SYARAT-SYARAT UMUM POLIS ASURANSI KECELAKAAN DIRI HARIO SIAGA PLUS PT MNC LIFE ASSURANCE

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "SYARAT-SYARAT UMUM POLIS ASURANSI KECELAKAAN DIRI HARIO SIAGA PLUS PT MNC LIFE ASSURANCE"

Transkripsi

1 SYARAT-SYARAT UMUM POLIS ASURANSI KECELAKAAN DIRI HARIO SIAGA PLUS PT MNC LIFE ASSURANCE PASAL 1 DEFINISI 1 Asuransi Kecelakaan Diri : Suatu jenis pertanggungan yang menjamin Tertanggung untuk memperoleh manfaat atau maslahat asuransi sesuai dengan ketentuan Polis Induk apabila diri Tertanggung mengalami musibah kecelakaan menurut jenis risiko yang dipertanggungkan dalam masa pertanggungan 2 Cedera : Kerusakan tubuh yang hanya disebabkan kecelakaan secara tidak sengaja 3 Data Polis : Bagian dari Sertifikat Kepesertaan yang memuat Nomor Sertifikat, Tanggal Mulai Pertanggungan, Perincian Manfaat, Data Pemegang Polis, Tertanggung serta Termaslahat untuk tujuan identifikasi dan dapat diubah dari waktu ke waktu. 4 Kecelakaan : Suatu peristiwa atau kejadian secara tiba-tiba dan tidak terduga dengan kekerasan, bersifat tidak disengaja, mengenai tubuh Tertanggung, berasal dari luar dan sifatnya dapat dilihat, yang secara kasat mata merupakan satu-satunya penyebab dari cedera jasmaniah 5 Masa Leluasa (Grace Period) 6 Masa Pemahaman Polis (Cooling of Period) : Masa leluasa yang diberikan oleh Penanggung kepada Pemegang Polis selama 30 (tiga puluh) Hari Kalender sejak tanggal jatuh tempo yang terakhir untuk melunasi Premi apabila Premi dibayarkan tidak secara tahunan. : Periode waktu tertentu terhitung sejak Tanggal Polis, merupakan waktu yang diberikan kepada Pemegang Polis untuk mempelajari dan memastikan bahwa isi dan Polis yang diterbitkan tersebut telah sesuai dengan keinginan dan kebutuhan Pemegang Polis 7 Masa Pertanggungan : Masa dimana asuransi masih berlaku sesuai dengan tanggal yang tercantum dalam Data Polis 8 Penanggung : PT MNC Life Assurance 9 Pemegang Polis : Perorangan atau Lembaga / Badan Hukum yang mengadakan perjanjian Asuransi Jiwa dengan Penanggung 10 Polis Induk : Surat Perjanjian Pertanggungan antara Penanggung dan Pemegang Polis yang terdiri Syarat-Syarat Umum Polis dan atau Syarat-Syarat Khusus Polis dan atau Syarat-Syarat Tambahan dan atau Addendum yang dibuat dan ditandatangani oleh Penanggung. 11 Premi : Sejumlah uang sebagaimana yang tercantum di dalam Data Polis dan harus dibayar oleh Pemegang Polis kepada Penanggung sesuai dengan manfaat yang diperjanjikan dalam Polis 12 Sertifikat Kepesertaan : Bukti kepesertaan asuransi yang diberikan kepada Tertanggung yang sifatnya mutlak sebagai dokumen persyaratan pengajuan Klaim 1-12

2 13 Termaslahat : Perorangan yang namanya tercantum dalam Data Polis sebagai pihak yang ditunjuk oleh Pemegang Polis dan berhak menerima manfaat atau maslahat apabila Tertanggung meninggal dunia. Termaslahat merupakan Pemegang Polis, pasangan atau anak dari Pemegang Polis.. Termaslahat yang memenuhi syarat untuk Tertanggung atau Pemegang Polis yang belum menikah adalah orang tuanya, saudara kandungnya atau keponakannya langsung. Termaslahat yang memenuhi syarat untuk Tertanggung atau Pemegang Polis yang sudah menikah tapi tidak menunjuk pasangan atau anaknya sebagai termaslahatnya adalah orang tuanya, saudara kandungnya, atau keponakannya langsung 14 Tertanggung : Perorangan yang atas kecelakaan dirinya diadakan Perjanjian Pertanggungan Asuransi Kecelakaan diri 15 Uang Pertanggungan : Sejumlah nilai uang yang tercantum di dalam Data Polis yang akan dibayarkan oleh Penanggung kepada Pemegang Polis atau Termaslahat sesuai dengan manfaat yang diperjanjikan dalam Polis apabila Premi sudah diterima oleh Penanggung dan Syarat-Syarat serta Ketentuan sudah terpenuhi. Untuk selanjutnya akan disebut UP. PASAL 2 DASAR PERTANGGUNGAN ASURANSI 1. Perorangan yang bermaksud mengadakan asuransi kecelakaan diri harus memberikan keterangan identitas diri secara jujur, lengkap, benar, tepat, akurat kepada Penanggung. 2. Semua keterangan atau pernyataan yang diberikan oleh Pemegang Polis/Tertanggung kepada Penanggung dan dicantumkan dalam Data Polis sesuai ayat 1 Pasal ini, menjadi dasar asuransi kecelakaan diri dan merupakan satu kesatuan dan bagian yang tidak terpisahkan dari Polis. 3. Jika kemudian hari ternyata bahwa keterangan dan pernyataan yang dimaksud pada ayat 2 Pasal ini tidak benar, palsu atau ada hal-hal yang disembunyikan oleh Pemegang Polis/Tertanggung dan dilakukan dengan sengaja maupun tidak sengaja, sedang perjanjian asuransi telah berjalan, maka Penanggung berhak menolak Klaim manfaat Asuransi yang diajukan oleh Pemegang Polis/Tertanggung atau Termaslahat. PASAL 3 MULAI DAN BERAKHIRNYA PERTANGGUNGAN 1. Pertanggungan ini mulai berlaku pada tanggal yang tercantum di dalam Data Polis dan atau telah diterimanya pembayaran Premi pertama di rekening bank Penanggung (in good fund). 2. Pertanggungan ini akan berakhir karena hal berikut ini, mana yang lebih dahulu: a. Tanggal berakhirnya pertanggungan sebagaimana dinyatakan dalam Data Polis; b. Tertanggung meninggal dunia atau akibat pembayaran Manfaat tambahan lainnya yang dapat menyebabkan Polis berakhir; c. Polis dibatalkan karena alasan apapun dan pembatalan Polis ini melepaskan atau/mengesampingkan ketentuan Pasal 1266 dan Pasal 1267 Kitab Undang- Undang Hukum Perdata sepanjang yang mengatur tata cara pembatalan, sehingga mengenai pembatalan Polis ini tidak diperlukan putusan/ketetapan hakim atau oleh siapapun; d. Adanya permohonan pembatalan Polis secara tertulis dari Pemegang Polis yang disetujui oleh Penanggung. 2-12

3 PASAL 4 HAK DAN KEWAJIBAN 1. Penanggung wajib menutup pertanggungan asuransi kecelakaan diri terhadap Pemegang Polis/Tertanggung untuk jumlah Uang Pertanggungan sesuai dengan manfaat atau maslahat asuransi yang tercantum pada Data Polis. 2. Penanggung berhak mendapat Premi dari Pemegang Polis/Tertanggung 3. Pemegang Polis/Tertanggung wajib membayar Premi kepada Penanggung dan berhak memperoleh jumlah Uang Pertanggungan sesuai dengan manfaat atau maslahat asuransi yang tercantum pada Data Polis. PASAL 5 MASA PEMAHAMAN POLIS (COOLING OFF PERIOD) 1. Periode jangka waktu masa bebas lihat adalah 14 (empat belas) hari kalender sejak tanggal Polis diterbitkan. 2. Selama masa pemahaman Polis, Polis telah berlaku, namun demikian Pemegang Polis dapat mengajukan pembatalan pertanggungan kepada Penanggung secara tertulis. 3. Setelah menerima permintaan pembatalan, penanggung akan mengembalikan seluruh Premi yang telah dibayar, pada tanggal pembatalan diterima setelah dikurangi dengan biaya administrasi dan biaya pemeriksaan kesehatan (bila ada). 4. Apabila setelah melewati masa pemahaman Polis (cooling off period) sebagaimana dimaksud pada ayat 1, Pemegang Polis tidak mengajukan pembatalan Polis kepada Penanggung, maka Pemegang Polis dianggap telah menyetujui Polis, dan Penanggung dibebaskan untuk kewajiban atas ayat 3. PASAL 6 PEMBAYARAN PREMI 1. Premi pada dasarnya dibayarkan secara tahunan, namun dengan persetujuan Penanggung, Premi dapat dibayarkan setiap bulan (monthly basis). 2. Apabila terjadi Klaim Meninggal Dunia (Kematian)/Cacat Tetap Seluruh dan/atau Sebagian akibat kecelakaan atau, maka sisa Premi setahun yang belum dibayar oleh Pemegang Polis akan dipotong dari Klaim yang dibayarkan oleh Penanggung. 3. Pembayaran Premi sebagaimana tercantum dalam Data Polis harus dilakukan pada Tanggal berlakunya Asuransi dan selanjutnya akan dibayarkan secara bulanan atau tahunan pada tanggal yang sama dengan Tanggal Berlakunya Asuransi setiap bulan atau tahun berikutnya. Jika pada bulan dimana pembayaran Premi seharusnya dilakukan tidak pada tanggal yang dimaksud, atau jika tanggal tersebut jatuh pada hari libur atau hari dimana bank-bank di Indonesia tidak melakukan transaksi, maka Premi harus dibayarkan pada tanggal Hari Kerja sebelumnya. 4. Dalam hal perpanjangan Polis, Penanggung mempunyai hak untuk mengubah tarif Premi sesuai dengan peningkatan usia Tertanggung dan kondisi kesehatan Tertanggung pada saat perpanjangan polis. 5. Premi dapat berubah setiap waktu oleh Penanggung tanpa persetujuan dari Pemegang Polis. Perubahan Premi akan diberitahukan oleh Penanggung kepada Pemegang Polis dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) Hari Kerja sebelum tanggal berlakunya perubahan tersebut. 6. Setiap pembayaran Premi dapat dilakukan dengan pendebetan kartu kredit Pemegang Polis atau transfer ke rekening Penanggung. 3-12

