Dr Syamsuddin Arif Centre for Advanced Studies of Islam, Science and Civilisation (CASIS) University of Technology Malaysia (UTM) Kuala Lumpur

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Dr Syamsuddin Arif Centre for Advanced Studies of Islam, Science and Civilisation (CASIS) University of Technology Malaysia (UTM) Kuala Lumpur"

Transkripsi

1 ILMU DALAM PERSPEKTIF BARAT DAN ISLAM: TAKRIFAN DAN PEMETAAN Dr Syamsuddin Arif Centre for Advanced Studies of Islam, Science and Civilisation (CASIS) University of Technology Malaysia (UTM) Kuala Lumpur Tiada yang lebih tepat dapat dinyatakan tentang peradaban Islam dari apa yang pernah dikatakan oleh mendiang Franz Rosenthal, bahwa di atas pentas tamadun Islam yang gemilang, ilmu adalah pemenangnya. Ilmu merupakan unsur paling utama yang telah memberikan tamadun Islam bentuk dan coraknya yang khas. Sepanjang sejarah tamadun Islam, ilmu telah terbukti menjadi istilah kultural yang unik sekaligus daya pengubah yang paling efektif. Boleh dikata tidak ada konsep yang telah berjalan sebagai penentu dari peradaban Muslim dalam segala segi sebagaimana halnya ilm [ilmu]. 1 Tulisan ini akan menilik ulang pengertian dan pembagian ilmu dalam sejarah intelektual Islam, dengan memusatkan perhatian pada bagaimana ilmu dipahami dan dipetakan oleh para cendikiawan dari beragam aliran pemikiran selama beratus-ratus tahun. Walaupun tidak mendakwa menawarkan sesuatu yang baru nihil novum sub sole, tapi diharapkan makalah ini akan menyumbang sesuatu bagi perdebatan seputar Islamisasi ilmu. Definisi Ilmu Mari kita mulai dengan pertanyaan, Apakah ilmu? Ketika dihadapkan pada pertanyaan ini, kebanyakan kita akan terusik, enggan menjawab, atau tidak peduli belaka. Ada yang berkata, ilmu adalah apa yang anda tahu. Tapi sesungguhnya ini bukanlah definisi, melainkan sebuah tautologi sekadar berkata bahwa ilmu adalah ilmu, dan sama sekali tidak menjelaskan apapun. Oxford English Dictionary (yang pasti disusun oleh tim pengarang ahli di bidangnya) menurunkan tiga arti untuk kata ilmu : (i) informasi dan kecakapan yang diperoleh melalui pengalaman atau pendidikan; (ii) keseluruhan dari apa yang diketahui; (iii) kesadaran atau kebiasaan yang didapat melalui pengalaman akan suatu fakta atau keadaan. 2 Coba kita lihat arti yang pertama. Dapatkah kita katakan bahwa ilmu adalah informasi? Kita mungkin menganggap begitu, tapi setidaknya ada dua alasan untuk menolak anggapan itu. Pertama, informasi boleh jadi benar dan boleh jadi salah, sehingga jika ilmu adalah informasi, maka ilmu akan mencakup segala yang benar maupun yang salah. Tetapi bagaimana kita dapat 1 Lihat Franz Rosenthal, Knowledge Triumphant, edisi baru (Leiden: E.J. Brill, 2007), 2 dan Online Oxford Dictionary, (ed. April 2010). 1

2 mendakwa telah mengetahui sesuatu apabila hakikatnya kita tersalah maklumat (misinformed) atau bahkan dikelirukan (disinformed)? Alasan kedua; jika kita sepakat dengan Cambridge English Dictionary bahwa informasi adalah fakta mengenai suatu keadaan, orang, peristiwa, dan sebagainya, maka fakta sama dengan ilmu. Namun, fakta bukanlah ilmu dan ilmu tidak bisa dikacaukan dengan fakta. Bahkan kamus yang sama menyebutkan pula bahwa fakta adalah sesuatu yang diketahui telah terjadi atau terwujud, terutama sesuatu yang dengannya suatu bukti itu wujud, atau yang mengandung informasi. 3 Saya menulis miring kata diketahui untuk menunjukkan adanya pendefinisian yang berputar-putar di situ. Demikian juga kalau ilmu diartikan sebagai kepandaian atau keahlian. Definisi ini pun problematis. Misalnya, kita tahu persis apa itu pesawat udara. Kita memiliki ilmu tentang benda itu dalam arti bahwa jika kita diminta untuk menggambarnya akan dengan mudah dilakukan; atau jika diminta untuk menunjukkannya di sebuah bandar udara akan mudah kita menunjuknya. Namun, ilmu semacam ini bukanlah keahlian. Mengetahui apa itu pesawat udara tidak berarti ahli tentangnya. Sebaliknya juga benar: keahlian menyiratkan ilmu, tapi ilmu tidak musti berarti keahlian. Dan jika pendidikan mengacu pada suatu proses mengenal dan menuai ilmu, definisi ini hanya membawa kita kembali pada pertanyaan, Apakah ilmu? Definisi kedua yang diberikan di atas bahwa ilmu adalah keseluruhan dari apa yang diketahui juga patut dipertanyakan. Jika apa yang diketahui adalah ilmu, semata menyatakan bahwa ilmu adalah ilmu. Yang ketiga pun tidak lebih baik. Kesadaran (awareness) mungkin bisa timbul dari ilmu, tapi ilmu bukan kesadaran. Kita mungkin sadar akan nyamuk yang berada di sekitar kita; tapi itu tidak berarti sama dengan memiliki ilmu tentang nyamuk kecuali jika kita seorang ahli biologi. Demikian pula, jika ilmu berarti kenal akrab (familiarity), maka kenal akrab menyiratkan ilmu. Namun, seringkali tidak demikian halnya, karena kita dapati ramai orang yang cukup kenal komputer tapi bukan pakar mengenai komputer dan oleh itu mereka hanya memiliki sedikit ilmu, kalaupun punya, tentang seluk-beluk komputer. Nyaris seribu tahun sebelum kelahiran Rasulullah SAW, seorang bernama Plato sampai pada definisi sebagai berikut. Ilmu adalah pendirian yang terbukti benar secara akal (μετὰ λόγου ἀληθῆ δόξαν), ujarnya dalam Theaetetus 201c8, salah satu Dialognya yang terkenal. 4 Definisi ini ringkas-padat tapi mendalam. Kita dapat memecahnya menjadi tiga unsur: (i) pendirian; (ii) kebenaran dan (iii) nalar akal. Hal-hal ini adalah tiga syarat yang harus dipenuhi untuk proposisi apapun agar memenuhi syarat sebagai ilmu. Pertama-tama, dalam pandangan Plato, ilmu adalah pendirian akal, yakni mempunyai kepercayaan tentang suatu perkara atau kedaan. Jika kita tahu bahwa gula itu manis, kita sesungguhnya percaya pada keberadaan sesuatu yang disebut gula dan 3 Cambridge English Dictionary (London) 4 Kata perkata yang Plato berikan pada lisan Theaetetus adalah sebagai berikut: Ia berkata bahwa ilmu adalah pendapat yang dibenarkan nalar (ἔφη δὲ τὴν μὲν μετὰ λόγου ἀληθῆ δόξαν ἐ$ιστήμην εἶναι) ; cf. Terjemahan Latinnya:... inquit autem opinionem veram cum ratione scientiam esse. 2

3 kita percaya rasanya yang manis. Akan tetapi, ilmu bukan sekadar percaya. Hanya pendapat atau keyakinan yang benar dapat disebut ilmu. Kepercayaan yang salah bukanlah ilmu, menurut Plato. Tetapi bagaimana kita dapat membedakan mana keyakinan yang benar dari yang salah? Di sinilah berperan akal alias logos. Supaya memenuhi syarat sebagai ilmu, keyakinan kita harus didukung oleh nalar akal. Maksudnya, suatu keyakinan itu benar jika dan hanya jika secara nalar terbukti benar. Suatu keyakinan yang benar sebab suatu kebetulan tidak memenuhi syarat sebagai ilmu. Sesungguhnya, sebagaimana sering kita jumpai halnya, keyakinan yang minim bukti seringkali salah, meski keyakinan demikian ini mungkin terkadang malah benar. Definisi Plato ini sudah pernah mendapat sanggahan. Salah satu yang terkenal adalah dari Edmund L. Gettier. Dalam suatu tulisan ilmiahnya yang kini termasuk klasik, Gettier mencoba menyanggah definisi ini dengan menunjukkan keadaan dimana seseorang memiliki keyakinan yang benar yang dibenarkan hingga taraf tertentu, tapi tidak pada taraf yang dikehendaki Plato. Misalnya, keyakinan seseorang yang benar semata karena kebetulan, ketika orang itu tidak punya bukti terkait fakta sebenarnya, dan sehingga yakin akan kebenaran semata karena kebetulan), namun dalam keadaan demikian, umumnya orang sepakat bahwa orang itu berpengetahuan. 5 Tampaknya jelas bahwa ilmu tidak dapat didefinisikan tanpa menyertakan pendapat yang berputar-putar dan tautologi (yaitu menyatakan ilmu adalah ilmu). 6 Namun, ini tidak berarti bahwa kita tidak bisa membahas ilmu sama sekali. Barangkali karena alasan ini para filsuf tertarik mendefinisikan daripada membahas beragam jenis ilmu. Maka, Bertrand Russell membedakan ilmu akan sesuatu dan ilmu akan kebenaran, dan kemudian membagi-bagi apa yang ia sebut ilmu akan sesuatu menjadi dua bagian: (i) ilmu berdasarkan pemerian (knowledge by description) dan (ii) ilmu berdasarkan pengenalan (knowledge by acquaintance). 7 Ada sejumlah hal yang kita tahu secara langsung dan pribadi, tetapi ada juga yang sebatas kita tahu dengan atau dari membaca dengan kata lain hal-hal yang digambarkan pada kita. Sebagian besar ilmu kita termasuk dalam kategori pertama. Kita tahu, misalnya, bahwa jarak yang memisahkan matahari dari planet kita adalah lebih kurang 150 juta kilometer, ini bukan berdasarkan pengenalan langsung melainkan penggambaran yang kita jumpai di buku-buku dan laporan ilmiah. Ilmu Menurut Ulama Selama berabad-abad ulama telah terus-menerus membahas ilmu secara intensif dan ekstensif seperti benar-benar diakui oleh siapapun yang mengenal baik melalui banyaknya kepustakaan yang membahas ini. Beragam definisi ilmu telah dikemukakan oleh para teolog dan fuqaha, 5 Lihat Edmund Gettier, Is Justified True Belief Knowledge? Analysis 23 (1963), Bahwa ilmu itu dapat didefinisi telah dibahas, misalnya, oleh Imam al-ghazaly dalam karyanya al-mustasfa (Cairo, 1356/1937), 1:17 7 Lihat Bertrand Russell, The Problems of Philosophy (London: Routledge, 1929). 3

