Pendidikan Kebutuhan Khusus sebagai sebuah DisiplinIlmu di Universitas Jurusan Pendidikan Kebutuhan Khusus, Universitas Oslo

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Pendidikan Kebutuhan Khusus sebagai sebuah DisiplinIlmu di Universitas Jurusan Pendidikan Kebutuhan Khusus, Universitas Oslo"

Transkripsi

1 Pendidikan Kebutuhan Khusus sebagai sebuah DisiplinIlmu di Universitas Jurusan Pendidikan Kebutuhan Khusus, Universitas Oslo Berit H. Johnsen Maksud utama di balik artikel ini adalah untuk memberikan gambaran singkat tentang Jurusan Pendidikan Kebutuhan Khusus, Universitas Oslo. Gambaran tersebut disajikan setelah pengantar konteks sejarahnya, dan diikuti dengan beberapa refleksi tentang prestasi dan tantangan dalam bidang penelitian, inovasi dan pendidikan tinggi yang berorientasi praktis ini. Dari ceceran program pengajaran menuju disiplin ilmu di universitas Pendidikan kebutuhan khusus sebagai disiplin ilmu universitas dapat dikatakan sebagai fenomena abad ke-20. Namun, pengetahuan tentang pendidikan kebutuhan khusus memiliki akar sejarah di zaman Mesir kuno lebih dari tiga ribu tahun yang lalu tentang pendidikan bagi orang tunanetra. Sejauh yang diketahui, buku pertama tentang metodologi pendidikan khusus adalah tentang pengajaran bagi penyandang tunarungu. Metodologi tersebut dikembangkan di Spanyol pada awal abad ke-17, kemungkinan ditulis pada akhir abad berikutnya. Selama abad ke-18 muncul minat yang lebih berorientasi filosofi terhadap hubungan antara persepsi indera dan kognisi, dengan John Locke ( ) sebagai tokoh utamanya. Sebagaimana dijelaskan secara singkat dalam salah satu artikel dalam buku ini, 17 minat yang cukup intelektual ini berkembang menjadi upaya-upaya pendidikan yang konkret. Pertanyaan-pertanyaan mengenai bila dan bagaimana orang tunarungu atau tunanetra dapat belajar diinvestigasi, dan program pelatihan yang konkret bagi anggota keluarga yang mempunyai hak-hak istimewa dikembangkan dan dilaksanakan. Tempat pertemuan untuk kegiatan-kegiatan ini adalah di Paris. Sedikit demi sedikit bermacam-macam program pelatihan dikembangkan, pada awalnya dalam bidang kecacatan sensori, dan kemudian juga difokuskan pada mereka yang menyandang ketunagrahitaan, kesulitan komunikasi dan berbahasa serta penyakit mental. Semakin banyak ahli dari berbagai negara berpartisipasi aktif dalam perdebatan yang penuh semangat tentang metode 17 Untuk informasi lebih lanjut lihat Johnsen 2001: Pengenalan terhadap Sejarah Pendidikan Kebutuhan Khusus menuju Inklusi. Konteks Norwegia dan Eropa. Artikel pada buku ini.

2 terbaik untuk memenuhi bermacam-macam kebutuhan khusus (Enerstvedt 1996; Johnsen 1998/2000; 2001). Eduard Seguin ( ) dari Perancis merupakan salah seorang perintis dalam bidang ketunagrahitaan, yang kemudian melanjutkan pekerjaannya itu di Amerika Serikat. Dia memulai pendidikan guru di sekolah khususnya. Pada peralihan abad ke-20 berbagai seminar dan lembaga di bidang pendidikan kebutuhan khusus diselenggarakan di beberapa kota Eropa seperti di Budapest pada tahun 1898 dan Berlin pada tahun Di beberapa negara, pendidikan guru pendidikan khusus tampaknya dimulai dengan penyelenggaraan berbagai kursus jangka pendek atau jangka panjang, yang terkait dengan sekolah khusus. Ini pula yang terjadi di Swedia, yang merupakan negara perintis dalam konteks Nordik ketika mereka memulai kursus jangka panjang bagi guru-guru pendidikan khusus di kelas-kelas remedial pada tahun 1926 (Askildt & Johsen 2001; Johnsen 2000). Perkembangan di Rusia dan Soviet memerlukan perhatian khusus karena kondisi sosial dan politik yang spesifik pada waktu itu, ketika Lev Vygotsky ( ) mengkontribusikan karya kepeloporannya. Sebagaimana di negara-negara Eropa Timur lainnya, kata defectology masih merupakan konsep resmi untuk pendidikan kebutuhan khusus. Konsep ini diperkenalkan ke dalam bahasa Rusia pada tahun 1912 dari istilah pendidikan kuratif kontemporer dari bahasa Jerman (Heilpedagogik). Konsep defects dan defectology juga digunakan dalam literatur Nordik dan Eropa lainnya serta dalam teks Amerika pada awal abad ke-20. Menjelang akhir masa Tsarist Rusia, beberapa sekolah khusus untuk anak-anak penyandang cacat sensori dan tunagrahita telah didirikan, yang mendidik kurang dari satu persen anak-anak penyandang cacat di dua kota besar, Moscow dan St. Petersburg. Pada tahun-tahun ketika pendidikan kebutuhan khusus sedang berkembang sebagai sebuah disiplin ilmu, masyarakat Rusia harus memikul penderitaan Perang Dunia I seperti negara-negara lain, dan di samping itu mereka mengalami Revolusi Komunis yang diikuti dengan perang saudara. Sebagai akibat dari masa kekacauan dengan kelaparan dan perang saudara, sejumlah besar anak muncul ke permukaan, anak-anak yang tidak memiliki rumah, yatim piatu atau diabaikan, dibiarkan bergelandangan. Jumlahnya diperkirakan sebanyak tujuh juta anak pada tahun sebagai akibat dari situasi ini, isi pendidikan kebutuhan khusus diperluas keluar dari pengajaran tradisional untuk anak-anak penyandang cacat sensori, kini mencakup pengajaran bagi anak-anak yang dibuang dan dilecehkan. Perspektif kepedulian sosial ini menjadi bagian yang menonjol dari tradisi pendidikan khusus di Soviet dan kemudian juga di Eropa Timur. Akibat dari revolusi tersebut, beberapa pendidik dalam pendidikan kebutuhan khusus dari masa pra-revolusi mendirikan sekolah-sekolah radikal, klinik dan institusi pengajaran untuk mempelajari fenomena pendidikan khusus dalam versi baru yang diperluas sebagaimana disebutkan di atas. Ketika Universitas Negeri Moscow II menyelenggarakan lembaga penelitian ilmiah pada fakultas pendidikan pada tahun , Vygotsky ditunjuk sebagai asisten direktur pada bagian defektologi. Ini menandai berdirinya pendidikan kebutuhan khusus sebagai disiplin ilmu di Uni Sovyet. 18 Namun, kontribusi Vygotsky pertama kali pada bidang pendidikan kebutuhan khusus terutama adalah melalui tulisan-tulisannya. Knox dan Stevens (1993:10) menggambarkan tulisan-tulisan Vygotsky dalam bidang pendidikan kebutuhan khusus sebagai berikut. 18 Pada teks sebelumnya (Johnsen 2000) saya tempatkan pendirian institut Defektologi pada tahun Di sini saya menggunakan berdasarkan dokumentasi dan diskusi Knox & Stevens (1993).

