GENDER DAN KEPENDUDUKAN SERTA IMPLIKASINYA DALAM PEMBANGUNAN DI INDONESIA. Oleh Asep Sopari 1

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "GENDER DAN KEPENDUDUKAN SERTA IMPLIKASINYA DALAM PEMBANGUNAN DI INDONESIA. Oleh Asep Sopari 1"

Transkripsi

1 GENDER DAN KEPENDUDUKAN SERTA IMPLIKASINYA DALAM PEMBANGUNAN DI INDONESIA Oleh Asep Sopari 1 Pendahuluan Pada tahun 2005, penduduk Indonesia berjumlah 219,204.7 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, 109,403.0 jiwa adalah wanita, dan 623,079,0 jiwa adalah wanita usia tahun yang dalam demografi termasuk kategori penduduk usia reproduksi, yaitu penduduk (wanita) yang secara biologis memiliki potensi untuk hamil dan melahirkan. Dua dekade kemudian (sekitar tahun 2025), anak yang dilahirkannya menjadi penduduk usia remaja. Berdasarkan proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2025 jumlah penduduk usia muda (usia 0 14 tahun) sebanyak 22,8 persen dari total penduduk 273,219.2 juta jiwa. Jika separuhnya dari mereka pada usia emasnya diasuh oleh pembantu atau babysitter atau anggota keluarga lainnya selain orangtua karena ditinggalkan ibunya bekerja di sektor publik menjadi direktris sebuah bank atau kepala cabang pemasaran sebuah perusahaan swasta terkemuka, kemungkinan besar apa yang dikhawatirkan Fukuyama akan terbukti: terjadinya guncangan besar the great distruption. Menurut Fukuyama, dalam buku The Great Distruption: Human Nature and Reconstitution of Social Order, guncangan besar merupakan sebuah kondisi ketidakteraturan, disharmoni, sebagaimana guncangan gempa dengan skala tinggi yang menyebabkan semua orang berhamburan tak tentu arah karena masingmasing mempunyai tujuan sendiri sendiri. Guncangan besar, menurut penulis buku terkenal The End of History and The Last Man ini, ditandai oleh meningkatnya secara drastis sejumlah patologi sosial seperti kejahatan (kriminalitas), perceraian, dan kehancuran kehidupan rumah tangga. Dengan mengambil perumpamaan kasus di Amerika (sebagai representasi negara maju yang telah menerapkan pembangunan berprespektif gender), sebagian besar dari pelaku kejahatan tersebut adalah penduduk usia remaja. 1 Staf pada Pusat Pelatihan Gender dan Peningkatan Kualitas Perempuan, BKKBN Pusat dan Mahasiswa Magister Studi Kebijakan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta 1

2 Secara teoritis maupun empiris tingginya komposisi penduduk pada kelompok usia tertentu bukan merupakan penyebab langsung dari tingginya jumlah kejahatan, tapi pergeseran dalam norma sosial yang berkaitan dengan reproduksi, keluarga, dan hubungan antarjenis merupakan salah satu penyebab munculnya guncangan besar itu. Dan, masih menurut Fukyuma, feminisme dan perubahan perubahan dalam peran gender menjadi musabab dari pergeseran sosial tersebut. Peran gender dan pembangunan berprespektif gender Gender berasal dari kata gender (bahasa Inggris) yang diartikan sebagai jenis kelamin. Namun jenis kelamin di sini bukan seks secara biologis, melainkan sosial budaya dan psikologis. Pada prinsipnya konsep gender memfokuskan perbedaan peranan antara pria dengan wanita, yang dibentuk oleh masyarakat sesuai dengan norma sosial dan nilai sosial budaya masyarakat yang bersangkutan. Peran gender adalah peran sosial yang tidak ditentukan oleh perbedaan kelamin seperti halnya peran kodrati. Oleh karena itu, pembagian peranan antara pria dengan wanita dapat berbeda di antara satu masyarakat dengan masyarakat yang lainnya sesuai dengan lingkungan/budaya. Peran gender juga dapat berubah dari masa ke masa, karena pengaruh kemajuan pendidikan, teknologi, ekonomi, dan lain lain. Hal itu berarti, peran gender dapat ditukarkan antara pria dengan wanita (Aryani, 2002; Pusat Studi Wanita Universitas Udayana, 2003; Sudarta, 2005). Dalam perkembangan gender berikutnya dikenal ada tiga jenis peran gender, yaitu peran produktif, peran reproduktif, dan peran sosial. Peran produktif adalah peran yang dilakukan oleh seseorang, menyangkut pekerjaan yang menghasilkan barang dan jasa, baik untuk dikonsumsi maupun untuk diperdagangkan. Peran ini sering pula disebut dengan peran di sektor publik. Peran reproduktif adalah peran yang dijalankan oleh seseorang untuk kegiatan yang berkaitan dengan pemeliharaan sumber daya manusia dan pekerjaan urusan rumah tangga, seperti mengasuh anak, memasak, mencuci pakaian dan alat alat rumah tangga, menyetrika, membersihkan rumah, dan lain lain. Peran reproduktif ini disebut juga peran di sektor domestik. Peran sosial adalah peran yang 2

3 dilaksanakan oleh seseorang untuk berpartisipasi di dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, seperti gotong royong dalam menyelesaikan beragam pekerjaan yang menyangkut kepentingan bersama (Kantor Menneg Peranan Wanita, 1998; Pusat Studi Wanita Universitas Udayana, 2003; Sudarta, 2005). Kesadaran akan konsep dan peran gender ini yang menyebabkan munculnya kesadaran terhadap adanya ketidakadilan dan ketidaksetaraan terhadap salah satu jenis kelamin dalam hal ini wanita di masyarakat. Kesadaran dan pemikiran ini yang kemudian dinamakan feminisme melontarkan kritik terhadap teori pembangunan yang menjadi sumber kebijakan negara dalam melakukan pembangunan. Setelah dilakukan berbagai kajian, diketahui bahwa memang ada korelasi positif antara ketimpangan perlakuan dan kesempatan yang terjadi pada wanita dengan kegagalan pembangunan sebuah negara. Todaro, misalnya, mengemukakan bahwa ada hubungan terbalik antara pendidikan wanita dengan jumlah anak per keluarga, terutama di kalangan penduduk yang taraf pendidikannya relatif rendah. Artinya, semakin tinggi pendidikan seorang wanita, tingkat fertilitas atau kecenderungan untuk memiliki anaknya akan semakin rendah/sedikit; sebaliknya, pendidikan wanita yang rendah cenderung memiliki anak yang banyak (Todaro, 2008). Menurut Todaro, diskriminasi dalam hal pendidikan terhadap wanita akan menghambat pembangunan ekonomi karena: (1) dibandingkan dengan pria, tingkat pengembalian rate of return dari pendidikan wanita lebih tinggi dibanding pria; (2) peningkatan pendidikan wanita akan meningkatkan produktivitasnya dalam pertanian, pabrik, meningkatkan partisipasi angkatan kerja, pendewasaan usia perkawinan, fertilitas yang rendah, dan perbaikan kesehatan dan gizi anak; (3) kesehatan dan gizi anak serta ibu yang terdidik akan melahirkan generasi yang berkualitas; (4) perbaikan peran dan status wanita dalam pendidikan akan memutuskan lingkaran setan kemiskinan. Pemikiran tentang pentingnya kesetaran dan keadilan gender gender aquality and equity ini diterima dan diadopsi, bahkan menjadi kesepakatan internasional (di antaranya ICPD Flatform dan Millenium Development Goals/MDGs) yang mengikat dan wajib dijalankan oleh negara negara di dunia 3

4 serta melahirkan konsep Pembangunan Berprespektif Gender En gendering Development. Pembangunan berprespektif gender mengandung pengertian sebagai upaya mengintegrasikan masalah gender dalam pembangunan melalui pemenuhan hak hak dasar seperti pendidikan, kesehatan, kredit, pekerjaan, dan peningkatan peranserta dalam kehidupan publik (Bank Dunia, 2005). United Nation Development Program (UNDP) kemudian menyusun tolok ukur keberhasilan pembangunan melalui formula Human Development Index/HDI, yaitu indikator komposit/gabungan yang terdiri dari tiga ukuran: kesehatan (sebagai ukuran longevity), pendidikan (sebagai ukuran knowledge), dan tingkatan pendapatan riil (sebagai ukuran living standards). Karena adanya isu kesetaraan gender kemudian menyusun formula baru yang mengakomodasi perspektif gender, yaitu Gender related development Index/GDI (indikatornya sama dengan HDI, namun dengan memperhitungkan kesenjangan pencapaian antara perempuan dan laki laki: selisih yang semakin kecil antara GDI dan HDI menyatakan semakin rendahnya kesenjangan gender) dan Gender Empowerment Measurement/GEM yang menitikberatkan pada partisipasi, dengan cara mengukur ketimpangan gender di bidang ekonomi (perempuan dalam angkatan kerja dan rata rata upah di sektor non pertanian), politik (perempuan di parlemen), dan pengambilan keputusan (perempuan pekerja profesional, pejabat tinggi, dan manajer). Berkarier di publik, bekerja di domestik: sebuah polemik Secara agregat, jumlah penduduk wanita di Indonesia lebih banyak dibandingkan dengan pria. Sex ratio (perbandingan jumlah penduduk laki laki dengan jumlah penduduk perempuan per 100 penduduk perempuan) penduduk di Indonesia pada tahun 2005 adalah Artinya, setiap 100 penduduk lakilaki, ada 104 penduduk wanita. Perluasan kesempatan wanita untuk mengakses pendidikan telah menambah angka partisipasi wanita dalam pendidikan, meskipun untuk kategori pendidikan tinggi proporsinya masih jauh di bawah pria. Konsekuensinya terhadap perencanaan pembangunan yang harus dilakukan pemerintah adalah menyediakan lapangan kerja bagi penduduk wanita. Jika tidak 4