4 7. Seluruh kewajiban pembayaran Premi yang dilakukan dengan menggunakan kartu kredit dianggap sah apabila pendebetan sudah berhasil dilakukan. Untuk pembayaran premi melalui pemindahbukuan antara rekening bank Penanggung dengan bank yang ditunjuk oleh Pemegang Polis baru dianggap sah apabila dana sudah diterima penuh di rekening bank Penanggung (in good fund). 8. Apabila karena sebab apapun Penanggung tidak melakukan penagihan Premi, hal tersebut tidak membebaskan Pemegang Polis dari kewajibannya untuk membayar Premi tepat pada waktunya. PASAL 7 MASA LELUASA (GRACE PERIOD) 1. Untuk pembayaran Premi secara bulanan dan dalam hal Premi belum dibayarkan oleh Pemegang Polis atau pendebetan tidak berhasil dilakukan pada tanggal jatuh tempo pembayaran Premi, Penanggung akan memberikan Grace Period selama 30 (tiga puluh) Hari Kalender terhitung sejak tanggal jatuh tempo pembayaran Premi. Apabila telah melebihi Grace Period maka Polis menjadi batal. 2. Dalam Grace Period dimana Premi belum dibayarkan, apabila ada manfaat atau maslahat asuransi yang akan diterima oleh Pemegang Polis atau Termaslahat, maka manfaat atau maslahat asuransi akan dikurangi dengan tunggakan Premi dan kewajiban lainnya, jika ada. PASAL 8 PEMBAYARAN MANFAAT ASURANSI 1. Manfaat atau maslahat asuransi yang menjadi hak Termaslahat atau Pemegang Polis/Tertanggung akan dibayarkan setelah syarat-syarat dokumen pengajuan klaim yang diperlukan menurut Syaratsyarat Khusus Polis asuransi kecelakaan diri telah diserahkan dengan lengkap dan disetujui oleh Penanggung. 2. Permintaan untuk pembayaran manfaat atau maslahat asuransi dalam hal Tertanggung meninggal dunia atau perawatan, harus diajukan dokumen klaim lengkap sesuai dengan yang tercantum dalam Syarat-Syarat Khusus Polis Hario Siaga Plus kepada Penanggung selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan sejak Tertanggung meninggal dunia atau mengalami perawatan. Di luar jangka waktu tersebut Penanggung berhak menolak permintaan pembayaran manfaat atau maslahat asuransi. 3. Jika karena suatu hal manfaat atau maslahat asuransi tidak diambil pada waktunya, Penanggung dibebaskan dari pembayaran bunga atau ganti rugi apapun juga. 4. Jika setelah pemberitahuan dari Penanggung, manfaat atau maslahat asuransi tidak diambil dalam waktu 1 (satu) tahun setelah jatuh tempo pembayaran, maka Penanggung dibebaskan dari kewajiban untuk membayar Uang Pertanggungan. PASAL 9 MATA UANG Seluruh jumlah yang harus dibayar kepada atau oleh Penanggung harus dibayar dalam mata uang yang tercantum pada Data Polis. Jika Pemegang PoIis membayar Premi dalam mata uang yang berbeda dengan mata uang yang tercantum pada Data Polis, Penanggung akan mengkonversi dengan nilai tukar (kurs tengah) yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia pada hari pembayaran di tempat pembayaran yang sah. PASAL 10 FORCE MAJEURE Dalam hal terjadi suatu peristiwa sedemikian rupa yang membawa dampak terhadap kemampuan Penanggung untuk membayar manfaat atau maslahat asuransi, seperti gempa bumi, angin topan, banjir, 4-12

5 tanah longsor, kebakaran, tsunami, perang, huru hara, terorisme, sabotase, embargo, pemogokan massal, kebijakan moneter atau kebijakan pemerintah yang berhubungan secara langsung terhadap pelaksanaan Polis ini, maka Penanggung dibebaskan dari tanggung jawab atas keterlambatan atau ketidakmampuan atau kegagalan dalam melaksanakan ketentuan Polis ini. PASAL 11 HUKUM YANG BERLAKU Polis ini dibuat, ditafsirkan dan diatur sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di negara Republik Indonesia. PASAL 12 PENYELESAIAN PERSELISIHAN 1. Apabila dalam pelaksanaan Polis ini terjadi perselisihan, maka terlebih dahulu akan diselesaikan secara musyawarah untuk mufakat. 2. Apabila penyelesaian secara musyarawah untuk mufakat tidak tercapai, maka perselisihan tersebut akan diselesaikan melalui Badan Mediasi Asuransi Indonesia (BMAI) atau Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI). 3. Apabila penyelesaian melalui Badan Mediasi Asuransi Indonesia (BMAI) atau Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) tidak tercapai, maka perselisihan tersebut akan diselesaikan melalui Pengadilan Negeri sesuai dengan domisili hukum Penanggung dan atau Pengadilan Negeri lain dalam wilayah hukum Republik Indonesia. PASAL 13 KETENTUAN LAIN-LAIN Dengan memperhatikan ketentuan hukum yang berlaku, dan tanpa mengecualikan dan atau membatasi risiko-risiko dan atau mengurangi manfaat atau maslahat asuransi yang telah diatur dalam Syarat Umum Polis, maka Penanggung berhak untuk setiap saat mengeluarkan ketentuan tambahan dan atau ketentuan khusus polis dan atau endorsement dan atau dokumen lain sehubungan dengan polis dan akan merupakan lampiran yang tidak terpisahkan dari Polis ini. 5-12

6 SYARAT-SYARAT KHUSUS POLIS ASURANSI KECELAKAAN DIRI HARIO SIAGA PLUS PT MNC LIFE ASSURANCE PASAL 1 DEFINISI 1 Aktivitas Hidup Seharihari : Aktifitas Hidup Sehari-hari, berarti 5 (lima) hal dibawah ini: a. Mandi, diartikan sebagai kemampuan sendiri membersihkan diri pada waktu mandi dengan atau tanpa menggunakan shower (pancuran) atau membersihkan diri dengan baik menggunakan cara-cara lainnya; b. Berpakaian, diartikan sebagai kemampuan sendiri untuk mengenakan, melepas, mengepas dan melonggarkan pakaian, tanpa bantuan orang lain, termasuk juga mengenakan braces (penopang/penyangga tubuh), kaki/tangan palsu atau alat bantu lainnya; c. Menyuap, diartikan sebagai kemampuan sendiri untuk menyuapi diri sendiri ketika makanan sudah disiapkan dan terhidang; d. Buang Air (Toileting), diartikan sebagai kemampuan sendiri untuk menggunakan kamar kecil atau jamban atau cara-cara lain untuk buang air kecil atau buang air besar agar mampu mempertahankan kebersihan diri yang layak; e. Beralih tempat, diartikan sebagai kemampuan sendiri untuk memindahkan tubuh dari tempat tidur ke kursi dengan sandaran yang tegak atau ke kursi roda dan sebaliknya berpindah diartikan sebagai kemampuan sendiri untuk berpindah di dalam ruangan dari kamar ke kamar pada ketinggian lantai yang sama 2 Cacat Tetap Sebagian : Cacat yang diderita Peserta yang timbul sebagai akibat dari Kecelakaan yang menyebabkan Peserta tidak pernah akan dapat melakukan suatu pekerjaan, memegang suatu jabatan atau profesi apapun untuk memperoleh penghasilan, imbalan atau keuntungan. 3 Cacat Tetap Seluruhnya : Suatu kondisi dimana Tertanggung, karena suatu Penyakit atau Kecelakaan, kehilangan fungsi anggota tubuh atau tidak dapat melaksanakan pekerjaan secara normal untuk mendapatkan suatu penghasilan, dan hal tersebut telah berlanjut hingga melebihi 180 (seratus delapan puluh) hari kalender sejak diagnosa pertama Cacat Tetap Total ditegakkan. Khusus Tertanggung yang tidak mempunyai pekerjaan dalam waktu 6 (enam) bulan kalender sebelum cacat atau Tertanggung pensiun sebelum cacat, maka definisi Cacat Tetap Total adalah suatu kondisi dimana Tertanggung, karena suatu Penyakit atau Kecelakaan, tidak dapat melaksanakan minimal 3 (tiga) dari 5 (lima) Aktifitas Hidup Sehari-hari. 4 Cedera : Kerusakan tubuh yang hanya disebabkan kecelakaan secara tidak sengaja. 5 Kecelakaan : Suatu peristiwa atau kejadian secara tiba-tiba dan tidak terduga dengan kekerasan, bersifat tidak disengaja, mengenai tubuh Tertanggung, berasal dari luar dan sifatnya dapat dilihat, yang secara kasat mata merupakan satu-satunya penyebab dari cedera jasmaniah 6-12

