Pengaruh latihan aerobik terhadap kapasitas kardiorespirasi penderita cedera medula spinalis

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Pengaruh latihan aerobik terhadap kapasitas kardiorespirasi penderita cedera medula spinalis"

Transkripsi

1 J Kedokter Trisakti Januari-Maret 2004, Vol. 23 No.1 Pengaruh latihan aerobik terhadap kapasitas kardiorespirasi penderita cedera medula spinalis Maria Regina Rachmawati Bagian Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menilai efek program latihan aerobik terhadap kapasitas fungsional kardiorespirasi pada penderita cedera medula spinalis (CMS), dan hubungannya dengan tingkat CMS serta lama awitan. Untuk menilai kapasitas fungsional kardiorespirasi pada penelitian ini digunakan 2 parameter yaitu (kapasitas aerobik imal) dan (ventilasi menit). Studi pra dan pasca perlakuan dengan kelompok tunggal dilakukan pada 27 penyandang cacat. Sampel yang memenuhi kritera inklusi dilakukan uji kerja fisik awal untuk menilai awal, kemudian menjalani program latihan 3 kali seminggu dengan durasi minimal 25 menit selama 6 minggu. Setelah itu dilakukan uji kerja fisik akhir untuk menilai akhir dan pemeriksaan spirometri untuk menilai pasca latihan. Empat penderita drop out karena tidak memenuhi absensi latihan. Akhirnya didapatkan 23 sampel yang mengikuti penelitian sampai selesai yang terdiri dari 4 perempuan dan 19 laki-laki. Hasil penelitian menunjukkan, setelah dilakukan latihan terjadi peningkatan yang bermakna pada perempuan 21,64 ± 2,94 ml.kg -1.mn -1 (p = 0,0001), pada laki-laki 25,20 ± 4,88 ml.kg 1.mn -1 (p = 0,0001) dengan rerata 24,43 ± 4,84 ml.kg -1.mn -1, dan meningkat secara bermakna menjadi 10,17 ± 4,08 L.mn 1 (p = 0,0001). Tidak terdapat korelasi bermakna antara lama awitan dan tingkat CMS dengan nilai dan nilai. Nilai turun pada penderita CMS, dan terjadi peningkatan yang bermakna setelah melakukan latihan aerobik. Kata kunci : Aerobik, latihan, kardiorespirasi, cedera, medula spinalis ABSTRACT Effect of aerobic exercise on cardiorespiratory capacity in spinal cord injured patients The purpose of this study was to evaluate the effect of aerobic exercise program on cardiorespiratory function in spinal cord injured (SCI) patients, and also their relationship with injury level and onset of injury. In this study two parameters were used to evaluate cardiorespiration function, which were max (maximal aerobic capacity), and (minute ventilation). The study was a pre and post test design on single group of 27 spinal cord injured patients. Samples that passed the inclusion criteria were given first exercise test to evaluate their first max. After exercise test, they underwent exercise program 3 times a week, at least 25 minute duration each session. After 6 weeks, an exercise test to evaluate max and spirometry examination to measure. This study showed that max and significantly increasing after exercise program 24.43± 4.68 ml.kg 1.mn and 10.17± 4.08 L.mn 1 (p ). No significant correlation between onset and injury level with max and.. There was a decrease of max in spinal cord injury people, which increased significantly after aerobic exercise program. Keywords : Aerobic, exercise, cardiorespiratory, injury, spinal cord PENDAHULUAN Rehabilitasi pasca cedera medula spinalis (CMS) di seluruh dunia merupakan suatu tantangan, terutama di negara berkembang yang tidak memiliki fasilitas maupun staf rehabilitasi yang 15

2 Rachmawati Cedera medula spinalis adekuat. World Health Organisation (WHO) melakukan studi di negara berkembang melalui program rehabilitasi dan diperoleh hasil bahwa sebagian besar pasien CMS tidak mengetahui cara untuk mencapai kapasitas fungsional yang imal. (1) Pada penderita CMS hampir selalu terjadi penurunan fungsi kardiovaskular, hal ini disebabkan menurunnya fungsi otot, buruknya aliran balik vena, dan buruknya dinamika ventilasi. Penderita CMS yang melakukan latihan fisik akan terjadi peningkatan denyut jantung dan kapasitas aerobik (konsumsi oksigen), tetapi tingkat yang dicapai lebih rendah dibandingkan orang normal. Sedangkan kebanyakan penderita CMS memiliki aktivitas fisik yang rendah, sehingga dapat dipastikan mereka memiliki kapasitas aerobik yang rendah. (2) Kebutuhan fundamental untuk melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS) adalah kemampuan untuk melakukan aktivitas aerobik. Aktivitas tersebut memerlukan usaha yang terintegrasi pada sistem kardiorespirasi yaitu jantung, paru dan sirkulasi darah, termasuk komponen darah yang adekuat (sel darah merah, hemoglobin/hb, hematokrit/ht dan volume darah) untuk menghantarkan O 2 ke metabolisme otot yang aktif. (3,4) Beberapa studi menunjukkan bahwa aktivitas fisik yang rendah bertanggung jawab terhadap terjadinya penyakit jantung iskemik (PJI), hal ini juga terbukti pada penelitian yang dilakukan oleh Yekutiel yaitu adanya peningkatan prevalensi PJI dan hipertensi pada penderita CMS dibandingkan kontrol. (5-8) Klasifikasi CMS menurut International Standards for Neurological and Functional Classification of Spinal Cord Injury (ISCSCI) oleh American Spinal Injury Association-International Medical Society of Paraplegy (ASIA/IMSOP) terdiri dari lima tingkat A sampai E yang sesuai dengan luasnya cedera. Tingkat A merupakan lesi komplit dimana tidak ditemukan fungsi motorik atau sensorik pada segmen sakral S 4-5 dan tingkat E di mana terdapat hasil pemeriksaan sensorik dan motorik yang normal. (7,8) Aktivitas aerobik imal atau kapasitas aerobik ( ) dapat diartikan sebagai kapasitas imal dalam melakukan aktivitas aerobik, di mana tercapai jumlah atau konsumsi O 2 terbesar (imal) yang digunakan pada saat kerja fisik dengan intensitas tinggi. (3,4) Nilai dipengaruhi oleh tingkat cedera dan lama awitan. Tingkat cedera yang lebih tinggi dan lama awitan yang lebih panjang akan menurunkan kapsitas kardiorespirasi. Penilaian kapasitas aerobik biasanya dilakukan melalui program uji kerja fisik, tetapi uji ini memiliki risiko tinggi bila dilakukan pada penderita CMS di atas Torakal 6 (T6) karena dapat meningkatkan tonus simpatis yang berlebihan. (2,7,8) Penelitian yang dilakukan oleh Ellenberg dengan menggunakan ergometer lengan sebagai alat untuk uji kerja fisik membuktikan adanya penurunan kapasitas aerobik pada pasien paraplegi awal (2-12 minggu pasca onset) yaitu ratarata 4,2 MET (52% ) dan terjadi peningkatan setelah latihan, tetapi tetap tidak dapat mencapai nilai normal. (9) Berdasarkan uraian di atas perlu dilakukan penelitian untuk menilai efek latihan aerobik terhadap kapasitas kardiorespirasi yaitu dan ventilasi menit ( ) pada penderita CMS (paraplegi) tingkat di bawah Torakal 6 (T6). METODE Rancangan penelitian Studi intervensi pra dan pasca perlakuan pada kelompok tunggal dilakukan di rumah sakit Fatmawati Jakarta Selatan mulai bulan Februari 2002 sampai April Populasi dan sampel Populasi adalah semua penderita paraplegi yang ada di Wisma Chesire Cilandak dan Panti Sosial Pondok Bambu. Adapun kriteria penerimaan sampel sebagai berikut: penderita paraplegi usia tahun, onset cedera medula spinalis kapan saja, tingkat cedera medula spinalis di bawah T6, tidak mempunyai kebiasaan olah raga kursi roda secara teratur, penderita melakukan ambulasi dengan kursi roda, penyebab cedera karena trauma/kecelakaan, mampu menjalani uji kerja fisik, menyetujui mengikuti penelitian dan bersedia mengikuti program latihan secara berkala 3x/minggu di Instalasi Rehabilitasi Medik Rumah Sakit 16

