LAPORAN AKHIR. PERSIAPAN PELEPASAN KELAPA GENJAH KOPYOR PAn DENGAN PERSENTASE KOVYOR DI ATAS SO 0/0 PROGRAM INSENTIF RISET TERAPAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "LAPORAN AKHIR. PERSIAPAN PELEPASAN KELAPA GENJAH KOPYOR PAn DENGAN PERSENTASE KOVYOR DI ATAS SO 0/0 PROGRAM INSENTIF RISET TERAPAN"

Transkripsi

1 LAPORAN AKHIR PERSIAPAN PELEPASAN KELAPA GENJAH KOPYOR PAn DENGAN PERSENTASE KOVYOR DI ATAS SO 0/0 PROGRAM INSENTIF RISET TERAPAN Fokus Bidang Priorit()S : Ketahanan Pangan Kode Produk Target : 1.02 Kode kegiatan : Peneliti Utama : Ir. Ismail Maskromo, MSi KEMENTERIAN PERTANIAN R4A.6N P5N51-JTUN DAN P5NC5MR4NC4N.,5DT4NUN PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERKEBUNAN BALAI PENELlTlAN TANAMAN KELAPA DAN PALMA LAIN lalan Raya Mapanget po. Box 1004 Manado Telp. (0431) Fax. (0431)

2 ... LAPORAN AKHIR PERSIAPAN PELEPASAN KELAPA GENJAH KOPYOR PAn DENGAN PERSENTASE KOPYOR DI ATAS SO 0/0 PROGRAM IN~SENnF RISET TERAPAN Fokus Bidang Prioritas Kode Produk Target Kode kegiatan Peneliti Utama : Ketahanan Pangan : 1.02 : : I r. I smail Maskromo, MSi ) RISTI::K KEMENTERIAN PERTANIAN R4DAN Pl:iNl:iLJTI4N DAN Pl:iNCl:iMRANC4N Pl:iRT.&NIAN PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERKEBUNAN BALAI PENELITIAN TANAMAN KELAPA DAN PALMA LAIN Jalan Raya Mapanget po. Box 1004 Manado Telp. (0431) Fax. (0431)

3 ... LEMBAR PENGESAHAN Judul Penelitian Persiapan Pelepasan kelapa Genjah kopyor persentase buah kopyor diatas 50 % Fokus Bidang Penefitian : Ketahanan Pangan Kode Produk Target : 1.02 Kode Kegiatan : Lokasi Penelitian : Jawa Tengah dan Sulawesi Uta ra Pene/ma n Tahun Ke : 2 Keterangan Lembaga Pelaksana PeneHtian A. Lembaga Pelaksana Penelitian.ama Koordinator/Penelitia Utama Ir. Ismail Maskromo, MSi \ 2ma Lembaga/Institu5i Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian... Organisasi Batai Penetitian Tanaman Kelapa dan Palma Lain/Pusat Penelit ian dan Pengembangan Perkebunan ~amat Mapanget, Kec. Ta /awaan Kab. Mina hasa Utara, Propinsi Sulawesi Utara, PO. Box 1004 Manado e,eplnjhp/faksimil/ (0431) (0431 ) B. Lembaga Lain yang Terlibat ~ -..a Pimpinan - ~..c:"""\cl Lembaga -!~ ----et - ~ep::ifl fhp/faks imil/ - ~ = ~:<a Waktu Kegiatan : 3 Tahun ;2ya Tahun-l : Rp , :>3 Tahun-2 : Rp , =.aya Tahun-3 : Rp , - :)tal Biaya : Rp , egiatan (baru/lanjutan) : Lanjutan ~eka pitulasi Biaya Tahun yang Diusulka n : ''v. Uraian Ju mlah (Rp.) 1. Gaj i dan U~ah Bahan Habis Pakai Perjalanan (tidak untuk petjalanan luar negeri) Lain-La in lumlah Biay_a Tahun yang Diusulkan !(epala Balai Penelitian Tanaman Setuju Diusulkan : Kaapat.~~~ fi, Koordinator/ Peneliti Utama, ' r. Bambarig Heliyanto,MSc.PhD. Ir. Isma il Maskromo,MSi IP NIP Menyetujui/ Mengetahui : Kepala Pusat Penefitian dan Pengembangan Perkebunan, ~ NIP ii

4 RINGKASAN Kela pa kopyor merupakan sa lah satu jenis kejapa unik yang memilki nilai ekonomi tinggi dan berpotensi untuk dikemba ngkan dalam rangka meningkatkan pendapatan petani kelapa. Masalah yang dihadapi dalam pengembangan kelapa kopyor adalah masih terbatasnya bahan tanaman dan rod uksi buah kopyor yang masih rendah. Pengembangan kela pa Genjah kopyor di daerah Pati cilakukan oleh peta ni maupun penangkar wa laupun masih dalam jumtah terbatas, dengan gunakan benih/bibit alami yang pohon induknya belum dilepas secara resmi. Pelepasan varietas ))'Kan aata penou'kung 'cai'k proouks\ maupun oata UffiUffi oem spesm'k \0,\1)1)'10" IU)\.101) - - ~ n ini adalah untuk melepas populasi 1<elapa Genjah Kopyor Pati, dengan data pendukung ya ng - J <ap meliputi sifat morfolog i, fisiologi, dan sifat fisik klmia daging buah kopyor, tanaman yang tbuh di kabupaten Pati maupun di daerah pengembangan, dan menda patka n metode - glcatan produksi buah kopyor melalui penyerbukan buatan. Kegiatan ini terdiri dari tiga sub _ tan yaitu (1) Identifikasi sifat morfotogi, fisiolog i, dan sifat fisik dan kimia daging buah kopyor Pelepasa n populasi kelapa Genjah Kopyor Pati, dan (3) Penyerbukan buatan untuk meningkatkan :Er: l1tase buah kopyor. Metode yang digunakan adalah penelitian lapang berupa pengamatan sifat -foklgi, fisiologi daun dan sifat fisik/kimia dagi ng buah kopyor, produksi bua h kopyor pohan induk dan penyerbukan buatan. Hasil yang diperoleh sampa i dengan awal bulan Nopember _ persiapa n pelepasan kelapa Genjah Kopyor Pati meliputi penga matan dan analisa data - o;j', produksi, fisiologi dan kandungan gizi daging buah tanaman kelapa Genjah kopyor Pati =- = _lanam di Kababupaten Jepara, Kab. Sukoharjo Solo, dan Magelang, Jawa Tengah. Secara Ie ada perbedaan antara tanaman ya ng telah di tanam di daerah pengembangan dengan i tempat asalnya. Untuk mendukung pelepasan kelapa Genjah kopyor Pati telah diamati _ -x.~ i 90 pohon induk terpilih di kabupaten Pati, dan men unjukkan pen urunan j umlah buah total ah kopyor pertandan, karena pengaruh musim yang tidak mendukung saat pembentukan buah. - induk terpilih untuk su mber benih diperoleh sebanyak 1951 pohon dengan potensi benih 5e:j(!'lYC! k pertahun. Hasil penyerbukan buatan sebanyak 36 pohon ke!apa Genjah kopyor --rgan serbuk sari kelapa kopyor hasil kultur embryo menunjukkan jumlah buah yan g relatif rendah f a pengaruh curah hujan yang tinggi saat pela ksanaan kegiata n. iii

5 ABSTRAK Kopyor Coco nu~ is one type of coconut which have the unique high economic va lue and potential to be developed In order to increase the income of coconut farmers. The problems faced in the d~'j~\o\lffi~~t r:j tne. c.oconut \s St\\\ limtted \<.OP'YOf plant material. Umite<1 development of Dwarf coconut Kopyor in the Pati area done by farmers and breeder I using t'ne seeq I ~\ing trees natura\ parent has not officially released. Release of varieties need support both production data and other specific data. The purpose of this study is to release the Pati Dwarf Kopyor coconut population, with full supporting data include the morphological and physiological character, chemical and physical character of fruit meat of kopyor plants growing in Pati district and in the regions development, and Information as a marker gene for early selection of kopyor coconut seedlings. This activity consists of ree sub-activities, namely (1) Identify the the morphology, physiology character, and physical and chemical character of meat fruit kopyor (2) Release of Pati Dwarf coconut populations kopyor, and (3) Artifi cial pollination of Dwarf kopyor Pati with pollen from embryo culture kopyor plant. The method sed is research of field and laboratory observations of the nature of morphology, produntion,,... ysiology and nutrition content of kopyor endosperm. Observations of f ruit production kopyor parent ees selected 90 palm, select jon of mother palm and artificial pollination made in the field. Results Jtai ed until early Nopember 2010 related to the preparation of the release of Pati Dwarf coconut r includes observation and ana lysis of morphological data, production, physiology and nutrient t of fruit flesh Pat; Dwarf kopyor coconut plants grown in Jepara, Kab. Sukoharjo Solo and..a;efang district, Central Java. In general, there is no difference between plants that had been ~ - -:;.ed in the area with plants at the place of origin. To support the release of Pati Dwarf kopyor ~ t was observed at 90 selected mother trees in the Pat; district, and showed reduced total fruit - :'lei and kopyor fruit per bunch, because of the influence that does not su pport current season =-_': :'Ormation. Parent trees selected for seed source is obtained as many as 1951 trees with the -~ :ial for as many as 112,211 seeds per year. The result of artificial pollination of coconut t rees are :~ =:au warf kopyor with coconut pollen kopyor embryo cultu re results indicate a relatively low amount -- -., because of the influence of high rainfall during the implementation of activities. iv

6 PRAKATA Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya penyusunan laporan akh ir kegiatan Program Insentif Peneliti dan Perekayasa tahun 2010 ini. Penelitian dengan j"udul " Persia pan pelepasan kelapa Genjah kopyor Pati dengan persentase kopyor di atas 50 %, merupakan lanjutan dari kegiatan yang sama pada tahun Penelitian in; terdiri dan tiga sub keg iatan. Laporan ini dimaksudkan untuk mengkomu nikasikan pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang sudah dilaksanakan sejak bulan Pebruari sid Nopember Kami sangat mengharapkan dari berbagai pihak untuk memberikan saran dan koreksi serta masu ka n untuk penyempumaan laporan mi. Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada pi hak Kementerian Riset dan Teknologi dan Badan Utbang Pertanian Kementenan Pertanian yang tela h mengalokasikan dana untuk kegiatan :>enelitian ini. Terima kasi h juga kami sampaikan kepada Kepala Badan Litbang Pertania n, Kepala usat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan dan Kepala Balai Penelitian Tanaman Kelapa dan ~a lma Lain, Manado yang telah mempercayaka n kami sebagai pela ksana kegiatan ini. Ucapan terima ~i h j uga disampaikan kepada Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Pati, Jawa - ertgah berserta staf, atas bantuan dan kerjasa manya dalam pelaksanaan kegiatan penelitian ini. Pelaksanaan kegiatan ini juga tidak lepas dari peranan berbagai pihak baik peneliti, teknisi, --- enaga administrasi. Untuk itu disampaikan terimakasih atas kerjasamanya yang baik, sehingga ~-.]a kegiatan dalam penelitian ini dapat berjalan lancar. Kegiatan penelitian dapat dilaksan akan dengan baik untuk mencapai target akhir yaitu :6 epasan kela pa Genjah Kopyor Pati dengan persentase kopyor di atas 50%. Semoga hasi! kegiata n - berguna dan dimanfaatkan sesuai keperluan. Keritik dan saran sangat diharapkan untuk :e-yempu rnaan pelaksanaan kegiatan ini. Manado, Nopember 2010 Tim Peneliti v

