PENGARUH SEA PADA KULTUR LIMFOSIT KERA EKOR PANJANG (Macaca fascicularis) YANG DIIRADIASI SINAR GAMMA SECARA IN VITRO. Abdul Wa'id dad Yanti Lusiyanti

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PENGARUH SEA PADA KULTUR LIMFOSIT KERA EKOR PANJANG (Macaca fascicularis) YANG DIIRADIASI SINAR GAMMA SECARA IN VITRO. Abdul Wa'id dad Yanti Lusiyanti"

Transkripsi

1 Prosiding Presentasi llmiah Keselamatan Radiasi dan Lingkungan Vul, 3-4 Agustus Puslitbang Keselamadiasi dan Biomedika Nuklir- BATAN PENGARUH SEA PADA KULTUR LIMFOSIT KERA EKOR PANJANG (Macaca fascicularis) YANG DIIRADIASI SINAR GAMMA SECARA IN VITRO Abdul Wa'id dad Yanti Lusiyanti Puslitbang KeselaII1aWl Radiasi dan Biomedika Nuklir -BATAN b3 ABSTRAK b'z PENGARUH SEA PADA KULTUR LIMFOSIT KERA EKOR PANJANG (Macaca fascicularis) YANG DIIRADIASI SINAR GAMMA SECARA IN VITRO. Staphylococal enteroksin A (SEA) adalah salah satu dati toksin yang dihasilkan oleh bakteri Staphylococcus aure;us. Pada biakan SEA telah terbukti potensial sebagai stiinulator limfosit manusia bahkan dengan konsentrasi fg/ml. Penelitian ini akan mempelajari penggunaan SEA dibandingkan dengan Phytohaemaglot.inin (PHA) pada biakan sellirnfosit perifer kera ekor panjang. Sekitar 5 In! darah perifer diambil dari 5 ekor kera dan diiradiasi padapesawat Gamtna Cell- P311R dengan variasi dosis (Kontro1); 1,;,; 3, dan 4, Gy. Sampel dat.ah dikultur dalam media pertumbuhan yang sesuai dengan prosedur baku dan ditambah dengan,1 ml (,5 g/ml) SEA atau,15 ml PHA. Kultur kemudian diinkubasi selama 96 jam dan dilakukan pembuatan preparat. Hasil pengatnautn menunjukkan bahwa pada sellitnfosit kera yang tidak diiradiasi indek mitosis yang diperoleh dengan menggunakan SEA dan PHA relatif Satna. Pada sellimfosit yang diiradiasi dosis 1-3 Gy, indeks lnitosis menggunakan SEA relatif lebih tinggi dati indeks mitosis menggunakan PHA.Respon dosis disentrik, ring dan fragmen asentrik pada PHA dan SEA adalah relatif sarna. ABSTRACT THE EFFECT OF SEA ON LONG TAIL MONKEYS (Macaca fascicujaris) LYMPHOCYTE CULTURE GAMMA RAY -IRRADJ A TED IN VITRO. Staphyloco<:us enteroxine A (SEA) is one of toxins produced by the bacterium Staphylococu.v oureu.v. In the culture, SEA has proven as a potent stimulator of lymphocytes in man even at fg/ml concentrations. This research studied the effect of SEA compared to Phytohaemagglutinine (PHA) on the peripheral blood lymphocytes culture of the long-tail monkeys. About 5 rnl blood was collected from 5 monkeys and irradiated using Gaxmna Cell- P31"IR with doses of (control); 1.;.; 3. and 4. Gy. The blood samples were cultured in the appropriate growth medium based on standard procedure and added with.1 ml (.5 g/rnl ) SEA or.15 ml PHA. The cultures were then inl,ubated for 96 hours and prepared the slides. The results showed that on the unirradiated peripheral blood lytnphocytes of long-tail monkeys the mitotic indices obtained using PHA and SEA are relatively siinilar. On the adiated lytnphocytes with doses of 1-3 Gy, the mitotic indices using SEA are relatively higher than that of PHA. Dose respons of dicentric, ring and acentric fragment of both PHA and SEA are relatively the same. PENDAHULUAN fascicularis Di all tara hewail primala, kera Macaca adalah hewan YaIlg seling digwlakail dalaill penelitiail di laboratoriwll- Selain karena kemiripan sistem reproduksinya, penelilian dengan hewan ini juga didasarkan atas beberapa parameter biologis YaIlg renting terutama masa hidupnya cllkup pailjailg (5-3 talllw), sehingga resus Macaca ini juga populer dijaclikiul sebagai model penelitiail biologi terhadap mailusia [1]. Selain pada kera, hewan percobaail YaIlg se11ng digwlakail dalam penelitiail biologi adalah tikus d(1ll kelinci. I PertimbaIlgaIl penggunaail kedua jeni f, hewan ini juga didasal-kail alas kemiriijiul sifat biologisnya, sehingga memudahkail untuk proses extl'apolasi terhadap manusia. Oleh karena itu, dengan perkembailgan teknologi sitogenetik dewasa ini sangat dimungkinkan untuk mengarnati efek radiasi tertunda pada kromosom resus kera ini. Umur kera yang relatif panjang ini juga memberikan keuntungan untuk penelitian sitologik, terutarna wltuk mengetahui teljadinya trailslokasi pada kromosom kera yang timbul setelah perioda tertentu pasca paparail radiasi [, 3, 4]. Dalarn kasus asimtomatik akibat kecelakaan p,aparan radiasi ekstema hat.mg sangat venting a{lal!.m menentukan dosis radiasi yang diterima oleh pasien YaIlg terpajail radiasi dalarn usaha untuk memperkirakall kemwlgkinallteljadinya 64

2 Presentasi Ilmimatan Radiasi dad Lingkungan VIII, 3-4 Agustus etek tertlulda pasca pajailan [5]. Ulltuk keperluan ini, evaluasi aberasi kromosom dalam darah perifer mail usia YaIlg terpajan radsiasi Oikellal sebagai illclikator biologi l'wllulatif yallgcul'up baik Wltuk pajailail radiasi YaIlg berlebill. Masalalulya adalah ballwa setelall telpajan radiasi, kemampuaillimfosit dalam melakukail mitosis secara in vivo akail berkurang, sehingga aberasi. )'ang terbeutuk akan bertahail untuk waktu YaIlg relatif lama. Oleh sebab itu maka secai.a in vitro kemaiupuail limfosit dalam melakukail mitosis ilu dalaiu media biakail dipicu dllgail membel-ikail stimulail Wlluk mellghasilkan sl pada stadiwu metafase dal,llu jumlall YaIlg bllilyak, sehingga memud.ulk,ul pelaksanaan pllgllinatail aberasi kl.omosom YaIlg teljadi di dalaiu sel lilnt.osit dai-ah periier terse but. Untuk keperluail ini maka maka kill.va respon dosis-aberasi kl.omosom sebagai salah satu pellgujiail hubwlgail alltai.a dosis radiasi dengml b,ulyakjlya aberasi kl"omosom telah bailyak diteliti [6,7,8]. KeberhasilaIl suatu biakan dapat dilihat dllgllil mengetallui banyaknya sel metafase YaIlg teraiuati di dalaiu preparat. Timbulnya sel metafase ini SaIlgat bergailtilllg dai-i stimulall yang digilllakail. Phytohaemagglutinin (PHA) tlah lama diketahui sebagai stunulml YaIlg baik dalam proses pembelallail sel illltuk menghasilkan sel metat"ase pada lilnfosit mmlusia.namwl demikiail ketika kollselltrasi YaIlg sarna dari PHA illi digunakan pada biakaillilnfosit kera teruyata tidak lnenghasilkan sel metat'ase ymlg bailyak seperti pada limfosit mllilusia. Mellill-ut DEVRIS et ai, dalam [I], penelitillil aberasi kl-omosom YaIlg membutuhkail jumlah sel metafase )'llilg bmlyak akan lebih sulit dai1 memakllil waktu skorillg ymlg lebih lmua, Oleh karena ill WILSON et al [9] dail USAF [1] telah mencoba ellggunakml Concovalin A (Con A) Ulltuk mellstimulasi limfosit Macaca mulata dail Macaca spi.iosa_dail menghasilkan indek mitosis (jmnlall sel metafase dibagi 1 sel blast) yang lebih bailyak dibllilding dengan PHA, yaitu.1 -,6 % Wltuk PHA dail 1,7-6,6 % illltuk Con A. Namun demikillil sel metafase YaIlg dihasilkan uli temyata juga belum bisa dikatakllil berhasil dengail baik karena kenaikan jumlall sel metafase ini pull masih beluln cul--up unluk memudallkail pengamatail ribuail kl-omosom \ YaIlf"dibutullkaIl dalaiu penelitiail c!osuueter biologi, I! Stafilokokus enteroksul A (SEA) adalah Staphylococcus aureus"- Konsentiasi SEA yang tinggi dapat bersifat racun dalam makanan [11]. Pada media biakan temyata SEA telah terbukti potensial sebagai stimulator limfosit manusia hanya dengall konsentrasi fg/rnl, bahkall kemampuannya dalam menghasilkan set metafase limfosit kern yang diiradiasi juga telah dicoba oleh HILL [1]. karena itu Oleh dalam penelitian ini elain dipelajari resljoi1 dosis aberasi kromosom, penggunaan stimulall SEA dan PHA dalaill memghasilkan sel metafase li.nfosit darah perifer kera ekor panjang Yllilg diiradiasi sinal" ganuna akan dibalidingkan. TATA KERJA.Rewan percobaan Kera ekor pailjailg (Macaca Fascicularis) YaIlg digullakail dalam penelitian ini dipero.leh dari lembaga Penelitiml Primata -IPB Bogor. Hewan ini telall dikarailtina di laboratoriurn tersebut dan sebelulll digwlakail dipelihai-a terlebih dahulu uutuk menyesuaikail kondisi lingkwlgail setempat. Untuk menjaga kesehatail setiap hall diberi makan 15 - gram pakan khusus berupa relet kering yang juga dil>eroleh dm-i lembaga YaIlg sarna. lradiasi Limfosit dad Pembiakkan Limfosit darah perifer diambil dengan menggwlakajl syling disposible sebanyak 5 ml setiap ekomya. Sebanyak,5 ml darah dimasukkan kedalam flask yang telah berisi : 1 ml RPMI 164 (Sigma), 1 ml Fetal Bouvin Serum (FRS),,1 ml L- Giutamul clan,1 rnl penstrep. Iradiasi dilakukan pada pesawat Gamma Cell- -P3TIR BATAN dengatl laju dosis 13,78647 krad/jam, masingmsing dengan dosis, 1,, 3 clan 4 Gy. Kedalam setiap flask yang berisi sampel darah ini kemudian di tambahkatl, 15 ml PHA (all Gibco BRL) atau,1 ml Staphylococus enteroksul A (SEA) sebagai stimulator dati diinkubasi selama 96 jam. Empat Jam sebelwn proses pemanenati, setiap biakkan dalam flask ditatnbahkan,1 In! colchisin untnk menghentikatl proses pembelahatl. sal.ul satu dai-i toksin yang dihasilkail oleh bakteri 3!\I{BiN-BATAN