4 filusuf dan para ahli bahasa. 8 Demi tujuan kita saat ini, akan dibahas empat defini ilmu berikut ini. Yang pertama diajukan oleh seorang pakar filologi al-raghib al-isfahani (w.443/1060). 9 Dalam karya agungnya, beliau mentakrifkan ilmu sebagai kebolehan menangkap sesuatu beserta hakikatnya (al- ilm idrak al-shay bi-haqiqatihi: ). 10 Dari sini dapat kita pahami bahwa sekadar menilik sifat-sifat luaran seperti bentuk, ukuran, berat, isi, warna, dan sebagainya itu sahaja tidak cukup untuk disebut sebagai ilmu. Definisi ini berpijak di atas suatu pandangan filosofis bahwa setiap individu tersusun dari diri (essence) dan ciri (accident). Essensi adalah apa yang menjadikan sesuatu atau seseorang itu wujud sebagai dirinya, yakni apa yang selalu ada dan tetap tinggal bahkan sebelum, sepanjang, maupun sesudah terjadi pelbagai macam perubahan, maka disebut sebagai hakikat. Nah, yang disebut ilmu itu adalah pengetahuan mengenai esensi atau hakikat yang tak berubah-ubah itu. Definisi kedua diberikan oleh Hujjat-al-Islam Imam al-ghazali (w.505/1111) 11 yang memerikan ilmu sebagai pengenalan akan sesuatu sebagaimana adanya (ma rifat al-shay i ala ma huwa bihi: ). 12 Dalam takrif ini, mengetahui sesuatu berarti mengenali sesuatu itu sebagai dirinya. Tiga hal di sini perlu diuraikan. Pertama, dengan menyatakan bahwa ilmu adalah pengenalan, Imam al-ghazali tampak menekankan fakta bahwa ilmu merupakan masalah personal. Ilmu mewakili keadaan minda yaitu, keadaan dimana sesuatu itu tidak lagi asing bagi orang tersebut karena dikenali oleh minda orang tersebut. Kedua, tidak seperti istilah idrak (dipakai al-isfahani) yang tidak hanya menyiratkan suatu gerakan nalar atau perubahan dari satu keadaan kepada keadaan lain (yakni dari keadaan jahil kepada keadaan ilmu) tetapi juga menyiratkan bahwa ilmu datang sebagaimana adanya ke dalam minda seseorang dari luar, istilah ma rifah dalam definisi Imam al-ghazali mengisyaratkan bahwa ilmu selalu merupakan tindakan penemuan-diri. Kita mungkin dapat membandingkannya dengan teori anamnēsis Plato, dimana pembelajaran dikatakan terdiri atas mengingat kembali apa yang sudah diketahui. Noktah lain yang relevan terdapat pada ungkapan ala ma huwa bihi. Dalam pandangan Imam al-ghazali, kita tidak dapat mendakwa mempunyai ilmu tentang sesuatu kecuali jika dan hingga kita tahu sesuatu 8 Daftar yang panjang dan bagus tentang ilmu oleh ulama diberikan oleh Franz Rosenthal dalam Knowledge Triumphant, Untuk biografi al-isfahani, lihat: al-dhahabi, Siyar A lam al-nubala 18: 120; al-safadi, al-wafi bi al-wafayat, 13:45; al-dawudi, Tabaqat al-mufassirin, 2:329; al-suyuti, Bughyat al-wu at, 2:297; Yasien Mohammed, The Path to Virtue (Kuala Lumpur: ISTAC, 2006) 10 Al-Isfahani, Mufradat Alfaz al-qur an, ed. Safwan A. Dawudi (Damaskus, Dar al-qalam, 1412/1992), Tentang kehidupan al-ghazali, lihat: Ibn Khaldun, Wafayat al-a yan, 4:216-19; al-dhahabi, Siyar A lam al- Nubala 19:322-46; al-safadi, al-wafi bi al-wafayat, 12:74-77; Ibn Kathir, Tabaqat Fuqaha al-shlafi iyyah, 2: Tentang karya ilmiahnya, lihat Abd al-rahman Badawi, Mu allafat al-ghazali (Kuwait: Wakalt al-marbu at, 1977). 12 Imam al-ghazali, Ihya Ulum al-din (Beirut: Dar al-fikr, 1420/1999), 1:33. 4

5 itu apa adanya. Pasalnya, acapkali sesuatu tampak tidak sebagaimana hakikatnya. Bumi tampak datar, bintang tampak kecil, matahari tampak mengelilingi bumi, dan seterusnya. Maka definisi ini menempatkan andaian, sangkaan, khayalan, ilusi, halusinasi, mitos dan semacamnya di luar cakupan ilmu. Sebuah definisi alternatif dikemukakan oleh pakar logika bernama Athir al-din al-abhari (w.663/1264). Menurut beliau, ilmu adalah hadirnya gambaran suatu benda dalam benak pikiran ( ) 13. Senada dengan takrifan ilmu oleh Ibn Sina (w. 428/1037) 14, definisi ini menunjukkan bahwa mengetahui sesuatu itu artinya membentuk suatu pemikiran mengenainya, memiliki gambaran sesuatu itu dalam benak pikiran kita. Dengan kata lain, mengetahui adalah melakukan konseptualisasi. Maka boleh dikatakan bahwa ilmu adalah representasi mental atau konsepsi suatu hal yang diketahui si orang yang mengetahui, sebagaimana kini orang modern membedakan antara ilmu konseptual dan ilmu proporsional (yang gagal dipertimbangkan definisi ini). Padahal, dalam kenyataan, kita tidak hanya mengetahui apa sesuatu itu, tapi juga bagaimana, di mana, kapan, dan mengapa sesuatu itu begini dan begitu. Ilmu kita tentang ular, misalnya, tidak terbatas pada hanya memiliki gambarannya pada benak kita dan menjadikan kita awas kala menghadapinya, tapi juga disertai dengan serangkaian keyakinan tentang fakta bahwa ular adalah hewan ganas lagi agresif, yang patukannya dapat mengakhiri nyawa seseorang. Al-Sharif al-jurjani (w. 816/1413) dalam bukunya al-ta rifat mendefinisikan ilmu sebagai ketibaan minda pada makna sesuatu ( ). 15 Definisi ini dinilai oleh Ali Celebi Qinalizadeh (w. 979/1572) sebagai takrif paling bagus yang ia ketahui. 16 Definisi inilah beserta definisi dari Ibn Sina dan al-abhari yang oleh Professor Syed Muhammad Naquib al-attas telah digabungkan untuk julung kalinya dalam monograf beliau The Concept of Education in Islam. Menurutnya, ilmu paling tepat didefinisikan sebagai ketibaan makna sesuatu di dalam jiwa dan sekaligus ketibaan jiwa pada makna sesuatu 17 (= ). Satu perkara penting yang unik dalam definisi sintetik ini adalah penegasan bahwa bicara ilmu adalah bicara makna. Benda, fakta atau peristiwa apapun, dikatakan diketahui oleh seseorang jika ia bermakna baginya. Jadi, kucing tidak tertarik kepada uang justru karena kucing tidak tahu makna uang; bagi hewan seperti kucing uang tidak bermakna. Makna uang tidak sampai ke mindanya, begitu sebaliknya minda kucing tidak sampai ke makna uang. Sekarang, makna mengungkapkan hubung kait antara benda-benda dan perkara yakni, bagaimana benda dan peristiwa tunggal 13 Athir al-din al-abhari, Tanzil al-afkar fi Ta dil al-asrar, Ms. Laleli 2562 (tertanggal 686/1287), bagian awal; MS Aya Sofya 2526, fol. 13a, merujuk kepada al-talwihat karya al-suhrawardi, sebagaimana dicatat oleh Rosenthal, Knowledge Triumphant, 61 (note 82). 14 Ibn Sina, al-ta liqat, ed. Abd al-rahman Badawi (Kuwait),117:. 15 Al-Jurjani, al-ta rifat (Beirut: Maktabat Lubnan, 1985), Rosenthal, Knowledge Triumphant, 61 (note 82). 17 S.M.N. al-attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995), 14. 5

6 saling berhubungan, menentukan definisi keragaman tempat, peran, fungsi, dan seterusnya dalam sistem apapun linguistik, logika, ilmiah, sosial, politik, ekonomi, hukum, atau selainnya dari mana mereka berasal. Semakin kita tahu tentang sesuatu semakin bermakna sesuatu itu bagi kita, dan maka semakin kita membicarakannya, menganalisanya secara rinci dan menjelaskannya secara panjang lebar. Dengan definisi ini al-attas secara tepat menunjukkan fakta bahwa dalam proses kognisi minda tidak semata diam menerima seperti tabula rasa akan tetapi juga aktif dalam arti mengatur dirinya menjadi siap untuk menerima apa yang ingin diterimanya secara sadar serta secara pilah-pilih. Tidak semua ilmuwan Muslim bersetuju dengan definisi konseptual seperti disebut di atas. Mahaguru sufi asal Andalusia Ibn Arabi (w. 638/1240), misalnya, mendefinisikan ilmu sebagai penerimaan mental atas [ilmu tentang] segala hal dalam batas diri sebagaimana adanya (tahsil alqalb amran-ma ala hadd ma huwa alayhi dhalika al-amr: ). 18 Baginya ilmu adalah sifat yang dianggap berasal dari minda melalui penerimaan tersebut sehingga minda itu disebut yang mengetahui, dan segala hal disebut sebagai yang diketahui. Maka Ibn Arabi menolak gagasan terkenal yang dikemukakan oleh para ahli logika yang menyatakan bahwa ilmu terdiri atas penggambaran (tasawwur) dan pernyataan (tashdiq). Ilmu bukanlah representasi mental dari benda yang dikenal, bukan pula makna yang ditangkap oleh yang mengetahui. Dalam pandangannya, tidak semua perkara yang dikenal dapat dipahami, tidak juga halnya bahwa setiap orang yang tahu membentuk suatu gambaran dalam mindanya. Menurut para filsuf, konsepsi merujuk pada tindakan membayangkan dari si orang yang tahu, membentuk bayangan mental yang merepresentasikan benda yang ia kenal. Namun, Ibn Arabi menyanggah bahwa representasi mental ini tidak lain hanyalah keadaan mental (halah) yang secara sementara digenggam oleh kecakapan imajinatif si yang tahu, meskipun ia tidak menolak adanya hal tertentu yang disebut sebagai ilmu luar biasa yang melampaui dan lepas dari pemahaman serta kecakapan imajinasi manusia. 19 Pemetaan Ilmu Urusan mengelompokkan ilmu dimulai di akhir masa kuno, terutama di abad ke-5 dan ke-6 di Alexandria. Para sarjana Helenisme membangun suatu skema pengelompokkan karya-karya Aristoteles dimana suatu risalah dicocokkan dengan suatu bidang kajian. Meskipun tujuan awal pengelompokkan ini bersifat deskriptif dan pedagogis, hal tersebut memperoleh penerimaan universal dari generasi selanjutnya di seluruh belahan dunia yang dipengaruhi budaya Yunani Ibn Arabi, al-futuhat al-makkiyyah, ed. Osman Yahia (Cairo: al-maktabah al- Arabiyyah, 1985), 2: Ibn Arabi, al-futuhat, 1:92 and 1:250. Cf. Syamsuddin Arif, Sufi Epistemology: Ibn Arabi on Knowledge ( ilm), dalam Afkar (1999), Lihat Dimitri Gutas, Avicenna and the Aristotelian Tradition (Leiden: E.J. Brill, 1988),

