International Psychopharmacology Algorithm Program (IPAP) Catatan untuk Algoritma PTSD

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "International Psychopharmacology Algorithm Program (IPAP) Catatan untuk Algoritma PTSD"

Transkripsi

1 International Psychopharmacology Algorithm Program (IPAP) Catatan untuk Algoritma PTSD PENDAHULUAN Posttraumatic stress disorder (PTSD) adalah suatu kondisi yang ditandai dengan berkembangnya berbagai gejala menyusul suatu peristiwa traumatis, termasuk gejala pikiran dan ingatan yang mengganggu (intrusive), penghindaran ingatan tentang trauma, penumpulan emosi, dan kewaspadaan tinggi (hyper-arousal). PTSD terjadi pada sekitar 8% dari populasi dan 50% dari mereka menjadi kronis (Kessler et al, 1995; Breslau et al, 1991; Kessler et al, 2000). Menurut survey epidemilogi AS terbaru, sekitar 12% dari populasi menderita PTSD aktif selama 20 tahun Breslau et al, 1998; Kessler, 2000). Pengobatan terhadap PTSD berhubungan dengan perjalanan PTSD yang lebih singkat (LOE 3) 1 (Kessler et al, 1995). Pedoman pengobatan PTSD yang ada saat ini didasarkan pada telaah ulang tentang sejauh mana bukti yang ada mendukung model pengobatan tertentu, tetapi bukti-bukti itu tidak membahas masalah yang sangat penting yaitu urutan tindakan, atau apa yang harus dilakukan selanjutnya setelah tindakan pertama gagal menyembuhkan atau tidak bereaksi positif. Manajemen PTSD dengan komorbiditas lain juga tidak dibahas. Lima petunjuk pengobatan PTSD yang paling utama adalah yang diterbitkan oleh Expert Consensus Group (Foa, Davidson dan Frances, 1999), International Society of Traumatic Stress Studies (ISTSS) (Foa, Keane dan Friedman, 2000), the American Psychiatric Association (2004), the US Department of Veterans Affairs and Defense Joint Clinical Practice Guidelines (2005), dan National Center of Clinical Excellence (NICE) dari Inggris (2005). Untuk membahas permasalahan manajemen pengobatan, yang tingkat buktinya secara khas berkurang sementara kita menyusuri urutannya dan/atau mempertimbangkan penggunaan kombinasi obat, ada kebutuhan untuk mengembangkan algoritma pengobatan. Karenanya, kami hadirkan algoritma ini untuk manajemen farmakologis PTSD. Namun, lebih dulu kami mengakui bahwa ada dua pendekatan berbeda yang terbukti bermanfaat dalam PTSD: farmakologis dan psikososial. Jadi, yang pertama harus dilakukan adalah menentukan apa akan memberikan pengobatan, psikoterapi, atau keduanya. Pengobatan psikososial, jika tidak diberikan pada awalnya, dapat ditambahkan kepada, atau menggantikan farmakoterapi. Namun, dengan satu kekecualian, kami tidak tahu apakah ada data empiris yang mendukung penambahan (augmentation) pengobatan psikososial terhadap pengobatan farmakologis (Rothbaum et al, 2003). Di dalam algoritma ini, kami menyediakan pendekatan berurut untuk terapi farmakologis terhadap PTSD, dengan mempertimbangkan symptomatologi yang menonjol dan komorbiditas diagnostik, tingkat bukti (LOE; lihat simpul yang sesuai), dan bagaimana responnya. Kami juga membahas masalah khusus, termasuk topik berikut: akibat akut dari trauma, trauma berlanjut dan kekerasan, kehamilan; risiko kesehatan dan perilaku yang lain; kepatuhan terhadap pengobatan; petunjuk dosis; antipsikotik yang atipikal; masalah lintas-budaya; instrumen pengukuran PTSD dan gangguan stres akut; perjalanan klinis PTSD; keterlibatan sistem hukum; dan pengobatan pada anak dan remaja. 1 LOE = Level of Evidence, dengan 1 adalah level tertinggi dan 4 adalah level terendah. Lihat tambahan (addenum) 1

2 Catatan untuk Simpul-simpul Simpul 1: Diagnosis PTSD Posttraumatic stress disorder (PTSD) adalah suatu kondisi yang ditandai dengan berkembangnya serangkaian gejala khas menyusul suatu peristiwa traumatis, termasuk gejala pikiran dan ingatan yang mengganggu (intrusif), penghindaran kenangan akan traumanya, penumpulan emosi, dan sangat sensitif (hyper-arousal). Kriteria diagnosis PTSD, seperti yang diajukan oleh the Diagnostic and Statistical Manual for Mental Disorders, 4 th edition (DSM IV) dan oleh the International Classification for Disease, 10 th edition (ICD 10), dapat dilihat di tabel 1a dan 1b. Tabel 1a Kriteria Diagnostik DSM-IV untuk PTSD 1 A. Stresor traumatik Satu atau banyak peristiwa yang membuat seseorang mengalami, menyaksikan, atau menghadapi bahaya yang mengancam hidupnya, kematian, luka parah, atau ancaman serius bagi diri sendiri atau orang lain; dan Tanggapan individu terhadap pengalaman tersebut dengan ketakutan, kengerian, atau ketidakberdayaan yang sangat kuat. B. Mengalami ulang gejalanya (satu atau lebih) Kenangan yang mengganggu; mimpi yang mencemaskan; kilas balik peristiwa trauma; gejala disosiatif; kecemasan psikologis dan fisik bersamaan dengan kenangan akan peristiwa trauma. C. Gejala penghindaran dan penumpulan perasaan (tiga atau lebih) Menghindari pikiran, perasaan, atau percakapan yang berhubungan dengan peristiwa trauma; menghindari tempat, situasi, atau orang yang mengingatkan kepada peristiwa itu; tidak mampu mengingat aspek penting peristiwanya; minat yang berkurang; terasing dari orang sekitar; terbatasnya rentang emosi; perasaan bahwa masa depan menjadi lebih pendek. D. Gejala sensitifitas yang sangat / hyper-arousal (dua atau lebih) Gangguan tidur; konsentrasi yang terganggu; rasa kesal atau ledakan amarah; hypervigilance (kewaspadaan yang berlebih); reaksi kaget yang berlebihan E. Gejala berlangsung sedikitnya1 bulan F. Gejala menyebabkan kecemasan atau gangguan fungsional Spesifikasi: Akut: Gejala berlangsung 1 sampai 3 bulan Kronis: Gejala berlangsung lebih dari 3 bulan Awal gejala (onset) yang tertunda: gejala dimulai sedikitnya 6 bulan setelah ada stresor 1 American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual for Mental Disorders, 4th edition.washington, DC: American Psychiatric Press

3 Tabel 1b. ICD-10 Klasifikasi Gangguan Mental dan Perilaku (ICD-10:DCR-10) 1 Posttraumatic Stress Disorder untuk A. Pasien harus pernah terpapar pada suatu peristiwa atau situasi yang menimbulkan stres (sebentar atau lama) yang sifatnya malapetaka atau sangat mengancam sehingga mungkin akan menyebabkan stres pada hampir semua orang. B. Terus menerus ingat / menghayati lagi penyebab stress dalam bentuk kilas balik yang mengganggu, kenangan yang jelas sekali atau mimpi yang berulang, atau mengalami kecemasan ketika menghadapi keadaan yang mirip atau berkaitan dengan penyebab stres. C. Pasien harus memperlihatkan suatu penghindaran nyata dari keadaan yang mirip atau berhubungan dengan penyebab stres yang tidak ada sebelumnya. D. Salah satu dari hal berikut harus terjadi: (1) tidak mampu mengingat, sebagian atau seluruhnya, dari beberapa aspek penting selama masa terpapar pada penyebab stres; (2) gejala yang terus-menerus dari adanya peningkatan kepekaan psikologis dan sensasi (tidak ada sebelum terpapar dengan penyebab stres), ditunjukkan oleh dua dari yang berikut ini: (a) sulit untuk mulai tidur dan mempertahankan tidur (b) gampang marah atau amarah yang meledak (c) sulit berkonsentrasi (d) kewaspadaan yang sangat tinggi (e) reaksi kaget yang berlebihan E. Kriteria B, C dan D semuanya harus terpenuhi dalam 6 bulan setelah peristiwa yang penuh stres atau pada akhir suatu masa stres. (Dalam beberapa hal, gejala awal (onset) yang tertunda lebih dari 6 bulan dapat dimasukkan, tetapi harus dirinci dengan jelas). 1 Pocket Guide to the ICD-10 Classification of Mental and Behavioral Disorders. World Health Organization.American Psychiatric Press, Washington, DC. 1994; BACAAN LANJUT: PTSD terjadi pada sekitar 8% dari penduduk dan menjadi kronis pada 50% subyek (Kessler et al, 1995; Breslau et al, 1991; Kessler et al, 2000). Sederetan trauma dapat mendahului PTSD (e.g. kekerasan antar pribadi, kecelakaan kendaraan bermotor, bencana alam) dan sangat merata di seluruh dunia. Menurut survey epidemiologi AS terkini, sebanyak 12% dari penduduk mengidap PTSD aktif yang lamanya lebih dari 20 tahun (Breslau et al, 1998; Kessler, 2000), dan tampaknya angka ini sama tingginya di bagian dunia yang lain. Adanya data bahwa sejumlah signifikan kasus PTSD tak terdiagnosis dan tidak ditangani dengan benar, menunjukkan perlunya untuk menyelidiki tentang paparan terhadap trauma, dan untuk menjaga tingkat kesadaran yang tinggi terhadap gangguan ini. Pengobatan terhadap PTSD berkaitan dengan perjalanan PTSD yang lebih pendek (LOE 3) (Kessler et al, 1995). PTSD terkait secara significan dengan morbiditas dan komorbiditas. Kajian yang terkini menunjukkan ada peningkatan yang lebih besar dalam ketidakmampuan, penggunaan dana kesejahteraan, pemanfaatan resep obat dan kunjungan ke pusat kesehatan, dan juga ketidakmampuan bekerja sampai empat hari per bulan (Amaya-Jackson et al, 1999; Greenberg et al, 1999; Kessler, 2000). Individu dengan PTSD juga menunjukkan kekurangan daya tahan dan lebih sulit menghadapi stres dan kemalangan jika dibandingkan dengan penduduk umumnya, pasien rawat jalan dan mereka yang menderita depresi atau gangguan cemas lainnya (Connor dan Davidson, 2003). Juga dicatat adanya peningkatan upaya bunuh diri pada pasien PTSD,

