-=-... "', im pl ementasi dari prinsip kesamaan di muka hukum menjadi

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "-=-... "', im pl ementasi dari prinsip kesamaan di muka hukum menjadi"

Transkripsi

1 PERANAN HUKUM DALAM MENDISEMINASIKAN NILAI-NILAI PERDAMAIAN Oleh: C. Maya Indah s. -=~ - _Ku m UKSW Salatiga & Ketua Bersama Satya Wacana Peace Center) - -- ~tan - _..., t er kait dengan usaha untuk mewujudkan nilai-nilai tertentu =-c:t a-citakan tercapainya tujuan moral, melayani kebutuhan ~:-""-=::..~ :~; kelangsungan kehidupan social, seperti antara lain menciptakan ~ - ::: t<edamaian, penyelesaian sengketa, termasuk juga meniadakan s~.:-.jt " penyimpangan-penyimpangan' dalam pandangan hukum. - J<onteks Kebhinekaan Tunggal Ika, menjadi m enarik apabila - dengan prinsip "equality before the law". Dalam konstelasi ~::::-:., -::: a pri nsip netralitas hukum menjadi benar sebagai the law as :2... gan conditio sine qua non dimana setiap orang memiliki akses ~.;=::==: ~ -~e raa n dan keadilan yang sam a pad a struktur masyarakat yang -=-... "', im pl ementasi dari prinsip kesamaan di muka hukum menjadi ~-= :~:.-,emberi keadilan yang sama, pada masyarakat sangat berlapis -:-o--- - _... sosial yang didalamnya menyimpan berbagai persoalan.,;;;.._~~-~- 'e"11pertanyakan, adakah keadilan bagi orang-orang yang -- -cs ~o lo n g a n, kelas, kesenjangan kekuasaan sosial politik, agama -=- s :<elamin dll yang berbeda? Prinsip equality before the law -.:- _: :2:-tanyakan, karena tidak adanya akses hukum yang sam a ~--~,. =-. ataannya, hukum juga bisa memiliki 'nilai latent". "The rule.:emiki an disampaikan Gerald Turkel. 1 Oleh karena itu, konsep.:= -== r"d ak berkaitan dengan substantial justice. Keadilan yang :::=;:::=:_ :=:- ""'ukum m odern adalah keadilan berdasarkan hukum positif/ :a:e~~- = i ~. Supremasi hukum diartikan sebagai supremasi undang ::>"sa j adi undang- undang t idaklah menyuarakan sungguh ~-=r==:-:=--c ~- sosial unt uk m enciptakan perdamaian dalam masyarakat. -:.s:=-.::- _ s=. :aa malah mem unculkan konflik. Ilmu Hukum terkungkung - _ ~ - fl itu se ndiri. Hukum dirasa tidak mampu lagi menjawab ~- :>enuh pluralit as. Hukum bahkan bisa dipakai sebagai alat ~,-~~ -5, =- ekuasaan dan kepentingan.!:e:;:-:::;-~; :: 2 '19 m elat a rbela ka ng i ada Ia h sebagai beri kut : :: -=~ = -ic"s, pemegang kekuasaan dalam hukum mengunakan - -= se.c ""', Kewenan gan menyelesaikan secara paksa pelbagai ;_:_- 'on ik. Kon flik m enjad i bertambah lagi ketika ada illegal _.;;;--.: =.:.:.,e... yang dilakukan oleh peneg ak hukum melaluijudicial ~a a slogan "Equal j ustice under law to all who can 'U::t=::=, ~=:-=.;2 ;- a-c: 3c::or,Torcr:o, :995, p :;.3-.,_ = --. -

2 20 LOKAKARYA "MEMBANGUN PERDAMAIAN DI DALAM MASYARAKAT BER-BHINNEKA TUNGGAL IKA" 28 & 29 Januari 2011 Di Ruang Probowinoto - Universitas Kristen Satya Wacana 2. Hukum yang digambarkan sebagai law as a tool of social control maupun social engineering seakan menegaskan hukum sebagai sebuah komunitas tertib, Ternyata, hukum sesungguhnya penuh dengan hubungan yang tidak seimbang. Pihak yang berkuasa, dan berpengaruh dapat mempengaruhi proses pembuatan dan penerapan hukum demi kepentingannya. Oleh karena itu hukum tidak bisa dikatakan sepenuhnya netral, objektif. Tetapi sebenarnya hukum tidak lepas dari pengaruh seperti politik, dan kekuasaan -kekuasaan lainnya. Jelaslah bahwa bekerjanya hukum bukan hanya secara rules and logic, tetapi juga meliputi social structure and behavior dari individu atau birokrasi yang terlibat. Critical Legal Studies menggaungkan bahwa power relationship dalam masyarakat ternyata mampu mempengaruhi hukum. Kepentingan masyarakat dominan yang membentuk hukum akan tercermin dalam hukum. 3. Hukum yang hanya dimaknai sebatas rules and logic semata akan melupakan hakekat bahwa hukum sebenarnya artifisial dan distict. Hukum tidak bisa mencakup keseluruhan tatanan sosial yang sosiologis, anthropologis. Hukum tanpa mengaca pada kebutuhan sosial akan menjadi hukum yang terasing dari masyarakatnya. Positivisme legisme mencirikan hukum yang dipercaya netral dan objektif dalam rule of law as it is in books/ formal/ structured rationality, dan tidak peduli pada substansi. Hukum mengalami distorsi dalam bentukan lege, sehingga hukum bisa mengalami alienasi dari kebutuhan masyarakat. Bahkan hukum dipisahkan dari moral. Dengan demikian, berbicara mengenai hukum dalam konteks masyarakat Indonesia yang berbhinneka Tunggal Ika, maka seharusnya hukum di Indonesia itu, memiliki warna yang mengakomodasi keharmonisan dalam Bhinneka Tunga I Ika, sehingga mencitrakan perdamaian. Berdasar perenungan di atas, maka akan ditelusuri bagaimanakah' pencarfan dan pembebasan hukum supaya mendiseminasikan kebenaran, keadilan. Hal ini juga sejalan dengan bagaimana mencitrakan pembelajaran ilmu hukum yang holistik yang memberikan karakter"peace building". Peranan Hukum Dalam Wajah Bhinneka Tunggal IKa Satjipto menyatakan bahwa hukum hanya menempati satu sudut kecil saja dalam jagad ketertiban. Hukum menghadapi kenyataan bahwa ia dihadapkan pada berbagai ordinat dalam masyarakat. Selanjutnya dikemukakan bahwa apabila ilmu hukum ingin menjadi sebenar ilmu, maka mengetahui tentang hukum negara saja tidak cukup. Hukum negara tidak memegang monopoli kekuasaan untuk mengatur. 2 Ini artinya, dalam membangun perdamaian, hukum bukanlah dimaknai dalam suatu teks perundang-undangan saja. Tetapi, hukum akan selalu berada dalam suatu konteks dan kontekstualisasi yang bersimbiosis dengan kekuatankekuatan yang mempengaruhi hukum, yang melibatkan manusia dalam konstelasi sosial, politik, budaya, dsb. 2 Satjipto, Hukum dalam Jag at ketertiban UKI Press, Jakarta, 2006, hal