7 9.. DAFTAR lsi Halaman LEMBAR IDENTITAS DAN PENGE5AHAN ii RINGKASAN iii PRAKATA iv DAFTAR lsi v DAFTAR TABEL vi AFTAR GAMBAR vii BAB I PENDAHULUAN Latar Betakang Luara n ya ng diharapkan 2 3A8 II TINJAUAN PUSf AKA 3 3AS III TUJUAN DAN MANFAAT 4 BAS IV METODOLOGI Identiftkasi sifat morfologi, fisiologi, dan sifat fisik dan kimia daging buah 6 kopyor dari tana man yang tumbuh di luar daerah Kab. Pati 4.2 Pelepasan populasi kelapa Genjah Kopyor Pati Penyerbukan buatan untuk meningkatkan persentase buah kopyor 7 = -= :V HASIL DAN KESIMPULAN 8 KESIMPULAN DAN SARAN 17 '.1. KESIMPULAN SARAN 17 :- -=TAR PUSfAKA 18 vi

8 -.. DAFTAR TABEL Teks Halaman Karakter morfologi kelapa Genjah pengembangan Kopy.or Pati pada beberapa daerah 8 Sifat fisiologi tiga aksesi kelapa Genjah kopyor Pati yang tu mbuh di tiga kecamatan di kabupaten Pati 9 Komponen buah pengembangan kelapa Genjah kopyor Pati pada beberapa daerah 9 Asam lemak daging buah tanaman kejapa kopyor di beberapa daerah pengembangan (% gram/1 00 gram lemak) l(a du ngan asam lemak, protein, galaktomanan, kalsium dan 'emak daging buah tanaman kelapa kopyor di beberapa Jengembangan kalium daerah :;;ta-rata persentase buah kopyor tandan buah 90 pohon induk terpilih --'-02 aksesi kopyor di tiga kecamatan Sec.aran dan jumlah pohon terseleksi 3 aksesi kelapa Genjah Kopyor Ja-ja 3 kecamatan di Kabupaten Pati Jawa Tengah?erki raan prod uksi benih pertahun kelapa Genjah kopyor di Kabupaten - a i, Jawa Tengah Rata-rata jumlah buah jadi umur 1 da n 2 bulan pada 3 jenis persilangan l<elapa Genjah Kopyor Pati dengan kelapa kopyor hasil kultur embryo.- Rata -rata j umlah buah jadi umu r 1,2 dan 3-4 persilanga kelapa Genjah Kopyor Pati dengan kuftur embryo (Penga matan Oktober 2010) bulan pada 3 jenis kelapa kopyor hasil vii

9 DAfTAR GAMBAR Gambar Teks Halaman 1 Penga matan Morfologi 19 2 Pengambilan sampel daun 19 3 Pengamatan produ ksi kopyor 19 4 Pengamatan komponen buah 19 5 Pemilihan pohon induk betina 20 6 Emaskulasi pohon induk betina 20 Pemilihan pohon induk j antan 20 8 Pengambilan bunga jantan 20 9 Buah jadi umur 3 bulan 21 0 Buah Jadi umur 3 bulan Buah Jadi umur 1 bulan 22 2 Bunga betina ya ng gagal dibuahi 22 viii

10 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kelapa kopyor merupakan sala h satu di antara kelapa eksotik yang mempunyai nilai ekonomi ingg i. Namun demikian jumlah tanaman dan produiq;i kelapa unik ini masi h terbatas, sehingga harga jualnya relatif mahal. Oi pasaran bisa ditemui dengan kisaran harga antara Rp ,-Rp ,-/ butir. Berarti 10 kali lebih maha l dibanding harga bua h kelapa normal. Ketidaknormalan daging buah kopyo r~ terseb ut disebabka n oleh terjadinya defisiensi salah satu enzim yang berperan dalam pembentukan daging buah kelapa yaitu enzim o-d-ga/aktosidase (Mujer et al., 1984 dan Samonthe, 1989). Karakteristik unik ini diturunkan secara genetik (Santos, 1999). Kondisi daging buah atau endosperm yang tidak normal tersebut menyebabkan nya tidak mampu '"":leildukung pertumbuhan em brio seca ra alamiah. Oleh karena itu pengembangan kelapa kopyor, :. sa dilakukan dengan mena nam buah normal da ri tandan penghasil buah kopyor karena diduga ba wa sifat kopyor. 8ibit yang dihasilkan dikenal dengan bibit ala mi (Maskromo, 2005). Selain itu 2:2t j uga dilakukan dengan menumbuhkan embrio dari buah kelapa kopyor pada media buatan - -1 lingkungan aseptik, yaitu dengan metode kultur embrio (Mashud et al, 2003). Tanaman kelapa. ryyor tumbuh menyebar hanya di beberapa wilayah Sumatera dan Jawa. Oi Sumatera papulasi pa kopyor terdapat di Kalianda Lampung Selatan (Mah mud, 2000), sedangkan di Pulau Jawa ~ yebar di daerah di Sumenep Jawa Timur (Akuba et a/ 2003), Kab. Pati Jawa Tengah, dan ;agor, Jawa Barat (Maskromo, 2005). 8erbeda dengan bebera pa daerah lainnya yang,,'" bangkan kopyor tipe Oalam, di Kab. Pati Jawa Tenga h lebih banyak dikembangkan kopyor,::: jah. Kelebihan kopyor tipe Genj ah adalah sejain cepat berbuah, juga mampu menghasilkan <epyor lebih banyak pertandan yaitu menca pai 50%. Tana man ini tersebar di tuj uh kecamatan ~ kuh seti, Margoyoso, Tayu, Weda rijaksa, Trangkil, Gunung Wungkal dan Cluwak. Luas - -.a kelapa kopyor di Kabupaten Pati 378,09 Ha dan areal terluas di tiga kecamatan, yaitu asati, Margoyoso dan Tayu, berturut-turut seluas 132,60 Ha, 131,55 Ha dan 69,50 Ha (Anonim,..J'-,. Keberadaan tanaman kelapa kopyor di Kab. Pati Jawa Tengah sudah diketahui oleh -2>-yarakat luas terutama di daera h Jawa. Pemasa ran buah kelapa kopyor yang berasal dari Pati - in untuk daerah sekitarnya juga untuk memenu hi permintaan konsumen di Surabaya dan Jakarta (Purwanto, 2003). Namun demikian pengembangan tanamannya sampai saat ini masih difokuskan pada perluasan areal pertanaman di daerah Jawa Tengah, sedangkan di luar wilayah masih dajam jumlah yang terbatas. Dengan meningkatnya permintaan buah kelapa kopyor, maka kemungkinan pengembangan tanaman kelapa kopyor di luar wilayah t umbuh tanaman ini akan semakin besar. Dengan patensi kelapa kopyor Genjah ya ng diketahui cepat berbuah dan memiliki persentasi buah kopyor yang tinggi, peluang pengembangan ke depan akan cenderung menggunakan jenis kelapa kopyor ini.

11 -.. Untuk memenuhi kebutuhan pengembangan, maka populasi ataupun pohon-pohon induk kelapa kopyor di Kabupaten Pat; Jawa Tengah harus dilepas. Dalam rangka mendukung pelepasan varietas kela pa Genjah kopyor Pati diperlu kan data-data pendukung baik produ ksi, karakter umum dan spesifik, j uga potensi tanaman pada daerah pengembangan di luar Pati, Jawa Tengah. Mulai.ahun 2006 telah dilakukan eksplorasi dan diperoleh 6 aksesi kelapa Genjah kopyor yang menyebar di berbaga i keca matan di Kabupaten Pati Jawa Tengah, ya itu Genjah Kopyor Kuning, Genjah Kopyor - ijcu Tua, Genjah Kopyor Coklat Muda, Genjah Kopyor Hijau Tua, Genjah Kopyor Hijau Muda, dan =_ Jah Kopyor gading (orange). Selain i~u telah di peroleh data karakter morfologi ke-enam aksesi --=--s.eoot. Dari keenam aksesi tersebut pada ta hun 2008 telah didaftarkan ke PVT, tiga aksesi kelapa --:ah Kopyor Pati, yaitu Genjah Kopyor Kuning Pati, Genjah Kopyor Hijau Pati dan Genjah Kopyor :: Pati o Selanjutnya pada tahun 2009 melalui kegiatan penelitian Sinta telah dilakukan seleksi -- -pohon induk yang berpotensi menghasllkan buah kopyor di alas 50% per tandannya. Selain itu ::: - ~ah diperoleh data-data pendukung berupa karakter fisiologi tanaman, karakteristif fisik dan - '" ~agi n g buah kopyor, dan hama/penyakit utama yang berasosiasi pada tanaman ini. Pada tahun _: ~'<an ditanjutkan dengan keg iatan pelepasan populasi kelapa Genjah kopyor, mempelajari fisiologi daun dan kimia daging buah tanaman kopyor ya ng tumbuh di daerah :langan, serta penyerbukan buatan untuk meningkatkan persentase buah kopyor. Luaran yang diharapkan Pelepasan populasi kelapa Genjah Kopyor Pati dengan persentase bua h kopyor di atas 50% --:3 un

12 TINJAUAN PUSTAKA Masalah yang dihadapi dalam pengembangan kelapa kopyor saat ini adalah keterbatasa n bahan tanaman dan produksi buah kopyor pertandan. Perbanyakan kejapa kopyor dapat dilakukan cengan dua cara, yaitu menggunakan benih/ bibit alami dan bibit hasil kultur embryo. Benih/bibit 2iami diperoleh dari buah normal pohon kelapa kopyor, sedangkan bibit hasil kultur embryo adalah ~-ba yakan embryo buah kopyor di laboratorium dengan metode kultur embryo. Benih/bibit alami :_ murah harganya yaitu sekitar Rp , - Rp ,-/buah, dan lebih mudah mendapatnya, -a un kepastian mendapatkan semua taiiaman yang nantinya berbuah kopyor masih bel um bisa -."amin. Perbanyakan benih/ bjbit kopyor alami dapat dilakukan oleh pemilik tanaman kopyor maupun : ~ penangkar loka!. Bibit hasil kultur embryo saat inj masih relatif mahal yaitu sekitar Rp ,. ~, Jumlah bi bitnya j uga sangat terbatas karena proses pengemba ngannya yang belum secara -.assai. Tanaman kelapa kopyor yang ditemukan di lapang berupa tipe Dalam, ti pe Genjah, maupun - brida alami. Kopyor tipe Dalam memiliki uku ran buah lebih besar, namun jumlah buah kopyor? sedikit yaitu 1-2 butir pertandan, sedangkan kopyor tipe Genjah memiliki ukuran buah relatif - - eeil dati tipe Dalam, namun jumlah buah pertandan lebih banyak yaitu 2-6 butir tergantung bua h pertandan, bahkan bisa mencapai di atas 50% j umlah buah kopyor pertandanya. Hal ini ~bka n oleh karena pola penyerbukan kelapa tipe Genjah yang cenderung menyerbuk sendiri, - -gga peluang bertemunya gen kopyor lebih tinggi dibandingkan dengan tipe Dalam yang pola ngaan nya menyerbuk silang. Hasil survei tim Balit ka Manado terhadap keragaman genetik kelapa Genjah kopyor di Kab. -,:. Jawa Tengah diperoleh data keragaman warna buah dan tipe daging buah. Variasi wa ma buah :>':00 Genjah kopyor terdiri dari hijau, hijau kekuningan, kuni ng (gading wulan), cokjat muda, cokjat ~han dan orange. Berdasarkan tipe daging buahnya, tipe Genjah kopyor terdiri atas dua jenis _ kopyor tebal dan kopyor tipis ( Anonim, 2007). Patensi genetik kelapa Genjah kopyor yang menonjol juga ditemukan pada kemampua nnya hasijkan j umlah buah kopyor yang rejatif banyak pada setiap tandan buahnya. Prosentase buah r pada tanaman kelapa kopyar tipe Genjah bervariasi antara %. Melalui seleksi yang 30' terhadap pohon-pohon yang memillki kemampuan menghasilkan buah kopyor pertandan di atas =- ~c.., dapat diperbanyak benih atau bibit kelapa kopyor secara alami dengan memanfaatkan buah al pada tandan tanaman Genjah kopyor tersebut. Tanaman ya ng dihasilkan akan memiliki..j.ang menghasil kan jumlah buah kopyor yang sarna dengan induknya (Maskromo dan Novarianto, _. 7). Hingga saat ini untuk pengembangan secara lokal, pada petani maupun penangkar benih/bibit di kabupaten Pati Jawa Tengah telah menggunakan benih/ bibit dari pohon-pohon yang tumbu h.: oekarangan ruma h penduduk, tanpa perjindungan terhadap pembeli benih dalam hal ini petani -=-9 ingin menanam tanaman kopyor. Undang-undang No. 12 tahun 1992 tentang Budidaya 3

