PROSEDUR STANDAR PERSONALIA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PROSEDUR STANDAR PERSONALIA"

Transkripsi

1 2009 PROSEDUR STANDAR PERSONALIA Jl. ABX Sulawesi Selatan Disusun bersama oleh KOPERASI XXX & MICRO FINANCE TEAM CIPSED PROJECT 23 April 2009

2 D A F T A R I S I HALAMAN BAB I PERATURAN KERJA Pasal 1 Penerimaan Karyawan 1 Pasal 2 Magang/Masa Percobaan 2 Pasal 3 Pengangkatan 2 Pasal 4 Kepangkatan dan Posisi 2 Pasal 5 Kenaikan Pangkat dan Penilaian Prestasi 3 Pasal 6 Kategori Karyawan 4 BAB II HARI KERJA dan JAM KERJA Pasal 7 Hari Kerja 5 Pasal 8 Jam Kerja 5 Pasal 9 Kehadiran 5 BAB III KERJA LEMBUR Pasal 10 Kerja Lembur 6 Pasal 11 Perhitungan Kerja Lembur 6 BAB IV PENGUPAHAN Pasal 12 Upah 7 Pasal 13 Tunjangan Biaya Hidup/Tunjangan Kemahalan 7 Pasal 14 Potongan Gaji 7 BAB V MANFAAT LAINNYA Pasal 15 Tunjangan Hari Raya 8 BAB VI HARI LIBUR dan CUTI Pasal 16 Hari Libur Umum 8 Pasal 17 Cuti Tahunan 8 Pasal 18 Cuti Hamil 9 Pasal 19 Cuti Haid 10 BAB VII IJIN MENINGGALKAN PEKERJAAN Pasal 20 Sakit 10 Pasal 21 Izin Meninggalkan Pekerjaan untuk Urusan Pribadi/Keluarga 10 BAB VIII TUNJANGAN LAINNYA Pasal 22 Tunjangan Pengobatan 11 Pasal 23 Bantuan Uang Duka dan Kesusahan 11 Pasal 24 Tunjangan Perjalanan Dinas 11 BAB IX ASURANSI dan JAMSOSTEK Pasal 25 Perlindungan Asuransi 12 Pasal 26 Jamsostek 12 BAB X PENDIDIKAN dan PELATIHAN Pasal 27 Umum 12 Pasal 28 Pendidikan dan Pelatihan Karyawan 12 BAB XI TUGAS dan TANGGUNG JAWAB KARYAWAN Pasal 29 Umum 13 Pasal 30 Tata Tertib Jam Kerja 13 BAB XII PELANGGARAN PERATURAN dan TINDAKAN DISIPLIN Pasal 31 Sifat dan Jenis Pelanggaran 14 Pasal 32 Tindakan Disiplin 15 BAB XIII PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA Pasal 33 Umum 16 Pasal 34 Pemutusan Hubungan Kerja 16

3 Pasal 35 Pesangon/Uang Jasa 16 Pasal 36 Pengunduran Diri 17 Pasal 37 Pengunduran Diri karena Tidak Dapat Bekerja Lagi/Kematian 17 BAB XIV TUNJANGAN HARI TUA Pasal 38 Tunjangan Hari Tua 18 Pasal 39 Besarnya Tunjangan Hari Tua 18 BAB XV TATA CARA PENYELESAIAN PENGADUAN/KELUHAN KARYAWAN Pasal 40 Umum 19 Pasal 41 Prosedur Penyelesaian 19 Pasal 42 Prosedur Penyelesaian Pelecehan Seksual 19 Lampiran: 1 Peraturan Mengenai Tingkah Laku (Kode Etik) 20 2 Konflik Kepentingan 25 3 Struktur Organisasi 28 4 Formulir Aplikasi Karyawan 29 5 Dokumen Interview/Wawancara Rekrutmen 31 6 Formulir Permohonan Cuti 32 7 Contoh Struktur Upah 33 8 Lembar Evaluasi Kerja 34 9 Contoh Kontrak Kerja Formulir Permohonan Lembur Laporan Rincian Lembur Formulir Pengajuan Perjalanan Dinas Laporan Biaya Perjalanan Dinas 42

4 BAB I. PERATURAN KERJA PASAL 1. PENERIMAAN KARYAWAN 1.1 Penerimaan karyawan, kecuali untuk pengangkatan karyawan lepas/harian, atau keadaan-keadaan khusus yang ditetapkan oleh pengurus dan manajemen, maka seluruh lowongan dalam jabatan staff harus diumumkan secara terbuka. Lowongan kerja dapat diiklankan melalui surat kabar, pengumuman dalam buletin, rekomendasi ke badan lain, biro tenaga kerja kabupaten dan atau sarana lainnya yang dianggap layak. 1.2 Penerimaan karyawan adalah berdasarkan kebutuhan untuk menjamin bahwa semua karyawan cakap untuk suatu posisi, semua calon karyawan harus memenuhi kualifikasi yang diharapkan. Calon karyawan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. WNI dan berusia sedikitnya 18 tahun dan tidak melebihi 30 tahun, kecuali untuk jabatan tertentu usia diatas 30 tahun masih dapat dipertimbangkan; b. Berpendidikan minimal SLTA atau sederajat; c. Berdomisili dekat tempat usaha lembaga; d. Memiliki kemampuan mengoperasikan computer, minimal word processing dan excel; e. Berkepribadian baik dan jujur; f. Menyerahkan referensi dari pihak yang dipercaya; g. Diutamakan yang memiliki pemahaman ekonomi syariah h. Tidak sedang tersangkut peristiwa kriminal; 1.3 Seleksi terhadap calon karyawan dilakukan oleh sebuah panel, yang terdiri atas Ketua dan Sekretaris Pengurus dan Pengawas. Masing-masing anggota panel memiliki yang suara yang sama dalam memberikan penilaian atas calon karyawan yang di seleksi. 1.4 Seleksi terhadap calon karyawan meliputi seleksi tahap awal berupa penilaian atas surat permohonan berikut daftar riwayat hidup dan dokumen lainnya. Tergantung kepada posisi yang akan diisi, proses seleksi selanjutnya adalah uji kecakapan akademis dan kecakapan kerja. Tahap selanjutnya adalah proses interview. Calon karyawan yang dinyatakan lulus interview akan menjalani masa magang, yang adalah masa percobaan kerja, hingga waktu maksimum tiga bulan. 1.5 Keluarga karyawan tidak diizinkan untuk dipekerjakan tanpa persetujuan sebelumnya dari pengurus. Keluarga berarti: saudara kandung (angkat/tiri), suami/istri, kakek, nenek, orang tua, paman, tante, sepupu atau saudara ipar, keponakan, anak dan anak cucu (juga yang berstatus keluarga sebagai akibat dari suatu pernikahan) Jika disetujui, keluarga tersebut dapat dipekerjakan asal yang bersangkutan mempunyai kualifikasi sesuai dengan persyaratan dan begitupun individu yang bersangkutan tidak menjadi atasan langsung dari yang lainnya.

5 PASAL 2. MAGANG / MASA PERCOBAAN 2.1 Calon karyawan yang telah lulus interview akan menjalani masa percobaan maksimum selama 3 (tiga) bulan. Lamanya masa percobaan ini harus diberitahukan secara tertulis kepada karyawan yang bersangkutan. 2.2 Selama masa percobaan, mempunyai hak untuk sewaktu-waktu mengakhiri hubungan kerja tanpa berkewajiban membayar kerugian apapun juga. 2.3 Karyawan dalam masa percobaan tidak/belum mendapatkan fasilitas-fasilitas yang diberikan kepada karyawan tetap, kecuali uang transpor dan makan harian. PASAL 3. PENGANGKATAN 3.1 Apabila karyawan telah menjalani masa percobaan dengan baik dan yang bersangkutan dinyatakan diterima sebagai karyawan, maka kepada yang bersangkutan akan diberikan Kontrak Kerja. Kontrak Kerja dimaksud setidaknya berisi hal-hal sebagai berikut: Posisi Karyawan, yaitu: pangkat, golongan dan jabatan; Uraian Tugas and Tanggungjawab Upah dan fasilitas lainnya Atasan langsung Status kepegawaian, misalnya: sebagai karyawan kontrak atau karyawan tetap Kontrak Kerja diterbitkan tidak lebih dari sepuluh (10) hari kerja terhitung sejak berakhirnya masa percobaan. 3.2 Data setiap karyawan akan disimpan dalam file pribadi masing-masing yang paling tidak berisikan: a. Job Description yang masih berlaku; b. Surat Lamaran; c. Riwayat hidup dan pendidikan serta pengalaman kerja; d. Surat Pengangkatan/Kontrak Kerja; e. Catatan Kompensasi; f. Catatan Evaluasi; g. Referensi, jika ada; h. Perubahan Kontrak Kerja (bila ada) 3.2 Apabila calon karyawan dalam masa kehamilan di saat masa magang maka hal tersebut tidak boleh dijadikan dasar pertimbangan yang menghambat pengangkatan calon karyawan tersebut. PASAL 4. KEPANGKATAN DAN POSISI telah membuat sistem ranking sebagai pedoman bagi karyawan dalam meniti karir. Ranking ditentukan oleh berdasarkan tanggung jawab, pengalaman, kualifikasi dan kemampuan yang dibutuhkan pada setiap posisi. 5

