UPAYA PENINGKATAN PENGETAHUAN WARGA DALAM MEMILIH OBAT BEBAS UTUK PENGONATAN SENDIRI MELALUI PEMBERIAN INFORMASI LISAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "UPAYA PENINGKATAN PENGETAHUAN WARGA DALAM MEMILIH OBAT BEBAS UTUK PENGONATAN SENDIRI MELALUI PEMBERIAN INFORMASI LISAN"

Transkripsi

1 UPAYA PENINGKATAN PENGETAHUAN WARGA DALAM MEMILIH OBAT BEBAS UTUK PENGONATAN SENDIRI MELALUI PEMBERIAN INFORMASI LISAN Di RT. 18 KELURAHAN DUA ILIR PALEMBANG TAHUN 2013 ABSTRAK Tujuan umum penelitian ini untuk mengetahui tingkat pengetahuan warga dalam memilih obat bebas untuk pengobatan sendiri melalui informasi lisan di RT. 18. Kelurahan Dua Ilir Palembang tahun Sebagai kelompok eksperimen dan kelompok kontrol sebanyak 30 orang kepala keluarga. Penelitian ini menggunakan metode Eksperimen semu (Quasi Experiment) dengan rancangan pre test dan post test yang terdiri dari tiga tahapan kegiatan. Pertama pengumpulan data dengan menggunakan kuisioner kepada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, kedua pemberian informasi lisan kepada kelompok eksperimen dilakukan dengan dikusi kelompok kecil, ketiga pengumpulan data kembali dengan kusioner dari kedua kelompok. Hasil penelitian menunjukkan ada peningkatan pengetahuan warga dalam pemilihan obat bebas untuk pengobatan sendiri karena pengaruh informasi. Kelompok eksperimen mengalami peningkatan sebesar 20%, ini dapat diketahui dari hasil post test. Kelompok kontrolpun mengalami peningkatan 3,3%, hal ini juga dapat diketahui dari hasil post test. Hal ini terjadi karena interaksi antar individu yang tidak dikendalikan. Kata kunci: pengetahuan, informasi. 1

2 BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Menurut undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan, Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Pengobatan sendiri dilakukan dengan menggunakan obat bebas atau bebas terbatas, yang dibeli di apotek, toko obat, toko, dan warung tanpa resep dokter, dan umumnya untuk mengatasi keluhan ringan yang dapat sembuh dengan sendirinya seperti flu, mag, sakit kepala, diare, dan lain- lain (Supardi, 1999). Nuranti, A (2005) dalam penelitian menyimpulkan adanya peningkatan pengetahuan dalam kelompok eksperimen setelah diberikan informasi secara lisan, Pengobatan sendiri yang tidak rasional dipengaruhi oleh rendahnya tingkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku masyarakat dalam pemilihan obat. Hal ini dikarenakan beberapa hal antara lain, sifat malas masyarakat untuk meminta bantuan tenaga kesehatan, kurangnya informasi yang benar dan objektif tentang obat. Untuk itu pemberian informasi yang benar kepada masyarakat tentang obat sangatlah diperlukan sehingga dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat itu sendiri. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat antara lain melalui lisan dan tulisan. Lisan misalnya dilakukan dengan pemberian ceramah, dialog, diskusi ataupun seminar. Tulisan dilakukan melalui brosur, pamflet, poster, majalah, koran. Berdasarkan uraian diatas, maka dilakukan penelitian dengan judul Upaya Peningkatan Pengetahuan Warga Dalam Memilih Obat Bebas Untuk Pengobatan Sendiri Melalui Pemberian Informasi Lisan di RT. 18 Kelurahan Dua Ilir Palembang Tahun B. Perumusan Masalah. Bagaimana tingkat pengetahuan warga dalam memilih obat bebas untuk pengobatan sendiri melalui pemberian informasi lisan di RT. 18 Kelurahan Dua Ilir Palembang Tahun 2013?. C. Tujuan Untuk mengetahui tingkat pengetahuan warga dalam memilih obat bebas untuk pengobatan sendiri melalui pemberian informasi lisan di RT. 18 Kelurahan Dua Ilir Palembang Tahun

3 D. Manfaat Penelitian 1. Mengetahui tingkat pengetahuan warga R T 18 Kelurahan Dua Ilir Palembang dalam pemilihan obat bebas untuk pengobatan sendiri. 2. Meningkatkan tingkat pengetahuan warga R T 18 Kelurahan Dua Ilir Palembang dalam pemilihan obat bebas untuk pengobatan sendiri. E. Kerangka Pemikiran Pemberian Informasi Lisan melalui Diskusi Kelompok Kecil Pengetahuan kelompok eksperimen Pengetahuan meningkat -Pendidikan - Kedudukan sosial dan ekonomi Pengetahuan kelompok kontrol Pengetahuan kelompok eksperimen F. Hipotesa Tidak Diberi Informasi Lisan Melalui Diskusi Kelompok Kecil Ho : Hi : Tidak ada peningkatan pengetahuan warga dalam pemilihan obat keras bebasuntuk pengobatan sendiri karena adanya pemberian informasi lisan melalui Diskusi Kelompok Kecil Ada peningkatan pengetahuan warga dalam pemilihan obat bebas untuk pengobatan sendiri karena adanya informasi lisan melalui Diskusi Kelompok Kecil 3

4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Dasar Pengobatan Sendiri A.1.Definisi Pengobatan Sendiri Pengobatan sendiri adalah proses dimana fungsi perorangan secara aktif terlibat dalam promosi kesehatan, pengambilan keputusan kesehatan serta dalam pencegahan penyakit melalui tindakan mengobati sendiri dengan obat tanpa resep yang dilakukan secara tepat guna dan pertanggungjawab (Donatus, 1997). A.2. Tahap-tahap tindakan pengobatan sendiri Proses pengobatan sendiri melibatkan 5 tahap tindakan yaitu : (Suryawati, 1997) 1. Mengenali gejala-gejala dan tanda-tanda penyakit. 2. Menentukan kebutuhan obat sesuai dengan daya kerja dan golongan. 3. Memilih nama dagang berdasarkan komposisi dan zat berkhasiat, indikasi, kontra indikasi, dosis pemakaian serta efek samping obat. 4. Menggunakan obat 5. Memantau hasil pengobatan. A..3. Faktor yang mempengaruhi pengobatan sendiri Menurut Covington,(2000) ada 4 faktor utama yang mempengaruhi tindakan dalam pemilihan obat untuk pemgobatan sendiri, yaitu : 1. Sikap dan kepercayaan diri (Apresiasi nilai sehat dan inisiatif pencegahan dalam penatalaksanaan penyakit, motivasi dan komitmen untuk menjadi pembelajaran berkenaan dengan penyakitnya dengan penyakitnya dan penyembuhan yang sesuai, persepsi tentang keparahan kondisi medis yang diharapkan akan dicegah dan disembuhkan). 2. Pendidikan dan pengetahuan penderita (derajat pendidikan perorangan, pengetahuan tentang kondisi medis dan relevan, pengetahuan dasar tentang penyembuhan yang relevan, kemampuan dalam menyadap dan menginterprestasikan informasi kesehatan pelanggan, pelabelan pada kemasan, informasi sisipan pada kemasan). 3. Demografi (umur, besar keluarga, perbedaan gender, posisi sosio ekonomi). 4