3 LOKAKARYA "MEMBANGUN PERDAMAIAN DI DALAM MASYARAKAT BER BHINNEKA TUNGGAL I KA" 28 & 29 Januari 2011 Di Ruang Probowinoto - Universitas Kristen Satya Wacana 21 - _ ~... m t anpa mengaca pad a kebutuhan sosial yang hakiki, akan menjadi ::: -g t erasing dari masyarakatnya. Santos menggambarkan bahwa pad a s::r ~::.. =:ang ini, kita memasuki suatu era ketidakseimbangan antara prinsip ~ c emansipasi yang disebut sebagai "paradigmatic transition". s:::=:c : =e... isme ingin mendudukan dinamika ketidakseimbangan untuk lebih ~~.,.r..- =.-atk an pada keuntungan emansipasi. 3 Berangkat dari pemikiran : :_ atas, penulis berpendapat bahwa jelaslah bahwa kajian dalam hukum. c ~ i d a k hanya didasarkan pad a aspek formalisme bel aka. Diperlukan - ~ -.ssault On Legal Exclusivism". Hukum tidaklah bebas nilai. ~::' :s1ologi Masyarakat Indonesia yang pluralistik, menyimpan banyak : --4ik. Reaksi terhadap kegagalan Hukum formal dalam mencari =2 -~~- pemulihan dari konflik menyiratkan adanya suatu ketakberdayaan.. - =;ara yang seharusnya tidak memberikan ruang konflik. Konflik _;.~ t:' : :.- s, sosi al, budaya, bahkan pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia c~::-:--:_ - - rasanya sudah tidak bisa dijawab lagi pemecahannya oleh hukum ----::.: ~ --. su mengenai kebebasan beragama, hak-hak minoritas, kebebasan.-.::;::::::-"..,.,_-=-,: :_ar'l berkumpul, demokrasi, dsb haruslah mampu dijawab oleh hukum. _-, yang baik selalu mengakar pada "a peculiar form of social life". - _,-~= ~ hu ku m merupakan suatu unikum yang berbasis pada kosmologi, - -- a bangsa yang bersangkutan. Senada dengan konteks hukum dalam _ =: - amanaha menyatakan adanya "Mirror Thesis" yakni bahwa Law is a _.,...-: c ety, which functions to maintain social order... Law maintains social =.::ablishing..: - s:;utes. -'-~- 4 and enforcing the rules of social intercourse, and by - - ::csila yang di dalamnya tercantum pula kata Bhinneka Tunggal Ika :c -wkum bangsa Indonesia. 5 Cita hukum itu akan mempengaruhi dan sc.jagai asas hukum yang mempedomani, norma kritik (kaidah can faktor yang memotivasi dalam penyelenggaraan hukum ~E:~-=-- a1, penemuan dan penerapan hukum). Dengan demikian, --~= :ata hukum itu merupakan sebuah eksemplar remifikasi cita hukum _e oag ai asas dan kaidah yang tertata (tersusun) dalam sebuah -==~rasi pemikiran di atas, memberikan suatu konsekuensi pekerjaan s.,ya dalam upaya membangun hukum termasuk juga mencetak :-=: g a hukum dengan suatu upaya membangun kultur berhukum. = - _ um ini bisa mewarnai arsitektur hukum yang berwajah Indonesia, ~:::.==- ')e Sousa Santos, Toward a New Common Sense: Lawf Science and Politics in the ~::.:.:~- : --an sitionf Routledge, New York, 1995, h.l. - ~,:,-::, a, A General Jurisprudence of Law and Society, Oxford University Press, _ =_-=e- 1Ukakan bahwa masyarakat manusia terbagai ke dalam masyarakat bangsa, - -::=::::::-;- _-.a Volkgeist (jiwa bangsa). Volkgeist adalah filsafat hidup suatu bangsa atau pola ::::::=::.:: ::z_ kepribadian yang tumbuh akibat pengalaman dan tradisi di masa lampau :-:a Struktur I/mu Hukum Indonesia, Refleksi Hukum, Jurnal Imu Hukum S, edisi Oktober 2008 hai.134.sistem hukum terdiri dari legal substance, legal :;r::;.," e.;..: =~ ture. Lawrence M.Friedman, The Legal System, A Social Science c~ ::- -5sel Sa ge Foundation, New York, 1975.

4 22 LOKAKARYA " MEMBANGUN PERDAMAIAN DI DALAM MASYARAKAT BER-BHINNEKA TUNGGAL I KA" 28 & 29 Januari 2011 Di Ruang Probowinoto - Universitas Kristen Satya Wacana yang diinjeksikan dalam suatu diseminasi nilai-nilai pendidikan hukum kita. Membangun hukum yang berbhineka Tunggal Ika bisa dilakukan dengan menanamkan nilai toleransi, penghormatan akan hak asasi, demokrasi, maupun nilai humanistik lainnya Cara berhukum yang memiliki kosmologi Indonesia yang berbhineka Tunggal Ika memiliki suatu karakter pula yang bisa dikategorikan sebagai "non conflict based", guna menjawab pluralisme bangsa. Hal ini untuk memberikan semua komponen hukum suatu tujuan yakni memberi keadilan pada masyarakat. Perlu dikonstruksikan hukum yang ada dalam suatu tujuan hukum sebagaimana dikemukakan Gustav Radbruch, yaitu: 7 1. Keadilan (Gerechtigkeit) yang didukung oleh keberlakuan filosofis (Philosophische Geltung). 2. Kemanfaatan (Zigwek-massigkeit) yang didukung oleh keberlakuan sosiologis (Sozio/ogische Geltung). 3. Kepastian hukum (Rechssic herheit), yang didukung oleh keberlakuan yuridis Uuristische Geltung). Sorotan kepada bekerjanya hukum di Indonesia, manakala terjadi diskrepansi antara ketiga tujuan hukum tersebut di atas. Fenomena masyarakat yang kompleks dan majemuk bisa tereduksi teknis semata dalam perundangundangan. Oleh karena itu betapa pentingnya suatu pembangunan hukum yang mampu menjawab dan menyelesaikan permasalahan hukum dalam masyarakat, yang sekaligus bisa mewakili tujuan hukum untuk keadilan, kemanfaatan dan kepastian.. Pendidikan Hukum Dalam pembelajaran hukum, maka perlu direfleksi bahwa tatanan hukum sebagai sistem formalitas menghadapi dua masalah besar yang mendominasi hukum modern. Pertama adalah perjuangan untuk keluar dari dilema kesewenang-wenangan dan formalisme membabi buta, keadilan yang zalim, yang kedua adalah upaya untuk menciptakan perdamaian antara legalitas dan moralitas dengan menolak ekstrem-ekstrem individualisme dan kolektivisme serta menyediakan ruang yang lebih lapang di dalam hukum bagi nilai-nilai solidaritas. 8 Sejalan dengan pentingnya diseminasi nilai perdamaian dalam pendidikan hukum, maka tak lepas dari konsep pendidikan ilmu hukum yang holistik yang berarti bersifat interdisipliner. Paradigma akal budi merupakan suatu paradigma 7 Dalam Sidharta, Moralitas Profesi Hukum, Suatu Tawaran Kerangka Berpikir, Refika Ad itama, Bandung, hal Roberto Mangabeira Unger, Law and Modern Society, terj. Teori Hukum Kritis: Pos isi Hukum Dalam Masyarakat Modern, Nusa media, Bandung, 2007, Hal. 275.

5 LOKAKARYA " MEMBANGUN PERDAMAIAN DI DALAM MASYARAKAT BER-BHINNEKA TUNGGAL I KA" 28 & 29 Januari 2011 Di Ruang Probowinoto - Universitas Kristen Satya Wacana 23 yang menjiwai paradigma 'Ekologi Dalam'. 9 Dengan demikian _. a ~ - p engertian dalam dunia akal budi yang menjadi simbol dari =--:_. vitas suatu ilmu, akan menggugat pemikiran hukum yang berupaya an hukum dari moral. Se:Jagaimana Notohamidjojo kemukakan bahwa hukum memiliki ~-a ""' moral yang sangat kuat. Hukum tidak dapat dipisahkan dari moral. se aras dengan tujuan hukum yang dikemukakan Notohamidjojo ~_..., a yaitu bahwa tujuan hukum adalah menyelenggarakan keadilan dan --.::amai dalam masyarakat (arena itu, hukum bukanlah tidak bernurani, melainkan suatu a-g bermoral, yaitu moral kemanusiaan dan keadilan. Hukum yang -csa.(eadilan adalah hukum yang tidak dalam bukan melayani dirinya - ainkan bisa saja melampaui logika hukum untuk mencapai makna ang esensiil. oo=a.-r gm a 'Ekologi Dalam' merupakan perubahan pa radigma yang :Jandangan dunia mekanistik yang berasal dari Descartes dan j2cigma ini mengandaikan suatu kosmos yang memiliki jaringan satu ain dalam kehidupan dan saling bergantung baik pada individu dan ) ang pada akhirnya memunculkan kesadaran ekologis yang -,:;:: ;;, anlah seharusnya karakter pendidikan hukum kita. Hukum akan a, dalam fenomena sosial dan kultur dalam masyarakat. Hukum ~-- asi dengan masyarakat. Hukum juga merupakan bagian integral ~- ""'lasyarakat manusia. Dalam setiap masyarakat manusia, selalu,.., _... m. Ad a masyarakat, berarti ada norma hukum. Itu berarti, tata -a""'js mengacu pada penghormatan dan perlindungan harkat dan -.a- _s a. Hukum berupaya menjaga dan mengatur keseimbangan ----gan at au hasrat individu yang egositis dan kepentingan bersama :e--:ac konflik sebagaimana analogi ekosistem masyarakat manusia - g sa ing bergantung da n menj adi inti dari paradigma "Ekologi :g :;a am menjang kau pu la paradigma holist ik dalam hukum, menjadikan ~~, s_a:u entitas yang terbuka yang bisa dikaji dari banyak aspek atau pelbagai - - _- --erupakan suat u ent itas yang memiliki suatu j alinan nilai-nilai yang ;::~.::- g o<ompleks. Paradigma ini memandang dunia-dunia sebagai keseluruhan 2 - =- an sebagai bagian yang terpisah-pisah. Kesadaran ekologis yang _.._-. =- ca:1 s esalingbergantungan fundamental semua fenomena dan fa kta ba hwa masyarakat, sekalian terlekat dalam dan sa ling bergantung, _s a a--,. Fr"tjof Capra, The Web of life: A new Synthesis of Mind and Matter, : :;;-;- terjemahan " Jaring-jaring kehidupan (Visi Baru Epistemologi dan..,._, =.-a... Saut Pasa ribu, Faj ar Pustaka Baru, Yogyakarta, 2001, hal. 16. :>e... <ead: an Dan Kemanusiaan, BPK Gunung Mu lia, Jakarta Pusat, 1975,,=se....,. a:1 nor'tla tentang yang baik, yang membedakan dari yang j ahat, =a::j; a - a... s a oata11 masyarakat. : oid, ha. 34, 31.

