BAB II KERANGKA TEORISASI

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB II KERANGKA TEORISASI"

Transkripsi

1 BAB II KERANGKA TEORISASI A. Pendekatan Pendidikan Sosial Peningkatan Kualitas SDM 1. Pendekatan Pendidikan Sosial Istilah Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial menurut Muhammad Nu'man Somantri dalam makalah yang berjudul Penelusuran Filsafat Ilmu Tentang PIPS dan Kaitan Struktural Fungsionalnya Dengan Disiplin Ilmu-Ilmu Sosial pada Forum Komunikasi IV Pimpinan FPIPS-IKIP dan Jurusan Pendidikan IPS- FKIP Universitas di Ujung Pandang ( 1993 ) mengemukakan bahwa dalam " nomenclature filsafat ilmu, disiplin ilmu-ilmu sosial, dan ilmu pendidikan, kita belum menemukan sub-sub disiplin ilmu yang diberi nama " Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial " ( PIPS ) yang dalam kepustakaan SSEC dan NCSS di sebut " Social Science Education dail Sooi.ftl Studies Istilah Studi Sosial atau Pendidikan Sosial muncul sebagai sebutan bagi pendidikan ilmu-ilmu sosial sebagai terjemahan dari " Social Studies " yang telah lama digunakan di Amerika Serikat untuk mata pelajaran pada kurikulum sekolah. Di Indonesia diperkenalkan pendidikan sosial sejak tahun 1971 pada Seminar Nasional Civics Education di Tawangmangu - Solo ( Panitia Seminar Civics Education ). Didasari hasil survai pelajaran ilmu-ilmu sosial pada tahun 1969, dan kemudian disusul, dengan munculnya naskah yang berjudul " Tantangan Dalam Pengajaran Ilmu Sosial " yang ditulis oleh Hartshorn dan Nu'man Somantri ( Suwarma Al Muchtar, 1991 : 48 ). Penggunaan istilah " studi sosial ", kendatipun tidak dijadikan nama bagi pendidikan IPS, namun terus berkembang sebagai sebutan dalam pembaharuan pendidikan IPS, yang secara operasional lebih berperan sebagai " pendekatan dalam pengembangan kurikulum " pendidikan IPS. Implikasi dari studi sosial sebagai terjemahan dari " social studies " dijadikan acuan teoritik dalam pengembangan pendidikan IPS di Indonesia. Beberapa istilah yang digunakan dalam pendidikan IPS antara lain menurut Gross dan Zeleny adalah Civics. Ciyjcs m

2 Education. Sedangkan menurut Wesley Soclal Studles- Social Sciences dan Sosial Educatlon. sering digunakan secara bergantian, " Soclal Sciences " sebagai organisasi dari bodles of knowledge " mengenai hubungan antar manusia. Begitu pula Marsh dan Print menggunakan " Soclal Sciences " untuk kelompok mata pelajaran sosial dalam kurikulum sekolah ( Suwarma Al Muchtar : 1991 )- Sedangkan istilah " social studles " menurut Barr, Barth dan Shermis ( 1977 ) adalah sebagai integrasi dari ilmu-ilmu sosial dan humanitis untuk kepentingan pendidikan kewargaan negara (" citizenshlp education "), sehingga model " soclal studles " sebagal soclal sclence, citizenshlp education, dan reflective inguiry ". Dihubungkan dengan pendekatan pendidikan sosial dalam rangka fokus penelitian ini, tentunya mempunyai kontekstual terhadap " soclal studies & citizenship education Pendidikan sosial sebagai intergrasi atau totalitas transformasi dan internalisasi nilai pengetahuan, sikap dan pengalaman dalam rangka hubungan manusia bagi kepentingan tujuan pendidikan warga negara. Adapun tujuan yang dikehendaki dari " soclal studles " bagi " citizenshlp education " untuk memperoleh efektivitas pengetahuan, sikap, kepercayaan dan keterampilan yang dibutuhkan melalui proses transformasi nilai guna menumbuhkan partisipasi sosial bagi perubahan sosial. 2. Pendidikan Untuk Perubahan Sosial Menuju SDM Salah satu karakteristik utama kebanyakan negara berkembang adalah komitmen dan konsisten terhadap pembangunan nasional. Pembangunan Nasional pada prinsipnya merupakan perubahan sosial yang besar dari satu situasi ke situasi lain yang lebih bernilai, dari statis ke dinamis, dari masyarakat tradisional menuju mansyarakat industri atau modern. Pembangunan sebagai proses perubahan yang terencana dalam rangka perbaikan tingkat kehidupan dan kesejahteraan masyarakat bersifat multidisipliner, komprehensif dan integral yang berakar pada suatu konfigurasi lingkungan sosial budaya. 31

3 Perubahan sosial yang diwarnai oleh dinamika perilaku masyarakat tidak dapat dipisahkan dari sistem sosial, baik yang bersumber dari faktor internal maupun eksternal sistem sosial. Perubahan sosial terjadi dalam sistem sosial harus memenuhi persyaratan fungsional, yaitu " adaptation " ( penyesuaian diri )» " goal attainment " ( mencapai tujuan ), " integration ( integrasi ), dan " latent maintenance " ( pemeliharaan pola ) dalam kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Mengingat masyarakat terdiri dari subsistem budaya, subsistem sosial dan subsistem kepribadian berupa individu-individu. Sistem budaya berisi nilai-nilai, norma-noram, pengetahuan dan kepercayaan atau keyakinan hidup yang dianut bersama ( " shared "). Dalam sistem sosial terdapat struktur peran yaitu perilaku yang diharapakan dan dilakukan seseorang sesuai dengan status sosialnya ( " Hfllfi ftypactation " ). Sedangkan sistem kepribadian, setiap individu memiliki keperluan yang lahir atau dibentuk saat berlangsungnya proses sosialisasi bagi dirinya ( Parson dalam Sudardja Adiwikarta, 1988 ). Sistem sosial merupakan salah satu wujud dari kebudayaan, disamping wujud idiil dan fisik, sehingga sistem sosial bersifat kompleks. Sifat komplek dari sistem sosial, karena mencerminkan aktivitas pola perilaku dari setiap individu berdasarkan struktur, norma, nilai, kepercayaan dan lain sebagainya dalam masyarakat. Sistem sosial budaya menurut komponennya dapat membentuk yaitu : keluarga, ekonomi, pemerintahan, agama, pendidikan dan kelas atau lapisan masyarakat. Komponen-komponen tersebut dapat dipengaruhi oleh : a). Ekologi r tempat dan geografi dimana masyarakat berada; b). Demografi. menyangkut populasi, susunan penduduk dan ciri-ciri penduduknya ; c). Kebudayaan. menyangkut nilai-nilai sosial, sistem kepercayaan, dan norma-norma dalam masyarakat ; d). Kepribadian, meliputi sikap mental, semangat, temperamen dan ciri-ciri psikologis masyarakat ; e). Haktll, sejarah dan latar belakang masa lampau masyarakat tersebut ( Slamet Margono, 1985 ). 32

4 Gambar. II.1. MASYARAKAT SEBAGAI SISTEM SOSIAL I Waktu i Keluarga B/ ^ II C. Kebudayaan - III Demografi Keterangan : Lapisan Masyarakat -> Interaksi, interelasi dan interdependesl => Kekuatan mempengaruhi ke semua arah Ferdinan Toennies ( dalam Slamet Margono, 1986 ) suatu masyarakat dapat mengalami fase." Gemeinsphaft " atau fase Gesseleschaft ". Sifat dari masyarakat " Gemeinschaft adanya keterikatan yang bersifat emosional dibandingkan dengan 2. Gesselschaft " yang bersifat rasional. Masyarakat Gemeinschaft " biasanya lebih berorientasi ke masa silam bersikap fatalistik dan dogmatik. Sebaliknya masyarakat "GesselBchaft " lebih beroirentasi ke masa depan dan bersifat obyektif. Sedangkan Durhkeim mengatakan bahwa adanya proses perubahan sosial disebabkan oleh solidaritas mekanik dan solidaritas organik. Solidaritas mekanik, manusia dilahirkan dalam lingkungan sosialnya yang akan membentuk ikatan emosional. Bentuk perubahan sosial atas dasar solidaritas organik, manusia sebagai alat untuk mencapai tujuan. Smelser ( Etziona, 1974 ) berpendapat bahwa terdapat hubungan erat antara ekonomi dengan perubahan struktur sosial, karena sistem ekonomi memerlukan dan dilandasi oleh suatu struktur masyarakat tertentu. Dengan perkataan lain setiap struktur sosial merupakan ekologi dari bentuk sistem ekonomi 33