3 Presentasi Ilmiah Keselamatan Radiasi dad Lingkungan VIII, 3-3. Pemanenan dad pembuatan preparat 4. Penghitungan Indek Mitosis dad Analisis Satnpel dalatn biakkatl masing-masing dipindahkatl kedalatn tabung senu-ifns datl kemudian diputat- selama 1 menit dengatl kecepatan 1 l1)m. SupematatI dibuatig clan relet set ditambahkan KCl,56 %, dikocok dengatl menggunakan pipet pasteur YatIg bersih. Sampel dibiarkati di dalam wolenjoth dengatl ternperatllr 37 C, kemudiail ditamballkatl 8-1 tetes larutan kaniy (3 bagiail metanol : 1 bagiatl asam asetat glasial) dati diputar Aberasi kromosom Setiap preparat pacta masing-masing dosis diamati di bawah mikroskop. lndek mitosis dihitung dengail CaI.a membagi jwnlall gel metafase per 1 gel bias yang diamati dibawah mikroskup dengan perbesara 4 kali. Untuk memperkecil kesalahan dalam pengarnatan dilakukan 6 kali pengulangan pengainatail. Pengamatan ki.omosom dilakukan di bawah perbesaran 1 x yang meliputi fcpiial «(;y) 1 (Gy ) (Gy) 3 (GY) 4 (Gy) Dosis (Gy) Gambar 1. lndck mitosis basil biakan sellimfosit dengan PHA dan SEA dengail kecepatail 1 rpm selama 1 menit. SupernataIl dibuailg dail relet ditambahakil 8 ml lanltail kai11y dail diputar kembali selaina 1 menit dengail kecepatail 1 rpm. Dengan CaI.a YaIlg sarna proses ini diulailg kembali sainpai didapatkan relet sel YaIlg jenlih dail siap untuk dibuat preparat. Preparat dibuat dengail CaI"a meneteskail sel relet di atas gelas slide yang bersih dengaii jarak daii dibiarkaii kering dalam suhu rnangan. Preparat kemudiaii diwarllai dengan giemsa 5% dibilas dengaii akuades daii dibiarkan kering pada suhu l1iangan. PrepaI"at YaIlg teiall kering ini kemudiaii ditutup dengaii penutup gelas daij dibiarkan kering dalarn suhu l1iangaij W1UIlc pengamatan di bawah rnikroskop. penghitungan kj.omosom noll1lal, aberasi disentrik, aberasi bentuk cincin (ring) clan asentrik fragmen. Penghitungall sel stadium metafase untuk setiap dosis masulg-masing sel HA..IL DAN PEMBAHASAN lildek mitosis adalah basil perbandi..gan antara sel mitosis dengan sel blast, maka indek mitosis ini dijadikan sebagai indikator keberhasilan suatu kultur. Artinya semakin besar indek mitosis maka semakin tulggi tulgkat keberhasilan kultllr tersebut. DengaIl demikiail bahwa besarnya indek lnitosis dati basil suatu kultur berbanding lurns dengail besanlya sel metafase YaIlg teramati. Data indek mitosis dari kedua stimulan YaIlg digllllakatl dalam penelitian ini disajikatl pada 66 P3KI{BiN-BATAN

4 Tabell. Presentasi Ilmiah Keselamatan Radiasi dad Lingkungan VIII, 3-4 Agustus GaInbar 1. Untuk perlakuail darah yang tidak diiradiasi ( Gy) stirnu1an PHA menunjukkan indek mitosis 16,1 % sedangkan stimulan SEA 14,8 %. Perbedaan ini tidak terlalu berarti sehingga dapat dikatakail bahwa dalam keadarolnolmal kemampuail PHA clan SEA dalam menstimulasi sel limfosit untuk menghasilkan sel metaf'ase pada Maeaca fascicularis _menghasilkail indek mitosis yang relatif' SaIna. Data aberasi kromosom limfosit perifeir kera ekor panjang yangdiiradiasi dad dibiakkan dengan PHA dad SEA sinar gamma Jenis Perlakuan Dosis Jumlah sel mctafase PHA SEA <.) 431 Jumlah kromosom disentrik/sel.q;];!:q.58,879 Jumlah kromosom ring/set M!:!. l!!..q.ql!!!!; J umlah asentrik fragmen/sel Untuk sel lilnfosit yang iliiradiasi 1-3 Gy YaJlg distimulasi dengajl PHA menmljukkajl indek mitosis yang lebill rendah dibajlding dengajl sel linuosit YaJlg distimulasi dengan SEA yaitu masingmasing 9,3 % dengajl 13,4 % untuk dosis 1 Gy, 6,5 % dengajl 1,5 % untuk dosis Gy dan 4,1 % dengajl 6, % untuk dosis 3 Gy. SedaJlgkaJl indeks mitosis pada dosis 4 Gy terliliat tidak menulljukkajl perbedaail yang yaitu masing 1,6 % dengajl 1,4 %. Hal tersebut menmljukkaj1 bahwa penggunaan SEA sebagai stimulan untuk menghasilkan sel metafase pada kultm- darah yang diiradiasi relatif lebih baik dibandulg dengajl penggunaajl r->ha. Sesuai dengajl tingkat kelllsakajl set linu'osit YaJlg ditrima, maka kemajnpuajl SEA maupun PHA dalam menghasilkan set metafase ternyata semalin menurun sesuai dengall besall1ya dosis YaJlg ditel-ima. Pada Gambar 1 diperlihatkajl ballwa semakin besal- dosis Yallg ditel-ima, semakin menullul llldek mitosinya, yang berarti pula semakin menullul daya stimulasinya. Hal ini dapat dilihat disamping hai"gailya sangat mahal dibandingkan dengail PHA juga dari segi pengadaan barang sangat rumit karena haills melewati pemeriksaml Departemaen pertahanan dan Keamanan. Sebagai data tambahan, dalam penclitianini diamati juga" aberasi kromosom yang meliputi aberasi jenis disentrik, ring dan fragmen a..c;eritrik. KetergaIltungaIl tingkat kerusakail kromosom dengail besanlya dosis radiasi yang ditandai dengan banyakllya aberasi kromosom disentrik. Dapat dilihat pada Tabel I bahwa jumlah aberasi kromosom per gel limfosit perifer stadium metafase kera ekor panjailg untuk kedua stimulan menulljukkail semakiil besai" dosis yang diterima semakiil baiiyak aberasi disenuik rlllg maupu11 fragmen asentrik. SedaIlgkaIl perbedaan jumlah Ulltuk ketiga jellls aberasi tersebut tidak menunjukkan perbedaan yang berarti sehingga dapat diindikasikail bahwa SEA sebagai stimulan tidak berpengaruh terhadap kenaikkail jumlah aberasi ki"omosom. P3KI{BiN-BATAN 67

5 Presentasi llmiah Keselarnatan Radiasi dad Lingkungan VIII, 3-4 Agustus --- 1, 1,8 yl =.8x -.4x R =.9896 E...c -<,6,4, I -, A y3 =.63x x +.18 R y =.OO6x -o. =8.<169 ro'fx R = Dosis (Gy) Gambar. Kurva respon dosis aberasi kromosom disentrk ("'), ring (8) dan fragmen asentrik(o)limfosit kera ekor panjang (Macaca fascicujari!;') yang diiradiasi gamma dengan dosis 1-4 Gy dad dibiakan dengan PHA Gambar 3. Kurva respon dosis aberasi kromosom disentrik ('" ), sentrik ring (.) dan fragmen asentrik () limfosit kera panjang (Mac.aca fasciculari!;') yang diiradiasi gamma dengan doss_) -4 Gy dan dibiakan dengan SEA. Hublmgan respon fl-ekuensi aberasi kromosom (disentrik, ring dall asenu.ik fragmen) terhadap dosis diatlalisa dengatl regresi liiuer model persanlaatl lillier kuadratik Y = C + D +. Untuk kurva aberasi disentlik dan ring dan asentrik tragmen menunjukkatl vola linier quadratik baik Wltuk stimulan PHA mapwi SEA yang ditwljukkan pada Gatnbat. dati P3KRBiN-BA T AN