7 Ini tidak berarti bahwa pengelompokkan tersebut murni merupakan temuan belakangan. Dalam karyanya Nicomachean Ethics Aristoteles sudah menggariskan perbedaan antara seni (téchne) dan sains (episteme), dimana yang terdahulu merujuk pada sisi kalkulatif (to logistikon) jiwa rasional manusia dalam menangani hal-hal yang berubah dalam kesehariannya, sementara yang belakangan pada sisi ilmiah (to epistêmonikon) ketika menangani entitas mutlak seperti kebenaran penting matematika. 21 Aristoteles juga membahas sains yang spekulatif (hai theoretikai) yang berbeda dari yang praktis (hai praktikai) dan yang produktif (hai poietikai). Menurutnya, sains spekulatif, juga dikenal sebagai filsafat teoritis (philosophíai theoretikaí) dapat dibagi menjadi matematika (kemudian dibagi lagi oleh Ammonius menjadi aritmatika, geometri, astronomi dan musik yaitu quadrivium yang terkenal), fisika (ilmu alam) dan teologi, sementara sains praktis menjadi etika, ekonomi dan politik. Namun, dari semua sains teoritis, hanya filsafat utama (he prote philosophía) atau metafisika yang dianggap universal dan unggul. 22 Pengelompokkan ini diteruskan ke Abad Pertengahan, diadopsi oleh kaum para filusuf Nasrani, Muslim dan Yahudi, walau dengan penambahan dan perubahan yang penting, 23 dan menjadi program acuan disiplin ilmu kemanusiaan (humaniora). Misalnya, pengelompokkan demikian direproduksi oleh Abu Yusuf Ya qub ibn Ishaq al- Kindi (w. 252/865) dalam risalah berjudul Tentang jumlah tulisan Aristoteles dan yang diperlukan untuk memulai filsafat, jelas untuk tujuan pedagogis. Al-Kindi tidak hanya mendaftar karya-karya Aristoteles, membaginya menjadi empat kelompok (mis., logika, fisika, psikologi dan matematika); ia juga menyarankan mereka yang ingin mempelajari filsafat untuk memulainya dengan matematika yang ia anggap harus ada bagi nalar ilmiah. Selain itu, ia membuat perbedaan antara ilmu manusia (al- ilm al-insani) yang didapat dari kerja keras dan belajar giat dan ilmu ilahiah (al- ilm al-ilahi) yang ia samakan dengan nubuwah atau wahyu dari Allah. 24 Al-Farabi-lah (w. 339/950) yang pertama kali dalam sejarah Islam berupaya secara sistemis dan dalam sebuah buku berjudul Ihsa al- Ulum seluruh sains sesuai pengelompokkan Aristoteles dan pada saat yang sama juga menerapkan tradisi budaya Islam dan Arab. Al-Farabi mengelompokkan sains menjadi lima kelompok, masing-masing, dengan sub-bagiannya, ia definisikan dan tujuannya dijelaskan. Pembagian pertama adalah sains bahasa ( ilm al-lisan) atau linguistik, yang mencakup sains kata-kata ( ilm al-alfaz) atau morfologi dan sains tata katanya 21 Lihat Nicomachean Ethics, vi. 1139a5-15 dan 1139 b b8. 22 Lihat Metaphysics, E (Book VI), vi. i Lihat Dimitri Gutas, Paul the Persian on the Classification of the Parts of Aristotle s Philosophy: A Milestone between Alexandria and Baghdad, dalam Der Islam 60 (1983): ; J. Jolivet, Classifications of the Sciences, dalam Encyclopedia of the History of Arabic Sciences, ed. R. Rashed and R. Morelon (London: Routledge, 1996), 3: ; Harry A. Wolfson, The Classification of Sciences in Medieval Jewish Philosophy, dalam Studies in the History of Philosophy and Religion, ed. I Twersky and G.H. Williams (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1973), 1: See Rasa il al-kindi al-falsafiyyah, ed. M. Abd al-hadi Abu Ridah (Cairo, 1369/1950),

8 ( ilm qawanin [al-alfaz]) atau sintaksis alias tata-bahasa, sains tulisan ( ilm qawanin al-kitabah) atau ortografi, sains bacaan ( ilm qawanin al-qira ah) atau fonologi, dan sains puisi ( ilm qawanin al-ash ar) atau prosodi. Bagian kedua adalah logika ( ilm al-mantiq), yang merangkum delapan sub-bagian yang membahas peristilahan dan konsep (al-maqulat), proposisi (al- ibarah), nalar silogistik (qiyas), nalar apodiktik (burhan), nalar dialektik (jadal), sophistry (mughalatah), retorika (khitabah) dan sajak (shi r). Kelompok ketiga adalah matematika ( ilm al-ta alim), yang terdiri atas tujuh bagian: aritmetika ( ilm al- adad), geometri ( ilm al-handasah), optik ( ilm al-manazir), astronomi ( ilm al-nujum [sic!]), musik ( ilm al-musiqa), dinamika ( ilm al-athqal) dan mekanika ( ilm al-hiyal). Kelompok keempat adalah sains fisik dan metafisik ( ilm al-tabi i wa al- ilm alilahiy). Fisika dibagi menjadi delapan bagian: (i) wacana umum tentang fisika (al-sama al-tabi i) yang membahas prinsip-prinsip dan sifat-sifat benda alam, (ii) kosmologi (al-sama wa al- alam) (iii) kejadian dan kerusakan (al-kawn wa al-fasad), (iv) meteorologi (al-athar al- ulwiyyah), (v) mineralogi (al-ma adin), (vi) botani (al-nabat), (vii) zoologi (al-hayawan) dan (viii) psikologi (alnafs). Metafisika dibagi menjadi tiga bagian: ontologi, aetiologi-epistemologi, dan henologiteologi. Terakhir, di kelompok kelima terdapat tiga sains: politik ( ilm al-madani), sains hukum Islam atau jurisprudensi (fiqh), dan teologi (kalam). 25 Harus dicatat bahwa pengelompokkan al- Farabi sebagaimana al-kindi dibuat sesuai dengan metoda didaktika, untuk diadopsi sebagai kurikulum pendidikan tinggi serupa dengan silabus dalam biografi Aristoteles (yang tersedia dalam bahasa Arab) 26 yang menandakan urutan yang benar dimana sains-sains itu harus dipelajari. Seorang polymath (pakar serba-bisa) terkenal Ibn Sina (w. 428/1037) telah menawarkan tiga skema berbeda pengelompokkan dalam beberapa karyanya. Dalam risalah khusus berjudul Fi Aqsam al- Ulum al- Aqliyyah (tentang Pembagian Sains Intelektual) ia melakukan elaborasi pengelompokkan apa yang disebut sains intelektual atau rasional, yang sering dibedakan dari sains tradisional (al- ulum al-naqliyyah). Sebagaimana Aristoteles dan al-farabi sebelumnya, Ibn Sina membagi sains menjadi teoritis (nazari) dan praktis ( amali). Sasaran sains teoritis adalah untuk mendapatkan kebenaran dan kepastian (husul al-i tiqad al-yaqini) tentang hal-hal yang wujud secara objektif dan mandiri dari manusia dan perbuatannya. Maka, teologi dan metafisika termasuk dalam sains teoritis. Sains praktis memiliki tujuan yang beda; sains ini dipelajari tidak demi memperoleh kebenaran atau kepastian tentang dunia, melainkan untuk mendapat pandangan yang benar tentang hal-hal diperlukan manusia agar menjadi baik (yaitu, memiliki kehidupan yang baik sebagai individu, anggota keluarga dan warga). Singkatnya, sementara sains teoritis mengurus kebenaran (al-haqq), sains praktis adalah cara menemukan Kebaikan (al-khayr). Sains teoritis memiliki tiga kelompok: yang terbawah adalah sains alami, di pertengahan sains matematika, dan metafisika dianggap yang tertinggi. Sains alami ditempatkan di bawah 25 Al-Farabi, Ihsa al- Ulum, ed. Cf. Osman Bakar, Classification of Knowledge in Islam (Kuala Lumpur,) 26 Lihat Abu Sulayman al-sijistani, Siwan al-hikmah, ed. Abd al-rahman Badawi (Teheran, 1974),