5 dilakukan, permasalahan yang muncul kemudian adalah meningkatnya jumlah penganggur wanita terdidik. Secara demografi, penduduk usia produktif (15 64 tahun) adalah penduduk usia kerja yang menanggung konsumsi penduduk usia tidak produktif (usia 0 14 dan 65+ tahun). Berarti, apabila ada penduduk yang tidak bekerja/sedang mencari pekerjaan/menganggur, akan menambah beban ketergantungan (devendency ratio) yang harus ditanggung penduduk usia produktif yang benar benar bekerja. Artinya, secara ekonomi, wanita/pria usia produktif dan terdidik yang menganggur tidak menguntungkan negara karena logikanya ada cost yang sudah dikeluarkan negara untuk biaya pendidikan, tapi tidak menghasilkan apa apa untuk negara dan malah menjadi beban. Ketersediaan pasar kerja untuk wanita merupakan faktor penting yang disarankan oleh pembangunan berprespektif gender untuk mewadahi penduduk wanita usia kerja yang sudah terdidik. Dalam paham kapitalisme, yang dianut sebagian besar negara negara maju, penduduk adalah tenaga kerja sekaligus pasar konsumen bagi produknya. J.M. Keynes, dalam bukunya The General Theory of Employment, Interest and Money (pertama kali terbit 1936), yang pemikirannya dalam beberapa hal diadopsi negara penganut kapitalisme, memandang pentingnya menciptakan lapangan pekerjaan sebesar besarnya. Dalam paham kapitalisme, manusia (tenaga kerja) adalah faktor produksi yang harus di manage untuk menghasilkan keuntungan. Menurut perspektif Marxian, di sistem ekonomi kapitalistik, tenaga kerja tak ada bedanya dengan mesin produksi. Wanita bekerja sebenarnya bukanlah hal baru dalam budaya masyarakat Indonesia. Di jaman purba, ketika berburu dan meramu menjadi aktivitas untuk mencari penghidupan, wanita/istri bekerja menyiapkan makanan dan mengelola hasil buruan untuk ditukar dengan barang lain untuk dikonsumsi keluarga. Karena sistem yang berlaku dengan cara barter, pekerjaan wanita meski sepertinya berkutat di sektor domestik mengandung nilai ekonomi tinggi. Begitu pun yang terjadi ketika budaya masyarakat berkembang menjadi agraris dan industri, keterlibatan wanita sangat besar. Dalam konteks Indonesia sebagai negara berkembang, sebenarnya tidak ada wanita yang benar benar menganggur: ia melakukan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya seperti mengelola sawah, membuka warung di rumah, mengkreditkan pakaian, dan lain 5

6 lain. Masalahnya ada pada cara pandang tentang bekerja sebagai peran produktif atau peran di sektor publik, yang intinya pekerjaan yang menghasilkan barang dan jasa (baik untuk dikonsumsi maupun untuk diperdagangkan), tapi yang terjadi justru menekankan pada sektor publik yang hanya diartikan sebagai pekerjaan yang dilakukan di luar rumah. Hal ini kemudian yang menjadikan pekerjaan di sektor publik hanya dipahami sebagai karir atau bekerja kantoran (yang bekerja di kantor). Konsep bekerja bagi wanita di luar rumah ini yang berkiblat pada paham kapitalisme yang karena mengejar profit mensyaratkan jumlah jam kerja tertentu. Padahal, ketika jumlah jam kerja lebih banyak (yang justru baik menurut paham kapitalisme), mengharuskan wanita mengurangi waktunya untuk melakukan pekerjaan lain yang secara psikologis tidak dapat disubstitusikan kepada orang lain, yaitu pengasuhan anak (nursery) dalam keluarga. Dalam paham kapitalisme yang materialistik, pembangunan adalah proses produksi, dan outcome nya adalah produk (barang atau jasa), sementara ukuran keberhasilan dari sebuah pembangunan adalah keuntungan materialistik yang sebesarbesarnya. Dengan demikian, ada aspek lain yang diabaikan (atau perspektif postdevelopmentalism menyebutnya dengan istilah dikorbankan ) dalam pembangunan, terutama pembangunan SDM, yaitu aspek psikologis. Ketiadaan aspek psikologis termasuk di dalamnya contentment atau kepuasan/ kebahagiaan dalam kalkulasi keberhasilan pembangunan versi modernism ini menjadi salah satu kritik post developmentalism atas modernism yang materialistik. Dalam perspektif gender, seharusnya, esensi paling penting dari pendidikan bagi wanita bukan semata untuk menghasilkan materi yang kerapkali menjadi dalih untuk berkarier di luar rumah demi memberikan yang terbaik bagi anak melainkan sebagai upaya meningkatkan kapasitas dan potensi diri untuk (1) menaikkan posisi tawar wanita dalam pengambilan keputusan (baik sebagai istri atau anak dalam keluarga maupun sebagai anggota/warga negara dalam konteks masyarakat/negara); dan (2) meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan wanita sebagai ibu di rumah tangga untuk mendidik dan membesarkan anak melalui pengasuhan. Dengan demikian, produk yang 6

7 dihasilkan dari pembangunan berprespektif gender bukan hanya besaran materi (barang dan jasa) untuk mendongkrak ekonomi keluarga, melainkan juga terciptanya kesetaraan dan keadilan gender dalam berbagai aspek kehidupan serta terbentuknya generasi bangsa yang berkualitas. Dengan kata lain, dalam konteks keluarga, pembangunan berprespektif gender seharusnya berdampak bukan hanya pada keluarga yang sejahtera (sebagai ukuran ketercukupan materi), melainkan juga keluarga yang harmonis (sebagai ukuran ketercukupan aspek psikologis dan minimalnya konflik). Keluarga dan Guncangan Besar Keluarga adalah unit kerjasama sosial yang mendasar. Orangtua (suami istri) harus bekerjasam untuk menghasilkan keturunan, menanamkan nilai nilai, dan mendidik anak anaknya. James Coleman (1988, dalam Fukuyama, 2005) mengartikan modal sosial sebagai seperangkat sumber daya yang tertanam dalam hubungan keluarga dan organisasi sosial serta berguna untuk pengembangan kognitif atau sosial anak. Kecenderungan sesama anggota keluarga untuk bekerja sama tidak saja memudahkan upaya membesarkan anak, melainkan juga memperlancar kegiatan kegiatan sosial lainnya, seperti untuk menjalankan usaha. Menurut Goode (1983), ada empat fungsi universal keluarga inti, yaitu fungsi seksual, fungsi reproduksi, fungsi ekonomi, dan fungsi pendidikan, sedangkan BKKBN mengeluarkan konsep delapan fungsi keluarga, yaitu fungsi agama, cinta kasih, perlindungan, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi, dan pelestarian lingkungan. Namun yang terjadi akan lain jika kondisinya berubah. Menurut sebagian besar teori sosial klasik, ketika masyarakat berubah menjadi modern, peranan keluarga akan semakin tidak penting dan digantikan oleh ikatan ikatan sosial yang bersifat pribadi. Akibatnya fungsi fungsi keluarga sebagai tempat persemaian nilai nilai moral, mendidik anak dan sebagainya menjadi hilang. Pengganti dari fungsi fungsi tersebut dikreasi sedemikian rupa menjadi lembaga/institusi sosial yang bersifat ekonomis (diperjual belikan). Dalam perkembangan selanjutnya, perubahan juga berimbas pada anggota keluarga: awalnya pria menjadi breadwinner, kemudian wanita mulai mencari kerja di luar rumah karena diperlukan 7