13 tanaman menyatakan bahwa setiap jenis tanaman yang akan dikembangkan secara luas harus tarietas yang tejah clijepas ojeh Menterj Perlanian. Dalam rangka mendukung pelepasan varietas kela pa Genjah Kopyor Pati, perlu dilakukan 'Jebera pa penelitian untuk mendapatkan data pendukung. Selain itu juga diperlukan informasi data, - Jrfoiogi, fisiojogi tanaman, dan s.ifat flsik kimia daging buah kejapa Genjah kopyor. SeJain itu, ~ tuk membantu petani dan penagkar benih dalam menyejeksi tanaman kelapa kopyor di lapang, - perlu adanya penanda yang akurat dan dapat dilakukan lebih dini pada tingkat bibit. Salah satu - - -r ~ yang dapat diterapi<an saat ini y~ jtu menggunakan penanda DNA atau secora molekuler. - - ~ metode ini dapat didisain penanda DNA berupa primer spesifik yang dapat digunakan dalam Jibit melalui analisa DNA tanaman. ada tahun 2009 tejah dilakukan kegiatan awal untuk persiapan pejepasan kejapa Genjah - spesmk lokasi dengan persentase kopyor di atas 50%, dengan 4 sub kegiatan yaitu seleksi duk, identifikasi hama dan penyaklt utama yang berasosiasi pada populasi kelapa kopyor, - GSi sifat flsik dan kimia buah kopyor, serta evajuas.i sifat fisiojogi tanaman kejapa genj ah r :>ati. Untuk melengkapi data pendukung pelepasan, pada tahun akan dilanj utkan dalam 3 :-ata n meliputi : 1). Identifikasi sifat morfologi, fisiologi, dan sifat fisik dan kimia daging buah _ -:. jari tanaman yang tumbuh di luar daerah Pati ; 2). PeJepasan popujasi kejapa Genjah kopyor A 3). Penyerbukan buatan untuk meningkatkan persentase buah kopyor pertandan. 4

14 411.. III. TUJUAN DAN MANFAAT 1.1 Tujuan Tujuan penelitian ini adalah untuk melepas populasi kelapa Genjah Kopyor Pati, dengan data pendukung yang lengkap me1iputi sifat morfojogj, flsiologj, dan sifat flsik kimia daging buah kopyor, tan aman yang tumbuh di kabupaten Pati maupun di daerah pengembangan, serta mendapatkan etode peningkatan persentase buah kop~or melalui penyerbukan buatan. 1.2 Manfaat Data yang diperoleh dari penelitian ini akan dig unakan untuk mendukung pelepasan kelapa Genjah Kopyor Patio Pelepasan varietas kelapa Genjah kopyor Pati diharapkan akan meningkatkan esejahteraan petani, melindungi kekayaan lokal daerah Pati, serta melindungi petani dalam ::.enggunaan benih verietas kelapa Genjah kopyor Patio 5

15 -.., IV. METODOlOGI Penelitian ini terdiri dari 3 sub kegiatan. Adapun metodologi masing-masing sub kegiatan Identjfikasi sffat morfologi, fislologi, dan sifat fisik dan klm.a daging buah kopyor dari tanaman yang tumbuh di luar daerah Kab. Pati Pengamatan terhadap sifat morfologi d~n fisiologi dilakukan dengan mengamati morfologi dan ;-~m b il sampel daun 2 tanaman dari ke tiga aksesi (Genjah Kopyor Hijau, Coklat dan Kuning) ~~-=----..an kelapa Genjah kopyor Pati yang telah dikembangka n di Kab. Jepara, Rembang, dan ;- :>ng/jogyakarta. Sehingga jumlah sampel yang diambil adalah 3 aksesi x 2 sampel x 3 - _::.a en = 18 sampel, ditambah 2 sampel daun dari pohon Genjah Pati yang tidak menghasilkan pyor sebagai pembanding. Pengambilan 2 sampel tanaman disebabkan masih terbatasnya - - ta naman masing-masing aksesi di 3 kabupaten tersebut. Pinak daun diambil dari kedua sisi - :. Jumlah pinak daun masing-masing 5 he/a; setiap sis;' Pinak daun dipotong sepanjang :.3h yang diamat; yait u: kadar liiin epikutikuler (Akuba et al (1998), frekuensi stomata dan sel - ~, jumlah trikoma, serta kandungan klorofil. (Taulu et ai, 1997). Data yang diperoleh - Uji BNT untuk mengetahui perbedaan antar aksesi kopyor. ntuk pengamatan sifat fisik dan kimia daging buah kopyor akan menggunakan materi buah - ::;-enjah kopyor dari tanaman yang telah dikemba ng kan di luar Kab. Pati Jawa Tengah. Materi ~.;?<an digunakan adalah tiga aksesi kejapa kopyor yaitu Kopyor Genjah Kuning Pati, Kopyor - - Hijau Pati, Kopyor Coklat Pati, yang telah dikembangkan di Ka b. Jepara, Kab. Rembang, Jawa - ;:- dan Ka b. Magelang, Jogyakarta. Setiap perlakuan diambil 3 butir, dengan demikian j umlah c: - ang diperlukan adalah 3 x 3 x 3 butir = 9 butir- Selain itu diambil satu buah normal dan kela pa Genjah bukan kopyor yang tubuh di sekitar tanaman kopyor. Selanjutnya dilaku ka n omponen buah, berupa ukuran buah, berat buah utuh, berat buah tanpa sabut, berat bua - :.? a dan berat daging buah. Selanj utnya masing-masing aksesi kopyor dari setiap kabupaten akan diambil lima sampel - ; buah untuk analisa kandungan nutirisinya. Karakteristik daging buah yang akan diamati adalah - - "",;J berikut : Kadar protein (AOAC, 1970), kadar lemak (Woodman, 1941), komposisi asam : (Hichcock and Hammond, 1980), asam amino (Muchtadi, 1989), kadar galaktomanan dan (Djatmiko, 1983). Gula total (AOAC, 1970). Pengujian karakteristik kimia daging buah <an pada Laboratorium UPI - Bogor, Jawa Barat. Pelepasan populasi kelapa Genjah Kopyor Pati Kegiatan ini difakukan melalui pengumpu{an data hash penelitian kelapa kopyor Genjah Pati :ahun 2006 sampai dengan tahun 2009, dilanjutkan dengan pengamatan produksi buah kopyor 6

16 pohon induk terpilih pada tahun 2009 di lapang, dan pengamatan seluruh tanaman kelapa Genjah kopyor yang menyebar di kecamatan Tayu, Margoyoso dan Dukuh Seb di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Ke-90 pohon dimaksud terdiri dari 3 aksesi Genjah Kopyor pati yaitu dengan warna buah Hijau, Kuning dan (oklat. Pengamatan produksi pohon induk terpilih dilakukan dengan menghitung jumlah buah total dan jumlah buah kopyor pertandan. Pengamatan dilakukan selama 3 bulan, atau pada 6 tandan secara berurutan. Sedangkan pengamatan seluruh tanaman kelapa Genjah kopyor yang menyebar di 3 kecamatan di Kabupaten Pati, dilakukan pengan mengamab dan mendata sebap pohon kopyor dengan jumlah buah kopyor dan buah total pertandan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui potensi ta naman kopyor di 3 kecamatan di kabupaten Pati, sebagai data pendukung untuk pelepasan. Data yang diperoleh mejiputi, data jumlah pohon kopyor dan produksi buah kopyor, sifat morfologi, sifat fisiologi, kandungan nutirsi 3 aksesi kelapa kopyor baik ya ng tumbuh di 3 kecamata n di kabupaten Pati maupun yang sudah dikembangkan di Kabupaten Jepa ra, Rembang dan Dr. Yogyakarta, dianalisa kemudian disusun dajam suatu dokumen pejepasan. Sidang pelepasan populasi kelapa Genjah kopyor Pati direncanakan akandilakukan di Jakarta pada bulan Nopember 2010 sesuai dengan jadwal dari Direktorat Perbenihan Ditjenbun Penyerbukan buatan untuk meningkatkan persentase buah kopyor Kegiatan ini diawali dengan menyeleksi tanaman yang akan dijadikan pohon induk. Bahan :anaman adalah kelapa Genjah Kopyor Pati yang berumur kurang Jebih 6 tahun dan telah berproduksi secara stabi!. Tanaman kopyor tersebut terdapat dalam satu populasi pada lahan seluas 0.5 ha di ecamatan Margoyoso dan Tayu Kab. Pati, Jawa Tengah. Pohon induk sebagai tetua betina yang akan igunakan sebanyak 36 tanaman yang terdiri dari 3 aksesi yaitu Genjah Kopyor Kuning, Genjah <: pyor (ok/at dan Genjah Kopyor (ok/at, masing-masing 12 tanaman. Tetua jantan sebagi sum ber 5.erbuk sari adalah kelapa kopyor hasil kultur embryo yang ditanam di Kebun Ciomas, Balai Biotek -:rkebunan, LRPI, Bogor. 7

17 V. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Identifikasi sifat morfologi, produksi, fisiologi, kandungan gizi daging buah kopyor dari tanaman yang tumbuh di luar daerah Kab. Pati Telah dilakukan pengamatan karakter morfologi dan produksi tanaman kelapa kopyor yang tumbuh di luar Kabupaten Pati yaitu, di Kab. Jepara, Kab. Sukoharjo, dan Kab. Magelang. Tanaman yang diamati, adalah tanaman kelapa Genjah kopyor asal Pati, Jawa tengah yang ditanam dan tela h berproduksi di ketiga daerah tersebut. Secara umum morfologi tanaman kelapa Genjah kopyor tersebut tidak berbeda dengan kelapa tanaman asalnya. Aksesi yang dikembangkan adalah aksesi Genjah Kopyor Hijau dan Coklat (Tabel 1). Tabel 1. Karakter morfologi kelapa Genjah Kopyor Pati pada beberapa daerah pengembangan L 0 k a s i <arakter Jepara-1 Jepara-2 Jepara 3 Sukoha~o-1 Sukoha~o-2 Magelang Grobogan Inggi batang(m) 1,43 1,25 4,5 2,6 1,80 3,30 3,65 -ingkar batang pd 20 em jngkar batang pd 1 m (em) 'Umlah daun :Janjang pelepah (em) :lanjang daun (m) 340, ! umlah anak daun ;)'anjang anak daun (em) _ebar anak daun (em) 4,3 4,0 4,5 4,2 4,7 4,5 5,0 Nama buah Hijau eoklat eoklat coklat hijau coklat coklat. Jmlah tandan/thn h buahl tandan _~I h buah kopyor/tandan ' arsentase buah ,85 35,71 50,00 37,50 33,33 &A &A. ~yor/tandan (%) Prod uksi buah kopyor pertandan tanaman kelapa kopyor yang tumbuh di daerah pengembangan berkisar antara %, relatif sama dengan yang tumbuh di tempat asalnya di Kabupaten Pati yaitu berkisar 36.32% %. Hal ini menunjukkan bahwa sifat berbuah kopyor dari tetua kelapa Gernjah kopyor Pati diwariskan pada turunannya, dan patensi berbuah kopyornya cukup tinggi, jika dikembangkan di luar daerah Pati. Hasil pengamatan karakter fisiologi da un tanaman kelapa Genjah kopyor yang ditanam di daerah pengembangan menunjukkan bahwa jumlah stomata berkisar antara buah. Kisaran tersebut memiliki kesamaan jumlah stomata tanaman Genjah kopyor Pati di tempat asalnya yaitu buah. Kandungan kjorofil total memiliki variasi yang cukup tinggi yaitu berkisar antara , sedangkan tanaman di tempat asal antara Kadar lilin bervariasi antara , dibandingkan dengan ditempat asal berkisar antara (Tabel 2). Variasi karakter fisiologis ini sangat ditentukan oleh lingkungan tumbuh tanaman. 8

