PENINGKATAN PRODUKSI DAN KUALITAS UMBI-UMBIAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PENINGKATAN PRODUKSI DAN KUALITAS UMBI-UMBIAN"

Transkripsi

1 PENINGKATAN PRODUKSI DAN KUALITAS UMBIUMBIAN Nasir Saleh, St.A. Rahayuningsih dan M.Muchlis Adie Balai Penelitian Tanaman Kacangkacangan dan Umbiumbian (Balitkabi) P.O. Box 66 Malang ABSTRAK Ubikayu dan ubijalar banyak dimanfaatkan untuk bahan pangan, pakan dan bahan baku industri (pangan dan kimia). Meningkatnya jumlah penduduk, berkembangnya industri peternakan dan industri berbahan baku ubikayu dan ubijalar (termasuk industri bioethanol) dipastikan akan mendorong kebutuhan ubikayu dan ubijalar meningkat secara tajam. Peningkatan produksi ubikayu dan ubijalar dapat dilakukan dengan cara intensifikasi dan ekstensifikasi. Intensifikasi untuk meningkatkan produktivitas ubikayu dan ubijalar yang masih rendah ( masingmasing 18,2 t/ha dan 11 t/ha), dilakukan dengan menanam varietas unggul dan menerapkan teknologi budidaya yang lebih maju. Ekstensifikasi dilakukan dengan meningkatkan luas areal tanam/panen ke lahan kering dengan berbagai jenis tanah, memanfaatkan lahan tidur dan lebih meningkatkan indeks pertanaman. Perakitan varietas untuk perbaikan kualitas ubikayu sebagai bahan pangan, selain produktivitas tinggi juga diarahkan pada rasa enak (kadar HCN rendah), mempur dan tidak berserat. Sementara pada ubijalar diarahkan pada fungsi nya sebagai makanan kesehatan (functional foodt) yaitu mempunyai rasa enak dan kandungan betakaroten atau antosianin yang tinggi.sebagai bahan baku industri (ethanol) selain produktivitas dan kadar pati tinggi juga mempunyai kadar gula total dan nilai konversi etanol yang tinggi. Kata kunci : Peningkatan produksi, kualitas, ubikayu, ubijalar ABSTRACT Cassava and sweet potato were used as food, feed and rough materials for industries (food and chemical industries). Increasing of the human population, development of veteriner industries, and many cassava/sweet potato based idustries (including bioethanol) was believed to sharply increase the cassava/sweet potato demands. Increasing of the cassava/sweet potato production could be achieved through increasing their productivity which are still low (18.2 t/ha and 11 t/ha respectively) by planting of improved varities followed by available advanced cultural practices and expanded the cassava and sweet potato to upland areas, sleeping land and increasing cropping indext. Crop improvement of eatingcassava was directed to high productivity, low HCN content and not fiberous, while for industrial was directed to high productivity, high starch and total glucose content and high ethanolconversion values. For sweet potato crop improvement was directed in accordance to its role as functional food, i.e. high productivity and high betacarotene and anthocyanin content. Key words: Increase production, quality, cassava, sweet potato 1

2 PENDAHULUAN Ubikayu dan ubijalar merupakan tanaman yang sudah lama dikenal dan dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia. Hal tersebut tercermin dari daerah penyebaran komoditas tersebut di hampir seluruh propinsi di Indonesia. Sebagai bahan sumber karbohidrat, ubikayu dan ubijalar banyak dimanfaatkan untuk bahan pangan, bahan pakan serta bahan baku industri (pangan dan kimia). Menurut Hafsah (2003) sebagian besar produksi ubikayu di Indonesia digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri (85 90%), sedang sisanya diekspor dalam bentuk gaplek, chip dan tepung tapioka. Dari total produksi yang ada (19,3 juta ton), lebih kurang sebanyak 75% dikonsumsi sebagai bahan pangan (secara langsung atau melalui proses pengolahan), 1314% untuk keperluan industri nonpangan, 2% untuk pakan dan 9% tercecer Jumlah penduduk Indonesia yang besar (247 juta) dengan pertumbuhan yang masih tinggi (1,47%/tahun) mendorong Pemerintah untuk terus meningkatkan produksi ubikayu sebagai bahan pangan alternatif mendukung ketahanan pangan Nasional. Dalam ransum pakan ternak maupun unggas, ubikayu digunakan dalam bentuk tepung tapioka, pellet maupun limbah industri ubikayu (onggok). Penggunaan ubikayu untuk pakan relatif masih rendah, sekitar 2%. Namun usaha peternakan yang meningkat dengan laju pertumbuhan 12,9% per tahun untuk ternak pedaging dan 18,0% per tahun untuk ternak petelur, permintaan ubikayu untuk pakan juga akan meningkat. Ubikayu banyak digunakan sebagai bahan baku industri diolah melalui proses dehidrasi ( chip, pellet, tepung tapioka ), hidrolisa (dekstrose, maltose, sukrose, sirup glukose) dan proses fermentasi (alkohol, butanol, aseton, asam laktat, sorbitol dll). Pencanangan bioethanol sebagai sumber energi alternatif terbarukan berupa Gasohol10 (campuran premium dengan 10% etanol), dimana 8% keperluan etanol berasal dari ubikayu dan peningkatan kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) sebesar 7%/tahun akan lebih memacu kebutuhan ubikayu. Seperti halnya ubikayu, sebagian besar (89%) ubijalar juga dimanfaatkan sebagai bahan pangan, baik secara langsung (direbus, digoreng, dioven, juice) atau setelah melalui proses pengolahan (kue basah, kue kering, rerotian, mie, selai). Hanya sebagian yang digunakan untuk bahan pakan dan baku industri. Di Papua, ubijalar merupakan makanan pokok dan merupakan komoditas yang punya arti penting dalam beberapa upacara adat. Sejalan dengan Program difersifikasi pangan, ubijalar yang banyak mengandung karbohidrat, mineral dan vitamin ubijalar juga berpeluang dimanfaatkan sebagai sumber pangan alternatif (non beras), bahkan dengan beberapa keunggulannya (mengandung beta karoten, antosianin, senyawa fenol, dan serat pangan serta nilai indeks glisemiknya (Glycemic Index), ke depan ubijalar difungsikan juga sebagai makanan untuk kesehatan (functional food) (Ginting et al.,.2011). KERAGAAN PRODUKSI Data perkembangan produksi, luas panen dan produktivitas ubikayu dan ubijalar selama dasa warsa terakhir (tahun ) menunjukkan bahwa produksi ubikayu dan ubijalar meningkat masingmasing 3,25% dan 0,75%/tahun, namun luas tanam berkurang 0,37% dan 0,58%/tahun (Tabel 1 dan 2). Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan produksi lebih disebabkan karena peningkatan produktivitas yang mencapai 2

3 3,89%/tahun pada ubikayu dan 1,35%/tahun pada ubijalar. Hal ini berarti pula bahwa perbaikan teknologi produksi pada ubikayu yang meliputi penggunaan varietas unggul dan perbaikan teknologi budidaya telah berhasil meningkatkan produktivitas secara lebih nyata dibanding pada ubijalar, namun keduanya mampu meningkatkan produksi ubikayu dan ubijalar. Tabel 1. Perkembangan produksi, luas panen dan produktivitas ubikayu selama 10 tahun terakhir ( ) Tahun Produksi Pertbhan Luas panen Pertbhan Produktivitas Pertbhan (000 t) (%) (000 ha) (%) (kw/ha) (%) , , ,9 2, , , ,5 3, , , ,5 2, , , ,8 0, , , , , , ,5 1, , , ,5 2, , , ,9 0, , , ,5 0,40 18,2 1,11 Ratarata (%/tahun) 3,25 0,37 3,89 Sumber : BPS, 2009, 2005 Tabel 2. Perkembangan produksi, luas panen dan produktivitas ubijalar selama 10 tahun terakhir ( ) Tahun Produksi Pertbhan Luas panen Pertbhan Produktivitas Pertbhan (000 t) (%) (000 ha) (%) (kw/ha) (%) ,7 194,3 94, ,1 4,37 181,0 6,84 97,0 3, ,6 1,14 177,3 2,04 100,0 3, ,5 12,41 197,5 11,39 101,0 1, ,8 4,50 184,5 6,58 104,1 3, ,9 2,10 178,3 3,36 104,1 0, ,2 0,54 176,5 1,00 105,0 0, ,8 2,16 176,9 0,22 106,6 1, ,7 0,37 174,5 1,35 107,8 1, ,3 3,72 181,1 3,78 107,5 0,28 Ratarata (%/tahun) 0,75 0,58 1,35 Sumber : BPS, 2005,

4 SENTRA PRODUKSI Ubikayu dan ubijalar sebagian besar diusahakan di lahan kering dan hanya sebagian kecil ditanam di lahan sawah dengan berbagai jenis tanah yaitu: Alfisol. Ultisol, Inceptisol yang pada umumnya mempunyai tingkat kesuburan rendah. Provinsi sentra produksi ubikayu meliputi: Lampung, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur dan D.I. Yogyakarta. Data produksi ubikayu tahun terlihat pada tahun 2000 pulau Jawa masih merupakan sentra produksi ubikayu yang dominan dalam memberi kontribusi produksi nasional (57,2%), Sumatera (25,5%), dan propinsi di pulau lainnya (17,3%). Namun pada tahun 2009, kontribusi produksi ubikayu di pulau Jawa menurun menjadi 44,56%, sementara pulau Sumatera naik mennjadi 42,33%, dan pulau lainnya sedikit turun menjadi 12,23% (Tabel 3). Hal ini menunjukkan adanya pergeseran sentra produksi ubikayu dari pulau Jawa ke pulau Sumatera. Data produksi ubikayu tahun juga memperlihatkan bahwa angka pertumbuhan produksi nasional adalah 3,25%/tahun, dengan angka pertumbuhan untuk pulau Jawa sebesar 0,70%/tahun dan Sumatera 9,08%/tahun. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan ubikayu banyak terjadi di Sumatera dibandingkan di Jawa. Di antara enam provinsi sentra produksi ubikayu, provinsi Lampung menunjukkan angka pertumbuhan produksi tertinggi yaitu 11,31%/tahun, diikuti provinsi D.I.Yogajakarta (4,97%/tahun), Jawa Barat (2,11%/tahun), dan Nusa Tenggara Timur(1,77%/tahun). Angka pertumbuhan yang tinggi di provinsi Lampung diduga erat hubungannya dengan berkembangnya industriindustri pengolahan berbahan baku ubikayu. Di provinsi Lampung angka pertumbuhan produksi ubikayu yang tinggi terjadi pada tahun 2001 dan 2003 yang masingmasing sebesar 22,56% dan 43,60% akibat meningkatnya luas panen ubikayu di provinsi tersebut. Hal ini diduga terkait dengan harga ubikayu yang cukup baik pada tahun 2000 dan 2002, sehingga petani berusaha meningkat produksi ubikayu pada tahun berikutnya. Fluktuasi luas panen antar waktu merupakan gambaran tanggap terhadap tinggi rendahnya harga umbi dari waktu sebelumnya. Saleh et al. (2000) juga menjelaskan bahwa sebagian besar usahatani ubikayu di Indonesia yang dilakukan oleh petani kecil dengan kemampuan modal dan teknologi terbatas sangat respon terhadap signal harga yang diimplementasikan dalam bentuk usahatani ubikayu mereka pada tahun berikutnya. Apabila harga ubikayu baik, luas panen musim berikutnya naik dan sebaliknya bila harga ubikayu pada musim tersebut kurang bagus, maka luas panen pada tahun berikutnya juga berkurang. DI Yogyakarta merupakan propinsi sentra produksi ubikayu yang dari tahun ke tahun selalu menunjukkan angka pertumbuhan positif dari 1,88% pada tahun 2002 hingga 6,93% pada tahun Kenaikan angka pertumbuhan pada tahun 2004 diduga berkaitan dengan berkembangnya industri Tiwul instan dan meningkatnya kebutuhan ubikayu sebagai substitusi bahan pangan. Seperti halnya dengan ubikayu, pulau Jawa masih merupakan sentra produksi ubijalar. Pada tahun 2000, produksi ubijalar di pulau Jawa mencapai 0,73 juta ton yang berarti memberi kontribusi produksi nasional 39,9%, namun pada tahun 2009 kontribusinya sedikit turun menjadi 35,4%. Selama kurun waktu satu dasawarsa , pertumbuhan produksi tertinggi dicapai oleh propinsi Papua yaitu 5,61%/tahun, diikuti Sumatera Utara yang mencapai 2,22%/tahun. Sementara propinsi lain justru mengalami pertumbuhan produksi yang negatif.. Di Papua, produksi tertinggi terjadi pada 4