6 Berikut ini adalah pangkat dan golongan yang ada di : Pangkat Golongan Strata Karyawan Pemula A Karyawan Madya B Karyawan Senior C Karyawan Utama D PASAL 5. KENAIKAN PANGKAT DAN PENILAIAN PRESTASI 5.1 Peningkatan dan/atau kenaikan gaji di dalam adalah berdasarkan prestasi, konstribusi, kecakapan managerial, kemampuan antar-pribadi, kedewasaan dan pengertian akan tujuan dan objektif dari 5.2 Para karyawan akan diberikan kesempatan pertama oleh Manajemen untuk mengisi setiap lowongan/pekerjaan di (promosi dari kalangan sendiri). Dalam pelaksanaannya, Manajemen akan memperhatikan prestasi kerja karyawan pada masa yang lewat serta potensi kemampuan manajerialnya. 5.3 Surat Keputusan bagi karyawan yang mendapat kenaikan pangkat disampaikan secepat mungkin kepada karyawan yang bersangkutan. 5.4 Evaluasi prestasi kerja dilaksanakan setiap tahun pada bulan Juni dimana Manajemen melalui atasan langsung akan mengadakan penilaian prestasi dari masing-masing karyawan. 5.5 Formulir penilaian prestasi akan diselesaikan atau diisi oleh atasan langsung dari masing-masing karyawan. Formulir penilaian prestasi yang sudah diisi akan dinilai juga oleh pengurus atau pengawas. Selanjutnya, setelah diberi komentar oleh pengurus/pengawas, hasil penilaian prestasi didiskusikan dengan karyawan yang bersangkutan. Setiap karyawan akan diminta untuk memberikan respon mengenai penilaian prestasi terhadapnya. 5.6 Untuk posisi Manajer, penilaian prestasi akan dilakukan oleh Pengurus dengan konsultasi bersama Pengawas. Dalam hal apabila pengurus merangkap jabatan sebagai pelaksana, maka evaluasi dilakukan oleh Dewan Pengawas. 5.7 Penilaian prestasi karyawan terdiri dari 4 kategori : 6

7 a. Sangat Baik prestasi yang secara signifikan melampaui yang diharapkan dan biasanya juga melakukan pekerjaan melebihi panggilan tugas atau berhasil melaksanakan pekerjaan pada lingkungan atau situasi yang tidak menguntungkan. b. Baik prestasi yang melebihi yang diharapkan (dan sasaran yang ditetapkan sebelumnya). c. Cukup pencapaian sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya. d. Kurang tidak dapat mencapai sasaran yang telah ditentukan. Karyawan dengan penilaian ini diharapkan untuk menunjukkan kemajuan yang nyata pada penilaian prestasi selanjutnya; yang apabila tidak menunjukkan perbaikan kontrak kerjanya dapat diakhiri. 5.8 Keadaan dimana karyawan perempuan yang sedang menjalankan fungsi sosialnya, seperti melahirkan dan menyusui, hal tersebut tidak boleh dijadikan alasan yang menghambat penilaian kinerja atau pertimbangan kenaikan pangkat yang bersangkutan. 5.9 Hasil dari penilaian prestasi akan diselesaikan dan di-implementasikan pada bulan Juli setiap tahun. PASAL 6. KATEGORI KARYAWAN 6.1. Karyawan Tetap. Seorang karyawan tetap didifinisikan sebagai karyawan penuh waktu yang kontrak kerjanya tidak mencantumkan masa kerja tertentu, dan mendapatkan gaji dan tunjangan-tunjangan secara penuh. 6.2 Karyawan Kontrak. Yang dimaksud dengan Karyawan kontrak yaitu karyawan yang memiliki masa kerja tidak lebih dari dua tahun lamanya. Karyawan kontrak diangkat untuk mengisi peran khusus yang tercantum didalam kontrak kerjanya. menetapkan klasifikasi karyawan dan tingkat gaji seorang karyawan kontrak. Besarnya gaji karyawan kontrak bergantung pada peraturan upah minimum yang ditetapkan pemerintah. Surat pengangkatan karywan kontrak dengan jelas menguraikan ketentuan kerja, kerangka acuan, pengawasan, rincian imbalan, tunjangan-tunjangan yang akan diterima karyawan. Ketentuan perpanjangan dan/atau pemutusan hubungan kerja, dan hal-hal yang berkaitan dengan pedoman kepegawaian. Perbedaan yang mendasar dengan karyawan tetap, karyawan kontrak memiliki tanggal akhir masa kerja tertentu. Apabila sebelum masa kontrak berakhir tidak ada pemberitahuan tentang hubungan kerja selanjutnya, maka secara otomatis hubungan kerja akan berakhir. Berdasarkan peraturan pemerintah yang berlaku sekarang ini, dan dimungkinkan terjadinya perubahan, tidak diberikan pesangon pemutusan hubungan kontrak kerja. Perpanjangan Kontrak Suatu kontrak kerja dapat diperpanjang satu kali tetapi total masa kerja kontrak tidak boleh melebihi 3 tahun. Pemberitahuan tentang maksud untuk memperpanjang atau memperbaharui suatu kontrak kerja harus dilakukan sebelum masa kontrak berakhir paling tidak 7 hari sebelum kontrak kerja berakhir. Jika hal tersebut tidak dilakukan, maka kontrak harus dianggap selesai. 7

8 BAB II. HARI KERJA DAN JAM KERJA PASAL 7. HARI KERJA Hari kerja resmi adalah enam (6) hari seminggu dari hari Senin sampai Sabtu. PASAL 8. JAM KERJA 8.1 Ketentuan jam kerja adalah sebagai berikut: Senin Kamis Istirahat Jum at Istirahat/Sholat Jum at Sabtu Bilamana sangat memerlukan, karyawan dapat diminta untuk menambah jam kerja (kerja lembur) pada hari kerja, akhir minggu dan/atau pada hari libur. PASAL 9. KEHADIRAN 9.1 Setiap karyawan harus berada ditempat kerjanya tepat pada waktu yang ditetapkan pada pasal 10 diatas dan hanya boleh meninggalkan tempat kerjanya sehabis jam kerja, kecuali pada waktu istirahat/waktu makan siang atau apabila karyawan telah diizinkan oleh atasannya langsung untuk meninggalkan tempat kerjanya untuk keperluan tertentu. 9.2 Setiap karyawan diwajibkan untuk mengisi daftar hadir/catatan harian pada saat tiba dan ketika meninggalkan tempat kerja. 8

9 9.3 Semua karyawan harus selalu memperhatikan jam kerja dan tepat waktu. Peringatan akan diberikan kepada karyawan yang datang terlambat (telat lebih dari 15 menit) melewati empat (4) kali dalam satu (1) bulan. Kebiasaan datang terlambat dapat dikenai tindakan disipliner. 9

10 BAB III. KERJA LEMBUR PASAL 10. KERJA LEMBUR Semua pekerjaan yang dikerjakan oleh karyawan diluar jam kerja resmi dianggap kerja lembur. Akan tetapi, kerja lembur harus mendapatkan persetujuan lebih dahulu dari atasan langsung karyawan. Dengan memperhatikan keperluan dan kebutuhan (khususnya untuk hal-hal yang mendesak) Pengurus dan atau Manajemen, dapat meminta karyawan untuk melakukan kerja lembur terutama untuk hal-hal sebagai berikut: a. Bilamana pada waktu tertentu atau jangka waktu tertentu volume pekerjaan terakumulasi sampai pada suatu saat harus diselesaikan segera; b. Dalam keadaan yang bersifat darurat atau menghadapi pekerjaan yang mendesak. Kepada karyawan yang menjalanmkan kerja pada jam lembur, akan mengupayakan pemberian upah lembur sebagaimana diatur oleh Peraturan Ketenagakerjaan yang berlaku. Apabila hal tersebut tidak dapt dipenuhi maka lembaga dapat mempertimbangkan pemberian insentif yang besarnya akan diatur dari waktu ke waktu bergantung kepada kinerja dan kondisi keuangan. PASAL 11. PERHITUNGAN KERJA LEMBUR Dasar untuk menghitung kerja lembur adalah Undang-Undang Ketenagakerjaan No. 13/ 2003 dan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. KEP 102/MEN/VI/2004 tertanggal 25 Juni Kerja lembur yang dilakukan pada hari-hari kerja: Untuk satu jam pertama kerja lembur : 150% dari upah satu (1) jam. Upah satu (1) jam dihitung sebagai berikut : 1/173 x gaji pokok beserta tunjangan (bila ada).(sekurang-kurangnya) 1/173 x 75% dari gaji keseluruhan) Untuk setiap jam kerja lembur berikutnya : 200% dari upah satu jam Pembayaran untuk kerja lembur yang dilakukan pada non hari kerja/hari libur, diperhitungkan sebagai berikut : 10

11 Untuk tujuh pertama kerja lembur : 200% dari upah satu (1) jam Untuk satu jam pertama sesudah tujuh jam : 300% dari upah satu jam Untuk setiap jam berikutnya : 400% dari upah satu jam BAB IV. PENGUPAHAN PASAL 12. UPAH Struktur pengupahan di dirancang sebagai alat motivasi. Dengan mengakui dan menghargai prestasi seseorang, sistem pengupahan ini dimaksud untuk memotivasi karyawan agar mengerjakan yang terbaik sesuai kemampuannya Pada dasarnya, faktor-fakor dibawah ini digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk menemukan struktur pengupahan karyawan: - Tugas dan tanggung jawab karyawan; - Pasaran Tenaga Kerja di sektor keuangan mikro di Indonesia dan terkhusus di SULSEL; - Masa kerja karyawan di Disamping itu, jumlah upah setiap karyawan ditentukan juga oleh ranking di, posisi dan tanggung jawabnya Kenaikan upah berdasarkan prestasi Adalah hak Pengurus untuk menetapkan kenaikan upah kepada karyawan yang berprestasi. Kenaikan upah tersebut berdasarkan prestasi, kontribusi kamampuan manajerial, kecakapan hubungan antar-pribadi, kedewasaan dan pengertian akan tujuan dan objektif dari. Besarnya persentase kenaikan upah akan diatur dalam peraturan tersendiri yag akan di baharui dari waktu ke waktu berdasarkan perkembangan dan kondisi lembaga Upah akan dibayarkan kepada karyawan setiap awal hari kerja pada bulan berjalan sebagai upah bulan yang bersangkutan. Apabila tanggal pembayaran upah jatuh pada hari Minggu atau hari libur, maka hari pembayaran akan dimundurkan kehari berikutnya. 11