4 dan kesehatan fisik yang buruk sebagai akibat dari PTSD juga sangat besar (Davidson et al, 1991; Boscarino, 1997). Makin banyak bukti bahwa PTSD merupakan faktor risiko penyakit medis (Schnurr & Green, 2004). Di antara semua gangguan kecemasan, PTSD ternyata paling mahal dengan, antara lain, hilangnya jam kerja yang substansial dan penurunan jumlah produk yang dihasilkan. (Greenberg et al, 1999). PTSD bakal menjadi masalah kesehatan umum di seluruh dunia (Davidson, 2001).Menurut proyeksi WHO, dalam 20 tahun mendatang beban global terkait dengan PTSD bakal meningkat secara dramatis, dengan adanya kecelakaan lalu lintas, cedera karena peperangan, dan tindak kekerasan lain -- trauma yang secara luas terkait dengan PTSD termasuk 12 penyebab kecacatan utama di seluruh dunia (Murray dan Lopez, 1997). Respon khusus terhadap setiap kejadian traumatis mencerminkan banyak faktor, termasuk reaksi subyektif dari individu dan parahnya gejala pada pasien tertentu, oleh sebab itu perlu adanya penilaian individual untuk mengukur trauma dan respon terhadap peristiwanya. Simpul 2: Pertimbangan pada Diagnosis dan pada Setiap Evaluasi Gejala tertentu yang terkait dengan PTSD dan diagnosis medis atau psikiatris komorbid (terutama depresi dan gangguan kecemasan lain) dalam pasien yang sedang dinilai untuk PTSD bisa mempersulit diagnosis yang tepat dan mengubah pengobatan. Pada mulanya, pasien harus memiliki riwayat psikiatri dan medis yang lengkap dengan pertimbangan yang tepat untuk rujukan laboratorium dan pemeriksaan fisik jika diperlukan. Sebagai bagian dari penilaian diagnosis awal, dan sesudah tiap urutan uji pengobatan jika hasilnya tak memuaskan, klinisi harus mengevaluasi gejala-gejala yang terkait dengan PTSD (e.g. kecenderungan untuk bunuh diri, insomnia atau mimpi buruk, psikosis), diagnosis komorbid (termasuk depresi, gangguan bipolar, dan gangguan kecemasan lainnya, penyalahgunaan zat), dan juga masalah lain seperti penyakit medis, kehamilan, trauma yang berlanjut, masalah hukum, penumpukan penyakit medis yang tidak terdiagnosis (e.g. penyakit thyroid), penggunaan terus-menerus zat-zat yang menimbulkan kecemasan seperti kafein, dan kesulitan mentaati pengobatan. Mereka yang menderita PTSD, dengan dan tanpa depresi, makin berisiko untuk bunuh diri, dan penting untuk mengukur risiko bunuh diri baik pada tingkat penilaian awal maupun pada kunjungan tindak-lanjut. Pada umumnya, tinjauan lengkap atas diagnosis diferensial dari gejala kecemasan harus dilakukan, dengan menyingkirkan atau mengobati diagnosis psikiatris dan penyebab medis yang ada. BACAAN LANJUT: Banyak kajian melaporkan adanya peningkatan luas rentangan gangguan medis pada mereka yang berhasil mengatasi trauma dan PTSD, termasuk tekanan darah tinggi, penyakit pernafasan, tukak lambung, gangguan muskuloskeletal (Davidson et al, 1991; Boscarino, 1997) dan penggunaan layanan kesehatan yang lebih besar (Amaya-Jackson et al, 1999). Schnurr dan Greene (1994) menganggap PTSD sebagai mediator kesehatan buruk. Penting untuk mengenali dan mengobati gangguan komorbid lain pada awal berlangsungnya penilaian. Keselamatan pasien merupakan keprihatinan yang krusial dan para klinisi harus menilai bahaya orang lain bagi pasien dan anggota keluarganya, seperti terjadinya incest atau kekerasan dalam rumah tangga. Yang terutama penting untuk diukur adalah seberapa jauh pasien berbahaya bagi diri sendiri atau orang lain, mengingat adanya risiko perilaku agresif, impulsivitas, dan kecenderungan bunuh diri dalam PTSD. Faktor psikososial dan perilaku kesehatan risiko tinggi juga dapat berdampak besar pada fungsi tubuh jangka pendek atau panjang. Khususnya, trauma tertentu bisa membuat individu makin berisiko mendapat masalah kesehatan lain, seperti terlihat dari adanya peningkatan risiko hepatitis B dan C serta transmisi HIV menyusul trauma seksual. Pengukuran menyeluruh tentang adanya dukungan sosial juga penting, karena adanya dukungan sosial bisa meramalkan hasil yang lebih baik (Brewin et al, 2000). A. KECENDERUNGAN BUNUH DIRI Menurut laporan, peningkatan upaya bunuh diri terdapat pada pasien PTSD, bahkan juga pada mereka yang tidak menderita depresi. (Davidson, et al ) (LOE 3) Peningkatan upaya bunuh diri dilaporkan (Horowitz, 1986) terdapat pada pasien yang trauma. Ciri atau gangguan keperibadian Kluster B, jumlah gejala PTSD, depresi, masalah penggunaan zat, gangguan

5 hiperaktifitas dan pemusatan pikiran (attention deficit) dan kurangnya dukungan sosial merupakan faktor risiko tambahan untuk kecenderungan bunuh diri yang perlu diperhatikan. Pasien yang mempunyai kecenderungan bunuh diri perlu ditangani dalam lingkungan di mana mereka tidak dapat menyakiti diri sendiri secara langsung dan yang menyediakan pengobatan farmakoterapeutik dan psikososial yang memadai, dan yang memungkinkan upaya untuk membangun dan melibatkan dukungan sosial. Meskipun pasien yang cenderung bunuh diri umumnya dikecualikan dari uji klinis yang terkendali, cukup beralasan untuk mulai antidepresan standar lini pertama terhadap PTSD pada pasien ini. Meskipun jarang, ada kemungkinan terjadinya pengaktifan awal atau agitasi dalam beberapa hari pertama setelah diberi antidepresan, dan ini mungkin memicu perilaku agresif atau kecenderungan bunuh diri. B. DIAGNOSIS KOMORBID Gejala lain dan diagnosis medis atau psikiatris komorbid sering bisa terdapat pada pasien yang sedang dievaluasi untuk PTSD dan ini bisa mempersulit diagnosis yang tepat dan mengubah pengobatan. Pertama-tama, pasien harus mempunyai riwayat medis dan psikiatris yang lengkap disertai pertimbangan yang tepat untuk dirujuk ke pemeriksaan laboratorium dan fisik, jika diperlukan. Sebagai bagian dari evaluasi diagnostik awal, dan sesudah setiap urutan uji klinis jika responnya tidak memuaskan, klinisi harus mencari kondisi psikiatris yang umumnya menyertai, seperti depresi dan gangguan kecemasan lain, juga percampuran insomnia, psikosis atau penyalahgunaan zat, begitu pula penyakit medis yang tidak terdiagnosis (e.g. penyakit thyroid), dan penggunaan zat yang menimbulkan kecemasan seperti kafein. Meskipun menurut definisi PTSD timbul menyusul suatu trauma, trauma itu sendiri dapat memainkan peran penyebab dalam rentangan penyakit lain (Kendler et al, 1999), dan PTSD sering disertai oleh gangguan komorbid lain. Dalam National Comorbidity Survey (NCS), depresi besar merupakan gangguan komorbid yang paling umum dalam PTSD (Kessler et al, 1995), dan tingkat depresi yang sama tingginya juga ditemukan dalam sampel klinis PTSD (Shalev et al, 2000). Pasien dengan PTSD dan depresi memiliki depresi yang lebih berat, mengalami kerusakan fungsi yang lebih banyak, dan lebih sering mempunyai pikiran hendak bunuh diri (Brady et al, 2000). Gangguan komorbid umum lain dalam PTSD mencakup penggunaan zat psikoaktif, dan gangguan cemas (Kessler et al, 1995; Brady et al, 2000). Dari perspektif pendekatan algoritma pada tata laksana PTSD, farmakoterapi lini pertama untuk PTSD, SRRI, dianggap bermanfaat, dengan atau tanpa adanya komorbiditas dengan depresi dan gangguan cemas. Dapat dipastikan, beberapa uji SSRI yang positif dalam PTSD mencakup sejumlah besar subyek dengan depresi komorbid. Sama halnya, terapi perilaku-cognitive dapat digunakan untuk PTSD dengan depresi komorbid dan gangguan kecemasan, walaupun data dalam bidang ini hanya sedikit (LOE 4), dan bentuk terapinya perlu diubah untuk menghadapi rentangan gejala yang ditemukan. Pada sisi lain, komorbiditas beberapa gangguan lain menuntut penyesuaian dalam pendekatan terapeutiknya. Pada pasien dengan komorbid penggunaan zat, mungkin penting untuk mula-mula mentargetkan gangguan penyalahgunaan zat. Pada pasien dengan komorbid gangguan bipolar, penting untuk dipastikan bahwa obat penyeimbang suasana hati (mood stabilizer) digunakan sebelum mulai dengan antidepresan. Jadi penilaian yang cermat atas komorbiditas diperlukan sebelum memulai pengobatan, dan pilihan pengobatan bagi pasien dengan komorbiditas perlu dirumuskan dengan penilaian klinis yang tepat. C. INSOMNIA ATAU MIMPI BURUK Insomnia adalah gejala yang menjadi dasar penyakit atau kondisi lain yang mungkin berasal dari gangguan medis, psikiatris atau perilaku. Gangguan tidur yang berciri insomnia dan mimpi buruk merupakan gejala utama PTSD, oleh karena itu dapat merespon pengobatan standar lini pertama. Namun, gangguan tidur atau mimpi

