Pengaruh latihan aerobik terhadap kapasitas kardiorespirasi penderita cedera medula spinalis

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Pengaruh latihan aerobik terhadap kapasitas kardiorespirasi penderita cedera medula spinalis"

Transkripsi

1 J Kedokter Trisakti Januari-Maret 2004, Vol. 23 No.1 Pengaruh latihan aerobik terhadap kapasitas kardiorespirasi penderita cedera medula spinalis Maria Regina Rachmawati Bagian Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menilai efek program latihan aerobik terhadap kapasitas fungsional kardiorespirasi pada penderita cedera medula spinalis (CMS), dan hubungannya dengan tingkat CMS serta lama awitan. Untuk menilai kapasitas fungsional kardiorespirasi pada penelitian ini digunakan 2 parameter yaitu (kapasitas aerobik imal) dan (ventilasi menit). Studi pra dan pasca perlakuan dengan kelompok tunggal dilakukan pada 27 penyandang cacat. Sampel yang memenuhi kritera inklusi dilakukan uji kerja fisik awal untuk menilai awal, kemudian menjalani program latihan 3 kali seminggu dengan durasi minimal 25 menit selama 6 minggu. Setelah itu dilakukan uji kerja fisik akhir untuk menilai akhir dan pemeriksaan spirometri untuk menilai pasca latihan. Empat penderita drop out karena tidak memenuhi absensi latihan. Akhirnya didapatkan 23 sampel yang mengikuti penelitian sampai selesai yang terdiri dari 4 perempuan dan 19 laki-laki. Hasil penelitian menunjukkan, setelah dilakukan latihan terjadi peningkatan yang bermakna pada perempuan 21,64 ± 2,94 ml.kg -1.mn -1 (p = 0,0001), pada laki-laki 25,20 ± 4,88 ml.kg 1.mn -1 (p = 0,0001) dengan rerata 24,43 ± 4,84 ml.kg -1.mn -1, dan meningkat secara bermakna menjadi 10,17 ± 4,08 L.mn 1 (p = 0,0001). Tidak terdapat korelasi bermakna antara lama awitan dan tingkat CMS dengan nilai dan nilai. Nilai turun pada penderita CMS, dan terjadi peningkatan yang bermakna setelah melakukan latihan aerobik. Kata kunci : Aerobik, latihan, kardiorespirasi, cedera, medula spinalis ABSTRACT Effect of aerobic exercise on cardiorespiratory capacity in spinal cord injured patients The purpose of this study was to evaluate the effect of aerobic exercise program on cardiorespiratory function in spinal cord injured (SCI) patients, and also their relationship with injury level and onset of injury. In this study two parameters were used to evaluate cardiorespiration function, which were max (maximal aerobic capacity), and (minute ventilation). The study was a pre and post test design on single group of 27 spinal cord injured patients. Samples that passed the inclusion criteria were given first exercise test to evaluate their first max. After exercise test, they underwent exercise program 3 times a week, at least 25 minute duration each session. After 6 weeks, an exercise test to evaluate max and spirometry examination to measure. This study showed that max and significantly increasing after exercise program 24.43± 4.68 ml.kg 1.mn and 10.17± 4.08 L.mn 1 (p ). No significant correlation between onset and injury level with max and.. There was a decrease of max in spinal cord injury people, which increased significantly after aerobic exercise program. Keywords : Aerobic, exercise, cardiorespiratory, injury, spinal cord PENDAHULUAN Rehabilitasi pasca cedera medula spinalis (CMS) di seluruh dunia merupakan suatu tantangan, terutama di negara berkembang yang tidak memiliki fasilitas maupun staf rehabilitasi yang 15

2 Rachmawati Cedera medula spinalis adekuat. World Health Organisation (WHO) melakukan studi di negara berkembang melalui program rehabilitasi dan diperoleh hasil bahwa sebagian besar pasien CMS tidak mengetahui cara untuk mencapai kapasitas fungsional yang imal. (1) Pada penderita CMS hampir selalu terjadi penurunan fungsi kardiovaskular, hal ini disebabkan menurunnya fungsi otot, buruknya aliran balik vena, dan buruknya dinamika ventilasi. Penderita CMS yang melakukan latihan fisik akan terjadi peningkatan denyut jantung dan kapasitas aerobik (konsumsi oksigen), tetapi tingkat yang dicapai lebih rendah dibandingkan orang normal. Sedangkan kebanyakan penderita CMS memiliki aktivitas fisik yang rendah, sehingga dapat dipastikan mereka memiliki kapasitas aerobik yang rendah. (2) Kebutuhan fundamental untuk melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS) adalah kemampuan untuk melakukan aktivitas aerobik. Aktivitas tersebut memerlukan usaha yang terintegrasi pada sistem kardiorespirasi yaitu jantung, paru dan sirkulasi darah, termasuk komponen darah yang adekuat (sel darah merah, hemoglobin/hb, hematokrit/ht dan volume darah) untuk menghantarkan O 2 ke metabolisme otot yang aktif. (3,4) Beberapa studi menunjukkan bahwa aktivitas fisik yang rendah bertanggung jawab terhadap terjadinya penyakit jantung iskemik (PJI), hal ini juga terbukti pada penelitian yang dilakukan oleh Yekutiel yaitu adanya peningkatan prevalensi PJI dan hipertensi pada penderita CMS dibandingkan kontrol. (5-8) Klasifikasi CMS menurut International Standards for Neurological and Functional Classification of Spinal Cord Injury (ISCSCI) oleh American Spinal Injury Association-International Medical Society of Paraplegy (ASIA/IMSOP) terdiri dari lima tingkat A sampai E yang sesuai dengan luasnya cedera. Tingkat A merupakan lesi komplit dimana tidak ditemukan fungsi motorik atau sensorik pada segmen sakral S 4-5 dan tingkat E di mana terdapat hasil pemeriksaan sensorik dan motorik yang normal. (7,8) Aktivitas aerobik imal atau kapasitas aerobik ( ) dapat diartikan sebagai kapasitas imal dalam melakukan aktivitas aerobik, di mana tercapai jumlah atau konsumsi O 2 terbesar (imal) yang digunakan pada saat kerja fisik dengan intensitas tinggi. (3,4) Nilai dipengaruhi oleh tingkat cedera dan lama awitan. Tingkat cedera yang lebih tinggi dan lama awitan yang lebih panjang akan menurunkan kapsitas kardiorespirasi. Penilaian kapasitas aerobik biasanya dilakukan melalui program uji kerja fisik, tetapi uji ini memiliki risiko tinggi bila dilakukan pada penderita CMS di atas Torakal 6 (T6) karena dapat meningkatkan tonus simpatis yang berlebihan. (2,7,8) Penelitian yang dilakukan oleh Ellenberg dengan menggunakan ergometer lengan sebagai alat untuk uji kerja fisik membuktikan adanya penurunan kapasitas aerobik pada pasien paraplegi awal (2-12 minggu pasca onset) yaitu ratarata 4,2 MET (52% ) dan terjadi peningkatan setelah latihan, tetapi tetap tidak dapat mencapai nilai normal. (9) Berdasarkan uraian di atas perlu dilakukan penelitian untuk menilai efek latihan aerobik terhadap kapasitas kardiorespirasi yaitu dan ventilasi menit ( ) pada penderita CMS (paraplegi) tingkat di bawah Torakal 6 (T6). METODE Rancangan penelitian Studi intervensi pra dan pasca perlakuan pada kelompok tunggal dilakukan di rumah sakit Fatmawati Jakarta Selatan mulai bulan Februari 2002 sampai April Populasi dan sampel Populasi adalah semua penderita paraplegi yang ada di Wisma Chesire Cilandak dan Panti Sosial Pondok Bambu. Adapun kriteria penerimaan sampel sebagai berikut: penderita paraplegi usia tahun, onset cedera medula spinalis kapan saja, tingkat cedera medula spinalis di bawah T6, tidak mempunyai kebiasaan olah raga kursi roda secara teratur, penderita melakukan ambulasi dengan kursi roda, penyebab cedera karena trauma/kecelakaan, mampu menjalani uji kerja fisik, menyetujui mengikuti penelitian dan bersedia mengikuti program latihan secara berkala 3x/minggu di Instalasi Rehabilitasi Medik Rumah Sakit 16