5 4. Ekonomi dan sosial (status ekonomi perorangan, biaya perawatan termasuk produk dan pelayanan, ketersediaan produk dan perawatan dan tempat pelayanan kesehatan, atau keduanya). A.4. Faktor dalam pemilihan pengobatan sendiri Menurut Sjamsudin, (1982) Faktor dalam pemilihan pengobatan sendiri adalah pengalaman, namun ada juga faktor lain yang mempengaruhi: 1. Informasi iklan, baik menggunakan media cetak maupun media elektronik 2.Adanya saran dari orang lain baik dari tetangga, teman maupun keluarga A..5. Keuntungan dan kerugian Masih menurut Sjamsudin (1982) Keuntungan yang dirasakan dalam melakukan pengobatan sendiri : 1. Biaya lebih rendah tidak perlu mengeluarkan biaya jasa untuk dokter. 2. Obat dapat diperoleh dengan mudah dan praktis, dapat dibeli diwarung dan toko obat yang dekat dengan tempat tinggal. 3. Relatif cepat, tidak perlu mengantri Kerugian yang dapat terjadi: 1. Obat menjadi tidak aman, jika tidak memperhatikan petunjuk pemakaian yang ada pada brosur. 2. Sakit dapat menjadi lebih parah karena penyebab penyakitnya tidak diobati, yang diobatai hanya akibatnya saja. B. Obat bebas. B.1. Definisi Obat Bebas Menurut Sartono, (1993), obat bebas adalah obat yang dapat dijual dan dibeli secara bebas diapotek, toko obat, toko, dan warung tanpa menggunakan resep dokter. Menurut peraturan Menteri Kesehatan No /Menkes / Per/ X / 1993, obat yang dapat diserahkan tanpa resep harus memenuhi beberapa kriteria yaitu : 5

6 1. Tidak dikontraindikasikan untuk penggunaan pada wanita hamil, anak dibawah usia 2 tahun dan orang tua 65 tahun 2. Pengobatan sendiri dengan obat dimaksud tidak memberikan resiko pada kelanjutan penyakit 3. Penggunaan tidak memerlukan cara atau alat khusus yang harus dilakukan dengan tenaga ahli 4. Penggunaannya diperlukan untuk penyakit yang prevalensinya tinggi di Indonesia 5. Obat dimaksud memiliki rasio keamanan yang dapat dipertanggung jawabkan untuk pengobatan sendiri Berdasarkan Surat Keputusan NO / Dir. Jen / SK / 1969, obat bebas harus mencantumkan tanda peringatan pada wadah atau kemasan dengan warna hitam ukuran dengan ukuran panjang 5 cm dan lebar 2 cm atau disesuaikan dengan kemasan dan memuat pemberitahuan dengan huruf bewarna putih. Peringatan tersebut yaitu : 1. P no 1. Awas! Obat keras, bacalah aturan memakainya. 2. P no 2. Awas! Obat keras, hanya untuk kumur, jangan ditelan 3. P no 3. Awas! Obat keras, hanya untuk bagian luar dari badan 4. P no 4. Awas! Obat keras, hanya untuk dibakar 5. P no 5. Awas! Obat keras, tidak boleh ditelan 6. P no 6. Awas! Obat keras, obat wasir jangan ditelan B.2. Jenis-jenis Obat Bebas Berdasarkan surat keputusan Menteri Kesehatan no /sk / V/ 1983, tanggal 15 juni 1983, obat bebas dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu : 1. Obat Bebas Ditandai dengan lingkaran berwarna hijau dengan garis tepi berwarna hitam dan diameter 1,5 atau disesuaikan dengan kemasannya. Tanda khusus Obat Bebas Gambar: 2.1. penandaan obat bebas Obat jenis ini bebas diperoleh di warung kecil selain juga tersedia di apotek dan toko obat. Contoh obat yang termasuk golongan ini Vitacimin, Counterpain, Diapet, dan Bodrex. 6

7 2. Obat Bebas Terbatas Obat golongan ini pada zaman belanda disebut daftar w (waasrhuing) yang artinya peringatan. Obat bebas terbatas dapat diperjual belikan secara bebas dengan bersyarat hanya dalam jumlah yang telah ditentukan dan disertai tanda peringatan berupa lingkaran berwarna biru dengan garis tepi berwarna hitam. Tanda khusus Obat Bebas terbatas Gambar:2.2. penandaan obat bebas terbatas. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No. 2380/SK/V/1983, tanggal 15 Juni 1983 tanda khusus diletakkan pada bungkus luar dan harus dicetak pada sisi utamanya agar jelas terlihat dan mudah dikenali. Yang termasuk kedalam golongan ini antara lain tablet Antimo, Decolgen, Mixagrip, Konidin, Daktarin, Insto, Panadol, Tempra, Paramex. B.3. Persyaratan Obat Bebas Menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia no 2380/ A/ SK/ VII/ 1983, obat bebas dan bebas terbatas diharapkan mempunyai batas keamanan yang baik dengan indeks terapi yang lebar atau memiliki resiko dan manfaat klinis yang menguntungkan konsumen, tidak boleh menimbulkan kecanduan, penggunaannya harus mudah (tidak disuntikkan), tidak mendorong penyalahgunaan obat, penggunaannya tidak membutuhkan pemantauan dan tidak menimbulkan efek samping yang membahayakan (relatif aman), dan sangat diperlukan untuk menanggulangi kesakitan yang banyak dijumpai dimasyarakat (Muniarti, 1997). B.4. Efek Samping Obat Bebas Menurut undang-undang no.23 tahun 1992, definisi dari: efek samping adalah suatu efek ikutan yang tidak diinginkan yang muncul setelah pemakian obat, sehingga menimbulkan rasa sakit yang lain yang berbeda dari sakit awal. Setiap obat bebas memiliki efek samping yang berbeda-beda dan tingkat bahayanya tergantung dari golongan dan khasiat obat terhadap tubuh dan cara pengunaannya yang benar. 7

8 B.5. Klasifikasi/Golongan obat dengan efek samping. 1.Analgetik antipiretik Efek samping dari obat analgesik antipiretik seperti asetosal antara lain yaitu mengiritasi selaput mukosa dan menghentikan sekresi asam lambung sehingga mengakibatkan gangguan lambung. 2. Obat antihistamin Efek samping harus diperhatikan dari obat antihistamin seperti klorfeniramin maleat yaitu mengantuk. 3. Obat dekongestan (melegakan saluran pernapasan) Efek samping dari obat dekongestan seperti efidrin dan pseudoefedrin adalah rasa kuatir, sukar bernafas, denyut jantung yang lambat tetapi kuat, nyeri kepala selintas, gelisah, gugup, perut terasa tidak enak dan sukar tidur. 4. Obat ekspektoran Efek samping dari obat ekspektoran seperti gliserin guaiakolat berupa rasa kantuk, mual dan muntah. C. Masyarakat. C.1. Definisi masyarakat Masyarakat menurut Koentjoroningrat dalam Effendi (1995) adalah sekumpulan manusia yang saling bergaul, atau dengan istilah asing lain saling berinteraksi. Kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinue dan terikat oleh suatu rasa identitas bersama. C.2. Ciri-ciri Masyarakat Berdasarkan pengertian diatas masyarakat memiliki ciri-ciri sebagai berikut : 1. Menempati wilayah dengan batas-batas tertentu 2. Saling tergantung satu dengan yang lainnya 3. Memiliki adat istiadat tertentu atau kebudayaan 4. Memiliki identitas bersama 8