3 J Kedokter Trisakti Fatmawati selama 6 minggu. Sedangkan kriteria penolakan sampel adalah sebagai berikut: terdapat kontra indikasi absolut maupun relatif untuk dilakukan uji kerja fisik, penyakit paru obstruksi kronik (PPOK) sedang-berat. Subyek dinyatakan drop out bila tidak mengikuti latihan selama 3 kali berturut-turut atau tidak mengikuti latihan selama 5 kali tidak berturut-turut. Perkiraan jumlah sampel minimal berdasarkan rumus kelompok tunggal besarnya 21 orang. (10) Pengumpulan data Cara pengumpulan data dengan seleksi subyek berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, klasifikasi neurologi dan fungsional CMS sesuai ASIA Impairment Scale (AIS). (11) Semua pasien paraplegi yang memenuhi kriteria penerimaan dilakukan beberapa pemeriksaan penapisan yaitu elektrokardiogram (EKG), dan laboratorium darah lengkap. Pasien yang memiliki hasil normal dilakukan pemeriksaan spirometri untuk melihat pra latihan, dan uji kerja fisik (exercise test) untuk menilai awal. Kemudian dibuat program latihan aerobik yaitu dengan intensitas 70-85% denyut nadi imal selama 25 menit dengan frekuensi 3 kali seminggu selama 6 minggu. Setelah program latihan dilakukan evaluasi yaitu pemeriksaan spirometri dan uji kerja fisik untuk menilai dan pasca latihan. Uji kerja fisik dilakukan secara bertingkat dengan periode tiap tingkat selama 1-3 menit dan penambahan beban 10 watt tiap tingkat. (4,12,13) Pada awal studi dilakukan uji kerja fisik dengan periode 1 menit setiap tahap dengan meningkatkan 10 watt tiap tahap sampai dicapai denyut jantung (DJ) steady state, karena pada prosedur ini didapatkan hasil paling tinggi. Tekanan darah (TD) diukur dengan tensimeter (merek Nova) dan denyut jantung (DJ) diukur dengan menggunakan Polar dicatat setiap menit, pada 3 detik terakhir setiap tahap. TD diperiksa dengan doppler (Mini Dopplex D 500) pada pembuluh nadi dorsalis pedis, karena sulit untuk mengukur TD pada pembuluh nadi brachialis. Posisi pasien saat mengerjakan ergometer lengan (merek Monark 881E) dalam posisi duduk di kursi roda, lengan sedikit menekuk, tinggi pedal diatur setinggi bahu. Program latihan dilakukan 3 kali seminggu dengan durasi minimal 25 menit tiap peserta, yang terdiri dari 2 menit peregangan, 5 menit pemanasan, 15 menit latihan inti dengan ergometer Monark 881E, 5 menit pendinginan dan diakhiri dengan 2 menit peregangan. Latihan dilakukan di bawah pengawasan peneliti selama 6 minggu. Uji-t pasangan digunakan untuk menguji perbedaan pra dan pasca latihan aerobik. Bila penyebaran data tidak normal dilakukan uji Wilcoxon mathched-pairs signedrank test, Spearman correlation coefficients dan Mann-Whitney U test. HASIL Vol. 23 No.1 Sebanyak 30 penderita CMS bersedia diperiksa untuk berpartisipasi dalam penelitian. Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik, laboratorium darah lengkap dan EKG didapatkan 27 orang yaitu 5 perempuan dan 22 laki-laki yang memenuhi kriteria inklusi. Tiga orang tidak dimasukkan dalam penelitian karena menderita hipertensi, yaitu dengan tekanan sistolik rata-rata 176,66 mmhg dan tekanan diastolik rata-rata 113,33 mmhg. Sebanyak 4 orang, 1 perempuan dan 3 laki-laki dinyatakan drop out (DO) karena tidak memenuhi protokol penelitian. Yang berhasil mengikuti penelitian sampai selesai banyaknya 23 orang yaitu 4 perempuan dan 19 laki-laki. Karakteristik umum peserta penelitian adalah sebagian besar laki-laki (78,3%), tingkat pendidikan sebagain besar tingkat rendah (SD- SLTA tidak tamat) 18 (78,3%) orang, tingkat menengah (SLTA tamat) 4 (17,4%) orang, dan tingkat tinggi (Diploma) 1 (4,3%) orang. Seluruh peserta penelitian putus sekolah atau keluar dari pekerjaan semula setelah mengalami CMS. Sebagian besar tidak menikah (52,2%), menikah (30,4%), duda (8,7%), dan janda (8,7%). Rentang lama awitan bervariasi antara 2 sampai 27 tahun, sebagian besar di atas 10 tahun (65,2%). Sebagian besar penyebab terjadinya CMS adalah kecelakaan lalu lintas (KLL) (52,2%) selanjutnya karena jatuh (21,7%), tertimpa (13,1%), aniaya (4,3%) dan pasca bedah (8,7%). BB rerata adalah 46,87 ± 12,62 kg, dan IMT rerata adalah 18,68 ± 4,1 (Tabel 1). 17

4 Rachmawati Tabel 1. Karakteristik umum pasien penelitian Karakteristik n=23(%) Umur (tahun) 34,74 ± 7,63* Jenis kelamin laki-laki 19 (82,6) perempuan 4 (17,4) Berat badan (kg) 46,87 ± 12,62* Panjang badan (cm) 158,25 ± 10,25* IMT 18,68 ± 4,1* Kurang (<18,5) 14 (60,9) Normal (18,5-22,9) 7 (30,4) Obesitas (> 23) 2 (8,7) Tingkat cedera T7 4 (17,4) T10 2 (8,7) T11 5 (21,7) T12 4 (17,4) L1 4 (17,4) L2 3 (13) L3 1 (4,3) AIS A 14 (60,9) B 3 (13) C 6 (26,1) Pendidikan SD 10 (43,5) SLTP 8 (34,8) SLTA 4 (17,4) Diploma 1 (4,3) Perkawinan TM 12 (52,2) M 7 (30,4) D 2 (8,7) J 2 (8,7) Lama awitan (tahun) 12,22 ± 7,32* Usia saat CMS (30,4) (60,9) (8,7) Penyebab CMS Jatuh 5 (21,7) KLL 1 (52,2) Tertimpa 3 (13,1) Tindak kekerasan 1 (4,3) Pasca op 2 (8,7) Pekerjaan Pengrajin 23 (100) Mobilisasi Mampu dengan crutches 3 (13) Dengan wheel chair 20 (87) Keterangan: * Mean ± SD L : Laki-laki; P: Perempuan; T: Torakal; L: Lumbal; IMT: Indeks massa tubuh; AIS: ASIA Impairment Scale; SD: Sekolah Dasar; SLTP: Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama; SLTA: Sekolah Lanjutan Tingkat Akhir; TM: Tidak menikah; M: Menikah; D: Duda; J: Janda; KLL: Kecelakaan lalu lintas; Pasca op: Pasca operasi tulang belakang Pengaruh program latihan Nilai sebelum latihan besarnya 13,87 ± 3,53 ml.kg -1.mn -1 untuk perempuan dan 15,58 ± 3,28 ml.kg -1.mn -1 untuk laki-laki, sedangkan rerata besarnya 15,21 ± 3,33 ml.kg -1.mn -1. Nilai setelah melakukan uji kerja fisik selama 6 minggu adalah 21,67 ± 3,53 ml.kg -1.mn -1 untuk perempuan dan 25,20 ± 4,89 ml.kg -1.mn -1 untuk laki-laki, sedangkan rerata setelah latihan besarnya 24,43 ± 4,68 ml.kg -1.mn -1. Terdapat peningkatan yang bermakna pada pasca latihan dibandingkan pra latihan (p = 0,0001) baik pada perempuan maupun laki-laki (Tabel 2). Nilai pra melakukan program latihan besarnya 5,93 ± 3,29 L.mn -1, pasca program latihan adalah 10,74 ± 4,08 L.mn -1. Uji Wilcoxon matched pairs sign rank menunjukkan peningkatan yang bermakna pada setelah melakukan uji kerja fisik (p = 0,0001) (Tabel 2). Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara lama awitan dengan rerata dan baik pra maupun pasca latihan (p > 0,005) (Tabel 3). Tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara rerata 1,2 baik pra maupun pasca latihan kerja fisik berdasarkan tingkat CDM T7-12 dan L1-3 (Tabel 4). PEMBAHASAN Cedera medula spinalis Usia saat terjadi CDM sebagian besar di bawah 30 tahun (86,9%) dan penyebab CDM sebagian besar akibat kecelakaan (52,2%). Hal ini sesuai dengan kepustakaan yang menyatakan penyebab CMS tersering karena kecelakaan kendaraan bermotor (44,5%) dan lebih dari setengah CMS terjadi pada usia di bawah 30 tahun. (2,7,8) Sebagian besar (60,9%) penderita memiliki cedera yang lengkap berdasarkan klasifikasi AIS. Nilai pra dilakukan program latihan besarnya 13,87 ± 3,53 ml.kg -1.mn -1 untuk perempuan dan 15,58 ± 3,23 ml.kg -1.mn -1 untuk laki-laki, sedangkan rerata besarnya 15,21 ± 3,33 ml.kg -1.mn -1 yang berarti termasuk kriteria memerlukan peningkatan kapasitas aerobik baik laki-laki maupun perempuan. (13) 18