6 buruk seringkali tetap ada walaupun diberi pengobatan dengan beberapa agen SSRI, bahkan dapat diperparah oleh pengobatan ini (Meltzer-Brody, et al 2000; Davidson et al, 2002). Dalam keadaan seperti itu, kami menyarankan lebih dulu menilai faktor gaya hidup, seperti penggunaan obat yang bisa dibeli bebas atau penggunaan kafein yang berlebihan, yang menambah gangguan tidur. Penambahan α-1 adrenergic antagonist prazosin bisa amat efektif untuk memperbaiki mimpi buruk dan gangguan tidur pada PTSD (LOE 2, 3) (Raskind et al, 2002; Raskind et al, 2003). Tekanan darah rendah, syncope dan tachycardia merupakan efek samping potensial dengan penggunaan prazosin, karenanya, itu harus hati-hati bagi pasien yang memiliki risiko tekanan darah rendah dan pada pemberian Prazosin tekanan darahnya harus dipantau. Pilihan farmakologik lainnya adalah nefazodone (LOE 2), sedating tricyclic antidepressant dosis rendah (LOE 4), mirtazapine (LOE 4), trazodone (LOE 4), olanzapine (LOE 4), quetiapine (LOE 4) atau zolpidem (LOE 4) pada malam hari (Davidson, 1990; Hertzberg et al, 1996; Taylor, 2003; Stein et al, 2002; Hamner et al, 2003; Dieperink and Drogemuller, 1999). Peran benzodiazepine di sini kurang jelas dan meskipun dapat membantu mengurangi gejala hyperarousal selama pengobatan, benzodiazepine tidak tampak memberi manfaat lain sehubungan dengan PTSD (LOE 2, 3) (Mellman et al, 2002; Gelpin et al, 1999; Braun et al.,1990). Meski terdapat bukti efektivitas tiagabine untuk memperbaiki tidur (LOE3), namun karena ada risiko kejang tubuh maka kami tidak memasukkannya dalam rekomendasi lini pertama untuk pengobatan insomnia pada pasien PTSD. Satu pendekatan nonfarmakologis yang terlihat menjanjikan untuk mengurangi mimpi buruk dan memperbaiki keparahan gejala PTSD secara menyeluruh adalah terapi latihan imageri (imagery rehearsal therapy) (LOE 1) (Krakow et al, 2001). Jika terjadi respon buruk yang berkelanjutan, gangguan tidur yang terkait pernafasan seperti - obstructive sleep apnea (OSA), gangguan gerakan tungkai berkala (periodic limb movement disorder) atau gangguan tidur lainnya harus dipertimbangkan dan, jika sesuai (Krakow et al, 2001) berdasar ciri klinis, maka harus dibuat polysomnogram. Jika dipastikan ada OSA, maka pengobatan dengan continuous positive airway pressure (CPAP) disarankan (LOE 4). Jika pemeriksaan tidak mengungkapkan penyebab yang jelas, maka salah satu pengobatan alternatif dapat dipilih dari daftar di atas. D. PSIKOSIS Ciri psikotik dapat dijumpai pada 40% pasien PTSD (Hamner et al, 1999), dengan gejala yang sering dilaporkan misalnya halusinasi, waham (delusion), dan ide paranoid. Penting untuk ditentukan pada awalnya apakah ciri psikotik seperti itu bisa dijelaskan sebagai bagian dari keseluruhan sindrom PTSD atau mereka lebih konsisten dengan suatu gangguan psikotik komorbid. Jika yang pertama, pengobatan bagi PTSD harus dimulai dengan SSRI dengan mengakui bahwa dalam banyak hal, orang-orang ini mungkin tidak memberikan respon cukup terhadap pengobatan itu. Kilas balik, kewaspadaan tinggi/paranoia, dan disosiasi, semuanya dapat muncul dengan ciri psikotik. Untuk mereka, antiadrenergik dan antikonvulsan dipercaya dapat bermanfaat (LOE 4). Kegagalani merespon agen-agen ini mengisyaratkan dipakainya perluasan (augmentasi) dengan anti psikotik yang atipikal. Sesungguhnya, pasien yang ketakutan, paranoia, waspada tinggi dan psikotik mungkin bisa ditolong dengan antipsikotik yang atipikal. Sebaliknya, jika PTSD berkomorbid dengan suatu gangguan psikotik, maka augmentasi dengan antipsikotik yang atipikal harus dipertimbangkan sejak awal. Banyak usaha di bidang ini difokuskan pada augmentasi SSRI dengan antipsikotik atipikal. Adanya gejala psikotik mungkin memerlukan penambahan suatu neuroleptik atipikal, yang sampai saat ini buktinya terbatas pada risperidone (LOE 2), olanzapin (LOE 3) dan quetiapine (LOE 3), yang kajiannya sebagian besar terbatas pada para veteran tempur (Monnelly et al, 2003; Hamner et al, 2003; Stein et al, 2003; Hamner et al, 2003; Bartzokis et al, 2005), dan sekarang baru satu kajian saja dengan penduduk sipil (Reich et al, 2004). Lebih lanjut, terdapat

7 bukti yang beragam, karena beberapa obat tidak selalu dapat dibedakan dari plasebo (e.g. Butterfield et al, 2001) atau kalau dapat dibedakan hanya dalam dimensi terbatas (e.g. gejala psikotik (Hamner et al, 2003) atau pada tidur dan suasana hati (mood) (e.g. Stein et al, 2003). Respon yang tidak memadai terhadap antipsikotik yang pertama dapat dilanjutkan dengan beralih ke pengobatan lain. Jika itu gagal, maka disarankan mengadakan evaluasi diagnostik ulang. Pengobatan neuroleptik atipikal yang khas harus dipilih setelah mempertimbangkan risiko efek samping seperti penambahan berat badan, diabetes menjadi makin parah, sindrom metabolis, hiperlipidemia, atau hiperprolaktinemia. Antipsikotik atipikal, seperti aripiprazole dan ziprasidone, mungkin memiliki efek samping yang lebih baik, dan secara teoretis dapat digunakan dalam pengobatan PTSD, tetapi tidak ada data untuk ini (LOE 4). E. PENYALAHGUNAAN ZAT (i) Pasien yang Sedang atau Baru-Baru Ketergantungan atau Menyalahgunakan Zat. Mula-mula pasien diminta untuk menghentikan ketergantungan atau penyalahgunaan zat. Pasien diminta membuat komitmen untuk tidak menggunakan zat-zat ini lagi. Tentu saja, dia mungkin tidak bisa memenuhi komitmennya, maka ketaatannya harus dipantau dengan cermat. Rekomendasi algoritma (dan dasar buktinya yang terkait) tidak relevan bagi pasien yang aktif tergantung lagi dan menyalahgunakan zat-zat tersebut. Sebagai azas umum dengan pasien seperti itu, jika mungkin gunakanlah rejimen konservatif yang tidak terlalu ruwet. Penggunaan SSRI secara dini bisa bermanfaat bagi mereka, meskipun uji-coba terbesar yang dilakukan (LOE 2) tidak menunjukkan bahwa sertraline mempunyai manfaat lebih besar dari plasebo (Brady et al, 2005). Komorbiditas penyalahgunaan zat dan PTSD merupakan kontraindikasi relatif bagi penggunaan benzodiazepine kecuali sebagai bagian dari program penarikan (withdrawal)/detoksifikasi alkohol atau sedatif. Agar rekomendasi algoritma bisa diterapkan, pasien harus sudah bebas dari ketergantungan obat dan dari farmakoterapi yang dipakai untuk penghentian ketergantungan, dan harus abstinen selama sedikitnya satu minggu lagi. Ini adalah waktu minimal, sesudah itu perbedaan antara obat dan plasebo terlihat dalam pengobatan gangguan kecemasan dan depresi yang terus mengikuti upaya penghentian alkohol, misalnya (Kranzler et al., 1994; Mason et al., 1996). Gejala yang muncul setelah abstinen selama kurang dari satu minggu, bisa merupakan dampak dari zat yang tersisa. Jika gejala tampak berkurang selama minggu pertama abstinen, dan tidak ada riwayat tentang gejala ini sebelum awal ketergantungan/penyalahgunaan zat terjadi, atau selama masa-masa bersih sebelumnya, maka masuk akal jika menunggu paling sedikit satu minggu lagi sebelum memulai farmakoterapi. Penarikan (withdrawal) beberapa zat dapat diperpanjang, dan dampak sisa zat-zat itu dapat mempengaruhi pengobatan berikutnya yang mungkin akan diberikan. Sebagai contoh, metadon mempunyai half-life (pelepasan separuh efeknya) sekitar dua hari, dan efeknya sebagai inhibitor (penghambat) dari cytochrome P450 2D6 bisa tetap ada selama lebih dari satu minggu. Kelompok yang tidak secara khusus dibahas dalam algoritma ini adalah mereka yang menggunakan narkoba tetapi tidak memenuhi kriteria DSM-IV sebagai suatu penyalahgunaan atau ketergantungan. Apakah urutan pengobatan untuk para pemakai yang berekreasi ini harus berbeda dari pendekatan standar? Pasien-pasien yang sering kita jumpai ini tidak mendapat banyak perhatian dari penelitian. (ii) Pasien dengan riwayat, tetapi tidak sedang mengalami ketergantungan atau penyalahgunaan zat Jika pasien tidak sedang aktif tergantung atau menyalahgunakan zat-zat tetapi pernah memiliki riwayat ketergantungan atau penyalahgunaan zat tersebut, ia mungkin memerlukan pengobatan untuk mencegah kambuhnya. Pasien mungkin baru-baru ini sudah menjalani detoksifikasi,