12 PASAL 13. TUNJANGAN BIAYA HIDUP/TUNJANGAN KEMAHALAN Disamping upah pokok, memberikan kepada setiap karyawan tunjangan biaya hidup/tunjangan kemahalan. Tunjangan biaya hidup/tunjangan kemahalan ini diberikan setiap bulan bersama-sama dengan upah pokok. PASAL 14. POTONGAN GAJI 14.1 Pembayaran Pajak Pendapatan Karyawan Pemerintah Indonesia mewajibkan semua Pemberi Kerja untuk memungut pajak pendapatan dari gaji masing-masing karyawan, sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan menyetorkannya ke kantor pajak setempat. Sesuai dengan peraturan Pemerintah tersebut maka, akan memotongkan pajak pendapatan dari semua karyawan, dimasing-masing tempat kerja pada setiap penyiapan pembayaran gaji bulanan Potongan Lainnya berhak memotong gaji karyawan karena alasan berikut ini : Untuk pembayaran pajak atau iuran yang diwajibkan oleh Pemerintah Indonesia. Cuti tanpa gaji yang disetujui. Mangkir kerja tanpa izin. Kerugian terhadap atau hilangnya peralatan atau barang lainnya yang dipercayakan pada karyawan yang bersangkutan dan terbukti hal tersebut disebabkan oleh karena kelalaiannya secara langsung. Penyesuaian kelebihan pembayaran gaji. Pembayaran kembali atas kelebihan biaya pengobatan yang telah diterimanya. BAB V. MANFAAT LAINNYA PASAL 15. TUNJANGAN HARI RAYA 15.1 Setiap tahun memberikan Tunjangan Hari Raya bagi setiap karyawan Tunjangan tersebut adalah sebesar satu (1) bulan gaji pokok Bagi karyawan yang telah mempunyai masa kerja sekurang-kurangnya satu (1) tahun pada /sebelum Hari Raya mendapatkan tunjangan penuh Bagi karyawan yang telah bekerja di dan mempunyai masa kerja kurang dari satu (1) tahun dan telah bekerja selama tiga (3) bulan akan menerima tunjangan dengan proporsi yang sama dengan masa kerjanya. 12

13 15.5 Tunjangan Hari Raya akan dibagikan kepada karyawan selambat-lambatnya satu (1) minggu sebelum hari Lebaran. BAB VI. HARI LIBUR DAN CUTI PASAL 16. HARI LIBUR UMUM akan memperhatikan semua hari libur umum seperti yang diumumkan oleh Pemerintah Republik Indonesia. PASAL 17. CUTI TAHUNAN 17.1 Semua karyawan berhak atas cuti tahunan sebayak 12 hari kerja dalam setahun. Cuti hanya dapat diambil sebanyak banyaknya enam hari kerja dalam satu kali masa cuti Seseorang karyawan yang bermaksud mengambil cuti tahunannya harus mengajukan permohonan dengan mengisi formulir yang tersedia Untuk menjamin kelancaran kerja selama karyawan cuti, permohonan cuti dari karyawan harus diajukan ke atasan langsung, selambat-lambatnya dua (2) minggu sebelum tanggal cuti yang dikehendaki Untuk mendapatkan persetujuan akhir dari Pengurus/ Manajemen atas permohonan cuti karyawan tersebut, atasan yang bersangkutan harus menunjukkan tentang cara bagaimana pekerjaan yang tertunda dari karyawan yang cuti akan ditangani selama masa cuti Kebutuhan pekerjaan yang mendesak lebih dipentingkan dari permohonan cuti. Sehingga untuk kepentingan (seperti dalam situasi darurat) Manajemen mempunyai hak untuk menjadwal ulang permintaan cuti karyawan Cuti tahunan dapat diakumulasi ke tahun kerja berikutnya. Cuti yang tidak terpakai tidak dapat diganti dengan uang Karyawan yang terpaksa tinggal dirumah sakit (opname) dalam masa cutinya, bisa mendapatkan tambahan cuti yang terpakai selama perawatan tersebut, dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut : a. Karyawan tersebut memberitahu manajemen dalam tempo 48 jam setelah perawatan rumah sakit. Informasi yang disampaikan termasuk nama dan alamat rumah sakit tempat perawatan. Pemberitahuan tersebut dapat disampaikan melalui telepon, telegram, surat atau perorangan melalui kawan atau anggota keluarga; b. Manajemen mempunyai hak untuk mengecek dan meneliti situasinya; c. Kondisi kesehatan karyawan memang memerlukan perawatan rumah sakit. 13

14 PASAL 18. CUTI HAMIL Karyawan wanita yang akan melahirkan diberikan cuti hamil selama tiga (3) bulan dengan menerima gaji penuh (Undang-undang KETENAGAKERJAAN No. 1 tahun 1953). Cuti hamil tersebut harus diambil sekurang-kurangnya tujuh (7) hari sebelum perkiraan tanggal kelahiran bayi. Cuti selama 1,5 bulan akan diberikan untuk keguguran berdasarkan keterangan dokter. Karyawan yang bersangkutan harus menyampaikan surat keterangan dokter mengenai perkiraan tanggal kelahiran atau terjadinya keguguran, tergantung apa yang sebenarnya terjadi. 14

15 PASAL 19. CUTI HAID. Karyawan-karyawan wanita yang sedang haid berhak mendapatkan dua (2) hari cuti setiap bulan dengan bayaran penuh. Cuti haid diberikan kepada karyawan yang mendapat keterangan dari dokter yang menjelaskan kondisi fisik karyawan tersebut tidak memungkinkan untuk datang dan berkerja sebagaimana mestinya. BAB VII. IZIN MENINGGALKAN PEKERJAAN PASAL 20. SAKIT Bila seorang karyawan tidak masuk kerja karena sakit, karyawan yang bersangkutan wajib segera melaporkan kepada setidak-tidaknya pada hari mulai sakit melalui telepon, surat atau melalui orang lain atau melalui anggota keluarga. Apabila karyawan tidak masuk kerja karena sakit lebih dari satu (1) hari, karyawan yang bersangkutan harus membuktikan sakitnnya dengan surat keterangan dokter yang mempunyai izin praktek. Untuk penyakit yang membutuhkan perawatan lebih lama (sesuai dengan surat keterangan dokter yang mempunyai izin praktek) pembayaran upah akan dilakukan berdasarkan pedoman-pedoman berikut ini : a. Sakit selama tiga (3) bulan pertama : 100% dari gaji; b. Dari bulan ke 4 s/d ke 6 : 75% dari gaji; c. Dari bulan ke 7 s/d ke 9 : 50% dari gaji; d. Dari bulan ke 10 s/d ke 12 : 25% dari gaji; Apabila karyawan yang bersangkutan sakit melebihi dua belas (12) bulan berturut-turut (dengan konfirmasi dokter), maka hubungan kerja karyawan yang bersangkutan dapat diputuskan sesuai dengan Undang-undang No. 12 tahun PASAL 21. IZIN MENINGGALKAN PEKERJAAN UNTUK URUSAN-URUSAN PRIBADI/KELUARGA 21.1 Izin tidak bekerja dapat diberikan kepada para karyawan dengan mendapat pembayaran gaji penuh dalam hal-hal berikut : Perkawinan karyawan - 2 hari Perkawinan putera/puteri - 1 hari Khitanan anak karyawan - 1 hari 15

16 Kelahiran anak karyawan (menemani istri melahirkan) - 2 hari Kematian anggota keluarga langsung (istri/suami, putra/putri, orangtua/mertua, adik/kakak) - 2 hari Untuk keperluan-keperluan tersebut pada point 23.3 diatas, harus dimintakan ijin terlebih dahulu,kecuali karena alasan kelahiran anak atau kematian anggota keluarga langsung, sedapat mungkin karyawan memberitahukan pada hari kejadian tetapi dalam hal-hal yang mendesak dapat diberitahukan sesudahnya Setiap urusan lain yang tidak disebutkan diatas, akan dilakukan oleh karyawan dalam waktu pribadinya. Izin untuk keperluan seperti disebutkan di atas dihitung sebagai penggunaan dari cuti tahunan karyawan yang bersangkutan, dengan demikian mengurangi jumlah hari cuti tahunannya. BAB VIII. TUNJANGAN-TUNJANGAN LAIN PASAL 22. TUNJANGAN PENGOBATAN memberikan tunjangan pengobatan kepada seluruh karyawan untuk tunjangan kesehatan yang diberikan setiap bulan kepada karyawan bersama-sama dengan pembayaran gaji bulanan dan dalam bentuk uang tunai yang dikutsertakan dalam komponen gaji bulanan. Besarnya tunjangan ini ditetapkan berdasarkan kemampuan lembaga. Dengan demikian KSP tidak lagi memberikan tunjangan kesehatan lainnya selain yang diatur dalam Buku Aturan Kepegawaian ini. Tunjangan pengobatan ini akan dibayarkan kepada karyawan tanpa harus menyerahkan kwitansi atau bukti pembayaran dari dokter, klinik, apotik atau rumah sakit. PASAL 23. BANTUAN UANG DUKA DAN KESUSAHAN Apabila karyawan meninggal dunia, akan memberikan kepada keluarga terdekat/tanggungan sebesar satu bulan gaji bulan berjalan; Apabila yang meninggal adalah suami/istri sah, anak dari karyawan, akan memberikan sumbangan uang yang sesuai dengan kebijaksanaan. PASAL 24. TUNJANGAN PERJALANAN DINAS 24.1 Dari waktu ke waktu karyawan bisa di minta untuk melakukan pekerjaan dinas ke luar kota. Untuk perjalanan tersebut, akan membayarkan biaya perjalanan dinas yang wajar. meliputi : 16

