Oleh: MM Sri Dwiyantari*

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Oleh: MM Sri Dwiyantari*"

Transkripsi

1 PEMBERDAYAAN KELUARGA MELALUI PEMANFAATAN LAHAN KOSONG KELUARGA DAN TANAMAN PEPAYA GANTUNG Studi Kasus Pada Keluarga Om di Dusun Jletreng Desa Pengasinan Kecamatan Gunungsindur, Kabupaten Bogor Oleh: MM Sri Dwiyantari* Abstract The number of absolute poor population in Indonesia is not small, although the percentage has declined from year to year. If this is allowed, will likely decline in the level of their lives, to be poverty-stricken people. So this issue needs to be addressed, including through the empowerment of the family. By applying the process framework and problem solving of the social work in the micro study field (social case work), empowerment for 9 (nine) months may increase the sustainable family income. Empowerment is done by building a network of productive economic activities and making use of vacant land the family, hanging papaya plant utilization, and skills possessed by the family concerned. The related family is Om family (Som s wife, papaya flower-producing farmer) with Mrs. Mn family (papaya flower cooking skills). In this empowerment, the companion emphasizes the process of strengthening, motivating individuals to be more empowered and willing to develop their potential. The process is equipped with an attempt to explore the source system that support their autonomy, ie social organization of local church that support Om and Mrs. Mn in the form of marketing their products and provide a revolving fund to increase its capital. Keywords: family, poverty, empowerment process Abstrak Tidak sedikit jumlah penduduk miskin absolut di Indonesia, meskipun persentasenya mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Apabila hal ini dibiarkan, kemungkinan akan terjadi penurunan tingkat kehidupan mereka, menjadi fakir miskin. Maka masalah ini perlu diatasi, antara lain melalui pemberdayaan keluarga. Dengan menerapkan kerangka proses dan pemecahan masalah pekerjaan sosial bidang kajian mikro (social case work), pemberdayaan selama 9 (sembilan) bulan ternyata dapat meningkatkan penghasilan keluarga secara berkelanjutan. Pemberdayaan dilakukan dengan membangun jaringan kerja usaha ekonomi produktif dan memanfaatkan lahan kosong keluarga, pemanfaatan tanaman pepaya gantung,dan ketrampilan yang dimiliki oleh keluarga yang bersangkutan. Adapun keluarga yang terkait adalah keluarga Om (istri Som, petani penghasil bunga pepaya) dengan keluarga Ny Mn (memiliki ketrampilan memasak bunga pepaya). Dalam pemberdayaan ini pendamping menekankan proses penguatan, memotivasi individu untuk lebih berdaya dan mau mengembangkan potensi yang dimilikinya. Proses ini dilengkapi dengan upaya menggali sistem sumber yang mendukung kemandirian mereka, yaitu organisasi sosial gereja setempat yang mendukung kegiatan Om dan Ny Mn dalam bentuk memasarkan produknya dan menyediakan dana bergulir untuk menambah modal usahanya. Kata Kunci: keluarga, kemiskinan, proses pemberdayaan 1. Latar Belakang Masalah kemiskinan penduduk merupakan masalah yang tidak habis-habisnya dipermasalahkan, diperbincangkan jalan keluarnya dan diupayakan penangannya di Indonesia, walaupun persentase penduduk miskin absolut mengalami penurunan dari tahun ke tahun seperti digambarkan pada tabel berikut. Diantaranya INSANI, ISSN : NO. 11/1/Desember

2 adalah rumah tangga buruh tani, petani sempit, pengrajin dan juga nelayan yang sudah lama diketahui tergolong miskin. (Sayogyo, 1978; 1991 dalam Ihromi 1999: 240). Tabel 1: Kemiskinan Absolut di Indonesia Tahun Tahun Jumlah penduduk Penduduk Miskin (juta jiwa) Juta jiwa % ,0 15, ,5 14, ,02 13,33 Data diolah dari: Suharto (2012: 3) Salah satu diantara buruh tani tersebut adalah keluarga Om, sebuah keluarga yang tinggal di pinggiran kota besar Jakarta Tangerang Selatan, tepatnya di Dusun Jletreng, Desa Pengasinan, Kecamatan Gunungsindur Bogor. Som (suami Om) sehari-hari bekerja menjaga pekarangan milik warga Jakarta Dengan pekerjaan ini ia mendapat upah sebasar Rp ,- perbulan. Dengan penghasilan ini ia harus menghidupi isteri dan 3 (tiga) anaknya. Untuk mendukung pemenuhan kebutuhan keluarga, Om membantu suami dengan bekerja sebagai buruh cuci di komplek perumahan didekat ia tinggal. Pendidikan 2 (dua) anak tertua adalah lulus SLTP/Pesantren dan anak bungsu adalah drop out SLTP. Keluarga Om tinggal di wilayah yang memiliki potensi alam berupa lahan kosong dan tanah yang subur karena di sekitarnya terdapat peternak ayam sehingga dengan mudah penduduk setempat dapat memperoleh pupuk kandang. Salah satu jenis tanaman yang memungkinkan tumbuh di wilayah ini ialah tanaman pepaya selain singkong dan jenis tanaman keras seperti rambutan dan duku. Bahkan di sekitar ini tumbuh secara liar beberapa tanaman pepaya gantung (pepaya gerandel bahasa Jawa). Tanaman ini juga sering terlihat di berbagai daerah atau lahan keluarga atau di lahan tak bertuan.terhadap tanaman ini sering tidak seorang pun memberi perhatian. Hal ini dikarenakan jenis tanaman ini tidak menghasilkan pepaya yang dapat dimanfaatkan sebagai buah. Pandangan semacam ini dengan mudah dapat ditemui di berbagai tempat. Demikian pula hasil pengamatan penulis di sekitar rumah Om tersebut. Di sisi lain bagi etnis tertentu, khususnya etnis Manado, masakan bunga pepaya gantung (gerandel) tersebut merupakan salah satu jenis makanan favorit. Pada perkembangannya sekarang berbagai etnis seperti Betawi, Jawa, Sunda dan etnis lain pun sekarang menyukai makanan ini. Dari kondisi tersebut penulis melihat bahwa pemanfaatan lahan keluarga Om dan tanaman pepaya gantung dapat dimanfaatkan untuk mendukung peningkatan ekonomi keluarga. Untuk itu penulis melakukan pemberdayaan keluarga Om dengan pemanfaatan lahan kosong dan tanaman tersebut. Pengalaman lapangan inilah yang penulis uraikan dalam tulisan ini. 2. Rumusan Masalah dan Tujuan Penulisan Berdasarkan latar belakang masalah tersebut maka rumusan masalahnya adalah: a. Bagaimana gambaran masalah keluarga miskin yang tinggal di daerah pinggiran kota besar? b. Bagaimana model pemberdayaan keluarga? c. Bagaimana perkembangan keluarga setelah pemberdayaan tersebut? Adapun tujuan penulisan ini ialah : a. Untuk memberikan gambaran keluarga miskin dan kondisi lingkungan sosialnya b. Memperoleh gambaran bagaimana metode pekerjaan social case work dapat diterapkan dalam pemberdayaan keluarga miskin c. Memperoleh gambaran mengenai sejauhmana pemberdayaan keluarga melalui pemanfaatan lahan dan tanaman pepaya dapat meningkatkan keluarga. 3. Metodologi Penulisan Tulisan ini bersifat deskriptif analitis dengan mengangkat pengalaman penulis dalam melakukan pemberdayaan sebuah keluarga yaitu keluarga Om selama kurang lebih 9 bulan, dengan pengembangan pemanfaatan lahan kosong dan tanaman di sekitar rumahnya. Dalam hal ini metode penulisannya menggunakan: a. Studi empiris: tulisan ini didasarkan pada pengalaman lapangan penulis dalam mendampingi keluarga Om. 8 INSANI, ISSN : NO. 11/1/Desember 2011

3 b. Studi pustaka: studi ini digunakan untuk dasar analisis mengenai pengalaman pemberdayaan keluarga untuk memperoleh suatu kesimpulan yang konseptual. Kedepan, pengalaman lapangan dan hasil analisis ini akan didesiminasi pada keluarga lain. Dengan pendekatan intervensi pada beberapa keluarga, maka pada akhirnya diharapkan mampu merumuskan model yang teruji, kendati kondisi keluarga satu dengan yang lain yang sangat bervariasi yang tentu berpengaruh pada pemodelan pemberdayaan keluarga. 4. Landasan Teori 4.1. Keluarga dan masalahnya: Pada dasarnya setiap individu dalam kehidupan ini sering mengalami berbagai kelemahan sehingga mengganggu keberfungsian sosialnya. Demikian pula sebuah keluarga, sebagai sebuah sistem yang terdiri dari orangorang, juga sering mengalami hal serupa. Merujuk pada pandangan Suharto (2011:4), berbagai kelemahan yang bisa terjadi meliputi: a. Fisik, yaitu orang dengan kecacatan dan kemampuan khusus. b. Psikologis, orang yang mengalami masalah personal dan penyesuaian diri. c. Finansial, orang yang tidak memiliki pekerjaan, pendapatan, modal dan aset yang mampu menopang kehidupannya. d. Struktural, orang yang mengalami diskriminasi dikarenakan status sosialnya, gender, etnis, orientasi seksual, dan pilihan politiknya. Salah satu diantara kelemahan tersebut adalah kemiskinan yang identik dengan poin c diatas. Kemiskinan itu dapat digolongkan kedalam beberapa kategori berikut batasannya adalah sebagai berikut: a. Tidak miskin b. Rentan c. Miskin d. Fakir miskin Orang dengan kondisi miskin masih setingkat lebih baik dari pada fakir miskin. Orang miskin masih memiliki sumber mata pencaharian dan potensi untuk diberdayakan sedangkan fakir miskin tidak mempunyai sumber mata pencaharian walaupun tidak mencukupi untuk kebutuhan mereka. Mengenai fakir miskin ini sebagaimana dikemukakan dalam UU No. 13 Tahun 2011 Bab I bahwa fakir miskin ialah orang yang sama sekali tidak mempunyai sumber mata pencaharian dan atau mempunyai sumber mata pencaharian tetapi tidak mempunyai kemampuan memenuhi kebutuhan dasar yang layak bagi kehidupan dirinya dan atau keluarganya. Jadi mereka ini tidak memiliki kemampuan apapun dan tanpa didukung oleh anggota masyarakat yang lain dan atau oleh negara mereka ini tidak mampu hidup. Kemiskinan keluarga sangat berpengaruh pada lemahnya kualitas hidup keluarga, antara lain dalam hal kesehatan (fisik), pendidikan anakanak yang berujung pada lemahnya psikologis anak-anak maupun lemahnya kualitas hidup dalam relasi sosialnya. Kondisi ini dapat teramati dari status sosial ekonomi keluarga, yang terindikasi melalui: a. Tingkat pendidikan yang minim. b. Jenis pekerjaan yang tidak tetap. c. Kondisi lingkungan tempat tinggal yang kurang memadai. d. Pendapatan keluarga yang pas-pasan, hanya cukup untuk pemenuhan kebutuhan dasar yang minimal saja. Apabila kondisi keluarga miskin tersebut dibiarkan berlarut-larut maka bisa terjadi keluarga yang tidak mampu bertahan ia akan semakin lemah dan bahkan bisa jatuh pada tingkat lebih rendah yaitu fakir miskin dan pada akhirnya tidak mampu menjalankan fungsi-fungsinya. Sementara itu di lingkungan sekitar keluarga ( rumah tangga ) sering banyak sumber-sumber yang dapat dimanfaatkan guna menekan kelemahan keluarga tersebut, khususnya dibidang ekonominya. Oleh karena itu, diperlukan upayaupaya pemberdayaan bagi keluarga tersebut Pemberdayaan Pengertian pemberdayaan Mengacu pada pandangan Payne (1977) yang dikutip Adi (2001; 32) yang dimaksud dengan pemberdayaan ialah proses yang ditujukan untuk membantu klien memperoleh daya untuk mengambil keputusan dan menentukan tindakan yang akan ia lakukan terkait dengan diri mereka, termasuk mengurangi efek hambatan pribadi dan sosial dalam melakukan tindakan. Hal ini dilakukan melalui peningkatan kemampuan dan rasa percaya diri untuk menggunakan daya yang ia miliki antara lain transfer daya dari lingkungannya. Ife (2008:510) mengemukakan bahwa pemberdayaan seharusnya menjadi tujuan dari semua bentuk pengembangan masyarakat. INSANI, ISSN : NO. 11/1/Desember

