PENGARUH IRADIASI GAMMA PADA KUALITAS DAGING SEGAR. 2. BEBERAPA KARAKTERISTIKA KIMIA DAGING SAPI

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PENGARUH IRADIASI GAMMA PADA KUALITAS DAGING SEGAR. 2. BEBERAPA KARAKTERISTIKA KIMIA DAGING SAPI"

Transkripsi

1 Penehtlan don Pengembangan Aphkan Isalap don Radiasi, /999 PENGARUH IRADIASI GAMMA PADA KUALITAS DAGING SEGAR. 2. BEBERAPA KARAKTERISTIKA KIMIA DAGING SAPI Z. Irawati., T. lriawan., R.N. Agustina.., dan Giyatlni.'.Pusat Aplikasi Isotop dan RBdiasi, BAT AN..Fakultas TekI1ik, Universitas Sahid ABSTRAK PENGARUH IRADIASI GAMMA PADA KUALITAS DAGING SEGAR. 2. BEBERAPA KARAKTERISTIKA KIMIA DAGING SAPL Suatl\ ~nelitian telah dilakukan untuk menentukan ~ngaruh iradiasi gamma pada beberapa karakteristika kimia daging sapi segar. Sampel daging sapi segar dipotong kecil-kecil, kemudian dikemas dalam kat1tong poliamida laminasi yang divakum, laiu diiradiasi dengan dosis 10 dan 20 kgy pada suhu -79 C. Sam~l selw1juu1ya disimpan selama 2 bulan pada suhu -4 C dengan kelembapan nisbi 75-77%. Parameter objektif yang diamati latah ~ngukuran wama, kandungan kolagen, kadar lemak, identiflkasi gugus fungsional, dan identifikasi asam lemak. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa daging sapi segar dalam kemasan katnong poliamida lamil1asi YW1g divakurn dan diiradiasi dengan dosis 10 dan 20 kgy pada kondisi beku (-79 C) mengalanl~iu1i~ secara nyata pada intel1sitas wama dengan meningkatnya dosis iradiasi. lradiasi dengan dosis swnpai 20 kgy temyata tidal menyebabkw1 perubahw1 yang nyata pada katldungan kolagen, kadar lemak, perubahan gugus fungsional dan komponen asam lernak dari sam~l yang diatnati bail sebelum maupun sesudah penyimpa11an sampai 2 bulw1. ABSTRACT EFFECT OF GAMMA IRRADIATION ON me QUAUTV OF FRESH MEAT. 2. SOME CHEWCAL CHARACTERISTICS OF BEEF. An experimental work has reen done to detennine the effect of galmna iltadiation on some chemical chamcteristics of fresh beef meal Samples of fresh reef were cut in pieces was individually vacuwn packed in laminated polywnide, then irradiated with doses of 10 and 20 kgy at temperature of - 79 C. The irradiated samples \veie-store<lfor2 months at -4 C and 75-77% RH. The objective parameters observed were colour detennillation, collagen content. idelltilication of l'uuctional groups, wld identification of fany acid. The result revealed that fresh beef vacuwn packed in lwninated polywnide wld irradiated with doses of 10 and 20 kgy at froz~11 stale (- 79 C), the colour Ultetlsity \\'as decreased significantly by increasulg irradiation dose.!radiation with the dose up to 20 kgy did not cause W1Y significal1lly changes on collagen content. fat content. functional groups. and fatty acid component from the salnples observed both before WId after 2 month storage. PENDAHULUAN Daging &1pi segar merupak.1n produk ballan pangan yang mudah dicemari oleh bennacam-lil3cam bakteri kl1ususnya yang bersifat patogen. Irndiasi pada dosis sedang merupaka11 &11all satu altenl3tif lekilologi pengawetan bal13l1 pallgall yallg dapat membulluh bakteri patogen tanpa berpengarull pada kesegarall bal41j1 lersebut. Di Amerika, pemanfaatan teknologi tersebut unluk membunull bakteri patogen ~.fq!lo157:h7 dirnsa sangat mendesak, sehingga pada tangga1 2 Desember 1997 FDA telah mengeluarkan ijin iradiasi daging segar dengan dosis maksimum antara kgy untuk tujuan ke.1manall pang.1jl (1). IRAWATI, dkk (2) melaporkan bahwa daging sapi segar tipe sirloin dalalll bcnluk potongan keci1-kecil yang dikelnas dalaln kanlong poliarnida larninasi yang divakum, kemudian diirndiasi dengan dosis 3 kgy pada subu -79 C, daya simparulya dapat ditingkatkall menjadi hari tanpa menga1a1ni pcruballan yang berarti baik secarn objcktif IIl3UPun subjektif. Meskipwi demikiilll perlu dipertimbangkan pula kemwlgkinall lerjadinya peruballad komponen kimia tertentu seperti proteil\, vitalnin dan 1enlak yang ada di da1am daging segar akibat iradiasi (3). Daging sapi untuk dikonswnsi pada wnuoulya bernsa1 dari jcllis sapi pedaging. Hasi1 utrona sapi lipe ini adalall berupa karkas yang diklasifikasikall sesuai dclig;lii jenis hewannya, yailu tubuh sapi setelah pemotongan yang telal1 dilulangkan organ-organ internal, kepaia, kaki, kulit dad daral1 (4). Letak daging pada karkas dapat berpengarul1 pada komposisi mt gizi dad energi yang dikal1dungnya (5).Daging sapi tipe sirloin memiliki kaj1dungan lelnak sekilar 20 % dan memiliki nilai ekollomis yang relatif tinggi, sedal1gkan daging sapi tipe brisket mengandung lemak sebesar 180/0, banyak dikonsumsi oleh ll1a5yarakat, dan biasanya digwlakan unluk membuat corned, rawon dan campuran sup dengan harga yang relatif lebih murah apabila dibandingkan dengan daging sapi tipe sirloin. Penelitial1 ini bertujuan untuk mendapatkan iltlom1asi lebih lanjul tentang aplikasi teknologi dari peng.'lrull iradiasi galnma dosis tinggi pada beberapa karakteristika kimia daging sapi tipe brisket dan sirloin. Adapun parameter yang dialnati ialah pengukuran Wama, kandungan kolagen.-kadar len1ak, identifikasi gugus fungsional, dal1 identlfikasi asam lemak sebelum dan sesudah iradiasi selan1a penyimpal1an. BAHAN DAN METODE BabalL Bal1an yang dipelajari ialah daging sapi segar brisket d.ll1.\'ir/oin yang merup.lkan bagian yang,}j"

2 Pene/ilian danpengembangan Ap/ikasi lsolop dan Radiasi, /999 banyak disukai konsmnen (4) dan diperoleh dati Sc1lall satu industri daging Olall~ di Jakarta. Adapun kondisi kedllc'! jenis daging sapi tersebut setelah mengalami proses pelayuan diruang pendingin dengan subu 3-7 C selama 3 x 24 jam dengan kelembapan nisbi sekitar 80%. Daging dibawa dati industri ke laboratorium Pengawetan Makanan, PAIR- BATAN PaSc'lf Jmnat, Jakarta dengan menggunakan wadah d.1ri stiroform dan didinginkan dengan C~ padat (subu -79 C). Setelah sampai di laboratorimn, bahan tersebut disimpan di dalam subu -4 C sampai mendapatkan perlakuan berikutnya. Alat Pengukuran wama ditentukan dengan menggunakan alat Minolta Cllfomameter CR-200. Kandungan kolagen ditetapkan dengan spektrofotometer UV-VIS Hitaclli type Kadar lenlak ditentukan dengan menggunakan alat ekstraksi Soxlllet. ldentifikasi gugus fungsional dati lemak daging sapi dilakukan dengan Spektrofotometer lima Red Slulnadzu. Asanl lemak diidentifikasi dengan menggunakan kronlatografi gas (GC- MS/Gas Chrolnatograph HP 5890 series II plus-mass Spectrophotometer HP 5972 series MSD) yang dilengkapi dengatl kolom kromatografi gas kapiler silika HP-5 MS panjang 30 m x 0,53 mm -x 0,25.m (ketebalall film). lradiasi dilakukan dalam iradiator karet alaln serbaguna (IRKASENA) di Pusat Aplikasi Isotop dad Radiasi (pair) BAT AN yang menggwlak.'ul sumber radiasi roco, energi sebesar 1,17 MeV dengan aktivitas 273 kci. Rancangan Percobaan. Percobaan dilakukan sebagai percobaail faktorial yang menggw1akail rancangan acak lengkap. Jumlah perlaktlail adaia1l 2 yaitu dosis iradiasi (3 tarat) dad penyimpanan (3 tarat), dengan masing-masing 2 ulangan. Penyiapan bahan dad perlaliuan. Daging tipe brisket dibagi menjadi 18 potong dengan berat nmsingmasing 250 g SedaIlgkan sirloin dipotong menjadi 4 bagian. Masing-masing potongan daging tersebut kemudian dilnasukkan ke dalaiu kantong poliantida steril berukuran 7 x 10 cm2, kemudian divakum. Plastik berisi dagiilg yang akan diiradiasi dinmsukkan ke dalam dos stirofonu berukuran 25 x 25 x 25 cm3 yang berisi CO2 padat (sllhu -79 C). Dosis iradiasi yang digunakail ialall 10 dan 20 kgy. Daging yang telah diiradiasi kemudian dilnasukkan ke daiaiu lemari pendingin pada suhu -4 C dan kelembapan nisbi sekitar 75%. Selanjutnya pengalnatan dilakukan setiap bulan mulai dari penyimpanan 0 SaIupai 2 bulail. Parameter yang diamati ialall pengukuran warda, kaildlmgan kolagen, kadar lemak, identifikasi gugus fimgsional, dail identifikasi asam lemak. Metode Anaiisis. Pengukuran wanta dilakukan dengan menggunakan kllfo111an1eter yang dapat mengkonversikan selurull wanta dalam suatu balmn pada jarak persepsi lnanusia ke dalaru suatu kode numerik mumu sehingga akllirnya diperoleh nilai warna yang sebenarnya (6 dcw 7). Kandlmgan kolagen diukur berdasarkan kandungan llidroksiprolin secant spektrofotometer berdasarkan prosedur KOLAR (8).Kadar lemak, identifikasi gugus fungsional, dan identifikasi asaru lemak masing 11msing diukur dengan metode Kjeldahl dan spektrofotometer infra merah menurut prosedur ADMIT (9). BASIL DAN PEMBAHASAN Hasil pengamatan pengukuran wanta daging sapi segar berdasarkan derajat kecernhan (L) dan derajat WarDa masing-masing disajikan pacta Tabell. Dari Tabel I terlihat bahwa derajat kecerahan pacta daging yang tidak diiradiasi menunjukkan nilai L tertinggi (30,66), sedangkan daging yang diiradiasi baik dengan dosis 10 kgy rnaupun 20 kgy memiliki derajat kecerahan yang 11arnpir sarna yaitu 28,55 dan 28,80. Derajat kecerallad pacta daging yang tidak diiradiasi rnasih memiliki derajat kecerahan relatif lebih tinggi hila dibandingkan dengan daging yang diiradiasi. Hal yang sarna terjadi pula pacta pengukuran derajat WarDa merah (A) dan kuning (B) baik pacta daging yang tidak diiradiasi maupun yang diiradiasi dengan dosis sampai 20 kgy. Terjadinya penurunan derajat kecerahan dan derajat WarDa merall pacta daging sapi segar iradiasi selama penyimpanan mungkin disebabkan oleh berlangsungnya proses reduksi yang terjadi pacta komponen metalloprotein khususnya turunan porfirin yang berpengaruh padc'l pigmen WarDa daging segar. Dari data yang diperoleh terlihat ballwa penurunan derajat kecerahan dan derajat warda daging akc'lfi meningkat dengan bertambahnya dosis radiasi dan penyimpanan. Proses reduksi dari hemoglobin (Fe3l ke dalam bentuk Fe2+ oleh e- eq dan radikallainnya yang bersifat reduktor seperti.co' akan berlangsung secara cepat karena pigmen tersebut sangat sensitif terhadc'lp radiasi (10). Adanya konstitusi protein di dalam komponen daging dapat menghambat aktivitas radikallainnya yang bersifat reduktor. Pemucatan daging akibat iradiasi dan penyimpanan juga disebabkan oleh berlangsungnya proses oksidasi myoglobin (Mb II) menjadi metmyoglobin (MbIlI). Akan tetapi, perubahan wama yang berlangsung terjadi relatif lebih lamban pacta daging yang diiradiasi pacta sulill rendall dan dalam kondisi vakurn hila dibandingkan dengan daging yang diiradiasi pacta sulill karnar. Hal ini mungkin disebabkan oleh adanya penghmubatan reaksi antar radikal bebas akibat hidrolisis (II). Radikal bebas yang bereaksi tersebut antara lain adalall radikal bebas yang dihasilkan akibat radiolisis dari porfirin sederhana yang mengandung Fe dengan myoglobin, atau reaksi antar radikal bebas di dalam protein dengan susunan yang lebih komplex yang mengandung Fe, dengan myoglobin. Intensitas perubahan warda pacta daging segar akibat proses reduksi oksidasi sangat dipengaruhi oleh jenis dan varitas dari hewan yang bersangkutan (4). Hasil pengukuran kandungan llidroksi prolin (g/100 g) dan kandungan kolagen daging sapi segar tipe brisket yang diiradiasi dengan dosis sarnpai 20 kgy dan disimpan sarnpai 2 bulan masing-masing disajikan pacta Tabel 2. Dari label tersebut terlilmt bahwa iradiasi tidak berpengaruh secara nyata baik pada kandungan llidroksiprolin maupun kolagen, tetapi perlakuan penyimpanan dapat menurunkan secara nyata kedua parameter yang dialnati baik pt'lda sampel yang tidak diiradiasi rnaupun yang diiradiasi sampai dosis 20 kgy. SOEPARNO (4) melaporkan bahwa kandungan kolagen 216