8 mengalami stres yang tidak biasa, atau mungkin ketagihan berat dan karena itu ia sangat berisiko untuk kambuh lagi. Ini merupakan isyarat bahwa manajemen masalah ini harus mendapat prioritas sama atau lebih dari prioritas pengobatan PTSD. Jika masalah pasien adalah ketergantungan akan alkohol, pilihan farmakoterapi yang didukung bukti, bisa mencakup (Srisurapanont and Jarusuraisin, 2005) naltrexone (O'Malley, 1995), acamprosate (Verheul et al, 2005), atau topiramate (Johnson et al, 2004), (Semua LOE 1 untuk indeks gangguan). Topiramate juga dilaporkan sangat menolong untuk PTSD (Berlant et al, 2002) (LOE 4) dan dengan lebih banyak riset bisa muncul sebagai suatu pilihan yang terutama baik untuk pasien dengan komorbiditas keinginan alkohol dan PTSD (LOE 4). Disulfiram dapat bermanfaat untuk mencegah kambuh pada pasien dengan ketergantungan kokain (Carroll et al, 2004). [PTSD (LOE 4); kokain (LOE 2)]. Semua pilihan farmakoterapi untuk ketergantungan/penyalahgunaan zat kelihatannya paling berhasil dalam konteks pengobatan psikoterapi terstruktur yang intensif dan berkelanjutan yang difokuskan pada pantangan (abstinen), kepatuhan dan pencegahan kambuh (O'Malley, 1995). Dapat dipastikan, tanpa pengobatan seperti itu, farmakoterapi tidak lebih baik dari plasebo. Jika pasien dengan sejarah penyalahgunaan zat sudah dievaluasi (dan diberi pengobatan yang sesuai), klinisi bisa mengikuti algoritma PTSD mulai dengan rekomendasi pada simpul 1-3. Kewaspadaan klinisi untuk mendeteksi komorbid penyalahgunaan zat perlu dilanjutkan selama pengobatan. F. PENANGANAN KETIDAKPATUHAN Keterangan yang jelas tentang efek yang diharapkan dari pengobatan dan bagaimana menangani permasalahan yang muncul, perlu diberikan pada tiap awal pengobatan baru. Tingkat ketidakpatuhan terhadap antidepresan pada depresi dapat mencapai 50% dalam 3 bulan (Lin et al, 1995; Lin et al, 2003). Shemesh et al (2000; 2001; 2004) menunjukkan bahwa pasien (orang dewasa, sekunder pada infark miokardial dan anak-anak, sekunder pada transplantasi hati) dengan PTSD mempunyai tingkat ketidakpatuhan yang tinggi. Jika tidak ada respons, dokter perlu mempertimbangkan apakah ketidakpatuhan yang merupakan akar permasalahannya. Lin et al mengisyaratkan sejumlah strategi untuk membantu memperbaiki kepatuhan pada depresi. Pesan pendidikan berikut ini terbukti dapat menolong pasien untuk patuh dalam PTSD: 1) minum obat setiap hari; 2) antidepresan harus diminum selama 4-6 minggu agar hasilnya dapat terlihat; 3) lanjutkan minum obat sekalipun Anda sudah merasa lebih baik; 4) jangan berhenti minum antidepresan tanpa konsultasi dengan dokter Anda; 5) ada petunjuk khusus mengenai apa yang harus dilakukan untuk menjawab pertanyaan mengenai pengobatan; dan 6) menjadwalkan kegiatan yang menyenangkan bagi pasien. Namun, masalah khas PTSD perlu juga dipertimbangkan, seperti keengganan pasien untuk diobati, menyalahkan trauma yang tidak diharapkan sebagai penyebab penderitaannya. G. TRAUMA BERLANJUT Umumnya dipercaya bahwa kesembuhan tidak mungkin terjadi selama pasien tetap mengalami trauma, seperti terus-menerus menghadapi kekerasan dalam hubungan antar individu (LOE 4). Pendapat ini disimpulkan berdasar literatur Cognitive behavioral therapy (CBT). Tersedianya lingkungan yang bebas dari trauma berkelanjutan sangat penting. Namun, tidak diketahui apakah pengobatan dapat memperbaiki gejala PTSD pada pasien yang tetap berada dalam lingkungan yang penuh tindak kekerasan dan bahaya.

9 H. MASALAH YANG RELEVAN BAGI WANITA DENGAN POTENSI MELAHIRKAN. (Wanita usia subur) Post Traumatic Stress Disorder dalam masa Kehamilan dan Pasca Kelahiran (postpartum) Zachary N. Stowe, M.D. and D. Jeffrey Newport, M.D., M.S., M.Div. Women s Mental Health Program Emory University School of Medicine Atlanta, GA Prevalensi dan perjalanan penyakit Posttraumatic Stres Disorder (PTSD) selama kehamilan dan pasca kelahiran tidak mendapat cukup perhatian. Sebagian besar laporan mencatat pengalaman traumatis obstetrikal, seperti proses melahirkan, kelahiran, keguguran, kematian janin, bayi lahir mati, dll., sebagai pendorong simptomatologi yang berkaitan dengan trauma. Satu telaah awal yang mengukur timbulnya PTSD setelah kelahiran normal menemukan bahwa 3% (Czarnocka and Slade 2000) mempunyai gejala klinis yang signifikan dalam semua dimensi PTSD. Serupa dengan itu, telaah kedua yang tidak mengikutsertakan wanita yang telah memiliki gejala sebelumnya, menemukan bahwa 2,8% memenuhi kriteria diagnostik untuk PTSD pada 6 minggu setelah melahirkan, kemudian menurun menjadi 1,5% setelah 6 bulan (Ayers and Pickering 2001). Tidak jelas apakah persentase ini menunjukkan satu peningkatan dalam PTSD atau hanya insiden onset baru PTSD pada sekelompok wanita usia produktif. Patut dicatat bahwa ada kelompok yang menemukan bahwa gejala yang terkait dengan depresi dalam periode postpartum ada hubungannya dengan terjadinya dua atau lebih komplikasi kehamilan dan depresi selama kehamilan (Cohen MM et al 2004). Penyelidikan lebih baru meneliti dampak dari kehidupan yang penuh stres atas wanita yang hamil, e.g. mereka yang tinggal di kota metropolitan New York ketika serangan 9/11 terjadi. Suatu telaah prospektif yang terbaru (Loveland-Cook CA et al 2004), menemukan 7,7% wanita yang hamil memenuhi kriteria diagnostik untuk PTSD. Sebagian besar dari mereka memiliki komorbid mood dan/atau gangguan kecemasan lain. Yang menarik adalah bahwa hanya 12,3% wanita hamil yang menderita PTSD telah mencari pengobatan pada 12 bulan terakhir. Jalannya PTSD yang sudah ada selama kehamilan tetap merupakan teka-teki. Namun, mengingat tingginya tingkat komorbiditas, perubahan struktur tidur pada masa pranatal, dan adanya stres neuroendocrine/psikososial dalam kehamilan dan kelahiran, tidak beralasan bagi kita untuk mengharapkan perbaikan gejala PTSD sepanjang masa kehamilan dan postpartum. Lebih jauh, tergantung dari jalannya kehamilan dan munculnya komplikasi, tampaknya ada peningkatan kasus PTSD baru pada wanita postpartum. Pengkaitan data yang terbatas ini dengan data keselamatan reproduktif yang tersedia pada pengobatan psikotropik dan algoritma pengobatan PTSD yang diusulkan, meskipun sifatnya empirik, menyediakan suatu modifikasi yang konservatif untuk manajemen PTSD pra-natal yang mengurangi risiko bagi janin/bayi yang baru lahir. Rekomendasi ini dan pembenarannya diringkas di bawah ini: 1. Pada wanita usia reproduktif, catat metode pembatasan kelahiran (metode Keluarga Berencana) sebelum memulai pengobatan. 2. Selama kehamilan dan menyusui, pertimbangkan pengobatan psikososial sebagai intervensi pertama. 3. Jika farmakoterapi terindikasikan pada wanita hamil atau wanita yang sedang menyusui, gunakan pengobatan yang mempunyai data keamanan yang dipublikasikan yaitu, fluoxetine, sertraline, paroxetine, citalopram. 4. Maksimalkan dosis monoterapi sebelum mengganti pengobatan dan/atau menambahkan farmakoterapi.

IPAP PTSD Tambahan. Pilihan penatalaksanaan: dengan obat, psikososial atau kedua-duanya.