8 biaya yang besar untuk membeli pengganti fungsi fungsi yang sudah hilang tersebut. Modernisasi secara materi didukung oleh modernisasi pola pikir, terutama dalam memandang gender, tidak saja menyebabkan keluarga terabaikan, tapi menumpuk menjadi konflik antara pria dan wanita, terutama dalam hal pembagian peran gender. Modernisasi menuntut keluarga untuk memiliki materi yang lebih supaya bisa membayar pengganti fungsi fungsi tertentu yang hilang, di pihak lain mindset tentang relasi gender, yang sebelumnya terjadi pembagian peran dan wilayah yang jelas dengan tugas fungsi yang juga jelas, menjadi tidak karuan. Tingginya kebutuhan akan materi menyebabkan meningkatnya pamor peran produktif gender dan mengakibatkan terabaikan/diabaikannya peran reproduktif, padahal hampir semua fungsi keluarga tergantung pada peran ini. Konflik tentang peran gender merupakan salah satu penyebab perceraian. Angka perceraian di AS meningkat dengan tajam semenjak tahun 1960 an ketika modernisasi mulai menjadi bagian dari ciri individu: freedom, rational, dan welfare. Hal tersebut menyebabkan jumlah anak yang dibesarkan di keluarga yang dikepalai wanita telah mencapai 50 persen pada tahun 1980 an. Perceraian dengan beban pengasuhan anak anak, telah menyebabkan semua peran gender dilakukan oleh satu orang aktor dan semua fungsi keluarga dibebankan hanya pada satu pihak. Fenomena lain adalah meningkatnya kasus kekerasan terhadap wanita yang terjadi hampir setiap delapan detik, serta pergaulan bebas dan keengganan menikah menyebabkan tingginya angka perkosaan wanita, yaitu enam menit sekali (Kompas, 4 September 1995). Lebih ironis lagi, menurut laporan majalah Fortune (edisi 2 September 1995), banyak wanita eksekutif mengalami stress karena merasakan kekecewaan, ketidakpuasan dan kekhawatiran, bahkan mengalami gangguan hubungan sosial dalam keluarga (Republika, 24 September 1995). Studi tentang kepuasan hidup wanita bekerja yang pernah dilakukan oleh Ferree (1976) menunjukkan, bahwa wanita yang bekerja menunjukkan tingkat kepuasan hidup hanya sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang tidak bekerja. Hasil penelitian Freudiger, P. (1983), yang dimuat dalam Journal of Marriage and the Family edisi 45 dan 213 s.d. 219 (tentang ukuran kebahagiaan 8

9 hidup wanita yang sudah menikah, ditinjau dari 3 kategori: wanita bekerja, wanita pernah bekerja, dan wanita yang belum pernah bekerja) menunjukkan bahwa bagi para istri dan ibu bekerja, kebahagiaan perkawinan adalah tetap menjadi hal yang utama, dibandingkan dengan kepuasan kerja. Studi lain masih menyangkut kebahagiaan kehidupan para ibu bekerja, yang dilakukan oleh Walters dan McKenry (1985) menunjukkan, bahwa mereka cenderung merasa bahagia selama para ibu bekerja tersebut dapat mengintegrasikan kehidupan keluarga dan kehidupan kerja secara harmonis. Jadi, adanya konflik peran yang dialami oleh ibu bekerja, akan menghambat kepuasan dalam hidupnya. Perasaan bersalah (meninggalkan perannya sementara waktu sebagai ibu rumah tangga) yang tersimpan, membuat sang ibu tersebut tidak dapat menikmati perannya dalam dunia kerja. Remaja pelaku kejahatan Dampak lain dari diabaikannya peran reproduktif gender, di antaranya adalah pengasuhan anak, adalah pada kepribadian anak yang akan muncul dan termanifestasikan menjadi perilaku pada usia remaja atau sebelumnya ketika mereka sudah dapat mengekspresikan diri. Hasil studi menunjukkan bahwa anak yang semasa kecilnya tidak mendapatkan pengasuhan yang baik dari orangtuanya cenderung akan menjadi remaja yang berpotensi besar untuk melakukan perilaku menyimpang. Anak yang tidak dibesarkan dengan pengasuhan yang optimal dari orangtuanya tidak jauh beda dengan anak yang lahir dari kehamilan yang tidak diinginkan karena sama sama dibesarkan dengan pengasuhan yang tidak maksimal. Di beberapa negara maju, dimana peran produktif gender lebih dominan dan wanita/ibu memilih berkarier di luar rumar seperti Amerika, jumlah remaja menjadi ancaman yang patut diperhitungkan. Fukuyama bahkan menamakan kelompok penduduk usia remaja ini sebagai segerombolan Suku Barbar yang dapat melakukan apa saja. Kenakalan remaja (delinkuensi) adalah semua bentuk atktivitas remaja yang belum dewasa akan hukum yang bertentangan dengan norma norma sosial terutama norma hukum kenakalan remaja merupakan suatu bentuk ketimpangan penanganan terhadap pendidikan anak akibat ketidak mampuan orang tua, 9

10 lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. Kenakalan remaja biasanya terjadi di kota kota atau di masyarakat yang telah mendapatkan pengaruh modernitas dan kehidupan urban. Proses terjadinya melalui beberapa tahapan. Pertama, sense of value yang kurang ditanamkan orang oleh orangtua karena ketidakmampuan, ketidakmauan, atau tidak adanya kesempatan karena kesibukan. Kedua, timbulnya organisasi organisasi informal (geng) yang berprilaku menyimpang sehingga tidak di sukai oleh masyarakat. Ketiga, timbulnya upaya upaya remaja untuk mengubah keadaan dan disesuaikan dengan youth values. Dari sebuah penelitian diketahui bahwa 90 persen anak usia 8 16 tahun telah membuka situs porno di internet (Nuryati, 2008). Studi tersebut menyebutkan rata rata anak usia 11 tahun membuka situs porno untuk pertama kalinya. Saat ini terdapat 4,2 juta situs porno yang tersedia di internet, dan catatan tentang penggunaan internet di Indonesia, dari 100 situs internet yang paling sering dikunjungi, tujuh di antaranya merupakan situs porno. Dampaknya adalah sekitar 28,5 persen para remaja telah melakukan hubungan seksual sebelum menikah dan 10 persen di antaranya akhirnya menikah dan memiliki anak. Hal ini menyebabkan kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) pada remaja yang angkanya menunjukkan kecenderungan meningkat antara hingga kasus setiap tahun (Kompas, 4 Agustus 2009), berarti akan lahir hingga anak yang tidak akan mengenyam pengasuhan yang maksimal dari orangtuanya. Tingginya angka hubungan seks pranikah di kalangan remaja erat kaitannya dengan meningkatnya jumlah aborsi saat ini yang mencapai sekitar 2,3 juta kasus, dan persen diantaranya dilakukan remaja. Hal ini pula yang menjadikan tingginya angka kematian ibu di Indonesia, dan tertinggi di Asia Tenggara. Selain itu, ancaman HIV/AIDS menanti di depan mata. Lebih dari setengah dari total pengidap HIV/AIDS, adalah penduduk kelompok usia tahun. Pada kasus lain, 75 persen pengguna narkoba adalah remaja berusia antara tahun dan jumlah tersebut cenderung terus mengalami kenaikan setiap tahunnya. Penelitian yang dilakukan Asian Harm Reduction Network (AHRN) terhadap remaja pengguna narkoba di Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, dan Depok menemukan mereka mengkonsumsi narkoba pada umur 9 tahun. 10

11 Kebanyakan memulai dengan mengkonsumsi boti (obat tidur) seperti diazepam/valium. Sisanya memulai dengan konsumsi ganja (Tempo, 1 Desember 2009). AHRN menemukan terjadi peningkatan penggunaan narkoba di usia yang semakin dini. Dari lebih 500 responden remaja pengguna narkoba, termasuk pelajar dan mahasiswa yang diwawancarai, separuhnya atau 50 persen memulai penggunaan narkoba mulai umur 9 15 tahun. Oleh karena itu tidak heran jika setiap tahunnya, menurut BPS, terdapat lebih dari perkara pelanggaran hukum yang dilakukan anak anak di bawah usia 16 tahun. Sebagian besar perkara berkenan dengan tindak kriminal ringan seperti pencurian, pelecehan seksual hingga perkosaan serta pembunuhan. Dari seluruh anak yang ditangkap hanya sekitar separuh yang diajukan ke pengadilan dan 83 persen dari mereka kemudian dipenjarakan. Harga yang harus dibayar Dewasa ini kaum wanita cenderung memilih berperan ganda. Hasil pengumpulan pendapat umum yang dilakukan LP3ES (Republika, 18/08/95) membuktikan bahwa sebanyak 229 dari 231 responden yang mencantumkan jenis pekerjaan sebagai ibu rumah tangga menginginkan pekerjaan lain. Tampaknya menjadi ibu rumah tangga saja bukanlah idaman wanita. Wanita masa kini merasa bangga bila tak cuma berperan sebagai ibu rumah tangga saja. Berkarir bagi mereka saat ini lebih dikaitkan dengan kemandirian dan eksistensi diri. Selain soal eksistensi bagi pribadi wanita itu sendiri, dengan berprespektif gender, pembangunan direkonstruksi menjadi menuntut sumbangan peran dari kaum wanitanya. Tak sedikit pula yang menjadikan kemiskinan dan beban ekonomi sebagai alasan. Namun beban tersebut adalah beban yang dipaksakan, bukan semata karena kehidupan yang terlampau miskin, tetapi kebutuhan akan uang yang semakin meningkat untuk membeli peran dan fungsi mereka yang ditinggalkan. Tampaknya segala hal selalu diukur dengan uang. Inilah yang mendorong kaum wanita untuk bekerja menopang beban nafkah keluarga. Dengan demikian disamping terbebani kewajiban mengasuh dan mendidik anak, seorang ibu juga menjadi seolah olah dituntut untuk membantu suami mencari 11