3 J Kedokter Trisakti Fatmawati selama 6 minggu. Sedangkan kriteria penolakan sampel adalah sebagai berikut: terdapat kontra indikasi absolut maupun relatif untuk dilakukan uji kerja fisik, penyakit paru obstruksi kronik (PPOK) sedang-berat. Subyek dinyatakan drop out bila tidak mengikuti latihan selama 3 kali berturut-turut atau tidak mengikuti latihan selama 5 kali tidak berturut-turut. Perkiraan jumlah sampel minimal berdasarkan rumus kelompok tunggal besarnya 21 orang. (10) Pengumpulan data Cara pengumpulan data dengan seleksi subyek berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, klasifikasi neurologi dan fungsional CMS sesuai ASIA Impairment Scale (AIS). (11) Semua pasien paraplegi yang memenuhi kriteria penerimaan dilakukan beberapa pemeriksaan penapisan yaitu elektrokardiogram (EKG), dan laboratorium darah lengkap. Pasien yang memiliki hasil normal dilakukan pemeriksaan spirometri untuk melihat pra latihan, dan uji kerja fisik (exercise test) untuk menilai awal. Kemudian dibuat program latihan aerobik yaitu dengan intensitas 70-85% denyut nadi imal selama 25 menit dengan frekuensi 3 kali seminggu selama 6 minggu. Setelah program latihan dilakukan evaluasi yaitu pemeriksaan spirometri dan uji kerja fisik untuk menilai dan pasca latihan. Uji kerja fisik dilakukan secara bertingkat dengan periode tiap tingkat selama 1-3 menit dan penambahan beban 10 watt tiap tingkat. (4,12,13) Pada awal studi dilakukan uji kerja fisik dengan periode 1 menit setiap tahap dengan meningkatkan 10 watt tiap tahap sampai dicapai denyut jantung (DJ) steady state, karena pada prosedur ini didapatkan hasil paling tinggi. Tekanan darah (TD) diukur dengan tensimeter (merek Nova) dan denyut jantung (DJ) diukur dengan menggunakan Polar dicatat setiap menit, pada 3 detik terakhir setiap tahap. TD diperiksa dengan doppler (Mini Dopplex D 500) pada pembuluh nadi dorsalis pedis, karena sulit untuk mengukur TD pada pembuluh nadi brachialis. Posisi pasien saat mengerjakan ergometer lengan (merek Monark 881E) dalam posisi duduk di kursi roda, lengan sedikit menekuk, tinggi pedal diatur setinggi bahu. Program latihan dilakukan 3 kali seminggu dengan durasi minimal 25 menit tiap peserta, yang terdiri dari 2 menit peregangan, 5 menit pemanasan, 15 menit latihan inti dengan ergometer Monark 881E, 5 menit pendinginan dan diakhiri dengan 2 menit peregangan. Latihan dilakukan di bawah pengawasan peneliti selama 6 minggu. Uji-t pasangan digunakan untuk menguji perbedaan pra dan pasca latihan aerobik. Bila penyebaran data tidak normal dilakukan uji Wilcoxon mathched-pairs signedrank test, Spearman correlation coefficients dan Mann-Whitney U test. HASIL Vol. 23 No.1 Sebanyak 30 penderita CMS bersedia diperiksa untuk berpartisipasi dalam penelitian. Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik, laboratorium darah lengkap dan EKG didapatkan 27 orang yaitu 5 perempuan dan 22 laki-laki yang memenuhi kriteria inklusi. Tiga orang tidak dimasukkan dalam penelitian karena menderita hipertensi, yaitu dengan tekanan sistolik rata-rata 176,66 mmhg dan tekanan diastolik rata-rata 113,33 mmhg. Sebanyak 4 orang, 1 perempuan dan 3 laki-laki dinyatakan drop out (DO) karena tidak memenuhi protokol penelitian. Yang berhasil mengikuti penelitian sampai selesai banyaknya 23 orang yaitu 4 perempuan dan 19 laki-laki. Karakteristik umum peserta penelitian adalah sebagian besar laki-laki (78,3%), tingkat pendidikan sebagain besar tingkat rendah (SD- SLTA tidak tamat) 18 (78,3%) orang, tingkat menengah (SLTA tamat) 4 (17,4%) orang, dan tingkat tinggi (Diploma) 1 (4,3%) orang. Seluruh peserta penelitian putus sekolah atau keluar dari pekerjaan semula setelah mengalami CMS. Sebagian besar tidak menikah (52,2%), menikah (30,4%), duda (8,7%), dan janda (8,7%). Rentang lama awitan bervariasi antara 2 sampai 27 tahun, sebagian besar di atas 10 tahun (65,2%). Sebagian besar penyebab terjadinya CMS adalah kecelakaan lalu lintas (KLL) (52,2%) selanjutnya karena jatuh (21,7%), tertimpa (13,1%), aniaya (4,3%) dan pasca bedah (8,7%). BB rerata adalah 46,87 ± 12,62 kg, dan IMT rerata adalah 18,68 ± 4,1 (Tabel 1). 17

4 Rachmawati Tabel 1. Karakteristik umum pasien penelitian Karakteristik n=23(%) Umur (tahun) 34,74 ± 7,63* Jenis kelamin laki-laki 19 (82,6) perempuan 4 (17,4) Berat badan (kg) 46,87 ± 12,62* Panjang badan (cm) 158,25 ± 10,25* IMT 18,68 ± 4,1* Kurang (<18,5) 14 (60,9) Normal (18,5-22,9) 7 (30,4) Obesitas (> 23) 2 (8,7) Tingkat cedera T7 4 (17,4) T10 2 (8,7) T11 5 (21,7) T12 4 (17,4) L1 4 (17,4) L2 3 (13) L3 1 (4,3) AIS A 14 (60,9) B 3 (13) C 6 (26,1) Pendidikan SD 10 (43,5) SLTP 8 (34,8) SLTA 4 (17,4) Diploma 1 (4,3) Perkawinan TM 12 (52,2) M 7 (30,4) D 2 (8,7) J 2 (8,7) Lama awitan (tahun) 12,22 ± 7,32* Usia saat CMS (30,4) (60,9) (8,7) Penyebab CMS Jatuh 5 (21,7) KLL 1 (52,2) Tertimpa 3 (13,1) Tindak kekerasan 1 (4,3) Pasca op 2 (8,7) Pekerjaan Pengrajin 23 (100) Mobilisasi Mampu dengan crutches 3 (13) Dengan wheel chair 20 (87) Keterangan: * Mean ± SD L : Laki-laki; P: Perempuan; T: Torakal; L: Lumbal; IMT: Indeks massa tubuh; AIS: ASIA Impairment Scale; SD: Sekolah Dasar; SLTP: Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama; SLTA: Sekolah Lanjutan Tingkat Akhir; TM: Tidak menikah; M: Menikah; D: Duda; J: Janda; KLL: Kecelakaan lalu lintas; Pasca op: Pasca operasi tulang belakang Pengaruh program latihan Nilai sebelum latihan besarnya 13,87 ± 3,53 ml.kg -1.mn -1 untuk perempuan dan 15,58 ± 3,28 ml.kg -1.mn -1 untuk laki-laki, sedangkan rerata besarnya 15,21 ± 3,33 ml.kg -1.mn -1. Nilai setelah melakukan uji kerja fisik selama 6 minggu adalah 21,67 ± 3,53 ml.kg -1.mn -1 untuk perempuan dan 25,20 ± 4,89 ml.kg -1.mn -1 untuk laki-laki, sedangkan rerata setelah latihan besarnya 24,43 ± 4,68 ml.kg -1.mn -1. Terdapat peningkatan yang bermakna pada pasca latihan dibandingkan pra latihan (p = 0,0001) baik pada perempuan maupun laki-laki (Tabel 2). Nilai pra melakukan program latihan besarnya 5,93 ± 3,29 L.mn -1, pasca program latihan adalah 10,74 ± 4,08 L.mn -1. Uji Wilcoxon matched pairs sign rank menunjukkan peningkatan yang bermakna pada setelah melakukan uji kerja fisik (p = 0,0001) (Tabel 2). Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara lama awitan dengan rerata dan baik pra maupun pasca latihan (p > 0,005) (Tabel 3). Tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara rerata 1,2 baik pra maupun pasca latihan kerja fisik berdasarkan tingkat CDM T7-12 dan L1-3 (Tabel 4). PEMBAHASAN Cedera medula spinalis Usia saat terjadi CDM sebagian besar di bawah 30 tahun (86,9%) dan penyebab CDM sebagian besar akibat kecelakaan (52,2%). Hal ini sesuai dengan kepustakaan yang menyatakan penyebab CMS tersering karena kecelakaan kendaraan bermotor (44,5%) dan lebih dari setengah CMS terjadi pada usia di bawah 30 tahun. (2,7,8) Sebagian besar (60,9%) penderita memiliki cedera yang lengkap berdasarkan klasifikasi AIS. Nilai pra dilakukan program latihan besarnya 13,87 ± 3,53 ml.kg -1.mn -1 untuk perempuan dan 15,58 ± 3,23 ml.kg -1.mn -1 untuk laki-laki, sedangkan rerata besarnya 15,21 ± 3,33 ml.kg -1.mn -1 yang berarti termasuk kriteria memerlukan peningkatan kapasitas aerobik baik laki-laki maupun perempuan. (13) 18

5 J Kedokter Trisakti Vol. 23 No.1 Tabel 2. Rerata nilai pra dan pasca latihan Variabel Latihan P imum (ml.kg -1 mn -1 )* 15,21 ± 3,33 24,43 ± 4,68 0,0001 Laki-laki 15,58 ± 3,28 25,20 ± 4,89 0,0001 Perempuan 13,87 ± 3,53 21,67 ± 3,53 0,0001 (L.mn -1 )** 5,93 ± 3,29 10,17 ± 4,08 0,0001 * uji t pasangan ** uji Wilcoxon matched-pairs signed-ranks Tabel 3. Korelasi antara lama awitan dan serta pra dan pasca latihan Pra latihan Pasca latihan Lama awitan* r=-0,033 r=0,388 r=0,2591 r=0,388 (p=0,881) (p=0,067) (p=0,233) (p=0,067) * r= Spearman correlation coefficients Terdapat peningkatan yang bermakna pada setelah latihan dibandingkan pra latihan (p = 00001) baik pada perempuan maupun laki-laki, tetapi hasil tersebut belum mencapai kriteria sedang untuk usia di bawah 54 tahun. Hasil ini sesuai dengan temuan peneliti sebelumnya yang menyatakan bahwa penderita paraplegi adalah rendah dan akan mengalami peningkatan setelah latihan, tetapi peningkatan yang dicapai belum mencapai nilai normal. Hal ini disebabkan pada studi ini diperoleh melalui uji lengan yang hasilnya 65-70% dari yang diperoleh melalui uji tungkai, dan kurangnya lama latihan. (9,14,15) Nilai pra melakukan program latihan besarnya 5,93 ± 3,29 L.mn -1, yang berarti sedikit di bawah nilai normal yaitu 6 L.mn -1. (14) Nilai pasca program latihan adalah 10,74 ± 4,08 L.mn -1. Terdapat peningkatan yang bermakna pada setelah melakukan uji kerja fisik pada hampir semua subjek, kecuali satu subyek tidak mengalami peningkatan, karena menderita skoliosis berat (sudut ). Hal ini menjadi peyebab keterbatasan pengembangan rongga toraks, sehingga menghambat peningkatan volume ventilasi paru. Tidak terdapat hubungan bermakna antara lama awitan dengan rerata baik pra maupun pra latihan. Hubungan yang tidak bermakna ini kemungkinan disebabkan seluruh sampel memiliki lama awitan menahun, di mana lama awitan minimal yaitu 2 tahun, dan semuanya memiliki pola hidup tidak aktif yaitu bekerja sebagai pengrajin dan tidak menjalani olah raga teratur. Tabel 4. Perbandingan nilai pra dan pasca latihan berdasarkan tingkat CMS yaitu Torakal bawah (T7-12) dan Lumbal (L1-3) Kel.I (T 7-12) Kel.II (L 1-3) P (n=15) (n=8) pra latihan (ml.kg -1.mn -1 ) 15,76 ± 3,26 14,17 ± 3,40 0,298* pasca latihan (ml.kg -1.mn -1 ) 25,43 ± 5,14 22,56 ± 3,18 0,114* pra latihan (L.mn -1 ) 6,23 ± 3,82 5,38 ± 2,089 0,495** pasca latihan (L.mn -1 ) 10,42 ± 4,23 9,72 ± 3,88 0,695** * t-test ** Mann-Whiney U test 19

