Akses untuk Keadilan bagi Masyarakat yang Terkena Dampak Pertambangan PT Weda Bay Nickel Laporan Sementara

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Akses untuk Keadilan bagi Masyarakat yang Terkena Dampak Pertambangan PT Weda Bay Nickel Laporan Sementara"

Transkripsi

1 Akses untuk Keadilan bagi Masyarakat yang Terkena Dampak Pertambangan PT Weda Bay Nickel Laporan Sementara Shelley Marshall Samantha Balaton-Chrimes Omar Pidani Proyek Mekanisme Non-Yudisial Yang Mengatur Perilaku Perusahaan Terhadap Hak Asasi Manusia

2 Akses untuk Keadilan bagi Masyarakat yang Terkena Dampak Pertambangan PT Weda Bay Nickel Laporan Sementara Proyek Mekanisme Non-Yudisial yang Mengatur Perilaku Perusahaan Terhadap Hak Asasi Manusia Oktober 2013

3 Terkecuali ada catatan dalam referensi, laporan ini 2013 Shelley Marshall, Samantha Balaton-Chrimes dan Omar Pidani, Di bawah lisensi Creative Commons Attribution-Shwilayahlike:

4 Daftar Isi Tentang Laporan Ini... i Ucapan Terima Kasih... iv Ringkasan Eksekutif... v Metodologi... ix Pendahuluan... 1 Latar Belakang... 5 Hilangnya Lahan Analisis Akses Keadilan Kesimpulan Rekomendasi Lampiran Satu: Pelanggaran Persetujuan dan Konsultasi yang Bebas Tanpa Paksaan, Dilakukan di Awal, dan Terinformasi di Bawah Standar IFC Lampiran Dua: Ketaatan PT Weda Bay Nickel terhadap Standar Ketentuan Kinerja IFC yang terkait dengan Penelantaran Ekonomi dan Kompensasi LampiranTiga: Ringkasan Peraturan Pengadilan Konstitusional 35/PUU-X/ Daftar Pustaka... 74

5 Tentang Laporan Ini Proyek Non-Yudisial yang Mengatur Perilaku Perusahaan Terhadap Hak Asasi Manusia Laporan sementara ini menyajikan temuan-temuan dari studi yang mengevaluasi akses untuk keadilan bagi masyarakat yang terkena dampak proyek PT Weda Bay Nickel di Halmahera Tengah, Maluku Utara, Indonesia. Laporan ini merupakan laporan publik pertama dari serangkaian kegiatan penelitian yang diselenggarakan di bawah proyek payung yang bertema Mekanisme Non-Yudisial yang Mengatur Perilaku Perusahaan Terhadap Hak Asasi Manusia (Non-Judicial Human Rights Mechanisms Project), dan akan diikuti dengan laporan akhir pada akhir Laporan sementara ini merupakan tahapan awal untuk menyajikan temuan awal dan mengumpulkan masukan-masukan dari berbagai pihak yang diwawancarai serta mereka yang kepentingannya terkait di dalam studi ini. Semoga cerita dalam laporan di seputar persoalan pengelolaan lahan yang berkaitan dengan proyek PT Weda Bay Nickel ini, bisa ditampilkan pada forum yang lebih luas. Studi PT Weda Bay Nickel merupakan salah satu dari dua belas studi kasus yang dilaksanakan untuk proyek penelitian akademis ini.tujuan utama proyek ini adalah untuk mengevaluasi efektifitas mekanisme non-yudisial kompensasi hak asasi manusia lintas negara, seperti Ombudsman (CAO)International Finance Corporation (IFC), Pihak Penghubung Nasional (National Contact Point-NCP) OECD, serta mekanisme sejenis lainnya. Dengan demikian, proyek ini diharapkan dapat berkontribusi untuk memenuhi kebutuhan mendesak dari para pekerja dan masyarakat, dengan merekomendasikan cara-cara yang lebih efektif untuk pembelaan hak asasi manusia bagi mereka yang terugikan oleh usaha lintas negara yaitu usaha yang beroperasi di luar negara asalnya. Proyek Mekanisme Non-Yudisial yang Mengatur Perilaku Perusahaan Terhadap Hak Asasi Manusia akan menyajikan laporan akhirnya di akhir tahun Organisasi yang terlibat: The University of Melbourne Monash University The University of Newcastle Deakin University Victoria University Kate Macdonald, Fiona Haines Shelley Marshall Tim Connor Samantha Balaton-Chrimes Annie Delaney i

6 University of Essex Sheldon Leader ActionAid Australia Federation of Homeworkers Worldwide The Corporate Responsibility Coalition (CORE), UK Koordinator Shelley Marshall Dr Kate MacDonald Pendanaan Penelitian ini didanai oleh Australian Research Council, dan didukung oleh rekan-rekan LSM, termasuk ActionAid Australia, Federation of Homeworkers Worldwide, University of Essex, dan Koalisi CORE (Inggris). Para Penulis Laporan Shelley Marshall, Dosen Senior Monash University Dr Samantha Balaton-Chrimes, Dosen Deakin University Omar Pidani, Kandidat PhD Australian National University ii

7 iii

8 Ucapan Terima Kasih Para penulis menghaturkan ucapan terima kasih pada Sarah Rennie atas penelitian hukum tambahan yang menjadi acuan dalam laporan ini. iv

9 Ringkasan Eksekutif Laporan sementara ini menemukan bahwa kelompok masyarakat suku Sawai dan Tobelo Dalam yang terkena dampak proyek PT Weda Bay Nickel, hingga saat ini, belum mendapatkan penghormatan atas hak mereka untuk mendapatkan konsultasi dan memberikan persetujuan yang bebas tanpa paksaan, dilakukan di awal dan terinformasi, sebagaimana yang diterapkan oleh standar hak asasi manusia (HAM) internasional, dan Standar Kinerja IFC. Kompensasi yang mereka dapatkan untuk melepaskan hak atas lahan tidak layak, tidak sesuai dan tidak sejalan dengan norma -norma internasional; mereka juga tidak memiliki akses untuk mendapatkan kompensasi melalui mekanisme yudisial atau non-yudisial untuk penanganan keluhan yang ada. Hak adat mereka atas lahan belum mendapatkan penghormatan sebagaimana mestinya. Tindakan untuk menyelesaikan pelanggaran-pelanggaran tersebut sangat diperlukan sebelum mulainya tahap ekstraksi. Profil Proyek Kontrak Karya Generasi VII PT Weda Bay Nickel ditandatangani pada tanggal 19 Januari 1998, dan berlaku untuk kurun waktu 30 tahun. Deposit nikel yang berlokasi di Pulau Halmahera merupakan bagian dari deposit nikel laterit terbesar di dunia yang belum dikembangkan, dengan potensi ekstraksi sebesar 500 juta ton. Pemegang saham utama Strands Mineral, Grup ERAMET, adalah perusahaan Prancis yang beroperasi di bidang pertambangan, pengolahan dengan teknik metalurgi di seluruh dunia. ERAMET berperan besar dalam operasional harian proyek PT Weda Bay Nickel. Penelantaran Ekonomi Kelompok masyarakat Sawai yang terkena dampak proyek ini telah kehilangan akses atas lahan budidaya hutan yang telah mereka garap selama beberapa generasi. Hilangnya akses ini menyebabkan mereka kehilangan sumber penghidupan utama. Proyek PT Weda Bay tidak mengharuskan anggota kelompok masyarakat Sawai untuk pindah, tapi inipun tidak mengurangi penelantaran ekonomi mereka. Pembebasan lahan tidak terjadi secara sukarela. Sebaliknya, PT Weda Bay Nickel dan pemerintah lokal menekan anggota masyarakat sedemikian rupa sehingga mereka tidak memiliki pilihan lain selain melepaskan hak atas lahan, dan perusahaan boleh jadi akan menempuh jalur resmi untuk mengambil lahan secara paksa jika mereka terus melakukan perlawanan. Hal ini jelas merupakan penelantaran ekonomi, dan dengan demikian, sesuai dengan Standar Kinerja IFC 5 dan 7, membutuhkan proses konsultasi yang intensif, disertai dengan kompensasi yang sesuai dan dalam bentuk yang tepat. v