12 uang. Suami mereka perlu dibantu melunasi cicilan rumah, menyekolahkan anakanak, membayar uang kursus anak dan sebagainya. Besarnya dampak yang diakibatkan oleh pilihan berkarir di luar rumah dan meninggalkan tugas pengasuhan (bahkan hampir semua peran domestik), merupakan konsekuensi yang harus diterima dari mindset gender dan yang terprogram dalam pembangunan berprespektif gender. Jika tujuan awalnya adalah meningkatkan status pendidikan wanita dan menghapus kemiskinan struktral yang disebabkan oleh budaya patriarkhi yang menutup kesempatan kepada wanita, tentuju saja sudah tercapai, tetapi keuntungan yang didapat harus digunakan untuk dampak yang diakibatkan dari semua itu. Proyeksi tahun 2025 jumlah penduduk usia muda (usia 0 14 tahun) sebanyak 22,8 persen dari total penduduk 273,219.2 juta jiwa, jika separuhnya dari mereka di usia emasnya diasuh oleh pembantu atau babysitter karena ditinggalkan ibunya bekerja di sektor publik, kemungkinan besar the great distruption yang diungkapkan Fukuyama akan terbukti dengan indikator angka kejahatan dan perilaku menyimpang yang dilakukan remaja terus meningkat. Dengan demikian, prestasi dan konstribusi wanita dalam pembangunan dengan, misalnya, menggunakan indikator meningkatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia beberapa tahun yang akan datang harus dibayar dengan dampak yang ditimbulkannya, yaitu: (1) disharmoni (untuk tidak menyebut konflik berkepanjangan) kehidupan suami istri dengan indikator meningkatnya angka perceraian atau bahkan lebih ekstrim lagi meningkatnya kasus pembunuhan salah satu pasangan suami istri oleh pasangannya sendiri; (2) terbengkalainya pengasuhan anak sebagai manifestasi telah gagalnya keluarga menjalankan peran dan fungsinya dengan indikator meningkatnya kenakalan remaja dan remaja pelaku kejahatan; dan (3) disharmoni hubungan wanita pria dalam masyarakat sebagai manifestasi ketidaksiapan keduanya dalam menerima dan menciptakan atau bahkan salah kaprah dalam memaknai gagasan tentang kesetaraan dan keadilan gender dengan indikator meningkatnya kasus perkosaan dan pelecehan seksual serta perselingkuhan. Hal tersebut semestinya harus diperhitungkan oleh pemerintah melalui kebijakan pembangunannya di masa yang akan datang. Bukan hal yang tidak 12

13 mungkin jika pertanyaan yang muncul dalam perencanaan pembangunan (misalnya infrastruktur) ke depan adalah berapa banyak penjara khusus untuk anak dan remaja serta untuk anak dan remaja wanita yang dibutuhkan untuk menampung anak dan remaja pelaku kejahatan? Berapa jumlah rumah sakit ketergantungan obat/rsko dan tempat rehabilitasi yang perlu dibangun untuk remaja yang kecanduan narkoba? Berapa jumlah obat HIV/AIDS yang perlu disediakan setiap tahunnya untuk remaja pengidap penyakit tersebut? Berapa jumlah panti sosial yang perlu dibangun untuk menampung anak anak yang ditelantarkan orangtuanya? Namun demikian, hal ini bukan berarti konsep kesetaraan dan keadilan gender harus ditolak dan kembali ke sistem patriarki, melainkan mencoba memikirkan ulang implementasinya dengan latarbelakang dan kondisi Indonesia untuk memperkecil dampak yang ditimbulkannya. Daftar Pustaka Bank Dunia Pembangunan Berprespektif Gender: Laporan Penelitian Kebijakan Bank Dunia. Jakarta: Dian Rakyat. Coleman, James Social Capital in the Creation of Human Capital, dalam Yukuyama, Guncangan Besar: Kodrat Manusia dan Tata Sosial Baru. Jakarta: Gramedia. Fakih, Mansour Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi. Yogyakarta: Insist Press. Fukuyama, Prancis Guncangan Besar: Kodrat Manusia dan Tata Sosial Baru. Jakarta: Gramedia. Nuryati, Siti Anak Indonesia yang Dirundung Malang (makalah) Todaro, M, dan Stephen C. Smith Pembangunan Ekonomi. Jakarta: Erlangga. Yayasan Kesejahteraan Fatayat Anotasi 50 Buku Penguatan Hak Reproduksi Perempuan. Yogyakarta: Yayasan Kesejahteraan Fatayat. Majalah Tempo, 1 Desember 2009 Majalah Fortune, edisi 2 September 1995 Harian Umum Kompas, 4 Agustus 2009 Harian Umum Republika, 18 Agustus 1995 Harian Umum Republika, 24 September

PERANAN WANITA DALAM PEMBANGUNAN BERWAWASAN GENDER

PERANAN WANITA DALAM PEMBANGUNAN BERWAWASAN GENDER PERANAN WANITA DALAM PEMBANGUNAN BERWAWASAN GENDER OLEH WAYAN SUDARTA Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Udayana Abstrak Tulisan ini bertujuan untuk mengungkapkan peranan (hak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kesempatan kerja sangatlah terbatas (Suratiyah dalam Irwan, 2006)

BAB I PENDAHULUAN. kesempatan kerja sangatlah terbatas (Suratiyah dalam Irwan, 2006) BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Secara umum masalah utama yang sedang dihadapi secara nasional adalah sedikitnya peluang kerja, padahal peluang kerja yang besar dalam aneka jenis pekerjaan

Lebih terperinci

MAKALAH EKONOMIKA PEMBANGUNAN 1 MODAL MANUSIA: PENDIDIKAN DAN KESEHATAN DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI

MAKALAH EKONOMIKA PEMBANGUNAN 1 MODAL MANUSIA: PENDIDIKAN DAN KESEHATAN DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI MAKALAH EKONOMIKA PEMBANGUNAN 1 MODAL MANUSIA: PENDIDIKAN DAN KESEHATAN DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI Oleh: Martha Hindriyani 10/299040/EK/17980 Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Peran Pekerjaan dan Keluarga Fenomena wanita bekerja di luar rumah oleh banyak pihak dianggap sebagai sesuatu yang relatif baru bagi masyarakat Indonesia. Kendati semakin lumrah,

Lebih terperinci

[95] Ketika Peran Ibu Diperangi Friday, 18 January :09

[95] Ketika Peran Ibu Diperangi Friday, 18 January :09 Meski disebut hari ibu, namun arah perjuangan perempuan yang diinginkan ternyata bukan pada penguatan dan pengoptimalkan peran strategis seorang ibu, melainkan justru mencerabut peran itu dari diri perempuan.

Lebih terperinci

Masalah lain yang muncul adalah berubahnya struktur

Masalah lain yang muncul adalah berubahnya struktur Di Indonesia proses transisi demografi dapat dikatakan berhasil yang ditunjukkan dengan penurunan tingkat kematian bayi dan kematian maternal secara konsisten. Di sisi yang lain, terjadi peningkatan angka

Lebih terperinci

PEREMPUAN DAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA. Oleh: Chandra Dewi Puspitasari

PEREMPUAN DAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA. Oleh: Chandra Dewi Puspitasari PEREMPUAN DAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA Oleh: Chandra Dewi Puspitasari Pendahuluan Kekerasan terutama kekerasan dalam rumah tangga merupakan pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan terhadap martabat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Keberhasilan perusahaan dalam menghasilkan produk tidak hanya

BAB I PENDAHULUAN. Keberhasilan perusahaan dalam menghasilkan produk tidak hanya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Keberhasilan perusahaan dalam menghasilkan produk tidak hanya tergantung pada keunggulan teknologi, sarana dan prasarana, melainkan juga tergantung pada kualitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Setiap manusia dalam perkembangan hidupnya akan mengalami banyak perubahan di mana ia harus menyelesaikan tugastugas perkembangan, dari lahir, masa kanak-kanak, masa

Lebih terperinci

MARI BERGABUNG DI PROGRAM MENCARE+ INDONESIA!

MARI BERGABUNG DI PROGRAM MENCARE+ INDONESIA! MARI BERGABUNG DI PROGRAM MENCARE+ INDONESIA! 4 dari 5 laki-laki seluruh dunia pada satu masa di dalam hidupnya akan menjadi seorang ayah. Program MenCare+ Indonesia adalah bagian dari kampanye global

Lebih terperinci

DAFTAR TABEL. Tabel IV.1 Data Jumlah Penduduk Kota Medan berdasarkan Kecamatan Tabel IV.2 Komposisi pegawai berdasarkan jabatan/eselon...

DAFTAR TABEL. Tabel IV.1 Data Jumlah Penduduk Kota Medan berdasarkan Kecamatan Tabel IV.2 Komposisi pegawai berdasarkan jabatan/eselon... DAFTAR TABEL Tabel IV.1 Data Jumlah Penduduk Kota Medan berdasarkan Kecamatan... 40 Tabel IV.2 Komposisi pegawai berdasarkan jabatan/eselon... 54 Tabel IV.3 Komposisi pegawai berdasarkan golongan kepangkatan...