7 6 Layanan Bantuan Evakuasi Medis Domestik dan Internasional : Berbagai layanan medis dan non medis untuk membantu Tertanggung dalam situasi darurat. Layanan diberikan untuk kejadian yang terjadi di wilayah Republik Indonesia maupun diluar wilayah Republik Indonesia dan berjarak 100 (seratus) km atau lebih dari tempat tinggal Tertanggung yang sah di Wilayah Republik Indonesia dan untuk perjalanan yang dilakukan dalam tempo di bawah 90 (sembilan puluh) hari kalender. 7 Meninggal Dunia : Berhentinya hidup seseorang di dunia sekarang ini, dengan ditandai secara medis diyakini bila batang otaknya berhenti berfungsi. 8 Usia Masuk : Usia pada saat Tanggal Mulai Berlakunya Pertanggungan yang dihitung berdasarkan ulang tahun terakhir sebelum mulai berlakunya pertanggungan. PASAL 2 MANFAAT PERTANGGUNGAN 1. Manfaat akan dibayarkan apabila Tertanggung mengalami Kecelakaan di dalam masa asuransi, dan dalam waktu selambat-lambatnya 90 hari mengakibatkan: 1.1. Meninggal Dunia akibat kecelakaan Apabila Tertanggung meninggal dunia karena Kecelakaan maka kepada Termaslahat akan dibayarkan manfaat sebesar 100% Uang Pertanggungan Cacat Tetap Seluruhnya atau Sebagian akibat kecelakaan Apabila Tertanggung tidak meninggal dunia akan tetapi mengalami Cacat Tetap Seluruhnya atau Sebagian, maka Penanggung akan membayarkan manfaat asuransi sebesar persentase dari Uang Pertanggungan sesuai yang ditentukan dalam Tabel Manfaat sebagai berikut: Cacat Tetap Seluruhnya Kehilangan fungsi atas: Kedua tangan pada atau di atas pergelangan tangan Kedua tangan pada atau di atas pergelangan tangan Kedua mata (penglihatan total kedua mata yang tidak dapat disembuhkan) Satu tangan pada atau di atas pergelangan tangan dan satu kaki pada atau di atas pergelangan/mata kaki Satu tangan pada atau di atas pergelangan tangan dan satu kaki pada atau di atas pergelangan/mata kaki Satu kaki pada atau di atas pergelangan/ mata kaki dan satu mata 100% UP 100% UP 100% UP 100% UP 100% UP 100% UP Cacat Tetap Sebagian Kehilangan fungsi atas: Lengan kanan mulai dari bahu 70% UP Lengan kiri mulai dari bahu 56% UP 7-12

8 Tangan kanan mulai dari siku 65% UP Tangan kiri mulai dari siku 52% UP Tangan kanan mulai dari pergelangan 60% UP Tangan kiri mulai dari pergelangan 50% UP Satu kaki 50% UP Satu mata 50% UP Jari jempol kanan 25% UP Jari jempol kiri 20% UP Jari telunjuk kanan 15% UP Jari telunjuk kiri 12% UP Jari kelingking kanan 12% UP Jari kelingking kiri 7% UP Jari tengah atau manis kanan 10% UP Jari tengah atau manis kiri 8% UP Satu jari kiri 5% UP Bagi mereka yang kidal, perkataan kanan dibaca kiri dan sebaliknya Untuk pembayaran manfaat asuransi dalam hal kehilangan sebagian fungsi secara tetap/permanen untuk jari pada point di atas minimal adalah 2 ruas jari Dalam hal kehilangan sebagian dari salah satu anggota badan sebagaimana tersebut diatas, pembayaran jaminannya harus dikurangi secara proporsional, sedangkan dalam hal kehilangan dua atau lebih anggota badan melebihi jumlah yang ditentukan di atas atau tidak melebihi 100% UP Cacat Tetap Seluruhnya atau sebagian akibat Kecelakaan sesuai yang tercantum dalam Data Polis 1.3. Biaya Pengobatan / Perawatan akibat kecelakaan Apabila Tertanggung memerlukan pengobatan/perawatan karena Kecelakaan, maka biaya pengobatan/perawatan tersebut akan diganti sampai dengan batas maksimum sebesar 1% (satu persen) Uang Pertanggungan untuk Risiko Meninggal Dunia karena kecelakaan sesuai dengan yang tercantum dalam Data Polis. 2. Dalam hal Polis masih berlaku (inforce), Tertanggung akan mendapatkan No Claim Bonus dengan ketentuan sebagai berikut: 2.1. Jika tidak ada klaim dalam periode 2 tahun Polis, maka diberikan No Claim Bonus sebesar 30% (Tiga Puluh Persen) dari seluruh premi yang sudah dibayarkan dalam 2 tahun Polis tersebut (tanpa bunga) setelah dikurangi dengan biaya administrasi No Claim Bonus hanya berlaku untuk Perpanjangan Polis, yang akan diberlakukan melalui pemotongan Premi sebesar nilai No Claim Bonus untuk tahun berikutnya 3. Dalam hal Polis masih berlaku (inforce) berdasarkan jenis plan/manfaat yang dipilih sebagaimana yang tercantum dalam Data Polis, Tertanggung akan mendapatkan Layanan Bantuan Evakuasi Medis Domestik dan Internasional (Worldwide Medical Evacuation). 4. Maksimum Uang Pertanggungan yang dijamin adalah: 4.1. Untuk setiap Tertanggung yang dijamin oleh Penanggung untuk risiko kecelakaan sebesar Rp ,- (dua milyar Rupiah) Dalam hal Tertanggung memiliki Uang Pertanggungan untuk jenis risiko kecelakaan lebih dari Rp ,- (dua milyar Rupiah), maka Penanggung hanya akan membayarkan klaim maksimal sebesar Rp ,- (dua milyar Rupiah). 8-12

9 PASAL 3 BATASAN PERTANGGUNGAN Batasan pertanggungan dalam suatu Kecelakaan pada Polis ini adalah : 1. Keracunan adalah masuknya gas dan atau uap yang tidak sengaja dan mengandung racun ke dalam tubuh dengan pengecualian keracunan yang diakibatkan oleh karena Tertanggung menggunakan dengan sengaja obat-obat bius atau zat-zat lainya yang dapat menimbulkan akibatakibat yang merusakkan dan juga dengan sengaja menggunakan obat-obatan dalam arti kata yang seluas-luasnya. 2. Penularan karena masuknya zat-zat yang mengandung kuman-kuman penyakit sebagai akibat dari jatuhnya Tertanggung ke dalam air atau ke dalam zat cair atau zat padat lainnya dengan tidak sengaja. 3. Akibat malapetaka yang datang secara mendadak dari luar seperti karam kapal, pendaratan darurat, keruntuhan, tabrakan kendaraan bermotor. 4. Bila Tertanggung tanpa adanya unsur-unsur kesalahan pada dirinya bagaimanapun bentuk dan sifatnya, menderita cacat jasmani atau meninggal sebagai akibat tindakan penganiayaan atau penyerangan yang dilakukan oleh pihak lain. Ketentuan ini tidak berlaku sehingga Penanggung tidak berkewajiban membayar santunan Kecelakaan atas akibat-akibat itu, apabila penganiayaan dan atau penyerangan itu : 4.1. dilakukan oleh pihak/mereka yang secara langsung atau tidak langsung mempunyai kepentingan dalam pertanggungan Kecelakaan diri ini dilakukan oleh pihak lain berhubung adanya unsur-unsur kesalahan pada diri Tertanggung, bagaimanapun bentuk dan sifat kesalahan itu sehingga kesalahan itu menjadi sebab dari timbulnya penganiayaan atau penyerangan tersebut. 5. Masuknya kuman-kuman penyakit secara segera atau kemudian ke dalam luka yang diakibatkan oleh suatu Kecelakaan dengan ketentuan bahwa sifat dan letak luka itu dapat ditentukan secara ilmu kedokteran. 6. Bertambah parahnya keadaan sebagai akibat dari pengobatan yang dilakukan oleh atau atas nama perintah seorang Dokter dan bukan karena inisiatif Peserta / Tertanggung atau orang-orang yang berkepentingan dalam pertanggungan ini. PASAL 4 SYARAT KEPESERTAAN Pertanggungan ini akan diberikan untuk Tertanggung yang berusia 6 (enam) bulan sampai dengan 74 (tujuh puluh empat) tahun pada saat dimulainya pertanggungan PASAL 5 MASA TUNGGU 1. Pertanggungan untuk risiko Meninggal Dunia akibat Kecelakaan berlaku sejak pertanggungan Polis berlaku, 2. Untuk manfaat Perawatan akibat Kecelakaan akan berlaku setelah 48 jam Polis berlaku. Selama masa 48 jam tersebut, manfaat Perawatan (metode Barat) tidak diganti oleh Penanggung 3. Penanggung akan membayarkan Manfaat Pertanggungan Cacat Tetap Seluruhnya setelah Tertanggung menderita Cacat Tetap Seluruhnya selama 180 (seratus delapan puluh) hari berturutturut sejak diagnosa pertama Cacat Tetap Seluruhnya atas diri Tertanggung ditegakkan dan pengajuan klaim atas Cacat Tetap Total disetujui oleh Penanggung. 4. Dalam hal Tertanggung meninggal dunia sebelum disetujuinya pengajuan klaim Cacat Tetap Seluruhnya atau sebelum terlampauinya jangka waktu 180 (seratus delapan puluh) hari berturutturut setelah diagnosa pertama Cacat Tetap Total atas diri Tertanggung ditegakkan, maka Penanggung tidak berkewajiban untuk membayar apapun sehubungan dengan klaim Cacat Tetap Total. 9-12