6 Presentasi Ilmiah Keselamatan Radiasi dad Lingkungan VIII, 3-4 Agustus SedangkaIl nilai koetisien korelasi (R1 disenu-ik, rulg dan masing-masing adalah,9896,9454, dad,9454 Ulltuk PHA dail,988,,9969 dano,8415 Ulltuk SEA. Hal llii menulljukkail bahwa antara dosis dengail disentrik maupull ring pada kedua stimulan mempullyai korelasi YaIlg SaIlgat nyata. KESIMPULAN Dari hasil penelitian ini dapat disimpulk3l1 ballwa untuk biakan sel limfosit darah periter kera ekor panj3l1g (Macaca fasciculclrisl yang tidak diiradiasi baik SEA maupwl PHA sebagai stimult3l1 menghasilk3l1 sel metafase deng3l1 uldek mitosis Y3l1g relatif S3lna- Sedangkall ulltuk sel lilnfosit Y3l1g diiradiasi stiinul3l1 SEA temyata mellunjukk3l1 indek mitosis yang lebih tinggi dibanding dengan PHA khususnya pada dosis 1-3 Gy. KemarnpU3l1 kedua stunul3l1 dalarn menghasilkan sel metafase semakin berkw-ang seiring dellg3l1 bes3l11ya dosis Y3l1g diterima. Sed3l1gk3l1 ullulk respon aberasi kromosom baik jenis disenu-ik ling maupwl asenu-ik fragmen d3l-i l-ultur Y3l1g distiumlasi deng3l1 PHA maupwl SEA ul1uk masu1g-masing dosis menulljukk3l1 jumlah Y3l1g relatif sarna. UCAPAN TERIMA KASm Diucapkatl terima kasih kepada sdr. Prayiulo (tekiiisi pesawat Gatnma CeU- Co-6) Pusilitbatlg TekIIologi Isotop Dan ladiasi- BAT AN, sdi". Masnelly Lubis dati Emil Lazuat'di stat Bidang Biomedika Nuklir Puslitbatlg KJ{BiN yatlg telah membatitu pelaksatiatl penelitian ini. DAFTARPUSTAKA. HILL, F.S.,COX, A.B., SALMON, Y.L., CONTU, A.O dan LU<;::AS, J.N. Metaphase Yield from Staphylococcal Enteroxin A Stimulated Pelipheral Blood Lymphocytes of Unirradiated alld Irradiated Aged Rhesus Moltkeys. Int. J. Radial. Bioi., No.4 (1994) LUCAS, J.N.; AWA, A., STRAUME, T., POGGENSEE, M., KODAMA, Y., NAKANO, M., OHTAKI, K., PINKEL,D., GRAY. J alld LITTLEFIELD, G.; l{apid trallslocatioll ti.equency analysis in human decades after exposure to ionizing radiation. Int. J. Radiat. BioI, No. 6, (199a) LUCAS, J.N., COX, A.B aild McLEAN, J., Hwnan chromosome painting probes used to measure cliromosome translocation in uonhumail primates: extrapolation from monkey to mail. Radiation Protection Dosimetry No. 46 ( 1993) MANGKOEWIDJA Y A, S. Pemeliharaan, pembiakaildan penggwlaail hewan percobaan di daerah tropis. Penerbit Ul (UI -Press) (1988) GUEDENERY, G.,GRUNDWLD, D., MALARBET, J.L., AND DOLOY, T. Time dependence of Chromosomal Abeuations lllduced ill HwnaIl aild MolIkey Lymphocytes by Acute aild Fractionated Exposure to Co-6. Radiation Research NO. 116 (1988) BAUCffiNGER,., SCHMID, E., And DRESP, J. Calculation of the dose rate dose dependence of Dicentric Yield after Co l' Iuadiation of Human Lymphocytes. Int. J. Radiat.Biol. 35 (1979) LLOYD, D.C., PURROTT, R.J., DOLPHIN. G. W., BOLTON, D., aild EDWARDS, A.A., TIle Relationship between Chromosome Abeuation LOW LET Radiation Dose to Human Lymphocytes. Int. J. Radiat.BioI.8 (1975) A, Waid.,Kurva Respon Dosis Aberasi Kt.omosom Lirnfosit MatlUSia Yang Diinduksi Sinar X 5 kvp, Presentasi Ilrniah PIKRL Jakarta, September1998 ISSN WILSON,B.J.,PORTER,G.,KOCV ARA,H.And LEO,.G.,1978,Rhesus Monkey micro mixed lymphocyte aild mitogen reactivity:optimal Conditions aild Normal Vatiavility. Primates, 19, USAF, United States Ail. Force School of aerospace Medicine, Human systems Division, KAPPLER,.J.,KO1IN,B.,HERRON,L.,GELF AND,E., W.,BIGLERR.D.,BOYLSTO N,A.,CARREL,S.,POSNETT.D.N.,CHOI, Y.and MARRACK,P., Vf)-Spesific Stimnlation of Human T cells by Staphylococca', toxins. Science,4, I I P3KRBiN-BA TAN 69

7 Presentasi llmiah Keselarnatan Radiasi dad Lingkungan VIII, 3-4 Agustus --- DISKUSI B. Jeanne T Seperti telah Bapak katakail, pellelitiail illi merupakail dasai. dai.i pellelitiall selanjuulya. Apakah sebellamya tujuail pellelitian selall.iutnya U)ellelitiall utaina ) Bapak.? Pada bagiall apa dai.i sel blast pengai"uh SEA bekelja selungga menyebabkail SEA dapat bertindak sebagai stimulator Uluuk menghasilkail sel metafase '? Abdul Wa'id, P3KRBiN-BATAN Tujuan dat"i penelitian ini adalah untuk meningkatkatl j umlall sel metata.-;e pada kultur darah kat"ena dalatll studi biodosimeu"i sebagai kelatljutatl dati penelitiatl ilu adalah membuttlhkatl jumlall sel metafase Yatlg batlyak, sepelti diketallui bahwa radiasi pengion dapat menui"ullkatl sel metosis selungga sel metafase yatlg (lihasilkatl akatl berkuratlg. Maria Lina 1. Alasall digullakall SEA? Mengapa tidak digunakall species bakteri laul?. Pada Case pel1umbu1lall apa (logaritlunic fohase/ stationery fohase dll ) Abdul Wa'id, P3KRBiN-BA TAN 1. Dalam studi literatm' telail diketahui bahwa SEA yang paling besar pengaruh1lya dalam menghasilkansel metafase.. Tidak dilakukail studi rase peltumbuhail konsentrasi SEA YaIlg digunakan adalah O.5g/ml. Nur Rohmah, P3KRBiN-BA TAN Apa sebabnya Imengapa kematnpuatl stnnulator (SEA dati PHA) menurun dengan kenaikan dosis? Apa faktor-faktor yatlg mempengat-uhinya? Semakin tulggi radiasi yang diterima akan mempengaruhi tingkat kerusakan sel (kromosom) sehingga9aya reco"ery atau penyembuhan diri sel akibat.adiasi semaklll menullld waiaupun set tersebut distimulasi wltuk melak'"ukan pembelahan. M. Soleh Kosim, PEN-BATAN Oari absu-ak daii kesimpulan yang disampaik1ui tidak tarnpak tujuaii dari penelitian iui, moho penjelasail apa SaSaraII akhir dari penelitian dimaksud '? Abdlu Wa'id, P3KRBiN-BATAN TUjUCUl peneliticul ini untuk membculdingkcul kemcunpucul SEA dan PHA terhadap melillasilkcul set metafase di dalam l'llltur darah perifer. Karena untuk keperluan evaluasi aberasi kromosom sebagai dosimeter biologi dibutuhkcul jumlah set metafase yangbanyak. M. Yazid, P3TM-BATAN a. Mengapa yang dironbil sebagai cuplikan darah perifer. Bukrolkall sel darallllya sedah pada stadiwn dewasa sehulgga tidak bersifat meristematis lagi. b. Apakall tidak lebih baik diambil di sel induk darah pada sumsum tulrolg? Abdul Wa'id, P3KRBiN-BATAN a. Dalmn gel darah perifer (whole blood) masih terdapat gel-gel yang masih mampu melal.'ukan pembelahan (limfosit) sehlllgga dengan bantuan mediuln' liinfosit tersebut masih mampu membelah. b. Bisa juga dilal.'ukml dengml kultur dengan sumsum, tapi secara teknis lebih susah. DisampiIlg peneltiml ini tujuan akhimya untuk mengevaluasi efek radiasi tertunda pada paska paparml. Anonim Abdul Wa'id, 7 P3KRBiN-BATAN I lara YaIlg menyebabkail indej)_s mitosis dari stimulru; SEA (dosis 1-3 Gy) lebih tinggi dail indeks mitosis drul stimulail PHA '? P3K'{BiN-BAT.-\l'i

8 PreseDtasi llmiah KeselamataD Radiasi dad LingkuDgaD VIII, 3-4 Agustus Abdul Wa'id, P3KRBiN-BATAN stimulail PHA. NamWl demikian masih perlu Dalam peneltiall memlg ditemukall bahwa llldeks mitosis dati l--ultur yang distimulasi SEA (dosis 1-3 Gy) lebih tinggi dai-i indeks lnitosis dati pembuktian lebih lailjut melalui studi individu. karena pada Gy temyata stimulan PHA memberikail indeks mitosis lebih tinggi dari pada SEA. P3KRBiN-BA TAN 71

STUDI INDUKSI ABERASI KROMOSOM OLEH SINAR X 200 KV SEBAGAI BIODOSIMETRI RADIASI

STUDI INDUKSI ABERASI KROMOSOM OLEH SINAR X 200 KV SEBAGAI BIODOSIMETRI RADIASI 154 ISSN 0216-3128 Yanti Lusiyanti, dkk. STUDI INDUKSI ABERASI KROMOSOM OLEH SINAR X 200 KV SEBAGAI BIODOSIMETRI RADIASI Yanti Lusiyanti 1, F. Darroudi 2 dan Dwi Rhamadhani 1 1 Pusat Teknologi Keselamatan

Lebih terperinci

LAPORAN TEKNIS Pengembangan Kualitas Teknik FISH dengan Variasi Dual Probe. Yanti Lusiyanti Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi

LAPORAN TEKNIS Pengembangan Kualitas Teknik FISH dengan Variasi Dual Probe. Yanti Lusiyanti Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi LAPORAN TEKNIS Pengembangan Kualitas Teknik FISH dengan Variasi Dual Probe Yanti Lusiyanti Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi I. PENDAHULUAN. Ketika tubuh terpapar radiasi pengion, dipastikan

Lebih terperinci

STUDI ABERASI KROMOSOM PADA PEKERJA RADIASI DI RUMAH SAKIT

STUDI ABERASI KROMOSOM PADA PEKERJA RADIASI DI RUMAH SAKIT YOGYAKARTA, 6 NOVEMBER 0 ISSN 78076 STUDI ABERASI KROMOSOM PADA PEKERJA RADIASI DI RUMAH SAKIT Sofiati Purnami, Masnelli Lubis, Viria Agesti S, Yanti Lusiyanti, dan Zubaidah Alatas Pusat Teknologi Keselamatan

Lebih terperinci

DETEKSI ABERASI KROMOSOM PADA PEMBELAHAN PERTAMA (M1) DAN KEDUA (M2) PADA SEL LIMFOSIT PERIFER PASCA IRRADIASI SINAR X

DETEKSI ABERASI KROMOSOM PADA PEMBELAHAN PERTAMA (M1) DAN KEDUA (M2) PADA SEL LIMFOSIT PERIFER PASCA IRRADIASI SINAR X DETEKSI ABERASI KROMOSOM PADA PEMBELAHAN PERTAMA (M1) DAN KEDUA (M2) PADA SEL LIMFOSIT PERIFER PASCA IRRADIASI SINAR X Yanti Lusiyanti dan Masnelly Lubis Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi

Lebih terperinci

ABSTRAK. PENGARUH EKSTRAK BUAH MERAH (Pandanus Conoideus Lam) TERHADAP PROLIFERASI LIMFOSIT

ABSTRAK. PENGARUH EKSTRAK BUAH MERAH (Pandanus Conoideus Lam) TERHADAP PROLIFERASI LIMFOSIT ABSTRAK PENGARUH EKSTRAK BUAH MERAH (Pandanus Conoideus Lam) TERHADAP PROLIFERASI LIMFOSIT Daniel Asa Singarimbun, 2006 Pembimbing : Hana Ratnawati, dr., M.Kes Hampir setiap saat, tubuh kita terpajan pada

Lebih terperinci

UNIVERSITAS GADJAH MADA LABORATORIUM GENETIKA DAN PEMULIAAN

UNIVERSITAS GADJAH MADA LABORATORIUM GENETIKA DAN PEMULIAAN Halaman : 1 dari 5 METODE PREPARASI KROMOSOM HEWAN DENGAN METODE SQUASH 1. RUANG LINGKUP Metode ini digunakan untuk penentuan jam pembelahan sel dan jumlah kromosom. 2. ACUAN NORMATIF Amemiya, C.T., J.W.

