ANALISIS PENGARUH HARGA KOMODITAS DUNIA TERHADAP PERGERAKAN INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN (IHSG), INDEKS LQ 45, DAN JAKARTA ISLAMIC INDEX (JII)

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "ANALISIS PENGARUH HARGA KOMODITAS DUNIA TERHADAP PERGERAKAN INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN (IHSG), INDEKS LQ 45, DAN JAKARTA ISLAMIC INDEX (JII)"

Transkripsi

1 ANALISIS PENGARUH HARGA KOMODITAS DUNIA TERHADAP PERGERAKAN INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN (IHSG), INDEKS LQ 45, DAN JAKARTA ISLAMIC INDEX (JII) DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI). Oleh : Rifan Dwi Martono NIM : ( ) JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN ILMU SOSIAL UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1431 H/2010 M

2 ANALISIS PENGARUH HARGA KOMODITAS DUNIA TERHADAP PERGERAKAN INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN (IHSG), INDEKS LQ 45, DAN JAKARTA ISLAMIC INDEX (JII) DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI) SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Untuk memenuhi syarat-syarat untuk meraih gelar sarjana ekonomi Disusun Oleh : Rifan Dwi Martono NIM : Dibawah bimbingan : Pembimbing 1 Pembimbing 2 Prof. Dr. Ahmad Rodoni, MM Titi Dewi Warninda, SE, M.Si NIP: NIP: JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN ILMU SOSIAL UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1431 H/2010 M

3 Hari ini Selasa Tanggal 23 Bulan April Tahun Dua Ribu Sepuluh telah dilakukan Ujian Komprehensif atas nama Rifan Dwi Martono NIM : dengan judul skripsi ANALISIS PENGARUH HARGA KOMODITAS DUNIA TERHADAP PERGERAKAN INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN (IHSG), INDEKS LQ 45, DAN JAKARTA ISLAMIC INDEX (JII) DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI). Memperhatikan penampilan mahasiswa tersebut selama ujian berlangsung, maka skripsi ini sudah dapat diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Jakarta, 23 April 2010 Tim Penguji Ujian Komprehensif Indoyama Nasaruddin, SE, MAB Ketua Titi Dewi Warninda, SE, M.Si Sekretaris Prof. Dr. Ahmad Rodoni, MM Penguji Ahli

4 Hari ini Jumat Tanggal 4 Bulan Juni Tahun Dua Ribu Sepuluh telah dilakukan Ujian Skripsi atas nama Rifan Dwi Martono NIM: dengan judul Skripsi ANALISIS PENGARUH HARGA KOMODITAS DUNIA TERHADAP PERGERAKAN INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN (IHSG), INDEKS LQ 45, DAN JAKARTA ISLAMIC INDEX (JII) DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI). Memperhatikan Penampilan Mahasiswa tersebut selama ujian berlangsung, maka skripsi ini sudah dapat diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Jakarta, 4 Juni 2010 Tim Penguji Skripsi Prof.Dr. Ahmad Rodoni, MM Ketua Titi Dewi Warninda, SE, M.Si Sekretaris Indoyama Nasarudin, SE, MAB Penguji Ahli Arief Mufraini, Lc, M.Si Penguji Ahli

5 SURAT PERNYATAAN Nama Mahasiswa : Rifan Dwi Martono NIM : Jurusan : Manajemen Dengan ini menyatakan bahwa skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri yang merupakan hasil penelitian, pengolahan dan analisis saya sendiri serta bukan merupakan replikasi maupun saduran dari hasil karya atau hasil penelitian orang lain. Apabila terbukti skripsi ini plagiat atau replikasi maka skripsi ini dianggap gugur dan harus melakukan penelitian ulang untuk menyusun skripsi baru dan kelulusan serta gelarnya dibatalkan. Demikian pernyataan ini dibuat dengan segala akibat yang timbul dikemudian hari menjadi tanggung jawab saya Jakarta, 8 Juni 2010 Rifan Dwi Martono

6 DAFTAR RIWAYAT HIDUP I. IDENTITAS PRIBADI 1. Nama : Rifan Dwi Martono 2. Alamat : Komp. Dephan/Mabes TNI Cidodol No.31, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan 3. TTL : Pekalongan, 20 Maret Agama : Islam 5. Status : Belum Menikah 6. IPK terakhir : Tel : II. PENDIDIKAN FORMAL 1. SD : SDI Al-Falah 1 Pagi ( ) 2. SMP : SMP 48 ( ) 3. SMA : SMA 29 ( ) 4. S1 : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ( ) III. SEMINAR DAN PELATIHAN Seminar Wirausaha Mandiri tahun 2010 di Jakarta Convention Centre ESQ Training Leadership tahun 2007 Lembaga Pendidikan&Pengembangan Profesi Terpadu Nurul Fikri tahun 2007 IV. PENGALAMAN ORGANISASI Wakil Ketua Remaja Islam Masjid Al-Jihad tahun 2009 Ketua KKS BT Purwodadi 2009 i

7 Abstract The objective of this research is to analyse the effect of commodities price to Jakarta Composite Index, LQ 45 Index, and Jakarta Islamic Index (JII) movement in BEI. This research use six commodity price and data used in this research are monthly from period The analysis tool that used in this research is Vector Autoregression (VAR). There are two models in the analysis of the resulting model VAR, (i) impulse response function that can trace the response of one endogenous variables in the model; (ii) variance decomposition to show the relative contribution of certain endogenous variable variability. The result of Johansen cointegration test show that the commodity price and stock price indices are cointegrated. Based on the result of impulse response show that the commodities price shock with any response by each market price indices. Result of variance decomposition analysis suggest that contribution price to market price indices movements in BEI are varied. Keyword : Commodities price, Jakarta Composite Index, LQ 45 Index, Jakarta Islamic Index (JII), VAR ii

8 Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh pergerakan harga komoditas terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Indeks LQ 45, dan Jakarta Islamic Index (JII) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Penelitian ini menggunakan 6 harga komoditas dan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data bulanan dari periode Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Vector Autoregression (VAR). Terdapat 2 model analisis yang dihasilkan dalam model VAR, (i) impulse response function yang digunakan untuk melacak dampak shock dari variabel endogen terhadap variabel lain dalam sistem VAR; (ii) variance decomposition digunakan untuk memprediksi kontribusi harian setiap variabel karena adanya perubahan variabel tertentu didalam sistem VAR. Hasil dari Johansen cointegration test menunjukan bahwa harga komoditas dan indeks harga saham terdapat hubungan kointegrasi. Berdasarkan hasil impulse response menunjukan adanya shock harga komoditas direspon secara beragam oleh masing-masing indeks harga saham. Demikian juga hasil dari analisis variance decomposition menggambarkan bahwa kontribusi dari harga komoditas juga beragam terhadap masing-masing indeks harga saham. Kata kunci : Harga komoditas, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Indeks LQ 45, Jakarta Islamic Index (JII), VAR. iii

9 KATA PENGANTAR Alhamdulillahirobbil 'alamiin, puji syukur kehadirat Allah SWT yang senatiasa mencurahkan rahmat, hidayah dan nikmat-nya sehingga saya dapat membuat skripsi ini. Shalawat serta salam selalu tercurah kepada suri tauladan kita Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umatnya ke jaman yang terang benderang. Pada kesempatan ini saya ingin mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada berbagai pihak yang telah memberikan bantuan dan dukungan baik moril maupun spiritual kepada peneliti dalam pembuatan skripsi ini: 1. Terima kasih kepada Bapak dan Ibu tercinta beserta seluruh keluarga atas segala kasih sayang, do'a, dan pengorbanannya yang begitu besar sehingga memotivasi saya untuk tetap semangat dalam menjalani hari-hari di bangku kuliah 2. Bapak Prof. Dr. Ahmad Rodoni, MM selaku dosen pembimbing 1 yang senantiasa memberikan arahan dan motivasi sehingga saya bisa menyelesaikan skripsi ini. 3. Ibu Titi Dewi Warninda, SE, M.Si selaku dosen pembimbing 2 yang selalu membimbing dan memberikan banyak masukan serta selalu memberikan motivasi dan semangat sehingga saya dapat menyelesaikan skripsi ini. 4. Bapak Prof.Dr Abdul Hamid selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang banyak memberikan dukungan atas sarana dan prasarana di FEB 5. Bapak Indoyama Nasarudin, SE. MAB selaku ketua jurusan manajemen dan dosen evaluasi kuantitatif, yang selalu memberikan bimbingan, semangat dan motivasi sehingga saya dapat menyelesaikan skripsi ini. 6. Para staff akademik dan jurusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang telah banyak memberikan bantuan. 7. Para Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang selama ini telah memberikan materi dan memberikan bimbingan serta motivasi. 8. Teman-teman dari Manajemen D (D-Troc Family) dan Keuangan B atas segala dukungannya iv

10 9. Terima kasih juga buat tim KKS-BT purwodadi 2009 yang memberikan pengalaman berharga yang tak terlupakan 10. Terima Kasih semua temen-temen kuliah angkatan 2006 yang tak bisa disebutkan satu persatu. 11. Para staff dan pegawai di perpustakaan utama dan perpustakan fakultas sebagai tempat dalam mencari bahan-bahan dan sumber referensi bagi penulis. Saya menyadari sepenuhnya bahwa penulisan sripsi ini masih banyak kekurangan, hal ini karena adanya keterbatasan dari penulis. Oleh karena itu saya mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi menunjang kesempurnaan dari Tugas akhir kuliah (Skripsi) ini. Saya berharap skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca. Jakarta, Mei 2010 Penulis v

11 DAFTAR ISI Daftar Riwayat Hidup... i Abstract... ii Abstrak... iii Kata Pengantar... iv Daftar Isi... vi Daftar Tabel... ix Daftar Grafik... x Daftar Lampiran... xi BAB I. PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang... 1 B. Perumusan Masalah C. Tujuan Penelitian D. Manfaat Penelitian BAB II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pasar Modal B. Indeks Harga Saham ) Indeks Harga Saham Gabungan ) Indeks LQ ) Jakarta Islamic Index C. Harga Komoditas ) Harga Minyak Mentah ) Harga Emas ) Harga Nikel ) Harga Timah ) Harga Batubara ) Harga Minyak Kelapa Sawit D. Penelitian Terdahulu E. Kerangka Pemikiran F. Hipotesis Penelitian vi