4 Kata pemberdayaan telah banyak digunakan secara berlebihan akhir-akhir ini (Parker dkk dalam Ife 2008:510). Pemberdayaan berarti menyediakan sumber daya, kesempatan, kosa kata, pengetahuan dan ketrampilan untuk meningkatkan kemampuan mereka untuk menentukan masa depan mereka sendiri dan untuk berpartisipasi serta mempengaruhi kehidupan masyarakatnya. Pemberdayaan adalah suatu proses, dimana intinya adalah membahas bagaimana individu, kelompok ataupun komunitas berusaha mengontrol kehidupan mereka sendiri dan mengusahakan untuk membentuk masa depan sesuai dengan keiningannya. Pada dasarnya pemberdayaan sebagai gagasan tidaklah jauh berbeda dengan gagasan Biestek (1961) yang dalam bidang pendidikan Ilmu Kesejahteraan Sosial dikenal dengan nama Self Determination, dimana setiap individu, kelompok atau komunitas pada akhirnya harus mampu menentukan sendiri tentang langkah kedepan yang harus diambil guna peningkatan kulitas kehidupannya. Untuk pemberdayaan dapat ditempuh dengan menggunakan 2 cara. Hal ini dikemukakan oleh Oakley & Marsden (1984) yang dikutip Hikmat (2001:44). Kedua cara tersebut adalah: a. Proses pemberdayaan yang menekankan proses memberikan atau mengalihkan kekuasaan, kekuatan atau kemampuan kepada masyarakat agar individu menjadi lebih berdaya. Proses ini dapat dilengkapi pula dengan upaya menggali sistem sumber guna mendukung pembangunan kemandirian mereka melalui organisasi b. Proses pemberdayaan yang menekankan proses menstimuli, mendorong atau memotivasi individu agar mempunyai kemampuan atau keberdayaan untuk menentukan apa yang menjadi pilihan hidupnya melalui proses dialog. Tujuan pemberdayaan Adapun tujuan pemberdayaan adalah meningkatkan peran dan kekuatan dari individu, kelompok ataupun komunitas. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Sanim (1997:3), yang menyebutkan bahwa terdapat 5 (lima) tujuan pemberdayaan yaitu: a. Meningkatkan kemampuan dan kekuatan masyarakat dari potensi yang dimilikinya b. Pembinaan dan pemupukan masyarakat madani (civil society) c. Meningkatkan peran masyarakat dalam setiap kegiatan pembangunan di berbagai sektor d. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan mengembangkan usaha ekonomi produktif e. Memberikan kekuasaan atau wewenang dalam mengambil tindakan/keputusan dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupannya. Pemberdayaan keluarga yang dimaksud dalam tulisan ini adalah penguatan bagi anggota keluarga itu yaitu ayah, ibu, dan anak-anak. Dengan demikian keluarga sebagai satu sistem mampu bersinergi dalam memperkuat eksistensinya. Tingkatan pemberdayaan Mengacu pada pandangan Susiladiharti dalam Huraerah (2001: 103), bahwa terdapat 5 (lima) tingkat keberdayaan masyarakat: a. Tingkat keberdayaan pertama adalah terpenuhinya kebutuhan dasar (basic needs). b. Tingkat keberdayaan kedua adalah penguasaan dan akses terhadap berbagai sistem dan sumber yang diperlukan. c. Tingkat keberdayaan ketiga adalah dimilikinya kesadaran penuh akan berbagai potensi, kekuatan dan kelemahan diri dan lingkungannya. d. Tingkat keberdayaan keempat adalah kemampuan berpartisipasi secara aktif dalam berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi lingkungan yang lebih luas. e. Tingkat keberdayaan kelima adalah kemampuan untuk mengendalikan diri dan lingkungannya. Tingkatan kelima ini dapat dilihat dari keikutsertaan dan dinamika masyarakat dalam mengevaluasi dan mengendalikan berbagai program dan kebijakan institusi dan pemerintah. Proses pemberdayaan Dalam pemberdayaan keluarga dapat ditempuh dengan menerapkan proses dan metode pekerjaan sosial bidang kajian mikro (social case work). Mengacu pada kerangka proses, model analisis dan pemecahan masalah sosial sebagai berikut : Assessment Plan of Treatment Treatment Action Evaluasi & Terminasi 10 INSANI, ISSN : NO. 11/1/Desember 2011 Wibhawa (2011: 65-66)

5 Adapun kerangka model analisis dan pemecahan masalah sosial mengacu pada model sebagai berikut: Tabel 2: Model Analisis Proses pemecahan masalah Studi Assessment Treatment (sosial) (diagnosis) Cause Social problems Effect Proses permasalahan Evaluasi Jadi terdapat 9 sel yang merupakan paduan dari kedua proses permasalahan dan pemecahan masalah sosial: Maka setidaknya terdapat sembilan isu (persoalan) yang perlu ditelaah yaitu: a. Studi sosial cause (s), pada bagian ini mengkaji mengenai penyebab-penyebab timbulnya permasalahan dengan menyediakan data dan fakta yang memperjelas penyebab permasalahan. b. Studi sosial- social problems; merupakan tahap pemahaman terhadap permasalahan yang timbul- kedalaman dan keluasan permasalahan dari sebab-sebab yang ditimbulkan sebelumnya dengan menyediakan data dan fakta mengenai permasalahan sosial. c. Studi sosial effect; merupakan tahapan pengkajian terhadap akibat-akibat yang timbul dari permasalahan sosial, akibat ini dapat berupa data dan fakta mengenai akibat-akibat baik sosial, kejiwaan, atau fisik yang merusak atau mengganggu fungsionalitas manusia. d. Assessment (diagnosis) cause (s), pada tahap ini lebih dalam mengkaji dan menilai mengapa penyebab-penyebab persoalan tersebut muncul, kemudian langkah-langkah apa yang sebaiknya dilakukan dalam mengatasi penyebabpenyebab tersebut. e. Assessment (diagnosis) social problems, adalah tahap untuk mengkaji dan menilai, kemudian menentukan langkah-langkah apa sehingga persoalan tersebut tidak meluas atau menyebar pada setiap lapisan masyarakat. f. Assessment (diagnosis)- effect, menilai, mengkaji dan menentukan langkah-langkah apa saja dalam rangka mengatasi efek atau akibat-akibat yang ditimbulkan dari permasalahan sosial, serta menentukan apa dan siapa saja yang akan dilibatkan dalam mengatasi akibat-akibat sosial, mental dan fisik yang telah mengganggu fungsionalitas manusia. g. Treatment Cause (s); mengatasi penyebab berarti menyediakan langkah-langkah caracara apa saja, baik formal maupun informal, baik perseorangan, kelompok atau kemasyarakatan, atau secara kelembagaan yang mencegah (preventive) timbulnya lagi permasalahan. h. Treatment-social problems; berarti menyediakan langkah-langkah atau cara baik formal maupun informal, baik perorangan, kelompok atau kemasyarakatan atau secara kelembagaan yang menghambat perluasan permasalahan sosial yang telah terjadi. Pada bagian ini kegiatan-kegiatan dapat bersifat pengembangan (developmental), sokongan (supportive), atau penguatan/pemberdayaan (empowerment). i. Treatment-effect, berarti menyediakan langkah-langkah atau cara baik formal maupun informal, baik perorangan, kelompok atau kemasyarakatan, atau secara kelembagaan yang dapat mengatasi atau memperbaiki akibat-akibat atau kerusakan secara sosial, mental atau fisik yang telah mengganggu kemampuan manusia mewujudkan fungsionalitasnya. Pada tahap ini kegiatan-kegiatan lebih bersifat penyembuhan (curative) dan perbaikan (rehabilitative) Deskripsi Pohon Pepaya Gantung Buah pepaya dimakan dagingnya baik ketika masih muda maupun sudah masak. Daging buah muda dimasak sebagai sayuran sedangkan daging buah masak dimakan sebagai buah segar atau campuran koktail. Daun pepaya juga INSANI, ISSN : NO. 11/1/Desember

6 dimanfaatkan pula sebagai sayuran atau pelunak daging. Daun pepaya muda dimakan sebagai lalap setelah dilayukan dengan air panas atau dijadikan pembungkus buntil. Oleh etnis Menado bunga pepaya yang diurap menjadi sayuran yang biasa dimakan. Getah pepaya mengandung enzim papain yang dapat melunakkan daging dan mengubah konformasi protein lainnya. Pohon pepaya umumnya tidak bercabang atau bercabang sedikit. Pohon ini tumbuh setinggi 5 10 meter dengan daun-daun yang membentuk serupa spiral pada batang pohon bagian atas. Daunnya menyirip lima dengan tangkai yang panjang dan berlubang di bagian tengah. Bentuknya dapat bercangap ataupun tidak. Pepaya adalah monodioecious (berumah tunggal sekaligus berumah dua). Terdapat tiga jenis kelamin pepaya yaitu tumbuhan jantan, tumbuhan betina dan tumbuhan banci (hermafrodit). Tumbuhan jantan dikenal sebagai Pepaya Gantung atau etnis Jawa menyebutnya dengan Pepaya Gerandel, yang walaupun jantan kadang-kadang dapat berbuah pula secara partenogenesis. Buahnya mandul (tidak menghasilkan biji subur), dan dijadikan bahan obat tradisional. Bunga pepaya memiliki mahkota bunga berwarna kuning pucat dengantangkai atau duduk pada batang. Bunga jantan pada pohon pepaya jantan tumbuh pada tangkai panjang dan bunganya biasanya ditemukan pada pucuk-pucuk tangkai (Dudy, 2011). Secara visual seperti apa pohon pepaya gantung dapat dilihat pada gambar 1. Gambar 1: Pepaya jantan dengan bunga 5. Pemberdayaan Keluarga Om di Dusun Jletreng, Desa Pengasinan Kecamatan Gunung Sindur Kabupaten Bogor Dalam pemberdayaan keluarga Om, penulis mengacu pada konsep keluarga sebagai sistem, dimana semua anggota keluarga adalah subsistem, demikian pula Om sebagai isteri Som. Berhubung relasi intensif penulis dengan keluarga ini adalah melalui Om maka pemberdayaan yang dilakukan adalah melalui Om. Diharapkan upaya ini berpengaruh pada keluarga tersebut. Maka untuk selanjutnya, yang dimaksud dengan pemberdayaan Om dalam tulisan ini adalah pemberdayaan keluarganya juga Hasil Assessment Keluarga Om tinggal di Dusun Jletreng Desa Pengasinan, Kecamatan Gunungsindur, Kabupaten Bogor. Struktur keluarganya adalah sebagai berikut: Tabel 3: Struktur Keluarga Om No. Nama Usia L/P Pendidikan Peran dlm Pekerjaan (th) Keluarga 01. Som 50 L SD Ayah Penjaga pekarangan, Serabutan, 02. Om 38 P SD Ibu PRT 03. Sry 25 L SLTP Anak 1 Penjaga peternakan ayam 04. Ww 20 L SLTP Anak 2 Bekerja serabutan 05. R 15 L DO SLTP Anak 3 - Kondisi ekonomi: Gambaran kondisi keluarga Om secara sepintas dapat dipahami bahwa mereka dalam kondisi yang lemah. Som bekerja bertani dan serabutan, maksudnya pekerjaannya tidak tetap. Ia bekerja ketika ada yang membutuhkan tenaganya. Beruntung bahwa ia dipercaya menjaga pekarangan seorang pengusaha di Jakarta yang memiliki pekarangan di dekatnya tinggal. Dari pekerjaan ini ia mendapat tambahan penghasilan. 12 INSANI, ISSN : NO. 11/1/Desember 2011