3 Dasar-dasar defektologi berisikan pemikiran Vygotsky untuk menciptakan pemahaman baru tentang psikologi anak-anak abnormal dan metodologi baru untuk mengembangkan kekuatankekuatannya yang masih tersisa serta fungsi-fungsi lainnya yang masih sehat dan utuh. Pekerjaan Vygotsky dengan anak-anak abnormal dilaksanakan bersamaan dengan penelitian tentang masalah-masalah fundamental yang terkait dengan perkembangan bahasa dan psikologi anak, dan ini dipergunakannya sebagai dasar untuk memecahkan masalah yang lebih besar ini. Singkatnya, makalah-makalahnya serta pemikiran yang terkandung di dalamnya memberi kontribusi besar terhadap pembentukan psikologi perkembangan modern di Soviet. Pendekatan Vygotsky menonjolkan konsep dialogisme; suatu pendekatan yang didasarkan pada komunikasi, yang sependapat dengan ahli-ahli terkemuka pada waktu itu, seperti ahli linguistik, kritikus sastra dan ahli teori Marxisme. Knox dan Stevens (1993) mengemukakan bahwa salah satu kontribusinya terhadap bidang pendidikan kebutuhan khusus adalah bahwa dia membantu memberikan dasar teori yang kuat untuk terus memperlakukan psikologi dan pengajaran siswa penyandang cacat sebagai satu bidang penelitian yang terpadu. Di samping itu, dia juga menciptakan gambaran holistik tentang hakikat manusia, dengan memadukan bidang-bidang yang terkait seperti linguistik, sosiologi, psikologi, fisiologi dan pendidikan. Namun, karya-karya Vygotsky itu sangat dikritik oleh penguasa baru Soviet, dan tulisan-tulisannya hampir hilang dari wacana pendidikan kebutuhan khusus di Soviet untuk beberapa dekade. Bersamaan dengan itu, gagasannya untuk mengembangkan defektologi sebagai disiplin penelitian dan sebagai satu disiplin ilmu menyebar ke banyak universitas di seluruh bagian timur Eropa. Baru beberapa dekade yang lalu tulisan-tulisan Vygotsky hidup kembali sebagai pengetahuan yang fundamental dalam pendidikan kebutuhan khusus dan bidang-bidang terkait lainnya (Askildt & Johnsen 2001; Johnsen 2000; Knox & Stevens 1993). Di Zurich, Swiss, pada tahun 1935, terdapat empat lembaga pendidikan kebutuhan khusus atau pendidikan kuratif (Heilpedagogik), sebutan pada waktu itu. Salah satunya didirikan pada tahun 1924 oleh Heinrich Hanselmann ( ), yang kemudian diangkat sebagai professor pertama dalam bidang ini. Hanselmann adalah perintis besar dari Eropa Barat yang mengembangkan landasarn teoritis untuk pendidikan kebutuhan khusus. Seperti Vygotsky di Uni Sovyet, Hanselmann memadukan pengetahuan tentang berbagai jenis kecacatan menjadi satu disiplin ilmu. Dia menganjurkan bahwa fokusnya harus pada pendidikan, pengasuhan dan perawatan anak yang berkebutuhan khusus. Bidang ini harus merupakan satu disiplin umum dengan cakupan yang luas, yang terkait erat dengan praktek. Di samping itu, dia juga menekankan bahwa disiplin ilmu yang baru ini terkait dengan berbagai disiplin ilmu lain seperti pendidikan, psikologi, kedokteran, filsafat dan sosiologi. Ide-ide Hanselmann ini menyebar ke Negara-negara lain dan pemikirannya menjadi sangat penting dalam wacana di negara-negara Nordik dan Norwegia (Askildt & Johnsen 2001; Johnsen 2000; Simonsen 1996). Seguin, Vygotsky dan Hanselmann semuanya mengemukakan argumen bahwa jenis kompetensi tertentu dibutuhkan dalam pendidikan murid yang berkebutuhan khusus. Mereka menggambarkan jenis kompetensi yang lebih luas daripada pendidikan tradisional pada saat itu di samping kedokteran dan psikologi tradisional. Sebagaimana disebutkan di muka, Vygotsky dan Hanselmann menekankan pentingnya hubungan yang erat dengan disiplin-disiplin yang lain. Sejak saat munculnya minat terhadap pendidikan kebutuhan khusus di Paris pada abad ke-18, para ahli dan praktisi yang menangani berbagai jenis kebutuhan khusus telah berkolaborasi dan saling memberikan inspirasi. Sebagian dari

4 mereka bahkan berpindah-pindah dari satu kecacatan ke kecacatan lain atau menangani beberapa jenis kecacatan sekaligus. Tradisi mengumpulkan dan membandingkan pengetahuan ini juga telah menjadi bagian dari wacana pendidikan kiebutuhan khusus di negara-negara Nordik sejak awalnya. Para ahli Nordik berkumpul untuk berpartisipasi dalam diskusi dan seminar-seminar yang rutin. Jurnal Nordik gabungan yang pertama diterbitkan pada tahun 1867 dan hingga kini masih terbit. Namun, belum ada negaranegara yang telah menyelenggarakan program studi pendidikan kebutuhan khusus secara gabungan. Di Norwegia, pentingnya memberikan pendidikan khusus kepada mereka yang akan mendidik anak-anak yang berkebutuhan khusus telah ditetapkan dalam undang-undang khusus pertama tentang sekolah khusus pada tahun Penyelenggaraan kursus gabungan untuk guru-guru di sekolah khusus dibahas tanpa ada hasil nyata pada saat itu. Juga di Norwegia, berbagai sekolah khusus mengembangkan kursusnya sendiri-sendiri atau mengupayakan beasiswa agar orang dapat pergi ke negara lain untuk belajar di sekolah khusus serupa. Kelompok terbesar yang merasa sangat membutuhkan pendidikan tambahan adalah guru-guru kelas remedial di sekolah reguler. Perdebatan tentang perlunya kursus pendidikan gabungan untuk guru pendidikan kebutuhan khusus berlanjut dengan fokus khusus yaitu menemukan hubungan yang relevan dengan pendidikan guru reguler. Pada tahun 1961 Lembaga Pendidikan Khusus Norwegia (NISE) didirikan. Lembaga ini memberikan pelatihan gabungan pada jenjang pendidikan tinggi untuk guru-guru pendidikan kebutuhan khusus di sekolah khusus dan sekolah reguler, yang didasarkan atas pendidikan yang telah dimilikinnya dan praktek yang telah dilakukannya sebagai guru reguler. Pelatihan tersebut diprogram dengan durasi dua tahun (Askildt 1996; Askildt & Johnsen 2001; Johnsen 1998/2000; 2000). Sekarang ini pendidikan kebutuhan khusus ditawarkan sebagai pendidikan tambahan pada beberapa universitas untuk guru-guru, baik dengan status sebagai mahasiswa penuh ataupun mahasiswa paruh waktu. Lembaga Pendidikan Khusus Norwegia telah diperluas dan berkembang menjadi sekolah tinggi pendidikan kebutuhan khusus pada semua jenjang akademik. Jurusan Pendidikan Kebutuhan Khusus, sebagaimana namanya sekarang, merupakan bagian dari Fakultas Pendidikan Universitas Oslo. Jurusan Pendidikan Kebutuhan Khusus Terdapat kira-kira tujuh puluh staf pada Jurusan Pendidikan Kebutuhan Khusus, terdiri dari lima puluh staf akademik dan dua puluh staf teknis dan administrasi. Ada dua puluh staf tambahan yang terkait dengan proyek-proyek dan kerjasama dengan pusat-pusat sumber, yang dibiayai dari luar. Jumlah mahasiswanya sedikit bervariasi setiap tahun, tetapi rata-rata sekitar 700 orang. Jurusan ini menyelenggarakan program perkuliahan pada berbagai jenjang. Tiga program perkuliahan yang akan digambarkan secara rinci kemudian, dicetak tebal pada daftar di bawah ini: Perkuliahan Dasar Universitas (grunnfag) Program Studi Pendidikan Kebutuhan Khusus yang Berorientasi Professional gelar Cand. Ed. BAGIAN I

5 BAGIAN II Program perkuliahan lainnya: Master Filosofi dalam Pendidikan Kebutuhan Khusus M. Phil. SNE program berbahasa Inggris Program studi untuk interpreter bagi penyandang tunarungu ringan, tunarungu dapatan, dan buta-tuli. Bahasa Isyarat I: Perkuliahan dasar universitas Grunnfag Bahasa Isyarat: mata kuliah intermediate tambahan Pendidikan lanjutan dan In-service Training/Penataran Pendidikan lanjutan dalam pendidikan kebutuhan khusus grunnfag - Perkuliahan dasar universitas. Perkuliahan semester dalam adaptasi pembelajaran Perkuliahan paruh waktu untuk mobilitas bagi guru-guru siswa tunanetra In-service training/penataran. Program Doktoral Dr. Poli. Program Studi Pendidikan Kebutuhan Khusus. Tujuan dari Program Studi Pendidikan Kebutuhan Khusus yang Berorientasi Profesional adalah untuk memberikan kualifikasi yang berbasis penelitian dan berorientasi karir untuk bekerja dalam bidang pendidikan, konseling, intervensi dan rehabilitasi bagi orang berkebutuhan khusus dan penyandang cacat. Studi tersebut terdiri dari sejumlah mata kuliah untuk mendapatkan gelar Cand. Ed. dalam Pendidikan Kebutuhan Khusus. Di samping studi dalam bidang pendidikan kebutuhan khusus yang umum, studi ini menawarkan spesialisasi dalam sejumlah aspek. Ini meliputi studi bahasa isyarat, pencegahan terhadap hambatan belajar dan mengajar, habilitasi dan rehabilitasi dalam bidang kecacatan sensori, perkembangan dan gangguan bahasa dan bicara ( logopedics ), strategi dan kesulitan pembelajaran dan perkembangan, dukungan emosional dan sosial serta dukungan pendidikan untuk kesulitan belajar spesifik. Bagian lanjutan dari studi ini terdiri dari mata kuliah tentang teori ilmu dan metodologi penelitian yang diikuti dengan penulisan tesis, di mana para mahasiswa melakukan penelitian dalam bidang spesialisasi yang telah dipilihnya. Bagian ini juga menawarkan studi lanjutan dalam bidang asesmen, konseling dan inovasi. Mahasiswa ditugaskan ke sejumlah lokasi praktek untuk beberapa minggu selama masa studinya, seperti taman kanak-kanak dan sekolah umum, pusat layanan psikologi pendidikan, pusat-pusat yang berada di bawah sistem pendukung pendidikan kebutuhan khusus, lembaga psikiatri anak dan remaja, pusat alat bantu pendidikan, pusat layanan kotapraja untuk penyandang tunarungu dan tunanetra, pusat interpreter, dll.