5 tahun 2003 yang mencapai 0,51 juta ton, yang berart1 meningkat 96% dibanding tahun sebelumnya yang hanya mencapai 0,26 juta ton. Hal tersebut diduga adanya gerakan meningkatkan pangan utama(ubijalar), setelah terjadinya kasus kelaparan di Yahokimo pada tahun Namun pada tahuntahun berikutnya produksi relatif stabil antara 0,30 0,34 ton. Pada tahun 2009, propinsi Jawa Barat dan Papua masingmasing memberi kontribusi sebesar 20% dan 17,43%. Besarnya produksi ubijalar di propinsi Jawa Barat diduga didorong oleh adanya perusahaan yang bermitra kerja dengan kelompok tani dan mengekspor ubijalar ke negara Jepang, Malaysia dan Taiwan. Sementara propinsi Jawa Timur, Sumatera Utara, Jawa Tengah dan NT.Timur memberi kontribusi antara 5,6 7,17%. (Tabel 4). Di Sumatera Utara ubijalar selain sebagai pangan, juga digunakan sebagai pakan babi. Pada beberapa tahun terakhir ubijalar (jenis Beniazuma) banyak dikembangkan untuk diekspor ke Jepang. Tabel 3. Sentra produksi ubikayu di Indonesia ( ) Provinsi Produksi ( juta ton) Laju pertum buhan (%/tahun) Lampung ,87 5,50 6,39 7,21 7,88 11,31 Jawa Timur ,02 3,68 3,42 3,53 3,09 1,29 Jawa Tengah ,48 3,55 3,41 3,32 3,37 0,96 Jawa Barat ,07 2,04 1,92 2,03 2,12 2,11 NT.Timur 0,8 0,78 0, 87 0,86 0, ,94 0,79 0,93 0,92 1,77 Yogyakarta 0,7 0,74 0,75 0,76 0,82 0,92 1,02 0,97 0,89 1,10 4,97 Sumatera ,84 6,58 7,33 8,96 9,31 9,08 Jawa ,63 10,44 9,85 9,90 9,80 0,70 Prop.lain 2,8 2,57 2,65 2,74 2,83 2,85 2,94 2,80 2,90 2,69 1,23 Indonesia ,32 19,98 19,98 21,76 21,99 3,24 Sumber: BPS, 2009 dan 2005 Tabel 4. Sentra produksi ubijalar di Indonesia ( ) Provinsi Produksi (juta ton) Laju pertum buhan (%/tahun) Jawa Barat 0,38 0,31 0,39 0,35 0,39 0,39 0,39 0,37 0,38 0,39 0,87 Papua 0,28 0,28 0,26 0,51 0,30 0,29 0,31 0,32 0,35 0,34 5,61 Jawa Timur 0,19 0,20 0,17 0,17 0,16 0,15 0,15 0,15 0,14 0,14 2,85 Jawa Tengah 0,14 0,13 0,13 0,14 0,14 0,14 0,12 0,14 0,12 0,12 1,37 NT.Timur 0,15 0,15 0,13 0,09 0,13 0,10 0,11 0,10 0,11 0,11 2,18 Sumatera Utara 0,12 0,12 0,12 0,13 0,12 0,11 0,10 0,12 0,11 0,14 2,22 Jawa 0,73 0, 69 0,73 0,70 0,74 0,73 0,70 0,70 0,67 0,69 0,48 Indonesia ,86 1,85 1,88 1,88 1,95 0,75 Sumber: BPS, 2009 dan

6 TEKNOLOGI PENINGKATAN PRODUKSI Hingga tahun 2009, produktivitas ubikayu dan ubijalar masingmasing baru mencapai 18,2 t/ha dan 11 t/ha, jauh dari potensi hasil beberapa varietas unggul ubikayu dan ubijalar yang masingmasing dapat mencapai 3040 t/ha dan 2035 t/ha. Karama (2003) menyatakan bahwa rendahnya produktivitas ubikayu dan ubijalar antara lain disebabkan oleh: (a). Sebagian besar petani masih menggunakan varietas lokal yang umumnya produktivitasnya rendah, (b). Kualitas bibit yang digunakan seringkali kurang baik, (c). Ubikayu dan ubijalar sebagian besar diusahakan di lahan kering yang seringkali kesuburannya lebih rendah dibanding lahan sawah, (d). Pengelolaan tanaman dilakukan secara sederhana dengan masukan (input) sekedarnya. Secara umum, peningkatan produksi ubikayu dan ubijalar dapat dilakukan melalui peningkatan produktivitas (intensifikasi), terutama pada daerahdaerah sentra produksi ubikayu dan ubijalar yang sudah ada, dan perluasan areal tanam/panen (ekstensifikasi) ke daerah pengembangan baru di lahan kering dan lahan tidur terutama di luar Jawa. Menurut Wargiono (2007) untuk memenuhi kebutuhan ubikayu perlu peningkatan produksi yang tumbuh secara berkelanjutan 57%/tahun. Hal tersebut dapat dicapai melalui peningkatan produktivitas 35%/tahun dan perluasan areal 1020%/tahun. 1. Intensifikasi 1.a. Varietas unggul baru (VUB). VUB merupakan komponen teknologi produksi yang sangat strategis dalam upaya meningkatkan produksi ubikayu/ubijalar karena berkaitan dengan potensi hasil yang tinggi. Varietas unggul baru yang mempunyai karakter sesuai dengan kebutuhan dan preferensi pengguna juga relatif mudah diterima petani, dan kompatibel dengan komponen teknologi budidaya lain. Hingga tahun 2009, Badan Litbang Pertanian telah melepas masingmasing 10 varietas unggul ubikayu dan 19 ubijalar, masingmasing dengan sifat keunggulan (Tabel 5 dan 6). Dibandingkan dengan komoditas pangan lainnya (padi, jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, dan ubijalar), pembentukan/pelepasan varietas unggul ubikayu di Indonesia adalah tertinggal atau lambat, sebab selama ini di samping komoditas ubi kayu belum memperoleh prioritas, juga karena umur panennya panjang (8 10 bulan). Ubikayu varietas UJ5 dan UJ3 yang mempunyai hasil dan kadar pati yang tinggi telah berkembang secara luas di propinsi Lampung, sebagai bahan baku industri tepung dan pati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas Malang4 beradaptasi dan menghasilkan umbi 4055 t/ha di kabupaten Lampung Selatan dan Lampung Utara (Saleh et al., 2006 ; Rajid et al., 2008). Varietas Adira4, MLG6 dan Kaspro yang juga mempunyai produksi dan kadar pati tinggi telah berkembang luas di Jawa Timur. 6

7 Tabel 5. Varietas unggul ubikayu yang telah dilepas di Indonesia sejak Varietas Asal usul Tahun Umur Hasil Keunggulan dilepas (bln) (t/ha) Adira 1 Mangi/Ambon Agak tahan tungau merah (Tetranichus bimaculatus) Tahan terhadap bakteri hawar daun, Pseudomonas solanacearum, dan Xanthomonas manihotis Adira 2 Mangi/Ambon Cukup tahan tungau merah (Tetranichus bimaculatus) Tahan terhadap Pseudomonas solanacearum Adira 4 Silang bebas dari induk betina BIC Cukup tahan tungau merah (Tetranichus bimaculatus) Tahan terhadap Pseudomonas solanacearum dan Xanthomonas manihotis Malang 1 CM101519/CM ,5 Toleran tungau merah (Tetranichus bimaculatus) Toleran bercak daun (Cercospora sp.) Adaptasi cukup luas Malang 2 CM9222/CM ,5 Agak peka tungau merah (Tetranichus bimaculatus) Toleran bercak daun (Cercospora sp.) Darul Hidayah ,10 Agak peka tungau merah (Tetranichus sp.) Agak peka busuk jamur (Fusarium sp.) UJ3 Thailand Agak tahan CBB (Cassava Bacterial Blight) UJ5 Thailand Agak tahan CBB (Cassava Bacterial Blight) Malang 4 Silang bebas dari induk betina Adira ,7 Agak tahan tungau merah (Tetranichus sp.) Adaptif terhadap hara suboptimal Malang 6 MLG10071/MLG ,4 Agak tahan tungau merah (Tetranichus sp.) Adaptif terhadap hara suboptimal Sumber: Balitkabi,

8 Tabel 6. Varietas unggul ubijalar yang telah dilepas di Indonesia sejak Varietas Asal usul Tahun Umur Hasil Keunggulan dilepas (bln) (t/ha) Daya Putri selatan/jonga Agak tahan hama boleng Tahan terhadap penyakit keriting Borobudur No.380/Filipina II ,54 20 Toleran hama penggerek Toleran penyakit kudis Prambanan Mendut IITA, Nigeria mampu beradaptasi lahan marginal Dapat ditanam sampai 900 m dpl Kalasan AVRDC, Taiwan Agak tahan karat daun Mampu beradaptasi pada lahan marginal Muaratakus SQ27xIKI , Tahan penyakit kudis( Sphaceloma batatas.) Cocok di lahan kering dan sawah Cangkuang SRIS , Agak tahan hama boleng Tahan penyakit kudis Sewu Daya Op Sr , Agak tahan hama boleng Tahan penyakit kudis Sari Genjahrante x Lapis , Agak tahan hama boleng Tahan penyakit kudis Boko No.14 x MLG , Agak tahan hama boleng Toleran penyakit kudis Sukuh AB , Agak tahan hama boleng Tahan penyakit kudis Jago B , Agak tahan hama boleng Agak tahan penyakit kudis Kidal Inaswang , Agak tahan hama boleng Tahan penyakit kudis Sawentar Papua Patippi Papua Solossa Antin 1 Beta1 Beta2 Persilangan bebas induk betina varietas Mantang merah Persilangan bebas induk betina varietas Gowok Muara Takus x (lokal Papua) Siate Persilangan lokal Samarinda x Kinta (lokal Papua) Persilangan bebas induk betina MSU Persilangan bebas induk betina MSU , Agak tahan boleng dan penyakit kudis, cocok untuk dataran tinggi , Agak tahan hama dan penyakit kudis, cocok untuk dataran tinggi , Agak tahan hama boleng dan penyakit kudis, cocok untuk dataran tinggi , Kadar antosianin 33,89 mg/100 g bahan, agak tahan boleng, toleran kekeringan , Kadar betakaroten ug/100 g, agak tahan kudis dan boleng , Kadar betakaroten ug/100 j bahan, agak tahan poenyakit kudis dan boleng 8

9 Preferensi pengguna terhadap ubijalar lebih dinamis dan bervariasi tergantung daerah dan peruntukan dan perkembangan pasar. Di beberapa daerah petani menyukai umbi dengan kulit umbi merah dan daging umbi krem, sementara di daerah lain petani lebih suka kulit umbi dan daging umbi yang putih.varietas Sari yang berumur genjah (dipanen 3,54 bulan) telah tersebar luas di kabupaten Karanganyar dan Malang, sebagian besar produknya dikirim ke Sidoarjo/Surabaya sebagai bahan baku industri saus. Varietas lokal Asih yang mempunyai kadar pati tinggi banyak ditanam di Cirebon untuk bahan baku industri pasta dan kubus beku untuk diekspor ke Jepang Teknologi Budidaya pendukung Di samping varietas, teknologi budidaya pendukung akan membantu masingmasing varietas untuk menghasilkan sesuai dengan potensi hasilnya. Jarak tanam atau populasi tanaman per hektar merupakan komponen teknologi yang paling pertama dulu mendapat perhatian para petani, sebab komponen tersebut selain mudah dipahami dan diterapkan petani, juga sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman. 1.2.a. Jarak tanam. Jarak tanam ubi kayu/ubijalar yang sesuai sangat ditentukan antara lain oleh sistem tanam, pola pertumbuhan tanaman dan tingkat kesuburan lahan. Pada sistem monokultur, penanaman ubikayu dapat dilakukan pada jarak tanam 100 cm x 100 cm atau 100 cm x 80 cm. Ubikayu dengan pola percabangan di bawah (misal varietas Darul Hidayah) umumnya ditanam dengan jarak yang lebih lebar (125 cm x 125 cm). Pada tanah yang kurang subur (daerah Lampung) untuk mendapatkan hasil yang tinggi per satuan luas, ubikayu dapat ditanam dengan jarak tanam yang lebih rapat (Tabel 7). Dengan menanam lebih rapat, meskipun hasil per tanaman lebih sekit tapi karena populasinya tinggi hasilumbi per satuan luas menjadi lebih tinggi pula. Tabel 7. Hasil ubikayu pada populasi tanam yang berbeda di Lampung Timur dan Lampung Tengah MT Lampung Timur Lampung Tengah Varietas tan/ha tan/ha tan/ha tan/ha tan/ha tan/ha UJ3 31,0 0 bc 28,57 c 28,28 c 27,34 30,20 30,49 UJ5 36,98 a 31,83 b 28,40 c 29,59 32,91 31,80 Sumber: Balitkabi, 2010 Keterangan: Angka yang didampingi huruh yang sama tidak berbeda menurut BNT 0,05 Ubijalar umumnya ditanam pada guludan dengan ukuran yang bervariasi lebar dasar cm, tinggi 1530 cm, sehingga jarak antar puncak guludan berkisar cm. Jarak tanam di dalam baris (gulud) berkisar 2030 cm, sehingga diperoleh populasi tanaman setiap hektarnya. Populasi tanaman sangat menentukan ukuran dan produksi umbi. Varietas Sari yang mempunyai tajuk kompak dapat ditanam dengan jarak tanam antar tanaman yang lebih rapat (20 cm), sehingga hasilnya meningkat. Hasil penelitian di tanah Entisol Blitar dan Mojokerto menunjukkan bahwa tinggi guludan 30 cm memberi hasil yang lebih baik dibanding tanpa guludan (Tabel 8). 9