3 Penelitian dan Pengembangan Aplikasi IsOlop dan Radiasi, 1999 akan menentukan nilai ekononus dari bagian karkas dan daging, karena dapat mempengarulu keempukan selatna penyimpanan. Selanjutnya dilaporkan pula bahwa komponen utarna kolagen di dalam protein hewan adalah hidroksiprolin dalam jumlah yang relatif konstan yaitu sekitar 12,5% dan tidak ditemukan di dalam jumlah besar pada komponen protein dari bal1an pangan yang lain. Kandungan kolagen di dalatn hewan sangat bervariasi, bergantung pada umur, jenis kelamin. dan bagian lain pada karkas yang sarna (8). Pada Tabel 3 terlihat bal1wa baik iradiasi dengan dosis sampai 20 kgy maupun penyimpanc'ld satnpai 2 bulan pada SullU.:; 4 C tidak berpengarnh secara nyata pada kadar lemak'daging yang diteliti. Pada penyimpattan suhu rendah, kemungkinan aktivitas enzim lipase akan terllainbat (12). Hasil pengarnatan identiflkasi gugus fungsional secara kualitatif dari lemak daging sapi segar iradiasi sebelwn penyimpanan disajikan pada Gatubar I, sedangkai1 pada Gatnbar 2 dan 3 masing-rnasing disajikan spektnun ilura metal1 gugus fungsional dati sampel yang SaIna setelall penyimpanan 1 dan 2 bulan. Pada Gambar 1 terlillat bahwa iradiasi dengan dosis satnpai 20 kgy tidak menimbulkan pembentukan gugus fungsional yang barn dati satnpel yang diamati. Penggunaan sullu rendall baik selama proses radiasi rnaupul1 selatna penyimpanan dt'ld kondisi penyimpanan dalam keadaan vakum, lnaka daging segar tidak mengalalni proses peruraian komponen lemak yang dikc111dungnya, sellingga gugus fungsional yang barn tidak akan terbentuk (Gambar 2 dan Gambar 3). Harga atau nilai serapan kllusus infra merah pada daging segar yang diiradiasi disajikc'ld pada Tabel 4. Meskipun dari llasil pengarnatan serapan infra merah tersebut tidak menunjukkan indikasi terbentuknya gugus fungsional yang barn akibat iradiasi, narnun pada Tabel tersebut terlihat bahwa band senyawa karbonil ank'lfa lain aldehid yan~ muncul pada kisaran patljang gelombang cmkemullgkillai1 mellai1dakat1 adatlya proses oksidasi yang berlangswlg baik pada satnpel yang tidak diiradiasi lnapun pada satnpel yang diiradiasi dengan dosis SatUpai 20 kgy. Hal tersebut menw1jukkatl bahwa apabila SaInpel daging segar baik yang diiradiasi rnaupun yang tidak diiradiasi selanjutnya disimpat1 pada Sul1U yang lebih tinggi dalatn kondisi kelnasan tidak vakwn, lnaka proses oksidasi lemak akatl berlanjut dan melumbulkai1 ketengikai1 pada daging sapi. Oksidasi lanjut akibat hidrolisa yang terjadi pada gugus karbonil dikenal sebagai ketonic rancidity (12). Hasil identifikasi asam lemak daging sapi segar tipe brisket yang diiradiasi dengan dosis sampai 10 kgy disajikan pada Gambar 4 dt'ld Gambar 5. Pada gambar tersebut terlihat bal1wa daging sapi segclf tipe brisket mengandung asatu pallnik1t (C16) dan stearat (CI8). SOEPARNO (4) melaporkan pula bal1wa keduajenis asain lemak tersebut merupakan jenis a5cl1n lemak dominan yang berasc11 dari depot lemak temak, sedangkan jenis lemak yang lain ditemukan dalan1 junllah yang relatif lebih kecil. Hasil kromatogram dati daging sapi segar yang diiradiasi dengan dosis sampai 10 kgy baik yang tidak mengalami penyimpanan maupun setelall 2 bulan menunjukkan adatlya indikasi pembentukan C 14 bukan dalam bentuk metil ester tetapi tetradecana/. yaitu pada menit ke 33. Dari basil identifikasi asam lelnak daging sapi segar tipe brisket baik yang diiradiasi dengan dosis sampai 10 kgy maupun pada kontrol sebelum dan selama penyimpanan sampai 2 bulan dapat dilaporkan pula bahwa jenis asam lemak jenuh yang ditemukan pada seluruh sampel adalah asam miristat (CI4), palrnitat (CI6) dan stearnt (CI8). Hasil krornatogram dari identifikasi asam lemak daging sapi segar tipe brisket (Gambar 4 dan Gambar 5) dapat pula dibandingkan dengan asam lemak dari daging sapi segar tipe sirloin (Gambar 6 dan Gambar 7). Dari Gambar 6 dan 7 terlihat bahwa pada daging yang tidak diiradiasi dan tidak disimpan, dapat teridentifikasi 8 jenis asam lemak yaitu CIO, CI2, CI4, CI5, CI6, CI7, CI8, dan C20. Sedangkan sesudah iradiasi dengan dosis 10 kgy tanpa penyimpanan, teridentifikasi 7 jenis asam lemak yaitu CIO, CI2, CI4, CI5, CI6, CI7, dan CI8. Pada daging sapi yang tidak diiradiasi, setelah mengalarni penyimpanan sampai 2 bulan, teridentifikasi 7 jenis asam lemak yang sarna. Jenis asam lemak yang muncul pada daerah asam arakidat (C20) temyata tidak teridentiflkasi lagi baik pada dagulg yang tidak diiradiasi tetapi disimpan selama 2 bulan, maupun pada daging sesudah diiradiasi dengan dosis 10 kgy tetapi tanpa penyimpanan. Dari keempat jenis krornatogram yang diperoleh menunjukkan bahwa jenis asam lemak pada daging sapi segar tipe sirloin teridentifikasi lebih banyak daripada tipe brisket. KESIMPULAN Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa daging sapi segar tipe sirloin yang diirndiasi masingmasing dengan dosis sampai 10 kgy dad tipe brisket yang diiradiasi dengan dosis sampai 20 kgy masing-masing pada suhu -79 C, Ialu dikemas di dalam kantong poliamida laminasi yang divakum, kemudian dikemas pada suhu -79 C tidak mengalami perubahan yang berarti pada beberapa karakteristika kimia yang diamati. SARAN Dari basil penetitian tersebut dapat disarankan agar dilakukajl penelitian secara terpisall tentang pengaroh iradiasi terlmdap peruballan warna daging segar karena perubahan warna daging akibat radiasi kemungkinan kurang disukai oleh konsumen. Disamping itu, perlu dilakukan pula uji mikrobiologis terhadap bakteri anaerob seperti Clostridium botulinum yang kemungkinan ditemukan pada daging sapi yang dikemas dalam kondisi vakum. DAFTARPUSTAKA I. ANONYMOUS, Full text of FDA statement on irradiation of meat products taken fom the federal register, Federal register :rules and regulation, Federal Register Online via GPO Access (wais. access.gpo.gov), 62, 232 (1997) IRAWATI, Z., NURCAHYA, C.M., HANDAYANI, D., dan SARJOKO, "Pengarull iradiasi gamma pacta kuaiitas daging segar.i. Pengawetan daging 217

