ASOHI MENERIMA KUNJUNGAN USAID. Penghargaan Bulan Mutu Kementan untuk BBPMSOH MUSDA ASOHI SUMBAR HASILKAN PENGURUS BARU. Lokakarya OIE di Bali

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "ASOHI MENERIMA KUNJUNGAN USAID. Penghargaan Bulan Mutu Kementan untuk BBPMSOH MUSDA ASOHI SUMBAR HASILKAN PENGURUS BARU. Lokakarya OIE di Bali"

Transkripsi

1 Edisi: DESEMBER ASOSIASI OBAT HEWAN INDONESIA BERITA PERKEMBANGAN DUNIA OBAT HEWAN Informasi dari dan untuk anggota Asosiasi Obat Hewan Indonesia Terbit Bulanan ASOHI MENERIMA KUNJUNGAN USAID JAKARTA, 27 November ASOHI menerima kunjungan tamu dari Livestock Specialist Ir. Pius P. Ketaren, MAgr Sc., PhD dan Oliver P. Ryan dari United States Agency for Interna onal Development (USAID). USAID ini adalah lembaga yang nan nya akan membantu meningkatkan efisiensi perunggasan Indonesia. Tujuan mereka berkunjung ke ASOHI dalam rangka meminta masukan sebelum melangkah ke Kementerian Perdagangan... 2 Penghargaan Bulan Mutu Kementan untuk BBPMSOH JAKARTA, Nopember Balai Besar Pengujian Mutu dan Ser fikasi Obat Hewan (BBPMSOH) menerima penghargaan pada acara Bulan Mutu Kementerian Pertanian. Acara yang bertemakan Penerapan Standar Mutu Komoditas Pertanian Nasional Meningkatkan Nilai Tambah dan Daya Saing dilaksanakan pada tanggal 28 November 2012 di Gedung A Kementerian Pertanian Jakarta. Pada acara tersebut... 2 MUSDA ASOHI SUMBAR HASILKAN PENGURUS BARU PAYAKUMBUH, 13 Nopember Musyawarah Daerah (Musda) ke III Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) Daerah Sumatera Barat digelar di Payakumbuh-Sumatera Barat dengan menghasilkan Pengurus Baru untuk periode Berdasarkan ketentuan AD/ART, Kepengurusan ASOHI Daerah Sumatera Barat periode telah berakhir per tanggal 29 Juli Untuk itu... 3 Lokakarya OIE di Bali KUTA BALI, 26 November Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) bekerjasama dengan WHO dan FAO menyelenggarakan lokakarya bertajuk The Third Regional Workshop on Multi-Sectoral Collaboration on Zoonoses Preven on and Control: Leading the Way on One Health bertempat di The Patra Bali, Resort & Villas Bali-Indonesia. Acara diikuti 112 partisipan dari 19 negara yaitu Brunei Darussalam, Bangladesh, Bhutan, Cambodia, China, India, Indonesia, Lao PDR, Malaysia, Myanmar, Mongolia, Nepal, Pakistan, Philiphina, Singapore, Sri Lanka, Thailand,... 5

2 ASOHI MENERIMA KUNJUNGAN USAID JAKARTA, 27 November ASOHI menerima kunjungan tamu dari Livestock Specialist Ir. Pius P. Ketaren, MAgr Sc., PhD dan Oliver P. Ryan dari United States Agency for International Development (USAID). USAID ini adalah lembaga yang nan nya akan membantu meningkatkan efisiensi perunggasan Indonesia. Tujuan mereka berkunjung ke ASOHI dalam rangka meminta masukan sebelum melangkah ke Kementerian Perdagangan. Acara diawali dengan pemutaran DVD profil ASOHI dan perkenalan. Oliver sungguh terkesan dengan berbagai kegiatan yang diselenggarakan ASOHI dan peranannya dalam menjalin hubungan yang baik dengan pemerintah. Selain itu, kepada Ketua Umum ASOHI Drh. Rakhmat Nuriyanto, MBA yang didampingi oleh Sekjen ASOHI Drh. Irawati Fari dan Sekretaris Ekseku f, Ir. Bambang Suharno, Oliver juga menyatakan kekagumannya pada industri obat hewan di Indonesia yang sudah melakukan ekspor ke beberapa negara. Dari ASOHI sendiri menyampaikan masukan perihal kebijakan Kementerian Perdagangan yang mengatur labelisasi berbahasa Indonesia. Labelisasi tersebut menghambat proses pengiriman obat hewan dari impor r. **** PENGHARGAAN BULAN MUTU KEMENTAN UNTUK BBPMSOH JAKARTA, Nopember Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) menerima penghargaan pada acara Bulan Mutu Kementerian Pertanian. Acara yang bertemakan Penerapan Standar Mutu Komoditas Pertanian Nasional Meningkatkan Nilai Tambah dan Daya Saing dilaksanakan pada tanggal 28 November 2012 di Gedung A Kementerian Pertanian Jakarta. Pada acara tersebut BBPMSOH menerima penghargaan sebagai Kelompok Laboratorium yang Menerapkan Standar Mutu yang diterima langsung oleh Drh. Enuh Rahardjo Djusa, Ph.D. Sebelumnya BBPMSOH juga menerima penghargaan dalam Apresiasi Reformasi Birokrasi sebagai UPT Bidang Kesehatan Hewan Berprestasi dalam Pelayanan Publik Mendukung Reformasi Birokrasi. Penghargaan tersebut diberikan oleh Kepala Ditjennak, Ir. Syukur Iwantoro, MS, MM pada tanggal 20 November 2012 di Gedung Menara 165 Jakarta. Dan pada tanggal 29 November 2012 bertepatan dengan hari KORPRI, BBPMSOH juga mendapatkan penghargaan ABDI BAKTI TANI sebagai Unit Kerja Pelayanan Berprestasi Utama Atas Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan Kepada Masyarakat Dengan Baik. Plakat ini ditanda tangani oleh Menteri Pertanian Suswono. Semoga dengan diterimanya penghargaan tersebut BBPMSOH dapat lebih memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat.**** Sumber: h p://www.bbpmsoh.info/id. INFO ASOHI diterbitkan oleh Sekretariat Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI). Merupakan Buletin internal untuk anggota, pengurus dan lembaga-lembaga yang terkait dengan obat hewan. Pengurus dari daerah dan anggota dapat mengirimkan berita kegiatan ke: Sekretariat ASOHI Grand Pasar Minggu Lt. 2, Jalan Raya Ra wa Bam bu 88 A,Pa sar Minggu, Jakarta 12520; Telp: , , ; Fax: ; org; website: Edisi: DESEMBER

3 MUSDA ASOHI SUMATERA BARAT HASILKAN PENGURUS BARU anggota ASOHI di Daerah Sumatera Barat. Ketua Umum ASOHI Pusat Drh. Rakhmat Nuriyanto, MBA dalam sambutannya, menyatakan agar visi ASOHI Menjadi Organisasi yang tangguh, dicintai anggota, disegani lingkungan, bermanfaat bagi bangsa dan negara bisa bergaung juga di Sumatera Barat. Ketua Umum ASOHI kemudian melan k pengurus baru hasil Musda.**** PAYAKUMBUH, 13 Nopember Musyawarah Daerah (Musda) ke III Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) Daerah Sumatera Barat digelar di Payakumbuh- Sumatera Barat dengan menghasilkan Pengurus Baru untuk periode Berdasarkan ketentuan AD/ART, Kepengurusan ASOHI Daerah Sumatera Barat periode telah berakhir per tanggal 29 Juli Untuk itu Ketua ASOHI demisioner Armi Agus dan Drs. Ismed Syaf Tanjung (sekratris) segera menghelat pemilihan pengurus baru yang diselenggarakan di Kantor Cabang PT. Medion Jl. Tan Malaka Limpasi, Payakumbuh. Musda yang mengusung tema Menjadikan ASOHI Sebagai Garda Terdepan dalam Membantu Para Peternak untuk Mengatasi Berbagai Masalah, dihadiri oleh stake holder perusahaan-perusahaan obat hewan SUSUNAN PENGURUS ASOSIASI OBAT HEWAN INDONESIA ASOHI SUMATRA BARAT PERIODE Ketua Umum : Drh. H. Dodi Mulyadi Sekretaris : Hanggono, S.Pt Bendahara Ka.Bid. Organisasi : H. Yasril Islami : Drs. H. Ismet Syaf Tanjung Drh. Samsul Ka.Bid. Antar Lembaga : Melva Syaukani, SE Armi Agus Ka.Bid. Peredaran dan Pengawasan Obat Hewan : Drh. H. Amirul Mukminin Misnarno, S.Pt Ka.Bid. Pendanaan : Suryadi; Tosa Riski Dion, S.Pt; Ir. Refnol Sadar Sekretariat: Jl. Tan Malaka 243 Kel. Napar Kec. Payakumbuh Utara Payakumbuh. yahoo.co.id Telp ; Fax : ASOHI Beri Masukan OIE Tentang ND JAKARTA, 27 November Bertempat di Sekretariat Grand Pasar Minggu, Ketua Umum ASOHI Drh. Rakhmat Nuriyanto,MBA menyambut kedatangan tamu seorang pakar dari OIE (Office Internationale des Epizoo es) Kang Seuk Choi DVM, Ph.D bersama Crystal, Kye. Keduanya juga tergabung dalam Animal, Plant, and Fisheries Quarantine and Inspection Agency, Korea Selatan. Pada kesempatan ini, hadir Direktur PT. Blue Sky Biotech Lucas Y.S. Chung, Sekretaris Dewan Penasehat ASOHI Drh. Tjiptardjo SE, kemudian dua anggota Dewan Pakar ASOHI Drh. Abadi Soe sna dan Drh. Lies Parede MSc, PhD. Pertemuan yang digelar sekitar dua jam ini membahas seputar penyakit ND geno pe-7 di berbagai negara dan penanggulangannya. Dalam hal ini, ASOHI aktif mengeluarkan pendapat dan berkesempatan membantu penanggulangan ND di Indonesia. Diketahui, penyakit ND pertama kali merebak di Jawa, Indonesia tahun 1926 yang sebelumnya telah ditemukan di Newcastle, Inggris. Sebagian peneli telah melaporkan bahwa ND mungkin sudah ditemukan sebelumnya di Eropa, bahkan diduga penyakit ini sudah melanda Korea pada tahun Sejak pertama kali ditemukan hingga kini, penyakit unggas yang di Indonesia juga dikenal dengan nama Tetelo ini masih menjadi kasus yang aktual, khususnya di wilayah Asia-Pasifik. Di wilayah ini sering kali ditemukan dan diisolasi strai-strain yang sangat patogen. Sementara paling sering diperbincangkan adalah isolat ND patogen yang diklasifikasikan sebagai ND Geno pe7.**** 3 Edisi: DESEMBER 2012