6 24 LOKAKARYA "MEMBANGUN PERDAMAIAN DI DALAM MASYARAKAT BER-BHINNEKA TUNGGAL IKA" 28 & 29 Januari 2011 Di Ruang Probowinoto - Universitas Kristen Satya Wacana Undang-undang Dasar kita memiliki suatu kandungan moral. Dalam implementasi terhadap peraturan di bawahnya, maka membaca konstitusi memerlukan apa yang disebut Ronald Dworkin dengan "moral reading". 11 Diperlukan suatu pencarian asas-asas moral yang ada didalamnya. Sebagaimana dikatakan Scholten lebih lanjut bahwa orang tidak hanya berbicara mengenai penerapan hukum (rechtstoepassing) yang mekanistis melainkan penemuan hukum (rechtsvinding) yang lebih kreatif. 12 Hukum itu terus menerus dig a rap dan ditetapkan oleh keseluruhan konteks sosial. 13 Oleh karena itu, jelaslah bahwa moral memang ada dalam konstitusi, namun hal ini harus diketemukan dan dibangun dalam segala sendi kehidupan. Pendidikan hukum akan diarahkan pada pembangunan suatu institusi hukum yang responsif dan progresif. Hukum responsif 14 memiliki keterbukaan dan fleksibilitas. Dalam persoalan mengenai integritas, maka pemikiran hukum responsif melawan serta mengurangi kecenderungan aparat untuk bersembunyi di balik peraturan dan menghindari tanggung jawab. Untuk melakukan hal ini, dalam konteks kebhinekaan, maka hukum responsif memperkuat cara-cara dimana keterbukaan dan integritas dapat saling menopang, walau terdapat benturan di antara keduanya. Lembaga responsif ini menganggap bahwa tekanan-tekanan sosial sebagai sumber pengetahuan dan kesempatan untuk mengoreksi diri. Satjipto mengemukakan Hukum Progresif 15 memiliki karakter: Hukum ditempatkan dalam hubungan erat dengan man usia. Tipe responsif menolak otonomi hukum yang bersifat final dan tak dapat digugat. Hukum dinilai dari tujuan sosial serta bekerjanya hukum. Mendahulukan kepentingan manusia yang lebih besar daripada menafsirkan hukum dari sudut logika dan peraturan. Dalam konsep hukum progresif ini, menjadikan makna pendidikan hukum orientasikan pada penciptaan kurikulum pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai demi kemanusiaan. Konsep Hukum Progresif membuka tabir ideologi tertutup dan menjernihkan pertimbangan hukum. Entitas hukum tidak boleh dilakukan sedemikian rupa sehingga dapat memutusjaringan dan menimbulkan gangguan (obstruction) terhadap keutuhan dan keberlangsungan jaringan. Hukum agar dapat menyesuaikan diri pada jagad kehidupan dan tidak merusak jaringan jagad kehidupan tersebut Ronald Dworkin, Freedom's Law-The Moral Reading of the American Constitution, Cambridge, Mass: Harvard University Press, Paul Scholten, Struktur 1/mu Hukum, terj. De Structuur Der Rechtswetenschap, alih bahasa B. Arief Sidharta, Alumni, Bandung, A. Gunawan Setiardja, Dasar dari Hukum, Ka pita Selekta hukum, FH UN DIP, 2007, hal. lo. 14 Pemikiran Hukum Responsif merupakan pemikiran Philippe Nonet, dan Philip, Selznick, Law and Society In Transition, Harper and Row, London, Sajipto Raharjo mengagas mengenai Hukum Progresif. Pelbagai tulisan hukum Progresif antara lain dapat dibaca dalam Satjipto Rahardjo, Hukum Progresif, Sebuah sintesa Hukum Indonesia, Genta Publishing, Yogyakarta, Satjipto Rahardjo, Lapisan-Lapisan Dalam Studi Hukum, Bayumedia Publishing, Malang, hal. 14.

7 LOKAKARYA "I"IEMBANGUN PERDAMAIAN DI DALAM MASYARAKAT BER-BHINNEKA TU NGGAL IKA" 28 & 29 Januari 2011 Di Ruang Probowinoto - Universitas Kristen Satya Wacana 25 :- ~e k a Tunggal Ika mengindikasikan bahwa warn a kemajemukan _ =-= ::: juga menuntut suatu hukum yang bisa menjangkau keharmonisan -::svarakat maj emuk pu la. Kesaling terhubungan dalam jaringan ~-_...= -.'ang adalah esensi persis pendasaran spiritual dari paradigma ;- -= am'. Dalam kaitan ini maka sed a pat mungkin dilakukan 'melek - ::""'g berarti memahami prinsip-prinsip pengaturan komunitas- ~3 e<ologis dan menggunakan prinsip-prinsip itu untuk membentuk -= ~ --an usia berkelanjutan. 17 Aspek kemitraan (partnership) adalah ciri --~ -..~-... nitas-komunitas berkelanjutan. 18 =- ' arena itu, pencitraan pendidikan hukum yang diinjeksikan untuk -=-2 an, adalah pendidikan hukum yang memiliki "a human face". _ : dikail yang merupakan suatu "agents of the public" dan juga - c... ange", yang memiliki karakter institusi responsif untuk r<arakter pendidikan yang lebih humanis, dan pada akhirnya =r. - = ;em ban pelayanan pad a masyarakat secara keseluruhan. Arah - '""....<Jm berarti "in line with the,public's sense of justice"/public face ~ - - :. <asi terhadap hal ini adalah muatan-muatan humanistik yang ;::: oeace building character dalam mengkritisi hukum di Indonesia, z~- =- - ak Asasi Manusia, toleransi, dan Demokrasi, serta penanaman :: _..ntuk dielaborasikan dalam cita hukum. ~- _e.. tang perlu dikembangkan dalam pendidikan hukum yang.:s. an nilai perdamaian adalah yang memiliki "value bounded" ---=... --nani stik, karakter civil society participation/control social untuk --= ~ cari perspektif "the bottom up views of law. Pendidikan hukum - - ~--: ::--=- Kan pada suatu penelusuran akan tercitranya hukum yang adil - ~ ar, dalam suatu konstruksi terus menerus. _:_::_-33""'gan pa radigma il mu hukum yang berakal budi dengan - --z:a :::>edom an, akan memiliki wawasan intuitif, terbuka, cerdas, - ~=-- e""'citrakan il m u hukum yang mencirikan Bhinneka Tunggal I ka. - _:=,..a.gus mencetak pemikiran hu kum untuk mempolakan nilai.:.=--ga n terus m ewujudkan keadilan, kemanfaatan dan kepastian. Daftar Pustaka -~.:. Freedom's Law-Th e Moral Reading of the American ---- _-: n, Cambridg e, Mass: Harvard University Press, _ --e ce M. The Legal System, A Social Science Perspective, Russel ~-~ -- _---uct:ion, New York, :. Derni Keadilan Dan Kemanusiaan, BPK Gunung Mulia, Jakarta --- _ -= ::... Selznick, Philip. Law and Society in Transition, Harper and ---- ~ I..., ===--~ Jkum dalam Jagat Ketertiban, UKI Press, Jakarta, 2006,