5 sekaligus bersifat pengadaan struktur sosial baru yang menunjangnya. Pendekatan semacam ini adanya " adaptasi " dan keharusan " instrumen teknologi sebagai pengganti tenaga manusia telah merubah struktur sosial masyarakat. Heilbron ( Slamet Margono, 1986 ) sebaliknya mempunyai pemikiran bahwa struktur sosial yang tepat dari suatu masyarakat harus menunjang sistem ekonomi agar berfungsi dengan baik. Unsur yang ikut menentukan adalah peran individu dalam masyarakat, spesialisasi pekerjaan dan kesempatan kerja yang merata serta meningkat, keterbatasan sumber daya manusia melalui pendidikan dan keterampilan, maupun sistem organisasi ekonomi yang menunjang. Sepaham dengan Chodak dan Ekeh ( Astrid S. Susanto, 1984 ), terjadinya perubahan sosial menuju modernisasi dan industrialisasi unsur pertukaran sosial ( " social change " ) timbul sebagai akibat diversifikasi dan spesialisasi pekerjaan yang biasanya menginginkan sikap demokratis dan adanya sikap timbal balik dalam hubungan antar manusia. Sejak dekade tahun 1980 kehidupan dunia ditandai oleh adanya krisis dehumanisasi kemiskinan, kerusakan sistem lingkungan dan struktur sosial sebagai implikasi dari perang nuklir. Pada dekade tahun 1990 dan menjelang abad ke 21 merupakan periode " human soclety " atau periode karakteristik perjuangan kelangsungan hidup, yang ditandai oleh gejala globalisasi dan arus informasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam perubahan masyarakat seperti ini memerlukan strategi pembangunan yang berwawasan sosial, tekanan upaya pertumbuhan selama ini memerlukan perombakan strategi pada transformasi pembangunan sosial yang memperhatikan kapabilitas institusi / kelembagaan, ilmu pengetahuan dan teknologi, nilai, sikap dan perilaku manusia yang konsisten dengan lingkungan dan realita sosial. Strategi transformasi sosial tersebut dilandasi tiga kebutuhan dasar globalisasi sosial berupa " Justlce, Sustainabllity and Inci vs i veness " { David C. Korten, 1989 ). Berkenaan dengan asumsi dasar di atas, menunjukkan bahwa perubahan sosial biasanya mempunyai akses terhadap kemampuan institusi pemerintah dan institusi sosial dalam proses 34

6 perubahan struktur, perilaku, nilai dalam lingkungan sosial untuk mengantisipasi krisis pertumbuhan penduduk, kemiskinan, kebodohan, dan pertumbuhan ekonomi. Masalah kemiskinan, keterbelakangan dan kebodohan masyarakat, khususnya masyarakat pedesaan dipengaruhi oleh faktor sumber daya manusia, sumber daya alam, teknologi, lapangan kerja, permodalan dan kelembagaan yang saling keterkaitan dan ketergantungan satu sama lain yang bersifat ekonomi, politik,sosial dan budaya. Perubahan sosial mempunyai relevansi dengan perubahan ekonomi, politik, kebudayaan, termasuk ilmu pengetahuan dan tekonologi melalui proses pendidikan secara timbal balik. Pendidikan dapat mempercepat perubahan teknologi, sosial, ekonomi, politik dan budaya. Perubahan pendidikan masyarakat menghasilkan perubahan sosial diberbagai aspek dengan aneka ragam perubahan yang terjadi dalam masyarakat. Perubahan sosial yang demikian melalui fase inovasi, difusi, dan konsekuensi nilai yang direncanakan atau tidak, evolusi dan revolusi maupun internal sistem maupun eksternal sistem sosial.konsepsi Basil dan Cook ( Slamet Margono : 1986 ) menggambarkan bentuk mekanisme perubahan sosial yang disebabkan oleh transformasi pendidikan dan teknologi kepada masyarakat sehingga terdapat hubungan kontributor sosio-ekonomi utama dalam pertumbhan nasional adalah sebagai berikut : Gambar III.2. PENDIDIKAN DAN TEKNOLOGI DALAM PERUBAHAN SOSIAL * Tata Nilai * Aspirasi * Kerangka Kelembagaan * Masyarakat 35

7 Keunggulan bidang pendidikan dalam berbagai jenjang, jenis dan jalur pendidikan akan memberi kontribusi terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai investasi bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam perubahan sosial. Pertanda meningkatnya kualitas manusia diiringi dengan produktivitas kerja, profesional, etos kerja maupun kemandirian dalam proses peningkatan kesej ahteraannya. Dalam dinamika proses berlangsungnya hubungan kontributor tersebut, dipengaruhi oleh sistem tata nilai, aspirasi serta kerangka kelembagaan masyarakat pada waktu berlangsungnya proses perubahan sosial. Perubahan sosial dapat dilihat pula melalui perubahan dalam distribusi status masyarakat dan perubahan dalam peran-peran yang mencakup hak dan kewajiban, serta perubahan dalam norma antar warga dengan masyarakat, perubahan seperti ini lebih konsisten pada perubahan sosial budaya. Pendidikan sebagai sistem nilai dan kepercayaan, pengetahuan, norma serta adat kebiasaan serta berbagai perilaku yang telah membudaya untuk diwariskan melalui proses sosialisasi dari satu generasi kegenerasi berikutnya. Dalam proses regenerasi terdapat dua peran pendidikan dalam perubahan sosial, yaitu : pertama, pendidikan berperanan dalam upaya mewariskan kebudayaan dan sistem sosial; dan kedua peranan pendidikan sebagai pembawa atau pelaku perubahan masyarakat atau " agen t of ch&nge ". Kedua, peranan pendidikan tersebut dalam rangka perubahan yang cepat, biasanya dikaitkan dengan teknologi, karena penerapan teknologi merupakan sumber utama perubahan sosial bila dibandingkan dengan aspek perubahan mental dan rohani. Apabila tidak seimbang antara penerapan teknologi dengan aspek kehidupan mental dan rohani dalam proses perubahan sosial, bentuk seperti ini biasanya dapat menimbulkan " cul tur e lag ". Peranan pendidikan sebagai salah satu unsur dinamika sosial mempunyai kontribusi terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia dan masyarakat. Hal ini seperti dikemukakan oleh C. Arnold dalam Wiener dikutip Soepardjo Adikusumo, dkk ( 1992 ) terdapat hubungan antara perubahan sosial, modernisasi 36

8 dengan peranan pendidikan dalam rangka " empowerment sehubungan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pernyataan tersebut tegasnya dikatakan sebagai : Modernlzation and social change can be achieved only by improving and extending educatlon. Why do the leader of developing countries put so much emphasis on the point? First, you much have education before you can obtain technologlcal and economic progress. To boot food production, to operate factories, to apply science for Improvement of life, or to trade in world markets, acountry has t o have a large group o f well-trained people. Scound to unity a collectlon of people and tribes into nation, you also need education. Man cannot understand the i r fellow citlzens and widen their loyalitles beyond the vallage i f they cannot communicate...third. a political state in modern world can survive only i f its officials can coordlnate administration over large areas... A people has t o learn how t o behave so that there can be an effectlve modern state and society...finally. since schools have important political purposes, we should point out that pupils a indoctrinated ". Fungsi, peranan dan kedudukan pendidikan dalam proses transformasi sosial dalam rangka modernisasi melalui berbagai program pembangunan sosial, terutama peningkatan kualitas manusia sebagai mahluk pribadi, Tuhan dan sosial sangat strategis dan menyeluruh. Modernisasi yang menimbulkan perubahan sosial tidak akan berlangsung tanpa didukung dengan sumber daya manusia yang terdidik. Untuk menggalang tenaga manusia, merebut teknologi, menertibkan administrasi, mengembangkan industri, membangun pabrik, mendayagunakan sumber daya alam dan lain sebagainya, kesemuanya membutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Peter Ranis dalam Jan Knippers Black ( 1990 : 8 ) menjelaskan bahwa karakteristik proses perubahan sosial pada 37

9 negara berkembang di Asia, Amerika Latin dan Afrika menuju modernisasi yang terencana dalam rangka dehumanisasi Jl mengandung aspek rasionalisasi ilmu pengetahuan dan teknologi; orientasi individu yang mempunyai kepentingan bersama; orientasi konsumtif; mobilisasi kehidupan perkotaan; partisipasi yang disebabkan oleh mobilisasi dan kemampuan organisasi dalam memperjuangkan kepentingan individu dan kelompok; integrasi sosial; dan perluasan kesempatan dan perluasan pendidikan dan minat baca masyarakat yang tinggi. Hal ini mendukung hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Daniel Lerner di Timur Tengar tahun bahwa perubahan sosial terjadi akibat fungsi individu dalam sikap dan perilaku dalam pola tradisional ke pola modernisasi baik adanya diferensiasi struktur dan fungsi sosial, redistribusi pendapatan dan suasana demokrasi yang didukung oleh kemampuan masyarakat dalam aktivitas pendidikan, saluran media masa, kemampuan minat baca dan partisipasi masa yang terorganisir. Kesemuanya ini dinamakan memudarnya masyarakat tradisional menuju modernitas melalui perubahan sosial atau passing in the tradisional society ". Terdapat indikator yang sangat kuat adanya fungsi pemberdayaan atau " empowerment masyarakat dalam perubahan sosial ekonomi melalui pendidikan terutama bagi masyarakat tradisional. Pemberdayaan merupakan strategi pendidikan yang umumnya diterapkan dalam upaya pemerataan, relevansi dan tujuan pendidikan tingkat masyarakat di pedesaan untuk menghubungkan modernisasi dan pembangunan, dengan tujuan mendukung " Gross National Product " dan " Rate o f Growth " untuk kemajuan sosial ekonomi dan peningkatan kualitas hidup yang dikembangkan tahun Alasannya pendidikan bagi masyarakat dalam rangka perubahan dan dinamika sosial adalah : adanya energi sosial untuk ditingkatkan kualitasnya bagi tujuan sosial ekonomi, t pengembangan pendidikan yang relevan dengan dunia kerja dan bisnis, sikap dan perilaku inidividu secara kerjasama dan integrasi merupakan bentuk kelangsungan budaya, pendidikan 38