12 BAB III. METODOLOGI PENELITIAN A. Ruang Lingkup Penelitian B. Metode Pemilihan Sampel C. Metode Pengumpulan Data D. Metode Analisis Data E. Operasional Variabel Penelitian BAB IV. ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN A. Sekilas Gambaran Umum Objek Penelitian ) Perkembangan Pasar Modal Indonesia B. Analisa Data dan Pembahasan ) Analisis Deskriptif ) Analisis Pengujian Statistik BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan B. Implikasi Penelitian C. Saran DAFTAR PUSTAKA vii

13 DAFTAR TABEL Tabel 4.1 Harga Minyak Mentah Tabel 4.2 Harga Emas Tabel 4.3 Harga Nikel Tabel 4.4 Harga Timah Tabel 4.5 Harga Batubara Tabel 4.6 Harga CPO Tabel 4.7 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Tabel 4.8 Indeks LQ Tabel 4.9 Jakarta Islamic Index (JII) Tabel 4.10 Uji Stasioneritas Data Tingkat Level Tabel 4.11 Uji Stasioneritas Data Tingkar Diferensi Pertama Tabel 4.12 Uji Kointegrasi Tabel 4.13 Nilai Variance Decomposition IHSG Tabel 4.14 Nilai Impulse Response IHSG Tabel 4.15 Nilai Variance Decomposition Indeks LQ Tabel 4.16 Nilai Impulse Response Indeks LQ Tabel 4.17 Nilai Variance Decomposition JII Tabel 4.18 Nilai Impulse Response JII Tabel 4.19 Variance Decomposition Indeks Harga Saham Tabel 4.20 Respon Indeks Harga Saham viii

14 DAFTAR GRAFIK Grafik 1.1 Perkembangan IHSG Grafik 1.2 Pergerakan Harga Komoditas... 9 Grafik 2.1 Harga Nikel Gambar 1 Kerangka Pemikiran Grafik 4.1 Harga Minyak Mentah Dunia Grafik 4.2 Harga Emas Dunia Grafik 4.3 Harga Nikel Dunia Grafik 4.4 Harga Timah Dunia Grafik 4.5 Harga Batubara Dunia Grafik 4.6 Harga CPO Dunia Grafik 4.7 Indeks Harga Saham Gabungan Grafik 4.8 Indeks LQ Grafik 4.9 Jakarta Islamic Index ix

15 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pasar modal merupakan salah satu tempat (media) yang memberikan kesempatan berinvestasi bagi investor perorangan maupun institusional. Oleh karena itu, arah dan besarnya pergerakan pasar modal menjadi topik yang menarik bagi para akademisi dan praktisi pasar untuk mempelajarinya (Pananda Pasaribu, 2008:1). Hampir semua negara menaruh perhatian besar terhadap pasar modal karena memiliki peranan strategis bagi penguatan ketahanan ekonomi suatu negara. Terjadinya pelarian modal ke luar negeri (capital flight) bukan hanya merupakan dampak merosotnya nilai rupiah atau tingginya inflasi dan rendahnya suku bunga di suatu negara, tetapi karena tidak tersedianya alternatif investasi yang menguntungkan di negara tersebut, atau pada saat yang sama, investasi portofolio di bursa negara lain menjanjikan keuntungan yang jauh lebih tinggi. Keadaan ini terjadi sebagai konsekuensi dari terbukanya pasar saham terhadap investor asing (Paulus Situmorang, 2008:7). Pasar modal yang ada di Indonesia merupakan pasar yang sedang berkembang (emerging market) yang dalam perkembangannya sangat rentan terhadap kondisi makroekonomi secara umum. Krisis ekonomi yang dimulai tahun 1998 merupakan awal runtuhnya pilar-pilar perekonomian nasional Indonesia. Ini ditandai dengan turunnya kepercayaan masyarakat terhadap 1

16 perbankan Indonesia dalam bentuk penarikan dana besar-besaran (rush) oleh deposan untuk kemudian disimpan di luar negeri (capital flight). Tingkat suku bunga yang mencapai 70% dan depresiasi nilai tukar rupiah (kurs) terhadap dolar AS sebesar 500% mengakibatkan hampir semua kegiatan ekonomi terganggu. Dampak lain dari menurunnya kepercayaan masyarakat berimbas sampai ke pasar modal. Harga-harga saham menurun secara tajam sehingga menimbulkan kerugian yang cukup signifikan bagi investor (Ana Oktavia, 2007:1). Gejala pemulihan kepercayaan masyarakat mulai tampak jika dilihat pada indikator ekonomi dalam bebarapa tahun terakhir. Pada September 2004, Indeks harga saham gabungan mencapai 820,1 dan sampai Desember 2005 telah mencapai 1162,63. Ini merupakan peningkatan yang cukup signifikan mengingat Indeks harga saham pada tahun 2001, 2002, dan 2003 baru mencapai 392,03, 424,94, dan 679,3. Kemudian sepanjang periode bulan Januari 2006 Januari 2008, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) terus menerus berupaya menciptakan pasar yang semakin likuid, wajar, teratur dan transparan. Sepanjang periode di atas, bursa telah menunjukkan prestasi yang sangat menggembirakan. Salah satunya ditunjukkan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) BEI yang berhasil mencatat rekor tertinggi pada tanggal 11 Januari 2008 di level yang diikuti juga oleh indeks lainnya seperti indeks LQ 45 yang juga mencetak rekor tertinggi pada level 615,996 (www.idx.co.id). 2

17 Indeks harga saham mengalami peningkatan yang semakin pesat sejak krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun Hal ini ditunjukkan dari perkembangan nilai IHSG dan nilai transaksi. Nilai IHSG mengalami peningkatan hingga 400 persen dari tahun 2000 hingga Kondisi ini juga diikuti nilai transaksi yang terus semakin meningkat. Nilai IHSG yang semakin tinggi merupakan bentuk kepercayaan investor atas kondisi ekonomi Indonesia yang semakin kondusif (Adler Manurung, 2008:1). Perkembangan IHSG dalam beberapa tahun terakhir dapat dilihat pada Grafik Grafik 1.1 Perkembangan IHSG Tabel IHSG Jan '05 Apr '05 Jul '05 Okt '05 Jan '06 Apr '06 Jul '06 Okt '06 Jan Apr '07 '07 Waktu Sumber : Bursa Efek Indonesia (BEI), data diolah Berdasarkan grafik 1.1 diatas dapat dilihat bahwa IHSG mengalami peningkatan sampai dengan tahun Namun krisis ekonomi global mulai pertengahan tahun 2008 telah mendorong jatuhnya nilai Indeks harga saham sebesar 50 % dalam kurun waktu yang relatif singkat (satu tahun). Krisis yang berasal dari Amerika Serikat telah meruntuhkan perekonomian di benua Eropa dan Asia, khususnya negara berkembang. Akibat terimbas krisis Jul '07 Okt '07 Jan '08 Apr '08 Jul '08 Okt '08 Jan '09 Apr '09 Jul '09 Okt '09 3

18 finansial global tersebut IHSG terus mengalami penurunan, puncaknya terjadi pada awal bulan Oktober 2008, dimana IHSG terkoreksi sebesar 10,38% hingga menyentuh level 1.451,669. Hal tersebut mendorong BEI mensuspend perdagangan efek bersifat ekuitas dan derivatif di seluruh pasar hingga dibuka kembali pada tanggal 13 Oktober Tujuan suspensi tersebut adalah untuk memberikan perlindungan kepada investor dan pasar secara lebih luas. Pada tiga bulan terakhir di tahun 2008 IHSG terus menurun yang diikuti dengan penurunan nilai kapitalisasi pasar di BEI. Hal tersebut menyebabkan pada akhir tahun 2008, IHSG ditutup pada level 1.340,892 atau turun sebesar 51,17 % dari level penutupan di tahun 2007 sebesar 2.745,826. Memasuki tahun 2009 IHSG kembali mengalami penguatan dimana pada bulan Oktober telah mencapai level 2.528,14. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya menurunnya harga minyak dunia, menguatnya nilia tukar rupiah, serta sentiment regional (finance.yahoo.com). Indonesia sebagai negara berkembang mendapat pengaruh yang cukup besar dari krisis finasial global. Berbagai kebijakan diambil pemerintah untuk meredam pengaruh buruk dari krisis, mulai dari menaikkan tingkat suku bunga, menaikkan harga bahan bakar minyak, maupun memperketat lalu lintas mata uang asing (Pananda Pasaribu, 2008:2). Pasar modal memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia, dimana nilai Indeks Harga Saham Gabungan dapat menjadi leading indicator economic pada suatu negara. Pergerakan indeks sangat dipengaruhi oleh ekspektasi investor atas kondisi fundamental negara maupun global. Adanya 4

19 informasi baru akan berpengaruh pada ekspektasi investor yang akhirnya akan berpengaruh pada Indeks harga saham (Pananda Pasaribu, 2008). Indeks harga saham merupakan bagian penting dalam pembicaraaan mengenai pasar modal, karena indeks ini merupakan indikator dari berbagai hal dan dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam membuat kebijakan-kebijakan di bidang ekonomi makro, ekonomi mikro, moneter dan kebijakan lainnya (Paulus Situmorang, 2008:133). Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) sangat berkepentingan dengan naik turunnya Indeks harga saham karena nilai portofolio sahamnya secara umum tergantung pada naik-turunnya indeks. Secara intuitif, sebagian besar saham atau portofolio saham bergerak searah dengan pergerakan indeks. Maka dari itu, perlu untuk diketahui faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi Indeks harga saham dan seberapa besar pengaruh faktorfaktor tersebut (Budy Frensidy, 2009:3). Faktor-faktor yang mempengaruhi indeks harga saham cukup beragam. Selain pergerakan variabel-variabel makro, tingkat harga komoditas dunia juga dapat mempengaruhi kondisi perekonomian dan iklim investasi Indonesia, dimana pengaruh dari fluktuasi harga komoditas dunia juga tidak lepas dari pasar modal sebagai tempat berinvestasi yang mempertemukan pihak yang memiliki kelebihan dana dengan pihak yang memerlukan dana. Pengaruh dari perubahan harga komoditas cukup besar dalam mempengaruhi pergerakan indeks harga saham. Hal ini disebabkan karena Indonesia merupakan salah satu produsen komoditas dunia. Selain itu, perusahaan- 5