9 karena berurusan dengan hal-hal yang secara logis dan ontologis berkaitan dengan masalah dan perubahan fisik, seperti (sains) benda-benda bundar dan empat unsur alam serta serangkaian keadaan seperti gerak dan diam, alterasi dan transformasi, kejadian dan kerusakan, dan sifat-sifat yang menyebabkan keadaan ini semua. Sains matematika agak unik karena mengkaji entitas abstrak yang berkaitan dengan hal-hal yang ontologis walau tidak logis, seperti bilangan, bentuk dan bangun. Bedanya, apa yang dipelajari oleh metafisika sepenuhnya abstrak, entitas yang sekaligus secara ontologis dan logis mandiri dari zat dan perubahan, mis., esensi dan wujud, kesatuan dan keragaman, individualitas dan universalitas, kausalitas, dst. Sains praktis ada tiga macam: satu macam berurusan dengan kesejahteraan manusia sebagai pribadi, yang satunya dengan manajemen manusia sebagai anggota rumah tangga, dan terakhir, sebagai warga negara. Yang pertama dikenal dengan etika, yang kedua ekonomi, dan yang terakhir politik. Ibn Sina secara tersurat menyebut [Nicomachean] Ethics-nya Aristoteles dan Republic-nya Plato sebagai rujukan yang harus ada soal ini. Ibn Sina memilah lebih jauh sains alamiah menjadi dua kelompok: prinsip dan akibat. Delapan sains termasuk dalam kelompok prinsip: (i) fisika; (ii) tentang langit dan alam semesta; (iii) kejadian dan kerusakan; (iv) tentang gejala meteorologis; (v) tentang mineal; (vi) tentang tumbuhan; (vii) tentang hewan; dan (viii) tentang jiwa/ruh. Sains alamiah akibat terdiri atas tujuh: (i) kedokteran; (ii) astrology ( ilm ahkam al-nujum); (iii) fisiognomi ( ilm al-firasah); (vi) oniromancy ( ilm al-ta bir); (v) sains ajimat ( ilm al-talisman); (vi) theurgy atau sulap ( ilm alniranjiyyat); dan (vii) alkimia ( ilm al-kimiya). Sains matematika mencakup empat bagian utama: (i) arimatika ( ilm al- adad); (ii) geometri ( ilm al-handasah); (iii) astronomy ( ilm al-hay ah); (iv) musik ( ilm al-musiqa); masing-masing dibagi lebih lanjut: aritmatika menjadi seni hitung India dan aljabar; geometri menjadi geodesi ( ilm al-masahah), rekayasa ( amal al-hiyal ); optik ( ilm almanazir wa al-maraya), sains berat dan keseimbangan ( ilm al-awzan wa al-mawazin), mekanika ( amal jarr al-athqal) dan hidrolika ( ilm naql al-miyah); astronomi menjadi seni membuat tabel astronomi dan kalender ( ilm al-zijat wa al-taqawim); dan musik menjadi seni memainkan peralatan musik. Metafisika dibagi menjadi lima bagian utama: (i) kajian konsep umum (almawjudat al- ammah) atau ontolgy; (ii) prinsip dan dasar (al-usul wa al-maadi ) sains; (iii) tentang Kebenaran Awal (al-haqq al-awwal); (iv) tentang zat spiritual primer dan sekunder (al-jawahir al-ruhaniyyah); (v) tentang hubungan antara zat langit dan bumi. Tiga bagian akibat mencakup penyelidikan atas sifat dan modalitas wahyu (al-wahy) dan inspirasi (al-ilham), gejala peristiwa ajaib (karamat wa mu jizat), sifat kenabian (nubuwwat), angelogy dan eskatologi ( ilm al-ma ad). 27 Pada bagian pengantar pada Ilahiyyat (Metafisika) karyanya al-shifa Ibn Sina membagi sains 27 Ibn Sina, Risalah fi Aqsam al- ulum al- aqliyyah, dalam Tis Rasa il fi al-hikmah wa al-tabi iyyat (Cairo: Matba ah Hindiyyah, 1326/1908), ; diterjemahakan ke Bahasa Perancis oleh Georges C. Anawati, Les divisions des sciences intellectuelles d Avicenne, dalam Mélanges de l institute domincain d études orientales (MIDEO) 13 (1977),

10 menurut status ontologis hal-hal yang dikaji, sesuai dengan dua kelompok dimana realitas yang mencakup semua hal yang wujud (al-ashya al-mawjudah) dibagi-bagi, yaitu: (i) yang wujud akibat selain atau di luar perbuatan dan kehendak kita (laysa wujuduhu bi-ikhtiyarina wa fi lina) dan (ii) yang wujud akibat perbuatan dan kehendak kita (ashya wujuduha bi-ikhtiyarina wa fi lina). 28 Di antara para ushuliyyun yang memberikan sumbangsih atas tema bahasan kita, dua yang layak kita sebut yaitu Ibn Hazm (w. 456/1064) dan Imam al-ghazali (w. 505/1111). Seorang ulama produktif asa Andalusia, Ibn Hazm dikenal sebagai seorang faqih alih-alih filusuf. Konsepnya tentang ilmu antar lain dijabarkan di Tawqif, sebuah risalah yang ditulis menanggapi pertanyaan yang dialamatkan padanya tentang status sains-sains kuno ( ulum al-awa il) dan revealed knowledge ( ilm ma ja at bihi al-nubuwwah). Ia menegaskan bahwa yang terdahulu, terdiri atas filsafat dan logika, merupakan ilmu yang bermanfaat dan utama karena mengandung ilmu tentang alam dan menawarkan analisis konsesptual atas hal-hal menjadi genera dan spesies, universal dan partikular, dari (jawhar) dan ciri ( aradh), sembari menuntun kepada kebenaran dengan memberikan bukti-bukti rasional. Demikian juga dengan matematika, kedokteran, dan astronomi. Namun, seberapapun bermanfaatnya sains-sains ini, Ibn Hazm enggan berkomentar, tidak dapat mengalahkan keunggulan revealed knowledge yang Nabi teruskan kepada kita. Ini karena yang terakhir (revealed knowledge) memberikan apa yang ruh manusia perlukan demi kebahagiaan dan keselamatannya baik di dunia maupun di akhirat. 29 Dalam Taqrib-nya Ibn Hazm menyebutkan dua-belas sains utama yang ia anggap bermanfaat bagi manusia setiap saat dan yang menjadi asal sains-sains lainnya: (i) sains-sains al-qur an, (ii) sains-sains Hadits, (iii) fiqh, (iv) logika, (v) tata bahasa, (vi) leksikografi, (vii) puisi, (viii) sejarah, (ix) kedokteran, (x) matematika, (xi) geometri, dan (xii) astronomi. Namun, dalam kitabnya Maratib al- ulum, ia mengembangkan pengelompokkan sains-sains dari segi suatu program kajian yang dimulai sejak usia 5 tahun dengan bahasa dan al-qur an dan berlanjut hingga penguasaan teologi rasional, dimana murid akan dilatih untuk membuktikan apakah dunia ini diciptakan atau tidak, dan selanjutnya menanyakan apakah nubuwah itu mungkin atau tidak, dan mengarah pada pengakuan keberadaan Tuhan dan penerimaan perlunya dan sahihnya nubuwah Nabi Muhammad SAW. 30 Beralih ke Imam al-ghazali, kita jumpai pengelompokkan ilmu yang cukup berbeda. Dalam karya monumentalnya Ihya Ulum al-din (Kebangkitan Ilmu-ilmu Agama), bab 28 Cf. Michael E. Marmura, Avicenna on the Division of the Sciences in the Isagoge of his Shifa, Journal for the History of Arabic Science 4 (1980), Pengelompokkan yang kurang lebih sama juga didapati dalam karya Ibn Sina, Mantiq al-mashriqiyyin (Cairo: Matba at al-mu ayyad, 1328/1910), Ibn Hazm, al-tawqif ala Shari al-nujah bi-ikhtisar al-tariq, dalam Rasa il Ibn Hazm, ed. Ihsan Abbas (Kairo, 1952), Ibn Hazm, Maratib al- ulum dalam Rasa il Ibn Hazm, ed. Ihsan Abbas (Kairo, 1952),

KE ARAH PEMIKIRAN FILSAFAT

KE ARAH PEMIKIRAN FILSAFAT KE ARAH PEMIKIRAN FILSAFAT Prof. Dr. Almasdi Syahza,, SE., MP Peneliti Senior Universitas Riau Email : asyahza@yahoo.co.id syahza.almasdi@gmail.com Website : http://almasdi.staff.unri.ac.id Pengertian

Lebih terperinci

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor 17 Tahun 2013 Tentang BERISTRI LEBIH DARI EMPAT DALAM WAKTU BERSAMAAN

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor 17 Tahun 2013 Tentang BERISTRI LEBIH DARI EMPAT DALAM WAKTU BERSAMAAN FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor 17 Tahun 2013 Tentang BERISTRI LEBIH DARI EMPAT DALAM WAKTU BERSAMAAN (MUI), setelah : MENIMBANG : a. bahwa dalam Islam, pernikahan adalah merupakan bentuk ibadah yang

Lebih terperinci

قام بعملية تغي جلنس من رجل ىل امرأة فهل ل خللوة بالنساء. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajid مد صالح ملنجد

قام بعملية تغي جلنس من رجل ىل امرأة فهل ل خللوة بالنساء. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajid مد صالح ملنجد Seteleh Operasi Kelamin dari Laki-laki Menjadi Perempuan Apakah DiPerbolehkan Dia Berduaan Dengan Wanita? قام بعملية تغي جلنس من رجل ىل امرأة فهل ل خللوة بالنساء ] إندوني - Indonesian [ Indonesia - Syaikh

Lebih terperinci

[ ] E١٩٠ J١٨١ W F : : SIFAT TERUS TERANG Tidak ada kebaikan padamu apabila kamu tidak mengatakannya Apakah di antara konsekuensi berterus terang adalah adab yang buruk, membangkitkan fitnah, mengungkap

Lebih terperinci

SPINOZA; Biografi dan Pemikiran Esti

SPINOZA; Biografi dan Pemikiran Esti SPINOZA; Biografi dan Pemikiran Esti Istilah filsafat berasal dari Bahasa Arab (falsafah), Inggris (philosophy), Latin (philosophia). Istilah-istilah tersebut bersumber dari Bahasa Yunani philosophia.

Lebih terperinci

Filsafat Ilmu : Kajian atas Asumsi Dasar, Paradigma, dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan RESENSI BUKU

Filsafat Ilmu : Kajian atas Asumsi Dasar, Paradigma, dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan RESENSI BUKU RESENSI BUKU Judul : Filsafat Ilmu Kajian atas Asumsi Dasar, Paradigma, dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan Penulis : Mohammad Muslih Penerbit : Belukar Yogyakarta Cetakan : I, 2005 Tebal : XI + 269 halaman

Lebih terperinci

ILMU QIRO AT DAN ILMU TAFSIR Oleh: Rahmat Hanna BAB I PENDAHULUAN. Al-Qur an sebagai kalam Allah SWT yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW

ILMU QIRO AT DAN ILMU TAFSIR Oleh: Rahmat Hanna BAB I PENDAHULUAN. Al-Qur an sebagai kalam Allah SWT yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW ILMU QIRO AT DAN ILMU TAFSIR Oleh: Rahmat Hanna BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Al-Qur an sebagai kalam Allah SWT yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril dengan lafal dan maknanya,

Lebih terperinci

Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I.

Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I. Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I. Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Tuhannya sama dengan orang yang (setan) menjadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti

Lebih terperinci

Gaya Hidup Islami dan Jahili

Gaya Hidup Islami dan Jahili Gaya Hidup Islami dan Jahili Dalam pandangan Islam gaya hidup dapat dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu: 1) gaya hidup Islami, dan 2) gaya hidup jahili. Gaya hidup Islami mempunyai landasan yang

Lebih terperinci

ONTOLOGI. Menurut bahasa, ontologi berasal dari Bahasa Yunani, yaitu

ONTOLOGI. Menurut bahasa, ontologi berasal dari Bahasa Yunani, yaitu ONTOLOGI Menurut bahasa, ontologi berasal dari Bahasa Yunani, yaitu On/Ontos=ada, dan Logos=ilmu. Jadi, ontologi adalah ilmu tentang yang ada. Menurut islitah, ontologi adalah ilmu yang membahas tentang

Lebih terperinci

Asal Usul Alam Semesta

Asal Usul Alam Semesta Kontroversi Islam dan Sains? Asal Usul Alam Semesta Pernahkah Anda merenung tentang asal usul alam semesta, bagaimanakah alam semesta dapat terbentuk. Pertanyaan tersebut yang mendorong ilmuwan di setiap

Lebih terperinci

Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I.

Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I. Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I. Dan mereka berkata: "Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang." Katakanlah:

Lebih terperinci

MAKALAH HAKIKAT DAN MAKNA SAINS, TEKNOLOGI DAN SENI BAGIMANUSIA. Di susun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Ilmu Sosial Dan.

MAKALAH HAKIKAT DAN MAKNA SAINS, TEKNOLOGI DAN SENI BAGIMANUSIA. Di susun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Ilmu Sosial Dan. MAKALAH HAKIKAT DAN MAKNA SAINS, TEKNOLOGI DAN SENI BAGIMANUSIA Di susun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Ilmu Sosial Dan Budaya Dasar Oleh : Ivan Wahyuman ( ) SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA

Lebih terperinci

Kolom Edisi 039, Desember 2011 1. P r o j e c t CONVIVENCIA DI ANDALUSIA. i t a i g k a a n. Ihsan Ali-Fauzi

Kolom Edisi 039, Desember 2011 1. P r o j e c t CONVIVENCIA DI ANDALUSIA. i t a i g k a a n. Ihsan Ali-Fauzi l Edisi 039, Desember 2011 P r o j e c t CONVIVENCIA DI ANDALUSIA i t a i g k a a n D Ihsan Ali-Fauzi Edisi 039, Desember 2011 1 Edisi 039, Desember 2011 Convivencia di Andalusia Keinginan beberapa kalangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memahami, menganalisis, membandingkan, menyimpulkan dan sebagainya

BAB I PENDAHULUAN. memahami, menganalisis, membandingkan, menyimpulkan dan sebagainya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembelajaran dapat diartikan sebagai upaya mempengaruhi jiwa anak didik agar mereka mau melakukan berbagai kegiatan belajar, seperti membaca, memahami, menganalisis,

Lebih terperinci

EMPAT AGENDA ISLAM YANG MEMBEBASKAN

EMPAT AGENDA ISLAM YANG MEMBEBASKAN l Edisi 001, Agustus 2011 EMPAT AGENDA ISLAM YANG MEMBEBASKAN P r o j e c t i t a i g k a a n D Luthfi Assyaukanie Edisi 001, Agustus 2011 1 Edisi 001, Agustus 2011 Empat Agenda Islam yang Membebaskan

Lebih terperinci

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor: 52 Tahun 2012 Tentang HUKUM HEWAN TERNAK YANG DIBERI PAKAN DARI BARANG NAJIS

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor: 52 Tahun 2012 Tentang HUKUM HEWAN TERNAK YANG DIBERI PAKAN DARI BARANG NAJIS FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor: 52 Tahun 2012 Tentang HUKUM HEWAN TERNAK YANG DIBERI PAKAN DARI BARANG NAJIS (MUI), setelah : Menimbang : 1. bahwa produk pangan ternak ada yang telah dikembangkan

Lebih terperinci

KRISIS ILMU BARAT SEKULER DAN ILMU TAUHIDILLAH

KRISIS ILMU BARAT SEKULER DAN ILMU TAUHIDILLAH 1 KRISIS ILMU BARAT SEKULER DAN ILMU TAUHIDILLAH Dr. Ir. Harry Hikmat, MSi Staf Ahli Bidang Dampak Sosial KRISIS ILMU BARAT SEKULER Konsep sentral Kuhn ialah paradigma. Menurutnya, Ilmu yang sudah matang

Lebih terperinci

I TIKAF. Pengertian I'tikaf. Hukum I tikaf. Keutamaan Dan Tujuan I tikaf. Macam macam I tikaf

I TIKAF. Pengertian I'tikaf. Hukum I tikaf. Keutamaan Dan Tujuan I tikaf. Macam macam I tikaf I TIKAF Pengertian I'tikaf Secara harfiyah, I tikaf adalah tinggal di suatu tempat untuk melakukan sesuatu yang baik. Dengan demikian, I tikaf adalah tinggal atau menetap di dalam masjid dengan niat beribadah

Lebih terperinci

Khutbah Jum'at. Keutamaan Bulan Sya'ban. Bersama Dakwah 1

Khutbah Jum'at. Keutamaan Bulan Sya'ban. Bersama Dakwah 1 Bersama Dakwah 1 KHUTBAH PERTAMA.. * Hari ini kita telah memasuki bulan Sya'ban. Tidak terasa telah enam hari kita bersamanya. Bulan Sya'ban, yang terletak diantara Rajab dan Ramadhan ini seringkali dilalaikan

Lebih terperinci

BAGIAN SATU PENGAKUAN IMAN

BAGIAN SATU PENGAKUAN IMAN Bagian Satu 11 Kompendium Katekismus Gereja Katolik *************************************************************** BAGIAN SATU PENGAKUAN IMAN 12 Kompendium 14 Kompendium Lukisan ini menggambarkan tindakan

Lebih terperinci

Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I.

Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I. Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I. Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dari ketiadaan. Dialah Tuhan yang ilmunya meliputi segala sesuatu. Sungguh

BAB I PENDAHULUAN. dari ketiadaan. Dialah Tuhan yang ilmunya meliputi segala sesuatu. Sungguh BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Al Qur an adalah kalam Allah yang Maha Kuasa, pencipta segala sesuatu dari ketiadaan. Dialah Tuhan yang ilmunya meliputi segala sesuatu. Sungguh banyak hadits-hadits

Lebih terperinci

PANDANGAN AL-SHAWKÂNÎ TERHADAP MASLAHAH MURSALAH (Kajian Kitab Irshâd al-fuhûl Ilâ Tahqîq Al-Haqq Min Ilm Al-Usûl)

PANDANGAN AL-SHAWKÂNÎ TERHADAP MASLAHAH MURSALAH (Kajian Kitab Irshâd al-fuhûl Ilâ Tahqîq Al-Haqq Min Ilm Al-Usûl) PANDANGAN AL-SHAWKÂNÎ TERHADAP MASLAHAH MURSALAH (Kajian Kitab Irshâd al-fuhûl Ilâ Tahqîq Al-Haqq Min Ilm Al-Usûl) SKRIPSI Diajukan untuk melengkapi sebagian syarat-syarat guna memperoleh gelar sarjana

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Setiap karya ilmiah yang dibuat disesuaikan dengan metodologi penelitian. Dan

BAB III METODE PENELITIAN. Setiap karya ilmiah yang dibuat disesuaikan dengan metodologi penelitian. Dan BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian Setiap karya ilmiah yang dibuat disesuaikan dengan metodologi penelitian. Dan seorang peneliti harus memahami metodologi penelitian yang merupakan

Lebih terperinci

Keindahan Nama-nama Allah

Keindahan Nama-nama Allah Keindahan Nama-nama Allah Keindahan Nama-nama Allah Oleh: Ustadz Abdullah bin Taslim al-buthoni, M.A Khotbah Pertama???????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam lagi bahasa tercakup dalam kebudayaan. Bahasa menggambarkan cara berfikir

BAB I PENDAHULUAN. dalam lagi bahasa tercakup dalam kebudayaan. Bahasa menggambarkan cara berfikir BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa dan kebudayaan merupakan dua hal yang saling mempengaruhi. Bahasa selalu menggambarkan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan; lebih dalam lagi bahasa

Lebih terperinci

Kolom Edisi 041, Januari 2012 1. P r o j e c t TEKS DAN KONTRADIKSI. i t a i g k a a n. Ulil Abshar-Abdalla

Kolom Edisi 041, Januari 2012 1. P r o j e c t TEKS DAN KONTRADIKSI. i t a i g k a a n. Ulil Abshar-Abdalla l Edisi 041, Januari 2012 P r o j e c t TEKS DAN KONTRADIKSI i t a i g k a a n D Ulil Abshar-Abdalla Edisi 041, Januari 2012 1 Edisi 041, Januari 2012 2 Teks dan Kontradiksi Apa yang terjadi ketika seseorang

Lebih terperinci

2. Mengenai istilah human sciences itu sendiri, apakah itu sama dengan ilmu humaniora atau ilmu pengetahuan budaya?

2. Mengenai istilah human sciences itu sendiri, apakah itu sama dengan ilmu humaniora atau ilmu pengetahuan budaya? 1. Sebagai Ketua Steering Committee konferensi ICTHuSI, bisakah Anda jelaskan target dan sasaran yang hendak dicapai? Tujuan penyelenggaraan konferensi IC-THuSi ini pada dasarnya adalah untuk merintis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (Depok: Intuisi Press,1998) Cet 2, hlm. 2-3

BAB I PENDAHULUAN. (Depok: Intuisi Press,1998) Cet 2, hlm. 2-3 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tantangan kehidupan selalu muncul secara alami seiring dengan berputarnya waktu. Berbagai tantangan bebas bermunculan dari beberapa sudut dunia menuntut untuk

Lebih terperinci

Merancang Strategi Komunikasi Memenangkan Pemilih Dan Kelompok - edit

Merancang Strategi Komunikasi Memenangkan Pemilih Dan Kelompok - edit esaunggul.ac.id http://www.esaunggul.ac.id/article/merancang-strategi-komunikasi-memenangkan-pemilih-dan-kelompok/ Merancang Strategi Komunikasi Memenangkan Pemilih Dan Kelompok - edit Dr. Erman Anom,