7 Sedangkan Om, isterinya, bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Kompleks Puspiptek, sekitar 2 km dari rumahnya. Ia membantu setiap hari kecuali hari libur, dari pk s.d , kecuali jika diperlukan tambahan waktu. Penghasilannya Rp ,- per bulan ditambah uang transpor Rp ,-. Beruntung bahwa keluarganya ini tinggal dalam satu komunitas keluarga besar isterinya, yang memiliki lahan cukup untuk tempat tinggalnya, bahkan masih terdapat lahan-lahan kosong di sekitar rumahnya. Kondisi pendidikan: Dapat dipahami dari tabel diatas bahwa tingkat pendidikan keluarga Om ini rendah. Kondisi internal keluarga ini disamping faktor pengaruh lingkungan yang menyebabkan R (anak terkecilnya) pada th 2010 drop out dari sekolah SLTP. Kondisi pendidikan ini pula yang menyebabkan pekerjaan Som, isteri dan anak-anak hanyalah pekerjaan-pekerjaan yang bersifat fisik saja, yaitu sebagai pembantu, penjaga pekarangan, bertani, penjaga kandang ayam. Pohon Pepaya Gantung di sekitar rumah Om dan Nilai Jual Bunga Pepaya Gantung, potensi yang dimiliki keluarga Om: Lingkungan tempat tinggal Som dapat digolongkan lingkungan yang sejuk karena di perkampungan dengan pepohonan yang masih terjaga. Disamping itu dikomunitas ini terdapat peternakan ayam potong dan ayam petelur. Hal ini membuat kondisi tanah di lingkungan ini adalah subur. Som pada awalnya memiliki 3 pohon pepaya gantung, yang semuanya telah berbunga. Tanaman ini awalnya adalah tanaman liar yang tumbuh sendiri dan bunganya tidak dimanfaatkan oleh siapapun.namun demikian, secara kebetulan adik Om (adik dari isteri Som) bekerja di sebuah rumah makan Manado di kawasan Tanah Abang. Berhubung rumah makan ini membutuhkan bunga-bunga pepaya gantung untuk bahan masakan maka melalui adiknya ini bunga-bunga tersebut dijual. Maka mulai saat itulah pohon pepaya gantung yang liar itu mulai dipelihara. Dalam dua minggu Om dapat memetik sekitar 2 kg bunga pepaya tersebut. Ia menjual kepada adiknya Rp ,- per kg. Dari penjualan bunga ini keluarga Om bisa mendapat penghasilan tambahan rutin setidaknya Rp ,- setiap dua minggu. Saat ini adik ipar Som tersebut tidak lagi bekerja sehingga tidak dapat menjadi penyalur penjualan bunga. Namun demikian, panenan bunga tersebut tidak sia-sia, karena secara insidental pedagang sayur keliling juga mau membelinya, namun dengan harga yang lebih murah yaitu Rp ,- per kg Jadi bagi keluarga Om terjadi penurunan pendapatan dari bunga ini dan kontinuitas pendapatan tidak jelas. Jika tukang sayur keliling tidak membutuhkan maka ia tidak mendapat pendapatan dari bunga itu dan bunga bisa menjadi sampah. Keluarga Ny Mn: Keluarga Mn adalah keluarga beretnis Manado. Ny Mn adalah salah satu anggota WKRI Ranting St Martha. Dari interview mendalam pada Ny Mn, dapat dipahami bahwa Ny Mn pandai memasak bunga pepaya (masakan khas Manado). Ny Mn seorang pensiunan guru sebuah sekolah SLTP di Jakarta dan ada kemauan untuk memanfaatkan waktu luangnya 5.2. Plan of Treatment - Tujuan: a. Peningkatan penghasilan keluarga-keluarga yang terkait b. Peningkatan keterlibatan anggota keluarga dalam pemecahan masalah keluarga c. Peningkatan pemanfaatan lahan kosong keluarga agar produktif - Strategi : a. Membangun kolaborasi antara sistem klien, sistem pelaksana perubahan, sistem sasaran dan sistem kegiatan. b. Membangun jaringan usaha produktif antara petani penghasil bunga pepaya yaitu keluarga Om dengan pemasak bunga yaitu Ny Mn dan dengan pengelola kantin gereja setempat yaitu Bidang Usaha dari WKRI Cabang Santa Monika, sebuah organisasi sosial gereja u.p Ibu Hr untuk memperoleh kesempatan bagi Ny Mn menjual sayurnya di kantin tersebut yang buka setiap Minggu pagi. c. Adapun target market masakan tersebut adalah keluarga-keluarga/ jemaat yang pulang gereja. INSANI, ISSN : NO. 11/1/Desember

8 - Rencana operasional Rencana operasional pemberdayaan keluarga Om adalah sebagai berikut: Tabel 4: Rencana Operasional Pemberdayaan Keluarga Om No. Kegiatan Bulan Jul 11 Ags 11 Sep 11 Okt 11 Nop 11 Des 11 Jan Assessment *** 02. Plan of Treatment *** 03. Action Treatment *** *** *** *** *** 04. Evaluasi *** Follow up a. Pengembangan modal usaha b. Pengembangan taman bacaan di teras keluarga Om Peb 12 Mar 12 **** *** 05. Terminasi *** 5.3. Treatment Action Pada tahap ini pendamping melakukan kegiatan sebagai berikut: Sistem sasaran 1: Om a. Relasi yang intens antara pendamping keluarga dengan keluarga Om adalah relasi pendamping dengan Om (isteri Som), oleh karena itu dalam pemberdayaan keluarg. Pendamping menempatkan Om sebagai klien yang pada akhirnya diharapkan dapat membawa keberdayaan keluarganya. b. Pendamping membangun jaringan (menghubungkan) dengan Ny Mn- yang pandai memasak masakan bunga pepaya (sebagai masakan khas Manado). c. Pendamping mendorong agar Om rajin dan komit untuk setiap hari Sabtu membawa 1 kg bunga pepaya dan diletakkan di teras rumah pendamping untuk kemudian pada sore hari diambil oleh Ny. Mn (yang diwakili oleh cucunya yang masih sekolah SLTP). d. Pendamping mendorong agar Om bersama suami dan anak-anak memelihara dan memupuk tanamannya agar tanaman tersebut tetap subur dan produktif menghasilkan bunga pepaya. e. Pendamping mendorong Om agar menambah tanaman pepaya lagi untuk pengganti tanaman lama apabila tanaman lama dikemudian hari tua dan tidak produktif lagi. Sistem sasaran 2: Ny. Mn a. Pada awalnya pendamping mengajak Ny Mn untuk mendemonstrasikan bagaimana cara memasak sayur bunga pepaya didepan satu kelompok Ibu-ibu WKRI Ranting St Martha yang terdiri dari sekitar 40 anggota dengann tujuan membangun kepercayaan dirinya dan mengajarkan ketrampilan untuk ibu-ibu yang hadir. b. Melalui proses ini, pendamping memotivasi agar potensinya memasak masakan khas Manado dikembangkan dan pendamping komitmen membantu menghubungkan dengan petani penghasil bunga pepaya sehingga keberlanjutan bahan baku masakan ini terjamin dan pendamping komitmen untuk membantu menghubungkan dengan pengelola kantin gereja setempat tersebut agar masakannya dapat dipasarkan pada setiap hari Minggu pagi. c. Organisasi sosial gereja setempat tersebut mendukung setiap usaha pemberdayaan warga untuk peningkatan kesejahteraan keluarga. Maka ketika pendamping mengutarakan maksud tersebut, usulan tersebut disetujui Evaluasi dan Follow Up a. Terkait dengan kondisi keluarga Om Dari wawancara mendalam pada Sdr Om, dapat disimpulkan bahwa usaha produktif dengan pemanfaatan lahan kososng dan tanaman pepaya gantung dapat meningkatkan penghasilan keluarga Om, ia menyatakan sebagai berikut: Ya, alhamdulilah Bu, sekarang saya ada tambahan penghasilan rutin setiap akhir minggu 14 INSANI, ISSN : NO. 11/1/Desember 2011

9 Pada dasarnya mengelola tanaman pepaya itu bagi keluarga tidaklah sulit, jika keluarga memiliki lahan, maka setelah tanaman itu tumbuh pemeliharaannya tidak sulit dan tidak memakan biaya besar, hanya penggemburan tanah, menyiram dan memberi pupuk. Jadi biaya (cost) sangatlah kecil. Secara kuantitatif, peningkatan penghasilan keluarga tersebut adalah: Tambahan penghasilan dari hasil penjualan bunga pepaya: Dari September Januari 2012 tiap bulan adalah: Hasil penjualan (rutin): 1 kg x 4 x Rp ,- = Rp ,- Hasil penjualan (insidental): 2 x Rp ,- = Rp ,- Biaya pupuk: (mengambil pupuk rumah tangga) - Jumlah = Rp ,- Ketua WKRI Ranting St Martha mendukung pemberdayaan keluarga ini. Secara insidental jika ada acara tertentu maka salah satu menu masakan yang disajikan adalah masakan bunga pepaya. Demikian pula secara rutin, mulai bulan Februari 2012 dipesan bunga tersebut 1 kg. Dengan secara rutin, Om mendapat pesanan 2 kg bunga, maka perhitungan pendapatannya adalah: Dari Februari 2012, setiap minggu mendapat pesanan 2 kg bunga. Hasil jualnya: 4 x 2 x Rp ,- = Rp ,- Hasil jual (insidental) 2 x Rp ,- = Rp ,- Jumlah hasil penjualan = Rp ,- b. Terkait dengn kondisi keluarga Ny. Mn: Ny Mn mengutarakan bahwa dengan kegiatan memasak bunga pepaya setiap minggu ini lumayan buat kesibukan dan menambah penghasilan keluarga. Ia menyatakan sebagai berikut: Ya lumayan, ada kesibukan, ada tambahan penghasilan dan senang bahwa cucu yang masih sekolah ini rajin membantu Omanya mengambil bunga ke rumah ibu setiap pulang sekolah, setiap Sabtu sore, buat dia juga belajar. Secara kuantitatif perhitungan penghasilan Ny Mn adalah sebagai berikut: Untuk bahan baku 1 kg bunga pepaya: Hasil jual : 10 pak x Rp ,- x 4 = Rp ,- Biaya: Ikan asin, kangkung, bumbu = Rp ,- Tenaga = Rp ,- Transportasi = Rp ,- Kemasan = Rp ,- Bahan baku/bunga = Rp ,- Jumlah biaya 4 minggu: Rp ,- x 4 = Rp , Penghasilan dari memasak bunga pepaya/ bulan (4 minggu- 4 kali memasak) : Rp ,- Dari relasi Ny Mn dengan kantin saat ini Ny Mn telah menambah jenis masakannya yaitu jenis lauk pauk khas Manado juga yaitu rica ikan salem Follow Up Dari hasil assessment perkembangan usaha produktif ini, dapat dipahami bahwa usaha Om dan Ny Mn dapat didorong untuk lebih produktif lagi. Oleh karena itu, sebagai follow up pemberdayaan ini dilakukan hal-hal sebagai berikut: a. Pendamping berupaya menghubungkan pada sumber dana untuk meningkatkan usaha produktif kedua keluarga ini. Usaha ini telah disetujui oleh Ketua WKRI Cabang Santa Monika. Kepada tim kerja (Om dan Ny Mn) ini akan diberikan dana sebesar masing-masing Rp ,- untuk pengembangan usahanya. Sifat dana tersebut adalah pinjaman tanpa bunga dengan jangka waktu pengembalian 10 bulan. Dana tersebut akan diserahkan pada Rapat Koordinasi Ranting pada tanggal 21 Februari Diharapkan dikemudian hari dana tersebut dapat bergulir pada keluarga lain untuk pengembangan usaha juga. b. Mengingat relasi dengan keluarga Om sudah terjalin baik dan berdasarkan informasi dari Om bahwa di lingkungan sekitar terdapat beberapa anak drop out sekolah, termasuk anak Om, maka saat ini sedang dilakukan assessment untuk kemungkinan dikelola taman bacaan di teras rumah Om. Hal ini masih dalam proses assessment lebih mendalam. Diharapkan anak-anak senang membaca dan tumbuh minat untuk kembali sekolah formal, setidaknya menempuh jalur pendidikan paket B dan paket C Terminasi Hingga saat ini belum dilakukan terminasi. Direncanakan terminasi akan dilakukan jika sudah terbangun sikap mandiri dari keluarga Om, Ny Mn INSANI, ISSN : NO. 11/1/Desember

