliharaan berisiko tinggi biasanya memakai sistem cost and fee. Maka ditetapkan dulu cost-nya baru kemudian ditenderkan feenya. Ir. Said Didu mengimbau untuk menyelidiki kemampuan SDM yang terlibat dalam pengerjaan proyek jembatan itu. Kesalahan yang melanggar etika profesi insinyur, maka siapa pun yang keluarkan sertifikat harus bertanggung jawab, ujarnya. E Desember 2011 No. 53 ENGINEER MONTHLY 11

12 aktual Malam silaturahmi RUU Keinsinyuran antara Pengurus PII dengan Anggota Legislatif dan Menteri RUU Keinsinyuran : Penting dan Segera Pengurus PII dan sejumlah Dalam kesempatan yang sama, mantan insinyur Indonesia berkompetisi agar setara anggota DPR dan pemerintah Ketua Umum PII, Ir. Arifin Panigoro dengan insinyur di negara lain,"ujar Dr. M bertemu di Bimasena Club, menyatakan secara singkat beberapa hal Said Didu. Jakarta Selatan, 30 November yang berkaitan dengan runtuhnya Jembatan Didahului acara makan KuKar. Menurutnya, kita perlu segera Ketua Dewan Insinyur yang juga inisiator malam, Ketua Umum PII Dr. Ir. M. Said Didu membentuk badan yang mengaudit sarana RUU Keinsinyuran di DPR Ir. Airlangga membuka acara finalisasi perkembangan infrastruktur, terutama jembatan dan Hartarto, MMT, MBA menambahkan bahwa RUU Keinsinyuran malam itu. gedung pencakar langit. p r a k t i k k e i n s i n y u r a n y a n g d a p a t menimbulkan dampak destruktif semestinya Tak berlebihan jika seluruh hadirin adalah Sebelumnya, Ketua Umum PII Dr. Ir. M. Said menjadi pelajaran berharga bagi kita semua para insinyur, baik dari unsur eksekutif Didu juga sempat menyinggung soal insiden selaku insinyur yang ada di DPR, untuk maupun legislatif. Dari unsur pemerintah runtuhnya Jembatan KuKar. Maka UU segera menuntaskan pembahasan RUU ini di diantaranya Menteri Pertahanan Dr. Ir. Keinsinyuran setidaknya diperlukan untuk Balegnas. Perlindungan masyarakat adalah Purnomo Yusgiantoro, Menteri Negara Ristek menjawab dua tantangan. Pertama, prioritas utama, dan UU Keinsinyuran Prof. Dr. Ir. Gusti Muhammad Hatta, dan memproteksi dan mengatur arus globalisasi menjadi alat untuk menjaga kredibilitas dan Kepala BPPT Dr. Ir. Marzan Aziz Iskandar. tenaga kerja profesional khususnya bidang rasa tanggung jawab bagi profesi Insinyur, k e i n s i n y u r a n. K e d u a, m e m b e r i k a n katanya. Sedangkan dari Legislatif nampak hadir perlindungan pada masyarakat atas praktik Ketua Fraksi Demokrat Ja far Hafsah dan keinsinyuran. Anggota DPR lainnya seperti Ketua Fraksi anggota Fraksinya, Sutan Batugana, serta Demokrat Ja far Hamzah, dan beberapa Anggota Komisi XI DPR RI, Arif Budimanta Profesi insinyur seharusnya mendapat angota dewan lainnya menyatakan hal yang juga anggota dari Fraksi PDI sanksi jika melakukan kesalahan dalam senada. Lebih lanjut Dr. Ir. Jafar Hafsah Perjuangan. Dari DPD hadir Bambang membangun infrastruktur, sebagaimana menyatakan bahwa RUU Keinsinyuran ini Soeroso selaku Ketua DPD. profesi dokter yang dikenai sanksi bila salah harus tetap melalui prosedur yang berlaku, mendiagnosa, imbuhnya. dan harus masuk dulu dalam program Acara ramah-tamah malam dimaksudkan legislasi nasional dan dibahas di Badan untuk memaparkan dan mendiskusikan Tak kalah penting adalah, bahwa UU Legislasi Nasional untuk kemudian tentang pentingnya Undang-undang Keinsinyuran juga akan memperkuat ditetapkan dan disahkan sebagai Undang- Keinsinyuran. Anggota Komisi XI DPR RI, Arif profesinalisme dengan standar kompetensi undang. E Budimanta yang juga anggota dari Fraksi PDI yang jelas dan berjenjang, dengan adanya Perjuangan yang kerap mengambil posisi akreditasi dan sertifikasi, serta remunerasi selaku partai oposisi mengatakan, bahwa ia profesi keinsinyuran. siap mendukung UU Keinsinyuran, jika itu akan membawa manfaat bagi masyarakat. "Akreditasi profesi insinyur akan mendorong 12 ENGINEER MONTHLY No. 53 Desember 2011