6 Setelah memperoleh gelar magister pendidikan dalam bidang Pendidikan Kebutuhan Khusus ini, mahasiswa dapat melanjutkan ke program doktor selama tiga tahun pada program studi ini. Struktur program studi ini kini sedang dalam revisi untuk diselaraskan dengan tren internasional, dan karenanya tidak akan dijelaskan secara rinci di sini. Untuk penjelasan lebih lanjut mengenai struktur program studi ini, silakan kunjungi situs (http://www.uio.no/english/ects/uv/isp). Jurusan ini menawarkan Program dua tahun Master Filosofi Pendidikan Kebutuhan Khusus M. Phil. SNE yang keseluruhan programnya dilaksanakan dalam bahasa Inggris. Mayoritas mahasiswa yang telah diterima dalam program ini berasal dari benua-benua lain atau dari Eropa Timur. Bantuan keuangan kini tersedia dari Quota Programme dan program bantuan lainnya seperti program beasiswa NORAD. Para pelamar internasional lainnya juga dapat diterima sebagai mahasiswa pembayar. Kandidat dari negara-negara barat yang bermaksud mempersiapkan diri untuk penelitian internasional, usaha kerjasama, dan layanan bantuan, juga dapat melamar di sini. Sejumlah kecil mahasiswa dari negara tuan rumah, Norwegia, juga diterima dalam program ini dengan persyaratan yang disebutkan di atas. M. Phil. SNE (master filosofi pendidikan kebutuhan khusus) adalah sebuah program sandwich dua tahun, yang terdiri dari empat bagian: Bagian I ( 2 bulan): Proyek persiapan: Deskripsi tentang situasi di negara asal mahasiswa yang disiapkan di negara asal sebelum kedatangan di Norwegia. Bagian II (8 bulan): Teori dan Metode dalam Pendidikan Kebutuhan Khusus: Kajian umum, spesialisasi, metoda dan rancangan penelitian. Bagian ini dilaksanakan di Universitas Oslo. Bagian III (9 bulan): Penelitian dan Tesis. Praktek lapangan, pengumpulan, penyusunan dan analisis data empirik di negara asal mahasiswa. Bagian IV (5 bulan): Penyelesaian jenjang Master: Finalisasi tesis dan perkuliahan akhir di Universitas Oslo. Program ini meliputi perkuliahan, diskusi kelompok, seminar mata kuliah terintegrasi, kerja kelompok, membaca mandiri, pengerjaan tugas/makalah dan tesis, latihan praktis, tutoring dan studi wisata. Dr. Polit. Study Programme in Special Needs Education [Perkuliahan untuk program doktor dalam Pendidikan Kebutuhan Khusus] dilaksanakan terutama dalam bahasa Norwegia. Namun, untuk memfasilitasi mahasiswa internasional dalam program ini, kini para dosen dapat memberikan perkuliahan untuk mata kuliah wajib dalam bahasa Inggris. Program doktor adalah studi full time selama tiga tahun. Program Doktor bertujuan meningkatkan kualifikasi kandidat untuk penelitian dan pekerjaan lain dalam Pendidikan Kebutuhan Khusus di mana penguasaan pengetahuan dan pendekatan keilmuan yang cermat dituntut. Selama masa pendidikan jenjang doktor ini, penekanan diberikan pada pengembangan keluasan profesional dan kedalaman penelitian akademik. Pengetahuan yang mendalam diperoleh melalui karya penelitian, baik teoritis maupun metodologis, yang terkait erat dengan penulisan disertasi doktor. Tujuan keluasan profesional akan dicapai sebagian melalui perkuliahan dan sebagian

7 melalui pembacaan literatur yang diwajibkan. Tujuan pelatihan ini adalah memberikan pemahaman yang mendalam tentang teori keilmuan dalam metodologi penelitian dan Pendidikan Kebutuhan Khusus sebagai satu disiplin ilmu dan sebagai bidang studi. Semua mata kuliah yang ditawarkan oleh jurusan Pendidikan Kebutuhan Khusus dijelaskan lebih lanjut dan senantiasa diperbaharui dalam situs: (http://www.uio.no/english/ects/uv/isp). Kesamaan, kualitas dan inklusi: Pencapaian dan tantangan dalam Pendidikan Kebutuhan Khusus sebagai Disiplin Ilmu Konsep pendidikan khusus dan pendidikan kebutuhan khusus telah dipergunakan dalam kaitannya dengan pendidikan di sekolah reguler untuk semua, atau sekolah inklusif, selama beberapa dekade di Norwegia serta di negara-negara Nordik lainnya. Sebagaimana dijelaskan dalam artikel-artikel lain dalam bunga rampai ini, anak dan remaja yang berkebutuhan khusus dan penyandang cacat sudah dijamin kesamaan aksesnya ke pendidikan di sekolah reguler yang wajib di Norwegia sejak beberapa dekade yang lalu melalui perubahan-perubahan dalam perundang-undangan tahun Pada waktu itu setiap anak diberi hak untuk memulai pendidikan formalnya di sekolah reguler setempat. Sejak tahun 1991 prinsip inklusi direalisasikan lebih lanjut dengan penutupan sekolahsekolah khusus nasional dan mengintegrasikan siswa-siswa dari sekolah-sekolah tersebut ke sekolah reguler lokal. Sebagai akibatnya, hanya satu persen dari total populasi siswa sekarang bersekolah di sekolah khusus atau kelas khusus. Kesamaan hak atas pendidikan ini juga diberikan untuk mengikuti pendidikan menengah atas tiga tahun, dengan kemungkinan perpanjangan waktu belajar hingga lima tahun (Johnsen 2001;2001). Kesetaraan akses ke sekolah inklusif menuntut adanya dukungan pendidikan yang relevan dan berkualitas tinggi bagi semua siswa. Tujuan mendasar dari kebijakan pendidikan ini adalah untuk menjamin semua anak, remaja dan orang dewasa yang berkebutuhan khusus memperoleh pendidikan yang tepat dan bermakna di sekolah untuk semua. Ini ditekankan dalam perundang-undangan dan kurikulum nasional melalui prinsip pendidikan yang diadaptasikan secara tepat (Johnsen 2001; 2001; Kementrian Pendidikan, Penelitian dan Gereja2001). Akan tetapi, kualitas pendidikan tidak dijamin melalui kebijakan resmi saja. Sebagaimana telah disebutkan di muka, program studi pendidikan kebutuhan khusus ditawarkan di sejumlah universitas dan lembaga pendidikan tinggi lainnya di Norwegia, yang menghasilkan pendidik dalam bidang pendidikan kebutuhan khusus pada berbagai jenjang. Sebagian besar sekolah di Norwegia mempunyai sekurangkurangnya seorang guru dengan pendidikan tambahan dalam bidang pendidikan kebutuhan khusus. Oleh karena itu, wajar bila disebutkan bahwa Jurusan Pendidikan Kebutuhan Khusus berperan penting dalam pencapaian di bidang pendidikan kebutuhan khusus dan inklusi selama beberapa dekade terakhir ini, karena jurusan ini merupakan lembaga pertama dan terbesar yang memberikan pendidikan tinggi dalam bidang ini. Pada tahun 1985, sebuah komite evaluasi yang dibentuk oleh Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) menggambarkan lembaga ini, yang pada saat itu bernama Sekolah Tinggi Pasca-Sarjana Pendidikan Khusus Norwegia, dengan kata-kata berikut:

8 Status mereka yang memberi perkuliahan ini tinggi. Akan sulit menemukan suatu lembaga yang sebanding dengan Sekolah Tinggi Pasca-Sarjana Pendidikan Khusus Norwegia, di Baerum, dengan staf dan fasilitas yang setara dengan universitas (OECD 1982:26, dikutip dari Johnsen 1985:51). Lembaga pendidikan ini merupakan faktor penting dalam memperkokoh pengetahuan dan keterampilan dalam bidang pendidikan kebutuhan khusus serta bagi perkembangan dini menuju satu sekolah untuk semua yang terjadi di Norwegia. Ada dua faktor yang patut disebutkan sebagai alasannya. 1. Penghimpunan berbagai bidang pendidikan kebutuhan khusus ke dalam satu institusi pendidikan tinggi menciptakan benteng yang kokoh yang berfokus pada hak dan kebutuhan orang yang berkebutuhan khusus dan menyandang kecacatan. Di kalangan staf institusi ini terdapat banyak tokoh juru bicara pada saat wacana tentang satu sekolah untuk semua baru menghangat, yang juga menyoroti pentingnya intervensi dini, meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya dalam bidang-bidang tradisional dan mengeksplorasi aspek-aspek baru dalam pendidikan kebutuhan khusus. 2. Kedekatan hubungan dengan pendidikan guru reguler menjamin bahwa tidak ada hambatan profesional bagi para pendidik khusus untuk bekerja di sekolah reguler. Sejak pendiriannya, Jurusan Pendidikan Kebutuhan Khusus telah berkembang menjadi pusat nasional untuk penelitian, inovasi dan pendidikan tinggi di bidang pendidikan kebutuhan khusus dan inklusi. Ini tidak berarti bahwa Jurusan ini merupakan satusatunya institusi dalam bidang ini. Sebagaimana telah dikemukakan, beberapa universitas menawarkan program pasca-sarjana di bidang pendidikan kebutuhan khusus pada jenjang yang lebih rendah. Inovasi di bidang pendidikan kebutuhan khusus adalah salah satu tujuan utama Sistem Pendukung Pendidikan Kebutuhan Khusus Norwegia dan pusat layanan psikologi pendidikan lokal serta sekolah-sekolah lokal. Penelitian dalam bidang dan tentang pendidikan kebutuhan khusus, inklusi dan kecacatan juga dilakukan di berbagai universitas lain di jurusan pendidikan, psikologi, sosiologi, antropologi dan studi budaya, serta di berbagai lembaga penelitian independen. Bidang pendidikan kebutuhan khusus akan senantiasa mengalami perubahan karena masyarakat pun senantiasa berubah. Terlebih lagi, jalan menuju kesetaraan penuh, pendidikan berkualitas tinggi dan masyarakat yang sepenuhnya inklusif masih panjang. Banyak tantangan yang masih harus dihadapi, oleh pendidikan kebutuhan khusus sebagai disiplin ilmu di universitas pada umumnya maupun Jurusan Pendidikan Kebutuhan Khusus Universitas Oslo pada khususnya. Daftar tantangan yang disebutkan berikut ini sama sekali tidak lengkap: 1. Sejak Jurusan Pendidikan Kebutuhan Khusus berubah dari sekolah tinggi yang terpisah menjadi bagian dari Universitas Oslo, hubungan langsung dengan pendidikan guru reguler menjadi kurang erat. 2. Sebagaimana dikemukakan sebelumnya, perubahan dalam struktur umum pendidikan tinggi di Norwegia sekarang ini sedang dibahas. Tujuannya adalah beralih dari tradisi Eropa Kontinental ke tradisi Anglo-Amerika yang lebih banyak dipergunakan secara internasional. Model baru yang akan berlaku di universitas kami dari tahun akademik adalah model Tiga tahun pertama perkuliahan adalah untuk kualifikasi Bachelor (sarjana), dua tahun berikutnya untuk jenjang Master, dan tiga tahun terakhir adalah program Doktoral (White Paper No. 27, ). Beberapa kemungkinan dan tantangan baru menyertai perubahan besar struktur studi ini dalam hal prioritas kurikulum dan kaitan antara teori dan praktek.