5 J Kedokter Trisakti Vol. 23 No.1 Tabel 2. Rerata nilai pra dan pasca latihan Variabel Latihan P imum (ml.kg -1 mn -1 )* 15,21 ± 3,33 24,43 ± 4,68 0,0001 Laki-laki 15,58 ± 3,28 25,20 ± 4,89 0,0001 Perempuan 13,87 ± 3,53 21,67 ± 3,53 0,0001 (L.mn -1 )** 5,93 ± 3,29 10,17 ± 4,08 0,0001 * uji t pasangan ** uji Wilcoxon matched-pairs signed-ranks Tabel 3. Korelasi antara lama awitan dan serta pra dan pasca latihan Pra latihan Pasca latihan Lama awitan* r=-0,033 r=0,388 r=0,2591 r=0,388 (p=0,881) (p=0,067) (p=0,233) (p=0,067) * r= Spearman correlation coefficients Terdapat peningkatan yang bermakna pada setelah latihan dibandingkan pra latihan (p = 00001) baik pada perempuan maupun laki-laki, tetapi hasil tersebut belum mencapai kriteria sedang untuk usia di bawah 54 tahun. Hasil ini sesuai dengan temuan peneliti sebelumnya yang menyatakan bahwa penderita paraplegi adalah rendah dan akan mengalami peningkatan setelah latihan, tetapi peningkatan yang dicapai belum mencapai nilai normal. Hal ini disebabkan pada studi ini diperoleh melalui uji lengan yang hasilnya 65-70% dari yang diperoleh melalui uji tungkai, dan kurangnya lama latihan. (9,14,15) Nilai pra melakukan program latihan besarnya 5,93 ± 3,29 L.mn -1, yang berarti sedikit di bawah nilai normal yaitu 6 L.mn -1. (14) Nilai pasca program latihan adalah 10,74 ± 4,08 L.mn -1. Terdapat peningkatan yang bermakna pada setelah melakukan uji kerja fisik pada hampir semua subjek, kecuali satu subyek tidak mengalami peningkatan, karena menderita skoliosis berat (sudut ). Hal ini menjadi peyebab keterbatasan pengembangan rongga toraks, sehingga menghambat peningkatan volume ventilasi paru. Tidak terdapat hubungan bermakna antara lama awitan dengan rerata baik pra maupun pra latihan. Hubungan yang tidak bermakna ini kemungkinan disebabkan seluruh sampel memiliki lama awitan menahun, di mana lama awitan minimal yaitu 2 tahun, dan semuanya memiliki pola hidup tidak aktif yaitu bekerja sebagai pengrajin dan tidak menjalani olah raga teratur. Tabel 4. Perbandingan nilai pra dan pasca latihan berdasarkan tingkat CMS yaitu Torakal bawah (T7-12) dan Lumbal (L1-3) Kel.I (T 7-12) Kel.II (L 1-3) P (n=15) (n=8) pra latihan (ml.kg -1.mn -1 ) 15,76 ± 3,26 14,17 ± 3,40 0,298* pasca latihan (ml.kg -1.mn -1 ) 25,43 ± 5,14 22,56 ± 3,18 0,114* pra latihan (L.mn -1 ) 6,23 ± 3,82 5,38 ± 2,089 0,495** pasca latihan (L.mn -1 ) 10,42 ± 4,23 9,72 ± 3,88 0,695** * t-test ** Mann-Whiney U test 19

6 Rachmawati Cedera medula spinalis Tidak terdapat perbedaan bermakna antara rerata baik pra maupun pasca latihan dan tingkat CDM. Hasil ini berbeda dengan peneliti pranya yang menyatakan bahwa kapasitas aerobik lebih tinggi pada penderita dengan CMS tingkat lebih rendah. (16) Perbandingan yang tidak bermakna ini kemungkinan disebabkan oleh jumlah sampel yang kecil dan distribusi sampel yang tidak merata pada tiap kelompok. KESIMPULAN Setelah diberi latihan aerobik terjadi peningkatan yang bermakna dibandingkan pra latihan, tetapi nilai tidak mencapai kriteria sedang. Nilai dan pra dan pasca latihan tidak mempunyai hubungan yang bermakna dengan lama awitan. Nilai pra dan pasca latihan tidak mempunyai hubungan yang bermakna dengan tingkat CMS.Penderita paraplegi yang tidak terlatih memiliki yang rendah, sehingga dapat diprediksi mempunyai risiko tinggi untuk menderita PJI. Daftar Pustaka 1. World Health Organization. Promoting independence following a spinal cord injury. A manual for mid-level rehabilitation workers. Geneva: WHO; Staas WE, Formal CS, Freedman MK, Fried GW, Read MW. Rehabilitation of the spinal cord - injured patient. In: DeLisa JA, Gans BM, Currie DM, editors. Rehabilitation medicine - principles and practice. 2 nd ed. Philadelphia: JB Lippincott Company; p Fleg JL, Pina IL, Balady GJ, Chaitman BR, Fletcher B, Lavie C, et al. Assesment of functional capacity in clinical and research applications an advisory from the committee on exercise, rehabilitation, and prevention. Circulation 2000; 102: Pollock ML, Wilmore JH. Exercise in health and disease evaluation and prescription for prevention and rehabilitation. Philadelphia: WB Saunders Company; Yekutiel M, Brooks ME, Ohry A, Yarom J, Carel. The prevalence of hypertension, ischaemic heart disease and diabetes in traumatic spinal cord injured patients and amputees. Paraplegia 1989; 27: Balado D. Exercise physiology. Baltimore: Williams & Wilkins; Yarkony GM, Chen D. Rehabilitation of patients with spinal cord injuries. In: Braddom RL, editor. Physical medicine & rehabilitation. Philadelphia: WB Saunders Company; p Lanig I, Donovan WH. Spinal cord injury. In: Garrison SJ, editor. Handbook of physical medicine and rehabilitation basics. Philadelphia: JB. Lippincott Company; p Ellenberg M, MacRitchie M, Franklin B, Johnson S, Wrisley. Aerobic capacity in early paraplegia: Implications for rehabilitation. Paraplegia 1989; 27: Dowson B, Trapp RG. Research question about are group. In: Basic-clinical biostatistics 3 rd ed. New York: Lange Medical Books/Mc Graw-Hill; p American Spinal Injury Association International Medical Society of Paraplegi (ASIA/IMSOP). International standards of neurological and functional classification of spinal cord injury. Revised Chicago: American Spinal Injury Association; Freed MM. Traumatic and congenital lesions of the spinal cord. In: Kottke FJ, Lehmannn JF, editors. Krusen s handbook of physical medicine and rehabilitation. 4 nd ed. Philadelphia: WB saunders; p American College of Sports Medicine. Clinical exercise testing. Guidelines for exercise testing and prescription. 5 th ed. Baltimore: William & Wilkins; p Balady GJ, Weiner DA, Rose L, Ryan TJ. Physiologic responses to arm ergometry exercise relative to age and gender. JACC 1990; 16: Jackson AW, Morrow JR, Hill DW, Dishman RK. Physical activity for health and fitness. Hongkong: Human Kinetic; Bar-Or O, Zwiren LD. Maximal oxygen consumption test during arm exercise-reliability and validity. J Appl Physiol 1975; 38: Sawka MN, Foley ME, Pimental NA, Toner MM, Pandolf KB. Determination of maximal aerobic power during upper-body exercise. J Appl Physiol 1983; 54:

KEMANDIRIAN, KUALITAS HIDUP DAN DERAJAT PARAPLEGIA AKIBAT GEMPA BUMI

KEMANDIRIAN, KUALITAS HIDUP DAN DERAJAT PARAPLEGIA AKIBAT GEMPA BUMI KEMANDIRIAN, KUALITAS HIDUP DAN DERAJAT PARAPLEGIA AKIBAT GEMPA BUMI Setiawan, Yoga Handita W, Fatma Rufaida Kementerian Kesehatan Politeknik Kesehatan Surakarta Jurusan Fisioterapi Abstract: Independence,

Lebih terperinci

BAB. 3. METODE PENELITIAN. : Cross sectional (belah lintang)

BAB. 3. METODE PENELITIAN. : Cross sectional (belah lintang) BAB. 3. METODE PENELITIAN 3.1 Rancang Bangun Penelitian Jenis Penelitian Desain Penelitian : Observational : Cross sectional (belah lintang) Rancang Bangun Penelitian N K+ K- R+ R- R+ R- N : Penderita

Lebih terperinci

Pengaruh Latihan Senam Haji Terhadap Peningkatan Daya Tahan Jantung Paru Pada Calon Jamaah Haji Non Resiko Tinggi

Pengaruh Latihan Senam Haji Terhadap Peningkatan Daya Tahan Jantung Paru Pada Calon Jamaah Haji Non Resiko Tinggi Pengaruh Latihan Senam Haji Terhadap Peningkatan Daya Tahan Jantung Paru Pada Calon Jamaah Haji Non Ika Setia Ningsih, Junaidi Dosen FISIOTERAPI UIEU junaidi@yahoo.com Abstrak Penelitian ini bertujuan

Lebih terperinci

PENGARUH KEBIASAAN MEROKOK TERHADAP DAYA TAHAN JANTUNG PARU

PENGARUH KEBIASAAN MEROKOK TERHADAP DAYA TAHAN JANTUNG PARU PENGARUH KEBIASAAN MEROKOK TERHADAP DAYA TAHAN JANTUNG PARU SKRIPSI Disusun Untuk Memenuhi Persyaratan Dalam Mendapatkan Gelar Sarjana Sains Terapan Fisioterapi Disusun Oleh : DIMAS SONDANG IRAWAN J 110050028

Lebih terperinci

BAB 4 METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini adalah Bagian Ilmu Kesehatan Anak, khususnya

BAB 4 METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini adalah Bagian Ilmu Kesehatan Anak, khususnya BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1. Ruang lingkup penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah Bagian Ilmu Kesehatan Anak, khususnya Perinatologi dan Neurologi. 4.. Waktu dan tempat penelitian Penelitian ini

Lebih terperinci

BESAR SAMPEL. Saptawati Bardosono

BESAR SAMPEL. Saptawati Bardosono BESAR SAMPEL Saptawati Bardosono Mengapa perlu menentukan besar sampel? Tujuan utama penelitian: Estimasi nilai tertentu pada populasi (rerata, total, rasio), misal: Mengetahui proporsi penyakit ISPA pada

Lebih terperinci

BAB V HASIL PENELITIAN

BAB V HASIL PENELITIAN BAB V HASIL PENELITIAN 5.1 Kondisi Subjek Kondisi subjek yang diukur dalam penelitian ini meliputi karakteristik subjek dan antropometri subjek. Analisis kemaknaan terhadap karakteristik subjek dilakukan

Lebih terperinci

LAPORAN AKHIR HASIL PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH. Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai derajat sarjana strata-1 kedokteran umum

LAPORAN AKHIR HASIL PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH. Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai derajat sarjana strata-1 kedokteran umum PERBEDAAN KUALITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK SEBELUM DAN SESUDAH PELATIHAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK SECARA BIJAK Penelitian di Instalasi Rawat Jalan Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUP Dr. Kariadi LAPORAN AKHIR HASIL