13 aktual Diskusi BK Mesin : Mengukur Indikator Percepatan Proyek MP3EI Menyusul rapat internal BK m a s i h d i b a w a h 7 % m e n a n d a k a n Maka, BUMN strategis dan manufaktur telah Mesin PII di Lantai 9 Gedung realisasinya biasa-biasa saja, alias pertanda menandatangani Key Performance Indicator Kementerian BUMN, Jakarta 8 bahwa MP3EI tidak jalan. (KPI) dan komitmen pengembangan bisnis Desember 2011, peserta rapat dengan Dr. Irnanda selaku Deputi Bidang mengikuti kegiatan diskusi dengan tema Dengan berkelakar Ir. Irnanda mengatakan Usaha Industri Strategis dan Manufaktur Indikator Percepatan Projek Not As Usual. b a hwa K o r e a i t u t i d a k k o n s i s t e n, Kementerian BUMN. Indonesialah yang konsisten. Sejak 32 tahun Diskusi yang dibuka Ketua Umum BK Mesin, lalu produksi baja Korea meningkat 20 x lipat, Menurut Dr. Irnanda, perusahaan BUMN Dr. Budhi Suyitno itu berlangsung meriah. sedangkan produksi baja Krakatau Steel harus mengembangkan teknologi agar bisa Seluruh bangku di ruangan yang sebenarnya "konsisten", alias tak ada peningkatan bersaing. Seperti yang dilakukan PT Telkom cukup besar itu penuh. Dari judul diskusinya berarti. yang terus melakukan terobosan. Misalnya, saja orang sudah bisa menerka bahwa objek pengembangan broadband dan fiber optic. tinjauan adalah MP3EI. Benarkah MP3EI Banyak pekerjaan rumah yang harus Semuanya harus di-drive dengan teknologi. adalah Percepatan Projek Not As Usual? dilakukan oleh pemerintah maupun kalangan industri untuk membenahi Daya tarik persaingan ke depan adalah Presenter Dr. Ir. Irnanda Laksanawan Msc. Eng masalah tersebut. Daya saing industri, Teknologi Informasi dan Litbang. Kita harus tidak secara verbal menjawab pertanyaan itu. penguatan ekspor, dan proteksi non-tarif membuat produk-produk yang lebih efisien Tidak dengan binary mengomentari MP3EI menjadi hal penting. Permasalahan yang dan murah agar bisa bersaing di pasar, ini betul atau salah, tepat atau gagal. cukup besar salah satunya adalah ujarnya. Masterplan ini tentu didasari dengan itikad infrastruktur kita yang belum siap bersaing baik para pemangku kebijakan untuk dengan China. Satu ilustrasi menarik, tutur Ir. Irnanda, memajukan Indonesia, salah satunya pada adalah bahwa China yang selama ini kita sektor industri nasional. Produksi baja China mencapai 54,3 juta asumsikan melakukan dumping, sebenarnya metrik ton atau naik 9,7% dibanding Februari tidak. Yang mereka lakukan adalah efisiensi. Deputi Menneg BUMN Bidang Usaha Kenaikan produksi juga dialami Penerapan teknologi dengan produksi Strategis dan Manufaktur itu menjanjikan Jepang, yaitu naik 5,7% menjadi 8,9 juta besar-besaran sehingga komponen biaya komitmennya untuk melakukan terobosan- metric ton, sedangkan produksi baja Korea jauh lebih hemat. Dan dalam hal ini kita kalah terobosan terhadap berbagai bottle-neck Selatan naik 25,7% menjadi 5 juta metric ton. jauh. yang ada selama ini, agar proyek-proyek yang telah direncanakan bisa terlaksana. PT Krakatau Steel memperkirakan produksi Walau hanya 26% produk lokal yang head to perseroan hanya 2 juta ton hingga akhir head dengan China, di bidang industri kita Seperti diketahui, prinsip organisasi berjalan tahun kalah total. China menduduki posisi dalam konsep POAC (Plan-Organize-Action- pertama dalam kinerja industri di Asia Timur Control). Dua tahap awal, plan dan organize Tanpa ada inovasi hasil produksi, maka dan Tenggara, sedangkan Indonesia pada adalah tahapan yang relatif mudah. Tetapi dalam tempo 4-5 tahun lagi, bakal banyak urutan ke-38. E action dan control-lah yang menjadi indikator BUMN yang kolaps. Padahal perusahaan keberhasilan suatu rencana organisasi. pelat merah juga harus bisa bersaing dengan Jika MP3EI berjalan efektif, akan tercermin produk-produk impor. dalam PDB 2012 di atas 7%. Jika ternyata PDB Desember 2011 No. 53 ENGINEER MONTHLY 13

14 aktual Konferensi Insinyur se-asean (CAFEO) Sustainable Urbanization Engineering Challenges and Opportunities Dipimpin Sekjen PII, Ir. Heru nasional yang disebut Masterplan pentingnya penyediaan lapangan kerja agar Dewanto dan Direktur Percepatan dan Perluasan Pembangunan perekonomian dapat memanfaatkan secara Eksekutif PII, Rudianto Ekonomi Indonesia (MP3EI). maksimal besarnya porsi penduduk usia Handojo, belasan delegasi produktif. Inilah yang disebut sebagi Visi PII hadir dalam Konferensi Intinya, MP3EI mengedepankan pendekatan 2025 dalam MP3EI. AFEO ke -29 di The Rizqun International business as not usual, melibatkan seluruh Hotel, Bandar Seri Begawan, Brunei pemangku kepentingan, serta fokus pada Visi 2025 tersebut diwujudkan melalui tiga Darussalam, November prioritas yang kongkrit dan terukur. misi yang menjadi strategiutamanya: Pertama, mengembangkan 22 kegiatan Dari konferensi regional bertemakan Melalui langkah MP3EI, percepatan dan ekonomi utama dalam enam koridor Sustainable Urbanization: Engineering perluasan pembangunan ekonomi akan ekonomi ; Kedua, Memperkuat konektivitas Challenges and Opportunities itu, lima menjadikan Indonesia memiliki pendapatan lokal dan nasional ; dan ketiga, Memperkuat angota PII menerima AFEO Honorary Fellow. p e r k a p i t a y a n g b e r k i s a r a n t a r a SDM dan IPTEK Nasional. Mereka adalah Ir. Habimono Koesoebjono, Ir USD pada tahun Eddy J. Danu, Ir. Arifin Tasrif, Ir. Rinaldi PII sebagai asosiasi profesi insinyur Firmansyah, dan Ir. Alwin Syah Loebis. U n t u k m e w u j u d k a n nya d i p e r l u k a n memegang peran penting dalam MP3EI, pertumbuhan ekonomi ril sebesar 6,4 7,5 terutama dalam aspek penguatan SDM dan Prof. Dr. Ir. Wiratman Wangsadinata persen pada periode , dan sekitar IPTEK. memperoleh Asean Engineering Award 8,0 9,0 persen pada periode untuk kategori perorangan. Sedangkan Pertumbuhan ekonomi tersebut akan Dengan anggota, 20 staf profesional, Asean Egineering Award untuk kategori dibarengi oleh penurunan inflasi dari 6 komite, 14 Badan Kejuruan, 1 pusat studi, perusahaan diraih PT PP, yang diwakili oleh Ir. sebesar 6,5 persen pada periode dan 86 cabang, PII adalah asosiasi insinyur Hajar Setiadi. menjadi 3,0 persen pada E terbesar di Indonesia, papar Sekjen. Country Report Indonesia disampaikan oleh Indonesia tengah berada dalam periode Sekjen PII, Ir. Heru Dewanto. Dikatakan, transisi struktur penduduk usia produktif. dengan berbagai potensi keunggulan dan Pada kurun waktu , penurunan keberadaan lebih dari insinyur di indeks rasio ketergantungan Indonesia akan segenap penjuru negeri, pada bulan Mei lalu mencapai angka terendah. Implikasi Pemerintah RI mencanangkan program penting dari kondisi ini adalah semakin 14 ENGINEER MONTHLY No. 53 Desember 2011

V. GAMBARAN UMUM. sebagai produsen utama dalam perkakaoan dunia. Hal ini bukan tanpa alasan, sebab

V. GAMBARAN UMUM. sebagai produsen utama dalam perkakaoan dunia. Hal ini bukan tanpa alasan, sebab V. GAMBARAN UMUM 5.1. Prospek Kakao Indonesia Indonesia telah mampu berkontribusi dan menempati posisi ketiga dalam perolehan devisa senilai 668 juta dolar AS dari ekspor kakao sebesar ± 480 272 ton pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Subsektor perkebunan merupakan salah satu sektor pertanian yang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Subsektor perkebunan merupakan salah satu sektor pertanian yang 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Subsektor perkebunan merupakan salah satu sektor pertanian yang dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat dalam pembangunan perekonomian Indonesia. Pada saat