10 Tabel 8. Produktivitas umbi ubijalar pada berbagai tinggi guludan di tanah Entisol Blitar dan Mojokerto MK Tinggi guludan (cm) Blitar Produktivitas (t/ha) Mojokerto Tanpa guludan 33,11 28,45 Tinggi 10 cm 28,82 32,70 Tinggi 20 cm 31,29 29,61 Tinggi 30 cm 33,97 43,86 Sumber: Balitkabi, 2003 Keterangan: Pada umur 45 minggu dilakukan pembubunan, sehingga semua perlakuan mempunyai tinggi guludan 30 cm; * = berbeda nyata dibanding kontrol tanpa gulud. 1.2.b. Pemupukan Ubikayu merupakan tanaman yang adaptasi pada lingkungan tumbuh yang lebih baik dibanding tanaman pangan lain (toleran kekeringan, toleran masam, toleran kadar Aldd yang lebih tinggi, mampu mengekstrak hara yang lebih efektif). Kemampuan adaptasi tanaman ubi kayu yang baik menyebabkan tanaman ini dapat tumbuh dan menghasilkan biarpun diusahakan pada lahan suboptimal maupun marjinal. Jumlah hara yang diambil untuk setiap ton umbi yang dihasilkan adalah lebih kurang 6,5 kg N, 2,24 P205 dan 4,32 kg K20. Hara yang terangkut dari dalam tanah tersebut perlu diganti melalui tindakan pemupukan organik dan anorganik (Howeler, 1994; Howeler, 2002). Oleh karena itu dalam jangka panjang produktivitasnya pada lahan suboptimal/marjinal juga akan cepat menurun apabila dalam pengusahaannya apabila tanpa disertai dengan pemupukan yang seimbang dengan hara yang diekstraksi. Untuk memperoleh hasil ubikayu yang tinggi pemupukan sangat diperlukan, mengingat tanaman ini banyak dibudidayakan pada lahan yang tanahnya mempunyai kesuburan sedang sampai rendah seperti tanah Alfisol (Mediteran), Oxisol (Latosol), dan Ultisol (Podsolik). Karena relatif banyak membutuhkan hara N dan K, ubikayu tanggap terhadap pemupukan unsur hara tersebut. Pada lahan kering bertanah Alfisol di Patuk (Gunung Kidul) pemberian pupuk ZA sebagai sumber hara N dan S pada takaran yang meningkat dari 50 sampai 100 kg/ha selalu diikuti oleh peningkatan hasil umbi secara signifikan (Tabel 9). Pada tanah Alfisol di Patuk (Gunung Kidul) dan Bantur (Malang) yang mengandung Kdd (Kdapat ditukar) 0,2 me/100 g dan 0,5 me/100 g, tanaman ubi kayu tanggap terhadap pemupukan K hingga takaran 100 kg KCl/ha (Tabel 10). Berdasarkan hasil penelitian pada lahan kering Alfisol di Malang, pupuk KCl dianjurkan diaplikasi dua kali yaitu pada saat tanam dan umur 60 hari setelah tanam (Tabel 11). Pada lahan kering masam di luar Jawa yang tanahnya didominasi Ultisol (Podsolik) yang banyak mengandung Aldd dan miskin unsur hara serta bahan organik. Dari segi keracunan Al, tanaman ubikayu tergolong tahan, karena kadar kritis kejenuhan Aldd bagi ubikayu adalah sekitar 80%, padahal tingkat kejenuhan Aldd tanah Ultisol di Indonesia umumnya jarang yang melampaui 75%. Walaupun demikian, pemberian kapur 10

11 dengan takaran rendah yang ditujukan untuk memupuk Ca dan/atau Ca + Mg ternyata dapat meningkatkan hasil ubi kayu, dan takaran kapurnya cukup 300 kg/ha (Tabel 12). Pada tanah Alfisol Bantur (Malang) yang kandungan bahan organiknya rendah (kadar Corganik 1,04%), pemberian pupuk kandang dengan takaran 3 dan 6 ton/ha dapat meningkatkan hasil ubikayu (Tabel 13). Dalam praktik, penggunaan pupuk kandang sekarang banyak dilakukan oleh petani ubikayu di Lampung, hal ini sebagian terkait dengan semakin sulit dan mahal untuk mendapatkan dan membeli pupuk anorganik. Sehubungan dengan ini maka usahatani integrasi ternak tanaman akan semakin strategis untuk membantu petani dalam menyediakan pupuk organik. Tabel 9. Pengaruh pemberian pupuk ZA terhadap hasil lima klon/varietas ubikayu pada lahan kering Alfisol Gunung Kidul. Hasil umbi segar (ton/ha) Pupuk ZA (kg/ha) KTKN No. 13 No. 10 No. 12 Adira1 0 23,7 22,56 24,78 24,11 18, ,33 18,11 29,22 27,33 23, ,56 33,89 32,89 32,22 26,55 Pupuk dasar: 100 kg SP kg KCl per hektar Sumber: Slamet et al. (2003). Tabel 10. Hasil ubikayu pada lahan kering Alfisol di Gunung Kidul dan Malang pada berbagai takaran pupuk KCl. Hasil umbi segar (ton/ha) Takaran KCl (kg/ha) Gunung Kidul *) Malang *) 0 18,89 33, ,56 36, ,45 44, ,12 44,33 Pada pemupukan dasar: 200 kg Urea kg SP36/ha. *) Kandungan Kdd Alfisol Gunung Kidul 0,2 me/100 g dan Alfisol Malang 0,5 me/100g Sumber: Ispandi et al. (2003). 11

12 Tabel 11. Hasil ubikayu pada tanah Alfisol di Patuk (Gunung Kidul) dan Bantur (Malang) pada beberapa takaran dan frekuensi pemberian pupuk KCl. Hasil umbi segar (ton/ha) Takaran KCl (kg/ha) 1 kali aplikasi**)2 kali aplikasi**)3 kali aplikasi **) Patuk (Gunung Kidul *) 50 20,98 32,45 27, ,93 37,57 25, ,71 32,56 26,98 Bantur (Malang) *) 50 19,82 24,10 19, ,67 27,56 25, ,60 27,78 23,33 Pada pemupukan dasar: 100 kg Urea + 50 kg ZA kg SP36 per hektar *) Kdd Alfisol Patuk 0,16 me/100 g dan Alfisol Bantur 0,29 me/100 g **) 1 kali aplikasi pada saat tanam, 2 kali aplikasi pada saat tanam dan umur 60 hari, dan 3 kali aplikasi pada saat tanam, umur 60 hari, dan umur 120 hari setelah tanam. Sumber: Ispandi dan Munip, Tabel 12. Pengaruh pemberian kapur pada takaran rendah terhadap hasil ubikayu pada lahan kering masam di Metro dan Tulangbawang (Lampung). Hasil umbi segar (ton/ha) *) Takaran kapur (kg/ha) Metro Tulangbawang 0 32,84 26, ,56 32, ,44 28,40 *) Dipanen umur 10 bulan. Pupuk dasar: 200 kg Urea kg SP kg KCl/ha. Sumber: Munip dan Ispandi,

13 Tabel 13. Pengaruh pupuk kandang terhadap hasil dua varietas ubikayu pada tanah Alfisol di Bantur (Malang). MT 2004/2005. Takaran Hasil umbi segar (ton/ha) pupuk kandang (ton/ha) UJ5 Malang6 0 15,00 15, ,80 19, ,00 22,20 Pupuk dasar: 150 kg Urea kg ZA kg SP kg KCl/ha. Sumber: Ispandi dan Munip, Keragaman lingkungan tumbuh akan memberikan hasil yang beragam pula. Demikian juga ketidakstabilan suatu genotipa di berbagai lingkungan biasanya menunjukkan interaksi yang tinggi antara faktor genetik dengan lingkungan. Oleh karena itu ketersediaan paket teknologi yang adaptif termasuk penggunaan varietas yang berpotensi hasil tinggi, stabil dan sedikit berinteraksi dengan lingkungan merupakan faktor utama yang perlu dipertimbangkan. Menurut Wargiono et al. (2009) komponen teknologi yang tersusun harus saling bersinergi diantaranya penyiapan lahan, penyediaan bibit, pemupukan, waktu tanam dan cara tanam. Berdasarkan hasilhasil penelitian yang telah diperoleh, telah disusun rakitan teknologi budidaya ubikayu dan dilakukan pengujian di Malang Selatan, Banyuwangi (Jawa Timur), Natar dan Sulusuban (Lampung). Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa bahwa dengan pengelolaan tanaman yang baik, hasil ubikayu dapat ditingkatkan hingga t/ha (Tabel 14). Hasil yang sama juga dilaporkan dari hasil demplot sekolah lapang kelompok tani Jati Subur Sukowilangun di Malang Selatan menunjukkan bahwa pada tanah Inceptisol, varietas lokal Sembung dapat mencapai hasil 153 t/ha, sedangkan varietas MLG6, MLG4 dan Adira4 masingmasing dapat menghasilkan 83 t, 93 t, dan 74 t/ha dengan pemupukan 1200 kg Bokasi, 500 kg Ponska dan 85 kg Urea, ditanam dengan jarak 125 cm x 100 cm (Anonymous, 2006). Di daerah RembangKepuh, kecamatan Ngadiluwih kabupaten Kediri, kelompok Tani Subur Makmur juga melaporkan bahwa pada tanah Entisol, dengan pengelolaan tanaman yang baik hasil ubikayu dapat mencapai 100 t/ha lebih (Komunikasi probadi, 2011). Ubijalar termasuk tanaman yang respon terhadap pemupukan, khususnya di tanah yang kurang subur dan ditanami terus menerus. Pada lahan sawah tadah hujan jenis tanah Entisol di Pasuruan dan Blitar, dengan pupuk organik campuran serbuk arang (Forgcomp) sebanyak 5 t/ha memberi hasil umbi setara dengan pemupukan 100 kg Urea kg KCl/ha (Tabel 15 ). 13

14 Tabel 14. Komponen teknologi produksi ubikayu spesifik lokasi di Malang Selatan, KP Genteng dan Lampung. Komponen teknologi Lokasi Malang Selatan Genteng Natar, Lampung Sulusuban Lampung Persiapan lahan Cara tanam Jarak tanam Klon (varietas) Waktu tanam Pemupukan : Urea SP36 Ponska KCl Pupuk kandang Dolomit Penyiangan Pembumbunan Herbisida Dibajak 2 kali Guludan 125 m x 100 cm MLG6 dan Sembung Oktober 600 kg 200 kg 200 kg 10 t 2 kali 2 kali Dibajak 2 kali Guludan 125 m x 100 cm MLG6, Adira 4, UJ5, Cecek hijau dan Sembung Oktober 300 kg 300 kg 10 t 2 kali 2 kali Dibajak 2 kali Guludan 100 cm x 80 cm Adira4, UJ5, Kaspro dan lokal Dampit Nopember 300 kg 100 kg 100 kg 5 t 2 kali 1 kali 4 liter Dibajak 2 kali Guludan 100 cm x 80 cm OMM Adira 4, Kaspro dan MLG6 Nopember 300 kg 200 kg 200 kg 5 t 500 kg 2 kali 1 kali 4 liter Dibajak 2 kali Guludan 100 cm x 80 cm OMM Adira 4, Kaspro dan MLG6 Nopember 300 kg 200 kg 200 kg 5 t 500 kg 2 kali 1 kali 4 liter Hasil umbi (t/ha) B/C ratio ,84, ,74, ,53, ,31, ,02,4 Sumber: Radjit et al.(2008) ; Radjit et al. (2009) dan Radjit et al.. (2010) Tabel 15. Hasil umbi ubijalar pada berbagai pemupukan di tanah Entisol Pasuruan dan Blitar MK 2003 Pemupukan Hasil umbi (t/ha) Pasuruan Blitar Tanpa pupuk 33,26 32,28 Pupuk kandang 10 t/ha 33,67 32, kg Urea+ 100 kg KCl/ha 34,64* 34,85* 100 kg Ure kg KCl/ha + 5 ton pupuk kandang 34,21 34,42 * 200 kg Urea kg KCl/ha 34,22 34,85* Forgcomp 5 t/ha 38,55* 36,21* Sumber: Balitkabi, 2003 Keterangan: Forgcompt = pupuk organik dari kotoran ayam yang dicampur dengan serbuk arang komposit; * = berbeda nyata dibanding kontrol 14