18 Masing-masing karakter f'isiodg' memiliki peranan dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman kejapa. Stomata - ~ me.rupakan komponen biojogj yang sangat menentukan sintesis awal senyawa organik ya 2(2 n k proses-proses fisiologis sepanj ang daur hidup tanaman. Kadar liiin daun mempengan... koefisien refleksi (albedo) sinar matahari, sehingga semakin tinggi kadar Jilin pada daun maka tana 1) semakin tahan terhadap kekeringan. Aksesi kejapa dengan kadar liiin epikutikular yang ting i, relatif toleran terhadap kekeringan. Tabel 2. Sifat fisiologi tiga aksesi kela pa Genjah kapyor Pati yang tumbuh di tiga kecamatan d'i k a b upaten Pati. Rata-rata Lokasi tumbuh JumIah Stomata Kandungan Klorof;1 a Kandungan klorofil b Kandungan klorofil total Jumlah Sel epidermis Kadar lilin Jepara Jepara Jepara Sukoha~o Sukoharjo Magelang Gmbogan Hasil pengamatan kampenen buah kelapa Genjah kopyor Pati di beberapa daerah pengembangan diperoleh bahwa ukuran buahnya sedang dan berbentuk agak bulat, sarna seperti ukuran dan bentuk buah tanaman asalnya. Berat daging buah berkisar antara g, lebih tinggi dibanding ditempat asalnya yaitu hanya rata-rata g. Hal ini kemungkinan disebabkan aleh perbedaan lingkungan turnbuhnya. Tabel3. KomJX)nen Buah Kelapa Genjah Kapyar Pati Pada 8eberapa Daerah Pengembangan Lokasi tumbuh Wama Buah UlMan buah(cm} Polar Equator Berat buah (g) Berat Oaging (g} Berat Air (g) Berat Sabut (g) Berat tempurung (9) Jepara-1 Hijau 53,5 I Jepara-2 cokejat SO,O I D D 200 Jepara-3 Cokelat 43,5 I Sukoha~o-1 Cokelat 49,0 50, Sukoha~o-2 Hijau 51,0 5J, Magelang Cokelat , Grobogan Cokelat I 45, Seperti halnya daging buah K6a;la Genja kopyar Pati di daerah asalnya, hasil anallsa kandungan asam Jemak daging buah 1nV"1!1.O'V" uh di daerah pengembangan juga diperoleh bahwa asam Jemak j enuh yang dom -< -e- asa.a rat sedangkan asam Jemak tidak j enuh yang

19 dominan adalah asam oleat. Asam lemak tidak jenuh akan makin menurun umur buah yang ditandai dengan proses penjenuhan asam Jemal< adak jen jenuh oleat linoleat dan linolenat makin menurun dan asam laurat semaki Tabel 4. Asam lemak daging buah tanaman kelapa kopyor di beberapa daera gram lemak) Jepara-1 Jepara-2 Jepara-3 Suko ha~ o- 1 Sukoha o-2 MagE.ar ; 'L ;;;r ~d3j II : r.i.?:j 1 1i"...--_~ (' ~ ' Kaprat 5,919 6,265 6,356 6, # -::.... II, ~. -. ~, - -.! - ' ~ 5 _- - - I Laurat 42,987 43,531 43,288 46,308 41,617 I ~,.::.!. : II - -;S; ~~ Miristat 18,197 19,122 20,086 19,479 19,446 i91 -~ ~, L _ -=-5:~ I. t:!.t:::: Palmitat 11,778 12,674 11,768 10,765 12,360 11,818 11,417 I 1Gi : Stearat 4,150 2,782 3,973 2,588 5,231 4,323 3,726 2,455 Oleat 7,246 7,496 6,716 7,979 5,582 5,805 8,91 7,652 Linoleat 4,427 3,342 3,675 3,354 3,188 4,744 3,532 3,086 1 l..:',=:1 2,323 7,543 4,127 Hasil analisa kandungan lemak kelapa Ganjah kopyor Pati t umbuh di daerah pengembangan % lebih ditinggi dibandingkan dengan tanaman di rendah asalnya yaitu hanya %. Kandungan protein sebesar % (tabel 5), relatif sama dengan sampel dari lokasi aslinya yaitu 1,32-2)6, dan lebih rendah buah kelapa Genjah normal seperti Genjah Tebing Tinggi (GTT), Genjah Hijau Jombang (GHJ) dan Genjah salak (GSK) masing-masing 3,34, 3,74 dan 2,87 % (Tenda et al 1998). Salah satu yang menonjol dari kandungan gizi kelapa Genjah kopyor adalah kandung Galaktomanan yaitu %, lebih tinggi dari kandungan Galaktomanan daging buah kelapa normal. Perbedaan nitai kandungan gizi seperti protein dan kadar lemak kelapa Genjah kopyor di daerah pengembangan dengan di daerah asalnya, kemungkinan disebabkan oleh perbedaan lingkungan tumbuh. Sedangkan perbedaan kandungan galaktomanan antara daging buah kelapa kopyor dan kelapa normal, disebabkan oleh perbedaan struktur karena ketidaknormalan daging buah kelapa kopyor akibat defiseinsi enzim a~d-ga /aktosidase pada proses pembentukan buah (Sukendah, 2009)

20 Ta bel 5. Kandungan asam lemak, protein, galaktomanan, kalsium dan kalium lemak ~ tanaman kelapa kopyor di beberapa daerah pengembangan Kadar Aksesi Lemak (%) Protein (%) Galaktomanan(% ) K a lsl~l1!r c I ~...: =: Jepara-1 12,74 1,65 1, ~- Jepara-2 12,55 1,97 1, J '-'~-~ Jepara-3 11,96 2,16 1,43 I ~ - Sukoha~o-1 12,37 1,85 1, :?: Sukoha~o-2 10,88 2,33 1,31 0,020 I J.~ Magelang 11,64 2,09 1,37 0,023 1 ~ 35 I Grobogan 10,94 2,26 1,35 0,023 I 0,32 ~ Bukan Kopyor-1 8,85 2,95 1,22 0, ,31 Bukan Kopyor-2 9,70 2,78 1,29 0,025 I 0,33 I 2. Pelepasan populasi kelapa Genjah Kopyor Pati Untuk mendukung pelepasan kela pa Genjah Kopyor Pati, juga telah dilakukan pengamatan lanjutan produksi buah kopyor 90 pohon dari 3 aksesi hasil seleksi tahun Hasil pengolahan data produksi masing-masing aksesi di setiap kecamatan diperoleh rata-rata jumlah buah pertandan hanya butir. Jumlah buah pertandan ini lebih rendah dibandingkan pengamatan tahun sebelumnya yaitu pertandan butir. Rendahnya jumlah buah pertandan saat pengamatan diseba bkan oleh rendahnya curah hujan pada saat pembentukan buah setahun sebelumnya. Jumlah buah kopyor pertandan diperoleh nilai rata-rata antara butir/ tandan. Jumlah buah kopyor yang terbentuk sangat ditentukan oleh peluang terjadinya pertemuan gen kopyor pada bunga betina dan pada serbuk sari tanaman tersebut. Semakin banyak bunga betina yang terbentuk akan semakin tinggi peluang terbentuknya buah kopyor dalam satu tandan buah. Persentase rata~rata jumlah buah kopyor pertandan berkisar antara 33.33% % (Tabel 6). Persentase buah kopyor tersebut akan meningkat dengan banyaknya jumlah buah total yang terbentuk. Dengan jumlah buah total yang sangat sedikit terbentuk pada periode pengamatan tersebut, menyebabkanpersentase buah kopyor juga rendah. Tabel 6. Rata-rata persentase buah kopyor tandan buah 90 pohon induk terpilih tiga aks esl. k opyor d' I ti 19a kecamatan Kecamatan No Aksesi Margoyoso Tayu Dukuh Seti 1. Genjah Kopyor Hijau I 2. Genjah Kopyor Kuning I 3. Genjah Kopyor Coklat

Sugeng Pudjiono 1, Hamdan Adma Adinugraha 1 dan Mahfudz 2 ABSTRACT ABSTRAK. Pembangunan Kebun Pangkas Jati Sugeng P., Hamdan A.A.

Sugeng Pudjiono 1, Hamdan Adma Adinugraha 1 dan Mahfudz 2 ABSTRACT ABSTRAK. Pembangunan Kebun Pangkas Jati Sugeng P., Hamdan A.A. Pembangunan Kebun Pangkas Jati Sugeng P., Hamdan A.A. & Mahfudz PEMBANGUNAN KEBUN PANGKAS JATI SEBAGAI SALAH SATU SUMBER BENIH UNTUK MENDAPATKAN BIBIT UNGGUL GUNA MENDUKUNG KEBERHASILAN PROGRAM PENANAMAN

Lebih terperinci

PERANAN JUMLAH BIJI/POLONG PADA POTENSI HASIL KEDELAI (Glycine max (L.) Merr.) F6 PERSILANGAN VARIETAS ARGOMULYO DENGAN BRAWIJAYA

PERANAN JUMLAH BIJI/POLONG PADA POTENSI HASIL KEDELAI (Glycine max (L.) Merr.) F6 PERSILANGAN VARIETAS ARGOMULYO DENGAN BRAWIJAYA PERANAN JUMLAH BIJI/POLONG PADA POTENSI HASIL KEDELAI (Glycine max (L.) Merr.) F6 PERSILANGAN VARIETAS ARGOMULYO DENGAN BRAWIJAYA (Role The Number of Seeds/Pod to Yield Potential of F6 Phenotype Soybean

Lebih terperinci

SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO

SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO Sejumlah faktor iklim dan tanah menjadi kendala bagi pertumbuhan dan produksi tanaman kakao. Lingkungan alami tanaman cokelat adalah hutan tropis. Dengan demikian curah hujan,

Lebih terperinci

Hercules si Perusak Tanaman Pala dan Cengkeh

Hercules si Perusak Tanaman Pala dan Cengkeh Hercules si Perusak Tanaman Pala dan Cengkeh I. Latar Belakang Tanaman pala merupakan tanaman keras yang dapat berumur panjang hingga lebih dari 100 tahun. Tanaman pala tumbuh dengan baik di daerah tropis.