IPAP PTSD Tambahan. Pilihan penatalaksanaan: dengan obat, psikososial atau kedua-duanya. IPAP PTSD Tambahan Prinsip Umum I. Evaluasi Awal dan berkala A. PTSD merupakan gejala umum dan sering kali tidak terdiagnosis. Bukti adanya prevalensi paparan trauma yang tinggi, (termasuk kekerasan dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. World Health Organitation (WHO) mendefinisikan kesehatan sebagai

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. World Health Organitation (WHO) mendefinisikan kesehatan sebagai BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang World Health Organitation (WHO) mendefinisikan kesehatan sebagai keadaan sehat fisik, mental, dan sosial, bukan semata-mata keadaan tanpa penyakit atau kelemahan. Definisi

Lebih terperinci

BAB II KONSEP DASAR. perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana individu melakukan atau. (1998); Carpenito, (2000); Kaplan dan Sadock, (1998)).

BAB II KONSEP DASAR. perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana individu melakukan atau. (1998); Carpenito, (2000); Kaplan dan Sadock, (1998)). BAB II KONSEP DASAR A. Pengertian Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun lingkungan.

Lebih terperinci

RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA

RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk

Lebih terperinci

Waspada Keracunan Phenylpropanolamin (PPA)

Waspada Keracunan Phenylpropanolamin (PPA) Waspada Keracunan Phenylpropanolamin (PPA) Penyakit flu umumnya dapat sembuh dengan sendirinya jika kita cukup istirahat, makan teratur, dan banyak mengkonsumsi sayur serta buah-buahan. Namun demikian,

Lebih terperinci

Jika ciprofloxacin tidak sesuai, Anda akan harus minum antibiotik lain untuk menghapuskan kuman meningokokus.

Jika ciprofloxacin tidak sesuai, Anda akan harus minum antibiotik lain untuk menghapuskan kuman meningokokus. CIPROFLOXACIN: suatu antibiotik bagi kontak dari penderita infeksi meningokokus Ciprofloxacin merupakan suatu antibiotik yang adakalanya diberikan kepada orang yang berada dalam kontak dekat dengan seseorang

Lebih terperinci

Perencanaan Program Kesehatan: na i lisis M asa h a Kesehatan Tujuan Metode

Perencanaan Program Kesehatan: na i lisis M asa h a Kesehatan Tujuan Metode Perencanaan Program Kesehatan: Analisis i Masalah Kesehatan Bintari Dwihardiani 1 Tujuan Menganalisis masalah kesehatan secara rasional dan sistematik Mengidentifikasi aktivitas dan strategi yang relevan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Stres muncul sejalan dengan peristiwa dan perjalanan kehidupan yang dilalui

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Stres muncul sejalan dengan peristiwa dan perjalanan kehidupan yang dilalui BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Stres muncul sejalan dengan peristiwa dan perjalanan kehidupan yang dilalui oleh individu dan terjadinya tidak dapat dihindari sepenuhnya. Pada umumnya, individu yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Lanjut usia merupakan suatu anugerah. Menjadi tua, dengan segenap

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Lanjut usia merupakan suatu anugerah. Menjadi tua, dengan segenap BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Lanjut usia merupakan suatu anugerah. Menjadi tua, dengan segenap keterbatasannya akan dialami oleh seseorang bila berumur panjang. Di Indonesia istilah untuk

Lebih terperinci

harus mengerti juga model-model komunikasi yang ada sehingga kita bisa menilai apakah selama ini sudah berkomunikasi dengan baik atau belum.

harus mengerti juga model-model komunikasi yang ada sehingga kita bisa menilai apakah selama ini sudah berkomunikasi dengan baik atau belum. USIA IDEAL PACARAN Kadang kita dengar anak seusia SMP aja sudah punya pacar..ya selain hanya ber cinta monyet mereka sering menggunakan fasilitas ortu. Pengendalian emosi usia remaja ini belum stabil juga

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pola Asuh Orang Tua 2.1.1 Pengertian Pola Asuh Orang Tua Menurut Hurlock (1999) orang tua adalah orang dewasa yang membawa anak ke dewasa, terutama dalam masa perkembangan. Tugas

Lebih terperinci

Bab 11 Bagaimana menjelaskan kepada dokter saat berobat

Bab 11 Bagaimana menjelaskan kepada dokter saat berobat Bab 11 Bagaimana menjelaskan kepada dokter saat berobat Bab 11 Bagaimana menjelaskan kepada dokter saat berobat Waktu memeriksa ke dokter menerangkan secara jelas beberapa hal dibawah ini 1.Menjelaskan

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN. Delirium didefinisikan dalam American Psychiatric Association's (APA)

BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN. Delirium didefinisikan dalam American Psychiatric Association's (APA) BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN 1. ICU Delirium 1.1. Definisi ICU Delirium Delirium didefinisikan dalam American Psychiatric Association's (APA) Diagnostik dan Statistik Manual of Mental Disorders (DSM)-IV

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

AGAR MENDAPAT LEBIH DARI YANG ENGKAU INGINKAN

AGAR MENDAPAT LEBIH DARI YANG ENGKAU INGINKAN AGAR MENDAPAT LEBIH DARI YANG ENGKAU INGINKAN 11 Februari 2009 Mari kita ubah SKK (Sikap, Konsentrasi dan Komitmen) Pertama : SIKAP Sikap merupakan kependekan dari SI = EMOSI; KA = TINDAKAN; P = PENDAPAT,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mencapai 1,2 milyar. Pada tahun 2000 diperkirakan jumlah lanjut usia

BAB I PENDAHULUAN. mencapai 1,2 milyar. Pada tahun 2000 diperkirakan jumlah lanjut usia 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Saat ini, di seluruh dunia jumlah orang lanjut usia diperkirakan ada 500 juta dengan usia rata-rata 60 tahun dan diperkirakan pada tahun 2025 akan mencapai 1,2 milyar.

Lebih terperinci

CEGAH KANTOR MENJADI LADANG PENYAKIT, KENALI KONDISI PEKERJAAN ANDA

CEGAH KANTOR MENJADI LADANG PENYAKIT, KENALI KONDISI PEKERJAAN ANDA Pernahkan anda merasa kurang sehat ketika pulang dari kantor, padahal sewaktu berangkat ke kantor anda merasa sehat? Jika pernah, bisa jadi anda terkena PAK atau penyakit akibat kerja, yang disebabkan

Lebih terperinci

LEBIH DEKAT & SEHAT DENGAN HYPNOTHERAPY *Oleh : Suci Riadi Prihantanto, CHt (Indigo Hypnosis & Hypnotherapy)

LEBIH DEKAT & SEHAT DENGAN HYPNOTHERAPY *Oleh : Suci Riadi Prihantanto, CHt (Indigo Hypnosis & Hypnotherapy) LEBIH DEKAT & SEHAT DENGAN HYPNOTHERAPY *Oleh : Suci Riadi Prihantanto, CHt (Indigo Hypnosis & Hypnotherapy) Apakah hipnoterapi Itu? Hipnoterapi adalah salah satu cabang ilmu psikologi yang mempelajari

Lebih terperinci

Apa itu HIV/AIDS? Apa itu HIV dan jenis jenis apa saja yang. Bagaimana HIV menular?

Apa itu HIV/AIDS? Apa itu HIV dan jenis jenis apa saja yang. Bagaimana HIV menular? Apa itu HIV/AIDS? Apa itu HIV dan jenis jenis apa saja yang HIV berarti virus yang dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia. Ini adalah retrovirus, yang berarti virus yang mengunakan sel tubuhnya sendiri

Lebih terperinci

ASUHAN KEBIDANAN PADA Ny I GII P I00I INPARTU DENGAN GEMELLI

ASUHAN KEBIDANAN PADA Ny I GII P I00I INPARTU DENGAN GEMELLI ASUHAN KEBIDANAN PADA Ny I GII P I00I INPARTU DENGAN GEMELLI Kustini Dosen Program Studi Diploma III Kebidanan Universitas Islam Lamongan ABSTRAK Persalinan gemelli merupakan salah satu penyebab kematian

Lebih terperinci

STANDAR PRAKTIK KEPERAWATAN INDONESIA. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

STANDAR PRAKTIK KEPERAWATAN INDONESIA. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) STANDAR PRAKTIK KEPERAWATAN INDONESIA -Tahun 2005- Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Pengurus Pusat PPNI, Sekretariat: Jl.Mandala Raya No.15 Patra Kuningan Jakarta Tlp: 62-21-8315069 Fax: 62-21-8315070

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2014 TENTANG KESEHATAN JIWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2014 TENTANG KESEHATAN JIWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2014 TENTANG KESEHATAN JIWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Negara menjamin setiap orang hidup

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 2009 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 2009 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 2009 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk

Lebih terperinci

Kecemasan atau dalam Bahasa Inggrisnya anxiety berasal dari Bahasa Latin. angustus yang berarti kaku, dan ango, anci yang berarti mencekik.