4 Pene/itian don Pengembangan Ap/ikasi IsolOp don Radiosi, /999 sapi", Seminar Nasional Teknologi Pangan (prosiding I Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia, Denpasar, Bali Juli 1997), PATP1, Bali (1997) SOFY AN, R., Pengarull lradiasi pada Ballan Pangan, PAIR BATAN, Jakarta (1983). 4. SOEPARNO, Ilmu dan Teknologi Daging, Cetakan kedua, Gajall Mada University Press, Yogyakarta (1994). 5. MUCHT ADI, T.R., dan SUGIONO, Ilmu Pengetahuan Bahan PangaIl, Dep. Dik. Bud., IPB., Bogor (1992). 8. KOLAR, K., Colorimetric determination of hydroxyproline as measure of collagen content in meat and meat products, NMKL Collaborative Study, J. Ass. Off. Anal. Chern., 73,1 (1990) ADMIT (Analitical Detection Methods for Imdiation Treatment of Food), F AO/IAEA, Belfast, UK (1994). 10. SIMIC, M.G., Radiation chemistry of water-soluble food components, di dalam : Josephson, E.S., and Peterson, M.S., Preservation of Food by Ionizing Radiation, vol. II, ed., CRC Press, Inc., Boca Raton, Florida (1983) ANONYMOUS, Precise Minolta. Japan (1987). Color Communication, II. DIEHL, J.F., Safety of Irradiated Foods, Marcel Dekker, Inc., New York (1990) ANONYMOUS, Chromameter CR-200B, Minolta, Japan (1987). 12. KET AREN, S., Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan, Penerbit VI Press, Jakarta (1986). Tabel 1, Pengaruh iradiasi pada derajat kecerahan (L). derajat wama merah (A), dan derajat wama kuning (B) daging sapi selarna penyimpanan pada SullU -4 C dan kelembapa nisbi +75% Masa simpan (bulan) Dosis (kgy) L A B 30,66 + 0,16 150,27 + 0,98 13,13 + 0,07 28,55 + 0,03 147,43 + 2,17 12,43 + 0,39 28,80 + 0,67 141,67 + 0,07 12,13 + 0,21 1 L A B 30,87 + 0,20 148,65 + 1,91 13,13 +0,23 27,91 +0,27 145,70 + 2,80 11,98 + 0,02 27,55 + 0,67 141,37 + 0,37 12,07 + 0,47 2 L A B 29,96 + 0,30 148,41 + 1,41 12,80 + 0,12 27,30 143,05 11, , , ,29 27,25 -I-0,08 139,76 -I-2, 90 11,80 -I-0,30 Tabel 2. Pengaruh iradiasi pada kandungan hidroksiprolin (g/loog) dan kolagen (g/loog) daging sapi selarna penyimpanan pada suhu -4 C dan kelembapa nisbi + 75% Masa Hidroksiprolin (giioog) Kolagen (giloog) simpan (bulatl) Dosis (kgy) Dosis (kgy) ,08 0,10 0,09 0,63 0,83 0,72 2 0,01 0,02 0,02 0,08 0,17 0,15 218

5 Pelle/iliall dall P""gemba"ga" Ap/ikasi ISOIOp dan Radiasi, /999 Tabel 3. Pengaruh iradiasi padc'l kadar lemak daging sapi selama penyimpanar pada subu -4 C dad kelembapan oishi + 75% Masa simpan (bulan) Dosis (kgy) ,79 + 0,67 17,32 + 1,10 16,22 + 0,34 16,80 + 0,96 16,73 + 0,46 14,60 + 1, ,62 + 0,69 15,01+ 2,41 16,42 + 0,14 DISKUSI NAZAROH 1. BagailnaIla pengarull dosis radiasi terlladap lmna penyimpanml (pengawetan) daging agar kualitasnya tetap baik '? Bagaimana kurvanya lmna (t); radiasi (kgy)? 2. Dari basil penelitian Anda, pengaruh radiasi dapat menurui1kail mutu Wank'l daging. Apakah tujuaimya? Baikffidak? 3. Apa tujuan daging dipotong kecil-kecil dibandingkan dengan ukuran besar? Terlladc'lp lllutu/imna penyimpanml. ZUBAID AH IRA W A TI I. BergantUl1g tujuc11mya produk yang akan diiradiasi, walaupun dosis yang diaplikasikan rendah, tetapi optimuln sesuai dengan tujuannya dad cara kelnas serta penyimpanannya tepat, maka produk yang bersangkutall dapat talla11 Ialna. 2. Wanm daging menjadi pucat dad kusam secara nyata. Hal ini jelas dapat menurmlkall mutu. 3. Agar mudall did,,1lam melladgaili, disalnping da1m yang tersedia terbatas tidak adc1 masalall apabila dilakukan pacta skala yang lebih besar, asal density ballad ~ 1,2. WIWIK PUDJIASTUTI Apakall pengaruh iradiasi terhadap migrasi kemasc1jl (nylon 6/PE) terlmdap produk yang dikemas (daging) '7 Sampai saat ini, belum diadakan penelitian khusus ten tang lnigrasi tersebut, tetapi dati pengalnatan orgall01eptik terlladap parameter bau, tidak ditemukan migrasi tersebut. BAMBANG DWILOKA Aplikasi praktis : -Dililmt d.'lti llkuran sampel (25 x 25 x 25) cm3, -Penyimpanan pada t -4 c. Apakah dapat diintroduksi ke dalam aplikasi praktis (bisnis)? 2. Faktor utama yang menyebabkan penunman intensitas wama akibat dosis iradiasi yang meningkat? 3. Kendati iradiasi sampai dosis 20 kgy tidak menyebabkan pembahan kandungan kolagen, kadar lemak, pembal1ad gugus fungsional dan komponen atas lemak, tetapi menyebabkan pembahan wama (kecerahannya menumn). Rekomendasi apa yang dapat disarankan? 1. Bisa, apabila skala dilipat-gandakan terhadap ukuran sampel dad kemasan, tetapi tidal untuk suhu -untuk ballad bisa di "scale up". 1. Komponen yang berhubungan dengan proses pigmentasi dan komponen lain yang bersangkutan dengan myoglobin; oxy myoglobin, myoglobin reduksi ungu, oksi myoglobin merall terang dan met myoglobin coklat. Penurunan intensitas terjadi akibat radiasi karena terjadi reaksi oksidasi dan reduksi pada pigmen tersebut. 3. Kombinasi perlakuan antara iradiasi dengan perlakuan lain (penambaiklll garam phospllat, dll). WINDI KANIA Aplikasi di USA = 4,5-7 kgy. Mohon masukan untuk di Indonesia dosis berapa kgy yang dinilai optimum untuk segi pemenul1ad sroutasi daging segar dan dari segi ekonomis? Dosis 3-5 kgy. bergantung pada pemballan Tetapi wnwnnya adalall 3-5 mati, daging tid.1k msak. Dapat pula sampai 7 kgy, sifat-sifat organoleptiknya. kgy dapat diterima; patogen 219

6 Pene/i/ion don PengembongonAp/ikosi ls%p don Rodiasi. /999 SUPRIY A TI 1. Bagaimalli'l pengaroh iradiasi terhadap "nilai terderness" daging? 2. Bagaimana pengaroh iradiasi terhadap kandung.'1d protein daging, apakah terjadi degradasi? 1. Pengamlmya nyata. 2. Apabila yang dilihat ada1all total proteilu1ya (N = 6.25) tidak terjadi peruba1kl11 nyata. Tetapi basil penelitian lain menunjukkan beberapa asam anuno esensial menga1alni kenaikan dan penurunan secara nyata (Inakalall sedang disusun). SY AMSUL AZIA 1. Dasar pemberian dosis kgy, sedang di USA: 4,5-7 kgy? 2. Bagainla1taspek organoleptik test? 3. BagailnaIta perbandingan mikroba pre dan pasca iradiasi? ZUBAIDAH IRA W A TI 1. Dosis kgy merupakail batas maksimmn unluk iradiasi daging segar (mltuk melihat pengaru11 iradiasi pacta dosis tersebut terhadap peruba11an kimia). Apabila pacta dosis 20 kgy tidc1k terjadi perubahan yang nyata terltadap karakteristik kimia berarti dosis < 10 kgy Memang benar, bahwa bakteri patogen lainnya perlu mendapat perlmtian. Pada saat terjadi E. coli outbrake untuk ballad makanan dengan bahan dasar daging di Amerika (beef burger, hamberger), temyata E. coli pada type/strain 0157 : H7 yang mendominasi penyebab food dej.easeifood borne patogen ditemukan pada produk makanan tersebut. Sehingga peristiwa yang terjadi di Amerika tersebut terkenal dengan perang melawan E. coli dengan menggunakan teknologi radiasi. MARGA UT AMA alnan Ul1tuk diapkik.1sikan. 2. Terjadi peruba113d warna dad tekstur secara nyata. 3. Mikroba mengalami penurultan 2-3 desimal. M. UNA Apakall ada perubahan bau dan rasa bila daging tersebut diiradiasi 20 kgy? Mohon penjelasan. Menurut hemat sara bila ada perubahan wama pada makanan maka cita rasanya juga berubah. Bau ada peruballan, tetapi rasa belum dicoba. Untuk uji orgailoleptik terlladap bau, warna dan penainpilail secara wnum serta tekstur temyata panelis dapat menemukan perubahan yang terjadi pada daging yang diiradiasi dosis tersebut. Rasa belum dilakukan, karena kemungkinan tidak ditemukan peruballan rasa akibat iradiasi setelah diproses/dimasc1k. Meskipun delnikian, dari uji keseluruhan secara organoleptik ditemukan perubahan yang sangat nyata pada wama dan tekstur. SOEDIJATMO Mohon iillonnasi, mwlgkin sudal\ ad.1 lmsil-hasil penelitiar\ sejenis, Wltuk nk1kanar\-nmkarlan basalt (tennasuk bual\-bual\ai\) yang sudal\ dapat dipasarkarvditerima '? SUdall banyak, tetapi belum dipasarkall secara meluas. Bij i-bij ian, palawija, rempall-rempall, buallbual1an (lnangga, tomat, apel) dsb. Khusus biji-bijian SUdall dipasarkan oleh P AIR/secara intern kepada masyarakat setelah presentasi/pelnasyarakatan dcw hazar saja, jadi ITh1Sih dalam skala terbatas. HARSOJO Mengapa bakteri patogen yang ditekankan hanya pada E. coli 0157 : H7? Sebaiknya bakteri patogen lainnya juga perlu mend.1pat perlmtial1, misalnya.s'almonellatau Listeria d.1lllain sebagainya. Apakall tidak dilakukan pengujian mikrobiologis, terutama Wltuk E. coli 0157 : H7 Wltuk daging iradiasi khususnya setelall penyimpanan karena hal ini sangat penting sesuai tujuan iradiasi adalah Wltuk membwluh mikroba patogen? Ide Anda memang bagus, terima kasih. Untuk pengujian bakteri E. coli strain 0157 : H7 adalall wewenang Bidang Biologi/Lab. Mikrobiologi. Saya harns mengkoordinasikan dengan bidang tersebut. GA TOT TRIMUL Y ADI 1. Persyaratan daging segar agar dapat diawetkan dengan teknik iradiasi? Misalnya : kadar air?, kandungan lemak?, dll. 2. Sampai sejauh mana daya simpannya bila dibandingkan dengan 11anya pembekuan? 1. Daging yang melniliki kualitas bagus dan segar. Kadar air, kandungan lemak, dan sebagainya temyata tidak mempakan persyaratan/tidak dipengamhi oleh radiasi. 220