8 26 LOKAKARYA "MEMBANGUN PERDAMAIAN DI DALAM MASYARAKAT BER-BHINNEKA TUNGGAL IKA" 28 & 29 Januari Di Ruang Probowinoto - Universitas Kristen Satya Wacana Lapisan-Lapisan Da!am Studi Hukum, Bayumedia Publishing, Malang, Hukum Progresif - sebuah sintesa Hukum Indonesia, Genta Publishing, Yogyakarta, Santos, Bonaventura De Sousa. Toward a New Common Sense: Law, Science and Politics in the Paradigmatic Transition, Routledge, New York, Scholten, Paul. Struktur Ilmu Hukum, terj. De Structuur Der Rechtswetenschap, alih bahasa B. Arief Sidharta, Alumni, Bandung, Sidharta, B.Arief. Struktur Ilmu Hukum Indonesia, Refleksi Hukum, Jurnal Ilmu Hukum Fakultas Hukum UKSW, edisi Oktober Setiardja, A. Gunawan. Dasar dari Hukum, Kapita Selekta Hukum, Fakultas Hukum UNDIP, Tamanaha, Brian Z. A General Jurisprudence of Law and Society, Oxford University Press, Turkel, Gerald. Law and Society: critical approaches, Allyn and Bacon,Toronto, Unger, Roberto Mangabeira. Law and Modern Society, terj. Teori Hukum Kritis : Posisi Hukum Dalam Masyarakat Modern, Nusa media, Bandung, 2007.

MEMBANGUN KUALITAS PRODUK LEGISLASI NASIONAL DAN DAERAH * ) Oleh : Prof. Dr. H. Dahlan Thaib, S.H, M.Si**)

MEMBANGUN KUALITAS PRODUK LEGISLASI NASIONAL DAN DAERAH * ) Oleh : Prof. Dr. H. Dahlan Thaib, S.H, M.Si**) MEMBANGUN KUALITAS PRODUK LEGISLASI NASIONAL DAN DAERAH * ) Oleh : Prof. Dr. H. Dahlan Thaib, S.H, M.Si**) I Pembahasan tentang dan sekitar membangun kualitas produk legislasi perlu terlebih dahulu dipahami

Lebih terperinci

HAK AZASI MANUSIA DAN PENEGAKAN SUPREMASI HUKUM

HAK AZASI MANUSIA DAN PENEGAKAN SUPREMASI HUKUM HAK AZASI MANUSIA DAN PENEGAKAN SUPREMASI HUKUM Oleh : ANI PURWANTI, SH.M.Hum. FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2008 PENGERTIAN HAM HAM adalah hak yang melekat pada diri manusia yang bersifat

Lebih terperinci

Filsafat Ilmu : Kajian atas Asumsi Dasar, Paradigma, dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan RESENSI BUKU

Filsafat Ilmu : Kajian atas Asumsi Dasar, Paradigma, dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan RESENSI BUKU RESENSI BUKU Judul : Filsafat Ilmu Kajian atas Asumsi Dasar, Paradigma, dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan Penulis : Mohammad Muslih Penerbit : Belukar Yogyakarta Cetakan : I, 2005 Tebal : XI + 269 halaman

Lebih terperinci

Definisi tersebut dapat di perluas di tingkat nasional dan atau regional.

Definisi tersebut dapat di perluas di tingkat nasional dan atau regional. Definisi Global Profesi Pekerjaan Sosial Pekerjaan sosial adalah sebuah profesi yang berdasar pada praktik dan disiplin akademik yang memfasilitasi perubahan dan pembangunan sosial, kohesi sosial dan pemberdayaan

Lebih terperinci

SAMBUTAN MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/KEPALA BAPPENAS

SAMBUTAN MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/KEPALA BAPPENAS REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL SAMBUTAN MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/KEPALA BAPPENAS Pada Acara Temu Muka dan

Lebih terperinci

PERSPEKTIF PEMERINTAH ATAS HAK DAN KEWAJIBAN MASYARAKAT HUKUM ADAT

PERSPEKTIF PEMERINTAH ATAS HAK DAN KEWAJIBAN MASYARAKAT HUKUM ADAT PERSPEKTIF PEMERINTAH ATAS HAK DAN KEWAJIBAN MASYARAKAT HUKUM ADAT DR. Wahiduddin Adams, SH., MA ** Pembentukkan Negara Kesatuan Republik Indonesia berawal dari bersatunya komunitas adat yang ada di seluruh

Lebih terperinci

EMPAT AGENDA ISLAM YANG MEMBEBASKAN

EMPAT AGENDA ISLAM YANG MEMBEBASKAN l Edisi 001, Agustus 2011 EMPAT AGENDA ISLAM YANG MEMBEBASKAN P r o j e c t i t a i g k a a n D Luthfi Assyaukanie Edisi 001, Agustus 2011 1 Edisi 001, Agustus 2011 Empat Agenda Islam yang Membebaskan

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran pembangunan untuk mewujudkan visi dan misi yang telah ditetapkan, perlu perubahan secara mendasar, terencana dan terukur. Upaya

Lebih terperinci

DOMINASI PENUH MUSLIHAT AKAR KEKERASAN DAN DISKRIMINASI

DOMINASI PENUH MUSLIHAT AKAR KEKERASAN DAN DISKRIMINASI H A R Y A T M O K O DOMINASI PENUH MUSLIHAT AKAR KEKERASAN DAN DISKRIMINASI Sanksi Pelanggaran Pasal 72 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta 1. Barangsiapa dengan sengaja melanggar dan

Lebih terperinci

SUMBER HUKUM A. Pendahuluan

SUMBER HUKUM A. Pendahuluan SUMBER HUKUM A. Pendahuluan Apakah yang dimaksud dengan sumber hukum? Dalam bahasa Inggris, sumber hukum itu disebut source of law. Perkataan sumber hukum itu sebenarnya berbeda dari perkataan dasar hukum,

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA IKHTISAR PUTUSAN PERKARA NOMOR 100/PUU-XI/2013 TENTANG KEDUDUKAN PANCASILA SEBAGAI PILAR BERBANGSA DAN BERNEGARA Pemohon Jenis Perkara Pokok Perkara Amar Putusan

Lebih terperinci

Tindakan Korporat dalam Tanggung Jawab Sosial. Yuniawan Heru, M.Si. http://antro.fisip.unair.ac.id

Tindakan Korporat dalam Tanggung Jawab Sosial. Yuniawan Heru, M.Si. http://antro.fisip.unair.ac.id Tindakan Korporat dalam Tanggung Jawab Sosial Yuniawan Heru, M.Si. http://antro.fisip.unair.ac.id Social Responsibility Dimulai sejak era tahun 1970an, ketika muncul gerakan untuk menuntut tanggung jawab

Lebih terperinci

PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BEBRBASIS BUDAYA UNTUK MENCERDASKAN ASPEK SOSIAL (SQ) SISWA

PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BEBRBASIS BUDAYA UNTUK MENCERDASKAN ASPEK SOSIAL (SQ) SISWA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BEBRBASIS BUDAYA UNTUK MENCERDASKAN ASPEK SOSIAL (SQ) SISWA Dr. Supriyadi, M.P Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Sastra dan Budaya UNG Email: supriyadi_prima@ymail.com

Lebih terperinci

KOPERASI DALAM OTONOM DAERAH

KOPERASI DALAM OTONOM DAERAH 5 KOPERASI DALAM OTONOM DAERAH 5.1. Substansi Otonom Daerah Secara subtantif otonomi daerah mengandung hal-hal desentralisasi dalam hal bidang politik, ekonomi dalam rangka kemandirian ekonomi daerah dan

Lebih terperinci

ISLAM DI ANTARA DUA MODEL DEMOKRASI

ISLAM DI ANTARA DUA MODEL DEMOKRASI l ISLAM DI ANTARA DUA MODEL DEMOKRASI P r o j e c t i t a i g D k a a n Arskal Salim Kolom Edisi 002, Agustus 2011 1 Islam di Antara Dua Model Demokrasi Perubahan setting politik pasca Orde Baru tanpa

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 19 TAHUN 2005 TENTANG STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN I. UMUM Sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun

Lebih terperinci

SYARAT-SYARAT KEBERHASILAN TATANAN SOSIAL GLOBAL DAN EKONOMI BERORIENTASI PASAR. www.kas.de

SYARAT-SYARAT KEBERHASILAN TATANAN SOSIAL GLOBAL DAN EKONOMI BERORIENTASI PASAR. www.kas.de SYARAT-SYARAT KEBERHASILAN TATANAN SOSIAL GLOBAL DAN EKONOMI BERORIENTASI PASAR www.kas.de DAFTAR ISI 3 MUKADIMAH 3 KAIDAH- KAIDAH POKOK 1. Kerangka hukum...3 2. Kepemilikan properti dan lapangan kerja...3

Lebih terperinci

UPAYA MENINGKATKAN MINAT BACA DI SEKOLAH

UPAYA MENINGKATKAN MINAT BACA DI SEKOLAH UPAYA MENINGKATKAN MINAT BACA DI SEKOLAH A. Ridwan Siregar Universitas Sumatera Utara I. PENDAHULUAN Minat baca adalah keinginan atau kecenderungan hati yang tinggi (gairah) untuk membaca. Minat baca dengan

Lebih terperinci

UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2009 2009 TENTANG KEPEMUDAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2009 2009 TENTANG KEPEMUDAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2009 2009 TENTANG KEPEMUDAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia

Lebih terperinci

BAB IV MAKNA ARUH MENURUT DAYAK PITAP. landasan untuk masuk dalam bagian pembahasan yang disajikan dalam Bab IV.