10 merupakan akar pembangunan dan kekuasaan sentral dalam kehidupan maupun elit yang berkuasa harus konsern terhadap pemberdayaan sebagai perwujudan dari " nature collective or communal ". Terdapat relevansi antara pendidikan dan pembangunan melalui perubahan sosial pada negara-negara berkembang dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia sebagai potensi utama pembangunan- Indonesia sebagai negara berkembang secara konsisten telah melaksanakan pembangunan sejak orde baru lahir melalui Pelita I sampai V. Pada Pelita VI ditandai dengan era PJP II, lebih menitik beratkan dan menegaskan ulang relevansi tersebut, sehingga menjadi akses dalam GBHN tahun 1993/ /89 bahwa adanya kecenderungan kuat antara pendidikan dan kebutuhan pembangunan dalam rangka perubahan sosial melalui strategi " Link and Match " yang ditandai oleh : Pertama. Semakin tingginya tuntutan dunia kerja sejalan dengan pembangunan baik kuantitatif maupun kualitatif ; Kedua, Perubahan dalam struktur dan persyaratan dunia kerja yang semakin kompetitif dan mengandalkan keahlian dalam suatu bidang tertentu, tanpa mengabaikan wawasan dan pengetahuan secara interdisipliner ; Ketiga, Kecenderungan umum dalam dunia pendidikan adanya perubahan cara berpikir yang menyangkut pengetahuan, sikap, kemauan, dan keterampilam yang fungsional bagi kehidupan sebagai pribadi, warga negara, dan warga masyarakat. Keempat. Semakin populernya konsep pengembangan sumber daya manusia dan pendidikan dipandang upaya kuat untuk pengembangan sumber daya yang berkualitas ( Z. A. Achmady dkk, 1994 : 26 ). Pengembangan sumber daya manusia mengimplikasikan pentingnya makna pendidikan sebagai wahana dan intrumen untuk pembangunan dan perubahan sosial. Bahkan sekaligus dipandang sebagai investasi sumber daya manusia atau " human investment 2 dimasa mendatang. Pentingnya pembangunan pendidikan bagi 39

11 manusia dan masyarakat dalam pembangunan atau perubahan sosial bagi peningkatan sumber daya manusia menjadi pusat perhatian negara berkembang ( Asia, Afrika dan Amerika Latin ), melalui pendidikan formal, informal dan terutama sekali non formal bagi masyarakat miskin di pedesaan ( Philip Coombs : 1984 ). Konsep dasar sumber daya manusia bersumber pada kodrat manusia sebagai mahluk Tuhan, individu dan sosial. Citra manusia Indonesia masa depan, secara ideologis~filosofis telah dirumuskan dalam Eka Prasetia Panca Karsa. Namun demikian secara operasional masih perlu dijabarkan ke dalam kehidupan keseharian secara nyata, kreatif dan dinamis, disesuaikan dengan keadaan masyarakat baik secara vertikal maupun horizontal " Pancasila lu Aotlon ". Salah satu upaya mendasarnya yaitu disesusaikkan dengan kodrat manusia, baik sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa, sosial maupun pribadi dalam struktur kebudayaan ( Pidato Presiden Soeharto dalam Dialog Utara-Selatan dan Selatan-Selatan, 1993 ). 1). Manusia sebagai mahluk Tuhan Xailg Maha Esa, bahwa manusia masa depan memiliki hak dan kewajiban yang sama sebagai warga negara, sekalipun secara kenyataan bisa berbeda, minimal sesuai dengan tugas-tugas perkembangannya. Ia seyogyanya memiliki budaya utama sebagai dasar ketahanan nasional. Dalam hal ini berawal dari kebersihan fisik dan rokhani yang menampilkan manusia yang sehat. Lebih lanjut ia harus menghayati dan mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila, disiplin dan jujur dalam melaksanakan peraturan dan undang-undang yang berlaku, hidup berwawasan jauh kedepan seperti digariskan dalam GBHN, memiliki pengetahuan dasar yang memadai dan berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Semuanya itu merupakan dasar manusia dalam kehidupan yang berintikan moral Pancasila ( P ) yang seharusnya dimiliki setiap orang Indonesia sesuai dengan tingkat perkembangannya, termasuk masyarakat atau penduduk misikin pada desa tertinggal. 2). Manusia sebagai makhluk sosial. ia tak dapat melepaskan diri dari manusia lain. Ia selayaknya memiliki budaya 40

12 profesi yang dilandasi ilmu pengetahuan dan teknologi baik yang bersifat teknologi tepatguna maupun teknologi tinggi. Kebudayaan ini sebagai dasar upajiwa atau pencaharian untuk mendapatkan nafkah secara ekonomik, minimal untuk dirinya sendiri dan berangsur-angsur untuk orang lain. kemampuan ini selayaknya ditanamkan sedini mungkin baik melalui semangat belajar dan semangat bekerja yang dijiwai oleh etos dan budaya " yang berlangsung sepanj ang hayat. Sehubungan dengan pekerjaan,ia mempunyai kemauan dan kemampuan bekerja di orang lain, terutama bekerja bagi dirinya sendiri serta akan lebih baik apabila dapat memberikan pekerjaan kepada orang lain. Etos dan budaya kerja yang didukung dengan kemauan belajar setiap individu anggota masyarakat Indonesia, sangat mutlak diperlukan dalam menghadapi era globalisasi dewasa ini. Salah satu karakteristik kerja yang dapat mengentaskan kemiskinan dan memberantas pengangguran, setiap individu anggota masyarakat dengan dilandasi kemampuan pendidikan upajiwa kewiraswastaan atau keterampilan ekonomik untuk dapat mengembangkan kandungan potensi sumber daya alam setempat atau kandungan lokal. Misalnya masyarakat Bali dengan keterampilan untuk kerajinan ukiran dan seni, masyarakat Tasikmalaya dengan kerajinannya dan berdagang, masyarakat Padang dengan restorannya dsb. Kemampuan budaya semacam itu, sudah barang tentu setiap orang dilandasi dengan minat, keterampilan, kemahiran dan ahli sesuai dengan profesinya yang berlaku bagi kelompok masyarakat tertentu ( petani, pendidik, pedagang, pengrajin, dokter dan lain-lain ) memiliki etika sesuai dengan pengalaman, ilmu pengetahuan dan teknologi yang dipelihara dan dikembangkan sesuai dengan tatakrama kerja. Kemampuan semacam ini manusia dituntut untuk mempunyai ilmu pengetahuan dan teknologi ( IT ) sebagai dasar kehidupannya. Manusia sebagai makhluk individu, manusia memiliki keunikan sendiri yang sangat khusus dan berusaha untuk meningkatkan 41

13 sesuatu sebaik dan seindah mungkin sesuai dengan kodratnya karena ia diciptakan Tuhan Yang Maha Esa maklhuk yang paling sempurna dan indah. Budaya seperti ini disebut budaya pribadi dalam bentuk seni hidup yang bersifat kreatif dan inovatif sesuai dengan kemampuan pribadinya. Kemampuan ini sangat realistik yang dimilikinya, sehingga tak dapat menanggalkan kemampuan seni ( S ) baik sebagai pelengkap budaya utama maupun budaya profesi. Ketiga nilai budaya bagi pembentukan manusia yang berkualitas adalah manusia yang dituntut untuk memiliki moral Pancasila ( P ), memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi ( IT ) dan seni hidup yang indah, kreatif dan inovatif ( S ). Tanpa kecuali bagi penduduk miskin pada desa tertinggal. Untuk membekali manusia yang syarat terhadap sumber daya yang berkualitas dari ketiga dimensi ( PITS ) tersebut, perlu membekali atau menyiapkan melalui upaya yang simultan dengan wahana utama " pembangunan pendidikan ". Begitu pula dikemukakan oleh Ginandjar Kartasasmita dalam makalahnya pada Seminar Kebijaksanaan Pendidikan, Pengembangan IPTEK dan Transformasi Sosial dalam rangka Dies Natalis UGM pada Bulan Desember 1994, bahwa penyiapan SDM dalam PJPT II mangacu pada konsep dasar dari manusia yang terdiri dari tiga komponen yaitu jasmani, akal dan kalbu. Sumber daya manusia adalah segenap potensi jasmani,akal dan kalbu yang satu sama lain mendukung dan dapat didayagunakan manusia untuk melakukan berbagai kegiatan guna mencapai tujuan hidupnya. Kualitas SDM sangat ditentukan oleh kualitas jasmani, akal dan kalbu. Kualitas jasmani diukur dengan derajat kesehatan. Kualitas akal diukur dengan derajat kecerdasan dan penguasaan ilmu pengetahuan serta kemampuan berpikir. Kualitas kalbu diukur dengan keimanan dan ketagwaan, budi pekerti, moral dan akhlak serta kepedulian dan kepekaan sosial. Oleh karena itu, SDM yang berkualitas manusia yang sehat jasmani, cerdas, berilmu pengetahuan luas berdaya pikir sehingga mampu menerapkan, menguasai dan mengembangkan iptek guna kemaslahatan umat manusia, beriman dan bertagwa kepada 42

