BUKU PEDOMAN Penyelenggaraan Bakti Sosial Operasi Katarak Seksi Penanggulangan Buta Katarak

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BUKU PEDOMAN Penyelenggaraan Bakti Sosial Operasi Katarak Seksi Penanggulangan Buta Katarak"

Transkripsi

1 BUKU PEDOMAN Penyelenggaraan Bakti Sosial Operasi Katarak Seksi Penanggulangan Buta Katarak Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia

2 ii

3 DAFTAR ISI Prakata Dr Johan A. Hutauruk, SpM v Kata Pengantar Prof Dr dr Nila F. Moeloek, SpM viii Bab I. Pendahuluan 1 Bab II. Organisasi 4 A. Visi dan Misi 4 B. Tujuan dan Sasaran 5 C. Target Program 6 D. Indikator Pencapaian 7 Bab III. Tata Tertib Administratif Pelaksanaan Bakti Sosial Operasi Katarak 9 III.1. Tata Tertib Administratif Pengajuan Proposal Kegiatan 9 III.2. Pedoman Administratif dan Payung Hukum Penyelenggaraan Kegiatan 13 III.3. Tata Tertib/Kebijaksanaan Donasi 24 Bab IV. Pedoman/Tata Tertib Teknis Medis Operasi Katarak 27 IV.1. SOP Skrining Pasien Katarak 27 IV.2. SOP Sterilisasi 31 IV.3. SOP Operasi Ekstraksi Katarak 33 IV.4. SOP Follow-up dan Komplikasi 43 iii

4 Bab V. Pedoman/Tata Tertib Pelaporan Bakti Sosial Katarak 47 V.1. Tata Tertib Organisasi 47 V.2. Koordinasi SPBK Cabang dengan SPBK Pusat 47 V.3. Koordinasi SPBK dengan Donatur 49 iv

5 v

6 PRAKATA Ketua Seksi Penanggulangan Buta Katarak - Perdami Buku ini adalah wujud tertulis dari pengalaman Perdami dalam menyelenggarakan kegiatan bakti sosial operasi katarak sejak pertama kali dilaksanakan 20 tahun lalu, ketika Perdami mendapat bantuan Presiden Soeharto, saat itu sebagai ketua yayasan yang menunjuk Yayasan Dharmais menjadi donatur tunggal untuk kegiatan operasi katarak gratis di seluruh Indonesia Dedikasi Perdami untuk mengatasi kebutaan katarak di Indonesia tampak nyata dengan dibentuknya seksi khusus yang dinamakan SPBK (Seksi Penanggulanan Buta Katarak). Dalam perjalanannya sampai saat ini, ketua SPBK berganti sebanyak 3 kali, di mana saya sepatutnya menyampaikan terima kasih kepada ketua SPBK yang pertama, Prof. Dr. Istiantoro, disusul oleh Dr. Vidyapati Mangunkusumo dan saya yang meneruskan apa yang sudah dirintis oleh guru-guru saya. Meningkatnya peran serta berbagai industri memberikan donasi, serta bantuan individu maupun organisasi nirlaba nasional dan internasional, sangat membantu kegiatan SPBK sehingga mampu melaksanakan sekitar 15,000 operasi per tahun. Buku ini disusun agar mempermudah teman sejawat anggota Perdami dan kepengurusan SPBK cabang agar ada keseragaman dalam mengelola kegiatan baksos operasi katarak. Saya menyampaikan terima kasih kepada pengurus SPBK Pusat, dalam hal ini Dr. Amir Shidik, Dr. Yeni Dwi Lestari dan Dr. Anna Bani yang telah vi

7 banyak membantu baik dalam kegiatan sehari-hari operasional SPBK maupun dalam penyusunan buku ini. Demikian juga staf SPBK seperti Bpk Ruswandi, Ibu Arin dan Ibu Eva yang bekerja hampir setiap akhir pekan untuk menunjang administrasi kegiatan baksos. Peranan Prof. DR. dr. Nila F. Moeloek selaku ketua PP Perdami sekaligus sebagai staf khusus Presiden Republik Indonesia untuk MDG (Millenium Development Goals) memperbesar dampak kegiatan SPBK Perdami melalui jejaring dan konektivitas luas yang dimiliki beliau, dan saya ikut belajar dari passion beliau sehingga ikut semangat membantu tugas yang diberikan sebagai Ketua SPBK. Tidak lupa saya sampaikan terima kasih kepada pasien-pasien yang telah mempercayai SPBK untuk tindakan operasi dengan suasana baksos yang terkadang kurang nyaman, karena mereka juga sekaligus telah menambah ilmu para dokter mata mengatasi kasus sulit. Kepada segelintir pasien yang mengalami komplikasi, semoga bisa memaafkan tindakan operasi SPBK yang kurang sesuai dengan harapan. Akhir kata, Bedenicamus Domino, semoga pekerjaan kita diberkati Tuhan yang maha kuasa. Dr. Johan A. Hutauruk, SpM(K) vii

8 KATA PENGANTAR VISION 2020 The Right to Sight merupakan program yang diinisiasi oleh World Health Organization (WHO) dan International Agency for the Prevention of Blindness (IAPB) untuk mewujudkan fungsi penglihatan yang optimal di dunia. Indonesia sebagai negara dengan angka kebutaan ketiga terbanyak di dunia turut berkomitmen dalam upaya pemberantasan kebutaan. Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) sebagai organisasi profesi dalam bidang Ilmu Kesehatan Mata, berperan aktif dalam upaya mencapai VISION 2020 melalui kegiatan Seksi Penanggulangan Buta Katarak (SPBK). SPBK merupakan perpanjangan tangan Perdami untuk menanggulangi katarak yang menjadi penyebab kebutaan terbanyak di Indonesia. Struktur organisasi SPBK yang berada di Pusat dan Cabang diharapkan dapat memperluas cakupan bakti sosial operasi katarak di berbagai daerah di Indonesia. Dengan besarnya tantangan SPBK dalam menurunkan angka kebutaan katarak, diperlukan adanya pedoman kerja dalam pelaksanaan kegiatannya. Buku Pedoman Kerja SPBK ini disusun agar kegiatan yang dilakukan menjadi lebih terarah dan efektif. Atas nama Pengurus Pusat Perdami, disampaikan terima kasih pada seluruh anggota Perdami, donatur, serta semua pihak yang turut berperan dalam mendukung kegiatan bakti sosial SPBK. Kami berharap viii

9 dapat terjalin kerjasama yang semakin baik dalam upaya pemberantasan kebutaan katarak di Indonesia. Saran dan kritik yang membangun diharapkan demi perbaikan selanjutnya. Besar harapan kami, buku pedoman ini dapat menjadi acuan bagi seluruh anggota Perdami dan meningkatkan kinerja SPBK di masa mendatang. Jakarta, Juli 2013 Ketua PP. Perdami Prof. DR. Dr. Nila F. Moeloek, SpM(K) ix

10 B A B I PENDAHULUAN Indonesia adalah negara yang telah mencanangkan diri untuk memusatkan perhatian pada masalah kebutaan melalui komitmennya terhadap VISION 2020, the Global Initiative for the Elimination of Avoidable Blindness. Prevalensi kebutaan di Indonesia merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara, yaitu 1,5%, dengan 52% dari jumlah tersebut (0,78%) disebabkan oleh katarak. Dalam kaitan dengan kelompok usia, prevalensi kebutaan katarak ditemukan semakin tinggi seiring bertambahnya umur, yaitu 20/1000 pada kelompok usia tahun, dan tertinggi (50/1000) pada kelompok usia >60 tahun. Biro Pusat Statistik (BPS) tahun 2010 melaporkan bahwa pada tahun 2025, jumlah penduduk kelompok usia >55 tahun diperkirakan akan meningkat menjadi 61 juta, yaitu sekitar seperempat keseluruhan penduduk Indonesia. Dengan adanya kasus-kasus lama yang belum tertangani akibat rendahnya tingkat operasi katarak di Indonesia, ditambah dengan peningkatan kasus baru sebanyak 0,1% ( kasus baru) setiap tahun, akan terus terjadi penumpukan kasus katarak antara kasus-kasus lama dan penambahan kasus-kasus baru sehingga terjadi apa yang dikenal sebagai backlog katarak. Hal yang patut disadari adalah bahwa kebutaan bukan hanya merupakan beban pribadi penderita, tetapi juga beban bagi orang-orang di sekeliling penderita yang menjadi caregiver penderita. Kondisi ini memberi dampak buruk terhadap produktivitas, kualitas hidup, serta kesejahteraan baik PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK SPBK PERDAMI 1

11 individu maupun keluarga, dan dalam lingkup lebih besar, komunitas serta negara. Oleh karena itu, selain sebagai masalah kesehatan masyarakat (public health), kebutaan dan gangguan penglihatan juga sudah menjadi masalah sosial-ekonomi yang harus diatasi secara sungguh-sungguh guna memutus rantai kebutaan-kemiskinan, dan memperoleh kembali sumber daya manusia yang hilang. Kebutaan katarak hanya dapat dicegah dengan tindakan bedah ekstraksi katarak. Akan tetapi, tidak dapat dipungkiri bahwa penyediaan layanan bedah katarak di Indonesia masih dihadapkan pada banyak tantangan. Keterbatasan tenaga spesialis mata dalam hal jumlah dan distribusi telah mengecilkan peluang pemerataan jangkauan kepada masyarakat. Kesulitan akses geografik, kurangnya sarana dan prasarana yang layak serta dukungan pemerintah dalam menyediakan sistem layanan operasi katarak yang murah, terjangkau, dan berkualitas, merupakan kendala lain di luar tenaga ahli. Layanan operasi katarak yang murah dan terjangkau ini merupakan aspek yang penting untuk diciptakan mengingat 90% penderita kebutaan berasal dari daerah miskin. Berbagai literatur telah mengungkap hubungan antara sebaran penderita kebutaan dengan tingkat pendapatan, dengan kebutaan sendiri sebagai faktor yang menciptakan kemiskinan. Oleh karena itu, upaya pemberantasan buta katarak sudah seharusnya memberi fokus pada komunitas kurang mampu. Sebagai upaya menjawab tantangan-tantangan tersebut, Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) telah menunjukkan komitmen terhadap VISION 2020 melalui kegiata Seksi 2 PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK SPBK PERDAMI