10 Perubahan terkini di dalam aturan perundang-undangan di Indonesia dapat menjadi kesempatan untuk perlindungan lahan adat, sehingga penelantaran ekonomi dapat terhindarkan. Hak untuk Konsultasi dan Persetujuan yang Bebas Tanpa Paksaan, Dilakukan di Awal dan Terinformasi Masyarakat terdampak seharusnyamemiliki hak untuk konsultasi yang bersifat bebas tanpa paksaan, dilakukan di awal dan terinformasi, serta hak untuk memberikan persetujuan yang terkait dengan pengubahan hak mereka atas lahan yang disebabkan oleh proyek. Persetujuan yang bebas tanpa paksaan, dilakukan di awal dan terinformasi merupakan prinsip yang dijunjung tinggi, bagi kepentingan masyarakat adat, oleh International Finance Corporation (IFC) yang tercakup dalam Standar Kinerja ke-7, yang berlaku karena proyek ini dijamin oleh Grup Bank Dunia, Multilateral Investment Guarantee Agency (MIGA). Standar Kinerja ke-5 selanjutnya menyatakan bahwa meskipun perusahaan mungkin memiliki jalur resmi untuk mengambil alih lahan tanpa persetujuan, perusahaan harus terlibat dalam negosiasi yang dilandasi dengan itikad baik dengan mereka yang memiliki hak atas lahan tersebut. Selain itu, PT Weda Bay Nickel juga telah berkomitmen pada prinsip persetujuan yang bebas tanpa paksaan, dilakukan di awal dan terinformasi. Ketidakcukupan Informasi dan Konsultasi untuk Persetujuan Kompensasi Studi kami menemukan bahwa proses-proses yang ditawarkan kepada masyarakat terkait untuk pengambilalihan lahan, dikomunikasikan kepada mereka yang terkena dampak sebagai ketentuan yang mau tidak mau harus diterima (fait accompli). Benar bahwa ada negosiasi terbatas untuk membahas tentang jumlah kompensasi, tapi bukan untuk mendapatkan persetujuan masyarakat untuk melepaskan hak atas lahan untuk memuluskan jalan bagi proyek tersebut. Tawaran kompensasi bagi masyarakat ini ditentukan secara sepihak dan ditawarkan dengan ketentuan lebih baik ambil daripada tidak dapat apa-apa. Anggota masyarakat tidak mendapatkan informasi yang memadai tentang isi kesepakatan yang telah mereka tanda tangani atau dampak yang dapat diakibatkan oleh proyek, sehingga mereka dimungkinkan untuk memberikan persetujuan yang terinformasi. Tekanan dan Intimidasi Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menemukan bahwa anggota Korps Brigade Mobil (BRIMOB), polisi paramiliter Indonesia, terlibat dalam menekan dan mengintimidasi anggota masyarakat agar menandatangani kesepakatan. vi

11 Komisi juga menemukan bahwa salah seorang staf PT Weda Bay Nickel yang mengancam anggota masyarakat karena ia tidak menandatangani kesepakatan. Penelitian kami menemukan bahwa beberapa keluarga terpaksa menandatangani karena merasa tidak memiliki pilihan lain. Kompensasi yang Tidak Layak dan Tidak Sesuai PT Weda Bay Nickel telah menawarkan harga Rp. 8,000,- per meter persegi (sama dengan USD 0.79 atau EUR 0.6 per meter persegi ) ditambah kompensasi untuk tanaman, pada masyarakat yang lahannya masuk dalam wilayah dekat konstruksi. Jumlah ini, bukan hanya sangat rendah, tapi penyediaan kompensasi dalam bentuk tunai ini juga tidak sejalan dengan norma internasional karena tidak dapat memberikan jaminan perlindungan bagi masyarakat atas dampak negatif proyek, serta tidak sejalan dengan ketentuan kompensasi yang bisa menggantikan dan memperbaiki penghidupan yang hilang. Dugaan Korupsi Komnas HAM menemukan bahwa proses penilaian lahan milik untuk menentukan nominal kompensasi per meter lahan budidaya diwarnai korupsi oleh birokrasi terkait. Akses Keadilan yang Terbatas di Indonesia Beberapa anggota masyarakat yang merasa dirugikan dan mengadu pada Komnas HAM, menghasilkan temuan-temuan yang memprihatinkan dan rekomendasi-rekomendasi untuk berbagai pihak terkait. Hanya satu dari berbagai rekomendasi-rekomendasi ini yang telah terlaksana. Unit Pengaduan Kompensasi PT Weda Bay Nickel, meskipun siap untuk menghadapi pengaduan ringan, bukanlah jalur yang tepat untuk melakukan pengaduan kelas kakap seperti permasalahan lahan dan kesepakatan kompensasi. Akses Terbatas untuk Keadilan di Luar Indonesia Di luar yurisdiksi Indonesia, keluhan telah disampaikan kepada CAO IFC pada bulan Juli 2010 CAO (bagian Ombudsman) melakukan kunjungan penilaian pada tahun 2011 untuk mengevaluasi kemungkinan penyelesaian pengaduan melalui mediasi dan cara-cara penyelesaian sengketa lainnya, tapi anggota masyarakat sangat khawatir akan keselamatan pribadi, sehingga mereka memilih untuk tidak berpartisipasi dalam upaya-upaya tersebut. vii

12 Bagian Compliance CAO tidak melakukan tindak lanjut audit pengaduan tentang keputusan MIGA untuk mendukung PT Weda Bay Nickel, dengan alasan bahwa masih terlalu dini untuk melaksakan audit dalam proyek yang baru berada di tahap awal. Kami menyimpulkan bahwa jika ada pengaduan lebih lanjut saat ini, CAO sebaiknya mempertimbangkan untuk melaksanakan audit atas dasar pelanggaran Standar Kinerja IFC dalam pengambilalihan lahan, kompensasi dan hak-hak masyarakat adat. Rekomendasi Laporan ini membuat beberapa rekomendasi bagi PT Weda Bay Nickel, pemerintah Indonesia pada tingkatan yang berbeda, dan organisasi masyarakat sipil mengenai upaya-upaya untuk memastikan agar hak-hak adat masyarakat terdampak dapat dihormati dan hak untuk memberikan persetujuan yang bebas tanpa paksaan, dilakukan di awal dan terinformasi serta hak konsultasi dipenuhi sebelum dimulainya tahap ekstraksi. Laporan ini menyimpulkan bahwa belum terlambat untuk memulihkan masalah-masalah yang teridentifikasi dalam laporan ini. Saat ini adalah waktu yang tepat untuk memperbaharui langkah-langkah bagi semua pihak untuk memastikan bahwa keluhan dan berbagai ketidakadilan yang susah diperbaiki dapat dihindari. viii