4 Sosialisasi Reformasi Birokrasi Ditjen PKH JAKARTA, 20 November Pemerintah tengah melaksanakan program Reformasi Birokrasi, dalam upaya mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) berdasarkan Peraturan Presiden Nomor: 81 Tahun 2010 tentang Grand Design Reformasi Birokrasi dan Peraturan Men.PAN-RB No. 20 tahun 2011 tentang Road Map Reformasi Birokrasi. Oleh karena itu segenap aparatur negara harus melakukan pembenahan birokrasi secara internal dan melakukan inovasi di bidang pelayanan publik, sehingga mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi dan mendatangkan investasi yang membawa pengaruh posi f bagi kesejahteraan masyarakat pada umumnya dan kesejahteraan PNS pada khususnya. Hal tersebut disampaikan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Syukur Iwantoro pada Kegiatan Sosialisasi Reformasi Birokrasi yang mengangkat tema Dengan Semangat Reformasi Birokrasi, Kita Wujudkan Swasembada Daging Sapi dan Kerbau Tahun Kegiatan yang digelar di Menara 165 ini dihadiri pegawai lingkup Ditjen PKH baik dari pusat maupun daerah. Iwantoro menyampaikan, program reformasi birokrasi di Lingkup Ditjen PKH antara lain: 1. Regulasi peraturan perundang-undangan di bidang peternakan dan kesehatan hewan yaitu dengan diterbitkannya UUPKH No. 18 Tahun 2009 dan peraturan pelaksanaannya, 2. Penataan organisasi khususnya UPT berupa perampingan struktur organisasi maupun perubahan organisasi yang mengarah kepada pola pengelolaan keuangan badan layanan umum. 3. Penataan tata laksana yaitu dengan tersusunnya standar operasional prosedur (SOP) di lingkungan unit kerja masing-masing. 4. Penataan sistem manajemen aparatur antara lain penataaan sistem rekruitmen pegawai, pelaksanaan analisis jabatan dalam rangka menetapkan nomenklatur dan formasi jabatan, serta pelaksanaan evaluasi jabatan dalam rangka tersusunnya peringkat jabatan. 5. Usulan sistem remunerasi/pemberian tunjangan kinerja bagi PNS sesuai dengan kinerja masingmasing pegawai Pelaksanaan reformasi birokrasi diharapkan akhirnya dapat menghilangkan se ap penyalahgunaan kewenangan publik oleh pejabat, menjadikan negara memiliki birokrasi yang bersih, mampu, dan melayani; meningkatkan mutu pelayanan kepada masyarakat serta meningkatkan efisiensi (biaya dan waktu) dalam pelaksanaan tugas organisasi.**** (Sumber: Subbag Kerjasama dan Humas, Ditjennakkeswan) Romindo Gelar Seminar Teknis Soal Marek dan VVND BOGOR, 5 November Bertempat di IPB International Covention Center, PT Romindo Primavetcom menggelar seminar teknis membahas update penyakit Marek dan pengendalian penyakit Newcastle Disease pada unggas. Poultry Technical Conference ini terbagi dalam dua sesi yang diiku oleh lebih dari 150 undangan dari kalangan pembibit grand parent dan komersial farm. Acara dibuka oleh Direktur Marke ng Drh Lukas Agus Sudibyo, sementara Prof. DR. Drh. Charles Ranggatabbu, MSc., PhD ber ndak sebagai moderator. Pembicara pada sesi pertama adalah DR. Francisco Perozo, DVM, Universidad del Zulia Venezuela yang membahas perkembangan penyakit Marek dan program vaksinasinya. Selain itu pada sesi kedua ia juga kembali tampil membawa topik bahasan seputar update pengendalian penyakit VVND. Sesi berikutnya baru diisi oleh DR. Michael Lee, Technical Manager Merial Asia yang menjelaskan seputar solusi yang ditawarkan Merial untuk mengatasi penyakit-penyakit yang telah diulas oleh Prof. Perozo sebelumnya. Diantaranya adalah Avinew+H120 yang efektif untuk program vaksinasi VVND dan IB. Dua penyakit ini diketahui paling banyak terjadi outbreak di wilayah Asia. Enoquyl untuk mengobati CRD-Komplek dan Gallimune 407 vaksin inaktif untuk melindungi ayam dari serangan SHS (swollen head syndrome). Seminar diakhiri dengan sesi diskusi, secara keseluruhan seminar berjalan dengan dinamis ditandai ak f dan antusiasnya peserta pada sesi tanya jawab dengan para narasumber.**** (inf) Edisi: DESEMBER

5 KEN undang ASOHI Hadiri Seminar Prospek Ekonomi Indonesia 2013 JAKARTA, 10 Desember ASOHI diundang pani a untuk menghadiri Seminar Prospek Ekonomi Indonesia 2013 di Menara Bank Mega, Jakarta. Pada kesempatan itu Chairul Tanjung, Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN) memaparkan perkiraan pertumbuhan ekonomi nasional pada 2013 masih penuh tantangan dikarenakan terjadi perlambatan ekonomi global yang akan sangat berpengaruh terhadap ekonomi domes k. Oleh sebab itu, KEN melihat ekonomi Indonesia tahun 2013 akan hampir sama dengan pertumbuhan ekonomi di tahun 2012 yakni masih akan bertumpu pada kekuatan domes k. Mahalnya harga kebutuhan pokok misalnya seper daging Sapi hingga Rp /kg diduga adanya prak k kartel sejumlah pedagang besar. Dalam hal ini, KEN meminta pemerintah untuk berperan mengendalikan harga melalui perbaikan distribusi, logis k, modernisasi pasar tradisional, dan mengefek an peran Bulog. KEN juga meminta pemerintah agar mencegah terjadinya persekongkolan dalam penentuan harga barang KUTA BALI, 26 November Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) bekerjasama dengan WHO dan FAO menyelenggarakan lokakarya bertajuk The Third Regional Workshop on Multi-Sectoral Collaboration on Zoonoses Prevention and Control: Leading the Way on One Health bertempat di The Patra Bali, Resort & Villas Bali-Indonesia. Acara diikuti 112 partisipan dari 19 negara yaitu Brunei Darussalam, Bangladesh, Bhutan, Cambodia, China, India, Indonesia, Lao PDR, Malaysia, Myanmar, Mongolia, Nepal, Pakistan, Philiphina, Singapore, Sri Lanka, Thailand, Timor Leste dan Vietnam. Lembaga internasional yang berpar sipasi diantaranya OIE, WHO, FAO, ASEAN, SAARC, USAID dan WSPA. Acara dibuka Direktur Kesehatan Hewan, Drh. Pudjiatmoko, Ph.D mewakili tuan rumah. Lokakarya mengangkat tema Leading the way on one health, dengan pendekatan koordinasi mul disiplin antara sektor kesehatan hewan, kesehatan masyarakat dan kehutanan untuk penanggulangan penyakit zoonosis. Penyebaran penyakit zoonosis secara global dipengaruhi oleh berbagai faktor seper Lokakarya OIE di Bali kebutuhan pokok itu. Ismed Hasan Putro, Direktur Utama PT. Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), salah satu BUMN yang dipilih untuk membudidayakan Sapi impor guna kepen ngan swasembada daging nasional, menuturkan sulit untuk membuk kan adanya kartel harga daging Sapi. Kata dia, sudah saatnya harus ada evaluasi komprehensif terhadap tata kelola dalam perdagangan daging Sapi. Lanjut Ismed, koordinasi yang lebih baik antar instansi mutlak wajib dilakukan. Sinergi antara Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan, harus lebih di ngkatkan dan diperbaiki agar ke depan dak terjadi lagi keributan dan saling menyalahkan antar instansi. Saat ini merupakan momentum penting untuk membangun dan mendorong kemandirian pasok daging Sapi secara nasional. Peran pemda dan masyarakat peternak Sapi waktunya dimaksimalkan, ujar Ismed yang menghimbau impor r dan pedagang Sapi lebih peduli pada kepentingan bangsa, dalam rangka terwujudnya kemandirian pasok daging Sapi di masa mendatang.**** pertumbuhan penduduk, intesifikasi sistem pertanian, interaksi antara manusia dan hewan, baik hewan pelihara maupun hewan liar, perubahan iklim global, dan perdagangan dunia. Penyebaran penyakit zoonosis secara signifikan dapat mengancam kesehatan masyarakat, memunculkan keresahan serta mempengaruhi stabilitas perekonomian secara umum. Beberapa penyakit zoonosis yang menjadi perha an adalah Rabies, Flu Burung, Hog cholera dan Salmonelosis, serta penyakit zoonosis yang bersifat ekso s seper Nipah. Perwakilan setiap negara anggota memaparkan situasi penanganan penyakit zoonosis di masing-masing negara dengan penerapan konsep One Health yang terintegrasi, kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi untuk mengiden fikasi masalah yang terjadi sehingga didapatkan rekomendasi untuk peningkatan kolaborasi dan koordinasi diantara sektor yang terlibat untuk penanganan dan pengendalian penyakit zoonosis di tingkat internasional, regional dan nasional.diselasela acara dihelat pula telaah poster dari ap negara. ****(Sumber: Subbag Kerjasama dan Humas Ditjen PKH) 5 Edisi: DESEMBER 2012

