Diabetes mellitus (DM) tipe 1 adalah

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Diabetes mellitus (DM) tipe 1 adalah"

Transkripsi

1 Artikel Asli Komplikasi Jangka Pendek dan Jangka Panjang Diabetes Mellitus Tipe 1 Indra W. Himawan,* Aman B. Pulungan,** Bambang Tridjaja,** Jose R.L. Batubara** *Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Anak FK UNUD-RSUP Sanglah, Denpasar **Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM, Jakarta Latar belakang. Diabetes mellitus tipe 1 (DM tipe-1) adalah kelainan metabolik yang disebabkan oleh reaksi autoimun yang menyebabkan kerusakan sel β pankreas dan terjadi pada hampir semua anak yang menderita diabetes. Dalam perjalanan DM tipe-1, sering timbul komplikasi jangka pendek dan jangka panjang. Tujuan. Mengetahui frekuensi komplikasi jangka pendek yaitu ketoasidosis dan jangka panjang yaitu nefropati dan retinopati berdasarkan kontrol metabolik, lama menderita diabetes, dan biaya pengobatan. Metode. Penelitian deskriptif pada 39 pasien yang terdaftar di IKADAR(Ikatan Keluarga Penyandang Diabetes Anak dan Remaja) selama September Oktober 27 di Departemen Ilmu Kesehatan Anak Divisi Endokrin FKUI/ RSCM Jakarta dengan melakukan anamnesis, pemeriksaan laboratorium HbA1c, mikroalbuminuria, dan evaluasi mata di poliklinik mata FKUI RSCM. Hasil. Dari 39 pasien yang diteliti antara umur 5-31 tahun, rerata diagnosis diabetes ditegakkan pada umur (9,8±4,1) tahun, HbA1c (1,1±2,3) % dan menderita diabetes selama (5,6±5,8) tahun, dengan dosis insulin yang dipakai (,9±,2) IU/kg/hari. Komplikasi yang ditemukan adalah ketoasidosis diabetik selama sakit pada 3 pasien (76,9 %) dan pada 12 minggu terakhir pada 3 pasien (7,9%), mikroalbuminuria pada 3 pasien (7,9%), sedangkan retinopati tidak ditemukan. Rerata pasien memeriksakan HbA1c 3-4 kali pertahun, memeriksa gula darah secara mandiri 1-2 kali/hari dan sebagian besar berobat dengan biaya sendiri. Kesimpulan. Tidak banyak perubahan karakteristik pasien dibandingkan penelitian yang lalu. Rerata kadar HbA1c masih kurang baik dibandingkan dengan rerata HbA1c di negara maju. Di negara maju sudah banyak perubahan pada cara pemberian insulin dan lebih ditingkatkannya perhatian dan pengetahuan pada pasien dan keluarga pasien diabetes. (Sari Pediatri 29;1(6):367-72). Kata kunci: diabetes mellitus tipe 1, komplikasi jangka pendek dan panjang Alamat Korespondensi: Dr Aman B. Pulungan, Sp.A (K). Divisi Endokrinologi. Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM. Jl. Salemba no. 6, Jakarta 143. Diabetes mellitus (DM) tipe 1 adalah kelainan metabolik yang disebabkan oleh reaksi autoimun, menyebabkan kerusakan pada sel β pankreas yang ditandai dengan hiperglikemi kronik akibat kekurangan insulin berat. 1,2 Dalam perjalanan penyakit DM dapat menimbulkan bermacam-macam komplikasi yaitu komplikasi jangka Sari Pediatri, Vol. 1, No. 6, April

2 pendek dan jangka panjang. Komplikasi jangka pendek antara lain hipoglikemi dan ketoasidosis. Ketoasidosis diabetik (KAD) dapat dijumpai pada saat diagnosis pertama DM tipe 1 atau pasien lama akibat pemakaian insulin yang salah. 2 Risiko terjadinya KAD meningkat antara lain pada anak dengan kontrol metabolik yang jelek, riwayat KAD sebelumnya, masa remaja, pada anak dengan gangguan makan, keadaan sosio-ekonomi kurang, dan tidak adanya asuransi kesehatan. 3 Komplikasi jangka panjang terjadi akibat perubahan mikrovaskular berupa retinopati, nefropati, dan neuropati. Retinopati merupakan komplikasi yang sering didapatkan, lebih sering dijumpai pada pasien DM tipe 1 yang telah menderita lebih dari 8 tahun. Faktor risiko timbulnya retinopati antara lain kadar gula yang tidak terkontrol dan lamanya menderita diabetes. Nefropati diperkirakan dapat terjadi pada 25%-45% pasien DM tipe 1 dan sekitar 2%-3 akan mengalami mikroalbuminuria subklinis. Mikroalbuminuria merupakan manifestasi paling awal timbulnya nefropati diabetik. 1,4,5 Neuropati merupakan komplikasi yang jarang didapatkan pada anak dan remaja, tetapi dapat ditemukan kelainan subklinis dengan melakukan evaluasi klinis dan pemeriksaan saraf perifer. Komplikasi makrovaskular lebih jarang didapatkan pada anak dan remaja. Komplikasi tersebut dapat terjadi akibat kontrol metabolik yang tidak baik. Tujuan umum penelitian untuk mengetahui frekuensi komplikasi jangka pendek dan jangka panjang pada pasien DM tipe 1. Tujuan khususnya adalah mengetahui frekuensi ketoasidosis, retinopati, dan nefropati yang berhubungan dengan lamanya penyakit, kontrol metabolik dan faktor-faktor yang mempengaruhi komplikasi tersebut. Metode Penelitian bersifat deskriptif, dilakukan di Divisi Endokrinologi, Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI RSCM Jakarta mulai bulan September- Oktober 27. Subjek penelitian adalah semua pasien DM tipe 1 yang terdaftar di IKADAR (ikatan keluarga penyandang diabetes anak dan remaja) yang bersedia dilakukan anamnesis, pemeriksaan HbA1c, pemeriksaan mikroalbuminuria, dan pemeriksaan mata. Anamnesis meliputi nama, jenis kelamin, umur dan tanggal lahir, umur pertama kali terdiagnosis DM tipe 1, berapa lama menderita DM tipe 1, pernah mengalami KAD, kapan, umur berapa dan berapa kali, berapa kali melakukan pemeriksaan gula darah secara mandiri, punya alat glukometer atau tidak, berapa kali pemberian insulin dalam 1 hari dan sumber dana yang dipakai untuk berobat. Pemeriksaan HbA1c dibagi menjadi 4 berdasarkan DDCT yaitu <6,5%, 6,5%-<7,6%, 7,6%-9%, dan >9%. 1 Untuk mikroalbuminuria dilakukan pemeriksaan urin sewaktu atau pengumpulan urin dalam waktu tertentu dengan metode turbidimetri alat modular dengan reagen dari Roche yang dilakukan di laboratorium Prodia, diperlukan pemeriksaan kreatinin untuk koreksi. 5 Jika mikroalbuminuria positif pada pemeriksaan pertama dilakukan pemeriksaan urin yang ke dua. Nilai rujukan yang dipakai sesuai konsensus DM 26, urin sewaktu normal <3 µ/mg kreatinin, mikroalbuminuria µ/mg kreatinin. Untuk evaluasi mata, semua pasien dikonsulkan ke Bagian Mata RSCM untuk melihat apakah ada tanda-tanda retinopati diabetik. Hasil Hasil penelitian pada 39 pasien DM tipe 1 terdiri dari 18 laki-laki dan 25 perempuan dengan rasio 46:54, rentang usia 5-31 tahun dan rerata umur (15,4±6,2) tahun, umur pertama kali terdiagnosis (9,8±4,1) tahun, lama sakit (5,6±5,8) tahun, kadar HbA1c (1,1±2,3)% dan total dosis insulin yang dipakai dalam 1 hari (,9±,2) unit/kg bb/hari. Data tertera pada Tabel 1 Tabel 1. Karakteristik pasien diabetes mellitus tipe 1 Karakteristik DM tipe 1 Ratio Jenis kelamin (laki-laki: perempuan) 46:54 Umur (tahun), 5,5 ±6,2 Umur saat pertama didiagnosis (tahun), 9,8 ± 4,1 Lama sakit (tahun), 5,6 ± 5,8 Rata-rata kadar HbA1c (%), 1,1 ± 2,3 Dosis insulin ( unit/kg/hari ),,9 ±,2 368 Sari Pediatri, Vol. 1, No. 6, April 29