Lebih terperinci

HUBUNGAN AKTIVITAS FISIK DENGAN KADAR GULA DARAH PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARANGANYAR NASKAH PUBLIKASI

HUBUNGAN AKTIVITAS FISIK DENGAN KADAR GULA DARAH PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARANGANYAR NASKAH PUBLIKASI HUBUNGAN AKTIVITAS FISIK DENGAN KADAR GULA DARAH PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARANGANYAR NASKAH PUBLIKASI Untuk memenuhi sebagian persyaratan Mencapai derajat Sarjana

Lebih terperinci

PERUBAHAN DENYUT NADI PADA MAHASISWA SETELAH AKTIVITAS NAIK TURUN TANGGA

PERUBAHAN DENYUT NADI PADA MAHASISWA SETELAH AKTIVITAS NAIK TURUN TANGGA PERUBAHAN DENYUT NADI PADA MAHASISWA SETELAH AKTIVITAS NAIK TURUN TANGGA ARTIKEL KARYA TULIS ILMIAH Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat dalam menempuh Program Pendidikan Sarjana Fakultas

Lebih terperinci

KEP.333/MEN/1989 KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP.333/MEN/1989 T E N T A N G

KEP.333/MEN/1989 KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP.333/MEN/1989 T E N T A N G KEP.333/MEN/1989 KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP.333/MEN/1989 T E N T A N G DIAGNOSIS DAN PELAPORAN PENYAKIT AKIBAT KERJA MENTERI TENAGA KERJA Menimbang: a. bahwa terhadap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Aktivitas fisik yang teratur mempunyai banyak manfaat kesehatan dan merupakan salah satu bagian penting dari gaya hidup sehat. Karakteristik individu, lingkungan sosial,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Aktivitas fisik merupakan pergerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot rangka

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Aktivitas fisik merupakan pergerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot rangka 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Aktivitas fisik merupakan pergerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot rangka yang memerlukan pengeluaran energi (WHO, 2011). Menurut Departemen Kesehatan RI (2007),

Lebih terperinci

ABSTRAK PENGARUH ALKOHOL GOLONGAN B TERHADAP KETELITIAN DAN KEWASPADAAN PADA PRIA DEWASA

ABSTRAK PENGARUH ALKOHOL GOLONGAN B TERHADAP KETELITIAN DAN KEWASPADAAN PADA PRIA DEWASA ABSTRAK PENGARUH ALKOHOL GOLONGAN B TERHADAP KETELITIAN DAN KEWASPADAAN PADA PRIA DEWASA Irvan Gedeon Firdaus, 2010. Pembimbing: dr. Pinandojo Djojosoewarno, AIF Latar belakang : Minum minuman beralkohol

Lebih terperinci

LAMPIRAN 2 SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN UNTUK IKUT SERTA DALAM PENELITIAN (INFORMED CONSENT)

LAMPIRAN 2 SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN UNTUK IKUT SERTA DALAM PENELITIAN (INFORMED CONSENT) LAMPIRAN 1 50 LAMPIRAN 2 SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN UNTUK IKUT SERTA DALAM PENELITIAN (INFORMED CONSENT) Yang bertanda tangan dibawah ini: N a m a : U s i a : Alamat : Pekerjaan : No. KTP/lainnya: Dengan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Tembakau pertama kali diperkenalkan di Indonesia oleh bangsa Belanda

BAB 1 PENDAHULUAN. Tembakau pertama kali diperkenalkan di Indonesia oleh bangsa Belanda BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tembakau pertama kali diperkenalkan di Indonesia oleh bangsa Belanda sekitar dua abad yang lalu dan penggunaannya pertama kali oleh masyarakat Indonesia dimulai ketika

Lebih terperinci

PELATIHAN SENAM DINGKLIK DISERTAI DIET RENDAH ENERGI MENURUNKAN BERAT BADAN PADA KEGEMUKAN

PELATIHAN SENAM DINGKLIK DISERTAI DIET RENDAH ENERGI MENURUNKAN BERAT BADAN PADA KEGEMUKAN PELATIHAN SENAM DINGKLIK DISERTAI DIET RENDAH ENERGI MENURUNKAN BERAT BADAN PADA KEGEMUKAN IW Juniarsana 1, NM Dewantari 2, NK Wiardani 3 Abstract. The prevalence of overweight and obesity increased sharply

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. 23 April 2013. Penelitian dilakukan pada saat pagi hari yaitu pada jam 09.00-

BAB III METODE PENELITIAN. 23 April 2013. Penelitian dilakukan pada saat pagi hari yaitu pada jam 09.00- BAB III METODE PENELITIAN 1.1 Lokasi Dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian akan dilakukan di peternakan ayam CV. Malu o Jaya Desa Ulanta, Kecamatan Suwawa dan peternakan ayam Risky Layer Desa Bulango

Lebih terperinci

ABSTRAK. Ronauly V. N, 2011, Pembimbing 1: dr. Sijani Prahastuti, M.Kes Pembimbing 2 : Prof. DR. Susy Tjahjani, dr., M.Kes

ABSTRAK. Ronauly V. N, 2011, Pembimbing 1: dr. Sijani Prahastuti, M.Kes Pembimbing 2 : Prof. DR. Susy Tjahjani, dr., M.Kes ABSTRAK EFEK INFUSA DAUN SALAM (Syzygium polyanthum) TERHADAP PENURUNAN KADAR KOLESTEROL LDL DAN PENINGKATAN KADAR KOLESTEROL HDL DARAH TIKUS JANTAN GALUR WISTAR MODEL DISLIPIDEMIA Ronauly V. N, 2011,

Lebih terperinci

PENGARUH AKTIFITAS FISIK TERHADAP KEJADIAN OBESITAS PADA MURID

PENGARUH AKTIFITAS FISIK TERHADAP KEJADIAN OBESITAS PADA MURID ABSTRAK PENGARUH AKTIFITAS FISIK TERHADAP KEJADIAN OBESITAS PADA MURID Ekowati Retnaningsih dan Rini Oktariza Angka kejadian berat badan lebih pada anak usia sekolah di Indonesia mencapai 15,9%. Prevalensi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk. negara-negara dunia diprediksikan akan mengalami peningkatan.

BAB I PENDAHULUAN. dengan menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk. negara-negara dunia diprediksikan akan mengalami peningkatan. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Lanjut usia (lansia) merupakan tahap akhir dari kehidupan dan merupakan proses alami yang tidak dapat dihindari oleh setiap individu. Proses alami ditandai

Lebih terperinci

ABSTRAK. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Insidensi Nyeri Pungggung Bawah. Januari-Desember 2009

ABSTRAK. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Insidensi Nyeri Pungggung Bawah. Januari-Desember 2009 ABSTRAK Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Insidensi Nyeri Pungggung Bawah (Low Back Pain) pada Pasien Rumah Sakit Immanuel Bandung Periode Januari-Desember 2009 Santi Mariana Purnama, 2010, Pembimbing I

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Infark miokard adalah nekrosis miokardial yang berkepanjangan yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Infark miokard adalah nekrosis miokardial yang berkepanjangan yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Infark miokard adalah nekrosis miokardial yang berkepanjangan yang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara suplai dengan kebutuhan oksigen miokard. Hal ini

Lebih terperinci

ANALISIS PENGUKURAN BEBAN KERJA FISIK DENGAN METODE FISIOLOGI

ANALISIS PENGUKURAN BEBAN KERJA FISIK DENGAN METODE FISIOLOGI ANALISIS PENGUKURAN BEBAN KERJA FISIK DENGAN METODE FISIOLOGI A. DESKRIPSI Menurut Tayyari dan Smith (1997) fisiologi kerja sebagai ilmu yang mempelajari tentang fungsi-fungsi organ tubuh manusia yang

Lebih terperinci

PERBANDINGAN UNJUK KERJA FREON R-12 DAN R-134a TERHADAP VARIASI BEBAN PENDINGIN PADA SISTEM REFRIGERATOR 75 W

PERBANDINGAN UNJUK KERJA FREON R-12 DAN R-134a TERHADAP VARIASI BEBAN PENDINGIN PADA SISTEM REFRIGERATOR 75 W PERBANDINGAN UNJUK KERJA FREON R-2 DAN R-34a TERHADAP VARIASI BEBAN PENDINGIN PADA SISTEM REFRIGERATOR 75 W Ridwan Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknologi Industri Universitas Gunadarma e-mail: ridwan@staff.gunadarma.ac.id

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. beberapa zat gizi tidak terpenuhi atau zat-zat gizi tersebut hilang dengan

BAB 1 PENDAHULUAN. beberapa zat gizi tidak terpenuhi atau zat-zat gizi tersebut hilang dengan BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keadaan gizi kurang dapat ditemukan pada setiap kelompok masyarakat. Pada hakekatnya keadaan gizi kurang dapat dilihat sebagai suatu proses kurang asupan makanan ketika

Lebih terperinci

PENGARUH PELATIHAN METODE ASUHAN KEPERAWATAN PROFESIONAL (MAKP) TIM TERHADAP PENERAPAN MAKP TIM DI RSUD DR. SOEGIRI LAMONGAN.