Kecemasan atau dalam Bahasa Inggrisnya anxiety berasal dari Bahasa Latin. angustus yang berarti kaku, dan ango, anci yang berarti mencekik. Pengertian Kecemasan Kecemasan atau dalam Bahasa Inggrisnya anxiety berasal dari Bahasa Latin angustus yang berarti kaku, dan ango, anci yang berarti mencekik. Menurut Freud (dalam Alwisol, 2005:28) mengatakan

Lebih terperinci

100% 100% (2/2) 100% 100% (4142) (4162) (269) (307) (307) (269) (278) (263) (265) (264) 0% (638) 12 mnt. (578) 10 mnt

100% 100% (2/2) 100% 100% (4142) (4162) (269) (307) (307) (269) (278) (263) (265) (264) 0% (638) 12 mnt. (578) 10 mnt Press Release Implementasi Standar Akreditasi Untuk Meningkatkan Mutu Pelayanan & Keselamatan Pasien RSUD dr. R. Soetrasno Kabupaten Rembang RSUD dr. R. Soetrasno Kabupaten Rembang, merupakan rumah sakit

Lebih terperinci

SITUASI UPAYA KESEHATAN JAKARTA PUSAT

SITUASI UPAYA KESEHATAN JAKARTA PUSAT SITUASI UPAYA KESEHATAN JAKARTA PUSAT A.UPAYA KESEHATAN IBU DAN ANAK Salah satu komponen penting dalam pelayanan kesehatan kepada masyarakat adalah pelayanan kesehatan dasar. UU no.3 tahun 2009 tentang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1

BAB I PENDAHULUAN I.1 BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Kehamilan dan persalinan pada primigravida dan atau wanita dengan umur 35 tahun atau lebih, diberi prioritas bersalin di rumah sakit dan diperlakukan pelayanan sama

Lebih terperinci

Tanggung Jawab Dasar Pengemudi

Tanggung Jawab Dasar Pengemudi Tanggung Jawab Dasar Pengemudi Panduan ini menerangkan kondisi utama yang harus dipenuhi oleh pengemudi yang akan mengoperasikan kendaraan PMI (baik pengemudi yang merupakan karyawan PMI atau pun pegawai

Lebih terperinci

Body of Knowledge dan Standar Kompetensi Dokter Manajemen Medik

Body of Knowledge dan Standar Kompetensi Dokter Manajemen Medik Body of Knowledge dan Standar Kompetensi Dokter Manajemen Medik PERSATUAN DOKTER MANAJEMEN MEDIK INDONESIA (PDMMI) June 29, 2012 Authored by: PDMMI Body of Knowledge dan Standar Kompetensi Dokter Manajemen

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Penduduk Lanjut Usia merupakan bagian dari anggota keluarga dan. masyarakat yang semakin bertambah jumlahnya sejalan dengan

BAB 1 PENDAHULUAN. Penduduk Lanjut Usia merupakan bagian dari anggota keluarga dan. masyarakat yang semakin bertambah jumlahnya sejalan dengan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penduduk Lanjut Usia merupakan bagian dari anggota keluarga dan anggota masyarakat yang semakin bertambah jumlahnya sejalan dengan peningkatan usia harapan

Lebih terperinci

Menggunakan alat-alat tradisional yang tidak steril seperti alat tumpul. Makan nanas dan minum sprite secara berlebihan

Menggunakan alat-alat tradisional yang tidak steril seperti alat tumpul. Makan nanas dan minum sprite secara berlebihan Agar terhindar dari berbagai persoalan karena aborsi, maka remaja harus mampu menahan diri untuk tidak melakukan hubungan seks. Untuk itu diperlukan kemampuan berpikir kritis mengenai segala kemungkinan

Lebih terperinci

HIV, Kehamilan dan Kesehatan Perempuan spiritia

HIV, Kehamilan dan Kesehatan Perempuan spiritia SERI BUKU KECIL HIV, Kehamilan dan Kesehatan Perempuan spiritia HIV, Kehamilan dan Kesehatan Perempuan HIV, Kehamilan dan Kesehatan Perempuan Buku ini adalah terjemahan dan penyesuaian dari HIV, Pregnancy

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian. Pada November 1999, the American Hospital Asosiation (AHA) Board of

BAB I PENDAHULUAN. rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian. Pada November 1999, the American Hospital Asosiation (AHA) Board of BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini akan dibahas mengenai latar belakang yang mendasari latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian. A. Latar Belakang Pada November 1999, the American Hospital

Lebih terperinci

MANFAAT EPIDEMIOLOGI Membantu pekerjaan administrator dan perencana kesehatan untuk mengidentifikasi masalah dan kebutuhan kesehatan, alokasi sumber d

MANFAAT EPIDEMIOLOGI Membantu pekerjaan administrator dan perencana kesehatan untuk mengidentifikasi masalah dan kebutuhan kesehatan, alokasi sumber d MANFAAT EPIDEMIOLOG Oleh: Fatkurahman Arjuna.M.Or E-Mail; Arjuna@UNY.ac.id FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2012 MANFAAT EPIDEMIOLOGI Membantu pekerjaan administrator dan perencana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Persalinan adalah proses alamiah dimana terjadi dilatasi serviks, persalinan

BAB I PENDAHULUAN. Persalinan adalah proses alamiah dimana terjadi dilatasi serviks, persalinan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Persalinan adalah proses alamiah dimana terjadi dilatasi serviks, persalinan lahirnya bayi, placenta dan membran dari rahim ibu (Depkes, 2004). Persalinan dan kelahiran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang menyebabkan efek halusinasi yang terkenal di kalangan muda-mudi. Jamur

BAB I PENDAHULUAN. yang menyebabkan efek halusinasi yang terkenal di kalangan muda-mudi. Jamur BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini di Indonesia muncul sebuah trend penggunaan suatu jamur yang menyebabkan efek halusinasi yang terkenal di kalangan muda-mudi. Jamur ini terkenal dengan sebutan

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 111 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PRESIDEN NOMOR 12 TAHUN 2013 TENTANG JAMINAN KESEHATAN

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 111 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PRESIDEN NOMOR 12 TAHUN 2013 TENTANG JAMINAN KESEHATAN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 111 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PRESIDEN NOMOR 12 TAHUN 2013 TENTANG JAMINAN KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

Uji Penilaian Profesional Macquarie. Leaflet Latihan. Verbal, Numerikal, Pemahaman Abstrak, Kepribadian.

Uji Penilaian Profesional Macquarie. Leaflet Latihan. Verbal, Numerikal, Pemahaman Abstrak, Kepribadian. Uji Penilaian Profesional Macquarie Leaflet Latihan Verbal, Numerikal, Pemahaman Abstrak, Kepribadian. Mengapa Uji Penilaian psikometrik digunakan Dewasa ini semakin banyak perusahaan yang menyertakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dari tahun ke tahun.sementara target Rencana Pembangunan Jangka Menengah

BAB I PENDAHULUAN. dari tahun ke tahun.sementara target Rencana Pembangunan Jangka Menengah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berdasarkan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007 Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia menempati urutan tertinggi di ASEAN yaitu 228/100.000 kelahiran

Lebih terperinci

PERAWATAN PALIATIF PASIEN HIV / AIDS

PERAWATAN PALIATIF PASIEN HIV / AIDS PERAWATAN PALIATIF PASIEN HIV / AIDS Agung Nugroho Divisi Peny. Tropik & Infeksi Bag. Peny. Dalam FK-UNSRAT Manado PENDAHULUAN Jumlah pasien HIV/AIDS di Sulut semakin meningkat. Sebagian besar pasien diberobat

Lebih terperinci

Informasi Produk Asuransi Allianz

Informasi Produk Asuransi Allianz Informasi Produk Asuransi Allianz Nama Produk Permata Proteksi Ku Permata Proteksi Plus Permata KTA Proteksi Jenis Produk Asuransi jiwa berjangka untuk perlindungan tagihan kartu kredit Asuransi jiwa berjangka

Lebih terperinci

EVALUASI EKONOMI PADA PELAYANAN KESEHATAN

EVALUASI EKONOMI PADA PELAYANAN KESEHATAN EVALUASI EKONOMI PADA PELAYANAN KESEHATAN Elsa Pudji Setiawati 140 223 159 BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN UNPAD DAFTAR ISI DAFTAR ISI. Pendahuluan... Evaluasi Ekonomi Pada Program

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. wanita. Pada proses ini terjadi serangkaian perubahan besar yang terjadi

BAB I PENDAHULUAN. wanita. Pada proses ini terjadi serangkaian perubahan besar yang terjadi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Persalinan merupakan suatu proses fisiologis yang dialami oleh wanita. Pada proses ini terjadi serangkaian perubahan besar yang terjadi pada ibu untuk dapat melahirkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Di jaman modernisasi seperti sekarang ini Rumah Sakit harus mampu

BAB I PENDAHULUAN. Di jaman modernisasi seperti sekarang ini Rumah Sakit harus mampu BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini akan membahas tentang: latar belakang, identifikasi masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian. A. Latar Belakang Di jaman

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk. negara-negara dunia diprediksikan akan mengalami peningkatan.

BAB I PENDAHULUAN. dengan menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk. negara-negara dunia diprediksikan akan mengalami peningkatan. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Lanjut usia (lansia) merupakan tahap akhir dari kehidupan dan merupakan proses alami yang tidak dapat dihindari oleh setiap individu. Proses alami ditandai

Lebih terperinci

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Bab 4 Batuk dan Kesulitan Bernapas Kasus II. Catatan Fasilitator. Rangkuman Kasus:

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Bab 4 Batuk dan Kesulitan Bernapas Kasus II. Catatan Fasilitator. Rangkuman Kasus: Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit Bab 4 Batuk dan Kesulitan Bernapas Kasus II Catatan Fasilitator Rangkuman Kasus: Agus, bayi laki-laki berusia 16 bulan dibawa ke Rumah Sakit Kabupaten dari sebuah

Lebih terperinci

[SEKOLAH KHUSUS AUTIS DI YOGYAKARTA]

[SEKOLAH KHUSUS AUTIS DI YOGYAKARTA] BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG EKSISTENSI PROYEK Autisme Dalam Masyarakat Autis bukanlah penyakit menular tetapi merupakan kumpulan gejala klinis atau sindrom kelainan pertumbuhan anak ( pervasive

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kardiovaskuler secara cepat di negara maju dan negara berkembang.