Lebih terperinci

Eksistensi Perempuan dalam Pembangunan yang Berwawasan Gender

Eksistensi Perempuan dalam Pembangunan yang Berwawasan Gender ISSN 1907-9893 Populis, Volume 7 No. 2 Oktober 2013 Eksistensi Perempuan dalam Pembangunan yang Berwawasan Gender Oleh SITTI NURJANA BATJO Abstraksi UUD 1945, pasal 27 menyatakan tentang persamaan hak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. panti tidak terdaftar yang mengasuh sampai setengah juta anak. Pemerintah

BAB I PENDAHULUAN. panti tidak terdaftar yang mengasuh sampai setengah juta anak. Pemerintah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia menempati urutan pertama di dunia sebagai negara dengan jumlah panti asuhan terbesar yaitu mencapai 5000 hingga 8000 panti terdaftar dan 15.000 panti

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang. Dalam Deklarasi Kairo tahun 1994 tercantum isu kesehatan dan hak

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang. Dalam Deklarasi Kairo tahun 1994 tercantum isu kesehatan dan hak BAB 1 PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Dalam Deklarasi Kairo tahun 1994 tercantum isu kesehatan dan hak reproduksi perempuan. Hal ini menunjukkan sudah adanya perhatian dunia dalam meningkatkan derajat kesehatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. bahkan sampai merinding serta menggetarkan bahu ketika mendengarkan kata

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. bahkan sampai merinding serta menggetarkan bahu ketika mendengarkan kata 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sekarang ini tidak sedikit kaum wanita yang mengerutkan kening, terkejut, bahkan sampai merinding serta menggetarkan bahu ketika mendengarkan kata poligami.

Lebih terperinci

Kebijakan Pemerintah dalam Mempersipkan Keluarga yang Ramah Anak

Kebijakan Pemerintah dalam Mempersipkan Keluarga yang Ramah Anak Kebijakan Pemerintah dalam Mempersipkan Keluarga yang Ramah Anak Disampaikan pada : Seminar Pra Nikah Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional 2014

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keluarga merupakan lembaga pendidikan pertama dan utama bagi anak, dalam keluarga terjadi proses pendidikan orang tua pada anak yang dapat membantu perkembangan anak.

Lebih terperinci

VI. ALOKASI WAKTU KERJA, KONTRIBUSI PENDAPATAN, DAN POLA PENGELUARAN RUMAHTANGGA PETANI LAHAN SAWAH

VI. ALOKASI WAKTU KERJA, KONTRIBUSI PENDAPATAN, DAN POLA PENGELUARAN RUMAHTANGGA PETANI LAHAN SAWAH 59 VI. ALOKASI WAKTU KERJA, KONTRIBUSI PENDAPATAN, DAN POLA PENGELUARAN RUMAHTANGGA PETANI LAHAN SAWAH 6.1. Curahan Tenaga Kerja Rumahtangga Petani Lahan Sawah Alokasi waktu kerja dalam kegiatan ekonomi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. sama. Hal ini terlihat jelas dalam kamus bahasa Indonesia yang tidak secara jelas

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. sama. Hal ini terlihat jelas dalam kamus bahasa Indonesia yang tidak secara jelas BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Konsep Gender dan Ketidakadilan Gender Hal penting yang harus dipahami dalam rangka membahas masalah perempuan adalah membedakan antara konsep seks dan gender. Kedua konsep

Lebih terperinci

Muchamad Ali Safa at INSTRUMEN NASIONAL HAK ASASI MANUSIA

Muchamad Ali Safa at INSTRUMEN NASIONAL HAK ASASI MANUSIA Muchamad Ali Safa at INSTRUMEN NASIONAL HAK ASASI MANUSIA UUD 1945 Tap MPR Nomor III/1998 UU NO 39 TAHUN 1999 UU NO 26 TAHUN 2000 UU NO 7 TAHUN 1984 (RATIFIKASI CEDAW) UU NO TAHUN 1998 (RATIFIKASI KONVENSI

Lebih terperinci

Kesiapan menikah hasil identifikasi dari jawaban contoh mampu mengidentifikasi tujuh dari delapan faktor kesiapan menikah, yaitu kesiapan emosi,

Kesiapan menikah hasil identifikasi dari jawaban contoh mampu mengidentifikasi tujuh dari delapan faktor kesiapan menikah, yaitu kesiapan emosi, 61 PEMBAHASAN Hampir seluruh dewasa muda dalam penelitian ini belum siap untuk menikah, alasannya adalah karena usia yang dirasa masih terlalu muda. Padahal ketentuan dalam UU No.1 tahun 1974, seharusnya

Lebih terperinci

PERSPEKTIF GENDER DALAM UNDANG-UNDANG KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA. Oleh: Wahyu Ernaningsih

PERSPEKTIF GENDER DALAM UNDANG-UNDANG KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA. Oleh: Wahyu Ernaningsih PERSPEKTIF GENDER DALAM UNDANG-UNDANG KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA Oleh: Wahyu Ernaningsih Abstrak: Kasus kekerasan dalam rumah tangga lebih banyak menimpa perempuan, meskipun tidak menutup kemungkinan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Penurunan fertilitas (kelahiran) di Indonesia selama dua dekade

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Penurunan fertilitas (kelahiran) di Indonesia selama dua dekade BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penurunan fertilitas (kelahiran) di Indonesia selama dua dekade terakhir dinilai sebagai prestasi yang sangat baik. Pada tahun 1971-an Total Fertility Rate (TFR)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkawinan sesungguhnya merupakan keterkaitan jiwa dan raga antarpasangan. Idealnya, satu sama lain secara konsisten saling menghidupi jiwa antarpasangan, dan menjiwai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pasangan (suami) dan menjalankan tanggungjawabnya seperti untuk melindungi,

BAB I PENDAHULUAN. pasangan (suami) dan menjalankan tanggungjawabnya seperti untuk melindungi, BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perempuan single parent adalah perempuan yang telah bercerai dengan pasangan (suami) dan menjalankan tanggungjawabnya seperti untuk melindungi, membimbing, dan merawat

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Komunikasi manusia banyak dipengaruhi oleh budaya yang diyakini yaitu

BAB 1 PENDAHULUAN. Komunikasi manusia banyak dipengaruhi oleh budaya yang diyakini yaitu BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Komunikasi manusia banyak dipengaruhi oleh budaya yang diyakini yaitu budaya yang melekat pada diri seseorang karena telah diperkenalkan sejak lahir. Dengan kata lain,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keluarga juga tempat dimana anak diajarkan paling awal untuk bergaul dengan orang lain.

BAB I PENDAHULUAN. keluarga juga tempat dimana anak diajarkan paling awal untuk bergaul dengan orang lain. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keluarga merupakan suatu tempat dimana anak bersosialisasi paling awal, keluarga juga tempat dimana anak diajarkan paling awal untuk bergaul dengan orang lain. Keluarga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. feminisme yang berkembang mulai abad ke-18 telah menjadi salah satu penanda

BAB I PENDAHULUAN. feminisme yang berkembang mulai abad ke-18 telah menjadi salah satu penanda 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kaum perempuan hari ini tidak hanya beraktifitas di ranah domestik saja. Namun, di dalam masyarakat telah terjadi perubahan paradigma mengenai peran perempuan di

Lebih terperinci

PROSES PELAYANAN SOSIAL BAGI WARIA MANTAN PEKERJA SEKS KOMERSIAL DI YAYASAN SRIKANDI SEJATI JAKARTA TIMUR

PROSES PELAYANAN SOSIAL BAGI WARIA MANTAN PEKERJA SEKS KOMERSIAL DI YAYASAN SRIKANDI SEJATI JAKARTA TIMUR PROSES PELAYANAN SOSIAL BAGI WARIA MANTAN PEKERJA SEKS KOMERSIAL DI YAYASAN SRIKANDI SEJATI JAKARTA TIMUR Oleh: Chenia Ilma Kirana, Hery Wibowo, & Santoso Tri Raharjo Email: cheniaakirana@gmail.com ABSTRAK

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), jumlah penduduk Indonesia akan

BAB I PENDAHULUAN. Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), jumlah penduduk Indonesia akan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Negara berkembang seperti Indonesia memiliki laju pertumbuhan penduduk yang bertambah dengan pesat. Pertumbuhan penduduk Indonesia dari tahun ketahun semakin bertambah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tersebut berdasarkan pada jenis kelamin tentunya terdiri atas laki-laki dan

BAB I PENDAHULUAN. tersebut berdasarkan pada jenis kelamin tentunya terdiri atas laki-laki dan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penduduk suatu negara merupakan sumber daya manusia yang memiliki potensi atau peranan yang cukup besar dalam pembangunan ekonomi. Penduduk tersebut berdasarkan pada

Lebih terperinci

Tim Penyusun. Pengarah. Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Provinsi Sulawesi Selatan

Tim Penyusun. Pengarah. Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Provinsi Sulawesi Selatan Tim Penyusun Pengarah Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Provinsi Sulawesi Selatan Penanggungjawab Kepala Bidang Keluarga Sejahtera Ketua Panitia Kepala Sub Bidang Penguatan Advokasi

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2009 TENTANG PERKEMBANGAN KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN KELUARGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2009 TENTANG PERKEMBANGAN KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN KELUARGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2009 TENTANG PERKEMBANGAN KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN KELUARGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa hakikat

Lebih terperinci

SAMBUTAN PADA FOCUS GROUP DISCUSSION (FGD) FRAKSI PARTAI KEADILAN SEJAHTERA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA Jakarta, 20 April 2016