3 Tabel 2. Kadar HbA1c dan lama sakit dengan komplikasi KAD dan mikroalbuminuria Parameter Kadar HbA1c (%) <6,5 6,5<7,6 7,6 9 >9 Jenis kelamin laki/perempuan Lama menderita diabetes (tahun, %) <5 5 1 >1 Jenis kelamin laki/perempuan N KAD* Mikroalbuminuria Ya Tidak Ya Tidak 3 ( 7,7%) 1 (2,6 % ) 11 (28,2 %) 24(61,5% ) 18/21 23 (57,9) 11 (23,7) 5 (18,4) 18/21 3 (12,5%) /3 18 (78,3) 8 (72,7) 4 (8, ) 13/ (87,5%) 18/18 5 (21,7) 3 (27,3) 1 (2,) 5/4 3 1(9,1 %) 2(9,5%) 1/2 3(13,1) 1/2 1 1(9,9%) 19(9,5%) 14/19 2(86,9) /19 Pembagian HbA1c berdasarkan ISPAD Consensus Guide for the management of type diabetes mellitus in children and adolescents. *KAD= ketoasidosis diabetes. Pada pemeriksaan HbA1c didapatkan hasil kontrol meta bolik yang baik sekali HbA1c <6,5% pada 3 (7,7%) pasien, HbA1c 6,5%- <7,6% 1 (2,6%) pasien, 7,6%-9% pada 11(28,2%) pasien dan yang buruk (HbA1c >9%) pada 24 (61,5%). Pemeriksaan HbA1c dipergunakan untuk menggambarkan konsentrasi glukosa darah rata-rata, selama 6-12 minggu terakhir. Didapatkan 3 (12,5%) pasien mengalami komplikasi ketoasidosis diabetik dengan kadar HbA1c >9% dan ketiga pasien tersebut menderita DM tipe 1 kurang dari 5 tahun. Selama ini pasien menggunakan insulin kombinasi 3/7 yang disuntikkan sehari dua kali yaitu pagi dan sore. Pada pemeriksaan mikroalbuminuria didapatkan 9 pasien dengan hasil positif pada pemeriksaan pertama, tetapi hanya 6 pasien yang melakukan pemeriksaan kedua dengan hasil 3 pasien positif mikroalbuminura, 2 pasien (9,5%) dengan kadar HbA1c >9% dan 1 pasien (9,1%) dengan kadar HbA1 c 7,6%, semuanya menderita DM tipe 1 <5 tahun. Berdasarkan lama menderita DM tipe 1 yang pernah mengalami komplikasi KAD, kurang dari 5 tahun 18 pasien (56,7%), antara 5-1 tahun 8 pasien (23,3%), sedangkan yang lebih dari 1 tahun 4 pasien (2%). Dari 39 pasien hanya 14 pasien yang melakukan evalusi di Bagian Mata dan tidak ditemu kan tandatanda retinopati diabetik pada semua pasien. Tidak semua pasien DM tipe 1 mengalami komplikasi KAD, 3 (76,9%) pasien pernah mengalami dan 9 (23,1%) pasien, tidak pernah mengalami komplikasi KAD. Kejadian KAD ini lebih banyak pada perempuan 17 (43,6%) dibandingkan dengan Tabel 3. Pasien DM tipe 1 yang pernah mengalami komplikasi KAD Komplikasi N (%) KAD Tidak pernah KAD 3 ( 7 6, 9) 9 (23,1) Jenis kelamin n (%) Laki-laki 13 (33,3) 5 (12,8) Perempuan 17 (43,6) 4 (1,3) Tabel 4. Karakteristik pasien DM tipe 1 dengan KAD Parameter n (%) Saat terjadinya KAD Pertama terdiagnosis Setelah terdiagnosis Frekuensi KAD (kali) atau lebih Kontrol HbA1c (kali/tahun) tidak pernah kontrol Kontrol gula darah sewaktu (kali/hari) Tidak pernah Kalau sakit/ ada keluhan 1-2 > 2 Sumber dana Pribadi Askes Askeskin Alat glukometer yang dipakai Glukosa Glukosa dan keton 26 (86,7) 4 (13,3) 17 (56,7) 4 (13,3) 9 (3,) 5 (16,7) 7 (23,3) 18 (6,) 6 (2,) 6 (2,) 16 (53,3) 2 (6,7) 22 (73,3) 2 (6,7) 6 (2,) 18 (6) 12 (4) Sari Pediatri, Vol. 1, No. 6, April

4 Tabel 5. Perbandingan beberapa penelitian yang telah dilakukan Karakteristik Ratio jenis kelamin ( : ) Umur ( tahun, ) Umur pertama diagnosa (tahun, ) Lama menderita (tahun, ) Rata-rata kadar HbA1c (%, ) Dosis insulin (unit/kg/hari, ) Indra & UKK Batubara JRL 46:54 15,5±6,2 9,8±4,1 5,6±5,8 1,1±2,3,9±,2 4:5 1,6±4,2 7,5±3,9 3,1±2,9 1,5±2,7 1,±,3 The Hvidoere study group 5,6:49,4 14,5±2,1 6,1±3,5 8,2±1,4 1,±,3 laki-laki 13 (33,3%). Pada pasien DM tipe 1 yang pernah mengalami KAD, 28 pasien (86,7%) mengalami KAD pada saat awal ditegakkan diagnosis dan 4 pasien (13,3%) setelah ditegakkan diagnosis DM tipe 1. Dari data kontrol metabolik yaitu pemeriksaan HbA1c sebagai dasar untuk melihat kepatuhan dalam terapi diabetes 6-12 minggu terakhir, 18 (6,%) pasien melakukan pemeriksaan rutin 3-4 kali pertahun, dan 5 (16,7%) pasien tidak pernah melakukan pemeriksaan HbA1c dalam setahun. Untuk melakukan pemeriksaan gula darah mandiri, semua pasien mempunyai glukometer baik untuk memeriksa glukosa saja atau untuk glukosa dan keton. Pemeriksaan gula darah sewaktu dilakukan 1-2 kali per hari pada 16 (53,3%) pasien dan 6 (2,%) pasien yang tidak pernah melakukan pemeriksaan, tiga di antaranya menggunakan pompa insulin, sedangkan pemeriksaan keton tidak dilakukan rutin, hanya jika ada keluhan. Sebagian besar pasien menggunakan dana pribadi 22 (3,3%) untuk pengobatan, yang ditanggung asuransi kesehatan (ASKES) 2 (6,7%) dan asuransi kesehatan untuk keluarga miskin (ASKESKIN) 6 (2%) pasien. Diskusi Tidak semua pasien yang terdaftar di IKADAR ikut dalam penelitian karena berbagai kesibukan dan keperluan pada saat diadakan penelitian, sehingga tidak dapat dilakukan anamnesis, pemeriksaan laboratorium, maupun pemeriksaan lanjutan. Dari 39 pasien yang ikut dalam penelitian, 25 pasien tidak melakukan pemeriksaan mata sehingga data mengenai retinopati tidak didapatkan. Pada penelitian yang dilakukan oleh Batubara 6 melalui kelompok penelitian behalf of the diabcare Indonesia tahun 21, diperoleh dari tujuh Pusat Diabetes di Indonesia, penelitian Indra, dan UKK dibandingkan dengan kelompok penelitian Hvidoere dari 21 pusat diabetes internasional, didapatkan perbedaan yang besar pada rata-rata HbA1 c (%) yaitu (1,5±2,7) dan (1,1±2,3) dibandingkan (8,2±1,4), tetapi hampir sama dengan penelitian yang dilakukan di Tanzania dengan rata-rata HbA1c (1,65±2,9). Hal ini mungkin disebabkan pada kelompok penelitian Hvidoere sebagian besar dilakukan di negara maju, dan ada dua pusat diabetes dengan kontrol metaboliknya secara signifikan terdapat perbaikan, tetapi perbaikan itu tidak dapat dijelaskan apakah karena cara pemberian terapi insulin atau ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi. Mereka melakukan perubahan secara mendasar yaitu perbaikan dalam perawatan, memperbanyak jumlah perawat khusus diabetes, pertemuan staf tiap minggu, pemberian informasi tertulis kepada pasien dan peningkatan jumlah kunjungan rumah dengan tujuan untuk dapat meningkat pengetahuan mengenai diabetes dan cara pemberian obat yang benar. Penggunaan analog insulin, penggunaan sistem basal bolus dan pemberian insulin dengan cara continuous subcutaneous insulin infusion (CSII) sudah banyak digunakan di negara maju, 7 sedangkan kebutuhan insulin tidak banyak perbedaan pada beberapa penelitian. Dorchy dkk (1997) mendapatkan 1,±,3 IU/kg/hari, Batubara dkk (21) (1,±,3) IU/kg/hari, The Hvidoere study group (27) (1,±,3) IU/kg/hari, dan pada penelitian kami (,9±,2) IU/kg/hari. 6-8 Komplikasi KAD pada penelitian kami terdapat pada 3/24 pasien (12,5%) dengan kontrol metabolik yang tidak baik pada 3 bulan terakhir dengan HbA1c >9,5%. Batubara dkk pada penelitiannya mendapatkan frekuensi KAD 2 per 1 pasien dalam 1 tahun dan lebih tinggi pada pasien perempuan. 6 Angka kejadian KAD cukup bervariasi tergantung geografis. Di Eropa dan Amerika Utara angka kejadian KAD 15%-67% 37 Sari Pediatri, Vol. 1, No. 6, April 29