14 Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, bermoral dan berakhlak mulya, selalu condong dan berpihak kepada keadilan dan kebenaran, berkepribadian serta mempunyai kepedulian dan kepekaan sosial sehingga memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan, kebangsaan dan kemanusiaan yang tinggi. Manusia seperti itu manusia pembangunan yang efektif yang berguna bagi dirinya, keluarga dan masyarakat. Untuk mewujudkan kualitas SDM tersebut faktor pendidikan sangat penting, terutama bagi penduduk miskin, karena gejala kemiskinan pada desa tertinggal ditandai oleh kurangnya atau tidak memiliki pendidikan. Oleh karena itu, pengembangan sumber daya manusia melalui pembangunan pendidikan ( formal, informal dan non formal ) yang dirumuskan dalam kebijaksanan dibidang pendidikan yang berakses pada : a). Pemerataan kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang mengandung makna terhadap : (1) kesempatan (" eaualltv of. opportunltv (2) aksesibilitas ( " anesibilitv " ) dan (3) keadilan dan kewajaran ( " eouitv " ). b). Relevansi pendidikan yang erat kaitannya perubahan nilai yang didasari oleh kebutuhan iman, taqwa, iptek atau budaya dengan kebutuhan sektor dan program pembangunan. c). Kualitas proses dan produk pendidikan untuk menciptakan sumber daya manusia bagi kepentingan pembangunan. d). Efisiensi pendidikan yang erat kaitannya dengan tujuan pendidikan baik secara makro maupun mikro. 3. Sasaran Perubahan SDM dan Masyarakat Perubahan sosial dapat terjadi secara evolusioner maupun direncanakan. Perubahan sosial yang evolusioner biasanya lambat, monoton dan diiringi dengan sifat statis, karena terjadinya lebih berpusat pada pengaruh dari dalam sistem sosial. Perubahan sosial yang direncanakan, biasanya pengaruh luar sistem sosial sangat dominan dan menentukan terhadap perubahan sikap, kepribadian, keyakinan, motivasi maupun kebiasaan serta pengetahuan yang bermanfaat bagi perubahan nilai budayanya. 43

15 Dalam perubahan sosial dapat dilakukan melalui berbagai usaha pendekatan bagi percepatan yang diinginkan bagi proses pembangunan secara substansial. Salah satu yang perlu diperhatikan dalam sistem sosial, karena dalam masyarakat terdiri dari individu, kelompok dan organisasi, komunitas tertentu dan masyarakat maka pendekatan halayak sasaran dalam proses perubahan sosial perlu diperhatikan ( Noeng Muhadjir, Long et.al, Kunto dalam Slamet Margono, 1985 ). a. Sasaran Perubahan Sosial SDM Pada Individu Untuk melakukan perubahan individu dalam masyarakat dapat dilakukan model perubahan individu ( " change mau strateev " ) ataupun pendekatan perubahan mandiri (" self-help apprnanh " ). Model pendekatan tersebut beraneka ragam mencakup antara lain sebagai berikut : 1. Model perubahan kebiasaan individu dari Goodenough ( 1970 ), yang menekankan kerjasama antara agen pembaharu dengan warga masyarakat agar terjadi perubahan kebiasaan, sehingga dapat diadakan perubahan lingkungan masyarakat. Agen Pembaharu < > Warga Masyarakat Kerjasama 2. Model perubahan tingkah laku dari Kuenkel (1947),menekankan pada terciptanya proses belajar yang dilakukan oleh pemerintah/pendidik/penyuluh/fasilitator dalam konteks sosial agar terjadi perubahan tingkah laku individu anggota masyarakat. Pemerintah/ Pendidik/ Pembina/ > Anggota Masyarakat Penyuluh/ Proses Pendidikan Fasilitator < 3. Model reformasi dari Neihoff ( 1946 ), beranjak adanya gagasan, ide atau rencana yang diperkenalkan oleh pembawa inovasi kepada warga masyarakat, sehingga dari interaksi tersebut terjadi integrasi baru. 44

16 Inovantor > Gagasan > Masyarakat Integrasi Baru < 4. Model orientasi proses dari Batten ( 1956 ), menekankan pent ingnya perubahan sikap dan t ingkah laku manus ia sehingga pada gilirannya menggugah partisipasi warga masyarakat untuk melaksanakan pembaharuan. Perubahan sikap dan tingkah laku melalui hasil proses pendidikan dan pengorganisasian sebagai wujud dari hasil kerjasama antara pekerja sosial dengan warga masyarakat. 5. Model pemanfaatan serentak arus komunikasi Jenjang tunggal dan jenjang ganda. Model ini diadaptasikan sekaligus pada struktur sosial yang paternalistik dan mengkondisi tumbuhnya kehidupan yang lebih demokratis. Arus komunikasi jenjang tunggal dipakai untuk memperluas dan mempercepat jangkauan informasi tanpa reduksi. Sedangkan arus komunikasi jenjang ganda dipakai untuk menumbuhkan pemahaman, implementasi, implikasi dan menumbuhkan kemampuan untuk mengambil keputusan. Berbagai model tersebut menunjukkan bahwa dalam peningkatan kualitas individu merupakan proses transformasi nilai-nilai pengetahuan, keterampilan dan sikap melalui sarana pendidikan. Dalam prosesnya bersifat " Learning prooess berupa informasi, gagasan, ide dan bentuk nilai lainnya baik yang bersifat abstrak ( konsep nilai ) maupun konkrit ( pengalaman dan pengetahuan riil ). Tegasnya seperti dikemukakan John Deway, Lewin, Piaget ( Lois Lamdin : 1991 > bahwa pendidikan merupakan suatu proses transformasi, dialektik dan analisis yang terintegrasi dari nilai " abstraction and experience " secara terus menerus dalam kehidupan manusia sebagai mahluk Tuhan, peribadi dan sosial. Begitupula dalam rangka pembangunan sosial untuk menumbuhkan partisipasi individu anggota masyarakat, tidak terlepas dari kesadaran dan tanggung jawabnya untuk memikul beban pembangunan terutama perannya selaku subyek dari pada sebagai obyek pembangunan di desa. Aspek sikap, kesadaran dan tanggung jawab individu anggota masyarakat dalam proses 45

Latar Belakang Diselenggarakannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Lifeskills) 1/5

Latar Belakang Diselenggarakannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Lifeskills) 1/5 Latar Belakang Diselenggarakannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Lifeskills) 1/5 Latar Belakang Diselenggarakannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Lifeskills) Bagian I (dari 5 bagian) Oleh, Dadang Yunus L, S.Pd.

Lebih terperinci

STRATEGI PEMBINAAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SEKOLAH ** Oleh : Nurhayati Djamas

STRATEGI PEMBINAAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SEKOLAH ** Oleh : Nurhayati Djamas STRATEGI PEMBINAAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SEKOLAH ** Oleh : Nurhayati Djamas Latar Belakang 1. Dalam Undang-undang No. 20 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional ditetapkan, bahwa pendidikan nasional

Lebih terperinci

VISI MISI KABUPATEN KUDUS TAHUN

VISI MISI KABUPATEN KUDUS TAHUN VISI MISI KABUPATEN KUDUS TAHUN 2013 2018 Visi Terwujudnya Kudus Yang Semakin Sejahtera Visi tersebut mengandung kata kunci yang dapat diuraikan sebagai berikut: Semakin sejahtera mengandung makna lebih

Lebih terperinci

Kondisi Ekonomi Pembangunan di Indonesia. Oleh Ruly Wiliandri, SE., MM

Kondisi Ekonomi Pembangunan di Indonesia. Oleh Ruly Wiliandri, SE., MM Kondisi Ekonomi Pembangunan di Indonesia Oleh Ruly Wiliandri, SE., MM Permasalahan Pembangunan Ekonomi - Pendekatan perekonomian : Pendekatan Makro - Masalah dalam perekonomian : rendahnya pertumbuhan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat (1) yang

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat (1) yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat (1) yang dimaksud dengan pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. serta ketrampilan yang diperlukan oleh setiap orang. Dirumuskan dalam