13 Metodologi Laporan sementara ini merupakan hasil dari penelitian sistematis dan analisis yang dilakukan selama lebih dari satu tahun oleh para peneliti di dalam proyek ini. Temuan-temuan di dalam laporan ini didasarkan pada penelitian ekstensif dari sumber informasi primer dan sekunder yang terkumpul melalui penelitian dalam negeri di Indonesia, serta komunikasi berkelanjutan dengan pemimpin masyarakat, aktivis HAM dan lingkungan hidup, dan pihak-pihak yang berpengetahuan luas tentang proyek beserta dampaknya. Laporan sementara ini akan diterbitkan secara publik dan diedarkan untuk mendapatkan masukan dari mereka yang diwawancara, dan mereka yang memiliki pengetahuan tentang dampak sosial pertambangan di Indonesia. Penerbitan laporan merupakan langkah penting untuk memverifikasi data yang terkumpul selama ini. Dengan mensosialisasikan temuan-temuan awal, kami juga mengharapkan masukan dari para pemangku kepentingan. Jika sesuai, komentar akan disertakan dalam laporan akhir yang akan terbit pada akhir tahun Laporan ini terfokus pada dampak PT Weda Bay Nickel di tiga desa kelompok masyarakat suku Sawai: Lelief Sawai, Lelief Woebullen dan Gemaf, semuanya berada di dalam wilayah PT Weda Bay Nickel. Penelitian ini juga mencakup sukutobelo Dalam, masyarakat adat yang terisolasi dan hidup nomaden di dalam wilayah hutan Halmahera, termasuk di dalam wilayah PT Weda Bay Nickel. Meskipun tidak menjadi fokus laporan, laporan ini juga merasa perlu untuk mencakup kelompok masyarakat lain yang juga terpengaruh oleh proyek ini, yakni Sagea, sebuah desa Sawai yang terletak dekat dengan wilayah pertambangan. Laporan ini diluncurkan sebelum tahap ekstraksi pertambangan dimulai dengan harapan bahwa informasi yang disediakan pada tahap ini dapat dimanfaatkan oleh para pemangku kepentingan untuk mencegah terjadinya kerusakan yang tidak dapat diperbaiki. Fokus tematik dalam laporan sementara ini adalah akses untuk keadilan.kami tidak bermaksud untuk membuktikan atau menyangkal pelanggaran-pelanggaran hak asasi manusia yang belum ditangani baik oleh PT Weda Bay Nickel atau mekanisme kompensasi HAM lainnya. Secara khusus, laporan ini difokuskan pada keluhan-keluhan tentang kurangnya konsultasi dan ketiadaan persetujuan yang bebas tanpa paksaan, dilakukan di awal dan terinformasi dalam konteks pengambilalihan hak lahan kelompok masyarakat suku Sawai di desa-desa seperti Lelilef Woebulen, Lelilef Sawai, Gemaf, dan Tobelo Dalam; kompensasi yang tidak layak dan tidak sesuai bagi penduduk desa Sawai yang mengalami penelantaran ekonomi. Laporan ini menggunakan pendekatan metode campuran untuk melakukan triangulasi data. Tiga peneliti, termasuk satu orang asisten peneliti dari Indonesia yang melakukan penafsiran dan terjemahan, mengunjungi Indonesia pada Mei 2013, menghabiskan dua setengah minggu di Maluku Utara dan satu minggu di Jakarta, ditambah dengan kunjungan tambahan salah satu peneliti pada bulan Juni. Totalnya, kami melakukan lebih dari 35 wawancara, atau diskusi kelompok (FGD) dengan lebih dari ix

14 60 orang. Ini termasuk staf PT Weda Bay Nickel, warga desa yang terkena dampak tapi telah menerima paket kompensasi, warga desa yang menentang, kepala desa Lelilef Woebulen, Lelilef Sawai dan Gemaf, pejabat pemerintah di tingkat Kabupaten, Provinsi dan Nasional serta aktivis dan staf LSM yang memprotes proyek. Wawancara berlangsung di Jakarta, Ternate, Weda, Gemaf, Lilief Woebulen, dan situs proyek PT Weda Bay; dan wawancara lain berlangsung di Washington D.C. dan melalui Skype dengan pakar internasional selama tahun Wawancara dilakukan dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, dan pada saat diperlukan juga menggunakan penterjemah. Wawancara didokumentasi dalam catatan tertulis dan perekam suara, ditambah dengan foto yang disetujui partisipan. Anggota tim penelitian menjunjung standar etika tertinggi dan pelaksanaan professional, termasuk mematuhi kewajiban professional seperti yang dipaparkan oleh Komite Etika Penelitian Manusia di University of Melbourne. Sebagai tambahan, peneliti juga melaksanakan analisis dokumentasi ekstensif dari dokumen pribadi maupun publik yang bisa diperoleh, termasuk artikel surat kabar, majalah perusahaan, penilaianpenilaian badan hukum dan quasi-hukum, dan seterusnya. Demi melindungi keamanan beberapa narasumber, kami tidak menggunakan kutipan langsung yang bisa digunakan untuk mengidentifikasi mereka. Pertimbangan khusus harus dilakukan untuk menyediakan tempat yang aman untuk pelaksanaan wawancara bagi para partisipan yang telah mengadukan PT Weda Bay Nickel, dan merasa takut akan konsekuensi negatif yang dapat menimpa mereka dari perusahaan, pemerintah lokal atau tetangga jika mereka terlihat bicara menentang perusahaan. Penelitian dan penulisan laporan ini telah dilaksanakan dengan kemandirian akademis, dan tidak ada dukungan dana yang telah diterima dari siapapun akan mempengaruhi temuan-temuannya. x