10 5. Ketentuan pada ayat (3) diatas tidak berlaku apabila Cacat Tetap Total disebabkan oleh kecelakaan yang mengakibatkan kehilangan atas anggota tubuh. PASAL 6 PENGAJUAN DAN BUKTI KLAIM 1. Apabila terjadi Kecelakaan yang mungkin menimbulkan klaim menurut Polis ini, Termaslahat harus segera memberitahukan kepada Penanggung dalam waktu selambat-lambatnya 2 x 24 jam sejak Kecelakaan terjadi dengan disertai keterangan-keterangan lengkap mengenai Kecelakaan dan cedera yang dialami Tertanggung. 2. Dalam hal Tertanggung meninggal dunia, Penanggung harus diberitahu dengan segera dan apabila mungkin sebelum pemakaman dilakukan. Bilamana dianggap perlu, Penanggung dapat meminta untuk diadakan pemeriksaan jenazah, satu sama lain berkaitan dengan masalah penentuan penggantian kerugian. 3. Bilamana Penanggung menerima pemberitahuan dan kelengkapan dokumen pengajuan klaim yang tercatum pada ayat 4, 5, 6, dan 7 setelah 3 (tiga) bulan sejak terjadinya Kecelakaan maka Penanggung bebas dari kewajiban membayar kerugian yang terjadi menurut polis ini. Hal ini juga berlaku bilamana Penanggung tidak diberitahu sebelumnya atas adanya pengobatan ulangan untuk akibat-akibat Kecelakaan yang lalu. 4. Bukti-bukti yang tertulis berhubungan dengan peristiwa meninggal dunia akibat Kecelakaan adalah: 4.1. Formulir Klaim Meninggal (asli) 4.2. Surat Keterangan Dokter (asli) 4.3. Sertifikat kepesertaan (asli) 4.4. Fotokopi Identitas bukti diri Tertanggung 4.5. Fotokopi Identitas bukti diri Termaslahat 4.6. Fotokopi Kartu Keluarga Tertanggung dan Termaslahat 4.7. Legalisir Akte Kematian atau asli surat keterangan kematian dari pejabat setempat 4.8. Legalisir Surat Keterangan/Berita Acara Kepolisian (jika ada) 4.9. Legalisir Surat Visum et Repertum (jika ada) Legalisir Surat Keterangan meninggal dari KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) jika meninggal dunia di luar negeri Dokumen lain yang dianggap perlu oleh Penanggung 5. Bukti-bukti yang tertulis berhubungan dengan peristiwa Ketidakmampuan adalah: 5.1. Formulir Pengajuan Klaim ketidakmampuan (asli) 5.2. Formulir Surat Keterangan Dokter (asli) 5.3. Fotokopi bukti identitas diri Pemegang Polis/Tertanggung 5.4. Surat keterangan dari perusahaan bahwa Tertanggung sudah tidak bekerja dalam 6 (enam) bulan terakhir berturut-turut 5.5. Legalisir Surat keterangan/berita Acara Kepolisian (jika ada) 5.6. Surat Visum et Repertum 5.7. Fotokopi semua hasil pemeriksaan penunjang selama dirawat (laboratorium, rontgen, USG, dll) 5.8. Dokumen lain yang dianggap perlu oleh Penanggung 6. Bukti-bukti yang tertulis berhubungan dengan peristiwa perawatan akibat Kecelakaan adalah : 6.1. Formulir Pengajuan Klaim Rawat Inap (asli) 6.2. Formulir Surat Keterangan Dokter (asli atau legalisir) atau resume medis 6.3. Fotokopi Sertifikat Kepesertaan 6.4. Fotokopi bukti identitas diri Pemegang Polis/Tertanggung 6.5. Kuitansi asli atau legalisir rawat inap (metode barat) beserta semua perinciannya 10-12

11 6.6. Kuitansi asli pembelian obat-obatan beserta fotokopi resep 6.7. Kuitansi asli pemeriksaan diagnostic 6.8. Fotokopi hasil pemeriksaan diagnostik, termasuk tetapi tidak terbatas pada hasil laboratorium, rontgen (x-ray), Ultrasonography (USG), Patology Anatomy (PA), Electrocardiogram (EKG), Magnetic Resonance Instrument (MRI), CT-Scan. 7. Bukti-bukti yang tertulis berhubungan dengan pengajuan No Claim Bonus adalah : 7.1. Fotokopi Sertifikat Kepesertaan 7.2. Fotokopi bukti Identitas diri Pemegang Polis/Tertanggung PASAL 7 BUKTI DAN PENENTUAN CACAT TETAP TOTAL 1. Cacat Tetap Total harus dibuktikan dengan Surat Keterangan Dokter yang merawat Tertanggung. Dalam surat tersebut harus terdapat pernyataan Dokter bahwa Tertanggung menderita Cacat Tetap Total dan bahwa tidak mungkin lagi disembuhkan. 2. Tanpa mengurangi kekuatan dari bukti Surat Keterangan Dokter pada ayat (1), Penanggung sepenuhnya berhak untuk meminta Tertanggung melakukan pemeriksaan kesehatan pada Dokter Konsultan yang Penanggung tunjuk, dan hal ini dapat dilakukan secara periodik selama Tertanggung masih menderita Cacat Tetap Total. PASAL 8 LAYANAN UANG MUKA KLAIM 1. Layanan Uang Muka Klaim adalah sebuah layanan yang memberikan kepastian pembayaran klaim dimuka tanpa harus melengkapi seluruh dokumen standar pengajuan klaim meninggal dunia. 2. Minimal dokumen pengajuan klaim yang harus dilengkapi terdiri dari: 2.1. Fotokopi KTP Tertanggung dan Termaslahat atau Kartu Keluarga; 2.2. Fotokopi Surat Keterangan Kematian dari pemerintahan setempat (RT/RW) atau Rumah Sakit. 3. Prosedur penggantian Layanan Uang Muka Klaim adalah sebagai berikut: 3.1. Termaslahat harus mengajukan klaim meninggal dunia dan menyerahkan bukti-bukti yang tertulis terkait dengan peristiwa meninggal dunia tersebut beserta dokumen-dokumen pendukung kepada Penanggung sesuai yang tercantum dalam ayat 2 Pasal ini : datang langsung ke Kantor Pusat Penanggung ; atau pengiriman melalui pos; atau menghubungi Call Center atau untuk mengajukan permohonan Layanan Antar Jemput Klaim (hanya untuk wilayah JABODETABEK) Setelah proses validasi dokumen dilakukan dan disetujui oleh Penanggung maka dalam 1 x 24 jam (satu kali dua puluh empat jam), Penanggung akan membayar Uang Muka Klaim sebesar 10% (sepuluh persen) dari uang pertanggungan atau maksimal Rp (sepuluh juta rupiah) (mana yang lebih kecil) ke rekening Termaslahat sesuai nomor rekening yang diberitahukan secara tertulis oleh Termaslahat 3.3. Selanjutnya Penanggung akan melaksanakan proses investigasi klaim sesuai prosedur yang berlaku. Jika pengajuan klaim disetujui sepenuhnya oleh Penanggung, maka Penanggung akan membayar sisa manfaat kematian (jumlah total manfaat kematian dikurangi Uang Muka Klaim yang telah dibayar dan biaya lainnya apabila ada). PASAL 9 PENGECUALIAN Jika tidak diadakan perjanjian lain, maka Penanggung tidak akan membayar manfaat di atas, yang timbul dari Kecelakaan sebagai akibat dari / berhubungan dengan : 11-12

12 1. Kecelakaan yang terjadi sebelum tanggal dimulainya Masa Pertanggungan Polis Asuransi Kecelakaan Diri ini sebagaimana yang dinyatakan dalam Data Polis atau pada perubahan Polis. 2. Peserta terlibat dalam perkelahian. 3. Peserta melukai diri sendiri atau percobaan untuk melukai diri sendiri atau bunuh diri baik dalam keadaan waras atau tidak waras. 4. Peserta sebagai penumpang pesawat terbang: 4.1. Yang diselenggarakan oleh Perusahaan penerbangan non komersil Yang diselenggarakan oleh Perusahaan penerbangan penumpang komersil (commercial passenger airline) tetapi tidak sedang menjalani jalur penerbangan untuk pengangkutan umum yang berjadwal tetap dan teratur Helikopter. 5. Pekerjaan/jabatan Peserta menanggung risiko (occupational risk) sebagai militer, polisi, pilot, buruh tambang, dan pekerjaan/jabatan lainnya yang risikonya tinggi. 6. Turut serta mengambil bagian dalam semua olah raga beladiri (seperti tinju, gulat, karate, judo, kempo, silat, taekwondo, kungfu, dll), semua olah raga dirgantara (seperti terjun payung, terbang layang, terjun bebas, dll), panjat tebing, mendaki gunung, menyelam, berenang di laut, semua kegiatan balap maupun ketangkasan baik yang resmi maupun tidak (seperti balap atau ketangkasan motor, mobil, kuda, sepeda, perahu), ski, hockey, bungee jumping serta olahraga atau hobby lainnya yang mengandung bahaya dan berisiko tinggi. 7. Peserta menderita sakit mental, gangguan sistem syaraf, mabuk (terlalu banyak minum alkohol) menggunakan narkotika dan obat-obat terlarang. 8. Radiasi, ionisasi atau kontaminasi oleh radioaktif dari setiap bahan nuklir, limbah nuklir, bahan kimia, reaksi biologi. 9. Perbuatan kejahatan yang disengaja yang dilakukan oleh Peserta atau orang yang berkepentingan dalam asuransi. 10. Perang, terorisme, sabotase, revolusi, kudeta baik sipil maupun militer, aksi militer, pemberontakan, perang saudara, penyerbuan, pendudukan. 11. Terlibat dalam huru-hara atau kerusuhan, demonstrasi, pemogokan. 12. Tindakan ilegal atau melanggar hukum (termasuk mengendarai kendaraan bermotor tidak memiliki surat ijin mengemudi yang sah dan masih berlaku). 13. Pekerjaan/jabatan Tertanggung yang mengandung risiko (occupational risk) sebagai militer, polisi, pilot, buruh tambang, dan pekerjaan/jabatan lain yang risikonya dapat dipersamakan dengan itu, sepanjang risiko jabatan tersebut tidak dipertanggungkan. 14. Terlibat perkelahian 15. Keracunan Makanan 16. Huru-hara kecuali sebagai korban. 17. Melakukan perbuatan jahat. PASAL 10 KETENTUAN TAMBAHAN 1. Ketentuan- ketentuan yang menyatakan bahwa Syarat-Syarat Khusus Polis melekat pada Polis tetap berlaku, kecuali dinyatakan sebaliknya. 2. Jika timbul pertentangan antara Syarat-Syarat Umum Polis dan Syarat-syarat Khusus Polis ini, maka yang dipergunakan adalah Syarat-Syarat Khusus Polis