9 3. Pendidikan kebutuhan khusus merupakan suatu pendekatan yang berorientasi praktis terhadap kebutuhan belajar, pengajaran, habilitasi dan rehabilitasi anak, remaja dan orang dewasa yang berkebutuhan khusus dan menyandang kecacatan. Ini merupakan satu disiplin ilmu yang terkait erat dengan disiplin-disiplin lain seperti pendidikan reguler, psikologi, kedokteran, sosiologi, studi budaya dan filsafat. Untuk mengembangkan, mempertahankan dan senantiasa memperbarui kaitan antara kegunaan praktis dengan refleksi kritis akan selalu menjadi tantangan besar bagi disiplin ilmu ini. 4. Tantangan besar lainnya bagi pendidikan kebutuhan khusus sebagai satu disiplin ilmu adalah selalu berada di depan perubahan masyarakat, sebagai penyokong dan fasilitator bagi orang yang berkebutuhan khusus dan penyandang cacat, serta mendukung perubahan menuju masyarakat sejahtera yang inklusif. Daftar Pustaka Askildt, Astrid Frå draumen om særskoleseminar til doktorgradsstudium (From the Dream about Special School Courses to Doctoral Program) Oslo, Department of Special Needs Education, University of Oslo. Askldt, Astrid & Johnsen, Berit H Spesialpedagogikkens historie og idegrunnlag (History and basic ideas in Special Education). Article in Befring, Edvard & Tangen, Reidun (ed). Spesialpedagogikk (Special Needs Education). Oslo, Cappelen Akademisk Forlag: Enerstvedt, Regi Legacy of the Past. Oslo, Department of Sociology, University of Oslo. Johnsen, Berit Utviklingav læreplan for grunnutdanning i spesialpedagogikk for lærere på Øst-Island (Development of Curriculum for Postgraduate Education in Special Needs Education for Teachers in East- Iceland) Oslo, Department of Educational Research, University of Oslo. Johnsen, Berit H. 1998/2000. Et historisk perspektiv på idenne om en skole for alle (A historical perspective in ideas about a school for all). Oslo, Unipub. Johnsen, Berit H Idehistorisk perspektiv på spesialpedagogikk I skolen for alle (Idea-historical Perspective on Special Needs Education in the School for All). Article in Jordheim, Knut (ed.). Skolen Årbok for norsk utdanningshistorie (The School Yearbook in Norwegian History of Education): Johnsen, Berit H Introduction to History of Special Needs Education towards Inclusion. Norwegian and European context. Article in Johnsen, Berit H & Sjørten, Miriam D. (ed). Education Special Needs Education: An Introduction. Oslo, Unipub. Johnsen, Berit H Educational Policies and Perdebatane concerning the School for All and Special Needs Education. Article in Johnsen, Berit H & Sjørten, Miriam D. (ed). Education Special Needs Education: An Introduction. Oslo, Unipub. Knox, Jane & Stevens, Carol Vygotsky and Soviet Russian Defectology. Translators introduction to Rieber, Robert & Carton, Aaron. (ed). The Collected Works of L. S. Vygotsky. The Fundamentals of Defectology. New York, Plenum Press, Volume 2:1-25.

10 Ministry of Education, Research and the Church The Development of Education 1991 to National Report of Norway. Simonsen, Eva Vitenskap og profesjonskamp. Opplæring av dove og åndssvake i Norge ( Science and Professional Struggle. Education of Deaf and Mentally Retarded in Norway ) Oslo, Institutt for Spesialpedagogikk, Universitetet i Oslo. White Paper No. 27, Do your Duty-Claim your Rights. Reform concerning the Quality of Higher Education (St.meld. nr.27, Gjør din plikt-krec din rett. Kvalitertsreform av høyere utdanning). Ministry of Education, Research and the Church.

Pendahuluan. Berit H. Johnsen

Pendahuluan. Berit H. Johnsen Pendahuluan Berit H. Johnsen Banyak buku dan artikel yang telah dipublikasikan dengan topik sekolah inklusif dan masyarakat inklusif. Di banyak negara dan di berbagai benua, telah berkembang wacana yang

Lebih terperinci

Pengenalan Sejarah Pendidikan Kebutuhan Khusus Menuju Inklusi

Pengenalan Sejarah Pendidikan Kebutuhan Khusus Menuju Inklusi Bagian Dua Pengenalan Sejarah Pendidikan Kebutuhan Khusus Menuju Inklusi Sebuah Konteks Norwegia dan Eropa Berit H. Johnsen 2 Pendidikan kebutuhan khusus dapat secara singkat dijelaskan sebagai pendidikan

Lebih terperinci

Perdebatan dan Kebijakan tentang Sekolah untuk semua dan Pendidikan Kebutuhan Khusus

Perdebatan dan Kebijakan tentang Sekolah untuk semua dan Pendidikan Kebutuhan Khusus Perdebatan dan Kebijakan tentang Sekolah untuk semua dan Pendidikan Kebutuhan Khusus Perspektif Nasional: Situasi di Norwegia Berit H. Johnsen Wajib belajar telah lama menjadi tradisi di Norwegia, sejak

Lebih terperinci

Menuju Inklusi dan Pengayaan

Menuju Inklusi dan Pengayaan Bagian Satu Menuju Inklusi dan Pengayaan Miriam Donath Skjørten Pendahuluan Selama beberapa dekade yang lalu, kita telah mengalami banyak perubahan dalam pendidikan bagi anak penyandang cacat. Perubahan-perubahan

Lebih terperinci

Pendidikan Inklusif. Latar Belakang, Sejarah, dan Konsep Pendidikan Inklusif dengan Fokus pada Sistem Pendidikan Indonesia

Pendidikan Inklusif. Latar Belakang, Sejarah, dan Konsep Pendidikan Inklusif dengan Fokus pada Sistem Pendidikan Indonesia Pendidikan Inklusif Latar Belakang, Sejarah, dan Konsep Pendidikan Inklusif dengan Fokus pada Sistem Pendidikan Indonesia Perkembangan SLB di Dunia 1770: Charles-Michel de l Epee mendirikan SLB pertama

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. diskriminatif, dan menjangkau semua warga negara tanpa kecuali. Dalam

BAB I PENDAHULUAN. diskriminatif, dan menjangkau semua warga negara tanpa kecuali. Dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan sesungguhnya bersifat terbuka, demokratis, tidak diskriminatif, dan menjangkau semua warga negara tanpa kecuali. Dalam konteks pendidikan untuk

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN PROFESI GURU PLB

PENGEMBANGAN PROFESI GURU PLB PENGEMBANGAN PROFESI GURU PLB Oleh Drs. Yuyus Suherman,M.Si PLB FIP UPI yuyus@upi.edu Menjadi guru Pendidikan Luar Biasa (PLB) berarti kita menjadi guru bidang keahlian khusus. Dengan demikian sebagai

Lebih terperinci

Apakah Australia Awards Scholarships? Australia Awards di Indonesia. Australia Awards Indonesia

Apakah Australia Awards Scholarships? Australia Awards di Indonesia. Australia Awards Indonesia Apakah kamu ingin menjadi generasi pemimpin global berikutnya dan menciptakan perubahan di lingkungan profesional dan masyarakat? Australia Awards Scholarships menawarkan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan

Lebih terperinci

Definisi dan Ruang Lingkup Praktek Konseling Rehabilitasi. Oleh Didi Tarsidi universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Definisi dan Ruang Lingkup Praktek Konseling Rehabilitasi. Oleh Didi Tarsidi <a href=http://www.upi.edu>universitas Pendidikan Indonesia (UPI)</a> Definisi dan Ruang Lingkup Praktek Konseling Rehabilitasi Oleh Didi Tarsidi universitas Pendidikan Indonesia (UPI) 1. Definisi Istilah konseling rehabilitasi yang dipergunakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. internasional. Dalam konteks praktis pendidikan terjadi pada lembaga-lembaga formal

BAB I PENDAHULUAN. internasional. Dalam konteks praktis pendidikan terjadi pada lembaga-lembaga formal 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan hak bagi setiap warga negara tanpa kecuali. Pendidikan telah menjadi bagian kehidupan yang diamanatkan secara nasional maupun internasional. Dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mendapatkan pendidikan yang bermutu merupakan ukuran keadilan, pemerataan