15 Pendahuluan Saat ini merupakan momen penting dalam perkembangan pertambangan PT Weda Bay Nickel. Walaupun laporan ini meningkatkan keprihatinan tentang pelanggaran norma internasional, laporan ini juga menemukan bahwa belum terlambat untuk membatasi kemungkinan terjadinya pelanggaranpelanggaran yang dapat memberikan dampak permanen. Masih ada waktu untuk menghormati hak lahan adat masyarakat yang akan mengalami penelantaran ekonomi oleh pertambangan berdasarkan rencana dan kesepakatan saat ini, karena belum ada keputusan tentang investasi sehingga tahap ekstraksi juga belum dimulai. Laporan ini menyajikan dampak sosial dan hak asasi manusia proyek PT Weda Bay Nickel, konsensi pertambangan yang meliputi porsi signifikan dari Halmahera di Provinsi Maluku Utara, di kepulauan Maluku. Pulau Halmahera ada di bagian timur Indonesia, km dari Jakarta, 600 km sebelah selatan Filipina dan km utara Darwin. Blok habitat ekstensif masih menutupi pulau ini, dan sekitar 80 persen dari 3,1 juta hektar lahannya masih tertutup hutan primer Keindahan alami Kepulauan Maluku sebegitu indahnya sampai gambarnya dicetak di uang Rp. 1,000,- Indonesia dan keindahan faunanya menginspirasi seorang ahli biologi muda bernama Wallace untuk mengembangkan teori evolusi pada saat yang sama dengan Darwin. Pulau Halmahera merupakan salah satu Pulau Rempah orisinil yang pernah diburu untuk bunga pala, pala, cengkeh, dan merica, yang menyebabkan terjadinya Perang Rempah. Pada akhir perang ini, di tahun 1667, Belanda dan Inggris bersepakat dalam perjanjian yang disebut Perjanjian Breda. Dalam perjanjian tersebut, Belanda melepas Pulau Manhattan yang tidak berguna nun jauh di sana, sebagai gantinya Inggris menyerahkan pulau tetangga Halmahera, yaitu Pulau Run. Dengan demikian, Belanda mendapatkan kendali penuh untuk produksi pala di Nusantara. Sekarang Kepulauan Maluku diburu untuk hasil mineralnya, bukan lagi rempah-rempahnya. Pada tanggal 19 Januari 1998, izin pertambangan yang kontroversial ditandatangani oleh Presiden Soeharto, yaitu perjanjian Kontrak Karya PT Weda Bay Nickel Generasi VII. Menurut ERAMET, pemegang saham terbesar perusahaan itu, deposit nikel yang terdapat di Pulau Halmahera adalah bagian dari deposit nikel laterit terbesar di dunia yang belum dikembangkan, dengan potensi cadangan sebesar 500 juta ton nikel. 1 Proyek ini telah dan akan terus menyebabkan sejumlah dampak sosial negatif pada masyarakat yang terkena dampak, termasuk empat desa di wilayah pesisir dimana masyarakat suku Sawai bermukim, dan masyarakat adat Tobelo Dalam yang hidup secara nomaden di wilayah hutan yang termasuk ke dalam wilayah izin PT Weda Bay Nickel. Masyarakat yang lokasinya paling dekat dengan infrastruktur pertambangan kehilangan akses atas lahan budidaya yang merupakan sumber utama 1 Peter McLatchie, "Weda Bay Minerals Inc. Emerging Nickel Producer Presentation to Potential Investors," (Sydney: Sydney Mining Club, 2006). 1

16 penghidupan mereka. Laporan ini mencoba untuk memahami apakah anggota masyarakat yang terkena dampak proyek ini, sudah mendapatkan akses untuk keadilan yang layak, yang dipahami sebagai peluang yang bermakna untuk mengekspresikan keprihatinan mereka tentang proyek dengan bebas dan mendapatkan penyelesaian atas keprihatinan-keprihatinan tersebut. Laporan pelanggaran-pelanggaran serius hak asasi manusia yang dialami oleh masyarakat terdampak proyek terkait dengan kegagalan perusahaan untuk melakukan konsultasi dan mendapatkan persetujuan yang bebas tanpa paksaan, dilakukan di awal dan terinformasi sebelum terjadinya pengambilalihan lahan, dan tidak layaknya paket kompensasi yang ditawarkan oleh PT Weda Bay Nickel atas penelantaran ekonomi bagi tiga desa Sawai: Lelilef Woebulen, Lelilef Sawai dan Gemaf. Paket kompensasi tidak seusai dengan sejumlah norma internasional dan standar mengenai kompensasi. Keprihatinan yang muncul dalam laporan ini terefleksikan dalam temuan Komnas HAM di tahun Secara khusus, laporan ini mengemukakan kekhawatiran bahwa perusahaan belum menyediakan informasi yang cukup bagi masyarakat tentang kemungkinan dampak sosial, ekonomi dan lingkungan hidup sehingga warga tidak dapat membuat keputusan yang bijak tentang pelepasan lahan mereka. Juga tidak ada penjelasan tentang implikasi legal dari perjanjian yang telah ditandatangani sehingga tidak ada kejelasan tentang kompensasi. Peneliti melakukan kajian rinci atas laporan perusahaan, juga wawancara dengan pekerja di PT Weda Bay Nickel dan anggota masyarakat. Penjelasan lengkap metodologi penelitian adalah sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya. Kesenjangan bukti yang tersisa adalah tentang konsultasi apa yang sebenarnya telah dilakukan dengan masyarakat suku Sawai dan apakah konsultasi tersebut telah sesuai dengan kaidah-kaidah standar konsultasi yang bebas tanpa paksaan, dilakukan di awal dan terinformasi dan kaidah-kaidah konsultasi yang dilandasi dengan itikad baik. Terdapat kesenjangan informasi tentang dampak proyek di masa mendatang bagi masyarakat Tobelo Dalam. Bukti yang ada menunjukkan bahwa PT Weda Bay Nickel melanggar prinsip persetujuan yang bebas tanpa paksaan, dilakukan di awal, dan terinformasi, konsultasi yang dilandasi dengan itikad baik dan standar-standar kompensasi. PT Weda Bay menolak tuduhan ini, tetapi tidak mampu menunjukkan pemenuhan standar atas norma-norma internasional, standar Kinerja IFC tentang konsultasi yang bebas tanpa paksaan, dilakukan di awal dan terinformasi, dan standar kompensasi. PT Weda Bay menggambarkan dirinya sebagai perusahaan yang progresif, bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan serta memberikan kontribusi penting bagi pembangunan di wilayah Indonesia Timur. Akan tetapi, laporan ini mendapatkan bukti-bukti akurat bahwa perusahaan tidak mampu memenuhi kewajibannya dalam persoalan lahan. Hal ini merupakan hal yang terpenting di dalam konteks hubungan masyarakat. Meskipun perusahaan telah mencoba untuk mengangkat isu ini di dalam program-program tanggung jawab sosial perusahaan dan penilaian dampak lingkungan dan sosialnya, hal tersebut tidak menghilangkan kewajiban perusahaan untuk melakukan konsultasi secara adil dengan, mendapatkan persetujuan dari, dan memberikan kompensasi untuk masyarakat terdampak. 2