6 Rachmawati Cedera medula spinalis Tidak terdapat perbedaan bermakna antara rerata baik pra maupun pasca latihan dan tingkat CDM. Hasil ini berbeda dengan peneliti pranya yang menyatakan bahwa kapasitas aerobik lebih tinggi pada penderita dengan CMS tingkat lebih rendah. (16) Perbandingan yang tidak bermakna ini kemungkinan disebabkan oleh jumlah sampel yang kecil dan distribusi sampel yang tidak merata pada tiap kelompok. KESIMPULAN Setelah diberi latihan aerobik terjadi peningkatan yang bermakna dibandingkan pra latihan, tetapi nilai tidak mencapai kriteria sedang. Nilai dan pra dan pasca latihan tidak mempunyai hubungan yang bermakna dengan lama awitan. Nilai pra dan pasca latihan tidak mempunyai hubungan yang bermakna dengan tingkat CMS.Penderita paraplegi yang tidak terlatih memiliki yang rendah, sehingga dapat diprediksi mempunyai risiko tinggi untuk menderita PJI. Daftar Pustaka 1. World Health Organization. Promoting independence following a spinal cord injury. A manual for mid-level rehabilitation workers. Geneva: WHO; Staas WE, Formal CS, Freedman MK, Fried GW, Read MW. Rehabilitation of the spinal cord - injured patient. In: DeLisa JA, Gans BM, Currie DM, editors. Rehabilitation medicine - principles and practice. 2 nd ed. Philadelphia: JB Lippincott Company; p Fleg JL, Pina IL, Balady GJ, Chaitman BR, Fletcher B, Lavie C, et al. Assesment of functional capacity in clinical and research applications an advisory from the committee on exercise, rehabilitation, and prevention. Circulation 2000; 102: Pollock ML, Wilmore JH. Exercise in health and disease evaluation and prescription for prevention and rehabilitation. Philadelphia: WB Saunders Company; Yekutiel M, Brooks ME, Ohry A, Yarom J, Carel. The prevalence of hypertension, ischaemic heart disease and diabetes in traumatic spinal cord injured patients and amputees. Paraplegia 1989; 27: Balado D. Exercise physiology. Baltimore: Williams & Wilkins; Yarkony GM, Chen D. Rehabilitation of patients with spinal cord injuries. In: Braddom RL, editor. Physical medicine & rehabilitation. Philadelphia: WB Saunders Company; p Lanig I, Donovan WH. Spinal cord injury. In: Garrison SJ, editor. Handbook of physical medicine and rehabilitation basics. Philadelphia: JB. Lippincott Company; p Ellenberg M, MacRitchie M, Franklin B, Johnson S, Wrisley. Aerobic capacity in early paraplegia: Implications for rehabilitation. Paraplegia 1989; 27: Dowson B, Trapp RG. Research question about are group. In: Basic-clinical biostatistics 3 rd ed. New York: Lange Medical Books/Mc Graw-Hill; p American Spinal Injury Association International Medical Society of Paraplegi (ASIA/IMSOP). International standards of neurological and functional classification of spinal cord injury. Revised Chicago: American Spinal Injury Association; Freed MM. Traumatic and congenital lesions of the spinal cord. In: Kottke FJ, Lehmannn JF, editors. Krusen s handbook of physical medicine and rehabilitation. 4 nd ed. Philadelphia: WB saunders; p American College of Sports Medicine. Clinical exercise testing. Guidelines for exercise testing and prescription. 5 th ed. Baltimore: William & Wilkins; p Balady GJ, Weiner DA, Rose L, Ryan TJ. Physiologic responses to arm ergometry exercise relative to age and gender. JACC 1990; 16: Jackson AW, Morrow JR, Hill DW, Dishman RK. Physical activity for health and fitness. Hongkong: Human Kinetic; Bar-Or O, Zwiren LD. Maximal oxygen consumption test during arm exercise-reliability and validity. J Appl Physiol 1975; 38: Sawka MN, Foley ME, Pimental NA, Toner MM, Pandolf KB. Determination of maximal aerobic power during upper-body exercise. J Appl Physiol 1983; 54:

PROFIL PASIEN KONTRAKTUR YANG MENJALANI PERAWATAN LUKA BAKAR DI RSUD ARIFIN ACHMAD PERIODE JANUARI 2011 DESEMBER 2013

PROFIL PASIEN KONTRAKTUR YANG MENJALANI PERAWATAN LUKA BAKAR DI RSUD ARIFIN ACHMAD PERIODE JANUARI 2011 DESEMBER 2013 PROFIL PASIEN KONTRAKTUR YANG MENJALANI PERAWATAN LUKA BAKAR DI RSUD ARIFIN ACHMAD PERIODE JANUARI 2011 DESEMBER 2013 Rezky Darmawan Hatta Kuswan Ambar Pamungkas Dimas P. Nugraha rezkydeha@icloud.com ABSTRACK

Lebih terperinci

Putu Asti Wulandari 1, Susy Purnawati 2

Putu Asti Wulandari 1, Susy Purnawati 2 PERBANDINGAN DAYA TAHAN KARDIORESPIRASI MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA ANGKATAN 2013 DENGAN MAHASISWA D1 BEA CUKAI SEKOLAH TINGGI AKUTANSI NEGARA DENPASAR

Lebih terperinci

SKRIPSI SENAM JANTUNG SEHAT DAPAT MENURUNKAN PERSENTASE LEMAK TUBUH PADA MAHASISWI PROGRAM STUDI FISIOTERAPI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA

SKRIPSI SENAM JANTUNG SEHAT DAPAT MENURUNKAN PERSENTASE LEMAK TUBUH PADA MAHASISWI PROGRAM STUDI FISIOTERAPI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA SKRIPSI SENAM JANTUNG SEHAT DAPAT MENURUNKAN PERSENTASE LEMAK TUBUH PADA MAHASISWI PROGRAM STUDI FISIOTERAPI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA I NYOMAN AGUS PRADNYA WIGUNA KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI

Lebih terperinci

SKRIPSI. Oleh: Yuni Novianti Marin Marpaung NIM KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN PROGRAM STUDI FISIOTERAPI FAKULTAS KEDOKTERAN

SKRIPSI. Oleh: Yuni Novianti Marin Marpaung NIM KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN PROGRAM STUDI FISIOTERAPI FAKULTAS KEDOKTERAN SKRIPSI PERBEDAAN EFEKTIVITAS INTERVENSI SLOW DEEP BREATHING EXERCISE DENGAN DEEP BREATHING EXERCISE TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA PRE-HIPERTENSI PRIMER Oleh: Yuni Novianti Marin Marpaung NIM.

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Obesitas 2.1.1 Definisi Obesitas adalah penumpukan lemak yang berlebihan ataupun abnormal yang dapat mengganggu kesehatan (WHO, 2011). Menurut Myers (2004), seseorang yang dikatakan

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. rancangan penelitian yang digunakan adalah Randomized Pre and Post

BAB IV METODE PENELITIAN. rancangan penelitian yang digunakan adalah Randomized Pre and Post BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Rancangan Penelitian Penelitian ini adalah penelitian true eksperimental dengan rancangan penelitian yang digunakan adalah Randomized Pre and Post Test Group Design yaitu membandingkan

Lebih terperinci

Hubungan antara senam zumba terhadap nilai FEV1 pada mahasiswa semester 1 Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado

Hubungan antara senam zumba terhadap nilai FEV1 pada mahasiswa semester 1 Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado Hubungan antara senam zumba terhadap nilai FEV1 pada mahasiswa semester 1 Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado 1 Harvey L. Suwongso 2 Jimmy F. Rumampuk 2 Vennetia R. Danes 1 Kandidat Skripsi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga menunjukkan prevalensi penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi di Indonesia cukup tinggi, yaitu 83 per 1.000 anggota rumah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan merupakan penyebab peningkatan morbiditas dan mortalitas pasien jantung

BAB I PENDAHULUAN. dan merupakan penyebab peningkatan morbiditas dan mortalitas pasien jantung BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gagal jantung merupakan tahap akhir dari seluruh penyakit jantung dan merupakan penyebab peningkatan morbiditas dan mortalitas pasien jantung (Maggioni, 2005). Kejadian

Lebih terperinci

PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG LATIHAN RANGE OF MOTION (ROM) TERHADAP KETERAMPILAN KELUARGA DALAM MELAKUKAN ROM PADA PASIEN STROKE

PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG LATIHAN RANGE OF MOTION (ROM) TERHADAP KETERAMPILAN KELUARGA DALAM MELAKUKAN ROM PADA PASIEN STROKE PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG LATIHAN RANGE OF MOTION (ROM) TERHADAP KETERAMPILAN KELUARGA DALAM MELAKUKAN ROM PADA PASIEN STROKE Abdul Gafar, Hendri Budi (Politeknik Kesehatan Kemenkes Padang)

Lebih terperinci

KEMANDIRIAN, KUALITAS HIDUP DAN DERAJAT PARAPLEGIA AKIBAT GEMPA BUMI

KEMANDIRIAN, KUALITAS HIDUP DAN DERAJAT PARAPLEGIA AKIBAT GEMPA BUMI KEMANDIRIAN, KUALITAS HIDUP DAN DERAJAT PARAPLEGIA AKIBAT GEMPA BUMI Setiawan, Yoga Handita W, Fatma Rufaida Kementerian Kesehatan Politeknik Kesehatan Surakarta Jurusan Fisioterapi Abstract: Independence,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG PENELITIAN 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG PENELITIAN Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) merupakan penyebab mortalitas terbesar kelima di dunia dan menunjukkan peningkatan jumlah kasus di negara maju dan

Lebih terperinci

PELAKSANAAN SENAM JANTUNG SEHAT UNTUK MENURUNKAN TEKANAN DARAH PADA PASIEN HIPERTENSI DI PANTI SOSIAL TRESNA WHERDA KASIH SAYANG IBU BATUSANGKAR

PELAKSANAAN SENAM JANTUNG SEHAT UNTUK MENURUNKAN TEKANAN DARAH PADA PASIEN HIPERTENSI DI PANTI SOSIAL TRESNA WHERDA KASIH SAYANG IBU BATUSANGKAR PELAKSANAAN SENAM JANTUNG SEHAT UNTUK MENURUNKAN TEKANAN DARAH PADA PASIEN HIPERTENSI DI PANTI SOSIAL TRESNA WHERDA KASIH SAYANG IBU BATUSANGKAR Liza Merianti, Krisna Wijaya Abstrak Hipertensi disebut

Lebih terperinci

PERBEDAAN NILAI ARUS PUNCAK EKSPIRASI SEBELUM DAN SESUDAH PELATIHAN SENAM LANSIA MENPORA PADA KELOMPOK LANSIA KEMUNING, BANYUMANIK, SEMARANG

PERBEDAAN NILAI ARUS PUNCAK EKSPIRASI SEBELUM DAN SESUDAH PELATIHAN SENAM LANSIA MENPORA PADA KELOMPOK LANSIA KEMUNING, BANYUMANIK, SEMARANG PERBEDAAN NILAI ARUS PUNCAK EKSPIRASI SEBELUM DAN SESUDAH PELATIHAN SENAM LANSIA MENPORA PADA KELOMPOK LANSIA KEMUNING, BANYUMANIK, SEMARANG Lenny Widyawati Intan Sari 1, Yosef Purwoko 2 1 Mahasiswa Program

Lebih terperinci

Perbedaan Pengaruh Penambahan Latihan Kekuatan Otot Lengan dengan Metode Oxford pada Latihan Transfer

Perbedaan Pengaruh Penambahan Latihan Kekuatan Otot Lengan dengan Metode Oxford pada Latihan Transfer Perbedaan Pengaruh Penambahan Latihan Kekuatan Otot Lengan dengan Metode Oxford pada Latihan Transfer dari Tidur ke Duduk terhadap Kecepatan Transfer dari Tidur ke Duduk pada Penderita Paraplegia akibat

Lebih terperinci

PERBANDINGAN KADAR MIKROALBUMINURIA PADA STROKE INFARK ATEROTROMBOTIK DENGAN FAKTOR RISIKO HIPERTENSI DAN PASIEN HIPERTENSI

PERBANDINGAN KADAR MIKROALBUMINURIA PADA STROKE INFARK ATEROTROMBOTIK DENGAN FAKTOR RISIKO HIPERTENSI DAN PASIEN HIPERTENSI PERBANDINGAN KADAR MIKROALBUMINURIA PADA STROKE INFARK ATEROTROMBOTIK DENGAN FAKTOR RISIKO HIPERTENSI DAN PASIEN HIPERTENSI SA Putri, Nurdjaman Nurimaba, Henny Anggraini Sadeli, Thamrin Syamsudin Bagian

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. orang yang memiliki kebiasaan merokok. Walaupun masalah. tahun ke tahun. World Health Organization (WHO) memprediksi

BAB 1 PENDAHULUAN. orang yang memiliki kebiasaan merokok. Walaupun masalah. tahun ke tahun. World Health Organization (WHO) memprediksi BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam kehidupan sehari-hari tidak jarang kita jumpai banyak orang yang memiliki kebiasaan merokok. Walaupun masalah kesehatan yang ditimbulkan oleh merokok

Lebih terperinci

PENGARUH SENAM AEROBIK INTENSITAS RINGAN DAN SEDANG TERHADAP PENURUNAN PERSENTASE LEMAK BADAN DI AEROBIC AND FITNESS CENTRE FORTUNA

PENGARUH SENAM AEROBIK INTENSITAS RINGAN DAN SEDANG TERHADAP PENURUNAN PERSENTASE LEMAK BADAN DI AEROBIC AND FITNESS CENTRE FORTUNA PENGARUH SENAM AEROBIK INTENSITAS RINGAN DAN SEDANG TERHADAP PENURUNAN PERSENTASE LEMAK BADAN DI AEROBIC AND FITNESS CENTRE FORTUNA Yulisna Mutia Sari Dosen Program Studi Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan

Lebih terperinci

PENGARUH BERMAIN FUTSAL TERHADAP TEKANAN DARAH NORMAL PADA PRIA DEWASA YANG RUTIN BEROLAHRAGA DAN YANG TIDAK RUTIN BEROLAHRAGA

PENGARUH BERMAIN FUTSAL TERHADAP TEKANAN DARAH NORMAL PADA PRIA DEWASA YANG RUTIN BEROLAHRAGA DAN YANG TIDAK RUTIN BEROLAHRAGA PENGARUH BERMAIN FUTSAL TERHADAP TEKANAN DARAH NORMAL PADA PRIA DEWASA YANG RUTIN BEROLAHRAGA DAN YANG TIDAK RUTIN BEROLAHRAGA THE EFFECT OF PLAYING FUTSAL ON NORMAL BLOOD PRESSURE IN ADULT HUMAN MALE

Lebih terperinci

ABSTRAK PENGARUH PEMBERIAN OKSIGEN KALENG TERHADAP WAKTU ISTIRAHAT SETELAH BEROLAHRAGA

ABSTRAK PENGARUH PEMBERIAN OKSIGEN KALENG TERHADAP WAKTU ISTIRAHAT SETELAH BEROLAHRAGA ABSTRAK PENGARUH PEMBERIAN OKSIGEN KALENG TERHADAP WAKTU ISTIRAHAT SETELAH BEROLAHRAGA Christian Pramudita, 2010 Pembimbing: Jo Suherman, dr., MS., AIF Endang Evacuasiany, Dra., MS., AFK., Apt Latar belakang.

Lebih terperinci

HUBUNGAN PENGETAHUAN PASIEN HIPERTENSI TENTANG OBAT GOLONGAN ACE INHIBITOR DENGAN KEPATUHAN PASIEN DALAM PELAKSANAAN TERAPI HIPERTENSI DI RSUP PROF DR

HUBUNGAN PENGETAHUAN PASIEN HIPERTENSI TENTANG OBAT GOLONGAN ACE INHIBITOR DENGAN KEPATUHAN PASIEN DALAM PELAKSANAAN TERAPI HIPERTENSI DI RSUP PROF DR HUBUNGAN PENGETAHUAN PASIEN HIPERTENSI TENTANG OBAT GOLONGAN ACE INHIBITOR DENGAN KEPATUHAN PASIEN DALAM PELAKSANAAN TERAPI HIPERTENSI DI RSUP PROF DR. R. D. KANDOU MANADO Yosprinto T. Sarampang 1), Heedy

Lebih terperinci

KEBUGARAN. Nani Cahyani Sudarsono. pengantar

KEBUGARAN. Nani Cahyani Sudarsono. pengantar KEBUGARAN Nani Cahyani Sudarsono pengantar Apa kiranya hal yang penting diperhatikan oleh seseorang dalam rangka menjaga kesehatan? Hippocrates, bapak ilmu kedokteran yang hidup pada tahun 460-370 SM menyatakan:

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Stroke merupakan suatu gangguan disfungsi neurologist akut yang disebabkan oleh gangguan peredaran darah, dan terjadi secara mendadak (dalam beberapa detik) atau setidak-tidaknya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terjadi peningkatan secara cepat pada abad ke-21 ini, yang merupakan

BAB I PENDAHULUAN. terjadi peningkatan secara cepat pada abad ke-21 ini, yang merupakan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Insidens dan prevalensi PTM (Penyakit Tidak Menular) diperkirakan terjadi peningkatan secara cepat pada abad ke-21 ini, yang merupakan tantangan utama masalah kesehatan

Lebih terperinci

Journal of Sport Sciences and Fitness

Journal of Sport Sciences and Fitness JSSF 2 (3) (2013) Journal of Sport Sciences and Fitness http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/jssf PENGARUH AKTIVITAS OLAHRAGA TERHADAP KEBUGARAN JASMANI Gilang Okta Prativi, Soegiyanto, Sutardji Jurusan

Lebih terperinci

HUBUNGAN OLAHRAGA TERHADAP TEKANAN DARAH PENDERITA HIPERTENSI RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH SURAKARTA