20 perusahaan yang berhubungan dengan komoditas mempunyai nilai kapitalisasi yang cukup besar pada indeks harga saham. Perubahan yang terjadi pada harga komoditas akan berpengaruh terhadap harga saham perusahaan yang bersangkutan yang pada akhirnya akan mempengaruhi indeks harga saham. Maka dari itu, merupakan hal yang menarik untuk diteliti seberapa besar pengaruh dari perubahan harga komoditas terhadap indeks harga saham. Komoditas yang paling berpengaruh saat ini adalah minyak mentah. Fluktuasi harga minyak mentah dunia mendapat sorotan utama karena minyak menjadi sebuah komoditas yang penting bagi banyak pihak, sehingga menjadi isu penting bagi masyarakat, pemerintah, dan para pelaku usaha. Gejolak minyak yang terjadi akhir-akhir ini merupakan permasalahan yang menimbulkan kekhawatiran di berbagai Negara konsumen diseluruh dunia. Kenaikan harga minyak mentah menjadikan turut naiknya harga bahan bakar diseluruh dunia. Indonesia dan sejumlah Negara lain telah menaikan harga BBM yang vital bagi kehidupan dan perekonomian. Kondisi ini menjadi sangat penting karena tingginya harga minyak akan memicu kenaikan harga komoditas lain dan menimbulkan tekanan inflasi diseluruh dunia (Alfred Pakasi, 2008:143). Kenaikan harga minyak disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu ketatnya cadangan prasarana pengadaan minyak, kapasitas produksi, pengangkutan dan terutama kapasitas kilang. Memang berbagai faktor geopolitik maupun teknik telah berakumulasi dalam meningkatkan atau juga menurunkan harga, 6

21 disamping meningkatnya permintaan akan minyak. Pertumbuhan permintaan akan minyak di negara maju berjalan lambat sekalipun petumbuhan ekonomi tetap berlangsung. Perlu dicatat bahwa pertumbuhan penduduk yang terutama menyebabkan naiknya permintaan akan energi, khusunya minyak. Penduduk di negara maju hampir tidak bertambah. Permintaan minyak yang naik tajam berasal dari Asia, khususnya China dan India (A.J Surjadi, 2006:1). Meningkatnya harga minyak mentah dunia dapat mempengaruhi harga saham pada berbagai sektor. Pengaruh yang diberikannya dapat bersifat positif dan dapat juga bersifat negatif. Selain itu, dampak yang diberikan oleh meningkatnya harga minyak mentah dunia tehadap harga saham juga dapat bersifat langsung, seperti pada sektor pertambangan dengan meningkatnya harga minyak mentah dunia fluktuasi harga saham-saham di sektor pertambangan baik untuk sektor pertambangan batubara, pertambangan minyak dan gas bumi, ataupun pertambangan logam mineral lainnya berbedabeda. Hal ini berkaitan dengan kegiatan yang dilakukan oleh masing-masing perusahaan pertambangan serta karakteristik spesifik dari perusahaan (Budi Santoso, 2009:6). Turunnya harga minyak merupakan angin segar atau setidaknya berita positif (good news) bagi kebanyakan bursa di dunia. Hal itu menurunkan rasa khawatir akan kondisi perekonomian global yang mengarah pada stagflasi, yaitu perpaduan antara perlambatan pertumbuhan ekonomi dan tingkat inflasi yang tinggi. Dengan harga minyak yang rendah, pembangunan di sebuah negara dapat dipacu ke tingkat yang lebih tinggi karena biaya produksi akan 7

22 menjadi relatif rendah. Harga minyak yang tinggi dinilai hanya menguntungkan negara-negara produsen minyak, tetapi merugikan bagi negara lain karena akan membuat harga-harga melambung sehingga pembangunan tersendat. Akan tetapi, hal ini agaknya tidak berlaku bagi bursa saham di Indonesia. Harga minyak yang turun justru direspons investor pasar modal Indonesia dengan melakukan aksi jual saham besar-besaran. Dengan demikian, membuat IHSG terkoreksi cukup dalam. Sektor komoditas pertambangan dan perkebunan sangat rentan terhadap pergerakan harga minyak karena batu bara dan CPO merupakan produk substitusi emas hitam itu. Turunnya harga minyak dipastikan akan menekan harga komoditas batu bara dan CPO dan selanjutnya berpengaruh terhadap kinerja saham perusahaan pertambangan dan perkebunan (Reinhard Nainggolan, 2008). Saham yang masuk dalam list BEI akan ditempatkan pada sektor yang sesuai dengan bidang yang dikerjakan oleh perusahaan tersebut. Salah satu sektor yang ada di BEI adalah sektor pertambangan dan perkebunan dimana perusahaan yang masuk dalam sektor tersebut merupakan perusahaan yang berhubungan dengan komoditas. Kinerja perusahaan tersebut tentu sangat dipengaruhi oleh jumlah produksi serta harga komoditas yang dijual di pasar. Semakin tinggi harga komoditas yang dijual maka semakin tinggi earning yang didapatkan. Hal ini tentu akan mempengaruhi harga saham perusahaan tersebut dan jika pergerakan yang ada terjadi serentak maka akan memberikan pengaruh positif pada pergerakan IHSG. (Manurung, 2008:1) 8

23 Perusahaan-perusahaan berbasis komoditas terutama energi, mineral, pertambangan dan perkebunan mengalami masa kejayaan saat ekonomi global tengah bertumbuh karena energi yang dibutuhkan sangat besar untuk memacu pertumbuhan. Ekspektasi yang besar terhadap kebutuhan energi dan substitusinya telah mendorong kenaikan seluruh harga komoditas, seperti minyak bumi, batu bara dan minyak sawit mentah (CPO). Kenaikan hargaharga komoditas tersebut akan mendorong peningkatan laba absolut, apalagi jika perusahaan yang bersangkutan dapat meningkatkan kapasitas produksi, sehingga cost of production akan menurun drastis. Dampak lanjutan dari peningkatan laba perusahaan adalah kenaikan estimasi earning per share dan fair value per share yang pada akhirnya akan memicu eskalasi harga pasar saham per lembar Grafik 1.2 Pergerakan Harga Komoditas CPO Batubara Minyak Jan Apr '05 '05 Jul Okt Jan Apr '05 '05 '06 '06 Jul Okt Jan Apr '06 '06 '07 '07 Jul Okt '07 '07 Waktu Jan Apr '08 '08 Sumber : Bursa Efek Indonesia (BEI), data diolah Jul Okt Jan Apr '08 '08 '09 '09 Jul Okt '09 '09 Grafik 1.2 memperlihatkan pergerakan harga minyak mentah yang diikuti oleh pergerakan harga komoditas lainnya yaitu, batubara dan CPO. Dilihat 9

24 dari pergerakannya terlihat bahwa harga komoditas tersebut bergerak dengan arah yang sama. Apabila dibandingkan dengan pergerakan IHSG pada grafik 1.1 maka akan terlihat pola pergerakan yang sama. Hal ini menunjukan terdapat hubungan antara harga komoditas dan pergerakan IHSG, terutama harga komoditas pada sektor pertambangan dan perkebunan. IHSG tertekan cukup kuat saat indeks sektor komoditas pertambangan dan perkebunan terkoreksi. Hal itu karena IHSG sangat dipengaruhi oleh sektor pertambangan dan perkebunan yang terdiri atas saham-saham dengan kapitalisasi cukup besar, seperti Saham Bumi Resources yang memiliki kapitalisasi pasar 6,19 persen dari total kapitalisasi pasar seluruh saham di BEI sebesar Rp triliun. Total kapitalisasi pasar sektor komoditas pertambangan dan perkebunan hampir 25 persen dari total kapitalisasi pasar seluruh saham di BEI. Sebanyak 75 persen lagi tersebar di delapan sektor lain, seperti sektor keuangan, aneka industri, dan infrastruktur. Komposisi ini menunjukkan naik turunnya harga saham di sektor pertambangan dan perkebunan akan memberikan pengaruh sebesar 25 persen terhadap pergerakan IHSG. Anjloknya indeks sektor pertambangan dan perkebunan akibat turunnya harga minyak sebenarnya juga terjadi pada bursa regional dan global. Namun, karena masing-masing sektor di bursa regional dan global itu memiliki kapitalisasi pasar yang relatif berimbang, penurunan satu dua indeks tertentu tidak lantas mengakibatkan indeks gabungan (composite index) mereka merosot tajam (Reinhard Nainggolan, 2008). 10