5 dan lebih tinggi lagi di negara sedang berkembang. 9 Fishbein dan Palumbo mendapatkan KAD 4,6-8 per 1 pasien DM tipe 1 per tahun dan lebih tinggi pada perempuan, sedangkan KAD terjadi pada awal diagnosis pada 2%-3% dari kasus. 3 Di Tanzania kejadian KAD pada awal diagnosis 75%. 1 Pada penelitian kami dapatkan angka kejadian KAD pada awal diagnosis 26 (867%) lebih banyak pada perempuan. Hal ini terjadi sebagai manifestasi awal DM tipe 1 akibat ketidaktahuan gejala awal penyakit diabetes mellitus. 11 Selain itu faktor predisposisi yaitu KAD, infeksi, kurangnya kontrol glukosa, masalah psikologi dan pasien yang tidak ditanggung asuransi /kantor 3 ataupun pemerintah melalui Gakin. Pada penelitian kami 22 (73,3%) pasien KAD menanggung sendiri biaya pengobatan. Komplikasi mikrovaskular dapat terjadi pada anak-anak dan dewasa muda. Hal yang mendukung mudahnya terjadi komplikasi adalah umur muda, masa pubertas, dan kontrol metabolik yang tidak baik dan menyebabkan komplikasi mikrovaskular yaitu retinopati, nefropati, dan neuropati. 2,4,5 Tanda pertama nefropati diabetik adalah mikroalbuminuria. 4,5 Pada penelitian kami didapatkan 3 (8,3%) pasien dengan mikroalbumin positif, salah satu pasien tersebut mempunyai kontrol metabolik yang jelek dengan kadar HbA1c 7,6, menderita DM tipe 1 antara 1 4 tahun, waktu diagnosis pertama ditegak kan sudah berumur >11 tahun dan memasuki masa pubertas. Batubara dkk mendapatkan mikroalbuminuria 5% dari 64 pasien DM tipe 1, sedangkan di Tanzania 29,3%. 6,9 Untuk mengetahui komplikasi nefropati diperlukan lebih banyak subjek dan waktu penelitian yang lebih lama. Mikroalbumin disebabkan gangguan ginjal akibat kepatuhan pemakaian obat yang kurang baik, sehingga perlu evaluasi lebih mendalam mengenai penyebabnya. Hal ini sesuai dengan kepustakaan yang merekomendasikan skrining harus dilakukan bila diagnosis diabetes ditegakkan pada masa prepubertal, 5 tahun setelah kejadian, umur 11 tahun atau masa pubertas. Bila diabetes pada masa pubertas harus dilakukan pemeriksaan 2 tahun setelah ditegakkan diagnosis. 1,12 Dari 14 pasien DM tipe 1 yang melakukan pemeriksaan di Bagian Mata, tidak ditemukan kelainan pada mata. Lievre dkk mendapatkan komplikasi mata pada,7% kasus. 12 Batubara dkk mendapatkan 2 (3%) komplikasi retinopati dari 64 pasien DM tipe 1, sedangkan di Tanzania 22,2%. 6,9 Masa remaja mempunyai risiko tinggi untuk terjadinya gangguan penglihatan (retinopati). Untuk itu perlu dilakukan skrining mulai umur 11 tahun dilakukan setiap 2 tahun atau mulai umur 9 tahun dilakukan tiap 5 tahun. 1 Dalam memantau kadar glukosa secara mandiri diperlukan alat glukometer, untuk memonitor kadar gula darah, mengantisipasi terjadinya hipoglikemi atau hiperglikemi sehingga komplikasi dapat dicegah. Pada penelitian kami, semua pasien mempunyai alat glukometer sehingga kejadian kompliksi KAD rendah jika dibandingkan di Tanzania yang hampir semua pasien tidak mempunyai alat glukometer sehingga angka kejadiaan komplikasi lebih tinggi terutama yang jangka KAD (83,9%) dan hipoglikemi (55,6%). 1 Pada penelitian kami kejadian KAD (76,9%) sebagian besar terjadi pada awal diagnosis dan setelah terdiagnosis semua pasien dianjurkan untuk memiliki alat glukometer. Kejadian KAD setelah terdiagnosis terjadi pada 3 pasien (13,3%). Pada penelitian Batubara dkk didapatkan komplikasi hipoglikemi dalam 12 minggu terakhir pada 5 pasien (8%) dari 64 pasien DM tipe 1. 8 Pemeriksaan glukosa darah yang ideal adalah empat kali sehari, tiga kali sebelum pemberian obat dan satu kali pada malam hari. Pada penelitian kami pemeriksaan glukosa darah secara mandiri lebih dari dua kali per hari hanya ditemukan pada 2 (6,7%) pasien. Batubara dkk pada penelitiannya mendapatkan sebagian besar pemeriksaan gula darah satu kali per minggu. 13 Masalah harga glukostik yang mahal dan mungkin pengetahuan yang kurang tentang pentingnya pemeriksaan glukosa darah secara rutin, dan bukan hanya dilakukan jika akan melakukan pemeriksaan ke dokter atau jika ada keluhan. Kesimpulan Pada dekade ini sudah banyak kemajuan dalam cara pemberian maupun jenis insulin, yang mempunyai tujuan memperbaiki kontrol metabolik, menurunkan risiko komplikasi vaskular tanpa mengorbankan kualitas hidup sehari-hari. Ditunjang dengan usaha untuk meningkatkan pengetahuan mengenai DM tipe 1 baik penyebab, perjalanan penyakit, kapan harus melakukan skrining untuk mencegah komplikasi yang membahayakan kehidupan. Seiring dengan peningkatan kesadaran dan pengertian mengenai Sari Pediatri, Vol. 1, No. 6, April

6 penyakit diabetes maka kemajuan dalam pengobatan tidak menjadi sia-sia dan kualitas hidup menjadi lebih baik lagi. Daftar Pustaka 1. ISPAD. Consensus guidelines for the management of type 1 diabetes mellitus in children and adolescents Norris AW, Wolfsdorf JI. Diabetes mellitus. Dalam: Brook C, Clayton P, Brown R, penyunting Clinical pediatric endocrinology. Edisi 5. Philadelphia: Blackwell publishing; 25. h Fishbein H, Palumbo PJ. Acute metabolic complications in diabetes. Diunduh dari pubs/america/pdf/chapter13.pdf 4. Donaghue KC, Chiarelli F, Trotta D, Allgrove J, Dahl-Jorgensen K. Microvascular and macrovascular complication. Pediatr Diabetes 27;8: Raine JE, Donaldson MC, Gregory JW, Savage MO, Hintz RL. Diabetes mellitus. Dalam: Practical endocrinology and diabetes in children. Edisi 2. Philadelphia: Blackwell publishing; 26. h Batubara JRL. Audit of childhood diabetes control in Indonesia. Paediatr Indones 22;42: De Beaufort CE, Swift PGF, Skinner CT, Aanstoot HJ, Aman J, Cameron F. The Hvidoere study group on childhood diabetes. Continuing stability of cener differences in pediatric diabetes care : Do advances in diabetes treatment improve outcome? Diabetes Care 27;9: DorchyH, Roggemans MP, Willems D. Glycated hemoglobin and related factor in diabetic children and adolescent under 18 years of age: a Belgian experience. Diabetes Care 1997;2: Dunger DB, Sperling MA, Acerini CL. Bohn DJ, Daneman D. Danne TPA. ESPE/LWPES consensus statement on diabetic ketoacidosis in children and adolecents. Arch Dis Child 24;89: Majaliwa ES, Munubhi E, Ramaiya K, Mpembeni R, Sannyiwa A, Mohn A, Chiarrell F. Survey on acute and chronic complications in children and adolescent with type 1 diabetes at Muhimbili national hospital in Dar es Salaam, Tanzania. Diabetes Care 27;3: Batubara JRL, Supartondo. Konsensus nasional pengelolaan diabetes mellitus tipe 1 di Indonesia. Jakarta: IDAI-PERKENI, Lievre M, Marre M, Robert JJ, Charpentier G, Iannascoli F, Passa P. On behalf of the diabetes, therapeutic strategies an complications (DISCO) investigators. Cross sectional study of care, socioeconomic status and complications in young French patients with type 1 diabetes mellitus. Diabetes & Metabolism 25;31: Batubara JRL, Firmansyah A, Mansyoer R, Tridjaja B, Pulungan AB. Clinical and laboratory feature of children with insulin dependent diabetes mellitus of more than two years. Paediatr Indones 21;41: Sari Pediatri, Vol. 1, No. 6, April 29

mengalami obesitas atau kegemukan akibat gaya hidup yang dijalani (Marilyn Johnson, 1998) Berdasarkan data yang dilaporkan oleh WHO, Indonesia

mengalami obesitas atau kegemukan akibat gaya hidup yang dijalani (Marilyn Johnson, 1998) Berdasarkan data yang dilaporkan oleh WHO, Indonesia BAB 1 PENDAHULUAN Tanaman obat yang menjadi warisan budaya dimanfaatkan sebagai obat bahan alam oleh manusia saat ini untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup masyarakat sesuai dengan

Lebih terperinci

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Bab 4 Batuk dan Kesulitan Bernapas Kasus II. Catatan Fasilitator. Rangkuman Kasus:

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Bab 4 Batuk dan Kesulitan Bernapas Kasus II. Catatan Fasilitator. Rangkuman Kasus: Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit Bab 4 Batuk dan Kesulitan Bernapas Kasus II Catatan Fasilitator Rangkuman Kasus: Agus, bayi laki-laki berusia 16 bulan dibawa ke Rumah Sakit Kabupaten dari sebuah