BAB I PENDAHULUAN. mendapatkan pendidikan yang bermutu merupakan ukuran keadilan, pemerataan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan pada dasarnya merupakan bagian dari hak asasi manusia dan hak setiap warga negara yang usaha pemenuhannya harus direncanakan dan dijalankan dan dievaluasi

Lebih terperinci

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA RPP. (PENDIDIKAN INKLUSI) RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA RPP. (PENDIDIKAN INKLUSI) RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) RPP/Kode mata Pertemuan ke : 1-3 Tujuan Perkuliahan : 1. Membuat kesepakatan tentang arah dan tugas-tugas perkuliahan dalam 1 semester 2. Mahasiswa memiliki pemahaman tentang pendidikan inklusif Materi

Lebih terperinci

PEMBEKALAN STUDI LANJUT LUAR NEGERI: STUDI LANJUT PASCA SARJANA DI REPUBLIK FEDERAL JERMAN

PEMBEKALAN STUDI LANJUT LUAR NEGERI: STUDI LANJUT PASCA SARJANA DI REPUBLIK FEDERAL JERMAN PEMBEKALAN STUDI LANJUT LUAR NEGERI: STUDI LANJUT PASCA SARJANA DI REPUBLIK FEDERAL JERMAN Oleh: Satoto E. Nayono Fakultas Teknik-Universitas Negeri Yogyakarta Disampaikan dalam: Workshop Peningkatan Wawasan

Lebih terperinci

Sekolah Inklusif: Dasar Pemikiran dan Gagasan Baru untuk Menginklusikan Pendidikan Anak Penyandang Kebutuhan Khusus Di Sekolah Reguler

Sekolah Inklusif: Dasar Pemikiran dan Gagasan Baru untuk Menginklusikan Pendidikan Anak Penyandang Kebutuhan Khusus Di Sekolah Reguler Sekolah Inklusif: Dasar Pemikiran dan Gagasan Baru untuk Menginklusikan Pendidikan Anak Penyandang Kebutuhan Khusus Di Sekolah Reguler Drs. Didi Tarsidi I. Pendahuluan 1.1. Hak setiap anak atas pendidikan

Lebih terperinci

Dokumen Kurikulum Program Studi : Arsitektur

Dokumen Kurikulum Program Studi : Arsitektur Dokumen Kurikulum 2013-2018 Program Studi : Arsitektur Fakultas : Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan Institut Teknologi Bandung Total Bidang Halaman Kode Akademik Dokumen dan Kemahasiswaan

Lebih terperinci

BELAJAR DI JANTUNG NEGERI BELANDA

BELAJAR DI JANTUNG NEGERI BELANDA BELAJAR DI JANTUNG NEGERI BELANDA WWW.INTERNATIONAL.HU.NL UNIVERSITAS ILMU TERAPAN HU UTRECHT (HU) HU UNIVERSITY OF APPLIED SCIENCES UTRECHT (HU) HU University of Applied Sciences Utrecht (HU) merupakan

Lebih terperinci

Program Beasiswa Erasmus Lifelong Learning Programme

Program Beasiswa Erasmus Lifelong Learning Programme Program Beasiswa Erasmus Lifelong Learning Programme Program Erasmus (EuRopean Community Action Scheme for the Mobility of University Students) atau Erasmus Project adalah program pertukaran pelajar di

Lebih terperinci

::Sekolah Pascasarjana IPB (Institut Pertanian Bogor)::

::Sekolah Pascasarjana IPB (Institut Pertanian Bogor):: Contributed by Administrator adalah program pendidikan strata 3 (S3) yang ditujukan untuk memperoleh gelar akademik doktor sebagai gelar akademik tertinggi. Berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. dan berjalan sepanjang perjalanan umat manusia. Hal ini mengambarkan bahwa

I. PENDAHULUAN. dan berjalan sepanjang perjalanan umat manusia. Hal ini mengambarkan bahwa 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan adalah sebuah proses yang melekat pada setiap kehidupan bersama dan berjalan sepanjang perjalanan umat manusia. Hal ini mengambarkan bahwa pendidikan tidak

Lebih terperinci

Individualized Education Program (IEP) Least Restrictive Environment (LRE) Teaming and Collaboration among Professionals

Individualized Education Program (IEP) Least Restrictive Environment (LRE) Teaming and Collaboration among Professionals PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN KHUSUS Individualized Education Program (IEP) Least Restrictive Environment (LRE) Teaming and Collaboration among Professionals Individualized Education Program (IEP) Dapat diberikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sepenuhnya dijamin pemerintah sebagaimana tercantum dalam Pasal 31 UUD

BAB I PENDAHULUAN. sepenuhnya dijamin pemerintah sebagaimana tercantum dalam Pasal 31 UUD 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Hak setiap warga Negara untuk memperoleh pendidikan yang layak sepenuhnya dijamin pemerintah sebagaimana tercantum dalam Pasal 31 UUD 1945 tentang hak setiap

Lebih terperinci

LEARNING OUTCOME S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

LEARNING OUTCOME S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR LEARNING OUTCOME S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR ASOSIASI DOSEN PGSD INDONESIA KATA PENGANTAR Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya rumusan capaian pembelajaran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Direktorat Jendral Managamen Pendidikan Dasar dan Menengah, yang

BAB I PENDAHULUAN. Direktorat Jendral Managamen Pendidikan Dasar dan Menengah, yang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Direktorat Jendral Managamen Pendidikan Dasar dan Menengah, yang membawahi Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa, pelaksanaan ditingkat provinsi khususnya di Provinsi

Lebih terperinci

KISI-KISI PENGEMBANGAN SOAL UJI KOMPETENSI AWAL SERTIFIKASI GURU DALAM JABATAN MATA PELAJARAN GURU KELAS SDLB KOMPETENSI PEDAGOGIK

KISI-KISI PENGEMBANGAN SOAL UJI KOMPETENSI AWAL SERTIFIKASI GURU DALAM JABATAN MATA PELAJARAN GURU KELAS SDLB KOMPETENSI PEDAGOGIK KISI-KISI PENGEMBANGAN SOAL UJI KOMPETENSI AWAL SERTIFIKASI GURU DALAM JABATAN MATA PELAJARAN GURU KELAS SDLB KOMPETENSI PEDAGOGIK Kompetensi Inti Guru (Standar Kompetensi) 1. Menguasai karakteristik peserta

Lebih terperinci

Paket 1 PENGERTIAN, RUANG LINGKUP, DAN TUJUAN IPS

Paket 1 PENGERTIAN, RUANG LINGKUP, DAN TUJUAN IPS Paket 1 PENGERTIAN, RUANG LINGKUP, DAN TUJUAN IPS Pendahuluan Paket ini difokuskan pada pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), ruang lingkup IPS, dan tujuan pembelajaran IPS. Paket ini merupakan paket

Lebih terperinci

KISI UJI KOMPETENSI 2014 MATA PELAJARAN PENDIDIKAN LUAR BIASA

KISI UJI KOMPETENSI 2014 MATA PELAJARAN PENDIDIKAN LUAR BIASA KISI UJI KOMPETENSI 2014 MATA PELAJARAN PENDIDIKAN LUAR BIASA Standar Utama Inti Pedagogik Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, sosial, kultural, emosional, dan intelektual. Guru

Lebih terperinci

INOVASI MODEL PENANGANAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK) DI SEKOLAH DASAR Oleh AGUNG HASTOMO

INOVASI MODEL PENANGANAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK) DI SEKOLAH DASAR Oleh AGUNG HASTOMO INOVASI MODEL PENANGANAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK) DI SEKOLAH DASAR Oleh AGUNG HASTOMO agung_hastomo@uny.ac.id Abstrak Artikel dengan judul Model penanganan Anak Berkebutuhan Khusus di sekolah akan

Lebih terperinci

PERANGKAT PEMBELAJARAN UNTUK ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DI SEKOLAH INKLUSI

PERANGKAT PEMBELAJARAN UNTUK ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DI SEKOLAH INKLUSI PERANGKAT PEMBELAJARAN UNTUK ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DI SEKOLAH INKLUSI (Program Pengabdian Masyarakat di SD Gadingan Kulonprogo) Oleh: Rafika Rahmawati, M.Pd (rafika@uny.ac.id) Pendidikan inklusi merupakan

Lebih terperinci

Gambaran peran guru..., Dewi Rahmawati, FPsi UI, PENDAHULUAN

Gambaran peran guru..., Dewi Rahmawati, FPsi UI, PENDAHULUAN 1.PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Anak-anak yang lahir ke dunia ini tidak semua dalam keadaan yang sama satu sama lain. Seperti yang telah kita ketahui bahwa selain ada anak yang memiliki perkembangan yang

Lebih terperinci

Studi Kawasan Islam. Islamic Area Studies. National Institutes for the Humanities of Japan (NIHU) Program

Studi Kawasan Islam. Islamic Area Studies. National Institutes for the Humanities of Japan (NIHU) Program National Institutes for the Humanities of Japan (NIHU) Program Islamic Area Studies Program dari Lembaga Nasional Humaniora (NIHU) Studi Kawasan Islam Program National Intitutes for the Humanities of Japan

Lebih terperinci

WALIKOTA PADANG PERATURAN WALIKOTA PADANG NOMOR 19 TAHUN 2013 TENTANG PENDIDIKAN KHUSUS DAN LAYANAN KHUSUS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