HUBUNGAN OLAHRAGA TERHADAP TEKANAN DARAH PENDERITA HIPERTENSI RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH SURAKARTA PROFESI Volume 0 / September 0 Februari 04 HUBUNGAN OLAHRAGA TERHADAP TEKANAN DARAH PENDERITA HIPERTENSI RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH SURAKARTA Iksan Ismanto, Tuti Rahmawati * *Dosen Program

Lebih terperinci

I Ketut Darmayasa Unit Rehabilitasi Medik Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Jalan Kesehatan Denpasar ABSTRAK

I Ketut Darmayasa Unit Rehabilitasi Medik Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Jalan Kesehatan Denpasar ABSTRAK SENAM ASMA TIGA KALI SEMINGGU LEBIH MENINGKATKAN KAPASITAS VITAL PAKSA (KVP) DAN VOLUME EKSPIRASI PAKSA DETIK 1 (VEP 1) DARI PADA SENAM ASMA SATU KALI SEMINGGU PADA PENDERITA ASMA PERSISTEN SEDANG I Ketut

Lebih terperinci

ABSTRAK. PENGARUH AROMATERAPI SANDALWOOD (Santalum album) TERHADAP KECEPATAN PEMULIHAN FREKUENSI DENYUT NADI SETELAH AKTIVITAS FISIK BERAT

ABSTRAK. PENGARUH AROMATERAPI SANDALWOOD (Santalum album) TERHADAP KECEPATAN PEMULIHAN FREKUENSI DENYUT NADI SETELAH AKTIVITAS FISIK BERAT ABSTRAK PENGARUH AROMATERAPI SANDALWOOD (Santalum album) TERHADAP KECEPATAN PEMULIHAN FREKUENSI DENYUT NADI SETELAH AKTIVITAS FISIK BERAT Livia Dwi Buana, Tjoeng, 2015 Pembimbing I : Stella Tinia Hasianna,

Lebih terperinci

Kesehatan bagi Anak Berkebutuhan Khusus

Kesehatan bagi Anak Berkebutuhan Khusus Aktivitas tasfisik, Kesehatan, dankebugaran a Terkait Kesehatan bagi Anak Berkebutuhan Khusus Oleh: Dra. Sumaryanti, MS Jurusan Pendidikan Kasehatan dan Rekreasi Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi komunikasi dan trasportasi dirasa memperpendek jarak dan

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi komunikasi dan trasportasi dirasa memperpendek jarak dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kehidupan modern kini menuntut segala sesuatu yang serba cepat. Baik dalam aktivitas pekerjaan, kehidupan rumah tangga dan kebutuhan makan dalam sehari-hari. Perkembangan

Lebih terperinci

PENGARUH STATUS GIZI DAN FREKUENSI SENAM DIABETES TERHADAP PROFIL LIPID PADA PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE 2 TESIS

PENGARUH STATUS GIZI DAN FREKUENSI SENAM DIABETES TERHADAP PROFIL LIPID PADA PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE 2 TESIS PENGARUH STATUS GIZI DAN FREKUENSI SENAM DIABETES TERHADAP PROFIL LIPID PADA PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE 2 TESIS Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Magister Program Studi Ilmu

Lebih terperinci

ABSTRAK PENGARUH KAFEIN TERHADAP FREKUENSI DENYUT JANTUNG PADA WANITA DEWASA NORMAL

ABSTRAK PENGARUH KAFEIN TERHADAP FREKUENSI DENYUT JANTUNG PADA WANITA DEWASA NORMAL ABSTRAK PENGARUH KAFEIN TERHADAP FREKUENSI DENYUT JANTUNG PADA WANITA DEWASA NORMAL Lies R. Dhamayanthi, 2007, Pembimbing : Jo Suherman, dr., MS., AIF. Banyak orang merasa bahwa mereka tidak dapat memulai

Lebih terperinci

PERBEDAAN HEMODINAMIK PRE DAN POST OPERASI ANTARA ANESTESI UMUM DAN ANESTESI REGIONAL PADA PASIEN SEKSIO SESAREA DENGAN PRE-EKLAMPSIA BERAT

PERBEDAAN HEMODINAMIK PRE DAN POST OPERASI ANTARA ANESTESI UMUM DAN ANESTESI REGIONAL PADA PASIEN SEKSIO SESAREA DENGAN PRE-EKLAMPSIA BERAT PERBEDAAN HEMODINAMIK PRE DAN POST OPERASI ANTARA ANESTESI UMUM DAN ANESTESI REGIONAL PADA PASIEN SEKSIO SESAREA DENGAN PRE-EKLAMPSIA BERAT ARTIKEL ILMIAH Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat

Lebih terperinci

Pengaruh HARVARD STEP UP TEST Terhadap Peningkatan Jumlah Sel Darah Merah 1

Pengaruh HARVARD STEP UP TEST Terhadap Peningkatan Jumlah Sel Darah Merah 1 Pengaruh HARVARD STEP UP TEST Terhadap Peningkatan Jumlah Sel Darah Merah 1 Pinandojo Djojosoewarno, Indra Sjarief S. Bagian Faal, Fakultas Kedokteran, Universitas Kristen Maranatha, Bandung Abstrak HARVARD

Lebih terperinci

INTISARI. Kata kunci: tekanan darah, dataran tinggi, dataran rendah.

INTISARI. Kata kunci: tekanan darah, dataran tinggi, dataran rendah. INTISARI Latar belakang: Tekanan darah adalah tekanan yang dihasilkan oleh darah terhadap pembuluh darah. Tekanan darah dipengaruhi volume darah dan elastisitas pembuluh darah. Peningkatan tekanan darah

Lebih terperinci

ABSTRAK GAMBARAN PENYAKIT STROKE DI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE 1 JANUARI DESEMBER 2009

ABSTRAK GAMBARAN PENYAKIT STROKE DI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE 1 JANUARI DESEMBER 2009 ABSTRAK GAMBARAN PENYAKIT STROKE DI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE 1 JANUARI 2009-31 DESEMBER 2009 Muhammad Randy, 2010 Pembimbing I : Sri Nadya J. Saanin, dr., M.Kes. Pembimbing II : DR. Felix Kasim,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menular (PTM) yang meliputi penyakit degeneratif dan man made diseases.

BAB I PENDAHULUAN. menular (PTM) yang meliputi penyakit degeneratif dan man made diseases. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Transisi epidemiologi yang terjadi di Indonesia mengakibatkan perubahan pola penyakit yaitu dari penyakit infeksi atau penyakit menular ke penyakit tidak menular (PTM)

Lebih terperinci

BAB. 3. METODE PENELITIAN. : Cross sectional (belah lintang)

BAB. 3. METODE PENELITIAN. : Cross sectional (belah lintang) BAB. 3. METODE PENELITIAN 3.1 Rancang Bangun Penelitian Jenis Penelitian Desain Penelitian : Observational : Cross sectional (belah lintang) Rancang Bangun Penelitian N K+ K- R+ R- R+ R- N : Penderita

Lebih terperinci

Peran Indeks Massa Tubuh, Tanda Vital dan Sosiodemografi terhadap Kebugaran Peserta Klub Jantung Sehat, Jakarta Timur

Peran Indeks Massa Tubuh, Tanda Vital dan Sosiodemografi terhadap Kebugaran Peserta Klub Jantung Sehat, Jakarta Timur Peran Indeks Massa Tubuh, Tanda Vital dan Sosiodemografi terhadap Kebugaran Peserta Klub Jantung Sehat, Jakarta Timur Antari R. Harmani, 1 Muchtaruddin Mansyur 2 1 Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas

Lebih terperinci

menunjukkan 19,7% diderita oleh perempuan dewasa perkotaan, 13,1% lakilaki dewasa, dan 9,8% anak-anak. Anemia pada perempuan masih banyak ditemukan

menunjukkan 19,7% diderita oleh perempuan dewasa perkotaan, 13,1% lakilaki dewasa, dan 9,8% anak-anak. Anemia pada perempuan masih banyak ditemukan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Anemia merupakan salah satu penyakit dengan penyebab multifaktorial, dapat dikarenakan reaksi patologis dan fisiologis yang bisa muncul sebagai konsekuensi dari

Lebih terperinci

PEMULIHAN KONTROL MOTORIK PENDERITA STROKE DENGAN MOTOR RELEARNING PROGRAMME

PEMULIHAN KONTROL MOTORIK PENDERITA STROKE DENGAN MOTOR RELEARNING PROGRAMME PEMULIHAN KONTROL MOTORIK PENDERITA STROKE DENGAN MOTOR RELEARNING PROGRAMME Oleh : B. Suhartini Dosen Jurusan Pendidikan Kesehatan dan Rekreasi FIK UNY Abstrak Masa era globalisasi adalah masa penuh persaingan

Lebih terperinci

PGK dengan HD IDWG BIA PHASE ANGLE

PGK dengan HD IDWG BIA PHASE ANGLE BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL 3.1 Kerangka Konsep PGK dengan HD Etiologi Compliance (Kepatuhan Pasien, kualitas HD) Asupan cairan Asupan Garam dan nutrisi IDWG BIA Komposisi cairan Status

Lebih terperinci

Usep suhendra, Pembimbing: Dr. Iwan budiman, dr., MS.

