1. Pengetahuan Makanan Sehat

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "1. Pengetahuan Makanan Sehat"

Transkripsi

1 BAB II LANDASAN TEORI A. Deskripsi Teori 1. Pengetahuan Makanan Sehat a. Pengertian pengetahuan dan tingkatannya Pengetahuan (knowledge) adalah hasil tahu dari orang yang telah melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yaitu melalui indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Namun sebagian besar penginderaan di pengaruhi oleh mata dan telinga. 1 Adapun tingkatan pengetahuan dibagi menjadi 6 tingkatan, yaitu meliputi : 1) Tahu (know) yaitu mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, oleh sebab itu know ini merupakan tingkatan pengetahuan yang paling rendah. 2) Memahami (comprehension) yaitu suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang suatu objek yang diketahui, dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar. 3) Aplikasi (application) 1 Soekidjo Notoadmojo, Pendidikan dan Perilaku Kesehatan, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2003), hlm

2 yaitu kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi yang real (sebenarnya). 4) Analisis (analysis) yaitu kemampuan untuk menjelaskan materi tau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih dalam satu struktur organisasi, dan masih terkait satu sama lain. 5) Sintesis (synthesis) yaitu menunjukkan kemampuan untuk meletakkan atau menggabungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. 6) Evaluasi (evaluation) yaitu peserta didik mampu melakukan penilaian terhadap suatu materi yang telah didapat atau pada suatu objek. 2 b. Pengertian makanan sehat Makanan yang sehat yaitu makanan yang higienis dan bergizi. Makanan yang higienis adalah makanan yang tidak mengandung kuman penyakit dan tidak mengandung racun yang dapat membahayakan kesehatan. Bahan makanan yang akan kita makan harus mengandung komposisi gizi yang lengkap, yaitu terdiri atas 2 Sinta Fitriani, Promosi Kesehatan, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2011), hlm

3 karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral, dan air. Di Indonesia komposisi tersebut dikenal dengan nama makanan 4 sehat 5 sempurna. 3 Zat gizi merupakan unsur yang terkandung dalam makanan yang dapat memberikan manfaat bagi kesehatan manusia. Masing-masing bahan makanan yang dikonsumsi memiliki kandungan gizi yang berbeda. Makanan yang satu dengan makanan yang lainnya memiliki kandungan zat gizi yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut dapat berupa jenis zat gizi yang terkandung dalam makanan, maupun jumlah dari masingmasing zat gizi. Setiap zat gizi memiliki fungsi yang spesifik. Masing-masing zat gizi tidak dapat berdiri sendiri dalam membangun tubuh dan dalam menjalankan proses metabolisme. Namun berbagai zat gizi memiliki fungsi yang berbeda. Menurut Almatsier (2011) yang dikutip oleh Marmi mengatakan, zat gizi adalah ikatan kimia yang diperlukan oleh tubuh untuk melakukan fungsinya yaitu karbohidrat, lemak, dan protein berfungsi sebagai sumber energi atau penghasil energi yang bermanfaat untuk menggerakkan tubuh dan proses metabolisme di dalam tubuh, zat gizi yang berfungsi sebagai pembentuk sel-sel 3 Hanifa n. dan Luthfeni, Makanan yang Sehat, (Bandung, Azka Press, 2006), hlm

4 pada jaringan tubuh manusia dan memelihara jaringan tersebut, serta mengatur proses-proses kehidupan merupakan fungsi dari kelompok zat gizi seperti protein, lemak, mineral, vitamin dan air. 4 Hubungan antara nutrisi, fungsi mereka dalam tubuh, dan makanan penting yang memasoknya, ditunjukkan pada Gambar 2.1 Gambar 2.1. Nutrisi: diagram menunjukkan fungsi mereka dan makanan representatif tempat mereka biasa ditemukan. 5 Karbohidrat Lemak Protein Roti Kentang Gula Biskuit Selai Mentega Margarin Keju Minyak zaitun Gajih Daging Ikan Keju Telur Susu Unsur Mineral Sayursayuran Buahbuahan Air Vitamin Air minum Minuman buahbuahan, sayursayuran Buahbuahan Sayursayuran Energi Pertumbuhan dan perbaikan Kontrol proses dalam tubuh 4 Marmi, Gizi Dalam Kesehatan Reproduksi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013), hlm Michael E.J. Lean, Ilmu Pangan, Gizi, dan Kesehatan terj. Nata Nilamsari dan Astri Fajriyah, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013), hlm

5 Karbohidrat, lemak, dan protein merupakan zat gizi yang dibutuhkan dalam jumlah besar dalam satuan gram sehingga disebut sebagai makronutrien. sedangkan kelompok mineral dan vitamin dibutuhkan dalam jumlah kecil dalam satuan miligram (mg) sehingga disebut sebagai mikronutrien. 6 Makanan yang mengandung zat-zat tersebut kemudian dikonsumsi dan diserap untuk menggantikan zat-zat yang hilang dari tubuh manusia sehingga dapat memberikan kekuatan dalam bekerja dan beraktivitas, serta memperkuat peran imunitas yang ada di dalamnya yang berfungsi untuk melawan virus dan penyakit. Makanan seimbang adalah kata lain dari makanan sehat, sebagai bentuk perwujudan bagi keseimbangan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT pada segala sesuatu. 7 Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan).supaya kamu jangan 6 Marmi, Gizi Dalam Kesehatan Reproduksi..., hlm Abdul Basith Muhammad as-sayyid, Pola Makan Rasullah, terj. M. Abdul Ghoffar, M. Iqbal Haetami, (Jakarta: Almahira, 2006), hlm

6 melampaui batas tentang neraca itu. Dan Tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu. (QS. al-rahman/55: 7-9) 8 Di dalam tuntutan syariat islam, kita dituntut untuk makan dan minum yang halal dan thayib (baik). Selain halal dan thayib adalah kuantitasnya cukup dan tidak berlebihan. Istilah tidak berlebihan dalam ilmu gizi biasa dikenal dengan AKG atau Angka Kecukupan Gizi. AKG ini ditentukan range jumlah ideal komponen nutrisi makanan yang diasup dalam satu hari. Jika kekurangan atau kelebihan nutrisi maka akan menyebabkan malnutrisi. 9 Sebagaimana islam telah menganjurkan manusia untuk mengkonsumsi makanan dengan tidak berlebihlebihan dan tidak juga terlalu kikir, sehingga hanya mengkonsumsi dari berbagai makanan yang disediakan. Oleh karena itu, berbagai ahli gizi berusaha untuk mengetahui berbagai kebutuhan makanan yang dibutuhkan manusia. Kemudian mereka membuat dasardasar yang jelas dan benar tentang makanan itu sesuai 8 Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya, (Surabaya: Mahkota, 1989), hlm Insan Agung Nugroho, Jurus Dahsyat Sehat Sepanjang Hayat, (Surakarta: Ziyad Visi Media, 2011), hlm

7 kondisi, lingkungan, serta usia seseorang. 10 Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT : Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di Setiap (memasuki) masjid, Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS. al- A raf/07: 31) 11 Meskipun kebiasaan dan pola makan setiap orang ke orang dapat bervariasi dan menu makanan dapat dipilih dari ratusan makanan yang berbeda, namun setiap orang tetap membutuhkan nutrisi yang sama dan dalam proporsi yang kira-kira sama pula. Dua fungsi dasar nutrisi adalah untuk menyediakan bahan bagi pertumbuhan dan perbaikan jaringan tubuh, yaitu menyediakan dan memelihara struktur dasar tubuh kita dan untuk memasok energi yang dibutuhkan oleh tubuh untuk melakukan kegiatan eksternal maupun menjalankan kegiatan internalnya Abdul Basith Muhammad as-sayyid, Pola Makan Rasullah, terj. M. Abdul Ghoffar, M. Iqbal Haetami, hlm Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya, (Surabaya: Mahkota, 1989), hlm Michael E.J. Lean, Ilmu Pangan, Gizi, dan Kesehatan terj. Nata Nilamsari dan Astri Fajriyah...,hlm

8 2. Sikap Memilih Makanan a. Pengertian Sikap (Attitude) Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. 13 Menurut Newcomb, salah seorang ahli psikologi sosial, menyatakan bahwa sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek. Diagram di bawah ini dapat menjelaskan uraian di atas. 14 Stimulu/ Rangsangan Organisme Reaksi Tingkah Laku (terbuka) Sikap (tertutup) Gambar 2.2 : Proses terbentuknya sikap dan reaksi Soekidjo Notoadmojo, Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni, (Jakarta: Rineka Cpta, 2007), hlm Sinta Fitriani, Promosi Kesehatan, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2011), hlm hlm Soekidjo Notoadmojo, Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni..., 18

9 1972). 16 Menurut teori kesesuaian Osgood dan Menurut para ahli psikologis (Louis Thurstone, Rensis Likert, dan Charles Osgood) yang diterangkan dalam bukunya Saifuddin Azwar mengatakan bahwa sikap adalah bentuk evaluasi dari pengetahuan atau reaksi dari perasaan. Menurut Berkowitz yang dikutip oleh Syaifudin Azwar sikap seseorang terhadap suatu objek adalah perasaan untuk mendukung atau memihak (favorable) maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak (unfavorable) pada suatu objek (Berkowitz, Tannenbaum (1995) mengatakan bahwa unsur-unsur kognitif mempunyai tingkatan dalam berbagai nilai yaitu nilai positif atau nilai negatif, atau mempunyai nilai nol.unsur-unsur yang relevan satu sama lain dapat mempunyai hubungan positif atau negatif. Misalkan suatu teori reaksi evaluatif (sikap) yang tidak tampak dapat diukur dengan menggunakan skala 7 titik sebagai berikut : Saifuddin Azwar, Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 1998), hlm