25 Matiur Rahman (2008), melakukan penelitian terhadap pengaruh dari jumlah uang yang beredar (M2) dan harga minyak terhadap Pasar modal Amerika (S&P 500) dengan menggunakan data bulanan dari bulan Januari 1974 sampai dengan April Hasil uji kointegrasi menggambarkan bahwa terdapat hubungan kointegrasi pada ketiga variabel tersebut. Estimasi dari model VECM menunjukan tidak adanya hubungan jangka panjang, hanya hubungan jangka pendek yang terjadi antara variabel terhadap pasar modal. Berdasarkan hasil dari penelitian ini, para investor dengan perencanaan jangka pendek harus menaruh perhatian terhadap kebijakan moneter pemerintah Amerika dan pasaran harga minyak di masa depan. Sementara itu, investor dengan perencanaan jangka panjang tidak membutuhkan perhatian lebih terhadap kebijakan pemerintah. QuangDo (2009), melakukan penelitian untuk menguji kemungkinan hubungan diantara harga emas internasional dan pasar modal di ASEAN didasarkan pada data harian dari 28 Juli 2000 sampai 31 Maret Penelitian ini menggunakan Granger Causality Test dan Johansen Cointegration technique untuk menguji kemungkinan adanya hubungan jangka pendek dan hubungan jangka panjang diantara harga emas internasional dan pasar modal di ASEAN yang diwakili oleh Indonesia (JKSE), Malaysia (KLSE), Philipines (PSE), Thailand (SET), dan Vietnam (VNI). Hasil dari Uji Kausalitas Granger mengindikasikan bahwa terdapat hubungan jangka pendek yang ditemukan hampir di seluruh pasar modal ASEAN, kecuali hanya pada pasangan pasar modal Thailand dan Vietnam 11

26 (SET, VNI). Selain itu, dijelaskan juga bahwa terdapat hubungan jangka pendek diantara harga emas internasional dan pasar modal di ASEAN. Kemudian, hasil dari Uji Kointegrasi menunjukan bahwa hanya sedikit variabel yang mempunyai kointegrasi, yaitu antara (JKSE, KLSE), (JKSE,PSE), (KLSE,PSE), dan (KLSE, VNI). Penelitian juga dilakukan oleh Haymnas Manurung (2008), yang meneliti pengaruh harga komoditas pertambangan terhadap IHSG. Dalam penelitian tersebut melihat hubungan antara harga komoditas dan IHSG dari dua sisi yaitu pertama menggunakan harga yang ada antara IHSG dan juga komoditas, serta yang kedua dengan menggunakan return dari IHSG serta return dari harga komoditas. Penelitian ini menggunakan Granger Causality Test dan regresi berganda. Adapun komoditas yang digunakan adalah minyak mentah, emas, perak, alumunium, tembaga, nikel, timah, dan juga seng. Hasil penelitian tersebut menunjukan terdapat hubungan positif antara pergerakan IHSG dengan komoditas baik dari sisi harga maupun return. Adapun korelasi terkuat ditunjukan oleh harga emas, perak, tembaga, serta minyak mentah. Sementara itu, hasil dari uji kausalitas Granger mendapatkan hasil bahwa IHSG mempengaruhi harga minyak mentah, emas, dan perak dan terdapat hubungan yang saling mempengaruhi antara IHSG dengan aluminium dan tembaga. Berdasarkan hasil penelitian terdahulu yang menunjukan besarnya pengaruh yang diberikan harga komoditas terhadap pergerakan Indeks harga saham, maka peneliti tertarik untuk menelaah lebih lanjut mengenai pengaruh 12

27 perubahan harga komoditas terhadap pergerakan IHSG, Indeks LQ 45, dan JII. Penelitian ini menggunakan alat analisis VAR (Vector Autoregresion) agar hasil penelitian lebih maksimal. Selain itu, dalam penelitian ini komoditas yang digunakan adalah merupakan komoditas unggulan Indonesia. Perusahaan yang menjadi produsen utama dari komoditas tersebut mempunyai nilai kapitalisasi pasar cukup besar dalam IHSG, sehingga perusahaan tersebut mempunyai kontribusi yang besar dalam mempengaruhi pergerakan dalam IHSG. B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang seperti yang dijelaskan di atas maka yang menjadi masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut : 1. Bagaimana respon dari IHSG, Indeks LQ 45, dan Jakarta Islamic Index (JII) akibat shock yang terjadi pada tingkat harga komoditas dunia. 2. Bagaimana kontribusi dari tingkat harga komoditas terhadap pergerakan IHSG, Indeks LQ 45, dan Jakarta Islamic Index (JII). C. Tujuan Penelitian Berdasarkan perumusan masalah diatas, maka yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Menganalisis respon dari IHSG, Indeks LQ 45, dan Jakarta Islamic Index (JII) akibat shock yang terjadi pada tingkat harga komoditas dunia. 2. Menganalisis besarnya kontribusi variabel tingkat harga komoditas dunia terhadap pergerakan IHSG, Indeks LQ 45, dan Jakarta Islamic Index (JII). 13

BAB I PENDAHULUAN. Investasi adalah komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya

BAB I PENDAHULUAN. Investasi adalah komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Investasi adalah komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya lainnya yang dilakukan pada saat ini, dengan tujuan memperoleh sejumlah keuntungan di masa datang. 1 Dalam

Lebih terperinci

ANALISIS PERGERAKAN NILAI TUKAR RUPIAH DAN EMPAT MATA UANG NEGARA ASEAN OLEH RUSNIAR H14102056

ANALISIS PERGERAKAN NILAI TUKAR RUPIAH DAN EMPAT MATA UANG NEGARA ASEAN OLEH RUSNIAR H14102056 i ANALISIS PERGERAKAN NILAI TUKAR RUPIAH DAN EMPAT MATA UANG NEGARA ASEAN OLEH RUSNIAR H14102056 DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009 ii RINGKASAN RUSNIAR.

Lebih terperinci

MEMILIH INVESTASI REKSA DANA TAHUN 2010

MEMILIH INVESTASI REKSA DANA TAHUN 2010 MEMILIH INVESTASI REKSA DANA TAHUN 2010 Indonesia cukup beruntung, karena menjadi negara yang masih dapat mencatatkan pertumbuhan ekonomi positif tahun 2009 sebesar 4,4 % di tengah krisis keuangan global

Lebih terperinci

BAB II URAIAN TEORI. Anggraeni (2003) melakukan penelitian dengan judul The Foreign

BAB II URAIAN TEORI. Anggraeni (2003) melakukan penelitian dengan judul The Foreign BAB II URAIAN TEORI A. Penelitian Terdahulu Anggraeni (2003) melakukan penelitian dengan judul The Foreign Exchange Exposure pada Bank-Bank yang Go Public di Bursa Efek Jakarta menunjukkan adanya foreign

Lebih terperinci

BAB 2 GAMBARAN UMUM OBJEK. diambil dari mata uang India Rupee. Sebelumnya di daerah yang sekarang disebut

BAB 2 GAMBARAN UMUM OBJEK. diambil dari mata uang India Rupee. Sebelumnya di daerah yang sekarang disebut BAB 2 GAMBARAN UMUM OBJEK 2.1 Rupiah Rupiah (Rp) adalah mata uang Indonesia (kodenya adalah IDR). Nama ini diambil dari mata uang India Rupee. Sebelumnya di daerah yang sekarang disebut Indonesia menggunakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kegiatan ekonomi tidak akan pernah terlepas dari aktivitas investasi. Berbagai

BAB I PENDAHULUAN. Kegiatan ekonomi tidak akan pernah terlepas dari aktivitas investasi. Berbagai BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Kegiatan ekonomi tidak akan pernah terlepas dari aktivitas investasi. Berbagai kegiatan investasi di seluruh dunia yang dilaksanakan dalam skala internasional,

Lebih terperinci

Analisis fundamental. Daftar isi. [sunting] Analisis fundamental perusahaan. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Analisis fundamental. Daftar isi. [sunting] Analisis fundamental perusahaan. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Analisis fundamental Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Analisis fundamental adalah metode analisis yang didasarkan pada fundamental ekonomi suatu perusahaan. Teknis ini menitik beratkan

Lebih terperinci

BABI PENDAHULU~ Jumlah uang beredar teramat penting karena peranannya sebagai alat

BABI PENDAHULU~ Jumlah uang beredar teramat penting karena peranannya sebagai alat BABI PENDAHULU~ 1.1 Latar Belakang Jumlah uang beredar teramat penting karena peranannya sebagai alat transaksi penggerak perekonomian. Besar kecilnya jumlah uang beredar akan mempengaruhi daya beli riil

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan industri sekarang ini, menunjukkan banyaknya. perusahaan-perusahaan baru yang bermunculan. Hal ini menyebabkan kondisi

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan industri sekarang ini, menunjukkan banyaknya. perusahaan-perusahaan baru yang bermunculan. Hal ini menyebabkan kondisi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan industri sekarang ini, menunjukkan banyaknya perusahaan-perusahaan baru yang bermunculan. Hal ini menyebabkan kondisi lingkungan bisnis semakin

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perusahaan dikatakan memiliki tujuan yang bermacam-macam. Ada yang mengatakan bahwa perusahaan berfokus pada pencapaian keuntungan atau laba maksimal atau laba yang

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang

PENDAHULUAN. Latar Belakang 1. 1.1 PENDAHULUAN Latar Belakang Listrik merupakan salah satu sumber daya energi dan mempunyai sifat sebagai barang publik yang mendekati kategori barang privat yang disediakan pemerintah (publicly provided

Lebih terperinci

SKRIPSI SESUDAH R OLEH

SKRIPSI SESUDAH R OLEH SKRIPSI ANALISIS DAMPAK ABNORMAL RETURN SAHAM SEBELUM DAN SESUDAH PENGUMUMAN MERGER DAN D AKUISISI PADA PERUSAHAAN YANG TERDAFTAR R DI BURSA EFEK INDONESIA OLEH : ADINDA PUSPITA 070503065 PROGRAM STUDI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. barometer kondisi perekonomian suatu negara. Hal ini didasarkan pada fungsi pasar

BAB I PENDAHULUAN. barometer kondisi perekonomian suatu negara. Hal ini didasarkan pada fungsi pasar BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pasar modal membawa peranan yang cukup penting dalam kegiatan perekonomian. Bahkan pasar modal dapat juga dipandang sebagai salah satu barometer kondisi perekonomian

Lebih terperinci

PENGGUNAAN SPN 3 BULAN SEBAGAI PENGGANTI SBI 3 BULAN DALAM APBN (Perspektif Bank Indonesia)