Lebih terperinci

Oleh: Rokhmat S Labib

Oleh: Rokhmat S Labib Oleh: Rokhmat S Labib Maka apakah orang yang dijadikan (setan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh setan)? maka sesungguhnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. a. Latar Belakang Permasalahan

BAB I PENDAHULUAN. a. Latar Belakang Permasalahan BAB I PENDAHULUAN a. Latar Belakang Permasalahan Jean Paul Sartre seorang filsuf eksistensialis dari Perancis mengatakan bahwa manusia dilahirkan begitu saja ke dalam dunia ini, dan ia harus segera menanggung

Lebih terperinci

PERANAN LOGIKA INFORMATIKA PADA HITUNGAN PERKALIAN BERBASIS HUKUM DISTRIBUTIF. Oleh RUSDY AGUSTAF

PERANAN LOGIKA INFORMATIKA PADA HITUNGAN PERKALIAN BERBASIS HUKUM DISTRIBUTIF. Oleh RUSDY AGUSTAF Jurnal Dinamika Informatika Volume 4, Nomor 1, Pebruari 2010 : 45-52 PERANAN LOGIKA INFORMATIKA PADA HITUNGAN PERKALIAN BERBASIS HUKUM DISTRIBUTIF Oleh RUSDY AGUSTAF Dosen Tetap Fakultas Teknik, Universitas

Lebih terperinci

Definisi Khutbah Jumat

Definisi Khutbah Jumat Definisi Khutbah Jumat 1. Definisi khotbah Definisi secara bahasa Khotbah, secara bahasa, adalah 'perkataan yang disampaikan di atas mimbar'. Adapun kata khitbah yang seakar dengan kata khotbah (dalam

Lebih terperinci

Kewajiban Haji dan Beberapa Peringatan Penting dalam Pelaksanaannya

Kewajiban Haji dan Beberapa Peringatan Penting dalam Pelaksanaannya Kewajiban Haji dan Beberapa Peringatan Penting dalam Pelaksanaannya Dan mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang memiliki kemampuan. Barangsiapa kafir atau mengingkari

Lebih terperinci

DIKOTOMI TULISAN WRITER IN YOU

DIKOTOMI TULISAN WRITER IN YOU DIKOTOMI TULISAN Bicara soal genre tulisan, maka kita bicara pada dua segmen, fiksi dan nonfiksi. Mana yang rasanya kita punya passion di situ, maka jenis tulisan itulah yang sebaiknya kita tekuni. Namun,

Lebih terperinci

!!" #$ % &' &()*+&, -./ +0 &'!1 2 &3/" 4./" 56 * % &' &()*+&, " "# $ %! #78*5 9: ;<*% =7" >1?@*5 0 ;A " 4! : B C*5 0 D % *=75E& 2 >1?@*5 0 4. "/ 4!

!! #$ % &' &()*+&, -./ +0 &'!1 2 &3/ 4./ 56 * % &' &()*+&,  # $ %! #78*5 9: ;<*% =7 >1?@*5 0 ;A  4! : B C*5 0 D % *=75E& 2 >1?@*5 0 4. / 4! [ ] E٤٩١ J٤٨٧ W F : : Dan berbuat baiklah sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu. Sesungguhnya agama mewajibkan kepada para pengikutnya (berbuat baik) dalam segala hal dan tidak ridha dari para pengikutnya

Lebih terperinci

Selamat Datang Di. AsiaWorks

Selamat Datang Di. AsiaWorks Selamat Datang Di AsiaWorks Program Basic Training adalah pengalaman eksplorasi dan penemuan diri; di sana saya belajar banyak hal tentang diri saya sendiri... dari diri saya sendiri! Kurikulum Inti AsiaWorks

Lebih terperinci

Title Rangkuman Filsafat Pancasila. Author Revaldi Fuad Azhar

Title Rangkuman Filsafat Pancasila. Author Revaldi Fuad Azhar Title Rangkuman Filsafat Pancasila Author Revaldi Fuad Azhar Details Filsafat Pancasila. Secara etimologis kata filsafat berasal dari bahasa Yunani yaitu [u]philosophia[/u]. [u]"philo"[/u] = Cinta [u]"sophia"[/u]

Lebih terperinci

Penelitian di Bidang Manajemen

Penelitian di Bidang Manajemen Penelitian di Bidang Manajemen Frans Mardi Hartanto Fmhartanto@gmail.com Bandung Manajemen - Ilmu Hibrida yang Multidisipliner 1 Ilmu manajemen adalah hasil perpaduan dari berbagai ilmu yang berbeda namun

Lebih terperinci

HAL-HAL YANG MEMBATALKAN KEISLAMAN

HAL-HAL YANG MEMBATALKAN KEISLAMAN HAL-HAL YANG MEMBATALKAN KEISLAMAN نو قض لا سلا ABDUL AZIZ BIN ABDULLAH BIN BAZ عبد لعزيز بن عبد الله بن با Penerjemah: Abu Azka Faridy ترمجة: بو ىك فريد Murajaah: Muh. Mu inudinillah Muhammadun Abdul

Lebih terperinci

KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN PADA ACARA PERINGATAN ISRA MI RAJ NABI MUHAMMAD SAW 1435 H / 2014 H TANGGAL 20 JUNI 2014

KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN PADA ACARA PERINGATAN ISRA MI RAJ NABI MUHAMMAD SAW 1435 H / 2014 H TANGGAL 20 JUNI 2014 KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN PADA ACARA PERINGATAN ISRA MI RAJ NABI MUHAMMAD SAW 1435 H / 2014 H TANGGAL 20 JUNI 2014 Assalamu alaikum Wr. Wb. Salam sejahtera bagi kita semua. Yang

Lebih terperinci

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN DESKRIPSI DENGAN METODE KARYA WISATA

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN DESKRIPSI DENGAN METODE KARYA WISATA PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN DESKRIPSI DENGAN METODE KARYA WISATA Agustian SDN 02 Curup Timur Kabupaten Rejang Lebong Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan siswa dalam

Lebih terperinci

Akhlak Baik, Kejayaan Diraih. Written by Rahman Hidayat Sunday, 11 September 2011 00:00

Akhlak Baik, Kejayaan Diraih. Written by Rahman Hidayat Sunday, 11 September 2011 00:00 Sepintas kaitan antara kebersihan, akhlak dan peradaban tidak begitu erat.namun bila dikaji, kenyataan menunjukkan sebaliknya. Hubungan antara akhlak, kebersihan dan kebersihan sangat dekat. Keduanya bersebab

Lebih terperinci

*** Syarat Amal Diterima

*** Syarat Amal Diterima Syarat Amal Diterima Kita telah mengetahui, bahwa Allah memerintahkan kepada kita untuk beribadah kepada-nya, setelah itu Allah Subhanahu wa Ta ala akan membalas pahala amal ibadah, sesuai dengan tingkatannya.

Lebih terperinci

Disiplin: Sebuah Keharusan yang Wajib Dimiliki Setiap Pegawai

Disiplin: Sebuah Keharusan yang Wajib Dimiliki Setiap Pegawai Review / Ulasan Edisi 1 No. 1, Jan Mar 2014, p.62-66 Disiplin: Sebuah Keharusan yang Wajib Dimiliki Setiap Pegawai Tata Zakaria Widyaiswara of Education and Training Institutes of Banten Province, Jl.

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP HIBAH SELURUH HARTA KEPADA ANAK ANGKAT DI DESA JOGOLOYO KECAMATAN SUMOBITO KABUPATEN JOMBANG

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP HIBAH SELURUH HARTA KEPADA ANAK ANGKAT DI DESA JOGOLOYO KECAMATAN SUMOBITO KABUPATEN JOMBANG 68 BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP HIBAH SELURUH HARTA KEPADA ANAK ANGKAT DI DESA JOGOLOYO KECAMATAN SUMOBITO KABUPATEN JOMBANG A. Analisis terhadap pelaksanaan hibah seluruh harta kepada anak angkat

Lebih terperinci

ADAB DAN MANFAAT MENUNTUT ILMU

ADAB DAN MANFAAT MENUNTUT ILMU ADAB DAN MANFAAT MENUNTUT ILMU Oleh: Mohammad Fakhrudin Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, Berlapang-lapanglah dalam majelis, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan

Lebih terperinci

Oleh: Anggun Rizki Samsunar *)

Oleh: Anggun Rizki Samsunar *) KAJIAN TOKOH FILSAFAT ABAD YUNANI KUNO Filsafat Zeno Oleh: Anggun Rizki Samsunar *) Filsafat Yunani kuno mempunyai cirri yang menonjol yaitu ditujukannya perhatian terutama pada pengamatan gejala kosmik

Lebih terperinci

MUKADIMAH. Untuk mewujudkan keluhuran profesi dosen maka diperlukan suatu pedoman yang berupa Kode Etik Dosen seperti dirumuskan berikut ini.