10 Tidak favorable netral favorable Menurut prinsip kesesuaian, semakin dalam tingkatan reaksi evaluatif (sikap) yakni semakin jauh dari titik netral maka semakin berkurang pergesaran reaksi ke arah yang berlawanan. 17 b. Pengertian Sikap Memilih Makanan Pengetahuan mengenai kehigienisan makanan merupakan salah satu faktor yang berperan penting dalam menyiapkan makanan yang higienis, aman dan terbebas dari kuman yang dapat menyebabkan penyakit. Badan kesehatan dunia (WHO) menyatakan bahwa salah satu masalah dari kesehatan negara berkembang adalah makanan yang terkontaminasi oleh bahan kimia atau mikrobiologi yang dapat menyababkan penyakit. Makanan bisa menjadi gizi, bisa juga menjadi racun.makanan yang bergizi merupakan makanan yang mengandung asupan zat-zat yang dibutuhkan oleh tubuh.sebaliknya, makanan bukan tidak mungkin justru menjadi racun penyebab seseorang sakit, bahkan dapat menyebabkan kematian. 18 Selain memperhatikan pemilihan makanan berdasarkan kandungan zat gizinya, dalam syariat Islam juga dianjurkan untuk memperhatikan 17 Saifuddin Azwar, Sikap Manusia Teori..., hlm Muchtar AF, Be Healty Be Happy, (Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer, 2010), hlm

11 kehalalan makanan dan minuman yang dikonsumsi. Sehingga pentingnya mencantumkan label dan nomor sertifikasi halal pada kemasan produk, jika perlu dengan undang-undang khusus yang mengaturnya 19. Halal berarti boleh. Pada umumnya, kebanyakan makanan termasuk halal kecuali secara khusus disebutkan dalam Al Qur an dan Hadits. Sedangkan haram adalah sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT secara tegas untuk dilakukan. Setiap orang yang menentang larangan Allah maka ia akan berhadapan dengan siksaan Allah di akhirat. Bahkan terkadang juga mendapat sanksi syariah di dunia. Pada dasarnya segala sesuatu halal hukumnya. Penghalalan dan pengharaman hanyalah wewenang Allah SWT semata. Mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram termasuk perilaku syirik terhadap Allah SWT. Sesuatu yang diharamkan oleh Allah karena ia buruk dan berbahaya. 20 Terkadang kita sebagai konsumen kurang memperhatikan cara pengolahan makanan ataupun bahan tambahan pangan yang dicampurkan dalam makanan yang kita beli di pinggiran jalan sehingga dapat membahayakan kesehatan. Contohnya adalah penggunaan formalin 19 Anton Apriyantono dan Nurbowo, Panduan Belanja dan Konsumsi HALAL, (Jakarta: Khairul Bayaan, 2003), hlm MUI, Panduan Umum Sistem Jaminan Halal LPPOM-MUI, (Jakarta: LPPOM-MUI, 2008), hlm

12 sebagai bahan tambahan makanan agar makanan dapat bertahan lama. Penggunaan formalin dalam industri pangan tidak diperbolehkan meskipun dalam jumlah kecil, karena dalam jangka panjang formalin juga bisa mengakibatkan banyak gangguan organ tubuh. Bahan tambahan pangan lain yang sering dicampurkan dalam makanan adalah pewarna textile dan kertas (Rhodamin Bdan Methanyl yellow), bahan tambahan ini sering dipakai dalam makanan agar terlihat lebih mencolok untuk menarik konsumen. Selain itu penggunaan boraks yang sering digunakan untuk bahan pembuat detergen digunakan sebagai bahan tambahan pangan oleh sebagian pedagang yang tidak bertanggungjawab untuk menarik minat pembeli dan boraks ini seringkali dicampurkan dalam makanan sebagai pengenyal. At home, safe food handling practice can be sorted into four basic categories : (1) cleanliness, (2) separation, (3) cooking, and (4) chilling. Cleanliness refers to both hand washing by the food preparer (and subsequently the food consumer) and cleanliness of surfaces that will come into contact with raw food, such as cutting boards, knives, and storage containers. Keeping the kitchen workplace clean is an obvious and basic way to improve food safety at home. Separation refers to keeping foods apart from one another and avoiding cross-contamination. For example, keeping fresh meat out of direct contact with cooked foods is an essential part of kitchen hygiene that can limit exposure to bacteria. Cooking refers to thoroughly cooking products to temperatures that will 22

13 a placing food in the refrigerator or freezer does not kill bacteria; it simply stops bacteria from increasing in number. Cooking food to an appropriate temperature kills bacteria. 21 Penyimpanan makanan di rumah dapat dilakukan dengan empat macam cara secara praktis :(1) menjaga kebersihan, (2) pemisahan, (3) pemasakan, (4) penyimpanan. Menjaga kebersihan dimulai dengan cara mencuci kedua tangan sebelum menyiapkan makanan (makanan konsumen) dan membersihkan permukaan yang akan digunakan untuk menaruh makanan yang mentah, seperti papan pemotong, pisau-pisau, dan wadah-wadah tempat penyimpanan. Jagalah kebersihan tempat kerja (dapur) dengan baik dan yang paling utama menjaga keamanan makanan di rumah. Pemisahan berarti memisahkan makanan yang satu dengan yang lainnya dan dihindarkan dari pencemaran makanan. Sebagai contoh, menjaga kesegaran daging agar terhindar kontak langsung dari luar dengan menutup makanan yang siap digunakan agar terjaga kebersihannya dan terhindar dari bakteri. Memasak berarti memasak secara sempurna pada suhu yang tepat setelah menyimpan makanan dalam lemari pendingin yang tidak dapat membutuh bakteri, melainkan 21 Judith Goodenough and Betty McGuire, Biology of Human, (San Fransisco: Benjamin Cummings, 2012), hlm

14 menghentikan peningkatan bakteri. Memasak makanan pada suhu yang tepat dapat membunuh bakteri. WHO juga memberikan sepuluh petunjuk untuk menyiapkan makanan yang aman, yaitu : Pertama, memilih makanan yang telah diolah. Buah dan sayur lebih baik dimakan dalam keadaan mentah, akan tetapi ada juga makanan yang lebih baik dimakan setelah diolah atau dimasak terlebih dahulu. Pengolahan makanan bertujuan untuk meningkatkan keamanan dan juga agar makanan dapat tahan lama. 22 Sayur sering dimakan dalam keadaan mentah yaitu sebagai lalapan. Namun lalap mentah beresiko tercemar jasad renik seperti telur cacing gelang yang cukup besar. 23 Kedua, makanan dimasak dengan sebaik-baiknya. Beberapa bahan makanan mentah, terutama daging ayam, sapi kerbau dan susu yang tidak dipasteurisasi sering kali terkontaminasi bakteri patogen yang dapat menyebabkan penyakit. Sebaiknya seluruh bagian bahan makanan mentah tersebut dimasak pada suhu yang paling rendah yaitu mencapai suhu 70 C, agar bakteri patogen mati. Ketiga, makanan yang telah dimasak sebaiknya segera dimakan. Jika masakan yang telah dimasak 22 Badan POM, Keamanan Pangan, (Jakarta: Direktorat SPKP, Deputi III, 2003), hlm Ali Khomsan, Pangan dan Gizi Untuk Kesehatan, (Jakarta: PT Grafindo Persada, 2004), hlm

15 dibiarkan ditempat terbuka, maka bakteri akan berkembang biak dan semakin lama dibiarkan maka semakin besar resiko yang diperoleh. Agar aman, maka segera makanlah masakan yang sudah dimasak setelah panasnya hilang. 24 Keempat, makanan yang matang disimpan dengan hati-hati. Jika makanan disiapkan lebih a al atau ingin men impan makanan ang tersisa, sebaikn a makanan disimpan pada suhu tinggi aitu sekitar diatas 60 atau disimpan pada suhu rendah aitu sekitar diba ah 10 C. Penyimpanan ini sangat penting apabila kita menyimpan makanan lebih dari empat atau lima jam. Kelima, memanaskan kembali makanan yang matang dengan seksama. Memanaskan kembali makanan yang telah disimpan dalam lemari es agar bakteri yang mungkin telah sempat berkembang biak selama penyimpanan (meskipun penyimpanan sempurna dapat menghambat pertumbuhan bakteri) dapat mati. Keenam, menghindarkan bercampurnya makanan yang mentah dengan makanan matang. Makanan yang telah matang dapat terkontaminasi bila bersentuhan dengan bahan makanan mentah. Kontaminasi ini dapat terjadi langsung sewaktu ayam mentah ditaruh berdekatan 24 Badan POM, Keamanan Pangan, (Jakarta: Direktorat SPKP, Deputi III, 2003), hlm

16 dengan daging matang. Dapat pula terjadi kontaminasi tidak langsung. Ketujuh, mencuci tangan berulang-ulang. Mencuci tangan sebelum mulai menyiapkan makanan dan setiap kali setelah menyelesaikan pekerjaan lainnya ketika sedang menyiapkan makanan. Mencuci tangan setelah menyiapkan bahan makanan seperti ikan, daging, atau ayam sebelum mulai menangani bahan makanan yang lainnya. Jika tangan dalam keadaan terluka maka tangan harus dibalut atau ditutup sebelum menyiapkan makanan. Hewan piaraan seperti anjing, burung dan terutama kucing merupakan tempat bersarangnya bibit penyakit yang dapat berpindah ke makanan melalui tangan. 25 Kedelapan, menjaga seluruh permukaan perlengkapan atau peralatan dapur dalam keadaan bersih. Makanan sangat mudah terkontaminasi bakteri, maka setiap permukaan peralatan yang digunakan untuk menyiapkan makanan harus selalu dijaga kebersihannya. Serbet yang digunakan untuk membersihkan piring, sendok, dan perlengkapan dapur lainnya harus diganti dengan yang bersih sesering mungkin, dan direbus serta dicuci sebelum digunakan kembali agar terhindar dari hewan-hewan mikrobiologis yang dapat menyebabkan 25 Badan POM, Keamanan Pangan, (Jakarta: Direktorat SPKP, Deputi III, 2003), hlm

