KETENTUAN ASAL BARANG UNTUK KAWASAN PERDAGANGAN BEBAS ASEAN-CHINA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "KETENTUAN ASAL BARANG UNTUK KAWASAN PERDAGANGAN BEBAS ASEAN-CHINA"

Transkripsi

1 KETENTUAN ASAL BARANG UNTUK KAWASAN PERDAGANGAN BEBAS ASEAN-CHINA LAMPIRAN 3 Dalam menentukan asal produk-produk yang berhak mendapatkan konsesi tarif preferensial sesuai dengan Persetujuan Kerangka Kerja mengenai Kerja Sama Ekonomi Menyeluruh antara Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara dan Republik Rakyat China (selanjutnya disebut sebagai Persetujuan ), aturanaturan berikut ini wajib berlaku: Aturan 1 : Definisi Untuk maksud-maksud Lampiran ini: (d) (e) Suatu Pihak adalah masing-masing para Pihak pada Persetujuan seperti, Brunei Darussalam, Kerajaan Kamboja, Republik Indonesia, Republik Demokratik Rakyat Laos, Malaysia, Uni Myanmar, Republik Filipina, Republik Singapura, Kerajaan Thailand, Republik Sosialis Vietnam dan Republik Rakyat China ( China ). Bahan-bahan wajib meliputi unsur-unsur, bagian-bagian, komponenkomponen, sub rakitan dan/atau barang-barang yang secara fisik tergabung kedalam barang lainnya atau yang merupakan subjek suatu proses produksi dari barang lain. Barang asal adalah produk-produk yang digolongkan sebagai barang asal sesuai dengan ketentuan-ketentuan sesuai Aturan 2. produksi adalah metode-metode untuk memperoleh barang-barang termasuk dengan menumbuhkan, menambang, memanen, mengembangkan, membiakkan, menyarikan, mengumpulkan, menyatukan, menangkap, memancing, memasang perangkap, berburu, memfabrikasi, menghasilkan, mengolah atau merakit suatu barang. Aturan Khusus Produk adalah aturan-aturan yang menguraikan bahwa bahan-bahan tersebut telah melalui suatu perubahan klasifikasi tarif atau suatu fabrikasi spesifik atau operasional pengolahan, atau memenuhi suatu kriteria ad valorem atau gabungn dari setiap kriteria tersebut. Aturan 2: Kriteria Asal Untuk maksud-maksud Persetujuan ini, produk-produk yang diimpor oleh suatu Pihak wajib dianggap sebagai barang asal dan berhak mendapatkan konsesi preferensial apabila mereka sesuai dengan persyaratan-persyaratan asal berdasarkan salah satu berikut ini:

2 Produk-produk yang secara keseluruhan diproduksi atau diperoleh sebagaimana tercantum dan dijabarkan dalam Aturan 3; atau Produk-produk yang tidak diproduksi atau diperoleh secara keseluruhan dengan syarat bahwa produk-produk tersebut berjak sesuai dengan Aturan 4, Aturan 5 atau Aturan 6. Aturan 3: Produk-produk yang Diperoleh Secara Keseluruhan Menurut arti Aturan 2, hal-hal berikut ini wajib dipertimbangkan secara keseluruhan diproduksi atau diperoleh di suatu Pihak: Tumbuhan 3 dan produk-produk tumbuhan yang dipanen, dipetik atau dikumpulkan di suatu Pihak; satwa hidup 4 yang lahir dan dibesarkan di suatu Pihak; Produk-produk 5 yang diperoleh dari satwa-satwa hidup sebagaimana dirujuk pada ayat di atas; (d) (e) (f) (g) (h) (i) Produk-produk yang diperoleh dengan berburu, memasang perangkap, memancing, membudidayakan ikan, mengumpulkan, atau menangkap yang dilakukan di suatu Pihak; Mineral-mineral dan unsur-unsur yang timbul secara alami, tidak termasuk pada ayat sampai (d), yang disarikan atau diambil dari tanah, air, perairan, dasar laut atau di bawah dasar laut di suatu Pihak; Produk-produk yang dihasilkan dari perairan, dasar laut atau di bawah dasar laut di luar wilayah perairan dari Pihak tersebut, dengan syarat bahwa Pihak tersebut memiliki hak untuk mengeksploitasi perairan, dasar laut atau di bawah dasar laut tersebut sesuai dengan hukum internasional; Produk-produk hasil memancing di laut dan produk-produk laut lainnya yang diambil dari perairan bebas dengan kapal-kapal yang terdaftar di suatu Pihak atau berhak mengibarkan bendera dari Pihak tersebut; Produk-produk yang dioleh dan/atau dibuat diatas kapal pengolahan yang terdaftar di suatu Pihak dan berhak mengibarkan bendera Pihak tersebut, secara ekslusif dari produk-produk sebagaimana dirujuk pada ayat (g); Barang-barang yang dikumpulkan di suatu Pihak yang tidak ditemukan lagi manfaatnya dan tidak juga berguna untuk disimpan atau diperbaiki 3. Tumbuhan disini merujuk pada pada Tumbuhan hidup termasuk buah-buahan, sayur-sayuran, pohon, biji, jamur dan tanaman hidup. 4. Satwa merujuk pada ayat dan mencakup semua satwa hidup, termasuk mamalia, burung, ikan, hewan bercangkang, molusca, hewan melata, bakteri dan virus. 5. Produk-produk yang merujuk sebagaimana diperoleh dari satwa-satwa hidup tanpa melalui pengolahan, termasuk susu, telur, madu lebah, rambut, wol, sperma dan pupuk kandang.

3 (j) hanya tepat untuk dibuang atau dipulihkan bagian-bagian bahan-bahan mentahnya, atau untuk maksud daur ulang 6 ; dan Barang-barang yang diproduksi dan diperoleh di suatu Pihak semata-mata dari produk sebagaimana dirujuk pada ayat sampai (i) di atas. Aturan 4: Tidak Diproduksi atau Diperoleh secara Keseluruhan Untuk maksud-maksud Aturan 2, suatu produk wajib dianggap sebagai barang asal apabila: (i) (ii) Tidak kurang dari 40% dari kandungan asalnya berasal dari Pihak manapun; atau Apabila keseluruhan nilai dari bahan-bahan tersebut, bagian atau yang asalnya diproduksi dari luar wilayah suatu Pihak (seperti non- ACFTA) tidak melebihi 60% dari nilai FOB dari produk tersebut sehingga diproduksi atau diperoleh dengan syarat bahwa proses akhir dari fabrikasi tersebut dilakukan dalam wilayah Pihak tersebut. Untuk maksud-maksud Lampiran ini, kriteria asal sebagaimana tercantum dalam Aturan 4(ii) wajib dirujuk sebagai kandungan ACFTA. Rumus untuk kandungan ACFTA sebesar 40% dihitung sebagai berikut: Nilai Bahan-bahan Non-ACFTA + Nilai Bahan dari Asal barang yang tidak ditentukan Harga FOB x 100% < 60% Jadi, kandungan ACFTA: 100% - bahan non-acfta = paling sedikit 40% Nilai bahan-bahan non-asal wajib berupa: (i) (ii) nilai CIF pada saat importasi bahan-bahan tersebut; atau harga awal yang dibayar untuk bahan-bahan tersebut yang tidak dapat ditentukan asalnya di wilayah Pihak tersebut tempat pengerjaan atau pengolahan dilakukan. 6. Hal ini akan mencakup semua serpihan dan limbah termasuk serpihan dan limbah yang dihasilkan dari fabrikasi atau operasional pengolahan atau konsumsi di negara yang sama, mesin penyerpih, sisa kemasan dan seluruh produk yang tidak dapat dimanfaatkan lagi dan hanya diproduksi dan hanya tepat untuk disisihkan dan untuk pemulihan bahan-bahan mentah. Fabrikasi atau proses operasional dimaksud wajib meliputi seluruh jenis pengolahan, tidak hanya proses industrial atau kimiawi tetapi juga operasi pertambangan, pertanian, konstruksi, penyulingan, pembakaran dan pembuangan limbah.