10 termasuk anggota keluarganya. Direncanakan pada sekitar bulan Maret 2012 jaringan kerja usaha produktif Om dan Ny Mn tersebut sudah kuat sehingga bisa diterminasi. 6. Analisis a. Kondisi keluarga miskin didaerah pinggiran kota besar seperti yang terjadi pada kasus keluarga Om adalah: minimnya penghasilan keluarga, tingkat pendidikan anggota keluarga yang rendah, bahkan pada tahun 2010 dimana secara makro tingkat pendidikan penduduk sudah lebih baik, salah satu anak Som adalah drop out SLTP. Hal ini terjadi bukan saja karena faktor ekonomi semata dan ternyata bukan karena anak tersebut tidak memiliki kemampuan studi, namun karena faktor malas. Kemalasan anak ini selain faktor dari dalam anak, juga karena terpengaruh oleh lingkungannya yang kurang mendukung anak untuk studi. b. Dalam pemberdayaan keluarga Om, pendamping menerapkan kerangka proses dan metode pemcahan masalah social case work. Dalam hal ini pendamping tidak dengan tergesa-gesa memaksakan program kepada klien, namun secara bertahap menerapkan proses: (1) assessment, (2) plan of treatment, (3) treatment action, (4) evaluasi dan follow up serta (5) rencana terminasi sebagaimana dikemukakan oleh Wibhawa (2011: 65-66). Proses pemberdayaan selama 9 (sembilan) bulan dengan kerangka kerja ini ternyata dapat menggerakkan keluarga-keluarga untuk mau mengaktualisikan potensinya dan dapat meningkatan penghasilan mereka secara berkelanjutan. Disamping itu terjadi peningkatan peran serta anggota keluarga didalamnya. Dalam pemberdayaan keluarga ini pendamping lebih menekankan pada proses menstimuli, mendorong atau memotivasi individu anggota keluarga tersebut agar ia sadar akan peluang yang ada ketika ia mau memanfaatkan lahan kosong dengan pohon pepaya gantung. Sesuai karakter pohon ini yang sangat mudah pemeliharaannya, dapat tumbuh dipagar-pagar, hanya sekali-kali perlu disiram dan dipupuk maka pada dasarnya pemeliharaan tanaman ini tidaklah sulit, sehingga bisa dijadikan pekerjaan produktif yang sifatnya sampingan bagi keluarga. c. Sebenarnya jika dilihat dari perubahan tingkat keberdayaan keluarga Om boleh dikatakan masih pada tingkat yang pertama juga, yaitu untuk terpenuhinya kebutuhan dasar keluarga, namun bisa dikatakan sudah menuju pada tingkat kedua yaitu penguasaan dan akses terhadap berbagai sistem dan sumber yang diperlukan. Jadi jaringan kerja usaha produktif ini dapat dikatakan sudah jadi dan terdapat keberlanjutan. Indikasinya adalah: 1). Om sudah menjadi suplier bahan baku masakan Ny Mn dengan harga yang relatif murah. 2). Om sebagai suplier bahan baku tersebut kepada Ny Mn dengan tanpa biaya transpotasi dibanding jika ia menjual dipasar, terutama jika ke Pasar Modern BSD yang jaraknya relatif jauh. Jadi penjualan bunga pepaya kepada Ny Mn relatif efisien dari segi biaya dan waktu. 3). Secara periodik, setiap akhir pekan Om membawa 1 kg bunga, bahkan mulai bulan Februari 2012 berkembang menjadi 2 kg. Olehnya bunga tersebut ditaruh diteras rumah pendamping kemudian cucu Ny Mn setiap akhir pekan sepulang sekolah mengambil bunga tersebut. Pada Minggu pagi Ny Mn menjual dengan menitipkan masakannya di kantin gereja setempat. d. Dalam perspektif pengembangan usaha produktif, pemberdayaan keluarga ini membawa keluarga belajar berwirausaha sehingga mampu meningkatkan pendapatan keluarga (terjadi proses income generating). Selain itu juga belajar pemasaran yang bagi sebagian orang pekerjaan ini tidak mudah. Jika dihitung pendapatan tambahan tetap keluarga Om adalah Rp ,- per bulan dan keluarga Mn adalah Rp ,- per bulan. Dari segi jumlah nominal pendapatan mungkin hal ini tidak seberapa, namun perkembangan ini dapat dilihat dari sisi nilainya. Hal ini senada dengan pandangan yang dikemukakan Wibhawa (2010: 141) sebagai berikut: Dalam perspektif kewirausahaan dalam praktik Pekerjaan Sosial, keberhasilan berwirausaha tidaklah identik dengan seberapa hasil seorang mengumpulkan uang tetapi esensinya adalah bagaimana memunculkan mental berusaha dengan tujuan sebesar-besarnya untuk mengatasi masalah sosial yang terjadi karena kewirausahaan sejatinya adalah sebuah nilai (entrepreneurship value) yang 16 INSANI, ISSN : NO. 11/1/Desember 2011

11 perwujudannya harus didukung oleh semangat kewirausahaan (entrepreneurship spirit) e. Pada dasarnya pemberdayaan keluarga model pemanfaatan lingkungan ini dalam perspektif pembangunan manusia pembangun dapat dipandang sebagai pemberdayaan yang bersifat komprehensif mengingat: 1). Mengurangi pemanasan global Melalui pemberdayaan ini keluarga dimobilisasi untuk mencintai dan memelihara tanaman, bukan membunuh tanaman liar serta menjaga kesuburan tanah 2). Dari segi perspektif gender Hal ini dapat mendukung tercapainya gender harmony karena melalui kegiatan sehari-hari ibu terjadi proses penguatan dalam diri Ibu-ibu. Dengan demikian diharapkan mampu menumbuhkan semangat kerjasama dan saling menghargai satu sama lain dalam keluarga 3). Aspek relasi sosial Bahwa keluarga belajar membangun relasi dan kolaborasi dengan pihak pihak lain, terutama keluarga petani bunga pepaya, ibu yang mampu mengolah masakan dengan bahan baku bunga, daun dan buah pepaya serta ibu-ibu lain pengelola usaha makanan. Jadi dalam hal ini penguatan kemampuan membangun relasi sosial. b. c. d. e. Gambar 2: Rumah Om dengan tanaman pepaya gantung 7. Kesimpulan dan Saran 7.1. Kesimpulan a. Gambaran keluarga di pinggiran kota besar seperti Jakarta adalah, tingkat penghasilan keluarga yang kurang untuk mencukupi kebutuhan keluarga, pendidikan anak-anak yang rendah, pekerjaan yang dimiliki adalah penjaga pekarangan orang lain, penjaga peternakan, serabutan, pembantu rumah tangga dengan pengahasilan yang relatif rendah. Pemanfaatan lahan kosong sekitar rumah tinggal dan tanaman pepaya gantung yang biasa tumbuh liar di pekarangan dapat menjadi salah satu alternatif pemberdayaan keluarga. Dan hal ini dapat dikembangkan sebagai model pemberdayaan keluarga khususnya bagi mereka yang bertempat tinggal di lingkungan pinggiran kota besar seperti Jakarta. Belajar dari kasus keluarga Om di Dusun Jletreng, Desa Pengasinan, Kecamatan Gunungsindur, Kabupaten Bogor telah terbukti bahwa pemanfaatan pohon pepaya gantung itu dapat menjadi sarana income generating keluarga yang cukup mudah. Pepatah yang mengatakan bunga pepaya gantung dapat menjadi uang dan dapat menjadi sampah telah terbukti melalui pengalaman pemberdayaan keluarga Om ini. Perkembangan pemasukan pada keluarga Om pada awalnya Rp ,- perbulan, kini Rp ,- per bulan (dalam 4 minggu). Disamping itu keterlibatan anggota keluarga dalam memelihara dan menanam tanama ini meningkat. Demikian pula keluarga Ny Mn, kini ia memperoleh tambahan pendapatan Rp ,- per bulan (dalam 4 minggu). Dilihat dari nominal uangnya mungkin tidak seberapa, namun penulis melihat nilai kewirausahaannya. Untuk peningkatan keberdayaan keluarga, maka penting bagi keluarga untuk membangun kerjasama dan jaringan kerja dengan pihak-pihak yang potensial bagi pemasaran bunga-bunga pepaya gantung, daun dan buahnya. Upaya pemberdayaan keluarga melalui pemanfatan lahan kosong dan tanaman pepaya gantung ini menjadi salah satu model pemberdayaan yang bersifat komprehensif dilihat dari perspektif pembangunan sosial dan lingkungan Saran Berikut penulis sampaikan beberapa saran : a. Kepada keluarga-keluarga, agar mau menaruh perhatian terhadap potensi INSANI, ISSN : NO. 11/1/Desember

12 lingkungan setempat, khususnya terdapatnya lahan kosong dan tanaman pepaya gantung, yang ternyata dapat menjadi sumber penghasilan bagi keluarga. b. Keluarga tidak segan-segan mencari partner dalam memasarkan hasil tanaman pepaya gantung tersebut sehingga dapat menjadi pelanggannya untuk pemasaran bungabunga pepaya gantung tersebut. c. Bagi pendamping keluarga, agar secara berkelanjutan melakukan tindak lanjut pemberdayaan ini, hingga kedua keluarga tersebut cukup mapan dalam usaha produktif ini bahkan dapat berkembang lebih luas mengingat juga telah terdapat sumber yang bersedia mendukung usahanya. DAFTAR PUSTAKA Adi, Isbandi Rukminto (2001). Pemberdayaan, Pengembangan masyarakat dan Intervensi Komunitas. Jakarta: Lembaga Penerbit FEUI Wibhawa, Budhi (2010). Dasar-dasar Pekerjaan Sosial. Bandung: Widya Padjadjaran Lain-lain: Suharto, Edy (2011). Kemiskinan dan Pemberdayaan Masyarakat Dalam Perpektif Pekerja Sosial, Makalah disampaikan dalam Seminar Kesejahteraan Sosial di DNIKS Jakarta Tgl 21 Desember 2011 *Dra. MM Sri Dwiyantari, M.Si. Dosen STISIP Widuri, Lektor Kepala/Pembina. Menamatkan S1 Program Ilmu Ekonomi Umum FKIP Universitas Sanata Dharma dan S2 Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Indonesia. Alfitri (2001). Community Development,Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Hikmat, Harry (2001). Strategi Pemberdayaan Masyarakat. Bandung: HUP Huraerah, Abu (2011). Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat, Bandung: Humaniora Ihromi, T.O. (2004). Bunga Rampai. Sosiologi Keluarga. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia Ife, Jime & Frank Tesoriero (2008). Community Development. Alternatif Pengembangan Masyarakat di Era Globalisasi. Terjemahan oleh Saatrawan Manullang dkk. Yogyakarta: Pustaka Pelajar "Hidup tidak akan berharga jika tidak bermanfaat untuk orang lain. Bunda Teresa ( ), peraih Nobel Perdamaian 1979 Sanim, Bunasor (1997). Pemberdayaan Aparatur, Makalah dalam seminar Pemberdayaan Masyarakat Jawa Barat Tafajani, Dudy S. (2011). Panduan komplit Bertanam Sayur dan Buah-buahan. Yogyakarta: Univ Atmajaya 18 INSANI, ISSN : NO. 11/1/Desember 2011