Lebih terperinci

PEMERIKSAAN ABERASI KROMOSOM TAK STABIL PADA SEL LIMFOSIT PEKERJA RADIASI

PEMERIKSAAN ABERASI KROMOSOM TAK STABIL PADA SEL LIMFOSIT PEKERJA RADIASI Pros/dlnlJ Per_an dan Prosontasilimiah Funoslonal ToknIs Non PonoDtL 18 Doso:nber 2006 ISSN :1410-5381 PEMERIKSAAN ABERASI KROMOSOM TAK STABIL PADA SEL LIMFOSIT PEKERJA RADIASI Masnelli Lubis dan Iwiq

Lebih terperinci

BIODOSIMETRI PAPARAN RADIASI DOSIS TINGGI DENGAN TEKNIK PREMATURE CHROMOSOME CONDENSATION

BIODOSIMETRI PAPARAN RADIASI DOSIS TINGGI DENGAN TEKNIK PREMATURE CHROMOSOME CONDENSATION BIODOSIMETRI PAPARAN RADIASI DOSIS TINGGI DENGAN TEKNIK PREMATURE CHROMOSOME CONDENSATION Dwi Ramadhani, Viria Agesti S, dan Sofiati Purnami Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi - BATAN E-mail

Lebih terperinci

Efek Paparan Sinar-X Terhadap Frekuensi Mikronukleus Sel Limfosit Dan Pemanfaatannya Untuk Pengembangan Dosimeter Biologi

Efek Paparan Sinar-X Terhadap Frekuensi Mikronukleus Sel Limfosit Dan Pemanfaatannya Untuk Pengembangan Dosimeter Biologi Efek Paparan Sinar-X Terhadap Frekuensi Mikronukleus Sel Limfosit Dan Pemanfaatannya Untuk Pengembangan Dosimeter Biologi Triesha Retno Astari 1), Agung Pramana 2), Mukh Syaifudin 3) 1),2) Laboratorium

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN III. METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Biokimia Pangan, Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Institut Pertanian Bogor selama 3 bulan, terhitung

Lebih terperinci

Jurnal Keselamatan Radiasi dan Lingkungan

Jurnal Keselamatan Radiasi dan Lingkungan Jurnal Keamatan Radiasi dan Lingkungan e-issn: 252 4868 www. batan/ptkmr/jrkl DETEKSI SEL ROGUE PADA SEL LIMFOSIT DARAH TEPI PASIEN KANKER SERVIKS PRA DAN PASKA KEMORADIOTERAPI Dwi Ramadhani 1, Setiawan

Lebih terperinci

Nurnian Rajagukguk dan Tuyono Puslitbang Keselamatan Radiasi clan Biomedika Nuklir -BAT AN. I. PENDAHULUAN diafragma pengatur berkas radiasi dari

Nurnian Rajagukguk dan Tuyono Puslitbang Keselamatan Radiasi clan Biomedika Nuklir -BAT AN. I. PENDAHULUAN diafragma pengatur berkas radiasi dari Prosiding Presentasi llmiah Keselamatan Radiasi dan Lingkungan X liotel Kartika Chandra. 14 Vesember 2004 KALIBRASI ALAT UKUR RADIASI DOSE AREA-PRODUCT Nurnian Rajagukguk dan Tuyono Puslitbang Keselamatan

Lebih terperinci

SECARA IN VITRO PENDAHULUAN ABSTRAK ABSTRACT

SECARA IN VITRO PENDAHULUAN ABSTRAK ABSTRACT /wiq /m/rawati, dkk. ISSN 0216-3128 /75 EFEKTIFITAS NEUTRON DALAM MENGINDUKSI ABERASI KROMOSOM PADA SEL LIMFOSIT MANUSIA SECARA IN VITRO, Yanti Lusiyanti dan Zubaidah Alatas Pusat Teknologi Keselamatan

Lebih terperinci

DOSIMETRI BIOLOGIK SITOGENETIK PADA LIQUIDATOR KECELAKAAN CHERNOBYL

DOSIMETRI BIOLOGIK SITOGENETIK PADA LIQUIDATOR KECELAKAAN CHERNOBYL Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah (Journal of Waste Management Technology), ISSN 1410-9565 Volume 17 Nomor 1, Juli 2014 (Volume 17, Number 1, July, 2014) Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (Center for

Lebih terperinci

EVALUASI DOSIS RADIASI INTERNAL PEKERJA RADIASI PT-BATAN TEKNOLOGI DENGAN METODE IN-VITRO

EVALUASI DOSIS RADIASI INTERNAL PEKERJA RADIASI PT-BATAN TEKNOLOGI DENGAN METODE IN-VITRO EVALUASI DOSIS RADIASI INTERNAL PEKERJA RADIASI PT-BATAN TEKNOLOGI DENGAN METODE IN-VITRO Ruminta Ginting, Ratih Kusuma Putri Pusat Teknologi Limbah Radioaktif - BATAN ABSTRAK EVALUASI DOSIS RADIASI INTERNAL

Lebih terperinci

DAYA INFEKTIF CAMPURAN Plasmodium berghei IRADIASI DAN NON-IRADIASI PADA MENCIT (Mus musculus)

DAYA INFEKTIF CAMPURAN Plasmodium berghei IRADIASI DAN NON-IRADIASI PADA MENCIT (Mus musculus) DAYA INFEKTIF CAMPURAN Plasmodium berghei IRADIASI DAN NON-IRADIASI PADA MENCIT (Mus musculus) Teja Kisnanto 1), Mukh Syaifudin 1), Siti Nurhayati 1), dan Gorga Agustinus 2) 1), Jakarta 2) Program Studi

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. penelitian dan penulisan skripsi yang berjudul PENGARUH PENAMBAHAN. AIR KELAPA (Cocos nucifera) TERHADAP VIABILITAS KULTUR SEL

KATA PENGANTAR. penelitian dan penulisan skripsi yang berjudul PENGARUH PENAMBAHAN. AIR KELAPA (Cocos nucifera) TERHADAP VIABILITAS KULTUR SEL KATA PENGANTAR Bismillahirrahmanirrahim Alhamdulillah, puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan karunia sampai saat ini sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan Pertumbuhan dan Peremajaan Isolat Pengamatan Morfologi Isolat B. thuringiensis

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan Pertumbuhan dan Peremajaan Isolat Pengamatan Morfologi Isolat B. thuringiensis 13 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi, Departemen Biologi, IPB, dari bulan Oktober 2011 Mei 2012. Bahan Isolasi untuk memperoleh isolat B. thuringiensis

Lebih terperinci

OPTIMASI ASPEK KESELAMATAN PADA KALIBRASI PESAWAT RADIOTERAPI

OPTIMASI ASPEK KESELAMATAN PADA KALIBRASI PESAWAT RADIOTERAPI OPTIMASI ASPEK KESELAMATAN PADA KALIBRASI PESAWAT RADIOTERAPI Gatot Wurdiyanto dan C. Tuti Budiantari Puslitbang Keselamatan Radiasi dan Biomedika Nuklir BATAN Jalan Cinere Pasar Jumat, Jakarta 12440 PO

Lebih terperinci

GAMBARAN HITUNG JENIS LEKOSIT PADA RADIOGRAFER DI PERUSAHAAN X SURABAYA TAHUN 2012 Laily Hidayati Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga

GAMBARAN HITUNG JENIS LEKOSIT PADA RADIOGRAFER DI PERUSAHAAN X SURABAYA TAHUN 2012 Laily Hidayati Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga GAMBARAN HITUNG JENIS LEKOSIT PADA RADIOGRAFER DI PERUSAHAAN X SURABAYA TAHUN 2012 Laily Hidayati Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga ABSTRAK Radiografer adalah pekerja yang beresiko terkena

Lebih terperinci

PENENTUAN WAKTU TUNDA PADA KONDISIONING LIMBAH HASIL PENGUJIAN BAHAN BAKAR PASCA IRADIASI DARI INSTALASI RADIOMETALURGI

PENENTUAN WAKTU TUNDA PADA KONDISIONING LIMBAH HASIL PENGUJIAN BAHAN BAKAR PASCA IRADIASI DARI INSTALASI RADIOMETALURGI PENENTUAN WAKTU TUNDA PADA KONDISIONING LIMBAH HASIL PENGUJIAN BAHAN BAKAR PASCA IRADIASI DARI INSTALASI RADIOMETALURGI Herlan Martono, Wati, Nurokhim Pusat Teknologi Limbah Radioaktif ABSTRAK PENENTUAN

Lebih terperinci

II. METODOLOGI 2.1 Penyediaan Bakteri Probiotik 2.2 Ekstraksi Oligosakarida/Prebiotik

II. METODOLOGI 2.1 Penyediaan Bakteri Probiotik 2.2 Ekstraksi Oligosakarida/Prebiotik II. METODOLOGI 2.1 Penyediaan Bakteri Probiotik Bakteri probiotik yang digunakan dalam penelitian ini adalah bakteri NP5, yang merupakan bakteri dari genus Bacillus. Bakteri NP5 ini merupakan bakteri yang