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian mempunyai peranan yang sangat penting bagi perekonomian Indonesia. Peranan pertanian antara lain adalah : (1) sektor pertanian masih menyumbang sekitar

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Indonesia memiliki potensi alamiah yang berperan positif dalam

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Indonesia memiliki potensi alamiah yang berperan positif dalam 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia memiliki potensi alamiah yang berperan positif dalam pengembangan sektor pertanian sehingga sektor pertanian memiliki fungsi strategis dalam penyediaan pangan

Lebih terperinci

DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN KEMENTERIAN PERTANIAN 2013

DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN KEMENTERIAN PERTANIAN 2013 DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN KEMENTERIAN PERTANIAN 2013 KAKAO Penyebaran Kakao Nasional Jawa, 104.241 ha Maluku, Papua, 118.449 ha Luas Areal (HA) NTT,NTB,Bali, 79.302 ha Kalimantan, 44.951 ha Maluku,

Lebih terperinci

Posisi Pertanian yang Tetap Strategis Masa Kini dan Masa Depan Jumat, 22 Agustus 2014

Posisi Pertanian yang Tetap Strategis Masa Kini dan Masa Depan Jumat, 22 Agustus 2014 Posisi Pertanian yang Tetap Strategis Masa Kini dan Masa Depan Jumat, 22 Agustus 2014 Sektor pertanian sampai sekarang masih tetap memegang peran penting dan strategis dalam perekonomian nasional. Peran

Lebih terperinci

Salam sejahtera bagi kita semua

Salam sejahtera bagi kita semua Menteri Perindustrian Ropublik Indonesia SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN PADA ACARA MEMPERINGATI HARI KAKAO INDONESIA JAKARTA, 18 SEPTEMBER 2013 Yth. : 1. Sdr. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Rl

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas perkebunan yang memiliki peran penting bagi perekonomian nasional. Selain sebagai sumber utama minyak nabati, kelapa sawit

Lebih terperinci

AKSELERASI INDUSTRIALISASI TAHUN Disampaikan oleh : Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian

AKSELERASI INDUSTRIALISASI TAHUN Disampaikan oleh : Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian AKSELERASI INDUSTRIALISASI TAHUN 2012-2014 Disampaikan oleh : Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Jakarta, 1 Februari 2012 Daftar Isi I. LATAR BELAKANG II. ISU STRATEGIS DI SEKTOR INDUSTRI III.

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. hambatan lain, yang di masa lalu membatasi perdagangan internasional, akan

I. PENDAHULUAN. hambatan lain, yang di masa lalu membatasi perdagangan internasional, akan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pada era globalisasi saat ini, di mana perekonomian dunia semakin terintegrasi. Kebijakan proteksi, seperi tarif, subsidi, kuota dan bentuk-bentuk hambatan lain, yang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Perekonomian merupakan salah satu indikator kestabilan suatu negara. Indonesia

I. PENDAHULUAN. Perekonomian merupakan salah satu indikator kestabilan suatu negara. Indonesia I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perekonomian merupakan salah satu indikator kestabilan suatu negara. Indonesia sebagai salah satu negara berkembang, menganut sistem perekonomian terbuka, di mana lalu

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

1 PENDAHULUAN Latar Belakang 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Kakao merupakan salah satu komoditas perkebunan potensial untuk dikembangkan menjadi andalan ekspor. Menurut ICCO (2012) pada tahun 2011, Indonesia merupakan produsen biji

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pertanian merupakan sektor yang sangat penting dalam perekonomian nasional. Oleh karena itu, pembangunan ekonomi nasional abad ke- 21, masih akan tetap berbasis pertanian

Lebih terperinci

DISAMPAIKAN OLEH : DIREKTUR JENDERAL INDUSTRI AGRO PADA RAPAT KERJA KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN TAHUN 2013 JAKARTA, FEBRUARI 2013 DAFTAR ISI

DISAMPAIKAN OLEH : DIREKTUR JENDERAL INDUSTRI AGRO PADA RAPAT KERJA KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN TAHUN 2013 JAKARTA, FEBRUARI 2013 DAFTAR ISI DISAMPAIKAN OLEH : DIREKTUR JENDERAL AGRO PADA RAPAT KERJA KEMENTERIAN PERAN TAHUN 2013 JAKARTA, FEBRUARI 2013 DAFTAR ISI I. KINERJA AGRO TAHUN 2012 II. KEBIJAKAN PENGEMBANGAN AGRO III. ISU-ISU STRATEGIS

Lebih terperinci

TERM OF REFERENCE (TOR) PENUNJUKAN LANGSUNG TENAGA PENDUKUNG PERENCANAAN PENGEMBANGAN PENANAMAN MODAL DI BIDANG AGRIBISNIS TAHUN ANGGARAN 2012

TERM OF REFERENCE (TOR) PENUNJUKAN LANGSUNG TENAGA PENDUKUNG PERENCANAAN PENGEMBANGAN PENANAMAN MODAL DI BIDANG AGRIBISNIS TAHUN ANGGARAN 2012 1 TERM OF REFERENCE (TOR) PENUNJUKAN LANGSUNG TENAGA PENDUKUNG PERENCANAAN PENGEMBANGAN PENANAMAN MODAL DI BIDANG AGRIBISNIS TAHUN ANGGARAN 2012 I. PENDAHULUAN Pengembangan sektor agribisnis sebagai salah

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN INDUSTRI UNGGULAN PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN INDUSTRI UNGGULAN PROVINSI KALIMANTAN TIMUR PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 96/M-IND/PER/8/2010 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN INDUSTRI UNGGULAN PROVINSI KALIMANTAN TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA LAPORAN SINGKAT BADAN LEGISLASI DPR RI DALAM RAPAT KERJA DENGAN MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN, MENTERI PERTANIAN, MENTERI PERINDUSTRIAN, MENTERI PERDAGANGAN,

Lebih terperinci

Industrialisasi Sektor Agro dan Peran Koperasi dalam Mendukung Ketahanan Pangan Nasional. Kementerian Perindustrian 2015

Industrialisasi Sektor Agro dan Peran Koperasi dalam Mendukung Ketahanan Pangan Nasional. Kementerian Perindustrian 2015 Industrialisasi Sektor Agro dan Peran Koperasi dalam Mendukung Ketahanan Pangan Nasional Kementerian Perindustrian 2015 I. LATAR BELAKANG 2 INDUSTRI AGRO Industri Agro dikelompokkan dalam 4 kelompok, yaitu

Lebih terperinci

RUMUSAN HASIL RAPAT KERJA KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN DENGAN PEMERINTAH DAERAH TAH

RUMUSAN HASIL RAPAT KERJA KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN DENGAN PEMERINTAH DAERAH TAH Jakarta, 2 Maret 2012 Rapat Kerja dengan tema Akselerasi Industrialisasi Dalam Rangka Mendukung Percepatan Pembangunan Ekonomi yang dihadiri oleh seluruh Pejabat Eselon I, seluruh Pejabat Eselon II, Pejabat