Pemberdayaan Keluarga Melalui Pemanfaatan Potensi Lingkungan Keluarga (Pengalaman LK-3 STISIP Widuri Dalam Meningkatkan Keberdayaan Keluarga)

Pemberdayaan Keluarga Melalui Pemanfaatan Potensi Lingkungan Keluarga (Pengalaman LK-3 STISIP Widuri Dalam Meningkatkan Keberdayaan Keluarga) Pemberdayaan Keluarga Melalui Pemanfaatan Potensi Lingkungan Keluarga (Pengalaman LK-3 STISIP Widuri Dalam Meningkatkan Keberdayaan Keluarga) Oleh : MM Sri Dwiyantari *) ABSTRAK Pemberdayaan keluarga ini

Lebih terperinci

PERAN PEKERJA SOSIAL DALAM PEMBERDAYAAN KELUARGA Suatu Kajian Mengenai Pemberdayaan Pada Keluarga Yang Ter-Putus Hubungan Kerjanya (Ter-PHK)

PERAN PEKERJA SOSIAL DALAM PEMBERDAYAAN KELUARGA Suatu Kajian Mengenai Pemberdayaan Pada Keluarga Yang Ter-Putus Hubungan Kerjanya (Ter-PHK) PERAN PEKERJA SOSIAL DALAM PEMBERDAYAAN KELUARGA Suatu Kajian Mengenai Pemberdayaan Pada Keluarga Yang Ter-Putus Hubungan Kerjanya (Ter-PHK) MM Sri Dwiyantari Abstrak: Masalah utama keluarga yang ter-phk

Lebih terperinci

PERAN WANITA DALAM PENINGKATAN PENDAPATAN KELUARGA NELAYAN DI DESA TASIKAGUNG KECAMATAN REMBANG KABUPATEN REMBANG JAWA TENGAH

PERAN WANITA DALAM PENINGKATAN PENDAPATAN KELUARGA NELAYAN DI DESA TASIKAGUNG KECAMATAN REMBANG KABUPATEN REMBANG JAWA TENGAH PERAN WANITA DALAM PENINGKATAN PENDAPATAN KELUARGA NELAYAN DI DESA TASIKAGUNG KECAMATAN REMBANG KABUPATEN REMBANG JAWA TENGAH TUGAS AKHIR TKP 481 Oleh : ASTRID EKANINGDYAH L2D000400 JURUSAN PERENCANAAN

Lebih terperinci

Oleh, Nurin Fajrina Pada Tahun 2015 ABSTRAK. program pengelolaan hasil laut yang diberikan PT.Petrokimia kepada ibu-ibu nelayan di

Oleh, Nurin Fajrina Pada Tahun 2015 ABSTRAK. program pengelolaan hasil laut yang diberikan PT.Petrokimia kepada ibu-ibu nelayan di PROSES PEMBERDAYAAN PEREMPUAN MELALUI PROGRAM KEMITRAAN PENGELOLAAN HASIL LAUT ( STUDI PADA PELAKSANAAN CSR PT.PETROKIMIA GRESIK DI KELURAHAN LUMPUR, KECAMATAN GRESIK, KABUPATEN GRESIK) Oleh, Nurin Fajrina

Lebih terperinci

BAB V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN BAB V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Keadaan Umum, Geografis, dan Iklim Lokasi Penelitian Desa Ciaruten Ilir merupakan desa yang masih berada dalam bagian wilayah Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 63 TAHUN 2013 TENTANG PELAKSANAAN UPAYA PENANGANAN FAKIR MISKIN MELALUI PENDEKATAN WILAYAH

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 63 TAHUN 2013 TENTANG PELAKSANAAN UPAYA PENANGANAN FAKIR MISKIN MELALUI PENDEKATAN WILAYAH PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 63 TAHUN 2013 TENTANG PELAKSANAAN UPAYA PENANGANAN FAKIR MISKIN MELALUI PENDEKATAN WILAYAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

STRATEGI PEMBERDAYAAN USAHA RUMAHAN BERBASIS POTENSI LOKAL UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS KELUARGA

STRATEGI PEMBERDAYAAN USAHA RUMAHAN BERBASIS POTENSI LOKAL UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS KELUARGA STRATEGI PEMBERDAYAAN USAHA RUMAHAN BERBASIS POTENSI LOKAL UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS KELUARGA Dyah Hapsari ENH, E.S. Halimi, Rudy Kurniawan, Yusnaini, dan Rogaiyah Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. usaha mencapai tujuan organisasi. Partisipasi menurut Kamus Besar Bahasa

II. TINJAUAN PUSTAKA. usaha mencapai tujuan organisasi. Partisipasi menurut Kamus Besar Bahasa II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Partisipasi 2.1.1 Pengertian partisipasi Menurut Rodliyah (2013) partisipasi adalah keterlibatan mental dan emosi dalam situasi kelompok sehingga dapat dimanfaatkan sebagai motivasi

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 63 TAHUN 2013 TENTANG PELAKSANAAN UPAYA PENANGANAN FAKIR MISKIN MELALUI PENDEKATAN WILAYAH

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 63 TAHUN 2013 TENTANG PELAKSANAAN UPAYA PENANGANAN FAKIR MISKIN MELALUI PENDEKATAN WILAYAH SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 63 TAHUN 2013 TENTANG PELAKSANAAN UPAYA PENANGANAN FAKIR MISKIN MELALUI PENDEKATAN WILAYAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

Penganekaragaman Konsumsi Pangan Proses pemilihan pangan yang dikonsumsi dengan tidak tergantung kepada satu jenis pangan, tetapi terhadap

Penganekaragaman Konsumsi Pangan Proses pemilihan pangan yang dikonsumsi dengan tidak tergantung kepada satu jenis pangan, tetapi terhadap Penganekaragaman Konsumsi Pangan Proses pemilihan pangan yang dikonsumsi dengan tidak tergantung kepada satu jenis pangan, tetapi terhadap bermacam-macam bahan pangan. TUJUAN PEMANFAATAN PEKARANGAN 10.3

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 63 TAHUN 2013 TENTANG PELAKSANAAN UPAYA PENANGANAN FAKIR MISKIN MELALUI PENDEKATAN WILAYAH

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 63 TAHUN 2013 TENTANG PELAKSANAAN UPAYA PENANGANAN FAKIR MISKIN MELALUI PENDEKATAN WILAYAH PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 63 TAHUN 2013 TENTANG PELAKSANAAN UPAYA PENANGANAN FAKIR MISKIN MELALUI PENDEKATAN WILAYAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

A. Latar Belakang. C. Tujuan Pembangunan KSM

A. Latar Belakang. C. Tujuan Pembangunan KSM A. Latar Belakang Dalam Strategi intervensi PNPM Mandiri Perkotaan untuk mendorong terjadinya proses transformasi sosial di masyarakat, dari kondisi masyarakat yang tidak berdaya menjadi berdaya, mandiri

Lebih terperinci

Oleh: Elfrida Situmorang

Oleh: Elfrida Situmorang 23 Oleh: Elfrida Situmorang ELSPPAT memulai pendampingan kelompok perempuan pedesaan dengan pendekatan mikro kredit untuk pengembangan usaha keluarga. Upaya ini dimulai sejak tahun 1999 dari dua kelompok

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2011 TENTANG PEMBINAAN, PENDAMPINGAN, DAN PEMULIHAN TERHADAP ANAK YANG MENJADI KORBAN ATAU PELAKU PORNOGRAFI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

BISNIS PETERNAKAN BEBEK

BISNIS PETERNAKAN BEBEK BISNIS PETERNAKAN BEBEK DI SUSUN UNTUK MEMENUHI PERSYARATAN TUGAS KULIAH LINGKUNGAN BISNIS OLEH : AGUNG NUR ROHMAN 11.01.2897 PROGRAM STUUDI TEKNIK INFORMATIKA (D3) STMIK AMIKOM YOGYAKARTA A. Abstrak Tujuan

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN. perkebunan, khususnya pada sektor tanaman karet. Penduduk di Desa Negeri

IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN. perkebunan, khususnya pada sektor tanaman karet. Penduduk di Desa Negeri IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN A. Letak Geografis Desa Negeri Baru yang merupakan salah satu desa berpotensial dalam bidang perkebunan, khususnya pada sektor tanaman karet. Penduduk di Desa Negeri

Lebih terperinci

VI. ANALISIS USAHATANI DAN EFEKTIVITAS KELEMBAGAAN KELOMPOK TANI

VI. ANALISIS USAHATANI DAN EFEKTIVITAS KELEMBAGAAN KELOMPOK TANI VI. ANALISIS USAHATANI DAN EFEKTIVITAS KELEMBAGAAN KELOMPOK TANI 6.1. Proses Budidaya Ganyong Ganyong ini merupakan tanaman berimpang yang biasa ditanam oleh petani dalam skala terbatas. Umbinya merupakan

Lebih terperinci

Karya Ilmiah Bisnis ayam jawa super online

Karya Ilmiah Bisnis ayam jawa super online Nama : Rizal Alan Yahya Kelas : S1-SI-09 NIM : 11.12.6004 Tugas : Lingkungan Bisnis Karya Ilmiah Bisnis ayam jawa super online 1 A. Abstrak Tujuan dari pembuatan toko online ini adalah untuk pengembangan

Lebih terperinci

PETA SOSIAL DESA CURUG

PETA SOSIAL DESA CURUG PETA SOSIAL DESA CURUG Lokasi Desa Curug merupakan salah satu dari 10 desa yang berada dibawah wilayah administratif Kecamatan Gunungsindur Kabupaten Bogor Propinsi Jawa Barat. Letak fisik desa sangat

Lebih terperinci

PERSETUJUAN PEMBIMBING

PERSETUJUAN PEMBIMBING PERSETUJUAN PEMBIMBING JURNAL STUDI TENTANG PROGRAM KEGIATAN LEMBAGA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT (LPM) DALAM PENGENTASAN KEMISKINAN DI DESA AMBARA KECAMATAN BONGOMEME KABUPATEN GORONTALO Oleh : HASANA P. ABAS

Lebih terperinci

KEMISKINAN KEMISKINAN DAN KESEHATAN MELIMPAHNYA PENDUDUK USIA PRODUKTIF TAHUN DAN LANSIA DI INDONESIA

KEMISKINAN KEMISKINAN DAN KESEHATAN MELIMPAHNYA PENDUDUK USIA PRODUKTIF TAHUN DAN LANSIA DI INDONESIA KEMISKINAN DAN KESEHATAN MELIMPAHNYA PENDUDUK USIA PRODUKTIF 15-60 TAHUN DAN LANSIA DI INDONESIA Pengantar : Prof. Dr. Haryono Suyono, MA., PhD. YAYASAN ANUGERAH KENCANA BUANA, JAKARTA APAKAH ERA BONUS