PENGARUH PELATIHAN METODE ASUHAN KEPERAWATAN PROFESIONAL (MAKP) TIM TERHADAP PENERAPAN MAKP TIM DI RSUD DR. SOEGIRI LAMONGAN. PENGARUH PELATIHAN METODE ASUHAN KEPERAWATAN PROFESIONAL (MAKP) TIM TERHADAP PENERAPAN MAKP TIM DI RSUD DR. SOEGIRI LAMONGAN Suratmi.......ABSTRAK....... Kinerja perawat merupakan salah satu faktor penting

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. serangkaian hipotesis dengan menggunakan teknik dan alat-alat tertentu

III. METODOLOGI PENELITIAN. serangkaian hipotesis dengan menggunakan teknik dan alat-alat tertentu III. METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Metodologi penelitian adalah cara utama yang digunakan untuk mengadakan penelitian dalam mencapai tujuan, misalnya untuk mengkaji atau menguji serangkaian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan ekstrauterin. Secara normal, neonatus aterm akan mengalami

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan ekstrauterin. Secara normal, neonatus aterm akan mengalami BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penurunan berat badan neonatus pada hari-hari pertama sering menjadi kekhawatiran tersendiri bagi ibu. Padahal, hal ini merupakan suatu proses penyesuaian fisiologis

Lebih terperinci

ABSTRAK PENILAIAN KUALITAS HIDUP PASIEN PPOK RAWAT JALAN DENGAN METODE SAINT GEORGE S RESPIRATORY QUESTIONNAIRE (SGRQ)

ABSTRAK PENILAIAN KUALITAS HIDUP PASIEN PPOK RAWAT JALAN DENGAN METODE SAINT GEORGE S RESPIRATORY QUESTIONNAIRE (SGRQ) ABSTRAK PENILAIAN KUALITAS HIDUP PASIEN PPOK RAWAT JALAN DENGAN METODE SAINT GEORGE S RESPIRATORY QUESTIONNAIRE (SGRQ) Felicia S., 2010, Pembimbing I : J. Teguh Widjaja, dr., SpP., FCCP. Pembimbing II

Lebih terperinci

Anna Ngatmira,SPd,MKM ( Jogjakarta, 25 November 2014)

Anna Ngatmira,SPd,MKM ( Jogjakarta, 25 November 2014) Anna Ngatmira,SPd,MKM ( Jogjakarta, 25 November 2014) Joint Commission International (JCI) International Patient Safety Goals (IPSG) Care of Patients ( COP ) Prevention & Control of Infections (PCI) Facility

Lebih terperinci

PENGARUH FAKTOR-FAKTOR ANTESEDEN PADA MOTIVASI PELAYANAN PUBLIK. (Studi pada Karyawan Puskesmas di Kecamatan Gatak Sukoharjo)

PENGARUH FAKTOR-FAKTOR ANTESEDEN PADA MOTIVASI PELAYANAN PUBLIK. (Studi pada Karyawan Puskesmas di Kecamatan Gatak Sukoharjo) PENGARUH FAKTOR-FAKTOR ANTESEDEN PADA MOTIVASI PELAYANAN PUBLIK (Studi pada Karyawan Puskesmas di Kecamatan Gatak Sukoharjo) SKRIPSI Disusun Untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Persyaratan Guna Meraih

Lebih terperinci

Semuel Sandy, M.Sc*, Maxi Irmanto, M.Kes, ** *) Balai Litbang Biomedis Papua **) Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Cenderawasih

Semuel Sandy, M.Sc*, Maxi Irmanto, M.Kes, ** *) Balai Litbang Biomedis Papua **) Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Cenderawasih Analisis Hubungan Tingkat Kecukupan Gizi Terhadap Status Gizi pada Murid Sekolah Dasar di SD Inpres Dobonsolo dan SD Inpres Komba, Kabupaten Jayapura, Papua Semuel Sandy, M.Sc*, Maxi Irmanto, M.Kes, **

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Hasil Uji Asumsi. Sebelum melakukan analisis dengan menggunakan analisis regresi,

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Hasil Uji Asumsi. Sebelum melakukan analisis dengan menggunakan analisis regresi, BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Uji Asumsi Sebelum melakukan analisis dengan menggunakan analisis regresi, terlebih dahulu perlu dilakukan uji asumsi terhadap data penelitian. Uji asumsi yang dilakukan

Lebih terperinci

HUBUNGAN PERSALINAN KALA II LAMA DENGAN ASFIKSIA BAYI BARU. LAHIR DI RSUD.Dr.H. MOCH ANSARI SALEH BANJARMASIN TAHUN 2011. Husin :: Eka Dewi Susanti

HUBUNGAN PERSALINAN KALA II LAMA DENGAN ASFIKSIA BAYI BARU. LAHIR DI RSUD.Dr.H. MOCH ANSARI SALEH BANJARMASIN TAHUN 2011. Husin :: Eka Dewi Susanti HUBUNGAN PERSALINAN KALA II LAMA DENGAN ASFIKSIA BAYI BARU LAHIR DI RSUD.Dr.H. MOCH ANSARI SALEH BANJARMASIN TAHUN 2011 Husin :: Eka Dewi Susanti ISSN : 2086-3454 VOL 05. NO 05 EDISI 23 JAN 2011 Abstrak

Lebih terperinci

LATIHAN FISIK DAN KUALITAS HIDUP PADA LANSIA DI KECAMATAN DIMEMBE, KABUPATEN MINAHASA UTARA

LATIHAN FISIK DAN KUALITAS HIDUP PADA LANSIA DI KECAMATAN DIMEMBE, KABUPATEN MINAHASA UTARA LATIHAN FISIK DAN KUALITAS HIDUP PADA LANSIA DI KECAMATAN DIMEMBE, KABUPATEN MINAHASA UTARA Jeklin Linda Tambariki Universitas Klabat Jeklin_tambariki@yahoo.com Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa

Lebih terperinci

Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) dan Merck peduli kesehatan saraf

Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) dan Merck peduli kesehatan saraf Siaran Pers Kontak Anda: Niken Suryo Sofyan Telepon +62 21 2856 5600 29 Mei 2012 Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) dan Merck peduli kesehatan saraf Neuropati mengancam 1 dari 4 orang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada saat ini Bangsa Indonesia sedang giat-giatnya melaksanakan

BAB I PENDAHULUAN. Pada saat ini Bangsa Indonesia sedang giat-giatnya melaksanakan BAB I PENDAHULUAN Pada saat ini Bangsa Indonesia sedang giat-giatnya melaksanakan pembangunan nasional dengan tujuan menuju masyarakat adil, makmur dan merata baik materiil maupun spiritual. Bersamaan

Lebih terperinci

Universitas Negeri Malang E-mail: livia.mat09@gmail.com

Universitas Negeri Malang E-mail: livia.mat09@gmail.com 1 APLIKASI ANALISIS REGRESI KOMPONEN UTAMA TERHADAP FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYAKIT DIABETES MELLITUS (Studi Kasus di Puskesmas Tempeh Kab. Lumajang) Universitas Negeri Malang E-mail: livia.mat09@gmail.com

Lebih terperinci

RESUSITASI JANTUNG PARU ( RJP ) CARDIO PULMONARY RESUSCITATION ( CPR )

RESUSITASI JANTUNG PARU ( RJP ) CARDIO PULMONARY RESUSCITATION ( CPR ) RESUSITASI JANTUNG PARU ( RJP ) CARDIO PULMONARY RESUSCITATION ( CPR ) 1 MINI SIMPOSIUM EMERGENCY IN FIELD ACTIVITIES HIPPOCRATES EMERGENCY TEAM PADANG, SUMATRA BARAT MINGGU, 7 APRIL 2013 Curiculum vitae

Lebih terperinci

HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH DENGAN AKTIVITAS FISIK WANITA DI PERUMAHAN GEDONGAN COLOMADU KARANGANYAR NASKAH PUBLIKASI

HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH DENGAN AKTIVITAS FISIK WANITA DI PERUMAHAN GEDONGAN COLOMADU KARANGANYAR NASKAH PUBLIKASI HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH DENGAN AKTIVITAS FISIK WANITA DI PERUMAHAN GEDONGAN COLOMADU KARANGANYAR NASKAH PUBLIKASI Disusun Oleh: RIANA DAMASANTI J 110 080 044 PROGRAM STUDI DIPLOMA IV FISIOTERAPI FAKULTAS

Lebih terperinci

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEBAK KATA TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI SISTEM PENCERNAAN MAKANAN PADA MANUSIA

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEBAK KATA TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI SISTEM PENCERNAAN MAKANAN PADA MANUSIA PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEBAK KATA TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI SISTEM PENCERNAAN MAKANAN PADA MANUSIA (Studi Eksperimen Di kelas XI IPA SMA Negeri 4 Tasikmalaya)

Lebih terperinci

SURVEY GLOBAL KESEHATAN BERBASIS SEKOLAH DI INDONESIA TAHUN 2007

SURVEY GLOBAL KESEHATAN BERBASIS SEKOLAH DI INDONESIA TAHUN 2007 SURVEY GLOBAL KESEHATAN BERBASIS SEKOLAH DI INDONESIA TAHUN 2007 Survei ini merupakan survey mengenai kesehatan dan hal-hal yang yang mempengaruhi kesehatan. Informasi yang anda berikan akan digunakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lokal di bawah batas kosta dan di atas lipatan glutealis inferior, dengan atau tanpa

BAB I PENDAHULUAN. lokal di bawah batas kosta dan di atas lipatan glutealis inferior, dengan atau tanpa BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Nyeri punggung bawah adalah perasaan nyeri, ketegangan otot, atau kekakuan lokal di bawah batas kosta dan di atas lipatan glutealis inferior, dengan atau tanpa

Lebih terperinci

LATIHAN, NUTRISI DAN TULANG SEHAT

LATIHAN, NUTRISI DAN TULANG SEHAT LATIHAN, NUTRISI DAN TULANG SEHAT Tulang yang kuat benar-benar tidak terpisahkan dalam keberhasilan Anda sebagai seorang atlet. Struktur kerangka Anda memberikan kekuatan dan kekakuan yang memungkinkan