7 Pel/eli/ion don Pengembangan Aplikasi ls%p don Radiasi Terlil13t pada kandungan mikrobanya -Kean1anan lebih terjamin apabila diiradiasi lalu disimpan. Jadi bakteri psychrophi//ic akan mati akibat radiasi. FAJAR AJU TOFIANA 1. Dengan penyinarnn gatnma pada daging sapi, meskipun terjadi perubahan warda secara nyata natnun apakah kondisi tersebut rnasih layak dikonsumsi? 2. Dengan delnikiarl daging sapi sesuai dengan metode pengawetan secara iradiasi. Apakall hal sepertirll yang akan AlIda simpulkan, mengingat tidak menyebabkan peruballan pada kolagen, kadar lemak, peruballan gugus fungsional dan komponen asam lernak? 1. Kurang layak. Oleh karena itu, penelitian Wanta masih perlu dilanjutkan, misalnyadengan penambahan garamertentu. phosphat pada konsentrasi t 2. Berarti teki1o1ogi iradiasi Ulltuk pengawetall daging segar dapat diterapkan. J.S. SUSANTI I. Apakall tidak ada penurunan mutu pada daging dengan adanya proses iradiasi tersebut? 2. Apakah kewltwlgan dan kerugian dari proses iradiasi galnrna pada kualitas daging segar? 3. Apakah sudah ada kalkulasi biaya sehingga jika proses tersebut disosialisasikan tidak akan membuat harga daging melljadi melonjal? 1. PenW1ll1an mutu, apabila perubahan wama daging akibat iradiasi tidak dapat diantisipasi dengan tara perlakuan kombinasi ataupun teknik lain (kemasan, suhu dan ~ didalamnya selama dan sesudah iradiasi). 2. Keuntungan : bakteri patogen yang dapat mencemari daging segar dapat dibasmi -aman dikonsumsi. Kerugian : Apabila iradiasi dilakukan dalam jumlah kecil -tidak ekonomis. Perlu fasilitas pendingin dan dana ekstra (C~ padat dad stiroform). 3. Belum ada. 221

PENDUGAAN UMUR SIMPAN PRODUK MI INSTAN DARI PATI SAGU DENGAN METODE AKSELERASI

PENDUGAAN UMUR SIMPAN PRODUK MI INSTAN DARI PATI SAGU DENGAN METODE AKSELERASI PENDUGAAN UMUR SIMPAN PRODUK MI INSTAN DARI PATI SAGU DENGAN METODE AKSELERASI Shelf Life Estimation of Instant Noodle from Sago Starch Using Accelerared Method Dewi Kurniati (0806113945) Usman Pato and

Lebih terperinci

Mochamad Nurcholis, STP, MP. Food Packaging and Shelf Life 2013

Mochamad Nurcholis, STP, MP. Food Packaging and Shelf Life 2013 Mochamad Nurcholis, STP, MP Food Packaging and Shelf Life 2013 OVERVIEW TRANSFER PANAS (PREDIKSI REAKSI) TRANSFER PANAS (PLOT UMUR SIMPAN PENDEKATAN LINEAR) TRANSFER PANAS (PLOT UMUR SIMPAN PENDEKATAN

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. membantu aktivitas pertumbuhan mikroba dan aktivitas reaksi-reaksi kimiawi

II. TINJAUAN PUSTAKA. membantu aktivitas pertumbuhan mikroba dan aktivitas reaksi-reaksi kimiawi II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Aktifitas Air (Aw) Aktivitas air atau water activity (a w ) sering disebut juga air bebas, karena mampu membantu aktivitas pertumbuhan mikroba dan aktivitas reaksi-reaksi kimiawi

Lebih terperinci

PENENTUAN KADALUWARSA PRODUK PANGAN

PENENTUAN KADALUWARSA PRODUK PANGAN PENENTUAN KADALUWARSA PRODUK PANGAN HANDOUT MATA KULIAH : REGULASI PANGAN (KI 531) OLEH : SUSIWI S JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA F P M I P A UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2009 Handout PENENTUAN KADALUWARSA

Lebih terperinci

KARAKTERISASI FISIK DAN ph PADA PEMBUATAN SERBUK TOMAT APEL LIRA BUDHIARTI

KARAKTERISASI FISIK DAN ph PADA PEMBUATAN SERBUK TOMAT APEL LIRA BUDHIARTI KARAKTERISASI FISIK DAN ph PADA PEMBUATAN SERBUK TOMAT APEL LIRA BUDHIARTI DEPARTEMEN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 ABSTRAK LIRA BUDHIARTI. Karakterisasi

Lebih terperinci

INOVASI PEMBUATAN SUSU KEDELE TANPA RASA LANGU

INOVASI PEMBUATAN SUSU KEDELE TANPA RASA LANGU INOVASI PEMBUATAN SUSU KEDELE TANPA RASA LANGU Oleh: Gusti Setiavani, S.TP, M.P Staff Pengajar di STPP Medan Kacang-kacangan dan biji-bijian seperti kacang kedelai, kacang tanah, biji kecipir, koro, kelapa

Lebih terperinci

11/14/2011. By: Yuli Yanti, S.Pt., M.Si Lab. IPHT Jurusan Peternakan Fak Pertanian UNS. Lemak. Apa beda lemak dan minyak?

11/14/2011. By: Yuli Yanti, S.Pt., M.Si Lab. IPHT Jurusan Peternakan Fak Pertanian UNS. Lemak. Apa beda lemak dan minyak? By: Yuli Yanti, S.Pt., M.Si Lab. IPHT Jurusan Peternakan Fak Pertanian UNS Lemak Apa beda lemak dan minyak? 1 Bedanya: Fats : solid at room temperature Oils : liquid at room temperature Sources : vegetables

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. yaitu permen keras, permen renyah dan permen kenyal atau permen jelly. Permen

I. PENDAHULUAN. yaitu permen keras, permen renyah dan permen kenyal atau permen jelly. Permen I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kembang gula atau yang biasa disebut dengan permen merupakan produk makanan yang banyak disukai baik tua maupun muda karena permen mempunyai keanekaragaman rasa, warna,

Lebih terperinci

STUDI KADAR HISTAMIN IKAN TONGKOL (Auxis thazard) ASAP YANG DIAWET DENGAN ASAM ASETAT. Verly DotuLong 1 ABSTRAK

STUDI KADAR HISTAMIN IKAN TONGKOL (Auxis thazard) ASAP YANG DIAWET DENGAN ASAM ASETAT. Verly DotuLong 1 ABSTRAK STUDI KADAR HISTAMIN IKAN TONGKOL (Auxis thazard) ASAP YANG DIAWET DENGAN ASAM ASETAT Verly DotuLong 1 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh asam asetat terhadap kadar histamin ikan tongkol

Lebih terperinci

PENGOLAHAN DAN PENGAWETAN IKAN. Riza Rahman Hakim, S.Pi

PENGOLAHAN DAN PENGAWETAN IKAN. Riza Rahman Hakim, S.Pi PENGOLAHAN DAN PENGAWETAN IKAN Riza Rahman Hakim, S.Pi Penggolongan hasil perikanan laut berdasarkan jenis dan tempat kehidupannya Golongan demersal: ikan yg dapat diperoleh dari lautan yang dalam. Mis.

Lebih terperinci

STATUS LITBANG PANGAN OLAHAN SIAP SAJI IRADIASI *) Rindy Panca Tanhindarto **) dan Zubaidah Irawati **)

STATUS LITBANG PANGAN OLAHAN SIAP SAJI IRADIASI *) Rindy Panca Tanhindarto **) dan Zubaidah Irawati **) ABSTRAK STATUS LITBANG PANGAN OLAHAN SIAP SAJI IRADIASI *) Rindy Panca Tanhindarto **) dan Zubaidah Irawati **) STATUS LITBANG PANGAN OLAHAN SIAP SAJI IRADIASI. Aplikasi radiasi pengion pada dosis sedang

Lebih terperinci

NASKAH PUBLIKASI. Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna mencapai derajat Sarjana S- 1. Pendidikan Biologi

NASKAH PUBLIKASI. Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna mencapai derajat Sarjana S- 1. Pendidikan Biologi UJI TOTAL ASAM DAN ORGANOLEPTIK DALAM PEMBUATAN YOGHURT SUSU KACANG HIJAU ( Phaseolus radiatus ) DENGAN PENAMBAHAN EKSTRAK UBI JALAR UNGU (Ipomoea batatas L) NASKAH PUBLIKASI Untuk memenuhi sebagian persyaratan

Lebih terperinci

PENGARUH DOSIS EM-4 (EFFECTIVE MICROORGANISMS-4) DALAM AIR MINUM TERHADAP BERAT BADAN AYAM BURAS

PENGARUH DOSIS EM-4 (EFFECTIVE MICROORGANISMS-4) DALAM AIR MINUM TERHADAP BERAT BADAN AYAM BURAS PENGARUH DOSIS EM-4 (EFFECTIVE MICROORGANISMS-4) DALAM AIR MINUM TERHADAP BERAT BADAN AYAM BURAS EFFECT OF EM-4 (EFFECTIVE MICROORGANISMS-4) DOSAGE ADDED IN DRINKING WATER ON BODY WEIGHT OF LOCAL CHICKEN

Lebih terperinci

TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN

TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN Telur adalah salah satu sumber protein hewani yang memilik rasa yang lezat, mudah dicerna, dan bergizi tinggi. Selain itu telur mudah diperoleh dan harganya murah. Telur dapat

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Buah kersen merupakan buah yang keberadaannya sering kita jumpai

BAB 1 PENDAHULUAN. Buah kersen merupakan buah yang keberadaannya sering kita jumpai BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Buah kersen merupakan buah yang keberadaannya sering kita jumpai di mana-mana. Biasanya banyak tumbuh di pinggir jalan, retakan dinding, halaman rumah, bahkan di kebun-kebun.