BAB IV MAKNA ARUH MENURUT DAYAK PITAP. landasan untuk masuk dalam bagian pembahasan yang disajikan dalam Bab IV. BAB IV MAKNA ARUH MENURUT DAYAK PITAP 4.1. PENDAHULUAN Bertolak dari uraian tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, dan tujuan penelitian yang terdapat dalam Bab I, yang dilanjutkan dengan pembahasan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Koperasi, baik sebagai gerakan ekonomi rakyat

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Koperasi, baik sebagai gerakan ekonomi rakyat maupun sebagai badan

Lebih terperinci

UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan

Lebih terperinci

UU 28 Tahun 1999 : Pelembagaan Peran Serta Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan yang Bersih dan bebas KKN

UU 28 Tahun 1999 : Pelembagaan Peran Serta Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan yang Bersih dan bebas KKN UU 28 Tahun 1999 : Pelembagaan Peran Serta Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan yang Bersih dan bebas KKN Oleh : Slamet Luwihono U ERGULIRNYA arus reformasi di Indonesia telah menghadirkan harapan

Lebih terperinci

Etika dan Filsafat Lingkungan Hidup Lokakarya Peradilan dalam Penanganan Hukum Keanekaragaman Hayati. A.Sonny Keraf Jakarta, 12 Januari 2015

Etika dan Filsafat Lingkungan Hidup Lokakarya Peradilan dalam Penanganan Hukum Keanekaragaman Hayati. A.Sonny Keraf Jakarta, 12 Januari 2015 Etika dan Filsafat Lingkungan Hidup Lokakarya Peradilan dalam Penanganan Hukum Keanekaragaman Hayati A.Sonny Keraf Jakarta, 12 Januari 2015 Krisis dan Bencana LH Global (1) 1. Kerusakan: hutan, tanah,

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA NOMOR : 12 TAHUN 2011

PERATURAN KEPALA LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA NOMOR : 12 TAHUN 2011 PERATURAN KEPALA LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA NOMOR : 12 TAHUN 2011 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN DIKLAT PRAJABATAN CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL GOLONGAN I DAN II LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA 2011 PERATURAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1994: 136 ) mengatakan tujuan dari welfere state ( negara kesejahteraan ) pada hakikatnya

BAB I PENDAHULUAN. 1994: 136 ) mengatakan tujuan dari welfere state ( negara kesejahteraan ) pada hakikatnya BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Sebagai negara berkembang, indonesia sedang giat- giatnya melakukan pembangunan baik dikota maupun di pedesaan. Pembangunan yang dilakukan merupakan rangkaian gerakan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: a. bahwa kemerdekaan pers merupakan salah satu wujud kedaulatan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN PEMIKIRAN

BAB II LANDASAN PEMIKIRAN BAB II LANDASAN PEMIKIRAN 1. Landasan Filosofis Filosofi ilmu kedokteran Ilmu kedokteran secara bertahap berkembang di berbagai tempat terpisah. Pada umumnya masyarakat mempunyai keyakinan bahwa seorang

Lebih terperinci

RUANG LINGKUP HUKUM ISLAM. Ngurah Suwarnatha, S.H., LL.M. Suwarnatha.pusku.com Suwarnatha.hol.es

RUANG LINGKUP HUKUM ISLAM. Ngurah Suwarnatha, S.H., LL.M. Suwarnatha.pusku.com Suwarnatha.hol.es RUANG LINGKUP HUKUM ISLAM Ngurah Suwarnatha, S.H., LL.M. Suwarnatha.pusku.com Suwarnatha.hol.es Pendapat orientalis terhadap kedudukan dan peranan Hukum Islam Menurut Rene David Universitas Paris, menyatakan

Lebih terperinci

KRISIS ILMU BARAT SEKULER DAN ILMU TAUHIDILLAH

KRISIS ILMU BARAT SEKULER DAN ILMU TAUHIDILLAH 1 KRISIS ILMU BARAT SEKULER DAN ILMU TAUHIDILLAH Dr. Ir. Harry Hikmat, MSi Staf Ahli Bidang Dampak Sosial KRISIS ILMU BARAT SEKULER Konsep sentral Kuhn ialah paradigma. Menurutnya, Ilmu yang sudah matang

Lebih terperinci

Bab 10 Teori dan Praktek Penataan Ruang Tata Ruang sebagai Ilmu Interdisiplin : Implikasi dan Perkembangannya

Bab 10 Teori dan Praktek Penataan Ruang Tata Ruang sebagai Ilmu Interdisiplin : Implikasi dan Perkembangannya 10.1 TATA RUANG SEBAGAI ILMU INTERDISIPLIN : IMPLIKASI DAN PERKEMBANGANNYA Oleh Hendropranoto Suselo ILMU INTERDISIPLIN? Tata ruang kerap dikatakan sebagai ilmu interdisiplin. Maksudnya, pengetahuan dan

Lebih terperinci

PEDOMAN PERILAKU MAHASISWA UNIVERSITAS ATMA JAYA YOGYKARTA

PEDOMAN PERILAKU MAHASISWA UNIVERSITAS ATMA JAYA YOGYKARTA PEDOMAN PERILAKU MAHASISWA UNIVERSITAS ATMA JAYA YOGYKARTA Pedoman Perilaku Mahasiswa UAJY merupakan pedoman sikap dan tingkah laku yang wajib diikuti oleh mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta, yang

Lebih terperinci

Turnomo Rahardjo Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Diponegoro

Turnomo Rahardjo Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Diponegoro Turnomo Rahardjo Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Diponegoro FACE-NEGOTIATION THEORY Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Stella Ting-Toomey. Asumsi-asumsi: Identitas diri (self-identity) merupakan

Lebih terperinci

Trio Hukum dan Lembaga Peradilan

Trio Hukum dan Lembaga Peradilan Trio Hukum dan Lembaga Peradilan Oleh : Drs. M. Amin, SH., MH Telah diterbitkan di Waspada tgl 20 Desember 2010 Dengan terpilihnya Trio Penegak Hukum Indonesia, yakni Bustro Muqaddas (58), sebagai Ketua

Lebih terperinci

A. Situasi Budaya Kita

A. Situasi Budaya Kita Pengembangan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Jawa Oleh: Suminto A. Sayuti A. Situasi Budaya Kita Salah satu kecenderungan yang tampak dengan jelas dari dinamika kehidupan manusia dewasa ini ialah perubahan-perubahan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 200 TENTANG GERAKAN PRAMUKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 200 TENTANG GERAKAN PRAMUKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 200 TENTANG GERAKAN PRAMUKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan kepribadian ditujukan untuk mengembangkan

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA FAKTA, NORMA, MORAL,DAN DOKTRIN HUKUM DALAM PERTIMBANGAN PUTUSAN HAKIM' OLEH :

HUBUNGAN ANTARA FAKTA, NORMA, MORAL,DAN DOKTRIN HUKUM DALAM PERTIMBANGAN PUTUSAN HAKIM' OLEH : HUBUNGAN ANTARA FAKTA, NORMA, MORAL,DAN DOKTRIN HUKUM DALAM PERTIMBANGAN PUTUSAN HAKIM' OLEH : Dr.Hj.Marni Emmy Mustafa SH.MH Ketua Pengadilan Tinggi Jawa Barat I. LATAR BELAKANG Undang-Undang Dasar 1945