SYARAT SYARAT UMUM POLIS ASURANSI JIWA INDIVIDU PERSONAL ACCIDENT SINARMASLIFE (PAS) PT. ASURANSI JIWA SINARMAS

SYARAT SYARAT UMUM POLIS ASURANSI JIWA INDIVIDU PERSONAL ACCIDENT SINARMASLIFE (PAS) PT. ASURANSI JIWA SINARMAS SYARAT SYARAT UMUM POLIS ASURANSI JIWA INDIVIDU PERSONAL ACCIDENT SINARMASLIFE (PAS) PT. ASURANSI JIWA SINARMAS PASAL 1 I S T I L A H 1. Surat Permintaan Asuransi Jiwa : Formulir yang memuat keterangan

Lebih terperinci

SYARAT-SYARAT UMUM POLIS ASURANSI JIWA 5000. Pasal 1 ARTI BEBERAPA ISTILAH

SYARAT-SYARAT UMUM POLIS ASURANSI JIWA 5000. Pasal 1 ARTI BEBERAPA ISTILAH SYARAT-SYARAT UMUM POLIS ASURANSI JIWA 5000 Pasal 1 ARTI BEBERAPA ISTILAH Dalam Syarat-syarat Umum Polis Asuransi Jiwa Perorangan ini yang dimaksud dengan : 1. Asuransi : adalah Asuransi Jiwa 5000. 2.

Lebih terperinci

Informasi Produk Asuransi Allianz

Informasi Produk Asuransi Allianz Informasi Produk Asuransi Allianz Nama Produk Permata Proteksi Ku Permata Proteksi Plus Permata KTA Proteksi Jenis Produk Asuransi jiwa berjangka untuk perlindungan tagihan kartu kredit Asuransi jiwa berjangka

Lebih terperinci

Setiap istilah di bawah ini, kecuali dengan tegas ditentukan lain dalam Syarat dan Ketentuan ini mempunyai arti dan pengertian sebagai berikut:

Setiap istilah di bawah ini, kecuali dengan tegas ditentukan lain dalam Syarat dan Ketentuan ini mempunyai arti dan pengertian sebagai berikut: SYARAT & KETENTUAN Safe Deposit Box A. DEFINISI Setiap istilah di bawah ini, kecuali dengan tegas ditentukan lain dalam Syarat dan Ketentuan ini mempunyai arti dan pengertian sebagai berikut: 1. Anak Kunci

Lebih terperinci

RINGKASAN INFORMASI PRODUK ASURANSI PERJALANAN KARTU KREDIT CITI VISA INFINITE

RINGKASAN INFORMASI PRODUK ASURANSI PERJALANAN KARTU KREDIT CITI VISA INFINITE Nama Produk Nama Penerbit RINGKASAN INFORMASI PRODUK ASURANSI PERJALANAN KARTU KREDIT CITI VISA INFINITE Asuransi Perjalanan Nomor Polis 0211901629 Jenis Produk Usia Masuk Mata Uang Masa Pertanggungan

Lebih terperinci

POLIS STANDAR ASURANSI PENGIRIMAN UANG INDONESIA

POLIS STANDAR ASURANSI PENGIRIMAN UANG INDONESIA POLIS STANDAR ASURANSI PENGIRIMAN UANG INDONESIA Bahwa dengan pertimbangan Tertanggung telah mengajukan suatu permohonan tertulis yang menjadi dasar dan merupakan bagian tidak terpisahkan dari Polis ini

Lebih terperinci

Dokumen Klaim Asuransi Perjalanan

Dokumen Klaim Asuransi Perjalanan Dokumen Klaim Asuransi Perjalanan Dokumen Wajib: 1. Formulir Klaim Travel 2. Boarding Pass Asli & Fotokopi Tiket 3. Fotokopi Passport dengan cap imigrasi untuk tiap tanggal keberangkatan dan tanggal kepulangan.

Lebih terperinci

PERJANJIAN TENTANG REKENING EFEK Nomor: SP- /RE/KSEI/mmyy

PERJANJIAN TENTANG REKENING EFEK Nomor: SP- /RE/KSEI/mmyy PERJANJIAN TENTANG REKENING EFEK Nomor: SP- /RE/KSEI/mmyy Perjanjian ini dibuat pada hari ini, , tanggal , bulan tahun (dd-mm-yyyy), antara: PT Kustodian Sentral Efek Indonesia,

Lebih terperinci

PENETAPAN TARIF PREMI PADA LINI USAHA ASURANSI KENDARAAN BERMOTOR TAHUN 2014

PENETAPAN TARIF PREMI PADA LINI USAHA ASURANSI KENDARAAN BERMOTOR TAHUN 2014 PENETAPAN TARIF PREMI PADA LINI USAHA ASURANSI KENDARAAN BERMOTOR TAHUN 2014 I. KETENTUAN UMUM 1. Otoritas Jasa Keuangan yang selanjutnya disingkat OJK adalah lembaga yang independen dan bebas dari campur

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA R.I NOMOR: PER.04/MEN/1993 TENTANG JAMINAN KECELAKAAN KERJA MENTERI TENAGA KERJA,

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA R.I NOMOR: PER.04/MEN/1993 TENTANG JAMINAN KECELAKAAN KERJA MENTERI TENAGA KERJA, MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA R.I NOMOR: PER.04/MEN/1993 TENTANG JAMINAN KECELAKAAN KERJA MENTERI TENAGA KERJA, Menimbang : a. bahwa sebagai pelaksana pasal 19

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.07/MEN/V/2010 TENTANG ASURANSI TENAGA KERJA INDONESIA

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.07/MEN/V/2010 TENTANG ASURANSI TENAGA KERJA INDONESIA MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.07/MEN/V/2010 TENTANG ASURANSI TENAGA KERJA INDONESIA DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

KETENTUAN BERLANGGANAN

KETENTUAN BERLANGGANAN KETENTUAN BERLANGGANAN Pasal 1 Definisi 1. Ketentuan Berlangganan adalah ketentuan yang wajib dipatuhi baik oleh Mitra maupun D&K sehubungan dengan pelayanan PEMBUKAAN AKSES ONLINE PAYMENT POINT berdasarkan

Lebih terperinci

KONTRAK PELAKSANAAN PEKERJAAN PEMBANGUNAN/RENOVASI RUMAH TINGGAL. Pada hari ini,., tanggal.. kami yang bertanda tangan di bawah ini : :..

KONTRAK PELAKSANAAN PEKERJAAN PEMBANGUNAN/RENOVASI RUMAH TINGGAL. Pada hari ini,., tanggal.. kami yang bertanda tangan di bawah ini : :.. KONTRAK PELAKSANAAN PEKERJAAN PEMBANGUNAN/RENOVASI RUMAH TINGGAL Pada hari ini,., tanggal.. kami yang bertanda tangan di bawah ini : Nama Alamat No. /HP No. KTP :...... Dan; Dalam hal ini bertindak sebagai

Lebih terperinci

PERJANJIAN PEMBUKAAN REKENING EFEK

PERJANJIAN PEMBUKAAN REKENING EFEK Pada hari ini, hari... tanggal... di Jakarta, telah dibuat Perjanjian Pembukaan Rekening Efek, oleh dan antara : 1. PT Primasia Securities, dalam hal ini diwakili oleh Heliodorus Sungguhria, dalam jabatannya

Lebih terperinci

GPRS adalah General Packet Radio Service; Layanan Health Concierge adalah layanan sebagaimana dimaksud di dalam Lampiran 1;

GPRS adalah General Packet Radio Service; Layanan Health Concierge adalah layanan sebagaimana dimaksud di dalam Lampiran 1; -1- Peralatan adalah handset EPI yang diperlukan untuk menggunakan Layanan yang dibeli oleh Pelanggan dan yang disebutkan di dalam Kontrak dan peralatan pengawasan lain dan/atau aksesorisnya; GPRS adalah

Lebih terperinci

[Perjanjian Untuk Investasi Kecil]

[Perjanjian Untuk Investasi Kecil] [Perjanjian Untuk Investasi Kecil] PERJANJIAN KERJASAMA INVESTASI INTERNET MARKETING PT GLODOK SUKSES NIAGA INTERNUSA NO: IIM.Vk1-2.201510.0201 Pada hari ini tanggal... bulan... tahun..., yang bertandatangan

Lebih terperinci

PERJANJIAN KERJA SAMA ANTARA PT. DWIDA JAVA TAMA DENGAN BADAN INFORMASI GEOSPASIAL TENTANG VERIFIKASI PETA CETAK PRODUKSI PT.