4 (d) Untuk maksud Aturan ini, bahan asal wajib dianggap sebagai suatu bahan yang negara asalnya, ditentukan berdasarkan aturan-aturan ini, merupakan negara yang sama sebagai negara tempat bahan-bahan tersebut digunakan dalam proses produksi. Aturan 5: Ketentuan Asal Barang Kumulatif Kecuali diatur sebaliknya, untuk barang-barang yang memenuhi persyaratanpersyaratan asal sebagaimana diatur dalam Aturan 2 dan digunakan di wilayah suatu Pihak sebagai bahan-bahan untuk suatu produk akhir yang berhak mendapatkan perlakuan preferensial berdasarkan Persetujuan wajib dipertimbangkan sebagai produk-produk asal di wilayah Pihak tersebut tempat pengerjaan atau pengolahan produk akhir tersebut dilakukan dengan syarat bahwa jumlah kandungan ACFTA (dapat diberlakukan secara kumulatif sepenuhnya diantara seluruh Pihak) pada produk akhir tersebut tidak kurang dari 40%. Aturan 6: Kriteria Produk Spesifik Produk-produk yang telah mengalami tranformasi yang mencukupi di suatu Pihak wajib diperlakukan sebagai barang asal dari Pihak tersebut. Produkproduk yang memenuhi Aturan-aturan Produk Spesifik sebagaimana diatur dalam Lampiran B wajib dipertimbangkan sebagai barang yang telah mengalami transformasi yang mencukupi di suatu Pihak. Aturan 7: Operasi dan Pengolahan Minimum Operasi-operasi atau pengolahan-pengolahan yang dilakukan, untuknya sendiri atau digabungkan satu sama lain untuk maksud-maksud sebagaimana di bawah ini, dipertimbangkan sebagai proses minimum dan wajib tidak diperhitungkan dalam menentukan apakah suatu barang telah diperoleh secara keseluruhan di satu negara: memastikan pemeliharaan barang-barang dalam keadaan baik untuk maksud-maksud pengangkutan atau penyimpanan; memfasilitasi pengapalan atau pengangkutan; pengepakan 7 atau pemajangan barang-barang untuk dijual Aturan 8: Pengiriman Secara Langsung Hal-hal berikut ini wajib dipertimbangkan sebagai pengiriman secara langsung dari Pihak pengekspor ke Pihak pengimpor: Apabila produk diangkut melalui wilayah negara anggota ACFTA; 7. Hal ini tidak termasuk pengapsulan yang diistilahkan dengan pengepakan dengan industri elektronik.

5 Apabila produk-produk tersebut diangkut tanpa melalui wilayah dari setiap negara anggota non-acfta; Produk-produk yang pengangkutannya singgah melalui satu Negara Anggota non-acfta perantara atau lebih dengan atau tanpa pengapalan atau penyimpanan sementara di negara-negara tersebut, dengan syarat bahwa: (i) (ii) (iii) pintu masuk persinggahan tersebut diijinkan untuk alasan geografis atau dengan pertimbangan yang secara eksklusif terkait dengan persyaratan-persyaratan pengangkutan; produk-produk tersebut belum memasuki perdagangan atau konsumsi di negara tersebut; dan produk-produk yang belum mengalami setiap operasi di negara tersebut selain daripada pembongkaran atau pemuatan kembali atau setiap operasi yang dilakukan untuk menjaganya dalam keadaan baik. Aturan 9: Perlakuan Pengemasan Untuk maksud-maksud penilaian bea kepabeanan, apabila suatu Pihak memperlakukan produk-produk secara terpisah dari kemasannya, berkenaan dengan impor yang dikirim dari Pihak lainnya, dapat juga ditentukan secara terpisah asal dari kemasan tersebut. Apabila ayat di atas tidak diterapkan, kemasan wajib dipertimbangkan sebagai bagian dari keseluruhan produk tersebut dan tidak satu bagian pun dari kemasan tersebut dipersyaratkan untuk pengangkutan atau penyimpanannya wajib dipertimbangkan sebagaimana telah diimpor dari luar ACFTA pada saat menentukan asal produk tersebut sebagai suatu keseluruhan. Aturan 10: Aksesoris, Suku Cadang dan Peralatan Asal dari aksesoris, suku cadang, peralatan dan bahan-bahan petunuk atau informasi lainnya yang disajikan bersama barang tersebut wajib diabaikan dalam menentukan asal barang tersebut, dengan syarat bahwa aksesoris, suku cadang, peralatan dan bahan-bahan informasi bahan digolongkan dan dikenakan bea kepabeanan dengan barang tersebut oleh negara anggota pengimpor. Aturan 11: Elemen Netral Kecuali diatur sebaliknya, untuk maksud menentukan asal barang, asal energi dan bahan bakar, rangka dan perlengkapan, atau mesin-mesin dan peralatan yang digunakan untuk memperoleh barang tersebut, atau bahan-bahan yang digunakan dalam fabrikasinya yang tidak ada dalam barang tersebut atau membentuk bagian dari barang tersebut, wajib tidak diperhitungkan.

6 Aturan 12: Surat Keterangan Asal Suatu tuntutan wajib diterima sebagaimana berhak mendapatkan perlakuan tarif preperensial wajib didukung dengan suatu Surat Keterangan Asal yang diterbitkan oleh suatu otoritas pemerintah yang ditunjuk oleh Pihak pengekspor dan diberitahukan kepada para Pihak lainnya pada Persetujuan sesuai dengan Prosedur Sertifikasi Operasional, sebagaimana tercantum pada Lampiran A. Aturan 13: Peninjauan Kembali dan Modifikasi Aturan-aturan ini dapat ditinjau kembali dan dimodifikasi sebagaimana dan apabila perlu atas permintaan Negara Anggota dan dapat dibuka untuk peninjauan kembali dan modifikasi sebagaimana disepakati oleh AEM- MOFCOM.

7 PROSEDUR SERTIFIKASI OPERASIONAL UNTUK KETENTUAN ASAL BARANG KAWASAN PERDAGANGAN BEBAS ASEAN-CHINA LAMPIRAN A Untuk maksud melaksanakan ketentuan asal barang Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN-China, Prosedur-prosedur operasional mengenai penerbitan dan verifikasi Surat Keterangan Asal (Formulir E) berikut ini dan hal administratif lainnya wajib sebagai berikut: LEMBAGA BERWENANG ATURAN 1 Surat Keterangan Asal wajib diterbitkan oleh Lembaga Berwenang dari Pihak pengekspor ATURAN 2 Pihak wajib menginformasikan kepada para Pihak lainnya mengenai nama dan alamat dari masing-masing lembaga pemerintah yang menerbitkan Surat Keterangan Asal dan wajib memberikan contoh tandatangan dan contoh stempel resmi yang digunakan oleh Lembaga Pemerintah tersebut. Informasi dan contoh-contoh di atas wajib diberikan kepada setiap Pihak pada Persetujuan dan suatu salinan yang disampaikan kepada Sekretariat ASEAN. Setiap perubahan mengenai nama, alamat, dan stempel resmi wajib dengan segera diberitahukan dengan cara yang sama. ATURAN 3 Untuk maksud memverifikasi ketentuan-ketentuan untuk perlakuan preferensial, Lembaga-lembaga Pemerintah yang ditunjuk untuk menerbitkan Surat Keterangan Asal tersebut wajib memiliki hak untuk meminta setiap bukti dokumentasi pendukung atau untuk melakukan setiap pengecekan yang dipertimbangkan perlu. Apabila hak tersebut tidak dapat diperoleh melalui peraturan perundang-undangan nasional yang berlaku, wajib disisipkan sebagai suatu klausula dalam formulir pendaftaran sebagaimana dirujuk dalam Aturan 4 dan 5 berikut ini. PERMOHONAN ATURAN 4 Eksportir dan/atau fabrikan dari produk-produk yang digolongkan mendapatkan perlakuan preferensial wajib menyampaikan secara tertulis kepada Lembagalembaga Pemerintah yang meminta untuk verifikasi pra-eksportasi atas asal

8 produk-produk tersebut. Hasil verifikasi tersebut, tunduk pada peninjauan kembali secara berkala atau apabila diperlukan, wajib diterima sebagai bukti pendukung dalam memverifikasi asal produk-produk yang akan diekspor. Praverifikasi tersebut tidak dapat diterapkan untuk produk-produk yang karena sifatnya, asalnya dapat dengan mudah diverifikasi. ATURAN 5 Pada saat melakukan formalitas untuk ekportasi produk-produk tersebut berdasarkan perlakuan preferensial, eksportir atau wakil-wakil resminya wajib menyampaikan suatu permohonan tertulis untuk Surat Keterangan Asal bersamaan dengan dokumen-dokumen pendukung yang diperlukan yang membuktikan bahwa produk-produk tersebut yang akan diekspor memenuhi kualifikasi untuk penerbitan suatu Surat Keterangan Asal. PEMERIKSAAN PRA-EKSPORTASI ATURAN 6 Lembaga-lembaga Pemerintah yang ditunjuk untuk menerbitkan Surat Keterangan Asal, berdasarkan kompetensi dan kemampuan terbaiknya, wajib melakukan pemeriksaan yang tepat, atas masing-masing permohonan Surat Keterangan Asal untuk memastikan bahwa: Permohonan dan Surat Keterangan Asal telah dilengkapi dan ditandatangani oleh pejabat penandatangan resmi; Asal produk tersebut telah sesuai dengan Ketentuan Asal Barang ASEAN-China; Pernyataan-pernyataan lain mengenai dalam Surat Keterangan Asal yang berhubungan dengan bukti-bukti dokumentasi pendukung telah disampaikan; (d) Gambaran, jumlah dan berat barang, tanda dan jumlah kemasan, jumlah dan macam kemasan, sebagaimana diuraikan, sesuai dengan produk-produk yang akan diekspor. PENERBITAN SURAT KETERANGAN ASAL ATURAN 7 Surat Keterangan Asal harus ditulis dalam kertas ukuran A4 standar ISO sesuai dengan contoh sebagaimana ditunjukkan dalam lampiran C. Surat Keterangan Asal wajib dibuat dalam bahasa Inggris. Surat Keterangan Asal wajib terdiri atas satu asli dan tiga (3) salinan dengan warna sebagai berikut:

9 (d) ATURAN 8 Asli - Krem (kode warna : 727c) Salinan kedua - Hijau Muda (kode warna: 622c) Salinan ketiga - Hijau Muda (kode warna: 622c) Salinan keempat - Hijau Muda (kode warna: 622c) Masing-masing Surat Keterangan Asal wajib memperhatikan nomor rujukan yang diberikan secara terpisah oleh masing-masing kantor penerbit. Salinan asli wajib diteruskan, bersamaan dengan salinan ketiga, oleh pengekspor ke pengimpor untuk disampaikan kepada otoritas Kepabeanan di pelabuhan atau tempat importasi. Salinan kedua wajib disimpan oleh lembaga penerbit di Pihak pengekspor. Salinan keempat wajib disimpan oleh pengekspor. Setelah importasi produk-produk tersebut, salinan ketiga wajib ditandai sesuai dengan Kotak 4 dan dikembalikan kepada lembaga penerbit dalam jangka waktu yang wajar. Untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan Aturan 4 dan 5 Ketentuan Asal Barang ASEAN-China, Surat Keterangan Asal yang diterbitkan oleh Pihak pengekspor akhir wajib mengindikasikan aturan yang relevan dan persentase kandungan ACFTA yang dapat diterima dalam Kotak 8. ATURAN 9 Tidak ada penghapusan atau penebalan yang dapat diijinkan pada Surat Keterangan Asal. Setiap perubahan wajib dilakukan dengan mencoret kesalahan keterangan dan menambahkan yang diperlukan. Perubahan tersebut wajib disetujui oleh pihak yang melakukan dan dilegalisasi oleh Lembaga-lembaga Pemerintah yang berwenang. Ruang-ruang yang tidak digunakan wajib disilang untuk mencegah setiap penambahan yang tidak diinginkan. ATURAN 10 Surat Keterangan Asal wajib diterbitkan oleh Lembaga-lembaga Pemerintah yang relevan dari Pihak pengekspor pada saat eksportasi atau segera setelah kapanpun produk-produk tersebut akan diekspor dapat dipertimbangkan berasal dari Pihak tersebut dalam kerangka Ketentuan Asal Barang ASEAN-China. Dalam kasus-kasus pengecualian apabila suatu Surat Keterangan Asal belum diterbitkan pada saat eksportasi atau segera setelah kesalahankesalahan yang tidak disengaja atau kelalaian atau karena sebab-sebab sah lainnya, Surat Keterangan Asal dapat diterbitkan berlaku surut, tetapi tak lebih dari satu tahun sejak tanggal pengapalan, dengan membubuhkan kata DITERBITKAN BERLAKU SURUT.

10 ATURAN 11 Dalam hal terjadi kecurian, kehilangan atau kerusakan Surat Keterangan Asal, eksportir dapat mengajukan secara tertulis kepada lembaga-lemabag pemerintah yang menerbitkan salinan resmi dari aslinya dan salinan ketiga yang akan dibuat berdasarkan dokumen-dokumen ekspor mengenai kepemilikan dengan membubuhkan pengesahan dengan kata-kata SALINAN NASKAH RESMI dalam Kotak 12. Salinan ini wajib memperhatikan tanggal asli Surat Keterangan Asal. Salinan naskah resmi dari Surat Keterangan Asal wajib diterbitkan tidak lebih dari satu tahun sejak tanggal penerbitan Surat Keterangan Asal asli dan dengan ketentuan bahwa eksportir menyampaikan kepada lembaga penerbit yang relevan salinan keempat. PENYAMPAIAN ATURAN 12 Surat Keterangan Asal asli wajib disampaikan bersamaan dengan salinan ketiga kepada Otoritas-otoritas Kepabeanan pada saat dimasukan ke pintu impor untuk barang-barang terkait. ATURAN 13 Batas waktu untuk penyampaian Surat Keterangan Asal berikut ini wajib dipatuhi: (d) Surat Keterangan Asal wajib disampaikan kepada Otoritas Kepabeanan dari Pihak pengimpor dalam waktu empat (4) bulan sejak tanggal pengesahan oleh Lembaga-lembaga Pemerintah yang relevan dari Pihak pengekspor; Apabila produk-produk tersebut melalui wilayah satu atau lebih negaranegara bukan-pihak sesuai dengan ketentuan-ketentuan Aturan 8 dari Ketentuan Asal Barang ASEAN-China, batas waktu sebagaimana tertuang pada ayat di atas untuk penyampaian Surat Keterangan Asal diperpanjang hingga enam (6) bulan; Apabila Surat Keterangan Asal disampaikan kepada Lembaga-lembaga Pemerintah yang relevan dari Pihak pengimpor setelah berakhirnya batas waktu penyampaian, Surat Keterangan Asal tersebut masih akan diterima apabila gagal mematuhi batas waktu tersebut sebagai akibat keadaan mendesak atau sebab-sebab sah lainnya diluar kuasa pengekspor; dan Dalam segala kasus, Lembaga-lembaga Pemerintah yang relevan dari Pihak pengimpor dapat menerima Surat Keterangan Asal tersebut dengan syarat bahwa produk-produk yang telah diimpor sebelum berakhirnya batas waktu atas Surat Keterangan Asal tersebut.

11 Aturan 14 Dalam hal pengiriman produk-produk yang berasal dari Pihak pengekspor dan tidak melebihi US$200 FOB, produksi dalam Surat Keterangan Asal wajib diabaikan dan penggunaan penyederhanaan pernyataan oleh pengekspor bahwa produk-produk yang dipermasalahkan berasal dari Pihak pengekspor akan diterima. Produk-produk yang dikirim melalui pos tersebut tidak melebihi dari US$200 FOB wajib juga mendapatkan perlakuan yang sama. ATURAN 15 Penemuan kesalahan perbedaan-perbedaan kecil antara pernyataan-pernyataan yang dibuat dalam Surat Keterangan Asal dan yang dibuat dalam dokumendokumen yang disampaikan kepada Otoritas-otoritas Kepabeanan dari Pihak pengimpor untuk maksud melakukan formalitas untuk importasi produk-produk tersebut wajib tidak ipso facto dengan keabsahan Surat Keterangan Asal, apabila faktanya tidak sesuai dengan produk-produk yang disampaikan. ATURAN 16 (d) Pihak pengimpor dapat meminta pemeriksaan secara random yang berlaku surut dan/atau apabila terdapat keraguan secara wajar pada keaslian dokumen tersebut atau terhadap keakuratan informasi berkenaan dengan keaslian produk tersebut yang dipermasalahkan atau dari bagian tertentu daripadanya. Permintaan tersebut wajib didukung dengan Surat Keterangan Asal yang terkait dan wajib merinci alasan-alasan dan setiap informasi tambahan yang menyarankan bahwa bagian-bagian yang dinyatakan dalam Surat Keterangan Asal dimaksud tidak akurat, kecuali pemeriksaan yang berlaku surut diminta secara acak. Otoritas-otoritas Kepabeanan Pihak pengimpor dapat menangguhkan ketentuan-ketentuan mengenai perlakuan preferensial sambil menunggu hasil verifikasi. Namun demikian, Pihak Pengimpor dapat melepaskan produk-produk tersebut kepada pengimpor dengan tunduk pada setiap kebijakan administratif yang dianggap perlu, dengan syarat bahwa produk-produk tersebut tidak merupakan subjek pelarangan atau pembatasan impor dan tidak terdapat kecurigaan kecurangan. Lembaga-lemabaga Pemerintah penerbit yang menerima pemeriksaan yang berlaku surut wajib menanggapi permintaan tersebut dengan segera dan membalasnya tidak lebih dari enam (6) bulan setelah penerimaan permohonan tersebut.

12 ATURAN 17 Permohonan untuk Surat Keterangan Asal dan seluruh dokumen yang terkait dengan permohonan dimaksud wajib disimpan oleh otoritas-otoritas penerbit tidak lebih dari dua (2) tahun sejak tanggal penerbitan. Informasi yang terkait dengan keabsahan Surat Keterangan Asal wajib diberikan atas permintaan Pihak pengimpor. Setiap informasi yang dikomunikasikan antara para Pihak yang terkait wajib diperlakukan sebagai informasi rahasia dan wajib digunakan hanya untuk maksud validasi Surat Keterangan Asal dimaksud. KASUS-KASUS KHUSUS ATURAN 18 Apabila tempat tujuan dari seluruh atau sebagian dari produk-produk yang diekspor ke suatu Pihak tertentu berubah, sebelum atau sesudah ketibaannya di Pihak tersebut, aturan-aturan berikut ini wajib dipatuhi: Apabila produk-produk yang telah disampaikan kepada Otoritas-otoritas Kepabeanan di Pihak pengimpor tertentu, Surat Keterangan Asal, dengan permohonan secara tertulis dari Pihak pengimpor, wajib disahkan untuk hal ini untuk seluruh atau bagian dari produk-produk dari otoritas-otoritas dimaksud dan aslinya dikembalikan ke importir. Salinan ketiga wajib dikembalikan kepada otoritas-otoritas penerbit. Apabila perubahan tempat tujuan yang terjadi selama pengangkutan ke Pihak pengimpor sebagaimana diuraikan dalam Surat Keterangan Asal, pengekspor dapat mengajukan permohonan secara tertulis, didukung dengan Surat Keterangan Asal yang telah diterbitkan, untuk penerbitan baru bagi seluruh atau bagian-bagian dari produk tersebut. ATURAN 19 Untuk maksud-maksud penerapan Aturan 8 Ketentuan Asal Barang ASEAN- China, apabila pengangkutan dilakukan melalui wilayah satu atau lebih bukan Negara Anggota ACFTA, hal-hal berikut ini wajib dilakukan kepada otoritasotoritas pemerintah dari Negara Anggota pengimpor: Melalui penerbitan Dokumen Pengapalan yang diterbitkan di Negara Anggota pengekspor; Suatu Surat Keterangan Asal yang diterbitkan oleh Lembaga-Lembaga Pemerintah yang relevan dari Negara-negara Anggota Pengimpor; Suatu salinan faktur komersial asli berkenaan dengan produk tersebut; dan