SAMBUTAN PADA FOCUS GROUP DISCUSSION (FGD) FRAKSI PARTAI KEADILAN SEJAHTERA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA Jakarta, 20 April 2016 SAMBUTAN PADA FOCUS GROUP DISCUSSION (FGD) FRAKSI PARTAI KEADILAN SEJAHTERA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA Jakarta, 20 April 2016 Yang saya hormati : Sdr. Ketua Fraksi PKS DPR RI Sdr. Peserta

Lebih terperinci

INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) METODE BARU

INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) METODE BARU INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) METODE BARU Tujuan utama pembangunan adalah menciptakan lingkungan yang memungkinkan rakyat untuk menikmati umur panjang, sehat, dan menjalankan kehidupan yang produktif

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kejahatan terhadap anak kerap kali terjadi di Indonesia. Kondisi ini begitu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kejahatan terhadap anak kerap kali terjadi di Indonesia. Kondisi ini begitu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kejahatan terhadap anak kerap kali terjadi di Indonesia. Kondisi ini begitu memprihatinkan. Menurut Komisioner KPAI Maria Ulfah bentuk kekerasan pada anak adalah kekerasan

Lebih terperinci

FENOMENA KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

FENOMENA KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA FENOMENA KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA Banyak di tayangkan kasus kekerasan rumahtangga yang di lakukan baik ayah kepada anak, suami kepada istri, istri kepada suami yang mengakibatkan penganiyayaan yang

Lebih terperinci

MARGINALISASI PEREMPUAN DALAM PEMBANGUNAN PERTANIAN

MARGINALISASI PEREMPUAN DALAM PEMBANGUNAN PERTANIAN MARGINALISASI PEREMPUAN DALAM PEMBANGUNAN PERTANIAN Dina Novia Priminingtyas Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya Malang ABSTRAK Potensi perempuan dalam pembangunan

Lebih terperinci

Opini Edisi 5 : Tentang Seksualitas: Masyarakat Sering Menggunakan Standar Ganda

Opini Edisi 5 : Tentang Seksualitas: Masyarakat Sering Menggunakan Standar Ganda Wawancara dengan Sita Aripurnami Seksualitas sering dianggap barang tabu yang "haram" dibicarakan. Namun secara sembunyi-sembunyi ia justru sering dicari dari buku-buku stensilan, novel-novel kacangan,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Penduduk Lanjut Usia merupakan bagian dari anggota keluarga dan. masyarakat yang semakin bertambah jumlahnya sejalan dengan

BAB 1 PENDAHULUAN. Penduduk Lanjut Usia merupakan bagian dari anggota keluarga dan. masyarakat yang semakin bertambah jumlahnya sejalan dengan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penduduk Lanjut Usia merupakan bagian dari anggota keluarga dan anggota masyarakat yang semakin bertambah jumlahnya sejalan dengan peningkatan usia harapan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kesehatan Reproduksi 2.1.1 Pengertian Kesehatan Reproduksi Menurut WHO, kesehatan reproduksi adalah suatu keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial yang utuh bukan hanya bebas

Lebih terperinci

Kesetaraan gender di tempat kerja: Persoalan dan strategi penting

Kesetaraan gender di tempat kerja: Persoalan dan strategi penting Kesetaraan gender di tempat kerja: Persoalan dan strategi penting Kesetaraan dan non-diskriminasi di tempat kerja di Asia Timur dan Tenggara: Panduan 1 Tujuan belajar 1. Menguraikan tentang konsep dan

Lebih terperinci

BAB 12 PENINGKATAN KUALITAS KEHIDUPAN

BAB 12 PENINGKATAN KUALITAS KEHIDUPAN BAB 12 PENINGKATAN KUALITAS KEHIDUPAN DAN PERAN PEREMPUAN SERTA KESEJAHTERAAN DAN PERLINDUNGAN ANAK Permasalahan mendasar dalam pembangunan pemberdayaan perempuan dan anak yang terjadi selama ini adalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perempuan dibandingkan dengan laki-laki 1. Fenomena ini terdapat juga pada

BAB I PENDAHULUAN. perempuan dibandingkan dengan laki-laki 1. Fenomena ini terdapat juga pada 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Seiring bergesernya waktu dari tahun ke tahun fenomena emansipasi di era modernitas saat ini menunjukan kebangkitan perempuan, dan tidak dapat dipungkiri

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berkembang mendorong semua lapisan masyarakat untuk masuk kedalam

BAB I PENDAHULUAN. berkembang mendorong semua lapisan masyarakat untuk masuk kedalam 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan teknologi dan informasi yang saat ini semakin cepat dan berkembang mendorong semua lapisan masyarakat untuk masuk kedalam system dunia yang mengglobal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berbagai tantangan yang harus dihadapi. Melalui pendidikanlah seseorang dapat memperoleh

BAB I PENDAHULUAN. berbagai tantangan yang harus dihadapi. Melalui pendidikanlah seseorang dapat memperoleh BAB I PENDAHULUAN I. 1. LATAR BELAKANG Di era globalisasi seperti sekarang ini mutlak dituntut seseorang untuk membekali diri dengan ilmu pengetahuan agar dapat bersaing dari semakin kerasnya kehidupan

Lebih terperinci

Jakarta, 6 September Nina Tursinah, S.Sos.MM. Ketua Bidang UKM-IKM DPN APINDO

Jakarta, 6 September Nina Tursinah, S.Sos.MM. Ketua Bidang UKM-IKM DPN APINDO Jakarta, 6 September 2016 Nina Tursinah, S.Sos.MM. Ketua Bidang UKM-IKM DPN APINDO Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk yang sangat besar dan beragam ras, warna kulit, agama, bahasa, dll. Dalam

Lebih terperinci

KEADAAN KETENAGAKERJAAN NTT FEBRUARI 2014

KEADAAN KETENAGAKERJAAN NTT FEBRUARI 2014 No. 06/05/53/Th. XV, 5 Mei 2014 KEADAAN KETENAGAKERJAAN NTT FEBRUARI 2014 FEBRUARI 2014: TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA NTT SEBESAR 1,97% Angkatan kerja NTT pada Februari 2014 mencapai 2.383.116 orang, bertambah

Lebih terperinci

Peningkatan Kualitas dan Peran Perempuan, serta Kesetaraan Gender

Peningkatan Kualitas dan Peran Perempuan, serta Kesetaraan Gender XVII Peningkatan Kualitas dan Peran Perempuan, serta Kesetaraan Gender Salah satu strategi pokok pembangunan Propinsi Jawa Timur 2009-2014 adalah pengarusutamaan gender. Itu artinya, seluruh proses perencanaan,

Lebih terperinci

GENDER, KESEHATAN, DAN PELAYANAN KESEHATAN. Topik diskusi

GENDER, KESEHATAN, DAN PELAYANAN KESEHATAN. Topik diskusi Mata Kuliah Ilmu Sosial dan Perilaku Kesehatan Masyarakat GENDER, KESEHATAN, DAN PELAYANAN KESEHATAN Sesi 2: Retna Siwi Padmawati 1 Topik diskusi Gender dan terminologinya Kesehatan reproduksi Permasalahan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS. KB, keinginan dalam memiliki sejumlah anak, serta nilai anak bagi PUS.

II. TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS. KB, keinginan dalam memiliki sejumlah anak, serta nilai anak bagi PUS. II. TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS A. Tinjauan Pustaka 1. Georgafi dan Keluarga Berencana Dalam penelitian ini, penulis akan membahas mengenai penyebab banyaknya jumlah anak yang dimiliki

Lebih terperinci

Globalisasi, Kemajuan atau Kemunduran Zaman??

Globalisasi, Kemajuan atau Kemunduran Zaman?? Tema : Pengaruh Kemajuan Teknologi Bagi Remaja Globalisasi, Kemajuan atau Kemunduran Zaman?? Globalisasi. Sebuah istilah yang pastinya sering kita dengar, memiliki arti suatu proses di mana antarindividu,

Lebih terperinci

Asesmen Gender Indonesia

Asesmen Gender Indonesia Asesmen Gender Indonesia (Indonesia Country Gender Assessment) Southeast Asia Regional Department Regional and Sustainable Development Department Asian Development Bank Manila, Philippines July 2006 2

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. a. Kurangnya perhatian orang tau terhadap anak. yang bergaul secara bebas karena tidak ada yang melarang-larang mereka

BAB V PENUTUP. a. Kurangnya perhatian orang tau terhadap anak. yang bergaul secara bebas karena tidak ada yang melarang-larang mereka 67 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Hasil penelitian tentang Faktor dan Dampak Maraknya Fenomena Hamil di Luar Nikah pada Masyarakat Desa wonokromo Kecamatan Alian Kabupaten Kebumen ini menunjukan bahwa: 1.

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. KONDISI UMUM KOTA MAKASSAR. Luas Kota Makassar sekitar 175,77 km 2, terletak di bagian Barat

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. KONDISI UMUM KOTA MAKASSAR. Luas Kota Makassar sekitar 175,77 km 2, terletak di bagian Barat BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. KONDISI UMUM KOTA MAKASSAR 1. Penyebaran Penduduk Luas Kota Makassar sekitar 175,77 km 2, terletak di bagian Barat Propinsi Sulawesi Selatan dengan batas-batas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pertambahan penduduk Indonesia saat ini diperkirakan sekitar 1,2

BAB I PENDAHULUAN. Pertambahan penduduk Indonesia saat ini diperkirakan sekitar 1,2 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pertambahan penduduk Indonesia saat ini diperkirakan sekitar 1,2 persen dari jumlah penduduk atau sekitar 2,5 sampai 3 juta orang per tahun (Nehen, 2010:96).