9 C.3. Pemberian Informasi Pemberian informasi obat yang harus diinformasikan kepada masyarakat meliputi : 1. Nama obat, umumnya berkaiatan dengan merek 2. Bahan aktif 3. Golongan atau cara kerja obat, merupakan kategori produk seperti obat batuk, antihistamin dan lainnya 4. Kegunaan atau indikasi 5. Dosis dan takaran penggunaan 6. Cara pemakaian 7. Lamanya obat digunakan 8. Peringatan dan perhatian kapan boleh atau tidaknya menggunakan obat tersebut, kapan harus berhenti, kapan harus kedokter dan kemungkinan efek sampingnya 9. Efek samping obat 10. Kontra indikasi 11. Kadarluasa 12. Interaksi obat, terjadinya kemungkinan tercampurnya obat dengan bahan kimia lain berupa obat, makanan dan minuman yang dapat menyebabkan bahaya keracunan atau obat menjadi kurang aktif 13. Penyimpanan obat 14. Penandaan obat Informasi yang diberikan kepada masyarakat dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam memilih obat bebas yang tepat yang selanjutnya berpengaruh pada kebiasaan atau perilaku masyarakat dalam melakukan pengobatan sendiri kearah yang lebih benar dan rasional. Pemberian informasi dapat dilakukan dengan cara: 1. Pemberian Informasi secara lisan Pemberian informasi ini dilakukan secara langsung antara dua orang atau lebih yang berhadapan melalui suatu pertemuan atau percakapan dan terjadi antara mereka, Contoh : ceramah, dialog, diskusi, dan seminar. 2. Pemberian informasi secara tulisan Pemberian informasi ini dilakukan secara tidak langsung, melalui perantara dan tidak terjadi interaksi, pertemua, ataupun percakapan antara dua orang atau lebih. Pemberian informasi ini biasanya ditulis dan disebarluaskan kepada seluruh masyarakat, contohnya : brosur, pamflet, majalah, koran dan poster. (Darmansyah,1982) 9

10 C. 4. Batasan Operasional 1. Pengetahuan kelompok eksperimen adalah sejauh mana pengetahuan warga yang diberi perlakuan berupa informasi lisan melalui Diskusi Kelompok Kecil mengenai obat bebas yang tepat dan efektif untuk pengobatan sendiri 2. Pengetahuan kelompok kontrol adalah sejauh mana pengetahuan warga yang tidak diberi perlakuan berupa informasi lisan melalui Diskusi Kelompok Kecil mengenai obat bebas yang tepat untuk pengobatan sendiri 3. Informasi lisan melalui diskusi Diskusi Kelompok Kecil adalah penjelasan tentang penggunaan obat yang tepat untuk pengobatan sendiri yang diberikan tenaga ahli kesehatan melalui Diskusi Kelompok Kecil 4. Pendidikan adalah jejang sekolah yang dilalui oleh responden 5. Kedudukan sosial dan ekonomi adalah keadaan responden mengenai kehidupan sosial dan pekerjaannya. 10

11 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Rancangan Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode Eksperimental semu (Quasi Eksperiment) dengan rancangan Pre Test dan Post Test yaitu suatu metode yang mengenakan perlakuan atau intervensi kepada satu kelompok eksperimen, kemudian hasil (akibat) dari intervensi tersebut dibandingkan dengan kelompok yang tidak dikenai perlakuan yang disebuut kelompok kontrol. Yang selanjutnya akan diklasifikasikan dan dianalisis sehingga diambil keputusan dan kesimpulan yang tepat. B. Populasi dan Sampel B.1. Populasi Populasi adalah sebuah kumpulan dari kemungkinan orang-orang, benda-benda dan ukuran lain dari obyek yang menjadi perhatian (Sulbahri, 2011) Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah warga Rukun Tetangga 18 Kelurahan Dua Ilir Palembang dengan jumlah 202 kepala keluarga. B.2.Sample. Sample adalah bagian dari populasi yang diambil melalui cara-cara tertentu, jelas dan lengkap yang dapat dianggap mewakili populasi. (Siswoyo, 2007, h 9) Winaro Surachmad dalam Dasar dan Teknik Research Pengantar Metodologi Ilmiah memberikan pedoman Apabila populasi cukup homogeny (serba sama), terhadap populasi di bawah 100 dapat dipergunakan sampel sampai sebesar 50%, diatas 100 sebesar 15% Kelompok eksperimen Kelompok eksperimen adalah kelompok yang diberikan perlakuan berupa informasi lisan tentang obat bebas untuk pengobatan sendiri melalui Diskusi Kelompok Kecil dengan jumlah 15 % dari 202 kepala keluarga 30,3 orang dibulatkan menjadi 30. Kelompok kontrol Kelompok kontrol adalah kelompok yang tidak diberi perlakuan dengan jumlah yang sama 30 orang. 11

12 C. Teknik Pengumpulan Data Data penelitian ini diperoleh dari hasil pengolahan dan analisis data kuesioner yang diberikan kepada responden melalui dua tahap yaitu tahap sebelum pemberian informasi dan tahap sesudah pemberian informasi melalui Diskusi Kelompok Kecil. Alat yang digunakan untuk pengumpulan data pada penelitian ini adalah kuesioner, alat tulis dan alat hitung. Variabel Independen (variabel pengaruh) adalah informasi lisan yang diberikan kepada warga atau responden melalui Diskusi Kelompok Kecil. Variabel dependent (variabel terpengaruh) adalah tingkat pengetahuan warga dalam pemilihan obat bebas untuk pengobatan sendiri. Intervensi yang diberikan berupa penjelasan tentang nama-nama produk obat dan zat aktifnya, golongan dan cara kerja obat indikasi, dosis, cara pemakaian, lamanya obat digunakan, peringatan obat yang harus diperhatikan, kontra indikasi, efek samping, interaksi obat dalam tumbuh, serta penandaan obat bebas dan bebas terbatas. D.Pengolahan dan Analisis Data Data yang diperoleh meliputi data Pre Test dan data Post Test yang dianalisis secara statistik dan ditampilkan dalam bentuk diagram, sehingga diketahui perbedaan antara kedua kelompok yang akan digunakan untuk mengetahui besarnya peningkatan pengetahuan. 12

OTC (OVER THE COUNTER DRUGS)

OTC (OVER THE COUNTER DRUGS) OTC (OVER THE COUNTER DRUGS) Obat adalah bahan atau panduan bahan-bahan yang siap digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Apotek Definisi apotek menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1332/MENKES/SK/X/2002 yaitu sebagai suatu tempat dilakukannya pekerjaan kefarmasian, penyaluran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Pembangunan kesehatan

Lebih terperinci

TINGKAT PENGETAHUAN PASIEN DAN RASIONALITAS SWAMEDIKASI DI APOTEK KOTA PANYABUNGAN

TINGKAT PENGETAHUAN PASIEN DAN RASIONALITAS SWAMEDIKASI DI APOTEK KOTA PANYABUNGAN LAMPIRAN Lampiran 1. Kuesioner yang Telah Valid dan Reliabel TINGKAT PENGETAHUAN PASIEN DAN RASIONALITAS SWAMEDIKASI DI APOTEK KOTA PANYABUNGAN Beri Tanda ( ) Pada Salah Satu Pilihan I. PENDAHULUAN 1.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan manusia dalam hal kelangsungan hidup. Dalam hal ini, kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Swamedikasi atau self medication adalah penggunaan obat-obatan tanpa

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Swamedikasi atau self medication adalah penggunaan obat-obatan tanpa BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Swamedikasi (Pengobatan Sendiri). Swamedikasi atau self medication adalah penggunaan obat-obatan tanpa resep oleh seseorang atas inisiatifnya sendiri (FIP, 1999). Dasar hukum

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Istilah pengobatan sendiri, meskipun belum terlalu populer, namun

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Istilah pengobatan sendiri, meskipun belum terlalu populer, namun BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Istilah pengobatan sendiri, meskipun belum terlalu populer, namun praktiknya telah berkembang secara luas dan menjadi tren di masyarakat. Pengobatan sendiri menurut