15 Pupuk organik biasanya diberikan bersamaan dengan pembuatan guludan. Umumnya pemupukan diberikan dua kali, yaitu pada awal sejumlah 1/3 bagian, dan yang ke dua pada umur 1,52 bulan sejumlah 2/3 bagian. Hara yang terangkut oleh panen ubijalar dengan taraf hasil 15 t/ha umbi segar sejumlah 70 kg N, 20 kg P dan 110 kg K. Oleh karena itu, bagi tanah yang ditanami terusmenerus dan kurang subur dianjurkan untuk menggunakan dosis 200 kg Urea kg SP kg KCl/ha ditambah mulsa jerami 10 t/ha serta pupuk kandang 10 t/ha. Untuk menghemat biaya pupuk kandang tidak perlu diberikan setiap tahun, tetapi setiap dua tahun. Di tanah vulkanik muda Kediri yang relatif subur, ubijalar yang ditanam setelah padi dan tanpa penambahan pupuk mampu menghasilkan 23 t/ha. Pemupukan yang berlebihan justru sering menimbulkan pertumbuhan tajuk yang maksimal, sehingga hasil umbi berkurang. 2. Perluasan areal tanam/panen. Pada saat sekarang luas panen ubikayu dan ubijalar masingmasing berkisar antara 1,2 1,5 juta hektar, dan ribu hektar, sementara lahan kering berupa lahan tegalan, lahan ladang maupun yang sementara belum dimanfaatkan di seluruh Indonesia masih sangat luas. Wargiono (2001) menyebutkan bahwa di beberapa daerah sentra produksi ubikayupun indeks pertanaman belum optimal dan masih terdapat lahanlahan tidur yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan ubikayu. Lahan Ultisol, Inceptisol dan Alfisol yang mendominasi sentra produksi ubikayu dan belum diusahakan (merupakan lahan tidur berupa padang alangalang) di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur masingmasing sekitar 3,1 juta hektar, 6,2 juta hektar, 0,8 juta hektar dan 1,2 juta hektar sangat potensial sebagai daerah pengembangan ubikayu, terutama pada daerah beriklim basah (Suyamto dan Wargiono, 2009). Selain secara khusus mengembangkan ubikayu dan ubijalar pada lahan yang baru, peningkatan luas areal tanam/panen ubikayu dan ubijalar juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan lahan lahan pada perkebunan/hutan industri yang tanaman utamanya masih berumur 13 tahun. Di Lampung, ubikayu banyak diusahakan pada perkebunan karet/kelapa sawit muda. Di Jawa Timur, ubikayu banyak ditanam di bawah naungan hutan jati muda. Di lahan tadah hujan di Jawa Timur dan Jawa Tengah, ubikayu banyak ditanam secara tumpangsari dengan tanaman pangan lain seperti padi gogo, jagung, kacangkacangan atau sayuran. Berkembangnya wanatani dan penggunaan lahan sawah tadah hujan untuk usahatani ubikayu di daerah industri pengolahan ubikayu dapat dijadikan indikator bahwa penambahan areal tanam berpeluang diimplementasikan. 15

16 Tabel 16. Sebaran dan luas jenis tanah Inceptisol, Alfisol dan Ultisol di Indonesia Jenis dan luas (000 ha) Lahan Tidur Tipe iklim (%) Propinsi Inceptisol Alfisol Ultisol 000 ha) Basah Kering Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Bengkulu Sumatera Selatan Lampung Total Sumatera Jawa Barat Jawa Tengah Yogyakarta Jawa Timur Total Jawa Nusa TT Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Timur Total Kalimantan Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Total Sulawesi Sumber: Adimihardja dan Mapaona (2005) dan BPS 2004 dalam Suyamto dan Wargiono, 2009 PENINGKATAN KUALITAS Sebagai sumber karbohidrat ubikayu dan ubijalar dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan, pakan dan bahan baku industri melalui proses dehidrasi ( chip, pellet, tepung tapioka ), hidrolisa (dekstrose, maltose, sukrose, sirup glukose) dan proses fermentasi (alkohol, butanol, aseton, asam laktat, sorbitol dll). Sebagai bahan pangan yang dikonsumsi langsung (digodok, digoreng) diperlukan ubikayu yang rasanya enak (tidak pahit dengan kadar HCN< 50 ppm), mempur tidak berserat. Sebaliknya untuk bahan baku industri tepung atau tapioka, selain produktivitasnya yang tinggi, juga diperlukan kadar pati yang tinggi. Untuk bahan baku ethanol, selain produksi dan kadar pati juga diperlukan varietas yang mempunyai kadar gula total dan nilai konversi etanol yang tinggi. Beberapa 16

17 varietas/klon ubikayu yang sesuai untuk bahan baku ethanol antara lain : Adira4, UJ5, UJ3, OMM 99084, CMM dan MLG 0311 (Tabel 17 ). Tabel 17. Varietas ubikayu yang sesuai untuk bahan baku ethanol Klon ubikayu Kadar bahan kering (%) Kadar gula total (% bb) Kadar pati (% bk) Konversi umbi segar kupas menjadi etanol (kg/liter) a Adira4 39,51 40,93 80,31 4,70 UJ3 41,34 36,22 79,57 4,93 UJ5 46,31 43,47 80,24 4,52 OMM ,41 42,38 80,48 4,25 CMM ,36 45,28 82,13 4,23 MLG ,49 41,29 80,93 4,29 Keterangan: a : Etanol dengan kadar 96% (effisiensi distilasi dianggap 95%) (Sumber: Ginting, et al., 2006) Pada ubijalar, peningkatan kualitas umbi diarahkan pada fungsi ubijalar sebagai pangan kesehatan (functional food). Aspek fungsional tersebut berkaitan dengan keberadaan beta karoten (pada umbi berdaging kuning/orange) dan antosianin (pada umbi berdaging ungu), senyawa fenol, dan serat pangan serta nilai indeks glisemiknya (Glycemic Index). Akhirakhir ini dengan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan, permintaan ubijalar berdaging umbi kuning(orange) dan ungu meningkat. Fungsi utama beta karoten ubijalar adalah sebagai pro vitamin A. Di samping memiliki aktivitas vitamin A, beta karoten dilaporkan juga dapat memberi perlindungan/ pencegahan terhadap kanker, penuaan, penurunan kekebalan tubuh, penyakit jantung, stroke, katarak, sengatan cahaya matahari dan gangguan otot (Mayne 1996). Hal ini berkaitan dengan kemampuannya untuk menangkap radikal bebas, yang dipercaya sebagai penyebab terjadinya tumor dan kanker. Varietas ubijalar yang mengandung betakarotene adalah Sari, Papua Solossa, Sawentar, Beta1 dan Beta 2 (Tabel 18). Tabel 18. Varietas ubijalar berdaging kuning/orange dan kandungan beta karoten nya Varietas Warna daging umbi Kandungan beta karoten (ug/100 g bahan) Sari Kuning 380,92 Papua Solossa Kuning tua 533,80 Sawentar Kuning tua 347,84 Beta1 Orange tua ,00 Beta2 Orange 4.629,00 Sumber: Balitkabi, 2011 Antosianin yang terdapat pada ubijalar ungu, memiliki kemampuan yang tinggi sebagai antioksidan karena kemampuannya untuk menangkap radikal bebas dan menghambat peroksidasi lemak, penyebab utama kerusakan pada sel yang berasosiasi dengan terjadinya penuaan dan penyakitpenyakit degeneratif, seperti arteosklerosis, 17

18 jantung koroner, dan kanker (CevallosCasals dan CisnerosZevallos 2002; Suda et al. 2003). Selain itu, antosianin memiliki kemampuan sebagai antimutagenik dan antikarsinogenik (Yamakawa dan Yoshimoto 2002). Antosianin juga dapat mencegah gangguan pada fungsi hati, antihipertensi, dan antihiperglisemik (Suda et al., 2003). Beberapa varietas/klon ubijalar yang berdaging ungu dan mengandung antosianin tinggi adalah Antin1, Antin2, Ayamurasaki, RIS , MSU Tabel 18. Varietas ubijalar berdaging ungu dan kandungan antosianinnya Varietas Warna daging umbi Kandungan Antosianin (mg/100 g bahan) Antin1 Warna ungu sembur 33,89 Ayamurasaki Ungu tua 281,90 RIS Ungu tua 510,80 MSU Ungu tua 590,80 MSU Ungu 148,0 MSU Ungu muda 33,9 MSU Ungu muda 64,0 Kandungan senyawa fenol pada ubi jalar ungu lebih tinggi dibandingkan ubi jalar kuning dan putih. Keberadaan senyawa fenol tersebut berasosiasi dengan tingginya aktivitas antioksidan ubijalar ungu (Yashimoto et al., 1999). KESIMPULAN 1. Sebagai sumber karbohidrat untuk pangan, pakan dan bahan baku industri, pada masa mendatang kebutuhan ubi kayu dan ubijalar akan meningkat secara tajam sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk, berkembangnya industri peternakan dan industri berbahan baku ubikayu dan ubijalar. 2. Selama kurun waktu dasawarsa terakhir (tahun ), produksi ubikayu dan ubijalar meningkat dengan pertumbuhan 3,5 dan 0,75 %/tahun. Namun luas tanam ubikayu dan ubijalar cenderung stagnan bahkan menurun. Peningkatan produksi lebih disebabkan oleh meningkatnya produktivitas. 3. Hingga tahun 2009, ratarata produktivitas ubikayu dan ubijalar masih rendah, yaitu masingmasing 18,2 t/ha dan 11 t/ha. Peningkatanm produktivitas ubikayu dan ubijalar dapat dilakukan dengan menanam varietas unggul, disertai teknologi budidaya yang maju. 4. Peningkatan produksi ubikayu dan ubijalar dapat dilakukan dengan memperluas areal tanam/panen. Ke lahan kering, lahan tidur dan meningkatkan indeks tanam. 5. Dalam merakit varietas unggul, perbaikan kualitas ubikayu untuk pangan lansung diarahkan pada rasa enak, kadar HCN rendah dan tidak berserat. Untuk ubikayu sebagai bahan baku industri selain produktivitas tinggi, juga diarahkan pada kadar pati dan gula total. 6. Untuk ubijalar, perakitan varietas diarahkan pada peran ubijalar sebagai functional food sehingga diarahkan pada kadar beta karoten dan antosianin yang tinggi. 18

19 DAFTAR PUSTAKA Balitkabi Hasil Utama Penelitian Kacangkacangan dan Umbiumbian. Tahun Balitkabi Malang. Balitkabi Deskripsi varietas unggul kacangkacangan dan umbiumbian. Balitkabi Malang.179 hal. Balitkabi Hasil Utama Penelitian Kacangkacangan dan Umbiumbian. Tahun Balitkabi Malang.66 hlm. BPS (2005). Statistik Indonesia Badan Pusat Statistik, Jakarta., Indonesia. 604 p. BPS Statistik Indonesia. Biro Pusat Statistik Jakarta. 640 hlm. CevallosCasals, B.A. and L.A. CisnerosZevallos Bioactive and functional properties of purple sweetpotato (Ipomoea batatas (L.) Lam). Acta Horticulture 583: Ginting, E., S.S. Antarlina, J.S. Utomo, dan Ratnaningsih Teknologi pasca panen ubi jalar mendukung difersifikasi pangan dan pengembangan agroindustri, Bulletin Palawija no.11:1528. Ginting, E., J.S. Utomo, R. Yulifianti, dan M. Yusuf Potensi ubijalar ungu sebagai pangan fungsional. IPTEK Tanaman Pangan 6(1): Hafsah, M.J Bisnis ubi kayu Indonesia. Pustaka Sinar Harapan, Jakarta. 263 p. Howeler, R.H Integrated soil and crop management to prevent environment degradation in cassava based cropping systems in Asia. Proc. Of workshop on Upland Agriculture in Asia, April 68, Bogor, Indonesia, : Howeler, R.H Cassava mineral nutrition and fertilization. In. R.J. Hillocks, J.M. Thresh and A.C.Belloti (ed). Cassava Biology. Production and Utilization. Pp: Cabi Publishing, CAB International, Wallingford. Oxon. Mayne, S.T Betacarotene, carotenoids and disease prevention in humans. FASEB J. 10: Ispandi, A, L.J. Santoso, dan Mayar Pemupukan dan dinamika kalium dalam tanah dan tanaman ubi kayu di lahan kering Alfisol, p Dalam: Koes Hartojo et al. (ed.). Pemberdayaan ubi kayu mendukung ketahanan pangan nasional dan pengembangan agribisnis kerakyatan. Balai Penelitian Tanaman Kacangkacangan dan Umbiumbian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Ispandi, A dan A. Munip Efektivitas pemupukan N, K, dan frekuensi pemberian pupuk K pada tanaman ubi kayu di lahan kering Alfisol, p Dalam: A. K. Makarim et al. (ed.). Kinerja penelitian mendukung agribisnis kacangkacangan dan umbiumbian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor. 19