Lebih terperinci

KEBIJAKAN DAN STRATEGI OPERASIONAL PENGEMBANGAN BIOINDUSTRI KELAPA NASIONAL

KEBIJAKAN DAN STRATEGI OPERASIONAL PENGEMBANGAN BIOINDUSTRI KELAPA NASIONAL KEBIJAKAN DAN STRATEGI OPERASIONAL PENGEMBANGAN BIOINDUSTRI KELAPA NASIONAL Gamal Nasir Direktorat Jenderal Perkebunan PENDAHULUAN Kelapa memiliki peran strategis bagi penduduk Indonesia, karena selain

Lebih terperinci

SAMBUTAN GUBERNUR BANK INDONESIA SOSIALISASI PROGRAM PENGENDALIAN INFLASI BI Jakarta, 25 April 2016

SAMBUTAN GUBERNUR BANK INDONESIA SOSIALISASI PROGRAM PENGENDALIAN INFLASI BI Jakarta, 25 April 2016 SAMBUTAN GUBERNUR BANK INDONESIA SOSIALISASI PROGRAM PENGENDALIAN INFLASI BI Jakarta, 25 April 2016 Yang kami hormati, Gubernur Jawa Tengah, Bapak H. Ganjar Pranowo, Anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia,

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN. Latar Belakang

1 PENDAHULUAN. Latar Belakang 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan pertanian memiliki peran strategis dalam menunjang perekonomian Indonesia. Sektor pertanian berperan sebagai penyedia bahan pangan, pakan ternak, sumber bahan baku

Lebih terperinci

SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN PADA ACARA Peringatan Hari Kakao Indonesia (Cocoa Day) ke 3 Tanggal September 2015 di Ambarukmo Plaza, Yogyakarta

SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN PADA ACARA Peringatan Hari Kakao Indonesia (Cocoa Day) ke 3 Tanggal September 2015 di Ambarukmo Plaza, Yogyakarta SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN PADA ACARA Peringatan Hari Kakao Indonesia (Cocoa Day) ke 3 Tanggal 17-20 September 2015 di Ambarukmo Plaza, Yogyakarta Yang Terhormat, 1. Menteri Perekonomian RI; 2. Menteri

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM. 5.1 Luas Areal Perkebunan Kopi Robusta Indonesia. hektar dengan luas lahan tanaman menghasilkan (TM) seluas 878.

V. GAMBARAN UMUM. 5.1 Luas Areal Perkebunan Kopi Robusta Indonesia. hektar dengan luas lahan tanaman menghasilkan (TM) seluas 878. V. GAMBARAN UMUM 5.1 Luas Areal Perkebunan Kopi Robusta Indonesia Luas lahan robusta sampai tahun 2006 (data sementara) sekitar 1.161.739 hektar dengan luas lahan tanaman menghasilkan (TM) seluas 878.874

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM PRODUK KELAPA SAWIT DAN BAHAN BAKAR BIODIESEL DARI KELAPA SAWIT

V. GAMBARAN UMUM PRODUK KELAPA SAWIT DAN BAHAN BAKAR BIODIESEL DARI KELAPA SAWIT V. GAMBARAN UMUM PRODUK KELAPA SAWIT DAN BAHAN BAKAR BIODIESEL DARI KELAPA SAWIT 5.1 Produk Kelapa Sawit 5.1.1 Minyak Kelapa Sawit Minyak kelapa sawit sekarang ini sudah menjadi komoditas pertanian unggulan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Karet di Indonesia merupakan salah satu komoditas penting perkebunan. selain kelapa sawit, kopi dan kakao. Karet ikut berperan dalam

I. PENDAHULUAN. Karet di Indonesia merupakan salah satu komoditas penting perkebunan. selain kelapa sawit, kopi dan kakao. Karet ikut berperan dalam 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Karet di Indonesia merupakan salah satu komoditas penting perkebunan selain kelapa sawit, kopi dan kakao. Karet ikut berperan dalam menyumbangkan pendapatan

Lebih terperinci

LAPORAN SINGKAT KOMISI VI DPR RI B I D A N G PERINDUSTRIAN, PERDAGANGAN, KOPERASI DAN UKM, BUMN, INVESTASI, BSN DAN KPPU

LAPORAN SINGKAT KOMISI VI DPR RI B I D A N G PERINDUSTRIAN, PERDAGANGAN, KOPERASI DAN UKM, BUMN, INVESTASI, BSN DAN KPPU LAPORAN SINGKAT KOMISI VI DPR RI B I D A N G PERINDUSTRIAN, PERDAGANGAN, KOPERASI DAN UKM, BUMN, INVESTASI, BSN DAN KPPU Tahun Sidang : 2011-2012 Masa Persidangan : I Rapat ke : 16 Jenis Rapat : Rapat

Lebih terperinci

Menteri Perindustrian Republik Indonesia PAPARAN MENTERI PERINDUSTRIAN PADA ACARA RAKER KEMENTERIAN PERDAGANGAN JAKARTA, 27 JANUARI 2016

Menteri Perindustrian Republik Indonesia PAPARAN MENTERI PERINDUSTRIAN PADA ACARA RAKER KEMENTERIAN PERDAGANGAN JAKARTA, 27 JANUARI 2016 Menteri Perindustrian Republik Indonesia PAPARAN MENTERI PERINDUSTRIAN PADA ACARA RAKER KEMENTERIAN PERDAGANGAN JAKARTA, 27 JANUARI 2016 Yth. : 1. Menteri Perdagangan; 2. Menteri Pertanian; 3. Kepala BKPM;

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. diperbaharui, dalam kata lain cadangan migas Indonesia akan semakin menipis.

BAB I PENDAHULUAN. diperbaharui, dalam kata lain cadangan migas Indonesia akan semakin menipis. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian masih menjadi salah satu primadona Indonesia untuk jenis ekspor non-migas. Indonesia tidak bisa menggantungkan ekspornya kepada sektor migas saja sebab

Lebih terperinci

BAHAN MASUKAN PAPARAN DIRJEN PDN PADA LOKAKARYA KAKAO 2013 SESI MATERI: RANTAI TATA NIAGA KAKAO. Jakarta, 18 September 2013

BAHAN MASUKAN PAPARAN DIRJEN PDN PADA LOKAKARYA KAKAO 2013 SESI MATERI: RANTAI TATA NIAGA KAKAO. Jakarta, 18 September 2013 BAHAN MASUKAN PAPARAN DIRJEN PDN PADA LOKAKARYA KAKAO 2013 SESI MATERI: RANTAI TATA NIAGA KAKAO Jakarta, 18 September 2013 Kebijakan Tata Niaga Komoditi MEKANISME PASAR Harga dan ketersediaan barang tergantungpadasupply-demand

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN. Latar Belakang

1 PENDAHULUAN. Latar Belakang 1 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Peraturan Presiden No 32 Tahun 2011 tentang MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) merupakan sebuah langkah besar permerintah dalam mencapai