Lebih terperinci

Waspada Keracunan Phenylpropanolamin (PPA)

Waspada Keracunan Phenylpropanolamin (PPA) Waspada Keracunan Phenylpropanolamin (PPA) Penyakit flu umumnya dapat sembuh dengan sendirinya jika kita cukup istirahat, makan teratur, dan banyak mengkonsumsi sayur serta buah-buahan. Namun demikian,

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR RISIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PANDANARAN SEMARANG TAHUN 2013

FAKTOR-FAKTOR RISIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PANDANARAN SEMARANG TAHUN 2013 FAKTOR-FAKTOR RISIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PANDANARAN SEMARANG TAHUN 2013 Ignatia Goro *, Kriswiharsi Kun Saptorini **, dr. Lily Kresnowati **

Lebih terperinci

Mulyadi *, Mudatsir ** *** ABSTRACT

Mulyadi *, Mudatsir ** *** ABSTRACT Hubungan Tingkat Kepositivan Pemeriksaan Basil Tahan Asam (BTA) dengan Gambaran Luas Lesi Radiologi Toraks pada Penderita Tuberkulosis Paru yang Dirawat Di SMF Pulmonologi RSUDZA Banda Aceh Mulyadi *,

Lebih terperinci

PENGARUH SENAM REMATIK TERHADAP PENGURANGAN RASA NYERI PADA PENDERITA OSTEOARTRITIS LUTUT DI KARANGASEM SURAKARTA

PENGARUH SENAM REMATIK TERHADAP PENGURANGAN RASA NYERI PADA PENDERITA OSTEOARTRITIS LUTUT DI KARANGASEM SURAKARTA PENGARUH SENAM REMATIK TERHADAP PENGURANGAN RASA NYERI PADA PENDERITA OSTEOARTRITIS LUTUT DI KARANGASEM SURAKARTA Suhendriyo Kementerian Kesehatan Politeknik Kesehatan Surakarta Jurusan Jamu Abstract:

Lebih terperinci

Korelasi antara Tinggi Badan dan Panjang Jari Tangan

Korelasi antara Tinggi Badan dan Panjang Jari Tangan Korelasi antara Tinggi Badan dan Panjang Jari Tangan Athfiyatul Fatati athfiyatul.fatati@yahoo.com Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan ilmu Politik Universitas Airlangga ABSTRAK Penelitian

Lebih terperinci

PENGARUH KAFEIN PADA COKELAT (Theobroma Cacao) TERHADAP WAKTU REAKSI SEDERHANA PRIA DEWASA

PENGARUH KAFEIN PADA COKELAT (Theobroma Cacao) TERHADAP WAKTU REAKSI SEDERHANA PRIA DEWASA PENGARUH KAFEIN PADA COKELAT (Theobroma Cacao) TERHADAP WAKTU REAKSI SEDERHANA PRIA DEWASA THE EFFECT OF CAFFEINE IN CHOCOLATE (Theobroma Cacao) IN ADULT HUMAN MALE S SIMPLE REACTION TIME Szzanurindah

Lebih terperinci

Lembar data harian tekanan darah. Blood pressure diary

Lembar data harian tekanan darah. Blood pressure diary Lembar data harian tekanan darah Blood pressure diary The World Health Organisation (WHO) and the International Society of Hypertension (ISH) have developed the following classification for blood pressure

Lebih terperinci

Kata Kunci: Posisi Dorsal Recumbent, Posisi litotomi, Keadaan Perineum

Kata Kunci: Posisi Dorsal Recumbent, Posisi litotomi, Keadaan Perineum KEADAAN PERINEUM LAMA KALA II DENGAN POSISI DORSAL RECUMBENT DAN LITOTOMI PADA IBU BERSALIN Titik Lestari, Sri Wahyuni, Ari Kurniarum Kementerian Kesehatan Politeknik Kesehatan Surakarta Jurusan Kebidanan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Infark miokard akut (IMA) adalah nekrosis miokard akibat

BAB 1 PENDAHULUAN. Infark miokard akut (IMA) adalah nekrosis miokard akibat BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Infark miokard akut (IMA) adalah nekrosis miokard akibat ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen otot jantung (Siregar, 2011). Penyebab IMA yang

Lebih terperinci

ABSTRAK ASPEK KLINIS PEMERIKSAAN PERSENTASE EOSINOFIL, HITUNG EOSINOFIL TOTAL, DAN IMUNOGLOBULIN E SEBAGAI PENUNJANG DIAGNOSIS ASMA BRONKIAL

ABSTRAK ASPEK KLINIS PEMERIKSAAN PERSENTASE EOSINOFIL, HITUNG EOSINOFIL TOTAL, DAN IMUNOGLOBULIN E SEBAGAI PENUNJANG DIAGNOSIS ASMA BRONKIAL ABSTRAK ASPEK KLINIS PEMERIKSAAN PERSENTASE EOSINOFIL, HITUNG EOSINOFIL TOTAL, DAN IMUNOGLOBULIN E SEBAGAI PENUNJANG DIAGNOSIS ASMA BRONKIAL Samuel, 2007 Pembimbing I : J. Teguh Widjaja, dr.,sp.p. Pembimbing

Lebih terperinci

SKRIPSI Diajukan ke Fakultas Kedokteran Universitas Andalas sebagai pemenuhan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran.

SKRIPSI Diajukan ke Fakultas Kedokteran Universitas Andalas sebagai pemenuhan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran. HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DALAM MENGHADAPI OBJECTIVE STRUCTURED CLINICAL EXAMINATION (OSCE) DENGAN NILAI OSCE MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS SKRIPSI Diajukan ke Fakultas Kedokteran

Lebih terperinci

HUBUNGAN SIKAP KERJA DUDUK DENGAN KELUHAN NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA PEKERJA RENTAL KOMPUTER DI PABELAN KARTASURA

HUBUNGAN SIKAP KERJA DUDUK DENGAN KELUHAN NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA PEKERJA RENTAL KOMPUTER DI PABELAN KARTASURA HUBUNGAN SIKAP KERJA DUDUK DENGAN KELUHAN NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA PEKERJA RENTAL KOMPUTER DI PABELAN KARTASURA SKRIPSI DISUSUN UNTUK MEMENUHI SEBAGIAN PERSYARATAN DALAM MENDAPATKAN GELAR SARJANA SAINS

Lebih terperinci

OLAHRAGA KESEHATAN BAHAN AJAR

OLAHRAGA KESEHATAN BAHAN AJAR BAHAN AJAR 14 OLAHRAGA KESEHATAN Konsep Olahraga Kesehatan Olahraga terdiri dari dua kata, yaitu olah dan raga. Olah merupakan kata kerja memberikan makna melakukan sesuatu. Sedangkan raga artinya adalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pegal yang terjadi di daerah pinggang bawah. Nyeri pinggang bawah bukanlah

BAB I PENDAHULUAN. pegal yang terjadi di daerah pinggang bawah. Nyeri pinggang bawah bukanlah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Nyeri pinggang bawah atau low back pain merupakan rasa nyeri, ngilu, pegal yang terjadi di daerah pinggang bawah. Nyeri pinggang bawah bukanlah diagnosis tapi hanya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dimanapun selalu ada risiko terkena penyakit akibat kerja, baik didarat, laut,

BAB I PENDAHULUAN. dimanapun selalu ada risiko terkena penyakit akibat kerja, baik didarat, laut, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah keselamatan dan kesehatan kerja adalah masalah dunia. Bekerja dimanapun selalu ada risiko terkena penyakit akibat kerja, baik didarat, laut, udara, bekerja disektor

Lebih terperinci

HUBUNGAN SIKAP KERJA ANGKAT-ANGKUT DENGAN KELUHAN MUSKULOSKELETAL PADA KULI PANGGUL DI GUDANG BULOG SURAKARTA

HUBUNGAN SIKAP KERJA ANGKAT-ANGKUT DENGAN KELUHAN MUSKULOSKELETAL PADA KULI PANGGUL DI GUDANG BULOG SURAKARTA HUBUNGAN SIKAP KERJA ANGKAT-ANGKUT DENGAN KELUHAN MUSKULOSKELETAL PADA KULI PANGGUL DI GUDANG BULOG SURAKARTA SKRIPSI Disusun Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sains Terapan Andang Rafsanjani

Lebih terperinci

Kata kunci : Body Mass Index (BMI), Lingkar Lengan Atas (LLA)

Kata kunci : Body Mass Index (BMI), Lingkar Lengan Atas (LLA) ABSTRAK HUBUNGAN PENILAIAN STATUS GIZI DENGAN METODE BMI (Body Mass Index) DAN METODE LLA (Lingkar Lengan Atas) PADA ANAK PEREMPUAN USIA 6-10 TAHUN Asyer, 2009 Pembimbing : Dr. Iwan Budiman, dr., MS.,

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA A. Senam Jantung Sehat Senam jantung sehat adalah olahraga yang disusun dengan selalu mengutamakan kemampuan jantung, gerakan otot besar dan kelenturan sendi, serta upaya memasukkan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Jl.Sekolah pembangunan NO. 7A Medan Sunggal

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Jl.Sekolah pembangunan NO. 7A Medan Sunggal 31 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Lokasi Dan Waktu Penelitian 1. Lokasi penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Lapangan Asrama PPLP Sumatera Utara di Jl.Sekolah pembangunan NO. 7A Medan Sunggal 2.