17 a. Biaya transportasi; b. Hotel/tempat penginapan; c. Uang makan harian Manajemen akan menentukan besarnya tunjangan perjalanan dinas dari waktu ke waktu Karyawan yang akan mengadakan/ditugaskan untuk sebuah perjalanan diharuskan untuk mengisi formulir perjalanan yang harus di setujui oleh atasan langsung atau Pengurus Dalam waktu satu (1) minggu setelah perjalanan dinas, karyawan yang bersangkutan harus membuat rincian biaya-biaya perjalanan dinas dan disampaikan ke Manager/Pengurus Setiap karyawan diwajibkan untuk melakukan perjalanan dengan cara yang paling ekonomis tanpa harus mengorbankan faktor keamanan dan keselamatan. BAB IX. ASURANSI DAN JAMSOSTEK PASAL 25. PERLINDUNGAN ASURANSI memberikan asuransi kelompok mencakup rawat-inap bagi karyawan dan juga untuk tanggungan yang sah dari karyawan tersebut melalui polis asuransi kelompok yang diterbitkan oleh Perusahaan asuransi yang ditunjuk oleh KSP. Yang berhak untuk mendapatkan manfaat dari perlindungan asuransi adalah setiap karyawan beserta pasangan yang sah dan anak-anaknya (maksimum dua anak). PASAL 26. JAMSOSTEK akan menyertakan semua karyawan pada program JAMSOSTEK sesuai dengan Undang-Undang nomor 13 tahun 2003 BAB X. PENDIDIKAN DAN LATIHAN PASAL 27. UMUM Latihan dan pengembangan bagi karyawan selalu menjadi dasar pemikiran di. Tujuannya adalah untuk membantu karyawan KSP mendapatkan teknis dan manjerial yang diperlukan untuk menempati jabatan-jabatan penting di. 17

18 PASAL 28. PENDIDIKAN DAN LATIHAN KARYAWAN 28.1 akan memberikan pelatihan on-the-job bagi karyawan-karyawan untuk mencapai standar keahlian yang diperlukan oleh posisinya masing-masing Karyawan akan diberikan cukup petunjuk dan bimbingan pada setiap aspek pekerjaannya sehingga bisa mendapatkan pengalaman yang dibutuhkan di bidangnya Atas biaya, karyawan yang membutuhkan akan di ikut-sertakan dalam seminar-seminar dan lokakarya-lokakarya untuk meningkatkan keahlian tehnik dan profesinya. Hal ini dilakukan berdasarkan pertimbangan kebutuhan dan kemampuan keuangan Lembaga senantiasa menjalankan kebijakan yang memastikan bahwa karyawan perempuan dan laki-laki mendapatkan kesempatan pendidikan dan latihan yang setara Karyawan yang diikutsertakan dalam pelatihan atas biaya KSP AL IKHLAS diharapkan untuk memberikan konstribusi kepada Lembaga. Untuk maksud tersebut Manajemen akan membuat aturan pelaksanaan pemberian imbal balik dari karyawan yang terlah di latih kepada. BAB XI. TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB PASAL 29. UMUM 29.1 Setiap karyawan wajib melakukan tugas-tugas dan tanggung jawab yang diberikan dengan cara yang benar. Karyawan juga harus mematuhi petunjukpetunjuk yang diberikan oleh masing-masing atasannya Para karyawan diminta untuk mengenakan pakaian bersih, rapi dan pantas selama jam-jam kerja. Bagi karyawati perempuan diwajibkan mengenakan busana muslimah Setiap karyawan wajib memelihara dengan sebaik-baiknya peralatan-peralatan dan fasilitas-fasilitas yang di sediakan dan dimiliki oleh KSP XXX Setiap karyawan hanya diperbolehkan menggunakan fasilitas 18

19 dan harta benda milik untuk keperluan, serta dilarang untuk memindahkan ke luar lingkungan (kecuali dengan persetujuan lebih dahulu dari Manajemen/Pengurus atau karyawan yang ditunjuk untuk itu) 29.5 Setiap karyawan tidak diperbolehkan untuk bekerja pada perusahaan, perorangan, pengusaha atau badan usaha lain, atau menjalankan pekerjaan lain dengan menggunakan fasilitas-fasilitas Karyawan wajib merahasiakan kegiatan dan kegiatan nasabah, baik yang diketahui oleh karyawan maupun yang tidak diketahui karena hubungan kerjanya dengan Apabila karyawan akan memberikan informasi kepada publik perihal kegiatan, kebijakan atau hal lainnya maka harus terlebih dahulu mendapat persetujuan Pengurus. PASAL 30. TATA TERTIB JAM KERJA 30.1 Setiap karyawan diwajibkan hadir di tempat pekerjaannya sesuai dengan ketentuan dalam pasal 10 BAB II, kecuali sewaktu-waktu apabila karyawan yang bersangkutan mendapat izin dari Atasan/Pengurus untuk meninggalkan kantor Apabila seorang karyawan belum hadir di tempat pekerjaannya lima belas (15) menit setelah waktu yang telah ditetapkan seperti tersebut pada pasal 10, maka karyawan yang bersangkutan dianggap terlambat. Karyawan hanya dibenarkan terlambat selama tiga (3) kali dalam sebulan. Akumulasi tiga kali keterlambatan adalah sama dengan satu hari absen tanpa pemberitahuan Apabila seorang karyawan tidak dapat hadir di tempat pekerjaannya oleh karena sesuatu keperluan yang penting dan mendesak, maka karyawan yang bersangkutan diwajibkan memberitahukan hal tersebut terlebih dahulu kepada melalui atasannya langsung (kecuali sarana komunikasi tidak memungkinkan). Jika tidak, maka karyawan yang bersangkutan akan dianggap tidak masuk kerja tanpa izin (mangkir) Setiap karyawan berkewajiban mengisi daftar hadir harian pada saat datang dan pulang kerja Apabila ketentuan tata-tertib di atas tidak dipatuhi/diperhatikan oleh karyawan, akan mengambil tindakan disiplin sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 19

20 BAB XII. PELANGGARAN PERATURAN DAN TINDAKAN DISIPLIN PASAL 31. SIFAT DAN JENIS PELANGGARAN 31.1 Karyawan diwajibkan untuk melakukan perkerjaannya, menjalankan tanggung jawab serta mengikuti ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam sebaik kemampuannya Sebagai pedoman, berikut ini disebutkan pelanggaran- pelanggaran yang berat sifatnya, dan jenis pelanggaran lain yang dapat dikenakan tindakan disiplin. PELANGGARAN-PELANGGARAN BERAT YANG DAPAT MENGAKIBATKAN PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA: 1. Pencurian dan penggelapan; 2. Menyuap/menjebak karyawan, keluarga atau teman sekerja; 3. Mabuk atau menggunakan narkotik di tempat bekerja; 4. Menggunakan kekuatan fisik atau ancaman secara verbal termasuk melakukan penghinaan, pelecehan dan intimidasi kepada teman sekerja lainnya atau keluarganya yang mengakibatkan terhambatnya pekerjaan secara normal; 5. Merusak harta benda milik baik disengaja maupun karena kelalaian; 6. Pemalsuan informasi yang menyebabkan rusaknya kredibilitas lembaga atau menyebabkan kerugian finansial/material terhadap lembaga; 7. Membocorkan rahasia dan juga rahasia nasabah-nasabahnya; 8. Bertindak dengan sengaja untuk menghilangkan uang dan harta benda milik ; 9. Berulang kali menolak atau lalai melaksanakan perintah-perintah dan instruksi-intsruksi atasan; 10. Menerima suap, baik berupa uang, barang maupun jasa. 11. Terbukti bersalah oleh Pengadilan karena terlibat tindakan kriminalitas; 12. Prestasi kerja yang sangat jelek; 13. Langsung atau tidak langsung terlibat dalam kegiatan lain yang oleh Manajemen dianggap bertentangan dengan keperluan ; 14. Menyalah-gunakan kepercayaan; 15. Bekerja di tempat lain tanpa izin dari Pimpinan. 16. Dengan sengaja melakukan pencemaran nama baik lembaga, atasan, dan rekan sekerja serta nasabah. 17. Berjudi ditempat kerja dan dalam jam kerja serta kegiatan lainnya yang bertentangan dengan Syariat Islam. 18. Menyalahgunakan kekuasaan dan wewenang yang mengakibatkan kerugian kepada pihak lain. 19. Melakukan tindakan diskriminasi secara verbal dan non-verbal terhadap jenis kelamin, suku, warna kulit, ras atau orang cacat, agama, umur, orientasi sexual kondisi fisik, status HIV dan karakateristik personal lainnya. 20. Melakukan tindakan pelanggaran terhadap hal hal yang diatur dalam Appendix 1 dan Appendix 2 PELANGGARAN-PELANGGARAN LAIN YANG DAPAT DIKENAKAN TINDAKAN DISIPLIN 1. Tidak masuk kerja berulang kali; 2. Terlambat masuk kerja atau pulang sebelum berakhis jam kerja tanpa alasan yang dapat diterima; 3. Tidak masuk kerja tanpa izin tiga (3) hari berturut-turut, atau lima (5) hari kerja dalam satu bulan, tanpa alasan yang dapat dipertanggung-jawabkan; 20

LeIP. Peraturan Lembaga Manajemen Kepegawaian. Peraturan LeIP Tentang Manajemen Kepegawaian. 1. Kategorisasi Pegawai

LeIP. Peraturan Lembaga Manajemen Kepegawaian. Peraturan LeIP Tentang Manajemen Kepegawaian. 1. Kategorisasi Pegawai Peraturan Tentang 1. Kategorisasi Pegawai 1.1. Pegawai dibagi dalam kategori sebagai berikut : a. Pegawai Tetap b. Pegawai Tidak Tetap 1.2. Pegawai Tetap adalah pegawai yang diangkat Lembaga untuk bekerja

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG NO. 13 TH 2003

UNDANG-UNDANG NO. 13 TH 2003 UNDANG-UNDANG NO. 13 TH 2003 BAB XII PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA Pasal 150 Ketentuan mengenai pemutusan hubungan kerja dalam undang-undang ini meliputi pemutusan hubungan kerja yang terjadi di badan usaha

Lebih terperinci

BAB I KETENTUAN UMUM. Pasal 1. 1) Setiap bentuk usaha milik swasta yang memperkerjakan pekerjaan dengan tujuan mencari keuntungan atau tidak.