PENGGUNAAN SPN 3 BULAN SEBAGAI PENGGANTI SBI 3 BULAN DALAM APBN (Perspektif Bank Indonesia) 1. SBI 3 bulan PENGGUNAAN SPN 3 BULAN SEBAGAI PENGGANTI SBI 3 BULAN DALAM APBN (Perspektif Bank Indonesia) SBI 3 bulan digunakan oleh Bank Indonesia sebagai salah satu instrumen untuk melakukan operasi

Lebih terperinci

PENGARUH PENGUNGKAPAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN TERHADAP KINERJA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA

PENGARUH PENGUNGKAPAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN TERHADAP KINERJA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA PENGARUH PENGUNGKAPAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN TERHADAP KINERJA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA OLEH: MIKAEL ANTHONY SUGAMA 3203009303 JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS BISNIS

Lebih terperinci

Analisis Asumsi Makro Ekonomi RAPBN 2011

Analisis Asumsi Makro Ekonomi RAPBN 2011 Analisis Asumsi Makro Ekonomi RAPBN 2011 Nomor. 30/AN/B.AN/2010 0 Bagian Analisa Pendapatan Negara dan Belanja Negara Biro Analisa Anggaran dan Pelaksanaan APBN SETJEN DPR-RI Analisis Asumsi Makro Ekonomi

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN BULAN JUNI 2001

PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN BULAN JUNI 2001 REPUBLIK INDONESIA PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN BULAN JUNI 2001 Kondisi ekonomi makro bulan Juni 2001 tidak mengalami perbaikan dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Kepercayaan masyarakat

Lebih terperinci

2. Pasar Perdana. A. Proses Perdagangan pada Pasar Perdana

2. Pasar Perdana. A. Proses Perdagangan pada Pasar Perdana B. Pasar Sekunder adalah pasar di mana efek-efek yang telah dicatatkan di Bursa diperjual-belikan. Pasar Sekunder memberikan kesempatan kepada para investor untuk membeli atau menjual efek-efek yang tercatat

Lebih terperinci

BAB I KONDISI EKONOMI MAKRO TAHUN 2006

BAB I KONDISI EKONOMI MAKRO TAHUN 2006 BAB I KONDISI EKONOMI MAKRO TAHUN 26 Kondisi ekonomi makro pada tahun 26 dapat disimpulkan sebagai berikut. Pertama, memasuki tahun 26, stabilitas moneter di dalam negeri membaik tercermin dari stabilnya

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 16/ 20 /PBI/2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 16/ 20 /PBI/2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 16/ 20 /PBI/2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA,

Lebih terperinci

TANYA JAWAB PERATURAN BANK INDONESIA NO.16/21

TANYA JAWAB PERATURAN BANK INDONESIA NO.16/21 TANYA JAWAB PERATURAN BANK INDONESIA NO.16/21 21/PBI/2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK 1. Q: Apa latar belakang diterbitkannya PBI

Lebih terperinci

ANALISIS INFORMASI FUNDAMENTAL EKONOMI TERHADAP KURS DALAM INVESTASI FOREX (STUDI KASUS PADA USD TERHADAP JPY)

ANALISIS INFORMASI FUNDAMENTAL EKONOMI TERHADAP KURS DALAM INVESTASI FOREX (STUDI KASUS PADA USD TERHADAP JPY) ANALISIS INFORMASI FUNDAMENTAL EKONOMI TERHADAP KURS DALAM INVESTASI FOREX (STUDI KASUS PADA USD TERHADAP JPY) SKRIPSI Diajukan untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat-syarat untuk Mencapai Gelar

Lebih terperinci

SEJARAH BANK INDONESIA : MONETER Periode 1997-1999

SEJARAH BANK INDONESIA : MONETER Periode 1997-1999 SEJARAH BANK INDONESIA : MONETER Periode 1997-1999 Cakupan : Halaman 1. Sekilas Sejarah Bank Indonesia di Bidang Moneter Periode 1997-2 1999 2. Arah Kebijakan 1997-1999 3 3. Langkah-Langkah Strategis 1997-1999

Lebih terperinci

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG PENGARUH BAGI HASIL DAN KREDIT MACET TERHADAP PEMBIAYAAN MUDHARABAH DI BMT NU SEJAHTERA SEMARANG TAHUN 2011-2013 SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi SyaratGuna Memperoleh Gelar Sarjana

Lebih terperinci

PENGARUH TERHADAP GKAPAN DI BURSA OLEH FAKULTAS BISNIS

PENGARUH TERHADAP GKAPAN DI BURSA OLEH FAKULTAS BISNIS PENGARUH MEKANISME CORPORATE GOVERNANCEE DAN KONDISI KEUANGAN TERHADAP LUAS PENGUNG GKAPAN SUKARELA PADAA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA OLEH : STEVEN TANSIL TAN 3203009100

Lebih terperinci

Pengaruh Inflasi Dan Tingkat Suku Bunga Terhadap Return Saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk

Pengaruh Inflasi Dan Tingkat Suku Bunga Terhadap Return Saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk Pengaruh Inflasi Dan Tingkat Suku Bunga Terhadap Return Saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk Erni Indah Sari (erni.is.01@gmail.com) Ervita Safitri (ervitasafitri@gmail.com) Ratna Juwita (ratnaj@stmik-mdp.net)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan nilai perusahaan. Tingginya nilai perusahaan dapat

BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan nilai perusahaan. Tingginya nilai perusahaan dapat 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Tujuan utama perusahaan adalah memaksimalkan profit atau laba untuk meningkatkan nilai perusahaan. Tingginya nilai perusahaan dapat memberikan kemakmuran

Lebih terperinci

Magister Manajemen Univ. Muhammadiyah Yogyakarta

Magister Manajemen Univ. Muhammadiyah Yogyakarta II. Pasar Keuangan 1. Pendahuluan Pasar keuangan bisa didefinisikan sebagai bertemunya pihak yang mempunyai kelebihan dana (surplus dana) dengan pihak yang kekurangan dana (defisit dana). Sehingga di pasar

Lebih terperinci

http://www.mb.ipb.ac.id

http://www.mb.ipb.ac.id 1.1 Latar Belakang 1. PENDAHULUAN Secara umum sumber daya perusahaan seperti man, machine, money dan, material yang merupakan faktor-faktor internal perusahaan sudah selayaknya dikelola secara efisien

Lebih terperinci

DAMPAK EKONOMI GLOBAL TERHADAP GERAKAN BURUH

DAMPAK EKONOMI GLOBAL TERHADAP GERAKAN BURUH DAMPAK EKONOMI GLOBAL TERHADAP GERAKAN BURUH Oleh: Dr. Ir. Nandang Najmulmunir, MS. 1 KRISIS EKONOMI GLOBAL Negara Indonesia mengalami krisis moneter pada tahun 1997. Namun krisis itu sendiri ada banyak

Lebih terperinci

Kata kunci : harga saham, volume perdagangan, ukuran perusahaan, bid ask spread.

Kata kunci : harga saham, volume perdagangan, ukuran perusahaan, bid ask spread. PENGARUH HARGA SAHAM, VOLUME PERDAGANGAN DAN UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP BID-ASK SPREAD PADA PERUSAHAAN FOOD AND BEVERAGE YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA Viri Anggraini (virianggraini@ymail.com)

Lebih terperinci

BAB 3 KERANGKA EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN

BAB 3 KERANGKA EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN BAB 3 KERANGKA EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN Kerangka Ekonomi Makro dan Pembiayaan Pembangunan pada Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2006 disempurnakan untuk memberikan gambaran ekonomi

Lebih terperinci

HARGA MINYAK DUNIA ( CRUDE OIL EXCHANGE)

HARGA MINYAK DUNIA ( CRUDE OIL EXCHANGE) KEBIJAKAN ENERGI HARGA MINYAK DUNIA ( CRUDE OIL EXCHANGE) Kelompok I : 1. Raghunala Kusuma (28106) 2. Aulia Ullah (28120) 3. Puji Astuti ( 28154) 4. Ilmiyatul Fitriati (28316) 5. Ardi Rahman (28200) 6.

Lebih terperinci

BAB III METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini merupakan studi peristiwa. Studi peristiwa menurut Jogiyanto

BAB III METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini merupakan studi peristiwa. Studi peristiwa menurut Jogiyanto 37 BAB III METODELOGI PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan studi peristiwa. Studi peristiwa menurut Jogiyanto (2010) merupakan studi yang mempelajari reaksi pasar terhadap suatu peristiwa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. investasi di bidang lain, akan tetapi dalam kenyataan mempunyai kekhususan

BAB I PENDAHULUAN. investasi di bidang lain, akan tetapi dalam kenyataan mempunyai kekhususan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Investasi di pasar modal walaupun dalam prinsipnya sama dengan investasi di bidang lain, akan tetapi dalam kenyataan mempunyai kekhususan yaitu selain dana juga diperlukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Pasar modal merupakan salah satu penggerak utama perekonomian dunia termasuk Indonesia, melalui pasar

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Pasar modal merupakan salah satu penggerak utama perekonomian dunia termasuk Indonesia, melalui pasar BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Pasar modal merupakan salah satu penggerak utama perekonomian dunia termasuk Indonesia, melalui pasar modal perusahaan dapat memperoleh dana untuk melakukan

Lebih terperinci

PENGARUH TUNTUTAN GANTI RUGI TERHADAP KEBIJAKAN PENENTUAN LABA DALAM LAPORAN KEUANGAN: PENGUJIAN LITIGATION HYPOTHESIS PERUSAHAAN INDONESIA

PENGARUH TUNTUTAN GANTI RUGI TERHADAP KEBIJAKAN PENENTUAN LABA DALAM LAPORAN KEUANGAN: PENGUJIAN LITIGATION HYPOTHESIS PERUSAHAAN INDONESIA PENGARUH TUNTUTAN GANTI RUGI TERHADAP KEBIJAKAN PENENTUAN LABA DALAM LAPORAN KEUANGAN: PENGUJIAN LITIGATION HYPOTHESIS PERUSAHAAN INDONESIA The Influence of Legal Cost to Accounting Choices in Financial