12 Penanggulangan Buta Katarak (SPBK) yang sudah dibentuk pada tahun Memiliki organisasi di jajaran Pusat dan Cabang, SPBK selama ini bekerja dengan menyelenggarakan operasi katarak bagi orang kurang mampu, dengan berbagai sumber donasi, di berbagai daerah di Indonesia. Dengan besarnya tantangan dan tugas SPBK dalam menurunkan angka kebutaan katarak di Indonesia, maka pedoman kerja dirasakan penting agar kegiatan yang dilakukan SPBK menjadi terarah dan efektif. Pedoman kerja SPBK ini disusun dengan memperhatikan kemamputerapan serta kondisi lokal/nasional. Kami akan mempertimbangkan dengan baik semua masukan, dan saran perbaikan untuk penyempurnaan selanjutnya. Besar harapan kami agar pedoman kerja ini dapat menjadi acuan kerja dalam meningkatkan kerjasama dan produktivitas kerja SPBK Pusat dan SPBK Cabang. PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK SPBK PERDAMI 3

13 B A B I I ORGANISASI A. Visi dan Misi Visi Menanggulangi kebutaan katarak di Indonesia (to eliminate cataract blindness in Indonesia). Misi Misi Seksi Penanggulangan Buta Katarak adalah: 1. Menyediakan layanan bakti sosial operasi katarak 2. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia untuk melakukan operasi katarak 3. Membangun kerja sama dengan instansi terkait (stakeholders), donatur dan organisasi kemasyarakatan 4. Membangun sistem dan strategi nasional untuk penanggulangan buta katarak 4 PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK SPBK PERDAMI

14 B. Tujuan dan sasaran Tujuan Tujuan program Seksi Penanggulangan Buta Katarak adalah meningkatkan cataract surgical rate (CSR) dari 720 menjadi 1000 dalam jangka waktu tiga tahun (estimasi adalah 5 operasi katarak/spm/minggu, dengan asumsi jumlah operator katarak 1000 orang). Sasaran Sasaran program Seksi Penanggulangan Buta Katarak adalah: 1. Pengendalian dan pencegahan kebutaan akibat katarak a. Menciptakan demand untuk layanan dengan mengatasi barrier uptake layanan bedah b. Melakukan operasi katarak bermutu tinggi dengan hasil tajam penglihatan maksimal c. Monitoring dan evaluasi hasil operasi katarak 2. Pembangunan sumber daya tenaga kesehatan mata a. Pelatihan teknisi, dokter dan perawat untuk meningkatkan hasil operasi katarak b. Memfasilitasi kemampuan dokter spesialis mata dan perawat mahir mata melalui sarana pelatihan operasi katarak c. Pembuatan pedoman tingkat kompetensi/syarat keterampilan minimal operator dan tenaga mahir mata 3. Membangun kemitraan dengan semua stake-holders 4. Infrastruktur dan teknologi pendukung PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK SPBK PERDAMI 5

15 a. Membangun sentra-sentra umum sumber daya kesehatan mata (public eye-health resources centers) guna menyediakan support, ekspertise serta pelatihan b. Menyediakan peralatan standar untuk penyelenggaraan operasi katarak sesuai SOP (keratometri, IOL, set katarak, mikroskop) c. Menyiapkan sistem pencatatan dan pelaporan kegiatan operasi katarak dengan menggunakan teknologi tepat guna dan aksesibel. d. Penyusunan program/rencana kerja berkala berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi kegiatan. C. Target Program Target program Seksi Penanggulangan Buta Katarak adalah: 1. Target Output: Target jumlah total operasi katarak adalah operasi katarak/tahun di seluruh Indonesia (dasar: jumlah ini adalah 15% dari target jumlah operasi katarak/tahun, yaitu operasi katarak/tahun). Target CSR adalah 1000 operasi katarak/juta penduduk/tahun. Target follow-up rate adalah >50% pada minggu keempat pascaoperasi. Alokasi jumlah operasi katarak tiap SPBK Cabang ditentukan pada setiap pertemuan tahunan Perdami. 6 PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK SPBK PERDAMI

16 Prevalensi kebutaan di Indonesia 1.5% (1996) dengan 52% penyebab katarak. Diketahui bahwa insidens buta katarak adalah 0.1% sehingga bila bisa dilakukan operasi katarak pada seluruh jumlah insidens maka tidak akan terjadi tumpukan (backlog) buta katarak. Berdasarkan data tersebut maka dapat diperkirakan jumlah buta katarak baru per tahun adalah (1/1000 populasi) sehingga perlu dilakukan operasi katarak sebanyak per tahun. Bila diperkirakan jumlah penduduk kurang mampu untuk membayar operasi adalah sekitar 15%, maka dibutuhkan bantuan operasi katarak oleh SPBK sebanyak: 15% x 1/1000 x 240 juta = operasi katarak untuk masyarakat kurang mampu per tahun. 2. Target Outcome: Lebih atau sama dengan 85% tajam penglihatan tanpa koreksi adalah >=6/18 pada 4 minggu pascaoperasi. Jika tidak dimungkinkan follow-up sampai minggu ke-empat pascaoperasi, maka pelaporan dibuat berdasarkan follow-up terakhir. D. Indikator Pencapaian 1. Proporsi jumlah operasi yang dilakukan terhadap target yang ditetapkan. Dikatakan baik jika jumlah operasi mencapai lebih atau sama dengan jumlah target operasi yang telah ditetapkan (C.1) 2. Proporsi penanaman IOL terhadap jumlah operasi yang dilakukan. Dikatakan baik jika proporsi penanaman IOL >=95. PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK SPBK PERDAMI 7

17 Dikatakan kurang jika proporsi penanaman IOL < 95%. 3. Tajam penglihatan setelah operasi Dikatakan baik jika mencapai target tajam penglihatan sebagaimana dalam target outcome (C.2) Dikatakan kurang jika tidak mencapai target outcome (C.2) 8 PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK SPBK PERDAMI

18 B A B III TATA TERTIB ADMINISTRATIF PELAKSANAAN BAKTI SOSIAL OPERASI KATARAK III.1. Tata Tertib Administratif Pengajuan Proposal Kegiatan 1. Rencana kegiatan Bakti Sosial (Baksos) operasi katarak dapat diajukan oleh pribadi, Puskesmas, Rumah Sakit, Balai Kesehatan, Yayasan, organisasi, dan atau klinik. 2. Semua kegiatan yang dilakukan untuk kegiatan sosial pemberantasan buta katarak di Indonesia diselenggarakan sepengetahuan Seksi Penanggulangan Buta Katarak (SPBK) setempat atau SPBK Cabang, untuk kemudian dilaporkan ke SPBK Pusat. 3. Dalam hal penyelenggaraan kegiatan baksos dengan pihak lain, penyelenggara/spbk Cabang wajib melaporkan kegiatannya kepada SPBK Pusat. 4. Untuk dapat diproses, surat permohonan dan proposal kegiatan sudah harus diterima oleh SPBK Cabang minimal 3 minggu sebelum tanggal penyelenggaraan kegiatan yang diajukan. 5. Proposal kegiatan harus mencakup tanggal dan lokasi kegiatan, target operasi, rincian biaya pelaksanaan dan Rumah Sakit tujuan rujukan (Formulir Rencana Pelaksanaan Baksos terlampir). 6. Proposal dapat diajukan melalui kepada SPBK Cabang dan/atau SPBK Pusat dengan alamat sebagai berikut: PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK SPBK PERDAMI 9

19 Seksi Penganggulangan Buta Katarak (SPBK) Pusat - Perdami Telp. (021) Fax. (021) Proposal akan diproses SPBK Cabang atau Pusat dan keputusan akan didapat paling lama 7 hari kerja setelah proposal diterima. 8. Alur administratif pengajuan proposal Baksos operasi katarak: Gambar 1. Alur administratif penyelenggaraan Baksos operasi katarak a. Penyelenggara mengajukan surat permohonan penyelenggaraan Baksos kepada SPBK Perdami Cabang terdekat, atau SPBK Pusat (tergantung ke mana Penyelenggara meminta kerjasama). Apabila daerah tempat pelaksanaan jauh dari Subdinkes terdekat (Indonesia Timur) Penyelenggara dapat membuat permohonan ke SPBK Pusat dengan tembusan ke Bupati, 10 PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK SPBK PERDAMI

20 Subdinkes setempat dan SPBK Cabang yang mempunyai wilayah tersebut. Jika SPBK Penyelenggara bermaksud melakukan Baksos di luar wilayahnya, SPBK Penyelenggara membuat surat permohonan dan proposal kepada SPBK setempat (tujuan) terlebih dulu dengan tembusan ke SPBK Pusat (minimal 1 bulan sebelum tanggal penyelenggaraan). SPBK Pusat kemudian akan membuat surat perintah tugas kepada SPBK Penyelenggara (untuk selanjutnya berkoordinasi dengan SPBK tempat tujuan penyelenggaraan dan melengkapi urusan administratif dengan Bupati dan Dinkes). Apabila SPBK setempat (tujuan) tidak merespon dan atau menolak surat permohonan SPBK Penyelenggara, maka SPBK Penyelenggara diharap melaporkan kepada SPBK Pusat agar nantinya dapat difasilitasi untuk dikoordinasikan secara informal. PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK SPBK PERDAMI 11

21 Gambar 2. Alur pengajuan kegiatan lintas cabang. b. Setelah jumlah pasien dipastikan, SPBK setempat/ Pusat membuat surat permohonan pelaksanaan kegiatan kepada Bupati Kepala Daerah up Kasudinkes dengan melampirkan daftar anggota Tim lengkap, dan membuat surat tugas ke Dokter SpM/ RS/ Puskesmas sesuai dengan rencana yang diusulkan mengenai jumlah pasien, daerah sasaran Baksos, dan waktu pelaksanaan. c. Kepala Subdinkes setempat membuat surat Perintah pelaksanaan kegiatan, lengkap dengan tanggal pelaksanaan, tempat pelaksanaan, disebutkan Rumah Sakit Rujukan untuk penanganan apabila terjadi penyulit dan dilampirkan Daftar Anggota Tim lengkap, sebagai Payung hukum yang melindungi 12 PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK SPBK PERDAMI