Lebih terperinci

BAHAN AJAR 10 SAKIT PINGGANG BAGIAN BAWAH

BAHAN AJAR 10 SAKIT PINGGANG BAGIAN BAWAH BAHAN AJAR 10 10 SAKIT PINGGANG BAGIAN BAWAH Slipped Disc Salah satu lokasi rasa sakit yang sering membuat para atlet, khususnya pemainpemain bulutangkis, tenis lapangan dan atlet selancar angin mengeluh

Lebih terperinci

Jurnal Agrisistem, Juni 2007, Vol. 3 No. 1 ISSN 1858-4330

Jurnal Agrisistem, Juni 2007, Vol. 3 No. 1 ISSN 1858-4330 STUDI PENGARUH PERIODE TERANG DAN GELAP BULAN TERHADAP RENDEMEN DAN KADAR AIR DAGING RAJUNGAN (Portunus pelagicus L) YANG DI PROSES PADA MINI PLANT PANAIKANG KABUPATEN MAROS STUDY OF LIGHT AND DARK MOON

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian. Pada November 1999, the American Hospital Asosiation (AHA) Board of

BAB I PENDAHULUAN. rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian. Pada November 1999, the American Hospital Asosiation (AHA) Board of BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini akan dibahas mengenai latar belakang yang mendasari latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian. A. Latar Belakang Pada November 1999, the American Hospital

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dan untuk memulihkan efek dari latihan itu sendiri. Miller juga

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dan untuk memulihkan efek dari latihan itu sendiri. Miller juga BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Deskripsi Teori 1. Hakikat Daya Tahan Aerobik a. Kebugaran Aerobik Menurut Rizky Kurnia yang dikutip dari Miller (2002: 115) kebugaran aerobik adalah kemampuan dari sistem sirkulasi

Lebih terperinci

Lampiran 1. Surat Keterangan Selesai Melaksanakan Revisi Desk Evaluasi

Lampiran 1. Surat Keterangan Selesai Melaksanakan Revisi Desk Evaluasi Lampiran 1. Surat Keterangan Selesai Melaksanakan Revisi Desk Evaluasi 34 Lampiran 2. Surat Keterangan Mencit Putih Jantan Galur Swiss 35 36 Lampiran 3. Gambar Alat dan Bahan yang digunakan Madu dan Pollen

Lebih terperinci

ANALISIS DIMENSI E-SERVICE QUALITY TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN TOKO ONLINE OLEH: CELIA FAUSTINE NOVELIA 3103010102

ANALISIS DIMENSI E-SERVICE QUALITY TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN TOKO ONLINE OLEH: CELIA FAUSTINE NOVELIA 3103010102 ANALISIS DIMENSI E-SERVICE QUALITY TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN TOKO ONLINE OLEH: CELIA FAUSTINE NOVELIA 3103010102 JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS BISNIS UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA 2014 ANALISIS

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 111 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PRESIDEN NOMOR 12 TAHUN 2013 TENTANG JAMINAN KESEHATAN

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 111 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PRESIDEN NOMOR 12 TAHUN 2013 TENTANG JAMINAN KESEHATAN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 111 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PRESIDEN NOMOR 12 TAHUN 2013 TENTANG JAMINAN KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

KAJIAN PELAKSANAAN REKAM MEDIS GIGI RAWAT JALAN DI PUSKESMAS KOTA PONTIANAK

KAJIAN PELAKSANAAN REKAM MEDIS GIGI RAWAT JALAN DI PUSKESMAS KOTA PONTIANAK KAJIAN PELAKSANAAN REKAM MEDIS GIGI RAWAT JALAN DI PUSKESMAS KOTA PONTIANAK Sri Rezki Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Pontianak ABSTRAK Latar Belakang: Rekam medis merupakan berkas yang berisi catatan

Lebih terperinci

ABSTRAK. EFEK SARI KUKUSAN KEMBANG KOL (Brassica oleracea var botrytis) TERHADAP GEJALA KLINIK PADA MENCIT MODEL KOLITIS ULSERATIVA

ABSTRAK. EFEK SARI KUKUSAN KEMBANG KOL (Brassica oleracea var botrytis) TERHADAP GEJALA KLINIK PADA MENCIT MODEL KOLITIS ULSERATIVA ABSTRAK EFEK SARI KUKUSAN KEMBANG KOL (Brassica oleracea var botrytis) TERHADAP GEJALA KLINIK PADA MENCIT MODEL KOLITIS ULSERATIVA Raissa Yolanda, 2010. Pembimbing I : Lusiana Darsono, dr., M. Kes Kolitis

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian pra eksperimental yaitu jenis penelitian yang belum merupakan eksperimen sungguh-sungguh karena masih terdapat variabel

Lebih terperinci

IMPLEMENTASI KONSEP ERGONOMI PADA PEMBUATAN ALAT TENUN TRADISIONAL MENGGUNAKAN PRINSIP PERANCANGAN YANG DAPAT DISESUAIKAN

IMPLEMENTASI KONSEP ERGONOMI PADA PEMBUATAN ALAT TENUN TRADISIONAL MENGGUNAKAN PRINSIP PERANCANGAN YANG DAPAT DISESUAIKAN IMPLEMENTASI KONSEP ERGONOMI PADA PEMBUATAN ALAT TENUN TRADISIONAL MENGGUNAKAN PRINSIP PERANCANGAN YANG DAPAT DISESUAIKAN (Studi Kasus Industri Tenun Pandai Sikek Sumatera Barat) Nilda Tri Putri, Ichwan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Keluhan low back pain (LBP) dapat terjadi pada setiap orang, dalam kehidupan

I. PENDAHULUAN. Keluhan low back pain (LBP) dapat terjadi pada setiap orang, dalam kehidupan 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah 1. Latar Belakang Keluhan low back pain (LBP) dapat terjadi pada setiap orang, dalam kehidupan sehari-hari keluhan LBP dapat menyerang semua orang, baik jenis

Lebih terperinci

LAPORAN HASIL. Oleh. Nama : I Gede Surata, SPd. MM NIP : 196510261991031001 Guru Praktik Jasa Boga

LAPORAN HASIL. Oleh. Nama : I Gede Surata, SPd. MM NIP : 196510261991031001 Guru Praktik Jasa Boga LAPORAN HASIL PENELITIAN TINDAKAN KELAS PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN PEMBERIAN TUGAS UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PENGELOLAAN USAHA JASA BOGA KELAS X JASA BOGA 2 SMK NEGERI 6 PALEMBANG TAHUN PELAJARAN

Lebih terperinci

PERANAN JUMLAH BIJI/POLONG PADA POTENSI HASIL KEDELAI (Glycine max (L.) Merr.) F6 PERSILANGAN VARIETAS ARGOMULYO DENGAN BRAWIJAYA

PERANAN JUMLAH BIJI/POLONG PADA POTENSI HASIL KEDELAI (Glycine max (L.) Merr.) F6 PERSILANGAN VARIETAS ARGOMULYO DENGAN BRAWIJAYA PERANAN JUMLAH BIJI/POLONG PADA POTENSI HASIL KEDELAI (Glycine max (L.) Merr.) F6 PERSILANGAN VARIETAS ARGOMULYO DENGAN BRAWIJAYA (Role The Number of Seeds/Pod to Yield Potential of F6 Phenotype Soybean

Lebih terperinci

SILABUS MATA KULIAH. Revisi : 1 Tanggal Berlaku : 1 Februari 2014. Kompetensi dasar Indikator Materi Pokok Strategi Pembelajaran pengertian dan

SILABUS MATA KULIAH. Revisi : 1 Tanggal Berlaku : 1 Februari 2014. Kompetensi dasar Indikator Materi Pokok Strategi Pembelajaran pengertian dan SILABUS MATA KULIAH Revisi : 1 Tanggal Berlaku : 1 Februari 2014 A. Identitas 1. Nama Mata Kuliah : Quality Assurance Rumah Sakit 2. Program Studi : Profesi Apoteker 3. Fakultas : Farmasi 4. Bobot : 2

Lebih terperinci

PERBANDINGAN KUAT TARIK TIDAK LANGSUNG CAMPURAN BETON ASPAL DENGAN MENGGUNAKAN ASPAL PENETRASI 60 DAN PENETRASI 80. Pembimbing : Wimpy Santosa, Ph.

PERBANDINGAN KUAT TARIK TIDAK LANGSUNG CAMPURAN BETON ASPAL DENGAN MENGGUNAKAN ASPAL PENETRASI 60 DAN PENETRASI 80. Pembimbing : Wimpy Santosa, Ph. PERBANDINGAN KUAT TARIK TIDAK LANGSUNG CAMPURAN BETON ASPAL DENGAN MENGGUNAKAN ASPAL PENETRASI 60 DAN PENETRASI 80 Shanti Destawati NRP : 9821010 Pembimbing : Wimpy Santosa, Ph.D FAKULTAS TEKNIK JURUSAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kardiovaskuler secara cepat di negara maju dan negara berkembang.