Lebih terperinci

BAB. 3. METODE PENELITIAN. : Cross sectional (belah lintang)

BAB. 3. METODE PENELITIAN. : Cross sectional (belah lintang) BAB. 3. METODE PENELITIAN 3.1 Rancang Bangun Penelitian Jenis Penelitian Desain Penelitian : Observational : Cross sectional (belah lintang) Rancang Bangun Penelitian N K+ K- R+ R- R+ R- N : Penderita

Lebih terperinci

ASUHAN KEPERAWATAN TENTANG DIABETES MELLITUS ( DM ) YAYASAN PENDIDIKAN SETIH SETIO AKADEMI KEPERAWATAN SETIH SETIO MUARA BUNGO

ASUHAN KEPERAWATAN TENTANG DIABETES MELLITUS ( DM ) YAYASAN PENDIDIKAN SETIH SETIO AKADEMI KEPERAWATAN SETIH SETIO MUARA BUNGO ASUHAN KEPERAWATAN TENTANG DIABETES MELLITUS ( DM ) YAYASAN PENDIDIKAN SETIH SETIO AKADEMI KEPERAWATAN SETIH SETIO MUARA BUNGO Kata Pengantar Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat

Lebih terperinci

MANUAL PROSEDUR TATALAKSANA HIPOGIKEMIA & HIPERGLIKEMIA HIPOGLIKEMI & TATALAKSANANYA

MANUAL PROSEDUR TATALAKSANA HIPOGIKEMIA & HIPERGLIKEMIA HIPOGLIKEMI & TATALAKSANANYA MANUAL PROSEDUR TATALAKSANA HIPOGIKEMIA & HIPERGLIKEMIA Tujuan Umum: Mahasiswa mampu melakukan tindakan kolaboratif untuk mengatasi hipoglikemia dan hiperglikemia dengan tepat. Tujuan Khusus: Setelah mengikuti

Lebih terperinci

KONSENSUS NASIONAL PENGELOLAAN DIABETES MELLITUS TIPE 1 UKK ENDOKRINOLOGI ANAK DAN REMAJA, IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA WORLD DIABETES FOUNDATION

KONSENSUS NASIONAL PENGELOLAAN DIABETES MELLITUS TIPE 1 UKK ENDOKRINOLOGI ANAK DAN REMAJA, IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA WORLD DIABETES FOUNDATION KONSENSUS NASIONAL PENGELOLAAN DIABETES MELLITUS TIPE 1 UKK ENDOKRINOLOGI ANAK DAN REMAJA, IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA WORLD DIABETES FOUNDATION WORLD DIABETES FOUNDATION 2009 i Hak Cipta Dilindungi Undang-undang

Lebih terperinci

HUBUNGAN AKTIVITAS FISIK DENGAN KADAR GULA DARAH PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARANGANYAR NASKAH PUBLIKASI

HUBUNGAN AKTIVITAS FISIK DENGAN KADAR GULA DARAH PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARANGANYAR NASKAH PUBLIKASI HUBUNGAN AKTIVITAS FISIK DENGAN KADAR GULA DARAH PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARANGANYAR NASKAH PUBLIKASI Untuk memenuhi sebagian persyaratan Mencapai derajat Sarjana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dari berbagai penyakit yang disebabkan oleh gangguan hormonal, yang

BAB I PENDAHULUAN. Dari berbagai penyakit yang disebabkan oleh gangguan hormonal, yang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dari berbagai penyakit yang disebabkan oleh gangguan hormonal, yang paling sering terjadi adalah diabetes militus (DM). Masyarakat sering menyebut penyakit

Lebih terperinci

baik berada di atas usus kecil (Kshirsagar et al., 2009). Dosis yang bisa digunakan sebagai obat antidiabetes 500 sampai 1000 mg tiga kali sehari.

baik berada di atas usus kecil (Kshirsagar et al., 2009). Dosis yang bisa digunakan sebagai obat antidiabetes 500 sampai 1000 mg tiga kali sehari. BAB I PENDAHULUAN Saat ini banyak sekali penyakit yang muncul di sekitar lingkungan kita terutama pada orang-orang yang kurang menjaga pola makan mereka, salah satu contohnya penyakit kencing manis atau

Lebih terperinci

IPAP PTSD Tambahan. Pilihan penatalaksanaan: dengan obat, psikososial atau kedua-duanya.

IPAP PTSD Tambahan. Pilihan penatalaksanaan: dengan obat, psikososial atau kedua-duanya. IPAP PTSD Tambahan Prinsip Umum I. Evaluasi Awal dan berkala A. PTSD merupakan gejala umum dan sering kali tidak terdiagnosis. Bukti adanya prevalensi paparan trauma yang tinggi, (termasuk kekerasan dalam

Lebih terperinci

PANDUAN PELAKSANAAN SERTIFIKASI KOMPETENSI PROFESI APOTEKER ( SKPA )

PANDUAN PELAKSANAAN SERTIFIKASI KOMPETENSI PROFESI APOTEKER ( SKPA ) PANDUAN PELAKSANAAN SERTIFIKASI KOMPETENSI PROFESI APOTEKER ( SKPA ) PENGURUS PUSAT IKATAN APOTEKER INDONESIA JAKARTA 2014 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR I. PENDAHULUAN II. MAKSUD DAN TUJUAN III. RUANG LINGKUP

Lebih terperinci

LAMPIRAN 2 SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN UNTUK IKUT SERTA DALAM PENELITIAN (INFORMED CONSENT)

LAMPIRAN 2 SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN UNTUK IKUT SERTA DALAM PENELITIAN (INFORMED CONSENT) LAMPIRAN 1 50 LAMPIRAN 2 SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN UNTUK IKUT SERTA DALAM PENELITIAN (INFORMED CONSENT) Yang bertanda tangan dibawah ini: N a m a : U s i a : Alamat : Pekerjaan : No. KTP/lainnya: Dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. orang tua yang sudah memiliki anak. Enuresis telah menjadi salah satu

BAB I PENDAHULUAN. orang tua yang sudah memiliki anak. Enuresis telah menjadi salah satu 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Enuresis atau yang lebih kita kenal sehari-hari dengan istilah mengompol, sudah tidak terdengar asing bagi kita khususnya di kalangan orang tua yang sudah memiliki

Lebih terperinci

Waspada Keracunan Phenylpropanolamin (PPA)

Waspada Keracunan Phenylpropanolamin (PPA) Waspada Keracunan Phenylpropanolamin (PPA) Penyakit flu umumnya dapat sembuh dengan sendirinya jika kita cukup istirahat, makan teratur, dan banyak mengkonsumsi sayur serta buah-buahan. Namun demikian,

Lebih terperinci

Tata Laksana Diabetes Melitus saat Puasa Ramadhan

Tata Laksana Diabetes Melitus saat Puasa Ramadhan CONTINUING MEDICAL EDUCATION Akreditasi IDI 3 SKP Tata Laksana Diabetes Melitus saat Puasa Ramadhan M. Adi Firmansyah PPDS Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia / RS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Aktivitas fisik yang teratur mempunyai banyak manfaat kesehatan dan merupakan salah satu bagian penting dari gaya hidup sehat. Karakteristik individu, lingkungan sosial,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan ekstrauterin. Secara normal, neonatus aterm akan mengalami

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan ekstrauterin. Secara normal, neonatus aterm akan mengalami BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penurunan berat badan neonatus pada hari-hari pertama sering menjadi kekhawatiran tersendiri bagi ibu. Padahal, hal ini merupakan suatu proses penyesuaian fisiologis

Lebih terperinci

BAB 4 METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini adalah Bagian Ilmu Kesehatan Anak, khususnya

BAB 4 METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini adalah Bagian Ilmu Kesehatan Anak, khususnya BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1. Ruang lingkup penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah Bagian Ilmu Kesehatan Anak, khususnya Perinatologi dan Neurologi. 4.. Waktu dan tempat penelitian Penelitian ini

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mencapai 1,2 milyar. Pada tahun 2000 diperkirakan jumlah lanjut usia

BAB I PENDAHULUAN. mencapai 1,2 milyar. Pada tahun 2000 diperkirakan jumlah lanjut usia 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Saat ini, di seluruh dunia jumlah orang lanjut usia diperkirakan ada 500 juta dengan usia rata-rata 60 tahun dan diperkirakan pada tahun 2025 akan mencapai 1,2 milyar.