6 PENYAKIT IBR PADA TERNAK SAPI PENGENDALIAN DAN PERMASALAHANNYA BOGOR, 2 Nopember IBR (Infec ous Bovine Rhinotrachei s), disebabkan oleh Bovine Herpes Virus-1 (BoHV-1), merupakan penyakit pada sapi domes k maupun sapi liar. Setelah masa inkubasi 2 4 hari pada sapi akan terjadi keluarnya cairan hidung yang bening, salivasi, demam, nafsu makan menurun, dan depresi. Dalam beberapa hari cairan hidung akan berubah menjadi mukopurulen. Bila terjadi kawin alam, infeksi saluran kelamin akan mengawali terjadinya pustular vulvovaginitis atau balanoposthitis. Banyak infeksi terjadi secara subklinis. Kasus infeksi tunggal pada penyakit respirasi dan penyakit kelamin yang disebabkan oleh BoHV-1 berakhir hingga 5 10 hari. Virus masuk ke hewan ternak melalui hidung dan menggandakan diri menjadi banyak dan dengan titer yang tinggi pada membran mukosa alat respirasi dan tonsil.lalu menyebar ke konjung fa serta melalui ujung syaraf menuju simpul syaraf yang lebih besar. Apabila terjadi infeksi alat kelamin, BoHV-1 akan berkembang dan menggandakan diri pada mukosa vagina atau prepu um dan menjadi laten pada ganglia syaraf bagian sacral. Dalam hal pengendalian, pen ng dilakukan adalah adanya masa karan na dari hewan baru di peternakan yang dilakukan selama 2 3 minggu (OIE, 2008). Hanya sapi-sapi yang seronegatif yang diperbolehkan masuk ke peternakan. Bahkan apabila diperlukan dilakukan program pemusnahan. Program vaksinasi dilakukan sesuai jadwal yang disarankan oleh pabrik pembuat vaksin dan dokter hewan setempat. Tetapi harus dipahami bahwa vaksin tidak dapat mencegah infeksi, tetapi dapat mengurangi kejadian klinis IBR dan mengurangi shedding virus IBR (MARS et al., 2001; BOSCH et al., 1998). Secara serologis infeksi telah terjadi dak hanya pada ternak eks impor, tetapi juga ternak indigenous sapi di Indonesia. Tidak hanya pada sapi potong, tetapi juga pada sapi perah. pemerintah perlu memahami ar seroposi f dari sapi-sapi yang berada di Balai Inseminasi Buatan (BIB) dan Balai Embryo Transfer(BET). Bagaimana penanggulangannya dan bagaimana seharusnya BIB dan BET menjaga agar sapi-sapinya tidak terinfeksi oleh penyakit IBR.**** Disarikan dari (h p://bbalitvet. litbang.deptan.go.id/ind/index.php/component/ content/ar cle/37-berita-utama/374-ibr) Badak Jawa Dikhawatirkan Tertular Penyakit Ternak Warga PANDEGLANG, 17 Nopember Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) M Haryono menyatakan khawa r badak Jawa tertular penyakit hewan dari ternak warga yang nggal di sekitar kawasan tersebut. Di sekitar TNUK banyak permukiman warga, dan dak sedikit yang memelihara ternak, seper sapi, kerbau, domba dan kambing, katanya di Pandeglang, Sabtu (17-11). Untuk itu, dia mengaku khawa r ada ternak warga yang terjangkit penyakit, dan kemudian menular ke badak jawa yang hidup di kawasan taman nasional tersebut. Di sekitar TNUK terdapat 15 desa dengan jumlah penduduk 52 ribu jiwa, dan warga telah sepakat untuk menjaga kelestarian kawasan hutan yang menjadi paru-paru dunia itu. Masyarakat yang nggal di sekitar kawasan taman nasional tersebut, sebagian besar bekerja sebagai petani. Jika potensi yang ada dikelola secara maksimal bisa meningkatkan kesejahteraan warga setempat. Ia juga menjelaskan, kalau dari perburuan badak jawak rela f aman karena kawasan TNUK yang menjadi habitatnya dikelilingi laut, sehingga sulit bagi pemburu masuk ke taman nasional itu. Kita terus melakukan pengawasan dengan menurunkan m untuk berpatroli, katanya. Menurut dia, selama ini belum pernah ditemukan kema an badak jawa akibat ulang tangan jahil manusia, kalau ada yang ma karena faktor alami.**** (Lampost.co) Edisi: DESEMBER

7 Pemerintah akan Penuhi Pakan Ternak dalam Negeri GORONTALO, 24 November Kementerian Pertanian berjanji akan memenuhi kebutuhan pakan dalam negeri, yakni sebesar tujuh juta ton per tahun. Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian RI, Undoro Kasih Anggoro, Jumat (23/11), mengatakan, saat ini pihaknya sedang berunding dengan daerahdaerah penghasil jagung, untuk menentukan peningkatan produksi jagung yang harus dicapai. Dari segi anggaran sudah dibicarakan, nggal memilih dimana saja lokasi yang akan kita tanami jagung untuk keperluan pakan ini, ujarnya, saat mengiku Konferensi Jagung Internasional di Gorontalo. Menurutnya, impor jagung yang dilakukan oleh Indonesia, sebagian besar adalah untuk bahan baku pakan ternak karena produksi dalam negeri dak selalu ada. Padahal, seharusnya kebutuhan itu bisa dipenuhi sendiri dengan meningkatkan produksi dan produk vitas jagung, melalui pemakaian benih hibrida unggul. Ia juga mengingatkan pemerintah daerah untuk tidak selalu bergantung pada kucuran dana APBN dan APBD, karena uang pemerintah tidak cukup untuk membiayai pengembangan jagung dari hulu hingga hilir. Pemda harus menggaet swasta dan bekerja sama dengan petani. Dengan cara ini, pertumbuhan ekonomi melalui pengembangan jagung mudah diwujudkan, ungkapnya. Meski demikian, Kementan tetap memberi target produksi yang harus dicapai masing-masing daerah penghasil jagung se ap tahun. Bagi daerah yang dak berhasil mencapai target itu, Kementan menyatakan akan mengalihkan anggarannya ke daerah lain yang lebih siap.**** Media Indonesia.com (Ant/Ol-3) Seminar Feed Additive CV Caturnawa JAKARTA, 28 November Bertempat di Hotel Menara Peninsula Hotel Jakarta, CV Caturnawa salah satu perusahaaan obat hewan di Indonesia menggelar seminar feed additive sekaligus memperkenalkan produk esensial. Seminar mengusung tema Essential, New Organic Feed Addi ve an An microbial, Calori Saver and An oxidant. Seminar menghadirkan pembicara Prof Dr Ir Budi Tangendjaja MSc (Balitnak, Ciawi-Bogor), Dr. David Buessing, Mr Shah Bhar, dan dipandu moderator Drh Abadi Soe sna pakar Farmakologi IPB yang juga Dewan Pakar ASOHI. Direktur Caturnawa dalam sambutannya yang diwakili Drh Budi Wilogo selaku General Manager CV Caturnawa menyampaikan terima kasih kepada seluruh tamu undangan yang berkesempatan datang. Mengawali seminar setengah hari tersebut, Prof Budi Tangendjaja memaparkan trend feed addi ve pada pakan ternak di Indonesia. Menurutnya, pakan ternak memberi kontribusi 50% sampai 80% dari total biaya produksi. Para peternak dan pelaku industri pakan berusaha untuk melakukan berbagai upaya guna mengefisienkan biaya pakan dengan dak mengabaikan kualitas produk ternak yang dihasilkan. Salah satu langkah yang ditempuh adalah dengan pemberian feed additive untuk meningkatkan nilai guna pakan. Feed addi ve dapat berupa an bio k, probiotik, prebiotik, enzim, serta suplemen pakan seper mineral, asam amino, dan vitamin. Meskipun jumlah feed addi ve yang dicampur dalam komposisi ransum sangat kecil (biasanya <5 kg/ton), namun sangat mempengaruhi ruangan dalam formulasi ransum.**** 7 Edisi: DESEMBER 2012

8 Finalisasi Roadmap Menuju Indonesia Bebas AI 2020 BOGOR, 28 November Bertempat di Hotel Sahira, Bogor, ASOHI yang diwakili Drh. Purwaningsih Setiandari hadir dalam finalisasi draft penyusunan Roadmap Indonesia Bebas AI Tahun 2020 yang ditetapkan pemerintah. Dalam hal ini Kementerian Pertanian op mis akan target Indonesia bebas kasus AI pada tahun 2020 akan tercapai. Hal tersebut seiring dengan menurunnya ngkat kasus AI pada umumnya. Penurunan kasus yang terjadi pada unggas dak lepas dari langkah pengendalian dengan memanfaatkan vaksin strain lokal yang tepat serta diproduksi di dalam negeri. Selain itu dibarengi dengan meningkatnya kesadaran penerapan biosekuri yang efek f. Pada tahun 2007, sebanyak kasus. Di 2008, 1413 kasus, tahun 2009 naik menjadi 2293 kasus. Kemudian sepanjang 2010, 1502 kasus serta 2011 tercatat 1390 kasus. Sementara 2012 sampai dengan 31 Oktober 2012 hanya 455 kasus. Pemerintah menetapkan Roadmap Indonesia Bebas AI 2020 secara bertahap dilakukan berdasarkan aspek geografis dan epidemologinya. Tujuan disusunnya roadmap ini untuk memudahkan aparatur pusat, daerah, dan seluruh instansi terkait dalam menjabarkan serta melaklsanakan strategi pengendalian dan penanggulan AI di Indonesia. Masalah dan tantangan yang dihadapi dari segi komitmen pemerintah adalah program pengendalian penyakit pada unggas selama ini (sebelum terjadi wabah AI) hanya menjadi kewenangan swasta dan pemerintah hampir dak terlibat. Setelah tersebarnya wabah AI, maka pemerintah baik di pusat maupun daerah ikut terlibat dalam kebijakan pengendaliannya karena terkait penyakit zoonosis, akan tetapi belum op mal dan bukan bagian program yang diprioritaskan. Hambatan lain diantaranyam minimnya anggaran pemerintah, masih lemahnya pelayanan kesehatan hewan kepada para peternak unggas komersial. Selain itu, peternak juga masih banyak yang belum bersedia melapor ke dinas kabupaten atau kota jika peternakannya terserang AI. Kemudian peternak unggas sektor 3 umumnya belum menerapkan praktek kesehatan unggas minimal. Ke ka unggasnya sakit dan sebelum semuanya ma, peternak segera menjualnya ke pedagang, sehingga virus AI ikut menyebar ke rantai pemasaran unggas dan antar daerah atau pulau. Kegiatan public awareness masih belum optimal dilakukan melalui berbagai media massa. Pelaksanaannya cenderung reak f saat maupun setelah terjadinya peningkatan kasus flu burung pada manusia yang diberitakan media massa.**** MEMILIH JENIS TELUR YANG PALING BERNUTRISI JAKARTA, 1 November Di pasaran saat ini tersedia berbagai jenis telur ayam, mulai dari yang organik sampai yang diperkaya omega-3. Mana telur yang paling padat nutrisi dan sehat? Telur pada dasarnya memiliki elemen nutrisi yang sama, kecuali jika ayam diberi pakan de-ngan formula khusus sehingga mengubah komposisi telurnya. Perdalam pengetahuan Anda akan telur dengan membaca tuntas ps berikut. Telur organik berasal dari ayam yang diberi makanan organik berser fikat. Ayam di peternakan ini biasanya dibiarkan berkeliaran bebas, tidak hanya diam di kandang. Namun telur berlabel organik dak berar produknya lebih sehat dibanding telur biasa. Telur yang berasal dari ayam yang mengonsumsi berbagai jenis pakan, misalnya biji-bijian dan makanan lain yang dicarinya sendiri, memiliki telur yang berbeda dengan yam yang dikurung di kandang dan diberi pakan ternak. Ayam yang dibiarkan berkeliaran, seper ayam kampung, memiliki telur dengan kadar beta karoten, vitamin D,E, serta omega-3 lebih nggi. Seluruh nutrisi pen ng itu berada di kuning telurnya. Menurut peraturan di AS, ayam jenis itu hanya boleh dikonsumsi dagingnya. Memberi pakan ternak yang ditambah dengan nutrisi khusus akan mengubah komposisi nutrisi dalam telurnya. Ayam yang makan makanan mengandung tambahan asam lemak omega-3 akan memproduksi telur dengan kadar omega-3 tinggi yang bermanfaat besar untuk otak, mencegah penyakit jantung, meningkatkan sistem imun, serta perkembangan re na. Omega-3 umumnya banyak terdapat di kuning telur. Nutrisi tambahan dalam pakan ayam juga meningkatkan kadar vitamin E dalam telur. Jika Anda khawa r dengan kandungan kolesterol dalam telur, pilihlah telur yang berlabel rendah kolesterol. Telur ini berkolesterol 25% lebih rendah dibanding telur biasa. Kadar kolesterol dalam kuning telur berkisar antara 185 miligram.**** (Kompas.com) Edisi: DESEMBER