MUKADIMAH. Untuk mewujudkan keluhuran profesi dosen maka diperlukan suatu pedoman yang berupa Kode Etik Dosen seperti dirumuskan berikut ini. MUKADIMAH STMIK AMIKOM YOGYAKARTA didirikan untuk ikut berperan dalam pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dibidang manajemen, teknologi, dan kewirausahaan, yang akhirnya bertujuan untuk memperoleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembelajaran matematika. Menurut Cooney yang dikutip oleh Thoumasis dalam

BAB I PENDAHULUAN. pembelajaran matematika. Menurut Cooney yang dikutip oleh Thoumasis dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pemahaman konsep merupakan dasar dan tahapan penting dalam rangkaian pembelajaran matematika. Menurut Cooney yang dikutip oleh Thoumasis dalam Gunawan 1, a student's

Lebih terperinci

BAB I WAKAF HAK CIPTA DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM DAN PERUNDANG-UNDANGAN DI INDONESIA

BAB I WAKAF HAK CIPTA DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM DAN PERUNDANG-UNDANGAN DI INDONESIA BAB I 1 WAKAF HAK CIPTA DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM DAN PERUNDANG-UNDANGAN DI INDONESIA A. Latar Belakang Masalah Lahirnya Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf di Indonesia sebagai penyempurna

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bilangan, (b) aljabar, (c) geometri dan pengukuran, (d) statistika dan peluang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bilangan, (b) aljabar, (c) geometri dan pengukuran, (d) statistika dan peluang 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pemahaman Konsep Matematika Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006 untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP), disebutkan bahwa standar kompetensi mata pelajaran

Lebih terperinci

[ ] E٣٢٧ J٣١٩ W F : : Al- HAYA' (Sifat PEMALU) "al Haya' ( Rasa malu) tidak datang kecuali dengan kebaikan." Sesungguhnya di antara fenomena keseimbangan dan tanda-tanda kesempurnaan dalam tarbiyah bahwa

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. wawancara antara peneliti dan informan. Penelitian kualitatif bertolak dari

BAB III METODE PENELITIAN. wawancara antara peneliti dan informan. Penelitian kualitatif bertolak dari 19 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Pendekatan Penelitian 1. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini merupakan penelitian diskriptitf kualitatif yaitu penelitian tentang data yang dikumpulkan dan dinyatakan

Lebih terperinci

SATUAN ACARA PERKULIAHAN

SATUAN ACARA PERKULIAHAN SATUAN ACARA PERKULIAHAN 1 Mata Kuliah : Filsafat Ilmu (Studi Integrasi Islam dan Sains) Hari : Sabtu Waktu : 09.15-11.15 WIB. Fakultas/Prodi : Pascasarjana/PAI, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang SKS :

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu diantara masalah besar dalam bidang pendidikan di Indonesia yang banyak diperbincangkan adalah rendahnya mutu pendidikan yang tercermin dari rendahnya

Lebih terperinci

- 1 - PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57 TAHUN 2014 TENTANG PENGEMBANGAN, PEMBINAAN, DAN PELINDUNGAN BAHASA

- 1 - PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57 TAHUN 2014 TENTANG PENGEMBANGAN, PEMBINAAN, DAN PELINDUNGAN BAHASA SALINAN - 1 - PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57 TAHUN 2014 TENTANG PENGEMBANGAN, PEMBINAAN, DAN PELINDUNGAN BAHASA DAN SASTRA, SERTA PENINGKATAN FUNGSI BAHASA INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

Kolom Edisi 014, September 2011 1. D i g i t a TENTANG IMAN. l i m D e m o k r a t i s. Ulil Abshar-Abdalla

Kolom Edisi 014, September 2011 1. D i g i t a TENTANG IMAN. l i m D e m o k r a t i s. Ulil Abshar-Abdalla l i m e m o k r a t i s i g i t a TENTANG IMAN m o k r a t i s. c o m l Ulil Abshar-Abdalla Edisi 014, September 2011 1 Tentang Iman Saya rasa akan amat sulit untuk merumuskan bagaimana wujud dan bentuk

Lebih terperinci

Peristilahan Gambar. Oleh: Sanento Yuliman

Peristilahan Gambar. Oleh: Sanento Yuliman Peristilahan Gambar Oleh: Sanento Yuliman Yang pertama-tama perlu diingat dalam membicarakan gambar ialah bahwa kata gambar mempunyai lingkup pengertian yang luas. Yang tampak di layar televisi ketika

Lebih terperinci

Jika ditelaah lebih lanjut, orang yang beriman memang tidak lagi merugi tetapi belum. Bijak dalam Memberi Nasihat

Jika ditelaah lebih lanjut, orang yang beriman memang tidak lagi merugi tetapi belum. Bijak dalam Memberi Nasihat Dalam perjalanan hidup, nasehat-menasehati merupakan pilar yang sangat utama, bahkan merupakan kewajiban bagi orang yang beriman setiap waktu Hal ini dapat dilihat dari surah Al Ashr Surah ini merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. oleh Allah SWT, yakni dengan menyampaikan nilai-nilai yang dapat. sesuai dengan segi atau bidangnya masing-masing.

BAB I PENDAHULUAN. oleh Allah SWT, yakni dengan menyampaikan nilai-nilai yang dapat. sesuai dengan segi atau bidangnya masing-masing. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dakwah merupakan suatu bentuk proses penyampaian ajaran Islam. Dakwah Islam adalah dakwah ke arah kualitas puncak dari nilai-nilai kemanusiaan, dan peradaban

Lebih terperinci

ILMU ALAMIAH DASAR. Dosen Pengampu: DR. TIEN AMINATUN, S.Si., M.Si.

ILMU ALAMIAH DASAR. Dosen Pengampu: DR. TIEN AMINATUN, S.Si., M.Si. ILMU ALAMIAH DASAR Dosen Pengampu: DR. TIEN AMINATUN, S.Si., M.Si. PENDAHULUAN: HAKEKAT SCIENCE Karakteristik ilmu pengetahuan; meliputi kejelasan; 1. Obyek 2. Permasalahan (kajian) 3. Cara memperoleh

Lebih terperinci

Dua Sisi Mata Uang Dampak Teknologi Jumat, 14 Februari 2014 17:15. Oleh Ahmad Turmudzi*

Dua Sisi Mata Uang Dampak Teknologi Jumat, 14 Februari 2014 17:15. Oleh Ahmad Turmudzi* Oleh Ahmad Turmudzi* Sebelum masuk ke inti tulisan singkat ini, saya ingin mengulas terlebih dahulu arti remaja. Menurut akar katanya, remaja berasal dari kata latin adolensence yang berarti tumbuh atau

Lebih terperinci

PENILAIAN PEMBELAJARAN

PENILAIAN PEMBELAJARAN PENILAIAN PEMBELAJARAN PENILAIAN APA PENILAIAN? APA PENILAIAN BERBASIS KOMPETENSI? BAGAIMANA CARANYA? PENILAIAN: PROSES SISTIMATIS MELIPUTI PENGUMPULAN INFORMASI (ANGKA, DESKRIPSI VERBAL), ANALISIS, INTERPRETASI

Lebih terperinci

KELUARGA SAMARA BERSAMA RADIO IMSA. Topik 2: TERUS TERANG DAN BATASANNYA

KELUARGA SAMARA BERSAMA RADIO IMSA. Topik 2: TERUS TERANG DAN BATASANNYA KELUARGA SAMARA BERSAMA RADIO IMSA Modul IV: MENGATASI MASALAH HUBUNGAN SUAMI/ISTRI Topik 2: TERUS TERANG DAN BATASANNYA Dr. Agus Sofyan A. JUJUR: Jujur atau terusterang merupakan sifat yang sangat dianjurkan

Lebih terperinci

Pasal KEPEMIMPINAN YANG MELAYANI. Bahan Pembinaan Kader Pemimpin. Workbook: Bagaimana Pemimpin Mengambil Keputusan

Pasal KEPEMIMPINAN YANG MELAYANI. Bahan Pembinaan Kader Pemimpin. Workbook: Bagaimana Pemimpin Mengambil Keputusan Pasal 9 KEPEMIMPINAN YANG MELAYANI Bahan Pembinaan Kader Pemimpin Workbook: Bagaimana Pemimpin Mengambil Keputusan CHRISTIAN LEADERSHIP NETWORK 2 Pasal 9 Penting dan Mendesak Dasar Dalam hidup pelayanan

Lebih terperinci

Meraih Sifat Qona ah (Merasa Kecukupan)

Meraih Sifat Qona ah (Merasa Kecukupan) Meraih Sifat Qona ah (Merasa Kecukupan) Khutbah Pertama:?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan analis isi ( content analysis). Pendekatan analisis isi merupakan suatu langkah

Lebih terperinci

M ENCERMATI K ONDISI B ATIN: KETIKA KITA MELAKUKAN DOSA BESAR

M ENCERMATI K ONDISI B ATIN: KETIKA KITA MELAKUKAN DOSA BESAR M ENCERMATI K ONDISI B ATIN: KETIKA KITA MELAKUKAN DOSA BESAR www. depag.go.id Oleh Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA Dosa dan maksiat bukan saja perbuatan tercela dan terlarang, melainkan juga membutakan

Lebih terperinci

KATA PEMBUKA KEWIRAUSAHAAN KONSEP DAN IMPLEMENTASI

KATA PEMBUKA KEWIRAUSAHAAN KONSEP DAN IMPLEMENTASI KATA PEMBUKA Rekan-rekan sejawat, saya ingin menginformasikan bahwa di tahun 2012, rangkaian kolom-kolom yang akan saya sajikan terbagi dalam dua kluster, yakni kluster pertama berkenaan dengan aspek-aspek

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Masalah Etika merupakan refleksi atas moralitas. Akan tetapi, sebagai bagian dari ilmu pengetahuan, etika bukan sekedar refleksi tetapi refleksi ilmiah tentang tingkah

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. data yang ada dalam ini adalah upaya guru PAI dalam pengembangan. data untuk memberi gambaran penyajian laporan.

BAB III METODE PENELITIAN. data yang ada dalam ini adalah upaya guru PAI dalam pengembangan. data untuk memberi gambaran penyajian laporan. 52 BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian Sesuai dengan judul yang peneliti angkat, maka penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, fenomenologis dan berbentuk diskriptif.

Lebih terperinci

PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN. Oleh: Drs. Munawar Rahmat, M.Pd. Dosen UPI Agustus 2004

PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN. Oleh: Drs. Munawar Rahmat, M.Pd. Dosen UPI Agustus 2004 PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN Oleh: Drs. Munawar Rahmat, M.Pd. Dosen UPI Agustus 2004 Mari kita mulai dengan membaca SDM INDONESIA (1) Data UNDP ( United Nations Development Program) dari sebanyak 174 NEGARA

Lebih terperinci

Lampiran 2. Rubrik Penilaian Peningkatan Kosakata Bahasa Anak Usia 3 4 Tahun Sesuai Indikator Pembelajaran.

Lampiran 2. Rubrik Penilaian Peningkatan Kosakata Bahasa Anak Usia 3 4 Tahun Sesuai Indikator Pembelajaran. LAMPIRAN Lampiran 2. Rubrik Penilaian Peningkatan Kosakata Bahasa Anak Usia 3 4 Tahun Sesuai Indikator Pembelajaran. Kriteria Indikator Kurang 1 Menirukan kembali 3 4 urutan kata, misalnya: Tidur, mandi,

Lebih terperinci

Bagaimana Menjelaskan Konsep Trinitas Kepada Orang Muslim?