PERJANJIAN KERJA SAMA ANTARA PT. DWIDA JAVA TAMA DENGAN BADAN INFORMASI GEOSPASIAL TENTANG VERIFIKASI PETA CETAK PRODUKSI PT. BADAN INFORMASt GEOSPASIAL PERJANJIAN KERJA SAMA ANTARA PT. DWIDA JAVA TAMA DENGAN BADAN INFORMASI GEOSPASIAL TENTANG VERIFIKASI PETA CETAK PRODUKSI PT. DWIDA JAVA TAMA NOMOR: 036/DJT/DIR/V/2015 NOMOR:

Lebih terperinci

MENTERIPERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA

MENTERIPERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA MENTERIPERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 62 ayat (1) huruf c dan d dan ayat (3), Pasal 165 ayat (1), Pasal 168, Pasal 170, Pasal 172, Pasal 179, Pasal 180, Pasal 184

Lebih terperinci

K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA

K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA 1 K 29 - Kerja Paksa atau Wajib Kerja 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan bagi laki-laki

Lebih terperinci

SURAT PERJANJIAN KERJA ANTARA CV. WADITRA REKA CIPTA DENGAN HERO YUDO MARTONO TENTANG PEMBUATAN APLIKASI INTEROPERABILITAS INTER-DEPARTEMEN

SURAT PERJANJIAN KERJA ANTARA CV. WADITRA REKA CIPTA DENGAN HERO YUDO MARTONO TENTANG PEMBUATAN APLIKASI INTEROPERABILITAS INTER-DEPARTEMEN SURAT PERJANJIAN KERJA ANTARA CV. WADITRA REKA CIPTA DENGAN HERO YUDO MARTONO TENTANG PEMBUATAN APLIKASI INTEROPERABILITAS INTER-DEPARTEMEN Nomor: Pada hari Kamis, tanggal Satu bulan April tahun Dua Ribu

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a.

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a.

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR : 9 TAHUN 2011 TENTANG PENYELESAIAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR : 9 TAHUN 2011 TENTANG PENYELESAIAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR : 9 TAHUN 2011 TENTANG PENYELESAIAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KALIMANTAN BARAT, Menimbang : a. bahwa kekayaan daerah adalah

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 1983 TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

PERSYARATAN UMUM PENGADAAN BARANG & JASA eprocurement PT. Bukit Asam (Persero) Tbk

PERSYARATAN UMUM PENGADAAN BARANG & JASA eprocurement PT. Bukit Asam (Persero) Tbk PERSYARATAN UMUM PENGADAAN BARANG & JASA eprocurement PT. Bukit Asam (Persero) Tbk I. Pengertian 1. Aanwijzing adalah pemberian penjelasan kepada Peserta Pengadaan Barang dan Jasa mengenai Rencana Kerja

Lebih terperinci

MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA. KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA Nomor : Kep - 150 / Men / 2000 TENTANG

MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA. KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA Nomor : Kep - 150 / Men / 2000 TENTANG MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA Nomor : Kep - 150 / Men / 2000 TENTANG PENYELESAIAN PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA DAN PENETAPAN UANG PESANGON, UANG

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

CONTOH SURAT PERJANJIAN SEWA MENYEWA RUMAH SUSUN

CONTOH SURAT PERJANJIAN SEWA MENYEWA RUMAH SUSUN CONTOH SURAT PERJANJIAN SEWA MENYEWA RUMAH SUSUN SURAT PERJANJIAN Nomer: ------------------------------------------------------ Tentang SEWA-MENYEWA RUMAH SUSUN PERUSAHAAN DENGAN KARYAWAN PERUSAHAAN YANG

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR : 790 TAHUN : 2009 PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR 10 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN TUNTUTAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 609 TAHUN 2012 TENTANG

KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 609 TAHUN 2012 TENTANG MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 609 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN PENYELESAIAN KASUS KECELAKAAN KERJA DAN

Lebih terperinci

KETENTUAN SALING PIKUL RISIKO

KETENTUAN SALING PIKUL RISIKO Lampiran yang merupakan satu kesatuan dan tidak terpisahkan dari Kesepakatan Bersama Antar Perusahaan Asuransi Anggota AAUI Mengenai Pemberlakuan Ketentuan Saling Pikul Risiko (Knock For Knock Agreement)

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG NOMOR 21 TAHUN 2007 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG [LN 2007/58, TLN 4720 ]

UNDANG-UNDANG NOMOR 21 TAHUN 2007 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG [LN 2007/58, TLN 4720 ] UNDANG-UNDANG NOMOR 21 TAHUN 2007 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG [LN 2007/58, TLN 4720 ] BAB II TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG Pasal 2 (1) Setiap orang yang melakukan perekrutan,

Lebih terperinci

PERJANJIAN KESEPAKATAN KERJA SAMA. Nomor : 011. Pada hari ini, Senin tanggal Dua Puluh Enam desember tahun dua ribu sebelas (26-12-2011)

PERJANJIAN KESEPAKATAN KERJA SAMA. Nomor : 011. Pada hari ini, Senin tanggal Dua Puluh Enam desember tahun dua ribu sebelas (26-12-2011) PERJANJIAN KESEPAKATAN KERJA SAMA Nomor : 011 Pada hari ini, Senin tanggal Dua Puluh Enam desember tahun dua ribu sebelas (26-12-2011) Berhadapan dengan saya, RAFLES DANIEL, Sarjana Hukum, Magister Kenotariatan,

Lebih terperinci

Buku Panduan Klaim Asuransi Kecelakaan Kerja

Buku Panduan Klaim Asuransi Kecelakaan Kerja [Untuk Orang Asing yang Bekerja di Jepang] インドネシア 語 版 Buku Panduan Klaim Asuransi Kecelakaan Kerja Pembayaran Asuransi Yang Dapat Diklaim (Ditagihkan) Asuransi kecelakaan kerja juga diterapkan

Lebih terperinci

TATA CARA PENYUSUNAN KONTRAK PENGADAAN BARANG/JASA BAB I PENYUSUNAN KONTRAK

TATA CARA PENYUSUNAN KONTRAK PENGADAAN BARANG/JASA BAB I PENYUSUNAN KONTRAK LAMPIRAN IV : Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan R.I Nomor PER.11/MEN/2008 Tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa di Lingkungan Departemen Kelautan dan Perikanan TATA CARA PENYUSUNAN

Lebih terperinci

RINGKASAN INFORMASI PRODUK DANAMON LEBIH

RINGKASAN INFORMASI PRODUK DANAMON LEBIH RINGKASAN INFORMASI PRODUK DANAMON LEBIH DATA RINGKAS Penjelasan Produk Produk tabungan yang dikeluarkan oleh PT. Bank Danamon Indonesia, Tbk. ( Bank Danamon ) yang dimiliki oleh Nasabah perorangan, yang

Lebih terperinci

PT UOB KAY HIAN SECURITIES ( PTUOBKH )

PT UOB KAY HIAN SECURITIES ( PTUOBKH ) SYARAT DAN KETENTUAN TRADING VIA INTERNET PT UOB KAY HIAN SECURITIES ( PTUOBKH ) ( Trading Via Internet PT UOB Kay Hian Securities ) Penting: Syarat dan Ketentuan ( SYARAT DAN KETENTUAN ) dibawah ini dan

Lebih terperinci

Pemotongan yang bersifat final Objek pemotongan (Pasal 2, PP Nomor 68 Tahun 2009) Pemotong (Pasal 1 angka 9, PP Nomor 68 Tahun 2009)

Pemotongan yang bersifat final Objek pemotongan (Pasal 2, PP Nomor 68 Tahun 2009) Pemotong (Pasal 1 angka 9, PP Nomor 68 Tahun 2009) PENGHITUNGAN PPh PASAL 21 ATAS PENGHASILAN BERUPA UANG PESANGON, UANG MANFAAT PENSIUN, TUNJANGAN HARI TUA, DAN JAMINAN HARI TUA YANG DIBAYARKAN SEKALIGUS Pemotongan yang bersifat final Objek pemotongan

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 10/ 37 /PBI/2008 TENTANG TRANSAKSI VALUTA ASING TERHADAP RUPIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 10/ 37 /PBI/2008 TENTANG TRANSAKSI VALUTA ASING TERHADAP RUPIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 10/ 37 /PBI/2008 TENTANG TRANSAKSI VALUTA ASING TERHADAP RUPIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa tujuan Bank Indonesia adalah

Lebih terperinci

No. 14/ 27/DASP Jakarta, 25 September 2012 S U R A T E D A R A N. Perihal : Mekanisme Penyesuaian Kepemilikan Kartu Kredit

No. 14/ 27/DASP Jakarta, 25 September 2012 S U R A T E D A R A N. Perihal : Mekanisme Penyesuaian Kepemilikan Kartu Kredit No. 14/ 27/DASP Jakarta, 25 September 2012 S U R A T E D A R A N Perihal : Mekanisme Penyesuaian Kepemilikan Kartu Kredit Sehubungan dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/11/PBI/2009 tentang Penyelenggaraan

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN BARANG BUKTI DI LINGKUNGAN BADAN NARKOTIKA NASIONAL

PERATURAN KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN BARANG BUKTI DI LINGKUNGAN BADAN NARKOTIKA NASIONAL HSL RPT TGL 13 JULI 2009 PERATURAN KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN BARANG BUKTI DI LINGKUNGAN BADAN NARKOTIKA NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA NOMOR: KEP-150/MEN/2000 TENTANG

KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA NOMOR: KEP-150/MEN/2000 TENTANG KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA NOMOR: KEP-150/MEN/2000 TENTANG PENYELESAIAN PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA DAN PENETAPAN UANG PESANGON, UANG PENGHARGAAN MASA KERJA DAN GANTI KERUGIAN DI PERUSAHAAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa salah satu alat