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Apotek berasal dari bahasa Yunani apotheca, yang secara harfiah berarti

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Apotek berasal dari bahasa Yunani apotheca, yang secara harfiah berarti BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Apotek 2.1.1 Pengertian Apotek Apotek berasal dari bahasa Yunani apotheca, yang secara harfiah berarti penyimpanan. Dalam bahasa Belanda, apotek disebut apotheek, yang berarti

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Swamedikasi atau pengobatan sendiri merupakan kegiatan pemilihan dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Swamedikasi atau pengobatan sendiri merupakan kegiatan pemilihan dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Swamedikasi atau pengobatan sendiri merupakan kegiatan pemilihan dan penggunaan obat baik itu obat modern, herbal, maupun obat tradisional oleh seorang individu untuk

Lebih terperinci

Penggolongan sederhana dapat diketahui dari definisi yang lengkap di atas yaitu obat untuk manusia dan obat untuk hewan. Selain itu ada beberapa

Penggolongan sederhana dapat diketahui dari definisi yang lengkap di atas yaitu obat untuk manusia dan obat untuk hewan. Selain itu ada beberapa PENGGOLONGAN OBAT Penggolongan sederhana dapat diketahui dari definisi yang lengkap di atas yaitu obat untuk manusia dan obat untuk hewan. Selain itu ada beberapa penggolongan obat yang lain, dimana penggolongan

Lebih terperinci

Waspada Keracunan Phenylpropanolamin (PPA)

Waspada Keracunan Phenylpropanolamin (PPA) Waspada Keracunan Phenylpropanolamin (PPA) Penyakit flu umumnya dapat sembuh dengan sendirinya jika kita cukup istirahat, makan teratur, dan banyak mengkonsumsi sayur serta buah-buahan. Namun demikian,

Lebih terperinci

DINAS KESEHATAN KABUPATEN TELUK WONDAMA

DINAS KESEHATAN KABUPATEN TELUK WONDAMA DINAS KESEHATAN KABUPATEN TELUK WONDAMA INFO OBAT Paracetamol 500 mg Parasetamol adalah derivat p-aminofenol yang mempunyai sifat antipiretik / analgesik. Sifat antipiretik disebabkan oleh gugus aminobenzen

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keadilan, untuk mencapai tujuan tersebut Indonesia dihadapkan pada

BAB I PENDAHULUAN. keadilan, untuk mencapai tujuan tersebut Indonesia dihadapkan pada 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tujuan pembangunan nasional adalah pembangunan manusia yang seutuhnya. Seluruh rakyat Indonesia berhak memperoleh kesejahteraan dan keadilan, untuk mencapai tujuan

Lebih terperinci

PENGELOLAAN OBAT DAN PENYULUHAN OBAT KEPADA MASYARAKAT. Lecture EMI KUSUMAWATI., S.FARM., APT

PENGELOLAAN OBAT DAN PENYULUHAN OBAT KEPADA MASYARAKAT. Lecture EMI KUSUMAWATI., S.FARM., APT PENGELOLAAN OBAT DAN PENYULUHAN OBAT KEPADA MASYARAKAT Lecture EMI KUSUMAWATI., S.FARM., APT Meliputi aktifitas Profesi kesehatan yang terlibat Dokter Apoteker Perawat Asisten Apoteker Promotif, Preventif,

Lebih terperinci

PENGARUH TEKNIK RELAKSASI GUIDED IMAGERY TERHADAP PENURUNAN NYERI PADA PASIEN PASCA OPERASI FRAKTUR DI RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA SKRIPSI

PENGARUH TEKNIK RELAKSASI GUIDED IMAGERY TERHADAP PENURUNAN NYERI PADA PASIEN PASCA OPERASI FRAKTUR DI RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA SKRIPSI PENGARUH TEKNIK RELAKSASI GUIDED IMAGERY TERHADAP PENURUNAN NYERI PADA PASIEN PASCA OPERASI FRAKTUR DI RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA SKRIPSI Diajukan sebagai salah satu syarat Untuk meraih gelar Sarjana

Lebih terperinci

BAB VII ZAT ADIKTIF DAN PSIKOTROPIKA

BAB VII ZAT ADIKTIF DAN PSIKOTROPIKA BAB VII ZAT ADIKTIF DAN PSIKOTROPIKA Gambar 7.1, terdiri dari rokok, minuman keras dan obat-obatan yang semuanya tergolong pada zat adiktif dan psikotropika Gambar 7.1: Zat adiktif dan psikotropika 1.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Beberapa definisi pengobatan sendiri menurut beberapa sumber adalah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Beberapa definisi pengobatan sendiri menurut beberapa sumber adalah BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Pengobatan Sendiri Beberapa definisi pengobatan sendiri menurut beberapa sumber adalah sebagai berikut: a. Menurut World Health Organization (WHO), pengobatan sendiri

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Parasetamol merupakan obat penurun panas dan pereda nyeri yang telah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia. Metabolit Fenasetin ini diklaim sebagai zat antinyeri

Lebih terperinci

HUBUNGAN DOKTER-APOTEKER APOTEKER-PASIENPASIEN SERTA UU KEFARMASIAN TENTANG OBAT

HUBUNGAN DOKTER-APOTEKER APOTEKER-PASIENPASIEN SERTA UU KEFARMASIAN TENTANG OBAT HUBUNGAN DOKTER-APOTEKER APOTEKER-PASIENPASIEN SERTA UU KEFARMASIAN TENTANG OBAT ETIKA perbuatan, tingkah laku, sikap dan kebiasaan manusia dalam pergaulan sesama manusia dalam masyarakat yang mengutamakan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu (Quasi Experiment) Kelompok Intervensi O1 X O2

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu (Quasi Experiment) Kelompok Intervensi O1 X O2 BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu (Quasi Experiment) dengan rancangan Separate Sample Pretest-Postest (Notoatmodjo, 2005). Pretest Intervensi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. merupakan akibat buruk merokok, baik secara langsung maupun tidak langsung.

BAB I PENDAHULUAN. merupakan akibat buruk merokok, baik secara langsung maupun tidak langsung. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Merokok mengganggu kesehatan barangkali merupakan istilah yang tepat, namun tidak populer dan tidak menarik bagi perokok. Banyak orang sakit akibat merokok, tetapi orang

Lebih terperinci

Jika ciprofloxacin tidak sesuai, Anda akan harus minum antibiotik lain untuk menghapuskan kuman meningokokus.