BAB I KETENTUAN UMUM. Pasal 1. 1) Setiap bentuk usaha milik swasta yang memperkerjakan pekerjaan dengan tujuan mencari keuntungan atau tidak. PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA TENTANG PENYELESAIAN PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA DAN PENETAPAN UANG PESANGON, UANG JASA DAN GANTI KERUGIAN DI PERUSAHAAN SWASTA Peraturan Menteri Tenaga Kerja R.I. Nomor: PER-03/MEN/1996

Lebih terperinci

BUPATI BADUNG PERATURAN BUPATI BADUNG NOMOR 77 TAHUN 2011 TENTANG KETENTUAN BAGI TENAGA KONTRAK PADA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN BADUNG

BUPATI BADUNG PERATURAN BUPATI BADUNG NOMOR 77 TAHUN 2011 TENTANG KETENTUAN BAGI TENAGA KONTRAK PADA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN BADUNG BUPATI BADUNG PERATURAN BUPATI BADUNG NOMOR 77 TAHUN 2011 TENTANG KETENTUAN BAGI TENAGA KONTRAK PADA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN BADUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BADUNG, Menimbang

Lebih terperinci

ANGGARAN DASAR ASOSIASI KURATOR DAN PENGURUS INDONESIA

ANGGARAN DASAR ASOSIASI KURATOR DAN PENGURUS INDONESIA ANGGARAN DASAR ASOSIASI KURATOR DAN PENGURUS INDONESIA Anggaran Dasar di bawah ini adalah Anggaran Dasar Asosiasi Kurator dan Pengurus Indonesia sebagaimana telah diubah dan disahkan dalam Rapat Anggota

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN [LN 2003/39, TLN 4279] Pasal 184

UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN [LN 2003/39, TLN 4279] Pasal 184 UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN [LN 2003/39, TLN 4279] BAB XVI KETENTUAN PIDANA DAN SANKSI ADMINISTRATIF Bagian Pertama Ketentuan Pidana Pasal 183 74 1, dikenakan sanksi pidana

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

ANGGARAN RUMAH TANGGA KOPERASI KARYAWAN PT PEMERINGKAT EFEK INDONESIA (PEFINDO) KOPPEFINDO BAB I KEANGGOTAAN. Pasal 1

ANGGARAN RUMAH TANGGA KOPERASI KARYAWAN PT PEMERINGKAT EFEK INDONESIA (PEFINDO) KOPPEFINDO BAB I KEANGGOTAAN. Pasal 1 ANGGARAN RUMAH TANGGA KOPERASI KARYAWAN PT PEMERINGKAT EFEK INDONESIA (PEFINDO) KOPPEFINDO BAB I KEANGGOTAAN Pasal 1 Anggota KOPPEFINDO terdiri dari: a. Anggota Pendiri yaitu anggota yang tercatat di Anggaran

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan

Lebih terperinci

MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA. KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA Nomor : Kep - 150 / Men / 2000 TENTANG

MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA. KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA Nomor : Kep - 150 / Men / 2000 TENTANG MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA Nomor : Kep - 150 / Men / 2000 TENTANG PENYELESAIAN PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA DAN PENETAPAN UANG PESANGON, UANG

Lebih terperinci

MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA. KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA Nomor : Kep / Men / 2000 TENTANG

MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA. KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA Nomor : Kep / Men / 2000 TENTANG MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA Nomor : Kep - 150 / Men / 2000 TENTANG PENYELESAIAN PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA DAN PENETAPAN UANG PESANGON, UANG

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL Menimbang: DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah

Lebih terperinci

PERATURAN PERUSAHAAN DEWAN PENGAWAS SYARIAH. PT Bank Pembiayaan Rakyat Syariah PUDUARTA INSANI

PERATURAN PERUSAHAAN DEWAN PENGAWAS SYARIAH. PT Bank Pembiayaan Rakyat Syariah PUDUARTA INSANI PERATURAN PERUSAHAAN DEWAN PENGAWAS SYARIAH PT Bank Pembiayaan Rakyat Syariah PUDUARTA INSANI Kantor Pusat: Jl. Pekan Raya No. 13 A Tembung Telp. 061-7385848 - 7384689 Fax. 061-7385849 Kantor Cabang: Kampus

Lebih terperinci

MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA. KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA Nomor : Kep / Men / 2000 TENTANG

MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA. KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA Nomor : Kep / Men / 2000 TENTANG MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA Nomor : Kep - 150 / Men / 2000 TENTANG PENYELESAIAN PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA DAN PENETAPAN UANG PESANGON, UANG

Lebih terperinci

PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA (1)

PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA (1) HUKUM PERBURUHAN (PERTEMUAN XIII) PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA (1) copyright by Elok Hikmawati 1 Pemutusan Hubungan Kerja Pengakhiran hubungan kerja karena suatu hal tertentu yang mengakibatkan berakhirnya

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG NO. 13 TH 2003

UNDANG-UNDANG NO. 13 TH 2003 UNDANG-UNDANG NO. 13 TH 2003 BAB X PERLINDUNGAN, PENGUPAHAN, DAN KESEJAHTERAAN Bagian Kesatu Perlindungan Paragraf 1 Penyandang Cacat Pasal 67 1. Pengusaha yang mempekerjakan tenaga kerja penyandang cacat

Lebih terperinci

K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA

K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA 1 K 29 - Kerja Paksa atau Wajib Kerja 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan bagi laki-laki

Lebih terperinci

CONTOH SURAT PERJANJIAN KERJA KONTRAK

CONTOH SURAT PERJANJIAN KERJA KONTRAK 2 CONTOH SURAT PERJANJIAN KERJA KONTRAK SURAT PERJANJIAN KERJA KONTRAK Nomer: -------------------------------------------- Yang bertanda tangan di bawah ini: 1. Nama : ---------------------------------------------------

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA NOMOR M.HH-16.KP TAHUN 2011 TENTANG KODE ETIK PEGAWAI PEMASYARAKATAN

PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA NOMOR M.HH-16.KP TAHUN 2011 TENTANG KODE ETIK PEGAWAI PEMASYARAKATAN PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA NOMOR M.HH-16.KP.05.02 TAHUN 2011 TENTANG KODE ETIK PEGAWAI PEMASYARAKATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI

Lebih terperinci

2011, No Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3041) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan atas

2011, No Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3041) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan atas No.605, 2011 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA. Kode Etik. Pegawai Pemasyarakatan. Majelis Kehormatan. PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan nasional dilaksanakan dalam

Lebih terperinci

KEPUTUSAN BADAN ARBITRASE PASAR MODAL INDONESIA NOMOR : KEP 02/BAPMI/ TENTANG PERATURAN DAN ACARA BADAN ARBITRASE PASAR MODAL INDONESIA

KEPUTUSAN BADAN ARBITRASE PASAR MODAL INDONESIA NOMOR : KEP 02/BAPMI/ TENTANG PERATURAN DAN ACARA BADAN ARBITRASE PASAR MODAL INDONESIA KEPUTUSAN BADAN ARBITRASE PASAR MODAL INDONESIA NOMOR : KEP 02/BAPMI/11.2009 TENTANG PERATURAN DAN ACARA BADAN ARBITRASE PASAR MODAL INDONESIA BADAN ARBITRASE PASAR MODAL INDONESIA Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

-2-1. Upah adalah hak pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja/bu

-2-1. Upah adalah hak pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja/bu LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.237, 2015 TENAGA KERJA. Pengupahan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5747). PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78 TAHUN

Lebih terperinci

CONTOH SURAT PERJANJIAN KERJA KONTRAK

CONTOH SURAT PERJANJIAN KERJA KONTRAK CONTOH SURAT PERJANJIAN KERJA KONTRAK SURAT PERJANJIAN KERJA KONTRAK Nomer: Yang bertanda tangan di bawah ini: 1. Nama : Jabatan : Alamat : Dalam hal ini bertindak atas nama direksi ( nama perusahaan )

Lebih terperinci

KODE ETIK DAN PERATURAN DISIPLIN KARYAWAN IKIP VETERAN SEMARANG. BAB I Ketentuan Umum

KODE ETIK DAN PERATURAN DISIPLIN KARYAWAN IKIP VETERAN SEMARANG. BAB I Ketentuan Umum KODE ETIK DAN PERATURAN DISIPLIN KARYAWAN IKIP VETERAN SEMARANG BAB I Ketentuan Umum Pasal 1 1. Karyawan adalah setiap pegawai IKIP Veteran Semarang baik sebagai tenaga administrasi maupun tenaga penunjang.