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk mewujudkan upaya

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN SIDOARJO

PEMERINTAH KABUPATEN SIDOARJO PEMERINTAH KABUPATEN SIDOARJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIDOARJO NOMOR 9 TAHUN 2008 TENTANG.PELAYANAN KETENAGAKERJAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SIDOARJO Menimbang :a. bahwa Daerah otonomi

Lebih terperinci

SYARAT DAN KETENTUAN PEMBUKAAN DAN PENGATURAN REKENING PERORANGAN/INDIVIDU PT BANK DBS INDONESIA

SYARAT DAN KETENTUAN PEMBUKAAN DAN PENGATURAN REKENING PERORANGAN/INDIVIDU PT BANK DBS INDONESIA SYARAT DAN KETENTUAN PEMBUKAAN DAN PENGATURAN REKENING PERORANGAN/INDIVIDU PT BANK DBS INDONESIA Syarat dan Ketentuan Pembukaan dan Pengaturan Rekening Perorangan/Individu PT Bank DBS Indonesia ("Syarat

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 111 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PRESIDEN NOMOR 12 TAHUN 2013 TENTANG JAMINAN KESEHATAN

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 111 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PRESIDEN NOMOR 12 TAHUN 2013 TENTANG JAMINAN KESEHATAN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 111 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PRESIDEN NOMOR 12 TAHUN 2013 TENTANG JAMINAN KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN

KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN SUSUNAN DALAM SATU NASKAH DARI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1983 TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH TERAKHIR DENGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

SYARAT DAN KETENTUAN BTPN SINAYA ONLINE dan BTPN SINAYA MOBILE

SYARAT DAN KETENTUAN BTPN SINAYA ONLINE dan BTPN SINAYA MOBILE SYARAT DAN KETENTUAN BTPN SINAYA ONLINE dan BTPN SINAYA MOBILE I. Istilah 1. BTPN Sinaya Online adalah produk layanan perbankan untuk mengakses Rekening Nasabah Pengguna melalui jaringan internet dengan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

Frequent Asked Questions BNI TAPENAS Tabungan Pendidikan Anak Sekolah

Frequent Asked Questions BNI TAPENAS Tabungan Pendidikan Anak Sekolah Frequent Asked Questions BNI TAPENAS Tabungan Pendidikan Anak Sekolah 1. Apakah BNI TAPENAS itu? TAPENAS yang merupakan kepanjangan dari TAbungan PEndidikan anak Sekolah adalah tabungan berjangka untuk

Lebih terperinci

Undang-Undang Nomor 11 tahun 1992 Tentang Dana Pensiun

Undang-Undang Nomor 11 tahun 1992 Tentang Dana Pensiun Undang-Undang Nomor 11 tahun 1992 Tentang Dana Pensiun BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan : 1. Dana Pensiun adalah badan hukum yang mengelola dan menjalankan program

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 74 TAHUN 2014 TENTANG ANGKUTAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 74 TAHUN 2014 TENTANG ANGKUTAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 74 TAHUN 2014 TENTANG ANGKUTAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 137

Lebih terperinci

SYARAT DAN KETENTUANNYA ADALAH SEBAGAI BERIKUT:

SYARAT DAN KETENTUANNYA ADALAH SEBAGAI BERIKUT: SYARAT & KETENTUAN INFOSEKITAR (WEBSITE DAN APLIKASI) ADALAH LAYANAN ONLINE YANG DIMILIKI DAN DIOPERASIKAN OLEH GALAKSI KOMPUTER YAITU APLIKASI YANG MENYEDIAKAN INFORMASI PROMO DISKON/POTONGAN HARGA UNTUK

Lebih terperinci

KONVENSI MENGENAI KERJA PAKSA ATAU KERJA WAJIB

KONVENSI MENGENAI KERJA PAKSA ATAU KERJA WAJIB 1 KONVENSI MENGENAI KERJA PAKSA ATAU KERJA WAJIB Ditetapkan oleh Konferensi Umum Organisasi Buruh Internasional, di Jenewa, pada tanggal 28 Juni 1930 [1] Konferensi Umum Organisasi Buruh Internasional,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2010 TENTANG ADMINISTRASI PRAJURIT TENTARA NASIONAL INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2010 TENTANG ADMINISTRASI PRAJURIT TENTARA NASIONAL INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2010 TENTANG ADMINISTRASI PRAJURIT TENTARA NASIONAL INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 7/47/PBI/2005 TENTANG TRANSPARANSI KONDISI KEUANGAN BANK PERKREDITAN RAKYAT SYARIAH GUBERNUR BANK INDONESIA,

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 7/47/PBI/2005 TENTANG TRANSPARANSI KONDISI KEUANGAN BANK PERKREDITAN RAKYAT SYARIAH GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 7/47/PBI/2005 TENTANG TRANSPARANSI KONDISI KEUANGAN BANK PERKREDITAN RAKYAT SYARIAH GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun

Lebih terperinci

RETRIBUSI TEMPAT KHUSUS PARKIR

RETRIBUSI TEMPAT KHUSUS PARKIR PERATURAN DAERAH KABUPATEN BENGKALIS NOMOR 06 TAHUN 2003 TENTANG RETRIBUSI TEMPAT KHUSUS PARKIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BENGKALIS, Menimbang : a. bahwa dengan di berlakukannya Undang-undang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 30 TAHUN 2004 TENTANG JABATAN NOTARIS

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 30 TAHUN 2004 TENTANG JABATAN NOTARIS SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 30 TAHUN 2004 TENTANG JABATAN NOTARIS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN

SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK DIREKTORAT PENYULUHAN PELAYANAN DAN HUBUNGAN MASYARAKAT KATA PENGANTAR DAFTAR ISI Assalamualaikum

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 17 TAHUN 2013 TAHUN 2013 TENTANG

GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 17 TAHUN 2013 TAHUN 2013 TENTANG GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 17 TAHUN 2013 TAHUN 2013 TENTANG PERJALANAN DINAS GUBERNUR/WAKIL GUBERNUR, PIMPINAN DAN ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH, PEGAWAI NEGERI

Lebih terperinci

SURAT PERJANJIAN KERJA PEKERJAAN PEMBANGUNAN GEDUNG KANTOR TAHAP II KANTOR PENGADILAN AGAMA MUARA BULIAN

SURAT PERJANJIAN KERJA PEKERJAAN PEMBANGUNAN GEDUNG KANTOR TAHAP II KANTOR PENGADILAN AGAMA MUARA BULIAN SURAT PERJANJIAN KERJA PEKERJAAN PEMBANGUNAN GEDUNG KANTOR TAHAP II KANTOR PENGADILAN AGAMA MUARA BULIAN Nomor : W5-A2/ /PL.01/V/2012 Tanggal : 16 Mei 2011 Pada hari ini, Rabu tanggal enam belas bulan

Lebih terperinci

Ringkasan Informasi Produk/Layanan

Ringkasan Informasi Produk/Layanan /Layanan Kredit Angsuran Berjangka Nama Produk/Layanan Jenis Produk/Layanan Nama Penerbit Data Ringkas Manfaat Kredit Angsuran Berjangka PaketMU BEBAS Paket Mitra Usaha yang merupakan gabungan dari produk

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL

BERITA DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL BERITA DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL ( Berita Resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul ) Nomor : 15 Tahun : 2010 Seri : E PERATURAN BUPATI GUNUNGKIDUL NOMOR 23 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR

Lebih terperinci

PROFIL PERUSAHAAN. Rawat Inap/Inpatient Rawat jalan/outpatient Gigi/Dental Melahirkan/Maternity

PROFIL PERUSAHAAN. Rawat Inap/Inpatient Rawat jalan/outpatient Gigi/Dental Melahirkan/Maternity PROFIL PERUSAHAAN PT Asuransi Central Asia atau yang lebih dikenal sebagai ACA berdiri sejak tanggal 29 Agustus 1956. Sesuai dengan motto kami Perlindungan kami adalah Kenyamanan Anda ACA telah mengembangkan

Lebih terperinci

PERJANJIAN JUAL BELI BATUBARA ANTARA PT... DAN TUAN X (TRADER) No:..

PERJANJIAN JUAL BELI BATUBARA ANTARA PT... DAN TUAN X (TRADER) No:.. PERJANJIAN JUAL BELI BATUBARA ANTARA PT... DAN TUAN X (TRADER) No:.. Pada hari ini, ( ) tanggal ( ) ( ) 2010, bertempat di Jakarta, yang bertanda tangan dibawah ini: I. Tn. X yang berkedudukan di dalam

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pembangunan perekonomian nasional bertujuan

Lebih terperinci

No. 17/ 11 /DKSP Jakarta, 1 Juni 2015 SURAT EDARAN. Perihal : Kewajiban Penggunaan Rupiah di Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia

No. 17/ 11 /DKSP Jakarta, 1 Juni 2015 SURAT EDARAN. Perihal : Kewajiban Penggunaan Rupiah di Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia No. 17/ 11 /DKSP Jakarta, 1 Juni 2015 SURAT EDARAN Perihal : Kewajiban Penggunaan Rupiah di Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia Sehubungan dengan berlakunya Peraturan Bank Indonesia Nomor 17/3/PBI/2015

Lebih terperinci

Menimbang : a. bahwa untuk kelancaran pemulihan kerugian Daerah agar dapat berjalan lebih

Menimbang : a. bahwa untuk kelancaran pemulihan kerugian Daerah agar dapat berjalan lebih RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA NOMOR TAHUN 2013 TENTANG TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI KEUANGAN DAN BARANG DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PENAJAM

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk menunjang terwujudnya perekonomian

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk menunjang terwujudnya perekonomian