13 (d) ATURAN 20 Dokumen-dokumen pendukung yang membuktikan bahwa persyaratanpersyaratan dari Aturan 8 sub-ayat (i), (ii) dan (iii) Ketentuan Asal Barang ASEAN-China telah dipenuhi. Produk-produk yang dikirim dari suatu Pihak pengekspor untuk pameran di Pihak lainnya dan dijual selama atau setelah pameran tersebut ke suatu Pihak wajib menikmati perlakuan tarif preferensial ASEAN-China dengan ketentuan bahwa produk-produk tersebut memenuhi persyaratan Ketentuan Asal Barang ASEAN-China sebagaimana diatur bahwa barang tersebut memenuhi ketentuan Lembaga-Lembaga Pemerintah yang relevan dari Pihak pengimpor bahwa: (i) suatu pengekspor telah mengirimkan produk-produk tersebut dari wilayah Pihak pengekspor ke negara tempat pameran tersebut diselenggarakan dan dipamerkan disana; (ii) pengekspor telah menjual barang-barang tersebut atau mengalihkannya kepada seorang penerima di Pihak pengimpor; dan (iii) produk-produk tersebut telah dikirim selama pameran atau dengan segera sesudahnya dikirim kepada Pihak pengimpor di negara tempat produk-produk tersebut dikirimkan untuk pameran. Untuk maksud-maksud melaksanakan ketentuan-ketentuan di atas, Surat Keterangan Asal harus dibuat oleh Lembaga-lembaga Pemerintah yang relevan dari Pihak pengimpor. Nama dan alamat pameran harus dicantumkan, dalam surat yang diterbitkan oleh Lembaga-lembaga Pemerintah yang relevan tempat pameran tersebut diselenggarakan bersamaan dengan dokumen-dokumen pendukung sebagaimana tercantum dalam Aturan 19(d) dapat dipersyaratkan. Ayat wajib berlaku untuk setiap perdagangan, pameran pertanian atau kerajinan, pameran atau pertunjukan sejenis atau pameran di toko-toko atau ditempat-tempat usaha dengan maksud penjualan produk-produk asing dan tempat produk-produk dimaksud berada dalam pengawasan kepabeanan selama pameran. TINDAKAN TERHADAP TINDAK KECURANGAN ATURAN 21 Apabila dicurigai terdapat tindak kecurangan berhubungan dengan Surat Keterangan Asal telah ditemukan, Lembaga-lembaga Pemerintah yang bersangkutan wajib bekerjasama untuk mengambil tindakan di wilayah masing-masing Pihak terhadap para pihak yang terlibat.

14 ATURAN 22 Masing-masing Pihak wajib bertanggungjawab untuk memberikan sanksi hukum atas tindak kecurangan yang terkait dengan Surat Keterangan Asal tersebut. Dalam hal terjadi sengketa berkenaan dengan penentuan asal, penggolongan atau produk-produk atau hal-hal lainnya, Lembaga-lembaga Pemerintah yang bersangkutan di Negara-Negara anggota pengekspor dan pengimpor wajib saling berkonsultasi dengan maksud untuk menyelesaikan sengketa tersebut, dan hasilnya wajib dilaporkan kepada Negara-negara Anggota lain sebagai informasi.

15 ATURAN PRODUK-PRODUK SPESIFIK (akan dirundingkan mulai Januari 2004) LAMPIRAN B

16 CATATAN LAMPIRAN 1. Negara-negara Anggota yang menerima formulir ini untuk maksud perlakuan preferensial berdasarkan perlakuan tarif preferensial Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN-CHINA: BRUNEI DARUSSALAM KAMBOJA CHINA INDONESIA LAOS MALAYSIA MYANMAR FILIPINA SINGAPURA THAILAND VIETNAM 2. Ketentuan: ketentuan-ketentuan utama untuk pemberian perlakuan preferensial berdasarkan tarif preferensial ACFTA bahwa barang-barang tersebut telah dikirimkan ke setiap Negara Anggota sebagaimana tercantum di atas: (i) (ii) (iii) harus dinyatakan dalam suatu uraian produk-produk yang berhak mendapatkan konsesi di negara tujuan; harus memenuhi ketentuan-ketentuan pengiriman bahwa barang-barang tersebut harus dikirim secara langsung dari setiap Negara Anggota ACFTA ke Negara Anggota pengimpor tetapi pengangkutan yang melalui satu atau lebih bukan Negara Anggota ASEAN-China perantara, juga diterima dengan syarat bahwa setiap persinggahan, pengapalan atau penyimpanan sementara hanya dilakukan untuk alasan-alasan geografis atau persyaratan-persyaratan pengangkutan; dan harus memenuhi kriteria asal sebagaimana diberikan dalam ayat selanjutnya. 3. KRITERIA ASAL: Untuk ekspor-ekspor ke negara-negara sebagaimana tersebut di atas akan diberikan hak untuk mendapatkan perlakuan preferensial, yang memenuhi salah satu persyaratan dari: (i) (ii) (iii) (iv) Produk-produk yang secara keseluruhan diperoleh di Negara Anggota pengekspor sebagaimana ditentukan dalam Aturan 3 Ketentuan Asal Barang ASEAN-China; Tunduk pada sub-ayat (i) di atas, untuk maksud melaksanakan ketentuan-ketentuan Aturan 2 Ketentuan Asal Barang ASEAN-China, produk-produk yang dibuat dan diolah sebagai hasil dari keseluruhan nilai bahan, bagian atau yang diproduksi berasal dari hasil Negara-negara bukan Anggota ACFTA atau yang asalnya ditentukan digunakan tidak lebih dari 60% dari nilai FOB atas produk tersebut yang diproduksi atau diperoleh dan hasil akhir dari fabrikasi tersebut dilakukan di dalam wilayah Negara Anggota pengekspor. Produk-produk yang memenuhi persyaratan asal sebagaimana diatur dalam Aturan 2 Ketentuan Asal Barang ASEAN-China dan yang digunakan di Negara-negara Anggota sebagai masukan untuk suatu produk akhir berhak mendapatkan perlakuan preferensial di Negara atau Negara-negara Anggota lainnya wajib dipertimbangkan sebagai suatu produk yang barang di Negara Anggota yang pengerjaan atau pengolahan produk akhir tersebut telah dilakukan dengan syarat bahwa keseluruhan kandungan ACFTA atas produk akhir tersebut tidak kurang dari 40%; atau Produk-produk yang memenuhi Aturan Produk-Produk Spesifik sebagaimana diatur dalam Lampiran B dari Ketentuan Asal Barang ASEAN-China wajib dipertimbangkan sebagai barang yang transformasi cukupnya telah dilakukan di suatu Pihak. Apabila barang tersebut digolongkan berdasarkan kriteria di atas, eksportir wajib mengindikasikan dalam Kotak 8 dari formulir ini kriteria asal berdasarkan tuntutannya bahwa barang-barangnya memenuhi persyaratan untuk mendapatkan perlakuan preferensial, dengan cara sebagaimana ditunjukkan dalam tabel berikut: Keadaan-keadaan produksi atau fabrikasi di negara pertama dinamai Disisipkan dalam Kotak 8 Kotak 11 dalam formulir ini Produk-produk yang secara keseluruhan diproduksi di negara X pengekspor. (lihat ayat 3 (i) di atas) Produk-produk yang dikerjakan tetapi tidak secara keseluruhan Persentase kandungan dari satu diproduksi di Negara Anggota pengekspor yang diproduksi sesuai negara, contohnya 40% dengan ketentuan ayat 3 (ii) di atas Produk-produk yang dikerjakan tetapi tidak secara keseluruhan Persentase kandungan kumulatif diproduksi di Negara Anggota pengekspor yang diproduksi sesuai ASEAN, contohnya 40% dengan ketentuan ayat 3 (iii) di atas (d) Produk-produk yang memenuhi Aturan Produk-Produk Spesifik Aturan Produk-Produk Spesifik 4. MASING-MASING BARANG HARUS MEMENUHI KUALIFIKASI: seharusnya dicatat bahwa seluruh produk daam pengiriman tersebut harus memiliki kualifikasi secara terpisah dalam haknya masing-masing. Hal ini sangat relevan pada saat barang-barang sejenis dengan ukuran berbeda atau suku-suku cadang dikirim. 5. URAIAN BARANG: Uraian barang harus dirinci secara mencukupi untuk memungkinkan produk-produk tersebut diidentifikasikan oleh para Pejabat Kepabeanan yang memeriksanya. Nama Fabrikan, setiap merek dagang harus juga diuraikan. 6. Nomor Sistem yang Diharmonisasi (HS) wajib merupakan nomor dari Pihak pengimpor. 7. Istilah Pengekspor dalam Kotak 11 dapat meliputi fabrikan atau produsen. 8. HANYA UNTUK DIISI PETUGAS: Otoritas Kepabeanan dari Negara Anggota Pengimpor harus memberikan tanda ( ) dalam kotak-kotak yang relevan dalam kolom 4 baik perlakuan preferensial diberikan maupun tidak.