Lebih terperinci

PROSPEK DAN ARAH PENGEMBANGAN AGRIBISNIS KAKAO

PROSPEK DAN ARAH PENGEMBANGAN AGRIBISNIS KAKAO PROSPEK DAN ARAH PENGEMBANGAN AGRIBISNIS KAKAO Edisi Kedua Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian 2007 AGRO INOVASI BHINEKA TUNGGAL IKA SAMBUTAN MENTERI PERTANIAN Atas perkenan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sektor pertanian telah memberikan sumbangan yang nyata dalam perekonomian nasional yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia, mempercepat pertumbuhan ekonomi,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DANA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DANA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DANA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

DUKUNGAN SUB SEKTOR PERKEBUNAN TERHADAP PELAKSANAAN KEBIJAKAN

DUKUNGAN SUB SEKTOR PERKEBUNAN TERHADAP PELAKSANAAN KEBIJAKAN DUKUNGAN SUB SEKTOR PERKEBUNAN TERHADAP PELAKSANAAN KEBIJAKAN INDUSTRI NASIONAL Direktur Jenderal Perkebunan disampaikan pada Rapat Kerja Revitalisasi Industri yang Didukung oleh Reformasi Birokrasi 18

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pembangunan pertanian merupakan suatu tindakan untuk mengubah kondisi

I. PENDAHULUAN. Pembangunan pertanian merupakan suatu tindakan untuk mengubah kondisi 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan pertanian merupakan suatu tindakan untuk mengubah kondisi pertanian dari kondisi yang kurang menguntungkan menjadi kondisi yang lebih menguntungkan (long

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

1 PENDAHULUAN Latar Belakang 1 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia merupakan negara produsen dan pengekspor terbesar minyak kelapa sawit di dunia. Kelapa sawit merupakan komoditas perkebunan yang memiliki peran penting bagi perekonomian

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DAN PENGGUNAAN DANA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DAN PENGGUNAAN DANA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DAN PENGGUNAAN DANA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a.

Lebih terperinci

KEBIJAKAN INDUSTRI NASIONAL TAHUN Disampaikan pada acara: Rapat Kerja Kementerian Perindustrian Di Hotel Bidakara

KEBIJAKAN INDUSTRI NASIONAL TAHUN Disampaikan pada acara: Rapat Kerja Kementerian Perindustrian Di Hotel Bidakara KEBIJAKAN INDUSTRI NASIONAL TAHUN 2015-2019 Disampaikan pada acara: Rapat Kerja Kementerian Perindustrian Di Hotel Bidakara Jakarta, 16 Februari 2016 I. TUJUAN KEBIJAKAN INDUSTRI NASIONAL 2 I. TUJUAN KEBIJAKAN

Lebih terperinci

Ketua Komisi VI DPR RI. Anggota Komisi VI DPR RI

Ketua Komisi VI DPR RI. Anggota Komisi VI DPR RI PEMBERDAYAAAN KOPERASI & UMKM DALAM RANGKA PENINGKATAN PEREKONOMIAN MASYARAKAT 1) Ir. H. Airlangga Hartarto, MMT., MBA Ketua Komisi VI DPR RI 2) A. Muhajir, SH., MH Anggota Komisi VI DPR RI Disampaikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kakao merupakan salah satu komoditas andalan perkebunan yang berperan penting dalam perekonomian Indonesia. Pada tahun 2010 Indonesia menjadi produsen kakao terbesar

Lebih terperinci

Written by Danang Prihastomo Friday, 06 February :22 - Last Updated Wednesday, 11 February :46

Written by Danang Prihastomo Friday, 06 February :22 - Last Updated Wednesday, 11 February :46 RUMUSAN HASIL RAPAT KERJA KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN TAHUN 2015 Jakarta, 5 Februari 2015 Rapat Kerja Menteri Perindustrian Tahun 2015 dengan tema Terbangunnya Industri yang Tangguh dan Berdaya Saing Menuju

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penghasil devisa negara, penyedia lapangan kerja serta mendorong pengembangan

BAB I PENDAHULUAN. penghasil devisa negara, penyedia lapangan kerja serta mendorong pengembangan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kakao merupakan salah satu komoditas andalan perkebunan yang memegang peranan cukup penting dalam perekonomian Indonesia, yakni sebagai penghasil devisa negara, penyedia

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DANA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DANA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA 1.tE,"P...F.3...1!..7. INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DANA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. pertanian berperan besar dalam menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional. Di

I. PENDAHULUAN. pertanian berperan besar dalam menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional. Di I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang tangguh dalam perekonomian dan memiliki peran sebagai penyangga pembangunan nasional. Hal ini terbukti pada saat Indonesia

Lebih terperinci

KEBIJAKAN PENGEMBANGAN INDUSTRI AGRO DAN KIMIA

KEBIJAKAN PENGEMBANGAN INDUSTRI AGRO DAN KIMIA KELOMPOK I KEBIJAKAN PENGEMBANGAN INDUSTRI AGRO DAN KIMIA TOPIK : PENINGKATAN DAYA SAING INDUSTRI AGRO DAN KIMIA MELALUI PENDEKATAN KLASTER KELOMPOK INDUSTRI HASIL HUTAN DAN PERKEBUNAN, KIMIA HULU DAN

Lebih terperinci

Prospek dan Arah Pengembangan AGRIBISNIS KAKAO. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian 2005

Prospek dan Arah Pengembangan AGRIBISNIS KAKAO. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian 2005 Prospek dan Arah Pengembangan AGRIBISNIS KAKAO Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian 2005 MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN MENTERI PERTANIAN Atas perkenan dan ridho

Lebih terperinci

ANALISIS KINERJA EKSPOR 5 KOMODITAS PERKEBUNAN UNGGULAN INDONESIA TAHUN

ANALISIS KINERJA EKSPOR 5 KOMODITAS PERKEBUNAN UNGGULAN INDONESIA TAHUN ANALISIS KINERJA EKSPOR 5 KOMODITAS PERKEBUNAN UNGGULAN INDONESIA TAHUN 2012-2016 Murjoko Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret email: murjoko@outlook.com Abstrak Indonesia merupakan negara yang

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR Rencana Strategis Direktorat Jenderal Perkebunan

KATA PENGANTAR Rencana Strategis Direktorat Jenderal Perkebunan KATA PENGANTAR ii DAFTAR ISI iii iv v vi DAFTAR TABEL vii viii DAFTAR GAMBAR ix x DAFTAR LAMPIRAN xi xii 1 PENDAHULUAN xiii xiv I. PENDAHULUAN 2 KONDISI UMUM DIREKTOAT JENDERAL PERKEBUNAN TAHUN 2005-2009

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DAN PENGGUNAAN DANA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DAN PENGGUNAAN DANA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DAN PENGGUNAAN DANA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS ISU - ISU STRATEGIS