Lebih terperinci

Haris Dianto Darwindra 240210080133 BAB VI PEMBAHASAN

Haris Dianto Darwindra 240210080133 BAB VI PEMBAHASAN BAB VI PEMBAHASAN Pada praktikum ini membahas mengenai Kurva Pertumbuhan Mikroorganisme Selama Proses Aging Keju. Keju terbuat dari bahan baku susu, baik susu sapi, kambing, atau kerbau. Proses pembuatannya

Lebih terperinci

PENENTUAN MASA SIMPAN WAFER STICK DALAM KEMASAN PLASTIK LAMINASI MAKALAH KOMPREHENSIF OLEH: TANIA MULIAWATI 6103007121

PENENTUAN MASA SIMPAN WAFER STICK DALAM KEMASAN PLASTIK LAMINASI MAKALAH KOMPREHENSIF OLEH: TANIA MULIAWATI 6103007121 PENENTUAN MASA SIMPAN WAFER STICK DALAM KEMASAN PLASTIK LAMINASI MAKALAH KOMPREHENSIF OLEH: TANIA MULIAWATI 6103007121 PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA

Lebih terperinci

APLIKASI MODEL ARRHENIUS UNTUK PENDUGAAN PENURUNAN MASA SIMPAN DAGING SAPI PADA PENYIMPANAN SUHU RUANG DAN REFRIGERASI BERDASARKAN NILAI TVB DAN ph

APLIKASI MODEL ARRHENIUS UNTUK PENDUGAAN PENURUNAN MASA SIMPAN DAGING SAPI PADA PENYIMPANAN SUHU RUANG DAN REFRIGERASI BERDASARKAN NILAI TVB DAN ph APLIKASI MODEL ARRHENIUS UNTUK PENDUGAAN PENURUNAN MASA SIMPAN DAGING SAPI PADA PENYIMPANAN SUHU RUANG DAN REFRIGERASI BERDASARKAN NILAI TVB DAN ph Abstrak Kusmajadi Suradi Fakultas Peternakan Universitas

Lebih terperinci

ANALISIS KINERJA KUALITAS PRODUK

ANALISIS KINERJA KUALITAS PRODUK 45 ANALISIS KINERJA KUALITAS PRODUK Perilaku konsumen dalam mengkonsumsi dangke dipengaruhi oleh faktor budaya masyarakat setempat. Konsumsi dangke sudah menjadi kebiasaan masyarakat dan bersifat turun

Lebih terperinci

LAPORAN TUGAS AKHIR PENGARUH WAKTU PENGGORENGAN VAKUM TERHADAP KADAR AIR DAN ORGANOLEPTIK KERIPIK KULIT PISANG

LAPORAN TUGAS AKHIR PENGARUH WAKTU PENGGORENGAN VAKUM TERHADAP KADAR AIR DAN ORGANOLEPTIK KERIPIK KULIT PISANG LAPORAN TUGAS AKHIR PENGARUH WAKTU PENGGORENGAN VAKUM TERHADAP KADAR AIR DAN ORGANOLEPTIK KERIPIK KULIT PISANG ( The Time Effect of Vacuum Frying Towards the Amount of water and Organoleptic Ingredients

Lebih terperinci

KERACUNAN PANGAN AKIBAT BAKTERI PATOGEN

KERACUNAN PANGAN AKIBAT BAKTERI PATOGEN KERACUNAN PANGAN AKIBAT BAKTERI PATOGEN Pangan merupakan kebutuhan esensial bagi setiap manusia untuk pertumbuhan maupun mempertahankan hidup. Namun, dapat pula timbul penyakit yang disebabkan oleh pangan.

Lebih terperinci

MENGENAL LEBIH JAUH SKOMBROTOKSIN

MENGENAL LEBIH JAUH SKOMBROTOKSIN MENGENAL LEBIH JAUH SKOMBROTOKSIN Produk perikanan merupakan salah satu jenis pangan yang perlu mendapat perhatian terkait dengan keamanan pangan. Mengingat di satu sisi, Indonesia merupakan negara maritim

Lebih terperinci

EFEK IRADIASI SINAR GAMMA TERHADAP DAY A TAHAN E.\'cher;ch;a coli DAN Salmonella DALAM KONDISI Nz, NzO DAN Oz ABSTRACT

EFEK IRADIASI SINAR GAMMA TERHADAP DAY A TAHAN E.\'cher;ch;a coli DAN Salmonella DALAM KONDISI Nz, NzO DAN Oz ABSTRACT /'enehllan don /'engembangan Aphka.{,/soIOp dan Radla.n, /999 EFEK IRADIASI SINAR GAMMA TERHADAP DAY A TAHAN E.\'cher;ch;a coli DAN Salmonella DALAM KONDISI Nz, NzO DAN Oz NikJlarn Pusal Aplikasi!SOlop

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. proses terjadinya perubahan suhu hingga mencapai 5 0 C. Berdasarkan penelitian

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. proses terjadinya perubahan suhu hingga mencapai 5 0 C. Berdasarkan penelitian BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 1.1 Penelitian Pendahuluan Penelitian pendahuluan dilakukan untuk mengetahui waktu pelelehan es dan proses terjadinya perubahan suhu hingga mencapai 5 0 C. Berdasarkan penelitian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Direktorat Jenderal Peternakan (2011), dalam survey yang

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Direktorat Jenderal Peternakan (2011), dalam survey yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pangan asal hewan dibutuhkan manusia sebagai sumber protein hewani yang didapat dari susu, daging dan telur. Protein hewani merupakan zat yang penting bagi tubuh manusia

Lebih terperinci

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Laju Fotosintesis

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Laju Fotosintesis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Laju Fotosintesis (Fisiologi Tumbuhan) Disusun oleh J U W I L D A 06091009027 Kelompok 6 Dosen Pembimbing : Dra. Tasmania Puspita, M.Si. Dra. Rahmi Susanti, M.Si. Ermayanti,

Lebih terperinci

PENGARUH LAMA PEYIMPANAN SUSU SAPI PASTEURISASI PADA SUHU RENDAH TERHADAP SIFAT FISIKO-KIMIA, MIKROBIOLOGI DAN ORGANOLEPTIK YOGURT SKRIPSI

PENGARUH LAMA PEYIMPANAN SUSU SAPI PASTEURISASI PADA SUHU RENDAH TERHADAP SIFAT FISIKO-KIMIA, MIKROBIOLOGI DAN ORGANOLEPTIK YOGURT SKRIPSI PENGARUH LAMA PEYIMPANAN SUSU SAPI PASTEURISASI PADA SUHU RENDAH TERHADAP SIFAT FISIKO-KIMIA, MIKROBIOLOGI DAN ORGANOLEPTIK YOGURT SKRIPSI OLEH: MARGARITA WIDARTO 6103007055 PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kreatinin adalah produk protein otot yang merupakan hasil akhir

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kreatinin adalah produk protein otot yang merupakan hasil akhir BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kreatinin Kreatinin adalah produk protein otot yang merupakan hasil akhir metabolisme otot yang dilepaskan dari otot dengan kecepatan yang hampir konstan dan diekskresi dalam

Lebih terperinci

ARTI PENTING KALIBRASI PADA PROSES PENGUKURAN ANALITIK: APLIKASI PADA PENGGUNAAN phmeter DAN SPEKTROFOTOMETER UV-Vis. Iqmal Tahir ABSTRAK

ARTI PENTING KALIBRASI PADA PROSES PENGUKURAN ANALITIK: APLIKASI PADA PENGGUNAAN phmeter DAN SPEKTROFOTOMETER UV-Vis. Iqmal Tahir ABSTRAK ARTI PENTING KALIBRASI PADA PROSES PENGUKURAN ANALITIK: APLIKASI PADA PENGGUNAAN phmeter DAN SPEKTROFOTOMETER UV-Vis Iqmal Tahir Laboratorium Kimia Dasar, Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Gadjah Mada

Lebih terperinci

ABSTRAK II. TINJAUAN PUSTAKA I. PENDAHULUAN

ABSTRAK II. TINJAUAN PUSTAKA I. PENDAHULUAN HUBUNGAN ANTARA TINGKAT KEKERASAN DAN WAKTU PEMECAHAN DAGING BUAH KAKAO (THEOBROMA CACAO L) 1) MUH. IKHSAN (G 411 9 272) 2) JUNAEDI MUHIDONG dan OLLY SANNY HUTABARAT 3) ABSTRAK Permasalahan kakao Indonesia

Lebih terperinci

OLEH : GLADYS AMANDA WIJAYA

OLEH : GLADYS AMANDA WIJAYA KAJIAN PROPORSI TEPUNG TERIGU DAN TEPUNG UBI JALAR KUNING SERTA KONSENTRASI GLISERIL MONOSTEARAT (GMS) TERHADAP SIFAT FISIKOKIMIA DAN ORGANOLEPTIK MUFFIN SKRIPSI OLEH : GLADYS AMANDA WIJAYA (6103006001)

Lebih terperinci

KENDALA TANGAN TANGGA ALIH LATEKS PEMBUATAN KE INDUSTRI SA RUNG RUMAH ABSTRAK ABSTRACT PENDAHULUAN

KENDALA TANGAN TANGGA ALIH LATEKS PEMBUATAN KE INDUSTRI SA RUNG RUMAH ABSTRAK ABSTRACT PENDAHULUAN KENDALA TANGAN TANGGA ALIH LATEKS PEMBUATAN KE INDUSTRI SA RUNG RUMAH Wiwik Sofiarti, Made Sumarti, K. dad Marsongko Puslitbang Teknologi lsotop dan Radiasi Batan, Jakarta ABSTRAK KENDALA AUH TEKNOLOGI

Lebih terperinci

Kata kunci: fasa gerak, asam benzoat, kafein, kopi kemasan, KCKT. Key word: mobile phase, benzoic acid, caffeine, instant coffee package, HPLC

Kata kunci: fasa gerak, asam benzoat, kafein, kopi kemasan, KCKT. Key word: mobile phase, benzoic acid, caffeine, instant coffee package, HPLC PENGARUH KOMPOSISI FASA GERAK PADA PENETAPAN KADAR ASAM BENZOAT DAN KAFEIN DALAM KOPI KEMASAN MENGGUNAKAN METODE KCKT (KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI) Auliya Puspitaningtyas, Surjani Wonorahardjo, Neena

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi wilayah PT. Cipta Frima Jaya adalah salah satu perusahaan yang bergerak dalam penanganan pasca panen (pembekuan) untuk hasil perikanan, yang merupakan milik Bapak

Lebih terperinci

KAJIAN REAKSI OKSIDASI SENYAWA 2,6,6-TRIMETIL BISIKLO[3.1.1]HEPT-2-ENA MENGGUNAKAN ALIRAN GAS OKSIGEN DAN ZEOLIT NAX ) Oleh : Nohong **)

KAJIAN REAKSI OKSIDASI SENYAWA 2,6,6-TRIMETIL BISIKLO[3.1.1]HEPT-2-ENA MENGGUNAKAN ALIRAN GAS OKSIGEN DAN ZEOLIT NAX ) Oleh : Nohong **) KAJIAN REAKSI KSIDASI SENYAWA 2,6,6-TRIMETIL BISIKL[3.1.1]HEPT-2-ENA MENGGUNAKAN ALIRAN GAS KSIGEN DAN ZELIT NAX ) leh : Nohong **) Telah dilakukan reaksi oksidasi terhadap senyawa α-pinena (2,6,6-trimetil

Lebih terperinci

III. MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2013 - Februari 2014.

III. MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2013 - Februari 2014. III. MATERI DAN METODE 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2013 - Februari 2014. Penelitian ini dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan UIN SUSKA Riau.