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1992 TENTANG JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1992 TENTANG JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1992 TENTANG JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 2010 TENTANG HAK-HAK ANGGOTA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 2010 TENTANG HAK-HAK ANGGOTA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 2010 TENTANG HAK-HAK ANGGOTA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa setiap warga negara

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA PADANG PANJANG

PEMERINTAH KOTA PADANG PANJANG PEMERINTAH KOTA PADANG PANJANG PERATURAN DAERAH KOTA PADANG PANJANG NOMOR 8 TAHUN 2005 TENTANG RETRIBUSI PEMERIKSAAN ALAT PEMADAM KEBAKARAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PADANG PANJANG, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1979 TENTANG PEMBERHENTIAN PEGAWAI NEGERI SIPIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1979 TENTANG PEMBERHENTIAN PEGAWAI NEGERI SIPIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1979 TENTANG PEMBERHENTIAN PEGAWAI NEGERI SIPIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa ketentuan-ketentuan mengenai pemberhentian Pegawai

Lebih terperinci

BUPATI MALANG BUPATI MALANG,

BUPATI MALANG BUPATI MALANG, BUPATI MALANG PERATURAN BUPATI MALANG NOMOR 24 TAHUN 2012 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENYELENGGARAAN PELAYANAN KESEHATAN DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH LAWANG BUPATI MALANG, Menimbang : a. bahwa dengan ditetapkannya

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2004 TENTANG PENEMPATAN DAN PERLINDUNGAN TENAGA KERJA INDONESIA DI LUAR NEGERI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2004 TENTANG PENEMPATAN DAN PERLINDUNGAN TENAGA KERJA INDONESIA DI LUAR NEGERI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2004 TENTANG PENEMPATAN DAN PERLINDUNGAN TENAGA KERJA INDONESIA DI LUAR NEGERI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG MANAJEMEN PENYIDIKAN OLEH PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL

PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG MANAJEMEN PENYIDIKAN OLEH PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG MANAJEMEN PENYIDIKAN OLEH PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2013 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG KEIMIGRASIAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2013 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG KEIMIGRASIAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2013 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG KEIMIGRASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

DRAFT PERUBAHAN ANGGARAN DASAR PT. ASIA PACIFIC FIBERS Tbk DALAM RANGKA PENYESUAIAN DENGAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN. Tetap. Tetap.

DRAFT PERUBAHAN ANGGARAN DASAR PT. ASIA PACIFIC FIBERS Tbk DALAM RANGKA PENYESUAIAN DENGAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN. Tetap. Tetap. DRAFT PERUBAHAN ANGGARAN DASAR PT. ASIA PACIFIC FIBERS Tbk DALAM RANGKA PENYESUAIAN DENGAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN Anggaran Dasar Lama NAMA DAN TEMPAT KEDUDUKAN Pasal 1 1. Perseroan terbatas ini

Lebih terperinci

POLIS ASURANSI KENDARAAN BERMOTOR KERUGIAN TOTAL (TOTAL LOSS ONLY)

POLIS ASURANSI KENDARAAN BERMOTOR KERUGIAN TOTAL (TOTAL LOSS ONLY) POLIS ASURANSI KENDARAAN BERMOTOR KERUGIAN TOTAL (TOTAL LOSS ONLY) Penanggung yang bertanda tangan pada Polis ini, berdasarkan permintaan pertanggungan secara tertulis dari Tertanggung melalui Surat Permohonan

Lebih terperinci

BERITA NEGARA. No.649,2014 KEMENKUMHAM. Paspor Biasa. Surat Perjalanan. Laksana Paspor PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA

BERITA NEGARA. No.649,2014 KEMENKUMHAM. Paspor Biasa. Surat Perjalanan. Laksana Paspor PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.649,2014 KEMENKUMHAM. Paspor Biasa. Surat Perjalanan. Laksana Paspor PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2014 TENTANG PASPOR

Lebih terperinci

CONTOH SURAT PERJANJIAN PENGIKATAN JUAL BELI TANAH DAN BANGUNAN (SPPJB)

CONTOH SURAT PERJANJIAN PENGIKATAN JUAL BELI TANAH DAN BANGUNAN (SPPJB) CONTOH SURAT PERJANJIAN PENGIKATAN JUAL BELI TANAH DAN BANGUNAN (SPPJB) Pada hari ini ( ) tanggal [( ) ( tanggal dalam huruf )] ( bulan dalam huruf ) tahun [( ) ( tahun dalam huruf )], kami yang bertanda

Lebih terperinci

PERSYARATAN DAN KETENTUAN UMUM UNTUK REKENING INDIVIDU GENERAL TERMS AND CONDITIONS FOR INDIVIDUAL ACCOUNT. PT. Bank Ekonomi Raharja, Tbk.

PERSYARATAN DAN KETENTUAN UMUM UNTUK REKENING INDIVIDU GENERAL TERMS AND CONDITIONS FOR INDIVIDUAL ACCOUNT. PT. Bank Ekonomi Raharja, Tbk. PERSYARATAN DAN KETENTUAN UMUM UNTUK REKENING INDIVIDU GENERAL TERMS AND CONDITIONS FOR INDIVIDUAL ACCOUNT BAGIAN I DEFINISI DAN INTERPRETASI 1. DEFINISI Dalam Persyaratan dan Ketentuan ini, dan kecuali

Lebih terperinci

DHL EXPRESS SYARAT DAN KETENTUAN PENGIRIMAN BARANG. ( Syarat dan Ketentuan )

DHL EXPRESS SYARAT DAN KETENTUAN PENGIRIMAN BARANG. ( Syarat dan Ketentuan ) DHL EXPRESS SYARAT DAN KETENTUAN PENGIRIMAN BARANG ( Syarat dan Ketentuan ) PEMBERITAHUAN PENTING Ketika meminta jasa-jasa DHL, Anda sebagai Pengirim setuju, atas nama Anda sendiri dan atas nama orang

Lebih terperinci

BUKU PANDUAN PESERTA UJI KOMPETENSI MANAJEMEN RISIKO

BUKU PANDUAN PESERTA UJI KOMPETENSI MANAJEMEN RISIKO BUKU PANDUAN PESERTA UJI KOMPETENSI MANAJEMEN RISIKO Edisi Januari 2009 1 PANDUAN PESERTA UJI KOMPETENSI MANAJEMEN RISIKO Pendaftaran Uji Kompetensi Manajemen Risiko dapat dilakukan secara kolektif dari

Lebih terperinci

SmartHome. Formulir Permohonan. 1. Data Tertanggung. Page 1 of 6. Nama Tertanggung* Jenis Kelamin* Laki-laki Perempuan. No KTP / SIM / Paspor / KITAS*

SmartHome. Formulir Permohonan. 1. Data Tertanggung. Page 1 of 6. Nama Tertanggung* Jenis Kelamin* Laki-laki Perempuan. No KTP / SIM / Paspor / KITAS* SmartHome Formulir Permohonan Customer Care Centre AXA Tower lt. GF Jl. Prof. Dr. Satrio Kav.18, Kuningan City Jakarta 12940, Indonesia Tel : +62 21 3005 9005 Fax : +62 21 3005 9008 Email : customer@axa-insurance.co.id

Lebih terperinci

SYARAT DAN KETENTUAN UMUM PEMBUKAAN REKENING

SYARAT DAN KETENTUAN UMUM PEMBUKAAN REKENING SYARAT DAN KETENTUAN UMUM PEMBUKAAN REKENING 1. Nasabah harus mengisi semua formulir secara lengkap dan dengan informasi yang benar sesuai dengan petunjuk pengisian serta melengkapi dokumen pendukung yang

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR GUBERNUR JAWA TIMUR,

GUBERNUR JAWA TIMUR GUBERNUR JAWA TIMUR, GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 36 TAHUN 2011 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR GUBERNUR JAWA TIMUR, Menimbang : bahwa untuk

Lebih terperinci

Tanggung Jawab Dasar Pengemudi

Tanggung Jawab Dasar Pengemudi Tanggung Jawab Dasar Pengemudi Panduan ini menerangkan kondisi utama yang harus dipenuhi oleh pengemudi yang akan mengoperasikan kendaraan PMI (baik pengemudi yang merupakan karyawan PMI atau pun pegawai

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN PARIGI MOUTONG

PEMERINTAH KABUPATEN PARIGI MOUTONG PEMERINTAH KABUPATEN PARIGI MOUTONG PERATURAN DAERAH KABUPATEN PARIGI MOUTONG NOMOR 3 TAHUN 2006 TENTANG RETRIBUSI WAJIB DAFTAR PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PARIGI MOUTONG, Menimbang

Lebih terperinci

Jika Anda diperlakukan secara tidak adil atau hak Anda dilanggar, hubungi nomor bebas pulsa berikut:

Jika Anda diperlakukan secara tidak adil atau hak Anda dilanggar, hubungi nomor bebas pulsa berikut: Apakah Anda Datang Ke Amerika untuk Bekerja Sementara atau Belajar? Kami percaya bahwa Anda akan mendapatkan pengalaman yang berharga. Tetapi, apabila Anda mendapatkan masalah, Anda memiliki hak dan Anda

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, GUBERNUR BANK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 14 / 2 /PBI/ 2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 11/11/PBI/2009 TENTANG PENYELENGGARAAN KEGIATAN ALAT PEMBAYARAN DENGAN MENGGUNAKAN KARTU DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

No.10/ 42 /DPD Jakarta, 27 November 2008. S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA

No.10/ 42 /DPD Jakarta, 27 November 2008. S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA No.10/ 42 /DPD Jakarta, 27 November 2008 S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA Perihal : Pembelian Valuta Asing terhadap Rupiah kepada Bank Sehubungan dengan telah ditetapkannya Peraturan

Lebih terperinci