Lebih terperinci

ABSTRAK II. TINJAUAN PUSTAKA I. PENDAHULUAN

ABSTRAK II. TINJAUAN PUSTAKA I. PENDAHULUAN HUBUNGAN ANTARA TINGKAT KEKERASAN DAN WAKTU PEMECAHAN DAGING BUAH KAKAO (THEOBROMA CACAO L) 1) MUH. IKHSAN (G 411 9 272) 2) JUNAEDI MUHIDONG dan OLLY SANNY HUTABARAT 3) ABSTRAK Permasalahan kakao Indonesia

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Morfologi dan Syarat Tumbuh Tanaman Kedelai. Kedelai merupakan tanaman asli subtropis dengan sistem perakaran terdiri dari

II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Morfologi dan Syarat Tumbuh Tanaman Kedelai. Kedelai merupakan tanaman asli subtropis dengan sistem perakaran terdiri dari 7 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Morfologi dan Syarat Tumbuh Tanaman Kedelai Kedelai merupakan tanaman asli subtropis dengan sistem perakaran terdiri dari sebuah akar tunggang yang terbentuk dari calon akar,

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 03 TAHUN 2012 TENTANG TAMAN KEANEKARAGAMAN HAYATI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 03 TAHUN 2012 TENTANG TAMAN KEANEKARAGAMAN HAYATI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 03 TAHUN 2012 TENTANG TAMAN KEANEKARAGAMAN HAYATI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

Penemuan Klon Kakao Tahan Hama Penggerek Buah Kakao (PBK) di Indonesia. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, Jl. PB. Sudirman 90 Jember 68118

Penemuan Klon Kakao Tahan Hama Penggerek Buah Kakao (PBK) di Indonesia. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, Jl. PB. Sudirman 90 Jember 68118 Penemuan Klon Kakao Tahan Hama Penggerek Buah Kakao (PBK) di Indonesia Agung Wahyu Susilo 1) 1) Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, Jl. PB. Sudirman 90 Jember 68118 Keberadaan hama penggerek buah

Lebih terperinci

Deskripsi Padi Varietas Cigeulis Informasi Ringkas Bank Pengetahuan Padi Indonesia Sumber: Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Deskripsi Padi Varietas Cigeulis Informasi Ringkas Bank Pengetahuan Padi Indonesia Sumber: Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Deskripsi Padi Varietas Cigeulis Informasi Ringkas Bank Pengetahuan Padi Indonesia Sumber: Balai Besar Penelitian Tanaman Padi 2008 Nama Varietas Tahun Tetua Rataan Hasil Pemulia Golongan Umur tanaman

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Botani Tanaman Bayam Bayam (Amaranthus sp.) merupakan tanaman semusim dan tergolong sebagai tumbuhan C4 yang mampu mengikat gas CO 2 secara efisien sehingga memiliki daya adaptasi

Lebih terperinci

4.3.10. Pokok Bahasan 10: Pengamatan Panen. Tujuan Intruksional Khusus:

4.3.10. Pokok Bahasan 10: Pengamatan Panen. Tujuan Intruksional Khusus: 108 4.3.10. Pokok Bahasan 10: Pengamatan Panen Tujuan Intruksional Khusus: Setelah mengikuti course content ini mahasiswa dapat menjelaskan kriteria, komponen dan cara panen tanaman semusim dan tahunan

Lebih terperinci

POTENSI DAN DAYA DUKUNG LIMBAH PERTANIAN SEBAGAI PAKAN SAPI POTONG DI KABUPATEN SOPPENG SULAWESI SELATAN H A E R U D D I N

POTENSI DAN DAYA DUKUNG LIMBAH PERTANIAN SEBAGAI PAKAN SAPI POTONG DI KABUPATEN SOPPENG SULAWESI SELATAN H A E R U D D I N POTENSI DAN DAYA DUKUNG LIMBAH PERTANIAN SEBAGAI PAKAN SAPI POTONG DI KABUPATEN SOPPENG SULAWESI SELATAN H A E R U D D I N SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2004 SURAT PERNYATAAN Dengan

Lebih terperinci

Pengembangan Varietas Hibrida Jagung Tahan Penyakit Bulai (Perenosclerospora maydis L.), Umur Genjah(<90 hst), Potensi Hasil Tinggi(11 t/ha)

Pengembangan Varietas Hibrida Jagung Tahan Penyakit Bulai (Perenosclerospora maydis L.), Umur Genjah(<90 hst), Potensi Hasil Tinggi(11 t/ha) KODE PENELITIAN: X.70 Pengembangan Varietas Hibrida Jagung Tahan Penyakit Bulai (Perenosclerospora maydis L.), Umur Genjah(

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22/KEPMEN-KP/2014 TENTANG PELEPASAN IKAN NILA SALINA

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22/KEPMEN-KP/2014 TENTANG PELEPASAN IKAN NILA SALINA KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22/KEPMEN-KP/2014 TENTANG PELEPASAN IKAN NILA SALINA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

ANALISIS PROFFITABILITAS USAHA PENGGEMUKAN SAPI POTONG

ANALISIS PROFFITABILITAS USAHA PENGGEMUKAN SAPI POTONG ANALISIS PROFFITABILITAS USAHA PENGGEMUKAN SAPI POTONG (Studi Kasus di II Desa Gunungrejo Kecamatan Kedungpring Kabupaten Lamongan) Ista Yuliati 1, Zaenal Fanani 2 dan Budi Hartono 2 1) Mahasiswa Fakultas

Lebih terperinci

Kenapa Perlu Menggunakan Sistem Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ) Teknik Silvikultur Intensif (Silin) pada IUPHHK HA /HPH. Oleh : PT.

Kenapa Perlu Menggunakan Sistem Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ) Teknik Silvikultur Intensif (Silin) pada IUPHHK HA /HPH. Oleh : PT. Kenapa Perlu Menggunakan Sistem Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ) Teknik Silvikultur Intensif (Silin) pada IUPHHK HA /HPH Oleh : PT. Sari Bumi Kusuma PERKEMBANGAN HPH NASIONAL *) HPH aktif : 69 % 62% 55%

Lebih terperinci

Karakterisasi dan Deskripsi Plasma Nutfah Kacang Panjang

Karakterisasi dan Deskripsi Plasma Nutfah Kacang Panjang Karakterisasi dan Deskripsi Plasma Nutfah Kacang Panjang Suryadi, Luthfy, Yenni Kusandriani, dan Gunawan Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang ABSTRACT To increase the variability of yard-long bean

Lebih terperinci

IDENTIFICATION MORPHOLOGY DIVERSITY OF MANGO LEAF (Mangifera indica L.) IN CROSS PLANTS BETWEEN ARUMANIS 143 VARIETIES AND PODANG URANG 2 YEARS

IDENTIFICATION MORPHOLOGY DIVERSITY OF MANGO LEAF (Mangifera indica L.) IN CROSS PLANTS BETWEEN ARUMANIS 143 VARIETIES AND PODANG URANG 2 YEARS 61 JURNAL PRODUKSI TANAMAN VOLUME 1 No.1 MARET-2013 IDENTIFIKASI KERAGAMAN MORFOLOGI DAUN MANGGA (Mangifera indica L.) PADA TANAMAN HASIL PERSILANGAN ANTARA VARIETAS ARUMANIS 143 DENGAN PODANG URANG UMUR

Lebih terperinci

KERAGAMAN KARAKTER AGRONOMI KLON-KLON F1 UBIKAYU (Manihot esculenta Crantz) KETURUNAN TETUA BETINA UJ-3, CMM 25-27, DAN MENTIK URANG

KERAGAMAN KARAKTER AGRONOMI KLON-KLON F1 UBIKAYU (Manihot esculenta Crantz) KETURUNAN TETUA BETINA UJ-3, CMM 25-27, DAN MENTIK URANG J. Agrotek Tropika. ISSN 2337-4993 Putri et al.: Keragaman Karakter Agronomi Klon-klon Ubikayu 1 Vol. 1, No. 1: 1 7, Januari 2013 KERAGAMAN KARAKTER AGRONOMI KLON-KLON F1 UBIKAYU (Manihot esculenta Crantz)

Lebih terperinci

DATA DAN INFORMASI KEHUTANAN PROPINSI BALI

DATA DAN INFORMASI KEHUTANAN PROPINSI BALI DATA DAN INFORMASI KEHUTANAN PROPINSI BALI KATA PENGANTAR Booklet Data dan Informasi Propinsi Bali disusun dengan maksud untuk memberikan gambaran secara singkat mengenai keadaan Kehutanan di Propinsi

Lebih terperinci

PROSEDUR PEMULIAAN KACANG PANJANG

PROSEDUR PEMULIAAN KACANG PANJANG PROSEDUR PEMULIAAN KACANG PANJANG Varietas Brawijaya 1 Varietas Brawijaya 3 Varietas Brawijaya 4 Varietas Bagong 2 Varietas Bagong 3 Oleh; Kuswanto FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA Prosedur pemuliaan

Lebih terperinci

LAPORAN AKHIR TAHUN KEGIATAN DANA ALOKASI KHUSUS (DAK) BIDANG LINGKUNGAN HIDUP TAHUN 2013 KANTOR LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN PEMALANG

LAPORAN AKHIR TAHUN KEGIATAN DANA ALOKASI KHUSUS (DAK) BIDANG LINGKUNGAN HIDUP TAHUN 2013 KANTOR LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN PEMALANG LAPORAN AKHIR TAHUN KEGIATAN DANA ALOKASI KHUSUS (DAK) BIDANG LINGKUNGAN HIDUP TAHUN 2013 KANTOR LINGKUNGAN HIDUP DAFTAR ISI KATA PENGANTAR BAB I PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang... 1 B. Kesesuaian Perencanaan

Lebih terperinci

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 130/Permentan/SR.130/11/2014 TENTANG

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 130/Permentan/SR.130/11/2014 TENTANG MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 130/Permentan/SR.130/11/2014 TENTANG KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN

Lebih terperinci

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN MENJADI KELAPA SAWIT DI BENGKULU : KASUS PETANI DI DESA KUNGKAI BARU

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN MENJADI KELAPA SAWIT DI BENGKULU : KASUS PETANI DI DESA KUNGKAI BARU 189 Prosiding Seminar Nasional Budidaya Pertanian Urgensi dan Strategi Pengendalian Alih Fungsi Lahan Pertanian Bengkulu 7 Juli 2011 ISBN 978-602-19247-0-9 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN

Lebih terperinci

Keadaan Tanaman Pangan dan Hortikultura Jawa Tengah April 2015

Keadaan Tanaman Pangan dan Hortikultura Jawa Tengah April 2015 KATA PENGANTAR Sektor pertanian merupakan sektor yang vital dalam perekonomian Jawa Tengah. Sebagian masyarakat Jawa Tengah memiliki mata pencaharian di bidang pertanian. Peningkatan kualitas dan kuantitas

Lebih terperinci

Tabel 1.1. Letak geografi dan administratif Kota Balikpapan. LS BT Utara Timur Selatan Barat. Selat Makasar

Tabel 1.1. Letak geografi dan administratif Kota Balikpapan. LS BT Utara Timur Selatan Barat. Selat Makasar KOTA BALIKPAPAN I. KEADAAN UMUM KOTA BALIKPAPAN 1.1. LETAK GEOGRAFI DAN ADMINISTRASI Kota Balikpapan mempunyai luas wilayah daratan 503,3 km 2 dan luas pengelolaan laut mencapai 160,1 km 2. Kota Balikpapan

Lebih terperinci

Jurnal Agrisistem, Juni 2007, Vol. 3 No. 1 ISSN 1858-4330

Jurnal Agrisistem, Juni 2007, Vol. 3 No. 1 ISSN 1858-4330 STUDI PENGARUH PERIODE TERANG DAN GELAP BULAN TERHADAP RENDEMEN DAN KADAR AIR DAGING RAJUNGAN (Portunus pelagicus L) YANG DI PROSES PADA MINI PLANT PANAIKANG KABUPATEN MAROS STUDY OF LIGHT AND DARK MOON