BAB I PENDAHULUAN. serta ketrampilan yang diperlukan oleh setiap orang. Dirumuskan dalam 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan manusia seutuhnya bertujuan agar individu dapat mengekspresikan dan mengaktualisasi diri dengan mengembangkan secara optimal dimensi-dimensi kepribadian

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. A. Ketergantungan Melemahkan Kemandirian. koran Kompas edisi 18 September 2007, bahwa setelah

BAB II KAJIAN TEORI. A. Ketergantungan Melemahkan Kemandirian. koran Kompas edisi 18 September 2007, bahwa setelah BAB II KAJIAN TEORI A. Ketergantungan Melemahkan Kemandirian Pengembangan inovasi unggulan pertanian ini tidak sepenuhnya memberikan dampak positif bagi petani. Sebagaimana dikutip dalal cerita dalam koran

Lebih terperinci

MEWUJUDKAN MASYARAKAT KABUPATEN PASAMAN YANG MAJU, SEJAHTERA DAN BERMARTABAT

MEWUJUDKAN MASYARAKAT KABUPATEN PASAMAN YANG MAJU, SEJAHTERA DAN BERMARTABAT VISI DAN MISI I. Visi Pembangunan di Kabupaten Pasaman pada tahap ketiga RPJP Daerah atau RPJM Daerah Kabupaten Pasaman Tahun 2015-2020 menuntut perhatian lebih, tidak hanya untuk menghadapi permasalahan

Lebih terperinci

Konsep Dasar Ekonomi Pembangunan. Oleh Ruly Wiliandri, SE., MM

Konsep Dasar Ekonomi Pembangunan. Oleh Ruly Wiliandri, SE., MM Konsep Dasar Ekonomi Pembangunan Oleh Ruly Wiliandri, SE., MM Permasalahan Pembangunan Ekonomi - Pendekatan perekonomian : Pendekatan Makro - Masalah dalam perekonomian : rendahnya pertumbuhan ekonomi

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2009 TENTANG PERKEMBANGAN KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN KELUARGA

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2009 TENTANG PERKEMBANGAN KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN KELUARGA PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2009 TENTANG PERKEMBANGAN KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN KELUARGA I. UMUM Hakikat pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila dan Undang-Undang

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2009 TENTANG PERKEMBANGAN KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN KELUARGA

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2009 TENTANG PERKEMBANGAN KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN KELUARGA PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2009 TENTANG PERKEMBANGAN KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN KELUARGA I. UMUM Hakikat pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila dan Undang-Undang

Lebih terperinci

FILOSOFI KULIAH KERJA NYATA Oleh Prof. Dr. Deden Mulyana, SE., MSi.

FILOSOFI KULIAH KERJA NYATA Oleh Prof. Dr. Deden Mulyana, SE., MSi. FILOSOFI KULIAH KERJA NYATA Oleh Prof. Dr. Deden Mulyana, SE., MSi. Disampaikan Pada: DIKLAT KULIAH KERJA NYATA UNIVERSITAS SILIWANGI PERIODE II TAHUN AKADEMIK 2011/2012 FILOSOFI KULIAH KERJA NYATA Bagian

Lebih terperinci

Konsep Pengembangan Masyarakat (Community Development) 1

Konsep Pengembangan Masyarakat (Community Development) 1 1 Konsep Pengembangan Masyarakat (Community Development) 1 Pengembangan Masyarakat (Community Development) merupakan konsep yang berkembang sebagai tandingan (opponent) terhadap konsep negarakesejahteraan

Lebih terperinci

BAB III VISI, MISI, DAN ARAH PEMBANGUNAN DAERAH

BAB III VISI, MISI, DAN ARAH PEMBANGUNAN DAERAH BAB III VISI, MISI, DAN ARAH PEMBANGUNAN DAERAH III.1. VISI Visi merupakan gambaran masa depan yang ideal yang didambakan untuk diwujudkan. Ideal yang dimaksud memiliki makna lebih baik, lebih maju, dan

Lebih terperinci

13. Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu.

13. Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu. KOMPETENSI INTI 13. Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu. (PKn) Pengertian Mata PelajaranPendidikan Kewarganegaraan Berdasarkan UU Nomor

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh berbagai krisis yang melanda, maka tantangan dalam

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh berbagai krisis yang melanda, maka tantangan dalam 1 BAB I PENDAHULUAN Pada saat bangsa Indonesia menghadapi permasalahan komplek yang disebabkan oleh berbagai krisis yang melanda, maka tantangan dalam menghadapi era globalisasi yang bercirikan keterbukaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dinyatakan bahwa salah satu tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah mencerdaskan

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Strategi pembangunan daerah dirumuskan untuk menjalankan misi guna mendukung terwujudnya visi yang harapkan yaitu Menuju Surabaya Lebih Baik maka strategi dasar pembangunan

Lebih terperinci

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN 5.1. VISI Berdasarkan kondisi yang dihadapi Kabupaten Aceh Barat Daya serta permasalahan dan tantangan yang dihadapi dalam 5 (lima) tahun mendatang dengan memperhitungkan

Lebih terperinci

TERWUJUDNYAMASYARAKAT KABUPATEN PASAMAN YANGMAJU DAN BERKEADILAN

TERWUJUDNYAMASYARAKAT KABUPATEN PASAMAN YANGMAJU DAN BERKEADILAN TERWUJUDNYAMASYARAKAT KABUPATEN PASAMAN YANGMAJU DAN BERKEADILAN Untuk memberikan gambaran yang jelas pada visi tersebut, berikut ada 2 (dua) kalimat kunci yang perlu dijelaskan, sebagai berikut : Masyarakat

Lebih terperinci

A. Desentralisasi Memengaruhi Profesionalisme Guru

A. Desentralisasi Memengaruhi Profesionalisme Guru BAB I PENDAHULUAN A. Desentralisasi Memengaruhi Profesionalisme Guru Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Strategi pembangunan daerah dirumuskan untuk menjalankan misi guna mendukung terwujudnya visi yang harapkan yaitu Menuju Surabaya Lebih Baik maka strategi dasar pembangunan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah modal utama bagi suatu bangsa dalam upaya meningkatkan

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah modal utama bagi suatu bangsa dalam upaya meningkatkan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah modal utama bagi suatu bangsa dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dimilikinya. Sumber daya manusia yang berkualitas

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tata kelola yang baik (good governance) adalah suatu sistem manajemen pemerintah yang dapat merespon aspirasi masyarakat sekaligus meningkatkan kepercayaan kepada pemerintah

Lebih terperinci

Transformasi Paradigma Pembangunan Ekonomi

Transformasi Paradigma Pembangunan Ekonomi Oleh: Junaedi A. Pendahuluan Perkembangan pemikiran tentang pembangunan ekonomi selalu berubah seiring dengan perubahan zaman. Dari perubahan pemikiran itu kemudian menimbulkan perubahan paradigma dalam

Lebih terperinci

K E T E T A P A N MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR : VII/MPR/2001 TENTANG VISI INDONESIA MASA DEPAN

K E T E T A P A N MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR : VII/MPR/2001 TENTANG VISI INDONESIA MASA DEPAN K E T E T A P A N MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR : VII/MPR/2001 TENTANG VISI INDONESIA MASA DEPAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

Paket 1 PENGERTIAN, RUANG LINGKUP, DAN TUJUAN IPS

Paket 1 PENGERTIAN, RUANG LINGKUP, DAN TUJUAN IPS Paket 1 PENGERTIAN, RUANG LINGKUP, DAN TUJUAN IPS Pendahuluan Paket ini difokuskan pada pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), ruang lingkup IPS, dan tujuan pembelajaran IPS. Paket ini merupakan paket

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pengembangan pada aspek afektif, kognitif dan psikomotor. Upaya untuk

BAB I PENDAHULUAN. pengembangan pada aspek afektif, kognitif dan psikomotor. Upaya untuk 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembelajaran pendidikan jasmani pada tingkat sekolah dasar meliputi pengembangan pada aspek afektif, kognitif dan psikomotor. Upaya untuk mengembangkan ketiga

Lebih terperinci

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN 5.1 VISI Dalam periode Tahun 2013-2018, Visi Pembangunan adalah Terwujudnya yang Sejahtera, Berkeadilan, Mandiri, Berwawasan Lingkungan dan Berakhlak Mulia. Sehingga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah investasi sumber daya manusia jangka panjang yang mempunyai nilai strategis bagi kelangsungan peradaban manusia di dunia. Hampir semua negara

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. antara ketimpangan dan pertumbuhan ekonomi. pembangunan ekonomi yang terjadi dalam suatu negara adalah pertumbuhan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. antara ketimpangan dan pertumbuhan ekonomi. pembangunan ekonomi yang terjadi dalam suatu negara adalah pertumbuhan BAB II TINJAUAN PUSTAKA Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai teori yang menjadi dasar dari pokok permasalahan yang diamati. Teori yang dibahas dalam bab ini terdiri dari pengertian pertumbuhan ekonomi,

Lebih terperinci

Landasan Pengembangan Kurikulum. Farida Nurhasanah, M.Pd Sebelas Maret University Surakarta-2012

Landasan Pengembangan Kurikulum. Farida Nurhasanah, M.Pd Sebelas Maret University Surakarta-2012 Landasan Pengembangan Kurikulum Farida Nurhasanah, M.Pd Sebelas Maret University Surakarta-2012 KURIKULUM: PENGERTIAN DASAR Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 1994 TENTANG PENYELENGGARAAN PEMBANGUNAN KELUARGA SEJAHTERA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 1994 TENTANG PENYELENGGARAAN PEMBANGUNAN KELUARGA SEJAHTERA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 1994 TENTANG PENYELENGGARAAN PEMBANGUNAN KELUARGA SEJAHTERA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa keluarga sebagai unit terkecil dalam

Lebih terperinci

KONSEP DASAR MANAJEMEN PENDIDIKAN. Rahmania Utari, M. Pd.