Lebih terperinci

EFEK RADIASI BAGI MANUSIA. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Badan Tenaga Nuklir Nasional

EFEK RADIASI BAGI MANUSIA. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Badan Tenaga Nuklir Nasional EFEK RADIASI BAGI MANUSIA Pusat Pendidikan dan Pelatihan Badan Tenaga Nuklir Nasional POKOK BAHASAN I. II. III. I. PENDAHULUAN SEL SEBAGAI UNIT FUNGSIONAL TERKECIL INTERAKSI RADIASI DENGAN MATERI BIOLOGIK

Lebih terperinci

PEMERIKSAAN KESEHATAN PEKERJA RADIASI DI PTKMR

PEMERIKSAAN KESEHATAN PEKERJA RADIASI DI PTKMR PEMERIKSAAN KESEHATAN PEKERJA RADIASI DI PTKMR Maria Evalisa dan Zubaidah Alatas Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi BATAN Jalan Cinere Pasar Jumat, Jakarta 12440 PO Box 7043 JKSKL, Jakarta

Lebih terperinci

PRODUKSI EMBRIO IN VITRO DARI OOSIT HASIL AUTOTRANSPLANTASI HETEROTOPIK OVARIUM MENCIT NURBARIAH

PRODUKSI EMBRIO IN VITRO DARI OOSIT HASIL AUTOTRANSPLANTASI HETEROTOPIK OVARIUM MENCIT NURBARIAH PRODUKSI EMBRIO IN VITRO DARI OOSIT HASIL AUTOTRANSPLANTASI HETEROTOPIK OVARIUM MENCIT NURBARIAH SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2007 PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah eksperimen. Penelitian eksperimen merupakan

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah eksperimen. Penelitian eksperimen merupakan BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah eksperimen. Penelitian eksperimen merupakan manipulasi terhadap objek penelitian serta terdapat kontrol (Nazir,2003: 63). B. Desain

Lebih terperinci

STUDI AWAL UJI PERANGKAT KAMERA GAMMA DUAL HEAD MODEL PENCITRAAN PLANAR STATIK MENGGUNAKAN SUMBER RADIASI HIGH ENERGY IODIUM-131 (I 131 )

STUDI AWAL UJI PERANGKAT KAMERA GAMMA DUAL HEAD MODEL PENCITRAAN PLANAR STATIK MENGGUNAKAN SUMBER RADIASI HIGH ENERGY IODIUM-131 (I 131 ) STUDI AWAL UJI PERANGKAT KAMERA GAMMA DUAL HEAD MODEL PENCITRAAN PLANAR STATIK MENGGUNAKAN SUMBER RADIASI HIGH ENERGY IODIUM-131 (I 131 ) Rima Ramadayani 1, Dian Milvita 1, Fadil Nazir 2 1 Jurusan Fisika

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. digunakan adalah penelitian Posttest Only Control Design ( Gliner,2000 ) dengan kultur in

BAB IV METODE PENELITIAN. digunakan adalah penelitian Posttest Only Control Design ( Gliner,2000 ) dengan kultur in BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Rancangan Penelitian Penelitian ini adalah penelitian Eksperimental, dengan rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian Posttest Only Control Design ( Gliner,2000

Lebih terperinci

Otomatisasi Pendeteksian Sel Blast dan Sel Metafase dengan Perangkat Lunak Pengolahan Citra Sumber Terbuka

Otomatisasi Pendeteksian Sel Blast dan Sel Metafase dengan Perangkat Lunak Pengolahan Citra Sumber Terbuka Otomatisasi Pendeteksian Sel Blast dan Sel Metafase dengan Perangkat Lunak Pengolahan Citra Sumber Terbuka Dwi Ramadhani Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN)

Lebih terperinci

I. METODE PENELITIAN. Penelitian dan pembuatan preparat ulas darah serta perhitungan hematokrit sel

I. METODE PENELITIAN. Penelitian dan pembuatan preparat ulas darah serta perhitungan hematokrit sel I. METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dan pembuatan preparat ulas darah serta perhitungan hematokrit sel darah merah dilakukan pada bulan Juli 2012 di Laboratorium Perikanan Jurusan

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK DASAR KULTUR JARINGAN

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK DASAR KULTUR JARINGAN LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK DASAR KULTUR JARINGAN Hari / Tanggal Praktikum : Kamis / 17 November 2011 Kelompok : 1 (Siang) Nama Mahasiswa : 1. Taya Elsa Savista 2. Yeni Vera TUJUAN PRAKTIKUM : 1. Dapat mengisolasi

Lebih terperinci

PENERAPAN EFEK INTERAKSI RADIASI DENGAN SISTEM BIOLOGI SEBAGAI DOSIMETER BIOLOGI

PENERAPAN EFEK INTERAKSI RADIASI DENGAN SISTEM BIOLOGI SEBAGAI DOSIMETER BIOLOGI PENERAPAN EFEK INTERAKSI RADIASI DENGAN SISTEM BIOLOGI SEBAGAI DOSIMETER BIOLOGI YANTI LUSIYANTI, MUKH SYAIFUDIN Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi BATAN Jl Lebak Bulus Raya No 49 Jakarta

Lebih terperinci

BAB II Besaran dan Satuan Radiasi

BAB II Besaran dan Satuan Radiasi BAB II Besaran dan Satuan Radiasi A. Aktivitas Radioaktivitas atau yang lebih sering disingkat sebagai aktivitas adalah nilai yang menunjukkan laju peluruhan zat radioaktif, yaitu jumlah inti atom yang

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Januari sampai Juni 2010 di Laboratorium

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Januari sampai Juni 2010 di Laboratorium III. METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Januari sampai Juni 2010 di Laboratorium Kimia Organik, Jurusan Kimia Fakultas MIPA Universitas Lampung.

Lebih terperinci

KURVA RESPON DOSISABERASI KROMOSOM TRANSLOKASI AKIBAT PAPARAN RADIASI

KURVA RESPON DOSISABERASI KROMOSOM TRANSLOKASI AKIBAT PAPARAN RADIASI KURVA RESPON DOSIS ABERASI KROMOSOM TRANSLOKASI AKIBAT PAPARAN RADIASI Yanti L, Zubaidah A, Sofiati P, Dwi Ramadhani Pusat Teknologi Keselamatan dan Mertologi Radiasi Email untuk korespondensi: k_lusiyanti@batan.go.id

Lebih terperinci

PEMERIKSAAN KUALITAS BOOM FOOT MENGGUNAKAN TEKNIK UJI TAK RUSAK

PEMERIKSAAN KUALITAS BOOM FOOT MENGGUNAKAN TEKNIK UJI TAK RUSAK PEMERIKSAAN KUALITAS BOOM FOOT MENGGUNAKAN TEKNIK UJI TAK RUSAK Namad Sianta, Djoli Soembogo dan R. Hardjawidjaja Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi - BATAN E-mail : djoli@batan.go.id ABSTRAK

Lebih terperinci

UJI MIKRONUKLEI DENGAN PENGEBLOKAN SITOKENESIS PADA LIMFOSIT DAN APLIKASINYA SEBAGAI BIODOSIMETRI RADIASI

UJI MIKRONUKLEI DENGAN PENGEBLOKAN SITOKENESIS PADA LIMFOSIT DAN APLIKASINYA SEBAGAI BIODOSIMETRI RADIASI UJI MIKRONUKLEI DENGAN PENGEBLOKAN SITOKENESIS PADA LIMFOSIT DAN APLIKASINYA SEBAGAI BIODOSIMETRI RADIASI Yanti Lusiyanti dan Zubaidah Alatas Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi - BATAN ABSTRAK

Lebih terperinci

PENGARUH DIAMETER PHANTOM DAN TEBAL SLICE TERHADAP NILAI CTDI PADA PEMERIKSAAN MENGGUNAKAN CT-SCAN

PENGARUH DIAMETER PHANTOM DAN TEBAL SLICE TERHADAP NILAI CTDI PADA PEMERIKSAAN MENGGUNAKAN CT-SCAN PENGARUH DIAMETER PHANTOM DAN TEBAL SLICE TERHADAP NILAI CTDI PADA PEMERIKSAAN MENGGUNAKAN CT-SCAN Dinda Dyesti Aprilyanti 1, Dian Milvita 1, Heru Prasetio 2, Helfi Yuliati 2 1 Jurusan Fisika FMIPA Universitas

Lebih terperinci

STUDI AWAL UJI PERANGKAT KAMERA GAMMA DUAL HEAD MODEL PENCITRAAN PLANAR (STATIK) MENGGUNAKAN SUMBER RADIASI MEDIUM ENERGY RADIUM-226 (Ra 226 )

STUDI AWAL UJI PERANGKAT KAMERA GAMMA DUAL HEAD MODEL PENCITRAAN PLANAR (STATIK) MENGGUNAKAN SUMBER RADIASI MEDIUM ENERGY RADIUM-226 (Ra 226 ) STUDI AWAL UJI PERANGKAT KAMERA GAMMA DUAL HEAD MODEL PENCITRAAN PLANAR (STATIK) MENGGUNAKAN SUMBER RADIASI MEDIUM ENERGY RADIUM-226 (Ra 226 ) Resky Maulanda Septiani 1, Dian Milvita 1, Fadil Nazir 2 1

Lebih terperinci

PERANCANGAN RUANGAN RADIOTERAPI EKSTERNAL MENGGUNAKAN SUMBER Co-60

PERANCANGAN RUANGAN RADIOTERAPI EKSTERNAL MENGGUNAKAN SUMBER Co-60 PERANCANGAN RUANGAN RADIOTERAPI EKSTERNAL MENGGUNAKAN SUMBER Co-60 Kristiyanti, Budi Santoso, Abdul Jalil, Sukandar Pusat Rekayasa Perangkat Nuklir (PRPN) BATAN E-mail : kristiyantiwst@yahoo.com ABSTRAK

Lebih terperinci

Penentuan Dosis Gamma Pada Fasilitas Iradiasi Reaktor Kartini Setelah Shut Down

Penentuan Dosis Gamma Pada Fasilitas Iradiasi Reaktor Kartini Setelah Shut Down Berkala Fisika ISSN : 141-9662 Vol.9, No.1, Januari 26, hal 15-22 Penentuan Dosis Gamma Pada Fasilitas Iradiasi Reaktor Kartini Setelah Shut Down Risprapti Prasetyowati (1), M. Azam (1), K. Sofjan Firdausi