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a.

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a.

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.17/MEN/2010 TENTANG PENGENDALIAN MUTU DAN KEAMANAN HASIL PERIKANAN YANG MASUK KE DALAM WILAYAH REPUBLIK INDONESIA DENGAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG PERLAKUAN KEPABEANAN, PERPAJAKAN, DAN CUKAI SERTA TATA LAKSANA PEMASUKAN DAN PENGELUARAN BARANG KE DAN DARI SERTA BERADA DI KAWASAN YANG

Lebih terperinci

MENTERI KEUANGAN, SALINANN TENTANG. telah diubah PERATURAN BAB I. Pasal 1

MENTERI KEUANGAN, SALINANN TENTANG. telah diubah PERATURAN BAB I. Pasal 1 MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINANN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMORR 160/PMK.04/2010 TENTANG NILAI PABEAN UNTUK PENGHITUNGANN BEA MASUK DENGANN RAHMATT TUHAN YANG MAHA ESAA MENTERI KEUANGAN,

Lebih terperinci

SCHOTT Igar Glass Syarat dan Ketentuan Pembelian Barang (versi Bahasa Indonesia)

SCHOTT Igar Glass Syarat dan Ketentuan Pembelian Barang (versi Bahasa Indonesia) SCHOTT Igar Glass Syarat dan Ketentuan Pembelian Barang (versi Bahasa Indonesia) Syarat dan ketentuan pembelian barang ini akan mencakup semua barang dan jasa yang disediakan oleh PT. SCHOTT IGAR GLASS

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 20092008 TENTANG TEMPAT PENIMBUNAN BERIKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 20092008 TENTANG TEMPAT PENIMBUNAN BERIKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 20092008 TENTANG TEMPAT PENIMBUNAN BERIKAT Menimbang : a. DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, bahwa Undang-Undang Nomor

Lebih terperinci

TENTANG PEMBEBASAN BEA MASUK ATAS IMPOR BARANG DAN BAHAN YANG AKAN DIRAKIT MENJADI KENDARAAN BERMOTOR UNTUK TUJUAN EKSPOR MENTERI KEUANGAN,

TENTANG PEMBEBASAN BEA MASUK ATAS IMPOR BARANG DAN BAHAN YANG AKAN DIRAKIT MENJADI KENDARAAN BERMOTOR UNTUK TUJUAN EKSPOR MENTERI KEUANGAN, SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 16/PMK.011/2008 TENTANG PEMBEBASAN BEA MASUK ATAS IMPOR BARANG DAN BAHAN YANG AKAN DIRAKIT MENJADI KENDARAAN BERMOTOR UNTUK TUJUAN EKSPOR MENTERI KEUANGAN, Menimbang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2006 DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN ( DALAM SATU NASKAH )

UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2006 DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN ( DALAM SATU NASKAH ) UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2006 DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN ( DALAM SATU NASKAH ) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Negara

Lebih terperinci

DHL EXPRESS SYARAT DAN KETENTUAN PENGIRIMAN BARANG. ( Syarat dan Ketentuan )

DHL EXPRESS SYARAT DAN KETENTUAN PENGIRIMAN BARANG. ( Syarat dan Ketentuan ) DHL EXPRESS SYARAT DAN KETENTUAN PENGIRIMAN BARANG ( Syarat dan Ketentuan ) PEMBERITAHUAN PENTING Ketika meminta jasa-jasa DHL, Anda sebagai Pengirim setuju, atas nama Anda sendiri dan atas nama orang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa di dalam era perdagangan global, sejalan dengan konvensi-konvensi

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 76/PMK. 011/2012 TENTANG

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 76/PMK. 011/2012 TENTANG MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 76/PMK. 011/2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 176/PMK. 011/2009 TENTANG PEMBEBASAN

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.15/MEN/2011 TENTANG PENGENDALIAN MUTU DAN KEAMANAN HASIL PERIKANAN YANG MASUK KE DALAM WILAYAH NEGARA REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

Nomor SOP Tgl Pembuatan Tgl revisi Tgl Pengesahan Disahkan oleh Nama SOP

Nomor SOP Tgl Pembuatan Tgl revisi Tgl Pengesahan Disahkan oleh Nama SOP DINAS KEHUTANAN PROVINSI JAWA TIMUR Nomor SOP Tgl Pembuatan Tgl revisi Tgl Pengesahan Disahkan oleh Nama SOP 522/691/117.01/ 2012 2 Nopember 2012 - - Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur Pelayanan

Lebih terperinci

STANDAR PENETAPAN HARGA INDONESIA Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1977 tanggal 26 April 1977 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

STANDAR PENETAPAN HARGA INDONESIA Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1977 tanggal 26 April 1977 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, STANDAR PENETAPAN HARGA INDONESIA Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1977 tanggal 26 April 1977 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pengaturan standar penetapan harga guna perhitungan bea

Lebih terperinci

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P- 30/BC/2009 TENTANG

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P- 30/BC/2009 TENTANG DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P- 30/BC/2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI

Lebih terperinci

Perjanjian BlackBerry ID

Perjanjian BlackBerry ID Perjanjian BlackBerry ID Perjanjian BlackBerry ID atau "Perjanjian" merupakan suatu perjanjian hukum antara Research In Motion Limited, atau anak perusahaannya atau afiliasinya sebagaimana tertera dalam

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 101 TAHUN 2014 TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 101 TAHUN 2014 TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 101 TAHUN 2014 TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR PER -17 /BC/2012 TENTANG

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR PER -17 /BC/2012 TENTANG KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR PER -17 /BC/2012 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN

Lebih terperinci

Fair Trade USA Ketentuan-Ketentuan Harga Khusus dan Premium

Fair Trade USA Ketentuan-Ketentuan Harga Khusus dan Premium Fair Trade USA Ketentuan-Ketentuan Harga Khusus dan Premium www.fair TradeUSA.org 2013 Fair Trade USA. All rights reserved. Ketentuan-Ketentuan Harga Khusus dan Premium Lampiran ini berisi Ketentuan-Ketentuan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33/M-DAG/PER/8/2010

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33/M-DAG/PER/8/2010 PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33/M-DAG/PER/8/2010 TENTANG SURAT KETERANGAN ASAL (CERTIFICATE OF ORIGIN) UNTUK BARANG EKSPOR INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44/PMK.04/2012 TENTANG

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44/PMK.04/2012 TENTANG SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 44/PMK.04/2012 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 147/PMK.04/2011 TENTANG KAWASAN BERIKAT SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH DENGAN PERATURAN MENTERI

Lebih terperinci

Pengawasan Atas Barang Impor Dengan Fasilitas Pembebasan Bea Masuk Dalam Rangka Penanaman Modal

Pengawasan Atas Barang Impor Dengan Fasilitas Pembebasan Bea Masuk Dalam Rangka Penanaman Modal Pengawasan Atas Barang Impor Dengan Fasilitas Pembebasan Bea Masuk Dalam Rangka Penanaman Modal Oleh : Mohamad Jafar Widyaiswara Pusdiklat Bea dan Cukai Abstraksi Dasar hukum pemberian fasilitas pembebasan

Lebih terperinci

FUNGSI KEPABEANAN Oleh : Basuki Suryanto *)

FUNGSI KEPABEANAN Oleh : Basuki Suryanto *) FUNGSI KEPABEANAN Oleh : Basuki Suryanto *) Berdasarkan Pasal 1 angka (1) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan, bahwa yang dimaksud

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.28/MEN/2009 TENTANG SERTIFIKASI HASIL TANGKAPAN IKAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.28/MEN/2009 TENTANG SERTIFIKASI HASIL TANGKAPAN IKAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.28/MEN/2009 TENTANG SERTIFIKASI HASIL TANGKAPAN IKAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam

Lebih terperinci

Legalitas Pengeksporan Hasil-Hasil Hutan ke Negara-Negara Uni Eropa, Australia dan Amerika Serikat

Legalitas Pengeksporan Hasil-Hasil Hutan ke Negara-Negara Uni Eropa, Australia dan Amerika Serikat Legalitas Pengeksporan Hasil-Hasil Hutan ke Negara-Negara Uni Eropa, Australia dan Amerika Serikat LOKAKARYA PELATIHAN LEGALITAS Kota, Negara Tanggal, 2013 Australian Illegal Logging Prohibition Act (AILPA)