Lebih terperinci

BAB V REFLEKSI PENDAMPINGAN BERBASIS ASET KELOMPOK PEDAGANG KLONTONG

BAB V REFLEKSI PENDAMPINGAN BERBASIS ASET KELOMPOK PEDAGANG KLONTONG BAB V REFLEKSI PENDAMPINGAN BERBASIS ASET KELOMPOK PEDAGANG KLONTONG Perubahan pola pikir dalam masyarakat menjadi suatu trend utama dalam suatu pendampingan. Upaya-upaya yang dilakukan sengaja di arahkan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2011 2011 TENTANG PEMBINAAN, PENDAMPINGAN, DAN PEMULIHAN TERHADAP ANAK YANG MENJADI KORBAN ATAU PELAKU PORNOGRAFI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Kemiskinan merupakan salah satu permasalahan kesejahteraan sosial yang sangat penting di Indonsia dan perlu mendapat prioritas untuk segera diatasi. Berdasarkan data Badan

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI NAFKAH MASYARAKAT SEBELUM DAN SESUDAH TERJADINYA KONVERSI LAHAN

BAB VI STRATEGI NAFKAH MASYARAKAT SEBELUM DAN SESUDAH TERJADINYA KONVERSI LAHAN BAB VI STRATEGI NAFKAH MASYARAKAT SEBELUM DAN SESUDAH TERJADINYA KONVERSI LAHAN 6.1. Strategi Nafkah Sebelum Konversi Lahan Strategi nafkah suatu rumahtangga dibangun dengan mengkombinasikan aset-aset

Lebih terperinci

PERLINDUNGAN SOSIAL BAGI ANAK-ANAK MISKIN DI PERKOTAAN. Bagong Suyanto Dosen Departemen Sosiologi FISIP Universitas Airlangga

PERLINDUNGAN SOSIAL BAGI ANAK-ANAK MISKIN DI PERKOTAAN. Bagong Suyanto Dosen Departemen Sosiologi FISIP Universitas Airlangga PERLINDUNGAN SOSIAL BAGI ANAK-ANAK MISKIN DI PERKOTAAN Bagong Suyanto Dosen Departemen Sosiologi FISIP Universitas Airlangga Child Poverty and Social Protection Conference 10 11 September 2013 2 Permasalahan

Lebih terperinci

Namun, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan untuk memulai bisnis nasi kuning.

Namun, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan untuk memulai bisnis nasi kuning. Nasi Kuning, Menu Sarapan Jadi Peluang Bisnis Rumahan Menjalankan bisnis dari rumah? Kenapa tidak. Sekarang ini hanya dengan mengandalkan peluang bisnis dari lingkungan sekitar tempat tinggal saja, kita

Lebih terperinci

Brief Note. Edisi 19, Mobilisasi Sosial Sebagai Mekanisme Mengatasi Kemiskinan

Brief Note. Edisi 19, Mobilisasi Sosial Sebagai Mekanisme Mengatasi Kemiskinan Brief Note Edisi 19, 2016 Mobilisasi Sosial Sebagai Mekanisme Mengatasi Kemiskinan Mobilisasi Sosial Sebagai Mekanisme Mengatasi Kemiskinan Pengantar Riza Primahendra Dalam perspektif pembangunan, semua

Lebih terperinci

Kontribusi Pendapatan Buruh (Lisna Listiani)

Kontribusi Pendapatan Buruh (Lisna Listiani) Kontribusi Pendapatan Buruh (Lisna Listiani) KONTRIBUSI PENDAPATAN BURUH TANI PEREMPUAN TERHADAP TOTAL PENDAPATAN RUMAH TANGGA PETANI DI DESA BABAKANMULYA KECAMATAN JALAKSANA KABUPATEN KUNINGAN JAWA BARAT

Lebih terperinci

MARGINALISASI PEREMPUAN DALAM PEMBANGUNAN PERTANIAN

MARGINALISASI PEREMPUAN DALAM PEMBANGUNAN PERTANIAN MARGINALISASI PEREMPUAN DALAM PEMBANGUNAN PERTANIAN Dina Novia Priminingtyas Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya Malang ABSTRAK Potensi perempuan dalam pembangunan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pembangunan masyarakat saat ini sangat perlu di perhatikan, terlebih pembangunan di pedesaan. Desa adalah bagian dari perekonomian yang menyuplai kebutuhan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan nasional yang sedang dilaksanakan sekarang ini tidak bisa dilepaskan dari pembangunan sosial, pembangunan ekonomi dan pembangunan sumberdaya manusia. Ketiga

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.157, 2013 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA KESEJAHTERAAN. Penanganan. Fakir Miskin. Pendekatan Wilayah. Pelaksanaan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5449) PERATURAN

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2011 TENTANG PEMBINAAN, PENDAMPINGAN, DAN PEMULIHAN TERHADAP ANAK YANG MENJADI KORBAN ATAU PELAKU PORNOGRAFI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan selama orde baru yang telah dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia sangat bernuansa top-down karena

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan selama orde baru yang telah dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia sangat bernuansa top-down karena I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan selama orde baru yang telah dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia sangat bernuansa top-down karena ditunjang oleh sistem pemerintahan yang desentralisasi.

Lebih terperinci

Analisis Usahatani Beberapa Varietas Unggul Baru Jagung Komposit di Sulawesi Utara

Analisis Usahatani Beberapa Varietas Unggul Baru Jagung Komposit di Sulawesi Utara Analisis Usahatani Beberapa Varietas Unggul Baru Jagung Komposit di Sulawesi Utara Bahtiar 1), J. Sondakh 1), dan Andi Tenrirawe 2) 1)Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, Sulawesi Utara dan 2)Balai Penelitian

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. seringkali disebut fasilitator masyarakat (community facilitator/cf) karena

BAB II KAJIAN TEORI. seringkali disebut fasilitator masyarakat (community facilitator/cf) karena BAB II KAJIAN TEORI A. Pendampingan Pendampingan adalah pekerjaan yang dilakukan oleh fasilitator atau pendamping masyarakat dalam berbagai kegiatan program. Fasilitator juga seringkali disebut fasilitator

Lebih terperinci

54 PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PROGRAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PNPM MANDIRI

54 PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PROGRAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PNPM MANDIRI 54 PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PROGRAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PNPM MANDIRI Oleh: Dhio Adenansi, Moch. Zainuddin, & Binahayati Rusyidi Email: dhioadenansi@gmail.com; mochzainuddin@yahoo.com; titi.rusyidi06@yahoo.com

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tingginya kemiskinan dan pengangguran yang meningkat menjadi ketimpangan masyarakat merupakan tantangan dalam pembangunan, Masyarakat miskin umumnya lemah dalam

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS A. Permasalahan Pembangunan Dari kondisi umum daerah sebagaimana diuraikan pada Bab II, dapat diidentifikasi permasalahan daerah sebagai berikut : 1. Masih tingginya angka

Lebih terperinci

VI. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KAPASITAS KELOMPOK MANTAN TKW DI DESA CIBAREGBEG

VI. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KAPASITAS KELOMPOK MANTAN TKW DI DESA CIBAREGBEG VI. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KAPASITAS KELOMPOK MANTAN TKW DI DESA CIBAREGBEG Dalam bagian ini akan disampaikan faktor yang mempengaruhi kapasitas kelompok yang dilihat dari faktor intern yakni: (1) motivasi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1 Tinjauan Pustaka Kelapa sawit termasuk tanaman keras (tahunan) yang mulai menghasilkan pada umur 3 tahun dengan

Lebih terperinci

- 1 - PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2015 TENTANG

- 1 - PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2015 TENTANG - 1 - PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2015 TENTANG PELAKSANAAN PERATURAN PRESIDEN NOMOR 186 TAHUN 2014 TENTANG PEMBERDAYAAN SOSIAL TERHADAP KOMUNITAS ADAT TERPENCIL DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

Brief Note. Edisi 21, Membangun Ekonomi Kerakyatan

Brief Note. Edisi 21, Membangun Ekonomi Kerakyatan Brief Note Edisi 21, 2016 Membangun Ekonomi Kerakyatan Membangun Ekonomi Kerakyatan Riza Primahendra Pengantar Pelemahan ekonomi global yang terjadi dua tahun terakhir telah membut beberapa pihak menyampaikan

Lebih terperinci

BAB II KERANGKA PEMECAHAN MASALAH. A. Terjadinya Konflik Jalan Lingkungan Di Kelurahan Sukapada

BAB II KERANGKA PEMECAHAN MASALAH. A. Terjadinya Konflik Jalan Lingkungan Di Kelurahan Sukapada BAB II KERANGKA PEMECAHAN MASALAH A. Terjadinya Konflik Jalan Lingkungan Di Kelurahan Sukapada Proses peralihan kepemilikan lahan kosong terjadi sejak akhir 2004 dan selesai pada tahun 2005, dan sejak

Lebih terperinci

2015, No Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Le

2015, No Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Le No.1279, 2015 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENSOS. Pemberdayaan. Sosial. Adat. Terpencil. PERATURAN MENTERI SOSIAL REPULIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2015 TENTANG PELAKSANAAN PERATURAN PRESIDEN NOMOR

Lebih terperinci

Baru dapat 1,5 kilogram kotor, kata Tarsin dalam bahasa Jawa, akhir Maret lalu.

Baru dapat 1,5 kilogram kotor, kata Tarsin dalam bahasa Jawa, akhir Maret lalu. Tarsin (70) kelelahan. Matanya menatap lesu. Memegang ember berisi lhem, atau sisa tetes getah karet alam, ia duduk di bawah pohon karet di area perkebunan PT Perkebunan Nusantara XIX di Sedandang, Pageruyung,

Lebih terperinci

26 PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PROGRAM PENGELOLAAN SAMPAH

26 PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PROGRAM PENGELOLAAN SAMPAH 26 PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PROGRAM PENGELOLAAN SAMPAH Oleh: Mamah Halimah, Hetty Krisnani, & Muhammad Fedryansyah Email: mamahhalimah01@gmail.com; hettykrisnani@yahoo.com; fedry_cons@yahoo.com ABSRAK

Lebih terperinci

BAB VI REFLEKSI TEORITIK. keterkaitan antara sumber daya manusia, keuangan dan hubungan atau sistem

BAB VI REFLEKSI TEORITIK. keterkaitan antara sumber daya manusia, keuangan dan hubungan atau sistem BAB VI REFLEKSI TEORITIK A. TEORI Teori yang digunakan yaitu Pengembangan Kelembagaan. Secara etimologi, pengembangan adalah membina dan meningkatkan kualitas hidup. Sedangkan kelembagaan lebih dipandang

Lebih terperinci

BAB V GAMBARAN PROGRAM PENGEMBANGAN MASYARAKAT

BAB V GAMBARAN PROGRAM PENGEMBANGAN MASYARAKAT BAB V GAMBARAN PROGRAM PENGEMBANGAN MASYARAKAT Program pengembangan masyarakat perusahaan sebagai tanggungjawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility), pengkaji nila belum ada program yang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Agroforestri Secara umum agroforestri adalah manajemen pemanfaatan lahan secara optimal dan lestari, dengan cara mengkombinasikan kegiatan kehutanan dan pertanian

Lebih terperinci

BAB VI DINAMIKA PROSES MERENCANAKAN TINDAKAN DAN AKSI PERUBAHAN

BAB VI DINAMIKA PROSES MERENCANAKAN TINDAKAN DAN AKSI PERUBAHAN 100 BAB VI DINAMIKA PROSES MERENCANAKAN TINDAKAN DAN AKSI PERUBAHAN Pengembangan dan pemberdayaan masyarakat seringkali melibatkan perencanaan, pengorganisasian, dan pengembangan sebagai aktivitas pembuatan