17 Laporan ini merekomendasikan PT Weda Bay Nickel untuk menerbitkan laporan lengkap tentang sejarah tindakannya sehubungan dengan lahan masyarakat. Publikasi AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup, penilaian dampak yang disyaratkan pemerintah Indonesia), dokumentasi dari konsultasi yang pernah dilakukan, serta ESHIA (penilaian dampak yang disyaratkan MIGA) harus tersedia dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Demikian pula dengan pokok-pokok pembicaraan yang pernah dilakukan masyarakat suku Sawai dan Tobelo Dalam harus dikomunikasikan dalam bahasa yang sederhana, dalam cara yang dapat dipahami oleh kelompok masyarakat-masyarakat tersebut. Hal penting lainnya yang diusulkan laporan ini adalah supaya perusahaan melakukan negosiasi ulang tentang kompensasi dan pengalihan hak lahan. Industri pertambangan di Indonesia banyak diwarnai kontroversi dan ketidakpastian dalam negosiasi ulang kontrak karya dan desentralisasi wewenang politik. Konflik berkelanjutan dan keluhan tentang kompensasi mengancam kestabilan operasi dan reputasi perusahaan. Ada sejumlah contoh di Indonesia dimana konflik-konflik serupa membuat situasi menjadi semakin parah berkaitan dengan dukungan politik pertambangan di tingkat lokal, regional, dan nasional. 2 PT Weda Bay Nickel mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan kepemimpinannya dalam menjunjung standar hak asasi manusia internasional dengan memastikan adanya persetujuan yang bebas tanpa paksaan, dilakukan di awal dan terinformasi, konsultasi dilandasi dengan itikad baik, dan kompensasi yang adil sebelum pertambangan mulai beroperasi. Dalam sistem legal yang berfungsi dengan baik, saat individu atau masyarakat yakin bahwa hak mereka telah dilanggar oleh perusahaan atau keputusan pemerintah, mereka bisa menuntut keputusan tersebut melalui pengadilan tata usaha negara, komisi yudisial, pengadilan arbitrasi atau mediasi. Dengan berbagai alasan, hingga kini anggota masyarakat tidak dapat melakukan klaim legal dari keadaan ini. Laporan ini juga menginvestigasi mekanisme pengaduan dan penyelidikan yang dilakukan oleh Komnas HAM, CAO IFC dan Unit Pengaduan Kompensasi PT Weda Bay Nickel. Laporan ini menyimpulkan semua jalur gagal menyediakan akses untuk masyarakat yang dirugikan oleh kegiatan PT Weda Bay Nickel. Meskipun terdapat banyak temuan tentang pelanggaran hak asasi manusia dan kemungkinan pelanggaran hukum Indonesia, Komnas HAM tidak memiliki cukup kekuasaan untuk penegakan hukum. Sebagai akibatnya, rekomendasinya seringkali diabaikan oleh sebagian besar penerima pengaduan. CAO IFC juga telah melakukan penilaian. Namun karena Tim Ombudsman tidak mampu menjamin keamanan masyarakat jika mereka terlibat dalam mediasi dengan perusahaan, dan tidak mampu mendapatkan jalan lain yang kreatif untuk mediasi, maka aktivitas tim ini bukan merupakan intervensi positif atas permasalahan hak asasi manusia. Tim Compliance CAO memilih untuk tidak melakukan tinjauan 2 Lihat studi kasus dalam Chris Ballard, "Human Rights and the Mining Sector in Indonesia: A Baseline Study," dalam Working Paper Mining, Minerals and Sustainable No 182 (London: International Institute for Environment and Development, 2001). 3

18 kesepakatan, dan sebaliknya berharap agar tinjauan dampak dapat mengungkap pelanggaran atas Standar Kinerja IFC. Tidak adanya perlindungan hak-hak masyarakat adat di Indonesia ditambah dengan kegagalan penegakan hukum melalui mekamisme yudisial yang independen menjadikan upaya masyarakat lokal untuk mendapatkan kompensasi melalui pengadilan lokal hampir tidak mungkin untuk dilakukan. Unit Pengaduan Kompensasi PT Weda Bay Nickel bukan merupakan forum yang tepat untuk menangani pengaduan besar seperti yang kita diskusikan di sini. Oleh karena itu, laporan ini juga merupakan seruan pada mekanisme kompensasi dan khususnya bagi pihak CAO IFC, untuk meninjau prosedur mereka dan menjadikannya lebih optimal dalam melindungi hak masyarakat yang rentan terhadap dampak proyek. Laporan sementara ini disusun dengan struktur sebagai berikut. Pertama, latar belakang informasi proyek ini dan sejarah perkembangan proyek dan deskripsi masyarakat yang terdampak proyek. Bagian selanjutnya adalah sajian naratif dari beragam proses yang terkait dengan pengambilalihan hak atas lahan dan pemberian kompensasi untuk masyarakat yang terdampak. Hal ini kemudian diikuti dengan analisis atas kegagalan PT Weda Bay Nickel untuk memenuhi standar permintaan persetujuan yang bebas tanpa paksaan, dilakukan di awal dan terinformasi, melakukan konsultasi, serta memberikan kompensasi. Laporan dilanjutkan dengan analisis beragam mekanisme kompensasi yang telah diusahakan oleh anggota masyarakat yang terdampak. Laporan diakhiri dengan kesimpulan beserta sejumlah rekomendasi untuk PT Weda Bay Nickel dan aktor-aktor yang terlibat di dalamnya. 4

19 Latar Belakang Proyek PT Weda Bay Nickel Para Pemegang Saham Strand Minerals memiliki 90% saham PT Weda Bay Nickel, dan 10% sisanya dimiliki oleh PT Antam (Aneka Tambang). Pemerintah Indonesia merupakan 65% pemilik PT Antam. Pemegang saham utama Strands Mineral, Grup ERAMET, adalah perusahaan Prancis yang beroperasi di sektor pertambangan dan pengolahan dengan pemrosesan dengan teknik metalurgi di seluruh dunia. ERAMET mendapatkan mayoritas saham PT Weda Bay Nickel pada bulan Mei Sejak itu, ERAMET getol membiayai dan mengembangkan studi ekstensif untuk memastikan kelayakan teknis dan lingkungan untuk proyek skala besar ini. Menurut website proyek, ERAMET akan menanam modal sekitar USD 450 juta dalam proyek ini sebelum memutuskan untuk berinvestasi di tahapan ekstraksi dalam proyek ini. 3 Mitsubishi Corporation, sebuah perusahaan Jepang, juga memiliki 30% dari saham Strand Mineral sehingga menjadi pemegang saham kedua terbesar. Undang-undang baru di Indonesia tentang divestasi telah menyebabkan ketidakpastian bagi pemegang saham asing. Jikadi bawah proses renegosiasi yang telah berlangsung di sepanjang tahun 2013, Kontrak Karya PT Weda Bay Nickel harus disesuaikan dengan hukum yang sekarang, maka pemegang saham asing harus berkurang sampai maksimal 49% setelah 10 tahun produksi pertama, dengan proses divestasi dimulai setelah 5 tahun. Keterlibatan Bank Dunia Tahapan eksplorasi dan studi kelayakan proyek mendapatkan jaminan dari MIGA sejumlah USD 207 juta. Mandat MIGA adalah mempromosikan Foreign Direct Investment (FDI) dengan menyediakan jaminan resiko politik yang disebabkan oleh faktor-faktor non-komersial bagi investor dan pemberi pinjaman. Jaminan ini diberikan kepada Strand Mineral bagi investasi modalnya untuk proyek PT Weda Bay Nickel. Jaminan MIGA juga meliputi eksplorasi dan tahap kelayakan proyek ini, berlaku sampai 3 tahun, disertai jaminan tidak adanya resiko larangan pemindahan, penyitaan, pelanggaran kontrak, serta gangguan perang dan sipil. Persetujuan Dewan MIGA saat ini terbatas pada tahap eskplorasi dan kelayakan proyek. Partisipasi MIGA dalam konstruksi dan operasional mensyaratkan kesuksesan penyelesaian 13 studi yang membahas dampak sosial dan lingkungan proyek ini, ditambah due diligence, pertanggungan dan persetujuan Dewan yang terpisah. 3 Website perusahaan PT Weda Bay Nickel, diakses pada 15 September