22 anggota Tim apabila terjadi Kejadian yang Tidak Diharapkan (KTD). III.2. Pedoman Administratif dan Payung Hukum Penyelenggaraan Kegiatan 1. Anggota Tim Operasi: a. Jika jumlah anggota Tim Operasi Cabang diperkirakan belum mencukupi kebutuhan jumlah pasien yang akan dioperasi, atau SPBK Cabang bermaksud meminta pendampingan teknis/knowledge transfer, permintaan tambahan tenaga dapat diajukan kepada SPBK Pusat sehingga SPBK Pusat dapat mengalokasikan tenaga tambahan ke Cabang, sesuai kebutuhan. b. Bagi anggota Perdami yang berminat mengikuti Baksos bisa mendaftarkan diri ke SPBK, untuk selanjutnya dihubungi jika ada kegiatan. c. Semua Dokter yang tergabung ke dalam Tim Operasi harus mempunyai Surat Izin Praktek (SIP) atau SIP sementara yang masih berlaku, yang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan setempat. d. Untuk Dokter dari luar negeri harus dapat menunjukkan surat yang setaraf dengan SIP dan izin kerja dari Konsil Kedokteran Indonesia / Ikatan Dokter Indonesia, dalam hal ini Kolegium. e. Kerjasama dengan Dokter dari luar negeri harus dikaitkan dengan institusi pendidikan karena PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK SPBK PERDAMI 13

23 kedatangan tenaga Dokter dari luar negeri selayaknya adalah dalam konteks knowledge/skill transfer. f. Semua Paramedis harus mempunyai Surat Pernyataan Kompetensi yang masih berlaku untuk dapat menjadi anggota Tim. Surat ini dibuat oleh Instansi tempat Paramedis tersebut berdinas). 2. Kriteria pasien Baksos: a. Seleksi pasien operasi dengan indikasi medis dan indikasi sosial adalah kewenangan Dokter SpM setempat bersama Tim SPBK. b. Pada waktu seleksi awal pasien, Dokter Spesialis Mata setempat harus diikutsertakan, sehingga tidak terjadi konflik tentang pasien yang dipilih (yang tidak mampu). c. Pasien Baksos adalah pasien tidak mampu yang tidak memiliki jaminan kesehatan apapun. d. Pasien yang mengikuti Baksos harus mempunyai surat keterangan tidak mampu yang minimal didapatkan dari Ketua RT/RW setempat. e. Kebutaan dengan penyebab di luar katarak harus dirujuk ke Dokter Spesialis Mata setempat atau Rumah Sakit yang sudah ditunjuk. f. Kasus di luar katarak yang tidak berpotensi kebutaan dikembalikan ke Spesialis Mata setempat. 3. Informed consent: a. Khusus untuk informed consent, dijelaskan dengan bahasa awam penyakit apa yang diderita, 14 PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK SPBK PERDAMI

24 tindakan/operasi apa yang akan dilakukan, tujuan tindakan/operasi tersebut, obat apa yang harus ditetes/ diminum setelah operasi, penyulit yang dapat terjadi pada/setelah operasi, tanda-tanda penyulit yang terjadi pasca-operasi dan prosedur penanganannya serta biaya ditanggung oleh penyelenggara. Sebaiknya satu saksi yang menandatangani dari pihak Penyelenggara adalah Dokter Mata Setempat. Informed consent ini diulangi sekali lagi pada saat pra-bedah, sekaligus ditandatangani oleh operator. (Contoh form informed consent terlampir). 4. Pelaksanaan: a. Tempat yang digunakan untuk operasi katarak dilakukan di kamar operasi yang memenuhi standar. b. Pelaksanaan kegiatan di lapangan sesuai dengan Buku Panduan Operasional SPBK Pusat. 5. Follow-up: a. Follow-up pasien sebaiknya dilakukan oleh Dokter Spesialis Mata setempat atau salah satu anggota Tim Operasi sesuai dengan Pedoman Operasional SPBK Perdami (Bab IV). b. Ketentuan mengenai jadwal pelaksanaan follow-up disesuaikan dengan Formulir Pelaporan baku yang telah dibuat SPBK Pusat (terlampir). PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK SPBK PERDAMI 15

25 6. Pelaporan kegiatan: Untuk menciptakan ketertiban adiministrasi dan ketepatan penghitungan jumlah operasi wilayah kerja, maka untuk pelaporan kegiatan Bakti Sosial ditetapkan sebagai berikut: a. SPBK Penyelenggara akan melaporkan kegiatan (berkaitan dengan teknis penyelenggaraan) dan hasil operasi ke SPBK setempat, dengan tembusan ke SPBK Pusat (Formulir A dan B). b. SPBK tempat penyelenggaraan (tujuan) akan melaporkan hasil operasi (berkaitan dengan jumlah, pencapaian visus, dan komplikasi) melalui Laporan Bulanannya ke SPBK Pusat (formulir akan dikeluarkan oleh SPBK Pusat) sebagai capaian wilayah kerjanya. 7. Komplikasi: a. Semua penyulit yang tidak dapat ditangani oleh Dokter Mata setempat atau anggota Tim Operasi dikirim ke Rumah Sakit Rujukan yang telah disepakati, sekaligus melaporkan secara resmi kepada SPBK Cabang, untuk kemudian diteruskan laporannya kepada SPBK Pusat. b. Biaya komplikasi menjadi pertanggungan SPBK, tetapi pasien wajib melengkapi persyaratan administratif berupa surat Gakin/ SKTM. 8. Biaya operasi katarak per pasien: a. Biaya untuk operasi dan penanganan apabila terjadi penyulit/komplikasi setelah operasi ditanggung oleh Penyelenggara/SPBK. 16 PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK SPBK PERDAMI

26 b. Unit cost operasi per pasien telah diperhitungkan secara proporsional sesuai perhitungan SPBK, sebesar Rp /pasien, dengan perincian sebagai berikut: 1.A. Biaya operasional per pasien : minimal 40 operasi Obat-obatan dan prasarana Rp Kacamata/IOL Rp Biaya operasional dokter Rp Biaya operasional asisten/tim pendukung Rp Perawatan alat mikro/linen Rp Biaya follow-up tim Rp Biaya penanganan komplikasi Rp Subtotal I Rp B. Biaya administrasi/keuangan per pasien Subtotal II Rp Jumlah biaya operasi/pasien Rp c. Unit cost dasar operasi per pasien disepakati berlaku sama di semua daerah dan dalam pengajuan proposal. d. Tambahan biaya di luar unit cost dasar operasi per pasien (seperti transportasi, akomodasi, penyewaan sarana/fasilitas kamar operasi, dll) dinyatakan dan diajukan secara terpisah. e. Biaya tambahan dalam point d dapat disesuaikan dengan kondisi daerah masing-masing. PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK SPBK PERDAMI 17

27 18 PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK SPBK PERDAMI

28 BAKTI SOSIAL OPERASI KATARAK OLEH SEKSI PENANGGULANGAN BUTA KATARAK (SPBK) PERDAMI Standar Prosedur operasional No. Dokumen Tanggal Terbit : 5 Januari 2009 No. Revisi Halaman 1 dari 2 Ditetapkan Ketua SPBK Pusat Dr. Johan Hutauruk, SpM Pengertian Bakti sosial operasi katarak adalah Pelaksanaan operasi katarak secara massal bagi pasien tidak mampu. SPBK adalah suatu seksi di bawah Perdami Pusat. Dokter spesialis Mata Tim SPBK adalah dokter spesialis mata yang ditugaskan oleh ketua SPBK Pusat/Cabang untuk melaksanakan bakti sosial operasi katarak. Dokter Spesialis Mata setempat adalah dokter spesialis mata yang bertugas di wilayah pelaksanaan bakti sosial operasi katarak. Paramedis yang dimaksud adalah perawat mahir mata yang membantu operator dalam pelaksanaan bakti sosial operasi katarak. Buta katarak adalah penurunan tajam penglihatan yang disebabkan oleh kekeruhan lensa mata dengan tajam penglihatan 3/60 atau kurang. Tujuan Membantu program pemerintah dalam menurunkan angka kebutaan akibat katarak di Indonesia. Kebijakan MOU SPBK & DepKes SK. DepKes tentang Komnas Penanggulangan Gangguan Penglihatan dan Kebutaan (PGPK) SK SPBK Pusat ke masing-masing SPBK Cabang Surat Tugas dari SPBK Cabang kepada operator SIP/ SIP sementara untuk operator pelaksana (dikeluarkan oleh DinKes setempat dengan rekomendasi Perdami) PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK SPBK PERDAMI 19

29 BAKTI SOSIAL OPERASI KATARAK OLEH SEKSI PENANGGULANGAN BUTA KATARAK (SPBK) PERDAMI No. Dokumen No. Revisi Halaman 2 dari 2 A. Perizinan : 1 Pihak Penyelenggara/ Rumah Sakit/ Puskesmas/ Pemerintah Daerah/ Yayasan mengajukan surat permohonan bakti sosial operasi katarak kepada Seksi Penanggulangan Buta Katarak (SPBK). 2 3 SPBK membuat surat tugas ke Dokter Spesialis Mata (SpM)/ Rumah Sakit/ Puskesmas setempat sesuai rencana yang diusulkan (mengenai jumlah pasien, daerah sasaran baksos dan waktu pelaksanaan). Tembusan ke Dinas Kesehatan/ Instansi terkait. Dinas Kesehatan setempat menerbitkan surat izin/penugasan yang sifatnya sementara yang akan berfungsi sebagai SIP sementara (berlaku 3 bulan). Prosedur B. Persiapan pasien dan peralatan : 1 Seleksi pasien operasi dengan indikasi medis dan indikasi sosial adalah kewenangan dari Dokter SpM setempat bersama tim SPBK. 2 SPBK menyiapkan peralatan medis, bahan habis pakai dan obat-obatan keperluan bakti sosial. 3 Tempat yang digunakan untuk operasi katarak dapat dilakukan di kamar operasi yang memenuhi standar. C. SDM : 1 Semua Dokter yang tergabung dalam Tim Operasi harus mempunyai surat izin praktek (SIP) / SIP sementara yang berlaku dari Dinas Kesehatan setempat. Untuk Dokter dari luar negeri harus dapat menunjukkan surat yang setaraf dengan SIP dan Izin kerja dari KKI/ IDI. 2 Semua paramedis yang ikut Tim harus mempunyai Kompetensi yang masih berlaku untuk dapat menjadi anggota Tim. (dibuat oleh Instansi dimana paramedis itu berdinas). D. Pembiayaan : 1 Unit cost operasi diperhitungkan secara proporsional sesuai perhitungan SPBK. 2 Biaya untuk operasi dan penanganan apabila terjadi penyulit / komplikasi setelah operasi ditanggung oleh Penyelenggara / SPBK. Unit Terkait Dokter spesialis Mata setempat, Dokter Spesialis Mata Tim SPBK, Paramedis Tim SPBK, Dinas Kesehatan setempat, Puskesmas/Rumah Sakit tempat operasi, Rumah sakit tempat rujukan, dan pihak Penyelenggara. 20 PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK SPBK PERDAMI