Bagaimana Menjelaskan Konsep Trinitas Kepada Orang Muslim? Bagaimana Menjelaskan Konsep Trinitas Kepada Orang Muslim? Oleh: Georges Houssney Banyak orang yang rindu membagikan Injil pada orang Muslim, menghadapi masalah bagaimana menjelaskan konsep Trinitas kepada

Lebih terperinci

أهلها هلندوس الشيخ مد صالح ملنجد

أهلها هلندوس الشيخ مد صالح ملنجد BARU MASUK ISLAM DAN TIDAK MAMPU MENAMPAKKAN KEISALAMANNYA, BAGAIMANA CARA SHALAT DIANTARA KELUARGANYA YANG HINDU? أسلمت حديثا ولا ستطيع إظهار إسلامها فكيف تص ب أهلها هلندوس ] إندوني - Indonesian [ Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Eksistensi manusia di dunia ditandai dengan upaya tidak henti-hentinya

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Eksistensi manusia di dunia ditandai dengan upaya tidak henti-hentinya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Eksistensi manusia di dunia ditandai dengan upaya tidak henti-hentinya untuk menjadi manusia. Upaya ini berlangsung dalam dunia ciptaannya sendiri, yang berbeda dengan

Lebih terperinci

W A L I K O T A B A N J A R M A S I N

W A L I K O T A B A N J A R M A S I N W A L I K O T A B A N J A R M A S I N PERATURAN DAERAH KOTA BANJARMASIN NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG WAJIB BACA TULIS AL-QURAN BAGI SISWA SEKOLAH DASAR / MADRASAH IBTIDAIYAH, SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/

Lebih terperinci

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor: 09 Tahun 2014 Tentang JUAL BELI TANAH UNTUK KUBURAN DAN BISNIS LAHAN KUBURAN MEWAH

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor: 09 Tahun 2014 Tentang JUAL BELI TANAH UNTUK KUBURAN DAN BISNIS LAHAN KUBURAN MEWAH FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor: 09 Tahun 2014 Tentang JUAL BELI TANAH UNTUK KUBURAN DAN BISNIS LAHAN KUBURAN MEWAH (MUI), setelah : MENIMBANG : a. bahwa dewasa ini mulai banyak berkembang usaha properti

Lebih terperinci

DISIPLIN ILMU UTAMA PADA UNIVERSITAS MODERN MULA-MULA

DISIPLIN ILMU UTAMA PADA UNIVERSITAS MODERN MULA-MULA STULOS 12/2 (September 2013) 195-210 DISIPLIN ILMU UTAMA PADA UNIVERSITAS MODERN MULA-MULA Tjiauw Thuan - Hali Abstrak: Tulisan ini hendak meneliti eksistensi keempat disiplin ilmu pada universitas mula-mula

Lebih terperinci

BAB 4. Dapat Kita Sampaikan Nilai. dengan Mengajar Etika?

BAB 4. Dapat Kita Sampaikan Nilai. dengan Mengajar Etika? BAB 4 Dapat Kita Sampaikan Nilai dengan Mengajar Etika? Dalam artikel ini kita mencoba berefleksi tentang peluang dan keterbatasan yang menandai pengajaran etika. Sebagai orientasi awal, dalam bagian pertama

Lebih terperinci

Tuhan Alkitab sama dengan Allah Alquran?

Tuhan Alkitab sama dengan Allah Alquran? Q & A Tuhan Alkitab sama dengan Allah Alquran? Banyak orang beranggapan bahwa Tuhan dalam Alkitab dan Tuhan dalam Al-quran adalah sama dan satu, hanya namanya atau sebutannya saja yang berbeda. Karena

Lebih terperinci

TEMAN WANITA BARU MASUK ISLAM, APAKAH PERLU DIBERITAHU TENTANG HARAMNYA TETAP HIDUP BERSAMA SUAMINYA YANG KAFIR

TEMAN WANITA BARU MASUK ISLAM, APAKAH PERLU DIBERITAHU TENTANG HARAMNYA TETAP HIDUP BERSAMA SUAMINYA YANG KAFIR TEMAN WANITA BARU MASUK ISLAM, APAKAH PERLU DIBERITAHU TENTANG HARAMNYA TETAP HIDUP BERSAMA SUAMINYA YANG KAFIR أسلمت صديقتها حديثا فهل ربها بتحر م بقاي ها مع زوجها لاكفر ] إندوني - Indonesian [ Indonesia

Lebih terperinci

Lesson 1 for April 4, 2015

Lesson 1 for April 4, 2015 Lesson 1 for April 4, 2015 Tiga kitab Injil pertama dikenal sebagai Injil (terkait ) sinoptik. Semuanya banyak berisi cerita yang sama. Setiap Injil itu ditujukan kepada pendengar yang berbeda. Setiap

Lebih terperinci

TAFSIR SURAT ALAM NASYRAH

TAFSIR SURAT ALAM NASYRAH TAFSIR SURAT ALAM NASYRAH Oleh: رحمه اهلل Imam Ibnu Katsir Download > 300 ebook Islam, Gratis!!! kunjungi. سورة الشرح TAFSIR SURAT ALAM NASYRAH (Bukankah Kami telah Melapangkan) 1 "Dengan menyebut Nama

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupan manusia sehari-hari. Beberapa diantaranya sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupan manusia sehari-hari. Beberapa diantaranya sebagai berikut: 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Matematika adalah bagian yang sangat dekat dengan kehidupan seharihari. Berbagai bentuk simbol digunakan manusia sebagai alat bantu dalam perhitungan, penilaian,

Lebih terperinci

KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PEMINATAN KELOMPOK MATEMATIKA DAN ILMU-ILMU ALAM SEKOLAH MENENGAH ATAS BIOLOGI

KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PEMINATAN KELOMPOK MATEMATIKA DAN ILMU-ILMU ALAM SEKOLAH MENENGAH ATAS BIOLOGI DAN PEMINATAN KELOMPOK MATEMATIKA DAN ILMU-ILMU ALAM SEKOLAH MENENGAH ATAS BIOLOGI KELAS X KOMPETENSI INTI 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya. 1.1. Mengagumi keteraturan dan kompleksitas

Lebih terperinci

FATWA DEWAN SYARIAH NASIONAL Nomor: 77/DSN-MUI/V/2010 Tentang JUAL-BELI EMAS SECARA TIDAK TUNAI

FATWA DEWAN SYARIAH NASIONAL Nomor: 77/DSN-MUI/V/2010 Tentang JUAL-BELI EMAS SECARA TIDAK TUNAI FATWA DEWAN SYARIAH NASIONAL Nomor: 77/DSN-MUI/V/2010 Tentang JUAL-BELI EMAS SECARA TIDAK TUNAI Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI)setelah, Menimbang : a. bahwa transaksi jual beli

Lebih terperinci

Mengapa Kita Harus Berdakwah? [ Indonesia Indonesian

Mengapa Kita Harus Berdakwah? [ Indonesia Indonesian Mengapa Kita Harus Berdakwah?? [ Indonesia Indonesian ] Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad 2009-1430 ? : : 2009-1430 2 Mengapa Kita Harus Berdakwah? [1] Dakwah merupakan jalan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perhatian yang serius sesuai dengan kapasitas dan proporsinya.

BAB I PENDAHULUAN. perhatian yang serius sesuai dengan kapasitas dan proporsinya. BAB I PENDAHULUAN A.LATAR BELAKANG MASALAH Prinsip-prinsip manajemen modern yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan telah diadopsi dan digunakan dalam praktek penyelenggaraan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memasuki abad ke 21, semakin jelas bahwa banyak pekerjaan-pekerjaan yang berbobot

BAB I PENDAHULUAN. memasuki abad ke 21, semakin jelas bahwa banyak pekerjaan-pekerjaan yang berbobot BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Matematika ada di mana-mana dalam masyarakat dan matematika itu sangat penting. Sejak memasuki abad ke 21, semakin jelas bahwa banyak pekerjaan-pekerjaan yang

Lebih terperinci

Mengapa kaum Muslimin mundur dan kenapa kaum selain mereka maju? yang dalam

Mengapa kaum Muslimin mundur dan kenapa kaum selain mereka maju? yang dalam MENGAPA KAUM MUSLIMIN MUNDUR? Oleh: Imam Nasruddin 1 Pendahuluan Tulisan ini sebenarnya merupakan pengadopsian dari buku karya Al-Amier Syakieb Arsalan yang terkenal itu. Buku yang sudah terlalu tua dari

Lebih terperinci

Pengembangan Berpikir Kreatif melalui CTS (Catatan: Tulis dan Susun) Oleh: Salam, S.Pd, M.Pd.

Pengembangan Berpikir Kreatif melalui CTS (Catatan: Tulis dan Susun) Oleh: Salam, S.Pd, M.Pd. Pengembangan Berpikir Kreatif melalui CTS (Catatan: Tulis dan Susun) Oleh: Salam, S.Pd, M.Pd. A. Pengantar Sebenarnya apa yang saya kemukakan pada bagian ini, mungkin tidak akan berarti apa-apa kepada

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. sebelumnya maka peneliti merumuskan penelitian ini sebagai jenis penelitian

BAB III METODE PENELITIAN. sebelumnya maka peneliti merumuskan penelitian ini sebagai jenis penelitian 141 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Pendekatan Penelitian Berdasarkan gambaran permasalahan yang diuraikan pada bagian sebelumnya maka peneliti merumuskan penelitian ini sebagai jenis penelitian

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORETIS. Soal cerita merupakan permasalahan yang dinyatakan dalam bentuk kalimat bermakna dan

BAB II KAJIAN TEORETIS. Soal cerita merupakan permasalahan yang dinyatakan dalam bentuk kalimat bermakna dan BAB II KAJIAN TEORETIS 2.1 Hakekat Soal Cerita yang Diajarkan di Sekolah Dasar 2.1.1 Pengertian Soal Cerita Soal cerita merupakan permasalahan yang dinyatakan dalam bentuk kalimat bermakna dan mudah dipahami

Lebih terperinci

PEMAKAIAN BAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR DALAM KARYA ILMIAH (TESIS DAN DISERTASI)

PEMAKAIAN BAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR DALAM KARYA ILMIAH (TESIS DAN DISERTASI) PEMAKAIAN BAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR DALAM KARYA ILMIAH (TESIS DAN DISERTASI) UNTUK MAHASISWA S-2 S 2 DAN S-3 S 3 PRODI ILMU HUKUM Prof. Dr. H. D. Edi Subroto BUTIR-BUTIR UMUM DAN DASAR 1. Karya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. seminar, dan kegiatan ilmiah lain yang di dalammnya terjadi proses tanya-jawab,

BAB I PENDAHULUAN. seminar, dan kegiatan ilmiah lain yang di dalammnya terjadi proses tanya-jawab, 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Metode tanya-jawab seringkali dikaitkan dengan kegiatan diskusi, seminar, dan kegiatan ilmiah lain yang di dalammnya terjadi proses tanya-jawab, meskipun

Lebih terperinci