Lebih terperinci

02. Jika laju fotosintesis (v) digambarkan terhadap suhu (T), maka grafik yang sesuai dengan bacaan di atas adalah (A) (C)

02. Jika laju fotosintesis (v) digambarkan terhadap suhu (T), maka grafik yang sesuai dengan bacaan di atas adalah (A) (C) Pengaruh Kadar Gas Co 2 Pada Fotosintesis Tumbuhan yang mempunyai klorofil dapat mengalami proses fotosintesis yaitu proses pengubahan energi sinar matahari menjadi energi kimia dengan terbentuknya senyawa

Lebih terperinci

TEKNOLOGI TELUR. Pada umumnya telur mempunyai 3 struktur bagian, yaitu :

TEKNOLOGI TELUR. Pada umumnya telur mempunyai 3 struktur bagian, yaitu : TEKNOLOGI TELUR STRUKTUR UMUM TELUR Pada umumnya telur mempunyai 3 struktur bagian, yaitu : Kulit Telur Mengandung Ca = 98.2 % Mg = 0.9 % ( menentukan kekerasan cangkang/kulit); P = 0.9%. Ketebalan yang

Lebih terperinci

Bab 11 Bagaimana menjelaskan kepada dokter saat berobat

Bab 11 Bagaimana menjelaskan kepada dokter saat berobat Bab 11 Bagaimana menjelaskan kepada dokter saat berobat Bab 11 Bagaimana menjelaskan kepada dokter saat berobat Waktu memeriksa ke dokter menerangkan secara jelas beberapa hal dibawah ini 1.Menjelaskan

Lebih terperinci

Cara uji fisika Bagian 2: Penentuan bobot tuntas pada produk perikanan

Cara uji fisika Bagian 2: Penentuan bobot tuntas pada produk perikanan Standar Nasional Indonesia Cara uji fisika Bagian 2: Penentuan bobot tuntas pada produk perikanan ICS 67.050 Badan Standardisasi Nasional Copyright notice Hak cipta dilindungi undang undang. Dilarang menyalin

Lebih terperinci

LATEKS ALAM IRADIASI SEBAGAI BAHAN BAKU INDUSTRI RUMAH TANGGA BARANG JADI KARET

LATEKS ALAM IRADIASI SEBAGAI BAHAN BAKU INDUSTRI RUMAH TANGGA BARANG JADI KARET LATEKS ALAM IRADIASI SEBAGAI BAHAN BAKU INDUSTRI RUMAH TANGGA BARANG JADI KARET Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki perkebunan karet paling luas di dunia. Sebagian besar karet alam tersebut

Lebih terperinci

ABSTRAK. Ronauly V. N, 2011, Pembimbing 1: dr. Sijani Prahastuti, M.Kes Pembimbing 2 : Prof. DR. Susy Tjahjani, dr., M.Kes

ABSTRAK. Ronauly V. N, 2011, Pembimbing 1: dr. Sijani Prahastuti, M.Kes Pembimbing 2 : Prof. DR. Susy Tjahjani, dr., M.Kes ABSTRAK EFEK INFUSA DAUN SALAM (Syzygium polyanthum) TERHADAP PENURUNAN KADAR KOLESTEROL LDL DAN PENINGKATAN KADAR KOLESTEROL HDL DARAH TIKUS JANTAN GALUR WISTAR MODEL DISLIPIDEMIA Ronauly V. N, 2011,

Lebih terperinci

Perencanaan dan Pendugaan Umur Simpan Produk Pangan: Aplikasi Prinsip Arrhenius Feri Kusnandar

Perencanaan dan Pendugaan Umur Simpan Produk Pangan: Aplikasi Prinsip Arrhenius Feri Kusnandar Perencanaan dan Pendugaan Umur Simpan Produk Pangan: Aplikasi Prinsip Arrhenius Feri Kusnandar Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pertanian Ins6tut Pertanian Bogor Metode Pendugaan

Lebih terperinci

Susu Sapi Tidak Baik Untuk Manusia. Written by Administrator

Susu Sapi Tidak Baik Untuk Manusia. Written by Administrator Susu adalah minuman kesehatan yang sebagian besar praktisi kesehatan menganjurkan agar kita mengkonsumsinya agar tubuh mendapat asupan kesehatan selain makanan yang kita makan sehari-hari. Namun, belum

Lebih terperinci

Perekonomian yang maju menyebabkan perubaban pola hidup masyankat,

Perekonomian yang maju menyebabkan perubaban pola hidup masyankat, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perekonomian yang maju menyebabkan perubaban pola hidup masyankat, salah satu diantaranya adalah meningkatnya permintaan produk-produl mdman yang berkualitas tmggi,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara berkembang dan sedang berusaha mencapai

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara berkembang dan sedang berusaha mencapai I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara berkembang dan sedang berusaha mencapai pembangunan sesuai dengan yang telah digariskan dalam propenas. Pembangunan yang dilaksakan pada hakekatnya

Lebih terperinci

Pemantauan Kerusakan Lahan untuk Produksi Biomassa

Pemantauan Kerusakan Lahan untuk Produksi Biomassa Pemantauan Kerusakan Lahan untuk Produksi Biomassa Rajiman A. Latar Belakang Pemanfaatan lahan memiliki tujuan utama untuk produksi biomassa. Pemanfaatan lahan yang tidak bijaksana sering menimbulkan kerusakan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. beberapa zat gizi tidak terpenuhi atau zat-zat gizi tersebut hilang dengan

BAB 1 PENDAHULUAN. beberapa zat gizi tidak terpenuhi atau zat-zat gizi tersebut hilang dengan BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keadaan gizi kurang dapat ditemukan pada setiap kelompok masyarakat. Pada hakekatnya keadaan gizi kurang dapat dilihat sebagai suatu proses kurang asupan makanan ketika

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. untuk menggambarkan haid. Menopause adalah periode berakhirnya

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. untuk menggambarkan haid. Menopause adalah periode berakhirnya BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Menopause 1. Definisi Menopause merupakan sebuah kata yang mempunyai banyak arti, Men dan pauseis adalah kata yunani yang pertama kali digunakan untuk menggambarkan haid. Menopause

Lebih terperinci

PENINGKATAN NILAI TAMBAH JAGUNG SEBAGAI PANGAN LOKAL Oleh : Endah Puspitojati

PENINGKATAN NILAI TAMBAH JAGUNG SEBAGAI PANGAN LOKAL Oleh : Endah Puspitojati PENINGKATAN NILAI TAMBAH JAGUNG SEBAGAI PANGAN LOKAL Oleh : Endah Puspitojati Kebutuhan pangan selalu mengikuti trend jumlah penduduk dan dipengaruhi oleh peningkatan pendapatan per kapita serta perubahan

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN Sebelum melakukan PCR, terlebih dahulu dilakukan perancangan primer menggunakan program DNA Star. Pemilihan primer dilakukan dengan mempertimbangkan parameter spesifisitas,

Lebih terperinci

LAPORAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

LAPORAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA LAPORAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA PEMANFAATAN ABU SEKAM PADI DALAM PROSES PEMBUATAN SABUN DENGAN MENGGUNAKAN MINYAK JELANTAH BIDANG KEGIATAN : BIDANG PKMP Diusulkan oleh : Suhardi 2010430068 (2010)

Lebih terperinci

SIFAT SIFAT FISIK ASPAL

SIFAT SIFAT FISIK ASPAL Oleh : Unggul Tri Wardana (20130110102) Dea Putri Arifah (20130110103) Muhammad Furqan (20130110107) Wahyu Dwi Haryanti (20130110124) Elsa Diana Rahmawati (20130110128) Bitumen adalah zat perekat (cementitious)

Lebih terperinci

PENGARUH SUHU DAN WAKTU PASTEURISASI TERHADAP MUTU SUSU SELAMA PENYIMPANAN

PENGARUH SUHU DAN WAKTU PASTEURISASI TERHADAP MUTU SUSU SELAMA PENYIMPANAN PENGARUH SUHU DAN WAKTU PASTEURISASI TERHADAP MUTU SUSU SELAMA PENYIMPANAN ABUBAKAR, TRIYANTINI, R. SUNARLIM, H. SETIYANTO, dan NURJANNAH Balai Penelitian Ternak P.O. Box 2, Bogor, Indonesia (Diterima

Lebih terperinci

Standardisasi Obat Bahan Alam. Indah Solihah

Standardisasi Obat Bahan Alam. Indah Solihah Standardisasi Obat Bahan Alam Indah Solihah Standardisasi Rangkaian proses yang melibatkan berbagai metode analisis kimiawi berdasarkan data famakologis, melibatkan analisis fisik dan mikrobiologi berdasarkan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September sampai Desember 2012. Cangkang kijing lokal dibawa ke Laboratorium, kemudian analisis kadar air, protein,

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP. 02/MEN/2007 TENTANG CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP. 02/MEN/2007 TENTANG CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP. 02/MEN/2007 TENTANG CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 85 TAHUN 1999 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 85 TAHUN 1999 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 85 TAHUN 1999 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 18 TAHUN 1999 TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

UJI & ANALISIS AIR SEDERHANA

UJI & ANALISIS AIR SEDERHANA MODUL: UJI & ANALISIS AIR SEDERHANA I. DESKRIPSI SINGKAT A ir dan kesehatan merupakan dua hal yang saling berhubungan. Kualitas air yang dikonsumsi masyarakat dapat menentukan derajat kesehatan masyarakat.