30 BAKTI SOSIAL OPERASI KATARAK OLEH SEKSI PENANGGULANGAN BUTA KATARAK (SPBK) PERDAMI No. Dokumen No. Revisi Halaman 1 dari 2 Standar Prosedur operasional Tanggal Terbit : 5 Januari 2009 Ditetapkan Ketua SPBK Pusat Dr. Johan Hutauruk, SpM Pengertian Indikasi operasi adalah kriteria pasien yang diseleksi untuk dilaksanakan operasi katarak. Teknik seleksi adalah pemeriksaan mata pada pasien yang dipilih sesuai standar yang berlaku dalam pelaksanaan operasi katarak. Teknik operasi adalah cara yang dipilih untuk melakukan operasi katarak sesuai dengan prosedur operasional standar. Evaluasi pasca bedah adalah penilaian hasil operasi yang dilaksanakan setelah operasi katarak. Penyulit/ komplikasi operasi adalah keadaan yang tidak diharapkan akibat tindakan operasi yang terjadi pada saat dan atau setelah operasi katarak. Rumah sakit rujukan adalah rumah sakit yang ditunjuk untuk mengatasi penyulit / komplikasi operasi katarak. Tujuan Meningkatkan mutu pelayanan bakti sosial operasi katarak dan meminimalisasi penyulit / komplikasi yang terjadi dalam rangka mencapai tajam penglihatan akhir yang optimal. Kebijakan MOU SPBK & DepKes SK Depkes tentang Komnas Penanggulangan Gangguan Penglihatan dan Kebutaan (PGPK) SK SPBK Pusat ke masing masing SPBK Cabang Surat Tugas dari SPBK Cabang kepada operator SIP/ SIP sementara untuk operator pelaksana (dikeluarkan oleh DinKes setempat dengan rekomendasi Perdami) Standar Profesi dan Standar Pelayanan Kesehatan Mata Perdami. Manajemen Klinis Perdami PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK SPBK PERDAMI 21

31 BAKTI SOSIAL OPERASI KATARAK OLEH SEKSI PENANGGULANGAN BUTA KATARAK (SPBK) PERDAMI No. Dokumen No. Revisi Halaman 2 dari 2 A. Perizinan Indikasi operasi : : 1 Indikasi administratif: pasien-pasien miskin yang dinyatakan dengan surat keterangan tidak mampu dari RT/RW, Lurah, Camat dan Puskesmas setempat, yang tidak memiliki jaminan kesehatan apapun. 2 Indikasi medik: presenting visual acuity <6/60 pada salah satu atau kedua mata 3 Indikasi sosial: sesuai Protap SPBK B. Persiapan Teknik seleksi pasien : dan peralatan : 1 Seleksi pasien operasi dengan indikasi medik dan indikasi sosial adalah kewenangan Dokter SpM setempat bersama Tim SPBK. 2 Pada waktu seleksi awal pasien, Dokter SpM setempat harus diikutsertakan sehingga tidak terjadi konflik tentang pasien yang dipilih. 3 Kebutaan dengan penyebab di luar katarak harus dirujuk ke Dokter SpM setempat atau Rumah Sakit yang sudah ditunjuk. Prosedur C. SDM Teknik : operasi : 1 Ekstraksi Katarak Ekstra Kapsular (Extracapsular Cataract Extraction, ECCE) 2 Small Incision Cataract Surgery (SICS) 3 Fakoemulsifikasi Point C1-C3 dengan menggunakan implantasi lensa intraokular D. Pembiayaan Evaluasi pascabedah : : 1 Follow-up pascabedah H+1/H+2 kewenangan operator/spm setempat, H+7 dan H+30 kewenangan SpM setempat E. Penyulit/komplikasi operasi : 1 Penyulit yang tidak dapat ditangani sendiri oleh Dokter SpM setempat atau anggota Tim Operasi dikirim ke RS Rujukan yang telah disepakati. 2 Pengiriman ke RS Rujukan dilaporkan secara resmi kepada SPBK Cabang untuk kemudian diteruskan kepada SPBK Pusat. 3 Biaya komplikasi menjadi pertanggungan SPBK, selama pasien memenuhi persyaratan administratif. F. Rumah Sakit rujukan : 1 RS Rujukan ditentukan oleh Dokter Mata setempat, Tim Operasi dan atau Perdami Cabang. 2 RS Rujukan sudah ditentukan sejak awal pengajuan kegiatan sebagaimana tertera pada Proposal Kegiatan. Unit Terkait Dokter spesialis Mata setempat, Dokter Spesialis Mata Tim SPBK, Paramedis Tim SPBK, Dinas Kesehatan setempat, Puskesmas/Rumah Sakit tempat operasi, Rumah sakit tempat rujukan, dan pihak Penyelenggara. 22 PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK SPBK PERDAMI

32 Keterangan : 1. Protap Administrasi Baksos & Protap Pelaksanaan Baksos merupakan format baku dan harus ditandatangani oleh ketua SPBK Perdami Pusat. 2. Protap Administrasi Baksos & Protap Pelaksanaan Baksos, harus disertai dengan Formulir rencana pelaksanaan Baksos yang sudah ditanda tangani oleh Ketua SPBK Cabang dan Dokter Spesialis Mata setempat. 3. Protap Administrasi Baksos & Protap Pelaksanaan Baksos dan Formulir rencana pelaksanaan Baksos dibawa ke Dinas Kesehatan setempat untuk diterbitkan SIP sementara. PEDOMAN BAKSOS OPERASI KATARAK SPBK PERDAMI 23

Muhammadiyah Yogyakarta, 2 Departemen Mata, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ABSTRACT

Muhammadiyah Yogyakarta, 2 Departemen Mata, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ABSTRACT Perbandingan Peningkatan Tekanan Intraokular pada Pasien Post Operasi Ekstraksi Katarak Ekstrakapsular dibandingkan dengan Fakoemulsifikasi di AMC Yogyakarta pada Tahun 2011-2012 The Comparison of Intraocular

Lebih terperinci

Dua minggu setelah operasi Jangan menggosok mata Pakai kacamata gelap (sunglasses) Lindungi mata dari debu dan kotoran

Dua minggu setelah operasi Jangan menggosok mata Pakai kacamata gelap (sunglasses) Lindungi mata dari debu dan kotoran PETUNJUK UMUM PASKA PROSEDUR LASIK / ilasik / LASEK / EPI-LASIK Setelah menjalani operasi LASIK/iLASIK/LASEK/EPI-LASIK, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Petunjuk-petunjuk di bawah ini hendaknya

Lebih terperinci

Pengemasan dengan sterilisasi steam/gas. Sterilisasi dengan steam/gas. Pembungkus dapat ditembus oleh uap/gas Impermiabel bagi mikroba Tahan lama

Pengemasan dengan sterilisasi steam/gas. Sterilisasi dengan steam/gas. Pembungkus dapat ditembus oleh uap/gas Impermiabel bagi mikroba Tahan lama PERAWATAN DAN MAINTENANCE PREPARASI OPERASI Dr. Drh.Gunanti S,MS Bag Bedah dan Radiologi PERSIPAN PENGEMASAN Prinsip : bebas dari kontaminasi Peralatan dan bahan harus bersih : Alat dibersihkan manual/pembersih

Lebih terperinci

REGULASI UNIT HEMODIALISIS DI INDONESIA

REGULASI UNIT HEMODIALISIS DI INDONESIA REGULASI UNIT HEMODIALISIS DI INDONESIA Dharmeizar Divisi Ginjal Hipertensi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, FKUI/ RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta LANDASAN HUKUM 1. Undang-undang No. 29 tahun 2004

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.749, 2013 KEMENTERIAN KESEHATAN. Wajib Lapor. Pecandu Narkotika. Tata Cara. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN

Lebih terperinci

KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA RI SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN STANDAR PELAYANAN KESEHATAN DASAR DI LINGKUNGAN SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN RI

KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA RI SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN STANDAR PELAYANAN KESEHATAN DASAR DI LINGKUNGAN SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN RI KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA RI SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN STANDAR PELAYANAN KESEHATAN DASAR DI LINGKUNGAN SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN RI NOMOR 9/SP/SETWAPRES/D-5/TUPEG/11/2011 BAGIAN KESATU PENDAHULUAN

Lebih terperinci

Buku Panduan Pendidikan Keterampilan Klinik 1. Keterampilan Menyuntik Rini Rachmawarni Bachtiar Baedah Madjid

Buku Panduan Pendidikan Keterampilan Klinik 1. Keterampilan Menyuntik Rini Rachmawarni Bachtiar Baedah Madjid Buku Panduan Keterampilan Menyuntik Rini Rachmawarni Bachtiar Baedah Madjid Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin 2015 KETERAMPILAN MENYIAPKAN OBAT SUNTIKAN DARI AMPUL DAN VIAL PENGERTIAN Ampul adalah

Lebih terperinci

KAJIAN PELAKSANAAN REKAM MEDIS GIGI RAWAT JALAN DI PUSKESMAS KOTA PONTIANAK

KAJIAN PELAKSANAAN REKAM MEDIS GIGI RAWAT JALAN DI PUSKESMAS KOTA PONTIANAK KAJIAN PELAKSANAAN REKAM MEDIS GIGI RAWAT JALAN DI PUSKESMAS KOTA PONTIANAK Sri Rezki Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Pontianak ABSTRAK Latar Belakang: Rekam medis merupakan berkas yang berisi catatan

Lebih terperinci

Reimplantasi Lensa Setelah Komplikasi Operasi Katarak

Reimplantasi Lensa Setelah Komplikasi Operasi Katarak Artikel Penelitian Reimplantasi Lensa Setelah Komplikasi Operasi Katarak Lens Reimplantation After Cataract Surgical Complication Gilbert W. S. Simanjuntak Departemen Oftalmologi Fakultas Kedokteran Universitas

Lebih terperinci

Dengan key informan dari pihak gereja (Ibu Ninik Sindoro)

Dengan key informan dari pihak gereja (Ibu Ninik Sindoro) 1 Daftar pertanyaan wawancara Dengan key informan dari pihak gereja (Ibu Ninik Sindoro) selaku koordinator kegiatan OperasiKasih 1. Sudah berapa lama bekerja menjadi koordinator kegiatan OperasiKasih?