BAB I PENDAHULUAN. kardiovaskuler secara cepat di negara maju dan negara berkembang. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini perubahan pola hidup yang terjadi meningkatkan prevalensi penyakit jantung dan berperan besar pada mortalitas serta morbiditas. Penyakit jantung diperkirakan

Lebih terperinci

Sistem manajemen mutu Persyaratan

Sistem manajemen mutu Persyaratan SNI ISO 9001-2008 Standar Nasional Indonesia Sistem manajemen mutu Persyaratan ICS 03.120.10 Badan Standardisasi Nasional SNI ISO 9001-2008 Daftar isi Daftar isi... i Prakata... iv Pendahuluan... vi 0.1

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. kehidupan manusia, termasuk kesulitan ekonomi, lapangan pekerjaan, pendidikan,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. kehidupan manusia, termasuk kesulitan ekonomi, lapangan pekerjaan, pendidikan, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Era globalisasi ditandai semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, namun perkembangan itu diringi oleh peningkatan berbagai persoalan kehidupan manusia,

Lebih terperinci

MEMULAI PENULISAN ESAI INDEPENDENT WRITING IKOR

MEMULAI PENULISAN ESAI INDEPENDENT WRITING IKOR MEMULAI PENULISAN ESAI INDEPENDENT WRITING IKOR APAKAH ESAI ITU? Struktur esai mirip dengan paragraf, tapi esai terdiri dari beberapa paragraf Komponen esai: 1. Introduction (pendahuluan) min. 1 paragraf

Lebih terperinci

K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA

K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA 1 K 29 - Kerja Paksa atau Wajib Kerja 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan bagi laki-laki

Lebih terperinci

penglihatan (Sutedjo, 2010). Penyakit ini juga dapat memberikan komplikasi yang mematikan, seperti serangan jantung, stroke, kegagalan ginjal,

penglihatan (Sutedjo, 2010). Penyakit ini juga dapat memberikan komplikasi yang mematikan, seperti serangan jantung, stroke, kegagalan ginjal, BAB 1 PENDAHULUAN Diabetes mellitus (DM) adalah penyakit yang dapat terjadi pada semua kelompok umur dan populasi, pada bangsa manapun dan usia berapapun. Kejadian DM berkaitan erat dengan faktor keturunan,

Lebih terperinci

Masalah Gizi di Indonesia dan Posisinya secara Global

Masalah Gizi di Indonesia dan Posisinya secara Global Masalah Gizi di Indonesia dan Posisinya secara Global Endang L. Achadi FKM UI Disampaikan pd Diseminasi Global Nutrition Report Dalam Rangka Peringatan Hari Gizi Nasional 2015 Diselenggarakan oleh Kementerian

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG

PERATURAN KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG TATA CARA PENANGANAN TERSANGKA DAN/ATAU TERDAKWA PECANDU NARKOTIKA DAN KORBAN PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA KE DALAM LEMBAGA REHABILITASI

Lebih terperinci

Program Rujuk Balik Bagi Peserta JKN

Program Rujuk Balik Bagi Peserta JKN panduan praktis Program Rujuk Balik Bagi Peserta JKN 07 02 panduan praktis Program Rujuk Balik Kata Pengantar Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN)

Lebih terperinci

LAMPIRAN 2 SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN UNTUK IKUT SERTA DALAM PENELITIAN (INFORMED CONSENT)

LAMPIRAN 2 SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN UNTUK IKUT SERTA DALAM PENELITIAN (INFORMED CONSENT) LAMPIRAN 1 50 LAMPIRAN 2 SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN UNTUK IKUT SERTA DALAM PENELITIAN (INFORMED CONSENT) Yang bertanda tangan dibawah ini: N a m a : U s i a : Alamat : Pekerjaan : No. KTP/lainnya: Dengan

Lebih terperinci

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1. Atopi, atopic march dan imunoglobulin E pada penyakit alergi

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1. Atopi, atopic march dan imunoglobulin E pada penyakit alergi BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Atopi, atopic march dan imunoglobulin E pada penyakit alergi Istilah atopi berasal dari bahasa Yunani yaitu atopos yang berarti out of place atau di luar dari tempatnya, dan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. yang dapat diceritakan ke orang lain. Memori melahirkan, peristiwa dan orang-orang

BAB 1 PENDAHULUAN. yang dapat diceritakan ke orang lain. Memori melahirkan, peristiwa dan orang-orang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Persalinan merupakan salah satu peristiwa penting dan senantiasa diingat dalam kehidupan wanita. Setiap wanita memiliki pengalaman melahirkan tersendiri yang dapat

Lebih terperinci

Kuning pada Bayi Baru Lahir: Kapan Harus ke Dokter?

Kuning pada Bayi Baru Lahir: Kapan Harus ke Dokter? Kuning pada Bayi Baru Lahir: Kapan Harus ke Dokter? Prof. Dr. H. Guslihan Dasa Tjipta, SpA(K) Divisi Perinatologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK USU 1 Kuning/jaundice pada bayi baru lahir atau disebut

Lebih terperinci

PERAN PEKERJA SOSIAL DALAM UPAYA PELAYANAN KESEHATAN JIWA PARIPURNA

PERAN PEKERJA SOSIAL DALAM UPAYA PELAYANAN KESEHATAN JIWA PARIPURNA PERAN PEKERJA SOSIAL DALAM UPAYA PELAYANAN KESEHATAN JIWA PARIPURNA Dr. Suryo Dharmono SpKJ Divisi Psikiatri Komunitas Departemen Psikiatri FKUI/RSCM UPAYA PELAYANAN KESEHATAN JIWA DI INDONESIA Dikenal

Lebih terperinci

Kurang atau Kelamaan Tidur Bisa menimbulkan kematian!

Kurang atau Kelamaan Tidur Bisa menimbulkan kematian! Kurang atau Kelamaan Tidur Bisa menimbulkan kematian! Penelitian tentang masalah tidur dilakukan American Cancer Society pada tahun 1982-1988. Penelitian yang dikenakan pada orang Amerika dengan interval

Lebih terperinci

mengalami obesitas atau kegemukan akibat gaya hidup yang dijalani (Marilyn Johnson, 1998) Berdasarkan data yang dilaporkan oleh WHO, Indonesia

mengalami obesitas atau kegemukan akibat gaya hidup yang dijalani (Marilyn Johnson, 1998) Berdasarkan data yang dilaporkan oleh WHO, Indonesia BAB 1 PENDAHULUAN Tanaman obat yang menjadi warisan budaya dimanfaatkan sebagai obat bahan alam oleh manusia saat ini untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup masyarakat sesuai dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mulai bergeser dari penyakit infeksi ke penyakit metabolik. Dengan meningkatnya

BAB I PENDAHULUAN. mulai bergeser dari penyakit infeksi ke penyakit metabolik. Dengan meningkatnya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini di seluruh dunia termasuk Indonesia kecenderungan penyakit mulai bergeser dari penyakit infeksi ke penyakit metabolik. Dengan meningkatnya globalisasi dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Cokelat bagi sebagian orang adalah sebuah gaya hidup dan kegemaran, namun masih banyak orang yang mempercayai mitos tentang cokelat dan takut mengonsumsi cokelat walaupun

Lebih terperinci

LATIHAN, NUTRISI DAN TULANG SEHAT

LATIHAN, NUTRISI DAN TULANG SEHAT LATIHAN, NUTRISI DAN TULANG SEHAT Tulang yang kuat benar-benar tidak terpisahkan dalam keberhasilan Anda sebagai seorang atlet. Struktur kerangka Anda memberikan kekuatan dan kekakuan yang memungkinkan

Lebih terperinci

Sesi 8: Pemberitaan tentang Masalah Gender

Sesi 8: Pemberitaan tentang Masalah Gender Sesi 8: Pemberitaan tentang Masalah Gender 1 Tujuan belajar 1. Memahami arti stereotip dan stereotip gender 2. Mengidentifikasi karakter utama stereotip gender 3. Mengakui stereotip gender dalam media

Lebih terperinci

Pengobatan untuk AIDS: Ingin Mulai?

Pengobatan untuk AIDS: Ingin Mulai? SERI BUKU KECIL Pengobatan untuk AIDS: Ingin Mulai? Oleh Chris W. Green Jl. Johar Baru Utara V No. 17, Johar Baru, Jakarta 10560 Telp: (021) 422 5163, 422 5168, Fax: (021) 4287 1866, E-mail: info@spiritia.or.id,

Lebih terperinci

I Ketut Sudiatmika*), Budi Anna Keliat**), dan Ice Yulia Wardani***)

I Ketut Sudiatmika*), Budi Anna Keliat**), dan Ice Yulia Wardani***) EFEKTIVITAS COGNITIVE BEHAVIOUR THERAPY DAN RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOUR THERAPY TERHADAP GEJALA DAN KEMAMPUAN MENGONTROL EMOSI PADA KLIEN PERILAKU KEKERASAN I Ketut Sudiatmika*), Budi Anna Keliat**), dan

Lebih terperinci

PONED sebagai Strategi untuk Persalinan yang Aman

PONED sebagai Strategi untuk Persalinan yang Aman PONED sebagai Strategi untuk Persalinan yang Aman Oleh: Dewiyana* Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED) adalah pelayanan untuk menanggulangi kasus kegawatdaruratan obstetri dan neonatal yang

Lebih terperinci

Kebutuhan Dasar Ibu Bersalin. By. Ulfatul Latifah, SKM

Kebutuhan Dasar Ibu Bersalin. By. Ulfatul Latifah, SKM Kebutuhan Dasar Ibu Bersalin By. Ulfatul Latifah, SKM Kebutuhan Dasar pada Ibu Bersalin 1. Dukungan fisik dan psikologis 2. Kebutuhan makanan dan cairan 3. Kebutuhan eliminasi 4. Posisioning dan aktifitas

Lebih terperinci

CARA YANG TEPAT DETEKSI DINI KANKER PAYUDARA

CARA YANG TEPAT DETEKSI DINI KANKER PAYUDARA CARA YANG TEPAT DETEKSI DINI KANKER PAYUDARA Oleh : Debby dan Arief Dalam tubuh terdapat berjuta-juta sel. Salah satunya, sel abnormal atau sel metaplasia, yaitu sel yang berubah, tetapi masih dalam batas