Usep suhendra, Pembimbing: Dr. Iwan budiman, dr., MS. ABSTRAK PENGUKURAN KEBUGARAN JASMANI DENGAN KASCH PULSE RECOVERY TEST Usep suhendra, 2001. Pembimbing: Dr. Iwan budiman, dr., MS. Latar belakang: sehat dan bugar merupakan modal dasar untuk menjalani aktivitas

Lebih terperinci

PENGARUH PROMOSI KESEHATAN TENTANG POSYANDU LANSIA TERHADAP KEAKTIFAN LANSIA DI POSYANDU LANSIA

PENGARUH PROMOSI KESEHATAN TENTANG POSYANDU LANSIA TERHADAP KEAKTIFAN LANSIA DI POSYANDU LANSIA 45 PENGARUH PROMOSI KESEHATAN TENTANG POSYANDU LANSIA TERHADAP KEAKTIFAN LANSIA DI POSYANDU LANSIA (Studi Eksperimental di Dusun Paron II, Wilayah Kerja Puskesmas Ngasem) Widhi Sumirat Dosen Akper Pamenang,

Lebih terperinci

PENGARUH SENAM JANTUNG TERHADAP DURASI PENURUNAN TEKANAN DARAH DAN NADI ISTIRAHAT PADA HIPERTENSI STADIUM 1

PENGARUH SENAM JANTUNG TERHADAP DURASI PENURUNAN TEKANAN DARAH DAN NADI ISTIRAHAT PADA HIPERTENSI STADIUM 1 PENGARUH SENAM JANTUNG TERHADAP DURASI PENURUNAN TEKANAN DARAH DAN NADI ISTIRAHAT PADA HIPERTENSI STADIUM 1 (The Effect of Heart Exercises on the Duration of Blood Pressure and Resting Heart Rate Decrease

Lebih terperinci

PENGARUH PEMBERIAN DIIT DM TINGGI SERAT TERHADAP PENURUNAN KADAR GULA DARAH PASIEN DM TIPE-2 DI RSUD SALEWANGANG KAB. MAROS

PENGARUH PEMBERIAN DIIT DM TINGGI SERAT TERHADAP PENURUNAN KADAR GULA DARAH PASIEN DM TIPE-2 DI RSUD SALEWANGANG KAB. MAROS PENGARUH PEMBERIAN DIIT DM TINGGI SERAT TERHADAP PENURUNAN KADAR GULA DARAH PASIEN DM TIPE-2 DI RSUD SALEWANGANG KAB. MAROS Nadimin 1, Sri Dara Ayu 1, Sadariah 2 1 Jurusan Gizi, Politeknik Kesehatan, Makassar

Lebih terperinci

Universitas Lampung. Abstrak

Universitas Lampung. Abstrak Perbandingan Kapasitas Vital Paru Pada Atlet Pria Cabang Olahraga Renang dan Lari Cepat Persiapan Pekan Olahraga Provinsi 2013 di Bandar Lampung Norma Julianti 1), Khairun Nisa 2) Email: normajulianti@rocketmail.com

Lebih terperinci

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Desain Penelitian Penelitian Faktor-faktor Risiko Hipertensi Pada Jamaah Pengajian Majelis Dzikir SBY Nurussalam Tahun 2008 dilakukan dengan menggunakan desain penelitian

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. 2004). Penyakit ini timbul perlahan-lahan dan biasanya tidak disadari oleh

I. PENDAHULUAN. 2004). Penyakit ini timbul perlahan-lahan dan biasanya tidak disadari oleh I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Diabetes melitus (DM) merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan kadar glukosa darah melebihi normal akibat tubuh kekurangan insulin (Sidartawan, 2004). Penyakit ini

Lebih terperinci

A.A Sagung Ika Nuriska 1, Made Ratna Saraswati 2

A.A Sagung Ika Nuriska 1, Made Ratna Saraswati 2 HUBUNGAN KADAR KOLESTEROL TOTAL DENGAN HIPERTENSI SISTOLIK PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI POLIKLINIK ENDOKRIN RUMAH SAKIT UMUM SANGLAH PERIODE JANUARI DESEMBER 2011 A.A Sagung Ika Nuriska 1, Made

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. normal yang ditunjukkan oleh angka bagian atas (systolic) dan angka

BAB I PENDAHULUAN. normal yang ditunjukkan oleh angka bagian atas (systolic) dan angka 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Penyakit darah tinggi atau hipertensi (hypertension) adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah diatas normal yang ditunjukkan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Premier Jatinegara, Sukono Djojoatmodjo menyatakan masalah stroke

BAB 1 PENDAHULUAN. Premier Jatinegara, Sukono Djojoatmodjo menyatakan masalah stroke BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Stroke merupakan masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian khusus dan dapat menyerang siapa saja dan kapan saja, tanpa memandang ras, jenis kelamin, atau

Lebih terperinci

INTISARI ANALISIS FAKTOR RISIKO HIPERTENSI DI PUSKESMAS KELAYAN TIMUR KOTA BANJARMASIN

INTISARI ANALISIS FAKTOR RISIKO HIPERTENSI DI PUSKESMAS KELAYAN TIMUR KOTA BANJARMASIN INTISARI ANALISIS FAKTOR RISIKO HIPERTENSI DI PUSKESMAS KELAYAN TIMUR KOTA BANJARMASIN Ana Ulfah¹; Aditya Maulana²; Rony³ Menurut WHO (World Health Organization) 2011, sekitar 1 milyar penduduk di seluruh

Lebih terperinci

BACK SCHOOL SEBAGAI SALAH SATU MANAJEMEN TERAPI KONSERVATIF UNTUK NYERI PUNGGUNG BAWAH

BACK SCHOOL SEBAGAI SALAH SATU MANAJEMEN TERAPI KONSERVATIF UNTUK NYERI PUNGGUNG BAWAH MAKALAH BEBAS TINJAUAN PUSTAKA BACK SCHOOL SEBAGAI SALAH SATU MANAJEMEN TERAPI KONSERVATIF UNTUK NYERI PUNGGUNG BAWAH Vitriana,dr Bagian Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Fakultas Kedokteran Universitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Jeanny Ivones (G2B ) Ilmu Keperawatan Universitas Diponegoro Page 1

BAB I PENDAHULUAN. Jeanny Ivones (G2B ) Ilmu Keperawatan Universitas Diponegoro Page 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hampir semua reaksi biokimia yang terjadi di dalam tubuh tergantung dari keseimbangan air dan elektrolit. Konsentrasi cairan di dalam sel (cairan intra sel) dan di luar

Lebih terperinci

Bab 1: Mengenal Hipertensi. Daftar Isi

Bab 1: Mengenal Hipertensi. Daftar Isi Bab 1: Mengenal Hipertensi Daftar Isi Pengantar... vii Bab 1. Mengenal Hipertensi... 1 Bab 2. Faktor Risiko... 11 Bab 3. Diagnosis... 17 Bab 4. Komplikasi Hipertensi... 27 Kiat Menghindari Stroke... 33

Lebih terperinci

Prosiding Pendidikan Dokter ISSN: X

Prosiding Pendidikan Dokter ISSN: X Prosiding Pendidikan Dokter ISSN: 246-657X Karakteristik Pasien Stroke Iskemik di RSAU dr. M. Salamun Bandung Periode Maret Mei 216 Characteristics of ischemic stroke patient at RSAU dr. M. Salamun Bandung

Lebih terperinci

DOKUMEN INSTRUMEN PENILAIAN UJIAN KETERAMPILAN

DOKUMEN INSTRUMEN PENILAIAN UJIAN KETERAMPILAN DOKUMEN INSTRUMEN PENILAIAN UJIAN KETERAMPILAN SELEKSI BERSAMA MASUK PERGURUAN TINGGI NEGERI 2015 PROSEDUR PELAKSANAAN DAN RUBRIK PENILAIAN UJIAN KETERAMPILAN BIDANG KEOLAHRAGAAN 1. MATERI UJIAN Uji Keterampilan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS. VO2max dianggap sebagai indikator terbaik dari ketahanan aerobik.

BAB II KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS. VO2max dianggap sebagai indikator terbaik dari ketahanan aerobik. 1 BAB II KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS 2.1 Kajian Teori 2.1.1 Hakikat VO2max Burns (2000:2) VO2max adalah jumlah maksimal oksigen yang dapat dikonsumsi selama aktivitas fisik yang intens sampai akhirnya terjadi

Lebih terperinci

ABSTRAK HUBUNGAN TES BANGKU ASTRAND-RYHMING DAN TES 8ANGKU KASCH. Diana Ridzki, Pembimbing : Dr. 1wan Budiman, dr., MS., A1F.

ABSTRAK HUBUNGAN TES BANGKU ASTRAND-RYHMING DAN TES 8ANGKU KASCH. Diana Ridzki, Pembimbing : Dr. 1wan Budiman, dr., MS., A1F. ABSTRAK HUBUNGAN TES BANGKU ASTRAND-RYHMING DAN TES 8ANGKU KASCH Diana Ridzki, 2002. Pembimbing : Dr. 1wan Budiman, dr., MS., A1F. Latar belakang : Setiap aktivitas yang kita lakukan memerlukan kondisi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang serius dan merupakan penyebab yang penting dari angka kesakitan,

BAB I PENDAHULUAN. yang serius dan merupakan penyebab yang penting dari angka kesakitan, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Diabetes mellitus dan komplikasinya telah menjadi masalah masyarakat yang serius dan merupakan penyebab yang penting dari angka kesakitan, kematian, dan kecacatan di

Lebih terperinci

PROFIL GULA DARAH SEWAKTU (GDS) DAN GULA DARAH PUASA (GDP) PASIEN STROKE DENGAN DIABETES MELLITUS TIPE 2 YANG DI RAWAT INAP DI BAGIAN NEUROLOGI

PROFIL GULA DARAH SEWAKTU (GDS) DAN GULA DARAH PUASA (GDP) PASIEN STROKE DENGAN DIABETES MELLITUS TIPE 2 YANG DI RAWAT INAP DI BAGIAN NEUROLOGI PROFIL GULA DARAH SEWAKTU (GDS) DAN GULA DARAH PUASA (GDP) PASIEN STROKE DENGAN DIABETES MELLITUS TIPE 2 YANG DI RAWAT INAP DI BAGIAN NEUROLOGI Prof. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI DESEMBER 2011