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 1983 TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL NOMOR 13 TAHUN 2009

KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL NOMOR 13 TAHUN 2009 KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL NOMOR 13 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN DAN TATA CARA PENGENDALIAN PELAKSANAAN PENANAMAN

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2000 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PERTAMBAHAN NILAI BARANG DAN JASA DAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH

Lebih terperinci

KETENTUAN DAN PERSYARATAN BLACKBERRY ID

KETENTUAN DAN PERSYARATAN BLACKBERRY ID KETENTUAN DAN PERSYARATAN BLACKBERRY ID UNTUK MENDAPATKAN AKUN BLACKBERRY ID, SERTA DAPAT MENGAKSES LAYANAN YANG MENSYARATKAN ANDA UNTUK MEMILIKI AKUN BLACKBERRY ID, ANDA HARUS (1) MENYELESAIKAN PROSES

Lebih terperinci

PROSEDUR EKSPOR DALAM MENDUKUNG KEGIATAN MIGAS. Kementerian Keuangan RI Direktorat Jenderal Bea dan Cukai

PROSEDUR EKSPOR DALAM MENDUKUNG KEGIATAN MIGAS. Kementerian Keuangan RI Direktorat Jenderal Bea dan Cukai PROSEDUR EKSPOR DALAM MENDUKUNG KEGIATAN MIGAS Kementerian Keuangan RI Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Daerah pabean adalah wilayah Republik Indonesia yang meliputi wilayah darat, perairan dan ruang

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 188/PMK.04/2010 TENTANG

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 188/PMK.04/2010 TENTANG MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 188/PMK.04/2010 TENTANG IMPOR BARANG YANG DIBAWA OLEH PENUMPANG, AWAK SARANA PENGANGKUT, PELINTAS BATAS, DAN BARANG KIRIMAN

Lebih terperinci

ADENDUM TERHADAP KETENTUAN PEMBELIAN DALAM BBSLA UNTUK SELURUH TOKO RIME

ADENDUM TERHADAP KETENTUAN PEMBELIAN DALAM BBSLA UNTUK SELURUH TOKO RIME ADENDUM TERHADAP KETENTUAN PEMBELIAN DALAM BBSLA UNTUK SELURUH TOKO RIME 1. RUANG LINGKUP & APLIKASI 1.1. Perjanjian Lisensi BlackBerry Solution ("BBSLA") berlaku untuk seluruh distribusi (gratis dan berbayar)

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2002 TENTANG KARANTINA TUMBUHAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2002 TENTANG KARANTINA TUMBUHAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2002 TENTANG KARANTINA TUMBUHAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka memberikan landasan hukum yang kuat bagi penyelenggaraan

Lebih terperinci

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI Menimbang DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI SALINAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P-40/BC/2008 TENTANG TATA LAKSANA KEPABEANAN DI BIDANG EKSPOR

Lebih terperinci

GARANSI TERBATAS (PLAYBOOK) Hak-Hak Yang Wajib Diperoleh Berdasarkan Undang-Undang. Garansi

GARANSI TERBATAS (PLAYBOOK) Hak-Hak Yang Wajib Diperoleh Berdasarkan Undang-Undang. Garansi GARANSI TERBATAS (PLAYBOOK) Hak-Hak Yang Wajib Diperoleh Berdasarkan Undang-Undang. Garansi Terbatas ini mengatur tanggung jawab Research In Motion dan grup perusahaan afiliasinya ( RIM ) tentang BlackBerry

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 1996 TENTANG TEMPAT PENIMBUNAN BERIKAT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 1996 TENTANG TEMPAT PENIMBUNAN BERIKAT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 1996 TENTANG TEMPAT PENIMBUNAN BERIKAT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa dalam rangka meningkatkan daya saing produk ekspor di pasaran

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2013 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG KEIMIGRASIAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2013 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG KEIMIGRASIAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2013 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG KEIMIGRASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

Demikian untuk dilaksanakan dengan penuh rasa tanggung jawab. DIREKTUR JENDERAL ttd. DR.RB PERMANA AGUNG D. MSc. NIP. 060044475

Demikian untuk dilaksanakan dengan penuh rasa tanggung jawab. DIREKTUR JENDERAL ttd. DR.RB PERMANA AGUNG D. MSc. NIP. 060044475 PETUNJUK PELAKSANAAN PEMUNGUTAN BEA MASUK ANTI DUMPING TERHADAP IMPOR SORBITOL CAIR (D-GLUCITOL) DARI UNI EROPA (Surat Edaran Direktur Jenderal Bea dan Cukai No.SE-12/BC/2001 tanggal 20 April 2001) 1.Sdr.

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR: 18/Permentan/OT.140/3/2011 TENTANG

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR: 18/Permentan/OT.140/3/2011 TENTANG PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR: 18/Permentan/OT.140/3/2011 TENTANG PELAYANAN DOKUMEN KARANTINA PERTANIAN DALAM SISTEM ELEKTRONIK INDONESIA NATIONAL SINGLE WINDOW (INSW) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

REGULASI NO. 2001/14 TENTANG MATA UANG RESMI DI TIMOR LOROSAE

REGULASI NO. 2001/14 TENTANG MATA UANG RESMI DI TIMOR LOROSAE UNITED NATIONS United Nations Transitional Administration in East Timor NATIONS UNIES Administrasion Transitoire des Nations Unies in au Timor Oriental UNTAET UNTAET/REG/2001/14 20 Juli 2001 REGULASI NO.

Lebih terperinci

SALINAN MENTERI NOMOR DENGAN. Pembuatan. elektronika. barang. terhadap. impor. c. bahwa. telah memenuhi. Komponen. dan bahan. Bea Masuk.

SALINAN MENTERI NOMOR DENGAN. Pembuatan. elektronika. barang. terhadap. impor. c. bahwa. telah memenuhi. Komponen. dan bahan. Bea Masuk. MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 58/PMK. 011/2013 TENTANG BEA MASUK DITANGGUNG PEMERINTAH ATAS IMPOR BARANG DAN BAHAN GUNA PEMBUATAN KOMPONEN

Lebih terperinci

Prakarsa Karet Alam Berkesinambungan Sukarela (SNR) Kriteria dan Indikator Kinerja

Prakarsa Karet Alam Berkesinambungan Sukarela (SNR) Kriteria dan Indikator Kinerja Prakarsa Karet Alam Berkesinambungan Sukarela (SNR) Kriteria dan Indikator Kinerja Kriteria, Indikator dan KPI Karet Alam Berkesinambungan 1. Referensi Kriteria, Indikator dan KPI SNR mengikuti sejumlah

Lebih terperinci

GPRS adalah General Packet Radio Service; Layanan Health Concierge adalah layanan sebagaimana dimaksud di dalam Lampiran 1;

GPRS adalah General Packet Radio Service; Layanan Health Concierge adalah layanan sebagaimana dimaksud di dalam Lampiran 1; -1- Peralatan adalah handset EPI yang diperlukan untuk menggunakan Layanan yang dibeli oleh Pelanggan dan yang disebutkan di dalam Kontrak dan peralatan pengawasan lain dan/atau aksesorisnya; GPRS adalah

Lebih terperinci

PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK PERANCIS MENGENAI KERJA SAMA ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK PERANCIS MENGENAI KERJA SAMA ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK PERANCIS MENGENAI KERJA SAMA ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL - 1 - Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Perancis

Lebih terperinci

Menteri Perdagangan Republik Indonesia

Menteri Perdagangan Republik Indonesia Menteri Perdagangan Republik Indonesia PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 33/M-DAG/PER/8/2008 TENTANG PERUSAHAAN PERANTARA PERDAGANGAN PROPERTI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

SYARAT-SYARAT DAN KETENTUAN-KETENTUAN RENCANA LAYANAN PENDUKUNG TAMBAHAN UNTUK PELANGGAN BLACKBERRY

SYARAT-SYARAT DAN KETENTUAN-KETENTUAN RENCANA LAYANAN PENDUKUNG TAMBAHAN UNTUK PELANGGAN BLACKBERRY HARAP BACA DOKUMEN INI DENGAN BAIK SEBELUM MENERIMANYA. RIM (sebagaimana didefinisikan di bawah ini) dengan senang hati menyediakan untuk Anda (sebagaimana didefinisikan di bawah ini) Rencana Layanan Pendukung

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2000 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2000 TENTANG KAWASAN PERDAGANGAN BEBAS DAN PELABUHAN BEBAS MENJADI UNDANG-UNDANG

Lebih terperinci

PIAGAM UNTUK PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN BAGI PARA SUPPLIER DAN KONTRAKTOR ALSTOM

PIAGAM UNTUK PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN BAGI PARA SUPPLIER DAN KONTRAKTOR ALSTOM 01/01/2014 PIAGAM UNTUK PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN BAGI PARA SUPPLIER DAN KONTRAKTOR ALSTOM PENDAHULUAN Pembangunan berkelanjutan adalah bagian penggerak bagi strategi Alstom. Ini berarti bahwa Alstom sungguhsungguh