Lebih terperinci

PENENTUAN SISA RADIOFARMAKA DAN PAPARAN RADIASI

PENENTUAN SISA RADIOFARMAKA DAN PAPARAN RADIASI PENENTUAN SISA RADIOFARMAKA DAN PAPARAN RADIASI Tc 99m MDP (Methylene Di Phosphonat) PASCA INJEKSI PADA PASIEN KANKER PROSTAT (STUDI KASUS PADA RUMAH SAKIT PUSAT PERTAMINA JAKARTA) Skripsi Untuk Memenuhi

Lebih terperinci

Prosiding Seminar Nasional Kefarmasian Ke-1

Prosiding Seminar Nasional Kefarmasian Ke-1 Prosiding Seminar Nasional Kefarmasian Ke-1 Samarinda, 5 6 Juni 2015 Potensi Produk Farmasi dari Bahan Alam Hayati untuk Pelayanan Kesehatan di Indonesia serta Strategi Penemuannya PROFIL FARMAKOKINETIKA

Lebih terperinci

Lampiran 1 Pembuatan Medium Kultur DMEM Lampiran 2 Pembuatan Larutan PBS Lampiran 3 Prosedur Pewarnaan HE

Lampiran 1 Pembuatan Medium Kultur DMEM Lampiran 2 Pembuatan Larutan PBS Lampiran 3 Prosedur Pewarnaan HE LAMPIRAN Lampiran 1 Pembuatan Medium Kultur DMEM Medium kultur DMEM merupakan medium Dulbecco s Modified Eagle s Medium (DMEM; Sigma) yang telah dimodifikasi dengan penambahan asam amino non-esensial (AANE;

Lebih terperinci

TINGKAT PENGETAHUAN MAHASISWA D3 POLITEKNIK KESEHATAN GIGI MAKASSAR MENGENAI PROTEKSI RADIASI PADA FOTO ROENTGEN SKRIPSI

TINGKAT PENGETAHUAN MAHASISWA D3 POLITEKNIK KESEHATAN GIGI MAKASSAR MENGENAI PROTEKSI RADIASI PADA FOTO ROENTGEN SKRIPSI TINGKAT PENGETAHUAN MAHASISWA D3 POLITEKNIK KESEHATAN GIGI MAKASSAR MENGENAI PROTEKSI RADIASI PADA FOTO ROENTGEN SKRIPSI Wahyuni Sirajuddin J 111 08 113 UNIVERSITAS HASANUDDIN FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

Lebih terperinci

PEMANFAATAN MEDIUM TAPIOKA IRADIASI UNTUK OPTIMALISASI KONDISI FERMENTASI ISOLAT KHAMIR R210

PEMANFAATAN MEDIUM TAPIOKA IRADIASI UNTUK OPTIMALISASI KONDISI FERMENTASI ISOLAT KHAMIR R210 PEMANFAATAN MEDIUM TAPIOKA IRADIASI UNTUK OPTIMALISASI KONDISI FERMENTASI ISOLAT KHAMIR R210 T. Wahyono dan I. Sugoro Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi, Badan Tenaga Nuklir Nasional Jl. Cinere

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Hewan Coba Fakultas Kedokteran

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Hewan Coba Fakultas Kedokteran BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Ruang lingkup penelitian Penelitian ini adalah penelitian di bidang Ilmu Farmakologi dan Terapi 3.2 Tempat dan waktu penelitian Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Hewan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan untuk pengambilan sampel darah yaitu obyek glass, cover glass, Haemicitometer, jarum suntik, pipet kapiler, mikroskop monokuler. Vitamin E

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Alat-alat dan Bahan Metode

BAHAN DAN METODE Alat-alat dan Bahan Metode BAHAN DAN METODE Alat-alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan adalah peralatan gelas, neraca analitik, pembakar Bunsen, rangkaian alat distilasi uap, kolom kromatografi, pipa kapiler, GC-MS, alat bedah,

Lebih terperinci

ABSTRAK. UJI SITOTOKSISITAS EKSTRAK BUAH MERAH (Pandanus conoideus Lam) TERHADAP KULTUR SEL RAJI

ABSTRAK. UJI SITOTOKSISITAS EKSTRAK BUAH MERAH (Pandanus conoideus Lam) TERHADAP KULTUR SEL RAJI ABSTRAK UJI SITOTOKSISITAS EKSTRAK BUAH MERAH (Pandanus conoideus Lam) TERHADAP KULTUR SEL RAJI Skolastika Prima, 2006 Pembimbing : Hana Ratnawati, dr.,mkes. Kanker penyebab kematian kedua terbesar setelah

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Pemilihan Ikan Uji dan Bakteri (Patogen dan Probiotik)

METODE PENELITIAN. Pemilihan Ikan Uji dan Bakteri (Patogen dan Probiotik) METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan selama 5 bulan, mulai Januari Juni 2011 di Laboratorium Patologi Ikan, Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar, Bogor, Jawa Barat.

Lebih terperinci

III. METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat 3.2 Induk 3.3 Metode Penelitian

III. METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat 3.2 Induk 3.3 Metode Penelitian III. METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2009 sampai dengan Februari 2010 di Stasiun Lapangan Laboratorium Reproduksi dan Genetika Organisme Akuatik, Departemen

Lebih terperinci

DETEKSI KROMOSOM DISENTRIK DAN TRANSLOKASI DALAM LIMPOSIT PEKERJA RADIASI

DETEKSI KROMOSOM DISENTRIK DAN TRANSLOKASI DALAM LIMPOSIT PEKERJA RADIASI DETEKSI KROMOSOM DISENTRIK DAN TRANSLOKASI DALAM LIMPOSIT PEKERJA RADIASI Yanti Lusiyanti, Zubaidah Alatas, dan Iwiq Indrawati ABSTRAK DETEKSI KROMOSOM DISENTRIK DAN TRANSLOKASI PADA PEKERJA RADIASI. Program

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Fakta menunjukkan bahwa pada proses penuaan terjadi kemunduran dan deplesi jumlah sel

BAB I PENDAHULUAN. Fakta menunjukkan bahwa pada proses penuaan terjadi kemunduran dan deplesi jumlah sel BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Fakta menunjukkan bahwa pada proses penuaan terjadi kemunduran dan deplesi jumlah sel Langerhans di epidermis, yakni sel efektor imunogen pada kulit, penurunan daya

Lebih terperinci

2 sampai homogen dan diinkubasi 37o C dalam waterbath selama 1530 menit. Berikutnya tabungtabung dipusingkan 1000 RPM selama 10 menit, supernatan dibu

2 sampai homogen dan diinkubasi 37o C dalam waterbath selama 1530 menit. Berikutnya tabungtabung dipusingkan 1000 RPM selama 10 menit, supernatan dibu 1 Lampiran 1. Prosedur Pemeriksaan Sitogenetik 1. Preparasi Kromosom Bahan yang digunakan yaitu : darah penderita 5 cc dalam heparin, media MEM, PHA, FBS, colcemid, thymidin, KCL 0.075M, larutan carnoy

Lebih terperinci

Fetus Hamster. Ginjal Fetus Hamster FBS

Fetus Hamster. Ginjal Fetus Hamster FBS 55 Lampiran 1. Kerangka Konsep Penelitian Fetus Hamster Ginjal Fetus Hamster Vitamin E FBS Media DMEM Konsentrasi: 1. 0 µm 2. 25 µm 3. 50 µm 4. 75 µm 5. 100 µm 6. 125 µm Vitamin Asam Amino Garam Glukosa

Lebih terperinci

Gambar 1. Ekstrak daun sukun

Gambar 1. Ekstrak daun sukun Gambar 1. Ekstrak daun sukun Gambar 2. Pengambilan darah melalui ekor 61 COOH CH3 COOH CH3 CO CH.NH 2 ALT CH.NH 2 CO CH 2 + COOH CH 2 + COOH CH 2 Alanin CH 2 Asam piruvat COOH Asam alfa ketoglutarat COOH

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. ahli medis, bahkan orang awam diseluruh penjuru dunia. Sesuai dengan kata yang

BAB I. PENDAHULUAN. ahli medis, bahkan orang awam diseluruh penjuru dunia. Sesuai dengan kata yang BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Saat ini, stem sel telah menjadi topik utama pembicaraan banyak ilmuwan, ahli medis, bahkan orang awam diseluruh penjuru dunia. Sesuai dengan kata yang menyusunnya

Lebih terperinci

PERBANDINGAN METODE EKSTRAKSI REAL TIME PCR VIRUS INFLUENZA A ANTARA METODE GUANIDIUM,-THIOCYANATE-PHENOL- CHLOROFORM DAN METODE SPIN KOLOM

PERBANDINGAN METODE EKSTRAKSI REAL TIME PCR VIRUS INFLUENZA A ANTARA METODE GUANIDIUM,-THIOCYANATE-PHENOL- CHLOROFORM DAN METODE SPIN KOLOM PERBANDINGAN METODE EKSTRAKSI REAL TIME PCR VIRUS INFLUENZA A ANTARA METODE GUANIDIUM,-THIOCYANATE-PHENOL- CHLOROFORM DAN METODE SPIN KOLOM YUNI YUPIANA Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat

Lebih terperinci

PEMERIKSAAN ABERASI KROMOSOM STABIL DENGAN TEHNIK FLUORESENCE IN SITU HYBRIDIZATION

PEMERIKSAAN ABERASI KROMOSOM STABIL DENGAN TEHNIK FLUORESENCE IN SITU HYBRIDIZATION PEMERIKSAAN ABERASI KROMOSOM STABIL DENGAN TEHNIK FLUORESENCE IN SITU HYBRIDIZATION Zubaidah Alatas, Yanti Lusiyanti dan Iwiq Indrawati Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi BATAN ABSTRAK PEMERIKSAAN

Lebih terperinci

Pengukuran Dosis Radiasi dan Estimasi Efek Biologis yang Diterima Pasien Radiografi Gigi Anak Menggunakan TLD-100 pada Titik Pengukuran Mata dan Timus