Lebih terperinci

MENJADI GURU AGAMA KATOLIK YANG EFEKTIF DALAM PERSPEKTIF DELAPAN HABITUS MENURUT STEPHEN R. COVEY Oleh: Lastiko Runtuwene

MENJADI GURU AGAMA KATOLIK YANG EFEKTIF DALAM PERSPEKTIF DELAPAN HABITUS MENURUT STEPHEN R. COVEY Oleh: Lastiko Runtuwene MENJADI GURU AGAMA KATOLIK YANG EFEKTIF DALAM PERSPEKTIF DELAPAN HABITUS MENURUT STEPHEN R. COVEY Oleh: Lastiko Runtuwene PENDAHULUAN Dalam kehidupan di dunia ini setiap manusia mengharapkan dan berusaha

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR KUALIFIKASI AKADEMIK DAN KOMPETENSI KONSELOR

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR KUALIFIKASI AKADEMIK DAN KOMPETENSI KONSELOR SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR KUALIFIKASI AKADEMIK DAN KOMPETENSI KONSELOR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Masalah Etika merupakan refleksi atas moralitas. Akan tetapi, sebagai bagian dari ilmu pengetahuan, etika bukan sekedar refleksi tetapi refleksi ilmiah tentang tingkah

Lebih terperinci

RechtsVinding Online. Sistem Merit Sebagai Konsep Manajemen ASN

RechtsVinding Online. Sistem Merit Sebagai Konsep Manajemen ASN PENERAPAN SISTEM MERIT DALAM MANAJEMEN ASN DAN NETRALITAS ASN DARI UNSUR POLITIK DALAM UNDANG-UNDANG APARATUR SIPIL NEGARA Oleh: Akhmad Aulawi, SH., MH. * Akhir tahun 2013, menjadi momentum yang penting

Lebih terperinci

KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN PADA ACARA PERINGATAN ISRA MI RAJ NABI MUHAMMAD SAW 1435 H / 2014 H TANGGAL 20 JUNI 2014

KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN PADA ACARA PERINGATAN ISRA MI RAJ NABI MUHAMMAD SAW 1435 H / 2014 H TANGGAL 20 JUNI 2014 KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN PADA ACARA PERINGATAN ISRA MI RAJ NABI MUHAMMAD SAW 1435 H / 2014 H TANGGAL 20 JUNI 2014 Assalamu alaikum Wr. Wb. Salam sejahtera bagi kita semua. Yang

Lebih terperinci

MEMBENTUK KARAKTER DALAM PENDIDIKAN HUKUM WARGA NEGARA* Cholisin**

MEMBENTUK KARAKTER DALAM PENDIDIKAN HUKUM WARGA NEGARA* Cholisin** MEMBENTUK KARAKTER DALAM PENDIDIKAN HUKUM WARGA NEGARA* Cholisin** PENGANTAR Dewasa ini diarasakan, bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar tetapi tidak dapat berbuat banyak dalam mengatasi masalah

Lebih terperinci

PERAN HAKIM SEBAGAI PEMBAHARU HUKUM DALAM MEWUJUDKAN PERADILAN YANG AGUNG Oleh: Drs. H. Endang Ali Ma sum, SH, MH*

PERAN HAKIM SEBAGAI PEMBAHARU HUKUM DALAM MEWUJUDKAN PERADILAN YANG AGUNG Oleh: Drs. H. Endang Ali Ma sum, SH, MH* A. PENDAHULUAN PERAN HAKIM SEBAGAI PEMBAHARU HUKUM DALAM MEWUJUDKAN PERADILAN YANG AGUNG Oleh: Drs. H. Endang Ali Ma sum, SH, MH* Terinspirasikan oleh konsep Roscoe Pound (1870-1964), law as a tool of

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG ORGANISASI MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG ORGANISASI MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG ORGANISASI MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa kebebasan berserikat, berkumpul,

Lebih terperinci

K E T E T A P A N MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR : IX/MPR/2001 TENTANG PEMBARUAN AGRARIA DAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM

K E T E T A P A N MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR : IX/MPR/2001 TENTANG PEMBARUAN AGRARIA DAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM K E T E T A P A N MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR : IX/MPR/2001 TENTANG PEMBARUAN AGRARIA DAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MAJELIS PERMUSYAWARATAN

Lebih terperinci

- 1 - TEKNIK PENYUSUNAN NASKAH AKADEMIK PERATURAN DAERAH

- 1 - TEKNIK PENYUSUNAN NASKAH AKADEMIK PERATURAN DAERAH - 1 - LAMPIRAN II PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMBENTUKAN PRODUK HUKUM DAERAH TEKNIK PENYUSUNAN NASKAH AKADEMIK PERATURAN DAERAH 1. Naskah Akademik adalah

Lebih terperinci

- 1 - PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57 TAHUN 2014 TENTANG PENGEMBANGAN, PEMBINAAN, DAN PELINDUNGAN BAHASA

- 1 - PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57 TAHUN 2014 TENTANG PENGEMBANGAN, PEMBINAAN, DAN PELINDUNGAN BAHASA SALINAN - 1 - PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57 TAHUN 2014 TENTANG PENGEMBANGAN, PEMBINAAN, DAN PELINDUNGAN BAHASA DAN SASTRA, SERTA PENINGKATAN FUNGSI BAHASA INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan

Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Umum Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BPJS Ketenagakerjaan), yang dalam Pedoman ini disebut BADAN, adalah badan hukum publik yang dibentuk dengan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2012 TENTANG PENDIDIKAN TINGGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2012 TENTANG PENDIDIKAN TINGGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2012 TENTANG PENDIDIKAN TINGGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia

Lebih terperinci

PERANAN MAHASISWA DALAM MEMERANGI KORUPSI

PERANAN MAHASISWA DALAM MEMERANGI KORUPSI PERANAN MAHASISWA DALAM MEMERANGI KORUPSI Disarikan dari Modul Sosialisasi Anti Korupsi BPKP tahun 2005 oleh Mohamad Risbiyantoro, Ak., CFE (PFA pada Deputi Bidang Investigasi BPKP). Mahasiswa dan sejarah

Lebih terperinci

Abdul Muiz, M.Pd math.muiz@gmail.com Dosen Prodi Pendidikan Matematika STKIP PGRI Bangkalan ABSTRAK

Abdul Muiz, M.Pd math.muiz@gmail.com Dosen Prodi Pendidikan Matematika STKIP PGRI Bangkalan ABSTRAK PENDIDIKAN KARAKTER DAN BUDAYA BANGSA DALAM PEMBELAJARAN KOOPERATIF Abdul Muiz, M.Pd math.muiz@gmail.com Dosen Prodi Pendidikan Matematika STKIP PGRI Bangkalan ABSTRAK Identitas suatu bangsa dapat dilihat

Lebih terperinci

"Itu Kejahatan": Perampasan kemerdekaan secara tidak sah

Itu Kejahatan: Perampasan kemerdekaan secara tidak sah Siapapun dia, termasuk Hakim, Jaksa dan Polisi, tak sah merampas kemerdekaan tanpa dasar yang sah. Perampasan kemerdekaan, apakah itu penangkapan, penahanan, atau pemenjaraan wajib dengan perintah yang

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DAN LEMBAGA ADAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DAN LEMBAGA ADAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DAN LEMBAGA ADAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KUTAI KARTANEGARA, Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

Sebelum Pengamatan. Selama Pengamatan. Setelah Pengamatan

Sebelum Pengamatan. Selama Pengamatan. Setelah Pengamatan Nama Guru Nama Penilai 1 Tanggal Mengenal karakteristik peserta didik Tanggal Kegiatan/aktivitas guru dan peserta didik selama pengamatan Tanggal Setelah Pengamatan Setelah Pengamatan hal 1 dari 17 hal

Lebih terperinci

PENGELOLAAN LINGKUNGAN SOSIAL

PENGELOLAAN LINGKUNGAN SOSIAL PENGELOLAAN LINGKUNGAN SOSIAL Lingkungan alam Lingkungan Sosial Lingkungan Binaan/Buatan LINGKUNGAN HIDUP Manusia Sebagai Makhluk Sosial -Membentuk Pengelompokkan Sosial (Social Grouping) mempertahankan

Lebih terperinci

OBJEK ILMU KOMUNIKASI. Rachmat K, Ph.D -Dosen Ilmu Komunikasi UB Malang, Peneliti & Penulis Buku Komunikasi