20 Terdapat kemungkinan PT Weda Bay Nickel akan mencari dukungan lebih lanjut dari MIGA untuk tahap konstruksi dan operasional pada tahun Perkiraan Produksi dan Daur Hidup Pertambangan Dalam wilayah Kontrak Karya juga terdapat banyak batuan ultrabasa, yang merupakan sumber nikel dan kobalt laterit yang ditemukan oleh perusahaan. Para pemegang saham di PT Weda Bay Nickel berharap dengan adanya kandungan sebanyak 7 juta ton, maka pertambangan tersebut dapat berjalan selama 50 tahun. Setelah ekstraksi awal dengan total 35,000 ton nikel dan 1,300 ton kobalt, tujuan selanjutnya adalah untuk meningkatkan produksi sampai 65,000 ton nikel dan 4,000 ton kobalt. Sebagian besar wilayah yang prospektif belum digali dan diharapkan total sumberdaya akan melebihi 500 juta ton. Ini akan membuat sumber PT Weda Bay Nickel masuk sebagai yang terbesar di dunia. 4 Kontrak Karya 30 tahun akan habis pada tahun 2028, dengan kemungkinan perpanjangan kontrak di masa mendatang, tapi seperti yang telah kita bahas di atas, seluruh kontrak sedang mengalami ketidakpastian sehubungan dengan adanya negosiasi ulang. Tenaga Kerja Di bawah Kontrak Karyanya, PT Weda Bay Nickel memiliki kewajiban terkait tenaga kerja dan pelatihan bagi masyarakat Indonesia. Perusahaan telah menyediakan estimasi yang beragam untuk memperkirakan jumlah tenaga kerja. Angka dalam dokumen publik bervariasi dari 2,300 5 sampai 3,500 6 orang. Perusahaan memperkirakan 65% tenaga kerja adalah orang lokal. 7 Masyarakat yang Terdampak Desa-desa Sawai Terdapat 5 kelompok masyarakat utama yang terdampak Pertambangan PT Weda Bay Nickel. Tiga diantaranya berasal dari desa-desa yang didominasi oleh masyarakat dari suku Sawai yang terletak di wilayah pesisir pantai dan wilayahnya masuk ke dalam kawasan konsesi proyek, masing-masing: Desa Lelilef Woebulen, Lelilef Sawai dan Gemaf. Sawai merupakan kelompok bahasa tertentu 8. Ketiga desa Sawai ini masing-masing dihuni oleh 300-an atau lebih keluarga. Mereka tinggal di rumah-rumah yang berdekatan di dalam desa kecil yang jaraknya sekitar 50 meter dari pesisir, dan secara historis telah bertani untuk penghidupan mereka. Masyarakat Sawai dapat digolongkan sebagai masyarakat adat di bawah definisi konvensional terminologi yang mengacu pada identifikasi diri, hubungan jangka panjang 4 Malcom G Baillie, "Developing a World Class Nickel and Cobalt Resource in Indonesia," Asia Miner, Juli (2006). 5 Website perusahaan PT Weda Bay Nickel, employment-and-training/, diakses pada 2 Oktober Website Eramet: diakses pada 2 Oktober Website perusahaan PT Weda Bay Nickel, diakses pada 15 September James T. Collins, "Linguistic Research in Maluku : A Report of Recent Field Work," Oceanic Linguistics 21,no. 1(2013). 6

21 pada wilayah tertentu, cara hidup subsisten dan tergantung dengan sumber daya alam dan kelompok bahasa yang berbeda. Upaya yang tengah berlangsung untuk mengidentifikasi dan memetakan masyarakat adat belum mencapai wiliayah Maluku Utara, sehingga masih menjadi masalah yang belum terpecahkan. 9 Akomodasi pekerja perusahaan berlokasi di dekat Desa Gemaf. Pabrik jaraknya sekitar 4 km dari Lelilef Sawai. Pertambangan akan berjarak 2 km dari Lelilef Woebulen dan Gemaf. Beberapa sumber menyatakan jaraknya akan semakin dekat begitu produksi dimulai. Sagea, desa dekat pantai keempat, terletak di sebelah timur wilayah proyek, dan akan sangat terkena dampak terkait dengan ketersediaan air dan kondisi lingkungan umumnya. Proyek PT Weda Bay Nickel mensyaratkan relokasi penduduk Desa Lelilef Woebulen, Lelilef Sawai dan Gemaf dari lahan budidaya mereka di hutan. Ini disebut sebagai penelantaran ekonomi (pemindahan dan tidak adanya rencana pemukiman ulang bagi wilayah pemukiman desa). Standar Kinerja IFC menyatakan bahwa penelantaran ekonomi terjadi jika hilangnya penghidupan disebabkan oleh pemaksaan, khususnya penghidupan yang bersumber dari lahan. Hal tersebut nampak dalam kasus ini, dimana perusahaan menggunakan alasan hukum untuk memaksakan pembatasan akses ke lahan jika masyarakat tidak bersedia melepaskan hak lahannya, dengan alasan bahwa perusahaan telah mendapatkan hak eksploitasi legal dari negara. Dalam kenyataanya, penduduk desa yakin bahwa mereka tidak memiliki pilihan lain selain melepaskan lahan mereka yang berada di wilayah konsesi pertambangan. 9 Website Down to Earth Indonesia, diakses 1 Oktober

22 Gambar 1: Wilayah izin pertambangan PT Weda Bay Nickel. 10 Lahan budidaya masyarakat Desa Lelilef Woebulen dan Lelilef Sawai merupakan wilayah yang diperlukan oleh perusahaan pada tahap awal, karena lokasi desa-desa ini berada di lokasi yang direncanakan untuk pembangunan pabrik pengolahan, komponen awal dari proyek yang akan dibangun jika permohonan pembiayaan perusahaan disetujui. Wawancara kami menyimpulkan bahwa lahan budidaya penduduk Gemaf dibutuhkan untuk akomodasi pegawai dan asrama tidak lama setelah mulainya tahapan konstruksi. PT Weda Bay Nickel berargumen bahwa distribusi geografis infrastruktur proyek dapat memperluas distribusi penyediaan lapangan kerja bagi ketiga desa tersebut. Namun, meski masyarakat tidak akan kehilangan rumah mereka, mereka akan kehilangan bukan hanya lahan budidaya mereka, tapi juga lingkungan di sekitar mereka yang tentunya akan berubah drastis. Sekarang mereka hidup dikelilingi hutan, nanti mereka akan hidup dikelilingi pabrik industri nikel dan kobalt yang besar, juga pertambangan. Masyarakat yang diwawancara menyuarakan keprihatinan tentang dekatnya lokasi produksi dengan desa yang akan menyebabkan polusi suara dan udara serta terganggunya cara hidup tradisional. Gangguan ini sudah terjadi pada tahap awal eksplorasi dan konstruksi ketika penelitian dilaksanakan di bulan Mei Mayoritas keluarga menghidupi diri mereka dengan cara menggunakan bagian dalam hutan untuk tujuan budidaya. Untuk budidaya, penduduk hanya perlu membuka sedikit wilayah hutan, atau tidak 10 Website perusahaan PT Weda Bay Nickel, diakses pada 15 September

Akses Buruh Migran Terhadap Keadilan di Negara Asal: Studi Kasus Indonesia

Akses Buruh Migran Terhadap Keadilan di Negara Asal: Studi Kasus Indonesia MIGRANT WORKERS ACCESS TO JUSTICE SERIES Akses Buruh Migran Terhadap Keadilan di Negara Asal: Studi Kasus Indonesia Bassina Farbenblum l Eleanor Taylor-Nicholson l Sarah Paoletti Akses Buruh Migran Terhadap