Pengukuran Dosis Radiasi dan Estimasi Efek Biologis yang Diterima Pasien Radiografi Gigi Anak Menggunakan TLD-100 pada Titik Pengukuran Mata dan Timus ISSN 2302-8491 Jurnal Fisika Unand Vol. 5, No. 2, April 2016 Pengukuran Dosis Radiasi dan Estimasi Efek Biologis yang Diterima Pasien Radiografi Gigi Anak Menggunakan TLD-100 pada Titik Pengukuran Mata

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tabel 3 Jadwal penelitian Kegiatan

BAHAN DAN METODE. Tabel 3 Jadwal penelitian Kegiatan 21 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor, dengan mengambil tempat di Bagian Bedah dan Radiologi sebagai tempat pengambilan

Lebih terperinci

PRODUKSI BIOMASSA PROBIOTIK KHAMIR DALAM MEDIA EKSTRAK UBI JALAR DALAM SKALA FERMENTOR 18L

PRODUKSI BIOMASSA PROBIOTIK KHAMIR DALAM MEDIA EKSTRAK UBI JALAR DALAM SKALA FERMENTOR 18L PRODUKSI BIOMASSA PROBIOTIK KHAMIR DALAM MEDIA EKSTRAK UBI JALAR DALAM SKALA FERMENTOR 18L Nuniek Lelananingtias, Dinardi dan I.Sugoro Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi BATAN nuniek@batan.go.id

Lebih terperinci

MODUL 1 PENGENALAN ALAT LABORATORIUM MIKROBIOLOGI

MODUL 1 PENGENALAN ALAT LABORATORIUM MIKROBIOLOGI MODUL 1 PENGENALAN ALAT LABORATORIUM MIKROBIOLOGI Klasifikasi Alat : 1. Alat untuk Pengamatan (Koloni dan Morfologi) 2. Alat untuk Sterilisasi 3. Alat untuk Kultivasi 4. Alat untuk Kuantifikasi Mikroorganisme

Lebih terperinci

PEMANFAATAN RADIASI SINAR GAMMA (Co-60) UNTUK PENINGKATAN PERTUMBUHAN DAN KETAHANAN TANAMAN KEDELAI TERHADAP PENYAKIT PUSTUL DAUN

PEMANFAATAN RADIASI SINAR GAMMA (Co-60) UNTUK PENINGKATAN PERTUMBUHAN DAN KETAHANAN TANAMAN KEDELAI TERHADAP PENYAKIT PUSTUL DAUN PEMANFAATAN RADIASI SINAR GAMMA (Co-60) UNTUK PENINGKATAN PERTUMBUHAN DAN KETAHANAN TANAMAN KEDELAI TERHADAP PENYAKIT PUSTUL DAUN KARYA ILMIAH TERTULIS (SKRIPSI) Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Analisis Hasil Pertanian dan

BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Analisis Hasil Pertanian dan III. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Analisis Hasil Pertanian dan Laboratorium Mikrobiologi Hasil Pertanian, Jurusan Teknologi Hasil Pertanian,

Lebih terperinci

PERANCANGAN RUANGAN RADIOTERAPI EKSTERNAL MENGGUNAKAN SUMBER Co-60

PERANCANGAN RUANGAN RADIOTERAPI EKSTERNAL MENGGUNAKAN SUMBER Co-60 PERANCANGAN RUANGAN RADIOTERAPI EKSTERNAL MENGGUNAKAN SUMBER Co-60 Kristiyanti, Budi Santoso, Abdul Jalil, Sukandar PRPN BATAN, Kawasan PUSPIPTEK, Gedung 71, Tangerang Selatan, 15310 ABSTRAK. PERANCANGAN

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Materi

MATERI DAN METODE. Materi MATERI DAN METODE Waktu dan Lokasi Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi Reproduksi dan Inseminasi buatan, Unit Rehabilitasi Reproduksi (URR), Bagian Reproduksi dan Kebidanan, Fakultas

Lebih terperinci

TIPE KEMATIAN SEL HeLa SETELAH PAPARAN EKSTRAK ETANOLIK CURCUMA LONGA

TIPE KEMATIAN SEL HeLa SETELAH PAPARAN EKSTRAK ETANOLIK CURCUMA LONGA TIPE KEMATIAN SEL HeLa SETELAH PAPARAN EKSTRAK ETANOLIK CURCUMA LONGA Suryani Hutomo, Chandra Kurniawan Bagian Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana Fakultas Kedokteran Universitas

Lebih terperinci

OPTIMASI ASPEK KESELAMATAN PADA KALIBRASI PESAWAT TERAPI 60 Co atau 137 Cs

OPTIMASI ASPEK KESELAMATAN PADA KALIBRASI PESAWAT TERAPI 60 Co atau 137 Cs OPTIMASI ASPEK KESELAMATAN PADA KALIBRASI PESAWAT TERAPI 60 Co atau 137 Cs Oleh Gatot Wurdiyanto dan C. Tuti Budiantari Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi ABSTRAK Telah dilakukan kajian

Lebih terperinci

TEORI DASAR RADIOTERAPI

TEORI DASAR RADIOTERAPI BAB 2 TEORI DASAR RADIOTERAPI Radioterapi atau terapi radiasi merupakan aplikasi radiasi pengion yang digunakan untuk mengobati dan mengendalikan kanker dan sel-sel berbahaya. Selain operasi, radioterapi

Lebih terperinci

BAKTERI PRAKTIKUM KULTUR JARINGAN

BAKTERI PRAKTIKUM KULTUR JARINGAN PRAKTIKUM KULTUR JARINGAN Tujuan:i) ii) iii) iv) Mengetahui dan mampu melakukan teknik-teknik mengisolasi / inokulasi bakteri di media Menggunakan alat mikroskop dengan benar. Meneliti efek bahan atau

Lebih terperinci

Kudrjawzow dan Rumanow (1928) yang telah dimodifikasi oleh Hardjoutomo dan Sri Poernomo (1976). Untuk pembuatan antigen kokto tersebut dikerjakan sepe

Kudrjawzow dan Rumanow (1928) yang telah dimodifikasi oleh Hardjoutomo dan Sri Poernomo (1976). Untuk pembuatan antigen kokto tersebut dikerjakan sepe PEMBUATAN ANTIGEN KOKTO UNTUK SERUM ASCOLI Koko Barkah Balai Penelitian Veteriner, Jalan R.E. Martadinata 30, Bogor 11614 PENDAHULUAN Antraks atau radang limpa adalah penyakit menular pada hewan yang disebabkan

Lebih terperinci

KAJIAN PENERIMAAN OOSIS RADlASI EKSTERNA PEKERJA RADlASI PRSG-BATAN SERPONG. Sunarningsih, Mashudi, A.Lilik W, Yosep S.

KAJIAN PENERIMAAN OOSIS RADlASI EKSTERNA PEKERJA RADlASI PRSG-BATAN SERPONG. Sunarningsih, Mashudi, A.Lilik W, Yosep S. Prosiding Seminar Nasional Tekn%gi dan Aplikasi Reaktor Nuklir ISBN 978-979-17109-7-8 KAJIAN PENERIMAAN OOSIS RADlASI EKSTERNA PEKERJA RADlASI PRSG-BATAN SERPONG Sunarningsih, Mashudi, A.Lilik W, Yosep

Lebih terperinci

BIOMARKER ABERASI KROMOSOM AKIBA T PAPARAN RADIASI PENGION

BIOMARKER ABERASI KROMOSOM AKIBA T PAPARAN RADIASI PENGION Biomarker aberasi kromosom akibat paparan radiasi pengion (Ora. Yanti Lusiyanti) BIOMARKER ABERASI KROMOSOM AKIBA T PAPARAN RADIASI PENGION Yanti Lusiyanti Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radasi,

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Maret sampai bulan Agustus 2013 di

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Maret sampai bulan Agustus 2013 di 25 III. METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Maret sampai bulan Agustus 2013 di Laboratorium Instrumentasi dan Laboratorium Biokimia Jurusan Kimia

Lebih terperinci

PENAMBAHAN LATEKS KARET ALAM KOPOLIMER RADIASI DAN PENINGKATAN INDEKS VISKOSITAS MINYAK PELUMAS SINTETIS OLAHAN

PENAMBAHAN LATEKS KARET ALAM KOPOLIMER RADIASI DAN PENINGKATAN INDEKS VISKOSITAS MINYAK PELUMAS SINTETIS OLAHAN Akreditasi LIPI Nomor : 536/D/2007 Tanggal 26 Juni 2007 PENAMBAHAN LATEKS KARET ALAM KOPOLIMER RADIASI DAN PENINGKATAN INDEKS VISKOSITAS MINYAK PELUMAS SINTETIS OLAHAN ABSTRAK Meri Suhartini dan Rahmawati

Lebih terperinci

2. Memberikan label pada masing-masing bahan dimana T0 sebagai control, 3. Masing-masing pati ubi kayu dan jagung dibuat dengan konsentrasi 10%

2. Memberikan label pada masing-masing bahan dimana T0 sebagai control, 3. Masing-masing pati ubi kayu dan jagung dibuat dengan konsentrasi 10% 31 2. Memberikan label pada masing-masing bahan dimana T0 sebagai control, sedangkan T1 dan T2 diberikan perlakuan. 3. Masing-masing pati ubi kayu dan jagung dibuat dengan konsentrasi 10% (b/v) dalam larutan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian tentang pengaruh Vitamin E (α-tokoferol) terhadap persentase

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian tentang pengaruh Vitamin E (α-tokoferol) terhadap persentase BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Penelitian tentang pengaruh Vitamin E (α-tokoferol) terhadap persentase kerusakan, viabilitas, dan abnormalitas sel yang dipapar etanol pada kultur sel

Lebih terperinci

Suparno, Makmur Rangkuty-PEMBUATAN KURVA PENYINARAN RADIOGRAFI IR-I92 MENGGUNAKAN PERSAMAAN DOSIS

Suparno, Makmur Rangkuty-PEMBUATAN KURVA PENYINARAN RADIOGRAFI IR-I92 MENGGUNAKAN PERSAMAAN DOSIS Suparno, Makmur Rangkuty-PEMBUATAN KURVA PENYINARAN RADIOGRAFI IR-I92 PEMBUAIAN KURVA PENYINARAN RADIOGRAFI IR-l92 Suparno, Makmur Rangkuty Pusat Pendidikan dan Pelatihan BATAN, parnomrj@batan.go.id ABSTRAK