Lebih terperinci

UNTAET INSTRUKSI NOMOR 5/2001 TENTANG TATA CARA PENDAFTARAN KENDARAAN BERMOTOR DI TIMOR LOROSAE

UNTAET INSTRUKSI NOMOR 5/2001 TENTANG TATA CARA PENDAFTARAN KENDARAAN BERMOTOR DI TIMOR LOROSAE UNITED NATIONS United Nations Transitional Administration in East Timor UNTAET NATIONS UNIES Administration Transitoire des Nations Unies au Timor Oriental UNTAET/DIR/2001/5 Juni 5 2001 INSTRUKSI NOMOR

Lebih terperinci

Putusan Pengadilan Pajak Nomor : Put-60815/PP/M.XVII A/19/2015. Tahun Pajak : 2013

Putusan Pengadilan Pajak Nomor : Put-60815/PP/M.XVII A/19/2015. Tahun Pajak : 2013 Putusan Pengadilan Pajak Nomor : Put-60815/PP/M.XVII A/19/2015 Jenis Pajak : Bea Masuk Tahun Pajak : 2013 Pokok Sengketa : bahwa yang menjadi pokok sengketa adalah pengajuan banding terhadap Keputusan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2000 TANGGAL 21 DESEMBER 2000 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2000 TANGGAL 21 DESEMBER 2000 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2000 TANGGAL 21 DESEMBER 2000 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2000 TENTANG KAWASAN PERDAGANGAN BEBAS DAN PELABUHAN

Lebih terperinci

KONFERENSI PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA MENGENAI ARBITRASE KOMERSIAL INTERNASIONAL KONVENSI MENGENAI PENGAKUAN DAN PELAKSANAAN PUTUSAN ARBITRASE ASING

KONFERENSI PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA MENGENAI ARBITRASE KOMERSIAL INTERNASIONAL KONVENSI MENGENAI PENGAKUAN DAN PELAKSANAAN PUTUSAN ARBITRASE ASING KONFERENSI PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA MENGENAI ARBITRASE KOMERSIAL INTERNASIONAL KONVENSI MENGENAI PENGAKUAN DAN PELAKSANAAN PUTUSAN ARBITRASE ASING PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA 1958 Konvensi mengenai Pengakuan

Lebih terperinci

PEDOMAN PENGELOLAAN INFORMASI DAN DOKUMENTASI DI LINGKUNGAN SEKRETARIAT KABINET

PEDOMAN PENGELOLAAN INFORMASI DAN DOKUMENTASI DI LINGKUNGAN SEKRETARIAT KABINET PEDOMAN PENGELOLAAN INFORMASI DAN DOKUMENTASI DI LINGKUNGAN SEKRETARIAT KABINET A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Proses dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara, telah membuat bangsa kita sadar akan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG BARAT NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN RUMAH SUSUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG BARAT NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN RUMAH SUSUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang : a. Mengingat : 1. PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG BARAT NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN RUMAH SUSUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANDUNG BARAT, bahwa rumah merupakan

Lebih terperinci

SYARAT DAN KETENTUAN SURAT PESANAN PEMBELIAN LEAR INDONESIA. 1. Pembentukan; Penawaran; Penerimaan; Syarat-syarat Ekslusif.

SYARAT DAN KETENTUAN SURAT PESANAN PEMBELIAN LEAR INDONESIA. 1. Pembentukan; Penawaran; Penerimaan; Syarat-syarat Ekslusif. SYARAT DAN KETENTUAN SURAT PESANAN PEMBELIAN LEAR INDONESIA Versi 1 Mei 1 2013 1. Pembentukan; Penawaran; Penerimaan; Syarat-syarat Ekslusif. A. Masing-masing surat pesanan, bersama-sama dengan Syarat-syarat

Lebih terperinci

-1- KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR : PER-5 /BC/2011

-1- KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR : PER-5 /BC/2011 -1- KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR : PER-5 /BC/2011 TENTANG TATA LAKSANA PEMBERITAHUAN MANIFES KEDATANGAN SARANA

Lebih terperinci

SYARAT DAN KETENTUAN PELAYANAN PERBANKAN ELEKTRONIK DBS

SYARAT DAN KETENTUAN PELAYANAN PERBANKAN ELEKTRONIK DBS SYARAT DAN KETENTUAN PELAYANAN PERBANKAN ELEKTRONIK DBS Bagian A Syarat dan Ketentuan Umum yang Mengatur Pelayanan Perbankan Elektronik 1. DEFINISI DAN INTERPRETASI 1.1 Definisi. Dalam Syarat dan Ketentuan

Lebih terperinci

SYARAT DAN KETENTUANNYA ADALAH SEBAGAI BERIKUT:

SYARAT DAN KETENTUANNYA ADALAH SEBAGAI BERIKUT: SYARAT & KETENTUAN INFOSEKITAR (WEBSITE DAN APLIKASI) ADALAH LAYANAN ONLINE YANG DIMILIKI DAN DIOPERASIKAN OLEH GALAKSI KOMPUTER YAITU APLIKASI YANG MENYEDIAKAN INFORMASI PROMO DISKON/POTONGAN HARGA UNTUK

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN BADAN KARANTINA IKAN, PENGENDALIAN MUTU DAN KEAMANAN HASIL PERIKANAN

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN BADAN KARANTINA IKAN, PENGENDALIAN MUTU DAN KEAMANAN HASIL PERIKANAN KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN BADAN KARANTINA IKAN, PENGENDALIAN MUTU DAN KEAMANAN HASIL PERIKANAN PERATURAN KEPALA BADAN KARANTINA IKAN, PENGENDALIAN MUTU DAN KEAMANAN HASIL PERIKANAN SELAKU OTORITAS

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2009 TENTANG KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2009 TENTANG KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2009 TENTANG KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 78,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2009 TENTANG KAWASAN EKONOMI KHUSUS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2009 TENTANG KAWASAN EKONOMI KHUSUS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2009 TENTANG KAWASAN EKONOMI KHUSUS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa masyarakat adil dan makmur berdasarkan

Lebih terperinci

SYARAT DAN ATURAN AKREDITASI LABORATORIUM

SYARAT DAN ATURAN AKREDITASI LABORATORIUM DP.01.07 SYARAT DAN ATURAN AKREDITASI LABORATORIUM Komite Akreditasi Nasional National Accreditation Body of Indonesia Gedung Manggala Wanabakti, Blok IV, Lt. 4 Jl. Jend. Gatot Subroto, Senayan, Jakarta

Lebih terperinci

UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan

Lebih terperinci

SYARAT DAN KETENTUAN DARI ORDER PEMBELIAN ( KETENTUAN ) Dalam Ketentuan ini, kecuali terdapat maksud lainnya:

SYARAT DAN KETENTUAN DARI ORDER PEMBELIAN ( KETENTUAN ) Dalam Ketentuan ini, kecuali terdapat maksud lainnya: SYARAT DAN KETENTUAN DARI ORDER PEMBELIAN ( KETENTUAN ) 0. Definisi Dalam Ketentuan ini, kecuali terdapat maksud lainnya: Afiliasi berarti, suatu entitas yang (a) mengendalikan suatu Pihak; (b) dikendalikan

Lebih terperinci

Syarat dan Ketentuan untuk Kontes Microsoft Get2Modern SMB IT Makeover

Syarat dan Ketentuan untuk Kontes Microsoft Get2Modern SMB IT Makeover Syarat dan Ketentuan untuk Kontes Microsoft Get2Modern SMB IT Makeover CATATAN PENTING: HARAP MEMBACA SYARAT DAN KETENTUAN INI SEBELUM MENGIKUTI KONTES. SYARAT DAN KETENTUAN INI MERUPAKAN PERJANJIAN PENGIKAT

Lebih terperinci

Perjanjian Lisensi dan Persyaratan Penggunaan Kindle untuk iphone/ipad

Perjanjian Lisensi dan Persyaratan Penggunaan Kindle untuk iphone/ipad Perjanjian Lisensi dan Persyaratan Penggunaan Kindle untuk iphone/ipad PERJANJIAN INI ADALAH ANTARA ANDA DAN AMAZON DIGITAL SERVICES, INC (DENGAN AFILIASINYA, "AMAZON" ATAU "KAMI"). SILAKAN BACA PERJANJIAN

Lebih terperinci

Kode Etik. .1 "Yang Harus Dilakukan"

Kode Etik. .1 Yang Harus Dilakukan Kode Etik Kode Etik Dokumen ini berisi "Kode Etik" yang harus dipatuhi oleh para Direktur, Auditor, Manajer, karyawan Pirelli Group, serta secara umum siapa saja yang bekerja di Italia dan di luar negeri

Lebih terperinci

SYARAT DAN KETENTUAN ( SYARAT ) UNTUK PROGRAM UPGRADE STATUS HILTON HHONORS GOLD KAWASAN ASIA PASIFIK

SYARAT DAN KETENTUAN ( SYARAT ) UNTUK PROGRAM UPGRADE STATUS HILTON HHONORS GOLD KAWASAN ASIA PASIFIK SYARAT DAN KETENTUAN ( SYARAT ) UNTUK PROGRAM UPGRADE STATUS HILTON HHONORS GOLD KAWASAN ASIA PASIFIK Istilah-istilah berikut mengandung arti seperti tertera dibawah ini kecuali konteks menyatakan lain:

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA 17/M-DAG/PER/3/2010 TENTANG

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA 17/M-DAG/PER/3/2010 TENTANG PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 17/M-DAG/PER/3/2010 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN NOMOR 45/M-DAG/PER/9/2009 TENTANG ANGKA PENGENAL IMPORTIR (API) DENGAN

Lebih terperinci

GARANSI TERBATAS. (i) memperbaiki bagian Perangkat BlackBerry yang cacat tanpa mengenakan biaya kepada ANDA dengan bagian baru atau yang direkondisi;

GARANSI TERBATAS. (i) memperbaiki bagian Perangkat BlackBerry yang cacat tanpa mengenakan biaya kepada ANDA dengan bagian baru atau yang direkondisi; GARANSI TERBATAS Hak-hak Tambahan Di Bawah Undang-undang Konsumen. Jika ANDA seorang konsumen, ANDA mungkin memiliki hak hukum (menurut undang-undang), selain hak yang ditetapkan dalam Garansi Terbatas

Lebih terperinci

KONVENSI INTERNASIONAL PEMBERANTASAN PENDANAAN TERORISME. Mukadimah

KONVENSI INTERNASIONAL PEMBERANTASAN PENDANAAN TERORISME. Mukadimah KONVENSI INTERNASIONAL PEMBERANTASAN PENDANAAN TERORISME Negara-Negara Pihak pada Konvensi ini, Mukadimah Mengingat tujuan-tujuan dan prinsip-prinsip Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai pemeliharaan

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KEUANGAN DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI TENTANG

KEMENTERIAN KEUANGAN DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI TENTANG KEMENTERIAN KEUANGAN DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR PER- 45 /BC/2011 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PENELITIAN ULANG TARIF

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1996 TENTANG PERAIRAN INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1996 TENTANG PERAIRAN INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1996 TENTANG PERAIRAN INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: 1. bahwa berdasarkan kenyataan sejarah dan cara pandang

Lebih terperinci

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR : P-08/BC/2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : /11/M-DAG/PER/3/2010 TENTANG

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : /11/M-DAG/PER/3/2010 TENTANG PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : /11/M-DAG/PER/3/2010 TENTANG KETENTUAN IMPOR MESIN, PERALATAN MESIN, BAHAN BAKU, CAKRAM OPTIK KOSONG, DAN CAKRAM OPTIK ISI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2000 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PERTAMBAHAN NILAI BARANG DAN JASA DAN PAJAK DAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG

Lebih terperinci

MULTILATERAL TRADE (WTO), FREE TRADE AREA DI TINGKAT REGIONAL (AFTA) ATAU FREE TRADE AGREEMENT BILATERAL

MULTILATERAL TRADE (WTO), FREE TRADE AREA DI TINGKAT REGIONAL (AFTA) ATAU FREE TRADE AGREEMENT BILATERAL MULTILATERAL TRADE (WTO), FREE TRADE AREA DI TINGKAT REGIONAL (AFTA) ATAU FREE TRADE AGREEMENT BILATERAL INDONESIA DAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL (SERI 1) 24 JULI 2003 PROF. DAVID K. LINNAN UNIVERSITY OF

Lebih terperinci

KEBIJAAKAN ANTI-KORUPSI

KEBIJAAKAN ANTI-KORUPSI Kebijakan Kepatuhan Global Desember 2012 Freeport-McMoRan Copper & Gold PENDAHULUAN Tujuan Tujuan dari Kebijakan Anti-Korupsi ( Kebijakan ) ini adalah untuk membantu memastikan kepatuhan oleh Freeport-McMoRan

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 1984

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 1984 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 1984 TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM HAYATI DI ZONA EKONOMI EKSLUSIF INDONESIA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang

Lebih terperinci

KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN

KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN SUSUNAN DALAM SATU NASKAH DARI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1983 TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH TERAKHIR DENGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sumber

Lebih terperinci

Layanan Manajemen Jasa Angkut

Layanan Manajemen Jasa Angkut Pemimpin Logistik Baru Layanan Manajemen Jasa Angkut Bringing Personal Service to Your Supply Chain Sebuah pabrik harus menyuplai situsnya di Amerika Selatan. Distributor harus mengirimkan suku cadangnya

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN SISTEM DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN SISTEM DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN SISTEM DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung

Lebih terperinci

Keputusan Kepala Bapedal No. 2 Tahun 1995 Tentang : Dokumen Limbah Bahan Berbahaya Dan Beracun

Keputusan Kepala Bapedal No. 2 Tahun 1995 Tentang : Dokumen Limbah Bahan Berbahaya Dan Beracun Keputusan Kepala Bapedal No. 2 Tahun 1995 Tentang : Dokumen Limbah Bahan Berbahaya Dan Beracun Oleh : KEPALA BAPEDAL Nomor : KEP-02/BAPEDAL/09/1995 Tanggal : 5 SEPTEMBER 1995 (JAKARTA) KEPALA BADAN PENGENDALIAN

Lebih terperinci

-1- PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR PER- 2 /BC/2011 TENTANG PENGELOLAAN JAMINAN DALAM RANGKA KEPABEANAN

-1- PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR PER- 2 /BC/2011 TENTANG PENGELOLAAN JAMINAN DALAM RANGKA KEPABEANAN -1- PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR PER- 2 /BC/2011 TENTANG PENGELOLAAN JAMINAN DALAM RANGKA KEPABEANAN Menimbang DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI, : bahwa dalam rangka melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14/PERMEN-KP/2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR PER.04/MEN/2012 TENTANG OBAT IKAN DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

KOVENAN INTERNASIONAL HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA. Ditetapkan oleh Resolusi Majelis Umum 2200 A (XXI)

KOVENAN INTERNASIONAL HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA. Ditetapkan oleh Resolusi Majelis Umum 2200 A (XXI) KOVENAN INTERNASIONAL HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA Ditetapkan oleh Resolusi Majelis Umum 2200 A (XXI) tertanggal 16 Desember 1966, dan terbuka untuk penandatangan, ratifikasi, dan aksesi MUKADIMAH

Lebih terperinci

SYARAT DAN KETENTUAN PEMBELIAN REPUBLIK INDONESIA (AUTOMOTIVE EXPERIENCE) Terakhir direvisi Mei 2014

SYARAT DAN KETENTUAN PEMBELIAN REPUBLIK INDONESIA (AUTOMOTIVE EXPERIENCE) Terakhir direvisi Mei 2014 SYARAT DAN KETENTUAN PEMBELIAN REPUBLIK INDONESIA (AUTOMOTIVE EXPERIENCE) Terakhir direvisi Mei 2014 Ketentuan-Ketentuan ini berlaku apabila dirujuk dalam surat order pembelian (purchase order) atau dokumen-dokumen

Lebih terperinci

MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 20/M-DAG/PER/7/2011 TENTANG

MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 20/M-DAG/PER/7/2011 TENTANG MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 20/M-DAG/PER/7/2011 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN NOMOR 45/M-DAG/PER/9/2009

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2004 TENTANG KEGIATAN USAHA HILIR MINYAK DAN GAS BUMI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2004 TENTANG KEGIATAN USAHA HILIR MINYAK DAN GAS BUMI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, pres-lambang01.gif (3256 bytes) PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2004 TENTANG KEGIATAN USAHA HILIR MINYAK DAN GAS BUMI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1982 Nomor 7,

4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1982 Nomor 7, PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 11/M-DAG/PER/3/2006 T E N T A N G KETENTUAN DAN TATA CARA PENERBITAN SURAT TANDA PENDAFTARAN AGEN ATAU DISTRIBUTOR BARANG DAN/ATAU JASA DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

Setiap istilah di bawah ini, kecuali dengan tegas ditentukan lain dalam Syarat dan Ketentuan ini mempunyai arti dan pengertian sebagai berikut:

Setiap istilah di bawah ini, kecuali dengan tegas ditentukan lain dalam Syarat dan Ketentuan ini mempunyai arti dan pengertian sebagai berikut: SYARAT & KETENTUAN Safe Deposit Box A. DEFINISI Setiap istilah di bawah ini, kecuali dengan tegas ditentukan lain dalam Syarat dan Ketentuan ini mempunyai arti dan pengertian sebagai berikut: 1. Anak Kunci

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR PER- 50/BC/2011 TENTANG

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR PER- 50/BC/2011 TENTANG KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR PER- 50/BC/2011 TENTANG GUDANG BERIKAT DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI, Menimbang

Lebih terperinci

MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP,

MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAN UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP DAN SURAT PERNYATAAN KESANGGUPAN PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 100 TAHUN 2012 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 100 TAHUN 2012 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 100 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN KAWASAN EKONOMI KHUSUS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

Terakhir dimodifikasi: 20 Januari 2013

Terakhir dimodifikasi: 20 Januari 2013 Syarat dan Ketentuan Layanan Terakhir dimodifikasi: 20 Januari 2013 Selamat datang di LPMA STMA Trisakti, sebuah Layanan pembelajaran asuransi syariah berbasis elearning ("Layanan") disediakan oleh Sekolah

Lebih terperinci