BAB IV ANALISIS ISU - ISU STRATEGIS BAB IV ANALISIS ISU - ISU STRATEGIS Perencanaan pembangunan antara lain dimaksudkan agar Pemerintah Daerah senantiasa mampu menyelaraskan diri dengan lingkungan. Oleh karena itu, perhatian kepada mandat

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. penyumbang devisa, kakao (Theobroma cacao) juga merupakan salah satu

I. PENDAHULUAN. penyumbang devisa, kakao (Theobroma cacao) juga merupakan salah satu I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara berkembang yang mengandalkan sektor migas dan non migas sebagai penghasil devisa. Salah satu sektor non migas yang mampu memberikan kontribusi

Lebih terperinci

Prospek dan Arah Pengembangan AGRIBISNIS KEDELAI. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian 2005

Prospek dan Arah Pengembangan AGRIBISNIS KEDELAI. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian 2005 Prospek dan Arah Pengembangan AGRIBISNIS KEDELAI Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian 2005 MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN MENTERI PERTANIAN Atas perkenan dan

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. terbesar di dunia. Hampir 60% produksi kakao berasal dari pulau Sulawesi yakni

I PENDAHULUAN. terbesar di dunia. Hampir 60% produksi kakao berasal dari pulau Sulawesi yakni I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai : (1.1) Latar Belakang Masalah, (1.2) Identifikasi Masalah, (1.3) Tujuan Penelitian, (1.4) Manfaat Penelitian, (1.5) Kerangka Pemikiran, (1.6) Hipotesis Penelitian,

Lebih terperinci

Tabel 1.1. Konsumsi Beras di Tingkat Rumah Tangga Tahun Tahun Konsumsi Beras*) (Kg/kap/thn)

Tabel 1.1. Konsumsi Beras di Tingkat Rumah Tangga Tahun Tahun Konsumsi Beras*) (Kg/kap/thn) I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sektor pertanian merupakan sektor penting dalam pembangunan ekonomi nasional. Peran strategis sektor pertanian digambarkan dalam kontribusi sektor pertanian dalam

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Bagi negara-negara yang sedang berkembang, termasuk Indonesia, pembangunan pertanian pada abad ke-21 selain bertujuan untuk mengembangkan sistem pertanian yang berkelanjutan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Tanaman kakao (Theobroma cacao. l) merupakan salah satu komoditas

BAB I PENDAHULUAN. Tanaman kakao (Theobroma cacao. l) merupakan salah satu komoditas BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tanaman kakao (Theobroma cacao. l) merupakan salah satu komoditas andalan perkebunan Indonesia yang memiliki peran penting dalam perekonomian nasional. Indonesia merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pertukaran barang dan jasa antara penduduk dari negara yang berbeda dengan

BAB I PENDAHULUAN. pertukaran barang dan jasa antara penduduk dari negara yang berbeda dengan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan pesat globalisasi dalam beberapa dasawarsa terakhir mendorong terjadinya perdagangan internasional yang semakin aktif dan kompetitif. Perdagangan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gambar 1. Luasan lahan perkebunan kakao dan jumlah yang menghasilkan (TM) tahun

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gambar 1. Luasan lahan perkebunan kakao dan jumlah yang menghasilkan (TM) tahun 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Usaha perkebunan merupakan usaha yang berperan penting bagi perekonomian nasional, antara lain sebagai penyedia lapangan kerja dan sumber pendapatan bagi petani, sumber

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Cokelat merupakan hasil olahan dari biji tanaman kakao (Theobroma cacao)

BAB I PENDAHULUAN. Cokelat merupakan hasil olahan dari biji tanaman kakao (Theobroma cacao) BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Cokelat merupakan hasil olahan dari biji tanaman kakao (Theobroma cacao) yang dapat dijadikan makanan ataupun minuman. Cokelat telah melewati sejarah yang panjang sejak

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sumatera Barat memiliki potensi cukup besar di bidang perkebunan, karena didukung oleh lahan yang cukup luas dan iklim yang sesuai untuk komoditi perkebunan. Beberapa

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG PERINDUSTRIAN DAN LANGKAH-LANGKAH PENYUSUNAN PERATURAN PELAKSANAANNYA

UNDANG-UNDANG NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG PERINDUSTRIAN DAN LANGKAH-LANGKAH PENYUSUNAN PERATURAN PELAKSANAANNYA UNDANG-UNDANG NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG PERINDUSTRIAN DAN LANGKAH-LANGKAH PENYUSUNAN PERATURAN PELAKSANAANNYA Disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Dalam acara Rapat Kerja Kementerian Perindustrian tahun

Lebih terperinci

LAMPIRAN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA KERJA PEMERINTAH TAHUN 2012

LAMPIRAN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA KERJA PEMERINTAH TAHUN 2012 [Type text] LAMPIRAN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA KERJA PEMERINTAH TAHUN 2012 BUKU I: Prioritas Pembangunan, serta Kerangka Ekonomi Makro dan Pembiayaan Pembangunan

Lebih terperinci

memberikan multiple effect terhadap usaha agribisnis lainnya terutama peternakan. Kenaikan harga pakan ternak akibat bahan baku jagung yang harus

memberikan multiple effect terhadap usaha agribisnis lainnya terutama peternakan. Kenaikan harga pakan ternak akibat bahan baku jagung yang harus I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pengembangan agribisnis nasional diarahkan untuk meningkatkan kemandirian perekonomian dan pemantapan struktur industri nasional terutama untuk mendukung berkembangnya

Lebih terperinci

Susu : Komoditi Potensial Yang Terabaikan

Susu : Komoditi Potensial Yang Terabaikan Susu : Komoditi Potensial Yang Terabaikan Oleh : Feryanto W. K. Sub sektor peternakan merupakan salah satu sumber pertumbuhan baru khususnya bagi sektor pertanian serta bagi perekonomian nasional pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pencapaian tujuan perusahaan. Keberadaan manajemen sumber daya manusia

BAB I PENDAHULUAN. pencapaian tujuan perusahaan. Keberadaan manajemen sumber daya manusia BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Sumber daya manusia saat ini dianggap semakin penting perannya dalam pencapaian tujuan perusahaan. Keberadaan manajemen sumber daya manusia sangat penting

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kesejahteraan yang dapat dinikmati secara merata oleh seluruh masyarakat. (Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, 2011).