Lebih terperinci

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) BIDANG PERHUBUNGAN TAHUN 2012

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) BIDANG PERHUBUNGAN TAHUN 2012 STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) BIDANG PERHUBUNGAN TAHUN 2012 PEMERINTAH KABUPATEN BANTUL DINAS PERHUBUNGAN Jl. Lingkar Timur Manding, Trirenggo, Bantul, Telp. 367321 KATA PENGANTAR Puji dan syukur

Lebih terperinci

Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 59 tahun 2012 tentang Pedoman Pelaksanaan Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan

Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 59 tahun 2012 tentang Pedoman Pelaksanaan Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 59 tahun 2012 tentang Pedoman Pelaksanaan Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan DIY tgl 19 29 November 2012 Latar Belakang Masyarakat Provider/fasyankes

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. sangat strategis dalam upaya mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat

BAB 1 PENDAHULUAN. sangat strategis dalam upaya mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Rumah sakit merupakan fasilitas pelayanan kesehatan memiliki peran yang sangat strategis dalam upaya mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat Indonesia.

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 75 TAHUN 2014 TENTANG PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 75 TAHUN 2014 TENTANG PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 75 TAHUN 2014 TENTANG PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa

Lebih terperinci

PETUNJUK TEKNIS BANTUAN SOSIAL (BANSOS) PROGRAM PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT DIREKTORAT BINA GIZI MASYARAKAT

PETUNJUK TEKNIS BANTUAN SOSIAL (BANSOS) PROGRAM PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT DIREKTORAT BINA GIZI MASYARAKAT PETUNJUK TEKNIS BANTUAN SOSIAL (BANSOS) PROGRAM PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT DIREKTORAT BINA GIZI MASYARAKAT DIREKTORAT JENDERAL BINA KESEHATAN MASYARAKAT DEPARTEMEN KESEHATAN R I TAHUN 2008 BAB I PENDAHULUAN

Lebih terperinci

dr. H R Dedi Kuswenda, MKes Direktur Bina Upaya Kesehatan Dasar Ditjen Bina Upaya Kesehatan

dr. H R Dedi Kuswenda, MKes Direktur Bina Upaya Kesehatan Dasar Ditjen Bina Upaya Kesehatan dr. H R Dedi Kuswenda, MKes Direktur Bina Upaya Kesehatan Dasar Ditjen Bina Upaya Kesehatan Dasar Hukum Pengertian Akreditasi Maksud dan Tujuan Akreditasi Proses Akreditasi Undang-Undang Republik Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembuahan dalam kandungan sampai umur lanjut (GBHN, 1999). yang terus berkembang (Depkes RI, 1999).

BAB I PENDAHULUAN. pembuahan dalam kandungan sampai umur lanjut (GBHN, 1999). yang terus berkembang (Depkes RI, 1999). BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan kesehatan diarahkan kepada peningkatan mutu sumber daya manusia dan lingkungan yang saling mendukung dengan pendekatan paradigma sehat, yang memberikan

Lebih terperinci

BAGAN DAN ALUR PERMOHONAN REGISTRASI ULANG

BAGAN DAN ALUR PERMOHONAN REGISTRASI ULANG BAGAN DAN ALUR PERMOHONAN REGISTRASI ULANG dr/drg dan dr.sp/drg.sp IDI /PDGI Kolegium P2KB/P3KGB (Proses Sertifikat Kompetensi) KKI (Proses STR) Tembusan : IDI/PDGI Kirim ke Ybs Melalui PT.Pos Persyaratan

Lebih terperinci

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA MENTERI PERATURAN MENTERI NOMOR :PER.15/MEN/VIII/2008 TENTANG PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN DI TEMPAT KERJA. MENTERI Menimbang : a. Bahwa dalam rangka memberikan perlindungan bagi pekerja/buruh yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pelayanan kesehatan yang diselenggarakan dirumah sakit merupakan bentuk

BAB I PENDAHULUAN. Pelayanan kesehatan yang diselenggarakan dirumah sakit merupakan bentuk BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pelayanan kesehatan yang diselenggarakan dirumah sakit merupakan bentuk pelayanan yang di berikan kepada pasien melibatkan tim multi disiplin termasuk tim keperawatan.

Lebih terperinci

100% 100% (2/2) 100% 100% (4142) (4162) (269) (307) (307) (269) (278) (263) (265) (264) 0% (638) 12 mnt. (578) 10 mnt

100% 100% (2/2) 100% 100% (4142) (4162) (269) (307) (307) (269) (278) (263) (265) (264) 0% (638) 12 mnt. (578) 10 mnt Press Release Implementasi Standar Akreditasi Untuk Meningkatkan Mutu Pelayanan & Keselamatan Pasien RSUD dr. R. Soetrasno Kabupaten Rembang RSUD dr. R. Soetrasno Kabupaten Rembang, merupakan rumah sakit

Lebih terperinci

- 1 - GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG

- 1 - GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG - 1 - GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN SISTEM RUJUKAN PELAYANAN KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

Masalah Kulit Umum pada Bayi. Kulit bayi sangatlah lembut dan membutuhkan perawatan ekstra.

Masalah Kulit Umum pada Bayi. Kulit bayi sangatlah lembut dan membutuhkan perawatan ekstra. Masalah Kulit Umum pada Bayi Kulit bayi sangatlah lembut dan membutuhkan perawatan ekstra. Brosur ini memberikan informasi mendasar tentang permasalahan kulit yang lazimnya dijumpai pada usia dini sebagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Namun seiring berkembangnya zaman, rumah sakit pada era globalisasi

BAB I PENDAHULUAN. Namun seiring berkembangnya zaman, rumah sakit pada era globalisasi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rumah sakit merupakan sebuah institusi perawatan profesional yang pelayanannya disediakan oleh dokter, perawat, dan tenaga ahli kesehatan lainnya. Namun seiring berkembangnya

Lebih terperinci

panduan praktis Penjaminan di Wilayah Tidak Ada Faskes Penuhi Syarat

panduan praktis Penjaminan di Wilayah Tidak Ada Faskes Penuhi Syarat panduan praktis Penjaminan di Wilayah Tidak Ada Faskes Penuhi Syarat 12 02 panduan praktis Penjaminan di Wilayah Tidak Ada Faskes Penuhi Syarat Kata Pengantar Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 40 Tahun

Lebih terperinci

PERSYARATAN IZIN KLINIK PRATAMA/UTAMA RAWAT JALAN/RAWAT INAP/24 JAM

PERSYARATAN IZIN KLINIK PRATAMA/UTAMA RAWAT JALAN/RAWAT INAP/24 JAM Nama Sarana : No. Telp : Nama Penanggung Jawab : PERSYARATAN IZIN KLINIK PRATAMA/UTAMA RAWAT JALAN/RAWAT INAP/24 JAM No. 1 Surat permohonan kepada Bupati melalui kepala Dinas Kesehatan Sukoharjo ber 2

Lebih terperinci

MANAJEMEN PELAYANAN MEDIK DI RUMAH SAKIT. Henni Djuhaeni

MANAJEMEN PELAYANAN MEDIK DI RUMAH SAKIT. Henni Djuhaeni 1 MANAJEMEN PELAYANAN MEDIK DI RUMAH SAKIT Henni Djuhaeni I. Pendahuluan Pelayanan medik khususnya medik spesialistik merupakan salah satu Ciri dari Rumah Sakit yang membedakan antara Rumah Sakit dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada era globalisasi ini masyarakat cenderung menuntut pelayanan kesehatan yang bermutu. Pengukur mutu sebuah pelayanan dapat dilihat secara subjektif dan objektif.

Lebih terperinci

panduan praktis Administrasi Klaim Fasilitas Kesehatan BPJS Kesehatan

panduan praktis Administrasi Klaim Fasilitas Kesehatan BPJS Kesehatan panduan praktis Administrasi Klaim Fasilitas Kesehatan BPJS Kesehatan 14 02 panduan praktis administrasi klaim faskes BPJS Kesehatan Kata Pengantar Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang

Lebih terperinci

PONED sebagai Strategi untuk Persalinan yang Aman

PONED sebagai Strategi untuk Persalinan yang Aman PONED sebagai Strategi untuk Persalinan yang Aman Oleh: Dewiyana* Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED) adalah pelayanan untuk menanggulangi kasus kegawatdaruratan obstetri dan neonatal yang

Lebih terperinci

Jurusan Bahasa Jepang Aturan Pokok Penerimaan Siswa Baru

Jurusan Bahasa Jepang Aturan Pokok Penerimaan Siswa Baru 名 古 屋 経 営 会 計 専 門 学 校 Akademi Manajemen dan Akuntansi Nagoya Jurusan Bahasa Jepang Aturan Pokok Penerimaan Siswa Baru April, Oktober Tahun 2013 April, Oktober Tahun 2014 1 Kualifikasi Pelamar 2 Kapasitas

Lebih terperinci

INSTRUMEN AKREDITASI RUMAH SAKIT STANDAR AKREDITASI VERSI 2012

INSTRUMEN AKREDITASI RUMAH SAKIT STANDAR AKREDITASI VERSI 2012 KOMISI AKREDITASI RUMAH SAKIT INSTRUMEN AKREDITASI RUMAH SAKIT STANDAR AKREDITASI VERSI 212 Edisi 1, tahun 212 KATA PENGANTAR KETUA KOMISI AKREDITASI RUMAH SAKIT (Dr. dr. Sutoto, M.Kes) Puji syukur kita