17 penyakit. Kain pel yang digunakan untuk membersihkan lantai juga perlu diganti dengan yang bersih dan dicuci. Kesembilan, melindungi makanan dari serangga, tikus, dan hewan lainnya. Binatang dapat membawa bakteri patogen yang dapat menyebabkan penyakit melalui makanan. Sehingga makanan harus disimpan dalam wadah yang tertutup rapat agar terhindar dari kontaminasi bahan kimia maupun bakteri patogen yang dibawa binatang. Kesepuluh, menggunakan air yang bersih. Air yang bersih digunakan untuk menyiapkan makanan yang higienis sehingga air yang digunakan untuk keperluan memasak sama pentingnya dengan air minum. Sebaiknya kita menggunakan air yang sudah direbus terlebih dahulu sebelum ditambahkan pada makanan yang sudah matang atau untuk membuat es. Terlebih air yang digunakan untuk menyiapkan makanan untuk bayi Hubungan pengetahuan mengenai makanan sehat terhadap sikap dalam memilih makanan a. Hubungan pengetahuan dengan sikap Rosenberg memandang bahwa komponen kognitif sikap tidak hanya mengetahui suatu objek tetapi juga mencakup apa yang dipercayai mengenai hubungan antara 26 Badan POM, Keamanan Pangan, (Jakarta: Direktorat SPKP, Deputi III, 2003), hlm

18 objek sikap dengan nilai-nilai penting lainnya dalam diri individu. Dengan pandangannya Rosenberg mengemukakan secara lebih spesifik hubungan antara komponen afektif (sikap) dan komponen kognitif (pengetahuan). 27 Rosenberg mengatakan bahwa hubungan antara komponen afektif dan komponen psikomotorik dalam organisasi sikap adalah keadaan stabil akan muncul apabila komponen afektif dan komponen kognitif sikap saling konsisten satu sama lain, sebaliknya ketikdakstabilan akan muncul apabila komponen afektif dan komponen kognitif sikap tidak saling konsisten satu sama lain. Hal ini dapat diartikan bahwa sikap yang semula stabil akan mengalami perubahan apabila ada pengaruh dari eksternal yang dapat mempengaruhi salah satu komponen yaitu komponen afektif maupun komponen kognitif sehingga terjadi tekanan untuk mempengaruhi perubahan pada komponen. 28 Dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa sikap dan perilaku yang didasari pengetahuan akan lebih langgeng daripada sikap dan perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Hasil penelitian Rogers (1974) 27 Saifuddin Azwar, Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 1998), hlm Saifuddin Azwar, Sikap Manusia Teori..., hlm

19 mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (perilaku baru), di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yaitu : 1) Awareness (kesadaran), yaitu orang tersebut menyadari arti mengetahui terhadap suatu stimulus (objek) terlebih dahulu. 2) Interest, yaitu orang mulai tertarik kepada stimulus 3) Evaluation (menimbang-nimbang baik tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya). Hal ini berarti sikap responden menjadi lebih baik. 4) Trial, yaitu orang mencoba perilaku baru. 5) Adoption, subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap suatu stimulus. 29 Dengan demikian, pada dasarnya sikap merupakan suatu kecenderungan siswa untuk bertindak dengan cara tertentu. Dalam hal ini, perwujudan perilaku belajar siswa akan ditandai dengan munculnya kecenderungan-kecenderungan baru yang telah berubah (lebih maju dan lugas) terhadap suatu objek, tata nilai, peristiwa dan sebagainya Sinta Fitriani, Promosi Kesehatan, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2011), hlm Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010), hlm. 29

20 b. Hubungan pengetahuan makanan sehat terhadap sikap dalam memilih makanan Apabila persentase pendapatan untuk keperluan penyediaan atau pemberian makan terhadap keluarga paspasan, akan tetapi pengetahuan keluarga terhadap bahanbahan makanan yang bergizi banyak ragamnya dan dapat diperoleh sesuai kemampuannya akan selalu diperhatikan, maka setiap keluarga dapat menyusun suatu hidangan makanan yang mempunyai kandungan nilai gizi setiap harinya dari bahan-bahan makanan (diperoleh sesuai kemampuannya), dengan demikian kebutuhan akan zat gizi masing-masing keluarga akan terpenuhi. Namun sebaliknya apabila presentasi pendapatan seseorang berlebihan, tetapi tidak memiliki pengetahuan akan bahan-bahan makanan yang bergizi, secara tidak sadar makanan lezat lebih diutamakannya, maka pertumbuhan dan perkembangan tubuh, kesehatan dan produktivitas kerja akan mengalami gangguan-gangguan karena tidak adanya keseimbangan antara zat gizi yang diperlukan dan zat gizi yang diterima oleh tubuh. 31 Sehingga dapat disimpulkan bahwa pengetahuan seseorang mengenai zat gizi yang terkandung dalam makanan sehat sangatlah penting, karena hal itu dapat 31 G.Kartasapoetra dan H.Marsetyo, Korelasi Gizi, Kesehatan, dan Produktivitas Kerja, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2005), hlm

21 mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang dalam memilih makanan yang baik dan bergizi bagi kebutuhan tubuhnya. B. Kajian Pustaka Kajian pustaka digunakan sebagai bahan perbandingan terhadap penelitian yang ada, baik mengenai kelebihan atau kekurangan yang ada sebelumnya. Rumusan dan tinjauan pustaka sepenuhnya digali dari bahan yang tertulis oleh para ahli di bidangnya yang berhubungan dengan penelitian. Beberapa penelitian yang sudah teruji kesahihannya di antaranya meliputi: 1. Skripsi yang ditulis oleh Purtianti mahasiswi Program Studi S1 Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta 2010 dengan judul Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Mengenai Pemilihan Makanan Jajanan Dengan Perilaku Anak Dalam Memilih Makanan Di SDIT Muhammaddiyah Al Kautsar Gumpang Kartasura. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Tidak ada hubungan antara pengetahuan anak mengenai pemilihan makanan jajanan dengan perilaku anak dalam memilih makanan (ƿ = 0.185) dan tidak ada hubungan antara sikap anak mengenai pemilihan makanan (ƿ = 0.460) Purtianti, Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Mengenai Pemilihan Makanan Jajanan Dengan Perilaku Anak Dalam Memilih Makanan Di Sdit Muhammaddi ah Al Kautsar Gumpang Kartasura,Skripsi (Surakarta: Program Studi S1 Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2010), hlm

22 2. Artikel yang ditulis oleh Sudarmawan mahasiswa Program Studi S1 pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Surabaya 2013 dengan judul Hubungan Antara Pengetahuan Dan Sikap Mengenai Pemilihan Jajanan Dengan Perilaku Anak Memilih Jajanan Di SDN Sambikerep II/480 Surabaya". Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan dan sikap mengenai pemilihan jajanan terhadap perilaku anak dalam memilih makanan jajanan di SDN Sambikerep II/480 Surabaya, karena pengujian signifikansi terhadap koefisien korelasi ganda yang menghasilkan harga signifikan probabilitas sebesar 0,027 < taraf signifikan sebesar 0,05, maka koefisien relasi yang diujikan adalah signifikan. Dan terdapat hubungan antara pengetahuan dan sikap anak dalam memilih jajanan di SDN Sambikerep II/480 Surabaya dengan sumbangan sebesar 10,1 % Skripsi yang ditulis oleh Rr Fika Rahmawati mahasiswi Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang 2012 dengan judul Pengetahuan Gizi, Sikap, Perilaku Makan dan Asupan Kalsium Pada Siswi SMA. Hasil dari penelitian ini adalah pengetahuan gizi, 33 Sudarma an, Hubungan Antara Pengetahuan Dan Sikap Mengenai Pemilihan Jajanan Dengan Perilaku Anak Memilih Jajanan Di SDN sambikerep II/480 Surabaya",Artikel, (Surabaya: Program Studi S1 pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Surabaya, 2013), hlm

23 sikap, dan perilaku remaja putri terhadap sumber makanan yang mengandung kalsium baik dan sesuai, namun pada kenyataannya kebutuhan untuk memenuhi asupan makanan yang mengandung kalsium kurang baik. Asupan kalsium remaja putri rata-rata perhari hanya 622,74 % mg/hari Jurnal yang ditulis oleh Qaryati Suryaningsih, Abd. Razak Thaha, Citra Kesumasari, mahasiswa Program studi Ilmu Gizi fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin dengan judul Hubungan Pengetahuan dan Sikap Tentang Gizi seimbang Dengan Pola Makan Pada Pasien Jantung Koroner di Unit Rawat Jalan RSUP Dr.Wahidin Sudirohusodo Makassar tahun Penelitian ini diperoleh hasil bahwa karakteristik pasien penderita penyakit jantung koroner di Unit Rawat Jalan RSUP Dr.Wahidin Sudirohusodo tahun 2011, diperoleh presentase sebanyak: laki-laki (52,4 %), kelompok umur (29,8 %), pekerja PNS (44 %), tingkat pendidikan SMA (39,3 %), dan status IMT normal (60,7 %). Dari hasil diatas dapat diketahui bahwa tidak ada hubungan mengenai pengetahuan gizi seimbang terhadap pola makan pada pasien penderita penyakit jantung koroner dengan nilai p = 1.000, dan tidak ada hubungan tentang sikap gizi seimbang 34 Rr Fika Rahmawati, Pengetahuan Gizi, Sikap, Perilaku Makan dan Asupan Kalsium Pada Sis i SMA, Skripsi,( Semarang: Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang, 2012), hlm