Lebih terperinci

Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) dan Merck peduli kesehatan saraf

Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) dan Merck peduli kesehatan saraf Siaran Pers Kontak Anda: Niken Suryo Sofyan Telepon +62 21 2856 5600 29 Mei 2012 Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) dan Merck peduli kesehatan saraf Neuropati mengancam 1 dari 4 orang

Lebih terperinci

ABSTRAK. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Insidensi Nyeri Pungggung Bawah. Januari-Desember 2009

ABSTRAK. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Insidensi Nyeri Pungggung Bawah. Januari-Desember 2009 ABSTRAK Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Insidensi Nyeri Pungggung Bawah (Low Back Pain) pada Pasien Rumah Sakit Immanuel Bandung Periode Januari-Desember 2009 Santi Mariana Purnama, 2010, Pembimbing I

Lebih terperinci

CARA YANG TEPAT DETEKSI DINI KANKER PAYUDARA

CARA YANG TEPAT DETEKSI DINI KANKER PAYUDARA CARA YANG TEPAT DETEKSI DINI KANKER PAYUDARA Oleh : Debby dan Arief Dalam tubuh terdapat berjuta-juta sel. Salah satunya, sel abnormal atau sel metaplasia, yaitu sel yang berubah, tetapi masih dalam batas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kondisi hiperglikemia pada saat masuk ke rumah. sakit sering dijumpai pada pasien dengan infark miokard

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kondisi hiperglikemia pada saat masuk ke rumah. sakit sering dijumpai pada pasien dengan infark miokard BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kondisi hiperglikemia pada saat masuk ke rumah sakit sering dijumpai pada pasien dengan infark miokard akut (IMA) dan merupakan salah satu faktor risiko kematian dan

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR RISIKO ULKUS DIABETIKA PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS (Studi Kasus di RSUD Dr. Moewardi Surakarta)

FAKTOR-FAKTOR RISIKO ULKUS DIABETIKA PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS (Studi Kasus di RSUD Dr. Moewardi Surakarta) FAKTOR-FAKTOR RISIKO ULKUS DIABETIKA PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS (Studi Kasus di RSUD Dr. Moewardi Surakarta) Tesis Untuk memenuhi sebagian persyaratan Mencapai derajat sarjana S-2 Magister Epidemiologi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. upaya kesehatan yang bersifat penyembuhan (kuratif) dan pemulihan

BAB I PENDAHULUAN. upaya kesehatan yang bersifat penyembuhan (kuratif) dan pemulihan 7 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Rumah sakit merupakan suatu institusi di mana segenap lapisan masyarakat bisa datang untuk memperoleh upaya penyembuhan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif). Upaya

Lebih terperinci

HUBUNGAN OBESITAS, AKTIVITAS FISIK, DAN KEBIASAAN MEROKOK DENGAN PENYAKIT DIABETES MELITUS TIPE 2 PADA PASIEN RAWAT JALAN RUMAH SAKIT DR

HUBUNGAN OBESITAS, AKTIVITAS FISIK, DAN KEBIASAAN MEROKOK DENGAN PENYAKIT DIABETES MELITUS TIPE 2 PADA PASIEN RAWAT JALAN RUMAH SAKIT DR HUBUNGAN OBESITAS, AKTIVITAS FISIK, DAN KEBIASAAN MEROKOK DENGAN PENYAKIT DIABETES MELITUS TIPE PADA PASIEN RAWAT JALAN RUMAH SAKIT DR. WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR Anugrah 1, Suriyanti Hasbullah, Suarnianti

Lebih terperinci

KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA RI SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN STANDAR PELAYANAN KESEHATAN DASAR DI LINGKUNGAN SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN RI

KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA RI SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN STANDAR PELAYANAN KESEHATAN DASAR DI LINGKUNGAN SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN RI KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA RI SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN STANDAR PELAYANAN KESEHATAN DASAR DI LINGKUNGAN SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN RI NOMOR 9/SP/SETWAPRES/D-5/TUPEG/11/2011 BAGIAN KESATU PENDAHULUAN

Lebih terperinci

penglihatan (Sutedjo, 2010). Penyakit ini juga dapat memberikan komplikasi yang mematikan, seperti serangan jantung, stroke, kegagalan ginjal,

penglihatan (Sutedjo, 2010). Penyakit ini juga dapat memberikan komplikasi yang mematikan, seperti serangan jantung, stroke, kegagalan ginjal, BAB 1 PENDAHULUAN Diabetes mellitus (DM) adalah penyakit yang dapat terjadi pada semua kelompok umur dan populasi, pada bangsa manapun dan usia berapapun. Kejadian DM berkaitan erat dengan faktor keturunan,

Lebih terperinci

ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA PENGOBATAN DEMAM TIFOID ANAK MENGGUNAKAN KLORAMFENIKOL DAN SEFTRIAKSON DI RUMAH SAKIT FATMAWATI JAKARTA TAHUN 2001 2002

ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA PENGOBATAN DEMAM TIFOID ANAK MENGGUNAKAN KLORAMFENIKOL DAN SEFTRIAKSON DI RUMAH SAKIT FATMAWATI JAKARTA TAHUN 2001 2002 ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA PENGOBATAN DEMAM TIFOID ANAK MENGGUNAKAN KLORAMFENIKOL DAN SEFTRIAKSON DI RUMAH SAKIT FATMAWATI JAKARTA TAHUN 2001 2002 Lili Musnelina 1, A Fuad Afdhal 1, Ascobat Gani 2, Pratiwi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Republik Indonesia Nomor 269/MENKES/PER/III/2008 Pasal 1 ayat 3 adalah

BAB I PENDAHULUAN. Republik Indonesia Nomor 269/MENKES/PER/III/2008 Pasal 1 ayat 3 adalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sarana pelayanan kesehatan menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 269/MENKES/PER/III/2008 Pasal 1 ayat 3 adalah tempat penyelenggaraan upaya pelayanan

Lebih terperinci

Kuning pada Bayi Baru Lahir: Kapan Harus ke Dokter?

Kuning pada Bayi Baru Lahir: Kapan Harus ke Dokter? Kuning pada Bayi Baru Lahir: Kapan Harus ke Dokter? Prof. Dr. H. Guslihan Dasa Tjipta, SpA(K) Divisi Perinatologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK USU 1 Kuning/jaundice pada bayi baru lahir atau disebut

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL

BERITA DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL BERITA DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL ( Berita Resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul ) Nomor : 15 Tahun : 2010 Seri : E PERATURAN BUPATI GUNUNGKIDUL NOMOR 23 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR

Lebih terperinci

PERAWATAN PALIATIF PASIEN HIV / AIDS

PERAWATAN PALIATIF PASIEN HIV / AIDS PERAWATAN PALIATIF PASIEN HIV / AIDS Agung Nugroho Divisi Peny. Tropik & Infeksi Bag. Peny. Dalam FK-UNSRAT Manado PENDAHULUAN Jumlah pasien HIV/AIDS di Sulut semakin meningkat. Sebagian besar pasien diberobat

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kreatinin adalah produk protein otot yang merupakan hasil akhir

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kreatinin adalah produk protein otot yang merupakan hasil akhir BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kreatinin Kreatinin adalah produk protein otot yang merupakan hasil akhir metabolisme otot yang dilepaskan dari otot dengan kecepatan yang hampir konstan dan diekskresi dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang khusus agar ibu dan janin dalam keadaan sehat. Karena itu kehamilan yang

BAB I PENDAHULUAN. yang khusus agar ibu dan janin dalam keadaan sehat. Karena itu kehamilan yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kehamilan merupakan proses reproduksi yang normal, tetapi perlu perawatan diri yang khusus agar ibu dan janin dalam keadaan sehat. Karena itu kehamilan yang normal

Lebih terperinci

Integrated Care for Better Health Integrasi Layanan untuk Kesehatan Yang Lebih Baik

Integrated Care for Better Health Integrasi Layanan untuk Kesehatan Yang Lebih Baik Integrated Care for Better Health Integrasi Layanan untuk Kesehatan Yang Lebih Baik An ounce of prevention is worth a pound of cure Pencegahan kecil mempunyai nilai yang sama dengan pengobatan yang banyak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. World Health Organitation (WHO) mendefinisikan kesehatan sebagai

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. World Health Organitation (WHO) mendefinisikan kesehatan sebagai BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang World Health Organitation (WHO) mendefinisikan kesehatan sebagai keadaan sehat fisik, mental, dan sosial, bukan semata-mata keadaan tanpa penyakit atau kelemahan. Definisi

Lebih terperinci

ILUSTRASI PELAYANAN HEMODIALISIS DENGAN FASILITAS JKN AFIATIN

ILUSTRASI PELAYANAN HEMODIALISIS DENGAN FASILITAS JKN AFIATIN ILUSTRASI PELAYANAN HEMODIALISIS DENGAN FASILITAS JKN AFIATIN PELAYANAN TERAPI PENGGANTI GINJAL PADA ERA JKN JKN menanggung biaya pelayanan : Hemodialisis CAPD Transplantasi Ginjal HEMODIALISIS Dapat dilaksanakan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Penduduk Lanjut Usia merupakan bagian dari anggota keluarga dan. masyarakat yang semakin bertambah jumlahnya sejalan dengan

BAB 1 PENDAHULUAN. Penduduk Lanjut Usia merupakan bagian dari anggota keluarga dan. masyarakat yang semakin bertambah jumlahnya sejalan dengan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penduduk Lanjut Usia merupakan bagian dari anggota keluarga dan anggota masyarakat yang semakin bertambah jumlahnya sejalan dengan peningkatan usia harapan

Lebih terperinci

Mulyadi *, Mudatsir ** *** ABSTRACT

Mulyadi *, Mudatsir ** *** ABSTRACT Hubungan Tingkat Kepositivan Pemeriksaan Basil Tahan Asam (BTA) dengan Gambaran Luas Lesi Radiologi Toraks pada Penderita Tuberkulosis Paru yang Dirawat Di SMF Pulmonologi RSUDZA Banda Aceh Mulyadi *,

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK IBU BALITA KAITANNYA DENGAN PELAKSANAAN STIMULASI, DETEKSI DAN INTERVENSI DINI TUMBUH KEMBANG ANAK BALITA

KARAKTERISTIK IBU BALITA KAITANNYA DENGAN PELAKSANAAN STIMULASI, DETEKSI DAN INTERVENSI DINI TUMBUH KEMBANG ANAK BALITA KARAKTERISTIK IBU BALITA KAITANNYA DENGAN PELAKSANAAN STIMULASI, DETEKSI DAN INTERVENSI DINI TUMBUH KEMBANG ANAK BALITA Siti Rahayu, Ilham Setyo Budi, Satino Kementerian Kesehatan Politeknik Kesehatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk. negara-negara dunia diprediksikan akan mengalami peningkatan.