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling

Lebih terperinci

ANALISIS NILAI TAMBAH PADA PRODUK TEPUNG WORTEL. Analysis of Added Value to The Product of Carrot Powder

ANALISIS NILAI TAMBAH PADA PRODUK TEPUNG WORTEL. Analysis of Added Value to The Product of Carrot Powder ANALISIS NILAI TAMBAH PADA PRODUK TEPUNG WORTEL Analysis of Added Value to The Product of Carrot Powder Maulana Malik 1, Wignyanto 2, dan Sakunda Anggarini 2 1 Alumni Jurusan Teknologi Industri Pertanian

Lebih terperinci

Prinsip Dasar Pengolahan Pangan. Nyoman Semadi Antara, Ph.D. Pusat Kajian Keamanan Pangan (Center for Study on Food Safety) Universitas Udayana

Prinsip Dasar Pengolahan Pangan. Nyoman Semadi Antara, Ph.D. Pusat Kajian Keamanan Pangan (Center for Study on Food Safety) Universitas Udayana Prinsip Dasar Pengolahan Pangan Nyoman Semadi Antara, Ph.D. Pusat Kajian Keamanan Pangan (Center for Study on Food Safety) Universitas Udayana Mengapa Makanan Penting? Untuk Hidup Untuk Kesehatan Untuk

Lebih terperinci

PENETAPAN KADAR EUGENOL DALAM MINYAK ATSIRI DARI TIGA VARIETAS BUNGA CENGKEH (Syzygium aromaticum (L.) Merr. & L.M. Perry) SECARA KROMATOGRAFI GAS

PENETAPAN KADAR EUGENOL DALAM MINYAK ATSIRI DARI TIGA VARIETAS BUNGA CENGKEH (Syzygium aromaticum (L.) Merr. & L.M. Perry) SECARA KROMATOGRAFI GAS PENETAPAN KADAR EUGENOL DALAM MINYAK ATSIRI DARI TIGA VARIETAS BUNGA CENGKEH (Syzygium aromaticum (L.) Merr. & L.M. Perry) SECARA KROMATOGRAFI GAS Liliek Nurhidayati, Sulistiowati Fakultas Farmasi Universitas

Lebih terperinci

FORM D. A. Uraian Kegiatan. Deskripsikan Latar Belakang Permasalahan: Deskripsikan Maksud dan Tujuan Kegiatan Litbangyasa :

FORM D. A. Uraian Kegiatan. Deskripsikan Latar Belakang Permasalahan: Deskripsikan Maksud dan Tujuan Kegiatan Litbangyasa : FORM D A. Uraian Kegiatan Deskripsikan Latar Belakang Permasalahan: 1. Pemanenan jeruk kisar yang dilakukan petani di Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) masih tradisional, diantaranya tingkat kematangan,

Lebih terperinci

Atom unsur karbon dengan nomor atom Z = 6 terletak pada golongan IVA dan periode-2 konfigurasi elektronnya 1s 2 2s 2 2p 2.

Atom unsur karbon dengan nomor atom Z = 6 terletak pada golongan IVA dan periode-2 konfigurasi elektronnya 1s 2 2s 2 2p 2. SENYAWA ORGANIK A. Sifat khas atom karbon Atom unsur karbon dengan nomor atom Z = 6 terletak pada golongan IVA dan periode-2 konfigurasi elektronnya 1s 2 2s 2 2p 2. Atom karbon mempunyai 4 elektron valensi,

Lebih terperinci

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK. 03.1.23.06.10.5166 TENTANG PENCANTUMAN INFORMASI ASAL BAHAN TERTENTU, KANDUNGAN

Lebih terperinci

Kulit yang sehat akan membuat kulit terlihat segar dan cantik alami. Jika memiliki kulit yang sehat, Anda tidak akan memerlukan bantuan warna-warna

Kulit yang sehat akan membuat kulit terlihat segar dan cantik alami. Jika memiliki kulit yang sehat, Anda tidak akan memerlukan bantuan warna-warna Kulit yang sehat akan membuat kulit terlihat segar dan cantik alami. Jika memiliki kulit yang sehat, Anda tidak akan memerlukan bantuan warna-warna make up yang tidak alami untuk menutupi kulit Anda. Rona

Lebih terperinci

MAKANAN SIAP SANTAP DALAM KEADAAN DARURAT

MAKANAN SIAP SANTAP DALAM KEADAAN DARURAT MAKANAN SIAP SANTAP DALAM KEADAAN DARURAT Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI 2014 Wilayah Indonesia Rawan Bencana Letak geografis Wilayah Indonesia Pertemuan 3 lempengan

Lebih terperinci

Jurnal Agrisistem, Juni 2007, Vol. 3 No. 1 ISSN 1858-4330

Jurnal Agrisistem, Juni 2007, Vol. 3 No. 1 ISSN 1858-4330 STUDI PENGARUH PERIODE TERANG DAN GELAP BULAN TERHADAP RENDEMEN DAN KADAR AIR DAGING RAJUNGAN (Portunus pelagicus L) YANG DI PROSES PADA MINI PLANT PANAIKANG KABUPATEN MAROS STUDY OF LIGHT AND DARK MOON

Lebih terperinci

Kulit masohi SNI 7941:2013

Kulit masohi SNI 7941:2013 Standar Nasional Indonesia ICS 65.020.99 Kulit masohi Badan Standardisasi Nasional BSN 2013 Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh isi dokumen ini

Lebih terperinci

balado yang beredar di Bukittinggi, dalam Majalah Kedokteran Andalas, (vol.32, No.1, Januari-juni/2008), hlm. 72.

balado yang beredar di Bukittinggi, dalam Majalah Kedokteran Andalas, (vol.32, No.1, Januari-juni/2008), hlm. 72. BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Mutu bahan makanan pada umumnya sangat bergantung pada beberapa faktor, diantaranya cita rasa, warna, tekstur, dan nilai gizinya. Sebelum faktor-faktor lain dipertimbangkan,

Lebih terperinci

BAB 4. WUJUD ZAT 1. WUJUD GAS 2. HUKUM GAS 3. HUKUM GAS IDEAL 4. GAS NYATA 5. CAIRAN DAN PADATAN 6. GAYA ANTARMOLEKUL 7. TRANSISI FASA 8.

BAB 4. WUJUD ZAT 1. WUJUD GAS 2. HUKUM GAS 3. HUKUM GAS IDEAL 4. GAS NYATA 5. CAIRAN DAN PADATAN 6. GAYA ANTARMOLEKUL 7. TRANSISI FASA 8. BAB 4. WUJUD ZAT 1. WUJUD GAS 2. HUKUM GAS 3. HUKUM GAS IDEAL 4. GAS NYATA 5. CAIRAN DAN PADATAN 6. GAYA ANTARMOLEKUL 7. TRANSISI FASA 8. DIAGRAM FASA WUJUD ZAT: GAS CAIRAN PADATAN PERMEN (sukrosa) C 12

Lebih terperinci

PROSPEK PEMANFAATAN LIMBAH KOTORAN MANUSIA DI ASRAMA TPB-IPB SEBAGAI PENGHASIL ENERGI ALTERNATIF BIO GAS

PROSPEK PEMANFAATAN LIMBAH KOTORAN MANUSIA DI ASRAMA TPB-IPB SEBAGAI PENGHASIL ENERGI ALTERNATIF BIO GAS PROSPEK PEMANFAATAN LIMBAH KOTORAN MANUSIA DI ASRAMA TPB-IPB SEBAGAI PENGHASIL ENERGI ALTERNATIF BIO GAS FAHMI TRI WENDRAWAN (F34090009) Mahasiswa Program Tingkat Persiapan Bersama Bogor Agricultural University

Lebih terperinci

Kualitas Refined-Glyserin Hasil Samping Reaksi Transesterifikasi Minyak Sawit dengan Menggunakan Variasi Katalis

Kualitas Refined-Glyserin Hasil Samping Reaksi Transesterifikasi Minyak Sawit dengan Menggunakan Variasi Katalis Jurnal Kompetensi Teknik Vol.1, No. 2, Mei 2010 43 Kualitas Refined-Glyserin Hasil Samping Reaksi Transesterifikasi Minyak Sawit dengan Menggunakan Variasi Katalis Astrilia Damayanti dan Wara Dyah Pita

Lebih terperinci

BUDIDAYA IKAN LELE DI KOLAM TERPAL

BUDIDAYA IKAN LELE DI KOLAM TERPAL BUDIDAYA IKAN LELE DI KOLAM TERPAL Siapa yang tak kenal ikan lele, ikan ini hidup di air tawar dan sudah lazim dijumpai di seluruh penjuru nusantara. Ikan ini banyak dikonsumsi karena rasanya yang enak

Lebih terperinci

Geni Rina Sunaryo Pusat Pengembangan T eknologi Keselamatan Nuklir (P2TKN)-BA TAN

Geni Rina Sunaryo Pusat Pengembangan T eknologi Keselamatan Nuklir (P2TKN)-BA TAN Jakarta. 15 Oktober 2002 ISSN: 0854-2910 PERHITUNGAN TEKANAN GAS H2 PADA KAPSUL FPM GAGAL DI TERAS REAKTOR RSG GAS Endiah Puji Hastuti Pusat Pengembangan Teknologi Reaktor Riset (P2TRR)-BATAN Geni Rina

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Gambar 1.1. Proses pemurnian gas, sumber: Metso Automation. Inc

BAB 1 PENDAHULUAN. Gambar 1.1. Proses pemurnian gas, sumber: Metso Automation. Inc BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pengolahan gas alam merupakan proses terpenting pada industri minyak dan gas alam yaitu mengurangi kadar komponen gas asam yang terdiri dari Karbon Dioksida (CO 2 )

Lebih terperinci

Budidaya Nila Merah. Written by admin Tuesday, 08 March 2011 10:22

Budidaya Nila Merah. Written by admin Tuesday, 08 March 2011 10:22 Dikenal sebagai nila merah taiwan atau hibrid antara 0. homorum dengan 0. mossombicus yang diberi nama ikan nila merah florida. Ada yang menduga bahwa nila merah merupakan mutan dari ikan mujair. Ikan

Lebih terperinci

12/03/2015. Nurun Nayiroh, M.Si

12/03/2015. Nurun Nayiroh, M.Si Fasa (P) Fasa (phase) dalam terminology/istilah dalam mikrostrukturnya adalah suatu daerah (region) yang berbeda struktur atau komposisinya dari daerah lain. Nurun Nayiroh, M.Si Fasa juga dapat didefinisikan

Lebih terperinci

Aplikasi Prinsip Kinetika untuk Penentuan Masa Simpan Produk Pangan

Aplikasi Prinsip Kinetika untuk Penentuan Masa Simpan Produk Pangan Aplikasi Prinsip Kinetika untuk Penentuan Masa Simpan Produk Pangan Fateta, IPB 1 Fateta, IPB 2 Fateta, IPB 3 Fateta, IPB 4 PENENTUAN UMUR SIMPAN Penelitian & pengujian pengalaman empiris UMUR SIMPAN Informasi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. yang berfungsi sebagai penstabil pada emulsi. Pada makanan, emulsifier berperan

I. PENDAHULUAN. yang berfungsi sebagai penstabil pada emulsi. Pada makanan, emulsifier berperan I. PENDAHULUAN Emulsifier merupakan bahan tambahan pada produk farmasi dan makanan yang berfungsi sebagai penstabil pada emulsi. Pada makanan, emulsifier berperan sebagai bahan tambahan untuk mempertahankan

Lebih terperinci

Kimia dalam AIR. Dr. Yuni K. Krisnandi. KBI Kimia Anorganik

Kimia dalam AIR. Dr. Yuni K. Krisnandi. KBI Kimia Anorganik Kimia dalam AIR Dr. Yuni K. Krisnandi KBI Kimia Anorganik Sifat fisika dan kimia AIR Air memiliki rumus kimia H2O Cairan tidak berwarna, tidak berasa TAPI air biasanya mengandung sejumlah kecil CO2 dalm