24 dengan pola makan pada pasien penderita penyakit jantung koroner dengan p = 0, Perbedaan penelitian yang peneliti lakukan dengan penelitian tersebut di atas adalah sebagai berikut : 1. Objek kajian penelitian, objek kajian peneliti adalah hubungan pengetahuan makanan sehat peserta didik mengenai sikap dalam memilih makanan. 2. Tujuan Penelitian, penelitian bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan atau tidak antara pengetahuan peserta didik kelas V MIN Bawu mengenai makanan sehat terhadap sikap dalam memilih makanan. 3. Jenis penelitian, penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah penelitian eksperimen jenis pra-eksperimen dengan pendekatan kuantitatif, teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis korelasi produk momen (Product moment correlation) karena variabel yang dikorelasikan berbentuk gejala atau data bersifat kontinu, sampel yang diteliti bersifat homogen, atau setidak-tidaknya mendekati homogen. C. Rumusan Hipotesis Hipotesis hubungan (asosiatif) adalah suatu pernyataan yang menunjukkan dugaan tentang hubungan antara dua variabel 35 Qar ati Sur aningsih,dkk., Hubungan Pengetahuan dan Sikap Tentang Gizi seimbang Dengan Pola Makan Pada Pasien Jantung Koroner di Unit Ra at Jalan RSUP Dr.Wahidin Sudirohusodo Makassar, Jurnal Ilmiah, (Makassar: Program studi Ilmu Gizi fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, 2011), hlm

25 atau lebih. 36 Dapat disimpulkan, hipotesis merupakan dugaan sementara melalui data-data sebelum melakukan pengujian. Dengan pengetahuan baik mengenai makanan sehat, seseorang akan berhati-hati ketika memilih makanan. Oleh karena itu, pengetahuan makanan sehat bisa menjadi faktor bagi seseorang dalam memilih makanan yang baik untuk kesehatan dan halal menurut kajian keislaman yang telah ditetapkan oleh MUI pada setiap label makanan. Karena itulah hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Ha : Ada hubungan antara pengetahuan peserta didik kelas V MIN Bawu mengenai makanan sehat terhadap sikap dalam memilih makanan. Ho: Tidak ada hubungan antara pengetahuan peserta didik kelas V MIN Bawu mengenai makanan sehat terhadap sikap dalam memilih makanan. hlm Sugiyono, Statistika untuk Penilaian, (Bandung: Alfabeta, 2010), 35

DIIT GARAM RENDAH TUJUAN DIIT

DIIT GARAM RENDAH TUJUAN DIIT DIIT GARAM RENDAH Garam yang dimaksud dalam Diit Garam Rendah adalah Garam Natrium yang terdapat dalam garam dapur (NaCl) Soda Kue (NaHCO3), Baking Powder, Natrium Benzoat dan Vetsin (Mono Sodium Glutamat).

Lebih terperinci

INOVASI PEMBUATAN SUSU KEDELE TANPA RASA LANGU

INOVASI PEMBUATAN SUSU KEDELE TANPA RASA LANGU INOVASI PEMBUATAN SUSU KEDELE TANPA RASA LANGU Oleh: Gusti Setiavani, S.TP, M.P Staff Pengajar di STPP Medan Kacang-kacangan dan biji-bijian seperti kacang kedelai, kacang tanah, biji kecipir, koro, kelapa

Lebih terperinci

KERACUNAN PANGAN AKIBAT BAKTERI PATOGEN

KERACUNAN PANGAN AKIBAT BAKTERI PATOGEN KERACUNAN PANGAN AKIBAT BAKTERI PATOGEN Pangan merupakan kebutuhan esensial bagi setiap manusia untuk pertumbuhan maupun mempertahankan hidup. Namun, dapat pula timbul penyakit yang disebabkan oleh pangan.

Lebih terperinci

MAKANAN HALALAN TOYYIBBAN PERSPEKTIF ISLAM

MAKANAN HALALAN TOYYIBBAN PERSPEKTIF ISLAM MAKANAN HALALAN TOYYIBBAN PERSPEKTIF ISLAM Tajudin Nur*) Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kabupaten Way Kanan Dan Bidang Produk Halal dan Hisab Rukyat (Penyelenggara Syariah) Hai sekalian manusia,

Lebih terperinci

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP DENGAN PERILAKU MENCUCI TANGAN DENGAN BENAR PADA SISWA KELAS V SDIT AN-NIDA KOTA LUBUKLINGGAU TAHUN 2013

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP DENGAN PERILAKU MENCUCI TANGAN DENGAN BENAR PADA SISWA KELAS V SDIT AN-NIDA KOTA LUBUKLINGGAU TAHUN 2013 HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP DENGAN PERILAKU MENCUCI TANGAN DENGAN BENAR PADA SISWA KELAS V SDIT AN-NIDA KOTA LUBUKLINGGAU TAHUN 2013 Zuraidah, Yeni Elviani Dosen Prodi Keperawatan Lubuklinggau Politeknik

Lebih terperinci

TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN

TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN Telur adalah salah satu sumber protein hewani yang memilik rasa yang lezat, mudah dicerna, dan bergizi tinggi. Selain itu telur mudah diperoleh dan harganya murah. Telur dapat

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Direktorat Jenderal Peternakan (2011), dalam survey yang

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Direktorat Jenderal Peternakan (2011), dalam survey yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pangan asal hewan dibutuhkan manusia sebagai sumber protein hewani yang didapat dari susu, daging dan telur. Protein hewani merupakan zat yang penting bagi tubuh manusia

Lebih terperinci

BAB VI PEMBAHASAN. RSPAD Gatot Soebroto. Cara pengambilan data menggunakan metode Cross

BAB VI PEMBAHASAN. RSPAD Gatot Soebroto. Cara pengambilan data menggunakan metode Cross BAB VI PEMBAHASAN Pembahasan adalah kesenjangan yang muncul setelah peneliti melakukan penelitian kemudian membandingkan antara teori dengan hasil penelitian. Penelitian ini merupakan penelitian tentang

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP. 02/MEN/2007 TENTANG CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP. 02/MEN/2007 TENTANG CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP. 02/MEN/2007 TENTANG CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

LATIHAN, NUTRISI DAN TULANG SEHAT

LATIHAN, NUTRISI DAN TULANG SEHAT LATIHAN, NUTRISI DAN TULANG SEHAT Tulang yang kuat benar-benar tidak terpisahkan dalam keberhasilan Anda sebagai seorang atlet. Struktur kerangka Anda memberikan kekuatan dan kekakuan yang memungkinkan

Lebih terperinci

Bisnis Susu Kedelai Tugas Karya Ilmiah Lingkungan Bisnis

Bisnis Susu Kedelai Tugas Karya Ilmiah Lingkungan Bisnis Bisnis Susu Kedelai Tugas Karya Ilmiah Lingkungan Bisnis Disusun Oleh : Asep Firmansyah Murdas ( 11.11.4775 ) S1-TI-03 SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER STMIK AMIKOM YOGYAKARTA 2012 ABSTRAK

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara berkembang dan sedang berusaha mencapai

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara berkembang dan sedang berusaha mencapai I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara berkembang dan sedang berusaha mencapai pembangunan sesuai dengan yang telah digariskan dalam propenas. Pembangunan yang dilaksakan pada hakekatnya

Lebih terperinci

MAKANAN SIAP SANTAP DALAM KEADAAN DARURAT

MAKANAN SIAP SANTAP DALAM KEADAAN DARURAT MAKANAN SIAP SANTAP DALAM KEADAAN DARURAT Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI 2014 Wilayah Indonesia Rawan Bencana Letak geografis Wilayah Indonesia Pertemuan 3 lempengan

Lebih terperinci

PENGARUH KEBIASAAN MENGHAFAL JUZ 3O AL-QUR AN TERHADAP KONSENTRASI BELAJAR PADA SISWA SD MUHAMMADIYAH 4 KANDANGSAPI SURAKARTA TAHUN AJARAN 2014/2015

PENGARUH KEBIASAAN MENGHAFAL JUZ 3O AL-QUR AN TERHADAP KONSENTRASI BELAJAR PADA SISWA SD MUHAMMADIYAH 4 KANDANGSAPI SURAKARTA TAHUN AJARAN 2014/2015 PENGARUH KEBIASAAN MENGHAFAL JUZ 3O AL-QUR AN TERHADAP KONSENTRASI BELAJAR PADA SISWA SD MUHAMMADIYAH 4 KANDANGSAPI SURAKARTA TAHUN AJARAN 2014/2015 Usulan Penelitian Diajukan untuk Memperoleh Gelar Sarjana

Lebih terperinci

Mencuci tangan dengan sabun adalah salah satu tindakan sanitasi dengan. membersihkan tangan dan jari jemari menggunakan air dan sabun oleh manusia

Mencuci tangan dengan sabun adalah salah satu tindakan sanitasi dengan. membersihkan tangan dan jari jemari menggunakan air dan sabun oleh manusia BAB II KAMPANYE CUCI TANGAN DENGAN SABUN UNTUK ANAK ANAK DI BANDUNG 2. 1. Cuci Tangan Dengan Sabun Mencuci tangan dengan sabun adalah salah satu tindakan sanitasi dengan membersihkan tangan dan jari jemari

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Makanan cepat saji (fast food) adalah makanan yang tersedia dalam waktu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Makanan cepat saji (fast food) adalah makanan yang tersedia dalam waktu BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Makanan Cepat Saji (Fast Food) Makanan cepat saji (fast food) adalah makanan yang tersedia dalam waktu cepat dan siap disantap, seperti fried chiken, hamburger atau pizza.