Lebih terperinci

ANGGARAN RUMAH TANGGA IKATAN AHLI PERENCANA

ANGGARAN RUMAH TANGGA IKATAN AHLI PERENCANA ANGGARAN RUMAH TANGGA IKATAN AHLI PERENCANA BAB I UMUM Pasal 1 Pengertian Anggaran Rumah Tangga merupakan penjabaran Anggaran Dasar IAP Pasal 2 Pengertian Umum (1) Ahli adalah seorang yang berlatar belakang

Lebih terperinci

Kode Etik Pemasok. Pendahuluan

Kode Etik Pemasok. Pendahuluan KODE ETIK PEMASOK Kode Etik Pemasok Pendahuluan Sebagai peritel busana internasional yang terkemuka dan berkembang, Primark berkomitmen untuk membeli produk berkualitas tinggi dari berbagai negara dengan

Lebih terperinci

Pemutusan Hubungan Kerja

Pemutusan Hubungan Kerja Pemutusan Hubungan Kerja Suatu langkah pengakhiran hubungan kerja antara pekerja dan pengusaha karena suatu hal tertentu. Pasal 1 angka 25 UU Ketenagakerjaan: Pengakhiran hubungan kerja karena suatu hal

Lebih terperinci

PERATURAN PERUSAHAAN PT.

PERATURAN PERUSAHAAN PT. PERATURAN PERUSAHAAN PT. Dalam peraturan ini yang dimaksud dengan : BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Pengertian 1. Perusahaan : Adalah yang bergerak di bidang, yang didirikan berdasarkan akta notaris nomor,

Lebih terperinci

PEMBERHENTIAN KARYAWAN (Pemutusan Hubungan Kerja) PERTEMUAN 14

PEMBERHENTIAN KARYAWAN (Pemutusan Hubungan Kerja) PERTEMUAN 14 PEMBERHENTIAN KARYAWAN (Pemutusan Hubungan Kerja) PERTEMUAN 14 1 SUB POKOK BAHASAN PENGERTIAN ALASAN-ALASAN PEMBERHENTIAN PROSES PEMBERHENTIAN PASAL 153, UU PERBURUHAN NO.13/2003 PASAL 156 (KEWAJIBAN PERUSAHAAN)

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN NGAWI

PEMERINTAH KABUPATEN NGAWI PEMERINTAH KABUPATEN NGAWI PERATURAN DAERAH KABUPATEN NGAWI NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG TRANSPARANSI DAN PARTISIPASI DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI NGAWI,

Lebih terperinci

PERLINDUNGAN DAN PENGAWASAN TENAGA KERJA (2)

PERLINDUNGAN DAN PENGAWASAN TENAGA KERJA (2) HUKUM PERBURUHAN (PERTEMUAN IX) PERLINDUNGAN DAN PENGAWASAN TENAGA KERJA (2) copyright by Elok Hikmawati 1 PENGUPAHAN Upah adalah hak pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai

Lebih terperinci

KODE ETIK GLOBAL TAKEDA

KODE ETIK GLOBAL TAKEDA KODE ETIK GLOBAL TAKEDA Pendahuluan Prinsip-prinsip Dasar dan Penerapannya Sudah merupakan komitmen kuat Takeda Pharmaceutical Company Limited dan semua perusahaan yang terafiliasi (secara bersama-sama,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1981 TENTANG PERLINDUNGAN UPAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1981 TENTANG PERLINDUNGAN UPAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1981 TENTANG PERLINDUNGAN UPAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa sistem pengupahan yang berlaku sekarang ini sudah tidak lagi sesuai

Lebih terperinci

PEDOMAN KERJA DAN KODE ETIK DIREKSI DAN DEWAN KOMISARIS

PEDOMAN KERJA DAN KODE ETIK DIREKSI DAN DEWAN KOMISARIS PEDOMAN KERJA DAN KODE ETIK DIREKSI DAN DEWAN KOMISARIS I. Pengantar Pedoman ini membahas mengenai hal-hal yang berhubungan dengan Direksi dan Dewan Komisaris di Perseroan, seperti : tugas, wewenang, pertanggungjawaban,

Lebih terperinci

Prinsip Tempat Kerja yang Saling Menghormati

Prinsip Tempat Kerja yang Saling Menghormati Prinsip Tempat Kerja yang Saling Menghormati Pernyataan Prinsip: Setiap orang berhak mendapatkan perlakuan hormat di tempat kerja 3M. Dihormati berarti diperlakukan secara jujur dan profesional dengan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH NO. 08 TH 1981

PERATURAN PEMERINTAH NO. 08 TH 1981 PERATURAN PEMERINTAH NO. 08 TH 1981 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1981 TENTANG PERLINDUNGAN UPAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. Bahwa sistem

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78 TAHUN 2015 TENTANG PENGUPAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78 TAHUN 2015 TENTANG PENGUPAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78 TAHUN 2015 TENTANG PENGUPAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78 TAHUN 2015 TENTANG PENGUPAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78 TAHUN 2015 TENTANG PENGUPAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78 TAHUN 2015 TENTANG PENGUPAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 97 Undang-Undang

Lebih terperinci

Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 2005 TENTANG PENDIRIAN, PENGURUSAN, PENGAWASAN, DAN PEMBUBARAN BADAN USAHA MILIK NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

BUPATI MUSI BANYUASIN PERATURAN BUPATI MUSI BANYUASIN NOMOR: 2>2> TAHUN 2008 TENTANG

BUPATI MUSI BANYUASIN PERATURAN BUPATI MUSI BANYUASIN NOMOR: 2>2> TAHUN 2008 TENTANG BUPATI MUSI BANYUASIN PERATURAN BUPATI MUSI BANYUASIN NOMOR: 2>2> TAHUN 2008 TENTANG PENGANGKATAN, PEMINDAHAN, PEMBERHENTIAN DAN PENGADAAN PEGAWAI NON PEGAWAI NEGERI SIPIL (NON PNS) BLUD RSUD SEKAYU KABUPATEN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, 1 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG NO. 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN BAB I KETENTUAN UMUM

UNDANG-UNDANG NO. 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN BAB I KETENTUAN UMUM UNDANG-UNDANG NO. 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan : BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 1. Ketenagakerjaan adalah segala hal yang berhubungan dengan tenaga kerja

Lebih terperinci

PEDOMAN KERJA DIREKSI PT INTERMEDIA CAPITAL Tbk. ("Perusahaan")

PEDOMAN KERJA DIREKSI PT INTERMEDIA CAPITAL Tbk. (Perusahaan) PEDOMAN KERJA DIREKSI PT INTERMEDIA CAPITAL Tbk. ("Perusahaan") I. PENDAHULUAN Pedoman Kerja Dewan Direksi ("Pedoman Kerja Direksi") ini merupakan bagian dari Good Corporate Governance Perusahaan yang

Lebih terperinci

PERATURAN WALIKOTA KOTA YOGYAKARTA NOMOR 48 TAHUN 2011 TENTANG PEKERJA RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA YOGYAKARTA,

PERATURAN WALIKOTA KOTA YOGYAKARTA NOMOR 48 TAHUN 2011 TENTANG PEKERJA RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA YOGYAKARTA, PERATURAN WALIKOTA KOTA YOGYAKARTA NOMOR 48 TAHUN 2011 TENTANG PEKERJA RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA YOGYAKARTA, Menimbang : a. bahwa hubungan kerja antara Pekerja Rumah Tangga

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA NOMOR: KEP-150/MEN/2000 TENTANG

KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA NOMOR: KEP-150/MEN/2000 TENTANG KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA NOMOR: KEP-150/MEN/2000 TENTANG PENYELESAIAN PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA DAN PENETAPAN UANG PESANGON, UANG PENGHARGAAN MASA KERJA DAN GANTI KERUGIAN DI PERUSAHAAN

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 2 TAHUN 2008 TENTANG PERUSAHAAN DAERAH BANK PERKREDITAN RAKYAT BANK SLEMAN

PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 2 TAHUN 2008 TENTANG PERUSAHAAN DAERAH BANK PERKREDITAN RAKYAT BANK SLEMAN PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 2 TAHUN 2008 TENTANG PERUSAHAAN DAERAH BANK PERKREDITAN RAKYAT BANK SLEMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SLEMAN, Menimbang

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN KEDIRI

PEMERINTAH KABUPATEN KEDIRI S A L I N A N PEMERINTAH KABUPATEN KEDIRI PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEDIRI NOMOR 4 TAHUN 2008 TENTANG PERUSAHAAN DAERAH BANK PERKREDITAN RAKYAT BANK DAERAH KABUPATEN KEDIRI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

PERATURAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2007 TENTANG KODE ETIK BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2007 TENTANG KODE ETIK BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA - 1 - PERATURAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2007 TENTANG KODE ETIK BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG AKUNTAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG AKUNTAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG AKUNTAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan nasional yang berkesinambungan

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH NOMOR 32 TAHUN 2000

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH NOMOR 32 TAHUN 2000 LEMBARAN DAERAH KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH NOMOR 32 TAHUN 2000 PERATURAN DAERAH KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH NOMOR 23 TAHUN 2000 T E N T A N G KEPENGURUSAN PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM KABUPATEN HULU

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2003 TENTANG PERATURAN DISIPLIN ANGGOTA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2003 TENTANG PERATURAN DISIPLIN ANGGOTA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2003 TENTANG PERATURAN DISIPLIN ANGGOTA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2015 NOMOR 19

BERITA DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2015 NOMOR 19 BERITA DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2015 NOMOR 19 PERATURAN BUPATI BANJARNEGARA NOMOR 19 TAHUN 2015 TENTANG TENAGA HARIAN LEPAS DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN BANJARNEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH NO. 01 TH 1985

PERATURAN PEMERINTAH NO. 01 TH 1985 PERATURAN PEMERINTAH NO. 01 TH 1985 PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA NOMOR : PER-01/MEN/85 TENTANG PELAKSANAAN TATA CARA PEMBUATAN KESEPAKATAN KERJA BERSAMA (KKB) MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

Kode Etik Insinyur (Etika Profesi)

Kode Etik Insinyur (Etika Profesi) Kode Etik Insinyur (Etika Profesi) Dewan Akreditasi Rekayasa dan Teknologi (ABET) Kode Etik Insinyur ATAS DASAR PRINSIP Insinyur menegakkan dan memajukan integritas, kehormatan dan martabat profesi engineering

Lebih terperinci

PIAGAM DIREKSI & DEWAN KOMISARIS. PT UNGGUL INDAH CAHAYA Tbk.