Lebih terperinci

SEMI OTOMATISASI KARIOTIPE UNTUK DETEKSI ABERASI KROMOSOM AKIBAT PAPARAN RADIASI

SEMI OTOMATISASI KARIOTIPE UNTUK DETEKSI ABERASI KROMOSOM AKIBAT PAPARAN RADIASI SEMI OTOMATISASI KARIOTIPE UNTUK DETEKSI ABERASI KROMOSOM AKIBAT PAPARAN RADIASI Dwi Ramadhani*, Yanti Lusiyanti*, Zubaidah Alatas* dan Sofiati Purnami* *Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi,

Lebih terperinci

Molekul, Vol. 10. No. 1. Mei, 2015: 27-32

Molekul, Vol. 10. No. 1. Mei, 2015: 27-32 Molekul, Vol. 10. No. 1. Mei, 2015: 27-32 PENGUJIAN JUMLAH CEMARAN MIKROBA DALAM SIMPLISIA DAN EKSTRAK PEGAGAN SEBELUM DAN SETELAH PROSES PASTEURISASI SINAR GAMMA DETERMINATION OF MICROBE CONTAMINANT IN

Lebih terperinci

OLEH: VEROS ALVARIS YUSTAKI FAKULTAS FARMASI UNIKA WIDYA MANDALA SURABAYA

OLEH: VEROS ALVARIS YUSTAKI FAKULTAS FARMASI UNIKA WIDYA MANDALA SURABAYA PENGARUH PEMBERIAN CAMPURAN EKSTRAK ETANOL BIJI KELABET (TRIGONELLA FOENUM-GRAECUM LINN.) DAN DAUN MURBEI (MORUS ALBA LINN.) TERHADAP PENURUNAN KADAR GLUKOSA DARAH TIKUS PUTIH JANTAN OLEH: VEROS ALVARIS

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Metode Penelitian

METODE PENELITIAN. Metode Penelitian METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan selama 6 bulan, mulai Maret 2010 sampai dengan Agustus 2010 di laboratorium Terpadu Bagian Mikrobiologi Medik dan laboratorium Bakteriologi

Lebih terperinci

Suparno, Anda Sanusi - PENENTUAN WAKTU PENYINARAN RADlOGRAFllr-192 MENGGUNAKAN PERSAMAAN DOSIS RADIASI

Suparno, Anda Sanusi - PENENTUAN WAKTU PENYINARAN RADlOGRAFllr-192 MENGGUNAKAN PERSAMAAN DOSIS RADIASI Suparno, Anda Sanusi - PENENTUAN WAKTU PENYINARAN RADlOGRAFllr-192 PENENTUAN WAKTU PENYINARAN RADIOGRAFI Ir-192 Suparno, Anda Sanusi Pusat Pendidikan dan Pelatihan BATAN, parnomrj@batan.go.id ABSTRAK PENENTUAN

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. banyak sekali radiasi. Radiasi dalam istilah fisika, pada dasarnya adalah suatu

I. PENDAHULUAN. banyak sekali radiasi. Radiasi dalam istilah fisika, pada dasarnya adalah suatu I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Istilah radiasi sering dianggap menyeramkan, sesuatu yang membahayakan, mengganggu kesehatan, bahkan keselamatan. Padahal di sekitar kita ternyata banyak sekali radiasi.

Lebih terperinci

Analisis Hayati PENETAPAN POTENSI ANTIBIOTIKA SECARA MIKROBIOLOGI. Oleh : Dr. Harmita

Analisis Hayati PENETAPAN POTENSI ANTIBIOTIKA SECARA MIKROBIOLOGI. Oleh : Dr. Harmita Analisis Hayati PENETAPAN POTENI ANTIBIOTIKA ECARA MIKROBIOLOGI Oleh : Dr. Harmita Pendahuluan Aktivitas (potensi antibiotika dapat ditunjukkan pada kondisi yang sesuai dengan efek daya hambatan terhadap

Lebih terperinci

KAJIAN PAPARAN RADIASI RETROSPEKTIF DENGAN ABERASI KROMOSOM. Zubaidah Alatas Pusat Teknologi Keselamatan Metrologi Radiasi - BATAN

KAJIAN PAPARAN RADIASI RETROSPEKTIF DENGAN ABERASI KROMOSOM. Zubaidah Alatas Pusat Teknologi Keselamatan Metrologi Radiasi - BATAN KAJIAN PAPARAN RADIASI RETROSPEKTIF DENGAN ABERASI KROMOSOM Zubaidah Alatas Pusat Teknologi Keselamatan Metrologi Radiasi - BATAN ABSTRAK KAJIAN PAPARAN RADIASI RETROSPEKTIF DENGAN ABERASI KROMOSOM. Pemantauan

Lebih terperinci

ABSTRAK ABSTRACT PENDAHULUAN ISSN Suratman dad Agus Sulistyono Puslitbang Teknologi Maju BATAN, Yogyakarta.

ABSTRAK ABSTRACT PENDAHULUAN ISSN Suratman dad Agus Sulistyono Puslitbang Teknologi Maju BATAN, Yogyakarta. Sura/man dan Agus Sulistyono ISSN 0216.3128 355 Suratman dad Agus Sulistyono Puslitbang Teknologi Maju BATAN, Yogyakarta. ABSTRAK Telah dipelajari bioassay H-3 dalam urin dengan destilasi reflux. Tujuan

Lebih terperinci

ANALISIS DOSIS YANG DITERIMA PASIEN PADA PEMERIKSAAN RENOGRAF

ANALISIS DOSIS YANG DITERIMA PASIEN PADA PEMERIKSAAN RENOGRAF ANALISIS DOSIS YANG DITERIMA PASIEN PADA PEMERIKSAAN RENOGRAF KRISTIYANTI, WIRANTO BUDI SANTOSO, ISTOFA PUSAT REKAYASA PERANGKAT NUKLIR Abstrak ANALISIS DOSIS YANG DITERIMA PASIEN PADA PEMERIKSAAN RENOGRAF.

Lebih terperinci

ABSTRACT THE EFFECT OF OLIVE OIL ADDITION INTO OATMEAL IN LOWERING BLOOD TOTAL CHOLESTEROL AND LDL (LOW DENSITY LIPOPROTEIN) IN WISTAR STRAIN RAT

ABSTRACT THE EFFECT OF OLIVE OIL ADDITION INTO OATMEAL IN LOWERING BLOOD TOTAL CHOLESTEROL AND LDL (LOW DENSITY LIPOPROTEIN) IN WISTAR STRAIN RAT ABSTRACT THE EFFECT OF OLIVE OIL ADDITION INTO OATMEAL IN LOWERING BLOOD TOTAL CHOLESTEROL AND LDL (LOW DENSITY LIPOPROTEIN) IN WISTAR STRAIN RAT Sebastian Hadinata, 2014, 1 st Tutor : Heddy Herdiman,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 5. Jumlah Bakteri Asam Laktat pada Media Susu Skim.

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 5. Jumlah Bakteri Asam Laktat pada Media Susu Skim. HASIL DAN PEMBAHASAN Persiapan Penelitian Persiapan penelitian meliputi pembiakan kultur pada media susu skim. Pembiakan kultur starter pada susu skim dilakukan untuk meningkatkan populasi kultur yang

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kimia/Biokimia Hasil Pertanian dan

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kimia/Biokimia Hasil Pertanian dan 18 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kimia/Biokimia Hasil Pertanian dan Laboratorium Mikrobiologi Hasil Pertanian Jurusan Teknologi Hasil

Lebih terperinci

BAB 4 METODE PENELITIAN. 4.1 Jenis Penelitian Penelitian ini adalah eksperimental laboratorik.

BAB 4 METODE PENELITIAN. 4.1 Jenis Penelitian Penelitian ini adalah eksperimental laboratorik. BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1 Jenis Penelitian Penelitian ini adalah eksperimental laboratorik. 4.2 Sampel Penelitian Dan Bahan Uji Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sel kanker skuamosa mulut

Lebih terperinci

INDUKSI KERAGAMAN GENETIK DENGAN MUTAGEN SINAR GAMMA PADA NENAS SECARA IN VITRO ERNI SUMINAR

INDUKSI KERAGAMAN GENETIK DENGAN MUTAGEN SINAR GAMMA PADA NENAS SECARA IN VITRO ERNI SUMINAR INDUKSI KERAGAMAN GENETIK DENGAN MUTAGEN SINAR GAMMA PADA NENAS SECARA IN VITRO ERNI SUMINAR SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2010 i ABSTRACT ERNI SUMINAR. Genetic Variability Induced

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. diperoleh dari perhitungan kepadatan sel dan uji kadar lipid Scenedesmus sp. tiap

BAB III METODE PENELITIAN. diperoleh dari perhitungan kepadatan sel dan uji kadar lipid Scenedesmus sp. tiap BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini adalah eksperimental. Pengambilan data penelitian diperoleh dari perhitungan kepadatan sel dan uji kadar lipid Scenedesmus sp. tiap

Lebih terperinci

PRODUKSI BIOMASSA Spirulina sp. DENGAN VARIASI KONSENTRASI CO2 DAN FOTOPERIODE. Okta Nugraha 1) dan Elida Purba 1)

PRODUKSI BIOMASSA Spirulina sp. DENGAN VARIASI KONSENTRASI CO2 DAN FOTOPERIODE. Okta Nugraha 1) dan Elida Purba 1) PRODUKSI BIOMASSA Spirulina sp. DENGAN VARIASI KONSENTRASI CO2 DAN FOTOPERIODE Okta Nugraha 1) dan Elida Purba 1) 1) Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Lampung Jl. Prof. Dr. Soemantri Brodjonegoro

Lebih terperinci

PENGARUH METIL METSULFURON TERHADAP SEL DARAH MERAH IKAN PATIN SIAM (Pangasius hypopthalmus) ABSTRAK

PENGARUH METIL METSULFURON TERHADAP SEL DARAH MERAH IKAN PATIN SIAM (Pangasius hypopthalmus) ABSTRAK e-jurnal Rekayasa dan Teknologi Budidaya Perairan Volume II No 1 Oktober 2013 ISSN: 2302-3600 PENGARUH METIL METSULFURON TERHADAP SEL DARAH MERAH IKAN PATIN SIAM (Pangasius hypopthalmus) Qorie Astria *,

Lebih terperinci