9 DITJEN PKH ANGKAT POTENSI PENGEMBANGAN TERNAK KELINCI BOGOR, 28 November Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) selenggarakan Temu Koordinasi Kehumasan. Kegiatan yang diselenggarakan di Hotel Amaris Bogor ini mengangkat topik Strategi dan Kebijakan Pengembangan Kelinci Sebagai Salah Satu Sumber Penyediaan Daging. Strategi dan Kebijakan yang diusung disamping Program Swasembada Daging Sapi Tahun 2014 (PSDS-2014) merupakan salah satu dari program utama Kementerian Pertanian dalam mewujudkan ketahanan pangan hewani asal ternak melalui penyediaan Sapi lokal. Harapannya melalui program ini, impor sapi bakalan dan daging sapi menurun menjadi 10%. Pengembangan ternak Kelinci dianggap sebagai salah satu alternatif dalam penyediaan kebutuhan portein hewani selain daging Sapi. Dalam menunjang kebutuhan protein hewani yang meningkat seiring KEMENTAN BELUM TAHU RENCANA IMPOR DAGING JAKARTA, Selasa, 27 November Kementerian Pertanian (Kementan) mengaku belum mengetahui adanya rencana impor daging Sapi yang diajukan oleh Kementerian Perdagangan. Sejauh ini saya belum mendengar ada tambahan, tutur Syukur dalam temu pers di Kantor Kementerian Pertanian, Selasa (27/11) sore. Sebelumnya, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengatakan pemerintah berniat kembali untuk melakukan impor daging. Langkah ini diambil untuk stabilisasi harga daging di pasaran. Lebih lanjut, Syukur menjelaskan, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian tentu akan mengundang menterimenteri terkait untuk membicarakan hal ini jika diperlukan. Kementan, hanya akan mengajukan stok dan potensi sapi bakalan serta daging sapi di dalam negeri sebagai bahan per mbangan. Semua itu di bawah kewenangan Menko. Di situ diputuskan, ujar Syukur. Berdasarkan data dari Dirjen PKH Kementan, per Selasa (27/11), stok sapi di tangan feedloter tercatat ekor. Jumlah itu terdiri dari sapi bakalan impor dan sapi bakalan lokal. Sebanyak 17 ribu pendapatan dan daya beli masyarakat yang meningkat, sehingga permintaan konsumsi naik pula terlebih tren harga daging sapi yang selalu naik. Oleh karena itu, diperlukan sosialisasi yang intensif kepada berbagai stakeholder dalam peningkatan produksi dan diversifikasi produk menjadi sangat dibutuhkan sebagai salah satu sumber penyediaan daging adalah Kelinci. Keunggulan budidaya kelinci yakni memiliki protein hewani yang nggi, berkembang biak cepat, kenaikan berat badan yang cepat, rela f mudah dalam pengelolaan, pasar tersedia dengan harga relarif tinggi. Pengembangan sentra ternak kelinci tahun 2012 dilakukan melalui bantuan sosial yang tersebar di 5 propinsi (Bengkulu, Kepri, Jabar, Jateng, dan Ja m) di 5 kabupaten/kota pada 6 kelompok dengan konsep kampung kelinci. ****(sumber: Subbag Kerjasama dan Humas,Ditjen PKH) ekor sapi yang siap dilepaskan feedloter dalam waktu dekat, 60 persen diprioritaskan untuk DKI. Untuk kebutuhan industri, Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Ditjen PKH Kementan Achmad Junaidi menyebut masih ada ton daging sapi impor sisa kuartal II yang tersedia untuk industri. Jadi, sesungguhnya pasokan cukup, mpal Direktur Budidaya Ternak Ruminansia, Fauzi Luthan. Syukur membenarkan apabila stok sapi bakalan dan daging sapi cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Lalu, mengapa harga daging di pasaran melonjak? Syukur menilai ini tak lepas dari faktor psikologis akibat ngginya harga sapi bakalan impor asal Australia. Harga bobot hidup sapi per kg di Australia per Oktober mencapai 3,02 dolar AS atau sekitar Rp. 29 ribu. Setelah dipelihara selama ga bulan, harga bobot hidup di pasaran naik menjadi Rp 32 ribu hingga Rp 35 ribu per kg. Harga yang nggi dari Australia akan menjadi barometer bagi daerah-daerah di Tanah Air. Ini kesimpulan sementara. Jika andalkan impor, inilah dampaknya, kata Syukur.**** REPUBLIKA.CO.ID 9 Edisi: DESEMBER 2012

10 Medion Terima Leadership Award BANDUNG Medion menerima penghargaan Leadership Award dari Dale Carnegie. Dale Carnegie adalah sebuah perusahaan terkemuka pelatih kepemimpinan. Penghargaan tersebut diberikan dalam rangka 100 tahun Dale Carnegie di Hotel Panghegar Bandung. Perusahaan yang berawal dari pemikiran seorang pemuda bernama Dale Carnegie tentang pengembangan diri itu, kini telah berkembang menjadi pela han untuk tempat kerja dan organisasi secara global, dengan lebih dari 85 cabang di seluruh dunia. Ibu Mar na Sudibja beserta Bapak Adam Sadhani selaku perwakilan dari Dale Carnegie Indonesia, menyerahkan penghargaan bergengsi tersebut kepada Peter Yan, Marketing Vice President PT Medion. Menurut pihak Dale Carnegie, Medion berhak menerima penghargaan itu karena telah memenuhi kriteria yaitu konsisten terhadap pengembangan kepemimpinan di perusahaannya. Tidak hanya itu, m manajemennya pun aktif terlibat dalam proses dan pelaksanaan training kepemimpinan yang dilaksanakan di perusahaannya. Selain kriteria tersebut, Medion juga lolos dalam proses seleksi oleh m khusus yang terdiri dari m manajemen Dale Carnegie dan m trainer. Penghargaan serupa juga diberikan kepada delapan perusahaan lainnya seper Bank Mandiri, OCBC NISP, Telkomsel, Rumah Sakit Borromeus, Yogya Group, surat kabar Pikiran Rakyat, CNOOC, dan Total EP Indonesie. Memang, perusahaan vaksin, obat, dan peralatan peternakan asal Bandung ini sangat memperha kan kualitas sumber daya manusia di perusahaannya. Peter mengaku merasa bangga menerima penghargaan bergengsi ini dan akan semakin memacu pengembangan kepemimpinan di Medion. Semoga Medion terus dapat berkarya untuk industri peternakan Indonesia.**** MENGENANG HERMAN WIRIADIPOERA KABAR DUKA tiba-tiba datang. Minggu siang tanggal 18 Nopember seorang sahabat menyampaikan bahwa Herman Wiriadipoera, President Director PT. Napindo Media Ashatama berpulang, akibat serangan jantung. Innalillahi wainnailaihi rojiun. Sesungguhnya kita semua adalah milik Allah dan akan berpulang kepada-nya. Langit Jakarta seketika terasa mendung. Para pelaku bisnis, peternak, pengurus asosiasi, birokrat, ilmuwan dan pemangku kepen ngan peternakan dan kesehatan hewan lainnya saling mengabarkan dan mendoakan kepergiannya yang sangat dak terduga, melalui pesan singkat (sms), telepon, , facebook, Blackberry Messenger (BBM) dan sarana komunikasi lainnya. Dikabarkan, hari Minggu pagi itu Herman hadir dalam acara outbond karyawannya di kawasan Sentul, Bogor Jawa barat. Meski dalam kondisi kurang fit karena baru saja menyelesaikan hajat pameran internasional Indodefence 2012, Herman mencoba ikut bergabung dalam keceriaan acara karyawannya tersebut. Di tengah-tengah salah satu rangkaian outbond, tubuh Herman ba ba lunglai, dan segeralah dibawa ke Rumah Sakit terdekat di Bogor. Rupanya itulah saat terakhir Herman berada dalam kebersamaan dengan para karyawan dan keluarganya. Di dunia peternakan, Herman memang bukanlah pakar, bukan pula pengusaha an juga bukan birokrat peternakan. Namun ia telah menjadi orang penting di kalangan bisnis peternakan dan kesehatan hewan. Ini dak lain berkat perannya merubah wajah pameran peternakan yang semula dikenal sekadar sebagai pameran pembangunan, menjadi pameran berkelas internasional. Di dunia pameran, Herman ternyata sukses di banyak even. Majalah bisnis SWA menyebutnya sebagai rajanya pameran business to business (B2B) di Indonesia. Melalui pameran-pameran tersebut Herman telah membawa ribuan pengusaha dari berbagai Negara ke Tanah Air, baik sebagai peserta pameran maupun pengunjung. Dengan pengalamannya itu Herman bisa diajak diskusi mengenai industri peternakan, kelautan, air minum, hingga industri pertahanan keamanan dan pesawat tempur canggih. Jadi saya sudah ikut berperan di industri telur hingga pesawat tempur, tutur CEO Napindo kelahiran Bandung 60 thn silam itu. Selamat jalan Herman Wiriadipoera. Semoga Allah SWT memberikan tempat terbaik bagimu di sisinya. Aamiin Ya Robbal alamin.**** Edisi: DESEMBER

11 Daftar Obat Hewan Baru Terdaftar JUNI 2012 (SK No. 667 & 668) Info ASOHI edisi kali ini memuat beberapa produk obat hewan baru yang termuat di SK Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan No. 677/Kpts/HK.340/F/06/2012 tanggal 08 Juni 2012 dan SK No. 678/Kpts/HK.340/F/06/2012 tanggal 08 Juni Disajikan sebagai berikut: No. NAMA GOLONGAN NO REG PEMILIK NO PRODUSEN PRODUK PENDAFTARAN SK No. 678/Kpts/HK.340/F/06/2012 tanggal 08 Juni (Bag.2) 11. Medoxy - L An bakteri Kementan RI No. PT. Medion PT. Medion D PKC.2 Farma Jaya Farma Jaya 12. Microvit D3 Bahan Baku Obat Kementan RI No. PT. Romindo Adisseo France Promix 500 Hewan I BOH.1 Primavetcom SAS, Perancis 13. Cyromazin-10 An lalat pada kandang Kementan RI No. PT. Lito Prima Mandiri Samu Median Co dan kotoran ternak I PTS.1 Ltd, Korea 14. Amoxy - 50 An bakteri Kementan RI No. PT. Zagro Indonesia Zagro Singapore Pte. Ltd, I PKS.1 Singapira 15. Mold Nil Dry Antjamuar Kementan RI No. PT. Inve Indonesia Nutri Ad Interna onal I PTS.1 NV, Belgia SK No. 678/Kpts/HK.340/F/06/2012 tanggal 08 Juni Diacoxin 5 % An koksidia Kementan RI No. PT. SHS Interna onal Diasham Resources Pte., I PTC Ltd, Singapura 02. Profish Ω Feed Supplement Kementan RI No. PT. Trouw Nutri on Hendrix NV, Belgia Poultry I FTS Indonesia 03. Toxo - XL Toksin Binder Kementan RI No. PT. Trouw Nutri on Selko BV, Belanda I FTS Indonesia 04. Fysal Fit 4 Acidifier pada Kementan RI No. PT Trouw Nutri on Selko BV, Belanda pakan hewan I FTS Indonesia 05. Swine Mineral Feed Suplement Kementan RI No. PT. Trouw Nutri on PT. Trouw Nutri on Premix D FTS Indonesia Indonesia 06. Expo P Inj An bakteri Kementan RI No. PT. Lito Prima Mandiri Samu Median Co. I PKS Ltd, Korea 07. Demp Feed Addi ve Kementan RI No. PT. Alltech Biotechno- Alltech Inc, USA & Alltech I FTS logy Indonesia do Brasil Agroindustrial, Ltda. Brasil. 08. Vaksimune ND Pengebalan Inak f Kementan RI No. PT Vaksindo PT Vaksindo L Inak f terhadap penyakit ND D VTC Satwa Nusantara Satwa Nusantara 09. Ultramin An defisiensi Vitamin Kementan RI No. PT. Maju Farma Arab Veterinary Industrial dan asam amino I PTS Indonesia Company (AVICO), Jordania Sumber: SubDit Pengawasan Obat Hewan, Ditkeswan, Ditjennak Edisi: DESEMBER 2012