PIAGAM DIREKSI & DEWAN KOMISARIS. PT UNGGUL INDAH CAHAYA Tbk. PIAGAM DIREKSI & DEWAN KOMISARIS PT UNGGUL INDAH CAHAYA Tbk. 1 PIAGAM DIREKSI & DEWAN KOMISARIS PT UNGGUL INDAH CAHAYA Tbk. BAGIAN I : DASAR HUKUM Pembentukan, pengorganisasian, mekasnisme kerja, tugas

Lebih terperinci

5. Prinsip penting dalam mengelola sumberdaya manusia secara nondiskriminatif

5. Prinsip penting dalam mengelola sumberdaya manusia secara nondiskriminatif Diskriminasi dan kesetaraan: 5. Prinsip penting dalam mengelola sumberdaya manusia secara nondiskriminatif Kesetaraan and non-diskriminasi di tempat kerja di Asia Timur dan Tenggara: Panduan 1 Tujuan belajar

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG AKUNTAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG AKUNTAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG AKUNTAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan nasional yang berkesinambungan

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 31 BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 4.1 Sejarah dan Perkembangan Perusahaan CV. Mekar Plastik Industri adalah perusahaan yang bergerak dalam industri pembuatan plastik khususnya kantong plastik Reclosable

Lebih terperinci

WALIKOTA TEGAL PERATURAN WALIKOTA TEGAL NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG

WALIKOTA TEGAL PERATURAN WALIKOTA TEGAL NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG SALINAN WALIKOTA TEGAL PERATURAN WALIKOTA TEGAL NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PENGATURAN PEGAWAI NON PEGAWAI NEGERI SIPIL BADAN LAYANAN UMUM DAERAH RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARDINAH KOTA TEGAL DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

SURAT PERJANJIAN KERJA PENDAMPING DESA

SURAT PERJANJIAN KERJA PENDAMPING DESA SURAT PERJANJIAN KERJA PENDAMPING DESA Nomor: Pada Hari ini... Tanggal... Bulan...Tahun Dua Ribu Enambelas, dengan mengambil tempat di Kantor Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (BPMPD)

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 2005 TENTANG PENDIRIAN, PENGURUSAN, PENGAWASAN DAN PEMBUBARAN BADAN USAHA MILIK NEGARA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 2005 TENTANG PENDIRIAN, PENGURUSAN, PENGAWASAN DAN PEMBUBARAN BADAN USAHA MILIK NEGARA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 2005 TENTANG PENDIRIAN, PENGURUSAN, PENGAWASAN DAN PEMBUBARAN BADAN USAHA MILIK NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN LUMAJANG

PEMERINTAH KABUPATEN LUMAJANG PEMERINTAH KABUPATEN LUMAJANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUMAJANG NOMOR 03 TAHUN 2005 T E N T A N G PERUSAHAAN DAERAH BANK PERKREDITAN RAKYAT BANK PASAR KABUPATEN LUMAJANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

K O M I S I I N F O R M A S I

K O M I S I I N F O R M A S I K O M I S I I N F O R M A S I PROVINSI KEPULAUAN RIAU PERATURAN TATA TERTIB KOMISI INFORMASI PROVINSI KEPULAUAN RIAU BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam peraturan ini yang dimaksud dengan: 1. Komisi Informasi

Lebih terperinci

Lampiran: Pakta Integritas dan Kesanggupan

Lampiran: Pakta Integritas dan Kesanggupan Lampiran: Pakta Integritas dan Kesanggupan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias, Provinsi Sumatera Utara Yang menandatangani

Lebih terperinci

KODE ETIK PEMASOK. Etika Bisnis

KODE ETIK PEMASOK. Etika Bisnis KODE ETIK PEMASOK Weatherford telah membangun reputasinya sebagai organisasi yang mengharuskan praktik bisnis yang etis dan integritas yang tinggi dalam semua transaksi bisnis kami. Kekuatan reputasi Weatherford

Lebih terperinci

KEPUTUSAN KEPALA BAGIAN ORGANISASI SEKRETARIAT DAERAH KABUPATEN LAMONGAN NOMOR : 188 / 110 / / 2013

KEPUTUSAN KEPALA BAGIAN ORGANISASI SEKRETARIAT DAERAH KABUPATEN LAMONGAN NOMOR : 188 / 110 / / 2013 KEPUTUSAN KEPALA BAGIAN ORGANISASI SEKRETARIAT DAERAH KABUPATEN LAMONGAN NOMOR : 188 / 110 / 413.032 / 2013 TENTANG PENEGAKAN DISIPLIN PEGAWAI NEGERI SIPIL DI BAGIAN ORGANISASI SEKRETARIAT DAERAH KABUPATEN

Lebih terperinci

SEMULA ANGGARAN DASAR PT. BANK VICTORIA INTERNATIONAL, Tbk.

SEMULA ANGGARAN DASAR PT. BANK VICTORIA INTERNATIONAL, Tbk. Pasal SEMULA ANGGARAN DASAR PT. BANK VICTORIA INTERNATIONAL, Tbk. USULAN PERUBAHAN ANGGARAN DASAR PT. BANK VICTORIA INTERNATIONAL, Tbk. Pasal PEMINDAHAN HAK ATAS SAHAM PASAL 10 PEMINDAHAN HAK ATAS SAHAM

Lebih terperinci

ANGGARAN DASAR KOPERASI TRISAKTI BHAKTI PERTIWI

ANGGARAN DASAR KOPERASI TRISAKTI BHAKTI PERTIWI ANGGARAN DASAR KOPERASI TRISAKTI BHAKTI PERTIWI BAB I NAMA DAN TEMPAT KEDUDUKAN Pasal 1 1. Koperasi ini bernama KOPERASI TRISAKTI BHAKTI PERTIWI dan selanjutnya dalam Anggaran Dasar ini disebut KOPERASI.

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN LOMBOK TIMUR

PEMERINTAH KABUPATEN LOMBOK TIMUR PEMERINTAH KABUPATEN LOMBOK TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK TIMUR NOMOR 7 TAHUN 2007 TENTANG PERLINDUNGAN BURUH/PEKERJA INFORMAL DI KABUPATEN LOMBOK TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

KODE ETIK PEMASOK 1. UPAH YANG DI BAYARKAN CUKUP UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN HIDUP

KODE ETIK PEMASOK 1. UPAH YANG DI BAYARKAN CUKUP UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN HIDUP KODE ETIK PEMASOK Peraturan ini memberikan standard minimum yang bilamana mungkin, harus di lampaui oleh pemasok. Dalam penerapannya, para pemasok harus mengikuti hukum nasional dan hukum lainnya yang

Lebih terperinci

ANGGARAN RUMAH TANGGA GABUNGAN INDUSTRI PENGERJAAN LOGAM DAN MESIN INDONESIA BAB I LANDASAN PENYUSUNAN

ANGGARAN RUMAH TANGGA GABUNGAN INDUSTRI PENGERJAAN LOGAM DAN MESIN INDONESIA BAB I LANDASAN PENYUSUNAN ANGGARAN RUMAH TANGGA GABUNGAN INDUSTRI PENGERJAAN LOGAM DAN MESIN INDONESIA BAB I LANDASAN PENYUSUNAN Pasal 1 Landasan Penyusunan 1. Anggaran Rumah Tangga disusun berlandaskan pada Anggaran Dasar yang

Lebih terperinci

BUPATI SUKOHARJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKOHARJO NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG

BUPATI SUKOHARJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKOHARJO NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG BUPATI SUKOHARJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKOHARJO NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN PERLINDUNGAN TERHADAP KORBAN KEKERASAN BERBASIS GENDER DAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

BUPATI LAHAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAHAT NOMOR 03 TAHUN 2014 TENTANG PEMBENTUKAN DAN PENGELOLAAN BANK PERKREDITAN RAKYAT DAERAH

BUPATI LAHAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAHAT NOMOR 03 TAHUN 2014 TENTANG PEMBENTUKAN DAN PENGELOLAAN BANK PERKREDITAN RAKYAT DAERAH BUPATI LAHAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAHAT NOMOR 03 TAHUN 2014 TENTANG PEMBENTUKAN DAN PENGELOLAAN BANK PERKREDITAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LAHAT, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KOTA BEKASI

BERITA DAERAH KOTA BEKASI BERITA DAERAH KOTA BEKASI NOMOR : 11 2013 SERI : E PERATURAN WALIKOTA BEKASI NOMOR 11 TAHUN 2013 TENTANG KODE ETIK DAN PERILAKU APARATUR DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KOTA BEKASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PELAYANAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PELAYANAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, LAMPIRAN II: Draft VIII Tgl.17-02-2005 Tgl.25-1-2005 RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG PELAYANAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa setiap warga negara