OBJEK ILMU KOMUNIKASI. Rachmat K, Ph.D -Dosen Ilmu Komunikasi UB Malang, Peneliti & Penulis Buku Komunikasi OBJEK ILMU KOMUNIKASI Rachmat K, Ph.D -Dosen Ilmu 1 OBJEK MATERIAL * Objek material atau pokok bahasan filsafat ilmu adalah pokok soal atau bidang kajian (subject-matter) suatu ilmu. Pokok soal ini disusun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kewajiban untuk mewujudkan pendidikan nasional seperti yang tercantum dalam

BAB I PENDAHULUAN. kewajiban untuk mewujudkan pendidikan nasional seperti yang tercantum dalam BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal mengemban tugas dan kewajiban untuk mewujudkan pendidikan nasional seperti yang tercantum dalam pasal 3 UU RI No.20, Tahun

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG ORGANISASI KEMASYARAKATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG ORGANISASI KEMASYARAKATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG ORGANISASI KEMASYARAKATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa kebebasan berserikat, berkumpul,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pemasyarakatan yang berperan penting dalam proses penegakan hukum. Untung S. Radjab (2000 : 22) menyatakan:

BAB I PENDAHULUAN. Pemasyarakatan yang berperan penting dalam proses penegakan hukum. Untung S. Radjab (2000 : 22) menyatakan: BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam tatanan kehidupan bernegara yang berlandaskan dengan ketentuan hukum, penguasa dalam hal ini pemerintah telah membentuk beberapa lembaga penegak hukum

Lebih terperinci

KODE ETIK MEDIATOR Drs. H. HAMDAN, SH., MH. Pendahuluan. Terwujudnya keadilan yang cepat, sedarhana dan biaya ringan merupakan dambaan dari setiap

KODE ETIK MEDIATOR Drs. H. HAMDAN, SH., MH. Pendahuluan. Terwujudnya keadilan yang cepat, sedarhana dan biaya ringan merupakan dambaan dari setiap KODE ETIK MEDIATOR Drs. H. HAMDAN, SH., MH. Pendahuluan. Terwujudnya keadilan yang cepat, sedarhana dan biaya ringan merupakan dambaan dari setiap pencari keadilan dimanapun. Undang-Undang Nomor 48 Tahun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu diantara masalah besar dalam bidang pendidikan di Indonesia yang banyak diperbincangkan adalah rendahnya mutu pendidikan yang tercermin dari rendahnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. a. Latar Belakang Permasalahan

BAB I PENDAHULUAN. a. Latar Belakang Permasalahan BAB I PENDAHULUAN a. Latar Belakang Permasalahan Jean Paul Sartre seorang filsuf eksistensialis dari Perancis mengatakan bahwa manusia dilahirkan begitu saja ke dalam dunia ini, dan ia harus segera menanggung

Lebih terperinci

PERANAN PERGURUAN TINGGI DALAM PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN GUNA MEMENUHI TUNTUTAN PENGGUNA

PERANAN PERGURUAN TINGGI DALAM PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN GUNA MEMENUHI TUNTUTAN PENGGUNA PERANAN PERGURUAN TINGGI DALAM PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN GUNA MEMENUHI TUNTUTAN PENGGUNA Sebagaimana telah diketahui, perguruan tinggi memiliki peran yang sangat strategis di tengah-tengah masyarakatnya.

Lebih terperinci

KULTAS HUKUM UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 SEMARANG

KULTAS HUKUM UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 SEMARANG SILABUS Mata Kuliah : Pengantar Ilmu Hukum Kode Mata Kuliah : HKI 2002 SKS : 4 Dosen : 1. Prof. Dr. Sarsintorini P, S.H., M.Hum 2. Sri Setyowati, S.H., M.Hum 3. Erna Trimartini, S.H., M.Hum 4. Enny Patria,

Lebih terperinci

Grafik 1. Pertumbuhan Sektor Ekonomi Kabupaten Intan Jaya Tahun 2007-2009

Grafik 1. Pertumbuhan Sektor Ekonomi Kabupaten Intan Jaya Tahun 2007-2009 53 (%) 180 160 140 120 100 80 60 40 20 0-20 Grafik 1. Sektor Ekonomi Kabupaten Intan Jaya Tahun 2007-2009 2007 2008 2009 Tahun Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri dan Pengolahan Listrik dan

Lebih terperinci

ASESMEN MANDIRI. SKEMA SERTIFIKASI : Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat ( FPM ) FORM APL-02

ASESMEN MANDIRI. SKEMA SERTIFIKASI : Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat ( FPM ) FORM APL-02 No. Urut 05 ASESMEN MANDIRI SKEMA SERTIFIKASI : Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat ( FPM ) FORM APL-02 Lembaga Sertifikasi Profesi Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat 2013 Nomor Registrasi Pendaftaran

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 2010 TENTANG BENTUK DAN TATA CARA PERAN MASYARAKAT DALAM PENATAAN RUANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 2010 TENTANG BENTUK DAN TATA CARA PERAN MASYARAKAT DALAM PENATAAN RUANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 2010 TENTANG BENTUK DAN TATA CARA PERAN MASYARAKAT DALAM PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :

Lebih terperinci

PENINGKATAN POTENSI PESERTA DIDIK DAN PENDIDIK DALAM DIKLAT

PENINGKATAN POTENSI PESERTA DIDIK DAN PENDIDIK DALAM DIKLAT PENINGKATAN POTENSI PESERTA DIDIK DAN PENDIDIK DALAM DIKLAT Oleh Samsul Hidayat, M.Ed (Widyaiswara Madya BKD & DIKLAT Provinsi NTB) ABSTRAKSI Peserta didik dalam menempuh pendidikan Pelatihan sangat ditentukan

Lebih terperinci

Menghormati Proses Hukum Century

Menghormati Proses Hukum Century KEMENTERIAN HUKUM DAN HAM RI BADAN PEMBINAAN HUKUM NASIONAL Pusat Dokumentasi dan Jaringan lnformasi Hukum Nasional Jl.May.Jen. Sutoyo -Cililitan- Jakarta Timur Sumber : N~DlA ll\ltt:ji\j~a- \ Hariff~l

Lebih terperinci

PENERAPAN ASAS SEDERHANA, CEPAT DAN BIAYA RINGAN SERTA ASAS MEMBERIKAN BANTUAN KEPADA PENCARI KEADILAN DI PERADILAN AGAMA

PENERAPAN ASAS SEDERHANA, CEPAT DAN BIAYA RINGAN SERTA ASAS MEMBERIKAN BANTUAN KEPADA PENCARI KEADILAN DI PERADILAN AGAMA PENERAPAN ASAS SEDERHANA, CEPAT DAN BIAYA RINGAN SERTA ASAS MEMBERIKAN BANTUAN KEPADA PENCARI KEADILAN DI PERADILAN AGAMA Oleh : Drs.H. Zainir Surzain., S.H., M.Ag I. PENDAHULUAN Peradilan agama adalah

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

BAB IV PEMILIKAN SATUAN RUMAH SUSUN BAGI WARGA NEGARA ASING DI INDONESIA

BAB IV PEMILIKAN SATUAN RUMAH SUSUN BAGI WARGA NEGARA ASING DI INDONESIA BAB IV PEMILIKAN SATUAN RUMAH SUSUN BAGI WARGA NEGARA ASING DI INDONESIA A. Kepastian hukum dalam pemilikan satuan rumah susun bagi warga negara asing di Indonesia Menurut Kepala Urusan Umum dan Kepegawaian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang ditandai dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006

BAB I PENDAHULUAN. yang ditandai dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 13 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perubahan paradigma baru pengelolaan barang milik negara/aset negara yang ditandai dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 yang merupakan

Lebih terperinci

MATERI KULIAH PENGANTAR ILMU HUKUM Match Day 2 KONSEP ILMU, ILMU HUKUM DAN HUKUM

MATERI KULIAH PENGANTAR ILMU HUKUM Match Day 2 KONSEP ILMU, ILMU HUKUM DAN HUKUM MATERI KULIAH PENGANTAR ILMU HUKUM Match Day 2 KONSEP ILMU, ILMU HUKUM DAN HUKUM A. ILMU Apa ilmu itu?. Dalam thesaurus Bahasa Indonesia, Ilmu diartikan sebagai (1) bidang, disiplin, keahlian, lapangan,

Lebih terperinci

Konsep Dasar Manajemen Pendidikan di Sekolah. KEWIRAUSAHAAN; Penanaman Jiwa Kewirausahaan

Konsep Dasar Manajemen Pendidikan di Sekolah. KEWIRAUSAHAAN; Penanaman Jiwa Kewirausahaan Konsep Dasar Manajemen Pendidikan di Sekolah : viii + 174 hlm ISBN : 978-602-8545-64-8 Tahun : 2013 Rp. 53.000 Manajemen Pendidikan adalah suatu kegiatan atau rangkaian kegiatan yang berupa proses pengelolaan

Lebih terperinci

ANALISIS KONDISI LINGKUNGAN Oleh: Hermanto SP Staf Pengajar Jurusan Pendidikan Luar Biasa

ANALISIS KONDISI LINGKUNGAN Oleh: Hermanto SP Staf Pengajar Jurusan Pendidikan Luar Biasa ANALISIS KONDISI LINGKUNGAN Oleh: Hermanto SP Staf Pengajar Jurusan Pendidikan Luar Biasa Pendahuluan Tulisan ini, di awali dengan memaparkan visi, misi dan tujuan Universitas Negeri Yogyakarta tahun 2006-2010.