20 Ispandi, A dan A. Munip Pengaruh pupuk organik dan pupuk K terhadap peningkatan serapan hara dan produksi umbi beberapa klon ubi kayu di lahan kering Alfisol. Makalah bahan seminar hasil penelitian tanaman pangan di Balitkabi, Malang (belum dipublikasi). Karama, S Potensi, tantangan dan kendala ubi kayu dalam mendukung ketahanan pangan, p Dalam: Koes Hartojo et al. (ed.). Pemberdayaan ubi kayu mendukung ketahanan pangan nasional dan pengembangan agribisnis kerakyatan. Balai Penelitian Tanaman Kacangkacangan dan Umbiumbian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Munip, A dan A. Ispandi Pengaruh pengapuran terhadap serapan hara, hasil umbi dan kadar pati beberapa klon ubi kayu di lahan kering tanah masam. Laporan Teknis. Balai Penelitian Tanaman Kacangkacangan dan Umbiumbian (belum dipublikasi). Presiden Republik Indonesia Peraturan Presiden Republik Indonesia No 5., tentang Kebijakan Enerji Nasional Radjit,B.S., Y. Widodo, A. Munip, N. Prasetiaswati dan N. Saleh Teknologi Produksi Ubikayu di Lahan Kering yang produktif dan Efisien. Lap. Akhir Tahun Balai Penelitian Tanaman Kacangkacangan dan Umbiumbian. Puslitbantan: 19 hal. Radjit,B.S., N. Saleh, Y. Widodo, A. Munip, N. Prasetiaswati dan Teknologi Produksi Ubikayu monokultur dan tumpangsari di Lahan Kering yang produktif dan Efisien. Lap. Akhir Tahun Radjit,B.S., N. Prasetiaswati, A. Munip dan N. Saleh Teknologi Produksi Ubikayu Umur genjah yang efisien di Lahan kering dan pasang surut dengan potensi hasil t/ha. Lap. Teknis Akhir Tahun Balai Penelitian Tanaman Kacangkacangan dan Umbiumbian. 38 hal. Saleh, N., K. Hartojo and Suyamto Present situation and future potential of cassava in Indonesia. Cassava Potential in Asia in 21 st Century. Proc. 6th Regional Cassava Workshop. Ho Chi Minh city, Vietnam. p : Saleh, N., B. Santoso, Y. Widodo, A. Munip, E.Ginting dan N. Prasyaswati Alternatif teknologi produksi ubikayu mendukung agroindustri. Laporan akhir tahun Slamet, P; L.J. Santoso, dan A. Ispandi Pengaruh dosis pemupukan ZA terhadap hasil umbi lima klon/varietas ubi kayu di lahan kering tanah Alfisol Gunung Kidul Yogyakarta. p Dalam: Koes Hartojo et al. (ed.). Pemberdayaan 20

DESKRIPSI VARIETAS UNGGUL UBIKAYU UK-1

DESKRIPSI VARIETAS UNGGUL UBIKAYU UK-1 DESKRIPSI VARIETAS UNGGUL UBIKAYU 1978 2012 UK-1 ADIRA 1 Dilepas tahun : 1978 Nomor seleksi klon : W-78 Asal : Persilangan Mangi/Ambon, Bogor 1957 Hasil rata-rata : 22 t/ha umbi basah Umur : 7 10 bulan

Lebih terperinci

beras atau sebagai diversifikasi bahan pangan, bahan baku industri dan lain sebagainya.

beras atau sebagai diversifikasi bahan pangan, bahan baku industri dan lain sebagainya. PENDAHULUAN Kebutuhan pangan secara nasional setiap tahun terus bertambah sesuai dengan pertambahan jumlah penduduk sementara lahan untuk budidaya untuk tanaman bijibijian seperti padi dan jagung luasannya

Lebih terperinci

VARIETAS UNGGUL DAN KLON-KLON HARAPAN UBIKAYU UNTUK BAHAN BAKU BIOETANOL

VARIETAS UNGGUL DAN KLON-KLON HARAPAN UBIKAYU UNTUK BAHAN BAKU BIOETANOL VARIETAS UNGGUL DAN KLON-KLON HARAPAN UBIKAYU UNTUK BAHAN BAKU BIOETANOL Penggunaan bahan bakar fosil (fossil fuel) secara terus menerus menimbulkan dua ancaman serius: (1) faktor ekonomi, berupa jaminan

Lebih terperinci

memenuhi kebutuhan warga negaranya. Kemampuan produksi pangan dalam negeri dari tahun ke tahun semakin terbatas. Agar kecukupan pangan nasional bisa

memenuhi kebutuhan warga negaranya. Kemampuan produksi pangan dalam negeri dari tahun ke tahun semakin terbatas. Agar kecukupan pangan nasional bisa BAB I PENDAHULUAN Kebutuhan pangan secara nasional setiap tahun terus bertambah sesuai dengan pertambahan jumlah penduduk, sementara lahan untuk budi daya tanaman biji-bijian seperti padi dan jagung luasannya

Lebih terperinci

PEMUPUKAN TANAMAN UBIKAYU BERDASARKAN METODE PERANGKAT UJI TANAH KERING DALAM MENINGKATKAN PRODUKSI

PEMUPUKAN TANAMAN UBIKAYU BERDASARKAN METODE PERANGKAT UJI TANAH KERING DALAM MENINGKATKAN PRODUKSI Agros Vol. 17 No.1, Januari 2015: 81-87 ISSN 1411-0172 PEMUPUKAN TANAMAN UBIKAYU BERDASARKAN METODE PERANGKAT UJI TANAH KERING DALAM MENINGKATKAN PRODUKSI FERTILIZATION CASSAVA PURSUANT TO METHOD UPLAND

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Ubi kayu (Manihot esculenta Crantz) merupakan salah satu tanaman pangan

I. PENDAHULUAN. Ubi kayu (Manihot esculenta Crantz) merupakan salah satu tanaman pangan 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Ubi kayu (Manihot esculenta Crantz) merupakan salah satu tanaman pangan daerah tropis. Ubi kayu menjadi tanaman pangan pokok ketiga setelah padi dan jagung.

Lebih terperinci

Optimasi Hasil Ubikayu Menggunakan Teknologi Adaptif

Optimasi Hasil Ubikayu Menggunakan Teknologi Adaptif Optimasi Hasil Ubikayu Menggunakan Teknologi Adaptif Budhi Santoso Radjit dan Nila Prasetiaswati Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian Jl. Raya Kendalpayak, Kotak Pos 66 Malang Abstract

Lebih terperinci

REKOMENDASI PEMUPUKAN TANAMAN KEDELAI PADA BERBAGAI TIPE PENGGUNAAN LAHAN. Disusun oleh: Tim Balai Penelitian Tanah, Bogor

REKOMENDASI PEMUPUKAN TANAMAN KEDELAI PADA BERBAGAI TIPE PENGGUNAAN LAHAN. Disusun oleh: Tim Balai Penelitian Tanah, Bogor REKOMENDASI PEMUPUKAN TANAMAN KEDELAI PADA BERBAGAI TIPE PENGGUNAAN LAHAN Disusun oleh: Tim Balai Penelitian Tanah, Bogor Data statistik menunjukkan bahwa dalam kurun waktu lima belas tahun terakhir, rata-rata

Lebih terperinci

UBIKAYU: VARIETAS DAN TEKNOLOGI BUDIDAYA

UBIKAYU: VARIETAS DAN TEKNOLOGI BUDIDAYA UBIKAYU: VARIETAS DAN TEKNOLOGI BUDIDAYA Atman Roja Peneliti Madya pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Barat Email: at_roja@yahoo.com, blog: http://atmanroja.wordpress.com Makalah

Lebih terperinci

PENGGUNAAN BAHAN ORGANIK UNTUK MENINGKATAN PRODUKSI JAGUNG (Zea Mays L.) DI LAHAN KERING KALIMANTAN SELATAN

PENGGUNAAN BAHAN ORGANIK UNTUK MENINGKATAN PRODUKSI JAGUNG (Zea Mays L.) DI LAHAN KERING KALIMANTAN SELATAN PENGGUNAAN BAHAN ORGANIK UNTUK MENINGKATAN PRODUKSI JAGUNG (Zea Mays L.) DI LAHAN KERING KALIMANTAN SELATAN Agus Hasbianto dan Sumanto Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Selatan ABSTRAK Jagung

Lebih terperinci

Lampiran 1. Persyaratan teknis minimal pupuk organik % % % ppm. Sel/ml %

Lampiran 1. Persyaratan teknis minimal pupuk organik % % % ppm. Sel/ml % Lampiran 1. Persyaratan teknis minimal pupuk organik No Parameter Satuan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 C-Organik C/N rasio Bahan ikutan (kerikil, beling, plastik) Kadar air - Granule - Curah Kadar Logam Berat As Hg

Lebih terperinci

LEBIH DALAM : PADI, KARET DAN SAWIT. Disusun oleh : Queen Enn. Nulisbuku.com

LEBIH DALAM : PADI, KARET DAN SAWIT. Disusun oleh : Queen Enn. Nulisbuku.com LEBIH DALAM : PADI, KARET DAN SAWIT Disusun oleh : Queen Enn Nulisbuku.com PENGGUNAAN ZEOLIT MENDONGKRAK PRODUKSI DAN PENDAPATAN USAHA TANI UBIKAYU Penggunaan Zeolit untuk tanaman pangan di Indonesia masih

Lebih terperinci

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PENDAHULUAN A. Latar Belakang I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hortikultura sebagai salah satu subsektor pertanian memiliki peran yang cukup strategis dalam perekonomian nasional. Hal ini tercermin dari perannya sebagai pemenuh kebutuhan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bahan pangan lokal, termasuk ubi jalar (Erliana, dkk, 2011). Produksi ubi

BAB I PENDAHULUAN. bahan pangan lokal, termasuk ubi jalar (Erliana, dkk, 2011). Produksi ubi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Diversifikasi pangan merupakan program prioritas Kementerian Pertanian sesuai dengan PP Nomor 22 tahun 2009 tentang Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis

Lebih terperinci

Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut

Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut Proyek Penelitian Pengembangan Pertanian Rawa Terpadu-ISDP Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut Penyusun I Wayan Suastika

Lebih terperinci

Teknologi Budidaya Ubi Kayu

Teknologi Budidaya Ubi Kayu PENDAHULUAN Di Indonesia, ubi kayu (Manihot esculenta) merupakan makanan pokok ke tiga setelah padi dan jagung. Sedangkan untuk konsumsi penduduk dunia, khususnya penduduk negara-negara tropis, tiap tahun

Lebih terperinci

KONSERVASI LAHAN MELALUI PENERAPAN TEKNOLOGI BUDIDAYA LORONG (Alley Cropping) DI DAERAH TRANSMIGRASI KURO TIDUR, BENGKULU

KONSERVASI LAHAN MELALUI PENERAPAN TEKNOLOGI BUDIDAYA LORONG (Alley Cropping) DI DAERAH TRANSMIGRASI KURO TIDUR, BENGKULU J. Tek. Ling. Vol. 9 No. 2 Hal. 205-210 Jakarta, Mei 2008 ISSN 1441-318X KONSERVASI LAHAN MELALUI PENERAPAN TEKNOLOGI BUDIDAYA LORONG (Alley Cropping) DI DAERAH TRANSMIGRASI KURO TIDUR, BENGKULU Kasiran

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. agraris seharusnya mampu memanfaatkan sumberdaya yang melimpah dengan

I. PENDAHULUAN. agraris seharusnya mampu memanfaatkan sumberdaya yang melimpah dengan I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi yang merupakan salah satu indikator keberhasilan suatu negara dapat dicapai melalui suatu sistem yang bersinergi untuk mengembangkan potensi yang dimiliki

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tanaman padi merupakan tanaman yang termasuk genus Oryza L. yang

I. PENDAHULUAN. Tanaman padi merupakan tanaman yang termasuk genus Oryza L. yang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tanaman padi merupakan tanaman yang termasuk genus Oryza L. yang meliputi kurang lebih 25 spesies dan tersebar di daerah tropis dan subtropis seperti di Asia, Afrika,

Lebih terperinci

Varietas Unggul Baru (VUB) Kentang Menjawab Kebutuhan Bahan Baku Olahan

Varietas Unggul Baru (VUB) Kentang Menjawab Kebutuhan Bahan Baku Olahan Varietas Unggul Baru (VUB) Kentang Menjawab Kebutuhan Bahan Baku Olahan Bahan baku untuk industri terutama keripik kentang adalah varietas Atlantik, karena memiliki mutu olah yang baik. Sebagian besar

Lebih terperinci

PENGGUNAAN BERBAGAI PUPUK ORGANIK PADA TANAMAN PADI DI LAHAN SAWAH IRIGASI

PENGGUNAAN BERBAGAI PUPUK ORGANIK PADA TANAMAN PADI DI LAHAN SAWAH IRIGASI PENGGUNAAN BERBAGAI PUPUK ORGANIK PADA TANAMAN PADI DI LAHAN SAWAH IRIGASI Endjang Sujitno, Kurnia, dan Taemi Fahmi Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat Jalan Kayuambon No. 80 Lembang,