BAB I PENDAHULUAN. kesejahteraan yang dapat dinikmati secara merata oleh seluruh masyarakat. (Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, 2011). BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tantangan ke depan pembangunan ekonomi Indonesia tidaklah mudah untuk diselesaikan. Dinamika ekonomi domestik dan global mengharuskan Indonesia senantiasa siap terhadap

Lebih terperinci

pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Selain itu, oleh sektor

pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Selain itu, oleh sektor 8 II. Tinjauan Pustaka 1.1. Kakao Dalam Usaha Pertanian Dalam percakapan sehari-hari yang dimaksud dengan pertanian adalah bercocok tanam, namun pengertian tersebut sangat sempit. Dalam ilmu pertanian,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. untuk tujuan kesejahteraan. Salah satu bentuk kegiatan pemanfatan dan

BAB I PENDAHULUAN. untuk tujuan kesejahteraan. Salah satu bentuk kegiatan pemanfatan dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sumber Daya Alam Nabati dengan segala jenis keanekaragamannya yang ada di Tanah Indonesia, adalah salah satu kelebihan yang dari dulu telah menjadi sumber kekayaan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. berbasis tebu merupakan salah satu sumber pendapatan bagi sekitar 900 ribu

I. PENDAHULUAN. berbasis tebu merupakan salah satu sumber pendapatan bagi sekitar 900 ribu I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Gula merupakan salah satu komoditas yang mempunyai posisi strategis dalam perekonomian Indonesia. Pada tahun 2000 sampai tahun 2005 industri gula berbasis tebu merupakan

Lebih terperinci

Pe n g e m b a n g a n

Pe n g e m b a n g a n Potensi Ekonomi Kakao sebagai Sumber Pendapatan Petani Lya Aklimawati 1) 1) Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, Jl. PB. Sudirman 9 Jember 68118 Petani kakao akan tersenyum ketika harga biji kakao

Lebih terperinci

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT. dan syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, REPUBLIK INDONESIA

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT. dan syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, REPUBLIK INDONESIA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA PIDATO KETUA DPR Rl PADA RAPAT PAR1PURNA DPR-RI PEMBUKAAN MASA PERSIDAN(3AN I TAHUN SIDANX3 201D-2011 SENIN,16AGUSTUS2010 Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh,

Lebih terperinci

Assalamu alaikum Wr.Wb., Salam sejahtera bagi kita semua,

Assalamu alaikum Wr.Wb., Salam sejahtera bagi kita semua, SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI PADA ACARA KUNJUNGAN LAPANGAN PEMBANGUNAN PABRIK PELUMAS SHELL DAN FASILITAS JETTY DI KAWASAN INDUSTRI & PERGUDANGAN MARUNDA CENTER, BEKASI SELASA, 13 JANUARI 2015 Yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kelapa sawit dan karet dan berperan dalam mendorong pengembangan. wilayah serta pengembangan agroindustry.

BAB I PENDAHULUAN. kelapa sawit dan karet dan berperan dalam mendorong pengembangan. wilayah serta pengembangan agroindustry. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kakao merupakan salah satu hasil perkebunan Indonesia yang cukup potensial. Di tingkat dunia, kakao Indonesia menempati posisi ketiga setelah Pantai Gading dan Ghana.

Lebih terperinci

SAMBUTAN GUBERNUR KALIMANTAN BARAT PADA ACARA PERESMIAN PROYEK-PROYEK PEMBANGUNAN DAN PENCANANGAN KOTA TERPADU MANDIRI DI PROVINSI KALIMANTAN BARAT

SAMBUTAN GUBERNUR KALIMANTAN BARAT PADA ACARA PERESMIAN PROYEK-PROYEK PEMBANGUNAN DAN PENCANANGAN KOTA TERPADU MANDIRI DI PROVINSI KALIMANTAN BARAT 1 SAMBUTAN GUBERNUR KALIMANTAN BARAT PADA ACARA PERESMIAN PROYEK-PROYEK PEMBANGUNAN DAN PENCANANGAN KOTA TERPADU MANDIRI DI PROVINSI KALIMANTAN BARAT Hari Tanggal : Sabtu /17 Mei 2008 Pukul : 10.50 WIB

Lebih terperinci

CUPLIKAN LAMPIRAN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011, TANGGAL 20 MEI 2011 TENTANG

CUPLIKAN LAMPIRAN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011, TANGGAL 20 MEI 2011 TENTANG CUPLIKAN LAMPIRAN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011, TANGGAL 20 MEI 2011 TENTANG MASTERPLAN PERCEPATAN DAN PERLUASAN PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA 2011-2025 A. Latar Belakang Sepanjang

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. (bisnis) di bidang pertanian (dalam arti luas) dan bidang-bidang yang berkaitan

I PENDAHULUAN. (bisnis) di bidang pertanian (dalam arti luas) dan bidang-bidang yang berkaitan I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pada prinsipnya pengertian agribisnis adalah merupakan usaha komersial (bisnis) di bidang pertanian (dalam arti luas) dan bidang-bidang yang berkaitan langsung dengan

Lebih terperinci

Menteri Perindustrian Republik Indonesia SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI PADA ACARA RAPAT KERJA KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN TAHUN 2016

Menteri Perindustrian Republik Indonesia SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI PADA ACARA RAPAT KERJA KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN TAHUN 2016 Menteri Perindustrian Republik Indonesia SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI PADA ACARA RAPAT KERJA KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN TAHUN 2016 JAKARTA, 16 FEBRUARI 2016 Kepada Yang Terhormat: 1. Pimpinan Komisi

Lebih terperinci

DAFTAR LAMPIRAN. No Lampiran Halaman

DAFTAR LAMPIRAN. No Lampiran Halaman DAFTAR LAMPIRAN No Lampiran Halaman 1 Foto-Foto Penelitian... 81 xvi 1 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Berdasarkan visi dan misi Provinsi Bali tahun 2009, prioritas pembangunan Provinsi Bali sesuai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kakao memegang peranan penting dalam hal pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Komoditas ini memberikan kontribusi terhadap pendapatan devisa negara, pengadaan lapangan

Lebih terperinci

Presiden Jokowi: 2016 sebagai Tahun Percepatan Pembangunan Nasional Selasa, 16 Agustus 2016

Presiden Jokowi: 2016 sebagai Tahun Percepatan Pembangunan Nasional Selasa, 16 Agustus 2016 Presiden Jokowi: 2016 sebagai Tahun Percepatan Pembangunan Nasional Selasa, 16 Agustus 2016 Pemerintah akan terus berjuang untuk mengatasi tiga permasalahan utama yang dihadapi bangsa Indonesia Memasuki

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Industrialisasi komoditas komoditas pertanian terutama komoditas ekspor seperti hasil perkebunan sudah selayaknya dijadikan sebagai motor untuk meningkatkan daya saing

Lebih terperinci

SAMBUTAN PENJABAT GUBERNUR SULAWESI TENGAH PADA ACARA PEMBUKAAN TEMU BISNIS PENGEMBANGAN INDUSTRI KAKAO SULAWESI TENGAH SENIN, 18 APRIL 2011