Lebih terperinci

KARAKTERISASI FISIK DAN ph PADA PEMBUATAN SERBUK TOMAT APEL LIRA BUDHIARTI

KARAKTERISASI FISIK DAN ph PADA PEMBUATAN SERBUK TOMAT APEL LIRA BUDHIARTI KARAKTERISASI FISIK DAN ph PADA PEMBUATAN SERBUK TOMAT APEL LIRA BUDHIARTI DEPARTEMEN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 ABSTRAK LIRA BUDHIARTI. Karakterisasi

Lebih terperinci

II. LANDASAN TEORI. falsafah baru ini disebut konsep pemasaran (marketing concept). Konsep

II. LANDASAN TEORI. falsafah baru ini disebut konsep pemasaran (marketing concept). Konsep II. LANDASAN TEORI 2.1 Arti dan Pentingnya Pemasaran Pemasaran merupakan faktor penting untuk mencapai sukses bagi perusahaan akan mengetahui adanya cara dan falsafah yang terlibat didalamnya. Cara dan

Lebih terperinci

PENGARUH FAKTOR SYARIAH, TINGKAT KEUNTUNGAN BAGI HASIL, DAN MOTIVASI TERHADAP KEPUTUSAN NASABAH MENGGUNAKAN PERBANKAN SYARIAH

PENGARUH FAKTOR SYARIAH, TINGKAT KEUNTUNGAN BAGI HASIL, DAN MOTIVASI TERHADAP KEPUTUSAN NASABAH MENGGUNAKAN PERBANKAN SYARIAH Endang Tri Wahyuni A.: Pengaruh Faktor Syariah, Tingkat Keuntungan Bagi 269 PENGARUH FAKTOR SYARIAH, TINGKAT KEUNTUNGAN BAGI HASIL, DAN MOTIVASI TERHADAP KEPUTUSAN NASABAH MENGGUNAKAN PERBANKAN SYARIAH

Lebih terperinci

LAPORAN TUGAS AKHIR PENGARUH WAKTU PENGGORENGAN VAKUM TERHADAP KADAR AIR DAN ORGANOLEPTIK KERIPIK KULIT PISANG

LAPORAN TUGAS AKHIR PENGARUH WAKTU PENGGORENGAN VAKUM TERHADAP KADAR AIR DAN ORGANOLEPTIK KERIPIK KULIT PISANG LAPORAN TUGAS AKHIR PENGARUH WAKTU PENGGORENGAN VAKUM TERHADAP KADAR AIR DAN ORGANOLEPTIK KERIPIK KULIT PISANG ( The Time Effect of Vacuum Frying Towards the Amount of water and Organoleptic Ingredients

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN Metode memiliki arti suatu jalan yang dilalui untuk mencapai tujuan.1 Sedangkan penelitian diartikan sebagai suatu proses pengumpulan dan analisis data yang dilakukan secara sistematis

Lebih terperinci

MENGATUR POLA HIDUP SEHAT DENGAN DIET

MENGATUR POLA HIDUP SEHAT DENGAN DIET MENGATUR POLA HIDUP SEHAT DENGAN DIET Oleh : Fitriani, SE Pola hidup sehat adalah gaya hidup yang memperhatikan segala aspek kondisi kesehatan, mulai dari aspek kesehatan,makanan, nutrisi yang dikonsumsi

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Buah kersen merupakan buah yang keberadaannya sering kita jumpai

BAB 1 PENDAHULUAN. Buah kersen merupakan buah yang keberadaannya sering kita jumpai BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Buah kersen merupakan buah yang keberadaannya sering kita jumpai di mana-mana. Biasanya banyak tumbuh di pinggir jalan, retakan dinding, halaman rumah, bahkan di kebun-kebun.

Lebih terperinci

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor: 52 Tahun 2012 Tentang HUKUM HEWAN TERNAK YANG DIBERI PAKAN DARI BARANG NAJIS

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor: 52 Tahun 2012 Tentang HUKUM HEWAN TERNAK YANG DIBERI PAKAN DARI BARANG NAJIS FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor: 52 Tahun 2012 Tentang HUKUM HEWAN TERNAK YANG DIBERI PAKAN DARI BARANG NAJIS (MUI), setelah : Menimbang : 1. bahwa produk pangan ternak ada yang telah dikembangkan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pola Asuh Orang Tua 2.1.1 Pengertian Pola Asuh Orang Tua Menurut Hurlock (1999) orang tua adalah orang dewasa yang membawa anak ke dewasa, terutama dalam masa perkembangan. Tugas

Lebih terperinci

ABSTRACT. : Clean And Healthy Lifestyle, Washing Hands With Soap, Knowledge, Attitude, Actions

ABSTRACT. : Clean And Healthy Lifestyle, Washing Hands With Soap, Knowledge, Attitude, Actions GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP SISWA TERHADAP PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT DENGAN CUCI TANGAN PAKAI SABUN DI YAYASAN PERGURUAN TUT WURI HANDAYANI DI MABAR KECAMATAN MEDAN DELI TAHUN 2014 Winda Sari

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Jenis dan Sumber Data 3.1.1. Jenis Penelitian Dalam penelitian ini penulis menggunakan penelitian kuantitatif, karena data yang diperoleh nantinya berupa angka. Dari angka

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (Depok: Intuisi Press,1998) Cet 2, hlm. 2-3

BAB I PENDAHULUAN. (Depok: Intuisi Press,1998) Cet 2, hlm. 2-3 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tantangan kehidupan selalu muncul secara alami seiring dengan berputarnya waktu. Berbagai tantangan bebas bermunculan dari beberapa sudut dunia menuntut untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Mendidik dan pendidikan adalah dua hal yang saling berhubungan. Dari segi bahasa, mendidik adalah kata kerja, sedang pendidikan adalah kata benda. Kalau kita

Lebih terperinci

Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Sekitar. dimensi produksi dan dimensi konsumsi. Dimensi produksi memandang keadaan sehat sebagai

Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Sekitar. dimensi produksi dan dimensi konsumsi. Dimensi produksi memandang keadaan sehat sebagai Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Sekitar Sehat merupakan kondisi optimal fisik, mental dan sosial seseorang sehingga dapat memiliki produktivitas, bukan hanya terbebas dari bibit penyakit. Kondisi sehat

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN TEORI. Tali pusat dalam istilah medisnya disebut dengan umbilical cord.

BAB II TINJAUAN TEORI. Tali pusat dalam istilah medisnya disebut dengan umbilical cord. BAB II TINJAUAN TEORI A. Perawatan Tali Pusat 1.Tali pusat Tali pusat dalam istilah medisnya disebut dengan umbilical cord. Merupakan saluran kehidupan bagi janin selama ia di dalam kandungan, sebab selama

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keberhasilan suatu negara, karena merupakan generasi penerus bangsa

BAB I PENDAHULUAN. keberhasilan suatu negara, karena merupakan generasi penerus bangsa BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Anak pada hakikatnya merupakan aset terpenting dalam tercapainya keberhasilan suatu negara, karena merupakan generasi penerus bangsa selanjutnya. Derajat kesehatan anak

Lebih terperinci

balado yang beredar di Bukittinggi, dalam Majalah Kedokteran Andalas, (vol.32, No.1, Januari-juni/2008), hlm. 72.

balado yang beredar di Bukittinggi, dalam Majalah Kedokteran Andalas, (vol.32, No.1, Januari-juni/2008), hlm. 72. BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Mutu bahan makanan pada umumnya sangat bergantung pada beberapa faktor, diantaranya cita rasa, warna, tekstur, dan nilai gizinya. Sebelum faktor-faktor lain dipertimbangkan,

Lebih terperinci

10 Kiat Hidup Sehat Tanpa Obat

10 Kiat Hidup Sehat Tanpa Obat 10 Kiat Hidup Sehat Tanpa Obat Artikel ini diambil dari www.eramuslim.com dan ditulis kembali dalam format pdf oleh: Ikhsan Setiawan E-mail: Nashki@dejava.net Hidup yang multikompleks dewasa ini membuat

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengetahuan 1. Pengertian Pengetahuan Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu, penginderaan terjadi

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. beberapa zat gizi tidak terpenuhi atau zat-zat gizi tersebut hilang dengan

BAB 1 PENDAHULUAN. beberapa zat gizi tidak terpenuhi atau zat-zat gizi tersebut hilang dengan BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keadaan gizi kurang dapat ditemukan pada setiap kelompok masyarakat. Pada hakekatnya keadaan gizi kurang dapat dilihat sebagai suatu proses kurang asupan makanan ketika

Lebih terperinci

PENINGKATAN NILAI TAMBAH JAGUNG SEBAGAI PANGAN LOKAL Oleh : Endah Puspitojati

PENINGKATAN NILAI TAMBAH JAGUNG SEBAGAI PANGAN LOKAL Oleh : Endah Puspitojati PENINGKATAN NILAI TAMBAH JAGUNG SEBAGAI PANGAN LOKAL Oleh : Endah Puspitojati Kebutuhan pangan selalu mengikuti trend jumlah penduduk dan dipengaruhi oleh peningkatan pendapatan per kapita serta perubahan

Lebih terperinci

PESAN NILAI KESETIAKAWANAN SOSIAL PADA FILM RUMAH TANPA JENDELA NASKAH PUBLIKASI KARYA ILMIAH. Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai

PESAN NILAI KESETIAKAWANAN SOSIAL PADA FILM RUMAH TANPA JENDELA NASKAH PUBLIKASI KARYA ILMIAH. Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai PESAN NILAI KESETIAKAWANAN SOSIAL PADA FILM RUMAH TANPA JENDELA (Analisis Semiotik Pada Film Rumah Tanpa Jendela) NASKAH PUBLIKASI KARYA ILMIAH Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai derajat

Lebih terperinci

PERSYARATAN TEKNIS DEPOT AIR MINUM DAN PERDAGANGANNYA MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA

PERSYARATAN TEKNIS DEPOT AIR MINUM DAN PERDAGANGANNYA MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 651/MPP/ kep/10/2004 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS DEPOT AIR MINUM DAN PERDAGANGANNYA MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK

Lebih terperinci

Modul Pelatihan PEDOMAN PERSONAL HYGIENE

Modul Pelatihan PEDOMAN PERSONAL HYGIENE TROPICAL PLANT CURRICULUM PROJECT Modul Pelatihan PEDOMAN PERSONAL HYGIENE Nyoman Semadi Antara Pusat Studi Ketahanan Pangan Universitas Udayana 2012 DISCLAIMER This publication is made possible by the

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2014 TENTANG JAMINAN PRODUK HALAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2014 TENTANG JAMINAN PRODUK HALAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2014 TENTANG JAMINAN PRODUK HALAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Undang-Undang Dasar Negara

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Sesuai dengan permasalahan dan tujuan penelitian yang akan dilaksanakan, jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dalam bentuk studi kasus. Penelitian

Lebih terperinci

Susu Sapi Tidak Baik Untuk Manusia. Written by Administrator

Susu Sapi Tidak Baik Untuk Manusia. Written by Administrator Susu adalah minuman kesehatan yang sebagian besar praktisi kesehatan menganjurkan agar kita mengkonsumsinya agar tubuh mendapat asupan kesehatan selain makanan yang kita makan sehari-hari. Namun, belum

Lebih terperinci

NASKAH PUBLIKASI. Diajukan Untuk Memenuhi sebagian Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata-1 Program Studi Pendidikan Ekonomi Akuntansi

NASKAH PUBLIKASI. Diajukan Untuk Memenuhi sebagian Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata-1 Program Studi Pendidikan Ekonomi Akuntansi KONTRIBUSI PEMBERIAN BANTUAN OPERASIONAL SEKOLAHDAN KEMAMPUAN EKONOM ORANG TUA TERHADAP HASIL BELAJAR IPS EKONOMI PADA SISWA KELAS VIII SMP N 1 SAMBIREJO TAHUN AJARAN 2012/2013 NASKAH PUBLIKASI Diajukan

Lebih terperinci

HUBUNGAN MANAJEMEN PESERTA DIDIK DENGANKELANCARAN PROSES BELAJAR MENGAJAR

HUBUNGAN MANAJEMEN PESERTA DIDIK DENGANKELANCARAN PROSES BELAJAR MENGAJAR HUBUNGAN MANAJEMEN PESERTA DIDIK DENGANKELANCARAN PROSES BELAJAR MENGAJAR Baiq Neni Sugiatni, Jumailiyah, dan Baiq Rohiyatun Administrasi pendidikan, FIP IKIP Mataram Email :Baiqnenysugiatni@gmail.com

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBAWA NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG SERTIFIKASI LAIK SEHAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMBAWA,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBAWA NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG SERTIFIKASI LAIK SEHAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMBAWA, PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBAWA NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG SERTIFIKASI LAIK SEHAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMBAWA, Menimbang : Mengingat : a. bahwa keracunan makanan dan minuman, proses

Lebih terperinci

BAB II CUCI TANGAN PAKAI SABUN UNTUK CEGAH PENYAKIT

BAB II CUCI TANGAN PAKAI SABUN UNTUK CEGAH PENYAKIT BAB II CUCI TANGAN PAKAI SABUN UNTUK CEGAH PENYAKIT 2.1 Pengertian Cuci Tangan Menurut Dr. Handrawan Nadesul, (2006) tangan adalah media utama bagi penularan kuman-kuman penyebab penyakit. Akibat kurangnya

Lebih terperinci

KEPUTUSAN KEPALA BADAN KARANTINA PERTANIAN NOMOR : 436.a/Kpts/PD.670.320/L/11/07

KEPUTUSAN KEPALA BADAN KARANTINA PERTANIAN NOMOR : 436.a/Kpts/PD.670.320/L/11/07 KEPUTUSAN KEPALA BADAN KARANTINA PERTANIAN NOMOR : 436.a/Kpts/PD.670.320/L/11/07 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN TINDAKAN KARANTINA HEWAN TERHADAP SUSU DAN PRODUK OLAHANNYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

PENENTUAN KADALUWARSA PRODUK PANGAN

PENENTUAN KADALUWARSA PRODUK PANGAN PENENTUAN KADALUWARSA PRODUK PANGAN HANDOUT MATA KULIAH : REGULASI PANGAN (KI 531) OLEH : SUSIWI S JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA F P M I P A UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2009 Handout PENENTUAN KADALUWARSA

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Lokasi Penelitian Yang menjadi obyek dalam peneitian ini adalah Bait Maal Wa Tamwil (BMT Ikhlasul Amal Indramayu). Penelitian ini dilakukan di BMT Ikhlasul Amal Indramayu

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi wilayah PT. Cipta Frima Jaya adalah salah satu perusahaan yang bergerak dalam penanganan pasca panen (pembekuan) untuk hasil perikanan, yang merupakan milik Bapak

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. yang berfungsi sebagai penstabil pada emulsi. Pada makanan, emulsifier berperan

I. PENDAHULUAN. yang berfungsi sebagai penstabil pada emulsi. Pada makanan, emulsifier berperan I. PENDAHULUAN Emulsifier merupakan bahan tambahan pada produk farmasi dan makanan yang berfungsi sebagai penstabil pada emulsi. Pada makanan, emulsifier berperan sebagai bahan tambahan untuk mempertahankan

Lebih terperinci

MENGENAL LEBIH JAUH SKOMBROTOKSIN

MENGENAL LEBIH JAUH SKOMBROTOKSIN MENGENAL LEBIH JAUH SKOMBROTOKSIN Produk perikanan merupakan salah satu jenis pangan yang perlu mendapat perhatian terkait dengan keamanan pangan. Mengingat di satu sisi, Indonesia merupakan negara maritim

Lebih terperinci

MANFAAT ASI BAGI BAYI

MANFAAT ASI BAGI BAYI HO4.2 MANFAAT ASI BAGI BAYI ASI: Menyelamatkan kehidupan bayi. Makanan terlengkap untuk bayi, terdiri dari proporsi yang seimbang dan cukup kuantitas semua zat gizi yang diperlukan untuk kehidupan 6 bulan

Lebih terperinci

11/14/2011. By: Yuli Yanti, S.Pt., M.Si Lab. IPHT Jurusan Peternakan Fak Pertanian UNS. Lemak. Apa beda lemak dan minyak?

11/14/2011. By: Yuli Yanti, S.Pt., M.Si Lab. IPHT Jurusan Peternakan Fak Pertanian UNS. Lemak. Apa beda lemak dan minyak? By: Yuli Yanti, S.Pt., M.Si Lab. IPHT Jurusan Peternakan Fak Pertanian UNS Lemak Apa beda lemak dan minyak? 1 Bedanya: Fats : solid at room temperature Oils : liquid at room temperature Sources : vegetables

Lebih terperinci

PETUNJUK PENGAMBILAN SAMPEL DNA SATWA LIAR. Petunjuk Penggunaan Kit (Alat Bantu) untuk Pengambilan Sampel DNA Satwa Liar

PETUNJUK PENGAMBILAN SAMPEL DNA SATWA LIAR. Petunjuk Penggunaan Kit (Alat Bantu) untuk Pengambilan Sampel DNA Satwa Liar PETUNJUK PENGAMBILAN SAMPEL DNA SATWA LIAR Petunjuk Penggunaan Kit (Alat Bantu) untuk Pengambilan Sampel DNA Satwa Liar Panduan ini dirancang untuk melengkapi Kit atau Alat Bantu Pengambilan Sampel DNA

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. dapat diajarkan dengan pola selangkah demi selangkah. dasar itu khususnya adalah pengetahuan prosedural yaitu pengetahuan tentang

BAB II KAJIAN TEORI. dapat diajarkan dengan pola selangkah demi selangkah. dasar itu khususnya adalah pengetahuan prosedural yaitu pengetahuan tentang BAB II KAJIAN TEORI A. Kerangka Teoretis 1. Model Pembelajaran Langsung Model pembelajaran langsung khusus dirancang untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 88 TAHUN 2014 TENTANG STANDAR TABLET TAMBAH DARAH BAGI WANITA USIA SUBUR DAN IBU HAMIL

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 88 TAHUN 2014 TENTANG STANDAR TABLET TAMBAH DARAH BAGI WANITA USIA SUBUR DAN IBU HAMIL Menimbang : a. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 88 TAHUN 2014 TENTANG STANDAR TABLET TAMBAH DARAH BAGI WANITA USIA SUBUR DAN IBU HAMIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN

Lebih terperinci

TFC ( Therapeutic Feeding Centre ) / PPG ( Pusat Pemulihan Gizi )

TFC ( Therapeutic Feeding Centre ) / PPG ( Pusat Pemulihan Gizi ) TFC ( Therapeutic Feeding Centre ) / PPG ( Pusat Pemulihan Gizi ) Balita yang sehat dan cerdas adalah idaman bagi setiap orang. Namun apa yang terjadi jika balita menderita gizi buruk?. Di samping dampak