Lebih terperinci

PERGURUAN TINGGI BADAN HUKUM MILIK NEGARA (PT-BHMN) DITINJAU DARI PERSPEKTIF FILOSOFIS DAN SOSIOLOGIS. Oleh Rochmat Wahab

PERGURUAN TINGGI BADAN HUKUM MILIK NEGARA (PT-BHMN) DITINJAU DARI PERSPEKTIF FILOSOFIS DAN SOSIOLOGIS. Oleh Rochmat Wahab PERGURUAN TINGGI BADAN HUKUM MILIK NEGARA (PT-BHMN) DITINJAU DARI PERSPEKTIF FILOSOFIS DAN SOSIOLOGIS Oleh Rochmat Wahab Pengantar Nothing is permanent but change It is better able to understand the shifts

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KEAMANAN NASIONAL

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KEAMANAN NASIONAL RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG KEAMANAN NASIONAL Jakarta, 16 Oktober 2012 RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG KEAMANAN NASIONAL DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

KETERGANTUNGAN DAN KETERBELAKANGAN. Slamet Widodo

KETERGANTUNGAN DAN KETERBELAKANGAN. Slamet Widodo KETERGANTUNGAN DAN KETERBELAKANGAN Slamet Widodo Teori modernisasi ternyata mempunyai banyak kelemahan sehingga timbul sebuah alternatif teori yang merupakan antitesis dari teori modernisasi. Kegagalan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

# $ !!" ! #$! $% # %!!!'(!! +!! % %+!'!! " #! # % #, #,-! #! )!! %" .'.!% % ) ' ' '!!!! % '! $ )!!'" /!.!% % ) $ % & (!!!!.!% %!$

# $ !! ! #$! $% # %!!!'(!! +!! % %+!'!!  #! # % #, #,-! #! )!! % .'.!% % ) ' ' '!!!! % '! $ )!!' /!.!% % ) $ % & (!!!!.!% %!$ !!"! #$! $%!&!'!!" # %!!!'(!!!$)!" #* $%!++ +!! % %+!'!! " "" #! # % #'!$ #, #,-! #'-!!! #! )!! %" # $.'.!% % ) ' ' '!!!! % '! $ )!!'" /!.!% % ) $ % & (!!!!.!% %!$!!!%.!% % "!.!% % )!')!! %!+!.!% % & &

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2011 TENTANG INTELIJEN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2011 TENTANG INTELIJEN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2011 TENTANG INTELIJEN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk terwujudnya tujuan

Lebih terperinci

Budaya Hukum Dalam Rangka Meningkatkan Disiplin Nasional- Orasi Ilmiah Andi Mattalata, Menteri Hukum dan H

Budaya Hukum Dalam Rangka Meningkatkan Disiplin Nasional- Orasi Ilmiah Andi Mattalata, Menteri Hukum dan H Budaya Hukum Dalam Rangka Meningkatkan Disiplin Nasional- Orasi Ilmiah Andi Mattalata, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI Thursday, October 18, 2012 http://www.esaunggul.ac.id/epaper/budaya-hukum-dalam-rangka-meningkatkan-disiplin-nasional-orasi-il

Lebih terperinci

PERBUATAN MELANGGAR HUKUM OLEH PENGUASA

PERBUATAN MELANGGAR HUKUM OLEH PENGUASA PERBUATAN MELANGGAR HUKUM OLEH PENGUASA (PMHP/OOD) disampaikan oleh: Marianna Sutadi, SH Pada Acara Bimbingan Teknis Peradilan Tata Usaha Negara Mahkamah Agung RI Tanggal 9 Januari 2009 Keputusan Badan/Pejabat

Lebih terperinci

BUPATI BADUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI BADUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BADUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BADUNG, Menimbang : a. bahwa pembangunan ekonomi yang

Lebih terperinci

BAB III ARAH STRATEGI DAN KEBIJAKAN

BAB III ARAH STRATEGI DAN KEBIJAKAN BAB III ARAH STRATEGI DAN KEBIJAKAN 3.1 Arah Strategi dan kebijakan Nasional Arah strategi dan kebijakan umum pembangunan nasional 2010-2014 adalah sebagai berikut: 1. Melanjutkan pembangunan mencapai

Lebih terperinci

PENANAMAN KARAKTER TANGGUNG JAWAB SISWA PADA PELAKSANAAN ULANGAN HARIAN DALAM MATA PELAJARAN

PENANAMAN KARAKTER TANGGUNG JAWAB SISWA PADA PELAKSANAAN ULANGAN HARIAN DALAM MATA PELAJARAN PENANAMAN KARAKTER TANGGUNG JAWAB SISWA PADA PELAKSANAAN ULANGAN HARIAN DALAM MATA PELAJARAN PKn Studi Kasus: Siswa Kelas VII B MTs Muhammadiyah 07 Klego Boyolali Tahun Ajaran 2013/2014) NASKAH PUBLIKASI

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG STANDARDISASI DAN PENILAIAN KESESUAIAN

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG STANDARDISASI DAN PENILAIAN KESESUAIAN PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG STANDARDISASI DAN PENILAIAN KESESUAIAN I. UMUM Untuk mencapai tujuan dibentuknya Pemerintah Negara Republik Indonesia yang diamanatkan

Lebih terperinci

2. Mengenai istilah human sciences itu sendiri, apakah itu sama dengan ilmu humaniora atau ilmu pengetahuan budaya?

2. Mengenai istilah human sciences itu sendiri, apakah itu sama dengan ilmu humaniora atau ilmu pengetahuan budaya? 1. Sebagai Ketua Steering Committee konferensi ICTHuSI, bisakah Anda jelaskan target dan sasaran yang hendak dicapai? Tujuan penyelenggaraan konferensi IC-THuSi ini pada dasarnya adalah untuk merintis

Lebih terperinci

Latar Belakang Diselenggarakannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Lifeskills) 1/5

Latar Belakang Diselenggarakannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Lifeskills) 1/5 Latar Belakang Diselenggarakannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Lifeskills) 1/5 Latar Belakang Diselenggarakannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Lifeskills) Bagian I (dari 5 bagian) Oleh, Dadang Yunus L, S.Pd.

Lebih terperinci

PI HAK YAN G M EM I LI KI HUBUN GAN I STI M EW A

PI HAK YAN G M EM I LI KI HUBUN GAN I STI M EW A Pihak yang Memiliki Hubungan Istimewa SA Se k si 3 3 4 PI HAK YAN G M EM I LI KI HUBUN GAN I STI M EW A Sumber: PSA No. 34 PEN DAHULUAN 01 Seksi ini memberikan panduan tentang prosedur yang harus dipertimbangkan

Lebih terperinci

Tinjauan Konstitusional Penataan Lembaga Non-Struktural di Indonesia 1

Tinjauan Konstitusional Penataan Lembaga Non-Struktural di Indonesia 1 Tinjauan Konstitusional Penataan Lembaga Non-Struktural di Indonesia 1 Hamdan Zoelva 2 Pendahuluan Negara adalah organisasi, yaitu suatu perikatan fungsifungsi, yang secara singkat oleh Logeman, disebutkan

Lebih terperinci

Pendekatan-Pendekatan dalam Ilmu Politik. Cecep Hidayat Departemen Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia

Pendekatan-Pendekatan dalam Ilmu Politik. Cecep Hidayat Departemen Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia Pendekatan-Pendekatan dalam Ilmu Politik Cecep Hidayat Departemen Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia Definisi Pendekatan Menurut Vernon van Dyke: Pendekatan adalah

Lebih terperinci