Jika ciprofloxacin tidak sesuai, Anda akan harus minum antibiotik lain untuk menghapuskan kuman meningokokus. CIPROFLOXACIN: suatu antibiotik bagi kontak dari penderita infeksi meningokokus Ciprofloxacin merupakan suatu antibiotik yang adakalanya diberikan kepada orang yang berada dalam kontak dekat dengan seseorang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. mempunyai kemampuan melakukan tugas fisiologis maupun psikologis

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. mempunyai kemampuan melakukan tugas fisiologis maupun psikologis BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan merupakan sarana penting bagi setiap manusia untuk tetap mempunyai kemampuan melakukan tugas fisiologis maupun psikologis dengan baik. Kebutuhan akan peningkatan

Lebih terperinci

2006 Global Initiative for Asthma (GINA) tuntunan baru dalam penatalaksanaan asma yaitu kontrol asma

2006 Global Initiative for Asthma (GINA) tuntunan baru dalam penatalaksanaan asma yaitu kontrol asma 2006 Global Initiative for Asthma (GINA) tuntunan baru dalam penatalaksanaan asma yaitu kontrol asma penatalaksanaan asma terbaru menilai secara cepat apakah asma tersebut terkontrol, terkontrol sebagian

Lebih terperinci

CARA BIJAK MEMILIH OBAT BATUK

CARA BIJAK MEMILIH OBAT BATUK Penyakit batuk merupakan penyakit yang dapat menyerang siapa saja, bahkan bayi yang baru lahir pun akan mudah terserang batuk jika disekelilingnya terdapat orang yang batuk. Penyakit batuk ini terdiri

Lebih terperinci

KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK

KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.00.05.23.3644 TE N TA N G KETENTUAN POKOK PENGAWASAN SUPLEMEN MAKANAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PENGAWASAN SEDIAAN FARMASI, ALAT KESEHATAN, DAN PERBEKALAN KESEHATAN RUMAH TANGGA

RANCANGAN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PENGAWASAN SEDIAAN FARMASI, ALAT KESEHATAN, DAN PERBEKALAN KESEHATAN RUMAH TANGGA RANCANGAN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG PENGAWASAN SEDIAAN FARMASI, ALAT KESEHATAN, DAN PERBEKALAN KESEHATAN RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sakit merupakan kondisi yang tidak menyenangkan mengganggu aktifitas

BAB I PENDAHULUAN. Sakit merupakan kondisi yang tidak menyenangkan mengganggu aktifitas 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Menurut World Health Organization (WHO) yang dimaksud dengan sehat adalah suatu kondisi tubuh yang lengkap secara jasmani, mental, dan sosial, dan tidak hanya sekedar

Lebih terperinci

CERDAS MENGENALI PENYAKIT DAN OBAT

CERDAS MENGENALI PENYAKIT DAN OBAT CERDAS MENGENALI PENYAKIT DAN OBAT Oleh : dr. Euis Heryati, M.Kes Makalah Disampaikan pada Tanggal 1 Desember 2009 dalam Kegiatan Gebyar Healthy Life, Happy Life 2009 BUMI SILIWANGI HEALTH CARE CENTER

Lebih terperinci

BAB III KERANGKA KONSEP. dalam penelitian ini adalah metode masase dan variabel dependen adalah nyeri

BAB III KERANGKA KONSEP. dalam penelitian ini adalah metode masase dan variabel dependen adalah nyeri BAB III KERANGKA KONSEP A. Kerangka Konsep Kerangka konseptual adalah kerangka hubungan antar variabel yang ingin diamati dan diukur melalui penelitian yang telah dilakukan. Variabel independen dalam penelitian

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1997 TENTANG PSIKOTROPIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1997 TENTANG PSIKOTROPIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1997 TENTANG PSIKOTROPIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan

Lebih terperinci

POLA PEMILIHAN OBAT SAKIT MAAG PADA KONSUMEN YANG DATANG DI APOTEK DI KECAMATAN DELANGGU SKRIPSI

POLA PEMILIHAN OBAT SAKIT MAAG PADA KONSUMEN YANG DATANG DI APOTEK DI KECAMATAN DELANGGU SKRIPSI 1 POLA PEMILIHAN OBAT SAKIT MAAG PADA KONSUMEN YANG DATANG DI APOTEK DI KECAMATAN DELANGGU SKRIPSI Oleh: SUSANT0 SAPUTRO K 100050039 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA SURAKARTA 2009 1

Lebih terperinci

2012, No Air Susu Ibu yang selanjutnya disingkat ASI adalah cairan hasil sekresi kelenjar payudara ibu. 2. Air Susu Ibu Eksklusif yang selanju

2012, No Air Susu Ibu yang selanjutnya disingkat ASI adalah cairan hasil sekresi kelenjar payudara ibu. 2. Air Susu Ibu Eksklusif yang selanju No.58, 2012 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA KESEHATAN. ASI Eksklusif. Pemberian. Penggunaan. Susu Formula Bayi. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5291) PERATURAN PEMERINTAH

Lebih terperinci

SURVEI KESALAHAN DALAM PENULISAN RESEP DAN ALUR PELAYANANNYA DI APOTEK KECAMATAN AMPEL KABUPATEN BOYOLALI SKRIPSI

SURVEI KESALAHAN DALAM PENULISAN RESEP DAN ALUR PELAYANANNYA DI APOTEK KECAMATAN AMPEL KABUPATEN BOYOLALI SKRIPSI SURVEI KESALAHAN DALAM PENULISAN RESEP DAN ALUR PELAYANANNYA DI APOTEK KECAMATAN AMPEL KABUPATEN BOYOLALI SKRIPSI Oleh : DWI KURNIYAWATI K 100 040 126 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

Lebih terperinci

media cetak Koran, Majalah Brosur Papan Reklame Koran Majalah Brosur Papan Reklame

media cetak Koran, Majalah Brosur Papan Reklame Koran Majalah Brosur Papan Reklame ABSTRAK Krisis ekonomi yang berkepanjangan di negara Indonesia, berpengaruh terhadap pertumbuhan perekonomian Indonesia. Hal ini mengakibatkan daya beli masyarakat menurun. Oleh karena itu perlu dilakukan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.02.02/MENKES/068/I/2010 TENTANG

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.02.02/MENKES/068/I/2010 TENTANG PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.02.02/MENKES/068/I/2010 TENTANG KEWAJIBAN MENGGUNAKAN OBAT GENERIK DI FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN PEMERINTAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. menggunakan teknik total sampling. Penelitian ini dilakukan dengan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. menggunakan teknik total sampling. Penelitian ini dilakukan dengan BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Desa Moahudu Kecamatan Tabongo Kabupaten Gorontalo selama ± 2 minggu. Jumlah sampel sebanyak 68 responden yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. anak-anak dan dewasa muda. Penyakit ini mencapai lebih dari 13 juta kematian per

BAB I PENDAHULUAN. anak-anak dan dewasa muda. Penyakit ini mencapai lebih dari 13 juta kematian per 11 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemakaian antibiotik pada saat ini sangat tinggi, hal ini disebabkan penyakit infeksi masih mendominasi. Penyakit infeksi sekarang pembunuh terbesar di dunia anak-anak

Lebih terperinci

ANALISIS IKLAN DISPLAY PRODUK JAMU PADA LIMA MEDIA CETAK PERIODE BULAN FEBRUARI APRIL 2009

ANALISIS IKLAN DISPLAY PRODUK JAMU PADA LIMA MEDIA CETAK PERIODE BULAN FEBRUARI APRIL 2009 ANALISIS IKLAN DISPLAY PRODUK JAMU PADA LIMA MEDIA CETAK PERIODE BULAN FEBRUARI APRIL 2009 SKRIPSI Oleh : ANNO RESPATI NUGROHO K100040147 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA SURAKARTA 2010

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. gejala/symptom dari suatu penyakit, obat juga dapat mencegah penyakit bahkan obat

BAB I PENDAHULUAN. gejala/symptom dari suatu penyakit, obat juga dapat mencegah penyakit bahkan obat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam pelayanan kesehatan, obat merupakan komponen yang penting karena diperlukan dalam sebagian besar upaya kesehatan baik untuk menghilangkan gejala/symptom dari

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Jaminan Kesehatan Nasional Jaminan kesehatan adalah jaminan berupa perlindungan kesehatan agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NO. 5 TAHUN 1997 TENTANG PSIKOTROPIKA BAB I KETENTUAN UMUM

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NO. 5 TAHUN 1997 TENTANG PSIKOTROPIKA BAB I KETENTUAN UMUM UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NO. 5 TAHUN 1997 TENTANG PSIKOTROPIKA Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan: BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 1. Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun

Lebih terperinci

Bab 11 Bagaimana menjelaskan kepada dokter saat berobat

Bab 11 Bagaimana menjelaskan kepada dokter saat berobat Bab 11 Bagaimana menjelaskan kepada dokter saat berobat Bab 11 Bagaimana menjelaskan kepada dokter saat berobat Waktu memeriksa ke dokter menerangkan secara jelas beberapa hal dibawah ini 1.Menjelaskan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. harus aman dalam arti tidak mengandung mikroorganisme dan bahan-bahan kimia

BAB I PENDAHULUAN. harus aman dalam arti tidak mengandung mikroorganisme dan bahan-bahan kimia 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Makanan dan minuman merupakan satu faktor yang cukup besar pengaruhnya terhadap derajat kesehatan masyarakat. Makanan dan minuman harus aman dalam arti tidak mengandung

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Imunisasi 1. Definisi Imunisasi Imunisasi adalah suatu upaya untuk mendapatkan kekebalan terhadap suatu penyakit dengan cara memasukkan kuman atau produk kuman yang sudah dilemahkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. target yang telah ditentukan dalam tujuan pembangunan millennium (MDG s)

BAB I PENDAHULUAN. target yang telah ditentukan dalam tujuan pembangunan millennium (MDG s) 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk melihat derajat kesehatan perempuan. Angka kematian ibu juga merupakan salah satu target yang telah ditentukan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Umum Apotek Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktik kefarmasian oleh Apoteker (Presiden RI, 2009). Praktik kefarmasian meliputi pembuatan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Eksperimental Semu (Quasi Experiment Design) yaitu desain. Rancangan yang dipilih adalah One Group Pretest-Postest

BAB III METODE PENELITIAN. Eksperimental Semu (Quasi Experiment Design) yaitu desain. Rancangan yang dipilih adalah One Group Pretest-Postest BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Rancangan Penelitian Melihat dari rumusan masalah yang ada, yaitu untuk mengetahui apakah air rebusan daun salam berpengaruh terhadap penurunan kadar asam urat pada

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA. Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 TENTANG STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI APOTEK

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA. Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 TENTANG STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI APOTEK KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 TENTANG STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI APOTEK MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA MENIMBANG : bahwa dalam rangka meningkatkan

Lebih terperinci

Hubungan Etis Konsumen dan Perusahaan. Etika Bisnis (8 th Week)

Hubungan Etis Konsumen dan Perusahaan. Etika Bisnis (8 th Week) Hubungan Etis Konsumen dan Perusahaan Etika Bisnis (8 th Week) Hubungan Konsumen dan Perusahaan Konsumen merupakan salah satu stakeholder yang penting dalam perusahaan. Bisnis tidak akan berjalan tanpa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kesehatan adalah modal utama bagi manusia, kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kesehatan adalah modal utama bagi manusia, kesehatan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan adalah modal utama bagi manusia, kesehatan merupakan bagian yang terpenting dalam menjaga kelangsungan hidup seseorang. Jika seseorang sedang tidak dalam kondisi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Menstruasi atau haid atau datang bulan adalah perubahan fisiologis

BAB I PENDAHULUAN. Menstruasi atau haid atau datang bulan adalah perubahan fisiologis BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Menstruasi atau haid atau datang bulan adalah perubahan fisiologis dalam wanita yang terjadi secara berkala dan di pengaruhi oleh hormon reproduksi, yang dimulai dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia seperti dimaksud dalam Pancasila

Lebih terperinci

PENGARUH PENYULUHAN KESEHATAN HIV/AIDS TERHADAP SIKAP SEKSUAL REMAJA KELAS II DI SMA NEGERI 1 SEDAYU BANTUL YOGYAKARTA

PENGARUH PENYULUHAN KESEHATAN HIV/AIDS TERHADAP SIKAP SEKSUAL REMAJA KELAS II DI SMA NEGERI 1 SEDAYU BANTUL YOGYAKARTA PENGARUH PENYULUHAN KESEHATAN HIV/AIDS TERHADAP SIKAP SEKSUAL REMAJA KELAS II DI SMA NEGERI 1 SEDAYU BANTUL YOGYAKARTA NASKAH PUBLIKASI Disusun Oleh : TIARA DEWI AZOLLAWATI 090201035 PROGRAM STUDI ILMU

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan batuk baik kering ataupun berdahak. 2 Infeksi saluran pernapasan akut

BAB I PENDAHULUAN. dan batuk baik kering ataupun berdahak. 2 Infeksi saluran pernapasan akut 1 BAB I PENDAHULUAN 1. 1. Latar belakang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan infeksi yang mengenai saluran pernapasan. Istilah ini diadaptasi dari istilah bahasa inggris Acute Respiratory

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pada zaman modern ini perkembangan industri musik sangat pesat, khususnya

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pada zaman modern ini perkembangan industri musik sangat pesat, khususnya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada zaman modern ini perkembangan industri musik sangat pesat, khususnya di Indonesia. Tidak dapat dipungkiri bahwa industri musik dapat memberikan pengaruh

Lebih terperinci

[Jurnal Florence] Vol. VII No. 1 Januari 2014

[Jurnal Florence] Vol. VII No. 1 Januari 2014 PENGARUH SMALL GROUP DISCUSSION TERHADAP PENGETAHUAN TENTANG DISMENORE PADA SISWI SMPN I DOLOPO Hery Ernawati Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Ponorogo Abstrak. Sebagai wanita pada saat

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Nyeri sendi merupakan salah satu gangguan kesehatan yang bisa dialami oleh siapapun karena setiap orang di dalam tubuhnya memiliki persendian (Soeroso, 2006). Sendi

Lebih terperinci

Diabetes tipe 1- Gejala, penyebab, dan pengobatannya

Diabetes tipe 1- Gejala, penyebab, dan pengobatannya Diabetes tipe 1- Gejala, penyebab, dan pengobatannya Apakah diabetes tipe 1 itu? Pada orang dengan diabetes tipe 1, pankreas tidak dapat membuat insulin. Hormon ini penting membantu sel-sel tubuh mengubah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. salah satu komponen pokok yang harus selalu tersedia dan tidak tergantikan

BAB I PENDAHULUAN. salah satu komponen pokok yang harus selalu tersedia dan tidak tergantikan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Obat merupakan salah satu unsur penting dalam pelayanan kesehatan. Diawali dari pencegahan, diagnosa, pengobatan dan pemulihan, obat menjadi salah satu komponen

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perbekalan kesehatan adalah pelayanan obat dan perbekalan kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. perbekalan kesehatan adalah pelayanan obat dan perbekalan kesehatan digilib.uns.ac.id 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada Sistem Kesehatan Nasional diketahui bahwa subsistem obat dan perbekalan kesehatan adalah tatanan yang menghimpun berbagai upaya yang

Lebih terperinci

KUESIONER PENELITIAN SKRIPSI HUBUNGAN PENGETAHUAN PENDERITA TENTANG TUBERKULOSIS PARU DENGAN PERILAKU KEPATUHAN MINUM OBAT

KUESIONER PENELITIAN SKRIPSI HUBUNGAN PENGETAHUAN PENDERITA TENTANG TUBERKULOSIS PARU DENGAN PERILAKU KEPATUHAN MINUM OBAT KUESIONER PENELITIAN SKRIPSI HUBUNGAN PENGETAHUAN PENDERITA TENTANG TUBERKULOSIS PARU DENGAN PERILAKU KEPATUHAN MINUM OBAT DI PUSKESMAS CURUG TANGERANG Pengantar : Dengan hormat, nama saya Ade Atik, mahasiswa