Lebih terperinci

Pedoman Umum untuk Penilaian Pengelolaan Hutan di Indonesia (Draf ketiga, April 2003)

Pedoman Umum untuk Penilaian Pengelolaan Hutan di Indonesia (Draf ketiga, April 2003) Tujuan Pedoman Umum untuk Penilaian Pengelolaan Hutan di Indonesia (Draf ketiga, April 2003) Tujuan Program SmartWood adalah untuk mengakui pengelola hutan yang baik melalui verifikasi independen yang

Lebih terperinci

Apa yang benar dengan AMDAL

Apa yang benar dengan AMDAL DRAFT LAPORAN AKHIR Apa yang benar dengan AMDAL Suatu studi atas praktek AMDAL yang baik di beberapa propinsi Indonesia Oktober 2005 Untuk Bank Dunia, dalam mendukung Kementerian Lingkungan, Republik Indonesia

Lebih terperinci

Rangkuman Tinjauan Lingkungan dan Sosial (ESRS) Proyek Tambang Nikel PT Weda Bay Nickel Tahap Eksplorasi dan Kelayakan

Rangkuman Tinjauan Lingkungan dan Sosial (ESRS) Proyek Tambang Nikel PT Weda Bay Nickel Tahap Eksplorasi dan Kelayakan Rangkuman Tinjauan Lingkungan dan Sosial (ESRS) Proyek Tambang Nikel PT Weda Bay Nickel Tahap Eksplorasi dan Kelayakan Rangkuman Tinjauan Lingkungan dan Sosial (Environmental and Social Review Summary/

Lebih terperinci

Masyarakat yang Tergusur: Pengusiran Paksa di Jakarta

Masyarakat yang Tergusur: Pengusiran Paksa di Jakarta September 2006 Volume 18 No. 10(C) Ringkasan Laporan Human Rights Watch, Masyarakat yang Tergusur: Pengusiran Paksa di Jakarta Versi lengkap laporan ini terdapat dalam Bahasa Inggris. Ringkasan... 1 Standar

Lebih terperinci

Manajemen Sumber Daya Manusia

Manajemen Sumber Daya Manusia International Labour Organization Jakarta Manajemen Sumber Daya Manusia untuk Kerjasama dan Usaha yang Sukses Pedoman pelatihan untuk manajer dan pekerja Modul EMPAT SC RE Kesinambungan Daya Saing dan

Lebih terperinci

KETERLIBATAN DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT

KETERLIBATAN DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT PRAKTEK UNGGULAN PROGRAM PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN UNTUK INDUSTRI PERTAMBANGAN KETERLIBATAN DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT vi PRAKTEK UNGGULAN PROGRAM PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN UNTUK INDUSTRI PERTAMBANGAN

Lebih terperinci

Komisi untuk Indonesia: Perdamaian dan Perkembangannya di Papua

Komisi untuk Indonesia: Perdamaian dan Perkembangannya di Papua Komisi untuk Indonesia: Perdamaian dan Perkembangannya di Papua Laporan Komisi Independen Disponsori oleh Council on Foreign Relations Center for Preventive Action Dennis C. Blair, Ketua David L. Phillips,

Lebih terperinci

PROTOKOL PEMANTAUAN UNTUK KAWASAN NILAI KONSERVASI TINGGI 5 dan 6

PROTOKOL PEMANTAUAN UNTUK KAWASAN NILAI KONSERVASI TINGGI 5 dan 6 PROTOKOL PEMANTAUAN UNTUK KAWASAN NILAI KONSERVASI TINGGI 5 dan 6 Peta partisipatif yang dibuat komunitas Karen di Chom Thong District, Thailand, dengan dukungan IMPECT, menunjukkan pola penempatan dan

Lebih terperinci

Mendayai Masa Depan. Studi Kasus. Rencana Indonesia untuk Kekayaan Minyaknya yang Baru. Ringkasan. Oleh Bramantyo Prijosusilo.

Mendayai Masa Depan. Studi Kasus. Rencana Indonesia untuk Kekayaan Minyaknya yang Baru. Ringkasan. Oleh Bramantyo Prijosusilo. Mendayai Masa Depan Rencana Indonesia untuk Kekayaan Minyaknya yang Baru Oleh Bramantyo Prijosusilo Februari 2012 Ringkasan Setelah terjadi ledakan besar desentralisasi Indonesia pada tahun 2001, pemerintah

Lebih terperinci

SAWIT DI INDONESIA. Gary D. Paoli Piers Gillespie Philip L. Wells Lex Hovani Aisyah Sileuw Neil Franklin James Schweithelm

SAWIT DI INDONESIA. Gary D. Paoli Piers Gillespie Philip L. Wells Lex Hovani Aisyah Sileuw Neil Franklin James Schweithelm SAWIT DI INDONESIA Tata Kelola, Pengambilan Keputusan dan Implikasi bagi Pembangunan Berkelanjutan Rangkuman Untuk Pengambil Keputusan & Pelaku Gary D. Paoli Piers Gillespie Philip L. Wells Lex Hovani

Lebih terperinci

PROGRAM INVESTASI KEHUTANAN

PROGRAM INVESTASI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA PROGRAM INVESTASI KEHUTANAN REVISI MATRIKS KOMENTAR DAN TANGGAPAN TENTANG RENCANA INVESTASI KEHUTANAN INDONESIA 11 Februari 2013 Isi 1 PENDAHULUAN ERROR! BOOKMARK NOT DEFINED. 2 KOMENTAR

Lebih terperinci

MIGRASI TENAGA KERJA DARI INDONESIA

MIGRASI TENAGA KERJA DARI INDONESIA MIGRASI TENAGA KERJA DARI INDONESIA Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mempunyai komitmen terhadap tegaknya prinsip migrasi secara manusiawi dan tertib yang mendatangkan kesejahteraan bagi komunitas

Lebih terperinci

The Fix-Rate. (Tingkat Perbaikan) Sebuah Metrik kunci untuk Transparansi dan Akuntabilitas

The Fix-Rate. (Tingkat Perbaikan) Sebuah Metrik kunci untuk Transparansi dan Akuntabilitas The Fix-Rate (Tingkat Perbaikan) Sebuah Metrik kunci untuk Transparansi dan Akuntabilitas Tidak ada unit ukuran pekerjaan transparansi dan akuntabilitas yang secara umum disepakati bersama. Banyak organisasi

Lebih terperinci

Bukan hanya laba. Prinsip-prinsip bagi perusahaan untuk melaksanakan tanggung jawab sosial

Bukan hanya laba. Prinsip-prinsip bagi perusahaan untuk melaksanakan tanggung jawab sosial Bukan hanya laba Prinsip-prinsip bagi perusahaan untuk melaksanakan tanggung jawab sosial Penulis Godwin Limberg Ramses Iwan Moira Moeliono Yayan Indriatmoko Agus Mulyana Nugroho Adi Utomo Bukan hanya