WALIKOTA PADANG PERATURAN WALIKOTA PADANG NOMOR 19 TAHUN 2013 TENTANG PENDIDIKAN KHUSUS DAN LAYANAN KHUSUS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PADANG PERATURAN WALIKOTA PADANG NOMOR 19 TAHUN 2013 TENTANG PENDIDIKAN KHUSUS DAN LAYANAN KHUSUS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PADANG, Menimbang : a. bahwa dalam upaya memberikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Inelda Yulita, 2015

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Inelda Yulita, 2015 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Proses pendidikan di sekolah memiliki tujuan agar peserta didik mampu mempelajari diri sendiri dan alam sekitarnya, serta mampu mengembangkan dan menerapkan

Lebih terperinci

PENERAPAN TEORI BELAJAR VYGOTSKY DALAM INTERAKSI BELAJAR MENGAJAR

PENERAPAN TEORI BELAJAR VYGOTSKY DALAM INTERAKSI BELAJAR MENGAJAR PENERAPAN TEORI BELAJAR VYGOTSKY DALAM INTERAKSI BELAJAR MENGAJAR Pendahuluan Perkembangan manusia adalah sesuatu yang tidak terpisahkan dari kegiatankegiatan sosial dan budaya, yang merupakan suatu proses-proses

Lebih terperinci

Doktor Ekonomi, Kekhususan Manajemen Bisnis Penyelenggara Fakultas Ekonomi

Doktor Ekonomi, Kekhususan Manajemen Bisnis Penyelenggara Fakultas Ekonomi Doktor Ekonomi, Kekhususan Manajemen Bisnis Penyelenggara Fakultas Ekonomi Pengelola Program Ketua Program : Prof. Dr. Sucherly, SE., MS Sekretaris Bidang Akademik : Prof.Dr. Rina Indiastuti, MSIE Sekretaris

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORITIS. Menurut Gibbons (2002), self directed learning adalah peningkatan

BAB II LANDASAN TEORITIS. Menurut Gibbons (2002), self directed learning adalah peningkatan BAB II LANDASAN TEORITIS A. Self Directed Learning 1. Pengertian Self Directed Learning Menurut Gibbons (2002), self directed learning adalah peningkatan pengetahuan, keahlian, prestasi, dan mengembangkan

Lebih terperinci

MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA

MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA DOSEN PEMBIMBING: Dr. DARMAWANSYAH, SE, MS. HEALTH CARE PROFESSIONALS (TENAGA PROFESI PELAYANAN KESEHATAN) KENNETH R. PUTIH, PH.D., FACHE, DAN DOLORES G. CLEMENT, DR.PH Presented

Lebih terperinci

BAB IV PENUTUP. (tradisional) adalah pesantren yang tetap mempertahankan pengajaran kitab-kitab

BAB IV PENUTUP. (tradisional) adalah pesantren yang tetap mempertahankan pengajaran kitab-kitab BAB IV PENUTUP 1. Kesimpulan Pesantren sebagai lembaga pendidikan agama Islam khas Indonesia merupakan pendidikan alternatif dari pendidikan formal yang dikelola oleh pemerintah. Pertama, karena pesantren

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah investasi sumber daya manusia jangka panjang yang mempunyai nilai strategis bagi kelangsungan peradaban manusia di dunia. Hampir semua negara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. permasalahan, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi terminologi, dan

BAB I PENDAHULUAN. permasalahan, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi terminologi, dan BAB I PENDAHULUAN Dalam bab ini akan dijelaskan tentang latar belakang penelitian, rumusan permasalahan, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi terminologi, dan cakupan batasan penelitian. 1.1

Lebih terperinci

Tindakan Dukungan Pendidikan Bagi Murid yang Tidak Berbicara Bahasa Mandarin (Tahun Ajaran 2014/15)

Tindakan Dukungan Pendidikan Bagi Murid yang Tidak Berbicara Bahasa Mandarin (Tahun Ajaran 2014/15) Indonesian Untuk Orang Tua Tindakan Dukungan Pendidikan Bagi Murid yang Tidak Berbicara Bahasa Mandarin (Tahun Ajaran 2014/15) Pemerintah berkomitmen untuk mendorong dan mendukung intergrasi awal murid-murid

Lebih terperinci

Permintaan Aplikasi Hibah (Request for Applications) Knowledge Sector Initiative. Untuk. Judul Kegiatan: Skema Hibah Pengetahuan Lokal

Permintaan Aplikasi Hibah (Request for Applications) Knowledge Sector Initiative. Untuk. Judul Kegiatan: Skema Hibah Pengetahuan Lokal Permintaan Aplikasi Hibah (Request for Applications) Untuk Knowledge Sector Initiative Judul Kegiatan: Skema Hibah Pengetahuan Lokal Nomor Permintaan Aplikasi: 01/KSI/SG-S/Des/2014 Tanggal Mulai dan Penutupan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dimensi kemanusiaan paling elementer dapat berkembang secara optimal ( Haris,

BAB I PENDAHULUAN. dimensi kemanusiaan paling elementer dapat berkembang secara optimal ( Haris, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Guru adalah sebuah profesi yang merujuk pada pekerjaan atau jabatan yang menuntut suatu keahlian, tanggung jawab dan kesetiaan. Mengutip pendapat Haris (2009) profesionalisme

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Perkembangan pendidikan khususnya program magister atau pascasarjana di Indonesia tidak meningkat secara signifikan. Pada tahun 2011 jumlah mahasiswa pascasarjana Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mencapai hal tersebut, salah satu usaha yang dilakukan adalah mendidik anak

BAB I PENDAHULUAN. mencapai hal tersebut, salah satu usaha yang dilakukan adalah mendidik anak BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sesuai dengan perkembangan IPTEK, setiap manusia mengusahakan agar warga negaranya kreatif dan dapat mengikuti perkembangan zaman. Untuk mencapai hal tersebut,

Lebih terperinci

Kurikulum untuk Pluralitas Kebutuhan Belajar Individual

Kurikulum untuk Pluralitas Kebutuhan Belajar Individual Kurikulum untuk Pluralitas Kebutuhan Belajar Individual Beberapa Pemikiran mengenai Inovasi Praktis menuju Kelas dan Sekolah Inklusif Berit H. Johnsen Pada tahun-tahun terakhir ini, gagasan sekolah inklusif

Lebih terperinci

PENDEKATAN INKLUSIF DALAM PENDIDIKAN

PENDEKATAN INKLUSIF DALAM PENDIDIKAN PENDEKATAN INKLUSIF DALAM PENDIDIKAN A. PERUBAHAN PANDANGAN TERHADAP ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DAN PENDIDIKANNYA Paham humanisme yang berkembang di negara-negara Barat saat ini mempengaruhi cara pandang

Lebih terperinci

PROSPEK TENAGA KEPENDIDIKAN PENDIDIKAN LUAR BIASA DALAM KERANGKA PENDIDIKAN INKLUSI

PROSPEK TENAGA KEPENDIDIKAN PENDIDIKAN LUAR BIASA DALAM KERANGKA PENDIDIKAN INKLUSI PROSPEK TENAGA KEPENDIDIKAN PENDIDIKAN LUAR BIASA DALAM KERANGKA PENDIDIKAN INKLUSI Oleh Mumpuniarti Ketua Jurusan PLB Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta I. PENDAHULUAN Pendidikan Inklusi

Lebih terperinci

PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERDASARKAN TEORI KONSTRUKTIVISME SOSIAL (VYGOTSKY)

PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERDASARKAN TEORI KONSTRUKTIVISME SOSIAL (VYGOTSKY) PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERDASARKAN TEORI KONSTRUKTIVISME SOSIAL (VYGOTSKY) A. Profil Singkat Vygotsky Nama lengkapnya adalah Lev Semyonovich Vygotsky. Ia dilahirkan di salah satu kota Tsarist, Russia,

Lebih terperinci

WALIKOTA PROBOLINGGO

WALIKOTA PROBOLINGGO WALIKOTA PROBOLINGGO SALINAN PERATURAN WALIKOTA PROBOLINGGO NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG PENYELENGGARAN PENDIDIKAN KHUSUS DAN PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PROBOLINGGO,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Latar Belakang Masalah. Kuliah dan pekerjaan merupakan dua hal yang saling berkaitan, karena

BAB 1 PENDAHULUAN. Latar Belakang Masalah. Kuliah dan pekerjaan merupakan dua hal yang saling berkaitan, karena BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Kuliah dan pekerjaan merupakan dua hal yang saling berkaitan, karena kebanyakan mahasiswa berharap memiliki titel kesarjanaan dan bercita-cita memperoleh pekerjaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Selama ini pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus lebih banyak diselenggarakan secara segregasi di Sekolah Luar Biasa (SLB) dan Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB).