Lebih terperinci

BAB 1 SIKAP (ATTITUDE)

BAB 1 SIKAP (ATTITUDE) Psikologi Umum 2 Bab 1: Sikap (Attitude) 1 BAB 1 SIKAP (ATTITUDE) Bagaimana kita suka / tidak suka terhadap sesuatu dan pada akhirnya menentukan perilaku kita. Sikap: - suka mendekat, mencari tahu, bergabung

Lebih terperinci

Resep Makanan Bayi. (6-8 Bulan) Copyright TipsBayi.com & KartuBayi.com

Resep Makanan Bayi. (6-8 Bulan) Copyright TipsBayi.com & KartuBayi.com Resep Makanan Bayi (6-8 Bulan) Copyright TipsBayi.com & KartuBayi.com Resep Makanan Bayi (6 Bulan, 7 Bulan, 8 Bulan) Bayi Anda sudah berusia 6 bulan? Jika Anda seperti para bunda lainnya, pasti Anda sedang

Lebih terperinci

NASKAH PUBLIKASI. Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna mencapai derajat Sarjana S- 1. Pendidikan Biologi

NASKAH PUBLIKASI. Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna mencapai derajat Sarjana S- 1. Pendidikan Biologi UJI TOTAL ASAM DAN ORGANOLEPTIK DALAM PEMBUATAN YOGHURT SUSU KACANG HIJAU ( Phaseolus radiatus ) DENGAN PENAMBAHAN EKSTRAK UBI JALAR UNGU (Ipomoea batatas L) NASKAH PUBLIKASI Untuk memenuhi sebagian persyaratan

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA JARAK KELAHIRAN YANG DEKAT DENGAN TINGKAT PERKEMBANGAN ANAK USIA 1-3 TAHUN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ANDONG BOYOLALI

HUBUNGAN ANTARA JARAK KELAHIRAN YANG DEKAT DENGAN TINGKAT PERKEMBANGAN ANAK USIA 1-3 TAHUN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ANDONG BOYOLALI 0 HUBUNGAN ANTARA JARAK KELAHIRAN YANG DEKAT DENGAN TINGKAT PERKEMBANGAN ANAK USIA 1-3 TAHUN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ANDONG BOYOLALI Skripsi Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Meraih Derajat Sarjana

Lebih terperinci

KARYA TULIS ILMIAH HUBUNGAN ASUPAN ZAT GIZI MAKRO DAN PENGETAHUAN GIZI SEIMBANG DENGAN STATUS GIZI SISWA-SISWI DI SMP MUHAMMADIYAH 1 KARTASURA

KARYA TULIS ILMIAH HUBUNGAN ASUPAN ZAT GIZI MAKRO DAN PENGETAHUAN GIZI SEIMBANG DENGAN STATUS GIZI SISWA-SISWI DI SMP MUHAMMADIYAH 1 KARTASURA KARYA TULIS ILMIAH HUBUNGAN ASUPAN ZAT GIZI MAKRO DAN PENGETAHUAN GIZI SEIMBANG DENGAN STATUS GIZI SISWA-SISWI DI SMP MUHAMMADIYAH 1 KARTASURA Karya Tulis Ilmiah ini Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Lebih terperinci

Organ Reproduksi Perempuan. Organ Reproduksi Bagian Dalam. Organ Reproduksi Bagian Luar. 2. Saluran telur (tuba falopi) 3.

Organ Reproduksi Perempuan. Organ Reproduksi Bagian Dalam. Organ Reproduksi Bagian Luar. 2. Saluran telur (tuba falopi) 3. Organ Reproduksi Perempuan Organ Reproduksi Bagian Dalam 2. Saluran telur (tuba falopi) 1. Indung telur (ovarium) 3. Rahim (uterus) 4. Leher Rahim (cervix) 5. Liang Kemaluan (vagina) Organ Reproduksi Bagian

Lebih terperinci

Buku Studi Diet Total Survei Konsumsi Makanan Individu DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA 2014

Buku Studi Diet Total Survei Konsumsi Makanan Individu DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA 2014 Buku Studi Diet Total Survei Konsumsi Makanan Individu DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA 2014 Tim Penulis : Sugianto, SKM, M.Sc.PH M. Faozan, SKM, MPH Asih Setyani, SP, MPH Lembaga Penerbit BADAN PENELITIAN DAN

Lebih terperinci

BEBERAPA FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEBIASAAN KONSUMSI MAKANAN CEPAT SAJI (FAST FOOD) SISWA SMAN 2 JEMBER

BEBERAPA FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEBIASAAN KONSUMSI MAKANAN CEPAT SAJI (FAST FOOD) SISWA SMAN 2 JEMBER BEBERAPA FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEBIASAAN KONSUMSI MAKANAN CEPAT SAJI (FAST FOOD) SISWA SMAN 2 JEMBER SKRIPSI diajukan guna memenuhi tugas akhir dan memenuhi syarat-syarat untuk menyelesaikan Pendidikan

Lebih terperinci

KOMPOSISI PROKSIMAT, KADAR KALSIUM DAN DAYA TERIMA BANDENG DURI LUNAK YANG DIMASAK DENGAN LAMA PEMASAKAN YANG BERBEDA

KOMPOSISI PROKSIMAT, KADAR KALSIUM DAN DAYA TERIMA BANDENG DURI LUNAK YANG DIMASAK DENGAN LAMA PEMASAKAN YANG BERBEDA KOMPOSISI PROKSIMAT, KADAR KALSIUM DAN DAYA TERIMA BANDENG DURI LUNAK YANG DIMASAK DENGAN LAMA PEMASAKAN YANG BERBEDA Diajukan sebagai pedoman pelaksanaan penelitian studi akhir pada Program Studi Gizi

Lebih terperinci

Semuel Sandy, M.Sc*, Maxi Irmanto, M.Kes, ** *) Balai Litbang Biomedis Papua **) Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Cenderawasih

Semuel Sandy, M.Sc*, Maxi Irmanto, M.Kes, ** *) Balai Litbang Biomedis Papua **) Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Cenderawasih Analisis Hubungan Tingkat Kecukupan Gizi Terhadap Status Gizi pada Murid Sekolah Dasar di SD Inpres Dobonsolo dan SD Inpres Komba, Kabupaten Jayapura, Papua Semuel Sandy, M.Sc*, Maxi Irmanto, M.Kes, **

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. yaitu permen keras, permen renyah dan permen kenyal atau permen jelly. Permen

I. PENDAHULUAN. yaitu permen keras, permen renyah dan permen kenyal atau permen jelly. Permen I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kembang gula atau yang biasa disebut dengan permen merupakan produk makanan yang banyak disukai baik tua maupun muda karena permen mempunyai keanekaragaman rasa, warna,

Lebih terperinci

Oleh: HARRY SULASTIANTO

Oleh: HARRY SULASTIANTO Oleh: HARRY SULASTIANTO PENGERTIAN KARYA TULIS ILMIAH Karya seorang ilmuwan (yang berupa hasil pengembangan) yang ingin mengembangkan ipteks yang diperolehnya melalui studi kepustakaan, pengalaman, penelitian,

Lebih terperinci

KARYA TULIS ILMIAH. Diajukan Sebagai Salah Satu SyaratUntuk Menyelesaikan Pendidikan Diploma III (tiga) Kesehatan Bidang Gizi

KARYA TULIS ILMIAH. Diajukan Sebagai Salah Satu SyaratUntuk Menyelesaikan Pendidikan Diploma III (tiga) Kesehatan Bidang Gizi 1 PERBEDAAN PENGETAHUAN SISWA SEBELUM DAN SESUDAH DI BERI PENYULUHAN TENTANG GANGGUAN AKIBAT KEKURANGAN YODIUM (GAKY) DI SEKOLAH DASAR NEGERI 2 SELO, KECAMATAN SELO, KABUPATEN BOYOLALI KARYA TULIS ILMIAH

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 965/MENKES/SK/XI/1992 TENTANG

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 965/MENKES/SK/XI/1992 TENTANG KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NOMOR : 965/MENKES/SK/XI/1992 TENTANG CARA PRODUKSI KOSMETIKA YANG BAIK MENTERI KESEHATAN, Menimbang : a. bahwa langkah utama untuk menjamin keamanan kosmetika adalah penerapan

Lebih terperinci

VEGETARIAN GAYA HIDUP SEHAT ALAMI

VEGETARIAN GAYA HIDUP SEHAT ALAMI VEGETARIAN GAYA HIDUP SEHAT ALAMI Ketika kita membahas pola makan sehat, sebenarnya petunjuknya sederhana, langsung dan tidak rumit. Makanan diperlukan untuk membina kesehatan. Kita membutuhkan makanan

Lebih terperinci

DATA MENCERDASKAN BANGSA

DATA MENCERDASKAN BANGSA PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI JANUARI 2014 TERJADI INFLASI SEBESAR 1,23 PERSEN Januari 2014 IHK Karawang mengalami kenaikan indeks. IHK dari 141,08 di Bulan Desember 2013 menjadi 142,82 di

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2013 TENTANG

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2013 TENTANG PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2013 TENTANG PENCANTUMAN INFORMASI KANDUNGAN GULA, GARAM, DAN LEMAK SERTA PESAN KESEHATAN UNTUK PANGAN OLAHAN DAN PANGAN SIAP SAJI DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