Lebih terperinci

NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA Menimbang: DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, a. bahwa setiap warga negara

Lebih terperinci

Jika Anda diperlakukan secara tidak adil atau hak Anda dilanggar, hubungi nomor bebas pulsa berikut:

Jika Anda diperlakukan secara tidak adil atau hak Anda dilanggar, hubungi nomor bebas pulsa berikut: Apakah Anda Datang Ke Amerika untuk Bekerja Sementara atau Belajar? Kami percaya bahwa Anda akan mendapatkan pengalaman yang berharga. Tetapi, apabila Anda mendapatkan masalah, Anda memiliki hak dan Anda

Lebih terperinci

Surat Perjanjian Kerja Sama Terkait Program Pemagangan Keterampilan Orang Asing (Contoh)

Surat Perjanjian Kerja Sama Terkait Program Pemagangan Keterampilan Orang Asing (Contoh) (Tipe Pengawasan Asosiasi) Surat Perjanjian Kerja Sama Terkait Program Pemagangan Keterampilan Orang Asing (Contoh). dari negara. (selanjutnya disebut Lembaga Pengirim) dan. dari negara Jepang (selanjutnya

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARAWANG NOMOR : 13 TAHUN 2012 TENTANG PERUSAHAAN DAERAH BANK PERKREDITAN RAKYAT KABUPATEN KARAWANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARAWANG NOMOR : 13 TAHUN 2012 TENTANG PERUSAHAAN DAERAH BANK PERKREDITAN RAKYAT KABUPATEN KARAWANG Menimbang : a. PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARAWANG NOMOR : 13 TAHUN 2012 TENTANG PERUSAHAAN DAERAH BANK PERKREDITAN RAKYAT KABUPATEN KARAWANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KARAWANG, bahwa pembangunan

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 39 TAHUN 2005

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 39 TAHUN 2005 Menimbang LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 39 TAHUN 2005 PEMERINTAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 39 TAHUN 2005 TENTANG KETENTUAN POKOK PEGAWAI TIDAK TETAP DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN PURBALINGGA

Lebih terperinci

FORM QUALITY CONTROL SUHU MESIN PACKING (ISI TIAP 10 MENIT)

FORM QUALITY CONTROL SUHU MESIN PACKING (ISI TIAP 10 MENIT) LAMPIRAN 125 Lampiran 1 126 127 Lampiran 2 FORM QUALITY CONTROL SUHU MESIN PACKING (ISI TIAP 10 MENIT) Waktu MESIN NO MESIN NO MESIN NO VERTIKAL HORIZONTAL VERTIKAL HORIZONTAL VERTIKAL HORIZONTAL 0800

Lebih terperinci

Kode Perilaku VESUVIUS: black 85% PLC: black 60% VESUVIUS: white PLC: black 20% VESUVIUS: white PLC: black 20%

Kode Perilaku VESUVIUS: black 85% PLC: black 60% VESUVIUS: white PLC: black 20% VESUVIUS: white PLC: black 20% Kode Perilaku 2 Vesuvius / Kode Perilaku 3 Pesan dari Direktur Utama Kode Perilaku ini menegaskan komitmen kita terhadap etika dan kepatuhan Rekan-rekan yang Terhormat Kode Perilaku Vesuvius menguraikan

Lebih terperinci

Kode Etik Bisnis Pemasok Smiths

Kode Etik Bisnis Pemasok Smiths Kode Smiths Pengantar dari Philip Bowman, Kepala Eksekutif Sebagai sebuah perusahaan global, Smiths Group berinteraksi dengan pelanggan, pemegang saham, dan pemasok di seluruh dunia. Para pemangku kepentingan

Lebih terperinci

SK Rektor Nomor : 591/IKIPVET.H/Q/VII/2013 Tentang PERATURAN DISIPLIN KEMAHASISWAAN BAB I KETENTUAN UMUM. Pasal 1

SK Rektor Nomor : 591/IKIPVET.H/Q/VII/2013 Tentang PERATURAN DISIPLIN KEMAHASISWAAN BAB I KETENTUAN UMUM. Pasal 1 SK Rektor Nomor : 591/IKIPVET.H/Q/VII/2013 Tentang PERATURAN DISIPLIN KEMAHASISWAAN BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Disiplin Mahasiswa IKIP Veteran Semarang ini, yang dimaksud dengan : 1.

Lebih terperinci

15B. Catatan Sementara NASKAH REKOMENDASI TENTANG PEKERJAAN YANG LAYAK BAGI PEKERJA RUMAH TANGGA. Konferensi Perburuhan Internasional

15B. Catatan Sementara NASKAH REKOMENDASI TENTANG PEKERJAAN YANG LAYAK BAGI PEKERJA RUMAH TANGGA. Konferensi Perburuhan Internasional Konferensi Perburuhan Internasional Catatan Sementara 15B Sesi Ke-100, Jenewa, 2011 NASKAH REKOMENDASI TENTANG PEKERJAAN YANG LAYAK BAGI PEKERJA RUMAH TANGGA 15B/ 1 NASKAH REKOMENDASI TENTANG PEKERJAAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1997 TENTANG PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1997 TENTANG PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1997 TENTANG PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pembangunan nasional bertujuan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU NOMOR 9 TAHUN 2010 TENTANG ORGAN DAN KEPEGAWAIAN PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM KABUPATEN OGAN KOMERING ULU

PERATURAN DAERAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU NOMOR 9 TAHUN 2010 TENTANG ORGAN DAN KEPEGAWAIAN PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM KABUPATEN OGAN KOMERING ULU PERATURAN DAERAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU NOMOR 9 TAHUN 2010 TENTANG ORGAN DAN KEPEGAWAIAN PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM KABUPATEN OGAN KOMERING ULU Bagian Hukum Sekretariat Daerah Kabupaten Ogan Komering

Lebih terperinci

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA PERATURAN REKTOR UNIVERSITAS BRAWIJAYA NOMOR 536 TAHUN 2013 TENTANG

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA PERATURAN REKTOR UNIVERSITAS BRAWIJAYA NOMOR 536 TAHUN 2013 TENTANG KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA PERATURAN REKTOR UNIVERSITAS BRAWIJAYA NOMOR TAHUN 0 TENTANG TENAGA KEPENDIDIKAN TETAP NON PNS UNIVERSITAS BRAWIJAYA REKTOR UNIVERSITAS BRAWIJAYA

Lebih terperinci

SK Rektor Nomor : 591/IKIPVET.H/Q/VII/2013 Tentang PERATURAN DISIPLIN KEMAHASISWAAN BAB I KETENTUAN UMUM. Pasal 1

SK Rektor Nomor : 591/IKIPVET.H/Q/VII/2013 Tentang PERATURAN DISIPLIN KEMAHASISWAAN BAB I KETENTUAN UMUM. Pasal 1 SK Rektor Nomor : 591/IKIPVET.H/Q/VII/2013 Tentang PERATURAN DISIPLIN KEMAHASISWAAN BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Disiplin Mahasiswa IKIP Veteran Semarang ini, yang dimaksud dengan : 1.

Lebih terperinci

UU No. 8/1995 : Pasar Modal

UU No. 8/1995 : Pasar Modal UU No. 8/1995 : Pasar Modal BAB1 KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan: 1 Afiliasi adalah: hubungan keluarga karena perkawinan dan keturunan sampai derajat a. kedua, baik

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2003 TENTANG PERATURAN DISIPLIN ANGGOTA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2003 TENTANG PERATURAN DISIPLIN ANGGOTA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2003 TENTANG PERATURAN DISIPLIN ANGGOTA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG KEPEGAWAIAN BADAN NARKOTIKA NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG KEPEGAWAIAN BADAN NARKOTIKA NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG KEPEGAWAIAN BADAN NARKOTIKA NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL, Menimbang : a. bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1979 TENTANG PEMBERHENTIAN PEGAWAI NEGERI SIPIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, MEMUTUSKAN :

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1979 TENTANG PEMBERHENTIAN PEGAWAI NEGERI SIPIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, MEMUTUSKAN : PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1979 TENTANG PEMBERHENTIAN PEGAWAI NEGERI SIPIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa ketentuan-ketentuan mengenai pemberhentian Pegawai

Lebih terperinci

K189 Konvensi tentang Pekerjaan Yang Layak bagi Pekerja Rumah Tangga, 2011

K189 Konvensi tentang Pekerjaan Yang Layak bagi Pekerja Rumah Tangga, 2011 K189 Konvensi tentang Pekerjaan Yang Layak bagi Pekerja Rumah Tangga, 2011 2 K-189: Konvensi tentang Pekerjaan Yang Layak bagi Pekerja Rumah Tangga, 2011 K189 Konvensi tentang Pekerjaan Yang Layak bagi

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2003 TENTANG PERATURAN DISIPLIN ANGGOTA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2003 TENTANG PERATURAN DISIPLIN ANGGOTA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2003 TENTANG PERATURAN DISIPLIN ANGGOTA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

ASOSIASI AHLI MANAJEMEN ASURANSI INDONESIA

ASOSIASI AHLI MANAJEMEN ASURANSI INDONESIA ANGGARAN RUMAH TANGGA ASOSIASI AHLI MANAJEMEN ASURANSI INDONESIA BAB I PENERIMAAN DAN PENGANGKATAN ANGGOTA Pasal 1 1. Permintaan untuk menjadi anggota, dilakukan secara tertulis dan disampaikan kepada

Lebih terperinci