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Asep Maosul, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Asep Maosul, 2013 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan merupakan elemen dasar dari hak asasi manusia. Di dalam hak atas pendidikan terkandung berbagai elemen pokok bagi kehihupan manusia. Hak atas pendidikan

Lebih terperinci

memenuhi tuntutan sosial, kultural, dam religius dalam lingkungan kehidupannya. Pendidikan anak usia dini pada hakekatnya adalah pendidikan yang

memenuhi tuntutan sosial, kultural, dam religius dalam lingkungan kehidupannya. Pendidikan anak usia dini pada hakekatnya adalah pendidikan yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan dapat dipandang suatu proses pemberdayaan dan pembudayaan individu agar ia mampu memenuhi kebutuhan perkembangannya dan sekaligus memenuhi tuntutan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN PENERAPAN METODE MONTESSORI DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN OPERASI HITUNG PENGURANGAN PADA PESERTA DIDIK TUNARUNGU KELAS I SDLB

BAB I PENDAHULUAN PENERAPAN METODE MONTESSORI DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN OPERASI HITUNG PENGURANGAN PADA PESERTA DIDIK TUNARUNGU KELAS I SDLB 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan aspek yang sangat penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, oleh karena itu seluruh warga negara Indonesia diberikan hak dan kewajiban

Lebih terperinci

Misi ini kemudian agar terarah, diimplemantasikan dalam tujuan strategik Program Doktor Akuntansi Universitas Gadjah Mada:

Misi ini kemudian agar terarah, diimplemantasikan dalam tujuan strategik Program Doktor Akuntansi Universitas Gadjah Mada: PROGRAM STUDI AKUNTANSI Program Doktor Akuntansi Universitas Gadjah Mada memiliki jatidiri yang menjadi dua pilar utama eksistensinya. Pertama, program ini berorientasi pada pendidikan dan penelitian ilmu

Lebih terperinci

KERANGKA STRATEGIS Jejaring Asia-Pasifik untuk Kepemimpinan Global

KERANGKA STRATEGIS Jejaring Asia-Pasifik untuk Kepemimpinan Global KERANGKA STRATEGIS 2012-2015 Jejaring Asia-Pasifik untuk Kepemimpinan Global Pertemuan Tahunan Para Presiden APRU ke 16 Universitas Oregon 27-29 Juni 2012 Draf per 24 Mei 2012 APRU: Sekilas Pandang 42

Lebih terperinci

BAB I. A. Latar Belakang Penelitian

BAB I. A. Latar Belakang Penelitian BAB I A. Latar Belakang Penelitian Tingkat apresiasi masyarakat tumbuh dan berkembang dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti rutinitas dari kegiatan Seni Rupa ditengah masyarakat dan pendidikan Seni

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu kebutuhan utama di dalam kehidupan saat ini. Hal ini terlihat dari persyaratan yang diajukan oleh mayoritas perusahaan dalam merekrut

Lebih terperinci

KATALOG PROGRAM STUDI PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH (PLS)

KATALOG PROGRAM STUDI PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH (PLS) KATALOG PROGRAM STUDI PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH (PLS) RASIONAL PROGRAM Layanan program PLS tumbuh subur dan tersebar luas di tengah masyarakat, baik program-program yang bersifat institusional, informasional,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. bangsa Indonesia kini sedang dihadapkan pada persoalan-persoalan kebangsaan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. bangsa Indonesia kini sedang dihadapkan pada persoalan-persoalan kebangsaan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan dalam konteks pembangunan bangsa dan negara, masih mengalami permasalahan yang serius. Kunandar (2011:7), menjelaskan bahwa bangsa Indonesia kini

Lebih terperinci

BAB I. sosialnya sehingga mereka dapat hidup dalam lingkungan sekitarnya. Melalui

BAB I. sosialnya sehingga mereka dapat hidup dalam lingkungan sekitarnya. Melalui BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pendidikan merupakan suatu usaha untuk membantu perkembangan anak supaya lebih progresif baik dalam perkembangan akademik maupun emosi sosialnya sehingga mereka dapat

Lebih terperinci

REVITALISASI PROGRAM STUDI PLB DALAM MENGHADAPI PROGRAM INKLUSI *) Oleh Edi Purwanta **)

REVITALISASI PROGRAM STUDI PLB DALAM MENGHADAPI PROGRAM INKLUSI *) Oleh Edi Purwanta **) REVITALISASI PROGRAM STUDI PLB DALAM MENGHADAPI PROGRAM INKLUSI *) Pendahuluan Oleh Edi Purwanta **) Pendekatan pendidikan luar biasa dari waktu ke waktu mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. inklusif menjamin akses dan kualitas. Satu tujuan utama inklusif adalah

BAB I PENDAHULUAN. inklusif menjamin akses dan kualitas. Satu tujuan utama inklusif adalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan inklusif merupakan paradigma baru pendidikan kita dan merupakan strategi untuk mempromosikan pendidikan universal yang efektif karena dapat menciptakan sekolah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mencapai suatu tujuan cita-cita luhur mencerdaskan kehidupan bangsa.

BAB I PENDAHULUAN. mencapai suatu tujuan cita-cita luhur mencerdaskan kehidupan bangsa. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan sebuah upaya yang dilakukan negara untuk mencapai suatu tujuan cita-cita luhur mencerdaskan kehidupan bangsa. Tujuan pendidikan adalah untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. I.1.1. Latar Belakang Pengadaan Proyek

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. I.1.1. Latar Belakang Pengadaan Proyek BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang I.1.1. Latar Belakang Pengadaan Proyek Anak merupakan harapan bagi setiap orang tua agar kelak menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa. Setiap orang tua berharap

Lebih terperinci

PERAN DAN FUNGSI KURIKULUM

PERAN DAN FUNGSI KURIKULUM PERAN DAN FUNGSI KURIKULUM Istilah teknis 1. Peran kurikulum, berkenaan dengan tugas dan tanggung jawab kurikulum sebagai salah satu komponen dalam pendidikan yang memuat tentang arah dan tujuan pendidikan.

Lebih terperinci

KOMPETENSI KONSELOR DALAM MENGHADAPI PENDIDIKAN INKLUSI

KOMPETENSI KONSELOR DALAM MENGHADAPI PENDIDIKAN INKLUSI KOMPETENSI KONSELOR DALAM MENGHADAPI PENDIDIKAN INKLUSI Makalah disampaikan pada Konvensi Nasional XIV dan Kongres X Asosiasi Bimbingan Konseling Indonesia di Semarang Tanggal 13 16 April 2005 Oleh Edi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keterampilan, dan sikap atau nilai (Toharudin, dkk., 2011:179). pemecahan masalah belajar dan kesulitan dalam belajar.

BAB I PENDAHULUAN. keterampilan, dan sikap atau nilai (Toharudin, dkk., 2011:179). pemecahan masalah belajar dan kesulitan dalam belajar. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kegiatan pembelajaran di sekolah tidak dapat terlepas dari buku pelajaran. Buku pelajaran termasuk salah satu sumber belajar yang digunakan dalam pembelajaran.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Bahasa Indonesia secara umum mempunyai fungsi sebagai alat komunikasi sosial. Pada dasarnya bahasa erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Manusia sebagai anggota

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Ika Citra Wulandari, 2015

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Ika Citra Wulandari, 2015 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang banyak digunakan dan dimanfaatkan untuk menyelesaikan permasalahan pada hampir semua mata pelajaran yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, fungsi pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, fungsi pendidikan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, fungsi pendidikan dirasakan semakin penting, baik yang bersifat formal maupun nonformal. Hal ini tidak terlepas

Lebih terperinci

Bismillahi rahmani rahiim,

Bismillahi rahmani rahiim, Pidato Utama Seminar IDB: Mencetak Sumber Daya Manusia yang Kompetitif bagi Pemberdayaan Ekonomi Dr. Hendar (Deputi Gubernur, Bank Indonesia) Jakarta, 13 Mei 2016 Bismillahi rahmani rahiim, Yang saya hormati:

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 100 BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan Pada bab ini penulis mencoba menarik kesimpulan dari hasil penelitian yang telah dilakukan selama hampir dua bulan di Sekolah Dasar Negeri 2. Pada bab

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan Berdasarkan temuan penelitian dan pembahasan yang dikemukakan pada bab sebelum ini, selanjutnya penulis menyimpulkan hal-hal sebagai berikut.

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Kebijakan pembangunan pendidikan tahun 2010-2014 memuat enam strategi, yaitu: 1) perluasan dan pemerataan akses pendidikan usia dini bermutu dan berkesetaraan gender, 2) perluasan

Lebih terperinci

BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Politeknik Negeri Jember sebagai suatu perguruan tinggi merupakan institusi pelaksana kegiatan ilmiah yang bertujuan menghasilkan tenaga ahli yang mampu menguasai

Lebih terperinci

P 37 Analisis Proses Pembelajaran Matematika Pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Tunanetra Kelas X Inklusi SMA Muhammadiyah 4 Yogyakarta

P 37 Analisis Proses Pembelajaran Matematika Pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Tunanetra Kelas X Inklusi SMA Muhammadiyah 4 Yogyakarta P 37 Analisis Proses Pembelajaran Matematika Pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Tunanetra Kelas X Inklusi SMA Muhammadiyah 4 Yogyakarta Risti Fiyana Mahasiswa S1 Program Studi Pendidikan Matematika Dr.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan faktor penting bagi kelangsungan kehidupan

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan faktor penting bagi kelangsungan kehidupan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang. Pendidikan merupakan faktor penting bagi kelangsungan kehidupan bangsa dan faktor pendukung yang memegang peranan penting di seluruh sektor kehidupan, sebab kualitas

Lebih terperinci

Langkah Dukungan Pendidikan bagi Siswa yang Tidak Berbahasa Cina (Tahun Ajaran 2014/15) (Bahasa)

Langkah Dukungan Pendidikan bagi Siswa yang Tidak Berbahasa Cina (Tahun Ajaran 2014/15) (Bahasa) Untuk Orang Tua Langkah Dukungan Pendidikan bagi Siswa yang Tidak Berbahasa Cina (Tahun Ajaran 2014/15) (Bahasa) Pemerintah berkomitmen untuk mendorong dan mendukung integrasi siswa yang tidak berbahasa