Lebih terperinci

SURAT KEPUTUSAN PENGURUS PUSAT IKATAN APOTEKER INDONESIA Nomor : PO. 002/ PP.IAI/1418/VII/2014. Tentang

SURAT KEPUTUSAN PENGURUS PUSAT IKATAN APOTEKER INDONESIA Nomor : PO. 002/ PP.IAI/1418/VII/2014. Tentang SURAT KEPUTUSAN PENGURUS PUSAT IKATAN APOTEKER INDONESIA Nomor : PO. 002/ PP.IAI/1418/VII/2014 Tentang PERATURAN ORGANISASI TENTANG PEDOMAN PRAKTIK APOTEKER INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

5. Pengkajian. a. Riwayat Kesehatan

5. Pengkajian. a. Riwayat Kesehatan 5. Pengkajian a. Riwayat Kesehatan Adanya riwayat infeksi saluran pernapasan sebelumnya : batuk, pilek, demam. Anoreksia, sukar menelan, mual dan muntah. Riwayat penyakit yang berhubungan dengan imunitas

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. utama di daerah perkotaan ( Media Aeculapius, 2007 ). Menurut American Hospital Association (AHA) dalam Herkutanto (2007),

BAB 1 PENDAHULUAN. utama di daerah perkotaan ( Media Aeculapius, 2007 ). Menurut American Hospital Association (AHA) dalam Herkutanto (2007), BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kejadian gawat darurat dapat diartikan sebagai keadaan dimana seseorang membutuhkan pertolongan segera, karena apabila tidak mendapatkan pertolongan dengan segera maka

Lebih terperinci

WALIKOTA YOGYAKARTA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KOTA YOGYAKARTA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMBERIAN AIR SUSU IBU EKSKLUSIF

WALIKOTA YOGYAKARTA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KOTA YOGYAKARTA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMBERIAN AIR SUSU IBU EKSKLUSIF WALIKOTA YOGYAKARTA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KOTA YOGYAKARTA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMBERIAN AIR SUSU IBU EKSKLUSIF DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA YOGYAKARTA,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pemakaian obat banyak sekali yang digunakan untuk mengobati berbagai penyakit. Pengertian obat itu sendiri merupakan bahan yang hanya dengan takaran tertentu

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. Rancangan penelitian ini menggunakan desain penelitian Quasi

III. METODOLOGI PENELITIAN. Rancangan penelitian ini menggunakan desain penelitian Quasi III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Rancangan penelitian ini menggunakan desain penelitian Quasi Experimental Pre-Post Test dengan intervensi senam otak. Penelitian ini dilakukan untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Rokok merupakan benda yang ada di sekitar kita dan sudah tidak asing lagi. Kegiatan

BAB I PENDAHULUAN. Rokok merupakan benda yang ada di sekitar kita dan sudah tidak asing lagi. Kegiatan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Rokok merupakan benda yang ada di sekitar kita dan sudah tidak asing lagi. Kegiatan merokok ini sudah menjadi kegiatan umum dan meluas dikalangan masyarakat.

Lebih terperinci

PEDOMAN PENILAIAN REGISTRASI

PEDOMAN PENILAIAN REGISTRASI PEDOMAN PENILAIAN REGISTRASI LAMPIRAN A DATA ADMINISTRASI 1 Berikan Foto copy sertifikat Produksi alat kesehatan yang dikeluarkan oleh Menteri Kesehatan Cq Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Istilah konsumen sering diartikan sebagai dua jenis konsumen, yaitu

II. TINJAUAN PUSTAKA. Istilah konsumen sering diartikan sebagai dua jenis konsumen, yaitu II. TINJAUAN PUSTAKA 1.1 Perilaku Konsumen Istilah konsumen sering diartikan sebagai dua jenis konsumen, yaitu konsumen individu dan konsumen organisasi. Konsumen individu membeli barang dan jasa digunakan

Lebih terperinci

RISIKO PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA PADA IBU HAMIL BADAN NARKOTIKA NASIONAL PROVINSI JAWA TENGAH

RISIKO PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA PADA IBU HAMIL BADAN NARKOTIKA NASIONAL PROVINSI JAWA TENGAH PROVINSI JAWA TENGAH RISIKO PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA PADA IBU HAMIL BADAN NARKOTIKA NASIONAL PROVINSI JAWA TENGAH Latar Belakang Kehamilan merupakan st proses luar biasa, dimana ibu bertanggung jawab untuk

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Pustaka 1. Pengobatan Sendiri Pengobatan sendiri adalah Menurut World Health Organization (WHO) pengobatan sendiri (swamedikasi) diartikan sebagai pemilihan dan penggunaan

Lebih terperinci

MANAJEMEN MUTU (KEPUASAN PELANGGAN)_AEP NURUL HIDAYAH_(RKM )_REKAM MEDIS DAN INFORMASI KESEHATAN_POLITEKNIK TEDC BANDUNG

MANAJEMEN MUTU (KEPUASAN PELANGGAN)_AEP NURUL HIDAYAH_(RKM )_REKAM MEDIS DAN INFORMASI KESEHATAN_POLITEKNIK TEDC BANDUNG BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berkembangnya jumlah rumah sakit menjadikan masyarakat memiliki banyak pilihan untuk menentukan rumah sakit mana yang akan mereka pilih. Masyarakat akan memilih rumah

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Obat, merupakan zat atau bahan yang digunakan untuk permasalahan kesehatan masyarakat antara lain digunakan untuk menyembuhkan penyakit dan mencegah komplikasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN UKDW. Pelaku dunia usaha dituntut untuk selalu merespon setiap perubahan. Karena pada

BAB I PENDAHULUAN UKDW. Pelaku dunia usaha dituntut untuk selalu merespon setiap perubahan. Karena pada 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG MASALAH Dunia saat ini semakin kompetitif, lingkungan bisnis bisa berubah setiap saat. Pelaku dunia usaha dituntut untuk selalu merespon setiap perubahan. Karena

Lebih terperinci

KUESIONER PENELITIAN PENGARUH IKLAN MEDIA LUAR RUANG TERHADAP PERILAKU MEROKOK SISWA DI SMA NEGERI 2 MEDAN TAHUN 2012

KUESIONER PENELITIAN PENGARUH IKLAN MEDIA LUAR RUANG TERHADAP PERILAKU MEROKOK SISWA DI SMA NEGERI 2 MEDAN TAHUN 2012 KUESIONER PENELITIAN PENGARUH IKLAN MEDIA LUAR RUANG TERHADAP PERILAKU MEROKOK SISWA DI SMA NEGERI 2 MEDAN I. Karakteristik Responden No responden : TAHUN 2012 Nama : Kelas : Umur : Uang saku : Tanggal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. makan dengan teratur, istirahat yang cukup, dan rajin berolahraga. Namun, pola

BAB I PENDAHULUAN. makan dengan teratur, istirahat yang cukup, dan rajin berolahraga. Namun, pola BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hidup sehat adalah dambaan semua orang dari zaman dahulu kala hingga sekarang. Hidup sehat itu sebenarnya mudah. Hal itu dapat diwujudkan melalui makan dengan teratur,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit HIV/AIDS dan penularannya di dunia meningkat dengan cepat, sekitar 60 juta orang di dunia telah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit HIV/AIDS dan penularannya di dunia meningkat dengan cepat, sekitar 60 juta orang di dunia telah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit HIV/AIDS dan penularannya di dunia meningkat dengan cepat, sekitar 60 juta orang di dunia telah terinfeksi HIV. Penyebaran dan penularan HIV/AIDS dominan terjadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. untuk perkembangan sectio caesaria (SC) adalah peningkatan prevalen

BAB I PENDAHULUAN. untuk perkembangan sectio caesaria (SC) adalah peningkatan prevalen 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seksio sesarea telah menjadi tindakan bedah kebidanan kedua tersering yang digunakan di Indonesia dan diluar negeri. Tindakan ini mengikuti ekstraksi vakum dengan

Lebih terperinci

Mengapa disebut sebagai flu babi?