KONSEP DASAR MANAJEMEN PENDIDIKAN. Rahmania Utari, M. Pd. KONSEP DASAR MANAJEMEN PENDIDIKAN Rahmania Utari, M. Pd. DEFINISI PENDIDIKAN Proses pengembangan individu secara utuh yang mencakup aspek kognisi, afeksi, dan psikomotor sehingga terbentuk pribadi yang

Lebih terperinci

REVIEW UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL

REVIEW UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL REVIEW UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL Faridah T, S.Pd., M.Pd. NIP.19651216 198903 2 012 Widyaiswara LPMP Sulawesi Selatan LEMBAGA PENJAMINAN MUTU

Lebih terperinci

MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI. NOMOR 112 /M/Kp/X/2009.

MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI. NOMOR 112 /M/Kp/X/2009. MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI NOMOR 112 /M/Kp/X/2009 Tentang PEDOMAN UMUM BIOETIKA SUMBER DAYA HAYATI MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI

Lebih terperinci

MENINGKATKAN PERAN SEKTOR PERTANIAN DALAM PENANGGULANGAN KEMISKINAN 1

MENINGKATKAN PERAN SEKTOR PERTANIAN DALAM PENANGGULANGAN KEMISKINAN 1 MENINGKATKAN PERAN SEKTOR PERTANIAN DALAM PENANGGULANGAN KEMISKINAN 1 A. KONDISI KEMISKINAN 1. Asia telah mencapai kemajuan pesat dalam pengurangan kemiskinan dan kelaparan pada dua dekade yang lalu, namun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan memudarnya sikap saling menghormati, tanggung jawab,

BAB I PENDAHULUAN. dengan memudarnya sikap saling menghormati, tanggung jawab, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Merosotnya moralitas bangsa terlihat dalam kehidupan masyarakat dengan memudarnya sikap saling menghormati, tanggung jawab, kesetiakawanan sosial (solidaritas),

Lebih terperinci

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN Visi dan misi merupakan gambaran otentik Kabupaten Rejang Labong dalam 5 (lima) tahun mendatang pada kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati terpilih untuk periode RPJMD

Lebih terperinci

Seminar Internasional, ISSN Peran LPTK Dalam Pengembangan Pendidikan Vokasi di Indonesia

Seminar Internasional, ISSN Peran LPTK Dalam Pengembangan Pendidikan Vokasi di Indonesia PENGEMBANGAN KOMPETENSI PROFESIONAL GURU SMK MELALUI KEBIJAKAN SERTIFIKASI Oleh: Louisa Nicolina Kandoli Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Fakultas TeknikUNIMA ABSTRAK Guru adalah suatu jabatan professional

Lebih terperinci

BAB III VISI, MISI DAN NILAI

BAB III VISI, MISI DAN NILAI BAB III VISI, MISI DAN NILAI VISI PEMBANGUNAN KABUPATEN SIAK Dalam suatu institusi pemerintahan modern, perumusan visi dalam pelaksanaan pembangunan mempunyai arti yang sangat penting mengingat semakin

Lebih terperinci

PELAKSANAAN PEMBELAJARAN DI MTs SHABILUL HUDA KECAMATAN GUNTUR KABUPATEN DEMAK

PELAKSANAAN PEMBELAJARAN DI MTs SHABILUL HUDA KECAMATAN GUNTUR KABUPATEN DEMAK PELAKSANAAN PEMBELAJARAN DI MTs SHABILUL HUDA KECAMATAN GUNTUR KABUPATEN DEMAK TESIS Diajukan Kepada Program Studi Magister Manajemen Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta untuk Memenuhi Salah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pembinaan moral bagi siswa sangat penting untuk menunjang kreativitas. siswa dalam mengemban pendidikan di sekolah dan menumbuhkan

BAB I PENDAHULUAN. Pembinaan moral bagi siswa sangat penting untuk menunjang kreativitas. siswa dalam mengemban pendidikan di sekolah dan menumbuhkan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembinaan moral bagi siswa sangat penting untuk menunjang kreativitas siswa dalam mengemban pendidikan di sekolah dan menumbuhkan karakter siswa yang diharapkan bangsa

Lebih terperinci

VISI DAN MISI BAKAL CALON BUPATI KABUPATEN KAIMANA

VISI DAN MISI BAKAL CALON BUPATI KABUPATEN KAIMANA VISI DAN MISI BAKAL CALON BUPATI KABUPATEN KAIMANA 2015-2020 Oleh DRS. HASAN ACHMAD, M.Si KAIMANA, 2015 VISI DAN MISI 1. Visi Visi merupakan uraian berkenan dengan subtansi kualitas kehidupan masyarakat

Lebih terperinci

SAMBUTAN MENTERI PPN/KEPALA BAPPENAS

SAMBUTAN MENTERI PPN/KEPALA BAPPENAS SAMBUTAN MENTERI PPN/KEPALA BAPPENAS GIZI: Magnitude dalam Membanguan Manusia dan Masyarakat Permasalahan gizi merupakan permasalahan sangat mendasar bagi manusia Bagi Indonesia, permasalahan ini sangat

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 1994 TENTANG PENYELENGGARAAN PEMBANGUNAN KELUARGA SEJAHTERA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 1994 TENTANG PENYELENGGARAAN PEMBANGUNAN KELUARGA SEJAHTERA PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 21 TAHUN 1994 TENTANG PENYELENGGARAAN PEMBANGUNAN KELUARGA SEJAHTERA PRESIDEN, Menimbang : a. bahwa keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat mempunyai peran yang penting

Lebih terperinci

KEBIJAKAN MUTU INTERNAL SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI PADANG TAHUN

KEBIJAKAN MUTU INTERNAL SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI PADANG TAHUN KEBIJAKAN MUTU INTERNAL SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI PADANG TAHUN 2014-2019 A. Pendahuluan A.1 Latar Belakang Sesuai dengan visi dan misi, Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi (STIFARM) Padang terus berupaya berperan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kenyataan bahwa keunggulan suatu bangsa bertumpu pada keunggulan

BAB I PENDAHULUAN. Kenyataan bahwa keunggulan suatu bangsa bertumpu pada keunggulan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Kenyataan bahwa keunggulan suatu bangsa bertumpu pada keunggulan sumber daya manusia (SDM), yaitu generasi muda penerus bangsa yang mampu menjawab tantangan-tantangan

Lebih terperinci

MENJADI KONSELOR PROFESIONAL : SUATU PENGHARAPAN Oleh : Eva Imania Eliasa, M.Pd

MENJADI KONSELOR PROFESIONAL : SUATU PENGHARAPAN Oleh : Eva Imania Eliasa, M.Pd MENJADI KONSELOR PROFESIONAL : SUATU PENGHARAPAN Oleh : Eva Imania Eliasa, M.Pd A. PENDAHULUAN Banyak pertanyaan dari mahasiswa tentang, bagaimana menjadi konselor professional? Apa yang harus disiapkan

Lebih terperinci

PENYULUHAN PETERNAKAN Pengertian Penyuluhan. Disajikan oleh Suharyanto, S.Pt., M.Si (bahan dikompilasikan dari berbagai sumber)

PENYULUHAN PETERNAKAN Pengertian Penyuluhan. Disajikan oleh Suharyanto, S.Pt., M.Si (bahan dikompilasikan dari berbagai sumber) PENYULUHAN PETERNAKAN Pengertian Penyuluhan Disajikan oleh Suharyanto, S.Pt., M.Si (bahan dikompilasikan dari berbagai sumber) SISTEM PENYULUHAN Sistem penyuluhan pertanian, perikanan, dan kehutanan yang

Lebih terperinci

Kurikulum SD Negeri Lecari TP 2015/ BAB I PENDAHULUAN

Kurikulum SD Negeri Lecari TP 2015/ BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran

Lebih terperinci

Sistem pendidikan nasional adalah sekaligus alat dan tujuan yang amat penting dalam perjuangan mencapai cita-cita dan tujuan nasional.