Lebih terperinci

KONVENSI INTERNASIONAL TENTANG PERLINDUNGAN TERHADAP SEMUA ORANG DARI TINDAKAN PENGHILANGAN SECARA PAKSA

KONVENSI INTERNASIONAL TENTANG PERLINDUNGAN TERHADAP SEMUA ORANG DARI TINDAKAN PENGHILANGAN SECARA PAKSA E/CN.4/2005/WG.22/WP.1/REV.4 23 September 2005 (Diterjemahkan dari Bahasa Inggris. Naskah Asli dalam Bahasa Prancis) KONVENSI INTERNASIONAL TENTANG PERLINDUNGAN TERHADAP SEMUA ORANG DARI TINDAKAN PENGHILANGAN

Lebih terperinci

Task 4: Panduan Penataan Batas Desa secara Partisipatif

Task 4: Panduan Penataan Batas Desa secara Partisipatif Task 4: Panduan Penataan Batas Desa secara Partisipatif Support Services for Land Use Planning, District Readiness, Strategic Environmental Assessment and Related Preparatory Activities for the Green Prosperity

Lebih terperinci

SISTEM PERIJINAN GANGGUAN

SISTEM PERIJINAN GANGGUAN SISTEM PERIJINAN GANGGUAN SEBUAH LAPORAN TENTANG PENGENDALIAN KEKACAUAN JULI 2008 LAPORAN INI DISUSUN UNTUK DITELAAH OLEH THE UNITED STATES AGENCY FOR INTERNATIONAL DEVELOPMENT. LAPORAN INI DISUSUN OLEH

Lebih terperinci

KONVENSI INTERNASIONAL TENTANG PERLINDUNGAN TERHADAP SEMUA ORANG DARI TINDAKAN PENGHILANGAN SECARA PAKSA

KONVENSI INTERNASIONAL TENTANG PERLINDUNGAN TERHADAP SEMUA ORANG DARI TINDAKAN PENGHILANGAN SECARA PAKSA KONVENSI INTERNASIONAL TENTANG PERLINDUNGAN TERHADAP SEMUA ORANG DARI TINDAKAN PENGHILANGAN SECARA PAKSA Diadopsi pada 20 Desember 2006 oleh Resolusi Majelis Umum PBB A/RES/61/177 Mukadimah Negara-negara

Lebih terperinci

Kajian Hubungan Masyarakat

Kajian Hubungan Masyarakat 1 Kajian Hubungan Masyarakat Laporan Ringkasan Global Maret 2009 Direktur Studi Gare A. Smith Daniel Feldman Daftar Isi I. Ringkasan Eksekutif...1 II. Pendahuluan...4 A. Gambaran Umum Laporan...4 B. Manajemen

Lebih terperinci

Tata Guna Lahan di Kalimantan Tengah

Tata Guna Lahan di Kalimantan Tengah Pangan, Bahan Bakar, Serat dan Hutan Tata Guna Lahan di Kalimantan Tengah Menyatukan tujuan pembangunan dan keberlanjutan untuk optimalisasi lahan CIFOR Dialog Hutan (The Forests Dialogue/TFD), Maret 2014

Lebih terperinci

Indonesia Bagaimana Pemohon Bisa Memanfaatkan Hak atas Informasi

Indonesia Bagaimana Pemohon Bisa Memanfaatkan Hak atas Informasi 1 Bagaimana Pemohon Bisa Memanfaatkan Hak atas Informasi Manual untuk Peserta 2 Bagaimana Pemohon Bisa Memanfaatkan Hak atas Informasi Manual Peserta : Bagaimana Pemohon Bisa MemanfaatkanHak Atas Informasi

Lebih terperinci

Menanggulangi Pekerja Anak: Panduan untuk Pengawas Ketenagakerjaan

Menanggulangi Pekerja Anak: Panduan untuk Pengawas Ketenagakerjaan Menanggulangi Pekerja Anak: Panduan untuk Pengawas Ketenagakerjaan International national Programme on the Elimination of Child Labour (IPEC) In Focus Programme on Safety and Health at Work ork and the

Lebih terperinci

Sekapur Sirih 3. Apa & Mengapa Pengarusutamaan Penanggulangan 5 Kemiskinan & Kerentanan (PPKK)

Sekapur Sirih 3. Apa & Mengapa Pengarusutamaan Penanggulangan 5 Kemiskinan & Kerentanan (PPKK) Daftar Isi Sekapur Sirih 3 Apa & Mengapa Pengarusutamaan Penanggulangan 5 Kemiskinan & Kerentanan (PPKK) PPKK & Upaya Penanggulangan Kemiskinan & 8 Kerentanan di Indonesia Kebijakan & Landasan Hukum 15

Lebih terperinci

Piagam Sumber Daya Alam. Edisi Kedua

Piagam Sumber Daya Alam. Edisi Kedua Piagam Sumber Daya Alam Edisi Kedua Piagam Sumber Daya Alam Edisi Kedua Rantai keputusan piagam sumber daya alam LANDASAN DOMESTIK UNTUK TATA KELOLA SUMBER DAYA Penemuan dan keputusan untuk mengekstraksi

Lebih terperinci

PERJANJIAN MILLENIUM CHALLENGE ANTARA REPUBLIK INDONESIA DAN AMERIKA SERIKAT DIWAKILI OLEH THE MILLENIUM CHALLENGE CORPORATION

PERJANJIAN MILLENIUM CHALLENGE ANTARA REPUBLIK INDONESIA DAN AMERIKA SERIKAT DIWAKILI OLEH THE MILLENIUM CHALLENGE CORPORATION OFFICIAL TRANSLATION PERJANJIAN MILLENIUM CHALLENGE ANTARA REPUBLIK INDONESIA DAN AMERIKA SERIKAT DIWAKILI OLEH THE MILLENIUM CHALLENGE CORPORATION PERJANJIAN MILLENIUM CHALLENGE DAFTAR ISI Halaman Pasal

Lebih terperinci

Proses Pembelajaran (Learning Lessons) Promosi Sertifikasi Hutan dan Pengendalian Penebangan Liar di Indonesia

Proses Pembelajaran (Learning Lessons) Promosi Sertifikasi Hutan dan Pengendalian Penebangan Liar di Indonesia Proses Pembelajaran (Learning Lessons) Promosi Sertifikasi Hutan dan Pengendalian Penebangan Liar di Indonesia Luca Tacconi Krystof Obidzinski Ferdinandus Agung Proses Pembelajaran (Learning Lessons) Promosi

Lebih terperinci

Forests and Governance Programme. Pedoman Umum Penyusunan Peraturan Daerah Pengelolaan Hutan. Jason M. Patlis

Forests and Governance Programme. Pedoman Umum Penyusunan Peraturan Daerah Pengelolaan Hutan. Jason M. Patlis Forests and Governance Programme Pedoman Umum Penyusunan Peraturan Daerah Pengelolaan Hutan Jason M. Patlis Pedoman Umum Penyusunan Peraturan Daerah Pengelolaan Hutan Jason M. Patlis Penulis, Jason M.

Lebih terperinci

Pedoman Penerapan Pengecualian Informasi

Pedoman Penerapan Pengecualian Informasi Pedoman Penerapan Pengecualian Informasi 1. Prinsip- prinsip Kerangka Kerja Hukum dan Gambaran Umum Hak akan informasi dikenal sebagai hak asasi manusia yang mendasar, baik di dalam hukum internasional

Lebih terperinci