Lebih terperinci

PENGARUH LATIHAN HATHA YOGA SELAMA 12 MINGGU TERHADAP TEKANAN DARAH DIASTOL DAN SISTOL WANITA BERUSIA 50 TAHUN KEATAS

PENGARUH LATIHAN HATHA YOGA SELAMA 12 MINGGU TERHADAP TEKANAN DARAH DIASTOL DAN SISTOL WANITA BERUSIA 50 TAHUN KEATAS PENGARUH LATIHAN HATHA YOGA SELAMA 12 MINGGU TERHADAP TEKANAN DARAH DIASTOL DAN SISTOL WANITA BERUSIA 50 TAHUN KEATAS Artikel Karya Tulis Ilmiah Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Persyaratan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. struktur jantung atau fungsi sirkulasi jantung yang dibawa dari lahir. 1

BAB I PENDAHULUAN. struktur jantung atau fungsi sirkulasi jantung yang dibawa dari lahir. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit jantung bawaan ( PJB ) adalah penyakit dengan kelainan pada struktur jantung atau fungsi sirkulasi jantung yang dibawa dari lahir. 1 PJB merupakan kelainan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sekaligus pembunuh nomor tiga di dunia. Stroke menjadi salah satu penyakit

BAB I PENDAHULUAN. sekaligus pembunuh nomor tiga di dunia. Stroke menjadi salah satu penyakit 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Stroke merupakan masalah utama dalam pelayanan kesehatan dan sekaligus pembunuh nomor tiga di dunia. Stroke menjadi salah satu penyakit yang ditakuti karena menjadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengukur ketahanan kardiorespirasi adalah dengan mengukur volume konsumsi

BAB I PENDAHULUAN. mengukur ketahanan kardiorespirasi adalah dengan mengukur volume konsumsi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Latihan fisik atau olahraga merupakan aktivitas fisik terstruktur yang dapat meningkatkan kemampuan seseorang untuk melakukan kegiatan fisik dan dapat diukur dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Hepatitis karena infeksi virus merupakan penyakit. sistemik yang menyerang hepar. Penyebab paling banyak

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Hepatitis karena infeksi virus merupakan penyakit. sistemik yang menyerang hepar. Penyebab paling banyak BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Hepatitis karena infeksi virus merupakan penyakit sistemik yang menyerang hepar. Penyebab paling banyak dari hepatitis akut yang berhubungan dengan virus pada

Lebih terperinci

PERBANDINGAN NILAI VO 2 MAKS ANTARA SISWA TERLATIH DENGAN SISWA TIDAK TERLATIH

PERBANDINGAN NILAI VO 2 MAKS ANTARA SISWA TERLATIH DENGAN SISWA TIDAK TERLATIH PERBANDINGAN NILAI VO 2 MAKS ANTARA SISWA TERLATIH DENGAN SISWA TIDAK TERLATIH DI SMAN 1 MARTAPURA Nadia Harira 1, Asnawati 1, Huldani 2 1 Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas

Lebih terperinci

Senam Tera Indonesia meningkatkan kebugaran jantung paru lansia di Panti Werdha Wana Seraya Denpasar

Senam Tera Indonesia meningkatkan kebugaran jantung paru lansia di Panti Werdha Wana Seraya Denpasar Laporan hasil penelitian Senam Tera Indonesia meningkatkan kebugaran jantung paru lansia di Panti Werdha Wana Seraya Denpasar Ni Made Parwati, 1,4 Nyoman Mangku Karmaya 1,2 dan Dewa Putu Sutjana 3 1 Program

Lebih terperinci

TINGKAT KAPASITAS VITAL PARU ANAK TUNARUNGU DI SLB KARNNAMANOHARA KABUPATEN SLEMAN

TINGKAT KAPASITAS VITAL PARU ANAK TUNARUNGU DI SLB KARNNAMANOHARA KABUPATEN SLEMAN Tingkat Kapasitas Vital (Rehania N. Mustopa) 1 TINGKAT KAPASITAS VITAL PARU ANAK TUNARUNGU DI SLB KARNNAMANOHARA KABUPATEN SLEMAN VITAL CAPACITY LEVEL OF CHILDREN WITH HEARING LOSS IN KARNNAMANOHARA Oleh:

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Paru-paru merupakan organ utama yang sangat penting bagi kelangsungan

BAB I PENDAHULUAN. Paru-paru merupakan organ utama yang sangat penting bagi kelangsungan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Paru-paru merupakan organ utama yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia. Fungsi utama dari paru-paru adalah untuk proses respirasi. Respirasi merupakan proses

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN orang dari 1 juta penduduk menderita PJK. 2 Hal ini diperkuat oleh hasil

BAB I PENDAHULUAN orang dari 1 juta penduduk menderita PJK. 2 Hal ini diperkuat oleh hasil BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Dewasa ini berbagai laporan kesehatan mengindikasikan bahwa prevalensi penyakit tidak menular lebih banyak dari pada penyakit menular. Dinyatakan oleh World

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. data statistik yang menyebutkan bahwa di Amerika serangan jantung. oleh penyakit jantung koroner. (WHO, 2011).

BAB I PENDAHULUAN. data statistik yang menyebutkan bahwa di Amerika serangan jantung. oleh penyakit jantung koroner. (WHO, 2011). BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Serangan jantung merupakan penyakit mematikan nomor satu di dunia. Banyak data statistik yang menyebutkan bahwa di Amerika serangan jantung menempati posisi pertama

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Senam aerobik banyak diminati oleh masyarakat sebagai alternatif

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Senam aerobik banyak diminati oleh masyarakat sebagai alternatif 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Senam aerobik banyak diminati oleh masyarakat sebagai alternatif kegiatan olahraga dengan tujuan untuk menurunkan berat badan, membentuk tubuh, menjaga kebugaran

Lebih terperinci

PENGARUH LATIHAN STEP UP TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA SISWA SEKOLAH SEPAK BOLA TUGU MUDA SEMARANG USIA TAHUN

PENGARUH LATIHAN STEP UP TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA SISWA SEKOLAH SEPAK BOLA TUGU MUDA SEMARANG USIA TAHUN PENGARUH LATIHAN STEP UP TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA SISWA SEKOLAH SEPAK BOLA TUGU MUDA SEMARANG USIA 12-14 TAHUN Adhitya Wicaksana Putra 1, Edwin Basyar 2 1 Mahasiswa Program Pendidikan S-1

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perubahan gaya hidup dan gaya hidup negatif dapat menyebabkan

BAB I PENDAHULUAN. Perubahan gaya hidup dan gaya hidup negatif dapat menyebabkan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perubahan gaya hidup dan gaya hidup negatif dapat menyebabkan peningkatan kejadian penyakit kronis yang merupakan penyebab utama kematian (36 juta pertahun) dan masalah

Lebih terperinci

DETEKSI DINI DAN PENCEGAHAN PENYAKIT GAGAL GINJAL KRONIK. Oleh: Yuyun Rindiastuti Mahasiswa Fakultas Kedokteran UNS BAB I PENDAHULUAN

DETEKSI DINI DAN PENCEGAHAN PENYAKIT GAGAL GINJAL KRONIK. Oleh: Yuyun Rindiastuti Mahasiswa Fakultas Kedokteran UNS BAB I PENDAHULUAN DETEKSI DINI DAN PENCEGAHAN PENYAKIT GAGAL GINJAL KRONIK Oleh: Yuyun Rindiastuti Mahasiswa Fakultas Kedokteran UNS BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Di negara maju, penyakit kronik tidak menular (cronic

Lebih terperinci

Copyright 2005 by Medical Faculty of Diponegoro University ARTIKEL ASLI

Copyright 2005 by Medical Faculty of Diponegoro University ARTIKEL ASLI Copyright 2005 by Medical Faculty of Diponegoro University Nomor 4 Januari Juni 2010 ARTIKEL ASLI PENGARUH LATIHAN FISIK TERPROGRAM TERHADAP KELENTURAN EKSTREMITAS BAWAH PADA SISWA SEKOLAH SEPAK BOLA TUGU

Lebih terperinci

Perbandingan Pengaruh Latihan Daya Tahan Aerobik dengan Parameter Laktat dan Denyut Nadi

Perbandingan Pengaruh Latihan Daya Tahan Aerobik dengan Parameter Laktat dan Denyut Nadi ARTIKEL PENELITIAN Perbandingan Pengaruh Latihan Daya Tahan Aerobik dengan Parameter Laktat dan Denyut Nadi Iwan Budiman Bagian Karya Tulis Ilmiah, Fakultas Kedokteran, Universitas Kristen Maranatha Abstrak

Lebih terperinci

HUBUNGAN DAYA TAHAN JANTUNG PARU DENGAN KONDISI PSIKOLOGIS PADA MAHASISWA PROGRAM STUDI PENJASKES FKIP UNIVERSITAS LAMPUNG ANGKATAN 2008 DAN 2009

HUBUNGAN DAYA TAHAN JANTUNG PARU DENGAN KONDISI PSIKOLOGIS PADA MAHASISWA PROGRAM STUDI PENJASKES FKIP UNIVERSITAS LAMPUNG ANGKATAN 2008 DAN 2009 15 HUBUNGAN DAYA TAHAN JANTUNG PARU DENGAN KONDISI PSIKOLOGIS PADA MAHASISWA PROGRAM STUDI PENJASKES FKIP UNIVERSITAS LAMPUNG ANGKATAN 2008 DAN 2009 Aironi Irsyahma, dr. Khairun Nisa B, M.Kes, AIFO Fakultas

Lebih terperinci

Efek Cairan Rehidrasi terhadap Denyut Nadi, Tekanan Darah dan Lama Periode Pemulihan