SAMBUTAN PENJABAT GUBERNUR SULAWESI TENGAH PADA ACARA PEMBUKAAN TEMU BISNIS PENGEMBANGAN INDUSTRI KAKAO SULAWESI TENGAH SENIN, 18 APRIL 2011 GUBERNUR SULAWESI TENGAH SAMBUTAN PENJABAT GUBERNUR SULAWESI TENGAH PADA ACARA PEMBUKAAN TEMU BISNIS PENGEMBANGAN INDUSTRI KAKAO SULAWESI TENGAH SENIN, 18 APRIL 2011 ASSALAMU ALAIKUM WAR, WAB, SALAM SEJAHTERA

Lebih terperinci

V. KEBIJAKAN DAN PROGRAM PENGEMBANGAN

V. KEBIJAKAN DAN PROGRAM PENGEMBANGAN V. KEBIJAKAN DAN PROGRAM PENGEMBANGAN A. Arah Kebijakan Jangka Panjang 2025 Untuk mencapai sasaran jangka panjang yang telah diuraikan diatas, maka kebijakan dan program yang akan ditempuh dalam pengembangan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sektor pertanian memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia karena merupakan tumpuan hidup sebagian besar penduduk Indonesia. Lebih dari setengah angkatan kerja

Lebih terperinci

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kakao. Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kakao I. PENDAHULUAN

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kakao. Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kakao I. PENDAHULUAN I. PENDAHULUAN Kakao merupakan salah satu komoditas andalan perkebunan yang peranannya cukup penting bagi perekonomian nasional, khususnya sebagai penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan dan devisa

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. kualitas produk melalui usaha diversifikasi, intensifikasi, ekstensifikasi dan

I. PENDAHULUAN. kualitas produk melalui usaha diversifikasi, intensifikasi, ekstensifikasi dan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan pertanian terus diarahkan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produk melalui usaha diversifikasi, intensifikasi, ekstensifikasi dan rehabilitasi pertanian

Lebih terperinci

Renstra BKP5K Tahun

Renstra BKP5K Tahun 1 BAB I PENDAHULUAN Revitalisasi Bidang Ketahanan Pangan, Pertanian, Perikanan dan Kehutanan merupakan bagian dari pembangunan ekonomi yang diarahkan untuk meningkatkan pendapatan, kesejahteraan, taraf

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. sektor yang mempunyai peranan yang cukup strategis dalam perekonomian

I. PENDAHULUAN. sektor yang mempunyai peranan yang cukup strategis dalam perekonomian 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu sasaran pembangunan nasional adalah pertumbuhan ekonomi dengan menitikberatkan pada sektor pertanian. Sektor pertanian merupakan salah satu sektor

Lebih terperinci

MP3EI Pertanian : Realisasi dan Tantangan

MP3EI Pertanian : Realisasi dan Tantangan Rubrik Utama MP3EI Pertanian : Realisasi dan Tantangan Oleh: Dr. Lukytawati Anggraeni, SP, M.Si Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor olume 18 No. 2, Desember

Lebih terperinci

Menggenjot UMKM dan Pasar Domestik Sebagai Tantangan di MEA Oleh: Mauled Moelyono 2

Menggenjot UMKM dan Pasar Domestik Sebagai Tantangan di MEA Oleh: Mauled Moelyono 2 Menggenjot UMKM dan Pasar Domestik Sebagai Tantangan di MEA 2015 1 Oleh: Mauled Moelyono 2 Pengantar Isu tentang penguatan sektor UMKM dan pasar domestik akhir-akhir ini kembali marak diperbincangkan setelah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pertanian (agro-based industry) yang banyak berkembang di negara-negara tropis

BAB I PENDAHULUAN. pertanian (agro-based industry) yang banyak berkembang di negara-negara tropis BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Industri kelapa sawit merupakan salah satu industri strategis sektor pertanian (agro-based industry) yang banyak berkembang di negara-negara tropis seperti

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 140/M-IND/PER/10/2009 TENTANG

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 140/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA MOR 140/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN INDUSTRI UNGGULAN PROVINSI PAPUA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERINDUSTRIAN

Lebih terperinci

Menteri Perindustrian Republik Indonesia

Menteri Perindustrian Republik Indonesia Menteri Perindustrian Republik Indonesia KEYNOTE SPEECH MENTERI PERINDUSTRIAN RI PADA MUSYAWARAH PROPINSI VI TAHUN 2015 KADIN DENGAN TEMA MEMBANGUN PROFESIONALISME DAN KEMANDIRIAN DALAM MENGHADAPI ERA

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN RETENSI ARSIP SEKTOR PEREKONOMIAN URUSAN PERINDUSTRIAN

PERATURAN KEPALA ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN RETENSI ARSIP SEKTOR PEREKONOMIAN URUSAN PERINDUSTRIAN Jalan Ampera Raya No. 7, Jakarta Selatan 12560, Indonesia Telp. 62 21 7805851, Fax. 62 21 7810280 http://www.anri.go.id, e-mail: info@anri.go.id PERATURAN KEPALA ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR

Lebih terperinci

MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN

MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2017 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KOORDINATOR

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. melimpah, menjadikan negara ini sebagai penghasil produk-produk dari alam

I. PENDAHULUAN. melimpah, menjadikan negara ini sebagai penghasil produk-produk dari alam I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sebagai negara agraris, Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, menjadikan negara ini sebagai penghasil produk-produk dari alam yang dapat diandalkan salah

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pengembangan kelapa sawit telah memberikan dampak yang sangat positif bagi

I. PENDAHULUAN. Pengembangan kelapa sawit telah memberikan dampak yang sangat positif bagi I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kelapa sawit merupakan komoditi pertanian yang sangat penting bagi Indonesia. Pengembangan kelapa sawit telah memberikan dampak yang sangat positif bagi kemajuan pembangunan

Lebih terperinci

LAPORAN AKHIR PENELITIAN TA 2012 DAMPAK KEBIJAKAN PAJAK PERTANIAN TERHADAP PRODUKSI, PERDAGANGAN, DAN KESEJAHTERAAN RUMAH TANGGA PETANI

LAPORAN AKHIR PENELITIAN TA 2012 DAMPAK KEBIJAKAN PAJAK PERTANIAN TERHADAP PRODUKSI, PERDAGANGAN, DAN KESEJAHTERAAN RUMAH TANGGA PETANI LAPORAN AKHIR PENELITIAN TA 2012 DAMPAK KEBIJAKAN PAJAK PERTANIAN TERHADAP PRODUKSI, PERDAGANGAN, DAN KESEJAHTERAAN RUMAH TANGGA PETANI Oleh : Sri Nuryanti Delima H. Azahari Erna M. Lokollo Andi Faisal

Lebih terperinci

PIAGAM PEMBENTUKAN DEWAN NEGARA-NEGARA PRODUSEN MINYAK SAWIT

PIAGAM PEMBENTUKAN DEWAN NEGARA-NEGARA PRODUSEN MINYAK SAWIT PIAGAM PEMBENTUKAN DEWAN NEGARA-NEGARA PRODUSEN MINYAK SAWIT ------------------------------------------------------------------------------------------------ PEMBUKAAN Pemerintah negara-negara anggota

Lebih terperinci