Lebih terperinci

AHMAD NAWAWI JURUSAN PENDIDIKAN LUAR BIASA FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UPI BANDUNG 2010

AHMAD NAWAWI JURUSAN PENDIDIKAN LUAR BIASA FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UPI BANDUNG 2010 AHMAD NAWAWI JURUSAN PENDIDIKAN LUAR BIASA FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UPI BANDUNG 2010 SIAPAKAH? ANAK LUAR BIASA ANAK PENYANDANG CACAT ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS PENDIDIKAN INKLUSIF Pendidikan inklusif

Lebih terperinci

ACDPINDONESIA Education Sector Analytical And Capacity Development Partnership

ACDPINDONESIA Education Sector Analytical And Capacity Development Partnership Risalah Kebijakan November 2014 Ketidakhadiran Guru di Indonesia Tingkat ketidakhadiran guru di Indonesia Alasan guru tidak hadir di sekolah Kegiatan guru di sekolah ketika sedang tidak mengajar Dampak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indrie Noor Aini, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indrie Noor Aini, 2013 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika merupakan salah satu disiplin ilmu yang diajarkan pada setiap jenjang pendidikan, matematika diharapkan dapat memberikan sumbangan dalam rangka mengembangkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. emosional, mental sosial, tapi memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa.

BAB I PENDAHULUAN. emosional, mental sosial, tapi memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan Luar Biasa merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses penbelajaran karena kelainan fisik,

Lebih terperinci

RENCANA STRATEGIS PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FKIP UNIVERSITAS SRIWIJAYA

RENCANA STRATEGIS PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FKIP UNIVERSITAS SRIWIJAYA RENCANA STRATEGIS PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FKIP UNIVERSITAS SRIWIJAYA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2014-2018 Kata Pengantar RENCANA STRATEGIS PROGRAM STUDI PENDIDIKAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 157 TAHUN 2014 TENTANG KURIKULUM PENDIDIKAN KHUSUS

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 157 TAHUN 2014 TENTANG KURIKULUM PENDIDIKAN KHUSUS SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 157 TAHUN 2014 TENTANG KURIKULUM PENDIDIKAN KHUSUS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bidang akademik, dimana hasil akhir pendidikan dapat mempengaruhi masa depan seseorang

BAB I PENDAHULUAN. bidang akademik, dimana hasil akhir pendidikan dapat mempengaruhi masa depan seseorang BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG PENELITIAN Salah satu aspek yang penting dalam kehidupan adalah kesuksesan atau kegagalan di bidang akademik, dimana hasil akhir pendidikan dapat mempengaruhi masa

Lebih terperinci

MODAL SOSIAL DAN BUDAYA BAGI PENINGKATAN KUALITAS PENDIDIKAN PERSEKOLAHAN (PENGGALIAN TEMA-TEMA PENELITIAN DISERTASI S3 ILMU PENDIDIKAN)

MODAL SOSIAL DAN BUDAYA BAGI PENINGKATAN KUALITAS PENDIDIKAN PERSEKOLAHAN (PENGGALIAN TEMA-TEMA PENELITIAN DISERTASI S3 ILMU PENDIDIKAN) MODAL SOSIAL DAN BUDAYA BAGI PENINGKATAN KUALITAS PENDIDIKAN PERSEKOLAHAN (PENGGALIAN TEMA-TEMA PENELITIAN DISERTASI S3 ILMU PENDIDIKAN) Disampaikan pada Graduate Student Seminar Minggu, 17 Oktober 2010

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. perhatian anak didik agar terpusat pada yang akan dipelajari. Sedangkan menutup

II. TINJAUAN PUSTAKA. perhatian anak didik agar terpusat pada yang akan dipelajari. Sedangkan menutup II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kemampuan Membuka Dan Menutup Pelajaran Guru sangat memerlukan keterampilan membuka dan menutup pelajaran. Keterampilan membuka adalah perbuatan guru untuk menciptakan sikap mental

Lebih terperinci

PROFIL IMPLEMENTASI PENDIDIKAN INKLUSIF SEKOLAH DASAR DI KOTA BANDUNG. Juang Sunanto, dkk

PROFIL IMPLEMENTASI PENDIDIKAN INKLUSIF SEKOLAH DASAR DI KOTA BANDUNG. Juang Sunanto, dkk PROFIL IMPLEMENTASI PENDIDIKAN INKLUSIF SEKOLAH DASAR DI KOTA BANDUNG Juang Sunanto, dkk Jurusan Pendidikan Luar Biasa Universitas Pendidikan Indonesia ABSTRAK Tujuan utama penelitian ini untuk mengetahui

Lebih terperinci

CONTEXTUAL LEARNING AND TEACHING (CTL) (PENGAJARAN DAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL)

CONTEXTUAL LEARNING AND TEACHING (CTL) (PENGAJARAN DAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL) CONTEXTUAL LEARNING AND TEACHING (CTL) (PENGAJARAN DAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL) Kasihani E.S 1 Abstrak: Kata kunci: Dalam upaya peningkatan mutu SLTP, Direktorat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama telah

Lebih terperinci

2 RKS dan RKA hanya memuat dua dari tiga. 1 RKS dan RKA hanya memuat satu dari tiga. 0 RKS dan RKA tidak memuat ketiganya

2 RKS dan RKA hanya memuat dua dari tiga. 1 RKS dan RKA hanya memuat satu dari tiga. 0 RKS dan RKA tidak memuat ketiganya Nama Sekolah :... Alamat :...... A. Instrumen Pengamatan Pelaksanaan Program MBS di Sekolah No. Aspek Pengamatan Pilhan jawaban Skor 1 Apakah sekolah memiliki visi dan misi? 2 Apakah visi dan misi sekolah

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN. pembelajaran dengan menggunakan perangkat pembelajaran yang telah

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN. pembelajaran dengan menggunakan perangkat pembelajaran yang telah 141 BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan temuan dan pembahasan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa kurikulum yang digunakan di SMPN 9 dan SMPN 10 Metro untuk anak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia untuk mampu mengemban tugas yang dibebankan padanya, karena

BAB I PENDAHULUAN. manusia untuk mampu mengemban tugas yang dibebankan padanya, karena 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan merupakan upaya yang dapat mengembangkan potensi manusia untuk mampu mengemban tugas yang dibebankan padanya, karena hanya manusia yang dapat

Lebih terperinci

Profil Analisis Kebutuhan Pembelajaran Fisika Berbasis Lifeskill Bagi Siswa SMA Kota Semarang

Profil Analisis Kebutuhan Pembelajaran Fisika Berbasis Lifeskill Bagi Siswa SMA Kota Semarang Profil Analisis Kebutuhan Pembelajaran Fisika Berbasis Lifeskill Bagi Siswa SMA Kota Semarang Susilawati, Nur Khoiri Pendidikan Fisika IKIP PGRI Semarang, Jln Sidodadi Timur No. 24 Semarang susilawati.physics@gmail.com

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. Universitas Indonesia

1. PENDAHULUAN. Universitas Indonesia 1 1. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Istilah anak berkebutuhan khusus saat ini semakin luas dikenal masyarakat. Secara tradisional masyarakat melabel anak berkebutuhan khusus sebagai mereka yang memiliki

Lebih terperinci

Penyandang Cacat dan Permasalahannya

Penyandang Cacat dan Permasalahannya Penyandang Cacat dan Permasalahannya Juang Sunanto Jurusan Pendidikan Luar Biasa, Universitas Pendidikan Indonesia Pandangan dan Sikap Masyarakat Keberadaan penyandang cacat (penca) telah ada sejak dahulu

Lebih terperinci

Dokumen Kurikulum Program Studi Teknik Mesin Lampiran I

Dokumen Kurikulum Program Studi Teknik Mesin Lampiran I Dokumen Kurikulum 201-2018 Program Studi Teknik Mesin Lampiran I Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Institut Teknologi Bandung Kode Dokumen

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pendidikan merupakan suatu proses yang sangat strategis dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, sehingga harus dilakukan secara profesional. Oleh sebab itu, guru sebagai

Lebih terperinci

6.5 KONDISI UNTUK HAK ISTIMEWA PSIKOLOG KLINIS 6.6 HAK ISTIMEWA SEMENTARA & MENGUNJUNGI KLINIK SEMENTARA

6.5 KONDISI UNTUK HAK ISTIMEWA PSIKOLOG KLINIS 6.6 HAK ISTIMEWA SEMENTARA & MENGUNJUNGI KLINIK SEMENTARA Semua pasien mengaku untuk perawatan di Rumah Sakit oleh seorang ahli penyakit kaki akan menerima penilaian medis dasar yang sama seperti pasien yang dirawat di layanan lain, dan anggota dokter, pada pengaturan

Lebih terperinci

PERAN PUSTAKAWAN DALAM PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN MANAJEMEN PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI DALAM ERA GLOBALISASI INFORMASI

PERAN PUSTAKAWAN DALAM PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN MANAJEMEN PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI DALAM ERA GLOBALISASI INFORMASI PERAN PUSTAKAWAN DALAM PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN MANAJEMEN PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI DALAM ERA GLOBALISASI INFORMASI A. Ridwan Siregar Universitas Sumatera Utara Pendahuluan Perpustakaan perguruan

Lebih terperinci