Efek Cairan Rehidrasi terhadap Denyut Nadi, Tekanan Darah dan Lama Periode Pemulihan Jurnal Media Ilmu Keolahragaan Indonesia Volume 1. Edisi 2. Desember 2011. ISSN: 20886802 Artikel Penelitian http://journal.unnes.ac.id/index.php/miki Efek Cairan Rehidrasi terhadap Denyut Nadi, Tekanan

Lebih terperinci

Agnesia Naathiq H1A Brown Sequard Syndrome

Agnesia Naathiq H1A Brown Sequard Syndrome Agnesia Naathiq H1A012004 Brown Sequard Syndrome Pendahuluan Brown Sequard Syndrome (BSS) merupakan kumpulan gejala yang muncul karena cedera medulla spinalis yang meliputi kelumpuhan atau gangguan neuron

Lebih terperinci

Lampiran 1 SURAT IJIN PENELITIAN

Lampiran 1 SURAT IJIN PENELITIAN Lampiran 1 88 SURAT IJIN PENELITIAN Lampiran 2 89 SURAT IJIN SURVEI AWAL PENELITIAN Lampiran 3 90 SURAT IJIN PENELITIAN Lampiran 4 91 LEMBAR PERMINTAAN MENJADI RESPONDEN Saya yang bertanda tangan di bawah

Lebih terperinci

RENCANA PROGRAM KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RPKPS) FISIOLOGI KEDOKTERAN

RENCANA PROGRAM KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RPKPS) FISIOLOGI KEDOKTERAN RENCANA PROGRAM KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RPKPS) FISIOLOGI KEDOKTERAN Prof.dr. Rahmatina B.Herman, PhD, AIF dr. Sofina Rusdan, Cert.Med, AIF dr. Erkadius, MSc, AIF Dr.dr. Afriwardi, SpKO, AIF dr.

Lebih terperinci

ABSTRAK ABSTRACT. Kata kunci : Senam aerobik, persentase lemak subkutan.

ABSTRAK ABSTRACT. Kata kunci : Senam aerobik, persentase lemak subkutan. PEMBERIAN SENAM AEROBIK INTENSITAS RINGAN LEBIH MENURUNKAN PERSENTASE LEMAK SUBKUTAN DIBANDINGKAN INTENSITAS SEDANG PADA MAHASISWI FISIOTERAPI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA 1 I Made Wisnu Saputra

Lebih terperinci

Kompetensi, Mutu Layanan dan Keselamatan Pasien

Kompetensi, Mutu Layanan dan Keselamatan Pasien Kompetensi, Mutu Layanan dan Keselamatan Pasien Zubairi Djoerban zubairidjoerban.org Tantangan kedokteran sekarang: Memberikan layanan kesehatan dg kualitas yang terbaik (EBM, KOMPETEN), yg komprehensif

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. orang didunia adalah 66 tahun, pada tahun 2012 naik menjadi 70 tahun dan pada

BAB 1 PENDAHULUAN. orang didunia adalah 66 tahun, pada tahun 2012 naik menjadi 70 tahun dan pada BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Menurut WHO lanjut usia (lansia) adalah kelompok penduduk yang berumur 60 tahun atau lebih. Secara global pada tahun 2013 proporsi dari populasi penduduk berusia lebih

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA KUALITAS TIDUR DENGAN TEKANAN DARAH PADA PASIEN HIPERTENSI DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARANGANYAR

HUBUNGAN ANTARA KUALITAS TIDUR DENGAN TEKANAN DARAH PADA PASIEN HIPERTENSI DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARANGANYAR HUBUNGAN ANTARA KUALITAS TIDUR DENGAN TEKANAN DARAH PADA PASIEN HIPERTENSI DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARANGANYAR NASKAH PUBLIKASI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Sarjana Kedokteran

Lebih terperinci

FAKTOR RISIKO DIABETES MELITUS TIPE 2 DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KEDUNGMUNDU KOTA SEMARANG TAHUN 2014

FAKTOR RISIKO DIABETES MELITUS TIPE 2 DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KEDUNGMUNDU KOTA SEMARANG TAHUN 2014 FAKTOR RISIKO DIABETES MELITUS TIPE 2 DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KEDUNGMUNDU KOTA SEMARANG TAHUN 2014 Nafi Azhara*), Lily Kresnowati**) *) Mahasiswa Fakultas Kesehatan Udinus **) Staf Pengajar Fakultas

Lebih terperinci

Pengaruh Natrium Bikarbonat Per Oral terhadap Penampilan-Sprint pada Tes Ergometer Sepeda

Pengaruh Natrium Bikarbonat Per Oral terhadap Penampilan-Sprint pada Tes Ergometer Sepeda ARTIKEL PENELITIAN Pengaruh Natrium Bikarbonat Per Oral terhadap Penampilan-Sprint pada Tes Ergometer Sepeda Iwan Budiman Bagian Karya Tulis Ilmiah, Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha Abstrak

Lebih terperinci

EFEK PEMBERIAN JUS MENTIMUN TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH

EFEK PEMBERIAN JUS MENTIMUN TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH EFEK PEMBERIAN JUS MENTIMUN TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH Zauhani Kusnul 1, Zainal Munir 2 ;./ 1 Akper Bahrul Ulum 2 Stikes Bahrul Ulum Email: zauhani.kusnul@yahoo.com Abstrak Hipertensi merupakan penyakit

Lebih terperinci

ABSTRACT ABSTRAK RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA DENGAN KEJADIAN DIABETES MELLITUS

ABSTRACT ABSTRAK RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA DENGAN KEJADIAN DIABETES MELLITUS 51 RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA DENGAN KEJADIAN DIABETES MELLITUS Arif Nurma Etika 1, Via Monalisa 2 Program Studi Ilmu Keperawatan, Universitas Kadiri e-mail: arif_etika@yahoo.com ABSTRACT Diabetes Mellitus

Lebih terperinci

BAB 4 Hasil Penelitian dan Interpretasi

BAB 4 Hasil Penelitian dan Interpretasi 47 BAB 4 Hasil Penelitian dan Interpretasi Pada bab ini, akan dipaparkan hasil penelitian serta interpretasi dari hasil penelitian tersebut. Akan dijabarkan gambaran umum responden dan hasil dari analisa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN UKDW. masyarakat. Menurut hasil laporan dari International Diabetes Federation (IDF),

BAB I PENDAHULUAN UKDW. masyarakat. Menurut hasil laporan dari International Diabetes Federation (IDF), 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Diabetes Mellitus (DM) merupakan permasalahan yang besar di masyarakat. Menurut hasil laporan dari International Diabetes Federation (IDF), Negara Asia

Lebih terperinci

ABSTRAK GAMBARAN PENYAKIT DIABETES MELITUS PADA ORANG DEWASA YANG DIRAWAT INAP DIRUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE JANUARI DESEMBER 2014

ABSTRAK GAMBARAN PENYAKIT DIABETES MELITUS PADA ORANG DEWASA YANG DIRAWAT INAP DIRUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE JANUARI DESEMBER 2014 ABSTRAK GAMBARAN PENYAKIT DIABETES MELITUS PADA ORANG DEWASA YANG DIRAWAT INAP DIRUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE Evan Anggalimanto, 2015 Pembimbing 1 : Dani, dr., M.Kes Pembimbing 2 : dr Rokihyati.Sp.P.D

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN UKDW. penyakit yang sering dijumpai dalam praktek kedokteran. Data epidemiologis

BAB I PENDAHULUAN UKDW. penyakit yang sering dijumpai dalam praktek kedokteran. Data epidemiologis 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Penyakit serebrovaskuler atau yang lebih dikenal dengan stroke merupakan penyakit yang sering dijumpai dalam praktek kedokteran. Data epidemiologis menunjukkan bahwa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. hidup biasanya memiliki arti yang berbeda-beda tergantung dari konteks yang

BAB I PENDAHULUAN. hidup biasanya memiliki arti yang berbeda-beda tergantung dari konteks yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tidak mudah untuk mendefenisikan kualitas hidup secara tepat. Kualitas hidup biasanya memiliki arti yang berbeda-beda tergantung dari konteks yang dibicarakan dan digunakan.

Lebih terperinci

MODEL LOG-LINEAR FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HIPERTENSI (STUDI KASUS: RSUD ABDOE RAHEM SITUBONDO)

MODEL LOG-LINEAR FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HIPERTENSI (STUDI KASUS: RSUD ABDOE RAHEM SITUBONDO) MODEL LOG-LINEAR FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HIPERTENSI (STUDI KASUS: RSUD ABDOE RAHEM SITUBONDO) IMAMUDDIN KAMIL 1, MADE SUSILAWATI 2, I PUTU EKA NILA KENCANA 3 1,2,3, Jurusan Matematika, Fakultas

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. akibat penyakit kardiovaskuler pada tahun 1998 di Amerika Serikat. (data dari

BAB 1 PENDAHULUAN. akibat penyakit kardiovaskuler pada tahun 1998 di Amerika Serikat. (data dari 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan penyebab 48% kematian akibat penyakit kardiovaskuler pada tahun 1998 di Amerika Serikat. (data dari center for medicine and

Lebih terperinci

ABSTRAK. PENGARUH DAN HUBUNGAN BMI (Body Mass Index) DENGAN TLK (TEBAL LIPATAN KULIT) TRICEPS DAN SUBSCAPULA

ABSTRAK. PENGARUH DAN HUBUNGAN BMI (Body Mass Index) DENGAN TLK (TEBAL LIPATAN KULIT) TRICEPS DAN SUBSCAPULA ABSTRAK PENGARUH DAN HUBUNGAN BMI (Body Mass Index) DENGAN TLK (TEBAL LIPATAN KULIT) TRICEPS DAN SUBSCAPULA Windi Anggraini, 2007. Pembimbing I : Hana Ratnawati, dr., M.Kes Pembimbing II : DR., Iwan Budiman,

Lebih terperinci