Lebih terperinci

PENINGKATAN NILAI TAMBAH JAGUNG SEBAGAI PANGAN LOKAL Oleh : Endah Puspitojati

PENINGKATAN NILAI TAMBAH JAGUNG SEBAGAI PANGAN LOKAL Oleh : Endah Puspitojati PENINGKATAN NILAI TAMBAH JAGUNG SEBAGAI PANGAN LOKAL Oleh : Endah Puspitojati Kebutuhan pangan selalu mengikuti trend jumlah penduduk dan dipengaruhi oleh peningkatan pendapatan per kapita serta perubahan

Lebih terperinci

PENDUGAAN KOMPONEN GENETIK, DAYA GABUNG, DAN SEGREGASI BIJI PADA JAGUNG MANIS KUNING KISUT

PENDUGAAN KOMPONEN GENETIK, DAYA GABUNG, DAN SEGREGASI BIJI PADA JAGUNG MANIS KUNING KISUT J. Agrotek Tropika. ISSN 2337-4993 Yunita et al.: Pendugaan Komponen Genetik, Daya Gabung, dan Segregesi Biji 25 Vol. 1, No. 1: 25 31, Januari 2013 PENDUGAAN KOMPONEN GENETIK, DAYA GABUNG, DAN SEGREGASI

Lebih terperinci

PENGARUH PERSILANGAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) STRAIN GIFT DENGAN STRAIN NIFI TERHADAP NILAI HETEROSIS PANJANG, LEBAR, DAN BERAT BADAN

PENGARUH PERSILANGAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) STRAIN GIFT DENGAN STRAIN NIFI TERHADAP NILAI HETEROSIS PANJANG, LEBAR, DAN BERAT BADAN ARTIKEL ILMIAH Oleh Ikalia Nurfitasari NIM 061810401008 JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS JEMBER 2012 ARTIKEL ILMIAH diajukan guna melengkapi tugas akhir dan memenuhi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi ilmiah tanaman jagung sebagaimana diketahui adalah: Kelas: Monocotyledoneae. Familia: Poaceae.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi ilmiah tanaman jagung sebagaimana diketahui adalah: Kelas: Monocotyledoneae. Familia: Poaceae. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Klasifikasi dan Morfologi Jagung Klasifikasi ilmiah tanaman jagung sebagaimana diketahui adalah: Kerajaan: Plantae Divisio: Angiospermae Kelas: Monocotyledoneae Ordo: Poales

Lebih terperinci

INDIKASI PERUBAHAN IKLIM DARI PERGESERAN BULAN BASAH, KERING, DAN LEMBAB

INDIKASI PERUBAHAN IKLIM DARI PERGESERAN BULAN BASAH, KERING, DAN LEMBAB ISBN : 978-979-79--8 INDIKASI PERUBAHAN IKLIM DARI PERGESERAN BULAN BASAH, KERING, DAN LEMBAB Lilik Slamet S., Sinta Berliana S. Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim LAPAN, lilik_lapan@yahoo.com,

Lebih terperinci

Karakter Morfologis dan Beberapa Keunggulan Mangga Podang Urang (Mangifera indica L.)

Karakter Morfologis dan Beberapa Keunggulan Mangga Podang Urang (Mangifera indica L.) Karakter Morfologis dan Beberapa Keunggulan Mangga Podang Urang (Mangifera indica L.) Baswarsiati dan Yuniarti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, Jawa Timur 62 ABSTRACT Podang Urang mango is one of

Lebih terperinci

MENGUBAH BENCANA MENJADI BERKAH (Studi Kasus Pengendalian dan Pemanfaatan Banjir di Ambon)

MENGUBAH BENCANA MENJADI BERKAH (Studi Kasus Pengendalian dan Pemanfaatan Banjir di Ambon) MENGUBAH BENCANA MENJADI BERKAH (Studi Kasus Pengendalian dan Pemanfaatan Banjir di Ambon) Happy Mulya Balai Wilayah Sungai Maluku dan Maluku Utara Dinas PU Propinsi Maluku Maggi_iwm@yahoo.com Tiny Mananoma

Lebih terperinci

MENGENAL LEBIH DEKAT PENYAKIT LAYU BEKTERI Ralstonia solanacearum PADA TEMBAKAU

MENGENAL LEBIH DEKAT PENYAKIT LAYU BEKTERI Ralstonia solanacearum PADA TEMBAKAU PEMERINTAH KABUPATEN PROBOLINGGO DINAS PERKEBUNAN DAN KEHUTANAN JL. RAYA DRINGU 81 TELPON 0335-420517 PROBOLINGGO 67271 MENGENAL LEBIH DEKAT PENYAKIT LAYU BEKTERI Ralstonia solanacearum PADA TEMBAKAU Oleh

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Jeruk merupakan salah satu tanaman buah yang penting dan

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Jeruk merupakan salah satu tanaman buah yang penting dan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Jeruk merupakan salah satu tanaman buah yang penting dan dibudidayakan secara luas di Indonesia. Hal ini terlihat dari total produksi jeruk di Indonesia menduduki peringkat

Lebih terperinci

4xE. Ir. Bntin Hidayah, M.Um LAPOR.AN PENELITIAN DOSEN MUDA. 0leh: PENGEMBANGAN MODEL PENGATURAN SISTEM JARINGAN DRAINASE SEBAGAI PENCEGAFI BANJIR

4xE. Ir. Bntin Hidayah, M.Um LAPOR.AN PENELITIAN DOSEN MUDA. 0leh: PENGEMBANGAN MODEL PENGATURAN SISTEM JARINGAN DRAINASE SEBAGAI PENCEGAFI BANJIR 4xE LAPOR.AN PENELITIAN DOSEN MUDA PENGEMBANGAN MODEL PENGATURAN SISTEM JARINGAN DRAINASE SEBAGAI PENCEGAFI BANJIR 0leh: Januar Fery lrawan, ST Ir. Bntin Hidayah, M.Um DIBIAYAI OLEH DIREKTORAT PEMRII.{AAN

Lebih terperinci

Warta Kebijakan. Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang. Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan tata ruang. Perencanaan Tata Ruang

Warta Kebijakan. Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang. Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan tata ruang. Perencanaan Tata Ruang No. 5, Agustus 2002 Warta Kebijakan C I F O R - C e n t e r f o r I n t e r n a t i o n a l F o r e s t r y R e s e a r c h Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan

Lebih terperinci

TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN

TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN Telur adalah salah satu sumber protein hewani yang memilik rasa yang lezat, mudah dicerna, dan bergizi tinggi. Selain itu telur mudah diperoleh dan harganya murah. Telur dapat

Lebih terperinci

PRODUKSI TANAMAN NURSERY

PRODUKSI TANAMAN NURSERY PRODUKSI TANAMAN NURSERY Bambang B. Santoso Senen, 30 Maret 2009 PRODUKSI TANAMAN NURSERY A. Perencanaan Produksi B. Perbanyakan C. Produksi di Lapangan D. Produksi dalam Pot/wadah C. PRODUKSI DI LAPANGAN

Lebih terperinci

KORELASI SIKAP PETANI PLASMA KELAPA SAWIT TERHADAP PELAYANAN KOPERASI UNIT DESA DI KABUPATEN LAMANDAU. Trisna Anggreini 1)

KORELASI SIKAP PETANI PLASMA KELAPA SAWIT TERHADAP PELAYANAN KOPERASI UNIT DESA DI KABUPATEN LAMANDAU. Trisna Anggreini 1) KORELASI SIKAP PETANI PLASMA KELAPA SAWIT TERHADAP PELAYANAN KOPERASI UNIT DESA DI KABUPATEN LAMANDAU Trisna Anggreini 1) Abstract. The purpose of this research are acessing the correlation of attitudes

Lebih terperinci

KARAKTERISASI FISIK DAN ph PADA PEMBUATAN SERBUK TOMAT APEL LIRA BUDHIARTI

KARAKTERISASI FISIK DAN ph PADA PEMBUATAN SERBUK TOMAT APEL LIRA BUDHIARTI KARAKTERISASI FISIK DAN ph PADA PEMBUATAN SERBUK TOMAT APEL LIRA BUDHIARTI DEPARTEMEN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 ABSTRAK LIRA BUDHIARTI. Karakterisasi

Lebih terperinci

BUDIDAYA IKAN LELE DI KOLAM TERPAL

BUDIDAYA IKAN LELE DI KOLAM TERPAL BUDIDAYA IKAN LELE DI KOLAM TERPAL Siapa yang tak kenal ikan lele, ikan ini hidup di air tawar dan sudah lazim dijumpai di seluruh penjuru nusantara. Ikan ini banyak dikonsumsi karena rasanya yang enak

Lebih terperinci

P R E S I D E N REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2004

P R E S I D E N REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2004 P R E S I D E N REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2004 TENTANG PENAMAAN PENDAFTARAN DAN PENGGUNAAN VARIETAS ASAL UNTUK PEMBUATAN VARIETAS TURUNAN ESENSIAL PRESIDEN

Lebih terperinci

TINGKAT PENERAPAN SISTEM BUDIDAYA MANGROVE PADA MASYARAKAT PULAU UNTUNG JAWA, KEPULAUAN SERIBU

TINGKAT PENERAPAN SISTEM BUDIDAYA MANGROVE PADA MASYARAKAT PULAU UNTUNG JAWA, KEPULAUAN SERIBU TINGKAT PENERAPAN SISTEM BUDIDAYA MANGROVE PADA MASYARAKAT PULAU UNTUNG JAWA, KEPULAUAN SERIBU Diarsi Eka Yani (diarsi@ut.ac.id) PS Agribisnis, FMIPA, Universitas Terbuka ABSTRAK Abrasi pantai yang terjadi

Lebih terperinci

Kulit masohi SNI 7941:2013

Kulit masohi SNI 7941:2013 Standar Nasional Indonesia ICS 65.020.99 Kulit masohi Badan Standardisasi Nasional BSN 2013 Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh isi dokumen ini

Lebih terperinci

MEMILIH BAKALAN SAPI BALI

MEMILIH BAKALAN SAPI BALI MEMILIH BAKALAN SAPI BALI Oleh: Achmad Muzani Penyunting: Tanda S Panjaitan BALAI PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN (BPTP) NTB BALAI BESAR PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLGI PERTANIAN BADAN PENELITIAN DAN

Lebih terperinci

INDUSTRI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT INDONESIA In House Training Profil Bisnis Industri Kelapa Sawit Indonesia Medan, 30-31 Mei 2011

INDUSTRI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT INDONESIA In House Training Profil Bisnis Industri Kelapa Sawit Indonesia Medan, 30-31 Mei 2011 INDUSTRI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT INDONESIA In House Training Profil Bisnis Industri Kelapa Sawit Indonesia Medan, 30-31 Mei 2011 Ignatius Ery Kurniawan PT. MITRA MEDIA NUSANTARA 2011 KEMENTERIAN KEUANGAN

Lebih terperinci

TATA LAKSANA PERKANDANGAN TERNAK KAMBING DI DUA LOKASI PRIMA TANI PROPINSI LAMPUNG

TATA LAKSANA PERKANDANGAN TERNAK KAMBING DI DUA LOKASI PRIMA TANI PROPINSI LAMPUNG TATA LAKSANA PERKANDANGAN TERNAK KAMBING DI DUA LOKASI PRIMA TANI PROPINSI LAMPUNG (Goat Housing on Two Locations of Prima Tani in ) NANDARI DYAH SURETNO dan E. BASRI Balai Pengkajian Teknologi Pertanian,