Lebih terperinci

KACANG TANAH DILAHAN LEBAK KALIMANTAN SELATAN UNTUK PENGEMBANGAN AGRIBISNIS DI PEDESAAN ABSTRAK

KACANG TANAH DILAHAN LEBAK KALIMANTAN SELATAN UNTUK PENGEMBANGAN AGRIBISNIS DI PEDESAAN ABSTRAK KACANG TANAH DILAHAN LEBAK KALIMANTAN SELATAN UNTUK PENGEMBANGAN AGRIBISNIS DI PEDESAAN (Studi kasus Desa Panggang Marak, Kecamatan Labuan Amas Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah) Rosita Galib Balai

Lebih terperinci

ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI TANAMAN PANGAN DI KECAMATAN PURWOSARI KABUPATEN GUNUNGKIDUL (Studi kasus Daerah Rawan Pangan)

ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI TANAMAN PANGAN DI KECAMATAN PURWOSARI KABUPATEN GUNUNGKIDUL (Studi kasus Daerah Rawan Pangan) ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI TANAMAN PANGAN DI KECAMATAN PURWOSARI KABUPATEN GUNUNGKIDUL (Studi kasus Daerah Rawan Pangan) Dr. Aris Slamet Widodo, SP., MSc. Retno Wulandari, SP., MSc. Prodi Agribisnis,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Beras merupakan bahan pangan yang dikonsumsi hampir seluruh penduduk

I. PENDAHULUAN. Beras merupakan bahan pangan yang dikonsumsi hampir seluruh penduduk I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Beras merupakan bahan pangan yang dikonsumsi hampir seluruh penduduk Indonesia. Perkembangan produksi tanaman pada (Oryza sativa L.) baik di Indonesia maupun

Lebih terperinci

BERTANAM UBIKAYU SISTEM SAMBUNGAN (MUKIBAT) ANTARA BATANG ATAS KETELA KARET DAN UBIKAYU

BERTANAM UBIKAYU SISTEM SAMBUNGAN (MUKIBAT) ANTARA BATANG ATAS KETELA KARET DAN UBIKAYU BERTANAM UBIKAYU SISTEM SAMBUNGAN (MUKIBAT) ANTARA BATANG ATAS KETELA KARET DAN UBIKAYU Ubikayu sebagai penghasil karbohidrat mempunyai peran strategis untuk substitusi dan pemenuhan bahan pangan non-beras,

Lebih terperinci

POLA TANAM TANAMAN PANGAN DI LAHAN SAWAH DAN KERING

POLA TANAM TANAMAN PANGAN DI LAHAN SAWAH DAN KERING POLA TANAM TANAMAN PANGAN DI LAHAN SAWAH DAN KERING TEKNOLOGI BUDIDAYA Pola tanam Varietas Teknik Budidaya: penyiapan lahan; penanaman (populasi tanaman); pemupukan; pengendalian hama, penyakit dan gulma;

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Komoditas hortikultura tergolong komoditas yang bernilai ekonomi tinggi

BAB I PENDAHULUAN. Komoditas hortikultura tergolong komoditas yang bernilai ekonomi tinggi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Komoditas hortikultura tergolong komoditas yang bernilai ekonomi tinggi dan menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi wilayah (Badan Litbang Pertanian

Lebih terperinci

DATA STATISTIK KETAHANAN PANGAN TAHUN 2014

DATA STATISTIK KETAHANAN PANGAN TAHUN 2014 DATA STATISTIK KETAHANAN PANGAN TAHUN 2014 BADAN KETAHANAN PANGAN KEMENTERIAN PERTANIAN 2015 1 Perkembangan Produksi Komoditas Pangan Penting Tahun 2010 2014 Komoditas Produksi Pertahun Pertumbuhan Pertahun

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. sapi yang meningkat ini tidak diimbangi oleh peningkatan produksi daging sapi

I. PENDAHULUAN. sapi yang meningkat ini tidak diimbangi oleh peningkatan produksi daging sapi I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kebutuhan konsumsi daging sapi penduduk Indonesia cenderung terus meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk Indonesia dan kesadaran masyarakat akan

Lebih terperinci

Pengaruh Perlakuan Terhadap Kadar Asam Sianida (HCN) Kulit Ubi Kayu Sebagai Pakan Alternatif. Oleh : Sri Purwanti *)

Pengaruh Perlakuan Terhadap Kadar Asam Sianida (HCN) Kulit Ubi Kayu Sebagai Pakan Alternatif. Oleh : Sri Purwanti *) Pengaruh Perlakuan Terhadap Kadar Asam Sianida (HCN) Kulit Ubi Kayu Sebagai Pakan Alternatif Oleh : Sri Purwanti *) Pendahuluan Pangan produk peternakan terutama daging, telur dan susu merupakan komoditas

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tanaman pisang adalah salah satu komoditas yang dapat digunakan sebagai

I. PENDAHULUAN. Tanaman pisang adalah salah satu komoditas yang dapat digunakan sebagai 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tanaman pisang adalah salah satu komoditas yang dapat digunakan sebagai sumber karbohidrat alternatif karena memiliki kandungan karbohidrat dan kalori yang cukup tinggi.

Lebih terperinci

PROSPEK DAN KENDALA LAHAN KERING DI KALIMANTAN SELATAN SEBAGAI SUMBER PRODUKSI JAGUNG

PROSPEK DAN KENDALA LAHAN KERING DI KALIMANTAN SELATAN SEBAGAI SUMBER PRODUKSI JAGUNG PROSPEK DAN KENDALA LAHAN KERING DI KALIMANTAN SELATAN SEBAGAI SUMBER PRODUKSI JAGUNG Aidi Noor, Khairudin, dan M. Yasin Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kalimantan Selatan Jl. P. Batur Barat

Lebih terperinci

KELAYAKAN USAHATANI JAGUNG HIBRIDA PADA LAHAN SAWAH TADAH HUJAN MELALUI PENDEKATAN PTT

KELAYAKAN USAHATANI JAGUNG HIBRIDA PADA LAHAN SAWAH TADAH HUJAN MELALUI PENDEKATAN PTT Seminar Nasional Serealia, 2013 KELAYAKAN USAHATANI JAGUNG HIBRIDA PADA LAHAN SAWAH TADAH HUJAN MELALUI PENDEKATAN PTT Syuryawati, Roy Efendi, dan Faesal Balai Penelitian Tanaman Serealia ABSTRAK Untuk

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1. Tinjauan Pustaka 2.1.1. Pupuk Kompos Pupuk digolongkan menjadi dua, yakni pupuk organik dan pupuk anorganik. Pupuk

Lebih terperinci

TEKNOLOGI PRODUKSI DAN PENGEMBANGAN KEDELAI PADA LAHAN SAWAH SEMI INTENSIF DI PROVINSI JAMBI

TEKNOLOGI PRODUKSI DAN PENGEMBANGAN KEDELAI PADA LAHAN SAWAH SEMI INTENSIF DI PROVINSI JAMBI TEKNOLOGI PRODUKSI DAN PENGEMBANGAN KEDELAI PADA LAHAN SAWAH SEMI INTENSIF DI PROVINSI JAMBI Julistia Bobihoe, Endrizal dan Didiek Agung Budianto 1) Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jambi 2)

Lebih terperinci

PRODUKSI BEBERAPA VARIETAS KEDELAI PADA BUDIDAYA JENUH AIR DI LAHAN PASANG SURUT. Munif Ghulamahdi Maya Melati Danner Sagala

PRODUKSI BEBERAPA VARIETAS KEDELAI PADA BUDIDAYA JENUH AIR DI LAHAN PASANG SURUT. Munif Ghulamahdi Maya Melati Danner Sagala PRODUKSI BEBERAPA VARIETAS KEDELAI PADA BUDIDAYA JENUH AIR DI LAHAN PASANG SURUT Munif Ghulamahdi Maya Melati Danner Sagala PENDAHULUAN Produksi kedelai nasional baru memenuhi 35-40 %, dengan luas areal

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Pembangunan pertanian memiliki peran yang strategis dalam perekonomian

I PENDAHULUAN. Pembangunan pertanian memiliki peran yang strategis dalam perekonomian I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan pertanian memiliki peran yang strategis dalam perekonomian nasional. Peran strategis pertanian tersebut digambarkan melalui kontribusi yang nyata melalui pembentukan

Lebih terperinci

LAPORAN AKHIR ANALISIS KEBIJAKSANAAN PEMBANGUNAN PERTANIAN: ANTISIPATIF DAN RESPON TERHADAP ISU AKTUAL. Oleh :

LAPORAN AKHIR ANALISIS KEBIJAKSANAAN PEMBANGUNAN PERTANIAN: ANTISIPATIF DAN RESPON TERHADAP ISU AKTUAL. Oleh : LAPORAN AKHIR ANALISIS KEBIJAKSANAAN PEMBANGUNAN PERTANIAN: ANTISIPATIF DAN RESPON TERHADAP ISU AKTUAL Oleh : Pantjar Simatupang Agus Pakpahan Erwidodo Ketut Kariyasa M. Maulana Sudi Mardianto PUSAT PENELITIAN

Lebih terperinci

TEKNOLOGI PEMUPUKAN PADI SAWAH LAHAN IRIGASI DI PROPINSI DAERAH ISTIMEWA ACEH

TEKNOLOGI PEMUPUKAN PADI SAWAH LAHAN IRIGASI DI PROPINSI DAERAH ISTIMEWA ACEH TEKNOLOGI PEMUPUKAN PADI SAWAH LAHAN IRIGASI DI PROPINSI DAERAH ISTIMEWA ACEH Oleh : Chairunas, Basri AB, Tamrin, M.. Nasir Ali dan T.M. Fakhrizal PENDAHULUAN Kelebihan pemakaian dan atau tidak tepatnya

Lebih terperinci

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 130/Permentan/SR.130/11/2014 TENTANG

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 130/Permentan/SR.130/11/2014 TENTANG MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 130/Permentan/SR.130/11/2014 TENTANG KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN

Lebih terperinci

KERAGAAN BEBERAPA VARIETAS PADI GOGO DI DAERAH ALIRAN SUNGAI BATANGHARI. Mildaerizanti, Desi Hernita, Salwati dan B.Murdolelono BPTP JAMBI BPTP NTT

KERAGAAN BEBERAPA VARIETAS PADI GOGO DI DAERAH ALIRAN SUNGAI BATANGHARI. Mildaerizanti, Desi Hernita, Salwati dan B.Murdolelono BPTP JAMBI BPTP NTT KERAGAAN BEBERAPA VARIETAS PADI GOGO DI DAERAH ALIRAN SUNGAI BATANGHARI Mildaerizanti, Desi Hernita, Salwati dan B.Murdolelono BPTP JAMBI BPTP NTT ABSTRAK Tingginya tingkat pertumbuhan penduduk yang tidak

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 122/Permentan/SR.130/11/2013 TENTANG

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 122/Permentan/SR.130/11/2013 TENTANG PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 122/Permentan/SR.130/11/2013 TENTANG KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN TAHUN ANGGARAN 2014 DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dari daerah Brasilia (Amerika Selatan). Sejak awal abad ke-17 kacang tanah telah

BAB I PENDAHULUAN. dari daerah Brasilia (Amerika Selatan). Sejak awal abad ke-17 kacang tanah telah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tanaman kacang tanah (Arachis hypogea. L) merupakan tanaman yang berasal dari daerah Brasilia (Amerika Selatan). Sejak awal abad ke-17 kacang tanah telah dibudidayakan

Lebih terperinci

PENDAMPINGAN KAWASAN PENGEMBANGAN AGRIBISNIS HORTIKULTURA DI KABUPATEN BANTAENG

PENDAMPINGAN KAWASAN PENGEMBANGAN AGRIBISNIS HORTIKULTURA DI KABUPATEN BANTAENG PENDAMPINGAN KAWASAN PENGEMBANGAN AGRIBISNIS HORTIKULTURA DI KABUPATEN BANTAENG BASO ALIEM LOLOGAU, dkk PENDAHULUAN Latar Belakang Kabupaten Bantaeng mempunyai delapan kecamatan yang terdiri dari 67 wilayah

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. merupakan kebutuhan dasar manusia. Ketahanan pangan adalah ketersediaan

I. PENDAHULUAN. merupakan kebutuhan dasar manusia. Ketahanan pangan adalah ketersediaan 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ketahanan pangan merupakan hal yang sangat penting, mengingat pangan merupakan kebutuhan dasar manusia. Ketahanan pangan adalah ketersediaan pangan dan kemampuan seseorang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sektor pertanian telah terbukti memiliki peranan penting bagi pembangunan perekonomian suatu bangsa. Hal ini didasarkan pada kontribusi sektor pertanian yang berperan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkebunan sebagai salah satu sub sektor pertanian di Indonesia berpeluang besar dalam peningkatan perekonomian rakyat dan pembangunan perekonomian nasional.adanya

Lebih terperinci

PRODUKSI PADI DAN PALAWIJA (Angka Tetap 2014 dan Angka Ramalan I 2015)