BAB I PENDAHULUAN. dengan menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk. negara-negara dunia diprediksikan akan mengalami peningkatan. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Lanjut usia (lansia) merupakan tahap akhir dari kehidupan dan merupakan proses alami yang tidak dapat dihindari oleh setiap individu. Proses alami ditandai

Lebih terperinci

TFC ( Therapeutic Feeding Centre ) / PPG ( Pusat Pemulihan Gizi )

TFC ( Therapeutic Feeding Centre ) / PPG ( Pusat Pemulihan Gizi ) TFC ( Therapeutic Feeding Centre ) / PPG ( Pusat Pemulihan Gizi ) Balita yang sehat dan cerdas adalah idaman bagi setiap orang. Namun apa yang terjadi jika balita menderita gizi buruk?. Di samping dampak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1

BAB I PENDAHULUAN I.1 BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Kehamilan dan persalinan pada primigravida dan atau wanita dengan umur 35 tahun atau lebih, diberi prioritas bersalin di rumah sakit dan diperlakukan pelayanan sama

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada era globalisasi ini masyarakat cenderung menuntut pelayanan kesehatan yang bermutu. Pengukur mutu sebuah pelayanan dapat dilihat secara subjektif dan objektif.

Lebih terperinci

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG REPUBLIK INDONESIA I PERATURAN MET,ITERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1438/MENKES IPENIXIaO 1 O TENTANG STANDAR PEIAYANAN KEDOKTERAN DENGAN RAHMATUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2013 TENTANG

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2013 TENTANG PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2013 TENTANG PENCANTUMAN INFORMASI KANDUNGAN GULA, GARAM, DAN LEMAK SERTA PESAN KESEHATAN UNTUK PANGAN OLAHAN DAN PANGAN SIAP SAJI DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

panduan praktis Administrasi Klaim Fasilitas Kesehatan BPJS Kesehatan

panduan praktis Administrasi Klaim Fasilitas Kesehatan BPJS Kesehatan panduan praktis Administrasi Klaim Fasilitas Kesehatan BPJS Kesehatan 14 02 panduan praktis administrasi klaim faskes BPJS Kesehatan Kata Pengantar Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. anak-anak dan dewasa muda. Penyakit ini mencapai lebih dari 13 juta kematian per

BAB I PENDAHULUAN. anak-anak dan dewasa muda. Penyakit ini mencapai lebih dari 13 juta kematian per 11 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemakaian antibiotik pada saat ini sangat tinggi, hal ini disebabkan penyakit infeksi masih mendominasi. Penyakit infeksi sekarang pembunuh terbesar di dunia anak-anak

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

Jika ciprofloxacin tidak sesuai, Anda akan harus minum antibiotik lain untuk menghapuskan kuman meningokokus.

Jika ciprofloxacin tidak sesuai, Anda akan harus minum antibiotik lain untuk menghapuskan kuman meningokokus. CIPROFLOXACIN: suatu antibiotik bagi kontak dari penderita infeksi meningokokus Ciprofloxacin merupakan suatu antibiotik yang adakalanya diberikan kepada orang yang berada dalam kontak dekat dengan seseorang

Lebih terperinci

CAIRAN DIALISAT PERITONEAL EXTRANEAL Dengan Icodextrin 7,5% Hanya untuk pemberian intraperitoneal

CAIRAN DIALISAT PERITONEAL EXTRANEAL Dengan Icodextrin 7,5% Hanya untuk pemberian intraperitoneal CAIRAN DIALISAT PERITONEAL EXTRANEAL Dengan Icodextrin 7,5% Hanya untuk pemberian intraperitoneal SELEBARAN BAGI PASIEN Kepada pasien Yth, Mohon dibaca selebaran ini dengan seksama karena berisi informasi

Lebih terperinci

Diah Eko Martini ...ABSTRAK...

Diah Eko Martini ...ABSTRAK... PERBEDAAN LAMA PELEPASAN TALI PUSAT BAYI BARU LAHIR YANG MENDAPATKAN PERAWATAN MENGGUNAKAN KASSA KERING DAN KOMPRES ALKOHOL DI DESA PLOSOWAHYU KABUPATEN LAMONGAN Diah Eko Martini.......ABSTRAK....... Salah

Lebih terperinci

RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA

RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Aktivitas fisik merupakan pergerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot rangka

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Aktivitas fisik merupakan pergerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot rangka 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Aktivitas fisik merupakan pergerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot rangka yang memerlukan pengeluaran energi (WHO, 2011). Menurut Departemen Kesehatan RI (2007),

Lebih terperinci

Perhatian bagi Dokter di rumah sakit Hati-hati terhadap kesalahan pembacaan hasil pemeriksaan gula darah

Perhatian bagi Dokter di rumah sakit Hati-hati terhadap kesalahan pembacaan hasil pemeriksaan gula darah Agustus 2010 Perhatian bagi Dokter di rumah sakit Hati-hati terhadap kesalahan pembacaan hasil pemeriksaan gula darah Yth Dokter di rumah sakit, Baxter Healthcare ingin menyampaikan informasi penting tentang

Lebih terperinci

PENGARUH AKTIFITAS FISIK TERHADAP KEJADIAN OBESITAS PADA MURID

PENGARUH AKTIFITAS FISIK TERHADAP KEJADIAN OBESITAS PADA MURID ABSTRAK PENGARUH AKTIFITAS FISIK TERHADAP KEJADIAN OBESITAS PADA MURID Ekowati Retnaningsih dan Rini Oktariza Angka kejadian berat badan lebih pada anak usia sekolah di Indonesia mencapai 15,9%. Prevalensi

Lebih terperinci

pengumpulan data penelitian Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) Delayota Experiment Team (D Expert) 2012

pengumpulan data penelitian Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) Delayota Experiment Team (D Expert) 2012 pengumpulan data penelitian Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) Delayota Experiment Team (D Expert) 2012 Variabel: suatu objek yang dapat memiliki lebih dari satu nilai. Contoh variabel: Jenis kelamin: ada dua

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pelayanan jasa kesehatan. Keberhasilan sebuah rumah sakit dinilai dari mutu

BAB I PENDAHULUAN. pelayanan jasa kesehatan. Keberhasilan sebuah rumah sakit dinilai dari mutu BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Rumah sakit merupakan salah satu unit usaha yang memberikan pelayanan jasa kesehatan. Keberhasilan sebuah rumah sakit dinilai dari mutu pelayanan kesehatan yang diberikan,

Lebih terperinci

100% 100% (2/2) 100% 100% (4142) (4162) (269) (307) (307) (269) (278) (263) (265) (264) 0% (638) 12 mnt. (578) 10 mnt

100% 100% (2/2) 100% 100% (4142) (4162) (269) (307) (307) (269) (278) (263) (265) (264) 0% (638) 12 mnt. (578) 10 mnt Press Release Implementasi Standar Akreditasi Untuk Meningkatkan Mutu Pelayanan & Keselamatan Pasien RSUD dr. R. Soetrasno Kabupaten Rembang RSUD dr. R. Soetrasno Kabupaten Rembang, merupakan rumah sakit

Lebih terperinci

TINJAUAN TATA LAKSANA PELAYANAN KESEHATAN MELALUI SISTEM ASURANSI KESEHATAN DI RSUD PROF. DR. WZ. JOHANNES KUPANG TAHUN 2009

TINJAUAN TATA LAKSANA PELAYANAN KESEHATAN MELALUI SISTEM ASURANSI KESEHATAN DI RSUD PROF. DR. WZ. JOHANNES KUPANG TAHUN 2009 TINJAUAN TATA LAKSANA PELAYANAN KESEHATAN MELALUI SISTEM ASURANSI KESEHATAN DI RSUD PROF. DR. WZ. JOHANNES KUPANG TAHUN 2009 Felix Kasim, Aurelia Maria Liliweri Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas

Lebih terperinci

KAJIAN PELAKSANAAN REKAM MEDIS GIGI RAWAT JALAN DI PUSKESMAS KOTA PONTIANAK

KAJIAN PELAKSANAAN REKAM MEDIS GIGI RAWAT JALAN DI PUSKESMAS KOTA PONTIANAK KAJIAN PELAKSANAAN REKAM MEDIS GIGI RAWAT JALAN DI PUSKESMAS KOTA PONTIANAK Sri Rezki Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Pontianak ABSTRAK Latar Belakang: Rekam medis merupakan berkas yang berisi catatan