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK The New Climate Economy Report RINGKASAN EKSEKUTIF Komisi Global untuk Ekonomi dan Iklim didirikan untuk menguji kemungkinan tercapainya pertumbuhan ekonomi yang

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INTENSI MEMBELI PRODUK SABUN MUKA PADA PRIA SKRIPSI

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INTENSI MEMBELI PRODUK SABUN MUKA PADA PRIA SKRIPSI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INTENSI MEMBELI PRODUK SABUN MUKA PADA PRIA SKRIPSI Oleh : Muhammad Arief Budiman NIM : 109070000067 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dari perdagangan internasional yakni ekspor. Zakaria (2012) menyatakan bahwa

BAB I PENDAHULUAN. dari perdagangan internasional yakni ekspor. Zakaria (2012) menyatakan bahwa BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Indonesia merupakan salah satu negara berkembang, yang tidak terlepas dari perdagangan internasional yakni ekspor. Zakaria (2012) menyatakan bahwa keterbukaan perdagangan

Lebih terperinci

Krisis Politik Timur Tengah Serta Implikasinya Terhadap Perdagangan dan Fluktuasi Harga Minyak Dunia

Krisis Politik Timur Tengah Serta Implikasinya Terhadap Perdagangan dan Fluktuasi Harga Minyak Dunia Krisis Politik Timur Tengah Serta Implikasinya Terhadap Perdagangan dan Fluktuasi Harga Minyak Dunia Andistya Oktaning Listra dan Ferry Prasetyia Sebagai sumber utama energi dunia, fluktuasi harga minyak

Lebih terperinci

ABSTRAK. Kata kunci : Fluktuasi kurs, Ekspor, Impor, Peramalan. iii. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Kata kunci : Fluktuasi kurs, Ekspor, Impor, Peramalan. iii. Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Beberapa tahun terakhir ini kurs tukar IDR/USD terus mengalami fluktuasi yang tidak dapat diprediksi. Akibatnya para pelaku pasar sulit untuk menentukan pada saat kapan mereka harus melakukan ekspor

Lebih terperinci

INVESTASI SKRIPSI. Oleh : /AK. Kepada

INVESTASI SKRIPSI. Oleh : /AK. Kepada PENGUKURAN KINERJA EVA DAN FVA TERHADAP KEPUTUSAN INVESTASI AKTIVAA TETAP SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Dalam Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi Oleh : IDFI DWI KARLINA

Lebih terperinci

ANALISIS DIMENSI E-SERVICE QUALITY TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN TOKO ONLINE OLEH: CELIA FAUSTINE NOVELIA 3103010102

ANALISIS DIMENSI E-SERVICE QUALITY TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN TOKO ONLINE OLEH: CELIA FAUSTINE NOVELIA 3103010102 ANALISIS DIMENSI E-SERVICE QUALITY TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN TOKO ONLINE OLEH: CELIA FAUSTINE NOVELIA 3103010102 JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS BISNIS UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA 2014 ANALISIS

Lebih terperinci

R i D MARET 20 MARKET SC REEN, 2 M. dmia.danare. eksaonline. com. ke level. sebesar. persen ke. Dow. satu. guna industri.

R i D MARET 20 MARKET SC REEN, 2 M. dmia.danare. eksaonline. com. ke level. sebesar. persen ke. Dow. satu. guna industri. MARKET SC REEN, 2 M R i D MARET 20 Danareksa Research Institute 015 Prediksi periode minor (1-5 hari) : Menguat Prediksi periode intraday: Sideways menguat Level support-resistance: 5,428.88-5,475.0 Saham

Lebih terperinci

Dampak Banjir Terhadap Inflasi

Dampak Banjir Terhadap Inflasi Dampak Banjir Terhadap Inflasi Praptono Djunedi, Peneliti Badan Kebijakan Fiskal Siapa yang merusak harga pasar hingga harga itu melonjak tajam, maka Allah akan menempatkannya di dalam neraka pada hari

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 16/21/PBI/2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 16/21/PBI/2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 16/21/PBI/2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

Neraca Berjalan Dapat Membaik Lebih Cepat

Neraca Berjalan Dapat Membaik Lebih Cepat Jakarta, 23 Februari 2015 Neraca Berjalan Dapat Membaik Lebih Cepat Walau sejak awal memprediksikan BI rate bakal turun, namun saya termasuk economist yang terkejut dengan keputusan BI menurunkan bunga

Lebih terperinci

PENGARUH LINGKUNGAN KERJA, GAJI, DAN PROMOSI TERHADAP KINERJA PEGAWAI BADAN KEPEGAWAIAN DAERAH PATI TESIS

PENGARUH LINGKUNGAN KERJA, GAJI, DAN PROMOSI TERHADAP KINERJA PEGAWAI BADAN KEPEGAWAIAN DAERAH PATI TESIS PENGARUH LINGKUNGAN KERJA, GAJI, DAN PROMOSI TERHADAP KINERJA PEGAWAI BADAN KEPEGAWAIAN DAERAH PATI TESIS Oleh: Mimpi Arde Aria NIM : 2008-01-020 PROGAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS

Lebih terperinci

Perkembangan Ekspor Indonesia Biro Riset LMFEUI

Perkembangan Ekspor Indonesia Biro Riset LMFEUI Perkembangan Ekspor Indonesia Biro Riset LMFEUI Pengembangan ekspor tidak hanya dilihat sebagai salah satu upaya meningkatkan pendapatan negara, tetapi juga untuk mengembangkan ekonomi nasional. Perkembangan

Lebih terperinci

ANALISIS UNDERPR OLEH: YESIKA 3203009241 FAKULTAS BISNIS

ANALISIS UNDERPR OLEH: YESIKA 3203009241 FAKULTAS BISNIS ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI UNDERPR RICING PADA SAAT PENAWARAN UMUM SAHAM PERDANAA PERUSAHAAN SEKTOR KEUANGAN DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN 2003-2011 OLEH: YESIKA CANDRA YANI KOSASIH 3203009241

Lebih terperinci

ANALISIS PENGARUH THREE FACTOR MODEL FAMA DAN FRENCH TERHADAP EXPECTED RETURN PADA REKSA DANA TOP FIVE STAR MONTHLY DATA PERIODE 2009-2011.

ANALISIS PENGARUH THREE FACTOR MODEL FAMA DAN FRENCH TERHADAP EXPECTED RETURN PADA REKSA DANA TOP FIVE STAR MONTHLY DATA PERIODE 2009-2011. ANALISIS PENGARUH THREE FACTOR MODEL FAMA DAN FRENCH TERHADAP EXPECTED RETURN PADA REKSA DANA TOP FIVE STAR MONTHLY DATA PERIODE 2009-2011 Skripsi Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Sarjana

Lebih terperinci

EVALUASI PROGRAM PEMBERDAYAAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH (UMKM) GARDA EMAS (Studi Kasus UMKM Penghasil Sandal Di Kecamatan Bogor Selatan)

EVALUASI PROGRAM PEMBERDAYAAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH (UMKM) GARDA EMAS (Studi Kasus UMKM Penghasil Sandal Di Kecamatan Bogor Selatan) EVALUASI PROGRAM PEMBERDAYAAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH (UMKM) GARDA EMAS (Studi Kasus UMKM Penghasil Sandal Di Kecamatan Bogor Selatan) Oleh BUDI LENORA A14304055 PROGRAM STUDI EKONOMI PERTANIAN

Lebih terperinci

ROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS MURIA KUDUS TAHUN 2013

ROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS MURIA KUDUS TAHUN 2013 i ADAPTASI MODEL DELONE DAN MCLEAN YANG DIMODIFIKASI GUNA MENGUJI KEBERHASILAN APLIKASI OPERASIONAL PERBANKAN BAGI INDIVIDU PENGGUNA SISTEM INFORMASI (STUDI KASUS PADA PD.BPR BKK DI KABUPATEN PATI) Skripsi

Lebih terperinci

GLOBAL OUTLOOK 1 JANUARI 2015

GLOBAL OUTLOOK 1 JANUARI 2015 GLOBAL OUTLOOK 1 JANUARI 2015 Prospek Ekonomi Global Tertekan Anjloknya Harga Minyak Aksi Stimulus Bank Sentral Eropa Terhambat Pemilu Yunani 5250 5000 4750 4500 4250 4000 3750 3500 1-Mar-121-Jun-121-Sep-121-Dec-121-Mar-131-Jun-13

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. DAFTAR ISI... i DAFTAR GRAFIK... iii DAFTAR TABEL... v BAB I PENDAHULUAN... 1

DAFTAR ISI. DAFTAR ISI... i DAFTAR GRAFIK... iii DAFTAR TABEL... v BAB I PENDAHULUAN... 1 DAFTAR ISI DAFTAR ISI... i DAFTAR GRAFIK... iii DAFTAR TABEL... v BAB I PENDAHULUAN... 1 A. Kinerja Perekonomian 2010 dan Proyeksi 2011... 1 B. Tantangan dan Sasaran Pembangunan Tahun 2012... 4 C. Asumsi

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG PUNGUTAN OLEH OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG PUNGUTAN OLEH OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG PUNGUTAN OLEH OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

KONSEP PURCHASING POWER PARITY DALAM PENENTUAN KURS MATA UANG

KONSEP PURCHASING POWER PARITY DALAM PENENTUAN KURS MATA UANG KONSEP PURCHASING POWER PARITY DALAM PENENTUAN KURS MATA UANG Yovita Vivianty Indriadewi Atmadjaja Dosen Fakultas Ekonomi Prodi Manajemen Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi ABSTRAKSI Salah satu konsep

Lebih terperinci

PENGARUH PERTUMBUHAN DANA PIHAK KETIGA DAN AKTIVA PRODUKTIF TERHADAP NET INTEREST MARGIN PADA BANK PEMERINTAH RANGKUMAN SKRIPSI

PENGARUH PERTUMBUHAN DANA PIHAK KETIGA DAN AKTIVA PRODUKTIF TERHADAP NET INTEREST MARGIN PADA BANK PEMERINTAH RANGKUMAN SKRIPSI PENGARUH PERTUMBUHAN DANA PIHAK KETIGA DAN AKTIVA PRODUKTIF TERHADAP NET INTEREST MARGIN PADA BANK PEMERINTAH RANGKUMAN SKRIPSI Oleh : ADITYA RAHMAN HAKIM 2005210181 SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI PERBANAS

Lebih terperinci

PSAK 63 Pelaporan Keuangan Dalam Kondisi Hiperimplasi. Presented:

PSAK 63 Pelaporan Keuangan Dalam Kondisi Hiperimplasi. Presented: PSAK 63 Pelaporan Keuangan Dalam Kondisi Hiperimplasi IAS 29 Financial i Reporting in Hyperinflationary Economies Presented: Dwi Martani 1 Latar Belakang Laporan keuangan biaya historis dalam kondisi i

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan ekonomi regional dan internasional yang dapat menunjang sekaligus dapat berdampak

BAB I PENDAHULUAN. dengan ekonomi regional dan internasional yang dapat menunjang sekaligus dapat berdampak BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dalam upaya meningkatkan kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia menuju masyarakat yang makmur dan berkeadilan perlu adanya pembangunan ekonomi yang seimbang.