Lebih terperinci

KAJIAN PELAKSANAAN REKAM MEDIS GIGI RAWAT JALAN DI PUSKESMAS KOTA PONTIANAK

KAJIAN PELAKSANAAN REKAM MEDIS GIGI RAWAT JALAN DI PUSKESMAS KOTA PONTIANAK KAJIAN PELAKSANAAN REKAM MEDIS GIGI RAWAT JALAN DI PUSKESMAS KOTA PONTIANAK Sri Rezki Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Pontianak ABSTRAK Latar Belakang: Rekam medis merupakan berkas yang berisi catatan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Manajemen keperawatan merupakan pelaksanaan pelayanan keperawatan

BAB 1 PENDAHULUAN. Manajemen keperawatan merupakan pelaksanaan pelayanan keperawatan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Manajemen keperawatan merupakan pelaksanaan pelayanan keperawatan melalui staf keperawatan untuk memberikan asuhan keperawatan kepada pasien. Manajemen mengandung

Lebih terperinci

CARA BIJAK MEMILIH OBAT BATUK

CARA BIJAK MEMILIH OBAT BATUK Penyakit batuk merupakan penyakit yang dapat menyerang siapa saja, bahkan bayi yang baru lahir pun akan mudah terserang batuk jika disekelilingnya terdapat orang yang batuk. Penyakit batuk ini terdiri

Lebih terperinci

ANAK BATITA: USIA ± 15 BULAN 3 TAHUN

ANAK BATITA: USIA ± 15 BULAN 3 TAHUN ANAK BATITA: USIA ± 15 BULAN 3 TAHUN 1. Pesat tapi tidak merata. - Otot besar mendahului otot kecil. - Atur ruangan. - Koordinasi mata dengan tangan belum sempurna. - Belum dapat mengerjakan pekerjaan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. sangat strategis dalam upaya mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat

BAB 1 PENDAHULUAN. sangat strategis dalam upaya mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Rumah sakit merupakan fasilitas pelayanan kesehatan memiliki peran yang sangat strategis dalam upaya mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat Indonesia.

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Rasa Takut terhadap Perawatan Gigi dan Mulut. Rasa takut terhadap perawatan gigi dapat dijumpai pada anak-anak di berbagai

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Rasa Takut terhadap Perawatan Gigi dan Mulut. Rasa takut terhadap perawatan gigi dapat dijumpai pada anak-anak di berbagai 5 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Rasa Takut terhadap Perawatan Gigi dan Mulut Rasa takut terhadap perawatan gigi dapat dijumpai pada anak-anak di berbagai unit pelayanan kesehatan gigi misalnya di praktek

Lebih terperinci

SURAT KEPUTUSAN PENGURUS PUSAT IKATAN APOTEKER INDONESIA Nomor : PO. 001/ PP.IAI/1418/VII/2014. Tentang

SURAT KEPUTUSAN PENGURUS PUSAT IKATAN APOTEKER INDONESIA Nomor : PO. 001/ PP.IAI/1418/VII/2014. Tentang SURAT KEPUTUSAN PENGURUS PUSAT IKATAN APOTEKER INDONESIA Nomor : PO. 001/ PP.IAI/1418/VII/2014 Tentang PERATURAN ORGANISASI TENTANG STANDAR PRAKTIK APOTEKER INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

OVERVIEW KLB KERACUNAN PANGAN

OVERVIEW KLB KERACUNAN PANGAN OVERVIEW KLB KERACUNAN PANGAN Kejadian Luar Biasa (KLB) Keracunan Pangan adalah suatu kejadian dimana terdapat dua orang atau lebih yang menderita sakit dengan gejala yang sama atau hampir sama setelah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Manusia merupakan makhluk sosial yang selalu berhubungan dan membutuhkan orang lain dalam kehidupannya. Manusia sebagai makhluk sosial dalam bertingkah laku

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pegal yang terjadi di daerah pinggang bawah. Nyeri pinggang bawah bukanlah

BAB I PENDAHULUAN. pegal yang terjadi di daerah pinggang bawah. Nyeri pinggang bawah bukanlah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Nyeri pinggang bawah atau low back pain merupakan rasa nyeri, ngilu, pegal yang terjadi di daerah pinggang bawah. Nyeri pinggang bawah bukanlah diagnosis tapi hanya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. anak-anak dan dewasa muda. Penyakit ini mencapai lebih dari 13 juta kematian per

BAB I PENDAHULUAN. anak-anak dan dewasa muda. Penyakit ini mencapai lebih dari 13 juta kematian per 11 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemakaian antibiotik pada saat ini sangat tinggi, hal ini disebabkan penyakit infeksi masih mendominasi. Penyakit infeksi sekarang pembunuh terbesar di dunia anak-anak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lokal di bawah batas kosta dan di atas lipatan glutealis inferior, dengan atau tanpa

BAB I PENDAHULUAN. lokal di bawah batas kosta dan di atas lipatan glutealis inferior, dengan atau tanpa BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Nyeri punggung bawah adalah perasaan nyeri, ketegangan otot, atau kekakuan lokal di bawah batas kosta dan di atas lipatan glutealis inferior, dengan atau tanpa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mental dalam beberapa hal disebut perilaku abnormal (abnormal behavior). Hal

BAB I PENDAHULUAN. mental dalam beberapa hal disebut perilaku abnormal (abnormal behavior). Hal BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Selama ini masyarakat menganggap bahwa masalah kesehatan jiwa merupakan masalah orang-orang yang memiliki gangguan jiwa saja atau yang kerap disebut orang awam

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Persalinan adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Persalinan adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada 12 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Persalinan 1. Definisi Persalinan Persalinan adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan lahir spontan dengan presentase belakang kepala, tanpa

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. beberapa zat gizi tidak terpenuhi atau zat-zat gizi tersebut hilang dengan

BAB 1 PENDAHULUAN. beberapa zat gizi tidak terpenuhi atau zat-zat gizi tersebut hilang dengan BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keadaan gizi kurang dapat ditemukan pada setiap kelompok masyarakat. Pada hakekatnya keadaan gizi kurang dapat dilihat sebagai suatu proses kurang asupan makanan ketika

Lebih terperinci

PEDOMAN PENYUSUNAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR

PEDOMAN PENYUSUNAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR 5 LAMPIRAN PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa setiap warga negara

Lebih terperinci

TANYA JAWAB PEDOMAN TEKNIS FARMAKOVIGILANS BAGI INDUSTRI FARMASI

TANYA JAWAB PEDOMAN TEKNIS FARMAKOVIGILANS BAGI INDUSTRI FARMASI TANYA JAWAB PEDOMAN TEKNIS FARMAKOVIGILANS BAGI INDUSTRI FARMASI BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA 1 P a g e Definisi Farmakovigilans 1. T: Apakah perbedaan antara Farmakogivilans dengan

Lebih terperinci

RENCANA INDUK PENELITIAN DAN PENGABDIAN MASYARAKAT ( RIPPM ) STIKES MUHAMMADIYAH GOMBONG TAHUN 2012-2016

RENCANA INDUK PENELITIAN DAN PENGABDIAN MASYARAKAT ( RIPPM ) STIKES MUHAMMADIYAH GOMBONG TAHUN 2012-2016 - 0 - RENCANA INDUK PENELITIAN DAN PENGABDIAN MASYARAKAT ( RIPPM ) STIKES MUHAMMADIYAH GOMBONG TAHUN 2012-2016 Disiapkan, Disetujui, Disahkan, Ketua, Sarwono, SKM Eri Purwati, M.Si Giyatmo, S.Kep., Ns.

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL

BERITA DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL BERITA DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL ( Berita Resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul ) Nomor : 15 Tahun : 2010 Seri : E PERATURAN BUPATI GUNUNGKIDUL NOMOR 23 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dari berbagai penyakit yang disebabkan oleh gangguan hormonal, yang

BAB I PENDAHULUAN. Dari berbagai penyakit yang disebabkan oleh gangguan hormonal, yang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dari berbagai penyakit yang disebabkan oleh gangguan hormonal, yang paling sering terjadi adalah diabetes militus (DM). Masyarakat sering menyebut penyakit

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.749, 2013 KEMENTERIAN KESEHATAN. Wajib Lapor. Pecandu Narkotika. Tata Cara. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN

Lebih terperinci

Menyasar Warga Miskin dan Memilih Instrumen yang Tepat: Studi Kasus Indonesia

Menyasar Warga Miskin dan Memilih Instrumen yang Tepat: Studi Kasus Indonesia Menyasar Warga Miskin dan Memilih Instrumen yang Tepat: Studi Kasus Indonesia Indonesia mencoba beralih dari sekumpulan program bantuan sosial menjadi suatu jaring pengaman yang terintegrasi Usaha menyasar

Lebih terperinci

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING... ii HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI... HALAMAN PERNYATAAN... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI...

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING... ii HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI... HALAMAN PERNYATAAN... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING... ii HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI...... HALAMAN PERNYATAAN... KATA PENGANTAR..... iii iv vii DAFTAR ISI... ix DAFTAR GAMBAR xi DAFTAR TABEL. xii

Lebih terperinci

KONSEP DASAR. Manusia padasarnya adalah unik memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional

KONSEP DASAR. Manusia padasarnya adalah unik memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional KONSEP DASAR Manusia padasarnya adalah unik memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional Ketika berpikir dan bertingkahlaku rasional manusia akan efektif, bahagia, dan kompeten. Ketika

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK The New Climate Economy Report RINGKASAN EKSEKUTIF Komisi Global untuk Ekonomi dan Iklim didirikan untuk menguji kemungkinan tercapainya pertumbuhan ekonomi yang

Lebih terperinci