Lebih terperinci

Sudika, Idris, Erna Listiana Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Mataram ABSTRAK

Sudika, Idris, Erna Listiana Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Mataram ABSTRAK 6 PEMBENTUKAN VARIETAS UNGGUL JAGUNG TAHAN KERING DENGAN HASIL, BERANGKASAN SEGAR TINGGI, UMUR GENJAH (TAHUN I: HIBRIDISASI DAN SELEKSI MASSA SECARA INDEPENDENT CULLING LEVEL) (IMPROVEMENT OF DROUGHT TOLERANCE

Lebih terperinci

Tabel IV.C.1.1 Rincian Program dan Realisasi Anggaran Urusan Perikanan Tahun 2013

Tabel IV.C.1.1 Rincian Program dan Realisasi Anggaran Urusan Perikanan Tahun 2013 C. URUSAN PILIHAN YANG DILAKSANAKAN 1. URUSAN PERIKANAN Pembangunan pertanian khususnya sektor perikanan merupakan bagian integral dari pembangunan ekonomi, dalam hal ini sektor perikanan adalah sektor

Lebih terperinci

Disahkan oleh PEREKAMAN KARTU TANDA PENDUDUK

Disahkan oleh PEREKAMAN KARTU TANDA PENDUDUK LAMPIRAN KEPUTUSAN CAMAT PADURESO NOMOR: 130/ /KEP/2015 KECAMATAN PADURESO KABUPATEN KEBUMEN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) Nomor Tanggal Pembuatan 30 April 2015 Tanggal Revisi - Tanggal Efektif 30

Lebih terperinci

PENDUGAAN UMUR SIMPAN PRODUK MI INSTAN DARI PATI SAGU DENGAN METODE AKSELERASI

PENDUGAAN UMUR SIMPAN PRODUK MI INSTAN DARI PATI SAGU DENGAN METODE AKSELERASI PENDUGAAN UMUR SIMPAN PRODUK MI INSTAN DARI PATI SAGU DENGAN METODE AKSELERASI Shelf Life Estimation of Instant Noodle from Sago Starch Using Accelerared Method Dewi Kurniati (0806113945) Usman Pato and

Lebih terperinci

ANALISIS DIMENSI E-SERVICE QUALITY TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN TOKO ONLINE OLEH: CELIA FAUSTINE NOVELIA 3103010102

ANALISIS DIMENSI E-SERVICE QUALITY TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN TOKO ONLINE OLEH: CELIA FAUSTINE NOVELIA 3103010102 ANALISIS DIMENSI E-SERVICE QUALITY TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN TOKO ONLINE OLEH: CELIA FAUSTINE NOVELIA 3103010102 JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS BISNIS UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA 2014 ANALISIS

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA : P.

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA : P. PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P. 18/Menhut-II/2012 TENTANG TATA CARA PENILAIAN GANTI RUGI TANAMAN HASIL REHABILITASI HUTAN AKIBAT PENGGUNAAN KAWASAN HUTAN DAN PERUBAHAN PERUNTUKAN

Lebih terperinci

INDEKS PLASTISITAS PADA TANAH LEMPUNG DENGAN PENAMBAHAN ADDITIVE ROAD BOND EN-1 DI BUKIT SEMARANG BARU (BSB) Garup Lambang Goro

INDEKS PLASTISITAS PADA TANAH LEMPUNG DENGAN PENAMBAHAN ADDITIVE ROAD BOND EN-1 DI BUKIT SEMARANG BARU (BSB) Garup Lambang Goro INDEKS PLASTISITAS PADA TANAH LEMPUNG DENGAN PENAMBAHAN ADDITIVE ROAD BOND EN-1 DI BUKIT SEMARANG BARU (BSB) Garup Lambang Goro Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Semarang Abstract One of thrifty effort

Lebih terperinci

S. Andy Cahyono dan Purwanto

S. Andy Cahyono dan Purwanto S. Andy Cahyono dan Purwanto Balai Penelitian Teknologi Kehutanan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Jl. Jend A. Yani-Pabelan, Kartasura. PO BOX 295 Surakarta 57102 Telp/Fax: (0271) 716709; 716959 Email:

Lebih terperinci

GUBEKJNJUR KALIMANTAN TIMUR

GUBEKJNJUR KALIMANTAN TIMUR GUBEKJNJUR KALIMANTAN TIMUR PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN TIMUR NOMOR 03 TAHUN 2005 TENTANG PEMBENTUKAN, SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIT PELAKSANA TEKNIS DINAS (UPTD) PADA DINAS-DINAS PROVINSI KALIMANTAN

Lebih terperinci

PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 25 TAHUN 2013 TENTANG TARIP TAKSI ARGOMETER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG,

PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 25 TAHUN 2013 TENTANG TARIP TAKSI ARGOMETER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, SALINAN NOMOR 25, 2013 PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 25 TAHUN 2013 TENTANG TARIP TAKSI ARGOMETER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, Menimbang : a. ba h wa den ga n a da n ya kenaikan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI SURAT PERNYATAAN KARYA ASLI SKRIPSI

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI SURAT PERNYATAAN KARYA ASLI SKRIPSI ABSTRACT National Program for Community Empowerment in Rural Areas (PNPM MP) is one of the mechanisms used community development program PNPM in an effort to accelerate poverty reduction and expansion

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Proses berkembangnya suatu kota baik dalam aspek keruangan, manusia dan aktifitasnya, tidak terlepas dari fenomena urbanisasi dan industrialisasi. Fenomena seperti

Lebih terperinci

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK REPRODUKSI KERBAU RAWA DALAM KONDISI LINGKUNGAN PETERNAKAN RAKYAT ABSTRAK

KARAKTERISTIK REPRODUKSI KERBAU RAWA DALAM KONDISI LINGKUNGAN PETERNAKAN RAKYAT ABSTRAK BIOSCIENTIAE Volume 2, Nomor 1, Januari 2005, Halaman 43-48 http://bioscientiae.tripod.com KARAKTERISTIK REPRODUKSI KERBAU RAWA DALAM KONDISI LINGKUNGAN PETERNAKAN RAKYAT UU. Lendhanie Program Studi Ternak,

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN BENTUK PERGURUAN TINGGI KEAGAMAAN

PERATURAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN BENTUK PERGURUAN TINGGI KEAGAMAAN PERATURAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN BENTUK PERGURUAN TINGGI KEAGAMAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat

Lebih terperinci

Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan - 2011

Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan - 2011 Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan - 2011 Sekilas Tentang Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus Padekanmalang, Situbondo - Jawa Timur SEKILAS TENTANG Kawasan Hutan Dengan Tujuan

Lebih terperinci

ROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS MURIA KUDUS TAHUN 2013

ROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS MURIA KUDUS TAHUN 2013 i ADAPTASI MODEL DELONE DAN MCLEAN YANG DIMODIFIKASI GUNA MENGUJI KEBERHASILAN APLIKASI OPERASIONAL PERBANKAN BAGI INDIVIDU PENGGUNA SISTEM INFORMASI (STUDI KASUS PADA PD.BPR BKK DI KABUPATEN PATI) Skripsi

Lebih terperinci

TINJAUAN HIDROLOGI DAN SEDIMENTASI DAS KALI BRANTAS HULU 1

TINJAUAN HIDROLOGI DAN SEDIMENTASI DAS KALI BRANTAS HULU 1 TINJAUAN HIDROLOGI DAN SEDIMENTASI DAS KALI BRANTAS HULU 1 Perusahaan Umum (Perum) Jasa Tirta I Jl. Surabaya 2 A, Malang Indonesia 65115 Telp. 62-341-551976, Fax. 62-341-551976 http://www.jasatirta1.go.id

Lebih terperinci

Sistem Informasi Pemasaran Produk pada PT. Prima Dina Lestari

Sistem Informasi Pemasaran Produk pada PT. Prima Dina Lestari Sistem Informasi Pemasaran Produk pada PT. Prima Dina Lestari Meriana STMIK IBBI Jl. Sei Deli No. 18 Medan, telp. 061-4567111, fax. 061-4527548 email : meriana@yahoo.com Abstrak PT. Pima Dina Lestari adalah

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN Latar Belakang I. PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan dibidang kehutanan saat ini terus ditingkatkan dan diarahkan untuk menjamin kelangsungan tersedianya hasil hutan, demi kepentingan pembangunan industri, perluasan

Lebih terperinci

Pemanfaatan Hasil Ujian Nasional MA untuk Perbaikan Akses dan Mutu Pendidikan

Pemanfaatan Hasil Ujian Nasional MA untuk Perbaikan Akses dan Mutu Pendidikan Pemanfaatan Hasil Ujian Nasional MA untuk Perbaikan Akses dan Mutu Pendidikan Asep Sjafrudin, S.Si, M.Si Madrasah Aliyah sebagai bagian dari jenjang pendidikan tingkat menengah memerlukan upaya pengendalian,

Lebih terperinci

PENGARUH PEMBERIAN BEBERAPA DOSIS KOMPOS DENGAN STIMULATOR

PENGARUH PEMBERIAN BEBERAPA DOSIS KOMPOS DENGAN STIMULATOR PENGARUH PEMBERIAN BEBERAPA DOSIS KOMPOS DENGAN STIMULATOR Trichoderma TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN JAGUNG MANIS ( Zea mays saccarata sturt. ) VARIETAS BONANZA F1 JURNAL SKRIPSI OLEH : F A I

Lebih terperinci

2. Awal Musim kemarau Bilamana jumlah curah hujan selama satu dasarian (10 hari) kurang dari 50 milimeter serta diikuti oleh dasarian berikutnya.

2. Awal Musim kemarau Bilamana jumlah curah hujan selama satu dasarian (10 hari) kurang dari 50 milimeter serta diikuti oleh dasarian berikutnya. I. PENGERTIAN A. DEFINISI AWAL MUSIM 1. Awal Musim hujan Bilamana jumlah curah hujan selama satu dasarian (10 hari) sama atau lebih dari 50 milimeter serta diikuti oleh dasarian berikutnya. 2. Awal Musim

Lebih terperinci

Revisi ke 05 Tanggal : 24 Desember 2013

Revisi ke 05 Tanggal : 24 Desember 2013 KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA LAMPIRAN : Satu set DIPA Petikan A. Dasar : 1. UU No. 17 Tahun 23 tentang Keuangan Negara. 2. UU No. 1 Tahun 24 tentang Perbendaharaan Negara. 3. UU No. 19 Tahun

Lebih terperinci

STABILISASI HARGA PANGAN

STABILISASI HARGA PANGAN STABILISASI HARGA PANGAN Oleh : Dr.Ir. Nuhfil Hanani AR DEWAN KETAHANAN PANGAN TAHUN 2008 PERANAN KOMODITAS PANGAN PRODUSEN KESEMPATAN KERJA DAN PENDAPATAN KONSUMEN RUMAH TANGGA AKSES UNTUK GIZI KONSUMEN

Lebih terperinci

USAHA KEBUN KAYU DENGAN JENIS POHON CEPAT TUMBUH

USAHA KEBUN KAYU DENGAN JENIS POHON CEPAT TUMBUH USAHA KEBUN KAYU DENGAN JENIS POHON CEPAT TUMBUH Atok Subiakto PUSKONSER, Bogor Antusias masyarakat menanam jabon meningkat pesat Mudah menanamnya Dapat ditanam dimana saja Pertumbuhan cepat Harga kayu

Lebih terperinci

Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut

Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut Proyek Penelitian Pengembangan Pertanian Rawa Terpadu-ISDP Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut Penyusun I Wayan Suastika