Lebih terperinci

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia =============================================================================== Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia !" #$ %$#&%!!!# &%!! Tujuan nasional yang dinyatakan

Lebih terperinci

BAGIAN PEREKONOMIAN GLOBAL

BAGIAN PEREKONOMIAN GLOBAL BAGIAN I PEREKONOMIAN GLOBAL Bagian I PEREKONOMIAN GLOBAL Berangkat dengan optimisme perbaikan di awal tahun, kinerja perekonomian global pada tahun 2013 berlangsung tidak sesuai harapan dan melemah dibandingkan

Lebih terperinci

Bab1 PENDAHULUAN. Di dalam suatu perusahaan tentu tidak akan lepas dari faktor akuntansi

Bab1 PENDAHULUAN. Di dalam suatu perusahaan tentu tidak akan lepas dari faktor akuntansi Bab1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Di dalam suatu perusahaan tentu tidak akan lepas dari faktor akuntansi manajemen, menghadapi persaingan usaha yang semakin ketat menuntut perusahaan untuk

Lebih terperinci

SKRIPSI. Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu Dalam Ilmu Pendidikan Agama Islam

SKRIPSI. Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu Dalam Ilmu Pendidikan Agama Islam STUDI KOMPARASI PRESTASI BELAJAR PAI PADA ASPEK KOGNITIF ANTARA SISWA YANG IKUT ROHIS DENGAN SISWA YANG TIDAK IKUT ROHIS di SMA NEGERI 3 SEMARANG KELAS XI TAHUN AJARAN 2011/2012 SKRIPSI Diajukan untuk

Lebih terperinci

Indonesia Eximbank: Konsep Implementasi Lembaga Pembiayaan Ekspor di Indonesia

Indonesia Eximbank: Konsep Implementasi Lembaga Pembiayaan Ekspor di Indonesia Indonesia Eximbank: Konsep Implementasi Lembaga Pembiayaan Ekspor di Indonesia Jakarta, Mei 2015 Agenda 1 Profil Indonesia Eximbank 2 Kinerja Keuangan 3 Lesson Learned Bab 1 Profil Indonesia Eximbank (LPEI)

Lebih terperinci

PENGARUH KUALITAS PELAYANAN SIMPAN PINJAM TERHADAP LOYALITAS PELANGGAN PADA KOPERASI NUSANTARA

PENGARUH KUALITAS PELAYANAN SIMPAN PINJAM TERHADAP LOYALITAS PELANGGAN PADA KOPERASI NUSANTARA 1 PENGARUH KUALITAS PELAYANAN SIMPAN PINJAM TERHADAP LOYALITAS PELANGGAN PADA KOPERASI NUSANTARA SKRIPSI Program Studi Manajemen Nama : KAMJA NIM : 03103-114 FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS MERCU BUANA JAKARTA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terhadap PDB nasional. Hal ini merupakan tantangan berat, mengingat perekonomian

BAB I PENDAHULUAN. terhadap PDB nasional. Hal ini merupakan tantangan berat, mengingat perekonomian BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor konstruksi adalah salah satu sektor andalan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan selalu dituntut untuk tetap meningkatkan kontribusinya melalui tolak ukur

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan tidak lagi dihadapkan pada tanggung jawab yang berpijak pada single bottom

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan tidak lagi dihadapkan pada tanggung jawab yang berpijak pada single bottom BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penelitian Tanggung jawab sosial merupakan tanggung jawab perusahan terhadap lingkungan dan para pemangku kepentingan. Tanggung jawab sosial menjadikan perusahaan

Lebih terperinci

Analisis Pengaruh Fundamental Makro dan Indeks Harga Global terhadap IHSG

Analisis Pengaruh Fundamental Makro dan Indeks Harga Global terhadap IHSG VOL. 5 (2): 63-72, 2011 Analisis Pengaruh Fundamental Makro dan Indeks Harga Global terhadap IHSG H. M. Chabachib dan Ardian Agung Witjaksono Universitas Diponegoro Effect of Macro Fundamental and Global

Lebih terperinci

MARKET OUTLOOK. Asian Market. European Market. USA Market ECONOMIC ANALYSIS. Inbox Daily Report. 26 Maret 2015

MARKET OUTLOOK. Asian Market. European Market. USA Market ECONOMIC ANALYSIS. Inbox Daily Report. 26 Maret 2015 ECONOMIC ANALYSIS Tjahjo Dewanto cahyo@investingbox.co.id Sri Wahyudi Market strategist and Analyst yudi@investingbox.co.id 26 Maret 2015 Inbox Daily Report MARKET OUTLOOK Asian Market Indeks saham Asia

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 15/15/PBI/2013 TENTANG GIRO WAJIB MINIMUM BANK UMUM DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING BAGI BANK UMUM KONVENSIONAL

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 15/15/PBI/2013 TENTANG GIRO WAJIB MINIMUM BANK UMUM DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING BAGI BANK UMUM KONVENSIONAL PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 15/15/PBI/2013 TENTANG GIRO WAJIB MINIMUM BANK UMUM DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING BAGI BANK UMUM KONVENSIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA,

Lebih terperinci

(PTK Pembelajaran Matematika Di Kelas VIII SMP Al Islam 1 Surakarta)

(PTK Pembelajaran Matematika Di Kelas VIII SMP Al Islam 1 Surakarta) UPAYA MENINGKATKAN MINAT DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI STRATEGI PEMBELAJARAN QUESTION STUDENT HAVE PADA POKOKK BAHASAN LINGKARAN (PTK Pembelajaran Matematika Di Kelas VIII SMP Al Islam 1 Surakarta)

Lebih terperinci

ROADMAP SYARIAH 2015 2019 PASAR MODAL. Membangun Sinergi untuk Pasar Modal Syariah yang Tumbuh, Stabil, dan Berkelanjutan

ROADMAP SYARIAH 2015 2019 PASAR MODAL. Membangun Sinergi untuk Pasar Modal Syariah yang Tumbuh, Stabil, dan Berkelanjutan ROADMAP PASAR MODAL SYARIAH 2015 2019 Membangun Sinergi untuk Pasar Modal Syariah yang Tumbuh, Stabil, dan Berkelanjutan ROADMAP PASAR MODAL SYARIAH 2015 2019 Membangun Sinergi untuk Pasar Modal Syariah

Lebih terperinci

LAPORAN November KINERJA 2014 BULANAN - PANIN Rp CASH FUND

LAPORAN November KINERJA 2014 BULANAN - PANIN Rp CASH FUND LAPORAN BULANAN PANIN Rp CASH FUND LAPORAN November 2014 BULANAN - PANIN Rp CASH FUND Panin Rp Cash Fund bertujuan untuk memberikan hasil yang relatif stabil melalui penempatan terutama pada instrumen

Lebih terperinci

RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH A. Arah Kebijakan Ekonomi Daerah 1. Kondisi Ekonomi Daerah Tahun 2011 dan Perkiraan Tahun 2012 Kondisi makro ekonomi Kabupaten Kebumen Tahun

Lebih terperinci

Keuntungan kita ialah tahu waktu dan tempat yang tepat untuk berinvestasi.

Keuntungan kita ialah tahu waktu dan tempat yang tepat untuk berinvestasi. Keuntungan kita ialah tahu waktu dan tempat yang tepat untuk berinvestasi. Berinvestasi selama 5 tahun dengan akses ketujuh pasar Asia dengan perlindungan modal 100% pada saat jatuh tempo. Setelah tiga

Lebih terperinci

PENDUGAAN ANGKA PUTUS SEKOLAH DI KABUPATEN SEMARANG DENGAN METODE PREDIKSI TAK BIAS LINIER TERBAIK EMPIRIK PADA MODEL PENDUGAAN AREA KECIL SKRIPSI

PENDUGAAN ANGKA PUTUS SEKOLAH DI KABUPATEN SEMARANG DENGAN METODE PREDIKSI TAK BIAS LINIER TERBAIK EMPIRIK PADA MODEL PENDUGAAN AREA KECIL SKRIPSI PENDUGAAN ANGKA PUTUS SEKOLAH DI KABUPATEN SEMARANG DENGAN METODE PREDIKSI TAK BIAS LINIER TERBAIK EMPIRIK PADA MODEL PENDUGAAN AREA KECIL SKRIPSI Disusun Oleh: NANDANG FAHMI JALALUDIN MALIK NIM. J2E 009

Lebih terperinci

SKRIPSI. Oleh : Mardi Utomo 10604227402

SKRIPSI. Oleh : Mardi Utomo 10604227402 HUBUNGAN KECEPATAN DAN KOORDINASI MATA-TANGAN-KAKI DENGAN KETERAMPILAN MENGGIRING BOLA SISWA SDN 1 CANGKREPLOR PURWOREJO YANG MENGIKUTI EKSTRAKURIKULER SEPAKBOLA SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Ilmu Keolahragaan