Mengapa disebut sebagai flu babi? Flu H1N1 Apa itu flu H1N1 (Flu babi)? Flu H1N1 (seringkali disebut dengan flu babi) merupakan virus influenza baru yang menyebabkan sakit pada manusia. Virus ini menyebar dari orang ke orang, diperkirakan

Lebih terperinci

EVALUASI PEMILIHAN DAN PENGGUNAAN OBAT SELESMA TANPA RESEP DI KALANGAN ORANG TUA MURID KELOMPOK BERMAIN DAN TAMAN KANAK-KANAK DI KECAMATAN UMBULHARJO

EVALUASI PEMILIHAN DAN PENGGUNAAN OBAT SELESMA TANPA RESEP DI KALANGAN ORANG TUA MURID KELOMPOK BERMAIN DAN TAMAN KANAK-KANAK DI KECAMATAN UMBULHARJO EVALUASI PEMILIHAN DAN PENGGUNAAN OBAT SELESMA TANPA RESEP DI KALANGAN ORANG TUA MURID KELOMPOK BERMAIN DAN TAMAN KANAK-KANAK DI KECAMATAN UMBULHARJO SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian eksperimental telah dilakukan pada penderita rinosinusitis

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian eksperimental telah dilakukan pada penderita rinosinusitis BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Penelitian eksperimental telah dilakukan pada penderita rinosinusitis kronik yang berobat di Poliklinik Ilmu Kesehatan THT-KL RSUD Dr. Moewardi

Lebih terperinci

Paparan Pestisida. Dan Keselamatan Kerja

Paparan Pestisida. Dan Keselamatan Kerja Paparan Pestisida Peranan CropLife Indonesia Dalam Meminimalkan Pemalsuan Pestisida Dan Keselamatan Kerja CROPLIFE INDONESIA - vegimpact Deddy Djuniadi Executive Director CropLife Indonesia 19 Juni 2012

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terakhir dan kelahiran ( 38 minggu dari pembuahan ). Istilah medis untuk. wanita yang belum pernah hamil dikenal sebagai gravida.

BAB I PENDAHULUAN. terakhir dan kelahiran ( 38 minggu dari pembuahan ). Istilah medis untuk. wanita yang belum pernah hamil dikenal sebagai gravida. BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Kehamilan manusia terjadi selama 40 minggu antara waktu menstruasi terakhir dan kelahiran ( 38 minggu dari pembuahan ). Istilah medis untuk wanita hamil adalah gravid,

Lebih terperinci

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Bab 4 Batuk dan Kesulitan Bernapas Kasus II. Catatan Fasilitator. Rangkuman Kasus:

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Bab 4 Batuk dan Kesulitan Bernapas Kasus II. Catatan Fasilitator. Rangkuman Kasus: Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit Bab 4 Batuk dan Kesulitan Bernapas Kasus II Catatan Fasilitator Rangkuman Kasus: Agus, bayi laki-laki berusia 16 bulan dibawa ke Rumah Sakit Kabupaten dari sebuah

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.876, 2013 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN. Pengawasan. Iklan. Kemasan. Produk Tembakau. PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41

Lebih terperinci

UJI COBA MODEL (VALIDASI)

UJI COBA MODEL (VALIDASI) UJI COBA MODEL (VALIDASI) Yaya Jakaria PUSAT PENELITIAN KEBIJAKAN DAN INOVASI PENDIDIKAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL JAKARTA 2009 Uji Coba Model atau Produk Uji coba

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH. Pada Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek (SPKA), pelayanan

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH. Pada Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek (SPKA), pelayanan BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Pada Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek (SPKA), pelayanan kefarmasian di apotek meliputi aspek Sumber Daya Manusia (SDM), sarana dan prasarana, pengelolaan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Angka kematian dan kesakitan akibat kuman Mycobacterium tuberculosis masih

I. PENDAHULUAN. Angka kematian dan kesakitan akibat kuman Mycobacterium tuberculosis masih 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang masih menjadi perhatian dunia. Angka kematian dan kesakitan akibat kuman Mycobacterium tuberculosis masih cukup

Lebih terperinci

PENJELASAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 1999 TENTANG LABEL DAN IKLAN PANGAN

PENJELASAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 1999 TENTANG LABEL DAN IKLAN PANGAN PENJELASAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 1999 TENTANG LABEL DAN IKLAN PANGAN UMUM Terciptanya perdagangan pangan yang jujur dan bertanggung jawab merupakan salah satu tujuan penting

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Obat Obat adalah zat yang digunakan untuk diagnosis, mengurangi rasa sakit, serta mengobati atau mencegah penyakit pada manusia atau hewan. Obat dalam arti luas ialah setiap

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2003 TENTANG PENGAMANAN ROKOK BAGI KESEHATAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2003 TENTANG PENGAMANAN ROKOK BAGI KESEHATAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2003 TENTANG PENGAMANAN ROKOK BAGI KESEHATAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa rokok merupakan salah satu zat adiktif yang bila digunakan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN UMUM RUMAH SAKIT. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

BAB II TINJAUAN UMUM RUMAH SAKIT. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor BAB II TINJAUAN UMUM RUMAH SAKIT 2.1 Definisi Rumah Sakit Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 983/MenKes/SK/XI/1992, rumah sakit merupakan suatu unit yang mempunyai organisasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. produk atau merek produk baru bermunculan. Pesatnya persaingan pasar yang

BAB I PENDAHULUAN. produk atau merek produk baru bermunculan. Pesatnya persaingan pasar yang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Saat ini perekonomian makin maju dan berkembang dengan pesat, banyak produk atau merek produk baru bermunculan. Pesatnya persaingan pasar yang sejenis dengan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2003 TENTANG PENGAMANAN ROKOK BAGI KESEHATAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2003 TENTANG PENGAMANAN ROKOK BAGI KESEHATAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2003 TENTANG PENGAMANAN ROKOK BAGI KESEHATAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa rokok merupakan salah satu zat adiktif yang bila digunakan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitan deskriptif dengan data primer yang bertujuan untuk

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitan deskriptif dengan data primer yang bertujuan untuk BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitan deskriptif dengan data primer yang bertujuan untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan Masyarakat Terhadap Penggunaan Antasida

Lebih terperinci

Penggunaan dan penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan lainnya. Permasalahan dari alkohol dan obat-obatan lainnya

Penggunaan dan penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan lainnya. Permasalahan dari alkohol dan obat-obatan lainnya BAB XXVIII Alkohol dan Obatobatan/Narkoba Penggunaan dan penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan lainnya Permasalahan dari alkohol dan obat-obatan lainnya Mengatasi masalah akibat penggunaan alkohol dan

Lebih terperinci

DAFTAR OBAT ESSENSIAL NASIONAL (DOEN)

DAFTAR OBAT ESSENSIAL NASIONAL (DOEN) DAFTAR OBAT ESSENSIAL NASIONAL (DOEN) Drs. WAKIDI. Apt. MSi DEPARTEMEN FARMAKOLOGI DAN TERAPEUTIK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA PENGERTIAN DOEN: Berdasarkan Keputusan Mentri Kesehatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita- cita bangsa Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita- cita bangsa Indonesia BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan merupakan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita- cita bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud

Lebih terperinci