Lebih terperinci

Body of Knowledge dan Standar Kompetensi Dokter Manajemen Medik

Body of Knowledge dan Standar Kompetensi Dokter Manajemen Medik Body of Knowledge dan Standar Kompetensi Dokter Manajemen Medik PERSATUAN DOKTER MANAJEMEN MEDIK INDONESIA (PDMMI) June 29, 2012 Authored by: PDMMI Body of Knowledge dan Standar Kompetensi Dokter Manajemen

Lebih terperinci

SITUASI UPAYA KESEHATAN JAKARTA PUSAT

SITUASI UPAYA KESEHATAN JAKARTA PUSAT SITUASI UPAYA KESEHATAN JAKARTA PUSAT A.UPAYA KESEHATAN IBU DAN ANAK Salah satu komponen penting dalam pelayanan kesehatan kepada masyarakat adalah pelayanan kesehatan dasar. UU no.3 tahun 2009 tentang

Lebih terperinci

KEP.333/MEN/1989 KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP.333/MEN/1989 T E N T A N G

KEP.333/MEN/1989 KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP.333/MEN/1989 T E N T A N G KEP.333/MEN/1989 KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP.333/MEN/1989 T E N T A N G DIAGNOSIS DAN PELAPORAN PENYAKIT AKIBAT KERJA MENTERI TENAGA KERJA Menimbang: a. bahwa terhadap

Lebih terperinci

Perbedaan Kadar Liver Fatty Acid Binding Protein (L-FABP) Urine Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 dengan Normoalbuminuria dan Mikroalbuminuria

Perbedaan Kadar Liver Fatty Acid Binding Protein (L-FABP) Urine Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 dengan Normoalbuminuria dan Mikroalbuminuria Perbedaan Kadar Liver Fatty Acid Binding Protein (L-FABP) Urine Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 dengan Normoalbuminuria dan Kristina Wiharjo, Noormartany, Hikmat Permana, Sylvia Rachmayati Departemen

Lebih terperinci

Rekapitulasi Kematian Ibu dan Bayi di Kota YK Tahun 2013. Dinkes Kota YK

Rekapitulasi Kematian Ibu dan Bayi di Kota YK Tahun 2013. Dinkes Kota YK Rekapitulasi Kematian Ibu dan Bayi di Kota YK Tahun 2013 Dinkes Kota YK Jumlah Kematian KELAHIRAN DAN KEMATIAN JAN-DES L P Total 1 Jumlah Bayi Lahir Hidup 2178 2228 4406 2 Jumlah Bayi Lahir Mati 16 15

Lebih terperinci

Universitas Negeri Malang E-mail: livia.mat09@gmail.com

Universitas Negeri Malang E-mail: livia.mat09@gmail.com 1 APLIKASI ANALISIS REGRESI KOMPONEN UTAMA TERHADAP FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYAKIT DIABETES MELLITUS (Studi Kasus di Puskesmas Tempeh Kab. Lumajang) Universitas Negeri Malang E-mail: livia.mat09@gmail.com

Lebih terperinci

Anna Ngatmira,SPd,MKM ( Jogjakarta, 25 November 2014)

Anna Ngatmira,SPd,MKM ( Jogjakarta, 25 November 2014) Anna Ngatmira,SPd,MKM ( Jogjakarta, 25 November 2014) Joint Commission International (JCI) International Patient Safety Goals (IPSG) Care of Patients ( COP ) Prevention & Control of Infections (PCI) Facility

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. wanita. Pada proses ini terjadi serangkaian perubahan besar yang terjadi

BAB I PENDAHULUAN. wanita. Pada proses ini terjadi serangkaian perubahan besar yang terjadi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Persalinan merupakan suatu proses fisiologis yang dialami oleh wanita. Pada proses ini terjadi serangkaian perubahan besar yang terjadi pada ibu untuk dapat melahirkan

Lebih terperinci

PERAN PEKERJA SOSIAL DALAM UPAYA PELAYANAN KESEHATAN JIWA PARIPURNA

PERAN PEKERJA SOSIAL DALAM UPAYA PELAYANAN KESEHATAN JIWA PARIPURNA PERAN PEKERJA SOSIAL DALAM UPAYA PELAYANAN KESEHATAN JIWA PARIPURNA Dr. Suryo Dharmono SpKJ Divisi Psikiatri Komunitas Departemen Psikiatri FKUI/RSCM UPAYA PELAYANAN KESEHATAN JIWA DI INDONESIA Dikenal

Lebih terperinci

Program Rujuk Balik Bagi Peserta JKN

Program Rujuk Balik Bagi Peserta JKN panduan praktis Program Rujuk Balik Bagi Peserta JKN 07 02 panduan praktis Program Rujuk Balik Kata Pengantar Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN)

Lebih terperinci

Dua minggu setelah operasi Jangan menggosok mata Pakai kacamata gelap (sunglasses) Lindungi mata dari debu dan kotoran

Dua minggu setelah operasi Jangan menggosok mata Pakai kacamata gelap (sunglasses) Lindungi mata dari debu dan kotoran PETUNJUK UMUM PASKA PROSEDUR LASIK / ilasik / LASEK / EPI-LASIK Setelah menjalani operasi LASIK/iLASIK/LASEK/EPI-LASIK, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Petunjuk-petunjuk di bawah ini hendaknya

Lebih terperinci

PANDUAN UNTUK MANAJEMEN GLUKOSA PASCA-MAKAN

PANDUAN UNTUK MANAJEMEN GLUKOSA PASCA-MAKAN PANDUAN UNTUK MANAJEMEN GLUKOSA PASCA-MAKAN Situs Web Dokumen ini tersedia di www.idf.org Korespondensi dan literatur terkait dari IDF Korespondensi ke: Professor Stephen Colagiuri, Boden Institute of

Lebih terperinci

ABSTRAK ASPEK KLINIS PEMERIKSAAN PERSENTASE EOSINOFIL, HITUNG EOSINOFIL TOTAL, DAN IMUNOGLOBULIN E SEBAGAI PENUNJANG DIAGNOSIS ASMA BRONKIAL

ABSTRAK ASPEK KLINIS PEMERIKSAAN PERSENTASE EOSINOFIL, HITUNG EOSINOFIL TOTAL, DAN IMUNOGLOBULIN E SEBAGAI PENUNJANG DIAGNOSIS ASMA BRONKIAL ABSTRAK ASPEK KLINIS PEMERIKSAAN PERSENTASE EOSINOFIL, HITUNG EOSINOFIL TOTAL, DAN IMUNOGLOBULIN E SEBAGAI PENUNJANG DIAGNOSIS ASMA BRONKIAL Samuel, 2007 Pembimbing I : J. Teguh Widjaja, dr.,sp.p. Pembimbing

Lebih terperinci

Jumlah Penderita Baru Di Asean Tahun 2012

Jumlah Penderita Baru Di Asean Tahun 2012 PERINGATAN HARI KUSTA SEDUNIA TAHUN 214 Tema : Galang kekuatan, hapus stigma dan diskriminasi terhadap orang yang pernah mengalami kusta 1. Penyakit kusta merupakan penyakit kronis disebabkan oleh Micobacterium

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.25, 2008 DEPARTEMEN PERTAHANAN. RUMAH SAKIT dr Suyoto. Organisasi. Tata Kerja.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.25, 2008 DEPARTEMEN PERTAHANAN. RUMAH SAKIT dr Suyoto. Organisasi. Tata Kerja. BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.25, 2008 DEPARTEMEN PERTAHANAN. RUMAH SAKIT dr Suyoto. Organisasi. Tata Kerja. PERATURAN MENTERI PERTAHANAN NOMOR: 12 TAHUN 2008 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. proliferasi dan diferensiasi keratinosit yang abnormal, dengan gambaran klinis

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. proliferasi dan diferensiasi keratinosit yang abnormal, dengan gambaran klinis 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Psoriasis merupakan penyakit inflamasi kronis dengan karakteristik proliferasi dan diferensiasi keratinosit yang abnormal, dengan gambaran klinis berupa

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. beberapa zat gizi tidak terpenuhi atau zat-zat gizi tersebut hilang dengan

BAB 1 PENDAHULUAN. beberapa zat gizi tidak terpenuhi atau zat-zat gizi tersebut hilang dengan BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keadaan gizi kurang dapat ditemukan pada setiap kelompok masyarakat. Pada hakekatnya keadaan gizi kurang dapat dilihat sebagai suatu proses kurang asupan makanan ketika

Lebih terperinci

Jurnal Kesehatan Kartika 27

Jurnal Kesehatan Kartika 27 HUBUNGAN MOTIVASI KERJA BIDAN DALAM PELAYANAN ANTENATAL DENGAN KEPATUHAN PENDOKUMENTASIAN KARTU IBU HAMIL DI PUSKESMAS UPTD KABUPATEN BANDUNG TAHUN 2008 Oleh : Yulia Sari dan Rusnadiah STIKES A. Yani Cimahi