Lebih terperinci

KONSEP PENDIDIKAN KELUARGA DALAM ISLAM PENDEKATAN PSIKOLOGI. Proposal Disertasi : Oleh H. Arifuddin

KONSEP PENDIDIKAN KELUARGA DALAM ISLAM PENDEKATAN PSIKOLOGI. Proposal Disertasi : Oleh H. Arifuddin Contoh Proposal Disertasi KONSEP PENDIDIKAN KELUARGA DALAM ISLAM PENDEKATAN PSIKOLOGI Proposal Disertasi : Oleh H. Arifuddin A. Latar Belakang Masalah Telah menjadi pendapat umum bahwa pendidikan adalah

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN KESEHATAN REPRODUKSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN KESEHATAN REPRODUKSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN KESEHATAN REPRODUKSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KALIMANTAN BARAT Menimbang : a. bahwa kesehatan merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menjadi perhatian. Dari segi kuantitas atau jumlah penduduk, hasil Sensus

BAB I PENDAHULUAN. menjadi perhatian. Dari segi kuantitas atau jumlah penduduk, hasil Sensus 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah kependudukan dalam pembangunan di Indonesia, terutama yang menyangkut kuantitas dan kualitas penduduk merupakan hal yang harus menjadi perhatian. Dari segi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010, Indonesia merupakan

I. PENDAHULUAN. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010, Indonesia merupakan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010, Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk sebesar 237.641.326 jiwa sedangkan jumlah penduduk Provinsi Lampung

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. hanya sesuatu yang bersifat biologis dan fisik, tetapi semata juga merupakan suatu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. hanya sesuatu yang bersifat biologis dan fisik, tetapi semata juga merupakan suatu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perilaku seksual memiliki nilai simbolik yang sangat besar sehingga dapat menjadi barometer masyarakat. Dari dahulu sampai sekarang, seksualitas bukan hanya

Lebih terperinci

POLA HUBUNGAN DALAM KELUARGA (Suatu Kajian Manajemen Keluarga) Oleh : Dr. Ravik Karsidi, M.S.

POLA HUBUNGAN DALAM KELUARGA (Suatu Kajian Manajemen Keluarga) Oleh : Dr. Ravik Karsidi, M.S. POLA HUBUNGAN DALAM KELUARGA (Suatu Kajian Manajemen Keluarga) Oleh : Dr. Ravik Karsidi, M.S. Hubungan Suami Istri Dalam perkembangan sejarah, hubungan antar suami-istri pada kelas menengah berubah dari

Lebih terperinci

ADOLESCENT UNWANTED PRAGNANCY DIKALANGAN REMAJA BENGKULU

ADOLESCENT UNWANTED PRAGNANCY DIKALANGAN REMAJA BENGKULU ADOLESCENT UNWANTED PRAGNANCY DIKALANGAN REMAJA BENGKULU Perwakilan BKKBN Provinsi Bengkulu Jln. Pembangunan No. 10 Padang Harapan Bengkulu 38224 Telp/Fax (0736) 21144 website http://bengkulu.bkkbn.go.id

Lebih terperinci

SAMBUTAN PADA KEGIATAN PENINGKATAN PERAN SERTA PEREMPUAN DI LEMBAGA PEMERINTAH Serpong, 27 April 2016

SAMBUTAN PADA KEGIATAN PENINGKATAN PERAN SERTA PEREMPUAN DI LEMBAGA PEMERINTAH Serpong, 27 April 2016 SAMBUTAN PADA KEGIATAN PENINGKATAN PERAN SERTA PEREMPUAN DI LEMBAGA PEMERINTAH Serpong, 27 April 2016 Yang saya hormati : Sdr. Walikota Tangerang Selatan, Ibu Airin Sdr. Kepala Badan PMPP KB Kota Tangsel

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam pembicaraan mengenai mikro ekonomi,sub sistem yang utama

BAB I PENDAHULUAN. Dalam pembicaraan mengenai mikro ekonomi,sub sistem yang utama BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam pembicaraan mengenai mikro ekonomi,sub sistem yang utama adalah rumah tangga. Rumah tangga merupakan produsen dan sekaligus juga konsumen. Dengan demikian

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. penduduk Indonesia sebanyak jiwa dan diproyeksikan bahwa jumlah ini

I. PENDAHULUAN. penduduk Indonesia sebanyak jiwa dan diproyeksikan bahwa jumlah ini I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia termasuk salah satu negara sedang berkembang yang tidak luput dari masalah kependudukan. Berdasarkan data hasil Sensus Penduduk tahun 2010, jumlah penduduk Indonesia

Lebih terperinci

PERSEPSI PELAJAR SMA NEGERI 1 BANJARMASIN DAN SMA NEGERI 2 BANJARMASIN TERHADAP PERNIKAHAN USIA DINI

PERSEPSI PELAJAR SMA NEGERI 1 BANJARMASIN DAN SMA NEGERI 2 BANJARMASIN TERHADAP PERNIKAHAN USIA DINI PERSEPSI PELAJAR SMA NEGERI 1 BANJARMASIN DAN SMA NEGERI 2 BANJARMASIN TERHADAP PERNIKAHAN USIA DINI Oleh: Desyi Tri Oktaviani. Eva Alviawati, Karunia Puji Hastuti ABSTRAK Penelitian ini berjudul Persepsi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kesulitan mengadakan adaptasi menyebabkan banyak kebimbangan, pribadi yang akibatnya mengganggu dan merugikan pihak lain.

BAB I PENDAHULUAN. Kesulitan mengadakan adaptasi menyebabkan banyak kebimbangan, pribadi yang akibatnya mengganggu dan merugikan pihak lain. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan masyarakat modern yang serba kompleks sebagai produk kemajuan teknologi, mekanisasi, industrialisasi, dan urbanisasi memunculkan banyak masalah

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. berupa pendidikan dalam pembangunan di suatu daerah.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. berupa pendidikan dalam pembangunan di suatu daerah. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Bab ini akan membahas mengenai landasan teori dan studi pustaka yang berkaitan dengan studi ini. Teori yang akan dibahas berkaitan dengan modal manusia berupa pendidikan dalam pembangunan

Lebih terperinci

PERKAWINAN DAN PERCERAIAN

PERKAWINAN DAN PERCERAIAN PERKAWINAN DAN PERCERAIAN 1. Pendahuluan Dalam demografi pertumbuhan penduduk antara lain dipengaruhi oleh fertilitas. Perkawinan merupakan salah satu variabel yang mempengaruhi tinggi rendahnya tingkat

Lebih terperinci

Issue Gender & gerakan Feminisme. Rudy Wawolumaja

Issue Gender & gerakan Feminisme. Rudy Wawolumaja Issue Gender & gerakan Feminisme Rudy Wawolumaja Feminsisme Kaum feminis berpandangan bahwa sejarah ditulis dari sudut pandang pria dan tidak menyuarakan peran wanita dalam membuat sejarah dan membentuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada pertengahan tahun 1997 banyak menyebabkan munculnya masalah baru, seperti terjadinya PHK secara besar-besaran, jumlah pengangguran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. istri, tetapi juga menyangkut urusan keluarga dan masyarakat. Perkawinan

BAB I PENDAHULUAN. istri, tetapi juga menyangkut urusan keluarga dan masyarakat. Perkawinan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkawinan merupakan suatu peristiwa penting dalam kehidupan manusia, karena perkawinan tidak saja menyangkut pribadi kedua calon suami istri, tetapi juga

Lebih terperinci

- Secara psikologis sang istri mempunyai ikatan bathin yang sudah diputuskan dengan terjadinya suatu perkawinan

- Secara psikologis sang istri mempunyai ikatan bathin yang sudah diputuskan dengan terjadinya suatu perkawinan Pendahuluan Kekerasan apapun bentuknya dan dimanapun dilakukan sangatlah ditentang oleh setiap orang, tidak dibenarkan oleh agama apapun dan dilarang oleh hukum Negara. Khusus kekerasan yang terjadi dalam

Lebih terperinci

BAB 2 KAJIAN PUSTAKA. Secara Etimologis, istilah Kebijakan (policy) berasal bahasa Yunani,

BAB 2 KAJIAN PUSTAKA. Secara Etimologis, istilah Kebijakan (policy) berasal bahasa Yunani, BAB 2 KAJIAN PUSTAKA 2.1. Kebijakan Secara Etimologis, istilah Kebijakan (policy) berasal bahasa Yunani, Sangsekerta, dan Latin. Dimana istilah kebijakan ini memiliki arti menangani masalah-masalah publik

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Kualitas suatu bangsa tercermin tidak hanya dari kepemilikan sumber daya alam yang melimpah, tetapi perlu didukung pula oleh sumber daya manusia yang baik. Penentu kemajuan suatu

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kimbal Young dan Reymond W.Mack dalam Soekanto (1990:60-