12 I n d o n e s i a n V e t e r i n ar y D ru g s A s s o c i a t i o n ( A S O H I ) M e m b e r o f I F A H ( I n t e r n a t i o n a l F e d e r a t i o n F o r An i m a l H e a l t h ) Dipersembahkan dari dan untuk anggota Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) Surat Pernyataan Dirjen Peternakan No 164 Kh XIV - b, tanggal 26 Oktober 1982 tentang ASOHI satu-satunya organisasi di bidang usaha obat hewan

LAPORAN KINERJA 2014 BAB I. PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

LAPORAN KINERJA 2014 BAB I. PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG BAB I. PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 9 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Provinsi

Lebih terperinci

LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA 2013

LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA 2013 BAB I. PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 9 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Provinsi

Lebih terperinci

DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN

DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN Jakarta, 26 Januari 2017 Penyediaan pasokan air melalui irigasi dan waduk, pembangunan embung atau kantong air. Target 2017, sebesar 30 ribu embung Fokus

Lebih terperinci

RENCANA KINERJA TAHUNAN

RENCANA KINERJA TAHUNAN RENCANA KINERJA TAHUNAN BALAI BESAR PENGUJIAN MUTU DAN SERTIFIKASI OBAT HEWAN TAHUN ANGGARAN 2016 KEMENTERIAN PERTANIAN DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN BALAI BESAR PENGUJIAN MUTU DAN

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. sektor pertanian yang memiliki nilai strategis antara lain dalam memenuhi

I. PENDAHULUAN. sektor pertanian yang memiliki nilai strategis antara lain dalam memenuhi I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan subsektor peternakan merupakan bagian dari pembangunan sektor pertanian yang memiliki nilai strategis antara lain dalam memenuhi kebutuhan pangan yang terus

Lebih terperinci

OPERASIONAL PROGRAM TEROBOSAN MENUJU KECUKUPAN DAGING SAPI TAHUN 2005

OPERASIONAL PROGRAM TEROBOSAN MENUJU KECUKUPAN DAGING SAPI TAHUN 2005 OPERASIONAL PROGRAM TEROBOSAN MENUJU KECUKUPAN DAGING SAPI TAHUN 2005 Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan PENDAHULUAN Produksi daging sapi dan kerbau tahun 2001 berjumlah 382,3 ribu ton atau porsinya

Lebih terperinci

- 1 - BUPATI BANYUWANGI PERATURAN BUPATI BANYUWANGI NOMOR 44 TAHUN 2011 TENTANG

- 1 - BUPATI BANYUWANGI PERATURAN BUPATI BANYUWANGI NOMOR 44 TAHUN 2011 TENTANG - 1 - BUPATI BANYUWANGI PERATURAN BUPATI BANYUWANGI NOMOR 44 TAHUN 2011 TENTANG RINCIAN TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA DINAS PETERNAKAN KABUPATEN BANYUWANGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANYUWANGI,

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. 2.1 Uraian Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. 2.1 Uraian Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 2.1 Uraian Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur Pembangunan Peternakan Provinsi Jawa Timur selama ini pada dasarnya memegang peranan penting dan strategis dalam membangun

Lebih terperinci

LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA 2013

LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA 2013 BAB I. PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 9 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Provinsi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Komoditas ayam broiler merupakan primadona dalam sektor peternakan di

I. PENDAHULUAN. Komoditas ayam broiler merupakan primadona dalam sektor peternakan di I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Komoditas ayam broiler merupakan primadona dalam sektor peternakan di Indonesia jika dibandingkan dengan komoditas peternakan lainnya, karena sejak pertama kali diperkenalkan

Lebih terperinci

Repository ITS Bertahan Ranking Pertama

Repository ITS Bertahan Ranking Pertama Edisi 08/Februari 2013 Badan Koordinasi Pengendalian dan Komunikasi Program Repository ITS Bertahan Ranking Pertama Prestasi cukup membanggakan kembali diukirkan oleh Ins tut Teknologi Sepuluh Nopember

Lebih terperinci

MASALAH DAN KEBIJAKAN PENINGKATAN PRODUK PETERNAKAN UNTUK PEMENUHAN GIZI MASYARAKAT*)

MASALAH DAN KEBIJAKAN PENINGKATAN PRODUK PETERNAKAN UNTUK PEMENUHAN GIZI MASYARAKAT*) MASALAH DAN KEBIJAKAN PENINGKATAN PRODUK PETERNAKAN UNTUK PEMENUHAN GIZI MASYARAKAT*) I. LATAR BELAKANG 1. Dalam waktu dekat akan terjadi perubahan struktur perdagangan komoditas pertanian (termasuk peternakan)

Lebih terperinci

Kebijakan Pemerintah terkait Logistik Peternakan

Kebijakan Pemerintah terkait Logistik Peternakan Kebijakan Pemerintah terkait Logistik Peternakan Workshop FLPI Kamis, 24 Maret 2016 DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN 1 Perkiraan Supply-Demand Daging Sapi Tahun 2015-2016 Uraian Tahun

Lebih terperinci

MENYIKAPI MASALAH FLU BURUNG DI INDONESIA

MENYIKAPI MASALAH FLU BURUNG DI INDONESIA Konferensi Pers Tempat : Café Bebek Bali Senayan, 26 September 2005 MENYIKAPI MASALAH FLU BURUNG DI INDONESIA I. ASPEK KEDOKTERAN HEWAN Menyikapi masalah flu burung (avian influenza) yang akhir-akhir ini

Lebih terperinci

Prospek dan Arah Pengembangan AGRIBISNIS SAPI. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian 2005

Prospek dan Arah Pengembangan AGRIBISNIS SAPI. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian 2005 Prospek dan Arah Pengembangan AGRIBISNIS SAPI Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian 2005 MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN MENTERI PERTANIAN Atas perkenan dan ridho

Lebih terperinci

AGRIBISNIS KAMBING - DOMBA

AGRIBISNIS KAMBING - DOMBA PROSPEK DAN ARAH PENGEMBANGAN AGRIBISNIS KAMBING - DOMBA Edisi Kedua Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian 2007 MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN MENTERI PERTANIAN

Lebih terperinci

DISTRIBUSI TERNAK MELALUI PEMANFAATAN KAPAL KHUSUS TERNAK KM. CAMARA NUSANTARA 1

DISTRIBUSI TERNAK MELALUI PEMANFAATAN KAPAL KHUSUS TERNAK KM. CAMARA NUSANTARA 1 DISTRIBUSI TERNAK MELALUI PEMANFAATAN KAPAL KHUSUS TERNAK KM. CAMARA NUSANTARA 1 DISAMPAIKAN OLEH : DIREKTUR PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL PETERNAKAN DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG PEMBERDAYAAN PETERNAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG PEMBERDAYAAN PETERNAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG PEMBERDAYAAN PETERNAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal

Lebih terperinci

LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA 2013

LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA 2013 BAB III. AKUNTABILITAS KINERJA Akuntabilitas Kinerja dalam format Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur tidak terlepas dari rangkaian mekanisme

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pemangku kepentingan (stakeholders) sebagaimana telah didiskusikan dalam

BAB I PENDAHULUAN. pemangku kepentingan (stakeholders) sebagaimana telah didiskusikan dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Visi rencana pembangunan jangka panjang nasional 2005-2025 adalah Indonesia yang maju, adil, dan makmur. Visi tersebut direalisasikan pada empat misi pembangunan.

Lebih terperinci

FOKUS PROGRAM DAN KEGIATAN PEMBANGUNAN PETERNAKAN DAN KESWAN TAHUN 2016

FOKUS PROGRAM DAN KEGIATAN PEMBANGUNAN PETERNAKAN DAN KESWAN TAHUN 2016 DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN FOKUS PROGRAM DAN KEGIATAN PEMBANGUNAN PETERNAKAN DAN KESWAN TAHUN 2016 Disampaikan pada: MUSRENBANGTANNAS 2015 Jakarta, 04 Juni 2015 1 TARGET PROGRAM

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 83/Permentan/OT.140/12/2012 TENTANG PEDOMAN FORMASI JABATAN FUNGSIONAL MEDIK VETERINER DAN PARAMEDIK VETERINER

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 83/Permentan/OT.140/12/2012 TENTANG PEDOMAN FORMASI JABATAN FUNGSIONAL MEDIK VETERINER DAN PARAMEDIK VETERINER PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 83/Permentan/OT.140/12/2012 TENTANG PEDOMAN FORMASI JABATAN FUNGSIONAL MEDIK VETERINER DAN PARAMEDIK VETERINER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN, Menimbang

Lebih terperinci

(Rp.) , ,04

(Rp.) , ,04 LAPORAN PELAKSANAAN KEGIATAN APBD PROVINSI SUMATERA BARAT BELANJA LANGSUNG URUSAN : PILIHAN ( PERTANIAN ) KEADAAN S/D AKHIR BULAN : DESEMBER 2015 DINAS PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN PROVINSI SUMATERA

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa

Lebih terperinci

KAJIAN PENGARUH KEBIJAKAN IMPOR SAPI TERHADAP PERKEMBANGAN USAHA TERNAK SAPI DI NTB

KAJIAN PENGARUH KEBIJAKAN IMPOR SAPI TERHADAP PERKEMBANGAN USAHA TERNAK SAPI DI NTB KAJIAN PENGARUH KEBIJAKAN IMPOR SAPI TERHADAP PERKEMBANGAN USAHA TERNAK SAPI DI NTB INSENTIF PENINGKATAN KEMAMPUAN PENELITI DAN PEREKAYASA PENELITI UTAMA: I PUTU CAKRA PUTRA A. SP., MMA. BALAI PENGKAJIAN