Lebih terperinci

HUBUNGAN SIKAP KERJA DUDUK DENGAN KELUHAN NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA PEKERJA RENTAL KOMPUTER DI PABELAN KARTASURA

HUBUNGAN SIKAP KERJA DUDUK DENGAN KELUHAN NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA PEKERJA RENTAL KOMPUTER DI PABELAN KARTASURA HUBUNGAN SIKAP KERJA DUDUK DENGAN KELUHAN NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA PEKERJA RENTAL KOMPUTER DI PABELAN KARTASURA SKRIPSI DISUSUN UNTUK MEMENUHI SEBAGIAN PERSYARATAN DALAM MENDAPATKAN GELAR SARJANA SAINS

Lebih terperinci

LATIHAN, NUTRISI DAN TULANG SEHAT

LATIHAN, NUTRISI DAN TULANG SEHAT LATIHAN, NUTRISI DAN TULANG SEHAT Tulang yang kuat benar-benar tidak terpisahkan dalam keberhasilan Anda sebagai seorang atlet. Struktur kerangka Anda memberikan kekuatan dan kekakuan yang memungkinkan

Lebih terperinci

RUMAH SAKIT KHUSUS DUREN SAWIT PROVINSI DKI JAKARTA BIDANG KEPERAWATAN

RUMAH SAKIT KHUSUS DUREN SAWIT PROVINSI DKI JAKARTA BIDANG KEPERAWATAN PROVINSI DKI JAKARTA BIDANG KEPERAWATAN VISI VISI DAN MISI BIDANG KEPERAWATAN Memberikan pelayanan asuhan keperawatan yang profesional dengan pendekatan biopisiko-sosio-spritual (holistik dan komprehensif)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Rhinitis berasal dari dua kata bahasa Greek rhin rhino yang berarti hidung dan itis yang berarti radang. Demikian rhinitis berarti radang hidung atau tepatnya radang

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 97 TAHUN 2014 TENTANG

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 97 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 97 TAHUN 2014 TENTANG PELAYANAN KESEHATAN MASA SEBELUM HAMIL, MASA HAMIL, PERSALINAN, DAN MASA SESUDAH MELAHIRKAN, PENYELENGGARAAN PELAYANAN KONTRASEPSI,

Lebih terperinci

Bab 11 Bagaimana menjelaskan kepada dokter saat berobat

Bab 11 Bagaimana menjelaskan kepada dokter saat berobat Bab 11 Bagaimana menjelaskan kepada dokter saat berobat Bab 11 Bagaimana menjelaskan kepada dokter saat berobat Waktu memeriksa ke dokter menerangkan secara jelas beberapa hal dibawah ini 1.Menjelaskan

Lebih terperinci

HUBUNGAN DIMENSI MUTU PELAYANAN KESEHATAN DENGAN KUNJUNGAN ULANG PASIEN DIABETES MELLITUS DI INSTALASI RAWAT JALAN RUMAH SAKIT KARYA ASIH PALEMBANG

HUBUNGAN DIMENSI MUTU PELAYANAN KESEHATAN DENGAN KUNJUNGAN ULANG PASIEN DIABETES MELLITUS DI INSTALASI RAWAT JALAN RUMAH SAKIT KARYA ASIH PALEMBANG HUBUNGAN DIMENSI MUTU PELAYANAN KESEHATAN DENGAN KUNJUNGAN ULANG PASIEN DIABETES MELLITUS DI INSTALASI RAWAT JALAN RUMAH SAKIT KARYA ASIH PALEMBANG MANUSKRIF SKRIPSI OLEH RESTI DWIJAYATI NIM 10101001046

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dari tahun ke tahun.sementara target Rencana Pembangunan Jangka Menengah

BAB I PENDAHULUAN. dari tahun ke tahun.sementara target Rencana Pembangunan Jangka Menengah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berdasarkan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007 Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia menempati urutan tertinggi di ASEAN yaitu 228/100.000 kelahiran

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. sistem informasi terdiri dari input, proses dan output seperti yang terlihat pada

BAB II LANDASAN TEORI. sistem informasi terdiri dari input, proses dan output seperti yang terlihat pada BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Informasi Sebelum merancang sistem perlu dikaji konsep dan definisi dari sistem. Pengertian sistem tergantung pada latar belakang cara pandang orang yang mencoba mendefinisikannya.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kardiovaskuler secara cepat di negara maju dan negara berkembang.

BAB I PENDAHULUAN. kardiovaskuler secara cepat di negara maju dan negara berkembang. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini perubahan pola hidup yang terjadi meningkatkan prevalensi penyakit jantung dan berperan besar pada mortalitas serta morbiditas. Penyakit jantung diperkirakan

Lebih terperinci

Rauf Harmiady. Poltekkes Kemenkes Makassar ABSTRAK

Rauf Harmiady. Poltekkes Kemenkes Makassar ABSTRAK FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PELAKSANAAN PRINSIP 6 BENAR DALAM PEMBERIAN OBAT OLEH PERAWAT PELAKSANA DI RUANG INTERNA DAN BEDAH RUMAH SAKIT HAJI MAKASSAR Rauf Harmiady Poltekkes Kemenkes Makassar

Lebih terperinci

ASUHAN KEBIDANAN PADA Ny I GII P I00I INPARTU DENGAN GEMELLI

ASUHAN KEBIDANAN PADA Ny I GII P I00I INPARTU DENGAN GEMELLI ASUHAN KEBIDANAN PADA Ny I GII P I00I INPARTU DENGAN GEMELLI Kustini Dosen Program Studi Diploma III Kebidanan Universitas Islam Lamongan ABSTRAK Persalinan gemelli merupakan salah satu penyebab kematian

Lebih terperinci

PENGARUH PELATIHAN METODE ASUHAN KEPERAWATAN PROFESIONAL (MAKP) TIM TERHADAP PENERAPAN MAKP TIM DI RSUD DR. SOEGIRI LAMONGAN.

PENGARUH PELATIHAN METODE ASUHAN KEPERAWATAN PROFESIONAL (MAKP) TIM TERHADAP PENERAPAN MAKP TIM DI RSUD DR. SOEGIRI LAMONGAN. PENGARUH PELATIHAN METODE ASUHAN KEPERAWATAN PROFESIONAL (MAKP) TIM TERHADAP PENERAPAN MAKP TIM DI RSUD DR. SOEGIRI LAMONGAN Suratmi.......ABSTRAK....... Kinerja perawat merupakan salah satu faktor penting

Lebih terperinci

ABSTRAK PENILAIAN KUALITAS HIDUP PASIEN PPOK RAWAT JALAN DENGAN METODE SAINT GEORGE S RESPIRATORY QUESTIONNAIRE (SGRQ)

ABSTRAK PENILAIAN KUALITAS HIDUP PASIEN PPOK RAWAT JALAN DENGAN METODE SAINT GEORGE S RESPIRATORY QUESTIONNAIRE (SGRQ) ABSTRAK PENILAIAN KUALITAS HIDUP PASIEN PPOK RAWAT JALAN DENGAN METODE SAINT GEORGE S RESPIRATORY QUESTIONNAIRE (SGRQ) Felicia S., 2010, Pembimbing I : J. Teguh Widjaja, dr., SpP., FCCP. Pembimbing II

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/ mengganti diri dan. mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat

BAB I PENDAHULUAN. kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/ mengganti diri dan. mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lanjut usia adalah suatu proses menghilangnya secara perlahanlahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/ mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi

Lebih terperinci

Pengobatan untuk AIDS: Ingin Mulai?

Pengobatan untuk AIDS: Ingin Mulai? SERI BUKU KECIL Pengobatan untuk AIDS: Ingin Mulai? Oleh Chris W. Green Jl. Johar Baru Utara V No. 17, Johar Baru, Jakarta 10560 Telp: (021) 422 5163, 422 5168, Fax: (021) 4287 1866, E-mail: info@spiritia.or.id,

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA KELENGKAPAN PENGISIAN DOKUMEN AUTOPSI VERBAL DENGAN KEAKURATAN PENENTUAN SEBAB UTAMA KEMATIAN DI PUSKESMAS WILAYAH SURAKARTA

HUBUNGAN ANTARA KELENGKAPAN PENGISIAN DOKUMEN AUTOPSI VERBAL DENGAN KEAKURATAN PENENTUAN SEBAB UTAMA KEMATIAN DI PUSKESMAS WILAYAH SURAKARTA HUBUNGAN ANTARA KELENGKAPAN PENGISIAN DOKUMEN AUTOPSI VERBAL DENGAN KEAKURATAN PENENTUAN SEBAB UTAMA KEMATIAN DI PUSKESMAS WILAYAH SURAKARTA NASKAH PUBLIKASI Skripsi ini Disusun untuk Memenuhi Salah Satu

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. 23 April 2013. Penelitian dilakukan pada saat pagi hari yaitu pada jam 09.00-

BAB III METODE PENELITIAN. 23 April 2013. Penelitian dilakukan pada saat pagi hari yaitu pada jam 09.00- BAB III METODE PENELITIAN 1.1 Lokasi Dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian akan dilakukan di peternakan ayam CV. Malu o Jaya Desa Ulanta, Kecamatan Suwawa dan peternakan ayam Risky Layer Desa Bulango

Lebih terperinci