Lebih terperinci

DANGEROUS MARKET, Managing in Financial Crisis

DANGEROUS MARKET, Managing in Financial Crisis Resensi Buku: DANGEROUS MARKET, Managing in Financial Crisis Pengarang : Dominic Barton, Roberto Newell & Gregory Wilson Penerbit: John Wiley & Sons, Inc. 2003 Penulis Resensi: Made Tirthayatra Krisis

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. 3.1. Definisi Operasional dan Pengukuran variabel. variabel atau konstrak dengan cara memberikan arti atau menspesifikasi

BAB III METODE PENELITIAN. 3.1. Definisi Operasional dan Pengukuran variabel. variabel atau konstrak dengan cara memberikan arti atau menspesifikasi BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Definisi Operasional dan Pengukuran variabel Definisi operasional adalah definisi yang diberikan kepada suatu variabel atau konstrak dengan cara memberikan arti atau menspesifikasi

Lebih terperinci

ANALISIS PERHITUNGAN UNIT COST PELAYANAN SIRKUMSISI DENGAN PENDEKATAN ABC DI KLINIK SETIA BUDI JAMBI. Tesis

ANALISIS PERHITUNGAN UNIT COST PELAYANAN SIRKUMSISI DENGAN PENDEKATAN ABC DI KLINIK SETIA BUDI JAMBI. Tesis ANALISIS PERHITUNGAN UNIT COST PELAYANAN SIRKUMSISI DENGAN PENDEKATAN ABC DI KLINIK SETIA BUDI JAMBI Tesis Diajukan Guna Memenuhi Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Strata 2 Program Studi Manajemen

Lebih terperinci

SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata-1 Program Studi Pendidikan Akuntansi

SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata-1 Program Studi Pendidikan Akuntansi PENGARUH PROMOSI DAN CITRA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AKUNTANSI TERHADAP MINAT MASUK PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AKUNTANSI PADA MAHASISWA FKIP AKUNTANSI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA ANGKATAN 2012 SKRIPSI

Lebih terperinci

GLOBAL OUTLOOK 1 OKTOBER 2014

GLOBAL OUTLOOK 1 OKTOBER 2014 GLOBAL OUTLOOK 1 OKTOBER 2014 Investor Asing Menanti Kenaikan Harga BBM Subsidi Investor Lokal Menanti Skenario Kompromi Politik Praktis 5250 5000 4750 4500 4250 4000 3750 3500 1-Mar-12 1-Jun-12 1-Sep-12

Lebih terperinci

SKRIPSI. Disusun Oleh: NPM: 06 03 16035

SKRIPSI. Disusun Oleh: NPM: 06 03 16035 FENOMENA TIME VARYING VOLATILITY ( Pada Saham LQ 45 di Bursa Efek Indonesia Periode 2005-2010) SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagaian Persyaratan Mencapai Derajat Sarjana Ekonomi (S1) Pada Program Studi Manajemen

Lebih terperinci

Menurut Hanafi dan Halim (1996), pada dasarnya analisis rasio bisa dikelompokkan kedalam lima macam kategori, yaitu:

Menurut Hanafi dan Halim (1996), pada dasarnya analisis rasio bisa dikelompokkan kedalam lima macam kategori, yaitu: Definisi Analisa Rasio Untuk menganalisis laporan keuangan perusahaan, diperlukan ukuran-ukuran tertentu. Ukuran yang sering digunakan adalah rasio. Rasio diperoleh dengan membandingkan satu pos atau elemen

Lebih terperinci

DEWAN ENERGI NASIONAL OUTLOOK ENERGI INDONESIA 2014

DEWAN ENERGI NASIONAL OUTLOOK ENERGI INDONESIA 2014 OUTLOOK ENERGI INDONESIA 2014 23 DESEMBER 2014 METODOLOGI 1 ASUMSI DASAR Periode proyeksi 2013 2050 dimana tahun 2013 digunakan sebagai tahun dasar. Target pertumbuhan ekonomi Indonesia rata-rata sebesar

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DANA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DANA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA 1.tE,"P...F.3...1!..7. INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DANA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Pemilihan lokasi usaha oleh suatu organisasi (perusahaan) akan mempengaruhi risiko (risk) dan keuntungan (profit) perusahaan tersebut secara keseluruhan. Kondisi ini

Lebih terperinci

ANALISIS PERBANDINGAN KINERJA KEUANGAN PENDEKATAN LABA RUGI DAN NILAI TAMBAH PADA BNI SYARIAH SKRIPSI

ANALISIS PERBANDINGAN KINERJA KEUANGAN PENDEKATAN LABA RUGI DAN NILAI TAMBAH PADA BNI SYARIAH SKRIPSI ANALISIS PERBANDINGAN KINERJA KEUANGAN PENDEKATAN LABA RUGI DAN NILAI TAMBAH PADA BNI SYARIAH SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata 1 Dalam Ilmu

Lebih terperinci

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERGERAKAN INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN (IHSG) DI BURSA EFEK INDONESIA

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERGERAKAN INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN (IHSG) DI BURSA EFEK INDONESIA ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERGERAKAN INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN (IHSG) DI BURSA EFEK INDONESIA Deddy Azhar Mauliano Email : deddy_azharm@yahoo.com Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas

Lebih terperinci

Indonesia Pertambangan. mineindonesia 2007* tinjauan atas kecenderungan industri pertambangan Indonesia. Desember 2007

Indonesia Pertambangan. mineindonesia 2007* tinjauan atas kecenderungan industri pertambangan Indonesia. Desember 2007 Indonesia Pertambangan mineindonesia 2007* tinjauan atas kecenderungan industri pertambangan Indonesia Desember 2007 Daftar Isi 1 7 11 25 29 41 45 47 49 51 55 57 63 65 66 67 68 69 Ringkasan Eksekutif Hal-hal

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Dalam upaya pelaksanaan penelitian, maka peneliti melakukannya pada :

BAB III METODE PENELITIAN. Dalam upaya pelaksanaan penelitian, maka peneliti melakukannya pada : 38 BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Dalam upaya pelaksanaan penelitian, maka peneliti melakukannya pada : 1. Tempat Penelitian Guna memperoleh data yang diperlukan dalam penulisan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 16/22/PBI/2014 TENTANG PELAPORAN KEGIATAN LALU LINTAS DEVISA DAN PELAPORAN KEGIATAN PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK

Lebih terperinci

Halaman Persembahan. Sebuah karya tulis ini saya persembahkan untuk:

Halaman Persembahan. Sebuah karya tulis ini saya persembahkan untuk: MOTTO Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka, apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan) kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain dan hanya kepada Tuhan-mulah hendaknya

Lebih terperinci

HUBUNGAN PANJANG TUNGKAI DAN POWER OTOT TUNGKAI DENGAN KEMAMPUAN LARI JARAK 100 METER PADA SISWA PUTRA KELAS VIII SMP NEGERI 17 PALEMBANG

HUBUNGAN PANJANG TUNGKAI DAN POWER OTOT TUNGKAI DENGAN KEMAMPUAN LARI JARAK 100 METER PADA SISWA PUTRA KELAS VIII SMP NEGERI 17 PALEMBANG HUBUNGAN PANJANG TUNGKAI DAN POWER OTOT TUNGKAI DENGAN KEMAMPUAN LARI JARAK 100 METER PADA SISWA PUTRA KELAS VIII SMP NEGERI 17 PALEMBANG Skripsi Oleh : MUHAMMAD JULKANI Nomor Induk Mahasiswa 06101406005

Lebih terperinci

SKRIPSI PENYERTAAN MODAL SEMENTARA OLEH BANK DALAM RESTRUKTURISASI KREDIT PADA PERUSAHAAN DEBITOR YANG BERBENTUK PERSEROAN TERBATAS

SKRIPSI PENYERTAAN MODAL SEMENTARA OLEH BANK DALAM RESTRUKTURISASI KREDIT PADA PERUSAHAAN DEBITOR YANG BERBENTUK PERSEROAN TERBATAS SKRIPSI PENYERTAAN MODAL SEMENTARA OLEH BANK DALAM RESTRUKTURISASI KREDIT PADA PERUSAHAAN DEBITOR YANG BERBENTUK PERSEROAN TERBATAS DEBT TO EQUITY SWAPED BY BANK IN RESTRUCTURIZE CREDIT ON A DEBITOR COMPANY

Lebih terperinci

Sosialisasi Perubahan Peraturan Bapepam LK Yang TerkaitDengan Reksa Dana Pasar Uang. Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) November 2012

Sosialisasi Perubahan Peraturan Bapepam LK Yang TerkaitDengan Reksa Dana Pasar Uang. Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) November 2012 Sosialisasi Perubahan Peraturan Bapepam LK Yang TerkaitDengan Reksa Dana Pasar Uang Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) November 2012 POKOK-POKOK PENYEMPURNAAN IV.C.3 IV.C.3 : Pedoman Pengumuman

Lebih terperinci

PENGARUH MANAJEMEN LABA TERHADAP RETURN SAHAM DENGAN KECERDASAN INVESTOR SEBAGAI VARIABEL MODERATING

PENGARUH MANAJEMEN LABA TERHADAP RETURN SAHAM DENGAN KECERDASAN INVESTOR SEBAGAI VARIABEL MODERATING PENGARUH MANAJEMEN LABA TERHADAP RETURN SAHAM DENGAN KECERDASAN INVESTOR SEBAGAI VARIABEL MODERATING (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2004-2008)

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. pendapatan pajak, bea cukai, BUMN, dan Migas, pariwisata juga menjadi andalan. Kayu olahan 3.3% Karet olahan 9.0%

I. PENDAHULUAN. pendapatan pajak, bea cukai, BUMN, dan Migas, pariwisata juga menjadi andalan. Kayu olahan 3.3% Karet olahan 9.0% I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pariwisata memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia, baik sebagai salah satu sumber penerimaan devisa maupun penciptaan lapangan kerja serta kesempatan

Lebih terperinci