Lebih terperinci

Prospek dan Arah Pengembangan AGRIBISNIS PADI. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian 2005

Prospek dan Arah Pengembangan AGRIBISNIS PADI. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian 2005 Prospek dan Arah Pengembangan AGRIBISNIS PADI Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian 2005 MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN MENTERI PERTANIAN Atas perkenan dan ridho

Lebih terperinci

Tinjauan Pasar Daging dan Telur Ayam. Informasi Utama :

Tinjauan Pasar Daging dan Telur Ayam. Informasi Utama : Nov 10 Des-10 Jan-11 Feb-11 Mar-11 Apr-11 Mei-11 Jun-11 Jul-11 Agust-11 Sep-11 Okt-11 Nop-11 Edisi : 11/AYAM/TKSPP/2011 Tinjauan Pasar Daging dan Telur Ayam Informasi Utama : Harga daging ayam di pasar

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.214, 2012 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LINGKUNGAN HIDUP. Peternakan. Kesehatan. Veteriner. Hewan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5356) PERATURAN PEMERINTAH

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 2013 TENTANG BUDI DAYA HEWAN PELIHARAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 2013 TENTANG BUDI DAYA HEWAN PELIHARAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN NOMOR 48 TAHUN 2013 TENTANG BUDI DAYA HEWAN PELIHARAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 33 Undang- Undang Nomor 18 Tahun

Lebih terperinci

III. PANGAN ASAL TERNAK DAN PERANANNYA DALAM PEMBANGUNAN SUMBERDAYA MANUSIA

III. PANGAN ASAL TERNAK DAN PERANANNYA DALAM PEMBANGUNAN SUMBERDAYA MANUSIA III. PANGAN ASAL TERNAK DAN PERANANNYA DALAM PEMBANGUNAN SUMBERDAYA MANUSIA A. Pengertian Pangan Asal Ternak Bila ditinjau dari sumber asalnya, maka bahan pangan hayati terdiri dari bahan pangan nabati

Lebih terperinci

BAB III. AKUNTABILITAS KINERJA

BAB III. AKUNTABILITAS KINERJA BAB III. AKUNTABILITAS KINERJA 3.1. CAPAIAN KINERJA SKPD Pada sub bab ini disajikan capaian kinerja Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timnur untuk setiap pernyataan kinerja sasaran strategis SKPD sesuai dengan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA TENTANG PEMBERDAYAAN PETERNAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA TENTANG PEMBERDAYAAN PETERNAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG PEMBERDAYAAN PETERNAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal

Lebih terperinci

PANDUAN. Mendukung. Penyusun : Sasongko WR. Penyunting : Tanda Panjaitan Achmad Muzani

PANDUAN. Mendukung. Penyusun : Sasongko WR. Penyunting : Tanda Panjaitan Achmad Muzani 1 PANDUAN Mendukung Penyusun : Sasongko WR Penyunting : Tanda Panjaitan Achmad Muzani KEMENTERIAN PERTANIAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN BALAI BESAR PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI

Lebih terperinci

MUNGKINKAH SWASEMBADA DAGING TERWUJUD?

MUNGKINKAH SWASEMBADA DAGING TERWUJUD? Risalah Kebijakan Pertanian dan Lingkungan Vol. 1 No. 2, Agustus 2014: 105-109 ISSN : 2355-6226 MUNGKINKAH SWASEMBADA DAGING TERWUJUD? 1* 1 1 Juniar Atmakusuma, Harmini, Ratna Winandi 1 Departemen Agribisnis,

Lebih terperinci

OLEH DR. Drh. RAIHANAH, M.Si. KEPALA DINAS KESEHATAN HEWAN DAN PETERNAKAN ACEH DISAMPAIKAN PADA :

OLEH DR. Drh. RAIHANAH, M.Si. KEPALA DINAS KESEHATAN HEWAN DAN PETERNAKAN ACEH DISAMPAIKAN PADA : OLEH DR. Drh. RAIHANAH, M.Si. KEPALA DINAS KESEHATAN HEWAN DAN PETERNAKAN ACEH DISAMPAIKAN PADA : WORKSHOP PENGENDALIAN DAN PENANGGULANGAN BAHAYA RABIES DINAS PETERNAKAN KAB/KOTA SE PROVINSI ACEH - DI

Lebih terperinci

PEDOMAN FORMASI JABATAN FUNGSIONAL MEDIK VETERINER DAN PARAMEDIK VETERINER BAB I PENDAHULUAN

PEDOMAN FORMASI JABATAN FUNGSIONAL MEDIK VETERINER DAN PARAMEDIK VETERINER BAB I PENDAHULUAN 5 LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA Nomor 83/Permentan/OT.140/12/2012 TENTANG PEDOMAN FORMASI JABATAN FUNGSIONAL MEDIK VETERINER DAN PARAMEDIK VETERINER PEDOMAN FORMASI JABATAN FUNGSIONAL

Lebih terperinci

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI Isu-isu strategis berdasarkan tugas dan fungsi Dinas Peternakan adalah kondisi atau hal yang harus diperhatikan atau dikedepankan dalam perencanaan

Lebih terperinci

LAPORAN REFLEKSI AKHIR TAHUN 2014 DINAS PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN PROVINSI SUMATERA UTARA

LAPORAN REFLEKSI AKHIR TAHUN 2014 DINAS PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN PROVINSI SUMATERA UTARA LAPORAN REFLEKSI AKHIR TAHUN 2014 DINAS PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN PROVINSI SUMATERA UTARA Medan, Desember 2014 PENDAHULUAN Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Suamtera Utara sebagai salah

Lebih terperinci

Samarinda, 29 Februari 2012 DIREKTORAT PERBIBITAN TERNAK DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN KEMENTERIAN PERTANIAN

Samarinda, 29 Februari 2012 DIREKTORAT PERBIBITAN TERNAK DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN KEMENTERIAN PERTANIAN Samarinda, 29 Februari 2012 DIREKTORAT PERBIBITAN TERNAK DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN KEMENTERIAN PERTANIAN PENDAHULUAN Peraturan Menteri Keuangan Nomor 241/PMK.05/2011 tanggal 27

Lebih terperinci

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI Isu-isu strategis berdasarkan tugas dan fungsi Dinas Pean adalah kondisi atau hal yang harus diperhatikan atau dikedepankan dalam perencanaan pembangunan

Lebih terperinci

WASPADA, ADA PMK DI DEPAN MATA Perlunya Analisa Risiko

WASPADA, ADA PMK DI DEPAN MATA Perlunya Analisa Risiko WASPADA, ADA PMK DI DEPAN MATA Perlunya Analisa Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang bebas dari penyakit mulut dan kuku (PMK) yang diakui oleh Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE). Sebagai

Lebih terperinci

Pembenahan Pasokan Daging Sapi Melalui Sistem Logistik Nasional Senin, 10 Juni 2013

Pembenahan Pasokan Daging Sapi Melalui Sistem Logistik Nasional Senin, 10 Juni 2013 Pembenahan Pasokan Daging Sapi Melalui Sistem Logistik Nasional Senin, 10 Juni 2013 Indonesia memiliki potensi sapi potong yang cukup besar. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) hasil Sensus Pertanian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. peningkatan tersebut belum diimbangi dengan penambahan produksi yang memadai.

BAB I PENDAHULUAN. peningkatan tersebut belum diimbangi dengan penambahan produksi yang memadai. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Konsumsi daging sapi di Indonesia terus mengalami peningkatan. Namun peningkatan tersebut belum diimbangi dengan penambahan produksi yang memadai. Laju peningkatan

Lebih terperinci

SAMBUTAN GUBERNUR BANK INDONESIA SOSIALISASI PROGRAM PENGENDALIAN INFLASI BI Jakarta, 25 April 2016

SAMBUTAN GUBERNUR BANK INDONESIA SOSIALISASI PROGRAM PENGENDALIAN INFLASI BI Jakarta, 25 April 2016 SAMBUTAN GUBERNUR BANK INDONESIA SOSIALISASI PROGRAM PENGENDALIAN INFLASI BI Jakarta, 25 April 2016 Yang kami hormati, Gubernur Jawa Tengah, Bapak H. Ganjar Pranowo, Anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28 ayat (1). Pembangunan bidang kesehatan

BAB 1 PENDAHULUAN. Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28 ayat (1). Pembangunan bidang kesehatan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan kesehatan merupakan upaya untuk memenuhi salah satu hak dasar rakyat, yaitu hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan amanat Undang-Undang

Lebih terperinci

PEKAN SEREALIA NASIONAL I JULI 2010

PEKAN SEREALIA NASIONAL I JULI 2010 PEKAN SEREALIA NASIONAL I 26-30 JULI 2010 Kerjasama Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan Badan Litbang Kementerian Pertanian 2010 PENDAHULUAN Pemanasan global yang melanda dunia dalam dasa warsa terakhir

Lebih terperinci

Politik Pangan Indonesia - Ketahanan Pangan Berbasis Kedaulatan dan Kemandirian Jumat, 28 Desember 2012

Politik Pangan Indonesia - Ketahanan Pangan Berbasis Kedaulatan dan Kemandirian Jumat, 28 Desember 2012 Politik Pangan - Ketahanan Pangan Berbasis Kedaulatan dan Kemandirian Jumat, 28 Desember 2012 Politik Pangan merupakan komitmen pemerintah yang ditujukan untuk mewujudkan ketahanan Pangan nasional yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penyedia protein, energi, vitamin, dan mineral semakin meningkat seiring

BAB I PENDAHULUAN. penyedia protein, energi, vitamin, dan mineral semakin meningkat seiring BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peternakan merupakan sektor yang memiliki peluang sangat besar untuk dikembangkan sebagai usaha di masa depan. Kebutuhan masyarakat akan produk produk peternakan akan

Lebih terperinci

PEDOMAN PELAKSANAAN KREDIT USAHA PEMBIBITAN SAPI

PEDOMAN PELAKSANAAN KREDIT USAHA PEMBIBITAN SAPI PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 40/Permentan/PD.400/9/2009 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN KREDIT USAHA PEMBIBITAN SAPI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, MENTERI PERTANIAN, Menimbang : a. bahwa usaha

Lebih terperinci

I. JUDUL Prospek Budidaya Burung Puyuh

I. JUDUL Prospek Budidaya Burung Puyuh I. JUDUL Prospek Budidaya Burung Puyuh II. ABSTRAKS Persaingan dunia bisnis semakin merajalela, mulai dari sektor peternakan, material, bahkan hingga teknologi. Indonesia adalah salah satu negara yang

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 2013 TENTANG BUDI DAYA HEWAN PELIHARAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 2013 TENTANG BUDI DAYA HEWAN PELIHARAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 2013 TENTANG BUDI DAYA HEWAN PELIHARAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA 2013

LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA 2013 BAB III. AKUNTABILITAS KINERJA Akuntabilitas Kinerja dalam format Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur tidak terlepas dari rangkaian mekanisme

Lebih terperinci

LAMPIRAN KUESIONER GAMBARAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP PENCEGAHAN PENYAKIT AVIAN INFLUENZA

LAMPIRAN KUESIONER GAMBARAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP PENCEGAHAN PENYAKIT AVIAN INFLUENZA LAMPIRAN KUESIONER GAMBARAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP PENCEGAHAN PENYAKIT AVIAN INFLUENZA (AI) DI RW02 KELURAHAN PANUNGGANGAN WILAYAH KERJA PUSKESMAS PANUNGGANGAN KOTA TANGERANG

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Pembangunan Kesehatan merupakan bagian integral dari Pembangunan. Indonesia. Pembangunan Kesehatan bertujuan untuk meningkatkan

BAB 1 PENDAHULUAN. Pembangunan Kesehatan merupakan bagian integral dari Pembangunan. Indonesia. Pembangunan Kesehatan bertujuan untuk meningkatkan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan Kesehatan merupakan bagian integral dari Pembangunan Nasional Indonesia. Pembangunan Kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan

Lebih terperinci

BAB III. AKUNTABILITAS KINERJA. Berikut ini merupakan gambaran umum pencapaian kinerja Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur :

BAB III. AKUNTABILITAS KINERJA. Berikut ini merupakan gambaran umum pencapaian kinerja Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur : BAB III. AKUNTABILITAS KINERJA 3.1. CAPAIAN KINERJA ORGANISASI 3.1.1. Capaian Kinerja Berikut ini merupakan gambaran umum pencapaian kinerja Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur : Tujuan 1 Sasaran : Meningkatkan

Lebih terperinci

RILIS HASIL AWAL PSPK2011

RILIS HASIL AWAL PSPK2011 RILIS HASIL AWAL PSPK2011 Kementerian Pertanian Badan Pusat Statistik Berdasarkan hasil Pendataan Sapi Potong, Sapi Perah, dan Kerbau (PSPK) 2011 yang dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia mulai 1-30

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR: 52/Permentan/OT.140/9/2011 TENTANG

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR: 52/Permentan/OT.140/9/2011 TENTANG PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR: 52/Permentan/OT.140/9/2011 TENTANG REKOMENDASI PERSETUJUAN PEMASUKAN DAN PENGELUARAN TERNAK KE DALAM DAN KELUAR WILAYAH NEGARA REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Sub sektor memiliki peran penting dalam pembangunana nasional. Atas

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Sub sektor memiliki peran penting dalam pembangunana nasional. Atas I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sub sektor memiliki peran penting dalam pembangunana nasional. Atas kesadaran itu, Departemen Pertanian (2011) mengarahkan pengembangan subsektor peternakan sebagai bagian

Lebih terperinci

LAPORAN SOSIALISASI HASIL DAN PROSES DIPLOMASI PERDAGANGAN INTERNASIONAL MEDAN, SEPTEMBER 2013

LAPORAN SOSIALISASI HASIL DAN PROSES DIPLOMASI PERDAGANGAN INTERNASIONAL MEDAN, SEPTEMBER 2013 LAPORAN SOSIALISASI HASIL DAN PROSES DIPLOMASI PERDAGANGAN INTERNASIONAL MEDAN, SEPTEMBER 2013 I. PENDAHULUAN Kegiatan Sosialisasi Hasil dan Proses Diplomasi Perdagangan Internasional telah diselenggarakan

Lebih terperinci

GUBERNUR BENGKULU PERATURAN DAERAH PROVINSI BENGKULU NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG PENGENDALIAN TERNAK SAPI DAN KERBAU BETINA PRODUKTIF

GUBERNUR BENGKULU PERATURAN DAERAH PROVINSI BENGKULU NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG PENGENDALIAN TERNAK SAPI DAN KERBAU BETINA PRODUKTIF 1 GUBERNUR BENGKULU PERATURAN DAERAH PROVINSI BENGKULU NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG PENGENDALIAN TERNAK SAPI DAN KERBAU BETINA PRODUKTIF DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BENGKULU, Menimbang : a.

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1869, 2016 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMTAN. Ayam Ras. Penyediaan, Peredaran, dan Pengawasan. Pencabutan. PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61/PERMENTAN/PK.230/12/2016 TENTANG

Lebih terperinci

PEDOMAN PELAKSANAAN PENGEMBANGAN USAHA PERBIBITAN TERNAK TAHUN 2015 DIREKTORAT PERBIBITAN TERNAK

PEDOMAN PELAKSANAAN PENGEMBANGAN USAHA PERBIBITAN TERNAK TAHUN 2015 DIREKTORAT PERBIBITAN TERNAK KEMENTERIAN PERTANIAN DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN DIREKTORAT PERBIBITAN TERNAK TAHUN 2015 PEDOMAN PELAKSANAAN PENGEMBANGAN USAHA PERBIBITAN TERNAK TAHUN 2015 DIREKTORAT PERBIBITAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 82/Permentan/OT.140/12/2012 TENTANG PEDOMAN FORMASI JABATAN FUNGSIONAL PENGAWAS BIBIT TERNAK

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 82/Permentan/OT.140/12/2012 TENTANG PEDOMAN FORMASI JABATAN FUNGSIONAL PENGAWAS BIBIT TERNAK PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 82/Permentan/OT.140/12/2012 TENTANG PEDOMAN FORMASI JABATAN FUNGSIONAL PENGAWAS BIBIT TERNAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

PEDOMAN FORMASI JABATAN FUNGSIONAL PENGAWAS BIBIT TERNAK BAB I PENDAHULUAN

PEDOMAN FORMASI JABATAN FUNGSIONAL PENGAWAS BIBIT TERNAK BAB I PENDAHULUAN 5 2013, No.21 LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82/PERMENTAN/OT.140/12/2012 TENTANG PEDOMAN FORMASI JABATAN FUNGSIONALPENGAWAS BIBIT TERNAK PEDOMAN FORMASI JABATAN FUNGSIONAL

Lebih terperinci

2 seluruh pemangku kepentingan, secara sendiri-sendiri maupun bersama dan bersinergi dengan cara memberikan berbagai kemudahan agar Peternak dapat men

2 seluruh pemangku kepentingan, secara sendiri-sendiri maupun bersama dan bersinergi dengan cara memberikan berbagai kemudahan agar Peternak dapat men TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RI LINGKUNGAN HIDUP. Peternak. Pemberdayaan. Hewan. Pencabutan. (Penjelasan Atas Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 6) PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Virus avian influenza tipe H5N1 yang dikenal dengan Flu Burung adalah suatu virus yang umumnya menyerang bangsa unggas yang dapat menyebabkan kematian pada manusia.

Lebih terperinci

KONFERENSI NASIONAL MINYAK ATSIRI 2008 Industri Minyak Atsiri yang Berkelanjutan : Peluang dan Tantangan

KONFERENSI NASIONAL MINYAK ATSIRI 2008 Industri Minyak Atsiri yang Berkelanjutan : Peluang dan Tantangan [2-4 Desember 2008] Konferensi Nasional Minyak Atsiri 2008 KONFERENSI NASIONAL MINYAK ATSIRI 2008 Industri Minyak Atsiri yang Berkelanjutan : Peluang dan Tantangan Latar Belakang Produk minyak atsiri Indonesia

Lebih terperinci

I. PROGRAM DAN KEGIATAN TAHUN 2016

I. PROGRAM DAN KEGIATAN TAHUN 2016 I. PROGRAM DAN KEGIATAN TAHUN 2016 A. Program. Sebagai upaya untuk mewujudkan sasaran pembangunan peternakan ditempuh melalui 1 (satu) program utama yaitu Program Pengembangan Agribisnis. Program ini bertujuan

Lebih terperinci

SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA PADA PEMBUKAAN GELAR BATIK NUSANTARA 2015 JAKARTA CONVENTION CENTER JUNI 2015

SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA PADA PEMBUKAAN GELAR BATIK NUSANTARA 2015 JAKARTA CONVENTION CENTER JUNI 2015 SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA PADA PEMBUKAAN GELAR BATIK NUSANTARA 2015 JAKARTA CONVENTION CENTER 24 28 JUNI 2015 Yth. Presiden Republik Indonesia beserta istri; Yth. Para Menteri Kabinet

Lebih terperinci

AGRIBISNIS BAWANG MERAH

AGRIBISNIS BAWANG MERAH PROSPEK DAN ARAH PENGEMBANGAN AGRIBISNIS BAWANG MERAH Edisi Kedua Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian 2007 Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Bawang Merah MENTERI PERTANIAN

Lebih terperinci

Prospek dan Arah Pengembangan AGRIBISNIS CENGKEH. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian 2005

Prospek dan Arah Pengembangan AGRIBISNIS CENGKEH. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian 2005 Prospek dan Arah Pengembangan AGRIBISNIS CENGKEH Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian 2005 MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN MENTERI PERTANIAN Atas perkenan dan

Lebih terperinci

BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA, KELOMPOK SASARAN, DAN PENDANAAN INDIKATIF

BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA, KELOMPOK SASARAN, DAN PENDANAAN INDIKATIF BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA, KELOMPOK SASARAN, DAN PENDANAAN INDIKATIF Pada bab ini dikemukakan rencana program dan kegiatan, indikator kinerja, kelompok sasaran, dan pendanaan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 07/Permentan/OT.140/1/2008 TENTANG

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 07/Permentan/OT.140/1/2008 TENTANG PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 07/Permentan/OT.140/1/2008 TENTANG SYARAT DAN TATA CARA PEMASUKAN DAN PENGELUARAN BENIH, BIBIT TERNAK, DAN TERNAK POTONG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. sapi yang meningkat ini tidak diimbangi oleh peningkatan produksi daging sapi

I. PENDAHULUAN. sapi yang meningkat ini tidak diimbangi oleh peningkatan produksi daging sapi I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kebutuhan konsumsi daging sapi penduduk Indonesia cenderung terus meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk Indonesia dan kesadaran masyarakat akan

Lebih terperinci

PRAKIRAAN PRODUKSI DAN KEBUTUHAN PRODUK PANGAN TERNAK DI INDONESIA

PRAKIRAAN PRODUKSI DAN KEBUTUHAN PRODUK PANGAN TERNAK DI INDONESIA PRAKIRAAN PRODUKSI DAN KEBUTUHAN PRODUK PANGAN TERNAK DI INDONESIA Oleh : I Wayan Rusast Abstrak Pertumbuhan ekonomi telah menggeser pola konsumsi dengan penyediaan produk pangan ternak yang lebih besar.