BAB I PENDAHULUAN. kardiovaskuler secara cepat di negara maju dan negara berkembang. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini perubahan pola hidup yang terjadi meningkatkan prevalensi penyakit jantung dan berperan besar pada mortalitas serta morbiditas. Penyakit jantung diperkirakan

Lebih terperinci

TFC ( Therapeutic Feeding Centre ) / PPG ( Pusat Pemulihan Gizi )

TFC ( Therapeutic Feeding Centre ) / PPG ( Pusat Pemulihan Gizi ) TFC ( Therapeutic Feeding Centre ) / PPG ( Pusat Pemulihan Gizi ) Balita yang sehat dan cerdas adalah idaman bagi setiap orang. Namun apa yang terjadi jika balita menderita gizi buruk?. Di samping dampak

Lebih terperinci

Karya Tulis Ilmiah. Disusun oleh: RASTIFIATI 20080320108

Karya Tulis Ilmiah. Disusun oleh: RASTIFIATI 20080320108 HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN PRIMIGRAVIDA TENTANG TANDA BAHAYA KEHAMILAN DENGAN FREKUENSI KUNJUNGAN ANTENATAL CARE DI PUSKESMAS MERGANGSAN YOGYAKARTA Karya Tulis Ilmiah Disusun dan Diajukan untuk

Lebih terperinci

1. Menjelaskan maksud, tujuan, dan cara dilakukannya teknik relaksasi Pernapasan

1. Menjelaskan maksud, tujuan, dan cara dilakukannya teknik relaksasi Pernapasan Lampiran 1 PROSEDUR PELAKSANAAN DENGAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) TEKNIK RELAKSASI NAPAS DALAM 1. Menjelaskan maksud, tujuan, dan cara dilakukannya teknik relaksasi Pernapasan 2. Mengkaji intensitas

Lebih terperinci

IPAP PTSD Tambahan. Pilihan penatalaksanaan: dengan obat, psikososial atau kedua-duanya.

IPAP PTSD Tambahan. Pilihan penatalaksanaan: dengan obat, psikososial atau kedua-duanya. IPAP PTSD Tambahan Prinsip Umum I. Evaluasi Awal dan berkala A. PTSD merupakan gejala umum dan sering kali tidak terdiagnosis. Bukti adanya prevalensi paparan trauma yang tinggi, (termasuk kekerasan dalam

Lebih terperinci

Nilai rujukan spirometri untuk lanjut usia sehat

Nilai rujukan spirometri untuk lanjut usia sehat Juli-September 2005, Vol.24 No.3 Nilai rujukan spirometri untuk lanjut usia sehat Martiem Mawi Bagain Ilmu Faal Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti ABSTRAK Spirometri merupakan alat skrining untuk

Lebih terperinci

LAMPIRAN I SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN UNTUK IKUT SERTA DALAM PENELITIAN (INFORMED CONSENT)

LAMPIRAN I SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN UNTUK IKUT SERTA DALAM PENELITIAN (INFORMED CONSENT) LAMPIRAN I SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN UNTUK IKUT SERTA DALAM PENELITIAN (INFORMED CONSENT) Yang bertanda tangan di bawah ini, Nama lengkap : Tgl lahir : NRP : Alamat : Menyatakan bersedia dan tidak berkeberatan

Lebih terperinci

PENGARUH PENGATURAN TEMPAT DUDUK U SHAPE TERHADAP KONSENTRASI BELAJAR SISWA PRIMARY DI HARVARD ENGLISH COURSE SEI RAMPAH SKRIPSI

PENGARUH PENGATURAN TEMPAT DUDUK U SHAPE TERHADAP KONSENTRASI BELAJAR SISWA PRIMARY DI HARVARD ENGLISH COURSE SEI RAMPAH SKRIPSI PENGARUH PENGATURAN TEMPAT DUDUK U SHAPE TERHADAP KONSENTRASI BELAJAR SISWA PRIMARY DI HARVARD ENGLISH COURSE SEI RAMPAH SKRIPSI Diajukan Guna Memenuhi Persyaratan Ujian Sarjana Psikologi OLEH : DEEPRAJ

Lebih terperinci

HUBUNGAN OBESITAS, AKTIVITAS FISIK, DAN KEBIASAAN MEROKOK DENGAN PENYAKIT DIABETES MELITUS TIPE 2 PADA PASIEN RAWAT JALAN RUMAH SAKIT DR

HUBUNGAN OBESITAS, AKTIVITAS FISIK, DAN KEBIASAAN MEROKOK DENGAN PENYAKIT DIABETES MELITUS TIPE 2 PADA PASIEN RAWAT JALAN RUMAH SAKIT DR HUBUNGAN OBESITAS, AKTIVITAS FISIK, DAN KEBIASAAN MEROKOK DENGAN PENYAKIT DIABETES MELITUS TIPE PADA PASIEN RAWAT JALAN RUMAH SAKIT DR. WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR Anugrah 1, Suriyanti Hasbullah, Suarnianti

Lebih terperinci

ANALISIS KELUHAN NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA PENJAHIT DI KECAMATAN KUTA MALAKA KABUPATEN ACEH BESAR

ANALISIS KELUHAN NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA PENJAHIT DI KECAMATAN KUTA MALAKA KABUPATEN ACEH BESAR 104 Jurnal Kesehatan Ilmiah Nasuwakes Vol.7 No.1, April 2014, 104 111 ANALISIS KELUHAN NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA PENJAHIT DI KECAMATAN KUTA MALAKA KABUPATEN ACEH BESAR ANALYSIS OF COMPLAINTS ON LOWER BACK

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. yang cermat dan mengajukan syarat-syarat yang benar, maksudnya adalah

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. yang cermat dan mengajukan syarat-syarat yang benar, maksudnya adalah 24 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Metode penelitian sebagai mana kita kenal sekarang, memberikan garisgaris yang cermat dan mengajukan syarat-syarat yang benar, maksudnya adalah untuk

Lebih terperinci

STATUS PASIEN PENELITIAN. Alamat : Jenis kelamin : 1. Laki-laki 2. Perempuan

STATUS PASIEN PENELITIAN. Alamat : Jenis kelamin : 1. Laki-laki 2. Perempuan LAMPIRAN 3. STATUS PASIEN PENELITIAN Tanggal pemeriksaan : Nomor urut penelitian : IDENTITAS Nama : Alamat : Umur : Jenis kelamin : 1. Laki-laki 2. Perempuan Suku : Pekerjaan : Pendidikan : ANAMNESIS Keluhan

Lebih terperinci

ASUHAN KEBIDANAN PADA Ny I GII P I00I INPARTU DENGAN GEMELLI

ASUHAN KEBIDANAN PADA Ny I GII P I00I INPARTU DENGAN GEMELLI ASUHAN KEBIDANAN PADA Ny I GII P I00I INPARTU DENGAN GEMELLI Kustini Dosen Program Studi Diploma III Kebidanan Universitas Islam Lamongan ABSTRAK Persalinan gemelli merupakan salah satu penyebab kematian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. anak-anak dan dewasa muda. Penyakit ini mencapai lebih dari 13 juta kematian per

BAB I PENDAHULUAN. anak-anak dan dewasa muda. Penyakit ini mencapai lebih dari 13 juta kematian per 11 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemakaian antibiotik pada saat ini sangat tinggi, hal ini disebabkan penyakit infeksi masih mendominasi. Penyakit infeksi sekarang pembunuh terbesar di dunia anak-anak

Lebih terperinci

Modul Bimbingan/Panduan Belajar bagi Calon Peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi

Modul Bimbingan/Panduan Belajar bagi Calon Peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Modul Bimbingan/Panduan Belajar bagi Calon Peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi DAFTAR ISI Sejarah Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Batasan dan Ruang Lingkup dan

Lebih terperinci

PENGARUH TERAPI BRAIN GYM TERHADAP PENINGKATAN FUNGSI KOGNITIF PADA LANJUT USIA DI POSYANDU LANJUT USIA DESA PUCANGAN KARTASURA NASKAH PUBLIKASI

PENGARUH TERAPI BRAIN GYM TERHADAP PENINGKATAN FUNGSI KOGNITIF PADA LANJUT USIA DI POSYANDU LANJUT USIA DESA PUCANGAN KARTASURA NASKAH PUBLIKASI PENGARUH TERAPI BRAIN GYM TERHADAP PENINGKATAN FUNGSI KOGNITIF PADA LANJUT USIA DI POSYANDU LANJUT USIA DESA PUCANGAN KARTASURA NASKAH PUBLIKASI Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat meraih derajat

Lebih terperinci

KEGIATAN DALAM RANGKA HARI KANKER SEDUNIA 2013 DI JAWA TIMUR

KEGIATAN DALAM RANGKA HARI KANKER SEDUNIA 2013 DI JAWA TIMUR KEGIATAN DALAM RANGKA HARI KANKER SEDUNIA 2013 DI JAWA TIMUR PENDAHULUAN Kanker merupakan salah satu penyakit yang telah menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia maupun di Indonesia. Setiap tahun,

Lebih terperinci

BAB V HASIL PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan sediaan dalam bentuk ekstrak etanol 70% batang

BAB V HASIL PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan sediaan dalam bentuk ekstrak etanol 70% batang BAB V HASIL PENELITIAN Penelitian ini menggunakan sediaan dalam bentuk ekstrak etanol 70% batang sarang semut. Saat ini, di pasaran sarang semut dijumpai dalam bentuk kapsul yang mengandung ekstrak etanol

Lebih terperinci

bbab I PENDAHULUAN arti penting pekerjaan dan keluarga sesuai dengan situasi dan kondisi di

bbab I PENDAHULUAN arti penting pekerjaan dan keluarga sesuai dengan situasi dan kondisi di bbab I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Penelitian tentang arti penting pekerjaan dan keluarga sudah ada beberapa dekade yang lalu, namun menjadi lebih relevan karena permasalahan arti penting pekerjaan

Lebih terperinci

UJI COBA MODEL (VALIDASI)

UJI COBA MODEL (VALIDASI) UJI COBA MODEL (VALIDASI) Yaya Jakaria PUSAT PENELITIAN KEBIJAKAN DAN INOVASI PENDIDIKAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL JAKARTA 2009 Uji Coba Model atau Produk Uji coba

Lebih terperinci