PRODUKSI PADI DAN PALAWIJA (Angka Tetap 2014 dan Angka Ramalan I 2015) BPS PROVINSI JAWA TIMUR PRODUKSI PADI DAN PALAWIJA (Angka Tetap 2014 dan Angka Ramalan I 2015) No. 47/07/35/Th XIII,1 Juli 2015 A. PADI Angka Tetap (ATAP) 2014 produksi Padi Provinsi Jawa Timur sebesar

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Ubi jalar (Ipomoea batatas) atau ketela rambat atau sweet potato diduga berasal

TINJAUAN PUSTAKA. Ubi jalar (Ipomoea batatas) atau ketela rambat atau sweet potato diduga berasal II. TINJAUAN PUSTAKA A. Ubi Jalar Ubi jalar (Ipomoea batatas) atau ketela rambat atau sweet potato diduga berasal dari Benua Amerika. Para ahli botani dan pertanian memperkirakan daerah asal tanaman ubi

Lebih terperinci

PELUANG BISNIS BUDIDAYA JAMBU BIJI

PELUANG BISNIS BUDIDAYA JAMBU BIJI PELUANG BISNIS BUDIDAYA JAMBU BIJI Oleh : Nama : Rudi Novianto NIM : 10.11.3643 STRATA SATU TEKNIK INFORMATIKA SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER AMIKOM YOGYAKARTA 2011 A. Abstrak Jambu

Lebih terperinci

KAJIAN TINGKAT INTEGRASI PADI-SAPI PERAH DI NGANTANG KABUPATEN MALANG

KAJIAN TINGKAT INTEGRASI PADI-SAPI PERAH DI NGANTANG KABUPATEN MALANG KAJIAN TINGKAT INTEGRASI PADI-SAPI PERAH DI NGANTANG KABUPATEN MALANG Rohmad Budiono 1 dan Rini Widiati 2 1 Balai Pengkajian Teknoogi Pertanan Jawa Timur 2 Fakultas Peternakan UGM, Yogyakarta ABSTRAK Tujuan

Lebih terperinci

PENINGKATAN NILAI TAMBAH JAGUNG SEBAGAI PANGAN LOKAL Oleh : Endah Puspitojati

PENINGKATAN NILAI TAMBAH JAGUNG SEBAGAI PANGAN LOKAL Oleh : Endah Puspitojati PENINGKATAN NILAI TAMBAH JAGUNG SEBAGAI PANGAN LOKAL Oleh : Endah Puspitojati Kebutuhan pangan selalu mengikuti trend jumlah penduduk dan dipengaruhi oleh peningkatan pendapatan per kapita serta perubahan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bumbu penyedap makanan serta obat tradisonal. Komoditas ini juga merupakan

BAB I PENDAHULUAN. bumbu penyedap makanan serta obat tradisonal. Komoditas ini juga merupakan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Bawang merah merupakan salah satu komoditas sayuran unggulan yang sejak lama telah diusahakan oleh petani secara intensif. Komoditas sayuran ini termasuk ke dalam

Lebih terperinci

Karakteristik dan Komposisi Kimia Jagung

Karakteristik dan Komposisi Kimia Jagung Karakteristik dan Komposisi Kimia Jagung i iv Teknologi Fermentasi pada Tepung Jagung TEKNOLOGI FERMENTASI PADA TEPUNG JAGUNG Oleh : Nur Aini Edisi Pertama Cetakan Pertama, 2013 Hak Cipta 2013 pada penulis,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tanaman jahe (Zingiber officinale Rosc.) merupakan salah satu tanaman yang

I. PENDAHULUAN. Tanaman jahe (Zingiber officinale Rosc.) merupakan salah satu tanaman yang 2 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Tanaman jahe (Zingiber officinale Rosc.) merupakan salah satu tanaman yang mempunyai banyak kegunaan antara lain sebagai ramuan, rempah - rempah, bahan minyak

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. sangat penting untuk mencapai beberapa tujuan yaitu : menarik dan mendorong

I. PENDAHULUAN. sangat penting untuk mencapai beberapa tujuan yaitu : menarik dan mendorong I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Strategi pembangunan pertanian yang berwawasan agribisnis dan agroindustri pada dasarnya menunjukkan arah bahwa pengembangan agribisnis merupakan suatu upaya

Lebih terperinci

TEKNOLOGI BUDIDAYA PADI SISTEM TANAM BENIH LANGSUNG (TABELA) DI LAHAN SAWAH IRIGASI PROPINSI DAERAH ISTIMEWA ACEH PENDAHULUAN

TEKNOLOGI BUDIDAYA PADI SISTEM TANAM BENIH LANGSUNG (TABELA) DI LAHAN SAWAH IRIGASI PROPINSI DAERAH ISTIMEWA ACEH PENDAHULUAN TEKNOLOGI BUDIDAYA PADI SISTEM TANAM BENIH LANGSUNG (TABELA) DI LAHAN SAWAH IRIGASI PROPINSI DAERAH ISTIMEWA ACEH Oleh : Chairunas, Adli Yusuf, Azman B, Burlis Han, Silman Hamidi, Assuan, Yufniati ZA,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pangan merupakan kebutuhan paling mendasar dari suatu bangsa. Banyak negara dengan sumber ekonomi cukup memadai, tetapi mengalami kehancuran karena tidak mampu memenuhi

Lebih terperinci

KERJASAMA KHUSUS 1. Adaptasi perubahan iklim melalui disain model simulasi tanaman padi di lahan rawa Provinsi Jambi.

KERJASAMA KHUSUS 1. Adaptasi perubahan iklim melalui disain model simulasi tanaman padi di lahan rawa Provinsi Jambi. KERJASAMA KHUSUS Kegiatan kerjasama khusus dilaksanakan melalui mekanisme khusus dan ditetapkan oleh Balitbangtan, bersifat kompetitif atau non kompetitif, menyangkut program top-down yang dikeluarkan

Lebih terperinci

PROSPEK TANAMAN PANGAN

PROSPEK TANAMAN PANGAN PROSPEK TANAMAN PANGAN Krisis Pangan Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang pemenuhannya menjadi hak asasi setiap rakyat Indonesia dalam mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas untuk melaksanakan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Bawang Merah. rumpun, tingginya dapat mencapai cm, Bawang Merah memiliki jenis akar

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Bawang Merah. rumpun, tingginya dapat mencapai cm, Bawang Merah memiliki jenis akar II. TINJAUAN PUSTAKA A. Bawang Merah Bawang Merah merupakan tanaman yang berumur pendek, berbentuk rumpun, tingginya dapat mencapai 15-40 cm, Bawang Merah memiliki jenis akar serabut, batang Bawang Merah

Lebih terperinci

KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM BIDANG PERTANIAN UNTUK MEWUJUDKAN KEMANDIRIAN PANGAN DAN ENERGI BERBASIS PERTANIAN

KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM BIDANG PERTANIAN UNTUK MEWUJUDKAN KEMANDIRIAN PANGAN DAN ENERGI BERBASIS PERTANIAN KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM BIDANG PERTANIAN UNTUK MEWUJUDKAN KEMANDIRIAN PANGAN DAN ENERGI BERBASIS PERTANIAN Dr. Suswono, MMA Menteri Pertanian Republik Indonesia Disampaikan pada Seminar Nasional Universitas

Lebih terperinci

IX. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN. A. Kesimpulan. 1. Pada daerah sentra produksi utama di Indonesia, perkembangan luas panen,

IX. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN. A. Kesimpulan. 1. Pada daerah sentra produksi utama di Indonesia, perkembangan luas panen, IX. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN A. Kesimpulan 1. Pada daerah sentra produksi utama di Indonesia, perkembangan luas panen, produksi dan produktivitas jagung dengan periodisasi tiga musim tanam jagung

Lebih terperinci

KERAGAAN BEBERAPA GENOTIPE JAGUNG HIBRIDA DI LAHAN SAWAH NUSA TENGGARA BARAT

KERAGAAN BEBERAPA GENOTIPE JAGUNG HIBRIDA DI LAHAN SAWAH NUSA TENGGARA BARAT KERAGAAN BEBERAPA GENOTIPE JAGUNG HIBRIDA DI LAHAN SAWAH NUSA TENGGARA BARAT Baiq Tri Ratna Erawati 1), Awaludin Hipi 1) dan Andi Takdir M. 2) 1)Balai Pengkajian Teknologi Pertanian NTB 2)Balai Penelitian

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP)

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) 15 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kebun Percobaan Natar, Desa Negara Ratu, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung

Lebih terperinci

PENDAMPINGAN SL-PTT JAGUNG DI KABUPATEN BULUKUMBA

PENDAMPINGAN SL-PTT JAGUNG DI KABUPATEN BULUKUMBA PENDAMPINGAN SLPTT JAGUNG DI KABUPATEN BULUKUMBA Ir. Andi Darmawida A., dkk I. PENDAHULUAN.. Latar Belakang Untuk memenuhi kebutuhan pangan yang terus meningkat akibat bertambahnya jumlah penduduk, kualitas

Lebih terperinci

PENELITIAN POTENSI DAN KETERSEDIAAN PANGAN DALAM RANGKA KETAHANAN PANGAN DI JAWA TENGAH

PENELITIAN POTENSI DAN KETERSEDIAAN PANGAN DALAM RANGKA KETAHANAN PANGAN DI JAWA TENGAH PENELITIAN POTENSI DAN KETERSEDIAAN PANGAN DALAM RANGKA KETAHANAN PANGAN DI JAWA TENGAH Rachman Djamal, dkk Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Jawa Tengah Jl. Imam Bonjol No. 190 Semarang Telp.

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang. dalam upaya peningkatan devisa Indonesia. Ekspor karet Indonesia selama

PENDAHULUAN. Latar Belakang. dalam upaya peningkatan devisa Indonesia. Ekspor karet Indonesia selama PENDAHULUAN Latar Belakang Karet merupakan komoditi ekspor yang mampu memberikan kontribusi dalam upaya peningkatan devisa Indonesia. Ekspor karet Indonesia selama 20 tahun terakhir terus menunjukkan adanya

Lebih terperinci

ANALISIS PERTUMBUHAN TANAMAN DAN HASIL UBI JALAR (Ipomoea batatas (L.) Lam.) PENDAHULUAN

ANALISIS PERTUMBUHAN TANAMAN DAN HASIL UBI JALAR (Ipomoea batatas (L.) Lam.) PENDAHULUAN P R O S I D I N G 19 ANALISIS PERTUMBUHAN TANAMAN DAN HASIL UBI JALAR (Ipomoea batatas (L.) Lam.) Nur Edy Suminarti 1) 1) Dosen Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya Jl. Veteran, Malang 65145 e-mail

Lebih terperinci

Peluang Usaha Budidaya Cabai?

Peluang Usaha Budidaya Cabai? Sambal Aseli Pedasnya Peluang Usaha Budidaya Cabai? Tanaman cabai dapat tumbuh di wilayah Indonesia dari dataran rendah sampai dataran tinggi. Peluang pasar besar dan luas dengan rata-rata konsumsi cabai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dapat mengkonsumsi berbagai jenis pangan sehingga keanekaragaman pola

BAB I PENDAHULUAN. dapat mengkonsumsi berbagai jenis pangan sehingga keanekaragaman pola BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu masalah yang dihadapi oleh negara berkembang termasuk Indonesia adalah peningkatan jumlah penduduk yang pesat dan tidak seimbang dengan penyediaan pangan

Lebih terperinci

PENGARUH JARAK TANAM PADA BUDIDAYA TERUNG UNGU (Solanum melongena L.) SECARA ORGANIK (MAKALAH) Oleh : Fuji Astuti NPM

PENGARUH JARAK TANAM PADA BUDIDAYA TERUNG UNGU (Solanum melongena L.) SECARA ORGANIK (MAKALAH) Oleh : Fuji Astuti NPM 0 PENGARUH JARAK TANAM PADA BUDIDAYA TERUNG UNGU (Solanum melongena L.) SECARA ORGANIK (MAKALAH) Oleh : Fuji Astuti NPM 10712017 PROGRAM STUDI HORTIKULTURA JURUSAN BUDIDAYA TANAMAN PANGAN POLITEKNIK NEGERI

Lebih terperinci

KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN JAGUNG PADA LAHAN SAWAH MELALUI PERBAIKAN POLA TANAM YANG BERBASIS KEMITRAAN

KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN JAGUNG PADA LAHAN SAWAH MELALUI PERBAIKAN POLA TANAM YANG BERBASIS KEMITRAAN KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN JAGUNG PADA LAHAN SAWAH MELALUI PERBAIKAN POLA TANAM YANG BERBASIS KEMITRAAN INSENTIF PENINGKATAN KEMAMPUAN PENELITI DAN PEREKAYASA PENELITI UTAMA: ZAINAL ABIDIN, SP.,MP FOKUS:

Lebih terperinci

ANALISIS TIME SERIES TERHADAP PENGELOLAAN SUT KACANG HIJAU BELU (klon berhipokotil Putih) DI LAHAN KERING SETELAH PANEN JAGUNG