PENGARUH MODIFIKASI LATIHAN LOMPAT BALOK DAN LATIHAN BOLA GANTUNG TERHADAP KEMAMPUAN SMASH

PENGARUH MODIFIKASI LATIHAN LOMPAT BALOK DAN LATIHAN BOLA GANTUNG TERHADAP KEMAMPUAN SMASH ARTIKEL ILMIAH PENGARUH MODIFIKASI LATIHAN LOMPAT BALOK DAN LATIHAN BOLA GANTUNG TERHADAP KEMAMPUAN SMASH DALAM PERMAINAN BOLA VOLI PADA SISWA SMA NEGERI 6 KOTA JAMBI OLEH RUDI SAPUTRA A1D408056 PROGRAM

Lebih terperinci

LAMPIRAN 2 SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN UNTUK IKUT SERTA DALAM PENELITIAN (INFORMED CONSENT)

LAMPIRAN 2 SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN UNTUK IKUT SERTA DALAM PENELITIAN (INFORMED CONSENT) LAMPIRAN 1 50 LAMPIRAN 2 SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN UNTUK IKUT SERTA DALAM PENELITIAN (INFORMED CONSENT) Yang bertanda tangan dibawah ini: N a m a : U s i a : Alamat : Pekerjaan : No. KTP/lainnya: Dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan perbankan syari ah mapun lembaga keuangan syari ah pada akhir-akhir

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan perbankan syari ah mapun lembaga keuangan syari ah pada akhir-akhir BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan perbankan syari ah mapun lembaga keuangan syari ah pada akhir-akhir ini tergolong cepat. Salah satu alasannya adalah keyakinan yang kuat di kalangan masyarakat

Lebih terperinci

S E H A T, L E Z A T, & P R A K T I S MENU LENGKAP CITA RASA

S E H A T, L E Z A T, & P R A K T I S MENU LENGKAP CITA RASA masak! idemasak S E H A T, L E Z A T, & P R A K T I S MENU LENGKAP CITA RASA DAPUR BORNEO prakata Dapur Borneo adalah aneka resep masakan yang berasal dari daerah Kalimantan wilayah Indonesia. Ini mencakup,

Lebih terperinci

Menembus Batas Kebuntuan Produksi (Cara SRI dalam budidaya padi)

Menembus Batas Kebuntuan Produksi (Cara SRI dalam budidaya padi) Menembus Batas Kebuntuan Produksi (Cara SRI dalam budidaya padi) Pengolahan Tanah Sebagai persiapan, lahan diolah seperti kebiasaan kita dalam mengolah tanah sebelum tanam, dengan urutan sebagai berikut.

Lebih terperinci

AGAR MENDAPAT LEBIH DARI YANG ENGKAU INGINKAN

AGAR MENDAPAT LEBIH DARI YANG ENGKAU INGINKAN AGAR MENDAPAT LEBIH DARI YANG ENGKAU INGINKAN 11 Februari 2009 Mari kita ubah SKK (Sikap, Konsentrasi dan Komitmen) Pertama : SIKAP Sikap merupakan kependekan dari SI = EMOSI; KA = TINDAKAN; P = PENDAPAT,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. untuk menggambarkan haid. Menopause adalah periode berakhirnya

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. untuk menggambarkan haid. Menopause adalah periode berakhirnya BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Menopause 1. Definisi Menopause merupakan sebuah kata yang mempunyai banyak arti, Men dan pauseis adalah kata yunani yang pertama kali digunakan untuk menggambarkan haid. Menopause

Lebih terperinci

TETAP SEHAT saat IBADAH HAJI :1

TETAP SEHAT saat IBADAH HAJI :1 saat IBADAH HAJI :1 2: saat IBADAH HAJI BERDASARKAN HASIL PEMERIKSAAN KESEHATAN JEMAAH HAJI, TERDAPAT SEKITAR 10 JENIS PENYAKIT RISIKO TINGGI YANG DIDERITA OLEH PARA JEMAAH HAJI INDONESIA. UNTUK mencapai

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 1. Persiapan dan Pelaksanaan Penelitian

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 1. Persiapan dan Pelaksanaan Penelitian 49 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Persiapan dan Pelaksanaan Penelitian a. Persiapan Awal Persiapan awal yang dilakukan peneliti dalam penelitian ini adalah mematangkan konsep

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Model Genesi dalam Jurnal : Berkala Ilmiah Teknik Keairan Vol. 13. No 3 Juli 2007, ISSN 0854-4549.

BAB I PENDAHULUAN. Model Genesi dalam Jurnal : Berkala Ilmiah Teknik Keairan Vol. 13. No 3 Juli 2007, ISSN 0854-4549. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Wilayah pesisir merupakan pertemuan antara wilayah laut dan wilayah darat, dimana daerah ini merupakan daerah interaksi antara ekosistem darat dan ekosistem laut yang

Lebih terperinci

Wahyu Setyawan. Pendahuluan. Lisensi Dokumen: Abstrak. Wahyu.gtx21@gmail.com http://wahyu-setyawan.blogspot.com

Wahyu Setyawan. Pendahuluan. Lisensi Dokumen: Abstrak. Wahyu.gtx21@gmail.com http://wahyu-setyawan.blogspot.com Uji Korelasi Wahyu Setyawan Wahyu.gtx1@gmail.com http://wahyu-setyawan.blogspot.com Lisensi Dokumen: m Seluruh dokumen di StatistikaPendidikan.Com dapat digunakan, dimodifikasi dan disebarkan secara bebas

Lebih terperinci

Rumah Sehat. edited by Ratna Farida

Rumah Sehat. edited by Ratna Farida Rumah Sehat edited by Ratna Farida Rumah Adalah tempat untuk tinggal yang dibutuhkan oleh setiap manusia dimanapun dia berada. * Rumah adalah struktur fisik terdiri dari ruangan, halaman dan area sekitarnya

Lebih terperinci

DI KELAS 2014/2015. SKRIPSI Diajukan Guna Program

DI KELAS 2014/2015. SKRIPSI Diajukan Guna Program PENGARUH PROFESIONALISME GURU DAN PEMANFAATAN MEDIA PEMBELAJARAN DI KELAS TERHADAP MOTIVASI BELAJAR EKONOMI SISWA KELAS XI IPS SMA MTA SURAKARTA TAHUN AJARAN 2014/2015 SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. bulan, sejak bulan Oktober 2007 sampai dengan bulan April 2008. Tabel 1 Jadwal Penelitian Tahapan

METODE PENELITIAN. bulan, sejak bulan Oktober 2007 sampai dengan bulan April 2008. Tabel 1 Jadwal Penelitian Tahapan 14 BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian Tempat pelaksanaan penelitian ini adalah di SMK Negeri 1 Ngawen Kabupaten Gunungkidul.. Waktu Penelitian Aktivitas penelitian

Lebih terperinci

Rekomendasi nasional kode praktis - Prinsip umum higiene pangan

Rekomendasi nasional kode praktis - Prinsip umum higiene pangan Standar Nasional Indonesia Rekomendasi nasional kode praktis - Prinsip umum higiene pangan (CAC/RCP 1-1969, Rev. 4-2003, IDT) ICS 67.020 Badan Standardisasi Nasional Hak cipta dilindungi undang-undang.

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Hasil Uji Asumsi. Sebelum melakukan analisis dengan menggunakan analisis regresi,

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Hasil Uji Asumsi. Sebelum melakukan analisis dengan menggunakan analisis regresi, BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Uji Asumsi Sebelum melakukan analisis dengan menggunakan analisis regresi, terlebih dahulu perlu dilakukan uji asumsi terhadap data penelitian. Uji asumsi yang dilakukan

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2013 TENTANG PENGAWASAN FORMULA LANJUTAN

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2013 TENTANG PENGAWASAN FORMULA LANJUTAN PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN NOMOR 30 TAHUN 2013 TENTANG PENGAWASAN FORMULA LANJUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN, Menimbang : a. bahwa masyarakat

Lebih terperinci

Seru sekali lomba lari itu! Siapa yang lebih dulu tiba di lapangan, dialah yang menjadi pemenang...

Seru sekali lomba lari itu! Siapa yang lebih dulu tiba di lapangan, dialah yang menjadi pemenang... SODIS BOTOL AJAIB Seru sekali lomba lari itu! Mereka berlari sekencang-kencangnya untuk memenangkan perlombaan. 4 5 Pada suatu pagi di hari Minggu, Ani dan Ayah berjalan-jalan. Sesampai di dekat lapangan,

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. A. Tinjauan tentang Buku Sekolah Elektronik (BSE) dikesampingkan, buku merupakan cakrawala dunia, seringkali kita mendengar

BAB II LANDASAN TEORI. A. Tinjauan tentang Buku Sekolah Elektronik (BSE) dikesampingkan, buku merupakan cakrawala dunia, seringkali kita mendengar BAB II LANDASAN TEORI A. Tinjauan tentang Buku Sekolah Elektronik (BSE) Sebagai penunjang pendidikan buku merupakan hal yang tidak dapat dikesampingkan, buku merupakan cakrawala dunia, seringkali kita

Lebih terperinci

OVERVIEW KLB KERACUNAN PANGAN

OVERVIEW KLB KERACUNAN PANGAN OVERVIEW KLB KERACUNAN PANGAN Kejadian Luar Biasa (KLB) Keracunan Pangan adalah suatu kejadian dimana terdapat dua orang atau lebih yang menderita sakit dengan gejala yang sama atau hampir sama setelah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dewasa ini sangat sulit ditebak. Ini disebabkan oleh terjadinya perubahan di

BAB I PENDAHULUAN. dewasa ini sangat sulit ditebak. Ini disebabkan oleh terjadinya perubahan di 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pertumbuhan dan perkembangan perekonomian dalam era globalisasi dewasa ini sangat sulit ditebak. Ini disebabkan oleh terjadinya perubahan di dunia baik di

Lebih terperinci