Lebih terperinci

Deskripsi Lengkap Analisa : Merk : JEOL JNMECA 500 Fungsi. Harga Analisa : Proton ( 1 H) Karbon ( 13 C)

Deskripsi Lengkap Analisa : Merk : JEOL JNMECA 500 Fungsi. Harga Analisa : Proton ( 1 H) Karbon ( 13 C) : NMR Merk : JEOL JNMECA 500 Proton ( 1 H) Karbon ( 13 C) Attached Proton Test (APT) Correlation Spectroscopy (COSY, NOESY) Distortionless Enhancement by Polarization Transfer 9DEPT) 45 o Distortionless

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mulai bergeser dari penyakit infeksi ke penyakit metabolik. Dengan meningkatnya

BAB I PENDAHULUAN. mulai bergeser dari penyakit infeksi ke penyakit metabolik. Dengan meningkatnya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini di seluruh dunia termasuk Indonesia kecenderungan penyakit mulai bergeser dari penyakit infeksi ke penyakit metabolik. Dengan meningkatnya globalisasi dan

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2013 TENTANG PENGAWASAN FORMULA LANJUTAN

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2013 TENTANG PENGAWASAN FORMULA LANJUTAN PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN NOMOR 30 TAHUN 2013 TENTANG PENGAWASAN FORMULA LANJUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN, Menimbang : a. bahwa masyarakat

Lebih terperinci

PERSYARATAN TEKNIS DEPOT AIR MINUM DAN PERDAGANGANNYA MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA

PERSYARATAN TEKNIS DEPOT AIR MINUM DAN PERDAGANGANNYA MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 651/MPP/ kep/10/2004 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS DEPOT AIR MINUM DAN PERDAGANGANNYA MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK

Lebih terperinci

CARA CARA PENGENDALIAN OPT DAN APLIKASI PHESTISIDA YANG AMAN BAGI KESEHATAN 1) SUHARNO 2) 1) Judul karya ilmiah di Website 2)

CARA CARA PENGENDALIAN OPT DAN APLIKASI PHESTISIDA YANG AMAN BAGI KESEHATAN 1) SUHARNO 2) 1) Judul karya ilmiah di Website 2) CARA CARA PENGENDALIAN OPT DAN APLIKASI PHESTISIDA YANG AMAN BAGI KESEHATAN 1) SUHARNO 2) 1) Judul karya ilmiah di Website 2) Lektor Kepala/Pembina TK.I. Dosen STPP Yogyakarta. I. PENDAHULUAN Penurunan

Lebih terperinci

BAHAN Ba-Sr FERIT SEBAGAI KOMPONEN MAGNET SUBSTITUSI IMPOR UNTUK INSTRUMEN SEDERHANA

BAHAN Ba-Sr FERIT SEBAGAI KOMPONEN MAGNET SUBSTITUSI IMPOR UNTUK INSTRUMEN SEDERHANA ;3-' I Prosiding Seminar Nasional Bahan Magnet I Serpong, 11 Oktober 2000 ISSN1411-7630 BAHAN Ba-Sr FERIT SEBAGAI KOMPONEN MAGNET SUBSTITUSI IMPOR UNTUK INSTRUMEN SEDERHANA R. Dadan Rumdan, Rio Seto Y.

Lebih terperinci

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI, EFISIENSI DAN KEUNTUNGAN PADA INDUSTRI TEMPE DAN KRIPEK TEMPE KEDELE

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI, EFISIENSI DAN KEUNTUNGAN PADA INDUSTRI TEMPE DAN KRIPEK TEMPE KEDELE ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI, EFISIENSI DAN KEUNTUNGAN PADA INDUSTRI TEMPE DAN KRIPEK TEMPE KEDELE Di Daerah Sanan, Kelurahan Purwantoro Kecamatan Blimbing, Kodya Malang Jawa Timur

Lebih terperinci

APLIKASI I PENGAKTIF NEUTRON CEPAT UNTUK PENENTUAN KANDUNGAN UNSUR N, P DAN K DI DALAM SLUDGE!

APLIKASI I PENGAKTIF NEUTRON CEPAT UNTUK PENENTUAN KANDUNGAN UNSUR N, P DAN K DI DALAM SLUDGE! APLIKASI I PENGAKTIF NEUTRON CEPAT UNTUK PENENTUAN KANDUNGAN UNSUR N, P DAN K DI DALAM SLUDGE! Supriyatni E., Yazid M., Nuraini E., Sunardi Pusat Penelitian don Pengembangan Teknologi Maju, Batan, Yogyakarta

Lebih terperinci

SUMBER AIR SESUATU YANG DAPAT MENGHASILKAN AIR (AIR HUJAN, AIR TANAH & AIR PERMUKAAN) SIKLUS AIR

SUMBER AIR SESUATU YANG DAPAT MENGHASILKAN AIR (AIR HUJAN, AIR TANAH & AIR PERMUKAAN) SIKLUS AIR SUMBER AIR SESUATU YANG DAPAT MENGHASILKAN AIR (AIR HUJAN, AIR TANAH & AIR PERMUKAAN) SIKLUS AIR PEGUNUNGAN udara bersih, bebas polusi air hujan mengandung CO 2, O 2, N 2, debu & partikel dr atmosfer AIR

Lebih terperinci

PROPORSI KARKAS DAN KOMPONEN-KOMPONEN NONKARKAS SAPI JAWA DI RUMAH POTONG HEWAN SWASTA KECAMATAN KETANGGUNGAN KABUPATEN BREBES

PROPORSI KARKAS DAN KOMPONEN-KOMPONEN NONKARKAS SAPI JAWA DI RUMAH POTONG HEWAN SWASTA KECAMATAN KETANGGUNGAN KABUPATEN BREBES PROPORSI KARKAS DAN KOMPONEN-KOMPONEN NONKARKAS SAPI JAWA DI RUMAH POTONG HEWAN SWASTA KECAMATAN KETANGGUNGAN KABUPATEN BREBES (Proportion of Carcass and Non Carcass Components of Java Cattle at Private

Lebih terperinci

HANDLING SEAFOOD 1 DARI 10. 2003, IGA Institute DOCUMENT NUMBER: 07-04-01 SECTION: PENANGANAN SEAFOOD DAN SANITASI DEPARTEMEN SEAFOOD

HANDLING SEAFOOD 1 DARI 10. 2003, IGA Institute DOCUMENT NUMBER: 07-04-01 SECTION: PENANGANAN SEAFOOD DAN SANITASI DEPARTEMEN SEAFOOD DAN SANITASI HANDLING SEAFOOD Kontrol penanganan dan suhu yang tepat sangat penting dari saat pertama panen sampai saat penyiapannya, untuk meminimalkan turunnya kualitas ataupun rusak. Praktek penanganan

Lebih terperinci

PENGARUH PENYIMPANAN TERHADAP KUALITAS BERAS: PERUBAHAN SIFAT KIMIA SELAMA PENYIMPANAN

PENGARUH PENYIMPANAN TERHADAP KUALITAS BERAS: PERUBAHAN SIFAT KIMIA SELAMA PENYIMPANAN PENGARUH PENYIMPANAN TERHADAP KUALITAS BERAS: PERUBAHAN SIFAT KIMIA SELAMA PENYIMPANAN Raras Yulia (L2C007081) dan Siechara Apfia Casper (L2C007085) Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Lebih terperinci

KAJIAN KUALITAS FISIK DAN KIMIA DAGING KAMBING DI PASAR KOTA MALANG

KAJIAN KUALITAS FISIK DAN KIMIA DAGING KAMBING DI PASAR KOTA MALANG KAJIAN KUALITAS FISIK DAN KIMIA DAGING KAMBING DI PASAR KOTA MALANG STUDY ON PHYSICO-CHEMICAL QUALITY OF MEAT GOAT IN THE MARKET OF MALANG Putu Jevi Setiawan 1, Masdiana Ch Padaga 2, Aris Sri Widati 2*

Lebih terperinci

PETUNJUK PENGAMBILAN SAMPEL DNA SATWA LIAR. Petunjuk Penggunaan Kit (Alat Bantu) untuk Pengambilan Sampel DNA Satwa Liar

PETUNJUK PENGAMBILAN SAMPEL DNA SATWA LIAR. Petunjuk Penggunaan Kit (Alat Bantu) untuk Pengambilan Sampel DNA Satwa Liar PETUNJUK PENGAMBILAN SAMPEL DNA SATWA LIAR Petunjuk Penggunaan Kit (Alat Bantu) untuk Pengambilan Sampel DNA Satwa Liar Panduan ini dirancang untuk melengkapi Kit atau Alat Bantu Pengambilan Sampel DNA

Lebih terperinci

III. SIFAT KIMIA SENYAWA FENOLIK

III. SIFAT KIMIA SENYAWA FENOLIK Senyawa Fenolik pada Sayuran Indigenous III. SIFAT KIMIA SENYAWA FENOLIK A. Kerangka Fenolik Senyawa fenolik, seperti telah dijelaskan pada Bab I, memiliki sekurang kurangnya satu gugus fenol. Gugus fenol

Lebih terperinci

dan minyak atsiri (Sholikhah, 2006). Saponin mempunyai efek sebagai mukolitik (Gunawan dan Mulyani, 2004), sehingga daun sirih merah kemungkinan bisa

dan minyak atsiri (Sholikhah, 2006). Saponin mempunyai efek sebagai mukolitik (Gunawan dan Mulyani, 2004), sehingga daun sirih merah kemungkinan bisa BAB I PENDAHULUAN Lebih kurang 20 % resep di negara maju memuat tanaman obat atau bahan berkhasiat yang berasal dari tanaman, sedangkan di negara berkembang hal tersebut dapat mencapai 80 %. Di Indonesia

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Telur Telur ayam mempunyai struktur yang sangat khusus yang mengandung zat gizi yang cukup untuk mengembangkan sel yang telah dibuahi menjadi seekor anak ayam. Ketiga komponen

Lebih terperinci

APLIKASI MINYAK NILAM DALAM FORMULASI SABUN SEBAGAI ZAT ADITIF YANG BERSIFAT ANTISEPTIK DAN AROMATHERAPI INTISARI

APLIKASI MINYAK NILAM DALAM FORMULASI SABUN SEBAGAI ZAT ADITIF YANG BERSIFAT ANTISEPTIK DAN AROMATHERAPI INTISARI APLIKASI MINYAK NILAM DALAM FORMULASI SABUN SEBAGAI ZAT ADITIF YANG BERSIFAT ANTISEPTIK DAN AROMATHERAPI Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan minyak kelapa dan lemak sapi dalam pembuatan sabun

Lebih terperinci