ANALISIS TIME SERIES TERHADAP PENGELOLAAN SUT KACANG HIJAU BELU (klon berhipokotil Putih) DI LAHAN KERING SETELAH PANEN JAGUNG ANALISIS TIME SERIES TERHADAP PENGELOLAAN SUT KACANG HIJAU BELU (klon berhipokotil Putih) DI LAHAN KERING SETELAH PANEN JAGUNG Yohanes Leki Seran Balai Pengkajian Teknologi Pertanian NTT ABSTRAK Lahan

Lebih terperinci

Tabel Lampiran 1. Produksi, Luas Panen dan Produktivitas Padi Per Propinsi

Tabel Lampiran 1. Produksi, Luas Panen dan Produktivitas Padi Per Propinsi Tabel., dan Padi Per No. Padi.552.078.387.80 370.966 33.549 4,84 4,86 2 Sumatera Utara 3.48.782 3.374.838 826.09 807.302 4,39 4,80 3 Sumatera Barat.875.88.893.598 422.582 423.402 44,37 44,72 4 Riau 454.86

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pupuk adalah bahan yang ditambahkan ke dalam tanah untuk menyediakan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pupuk adalah bahan yang ditambahkan ke dalam tanah untuk menyediakan 7 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pupuk Organik Cair Pupuk adalah bahan yang ditambahkan ke dalam tanah untuk menyediakan sebagian unsur esensial bagi pertumbuhan tanaman. Peran pupuk sangat dibutuhkan oleh tanaman

Lebih terperinci

Adaptasi Beberapa Varietas Unggul Kedelai yang Berdaya Hasil Tinggi dengan Pemberian Dolomit dan Urea di Lahan Pasang Surut

Adaptasi Beberapa Varietas Unggul Kedelai yang Berdaya Hasil Tinggi dengan Pemberian Dolomit dan Urea di Lahan Pasang Surut Jurnal Lahan Suboptimal ISSN: 2252-6188 (Print), ISSN: 2302-3015 (Online, www.jlsuboptimal.unsri.ac.id) Vol. 3, No.2: 126-131, Oktober 2014 Adaptasi Beberapa Varietas Unggul Kedelai yang Berdaya Hasil

Lebih terperinci

AGROFORESTRY : SISTEM PENGGUNAAN LAHAN YANG MAMPU MENINGKATKAN PENDAPATAN MASYARAKAT DAN MENJAGA KEBERLANJUTAN

AGROFORESTRY : SISTEM PENGGUNAAN LAHAN YANG MAMPU MENINGKATKAN PENDAPATAN MASYARAKAT DAN MENJAGA KEBERLANJUTAN AGROFORESTRY : SISTEM PENGGUNAAN LAHAN YANG MAMPU MENINGKATKAN PENDAPATAN MASYARAKAT DAN MENJAGA KEBERLANJUTAN Noviana Khususiyah, Subekti Rahayu, dan S. Suyanto World Agroforestry Centre (ICRAF) Southeast

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertambahan penduduk yang melaju dengan cepat perlu diimbangi dengan kualitas dan kuantitas makanan sebagai bahan pokok, paling tidak sama dengan laju pertumbuhan penduduk.

Lebih terperinci

Penggunaan Lahan Pertanian dan Arah Pengembangan ke Depan

Penggunaan Lahan Pertanian dan Arah Pengembangan ke Depan Penggunaan Lahan Pertanian dan Arah Pengembangan ke Depan Oleh: Anny Mulyani, Fahmuddin Agus, dan Subagyo Penggunaan Lahan Pertanian Dari total luas lahan Indonesia, tidak terrnasuk Maluku dan Papua (tidak

Lebih terperinci

PROFIL KEMISKINAN DI INDONESIA MARET 2009

PROFIL KEMISKINAN DI INDONESIA MARET 2009 BADAN PUSAT STATISTIK BADAN PUSAT STATISTIK No. 43/07/Th. XII, 1 Juli 2009 PROFIL KEMISKINAN DI INDONESIA MARET 2009 Jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada di bawah Garis Kemiskinan di Indonesia

Lebih terperinci

pengusaha mikro, kecil dan menegah, serta (c) mengkaji manfaat ekonomis dari pengolahan limbah kelapa sawit.

pengusaha mikro, kecil dan menegah, serta (c) mengkaji manfaat ekonomis dari pengolahan limbah kelapa sawit. BOKS LAPORAN PENELITIAN: KAJIAN PELUANG INVESTASI PENGOLAHAN LIMBAH KELAPA SAWIT DALAM UPAYA PENGEMBANGAN USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH DI PROVINSI JAMBI I. PENDAHULUAN Laju pertumbuhan areal perkebunan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sumber protein di Indonesia (Sumarno, 1983). Peningkatan produksi kedelai di Indonesia dari

BAB I PENDAHULUAN. sumber protein di Indonesia (Sumarno, 1983). Peningkatan produksi kedelai di Indonesia dari BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kedelai merupakan salah satu komoditas tanaman pangan yang digunakan sebagai sumber protein di Indonesia (Sumarno, 1983). Peningkatan produksi kedelai di Indonesia

Lebih terperinci

MENU BERAGAM BERGIZI DAN BERIMBANG UNTUK HIDUP SEHAT. Nur Indrawaty Liputo. Bagian Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

MENU BERAGAM BERGIZI DAN BERIMBANG UNTUK HIDUP SEHAT. Nur Indrawaty Liputo. Bagian Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas MENU BERAGAM BERGIZI DAN BERIMBANG UNTUK HIDUP SEHAT Nur Indrawaty Liputo Bagian Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Disampaikan pada Seminar Apresiasi Menu Beragam Bergizi Berimbang Badan Bimbingan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman kacang hijau termasuk suku (famili) leguminoseae yang banyak

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman kacang hijau termasuk suku (famili) leguminoseae yang banyak 9 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanaman Kacang Hijau (Phaseolus radiatus L.) Tanaman kacang hijau termasuk suku (famili) leguminoseae yang banyak varietasnya (Rukmana, 2005). Kedudukan tanaman kacang hijau

Lebih terperinci

Statistik Konsumsi Pangan 2012 KATA PENGANTAR

Statistik Konsumsi Pangan 2012 KATA PENGANTAR KATA PENGANTAR Dalam rangka meningkatkan ketersediaan dan pelayanan data dan informasi pertanian, Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian menerbitkan Buku Statistik Konsumsi Pangan 2012. Buku ini berisi

Lebih terperinci

Kata kunci: pendapatan, usahatani, jagung, hibrida Keywords: income, farm, maize, hybrid

Kata kunci: pendapatan, usahatani, jagung, hibrida Keywords: income, farm, maize, hybrid 56 KOMPARASI PENDAPATAN USAHATANI JAGUNG HIBRIDA BISI 16 DAN BISI 2 DI KECAMATAN GERUNG KABUPATEN LOMBOK BARAT FARM INCOME COMPARISON OF THE HYBRID MAIZE BISI 16 AND BISI 2 IN GERUNG, WEST LOMBOK Idrus

Lebih terperinci

PELATIHAN TEKNIS BUDIDAYA KEDELAI BAGI PENYULUH PERTANIAN DAN BABINSA PENGOLAHAN TANAH BADAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN SDM PERTANIAN

PELATIHAN TEKNIS BUDIDAYA KEDELAI BAGI PENYULUH PERTANIAN DAN BABINSA PENGOLAHAN TANAH BADAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN SDM PERTANIAN PELATIHAN TEKNIS BUDIDAYA KEDELAI BAGI PENYULUH PERTANIAN DAN BABINSA PENGOLAHAN TANAH BADAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN SDM PERTANIAN PUSAT PELATIHAN PERTANIAN 2015 Sesi : PENGOLAHAN TANAH Tujuan Berlatih

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Isu strategis yang kini sedang dihadapi dunia adalah perubahan iklim

BAB I PENDAHULUAN. Isu strategis yang kini sedang dihadapi dunia adalah perubahan iklim BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Isu strategis yang kini sedang dihadapi dunia adalah perubahan iklim global, krisis pangan dan energi yang berdampak pada kenaikan harga pangan dan energi, sehingga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan masyarakat, baik perkotaan maupun di pedesaan. Anak-anak dari berbagai

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan masyarakat, baik perkotaan maupun di pedesaan. Anak-anak dari berbagai BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Makanan jajanan sudah menjadi kebiasaan yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, baik perkotaan maupun di pedesaan. Anak-anak dari berbagai golongan apapun

Lebih terperinci

Peluang Investasi Agrobisnis Padi Sawah

Peluang Investasi Agrobisnis Padi Sawah Halaman 1 Peluang Investasi Agrobisnis Padi Sawah Dalam kehidupan sehari-hari karbohidrat merupakan salah satu zat yang sangat penting bagi tubuh dan sangat mutlak diperlukan setiap hari. Karbohidrat merupakan

Lebih terperinci

PERUBAHAN BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH AKIBAT PEMBERIAN LIMBAH CAIR INDUSTRI KELAPA SAWIT DENGAN METODE LAND APPLICATION

PERUBAHAN BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH AKIBAT PEMBERIAN LIMBAH CAIR INDUSTRI KELAPA SAWIT DENGAN METODE LAND APPLICATION Jurnal AGRIFOR Volume XIII Nomor 1, Maret 2014 ISSN : 1412 6885 PERUBAHAN BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH AKIBAT PEMBERIAN LIMBAH CAIR INDUSTRI KELAPA SAWIT DENGAN METODE LAND APPLICATION Zulkarnain 1 1 Fakultas

Lebih terperinci

Petunjuk Praktis Manajemen Pengelolaan Limbah Pertanian untuk Pakan Ternak sapi

Petunjuk Praktis Manajemen Pengelolaan Limbah Pertanian untuk Pakan Ternak sapi Manajemen Pengelolaan Limbah Pertanian untuk Pakan Ternak sapi i PETUNJUK PRAKTIS MANAJEMEN PENGELOLAAN LIMBAH PERTANIAN UNTUK PAKAN TERNAK SAPI Penyusun: Nurul Agustini Penyunting: Tanda Sahat Panjaitan

Lebih terperinci

Cara Menanam Cabe di Polybag

Cara Menanam Cabe di Polybag Cabe merupakan buah dan tumbuhan berasal dari anggota genus Capsicum. Buahnya dapat digolongkan sebagai sayuran maupun bumbu, tergantung bagaimana digunakan. Sebagai bumbu, buah cabai yang pedas sangat

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. tersebut dinamakan akar adventif (Duljapar, 2000). Batang beruas-ruas dan berbuku-buku, tidak bercabang dan pada bagian

TINJAUAN PUSTAKA. tersebut dinamakan akar adventif (Duljapar, 2000). Batang beruas-ruas dan berbuku-buku, tidak bercabang dan pada bagian TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Seperti akar tanaman jagung tanaman sorgum memiliki jenis akar serabut. Pada ruas batang terendah diatas permukaan tanah biasanya tumbuh akar. Akar tersebut dinamakan akar

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. tapioka termasuk industri hilir, di mana industri ini melakukan proses pengolahan

II. TINJAUAN PUSTAKA. tapioka termasuk industri hilir, di mana industri ini melakukan proses pengolahan II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Industri Tepung Tapioka Skala Rakyat Industri tepung tapioka merupakan industri yang memiliki peluang dan prospek pengembangan yang baik untuk memenuhi permintaan pasar. Industri

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah pupuk adalah salah satu akar permasalahan yang akan sangat luas dampaknya terutama disektor ketahanan pangan di Indonesia yang jumlah penduduknya tumbuh pesat

Lebih terperinci

PRODUKTIVITAS PADI VARIETAS INPARI 13 PADA BERBAGAI AGROEKOLOGI LAHAN SAWAH IRIGASI

PRODUKTIVITAS PADI VARIETAS INPARI 13 PADA BERBAGAI AGROEKOLOGI LAHAN SAWAH IRIGASI PRODUKTIVITAS PADI VARIETAS INPARI 13 PADA BERBAGAI AGROEKOLOGI LAHAN SAWAH IRIGASI Q. Dadang Ernawanto, Noeriwan B.S, dan S. Humaida Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur Jl. Raya Karangploso

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tebu (Saccharum officinarum L.) adalah salah satu komoditas perkebunan

I. PENDAHULUAN. Tebu (Saccharum officinarum L.) adalah salah satu komoditas perkebunan 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Tebu (Saccharum officinarum L.) adalah salah satu komoditas perkebunan penting yang ditanam untuk bahan baku utama gula. Hingga saat ini, gula merupakan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. menjadi tegas, kering, berwarna terang segar bertepung. Lembab-berdaging jenis

TINJAUAN PUSTAKA. menjadi tegas, kering, berwarna terang segar bertepung. Lembab-berdaging jenis 16 TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Ada 2 tipe akar ubi jalar yaitu akar penyerap hara di dalam tanah dan akar lumbung atau umbi. Menurut Sonhaji (2007) akar penyerap hara berfungsi untuk menyerap unsur-unsur

Lebih terperinci