Sistem pendidikan nasional adalah sekaligus alat dan tujuan yang amat penting dalam perjuangan mencapai cita-cita dan tujuan nasional. PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 1989 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL UMUM Dalam kehidupan suatu bangsa, pendidikan mempunyai peranan yang amat penting untuk menjamin perkembangan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN PEMALANG

PEMERINTAH KABUPATEN PEMALANG PEMERINTAH KABUPATEN PEMALANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN PEMALANG NOMOR 23 TAHUN 2008 TENTANG PENANGGULANGAN KEMISKINAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PEMALANG, Menimbang : a. bahwa sistem

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan sesuatu yang sangat penting dan merupakan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan sesuatu yang sangat penting dan merupakan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan sesuatu yang sangat penting dan merupakan modal utama untuk seseorang yang harus ditingkatkan dalam rangka melaksanakan pembangunan suatu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan. Secara makro, faktor-faktor masukan pembangunan, seperti sumber daya

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan. Secara makro, faktor-faktor masukan pembangunan, seperti sumber daya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sumber daya manusia (SDM) merupakan salah satu faktor penting dalam pembangunan. Secara makro, faktor-faktor masukan pembangunan, seperti sumber daya alam, material

Lebih terperinci

RESUME 21 BUTIR PLATFORM KEBIJAKAN PARTAI KEADILAN SEJAHTERA (1) PEMANTAPAN EKONOMI MAKRO

RESUME 21 BUTIR PLATFORM KEBIJAKAN PARTAI KEADILAN SEJAHTERA (1) PEMANTAPAN EKONOMI MAKRO RESUME 21 BUTIR PLATFORM KEBIJAKAN PARTAI KEADILAN SEJAHTERA (1) PEMANTAPAN EKONOMI MAKRO Membangun kembali fundamental ekonomi yang sehat dan mantap demi meningkatkan pertumbuhan, memperluas pemerataan,

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. tidak dapat dilihat sebagai bagian yang berdiri sendiri, tetapi sebagai satu kesatuan

BAB II LANDASAN TEORI. tidak dapat dilihat sebagai bagian yang berdiri sendiri, tetapi sebagai satu kesatuan 9 BAB II LANDASAN TEORI A. Pengertian Sumber Daya Manusia Dalam rangka persaingan ini organisasi atau perusahaan harus memiliki sumber daya yang tangguh. Sumber daya dibutuhkan perusahaan atau organisasi

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

BAB V SIMPULAN DAN SARAN BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan Pada bagian ini akan dikemukan simpulan yang telah dirumuskan dari hasil penelitian dan pembahasan penelitian dalam Bab IV, sebagaimana tersebut diatas. 1. Simpulan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. demikian siswa perlu memiliki kemampuan memperoleh, memilih, bidang pendidikan sebagai upaya yang bernilai sangat models bagi

BAB I PENDAHULUAN. demikian siswa perlu memiliki kemampuan memperoleh, memilih, bidang pendidikan sebagai upaya yang bernilai sangat models bagi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Memasuki era globalisasi di abad XXI ini, diperlukan persiapan sumber daya manusia yang merupakan kunci utama untuk memetik kemenangan dalam persaingan era globalisasi

Lebih terperinci

Kabupaten Tasikmalaya 10 Mei 2011

Kabupaten Tasikmalaya 10 Mei 2011 DINAMIKA PELAKSANAAN OTONOMI DAERAH HUBUNGANNYA DENGAN PENETAPAN KEBIJAKAN STRATEGIS Oleh: Prof. Dr. Deden Mulyana, SE.,M.Si. Disampaikan Pada Focus Group Discussion Kantor Litbang I. Pendahuluan Kabupaten

Lebih terperinci

PEMBAHASAN TENTANG KEMISKINAN Menurut Andre Bayo Ala, 1981 kemiskinan itu bersifat multi dimensional. Artinya kebutuhan manusia itu bermacam macam

PEMBAHASAN TENTANG KEMISKINAN Menurut Andre Bayo Ala, 1981 kemiskinan itu bersifat multi dimensional. Artinya kebutuhan manusia itu bermacam macam KEMISKINAN Kesenjangan ekonomi atau ketimpangan dalam distribusi pendapatan antara kelompok masyarakat berpendapatan tinggi dan kelompok masyarakat berpenghasilan rendah serta tingkat kemiskinan atau jumlah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. di hampir semua aspek kehidupan manusia. Di satu sisi perubahan itu bermanfaat

BAB I PENDAHULUAN. di hampir semua aspek kehidupan manusia. Di satu sisi perubahan itu bermanfaat 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa perubahan di hampir semua aspek kehidupan manusia. Di satu sisi perubahan itu bermanfaat bagi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengelola segala komponen yang ada di dalamnya dengan baik dan tepat.

BAB I PENDAHULUAN. mengelola segala komponen yang ada di dalamnya dengan baik dan tepat. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembentukan kepribadian manusia Indonesia seutuhnya, diperlukan proses pendidikan yang merupakan proses untuk meningkatkan harkat serta martabat bangsa. Karena

Lebih terperinci

LAMPIRAN INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2001 TENTANG KERANGKA KEBIJAKAN PENGEMBANGAN DAN PENDAYAGUNAAN TELEMATIKA DI INDONESIA

LAMPIRAN INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2001 TENTANG KERANGKA KEBIJAKAN PENGEMBANGAN DAN PENDAYAGUNAAN TELEMATIKA DI INDONESIA LAMPIRAN INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2001 TENTANG KERANGKA KEBIJAKAN PENGEMBANGAN DAN PENDAYAGUNAAN TELEMATIKA DI INDONESIA Pendahuluan Pesatnya kemajuan teknologi telekomunikasi,

Lebih terperinci

MAKALAH STRATEGI PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KEJURUAN DI INDONESIA. Oleh: Sriyono

MAKALAH STRATEGI PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KEJURUAN DI INDONESIA. Oleh: Sriyono MAKALAH STRATEGI PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KEJURUAN DI INDONESIA Makalah disampaikan pada seminar nasional Pendidikan Teknologi dan Kejuruan (PTK) di kampus Fakultas Pendidikan Teknologi

Lebih terperinci

BAB X PANCASILA DALAM PARADIGMA KEHIDUPAN BERMASYARAKAT, BERBANGSA DAN BERNEGARA

BAB X PANCASILA DALAM PARADIGMA KEHIDUPAN BERMASYARAKAT, BERBANGSA DAN BERNEGARA BAB X PANCASILA DALAM PARADIGMA KEHIDUPAN BERMASYARAKAT, BERBANGSA DAN BERNEGARA A. Pancasila Paradigma Pembangunan 1. Pengertian Paradigma Istilah paradigma menurut kamus Bahasa Indonesia, yaitu (1) daftar

Lebih terperinci

BAB III VISI MISI PEMBANGUNAN DAERAH

BAB III VISI MISI PEMBANGUNAN DAERAH BAB III VISI MISI PEMBANGUNAN DAERAH 3.1. Visi Pembangunan B erdasarkan kondisi masyarakat Kabupaten Kolaka saat ini, permasalahan dan tantangan yang dihadapi kedepan serta dengan memperhitungkan faktor

Lebih terperinci

PERAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA UNTUK MASYARAKAT DAERAH PERBATASAN Kasus Propinsi Kepulauan Riau

PERAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA UNTUK MASYARAKAT DAERAH PERBATASAN Kasus Propinsi Kepulauan Riau PERAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA UNTUK MASYARAKAT DAERAH PERBATASAN Kasus Propinsi Kepulauan Riau Dicky R. Munaf 1, Thomas Suseno 2, Rizaldi Indra Janu 2, Aulia M. Badar 2 Abstract The development in Indonesia

Lebih terperinci

Optimalisasi Unit Pengelola Keuangan dalam Perguliran Dana sebagai Modal Usaha

Optimalisasi Unit Pengelola Keuangan dalam Perguliran Dana sebagai Modal Usaha Optimalisasi Unit Pengelola Keuangan dalam Perguliran Dana sebagai Modal Usaha I. Pendahuluan Situasi krisis yang berkepanjangan sejak akhir tahun 1997 hingga dewasa ini telah memperlihatkan bahwa pengembangan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. pendidikan karakter dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan. Di samping

BAB 1 PENDAHULUAN. pendidikan karakter dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan. Di samping BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dewasa ini, dunia pendidikan menghadapi berbagai masalah yang sangat kompleks yang perlu mendapatkan perhatian bersama. Fenomena merosotnya karakter kebangsaan

Lebih terperinci

BAB IV VISI DAN MISI

BAB IV VISI DAN MISI BAB IV VISI DAN MISI A. DASAR FILOSOFIS Penyusunan rencana pembangunan jangka menengah memerlukan satu filosofi pembangunan yang memiliki cakrawala yang luas dan mampu menjadi pedoman bagi daerah untuk

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA 6 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) a. Pengertian KTSP Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 menyebutkan bahwa kurikulum adalah seperangkat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Muhammad Iqbal Radhibillah, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Muhammad Iqbal Radhibillah, 2013 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tujuan negara Indonesia adalah untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakatnya. Dalam upaya meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Republik Indonesia No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,

BAB I PENDAHULUAN. Republik Indonesia No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dalam rangka mencapai tujuan Pendidikan Nasional yakni mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya akan sangat dibutuhkan peran serta