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kimbal Young dan Reymond W.Mack dalam Soekanto (1990:60- BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Proses Interaksi Sosial dalam Keluarga Menurut Kimbal Young dan Reymond W.Mack dalam Soekanto (1990:60-61), menyatakan bahwa interaksi sosial adalah kunci semua kehidupan sosial,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan diri dan dapat melaksanakan fungsi sosialnya yang dapat

BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan diri dan dapat melaksanakan fungsi sosialnya yang dapat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kesejahteraan sosial merupakan suatu keadaan terpenuhinya kebutuhan hidup yang layak bagi masyarakat, sehingga mampu mengembangkan diri dan dapat melaksanakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. antara lain sepeda, sepeda motor, becak, mobil dan lain-lain. Dari banyak

BAB I PENDAHULUAN. antara lain sepeda, sepeda motor, becak, mobil dan lain-lain. Dari banyak BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Transportasi sudah menjadi kebutuhan utama bagi manusia untuk menunjang aktivitasnya. Adanya transportasi menjadi suatu alat yang dapat mempermudah kegiatan

Lebih terperinci

Singgih D. Gunarso mengatakan dari segi hukum kenakalan remaja digolongkan dalam dua kelompok yang berkaitan dengan norma-norma hukum yaitu

Singgih D. Gunarso mengatakan dari segi hukum kenakalan remaja digolongkan dalam dua kelompok yang berkaitan dengan norma-norma hukum yaitu Kenakalan Remaja 1 Definisi Kelainan tingkah laku/tindakan remaja yang bersifat anti sosial, melanggar norma sosial, agama serta ketentuan hukum yang berlaku dalam masyarakat (Bakolak Inpres No. 6/1977

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Badan Pusat Statistik mendefinisikan bekerja adalah melakukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Badan Pusat Statistik mendefinisikan bekerja adalah melakukan BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tenaga Kerja Badan Pusat Statistik mendefinisikan bekerja adalah melakukan pekerjaan dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh pendapatan atau keuntungan dan lamanya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia itu, yaitu kebutuhan yang berhubungan dengan segi biologis, sosiologis dan teologis.

BAB I PENDAHULUAN. manusia itu, yaitu kebutuhan yang berhubungan dengan segi biologis, sosiologis dan teologis. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia sebagai makhluk hidup mempunyai kebutuhan-kebutuhan seperti makhluk hidup lainnya, baik kebutuhan-kebutuhan untuk melangsungkan eksistensinya sebagai

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 153 TAHUN 2014 TENTANG GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 153 TAHUN 2014 TENTANG GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 153 TAHUN 2014 TENTANG GRAND DESIGN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa sampai dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia mencapai orang, yang terdiri atas orang lakilaki

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia mencapai orang, yang terdiri atas orang lakilaki BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peluang kerja di Indonesia sangat dipengaruhi oleh laju pertumbuhan penduduk. Menurut hasil sensus penduduk pada tahun 2010 jumlah penduduk di Indonesia mencapai 237.556.363

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Perubahan nilai-nilai sosial di dalam masyarakat menyebabkan tingkat perceraian semakin tinggi. Selain itu, akibat banyaknya wanita yang terjun ke dalam dunia pekerjaan menyebabkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terhadap keberhasilan pembangunan bangsa. Ahmadi (2004:173) menyatakan

BAB I PENDAHULUAN. terhadap keberhasilan pembangunan bangsa. Ahmadi (2004:173) menyatakan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keluarga merupakan institusi terkecil dalam masyarakat yang berpengaruh terhadap keberhasilan pembangunan bangsa. Ahmadi (2004:173) menyatakan bahwa keluarga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. merupakan suatu hal yang mutlak diperlukan. Seperti diketahui, negara

BAB I PENDAHULUAN. merupakan suatu hal yang mutlak diperlukan. Seperti diketahui, negara BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di negara sedang berkembang seperti Indonesia, pembangunan merupakan suatu hal yang mutlak diperlukan. Seperti diketahui, negara Indonesia dalam melakukan pembangunan

Lebih terperinci

BAB 30 PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN

BAB 30 PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN BAB 30 PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA KECIL BERKUALITAS SERTA PEMUDA DAN OLAHRAGA Pembangunan kependudukan dan keluarga kecil berkualitas merupakan langkah penting dalam mencapai pembangunan berkelanjutan.

Lebih terperinci

KONFLIK INTERPERSONAL ANTAR ANGGOTA KELUARGA BESAR

KONFLIK INTERPERSONAL ANTAR ANGGOTA KELUARGA BESAR KONFLIK INTERPERSONAL ANTAR ANGGOTA KELUARGA BESAR Skripsi Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Dalam Mencapai Derajat Sarjana S-1 Psikologi Diajukan oleh: SITI SOLIKAH F100040107 Kepada FAKULTAS PSIKOLOGI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Keadaan ekonomi yang kurang baik membuat setiap keluarga di Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Keadaan ekonomi yang kurang baik membuat setiap keluarga di Indonesia BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keadaan ekonomi yang kurang baik membuat setiap keluarga di Indonesia harus membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Pada saat ini tidak

Lebih terperinci

Perempuan dan Sustainable Development Goals (SDGs) Ita Fatia Nadia UN Women

Perempuan dan Sustainable Development Goals (SDGs) Ita Fatia Nadia UN Women Perempuan dan Sustainable Development Goals (SDGs) Ita Fatia Nadia UN Women Stand Alone Goal Prinsip Stand Alone Goal: 1. Kesetaraan Gender 2. Hak-hak perempuan sebagai hak asasi manusia. 3. Pemberdayaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Makna hidup (the meaning of life) adalah hal-hal yang dianggap sangat penting dan

BAB I PENDAHULUAN. Makna hidup (the meaning of life) adalah hal-hal yang dianggap sangat penting dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Makna hidup (the meaning of life) adalah hal-hal yang dianggap sangat penting dan berharga serta memberikan nilai khusus bagi seseorang, sehingga layak dijadikan

Lebih terperinci

44 PEMBERDAYAAN PEREMPUAN KEPALA KELUARGA

44 PEMBERDAYAAN PEREMPUAN KEPALA KELUARGA 44 PEMBERDAYAAN PEREMPUAN KEPALA KELUARGA Oleh: Oktaviani Nindya Putri, Rudi Saprudin Darwis & Gigin Ginanjar Kamil Basar Email: (oktavianindya@yahoo.com; rsdarwis@gmail.com; giginkb@mail.unpad.ac.id)

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2009 TENTANG PERKEMBANGAN KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN KELUARGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2009 TENTANG PERKEMBANGAN KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN KELUARGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2009 TENTANG PERKEMBANGAN KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN KELUARGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa hakikat

Lebih terperinci

Riski Dwijayanti, A Anas, E Sumanto, DV Panjaitan, A Jayanthy FAF PS Ilmu Ekonomi Institut Pertanian Bogor

Riski Dwijayanti, A Anas, E Sumanto, DV Panjaitan, A Jayanthy FAF PS Ilmu Ekonomi Institut Pertanian Bogor PKMI-2-4-1 ANALISIS RESPON MASYARAKAT DESA TERHADAP PROGRAM KELUARGA BERENCANA (KB) DALAM RANGKA PENINGKATAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA (SDM) (Studi Kasus Desa Cihideung Udik Kabupaten Bogor) Riski Dwijayanti,

Lebih terperinci

RINGKASAN EKSEKUTIF. Ringkasan Eksekutif-1

RINGKASAN EKSEKUTIF. Ringkasan Eksekutif-1 RINGKASAN EKSEKUTIF Salah satu lembaga di Indonesia yang peduli terhadap persoalan yang dihadapi remaja seperti yang telah diungkap beberapa penelitian di atas adalah Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia

Lebih terperinci

TUJUAN 3. Mendorong Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan

TUJUAN 3. Mendorong Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan TUJUAN 3 Mendorong Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan 43 Tujuan 3: Mendorong Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan Target 4: Menghilangkan ketimpangan gender di tingkat pendidikan dasar

Lebih terperinci

TUJUAN 3. Mendorong Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan

TUJUAN 3. Mendorong Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan TUJUAN 3 Mendorong Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan 43 Tujuan 3: Mendorong Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan Target 4: Menghilangkan ketimpangan gender di tingkat pendidikan dasar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. para pekerja seks mendapatkan cap buruk (stigma) sebagai orang yang kotor,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. para pekerja seks mendapatkan cap buruk (stigma) sebagai orang yang kotor, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di Indonesia dan negara-negara lain istilah prostitusi dianggap mengandung pengertian yang negatif. Di Indonesia, para pelakunya diberi sebutan Wanita Tuna Susila. Ini

Lebih terperinci

BAB I PENDAHALUAN. A. Latar Belakang Masalah. status sebagai orang dewasa tetapi tidak lagi sebagai masa anak-anak. Fase remaja

BAB I PENDAHALUAN. A. Latar Belakang Masalah. status sebagai orang dewasa tetapi tidak lagi sebagai masa anak-anak. Fase remaja BAB I PENDAHALUAN A. Latar Belakang Masalah Remaja adalah fase kedua dalam kehidupan setelah fase anak-anak. Fase remaja disebut fase peralihan atau transisi karena pada fase ini belum memperoleh status

Lebih terperinci