Lebih terperinci

ABSTRAKS

ABSTRAKS PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA MELALUI PENGEMBANGAN SOFT SKILL PEMBUATAN KRUPUK SAMILER DALAM UPAYA PENINGKATAN PENDAPATAN KELUARGA DI KABUPATEN BONDOWOSO Nurul Qomariah 1 1 Prodi manajemen FE Universitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Pekarangan pada dasarnya merupakan lahan di sekitar rumah yang di

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Pekarangan pada dasarnya merupakan lahan di sekitar rumah yang di 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pekarangan pada dasarnya merupakan lahan di sekitar rumah yang di dalamnya tumbuh sayur-mayur, kolam ikan, tanaman buah-buahan dan obatobatan yang dapat digunakan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. Menurut keputusan menteri kesehatan No. 193/ MenKes/ SK/ X/2004 tentang

BAB II KAJIAN TEORI. Menurut keputusan menteri kesehatan No. 193/ MenKes/ SK/ X/2004 tentang BAB II KAJIAN TEORI A. KONSEP PEMBERDAYAAN MASYARAKAT Menurut keputusan menteri kesehatan No. 193/ MenKes/ SK/ X/2004 tentang kebijakan nasional promosi kesehatan dan keputusan Menteri Kesehatan No. 114/MenKes/SK/VII

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. fasilitas mendasar seperti pendidikan, sarana dan prasarana transportasi,

TINJAUAN PUSTAKA. fasilitas mendasar seperti pendidikan, sarana dan prasarana transportasi, 27 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kemiskinan Masyarakat miskin adalah masyarakat yang tidak memiliki kemampuan untuk mengakses sumberdaya sumberdaya pembangunan, tidak dapat menikmati fasilitas mendasar seperti

Lebih terperinci

BAB VIII STRATEGI DAN PROGRAM PEMBERDAYAAN FAKIR MISKIN

BAB VIII STRATEGI DAN PROGRAM PEMBERDAYAAN FAKIR MISKIN 111 BAB VIII STRATEGI DAN PROGRAM PEMBERDAYAAN FAKIR MISKIN Sekalipun pelaksanaan P2FM-BLPS di Kabupaten Bogor mengalami berbagai kendala, namun program tersebut sangat mendukung kebijakan pemberdayaan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertanian di Indonesia merupakan kegiatan yang masih banyak dilakukan oleh penduduk dalam memperoleh penghasilan. Menurut hasil Sensus Pertanian tahun 2003, jumlah rumah

Lebih terperinci

PELESTARIAN LINGKUNGAN MELALUI TATAJER

PELESTARIAN LINGKUNGAN MELALUI TATAJER PELESTARIAN LINGKUNGAN MELALUI TATAJER Anitarakhmi Handaratri, Yuyun Yuniati Program Studi Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Ma Chung Email: anita.hand@gmail.com, yuyun.yuniati@machung.ac.id

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Perkembangan era globalisasi yang terjadi saat ini telah berdampak pada

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Perkembangan era globalisasi yang terjadi saat ini telah berdampak pada BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan era globalisasi yang terjadi saat ini telah berdampak pada perubahan lingkungan yang menyebabkan semakin ketatnya persaingan dalam dunia industri. Makin

Lebih terperinci

KONSEP KELUARGA SEJAHTERA. OLEH Ns.HENNY PERMATASARI, M.Kep. Sp. Kom

KONSEP KELUARGA SEJAHTERA. OLEH Ns.HENNY PERMATASARI, M.Kep. Sp. Kom KONSEP KELUARGA SEJAHTERA OLEH Ns.HENNY PERMATASARI, M.Kep. Sp. Kom tanggal upload : 28 April 2009 A. LATAR BELAKANG KEBERHASILAN PROGRAM KELUARGA BERENCANA (KB) ANGKA KELAHIRAN (TOTAL FERTILITY RATE),

Lebih terperinci

VI. ALOKASI WAKTU KERJA, KONTRIBUSI PENDAPATAN, DAN POLA PENGELUARAN RUMAHTANGGA PETANI LAHAN SAWAH

VI. ALOKASI WAKTU KERJA, KONTRIBUSI PENDAPATAN, DAN POLA PENGELUARAN RUMAHTANGGA PETANI LAHAN SAWAH 59 VI. ALOKASI WAKTU KERJA, KONTRIBUSI PENDAPATAN, DAN POLA PENGELUARAN RUMAHTANGGA PETANI LAHAN SAWAH 6.1. Curahan Tenaga Kerja Rumahtangga Petani Lahan Sawah Alokasi waktu kerja dalam kegiatan ekonomi

Lebih terperinci

BAB V HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN BAB V HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN 5.1. Petani Hutan Rakyat 5.1.1. Karakteristik Petani Hutan Rakyat Karakteristik petani hutan rakyat merupakan suatu karakter atau ciri-ciri yang terdapat pada responden.

Lebih terperinci

DAMPAK EKONOMI IMPLEMENTASI PROGRAM PENGELOLAAN HUTAN BERSAMA MASYARAKAT (PHBM) PADA PERUM PERHUTANI UNIT II JAWA TIMUR

DAMPAK EKONOMI IMPLEMENTASI PROGRAM PENGELOLAAN HUTAN BERSAMA MASYARAKAT (PHBM) PADA PERUM PERHUTANI UNIT II JAWA TIMUR DAMPAK EKONOMI IMPLEMENTASI PROGRAM PENGELOLAAN HUTAN BERSAMA MASYARAKAT (PHBM) PADA PERUM PERHUTANI UNIT II JAWA TIMUR Theresia Avila *) & Bambang Suyadi **) Abstract: This research was conducted to determine

Lebih terperinci

PEMBERDAYAAN PEREMPUAN MELALUI PROGRAM EKONOMI BERGULIR DI PNPM MANDIRI PERKOTAAN DESA LUHU KECAMATAN TELAGA KABUPATEN GORONTALO JURNAL OLEH

PEMBERDAYAAN PEREMPUAN MELALUI PROGRAM EKONOMI BERGULIR DI PNPM MANDIRI PERKOTAAN DESA LUHU KECAMATAN TELAGA KABUPATEN GORONTALO JURNAL OLEH PEMBERDAYAAN PEREMPUAN MELALUI PROGRAM EKONOMI BERGULIR DI PNPM MANDIRI PERKOTAAN DESA LUHU KECAMATAN TELAGA KABUPATEN GORONTALO JURNAL OLEH NURNANINGSIH PAUDI NIM. 121 411 004 UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kemiskinan di Indonesia merupakan masalah pokok nasional yang penanggulangannya tidak dapat ditunda dan harus menjadi pioritas utama dalam pelaksanaan pembangunan masyarakat.

Lebih terperinci

VII. STRATEGI DAN PROGRAM PENGUATAN KELOMPOK TANI KARYA AGUNG

VII. STRATEGI DAN PROGRAM PENGUATAN KELOMPOK TANI KARYA AGUNG 78 VII. STRATEGI DAN PROGRAM PENGUATAN KELOMPOK TANI KARYA AGUNG 7.1. Perumusan Strategi Penguatan Kelompok Tani Karya Agung Perumusan strategi menggunakan analisis SWOT dan dilakukan melalui diskusi kelompok

Lebih terperinci

7. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kabupaten Banyuasin di Provinsi Sumatera Selatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun

7. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kabupaten Banyuasin di Provinsi Sumatera Selatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 70 Menimbang : Mengingat : PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANYUASIN NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN KESEJAHTERAAN SOSIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANYUASIN, a. bahwa setiap warga

Lebih terperinci

BADAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN KELUARGA BERENCANA KABUPATEN TASIKMALAYA

BADAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN KELUARGA BERENCANA KABUPATEN TASIKMALAYA Oleh : EDDY NURMANA, Drs. M.Si Kepala BPMKB Kab. Tasikmalaya BADAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN KELUARGA BERENCANA KABUPATEN TASIKMALAYA 1 BIODATA Nama : EDDY NURMANA, Drs. M.Si NIP : 19610228 198204 1

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam bab ini membahas secara berurutan tentang latar belakang

BAB I PENDAHULUAN. Dalam bab ini membahas secara berurutan tentang latar belakang BAB I PENDAHULUAN Dalam bab ini membahas secara berurutan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan hipotesis. A. Latar Belakang Masalah. Kemiskinan seringkali

Lebih terperinci

Arah Kebijakan BAZNAS KOTA MALANG

Arah Kebijakan BAZNAS KOTA MALANG Arah Kebijakan BAZNAS KOTA MALANG 2014-2018 Bridging Community Management Menemani Masyarakat Oyot Suket Orientasi Kebijakan 1. Sustainable Development a. Plan of Implementation Sustainable Development:

Lebih terperinci

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA PROPOSAL USAHA ROTI GORENG BIDANG KEGIATAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA KEWIRAUSAHAAN

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA PROPOSAL USAHA ROTI GORENG BIDANG KEGIATAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA KEWIRAUSAHAAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA PROPOSAL USAHA ROTI GORENG BIDANG KEGIATAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA KEWIRAUSAHAAN Diusulkan Oleh: Nama Mahasiswa (Ketua) (NIM) Nama Mahasiswa (Wakil Ketua) (NIM) Nama

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. 2.1 Faktor yang Mempengaruhi Wanita Bekerja. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Riyani, dkk (2001) mengenai

BAB II KAJIAN PUSTAKA. 2.1 Faktor yang Mempengaruhi Wanita Bekerja. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Riyani, dkk (2001) mengenai BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Faktor yang Mempengaruhi Wanita Bekerja Dalam penelitian yang dilakukan oleh Riyani, dkk (2001) mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan wanita untuk bekerja adalah

Lebih terperinci

Laki-laki Papua dan partisipasi dalam pengasuhan anak

Laki-laki Papua dan partisipasi dalam pengasuhan anak Laki-laki Papua dan partisipasi dalam pengasuhan anak Oleh: Rini Hanifa* Ada apa dengan perempuan? Berbicara mengenai gender in value chain dapat dimulai dengan mengajukan pertanyaan Ada apa dengan perempuan?,

Lebih terperinci

III. METODE KEGIATAN TUGAS AKHIR (TA) A. Tempat Pelaksanaan Pelaksanaan Tugas Akhir (TA) dilaksanakan di Dusun Selongisor RT 03 RW 15, Desa Batur,

III. METODE KEGIATAN TUGAS AKHIR (TA) A. Tempat Pelaksanaan Pelaksanaan Tugas Akhir (TA) dilaksanakan di Dusun Selongisor RT 03 RW 15, Desa Batur, 23 III. METODE KEGIATAN TUGAS AKHIR (TA) A. Tempat Pelaksanaan Pelaksanaan Tugas Akhir (TA) dilaksanakan di Dusun Selongisor RT 03 RW 15, Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memuculkan sumber mata air untuk kehidupan bagi setiap makhluk. Sedangkan

BAB I PENDAHULUAN. memuculkan sumber mata air untuk kehidupan bagi setiap makhluk. Sedangkan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara yang kaya akan Sumber Daya Alam (SDA), terutama dalam bidang pertanian. Hal ini dikarenakan Indonesia memiliki dua musim, yakni musim

Lebih terperinci

MODAL SOSIAL PADA PENGUATAN KELEMBAGAAN KELOMPOK AFINITAS (Studi Kasus Program Aksi Desa Mandiri Pangan) Sofyan Nurdin K., Sitti Nurani S.