Lebih terperinci

panduan praktis Sistem Rujukan Berjenjang

panduan praktis Sistem Rujukan Berjenjang panduan praktis Sistem Rujukan Berjenjang 04 02 panduan praktis Sistem Rujukan Berjenjang Kata Pengantar Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan

Lebih terperinci

BAB 28 PENINGKATAN AKSES MASYARAKAT TERHADAP KESEHATAN

BAB 28 PENINGKATAN AKSES MASYARAKAT TERHADAP KESEHATAN BAB 28 PENINGKATAN AKSES MASYARAKAT TERHADAP KESEHATAN YANG BERKUALITAS Pembangunan kesehatan merupakan upaya untuk memenuhi salah satu hak dasar rakyat, yaitu hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan

Lebih terperinci

CARA YANG TEPAT DETEKSI DINI KANKER PAYUDARA

CARA YANG TEPAT DETEKSI DINI KANKER PAYUDARA CARA YANG TEPAT DETEKSI DINI KANKER PAYUDARA Oleh : Debby dan Arief Dalam tubuh terdapat berjuta-juta sel. Salah satunya, sel abnormal atau sel metaplasia, yaitu sel yang berubah, tetapi masih dalam batas

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DATA DAN RANCANGAN PROSEDUR PENGELOLAAN OBAT/ALAT KESEHATAN DI INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT MYRIA PALEMBANG

BAB IV ANALISIS DATA DAN RANCANGAN PROSEDUR PENGELOLAAN OBAT/ALAT KESEHATAN DI INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT MYRIA PALEMBANG BAB IV ANALISIS DATA DAN RANCANGAN PROSEDUR PENGELOLAAN OBAT/ALAT KESEHATAN DI INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT MYRIA PALEMBANG Instalasi Farmasi Rumah Sakit Myria Palembang merupakan Bagian Pelayanan Instalasi

Lebih terperinci

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR KEGIATAN KEMAHASISWAAN UNIVERASITAS HALU OLEO

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR KEGIATAN KEMAHASISWAAN UNIVERASITAS HALU OLEO STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR KEGIATAN KEMAHASISWAAN UNIVERASITAS HALU OLEO DOKUMEN LEVEL KODE STANDAR OPERATING PROCEDURE JUDUL:KEGIATAN KEMAHASISWAAN TANGGAL DIKELUARKAN AREA NO REVISI : 00 TUJUAN 1.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. banyak penduduk miskin. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS)

BAB I PENDAHULUAN. banyak penduduk miskin. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Indonesia adalah salah satu dari negara berkembang yang memiliki banyak penduduk miskin. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2009

Lebih terperinci

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) : Tanda-Tanda Persalinan dan Persiapan Persalinan : Ibu Hamil di Jorong Batang Buo :Vedjia Medhina S.

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) : Tanda-Tanda Persalinan dan Persiapan Persalinan : Ibu Hamil di Jorong Batang Buo :Vedjia Medhina S. Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan Sasaran Penyaji Waktu Hari/ Tgl/Jam Tempat SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) : Asuhan pada ibu hamil : Tanda-Tanda Persalinan dan Persiapan Persalinan : Ibu Hamil di Jorong

Lebih terperinci

ALAT - ALAT OPTIK. Bintik Kuning. Pupil Lensa. Syaraf Optik

ALAT - ALAT OPTIK. Bintik Kuning. Pupil Lensa. Syaraf Optik ALAT - ALAT OPTIK 1. Pendahuluan Alat optik banyak digunakan, baik untuk keperluan praktis dalam kehidupan seharihari maupun untuk keperluan keilmuan. Beberapa contoh alat optik antara lain: Kaca Pembesar

Lebih terperinci

ANALISIS PELAKSANAAN MANAJEMEN MUTU PELAYANAN DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT ISLAM MALAHAYATI MEDAN

ANALISIS PELAKSANAAN MANAJEMEN MUTU PELAYANAN DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT ISLAM MALAHAYATI MEDAN ANALISIS PELAKSANAAN MANAJEMEN MUTU PELAYANAN DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT ISLAM MALAHAYATI MEDAN GELADIKARYA Oleh : AMERINA SYAFHARINI, ST 087007074 KONSENTRASI PEMASARAN TEKNOLOGI PROGRAM STUDI

Lebih terperinci

BUKU PANDUAN PESERTA UJI KOMPETENSI MANAJEMEN RISIKO

BUKU PANDUAN PESERTA UJI KOMPETENSI MANAJEMEN RISIKO BUKU PANDUAN PESERTA UJI KOMPETENSI MANAJEMEN RISIKO Edisi Januari 2009 1 PANDUAN PESERTA UJI KOMPETENSI MANAJEMEN RISIKO Pendaftaran Uji Kompetensi Manajemen Risiko dapat dilakukan secara kolektif dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. jumlah dokter dan sistem pengobatan yang dinilai tidak terorganisasi. Nila F.

BAB I PENDAHULUAN. jumlah dokter dan sistem pengobatan yang dinilai tidak terorganisasi. Nila F. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Mata adalah suatu panca indera yang sangat penting dalam kehidupan manusia untuk melihat. Dengan mata manusia dapat menikmati keindahan alam dan berinteraksi dengan

Lebih terperinci

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL IMIGRASI NOMOR IMI-1868.PR.08.01 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR MANAJEMEN BLANGKO DOKUMEN KEIMIGRASIAN

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL IMIGRASI NOMOR IMI-1868.PR.08.01 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR MANAJEMEN BLANGKO DOKUMEN KEIMIGRASIAN KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL IMIGRASI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL IMIGRASI NOMOR IMI-1868.PR.08.01 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR MANAJEMEN

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL

BERITA DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL BERITA DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL ( Berita Resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul ) Nomor : 15 Tahun : 2010 Seri : E PERATURAN BUPATI GUNUNGKIDUL NOMOR 23 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR

Lebih terperinci

LAPORAN KINERJA TRIWULANAN RSUD LAWANG TAHUN 2015

LAPORAN KINERJA TRIWULANAN RSUD LAWANG TAHUN 2015 LAMPIRAN LAPORAN KINERJA TRIWULANAN RSUD LAWANG TAHUN 2015 RSUD Lawang mempunyai 2 sasaran srategis, yaitu : 1. Meningkatnya sumber daya manusia, sarana, prasarana, peralatan, dan kebijakan untuk pengembangan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN PEMIKIRAN

BAB II LANDASAN PEMIKIRAN BAB II LANDASAN PEMIKIRAN 1. Landasan Filosofis Filosofi ilmu kedokteran Ilmu kedokteran secara bertahap berkembang di berbagai tempat terpisah. Pada umumnya masyarakat mempunyai keyakinan bahwa seorang

Lebih terperinci

TFC ( Therapeutic Feeding Centre ) / PPG ( Pusat Pemulihan Gizi )

TFC ( Therapeutic Feeding Centre ) / PPG ( Pusat Pemulihan Gizi ) TFC ( Therapeutic Feeding Centre ) / PPG ( Pusat Pemulihan Gizi ) Balita yang sehat dan cerdas adalah idaman bagi setiap orang. Namun apa yang terjadi jika balita menderita gizi buruk?. Di samping dampak

Lebih terperinci

Rekapitulasi Kematian Ibu dan Bayi di Kota YK Tahun 2013. Dinkes Kota YK

Rekapitulasi Kematian Ibu dan Bayi di Kota YK Tahun 2013. Dinkes Kota YK Rekapitulasi Kematian Ibu dan Bayi di Kota YK Tahun 2013 Dinkes Kota YK Jumlah Kematian KELAHIRAN DAN KEMATIAN JAN-DES L P Total 1 Jumlah Bayi Lahir Hidup 2178 2228 4406 2 Jumlah Bayi Lahir Mati 16 15

Lebih terperinci

LILIK SUKESI DIVISI GUNJAL HIPERTENSI DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT DALAM R.S. HASAN SADIKIN / FK UNPAD BANDUNG

LILIK SUKESI DIVISI GUNJAL HIPERTENSI DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT DALAM R.S. HASAN SADIKIN / FK UNPAD BANDUNG LILIK SUKESI DIVISI GUNJAL HIPERTENSI DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT DALAM R.S. HASAN SADIKIN / FK UNPAD BANDUNG OUTLINE PENDAHULUAN TENAGA KESEHATAN MENURUT UNDANG-UNDANG TUGAS & WEWENANG PERAWAT PENDELEGASIAN

Lebih terperinci

BUPATI MALANG BUPATI MALANG,

BUPATI MALANG BUPATI MALANG, BUPATI MALANG PERATURAN BUPATI MALANG NOMOR 24 TAHUN 2012 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENYELENGGARAAN PELAYANAN KESEHATAN DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH LAWANG BUPATI MALANG, Menimbang : a. bahwa dengan ditetapkannya

Lebih terperinci

Bab I. Pendahuluan I.1. Latar Belakang

Bab I. Pendahuluan I.1. Latar Belakang Bab I. Pendahuluan I.1. Latar Belakang Menurut Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, tugas adalah kewajiban yang harus dikerjakan, pekerjaan yang merupakan tanggung jawab, pekerjaan yang dibebankan, maupun perintah

Lebih terperinci

KEMITRAAN BIDAN DAN DUKUN BAYI DI KAB TRENGGALEK

KEMITRAAN BIDAN DAN DUKUN BAYI DI KAB TRENGGALEK KEMITRAAN BIDAN DAN DUKUN BAYI DI KAB TRENGGALEK Kemitraan Bidan dan Dukun Bayi di Kabupaten Trenggalek merupakan suatu bentuk kerja sama antara bidan dan dukun dengan tujuan meningkatkan akses ibu dan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2013 TENTANG REGISTRASI TENAGA KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2013 TENTANG REGISTRASI TENAGA KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2013 TENTANG REGISTRASI TENAGA KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 2009 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 2009 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 2009 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk

Lebih terperinci

KEGIATAN DALAM RANGKA HARI KANKER SEDUNIA 2013 DI JAWA TIMUR

KEGIATAN DALAM RANGKA HARI KANKER SEDUNIA 2013 DI JAWA TIMUR KEGIATAN DALAM RANGKA HARI KANKER SEDUNIA 2013 DI JAWA TIMUR PENDAHULUAN Kanker merupakan salah satu penyakit yang telah menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia maupun di Indonesia. Setiap tahun,

Lebih terperinci

Carolina M Simanjuntak, S.Kep, Ns AKPER HKBP BALIGE

Carolina M Simanjuntak, S.Kep, Ns AKPER HKBP BALIGE Carolina M Simanjuntak, S.Kep, Ns Kala I Bantu ibu dalam persalinan jika ia tampak gelisah, ketakutan dan kesakitan Jika ibu tampak kesakitan, dukungan yg dapat dierikan : Perubahan posisi, tetapi jika

Lebih terperinci

Pelayanan Alat Kesehatan

Pelayanan Alat Kesehatan panduan praktis Pelayanan Alat Kesehatan Kantor Pusat Jl. Letjen Suprapto Cempaka Putih, PO. Box 1391 / JKT, Jakarta 10510 Indonesia Telp. +62 21 421 2938 (hunting), 424 6063, Fax. +62 21 421 2940 Website

Lebih terperinci

Link and match Pengembangan RS Pendidikan di daerah sulit dengan FK dan RS Pendidikannya. Agung Pranoto Fakultas Kedokteran UNAIR

Link and match Pengembangan RS Pendidikan di daerah sulit dengan FK dan RS Pendidikannya. Agung Pranoto Fakultas Kedokteran UNAIR Link and match Pengembangan RS Pendidikan di daerah sulit dengan FK dan RS Pendidikannya Agung Pranoto Fakultas Kedokteran UNAIR Topik 1. Latar Belakang 2. Rumah Sakit Pendidikan & Fak Kedokteran 3. Permasalahan

Lebih terperinci

PROPOSAL PENERBITAN BUKU AGENDA KERJA MAJELIS SYURO UPAYA KESEHATAN ISLAM SELURUH INDONESIA ( MUKISI ) TAHUN 2014-2015

PROPOSAL PENERBITAN BUKU AGENDA KERJA MAJELIS SYURO UPAYA KESEHATAN ISLAM SELURUH INDONESIA ( MUKISI ) TAHUN 2014-2015 PROPOSAL PENERBITAN BUKU AGENDA KERJA MAJELIS SYURO UPAYA KESEHATAN ISLAM SELURUH INDONESIA ( MUKISI ) TAHUN 2014-2015 I. Latar Belakang Buku Agenda Kerja menjadi sangat penting bukan hanya sebagai catatan

Lebih terperinci

PANDUAN MEDIK BLOK KEHAMILAN DAN MASALAH REPRODUKSI 3.1 PARTOGRAF. Tujuan Belajar : Mahasiswa mampu melakukan pengisian partograf

PANDUAN MEDIK BLOK KEHAMILAN DAN MASALAH REPRODUKSI 3.1 PARTOGRAF. Tujuan Belajar : Mahasiswa mampu melakukan pengisian partograf PANDUAN MEDIK BLOK KEHAMILAN DAN MASALAH REPRODUKSI 3.1 PARTOGRAF Tujuan Belajar : Mahasiswa mampu melakukan pengisian partograf Partograf adalah alat bantu yang digunakan selama fase aktif persalinan.

Lebih terperinci

Bab 11 Bagaimana menjelaskan kepada dokter saat berobat

Bab 11 Bagaimana menjelaskan kepada dokter saat berobat Bab 11 Bagaimana menjelaskan kepada dokter saat berobat Bab 11 Bagaimana menjelaskan kepada dokter saat berobat Waktu memeriksa ke dokter menerangkan secara jelas beberapa hal dibawah ini 1.Menjelaskan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Alat kesehatan meliputi barang, instrumen atau alat lain yang termasuk tiap komponen, bagian atau perlengkapannya yang diproduksi, dijual atau dimaksudkan untuk digunakan

Lebih terperinci

Untuk terang ke 3 maka Maka diperoleh : adalah

Untuk terang ke 3 maka Maka diperoleh : adalah JAWABAN LATIHAN UAS 1. INTERFERENSI CELAH GANDA YOUNG Dua buah celah terpisah sejauh 0,08 mm. Sebuah berkas cahaya datang tegak lurus padanya dan membentuk pola gelap terang pada layar yang berjarak 120

Lebih terperinci

WALIKOTA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 52 TAHUN 2008 TENTANG KERANGKA KERJA MUTU PELAYANAN KESEHATAN WALIKOTA YOGYAKARTA,

WALIKOTA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 52 TAHUN 2008 TENTANG KERANGKA KERJA MUTU PELAYANAN KESEHATAN WALIKOTA YOGYAKARTA, WALIKOTA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 52 TAHUN 2008 TENTANG KERANGKA KERJA MUTU PELAYANAN KESEHATAN WALIKOTA YOGYAKARTA, Menimbang Mengingat : a. bahwa untuk menjamin mutu, keamanan dan

Lebih terperinci

GLAUCOMA. Glukoma adalah sekelompok kelainan mata yang ditandai dengan peningkatan tekanan intraokuler.( Long Barbara, 1996)

GLAUCOMA. Glukoma adalah sekelompok kelainan mata yang ditandai dengan peningkatan tekanan intraokuler.( Long Barbara, 1996) GLAUCOMA A. DEFINISI Glukoma adalah suatu penyakit yang memberikan gambaran klinik berupa peninggian tekanan bola mata, penggaungan papil saraf optik dengan defek lapang pandangan mata.(sidarta Ilyas,2000).

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN BARANG BUKTI DI LINGKUNGAN BADAN NARKOTIKA NASIONAL

PERATURAN KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN BARANG BUKTI DI LINGKUNGAN BADAN NARKOTIKA NASIONAL HSL RPT TGL 13 JULI 2009 PERATURAN KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN BARANG BUKTI DI LINGKUNGAN BADAN NARKOTIKA NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN

Lebih terperinci

Program Rujuk Balik Bagi Peserta JKN

Program Rujuk Balik Bagi Peserta JKN panduan praktis Program Rujuk Balik Bagi Peserta JKN 07 02 panduan praktis Program Rujuk Balik Kata Pengantar Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN)

Lebih terperinci

BAB V APLIKASI, FAKTOR PENDUKUNG DAN PENGHAMBAT TOTAL QUALITY MANAGEMENT (TQM)

BAB V APLIKASI, FAKTOR PENDUKUNG DAN PENGHAMBAT TOTAL QUALITY MANAGEMENT (TQM) BAB V APLIKASI, FAKTOR PENDUKUNG DAN PENGHAMBAT TOTAL QUALITY MANAGEMENT (TQM) A. Aplikasi Total Quality Management (TQM) dalam Meningkatkan Mutu Pelayanan Jama ah Haji Memasuki usianya yang ke-20 tahun

Lebih terperinci

PEMERIKSAAN FISIK (PHYSICAL ASSESMENT) Ulfatul Latifah, SKM

PEMERIKSAAN FISIK (PHYSICAL ASSESMENT) Ulfatul Latifah, SKM PEMERIKSAAN FISIK (PHYSICAL ASSESMENT) Ulfatul Latifah, SKM Pemeriksaan Fisik Merupakan pemeriksaan tubuh pasien secara keseluruhan/hanya bagian tertentu yang dianggap penting oleh tenaga kesehatan Tujuan

Lebih terperinci

PEDOMAN PENGELOLAAN INFORMASI DAN DOKUMENTASI DI LINGKUNGAN SEKRETARIAT KABINET

PEDOMAN PENGELOLAAN INFORMASI DAN DOKUMENTASI DI LINGKUNGAN SEKRETARIAT KABINET PEDOMAN PENGELOLAAN INFORMASI DAN DOKUMENTASI DI LINGKUNGAN SEKRETARIAT KABINET A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Proses dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara, telah membuat bangsa kita sadar akan

Lebih terperinci

Menteri Perdagangan Republik Indonesia

Menteri Perdagangan Republik Indonesia Menteri Perdagangan Republik Indonesia PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 33/M-DAG/PER/8/2008 TENTANG PERUSAHAAN PERANTARA PERDAGANGAN PROPERTI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG

PERATURAN KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG TATA CARA PENANGANAN TERSANGKA DAN/ATAU TERDAKWA PECANDU NARKOTIKA DAN KORBAN PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA KE DALAM LEMBAGA REHABILITASI

Lebih terperinci

PETUNJUK PENGAMBILAN SAMPEL DNA SATWA LIAR. Petunjuk Penggunaan Kit (Alat Bantu) untuk Pengambilan Sampel DNA Satwa Liar

PETUNJUK PENGAMBILAN SAMPEL DNA SATWA LIAR. Petunjuk Penggunaan Kit (Alat Bantu) untuk Pengambilan Sampel DNA Satwa Liar PETUNJUK PENGAMBILAN SAMPEL DNA SATWA LIAR Petunjuk Penggunaan Kit (Alat Bantu) untuk Pengambilan Sampel DNA Satwa Liar Panduan ini dirancang untuk melengkapi Kit atau Alat Bantu Pengambilan Sampel DNA

Lebih terperinci

KAJIAN PENYANDANG MASALAH KESEJAHTERAAN SOSIAL (PMKS)

KAJIAN PENYANDANG MASALAH KESEJAHTERAAN SOSIAL (PMKS) KAJIAN PENYANDANG MASALAH KESEJAHTERAAN SOSIAL (PMKS) Bappeda Kabupaten Temanggung bekerjasama dengan Pusat Kajian Kebijakan dan Studi Pembangunan (PK2SP) FISIP UNDIP Tahun 2013 RINGKASAN I. Pendahuluan

Lebih terperinci

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PELAYANAN PERMOHONAN DATA KEPENDUDUKAN

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PELAYANAN PERMOHONAN DATA KEPENDUDUKAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PELAYANAN PERMOHONAN DATA KEPENDUDUKAN PADA DINAS KEPENDUDUKAN DAN TAHUN 2013 6 DINAS KEPENDUDUKAN DAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PELAYANAN PERMOHONAN DATA KEPENDUDUKAN