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. dengan yang lain dan berlangsung dalam situasi yang dialami. Dinamika berarti tingkah laku warga yang satu secara langsung

BAB II KAJIAN TEORI. dengan yang lain dan berlangsung dalam situasi yang dialami. Dinamika berarti tingkah laku warga yang satu secara langsung BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Pengertian Dinamika Kelompok Dinamika kelompok adalah suatu kelompok yang terdiri dari dua atau lebih individu yang memiliki hubungan psikologis secara jelas antara anggota satu

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Indonesia merupakan Bangsa yang kaya dengan budaya dan bahasa, lebih dari

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Indonesia merupakan Bangsa yang kaya dengan budaya dan bahasa, lebih dari BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan Bangsa yang kaya dengan budaya dan bahasa, lebih dari dua ratus juta penduduk Indonesia memiliki karakterisktik adat yang berbeda. Dari sensus Badan

Lebih terperinci

1 ( atau

1  (  atau VISI - MISI JANGKA PANJANG DAERAH KABUPATEN SUMEDANG (Perda No. 2 Tahun 2008 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Tahun 2005-2025) 1.1. VISI DAERAH Berdasarkan kondisi sampai dengan

Lebih terperinci

Memahami Budaya dan Karakter Bangsa

Memahami Budaya dan Karakter Bangsa Memahami Budaya dan Karakter Bangsa Afid Burhanuddin Kompetensi Dasar: Memahami budaya dan karakter bangsa Indikator: Menjelaskan konsep budaya Menjelaskan konsep karakter bangsa Memahami pendekatan karakter

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH Strategi dan arah kebijakan merupakan rumusan perencanaan komperhensif tentang bagaimana Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi

Lebih terperinci

KONSEPSI PENGEMBANGAN BADAN USAHA MILIK MASYARAKAT DESA MELALUI LEMBAGA KEUANGAN MASYARAKAT MANDIRI

KONSEPSI PENGEMBANGAN BADAN USAHA MILIK MASYARAKAT DESA MELALUI LEMBAGA KEUANGAN MASYARAKAT MANDIRI KONSEPSI PENGEMBANGAN BADAN USAHA MILIK MASYARAKAT DESA MELALUI LEMBAGA KEUANGAN MASYARAKAT MANDIRI I. Latar Belakang Dilihat dari indikator makro ekonomi, selama 6 Pelita, tidak dapat dipungkiri bahwa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. bangsa Indonesia kini sedang dihadapkan pada persoalan-persoalan kebangsaan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. bangsa Indonesia kini sedang dihadapkan pada persoalan-persoalan kebangsaan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan dalam konteks pembangunan bangsa dan negara, masih mengalami permasalahan yang serius. Kunandar (2011:7), menjelaskan bahwa bangsa Indonesia kini

Lebih terperinci

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN PEMBANGUNAN DAERAH

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN PEMBANGUNAN DAERAH BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN PEMBANGUNAN DAERAH 5.1 Visi Otonomi daerah dengan desentralisasi kewenangan yang ada mengedepankan penyelenggaraan pemerintahan yang baik yang berkontribusi pada pengembangan

Lebih terperinci

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN 5.1. Visi Terwujudnya Masyarakat Bengkulu Utara yang Mandiri, Maju, dan Bermartabat Visi pembangunan Kabupaten Bengkulu Utara Tahun 2011-2016 tersebut di atas sebagai

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. hasil pekerjaan membangun, sedangkan ekonomi adalah suatu ilmu yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. hasil pekerjaan membangun, sedangkan ekonomi adalah suatu ilmu yang BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Pembangunan Ekonomi Pembangunan ekonomi terdiri dari dua kata yaitu pembangunan dan ekonomi. Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, pembangunan adalah hasil pekerjaan membangun,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. yang dicita-citakan. Sejalan dengan Mukadimah Undang Undang Dasar 1945,

I. PENDAHULUAN. yang dicita-citakan. Sejalan dengan Mukadimah Undang Undang Dasar 1945, I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Suatu bangsa mutlak perlu memiliki suatu dasar negara, sebab dasar negara merupakan rambu bagi arah suatu pemerintahan agar sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan.

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BB II KJI PSTK 2.1. Hakekat Pendidikan Pendidikan adalah usaha sadar terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk

Lebih terperinci

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN DAERAH

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN DAERAH BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN DAERAH 5.1 VISI DAN MISI KOTA CIMAHI. Sesuai dengan ketentuan yang diatur di dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional,

Lebih terperinci

STANDAR KOMPETENSI GURU KELAS SD/MI

STANDAR KOMPETENSI GURU KELAS SD/MI STANDAR KOMPETENSI GURU KELAS SD/MI Disajikan pada kegiatan PPM Di UPTD BALEENDAH KAB BANDUNG Oleh BABANG ROBANDI JURUSAN PEDAGOGIK FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA Makna Kompetensi

Lebih terperinci

c. Pendidikan sebagai Proses Penyiapan Warganegara

c. Pendidikan sebagai Proses Penyiapan Warganegara BAB II PENGERTIAN DAN UNSUR-UNSUR PENDIDIKAN Seorang calon pendidik hanya dapat melaksanakan tugasnya denga nbaik jika memperoleh jawaban yang jelas dan benar tentang apa yang dimaksud pendidikan. Jawaban

Lebih terperinci

KERANGKA KUALIFIKASI NASIONAL INDONESIA BIDANG PERTANIAN SUB BIDANG PERTANIAN

KERANGKA KUALIFIKASI NASIONAL INDONESIA BIDANG PERTANIAN SUB BIDANG PERTANIAN KERANGKA KUALIFIKASI NASIONAL INDONESIA BIDANG PERTANIAN SUB BIDANG PERTANIAN DESKRIPSI UMUM Sesuai dengan ideologi Negara dan budaya Bangsa Indonesia, maka implementasi sistem pendidikan nasional dan

Lebih terperinci

BULETIN ORGANISASI DAN APARATUR

BULETIN ORGANISASI DAN APARATUR BULETIN ORGANISASI DAN APARATUR KAJIAN FILOSOFIS DAN TEORITIS TENTANG PEMBELAJARAN BERBASIS HARKAT DAN MARTABAT MANUSIA INDONESIA Oleh: Dr. Drs. H. Maisondra, S.H, M.H, M.Pd, Dipl.Ed Staf Sekretariat Daerah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang membawa berbagai konsekuensi tidak hanya terhadap dinamika kehidupan

BAB I PENDAHULUAN. yang membawa berbagai konsekuensi tidak hanya terhadap dinamika kehidupan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sistem politik Indonesia dewasa ini sedang mengalami proses demokratisasi yang membawa berbagai konsekuensi tidak hanya terhadap dinamika kehidupan politik nasional,

Lebih terperinci

KOMPETENSI KONSELOR. Kompetensi Konselor Sub Kompetensi Konselor A. Memahami secara mendalam konseli yang hendak dilayani

KOMPETENSI KONSELOR. Kompetensi Konselor Sub Kompetensi Konselor A. Memahami secara mendalam konseli yang hendak dilayani KOMPETENSI KONSELOR Kompetensi Konselor Sub Kompetensi Konselor A. Memahami secara mendalam konseli yang hendak dilayani 1. Menghargai dan menjunjung tinggi 1.1. Mengaplikasikan pandangan positif nilai-nilai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan atau Kurikulum Hal ini menunjukkan bahwa kurikulum

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan atau Kurikulum Hal ini menunjukkan bahwa kurikulum 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan Nasional kita telah beberapa kali mengalami pembaharuan kurikulum, mulai dari Kurikulum 1994 sampai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan atau Kurikulum

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DAN LEMBAGA ADAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DAN LEMBAGA ADAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DAN LEMBAGA ADAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KUTAI KARTANEGARA, Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang

PENDAHULUAN. Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia merupakan sebuah negara yang memiliki beragam suku bangsa yang menyebar dan menetap pada berbagai pulau besar maupun pulau-pulau kecil yang membentang dari Sabang sampai

Lebih terperinci

NUR ENDAH APRILIYANI,

NUR ENDAH APRILIYANI, 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Fenomena globalisasi membuahkan sumber daya manusia yang menunjukkan banyak perubahan, maka daripada itu dalam menghadapi era globalisasi seperti sekarang

Lebih terperinci

KELOMPOK SOSIAL, KELOMPOK KERJA, DAN TIM

KELOMPOK SOSIAL, KELOMPOK KERJA, DAN TIM Mata kuliah: Komunikasi Kelompok Hari/ Tanggal: Jumat/ 25 Februari 2011 KPM (212) Nama/ NRP : Lutfi Afifah/ A34070039 Praktikum ke-: 1 Asisten: Auliyaul Hafizhoh (I34070021) KELOMPOK SOSIAL, KELOMPOK KERJA,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan satu dari sekian banyak hal yang tidak dapat

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan satu dari sekian banyak hal yang tidak dapat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan satu dari sekian banyak hal yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia. Melalui pendidikan, seseorang dapat semakin berkembang

Lebih terperinci