MODAL SOSIAL PADA PENGUATAN KELEMBAGAAN KELOMPOK AFINITAS (Studi Kasus Program Aksi Desa Mandiri Pangan) Sofyan Nurdin K., Sitti Nurani S. MODAL SOSIAL PADA PENGUATAN KELEMBAGAAN KELOMPOK AFINITAS (Studi Kasus Program Aksi Desa Mandiri Pangan) Sofyan Nurdin K., Sitti Nurani S. E-mail: sofyannurdinkasim@gmail.com Abstrak Penguatan kelembagaan

Lebih terperinci

KONDISI KEHIDUPAN KELUARGA MISKIN DI KOTA CIMAHI Tukino, LPPM STKS Bandung

KONDISI KEHIDUPAN KELUARGA MISKIN DI KOTA CIMAHI Tukino, LPPM STKS Bandung KONDISI KEHIDUPAN KELUARGA MISKIN DI KOTA CIMAHI Tukino, LPPM STKS Bandung Ringkasan Eksekutif Masalah kemiskinan akan sangat berkaitan dengan ketidakmampuan individu untuk memenuhi kebutuhan dasar minimal

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Pada bab ini, peneliti akan membahas hasil penelitian sesuai dengan rumusan masalah penelitian yakni efektifitas pengembalian dana pinjaman kelompok

Lebih terperinci

Dampak Banjir Terhadap Inflasi

Dampak Banjir Terhadap Inflasi Dampak Banjir Terhadap Inflasi Praptono Djunedi, Peneliti Badan Kebijakan Fiskal Siapa yang merusak harga pasar hingga harga itu melonjak tajam, maka Allah akan menempatkannya di dalam neraka pada hari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (http://www.bps.go.id/brs_file/tenaker-15mei09.pdf). kekuatan posisi tawar (Bargaining Power) yang sejajar dengan pengusaha dan

BAB I PENDAHULUAN. (http://www.bps.go.id/brs_file/tenaker-15mei09.pdf). kekuatan posisi tawar (Bargaining Power) yang sejajar dengan pengusaha dan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Berdasarkan hasil Sensus Penduduk tahun 2010, jumlah angkatan kerja Indonesia berjumlah 107,7 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, yang bekerja sebagai buruh sebanyak

Lebih terperinci

Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol. 3, No. 3, September 2012: ISSN :

Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol. 3, No. 3, September 2012: ISSN : Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol. 3, No. 3, September 2012: 127-136 ISSN : 2088-3137 KONTRIBUSI EKONOMI PRODUKTIF WANITA NELAYAN TERHADAP PENDAPATAN KELUARGA NELAYAN DI PANGANDARAN, KABUPATEN CIAMIS Trie

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN KASUS. masalah klien MG adalah sebagai berikut: dapat saling membantu menghadapi masalahnya. materi seputar merancang masa depan.

BAB IV PEMBAHASAN KASUS. masalah klien MG adalah sebagai berikut: dapat saling membantu menghadapi masalahnya. materi seputar merancang masa depan. A. Rencana Intervensi BAB IV PEMBAHASAN KASUS Adapun rencana intervensi yang dibuat praktikan untuk menangani masalah klien MG adalah sebagai berikut: 1. Social Case Work Method Metode Bimbingan Sosial

Lebih terperinci

BAB II KERANGKA TEORITIK

BAB II KERANGKA TEORITIK BAB II KERANGKA TEORITIK A. Pengertian Pemberdayaan Masyarakat Secara konseptual pemberdayaan atau pemberkuasaan (Empowerment), berasal dari kata power (kekuasaan atau keberdayaan) keterangan. Ide utama

Lebih terperinci

As'ari, et al., Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Ekonomi Kreatif...

As'ari, et al., Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Ekonomi Kreatif... 1 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BERBASIS EKONOMI KREATIF MELALUI PELATIHAN PEMBUATAN PRODUK HIASAN DARI LIMBAH POHON KOPI (Studi Kasus Pada Masyarakat Miskin Perkebunan Kopi Di Desa Harjomulyo Kecamatan Silo

Lebih terperinci

Terms of Reference (TOR) Program Pilot Pengembangan Ekonomi (Pendampingan Kewirausahaan)

Terms of Reference (TOR) Program Pilot Pengembangan Ekonomi (Pendampingan Kewirausahaan) Terms of Reference (TOR) Program Pilot Pengembangan Ekonomi (Pendampingan Kewirausahaan) Program Pemberdayaan Buruh Migran Perempuan dan Keluarganya di Daerah Asal Kerjasama: Badan Nasional Penempatan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA FIKIR. Ikatan Geografi Indonesia (IGI) dalam Nursid Sumaatmadja, 1997:11).

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA FIKIR. Ikatan Geografi Indonesia (IGI) dalam Nursid Sumaatmadja, 1997:11). II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA FIKIR A. Tinjauan Pustaka 1. Pengertian Geografi Geografi adalah ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kelingkungan atau

Lebih terperinci

PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT RT 05 RW IX KELURAHAN KROBOKAN KECAMATAN SEMARANG BARAT MELALUI PENGOLAHAN BAHAN PANGAN LOKAL DAN

PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT RT 05 RW IX KELURAHAN KROBOKAN KECAMATAN SEMARANG BARAT MELALUI PENGOLAHAN BAHAN PANGAN LOKAL DAN Mei Sulistyiningsih, Reni Rakhmawati, Dwi Prastiyo Hadi, Iffah Muflihati, Umar Hafidz Asy ari Hasbullah PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT RT 05 RW IX KELURAHAN KROBOKAN KECAMATAN SEMARANG BARAT MELALUI PENGOLAHAN

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. meramu bahan-bahan kimia (anorganik) berkadar hara tinggi. Misalnya, pupuk urea

TINJAUAN PUSTAKA. meramu bahan-bahan kimia (anorganik) berkadar hara tinggi. Misalnya, pupuk urea TINJAUAN PUSTAKA Pupuk Anorganik Pupuk anorganik adalah pupuk yang dibuat oleh pabrik-pabrik pupuk dengan meramu bahan-bahan kimia (anorganik) berkadar hara tinggi. Misalnya, pupuk urea berkadar N 45-46

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Arti pembangunan masyarakat yang sebenarnya adalah pembangunan masyarakat dari bawah (bottom up), di mana masyarakat sebagai subyek pembangunan memiliki hak untuk berperan serta

Lebih terperinci

Pemeliharaan Ideal Pemeliharaan ideal yaitu upaya untuk mempertahankan tujuan dan fungsi taman rumah agar sesuai dengan tujuan dan fungsinya semula.

Pemeliharaan Ideal Pemeliharaan ideal yaitu upaya untuk mempertahankan tujuan dan fungsi taman rumah agar sesuai dengan tujuan dan fungsinya semula. PEMELIHARAAN Dalam proses pembuatan taman pemeliharaan merupakan tahapan yang terakhir, namun tahapan ini merupakan tahapan yang sangat penting dan tidak boleh diabaikan. Keberhasilan pemeliharaan bahkan

Lebih terperinci

RINGKASAN Upaya Diversifikasi Konsumsi Pangan Berbasis Bahan Pangan Lokal Di Desa Salam, Patuk, Gunung Kidul

RINGKASAN Upaya Diversifikasi Konsumsi Pangan Berbasis Bahan Pangan Lokal Di Desa Salam, Patuk, Gunung Kidul RINGKASAN Upaya Diversifikasi Konsumsi Pangan Berbasis Bahan Pangan Lokal Di Desa Salam, Patuk, Gunung Kidul Abstrak Lili Sugiyarto, Siti Umniyatie, Paramita C.K. lili_sugiyarto@uny.ac.id Program pengabdian

Lebih terperinci

VIII. PENYUSUNAN PROGRAM PENGUATAN KELEMBAGAAN UAB TIRTA KENCANA

VIII. PENYUSUNAN PROGRAM PENGUATAN KELEMBAGAAN UAB TIRTA KENCANA 92 VIII. PENYUSUNAN PROGRAM PENGUATAN KELEMBAGAAN UAB TIRTA KENCANA 8.1. Identifikasi Potensi, Masalah dan Kebutuhan Masyarakat 8.1.1. Identifikasi Potensi Potensi masyarakat adalah segala sesuatu yang

Lebih terperinci

BAB VI. KARAKTERISTIK PEDAGANG MARTABAK KAKI LIMA DAN WARUNG TENDA PECEL LELE DI KOTA BOGOR

BAB VI. KARAKTERISTIK PEDAGANG MARTABAK KAKI LIMA DAN WARUNG TENDA PECEL LELE DI KOTA BOGOR BAB VI. KARAKTERISTIK PEDAGANG MARTABAK KAKI LIMA DAN WARUNG TENDA PECEL LELE DI KOTA BOGOR 6.1 Karakteristik Pedagang Martabak Kaki Lima di Kota Bogor Martabak merupakan salah satu jenis makanan yang

Lebih terperinci

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN. tersebut dapat menumbuhkan rasa percaya diri pada masyarakat dalam hal kemampuan

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN. tersebut dapat menumbuhkan rasa percaya diri pada masyarakat dalam hal kemampuan BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN Program pemberdayaan masyarakat pelatihan Bahasa Inggris adalah sebuah program yang bertujuan untuk memberdayaan masyarakat, selain itu bertujuan untuk meningkatkan

Lebih terperinci

TINJAUAN PROGRAM PEMBANGUNAN PRASARANA DAN SARANA DESA POLA IMBAL SWADAYA

TINJAUAN PROGRAM PEMBANGUNAN PRASARANA DAN SARANA DESA POLA IMBAL SWADAYA TINJAUAN PROGRAM PEMBANGUNAN PRASARANA DAN SARANA DESA POLA IMBAL SWADAYA Deskripsi Kegiatan. Menurut Pemerintah Kabupaten Bogor pembangunan merupakan suatu proses perubahan untuk menuju ke arah yang lebih

Lebih terperinci

KOMITMEN MASYARAKAT INTERNASIONAL TERHADAP PENDIDIKAN KEAKSARAAN

KOMITMEN MASYARAKAT INTERNASIONAL TERHADAP PENDIDIKAN KEAKSARAAN KOMITMEN MASYARAKAT INTERNASIONAL TERHADAP PENDIDIKAN KEAKSARAAN Dasar Hukum Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 : Setiap warga negara mempuyai hak untuk memperoleh pengajaran Undang-Undang Nomor 20 Tahun

Lebih terperinci

BAB III DISKRIPSI WILAYAH PENELITIAN DAN SISTEM PINJAM MEMINJAM UANG DENGAN BERAS DI DESA SAMBONG GEDE MERAK URAK TUBAN

BAB III DISKRIPSI WILAYAH PENELITIAN DAN SISTEM PINJAM MEMINJAM UANG DENGAN BERAS DI DESA SAMBONG GEDE MERAK URAK TUBAN BAB III DISKRIPSI WILAYAH PENELITIAN DAN SISTEM PINJAM MEMINJAM UANG DENGAN BERAS DI DESA SAMBONG GEDE MERAK URAK TUBAN A. Diskripsi Wilayah 1. Keadaan Geografis, Demografis dan Susunan Pemerintahan Desa

Lebih terperinci

PEMBERDAYAAN EKONOMI KELOMPOK USAHA RUMAH TANGGA BERBASIS MODAL SOSIAL. (Studi Kasus: Kelompok Usaha Pengrajin Tahu Tempe di Kedaung, Ciputat- Banten)

PEMBERDAYAAN EKONOMI KELOMPOK USAHA RUMAH TANGGA BERBASIS MODAL SOSIAL. (Studi Kasus: Kelompok Usaha Pengrajin Tahu Tempe di Kedaung, Ciputat- Banten) PEMBERDAYAAN EKONOMI KELOMPOK USAHA RUMAH TANGGA BERBASIS MODAL SOSIAL (Studi Kasus: Kelompok Usaha Pengrajin Tahu Tempe di Kedaung, Ciputat- Banten) NUR PUTRI AMANAH DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN

Lebih terperinci

PROPOSAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT

PROPOSAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT PROPOSAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT JUDUL PENGABDIAN : PENDAMPINGAN MASYARAKAT DAN PEMBANGUNAN JEMBATAN DAN KIRMIR SUNGAI CIHALARANG KEL.SUKAPADA KEC. CIBEUNYING KIDUL KOTA BANDUNG LOKASI KEGIATAN :

Lebih terperinci