Lebih terperinci

BAB 4 METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini adalah Bagian Ilmu Kesehatan Anak, khususnya

BAB 4 METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini adalah Bagian Ilmu Kesehatan Anak, khususnya BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1. Ruang lingkup penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah Bagian Ilmu Kesehatan Anak, khususnya Perinatologi dan Neurologi. 4.. Waktu dan tempat penelitian Penelitian ini

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Rumah Sakit adalah suatu institusi pelayanan kesehatan yang kompleks, karena

BAB I PENDAHULUAN. Rumah Sakit adalah suatu institusi pelayanan kesehatan yang kompleks, karena BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Rumah Sakit adalah suatu institusi pelayanan kesehatan yang kompleks, karena selain memiliki fungsi sebagai pelayanan, rumah sakit juga menjalankan fungsi pendidikan,

Lebih terperinci

BESAR SAMPEL. Saptawati Bardosono

BESAR SAMPEL. Saptawati Bardosono BESAR SAMPEL Saptawati Bardosono Mengapa perlu menentukan besar sampel? Tujuan utama penelitian: Estimasi nilai tertentu pada populasi (rerata, total, rasio), misal: Mengetahui proporsi penyakit ISPA pada

Lebih terperinci

MATERI PEMBEKALAN CALON PPDS I ILMU BEDAH. Kolegium Ilmu Bedah Indonesia

MATERI PEMBEKALAN CALON PPDS I ILMU BEDAH. Kolegium Ilmu Bedah Indonesia MATERI PEMBEKALAN CALON PPDS I ILMU BEDAH 1) Address: pustanserdik 2) Deskripsi: Kolegium Ilmu Bedah Indonesia Alamat : Menara Era, Lantai 1-01 Jalan Senen Raya 135-137 Jakarta 10410, Indonesia Tilp: 021-34830387,

Lebih terperinci

PENCAPAIAN INDIKATOR MUTU BULAN JANUARI-MARET 2016

PENCAPAIAN INDIKATOR MUTU BULAN JANUARI-MARET 2016 KESEHATAN DAERAH MILITER III / SILIWANGI RUMAH SAKIT TK. II 3.5.1 DUSTIRA PENCAPAIAN INDIKATOR MUTU BULAN JANUARI-MARET 216 Jl. Dr. Dustira No.1 Cimahi Telp. 665227 Faks. 665217 email : rsdustira@yahoo.com

Lebih terperinci

PERAWATAN PALIATIF PASIEN HIV / AIDS

PERAWATAN PALIATIF PASIEN HIV / AIDS PERAWATAN PALIATIF PASIEN HIV / AIDS Agung Nugroho Divisi Peny. Tropik & Infeksi Bag. Peny. Dalam FK-UNSRAT Manado PENDAHULUAN Jumlah pasien HIV/AIDS di Sulut semakin meningkat. Sebagian besar pasien diberobat

Lebih terperinci

Pencegahan Infeksi Luka Operasi Dr. Nucki N Hidajat, SpOT(K), M.Kes, FICS FK-UNPAD/Bag. Orthopaedi & Traumatologi RS. Hasan Sadikin Bandung

Pencegahan Infeksi Luka Operasi Dr. Nucki N Hidajat, SpOT(K), M.Kes, FICS FK-UNPAD/Bag. Orthopaedi & Traumatologi RS. Hasan Sadikin Bandung Pencegahan Infeksi Luka Operasi Dr. Nucki N Hidajat, SpOT(K), M.Kes, FICS FK-UNPAD/Bag. Orthopaedi & Traumatologi RS. Hasan Sadikin Bandung PENDAHULUAN Ilmu mengenai infeksi berkembang diawali oleh Hipocrates

Lebih terperinci

MENTERI SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA - 1451 -

MENTERI SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA - 1451 - - 1451 - o. Standar Pelayanan Pengurusan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) di Lingkungan Kementerian Sekretariat Negara STANDAR PELAYANAN PENGURUSAN LAPORAN HARTA KEKAYAAN PENYELENGGARA

Lebih terperinci

BIOFISIKA 3 FISIKA INDERA

BIOFISIKA 3 FISIKA INDERA FISIKA OPTIK Sistem lensa Index bias Refraksi mata Tajam penglihatan (visus) Akomodasi Kelainan refraksi FISIKA BUNYI Bunyi dan faktor yang mempengaruhinya Frequensi Intensitas bunyi Karakteristik bunyi

Lebih terperinci

Program Bonus: Sebuah Modifikasi dari Konsep Kredit-Mikro

Program Bonus: Sebuah Modifikasi dari Konsep Kredit-Mikro Deskripsi Singkat Program Bonus: Sebuah Modifikasi dari Konsep Kredit-Mikro Tujuan dokumen ini adalah untuk memberikan gambaran singkat tentang Program Bonus. Program Bonus memobilisasi dana hibah untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Di jaman modernisasi seperti sekarang ini Rumah Sakit harus mampu

BAB I PENDAHULUAN. Di jaman modernisasi seperti sekarang ini Rumah Sakit harus mampu BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini akan membahas tentang: latar belakang, identifikasi masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian. A. Latar Belakang Di jaman

Lebih terperinci

Buku Panduan Klaim Asuransi Kecelakaan Kerja

Buku Panduan Klaim Asuransi Kecelakaan Kerja [Untuk Orang Asing yang Bekerja di Jepang] インドネシア 語 版 Buku Panduan Klaim Asuransi Kecelakaan Kerja Pembayaran Asuransi Yang Dapat Diklaim (Ditagihkan) Asuransi kecelakaan kerja juga diterapkan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG STANDAR LAYANAN INFORMASI PERTAHANAN DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PERTAHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTAHANAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI NOMOR 20 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI NOMOR PER-12/MEN/VI/2007

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. sistem informasi terdiri dari input, proses dan output seperti yang terlihat pada

BAB II LANDASAN TEORI. sistem informasi terdiri dari input, proses dan output seperti yang terlihat pada BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Informasi Sebelum merancang sistem perlu dikaji konsep dan definisi dari sistem. Pengertian sistem tergantung pada latar belakang cara pandang orang yang mencoba mendefinisikannya.

Lebih terperinci

LAMPIRAN 2 SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN UNTUK IKUT SERTA DALAM PENELITIAN (INFORMED CONSENT)

LAMPIRAN 2 SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN UNTUK IKUT SERTA DALAM PENELITIAN (INFORMED CONSENT) LAMPIRAN 1 50 LAMPIRAN 2 SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN UNTUK IKUT SERTA DALAM PENELITIAN (INFORMED CONSENT) Yang bertanda tangan dibawah ini: N a m a : U s i a : Alamat : Pekerjaan : No. KTP/lainnya: Dengan

Lebih terperinci

- 1 - PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG PELAKSANAAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL DAN LINGKUNGAN PERUSAHAAN

- 1 - PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG PELAKSANAAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL DAN LINGKUNGAN PERUSAHAAN - 1 - SALINAN PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG PELAKSANAAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL DAN LINGKUNGAN PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH,

Lebih terperinci

ANGGARAN RUMAH TANGGA YAYASAN GEDHE NUSANTARA BAB I NAMA DAN TEMPAT KEDUDUKAN. Pasal 1

ANGGARAN RUMAH TANGGA YAYASAN GEDHE NUSANTARA BAB I NAMA DAN TEMPAT KEDUDUKAN. Pasal 1 ANGGARAN RUMAH TANGGA YAYASAN GEDHE NUSANTARA BAB I NAMA DAN TEMPAT KEDUDUKAN Pasal 1 1. Yayasan ini bernama Yayasan Gedhe Nusantara atau Gedhe Foundation (dalam bahasa Inggris) dan selanjutnya dalam Anggaran

Lebih terperinci

I. PROSEDUR PELAYANAN MAHASISWA

I. PROSEDUR PELAYANAN MAHASISWA BAB 3 I. PROSEDUR PELAYANAN 3.1 Registrasi Mahasiswa Baru BARU Membayar di Bank BNI/Bank Jatim/ Keuangan UMM dengan Menunjukkan Kartu Test RUANG FOTO CETAK KARTU ASLI Syarat Menyerahkan Blangko Validasi

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TIMUR PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TIMUR NOMOR 07 TAHUN 2011 TENTANG

LEMBARAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TIMUR PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TIMUR NOMOR 07 TAHUN 2011 TENTANG LEMBARAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TIMUR NOMOR : 07 PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TIMUR NOMOR 07 TAHUN 2011 TENTANG MUTU PELAYANAN KESEHATAN DI PROVINSI KALIMANTAN TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.07/MEN/V/2010 TENTANG ASURANSI TENAGA KERJA INDONESIA

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.07/MEN/V/2010 TENTANG ASURANSI TENAGA KERJA INDONESIA MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.07/MEN/V/2010 TENTANG ASURANSI TENAGA KERJA INDONESIA DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

KOMISI INFORMASI PUSAT REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR LAYANAN INFORMASI PUBLIK

KOMISI INFORMASI PUSAT REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR LAYANAN INFORMASI PUBLIK KOMISI INFORMASI PUSAT REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR LAYANAN INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KOMISI INFORMASI Menimbang : bahwa untuk

Lebih terperinci

Kebutuhan Dasar Ibu Bersalin. By. Ulfatul Latifah, SKM

Kebutuhan Dasar Ibu Bersalin. By. Ulfatul Latifah, SKM Kebutuhan Dasar Ibu Bersalin By. Ulfatul Latifah, SKM Kebutuhan Dasar pada Ibu Bersalin 1. Dukungan fisik dan psikologis 2. Kebutuhan makanan dan cairan 3. Kebutuhan eliminasi 4. Posisioning dan aktifitas

Lebih terperinci

SOP 1 SUBAG. TENAGA ADMINISTRASI

SOP 1 SUBAG. TENAGA ADMINISTRASI SOP 1 SUBAG. TENAGA ADMINISTRASI STANDARD OPERATING PROCEDURE (SOP) PERENCANAAN KEBUTUHAN FORMASI PEGAWAI ADMINISTRASI 1. Tujuan: Standard Operating Procedure (SOP) Perencanaan Kebutuhan Formasi Pegawai

Lebih terperinci