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Aman, dan Halal. [20 Pebruari 2009]

I PENDAHULUAN. Aman, dan Halal.  [20 Pebruari 2009] I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia adalah negara agraris dengan kondisi daratan yang subur dan iklim yang menguntungkan. Pertanian menjadi sumber mata pencaharian sebagian penduduk dan berkontribusi

Lebih terperinci

Keamanan Pangan Asal Ternak: Situasi, Permasalahan dan Prioritas Penanganannya di Tingkat Hulu

Keamanan Pangan Asal Ternak: Situasi, Permasalahan dan Prioritas Penanganannya di Tingkat Hulu Keamanan Pangan Asal Ternak: Situasi, Permasalahan dan Prioritas Penanganannya di Tingkat Hulu Keamanan Pangan Asal Ternak: Situasi, Permasalahan dan Prioritas Penanganannya di Tingkat Hulu Penyusun:

Lebih terperinci

Yusmichad Yusdja, Nyak Ilham dan Edi Basuno PSE-KP BOGOR PENDAHULUAN. Latar Belakang dan Pemasalahan

Yusmichad Yusdja, Nyak Ilham dan Edi Basuno PSE-KP BOGOR PENDAHULUAN. Latar Belakang dan Pemasalahan Yusmichad Yusdja, Nyak Ilham dan Edi Basuno PSE-KP BOGOR PENDAHULUAN Latar Belakang dan Pemasalahan Produksi unggas: bergizi dan harganya terjangkau Industri perunggasan: lapangan kerja dan sumber pendapatan

Lebih terperinci

Edisi Agustus 2013 No.3520 Tahun XLIII. Badan Litbang Pertanian

Edisi Agustus 2013 No.3520 Tahun XLIII. Badan Litbang Pertanian Menuju Bibit Ternak Berstandar SNI Jalan pintas program swasembada daging sapi dan kerbau (PSDSK) pada tahun 2014 dapat dicapai dengan melakukan pembatasan impor daging sapi dan sapi bakalan yang setara

Lebih terperinci

POLA PERDAGANGAN MASUKAN DAN KELUARAN USAHA TERNAK AYAM RAS"

POLA PERDAGANGAN MASUKAN DAN KELUARAN USAHA TERNAK AYAM RAS POLA PERDAGANGAN MASUKAN DAN KELUARAN USAHA TERNAK AYAM RAS" Oleh : Imas Nur ' Aini21 Abstrak Usaha peternakan ayam ras yang telah berkembang dengan pesat ternyata tidak disertai dengan perkembangan pemasaran

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Indonesia, ayam kampung sudah bukan hal asing. Istilah "Ayam kampung" semula

PENDAHULUAN. Indonesia, ayam kampung sudah bukan hal asing. Istilah Ayam kampung semula I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ayam kampung merupakan salah satu jenis ternak unggas yang telah memasyarakat dan tersebar di seluruh pelosok nusantara. Bagi masyarakat Indonesia, ayam kampung sudah bukan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2009 TENTANG PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2009 TENTANG PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2009 TENTANG PETERNAKAN DAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa hewan sebagai karunia dan amanat Tuhan Yang

Lebih terperinci

KERANGKA ACUAN KEGIATAN (KAK) FOCUS GROUP DISCUSSION (FGD) PENYUSUNAN KLASTER SENTRA INDUSTRI SHUTTLECOCK DI JAWA TENGAH

KERANGKA ACUAN KEGIATAN (KAK) FOCUS GROUP DISCUSSION (FGD) PENYUSUNAN KLASTER SENTRA INDUSTRI SHUTTLECOCK DI JAWA TENGAH KERANGKA ACUAN KEGIATAN (KAK) FOCUS GROUP DISCUSSION (FGD) PENYUSUNAN KLASTER SENTRA INDUSTRI SHUTTLECOCK DI JAWA TENGAH KEGIATAN PENGEMBANGAN KLASTER DAN SENTRA INDUSTRI ANEKA TAHUN ANGGARAN 2016 DINAS

Lebih terperinci

Prospek dan Arah Pengembangan AGRIBISNIS BAWANG MERAH. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian 2005

Prospek dan Arah Pengembangan AGRIBISNIS BAWANG MERAH. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian 2005 Prospek dan Arah Pengembangan AGRIBISNIS BAWANG MERAH Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian 2005 MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN MENTERI PERTANIAN Atas perkenan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Permintaan dunia terhadap pangan hewani (daging, telur dan susu serta produk

I. PENDAHULUAN. Permintaan dunia terhadap pangan hewani (daging, telur dan susu serta produk I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permintaan dunia terhadap pangan hewani (daging, telur dan susu serta produk olahannya) sangat besar dan diproyeksikan akan meningkat sangat cepat selama periode tahun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Potensi usaha peternakan di Indonesia sangat besar. Kondisi geografis

BAB I PENDAHULUAN. Potensi usaha peternakan di Indonesia sangat besar. Kondisi geografis BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Potensi usaha peternakan di Indonesia sangat besar. Kondisi geografis menjadi salah satu faktor pendukung peternakan di Indonesia. Usaha peternakan yang berkembang

Lebih terperinci

Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437), sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaran

Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437), sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaran Menimbang PEMERINTAH KABUPATEN LUWU TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUWU TIMUR NOMOR 8 TAHUN 2012 TENTANG PENANGGULANGAN RABIES DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LUWU TIMUR, : a. bahwa rabies merupakan

Lebih terperinci

(1), Kepala Dinas mempunyai fungsi sebagai berikut: a. penyusunan rencana strategis dinas, berdasarkan rencana strategis pemerintah daerah; b. perumus

(1), Kepala Dinas mempunyai fungsi sebagai berikut: a. penyusunan rencana strategis dinas, berdasarkan rencana strategis pemerintah daerah; b. perumus BAB XII DINAS PERTANIAN DAN PETERNAKAN Bagian Kesatu Susunan Organisasi Pasal 224 Susunan Organisasi Dinas Pertanian dan Peternakan, terdiri dari: a. Kepala Dinas; b. Sekretaris, membawahkan: 1. Sub Bagian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. oleh virus dan bersifat zoonosis. Flu burung telah menjadi perhatian yang luas

BAB I PENDAHULUAN. oleh virus dan bersifat zoonosis. Flu burung telah menjadi perhatian yang luas BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Flu burung merupakan penyakit saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus dan bersifat zoonosis. Flu burung telah menjadi perhatian yang luas bagi masyarakat karena

Lebih terperinci

CAPAIAN KINERJA SKPD DALAM PENCAPAIAN 9 PRIORITAS PROGRAM PEMBANGUNAN RKPD 2014

CAPAIAN KINERJA SKPD DALAM PENCAPAIAN 9 PRIORITAS PROGRAM PEMBANGUNAN RKPD 2014 SKPD No Misi dan kebijakan : Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Malang Program yang direncanakan CAPAIAN KINERJA SKPD DALAM PENCAPAIAN 9 PRIORITAS PROGRAM PEMBANGUNAN RKPD 2014 Indikator Program

Lebih terperinci

PROSPEK DAN ARAH PENGEMBANGAN AGRIBISNIS JAGUNG. Edisi Kedua. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian AGRO INOVASI

PROSPEK DAN ARAH PENGEMBANGAN AGRIBISNIS JAGUNG. Edisi Kedua. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian AGRO INOVASI PROSPEK DAN ARAH PENGEMBANGAN AGRIBISNIS JAGUNG Edisi Kedua Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian 2007 AGRO INOVASI MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN MENTERI PERTANIAN

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN GARUT DINAS PETERNAKAN, PERIKANAN DAN KELAUTAN Jalan Patriot No. 14, (0262) Garut

PEMERINTAH KABUPATEN GARUT DINAS PETERNAKAN, PERIKANAN DAN KELAUTAN Jalan Patriot No. 14, (0262) Garut PEMERINTAH KABUPATEN GARUT DINAS PETERNAKAN, PERIKANAN DAN KELAUTAN Jalan Patriot No. 14, (0262) 231590 Garut PENETAPAN KINERJA (TAPKIN) PERUBAHAN TAHUN ANGGARAN 2014 1 PEMERINTAH KABUPATEN GARUT DINAS

Lebih terperinci

KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KETAHANAN PANGAN NASIONAL Dalam Mendukung KEMANDIRIAN PANGAN DAERAH

KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KETAHANAN PANGAN NASIONAL Dalam Mendukung KEMANDIRIAN PANGAN DAERAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KETAHANAN PANGAN NASIONAL Dalam Mendukung KEMANDIRIAN PANGAN DAERAH Sekretariat Dewan Ketahanan Pangan Disampaikan dalam Rapat Koordinasi Dewan Ketahanan Pangan Provinsi Sumatera

Lebih terperinci

BADAN PUSAT STATISTIK KOTA MOJOKERTO

BADAN PUSAT STATISTIK KOTA MOJOKERTO BADAN PUSAT STATISTIK KOTA MOJOKERTO Jumlah rumah tangga usaha pertanian di Kota Mojokerto Tahun 2013 sebanyak 1490 rumah tangga Jumlah perusahaan pertanian berbadan hukum di Kota Mojokerto Tahun 2013

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Virus family Orthomyxomiridae yang diklasifikasikan sebagai influenza A, B, dan C.

BAB 1 PENDAHULUAN. Virus family Orthomyxomiridae yang diklasifikasikan sebagai influenza A, B, dan C. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Influenza merupakan penyakit saluran pernafasan akut yang di sebabkan infeksi Virus family Orthomyxomiridae yang diklasifikasikan sebagai influenza A, B, dan C. Penyakit

Lebih terperinci

LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA 2013

LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA 2013 BAB II. PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA Rencana Strategis atau yang disebut dengan RENSTRA merupakan suatu proses perencanaan yang berorientasi pada hasil yang ingin dicapai selama kurun waktu tertentu

Lebih terperinci

2 menetapkan Peraturan Menteri Pertanian tentang Pedoman Uji Kompetensi Pejabat Fungsional Medik Veteriner; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 16 Tahu

2 menetapkan Peraturan Menteri Pertanian tentang Pedoman Uji Kompetensi Pejabat Fungsional Medik Veteriner; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 16 Tahu No.1928, 2014 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTAN. Uji Kompetensi. Fungsional. Medik Veteriner. Pedoman PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 132/Permentan/OT.140/12/2014 TENTANG PEDOMAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 132/Permentan/OT.140/12/2014 TENTANG PEDOMAN UJI KOMPETENSI PEJABAT FUNGSIONAL MEDIK VETERINER

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 132/Permentan/OT.140/12/2014 TENTANG PEDOMAN UJI KOMPETENSI PEJABAT FUNGSIONAL MEDIK VETERINER PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 132/Permentan/OT.140/12/2014 TENTANG PEDOMAN UJI KOMPETENSI PEJABAT FUNGSIONAL MEDIK VETERINER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Daftar Isi... 3 Kata Pengantar... 6

DAFTAR ISI. Daftar Isi... 3 Kata Pengantar... 6 DAFTAR ISI Daftar Isi... 3 Kata Pengantar... 6 I. Latar belakang... 8 II. Maksud... 9 III. Tujuan... 9 IV. Rangkaian Kegiatan dan Jadwal Kegiatan Peringatan Hari Habitat Dunia Tahun 2007 di Indonesia...

Lebih terperinci