Lebih terperinci

ARTIKEL. IPTEKS BAGI MASYARAKAT (IbM)

ARTIKEL. IPTEKS BAGI MASYARAKAT (IbM) ARTIKEL IPTEKS BAGI MASYARAKAT (IbM) IbM KELOMPOK WANITA TANI ANGGREK DI DESA ADATONGENG, KECAMATAN TURIKALE, KABUPATEN MAROS, SULAWESI SELATAN (Perbanyakan dan Aklimatisasi Anggrek Melalui Kultur Jaringan

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR : KEP. 52/MEN/2004 T E N T A N G PELEPASAN VARIETAS IKAN NILA JICA SEBAGAI VARIETAS BARU

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR : KEP. 52/MEN/2004 T E N T A N G PELEPASAN VARIETAS IKAN NILA JICA SEBAGAI VARIETAS BARU KEPUTUSAN NOMOR : KEP. 52/MEN/2004 T E N T A N G PELEPASAN VARIETAS IKAN NILA JICA SEBAGAI VARIETAS BARU, Menimbang : a. bahwa dalam rangka memperkaya jenis dan varietas serta menambah sumber plasma nutfah

Lebih terperinci

Peranan dan Dominasi Varietas Unggul Baru dalam Peningkatan Produksi Padi di Jawa Barat

Peranan dan Dominasi Varietas Unggul Baru dalam Peningkatan Produksi Padi di Jawa Barat Peranan dan Dominasi Varietas Unggul Baru dalam Peningkatan Produksi Padi di Jawa Barat Indah Nurhati 1, S. Ramdhaniati 1, dan N. Zuraida 2 1 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Barat 2 Balai Besar

Lebih terperinci

PENGARUH PENGUNGKAPAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN TERHADAP KINERJA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA

PENGARUH PENGUNGKAPAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN TERHADAP KINERJA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA PENGARUH PENGUNGKAPAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN TERHADAP KINERJA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA OLEH: MIKAEL ANTHONY SUGAMA 3203009303 JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS BISNIS

Lebih terperinci

PENGARUH AKTIFITAS FISIK TERHADAP KEJADIAN OBESITAS PADA MURID

PENGARUH AKTIFITAS FISIK TERHADAP KEJADIAN OBESITAS PADA MURID ABSTRAK PENGARUH AKTIFITAS FISIK TERHADAP KEJADIAN OBESITAS PADA MURID Ekowati Retnaningsih dan Rini Oktariza Angka kejadian berat badan lebih pada anak usia sekolah di Indonesia mencapai 15,9%. Prevalensi

Lebih terperinci

PENGARUH PENGATURAN TEMPAT DUDUK U SHAPE TERHADAP KONSENTRASI BELAJAR SISWA PRIMARY DI HARVARD ENGLISH COURSE SEI RAMPAH SKRIPSI

PENGARUH PENGATURAN TEMPAT DUDUK U SHAPE TERHADAP KONSENTRASI BELAJAR SISWA PRIMARY DI HARVARD ENGLISH COURSE SEI RAMPAH SKRIPSI PENGARUH PENGATURAN TEMPAT DUDUK U SHAPE TERHADAP KONSENTRASI BELAJAR SISWA PRIMARY DI HARVARD ENGLISH COURSE SEI RAMPAH SKRIPSI Diajukan Guna Memenuhi Persyaratan Ujian Sarjana Psikologi OLEH : DEEPRAJ

Lebih terperinci

Buletin IPTEKDA LIPI Komunikasi Info Iptek untuk Daerah Volume 1 No.3 Maret 2001 LIPI IKUT BERKIRAH DALAM BIDANG PEMBIBITAN SAPI

Buletin IPTEKDA LIPI Komunikasi Info Iptek untuk Daerah Volume 1 No.3 Maret 2001 LIPI IKUT BERKIRAH DALAM BIDANG PEMBIBITAN SAPI LIPI IKUT BERKIRAH DALAM BIDANG PEMBIBITAN SAPI Berbagai usaha peternakan di Indonesia belum mencapai tingkat perkembangan yang menggembirakan, walaupun sampai saat ini pemerintah telah melakukan bermacam-macam

Lebih terperinci

MEMILIH VARIETAS BARU SPECIFIK LOKASI DI KECAMATAN MAOS. Oleh : Widi Riswanto* B. UJICOBA PENANAMAN VARIETAS UNGGUL BARU DI KECAMATAN MAOS

MEMILIH VARIETAS BARU SPECIFIK LOKASI DI KECAMATAN MAOS. Oleh : Widi Riswanto* B. UJICOBA PENANAMAN VARIETAS UNGGUL BARU DI KECAMATAN MAOS MEMILIH VARIETAS BARU SPECIFIK LOKASI DI KECAMATAN MAOS Oleh : Widi Riswanto* A. PENDAHULUAN Dalam kegiatan budidaya pertanian sampai saat ini varietas merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan

Lebih terperinci

Sumber : Manual Pembibitan Tanaman Hutan, BPTH Bali dan Nusa Tenggara.

Sumber : Manual Pembibitan Tanaman Hutan, BPTH Bali dan Nusa Tenggara. Penyulaman Penyulaman dilakukan apabila bibit ada yang mati dan perlu dilakukan dengan segera agar bibit sulaman tidak tertinggal jauh dengan bibit lainnya. Penyiangan Penyiangan terhadap gulma dilakukan

Lebih terperinci

JAMUR AKAR PUTIH (JAP) PADA KOMODITI CENGKEH TRIWULAN II DI WILAYAH KERJA BBPPTP SURABAYA. Effendi Wibowo, SP dan Yudi Yulianto, SP

JAMUR AKAR PUTIH (JAP) PADA KOMODITI CENGKEH TRIWULAN II DI WILAYAH KERJA BBPPTP SURABAYA. Effendi Wibowo, SP dan Yudi Yulianto, SP JAMUR AKAR PUTIH (JAP) PADA KOMODITI CENGKEH TRIWULAN II DI WILAYAH KERJA BBPPTP SURABAYA Effendi Wibowo, SP dan Yudi Yulianto, SP Tanaman yang diserang penyakit jamur akar putih mula-mula daunnya tampak

Lebih terperinci

PERIKANAN BUDIDAYA: PENGANTAR. Oleh: M.Husni Amarullah. Ikan Nila (Oreochromis niloticus)

PERIKANAN BUDIDAYA: PENGANTAR. Oleh: M.Husni Amarullah. Ikan Nila (Oreochromis niloticus) PERIKANAN BUDIDAYA: PENGANTAR Oleh: M.Husni Amarullah Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Wikipedia: free encyclopedia (2012) Launching Program Kuliah Umum Ma had Aliy - Ponpes Madinatunnajah, Tangerang

Lebih terperinci

Peran BDK Kupang dalam Upaya Pengembangan dan Pelestarian Cendana (Santalum album L.) Oleh: Gunawan Nugrahanto* Abstract

Peran BDK Kupang dalam Upaya Pengembangan dan Pelestarian Cendana (Santalum album L.) Oleh: Gunawan Nugrahanto* Abstract Peran BDK Kupang dalam Upaya Pengembangan dan Pelestarian Cendana (Santalum album L.) Oleh: Gunawan Nugrahanto* Abstract Sandalwood (Santalum album L.) is a typical and important commodity of East Nusa

Lebih terperinci

PRODUKSI CABAI BESAR, CABAI RAWIT, DAN BAWANG MERAH TAHUN 2014

PRODUKSI CABAI BESAR, CABAI RAWIT, DAN BAWANG MERAH TAHUN 2014 No.50/08/71/Th.IX, 3 Agustus 2015 PRODUKSI CABAI BESAR, CABAI RAWIT, DAN BAWANG MERAH TAHUN 2014 PRODUKSI CABAI BESAR SEBESAR 5.451 TON, CABAI RAWIT SEBESAR 8.486 TON DAN BAWANG MERAH SEBESAR 1.242 TON

Lebih terperinci

Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan

Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan 2007 Kerja sama Pusat Rencana dan Statistik Kehutanan, Departemen Kehutanan dengan Direktorat Statistik Pertanian, Badan Pusat Statistik Jakarta, 2007 KATA PENGANTAR

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang Masalah. Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia, maka secara

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang Masalah. Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia, maka secara 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia, maka secara otomatis kebutuhan terhadap pangan akan meningkat pula. Untuk memenuhi kebutuhan pangan

Lebih terperinci

Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:

Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2004 TENTANG SYARAT DAN TATA CARA PENGALIHAN PERLINDUNGAN VARIETAS TANAMAN DAN PENGGUNAAN VARIETAS YANG DILINDUNGI OLEH PEMERINTAH PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

Profil Permukiman Transmigrasi Simpang Tiga SP 3 Provinsi Sumatera Selatan

Profil Permukiman Transmigrasi Simpang Tiga SP 3 Provinsi Sumatera Selatan 1 A. GAMBARAN UMUM 1. Nama Permukiman Transmigrasi Simpang Tiga SP 3 2. Permukiman Transmigrasi Simpang Tiga SP 3 Terletak di Kawasan a. Jumlah Transmigran (Penempatan) Penempata 2009 TPA : 150 KK/563

Lebih terperinci

OLEH: IRINA KUSUMA DEWI 3203010217

OLEH: IRINA KUSUMA DEWI 3203010217 PERANCANGAN STANDARD OPERATING PROCEDURE (SOP) SISTEM PENJUALAN DALAM RANGKA MENINGKATKAN AKTIVIAS PENGENDALIAN INTERNAL (Studi Kasus Distributor Besi Beton di Sidoarjo) OLEH: IRINA KUSUMA DEWI 3203010217

Lebih terperinci

PRODUKSI CABAI BESAR, CABAI RAWIT, DAN BAWANG MERAH TAHUN 2014

PRODUKSI CABAI BESAR, CABAI RAWIT, DAN BAWANG MERAH TAHUN 2014 No. 53/08/19/Th.XIII, 3 Agustus 2015 PRODUKSI CABAI BESAR, CABAI RAWIT, DAN BAWANG MERAH TAHUN 2014 PRODUKSI CABAI BESAR SEBESAR 3.686,00 TON, CABAI RAWIT SEBESAR 3.099,80 TON, DAN BAWANG MERAH SEBESAR

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.30/MEN/2010 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.30/MEN/2010 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.30/MEN/2010 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. membuka sempurna. Pada kondisi tanah yang lembab, tahapan pemunculan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. membuka sempurna. Pada kondisi tanah yang lembab, tahapan pemunculan BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Fase muncul lapang (Emergence) Fase muncul (emergency) merupakan periode munculnya koleoptil di atas permukaan tanah dimana daun pertama dan kedua telah muncul namun belum

Lebih terperinci

STUDI KADAR HISTAMIN IKAN TONGKOL (Auxis thazard) ASAP YANG DIAWET DENGAN ASAM ASETAT. Verly DotuLong 1 ABSTRAK

STUDI KADAR HISTAMIN IKAN TONGKOL (Auxis thazard) ASAP YANG DIAWET DENGAN ASAM ASETAT. Verly DotuLong 1 ABSTRAK STUDI KADAR HISTAMIN IKAN TONGKOL (Auxis thazard) ASAP YANG DIAWET DENGAN ASAM ASETAT Verly DotuLong 1 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh asam asetat terhadap kadar histamin ikan tongkol

Lebih terperinci

Produksi benih ikan patin jambal (Pangasius djambal) kelas benih sebar

Produksi benih ikan patin jambal (Pangasius djambal) kelas benih sebar Standar Nasional Indonesia Produksi benih ikan patin jambal (Pangasius djambal) kelas benih sebar ICS 65.150 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup... 1

Lebih terperinci